Tags

, , , , , , , , , , , ,

“Carpe diem quam minimum credula postero”

 

 

 

 

Reaksi orangtua ketika kalian bilang pengen ngambil jurusan Arkeologi, “Pfffttt hadeh mau jadi apa~?”

Ketika hari Minggu dan kita guling-gulingan di kamar seharian, “Heh ini main melulu, mau jadi apa!??”

Dan ketika kita denger lagu Susan “Susan, susan, susan, kalo gede, mau jadi apa?”

Bahasa tulisan itu asik, satu kalimat aja bisa ditafsirkan dengan emosi yang berbeda. Kalolah film ini kita gambarkan berkaitan dengan kalimat titularnya, maka Mau Jadi Apa? terasa cocok dibaca dengan nada versi lagu Susan; film ini ringan, ceritanya enggak mencemo’oh, enggak memarahi, melainkan bakal menanyakan kepada kita tentang motivasi hidup dengan menghibur. Mahasiswa bakal suka, terutama anak-anak Maba yang masih baru melangkah malu-malu menyongsong masa depan yang belum kepikiran pasti. “Nanti kita mau jadi apa sih?” yang nanya sambil nyengir ngakuin mereka juga kuliah dengan modal semangat doang.

 

Tahun 1997, rambut Soleh Solihun masih gondrong. Dia belum lagi seorang stand up komedian. Dia masih baru mulai bermimpi tentang hidup. Dia masih muda, yaah tapi tetep gak unch-unch juga, sih. Meski dia dan teman-teman segenknya sudah kuliah beberapa semester di Fikom Unpad, Soleh masih merasa dia sama cluelessnya dengan dirinya waktu masih dihukum senior lantaran gak sengaja mimpi basah selagi acara  ospek. Dia juga masih jomblo.  Supaya hidupnya ngerjain sesuatu yang berguna, dia ngelakuin apa-apa ya demi bisa deket sama Ros, cewek Slanker yang ia taksir. Soleh jadi ngikut masuk redaksi majalah mahasiswa, Fakta Jatinangor, yang topiknya serius banget. Ide-ide tulisan musik Soleh ditolak. Jadi, Soleh dan teman-temannya bikin media tandingan. Akhirnya mereka menemukan sesuatu yang bisa membuat hari-hari kuliah mereka berguna; bikin majalah hiburan. Selanjutnya, film akan menceritakan permasalahan yang timbul dari berita-berita gosip yang ditulis Soleh, dan bagaimana dia bersama teman-temannya berjuang atas nama persahabatan dan karir yang saat itu masih belum kebayang.

dan lahirlah nenek moyang Lambe Turah

 

Secara personal, film ini relatable banget buatku. Aku dulu juga kuliah di Unpad, aku juga dulu sama begonya enggak tahu mau kerja apa. Aku juga bikin buletin ulasan-film sendiri, yang juga diperbanyak dengan foto kopi, kuberi nama Kertas Buram. Aku malah selalu ngeluh aku salah jurusan. Pemandangan yang disuguhkan film ini tampak tidak asing buatku, secara harafiah maupun secara simbolis. Ngeliat Jembatan Cincin itu aku jadi teringat dulu pernah tengah malam duduk di sana demi membuktikan desas-desus horor, dan akhirnya aku memang pulang pontang-panting. Tapi bukan karena hantu, melainkan karena ngeri banyak preman hhihi. Anyway, film Mau Jadi Apa? yang berseting di kampus Fikom benar-benar kerasa semangat mahasiswanya. Dan walaupun timeline film ini tahun 97, permasalahan dan tema yang diangkat oleh film ini masih terasa relevan dengan kondisi mahasiswa sekarang.

Ngomongin bahagia, orang akan mengasosiasikannya dengan masa depan. Orang akan bikin rencana, nanti mau bikin apa, mau jadi apa.  Kenapa mesti nanti? Kenapa tidak bahagia dari sekarang. Kita bisa bikin karya meski sedang kuliah. Walau masih muda, kita mestinya bisa langsung bergerak mengejar mimpi. Hidup demi saat ini, hargailah dengan melakukan yang terbaik yang kita bisa.  Bahagia, dan bertanggungjawablah dengannya sesegera mungkin.

 

Menyutradarai, sekaligus memainkan cerita kehidupan sendiri tentu adalah sebuah cita-cita emas setiap pembuat film manapun. Soleh Solihun benar-benar total dan terlihat sangat passionate di sini. Props, pop-culture, dan semuanya diarahkan senyata mungkin. Detil-detil akhir masa 90an tak luput darinya. Dijadikan olehnya sebagai pemantik lelucon, dibuat olehnya sebagai jokes yang ngeforeshadow kejadian di masa kini.  Misalnya ketika ada cameo dari Ernest Prakasa yang kalo gak salah memang pernah di Bandung. Pada film ini Ernest disebut sebagai “anak dari toko cina yang di sebelah” yang merupakan direct reference ke filmnya Ernest. Also, they were throwing a shade about cina jadi gubernur. Kita juga ngeliat ‘cikal bakal’ grup band The Changcuters, serta bagaimana Sophia Latjuba mungkin saja suka sama vokalis band. Ini adalah kerja dari pandangan wartawan Solihun. Dia menangkap apa-apa yang ngetren. Untuk kemudian dia padukan dengan kegemarannya akan musik serta keahliannya menyusun punchline komedi. Lelucon-lelucon di sini ampuh sebagai ajang nostalgia karena begitu banyak melibatkan referensi 90an. Kelakar dialognya dari lagu Trio Kwek-Kwek, dari lagu Jamrud, Ada Cintanya Bening. Ada beberapa jokes yang harus mereka jelaskan sih, supaya penonton kekinian bisa menangkap maksudnya – contohnya ketika mereka menyebut Ali Topan dan Pamela Anderson, film juga menyertakan gambar tokoh tersebut. Sesungguhnya di sini, film sedikit tidak mempercayai penonton. Tapi aku bisa mengerti, karena toh 90an itu udah tergolong kuno untuk jaman sekarang.

Film ini sangat self-aware. Narasinya banyak bersenang-senang dengan membuat tokoh Soleh kerap breaking the fourth wall. Soleh akan menghadap ke kamera, dan ngobrol langsung dengan kita para penonton. Kadang dia menceritakan alur. Kadang dia hanya ngobrol kocak gitu ada. Ada banyak komedi yang datang dari sini. Di antaranya adalah bagian di mana Soleh menjelaskan kenapa musti dia yang main jadi tokoh utama, dia menyebut Reza Rahadian, dan segala macem penjelasan mengenai pilihan-pilihannya dalam membuat film. Aspek ini membuat film jadi refreshing. Masalahnya adalah, akting Soleh tidak pernah benar-benar mendarat di note yang tepat. Dan aku heran kok bisa beberapa penyampaian leluconnya malah jatoh jayus. Padahal kamera kan  bukan hal yang asing bagi komika. Tapi yah, tampil sedih mungkin memang langka bagi komedian. Akting memang sulit – bahkan kalo kita berakting sebagai diri kita yang masih muda. Solihun kebagian banyak adegan yang merefleksikan emosi, dia berjalan sendirian – kadang melawan arus mahasiswa yang lain, dengan rambut panjang dan tampang sedih – dan kita susah untuk merasakan apa yang tokoh ini rasakan. Kesannya malah tetap lucu.

“Aku gak e’ek, it’s not true. Aku gak e’ek. I did not….oh hai Ros!”

 

Hal yang patut disyukuri sebagai manusia adalah selain kita sendiri yang mengatur kapan kita bahagia, kita juga punya kesempatan belajar tak terhingga – asal kitanya mau cari pembelajaran. Kendala terbesar film Mau Jadi Apa? di luar komedi dan observasi hubungan sosialnya yang mengena, adalah, film ini enggak berdiri atas struktur yang kuat. Solihun dan timnya perlu belajar lebih giat soal bagaimana menceritakan kejadian nyata menjadi sebuah skenario film. Sama kayak mahasiswa-mahasiswa tingkat atas yang luntang-lantung, motivasi film ini juga datang terlambat. Susah untuk mengetahui film ini diarahkan mau jadi apa? Konfliknya datang dan pergi. Tokoh-tokoh pendukung diberikan backstory, mereka punya masalah sendiri, tapi tidak dibangun dengan baik. Ditambah begitu saja ke dalam narasi. Aku tidak bilang tokoh-tokoh it satu dimensi, tapi terkadang antara tingkah komedik mereka yang over the topAnggika Bolsterli main anti jaim banget, tokohnya begitu bersemangat she just squats outofnowhere – dengan bagian yang emosional terasa benturan tone yang cukup keras.

Untuk sepuluh menit pertama cerita tampak membangun keinginan Soleh buat macarin Ros, dan kita berakhir dengan cerita Soleh disidang dan elemen romansa itu malah terdorong jadi background. Struktur cerita mestinya bisa diperkuat lagi, masalah majalah kampus mestinya langsung diperkenalkan. Film ini sebenarnya punya kesamaan dengan Coco (2017), berbicara mengenai meninggalkan jejak karya supaya dikenal dan diingat orang. Hanya saja, Mau Jadi Apa? terlihat begitu convoluted oleh struktur yang tidak rapi. Aku suka bagian terakhir di ruang sidang, solusinya yang menekankan pada persahabatan lumayan keren, di sini film mengambil resiko dengan menurunkan peran dan tindakan tokoh Soleh sampe nyaris tidak ada yang ia lakukan di sana. Akan tetapi, hal tersebut ditambah faktor kebetulan pada narasi membuat semuanya – walaupun di ending Solihun bilang tidak ada yang fiktif – terlihat terlalu diorkesterasi.

Nino is such a jerk, padahal sweaternya juga kayak halaman buku tulis

 

Dengarkanlah kata hati, sebelum benar-benar terlambat untuk berhenti dan memulai kembali. Jika kalian sedang kuliah, dan tidak yakin apakah yang kalian tekuni sekarang enggak sesuai dengan passion, segeralah hentikan. Pindah jurusan, ambil yang kalian suka. Jangan pernah ambil yang kalian tidak suka. Jangan sekadar mengikuti teman-teman. Atau hanya supaya bisa bareng pacar maka kalian berada di sana. Pilih karena kalian percaya. Pilih karena hal itulah yang hati kalian ingin lakukan.

 

 

 

Cerita yang personal tentang mahasiswa dan motivasinya ini dikemas dalam balutan inside jokes. Penuh oleh referensi-referensi akhir 90an, membuat film ini bisa kita sebut sebagai sebuah PERIOD-PIECE COMEDY. Hadir ringan, dengan tidak judgmental, film ini menghibur. Terlebih jika disaksikan bareng teman-teman seperjuangan. Secara teknis, bagaimana pun juga, sebuah film harus punya skenario yang terstruktur kuat supaya bisa menghasilkan perjalanan yang lebih terasa daripada sebuah hiburan. Film ini mau seperti itu, namun dari yang kita tonton barusan, perjalanannya masih panjang.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for MAU JADI APA?

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements