Tags

, , , , , , , , , , , ,

“It’s the way you say it.”

 

 

A Silent Voice menampilkan tokoh tunarungu-wicara, namun tidak sulit bagi kita untuk dapat mendengar bahwa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh  anime ini adalah komunikasi merupakan hal yang harus kita pelajari, karena kita semua, kebanyakan, tidak bisa berkomunikasi dengan benar.

 

Aku jadi kepikiran buat mencanangkan November sebagai bulan apresiasi anime sebab sudah beberapa tahun belakangan ini, setiap sekitaran November, aku selalu mendapat suntikan harapan bahwa masih akan selalu ada pembuat-pembuat film anime di luar sana yang berani menembus batas dan mengeluarkan tayangan berkualitas semacam Your Name (2016) dan A Silent Voice ini.  I mean, yea, memang memprihatinkan melihat Studio Ghibli masih harus berjuang secara keuangan, namun ternyata ini bukan akhir dari anime. Aku senang, meskipun aku bukan penggemar anime garis keras. Aku hanya memberikan kredit kepada yang pantas. Dan anime adalah salah satu media yang paling sering dioverlook. Di sini, aku ingin membujuk kalian buat meluangkan waktu dan mencari anime-anime yang baik. A Silent Voice adalah satu yang kurekomendasikan. Aku melewatkan film ini saat tayang di bioskop, dan lumayan nyesel karena ternyata ini film yang bagus banget. Bahkan jika kalian bukan penggemar anime, aku yakin setiap yang menontonnya akan  bisa menemukan apa yang bisa diapresiasi dari film ini.

Pada lapisan yang paling luar, kita bisa melihat film ini sebagai kisah drama relationship antara seorang cowok dengan cewek yang tunarungu-wicara. Tapi cerita ini tidak digarap dengan klise. Ceritanya bicara lebih banyak daripada romansa semata. Film ini menghindari banyak melodrama dan elemen-elemen pemancing baper yang banyak anime bahkan film lain terjerumus ke dalamnya. Tentu, salah satu bagian paling manis film ini adalah bagian percakapan antara kedua tokoh dengan menggunakan bahasa isyarat. Akan ada banyak kesempatan ketika mereka bercakap-cakap, saling melempar bahasa isyarat – dalam diam, semua emosi itu kita baca lewat pandangan mata mereka. Semua itu dapat tersampaikan dengan amat baik lewat animasi yang benar-benar menawan. Ini adalah film yang cantik dan punya cerita yang sangat menyentuh.

‘Menyentuh’ sebenarnya cukup mengecilkan karena apa yang tepatnya dilakukan oleh film adalah; ia menggenggam hati kita, kemudian meremasnya erat-erat. Membuat kita merasa sesak. Nyaris sebagian besar film ini terisi oleh adegan-adegan yang tough untuk ditonton. Terutama jika kalian pernah menjadi korban bully, pernah dikucilkan oleh teman-teman di sekolah. DAMPAK PERUNDUNGAN MENJADI KONFLIK UTAMA yang menyelimuti narasi. Dan film ini tidak ragu untuk menjadi menyedihkan. Namun tidak pernah sekalipun tokohnya meminta kita untuk mengasihani mereka. Film ini melakukan hal dengan sangat berbeda.  Biasanya film-film akan menempatkan kita di sudut pandang tokoh yang paling gampang dikasihani, dalam kasus film ini; sudut pandang Nishimiya, si cewek tunarungu-wicara yang dibully. Kita sudah pasti akan menginginkan Nishimiya untuk hidup bahagia. Film ini paham membahas dari perspektif demikian hanya akan membuat cerita menjadi terlalu dramatis dan kurang menantang. Jadi, cerita menempatkan kita di belakang Shoya Ishida, cowok yang tadinya paling getol ngebully Nishimiya.

senjata makan tuan adalah ungkapan yang tepat

 

Saat masih duduk di kelas enam, kelas Ishida kedatangan murid pindahan. Seorang anak perempuan yang membawa buku catatan ke mana-mana karena ia begitu bersemangat untuk mengobrol dengan teman-teman baru. Nishimiya tidak dapat mendengar, ia tidak dapat berbicara dengan lancar, jadi dia menggunakan tulisan untuk berkomunikasi. Teman-temannya disodorkan buku sebagai cara untuk bicara kepadanya. Tak butuh waktu lama bagi teman-teman satu kelas untuk menganggap Nishimiya merepotkan. Apalagi ketika mereka disuruh belajar bahasa isyarat, wuih Ishida langsung menertawakan. Di saat teman-teman yang lain mulai menjauhi Nishimiya, Ishida menjadikan anak itu bahan candaan. Dia meledek cara Nishimiya berbicara. Dia membuang buku komunikasi Nishimiya ke kolam. Ishida bahkan nekat mencabut alat bantu pendengaran dari telinga Nishimiya dan melemparkannya ke mana-mana. Eventually, hal tersebut membuat Nishimiya pindah dari sekolah mereka. Ishida pun dikecam teman-teman yang lain sebagai tukang bully kelas kakap, sekarang gantian ia yang dijauhi. Dikucilkan. Dan dikerjai oleh anak-anak satu sekolah. Kemudian film akan membawa kita melompati beberapa tahun hingga Ishida SMA. Dan yang kita lihat tidak lagi anak laki-laki yang ceria, melainkan seorang cowok yang begitu sendirian, tak punya teman, traumatized oleh kelakukan masa kanak-kanaknya sendiri.

Normal bagi anak kecil untuk menggoda, mengganggu, teman yang mereka sukai. Karena begitulah cara mereka berkomunikasi. Kekanakan, kata orang. Namun, Ishida tidak mendapat kesempatan untuk tumbuh dan mengerti itu. Sudah terlambat untuk dia mengerti apa yang ia lakukan sudah kelewat batas, segala yang ia lakukan berbalik kepadanya. Dia tumbuh menjadi cowok dengan trauma mendalam oleh derita yang ia berikan kepada orang lain. Begitu traumanya sehingga dia tidak mengerti apa itu teman, apa yang membuat seseorang bisa dianggap sebagai teman.

 

Biasanya dalam anime romantis kita dapat dua tokoh yang saling menyintai dan mereka terpisahkan oleh sirkumtansi dari luar, entah itu jarak ataupun hal lain. Dalam A Silent Voice, Ishida dan Nishimiya benar saling menyintai, tapi masing-masing mereka merasa bersalah – sudah melakukan hal mengerikan di masa lalu – sehingga mereka tidak tahu harus bagaimana untuk meruntuhkan tembok itu, bagaimana harus menjadi teman. Kita melihat usaha Ishida untuk mencari keberadaan Nishimiya saat mereka remaja. Ishida sungguh-sungguh belajar bahasa isyarat, karena dia menyangka karena tidak bisa saling bicara itulah masalah mereka. Tapi redemption itu tak kunjung datang kepadanya.

bahkan setelah gede pun kita masih paling sok kasar sama orang yang disukai

 

Komunikasi itu bukan masalah suara. Komunikasi bisa berbentuk apa saja. Akan tetapi, Ishida remaja bahkan menolak untuk kontak mata dengan orang lain. Dia tidak lagi tahu bagaimana cara berkomunikasi dengan orang, dia takut salah, takut dipersalahkan. Film ini mengambil langkah kreatif yang sangat kuat dalam menggambarkan keengganan dan ketakutan Ishida terhadap suara-suara sosial. Wajah semua orang di sekitar Ishida akan ditempeli tanda silang gede. Ketika ada orang yang mengajaknya bicara, berusaha berhubungan dengan Ishida, barulah tanda silang ini terlepas jatuh ke lantai.

 

 

Lebih memfokuskan kepada struggle yang dihadapi oleh remaja seperti Ishida, juga Nishimiya, film ini adalah studi karakter yang sangat relevan, terutama lantaran banyak anak-anak di luar sana yang juga berurusan dengan masalah perundungan. Korban maupun pelaku, semua kena dampaknya. Film ini dengan berani membahas semua itu, dengan lingkupan sudut pandang yang berbeda. Namun dua jam lebih durasi itu bisa sangat memberatkan, apalagi film ini begitu menoreh hati kita, it’s hard to watch sometimes. Penting bagi film untuk memperlihatkan interaksi antara Ishida dengan tokoh selain Nishimiya, akan tetapi masih banyak kita jumpai adegan-adegan percakapan antara para tokoh sampingan ini yang enggak begitu mempengaruhi atau menyumbangkan bobot emosi kepada fokus cerita. Film mestinya bisa memangkas beberapa, membuat cerita lebih ketat. Di luar itu, ini adalah film penting, and I really like it. Serta menurutku, film ini masih memiliki lapisan lain yang bisa kita eksplorasi, karena ada beberapa bagian yang sangat tersirat seperti reinkarnasi ataupun kenapa kita tidak pernah diperlihatkan wajah kakak Ishida, yang belum sepenuhnya aku mengerti.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for A SILENT VOICE.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements