RAYA AND THE LAST DRAGON Review

“The saddest thing about betrayal is that it never comes from your enemies”
 

 
Representasi dalam film itu penting. Karena film bukan milik satu golongan. Semua orang punya cerita untuk dibagikan. Representasi berarti mengakui keberagaman, dan film sudah seharusnya menyatukan keberagaman tersebut. Bukannya mengotak-ngotakkan mereka ke dalam stereotipe. Setiap bangsa, setiap kita, punya keunikan yang bersumber dari sudut pandang dan identitas. Masih banyak magic dan untouched land yang belum diangkat ke dalam film, dan Disney kini telah memalingkan wajahnya ke arah kita semua. Ke Asia Tenggara. Disney mengangkat cerita fantasi yang berakar kuat pada budaya dan mitologi – identitas – bangsa rumpun kita. Raya dalam film Raya and the Last Dragon Disney akan menjadi Princess pertama dari Asia Tenggara. Dan gadis sawo matang itu akan bertualang dalam sebuah pertunjukan animasi yang terasa seperti sangat bertuah, dekat, dan menakjubkan.
Seolah menekankan kepada kita bahwa mereka (Disney dan empat sutradara; Don Hall, Carlos Lopez Estrada, Paul Briggs, dan John Ripa) benar-benar peduli sama representasi, bahwa misi mereka bukan hanya menambang emas dari lahan belum-tergali, melainkan jauh lebih mulia yakni untuk mengusung semangat kebersamaan dan persatuan, cerita Raya and the Last Dragon dibangun dengan persatuan itu sebagai fondasinya.
Penduduk dalam semesta imaji ini tadinya bersatu, hidup berdampingan bahu-membahu bersama alam dan naga. Keharmonisan tersebut menciptakan dunia tempat tinggal yang bernama Kumandra yang udah kayak nirwana. Tapi kemunculan musuh para naga membuat mereka tercerai berai. Bukannya bersatu menghadapi musuh yang bisa mengubah apapun menjadi batu, Para penduduk Kumandra malah terpisah menjadi lima kelompok kecil yang saling memperebutkan batu mustika berisi kekuatan naga. Selama ini, batu ajaib tersebut dijaga oleh keluarga Raya. Raya akhirnya menyaksikan sendiri, dalam semangat saling curiga dan tak-percaya, batu mustika tersebut pecah diperebutkan oleh para kelompok yang ingin memilikinya untuk kepentingan masing-masing. Bertahun berlalu, Raya yang ingin mengembalikan ayahnya yang membatu, bertualang mengumpulkan pecahan batu yang tersebar, sembari berusaha mencari naga terakhir yang ia percaya masih ada untuk mengembalikan kedamaian di sisa-sisa Kumandra.

Apakah kita takut dikhianati? Atau kita berkhianat karena takut?

 
 
Raya sets on the grand adventure yang dibuat untuk gampang kita ikuti. Yang didesain untuk bisa dialami sebagai sebuah tontonan keluarga. Animasinya mulus dan detil sekali. Sepanjang petualangannya Raya akan berkunjung ke tempat-tempat yang punya pemandangan dan ciri khas berbeda. Bayangkan stage atau level dalam video game, nah begitu persisnya lingkungan yang menjadi panggung petualangan Raya. Difungsikan untuk memberikan tantangan sekaligus pembelajaran baru. Sehingga film pun terasa terus bergulir hidup (kinda like si Tuk Tuk, doesn’t it?) Aksi berantem juga digambarkan dengan sangat imajinatif, dengan kuat mengakar kepada bela diri khas Asia Tenggara. Kita akan melihat senjata dengan belati seperti keris, tapi dimodifikasi sehingga jadi bisa memanjang kayak pedang Zabimaru milik Renji di anime Bleach, kita akan melihat gaya bertarung pake dua tongkat kayak seni beladiri Filipina. Raya nantinya juga akan bertemu dengan karakter baru pada setiap tempat yang ia datangi tersebut. Karakter-karakter ini akan menjadi pendukung yang menambah kaya petualangan dan drama alias cerita film ini sendiri. Misalnya ada karakter bayi yang bisa kung-fu, yang tadinya mencopet Raya, tapi akhirnya mereka jadi berteman dan si Bayi ikut dalam petualangan Raya.
Singkatnya, karakter-karakter yang bakal jadi teman Raya itu tetap menjaga film ini kocak dan ajaib.
Panjangnya, karakter-karakter ini berfungsi sebagai kepingan yang harus disatukan oleh Raya – paralel dengan misi Raya menyatukan kepingan batu naga. Mereka semua itu adalah bagian dari suara film ini tentang persatuan itu sendiri. On the deeper level, petualangan Raya ini sesungguhnya adalah petualangan mempersatukan umat. Film ini menampilkan karakter dari banyak kelompok, yang harus belajar untuk saling percaya bahkan kepada kelompok yang udah mengkhianati mereka. Ada pembicaraan soal keberanian untuk memaafkan di sini. Ada pembicaraan soal keberanian untuk memulai itu sendiri. Raya dan generasi muda di sini adalah korban langsung dari perpecahan turun temurun, dan merekalah yang menanggung sakit. Mereka yang paling pantas untuk balas dendam dan meneruskan siklus tersebut, tapi mereka juga punya pilihan untuk menghentikan semua dan menaruh kepercayaan untuk hasil yang lebih baik ke depan. It is a tough choice, dan bahkan mungkin even tougher choice untuk memasukkan elemen cerita seperti ini ke dalam tayangan untuk keluarga. Untungnya, film ini percaya bahwa anak-anak sekalipun akan nonton sambil berpikir. Bahwa anak-anak sanggup dan perlu memahami plot yang benar-benar punya daging. Disney sepertinya memang udah paham kalo anak-anak butuh sesuatu untuk didiskusikan dengan ringan bersama orangtua atau keluarga, makanya setiap film mereka selalu bergizi oleh gagasan dan pembelajaran. Dan yang ingin dibicarakan oleh Raya ini adalah soal persatuan, soal mempercayai sesama. Siapa lagi yang paling perlu untuk mengerti dan memandang positif dari semua itu kalo bukan anak-anak?

Dikhianati itu memang menyakitkan, dan bikin trauma. Bikin kita susah untuk percaya lagi pada orang. Pengkhianatan itu terasa menyakitkan karena pengkhianatan itu adalah tusukan yang datang dari teman. Dari teman. Bukan musuh. Itulah yang harus kita ingat; bahwa that was our friend. Dengan teman seharusnya kita bersatu. Kita harus belajar untuk memaafkan dan belajar untuk menumbuhkan rasa percaya itu kembali. Demi teman. 

 
Makanya, relasi yang paling memorable dan paling berkesan di film ini bagiku adalah antara Raya dengan Namaari; anak dari kelompok sebelah yang udah mengkhianati Raya berkali-kali. Rivalry dan dinamika mereka sepanjang film terasa grounded dan sangat emosional. Beban dramatis kepada Namaari dan Raya itu kerasa banget, karena sangat personal. Bagi Namaari ini adalah tugas yang dipaksakan kepadanya oleh sang Ibu; tugas yang bertentangan dengan nuraninya sendiri. Sementara bagi Raya, dia udah bertekad untuk enggak percaya lagi. Satu-satunya yang Raya percaya adalah Susi — eh kebalik, Sisu sang naga air yang berhasil ia temukan. Relasi antara Raya dengan Sisu dimainkan dengan lebih ringan, dan difungsikan pertama sebagai hiburan. Raya dan Sisu ini kayak gabungan Aladdin-Genie dengan Marlin-Dory. Keajaiban Sisu disambut wonder yang seru dan mengasyikkan dari Raya, sementara itu juga sikap Sisu yang gampang percaya sering membuat Raya sedikit senewen, seperti Marlin yang enggak mau mempercayakan apapun kepada Dory padahal usulan Sisu dan Dory sebenarnya kita tau sama-sama benar. As for me, pada awalnya aku pun agak senewen juga sama karakter Sisu. Candaannya banyak yang agak kurang ngena, misalnya candaan soal kerja kelompok di sekolah. Lucu, tapi terasa terlalu modern. Kayak dilontarkan langsung oleh Awkwafina as a person. Pertama-tama memang aku ngerasa kurang sreg sama voice acting Awkwafina sebagai Sisu – aku gak bisa melihat dia sebagai karakter. Namun seiring berjalannya durasi, karakter Sisu grows on me, begitu juga dengan akting penyulih suaranya tersebut.

Daripada ngumpulin 7 bola naga, mendingan ngumpulin lima pecahan batu naga ajah!

 
 
Desain visualnya-lah yang terutama menonjolkan representasi tersebut. Sisu bentukannya beda banget ama naga-naga di Eropa. Ngeliatnya langsung terasa ‘Asia banget’. Salah satu elemen representasi menarik yang dilakukan oleh film ini adalah tentang bagaimana makanan menyatukan manusia. Akan ada beberapa kali adegan karakter berunding di meja makan, bahkan strategi ayah Raya untuk menyatukan kelima kelompok adalah dengan menjamu mereka makan. Kalo udah urusan perut memang kita biasanya akur, dan itu kayaknya terjadi buat semua manusia di muka bumi, tapi paling tidak dari elemen tersebut kita melihat beberapa sajian makanan yang bentuknya dibuat mirip sama makanan yang kita kenal.
Visual dan karakterisasi yang kuat berhasil dicapai. Perjuangan film ini adalah pada penceritaannya. Walaupun arahannya udah mantap, membuat film ini berjalan cepat dan mulus dan tidak pernah menjadi berat dan gak jelas kayak lore pada Frozen II (2019), tapi pada awalnya tidak demikian. Film seperti Raya and the Last Dragon selalu punya batu sandungan berupa eksposisi. Keperluan untuk menjelaskan dunia dan segala aturannya. Film ini berusaha melakukannya dengan penempatan yang asik, dan tentu saja lewat visual yang menarik – beberapa eksposisi film ini diceritakan pakai animasi yang kayak wayang – tapi tetap membuat film ini agak terbata sedikit. Perasaan dan pikiran para karakter pun terkadang cenderung untuk diejakan sehingga beberapa penonton mungkin akan merindukan sekuen nyanyi yang biasa muncul pada film Princess Disney yang difungsikan untuk memperlancar penyampaian eksposisi dan perasaan karakter.
 
 
 
Raya dalam bahasa kita berarti besar, dan film ini memang sebesar itu! Film kayak begini ini-lah yang bikin kita rindu sama bioskop. Film dengan visual yang menakjubkan dan menerbangkan imajinasi. Film yang menyuguhkan petualangan seru, sambil mengisi kita dengan gagasan yang berharga. Film yang bisa kita relasikan, baik dari cerita atau kejadian, maupun dari kedekatan representasi. Terasa seperti kita menjadi bagian dari film, dan terasa seperti kita diajak bicara langsung oleh filmnya. Film yang dihidupi oleh karakter-karakter yang beresonansi dan tidak mungkin terlupakan dalam waktu dekat. Film yang sendirinya terasa benar-benar berjuang mengatasi kelemahannya. Eksposisi tidak membuat gentar film ini, yang dengan semangat pick up the pace dan paham untuk tidak membuat kita berberat-berat ria. Semoga ini bukan jadi film terakhir yang berhasil seperti begini.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for RAYA AND THE LAST DRAGON
 
 
 
 

That’s all we have for now.
Menurut kalian kenapa kita damai di depan makanan? Bagaimana makanan dapat mempersatukan kita?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

FLORA & ULYSSES Review

“What doesn’t kill you makes you stronger”
 

 
Ada dua tipe anak kecil. Anak kecil yang pengen dirinya jadi superhero. Dan anak kecil yang pengen sobatan ama superhero. Flora dalam film Flora & Ulysses condong termasuk ke tipe yang kedua. Meskipun sebenarnya semakin hari Flora semakin tidak percaya pada superhero. Semakin tidak percaya ada pahlawan yang datang menolong keluarganya, membantu ayah dan ibunya yang semakin renggang. Di saat Flora sudah memantapkan diri sebagai seorang Cynic alias seorang sinis yang tidak percaya keajaiban, dia bertemu (atau lebih tepatnya menyelamatkan) seekor tupai yang tersedot ke dalam mesin vacuum cleaner. Dan oleh peristiwa tersebut, sang tupai yang ia beri nama Ulysses itu jadi memiliki kekuatan super!
Flora & Ulysses yang diadaptasi dari novel anak berjudul sama ini akan menempatkan kita pada petualangan superhero yang tidak biasa, yang dunianya dihidupi oleh humor-humor dan karakter lucu, yang seringkali menyentil dunia komik dan superhero itu sendiri.
Bagaimana enggak menyentil coba? Ini adalah film yang bicara tentang superhero tapi protagonisnya sendiri sudah mulai capek untuk percaya pada superhero. Meletakkan sudut pandang demikian ke dalam seorang anak kecil jelas jadi setting karakter yang menarik. Flora ini dibesarkan oleh dongeng-dongeng superhero, sebab ayahnya adalah komikus. Flora diperlihatkan masih acapkali ngobrol dengan para karakter komik bikinan sang ayah (mereka jadi seperti teman imajinasi Flora), tapi Flora aware mereka cuma imajinasi dan tahu persis mereka gak bisa membantunya. Jadi Flora memutuskan untuk bertindak sendiri. Dengan demikian, Flora ini jadi seperti sentilan bagi kita yang udah dewasa yang tidak actually ngelakuin apa-apa selain cuma berkhayal punya kekuatan super atau punya jalan keluar ajaib dari setiap permasalahan.

Superpowerku adalah kekuatan mutant, yakni mut-mutant dalam menjalani sesuatu

 
Kata “&” pada judul itu berhasil diseimbangkan. Walaupun di sini bukan dia yang punya kekuatan super, tapi film ini berhasil mengembangkan permasalahan Flora di balik petualangan superhero yang jadi lapisan terluar, lapisan yang membuat film ini seru sekaligus lucu. Film ini berhasil bikin Flora yang lebih memilih menjadi sidekick, tetap mencuat sebagai tokoh utama. Sementara itu, Ulysess si Tupai Super juga mendapat porsi yang cukup besar. Si Tupai ini dihidupkan dengan efek komputer. Desainnya tetap kayak tupai asli, tapi karena berupa CGI, karakter Ulysses ini jadi bisa melakukan banyak gerakan yang lucu-lucu. Mulai dari meniru pose superhero di komik Flora (suatu ketika dia meniru Spider-Man yang lagi gelantungan!) hingga melakukan aksi kecil-kecilan kayak ‘berantem’ dengan hiasan meja. Kita melihat Ulysses belajar dan mengembangkan kekuatannya. Kita melihat Ulysses mencoba membantu keluarga Flora lewat ketikan puisi (yes, salah satu superpower Ulysses adalah kekuatan mengetik kata). Kita melihat petualangan Ulysses berhadapan dengan musuh bebuyutan berupa si Penangkap Hewan (berseragam begitu, Danny “Abed” Pudi jadi mirip Matthew McConaughey hihihi). Film ini butuh CGI untuk menghidupkan Ulysses, tapi tidak pernah benar-benar bergantung kepada efek tersebut. Karena porsi pengembangan yang dibuat seimbang, dengan sudut pandang yang dijagai tetap pada Flora, maka film ini tidak pernah keluar dari jalur.
Penampilan Matilda Lawler sebagai Flora di sini super pas sekali. Keceriaan dan sarkasnya berhasil ia deliver dengan baik. Menjadi seorang Cynic bagi Flora berarti adalah melakukan banyak observasi. Menarik sekali melihat Flora yang excited banget untuk jadi sidekick dari Ulysses si Tupai Super. Flora ingin membantu Ulysses menemukan purposenya karena setiap superhero punya purpose. Anak ini bukannya gak percaya pada keajaiban, dia toh mau membantu dan percaya ada tupai yang jadi pahlawan super. Kurasa dari sinilah sebenarnya kepedulian kita terhadap Flora berasal, film memantik emosi yang subtil sekali di balik sikap ceria Flora yang membantu tupainya. Bahwa dia ini adalah anak yang sebenarnya sangat terpukul oleh keadaan keluarganya, oleh ayah ibunya yang berpisah.
Film ini memang tak lupa untuk berpijak pada permasalahan yang menapak ke tanah, yakni permasalahan dalam keluarga. Dalam hal ini, yang dibahas adalah keluarga yang berpisah. Ayah dan Ibu Flora juga mendapat porsi pembahasan dalam cerita. Ayah Flora, seorang komikus, dan ibu Flora seorang novelis romansa. Keadaan ekonomi membuat mereka bukan saja harus pisah-rumah, melainkan juga harus pisah dari passion masing-masing. Ayah Flora kini jadi karyawan toko, sementara ibunya masih pengen nulis tapi mandek – gak bisa lagi bikin sesuatu yang romantis.  Ini tentu saja permasalahan yang besar untuk setiap anak seusia Flora. But she didn’t beat herself up about it. Film pun tidak lantas jadi ajang mewek-mewekan. Flora begitu penuh imajinasi dan optimis dan – betapapun dia bilang enggak mau, dia tetap penuh oleh – harapan. Harapan inilah yang diam-diam jadi superpower Flora. Dia gak sadar bahwa dengan sikapnya, dia sudah jadi pahlawan bagi Ulysses, Ayah, Ibu, dan kehidupan di sekitar.
Tone ceria dan enerjik tetap dipertahankan oleh film ini. Jika tidak sedang menghangatkan kita oleh hubungan keluarga ataupun oleh petualangan seru, film ini akan bikin kita ngakak oleh selera humor yang juga super. Serius. Sarkasnya si Flora? Cek bikin ketawa. Dialog yang make fun of comic book and superhero? Cek bikin ngikik. Dan tak ketinggalan humor simpel yakni slapstick. Aku lebih banyak ketawa nonton film ini dibandingkan nonton Tom and Jerry (2021) kemaren. Flora & Ulysses adalah contoh yang benar untuk gabungan animasi dan live-action yang melibatkan hewan dan manusia. It uses characters very well, dan benar-benar mendesain komedi dari para karakter tersebut, pada apa yang mereka lakukan. Pada Flora & Ulysses ini, dunia itu benar terasa luas, akan selalu ada karakter yang memberikan kejutan yang lucu. Skit kucing galak yang nyakar dari balik semak aja sukses bikin aku guling-guling.
The friendly Neighborhood Cynic-Man

 
Meskipun demikian, tidak pernah terasa humornya receh. Film garapan Lena Khan ini tidak meledek siapapun – kecuali mungkin para man-child penggemar komik kelas berat itu tadi – dan itupun dilakukan dengan penuh respek. Ada satu elemen yang menurutku dilakukan dengan berani oleh film ini. Yakni karakter ally alias teman manusia Flora yang bernama William (sekali lagi Benjamin Evan Ainsworth dapat lawan main bernama Flora). William diceritakan buta sementara. Dan sikap karakter ini terhadap kebutaannya sering menjadi becandaan buat film ini. William mengatakan dia punya kemampuan echo-lokasi kayak kelelawar, atau dia sering nabrak dan jatuh tapi dia oke aja karena menganggap dirinya punya kemampuan menyerap tubrukan kecil. Sikapnya ini lucu, tapi tidak pernah tampak sebagai olok-olok buat penyandang kebutaan. Awkwardnya interaksi antara Flora dengan William dimainkan seperti gambaran ringan yang bisa dijadikan contoh untuk anak-anak yang punya pertemanan seperti mereka. Film menggebah mereka untuk bersikap biasa saja, tidak melecehkan, dan tidak pula mengasihani berlebihan.

Setiap superhero terlahir dari peristiwa yang membuat mereka hampir celaka. Mereka mendapat kekuatan dari sana. Ini bisa dibawa ke dalam kehidupan kita sehari-hari. Masalah yang dihadapi, adalah tantangan, yang harusnya bikin kita lebih kuat dengan berani menghadapinya. Will buta, but dia hadapi apa yang di depannya dengan berani. Flora punya segudang masalah meluarga, tapi ia hadapi, mainly dengan berharap semua bisa lebih baik. 

 
Will boleh jadi enggak bikin kita jadi males nonton film ini karena digarap dengan banyak respek. Tapi ternyata ada satu lagi yang berpotensi bikin turn-off. Yakni referensi tak-ada-abisnya ke dunia komik. Film ini sendirinya sudah punya hati dan komedi yang work out perfectly, tapi film tidak bisa menahan diri untuk memasukkan banyak referensi ke komik beneran. Awalnya memang lucu, Flora dalam narasinya menyebut komik seperti Wolverine, terus ada referensi ke Spider-Man tadi, tapi lama-lama ya kayak mengganggu aja. Karena film kan punya komik di dunianya sendiri, komik buatan ayah Flora. Film ini enggak benar-benar butuh menyebut komik yang beneran ada. At this point, mereka melakukannya hanya karena bisa. Nah inilah yang bikin kita sinis, bahwa referensi itu cuma promosi produk Marvel aja. Disney owns them, dan yea, mereka bisa melempar referensi sebanyak yang mereka mau di sini – untuk promosi. Tentu tak mengapa, sebenarnya. Kalo dilakukan dengan elegan, memang mengasyikkan. Tapinya juga, kalo enggak ada adegan-adegan referensi itu pun, film ini masih akan bisa bekerja.
 
 
Selain soal itu, aku gak menemukan hal lain yang bisa jadi permasalahan untuk orang dalam menonton film ini. Petualangan dan komedinya silly enough untuk menjadi seru, tapi tidak melanggar batasan receh atau disrespectful. Film ini sesekali make fun of comic book trope, but that’s about it. Ceritanya ngajarin tentang piaraan dan tanggung jawab, tentang keluarga, tentang persahabatan, tentang berimajinasi, dan semua itu dilakukan dengan enggak pandering, enggak memanjakan anak-anak. Karena itulah film ini bisa dibilang the true superhero yang dibutuhkan oleh anak-anak di tengah keringnya film yang bisa benar-benar mereka idolakan.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for FLORA & ULYSSES
 
 
 
 

That’s all we have for now.
Enak banget jadi Flora punya ayah yang bikin komik. Dulu ayahku membatasi, bahkan bisa dibilang melarang, baca komik. Apakah kalian dulu tim komik atau tim novel? Kenapa?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

TOM AND JERRY Review

“Fighting in and of itself is not a threat to the relationship.”
 

 
 
Dibuat pada tahun 1940an, Tom and Jerry adalah masa kecil bagi banyak sekali orang. Abang-kakak kita suka. Emak-bapak kita tahu. Heck, bahkan mungkin ada yang nenek atau kakeknya punya kenangan duduk manis di hari Minggu pagi nontonin kucing dan tikus itu kejar-kejaran. We all love Tom and Jerry. Dulu aku setiap kali pergi ngerental vcd film dan smekdon, kalo si rentalnya gak ada uang kembalian, aku selalu minta kembaliannya dijadiin kaset Tom & Jerry aja. Hahaha enggak ding, maksudnya Tom & Jerry selalu tak ketinggalan untuk ikut kusewa. Nonton kartun mereka itu rasanya gak pernah bosan. Slapstick dan tingkah polah Tom yang ngejar Jerry yang usil selalu sukses bikin ngakak, gak peduli udah ditonton seberapa kalipun. That’s how timeless they are.
Tapi generasi kekinian, bisa jadi gak kenal ama Tom dan Jerry. Dan memang untuk itulah film ini dibikin. Kisah kejar-kejaran mereka dihidupkan kembali melalui dunia campuran animasi kartun dengan lingkungan nyata. Namun sayangnya pembuat film ini malah seperti lupa tujuan tadi. Di tengah dunia berisi manusia dan hewan-hewan kartun tersebut, film ini tersesat. Film ini malah menghabiskan waktu lebih banyak tanpa membahas Tom dan Jerry itu sendiri.
Sutradara Tim Story dan penulis naskah Kevin Costello sebenarnya udah kayak memojokkan diri mereka sendiri in the moment mereka memutuskan untuk “yok bikin film Tom dan Jerry kekinian, yook”. Karena si Tom dan Jerry itu sendiri adalah karakter yang tidak bicara. Dengan begitu, cerita pun harus distretch out; Story dan Costello jadi menggunakan karakter manusia dan karakter kartun lain untuk role bicara. Secara garis besar, outline konsep film ini sebenarnya sudah cukup jelas. Karakter Tom dan Jerry akan menghidupkan suasana lewat kejar-kejaran dan humor-fisik, sedangkan cerita akan dikembangkan lewat karakter manusianya. Namun Story dan Castello tidak tampak confident dalam mengembangkan komedi ala Tom dan Jerry. Entah karena ragu Tom & Jerry bisa tertranslasikan dengan sukes buat selera modern atau karena mereka simply gak mengerti apa yang membuat Tom dan Jerry itu digemari. Pembuat film tidak melakukan hal baru terhadap kejar-kejaran kucing dan tikus ini. Mereka hanya mengulang sketsa di kartun, untuk nostalgia. Di sisi lain, karakter-karakter manusia yang dibuat jadi vital itu juga gagal dikembangkan. Tak lebih dari karakter tumpul dan membosankan.

Bayangkan kalo Tom dan Jerry kejar-kejarannya di Hotel Cecil

 
Dari sinopsis IMDB-nya, film ini sebenarnya difungsikan sebagai semacam origin; kisah gimana Tom dan Jerry bertemu, kisah gimana kejar-kejaran abadi mereka bermula. Namun dari menonton film ini, tidak tampak seperti itu. Tom dan Jerry seperti sudah musuhan sejak lama, dan film ini tuh terasa seperti hanya satu episode dari episode kejar-kejaran mereka. ‘Origin dari kejar-kejaran’ mereka itu juga gak spesial-spesial amat. Jerry melihat Tom ngamen di taman, dan Jerry mengganggu Tom karena Jerry butuh duit. Gitu doang. Di sini, Jerry itu homeless, dia mencari tempat tinggal dan sampailah dia ke Hotel Royal Gate yang mewah. Tom si kucing yang jadi pianoless berkat Jerry, dendam dan mengejar si tikus hingga ke Hotel Royal Gate. Sementara itu ada manusia bernama Kayla (film kedua Chloe Grace Moretz di tahun 2021. Also, film keduanya di tahun 2021 yang zonk!) yang lagi jobless, sehingga dia akhirnya ‘mendapat’ kerja di Hotel Royal Gate. Di Hotel itulah konflik dan chaos terjadi. Kayla ditugasi mengusir Jerry, Kayla minta bantuan Tom, dan mereka harus cepat dan discreet about the job karena beberapa hari lagi akan ada pesta nikahan bergengsi di hotel tersebut!
See, ceritanya saja sudah langsung bermasalah. Keberhasilan pesta nikah itulah yang jadi tujuan ‘petualangan’ Kayla, atau Tom, atau Jerry, atau whoever the protagonist is. Alih-alih membahas (atau menghibur) dengan aksi Tom ngejar Jerry sambil saling ‘menyakiti’ pake benda-benda berat — which is the true selling points of Tom and Jerry, film malah fokus ke… pernikahan. Kenapa kita harus peduli sama pernikahan tersebut saat filmnya sendiri gak pernah benar-benar mengaitkan kepentingan pernikahan tersebut dengan journey Kayla, Tom, ataupun Jerry. Kita disuruh peduli sama pasangan interracial yang hendak nikah itu. Kupikir tadinya mereka adalah selebriti beneran, kayak cameo gitu. Tapi ternyata tidak, mereka karakter cerita. Yang disebutkan punya banyak penggemar, dan pengen wedding yang mewah (pake gajah!), tapi mempelai wanitanya sebenarnya enggak setuju-setuju amat. Kita disuruh peduli karena di cerita itu mereka orang terkenal, dan kita selalu suka ngikutin drama orang terkenal walaupun rekaan kan?
Not!
Kita nonton ini karena ingin melihat Tom dan Jerry. Banyak-banyak! Kita mau lebih banyak adegan seperti saat Tom nyebrang kabel listrik, berusaha mencapai Jerry yang lagi ngadem di jendela hotel. Tapi di sini mereka udah kayak karakter sampingan. Udah kayak karakter comedic-relief di antara adegan-adegan drama manusia yang karakternya random.

I get it. Film mungkin memang sedang membandingkan relationship unik antara Tom dan Jerry dengan pernikahan. Tom dan Jerry sering kejar-kejaran dan berantem, tapi mereka toh langgeng. Kisah mereka tak lekang waktu. Ketika harus baikan, mereka bisa kok jadi sahabat yang tak-terpisahkan. Supaya hubungan asmara bisa langgeng seperti itu, kita bisa meniru mereka. ‘Perlu’ sesekali bertengkar. Karena sesungguhnya bukan ribut dan berantem itu yang bikin renggang.

 
Dunia yang dihuni manusia dan hewan-hewan kartun itu sebenarnya menarik. Harusnya film mengeksplorasi ini lebih jauh. Tapi cerita malah dikurung di hotel. Hotel yang punya aturan gak boleh ada binatang, tapi karakter ceritanya pada selow aja bawa hewan-hewan ke hotel. Jadi, larangan itu gak dijadikan sebagai eksplorasi atau bahkan sebagai konflik. Kayla di sini tu enggak diam-diam nyelundupin hewan, dia mau ngusir tikus. Jadi aturan tersebut, setting hotel tersebut gak punya pengaruh sama sekali kepada karakter Kayla, atau Tom, atau Jerry. Film ini tuh kayak “Hey, ini situasinya bisa menarik” /  “Nah, let’s make it simple and dumb”

Mari setiap beberapa menit sekali kita rangkum cerita lewat merpati yang ngerap!

 
Si Kayla itu karakternya aneh. Dia nipu untuk mendapatkan kerja di hotel. Tapi arc-nya gak pernah benar-benar terbentuk sebagai cerita seseorang yang harus berbuat demikian, kemudian menyesal, dan berusaha redeem herself. Cerita Kayla dibuat untuk asik-asikan doang, dan dia nyesal dan berubah itu sama sekali gak ada perjuangan naik turunnya. Datang gitu aja sesuai durasi. Dibilang baik, enggak juga. Dibilang jahat, ya gak segitunya. Dibilang lucu, dia garing. Dia cuma ada di sana, mengambil tempat sebagai pusat cerita. Dan kita gak peduli sama dia. Emangnya kenapa kalo dia gagal nangkap Jerry. Emangnya kenapa kalo dia sampai ketahuan nipu. Emangnya kenapa kalo Jerry sampai dius… lupakan, gak bakal ada yang bisa nangkap Jerry – that mouse is slick!. EMANGNYA KENAPA KITA HARUS PEDULI SAMA WEDDING DUA SELEB-PALSU?!!
Semua stake film ini lemah, dan salah satunya dikembangkan dengan gak niat. Kita hanya peduli pada kejadian kocak yang terjadi pada Tom dan Jerry. Kenapa begitu susah untuk film ini memberikan itu kepada kita. Aku mulai berpikir film ini gak paham yang namanya komedi. Begini, ada banyak pemain komedi dalam film ini. Ada Michael Pena yang jadi atasan Kayla. Ada Ken Jeong yang jadi kepala koki di hotel. Ada Patsy Ferran yang jadi bell-girl. Tapi film ini gak ngasih apa-apa untuk mereka semua. Tidak ada dialog-dialog lucu. Bahkan one-liner konyol pun tidak ada. Yang dianggap sebagai komedi oleh film ini tu adalah ketika seseorang bicara sendiri, atau melakukan hal awkward sendiri, terus dia jadi tengsin karena diliatin atau malah karena lawan bicaranya sudah pergi. Hanya itu. Talenta komedian cuma mereka suruh begitu.
 
 
Sebenarnya Tom dan Jerry udah punya film-panjang, keluar tahun 1992. Full-animation. Sehingga film tersebut seenggaknya masih menampung spirit utuh dari serial kartunnya. Nah, di film baru ini, Story dan Costello yang udah membawa Tom Jerry ke setting dan konsep visual baru, tak punya banyak pilihan selain menampilkan karakter Tom dan Jerry seoriginal mungkin. Mereka kembali pada karakter yang tidak bicara. Role bicara diberikan kepada karakter-karakter manusia, dan karakter kartun yang lain. Akibatnya Tom dan Jerry jadi bener-bener kehilangan suara. Story dan Costello kesusahan mengembangkan cerita dari komedi Tom dan Jerry yang biasa. Mereka membuat sesuatu yang lebih seperti sebuah drama karakter manusia. Tapi itupun tidak maksimal karena penulisan yang punya mindset bahwa film untuk anak-anak harus dibuat sesimpel mungkin. Karakter manusia hampa semua. Dan parahnya kita terjebak pada mereka. Tom dan Jerry-nya cuma sesekali menghiasi layar, and we know we want more of them! 
The Palace of Wisdom gives 1 out of 10 gold stars for TOM AND JERRY
 
 
 
 

 

That’s all we have for now.
Menurut kalian bagaimana pertengkaran bisa menjadi penting dalam suatu relationship?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

I CARE A LOT Review

“When it comes to swag, there’s no gender involved.”
 

 
Pernahkah kalian nonton film yang si film ini berusaha keras banget untuk membuat karakter protagonis yang jahat dan susah untuk kita sukai, sehingga kita jadi malah ingin melihat si protagonis ini gagal – atau malah celaka – tapi kemudian malah membuat kita merasa ‘salah’ dengan actually memberikan ending yang kita pikir bakal memuaskan?
Belum? Well ya aku pun rasa-rasanya baru sekali ini nonton film yang pretentious dan tendensius seperti begitu. I Care a Lot sukses berat dalam membuat kita membenci protagonisnya, dan di akhir membuat kita feel bad dengan memberikan yang kita mau. Kok bisa sutradara dan penulis naskah J Blakeson memanipulasi kita seperti itu? Gampang, tentu saja dengan mengusung narasi berupa perempuan yang berjuang melawan pria dan dunia mereka!

Cowok yang nonton ini siap-siap dituding sebagai misoginis

 
Protagonis cerita ini adalah Marla Grayson. Dan nama belakangnya itu adalah satu-satunya hal yang ‘gray’ pada dirinya. Karena, kalo ada satu kata yang mendeskripsikan kerjaan Marla dengan tepat, maka kata itu adalah ‘setan’. Pakek tanda seru di belakangnya. Tiga biji!
Begini, kerjaan Marla ini gampangnya adalah kayak pengelola panti jompo. Marla menjadi wali yang sah atas semua pasien di sana. Yang artinya, Marla menguasai semua aset dan harta lansia yang ia rawat di pantinya. Kerjaan ngurusin manula yang hidup sebatang kara – apalagi kalo sakit-sakitan pula – memang sebuah jasa yang mulia. Tapi itu kalo memang ikhlas dan melakukannya karena cinta. Marla tak sedikitpun punya simpati sama lansia yang ia rawat. Marla care a lot ama duit mereka doang. Film gak malu-malu mempertontonkan niat busuk perempuan sukses ini kepada kita. Openingnya saja, kita sudah diperlihatkan bagaimana Marla memenangkan pengadilan dan sukses memisahkan seorang pria dari ibunya. Marla berlindung di balik teknis, dan tentu saja di balik kartu ‘saya pengusaha perempuan dan anda, pria, berusaha menjatuhkan saya’.
Dan kemudian cerita berlanjut dengan memperlihatkan Marla bersekongkol dengan girlfriendnya (what? of course karakter ini ditulis sebagai seorang lesbian!) dan juga dengan seorang dokter perempuan. Mereka menemukan mangsa baru. Seorang nenek yang sebatang kara tanpa sanak saudara. Nenek yang punya banyak rekening bank dan harta-harta lainnya. Mata Marla langsung ijo! Kita pun diperlihatkan montase yang supposedly seru dan menghibur perihal strategi dan langkah-langkah Marla dalam menguntit dan menyiapkan dokumen supaya legal dan sah si Nenek terjeblos di dalam ‘penjara’ asuhannya. Semuanya begitu matang dan profesional. Kecuali satu hal. Marla yang merasa dapat jackpot ternyata malah dirundung masalah superbesar. Nyawanya dan pacarnya terancam bahaya. Karena Nenek yang mereka ‘culik’ ternyata bagian dari organisasi mafia Rusia!!
Cerita yang normal dan lebih tradisional akan membuat si Nenek itu sebagai bos mafia; membuat Nenek itu sebagai antagonis dari Marla, Marla kini berhadapan dengan businesswoman yang lebih jahat, dan Marla nanti akan menyadari kesalahannya, menghadapi konsekuensi, sebelumnya akhirnya berubah menjadi person yang lebih baik. Namun, I Care a Lot ini tentu saja tidak dipersembahkan sebagai cerita yang normal, apalagi tradisional. Film jaman sekarang, ceritanya harus sensasional dan kudu ‘woke’ terhadap isu feminisme. Perempuan lawannya harus pria, dong! Dan di mana-mana perempuan harus selalu benar. Maka jadilah film I Care a Lot ini membuat si Nenek itu sebagai ibu dari bos mafia yang selama ini berjaya menyembunyikan dirinya. Marla kini harus berhadapan dengan Roman. Bekingan hukum gak lagi bisa membantunya karena Roman dan para mafia itu main di luar hukum. Tapi jika kalian pikir, Marla akan benar-benar kesusahan menghadapi Roman, maka kalian benar-benar tidak mengerti bagaimana film modern itu bekerja. Tokoh protagonis cewek ya harus dapat plot armor berupa kekuatan feminis. Protagonis cewek gak boleh kalah lawan cowok, paling tidak ya harus berimbang lah. Mafia yang udah bertahun-tahun di dunia hitam itu bisa lah dibikin salah sekali dua kali, mereka bisa lah dibikin gagal membunuh dua perempuan karena determinasi perempuan yang lebih kuat daripada nafsu balas dendam para kriminal.
Film tahu persis dinamika gender jaman sekarang, dan itu yang dimainkan dengan maksimal untuk bikin kita geregetan.  Jadi, Marla Grayson digambarkan total hitam. Meskipun teknisnya karakter ini adalah antihero, tapi dia digambarkan lebih cocok sebagai villain. Tidak ada hal baik yang bisa kita sukai dari dirinya. Motivasinya uang, dan dia enggak miskin. Marla udah kaya raya banget. Tidak ada stake manusiawi yang emosional dari karakter ini. Film pure mengandalkan ini cerita perjuangan cewek. Kita penonton-lah yang harus otomatis peduli kepadanya karena kalo tidak, maka berarti kita tidak feminis. Kita misoginis karena tidak ingin melihat perempuan sukses. Keantiheroan Marla bergantung pada agenda feminis ini. Lucu, memang, but actually di sinilah letak keberhasilan film ini sebagai dark comedy. Film ini tahu itu semua tadi enggak cukup untuk membuat kita peduli sama Marla, maka mereka lantas membuatnya bahkan lebih susah lagi dengan menghadirkan karakter Nenek. Lansia yang diculik dan ditipu dan dikurung against her will; kita bukan manusia kalo simpati kita gak langsung pindah hinggap ke si Nenek. Jadi, konflik yang dikobarkan oleh film ini sesungguhnya langsung bermain di kita. Kita ingin lihat feminis berhasil, tapi kita juga dibangun untuk benci banget ama protagonis feminisnya.
Protagonis paling unlikeable seumur-umur nonton film!!

 
Rosamund Pike pun didaulat untuk menghidupkan Marla. Di sini ia ditugasi untuk memastikan karakter tersebut tampak semakin ‘setan’ dan unlikeable lagi. Kalo di wrestling, superstar yang kebagian peran heel alias antagonis punya tugas untuk dibenci oleh penonton. Mereka gak boleh sampai ditepuki semangat oleh penonton. Mereka harus di-boo, kalo perlu harus sampai dilemparin cup minuman. Salah satu pertanda superstar heel itu berhasil ya dilihat dari betapa kerasnya dia dihina dan dibenci oleh penonton. Rosamund Pike di film ini persis seperti superstar gulat yang lagi mainin karakter heel tersebut. Dia sukses membuat karakternya menjadi dibenci. Seriously, berkat tindakan dan aksi Marla, aku jadi merasakan kebencian itu menjalar lewat akting dan gesturnya. Aku bahkan benci rambut bobnya. Aku eneg lihat bajunya yang sok rapi. Aku pengen merampas vape itu dari jarinya, dan menyumpalkan benda itu ke mulut songongnya. Begitu suksesnya Pike memainkan karakter ini! (and no, untuk kali ini, ini bukan sarkas; Pike is that damn good!)
Menyusul di belakangnya ada Peter Dinklage yang menyuguhkan permainan akting tak kalah menantang sebagai Roman. Actually, tantangan peran Dinklage di sini lebih sulit dari Pike. Karena Dinklage tidak boleh benar-benar menuai simpati penonton. Film perlu dia untuk tetap menjadi villain, demi mengukuhkan posisi Marla sebagai protagonis. Meskipun Roman bertubuh kecil, dirampas dari ibunya, dicuri benda berharganya, penonton gak boleh sampai kasihan sama karakter ini. The grand design dari narasi film ini adalah memperlihatkan both Marla dan Roman sebagai pribadi yang ‘jahat’. Dinklage paham tugasnya tersebut. Dia menyuntikkan menace ke dalam karakternya yang lebih banyak diam, dia merayapkan sesuatu yang mengerikan dan gak bisa dianggap main-main di balik karakternya yang notabene adalah korban di skenario ini.

At their lowest, cewek atau cowok sebenarnya sama. Mereka bisa jadi sama-sama jahat, sama-sama culas, sama-sama curang. Inilah yang ingin diperlihatkan film kepada kita. Bahwa gender itu memang gak sama, tapi kalo soal moral, gak ada gender yang lebih baik atas yang lainnya. Semuanya pengen jadi sukses, dan keduanya sama-sama gak ragu untuk melakukan hal jahat demi mencapainya. Dan, seperti yang diperlihatkan film sebagai solusi di antara keduanya, daripada saingan sebaiknya kerja sama aja. Saling empower satu sama lain.

 
And here comes the ending. Punchline dari komedi-gelap yang udah dibangun oleh film ini. Kita sudah dibuat menantikan konsekuensi menimpa Marla. Kita sudah ‘digoda’ oleh banyak adegan yang seperti Marla akan mendapat ganjaran. Kita dibuat benar-benar menantikan Marla mendapat derita. But when the time comes, film melakukannya dalam cara yang seolah menuduh kita – yang senang dengan konsekuensi itu akhirnya datang juga – sebagai seorang misoginis. Seolah menuding kita lebih senang melihat Marla gagal. Semua konflik tadi terakumulasi untuk membuat kita merasa seperti demikian; we feel bad karena udah senang karakter perempuan yang berperilaku jahat dapat hukuman; kita tercabik antara moral dan feminis itu sendiri. Dan paling lucu dari semuanya itu adalah, reaksi kita terhadapnya. Kita gak mau tampak misoginis, sehingga banyak dari kita yang berpura-pura benci sama endingnya! Padahal dengan begitu sesungguhnya telah membuat kita menjadi sama pretentiousnya dengan film ini sendiri.
Ya, film ini pretentious karena dia sama sekali tidak berniat menceritakan tentang Marla, tapi semua ini dibuat untuk ‘menyerang’ kita. Ini adalah dark-comedy, dengan reaksi kitalah sebagai joke-nya. Jika ini adalah cerita tentang Marla, maka seharusnya film memberikan inner journey, dia sebagai pribadi harusnya mendapat pelajaran yang lebih dalam ketimbang sekadar menjadi yang tadinya sendiri dan menganggap pria musuh menjadi mau bekerja sama dengan pria yang tadinya literally musuhnya. Absennya pemikiran Marla soal tindakannya sendiri itulah yang menjadi penanda utama film ini tidak dibangun sebagai cerita atau journey Marla.
 
 
 
Baru sekali ini rasanya aku menonton film seperti ini. Kreatif? Ya. Aku mengerti konsep dan konteks dark-comedy yang pembuatnya incar. Film ini punya nyali dan berkreasi sesuai nyalinya tersebut. Kita bisa bilang visinya benar-benar kuat mengarahkan semua elemen ke tujuan. Penampilan akting yang menghidupinya juga gak main-main. Namun sebagai sebuah film utuh; risk yang diambil dengan berani itu tidak pernah membuat film ini fit in ke dalam bentuk sebuah film yang bagus. Karakter protagonisnya unlikeable, simpati kita malah ke karakter lain. Semua kejadiannya tampak lemah karena mengandalkan point-point yang seperti ‘kayaknya di dunia nyata enggak begitu, deh’. Film ini dengan sengaja membagi dua penonton – yang mengaku suka atas perjuangan perempuan, dan yang bilang tidak suka karena kesel ama karakternya. Padahal, sendirinya film ini bergagasan soal bekerja sama. Nah, menurutmu kira-kira sikap yang seperti itu sikap apa namanya?
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for I CARE A LOT
 
 
 
 

 

That’s all we have for now.
Menurut kalian kenapa sih sekarang tu semuanya kayak ‘menang-menangan’ gitu, like, perempuan pengen exist di podcast karena menurut mereka podcast masih area laki-laki
Menurut kalian apakah itu semua adalah narasi tidak mau kalah saja, atau ada lapisan yang lebih dalam lagi?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

STAND BY ME DORAEMON 2 Review

“You need to be happy with yourself or you’ll never be able to be happy in a relationship”
 

 
 
Tentu saja Doraemon punya tempat spesial di dalam diriku. Aku tumbuh besar dengan mengkhayal punya alat-alat ajaib seperti yang ada di kartun Doraemon yang tak pernah ketinggalan ditonton. Aku beberapa kali nekat bolos ngaji supaya bisa nonton Doraemon. Aku – yang waktu itu masih berumur empat tahun – bahkan bersikeras memberi adikku nama Nobita, meskipun ternyata adikku itu adalah perempuan. Orangtuaku ngalah, tapi toh mereka berhasil membujukku mengganti huruf ‘b’ di Nobita menjadi huruf ‘v’. Alhasil kasian adikku, sampai sekarang dia selalu dituduh lahir di bulan November padahal lahirnya itu di bulan September.
Mengenai Nobita, memang, orangtuaku dulu selalu mewanti-wanti untuk tidak menjadi seperti Nobita. Jangan jadi anak cengeng kayak Nobita. Gak boleh niru Nobita yang penakut. Jangan kerjanya malas-malasan nanti jadi kayak Nobita. Rajin belajar, jangan sampai nilainya nol kayak Nobita. Ah, Nobita, Nobita… Kalo dipikir-pikir sekarang, Nobita boleh saja selalu dapat nilai merah dalam pelajaran sekolah. Tapi untuk pelajaran kehidupan, Nobita tak pelak adalah juara kelasnya. Dalam film Stand by Me 2 ini saja, petualangan Nobita menembus waktu akan banyak memberikan dirinya – dan kita semua – pelajaran berharga tentang menemukan rasa bahagia atas diri sendiri demi membahagiakan semua orang di sekitar kita.

Akhirnya menikah, tapi kok malah sedih?

 
 
Hari itu berawal cukup normal di rumah Nobita. Doraemon sedang maintenance alat-alat di kantongnya. Dan Nobita… well, dia barusan kena omel sama Ibu karena ketahuan menyimpan nilai nol. Nobita jadi kangen sama neneknya yang udah meninggal. Kata Nobita nenek adalah satu-satunya yang sayang sama dia. Lantas pergilah Nobita dan Doraemon ke jaman dirinya masih kecil naik mesin waktu. Untuk bertemu Nenek. Cerita keseharian seperti inilah yang bikin Doraemon itu gampang melekat untuk anak kecil. Kita melihat kehidupan Nobita itu ya gak jauh dari kehidupan kita. Tentunya waktu kecil kita pernah sekali dua kali ngayal kita adalah anak pungut saat dimarahi ayah-ibu. Ngayal kalo ada orang dewasa lain di luar sana, yang lebih baik dan rajin beliin mainan, yang bakal datang menjemput kita karena mereka adalah orangtua kita yang sebenarnya. Kita lebih senang sama nenek kakek karena mereka gak pernah marahin dan selalu manjain kita. Menonton cerita seperti ini sekarang, berhasil melempar aku ke nostalgia. Bukan hanya nostalgia kepada dunia Doraemon yang ajaib dan penuh oleh karakter-karakter yang terasa akrab, tapi sekaligus juga nostalgia kepada masa kecil diriku sendiri.
Film ini tahu persis siapa penonton mereka. Aku benar-benar merasa film ini dibuat untuk diriku. Setelah menyambut kita dengan manisnya nostalgia, sutradara Ryuichi Yagi yang kali ini team up sama Takashi Yamazaki, mulai menghidangkan daging sesungguhnya dalam cerita. Sekuel Stand by Me ini dihadirkan sama seperti film pertama yang keluar enam tahun yang lalu; permasalahan Nobita dan Doraemon di sini bukanlah perihal petualangan besar ke dunia luar seperti pada film panjang kartunnya. Melainkan permasalahan yang lebih dekat ke ‘rumah’. Yagi dan Yamazaki mengajak penonton Nobita dan Doraemon yang kini telah dewasa untuk mengarungi permasalahan yang juga sama dewasanya. Nenek Nobita ingin melihat pasangan cucu kesayangannya tersebut saat menikah. Permintaan yang gampang bagi Nobita, karena dia sudah tahu di masa depan bakal menikah dengan Shizuka, dan dia tinggal mempertontonkan pesta mereka kepada Nenek lewat Televisi Waktu. Namun ada sesuatu yang salah. Pesta itu gak mulai-mulai, karena Nobita di masa depan, Nobita Dewasa yang akan menikah itu, tidak kelihatan ada di mana-mana. Maka bergegaslah Nobita dan Doraemon ke masa depan, mencari Nobita Dewasa dan membetulkan banyak hal sebelum semuanya terlambat. Sebelum masa depan Nobita berubah menjadi tanpa Shizuka.
Tidak seperti film pertamanya yang tersusun dari beragam cerita dan episode dari komik/kartun, film animasi 3D kedua ini lebih fokus pada satu permasalahan. Walau memang banyak yang actually akan dikejar dan dikerjakan Nobita, tapi semuanya mengerucut ke satu permasalahan yang sama. Yakni kenapa Nobita di masa depan menghilang dan seperti jadi bimbang (got cold feet) beberapa jam sebelum menikah. Film kali ini actually membahas sangat personal seputar karakter Nobita itu sendiri. Narasinya disusun sedemikian rupa dalam membangun rasa insecure dan ketidakpuasan Nobita terhadap dirinya sendiri. Mulai dari bagaimana Nobita penasaran dirinya anak pungut atau enggak, hingga ke bagaimana Nobita enggak suka sama namanya, dan tentu saja ke bagaimana Nobita Dewasa merasa kasihan sama Shizuka yang mau menikah karena ingin melindungi dirinya. Semua eksplorasi soal itu diceritakan dengan cukup subtil sehingga terlihat di permukaan sebagai celotehan anak bandel yang konyol. Ini tentu saja karena film ini tidak melupakan para penonton cilik. Kelucuan tingkah serta keajaiban dunia dan karakter-karakternya tetap dijadikan pesona utama untuk dinikmati oleh anak kecil. Sementara di balik itu semua, para penonton dewasa (yang sudah setia bersama Nobita dan Doraemon sejak kecil) bisa merasakan sesuatu yang relate alias mewakili perjalanan hidup mereka. Di balik Nobita mencela dan mendebat pilihan Nobita Dewasa lewat percakapan yang sangat amusing, kita tahu bahwa itu adalah cara film menggambarkan kontemplasi karakter lewat kekhususan dan identitas Doraemon itu sendiri.

Di dalam diri kita akan selalu ada sosok anak kecil yang rapuh dan selalu ‘ingin dimanja’. Di dalam diri kita semua, akan selalu ada si Nobita. Itulah yang diajarkan oleh film ini lewat kisah Nobita yang kabur dari pernikahannya sendiri. Bukan karena dia tidak cinta lagi, tetapi justru karena dia cinta makanya dia kasihan kepada Shizuka yang mau padanya. Kini hanya dirinya sendiri yang bisa menyelamatkan dirinya. Masalahnya dia justru menganggap dirinya sendiri sebagai masalah. Padahal Nobita – dan Nobita dalam diri kita yang vulnerable – bukanlah sesuatu yang perlu dibenci atau dienyahkan. 

 
Setting Nobita menikah bukan hanya kuat di nostalgia, tapi juga membentuk panggung yang menarik, yang mampu memikul banyak bobot emosional untuk disampaikan kepada kita. Karena perihal Nobita menikah dengan Shizuka itu sudah sejak dari zaman kartun televisi, bahkan zaman komiknya, selalu jadi goal dramatis dari karakter Nobita ‘si anak lemah’ itu sendiri.

Rasanya pengen menyelimuti diri sendiri dengan Selimut Waktu

 
 
Semua itu dilakukan dalam balutan petualangan menembus waktu. Elemen time-travel ini memang selalu jadi bagian penting dalam semesta Doraemon. Dan dalam film ini pun, sebagaimana film-film kartunnya, elemen time-travel ini dilakukan dengan detil tanpa menjadi memberatkan. Cerita didesain betul supaya elemen time-travelnya benar-benar terikat dan tidak menimbulkan loop yang mengganggu. Sehingga meskipun film ini periodenya luas – menyangkut masa lalu, masa kini, dan masa depan Nobita – tapi tetap terasa contained. Ceritanya tertutup dan gak meluas menjadi teori-teori yang gak perlu.
Akan tetapi, tentu saja elemen time travel yang bertemu dengan konsep alat-alat ajaib, akan beberapa kali membawa cerita sampai pada titik eksposisi. Akan ada beberapa adegan yang terdengar terlalu ‘telling’ dan membuat emosi film harus tertunda. Untuk sebuah cerita yang memfokuskan pada sisi emosional karakter, dan petualangan time travel, film ini memang at times sedikit terlalu mendikte. Ada beberapa dialog yang sepertinya bisa lebih manis dan berasa jika diperlihatkan lewat emosi atau ekspresi visual. Emosinya lebih banyak dituturkan. Mungkin ini ada kaitannya dengan budgetnya. Film ini walaupun terlihat sangat kawaii dan lembut, memainkan lingkungan tiga periode berbeda dengan detil dan distinctive, tapi dari segi karakter-karakter, mereka seperti terbatas.
 
 
Dengan lebih memfokuskan kepada karakter Nobita dibandingkan petualangan Doraemon dan kawan-kawan, film ini berhasil memberikan bobot kepada nostalgia dan haru-haruan yang mereka incar. Hubungan antara Nobita dengan karakter lain seperti Doraemon, Shizuka, Neneknya, Ayah-Ibunya, dan bahkan Giant dan Suneo berhasil dikembangkan dengan dewasa. Film ini menggunakan time-travel dengan ringkas sebagai elemen utama sehingga tidak memberatkan cerita. Malah film ini sebenarnya berhasil menjadi cukup simpel tapi sangat mengena bagi kita semua. Bahkan bagi penonton lepas yang somehow belum pernah nonton Doremon sebelumnya (jika ada)
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for STAND BY ME DORAEMON 2
 
 
 
 

 

That’s all we have for now.
Saat masih kecil, alat doraemon apa yang kalian paling ingin punya?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA
 

WRONG TURN Review

“The ultimate tendency of civilization is towards barbarism.”
 

 
 
Sekelompok anak muda yang lagi travelling, salah belok, dan lantas tersesat di hutan. Membuat mereka jadi buruan dan dibunuh satu persatu oleh keluarga kanibal. Penulis Alan B. McElroy telah menetapkan konsep tersebut sebagai fondasi franchise Wrong Turn sejak 2003. Empat sekuel lahir dari film original tersebut, bukan karena bagus, melainkan karena kesimpelan trope ‘Remaja bego vs. Kelompok pembunuh sadis’ yang terus dipertahankan. Dan setelah bertahun-tahun mempertontonkan mindless torture dan kebrutalan bunuh-bunuhan, McElroy tampaknya tobat. Kini – hampir satu dekade dari film pertamanya – McElroy bersama sutradara Mike P. Nelson membanting stir franchise ini. Wrong Turn distart ulang, lalu dibelokkan arahnya ke tontonan yang lebih berisi. ‘Remaja bego vs. Kelompok pembunuh sadis’ tadi diberikan lapisan dan bobot. Sehingga kini mereka menjadi ‘Remaja vs. Kelompok Pembunuh” dengan lebih banyak depth di balik benturan di antara keduanya. Dengan ‘sadis’ dijadikan pertanyaan yang digunakan untuk menantang gagasan kita terhadapnya.

Akhirnya kita dapat reboot yang benar-benar dilakukan untuk memperbaiki kualitasnya

 
 
Slasher bunuh-bunuhan itu ditinggalkan jauh di belakang, salah satunya karena zaman yang memang sudah berubah. Sehingga film harus berevolusi guna menunjukkan fungsinya sebagai penanda zaman itu sendiri. Dan ini bukan hanya soal tren saat itu. You know, 2000an awal memang genre slasher lagi ngehits, film-film penyiksaan lagi sangat bergairah saat itu. Namun tentu saja semua itu berkaitan erat dengan subjek pelaku tren itu sendiri. Dalam hal ini, pelaku itu adalah anak muda. Nelson dan McElroy paham ada perbedaan signifikan antara perilaku dan gaya hidup anak muda atau remaja sekarang dengan anak muda yang hidup di 2000an (Yang bilang bedanya adalah anak muda sekarang masih remaja, anak muda dulu udah jadi tua-tua, aku jitak!) Meskipun masih sama suka hura-hura, tapi anak muda sekarang lebih cepat melek dan lebih mantap dalam mengenali apa yang mereka inginkan dalam hidup. Berkat teknologi yang semakin memegang peranan penting dalam kehidupan mereka.
Aspek itulah yang kini digali oleh Nelson dan McElroy dan dijadikan fondasi bangunan cerita mereka. Kelompok anak muda dalam Wrong Turn terbaru ini terdiri dari Jen (Charlotte Vega juggling antara cerdas, annoying, dan bad-ass) yang berbangga menjadi seorang barista dengan double degree seni tari dan art history, pacar Jen – si Darius – bekerja di lembaga sumberdaya nonprofit, teman-teman mereka pun semuanya punya keahlian. Ada yang menggeluti medis, ada yang ngembangin app, dan ada yang bisnis restoran-cabang kecil-kecilan. Mereka semua masih muda, suka hura-hura, tapi juga sudah berkontribusi kepada masyarakat dengan bekerja. Untuk membuat kelompok ini lebih kekinian dan ‘woke’ lagi, McElroy membuat karakter mereka terdiri dari pasangan antar-ras dan pasangan LGBT. Jen dan kelompoknya merepresentasikan generasi modern. Di film ini mereka akan mendapat tantangan dari older generation yang masih memegang ‘cara’ lama, yang memandang anak muda seperti mereka dengan sebelah mata. As in, mereka dianggap cuma tahu bersuka ria dan gak mau bekerja. Tapi konflik utama – clash utama – yang disajikan film ini bukanlah tentang Milenial melawan Boomer. Melainkan adalah ketika cara pandang dan gaya hidup modern mereka dituding sadis oleh kelompok penduduk yang memutuskan hidup terpencil di dalam hutan belantara.
Tema modern vs. barbar; penduduk kota lawan suku tradisional, merupakan tema yang bisa dibilang timeless. Tema ini bahkan sudah dieksplorasi pada 80an. Bagi genre bunuh-bunuhan, tema ini memang sudah seperti soulmate. It’s easy bikin cerita anak kota nyasar kemudian menemukan horor berupa kehidupan suku liar. Sudah banyak slasher yang hadir dari situ. Wrong Turn ini bahkan enggak lantas conform ke arah sana. Pertanyaan apakah sebenarnya manusia modern-lah yang lebih barbar dan sadis itu diajukan ke permukaan dengan lebih elegan.
Jen dan teman-teman hiking menyusur hutan hendak melihat-lihat trail atau jejak peradaban penduduk Appalachia jaman dahulu kala. Tapi mereka salah belok, mereka malah masuk ke wilayah komunitas yang menyebut diri sebagai The Foundation. Yakni komunitas yang memilih untuk tinggal di hutan, tinggal dengan alam, guna mempersiapkan rakyat baru. Komunitas itu percaya bahwa Amerika yang sekarang sudah semakin bobrok dan terbelakang, jadi mereka menyepi ke hutan untuk menjadi cikal bakal masyarakat yang lebih manusiawi. Jadi, antagonis Jen di film ini bukanlah penduduk kanibal terbelakang, melainkan manusia yang sama-sama modern, hanya saja berpandangan berbeda. Film membangun benturan kedua sisi ini dengan abu-abu. Pembunuhan pertama yang terjadi di dalam cerita, actually dilakukan oleh kelompok Jen terhadap anggota komunitas The Foundation. Kok bisa? karena Jen dan teman-teman sangat kebingungan di hutan yang penuh perangkap dan jebakan mematikan. Mereka terluka, mereka panik. Sehingga ketika bertemu dengan anggota The Foundation yang berpakaian bulu dan bertopeng tengkorak hewan, yang berbicara bahasa lokal, Jen dan teman-temannya semakin ketakutan dan menyangka yang enggak-enggak.
Jadi, ya, film ini sebenarnya adalah konflik dari dua sudut pandang mengenai cara hidup masyarakat yang dibalut oleh kejadian-kejadian yang mengenaskan. Film memposisikan diri persis berada di tengah-tengah. Bersama film, kita ikut setuju ketika kepala kelompok The Foundation bilang masyarakat normal-lah yang barbar dengan uang, eksploitasi, gaya hidup yang semakin individualis, dengan ketimpangan hidup yang semakin besar. Tapi kita juga setuju bareng Jen, bahwa hukuman mati,  dan memasang jebakan untuk membahayakan manusia lain – menganggap manusia enggak beda banyak ama binatang buruan, tak pelak merupakan perilaku barbaric.

Mungkin memang, Hukum Rimba – makan atau dimakan itu – sesungguhnya masih akan terus ada dalam peradaban manusia. Hanya bentuknya saja yang berbeda. Mungkin, benar kata Nikolas Tesla. Yang kita perlukan sebenarnya adalah kontak dan pemahaman yang lebih baik, yang lebih dekat, antara individu dan komunitas. Film ini pun punya resolusi serupa dengan ide ‘penghapusan kebanggaan nasional dan pengabdian fanatik’ yang diajukan oleh Tesla tersebut.

 
Pilihan yang dibuat oleh Jen di menjelang akhir babak kedua film, membuat cerita tetap menarik. Membuat film ini terasa semakin fresh lagi di dalam genrenya sendiri. Kedalaman itu terus digali. In fact, dari penceritaannya, kita bisa melihat betapa film kali ini memang memfokuskan kepada kedalaman. Seolah sutradara ingin membuktikan bahwa film bunuh-bunuhan bisa kok punya kedalaman yang berarti. Wrong Turn actually dibuka pada periode Jen sudah menghilang selama enam minggu. Yang kita lihat pertama kali justru adalah ayah Jen yang berkeliling mencari putri semata wayangnya itu. Alur bercerita seperti ini mengingatkanku pada film bunuh-bunuhan dari Polandia yang kutonton baru-baru ini, All My Friends are Dead (2021). Film itu juga dibuka dengan adegan penyelidikan, untuk mengedepankan misteri pada cerita, dan kemudian di babak kedua kita dibawa flashback melihat apa yang sebenarnya terjadi. I’m not a fan of style like this. Namun, penceritaan pada Wrong Turn dilakukan dengan lebih baik daripada film tersebut. Karena ayah Jen nantinya akan kembali dibahas. karakter ayah Jen bukan hanya difungsikan sebagai pengantar, tapi juga menambah banyak ke dalam konteks dan untuk karakter Jen itu sendiri. Relasi Jen dengan ayahnya juga dibahas, dan didesain sebagai bentuk dari bagaimana generasi muda berkontra dengan generasi tua. Singkatnya, karakter ayah Jen membuat film ini jadi punya lapisan lebih banyak lagi.

Berbelok kembali ke jalan yang benar

 
 
Sementara telinga kita terus terbuka demi mendengar lebih banyak konflik dan bentrokan sudut pandang, mata kita mungkin akan lumayan kesulitan untuk tetap melotot. Karena sutradara enggak lupa dengan identitas dan legacy yang dibawa oleh filmnya ini. Wrong Turn masih meriah oleh banyak adegan kematian yang brutal. Absennya pembunuh kanibal digantikan oleh perangkap-perangkap maut tak-pandang bulu. Kamera akan menatap korban-korban mengenaskan itu tanpa segan, kalian mungkin harus mikir dua kali jika berniat nonton ini sebagai teman makan malam. Bagian awal film saat menceritakan ayah Jen mencari putrinya itu terasa lebih tenang dan misterius, sedangkan bagian tengahnya terasa sangat frantic dan berdarah-darah. Sesuai dengan kebutuhan cerita. Semua hal di hutan itu sukses dibuat mengerikan, bahkan pohon aja ternyata bukan pohon biasa di sana! Bagian akhir film ini, hebohnya, terasa sureal. Aku suka. Yang tidak aku suka adalah proses antara bagian tengah menuju bagian akhir. Terasa kurang banyak ruang untuk pengembangan yang maksimal, alias terasa agak terlalu cepat. Time skip dari cara bercerita yang membuatnya harus seperti itu, jadi mungkin kita masih bisa maklum.
Yang gak bisa dimaklumi itu adalah, karakter-karakter anak muda – yang demi identitas dan legacy tadi – dibuat tetep bego. Ketika mereka disebutkan mereka punya pekerjaan dan actually serius dalam menjalani hidup, kita agak kurang percaya. Karena yang kita lihat nanti adalah aksi-aksi dan pilihan yang terlalu sukar dipercaya. Reaksi yang terlalu berlebihan. Mereka sebagian besar masih tampak sama dengan karakter-karakter film slasher tahun 90-2000an. Kita tidak pernah melihat mereka sebagai karakter yang bakal survive. Sekiranya film juga melakukan pembenahan dari bentukan karakter mereka, maka tentu film ini akan jadi lebih baik lagi.
 
 
 
McElroy dan Nelson tidak salah belok saat mereka memutuskan untuk mengubah haluan franchise ini. Karena yang kita dapatkan adalah cerita bunuh-bunuhan yang lebih berisi. Enggak sekadar mati yang sadis dan karakter yang bego. Melainkan ada gagasan yang membalut kuat di balik aspek horor atau thrillernya tersebut. Ceritanya punya banyak lapisan, dan terkadang cukup terasa juga perjuangan film untuk menyeimbangkan dan mengikat semuanya. Usaha yang belum maksimal, tapi seenggaknya pantas sekali untuk diapresiasi. Karena sudah lama sekali kita selalu bertanya-tanya dalam protes, kenapa film bunuh-bunuhan selalu simpel dan dungu. Film ini hadir sebagai salah satu bukti bahwa jika pembuatnya berusaha, film genre tersebut ternyata mampu untuk jadi berbobot.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for WRONG TURN
 
 
 
 

 

That’s all we have for now.
Apakah kalian setuju bahwa sekarang kita hidup dalam masyarakat yang sadis dan barbar?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

DON’T TELL A SOUL Review

“Every man is guilty of all the good he did not do.”
 

 
 
Kakak beradik Matt dan Joey punya rahasia besar. Mereka baru saja merampok uang sejumlah lebih dari sepuluh ribu dolar dari rumah yang sedang dikosongkan sementara oleh pemiliknya. Dan dalam pelarian mereka dari seseorang berseragam sekuriti yang memergoki, Matt dan Joey tanpa sengaja menyebabkan security yang bernama Hamby itu jatuh ke lubang sumur yang tak-terpakai. “Jangan bilang siapa-siapa!” perintah Matt kepada adiknya. Matt bermaksud membiarkan satu-satunya saksi mata perbuatan mereka terperangkap di dalam sumur tersebut. Matt sama sekali tidak paham bahwa menyimpan rahasia ternyata bukan apa-apa dibandingkan dengan menyimpan perasaan bersalah. Adiknya, Joey, justru semakin hari semakin merasa bertanggungjawab dan peduli terhadap Hamby yang terus memohon-mohon untuk segera diselamatkan (dan janji untuk tutup mulut soal perbuatan kriminal mereka) dari dasar sumur.
Dan karena larangan “Jangan bilang siapa-siapa” itu hanya ditujukan oleh Matt kepada Joey, maka di sini aku mau bilang kepada kalian semua bahwa Don’t Tell a Soul ini adalah drama thriller yang menyimpan banyak kejutan sehingga menyenangkan dan seru untuk ditonton!

Film ini mengingatkanku pada almarhum Kakek yang dulu suka cerita tentang Kancil menipu Harimau masuk ke dalam lubang

 
 
Tahun lalu kita dapat Onward (2020) yang bicara tentang hubungan antara dua saudara laki-laki sehubungannya dengan absennya figur ayah dalam sebagian besar hidup mereka sebagai pusat cerita. Kini, sutradara merangkap penulis naskah Alex McAulay memberikan Don’t Tell a Soul kepada kita. Film ini punya center cerita yang sama dengan animasi Pixar tadi, tapi dengan nuansa yang lebih kelam. Film ini menampilkan tindak-tindak kriminal, menunjukkan hubungan kakak adik dalam satu keluarga yang meningkat intensitasnya menjadi penuh mental-abuse dan kekerasan fisik. Ceritanya akan mengeksplorasi sibling rivalry dalam wujud-wujud paling mengerikan. Sehingga yang kita tonton ini terasa kasar dan kadang-kadang seperti bener-bener diset untuk jadi tragedi, tapi walaupun begitu ada pengembangan karakter menarik – ada interaksi menarik – untuk kita simak. Karakter dan sikap dan pilihan mereka inilah yang bikin film ini segar dan.. yea, unpredictable.
Matt dan Joey udah gak punya ayah. Tapi mereka gak sedih, mereka justru somewhat happy karena diinfokan dengan subtil (sebagai paparan di latar belakang) bahwa ayah mereka ini perangainya buruk. Abusive. Untuk mengurus ibu mereka yang sakit-sakitan-lah maka Matt memerintahkan Joey untuk membantunya mencuri uang. Matt berpikir kini dialah yang jadi kepala keluarga,  dan Matt (tentu saja karena ‘terbentuk’ oleh sikap dan didikan ayahnya) memerintah dengan tangan besi dan knows no boundaries. Ini menciptakan tensi emosional untuk kita santap. Emosional dari betapa kontrasnya Matt dengan Joey. Joey ini anaknya lebih ‘pendiam’ – he still is a good kid. Anak polos yang gak punya banyak pilihan selain ngikutin apa yang diperintahkan oleh sang abang. Karena bagaimanapun juga, abangnya bersikeras bahwa apapun yang mereka lakukan itu sesungguhnya adalah demi kebaikan dan kesehatan ibu mereka.
Film tidak menghabiskan banyak waktu untuk membuat Matt tampak seperti “sebenarnya baik cuma caranya salah aja”. Sudut pandang kita actually dijejerkan kepada sudut pandang Joey. Aktor muda Jack Dylan Grazer menghidupkan emosi dan psikologis karakter ini dengan cukup pas. Grazer setidaknya paham bahwa Joey diniatkan untuk menimbun marah dan kesalnya kepada Matt seiring durasi berjalan. Di paruh awal Grazer membatasi tingkah laku dan gerakgerik karakternya ini, karena di paruh awal itu Joey memang masih menimbang dan belum berani. Ketika Joey bertindak, tindakannya itu masih berbalut rasa ketakutan, dan masih merasa harus mematuhi abangnya. Kita dapat melihat jelas perubahan psikologis Joey dan perubahan pandangannya terhadap si abang. Bukan karena memang film begitu visual dalam menampilkan kesemena-menaan dan ketoxican Matt (Fionn Whitehead sukses jadikan karakternya ngeselin), tapi juga karena kita merasakan pemberontakan dan choice itu terbentuk bertahap dalam diri dan perilaku Joey.
Dan pemicu perubahan Joey itu yang membuat film ini menarik. Don’t Tell a Soul actually menjadikan ‘perasaan bersalah’ sebagai benang merah yang menyatukan karakter-karakternya. Each of them akan merasakan hal tersebut dan dijadikan titik-balik atau puncak pembelajaran dari para karakter. Bagi Joey, perasaan bersalah itu yang jadi ‘main force’ yang menggerakkan aksinya. Perasaan bersalah Joey yang menghantarkan kita kepada satu lagi relasi menarik yang dipunya oleh film ini. Yakni hubungan yang terjalin antara Joey dengan Hamby.

Menyimpan perbuatan buruk sebagai rahasia gelap ternyata bukan apa-apa jika dibandingkan dengan menyimpan rasa bersalah kita terhadap perbuatan baik yang tidak kita lakukan. Tidak menolong Hamby terus menghantui Joey. Yang memakan ketenangannya dari dalam bukanlah soal perbuatan mencuri yang ketahuan, melainkan perihal seseorang yang bisa saja terluka dan butuh pertolongan yang tidak mereka tolong.

 
Sayangnya, aku gak etis kalo bicara banyak soal hubungan Joey dengan Hamby karena ini actually ada rahasia yang disimpan oleh cerita. Yang kalo dibeberkan, hilanglah sudah kejutan demi kejutan yang disiapkan dan jadi merusak experience menonton. Bakal spoiler banget lah pokoknya. Jadi aku akan coba to keep it light
Joey yang merasa bersalah kerap kembali ke lubang untuk mengirimkan makanan dan minuman kepada Hamby. Salah satu barang yang ia jatuhkan ke bawah adalah, walky talky. Dan dari sini hubungan mereka dimulai. Menariknya itu adalah, while kita bisa merasakan nada tipu muslihat yang dihembuskan oleh Rainn Wilson di balik kata-kata positif karakternya, perhatian kita tetap terpusat kepada Joey. Yang mengajak Hamby bicara dengan nada yang seolah seperti menemukan teman bermain yang baru. Seharusnya film ini punya durasi yang sedikit lebih panjang lagi supaya development relationship ini bisa berjalan dengan benar-benar bertahap. Bisa kelihatan lebih jelas progres dari Joey yang tadinya tergerak oleh rasa bersalah menjadi terkadang seperti menganggap Hamby teman, terkadang sebagai pengganti abang, malah terkadang seperti pengganti sosok sang Ayah. Di paruh kedua, akan ada revealing soal Hamby, yang meng-escalate relationship Joey dengan Hamby ke arah yang sama sekali tidak tertebak. Dan ini fun buatku. Aku sadar keputusan tindakan karakter itu datang dengan masih terlalu cepat – film benar-benar butuh waktu untuk membuatnya jadi lebih matang lagi – tapi kejadian-kejadian yang disuguhkan benar-benar caught me by surprise.

Sebenarnya justru Joey-lah yang jatuh ke lubang. Lubang rasa bersalah.

 
Kalo kalian suka nulis cerita, atau sekadar ngayalin cerita, pasti pernah ngerasain serunya membayangkan berbagai kemungkinan yang terjadi sebagai kelanjutan cerita. Kemungkinan yang terpikirkan, bakal selalu lebih liar dan tak-terduga dibandingkan kemungkinan sebelumnya. Nah, film ini, di bagian menjelang terakhirnya, persisnya tuh kayak mengambil semua kemungkinan cerita dan menyatukannya. Konteks, tema sibling rivalry, tema perasaan bersalah, semua masih ada sebagai tulang punggung cerita, tapi kejadiannya benar-benar menjadi berkembang liar. Seperti ngeliat Big Show melakukan semua pertukaran heel-dan-face-nya dalam satu malam.
Semuanya itu boleh saja seru dan fun – film ini punya selera humor yang cukup dark, tapi sejatinya tidak menutup mata kita dari elemen penting yang jadi tidak bisa hadir oleh begitu singkatnya waktu untuk membuat semua pilihan dan kejadian unexpected itu terjadi. Yakni elemen depth dari konflik moral karakter. Suspens yang sudah cukup terbendung di paruh pertama, menjadi terasa lenyap dan mengempis. Film jadi fokus ke kejadian demi kejadian. Aku minta maaf karena harus menggunakan analogi gulat sekali lagi; adegan akhir itu ya rasanya seperti adegan dalam gulat ketika satu persatu superstar muncul dan menyerang dengan finisher mereka. Seru, tapi kita jadi just don’t care anymore. Kita teralihkan dari karakter, dari cerita yang tadinya terbangun. Simpelnya adalah, apapun yang terjadi kita bakal senang karena seru dan tak-tertebak. Kita gak peduli untuk bersimpati lagi kepada karakternya. Dan untuk cerita film ini, hal tersebut jadi tak lagi in-line dengan yang sudah diset di awal. Perjuangan anggota keluarganya, konflik di dalam mereka, semuanya jadi tak teperhatikan lagi.
 
 
Seperti Charlie Chaplin, musuh utama film ini adalah waktu. Aku percaya kalo diberikan waktu lebih banyak lagi – jika dibikin dengan durasi yang lebih panjang lagi – elemen kejutan dan berbagai komplikasi adegan di paruh akhir bisa lebih ter-flesh out. Memungkinkan untuk tetap terjadi tapi kali ini dengan membuat perhatian kita tak terlepas dari konflik karakter; moral dan pilihan mereka. Kalo soal seru sih, ya film ini bakal menghibur berkat itu. Kupikir film ini bakal punya team-up karakter yang sangat unik – bahkan, hero di akhirnya juga out of the box, dan juga sekaligus berani. Untuk kondisinya yang sekarang, kita bisa bilang film ini masih terlalu liar for it’s own good.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for DON’T TELL A SOUL.
 
 
 
 

 

That’s all we have for now.
Pernahkah kalian memendam rasa bersalah? How did you manage to climb out of your guilty conscience?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

EARWIG AND THE WITCH Review

“If you want something done, do it yourself”
 

 
Musik adalah magic. Untuk banyak orang, musik merupakan obat personal. Nada-nada yang dapat membawa beragam emosi dan mampu merepresentasikan banyak perasaan. Seperti sihir, musik bisa mempengaruhi orang tanpa-pandang bulu. Bahasanya adalah bahasa jiwa, sehingga menyentuh tanpa-limitasi. Film animasi terbaru dari Studio Ghibli berjudul Earwig and the Witch ini literally memasukkan musik dan sihir sebagai tema ceritanya. Ya, kalian gak salah membaca. Film ini memang tidak terlihat seperti animasi Ghibli yang biasa, dan itu karena sutradara Goro Miyazaki bereksperimen dengan menyulap animasi kali ini ke dalam efek komputer sepenuhnya. Jadi, dengan begitu kita bisa bilang ada tiga hal-ajaib yang bekerja membentuk film ini. Keajaiban musik, keajaiban komputer, dan keajaiban sihir/fantasi itu sendiri. But, why oh why, saat ditonton film ini malah terasa jauh dari keajaiban film-film Studio Ghibli yang biasa?
Goro Miyazaki seperti gagal memenuhi janji akan keajaiban-keajaiban yang sudah disiapkan. Seperti pada cerita, misalnya. Set up film ini sudah demikian menarik. Ini adalah kisah seorang anak perempuan di panti asuhan yang tidak mengetahui bahwa dirinya adalah anak seorang penyihir. Adegan opening film ini mempertontonkan aksi sang ibu – penyihir berambut merah – di atas sepeda motor, melaju karena dikejar-kejar oleh sebuah mobil kuning. Si Ibu lantas menyihir sehelai rambut-merahnya menjadi cacing, yang dilemparkan ke kap depan mobil yang tengah dalam proses menunjukkan gerigi-gerigi yang siap menerkam. It is magical and fantastic. Ketika si penyihir menitipkan bayi dalam gendongannya di depan sebuah panti asuhan, kita excited untuk melihat ke depannya bakal seperti apa. What kind of magic would the baby girl had? Petualangan seperti apa yang bakal anak itu lewati?

Akankah nanti dia punya musuh botak seperti ular dan panti asuhannya secretly adalah sekolah sihir?

 
Ternyata, enggak ada lagi petualangan seheboh itu kita jumpai hingga akhir cerita. Setting cerita film ini berpindah dari panti asuhan ke rumah; settingnya actually menyempit. Jadi ceritanya, beberapa tahun kemudian, si anak (diberi nama Earwig oleh sang ibu, tapi diganti jadi Erica Wigg oleh matron panti) diadopsi oleh pasangan yang tampak aneh dan nyeremin. Erica dibawa tinggal di rumah mereka. Sebenarnya masih bisa menarik, karena pasangan yang mengadopsi Erica ternyata bukanlah pasangan. Mereka bahkan bukan ‘manusia’ biasa. Mereka adalah dua orang penyihir yang tinggal serumah. Harapanku di titik itu masih menyala. Kupikir rumah tersebut bakal jadi tempat fantastis dengan segala sihir dan keanehannya. Kupikir rumah tersebut akan jadi panggung bagi Erica untuk bertualang, mengeksplorasi kekuatan sihirnya sendiri. Tapi sekali lagi, film ini mengayunkan ekspektasi kita, tanpa menyambutnya. Ekspektasi kita jatuh berdebam di tanah!
Earwig and the Witch actually adalah salah satu film panjang terpendek dari Studio Ghibli. It’s clocked at 1 hour and 22 minutes. Dan sekarang aku jadi menyadari bahwa satu-satunya keajaiban dari film ini adalah membuat durasi sependek itu menjadi terasa lama. Film ini di tengahnya diisi oleh plot poin yang repetitif dan dipanjang-panjangain, baru kemudian kita sampai di bagian akhir yang mulai menarik, dan film ini udahan. Berhenti tepat ketika apa yang tampak seperti plot poin berikutnya datang. Sebagian besar film dihabiskan di ruangan, dapur penyihir; tempat Erica disuruh-suruh nyiapin bahan-bahan (motongin kaki kodok, menyilet kulit ular, atau sesekali ke halaman belakang motongin akar-akar herb). Jika bukan karena si kucing yang bisa bicara dan pintu yang menghilang, aku bisa-bisa lupa kalo yang kutonton ini bukan film Cinderella yang Cinderellanya tengil abis.
Ya, percikan menarik film ini memang hanya datang dari Erica itu sendiri. Yang karakternya dibikin pinter tapi bandel. Desain Erica aja dibikin mencuat dari anak-anak lain; dia punya dua ikat rambut yang berdiri seperti antena serangga (mungkin ini salah satu alasan kenapa dia diberi nama sama seperti nama serangga). Erica benci diadopsi dan dia berusaha untuk enggak terpilih setiap kali ada keluarga yang datang ke panti. Alasan Erica gak suka diadopsi bukan karena dia gak mau ninggalin teman-teman dan sayang sama semua orang di panti. Melainkan karena baginya hidup di panti itu enak, karena banyak yang bisa disuruh-suruh. Dia mendapatkan pelayanan dari orang-orang, dikasih makanan enak (dia punya pie kesukaan), dan bebas bermain-main sepanjang waktu. Kita melihat Erica melanggar jam malam dan kemudian ngeles sehingga membuatnya semakin disayang oleh matron panti. Erica ini manipulatif banget. Dia punya sahabat bernama Custard, yang fungsinya untuk ia suruh-suruh. Erica bahkan gak pamit sama si sahabat begitu dia diadopsi. Karakter Erica penuh oleh flaw, dan ini membuatnya menarik. Dia cerdik, berani, mandiri, tapi ia menggunakan semua itu untuk memastikan dirinya mendapat pelayanan maksimal. Maka, ketika dia diadopsi dan ternyata malah disuruh jadi asisten (baca: babu) si penyihir galak nyiapin ramuan-ramuan, motivasi Erica tersebut jadi mendapat tantangan. Inilah yang jadi whole story. Erica disuruh-suruh, dia dendam, dia akhirnya belajar sihir sendiri (dibantu ama kucing hitam, ‘familiar’ si penyihir), dan tak lupa dia menggunakan manipulasi untuk membuat si penyihir galak bertengkar dengan penyihir cowok yang jangkung dan misterius. Tujuan akhir Erica adalah supaya dia jadi dapat pelayanan maksimal dari kedua orangtua asuhnya – seperti ketika dia dilayani di panti.

Terlalu sibuk kian-kemari memikirkan rencana bikin mantra dan ramuan balas dendam demi membuat para penyihir tunduk melayaninya, Erica gak menyadari bahwa dia sebenarnya lebih dari sekadar capable dalam melakukan semuanya sendiri. I think the best take away yang bisa kita ambil dari karakter bandel dari Erica ini adalah bahwa dia enggak manja. Dia mandiri banget malah. Karakter ini menunjukkan kepada kita kekuatan dari determinasi dan mengerjakan segalanya sendiri. Being best at who we are. Sekiranya Erica sadar itu, pastilah dia enggak akan lagi merasa perlu untuk dilayani oleh orang lain.

 
Plot/arc Erica benar-benar aneh, bahkan untuk standar Jepang yang terkenal suka hal aneh itu sendiri. Film ini memberikan apa yang diinginkan oleh si protagonis, dan yang diinginkannya itu bukanlah hal terpuji. Dari cerita ini terbangun, sepertinya bakal ada pembelajaran yang bakal didapat oleh Erica, tapi cerita gak pernah sampai ke sana. Karena suddenly fokus cerita berpindah, ketiga karakter ini jadi bersatu karena musik, dan kita melihat flashback yang intriguing tentang hubungan sebenarnya antara si dua penyihir galak dengan ibu Erica. Dan film usai. Erica sama sekali tak tahu atau malah tak tampak peduli dengan siapa dirinya sebenarnya. Dia hanya peduli dengan penyihir berambut merah karena si penyihir adalah vokalis band yang ia suka. Dan masalah di antara para penyihir dewasa di opening itu, kita hanya dibiarkan menduga-duga. Film berakhir dengan abrupt sekali. Aku gak tahu cerita materi aslinya sepeti apa (film ini diadaptasi dari cerita anak karangan Diana Wynne Jones) Aku juga gak tau apakah film ini memang diniatkan bakal ada sambungannya, atau malah bakal jadi film serial. Karena benar-benar menggantung, belum ada resolusi atau apapun dari ceritanya.

Di film ini ada Sherina Munaf yang ngisi suara vokal Ibu Erica

 
Sepertinya itu semua ada hubungannya dengan permasalahan pada gaya animasi yang dipilih oleh sang sutradara. Desain karakter dan dunia film ini sebenarnya oke-oke aja. Gaya Goro Miyazaki memang selalu ‘polos’ kayak karakter From Up on Poppy Hill, bahkan petualangan Tales from Earthsea. Malah si Earwig ini bisa dibilang karya Goro yang desain karakternya paling nyentrik. Melakukan animasi yang sepenuhnya komputer alih-alih hand-drawn boleh jadi memang diniatkan sebagai gebrakan, tapi itu juga dapat menciptakan masalah baru, baik itu di biaya maupun dari pengerjaan. Film-film Ghibli kan biasanya penuh fantasi. Jikapun settingnya di lingkungan sehari-hari, kejadiannya pasti dibuat seemosional mungkin. Maka aneh aja, ketika mereka mengusung cerita fantasi, membuatnya jadi 3D, tapi ternyata momen-momen fantasi itu sedikit kali ditampilkan. Kenapa ‘mengurung’ cerita di dalam rumah ketika kini kau bermain dengan visual yang unik – yang di luar kebiasaan? Ketika ini adalah waktumu untuk membuktikan mampu bikin fantasi yang lebih wild dan fun dari ayahmu? Menurutku, bagi Goro sendiri, film ini jelas merupakan tantangan sekaligus pembuktian. Sehingga dia besar kemungkinan bukannya enggak mau untuk membuat film ini wah, melainkan ya karena keterbatasan teknis. Entah itu biaya, atau simply belum jago amat bikin animasi komputer.
Akibatnya film jadi gak banyak adegan fantasi, enggak banyak mengeksplor magic di luar ramuan-ramuan. Cerita pun gak bisa tuntas, aku pikir ini mungkin memang sengaja dipotong dengan harapan kalo laku, mereka bisa menyelesaikan cerita. Dan mereka berusaha melakukannya dengan elegan, sehingga film ini masih punya awal-tengah-akhir (meskipun enggak memuaskan dan plotnya terasa kayak gak benar-benar ada), memejeng ‘ending extra’ lewat kredit penutup (yang pakek animasi 2D seperti biasa, but actually nampak lebih hidup daripada keseluruhan film yang kita lihat ini) dan masih dianggap berdiri sendiri ketika hasil film ini flop dan gak bisa menyambung biaya.
 
 
Clearly, ini bukanlah yang terbaik yang dipersembahkan oleh Studio Ghibli. Dulu aku sempat bikin list Top-8 film Ghibli favorit, dan kehadiran film ini gak membuatku harus mengupdate apapun dari list tersebut. Walaupun filmnya punya karakter yang menarik, tapi ceritanya terasa bland dan belum sampai ke titik akhir. Tidak seimajinatif dan se-petualangan yang kita kira. Visual animasi komputernya pun tidak menambah apa-apa, malah jadi seperti penghalang utama yang menyebabkan film ini gak bisa bermain maksimal.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for EARWIG AND THE WITCH
 
 
 
 

 

That’s all we have for now.
Flashback yang memperlihatkan Ibu Erica dan dua teman penyihirnya sempat memperlihatkan seolah ada cinta romantis di antara beberapa dari mereka (atau malah semua?) Apakah kalian punya teori sendiri tentang itu? Apakah mereka terlibat cinta segitiga? Sebenarnya siapa ayah Erica?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

THE LITTLE THINGS Review

“Making mistakes is better than faking perfections”
 

 
 
Judul film ini adalah mantra yang terus diucapkan oleh karakter ceritanya; detektif yang dihantui oleh kegagalan terdahulu dalam memecahkan kasus. Sehingga si detektif selalu mengulang-ngulang, “perhatikan hal-hal kecil!”. Karena memang hal-hal yang sekilas tampak tak signifikan itulah, yang biasanya punya peranan besar di kemudian hari. Tapi yang dibicarakan si detektif dalam film ini bukan ‘hal-hal kecil’ semacam menabung kebaikan sedikit lama-lama menjadi bukit. Melainkan hal-hal berupa petunjuk-petunjuk terkecil, yang dapat mengungkap kebenaran di balik misteri kasus. Hal-hal yang berasal dari kesalahan-kesalahan yang tak luput dilakukan oleh manusia. Dan yang ngerinya adalah, kesalahan itu tentu saja tak selamanya dilakukan oleh penjahat.
Inilah yang membuat The Little Things garapan John Lee Hancock menarik untuk kita simak. Drama kriminal ini ngingetin kita pada neo noir detective-nya David Fincher yang berjudul Seven (1995). Sama-sama berupa cerita detektif yang fokus kepada penggalian psikologis karakter detektifnya. The Little Things bermain di area yang tidak hitam-putih, melainkan memperlihatkan cerita kegagalan yang menempatkan tokoh-tokohnya dalam sebuah area abu-abu. Detektif yang melakukan hal tak-terpuji, atau bahkan tersangka yang membuat kita berpikir “hey mungkin dia tidak jahat..”. Namun sayangnya, film The Little Things ini tersandung oleh hal-hal kecil yang sendirinya tak ia perhatikan.
Perhatikan hal-hal kecil, kata film ini. Mantra tersebut tak bisa berdering lebih nyata lagi, sebab begitu kita memperhatikan hal-hal kecil pada film ini, kita tahu bahwa mestinya sang pembuat juga perlu menerapkan mantra tersebut ke dalam karyanya ini. Kelamnya The Little Things ternyata enggak berhenti sampai di psikologis karakter-karakternya saja, melainkan juga merambah hingga ke ranah sosial dan hukum kita di dunia nyata. Film ini memilih ending yang menurutku gak bakal nyaman diterima oleh sebagian besar penonton karena waktu dan kejadian di dunia nyata kita.

Di samping karena misteri siapa-pelakunya yang memang tidak berujung pada resolusi apa-apa

 
 
So yea, ulasan kali ini akan memuat spoiler yang lebih gamblang daripada biasanya. Karena kita akan membahas elemen yang ‘bermasalah’ dari cerita film ini, yang tak bisa dilakukan tanpa mengungkap character-arc dari tokoh-tokohnya secara nyaris total. Aku akan tetap berusaha supaya gak terlalu to-the-point amat supaya gak merampas misteri dari yang belum nonton. Tapi meskipun begitu, tetaplah anggap paragraf ini sebagai peringatan.
Karakter jagoan dalam The Little Things adalah dua orang detektif; Joe Deacon yang diperankan oleh Denzel Washington, dan satu lagi detektif yang lebih muda bernama Jim Baxter; diperankan oleh Rami Malek. Kedua karakter ini punya reputasi yang kontras. Karir Deacon actually terjun bebas dan dia pun tampak sedikit dijauhi oleh polisi-polisi lain karena peristiwa yang terjadi di masa kerjanya dahulu. Sedangkan Baxter dianggap sebagai detektif yang menjanjikan, terpercaya, dan brilian. Mereka lantas menjadi bekerja sama saat rangkaian kasus penculikan/pembunuhan perempuan-muda terjadi terus-menerus. Sementara Deacon perlahan menyadari kasus ini mirip dengan kasus tak-terpecahkan di masa lalunya, Baxter belajar tentang kenyataan di balik kasus dan trauma Deacon tersebut. Dan dengan sedikitnya petunjuk dan menipisnya waktu, pertanyaan paling penting bukan lagi soal siapa pelaku yang coba mereka tangkap. Melainkan apakah Baxter akan menapaki jejak kegagalan dan ‘kehancuran’ yang sama dengan Deacon.
Naskah yang ia tulis sejak 1993 ini agaknya menjadi terlalu rumit bagi Hancock sendiri. Ia tampak tak berhasil menemukan cara yang tepat untuk membungkus ceritanya dalam arahan yang efektif. Pengembangan selama dua jam lebih durasi terasa sia-sia karena saat cerita akhirnya tuntas, kita enggak merasakan apa-apa. Build-upnya seperti mengempis menjadi angin. Karena kita dibuat melenggang terlalu jauh dari apa yang diniatkan oleh Hancock dalam cerita ini. Permasalahan utama yang terasa dari film ini memang soal pergantian fokus cerita dari mencari pelaku ke membahas psikologi Baxter. Kita kecele dibuat oleh cerita yang tadinya seperti menyambung dari psikologi Deacon hingga tuntas ke redemption dengan menangkap pelaku, yang ternyata malah berujung ke psikologi karakter lain tanpa benar-benar memberikan penyelesaian pada kasus yang sedari awal ditampilkan seolah sebagai main attraction di film ini. Di sinilah memang letak miss-nya arahan Hancock.
Sah-sah saja membuat cerita detektif yang menonjolkan kegagalan ketimbang menangkap pelaku. Hanya saja, untuk membuat seperti itu, ceritanya harusnya fokus nge-lead penonton ke arah psikologis karakter saja. Namun film ini sudah menyesatkan sedari opening. Di awal itu yang diperlihatkan kepada kita adalah aksi si penjahat-misterius. Kita melihat dia mengejar salah satu korbannya. Dengan menonjolkan ini di awal, kita penonton jadi fokus ke sosok pelaku, penyelesaian film yang membuka dengan seperti ini haruslah dengan memberi jawaban tegas siapa dan bagaimana nanti nasib pelaku. Padahal film membicarakan bukan tentang ke siapa si pelaku, melainkan soal gimana mental detektif yang gagal mengungkap pelaku. Seharusnya film ini membuka cerita dari kedua karakter detektif. Malah menurutku mungkin bisa lebih baik kalo paralel alias sedari awal langsung saja diperlihatkan peristiwa malam kegagalan Deacon, lalu setelahnya bisa jump ke timeline yang sekarang. Intinya adalah film harusnya fokus langsung ke tragedi yang menonjolkan karakter karena memang ke situlah cerita akhirnya berlabuh; untuk apa ngeliatin kerjaan pelaku kalo pelakunya gak bakal dijawab.
I mean, lihat saja film crime-thriller Korea Memories of Murder (2003); dalam film itu, detektifnya gagal menangkap pelaku yang tak pernah diketahui siapa, tapi kita enggak kesal dan merasa kosong setelah film itu usai. Itu karena penceritaannya dimulai dengan langsung fokus ke tokoh utama. Film itu dibuka tidak dengan memperlihatkan aksi pelakunya, melainkan memperlihatkan elemen-elemen yang memfokuskan kita ke gagasannya (soal gaze, si detektif, dsb).
Tentu merupakan konflik yang menarik ketika ada detektif atau polisi seperti Deacon yang tenggelam amat dalam ke kesalahan masa lalu. Kita melihat dia literally dihantui oleh korban-korban yang ia anggap ia kecewakan, as in Deacon duduk di dalam ruangan bersama tiga korban dan Deacon yang ngobrol dengan mayat. Adegan begini sangat menarik, tapi sayangnya terasa kosong karena pada titik itu kita belum diberi kesempatan mengerti. Kita gak merasakan rasa bersalah bareng Deacon, kita hanya menontonnya dikelilingi ‘hantu’. Makanya, terasa lebih menarik ngikutin Baxter. Kita benar-benar mengikutinya sedari awal. Sedari Baxter tampak begitu percaya diri. Namun seiring waktu kita merasakan dirinya runtuh. Dia semakin desperate, ketidakmampuannya terhadap kasus ini terefleksikan olehnya kepada keluarganya. Baxter semakin ‘mirip’ dengan Deacon. Kita juga paham kenapa pada akhirnya Baxter butuh si tersangka utama, Albert Sparma (diperankan oleh Jared Leto) benar-benar keluar sebagai pelaku. Dan ketika Sparma ini eventually menjadi kejatuhan bagi Baxter, kita ikut merasakan nelangsa dan desperadonya.
Dia yang desperate akan menggali lubang berkali-kali

 

Semakin seseorang berkubang dan tidak bisa menerima kesalahan dan kegagalan dirinya, maka semakin berat juga beban yang menghantuinya. Film ini sesungguhnya punya gagasan yang menantang soal seberapa jauh orang akan melangkah demi membetulkan kesalahan yang ia perbuat.

Jika diceritakan dengan benar, maka film ini menurutku memang benar-benar sangat menantang. Aku percaya film gak harus politically correct atau film boleh saja (dan sebagian besar memang lebih menarik jika) menunjukkan kegagalan atau malah sekalian membuat tokohnya jadi jahat. The Little Things tampak mengincar kesan tersebut tapi, kembali lagi, film ini tidak memperhatikan hal-hal kecil. Penceritaan dan ending yang dipilih, justru membuat film ini seperti tone-deaf dan terkesan dangkal. Implikasinya adalah Deacon si tokoh utama tampak seperti orang yang jadi bersedia melakukan apapun untuk menutupi kesalahan yang dilakukan oleh sejawat detektif/polisi, sementara Baxter yang jadi protagonis gak pernah sadar apa yang ia lakukan itu membuatnya bersalah; mungkin saja dia malah jadi menyangka dirinya pahlawan, padahal dirinya sendiri sedang dibohongi.
Sekilas, akhiran film ini memang tampak tak memuaskan. Gak delivered resolusi apapun. Namun di balik itu semua, film ini bahkan bisa terasa lebih ‘disturbing’ lagi. Karena endingnya memuat hal yang lebih kelam soal polisi yang melakukan kesalahan – yang menghilangkan nyawa orang yang belum tentu bersalah – tapi kesalahan tersebut ditutupi demi kebaikan sang polisi itu sendiri. Masalah kekerasan oleh polisi merupakan salah satu masalah utama yang melanda kita di tahun kemaren, and it might still going on, dan hari ini kita menonton film yang enggak jelas sikapnya terhadap persoalan tersebut. Melainkan seperti memperlihatkan praktek yang demikian bobrok dari protagonis ceritanya. Film seharusnya lebih tegas dalam memilih sikap, atau setidaknya lebih klir dalam memberikan entah itu redemption, atau ganjaran, atau bahkan menjawab siapa sebenarnya pelaku. Namun ia membiarkan kita dalam kebingungan. Bahkan bukan kita aja, para aktor pun seperti dibiarkan bermain sendiri-sendiri. Washington, Malek, dan Leto jadi jualan utama karena mereka pernah meraih Oscar. Hanya saja dalam film ini mereka tidak tampak klop bermain. Mereka seperti ada pada zona yang saling terpisah. Deacon yang subtil dan bicara lewat gestur dan ekspresi kayak berada di film yang berbeda dengan Sparma yang terlalu over, sementara Baxter ada di tengah-tengah.
 
 
 
 
Aku akan lebih suka, aku yakin ceritanya akan lebih ngena, jika fokusnya memang pada Baxter saja. Tentu saja dengan ending yang lebih menghormati karakter dan penonton. Karena secara jiwa, film ini adalah psikologikal thriller yang nunjukin kegagalan detektif. Namun bagaimana itu semua tercapai jika si detektif tidak menyadari bahwa dia gagal? Arahan film ini tidak berhasil menghantarkan visi secara keseluruhan. Malahan, akan membuat kita salah sangka. Jika kita mengira ini akan menjawab siapa pelaku, maka film ini akan terasa super tidak memuaskan. Bukan salah eskpektasi kita, melainkan salah film dalam menebar petunjuk-petunjuk kecil dalam penceritaannya.
The Palace of Wisdom gives 4.5 out of 10 gold stars for THE LITTLE THINGS.
 
 
 
 

 

That’s all we have for now.
Pekerjaan polisi cukup berat, dan ternyata kasus yang gagal dipecahkan saja mampu membuat seorang polisi trauma dan terbebani seumur-umur.
Bagaimana pendapat kalian tentang ending film ini? Apakah Baxter pantas mendapatkannya?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

Royal Rumble 2021 Review


 
 
Jalan menuju kesuksesan biasanya kan berbatu-batu. Tapi jalan menuju WrestleMania tahun 2021 ini, maaaan.. Tentu saja bagi superstar yang terlibat, terutama bagi kedua pemenang pertandingan Royal Rumble (versi cewek dan versi cowok), jalan tersebut masih penuh rintangan dan berliku-liku. Namun bagi kita, ‘pemandangan’ yang tersaji di jalan ini sungguh merupakan pemandangan menyenangkan, dan liku-liku berbatu itu jadi drama yang seru dan menegangkan.

Dimulai oleh Royal Rumble ini, jalan menuju WrestleMania kali ini nyatanya adalah jalan yang sungguh seru dan menyenangkan!

 
Biasanya, aku dalam menulis review selalu pake urutan. Pertama-tama ngomongin yang bagus-bagus dulu, ‘menjual’ tontonan tersebut – memberikannya kesempatan untuk ditonton. Baru kemudian membahas poin-poin kekurangannya – memberikan pembaca ruang untuk berdiskusi soal kekurangan tersebut. Tapi ngereview Royal Rumble kali ini, aku bingung. Karena yang ada hanya hal-hal bagus sehingga aku kesulitan untuk memulai mana duluan yang mau dibahas. Ini seperti ketika kalian baru saja mengalami suatu peristiwa menyenangkan, dan kalian menceritakan peristiwa tersebut kepada teman. Begitu banyak hal menyenangkan yang disemprotkan dalam sekali cuap! Gak tau lagi deh, for once WWE akhirnya benar-benar mendengarkan permintaan dan kritikan fans. WWE benar-benar memberikan apa yang kita mau. Goldberg gak ngambil spot bintang baru yang jelas-jelas lebih mampu bertanding beneran. Charlotte out dari title picture. Pertandingan kejuaraan dengan aksi seru dan cerita yang konsisten, lagi ‘bener’. Dua match Royal Rumble; yang memuaskan sampai-sampai bikin terharu. Dan reunian merayakan persahabatan yang penuh nostalgia. C’mon, siapa sih yang gak suka ‘diginiin’??

Jangan sampai kita melihat dua Sasha tumbang dalam satu hari yang sama

 
 
Kualitas tayangan WWE ini secara produksi juga meningkat tajam. WWE menggunakan kamera baru. Yakni teknologi kamera 8K seperti yang biasa dipakai dalam siaran football NFL. Perbedaannya langsung bisa kita rasakan dengan jelas. Entrance para superstar tampak luar biasa wah. Kalo istilah ‘awam’nya: pada bokeh semua. Kamera akan menyorot dari depan superstar, selama para superstar berjalan menuju ring, dan itu kita bisa lihat ketajaman gambar dan depth-nya cantik gila. Alexa Bliss jadi makin cantik deh hihihi
Yang jelas, WWE memang semakin kreatif dengan properti mereka. Set Thunderdome kali ini diperlihatkan dengan dekat kepada kita saat pertandingan Last Man Standing antara Kevin Owens melawan Roman Reigns berlangsung. Ini bukan saja membuat pertemuan mereka jadi semakin fresh, melainkan juga membuat kita jauh-jauh dari rasa jenuh. Change of pace dari dua match Royal Rumble. Makanya pertandingan Last Man Standing ini ditempatkan di antara dua match Royal Rumble tersebut. Supaya ada pergantian suasana, supaya kita gak jemu dengan konsep itung-itung mundur melulu. Last Man Standing itu pun dipresentasikan sedemikian rupa sehingga tidak mengurangi kepentingan pertandingannya itu sendiri. Reigns dan Owens malah tetap mencuat sebagai pertandingan yang paling intens dan utama di sini. Baik Owens dan Reigns menunjukkan kematangan mereka sebagai superstar kelas kakap – bukan hanya di Smackdown, melainkan bisa jadi juga seantero WWE pada masa ini. Kita melihat pertandingan mereka ini brutal, tapi psikologi di baliknya tetap terjaga. Kita melihat adegan gila seperti Owens ditabrak pake mobil golf, yang nanti diseimbangkan dengan adegan seperti superstar terus mengincar kaki lawannya karena memang logika pertandingan ini adalah pertandingan yang hanya bisa dimenangkan saat lawan tidak mampu berdiri dalam sepuluh hitungan.
Another great character works dapat kita jumpai dalam pertandingan kejuaraan Cewek Smackdown antara Sasha Banks melawan Carmella. Desember lalu di TLC mereka bagus banget adu gulatnya. Di PPV Royal Rumble kali ini, match mereka secara aksi agak sedikit lebih sloppy, tapi kekuatan mereka di sini terletak pada psikologi karakter. Carmella berantem dengan taktik (baca: Reginald) dan Sasha berusaha membuktikan dia masih Boss di divisi ini. Pertandingan ini diniatkan untuk mempush development karakter mereka masing-masing. Menarik sekali menyimak ke mana arahan heel tak-biasa dari Carmella ke depannya (tak biasa karena biasanya superstar cowok yang dibantu curang oleh manager cewek – dan di sini Reginald malah bukan tipe manager ‘tradisional’ ala WWE). Dan tentu saja karakter Sasha juga semakin bikin penasaran, terlebih ketika kita nanti mengetahui siapa yang bakal jadi lawannya di WrestleMania saat pertandingan Royal Rumble cewek usai.
Dua pertandingan Royal Rumble di sini boleh jadi yang bakal jadi paling memorable bagi kita dibandingkan Royal Rumble beberapa tahun belakangan. Karena keduanya memberikan pemenang yang cerita perjuangannya sama-sama heartfelt banget. Pertama, ada Bianca Belair. Relatif-pendatang-baru yang karir gulatnya memang masih semuda itu. Belair dulunya seorang atlet fitness Crossfit dan baru ‘berlatih’ sebagai pegulat di WWE tahun 2016. Hanya lima tahun, dan Belair udah mecahin rekor African-American superstar kedua yang memenangi Royal Rumble – setelah The Rock (ini membuat Bianca praktisnya sebagai African-American superstar cewek pertama yang menang Royal Rumble!) Jet yang membuatnya meroket ini bukan serta-merta dipasangkan begitu saja, Belair membuktikan bahwa dia pantas. Fisiknya luar biasa, karakter worknya bagus, dan dia juga unik dengan rambut panjang yang sesekali dijadikan cambuk untuk menyerang. Belakangan juga Smackdown ngebuild Bianca dengan proper, sehingga kemenangannya memang sudah diharapkan oleh banyak fans. Dan kedua, dari sisi Royal Rumble cowok, ada Edge. Superstar legend yang gak perlu ditanya lagi prestasinya di dalam ring. Kemenangan Edge jadi begitu emosional (dan gak ngeselin) karena karir Edge dipercaya banyak orang – termasuk dirinya sendiri – udah berakhir sejak divonis cedera leher parah. Tahun lalu Edge balik dan bikin kaget banyak orang, dia sudah diset untuk kembali secara permanen, namun dia cedera lagi. Jadi ketika Edge muncul lagi dan actually menang, ini seperti keajaiban gede bagi para fans.
Terakhir kali Edge memenangkan Rumble adalah pada tanggal 31 Januari 2010. Tepat sebelas tahun setelah itu – setelah melalui banyak cedera dan jauh dari ring – Edge kembali mengukir prestasi tersebut. Bukan menang sekadar menang, Edge menang sebagai peserta nomor urut pertama, berhadapan dengan Randy Orton sang musuh bebuyutan. Ya, cerita Edge dalam match Royal Rumble ini benar-benar dimainkan oleh WWE ke dalam konteks sehingga terasa sangat emosional. Dan bukan hanya Edge yang malam Royal Rumble itu ada di atas ring setelah divonis gak-bakal bisa tanding lagi seumur hidup. Ada Daniel Bryan. Dan surprise, surprise… Christian!
“For the benefit of those with flash photography…”

 
Royal Rumble terkenal karena peserta-kejutan, dan kejutan yang disiapkan oleh WWE kali ini sungguh bikin emosi meluap. Bukan hanya nostalgia, tapi kali ini WWE benar-benar menggunakan ‘legend-legend’ itu untuk memperkuat cerita. Para legend kali ini beneran seperti membantu banyak superstar muda, tak lagi tampak seperti ngambil spot mereka. Lihat saja Victoria yang sempat-sempatnya ‘ngajarin’ jurus Widow’s Peak dengan benar kepada Peyton Royce, atau bagaimana Victoria membuat Shayna Baszler tampak kuat. Jillian Hall aja membantu banget buat karakter komedi si Billie Kay. Aku senang karena walaupun banyak legend yang muncul, Edge yang actually jadi hero utama, tapi fokus pengembangan tetap pada superstar masa kini. Damien Priest, misalnya, superstar yang naik kelas dari NXT di Rumble ini dibook kuat banget, eliminasi empat orang – termasuk single-handedly membuang Kane. Dan kemudian ada Bobby Lashley yang membuang Priest, praktisnya membuat Lashley jadi super brute-force. Aku bahkan gak kesel Alexa Bliss tampil singkat banget, karena karakternya gak benar-benar butuh Royal Rumble. Atau, lebih tepatnya, Royal Rumble yang udah keren ini gak butuh kekuatan editing alias transformasi Alexa karena itu akan meruntuhkan match ini – membuatnya jadi gak make sense.
Tentu, acara ini juga gak luput dari botch. Namun di sini botch-nya lebih ke teknis, misalnya soal Paul Heyman yang menghabiskan waktu terlalu lama untuk membuka tangan Reigns yang terborgol. Membuat match Last Man Standing itu jadi konyol karena wasit terpaksa menghentikan hitungan sampai borgolnya terlepas. Accident happens, dan kita gak bisa tau pasti apa memang kuncinya yang macet atau gimana. Knowing WWE, kurasa kejadian ini bisa mereka ubah anglenya untuk dijadikan storyline ke depan. Sama kayak momen Royal Rumble Bianca dan Rhea yang kedua kakinya kayak udah menyentuh lantai – botch yang tak terhindarkan – yang menurutku, jika WWE memilih untuk mengacknowledge ini, WWE bisa menjadikan kejadian tersebut sebagai storyline.
Uh-oh, Carlito baiknya jangan ngelakuin sesuatu yang ‘cool’ dengan apel itu, karena kita masih suasana pandemi hihi

 
 
 
Senangnya ketika acara WWE terasa tidak terlalu panjang, penuh keseruan dan hantaman emosional seperti Royal Rumble ini. Sehingga botch atau konyol-konyol sedikit pun tak jadi masalah besar. Match Goldberg yang isinya finisher melulu juga somehow jadi asik-asik aja buatku. Melihatnya aku malah jadi teringat sama main Yugioh; karena TCG meta jaman sekarang pun duelnya persis seperti begitu. Satu-combo saja, hanya saja jadi seru karena Goldberg dan McIntyre yang tuker-tukeran finisher itu kayak duelist yugioh yang top-deck silih berganti. Dan – maafkan karena aku membuat analogi yugioh lagi – match Royal Rumble cowok bisa kita anggap sebagai deck yugioh yang berisi tiga puluh kartu staple! Alias match tersebut isinya superstar-superstar papan tengah ke atas yang favorit semua! The Palace of Wisdom menobatkan MATCH OF THE NIGHT kepada partai Royal Rumble cowok, sementara kemenangan Bianca Belair dinobatkan sebagai MOMENT OF THE NIGHT
 
 
 
Full Results:
1. WWE CHAMPIONSHIP Drew McIntyre jadi juara bertahan ngalahin Goldberg
2. SMACKDOWN WOMEN’S CHAMPIONSHIP Sasha Banks mempertahankan sabuknya dari Carmella
3. 30-WOMEN’S ROYAL RUMBLE Bianca Belair menang dengan menyuguhkan salah satu penampilan Rumble terbaik
4. UNIVERSAL CHAMPIONSHIP LAST MAN STANDING Roman Reigns tetap juara mengalahkan Kevin Owens
5. 30-MEN’S ROYAL RUMBLE Edge menuju WrestleMania!!!
 
 
 
That’s all we have for now.
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
 
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.