Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“People lie to protect others”

 

 

Lampor dalam mitos daerah Jawa Tengah dipercaya sebagai penanda datangnya wabah penyakit. Namun dalam film garapan Guntur Soeharjanto ini, Lampor yang membunuhi dan menculik orang-orang ‘pendosa’ pada akhirnya akan mengajarkan kepada tokoh utamanya – dan lantas kepada kita – satu dua hal tentang menutup dan mengalihkan mata; tentang kebohongan yang kadang harus kita lakukan demi diri sendiri dan orang-orang tersayang.

Ada dua prinsip yang ditetapkan dalam film ini sebagai aturan yang harus dipatuhi oleh para tokoh supaya tidak diambil oleh Lampor; “Pantang melihat” dan “Jangan terlihat”. Bersembunyi di dalam gelap agaknya adalah cara untuk selamat dari hantu hitam bermata merah bak malaikat pencabut nyawa yang melayang bersama keranda yang diusung oleh pasukan tak-terlihat Nyi Roro Kidul. Pokoknya, malam hari, begitu suara sorakan mereka mulai terdengar dari kejauhan entah-di mana, segera tutup pintu dan jendela rumah, matikan lampu, berjongkoklah di dalam kegelapan sampai suara gaduh mereka tak terdengar lagi.

Black Lampor is all about the white lie

 

Kegelapan dalam film ini menjalankan dua fungsi yang bertolak belakang. Ketika diwakili oleh sosok hantu Lampor yang hitam, melayang dengan juntaian jubah layaknya kelelawar yang menenggak stereoid – para penggemar Harry Potter mungkin seketika akan teringat dengan Dementor – maka kegelapan itu adalah bahaya yang teramat nyata. Malam hari adalah momok bagi warga desa karena di waktu gelap itulah Lampor turun dan melayang rendah di pemukiman mereka. Ironisnya, justru di dalam gelap jualah para warga bersembunyi. Dalam satu adegan diperlihatkan seorang warga menjadi korban Lampor karena tiang obor terjatuh tepat di depan wajahnya yang sedang meringkuk. Api obor membuatnya kaget, cahaya api membuat Lampor mengetahui keberadaannya, dan binasalah ia. Kegelapan juga bertindak sebagai juru selamat, sedangkan cahaya hanyalah penerangan buat si Lampor mengetahu posisi dirimu bersembunyi.

Dualitas fungsi gelap yang bertolak belakang ini bukanlah kelemahan atau ketidakkonsistenan narasi. Melainkan sebuah simbol yang paralel dengan gagasan yang diangkat oleh cerita yang naskahnya ditulis oleh Alim Sudio.

Bagaimana kita selamat dari kegelapan? dengan bersembunyi dalam gelap, berbaur. Bagaimana kita selamat dari kesalahan? dengan berbohong supaya semuanya aman.

 

Pertanyaan penting yang diangkat oleh drama keluarga berkedok horor mitos supranatural ini adalah “Bisakah kita berbohong untuk melindungi orang lain?” Gagasan tersebut diangkat lewat permasalahan tokoh utama kita yang diperankan oleh Adinia Wirasti. Netta, nama tokohnya, punya masa kecil yang mengerikan di Temanggung. Oleh sang ibu, Netta dibawa pergi ke Medan, jauh dari tragedi gaib di desa. Hingga dewasa, Netta tak pernah menceritakan masa lalunya kepada suami – apalagi kepada dua anaknya yang masih kecil. Kepada suaminya, kematian adik oleh Netta ditutupi sebagai penyakit, dan perihal ayahnya disederhanakan sebagai selingkuh saja. Konflik muncul ketika kondisi rumah tangga mengharuskan Netta kembali ke kampungnya. Keluarga yang selama ini ia lindungi, terpaksa ia bawa serta ke tempat berbahaya yang membenci dirinya. Segala yang mengancam Netta di Temanggung sekarang turut mengincar suami dan anak-anaknya.

Yang dipelajari Netta dalam kisahnya ini adalah bahwa berbohong demi kebaikan pada akhirnya bukanlah solusi yang permanen. Sama seperti warga desa yang hanya meringkuk dalam gelap menunggu Lampor lewat; mereka tidak akan pernah membereskan masalah hanya dengan berbohong. Ketenangan yang hadir hanya bersifat sementara, karena ketakutan akan terus datang menghantui. Tidaklah bijak untuk terus bersembunyi dan menganggap semuanya akan baik saja. Kebenaran harus dikonfrontasi, meskipun menyeramkan. Netta malah melihat orang-orang di kampung, mereka yang dahulu ia dan ibunya tinggalkan, tidak sejelek yang ia takutkan ketika cahaya kebenaran menyinari mereka. ‘Cahaya’ yang masuk berkat keberanian Netta untuk menyeruak kegelapan.

Dengan lapisan pada cerita, serta keberanian naskah untuk bercerita dengan runut – tanpa mengandalkan pada flashback dan pengecohan – tetap saja kita sama aja dengan berbohong jika mengatakan Lampor: Keranda Terbang adalah film yang bagus. Film ini kekurangan satu hal krusial. Arahan. Soeharjanto biasa menangani cerita drama; permasalahan keluarga Netta yang menjadi tubuh utama cerita tidak menjadi soal baginya. Cerita Netta mencuat dan memberi bobot sehingga film tidak terasa hampa. Namun, menggodoknya dengan horor; di sinilah arahan tampak tak-punya clue untuk harus bagaimana. Lampor: Keranda Terbang adalah proyek horor pertama bagi Soeharjanto. Dan fakta tersebut benar-benar tercermin dari film ini.

Soeharjanto tampaknya mengira horor itu harus selalu kelam dan murung dan sedih dan depressing. Tidak ada satu adegan pun yang memperlihatkan Netta menikmati hidup, bahkan meski ia berpura-pura senang sekalipun. Adinia Wirasti berakting suram sepanjang film. Entah itu ketika dia mendengar permasalahan suami, atau ketika mendapat sambutan dingin dari penduduk desa, atau ketika anaknya hilang, atau ketika ia mengetahui rahasia di balik sikap almarhum ayahnya – film biasanya punya turun-naik emosi yang dicerminkan oleh perasaan tokoh utama. Netta dalam Lampor: Keranda Terbang hanya punya ‘turun’, tak ada fase ‘naik’ pada tokoh ini. Adinia adalah aktor yang cukup mumpuni, tapi berkat arahan cerita, hanya bebetapa adegan emosional yang ia jalankan tanpa terlihat bosan dan seadanya aja. Ada adegan ketika suaminya terbangun histeris dari mimpi buruk, tapi alih-alih membuatnya sebagai adegan comfort yang menunjukkan cinta dan semangat, film membuat Netta pada dasarnya berkata “kamu percaya kan sekarang” dengan nada tanpa semangat yang hanya memperbesar energi negatif terus-terusan. Reaksi Netta ketika melihat anaknya ada kemungkinan ditangkap orang juga terlalu sendu. Dia malah fokus ke pengungkapan selingkuh yang membuatnya semakin terpuruk karena merasa dibohongi.

tbh Adinia tak tampak begitu peduli, tidak seperti Dion Wiyoko yang tampak terlalu bersemangat berusaha keras membuat tokohnya dipedulikan

 

Untuk melandaskan kengerian, film memanfaatkan setiap kesempatan. Momen satu keluarga di dalam mobil yang seharusnya dipakai untuk pengembangan karakter, menunjukkan interaksi normal mereka menjelang hal-hal buruk yang akan datang, malah dijadikan sebagai momen eksposisi yang menjelaskan apa itu Lampor; kepada anak kecil. Orang dewasa macam apa yang menjadikan itu sebagai topik perbincangan untuk anak kecil – yang bakal tinggal lama di kampungnya. Beberapa saat sebelum itu si anak dilarang untuk menyimak perbincangan tentang perselingkuhan, namun kemudian mereka oke-oke saja saat si anak diajak ngobrol soal hal gaib. Film menggunakan segala cara yang diketahui supaya tampak seperti cerita horor. Anak yang bisa bicara dengan hantu, cek. Hantu yang memberi petunjuk, cek. Orang kesurupan, cek. Anak diculik, cek.

Manusia berbohong karena mereka percaya konsekuensi kejujuran bisa menjadi lebih buruk. Ini menciptakan dilema, antara untuk melindungi tapi juga berpotensi melukai perasaan orang yang sedang dilindungi.

 

Dan ketika sudah saatnya memancing ketakutakn, film menggunakan trik paling usang di buku; jumpscare. Ada begitu banyak adegan yang bikin jantung copot, entah itu berasal dari hantu beneran atau cuma dari kedatangan orang yang mengagetkan satu tokoh. Oh iya, ada juga satu yang berasal dari satu kesenian lokal seperti reog yang mendekat ke layar untuk mengagetkan kita langsung wajah-ke-wajah yang tak pernah ada signifikansi adegannya terhadap keseluruhan cerita. Kemunculan Lampor selalu disertai dengan iringan suara sorakan gaib yang menyeramkan, yang entah bagaimana oleh film menjadi terdengar lucu. Kamera menangkap secara luas, dan kemudian kita melihat ada anak muncul berlari dari kiri layar dan tak seberapa jauh diikuti oleh keranda yang mengejar sambil bersorak-sorak; ini kayak adegan dalam film-film kartun. Dan jika itu belum cukup untuk membuat kalian tertawa, tunggu saja hingga menjelang akhir, kita akan melihat keranda hantu yang bersorak-sorak itu ditabrak jatuh oleh mobil.

 

Film ini bercerita dengan runut. Mengangkat urban lokal yang menambah kedekatan penonton dengan ceritanya. Punya drama keluarga yang manusiawi sebagai denyut jantungnya. Namun jika mau jujur, film tampak seperti berusaha keras untuk menjadi sebuah horor. Sehingga seringkali malah jatuhnya lucu, mengabaikan logika, dan membuat kita mengamini perkataan salah satu tokohnya; “Suka-sukanya Lampor aja!”
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for LAMPOR: KERANDA TERBANG