Tags

, , , , , , , , , , , ,

 

 

WrestleMania 36 memecahkan buaanyak sekali rekor. WrestleMania pertama yang enggak diadakan live. WrestleMania pertama yang diadakan bukan di stadion gede, melainkan di pusat pelatihan WWE alias Performance Center. WrestleMania pertama yang diadakan pada hari Sabtu. WrestleMania pertama yang diadakan bukan pada hari Minggu — sejak 1986. WrestleMania pertama yang dibagi menjadi dua hari. WrestleMania pertama yang dihost oleh pemain futbal Rob Gronkowski. Tentu saja, WrestleMania ini juga mecahin rekor jumlah penonton di arena, yakni nol orang. Kok bisa?

Well, yea, pastinya kalian sudah tahu kalo dunia kita lagi sakit. Virus Covid-19 alias virus corona mewabah secara global. Pandemi ini mau gak mau membuat banyak bisnis terpaksa tutup. Karena semua orang dihimbau untuk menjaga jarak, menghindar dari berkumpul, demi memutus penyebaran penularan virus yang punya masa inkubasi empat-belas hari tersebut. Jadi semua orang kudu diam di dalam rumah masing-masing, meratapi gak bisa bekerja dan ketakutan setiap hari melihat angka pasien positif terjangkit yang terus bertambah. Di sinilah peran WWE, aku Stephanie McMahon yang membuka WrestleMania 36 dengan speech soal mereka hadir sebagai eskapis – untuk membuat kita lupa terhadap bencana di luar sana. Untuk menghibur semua orang.

WWE adalah bisnis hiburan dengan storyline yang terus bergulir, agenda yang sudah terencana, sehingga mereka tidak bisa begitu saja menambatkan jangkar dan melabuhkan show. Instead, WWE berusaha beradaptasi dengan keadaan. Kreativitas bisnis hiburan seperti WWE memang dituntut untuk bergeliat, mereka harus mencari cara menjual sinetron-aksi live ala teater tetap menarik untuk disaksikan meskipun kini tak ada penonton di studio. Bukan hanya dari segi cerita, melainkan juga mengakali presentasi secara keseluruhan – memanfaatkan keterbatasan resource seperti kru dan superstar yang bisa tampil dengan maksimal. Dalam WrestleMania 36 tampak WWE berhasil crack the code. Ada beberapa match yang arahannya berubah menjadi lebih mirip film kelas B.

Dan the good thing about B-Rated action flicks adalah: they tend to be very, very entertaining.

“Let me in!” kata Corona.. eh salah, maksudnya, kata Bray Wyatt

 

Dua match yang unik, berbeda, dan benar-benar ngepush sisi kreatif WWE adalah Boneyard match antara AJ Styles melawan Undertaker, dan Firefly Funhouse antara John Cena berhadapan dengan The Fiend Bray Wyatt.

Boneyard (istilah yang dipake karena WWE ogak pakai kata graveyard) match adalah brawl yang berlangsung malam hari di areal pekuburan. WWE berhasil mengubah konsep ini menjadi menyenangkan dengan tidak meniatkan menjadi sesuatu yang sok-sok serius. Gimmick-gimmick yang bersangkut paut dengan karakter Undertaker maupun Styles dipakek semua. They just want to have fun with this, and they did. Aksinya sendiri sebenarnya cringe, mirip-mirip berantem di sinetron malah. Namun WWE malah menonjolkannya sehingga malah jatohnya berhasil. Yang kita lihat di sini adalah Undertaker yang jadi American BadAss lagi – dia muncul naik motor dan diiringi musik Metallica. Sementara AJ Styles muncul dibantu, bukan hanya oleh Gallows dan Anderson, melainkan juga oleh beberapa orang berjubah. Taker bakalan berantem dengan orang-orang ini. Semuanya, mulai dari kemunculan, cara ngalahin, ditampilkan dengan smoke & mirrors, alias pake trik. Kamera kerap ngecut, efek-efek cahaya dan musik dipakai proses editing, pengambilan gambar pun ‘sinematik’ kita lupa ini seharusnya adalah pertandingan gulat. Kita bersorak seolah sedang menyaksikan film pendek genre aksi supernatural. At one point, Taker muncul dari belakang Styles seolah berteleportasi, dengan pencahayaan ala film horor. Dialog mereka juga sering terdengar konyol. Namun itu semua memenuhi fungsi yang disebutkan di awal oleh Stephanie; membuat kita terhibur,mengistirahatkan otak kita dari kemumetan keadaan dunia yang lagi sakit.

Jika Boneyard yang menutup malam pertama dengan fenomenal itu mirip seperti film genre, maka Firefly Funhouse di malam kedua adalah aliran arthouse jika pertandingan gulat punya aliran arthouse haha.. Titus O’Neil aja abis nonton langsung bengong. Gue abis nonton apaan barusan. Pertemuan kedua Wyatt dan Cena ini berlangsung berdasarkan sudut pandang Wyatt yang dikalahkan oleh Cena di WrestleMania beberapa tahun yang lalu. Bukan karena Cena lebih unggul, melainkan karena politik. Jadi cerita mereka kali ini adalah Wyatt ingin menyadarkan Cena atas betapa toxicnya pegulat pahlawan anak-anak tersebut. Yang kita dapatkan, yang mereka sebut sebagai ‘pertandingan’ di acara kali ini adalah sebuah perjalanan aneh ke masa lalu. Kita akan melihat Cena kembali ke gimmick-gimmick lamanya, kita akan melihat Wyatt dan Cena nge-renact momen Hulk Hogan hingga ke jaman nWo segala. Cena kebingungan, dia berusaha menyerang Wyatt, tapi Wyatt menghilang dan berubah menjadi boneka babi. Pertandingan ini berakhir dengan kemunculan The Fiend menyerang Cena yang terlalu shock untuk melawan. Ini bahkan lebih menghibur dan aneh dan kreatif daripada Boneyard. Menyaksikannya membuat kita berpikir apa yang sebenarnya terjadi, seolah kita sedang menonton film David Lynch. Meski minim aksi, tapi psikologi dan storytelling partai ini begitu kuat. Menganalogikan Cena dengan Hogan adalah cara yang pintar dan subtil untuk menyinggung masalah ‘anak emas company’ yang selama ini jadi problem bagi superstar babyface.

Kedua match tersebut memang bukan lantas jadi teladan pertandingan gulat yang bagus. At least, not in sense of traditional wrestling. Kalo mau objektif, sure, aku berharap ‘cinematik crap’ seperti begitu cukup sampai di acara ini aja. Karena meskipun prinsipnya mirip sama-sama show bercerita, gulat tetap bukanlah film. Wrestling is supposed to be live action tanpa editing. Tapi aku pikir kita juga harus melihat keadaan. Dan pandemi corona yang belum jelas kapan redanya ini bukan tidak mungkin bakal mengubah arahan produk WWE secara keseluruhan, jika WWE mau terus exist. They could get benefit from it. Misalnya supsertar yang gak harus kerja terlalu capek, like, mereka bisa ngedit dalam spot-spot berbahaya sehingga superstar gak perlu ngambil resiko berlebihan. Seperti saat Uso dijatuhin dari tangga dalam Ladder Match; kamera gak memperlihatkan dia mendarat keras melainkan ngecut dan kemudian baru disambung dengan shot aftermath jatohnya. Elemen surprise juga bisa diperkuat, seperti pada saat match tag team cewek Nikki Cross ngepin Asuka, awalnya di turnbuckle gak ada Kairi Sane, namun WWE sudah merekam adegan yang ada Kairi Sane, dan dua adegan tersebut dijahit bareng sehingga saat ngepin seolah ada Kairi menyelamatkan entah dari mana. WWE juga bisa lebih sering bikin legends balik dan melibatkan mereka dalam aksi kayak Undertaker di Boneyard – bagian sulitnya bisa disyut pake teknik editing – sehingga para legends tampak masih oke bergulat dan tidak terlihat memalukan. I say, jika WWE menolak hiatus dan tetap berlangsung. sepertinya cara paling asik ya menjadikan weekly show ala-ala film alias gak pure wrestling. Mereka bisa develop story dan karakter dengan lebih menarik. Barulah pada saat pay perviewnya diberlangsungkan match.

Tips bertanding aman ala John Morrison: Lipatlah tangga menggunakan kaki

 

Khusus buat match tradisional alias yang berlangsung beneran di ring, dengan absennya penonton di arena tak bisa dipungkiri menonton WrestleMania ini seringkali terasa hambar. Kayak makan sayur gak pake sendok. Reaksi penonton tak pelak adalah bagian dari show. Untuk mengakali ini, mestinya WWE meningkatkan game komentator mereka. Komentator mestinya digebah untuk ngepush match dengan excitement. Kita butuh reaksi natural mereka, sebagai wakil untuk bisa relate. Sayangnya, kebanyakan match di acara ini komentatornya garing semua. Cuma baca skrip dan menyebut hal yang sedang kita lihat. Match Randy Orton melawan Edge harusnya seru sekali karena mereka berkeliling arena. Akan tetapi, justru partai ini yang terasa paling lamban dan gak mengena. Sebab pada saat hajar-hajaran keras pakai alat-alat, komentatornya kebanyakan diem. Paling sesekali berujar “Uuugh” atau “Oh my”. Sekalinya berujar, mereka ngasih tahu “Edge and Orton are on the top of pickup truck” Duh!!! Kita bisa melihat itu. Yang kita perlukan sekarang adalah reaksi atau celetukan atau bahkan celaan kepada superstar terhadap apa yang hendak mereka lakukan. Seperti Jerry Lawler dan Jim Ross di Attitude Era dulu. Kadang dua komentator itu malah sibuk berdebat berdua, membela dua superstar yang berbeda, dan kita terhanyut oleh emosi mereka. Melangsungkan match di arena tanpa penonton, butuh komentator yang komunikatif seperti demikian untuk membantu delivery match, untuk menyambung reaksi yang terputus.

WrestleMania disebut-sebut sebagai show abadi untuk orang-orang imortal. Kehadirannya di tengah-tengah pandemi dan suasana dunia yang lagi muram tak ayal membawa angin penghibur, tapi benarkan dia bisa ada selamanya? Akankah bisnis gulat-hiburan ini bisa outlast pandemi? Dengan keadaan yang mengharuskan dirinya mengubah arahan dan gaya, mampukah WWE memenuhi fungsinya sebagai sebuah penghiburan. Atau akankah acara ini hanya bertindak sebagai dying breath?

 

Dalam lingkup dua malam berturut-turut, WrestleMania 36 punya lebih dari selusin pertandingan. Yang beberapa terasa seperti filler card, entah itu karena mengerucut kepentingannya oleh keadaan atau karena memang terasa kurang penting. Namun ternyata match-match ‘filler’ ini jatohnya lebih seru karena tiga pertandingan kejuaraan utama dihadirkan dengan amat sangat tidak memuaskan. Terlalu cepat dan tidak berhasil mengimbangi hypenya. Tadinya aku pengen bikin review per malam juga, tapi I’d figure review dua berturut-turut bakal monoton dan lebih baik memang melakukan satu review dan membuatnya sebagai perbandingan.

Malam kesatu WrestleMania 36 terasa sangat tak berimbang. Pertandingannya banyak yang berakhir dengan tidak memuaskan. Contoh paling buruk adalah Shayna Baszler melawan Becky Lynch. Dengan build up feud yang hot – WWE ngeoverbook Shayna jadi kayak vampir pemakan darah dan gladiator kandang yang tangguh, dan di sisi satunya ada The Man yang badass, pertandingan mereka terlalu singkat dan berakhir dengan roll up. Enggak cocok konsep dengan eksekusinya. Dua tipe petarung harusnya berakhir dengan sense ‘mengalahkan’, walaupun misalnya feud mereka masih akan berlangsung. Finish dengan roll up hanya bisa berkesan jika matchnya dibuat dalam tone persaingan berat-sebelah, salah satu licik atau salah satu outsmart yang lain. Ini jauh dari elemen perseteruan Baszler dan Lynch. Sehingga match mereka terasa sia-sia. Malam kesatu kebanyakan berakhir antara dengan roll up atau dengan distraksi. Ironisnya di awal acara JBL sempat berkomentar bahwa bertanding di WrestleMania akan membuatmu kekal – well, gimana bisa terlihat kuat, apalagi kekal, jika pertandinganmu selesai dengan kamu sendiri tampak tidak menduganya.

Porsi kedua yang ditayangkan hari Minggu – Senin di kita – adalah presentasi yang overall lebih solid. Match-matchnya lebih berarti, dengan akhiran yang beneran satu superstar mengalahkan lawannya. Yang membuat malam ini sour di mata fans adalah beberapa hasil pertandingan yang nyebelin, kayak kemenangan Charlotte, ataupun Bayley dan Sasha yang belum berbuah apa-apa. Namun bagiku ini bukan masalah besar. Sure I hate Charlotte winning, aku juga gak suka sama komentator yang sepi dan gak niat menghidupkan match, tapi secara storytelling ini lebih padet daripada malam kesatu. Kejuaraan Dunia di kedua malam berlangsung dengan formula yang sama persis, aku gak peduli sama kemenangan Braun (nilai plusnya cuma bukan Goldberg lagi yang juara), tapi aku kasian ama Drew McIntyre yang selebrasi kemenangannya juga hampa sekali. This guy is fulfilling his prophecy, akhirnya jadi juara dunia setelah terlunta-lunta cukup lama, dan momen ia bersinar ditampilkan dengan seadanya. Kenapa mereka gak ngedit ini sehingga jadi lebih meriah?

 

 

Aku gak bisa bilang WrestleMania ini jelek, tapi juga gak bilang ini spesial banget. Hal baik yang bisa kubilang adalah bahwa ini merupakan usaha terbaik yang bisa dilakukan oleh WWE dalam beradaptasi dengan keadaan. Yang paling penting adalah dia berhasil menghibur kita, selama dua hari berturut-turut, saking excitednya aku bahkan enggak tahu sudah diwajibkan pake masker dan bahwa jumlah pasien corona sudah naik jadi dua ribu lebih. But who’s counting, right? Di luar Boneyard dan Firefly Funhouse, in sense of traditional wrestling The Palace of Wisdom menobatkan Seth Rollins vs. Kevin Owens sebagai Match of the First Night and Charlotte vs. Rhea Ripley sebagai Match of the Second Night.

 

Full Results:

FIRST NIGHT
1. WOMEN’S TAG TEAM CHAMPIONSHIP Alexa Bliss dan Nikki Cross jadi juara baru ngalahin The Kabuki Warriors
2. SINGLE Elias mengalahkan King Baron Corbin
3. RAW WOMEN’S CHAMPIONSHIP Becky Lynch retains atas Shayna Baszler
4. INTERCONTINENTAL CHAMPIONSHIP Sami Zayn bertahan dari Daniel Bryan
5. SMACKDOWN TAG TEAM CHAMPIONSHIP TRIPLE THREAT LADDER John Morrison jadi juara bertahan ngalahin Jimmy Uso dan Kofi Kingston 
6. SINGLE Kevin Owens menang DQ dari Seth Rollins
7. UNIVERSAL CHAMPIONSHIP Braun Strowman merebut sabuk dari Goldberg

8. BONEYARD The Undertaker mengubur AJ Styles

 

SECOND NIGHT
1. NXT WOMEN’S CHAMPIONSHIP Charlotte Flair unggul dari juara Rhea Ripley
2. SINGLE Aleister Black ngalahin Bobby Lashley
3. SINGLE Otis mengalahkan Dolph Ziggler Becky Lynch retains atas Shayna Baszler
4. LAST MAN STANDING Edge menghajar Randy Orton
5. RAW TAG TEAM CHAMPIONSHIP Street Profits bertahan atas Angel Garza dan Austin Theory
6. SMACKDOWN WOMEN’S CHAMPIONSHIP ELIMINATION Bayley sukses bertahan mengalahkan Lacey Evans, Sasha Banks, Tamina, Naomi
7. FIREFLY FUNHOUSE The Fiend Bray Wyatt bisa dibilang ngalahin mental John Cena

8. WWE CHAMPIONSHIP Drew McIntyre menuhin takdirnya jadi juara ngalahin Brock Lesnar

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.