Tags

, , , , , , , , , , , ,

“Sometimes dead is better”

 

 

Seperti dicomot langsung dari halaman buku misteri milik Stephen King, The Returning adalah horor keluarga yang menilik masalah beratnya menghadapi kehilangan anggota keluarga; merelakan terkasih yang sudah pergi dan move on dengan kehidupan.

Karena, benar, mati jauh lebih baik ketimbang hidup cuma menanti yang tak bakal kembali. Karena sejatinya, kematian bukanlah akhir dari kehidupan. Melainkan akhir dari derita. Yang harus kita sadari, bahwa kematian adalah saat kenangan-kenangan manis itu bermunculan.

 

Sudah tiga bulan berlalu, namun jasad Collin (dengan subtil Ario Bayu memainkan dua peran yang berbeda di sini) yang mengalami kecelakaan saat sedang berpanjat-tebing ria masih gagal diketemukan. Membuat Natalie (Laura Basuki diberikan tugas yang lumayan rumit sebagai tokoh utama) semakin nelangsa. Di saat kedua anak dan ibu mertuanya sudah merelakan Collin, semua orang praktisnya sudah menganggap Collin meninggal, Natalie masih belum ikhlas. Dia masih menanti sang suami sampai terbawa mimpi. Asa Natalie mendapat jawaban, Collin muncul begitu saja di pintu depan rumah mereka. Sehat wal’afiat. Keluarga ini lantas mencoba menyambung kembali kehidupan harmonis mereka. Namun ada yang janggal dari Collin. “Ayah berubah” kata Maggie, anak tertua Natalie, setelah menyaksikan ayahnya di tengah malam memakan apel dengan begitu rakus. Seperti kelelawar.

“Kelelawar sayapnya hi…jau!”

 

 

Film ini punya apa-apa yang jadi resep membuat horor yang bagus. Makhluk gargoyle seram yang bakal hinggap terbalik dalam mimpi buruk para penonton, drama keluarga yang erat tentang ibu dengan anak-anaknya, dampak kehilangan terhadap orang yang ditinggalkan; so much sehingga orang bisa sekuat tenaga berusaha memegang erat keluarganya yang tersisa. The Returning sepertinya mengerti bagaimana membuat horor yang bagus. Mereka mencoba membangun atmosfer seram dari rumah dan segala keganjilan yang terjadi. Dunia 97nya sendiri terbangun dengan detil, enggak dilambaikan di depan hidung kita, tapi kita masih tetap mengerti di kurun waktu kapan cerita ini terjadi. Mereka mencoba meng-grounding tokoh-tokoh dengan masalah yang relatable, sementara membangun misteri yang jadi landasan ‘mitologi’ horor cerita. Dan di sinilah masalahnya. The Returning terlihat berusaha terlalu keras. Hampir seperti, Witra Asliga dalam debut penyutradaraan film panjangnya ini, tidak mau ada yang salah.

Tidak ada yang salah banget dalam cerita ataupun ide yang ingin disampaikan. Secara materi, ini bisa menjadi horor dramatis – dan menyentuh ranah psikologis – yang asik untuk diikuti. Tapi nyatanya, aku tidak merasa senang (se-fun yang bisa dibangkitkan oleh horor), ataupun bahkan penasaran, dalam menontonnya. Setiap masing-masing adegan lebih terasa seperti misi yang ingin diselesaikan alih-alih sebuah penceritaan. Tidak membantu juga kenyataan bahwa film ini dibangun dengan twist sebagai tujuan. Tidak ada yang salah dengan twist, namun twist paling gak-asik itu adalah twist yang membuat kita enggak bisa sepenuhnya masuk ke dalam kepala tokoh utama. Kita mengerti motivasi Laura, tetapi hal-hal lain yang seharusnya adalah langkah-langkah yang ia ambil, ternyata berubah menjadi pengecohan – hanya untuk ngeswerve penonton. Semiring-miringnya niat tokoh utama, mereka haruslah membuat kita peduli, membuat kita memahami dirinya. Dalam film ini, kita merasa dibegoin dengan mendukung tokoh utama.

Jika titik-titik itu kita sambungkan – kalung, masalah Natalie dengan Oma, dengan Maggie – kita masih menemukan garis lurus. Semuanya masih terasa masuk akal. Tapi film masih tetap menyisakan misteri, yang sebetulnya adalah loose ends yang lupa diikat.  Aku gak mau spoil terlalu banyak, tapi ada satu hal yang gak klop buatku; Oma (ibu mertua Natalie) yang actually pertama kali melihat Collin di dalam mobil, dan secara urutan narasi, kejadian tersebut terjadi sebelum ‘ritual’ dilakukan. Jadi, bagaimana bisa Collin sudah ‘ada’ di sana? Karena kita tahu Oma tidak berhalusinasi; dalam cerita ini, hanya Natalie yang belum merelakan; Oma malah yang menyarankan untuk menyiapkan urusan pemakaman.

Subplot-subplot yang ada, pada akhirnya hanya berfungsi sebagai kambing hitam; pengalih perhatian supaya kita tidak menebak twistnya. Masalah-masalah seperti anak bungsu Natalie yang gak bisa bicara dan dibully di sekolah karenanya, Maggie yang katanya takut tumbuh dewasa, merupakan masalah yang bisa membawa pesan penting, namun pada akhirnya tidak mendapat penyelesaian karena hanya berfungsi sebagai red-herring. Banyak tokoh yang keberadaannya begitu mentah, mereka hanya terasa seperti throw-away character. Ada teman Natalie yang diajak pindah ke Jogja sama pacarnya – how is this important to the story? Ada saudara cowok Natalie yang ia marahi lantaran ngajak Collin pergi memancing – apa yang ingin dicapai dari masalah ini? Dan si bungsu Dom yang gak bisa bicara tau-tau bisa ngomong, dimaksudkan supaya kita kasihan kepadanya – it just doesn’t work. Aneh sekali cara film ini membangun Dom enggak bicara karena yang tertangkap adalah Dom tidak dikasih kesempatan bicara alih-alih memang ‘gak bisa’. Seperti ketika Collin baru pulang, Dom yang jago gambar memamerkan gambar buatannya ke ayah LEWAT perantara Maggie – kenapa dia enggak berkomunikasi sendiri dengan ayahnya. Di bagian pengungkapan, ada satu perkataan Natalie yang bikin aku ngakak; dia menyebut anak-anaknya menanyakan Collin terus menerus, dan ini sungguh kebohongan gede dari Natalie karena kita tahu justru Maggie yang sebel ibunya enggak move-on dari kepergian ayah, dan Dom, well, kan Dom sama sekali gak bisa berbicara gimana cara dia mendesak bertanya haha

hanya anak-anak yang jujur, that’s what makes them children.

 

 

Film berusaha untuk menjadi benar, namun pada akhirnya tetap melakukan pilihan-pilihan yang ganjil. Penggunaan jumpscare masih menjadi andalan, terlihat seperti film ini belum sepenuhnya yakin bisa membangun kengerian dari gambar dan editing semata. Padahal gambar dan editingnya sudah cukup precise.

Setiap kita punya kelemahan, dan adalah hal yang bagus kala kita menyadari kelemahan yang kita punya, dan kita berbuat sebaik mungkin around that weakness, mencoba untuk menutupinya. Atau paling tidak supaya kelemahan tersebut tidak kelihatan. Logikanya kan begitu; Jangan letakkan kelemahan itu di tempat terbuka. Dalam film, ya sebaiknya film jangan dimulai dari teknik filmmaking kita yang paling lemah, karena sepuluh menit pertama itu nentuin mood penonton banget. Strangely enough, film ini dibuka oleh adegan panjat tebing yang benar-benar terlihat tidak profesional. Adegan ini menciptakan kesan pertama yang enggak baik. Sebenarnya bisa dengan gampang diperbaiki; kita akan membahas itu sebentar lagi, aku ingin menunjukkan satu lagi pilihan aneh yang dilakukan oleh film ini.

Tokoh-tokoh film ini bicara tentang ayah mereka yang sudah berubah, “ayah biasanya gak begini”, dan kita harus percaya  gitu aja dari kata-kata mereka. Seharusnya diperlihatkan bagaimana Collin sebelum menghilang. Film memang memperlihatkan beberapa flashback yang menunjukkan kedekatan Collin dengan Natalie, maupun dengan Maggie. Tapi dalam sebuah skenario yang baik, flashback semestinya hanya jadi pilihan terakhir jika sudah mentok. Pada film ini, toh pilihan itu masih ada. This is how to fix this; Mereka bisa saja memulai cerita dari sebelum Collin kecelakaan. Sepuluh menit pertamanya bisa menunjukkan gimana Collin sebenarnya, lalu inciting incidentnya barulah dia jatuh dari tebing. That way, kita tidak perlu melihat adegan panjat tebing yang susah untuk difilmkan sebagai pembuka, yang ultimately jadi bagian paling tak meyakinkan dalam film ini.

 

 

 

Pertanyaan seram yang bisa bikin bulu kuduk merinding “itu ayah kita atau bukan?” tak pernah terangkat karena film sibuk membelok-belokkan kita, karena ia pengen terlihat menarik dan pinter dengan twistnya yang mengecoh. Inilah yang menyebabkan film menjadi enggak seram. Enggak genuine lagi suasana yang dihadirkan. Mereka jadi tergantung sama musik keras mengagetkan. Jadi, jangankan subplotnya, premis film sendiripun hanya dijadikan sebagai pengecoh – sebuah loose end yang sengaja enggak diikat. Aku tidak merasa enjoy saat menontonnya padahal film ini punya cerita yang menarik. Strukturnya pun bener, hingga mereka sadar durasi sudah hampir habis dan buru-buru menutup cerita dengan pengungkapan. Tidak ada yang spesial dari pengarahan sutradara baru ini. Tapi tetap saja, film ini menginspirasiku, karena aku juga pengen membuat film – tapi saat ini masih belum bisa, maka aku menulis review. For what it’s worth, anggaplah film ini sebagai pemanasan sebelum remake Pet Sematary (2019) rilis, atau paling enggak sebelum nonton The Hollow Child (2018) di studio sebelah.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for THE RETURNING.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Setujukah kalian dengan perkataan Collin kepada Maggie seputar kadang kita harus mengambil resiko? Apakah perubahan adalah resiko? Seberapa jauh resiko yang berani kalian ambil demi cinta?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

Advertisements