Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“It’s a fine line between need and greed”

 

Horor kali ini datang, lagi-lagi dari manusia yang melangkah menembus batas tipis antara kebutuhan dengan ketamakan. Di dunia nyata, kita masih merasakan apa yang diperdebatkan sebagai dampak dari selera menjadikan kelelawar sebagai bahan makanan, seolah tidak ada lagi makanan lain. Di peternakan Perancis yang jadi panggung cerita garapan Just Philippot ini, kita akan menyelami bagaimana naluri bertahan hidup seorang ibu demi melindungi dan ngasih makanan untuk anak-anaknya, berubah menjadi ambisi mengerikan yang membuatnya seperti kesetanan.

Horor kali ini datang, dari drama ketakutan terdalam manusia dalam bertahan hidup. Itulah sebabnya film ini bakal jadi kudapan yang cukup bergizi. Tapi bagaimana dengan rasanya? Well, mari katakan saja, jika kalian punya taste tertentu untuk belalang yang kriuk-kriuk gurih, film ini bakal lezat sekali.

swarmfd1e1145676641c353d8ca5363d5535d

Kasih ibu tak terhingga sebanyak kawanan belalang haus darah!

 

Sebagai makanan, belalang memang enggak seaneh kelelawar. Di kita aja cukup lumrah memakan belalang goreng yang memang berprotein tinggi. Siapa yang tau belalang diolah jadi santapan seperti apa di Perancis yang punya banyak kuliner elegan sana. Yang jelas, belalang digandrungi sehingga banyak pembeli yang khusus membeli dalam jumlah besar. Khusus dalam artian, harus dalam jumlah besar. Itulah yang jadi masalah pada peternakan belalang milik Virginie. Belalang-belalang yang ia kembangbiakkan di satu rumah plastik bersolar panel itu kurang. Kesulitan berkembang biak. Kecil-kecil pula. Dijual untuk pakan bebek pun, masih belum memadai. Virginie semakin terlilit kesulitan finansial. Dalam frustasinya, Virginie menemukan jawaban. Belalang-belalang itu subur, besar-besar, saat dikasih makan darah segar. Bisnis pun lancar. Rumah plastik Virginie semakin bertambah seiring berlipat gandanya belalang besar yang ia biakkan. Tapi Virginie mulai dicurigai orang-orang, yang mulai berbisik ngomongin bisnisnya. Bisikan yang nyaingin suara dengung belalang yang keras. Virginie juga mulai ditakuti oleh anaknya sendiri. Tak pelak, harga yang harus dibayar Virginie memang sudah terlampau tinggi.

Melihat belalang-belalang yang semakin haus darah itu, kita akan berpikir kita tau ke mana film ini akan mengarah. Kamera yang dengan detil menclose up perilaku belalang sebagai transisi antaradegan, seperti ngebuild up – turut memberi makan antisipasi kita akan horor hewan yang kita kira bakal datang. Jika ini adalah film Hollywood, besar kemungkinan memang itulah yang bakal terjadi. Kawanan belalang lepas, menyerang manusia-manusia dan Virginie berusaha menyelamatkan putra-putrinya. The Swarm bukanlah film seperti itu. Philippot mengamalkan yang dijadikan pesan oleh film ini. Dia tahu batas, film ini butuh untuk menjadi seperti apa. Philippot tidak kebablasan menjadikannya lebih dari itu.

Film ini tetap berpegang erat kepada drama yang menjadi hatinya. Kepada drama yang menjadi akar horornya. Karena, walaupun memang ada adegan berupa belalang menyerang manusia dan sebagainya, horor dalam film ini tetap dikembangkan dengan subtil dan lebih berupa berasal dari pemahaman kita terhadap pilihan dan perubahan yang (harus) dilakukan oleh karakter. Dan ini ternyata lebih efektif, dan membuat cerita jadi lebih fresh juga. Horor melihat hubungan ibu dan anak yang merenggang – horor melihat anak menjadi takut kepada ibu mereka – ternyata lebih mengerikan ketimbang horor kawanan belalang yang mengamuk. Itulah yang dibuktikan oleh film ini.

Virginie adalah single mother dengan dua orang anak. Laura yang udah remaja, dan Gaston yang masih belum cukup dewasa untuk memahami problematika ekonomi rumahnya. Keputusan Virginie mengubah peternakan kambing peninggalan suami menjadi peternakan belalang berdampak kuat kepada kehidupan sosial Laura. Cewek itu dibully di sekolah, diejek. Konflik antara Virginie dan Laura berasal dari sini. Kedua saling salah mengerti. Untuk paruh pertama film kita akan melihat Laura sebagai anak sok nge-angst yang cemberut melulu, dan kita lebih bersimpati kepada Virginie karena kita melihat usahanya banting tulang untuk menghidupi keluarga. Dalam mengembangkan konflik itulah film ini excellent sekali.

Kita akan berjuang melakukan apapun untuk memenuhi yang kita butuhkan. Namun ada satu titik dari perjuangan tersebut yang tidak boleh dilanggar. Titik yang ditarik dari tujuan kebutuhan tersebut pada awalnya. Virginie melanggar ini. Dia melupakan untuk apa dia berjuang. Berjuang memenuhi kebutuhan membuat kita memperoleh yang kita butuhkan. Berjuang memenuhi keinginan untuk menjadi lebih dari yang dibutuhkan hanya akan membawa petaka. Dan malah bisa membuat kita kehilangan.

 

Suasana dreadful dipertahankan. Seiring kita mendengar dengungan belalang yang ngasih kontras ngeri berupa ada ‘monster’ yang semakin besar menunggu untuk keluar, kita semakin takut melihat ada orang yang masuk ke rumah-rumah plastik tempat Virginie sekarang menyimpan rahasia, simpati dan dukungan kita pun pada akhirnya kita rasakan mulai beralih. Peralihan itupun tidak sekadar “waah, aku jadi suka si ini sekarang”, melainkan karena dibangun dengan kuat di rasa dan di hati, peralihan tersebut membawa rasa ngeri kepada kita. Sehingga sekarang kita tidak hanya takut akan belalang-belalang itu, tapi kita juga mengkhawatirkan keutuhan keluarga Virginie. Film ini mengubah Virginie dari yang tadinya mendapat simpati penuh kita; dia tampak mengorbankan diri demi keluarga – dari yang tadinya seperti perjuangan tulus seorang ibu, menjadi sesuatu yang lebih menjurus ke sinister. Ke kegilaan. Terutama sebab perjuangan yang ia lakukan sudah jauh dari tujuan semula. Transformasi tersebut dilakukan film dengan mulus, tidak ada satu emosi yang tercecer.

swarmThe-Swarm

Ini telah meninggalkan realm ‘orangtua rela menderita demi anak’

 

Layer-layer pada motivasi dan pilihan karakter itu membuat film jadi punya kedalaman. Sembari kita melihat Virginie menjadi personifikasi dari gambar-gambar meme penderitaan orangtua demi anak, kita juga menyadari yang dilakukan Virginie terhadap belalang-belalang tersebut telah melampaui batas. Suliane Brahim menyokong arahan ini dengan menghidupkan karakternya lewat pendekatan psikologis yang pas. Perjuangan, keputusasaan, dan ‘kegilaan’ karakter tersebut dia mainkan sama kuatnya lewat kata-kata maupun lewat permainan ekspresi. Pilihan film untuk lebih memusatkan kepada karakter ketimbang mengubah ke haluan yang lebih diantisipasi orang, yakni menjadikannya horor creature, membuat film lebih bergizi. Namun tentunya juga bukan tanpa resiko. Arah ini berarti punya cerita yang berjalan lebih lambat. Penonton yang udah menunggu-nunggu adegan survival heboh, adegan makhluk yang heboh, ataupun hanya sekadar menunggu menjadi seperti The Bird Alfred Hitchcock, kemungkinan besar bakal kecewa. Adegan belalang lepas, menyerang orang, memang ada. Finale akan chaos dan berdarah-darah juga, tapi tidak lebih besar dari apa yang dibutuhkan oleh film ini.

Di lain pihak, penonton yang memang suka film yang lebih ke psikologis karakter, yang gak masalah mantengin film lambat dan horor-horor yang cenderung ke visual yang artsy saja, juga tidak lantas akan langsung terpuaskan. Karena actually, babak ketiga yang memuat Finale cerita ini hadir dengan tanggung. Herannya, tampil dengan lebih banyak kemudahan dari yang kukira. Film ini memilih vibe cenderung ke good ending ketimbang cerita kegagalan yang biasa, tapi tidak banyak tahap pembelajaran yang diberikan kepada Virginie. Karakter itu di akhir cerita, lebih banyak bereaksi ketimbang beraksi. SImpelnya, bukan dia yang mengakhiri semua itu. Melainkan karakter lain. Dan di ujung, barulah dia sadar dan kembali kepada tujuan semula; demi anak-anaknya. Sehingga penyelesaian film ini tidak terasa berkesan. Tidak terasa rewarding buat pertumbuhan karakter. Dan bahkan tidak ada konsekuensi. Virginie telah melakukan banyak hal-hal yang katakanlah – jahat – selama fase-fase dia gelap mata dan lebih mikirin belalang dan egonya sebagai ibu yang berjuang. Tapi ketika semua berakhir, buntut dari tindakannya juga berakhir gitu aja.

Harusnya ada ending yang lebih kuat daripada ini. Ending yang benar-benar melibatkan semua karakter cerita. Karena, yang kita lihat sebagai penutup film ini, saking abruptnya benar-benar terasa seperti berakhir begitu saja. Anak cowok Virginie yang juga jadi korban akibat ulah ibunya malah gak ada di situ. Seolah dia gak ada yang harus diresolve dengan ibunya. Seperti, film berhenti begitu saja mendalami yang sudah mereka gali. Ini aneh buatku, They were doing so good di awal, kemudian di akhir itu, they just stop buzzing.

 

 

 

Horor itu gak harus ada hantunya. Film ini membuktikan hal tersebut. Dia mendatangkan horor dari sikap manusia. Mengembangkan drama keluarga – konflik ibu dan anak yang berjuang untuk hidup – sebagai inti dari kisah fantasi berupa kawanan belalang yang mengganas karena dikasih makan darah. For the most part, film ini berhasil menyuguhkan perjalanan manusia yang benar-benar mengundang simpati. Yang benar-benar membuat kita mengkhawatirkan mereka. Membuat kita takut akan keutuhan mereka. Film melakukan ini sambil menghasilkan gambar-gambar seram. Film ini tahu apa yang ia butuhkan, tapi tidak benar-benar tahu cara yang tepat untuk membungkus ceritanya. Karena penyelesaian film tidak terasa memuaskan, dan terasa terlalu abrupt. Film yang berakhir kuat akan meninggalkan kita dengan bertanya-tanya “Lalu apa?”. Film ini hanya berhenti dengan membuat kita bertanya “Lah itu yang tadi gimana?”
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for THE SWARM.

 

 

 

That’s all we have for now

Apakah menurut kalian film ini memang berakhir bahagia atau malah sebaliknya?

Share with us in the comments yaa

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA