TO THE BONE Review

“She has dreams to be an envy, so she’s starving”

 

 

 

You know, “Covergirls eat nothing.”
She says, “Beauty is pain and there’s beauty in everything.”
“What’s a little bit of hunger?”
“I can go a little while longer,” she fades away

 

I gotta to be honest, pertama kali dengar lirik lagu Alessia Cara tersebut, aku merasa seperti sedang mengiris bawang merah yang banyak banget. Aku sungguh berharap enggak ada teman-temanku yang pernah pingsan karena sengaja gak makan. I can’t imagine being girls di jaman sekarang, I mean, dengan segala tuntutan sosial itu; harus putih, harus langsing. Anorexia sendirinya adalah problem yang serius. Dan setelah nonton film To the Bone yang MEMBAHAS ANOREXIA SECARA MENDALAM DAN SANGAT JUJUR, aku jadi semakin ngeri. Karena Anorexia enggak selamanya hanya karena si cewek pengen terlihat cantik. Seperti Ellen, ketika dia dikomentari ibu tirinya yang khawatir “Cantik enggak dirimu menurut kamu?” Ellen memandang foto diri yang tinggal kulit membalut tulang, dan menjawab “Enggak”. Anorexia berkaitan dengan masalah psikologis yang bisa berasal dari apa saja. Ellen yang dealing with severe anorexia terutama harus menyadari dan mengaccept dulu trauma yang membuat dia menjadi begitu anti sama makanan.

Film ini enggak menahan diri soal urusan penceritaan, semuanya digambar blak-blakan oleh narasi. Bukan hanya membahas apa dampak eating disorder terhadap si penderita, baik secara fisik dan psikologis. Film juga mengeksplorasi akibatnya terhadap keluarga dan orang-orang yang benar-benar peduli terhadap si penderita. Ellen dibujuk untuk mengikuti pengobatan khusus di mana cewek berdarah seni tinggi ini harus tinggal bersama beberapa orang yang juga mengidap berbagai kelainan enggak-mau makan. Ada cewek yang diam-diam ngumpulin muntahnya di bawah ranjang, ada cewek yang begitu parah sehingga harus dikasih asupan lewat tube, ada juga wanita yang tengah mengandung bayi tapi masih ogah makan sehingga membahayakan nyawa si janin. To the Bone bukanlah film light-hearted di mana semua penghuni rumah inap dokter yang metodenya sangat radikal itu pada akhirnya akan menjadi sahabat dan semuanya berakhir happy ending.

kalo bisa milih, gak ada lagi orang di dunia ini yang kita percaya untuk nasihatin kita, to make us feel better, selain Keanu Reeves

 

Sekilas, memang sepertinya plot yang dihadirkan agak dilebih-lebihkan, seakan memancing yang susah-susah dari keadaan mental yang menyedihkan dari seseorang yang insecure atas dirinya. Film ini akan terasa too much dan terlalu jauh, namun sebenarnya ini adalah cerita yang SANGAT AKURAT DALAM PORTRAYALNYA mengenai penderita Anorexia. Ellen bahkan enggak mau menggigit makanan, let alone menelannya. Dia menolak ide mencerna apapun yang mengandung banyak kalori. Ellen udah kayak kamus gizi berjalan, dia hapal kandungan kalori dalam setiap makanan, just so dia bisa menghindarinya. Dia mengukur lingkar lengannya, dan bila ia rasa jadi sesenti lebih gede, Ellen akan membakar kalori – seberapa pun yang tersisa di tubuhnya – dengan berlari naik turun tangga. Dan sit up sampai punggungnya lecet. Konyol? Maybe, namun enggak ada yang corny soal anorexia. Karena ini adalah penyakit nyata, ada orang-orang di luar sana, cewek dan cowok, yang mengalaminya. Aku memang enggak kenal orang anorexia, tapi setelah menonton ini aku ngeri juga bahwa aku bisa saja termasuk di antara mereka.

Aku enggak pernah insecure soal penampilan. Namun dulu berat badanku mencapai 72 kilogram, dan itu membuatku kesulitan bergerak. Apa-apa capek, apa-apa keringetan. Mandi aja aku keringetan ngangkat gayung. Jadi aku mulai menurunkan berat sehingga sampe sekarang sukses bertahan di angka 50. Tapi kebiasaanku makan sejak misi ‘diet’ itu nyaris sama seperti yang dialami oleh Ellen, meski enggak seekstrim itu. Aku completely discarded sarapan off of my daily menu. Aku sebisa mungkin ngehindari daging dan gula. Apalagi gorengan. Dan kalo kepepet memakan salah satu dari hal tersebut, aku akan bingung sendiri mikirin gimana bakar kalorinya. Biasanya setiap pagi aku akan lari di tempat sambil nonton WWE. Yang dilanjut dengan push-up, squat jump, dan sit up. Alih-alih lingkar lengan seperti Ellen, aku mengukur lingkar pinggang – tidak boleh lebih dari 3.5 jengkal!! Aku bahkan mencibir ide bahwa manusia harus banget makan tiga-dua kali sehari; bayangkan berapa banyak hal produktif yang bisa dilakukan saat kita nyempetin duduk di meja kantin selama 30 menit.  Aku pun masih ingat reaksi keluarga dan teman-teman ketika aku muncul di hadapan mereka dengan ‘wujud baru’, persis seperti reaksi keluarga dan teman-teman Ellen. “Kurusan banget, ih”, “Mirip tengkorak”, ibuku nodongin makan setiap limabelas menit sekali, sampai my dad jadi punya topik baru dalam ceramah rutinnya. Jadi aku tahu betapa akuratnya film To the Bone ini, dan buat aku yang bukan penderita aja, film ini udah disturbing secara personal.

Setelahnya, aku jadi pengen makan banyaaaaakk sekalliiiiii

 

Sutradara Marti Noxon pun tampaknya paham soal ini. Dia tahu langkah dan keadaannya, dia tahu perlu sekali mengarahkan film ini untuk enggak menjadi politically correct, walaupun cerita yang digarapnya melintasi subyek yang enggak mudah untuk dibahas. Kudu hati-hati, dan Noxon mutusin untuk tidak menyembunyikan apapun. Tidak ada gunanya membahas tema ini dengan bersopan-sopan. Tokoh-tokoh dalam film ini mengatakan ataupun melakukan hal-hal yang tergolong perbuatan tak-senonoh, mereka bicara kasar, dan tak sekalipun film ini berusaha mengoreksi mereka. They just do it, dan kita mengerti. Bahwa mereka-mereka ini sedang dalam titik terendah hidup mereka, di mana mereka bahkan enggak bisa mastiin mereka masih hidup minggu depan atau enggak. Cara yang dilakukan film ini sukses menempatkan kita sebagai penonton di mana kita bisa merasakan penderitaan mereka, that they no longer care about things.

Dan untuk menyembuhkan mereka, lebih tepatnya membantu mereka menemukan keinginan untuk sembuh, film ini tidak mendatangkan dokter yang sekedar menanyakan kabar dan bermanis-manis ria menaikkan mood pasien, ngasih obat, lalu pulang. Dokter Beckham yang diperankan oleh Keanu Reeves ditulis dengan amat baik, karakternya sangat entertaining, dan Keanu Reeves really nailed this character. Dia akan menatap pasiennya lekat-lekat di mata, dia enggak akan peduli dengan perasaan, dia cuma mau mereka melihat ke dalam diri, dan literally akan bilang persetan dengan pikiran kalian sendiri yang membuat kalian enggak mau makan.

Tadinya aku sempet kepikiran kalo Emma Roberts bisa jadi pilihan yang bagus buat meranin tokoh Ellen. Tapi toh lama kelamaan as I watch this through, kerja Lily Collins benar-benar membuatku terkesan. Penampilannya di sini stand out banget. Dia rela jadi kurus buat peran ini, tapi bukan berat badannya aja yang bikin ia tampak mencuat, dia hidup sekali di dalam karakternya. Collins membawakan tokoh ini dengan sangat tertutup dan was-was, yang mana merupakan perilaku yang tepat buat orang yang benar-benar mengalami kondisi mental seperti tokoh ini. Like, Ellen enggak mau disentuh oleh orang, dia ingin dibiarkan sendiri. Aspek karakter inilah yang diportray oleh Collins dengan meyakinkan, membuatnya sangat bersinar. Ada adegan antara Ellen dengan ibu kandungnya (Lili Taylor fantastis dan kupikir dia adalah aktris yang sangat underrated sekarang ini) yang sangat merenyuhkan hati menjelang akhir. Ini adalah jenis adegan yang beresiko tinggi, terlihat bagus di naskah namun eksekusinya bisa jadi sangat komikal dan merusak semuanya. Untungnya, akting dan delivery kedua pemain yang terlibat berhasil mengangkat adegan tersebut, menghasilkan momen yang indah dan magis. Dan membuat arc keduanya comes full circle.

Saat muda adalah waktu yang paling susah untuk kehilangan sosok ibu. Ellen berpisah dengan ibu kandungnya, yang ternyata adalah seorang lesbian. Dan ini dijalankan selaras oleh narasi dengan keengganan Ellen untuk makan. Deep inside, dia enggak mau ‘makan’ yang lain. Karena sebenarnya Ellen’s craving for mother figure. Ellen ingin jadi sesuatu yang membuat orang-orang ingin mengasuhnya. To be an envy for her mother. The real one.

 

Ada satu lagi tokoh yang menarik, yaitu Luke; pasien cowok satu-satunya di rumah inap tempat Ellen berobat. Alex Sharp memainkan tokoh ini dengan sangat charming. Karakternya adalah penari dari London yang patah kaki, yang membuat karirnya kandas, sehingga dia menyiksa diri dengan enggak makan. Akan butuh waktu sebelum kita bisa meapresiasi karakternya secara maksimal, karena memang di awal-awal dia sedikit lebay. Dia memaksa Ellen makan coklat, dan sebagainya. Oleh karena kita terinvest begitu banyak kepada Ellen, maka reaksi kita kepada Luke pun akan sama dengan reaksi Ellen kepadanya. Tetapi niscaya, karakter ini akan grew on us, arcnya pun juga sangat tertulis rapi. Luke kadang menyapa Ellen sebagai peri kecil, dan dari situ ada adegan di akhir yang terasa agak terlalu orchestrated. Teatrikal banget. Terasa enggak sesuai dengan keseluruhan film, seperti menyelipkan sesuatu yang terlalu rumit di antara padanan yang kelam. Dan bagian akhir itulah satu aspek dalam film ini yang enggak sreg buatku.

 

 

 

 

Bikin kita terpesona sejak adegan pertamanya, ini adalah film yang tertulis dengan amat baik, mengeksplorasi psikologis orang-orang yang punya pandangan menarik tentang kebutuhan makan. Dan dihidupkan oleh permainan akting yang luar biasa. Topiknya yang suram dan disturbing dan acapkali inappropriate dibahas dengan hati-hati namun tidak pernah menyembunyikan apapun. Keblakblakan film ini akan menyelematkan semua orang yang sempat kepikiran untuk mengambil keputusan serupa yang menghancurkan diri sendiri. Tak pelak, film ini akan membekas lama. Sampai ke tulang belulang.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for TO THE BONE.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

DESPICABLE ME 3 Review

“The love of a family is life’s greatest blessing”

 

 

Gru kini fokus sebagai pria yang punya keluarga. Dia punya istri yang juga merupakan partnernya dalam organisasi rahasia super keren yang khusus menangkap penjahat-penjahat. Dia tentu saja juga harus merawat tiga gadis cilik; Margo, Edith, dan Agnes yang sudah diadopsinya sejak film pertama.. cekiitttt-rem dikit, yes, ini adalah film ketiga dari seri animasi sukses buatan Illumination Pictures. Aku suka dua film terdahulunya, terutama yang pertama. I actually really enjoyed that movie. Para Minions juga sangat lucu-lucu, meski aku lebih suka mereka sebagai sidekick komedi dibandingkan saat mereka menjadi film sendiri. Kisah Gru  sebagai penjahat kelas kakap yang berubah menjadi baik oleh kehadiran tiga anak sepertinya sudah comes full-circle. Tapi tampaknya studio tidak memandangnya seperti itu dan mereka membuat film ketiga ini. Yang lantas membuat kita bertanya-tanya, apakah memang perlu ada film Despicable Me lagi?

Banyak anak, banyak rezeki. Jika kita sudah berkeluarga, akan lebih banyak pintu rejeki yang terbuka. Orang Indonesia percaya banget ama petuah tersebut.

 

 

Makanya banyak orangtua kita yang suka nanya-nanyain kapan kita hendak berkeluarga. Dan biasanya yang ditanya bakal menjawab sambil cengengesan “tunggu mapan dulu.” Jawaban yang biasanya langsung diuber dengan “hee jangan lama-lama, anak ama istri itu ada rejekinyaaa!!” Gru clearly tidak melihat kenyataan seperti ini pada awal cerita dimulai. Dia malah ditinggalkan oleh anak-anak buah yang setia padanya karena enggak mau ngelakuin aksi jahat lagi. Kerjaan pun kandas lantaran Gru dan Lucy kembali gagal menangkap pencuri nyentrik berambut model mullet yang bernama Balthazar Bratt. Gru struggling untuk mengenyahkan perasaan sebagai orang gagal, hard baginya melihat Agnes harus menjual boneka unicorn kesayangan. Tapi keluarga Gru bukan sebatas itu. Adik kembarnya muncul; berambut pirang nan halus, kaya, dan tentu saja seperti Gru, Dru juga punya sisi jahat. Bersama mereka bertualang, termasuk – demi membuktikan kemampuan Gru –  menangkap pencuri super yang demen kelahi sambil breakdance dan menembak orang dengan permen karet.

that gum you like is going to come back in sta-il!

 

Wajar jika film animasi modern telrihat menawan, namun kejernihan visual dan gambar film ini enggak boleh dipandang sebelah mata. Keren banget. Liat deh aksi final dengan robot besar menyerang kota itu. Nyaris seperti foto. Badan papoy nya terlihat kayak pisang yang mulus banget. Ketika Agnes dan pemilik bar setuju unicorn “so fluffy I’m gonna die”, kita bisa mengaplikasikan kalimat tersebut untuk betapa cerah dan halusnya animasi film ini. Dari dua lelucon kentut yang muncul di opening credit saja kita bisa tau film ini ditargetkan terutama buat anak-anak. Dan benar, ada banyak lelucon di dalam cerita yang mengalir dengan pace yang senantiasa cepet. Membuat film ini fun untuk ditonton. Suprisingly enough, beberapa LELUCON YANG HADIR LUMAYAN DEWASA untuk anak-anak. Ada waktu ketika hanya beberapa orang gede yang tertawa saat aku menonton di bioskop tadi. Malah ada juga joke yang sedikit too much, kayak ketika minion mengomentari sebuah patung wanita mirip dengan Gru yang punya “boobs!”. Mungkin memang bukan masalah besar sih, karena anak-anak toh belum mengerti. Sama halnya seperti referensi pop-culture, film, dan musik 80an yang turut mewarnai cerita, yang tentu saja hanya konek dengan penonton yang lebih dewasa.

Despicable Me (2010) dan Despicable Me 2 (2013) tampak mengerti di mana titik temunya antara hiburan bagi orangtua dan anak-anak. Kedua film tersebut tampil kocak dengan suguhan emosi yang memberikan bobot lebih, although film yang kedua semacam runtuh sendiri setelah pertengahan. Film yang ketiga ini, however, lebih terasa SEPERTI FILM KARTUN KETIMBANG ANIMASI LAYAR LEBAR. Despicable Me 3 sepertinya berpikir bahwa orangtua akan terhibur menonton lelucon dewasa yang dihadirkan, dan anak-anak akan betah melihat animasi yang spektakuler. Poinku adalah, film ini hanya mengarah kepada lelucon untuk membuat orang tertawa. Dia tidak pernah benar-benar mengeksplorasi emosi. Sesuatu langkah yang mengecewakan karena narasi film ini sarat oleh lelucon dan tema-tema dewasa dan berbobot.

Ketika punya subplot seperti Lucy yang berusaha menjadi ibu yang baik, Gru dan Dru yang pengen bonding sebagai saudara, Agnes yang mau mencari unicorn, bahkan motivasi Evil Bratt sebagai mantan aktor cilik yang dibuang oleh Hollywood lantaran udah ketuaan, Pixar mungkin akan menggarapnya menjadi berisi seperti Inside Out. Namun Despicable Me 3 hanya melihat semua itu sebagai pengisi humor. Yang sukses juga menghasilkan beberapa tawa di sana-sini. Tapi enggak cukup konsisten untuk menjadi benar-benar lucu. Pisahnya Gru dengan Minions adalah elemen cerita yang bagus dan fresh sebab kupikir kita akan melihat mereka bekerja ‘sendiri’ dan nantinya akan regroup lagi setelah melewati journey yang selaras. Tapi ternyata enggak. Sekali lagi, film JUST PLAY IT FOR LAUGHS. Soal Gru dan Dru, mereka terpisah sejak lahir. Orangtua mereka bercerai dan masing-masing membawa satu anak. Ada adegan ketika ibu Gru menjelaskan hal ini dan menyinggung kalo mereka sebenarnya salah membawa anak yang mereka sukai, jadi baik Gru dan Dru mendapat orangtua yang membesarkan mereka dalam kekecewaan. Ada kedalaman di sini. Seharusnya cerita bisa punya bobot emosi yang gut-wrenching. Tetapi film tidak pernah mengejar emosi.

Mending dijadiin sinetron “Anak Jahat yang Tertukar”

 

Terpaksa menunjukkan kegagalan, ketidakmampuan, adalah hal terberat yang harus dialami oleh orangtua terhadap anak-anaknya.

 

Dulu banget di twitter aku pernah bilang seandainya Santino Marella yang nyuarain Gru pasti bakal lebih lucu. Tapi aksen Steve Carrel sebagai Gru has really grow on me. Di film ini, dia ngetackle dua peran, dan keduanya terasa hidup. Dan kocak. Ditambah lagi, Gru adalah karakter yang hebat. Progresnya menarik. Di film pertama dan kedua kita udah melihatnya, makanya tadi di atas aku menuliskan, ke mana lagi karakter Gru ini bisa berkembang? Untuk inilah aku datang ke bioskop siang tadi. Dalam film-film sebelumnya, Gru punya sesuatu yang harus dia ‘urus’ yang enggak ia sangka-sangka sebelumnya dan dibahas dari segi emosi. Dalam film ini, ya, dia memang kaget ternyata dia punya saudara kembar, namun sekali lagi, emosi tidak pernah dikejar, film hanya memainkannya untuk humor. Karakter Gru di sini tidak punya arc. Tujuan karakter ini sudah tercapai. Journeynya benar-benar sudah mentok, he didn’t have anywhere to go in this movie di luar adegan-adegan lucu dengan saudara kembarnya.

Sementara itu, penjahat utama film ini, Balthazar Bratt yang disulih suara oleh Trey Parker punya aspek yang menurutku bisa sangat kocak dan menarik. Mestinya di sini bisa menarik mendengar Parker keluar dari zona nyamannya, yakni humor yang dipasarkan untuk anak yang lebih kecil. Dia enggak bisa move on dari peran Hollywoodnya. Dia mengoleksi mainan dirinya, dia sangat terobsesi dengan acara TV dan perannya tersebut. Kita bahkan dikasih liat potongan acara yang ia bintangi. Build up yang bagus dan sangat lucu, namun cerita terus saja mengulang-ngulang humor yang sama dari karakter ini sehingga terasa mereka enggak tahu harus membawa tokoh ini ke mana lagi. Adegan berantem dengan ‘jurus’ breakdance itu juga semakin berkurang kepentingannya sebab kita sudah pernah melihat hal yang sama dalam film Zoolander (2001). Dihandle dengan lebih baik, pula.

 

 

 

Perfectly enjoyable, pas untuk ditonton bareng keluarga. It’s a light-hearted. Gambarnya spektakuler. Menyenangkan, seringkali lucu. Akan tetapi, demi menjawab pertanyaan di awal ulasan ini, film ini toh terasa enggak penting-penting amat. Hanya bermain untuk humor tanpa mengeksplorasi kedalaman yang timbul dari jalan ceritanya. Butuh lebih banyak pukulan emosi untuk membuat seri ketiga ini menjadi tontonan yang berarti. Lebih seperti kartun adalah cara terbaik untuk menggambarkan ini. Anak-anak akan suka, orangtua akan punya beberapa hal untuk ditertawakan.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for DESPICABLE ME 3.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

 

SURAT KECIL UNTUK TUHAN Review

“I thought that you would be the hero come in save the day, but you’re the villain.”

 

 

Anak terlantar dipelihara oleh negara. Begitu kata buku UUD 1945 yang kuhapalin pas pelajaran PPKN. Surat Kecil untuk Tuhan menuliskan anak-anak jalanan sepeti Angel dan abangnya, Anton, dipelihara oleh Om Rudy. Sosok yang Angel sangka pahlawan, yang memberi mereka atap dan makanan. But he was unforgiven. Om Rudy bukanlah jawaban dari surat yang ditulis Angel untuk Tuhan. Oleh Om Rudy,, mereka disuruh mengamen di jalanan yang tak berbelas kasih. Dan dihukum keras jika uang setoran kurang. Bahkan saat Angel tertabrak mobil sehingga musti dilarikan ke rumah sakit, Om Rudy enggak mau repot-repot membayar biaya pengobatan. Mengakibatkan Angel harus terpisah dari abang yang berjanji untuk terus menjaga dirinya.

Sounds depressing enough? Atau malah terdengar familiar?

Clearly, film ini berhasil menerapkan pelajaran berharga soal bercerita dari salah satu nominasi Oscar, Lion (2017). Surat Kecil untuk Tuhan membagi porsi narasinya menjadi dua, ketika Angel kecil di jalanan dan paruh terakhirnya adalah tentang Angel yang sudah dewasa dan bekerja ngurusin kasus-kasus kekerasan terhadap anak, baik di rumah tangga maupun di luar sana di perempatan. Aku suka gimana film ini berusaha sekuat tenaga untuk tidak menggunakan alur bolak-balik, meski memang ada sisipan adegan kenangan yang tidak mampu ia hindari. Ini adalah resiko yang mereka ambil, karena membuat film seolah baru dimulai di babak kedua; motivasi Angel baru jelas banget di poin ini.

Terkadang ketika berhenti di lampu merah, kita suka dilema sendiri. Melihat anak jalanan yang mestinya lagi kepergok nyontek dan disetrap di depan kelas itu, malah nyanyi-nyanyi dengan alat musik rombeng. Mau ngasih duit, ragu. Ntar duitnya pasti dipalak. Atogak dipakai buat yang enggak-enggak. Mau membantu kok pikir-pikir. Benarkah dengan tidak membantu, kita bisa membantu mereka. ‘Gimana dengan pihak yang ‘mempekerjakan’mereka, salahkah mereka membesarkan dan mendapat balas jasa?Manakah yang lebih ‘for the greater good?’

 

Film ini mampu memantik pertanyaan moral dengan eksplorasi perspektif anak jalanan yang terasa fresh. Apa yang dilakukan dengan baik oleh film ini adalah menanamkan bibit-bibit karakter semenjak paruh di mana mereka masih muda. Sehingga ketika kita melihat dan bertemu dengan mereka kembali setelah time jump, perkembangan karakter mereka – menjadi seperti apa mereka sekarang – terasa masuk akal. Kita akan melihat Angel dengan gigih berusaha mengungkap sindikat anak jalanan yang dipimpin oleh Om Rudy, kita mengerti darimana dorongan tersebut datang, apa yang membuat semua itu sangat personal dan begitu urgen dilakukan oleh Angel. Relationship antarkarakter juga terjalin dan tergambarkan dengan kuat. Semuanya diberikan pay-off yang ampuh menarik-narik heartstring kita. Karena film ini tahu persis dirinya adalah drama yang secara natural sangat emosional. Aku suka adegan ketika Angel Dewasa yang diperankan oleh Bunga Citra Lestari untuk pertama kalinya bertemu kembali dengan Om Rudy. They played it off so good. Mata BCL sukses banget mancarin rasa takut yang masih bersisa dari masalalu itu. She barely could say any words. Lukman Sardi sebagai Om Rudy juga terlihat takut di balik tokohnya yang tenangnya menguarkan aura menacing.

but to be honest, aku kaget ngeliat Dorman Borisman masih aktif main film, kirain udah vakum XD

 

 

Penampilan akting yang mengisi paruh kedua film mampu membuat kita melupakan rasa bosan, karena memang bagian ini lebih serius. Dan serius digabung dramatis biasanya adalah gabungan yang ampuh untuk bikin kita nyalain hape. Setelah gede actually adalah film di puncak paling menarik, sebagian besar lantaran film Indonesia memang kelihatannya masih kepayahan mencari aktor anak kecil yang mampu bermain dengan meyakinkan. Penampilan yang paling juara dalam film ini datang dari Joe Taslim yang memerankan pacar Angel yang berprofesi sebagi dokter jantung. Joe Taslim sangat kharismatik dan bersimpati di sini. Tokoh Martin pun mendapat backstory dan eksplorasi yang berbobot sehingga dia benar-benar punya purpose untuk ada di sana. Bukan hanya sebagai device, he actually adds much. In fact, malahan tokoh lead kitalah yang paling kurang konsisten di sini. Aku merasa aneh aja sama aksen Inggris dari Bunga Citra Lestari. Tokohnya gede di Australia, sudah cukup aneh dia enggak develop any accent. Ditambah pula at one time, dia menjawab telepon dengan ”who is it?” yang terdengar aneh alih-alih natural dan lebih cocok dengan kehidupan profesionalnya dengan jawaban “who is this?”

Tentu saja ada bagian ‘pertarungan’ di pengadilan. Film ini menghandlenya dengan memasukkan elemen di mana Angel harus mengumpulkan dan meyakinkan saksi-saksi yaitu orang-orang yang berasal dari masa lalu tragisnya. Sudut pandang dari saksi-saksi tersebut memberikan suntikan perspektif yang semakin menambah kadar dramatis. Yang mana, juga menimbulkan masalah kepada narasi sebab film ini mengarah kepada JALUR YANG HITAM-PUTIH. Yang jahat benar-benar jahat, yang baik benar-benar tertindas. Ruang thought-provoking semakin menyempit, kemakan oleh porsi dramatis yang terus dibesar-besarkan. Tadinya aku mengira film ini paling enggak jadi kayak versi dramatis dari anime The Boy and the Beast |(2015), taunya enggak. Malah dramatisnya lebih seperti Grave of the Fireflies (1988) digabung dengan Lion.

Kita tidak akan pernah kehilangan orang yang tulus menyayangi kita. Sebab, once there, mereka tidak akan pernah pergi dari sana.

 

Ini adalah film tentang pencarian kebenaran, namun TONE YANG DIOLAH DENGAN TERLALU OVER membuat film ini tidak bisa mencapai level Lion. Baik over di bagian editing tone visual, maupun pada tone cerita yang kerap amat sangat sappy, kalo gak mau dibilang cengeng. Dalam Lion, kita tidak melihat Saroo kecil ujan-ujanan. Dalam Surat Kecil untuk Tuhan, dalam 15 menit pertama, Angel dan Anton terus saja kehujanan, dengan lagu Ambilkan Bulan, Bu yang diaransemen ulang menjadi sangat sedih dimainkan nyaris non-stop. Film ini terus ngepush drama seputar tema kekerasan terhadap anaknya sampai-sampai aku tidak lagi mempertanyakan kenapa film ini tidak diberikan rating sensor yang lebih dewasa. Aku malah jadi keheranan kenapa film ini dijadikan tontonan lebaran keluarga in the first place.

Menjelang akhir akan ada pengungkapan yang disertai dengan adegan yang, sebenarnya, sangat kontroversial. As in, bisa bikin trauma anak kecil yang menontonnya. Walaupun enggak digambarkan eksplisit banget, namun tetep aja ekuivalen ama adegan kontroversial serial 13 Reasons Why (2017) yang tayang di Netflix. Because we talk about children here. Surat Kecil Untuk Tuhan menunjukkan anak kecil yang – sulit untuk tidak mengasumsikan dia – disuntik mati. Asumsi lain yang timbul dari sekuen itu adalah penonton disajikan adegan anak kecil yang dibedah hidup-hidup off-screen, dan di layar kita melihat reaksi orang dewasa yang muntah menyaksikan tindak kriminal tersebut. Aku langsung ngeliat ke arah keluarga beranak dua yang nonton di sebelahku; mamanya nutupin mata anak yang gede, sementara papanya menutup mulut sendiri sambil menggendong anak bungsu mereka dengan memposisikan si anak membelakangi layar.

endingnya meski ketebak, tapi tetep terasa ‘ajaib’’kayak episode Beyond Belief Fact or Fiction

 

Beberapa menit kemudian adegannya nampilin anak bawah umur merintih diperkosa. Dan kedua orangtua di sebelahku tadi saling berpandangan.

 

 

 

 

Punya emosi yang sangat kuat, film ini mengexamine moral kita terhadap anak jalanan lewat perspektif orang pertama yang benar-benar menawarkan sesuatu yang baru. Tema kekerasan anak bergulir kuat, da terus diamplify. Penampilan yang di bawah standar dengan cepat tergantikan oleh performa yang sangat meyakinkan yang menatap kita straight to our heart. Bisa saja menjadi thriller yang hebat, yang thought provoking, jika dirinya tidak memfokuskan diri membuat penonton banjir air mata sebagai tujuan utama. Film ini berani mengambil resiko dalam penulisan, namun not so much pada departemen arahan. Tonenya terlalu cengeng, enggak tegar seperti film Lion, film yang banyak dibanding-bandingkan terhadapnya. Karena tentu saja orang akan mudah sedih melihat anak-anak yang menangis di bawah hujan.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for SURAT KECIL UNTUK TUHAN.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

RAW Review

“The unexpressed will come forth later in uglier ways.”

 

 

Anjing kesayangan milik keluarga Justine terpaksa disuntik mati lantaran “berbahaya bila binatang sudah nyicipin daging manusia.” Enggak ada yang bisa menjamin anjing tersebut enggak bakal doyan ampe ketagihan sehingga mencoret kata peliharan dari statusnya dan embrace kodratnya sebagai binatang. Namun, kita mestinya tahu lebih baik daripada itu; bahwa manusia adalah –hanyalah- binatang yang punya nurani dan kesadaran. Yang membuat kita, bukan hanya paling cerdas, melainkan juga predator yang paling mengerikan di puncak rantai makanan. Rasa lapar dan nafsu yang tak-kunjung terpuaskan manusia dieksplor dengan sangat mendalam dan buas oleh film ini sewaktu kita melihat tokoh utama yang vegetarian menjadi sangat penasaran dengan yang namanya ‘daging’.

Raw bukanlah film yang bisa enjoy untuk ditonton sambil ngemil, apalagi buat penonton yang perutnya gampang jungkir balik kayak Rey Mysterio di dalam mesin cuci. Definitely sebaiknya film ini jangan ditonton siang-siang pas puasa, untuk banyak alasan. Ini adalah body horror yang dibuat dengan begitu menarik sehingga kita ngerasa pengen muntah namun di saat bersamaan enggak ingin melepaskan perhatian darinya. Film ini akan menyiksa kita secara fisik, baru kemudian menghidangkan nutrisi pikiran, di mana kita akan mulai tertegun dan mikirin maksud di balik ceritanya.

Sukar untuk taat kepada your own code jika berada di tengah-tengah komunitas yang menuntut. Terlahir di keluarga dengan diet vegetarian yang ketat, Justine (dalam debut layar lebarnya, Garance Marillier berikan penampilan yang menggemparkan) menolak mentah-mentah ketika dia diwajibkan untuk memakan potongan kecil ginjal kelinci sebagai bagian dari ospeknya di kampus Peternakan. But to her surprise, kakaknya yang jadi senior di sana, juga turut memaksa menelan jeroan tersebut. Awalnya, reaksi Justine adalah muntah-muntah. Kemudian seluruh badannya gatal-gatal. Tapi bukan kelinci yang ia santap, the problem comes from herself. Justine ngedevelop sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Suatu malam, dia kepergok oleh teman sekamarnya sedang ngacak-ngacak isi kulkas. Justine ngemil daging ayam mentah sebagai snack tengah malam, dan dari pancaran matanya kita paham; dia belum puas.

Aku bukan sepenuhnya vegetarian, namun semenjak tiga tahun lalu – the times when I’m struggling ngurangin berat badan yang udah nyampe 72 kilo – aku jadi sedapat mungkin menjauhi daging. Kecuali ikan. Aku hanya makan ayam kalo kepepet alias gak nemu sayur dan lai-lain. Hal demikian aku lakukan karena aku tau daging itu enak, dan aku gak mau Arya yang kerjaannya makan melulu kembali mengambil alih hari-hariku. Jadi kurang lebih, aku bisa relate kepada apa yang terjadi kepada Justine yang selama ini makan non-protein, mulai mengecap daging untuk pertama kalinya.

Film ini juga bukan semata bicara soal nafsu, ini adalah tentang menemukan diri sendiri, mendapatkan apa yang sebenarnya kita mau, dan sejauh mana kita bertindak untuk mendapatkan itu.

 

Horor dari Perancis ini adalah PERAYAAN DARI KEKUATAN WANITA. Kita melihat Justine bertransformasi dari gadis innocent, yang fokus kepada nilai dan prestasi kuliah menjadi cewek yang liar dan tampaknya dikendalikan oleh nafsu – digambarkan dengan visual yang berdarah-darah. Dan perubahan tersebut dipicu oleh penemuannya terhadap apa yang sebenarnya dia mau. Justine berani mengejar apa yang dia inginkan, enggak peduli jalan yang ditapakinya bukanlah yellow brick road. It was a bloody red path. Walaupun, kita bisa melihat jelas, Justine enggak tahu pasti apa yang ia lakukan. Karakter tokoh ini justru kuat oleh hal tersebut. Raw akan senang hati membaurkan kebangkitan seksual ke dalam ceritanya, only to make it more disturbing. Daging yang diinginkan Justine adalah daging apapun utuh seutuh-utuhnya, dan film ini akan memproyeksikan tersebut tanpa judgment dan tanpa malu-malu.

biar kayak iklan jaman dulu: “ku tau yang ku mau!”

 

Kamera arahan Julia Ducournau, sutradara cewek yang juga baru memulai debut film panjang ini, akan menangkap visual yang striking dan pemandangan yang bakal bikin ngamuk orang-orang yang OCD. Eits, bukan OCD yang diet itu, tapi OCD yang control disorder. Semua yang di layar enggak pernah tampak simetris. Dari opening aja, kita akan menatap environment yang dengan sengaja dibikin disturbingly timpang, mengisyaratkan keabnormalan yang akan datang di menit-menit selanjutnya. Ducournau memanfaatkan momen-momen ini untuk dengan perlahan ngereveal setiap tangga evolusi karakter Justine sehingga kita terpana oleh kecantikan sekaligus ‘kebrutalan’ imajeri yang teraasa nyata. Dan, ngerinya, juga somehow relatable.

Ada banyak adegan yang belum pernah kita lihat dieksplorasi dengan berani dan sementah ini sebelumnya. Aku bukan bicara semata mewakili sekuen-sekuen ketika Justine ngemil jari, ataupun semacam itu, while they are also hypnoticly beautiful. Momen-momen kecil seperti Justine menangis di tempat tidur dan kita mengawasinya dari lipatan selimut, atau Justine menari to a slutty song di depan cermin, atau ketika Ducournou menge-mute audio ketika para freshmen merangkak, benar-benar menguatkan sense of discovery dari point of view kita, juga sekaligus membuat nuansa disturbing dan creepy itu merasuk ke dalam diri kita yang siap sedia kantong plastik menontonnya.

Ketika orang memilih untuk melakukan hal-hal yang membutuhkan pembenaran, terutama ketika hal tersebut sangat sulit untuk dibenarkan, maka mereka akan mulai melakukan penyangkalan. Bahkan enggak-jujur terhadap diri sendiri. Raw mengexamine dinamika antara keputusan seorang memilih menjadi vegetarian dengan kesadaran untuk memenuhi panggilan siapa diri kita sebenarnya. You can’t repressed who you truly are. Lingkungan Justine selalu telling her what to do, makanya melihat perjalanan tokoh ini mengejar apa yang dia mau terasa melegakan, tidak peduli seberapa brutalnya. Horor datang dari ketika kita sadar apa yang harus dilakukan untuk menjadi diri sendiri.

 

Saat pemutaran di Gothenburg Film Festival, banyak penonton yang walk out, dan lebih banyak lagi yang muntah-muntah, bahkan pingsan. Jangan biarkan gaung reputasi tersebut menahanmu dari mencicipi seperti apa rasanya film ini. Ya, film ini banyak adegan gory dan disturbing. Tapi ada seni di balik betapa grossnya perilaku manusia-manusia. Adegan kulit yang mengelupas saja sebenarnya adalah sebuah simbol bahwa Justine mulai berubah, dia harus mencabik kulitnya untuk menemukan siapa dirinya yang sebenarnya. Untuk wanita, menjadi dewasa adalah perubahan yang menyakitkan, fisik dan mental, dan film ini menceritakan hal tersebut dengan brutally honest. But again, film ini enggak seseram penjelasan yang kalian baca di ulasan-ulasan tentangnya. In fact, ada banyak elemen cerita yang dibalut dengan tone-tone yang enggak selamanya bikin kita bergidik. Film juga adalah drama keluarga, as much as it is a hauntingly self-discovery journey towards maturity. Dialog dan interaksi tokoh-tokohnya kerap ‘memaksa’ kita tertawa oleh betapa benarnya semua kejadian awkward yang kita temukan ketika kita mulai mengurusi diri sendiri.

Bukan, ini bukan Raw yang ada Roman Reigns dan John Cena nya.

 

Aku suka sekali gimana film ini ngehandle hubungan antara Justine dengan kakaknya. It was played as kakaknya berusaha membantu Justine melewati masa-masa sulit sebagai maba, memastikan Justine melakukan semua tugas ospek supaya adeknya itu enggak dikucilkan oleh Himpunan (yang pernah kuliah dan ngerti diospek pasti ngerti ‘beban’ maba yang satu ini) dan she was rather annoyed sama sikap adiknya. Interaksi mereka menghantarkan kita ke banyak momen-momen lucu. Kemudian some revealing yang subtil terjadi, dan mereka sort of jadi rival. Namun menariknya, kita tahu ada banyak kesamaan di antara mereka, dinamika hubungan sisterhood dua orang ini terus digeber sebagai emosional core yang actually menambah banyak kepada cerita.

 

 

Wajar jika setelah merasakan sesuatu yang baru, kita ketagihan dan ingin lagi, lagi, dan lagi. Nonton film pun begitu. Setelah menyaksikan cerita yang original, begitu berani, haunting, dan membuat kita berpikir, seperti film ini, enggak salah dong kalo kita minta film-film yang lain dibuat dengan semenantang dan semenarik horor Perancis-Belgia yang judul aslinya Grave ini. Bukan sekedar coming-of-age story, film ini tampil dengan brutal, filled with layers dan metafora sehingga walaupun shocking dan disturbing, kita enggak bisa untuk enggak terus menatap. Performance dan arahannya juga sangat luar biasa. Kita akan ngeri sendiri akan betapa grounded dan real dan relatablenya film ini terasa.
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for RAW.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners .
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

THE MUMMY Review

“The hardest thing in the world is to accept that something is wrong with you, face the uphill road to recovery ahead, and realize that none of it makes you less than human”

 

 

Dalam The Mummy, kita akan diingatkan bahwa masa lalu enggak bisa dikubur selamanya. Yes, selamat deh buat yang berusaha move on, hidup pasukan “Always” Snape. Past will always find a way to bite us in the butt, dalam film ini masa lalu, ya, harafiah datang dalam sesosok mayat (or not, jeng jeng!!) kuno yang terkubur di dalam bumi, berbalut perban, dan beretina dua, per bola mata.

I love The Mummy (1999) with Brendan Fraser. Walaupun saat menontonnya aku belum tau mana film yang bagus, mana film yang jelek, namun paling enggak film itu menghibur. Ia seru, lucu, dan ketika beranjak ke elemen seram, whenever Imhotep berteriak menggelegar, aku sukses ngumpet di belakang sofa. Karena lagi puasa, aku gak boleh su’udzon bahwa franchise ini direboot demi lembaran tunai belaka. Faktanya, memang, The Mummy adalah bagian dari Dark Universe, dunia cinematic penuh oleh Gods and Monsters yang lagi digiatkan oleh Universal. Kalian tahu monster-monster klasik kayak Frankenstein atau Drakula? Nah, mereka semua dibuat ulang untuk kita pelototin sama-sama di bioskop.

Kali ini, tokoh utama kita adalah sejenis tentara yang suka ‘mengutil’ emas dan benda-benda berharga yang bisa ia temukan (dan cari) di medan perang, yang diperankan oleh Tom Cruise. Karena perangainya itu, Tom Cruise dan temennya yang berpangkat Kopral dikejar-kejar oleh pemberontak Irak, hingga mereka memanggil bantuan udara. Namun bukan hanya tentara ISIS saja yang kocar-kacir ditembak oleh helikopter, sejumlah besar massa tanah kota tempat mereka berada pun turut sirna. Menampakkan makam rahasia di baliknya. Seperti pada film pertama, mereka membuka makam tersebut, sehingga terlepaslah raga busuk jahat yang bersemayam di dalamnya. Tom Cruise dan teman-temannya, including cewek arkeolog yang kerjaannya diselametin melulu, musti berburu relik kuno. Sembari diuber-uber oleh badai pasir berwajah si mumi cewek.

“gue cium, kering lo!”

 

Meski memang ini bukan kali pertama ada mumi cewek, still Ahmanet sebagai main villain adalah sebuah tiupan angin segar. Sofia Boutella ngejual peran ini dengan amat baik. Dia adalah salah satu spot cerah dalam film ini. Dia nyeremin, dia sadis, pada satu titik dia berusaha terlihat baik menipu daya dalam menjustifikasi aksinya – tapi tetep aja I was like, “go away spider-mummy-woman!!”, dan dia kadang mirip Jupe. Film ini memainkan sudut baru dalam hubungan antara protagonis dengan antagonisnya, di mana ‘Sang Terpilih’ dalam cerita ini justru adalah cowok yang diuber untuk dikorbankan oleh wanita.

Film baru ini punya banyak sekuen aksi yang exciting dan menawarkan hal-hal fun. Desain produksinya juga kelas atas, filmnya terlihat keren. Spesial efek sekuen-sekuen tersebut are so good. Menurutku akan ada banyak penonton yang terhibur oleh aksi-aksi seru yang melibatkan tokoh-tokoh horor. Adegan pesawat jatuh adalah highlight terkeren sepanjang presentasi dan Tom Cruise sekali lagi membuat rekan-rekannya menderita lantaran dia enggak tanggung-tanggung dalam menjalankan adegan, terutama bagian action. Tom Cruise sekali lagi menunjukkan dedikasinya. Dia melakukan berbagai adegan dengan maksimal like no one else. Di sini, dia bukan hanya karismatis, tapi juga kocak. Tokohnya diberikan banyak dialog lucu, yang sebagian besar bergantung kepada waktu penyampaiannya. Dan his comedic timing is actually really excellent. Nick ia perankan sehingga menjadi gampang untuk disukai sebab tokoh ini juga bukan seperti peran-peran hero yang Tom Cruise biasa mainkan. Nick is a kind of dick. Dia lebih seperti penjarah daripada tentara yang mengayomi, serius deh, pada dasarnya dia bukan hero. Dia lebih kayak terjebak situasi, dia ada di sana, jadi sekarang dia harus deal with it. Tapi justru di situlah letak daya tariknya. Aku ngakak ngeliat Nick kabur gitu aja naik mobil, ninggalin ceweknya di tengah hutan, dia benar-benar gak berhenti, si cewek yang musti ngejar. Dan ketika dia bilang “kupikir parasutnya ada dua..” kita tahu itu jujur dari hatinya – ngorbanin diri enggak terlintas dalam pikirannya saat itu.

Kejahatan diibaratkan sebagai penyakit yang diam-diam bersarang di dalam diri manusia. Makanya, kejahatan juga bisa disembuhkan. Hal paling sukar di dunia adalah mengakui ada yang salah pada diri kita. Dan tentu saja, dibutuhkan keberanian yang luar biasa gede untuk mencari pertolongan saat kita menyadari kita punya ‘penyakit’ di dalam diri. Dan menerima kenyataan akan dua hal tersebut tidak mengurangi nilai kita sebagai manusia.

 

 

“Kita harus segera keluar dari sini, Nick!”
“Nick, gue digigit laba-laba!”
“Nick, let’s go, Nick!”
“Niii~~~iiickkk!!”

Sebagai sidekick, ada Jake Johnson. Di sini perannya sebagai sobat yang terus ngikutin ke mana tokoh utama kita pergi dengan komentar-komentar komikal. Pada awalnya, aku juga terbahak. You know, aku ngikutin serial New Girl, dan di sana Jake berperan sebagai tokoh yang bernama Nick. So begitu di film ini, dia kayak sengaja nyebut nama tokoh Tom Cruise setiap kali merengek, and it’s really funny hearing how he says it. Tapi tentu saja, karakter sidekick yang terlalu komikal seperti ini dengan cepat menjadi annoying. Kemunculan si Chris Vial actually dikurangi setelah babak satu, dan tetap saja setiap kali kesempatan langka di mana ia menampakkan diri, adegan dan komedinya enggak benar-benar bekerja dengan baik.

Ada dinamika yang dimainkan terkait dua tokoh wanita satu-satunya dalam film ini. Si mumi digambarkan sangat ‘aktif’, dia langsung mengincar cowok-cowok di titik terlemah kodrat mereka, sedangkan Jenny, si cewek arkeolog yang diperankan oleh Annabelle Wallis, diportray sebagai cewek baik-baik yang lebih kalem, yang jadi love interest tokoh utama. Ketika aku nulis tokoh ini ‘kalem’, ketahuilah itu sebenarnya aku berusaha ngebaik-baikin, karena tokoh Jenny ini, faktanya, adalah salah satu tokoh paling annoying dan paling enggak berguna dalam sejarah perfilman dalam kurun waktu dekat ini. Beneran, setelah kita melihat Wonder Woman (2017) yang tentang cewek luar biasa mandiri dan kuat yang diarahkan oleh sutradara yang juga cewek, The Mummy punya nyali untuk membawa kita mundur ke jaman jahiliyah di mana tokoh cewek yang dimilikinya completely totally useless. Jenny enggak nambah banyak buat cerita. Dia butuh untuk diselamatkan pada setiap kesempatan. Dia jarang sekali ngelakuin sesuatu yang berguna, dia enggak mecahin teka-teki, dia cuma ‘pesawat-sederhana’ yang membantu tokoh utama bepergian ke tempat yang dibutuhkan, dan kalo lagi enggak pingsan, kata-kata yang keluar dari mulutnya hanya eksposisi belaka. JENNY ADALAH CONTON MODEREN DAMSEL IN DISTRESS PALING PAYAH.

“dunia belum berakhir, bila kau mumikan aku”

 

 

Secara garis beras, eh sori efek puasa hemm,… secara garis besar, narasi film ini tersusun oleh formula EKSPOSISI, AKSI, EKSPOSISI, AKSI, SETUP FOR DARK UNIVERSE, AKSI, EKSPOSISI, SETUP, DAN GITU SETERUSNYA. Sepuluh menit pertama actually adalah menit-menit panjang paparan melelahkan yang diceritakan langsung kepada kita oleh tokoh yang bukan tokoh utama. It just doesn’t make sense dalam hal gimana storytelling yang baik dan benar. Film ini memang terlihat sebagai usaha untuk memperkenalkan Universe yang sedang dibangun oleh Universal, sehingga mereka lupa untuk bercerita dengan asyik, seperti layaknya film yang berdiri sendiri. Tokoh di awal film, akan muncul lagi di pertengahan, dan meski sebenarnya aku gak ada masalah sama Russel Crowe – he’s really good seperti biasa dan tokoh yang ia perankan benar-benar menarik – namun tetap saja kehadirannya menambah sesak suasana. Malahan, melihat Russle Crowe dan Tom Cruise ngobrol berdua di film ini, rasanya amazing banget, kayak ngeliat dua main eventer WWE just kill it on the mic.

The Mummy tidak punya arahan emosional yang lurus. NARASINYA SUMPEK. Fokusnya pada set up untuk film berikutnya, juga tentu saja ada homage untuk seri terdahulu. Adegan-adegan aksi yang exciting diselingi oleh eksposisi yang memberatkan – mereka bahkan ngerasa perlu untuk benar-benar mengungkapkan seberapa jauh jarak dari Mesir ke Persia. Dan semua itu adalah karena film ini ditulis dengan keroyokan. Cek deh ke imdb, writernya ada enam kepala. Ceritanya dikembangkan oleh banyak pendapat dan memang kelihatan; jadi gak heran kenapa screenplay film ini jadi terasa tidak teroganisir dengan baik. Film ini lebih ke action, despite naturally punya elemen horor, dan malah resort ke jumpscare-jumpscare.

Kalo ada yang bisa dipelajari oleh orang Mesir, maka itu adalah gimana mereka memperlakukan si Jahat dengan respek. Mereka membuatkan makam yang indah dengan arsitektur yang sangat cermat. Walaupun segala sistem dari makam tersebut ditujukan supaya yang di dalam enggak keluar lagi, tapi itu menunjukkan bahwa yang terburuk dari kita pun tidak bisa dipandang sebelah mata.

 

 

 

Dimulai dengan cukup enggak-enak, dan berakhir dengan bikin hati makin masygul. I mean, kalo mau ditutup dengan ‘iklan buat the next installment’ seperti itu, at least lakukan setelah closing credit bergulir. Film ini hanya berupa paparan-aksi-setup. Namun, desain produksinya membuat kita enggak bisa semena-mena mengutuk film ini jelek. Beberapa adegan aksinya genuinely menarik dan seru. Penampilan Tom Cruise berada di atas yang lain, di mana jadinya kita enggak mendapatkan chemistry yang asik dari hubungan para karakter. Film ini padat tanpa ada arahan emosi yang jelas. It’s loud, berantakan, sampe-sampe saat menonton kita akan kepikiran “kayaknya mejamin mata enak, nih!” Tapi film ini masih bisa ditonton dengan ‘okelah’ kok, terutama kalo kalian sebodo amat sama storytelling, lagi gak punya tontonan lain, atau lagi nyari kesibukan dalam rangka nungguin bedug maghrib.
The Palace of Wisdom gives 5 gold stars out of 10 for THE MUMMY.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

A CURE FOR WELLNESS Review

“Mens sana in corpore sano”

 

 

Kesehatan adalah anugerah yang tak ternilai harganya, jadi kita mati-matian ngelakuin apapun demi menjaganya. Beruntung, teknologi dan ilmu pengetahuan semakin maju. Bermacam teknik pengobatan ampuh ditemukan, mulai dari lasik yang bisa nyembuhin mata minus sampai ke klinik Tong Fang yang denger-denger sanggup benerin buta warna. Orang-orang pun jadi rajin fitness dan ngegym, mencoba variasi diet, mengunduh aplikasi yang memonitor kesehatan, banyak deh cara-cara hits yang bisa dilakukan untuk menjaga kebugaran tubuh. Namun, penyakit juga sama berkembangnya. Seperti ular hydra yang ditebas satu kepala, tumbuh dua lainnya, penyakit juga bermutasi seiring teknologi. Kita mendengar banyak virus baru dan kelainan aneh-aneh yang memacu para ilmuwan untuk segera menemukan obatnya. Tentu saja ini menimbulkan pertanyaan, malah bisa dibilang kecurigaan;

jangan-jangan teknologi dengan sengaja dimanfaatkan untuk menyiptakan penyakit?

Film A Cure for Wellness menyinggung hal ini sebagai tema ceritanya. Salah satu tokoh film praktisnya berkata “kalo orang pada sehat, nanti dokter dapat duit dari mana?”

orang sakit disayang dokter

 

Klinik-klinik alternatif, aplikasi-aplikasi kesehatan yang bisa diunduh di gadget, obat-obat baru, bisa jadi sebagian besarnya memang hanya ‘jualan obat’ semata. Usaha komersil untuk menjawab kebutuhan manusia akan kesehatan. Banyak yang berlomba-lomba mencoba pengobatan termutakhir. Bukannya hendak sinis sama dokter sih, tapi tentu saja dokter pun akan berusaha membantu pasien yang masih merasa insecure atas kesehatannya. They’ll look for new things, dan hey itu dia, ketemu deh penyakit baru. Tapi bagaimana jika tidak ada yang tahu problem itu ada? Apakah tetap akan menjadi problem? Kita ke dokter tanpa mengetahui pasti sakit apa, dan setelah diperiksa kita divonis mengidap sesuatu yang tidak kita tahu ada pada kita sebelumnya. I mean, kita tentram justru setelah tahu punya penyakit, alihalih tentram oleh merasa sehat.

Kita enggak tahu kita sakit sampai ada yang memberitahu bahwa kita sakit. Tapi apakah kita benar-benar sakit?

 

A Cure for Wellness dibesut oleh Gore Verbinski sebagai sebuah psikologikal thriller yang diniatkan sebagai METAFORE KECEMASAN GLOBAL TERHADAP KESEHATAN. Tentang bagaimana masyarakat lebih senang untuk menjadi overmedicated, lebih memilih untuk mendengar kata para ‘ahli’ ketimbang bertanya sendiri mengenai apa yang salah dari cara hidup dan budaya modern ini. Dalam film ini diceritakan protagonis kita, Lockhart (tampang Dane DeHaan klop banget sama karakternya yang sinis tapi enggak-yakin), kudu menjemput atasannya yang sedang menjalani pengobatan di rumah spa terkenal di pegunungan Swiss sana. Wellness Center yang ia kunjungi adalah tempat berobat yang laris, metode terapi berbasis airnya mujarab, pasien yang menetap di sana mendapat perawatan yang nyaman sehingga banyak yang enggak mau pulang. Termasuk atasan si Lockhart. Dari yang tadinya maksa (jika gagal, Lockhart bakal dipecat), Lockhart mulai menyadari ada sesuatu yang enggak beres dari tempat pengobatan tersebut, yang actually malah lebih mirip cult. Sembari menunggu kakinya sendiri sembuh dari kecelakaan, Lockhart berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

To be honest, aku setuju sama pesan film ini soal ‘jangan perbaiki yang tidak rusak’. Waktu masih kuliah dulu, temen-temen sekelas enggak ada yang mau nyolokin flashdis ke komputerku lantaran aku enggak install antivirus. Karena, tahu sendiri dong cara kerja virus dan antivirus itu gimana; kalo kita enggak senantiasa mengupdate the so-called pelindung itu, maka virus-virus baru tidak akan terdeteksi oleh antivirus kita. Namun bagi komputerku yang tidak pasang antivirus, virus-virus – yang terdeteksi oleh komputer teman-teman yang lain – tidak pernah mengganggu kinerja, sampai antivirus itu aku install out of insecurity. Dan karena diledekin ternak virus hhihi. Begitu antivirus dipasanglah, aku mulai sibuk ngescan, ngupdate, dan hal-hal yang sejatinya cuma rangkaian aksi-reaksi. Buatku memang sesimpel; Jika kita tidak pasang aksi, maka tidak akan ada reaksi. Jika kita tidak repot-repot check up setiap batuk sedikit, jika kita malah fokus ke olahraga teratur dan menjaga diri, maka kesehatan kita akan terjaga sama baiknya dengan minum obat.

Bukankah memang sebenarnya ‘sakit’ itu datang dari pikiran sendiri?

 

Meskipun film ini punya banyak kesamaan dengan film-film lain seperti Shutter Island (2010), kita juga udah sering liat film dengan tokoh dokter gila yang bisa jadi tokoh utamanyalah yang gila, namun A Cure for Wellness tetap terasa stand out karena ini adalah film yang sangat aneh. It looked very different. Gore Verbinski mencurahkan kemampuannya menampilkan imaji-imaji yang cantik, surreal, sekaligus nyeremin (kayak sekuens video di The Ring) sehingga durasi yang nyaris dua setengah jam bisa teralihkan oleh pesona visualnya. Setiap gambarnya terbingkai dengan sempurna. Editingnya juga sangat rapi. Ada banyak shot yang menampilkan pemandangan berupa refleksi; air kolam yang sejernih kaca, kereta api dan bayangannya di jendela yang simetris banget, dan seiring pertumbuhan keraguan karakter Lockhart, image reflection yang hadir akan semakin blur. Simbolisme yang bekerja di luar dan dalam, karena film ini juga meminta kita untuk bercermin. Film ini membutuhkan kita untuk berpikir. Definitely apa yang dipersembahkan oleh Verbinski dan timnya kali ini punya sesuatu untuk kita bahas dan kita pikirkan. Dan itulah yang membuat film ini spesial.

Aku takjub sekali setelah selesai menontonnya untuk beberapa alasan. Luar biasa aneh, dan sangat berani. Apa yang terjadi dalam film ini sudah barang tentu akan membuat banyak penonton, malah bahkan kritikus film, bergidik enggak setuju. Ada elemen keluarga yang sangat nyeleneh. Penceritaan film pun terasa sangat ‘bikin kita ikutan gila’. Tapi kupikir justru karena itulah kita kudu mengapresiasi film ini; enggak benar-benar original, namun karena sangat aneh dia terasa kayak film yang belum pernah kita lihat. There’s a lot going on di bawah permukaan cerita yang terungkap sejalan dengan Lockhart terseok-seok melintasi koridor demi koridor Pusat Kesehatan yang creepy tersebut. Di babak kedua nuansa thriller semakin kental sembari kita menyaksikan Lockhart menungkap misteri. It is really intriguing, dia ketemu banyak tokoh dari berbagai tempat di Wellness Center dan di kota, dia mendengarkan cerita mereka, yang masing-masing adalah versi yang berbeda dari satu cerita yang sama. Sayangnya juga jadi banyak eksposisi yang dilemparkan kepada kita karenanya.

Film ini juga punya sounding yang menakjubkan. I mean, suara seretan tongkat kruk yang menggema di lorong kosong akan menjadi suara yang sering kita dengar dan niscaya lama kelamaan that sound becomes really unnerving.

cekit, cekiitt, cekit, cekiiiitt

 

Beberapa hal memang memberatkan buat film ini. Durasinya, terutama. Dan jika seperti yang kutulis di atas, kalau kalian bisa ngeoverlook panjangnya durasi dan eksplorasi yang meletihkan dan lumayan repetitif, masih ada elemen-elemen yang just straight up gilak dan over-the-top dan penjelasannya kadang bikin kita mikir panjang banget. Ada soal umur dan waktu yang terlalu tak masuk akal buat film yang menyinggung soal sains. Ada soal kejadian aneh yang tak pernah diberikan batas jelas mana yang khayal, mana yang kenyataan. Dan, ada belut. Ya, makhluk yang jadi personifikasi ketakutan tokoh utama kita sering didapati muncul dan actually punya penjelasan tapi masih menyisakan pertanyaan sepele semacam, “kenapa bisa sampai ada belut di dalam sana?” Kejadian Lockhart tertabrak pun susah dikeluarkan dari kotak kebetulan. Verbinski memang tak berniat untuk menjelaskan semuanya sampai ke dasar akuifer cerita.

 

 

 

Tak sering kita menyaksikan film seaneh ini. Cantik, tapi sangat lain dari yang lain. Enggak sepenuhnya orisinil, namun berkat arahan dan editing yang menakjubkan maka ia jadinya luar dari biasa. Film ini layaknya obat untuk menyembuhkan segala sesuatu yang normal di luar sana. Obat pahit yang susah untuk semua orang telan, tepatnya. Dan jika kalian bertanya apakah obat tersebut mujarab menyembuhkan? Well, kita harus mencoba menelannya sendiri-sendiri karena setiap obat punya pengaruh yang berbeda kepada setiap orang.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for A CURE FOR WELLNESS.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

CRITICAL ELEVEN Review

“No parents should have to bury their child.”

 

 

Debbie Reynolds pernah bilang, “my greatest fear is to outlive my daughter.” Beliau tutup usia keesokan hari setelah putrinya, Carrie Fisher, meninggal dunia. Rest in peace buat kedua aktris legendaris tersebut, mereka sudah bersama lagi di alam sana. Toh, ketakutan terburuk sebagai orangtua sempat terealisasi, dan itu memang menyedihkan. Persoalan kehilangan anak karena kematian – entah itu penyakit, kecelakaan, atau dibunuh, atau tragedi lainnya — bagi orangtua penyelesaiannya tidak pernah segampang “tinggal bikin lagi”. Kematian seorang anak dapat mengarah kepada konsekuensi serius terhadap rumah tangga, yang tak jarang berujung kepada perceraian.

Film Critical Eleven mengangkat masalah tersebut sebagai salah satu dari permasalahan yang dihadapi oleh pasangan muda yang baru berumah tangga. Menjaga dan memenuhi kebutuhannya bahkan dari sebelum anak lahir ke dunia. Dan ketika semua yang telah dilakukan gagal, bagaimana mereka menyingkapinya, gimana keutuhan rumah tangga mereka, ini adalah perjuangan cinta yang sangat dewasa, dengan konflik emosional yang serius. Sebab, masalah yang dihadapi Ale dan Anya ini bisa saja terjadi kepada siapapun di luar sana.

Ketika seorang anak meninggal dunia, orangtua akan berasumsi bahwa itu adalah tanggungjawab mereka. Bahwa seharusnya mereka bisa mengusahakan sesuatu untuk mencegah hal tersebut dapat terjadi. Pada titik ini, orangtua bisa terjerumus ke dalam depresi yang dalam; mereka akan marah, menjauh, bahkan cenderung jadi saling menyalahkan. Kematian anak menimbulkan rasa ketidakmampuan dalam diri orangtua, karena mereka berpikir sebagi orangtua mereka mestinya bisa ‘memperbaiki’ semua hal dalam hidup anaknya. Dan ini membuat orangtua merasa tak berguna. Merasa bersalah.

 

 

Kita ngikutin kisah rumah tangga Anya dan Ale sedari mereka pertama jumpa di laut cinta, kau secantik mutiara…. eh jadi lagu Jinny oh Jinny, sori sorii. Anya (timing dan burst emotional Adinia Wirasti keren banget) yang udah nganggep bandara sebagai rumah keduanya malah nemuin ‘rumah tersayangnya’ saat dia dipinjemi saputangan oleh Ale, penumpang pesawat yang duduk di sebelahnya. Menggambarkan pertemuan mereka sebagai critival eleven dalam hidupnya, Anya jatuh cinta kepada Ale (range yang dimainkan oleh tokoh Reza Rahadian ini lebih lebar dari mulut menganga cewek yang nonton di sebelahku). Mereka menikah. Anya ikut Ale tinggal di New York, kehidupan cinta mereka bersemi sangat indah. Satu-satunya saat Anya kesepian adalah begitu Ale pergi kerja ke offshore rig. Being independent most of her life, Anya mendapat ‘tantangan’ ketika dia mulai mengandung anak yang sangat didamba oleh Ale. Cerita yang tadinya membuai penonton wanita dengan manisnya romansa, mulai ketemu kelokan ke arah yang lebih mengkhawatirkan as kedua pasangan ini punya pandangan dan prioritas yang slightly berbeda – dan tentu saja ego masing-masing got in the way. Dan Kematian turut campur tangan, ultimately, stake couldn’t get any higher.

kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya… Anda merana menatap pesan yang cuma dibaca

 

 

Film ini GORGEOUS. Penampilan aktingnya menawan. Reza dan Adinia punya pesona yang luar biasa tampil bersama. Penampilan visual film pun memukau. Entah itu ruang kantor ataupun pemandangan jalanan New York, semuanya terlihat cantik. Film ini memanfaatkan pemandangan tersebut sebagai perwakilan dari perasaan yang ingin disampaikan oleh cerita. Kita tidak melihat hujan di malam hari hingga mendekati akhir di mana hubungan kedua tokoh lagi genting-gentingnya. Ada dua shot yang aku suka banget, yakni adegan, yang demi enggak terlalu banyak beberin, let’s just say adegan Anya di kolam dan adegan Anya dan bayinya. Up until that point tho, semuanya terlihat menyenangkan. Walaupun jika kita tilik dari keintegralan dengan actual adegan yang sedang berlangsung, beberapa latar cantik itu tampak random. I mean, ini adalah fim yang berpusat pada hubungan dua tokoh, naturally ada banyak adegan percakapan. Entah itu tentang mereka saling mengutarakan keinginan, memilih nama bayi, atau sedang ada sedikit argumen. Kalo yang mereka pas ribut, sih kita pasti ‘melek’ ngikutin. Tapi untuk percakapan yang lumayan sepele – terlebih dialog-dialog dalam film ini kerap terdengar cheesy sekali – kita butuh untuk ‘terdistraksi’ oleh pemandangan kota just so kita tetap berada di sana.

Critical Eleven adalah istilah dalam dunia penerbangan; menit-menit krusial di mana biasanya kita dilarang mecolek-colek pilot dan copilot lantaran bisa mengganggu konstentrasi mereka demi take-off dan pendaratan yang aman. Tiga menit dan delapan menit itu sangat menentukan keselamatan seluruh penumpang. Dalam relationship, seperti yang dianalogikan literally oleh Anya, kita bisa melihat cinta itu datang di tiga menit pertama, namun proses ‘terbang’ dalam hubungan tidak selalu bisa ditentukan dari sana. Dibutuhkan delapan menit of understanding and everything, yang mana enggak benar-benar delapan menit. Dalam cinta, dalam rumah tangga, hanya ada proses dan setiap menitnya begitusama kritisnya.

 

 

Kalo dalam terbang istilahnya critical eleven, maka dalam film, angka penting adalah 10. Sepuluh menit pertama ketika kita menonton film adalah menit-menit paling krusial, dalam rentang waktu itu kita akan sudah bisa memutuskan film ini layak ditonton, kita suka atau enggak, bagus atau meh. Itulah makanya, dalam penulisan naskah, para scripwriter kudu bisa mejengin motivasi karakter, tone cerita, dan kait emosi di dalam sepuluh halaman pertama. Aku tidak melihat motivasi pada sepuluh menit pertama film ini. Atau paling enggak, tidak melihatnya pada tokoh utama kita. Aku sama sekali tidak dapat gambaran ini cerita tentang apa, apa konflik yang membayanginya. It’s about strangers who met in an airplane, and that’s it. Tidak menarik buatku, tidak menantang apa-apa. Tone dan gaya berceritanya pun tidak terasa spesial atau berbeda. Jadi aku menonton film ini kayak lagi nyebrangi jembatan yang enggak punya tali untuk pegangan di pinggirnya. Butuh waktu yang rasanya amat panjang untuk kita tahu konfliknya apa, film ini meminta belas kasihan kita untuk tetap duduk sampai saat konflik itu tiba tanpa memberikan apa-apa untuk kita pegang.

Dan aku benar-benar meraba soal memahami karakter film ini. I really just grasping at straw towards Anya, aku enggak merasa kenal dan mengerti sama tokoh ini sebanyak yang seharusnya, karena dia adalah tokoh utama. I get it dia biasa sendiri, apa yang rela ia lakukan, like, dia gak tahan ketika dia yang biasa sendiri kemudian mengattachkan diri kepada orang atau katakanlah rumah, dan lantas dia harus berpisah dari itu semua. Ini kayak ketika kita udah berlari kencang, terus berhenti, dan dipaksa untuk mulai berlari lagi. Melelahkan memang. Namun her concerns, alasan di balik pilihan-pilihan yang dibuat olehnya, gak benar-benar masuk akal buatku. Aku lebih ‘deket’ sama tokoh Ale, yang terasa lebih dominan dan lebih terang perihal mengatakan apa yang ia mau. Kita bisa memahami alasan Ale bersikap rather protective; dia punya begitu banyak cinta dan ingin membuktikan diri dia bisa menyayangi anak lebih baik daripada yang orangtuanya lakukan terhadap dirinya. Saking carenya, dia segan berhubungan ketika Anya tengah hamil. Kita juga ngerti konflik yang tercipta dari diri Ale, sebagaimana kerjaan mengharuskannya absen beberapa waktu dari keluarga tercinta.

Tau gak; Apa yang bego dan melompat-lompat, tapi bukan kodok?

 

Film ini bercerita dengan runut; mereka ketemu, mereka menikah, mereka menghadapi masalah yang timbul. Akan tetapi, prosesnya seringkali dilompat. Contohnya gini, setelah bertemu di pesawat, adegan selanjutnya adalah kita melihat mereka sudah akan menikah banget. My point is, kenapa dibikin runut (mengorbankan sepuluh menit pertama yang jadi datar) kalo prosesnya dilewat hanya buat supaya mereka punya bahan untuk flashback nantinya. Adat paling jelek film ini adalah dia lebih suka untuk BERCERITA LEWAT KATA-KATA, TANPA MEMPERLIHATKAN BUKTINYA KEPADA KITA. Ale bilang dia merasa orangtuanya enggak sayang kepada dirinya. Kita enggak lihat itu. Orangtua Ale malah terlihat perhatian. Ale bilang ke Anya saat mereka dalam perjalanan pindah ke New York, “ aku tahu pindah enggak gampang buat kamu”, but hey, mereka terbang gitu aja; kita enggak liat susahnya seperti gimana buat Anya, wong baru menit enambelasan mereka udah stay di New York. Ini jugalah yang menyebabkan karakter Anya di babak satu dan babak dua terasa berubah, dengan kita enggak yakin terhadap alasannya; semuanya hanya kita dengar lewat omongan, kita enggak melihat inner journeynya. Malahan kayaknya film ini mikir lebih keras demi timing buat nunjukin penempatan produk ketimbang memperlihatkan cerita. Akibatnya, ya filmnya berjalan dengan enggak meyakinkan.

Bagian terbaik film ini adalah paruh kedua, ketika konflik mulai tampak. Mesti begitu semuanya digampangkan. Resolusi yang dihadirkan juga standar trope drama banget. Pokoknya asal bisa bikin penonton cewek mewek aja deh! Kalian bisa bilang La La Land (2016) juga pake tropes ala ftv, tapi di sana karakternya membuat pilihan yang kuat. Karakter film Critical Eleven ini, bahkan ketika mereka pindah balik ke Indonesia, semuanya berlangsung gitu aja buat kemudahan mereka. Anya berargumen soal nanti di Indonesia dia bakal susah kembali nyari pekerjaan, tapi toh ketika udah di sana, semua jawaban teresolve otomatis. Seolah di dunia ini tidak ada yang berubah selain Anya yang kini hamil.

My biggest issue with this movie adalah kualitas penulisan dialognya. Aku enggak punya masalah soal campur aduk bahasa Inggris, karena cocok dengan lingkungan film ini. Lagipula secara psikologis, ada orang yang lebih mudah mengungkapkan perasaannya lewat bahasa asing, dan Anya tampak seperti orang yang masuk dalam kategori ini. Dan hey I’m doing it right now! aku juga menggunakan bahasa nyampur di review untuk alasan yang sama. Yang aku permasalahkan dari dialog film, selain terlalu banyak berkata-tanpa-nunjukin bukti ada hubungannya dengan film ini bertema sangat dewasa. Tokoh-tokohnya adalah orang pinter dan mature sekali. Dan actually ada adegan dewasa yang diincorporate nicely ke dalam narasi, ada kepentingannya di dalam cerita. But oh boy, kenapa ketika mereka ngobrol aku kayak lagi dengerin anak sekolah lagi pacaran? Cheesy abis. Beberapa ditulis straight forward. Enggak benar-benar banyak maksud yang terkandung di balik percakapan, dan ini membuat film semakin watered down buatku.

 

 

 

 

Film adaptasi novel yang mengangkat tema yang lebih dewasa mengenai cinta dan rumah tangga ini hidup oleh penampilan tokoh-tokohnya. Tahu persis bagaimana memancing emosi, terutama dengan memanfaatkan visual latar dan konstruksi shot yang matang. Tapi ceritanya butuh waktu lama untuk kick in, di mana untuk rentang yang panjang kita hanya meraba-raba apa yang terjadi sih sama karakternya. Fokus begitu lebih terhadap emosi, sehingga kita sering diombang-ambing tanpa pernah merasa benar-benar tertarik. Jika di paruh pertama kita menunggu, maka di paruh akhir kita berdoa agar cepat selesai. Ini adalah perjalanan terbang ke udara penuh cinta yang melelahkan, dengan tokoh yang enggak punya footing yang jelas. Kualitas dialognya juga lemah sekali; it’s either mengatakan sesuatu tanpa nunjukin, cheesy dan romantis yang over-the-top, atau just straightforward ke resolusi. Stake yang tinggi enggak diimbangin dengan resolusi yang meyakinkan. Jika genre dan cara bercerita begini adalah your cup of tea, you’re not gonne be bothered by some points yang aku utarakan. Namun buatku, film ini hanya biasa saja sejak sepuluh menit krusial yang pertama.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for CRITICAL ELEVEN.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

PERSONAL SHOPPER Review

“The medium is the message.”

 

 

Fotografi abstrak pertama di dunia adalah jepretan dari seorang spiritualis. Begitu juga dengan lukisan abstrak; Hilma af Klint, pelukis Swedia yang mempercayai keberadaan dunia lain di luar dunia fana kita, menyelesaikan lukisan pertamanya (barisan bangun ruang yang terlihat tak beraturan) bertahun-tahun sebelum konsep seni abstrak dikenal oleh publik. Keabstrakan dipercaya berasal dari kesadaran yang lebih tinggi, yang dipengaruhi oleh spiritualisme dan theosofi. Bentuk-bentuk sembarang tersebut, actually adalah semacam bentuk dari komunikasi. Ada tatanan dalam keserampangan. Sebelum dahi kalian mulai mengernyit dan berkata cempreng ala ala Chris Tucker dalam Rush Hour, “This is bullshit!”, aku mau menekankan bahwa film Personal Shopper berlandaskan kepada pemikiran atau KONTEKS KEABSTRAKAN DENGAN KONTEN SPIRITUALIS. Menonton film ini akan sama seperti melototin lukisan abstrak; gak jelas. Ini adalah film arthouse yang teramat aneh, jadi kubilang, tontonlah segera film ini begitu nemu!

Narasinya sangat enggak-biasa. Sejujurnya, meski sudah banyak menonton film misteri dan horor, aku belum pernah melihat film yang seperti ini. Jika kalian mengharapkan film setan-setan dengan jumpscares ataupun tontonan horor thriller semacam American Horror Story dengan Americannya diganti dengan French, maka kalian akan kecewa. Saking misterinya, malah kita akan kesulitan untuk meletakkan ada di genre mana film ini. Hororkah, thriller, atau malah drama? Jawabannya; Semuanya. Keanehan film ini merupakan akibat dari BANYAKNYA PERGANTIAN TONE yang bakal kita temukan sepanjang durasi. Film ini ngepingpong kita dari satu tone ke tone lain dengan cara yang sangat sangat haunting. Mainnya cantik, memang, namun bakal bikin sangat enggak-enak. Merinding.

Film ini adalah gabungan dari banyak elemen cerita yang bedanya lumayan jauh juga satu sama lain. Ini adalah cerita hantu. Serta adalah sebuah potret duka. Sekaligus tentang seseorang yang frustasi terhadap pekerjaannya. Juga merupakan kisah misteri tentang penguntit yang ngintilin lewat teknologi. Di pusat semesta itu semua, ada Kristen Stewart sebagai seorang cewek bernama Maureen. Dia bekerja sebagai asisten belanja buat model terkenal. Maureen akan pulang-pergi Paris dan London mengambil pesanan baju untuk kemudian diserahkan kepada sang model. Di tengah-tengah kesibukannya itu, Maureen yang baru saja ditinggal mati oleh saudara cowok kembarnya berusaha menggunakan bakat ‘bisa-ngeliat’ yang ia miliki untuk mencari dan reach out kepada saudaranya tersebut. Maureen berusaha membuat koneksi antara dunia sini dengan dunia sana.

kita akan jantungan mendengar bebunyian di rumah setelah melihat ending film ini

 

Maureen adalah PENAMPILAN TERBAIK DARI KRISTEN STEWART sepanjang karirnya sejauh ini. Sudah lewat masa-masa ketika dia nampilin muka datar. Sebelum ini, aku pernah melihat Stewart turut bermain jadi asisten pribadi pada Cloud of Sils Maria (2014) yang juga digarap oleh Olivier Assayas, dan aktris ini bermain bagus banget di sana. Aku sudah ngereview film tersebut di Path beberapa waktu yang lalu, namun belum sempet menyadurnya jadi tulisan full ke blog. Highly recommended deh pokoknya, terutama buat yang suka soal idealisme melawan komersialisme.

Balik lagi ke Kristen Stewart dalam Personal Shopper; penampilan aktingnya meningkat. Di film ini dia bermain dengan fenomenal. Tokohnya sangat real, totalitas banget. At one point in the movie, Maureen yang ia perankan akan ngerasa malu kepada dirinya sendiri karena dia sangat ingin mencoba pakaian-pakaian pesenan klien yang tidak mampu ia beli. Di poin lain, Maureen nerima pesan Line yang sangat creepy dari seseorang misterius yang menurutnya mungkin saja itu adalah pesan dari abangnya yang sudah mati. Reaksi-reaksi emosi dari Maureen terlihat sangat nyata. Kita bisa merasakan dia terdetach dari dunia profesinya, dia terbebani oleh masalah-masalah yang she’s trying to deal with. Maureen akan berhubungan dengan banyak orang, dengan desainer, dengan manajer, dengan mantan abangnya, dengan calon pembeli rumah abangnya, dengan model kliennya, tapi kita tetap melihat dia sebagai dirinya sendiri. Pegangan kepada tokoh ini begitu kuat.

Ketika berduka mendalam, ketika proses berduka itu menghantui setiap langkah, kita tidak lagi mengerti apa itu hidup. Kita akan melakukan hal di luar nalar. Kita akan mengambil keputusan-keputusan yang tidak dipikirkan dengan matang. Kita tidak memikirkan apapun kecuali yang ganjil-ganjil. Gimana cara kerja otak saat berduka nestapa, semua tersebut ditangkap dengan sempurna lewat campur aduk dan abstraknya tone film ini.

 

Elemen-elemen dan tone campur aduk ini tidak pernah membuat film keluar dari jalur harmonis. Mereka menyatu membentuk satu tema spesifik, yakni bicara TENTANG APA YANG KITA ALAMI KETIKA KITA SEDANG BERDUKA. Menurutku gagasan itulah yang ingin dibicarakan oleh sutradara Olivier Assayas, dan dia benar-benar berhasil mengeksplorasi itu semua dengan sangat baik. Sukses berat membuatku kepikiran sama film ini, hingga lama setelah ceritanya berakhir. Bagian paling menawannya adalah kita tidak bisa memperkirakan cerita. Kita tidak tahu ke mana arah cerita ini, kita tidak tahu apa yang bakal terjadi selanjutnya, dan film ini dengan segenap hati mematahkan semua prediksi dan ekspektasi penonton yang berusaha menebak misterinya. Biasanya, film misteri akan memberikan kita kepingan puzzle, kalian tahu, kita akan diperlihatkan adegan yang berisi petunjuk yang bakal membuat kita menjentikkan jari bilang “Aha, aku ngerti sekarang! Begitu rupanyaaa!!” Tapi Assayas enggak memberikan kita momen buat kegirangan kayak itu. Nyaris setiap ada kesempatan, dia lebih memilih untuk menyembunyikan kepingan puzzle tersebut. Dia melemparkan kepada kita sebuah sekuen sambil bilang “tuh, cari tahu sendiri deh pake otak!” dan kita memang harus melakukannya supaya mengerti dan konek dengan para karakter.

Personal Shopper tidak menyia-nyiakan satu adegan pun. Tiada satu aspek yang tidak punya maksud dan arti. Aku literally bengong dua jam mikirin apa makna dari gaun berkilau yang diam-diam dikenakan oleh Maureen. Tone cerita memang diniatkan untuk berbeda, keabstrakan adalah nuansa yang berusaha dibangun, saking samarnya bahkan kita enggak pernah betul-betul tahu Maureen bekerja untuk seorang model atau siapa. Film tidak pernah menyebutkan terang-terangan. Akan tetapi, setiap layer cerita pada akhirnya tetap koheren satu sama lain.

Pekerjaannya sebagai asisten belanja pribadi dan keistimewaan Maureen dapat melakukan kontak dengan makhluk astral, dua hal ini menunjukkan kehidupan profesional dan personal Maureen sebenarnya berjalan beriring; Maureen adalah seorang medium, dia adalah perantara. Dan ini bentrok sekali dengan kehidupan sosialnya. Orang-orang yang ditemui Maureen, yang melakukan interaksi sosial dengannya, tidak berurusan langsung dengannya. Kepada pemilik butik atau desainer, dia bicara karena urusan kerja. Kepada teman-teman saudara kembarnya, well technically mereka bukan temannya secara langsung. Maureen tidak punya kehidupan sosial sendiri, dan saat itulah dia menyadari bahwa dia hanyalah ‘hantu’ dari eksistensi saudara kembarnya, dia adalah ‘bayangan’ dari kliennya. Adegan ketika Maureen mencoba semua pakaian yang ia beli untuk kliennya adalah cerminan dari dia ingin menjadi orang lain, dia ingin dirinya menyeruak menjadi ‘ada’. Percakapan lewat pesan teks juga bekerja baik menunjukkan gimana anonimnya internet membuat kita tak ubahnya seperti berkomunikasi dengan hantu.

Sebagai perantara maka sekaligus kita menjadi pesan. Dalam konteks komunikasi, konsekuensi sosial dari segala bentuk media yang kita gunakan, sejatinya adalah konsekuensi pribadi sebab media adalah perpanjangan atau perluasan dari diri kita sendiri.

 

 

Nasib film ini sebelas dua belas ama Swiss Army Man (2016), Personal Shopper mendapat sambutan “booo!” yang dingin dari kritik dan penonton di Festival Film Cannes. Aku kadang heran juga dibuat oleh para kritik yang selalu bilang bosen dan ingin sesuatu yang baru, namun begitu ada film yang benar-benar orisinil seperti ini mereka malah ngebantai filmnya. Pada awalnya memang film ini akan terasa rada bego. Pada bagian panjang soal Maureen yang ‘diteror’ pesan misterius, cewek ini mau-mau aja ngikutin apa yang dimau oleh lawan chattingnya. Maureen melakukan apa yang ia suruh, dan tak jarang Maureen mengetikkan jawaban dengan sedikit nada antusias. Aku sempat geram, paling enggak harusnya dia ngediemin, atau malah langsung lapor polisi. Tetapi aku sadar kita harus melihat kepada konteks gedenya; bahwa Maureen adalah orang yang sedang dealing sama proses berkabung yang begitu intens, juga ada satu hal lagi yang membebani pikirannya yang masih terkait dengan kematian saudara kembarnya. Jadi perspektif kita harus disejajarkan sehingga kita bisa mengerti dengan kondisi serapuh diri Maureen sekarang, tokoh ini tidak akan membuat keputusan yang tokcer dan cemerlang.

We don’t respond to anonymous texts at the Palace of Wisdom.

 

 

Dari adegan pertama sampai detik terakhir tidak ada momen yang sudah pernah kita lihat sebelumnya, membuktikan bahwa film ini bener-bener orisinil. Ia tidak ubahnya seperti lukisan abstrak yang penuh dengan bentuk-bentuk cerita yang dicampur aduk. Tapi ada keharmonisan narasi di balik keenggak jelasannya. Semua elemen cerita mengarah kepada satu tema spesifik, semua lapisan konten actually koheren satu sama lain, membuat satu bigger picture cerita tentang orang yang berjuang keras menangani proses berduka dan identitas dirinya sendiri. Sangat refreshing menonton film yang menangani misterinya dengan cara yang tidak biasa, yang membuat para penontonnya bekerja keras mengungkap apa di balik gambar demi gambar yang disusun seolah secara ngawur. Unsettling and haunting, kita tidak akan mendapat horor soal penampakan hantu yang sepele seperti Danur (2017) pada film ini. Keliatan dari judulnya, this is one very unconventional movie, dan kita semua harus menyaksikannya hanya untuk alasan tersebut.
The Palace of Wisdom gives 8 gold stars out of 10 for PERSONAL SHOPPER.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

GET OUT Review

“We are afraid of sharing power. That’s what it (racism) is all about.”

 

 

Aku enggak tahu tepatnya gimana perasaan menjadi satu-satunya orang berkulit hitam di tengah-tengah pesta. Namun Jordan Peele tahu persis rasa canggung dan sedikit paranoidnya berada di dalam kondisi seperti demikian. Jadi, komedian yang mengawali suksesnya dari serial sketsa komedi di Youtube (Key and Peele, coba deh tonton sekali-kali, kocak!) tersebut mengangkat sudut pandang seorang yang dealing with that situation. Dan oh boy, film Get Out ini berhasil menjadi debut penyutradaraan yang menjamin setiap penonton untuk menanti-nanti karya selanjutnya dari Jordan Peele. I know I did.

Pusat dari cerita Get Out adalah seorang fotografer kulit hitam bernama Chris (mainnya brilian banget, aksen Inggris Daniel Kaluuya bener-bener enggak kedengaran di sini) yang lagi mesra-mesranya pacaran. Hubungan mereka baru jalan empat bulan dan pacarnya, Rose (penampilan Allison Williams juga fantastis, dia memenangkan hati kita dari adegan pertama), meminta Chris untuk datang menemui kedua orangtuanya di kediaman private mereka. Oke, kita harus nekankan ke hubungan yang baru empat bulan, karena memang segitu singkatnya lah hingga Rose belum sempat ngasih tau ke mama papa kalo mereka ngejalanin hubungan antarras. Meskipun Rose bilang hal tersebut bukan masalah karena keluarga mereka bukan rasis, tetapi hal beda kulit ini lumayan alarming buat Chris. Ketika dia sampai ke rumah keluarga Rose, dia disambut hangat. Semua orang di sana perhatian kepadanya, mama Rose yang psikiater bahkan nawarin jasa hipnotis buat nyembuhin kecanduan rokok Chris. Semua kelihatan baik-baik saja sampai Chris menyadari ada sesuatu hal yang ganjil terjadi di belakang layar keluarga ini.

“Bye, Georgina!”

 

Aku cinta horor. Aku berangkat sebagai penonton film ya dari genre ini. Namun aku sadar, bahwa film horor yang bagus itu sangat jarang. Obviously jaman sekarang kita bakal lebih mudah nemuin orang yang masih memandang status dari warna kulit ketimbang nemuin film horor yang benar-benar bisa membuat kita bergidik oleh rasa merinding. Horor yang bagus datang dari psikologi manusia, karena takut itu bukan fakta, melainkan perasaan. Ketika kita nonton horor yang begini, kita akan merasa unsettling sekaligus jadi terinspirasi karena layaknya film-film genre lain yang bagus; horor semestinya juga mampu memberikan kita suatu topik kemanusiaan untuk jadi bahan diskusi. Dan aku harus bilang, Get Out adalah film yang punya SUDUT PANDANG YANG SANGAT BERANI. Sebelum ini, Peele nulis dan main bareng sobatnya Key (look for him jadi cameo sekilas di film Get Out) di komedi aksi berjudul Keanu (2016) tentang kucing; kocak namun bukan film yang hebat, tapi punya perspektif yang unik. Makanya aku jadi penasaran karena di Get Out kali ini yang dibuatnya adalah horor, dan yes, film ini definitely diceritakan dari perspektif yang tidak pernah kita lihat sebelumnya pada genre ini. Dan setelah menonton, aku sangat terkesan, I love this film.

Peele nunjukin bahwa dia paham gimana mengarahkan film horor, dia mengerti cara membuat setiap adegan menakutkan menjadi menarik. Bahkan menyenangkan. Ini adalah pandangan PSIKOLOGIS SEKALIGUS SANGAT SATIRICAL terhadap pandangan sosial soal masalah racial. Sepanjang film akan banyak momen-momen yang membuat kita tertawa terpingkal-pingkal namun serius (eh kebayang enggak tertawa serius itu gimana? Ketawa yang kalo disenggol ngebacok! Hahaha), karena penulisan film ini mengerti bagaimana menempatkan elemen horor yang seram dan over-the-top sebagai lapisan luar buat elemen grounded yang lebih menakutkan. Film ini punya sesuatu yang ingin ia katakan perihal kecanggungan yang dirasakan seseorang ketika dia berada di tengah-tengah tempat yang tidak biasa baginya. Dalam The Visit (2015), M. Night Shyamalan juga melakukan hal yang serupa, dia mengambil hal sesederhana interaksi canggung antara anak kecil dengan orang lanjut usia dan mengubahnya menjadi pengalaman menakutkan. Cerita Get Out, however, lebih urgen sebab ia mengangkat tema yang berada di zona sensitif buat beberapa orang. Terlebih buat audiens Amerika yang memang menganggap serius masalah kulit hitam dan kulit putih.

Kita semua adalah manusia. Like, it doesn’t matter warna kulitnya apa. Film ini juga menegaskan bahwa masalah rasis sebenarnya adalah masalah psikologis. Kaitannya dengan penyakit mental. Dengan cara berpikir. Jika kita merasa punya kelebihan dibanding yang lain, jika kita merasa berbeda dari orang, maka itu udah termasuk rasis. Pengotak-kotakan itu bukan dari biologis, melainkan datang dari konstruksi sosial. Kita yang menganut bhinneka tunggal ika juga bisa tergolong rasis jika kita mengelaskan orang dari kelakukan golongannya.

 

 

Di balik subjek dan gagasan yang serius, Peele bisa menemukan celah untuk mengintegralkan humor yang sangat menyegarkan. Meskipun film ini penuh oleh stereotipe trope-trope horor, jumpscare tidak bisa dihindari, kita dikagetkan oleh musik keras yang mengiringi bayangan orang yang berjalan di background, kita histeris saat sesuatu muncul dengan mendadak disertai suara lantang, suara dan visi si sutradara tetap bisa dipertahankan. Keoriginalitasnya tetap enggak tercoreng berkat cerita utamanya. Dari adegan pembukanya saja, udah terasa gimana fantastis dan menyenangkannya film ini. Sepenglihatakanku, sekuen ‘pencidukan oleh mobil misterius’ di jalan perumahan itu dilakukan dengan one-take, yang merupakan teknik pengambilan gambar yang aku suka, dan that whole scenes amat creepy sekaligus juga kocak karena humor datang dari tubuh yang diseret bergerak seirama dengan musik. Menuju ke babak tiga akan ada nuansa horor yang sangat intens yang dibangun dengan sangat baik, it builds up into some really satisfying moments yang bikin penonton sestudio ngecheer.

Penulisan film memang dipikirkan dengan teramat baik. Semua simbolisme dan metafora pada akhirnya akan terbayar tuntas.Adegan menabrak rusa actually punya peran yang penting dalam pertumbuhan karakter Chris, dan dengan efektif diintegralkan dalam adegan final. Segala detil diperhatikan dan benar-benar digunakan untuk membangun lapisan cerita. Sebagai protagonis, Chris digambarkan dengan kompleks. At one time, kita mencurigai jangan-jangan dia yang pikirannya ngerasis. Chris sendiri adalah orang yang suka berprasangka, kita bisa melihat dia cemburuan dan kurang senang ngeliat pacarnya bercanda dengan sahabatnya di telepon. Really, penampilan akting dalam film ini diarahkan dengan kompeten sehingga menjadi poin kuat film. Comic relief disandarkan kepada pundak LilRel Howery yang berperan sebagai polisi bandara sahabat Chris, dan aktor ini mencuri setiap adegan yang ia mainkan. He’s so hilarious. Perannya pun ditulis lebih gede dari sekedar teman tukang ngocol.

Kita tidak terlahir rasis, kita terajar untuk jadi rasis. Terkadang kita malah enggak sadar kita punya bias ke arah rasis. Kita ngedevelop tendensi rasis berdasarkan sosialisasi dan lingkungan.Prasangka muncul dari hubungan kita dengan orang, seperti Chris yang mulai ragu dan takut ketika berada di tengah keluarga Rose yang ia noticed berbeda dari dirinya. Namun seperti apapun yang bisa kita pelajari, kita juga bisa unlearn it.Denganberbagi dengan orang lain. Tapinya lagi, sebagian besar oranglebih takut untuk berbagi, untuk jadi sama dengan orang lain.

 

kita bisa memotong tensi adegan dengan pisau dapur rumah Rose.

 

Masalah yang bisa kita temukan dari pengalaman menonton film ini adalah soal pacing dan keseimbangan tonenya. Pacingnya sedikit tidak konsisten. Terkadang kita akan dibawa melompat antara tone serius dengan tone kocak dengan agak terlalu cepat.  Banyak sekuens yang terlihat aneh dengan horor ataupun humor yang terasa dilampirkan begitu saja, tanpa ada kepentingan yang lebih dalem buat cerita. Tapi tentu saja, ini adalah jenis film yang akan lebih mudah kita apresiasi jika kita udah nonton untuk kedua kalinya, atau jika kita udah mengerti konteks dan paham apa yang sebenarnya terjadi di balik lapisan terluarnya. Seperti misalnya adegan di malam hari ketika ada tokoh yang berlari cepat menuju Chris seakan ingin menabrak atau menyerangnya. Di detik-detik mau nubruk, si pelari mendadak berbelok arah begitu saja. Ketika melihatnya pertama kali, aku merasa adegan ini purely buat serem-sereman atau malah lucu-lucuan belaka, kayak adegan horor gajelas. Tapi kemudian in retrospect, begitu aku sudah mengerti ‘misteri’nya, aku bisa melihat ada dua skenario yang dapet membuat adegan tersebut menjadi beralasan.

 

 

Horor yang dengan tepat menggambarkan keadaan canggung yang penuh oleh komentar-komentar dan sindiran sosial. Aku terutama sangat terkesan dengan kemampuan Jordan Peele menggarap horor sebagai humor satir yang dekat, dan dia juga membuktikan bahwa filmmaker masih bisa untuk punya suara sekaligus memuaskan tuntutan untuk memasukkan stereotipe dan trope yan sudah umum dari genre ini. Meskipun tone filmnya belumlah sempurna, namun ini adalah sajian bagus yang langka. Perspektifnya berani dan sangat unik dapat membuat kita jadi ‘rasis’ kepada film-film horor lain; just because we noticed betapa berbeda dan superiornya film ini.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for GET OUT.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

NIGHT BUS Review

“An eye for an eye only ends up making the whole world blind.”

 

 

Paman Gober si bebek paling tajir di dunia hobi naik bus karena katanya angkutan umum jauh-dekat ongkosnya sama. Sama-sama murah, maksudnya hihi. Paman Gober enggak tau aja kalo dengan naik bis, kita bakal kaya; oleh pengalaman. Karena di dalam bis yang melaju tersebut kita pasti akan berjejelan dengan penumpang lain. Ada emak-emak rempong, preman-preman bau rokok, bapak-bapak kantoran, dan kalo beruntung kita sesekali bisa ketemu ama makhluk manis dalam bis. Segala macem latar belakang. Rupa-rupa deh warnanya.

Kayak bus Babad yang siap berangkat sehari-semalam ke kota Sampar dalam film Night Bus. Aku sendiri suka naik kendaraan umum lantaran aku memang demen memperhatikan orang-orang. Makanya aku kecewa setelah nonton The Girl on the Train (2016), film tersebut gagal ngedeliver premis tokoh yang suka memperhatikan orang sehingga dia merasa perlu untuk campur tangan terhadap masalah orang yang ia perhatikan di transportasi umum. Film itu malah berkembang menjadi drama dari perspektif satu orang. Night Bus, however, adalah film yang berjubel oleh karakter.

Menonton film ini KITA SEAKAN IKUT MENJADI PENUMPANG BUS BABAD, observing satu persatu orang-orang asing tersebut. Tidak ada tokoh utama di sini, kita tidak tahu motivasi sebagian besar dari mereka apa. Kita cuma tau ada si supir hanya ingin sampai menghantarkan penumpang yang jadi tanggung jawabnya dengan selamat. Ada stokar yang rada tengil namun cukup baik hati membiarkan anak kecil tanpa-tiket duduk di kursi sendiri tanpa perlu dipangku. Ada orang buta yang selalu positif, ada orang kaya, ada pasangan cewek dengan cowoknya yang penakut, ada wartawan, ada cewek manis yang pendiem, sepuluh menit pertama dalam film ini menghantarkan tugas sebagai perkenalan singkat sekaligus mengeset mood. Bahwa instantly kita akan ngerasa khawatir sama mereka semua, karena Sampar tujuan mereka adalah daerah konflik. Dan di menit-menit awal, film did a good job dengan tersirat ngejual daerah tersebut sebagai zona yang berbahaya.

bukannya bau balsem, bus malam yang satu ini akan anyir oleh bau darah

 

 

Perjalanan tragis mereka ditranslasikan kepada kita sebagai dua jam PERJALANAN PENUH CEKAM DAN EMOSI. Tadinya aku kira ini bakal jadi semacam confined-space whodunit thriller, tapi ternyata tebakanku took a wrong turn as film ini menyentuh lebih jauh sisi traumatis manusia. Ini kayak thriller bergaya roadtrip, yang tentu saja ada elemen ruang tertutupnya. Kita akan belajar lebih banyak tentang siapa-siapa saja penumpang bus. Apa kaitan dan pandangan mereka terhadap konflik atau perang antargolongan. Bus Babad membawa orang-orang tak bersalah, mereka bagai pelanduk yang permisi numpang lewat di antara gajah-gajah yang lagi berantem, dan film ini benar-benar menggali gimana dampak pertikaian terhadap orang-orang seperti penumpang bus tersebut.

Serangan ditimpal dengan serangan. Kau garuk punggungku, aku akan gantian menggaruk punggungmu. Jika setiap mata dibalas dengan mata, maka dunia akan buta. Konflik dan pertikaian tidak akan menyelesaikan apa-apa. Apinya akan merembet membakar semua yang berada di tengah-tengahnya. Menarik gimana film ini menawarkan solusi dengan kiasan ‘kenapa mesti mandi kalo nanti kotor lagi?’ Dampak perang tidak akan hilang. Ada tokoh ibu penjaga warung yang enggak mau berbicara dengan orang karena nanti toh perang akan memakan semuanya. Mungkin saja, apa yang harus kita lakukan adalah dengan tidak memulai gesekan sama sekali.

 

Ada sedikit eksposisi setiap kali cerita butuh untuk menerangkan konflik pertikaian. It could have been handled dalam cara yang lebih compelling. But for the most part, film ini bercerita dengan subtle. Kita belajar karakternya dengan perlahan, kita harus menyimak semua. Kadang petunjuk tentang backstory mereka ada di percakapan yang terjadi menjelang pertangahan. Kita harus memilah semua informasi yang seliweran di antara pemandangan visual kondisi di dalam bus yang terlihat sangat contained ini. Visualnya agak sedikit goyah ketika beberapa green screen dan efek berusaha diintegralkan ke dalam efek-efek praktikal. Kadang film ini terlalu gelap, dan tak-jarang kamera terlalu banyak bergoyang sehingga sekuens aksi menegangkan yang terjadi di layar menjadi sulit untuk kita tangkap. Tingkat violence film ini lumayan tinggi, udah kayak nyaingin film PKI dengan segala dialog “jenderal, jenderal!” dan adegan penyiksaan. Aspek yang paling aku suka dari film ini adalah gimana dirinya hadir dengan sangat grounded. Penampilan akting di sini semuanya meyakinkan. Dialek dan intonasi bahasa melayu deli dan langkat terdengar dengan pas dan enggak dibuat-buat. Aku ngerasa seperti udah mudik mendengar dialog-dialog film ini, karena di kampung halamanku memang pake bahasa longor-longor seperti tokoh-tokohnya.

Di antara semua penampilan yang seragam bagus, Teuku Rifnu Wikana mencuri show dengan tokoh yang paling vokal. Kita melihatnya berusaha menjalin hubungan dengan penumpang lain, dan actually relationshipnya dengan supir adalah salah satu emotional core cerita. Para penumpang diberikan moral dan cela sehingga mereka menjadi menarik, kita peduli terhadap kondisi mereka. Kita penasaran pengen tau siapa mereka. Terutama kita terasa terinvolve ke dalam panik dan guncangan yang menimpa mereka semua. Meskipun ada juga sih yang terasa annoying. Kayak si wartawan, dari pertama udah kelihatan he’s a sneaky guy, dan sikap-sikap kebajikan yang kadang ia tampakkan enggak pernah terasa tulus. Hubungan antara kedua anak muda yang ingin ke Sampar cari kerja juga enggak terlalu menarik karena eksekusinya datar gitu aja. Arc favoritku adalah yang dipunya oleh karakternya Hana Prinantina; dia dokter koas – cewek ini bisa menolong korban, dan ultimately skrip memberinya bentrokan saat dia memilih untuk menolong serdadu atau enggak karena suatu peristiwa di masalalunya. It was so heartwrenching, mestinya tokoh ini diberikan lebih banyak pengembangan alih-alih sengaja disimpan, you know, tokohnya Hana enggak banyak diberikan dialog lantaran film ini ingin ‘merahasiakan’ dirinya sebagai emotional twist.

“Eh longor, udah nonton kau ada satu pilem baru judulnya ‘Naik Bus’?”

 

Bagian paling menarik memang adalah ketika momen-momen seperti tokoh Alex Abbad menunjukkan simpati kepada Nenek dan Laila, atau ketika penghujung balas dendam tokoh Hana, atau juga ketika salah satu pasukan separatis meminta untuk ditembak. Momen ketika pelaku perang kejatuhan beban moral, ketika ada dilema yang membayangi mereka. Formula cerita perang yang bagus selalu seperti ini. Menyentuh zona abu-abu kemanusiaan. Akan tetapi, setelah kejadian di babak ketiga, arah jalan film ini sepertinya hanya ke poin dramatis semata. Kelompok pemberontak yang muncul di babak ini benar-benar murni jahat. Dan dilema moral yang semestinya jadi soal, hanya diberikan kepada penumpang bus yang notabene korban perang. Supaya kita kasian sama mereka, supaya kita merasa mereka itu kita, jika kita ada di tengah-tengah medan pertempuran. Seharusnya film ini juga menggali dari sisi Kolonel Sahul, tapi enggak, karena sekali lagi mereka ngerasa perlu untuk masukin elemen twist.

Dalam sense fokus ke elemen menyayat hati ini, Night Bus terasa kayak salah satu animasi klasik dari Studio Ghibli, Grave of the Fireflies (1988). Film anti-perang yang sama-sama dibuat dengan bagus, tapi kepentingannya buat sedih-sedih semata. Semua cerita dibuild buat bikin kita merasa sedih, semuanya ditargetkan kepada kematian orang-orang tak berdosa. Tentu saja, kayak Grave of the Fireflies, tokoh gadis cilik di film Night Bus juga sudah dipatri untuk mati. Adalah hal yang bagus film ini mencoba melakukan sesuatu yang jarang dengan enggak netapin tokoh utama, kita dibuat enggak tahu siapa yang bakal selamat, namun pada akhirnya ini lebih seperti usaha untuk memancing dramatis semaksimal mungkin. Hanya sedikit dari emosi tokoh-tokoh film ini yang terasa otentik. Kematian memang menyedihkan, namun film ini tidak punya hal lebih jauh yang dibicarakan selain jadi korban sia-sia itu adalah sangat heartbreaking. Aku enggak bilang film enggak boleh pengen jadi sedih doang, tapi itu adalah jalan yang mudah, dan I’d like to see movie yang lebih challenging dan film ini sebenarnya bisa menjadi lebih menantang pikiran.

 

 

 

Sangat unik, kehadiran film ini sangat diperlukan mengingat scene perfilman tanah air yang kurang variasi. Punya original look, punya cerita yang grounded dengan tokoh-tokoh yang menarik dan manusiawi. Diperankan dengan sangat meyakinkan. Ini adalah salah satu dari film yang punya nilai lokal yang kuat. Menyentuh lewat ceritanya yang mencekam, hambatan di jalan buat film ini adalah arahannya yang menyasar kepada sisi dramatis yang begitu diextent sehingga terasa manipulatif. Bahkan musiknya kerap terdengar terlalu ‘lantang’. Tidak bicara lebih dari gimana perang tidak punya manfaat melainkan hanya menyebabkan orang-orang sipil menjadi korban. Dengan sengaja memilih penceritaan dari perspektif penumpang bus, moral dan segala kemanusiaan diberikan kepada tokoh-tokoh ‘korban’ just so kepergian mereka terasa menyedihkan. Enggak salah, hanya saja ini adalah cara yang paling gampang, dan cara inilah yang dipilih oleh film.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for NIGHT BUS.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

We? We be the judge.