SAINT MAUD Review

“God’s one and only voice is silence.”
 

 
 
Perjalanan menemukan Tuhan, bagi setiap orang memang berbeda-beda. Ada yang terus menapaki jalan lurus; terus berdoa dan berbuat baik kepada sesama. Merasa bahagia dan dekat dengan Tuhannya dengan membantu orang-orang. Sebaliknya, ada yang jadi mendekatkan diri kepada Tuhan, meminta perlindungan, ketika mendapat bencana atau ujian berat. Dan tak sedikit pula, yang merasa dekat dengan Tuhan setelah melakukan kesalahan fatal sehingga ia ingin bertobat. Yang merasa dirinya telah tersesat. Dalam kegelapan itulah, mereka akhirnya menemukan Tuhan. Merasa mendengar suara-Nya. Akan tetapi, bagaimana tepatnya kita bisa yakin kalo yang kita temukan itu memang suara kebenaran? Bagaimana kita bisa tahu kalo itu bener merupakan wahyu Ilahi? Bagaimana jika itu ternyata suara setan? Atau lebih buruk, bagaimana kalo bisik-bisikan itu ternyata kehaluan kita semata?
Pertanyaan itulah yang diangkat sebagai pembicaraan utama oleh sutradara sekaligus penulis naskah Rose Glass dalam film panjang pertamanya ini. Saint Maud adalah cerita horor yang menggabungkan psikologi atau keadaan jiwa seseorang dengan keyakinan terhadap agama. Sehingga cerita ini akan benar-benar menghantui secara personal. Seram yang dihasilkan oleh film ini bukan dari setan-setanan. Bahkan bukan dari elemen Tuhan melawan setan seperti film-film horor religi yang biasa kita lihat. Melainkan, seram film ini datang dari melihat orang yang semakin ngeblur batas antara realita dan halunya, yang membuat semakin burem juga mana yang kebenaran dan keselamatan, mana yang tidak baginya.
Rose Glass dengan bijak mengarahkan ini sebagai cerita yang sudut pandangnya benar-benar fokus kepada si satu tokoh utama ini. Karena ini sesungguhnya adalah cerita yang berakar pada efek dari kesendirian seorang manusia. Nama karakter utamanya adalah Maud. Suster yang memilih untuk menjadi penganut agama yang taat, setelah peristiwa kecelakaan di ruang operasi terus membayanginya. Maud percaya dirinya menemukan Tuhan setelah tragedi tersebut. Maud ditugasi untuk merawat Amanda, seorang penari profesional yang umurnya tinggal menghitung hari. Melihat bukan hanya kondisi, melainkan terutama dari gaya hidup Amanda yang berbeda dengan yang diyakininya, Maud lantas percaya bahwa Tuhan telah memberinya tugas yang lebih penting. Yakni ‘menyelamatkan’ Amanda ke jalan yang benar. Judul film ini datang dari sikap Maud yang merasa dirinya jadi orang suci. Kengerian akan terus memuncak seiring kita melihat tindakan tak-tertebak dari Maud yang membuat kita berpikir “Ni orang jangan-jangan mendengar bisikan setan?”

Jangan becanda sama maut.. eh, sama Maud!

