Tags

, , , , , , , , , , ,

“You don’t need to prove anything to anyone as far as you know yourself”

 

 

Film haruslah punya kepentingan. Kudu unik, punya originalitas dan kebaruan. Serta tentu saja harus relevan. Makanya Teman Kondangan ini, eh maaf salah… Makanya Temen Kondangan ini jadi puncak dari sinema komedi Indonesia. Digarap oleh Iip Sariful Hanan yang sebelumnya menelurkan berbagai karya klasik seperti… ..umm, sinetron-sinetron, film ini sangat merangkul dan mewakili gaya hidup kekinian. Hanan memotret fenomena besar dan penting-banget dalam kehidupan sosial kita saat ini yakni persoalan menghadiri pesta pernikahan gak boleh sendirian karena bakal dinyinyirin oleh netizen.

Temen Kondangan dibintangi oleh Prisia Nasution yang berperan sebagai Putri; seorang selegram dengan ribuan follower yang mendapat layangan undangan dari sang mantan ke pesta pernikahannya di Bandung. Putri lantas ditantang oleh sahabat-sahabat ceweknya untuk datang ke pesta tersebut sebagai bukti nyata dirinya sudah move on. Tentu saja Putri menyanggupi. Hanya saja, kini dia lagi jomblo, dan datang ke pernikahan sendirian jelas akan menurunkan citranya di mata para fans dan pengikutnya di dunia maya. That’s the number one rule di jagat pergaulan masa kini. Jadi Putri mencari cowok yang mau mendampinginya ke sana, berpura-pura menjadi pacar barunya. Pada hari H kondangan, Putri yang awalnya jumawa menggaet teman lamanya yang anak band, menjadi kalang kabut. Sebab ada dua lagi cowok yang datang memenuhi permintaannya. Putri harus segera meluruskan masalah sebab kini ia sudah kehilangan dua ribu follower di Instagram. Gawat gak sih follower ilang!? Hidup pasti bakal kacau!!

pirtirihin ciritinya bisir sikili yiii

 

Oke, jokes aside, film ini sebenarnya punya konsep komedi situasi yang menarik. Satu tempat, satu kejadian. Wanita yang harus berkonfrontasi dengan sirkel sosialnya, wanita yang selama ini hidup membangun singgasana di dunia maya kini berusaha menyelesaikan masalah yang dia undang sendiri ke pesta pernikahan mantannya. Set up film ini juga menarik. Kita melihat bagaimana ‘panik’nya Putri mencari pasangan yang bisa diajak ke kondangan. Narasi actually menyediakan tiga opsi baginya. Namun, ketiga cowok yang harusnya menjadi pendukung, yang harusnya melambangkan sesuatu yang bakal Putri ubah mengenai dirinya, dibuat oleh film punya agenda masing-masing. Yang lebih besar dan gak benar-benar menambah apa-apa terhadap journey tokoh Putri. Tiga cowok ini adalah bos Putri yang ternyata bekas pacar mempelai wanita dan bapak ini bucin alias belum move on parah, sepupu teman Putri yang memang menjadikan jasa temen kondangan sebagai profesi, dan teman SMA Putri yang anak band dan kebetulan ketemu di kafe, untuk pertama kalinya sejak mereka lulus sekolah, dan kebetulan dia naksir berat memendam cinta kepada Putri.

Ketika cerita sudah tiba di pesta pernikahan, semua masalah ini melebar. Tidak lagi sepenuhnya mengenai Putri. Malah justru Putri yang berusaha membantu masing-masing cowok. Ada subplot soal band yang mengkhianati personelnya, soal tokoh yang menjadikan lagu Ular Berbisa sebagai penenang. Putri tidak lagi pusat konflik. Karena dia bukannya gak bisa move on, atau ditinggalin sahabat. Putri hanya ingin ke kondangan bawa pasangan supaya orang-orang bisa lihat dia beneran move on. Need Putri dalam cerita ini adalah bahwa dia gak perlu buktiin apa-apa ke orang, dia gak perlu dengar kata-kata miring dari orang. Pembelajaran Putri tentang hal tersebut beres lewat teguran sang mantan. Semua yang di luar ini gak paralel dengan Putri, Kekacauan pernikahan bukan exactly her fault. Di akhir ada sekuens kejar-kejaran pakai perahu bebek-bebekan, dan itu gak ada hubungannya sama Putri. Makanya cerita film ini terasa sangat berantakan. Bahasan film menyerempet ke mana-mana. Film menyinggung nikahan gak mesti mewah-mewah selain persoalan baper, gak bisa move on, dan citra sosial media. Yang terasa diada-adakan karena film butuh untuk mengisi durasi. Dan karena ini komedi, maka kejadiannya dibuat seajaib mungkin. Seperti ibu salah satu mempelai yang melipir dari pelaminan begitu saja untuk mencari berondong. Film juga berdedikasi sekali untuk mengisi waktu dengan reference-reference ke produksi-produksi MNC lainnya, makanya kita dapat adegan Lukman Sardi nongol sebagai dirinya sendiri ngobrolin filmnya; Di Balik 98 (2015)

Tak habis pikir, film yang diniatkan salah satunya untuk menegur kita dari palsunya interaksi dunia maya, malah membuat adegan dunia nyata di dunianya sebagai kejadian yang dilebay-lebaykan.

 

Soal komedinya, biar aku gambarkan beberapa adegan supaya kalian dapat mengerti seperti apa tepatnya tipe film ini. Bos Putri masuk ke ruangan kerja Putri, langsung mengajak ngobrol sambil melihat sekeliling ruangan, di ruangan itu ada poster setengah badan Putri, dan saat mengobrol tangan si bos mendarat tanpa sengaja dan berhenti di bagian dada Putri pada poster tersebut. Adegan lain, ada yang menampilkan orang diuppercut sehingga terangkat tinggi kayak kartun dan pingsan. Begitulah tren komedi Indonesia masa kini. Puncak entertainmen layar lebar tanah air, karena ya kita tertawa. Orang-orang di studioku bersenang hati menontonnya. Dan oh ya, jangan lupakan tarian lagu Ular Berbisa yang membuat suasana pernikahan jadi kayak live show Inbox/Dahsyat.

mentang-mentang ada mantan host-nya maen

 

Setiap kali mengulas review film-film komedi yang ditujukan untuk anak-anak, aku mencoba realistis menyingkapi level humor/candaan dan dalamnya eksplorasi cerita, standar penilaian selalu mempertimbangkan fakta bahwa film itu bukan dibuat untuk aku. Jadi komedi-komedi receh enggak serta merta membuat film menjadi berkualitas rendah. TAAPIIIII, Temen Kondangan ini bukan film anak-anak. Ini ditujukan untuk milenial, generasi yang mulai menghadapi krisis mid-life seputar relationship, yang menggunakan sosial media sebagai interaksi sosial dan pekerjaan. Film ini gak punya urusan untuk menjadi sereceh-recehnya kayak film untuk anak balita. Mungkin di antara kalian ada yang beruntung menyaksikan Playing with Fire (2020) yang dibintangi John Cena di bioskop? Nah, Temen Kondangan ini berada di level yang sama dengan film tersebut. Demi komedi dan kerecehan, film menyia-menyiakan potensi dari konsep dan cerita yang dimilikinya.

Bukannya gak boleh receh. Film-filmnya Taika Waititi humornya receh dan absurd semua kok, lihat saja Thor: Ragnarok (2017) atau Jojo Rabbit (2019) yang masuk nominasi Oscar tahun ini. Tapi ya, seharusnya film memberikan bobot di balik kerecehan tersebut. Misalnya, alih-alih stake yang hanya ‘follower turun’, kembangkanlah kepentingan angka follower itu lebih jauh lagi terhadap hidup Putri. Bikin supaya kita peduli Putri kehilangan pengikut dan tekankan kepentingan sosial media. Atau mungkin memang aku yang kuper; mungkin dunia nyata memang sudah sebegitu berubahnya sehingga angka follower kini sudah urusan hidup-dan-mati? I don’t know, still, rasanya bego dan gak ada apa-apanya stake yang begini. Seperti penulisan dan pengembangan ide yang masih dangkal.

 

Karena kerecehan dan ke-weightless-an ini jualah film jadi tidak berhasil memenuhi misinya. Perjalanan Putri, dalam level yang lebih dalam, seperti contoh kepada kita untuk gak terlalu dengerin sosmed. Kita gak perlu buktikan sesuatu yang sudah kita lakukan kepada orang hanya demi gak dijulidin ama mereka. On a surface level, film menyugestikan tidaklah apa-apa datang ke pesta pernikahan tanpa pasangan. Hanya saja film tidak bisa menjawab kenapa. Kenapa enggak masalah datang kondangan sendirian. Kenapa baiknya kita gak usah bawa pacar palsu atau nyewa teman kondangan. Kejadian dalam film terlalu dibuat-buat sehingga gagal memberikan gambaran yang grounded. Situasinya terlalu kartun. Ditambah absennya bobot dan urgensi tokoh utama, film ini jadi kayak makan snack murah. Asik dikunyah tapi isinya ‘angin’ doang.
The Palace of Wisdom gives 2 gold stars out of 10 for TEMEN KONDANGAN.

 

 

 

That’s all we have for now.

Jadi kalo ada yang datang ke kondangan mantan, itu artinya dia udah move on atau belum? Perlu gak sih datang ke nikahan mantan?

 

Share  with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.