Tags

, , , , , , , , , , , ,

“With great power comes great responsibility”

 

 

 

Menjadi seperti Roy Kiyoshi mungkin adalah impian segenap orang; punya kekuatan dan menggunakannya untuk membantu orang lain. You know, seperti pahlawan. Sejak nongol di acara televisi, Roy Kiyoshi sudah terkenal punya kemampuan indigo. Tapi punya acara tivi hits karena bisa melihat hantu dan ‘meramal’ peristiwa yang belum terjadi ternyata tidak serta merta merupakan hidup yang menyenangkan. Ada beban yang harus dipikul. Horor terbaru Jose Poernomo ini membahas tentang sisi gelap dari kehidupan Roy Kiyoshi sebagai seorang yang bisa melihat berbagai penampakan di dalam gelap. Tentang kehilangan yang harus ia terima, tentang bagaimana dia berjuang keluar dari kekalahan yang terus-terusan merundung.

Semakin banyak ‘kekuatan’ yang bisa kita lakukan, maka tanggungjawab yang kita pikul pun semakin berat. Sejarah menunjukkan banyak orang yang justru menjadi rusak oleh kekuatan mereka sendiri; Hitler, Napoleon, bahkan penduduk Atlantis diceritakan punah karena mereka terlena dan gak mampu memanfaatkan kemampuannya untuk kebaikan. Film ini menunjukkan dengan simpel; jika kita punya sesuatu yang lebih dibandingkan orang lain, maka gunakanlah kelebihan tersebut untuk kebaikan.

 

Kupikir cerita akan fokus kepada Roy Kiyoshi yang memerankan dirinya sendiri. But actually, cerita film ini seperti terbagi dua. Kita akan melihat Angel Karamoy sebagai Sheila yang baru mulai bekerja di kantor LSM yang menangani kasus kekerasan terhadap anak. Cerita Sheila ini praktisnya lebih menarik, dia lebih kuat sebagai tokoh utama. Sheila terobsesi sama kasus penculikan anak-anak karena dia juga punya adik yang hilang diculik. Ketika Sheila mengetahui ada pegawai di kantor yang bunuh diri saat tengah menginvestigasi serangkaian kasus anak-anak yang menghilang misterius, Sheila melakukan apa yang harusnya dilakukan oleh seorang tokoh utama cerita yang kuat. Dia masuk ke kasus tersebut dengan ‘paksa’. Kita akan melihat adegan penyelidikan kecil-kecilan saat Sheila semakin larut ke dalam misteri. Dan puncaknya adalah ketika dia menemukan hal ganjil dan kemungkinan pelaku semuanya adalah hantu.

Kisah Sheila ini bisa jadi satu cerita horor yang utuh, aku membayangkannya malah bisa seperti The Ring (2002) di tangan yang tepat, di pundak yang lebih bertanggung jawab yang tak memikul kepentingan apa-apa. Aku juga suka sama desain Banaspati, tokoh setan, dalam tokoh ini. Mukanya kayak hantu samurai Jepangnya, badan kurus tingginya menyala seperti bara api – cocok dengan mitologi jawa Banaspati yang memang setan berelemen api. Efek apinya memang agak cheesy tapi masih bisa dimaklumi dan lumayan bisa diasosiasikan sebagai sesuatu yang creepy. Tapi ini adalah cerita tentang Roy Kiyoshi. Maka every now and then kita akan ditarik pergi dari sisi Sheila untuk melihat Kiyoshi yang depresi, yang berhujan-hujan, yang menyusur garis pantai membeli minuman keras, menenggaknya di kediaman yang mewah, dengan tone warna yang keabuan, dengan narasi voice-over yang menceritakan gimana peliknya gundah di dalam hati sang anak indigo ini.

Di balik penampilan yang katanya cool, sesungguhnya ada pribadi yang tersiksa

 

Tentunya juga ada tanggung jawab tersendiri yang hadir ketika sebuah cerita dijual sebagai kisah nyata yang belum pernah diekspos ke publik sebelumnya. I mean, cerita tersebut mestilah meyakinkan sebagai kisah yang benar-benar bisa terjadi di dunia nyata kan. Well to be honest, aku susah percaya bahwa tokoh kita ini beneran punya adek yang hilang diculik hantu selama tiga tahun. Bisa jadi semua kejadian di film ini benar, yang mana masuk akal kenapa kejadian itu difilmkan. Siapa-lah kita mempertanyakan kebenaran hidup seorang yang melihat jauh lebih banyak makhluk halus daripada kita. Film tidak pernah menjelaskan mana elemen nyata atau mana yang tidak dalam cerita ini. Atau bisa jadi yang benar cuma bagian Roy Kiyoshi yang menutup diri sementara semua bagian yang diperankan Angel Karamoy hanya pengait cerita.

Pasalnya, setiap kali cerita berpindah ke bagian Kiyoshi, aku merasa pengen cepet-cepet pindah lagi ke bagian Sheila. Apa menariknya melihat orang yang sepanjang adegan gitu-gitu mulu. Mengasihani diri sambil minum alkohol. Cara yang aneh untuk membangun tokohnya sebagai seorang pahlawan. Tidak ada momen pembelajaran pada bagian Kiyoshi. Dia hanya depresi sebagian besar durasi – naskah mencoba membuat penonton bersimpati padanya hanya karena ada kejadian mengerikan yang terjadi di masa lalunya tanpa membuat tokoh ini melakukan sesuatu – dan ketika film udah mau habis barulah tiba-tiba dia bergerak menjadi penyelamat yang menolong Sheila, yang mengalahkan si setan Banaspati. Kita diniatkan untuk bertepuk tangan menyemangati pertempurannya yang udah kayak sekuen battle di anime – you know, ketika ada jagoan melawan monster. Tapi yang kurasakan hanya kekosongan pahit. Film tak berhasil membangun tokoh Kiyoshi sebagai jagoan. Baik Sheila dan Kiyoshi sebenarnya punya persoalan personal dengan si setan, mereka punya motivasi, tapi di akhir itu film mengesampingkan tokoh yang benar-benar melakukan aksi sedari awal. Dengan tak adanya emosi genuine yang kita dapatkan, filmnya semakin diperberat oleh kesan bahwa filmnya begitu panjang padahal enggak sampai sembilan-puluh menit. Sini kuberitahu penyebabnya apa:

Film ini tidak punya babak kedua.

 

Struktur naskah film standarnya berbentuk tiga-babak. Babak satu untuk set up. Babak dua untuk naiknya aksi dan tensi. Babak ketiga untuk penyelesaian. Pengalokasian waktunya biasanya sekitar 25% babak pertama, 50% babak kedua, dan 25% terakhir adalah babak ketiga. Sebagian besar film – kecuali yang eksperimental – ‘masuk’ ketika kita menerapkan pembabakan ini ke dalam ceritanya. Film Roy Kiyoshi, sungguh tak-disangka tak-dinyana, menolak untuk masuk ke dalam struktur tiga-babak. Film ini tidak punya rising action. Babak kedua sama datarnya dengan babak pertama. Baru di babak ketigalah klimaks itu hadir begitu saja.

Itu yang jadi Fitri aku mau ngasih saran untuk daftar Gadis Sampul deh, tiga atau empat tahun lagi

 

Dari selepas sepuluh menit pertama hingga tiga puluh menit terakhir, Kiyoshi tidak melalui perjalanan apapun. Tidak ada ‘cara mudah’, ‘intensitas naik’, ‘taktik baru’, dia hanya minum dan minum. Sheila masih mendingan. Di akhir babak pertama dia menemukan petunjuk kalo ada setan di balik ini semua, tapi bahkan bagi tokoh ini pun plot mengalir datar dengan tidak ada usaha lain selain bertanya dan bertanya hingga dia bertemu dengan kontak Kiyoshi. Pertemuan Sheila dan Kiyoshi juga terjadinya telat banget. Mestinya terjadi di babak kedua, paling enggak sekitaran mid-point, karena dengan begitu di babak tiga nanti keduanya sudah menjadi pribadi yang baru saat berhadapan dengan demon masing-masing. Tapi pada film ini, Sheila dan Kiyoshi baru bekerja sama di babak tiga. Bahkan stake waktu (Banaspati akan menculik korban baru tiga hari dari sekarang) pun baru muncul di babak akhir ini. Babak sebelumnya kedua tokoh lempeng-lempeng aja tanpa ada desakan narasi. Mereka menghabiskan begitu banyak waktu untuk enggak melakukan apapun terhadap perjalanan tokohnya. Jadi, babak ketiga film ini terasa sumpek. Setelah pertengahan yang kempes banget sehingga seperti babak set up yang diperpanjang, kita langsung masuk babak akhir di mana terasa seperti babak dua dan tiga dicampur menjadi satu. Makanya 30-20 menit terakhir itu rasanya lama banget. Begitu banyak yang terjadi, Kiyoshi aja sampe sempat-sempatnya bertapa di pedalaman, bikin aku melirik jam histeris “Ini durasi udah sepuluh menit lagi habis kenapa dia masih kayak latihan yang harusnya ada di sequence ke enam?”

 

 

 

 

Cerita Sheila sebenarnya menarik jika digarap dengan kompeten. Desain hantunya juga lumayan seram. Film ini cukup janggal, dalam artian yang menarik. Seperti misalnya adegan kredit pembuka yang dengan berani membawa kita bergerak dari kanan ke kiri alih-alih progresi kiri ke kanan. Lebih lanjut ke penghabisan, yang dilakukan film ini sesungguhnya mendobrak struktur cerita film, tetapi at this point aku sungguh meragukan pembuat film ini tahu apa yang sedang mereka lakukan. Mungkin bukan hanya buat horor, melainkan film ini sudah seperti wajah baru bagi penulisan naskah film Indonesia. Hanya saja, wajah itu enggak cakep.
The Palace of Wisdom gives 1 gold star out of 10 for ROY KIYOSHI: THE UNTOLD STORY.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Relakah kalian melakukan sesuatu yang kalian jago untuk orang lain, for free? Pernahkah kalian menahan diri untuk membantu orang karena kalian pikir akan membuat hal menjadi semakin ribet? Apakah menurut kalian membantu orang lain itu harus sesuai dengan mood?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.