 
Tadinya kupikir film ini bakal kayak  Persona (1966) versi horor religi karena kebetulan setting dan tokoh sentralnya serupa. Dua orang perempuan – yang satu sebagai pengasuh yang lain, yang satu lebih pendiam daripada yang satunya – yang saling berinteraksi dan akhirnya saling memblurkan garis kepribadian dan kepercayaan masing-masing. Tapi ternyata tidak. Hubungan Maud dengan Amanda memang diberikan sorotan yang kuat. Perbedaan hidup antara Maud yang sederhana dan penyendiri dengan Amanda yang supel dan sering bikin party; glamor meski sedang sakit, terkadang jadi konflik. Interaksi kedua karakter ini juga melingkup soal reaksi Amanda terhadap ajaran agama dari Maud. Namun demikian, cerita ini tetaplah milik Maud seorang. Fungsi hubungan Maud dengan Amanda adalah untuk menunjukkan dinamika power yang menjadi fuel ‘misi mulia’ Maud. Memperlebar jarak Maud dengan orang lain, membuatnya semakin terhanyut dan mengurung diri ke satu-satunya lawan bicara. Yakni ‘suara Tuhan’.
Ngeri, beneran, melihat film ini menggambarkan percakapan Maud dengan ‘Tuhan’. Kita kan biasanya berdoa dengan meminta dan memohon, merendahkan diri kepada Tuhan. Suara kita lirih, kalo perlu berdoa sambil menangis. Karena kita tahu kita tidak berdaya di hadapan Tuhan. Kita kecil, powerless. Tidak demikian halnya dengan Maud. Dia sudah begitu percaya bahwa dialah orang terpilih. Sang Penyelamat, malah. Maud sampai mengenakan sprei layaknya pakaian panjang Yesus. Nada suara Maud ketika bicara dengan Tuhan tidak seperti sedang berdoa. Suaranya terdengar akrab seolah sedang bicara hadap-hadapan dengan teman. Saking ‘biasanya’, obrolan dia dengan ‘Tuhan’ itu jadi voice-over yang bertindak selayaknya narator dalam film ini. Dan dia enggak memohon, melainkan menuntut. “Maafkan ketidaksabaran hamba, tapi saya minta rencana itu disampaikan kepada saya secepatnya”, begitu pinta Maud kepada Tuhan. Dan ketika hal tidak berjalan sesuai dengan yang ia mau – seperti ketika Amanda tetap bertemu dengan pacar wanitanya meskipun sudah dilarang – Maud enggak segan-segan untuk menunjukkan nada marah kepada Tuhannya.
Aku bicara ini sebagai seorang yang udah ngegodok naskah tentang perempuan yang curhat dengan kompornya sejak lima tahun lalu (yang Alhamdulillah sampai sekarang belum ada pitching-nya yang sukses), jadi aku kira-kira bisa paham intensitas psikologis yang ingin dicapai film Saint Maud dari obrolan Maud dengan ‘Tuhan’ tersebut. Yang sebenarnya adalah obrolan Maud dengan dirinya sendiri. Dengan jiwanya yang sudah terdeteriorate oleh isolasinya dengan sosial, oleh rasa bersalah dan traumanya atas kesalahan di masa lalu. Yang dialami Maud ini sungguh sesuatu yang mengerikan dan berbahaya. Kita lihat saja gimana Maud melukai dirinya sendiri; dia megang wajan panas, dia masukin paku ke dalam sepatu – kemudian berjalan mengenakan sepatu tersebut. Atau gimana Maud melukai orang lain ketika dia menganggap semua yang gak ‘seiman’ dengannya sebagai kemasukan setan. Padahal justru Maud sendiri yang kerap tampak seperti kerasukan. Dia sebenarnya secara tak-sadar telah menjadikan agama sebagai pelarian. Sebagai pemuas diri, untuk meyakinkan bahwa dia tidak bersalah – atau untuk meyakinkan bahwa kesalahannya dulu sudah dimaafkan sehingga kini dia jadi juru selamat.
Film bahkan menggambarkan puncak komunikasi Maud dengan Tuhan seperti sesuatu yang mirip dengan orgasme.

 

Edan sama beneran taat beriman itu memang gak ada bedanya, seperti yang dibuat oleh film ini. Kita tentu tahu sendiri contoh-contoh kasus di dunia nyata perihal orang yang terlalu edan beragama sampai-sampai menghakimi sendiri pihak-pihak yang mereka anggap berdosa. Mengharamkan, membubarkan ibadah orang, dengan dalih menegakkan perintah Tuhan. Padahal mana ada perintah Tuhan yang menyuruh mereka untuk semena-mena. Jadi yang mereka dengar itu perintah siapa? Kan itu pertanyaannya.

 
Dalam menampilkan kehaluan Maud itulah, teknis dan arahan visual film menunjukkan taringnya. Garis antara mana yang kejadian sebenarnya dengan mana yang kejadian di dalam pandangan mata Maud benar-benar dibuat halus. Warna lingkungan yang benar-benar diperhatikan komposisi terang dan gelap (bayangan) turut memperkuat kesan was-was. Tone tersebut siap untuk dibawa ke fantasi maupun realita. Dan karena kita dibuat terus melekat dengan sudut pandang Maud, maka momen-momen ketika adegan film ter-snap! menunjukkan yang sebenarnya terjadi terasa sangat menggetarkan secara emosional. Menyaksikan film ini membuatku merasa sensasi yang gak enak, yang bikin merinding. Aku tak pernah siap dan bisa mengantisipasi yang bakal terjadi berikutnya. Ditambah pula dengan imaji air dan pusaran yang senantiasa dihadirkan. Menonton Maud dengan sedemikian dekat itu terasa seperti menatap kotak kejutan lekat-lekat. Tidak tahu kapan menjeblak terbuka dan apa yang ada di dalamnya.
Maud adalah pusat cerita. Fakta ini jadi tanggung jawab buat Morfydd Clark yang memerankan Maud. Adegan demi adegan, karakter ini semakin dibuka lapisannya, dan setiap momen itu adalah suspens yang terus meningkat. Tak sekalipun Clark terbata memainkan karakter ini. Clark seperti sudah paham betul psikis seorang Maud. Yang menarik dari karakter ini kan adalah keambiguan dan keunpredictable-an. Kita hanya tahu hal-hal esensial tentang dirinya, cukup untuk membuat kita simpati, tapi selebihnya kita tidak pernah benar-benar yakin. Keambiguan ini berhasil dijaga oleh Clark lewat permainan aktingnya. Dia tampak cukup waras, terkendali, dan mampu berencana. Tapi di saat bersamaan dia juga unstable banget. Pendekatan Clark ini membuat Maud menjadi sangat menarik, enggak sekadar tampak sebagai orang halu. Film ini butuh untuk kita berada bersama Maud hingga momen akhir di ending yang edan itu. Clark berhasil memastikan itu terjadi.
 
 
 
Aku selalu bilang bahwa horor psikologis adalah horor terbaik, dan statement ini sampai saat itu belum berubah. Karena film ini adalah contohnya. Menyajikannya lewat lapisan agama, semakin memperkuat hal spesial yang ada pada film ini. Karena agama memang berkaitan dengan kejiwaan manusia – ia bicara iman, sesuatu yang dipercaya oleh hati manusia. Yang diciptakan oleh Rose Glass sebagai film panjang pertamanya ini adalah cerita yang singkat namun sangat membekas. Sebuah gambaran disturbing tentang bagaimana seseorang bisa tersesat saat menyangka diri mereka menemukan Tuhan. Fokus cerita tetap pada karakter, menjadikan film ini sebagai narasi studi-karakter yang benar-benar grounded. Meskipun bermain di ranah ambigu, which make this film as beautiful as it’s haunting.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for SAINT MAUD.
 
 
 
 

 

That’s all we have for now.
Bagaimana pendapat kalian tentang perilaku fanatik dalam beragama? Apakah itu juga karena halu?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

THE LITTLE THINGS Review

“Making mistakes is better than faking perfections”
 

 
 
Judul film ini adalah mantra yang terus diucapkan oleh karakter ceritanya; detektif yang dihantui oleh kegagalan terdahulu dalam memecahkan kasus. Sehingga si detektif selalu mengulang-ngulang, “perhatikan hal-hal kecil!”. Karena memang hal-hal yang sekilas tampak tak signifikan itulah, yang biasanya punya peranan besar di kemudian hari. Tapi yang dibicarakan si detektif dalam film ini bukan ‘hal-hal kecil’ semacam menabung kebaikan sedikit lama-lama menjadi bukit. Melainkan hal-hal berupa petunjuk-petunjuk terkecil, yang dapat mengungkap kebenaran di balik misteri kasus. Hal-hal yang berasal dari kesalahan-kesalahan yang tak luput dilakukan oleh manusia. Dan yang ngerinya adalah, kesalahan itu tentu saja tak selamanya dilakukan oleh penjahat.
Inilah yang membuat The Little Things garapan John Lee Hancock menarik untuk kita simak. Drama kriminal ini ngingetin kita pada neo noir detective-nya David Fincher yang berjudul Seven (1995). Sama-sama berupa cerita detektif yang fokus kepada penggalian psikologis karakter detektifnya. The Little Things bermain di area yang tidak hitam-putih, melainkan memperlihatkan cerita kegagalan yang menempatkan tokoh-tokohnya dalam sebuah area abu-abu. Detektif yang melakukan hal tak-terpuji, atau bahkan tersangka yang membuat kita berpikir “hey mungkin dia tidak jahat..”. Namun sayangnya, film The Little Things ini tersandung oleh hal-hal kecil yang sendirinya tak ia perhatikan.
Perhatikan hal-hal kecil, kata film ini. Mantra tersebut tak bisa berdering lebih nyata lagi, sebab begitu kita memperhatikan hal-hal kecil pada film ini, kita tahu bahwa mestinya sang pembuat juga perlu menerapkan mantra tersebut ke dalam karyanya ini. Kelamnya The Little Things ternyata enggak berhenti sampai di psikologis karakter-karakternya saja, melainkan juga merambah hingga ke ranah sosial dan hukum kita di dunia nyata. Film ini memilih ending yang menurutku gak bakal nyaman diterima oleh sebagian besar penonton karena waktu dan kejadian di dunia nyata kita.

Di samping karena misteri siapa-pelakunya yang memang tidak berujung pada resolusi apa-apa

 
 
So yea, ulasan kali ini akan memuat spoiler yang lebih gamblang daripada biasanya. Karena kita akan membahas elemen yang ‘bermasalah’ dari cerita film ini, yang tak bisa dilakukan tanpa mengungkap character-arc dari tokoh-tokohnya secara nyaris total. Aku akan tetap berusaha supaya gak terlalu to-the-point amat supaya gak merampas misteri dari yang belum nonton. Tapi meskipun begitu, tetaplah anggap paragraf ini sebagai peringatan.
Karakter jagoan dalam The Little Things adalah dua orang detektif; Joe Deacon yang diperankan oleh Denzel Washington, dan satu lagi detektif yang lebih muda bernama Jim Baxter; diperankan oleh Rami Malek. Kedua karakter ini punya reputasi yang kontras. Karir Deacon actually terjun bebas dan dia pun tampak sedikit dijauhi oleh polisi-polisi lain karena peristiwa yang terjadi di masa kerjanya dahulu. Sedangkan Baxter dianggap sebagai detektif yang menjanjikan, terpercaya, dan brilian. Mereka lantas menjadi bekerja sama saat rangkaian kasus penculikan/pembunuhan perempuan-muda terjadi terus-menerus. Sementara Deacon perlahan menyadari kasus ini mirip dengan kasus tak-terpecahkan di masa lalunya, Baxter belajar tentang kenyataan di balik kasus dan trauma Deacon tersebut. Dan dengan sedikitnya petunjuk dan menipisnya waktu, pertanyaan paling penting bukan lagi soal siapa pelaku yang coba mereka tangkap. Melainkan apakah Baxter akan menapaki jejak kegagalan dan ‘kehancuran’ yang sama dengan Deacon.
Naskah yang ia tulis sejak 1993 ini agaknya menjadi terlalu rumit bagi Hancock sendiri. Ia tampak tak berhasil menemukan cara yang tepat untuk membungkus ceritanya dalam arahan yang efektif. Pengembangan selama dua jam lebih durasi terasa sia-sia karena saat cerita akhirnya tuntas, kita enggak merasakan apa-apa. Build-upnya seperti mengempis menjadi angin. Karena kita dibuat melenggang terlalu jauh dari apa yang diniatkan oleh Hancock dalam cerita ini. Permasalahan utama yang terasa dari film ini memang soal pergantian fokus cerita dari mencari pelaku ke membahas psikologi Baxter. Kita kecele dibuat oleh cerita yang tadinya seperti menyambung dari psikologi Deacon hingga tuntas ke redemption dengan menangkap pelaku, yang ternyata malah berujung ke psikologi karakter lain tanpa benar-benar memberikan penyelesaian pada kasus yang sedari awal ditampilkan seolah sebagai main attraction di film ini. Di sinilah memang letak miss-nya arahan Hancock.
Sah-sah saja membuat cerita detektif yang menonjolkan kegagalan ketimbang menangkap pelaku. Hanya saja, untuk membuat seperti itu, ceritanya harusnya fokus nge-lead penonton ke arah psikologis karakter saja. Namun film ini sudah menyesatkan sedari opening. Di awal itu yang diperlihatkan kepada kita adalah aksi si penjahat-misterius. Kita melihat dia mengejar salah satu korbannya. Dengan menonjolkan ini di awal, kita penonton jadi fokus ke sosok pelaku, penyelesaian film yang membuka dengan seperti ini haruslah dengan memberi jawaban tegas siapa dan bagaimana nanti nasib pelaku. Padahal film membicarakan bukan tentang ke siapa si pelaku, melainkan soal gimana mental detektif yang gagal mengungkap pelaku. Seharusnya film ini membuka cerita dari kedua karakter detektif. Malah menurutku mungkin bisa lebih baik kalo paralel alias sedari awal langsung saja diperlihatkan peristiwa malam kegagalan Deacon, lalu setelahnya bisa jump ke timeline yang sekarang. Intinya adalah film harusnya fokus langsung ke tragedi yang menonjolkan karakter karena memang ke situlah cerita akhirnya berlabuh; untuk apa ngeliatin kerjaan pelaku kalo pelakunya gak bakal dijawab.
I mean, lihat saja film crime-thriller Korea Memories of Murder (2003); dalam film itu, detektifnya gagal menangkap pelaku yang tak pernah diketahui siapa, tapi kita enggak kesal dan merasa kosong setelah film itu usai. Itu karena penceritaannya dimulai dengan langsung fokus ke tokoh utama. Film itu dibuka tidak dengan memperlihatkan aksi pelakunya, melainkan memperlihatkan elemen-elemen yang memfokuskan kita ke gagasannya (soal gaze, si detektif, dsb).
Tentu merupakan konflik yang menarik ketika ada detektif atau polisi seperti Deacon yang tenggelam amat dalam ke kesalahan masa lalu. Kita melihat dia literally dihantui oleh korban-korban yang ia anggap ia kecewakan, as in Deacon duduk di dalam ruangan bersama tiga korban dan Deacon yang ngobrol dengan mayat. Adegan begini sangat menarik, tapi sayangnya terasa kosong karena pada titik itu kita belum diberi kesempatan mengerti. Kita gak merasakan rasa bersalah bareng Deacon, kita hanya menontonnya dikelilingi ‘hantu’. Makanya, terasa lebih menarik ngikutin Baxter. Kita benar-benar mengikutinya sedari awal. Sedari Baxter tampak begitu percaya diri. Namun seiring waktu kita merasakan dirinya runtuh. Dia semakin desperate, ketidakmampuannya terhadap kasus ini terefleksikan olehnya kepada keluarganya. Baxter semakin ‘mirip’ dengan Deacon. Kita juga paham kenapa pada akhirnya Baxter butuh si tersangka utama, Albert Sparma (diperankan oleh Jared Leto) benar-benar keluar sebagai pelaku. Dan ketika Sparma ini eventually menjadi kejatuhan bagi Baxter, kita ikut merasakan nelangsa dan desperadonya.
Dia yang desperate akan menggali lubang berkali-kali

 

Semakin seseorang berkubang dan tidak bisa menerima kesalahan dan kegagalan dirinya, maka semakin berat juga beban yang menghantuinya. Film ini sesungguhnya punya gagasan yang menantang soal seberapa jauh orang akan melangkah demi membetulkan kesalahan yang ia perbuat.

Jika diceritakan dengan benar, maka film ini menurutku memang benar-benar sangat menantang. Aku percaya film gak harus politically correct atau film boleh saja (dan sebagian besar memang lebih menarik jika) menunjukkan kegagalan atau malah sekalian membuat tokohnya jadi jahat. The Little Things tampak mengincar kesan tersebut tapi, kembali lagi, film ini tidak memperhatikan hal-hal kecil. Penceritaan dan ending yang dipilih, justru membuat film ini seperti tone-deaf dan terkesan dangkal. Implikasinya adalah Deacon si tokoh utama tampak seperti orang yang jadi bersedia melakukan apapun untuk menutupi kesalahan yang dilakukan oleh sejawat detektif/polisi, sementara Baxter yang jadi protagonis gak pernah sadar apa yang ia lakukan itu membuatnya bersalah; mungkin saja dia malah jadi menyangka dirinya pahlawan, padahal dirinya sendiri sedang dibohongi.
Sekilas, akhiran film ini memang tampak tak memuaskan. Gak delivered resolusi apapun. Namun di balik itu semua, film ini bahkan bisa terasa lebih ‘disturbing’ lagi. Karena endingnya memuat hal yang lebih kelam soal polisi yang melakukan kesalahan – yang menghilangkan nyawa orang yang belum tentu bersalah – tapi kesalahan tersebut ditutupi demi kebaikan sang polisi itu sendiri. Masalah kekerasan oleh polisi merupakan salah satu masalah utama yang melanda kita di tahun kemaren, and it might still going on, dan hari ini kita menonton film yang enggak jelas sikapnya terhadap persoalan tersebut. Melainkan seperti memperlihatkan praktek yang demikian bobrok dari protagonis ceritanya. Film seharusnya lebih tegas dalam memilih sikap, atau setidaknya lebih klir dalam memberikan entah itu redemption, atau ganjaran, atau bahkan menjawab siapa sebenarnya pelaku. Namun ia membiarkan kita dalam kebingungan. Bahkan bukan kita aja, para aktor pun seperti dibiarkan bermain sendiri-sendiri. Washington, Malek, dan Leto jadi jualan utama karena mereka pernah meraih Oscar. Hanya saja dalam film ini mereka tidak tampak klop bermain. Mereka seperti ada pada zona yang saling terpisah. Deacon yang subtil dan bicara lewat gestur dan ekspresi kayak berada di film yang berbeda dengan Sparma yang terlalu over, sementara Baxter ada di tengah-tengah.
 
 
 
 
Aku akan lebih suka, aku yakin ceritanya akan lebih ngena, jika fokusnya memang pada Baxter saja. Tentu saja dengan ending yang lebih menghormati karakter dan penonton. Karena secara jiwa, film ini adalah psikologikal thriller yang nunjukin kegagalan detektif. Namun bagaimana itu semua tercapai jika si detektif tidak menyadari bahwa dia gagal? Arahan film ini tidak berhasil menghantarkan visi secara keseluruhan. Malahan, akan membuat kita salah sangka. Jika kita mengira ini akan menjawab siapa pelaku, maka film ini akan terasa super tidak memuaskan. Bukan salah eskpektasi kita, melainkan salah film dalam menebar petunjuk-petunjuk kecil dalam penceritaannya.
The Palace of Wisdom gives 4.5 out of 10 gold stars for THE LITTLE THINGS.
 
 
 
 

 

That’s all we have for now.
Pekerjaan polisi cukup berat, dan ternyata kasus yang gagal dipecahkan saja mampu membuat seorang polisi trauma dan terbebani seumur-umur.
Bagaimana pendapat kalian tentang ending film ini? Apakah Baxter pantas mendapatkannya?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

Royal Rumble 2021 Review


 
 
Jalan menuju kesuksesan biasanya kan berbatu-batu. Tapi jalan menuju WrestleMania tahun 2021 ini, maaaan.. Tentu saja bagi superstar yang terlibat, terutama bagi kedua pemenang pertandingan Royal Rumble (versi cewek dan versi cowok), jalan tersebut masih penuh rintangan dan berliku-liku. Namun bagi kita, ‘pemandangan’ yang tersaji di jalan ini sungguh merupakan pemandangan menyenangkan, dan liku-liku berbatu itu jadi drama yang seru dan menegangkan.

Dimulai oleh Royal Rumble ini, jalan menuju WrestleMania kali ini nyatanya adalah jalan yang sungguh seru dan menyenangkan!

 
Biasanya, aku dalam menulis review selalu pake urutan. Pertama-tama ngomongin yang bagus-bagus dulu, ‘menjual’ tontonan tersebut – memberikannya kesempatan untuk ditonton. Baru kemudian membahas poin-poin kekurangannya – memberikan pembaca ruang untuk berdiskusi soal kekurangan tersebut. Tapi ngereview Royal Rumble kali ini, aku bingung. Karena yang ada hanya hal-hal bagus sehingga aku kesulitan untuk memulai mana duluan yang mau dibahas. Ini seperti ketika kalian baru saja mengalami suatu peristiwa menyenangkan, dan kalian menceritakan peristiwa tersebut kepada teman. Begitu banyak hal menyenangkan yang disemprotkan dalam sekali cuap! Gak tau lagi deh, for once WWE akhirnya benar-benar mendengarkan permintaan dan kritikan fans. WWE benar-benar memberikan apa yang kita mau. Goldberg gak ngambil spot bintang baru yang jelas-jelas lebih mampu bertanding beneran. Charlotte out dari title picture. Pertandingan kejuaraan dengan aksi seru dan cerita yang konsisten, lagi ‘bener’. Dua match Royal Rumble; yang memuaskan sampai-sampai bikin terharu. Dan reunian merayakan persahabatan yang penuh nostalgia. C’mon, siapa sih yang gak suka ‘diginiin’??

Jangan sampai kita melihat dua Sasha tumbang dalam satu hari yang sama

 
 
Kualitas tayangan WWE ini secara produksi juga meningkat tajam. WWE menggunakan kamera baru. Yakni teknologi kamera 8K seperti yang biasa dipakai dalam siaran football NFL. Perbedaannya langsung bisa kita rasakan dengan jelas. Entrance para superstar tampak luar biasa wah. Kalo istilah ‘awam’nya: pada bokeh semua. Kamera akan menyorot dari depan superstar, selama para superstar berjalan menuju ring, dan itu kita bisa lihat ketajaman gambar dan depth-nya cantik gila. Alexa Bliss jadi makin cantik deh hihihi
Yang jelas, WWE memang semakin kreatif dengan properti mereka. Set Thunderdome kali ini diperlihatkan dengan dekat kepada kita saat pertandingan Last Man Standing antara Kevin Owens melawan Roman Reigns berlangsung. Ini bukan saja membuat pertemuan mereka jadi semakin fresh, melainkan juga membuat kita jauh-jauh dari rasa jenuh. Change of pace dari dua match Royal Rumble. Makanya pertandingan Last Man Standing ini ditempatkan di antara dua match Royal Rumble tersebut. Supaya ada pergantian suasana, supaya kita gak jemu dengan konsep itung-itung mundur melulu. Last Man Standing itu pun dipresentasikan sedemikian rupa sehingga tidak mengurangi kepentingan pertandingannya itu sendiri. Reigns dan Owens malah tetap mencuat sebagai pertandingan yang paling intens dan utama di sini. Baik Owens dan Reigns menunjukkan kematangan mereka sebagai superstar kelas kakap – bukan hanya di Smackdown, melainkan bisa jadi juga seantero WWE pada masa ini. Kita melihat pertandingan mereka ini brutal, tapi psikologi di baliknya tetap terjaga. Kita melihat adegan gila seperti Owens ditabrak pake mobil golf, yang nanti diseimbangkan dengan adegan seperti superstar terus mengincar kaki lawannya karena memang logika pertandingan ini adalah pertandingan yang hanya bisa dimenangkan saat lawan tidak mampu berdiri dalam sepuluh hitungan.
Another great character works dapat kita jumpai dalam pertandingan kejuaraan Cewek Smackdown antara Sasha Banks melawan Carmella. Desember lalu di TLC mereka bagus banget adu gulatnya. Di PPV Royal Rumble kali ini, match mereka secara aksi agak sedikit lebih sloppy, tapi kekuatan mereka di sini terletak pada psikologi karakter. Carmella berantem dengan taktik (baca: Reginald) dan Sasha berusaha membuktikan dia masih Boss di divisi ini. Pertandingan ini diniatkan untuk mempush development karakter mereka masing-masing. Menarik sekali menyimak ke mana arahan heel tak-biasa dari Carmella ke depannya (tak biasa karena biasanya superstar cowok yang dibantu curang oleh manager cewek – dan di sini Reginald malah bukan tipe manager ‘tradisional’ ala WWE). Dan tentu saja karakter Sasha juga semakin bikin penasaran, terlebih ketika kita nanti mengetahui siapa yang bakal jadi lawannya di WrestleMania saat pertandingan Royal Rumble cewek usai.
Dua pertandingan Royal Rumble di sini boleh jadi yang bakal jadi paling memorable bagi kita dibandingkan Royal Rumble beberapa tahun belakangan. Karena keduanya memberikan pemenang yang cerita perjuangannya sama-sama heartfelt banget. Pertama, ada Bianca Belair. Relatif-pendatang-baru yang karir gulatnya memang masih semuda itu. Belair dulunya seorang atlet fitness Crossfit dan baru ‘berlatih’ sebagai pegulat di WWE tahun 2016. Hanya lima tahun, dan Belair udah mecahin rekor African-American superstar kedua yang memenangi Royal Rumble – setelah The Rock (ini membuat Bianca praktisnya sebagai African-American superstar cewek pertama yang menang Royal Rumble!) Jet yang membuatnya meroket ini bukan serta-merta dipasangkan begitu saja, Belair membuktikan bahwa dia pantas. Fisiknya luar biasa, karakter worknya bagus, dan dia juga unik dengan rambut panjang yang sesekali dijadikan cambuk untuk menyerang. Belakangan juga Smackdown ngebuild Bianca dengan proper, sehingga kemenangannya memang sudah diharapkan oleh banyak fans. Dan kedua, dari sisi Royal Rumble cowok, ada Edge. Superstar legend yang gak perlu ditanya lagi prestasinya di dalam ring. Kemenangan Edge jadi begitu emosional (dan gak ngeselin) karena karir Edge dipercaya banyak orang – termasuk dirinya sendiri – udah berakhir sejak divonis cedera leher parah. Tahun lalu Edge balik dan bikin kaget banyak orang, dia sudah diset untuk kembali secara permanen, namun dia cedera lagi. Jadi ketika Edge muncul lagi dan actually menang, ini seperti keajaiban gede bagi para fans.
Terakhir kali Edge memenangkan Rumble adalah pada tanggal 31 Januari 2010. Tepat sebelas tahun setelah itu – setelah melalui banyak cedera dan jauh dari ring – Edge kembali mengukir prestasi tersebut. Bukan menang sekadar menang, Edge menang sebagai peserta nomor urut pertama, berhadapan dengan Randy Orton sang musuh bebuyutan. Ya, cerita Edge dalam match Royal Rumble ini benar-benar dimainkan oleh WWE ke dalam konteks sehingga terasa sangat emosional. Dan bukan hanya Edge yang malam Royal Rumble itu ada di atas ring setelah divonis gak-bakal bisa tanding lagi seumur hidup. Ada Daniel Bryan. Dan surprise, surprise… Christian!
“For the benefit of those with flash photography…”

 
Royal Rumble terkenal karena peserta-kejutan, dan kejutan yang disiapkan oleh WWE kali ini sungguh bikin emosi meluap. Bukan hanya nostalgia, tapi kali ini WWE benar-benar menggunakan ‘legend-legend’ itu untuk memperkuat cerita. Para legend kali ini beneran seperti membantu banyak superstar muda, tak lagi tampak seperti ngambil spot mereka. Lihat saja Victoria yang sempat-sempatnya ‘ngajarin’ jurus Widow’s Peak dengan benar kepada Peyton Royce, atau bagaimana Victoria membuat Shayna Baszler tampak kuat. Jillian Hall aja membantu banget buat karakter komedi si Billie Kay. Aku senang karena walaupun banyak legend yang muncul, Edge yang actually jadi hero utama, tapi fokus pengembangan tetap pada superstar masa kini. Damien Priest, misalnya, superstar yang naik kelas dari NXT di Rumble ini dibook kuat banget, eliminasi empat orang – termasuk single-handedly membuang Kane. Dan kemudian ada Bobby Lashley yang membuang Priest, praktisnya membuat Lashley jadi super brute-force. Aku bahkan gak kesel Alexa Bliss tampil singkat banget, karena karakternya gak benar-benar butuh Royal Rumble. Atau, lebih tepatnya, Royal Rumble yang udah keren ini gak butuh kekuatan editing alias transformasi Alexa karena itu akan meruntuhkan match ini – membuatnya jadi gak make sense.
Tentu, acara ini juga gak luput dari botch. Namun di sini botch-nya lebih ke teknis, misalnya soal Paul Heyman yang menghabiskan waktu terlalu lama untuk membuka tangan Reigns yang terborgol. Membuat match Last Man Standing itu jadi konyol karena wasit terpaksa menghentikan hitungan sampai borgolnya terlepas. Accident happens, dan kita gak bisa tau pasti apa memang kuncinya yang macet atau gimana. Knowing WWE, kurasa kejadian ini bisa mereka ubah anglenya untuk dijadikan storyline ke depan. Sama kayak momen Royal Rumble Bianca dan Rhea yang kedua kakinya kayak udah menyentuh lantai – botch yang tak terhindarkan – yang menurutku, jika WWE memilih untuk mengacknowledge ini, WWE bisa menjadikan kejadian tersebut sebagai storyline.
Uh-oh, Carlito baiknya jangan ngelakuin sesuatu yang ‘cool’ dengan apel itu, karena kita masih suasana pandemi hihi

 
 
 
Senangnya ketika acara WWE terasa tidak terlalu panjang, penuh keseruan dan hantaman emosional seperti Royal Rumble ini. Sehingga botch atau konyol-konyol sedikit pun tak jadi masalah besar. Match Goldberg yang isinya finisher melulu juga somehow jadi asik-asik aja buatku. Melihatnya aku malah jadi teringat sama main Yugioh; karena TCG meta jaman sekarang pun duelnya persis seperti begitu. Satu-combo saja, hanya saja jadi seru karena Goldberg dan McIntyre yang tuker-tukeran finisher itu kayak duelist yugioh yang top-deck silih berganti. Dan – maafkan karena aku membuat analogi yugioh lagi – match Royal Rumble cowok bisa kita anggap sebagai deck yugioh yang berisi tiga puluh kartu staple! Alias match tersebut isinya superstar-superstar papan tengah ke atas yang favorit semua! The Palace of Wisdom menobatkan MATCH OF THE NIGHT kepada partai Royal Rumble cowok, sementara kemenangan Bianca Belair dinobatkan sebagai MOMENT OF THE NIGHT
 
 
 
Full Results:
1. WWE CHAMPIONSHIP Drew McIntyre jadi juara bertahan ngalahin Goldberg
2. SMACKDOWN WOMEN’S CHAMPIONSHIP Sasha Banks mempertahankan sabuknya dari Carmella
3. 30-WOMEN’S ROYAL RUMBLE Bianca Belair menang dengan menyuguhkan salah satu penampilan Rumble terbaik
4. UNIVERSAL CHAMPIONSHIP LAST MAN STANDING Roman Reigns tetap juara mengalahkan Kevin Owens
5. 30-MEN’S ROYAL RUMBLE Edge menuju WrestleMania!!!
 
 
 
That’s all we have for now.
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
 
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.