Tags

, , , , , , , , , , , ,

“I am not what happened to me, I am what I choose to become.”

 

Black Widow bukanlah superhero terkuat. Dia bahkan bukan jagoan cewek paling kuat. Natasha Romanoff tidak punya kekuatan super. Dia ini kayak Yamcha di kartun Dragon Ball. Manusia bumi biasa, tanpa kekuatan super, tapi begitu terlatih sehingga serba-bisa. Yamcha yang dulunya perampok, dan sempat jadi pacar Bulma, bisa Kamehameha, Bola Semangat, on top of that dia punya jurus berantem tersendiri. Begitu jualah dengan Natasha alias Black Widow. Dari seorang assassin, ke sempat (nyaris) jadi love interest Hulk, yang jelas Natasha dapat diandalkan oleh teman-teman Avengers karena banyaknya variasi kemampuan yang ia miliki – meskipun gak jago-jago amat. Nasib kedua karakter ini pun sama. Gugur; bukan dalam sengitnya pertempuran personal, melainkan karena cerita mengharuskan seorang karakter untuk mati.

Jadi kenapa karakter jack-off-all-trade sepert itu bisa digemari sehingga fans terus meminta Black Widow punya film tersendiri? Well, first; Natasha Romanoff dimainkan oleh Scarlet Johansson. People love her intensity. Kedua, karena kehebatan cerita superhero tidak diukur dari seberapa dahsyat superpowernya. Melainkan dari seberapa besar perjuangan si pahlawan ini mengatasi kelemahan-kelemahannya, berapa dahsyat yang harus ia tempuh dalam membuat pilihan. Black Widow adalah pahlawan cewek yang punya masa lalu kelam sebagai pembunuh, jelas punya modal untuk sebuah cerita-sendiri yang menarik. Namun sayangnya, ketika film ini benar-benar kejadian, Marvel dan Disney masih menganggap Natasha Romanoff sebagai Yamcha at worst, dan sebagai simbol feminis at best.

Black Widow bukan film superhero ‘terkuat’ di antara film-film superhero MCU yang lain. Dalam film solo yang harusnya adalah waktu untuk menjelaskan lebih banyak suara dari karakter ini, yang seharusnya jadi proper send-off untuk karakter ini, Natasha Romanoff itu sendiri ternyata hanya jadi batu loncatan untuk projek superhero berikutnya.

Black-Widow-trailer-1-1280x720

Kalo Scar-Jo meranin Yamcha, niscaya Yamcha juga bakal jadi favorit

 

Cerita mengambil tempat di antara event Civil War dengan Infinity War. Tapi sebelum mulai, film mundur dulu. Memperlihatkan masa kecil Natasha bersama keluarga-palsunya. Bagaimana ayah-ibu-kakak-adik itu kini harus berpisah karena mereka dikirim kembali oleh bos ke Rusia untuk mendapat pelatihan dan misi lebih lanjut. Semua itu dikemas sebagai kredit pembuka – lengkap dengan lagu opening, kayak kalo kita lagi nonton opening acara televisi.

Ironisnya, kredit pembuka tadi itu adalah satu dari dua hal bagus yang dimiliki oleh film garapan Cate Shortland ini. Karena setelah itu, Natasha Romanoff yang sedang dalam pelarian, tidak benar-benar melakukan apa-apa. Babak pertama film ini bosenin karena yang kita ikuti adalah karakter yang motivasinya adalah untuk lay-low. Masalah dengan ‘keluarga’ Avengers? Gak dulu deh. Sekitar 30-40 menit kayaknya, barulah film ini jelas arahannya ke mana. Natasha ‘dikontak’ oleh keluarganya yang satu lagi. Adik bo’ongannya dulu, si Yelena, punya informasi tentang masalah personal bagi mereka berdua. Bahwa progam Red Room yang menciptakan Pasukan Widow tak-berhati dari wanita-wanita malang seperti mereka ternyata masih berjalan. Boss Rusia, si Dreykov, yang telah dibunuh oleh Natasha beberapa tahun yang lalu, ternyata masih hidup.

Serius. Film ini bener-bener baru terasa berjalan saat Yelena masuk cerita. Dan Yelena Belova inilah satu lagi (dari dua tadi) hal terbaik yang dimiliki oleh film. Dia punya motivasi dramatis yang lebih jelas. Seperti Natasha, Yelena yang selama ini sudah tercuci otak oleh program Dreykov, mencoba untuk mengembalikan kendali atas hidupnya. Dia juga paham pentingnya memberangus proyek tersebut dan membebaskan semua orang. Tapi tidak seperti Natasha yang telah lelah ‘main keluarga-keluargaan’, Yelena ini percaya akan hubungan yang mereka bentuk sebagai keluarga-palsu. Yelena-lah yang seperti tertantang dengan pemikiran Natasha, alih-alih sebaliknya, padahal yang tokoh utama adalah Natasha. Itu juga dikarenakan Yelena inilah yang lebih banyak menunjukkan emosi yang grounded. Dan untuk fungsi itu, Florence Pugh benar-benar menyuguhkan penampilan yang oke punya. Rentang emosi yang luas itu dia lalap dengan natural. Vulnerable, tangguh, bahkan saat bercanda. Kita merasakan satu-persatu yang ia rasakan, tidak pernah kesemuanya sekaligus – seperti yang ditampilkan oleh Natashanya si Scar-Jo. Timing dan penghayatan Pugh begitu ngena, sampai-sampai lelucon konyol soal pose Black Widow aja berhasil mencuat sebagai running-joke yang menyenangkan.

Dan harus kuperingatkan, film ini penulisan tonenya mentok sekali. Film Marvel selalu berusaha melucu untuk menjaga supaya tetap ringan, itu kita semua udah tahu. Udah rahasia umum. Tapi pada film ini, blending serius dengan komedinya itu kayak trying too hard. Kita akan bertransisi dari adegan yang mencoba untuk terlalu dramatis ke adegan komedi berupa orang gendut kesusahan memakai kostum. Ada Natasha yang mewakili tone keren dan serius, ada Red Guardian yang dibikin total untuk lucu-lucuan, si Yelena ini seperti jembatan untuk menghubungkan keduanya. Makanya Yelena berhasil mencuri perhatian kita. ‘Aksi’ dia praktisnya lebih banyak, menggendong berbagai elemen film seperti yang dijelasin itu.

Meskipun benar kendali adalah milik pribadi, tapi kita tidak bisa lepas dari peranan orang-orang di sekitar. Dari orang-orang yang kita sebut keluarga. Dan orang-orang yang kita sebut keluarga itu bisa datang dari mana saja, tidak terbatas dari ‘darah’ semata. Merekalah justru pengingat bahwa kita punya pilihan. 

 

Romanoff bukannya gak punya motivasi personal, tapi film gak benar-benar follow up sama masalah personal dirinya ini. Melainkan masalahh tersebut dikecilkan. Yang dieksplorasi dari Black Widow ini adalah ada suatu perbuatan kelam yang dulu ia lakukan, sehingga kini saat dia dikenal sebagai pahlawan, peristiwa tersebut jadi berkali lipat membebani nuraninya. Sepanjang durasi film ini, Natasha bergulat dengan hal tersebut. Pergulatannya itu ditunjukkan oleh film lewat karakter Taskmaster. Musuh bertopeng yang bisa meniru semua yang ia lihat. Karena Taskmaster di sini sebenarnya adalah perwujudan Natasha zaman dulu. Zaman saat dia masih pembunuh berdarah-dingin. Jadi Taskmaster adalah musuh yang tepat untuk Natasha, karena dia memang harus mengalahkan dirinya yang dulu. Apalagi karena lebih lanjut, film memperlihatkan Taskmaster sebagai, katakanlah, produk dari ‘dosa’ Natasha yang terus menghantui.

Ini harusnya adalah cerita pengukuhan Black Widow sebagai seorang superhero. Cerita bagaimana dia benar-benar berhak menyematkan diri sebagai pahlawan. Akan tetapi, nilai perjuangannya sebagai perempuan yang berusaha membebaskan nurani itu dikurangi oleh film yang lebih memilih untuk membuat Black Widow mengalahkan pria misoginis yang berbuat tak-manusiawi kepada perempuan. Keberadaan Dreykov yang jadi master dari si Taskmaster ini seperti mengatakan cewek gak salah, cowok yang salah. Black Widow hanya perlu minta maaf untuk menenangkan hati. Taskmaster itu jahat ya karena sudah terdoktrin oleh kepercayaan Dreykov. Ingin mengecilkan, bukan hanya Black Widow, tapi juga si Taksmaster yang karakternya diubah drastis menjadi jadi seserpihan dari karakternya di komik. Shortland mengulangi kesalahan yang sama dengan Deadpool di film Wolverine.

black-widow-sb

Ternyata ini adalah kisah origin dari Rompi Berkantong Banyak

 

Yang konyolnya adalah, bahkan di akhir itu bukan Natasha yang membunuh Dreykov – Yelena did it. Tanpa kesulitan berarti. Padahal Natasha butuh banyak dialog, dan taktik, saat berdua saja di dalam ruangan sama si antagonis. Kekuatan si Dreykov benar-benar bikin aku ngakak. Dia punya pheromon spesial; siapapun yang berada cukup dekat sehingga bisa membaui bau tubuhnya, tidak akan bisa melukai dirinya. Jadi, Black Widow kemudian sengaja menyuntikkan virus corona ke dalam tubuh supaya hidungnya enggak bisa mencium. Enggak ding! Tapi yang beneran dilakukan oleh Black Widow di film ini kurang lebih sama konyolnya. Karena ngapain repot-repot harus deket-deket dulu, padahal tinggal tembak dari jauh atau lempar pake pedang aja, tewas tuh si Dreykov! Hahaha aneh banget pake adegan indra penciuman segala…

Kembali ke bahasan serius, film seperti enggan memperlihatkan karakter yang harus benar-benar struggle dengan masalah dalam inner, sehingga harus menampilkan ‘musuh bersama yang lebih nyata’. Kuharap ini cuma masalah sebagai film superhero aja, kayak, karena superhero gak boleh terlalu berat. Kuharap ini bukan soal protagonis cewek yang harus dibuat sempurna, karena belakangan memang film-film cenderung untuk terpaku pada agenda seperti itu. Dan bicara tentang superhero dan moral, film Black Widow inipun sesungguhnya enggak lurus-lurus amat. Penulisan film masih ambigu banget secara moral. Banyak karakter yang melakukan hal-hal, tapi tidak lanjut ke konsekuensinya. Karakter yang telah mengesampingkan anak yang look up to them, pada akhirnya teredeem dan jadi pembela kebenaran. Dan bagaimana dengan salju longsor di penjara itu? Hohoho…film dengan cepat ngegloss over fakta bahwa Black Widow dan Yelena telah membunuh banyak orang saat insiden kabur dari penjara. Film ini seperti dengan entengnya seolah mengestablish penjara itu isinya orang jahat semua, termasuk penjaga yang semena-mena, padahal mereka yang di sana berada pada posisi yang lebih ngenes daripada ‘collateral damage’ – dan sepanjang film Black Widow galau sama ‘collateral damage’ yang dengan sengaja dia lakukan beberapa tahun yang lalu. Moralnya gak masuk banget.

Tapi tentu saja, aksi gede perlu untuk dilakukan karena ini adalah film laga berbudget mahal. Malu dong kalo sekelas Disney dan Marvel gak pake acara hancur-hancuran dan ngebut-ngebutan. Persetan dengan logika. Orang-orang tanpa kekuatan super itu yang penting bisa tampak keren meluncur jatuh, ataupun berkali-kali terguling dalam kecelakaan mobil. Perkara mereka bisa selamat, itu urusan yang seharusnya gak usah repot kita pikirkan saat mencari hiburan, kan. Lagipula mungkin film ini ngasih petunjuk bahwa Natasha bisa selamat dari begitu banyak kecelakaan, dan terjun dari stasiun angkasa, jadi mungkin dia belum benar-benar mati saat jatuh dari tebing itu. Ngarep! Anyway, begitulah adegan-adegan aksi dalam film ini. Secara koreografi, kerja kamera, dan teknis-teknis begitu, tidak ada yang spesial. There are lot of CGIs, editing, and stunt double – standar rutinitas film aksi yang biasa.  Kalo ada yang diingat orang, maka itu adalah beberapa kualitas CGI yang kurang kece, adegan yang gak grounded-grounded amat, dan betapa “such a poser”nya film superhero ini.

 

 

 

Setelah menontonnya, aku masih menganggap mereka sebenarnya masih gak pengen-pengen amat membuat film ini. Kayak, film ini akhirnya ada karena tuntutan, dan waktu yang tepat. Karena Marvel ingin mendorong proyek-proyek berikutnya. Ada karakter yang harus diperkenalkan. Apa yang mestinya merupakan swan song dari superhero yang difavoritkan banyak orang ternyata tak lebih dari sekadar roda gigi kecil pada mesin yang besar. Film ini hanyalah another spectacle featuring hal-hal yang bikin kita excited. Tanpa benar-benar utuh menyelami kepada karakter dan dunianya sendiri.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for BLACK WIDOW.

 

 

 

That’s all we have for now.

Untung mengenang Black Widow yang gugur, apa momen Natasha Romanoff favorit kalian di seluruh film MCU?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA