Tags

, , , , , , , , , , ,

“One Nation, Under Fear”

 

 

Superman is Dead.

Bukan, itu maksudnya bukan mau nyebut nama grup band. Superman sudah mati adalah apa yang ingin dieksplorasi oleh sutradara Zack Snyder dalam kisah superhero gabungan dari dunia DC Comics ini. Superman sudah laksana harapan bagi semua orang, dan ketika dia tiada apakah itu otomatis berarti tidak ada harapan lagi?  Lantas, apa yang mesti kita lakukan sekarang, hidup tanpa harapan? Dalam beberapa adegan pertama kita melihat dampaknya; dunia sendu, kriminal naik. Ketakutan actually merundung kota sampai-sampai pasukan monster yang memakan rasa takut datang bertamu tanpa malu-malu. Untungnya, Batman masih ada di sana. Wonder Woman juga. Para pahlawan itu masih ada, namun bahkan mereka butuh harapan. Batman eventually harus mengumpulkan manusia-manusia super sebanyak yang dia bisa cari, demi mengalahkan kekuatan jahat yang lebih besar datang bersama monster-monster pelahap rasa takut itu.

asal Gal Gadot yang ngajak, aku sih selalu iyes

 

Dunia tanpa Superman adalah tempat yang menyeramkan. Ketakutan merajalela, dan orang-orang dikontrol olehnya. Pihak-pihak tinggi besar, seperti Steppenwolf, akan memanfaatkan keadaan, menggunakan ketakutan masyarakat sebagai alat untuk mewujudkan keinginan pribadinya yang serakah. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah kita masih bisa mengenali pahlawan kita. Siapa yang bakal menjadi Superman buat kita?

 

Film Justice League akhirnya menegakkan perdamaian di antara dua kalangan fans superhero. I mean, tau dong kalo selama ini baik fans Marvel ataupun fans DC selalu ngotot-ngototan mengenai film mana yang terbaik. DC terkenal dengan film yang kelam, sedangkan Marvel punya tone cerita yang lebih ringan, dan Justice League kali ini berusaha berada di dalam irisan dua zona itu.  Film ini SURPRISINGLY LIGHT-HEARTED. Ada banyak humor yang tercipta dari interaksi para manusia-manusia super itu, dan mendengar mereka bicara dan bertingkah seperti demikian sungguh sebuah pemandangan yang keren. Antara tone yang kocak dengan elemen yang lebih serius film ini memang tidak bersatu dengan mulus, tetapi mereka tetap bekerja dengan menyenangkan.  Hal ini tercapai karena Justice League bisa dibilang adalah plethora dari ngumpulin ‘superhero’. Zack Snyder sempat mundur dari produksi karena tragedi keluarga dan Joss Whedon – yang menulis dua film The Avengers – mengambil alih dan melakukan banyak reshots. Justice League mengalami kesulitan produksi dan tetap saja produk akhirnya berdiri gagah sebagai tayangan pahlawan super yang ringan, asyik untuk ditonton, yang berhasil bikin kedua kubu fans menyadari bahwa mereka ada di sini karena hal yang mutual; sama-sama suka aksi superhero.

Salah satu yang patut kita syukuri adalah DCEU bermurah hati memberi kita Wonder Woman dua kali di tahun ini. Gal Gadot sekali lagi memainkan perannya dengan sangat menawan, selalu memukau melihat Wonder Woman beraksi. Dia salah satu bagian terbaik yang dipunya oleh film ini. Batmannya Ben Affleck kuat di karakter, namun aku merasa sedikit kasihan sama Batman dalam hal kekuatan. Sama seperti ketika melihat Piccolo di saga terakhir Dragon Ball, Batman seperti teroverpower. Ada dialog dengan Alfred ketika mereka mengenang betapa mudahnya dulu ketika masalah yang mereka hadapi hanyalah bom pinguin. Bruce Wayne adalah yang paling merasa ketakutan, tapi dia tidak menunjukkannya, dan itulah sebabnya kenapa Batman adalah pemimpin yang hebat buat grup ini.

bertarung antara hidup dan mati, dan yang kita komenin adalah keteknya yang enggak lecet

 

Kita akhirnya dikasih liat seperti apa kemampuan The Flash, Aquaman, dan Cyborg. Ketiga orang ini keren banget. Aku definitely akan menonton Aquaman, Jason Momoa memainkan tokoh ini kayak sosok paman yang cool banget, dan menurutku kita hanya dikasih liat separuh dari kekuatan aslinya. Ezra Miller sebagai The Flash, dan tokoh ini kocak banget. Too bad kita enggak melihat backstorynya lebih banyak karena aku punya satu pertanyaan yang ingin aku konfirmasi; The Flash suka nonton Rick and Morty juga? Hihi… Cerita latar karakter yang diperankan Ray Fisher, si Cyborg, sebenarnya adalah yang paling menarik, yang paling paralel dengan tema ketakutan yang dijadikan inti film. Cyborg ‘dibuat’ oleh ayahnya sendiri lantaran si ayah enggak mau kehilangan anaknya yang terkena ledakan. Tapi Cyborg justru takut, dia enggak bisa mengendalikan, kerobotannya akan menimbulkan masalah.

Dua jam yang diberikan Warner Bros buat film ini nyata-nyata enggak cukup. Ada banyak tokoh yang harus dikenalin, yang harus diestablish. Film ini berusaha memanfaatkan waktu sebaik mungkin, dengan referensi-referensi, tapi tetap saja masih terasa buru-buru. Film ini memang mengandalkan pengetahuan penonton terhadap latar para tokoh, dan ini dapat menjadi masalah buat penonton yang gak baca komik, karena akan ada banyak hal yang tak mereka mengerti. Also, keenam superhero kita  kurang terasa sebagai satu unit. Kita perlu melihat mereka berusaha mengesampingkan tujuan personal supaya kerja sama mereka ada bobotnya. Film tidak memberikan kita hal ini.

Taklukan ketakutan sendiri demi membebaskan diri dari batasan personal. Lakukan ini dan kita semua akan siap untuk menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.

 

Adegan-adegan aksinya sangat seru. Kita melihat setiap superstar dapat ‘tugas’ masing-masing. Film ini ngeset up Justice League untuk menghidupkan kembali Superman. And once they do, kita mendapat adegan yang paling aku suka seantero film. Malahan, Superman jadi tokoh yang keren banget di sini. Kalian harus lihat sendiri apa yang dilakukan oleh film terhadap Clark Kent sebagai superhero yang hidup lagi. My issue buat film ini adalah stake yang dihadirkan nyaris tidak terasa sama sekali. Kita tidak merasa dunia benar-benar berada dalam bahaya. Contohnya saja pas di pertempuran terakhir. Film memberi tahu ada lumayan banyak penduduk di sekitar tempat mereka bertempur. Akan tetapi, kita hanya dikasih liat keadaan satu keluarga saja. Sense of danger itu dengan cepat terminimalisir, lantaran tak terbuild up dengan sebagaimana mestinya.

Dengan tone yang sangat ringan saja, tema tentang ketakutan udah tergeser banget menjadi latar belakang. Ditambah lagi, musuh yang mereka hadapi tidak pernah benar-benar tampak menakutkan. Steppenwolf adalah monster yang kuat, film juga mengambil sedikit waktu untuk memperlihatkan backstorynya. Adegan pertempurannya dengan suku Amazon di pulau asal Wonder Woman merupakan salah satu aksi paling exciting yang dipunya film. Namun sebagai karakter, Steppenwolf sangat lemah. Dia tidak lebih dari monster CGI yang ingin menguasai dunia. Presencenya enggak kerasa. Kita enggak ngerasain urgen ataupun bahaya yang mengancam tim superhero. Mereka tidak pernah tampak benar-benar di ujung tanduk, bahkan sebelum Superman datang.

 

 

 

Film ini terasa less-Snyder, dan lebih ringan dari yang kita kira. Keren dan seru dan mengasyikkan melihat para superhero saling berinteraksi dengan komedi, enggak terkungkung bersikap serius. Film ini mudah untuk dinikmati. Tapi sometimes, menjadi terasa terlalu jinak. Kita tidak merasakan ketakutan, tidak ada sense of danger yang serius terasa. Dua jam memang tidak cukup untuk mengembangkan ceria dengan tokoh sebanyak ini. Pengembangannya terburu-buru, The Flash malah bergabung gitu aja karena dia gak punya teman. Cyborg mestinya dikasih kerjaan lebih banyak selain baca petunjuk dan menyatu dengan teknologi. Steppenwolf mestinya bisa dibuat lebih meyakinkan. Mestinya film bisa memberikan kedalaman yang lebih pada hubungan antartokoh, memberikan stake yang lebih mengena, memberikan ketakutan dan bahaya yang lebih kuat.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for JUSTICE LEAGUE.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements