SILENT NIGHT Review

“It is dangerous to be right when the government is wrong”

 

Malam dalam Silent Night, film-panjang debut dari sutradara dan penulis naskah Camille Griffin, tidak selamanya malam yang sunyi. Ensemble cast yang memerankan berbagai tipe karakter keluarga membuat film ini seperti kisah liburan natal dengan warna komedi yang kental. Malam barulah menjadi senyap  tatkala bencana yang melatarbelakangi dunia mereka semakin mencuat seiring durasi bergulir. Keluarga dan para sahabat yang kita lihat itu akan mati selepas malam itu. Beserta semua orang lain di seluruh dunia. While tone komedi dan kesuraman nasib yang mereka jemput dengan consent sepenuh hati tersebut memang kerap bertabrakan, membuat film ini tidak berjalan seimbang yang diniatkan, namun jika kita melihat ke belakang lebih jauh lagi, kita akan menyadari bahwa Griffin tidak membuat film ini sebagai sajian untuk kita merenungi kematian. Dan bahkan tidak juga kekudusan malam natal. Melainkan, Silent Night dihadirkan sebagai cemo’ohan terhadap masyarakat yang penakut dan pemerintah mereka yang suka memberikan informasi yang salah.

Silent-Night-trailer-1
Coba deh sekali-kali pemerintah itu diunfollow semua, gitu.

 

Natal mungkin memanglah salah satu occasion yang paling luwes untuk dijadikan latar cerita film. Kita sudah menonton beragam genre bermunculan dari tema hari Natal. Film Silent Night ini membuktikan itu dengan actually menggabungkan komedi dengan genre bencana/kiamat. Musik-musik natal yang festive yang berputar di awal akan digantikan dengan alunan yang lebih dramatis. Drama keluarga, kemudian diakhiri dengan twist yang membuat cerita menjadi dark.  

Nell dan suaminya mengundang sahabat dan kerabat mereka untuk merayakan malam natal. Film ini dibuka dengan kesibukan di pagi hari. Yang digambarkan kocak comically. Kita melihat sang suami berlarian di halaman, mengejar ayam. Art si putra sulung yang lagi motongin wortel dan tak sengaja mengiris jarinya sendiri saat kaget mendengar kegaduhan ayahnya di luar. Sementara Nell, juga anak bungsu mereka yang kembar sibuk melakukan hal lain. Kita juga diperlihatkan para tamu yang sedang dalam perjalanan ke rumah Nell. Karakter-karakter yang tak kalah ‘ajaibnya’. Istri pesolek, yang clearly naksir sama sahabat mereka, sementara suaminya yang cupu gak nyadar. Mereka punya anak perempuan yang sikapnya ngeboss abis. Ada pasangan lesbi. Ada pasangan yang jarak umurnya cukup jauh, yang actually outsider dari kelompok mereka. Ketika nanti akhirnya mereka berkumpul, kita akan notice ada kejadian seru apa yang melatarbelakangi relationship mereka semua. Tapi yang paling penting diperhatikan adalah suasana. 

Camille Griffin membangun suasana yang awkward, yang sebenarnya berlaku dua lapis. Bukan saja canggung karena ‘rahasia’ hubungan para karakter yang diungkap – mengejutkan bahkan bagi mereka sendiri. Namun juga canggung karena kumpul-kumpul mereka yang seharusnya merayakan momen natal dan kebersamaan itu, tidak benar-benar terasa seperti sesuatu yang dirayakan. Melainkan sesuatu yang mereka paksakan diri untuk merayakan, karena ini adalah kesempatan terakhir mereka bersama. Griffin menyelimuti cerita komedi ini dengan perasaan dread dari pengungkapan bahwa dunia yang dihidupi karakter ini sedang dalam bahaya yang lebih berbahaya dari pandemi korona. Ada pusaran awan gas raksasa di luar sana, membunuh setiap makhluk hidup yang dilalui. Maka pemerintah menyuruh para ilmuwan membuat pil yang bisa membuat orang mati dalam keadaan seperti tidur. Tidak menyakitkan. Obat tersebut lantas dibagikan kepada masyarakat yang terdata (gelandangan dan imigran gelap gak kebagian), guna dikonsumsi sebagai alternatif dari mati menderita. Inilah nasib yang tentu saja juga dipilih oleh Nell dan keluarga dan sahabatnya. Karena pemerintah menyuruh seperti itu.

Konflik datang dari Art, putra sulung Nell, yang meragukan keputusan tersebut. Yang menyebut usaha mereka sama saja seperti bunuh diri sia-sia. Bahwa mestinya ada cara lain. Dan bahkan Art menantang keputusan tersebut dengan mengangkat bahwa pemerintah dan para ilmuwan bisa saja salah. Silent Night seharusnya lebih berkutat di konflik ini. Karena di bahasan inilah kita baru merasa benar-benar relate dan peduli sama para karakter. Pembangkangan Art menjadi menarik karena yang ia sebutkan memang sangat relevan. Mengapa percaya begitu saja. Mengapa menyerah dengan cepat. Pihak orangtua Art pun memberi argumen yang cukup menarik. Bahwa mereka enggak tega membiarkan Art dan sodaranya mati menderita kena gas. Jadi lebih baik mati bunuh diri, mati yang udah dijamin pemerintah enggak menyakitkan. Tidak pernah ada usaha untuk pembuktian, mereka menerima saja karena begitu takutnya. Ketika Art nantinya menghirup gas dan mulai kejang-kejang, ayah dan ibu dan saudara-saudaranya langsung menenggak pil mereka. Tanpa mengecek nadi Art atau apapun yang membuktikan Art benar-benar telah tewas.

Bahasan ini relevan karena seperti keluarga Art itulah masyarakat terasa. Terlalu takut, terlalu reaktif, sehingga mudah dikendalikan dan tertipu hoax serta berita palsu. Bahkan terlalu takut untuk berjalan di luar arus. Naasnya, menjadi seperti Art di tengah lingkungan begitu justru berbahaya.

 

Setelah Thomasin McKenzie di Old dan Last Night in Soho. Lalu Archie Yates di Home Sweet Home Alone , kini giliran Roman Griffin Davis yang kebagian film sendiri. Aku senang alumni Jojo Rabbit terus dapat kesempatan menggali kemampuan akting, dan memang si Roman Griffin yang jadi Art menonjol dibandingkan bahkan Keira Knightley yang jadi ibunya, yang dijual oleh film sebagai tokoh utama. Simply karena Art-lah satu-satunya karakter yang beneran menarik di film ini. Karakter-karakter lain hanya punya gimmick komedi, mereka tidak punya motivasi ataupun urgensi yang manusiawi membuat mereka terflesh out sebagai karakter. Suami yang boring. Istri yang ‘mentel’. Anak yang kasar. Kupas mereka dari semua itu, dan berakhirlah sudah. Tidak ada apa-apa di baliknya. Naskah bergantung kepada ‘siapa sih mereka sebenarnya kepada satu sama lain’, bagaimana hubungan mereka sebelum momen di cerita ini berlangsung. Kita diniatkan untuk tertarik untuk mendengar obrolan dan konflik mereka, yang berdasarkan kepada masa lalu mereka. Tapi semua itu terasa hampa. Permasalahan mereka gak pernah benar-benar baru, ataupun terasa menarik. 

Art sebenarnya juga sama. Gimmick komedinya yang dicuatkan. Dia juga suka berkata kasar, dan melawan orangtua. Komedi situasi yang sepertinya dipantik dari bagaimana seorang anak bertindak ketika dia tahu ini hari terakhirnya. But deep inside, Art adalah anak baik dan cerdas. Karakter di balik gimmick komedinya itulah yang akhirnya mengangkat derajat karakter ini dibanding yang lain. Dan actually mengangkat film ini. Yah, walaupun cuma sedikit sih.

 

silentroman-griffin-davis-silent-night-interview
Fun fact: Roman Griffin dan anak kembar di film ini kakak adik beneran, dan ibu mereka adalah sutradara film ini

 

 

Aku gak bilang Griffin berhasil menghantarkan mix tone. Menyeimbangkannya sehingga Silent Night jadi tontonan yang enak. Walaupun dia berhasil mencuatkan perasaan canggung, yang mencerminkan sensasi ‘impending doom’ yang menyelimuti karakter-karakternya, tapi keseluruhan film ini tidak bekerja dengan demikian efektif. Tidak pernah terasa seimbang. Tone-tone yang dirancang itu sebenarnya justru saling menabrak. Dan tidak dengan dampak yang bagus. Kita tidak bisa tertawa melihat karakternya – karena gak lucu – sementara juga tidak bisa benar-benar khawatir karena dua hal. Kita tidak mengkhawatirkan mereka yang sudah siap mati. Dan karena film masih terus menyelipkan reaksi-reaksi komedi bahkan ketika sudah waktunya untuk menjadi dramatis dan kelam. Kepada Art saja – yang jadi paling dekat sebagai tokoh utama sebenarnya yang dipunya oleh cerita ini – kita juga susah untuk benar-benar peduli. Karena struktur cerita. Ketika kita mulai in-line dengannya, film malah membuat Art sebagai korban gas yang pertama di antara mereka, saat Art yang katanya ingin cari keselamatan sendiri, lari dari rumah. 

Sangat aneh rasanya ketika kita harus ikut tertawa menyaksikan karakter dealt with their relationship, sementara kita berusaha memahami apa yang terjadi di latar dunia mereka. Sementara kita berusaha mengerti kenapa mereka bertingkah kayak cult bunuh diri. Seharusnya yang dilakukan film ini adalah mengestablish dunia mereka terlebih dahulu, baru kemudian kita bisa dikontraskan dengan sikap mereka yang berusaha rileks, dan berkomedi ria dengan perkara relationship itu.

 

 

 

Film ini sudah menghadapi tantangan cukup banyak dengan menghadirkan komedi, liburan-natal, dan horor. Menambahkan elemen twist, terbukti membuat film ini jadi too much untuk Griffin. Padahal film ini punya pesan yang tak-kalah penting. Punya konsep penyampaian yang cerdas. Dengan set up suasana yang membuat sesuatu yang seperti biasa menjadi unik. Mestinya film ini establish dunia dulu, baru fokus ke karakter. Menguatkan perspektif mana yang jadi karakter utama. Membuat mereka lebih sebagai pion-pion simbolisme, dengan pengembangan yang lebih clear, ketimbang sebagai suara-suara komedi saja. Karena reaksi-reaksi mereka atas ketakutan itulah yang menarik, bukan hubungan yang makin kayak ngada-ngada.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for SILENT NIGHT

 

 

 

That’s all we have for now

Apakah menurut kalian Silent Night ini cerita yang tragis, kenapa?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

Comments

  1. Devi Lie says:

    Saya salah satu orang yg nonton film ini berharap bahwa ini Christmas feel-good movie. Menjelang second half, saya merasa ceritanya tiba2 berubah menjadi film horor. Menurut saya, film ini 3/10.

    • arya says:

      Berarti kecewa banget dong ya, dengan cara bercerita film ini yang malah menyamarkan diri sebagai christmas feel good movie di awal. Antara konsepnya memang gak worked, atau pengarahannya yang kurang kuat.

Leave a Reply