LOVE FOR SALE 2 Review

“Happiness is when you realize your children have turned out to be good people”
 

 
Love Inc, yang diperkenalkan dalam Love for Sale (2018) sebagai perusahaan yang menyewakan jasa pacar bohongan untuk para jomblo sekalian, sudah seharusnya dipertahankan sebagai misteri. And so does Arini. Kemisteriusan Arini dan Love Inc membuat film garapan Andibachtiar Yusuf menarik. Diperbincangkan banyak penonton. Beberapa mengatakan Arini ‘jahat’, bahwa filmnya serupa film horor. Della Dartyan langsung melejit, dia bisa jadi poster girl untuk manic pixie yang membuat penasaran para cowok. Padahal kenyataannya bukan begitu; jatuh cinta pada karyawan yang menjajakan status pacar seperti Arini sama aja dengan jika kita baperan ketika disenyumin oleh mbak-mbak manis penjual karcis bioskop. But that’s okay, justru bagus, karena di situlah pesona yang berhasil dihadirkan oleh film tersebut – menjadikannya unik. Setahun kemudian, kita dapat sekuel dari cerita Arini dan Love Inc. Dan sukur Alhamdulillah Yusuf tidak gegabah membongkar tabir yang bakal menghilangkan keunikan tadi. Karena Love for Sale 2 enggak banyak berupa lanjutan kisah dari yang pertama, melainkan lebih banyak memperlihatkan ‘studi kasus’ yang baru terkait keberadaan Love Inc dan kiprah ‘karir’ Arini sendiri.
Love for Sale 2 menawarkan lingkungan yang lebih luas. Stake-nya juga menjadi lebih besar, karena bukan hanya satu orang yang bakal ‘jatuh cinta’ dibuat oleh Arini kali ini. Melainkan melibatkan satu keluarga. Tepatnya; keluarga asal Padang Ibu Rosmaida (Ratna Riantiarno yang asal Manado kewalahan disuruh berbahasa Minang) yang punya tiga anak lelaki. Salah satunya adalah Ican (beruntung tokohnya ini diceritakan besar di Jakarta sehingga Adipati Dolken tak perlu turut kewalahan berbahasa Minang), yang belum juga menikah dengan usia yang menginjak tiga-puluh-dua. Maka Ibu Ros terus merongrong Ican untuk segera mencari pasangan. Tapi bukan pasangan yang tak ia suka – seperti istri anak pertamanya, dan bukan pasangan yang karena zina – seperti istri anak ketiganya. Inilah yang membuat Love for Sale 2 menjadi cerita yang bahkan lebih unik daripada film pertamanya. Ini bukan lagi sekadar tentang orang yang kepengen punya pacar sehingga menyewa cewek idaman. Ican log in ke Love Inc dan memesan jasa Arini bukan untuk dirinya sendiri. Melainkan – bertentangan dengan norma dan budaya daerah asalnya – demi sang ibu; supaya ibunya bisa bahagia melihat dirinya punya pasangan. Jadi bisa dibayangkan betapa terenyuhnya mereka nanti jika kontrak Arini selesai; itu pun jika Arini sanggup untuk meninggalkan segitu banyak orang yang merasakan cinta dan balik mencintainya.

film berkali-kali menyebut “Padang banget” seolah itu menunjukkan karakter yang enggak rasis

