GUNDALA Review

“We must preserve our humanity.”

 

 

Indonesia juga punya komik superhero. Coba tanya deh ke ayah, paman, atau kakak kalian yang remaja di tahun 70-80an saat komik-komik tersebut lagi berjaya. Siapa tahu mereka masih menyimpan dan kalian bisa membaca dan membandingkan dengan superhero dari luar. Jika tak punya, jangan khawatir. Karena Joko Anwar bersama Screenplay Pictures dan Bumilangit Komik berniat menghidupkan para pahlawan super lokal – dibranding ulang sebagai ‘Jagoan’ – dalam jagat sinema tersendiri. Bumilangit Cinematic Universe namanya.

Gundala adalah film pembuka franchise yang menjanjikan delapan film untuk Jilid I jagat sinema ini. Ini adalah origin story tentang ‘kelahiran’ pahlawan berkekuatan petir tersebut. Bahkan jauh sebelum si tokoh mendengar nama Gundala. Bingung? Seperti yang ia lakukan pada Pengabdi Setan (2017), sutradara Joko Anwar membuat sesuatu yang benar-benar baru dari materi asli yang ia adaptasi. Tidak seperti di komik, Gundala dalam film ini bukan Sancaka sang ilmuwan. Melainkan Sancaka hanya seorang anak pinggiran yang takut kesamber petir. Di waktu kecil, Sancaka menyaksikan ayahnya tewas ditusuk oleh kelompok sendiri saat berdemo. Kemudian Sancaka ditinggal oleh ibunya yang tak kunjung pulang ke rumah. Sancaka terpaksa pindah hidup ke jalanan. Kerasnya keadaan di kota yang nyaris tak menyisakan manusia bermoral, membuat Sancaka memegang teguh prinsip hidup ‘jangan percaya siapapun dan jangan mencampuri urusan orang’. Dia survive hingga dewasa dengan prinsip tersebut. Namun setelah mendapat kekuatan dari petir yang selama ini ia takuti, Sancaka diberikan pilihan untuk bangkit dan menjadi penyelamat bagi rakyat tertindas.

“Jangan percaya orang kaya karena Batman dan Ironman cuma ada di komik”

 

Gersang. Berdebu. Panas. Ganas. Begitulah dunia tempat tinggal jagoan kita digambarkan oleh film. Kehidupan rakyat jelata benar-benar keras. Penuh ketakutan dan persaingan. Gundala bukan film pahlawan super yang meriah oleh fantasi. Tone ceritanya malah sangat depressing. Bukan kurangnya air yang membuat kehidupan mereka kering, melainkan minusnya rasa kemanusiaan. Rating 13+ yang dicapkan bahkan menurutku tidak benar-benar sesuai dengan yang digambarkan oleh film. It should be higher. Sancaka sebagai anak kecil sungguh menderita hidupnya. Dia dikejar-kejar, dipukuli, diiris telinganya. I mean, at least Bruce Wayne punya banyak duit, kan. Dia mungkin punya banyak mainan dan elektronik untuk membantunya melewati hari. Sancaka tidak punya apa-apa. Bahkan dalam momen terdamai hidupnya – dalam tidur – dia terus bermimpi tragedi. Jika kalian punya masalah melihat kekerasan pada anak kecil, kalian bakal menemukan film ini cukup susah untuk disaksikan. Karena semuanya ditampilkan tanpa ditahan-tahan. Gebukan ke kepala di-close up. Hamparan darah di-zoom. Kalopun ada tusukan yang disembunyikan oleh kamera, itu hanya karena film ingin membuat pelakunya ambigu.

Tingginya level kekerasan, banyaknya adegan yang menunjukkan pembunuhan, pengeroyokan, penipuan, pengazaban, membuat film ini lebih pantas disebut sebagai thriller-aksi realis. Karena keadaan dunia yang dinampakkan sesungguhnya adalah komentar pembuat film terhadap keadaan dunia kita yang tampak baik-baik saja. Ada tusuk menusuk setiap hari, meski tidak berdarah. Ada orang berantem setiap hari, meski cuma di twitter. Ada saling hasut, saling menebar benci, di berbagai media. Menanamkan politik ketakutan. Dan juga tidak sedikit yang memilih untuk diam seperti Sancaka. Yang sedapat mungkin menjauh dari urusan orang, daripada ntar terseret ke dalam bahaya. Perjalanan Sancaka dalam film ini adalah perjalanan untuk menjadi oase di tengah kekeringan kemanusiaan. Naskah menggempor Sancaka habis-habisan. Abimana Aryasatya memberikan kegugupan yang tepat dalam menghidupkan tokohnya, ia menyambung estafet emosi dari Muzakki Ramdhan yang jadi Sancaka cilik, untuk kemudian meluaskan kembali jangkauan emosi tersebut. Dia diletakkan dengan segera di posisi paling naas yang mengharuskan dia untuk belajar survive. Dia belajar berkelahi. Namun pelajaran yang paling susah yang harus ia lewati adalah cara menumbuhkan keberanian untuk peduli kepada orang lain. Setelah itu tercapai, barulah dia bisa fokus belajar mengendalikan kekuatan petir yang ia punya.

Untuk tujuan itu, cerita memasangkan Pengkor sebagai lawan – antitesis – dari Sancaka. Pengkor, yang separuh tubuhnya penuh luka bakar dan berjalan pincang, adalah bos dari ratusan anak-anak jalanan yang menyimpan dendam terhadap kemanusiaan. Pengkor menyusup ke lapisan atas, menanamkan orang-orangnya, dan berusaha mengatur negara sesuai dengan idealismenya. Dengan masa lalu yang mirip, bahkan lebih tragis. Pengkor adalah Sancaka jika ia tidak pernah sadar dari prinsip hidup jalanan yang ia pegang. Jika Sancaka memilih untuk menjadi hero untuk alasan yang salah. Karakter Sancaka dan Pengkor dikembangkan dari teori ‘wounds and lie’. Mereka sama-sama punya trauma yang menyebabkan mereka percaya pada satu hal yang salah. Namun Sancaka yang menyadari kesalahannya, dengan segera menjadi oposisi dari Pengkor. Pendekatan yang diambil film terhadap dua karakter ini mirip sama hubungan antara Joker dan Batman. Begitu miripnya, aku sebelum film dimulai bertaruh dengan temanku bahwa monolog “harapan bagi rakyat adalah candu” (dibawakan oleh Bront Palarae dengan nada rendah khas tokoh penjahat utama saat mengintimidasi protagonis) pada trailer sesungguhnya terjadi pada adegan Pengkor ngobrol dengan Sancaka – seperti monolog Joker kepada Batman di dalam sel di The Dark Knight (2008). Dan saat menonton aku menyesal tidak mempertaruhkan hal yang lebih signifikan, karena ternyata tebakanku benar.

Gundala mengajarkan penontonnya, yang sepertinya banyak orang dewasa, untuk tidak memelihara antipati terhadap sekitar. Karena saat kita memutuskan untuk tidak menolong siapa-siapa, kita sebenarnya juga tidak menolong diri kita sendiri. Kemanusiaan adalah satu-satunya hal yang dapat membuat zaman panas yang edan ini menjadi sejuk. Maka, jangan biarkan sikap itu mengering.

 

Gundala memang seperti superhero luar. Kekuatan Gundala original basically adalah gabungan dari Thor dan The Flash (dalam film ini hanya Thor, walaupun film sempat seolah membuild up kemampuan lari Sancaka lewat beragam adegan yang menunjukkan dirinya dikejar-kejar). Tokoh-tokoh jagoan legendaris di komik-komik lokal kita memang banyak kemiripan dengan tokoh Marvel maupun DC. Aku sebenarnya tidak ingin membanding-bandingkan, tetapi toh filmnya sendiri yang seperti memohon untuk kita bandingkan dengan film-film superhero yang lebih superior, dengan jagat sinema dan segalanya itu. Gaya dan arahan Joko Anwar klop sama gaya kelamnya DCEU. Yang menurutku bisa saja bekerja dengan maksimal. Tone gelap dapat menutupi kelemahan CGI. Aksi-aksi fantastis dari kekuatan superhero simply bisa disubsitusi dengan aksi pertarungan berbasis martial arts; serupa aksi yang pernah membuat film laga Indonesia mendapat pengakuan dari penonton mancanegara. Film melakukan porsi aksinya dengan baik. Meski ada beberapa efek CGI yang mestinya tidak perlu nekat dilakukan karena hasilnya memang tidak tampak meyakinkan. Ngaku deh , masa sih kalian gak tertawa melihat efek Sancaka jatuh dari atas gedung.

Daerahnya sering hujan tapi kenapa tetep terlihat kering dan gersang ya?

 

Dialog yang terdengar lebih ‘tinggi’ daripada tokoh yang mengucapkannya adalah khas Joko Anwar. Dalam film ini kita akan melihat anak kecil ngobrol soal dewan legislatif, yang seketika bikin aku ngakak terlebih karena teringat anak kecil di Pengabdi Setan nyebut kuburan sebagai ‘areal pekuburan’. Namun ‘ketinggian’ dialog itu pas dengan tone cerita. Jika film komit ke arah gelap dan gritty itu, maka akan tidak ada masalah. Namun sepertinya keinginan mereka untuk menjadikan film ini sebagai langkah awal – seperti Ironman sebagai pembuka MCU – malah berbalik menjadi bumerang. Karena tentu saja studio butuh jaminan film bakal laku. Jadi, Gundala yang semestinya bakal bekerja dengan baik di ranah dark and violentnya harus ada sedikit humor dan appealing buat lebih banyak orang. Maka film ini memilih untuk mencampurkan tone ala DCEU dengan sisipan guyon ala MCU. And it doesn’t mesh well together.

Lelucon-lelucon yang dimasukkan ke dalam dialog dan adegan menyebabkan film terdengar canggung. Terkadang memaksa kita untuk tertawa, padahal seharusnya kita meresapi subteks yang dikoarkan. Selain itu, lelucon ini membunuh karakter. Karena semua tokohnya jadi terdengar sama. Mereka ngomong singkat-singkat. Saling menjawab cepat-cepat. Dan pada satu titik, campuran tone cerita ini, membuat kita tak yakin kejadian penting di film harus dianggap serius atau tidak. Aku gak enak ngasih spoiler banyak, tapi pada poin muncul serum perusak moral (yea you read that right), aku benar-benar gak tahu harus ketawa atau tidak. Karena dampak dan semua yang berhubungan dengan kejadian serum itu tampak obviously make no sense, tapi film tetap lanjut karena itu adalah bagian dari rencana super jahat. Tega sekali film menggambarkan rakyat sebego itu, tapi mungkin memang di situlah letak kritikan tajam film ini terhadap keadaan sosial yang gampang terpancing. Lagian, karena semua penduduk film ini ditampakkan sudah rusak moralnya sedari awal, aku merasa susah untuk peduli dan menganggapnya serius.

Cerita bergerak terlalu cepat untuk dapat memberikan arti pada masing-masing tokoh yang muncul. Ada banyak yang seperti tokoh penting – dimainkan oleh aktor mumpuni – namun ternyata terbang menghilang begitu saja. ‘Algojo-algojo’ Pengkor itu hanya tubuh saja. Karakterisasi mereka ya hanya gimmick masing-masing. Peduli apa sama nama mereka, atau apakah mereka ada di komik atau enggak, film hanya memperkenalkan mereka sebagai Si Jurus Nari, Si Mahasiswi Bersenjata Tas, Si Dua Golok Gede. Atau mungkin nama mereka memang seperti itu, kayak tokoh-tokoh di cerita silat Wiro Sableng. Aku gak tahu. Kepedulian film memberi karakterisasi pada mereka toh juga cukup sampai di sana.

Kupikir itu semua berkaitan dengan keinginan film untuk membangun jagat sinematik. Mereka memperkenalkan tokoh, hanya untuk memancing kita nonton film berikutnya. Karena kemungkinan tokoh tersebut bakal dijelasin di sana. Dan menjamin kepada studio banyak orang bakal nonton terus karena penasaran. Kapitalis sekali, sih. Tapi memang seperti itulah industri film mainstream bekerja. Mengekor cara sukes MCU. Jangankan tokoh-tokoh seperti Ghazulnya Ario Bayu yang tampak meta sekali karena mengetahui seluk beluk cerita Gundala, atau tokoh Sri Asih yang muncul hanya sekelebat untuk mengingatkan kita kepada Wonder Woman, atau tokohnya Tara Basro yang sepanjang film menuntut untuk ditolongin, penjelasan kenapa petir mengincar Sancaka sedari kecil aja tidak dapat kita temukan dalam cerita origin ini. Karena disimpan untuk film berikutnya. Kalo film pertama ini laku. Dan kita harus membuat film ini laku untuk menjawab pertanyaan yang sengaja dibiarkan menganga tersebut. Pace film tampak tergesa-gesa seolah filmnya sendiri pengen cepat-cepat sampai ke sepuluh menit terakhir. Ke bagian yang menggoda penonton untuk episode selanjutnya.

 

 

Joko Anwar’s attempt at superhero franchise is dark, violent, and really gritty. Rasa lokal yang dihadirkan mampu memberikan warna baru yang membuatnya berbeda. It is a Jagoan movie, after all. Tapi di saat bersamaan, gaya yang diambil dalam usahanya untuk tetap berada di ranah mainstream demi menjual lebih banyak film-film berikutnya, membuat film ini terasa seperti memirip-miripkan diri dengan gaya film pahlawan super yang lebih sukses. Karakter-karakternya tak tampak benar-benar hidup. Mereka hanya melanjutkan adegan demi adegan yang berpindah-pindah dalam tempo cepat. Sancaka dan Pengkor cukup maksimal – malah Pengkor sempat bertindak kayak John Kramer si Jigsaw dengan death trapnya – tapi ada banyak lagi yang tampak penting ikut ditampilkan. Aku ingin melihat mereka lebih banyak, mendengar mereka lebih banyak. Pada akhirnya kejatuhan bagi film ini adalah mereka juga mengerahkan tenaga untuk membangun universe di depan membangun satu cerita ‘kecil’.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for GUNDALA

DRAGGED ACROSS CONCRETE Review

“No human race is superior”

 

 

 

Seperti yang dijanjikan oleh judulnya, film garapan S. Craig Zahler ini memang benar-benar membuat kita merasa seperti diseret di sepanjang beton yang keras. Sakit. And the fun fact is, konkret di sini bukan sebatas merujuk kepada ‘beton’, melainkan juga kepada hal yang lebih konkrit; kenyataan.

Dengan telah mengatakan semua itu, aku tekankan bahwa Dragged Across Concrete adalah tipikal film laga yang brutal, yang sungguh susah untuk dinikmati. Bukan semata karena aksi-aksinya sadis dan ditangkap tanpa tedeng aling-aling. Film ini bagai pil yang pahit untuk ditelan lantaran benar-benar didesain untuk menjadi sedekat mungkin dengan realita yang ada. Kekerasan terjadi, bahkan mungkin di sebelah rumah kita. Praduga masih berlangsung di sekitar kita. Film ini akan menantang moral kita terhadap itu semua. Jika kalian tipe penonton yang lebih suka menyaksikan film yang ‘baik’, yang sesuai dengan nilai yang kalian percaya, maka film ini bukan untuk kalian. Tapi jika kalian percaya bahwa sebuah film tidak harus politically correct, dalam artian film sah-sah saja punya gagasan dan moral sendiri, Dragged Across Concrete dapat menjadi tontonan yang menarik.

Cerita akan menerjunkan kita ke tengah-tengah lingkungan sosial yang penuh prasangka. Yang kita ikuti adalah dua orang polisi – polisi kulit putih – yang diistirahatkan dari tugasnya karena mereka tertangkap basah oleh media saat sedang memperlakukan tersangka yang bukan warga Amerika dengan terlalu kasar dalam sebuah misi penyergapan. Ini bukan cerita buddy-cop biasa di mana Polisi Ridgeman dan Lurasetti bakal menembaki orang jahat demi membersihkan nama baik mereka dan membuktikan kepada dunia bahwa mereka bukanlah aparat rasis yang kejam. Film ingin mempersembahkan mereka sebagai aparat yang realis. Tentu kita sering mendengar berita semacam seorang guru dipersalahkan oleh orangtua karena menampar murid yang kurang ajar, bukan? Ridgeman (Mel Gibson ini pastilah diberkahi anugerah enggak bisa salah dalam berakting) frustasi seperti kita frustasi membaca berita seperti demikian. Dia bermain sesuai aturan – salah ya dihukum – tapi dunia tidak beroperasi seperti demikian. Banyak sekali pertimbangan, dan politik, dan semacamnya. Bagaimana bisa Ridgeman tidak menganggap orang kulit hitam berandal ketika putrinya dibully oleh anak-anak kulit hitam tetangga mereka sendiri? Dan fakta bahwa dengan penghasilannya, mereka tinggal di lingkungan tak-bersahabat, semakin mempersulit Ridgeman – atau let’s face it, siapapun – untuk tidak berprasangka terhadap orang-orang di sekitarnya. Film, pertama dan terutama sekali, ingin supaya kita bisa mengerti penyebab polisi seperti Ridgeman dan Lurasetti menjadi rasis. Dua tokoh ini tidak mau bersikap begitu, tapi mereka harus. Untuk dua setengah jam ke depan kita akan melihat mereka berdua – yang untuk sementara ini bukan polisi – mengambil tindakan dan keputusan yang bukan saja bertentangan dengan nurani kita, tapi juga bertentangan dengan nurani mereka sendiri.

Ditembak pistol kini bukan apa-apa jika dibandingkan dengan ditembak oleh kamera media

 

Untuk alasan tersebutlah, film dengan tokoh menarik ini jadi sukar untuk ditonton. Mengikuti dua polisi bergerak layaknya gangster, mencoba merampok geng bandit lain setelah merampok bank, melewati adegan demi adegan brutal yang datang dan pergi begitu saja meski direkam dengan gaya yang begitu sinematik; kita akan mendapati kita bertanya kepada diri kita sendiri apakah film ini sedang menggebah kita untuk percaya kekerasan adalah hal yang benar, atau sedang memberikan gambaran sejauh mana seseorang bisa berbuat jika merasa punya alasan untuk menganggap diri superior daripada orang lain.

Sebagai pembanding untuk membantu kita menemukan jawaban buat pertanyaan di atas, film memberikan sepasang tokoh yang paralel dengan perjalanan dua polisi tadi. Henry Johns dan sepupunya, Biscuit. Kita bertemu Johns yang diperankan gemilang oleh Tory Kittles pada adegan pembuka. Ia adalah seorang pemuda kulit hitam yang baru saja keluar dari penjara – alasan dia dipenjara penting dan berkaitan langsung dengan gagasan yang hendak film ini angkat, jadi alasan tersebut dipasang sebagai pengungkapan di menjelang akhir cerita – dan menemukan keluarganya berantakan, nyaris tanpa support ekonomi. Kali lain kita bertemu lagi dengan Johns dan Biscuit, mereka sudah bekerja menjadi supir untuk gerombolan bandit perampok bank yang sedang dibuntuti oleh Ridgeman dan Lurasetti. Johns dan Biscuit punya agenda yang sama dengan Ridgeman dan Lurasetti; merampok dari perampok. Mereka berdua juga terbebani oleh status ras dan keadaan sosial. Tidak jauh-jauh kita bisa menyimpulkan Johns dan Biscuit susah mendapatkan pekerjaan yang bener karena warna kulit mereka. Film malah dengan ironisnya menunjukkan untuk membantu kelancaran perampokan, Johns tidak cukup dengan hanya menyamar pakai seragam security, dia juga harus membedaki kulitnya hingga menjadi putih.

Dragged Across Concrete membuat kita melihat bahwa tidak ada benar-salah yang hitam-putih di dunia. Khususnya, hitam-putih tersebut tidak serta merta diwakili oleh orang kulit hitam dan orang kulit putih. Kedua pihak sama-sama melakukan, kedua pihak sama-sama dirugikan. Dan tidak membantu jika media malah membesar-besarkan ketakutan dengan menunjuk-nunjuk siapa yang mana.

 

Jika mencari pihak yang dipersalahkan, jelas sekali film mengacungkan telunjuknya ke hadapan media. Yang memping-pong isu rasisme ke sana kemari. Hanya untuk tujuan ‘cari cerita’ tanpa benar-benar berniat mencari pemecahan masalah. Gampang untuk membingkai kulit hitam sebagai korban, dan kulit putih sebagai pelaku. Mengaitkan semuanya dengan masalah minoritas dan mayoritas. Tapi eksplorasi terus-menerus terhadap hal tersebut justru memperbesar prasangka yang ada. Dalam film ini kita melihat pengaruh media terhadap Ridgeman; justru dialah ternyata yang paling takut. Padahal Ridgeman adalah mayoritas yang berjuang di ranah menegakkan keadilan bagi yang tertindas, yang selalu dipatri dari minoritas. Dan kalian harus melihat bagaimana film ini memperlakukan tokoh-tokoh wanita. Mereka semua punya pekerjaan. Namun film seperti ingin mengarikaturkan pandangan media tentang kelas sosial; putih – hitam – dan wanita. Satu kali mereka bisa sejajar dengan pria ternyata ada pada harapan tokoh Lurasetti yang punya pacar wanita kulit hitam.

Dan itu tak lebih dari sekedar fantasi yang batal terwujud.

 

Dengan durasi yang begitu panjang, sesungguhnya ada banyak bagian yang mestinya bisa dibuang karena tidak benar-benar menjalin narasi. Aku akan bilang begitu jika saja film ini dibuat sebagai film-laga normal. Banyak adegan-adegan yang tampak tak penting seperti menit-menit yang didekasikan untuk memperlihatkan Vince Vaughn makan sandwich, ataupun di sekitar pertengahan film beralih sudut pandang gitu aja ke seorang wanita pegawai bank yang berat hati kembali bekerja dan meninggalkan anaknya di rumah. Yang bisa dengan gampang dicut dan sama sekali tidak mengubah gagasan cerita atau merusak karakter tokohnya. Tapi kita tahu ini bukan film-laga yang biasa. Menit-menit ekstra itu adalah keputusan-kreatif beresiko yang diambil oleh film. Menonton ini membuatku teringat pada Pulp Fiction (1994)-nya Quentin Tarantino. Pulp Fiction juga banyak adegan-adegan ekstra, tapi lantaran diceritakan dengan struktur yang unik, justru menjadi gaya bercerita yang asik. Dragged Across Concrete bisa mencapai hal yang seperti itu jika strukturnya dipecah dan dibangun kembali. Sutradara Zahler tetap bercerita linear, sehingga semuanya menguatkan ilusi realis yang ingin dibangun. Ketidaknyamanan gabungan dari durasi, kekerasan, dan dialog, menjadi poin vokal yang tidak mungkin dihilangkan oleh film ini.

Tidak ada golongan yang lebih baik, semuanya punya cela. Itulah yang membuat manusia menjadi menarik dan berjuang ke arah yang lebih baik. Jangan berpaling dari semua itu. 

 

 

 

Dihidupkan oleh penampilan akting yang luar biasa. Namun sesungguhnya bagian terbaik film ini adalah ketika dia menjadi yang terburuk dari semua orang. Rasis, kasar, semena-mena, keputusan yang salah, film mengajak setiap manusia yang meluangkan waktu menontonnya untuk berani menghadapi realita. Film memang ingin membuat kita takut. Jijik. Kasihan. Karena sudah sepatutnya kita merasa persis seperti demikian terhadap kehidupan sosial kita sekarang. Berhenti merasa jadi pahlawan jika hanya melihat satu sisi dan berpaling dari sisi yang paling buruk. Sebagian besar yang dikatakan oleh film, oleh tokoh-tokohnya, aku pun tidak setuju. Tapi aku juga tidak bisa berpaling ke arah lain, dan melihat hal lain dan merasa lebih baik padahal yang kulihat sebenarnya adalah hal yang serupa. Jika realita yang ingin kalian lihat, maka setidaknya jadikan film ini sebagai latihan terlebih dahulu.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for DRAGGED ACROSS CONCRETE.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Jadi apakah yang sebenarnya rasis itu adalah media yang selalu memfokuskan kepada golongan ras pelaku dan golongan ras korban?

Share with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

STUBER Review

“Real men fight standing up”

 

 

Mana yang lebih jantan?

Vic, seorang polisi berbadan kekar yang jago berkelahi, yang menghantam pintu untuk masuk alih-alih mengetuk, yang memprioritaskan balas dendam kepada musuh ketimbang menghadiri pagelaran seni putrinya.

Atau Stu; perjaka bucin yang sebagai karyawan toko dibully oleh bosnya, untuk kemudian beramah tamah sebagai pengemudi Uber tapi tetap saja tak pernah mendapat bintang-lima, yang lebih suka membicarakan perasaannya daripada berkelahi, tapi tetap saja dia belum mampu menyatakan cinta kepada cewek yang sampai saat ini masih menganggapnya teman.

Vic dan Stu, oleh naskah Stuber, dipertemukan ketika Vic yang matanya lamur karena operasi lasik memesan Uber untuk melacak keberadaan gembong narkoba yang dulu membunuh partnernya. Stu yang tak-biasa terlibat baku tembak tentu lebih suka untuk ke tempat cewek taksirannya menonton DVD. Tapi dia begitu butuh bintang-lima yang dijanjikan oleh Vic. Jadi mau tak mau dua orang ini musti bekerja sama. Mengejar petunjuk dari satu tempat yang menantang persepsi mereka tentang maskulinitas satu ke tempat lainnya. Dan semua itu dilakukan film lewat nada komedi yang sangat histerikal dan balutan aksi berdarah yang over-the-top.

salaman adalah pelukan antara tangan dengan tangan

 

Disetir oleh dinamika dan chemistry dari Dave Bautista (I’m just gonna called him Batista, because you know; WWE) dan Kumail Nanjiani, komedi Stuber berjalan dengan relatif lancar. Formula bentrokan karakter mereka bekerja dengan baik. Satu kuat, satu lemah. Satu perkasa, satu perengek. Kita sudah sering melihat cerita buddy-cop seperti begini. Batista dan Nanjiani bertek-tok dengan kocak. Mereka diberikan ruang yang cukup luas untuk mengeksplorasi tokoh masing-masing. Untuk sebagian besar waktu, Batista tidak bisa melihat apapun, dia tidak bisa berkendara, apalagi menembak dengan benar (obvious metafor dari dia tidak dapat melihat apa yang sebenarnya perlu ia lakukan terhadap orang-orang di sekitarnya). Melihatnya menambrak benda-benda, sambil nyeletuk nyalahin benda itu, trying to be cool dengan kelemahannya – basically cara penulisan membuat cacat-karakter diamplify untuk tujuan komedi – sungguh menghibur. Bibit komedi Batista ini sudah mulai tampak ketika dia memainkan tokoh heel (bad-guy) di jaman-jaman dia masih pegulat di WWE. Batista seringkali memerankan karakter jahat yang merengek, dia sudah terbiasa memanfaatkan sisi lemah karakternya menjadi sesuatu tontonan yang menghibur. Di sisi lain, Nanjiani akan menyuplai kita dengan tawa yang datang dari cara dia uring-uringan disuruh melihat hal-hal yang membahayakan nyawanya. And he’s so good at keeping his face straight, dan kemudian meledak. Dia mencoba menormalkan semua itu, sehingga dia terpaksa mengambil tindakan – sesuatu yang selama ini tidak pernah ia lakukan.

Yang membuat dua tokoh berlawanan ini menarik, yang membuat mereka sedikit berbeda dari trope-trope karakter yang film ini gambarkan, adalah Vic dan Stu sesungguhnya punya tujuan yang sama – sehubungan dengan ‘apa sih yang membuat pria itu jantan’ – namun memiliki jalan/kepercayaan yang berbeda dalam mewujudkannya. Walaupun divisualkan lewat interaksi yang receh dan lebay, Vic dan Stu merupakan contoh penulisan ‘konflik nilai karakter’ yang menarik.

Menurut buku Anatomy of Story karangan John Truby, tokoh utama dan lawannya mesti ditulis untuk punya tujuan yang sama, tapi dibuat berkonflik dengan mengeset mereka punya value yang berbeda. Dalam hal dua tokoh film ini – yea, Stu dan Vic menganggap masing-masing sebagai antagonis dari mereka sendiri. Makanya dalam film ini dengan kocaknya kita dibuat lebih percaya mereka lebih mungkin untuk saling bunuh daripada tewas di tangan gangster narkoba. Tedjo yang diburu oleh Vic bukanlah antagonis yang sebenarnya – we’ll talk about hubungan Tedjo dengan Vic belakangan. Karena film ini sebenarnya adalah pertarungan kejantanan antara Vic dengan Stu. Dan meskipun komedi yang stereotipe, Stuber tak jatuh ke dalam gambaran banal tentang maskulinitas seperti Pariban: Idola dari Tanah Jawa (2019) yang pada akhirnya hanya menjadi cerita gede-gedean ‘ucok’. Stu dan Vic punya value yang berbeda tentang kejantanan; kepercayaan mereka itulah yang menjadi konflik utama. Jadi mereka gak sekadar berantem karena beda sikap. First of all, Vic dan Stu harus dapat melihat bahwa meskipun beda ‘misi’ sebenarnya mereka ingin satu hal yang sama; to man up. Kemudian mereka terus didorong untuk mencapai tujuan yang sama tersebut. Stake selalu diangkat; Stu ditelpon demenannya, Vic ditelpon putrinya. Yang satu terjebak dalam perangkap maskulinitas yang toxic, sementara yang satu lagi seperti begitu lemah bahkan untuk menjadi seorang manusia. Mereka punya pandangan yang berbeda yang pada akhirnya menjadi konflik-langsung. Ada pertentangan nilai pada adegan berantem malam-malam superngakak di supermarket itu. Itu adalah klimaks dari konflik mereka. Bagian yang bakal menjawab pertanyaan yang menjadi topik utama film ini.

Jawabannya adalah, the real men – jantan sesungguhnya – adalah pria yang ‘berkelahi’. Untuk disebut cowok, ya kita harus berantem. Dalam artian, berani mengonfrontasi masalah dan perasaan dan segala macam yang menghadang di depannya. Yang tidak lari dari semua hal tersebut.

 

Film ini menulis karakternya dengan ‘rumus’ yang benar; sesuai dengan teori K.M. Weiland tentang desain konflik dan karakter arc. Vic punya ‘wound’ yang membuatnya menciptakan ‘kebohongan’ yang ia percayai sendiri karena dia begitu trauma terhadap ‘wound’ tersebut. Partner Vic yang tewas adalah seorang polisi wanita, yang digambarkan oleh film jauh lebih kompeten dan taktikal dibandingkan Vic yang gasrak-gusruk. Maka Vic merasa gagal, dia merasa enggak cukup jantan sehingga membuat partnernya tersebut meninggal. Tokoh Tedjo – antagonis utama yang diperankan oleh Iko Uwais – adalah perwujudan dari bagaimana Vic memandang dirinya sendiri. Kecil, bengis, dan yang membunuh si partner. Makanya Vic begitu personal ingin menangkap Tedjo. Baginya ini lebih dari sekedar balas dendam. Dia ingin membunuh bagian dari dirinya yang tidak jantan. Ini juga berpengaruh terhadap cara ia memandang Stu pada awalnya. Banyak penonton yang mengeluhkan kurangnya peran Uwais di film ini. Aku setuju, Uwais yang personalitynya berusaha diperkuat oleh dandanan rambut nyatanya tidak banyak diberikan sesuatu untuk dilakukan. Mungkin memang Uwais yang belum bisa luwes berakting, atau memang mungkin karena film ‘menyia-nyiakan’. Tapi aku juga bisa melihat bahwa karakter Tedjo di sini sudah benar-benar bekerja sesuai dengan fungsinya. Karena seperti yang sudah kusebutkan; bukan dia ‘real villain’ yang harus dikalahkan oleh Vic dan Stu. Tedjo literally hanyalah device, jadi tokoh ini masuk akal untuk tidak terlalu banyak bicara.

Batista pada dasarnya selalu “I walk alone”

 

Garapan komedi film ini dapat menjadi cringey ketika berusaha untuk tampil kontemporer. Film berusaha memasukkan banyak sindiran dan pandangan mengenai toxic masculinity yang diam-diam menjamur di kehidupan sosial masyarakat. Pukulan terbesar yang berusaha dilayangkan oleh Stuber adalah mengenai Amerika yang merasa lebih ‘jantan’ daripada minoritas seperti Stu. Kadang celetukan sosial tersebut tampak terlalu banal, it takes the fun out of our central characters. Kita bisa menyebut film ini sebagai iklan Uber terselubung, sama seperti kita bisa menyebut Keluarga Cemara (2019) sebagai iklan Gojek terselubung. Ada banyak lelucon seputar Uber, I mean, penggerak terbesar Stu salah satunya adalah ia pengen dikasih rating bintang-lima; ini seharusnya udah menjadi peringatan betapa lebay dan in-the-facenya film ini bakal menjadi. Juga berkaitan dengan cara hidup masyarakat jaman sekarang. Beberapa ada yang bisa kita relate – buatku, aku juga sebel kalo dapat driver ojol yang terlalu sok-akrab, beberapa ada yang terlalu komikal.

Yang membawa kita ke bagian krusial; yakni porsi aksi. Lelucon lebay dalam film ini semakin cringey lagi ketika dibawa ke ranah aksi. Film punya cara tersendiri untuk menunjukkan kekerasan dan bullying kini bisa berlangsung di sosial media, dan cara itu boleh saja lucu, tapi terlalu ‘maksa’. Film ingin menampilkan aksi jantan yang kocak. Adegan-adegannya memanfaatkan tembak-tembakan, balap-balapan, dan hukum fisika beneran yang dimainkan untuk efek komedi. Untuk urusan berantem pake tangan, aku pikir aku gak bisa minta lebih banyak kepada film ini selain melihat Batista nge-Spear Iko Uwais. Dua orang ini mendeliver cerita dengan baik lewat baku-hantam, dan memang keduanya terlihat lebih nyaman ‘ngobrol’ lewat adegan berantem. Sayangnya, kamera tidak mengerti keunggulan dua orang ini. Karena kamera justru memilih merekam dengan handheld, dan banyak bergoyang, yang sama sekali tidak menunjang pertunjukan aksi yang mereka suguhkan.

 

 

 

Lewat perjalanan dua tokohnya yang amat berseberangan, film ini menjelma menjadi perjalanan maskulinitas genre aksi yang dibuat dengan penuh kekonyolan. Film ini enggak mikir dua kali untuk menjadi stereotipikal, juga enggak ragu untuk menjadi lebay. Film ini meledak-ledak, tapi bukan ledakan api beneran. Yang membuatnya justru malah dapat menjadi turn-off buat sebagian penonton. Punya tujuan untuk mencapai banyak, lewat dialog dan latar yang kontemporer; tapi karena memilih untuk menjadi yang actually ia sindir, film terasa seperti going nowhere antara gagasan yang ia angkat dengan konsep aksi yang ia hadirkan.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for STUBER.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Menurut kalian ada gak sih hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan oleh cowok?

Share with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

HIT & RUN Review

“… being human means we invite spectators to ponder what lies behind.”

 

 

Selayang pandang, komedi aksi Hit & Run yang disutradarai oleh Ody C. Harahap tampak seperti komentar lucu dari fenomena polisi yang semakin sering muncul (lebih tepatnya; memunculkan) diri di televisi dan sosial media. Kita sering tergelak melihat postingan video-video polisi yang berjoget di sela-sela tugasnya. Bahkan salah satu stasiun televisi ada yang nayangin reality show khusus untuk memperlihatkan seluk beluk kinerja polisi. Menontonnya tentu saja seru dan menghibur.

Trope ‘polisi narsis’ dimunculkan oleh Hit & Run di mana kita mendapat Tegar sebagai tokoh utama. Seorang polisi yang begitu cool dan jagoan, sehingga setiap kali dia beraksi – entah itu gerebek kelab malam atau melumpuhkan maling di toko swayalan – dua kamera in his command harus ada ‘menembak’ semua aksinya. Tegar (Joe Taslim mencoba bersenang-senang dalam peran utama layar lebarnya yang pertama) adalah polisi sekaligus selebriti. Judul film ini actually mengacu kepada judul reality show yang dimiliki oleh Tegar. Dua kerjaan profesional Tegar tersebut akan membawa kita ke banyak momen-momen komedi, momen-momen aksi, dan seringkali kedua momen-momen itu bercampur menjadi satu. Salah satu misi membawa Tegar bertemu dengan banyak orang, salah satunya adalah Meisa (Tatjana Saphira loh ya, bukan Tatjana Safari), seorang diva televisi yang punya ‘kehidupan in-camera’ yang sama dengan Tegar. Misi perburuan gembong narkoba yang kabur dari penjara itu semakin intens dan personal as orang-orang di sekitar Tegar yang tadinya hanya ia niatkan sebagai ‘penonton’ berangsur tertarik masuk menjadi ‘pemain’ yang membuat mereka semua dalam berada dalam jangkauan marabahaya.

Hidup adalah reality show yang sesungguhnya. Mengutip kata aktor John Cusack; bahwasanya kata ‘person’ itu berasal dari bahasa Latin yakni ‘persona’ yang artinya topeng. Kita berusaha mencari topeng yang disukai dan diapresiasi oleh publik sehingga kita nyaman berada di baliknya. Di saat yang bersamaan itu juga berarti kita sebagai manusia mengundang manusia lain untuk merenungkan apa yang ada di balik topeng-peran kita.

 

Light, Camera, Acti…Bak! Bik! Bugh! Wewwrgh!

 

Plot – yang menjadi inner persona – film ini sebenarnya enggak buruk. Tegar yang harus belajar menyadari bahwa dia boleh saja adalah bintang utama dalam reality shownya, namun reality show itu hanyalah bagian kecil dari hidupnya. Dan hidupnya sendiri juga secuil bagian dari banyak kehidupan lain yang ada di sekitarnya. Adegan pertarungan besar dengan preman narkoba yang paling jago berantem mencerminkan bahwa teman-teman Tegar bukan hanya penonton. Tegar memerlukan bantuan mereka. Tegar, setegar apapun namanya, harus mengakui kalo dia butuh orang yang mengerti dirinya di balik topeng polisi ngehits yang ia kenakan.

Inner persona film ini sayangnya, terkubur begitu dalam. Film menciptakan banyak ‘topeng-topeng’ berupa elemen-elemen penghias untuk menarik perhatian penonton. Susah memang menjual cerita original karena penonton biasanya lebih mudah tertarik dengan branding. Lebaran ini, Hit & Run bersaing dengan empat film lain yang tiga di antaranya adalah sekuel. Butuh banyak usaha, bukan saja untuk menjual cerita ini, melainkan juga untuk membuatnya terwujud menjadi film. Hit & Run tampil dengan begitu banyak hiasan yang all over the place sehingga gagasan aslinya nyaris tak kelihatan lagi. Apa yang seharusnya adalah lapisan, atau layer yang membungkus cerita, pada akhirnya hanya menjadi tempelan jika tidak berhasil dintegralkan dengan baik. Menyebabkan benturan tone cerita setiap kali film berusaha live it up to it’s unusual genre.

Hit & Run mainly tampil sebagai buddy cop komedi karena interaksi paling banyak datang dari Tegar dan ‘partner terpaksanya – seorang pemuda yang punya koneksi ke tempat-tempat yang berhubungan dengan jaringan bandar narkoba yang ia cari. Dinamika antara Tegar dengan Lio (delivery dan penampilan akting Chandra Liow adalah yang paling lemah di sini, dia annoying alih-alih kocak) tidak mampu bekerja dengan baik sebagai fondasi utama. Development tokoh Lio memang sangat kurang, kita tidak pernah percaya pada setengah hal yang diucap oleh mulutnya. Melihat Tegar memarahinya tidak menimbulkan simpati, apalagi menarik urat ketawa. Aku berbisik “bunuh, bunuh!” karena aku pengen karakter ini lenyap dan diganti oleh sidekick yang lebih menarik. Agak-agaknya film berusaha meniru chemistry antara Jackie Chan dengan Chris Tucker di Rush Hour (1998). Langkah-langkah investigasi mereka pun mirip. Bahkan ada adegan dengan musik di tape mobil yang mirip dengan adegan film tersebut. Ketinggian, memang. Jangankan Chan dan Tucker, kharisma Liow bahkan tidak mampu mengimbangi Taslim.

Tentu saja harus ada cinta-cintaan. Love interest udah jadi staple standar di film-film Indonesia yang mengincar ‘laku di pasar’. Dalam Hit & Run, however, elemen ini hadir setengah-setengah. Dengan cara yang aneh pula. Sekuen romance dalam film ini berupa Tegar main piano bernyanyi bersama Meisa. See the problem? ‘adegan’ nyanyi ditempatkan sebagai ‘sekuen’ – underdeveloped banget. Meisa harusnya diberikan lebih banyak peranan karena karakter ini yang paling mendukung inner-journey Tegar. Permainan akting Tatjana Saphira paling menonjol di sini lantaran dia harus beralternate antara berakting sebagai orang yang lagi akting sebagai penyanyi lebay yang jadi gimmicknya dengan berakting sebagai pribadi asli si penyanyi. Tatjana juga sedikit terlibat porsi aksi. Tapi film kelihatan seperti tak tahu harus melakukan apalagi buat dua tokoh ini. Seharusnya ini yang mengambil center stage.

lebih cocok jadi Hit & Miss

 

Jika kita dapat melihat ke balik topeng seseorang, maka kita akan mendapat cahaya soal siapa sebenarnya mereka. Dan jika cahaya tersebut cukup terang, pada saat itulah kita akan jatuh cinta. 

 

Ada satu, eh salah, DUA lagi hubungan penting Tegar yang ter-glossed over. Disebutkan di awal, menghilang di tengah, dan baru dibahas lagi di akhir. Yakni dengan adiknya, dan dengan si preman narkoba itu sendiri. Dua tokoh ini padahal orang yang penting dalam kehidupan Tegar. Mereka adalah alasan kenapa Tegar menjadi narsis sekaligus punya keinginan yang kuat untuk membasmi kejahatan. Drama kakak-adik yang dimiliki cerita juga sesungguhnya yang membuat film ini pantas berlaga di masa-masa lebaran; there’s a lot more tentang keluarga yang disinggung oleh film ini. Tapi semuanya disebut sekenanya saja. Pada saat preskon di Bandung, aku sempat bertanya kepada beberapa cast ‘apa sih yang mereka sukai dari karakter mereka di film ini’. Nadya Arina yang jadi adik Tegar dan Yayan Ruhian yang jadi bebuyutan Tegar tidak bisa menjawabnya karena nanti akan spoiler. That’s how bad the characterization in this film is.  Beberapa tokohnya cuma pion dalam cerita – kau penjahat, kau sandra – tidak benar-benar ada karakter.

Yang dengan antusias menjawab tentu saja adalah Joe Taslim karena tokoh Tegar menawarkan banyak hal baru untuk ia jalani.  Dia melakukan semuanya mulai dari komedi, bernarsis ria, hingga berantem yang udah jadi zona nyamannya. Satu lagi yang mengaku dan benar-benar terlihat have fun dalam film ini adalah Jefri Nichol. Aktor muda yang biasanya jadi pemain utama ini pada Hit & Run perannya gak gede-gede amat, tapi sangat berbeda. Sudah seperti satir dari peran-peran yang biasa ia mainkan. Penggemar Nichol akan melihat hal tersebut sebagai suatu appeal yang luar biasa. Karena faktor eksternal semacam demikian, film ini akan jadi dua kali lebih bekerja di mata penggemar-penggemar satuan elemennya.

Penggemar aksi tentunya akan sangat senang. Belum lama ini kita dibikin excited sama kemunculan dua ikon laga tanah air di John Wick: Chapter 3 – Parabellum (2019), dan Hit & Run bisa jadi encore yang kita minta. Sekuen aksinya sangat serius, walaupun kamera agak sedikit terlalu banyak bergoyang, kita bisa melihat porsi aksi ini digarap oleh orang-orang yang memang mengerti cara bercerita lewat adegan berantem. Aksi tak pelak adalah bagian terbaik yang dimiliki oleh film ini. Ada sense nostalgia juga; penggemar film laga pasti jejeritan menyadari ini adalah pertemuan pertama Taslim dengan Ruhian setelah The Raid delapan tahun yang lalu.

 

 

 

Pengen menghadirkan aksi serius yang bisa dinikmati oleh lebih banyak kalangan, film menampilkan komedi yang lebih banyak miss ketimbang hit dan adegan laga yang hits hard! Punya materi yang menarik, tapi eksekusinya menyerempet di bawah standar. Film berusaha menutupi dengan membuat ceritanya berlapis. Memasukkan terlalu banyak aspek dalam upaya untuk tampil menghibur, akan tetapi tidak pernah bercampur dengan baik. Sehingga jatohnya sebagai tempelan, dan menyebabkan tone cerita amburadul. Juga kelihatannya aneh komedi dengan tokoh yang dikelilingi kamera ke mana-mana, mungkin kalo dibuat bergaya mockumentary ala What We Do in the Shadows (2014) bisa lebih maksimal kocaknya. Buddy-cop namun tema besar ceritanya tersimbol pada hubungan tokoh utama dengan penyanyi; sudah bisa lihat dong gimana kacaunya film ini. Meskipun demikian, hardcore fans dari pemain ataupun dari genrenya akan menyukai film ini lantaran banyak persona-persona aneh yang diberikan, banyak tantangan tak-biasa yang dimainkan.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for HIT & RUN.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Menurut kalian narsis itu penting gak sih? Seberapa jauh kalian menempuh usaha untuk pencitraan?

Share with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

JOHN WICK: CHAPTER 3 – PARABELLUM Review

“A man’s life is about keeping rules, breaking them, and making new ones.”

 

 

Dunia profesional John Wick adalah dunia ‘bawah tanah’ yang penuh darah. Tapi bukan lantas berarti dunia mereka amburadul. Malah mungkin lebih teratur daripada dunia kita. Karena mereka punya kode etik sendiri. Dan mereka-mereka yang terdiri dari pembunuh bayaran, mafia, bandar narkoba tersebut benar-benar memegang teguh peraturan tersebut. “Karena tanpa aturan, kita adalah binatang” begitu kata salah satu petinggi High Table yang menjadi semacam lingkaran pemimpin mereka. Tapi John Wick melanggar peraturan penting di tempat paling sakral yang mereka miliki. Zona aman; sebuah hotel tempat para anggota dunia hitam bisa bersantai, mungkin sambil menyembuhkan diri, tidak ada yang boleh menjalanakan ‘bisnis’ mereka dalam bangunan hotel tersebut. Dan John Wick telah menumpahkan darah di sana.

Cerita film ini dibuka dengan John Wick, bersama anjing kesayangannya, berlarian di sepanjang kota berusaha untuk sampai ke suatu tempat sebelum waktu tenggat satu jam diberikan kepadanya habis. Wick dicabut dari keanggotaan, sekarang kepalanya ditempeli label harga empat-belas juta dolar sesegera mungkin saat satu jam tersebut habis. Wick akan diburu oleh anggota geng hitam dari seluruh sudut gang, seantero dunia. Bahkan bagi penonton yang belum pernah menonton dua film sebelumnya, Parabellum ini akan seketika menguarkan intensitas yang luar biasa. Stake dengan cepat dan efektif terlandaskan. Enggak banyak cing-cong, kita semua langsung tahu ini urusan hidup dan mati. Bahaya mengintai Wick di mana-mana. Kita dapat merasakan betapa besarnya dunia yang menjadi panggung cerita. Dengan John Wick di tengahnya, sendirian di tengah entah berapa banyaknya jumlah musuh. Kita melihat mekanisme komunikasi organisasi mereka bekerja. Kita diperlihatkan seberapa banyak dan besarnya keinginan orang-orang untuk menangkap John Wick. Hal-hal kecil seperti uang bounty yang dinaikkan, ataupun Wick yang terus melirik jam tangan, atau ketika dia harus merakit pistol yang ia temukan dengan cepat sebelum waktu habis, adalah cara film bermain dengan emosi kita. Sehingga kita merasakan desakan. Urgensi. John Wick bahkan diserang sebelum satu jam itu habis! Set up dan build up film ini diceritakan dengan begitu efektif sehingga yang baru sekali ini nonton film John Wick sekalipun akan dapat merasakan kepedulian dan simpati terhadap nobody yang sedang mereka saksikan.

Well, “That f-king nobody… is John Wick!”

 

Benar, kita datang membeli tiket film ini demi menyaksikan sekuen-sekuen aksi yang super-gilak (we’ll get to that later). Tetapi pembangunan dunianya inilah yang membuat kita betah untuk menyaksikan lagi, dan lagi, dan lagi. Sedari film originalnya, John Wick sudah sukses dalam membangun dunia. Lewat film-film John Wick, sutradara Chad Stahelski berhasil membuktikan bahwa film aksi yang brutal bisa kok ditampilkan elegan. Dia juga membangun ‘panggung’ untuk membuat kita penasaran sekaligus semakin tersedot ke dalam dunia cerita. Mengenai backstory John Wick saja, meskipun saat itu belum visual, tapi cerita yang mereka ceritakan dengan setengah-setengah dan bertahap itu membuat kita gak pernah berhenti menggelinjang. John Wick adalah mantan assassin. John Wick adalah seorang baba yaga (boogeyman) yang membunuh tiga orang dengan sebatang pensil. Kita tidak diperlihatkan bagaimana tepatnya, namun dari aksi yang ia lakukan kita tahu rumor tersebut benar seratus persen. Film tidak berhenti sampai di sana untuk mengeksplorasi karakter John Wick. Di film kedua kita beneran dikasih lihat John Wick menggunakan pensil untuk membunuh. Dan di film sekarang, mitos John Wick tetap terus dikembangkan; di film ini kita melihat John Wick membunuh orang dengan buku!

Peraturan, Hotel, dan organisasi High Table juga seperti demikian; dikembangkan secara bertahap. Pada film pertama – selagi kita menonton Wick yang udah keluar dari sana terpaksa harus masuk sebentar demi dendamnya – seolah hanya melihat pekarangan depan dari keseluruhan dunia hitam John Wick. Film kedua kita diperlihatkan dan diberitahu lebih banyak tentang istilah-istilah mereka, gimana dunia mereka bekerja, tapi itu seperti baru masuk ke ruang depan. Bahkan pada film ketiga ini pun kita belum beneran masuk ke ruang tengah; karena film ini dikembangkan dengan penuh gaya dan rancangan yang benar-benar memperhatikan emosi kita. Film membuat kita terus tertarik. Petualangan John Wick bermula oleh kejadian yang lumayan menggelikan, aku sendiri sempat meremehkan film pertamanya yang beranjak dari John Wick ngamuk lantaran mobilnya dicuri dan anak anjingnya dibunuh. Tapi elemen itu terus dengan bangga dikembangkan, diulang-ulang, menjadi bagian dari legenda John Wick. Karakter dan dunia dalam semesta film ini tak pelak akan menjadi seperti Keanu Reeves; immortal!

Sekilas memang terlihat seperti bergerak karena duit. Namun film sebenarnya ingin berbicara sesuatu yang lebih bernilai daripada lembaran uang. Para assassin, orang-orang yang jadi anggota High Table, mereka bergerak karena peraturan. Dengan subtil film menunjukkan kepada kita bahwa kewajiban untuk memenuhi peraturan itulah, ketakutan akan hukuman ketika melanggar hukum itulah, yang menjadi motor penggerak mereka. Dan kontrak di antara mereka-mereka itu bukanlah hitam di atas putih. Melainkan merah, on a cold hard medal.  Berakar pada balas jasa, kerjasama, sifat respek antara satu sama lain. Dunia di mana aksi dan konsekuensi benar-benar ditegakkan, tanpa pandang bulu. Strangely, dalam keadaan terbaiknya, film ini mampu membuat kita menghormati dunia hitam yang keji.

 

Stahelski sendiri memang sangat menghargai dunia action. Sebagai mantan stuntman, tentu dia paham betul bagaimana mengkoreografikan adegan-adegan berkelahi. Dan pada film ini, dia bekerja dengan lebih banyak lagi orang-orang yang sama-sama mencintai genre ini. Semua adegan aksinya benar-benar luar biasa. Dalam setiap film John Wick, selalu ada hal baru yang seketika menjadi memorable. Pada film ini, buatku adalah sekuen dengan kuda. Juga dengan anjing-anjing. Salah satu elemen favoritku yang terus dipertahankan oleh film adalah peluru yang benar-benar sedikit, yang beneran bisa habis. Aku suka melihat John Wick harus mereload senjata di tengah-tengah perkelahian, karena menambah sensasi keaslian. Serta ketegangan. Film ini menawarkan begitu banyak adegan-adegan mendebarkan. Yang direkam dengan wide shot. Enggak terlalu banyak cut. Bak-bik-buknya begitu in-the-face. Ada satu sekuen dengan sepeda motor yang membuatku teringat pada adegan di Final Fantasy VII: Advent Children (2005), bedanya adalah film ini dilakukan oleh orang beneran! Keanus Reeves, salut banget, melakukan hampir semua adegan tanpa aktor pengganti. Aku gak pernah bosen melihat John Wick menembak kepala orang-orang. Film membuat kita melihat perbandingan antara balet dengan berantem, yang mana menurutku sangat keren. Bicara tentang keren; aku yakin kalian semua merinding ketika Yayan Ruhian dan Cecep Arif Rahman yang menyapa Wick dengan bahasa Indonesia. Peran kedua aktor tanah air ini dalam cerita memang enggak gede, tapi mereka diberikan momen tersendiri. It was so cool melihat film memberikan waktu kepada bela diri dan aktor Indonesia untuk bersinar.

Film ini punya set piece yang amazing. Warna-warnanya terlihat vibrant. Cahaya neon, lampu-lampu malam, di dalam air, dan pada satu poin cerita, kita juga dibawa ke panasnya gurun. Meskipun penggunaan ruangan kaca dalam film ini seperti pengulangan dari film yang kedua, secara aksi juga agak sedikit terlalu berkesan fantasi, tapi di sini filosofinya sedikit berbeda. Kali ini adalah soal John Wick yang melihat persamaan dirinya dengan para musuh, yang berkaitan dengan pembelajaran bahwa dia gak bisa lari dari siapa dirinya yang sebenarnya. Di balik semua pembangunan dunia dan sekuen-sekuen aksi yang penuh gaya, film tetap berhasil menceritakan satu cerita yang utuh. Ada definitive end. Rahasia dan bigger picture mungkin masih belum terlihat, kita masih belum melihat semua anggota High End, tapi pada chapter ini karakter John Wick sudah menyelesaikan perjalanannya. Dia melanggar aturan, dan membuat yang baru demi dirinya sendiri. Dari yang tadinya pengen kabur, dia akhirnya menyadari dia tidak bisa pensiun dari siapa dirinya.

“Marhaban ya, John Wick!”

 

Kita bisa memahami bahwa Wick pada akhirnya harus dibuat kembali ke Hotel supaya arcnya dalam cerita ini bisa melingkar, Hotel haruslah menjadi medan perang terakhir, tapi kupikir harusnya ada cara yang lebih baik untuk menceritakan hal tersebut. Setelah midpoint yang di gurun itu, narasi Parabellum terasa agak ruwet. Film memilih untuk menampilan satu, katakanlah twist, yang membuat kita jadi ngangkat alis “jadi si dia baik atau tidak?” Menurutku impact dari twist tersebut justru jadi gak langsung mengena. Akan lebih on-point kalo Wick dibuat menerobos Hotel yang sudah menanti kehadirannya, dan kemudian dia sampai di atas, dan mereka berunding tanpa perlu ada elemen deceiving pada narasi. Keputusan film untuk bercerita seperti yang mereka lakukan membuatku jadi merasa seharusnya Parabellum adalah film terakhir, tapi kemudian mereka mengganti rencana dan memanjangkan cerita menjadi seperti ini.

 




Jika mau dibandingkan, film ini lebih terasa secara emosional daripada film keduanya. Stake dan rintangannya lebih kuat. Tapi tetep masih kurang nendang dibandingkan film pertamanya, terutama taraf kegenuine-annya. Film ketiga ini – tampil dengan nyaris non-stop intens dan begitu banyak sekuen aksi yang memorable – lebih terasa seperti fantasi, di mana kita menontonnya demi excitement saja. I mean, bahkan ada adegan Wick dan musuhnya pake jurus ilang-ilangan kayak ninja. Fun, tentu saja, tapi bobotnya terasa sedikit berkurang. Pembangunan dunianya masih mampu menimbulkan rasa penasaran, tetapi ceritanya terasa seperti sudah mentok, dan film ini memanjang-manjangkan. Buat penonton yang baru pertama kali merasai, though, petualangan John Wick akan terasa seperti baru akan dimulai.
The Palace of Wisdom gives 6.5 gold stars out of 10 for JOHN WICK: CHAPTER 3 – PARABELLUM.

 

 




That’s all we have for now.
Dengan organisasi yang mengharuskan anggotanya untuk patuh peraturan biar gak kayak binatang, dan film ini semacam menjadikan anjing sebagai maskotnya, apakah ada perbandingan antara anjing dan peraturan yang bisa kalian tarik? Apa menurut kalian anjing dalam film ini menyimbolkan sesuatu?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 



EXTREMELY WICKED, SHOCKINGLY EVIL AND VILE Review

“She saw beauty in the darkness.”

 

 

 

Demi memperingati 30 tahun kematian Ted Bundy yang mengaku sudah membunuh tiga-puluh wanita muda, Netflix bukan saja merilis dokumenter 4 bagian – Conversations with a Killer: The Ted Bundy Tapes – yang berisi rekaman percakapan jurnalis dengan Ted Bundy menjelang hukuman mati, tetapi sekaligus juga membuat film biografi tentang si pembunuh berantai dengan memajang wajah tampan Zac Efron sebagai poin vokal promonya. Mendadak, Ted Bundy diperbincangkan lagi di mana-mana. Teror yang kita lihat dalam dokumenter tadi, seperti berulang di tahun 2019 ini. Orang-orang ketakutan, oleh betapa mungkinnya ketampanan wajah bisa mengalihkan dari perbuatan yang mengerikan.

Meskipun film adalah sebuah karya seni, dan seni yang bagus adalah seni yang memancing banyak interpretasi, akan selalu ada pihak-pihak yang menyuruh seni dibuat sejelas mungkin. Kalo perlu, maknanya langsung ditulis saja di poster supaya penonton gak usah capek-capek mikir. Seperti Kucumbu Tubuh Indahku (2018) yang diprotes karena orang-orang khawatir filmnya mempromosikan LGBT, atau Dua Garis Biru (2019, TBA) yang baru teasernya aja sudah dipetisi lantaran si pemrotes tidak bisa melihat bahwa film sebenarnya mengandung pembelajaran yang berupa larangan. Extremely Wicked (disingkat sampe di sini aja ya, karena judulnya panjang banget) garapan Joe Berlinger juga mendapat banyak kecaman. Meromantisasi seorang pembunuh. Filmnya bisa membuat orang bersimpati kepada kriminal. Tapi memang itulah yang diincar oleh film ini. Supaya kita merasakan kengerian ketika kita melihat seorang pembunuh yang tidak ada bedanya dengan manusia normal. Bahkan mungkin kita terpesona olehnya. Film ingin membuat kita mengerti kenapa kriminal seperti Ted bisa begitu lama berkelit dari jeratan hukum.

Film ingin kita tahu bahwa setan yang paling mengerikan adalah setan yang berjalan bersama kita, di antara para manusia. Dan bagaimana susah sekali untuk membuktikan sesuatu ketika kita begitu gampang terpana oleh hal yang tampak indah di luar.

banyak gadis muda yang terpikat sama pembunuh

 

 

Makanya, film ini terasa bekerja sangat baik ketika memperlihatkan cerita dari sudut pandang Elizabeth yang diperankan oleh Lily Collins. Liz, kalo dipanggil begini dia pasti nengok, adalah seorang single-mother yang bekerja sebagai sekretaris demi menafkahi anaknya yang masih kecil. Di adegan awal kita melihat Liz duduk di dalam sebuah bar, curhat kepada sahabatnya soal insecure yang ia rasakan. Gimana dia merasa bagaimana dia bisa memberikan yang terbaik kepada putrinya. She might need a man, tapi pria mana yang mau bersama janda beranak satu? Inilah sevulnerable-nya manusia yang digambarkan oleh film. Bagi mata kita yang sudah tahu ini adalah ‘reka ulang’ kejadian seorang pembunuh berantai bertemu cewek di bar, menonton Ted Bundy melirik-lirik ke Liz di adegan pembuka ini sudah seperti adegan di National Geographic ketika seekor buaya mengintip kijang yang sedang minum di pinggir danau. Tapi yang film inginkan adalah supaya kita melihat dari sisi Liz, yang gak tau siapa pria asing berwajah tampan yang mengajaknya kenalan. Bagi Liz, it was unclear siapa yang ‘menjebak’ siapa. Jadi dia membawa Ted ke rumah. Dan keinsecure-an Liz sirna keesokan paginya. Ketika dia menemukan Ted di dapur, membuatkan sarapan, bersama putri kecilnya.

Yang ditekankan adalah seketika itu juga, Ted menjadi pria yang sempurna, yang dicari oleh Liz. Hubungan asmara mereka bersemi. Tapi bagi Liz, ada satu perasaan lagi yang diam-diam berkembang. Ketakutan yang baru. Kenapa wajah Ted mirip sekali dengan sketsa pelaku penculikan dan pembunuhan wanita muda yang disebar oleh polisi. Kita lantas melihat betapa galau Liz ketika Ted ditangkap polisi. Liz merasa dirinya bersalah, dia merasa gara-gara dirinyalah pria sempurna tadi itu jadi tahanan. Bukan hanya Liz, kita juga kemudian diperkenalkan kepada wanita berkacamata bernama Carole Anne Boone (Kaya Scodelario kayanya kecakepan sih meranin tokoh ini haha), yang selalu hadir di setiap persidangan Ted, yang percaya Ted tidak melakukan semua tindak kriminal keji terhadap cewek-cewek seperti yang dituduhkan, bahkan pada satu titik, Carole Anne bersedia menikah dengan Ted di penjara.

Film tak melewatkan kesempatan untuk memperlihatkan fakta bahwa persidangan Ted udah kayak acara pensi di sekolahan; dipenuhi oleh cewek-cewek kece. Di mata mereka, Ted jauh sekali dari gambaran seorang psikopat. Atau jikapun mereka percaya Ted beneran pelaku, cewek-cewek ini berlomba untuk jadi orang pertama yang ‘memperbaiki’ Ted. I mean, I totally could see Milea dari Dilan 1991 (2019) sudah pasti akan ada di sana, menonton persidangan Ted dan ikut tertawa terkikik ketika Ted menampilkan senyum mautnya. Yang terjadi – yang dirasakan – oleh Liz, dan Carole Anne, dan para ‘Bundy Groupie’ sebenarnya adalah versi ekstrim dari yang dirasakan Milea kepada di Dilan di Dilan 1991. Bahwa wanita – khususnya wanita muda – seringkali merasa bertanggungjawab untuk memberikan kasih sayang terhadap pria yang, katakanlah, tidak baik.

Dan ironisnya, media-media seperti film ini sendirilah yang menciptakan mindset seperti demikian. Standar perilaku tokoh-tokoh cowok dalam film atau cerita fantasi romantis yang tokoh utamanya cewek memang kebanyakan mengkhawatirkan. Karena cerita romansa juga butuh konflik dramatis, yang sumur paling suburnya itu ya soal cewek baik-baik terhalang oleh sifat kelam pasangannya. Vampir yang menonton gadis kecengannya tidur. Anak geng motor yang hobi berantem. Joker dan Harley Quinn. Fifty Shades of Grey. Ketika dibalik, dalam cerita romantis yang tokoh utamanya cowok, juga sama.

Cewek akan melihat diri mereka sebagai motivasi dari si cowok bad-boy untuk berubah dan menjadi pahlawan. Trope drama romantis tersebut bahkan sudah ada sejak abad ke-18, sejak genre romance pertama kali tercipta, berbarengan dengan konsep ‘menikah karena cinta’ mulai dikenal dan wanita mulai mencari tahu apa yang mereka inginkan dari sebuah pernikahan.

Inilah kenapa walaupun kuis trivia di internet bilang iya, tapi aku tetap tidak mungkin seorang psikopat

 

 

Ketika sebagai film, Extremely Wicked sebenarnya tidak melakukan sesuatu yang baru, toh film ini tetap saja bisa menjadi sesuatu yang spesial lantaran dia berasal dari kisah nyata. Dunia pernah beneran tidak yakin untuk menghukum tersangka, karena dia tampan dan tampak simpatik. Film ini punya kekuatan untuk menjadi teguran – sekaligus juga peringatan – untuk kita semua, yang untuk mencapai kekuatan level seperti demikian, film harus benar-benar komit meletakkan kita di sudut pandang Liz, atau wanita yang merasa mengenal si tersangka secara langsung. Bahkan dengan membuat Liz menyimpan rahasia dari kita pun, maksud dan gagasan tersebut akan bisa tercapai, asalkan sudut pandangnya tidak berubah. Sayangnya, Zac Efron mungkin terlalu mempesona sebagai Ted Bundy, sehingga kamera berpindah dan sebagian besar waktu kita justru melihat dari sudut pandang Ted.

Film cukup bijak dengan tidak memperlihatkan apa yang Ted Bundy ‘lakukan’, you know, kita tidak akan melihat adegan pembunuhan sadis. There’s only one, in fact. Kita tidak melihat backstory Ted, yang – walaupun mungkin saja menggunakan teknik bercerita dramatic irony (penonton tahu lebih banyak dari tokoh utama) akan menghasilan efek emosional yang lebih kuat –actually bekerja in favor of memposisikan kita sebagai orang yang harus membuat keputusan Ted bersalah atau tidak, seperti Liz. Hanya saja, keputusan sutradara Joe Berlinger untuk membawa kita melihat persidangan Ted, membawa kita melihat pemuda ini berusaha menelfon Liz, menunjukkan usahanya untuk membuktikan dirinya tidak bersalah; the whole time watching that, untuk kemudian diberitahu apa yang terjadi sebenarnya di akhir cerita – tidak mendaratkan cerita ini di tempat yang spesial. Bagi penonton yang sama sekali tidak pernah mendengar kasus Ted Bundy sebelum nonton, film ini hanya akan terasa seperti cerita ngetwist yang twistnya tersebut enggak dibuild up dengan matang. Seperti 80% menyaksikan dan dibuat untuk percaya kepada A, untuk kemudian diberitahu bahwa sebenarnya itu adalah B.

Film seperti kesulitan untuk menggali sudut pandang Liz, sehingga meninggalkan tokoh ini sementara di tengah-tengah, dan fokus kepada Ted Bundy. Dan ketika film melakukan hal tersebut, cerita tidak lagi punya kekuatan untuk mengomentari perihal pertanyaan yang mereka jadikan alasan pembuatan film ini in the first place. Melainkan hanya menjadi sebuah cerita penipuan yang berusaha keras untuk membuat Ted tampak tak bersalah – padahal mestinya dibuat ambigu, karena di awal kita adalah Liz. The worst crime yang dilakukan film ini menurutku adalah ketika mereka malah membuat Ted kabur dari penjara karena telfonnya tidak diangkat-angkat oleh Liz; kita melihat ini dari sudut pandang Ted, seolah memang begitulah kenyataannya. Alih-alih membuat kita merasakan Liz merasa bersalah dengan cara yang alami – yang sesuai struktur penceritaan, film malah mengambil cara mudah dengan memindahkan sudut pandang utama, messing up with the structure, dan membuat ‘fakta’ baru yang harus kita telan. Singkatnya; kita akhirnya dipaksa untuk percaya pada Ted karena dia tampan dan tampak innocent.

 

 

 

Film yang judulnya diambil dari perkataan juri saat memvonis Ted Bundy ini tidak sanggup memenuhi janjinya untuk menggali sisi baru. Seharusnya cerita tetap pada sudut pandang Liz, atau para wanita. Dengan memindahkan kepada Ted yang sengaja ditampilkan innocent, kita sengaja tidak diperlihatkan apa yang ia lakukan – siapa sebenarnya dirinya – nyatanya film hanya sanggup untuk menciptakan sisi baru. Yang oleh penonton yang sudah tahu kasus asli Ted Bundy, yang mungkin sudah nonton dokumenternya, sisi baru tersebut akan terasa pointless. Kecuali mungkin memang untuk menyalahkan  tokoh Liz. Dan bagi penonton yang belum tahu kasus Ted Bundy sama sekali, film ini hanya akan terasa mengecoh karena memberikan twist tanpa build up. Menurutku film ini mengecewakan; dia punya banyak penampilan yang luar biasa meyakinkan, namun cerita yang dihadirkan gagal untuk menjadi spesial.
The Palace of Wisdom gives 5 gold stars out of 10 for EXTREMELY WICKED, SHOCKINGLY EVIL AND VILE.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Ini sudah seperti ayam atau telur. Apakah karena cewek-cewek memang sukanya ama bad boy maka film dan media cerita lainnya menulis cowok sebagai makhluk bermasalah – atau karena media duluan yang meromantisasi keberandalanlah makanya cewek-cewek jadi suka ama bad boy? Yang mana pilihan kalian?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

[Readers’ NeatPick] – MEMORIES OF MURDER (2003) Review

“Tidak hanya membahas tentang kasus pembunuhan saja, melainkan menyindir – dengan komedi – cara kerja polisi-polisi Korea waktu itu dan juga menggambarkan dengan jelas betapa primitifnya pikiran orang-orang Korea waktu itu, bahkan sekelas polisi sekalipun” Andy Kurniawan, karyawan dengan akun instagram @andykur21

 

 

 


Sutradara: Joon-ho Bong
Penulis Naskah: Joon-ho Bong, Kwang-rim Kim, Sung-bo Shim
Durasi: 2jam 12 menit

 

Sepanjang September 1986 hingga April 1991, sepuluh orang wanita di Hwaseong, Korea Selatan ditemukan meninggal dalam keadaan terikat oleh pakaian mereka sendiri. Dengan rentang usia yang begitu random, tidak banyak kesamaan yang bisa ditarik di antara mereka selain dugaan mereka ‘dikerjai’ oleh satu orang yang sama. Seorang pembunuh psikopat berdarah dingin. Dengan hanya sedikit sekali bukti dan petunjuk, polisi seperti mencari satu jarum di antara, literally, 21.280 orang yang dicurigai menjadi tersangka. Kasus ini sampai sekarang belum terpecahkan. Film Memories of Murder terinspirasi dari kasus serial-killer pertama dalam sejarah Korea Selatan tersebut. Kita akan ngikutin Park Doo-man, detektif ‘ngasal’ yang berusaha menangkap si pembunuh dengan segala sense of justice yang dia punya. Dan ini bukan sekadar soal misteri ‘whodunit’, karena seperti halnya kasus di dunia nyata yang sampe sekarang belum terjawab, film ini menggunakan itu sebagai alat untuk menceritakan lapisan yang lebih manusiawi soal Park Doo-man – dan juga detektif dan polisi lainnya – menyadari bahwa petanyaan sebenarnya bukan ‘siapa’, melainkan ‘bagaimana’.

“Suka banget film ini. Ngeselin, tentu Detektif Park. Banyak banget hal penting yang kelewat begitu saja karena kebegoannya.”

“Hahaha iya sih di awal-awal memang pengen nonjok dia banget. Super gak-kompeten. Masa investigasi tersangka modal tatapan mata doang. Paling ngakak pas dia mukulin detektif yang baru dateng dari Seoul cuma karena menurutnya gerak-gerik si detektif mencurigakan. Tendangan terbaaanggg~~ XD”

“Yang paling cool memang si Detektif Seo Tae-yoon. Dia melakukan kerja yang lebih baik”

“Sentral cerita film ini terletak pada dua tokoh detektif yang amat bertolak-belakang tersebut. Satunya makan mulu, bergerak berdasarkan prasangka, maksain bukti malah dia gak ragu untuk ciptain bukti sendiri supaya teorinya benar dan kasus cepat selesai. Kocaknya lagi, si Park ini justru ngerasa dirinya detektif yang baik. Perhatiin enggak, metode interogasi Park ama temennya di kepolisian? Di situ Park berperan sebagai ‘good cop’, sedangkan temannya jadi ‘bad cop’ yang kerjaannya mukulin tersangka. Padahal Park dan temennya itu sama-sama bego. Satunya lagi ada detektif yang lebih metodikal, gak males mikir, rasional, bergerak berdasarkan bukti dan dokumentasi. Park dan Seo malah terlihat saling benci kan, Park pastilah menganggap kedatangan Seo yang beneran cakap dan baik itu sebagai ancaman buat posisinya sebagai ‘good cop’ di kantor mereka.

“Soal polisi atau aparat yang mengandalkan kekerasan terhadap tersangka atau pelaku kriminal ini sebenarnya agak dilema buat gue. Kadang memang ada beberapa orang yang harus dikerasi dulu baru dia ngaku. Boleh-boleh aja sih kalau memang perlu, asal jangan sampai keterlaluan dan jangan sampai orang yang diinterogasi ini dipaksa untuk jadi pelakunya”

Kerennya film ini, ntar semakin ke akhir kedua detektif ini mendapat ‘goncangan’ – masing-masing mereka dibuat jadi meragukan kepercayaan mereka sendiri oleh kasus pembunuhan berantai itu. Aku suka banget gimana menjelang akhir mereka jadi kayak bertukar posisi, si Park yang belajar mengakui kinerjanya buruk terlihat jadi seperti beneran ‘good cop’ ketimbang Seo yang semakin ‘kasar’ kelakuannya lantaran frustasi bukti-bukti yang ia dapatkan selalu terbukti patah. Pada akhirnya kita justru melihat perbedaan sikap dua orang ini saat mereka dihadapkan pada kesalahan dan kegagalan. Park, meskipun masih mengandalkan “tatapan gue bisa melihat kebohongan orang” -walaupun masih belum tahu siapa pelakunya setelah sekian lama, tapi di akhir cerita dia menjadi pria yang lebih baik dari semua tokoh di film ini.”

“Hahaha iya makanya gue memilih film ini untuk dibahas. Karena menurut gue film ini salah satu masterpiece perfilman Korea dan banyak orang yang gak tau tentang film ini. Tapi selain Park dan Seo, menurut gue karakter lain biasa aja sih”

“Padahal karakternya banyak ya. Polisi, tersangka, saksi, para ekstra. Saking banyaknya, sering banget film ini masukin semuanya sekaligus ke dalam satu shot”

“Tapi fokus gue gak pernah teralihkan sama penggunaan kamera yang menangkap banyak orang dan aksi sekaligus yang dilakukan oleh film ini.”

“Kita masih tetap mengerti ceritanya kan ya. Inilah kehebatan sang sutradara Joon-ho Bong, bukan hanya bloking posisi tokoh, dia juga mainin fokus kamera. Bukan cuma para tokoh yang ia arahkan, melainkan juga fokus kita para penonton. Tokoh-tokoh yang belum penting dia tarok di sudut di luar fokus, dan setiap ada pergantian fokus atau dia ingin memindahkan perhatian kita ke tokoh lain maka Joon-ho akan membuat entah itu tokohnya yang bergerak atau kameranya yang berayun. Treatment kamera dan konteks cerita klop banget, ini soal tatapan mata.”

“Gue paling ingat dan paling sedih itu adegan waktu detektif Park melihat ke arah penonton, mencari pelakunya di antara kita. Goosebump banget. Kendati gue sebel banget sama detektif Park, gue tetep bisa melihat bahwa dia sendiri sangat bedeterminasi tinggi buat nangkep pelakunya. Gue paham betul amarah dan keputus asaanya saat melihat ke arah kamera, lebih tepatnya ke arah pelaku pembunuhan yang menonton film ini”

“Aku bisa bilang shot terakhir itu merupakan salah satu momen terkuat yang pernah aku saksikan dalam sejarah hidupku menonton film. Adegan tersebut diniatkan untuk terbuka-bagi-interpretasi, meaning beda orang akan beda cara melihatnya. Namun aku yakin kita semua bisa kompak dalam merasakan itu momen yang sangat mengena. Entah itu apakah ada penonton yang mengira Park memandang tajam ke arah dirinya langsung, atau melihatnya sebagai Park mengenang kasus tersebut dalam penekanan bahwa dia memandang salah dirinya sendiri karena tak melihat kemungkinan yang disebutkan si anak kecil sedari awal – bahwa Park mengaplikasikan ‘mata kebenarannya’ kepada dirinya sendiri. Karena ada satu pesan yang jelas; bahwa pelakunya adalah orang yang seperti orang kebanyakan. Pembunuh tidak dicirikan sebagai orang yang terbelakang mental, yang aneh, yang berbeda dari kebanyakan. Ingat gak ketika Park sempat mencurigai pelakunya adalah biksu hanya karena polisi tidak pernah menemukan jejak rambut di korban sehingga ia menyimpulkan pembunuhnya orang botak? Mata adalah jendela jiwa, namun selama ini Park menyadari dia mengamati hal yang salah.”

“Kalau menurut gue psikopat kadang gak kelihatan. Mereka pinter akting, persis seperti anak kecil di film ini yang ngomong kalau muka pelakunya itu biasa aja, kayak orang normal.”

“Exactly. Maka menurutku jawabannya yang paling penting harus dicari oleh polisi dan kita, manusia penonton filmnya, adalah kenapa kita gagal menangkap pelaku. Film ini memperlihatkan bahwa salah satu rintangan para detektif itu mengungkap kasus adalah kurang memadainya teknologi. Untuk tes DNA saja mereka harus membawa dulu sampel ke Amerika. Teknologi mungkin memang berperan, tapi tetap kunci utamanya adalah pada manusia. Kengasalan para polisi adalah faktor yang sama berperannya. Aku geram sebenarnya melihat mereka menjadikan timing pemutaran satu lagu di radio sebagai petunjuk. Memang teori mereka menarik, dan kebetulan cocok, tapi logikanya maksa banget; gimana si pelaku bisa beneran nemu cewek yang lagi jalan sendirian hujan-hujan malam-malam saat lagu radio itu diputar? kan ‘petunjuk’ yang begitu itu terlalu kondisional. Kadang kita keburu excited melihat hal-hal yang tampak ‘wah'”

“Kita dikenalkan dengan detektif Seo yang sifat dan kepandaiannya kebalikan dari detektif Park, tapi toh dia juga tidak mampu mengungkap pelakunya karena teknologi yang terbatas waktu itu. Di satu sisi menurut gue juga percuma kalau teknologi canggih tapi manusianya yang gak bisa menggunakan, tetep aja gak ketangkep pelakunya. Karena manusia tanpa teknologi juga gak bisa maju, sebaliknya teknologi sendiri tidak serta merta membuat manusia cerdas. Buktinya di masa sekarang banyak orang-orang beli hape canggih tapi tidak bisa memanfaatkannya dengan betul.”

“Pada sebagian besar waktu kita akan tertawa melihat para tokoh film ini, tapi yang kita tertawakan itu adalah hal kelam yang sampe sekarang juga masih terjadi sadar atau enggak. Gimana kita prasangka duluan sama orang lain, gimana kita bertindak asal jadi, asal benci. Malah mungkin semakin menjadi-jadi. I mean, mungkin itu sebabnya kenapa sekarang kita jarang mendengar ada pembunuh berantai. Serial-killer dan misteri pembunuhan tak terpecahkan itu hanya ‘rame’ di jaman dahulu. Bukan semata karena teknologi sekarang udah maju sehingga mereka bisa lebih cepat ditangkep, tapi mungkin juga karena saking tingginya level kebobrokan sehingga orang merasa gak perlu sembunyi-sembunyi lagi, justru bangga sebagai psikopat. Sekarang lebih ‘ngetren’ teroris kan. yang di Selandia Baru itu, penembakan terang-terangan pake di-livestream segala. Seharusnya dengan teknologi maju, pembunuhan bisa cepat diungkap, namun karena manusia malah semakin bobrok, kejahatan pun ikutan berevolusi, malah jadi skala besar dengan lebih cepat.”

“Banyak faktor soal jaman dulu banyak pembunuh psikopat sedangkan sekarang enggak; seperti teknologi, kemampuan polisinya yang belum mumpuni, konspirasi dengan petinggi negara dan sebagainya. Terus mengenai teroris, gue rasa karena aksi mereka lebih terbuka, lebih brutal dan sori to say, melibatkan suatu agama tertentu. Sedangkan serial killer lebih membutuhkan banyak waktu, korban dan misteri agar terkenal.”

“Komentar sosial yang mengena banget ke seluruh dunia. Pembunuh berantai itu bisa siapa saja. Teroris itu bisa siapa saja. Tidak terkait golongan, ras, atau apapun. Tapi film yang bernada komedi ini toh tetap mengajak kita untuk ‘bermain-main’, mengajak kita untuk ikutan menebak-nebak siapa pelaku. Di satu poin dalam cerita, kita malah diperlihatkan wajah blur pelaku. Jadi, mungkin sebenarnya film ini punya pelaku versi cerita mereka sendiri. Kalo mau main detektif-detektifan, aku sih paling curiga sama tukang reparasi yang keluar-masuk ruang interogasi kepolisian itu. Kamera gak pernah lihatin wajahnya, tapi yaah mengingat semua yang terekam oleh film ini punya kepentingan berkat arahan dan staging yang detail seperti yang kita bahas di atas, menurutku rasanya aneh aja ada tokoh tukang reparasi yang hanya ada di sana tanpa dimaksudkan sebagai apa-apa.”

“Kalau menurut gue pasti salah satu penduduk daerah situ. Petunjuknya adalah karena dia kelihatannya gak sembarangan pilih korban dan juga tahu betul lokasi yang ideal untuk melakukan aksinya. Cuma warga desa situ yang menurut gue bisa melakukannya.”

“Dipikir-pikir lagi, dari gimana hebatnya film membangun dunia ceritanya – semua di desa itu terlihat seperti beneran sesuatu yang bisa kita temukan di desa nyata…”

“Kesan tempatnya mirip kampung-kampung di Indonesia wkwkwk. Justru itu gue juga heran kenapa pembunuhnya malah gak ketangkep-tangkep, padahal orang-orang di kampung situ harusnya akrab-akrab”

“Nah itu, kampung mereka tampak tertutup dan gak akrab, meski penghuninya akrab-akrab kayak anak sekolahan, atau juga kondisi di warung. Secara kontekstual, film ini berlangsung di jaman kericuhan Korea Selatan dan Utara, kan. Kita melihat beberapa kali desa itu kena jam malam, dan ada simulasi-simulasi keamanan yang sedang berlangsung sebagai latar cerita. Dan menurutku, film ini juga ingin mengkritik itu. Bahwa itu semua mungkin bisa dijadikan petunjuk bahwa menurut film ini pelaku sebenarnya – ‘pelaku’ yang menyebabkan di zaman dulu Korea Selatan bisa kebablasan ada serial-killer yang bukan hanya gak tertangkap basah, melainkan juga seperti mengejek polisi dengan aksi-aksinya – adalah sistem negara itu sendiri. Jika mereka tidak dalam darurat perang, jika tidak ada simulasi-simulasi itu, pintu dan jendela rumah-rumah mungkin tidak akan tertutup oleh ketakutan sehingga tidak ada kesempatan untuk si pembunuh melancarkan aksinya.”

“Masterpiece! Dari skala 1-10, gue  ngasih 9 deh, minusnya film ini cuma kemampuan mata Park kurang dijelasin dan timeline korban-korban pembunuhan juga kurang dijelasin lagi. Tapi karena Bang Arya cerewet pasti film ini dikasih skor mentok di tujuh setengah wkwkwkwk”

“Wahahahaha film ini dalem banget. Misterinya engaging. Tokoh-tokohnya menarik. Teknisnya juga luar biasa. Untuk film ini, aku tak menemukan cela yang merusak. Semuanya bekerja efektif mengisi konteks. Soal ‘mata kebenaran’ Park itu buatku juga jenius banget. Kali ini aku pikir aku setuju, aku juga ngasih 9 dari 10 buat Memories of Murder. Jarang-jarang ya!”

 

 

 

That’s all we have for now.
Terima kasih buat Andy Kurniawan udah berpartisipasi dan ngusulin film ini, ke mana aja aku baru tau ada film keren ini ya haha.

Apakah kalian punya teori sendiri siapa pembunuh dalam film ini? Apa yang kalian rasakan saat ditatap oleh Park di momen final film ini?

 

Buat yang punya film yang benar-benar ingin dibicarakan, silahkan sampaikan saja di komen, usulan film yang menarik nanti akan aku hubungi untuk segmen Readers’ NeatPick selanjutnyaa~

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

[Readers’ NeatPick] – THE GREEN MILE (1999) Review

“Frank Darabont berhasil membius pikiran saya hingga masuk ke dalam setiap karakter-karakter yang disajikan. Hingga akhirnya Darabont dengan cerdas menciptakan kekuatan dari setiap karakter….”Mochamad Ridwan Alamsyah, pemilik akun instagram @m.ridwanalamsyah

 


Sutradara: Frank Darabont
Penulis Naskah: Frank Darabont, Stephen King (penulis novel aslinya)
Durasi: 3 jam 9 menit

 

 

The Green Mile, satu lagi cerita berlatar penjara adaptasi novel Stephen King yang disutradarai oleh Frank Darabont. Tapi tidak seperti The Shawshank Redemption (1994), Green Mile punya elemen supernatural dalam ceritanya. Ini adalah cerita tentang Paul Edgecomb, seorang sipir penjara di blok khusus terpidana mati, yang menyaksikan dan mengalami sendiri, literally, keajaiban di dalam sel yang ia jaga. Keajaiban berupa sesosok raksasa kulit hitam tinggi besar – yang pandangan mencela akan cepat memandangnya sebagai seorang dengan cacat mental – yang ditahan di sana karena tuduhan sudah membunuh dua gadis cilik. Dalam hari-hari menjelang eksekusi matinya, John Coffey ternyata tidak seseram pandangan mata. Bagi Paul tentu saja jadi beban apakah Coffey benar-benar membunuh atau bukan, sementara dalam hati dia sudah yakin jawabnya. Bagaimana mungkin orang yang mengorbankan diri demi menghidupkan kembali tikus yang sudah mati, yang menyembuhkan penyakit kelamin Paul – dan keharmonisan keluarganya – adalah seorang pembunuh. Bagi Paul, seperti yang selalu ia lakukan terhadap tahanan di sana, adalah bagaimana memperlakukan mereka tetap sebagai manusia yang punya martabat, dan konflik yang ia rasakan setiap kali dirinya menggiring mereka melewati lantai hijau – mil terakhir di hidup para terpidana, menuju kursi listrik yang mengakhiri nyawa mereka.

“Film ini menyuguhkan drama yang rapi. Dialog-dialog yang berwarna. Kadang serius dan penuh isi, kadang satir dan lucu.”

“Durasinya termasuk panjang banget, udah jarang kita temuin film Hollywood dengan durasi melewati tiga-jam. Kalo film ini dibuat di masa-masa sekarang, aku gak yakin mereka bakal berani membuatnya sepanjang ini. Remake It (2017) saja kan, adaptasi Stephen King juga, difilmkan jadi dua film. Studio gak ada yang berani lagi bikin film sepanjang ini. Dan hebatnya, tiga jam film ini buatku terasa sekejap.”

“180 menit yang saya habiskan di depan layar tidak sekalipun membuat saya ingin beranjak meninggalkan film ini. Saya sangat menyukai sekali film yang mempunyai cerita yang menarik, fresh, berbobot, dan mempunyai gaya tersendiri dalam menyampaikan cerita tersebut kepada penonton tidak peduli film itu panjang atau pendek. Bagiku film ini mempunyai plot yang sangat baik sekali dan ceritanya juga tidak klise, dari awal film sampai akhir kita akan menemukan beberapa plot twist yang cukup mengejutkan.” 

“Efektif sekali memang film mengisi durasinya. Kita merasakan waktu berjalan di balik sel-sel penjara tersebut dengan kuat. Perubahan karakternya, baik dari para penjaga maupun para tahanan. Dan Coffey sebagai pusat perubahan itu memang terasa hidup sekali”

“John Coffey juga Paul Edgecomb adalah tokoh yang berkesan buat saya. Peran mereka berdua di film ini paling dominan tetapi peran pendamping lainnya juga tidak kalah penting. Banyak adegan-adegan memorable, salah satu adegan yang paling emosional tentu saja ada pada bagian menjelang akhir cerita dari film ini di mana John Coffey akan dieksekusi mati”

“Ya benar, ada banyak sekuens adegan yang benar-benar powerful. Menurutku ini satu lagi pembeda waktu buat film ini; sekali lagi, kalo The Green Mile dibuat di tahun 2019 aku gak yakin mereka benar-benar akan memperlihatkan eksekusi di kursi listrik, ataupun adegan Mr. Jingles yang diinjak, dengan benar-benar gamblang seperti yang ditampilkan oleh film ini. The Green Mile sangat intense, suspensnya begitu menguar dan terbuild up dengan rapi karena film memanfaatkan waktu untuk kita mengenal setiap karakternya. Si Coffey ini memang dibangun untuk pancingan emosional kita, dan di akhir itu .. maaan… aku nonton ini pertama kali sekitaran 2014 yang lalu, disaranin ama seorang teman, katanya “this will broke your heart”, dan setelah nonton itu aku… aku masih memunguti pecahan hatiku saat temanku nongol dan bilang “I told you so, Kak””

“The Green Mile bukanlah film drama tragis yang bisa dengan mudah membuat saya mengeluarkan air mata di setiap adegannya. Sedangkan air mata dan kesedihan yang ada justru berada hampir di penghujung film, saat semua kisah sudah terangkum dan kita mengerti dan mengetahui banyaknya hal hal yang sudah dibangun oleh Darabont untuk membangun emosi tersebut di setiap menit dan menitnya. Menurut saya sangatlah tidak adil bila John Coffey harus dieksekusi mati atas perbuatannya karena ia tidak bersalah atas segala tuduhan pembunuhan terhadap dirinya dia hanya ‘A right man in the wrong place and situation’. Namun, ada satu pertanyaan dasar yang tidak saya dapatkan disini. Yaitu tentang asal kekuatan magis yang dimiliki Coffey. Melalui dialog, film ini hanya mampu menjelaskan jika kekuatan magis yang dimiliki Coffey semata-mata mukjizat dari Tuhan. Saya berasumsi jika hal ini sengaja dilakukan oleh penulis supaya penonton dapat memutuskan secara bebas menggunakan imajinasi mereka.” 

“Mungkin memang bukan tanpa alasan kenapa tokoh yang dimainkan penuh penghayatan oleh si Michael Clark Duncan itu diberi nama John Coffey. Yang jelas bukan karena mirip ama kopi, seperti yang disebut oleh si tokoh sendiri haha.. Banyak teori yang menyandingkan inisial Coffey; J.C. dengan Jesus Christ. Apa yang dilakukan Coffey dengan mukjizat-mukjizat itu juga sama. Dia menyembuhkan orang lain dengan menelan ‘penyakit’ itu, membuat dirinya sendiri sakit. Dan dia melakukannya dengan tulus.”

“Mungkin karena unsur supranaturalnya yang spiritual seperti demikian itu film berlatar penjara ini bisa disebut sebagai film religi, ya”

“Mungkin juga. Tapi toh ada juga kan adegan di mana Coffey ‘menghukum’ tokohnya si Sam Rockwell – dan film ini membiarkan kita memutuskan apakah yang dilakukan Coffey kepadanya itu sebuah tindak ‘main hakim’ sendiri atau memang sebuah ‘balasan dari Tuhan’. Tapi mungkin memang di situlah letak kekuatan film ini. Dia menggambarkan perjuangan yang besar antara melakukan perbuatan baik dengan melakukan perbuatan yang  buruk. Serta ganjaran yang kita terima terhadap perbuatan kita kadang tidak seadil yang kita harapkan. Film ini juga bicara tentang prasangka, makanya secara fisik Coffey digambarkan ‘kontroversial’ menurut standar tokoh-tokoh yang lain.”

“Dengan prasangka tersebut, bisa jadi film ini cukup kontroversi bila dibuat tahun 2019, tetapi mengingat banyaknya film yang mengangkat tema isu rasisme terhadap orang kulit hitam seperti BlackKklansman (2018) mungkin kontroversi tersebut tidak akan terlalu diperbincangkan.”

“Tokoh Coffey ini sebenarnya masuk ke dalam trope ‘Magical Negro’; sebutan yang dicetuskan oleh Spike Lee untuk tokoh-tokoh kulit hitam dalam film yang tidak diberikan bangunan cerita yang kuat, selain mereka punya kekuatan khusus dan berfungsi untuk membantu tokoh utama kulit-putih menjadi pribadi yang lebih baik. I do think tokoh Coffey ini mestinya bisa dikembangkan dengan lebih baik lagi, mungkin kita bisa dikasih tahu siapa dirinya sebelum semua itu terjadi, apa yang dia inginkan dalam hidup, mungkin dia dibuat sedikit mengadakan perlawanan terhadap hukum mati yang ia terima. But then again, jika memang tokoh ini diniatkan sebagai simbol yang mewakili Yesus, masuk akal juga kenapa kita tidak diberikan lebih banyak soal backstory dirinya. Dia di sana untuk membuat Paul dan semua tokoh lain melihat dan berprasangka lebih baik lagi. Mungkin hukuman mati justru adalah jalan pembebasan yang selama ini ia cari.”

“Hukuman mati, dalam dunia nyata, memang sangat diperlukan tetapi saya juga terkadang tidak setuju terhadap pemberlakuan hukuman mati karena saya ingin mereka memetik pelajaran juga mengambil hikmah serta menyadari atas apa yang mereka perbuat agar mereka dapat menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Di sisi lain kita juga harus mendukung adanya pemberlakuan hukuman mati di dunia ini agar orang-orang yang melakukan tindak kejahatan seperti menghilangkan nyawa orang lain harus dibayar sesuai dengan mereka perbuat atau istilah lainnya yaitu ‘nyawa dibayar nyawa’, tapi tentu saja harus dilakukan dalam cara yang manusiawi yaitu dengan cara hukuman suntik mati atau Lethal Injection, dilakukan melalui tiga tahapan. Tahap pertama adalah memberikan suntikan untuk anasthesi (pembiusan). Tahap kedua adalah memberikan suntikan untuk melumpuhkan tubuh dan menghentikan pernafasan. Tahap ketiga atau terakhir adalah memberikan suntikan untuk menghentikan detak jantung. Tanpa Anastesi, terhukum akan mengalami asphisiasi, sensasi terbakar pada seluruh tubuh, nyeri pada seluruh otot, dan akhirnya berhentinya detak jantung. Oleh karena itu, anastesi yang memadai diperlukan untuk meminimalisir penderitaan dari terhukum dan untuk memperkuat opini publik bahwa hukuman suntik mati itu relatif bebas rasa sakit.”

“Dalam film ini juga benar-benar ditunjukkan prosedur hukuman mati dengan kursi listrik yang dilakukan dengan memastikan si terpidana bisa langsung isdet tanpa berlama-lama menanggung sakit. Tapi di film ini mereka membuat hukuman mati sebagai tontonan. Buatku hal tersebut kurang manusiawi. Juga, menurutku, sebaiknya terpidana mati langsung dieksekusi saja, jangan lagi menunggu hari-hari mereka dipanggil. The Green Mile menekankan cerita pada soal ‘hari-hari menunggu’ ini. Istilahnya sendiri kan merujuk pada jarak. Buatku gak adil aja seseorang yang sudah berbuat salah dan dijatuhi hukuman, diberikan ruang untuk introspeksi – antara hari-hari itu mereka bisa saja insaf dan berperilaku laksana malaikat – hanya untuk dimatikan tanpa bisa mengurangi hukuman. Bukankah mengetahui batas akhir umur kita itu sesungguhnya adalah suatu keuntungan?”

“Mengetahui batas akhir dari umur kita menurut saya memang bisa jadi menjadi sebuah keuntungan tersendiri bagi kita karena hal tersebut membuat kita menjadi orang yang lebih baik lagi dari hari ke hari dan dapat membuat kita meningkatkan keimanan kita kepada tuhan kita sebelum kematian itu tiba saatnya, jadi kita senantiasa mempersiapkan diri untuk berbuat kebaikan. Tapi itu juga tergantung bagaimana orang tersebut menyikapi tentang kematian itu sendiri. “

“It was unfortunate apa yang terjadi pada Coffey, tapi di sisi lain mungkin dia bebas dan justru Paul-lah yang menderita setelah mendapat anugerah dari dirinya. Aku bayangin konflik banget buat Paul ketika dia tidak bisa mendapatkan apa yang diperoleh oleh kriminal-kriminal yang ia eksekusi, dan mungkin Coffey bukanlah yang terakhir yang duduk di kursi listrik itu dalam keadaan tidak bersalah. Umur panjang memang sering dikaitkan sebagai musibah dalam film-film, tak terkecuali di sini”

“Bagi saya itu adalah sebuah anugerah yang tuhan berikan melalui perantara si John Coffey kepada Paul agar ia dapat menikmati hidupnya dengan penuh harapan, cinta, dan kedamaian seperti Coffey yang selalu membantu orang-orang yang sedang kesulitan. Mungkin Coffey memberikan umur panjang kepada Paul agar paul dapat menjadi orang yang bermanfaat bagi banyak orang.”

“Coffey tentu tidak meniatkannya sebagai kutukan. Paul adalah penjaga paling baik dan hormat kepada para tahanan. Tentu, tokoh yang diperankan Tom Hanks ini awalnya tidak percaya keajaiban, tapi dia tahu hidup sangat berharga. Coffey yang respek sama tokoh ini hanya ingin memberikan waktu yang panjang kepada Paul supaya Paul bisa memanfaatkan umur-umur orang yang dieksekusi sebagai penebusan. Tapi bagi Paul jelas ini jadi beban. Karena dengan umur panjang, tidak seperti para tahanan yang harus meninggalkan orang-orang yang mereka sayangi, justru Paul harus ditinggalkan oleh orang-orang yang ia sayangi. Justru ia yang merasakan Green Mile yang paling panjang. Mungkin dia baru bisa menemukan kedamaian entah berapa tahun lagi haha. Ada loh fans yang niat menghitung berapa tahun lagi Paul bakal meninggal..”

“Haha kira-kira 125 tahun lagi kali yah”

“Mungkin malah jutaan, mengingat banyaknya yang sudah ia eksekusi. Ngomong-ngomong soal eksekusi, it’s scoring time! The Green Mile adalah salah satu film favoritku sepanjang masa, ini adalah film yang mungkin tak-akan berani dibuat lagi, begitu intensnya mengobrak-abrik perasaan, aktingnya flawless, tapi memang pengkarakteran seharusnya bisa lebih dikembangkan lagi. Aku putuskan untuk memberinya 7.5 bintang emas dari 10.”

“I give this movie 8.5/10 stars. Film paling emosional yang pernah saya saksikan.” 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Terima kasih buat Mochamad Ridwan Alamsyah udah berpartisipasi dan ngusulin film ini, sudah lama aku ingin membahas film-film kayak The Green Mile.

Apakah menurut kalian ini adalah film religi? Apakah umur panjang adalah suatu anugerah? Atau apakah lebih mending kita tahu batas umur kita, walaupun pendek?

 

Buat yang punya film yang benar-benar ingin dibicarakan, silahkan sampaikan saja di komen, usulan film yang menarik nanti akan aku hubungi untuk segmen Readers’ NeatPick selanjutnyaa~

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

BAD TIMES AT THE EL ROYALE Review

“Do the crime, do the time.”

 

 

 

Masa-masa sulit sesungguhnya tidak akan berlangsung selamanya. Bahkan kata Pak Ustadz di mesjid, orang-orang yang disiksa di neraka pun pada akhirnya akan masuk ke surga. Setelah semua dosa-dosa mereka tertebus. Tapi itupun jika masih ada iman di hatinya. Aku bukannya mau ceramah agama, melainkan poinku adalah akan selalu ada harapan untuk mengubah masa sulit menjadi masa yang senang jika seorang percaya hal baik dan mau mengusahakannya. Setiap perbuatan pasti ada balasannya.

Hotel El Royale dalam film Bad Times at the El Royale adalah metafora yang tepat untuk surga dan neraka. Berada tepat di garis perbatasan negara bagian California dan Nevada; kita bisa melihat hotel ini literally terbagi dua tepat di tengah oleh garis pembatas sehingga para pengunjung bisa memilih mau ditempatkan di kamar wilayah Nevada atau di kamar pada wilayah California yang harga sewanya satu dolar lebih mahal. Para tamu, sepanjang yang kita lihat dalam film ini, lebih memilih untuk menyewa kamar di bagian Nevada. Dan sesegera mungkin setelah mereka masuk kamar masing-masing, kita bisa melihat kelakuan ‘jahat’ mereka yang membuat mereka cocok – mungkin memilih dari alam bawah sadar – untuk ditempatkan di kelas ‘neraka’.

adegan favoritku adalah ketika salah satu tamu berjalan di garis pembatas seolah sedang menyebrangi jembatan Shiratal Mustaqim

 

 

Premis dasar cerita ini sebenarnya tak kalah simpel dari kisah-kisah drama kriminal yang paling biasa. Beberapa orang yang saling tidak kenal, yang tadinya ngerjain urusan kotornya sendiri-sendiri, jadi saling bentrok – dengan uang dan rahasia gelap hotel menjadi perekatnya. Mengambil latar waktu 60an, kisah film ini eksis pada masa kaum hippie lagi ngetren dan perang Vietnam baru usai berkobar. Waktu yang menjadi identitas sehingga film punya keterkaitan dengan peristiwa di dunia nyata. Namun film membiarkan segala konteks sosial bergerak dalam imajinasi kita. Ia malah bercerita dengan nada penuh misteri. Malahan ada satu benda, gulungan film yang katanya berisi skandal, yang tidak pernah diperlihatkan kepada penonton selain melalui komentar-komentar tokohnya. Penggunaan gaya ala Quentin Tarantino tidak berhenti sampai di sana. Film juga membagi sudut pandang para tokoh ke dalam beberapa chapter – sutradara dan penulis Drew Goddard menggunakan nama tempat seperti Kamar Empat, Kamar Tujuh, Maintenance Closet, dan interestingly enough satu nama tokoh karena kisahnya ada di dalam kepala tokoh tersebut – untuk mengenalkan backstory dan motivasi mereka. Kita akan sering balik mundur kembali untuk meninjau suatu peristiwa dari sudut pandang tokoh yang berbeda. Untuk kemudian semua benang itu akan terikat ketika semua pemain sudah berkumpul, saling menunjukkan ‘kartu’ dan rahasia masing-masing.

Dalam bercerita, film memang tampil terlalu genre-ish. Ada polisi, ada cult leader sinting, ada pastor, ada wanita kulit hitam yang gak setidakberdaya kelihatannya. Gaya film ini toh memang mampu membuat kita bertahan keasyikan mengarungi dua jam setengah malam berhujan badai. Dengan bijaknya, semua aspek dalam film ini ditahan untuk tidak terlalu over-the-top. Sehingga kita masih bisa menyimak underlying message tentang keyakinan dan penebusan dosa yang disusupkan sebagai tema.

Segala perbuatan yang kita kerjakan, akan mendapat balasannya. Kadang memang secara tidak langsung. Namun, seperti yang ditunjukkan oleh film ini, hidup akan selalu menemukan cara menagih kita. Tindak kriminal akan mendapat hukuman. Rasa penyesalan akan meringankan hukuman tersebut, paling tidak mengurangi beban di hati. Adalah terserah kita untuk memanfaatkan kesempatan menebus dosa-dosa selagi kita masih di dunia.

 

Hal menarik yang diajukan oleh film ini, berkaitan dengan konteks dan tema yang diusungnya, adalah para tokoh yang merepresentasikan Tujuh Dosa Pokok manusia. Melihat siapa yang akhirnya selamat, memberikan harapan bahwa pengampunan itu masih ada bagi siapapun yang mau mengubah dirinya. Dan perubahan itu enggak gampang. Butuh pengorbanan yang besar. Untuk tidak lagi bersikap mementingkan diri sendiri. Tamu-tamu hotel ini tadinya datang sendiri-sendiri; mereka ingin memuaskan keinginan sendiri. Meruntuhkan ego ditampilkan oleh film ini sebagai jalan keluar dalam bentuk bekerja sama – feminis akan melihat pesannya sebagai kesetaraan peran wanita dan pria – sebab Tujuh Dosa itu pada dasarnya berakar kepada nafsu ke-selfish-an manusia.

Ada tujuh tokoh, tujuh sudut pandang yang jadi kunci perputaran cerita. Setelah paragraf ini akan sarat oleh spoiler karena aku ingin memaparkan siapa dan dosa masing-masing tokoh dan bagaimana mereka gagal untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Pada halaman trivia film ini di situs IMDB sebenarnya sudah ada yang menuliskan teori Seven Sins seperti ini, tetapi aku punya pandangan yang berbeda. Yang udah nonton sih, silahkan baca dan mungkin bisa membandingkan dengan teori kalian sendiri;


Pertama ada Billy Lee. Tokoh ini muncul paling belakangan – dia udah kayak ‘bos gede’ yang harus dikalahkan. Berkeliaran bertelanjang dada membunuhi orang-orang bersama pengikut setianya. Dia pemimpin kultus yang enggak percaya pada Tuhan. Dan inilah yang membuatnya melambangkan dosa Pride (Kebanggaan). Ia merasa yang paling hebat. Hidupnya berakhir setelah ia meremehkan salah satu tokoh.

Tokoh itu adalah Miles, pemuda yang jadi resepsionis, bartender, dan segala macam yang menyangkut urusan hotel. El Royale sendiri adalah hotel yang punya kedok, mereka melakukan bisnis-tak-tersebut di sini. Miles lah yang disuruh untuk melihat, merekam, dan melaporkan semua kriminal yang terjadi dari balik kaca dua-arah pada setiap kamar. Miles juga adalah seorang mantan tentara yang sudah membunuh banyak orang dan dia menyesali perbuatannya. Sebesar dia menyesali kerjaannya di hotel. Tapi Miles tidak berani berbuat apa-apa. Miles melambangkan dosa Sloth (Kemalasan). Eventually, Miles adalah salah satu tokoh yang berakhir ‘happy’ karena dia berhasil menebus dosanya dengan mengambil aksi. Plot Miles adalah yang paling emosional di antara tokoh yang lain. Film menggambarkan momen terakhir Miles bersama dua tokoh lain dengan sangat menawan.

Wrath (Kemarahan) dilambangkan oleh tokoh polisi bernama Dwight Broadbeck yang menyamar menjadi tukang sales penyedot debu. Ditugaskan menyelidiki apa yang terjadi di balik bisnis perhotelan, Dwight melanggar perintah dengan gegabah ikut campur menangani kasus-kasus yang tak-sengaja ia intip di El Royale. Dwight mendapat ganjaran atas perbuatannya tersebut.

Di kamar Nevada paling ujung ada Emily Summerspring, cewek yang dipergoki oleh Dwight menyelundupkan seorang cewek lain. Mengikatnya di kursi. Dwight menyangka Emily akan membunuh cewek tersebut. Tetapi ternyata masalah Emily adalah Envy (Kecemburuan), tokoh ini sebenarnya paling sedikit mendapat eksplorasi, walaupun dia termasuk yang paling banyak beraksi. Backstory sekilasnya memperlihatkan dia kemungkinan adalah korban kekerasan seksual sewaktu kecil, membuat dia menjadi begitu dekat dengan adiknya. Hingga sang adik memutuskan untuk ikut cult yang diketuai oleh Lee.

Adiknya lah, si Rose Summerspring, tamu-tak-terdaftar yang diikat oleh Emily di kursi. Ini adalah tokoh yang paling aneh. Ada satu adegan dia menyusun kursi dan meloncat untuk bergelantungan di lampu hias lobby hotel. Dia juga diimplikasikan gak segan untuk melakukan kekerasan kepada orang lain. Dia digambarkan rela berkelahi supaya bisa tidur bareng Lee, yang tampak sangat ia sukai. Mengukuhkan perlambangan dosa Lust (Hawa nafsu).

Dua tokoh terakhir, yang sebenarnya adalah dua tokoh utama – Flynn, seorang perampok bank yang menyamar menjadi pastor dan Darlene Sweet, penyanyi latar yang ingin karirnya berkembang – punya dosa yang tampak setali tiga uang. Yang satu melambangkan Greed (Ketamakan); karena mencuri dan begitu ingin memiliki semua hingga literally lupa diri dan satunya lagi Gluttony (Kerakusan) yang begitu mengejar keinginan menjadi terkenal. Dua tokoh ini pada akhirnya berhasil selamat setelah menunjukkan arc dan transformasi yang benar-benar bikin kita terpana.


abs Chris Hemsworth mengalihkan dunia para wanita

 

 

Mengikat banyak plot dengan satu tema yang kuat, sebenarnya tidak banyak ruang gerak dalam naskah film ini. Jadi ia tahu, ia harus punya gaya. Meskipun berceritanya mungkin tidak benar-benar adalah gaya yang inovatif, film masih punya satu lapisan lagi untuk membuatnya tampil beda; penampilan akting para pemain. Jeff Bridges, Chris Hemsworth, Lewis Pullman, Cynthia Erivo (yang beneran nyanyi), semuanya bermain prima. Mataku terutama pada Cailee Spaeny sejak dia di Pacific Rim: Uprising (2018) dan kembali dia mencuri perhatian di sini. Ensemble cast di film ini bermain dalam level yang tepat, mereka tidak terlalu lebay, melainkan masih tetap menghibur dan enggak satu-dimensi – mereka masih mampu untuk menghadirkan emosi. Dari yang tadinya sendirian memegang rahasia, terhadir hubungan menarik dan really grounded antara para tokoh, seperti pastor dengan si bellboy. Memang, masih banyak yang bisa diperbaiki, tetapi film ini tahu apa yang ia incar. Mengatakannya style-over-substance sungguh terlalu terburu nafsu. Dan menurut film ini, terburu nafsu tidak akan mendatangkan masa-masa baik bagimu.
The Palace of Wisdom gives 7 gold stars out of 10 for BAD TIMES AT THE EL ROYALE.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Bagaimana menurut kalian tentang Tujuh Dosa manusia? Dosa mana yang kira-kira lebih mudah untuk dimaafkan? Setuju gak kalo Pride adalah dosa yang paling ‘bos’ dari semua?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

ROBIN HOOD Review

Thievery is what unregulated capitalism is all about

 

 

 

“Salah sasaran!” Tadinya, aku ingin mengatakan hal tersebut kepada pasangan suami istri yang duduk menonton di barisan di depanku, dengan dua anak balita mereka. Maksudku, kenapa ada keluarga yang lebih memilih menonton film Robin Hood ini padahal ada Ralph Breaks the Internet di studio sebelah benar-benar di luar logika buatku. Namun kata-kata tadi aku tarik kembali sebelum melesat dari busur bibir, karena aku menemukan ‘sasaran’ yang lebih tepat.

Bayangkan merasa bosan karena sudah lama enggak ke bioskop, dan sekalinya datang yang kau tonton malah film Robin Hood. Itulah “Salah sarasan!” yang sebenarnya. Film ini tidak akan mengobati rasa jemu. Kalopun iya, itu karena kita akan menemukan banyak hal untuk ditertawakan sehubungan dengan pilihan-pilihan yang diambil dan bagaimana mereka tidak cukup kompeten untuk dapat mengeksekusinya dengan baik.

masih mendingan iklan obat; langsung ke pusat sakit kepala

 

Sudah berulang kali cerita pencuri yang menjadi pahlawan bagi rakyat jelata ini diceritakan di layar lebar. Menyadari penuh hal tersebut, Robin Hood versi 2018 sesegera narasi pembuka bergulir mengajak kita meruntuhkan apa yang telah kita ketahui tentang legenda Robin Hood, dan bersiap mengarungi kisah yang katanya tidak seperti kita kenal sebelumnya. Film ini tidak kusebut jelek karena memang menjadi sedikit berbeda dari yang sudah-sudah, malahan aku senang film punya keinginan bercerita dengan caranya sendiri. Heck, aku bakalan girang banget kalo mereka merombak totatl; katakanlah menjadikan Robin cewek atau suku minoritas. Walau enggak mengubah ampe segitunya, toh film ini berusaha menyesuaikan cerita dengan kejadian di masa sekarang – memberikannya relevansi. Orang kaya yang dirampok Robin pada film ini, adalah penguasa korup yang mencopet rakyat secara halus. Lewat slogan-slogan politik. Lewat ayat-ayat Kitab Suci. Perang Salib antara bangsa Eropa dengan bangsa Arab dijadikan latar film ini yang seharusnya berfungsi sebagai cerminan motivasi – berkaitan dengan panji pencitraan agama yang dikibarkan oleh cerita. Robin Hood tidak lagi sekedar anti-hero. Sutradara Otto Bathurst mengarahkan tokoh ini menjadi superhero bagi kaum papa. Sayangnya naskah sepertinya terlalu berat bagi pundak film ini. Segala aspek-aspek politik dan agama yang menarik tersebut hanya laksana tudung yang tak pernah benar-benar membungkus. Dan film ini pada akhirnya dikata-katai film superhero hanya karena usaha ngeset sekuel yang terang-terangan meniru Marvel atau DC.

Segala tetek bengek gimana orang menggunakan agama untuk menakuti, mengontrol massa – menguatkan posisi secara politik, dan pada akhirnya UUD (Ujung-ujungnya Duit) tidak pernah menunjukkan dampak secara emosional karena tokoh utama cerita tidak diperlihatkan benar-benar tertarik kepada itu semua. Robin si Bangsawan dari Loxley (Taron Egerton pembawaannya terlalu boyband untuk karakter sebroke-down ini) sedari sepuluh menit awal yang krusial dikukuhkan motivasinya adalah cinta kepada Marian (begitu juga Eve Hawson yang covergirl jelita banget untuk ukuran rakyat kelaparan jelata). Kebersamaan dua orang yang lebih cocok sebagai idola remaja tersebut dipersingkat oleh surat perintah wajib militer yang datang dari sheriff di kota. Robin kudu ikutan berperang di gurun pasir Arab. Sekembalinya dari medan perang – ia dikirim pulang lantaran gagal patuh terhadap perintah membunuhi orang tak berdosa – Robin mendapati rumah kastilnya disita oleh si sheriff. Eksistensinya juga direnggut lantaran sheriff memasukkan namanya dalam daftar korban perang. Dan paling parah baginya, ia juga mendapati sang istri sudah menjadi istri orang lain. Mendadak miskin, tanpa teman maupun pasangan, Robin sudah akan hancur jika bukan karena John, pejuang Arab yang mengikuti dirinya lantaran terkesan sama sikap Robin di peperangan. John-lah yang ‘membisiki’ Robin apa yang harus dia lakukan. John yang melatihnya melakukan hal-hal keren dengan busur dan anak panah. John yang memberikannya tudung trendi yang bakal jadi seragam ikoniknya. John yang diperankan oleh Jamie Foxx-lah yang sedikit menyelamatkan film ini.

Memparalelkan Robin Hood dengan penguasa lalim; korupsi personal dengan korupsi institusi, benar ini adalah cerita tentang para pencuri. Salah satu kerusakan itu akan memakan kerusakan yang satunya, dan memperbesar diri. Semuanya karena uang. Dalam film ini, uang adalah simbol kekuasaan. Ngerinya, sepertinya di dunia nyata juga begitu.

 

 

Enggak ada yang salah dengan aktor-aktor yang meramaikan film ini. Hanya saja, kita melihat mereka bermain lebih bagus di film lain, kalian tahu, sedangkan di Robin Hood ini mereka semua terlihat biasa-biasa saja. Malah cenderung annoying. Jamie Foxx kelewat over-the-top. Dia lucu saat tidak sedang melucu – seperti sewaktu dia berteriak-teriak sebelum menggantung orang. Sedangkan ada tokoh lain seperti si Friar Tuck yang memang ditampuk sebagai peran komedi malah jatohnya garing; tidak ada yang tertawa mendengar komentarnya yang seperti menyindir. Karakter-karakter yang ada, semuanya tumpul kayak anak panah yang belum diasah. Dan ini lucu mengingat anak panah dalam film ini digambarkan mempunyai kekuatan perusak seperti peluru senjata api. Motivasi tokoh utamanya, seperti yang sudah aku tulis, terasa sepele. Tokoh ceweknya butuh untuk diselamatkan, dan enggak benar-benar punya manfaat selain berdiri di sana, dengan pakaian nyaris tertutup, tersenyum dan terlihat flawless – seolah dia tidak berada di zaman dan kondisi yang sama dengan orang lain di sekitarnya. Gimana dengan tokoh antagonisnya, kalian tanya? Hahahaha mereka jahat, culas. Kalo ngomong selalu keras-keras. Benar-benar komikal dan satu dimensi. Ada satu adegan seorang tokoh petinggi gereja yang tertawa membahana, kemudian mendadak mengubah nada bicaranya dengan mengancam, dan musik juga dramatis banget, dan si tokoh itu enggak pernah dibangun dulu karakternya.

curi… curi-curi pandang

 

 

Kita enggak bakal mampu untuk peduli sama tokoh-tokohnya. Bahkan aspek cinta segitiga tidak mampu untuk membawa kehangatan ke dalam film yang berskala warna coklat dan biru keabuan ini. Aspek mata-mata turut mewarnai cerita; di saat enggak merampok kas pajak, Robin akan bertugas sebagai bangsawan dermawan yang senantiasa di sekitar sheriff dan penguasa. Cara film menggarap bagian ini persis berasa sinetron. Dengan close-up Robin yang senyam-senyum ke kamera ketika dia berhasil mengelabui penjahat, ataupun tampang cemasnya saat ada hal ‘gak enak’ yang harus dia lakukan. Intriknya tidak pernah benar-benar terasa.

Jika kalian merasa porsi aksi akan menjadi obat penawar, maka kalian juga sama salahnya seperti aku. Karena bagian aksi film ini malah lebih memalukan lagi. Di antara hujan anak panah dan derapan kuda-kuda CGI itu, kita akan menemukan orang-orang berlarian dalam gerakan lambat, kemudian melompat dan menjadi cepat, melepaskan anak panah, kembali dalam slow-motion, dan cepat lagi. Aku gak percaya masih ada film yang masih memakai teknik editing yang mengesalkan seperti begini. Cara yang sangat malas dalam upaya membuat adegannya tampak intens. Aku bahkan merasa bosan melihat adegan aksinya. Sama seperti para pemainnya, aku yakin orang-orang yang bekerja di spesial efek dan editing ini bukan orang sembarangan, mereka punya keahlian khusus. Hanya saja pilihan yang dilakukan film membuat semuanya tampak enggak kompeten.

 

 

 

 

Seharusnya bukan cuma aktor saja yang diajari cara memanah. Film harusnya juga belajar menentukan sasaran mereka, menembaknya dengan tepat. Segala unsur modernisasi dan kerelevanan yang ada pada cerita dimentahkan oleh penceritaan dan arahan yang begitu konservatif. Hampir seperti mereka tidak cukup mampu untuk menangani cerita yang bener. Semua penampilan di film ini jatohnya jadi memalukan. Setidak-tidaknya film yang udah kayak cerita superhero ini bisa menghadirkan bagian aksi yang exciting, namun mereka bahkan tidak sanggup untuk melakukannya.
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for ROBIN HOOD.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Apakah mencuri demi orang lain membuatmu pahlawan?

Pernahkah kalian mencuri untuk kebaikan, share dong pengalamannya

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017