MATIANAK Review

“Blessed are the merciful, for they will be shown mercy”

 

 

 

Siapa yang menanamkan kebaikan, dia akan menuai – coba tebak – kebaikan juga. Jika kita menunjukkan kasih sayang yang begitu besar, dengan tulus, kita akan disentuh balik oleh kasih sayang yang tak kalah hangat. Sungguh merupakan kalimat yang positif untuk mengajarkan kebaikan kepada sesama manusia. Siapa sangka, dalam debut pertamanya sebagai seorang sutradara, aktor Derby Romero berhasil membuat perbuatan positif tersebut jadi punya undertone yang mengerikan.

 

Ina (juga menjalani debutnya dalam horor, Cinta Laura Kiehl punya presence yang kuat) besar tanpa orangtua di panti asuhan kini tumbuh menjadi wanita yang benar-benar cinta dan peduli kepada anak-anak yatim piatu yang diasuhnya. Film menunjukkan hangatnya hubungan yang terjalin di antara Ina dengan anak-anak. Dan anak-anak itu juga respek dan peduli padanya. Hingga kemudian Andy, satu-satunya korban yang selamat dari insiden yang menewaskan satu keluarga, ditempatkan ke panti mereka. Andy anak yang aneh. Dia jarang ngomong. Anjing takut kepadanya. Kejadian-kejadian seram bermunculan bersamaan dengan kehadiran Andy di tengah-tengah mereka. Andy dijauhi. Oleh anak-anak, maupun oleh pengasuh. Kecuali Ina. Actually, Ina-lah yang justru menjamin Andy tinggal di sana saat pemilik panti menolak untuk menerimanya. Menyebut dengan tegas dirinya yang bertanggungjawab atas Andy.

Babak pertama dan kedua film ini bergulir dengan menyenangkan untuk diikuti. Pesona cerita memang sepertinya terletak pada interaksi tokoh, baik itu Ina yang memposisikan dirinya sebagai ‘big sis’ kepada anak-anak. Maupun sesama anak-anak itu sendiri. Kehidupan dalam film ini terbangun dengan tidak melupakan napas horornya. Bagaimana anak kecil melihat gudang sebagai tempat yang menyeramkan, dan mereka mengarang-ngarang cerita untuk saling menakuti (biar takutnya sendiri gak keliatan!), kemudian saling menantang untuk masuk ke gudang – buatku momen-momen seperti begini yang membuat film hidup. Tone ceritanya bercampur dengan mulus. Kita boleh jadi tertawa melihat tingkah tokoh cilik, bisa juga sedikit tersentuh melihat aksi yang dilakukan oleh Ina demi anak-anak asuhnya, sekaligus tetap was-was dengan horor yang bakal terjadi. Bangunan horor, petunjuk untuk twist di akhir, semuanya terjalin di dalam cerita.

si Andy mirip Ocho kecil di film live-action manga 20th Century Boys (2008)

 

Meskipun banyak tokoh anak-anak, tapi film ini jelas bukan untuk konsumsi anak-anak. Film cukup bijak untuk langsung memberitahuk kita gambaran atmosfer mereka right at the beginning of the movie. Ya, memang sih, sudah jadi adat jelek penonton untuk gak terlalu musingin kategori-umur film – kita sesama penonton tidak bisa berbuat banyak jika bioskop sendiri pun tidak tegas. Tapi serius deh, untuk horor yang satu ini, aku sarankan orang-orang dewasa untuk mematuhi dan peka terhadap rambu-rambunya. Jangan bawa anak kecil nonton film ini. Kasian mereka, bisa trauma. Level kekerasan dan gore pada film ini berada di level yang tinggi, sehingga nyaris bisa disebut sebagai body horror. Ada gambar-gambar disturbing seperti hantu anak kecil dengan usus terburai. Mayat manusia bergelimang darah dengan posisi anggota tubuh yang bikin meringis. Dan tokoh-tokoh anak kecil tadi; mereka ada dalam cerita bukan sekadar untuk teriak-teriak ketakutan. Cerita benar-benar tak pandang bulu dalam memilih korbannya. Semua adegan pembunuhan yang dalam film ini memang dilakukan off-screen, kamera bakal berpaling dari ‘momen klimaks’ tapi tetap saja masih ada suara, dan aftermath, yang bakal membuat imajinasi kita meliar. Dan percayalah imajinasi kita kadang lebih kuat daripada gambar yang disuapi, malahan horor-horor yang bagus selalu menerapkan hal ini; tidak memperlihatkan yang krusial dan membiarkan penonton bergidik sendiri tanpa bisa keluar dari imajinasi di dalam kepalanya.

Menurutku film ini sebenarnya tidak perlu untuk menjadi begitu loud untuk menjadi seram. Tapi mungkin karena belum terlalu pede, maka kita masih menjumpai fake jumpscare yang suara-suaranya bikin jantung copot. Padahal beberapa adegan ditangani dengan baik sehingga atmosfer seremnya itu kerasa. Film sempat bermain dengan lilin. Aku suka shot dari belakang mobil yang sedang berjalan dengan kanan-kiri pepohonan yang bergoyang tertiup angin, tapi goyangannya itu tampak patah-patah sehingga kesannya eerie banget. Aku juga suka bagian ketika Fatih Unru yang jadi salah satu anak panti terkurung di dalam gudang. Editing di bagian ini precise banget. Kamera membawa kita terpotong pindah dari Fatih yang berteriak ketakutan sambil menggedor pintu ke sosok hantu di belakangnya, dan semakin frantic pindahnya si hantu semakin mendekat. Intensitas horor saat sekuen adegan ini bekerja dengan sangat baik. Jumpscarenya pun bekerja dengan efektif dan benar-benar mengena kepada penonton – in a good way. Soal gore dan darahnya; kalian tahu aku suka. Kita juga sama-sama bisa melihat kenapa tone horornya harus memuncak ke arah sana. There’s something about showing mercy yang semakin ke sini semakin regresi, di mana tokoh utama kita harus dihadapkan dengan cara kerja dunia yang berlawanan secara ekstrim dengan keadaan ideal yang ia anut.

Tadinya kupikir MatiAnak bakal seperti The Orphanage (2007), horor Spanyol yang juga tentang wanita yang memilih mendedikasikan hidupnya bekerja di panti, dengan elemen gore. Mungkin memang gak benar-benar original, tapi masih bisalah bekerja dengan gayanya sendiri. Namun masuk babak ketiga, film ini ternyata lebih mirip ama Hereditary (2018) – dan musti kutambahkan, MatiAnak failed dalam usahanya untuk menjadi seperti horor buatan Ari Aster tersebut.

“Malu? Malu? Malu? Malu gak?”

 

Tadinya kupikir yang aneh dari film ini cuma kenapa Ina yang sejak kecil tumbuh dan gede di lingkungan panti asuhan lokal masih beraksen bule dan bukankah poin dari menjadi aktor adalah bermain bukan menjadi diri sendiri. Tapi di babak ketiga, setelah melihat di mana elemen-elemen cerita berkumpul, setelah jawaban dari plot poin mulai terlihat dan mengembang menjadi penjelasan, keanehan dalam film ini semakin banyak. Seolah film gak tahu bagaimana harus mengikat cerita sehingga punchline ataupun gagasan yang ada tadi itu menjadi kuat sebagai final. MatiAnak bisa kubilang sebagai salah satu horor dengan penyelesaian yang asal-selesai yang pernah kutonton. Aku tidak mengerti transformasi Ina; kenapa dia harus ‘ngalah’. Aku mengerti build up cerita berfokus kepada antara Ina dengan Andy, progresnya adalah sekarang Ina yang mendapat belas kasihan – kita melihat Ina yang semakin ke sini semakin galak, rambutnya semakin awut-awutan, tapi aku tetap tidak bisa melihat kenapa dia begitu cepat, katakanlah, menerima takdirnya. Seperti ada perlawanan atau satu momen penyadaran yang terskip oleh cerita. Ada adegan ketika Ina harus melukai seseorang, dia malahan sempat berantem dulu, yang mustinya adalah titik balik tokoh yang tadinya elok budi pekerti banget, tapi efeknya terasa terburu dan gak benar-benar mengena.

Film seperti kebingungan menangani elemen cult pada ceritanya. Kita tidak pernah benar-benar mendapat sense yang pasti soal apa sih yang dikerjakan oleh mereka, how do they work, sebatas apa campur tangan mereka, karena dalam film ini juga terdapat sejumlah hantu yang gak jelas siapa, yang siapa. Ada hantu keluarga Andy, ada sosok hitam yang supposedly ‘Raja’ yang anggota cult sembah, tapi juga ada hantu nenek-nenek, terus entah hantu apa yang sempat merasuki anak-anak. Juga ada bagian investigasi. Ina mengunjungi rumah Andy untuk mencari petunjuk. Namun investigasi tersebut sungguhlah pointless karena hanya berujung pada sebuah flashback yang adegannya sendiri pretty much adegan yang kita saksikan di awal film. Ina tetap tidak tahu apa yang terjadi, later on jawaban diberikan kepadanya oleh tokoh yang lain. Agak sayang sih, soalnya di dua babak sebelumnya Ina dibuat cukup kuat – dia melakukan banyak pilihan, tapi ternyata dia tidak benar-benar melakukan aksi apa-apa saat penghujung cerita. Dan bicara soal pointless, aku sungguh tidak mengerti kepentingan tokoh Jaka selain untuk antar-jemput dan biar ada romance-nya barang sedikit.

 

 

 

Lumayan kuat di dua babak awal, namun keteteran di akhir. Ada banyak yang mestinya bisa lebih diefektifkan lagi. Aku benar-benar bengong di ending karena terasa maksain untuk berhenti di sana. Padahal masih ada pilihan untuk tokoh utamanya, tapi naskah mengharuskan dia untuk memilih itu tanpa banyak pertimbangan. Ini seperti ketika kita main video game, semua musuh sudah kalah, tinggal bos terakhirnya, dan kita malah milih untuk tidak melawan sang bos. Tapi, di balik semua itu, aku cukup senang horor sudah menjadi begitu hitsnya di sini sehingga memancing sisi kreatif dari pelaku perfilman muda. Asalkan semuanya mau belajar dan menantang diri sendiri, aku yakin tidak butuh waktu lama untuk kita mendapat Jordan Peele-Jordan Peele tanah air, ataupun horor yang benar-benar sejajar ama kualitas Hereditary
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for MATIANAK.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Membesarkan orang yang mungkin bakal menjadi ‘musuh’ kita sih sudah biasa, tapi jika dibalik; maukah kalian mendapat belas kasihan dari orang yang kalian takuti?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

 

 

[Readers’ NeatPick] – MEMORIES OF MURDER (2003) Review

“Tidak hanya membahas tentang kasus pembunuhan saja, melainkan menyindir – dengan komedi – cara kerja polisi-polisi Korea waktu itu dan juga menggambarkan dengan jelas betapa primitifnya pikiran orang-orang Korea waktu itu, bahkan sekelas polisi sekalipun” Andy Kurniawan, karyawan dengan akun instagram @andykur21

 

 

 


Sutradara: Joon-ho Bong
Penulis Naskah: Joon-ho Bong, Kwang-rim Kim, Sung-bo Shim
Durasi: 2jam 12 menit

 

Sepanjang September 1986 hingga April 1991, sepuluh orang wanita di Hwaseong, Korea Selatan ditemukan meninggal dalam keadaan terikat oleh pakaian mereka sendiri. Dengan rentang usia yang begitu random, tidak banyak kesamaan yang bisa ditarik di antara mereka selain dugaan mereka ‘dikerjai’ oleh satu orang yang sama. Seorang pembunuh psikopat berdarah dingin. Dengan hanya sedikit sekali bukti dan petunjuk, polisi seperti mencari satu jarum di antara, literally, 21.280 orang yang dicurigai menjadi tersangka. Kasus ini sampai sekarang belum terpecahkan. Film Memories of Murder terinspirasi dari kasus serial-killer pertama dalam sejarah Korea Selatan tersebut. Kita akan ngikutin Park Doo-man, detektif ‘ngasal’ yang berusaha menangkap si pembunuh dengan segala sense of justice yang dia punya. Dan ini bukan sekadar soal misteri ‘whodunit’, karena seperti halnya kasus di dunia nyata yang sampe sekarang belum terjawab, film ini menggunakan itu sebagai alat untuk menceritakan lapisan yang lebih manusiawi soal Park Doo-man – dan juga detektif dan polisi lainnya – menyadari bahwa petanyaan sebenarnya bukan ‘siapa’, melainkan ‘bagaimana’.

“Suka banget film ini. Ngeselin, tentu Detektif Park. Banyak banget hal penting yang kelewat begitu saja karena kebegoannya.”

“Hahaha iya sih di awal-awal memang pengen nonjok dia banget. Super gak-kompeten. Masa investigasi tersangka modal tatapan mata doang. Paling ngakak pas dia mukulin detektif yang baru dateng dari Seoul cuma karena menurutnya gerak-gerik si detektif mencurigakan. Tendangan terbaaanggg~~ XD”

“Yang paling cool memang si Detektif Seo Tae-yoon. Dia melakukan kerja yang lebih baik”

“Sentral cerita film ini terletak pada dua tokoh detektif yang amat bertolak-belakang tersebut. Satunya makan mulu, bergerak berdasarkan prasangka, maksain bukti malah dia gak ragu untuk ciptain bukti sendiri supaya teorinya benar dan kasus cepat selesai. Kocaknya lagi, si Park ini justru ngerasa dirinya detektif yang baik. Perhatiin enggak, metode interogasi Park ama temennya di kepolisian? Di situ Park berperan sebagai ‘good cop’, sedangkan temannya jadi ‘bad cop’ yang kerjaannya mukulin tersangka. Padahal Park dan temennya itu sama-sama bego. Satunya lagi ada detektif yang lebih metodikal, gak males mikir, rasional, bergerak berdasarkan bukti dan dokumentasi. Park dan Seo malah terlihat saling benci kan, Park pastilah menganggap kedatangan Seo yang beneran cakap dan baik itu sebagai ancaman buat posisinya sebagai ‘good cop’ di kantor mereka.

“Soal polisi atau aparat yang mengandalkan kekerasan terhadap tersangka atau pelaku kriminal ini sebenarnya agak dilema buat gue. Kadang memang ada beberapa orang yang harus dikerasi dulu baru dia ngaku. Boleh-boleh aja sih kalau memang perlu, asal jangan sampai keterlaluan dan jangan sampai orang yang diinterogasi ini dipaksa untuk jadi pelakunya”

Kerennya film ini, ntar semakin ke akhir kedua detektif ini mendapat ‘goncangan’ – masing-masing mereka dibuat jadi meragukan kepercayaan mereka sendiri oleh kasus pembunuhan berantai itu. Aku suka banget gimana menjelang akhir mereka jadi kayak bertukar posisi, si Park yang belajar mengakui kinerjanya buruk terlihat jadi seperti beneran ‘good cop’ ketimbang Seo yang semakin ‘kasar’ kelakuannya lantaran frustasi bukti-bukti yang ia dapatkan selalu terbukti patah. Pada akhirnya kita justru melihat perbedaan sikap dua orang ini saat mereka dihadapkan pada kesalahan dan kegagalan. Park, meskipun masih mengandalkan “tatapan gue bisa melihat kebohongan orang” -walaupun masih belum tahu siapa pelakunya setelah sekian lama, tapi di akhir cerita dia menjadi pria yang lebih baik dari semua tokoh di film ini.”

“Hahaha iya makanya gue memilih film ini untuk dibahas. Karena menurut gue film ini salah satu masterpiece perfilman Korea dan banyak orang yang gak tau tentang film ini. Tapi selain Park dan Seo, menurut gue karakter lain biasa aja sih”

“Padahal karakternya banyak ya. Polisi, tersangka, saksi, para ekstra. Saking banyaknya, sering banget film ini masukin semuanya sekaligus ke dalam satu shot”

“Tapi fokus gue gak pernah teralihkan sama penggunaan kamera yang menangkap banyak orang dan aksi sekaligus yang dilakukan oleh film ini.”

“Kita masih tetap mengerti ceritanya kan ya. Inilah kehebatan sang sutradara Joon-ho Bong, bukan hanya bloking posisi tokoh, dia juga mainin fokus kamera. Bukan cuma para tokoh yang ia arahkan, melainkan juga fokus kita para penonton. Tokoh-tokoh yang belum penting dia tarok di sudut di luar fokus, dan setiap ada pergantian fokus atau dia ingin memindahkan perhatian kita ke tokoh lain maka Joon-ho akan membuat entah itu tokohnya yang bergerak atau kameranya yang berayun. Treatment kamera dan konteks cerita klop banget, ini soal tatapan mata.”

“Gue paling ingat dan paling sedih itu adegan waktu detektif Park melihat ke arah penonton, mencari pelakunya di antara kita. Goosebump banget. Kendati gue sebel banget sama detektif Park, gue tetep bisa melihat bahwa dia sendiri sangat bedeterminasi tinggi buat nangkep pelakunya. Gue paham betul amarah dan keputus asaanya saat melihat ke arah kamera, lebih tepatnya ke arah pelaku pembunuhan yang menonton film ini”

“Aku bisa bilang shot terakhir itu merupakan salah satu momen terkuat yang pernah aku saksikan dalam sejarah hidupku menonton film. Adegan tersebut diniatkan untuk terbuka-bagi-interpretasi, meaning beda orang akan beda cara melihatnya. Namun aku yakin kita semua bisa kompak dalam merasakan itu momen yang sangat mengena. Entah itu apakah ada penonton yang mengira Park memandang tajam ke arah dirinya langsung, atau melihatnya sebagai Park mengenang kasus tersebut dalam penekanan bahwa dia memandang salah dirinya sendiri karena tak melihat kemungkinan yang disebutkan si anak kecil sedari awal – bahwa Park mengaplikasikan ‘mata kebenarannya’ kepada dirinya sendiri. Karena ada satu pesan yang jelas; bahwa pelakunya adalah orang yang seperti orang kebanyakan. Pembunuh tidak dicirikan sebagai orang yang terbelakang mental, yang aneh, yang berbeda dari kebanyakan. Ingat gak ketika Park sempat mencurigai pelakunya adalah biksu hanya karena polisi tidak pernah menemukan jejak rambut di korban sehingga ia menyimpulkan pembunuhnya orang botak? Mata adalah jendela jiwa, namun selama ini Park menyadari dia mengamati hal yang salah.”

“Kalau menurut gue psikopat kadang gak kelihatan. Mereka pinter akting, persis seperti anak kecil di film ini yang ngomong kalau muka pelakunya itu biasa aja, kayak orang normal.”

“Exactly. Maka menurutku jawabannya yang paling penting harus dicari oleh polisi dan kita, manusia penonton filmnya, adalah kenapa kita gagal menangkap pelaku. Film ini memperlihatkan bahwa salah satu rintangan para detektif itu mengungkap kasus adalah kurang memadainya teknologi. Untuk tes DNA saja mereka harus membawa dulu sampel ke Amerika. Teknologi mungkin memang berperan, tapi tetap kunci utamanya adalah pada manusia. Kengasalan para polisi adalah faktor yang sama berperannya. Aku geram sebenarnya melihat mereka menjadikan timing pemutaran satu lagu di radio sebagai petunjuk. Memang teori mereka menarik, dan kebetulan cocok, tapi logikanya maksa banget; gimana si pelaku bisa beneran nemu cewek yang lagi jalan sendirian hujan-hujan malam-malam saat lagu radio itu diputar? kan ‘petunjuk’ yang begitu itu terlalu kondisional. Kadang kita keburu excited melihat hal-hal yang tampak ‘wah'”

“Kita dikenalkan dengan detektif Seo yang sifat dan kepandaiannya kebalikan dari detektif Park, tapi toh dia juga tidak mampu mengungkap pelakunya karena teknologi yang terbatas waktu itu. Di satu sisi menurut gue juga percuma kalau teknologi canggih tapi manusianya yang gak bisa menggunakan, tetep aja gak ketangkep pelakunya. Karena manusia tanpa teknologi juga gak bisa maju, sebaliknya teknologi sendiri tidak serta merta membuat manusia cerdas. Buktinya di masa sekarang banyak orang-orang beli hape canggih tapi tidak bisa memanfaatkannya dengan betul.”

“Pada sebagian besar waktu kita akan tertawa melihat para tokoh film ini, tapi yang kita tertawakan itu adalah hal kelam yang sampe sekarang juga masih terjadi sadar atau enggak. Gimana kita prasangka duluan sama orang lain, gimana kita bertindak asal jadi, asal benci. Malah mungkin semakin menjadi-jadi. I mean, mungkin itu sebabnya kenapa sekarang kita jarang mendengar ada pembunuh berantai. Serial-killer dan misteri pembunuhan tak terpecahkan itu hanya ‘rame’ di jaman dahulu. Bukan semata karena teknologi sekarang udah maju sehingga mereka bisa lebih cepat ditangkep, tapi mungkin juga karena saking tingginya level kebobrokan sehingga orang merasa gak perlu sembunyi-sembunyi lagi, justru bangga sebagai psikopat. Sekarang lebih ‘ngetren’ teroris kan. yang di Selandia Baru itu, penembakan terang-terangan pake di-livestream segala. Seharusnya dengan teknologi maju, pembunuhan bisa cepat diungkap, namun karena manusia malah semakin bobrok, kejahatan pun ikutan berevolusi, malah jadi skala besar dengan lebih cepat.”

“Banyak faktor soal jaman dulu banyak pembunuh psikopat sedangkan sekarang enggak; seperti teknologi, kemampuan polisinya yang belum mumpuni, konspirasi dengan petinggi negara dan sebagainya. Terus mengenai teroris, gue rasa karena aksi mereka lebih terbuka, lebih brutal dan sori to say, melibatkan suatu agama tertentu. Sedangkan serial killer lebih membutuhkan banyak waktu, korban dan misteri agar terkenal.”

“Komentar sosial yang mengena banget ke seluruh dunia. Pembunuh berantai itu bisa siapa saja. Teroris itu bisa siapa saja. Tidak terkait golongan, ras, atau apapun. Tapi film yang bernada komedi ini toh tetap mengajak kita untuk ‘bermain-main’, mengajak kita untuk ikutan menebak-nebak siapa pelaku. Di satu poin dalam cerita, kita malah diperlihatkan wajah blur pelaku. Jadi, mungkin sebenarnya film ini punya pelaku versi cerita mereka sendiri. Kalo mau main detektif-detektifan, aku sih paling curiga sama tukang reparasi yang keluar-masuk ruang interogasi kepolisian itu. Kamera gak pernah lihatin wajahnya, tapi yaah mengingat semua yang terekam oleh film ini punya kepentingan berkat arahan dan staging yang detail seperti yang kita bahas di atas, menurutku rasanya aneh aja ada tokoh tukang reparasi yang hanya ada di sana tanpa dimaksudkan sebagai apa-apa.”

“Kalau menurut gue pasti salah satu penduduk daerah situ. Petunjuknya adalah karena dia kelihatannya gak sembarangan pilih korban dan juga tahu betul lokasi yang ideal untuk melakukan aksinya. Cuma warga desa situ yang menurut gue bisa melakukannya.”

“Dipikir-pikir lagi, dari gimana hebatnya film membangun dunia ceritanya – semua di desa itu terlihat seperti beneran sesuatu yang bisa kita temukan di desa nyata…”

“Kesan tempatnya mirip kampung-kampung di Indonesia wkwkwk. Justru itu gue juga heran kenapa pembunuhnya malah gak ketangkep-tangkep, padahal orang-orang di kampung situ harusnya akrab-akrab”

“Nah itu, kampung mereka tampak tertutup dan gak akrab, meski penghuninya akrab-akrab kayak anak sekolahan, atau juga kondisi di warung. Secara kontekstual, film ini berlangsung di jaman kericuhan Korea Selatan dan Utara, kan. Kita melihat beberapa kali desa itu kena jam malam, dan ada simulasi-simulasi keamanan yang sedang berlangsung sebagai latar cerita. Dan menurutku, film ini juga ingin mengkritik itu. Bahwa itu semua mungkin bisa dijadikan petunjuk bahwa menurut film ini pelaku sebenarnya – ‘pelaku’ yang menyebabkan di zaman dulu Korea Selatan bisa kebablasan ada serial-killer yang bukan hanya gak tertangkap basah, melainkan juga seperti mengejek polisi dengan aksi-aksinya – adalah sistem negara itu sendiri. Jika mereka tidak dalam darurat perang, jika tidak ada simulasi-simulasi itu, pintu dan jendela rumah-rumah mungkin tidak akan tertutup oleh ketakutan sehingga tidak ada kesempatan untuk si pembunuh melancarkan aksinya.”

“Masterpiece! Dari skala 1-10, gue  ngasih 9 deh, minusnya film ini cuma kemampuan mata Park kurang dijelasin dan timeline korban-korban pembunuhan juga kurang dijelasin lagi. Tapi karena Bang Arya cerewet pasti film ini dikasih skor mentok di tujuh setengah wkwkwkwk”

“Wahahahaha film ini dalem banget. Misterinya engaging. Tokoh-tokohnya menarik. Teknisnya juga luar biasa. Untuk film ini, aku tak menemukan cela yang merusak. Semuanya bekerja efektif mengisi konteks. Soal ‘mata kebenaran’ Park itu buatku juga jenius banget. Kali ini aku pikir aku setuju, aku juga ngasih 9 dari 10 buat Memories of Murder. Jarang-jarang ya!”

 

 

 

That’s all we have for now.
Terima kasih buat Andy Kurniawan udah berpartisipasi dan ngusulin film ini, ke mana aja aku baru tau ada film keren ini ya haha.

Apakah kalian punya teori sendiri siapa pembunuh dalam film ini? Apa yang kalian rasakan saat ditatap oleh Park di momen final film ini?

 

Buat yang punya film yang benar-benar ingin dibicarakan, silahkan sampaikan saja di komen, usulan film yang menarik nanti akan aku hubungi untuk segmen Readers’ NeatPick selanjutnyaa~

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

PENGUIN HIGHWAY Review

“It is not the answer that enlightens, but the question.”

 

 

 

Beberapa ekor pinguin muncul begitu saja di taman, di kota yang bukan saja panas, tapi juga bahkan jauuuh dari aroma laut. Fenomena yang aneh tersebut jelas saja mengundang banyak reaksi. Orang dewasa akan garuk-garuk kepala, mereka berusaha memindahkan pinguin-pinguin tersebut ke tempat yang lebih layak. Bagaimana dengan anak-anak kecil seusia Aoyama? Wuih suasana ruang kelas empat tersebut riuh oleh semangat anak-anak yang bertanya-tanya ada apa gerangan. Seru sekali mereka membincangkan makhluk-makhluk lucu tersebut. Sebagai seorang anak sepuluh-tahun, yang dibilang dewasa juga belum, tapi punya kecerdasan yang jauuuuuuhhh di atas teman sebayanya, Aoyama mencatat detil-detil tentang pinguin yang bisa ia temukan di buku. Dia membandingkannya dengan yang ia lihat sendiri. Aoyama membuat teori-teori. Saking sibuknya, Aoyama mungkin tak sadar bahwa ia juga sama anehnya dengan para pinguin itu di mata teman-temannya.

Penguin Highway nyata-nyatanya adalah salah satu film teraneh yang bisa dibuat orang untuk anak-anak. Film menggali rasa penasaran yang didera oleh anak kecil dengan enggak malu-malu. Karena bagi mereka hampir semua hal di dunia adalah misteri. Pinguin itu justru bukan ‘masalah’nya sebenarnya bagi Aoyama. Karena sebenarnya ini adalah cerita tentang Aoyama berkembang menuju remaja, dewasa. Aku punya adek berusia sepuluh-tahun dan memang dia ‘pervert’ seperti tokoh film ini. Aoyama having a first crush kepada Kakak cantik asisten dokter gigi, wanita yang jauh lebih dewasa daripada dirinya. Dia sudah menetapkan akan menolak cewek-cewek yang ‘menembak’nya karena pilihan sudah ia tetapkan. Aoyama yang cerdas bahkan rela jarang gosok gigi biar bisa ke dentist terus; bertemu dengan Kakak yang juga jadi guru main caturnya. Salah satu observasi ilmiah yang diamati Aoyama terhadap Kakak adalah bagaimana cewek itu punya payudara yang berbeda dibanding punya ibunya. Dan karena film ini mengambil sudut pandang Aoyama, maka bukan saja kita mendapat sejumlah close-up shot dada Kakak, namun juga semua hal tampak seperti payudara. Aoyama memilih kue yang bulet, memandangi gunung-gunung yang bulet, mangkok yang… you guessed it, bulet! Hal menjadi semakin menarik tatkala Aoyama menemukan hubungan antara si Kakak dengan kemunculan para pinguin dan juga gelembung air besar yang Aoyama dan teman-temannya temukan di padang rumput di dalam hutan.

di umur sekecil itu Aoyama sudah bisa menyimpulkan memandangi boobs, berpikir tentangnya, akan membawa ketentraman hati.

 

Secara teknis, film ini tergolong cerita fiksi ilmiah, karena Aoyama dan teman-temannya memandang pinguin dan semua peristiwa yang mengikutinya dari sudut keilmuan. Aoyama senang bereksperimen, dia membuat gadget dari mainan, dia menyimpulkan teori-teori berdasarkan data dan keilmuan yang ia riset. Aoyama membuat catatan yang membandingkan  waktu metamorfosis kupu-kupu dengan hitungan hari menjelang dia tumbuh dewasa. Didukung oleh ayahnya yang kerap menyemangati dengan coklat tatkala Aoyama berhasil membuat kesimpulan terhadap suatu peristiwa, Aoyama percaya dia akan meraih hal-hal yang hebat untuk dunia. Tapi actually, elemen fiksi ilmiah ini cuma latar karena sesungguhnya ini adalah cerita tentang coming-of-age. Filosofi hubungan antara Aoyama dengan si Kakak lah yang menjadi penggerak utama cerita. ‘Kamera’ akan menangkap perjalanan inner karakter, disuguhkan lewat animasi yang kawaii dan mempesona. Sementara kita hanya sekelebat melihat catatan teori yang dibangun oleh Aoyama – antara itu atau lewat dialog cepat yang ia sebutkan. Ceria penuh warna seperti mata anak-anak memandang dunia. Ketika dunia mereka menjadi aneh atau sedikit menyeramkan, warna-warna tersebut tidak absen, tidak lantas membuat film menjadi suram. Melainkan animasinya dibuat mengundang rasa penasaran kita, mewakili perasaan Aoyama yang selalu ingin tahu.

Saat menonton ini, memang pada awalnya aku menganggap cerita film ini lumayan mengganggu buatku. Setelah ekspektasi kita dibangun terhadap ilmu pengetahuan di sepuluh menit pertama, kita secara alami akan menganggap film akan memberi kita jawaban yang logis terhadap semua fenomena yang terjadi. Tapi bukan saja ternyata elemen sci-finya terkesampingkan, penjelasan masuk-akal terhadap semua itu bahkan tidak ada! Alih-alih melihat jawaban, aku malah melihat orang melempar kaleng kola dan kaleng tersebut berubah menjadi pinguin di udara. Aku pun merasa dicuekin karena Aoyama dan teman-temannya tidak pernah mengajakku berteori bersama, heck, bahkan main caturpun aku tidak dilibatkan. Namun kemudian aku sadar, aku masih melihat film ini dalam posisi sebagai orang dewasa. Belum kembali menjadi anak-anak seperti yang film ini niatkan. Ini sama sekali bukan masalah apa jawaban yang benar, tidak pernah seperti demikian bagi anak-anak. Ini adalah soal mencari jawaban. Tidak perlu ada stake, tidak perlu dikejar waktu karena anak-anak punya semua waktu yang mereka butuhkan untuk eksplorasi. Film meminta kita untuk mengistirahatkan pikiran dewasa dan biarkan naluri kanak-kanak kita memegang kendali, supaya kita bisa melihat lebih banyak. Bahkan si Kakak dalam cerita, dia belajar banyak dan merasa kembali muda dengan berada di sekitar Aoyama dan teman-teman yang sedang melakukan eksperimen.

Kebebasan untuk tidak terlalu memusingkan hal-hal yang terjadi, merupakan anugerah yang dimiliki oleh anak kecil. Orang dewasa akan terdistraksi kepada hasil sehingga fokusnya teralihkan dari hal-hal yang membuat kita tertarik, dan yang menginspirasi pada awalnya. Bukan soal benar atau salah, mustahil atau logis, ini adalah soal mencari, memuaskan sendiri rasa penasaran kita dengan terus mengasah kreativitas dan segala kemungkinan. Karena kritis itu bukan semata bertanya dan berharap mendapat penjelasan yang memuaskan. Kritis adalah memuaskan diri dengan mencari jawaban atas tanya-tanya yang terus kita ajukan sebab dunia begitu membuat penasaran. 

 

Aoyama boleh saja gagal menemukan jawaban yang logis, sebab semua perjalanan yang ia lalui itu telah membuat dirinya humble. Menjadikannya manusia yang lebih baik pada akhir cerita. Penguin Highway adalah salah satu contoh cerita ‘kemenangan dalam kegagalan’ yang baik. Perubahan karakter Aoyama di awal dengan di akhir cerita dapat kita rasakan dengan kuat mengalir. Sutradara Hiroyashu Ishida melakuan kerja yang sangat baik mengarahkan cerita yang kompleks dan aneh dalam film panjang pertamanya ini. Film ini terasa lucu dan menghibur, tetap teramat dekat meskipun menangani masalah yang di luar logika. Aoyama tidak tampak seperti Conan, yang kita tahu dia adalah orang dewasa dalam tubuh anak kecil. Aoyama memang terhadirkan sebagai seorang bocah yang pintar dan penuh keingintahuan, dia memandang semua fenomena sebagai kesempatan untuk mengembangkan diri menjadi lebih baik lagi.

Sesungguhnya orang yang pintar tahu banyak hal yang tak ia tahu.

 

 

But I do thing film ini mestinya bisa dikembangkan dengan lebih baik lagi. Terutama pada karakter Kakak Cantik. Tokoh ini sengaja dibuat misterius, karena dia adalah salah satu ‘misteri’ bagi Aoyama secara fisik. Tapi film turut membuat eksistensi si Kakak sebagai tanda tanya, bahkan bagi dirinya sendiri. Ini membuat tokoh Kakak jatuh ke dalam trope “Manic Pixie Dream Girl” – tokoh cewek yang di mata protagonis cowoknya begitu sempurna dan hanya berfungsi sebagai dorongan ataupun pembelajaran si protagonis untuk menjadi tokoh yang lebih baik. Trope ini menandakan naskah tidak berhasil menggali karakter pendukung, dan memang kelihatan jelas film ini hanya berpusat pada Aoyama. Naskah membiarkan Aoyama jadi tokoh utama meskipun ada tokoh lain yang lebih punya stake untuk mencari jawaban. It’s okay jika film memutuskan seperti demikian dan konsisten terhadapnya, tapi aku berpikir film tidak mesti membuat Kakak sebagai Manic Pixie Dream Girl yang mengurangi penilaian – bisa diberi bobot lebih banyak, atau melakukan hal simpel seperti yang dilakukan Love for Sale (2018) kepada tokoh Arini; Love for Sale membuat Arini ‘termaafkan’ karena dia tidak seujug-ujug ada di sana sebagai pembelajaran untuk Richard, dia ada sebagai bentuk pilihan dari Richard. Kakak di Penguin Highway, menurutku seharusnya bisa dibuat seperti demikian alih-alih ada dan kemudian tidak ada.

 

 

Diadaptasi dari novel karangan Tomihiko Morimi, si pengarang ini sering disebut sebagai Virgin Writer karena kekhususannya memasukkan hal-hal lugu yang bisa dianggap ‘pervert’ oleh sebagian orang. Dan memang, film ini jelas adalah salah satu teraneh yang bisa ditonton oleh anak-anak. Mengusung cerita coming-of-age dengan bungkus sci-fi. Benar-benar menaruh penonton dalam bingkai pandang tokoh utamanya yang masih kelas empat. Film ini melempar semua logika dan meminta kita untuk mengikuti perjalanannya dengan santai, karena dirinya adalah potret yang mengingatkan kembali bagaimana rasanya kembali menjadi anak kecil yang penuh rasa ingin tahu. Unik dan menyegarkan, seperti pinguin.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for PENGUIN HIGHWAY.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Kapan terakhir kali kalian membaca untuk menambah ilmu, alih-alih biar dapat nilai bagus? Kapan terakhir kali kalian bertanya untuk membuka wawasan, bukannya bertanya untuk nyinyir atau malah nyindir orang lain?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

 

 

 

 

[Readers’ NeatPick] – HIJAB (2015) Review

“Jenaka tanpa perlu menggurui. Hijab adalah bukti film mampu melucu tanpa harus menghadirkan sketsa ala komika yang belakangan ini sering menghiasi film komedi Indonesia saat ini.”Raja Lubis, Komandan Komunitas Forum Film Bandung – Pengamat Film, FTV dan Serial Televisi Indonesia.

 

 

Setiap orang tentu punya film favorit sendiri, film yang ketika ditonton pengen disebarin ke orang lain. Namun, favorit enggak mesti karena filmnya bagus loh, bisa jadi kita suka karena filmnya lucu, atau mungkin geli. Yang jelas, selama bikin blog ini aku sering dapet rekues review; mulai dari yang nyaranin film yang bagus, yang pusing, hingga yang konyol. Dan percayalah, biasanya aku langsung nyari dan nontonin film yang direkues, cuma ya memang tak sempat kutuliskan reviewnya. Kalo ada waktu ketemu temen-temen sih enak, kami bisa langsung obrolin bareng film yang ia rekues. Kalo sama temen-temen di dunia maya, gimana? Maka lantas aku kepikiran untuk bikin segmen khusus review bareng. Dinamakan [Readers’ NeatPick] karena segmen ini terbuka untuk setiap pembaca My Dirt Sheet mengajukan usulan film, dan akan kuhubungi langsung untuk mereview film tersebut bersama-sama.

Di edisi perdana ini, aku menerima usulan Raja Lubis untuk menonton film Hijab, komedi besutan sutradara Hanung Bramantyo yang dibuat dengan gaya unik, ala-ala dokumenter, yang menilik kisah sukses empat cewek mendirikan bisnis hijab. Kita akan mendengar cerita persahabatan mereka, gimana mereka memulai bisnis lantaran pengen punya ‘sesuatu’ di luar nafkah dari pasangan masing-masing, dan eventually apa yang membuat mereka mengenakan hijab.

“Film Hijab penting karena bisa dijadikan pembelajaran dari banyak aspek.”

“Jadi komedi bisa, jadi religi bisa juga ya, Mas.”

“Justru Hijab ini bisa dikatakan salah satu standar film religi yang dituturkan jenaka. Dan saya memang selalu suka pada film komedi yang punya daya untuk melakukan kritik atas isu sosial budaya yang terjadi di lingkungan sekitar. Hijab melakukannya dengan sangat baik.”

“Dan sepertinya ini memang ranahnya Hanung, kan. Dia selalu bisa menemukan cara untuk menyelipkan komentar-komentar di balik hal dan fenomena hits (saat itu).”

“Hahaha kontroversi gitu ya maksudnya? Kontroversi itu datangnya bukan dari filmnya melainkan dari sudut pandang orang yang menilainya. Terlepas dari itu, sebagai sebuah karya saya kira Hijab hanya memotret, mengkritisi fenomena sekitar dengan gayanya sendiri. Namun jika ada yang mempermasalahkan film ini dengan sudut pandangnya juga, itu pun hak mereka.”

“Gaya ala dokumenter – yang bukan dari tokoh real – ini menurutku tepat digunakan oleh Hanung, karena dia ingin memperlihatkan banyak sudut tentang hijab. Meskipun tema yang berulang di sini jelas adalah favoritnya Hanung; isu kesetaraan. Selalu soal kesetaraan. Dia, seperti yang mas bilang, memotret sehingga filmnya terasa relevan.”

“Hijab memotret dan menunjukkan tentang peran suami-istri yang berbeda-beda. Apa yang ditunjukkan oleh Hijab bukan hanya masalah relevan atau tidak relevan dengan masa kini. Tapi lebih ke menunjukkan bagaimana suami istri bekerja sama dalam berumah tangga. Dan prinsip itu akan terus berjalan sampai dunia ini berhenti berputar”

“Dinamika suami-istri di film ini mulai bergeser ketika istri merasa bosan gak ngapa-ngapain. Mereka pengen berkarya sendiri. Dan akhirnya malah jadi lebih sukses daripada suami. Film ingin membuka mata kita melihat apa sih masalah yang bisa timbul dari istri yang bekerja. Buatku film ini cukup materialistis, sih. Uang di cerita ini berperan penting; ia yang memulai dan jadi middle-ground. Suami-suami di film ini enggan ngasih izin para istri bekerja lantaran mereka punya ego. Intensitas cerita naik saat para istri ketahuan bekerja, namun jadi adem lagi begitu usaha mereka itu sukses. Aku pengen melihat apa yang terjadi kalo usaha hijab itu gagal, menurutku pembelajarannya bisa lebih besar lagi jika uang dikeluarkan dari ekuasi – seperti apa dinamikanya nanti.”

“Uang memang penting banget! Nggak ada uang hidup bakal nggak jalan. Film ini nyata seperti demikian. Makanya para istri berbisnis hijab agar bisa leluasa menggunakan uang untuk keperluan pribadinya. Dibawa ke saya sendiri; Saya mempersilakan istri bekerja selama tidak mengganggu dan menyalahi kodratnya sebagai perempuan. Di zaman sekarang ini banyak profesi yang bisa dilakukan seorang istri tanpa harus keluar rumah. Tapi intinya saya memberikan kebebasan kepada istri untuk berekspresi, tentu dengan izin suaminya.”

“Hmm.. ya.. ya, aku juga kalo udah nikah kayaknya bakal bolehin istri kerja tetapi tidak saat anak masih kecil banget, aku gak bisa soalnya ngurus anak ahahaha.. Film ini juga seperti menunjukkan izin suami masih berperan besar ya. Menurutku menarik gimana dengan segala pesan kesetaraan itu, poster film malah menampilkan keempat tokoh kita sebagai boneka marionet yang dikendalikan tangan. Buatku ini low-key ngasih liat bahwa masih ada yang mengatur mereka – entah itu aturan; suami atau agama atau sosial, atau malah duit itu sendiri”

“Saya hanya melihat poster itu sebagai bentuk karikatural yang menandakan bahwa Hijab adalah film komedi. Lebih lanjutnya saya enggan berkomentar.”

“Memang sih, yang aku gak nyangka adalah betapa ringannya ternyata Hanung mengemas. Enggak sampai ke level receh, film ini punya nyali dan tidak meninggalkan rasa hormat sama sekali terhadap yang ia bicarakan, tapi memang film Hijab ini terasa beda dengan film-film Hanung lain yang lebih ‘serius’.”

“Adegan yang paling bikin ngakak banyak sih ya, secara delapan aktor utamanya bermain bagus semua. Tapi kalau yang paling saya ingat sih adegan Dijah Yellow, meski sedikit perannya tapi memorable. Kalo dari tokoh utama, saya suka sama karakter Anin (Natasha Rizky), karena dia adalah karakter yang paling banyak mengalami perubahan sekaligus juga bisa dikatakan menjadi inti cerita filmnya.”

“Anin udah kayak tokoh penentu di film ini. Aku suka gimana Anin dibuat kontras di film ini; dia satu-satunya yang gak berhijab, dia satu-satunya yang belum menikah. Dan dia belajar dari keadaan di sekelilingnya, dia menemukan sesuatu, seperti wakil dari penonton untuk menangkap apa yang sedang diceritakan. Anin mengalami transformasi. Benar-benar berbeda dari tiga tokoh lainnya, kita diperlihatkan proses dirinya mengenal hijab – baginya bukan sebagai pelarian, atau keharusan, tapi sebagai pilihan. Dan di sinilah istimewanya film, dia memberikan ruang bagi hijab untuk dilihat dari banyak segi. Bukan sebatas busana muslimah.”

“Menurut saya Hanung juga memotret Hijab dari sisi budaya. Kan memang sekarang Hijab itu seperti sudah menjadi tren di kalangan wanita Indonesia. Bahkan ada satu dialog juga yang memperkuat fenomena ini. Yakni dialog yang bilang bahwa Hijab menggantikan konde yang biasa dipakai di zaman order baru.”

“Jadi tidak semata hijab adalah simbol kungkungan atau peraturan kan ya. Karena perkembangan dunia, sudut pandang kita pun juga mesti berkembang.”

“Benar. Sejauh yang saya tahu dan saya imani, hijab adalah kewajiban bagi setiap wanita muslim yang ketentuannya sudah diatur dalam Islam. Adapun ketika Hijab menjadi fashion, itu sebuah pergeseran budaya. Namun dengan berubahnya hijab menjadi tren hijab ini jadinya banyak hijab yang diproduksi kurang memperhatikan ketentuan yang sudah mengaturnya.”

“Benar, dari film ini kita juga bisa lihat ada garis pembeda antara hijab sebagai fashion dan sebagai budaya. Adalah pilihan nurani masing-masing, mau memparalelkannya atau tidak. Meski kalo aku sih, aku gayakin juga kalo misalnya aku ini cewek aku bakal makai hijab dari dulu atau enggak hahaha.. mungkin aku kayak Anin atau malah kayak Tata hhihi”

“Waaah itu andai-andai yang sulit dibayangkan karena nggak akan pernah terjadi, kecuali atas izin Allah.”

“Hahaha benar juga. Jadi kalo mau diangkain, dari skala satu sampai sepuluh, Mas Raja ngasih skor berapa nih buat Hijab?”

“Saya berikan 8.5/10. Hijab digunakan judul dan inti utama film ini sebagai bisnis, sekaligus menyindir banyak hal lain. Sebagai jalan bagaimana Hanung melalukan kritik pada aspek kehidupan sosial budaya yang nggak semata-mata soal Hijab. Misal soal karir dan pekerjaan dan peran suami istri dalam rumah tangga.”

“Dalem dan menggelitik ya. Kalo aku ngasih 7/10 karena buatku memang filmnya terasa sedikit ‘main aman’, gaya bercerita yang dipilih bikin berbeda, kreatif, tapi jadi sedikit ‘menyimpan’ tokoh utama atau tokoh sebenarnya yang jadi poin vokal cerita.”

 

 

 

That’s all we have for now.
Terima kasih buat Raja Lubis untuk edisi perdana segmen ini. 

Bagaimana menurut kalian tentang film Hijab? Apa kalian setuju dengan yang disampaikan oleh film ini?

Buat yang punya film yang benar-benar ingin dibicarakan, silahkan sampaikan saja di komen, usulan film yang menarik nanti akan aku hubungi untuk segmen Readers’ NeatPick selanjutnyaa~

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

 

INSTANT FAMILY Review

“There’s nothing temporary about the love or the lesson.”

 

 

Gampang untuk tidak menyakiti orang lain, atau merasa kasihan melihat kondisi orang lain, karena kita membayangkan jika itu terjadi kepada anggota keluarga sendiri. Kita cukup dengan menjauhkan diri dari masalah orang, enggak ikut campur, hanya membantu jika diminta. Dibutuhkan usaha yang lebih keras, lebih susah, untuk secara nyata menyayangi dan peduli sama orang lain. Menganggap mereka seperti anak sendiri. Tidak sembarang yang bisa, yang rela, mengurus anak orang. Tahukah kalian penelitian menyebutkan seorang ibu akan menganggap pup anak kandungnya enggak sebau dan semenjijikkan pup anak orang lain. Bayangkan ada seorang ibu yang punya cinta begitu besar sehingga mau mengurusi pup yang bukan dari pantat anaknya.

Adopsi jelas bukan perkara sepele. Lewat Instant Family, sutradara Sean Anders membagi cerita dan pengalaman suka-duka yang ia alami ketika dirinya memutuskan mengadopsi anak. Dan Anders cukup bijak untuk mengajak kita tertawa bersamanya karena film ini diceritakan dengan begitu ringan dan lucu. Kita akan melihat langkah-langkah yang harus dilalui oleh pasangan yang berniat menjadi orangtua asuh, dimulai dari konseling, masa percobaan, bagaimana mereka memilih anak (film bilang “udah kayak belanja!”), fakta bahwa tidak banyak yang mau memilih anak remaja karena kita bisa bayangkan lebih merepotkan karena mereka sudah mulai memasuki usia ‘membandel’, dan tentu saja drama yang muncul ketika orangtua asuh sudah bertemu dan membawa anak asuhnya ke rumah. Anders, tak pelak, mengerti semua hal tersebut dan ia paham di mana harus menggali kelucuan. Meskipun lucu, bukan berarti film harus kehilangan hati.

berlawanan dengan judul; sebenarnya tak ada yang instan dalam membangun keluarga

 

Mark Wahlberg dan Rose Bryne memerankan sepasang suami istri yang memutuskan untuk mencoba membesarkan anak, tapi Mark menolak punya anak sendiri lantaran tokohnya, Pete, sudah berumur dan dia enggak mau dia udah tua banget saat anaknya remaja. Jadi dengan berkelakar dia semacam bilang kita curi start saja, adopsi anak yang sudah sekolah. Di balik kekonyolan, naskah berhasil membuat kedua tokoh ini – Pete dan istrinya Ellie – sebagai tokoh yang manusiawi; terkadang kita dapat melihat mereka pada awalnya tidak benar-benar serius pengen punya anak – mereka mengadopsi hanya untuk membuat diri mereka merasa lebih baik di mata sanak dan kerabat. Seperti ketika mereka tadinya cukup kaget tatkala mengetahui Lizzie, remaja hispanic yang menurut mereka ‘cocok’ ternyata punya dua adik dan itu berarti mereka harus menanggung tiga anak. Namun kita tidak pernah kehilangan simpati kepada mereka. Kita mengerti ketika mereka melakukan sesuatu untuk menyenangkan hati anak asuhnya, mereka benar-benar pengen membuat anak-anak tersebut senang. Bahwa mereka berusaha menjadi orangtua yang baik. Wahlberg dan Bryne benar-benar tampak meyakinkan; ketika mereka ragu kita juga ikut ragu, ketika mereka marah kita tahu mereka melakukannya sebagai pilihan yang menurut mereka terbaik.

Aku suka naskah memparalelkan ini dengan pekerjaan profesional yang mereka geluti. Pete dan Ellie mencari nafkah sebagai fixer upper; mereka membeli rumah yang sudah bobrok, memperbaikinya, untuk dijual kembali dengan keuntungan yang besar. Ini pada ujungnya memberikan konflik karena mereka terbiasa ‘membangun’ rumah, mempercantik untuk dihuni oleh orang lain. Betapa mengejutkan bagi mereka ketika menyadari bahwa dalam adopsi anak, tidak sama seperti yang mereka lakukan pada rumah. Karena anak berarti menyangkut ‘rumah tangga’. Ada perasaan yang terlibatkan. Plot pasangan tokoh utama kita ini adalah tentang mereka menyadari betapa desperate-nya mereka sebenarnya untuk jadi ayah dan ibu. Lihat betapa takjub dan nagihnya Pete dan Ellie ketika salah satu anak asuh tersebut memanggil mereka dengan “daddy” dan “mommy”. Film tidak mempermudah keadaan dengan membuat ketiga anak yang mereka asuh masih memiliki ibu kandung. Pertanyaan yang menggantung di plot poin kedua nyatanya berhasil membawa cerita ke dalam warna emosional; Apakah Pete dan Ellie bisa merelakan anak yang sudah mereka urus pulang kembali ke ibu kandung yang sudah keluar dari penjara. Apakah itu adil bagi mereka yang sudah meluangkan banyak. Tentu saja itu juga tergantung pada pilihan ketiga anak, namun jika mereka memilih Pete dan Ellie, apakah itu tidak sama saja dengan Pete dan Ellie merampas mereka dari ibu sah yang tentunya juga berjuang untuk anak-anak tersebut. Moral dilema dan drama yang bikin hati anget ini tak sekalipun terselip keluar dari cerita. It’s still there all along, terbungkus dengan rapi oleh pita-pita komedi. Sehingga film akan membuat kita tertawa dan menyeka mata sekaligus.

Jangan pernah meremehkan seberapa besar kau bisa mencintai seseorang dan bagaimana cinta tersebut mampu mengubah mereka. Kita mungkin hanya sementara di dalam hidup mereka. Mereka mungkin tak seberapa lama di hidup kita. Tapi tidak ada yang namanya numpang lewat dalam urusan cinta. Pun pelajaran dan waktu yang kita luangkan bersamanya akan terus terpatri selamanya.

 

Aku suka gimana film ini tidak menggali hubungan Pete dan Ellie dengan anak-anak asuhnya seperti cerita ‘strangers yang menjadi teman’ kebanyakan. Cerita tidak exactly dimulai dengan benci berubah menjadi cinta. Ketiga anak asuh tersebut enggak langsung melawan, enggak seketika distant dan gak respek. Kita melihat kedua belah pihak sama-sama seperti ‘mengetes air’ di awal-awal mereka satu rumah. Film mengambil waktu untuk mengembangkan reaksi mereka. Pete dan Ellie yang merasa bisa dengan gampang ‘memperbaiki’ anak-anak ini, dan the kids, aku suka film tidak membuat mereka menyusahkan bagi Pete dan Ellie. Film tetap membuat ini sebagai tugas Pete dan Ellie; bahwa mereka perlu memahami bagaimana cara yang tepat menunjukkan cinta kepada anak-anak, seperti keluarga normal.

Tokoh anak-anak juga tak kalah meyakinkannya. Isabela Moner menyuguhkan penampilan yang benar-benar kerasa sebagai Lizzie, tertua dari tiga bersaudara. Film memberikan kesempatan baginya untuk menjangkau banyak rentang emosi, dan Moner mengeksekusinya dengan baik. Remaja yang bermasalah, namun Lizzie tidak jatoh annoying dengan akting yang berlebihan. Tokoh ini bisa kita tarik perbandingan dengan Euis di Keluarga Cemara (2019), karena sama-sama paling dekat sebagai sosok antagonis bagi tokoh utama; Lizzie tampak lebih luwes karena rangenya lebih luas, sedangkan Euis sedikit tertahan. Yang lebih bandel sebenarnya Lizzie namun Euis tampak lebih ‘hard to deal with’, menurutku ini disebabkan oleh perbedaan eksplorasi karakter yang bisa jadi berhubungan dengan kemampuan akting pemainnya. Moner begitu natural, sehingga aku jadi penasaran pengen melihat seperti apa dia memainkan Dora later this year. Lain Lizzie, lain pula dengan dua adiknya; Juan dan Lita. Dua tokoh ini kocak banget sebagai karakter komedi. Yang satu tukang merengek, yang satu bego namun super-sensitif. Film membuat kita tertawa oleh tingkah mereka, meskipun aku kadang merasa jahat juga sih terbahak melihat Juan kesakitan karena ulahnya sendiri.

Boleh gak adopsi Moner jadi adek?

 

Dengan tone komedi dan drama yang ngeblend, kadang bikin kita ‘bingung’ juga seperti yang kita rasakan pada tokoh Juan. Is it okay to laugh at children getting hit? Apa sopan mentertawakan seorang wanita yang belum berhasil menemukan anak asuh? Atau menuduh sepasang suami istri yang wajahnya amat mirip sebagai saudara kandung? Film yang tak malu-malu menyinggung berbagai persoalan ini bergerak dengan cepat sehingga kita tertawa dan baru berpikir kemudian. Menakjubkan gimana satu montase bisa hadir dalam berbagai feeling seperti yang dilakukan oleh film ini. Dan betapa randomnya kemunculan cameo Joan Cusack di menjelang akhir itu seolah duo Octavia Spencer dan Tig Notaro belum cukup untuk menggelitik kita semua. Tapi menurutku memang itu semua bergantung kepada selera humor masing-masing penonton. I could laugh at some of it. Dan nyengir buat sebagian kecil yang lain.

Yang benar-benar kepikiran buatku adalah pilihan resolusinya. Di bagian-bagian awal Pete sempat meracau soal white-savior, gimana yang mereka lakukan bukanlah sekedar pencitraan orang kulit putih yang mau menyelamatkan anak-anak. Buatku penyelesaian film ini justru menguatkan aspek white-savior yang berusaha dihindari oleh Pete tersebut. Alih-alih memperlihatkan interaksi untuk mencapai kesepakatan bersama, kita mendapati jalan keluar yang berasal dari keadaan luar; dari seorang ibu yang masih belum keluar dari jerat narkotika. Film berusaha mengalihkan kita dari ras si ibu dengan membuat ada satu tokoh amerika yang juga terikat masalah yang sama; bahwa narkoba bukan stereotipe ras. Tapi tetap saja aspek ini membuat Pete dan Ellie menjadi tampak keluarga paling ‘sempurna’ di antara keluarga lain yang ditampilkan oleh film. Menurutku cerita seharusnya menggali ‘cacat’ dari dalam dengan lebih dalam lagi dari sekadar masalah pencitraan.

 

 

 

Prestasi terbaik yang dicapai oleh film ini adalah membuat kita sadar bahwa wajar saja jika semua keluarga itu ‘gila’. Justru semakin ‘gia’ maka semakin besar pula cinta di dalamnya. Dan yang namanya cinta tak melulu datang dari rantai DNA. Film ini membawa sudut pandang yang unik, dan mencoba untuk menceritakan sesuatu yang mengharukan dengan tawa. Sukses luar biasa. Makanya walaupun adopsi-adopsian enggak terlalu ngetren di sini, film ini tetap terasa relatable dan mampu menyentuh kita semua.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold star for INSTANT FAMILY

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Mengapa orang yang mengangkat anak asuh sering dikatakan sebagai pahlawan? Apakah makna orangtua bagi kalian?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

ANTOLOGI RASA Review

“Too often, the thing you want most is the one thing you can’t have.”

 

 

Antologi Rasa, dalam kapasitasnya sebagai kisah kepahlawanan orang-orang yang terjebak dalam ‘zona teman’, boleh saja mendorong orang untuk jadi lebih berani ngungkapin perasaan mereka atau jadi cermin supaya orang bisa lebih peka pada apa yang dirasakan oleh sahabat mereka yang diam-diam mendamba. Tapi sebagai film, Antologi Rasa tidak pernah berkembang menjadi sesuatu yang spesial dengan absennya lapisan cerita, dengan tokoh utama yang pasif dan terlihat canggung dengan kedua tokoh ‘pasangannya’, pun doesn’t break any grounds dengan arahan dan tekniknya. Aku tidak merasakan apa-apa saat menonton ini. Ya, bahkan dengan pemandangan wisata dan kota-kotanya.

Atau… mungkin memang akunya saja yang sudah mati rasa di dalam sana.

 

With that being said, Antologi Rasa adalah cerita tentang Keara (Carissa Perusset sungguhlah temuan yang fresh sekali dari si empunya cerita) yang merasa ia sangat mencintai Ruly, yang wajahnya selalu terbayang setiap dia memejamkan mata. Tapi begitu ia membuka matanya, senyum cengengesan Harris-lah yang dengan ge-er selalu menyambutnya. Keara gak tau sih kalo Harris yang ia lebih suka panggil Rasyid itu cinta banget ama dia. Ketika Ruly batal ikut trip, Harrislah yang menemani Keara cuci mata di Singapura. Tapi tanpa Ruly yang biasanya jadi designated person mereka saat klubbing, di kota seberang ini Keara dan Harris mabok tanpa ada yang mengawasi. Terbangun dari hangover dan rasa kesalnya kepada Ruly, Keara mendapati dirinya tercelup ke dalam masalah perasaan yang pelik di antara mereka bertiga. Bisakah cewek ini mengenali mana cinta mana yang sekadar suka, sebelum cinta sejatinya tersebut pergi merelakan demi kebahagian dirinya.

sebelum cium bibir berubah menjadi cium bubur

 

 

Meskipun begitu nyampe plot poin pertama pertanyaan yang muncul di benakku adalah “kapan film ini usai?” alih-alih jadi peduli sama konflik cerita, toh setidaknya film ini punya struktur cerita yang lebih bener ketimbang Critical Eleven (2017) saudaranya yang sesama adaptasian dari novel Ika Natassa. Jika mau diungkit, memang kedua film ini punya unsur yang sama; sama-sama ada pesawatnya, sama-sama kisah cinta yang dewasa, sama-sama dihidupi oleh tokoh yang gak masalah bergaya hidup lebih bebas daripada aturan agamanya. Buatku pribadi, ada satu lagi kesamaannya; aku tidak bisa membawa diriku untuk menyukai ini. Film cukup bijak untuk memperlihatkan ketiga kehidupan Keara; pribadi, personal, dan profesional. Yah, walaupun hobi fotografinya tidak menambah banyak ke dalam cerita. Aku bisa mengerti apa yang cerita ini pengen sampaikan, aku mengerti tahapan perubahan yang dialami Keara – karena film ini punya naskah yang mengeset itu semua dalam sekuens-sekuens yang normal – yang works sebagai sebuah struktur drama. Akan tetapi penyajiannya, kesatuan yang membentuk tampilan film ini dalam bercerita; membosankan – tidak pernah menantang.

Menit-menit pertama, yang diceritakan dengan gaya narasi benar-benar mentah seperti masih dalam bentuk novel. Tokoh yang melafalkan deskripsi seseorang sementara kita melihat langsung orang tersebut. Tokoh yang menyebutkan suatu kegiatan, sementara kita sudah lihat lebih dulu. Atau bahkan kita tidak melihat apa yang sedang ia sebutkan. Film bisa menghemat banyak waktu, bisa lebih mengefektifkan durasi jika pengenalan dilakukan lewat visual. Karena dialog itu terlalu gampang, dan mubazir jika kebanyakan, seperti yang kita lihat di sini. Selain itu, ia juga merasa teramat sangat perlu untuk menyampaikan rasa lewat lantunan lagu-lagu dengan lirik yang dipas-pasin, yang muncul setiap kali tokoh dalam keadaan yang emosional.  Film Antologi Rasa mengincar terlalu rendah, tidak mengambil resiko apa-apa. Dalam cahaya yang lebih positif, bisa dikatakan film ini hanyalah sebuah tontonan berikutnya yang bisa kita nyalain untuk mengisi hari kasih-sayang.

Pemandangan demi pemandangan cantik ditangkap oleh kamera. Para pemain juga udah kayak antologi dari insan-insan paling sedap dipandang seantero muka bumi. Tetapi betapa dangkalnya kalo kita hanya membicarakan penampilan. So I won’t pull any punches; bahwasanya performa akting di sini tidak ada yang memuaskan. Bahkan Herjunot Ali yang paling berpengalaman di antara para cast tampak kesusahan membangun chemistry, memancing kehidupan yang natural dari lawan-lawan mainnya. Interaksi antara tiga tokoh ini; baik itu Keara-Harris, Keara-Ruly, maupun Harris-Ruly, tampak begitu canggung. Seperti menyaksikan orang-orang yang dipaksa bersosialisasi di luar keinginan mereka. Mereka tidak membawakan dengan lepas. Saat pusing, atau mabok, mereka seperti dikomandoi – enggak natural. To be fair, sekiranya aku jadi Carissa pun sepertinya akan bingung juga harus bagaimana ketika tokoh Keara tidak dibuat jelas antara dia merasakan cinta atau hanya tidak mau ditinggal sendiri. Tiga tokoh yang mejeng di poster dengan gaya blocking yang mengingatkanku pada barisan Power Rangers itu sesungguhnya punya masalah yang sama; mereka jatuh cinta kepada orang yang tak-bisa mereka miliki. Ini adalah masalah yang sangat emosional, begitu konfliknya pasti perasaan di dada masing-masing. Tapi bangunan yang disiapkan untuk mewadahi semua itu sangat sederhana. Perubahan karakternya tidak dikembangkan dengan maksimal.

mendingan mijitin Keara daripada … (isi sendiri)

 

 

 

Dua tokoh cowoknya berakhir seperti jerk ketimbang simpatis. Mereka dua-duanya menggunakan rasa cinta mereka yang tak bersambut itu sebagai pembenaran untuk took advantage of her. Keara di film ini didominasi oleh pria – dia berpindah dari satu cowok ke cowok lain, bukan karena pilihan, melainkan karena kondisi kerapuhannya yang dimanfaatkan. Bertengkar dengan Ruly, Keara mabok dan ‘jatoh’ ke tangan Harris. Tidak mau menerima Harris, Keara menjauh dan didekati oleh Ruly, orang yang selama ini ia idam-idamkan. Mungkin ini cara film untuk menunjukkan betapa berbahayanya ketika kita terus mendamba cinta alih-alih menerima cinta yang datang. Tapi tetap saja keseluruhan film ini terasa seperti cerita seorang cewek pasif yang gak melakukan apa-apa terhadap prinsip “cewek nunggu dilamar” yang dipanjang-panjangkan. Terasa outdated karena kita tahu lebih menarik jika Keara enggak tunduk sama kalimat tersebut dan segera mengambil aksi.

Adalah sebuah hubungan yang sangat menyiksa jika kalian jatuh cinta dengan seseorang yang kalian berteman baik dengannya, tetapi dia tidak tahu/ tidak bisa membalas perasaan kalian. Akibatnya kita akan merasa kehilangan diri sendiri, karena untuk terus bisa ‘berteman’ kita akan dibuatnya rela memberikan apapun, termasuk kebahagiaan diri sendiri. Kita akan meyakinkan diri ‘tak apa tak berbalas’ asalkan masih tetap bisa ngobrol, bertemu, bercanda. Kita akan lupa bahwa kita pantas untuk mendapatkan lebih baik daripada itu – seperti yang dikonfirmasi Keara ketika dia bertanya “better what?”. 

 

Film ini sedikit ada miripnya dengan cerita film pendekku Lona Berjanji (2018). Sama-sama tentang cewek yang tak melihat cinta di dekatnya. Yang melihat ke arah yang salah. Meskipun kualitas teknis filmku tersebut jauh lebih amatir, aku pikir protagonis cewekku lebih menarik karena dia yang beraksi mencari cinta, justru dia merasa ‘lemah’ disodorkan perhatian yang sudah ia salah sangka sebagai cinta. Tapi cinta tentu saja tidak membuat kita lemah. Akhiran filmnya pun Antalogi Rasa ini kalah nyali dengan filmku yang kayak buatan anak sekolahan. Keara seperti tak punya pilihan selain mana di antara dua yang ‘lesser evil’; taking advantage bisa dengan yakin dimaafkan asalkan pelakunya lagi mabok asmara. Di akhir film, Keara practically memohon untuk satu tokoh tetap cinta kepadanya. This is so… I mean, masa sih gak ada cara lain untuk memperlihatkan Keara akhirnya enggak lagi menunggu ‘ditembak’ – masa iya gak ada cara ‘nembak’ yang lebih ber-dignity yang bisa dipakai Keara. She’s deserved that after all of the emotional humiliations she’s been through, don’t you think? 

 

 

It gets better at the end, but the whole journey feels pretty uninteresting. Dengan konflik yang dewasa, dan penuh pancingan emosional, sayang ceritanya berjalan selempeng emosi yang dihantarkan oleh para pemainnya. Padahal dia mengangkat masalah yang lumayan menarik, juga relatif relatable, aku sempat mendengar ada yang sesenggukan juga di studio saat menonton. Buatku, however, ini cerita yang rasanya biasa-biasa saja, didukung oleh performa dan arahan yang juga sama hambarnya.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for ANTOLOGI RASA.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Pernah naksir ama sahabat sendiri? Apa sengaja sahabatan sama ama yang ditaksir biar ada alasan deket-deket karena gak berani nembak? Kenapa kita suka ama sahabat sendiri? Menurut kalian siapa sih yang menciptakan friendzone?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

MATA BATIN 2 Review

“If you are asking a favor, put the request in a positive light.”

 

 

Membuka mata batin, sehingga jadi punya indera keenam, tentu saja bisa menjadi anugerah ataupun musibah. Sisi baiknya adalah kita bisa melihat hantu. Merasakan keberadaan dunia gaib, membuat kita selalu dekat dan teringat dengan kematian – dengan dunia yang penuh dengan jeritan pertolongan dan dendam, dalam kaitannya dengan menumbuhkan rasa bersyukur. Sisi buruknya yaitu kita bisa melihat hantu. Bukanlah hal yang sehat, sepertinya, melihat makhluk-makhluk gaib di mana-mana. Seorang bisa menjadi kelewat stress, bahkan melupakan kehidupan dunia yang sebenarnya. Eh, ini kita lagi ngomongin dunia gaib apa dunia maya sih?

Anyway, dalam Mata Batin 2 kita melihat kelanjutan dari kisah Alia (Jessica Mila tampak semakin nyaman sebagai tokoh utama semesta horor nan gore) yang kini sama seperti adiknya, Abel, sudah mengembrace kekuatan melihat makhluk gaib yang mereka miliki (baca ulasan Mata Batin pertama di sini). Dalam narasi pembuka kita mendengar Alia mendedikasikan kemampuannya untuk menolong banyak makhluk. Namun, satu hantu yang masih terus mengikuti mereka ternyata membawa dua kakak-beradik ini kepada petaka; Abel meninggal dunia. Menyisakan misteri dan hari yang perih. “Kini saya hanya pantas di panti asuhan, tempat orang -orang yang tak punya”, begitu curhat Alia kepada Windu yang jadi semacam mentornya dalam ilmu permatabatinan. Maka Alia pun pindah dari rumahnya, bekerja sebagai pengasuh anak-anak di Panti Asuhan yang dikelola oleh pasangan suami istri yang diperankan oleh Sophia Latjuba dan Jeremy Thomas. Di sana, dengan cepat Alia bonded dengan satu anak panti yang bernama Nadia (tokoh Nabilah Ratna Ayu Azalia ini practically adalah pengganti sosok adik buat Alia), yang juga memiliki kemampuan Mata Batin. Alia dan Nadia lantas bekerja sama memecahkan misteri suara-suara minta tolong yang merambati dinding-dinding panti, misteri yang ternyata berkaitan, yang pada akhirnya membawa Alia kepada ketenangan atas peristiwa kematian adiknya.

Mandi diintipin oleh hantu adalah sebuah kutukan

 

Melalui usaha-usaha yang dilakukan oleh Alia untuk berkomunikasi dengan hantu, film ini mengekspansi peraturan yang sudah ditetapkan pada film pertamanya. Ini adalah perkembangan yang positif. Film mencoba mengembangkan mitologi, menggali sudut-sudut baru – ia membuka pandangan kita terhadap dunia gaibnya sehingga menjadi semakin luas. Alia di sini mempunyai skill baru, yakni psikometri – kemampuan untuk ‘mengexperience’ sejarah benda yang ia sentuh, yang menandakan Mata Batin yang ia miliki semakin kuat. Maka ada pertumbuhan yang kita rasakan dalam film ini. Secara karakter, Alia mengalami perkembangan dibandingkan dengan dirinya di film pertama. Begitu pula dengan dunia gaibnya, film ini kita akan dibawa menjelajah lebih dalam, lebih sering, seingatku belum ada film horor Indonesia yang membawa kita menyelam ke dalam dunia gaib sekompleks yang dilakukan oleh film ini.

Mata Batin untuk awal-awal misteri lebih banyak bersangkut paut dengan pendengaran daripada penglihatan Ini adalah salah satu cara film untuk menggambarkan perluasan yang mereka lakukan. Penambahan banyak tokoh baru turut memberikan banyak lapisan dalam aspek misteri yang berusaha dibangun oleh film ini. Setting tempat di panti asuhan anak-anak cewek membuka banyak ruang untuk adegan-adegan seram yang segar. Namun sayangnya film seperti bergerak di tempat. Semua pengembangan dan penambahan itu terasa jadi mentah oleh sebab penggunaan formula yang itu-itu saja. Aku tidak mempermasalahkan soal kaca pecah, sebab itu sudah dijadikan semacam signature seorang Ricky Soraya – kita harus respek juga ama usahanya melandaskan hal tersebut dalam setiap filmnya. Masalahnya adalah hampir tidak ada yang original dalam film ini. Masih bercerita dengan begitu-begitu saja; pengungkapannya, penyelesaiannya, bahkan twistnya. Dan ada banyak elemen yang dapat kita temukan dalam film lain. Nadia yang pinter ngesketsa, tampaknya menggambar sosok-sosok hantu itu sambil menonton American Horror Story. Boneka Hello Kitty berwarna pink yang tampak di salah satu ruangan mencerminkan film ini; Sebuah tiruan yang berusaha tampil beda.

Kita merasa sudah hapal dengan cerita yang dijabarkan; literally, dialog dalam film ini kebanyakan adalah eksposisi dalam usahanya mengembangkan peraturan-peraturan. Sehingga pada ujungnya, film tak lagi berhasil menyampaikan kejutan yang ia siapkan. Banyak penggunaan yang berlebihan sehingga menjadi monoton. Misalnya pergerakan kamera yang memutar. Ataupun juga banyak kita jumpai adegan orang berlari demi berusaha menyelamatkan orang yang terkurung ataupun menghilang, dan ketika ketemu orang tersebut lagi duduk meringkuk. Film bahkan kehilangan kekhususannya, sebab kekuatan mata batin tersebut – berkat kehadirat tokoh paranormal yang segala bisa – menjadi seperti diobral begitu saja. Percuma ada aturan ketika semuanya jadi digampangkan, tidak lagi terasa spesial ketika semua tokoh dapat dibukakan mata batinnya. Film seperti terlalu fokus berusaha menyimpan twist dan mengembangkan adegan dan role di dunia gaib, sehingga lupa dengan tokoh dan bagaimana kejadian seharusnya berjalan di dunia nyata.

matabatinception

 

Bangunan logika-dalam cerita sama konsistennya dengan bekas luka cakar pada dada Sophia Latjuba. Kejadian seram yang ditimpakan pada tokoh-tokohnya terasa tidak bergerak dalam aturan di dunia tempat mereka hidup. Aku menemukan sangat tidak masuk akal tidak ada yang menyadari luka tusukan pada mayat Abel. I mean, okelah Alia mungkin hanya melihat apa yang ia percayai – Alia percaya Abel diserang hantu, namun tidak adakah dokter ataupun polisi yang melihat luka di punggung cewek itu? Bagaimana mungkin kematian tidak wajar Abel – dalam ruangan dengan pintu tertutup – tidak diusut. Dan si Alia, oh ini buatku lucu banget. Aku sempat mengira film sengaja menarik perbandingan antara dunia nyata dengan dunia gaib, maksudku, di Penyelesaian kita melihat hantu pembuat onar dalam cerita ini ditangkap oleh ‘polisi dunia gaib’ dan dijebloskan ke dalam lubang neraka – hantu jahatnya mendapat hukuman. Sedangkan Alia, she got away dengan pembunuhan yang ia lakukan. Tidak ada reperkusi dalam tindakannya. Film mengabaikan aspek yang sebenarnya menarik jika digali, gimana Alia yang kesurupan membunuh pelaku yang tidak melawan – gimana kalo Alia sebenarnya tidak kesurupan? Aku hampir girang saat menjelang akhir beberapa adegan seperti mengarah ke sini, tapi ternyata tidak. Alia hidup bahagia seperti sedia kala walaupun dia sudah membunuh seorang pria.

Jika kita ingin minta tolong, mintalah dengan baik-baik. Jangan maksa. Kalo belum ada yang merespon, jangan marah. Apalagi sampai bunuh orang. Hantu dalam film ini merajalela lantaran kebenaran yang ia ungkap tidak mendapat reaksi sesuai yang ia inginkan. Bukan minta tolongnya yang membuat kita jadi kecil, melainkan ketidaksabaran dan kemarahan yang berujung pada dendam.

 

Kita bisa asumsikan semua polisi ataupun dokter di semesta film ini adalah lelaki, karena orang-orang tersebut bego. Sebab, salah satu kekonsistenan formula film Rocky ini adalah semua tokoh prianya either jahat, atau tidak kompeten. Tokoh Jeremy Thomas instantly diperkenalkan sebagai seorang douchebag; kerjaannya ngebengkel mobil dengan kaos berkerah V, bayangkan orang di dunia nyata yang melakukan itu. Semua jagoan di film ini adalah wanita, dan ini bukan karena ada pesan feminis atau semacam itu. Film memang hanya punya perhatian setengah-setengah. Dunia nyata tidak digali sedalam dunia gaib. Tokoh pria tidak mendapat perhatian sebesar tokoh wanita. Substansi film tidak diperhatikan sebanyak mereka mengusahakan gaya atau stylenya.

Namun kelemahan logika dalam film ini memang justru membuatnya jadi kocak. Adegan-adegan seperti Alia menanyakan kepada hantu di mana letak kunci meskipun dia tahu untuk menjawab “ya” atau “tidak” saja si hantu hanya sanggup mengetuk pintu, adegan dalam lima menit pertama yang tujuan satu-satunya adalah untuk fake jumpscare (Abel datang buka pintu mengagetkan kakaknya, untuk kemudian langsung pamit tidur), Alia yang kemana-mana mengantongi kalung senjata alih-alih memakainya saja, dan betapa seringnya para tokoh berpencar dan bergabung lagi sekenanya, memang mampu mengundang tawa kita. Memang, salah satu yang dipertahankan film ini dari film pertamanya adalah undertone elemen kocak yang dihadirkan. Dan sepertinya, film kedua ini mulai mengembrace kekonyolan yang mereka punya, kita akan melihat candaan beneran dalam adegan anak kecil yang menggerutu dikasih yoyo. Sama seperti Alia yang mengembrace kemampuan goibnya.

 

 

 

Bagus film ini berusaha mengembangkan mitologi dan peraturan yang sudah ditetapkan sebelumnya sembari mempertahankan kekhususannya, namun masih perlu banyak perbaikan dalam penulisan. Ataupun, jika memang tidak ingin dikembangkan ke arah yang lebih serius, film perlu untuk sepenuhnya komit ke elemen-elemen lebih konyol yang seringkali hadir dalam logika penceritaan mereka. Memang butuh nyali dan waktu, tapi meskipun film pertamanya bercerita dengan lebih rapi, film yang kedua ini sudah mulai berani mengembrace sisi humor sambil terus memperdalam sisi drama. Aku pribadi berharap jika ada film ketiga, mereka sudah benar-benar banting stir jadi konyol ala cult classic. Karena film kedua ini terasa seperti transisi. Saat menontonnya aku kadang merasa seolah film ini dibuat purely dengan tujuan mengganti satu tokoh dengan bintang lain.
The Palace of Wisdom gives 5 gold stars out of 10 for MATA BATIN 2.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Kalo punya mata batin, kalian mau (baca: berani) gak sih nolongin hantu?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning PIALA MAYA BLOG KRITIK FILM TERPILIH.

 

 

 

 

 

 

BAD TIMES AT THE EL ROYALE Review

“Do the crime, do the time.”

 

 

 

Masa-masa sulit sesungguhnya tidak akan berlangsung selamanya. Bahkan kata Pak Ustadz di mesjid, orang-orang yang disiksa di neraka pun pada akhirnya akan masuk ke surga. Setelah semua dosa-dosa mereka tertebus. Tapi itupun jika masih ada iman di hatinya. Aku bukannya mau ceramah agama, melainkan poinku adalah akan selalu ada harapan untuk mengubah masa sulit menjadi masa yang senang jika seorang percaya hal baik dan mau mengusahakannya. Setiap perbuatan pasti ada balasannya.

Hotel El Royale dalam film Bad Times at the El Royale adalah metafora yang tepat untuk surga dan neraka. Berada tepat di garis perbatasan negara bagian California dan Nevada; kita bisa melihat hotel ini literally terbagi dua tepat di tengah oleh garis pembatas sehingga para pengunjung bisa memilih mau ditempatkan di kamar wilayah Nevada atau di kamar pada wilayah California yang harga sewanya satu dolar lebih mahal. Para tamu, sepanjang yang kita lihat dalam film ini, lebih memilih untuk menyewa kamar di bagian Nevada. Dan sesegera mungkin setelah mereka masuk kamar masing-masing, kita bisa melihat kelakuan ‘jahat’ mereka yang membuat mereka cocok – mungkin memilih dari alam bawah sadar – untuk ditempatkan di kelas ‘neraka’.

adegan favoritku adalah ketika salah satu tamu berjalan di garis pembatas seolah sedang menyebrangi jembatan Shiratal Mustaqim

 

 

Premis dasar cerita ini sebenarnya tak kalah simpel dari kisah-kisah drama kriminal yang paling biasa. Beberapa orang yang saling tidak kenal, yang tadinya ngerjain urusan kotornya sendiri-sendiri, jadi saling bentrok – dengan uang dan rahasia gelap hotel menjadi perekatnya. Mengambil latar waktu 60an, kisah film ini eksis pada masa kaum hippie lagi ngetren dan perang Vietnam baru usai berkobar. Waktu yang menjadi identitas sehingga film punya keterkaitan dengan peristiwa di dunia nyata. Namun film membiarkan segala konteks sosial bergerak dalam imajinasi kita. Ia malah bercerita dengan nada penuh misteri. Malahan ada satu benda, gulungan film yang katanya berisi skandal, yang tidak pernah diperlihatkan kepada penonton selain melalui komentar-komentar tokohnya. Penggunaan gaya ala Quentin Tarantino tidak berhenti sampai di sana. Film juga membagi sudut pandang para tokoh ke dalam beberapa chapter – sutradara dan penulis Drew Goddard menggunakan nama tempat seperti Kamar Empat, Kamar Tujuh, Maintenance Closet, dan interestingly enough satu nama tokoh karena kisahnya ada di dalam kepala tokoh tersebut – untuk mengenalkan backstory dan motivasi mereka. Kita akan sering balik mundur kembali untuk meninjau suatu peristiwa dari sudut pandang tokoh yang berbeda. Untuk kemudian semua benang itu akan terikat ketika semua pemain sudah berkumpul, saling menunjukkan ‘kartu’ dan rahasia masing-masing.

Dalam bercerita, film memang tampil terlalu genre-ish. Ada polisi, ada cult leader sinting, ada pastor, ada wanita kulit hitam yang gak setidakberdaya kelihatannya. Gaya film ini toh memang mampu membuat kita bertahan keasyikan mengarungi dua jam setengah malam berhujan badai. Dengan bijaknya, semua aspek dalam film ini ditahan untuk tidak terlalu over-the-top. Sehingga kita masih bisa menyimak underlying message tentang keyakinan dan penebusan dosa yang disusupkan sebagai tema.

Segala perbuatan yang kita kerjakan, akan mendapat balasannya. Kadang memang secara tidak langsung. Namun, seperti yang ditunjukkan oleh film ini, hidup akan selalu menemukan cara menagih kita. Tindak kriminal akan mendapat hukuman. Rasa penyesalan akan meringankan hukuman tersebut, paling tidak mengurangi beban di hati. Adalah terserah kita untuk memanfaatkan kesempatan menebus dosa-dosa selagi kita masih di dunia.

 

Hal menarik yang diajukan oleh film ini, berkaitan dengan konteks dan tema yang diusungnya, adalah para tokoh yang merepresentasikan Tujuh Dosa Pokok manusia. Melihat siapa yang akhirnya selamat, memberikan harapan bahwa pengampunan itu masih ada bagi siapapun yang mau mengubah dirinya. Dan perubahan itu enggak gampang. Butuh pengorbanan yang besar. Untuk tidak lagi bersikap mementingkan diri sendiri. Tamu-tamu hotel ini tadinya datang sendiri-sendiri; mereka ingin memuaskan keinginan sendiri. Meruntuhkan ego ditampilkan oleh film ini sebagai jalan keluar dalam bentuk bekerja sama – feminis akan melihat pesannya sebagai kesetaraan peran wanita dan pria – sebab Tujuh Dosa itu pada dasarnya berakar kepada nafsu ke-selfish-an manusia.

Ada tujuh tokoh, tujuh sudut pandang yang jadi kunci perputaran cerita. Setelah paragraf ini akan sarat oleh spoiler karena aku ingin memaparkan siapa dan dosa masing-masing tokoh dan bagaimana mereka gagal untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Pada halaman trivia film ini di situs IMDB sebenarnya sudah ada yang menuliskan teori Seven Sins seperti ini, tetapi aku punya pandangan yang berbeda. Yang udah nonton sih, silahkan baca dan mungkin bisa membandingkan dengan teori kalian sendiri;


Pertama ada Billy Lee. Tokoh ini muncul paling belakangan – dia udah kayak ‘bos gede’ yang harus dikalahkan. Berkeliaran bertelanjang dada membunuhi orang-orang bersama pengikut setianya. Dia pemimpin kultus yang enggak percaya pada Tuhan. Dan inilah yang membuatnya melambangkan dosa Pride (Kebanggaan). Ia merasa yang paling hebat. Hidupnya berakhir setelah ia meremehkan salah satu tokoh.

Tokoh itu adalah Miles, pemuda yang jadi resepsionis, bartender, dan segala macam yang menyangkut urusan hotel. El Royale sendiri adalah hotel yang punya kedok, mereka melakukan bisnis-tak-tersebut di sini. Miles lah yang disuruh untuk melihat, merekam, dan melaporkan semua kriminal yang terjadi dari balik kaca dua-arah pada setiap kamar. Miles juga adalah seorang mantan tentara yang sudah membunuh banyak orang dan dia menyesali perbuatannya. Sebesar dia menyesali kerjaannya di hotel. Tapi Miles tidak berani berbuat apa-apa. Miles melambangkan dosa Sloth (Kemalasan). Eventually, Miles adalah salah satu tokoh yang berakhir ‘happy’ karena dia berhasil menebus dosanya dengan mengambil aksi. Plot Miles adalah yang paling emosional di antara tokoh yang lain. Film menggambarkan momen terakhir Miles bersama dua tokoh lain dengan sangat menawan.

Wrath (Kemarahan) dilambangkan oleh tokoh polisi bernama Dwight Broadbeck yang menyamar menjadi tukang sales penyedot debu. Ditugaskan menyelidiki apa yang terjadi di balik bisnis perhotelan, Dwight melanggar perintah dengan gegabah ikut campur menangani kasus-kasus yang tak-sengaja ia intip di El Royale. Dwight mendapat ganjaran atas perbuatannya tersebut.

Di kamar Nevada paling ujung ada Emily Summerspring, cewek yang dipergoki oleh Dwight menyelundupkan seorang cewek lain. Mengikatnya di kursi. Dwight menyangka Emily akan membunuh cewek tersebut. Tetapi ternyata masalah Emily adalah Envy (Kecemburuan), tokoh ini sebenarnya paling sedikit mendapat eksplorasi, walaupun dia termasuk yang paling banyak beraksi. Backstory sekilasnya memperlihatkan dia kemungkinan adalah korban kekerasan seksual sewaktu kecil, membuat dia menjadi begitu dekat dengan adiknya. Hingga sang adik memutuskan untuk ikut cult yang diketuai oleh Lee.

Adiknya lah, si Rose Summerspring, tamu-tak-terdaftar yang diikat oleh Emily di kursi. Ini adalah tokoh yang paling aneh. Ada satu adegan dia menyusun kursi dan meloncat untuk bergelantungan di lampu hias lobby hotel. Dia juga diimplikasikan gak segan untuk melakukan kekerasan kepada orang lain. Dia digambarkan rela berkelahi supaya bisa tidur bareng Lee, yang tampak sangat ia sukai. Mengukuhkan perlambangan dosa Lust (Hawa nafsu).

Dua tokoh terakhir, yang sebenarnya adalah dua tokoh utama – Flynn, seorang perampok bank yang menyamar menjadi pastor dan Darlene Sweet, penyanyi latar yang ingin karirnya berkembang – punya dosa yang tampak setali tiga uang. Yang satu melambangkan Greed (Ketamakan); karena mencuri dan begitu ingin memiliki semua hingga literally lupa diri dan satunya lagi Gluttony (Kerakusan) yang begitu mengejar keinginan menjadi terkenal. Dua tokoh ini pada akhirnya berhasil selamat setelah menunjukkan arc dan transformasi yang benar-benar bikin kita terpana.


abs Chris Hemsworth mengalihkan dunia para wanita

 

 

Mengikat banyak plot dengan satu tema yang kuat, sebenarnya tidak banyak ruang gerak dalam naskah film ini. Jadi ia tahu, ia harus punya gaya. Meskipun berceritanya mungkin tidak benar-benar adalah gaya yang inovatif, film masih punya satu lapisan lagi untuk membuatnya tampil beda; penampilan akting para pemain. Jeff Bridges, Chris Hemsworth, Lewis Pullman, Cynthia Erivo (yang beneran nyanyi), semuanya bermain prima. Mataku terutama pada Cailee Spaeny sejak dia di Pacific Rim: Uprising (2018) dan kembali dia mencuri perhatian di sini. Ensemble cast di film ini bermain dalam level yang tepat, mereka tidak terlalu lebay, melainkan masih tetap menghibur dan enggak satu-dimensi – mereka masih mampu untuk menghadirkan emosi. Dari yang tadinya sendirian memegang rahasia, terhadir hubungan menarik dan really grounded antara para tokoh, seperti pastor dengan si bellboy. Memang, masih banyak yang bisa diperbaiki, tetapi film ini tahu apa yang ia incar. Mengatakannya style-over-substance sungguh terlalu terburu nafsu. Dan menurut film ini, terburu nafsu tidak akan mendatangkan masa-masa baik bagimu.
The Palace of Wisdom gives 7 gold stars out of 10 for BAD TIMES AT THE EL ROYALE.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Bagaimana menurut kalian tentang Tujuh Dosa manusia? Dosa mana yang kira-kira lebih mudah untuk dimaafkan? Setuju gak kalo Pride adalah dosa yang paling ‘bos’ dari semua?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

THE MISEDUCATION OF CAMERON POST Review

“The question is not how to get cured, but how to live”

 

 

 

Hal paling tak-terduga yang pernah ditanyakan seorang cewek kepadaku adalah “Kak, suka gak lihat bokep lesbi?”

Gak pernah jelas bagiku pertanyaannya itu bersifat jebakan atau bukan, like, mungkin dia berusaha cari tahu apa aku pervert or something, tapi yang jelas pertanyaan sederhana tersebut seperti lubang yang menganga sebagai jalan masuk pertanyaan-pertanyaan ‘deep thoughts‘ untuk dibahas.

Kenapa pria begitu suka nonton bokep, bahkan ketika aksi yang dilihatnya berupa cewek-dengan-cewek yang dipercaya sebagai sesuatu yang gak bener. Apakah industri porno juga ngikutin selera pasar; apakah ‘pasarnya’ itu laki-laki. Ketika membicarakan adegan lesbi, ada gak sih penontonnya yang kritis, like, mungkin gak sih ada cewek yang nonton, trus memprotes adegan lesbian ternyata enggak seperti itu kenyataannya di dunia nyata? Seberapa beda seks dipandang oleh laki-laki dengan oleh perempuan?

 

Tak bisa dipungkiri industri perfilman masih didominasi oleh laki-laki. Jadi, selama ini kita melihat adegan skidipapap, dalam film beneran maupun film biru, sebagian besar didepiksi melalui ‘mata-mata lelaki’. Meskipun film yang baik biasanya hanya menampilkan adegan dewasa yang paralel dengan tema atau gagasan besar yang ingin disampaikan, tapi fokusnya tetap berpusat kepada kesenangan dan fantasi pihak pria. Bahkan Blue is the Warmest Color (2013), film Perancis tentang romansa dua wanita itu, yang dapat banyak nominasi dan menang banyak award itu, tetap saja masih terkurung dalam bingkai sudut pandang lelaki. Pemain wanitanya sendiri melaporkan merasa seperti seorang tunasusila saat merekam adegan seks enam-menit yang membuat film tersebut ‘terkenal’ (klik ini buat artikelnya)

Baru saat menonton The Miseducation of Cameron Post, aku merasa selama ini sudah ‘salah edukasi’ dalam menilai seni dari adegan-adegan dewasa pada film. Digarap oleh sutradara perempuan, Desiree Akhavan, adegan panas dalam film ini (kita akan melihat banyak aksi cewek-dengan-cewek) enggak sekadar ‘panas’, aku yang cowok bisa merasakan keragu-raguan, keberantakan, kespontanan yang ditakutkan menjadi penyesalan yang menguar kuat dalam setiap pertemuan seksual. Dan sepertinya memang seperti demikianlah realita erotika di mata wanita.

Dengan sama realnya, film ini membahas tentang kejiwaan Cameron Post yang mendapat halangan dalam mengeksplorasi seksualitas dirinya, karena yang Cameron rasakan merupakan hal terlarang dalam agama. Cameron yang yatim piatu dikirim oleh tantenya ke rehab khusus untuk remaja Kristen yang mengalami penyimpangan orientasi seksual setelah Cameron ketahuan sedang ‘pacaran’ bersama sobat ceweknya. Di sana Cameron tak ubahnya pasien yang harus segera disembuhkan dari penyakit yang mematikan. Dengan set-upnya ini, film akan bermain di antara satir dengan drama yang tulus, menempatkan kita ke dalam batas pandang Cameron yang dipaksa menerima bahwa apa yang ia rasakan adalah hal yang salah. Meskipun udah banyak menampuk peran-peran kontroversial, pernah bermain sebagai anak kecil kasar, penyihir remaja, hingga vampir muda yang tak bakal tua, Cameron termasuk tokoh paling ‘dewasa’ yang pernah dimainkan dengan gemilang oleh Chloe Grace Moretz.

Cowok di sekitar Chloe bisa-bisa insecure semua melihat betapa meyakinkannya orgasme yang ia terima di film ini

 

 

Sebuah film enggak harus punya gagasan yang sesuai dengan yang kita setujui untuk dapat dinikmati. Film enggak musti politically correct. Karena toh kita bisa saja setuju ama pendapat yang diusung oleh orang lain, dan tidak mengubah pendapat milik kita sendiri. Yang penting adalah bagaimana film tersebut mengutarakan idenya. Buah pikiran utama yang dibahas oleh film ini adalah soal apakah homoseksual sebuah penyakit, sebuah disorder. Film punya jawabannya sendiri atas pertanyaan tersebut, dan dia mengungkapkannya dengan begitu menawan.

“Tidak ada yang namanya homoseksual,” kata ibu kepala pembimbing Cameron yang galaknya membuat dirinya ekivalen dengan Hitler si pemimpin Nazi, “Tentunya kita tidak membiarkan pengguna narkoba mengadakan pesta obat, bukan?” dengan tegas film menekankan bahwa menyukai sesama jenis bukan saja sakit yang harus disembuhkan, melainkan juga kriminal yang harus dibasmi. Karakter si Ibu dan antek-antek pusat rehabilitasi yang dijadikan antagonis oleh film ini memang bisa terlihat sebagai satu dimensi, dan jadi masalah buat sebagian penonton yang menginginkan kedalaman yang lebih. Tetapi kita harus ingat mereka adalah bagaimana Cameron memandang mereka. Cameron, si gadis remaja, di satu sisi juga digambarkan tidak terbuka kepada mereka. Dan ini bukan kelemahan naskah, melainkan kekuatan lantaran penulisannya benar-benar menilik dari sudut pandang remaja yang merasa disudutkan. Yang merasa bimbang karena tidak tahu pasti apakah emosi yang ia rasakan akan mendapat dukungan. Melihat interaksi Cameron dengan pembimbingnya, seperti melihat interaksi betulan antara remaja dengan orang dewasa. Remaja akan berahasia, akan mendengarkan apa kata yang lebih tua, dan melawan dalam diam – sebagai remaja kita toh sering merasa orang yang tua dari kita tampak ‘sok tahu’ ketika sedang menasehati. Seolah mereka merasa mereka yang paling benar. Perasaan itu tergambar sempurna lewat naskah dan akting yang luar biasa.

Hal mengerikan yang terjadi kepada Cameron selama dia diasramakan adalah gimana semakin hari, dia yang tadinya merasa enggak bersalah, toh jadi kemakan juga; dia mulai cemas dan mempertanyakan gimana kalo dia memang salah; gimana kalo yang ia rasakan memang perasaan yang salah. Dia mulai takut; karena dorongan seksual bercampur insecure yang lagi dan semakin gede-gedenya, setiap malam Cameron bermimpi ena-ena, dan ini berbahaya karena bagaimana jika desahannya terdengar oleh pengawas yang secara random mengecek kamar. Melihatnya begitu, kita turut merasa was-was. Karena film juga memperlihatkan bahwa pihak rehab juga sebenarnya tidak tahu apa yang mereka lakukan. Yang mereka sebut mengobati hanyalah menyuruh Cameron dan teman-temannya mengisi sendiri ‘gunung es’ yang menjadi sumber masalah penyimpangan orientasi mereka. Dan kita melihat Cameron dan teman-temannya mengisi dengan ngarang. Mereka asal saja menaruh hal-hal seperti sering nonton sepakbola bersama ayah, sering membantu ibu, terlalu suka berolahraga, sebagai akar masalah yang disetujui oleh pihak rehab. Momen saat Cameron menumpahkan emosinya di babak akhir terasa sangat kuat karena begitu menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi di sana.

Bahwa homoseksual tidak bisa disembuhkan dengan paksa. Yang ada hanyalah, remaja itu dipaksa untuk membenci diri mereka sendiri, membenci sedemikian besar, sehingga mereka ingin mengubah siapa dirinya. Dan itu bukanlah cara yang sehat. Memang bukan lobotomi yang dilakukan oleh rehabilitasi God’s Promise, namun practically sama saja dengan mencuci otak. Bukan menyembuhkan yang seharusnya ditanyakan, melainkan bagaimana hidup dengan ‘sehat’

 

Orangtua yang menonton diharapkan menjadi bisa mengerti terhadap apa yang sedang dialami oleh anak remaja yang mengalami masalah (kalo masih mau disebut masalah) seperti Cameron. Seperti keluarga Dursley yang takut Harry Potter mewarisi kemampuan sihir ayah-ibunya; you just can’t beat that shit out of them. Ada proses, ada pendekatan. Salah-salah, orang tersayang kita bisa-bisa berakhir menjadi seperti salah satu teman Cameron di asrama. Salah satu yang menarik dalam cerita memang bagaimana Cameron memperhatikan teman-teman di asrama yang sama-sama dipaksa meyakini mereka terjangkit ‘kebingungan gender’. Agak sedikit disayangkan kita tidak bisa melihat karakter-karakter berwarna itu (ada satu teman Cameron yang keturunan Indian dan dia dikatain punya dua jiwa – cowok dan cewek – bersemayam di dalam tubuhnya) lebih banyak karena film hanya memberi kita informasi sebanyak yang diketahui oleh Cameron. But when it’s sweet, it’s sweet, you know.

adegan favoritku adalah ketika remaja-remaja itu nyanyiin “and I say hey yeah, yeah, yeah, yeah” di dapur

 

 

 

Berada di sisi remaja, namun tampak diniatkan lebih besar teruntuk orangtua. Meskipun tidak memberikan jalan keluar yang benar-benar terang, namun orangtua diharapkan menarik kesimpulan untuk membiarkan para remaja mengekpresikan, mengalami sesuatu, dan merasa bersalah karenanya. Berikan remaja kesempatan untuk belajar, dan mencari ‘kesembuhan’ terbaik untuk diri mereka. Karena dibuat oleh wanita, dan bicara tentang remaja wanita, segala aspek dalam film ini terasa real. Dan tidak sekalipun menghindar darinya. Satu-dimensi pihak antagonis tidak akan mengurangi film terlalu banyak, karena dia tetap bermain dalam sudut pandang protagonisnya. Dan I don’t mind it either, sebelum ini kita dapat Udah Putusin Aja! (2018) yang juga tentang seorang remaja cewek diinstitusikan (ke pesantren), tapi film itu jatohnya konyol karena enggak keep it real dengan tokoh otoriter yang dibuat rada bloon demi komedi dan ‘menghaluskan nada’. Lagipula, institusi bersifat rehab yang ‘kejam’ itu toh masih ada, sama seperti masalah Cameron si remaja 90an yang juga masih relevan, makanya film ini jadi begitu penting.
The Palace of Wisdom gives 8 out of 10 gold stars for THE MISEDUCATION OF CAMERON POST.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Jika bukan penyakit, apakah menurut kalian homoseksual itu sebuah pilihan?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

ROBIN HOOD Review

Thievery is what unregulated capitalism is all about

 

 

 

“Salah sasaran!” Tadinya, aku ingin mengatakan hal tersebut kepada pasangan suami istri yang duduk menonton di barisan di depanku, dengan dua anak balita mereka. Maksudku, kenapa ada keluarga yang lebih memilih menonton film Robin Hood ini padahal ada Ralph Breaks the Internet di studio sebelah benar-benar di luar logika buatku. Namun kata-kata tadi aku tarik kembali sebelum melesat dari busur bibir, karena aku menemukan ‘sasaran’ yang lebih tepat.

Bayangkan merasa bosan karena sudah lama enggak ke bioskop, dan sekalinya datang yang kau tonton malah film Robin Hood. Itulah “Salah sarasan!” yang sebenarnya. Film ini tidak akan mengobati rasa jemu. Kalopun iya, itu karena kita akan menemukan banyak hal untuk ditertawakan sehubungan dengan pilihan-pilihan yang diambil dan bagaimana mereka tidak cukup kompeten untuk dapat mengeksekusinya dengan baik.

masih mendingan iklan obat; langsung ke pusat sakit kepala

 

Sudah berulang kali cerita pencuri yang menjadi pahlawan bagi rakyat jelata ini diceritakan di layar lebar. Menyadari penuh hal tersebut, Robin Hood versi 2018 sesegera narasi pembuka bergulir mengajak kita meruntuhkan apa yang telah kita ketahui tentang legenda Robin Hood, dan bersiap mengarungi kisah yang katanya tidak seperti kita kenal sebelumnya. Film ini tidak kusebut jelek karena memang menjadi sedikit berbeda dari yang sudah-sudah, malahan aku senang film punya keinginan bercerita dengan caranya sendiri. Heck, aku bakalan girang banget kalo mereka merombak totatl; katakanlah menjadikan Robin cewek atau suku minoritas. Walau enggak mengubah ampe segitunya, toh film ini berusaha menyesuaikan cerita dengan kejadian di masa sekarang – memberikannya relevansi. Orang kaya yang dirampok Robin pada film ini, adalah penguasa korup yang mencopet rakyat secara halus. Lewat slogan-slogan politik. Lewat ayat-ayat Kitab Suci. Perang Salib antara bangsa Eropa dengan bangsa Arab dijadikan latar film ini yang seharusnya berfungsi sebagai cerminan motivasi – berkaitan dengan panji pencitraan agama yang dikibarkan oleh cerita. Robin Hood tidak lagi sekedar anti-hero. Sutradara Otto Bathurst mengarahkan tokoh ini menjadi superhero bagi kaum papa. Sayangnya naskah sepertinya terlalu berat bagi pundak film ini. Segala aspek-aspek politik dan agama yang menarik tersebut hanya laksana tudung yang tak pernah benar-benar membungkus. Dan film ini pada akhirnya dikata-katai film superhero hanya karena usaha ngeset sekuel yang terang-terangan meniru Marvel atau DC.

Segala tetek bengek gimana orang menggunakan agama untuk menakuti, mengontrol massa – menguatkan posisi secara politik, dan pada akhirnya UUD (Ujung-ujungnya Duit) tidak pernah menunjukkan dampak secara emosional karena tokoh utama cerita tidak diperlihatkan benar-benar tertarik kepada itu semua. Robin si Bangsawan dari Loxley (Taron Egerton pembawaannya terlalu boyband untuk karakter sebroke-down ini) sedari sepuluh menit awal yang krusial dikukuhkan motivasinya adalah cinta kepada Marian (begitu juga Eve Hawson yang covergirl jelita banget untuk ukuran rakyat kelaparan jelata). Kebersamaan dua orang yang lebih cocok sebagai idola remaja tersebut dipersingkat oleh surat perintah wajib militer yang datang dari sheriff di kota. Robin kudu ikutan berperang di gurun pasir Arab. Sekembalinya dari medan perang – ia dikirim pulang lantaran gagal patuh terhadap perintah membunuhi orang tak berdosa – Robin mendapati rumah kastilnya disita oleh si sheriff. Eksistensinya juga direnggut lantaran sheriff memasukkan namanya dalam daftar korban perang. Dan paling parah baginya, ia juga mendapati sang istri sudah menjadi istri orang lain. Mendadak miskin, tanpa teman maupun pasangan, Robin sudah akan hancur jika bukan karena John, pejuang Arab yang mengikuti dirinya lantaran terkesan sama sikap Robin di peperangan. John-lah yang ‘membisiki’ Robin apa yang harus dia lakukan. John yang melatihnya melakukan hal-hal keren dengan busur dan anak panah. John yang memberikannya tudung trendi yang bakal jadi seragam ikoniknya. John yang diperankan oleh Jamie Foxx-lah yang sedikit menyelamatkan film ini.

Memparalelkan Robin Hood dengan penguasa lalim; korupsi personal dengan korupsi institusi, benar ini adalah cerita tentang para pencuri. Salah satu kerusakan itu akan memakan kerusakan yang satunya, dan memperbesar diri. Semuanya karena uang. Dalam film ini, uang adalah simbol kekuasaan. Ngerinya, sepertinya di dunia nyata juga begitu.

 

 

Enggak ada yang salah dengan aktor-aktor yang meramaikan film ini. Hanya saja, kita melihat mereka bermain lebih bagus di film lain, kalian tahu, sedangkan di Robin Hood ini mereka semua terlihat biasa-biasa saja. Malah cenderung annoying. Jamie Foxx kelewat over-the-top. Dia lucu saat tidak sedang melucu – seperti sewaktu dia berteriak-teriak sebelum menggantung orang. Sedangkan ada tokoh lain seperti si Friar Tuck yang memang ditampuk sebagai peran komedi malah jatohnya garing; tidak ada yang tertawa mendengar komentarnya yang seperti menyindir. Karakter-karakter yang ada, semuanya tumpul kayak anak panah yang belum diasah. Dan ini lucu mengingat anak panah dalam film ini digambarkan mempunyai kekuatan perusak seperti peluru senjata api. Motivasi tokoh utamanya, seperti yang sudah aku tulis, terasa sepele. Tokoh ceweknya butuh untuk diselamatkan, dan enggak benar-benar punya manfaat selain berdiri di sana, dengan pakaian nyaris tertutup, tersenyum dan terlihat flawless – seolah dia tidak berada di zaman dan kondisi yang sama dengan orang lain di sekitarnya. Gimana dengan tokoh antagonisnya, kalian tanya? Hahahaha mereka jahat, culas. Kalo ngomong selalu keras-keras. Benar-benar komikal dan satu dimensi. Ada satu adegan seorang tokoh petinggi gereja yang tertawa membahana, kemudian mendadak mengubah nada bicaranya dengan mengancam, dan musik juga dramatis banget, dan si tokoh itu enggak pernah dibangun dulu karakternya.

curi… curi-curi pandang

 

 

Kita enggak bakal mampu untuk peduli sama tokoh-tokohnya. Bahkan aspek cinta segitiga tidak mampu untuk membawa kehangatan ke dalam film yang berskala warna coklat dan biru keabuan ini. Aspek mata-mata turut mewarnai cerita; di saat enggak merampok kas pajak, Robin akan bertugas sebagai bangsawan dermawan yang senantiasa di sekitar sheriff dan penguasa. Cara film menggarap bagian ini persis berasa sinetron. Dengan close-up Robin yang senyam-senyum ke kamera ketika dia berhasil mengelabui penjahat, ataupun tampang cemasnya saat ada hal ‘gak enak’ yang harus dia lakukan. Intriknya tidak pernah benar-benar terasa.

Jika kalian merasa porsi aksi akan menjadi obat penawar, maka kalian juga sama salahnya seperti aku. Karena bagian aksi film ini malah lebih memalukan lagi. Di antara hujan anak panah dan derapan kuda-kuda CGI itu, kita akan menemukan orang-orang berlarian dalam gerakan lambat, kemudian melompat dan menjadi cepat, melepaskan anak panah, kembali dalam slow-motion, dan cepat lagi. Aku gak percaya masih ada film yang masih memakai teknik editing yang mengesalkan seperti begini. Cara yang sangat malas dalam upaya membuat adegannya tampak intens. Aku bahkan merasa bosan melihat adegan aksinya. Sama seperti para pemainnya, aku yakin orang-orang yang bekerja di spesial efek dan editing ini bukan orang sembarangan, mereka punya keahlian khusus. Hanya saja pilihan yang dilakukan film membuat semuanya tampak enggak kompeten.

 

 

 

 

Seharusnya bukan cuma aktor saja yang diajari cara memanah. Film harusnya juga belajar menentukan sasaran mereka, menembaknya dengan tepat. Segala unsur modernisasi dan kerelevanan yang ada pada cerita dimentahkan oleh penceritaan dan arahan yang begitu konservatif. Hampir seperti mereka tidak cukup mampu untuk menangani cerita yang bener. Semua penampilan di film ini jatohnya jadi memalukan. Setidak-tidaknya film yang udah kayak cerita superhero ini bisa menghadirkan bagian aksi yang exciting, namun mereka bahkan tidak sanggup untuk melakukannya.
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for ROBIN HOOD.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Apakah mencuri demi orang lain membuatmu pahlawan?

Pernahkah kalian mencuri untuk kebaikan, share dong pengalamannya

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017