LAST NIGHT IN SOHO Review

“We romanticize the past with an illusion that we’d know how we’d fit”

 

 

“Hati-hati, di London banyak orang jahat.” Peringatan yang jadi penutup nasihat Nenek sebelum Eloise/Ellie pindah untuk kuliah ternyata merupakan set up bagi bangunan narasi horor Last Night in Soho. Kalimat tersebut membuild-up antisipasi Ellie; cara pandang dirinya terhadap pengalaman yang ia temui dan rasakan sebagai gadis desa yang pindah ke kota besar. Dan tentu saja antisipasi kita juga, karena kita akan melihat dan merasakan semua pengalaman lewat Ellie. Itulah yang membuat karya terbaru Edgar Wright ini sebuah horor atau misteri psikologis yang luar biasa efektif. Tak ada yang lebih menyeramkan daripada seorang perempuan yang merasa dirinya ‘diserang’ oleh banyak pria (dan tak jarang juga oleh perempuan lain) dari berbagai arah. Yang merasa tempatnya hidup begitu enggak aman, sehingga dia harus mencari ke tempat lain. Bahkan, hingga ke waktu atau era yang lain.

Kok bisa? Karena Wright membuat filmnya ini sebagai semacam perjalanan waktu. Setiap kali Ellie tidur di kamar kosnya, dia seperti tertransport ke era 60an yang penuh kelap-kelip. Ellie melihat dunia itu lewat mata Sandie, gadis yang mengejar mimpi jadi penyanyi seperti Ellie yang punya keinginan untuk jadi seorang fashion designer. Tapi kehidupan Sandie si gadis berani yang tahu apa yang ia mau itu seketika jadi inspirasi bagi Ellie. Apalagi memang sejak awal Ellie sudah terobsesi dengan segala sesuatu yang berbau tahun 60an. Ellie rela pergi tidur lebih cepat karena ia udah gak sabar untuk merasakan lagi keglamoran Sandie dan era tersebut.

sohoLast-Night-in-Soho-Thomasin-McKenzie-Anya-Taylor-Joy
Dengan kontras warna biru dan merah itu, tadinya kukira poster Survivor Series Smackdown lawan Raw

 

 

Untuk 30 sampai 40 menit pertama, cerita akan fokus kepada kontras antara Ellie dengan Sandie. Ketika kehidupan kampus dan sosial Ellie tampak penuh orang fake dan toxic – mulai dari pengemudi taksi yang matanya belanja ke kaki Ellie hingga ke teman sekamar di asrama yang manis di depan saja, sehingga kini Ellie tidak bisa memastikan seorang anak cowok yang mendekatinya itu beneran tulus pengen jadi teman atau cuma pengen meminum lebih dari kola miliknya saja – kehidupan malam Sandie tampak lebih aman dan menjanjikan. Menyaksikan dari balik cermin, Ellie melihat Sandie dibantu oleh seorang pria, diberikan kesempatan casting, janji mau diorbitkan, dibela dari mata keranjang; benar-benar disupportlah!

As far as the genre goes, babak pertama film ini memang membuat kita meraba-raba. Selain kemampuan Ellie melihat hantu ibunya di dalam cermin dan perihal Ellie masuk ke era 60an setiap kali tidur (bagaikan mimpi teramat nyata), kita enggak yakin di mana letak horor film ini. Yang terasa kuat adalah misteri kejadian tersebut kenapa bisa terjadi. Implikasi yang dihadirkan adalah hantu Sandie yang membawa Ellie masuk ke era tersebut, karena Ellie punya ‘kemampuan’, tapi itu juga belum membuat film terasa seram. Last Night in Soho memang mengambil waktu selama itu untuk mendaratkan ceritanya ke horor yang dijanjikan. Namun itu bukan berarti film ini tampil membosankan.

Set dan artistiknya stunning semua. Kerja kamera dan tempo editing cepat yang sudah jadi cap-dagang Wright membawa kita melewati set up panjang dan semua kontras itu dengan penuh gaya. Pertama Wright menekankan kontras itu lewat warna. Eloise dan lingkungannya hadir dengan warna-warna biru hingga abu-abu pucat, sementara Sandie melangkah mantap menembus dunia dominan merah di balik dress pink ataupun jaket putih mengkilap. Ellie pada awalnya tampil polos, tidak seperti Sandie yang bibirnya selalu merekah merah. Warna-warna tersebut tentu saja menguatkan karakter mereka. Thomasin McKenzie memainkan Eloise sebagai karakter yang berusaha mandiri, yang berusaha optimis. Dia memang sedikit polos, dan somewhat kurang pede dan kurang agresif (perhatikan rasa bangganya ketika menyebut mengenakan baju rancangan sendiri memudar dengan cepat begitu melihat reaksi dari teman-teman barunya), tapi McKenzie berhasil membuat kita melihat dia sebagai gadis yang gak mudah menyerah. Kita bersimpati pada gadis yang dicap norak dan aneh oleh cewek-cewek seusianya ini. Sebagai Sandie, Anya Taylor-Joy, ditugaskan untuk menjadi antitesis dari karakter Ellie. Dan dia berhasil memainkannya dengan fenomenal. Sandie benar-benar tampak sebagai enigma dimainkan oleh Anya.

Bukannya mau nyamain diri ama sutradara sekelas Edgar Wright, tapi aku punya bayangan yang mungkin sedikit lebih tegas mengenai effort yang harus Wright keluarkan untuk mewujudkan visi kreatifnya di sini. Bikin dua aktor seolah mereka satu orang karakter, yang bergerak selaras dalam pantulan cermin, jelas bukan hal yang gampang. Aku pernah bikin film pendek dengan konsep serupa, dua pemain harus bergerak layaknya seseorang dengan pantulannya, dan hasilnya susah untuk sempurna. Akhirnya aku mengurangi adegan, dari yang banyak gerak menjadi cuma senyum doang hahaha.. Yang dilakukan Wright dalam film Soho ini bahkan lebih kompleks dari adegan sekadar karakter bercermin. Yang dengan budget yang banyak, tentu bisa dilakukan pake efek komputer. Wright di sini betul-betul membuat Ellie dan Sandie terlihat sebagai satu orang, lewat adegan tanpa cermin yang gak-putus. Adegan menari yang Ellie dan Sandienya muncul bergantian, dilakukan Wright tanpa efek editing, melainkan dengan efek praktikal yang menuntut ketepatan dari semua kamera dan juga para aktor.

In some sense, film ini mengingatkanku sama Malignant (2021), horor action campy dari James Wan. Kedua film ini bekerja pada goal yang sama. Pembangunan narasi horor yang membuat kita bertanya-tanya ini sebenarnya film tentang apa – which is add much to the mystery itself. Penggarapan yang mengunggulkan kepada gaya entah itu teknis kamera atau editing. Dan bahkan sama-sama bermain seputar karakter yang ketika tidur tertransport ke tempat lain. Keduanya adalah film yang ingin kita bersenang-senang atas nama horor dan misteri. Kalo perbandingannya dilanjutkan, aku mau bilang, pada akhirnya aku lebih suka Last Night in Soho ketimbang Malignant. Karena walaupun sekilas horor Soho terlihat lebih lemah, sebenarnya Soho punya bangunan cerita dan lapisan psikologis karakter yang lebih berbobot. Yang eventually membuat misteri dan horornya menjadi lebih impactful karena jadi benar-benar beresonansi dengan kehidupan kita di luar cerita.

soholastsohothumb-1634585969073
Apa jadinya film Edgar Wright tanpa soundtrack yang benar-benar mewakili mood?

 

 

Thomasin McKenzie semakin dituntut untuk menyuguhkan permainan yang menakutkan secara emosional, seiring dengan Elliekarakternya yang sudah semakin terattach dan peduli sama Sandie mulai melihat ada yang gak beres sama arahan karir cewek di masa lalu tersebut. Di sinilah set up yang disebutin nenek di awal tadi kembali weighing in ke dalam narasi. Bukan hanya karir dan mimpinya, tapi nyawa Sandie actually jadi ikut terancam oleh orang-orang yang ternyata berniat jahat kepadanya. Terbangun dari tidur, Ellie kini berusaha mati-matian untuk mencarikan keadilan bagi nasib Sandie. Elemen horor terbangun juga dari tidur, merayap di balik usaha Ellie. Gadis itu sekarang melihat hantu-hantu dari orang yang jahat kepada Sandie, seperti jadi mengejar dirinya. Mereka ada di mana-mana!

Eloise yang jadi takut tidur, heck bahkan dia jadi terlalu stress untuk bisa tidur, kehidupan akademis dan sosialnya merosot drastis, ditambah dengan dia menjadi percaya bahwa dunia tidaklah pernah jadi tempat yang baik-baik saja (tidak sekarang, tidak dulu, dan mungkin tidak di masa mendatang) — inilah horor sebenarnya yang digambarkan oleh cerita Last Night in Soho. Ini jauh lebih seram ketimbang wajah-wajah burem ataupun darah-darah muncrat dari penampakan hantu. Wright menunjukkan kepekaannya terhadap perubahan tempo lewat bangunan misteri di dalam narasi seperti yang ia tunjukkan di film ini. Bahwa dia bisa menjalin horor, baik itu lewat komedi ataupun drama, karena dia mengerti bagaimana membangun dan mendeliver. Gaya-gaya tadi bukan cuma supaya gak bosan, melainkan juga merupakan pengalih perhatian yang cantik, makanya gak jarang kita menemukan diri kita caught up by surprise setiap kali menonton film Wright.

Salah satu tema tersembunyi dalam film ini adalah soal nostalgia. Bagaimana orang bisa obses sama nostalgia, meskipun dia enggak ngalamin langsung hal nostalgia tersebut. Seperti Eloise yang ngaku suka 60an, padahal dia hanya tahu itu dari film, musik, atau media lain. Film ini menerjemahkan itu sebagai pelarian. Kemudian film menantang itu dengan pertanyaan “Bagaimana jika tempat tersebut sama saja dengan penyebab kita lari di awal? Do we still love it?” Maka, tidaklah bijak sebenarnya terlalu meromantisasi sesuatu yang kita gak pernah tahu, yang kita hanya rasakan sebagian kecil dari kebaikannya saja.

 

Hantu-hantu itu menyimbolkan ‘penyakit’ di masa lalu akan terus menghantui masa depan. Malah tidak akan berakhir atau tidak akan mati kecuali benar-benar ditindak, seperti yang diketahui Ellie bahwa ada satu pelaku dalam tragedi Sandie yang masih hidup di masa sekarang. Lalu, di puncak konflik Ellie, Wright membalikkan narasinya. Begitu jungkir-balik sehingga pesan tadi menjadi sedikit kabur. Menurutku, pilihan twist yang melibatkan revealing identitas satu karakter yang membuat role (pelaku dan korban) jadi kebalik inilah yang membuat Last Night in Soho jadi terbagi dua penontonnya. Gagasan yang diusung lewat pembalikan itu, aku bisa lihat, tidak mudah diterima bagi penonton. Especially karena menyangkut gender sebagai subjeknya. Jadi gak heran juga banyak yang menolak memberi skor tinggi, urung merekomendasikan, atau bahkan mengkritik keras film ini. Mungkin itu juga sebabnya kenapa film ini cepat kandas di bioskop.

Padahal menurutku memang fenomena itulah yang sedang diperiksa oleh film. Sedari awal “banyak orang jahat” itu sudah dilandaskan. Yang berarti bahwa ya, orang jahat ya bisa ada di mana-mana. Bisa siapapun. Seorang yang jadi korban ketimpangan atau kekerasan, tidak berarti mereka tidak akan bisa menjadi orang jahat. Tidak berarti setiap tindakan mereka bisa terjustifikasi. Pembunuh massal tetaplah pembunuh massal, tidak peduli dia hidup di era 60an atau di era woke kekinian.

 

 

 

 

Kekurangan film ini bagiku cuma, ceritanya belum berhasil betul memperlihatkan korelasi antara kerjaan Ellie – keberhasilannya sebagai siswa perancang busana – dengan misteri yang ia alami. Kita tidak dikasih lihat secara detil bagaimana kenyataan yang ia sibak itu berdampak kepada rancangan Ellie. Selebihnya, film ini sendiri bagai seni kontemporer. Misteri yang dengan balutan visual yang cantik sekali. Hadir dengan tetap berbobot, dan semakin gorgeous berkat penampilan akting yang flawless. Aku mungkin sedikit bias karean Thomasin dan Anya cakep-cakep, but they do understand the assignment, dan aku gak melihat ada ‘nada sumbang’ dari penampilan mereka di sini. Sedangkan untuk Edgar Wright, aku gak setuju sama yang bilang sutradara ini belum fasih di horor. Wright cuma punya formula sendiri, dan dia menerapkan horor ini ke dalam formula tersebut. Memang, hasilnya tidak seperti horor yang biasa. Ini adalah horor unik dengan implikasi gagasan yang tak kalah seram.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for LAST NIGHT IN SOHO

 

 

 

That’s all we have for now

Kenapa kita suka meromantisasi nostalgia? 

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

Comments

  1. Albert says:

    Sebetulnya yang menghantui Ellie itu kok setan2 cowok kok bukan Sandie sepintas aku udah curiga kalau Sandie bunuh mereka satu2. Setelah selesai kalau dipikir2 memang masuk akal sih, kan adegan ngobrol sama cowok2nya diliatin satu2 dengan Sandie pakai nama beda2 gitu, harusnya aku ya udah terpikir. Nenek pemilih rumahnya juga aneh masa sih ada pembunuhan di rumahnya dia ga ingat, katanya wajar di kotanya tiap hari pembunuhan, tapi di rumahnya sendiri juga wajar? Ya harusnya aku curiga, tapi ya gitulah masa sih nenek2 gitu pembunuh berdarah dingin hahaha. Agak antiklimaksnya karena aku suka Anya, udah simpatik sama dia, ternyata jadi penjahatnya, jadi rada sedih gitu. Tapi seperti kata Ellie, ya kejatahannya bisa dimaklumi sih.

    • arya says:

      Nah iya, itu clue banget sih sebenarnya, kenapa hantu-hantu cowok yang ‘dipastikan’ sama film, Sandienya masih dkaburkan identitas hantu atau bukan. Tapi ya seru juga sih misterinya

  2. Miaw says:

    Bang Aryaaaaaaaaa,
    Aku kena praaaank sama film ini, nonton sendiri ke bioskop eh blasssssss ga tau ternyata endingnya film horror 🙁
    Curhat dikit deh. Jadi aku emang mo nonton film ini di bioskop karena ada Anya Joy. Aku memang biasa nonton film ke bioskop sendiri apalagi buat ngejar premiere (krena klo nunggu temen kelamaan janjian bisanya kapan), tapi aku paling anti yang namanya nonton film horror di bioskop sendiri, klo udh tertarik dan kepo banget sama tuh film horror dah pasti janjian sama temenku.
    Aku dr awal dah tertarik bgt pengen nonton film ini krn ada Anya Joy, ga pake babibu cm baca sinopsis sekilas, apalagi yang disorot kan tentang fashion, ya makin semangat. Ternyata 1/3 ending film kok lama-lama banyak penampakan, makin kebelakang lah makin horor kaget hih, ditambhan lg yg nonton film ini di bioskop jg dikit. Kzl bgt hih, tp ya terbayar sih dengan twistnya, acting dan filmnya jg tergolong bagus.
    Aslikkk horrornya twist banget. Setelah keluar bioskop baru deh cari tau tnetang film ini secara mendalam dan ternyata genrenya memang horror -,,-

    • arya says:

      Wahahahaha, untung horornya stylish ya – dan untung gak sampai kayak Suspiria. Ini tuh kayak cerita horor ringan kayak Goosebumps, tapi ditangani dengan lebih mature, dengan perhatian pada style yang khas.
      Serem juga berarti ya pas Ellie mulai diikutin hantu-hantu di mana-mana.. Ga nyangka ya kebalik gitu ternyata keadaan aslinya. Cuma heran juga, kenapa yang diliat si Ellie malah kehidupan Sandie sampai cewek itu dibunuh. Padahal Sandienya waktu itu masih hidup. Apakah itu vision Ellie itu sebenarnya tergantung yang dirasakan oleh hantu-hantu cowok itu? – atau yang dia lihat tergantung dari sudut pandang atau bias dia sendiri dalam menerjemahkan para hantu?

      • Miaw says:

        Mulai berasa serem banget dan ngagetin itu pas Hantunya ngejar-ngejar di perpustakaan (yang ternyata ngejarnya mo minta tolong). Tapi justru perasaan ga nyangkanya itu yang bikin puas dengan twistnya itu. Keadaan kebalik itu jadi inget film KALA, ga nyangka akan ada hantu yang ngagetin (juga), dan ternyata hantunya jg mo kasih signal dan penjaga harta.
        Vision Ellie sepertinya emang masih bias dan juga dari awal Ellie sudah tersepona dengan tampilan Sandi jadi ya bisa jadi biasnya karena itu.

  3. Ilham says:

    Bener agak ganjel menurutku twistnya apalagi setelah adegan ellie ngeliat didepan mata kepalanya sendiri pas seolah2 ngeliat si sandie dibunuh padahal sandie yang ngebunuh. Dan dia langsung lapor ke polisi kalo sandie dibunuh sama jack. Disitu sih yang buat penontonnya gagal paham.

    • arya says:

      Iya, rule hantunya agak kurang jelas di sini. Terlalu ngeblur antara mana yang tindakan dari hantu, mana yang bias perspektif si Ellie karena dia udah tertanam bahwa “banyak orang jahat di London”. Sandie yang dia lihat dibunuh itu bisa jadi antara manifestasi dari keinginan para hantu cowok-cowok, atau sebenarnya Ellie sebenarnya gak lihat bunuhnya, dia cuma langsung menyimpulkan sendiri begitu ngeliat Sandie dipiting di kasur.

  4. arya says:

    Ibu si Ellie ini cuma buat ngeset kalo si Ellie punya kemampuan bisa melihat hantu, buat ngeset decoy twist juga; dikasih lihatnya di cermin, seolah yang Sandie yang Ellie lihat di cermin itu ntar juga hantu. Padahal kan Sandie masih hidup

  5. Miaw says:

    Ku pikir malah ibunya itu berpengaruhnya lebih ke ‘Sandie punya bakat sakit kejiwaan yg turun temurun alias genetik’, tp setelah baca komennya Bang Ilham iya masuk akal jg klo turunannya itu lebih ke ‘bisa lihat hantu’.

    • arya says:

      Oiya itu juga, lupa aku. Masalah kejiwaan Ellie. Dia jadi dicap sakit jiwa juga kan sama orang-orang, cuma filmnya sendiri gak milih ngebahas soal sakit jiwa itu. Kita pas nonton gak curiga ke ‘semua itu cuma terjadi di kepalanya aja’. Kita masih dibuat ngikut Ellie; mengantagoniskan orang-orang yang memang gak baik ke dia. Padahal bisa seru juga kalo film ini sekalian bahas ke sana

  6. arya says:

    Temen ceweknya jahat biar ada alasan Ellie pindah sih haha.. sama nguatin soal ‘banyak orang jahat di London’. Esensial bagi naskah untuk merancang Ellie makin merasa terkucil di dunianya supaya dia makin tertarik ke dunia 60an.
    Iya sih, rule penglihatan si Ellie itu dibikin kurang jelas. Tiga kan yang ditetapkan; Ellie bisa melihat hantu, Ellie yang udah percaya dunia banyak orang jahat, sama Ellie diduga mewarisi ‘gangguan jiwa’ dari ibunya.
    Nah di adegan dia ngeliat Sandie dibunuh itu, tiga hal itu kayaknya dimaksudkan bekerja berbarengan supaya jadi ambigu. Apa hantu-hantu ngasih pesan ke Ellie supaya bunuh Sandie, apa hantu-hantu itu marah sehingga ngasih lihat Sandie dibunuh, apa Ellie melihatnya visionnya ‘gak bener’ karena mungkin dia bias sama relate-nya dia ke Sandie, atau mungkin dia memang gangguan jiwa. Dan untuk ngecoh juga sih; karena bagi kita yang nonton itu kayak pesan dari hantu Sandie padahal nanti diungkap Sandie belum mati.

  7. alex says:

    lu ga orisinil bro. reviewer internasional blg bagus lu jg blg bagus, gapernah gw lihat ada penilaian lu sendiri. tim dirtsheet betulan dirt. copy and follow as true identity of Indonesian. coba sekali2 kalau review luar bagus, lu bs korek bagian yg kurangnya. ngikkkkuuuuuuuuuut aja kerjaannya cuma dipoles dgn bahasa yg dipaksa sinematis. HAHA !

    • arya says:

      Kasian amat ni kayaknya punya opini tentang filmnya, tapi gak berani ungkapin sendiri, jadi ngeliat-liat semua review dan jengkel sendiri karena gak ada yang bahas sesuai dengan opininya. Padahal yang namanya opini kan memang ada yang sama dengan orang, ada yang beda sama orang. Biasanya orang gampang nuduh orang sebagai sesuatu, karena deep inside dia merasakan ketakutan sebagai itu.
      Omongin aja pendapatmu, gak usah takut dibilang gak orisinil.

    • Hidan says:

      “jadi ngeliat-liat semua review dan jengkel sendiri karena gak ada yang bahas sesuai dengan opininya”
      Telak banget mas XD
      Ga tau dri kapan taon baca2 review di mydirtsheet.com ampe ke kolom komen cuma untuk ngeliat opini ato sudut pandang org lain ttg suatu karya film. Kadang sepemikiran kadang gak banget dan fine aja sih klo emang beda. Gak ampe banding2in ama reviewer luar kyk si mbak Alexandra CollinsXD

      • arya says:

        Hahaha iya, padahal tinggal komen aja pendapatnya di sini, kita gak akan ngejudge pendapat kok. Mau setuju sama orang banyak, mau beda sendiri, yang ‘dijudge’ ya filmnya. Filmnya yang pengen dibicarain bareng-bareng, kasarnya, anggap aja review di atas cuma buat pengantar diskusi.

Leave a Reply