 
Film bekerja terbaik ketika cerita fokus kepada Ibu Ros. Ada sense of impending doom yang merayap di balik cerita seiring semakin akrab dan sayangnya Ros kepada Arini. Dan kupikir efeknya lebih kuat terasa karena kita sudah tahu cara kerja Love Inc. Jadi kita mengantisipasi, bersiap-siap dengan apa yang bisa dilakukan oleh Arini yakni pergi begitu saja saat kontrak habis. Pergi tanpa jejak sama sekali. Ini seperti perlakuan pada tokoh Ratih di Perempuan Tanah Jahanam (2019); supaya surprise karakter ini berhasil, maka film mengandalkan kepada keakraban kita dengan Asmara Abigail yang biasanya memerankan karakter jahat yang gila. Sedari materi-materi promo yang dikeluarkan dia sudah dibangun seolah karakter tersebut, untuk membangun antisipasi kita sehingga ‘twist’ tokoh ini menjadi lebih kerasa (no pun intended). Love for Sale 2 juga menggunakan cara serupa dengan pembangunan tokoh Arini. Ceritanya butuh kita untuk tahu Arini dan Love Inc sebagai pegangan, yang menuntun kita kepada Ibu Ros karena di film ini beliaulah yang mendapat pengaruh lebih banyak, dia yang bakalan berubah lebih signifikan di akhir cerita.
Tapi akan mudah sekali bagi kita untuk terdistract dari inti utama cerita, terutama jika kita belum menonton film pertamanya. Kita akan gampang terjebak menganggap ini sebagai cerita Ican mencari cinta, padahal bukan. Karena film sendiri yang justru mengaburkan kita dari inti tersebut. Dengan membuatnya sebagai sudut pandang Ican pada berbagai kesempatan. Film bergantung banyak kepada reputasi Arini sehingga film ini sendiri teralihkan dan merasa mereka masih perlu memasukkan romansa ke dalam cerita yang tadinya sudah mereka ubah menjadi ke persoalan keluarga; persoalan bentrokan keinginan orangtua dan keinginan anak-anaknya. Cinta di sini seharusnya lebih ke cinta manusia kepada orang-orang yang dianggap keluarga.

Orangtua harus belajar untuk memahami apa yang membuat anaknya bahagia. Alih-alih ‘memaksa’ untuk mengikuti kemauannya. Anak-anak tidak jahat ketika mereka berusaha bahagia demi diri mereka sendiri. Orangtua hanya akan menyandera anak-anaknya jika menggantungkan kebahagian mereka kepada anak-anak. Membuat anak-anak mereka menjadi bukan dirinya sendiri. Dan yang paling parah adalah, orangtua jadi tidak akan bisa melihat siapa anak mereka yang sebenarnya, seperti Ros dalam film ini yang awalnya menganggap anak-anaknya bukan orang yang baik – mereka selalu salah di matanya.

 
Seperti film pertama, kisah klien Arini berawal dari sebuah pesta pernikahan. Namun Love for Sale 2 ini banyak bereksperimen dengan kamera. Shot-shotnya tampak lebih dinamis ketimbang film pertama. Pada adegan pernikahan misalnya. Film merekam dengan continuous shot yang membuat kita merasa berada di tengah-tengah pesta, mengikuti Ican – ditempel oleh ibu – yang berkelit ke sana kemari dari kerabat yang menanyakan status relationshipnya. Ini merupakan bagian dari distraksi; film lebih banyak bermain ketika merekam Ican ketimbang merekam ibunya. Padahal jika melihat dari sudut pandang Ican, cerita memiliki banyak kelemahan. For instance; stake cerita jadi nyaris tidak ada. Karena seperti pada tokoh utama Pariban: Idola Tanah Jawa (alias film terburuk Andibachtiar Yusuf yang kutonton sejauh ini) Ican tidak ditulis punya alasan yang kuat, ia tidak tampak pengen punya pacar. Ataupun tidak tampak kesulitan mencari perempuan, saat dia mau. Ican hanya sedikit pemilih karena gaya hidup yang more-Barat dan less-Sumatra. Tidak seperti Richard pada film pertama yang benar-benar ditulis dengan banyak layer, yang dibangun karakternya; begitu penting bagi cerita perihal Richard yang tak pernah meninggalkan rumah. Ican tidak punya semua itu. Maka aneh jadinya ketika film ngotot untuk menonjolkan sudut pandang Ican, sementara cerita akan jauah lebih menarik jika menetapkan fokus kepada ibu. Ican menghubungi Love Inc seharusnya tidak dilihat sebagai plot poin pertama, melainkan sebagai inciting incident yang membuka kesempatan Ibu untuk berubah dengan kedatangan Arini.

coba ibu, apa bahasa minangnya “ditinggal lagi sayang-sayangnya?”

 
Sudut pandang bukan hanya melebar kepada Ican, melainkan juga kepada Arini. Cewek ini bukan antagonis. Dia profesional. Lihatlah dia seperti Mary Poppins untuk orang dewasa. Setelah meluruskan hidup orang dan membuat mereka bahagia, Arini pergi. Tapi kali ini film tidak sampai hati. Film sepertinya tidak mau lagi ada yang menganggap Arini ‘jahat’. Maka kini kita dibuat melihat Arini bimbang dan mulai baper sendiri sama keluarga Ibu Ros. Ia diberi waktu untuk menjelaskan sedikit tentang siapa dirinya. Ini seharusnya adalah cerita yang lain, untuk waktu yang lain. Arini pantas mendapat satu film tersendiri untuk itu semua. Tidak perlu dihadirkan nyelip di cerita orang. Menghadirkan ‘pembelaan’ untuk Arini di sini hanya mengganggu keutuhan cerita Ibu Ros yang tentang menemukan kebahagiaan dengan tidak memaksakan dirinya kepada anak-anak. It drags the story out. Membuat film menjadi semakin tidak fokus. Adegan pembuka dan penutup film ini seharusnya bisa dibuang sebab tidak menyumbang banyak selain sebagai teaser.
 
 
Adik Ican selalu memakai kaos band metal, tetapi lagu yang ia dendangkan dengan gitar malah lagu patah hati jadul dari D’Lloyd yang ngepop. Ini adalah salah satu selera humor film. Cerita memang menyenangkan berkat interaksi tokoh-tokoh yang kadang tampak ‘ajaib’ sebagai penyeimbang drama masalah dalam keluarga. Seringkali juga hadir lewat dialek yang memang dibuat beragam. Namun film yang lebih menitikberatkan pada visual ini membuatku kerap bingung juga dengan suara dialog yang gak sinkron dengan mulut tokoh yang terlihat sangat jelas dan sering terjadi itu apakah bagian dari selera humor pembuatnya atau bukan. Film ini toh memang senang membuat distraksi seperti demikian. Posternya aja seolah membuat Dolken sebagai tokoh utama, padahal bukan. Ini bahkan bukan total romansa seperti yang ‘dijual’ pada materi-materi promosinya. Padangnya juga gak benar-benar terasa, rendang aja absen kok di baralek. Soal cerita, film ini seharusnya bisa menjadi sekuel yang menempatkan cerita pada situasi yang baru. Dia tidak perlu kesusu untuk melanjutkan. Karena seperti yang sudah kita saksikan, film ini jadi tidak fokus karena seperti ingin menceritakan banyak sekaligus
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for LOVE FOR SALE 2

Comments

  1. newadityaap says:

    Gw gak terlalu peduli sih apakah tebakan “pohon apa yang berani?” itu ada makna tersembunyinya atau cuma dialog basa-basi. Bagi gw, waktu ada teka-teki itu, si sutradara mencoba menggambarkan kehidupan rukun bertetangga di rumahnya Ican secara natural. Di setiap RT pasti ada tetangga yang saling sapa, bercanda dengan jokes bapak-bapak yg ia tahu (in this case ya tebakan pohon itu), dan kalau ada satu yg kena musibah tau sendiri gimana suasana panik/gotong royong-nya. Natural scene ini juga keliatan lagi waktu di pesta pernikahan, di mana slot pemeran figuran tamu undangan diisi sama Bastian Steel sama Taskya Namya yg gantian makan dan ngasuh anak.
    Tentang efek kepergian Arini terhadap Ican juga sedikit ditunjukkan dengan dia yg mendadak males main perempuan lagi, ya walaupun si Ibu yang mendapatkan major effect dari perginya Arini, tetapi dia tetap kirim doa ke Arini.

    • arya says:

      iya benar, gak ngaruh ke penilaian juga, makanya hanya aku masukin di pertanyaan terpisah.. tapi ya penasaran juga; kenapa tebakannya mesti itu, apakah sebenarnya jawabannya ada tersirat pada penyelesaian film – apakah itu jadi simbolisme. Personally, I would like it more daripada sekedar kalo cuma tebakan receh. Padahal itu sebenarnya juga buat nekanin batasan waktu bagi Ican – orang bisa mati begitu tak terduga, bahkan untuk hal sesepele jawaban teka-teki bisa gak tuntas oleh yang namanya umur sehingga dia terdorong untuk membahagiakan ibunya selagi sempat. Kalo cerita dari sudut pandang Ican, maka ini adalah inciting incidentnya.
      yang bikin film tak fokus adalah sebenarnya kan cerita ini adalah tentang si ibu, ibunya yang paling banyak berubah di akhir cerita.. jika dilihat dari sang ibu, inciting incidentnya jadi berbeda

  2. Albert says:

    Lebih suka yang pertama sih aku. Personal juga aku lebih mirip Richard daripada Ican hehehe. Kalau yang kedua ini sasarannya memang ibunya ya. Rasanya Ican ga berubah banyak di awal dan akhir cerita. Cuma proses perubahan ibunya juga kurang terlihat. Soalnya scenenya lebih banyak Ican sama temennya atau saudaranya daripada Arini sama ibunya. Pas diliatin lagi ibunya udah berubah baik lalu lanjut adegan romansa.
    Endingnya gimana itu, semoga balik sama Richard aja Arininya. Hehehe.

    • arya says:

      nah iya persis, gak komit nyasar ke ibunya – masih bahas Ican juga, jadinya kurang terasa dua-duanya sih.. kalo pas Richard kan jelas fokusnya

      • Albert says:

        Kalau menantu pertamanya itu kenapa ga disetujui ya mas? Di awal kayaknya ibu Ros kayaknya dibilang belum punya cucu perempuan, tapi kulihat anaknya yang sulung punya anak cewek. Apa menantunya itu janda 1 anak ya?

        • arya says:

          iya, sepertinya begitu, gak dianggap semua mereka sama beliau.. lagian si ibu ini aneh, pengen Ican punya pacar, tapi ngeliat anaknya itu ngobrol ama cewek di luar nikahan bukannya dicie-ciein malah nyinyir hahaha

      • Albert says:

        Iya ada adegan 3 saudara ini ngobrol. Di satu waktu si kakak ngejek si bungsu yang ditinggal istri, beberapa saat kemudian suruh Ican cepet kawin biar hidupnya tenteram hahaha. Kurang dijelasin sih ya, ini aku malah liat review lain yang nulis kalau kakaknya nikahin janda. Itu waktu pertama adiknya muncul nangis sama Yaya Unru aku ga tau itu adiknya, kukira anaknya yaya unru malahan hehehe.

    • arya says:

      Nah iya, soal Dramatica Theory ini sudah pernah aku bahas dalam review The Peanut Butter Falcon (https://mydirtsheet.com/2019/10/09/the-peanut-butter-falcon-review/) dan juga subtly disinggung pada ulasan My Dad is a Heel Wrestler (https://mydirtsheet.com/2019/10/19/my-dad-is-a-heel-wrestler-review/). Semoga mas ada nonton salah satu dari dua film itu, sebagai pembanding.
      Aku contohkan pada Peanut Butter Falcon aja (karena tayang di bioskop, jadi mungkin mas nonton); itu pembagian main character, protagonist, dan hero nya jelas – tidak saling mengoverlap. Heronya si Zak yang pengen jadi pegulat, dan kita benar-benar pengen melihat dia berhasil menjadi pegulat. Namun plot cerita bergerak karena pengasuhnya mengurung dia di kamar, dan later si pengasuh akan menjadi paling banyak berubah karena ia sadar apa yang harus ia perbuat jika beneran ia peduli kepada Zak; yang membuat si pengasuh cakep ini adalah protagonis. Tokoh utama cerita adalah Tyler, lewat matanya lah kita ikut berjalan bersama Zak.
      Nah kalo pada LFS2, masih bingung mana yang protagonis dan main character – belum masuk benar ke Dramatica tadi. Plot digerakkan oleh Ican menggunakan Love Inc (plot bergerak bukan karena disuruh ibu, awalnya Ican tak peduli – saat menyadari kematian, baru dia bergerak); dan sesuai teori ini mestinya membuat Ican sebagai protagonis. Tapi klausul kedua protagonis itu; dia haruslah yang paling banyak berubah di akhir cerita. Pada LFS2, justru ibunya yang paling banyak berubah. Dan lagi, seperti yang mas bilang, kamera tetap lebih genit ke Ican, yang membuat dia – sesuai teori – mestinya main character. Jadi, aku meragukan naskah film ini mengikuti Dramatica Theory itu, makanya verdict aku adalah ceritanya simply gak fokus

    • arya says:

      Nah iya, soal Dramatica Theory ini sudah pernah aku bahas dalam review The Peanut Butter Falcon (https://mydirtsheet.com/2019/10/09/the-peanut-butter-falcon-review/) dan juga subtly disinggung pada ulasan My Dad is a Heel Wrestler (https://mydirtsheet.com/2019/10/19/my-dad-is-a-heel-wrestler-review/). Semoga mas ada nonton salah satu dari dua film itu, sebagai pembanding.
      Aku contohkan pada Peanut Butter Falcon aja (karena tayang di bioskop, jadi mungkin mas nonton); itu pembagian main character, protagonist, dan hero nya jelas – tidak saling mengoverlap. Heronya si Zak yang pengen jadi pegulat, dan kita benar-benar pengen melihat dia berhasil menjadi pegulat. Namun plot cerita bergerak karena pengasuhnya mengurung dia di kamar, dan later si pengasuh akan menjadi paling banyak berubah karena ia sadar apa yang harus ia perbuat jika beneran ia peduli kepada Zak; yang membuat si pengasuh cakep ini adalah protagonis. Tokoh utama cerita adalah Tyler, lewat matanya lah kita ikut berjalan bersama Zak.
      Nah kalo pada LFS2, masih bingung mana yang protagonis dan main character – belum masuk benar ke Dramatica tadi. Plot digerakkan oleh Ican menggunakan Love Inc (plot bergerak bukan karena disuruh ibu, awalnya Ican tak peduli – saat menyadari kematian, baru dia bergerak); dan sesuai teori ini mestinya membuat Ican sebagai protagonis. Tapi klausul kedua protagonis itu; dia haruslah yang paling banyak berubah di akhir cerita. Pada LFS2, justru ibunya yang paling banyak berubah. Dan lagi, seperti yang mas bilang, kamera tetap lebih genit ke Ican, yang membuat dia – sesuai teori – mestinya main character. Jadi, aku meragukan naskah film ini mengikuti Dramatica Theory itu, makanya verdict aku adalah ceritanya simply gak fokus

  3. Ryandi Aditya says:

    makasih mas rekomendasinya… blom sempet ntn peanut butter, masih ragu2 soalnya, ntr diliat deh hehehe … oiya mas, pohon yg paling berani itu pohon pisang bukan sih ya? nanya joke2 receh gini ke sepupu katanya itu jawabannya… nah dia jg bilang mungkin pohon pisang itu ngewakilin salah satu permasalahan yg dimunculin di ceritanya … dia bilang pohon pisang kan kalo belom bertunas/beranak belom bakalan mau mati … dia baru “anteng” mati kalo udah ada penerusnya

    • arya says:

      aku belum ngerti sih.. pohon pisang itu berani kenapa? karena punya jantung?
      tapi kalo filosofinya, masuk sih.. cukup cocok sama permasalahan tokohnya

    • arya says:

      aku belum ngerti sih.. pohon pisang itu berani kenapa? karena punya jantung?
      tapi kalo filosofinya, masuk sih.. cukup cocok sama permasalahan tokohnya

  4. stevadithia says:

    Baru nonton juga tadi sore, pertama kali ikut komen nih karena biasanya cuma jadi loyal reader review – review mas bro. Menurut aku sih LFS 2 kali ini ceritanya lebih touching dibanding yang pertama walaupun berujung rada bias di fase ke-3.
    Nah untuk masalah tebakan “Pohon apa yang berani?” kalau memang itu jawabannya pisang karena jantungnya diluar. Nah menurut aku sih lebih ke :
    Bayangkan jantung itu diluar tanpa cover apapun berarti sangat riskan bukan? jadi ini lebih ke apapun keadaan atau kondisinya kita harus tetap berani dengan memilih dan jalani apapun resikonya. Ingat dialog bapak tetangga “Kamu seperti ayahmu punya cita -cita jadi atlet” nah kita kan tidak tahu ayah Ican meninggal karena apa, bukannya bisa jadi ayahnya meninggal karena penyakit jantung.
    Dan bisa jadi itu hidden message atau bisa dibilang firasat bahwa si bapak tetangga ini meninggal karena jantung, ingat dialog “Can nanti mapir ke rumah ya sebelum masuk kantor” dan benar Ican memang datang ke rumah bapak ini setelah tahu berita kalau bapak ini meninggal mendadak dalam posisi tidur.
    Itu secara pandangan aku sih.
    Nah untuk LFS universe x)) ini bagi aku adalah sebuah metamorf cerita bahwa kadang ada seseorang datang untuk memperbaiki menyelamatkan sesuatu hal atau seseorang tetapi ketika semua sudah pada tempat yang benar,, “kadang” kita siap kehilangan si “penyelamat” itu dengan meninggalkan sebuah perbaikan yang seharusnya membuat semua kembali move on di dalam track yang benar. 🙂

    • arya says:

      wah teori paling masuk akal nih, bisa menjelaskan jawaban tebakan serta kepentingannya di dalam cerita – cluenya di jantung itu ya, keren sih shade ceritanya di sini kalo memang benar seperti penjelasanmu
      setuju aku soal metafora universenya, jadi si Arini sebenarnya bukan ‘penjahat’ kayak yang dibilang banyak orang, tapi lebih ke ultimate supporting character. Dan ia juga bukan sekadar tokoh manic pixie karena kedatangannya tidak pernah kebetulan. Selalu dari tokoh yang berniat menggunakan Love Inc. Dalam arti kata, dari tokoh yang mengambil tindakan untuk meminta bantuan. Dan ini masuk juga ke dalam konteks film yang selalu mengutip ayat Al-Quran, karena ada ayat yang berbunyi, semacam, keadaan tidak akan berubah jika si kaum sendiri tidak melakukan perubahan. Dan meminta pertolongan adalah salah satu bentuk mencari perubahan, yang actually yang susah untuk dilakukan

      • stevadithia says:

        Malah tokoh utama / tokoh kunci justru si Arini sebenarnya dan keluarga Ican adalah sebagai “a new case” for her, buat aku yah karena yang terlihat sangat terdevelope ya si Arini ini. Sebenarnya LFS sedikit mirip dengan Heartbreak.com dan Aku atau Dia. Film tentang dunia ala agen – agen rahasia tapi untuk urusan cinta x))

        • arya says:

          Enggak dong, tokoh utama itu harus punya motivasi, sedang di cerita ini Arini enggak punya.. tokoh dengan motivasi yang jadi dramatic premis ya si Ibu Ros.

        • arya says:

          Enggak dong, tokoh utama itu harus punya motivasi, sedang di cerita ini Arini enggak punya.. tokoh dengan motivasi yang jadi dramatic premis ya si Ibu Ros.

Leave a Reply