Tags

, , , , , , , , , ,

“God’s one and only voice is silence.”

 

 

 

Perjalanan menemukan Tuhan, bagi setiap orang memang berbeda-beda. Ada yang terus menapaki jalan lurus; terus berdoa dan berbuat baik kepada sesama. Merasa bahagia dan dekat dengan Tuhannya dengan membantu orang-orang. Sebaliknya, ada yang jadi mendekatkan diri kepada Tuhan, meminta perlindungan, ketika mendapat bencana atau ujian berat. Dan tak sedikit pula, yang merasa dekat dengan Tuhan setelah melakukan kesalahan fatal sehingga ia ingin bertobat. Yang merasa dirinya telah tersesat. Dalam kegelapan itulah, mereka akhirnya menemukan Tuhan. Merasa mendengar suara-Nya. Akan tetapi, bagaimana tepatnya kita bisa yakin kalo yang kita temukan itu memang suara kebenaran? Bagaimana kita bisa tahu kalo itu bener merupakan wahyu Ilahi? Bagaimana jika itu ternyata suara setan? Atau lebih buruk, bagaimana kalo bisik-bisikan itu ternyata kehaluan kita semata?

Pertanyaan itulah yang diangkat sebagai pembicaraan utama oleh sutradara sekaligus penulis naskah Rose Glass dalam film panjang pertamanya ini. Saint Maud adalah cerita horor yang menggabungkan psikologi atau keadaan jiwa seseorang dengan keyakinan terhadap agama. Sehingga cerita ini akan benar-benar menghantui secara personal. Seram yang dihasilkan oleh film ini bukan dari setan-setanan. Bahkan bukan dari elemen Tuhan melawan setan seperti film-film horor religi yang biasa kita lihat. Melainkan, seram film ini datang dari melihat orang yang semakin ngeblur batas antara realita dan halunya, yang membuat semakin burem juga mana yang kebenaran dan keselamatan, mana yang tidak baginya.

Rose Glass dengan bijak mengarahkan ini sebagai cerita yang sudut pandangnya benar-benar fokus kepada si satu tokoh utama ini. Karena ini sesungguhnya adalah cerita yang berakar pada efek dari kesendirian seorang manusia. Nama karakter utamanya adalah Maud. Suster yang memilih untuk menjadi penganut agama yang taat, setelah peristiwa kecelakaan di ruang operasi terus membayanginya. Maud percaya dirinya menemukan Tuhan setelah tragedi tersebut. Maud ditugasi untuk merawat Amanda, seorang penari profesional yang umurnya tinggal menghitung hari. Melihat bukan hanya kondisi, melainkan terutama dari gaya hidup Amanda yang berbeda dengan yang diyakininya, Maud lantas percaya bahwa Tuhan telah memberinya tugas yang lebih penting. Yakni ‘menyelamatkan’ Amanda ke jalan yang benar. Judul film ini datang dari sikap Maud yang merasa dirinya jadi orang suci. Kengerian akan terus memuncak seiring kita melihat tindakan tak-tertebak dari Maud yang membuat kita berpikir “Ni orang jangan-jangan mendengar bisikan setan?”

Jangan becanda sama maut.. eh, sama Maud!

 

Tadinya kupikir film ini bakal kayak  Persona (1966) versi horor religi karena kebetulan setting dan tokoh sentralnya serupa. Dua orang perempuan – yang satu sebagai pengasuh yang lain, yang satu lebih pendiam daripada yang satunya – yang saling berinteraksi dan akhirnya saling memblurkan garis kepribadian dan kepercayaan masing-masing. Tapi ternyata tidak. Hubungan Maud dengan Amanda memang diberikan sorotan yang kuat. Perbedaan hidup antara Maud yang sederhana dan penyendiri dengan Amanda yang supel dan sering bikin party; glamor meski sedang sakit, terkadang jadi konflik. Interaksi kedua karakter ini juga melingkup soal reaksi Amanda terhadap ajaran agama dari Maud. Namun demikian, cerita ini tetaplah milik Maud seorang. Fungsi hubungan Maud dengan Amanda adalah untuk menunjukkan dinamika power yang menjadi fuel ‘misi mulia’ Maud. Memperlebar jarak Maud dengan orang lain, membuatnya semakin terhanyut dan mengurung diri ke satu-satunya lawan bicara. Yakni ‘suara Tuhan’.

Ngeri, beneran, melihat film ini menggambarkan percakapan Maud dengan ‘Tuhan’. Kita kan biasanya berdoa dengan meminta dan memohon, merendahkan diri kepada Tuhan. Suara kita lirih, kalo perlu berdoa sambil menangis. Karena kita tahu kita tidak berdaya di hadapan Tuhan. Kita kecil, powerless. Tidak demikian halnya dengan Maud. Dia sudah begitu percaya bahwa dialah orang terpilih. Sang Penyelamat, malah. Maud sampai mengenakan sprei layaknya pakaian panjang Yesus. Nada suara Maud ketika bicara dengan Tuhan tidak seperti sedang berdoa. Suaranya terdengar akrab seolah sedang bicara hadap-hadapan dengan teman. Saking ‘biasanya’, obrolan dia dengan ‘Tuhan’ itu jadi voice-over yang bertindak selayaknya narator dalam film ini. Dan dia enggak memohon, melainkan menuntut. “Maafkan ketidaksabaran hamba, tapi saya minta rencana itu disampaikan kepada saya secepatnya”, begitu pinta Maud kepada Tuhan. Dan ketika hal tidak berjalan sesuai dengan yang ia mau – seperti ketika Amanda tetap bertemu dengan pacar wanitanya meskipun sudah dilarang – Maud enggak segan-segan untuk menunjukkan nada marah kepada Tuhannya.

Aku bicara ini sebagai seorang yang udah ngegodok naskah tentang perempuan yang curhat dengan kompornya sejak lima tahun lalu (yang Alhamdulillah sampai sekarang belum ada pitching-nya yang sukses), jadi aku kira-kira bisa paham intensitas psikologis yang ingin dicapai film Saint Maud dari obrolan Maud dengan ‘Tuhan’ tersebut. Yang sebenarnya adalah obrolan Maud dengan dirinya sendiri. Dengan jiwanya yang sudah terdeteriorate oleh isolasinya dengan sosial, oleh rasa bersalah dan traumanya atas kesalahan di masa lalu. Yang dialami Maud ini sungguh sesuatu yang mengerikan dan berbahaya. Kita lihat saja gimana Maud melukai dirinya sendiri; dia megang wajan panas, dia masukin paku ke dalam sepatu – kemudian berjalan mengenakan sepatu tersebut. Atau gimana Maud melukai orang lain ketika dia menganggap semua yang gak ‘seiman’ dengannya sebagai kemasukan setan. Padahal justru Maud sendiri yang kerap tampak seperti kerasukan. Dia sebenarnya secara tak-sadar telah menjadikan agama sebagai pelarian. Sebagai pemuas diri, untuk meyakinkan bahwa dia tidak bersalah – atau untuk meyakinkan bahwa kesalahannya dulu sudah dimaafkan sehingga kini dia jadi juru selamat.

Film bahkan menggambarkan puncak komunikasi Maud dengan Tuhan seperti sesuatu yang mirip dengan orgasme.

 

Edan sama beneran taat beriman itu memang gak ada bedanya, seperti yang dibuat oleh film ini. Kita tentu tahu sendiri contoh-contoh kasus di dunia nyata perihal orang yang terlalu edan beragama sampai-sampai menghakimi sendiri pihak-pihak yang mereka anggap berdosa. Mengharamkan, membubarkan ibadah orang, dengan dalih menegakkan perintah Tuhan. Padahal mana ada perintah Tuhan yang menyuruh mereka untuk semena-mena. Jadi yang mereka dengar itu perintah siapa? Kan itu pertanyaannya.

 

Dalam menampilkan kehaluan Maud itulah, teknis dan arahan visual film menunjukkan taringnya. Garis antara mana yang kejadian sebenarnya dengan mana yang kejadian di dalam pandangan mata Maud benar-benar dibuat halus. Warna lingkungan yang benar-benar diperhatikan komposisi terang dan gelap (bayangan) turut memperkuat kesan was-was. Tone tersebut siap untuk dibawa ke fantasi maupun realita. Dan karena kita dibuat terus melekat dengan sudut pandang Maud, maka momen-momen ketika adegan film ter-snap! menunjukkan yang sebenarnya terjadi terasa sangat menggetarkan secara emosional. Menyaksikan film ini membuatku merasa sensasi yang gak enak, yang bikin merinding. Aku tak pernah siap dan bisa mengantisipasi yang bakal terjadi berikutnya. Ditambah pula dengan imaji air dan pusaran yang senantiasa dihadirkan. Menonton Maud dengan sedemikian dekat itu terasa seperti menatap kotak kejutan lekat-lekat. Tidak tahu kapan menjeblak terbuka dan apa yang ada di dalamnya.

Maud adalah pusat cerita. Fakta ini jadi tanggung jawab buat Morfydd Clark yang memerankan Maud. Adegan demi adegan, karakter ini semakin dibuka lapisannya, dan setiap momen itu adalah suspens yang terus meningkat. Tak sekalipun Clark terbata memainkan karakter ini. Clark seperti sudah paham betul psikis seorang Maud. Yang menarik dari karakter ini kan adalah keambiguan dan keunpredictable-an. Kita hanya tahu hal-hal esensial tentang dirinya, cukup untuk membuat kita simpati, tapi selebihnya kita tidak pernah benar-benar yakin. Keambiguan ini berhasil dijaga oleh Clark lewat permainan aktingnya. Dia tampak cukup waras, terkendali, dan mampu berencana. Tapi di saat bersamaan dia juga unstable banget. Pendekatan Clark ini membuat Maud menjadi sangat menarik, enggak sekadar tampak sebagai orang halu. Film ini butuh untuk kita berada bersama Maud hingga momen akhir di ending yang edan itu. Clark berhasil memastikan itu terjadi.

 

 

 

Aku selalu bilang bahwa horor psikologis adalah horor terbaik, dan statement ini sampai saat itu belum berubah. Karena film ini adalah contohnya. Menyajikannya lewat lapisan agama, semakin memperkuat hal spesial yang ada pada film ini. Karena agama memang berkaitan dengan kejiwaan manusia – ia bicara iman, sesuatu yang dipercaya oleh hati manusia. Yang diciptakan oleh Rose Glass sebagai film panjang pertamanya ini adalah cerita yang singkat namun sangat membekas. Sebuah gambaran disturbing tentang bagaimana seseorang bisa tersesat saat menyangka diri mereka menemukan Tuhan. Fokus cerita tetap pada karakter, menjadikan film ini sebagai narasi studi-karakter yang benar-benar grounded. Meskipun bermain di ranah ambigu, which make this film as beautiful as it’s haunting.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for SAINT MAUD.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Bagaimana pendapat kalian tentang perilaku fanatik dalam beragama? Apakah itu juga karena halu?

Share  with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA