Tags

, , , , , , , , , , , ,

“No one has ever made himself great by showing how small someone else is” 

 

,

 

Pernahkah kalian mencurahkan keinginan kalian – membagi impian kalian – kepada orang, tapi lantas dipatahkan oleh mereka lewat saran yang jelas-jelas tidak mendukung atau malah menyepelekan? like, “Hei aku mau buka warung es kri-” “EMANGNYA JUALAN GAMPANG!?” Well, kisah dua orang ‘buronan’ yang saling bertemu dalam The Peanut Butter Falcon akan memberikan tiupan angin semangat yang manis kepada kalian yang pernah mendapat perlakuan seperti demikian. Atau mungkin kalian merasa bersalah karena pernah melepehin mimpi orang lain. Karena perjalanan dua ‘buron’ dalam film ini sarat oleh pesan untuk mengisi hidup sepenuhnya dengan mengejar mimpi.

Dua tokoh yang jadi representasi dalam cerita yang bertempat di desa kecil di pinggiran North Carolina ini adalah Tyler, seorang pemuda yang berubah menjadi pencuri kepiting tangkapan lantaran dia kehilangan pegangan sejak kematian sang abang. Tyler diburu oleh nelayan yang ia bakar peralatan pancingnya; Tyler benar-benar tak tahu harus berbuat apa dalam hidupnya. Sampai dia bertemu dengan tokoh satu lagi, yakni Zak. Berusia 22 tahun, Zak menghabiskan sebagian besar hidupnya tinggal dalam lingkungan panti jompo – menonton video kaset gulat jadul, karena di tempat seperti itulah orang-orang berpengidap Down Syndrome yang tak berkeluarga dipelihara oleh negara. Zak kabur dari panti, ia pengen ke sekolah gulat buatan pegulat idolanya mengajar. Merasa sama-sama buron dan kesepian, Tyler setuju untuk bukan saja menjadi teman seperjalanan buat Zak, tapi juga membimbing Zak. Mengajarkannya berenang, menikmati hidup alih-alih mengurungnya. Mereka berlayar bersama, menempuh bahaya bersama. Mereka saling menjaga dan mendukung masing-masing.

satu lagi film bagus yang berhubungan dengan wrestling di tahun 2019

 

Persahabatan antara Tyler dan Zak yang bertumbuh inilah yang terangkum dengan indah. Karena film ini sangat hormat kepada karakter-karakternya. Ada sedikit komentar tentang ‘orang baik’ dan ‘orang jahat’ yang dibahas oleh film ini, regarding tokoh Tyler sehingga kita tidak serta merta memasukkan tokoh ini ke dalam kotak. Penghormatan terlihat paling jelas pada perlakuan film ini kepada Zak. Aku rada males nonton film-film dengan tokoh disabled karena biasanya tokoh-tokoh tersebut diperankan oleh aktor yang tak-bercacat dan mereka hanya memainkan tokoh itu untuk easy-simpati. Bukannya bermaksud bilang mereka tidak bermain dengan baik ataupun tulus; beberapa kadang menyabet penghargaan karena peran sebagai disabled person. Hanya saja ada sesuatu yang kurang, ada pertanyaan yang mengganjal kenapa film tidak meng-cast an actual disabled person. Menyaksikan perlakuan film ini kepada Zak; ia diperankan oleh pengidap Down Syndrome beneran, Zack Gottsagen, benar-benar membuatku merasa hangat. Zak tidak ditampakkan sebagai makhluk yang perlu dikasihani. Perannya terasa begitu nyata karena Zak bukanlah sebuah simbol atau metafora atau bahkan berpura-pura. Oh dia berakting kok, disabled person bermain sebagai disabled person tidak lantas berarti dia bermain menjadi dirinya sendiri. Ada karakter dalam tokoh Zak. Dan pendekatan terhadap tokoh ini, penulisan maupun penampilan, tidak sekalipun terasa mengecilkan ataupun dibuat-buat.

Film dengan berani memperlihatkan orang-orang seperti Zak masih diperlakukan kasar oleh sebagian besar orang. Mereka dipanggil idiot. Bahkan jika tidak, orang-orang tetap memperlakukan mereka selayaknya seorang idiot. Inilah yang dihadapi oleh Zak-Zak di luar sana. Namun film juga tidak mengeksploitasi ini. Melainkan memperlihatkan sudut lain. Masih banyak juga orang-orang seperti Tyler; yang tidak mempedulikan kekurangan Zak. Melainkan menganggapnya sama rata sebagai manusia seutuhnya. Zak tidak mendapat perlakuan yang berbeda. Film ini menolak untuk membuatnya terlihat lemah. Zak punya mimpi yang perlu didukung, yang sama berharganya dengan keinginan orang-orang yang ‘normal’.

Jangan sekalipun meremehkan orang lain, apalagi meremehkan keinginan dan impian mereka. Setiap orang pasti punya mimpi dan tujuan, dan mereka bekerja keras untuk menggapai hal tersebut. Penting bagi kita untuk menghormati ini, untuk memahami perjuangan orang-orang di sekitar hidup kita. Tidak akan ada pencapaian di dalam hidup jika kita semua saling menganggap remeh perjuangan masing-masing.

 

Hal menakjubkan yang timbul dari pendekatan realis yang dipilih film untuk menghidupkan tokoh-tokohnya adalah reaksi para tokoh seringkali tak-terduga. Jawaban Tyler ketika menanggapi curhatan Zak soal dia tidak bisa jadi pahlawan karena ia mengidap Down Syndrome akan mengejutkan sekaligus menghangatkan hati kita semua. Karena merupakan jawaban yang tidak receh untuk menghibur Zak, melainkan pernyataan yang menantang kita dengan kebenaran. Sutradara sekaligus penulis naskah Tyler Nilson dan Michael Schwartz juga menggunakan struktur yang tidak biasa yang membuat film ini menjadi semakin stand out. Dalam film buddy-trip seperti ini biasanya kita menjelang akhir kita akan mendapat sekuen dua sahabat itu berantem atau paling tidak berpisah untuk kemudian bertemu kembali dan saling menyadari kesalahan masing-masing. Kita tidak melihat sekuen semacam ini pada The Peanut Butter Falcon. Naskah membagi kekompleksan ceritanya kepada tiga orang tokoh, alih-alih dua, sehingga perjalanannya terasa lebih besar, dengan penemuan yang lebih dramatis daripada momen berantem yang mungkin bisa dipaksakan.

Selain Tyler dan Zak, juga ada tokoh salah satu pengasuh Zak di panti bernama Eleanor yang ditugaskan mencari dan membawa pulang Zak – yang juga punya arc di dalam cerita. Jadi kita dapat tiga tokoh mayor. Jika biasanya tokoh utama, protagonis, dan hero sebuah film adalah satu orang yang sama, maka The Peanut Butter Falcon tampak mengadopsi DRAMATICA THEORY. Tokoh utama, protagonis, dan hero dalam cerita ini dibagi menjadi tiga tokoh yang berbeda. Tokoh utama dalam film ini adalah Tyler, karena dia lebih aktif menggerakkan plot. Tyler punya perspektif dan backstory yang lebih dominan. Dia juga membawa elemen intens dalam cerita karena stake yang ia bawa – Tyler diburu oleh nelayan preman yang hendak menyakitinya – terasa lebih berdampak. Aku gak pernah benar-benar suka sama akting Shia LaBeouf, tapi sebagai Tyler di sini aku merasa melihat penampilan terbaik yang pernah ia berikan. Kita melihat Tyler membuka dirinya dan pada akhir film ia tidak lagi sesempit saat di awal. Protagonist cerita ini adalah Eleanor yang diperankan dengan sangat manis dan humanis oleh Dakota Johnson. Disebut protagonist karena Eleanor bukan semata mendukung, melainkan adalah yang paling berubah seiring dengan perjalanan tokoh utama. Tadinya ia tidak mendukung dan berbeda pandang dengan Tyler soal impian Zak, tapi di sepanjang perjalanan ia menyaksikan hubungan mereka, sehingga ia menyadari dan belajar banyak, lalu ia mengubah pandangannya. Sedangkan Zak; dia adalah tokoh sentral. Dia kuat, vulnerable, lucu, supel, dia punya tujuan yang paling jelas di antara ketiga tokoh, dan kita ingin dia sukses mencapai tujuan tersebut. Dia adalah Hero dalam cerita ini. Dan ini sesuai dengan keinginan Zak di dalam cerita; dia mau jadi pegulat pahlawan semua orang.

Interaksi antatokoh ini tergambar dengan manis lewat sinematografi yang luar biasa menawan. Adegan Zak menari dengan Eleanor di atas rakit, adegan Zak menghibur Tyler, adegan Tyler menggoda Eleanor saat pertama kali mereka berjumpa, ini adalah sedikit dari contoh adegan yang loveable karena begitu manusiawi yang sayang untuk dilewatkan. Karakter minor dalam film ini juga tak kalah menarik. Untuk penggemar pro-wrestling, kita akan mendapat surprise oleh penampilan dua Hall of Famers WWE. Aku gak akan bilang siapa, kalian harus nonton sendiri.

Oke, aku tidak bisa menahan diri. It was Mick Foley. Dan Jake Roberts. Tapi aku tetep gak akan bilang mereka jadi peran apa, tonton sendiri aja haha

nonton film ini jadi pengen lihat lagi penampilan pemainnya di film-film mereka yang terkenal, termasuk Dakota Johnson di film ehm…

 

Kadang cerita film ini terlampau manis sehingga beberapa aspek terasa cheesy. Beberapa adegan bahkan tampak seperti tak mungkin terjadi di dunia nyata. Misalnya pada bagian wrestling menuju ke ending, yang buatku terasa terlalu cepat dan tidak lagi tampak real. Walaupun memang sejak kapan wrestling itu real (ha!), tapi pada beberapa bagian film ini memang lebih tampak seperti dongeng yang berisi interaksi nyata dengan karakter yang begitu well-realized. Sepertinya film berusaha menyeimbangkan fantasi dan realis. Usaha yang tidak selalu berhasil mulus. Namun kuyakinkan itu semua merupakan kekurangan minor yang tidak berpengaruh banyak kepada keasyikan menikmati perjalanan cerita film ini.

Adegan Zak kabur dari terali kamar pantinya juga tampak sangat cheesy dan tak mungkin terjadi di dunia nyata. Tapi hal ini justru terasa menyedihkan karena adegan itu hanya tampak cheesy karena kita sulit membayangkan di dunia nyata ada orang yang begitu menghormati mimpi seseorang seperti Zak, percaya kepadanya, dan membiarkan dia mengejar mimpinya. Menyedihkan hal tersebut tampak seperti fantasi di dunia kita sekarang.

 

 

Sebagian besar yang terlibat film ini; sutradara Nelson dan Schwartz, juga aktor Zack Gottsagen, benar-benar menghidupi paham yang diangkat oleh tokoh cerita film ini. Yakni mengejar mimpi dan mengisi hidup dengan hal yang ingin dilakukan. Hasilnya bisa kita nikmati sendiri; sebuah tontonan yang menghangatkan jiwa, yang menghibur tanpa melupakan hati. Pesan yang diangkat tereksplorasi dengan baik tanpa menyinggung siapa-siapa.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE PEANUT BUTTER FALCON.