Tags

, , , , , , , , , , ,

“Out of my way, I’m going to see my mother.”

 

 

Dinda dan saudara-saudara angkatnya sesama anak yatim piatu harus saling menjaga, lantaran mereka masih berada dalam usia yang rentan diculik oleh kuntilanak. ‘Peraturan’ tersebut sudah ditetapkan sejak film pertama yang rilis lebaran tahun lalu. Bayangkan gaya magnet, hanya saja alih-alih kutub utara dan selatan, dinamika tarik menarik itu datang dari anak-anak yang rindu kasih sayang seorang ibu dengan setan yang mencari anak untuk ia besarkan. Dan meski Dinda dan saudara-saudaranya sudah dianggap anak sendiri oleh Ibu Donna, ancaman itu tetap ada. Buktinya, seorang wanita aneh muncul di pintu rumah. Mengaku sebagai ibu kandung Dinda. Inciting incident ini menciptakan riak konflik. Sesayang apapun sama keluarga baru, Dinda toh penasaran juga sama wanita tersebut. Masa depan tinggal bersama ibu kandung jelas adalah undangan yang tak mampu ditolak oleh anak kecil seperti Dinda. Maka, Dinda tak mengindahkan larangan Ibu Donna yang bermaksud mengonfirmasi dulu siapa sebenarnya wanita bernama Karmila tersebut. Dinda langsung minta pergi mengunjungi rumah Karmila. Saudara-saudara yang lain bersedia ikut mengantarkan. Tentu saja, rumah wanita berambut hitam panjang dan bergaun putih itu terletak di tengah-tengah hutan. Sementara kamera terus berpindah antara investigasi Donna dan Dinda yang berusaha menjalin hubungan dengan ibu yang baru pertama ia lihat, dramatic irony kita bertumbuh. Ada yang gak beres dengan Karmila. Dan anak-anak tersebut semuanya berada dalam bahaya.

this is what you get for hating on the trees!

 

Hal terbaik yang terjadi pada sekuel ini adalah Karina Suwandi. Cara ia memerankan Karmila akan membuat kita berhasil melek melewati cerita dan dialog film yang datar dan membosankan. Lucu sekali tokohnya yang ‘orang mati’ justru adalah yang memberikan nyawa kepada film ini. Setiap kali Karmila muncul di layar, nuansa misteri itu menguar. Dan begitu cerita sampai di titik pengungkapan dia yang sebenarnya, level kengerian dalam permainan akting Suwandi semakin bertambah. Satu-satunya masalahku buat tokoh kuntilanak ini adalah dia tampak lemah, tapi sekiranya itu adalah resiko ketika kita menghadirkan cerita horor dengan protagonis anak kecil. Dibutuhkan banyak suspend of disbelief ketika hantu harus kalah oleh anak-anak.

Selain Karina, tidak ada lagi penambahan yang berarti yang dilakukan oleh film ini. Tokoh yang diperankan oleh Susan Sameh dan Maxime Bouttier – berdua ini tugasnya sebagai semacam kakak yang menjaga anak-anak – beneran setidakberguna yang bisa kita bayangkan dalam tokoh cerita. Yang satu kerjaannya beryoga ria tanpa alasan yang jelas. Dan tokoh Susan Sameh; maaaaaan, Kuntilanak 2 ini mungkin adalah salah satu film horor yang paling cepat membuktikan diri bahwa dia ditulis dengan sangat ngasal yang tidak menghormati tokoh-tokohnya sedikit pun. Tidak butuh sepuluh menit, tiga-empat menit setelah prolog dan opening title kita langsung mendapat dialog Susan Sameh yang berkata dia butuh bantuan pacarnya untuk menjaga adik-adik angkatnya bermain di pasar malam. Wow. Ini sangat menggambarkan banget seberapa besar perhatian pembuat film ini dalam menciptakan tokoh-tokohnya (which is zero). Dua remaja tersebut – malahan, semua tokoh dewasa yang manusia dalam film ini – mengambil tindakan yang jauh lebih bego daripada tokoh anak-anak. Tapi bukan berarti tokoh anak-anaknya jauh lebih baik, loh.

Ketika sebuah film dibuat sekuelnya, biasanya itu karena film pertamanya sukses di pasaran. Penonton banyak yang suka, sehingga pembuat ingin menghadirkan lagi apa yang disukai oleh para penonton. And this film did just that. Tidak ada sesuatu yang baru, tidak ada breakthrough apapun, karena buat apa ngambil resiko kan? Dasar kapitalis. Cerita Kuntilanak 2 nyaris mirip dengan cerita film pertama. Tokoh anak-anak tidak diberikan pengembangan apapun. Mereka seperti dicopy paste dari film sebelumnya. Jika ada perubahan, maka itu adalah film ini terasa less-fun ketimbang film induknya. Tidak ada penggalian yang lebih jauh terhadap masing-masing tokoh. Elemen anak yang paling kecil merasa iri sama Dinda yang bakal punya ibu asli tak pernah berbuah menjadi sesuatu yang gede, hanya terasa seperti sisipan supaya si anak kebagian dialog. Interaksi anak-anak dalam film ini dikurangi sampai ke titik dialog antarmereka terasa kaku. Mereka tak lagi terasa seperti teman, apalagi keluarga yang bersatu karena suka-duka. Padahal justru hubungan mereka, kekocakan mereka menghadapi suasana mengerikan yang jauh di luar nalar mereka, yang menjadi daya tarik Kuntilanak yang pertama. Kuntilanak 2 meninggalkan keceriaan, dan fokus ke menjadi kelam sepanjang waktu. Film mengorbankan ‘warna’ dari tokoh anak-anak untuk lingkungan yang mendukung penggunaan CGI.

Bahkan Dinda yang tokoh utama pun; Cerita menjanjikan pandangan yang lebih dalam terhadap masa lalu tokoh ini, tapi seiring durasi berjalan konflik Dinda seperti terabaikan. Dinda malah berubah menjadi tokoh yang pasif. Dalam film ini, Dinda menjadi perlu untuk diselamatkan – sesuatu yang tidak terjadi kepadanya pada film pertama. Hanya ada satu momen film memperbolehkan Sandrinna Michelle bermain emosi yang genuine, yakni tatkala rombongan mereka bertemu Karmila dan Dinda tampak ragu – dia ingin ‘masuk’ tapi luapan emosi menahannya. Film harusnya lebih fokus kepada momen-momen emosional antara Dinda dengan apa yang ia sangka adalah ibu kandungnya. Supaya kita terinvest, sehingga ketika semua menjadi ‘gila’, perubahan emosi Dinda bisa terpancar kuat. Membuat film ini menjadi berkali lipat lebih enak untuk diikuti.

Namun, film malah menghabiskan waktu untuk memperlihatkan adegan-adegan scare yang gak nambah apa-apa buat cerita. Scare yang pointless. Apa gunanya kita diperlihatkan adegan main wayang yang ada bayangan kuntilanak. Apa faedahnya mereka beryoga di tengah kamar. Apa fungsinya Susan Sameh ditakut-takuti sampai pingsan. Film membuat hantu-hantu dalam film ini kelihatan seperti anak kecil yang iseng luar biasa. Dan sesungguhnya pada film horor, adegan yang menyeramkan tak berarah seperti ini lebih parah dari adegan scare yang merupakan mimpi.

Awaaas ada Hantu Ponta dan Ponti yang enggak ‘Penting’!

 

Dinda begitu terlena kepada ibu kandungnya. Melihatnya, aku teringat kepada Sephiroth dalam game Final Fantasy VII. Tapi bukan Sephiroth yang keren, melainkan Sephiroth yang dalam fase ‘gila’, yang membaca semua buku di perpustakaan bawah tanah untuk mencari tahu tentang siapa ibunya. Dinda dan Sephiroth sama-sama anak yang tumbuh tanpa pernah mengenal ibu kandung. Dan yea, sesungguhnya ada sesuatu yang menyeramkan di sana. Menyedihkan, memang, tapi sedih yang menyeramkan. Karena baik Dinda dan Sephiroth menjadi begitu desperate.

Kebutuhan mereka untuk mencari ibu begitu besar, sehingga mereka bahkan tak bisa melihat mereka mengejar sesuatu yang salah. Sephiroth mengejar sel alien, dan Dinda mengejar setan pemujaan. Aku tidak bisa membayangkan hal malang itu terjadi kepada diriku. Aku pikir, kita semua yang beruntung masih bisa melihat, menyentuh, ibu kandung kita, seharusnya lebih bersyukur.

 

 

Setelah semua hal tersebut dikatakan, aku hanya mau nambahkan:

Tidak mungkin aku sendiri dong yang melihat desain gerbang ‘markas’ Kuntilanak (itu tuh yang di poster) tampak seperti vulva?

 

Aku gak bisa mastiin apakah desain yang wujudnya begitu itu memang disengaja dan punya maksud. But if they do, film ini bisa jadi sebenarnya punya tidak kehilangan selera humor yang jadi kekuatan film pertamanya. Karena cerita film ini memang berpusat pada ibu dan anak. Perjalanan Dinda masuk ke sana di babak ketiga, final battle yang mengambil tempat di dalam sana, dapat menjadi lebih bermakna jika kita melihatnya sebagai simbol seorang anak yang mencari hingga ke dalam rahim ibunya.

Atau mungkin film ini ingin menyugestikan bahwa kata ‘kuntilanak’ sesungguhnya berasal dari kata ‘cunt‘?

 

 

 

Film ini mempertahankan appealnya dengan memasang anak kecil sebagai tokoh utama, yang punya kelompok berisi anak-anak yang adorable. Dan film benar-benar menyerahkan semua kerja kepada kehadiran anak-anak ini. Mereka diadu dengan penampilan Karina Suwandi yang pol nyeremin. Sementara elemen yang lainnya bisa nyantai. Cerita dibuat berjalan lambat dan penuh adegan-adegan anak kecil ketakutan yang bahkan scarenya enggak signifikan dengan cerita. Ada niat untuk berubah dari pembuat film; cerita yang dihadirkan sebenarnya mulai contained. Fokus mengumpul. Tidak lagi sekedar rentetan kejadian jalanjalan-ada yang diculik-cari mustika. Hanya saja, tidaj terjun ke pengembangan dalam. Sehingga masih seperti paparan informasi. Atmosfer yang dibangun tidak pernah bekerja dengan baik karena sebagian besar fungsinya memang cuma untuk memungkinkan CGI. Dialog dan interaksi kini semakin bland. Menyedihkan jika sekuel tidak sanggup mengungguli film pertama yang bahkan tidak begitu bagus. Tapi tentu saja pembuat filmnya tidak akan peduli selagi masih banyak penonton yang suka dan menelan mentah-mentah apa yang mereka berikan.
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for KUNTILANAK 2

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Menurut kalian seberapa deep maksud dari desain poster film ini?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.