Tags

, , , , , , , , , ,

“Not everyone you lose is a loss”

 

Apapun yang terjadi, jangan macam-macam sama pria dan binatang peliharaan mereka. Serius. Sudah berapa banyak film kekerasan yang kita tonton berawal dari protagonis cowok yang membalasdendam setelah anjing kesayangan mereka diculik? Well, yea, John Wick (2014) would be a very prime example of such story. Nicolas Cage pun, dalam film terbarunya, memerankan pria penyendiri yang berkeliling kota demi mencari babi miliknya yang diambil oleh orang-orang misterius. Nicolas tampak bakal menjadi the next John Wick, tapi film Pig yang ia bintangi ini ternyata adalah film balas-dendam yang unik. Perjalanan karakternya mencari babi dan penculik bukanlah perjalanan penuh kontak fisik melainkan perjalanan yang terus menggempur secara emosional. Ini adalah cerita balas-dendam yang dibentuk sebagai anti dari balas-dendam itu sendiri.

Karakter Nicolas Cage di film ini bernama Rob. Pertamanya sih enggak banyak yang kita tahu tentang dirinya, kecuali dia tinggal di hutan. Menyendiri, kalo kita tidak menghitung seekor babi yang ia latih untuk mencari truffle, sejenis jamur tanah yang digunakan untuk bahan masakan mewah. Itulah kerjaan Rob. Menjual truffle yang ia cari bareng babi kepada Amir, anak muda kaya supplier truffle untuk restoran-restoran di kota. Malam itu, pondok tengah hutan mereka disatroni dua orang tak dikenal. Rob dipukuli. Babinya dibawa lari. Tidak butuh pertimbangan lama bagi Rob di pagi hari, untuk berangkat ke kota mencari si babi, tak peduli bahkan jika itu berarti dia harus berjalan kaki.

pighXkEyXkFqcGdeQXVyMTA1MDIxODk4._V1_

Alexa Bliss harus nonton ini, RIP Larry Steve

 

Gampang sekali untuk membuat cerita balas dendam yang penuh aksi bag-big-bug dari pembukaan tersebut. Apalagi Rob di sini perawakannya udah kayak Ochiai di manga 20th Century Boys; rambut gondrong, janggut lebat, pandangan mata tajam. Tipikal pria penyendiri senggol-bacok banget! Sekali lihat saja, kita percaya Rob ini sanggup membunuh para pelaku dengan sadis. Bahwa dia rela melakukan apapun demi mendapatkan kembali babi yang ia sayangi. Tapi sekali lagi, sutradara Michael Sarnoski tahu lebih baik untuk tidak membuat film yang hanya sekadar menjadi ‘John Wick berikutnya’. Pig dibuat lebih ke arah emosional. Perjalanan Rob menemukan kembali babinya adalah perjalanan yang lebih berat dan membebani. Karena kembali ke kota itu ternyata bagi Rob juga adalah kembali ke kehidupan, ke dunia, yang telah ia pilih untuk ditinggalkan. Nonton film ini akan terasa kayak kita lagi ngupas bawang. Pake tangan. Seiring cerita menguak terbuka, akan selalu ada pengungkapan tak-terduga yang membuat kita semakin mengapresiasi siapa Rob sebenarnya.

Rob enggak banyak bicara (meskipun sekalinya bicara, ucapannya seringkali ternyata tajam dan tegas juga), tapi itu tidak berarti dia adalah karakter yang dituliskan dengan simpel. Justru sebaliknya. Dia adalah personifikasi dari kedalaman dan emosional itu sendiri. Kehebatan utama film ini datang dari kepiawaian Sarnoski mengungkap tabir protagonisnya ini. Sarnoski tidak mengungkap dengan terburu-buru, ataupun tidak dengan menjadikannya ala twist murahan kayak pada film-film mainstream. Melainkan, dia mengcraft pengungkapan dan karakterisasi itu dengan cermat. Ke dalam tempo dan irama yang senada dengan permainan emosi. Sehingga menyaksikan Rob ini rasanya sarat sekali. Oleh misteri, oleh humanisasi.

Tanpa sadar film akan membawa kita hanyut ke dalam masalah karakter, dan lantas ke dalam masalah dunia kuliner yang menyelimuti mereka semua. Ini low-key adalah film tentang bisnis restoran/dunia kuliner mewah, yang dari sudut pandang pelakunya ternyata tidak seglamor, tidak sefancy restoran itu sendiri. Tonton saja adegan percakapan Rob dengan chef dan pemilik restoran yang ternyata mengerjakan hal yang tidak benar-benar in-line dengan passionnya dahulu. Dari adegan ngobrol itu saja sebenarnya craft film ini sudah terwakili kehebatannya. Di interior restoran yang serba putih, duduk dengan memandang hormat seorang chef high-class kepada Rob yang berpakaian kumal, dengan dahi berdarah yang Rob tolak untuk diberikan perawatan. Kita, kita seperti Amir yang duduk juga di sana, memandang mereka dengan perasaan takjub, sekaligus prihatin, sekaligus kagum.

Jikapun ada sesekali film terasa mengecoh kita, itu hanya karena film bermain-main dengan ekspektasi kita. Ketika Rob masuk ke klub berkelahi underground misalnya, kita yang masih ngotot ini cerita ala John Wick akan tercengang oleh apa yang sebenarnya dilakukan oleh Rob. Atau ketika di akhir, Rob malah memasak untuk ‘musuh utamanya’. Bahkan aku nyangka dia bakal ngeracunin tuh masakan. Tapi enggak. Apa aku kecewa karena yang kusangka enggak kejadian? Enggak juga. Karena film berhasil membuktikan penawaran yang mereka lakukan memanglah lebih kuat. Jika kita bicara soal wants and needs, well, kita menyangka kita ingin melihat aksi brutal, dan film ini menyadarkan bahwa yang kita butuhkan justru sebuah penyelaman ke dalam karakter yang penuh emosi dan duka kehilangan.

Karena memang itulah makna cerita ini sebenarnya. Tentang berkompromi dengan kehilangan. Bagi Rob, babi itu bukan satu-satunya kehilangan. At least, dia sudah kehilangan dua hal penting sebelumnya. Film dengan bijak tidak menyebutkan dengan gamblang apa kedua hal tersebut. Namun poin dari makna kehilangan tersebut cukup bisa kita simpulkan dengan jelas. Rob, dan hampir semua karakter kunci di sini punya sesuatu yang direnggut dari mereka, dan mereka malah kehilangan bahkan lebih banyak lagi saat bertekad untuk mendapatkan hal lain sebagai pengganti dari sebelumnya. 

 

Salah satu inti emosional yang bikin film ini semakin hidup – di tengah suramnya kejadian, dan visual yang nyaris selalu direkam dalam cahaya yang penuh bayang-bayang – adalah hubungan antara Rob dengan Amir (diperankan menakjubkan oleh Alex Wolff). Dengan cerdas naskah mengeskplorasi drama di antara mereka. Mengukuhkan mereka saling membutuhkan, sementara juga mereka begitu berbeda. Yang satu seorang profesional yang disegani, sementara satunya masih berkutat untuk keluar dari statusnya sebagai medioker. Karena itulah, kedua karakter ini dalam dialog dan interaksinya bisa mencapai segitu banyak. Mereka bahkan bisa tampak layaknya duo komedi, ketika film menempatkan keduanya di dalam mobil, memati-hidupkan musik klasik.

Karakter Rob sendiri sudah seperti manifestasi dari karir akting Nicolas Cage. Celetukan yang terdengar saat Rob kembali ke kota, bahwa dirinya yang sekarang bukanlah siapa-siapa, bahwa momennya sudah lewat, justru tampak seperti film sedang merayakan kebangkitan dari seorang Nicolas Cage. Yang penampilan aktingnya perlahan tapi pasti berubah menjadi pengisi meme-meme konyol. Tapi belakangan, Nicolas mengalami resurgence, lewat film-film yang memberinya ruang untuk mengeksplorasi penampilan akting yang lebih mendalam dan serius. Pig adalah salah satu dari film tersebut. Dan Rob ini, aku bilang, adalah penampilan akting terkuat dari Nicolas Cage yang pernah aku tonton. Transisi dari karakter pendiam dan misterius menjjadi karakter yang semakin desperate tapi juga semakin menguar ‘kekuatan’, tidak pernah dilakukannya sebagai karakter yang over-the-top. Malahan justru penampilan Nicolas-lah yang memastikan Pig tetap berada pada tone yang grounded.

pig-trailer

Babi yang satu ini halal untuk ‘disantap’

 

Tantangan berat film ini adalah membuat cerita yang ‘merakyat’ dari karakter yang jadi legenda di dalam dunianya. Dan ini adalah tantangan yang enggak ringan. Kehilangan hewan kesayangan tidak bisa jadi satu-satunya ke-vulnerable-an yang dipunya. And also, film juga tidak bisa hanya tentang mengungkap siapa si karakter ini secara sebenar-benarnya. Perjuangan naskah di sini adalah bagaimana mengembangkan journey karakter tanpa meruntuhkan atau malah menerbangkan mitologi karakter tersebut sejauh-jauhnya. Film berhasil melakukan ini dengan relatif baik. Kita bisa merasakan karakter ini mendapat pembelajaran seiring kita belajar tentang dirinya. Meskipun memang pembelajaran tersebut bisa dibilang, didatangkan agak belakangan. Dan untuk waktu yang lama, karakter ini terasa benar sepanjang waktu.

 

 

Dan ngomong-ngomong soal waktu yang lama, ya, film ini adalah film yang lambat. Yang banyak ngobrolnya ketimbang aksi. In fact, aksinya bakal sedikit banget. Penonton yang masih bandel ngarepin ini jadi kayak John Wick bakal menemukan mereka sangat kecewa untuk alasan yang tak tepat terhadap film ini. Arahan ceritanya pun dengan sengaja dibuat seperti ngalor ngidul, dan sengaja menjadi tak-seperti yang diharapkan. Jika ini makanan, maka ia benar seperti babi; Tidak untuk semua orang. Tapi sesungguhnya, pencarian babi di sini merupakan sebuah perjalanan karakter yang menggugah. Yang lebih memuaskan secara emosional dibandingkan film pencarian balas-dendam berisi aksi bag-big-bug yang biasa. Untuk sebuah film debutan, sutradara film ini berhasil memasak tone yang konsisten dengan berbagai bahan-bahan sulit diolah yang ia punya di piringnya.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for PIG

 

 

 

That’s all we have for now

Bagaimana pendapat kalian tentang karir Nicolas Cage sebagai aktor? Apakah menurut kalian dia sudah mencapai level legendary, seperti karakternya di film ini?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA