IF: IMAGINARY FRIENDS Review

 

“We grow old because we stop playing”

 

 

Orang dewasa sudah lupa caranya menjadi anak-anak. Atau mungkin lebih tepatnya, orang dewasa ‘terpaksa’ melupakan caranya menjadi anak-anak. Karena ketika sudah dewasa, kita harus berhadapan dengan banyak realita kehidupan. Dan memang realitanya; hidup itu cepat dan keras. Menuntut tanggung jawab besar, serta kita harus bersiap menyongsong begitu banyak perpisahan. Saat dewasa, sudah tidak ada lagi waktu untuk bermain-main. Maka lantas kita merasa jadi dewasa itu berarti kudu serius, enggak boleh kekanakan. Sutradara John Krasinski punya kontra-argumen soal ini.  Bahwa jadi dewasa bukan berarti harus melupakan sisi kanak-kanak yang kita punya. Belakangan banyak membuat horor, Krasinski kali ini mengeksplorasi dunia imajinasi penuh fantasi dengan nada yang ringan dan hangat untuk tontonan keluarga. Dia pun kembali menapaki sisi playful dirinya yang kita kenal ketika dia sebagai seorang aktor yang meranin karakter ikonik, Jim, yang suka ngeprank dalam serial The Office (2015). Ya, Krasinski pertama-tama tampak ingin menampakkan bahwa dirinya sendiri belum lupa. Lalu kemudian lewat IF ini, Krasinski mengajak kita untuk belajar bagaimana caranya kembali menjadi anak-anak.

IF bicara tentang Imaginary Friends – ‘teman khayalan’ yang mungkin kita semua punya saat masih anak-anak. Saat kita masih suka mengkhayal tentang robot, dinosaurus, Goku, ataupun kuda poni. Jangan sampe ketuker ya antara IF dengan Imaginary (2024), karena keduanya memang sama-sama tentang teman khayalan, tapi tentu saja pendekatannya berbeda. Krasinski sebenarnya juga jago membangun dunia horor, hanya kali ini dia lebih memilih untuk bangun dunia fantasi yang lebih ‘magical’. Jadi IF ini bercerita tentang anak perempuan bernama Bea yang membantu para monster-monster imaginary friends untuk mencari anak-anak baru sebagai teman bermain. Monster-monster itu kesepian karena anak-anak yang menciptakan mereka udah pada gede dan melupakan mereka. Bea bergabung bersama Calvin, pria yang tinggal di kamar di lantai atas apartemennya, bekerja sebagai semacam biro jodoh untuk klien mereka; monster-monster yang kini tinggal di tempat rahasia yang hidup berkat imajinasi anak-anak manusia. Tadinya tempat itu boring, kayak rumah panti jompo, karena dibangun dari imajinasi Calvin yang sudah dewasa. Tapi semenjak Bea bergabung, tempat itu jadi lebih ceria,  lebih fantastis!

review if
‘Bea’ as in ‘Be-a-kid again!’

 

Kreativitas dari desain dunia dan monster imaginary friendsnya itulah yang jadi salah satu yang bikin film ini menyenangkan. Di tempat para monster tadi misalnya, logika yang dipakai film ini persis kayak old-cartoon’s logic. Yaitu tempat yang begitu imajinatif, sehingga akal sehat kita gak berlaku di dalam sana. Kita hanya bisa terkesima bernostalgia ke masa kecil saat menonton kartun, masa ketika lokasi ajaib itu terasa sangat menakjubkan, bukannya annoying bagi kita. Para monster yang dihadirkan juga beragam, desain 3Dnya mentok-mentok, ada yang makhluk berbulu besar dengan style ala Monster Inc, ada yang kayak kupu-kupu tapi ala kartun klasik Disney, ada yang random kayak monster gelembung ataupun yang wujudnya segelas air putih dengan satu kubus es (my favorite!), ada juga yang totally aneh berupa monster yang tak-kelihatan. Si Calvin sampe ngedumel anak macam apa yang membayangkan teman yang tak bisa dilihat, hihihi.. Namun di situlah aku sadar alasan desain segala-gaya tersebut.  Karena monster-monster itu terlahir dari khayalan anak-anak, maka otomatis wujud mereka pun begitu beragam, sesuai dengan personality dan lingkungan yang membentuk imajinasi si anak. Makanya nanti kita ikut merasa seru dan penasaran menebak siapa kira-kira anak original dari masing-masing monster. Film pun lantas semakin meriah karena pengisi suara monster-monster tersebut basically cameo dari nama-nama besar, ‘teman-teman’ John Krasinski, yang sering juga castingnya mereference kepada inside joke tertentu sehubungan karir para aktor atau juga clue tentang siapa sebenarnya si karakter.

John Krasinski sendiri pernah bilang filmnya ini seperti film Pixar live-action. Mungkin karena tampilannya yang mencampurkan dunia nyata, manusia asli, dengan karakter-karakter animasi dengan desain beragam tadi.  Serta karena IF juga berfokus kepada drama karakternya. Of course, sekali lihat, tema teman khayalan yang dilupakan ini bikin kita teringat sama Bing Bong di Pixar’s Inside Out (2015) Cerita IF memang terasa seperti berakar pada salah satu adegan paling bikin mewek di film tersebut, yaitu ketika Bing Bong si teman khayalan, merelakan dirinya dilupakan. Tapi kalo dilihat-lihat muatan dan ceritanya keseluruhan, IF juga bisa terlihat kayak versi lebih ringan dari gabungan antara The Boy and the Heron (2023) dengan The Sixth Sense (1999). Nah lo?

Mirip karena Bea ngalamin hal yang mirip dengan Mahito. Sama-sama harus berdamai dengan kematian ibu. Bea yang menginjak usia dua-belas tahun itu tumbuh jadi anak yang hardened oleh kematian tersebut. Dia yang tadinya cheerful dan penuh imajinasi – seperti yang terceritakan lewat footage opening yang perfectly set up keluarga Bea – kini mengikhlaskan hidupnya tak bakal seceria dulu. Bea siap mental untuk hidup yang lebih ‘real’. Bea merasa dirinya sudah bukan anak kecil, dia gak mau lagi menengok gambar-gambar karyanya waktu kecil. Despite ayahnya terus ngajak bercanda dengan beragam practical jokes, Bea yang sekarang ini tidak pernah seceria dulu. Karena deep inside, Bea khawatir kehilangan lagi. Bea khawatir ayahnya yang sakit jantung bakal menyusul ibu. Film dengan tangkas menceritakan perasaan Bea; meskipun di awal pace sedikit agak lambat tapi kita akan mengerti dengan cepat, dan tone film tidak sampai jatuh terlalu depress. Kehadiran monster-monster IF dengan segera mengisi baik itu perasaan khawatir Bea, maupun tone film sehingga kembali ceria. Para monster dan tempat yang hanya bisa dilihat oleh Bea dan Calvin menjadi panggung dinamis tempat film perlahan mendevelop karakter Bea. Berangsur gadis kecil ini kembali menjadi ‘anak-anak’. Dengan membantu para monster menemukan anak sebaagi pasangan bermain, Bea menemukan kembali penyadaran bahwa hidup harus diwarnai oleh cerita-cerita. Di sinilah hati film menunjukkan wujudnya. Terenyuh sekali rasanya melihat usaha Bea demi para monster, melihat para monster konek kembali dengan anak mereka. Hingga ke momen ada salah satu karakter yang Bea gak nyadar sebenarnya karakter itu adalah teman khayalan, dan membantunya berarti membantu dirinya sendiri.

Kita berhenti bermain bukan karena kita sudah tua. Sebaliknya, kita tua justru karena kita memutuskan untuk berhenti bermain. Kita tumbuh tua dan menyedihkan karena telah melupakan kebahagiaan yang kita anggap hanya bisa dimiliki saat anak-anak. Padahal sebenarnya tidak ada yang menghalangi kita untuk hidup dengan lepas dan ceria seperti masih kecil dulu. Kita tidak harus lupa ataupun menunda bahagia ketika hidup got real.

 

Bukti orang dewasa lupa rasanya jadi anak-anak dapat kita lihat pada film anak-anak. Yang seringkali antara punya karakter anak yang terlalu kaku dan bertingkah exactly kayak orang dewasa yang sedang berpura-pura jadi anak kecil (kayak, mana ada anak kecil nyebut kuburan sebagai ‘areal pekuburan’) ataupun film anak yang terlalu memanis-maniskan – membuat orang dewasa di sekitarnya blo’on ataupun tidak berani memberikan konsekuensi nyata kepada karakter anaknya. Or worse, karakter anak cuma dijadikan korban karena mereka yang paling gampang dikasihani. John Krasinski setidaknya membuktikan dia tidak lupa bagaimana jadi anak-anak. Dia tidak takut untuk berkreasi dengan pengarahan dan kamera. Pun, dia tahu persis bagaimana posisi protagonis ceritanya. Anak kecil yang sudah siap menjadi dewasa karena kehilangan, tapi sebenarnya belum benar-benar siap. Bea tampak natural, dia beneran tampak seperti gimana anak seumuran itu – anak yang merasa dirinya dewasa tapi belum – bertindak. Nge-cast Cailey Fleming yang memang sebearnya lebih tua dibanding umur karakternya membuat Fleming jadi tampak effortless ngasih aura dewasa di balik keinnocenant Bea. Chemistry-nya dengan Ryan Reynolds yang jadi Calvin (dengan dinamika standar orang dewasa penggerutu dengan anak yang lebih loose) juga terasa cukup natural.

Temanku dulu kok begini, tapi kini tak nampak lagi

 

Namun bahkan John Krasinski yang punya perhatian pada world-building dan pesona utamanya sepertinya memang berada pada persona kekanakan (sebagai Ayah Bea di sini, dia persis kayak Jim  di serial The Office) belum sepenuhnya lancar bercerita di dunia fantasi petualangan. Aplikasi horornya ke cerita anak-anak baru seujung kuku Guillermo del Toro. Karena naskah dan arahan IF pada akhirnya berbelok lebih ke galian dramatisasi terhadap kenangan masa kecil, terhadap kembali teringat pada masa kecil, ketimbang pendalaman. Secara emosi memang berhasil, tapi masih ada pembeda tegas antara bentukan cerita IF dengan cerita anak Pixar maupun dongeng del Toro. Film punya konsekuensi – Bea boleh jadi tidak akan bahagia lagi kalo nanti ayahnya meninggal, tapi film ini urgensinya masih kurang. Stake-nya masih kurang. Sebuah film memang gak harus ada villain atau antagonis, tapi itu bisa dilakukan jika ceritanya bisa establish stake dari sekitar protagonis. IF kurang nendang karena batasan atau pertaruhannya kurang ditekankan. Like, para monster dibuat tidak menghilang jika dilupakan oleh anak yang menciptakan mereka. Mereka cuma terlantar di tempat rahasia bersama-sama. Sehingga jikapun Bea gagal membantu, terasa tidak begitu jadi soal. Perkara Bea takut kehilangan ayahnya; film ini pun kurang karena incaran relasi antara father-daughter kurang mendapat screen time, dan perjuangan Bea membantu monster tidak diparalelkan dengan Bea, mungkin misalnya, menyelamatkan ayahnya. Atau mungkin membantu ayahnya ketemu sama monster IFnya semasa kecil. Instead, relasi utama terbagi dua, yaitu satu lagi antara Bea dengan Calvin. Tapi karena relasi mereka ini konsepnya adalah revealing yang mengharukan, maka mereka juga tidak benar-benar ada naik turun. Krasinski pada akhirnya terasa terlalu sibuk mengarahkan agar ceritanya tidak berakhir seperti modelan biasa, sehingga ceritanya ini kurang terasa nendang.

 

 




Komedi dan drama yang jadi hati film ini memang mampu mengena. Kreasinya juga cukup sukses bikin kita terpana, membuat kita kembali juga kepada kenangan masa kecil. Mengingat betapa bahagia dulu di masa itu, serta orang-orang yang ada di masa itu bersama kita sehingga masa itu rasanya bahagia sekali. Lewat sudut pandang anak yang cope with family loss, bahasan dunia teman khayalan ini pengen dibuat mature, hanya saja ternyata eksplorasinya tidak sedalam itu. Film akhirnya lebih mengandalkan kepada dramatisasi dari ketemunya para monster dengan anak-anak teman bermain mereka. World building yang menakjubkan itu akhirnya terasa kurang komplit, karena urgensi cerita masih kurang terasa. Film ini jadinya terasa sama dengan para monster khayalan; cute dan loveable, namun untuk penilaian, dia samanya dengan nama protagonisnya. Bea, alias dalam bahasa Inggris dibaca ‘B’
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for IF: IMAGINARY FRIENDS

 

 




That’s all we have for now.

Pernahkah kalian punya teman khayalan? Di umur berapa kalian mulai menyadari dan melupakan teman tersebut?

Silakan share di komen yaa

Yang pengen punya kaos film lebaran Siksa Kubur versi My Dirt Sheet bisa pesen di sini yaa (ada 2 model, loh!) https://www.ciptaloka.com/+mydirtsheet/

Bagi kalian  melewatkan di bioskop, atau pengen nonton ulang Killers of the Flower Moon, film ini bisa ditonton di Apple TV. Kalian bisa subscribe dari link ini yaa https://apple.co/3QWp4Yp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL


TALK TO ME Review

 

“Death is the wish of some, the relief of many, and the end of all”

 

 

Kematian – duka – drugs. Lingkaran setan depresi yang merundung remaja itulah yang digambarkan oleh film horor buatan sutradara kembar asal Australia, Danny dan Michael Philippou. Debut penyutradaraan mereka ini ternyata enggak bisa dianggap kaleng-kaleng! Talk to Me punya nafas horor yang kental, disertai pula dengan konsep dan penyimbolan yang menarik. Sekilas ini terlihat seperti another jelangkung-like story, you know, cerita manggil-manggil arwah lalu lantas kesurupan. Alih-alih boneka atau papan ouija, film ini menggunakan patung tangan. Para anak muda karakter cerita nanti bukan hanya kesurupan, tapi kecanduan kesurupan. Begitulah film ini menjadikan dirinya unik, tangan pemanggil arwah dijadikan seperti perumpaan drugs – candu tempat anak muda melarikan diri dari membicarakan masalah. Dalam hal ini duka karena kehilangan orang yang dicinta. Set up dan paruh awal film ini memang efektif sekali membuat kita terpaku menatap layar (sambil sesekali jantungan oleh jumpscare). Aku pengen suka film ini, secara teknis definitely one of the decent horror out there. Tapi di paruh akhir, aku duduk di sana merasa jengkel. Oleh karakter utamanya, dan oleh cerita yang berkembang dengan aneh.

Remaja-remaja dalam Talk to Me berhura-hura. Berpesta. Di rumah salah satu dari mereka yang kebetulan orangtuanya lagi pergi, atau yang cukup ‘open minded’ untuk ngebolehin mereka bersuka ria. Mereka lantas berkerumun nyobain satu hal baru ini. Bergantian nyicipin sensasi ketegangan dan menyerempet bahaya, tapi sekaligus juga ngasih kelegaan dan kepuasaan tersendiri, karena mereka telah berani mencoba. Mengalahkan tantangan sosial sehingga akhirnya mereka semakin diterima di dalam lingkaran ‘anak-anak keren’. Hal baru tersebut adalah sepotong patung tangan yang bisa membuat siapa saja yang menggenggamnya (serupa bersalaman) dapat melihat roh gentayangan, entah itu hantu atau setan. Bahkan ketika anak-anak remaja itu mengizinkan, roh itu bisa masuk ke dalam tubuh mereka. Sembilan-puluh detik adalah batas waktu yang tak boleh dilanggar, selewat itu ritual harus dihentikan jika tidak mau si empunya tubuh kesurupan selamanya. Tubuhnya bakal jadi milik si roh yang diizinkan masuk. See, kata kuncinya adalah berbahaya. Perbandingan permainan horor tersebut dengan narkoba memang jelas ditarik oleh film. Dalam salah satu adegan montase kita melihat para karakter remaja cerita ini udah kayak sedang teler, bergantian mencoba tangan tersebut, berkali-kali. Mereka bersenang-senang dan seperti udah mabok beneran. Permainan berbahaya itu esensial bagi pergaulan karakter remaja di film ini. Ada yang melihatnya sebagai ‘syarat’ untuk diterima. Melihatnya sebagai cara untuk populer. Ada yang menjadikannya sebagai outlet untuk melupakan masalah. Karakter utama kita, Mia, melihat permainan itu sebagai ketiganya sekaligus.

Mia kehilangan ibunya dua tahun yang lalu. Sang ibu bunuh diri, tapi Mia masih memendam grief luar biasa. Kita melihat di balik keceriaannya, di balik hubungannya yang tampak akrab dengan kakak-beradik Jade dan Riley, Mia belum berdamai dengan tragedi tersebut. Dia masih gak mau percaya akan pilihan naas ibunya, dan deep inside masih terus berusaha mencari jawaban. Namun sebagaimana remaja yang lagi rentan, rapuh, tapi pengen terlihat kuat, Mia mencari jawaban di tempat lain. Bukannya membicarakan secara dewasa dengan ayah, Mia mencari penenangan diri lewat, yah, hal-hal seperti drugs atau permainan horor ‘bicara dengan tangan’ tadi. Di antara teman-temannya, Mia memang yang paling semangat mencoba main ini. Ketika Riley, yang paling kecil di antara mereka, mencoba patung tangan, Mia yang menyangka Riley kesurupan arwah ibunya. Ini menyebabkan Riley melewati batas waktu, sehingga nyawanya kini terancam. Mia harus bertanggungjawab dan menyelamatkan Riley, dan itu berarti dia harus mengkonfrontasi penyebab ibunya bunuh diri.

Berjabat tangan dengan maut

 

Urusan horor, film ini memang gak malu-malu. Duo sutradara kita paham bahwa ini kesempatan bagi mereka to show they are a big deal here in this genre. Dan passion itu memang kelihatan. Talk to Me punya momen-momen horor yang intens. Adegan kesurupannya adalah campuran antara chaos dan fun. Pendekatan yang mereka ambil punya reference ke horor seperti Evil Dead, dengan penampilan yang over-the-top dan level gore yang bakal sukses bikin kita meringis. Adegan Riley membentur-benturkan wajahnya ke meja niscaya bakal jadi tantangan tersulit kalo dimasukin ke video ‘don’t look away challenge’. Dan bukan cuma sebatas horor fisik, film ini juga mengerti membangun suspens untuk horor yang lebih emosional. Horor yang lebih ‘mental’. Ruh-ruh yang memasuki tubuh remaja-remaja itu akan membuat mereka bertindak atau mengatakan hal yang berhubungan dengan ketakutan atau hidup mereka. Seringkali terciptakan kondisi awkward yang begitu ekstrim saat hantu membocorkan ‘rahasia’ hostnya. Saat membuat host yang religius melakukan tindakan paling bikin setan ngakak. misalnya. Selain itu, film ini jadi horor mental karena ada banyak juga adegan ketika Mia merasa ambigu. Apakah dia benar melihat setan, atau dialah yang bertingkah aneh. Apakah benar dia cuma sekali ‘menyentuh’ ganja. Apakah roh yang bicara kepadanya itu memang hantu ibunya, ataukah justru hantu jahat lain yang mencoba menipunya. Or worse; semuanya memang hanya karena kepalanya saja yang enggak beres.

Mia harusnya karakter yang menarik dengan banyak konflik personal regarding tragedi di masa lalu. Duka yang belum mampu dia hadapi, sehingga dia terjerumus pelampiasan yang enggak benar. Tapi naskah membuat karakter ini nyaris unbearable. Mia, buatku, malah jatohnya terasa annoying karena keambiguan, misteri yang menimpanya tidak pernah benar-benar dibuat untuk menempa development Mia. Begini, jika melihat dari build up di paruh awal, journey Mia sepertinya diarahkan tentang mengikhlaskan ibu. Mia seperti harus belajar percaya bahwa ibunya ‘baik-baik saja’, bahwa beliau benar bunuh diri karena setiap orang punya masalah dan terkadang beberapa orang menganggap kematian sebagai sebuah harapan. Itulah sebabnya kenapa ada adegan Mia ‘ketemu’ kanguru yang sekarat di tengah jalan. Riley yang bersamanya di saat itu mengerti bahwa kanguru tersebut harus mereka bantu. Kanguru butuh Mia untuk menghilangkan penderitaannya, alias si kanguru meminta Mia untuk menggilas dirinya. Tapi Mia gak tega. More than that, Mia gak tahu betapa sakralnya kematian. Jika Mia tahu, dia tentu tidak akan sesemangat itu main manggil hantu-hantuan. Yang Mia lakukan adalah, pergi meninggalkan kanguru. Sekali lagi menunjukkan bahwa dia lebih suka untuk ‘kabur’ dari masalahnya. Nah, dari ‘kesalahannya’ tersebut, maka pembelajaran bagi Mia berarti harusnya adalah menyadari bahwa kenyataan harus dihadapi, meski itu berarti menerima bahwa ibunya bunuh diri karena bagi ibunya itu satu-satunya cara untuk bebas.

Talk to me adalah ‘mantra’ yang diucapkan saat anak-anak itu sudah siap untuk melihat hantu dengan bantuan patung tangan. Dikaitkan dengan konteks cerita ini, kata-kata tersebut juga dapat berarti pesan untuk kita bahwa suatu masalah ya harus dibicarakan. Masalah sulit dalam hidup remaja salah satunya adalah soal kematian, for kehilangan orang yang disayang memang bisa membuat anak muda terjerumus ke lingkaran setan. Film ini nunjukin bahwa momok sebenarnya bukanlah kematian, karena kematian bisa berarti berbeda-beda bagi orang. Beberapa bahkan menganggapnya jalan keluar. Momok sebenarnya justru adalah hal yang bisa orang lakukan jika dia belum berdamai dengan kematian tersebut.

 

Tapi momen pembelajaran Mia tidak kunjung datang. Jikapun ada, cara film menceritakannya membuat momen tersebut hanya jadi sebuah shock value. Untuk tidak ngespoil terlalu banyak; momen Mia memilih membunuh Riley atau tidak oleh film ini hanya dijadikan kejutan buat kita. Padahal harusnya kita dibuat mengerti kenapa Mia memilih hal yang akhirnya dia lakukan.  Harusnya kita ada di dalam kepala Mia saat itu, bukannya berada di dalam mobil yang sedang melaju. Karena di momen itulah Mia baru benar-benar bergulat dengan kematian, dengan topik yang selama ini ia hindari karena dia takut berhadapan dengan kenyataan tentang ibunya. Personal Mia bergulat dengan pertanyaan apakah Riley juga wish for a death, bisikan hantu ibunya mewakili apa yang ingin dia yakini sedangkan kenyataan mewakili apa yang butuh untuk dia percaya. Secara kejadian kulit luarnya pun, aku merasa gak yakin lagi soal apa yang ingin film ini sampaikan selain bikin kita surprise. Sampai di rumah saat pulang dari menonton film ini di bioskop, aku masih bingung sama pilihan Mia karena menurutku gak make sense dengan apa yang sebelumnya ini dia lalui. Like, dia baru saja ninggalin ayahnya bersimbah darah untuk menipu sahabatnya, supaya bisa membunuh adik si sahabat, tapi setelah capek-capek jalanin rencana itu, Mia malah tidak follow thru her plan. Kenapa dia memilih ini. Apa pengaruh pilihannya ini pada journey Mia yang telah dibangun? Aku gak bisa menjawab itu lantaran paruh akhir film seperti melipir dari build up di awal dengan ngasih banyak ambigu tapi terkesan trying too hard supaya kita bersimpati pada karakter Mia. Dan oh boy, bersimpati kepadanya adalah hal yang benar-benar susah.

Real definisi ‘gak percaya sama orang hidup”

 

Akting Sophie Wilde sebenarnya total. Namun aku lebih suka Mia saat dia kesurupan ngejahilin Riley, Jade, dan teman-teman lain ketimbang Mia dengan mode sok histeris dirundung grief dan hantu. Mia ditulis sebagai karakter yang benar-benar cari masalah, kemudian sok menjadi yang paling terluka. Misalnya, dia sendiri yang bersikeras membolehkan Riley yang masih terlalu muda untuk mencoba permainan patung tangan, tapi kemudian dia ‘mengajak’ teman yang lain untuk ikutan ngaku bersalah. Relasi film sebenarnya didesain cukup kompleks. Sahabat Mia, Jade, punya pacar yang merupakan mantan Mia (eventho mereka cuma pernah pegangan tangan). Mia yang bersikeras mereka sekarang cuma temenan itu, oleh naskah yang mendesain karakter Mia sebagai orang yang menghindar membicarakan masalah, malah membuat Mia terkesan licik dengan mengajak si pacar nginap di rumahnya – saat mereka semua terguncang oleh kejadian yang menimpa Riley. Saat hal menjadi lebih intens, Mia yang harusnya sudah belajar untuk konfrontasi masalah, lebih memilih untuk percaya hantu ketimbang orang hidup. Buatku, ini membuat aksi-aksi Mia sebagai pilihan dogol yang membuat aku susah merasa relate dan peduli kepada Mia. Aku malah lebih bersimpati kepada karakter Jade, karena stake kehilangan Riley itu lebih kuat terasa. Mia gajelas bakal kehilangan apa jika hantu berhasil ngeklaim tubuh Riley.

Bahkan sekuen yang mengantar kita kepada penutup cerita yang harusnya keren dan sureal, terasa hampa karena Mia hanya berakhir sebagai karakter yang ‘oh ternyata dia sekarang jadi begini” alih-alih membuat kita menyelami kenapa dia harus berakhir seperti itu. Development Mia seperti putus di tengah dan film melanjutkan ceritanya untuk jadi kisah downward spiral seorang karakter yang sikap dan pilihannya enggak simpatik. Developmentnya, pembelajarannya yang harusnya bikin kita jadi berbalik peduli kepadanya, tapi itu juga yang diputus. Makanya, aku di awal tulisan ini bilang pengembangan film ini aneh.

 

 




Paruh akhir film ini tidak harus seperti itu. Film ini punya konteks soal kematian yang dibungkus oleh ide dan konsep horor yang menarik. Yang sebenarnya serupa dengan cerita-cerita pemanggilan ruh tapi juga terasa berbeda berkat karakter dan situasi yang dihadirkan. Protagonis harusnya adalah karakter yang simpatik dan memancing dramatic irony karena kita melihat dia terus melakukan pilihan yang salah. Penyadaran dia di akhir harusnya jadi momen besar. Tapi film membelokkannya hanya menjadi sekadar kejutan. Tragisnya tidak pernah benar-benar berkesan karena si karakter kehilangan development yang telah dibangun di paruh awal. Sehingga meskipun aspek horornya menyenangkan dan super intens, kesenanganku menonton ini berkurang karena karakternya flat out annoying. Go talk to my hand aja sono! 
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for TALK TO ME

 




That’s all we have for now.

Mia bercerita dia punya recurring nightmare yaitu mimpi melihat dirinya gak punya pantulan di cermin. Apakah kalian juga punya mimpi buruk yang terus berulang? Kalo aku, aku paling sering mimpi ketemu kembaran seseorang dan aku harus memilih mana yang asli, mana yang hantu.

Share cerita kalian di comments yaa

Setelah nonton ini, mungkin kalian masih pengen yang menegangkan? Well, ada nih serial Hijack, serial thriller seru tentang pembajakan di pesawat yang dibintangi oleh Idris Elba di Apple TV+ Yang pengen ngerasain ketegangannya bisa langsung subscribe dari link ini yaa https://apple.co/46yw8RX

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



KEJAR MIMPI GASPOL! Review

 

“Moms have dreams too!”

 

 

Di ‘pekarangan’ Gunung Bromo, Ibu Fifi mengendarai mobil jipnya. Sepasang turis duduk di kursi belakang jip kuning tersebut, pucat ketakutan. “Mobil ini kuat kok, dari besi, keras” kelakar Fifi, pikirnya itu menenangkan mereka. Perempuan paruh baya yang memiliki usaha homestay dan wisata keliling gunung itu memang menyetir kendaraannya menyusuri jalanan tanah yang sukar dilalui dengan kecepatan cukup tinggi. Tapi toh dia tetap terlihat santai menerjang ombang-ambing jalanan – tidak seperti dua orang penumpangnya. Ibu ini seperti menikmati, seolah ingin menunjukkan bahwa dia mampu menerjang rintangan dalam hidupnya, menganggapnya sebagai hiburan alih-alih derita. Fifi dalam Kejar Mimpi Gaspol! garapan Hasto Broto memang potret sosok ibu yang tangguh. Seorang single mother dengan usaha yang berdikari. Suka duka kehidupan Ibu Fifi – yang sepertinya terinspirasi dari kisah dari tokoh nyata –  diceritakan Hasto dalam balutan drama komedi: ‘kedok’ yang sempurna untuk membuat si karakter jadi punya lapisan.  Di balik senyum lebarnya,Fifi menyimpan sendu yang ia tuliskan rapi dalam buku yang ia jaga. Karakter Fifi ter-flesh out lewat tulisan-tulisannya ini. Film ini pun, terasa lebih syahdu dan nyaman ketika bercerita lewat tulisan tersebut.

Kendaraan drama untuk Asri Welas

 

Ngomong-ngomong soal kendaraan, Kejar Mimpi Gaspol! yang merupakan cerita berhias komedi namun dengan akar dramatis yang kuat dari hubungan ibu dan anak dengan mimpi-mimpi mereka dapat bertindak jadi kendaraan drama bagi aktor Asri Welas yang terkenal lewat peran komedi. Aku ngeliat Asri Welas ini tuh kayak, Awkwafina versi Indonesia. Like, walaupun asalnya agak sedikit berbeda (Awkwafina dari rapper, Welas dari model) tapi dalam seni peran, mereka ini sekian lama selalu kebagian peran sebagai pendukung yang melulu comedic relief, karena mereka doing so well at it, mereka kayak jadi stuck di situ. Namun kemudian, Awkwafina dapat her big break ke dalam skena drama lewat film The Farewell (2019) Dia didaulat jadi karakter utama dalam drama keluarga yang begitu personal serta kental budaya Cina tersebut. Film itu jalan lewat permainan emosi yang dalem yang ditampilkan olehnya. Sementara Asri Welas, enggak hingga film Kejar Mimpi Gaspol! ini akhirnya kebagian peran utama. Aku pun jadi menaruh harapan yang cukup tinggi di sini. Terlebih setelah melihat set up dari karakter yang Welas mainkan. Bu Fifi yang tampak ceria tapi menyimpan banyak cerita yang begitu menyentuh. Bu Fifi yang membesarkan anak gadis seorang diri, hingga harus melupakan mimpinya. Mimpinya yang nanti ketahuan itulah yang lantas jadi percikan dalam film ini. Membuka banyak ruang emosi dramatis untuk diisi oleh Asri Welas.

Kita mengetahui tentang impian terkubur Fifi lewat cara yang sama dengan putrinya, Diana, dan seorang aktor yang menginap di homestay mereka, Damar. Lewat cara yang intrusif, mendobrak privacy sang karakter utama. Yang sebenarnya merupakan langkah penulisan naskah yang aneh, karena kita tidak dibuat berada di dalam sepatu Fifi si karakter utama, melainkan dari pihak luar. Tapinya lagi, toh cara ini cukup efektif juga menghadirkan konflik yang jadi bumbu drama sebagai api pada paruh awal film. Jadi di sela-sela kerjaannya sebagai tour guide dan pengurus homestay, Fifi suka menulis di dalam diary. Ngakunya sih, dia nulis catatan tentang para turis yang pernah menginap di tempatnya. Tapi oh boy, Fifi sangat protektif terhadap diary tersebut. Gak ada yang boleh baca. Termasuk Diana. Damar si aktor lawas yang udah gak laku-lah yang nanti dengan kurang ajar, diam-diam membaca semua tulisan Fifi. Dan pria itu tersentuh, bukan hanya oleh isi cerita, melainkan juga oleh cara Fifi mengungkapkan ceritanya. Di situlah impian itu terkuak. Di situ juga, masuknya jalan drama. Asri Welas tidak lagi melulu melontarkan candaan – yang bahkan tidak dianggap lucu oleh karakter-karakter di dunia cerita – tetapi dia kini harus menginjak ranah emosional ketika harus berkonfrontasi dengan orang yang telah melanggar urusan pribadinya. Juga, berkonfronasi dengan anak semata wayang yang kini mendorongnya untuk mengejar kembali cita-cita yang telah lama dinomorduakan karena ia percaya, setelah menjadi seorang ibu, tugasnya adalah membantu mewujudkan cita-cita anaknya.

Inilah yang kita, sebagai anak, juga sering lupa. Kadang kita bisa begitu egois dengan berpikir orangtua harus selalu mendukung cita-cita anak. Kejar Mimpi Gaspol! ngasih tau kita bahwa orang tua, seorang ibu seperti Fifi, juga punya cita-cita. Dan kita mungkin gak bakal pernah tahu cita-cita itu karena mereka telah menutup lembar hidup mereka tersebut saat kita lahir. Padahal cita-cita mereka tentu saja enggak kalah penting untuk dikejar. Coba deh, sekali-kali anak juga balik mendukung ibu, atau ayah, mewujudkan impian mereka.

 

Nge-cast Michelle Ziudith sebagai putri Bu Fifi sedikit-banyak membantu Asri Welas sampai ke ranah dramatis itu. Film ini sendiri juga memang butuh presence seseorang yang memang bisa berakting emosional hingga berderai air mata seperti Ziudith. Sebab, banyak momen emosional film hadir lewat tulisan Bu Fifi. Siapa lagi coba yang bisa membuat kita percaya tulisan itu beneran sedih saat dibaca. Permainan emosi dari Michelle Ziudith yang membaca tulisan-tulisan tersebut membantu perasaan itu terdeliver. Asri Welas yang meng-voice over kata-kata di buku itu juga membacakannya dengan penghayatan emosi yang mengena. Dan bukan sebatas sedih-sedih aja, kadang di tulisan itu ada bagian humornya; yang juga tersampaikan dengan lancar. Padahal hanya lewat kata-kata. Tora Sudiro sebagai Damar (peran ini bisa jadi meta baginya, or not haha) juga membantu.

Welas mungkin harusnya bisa belajar banyak dari Tora yang udah duluan menjamahi ranah komedi dan drama seperti ini. Karena, walau saat membaca delivery-nya sukses, tapi di sisi yang lebih penting (karena film bukan media audio melainkan audio-visual) Welas masih kurang gaspol mainin drama. Ini krusial. Luarnya memang komedi, tapi ruhnya ini adalah cerita drama, dengan niat sebagai kisah inspiratif. Penyampaian drama harus dilakukan dengan baik, meluruh. Asri Welas sayangnya tampak belum terlalu nyaman main di drama yang lebih emosional. Dia oke ketika hanya membaca, ketika adegan hanya menuntut satu emosi. Tapi, perpindahan antara becanda dengan ‘serius’ yang ia bawakan, kurang meyakinkan. Kayak pada adegan Fifi tersinggung pekerjaan jasa homestay yang menjual kenyamanan, disamain ama hostess. Adegan yang awalnya adalah obrolan ringan itu membutuhkan perpindahan instan dari bercanda ke momen yang menusuk hati, karena Fifi tersinggung. Welas belum mampu menampilkan range itu. Melihatnya, kita gak yakin apakah dia beneran marah atau bercanda. Drama dan komedi dimainkan oleh Welas seperti dua sisi mata uang. Head. Or tail. Tidak pernah seperti lapisan yang mencakup keduanya. Ini membuat karakter Fifi terasa on dan off. Tidak terasa benar-benar genuine sebagai seseorang dengan range emosi yang natural.

Padahal aku berharap bisa naik kelas sandingan dari Awkwafina ke Michelle Yeoh

 

Kekurangmampuan tersebut bukannya terus di-challenge oleh naskah dan arahan, tapi malah difasilitasi. Drama Kejar Mimpi Gaspol! akhirnya dikurangi di saat masih banyak sebenarnya tempat untuk menggali.  Cerita nanti akan berkembang menjadi tentang Bu Fifi, dibantu oleh Damar, berusaha ‘menjual’ tulisannya ke produser untuk difilmkan. Tapi enggak banyak yang benar-benar dibahas dari sini. Bobot emosional film ini tidak pernah mencapai level saat Fifi dan Diana saling membahas impian lagi. Babak ketiga film ini malah tidak membahas apa-apa lagi, melainkan cuma ngasih reward. Cuma build up ke hal manis yang didesain untuk didapat oleh Fifi. Adapun usaha baru yang dilakukan oleh Bu Fifi supaya tulisan dapat dinikmati oleh publik, pun tidak digarap sebagai sesuatu yang menantang atau menuntut apa-apa darinya. Istilahnya, sudah tidak ada stake. Menurutku sayang sekali, sebuah cerita bisa kehilangan nafsunya untuk menggali drama yang dipunya seperti ini. Ini hampir lebih menyedihkan daripada orangtua yang gak jadi mengejar mimpinya loh haha

Kalo memang harus ada yang di-ditch oleh film, maka itu harusnya adalah komedi tempelan dari karakter pendukung. Yang mulai kebanyakan, dan sejujurnya tidak pernah benar-benar worked out sedari awal. Padahal karakter-karakter pendukung ini sebenarnya punya ‘bentukan’ yang menarik, ada pria tua yang naksir Fifi, ada anak-anak buah Fifi dengan tabiat beragam yang semacam berkompetisi satu sama lain, yang mereka ini seharusnya bisa lebih natural ditarik perannya ke dalam cerita. Tapi film hanya menempatkan mereka lebih seperti sketsa. Karikatur yang jadi hiasan tak-hidup dari cerita. Ini yang justru jadi sandaran oleh film. Keputusan yang aneh mengingat film ini sebenarnya memotret banyak hal seru selain kisah Ibu menggapai mimpi dan pemandangan alam Gunung Bromo. Dalam durasi nyaris dua jam, film ini turut menggambarkan hal-hal relevan seperti fenomena artis/publik figure yang suka bayar pakai engagement (walaupun follower mereka ternyata gak banyak-banyak amat), persoalan belakang layar antara hubungan bisnis yang memburuk antara aktor dengan produser, Bahkan ada tuh yang cukup relate buatku, yaitu soal Bu Fifi susah jual tulisan karena gak punya latar belakang pendidikan menulis. Film gak pernah benar-benar menggali semua itu, melainkan hanya gambaran saja. Hanya rintangan saja, karena karakternya nanti akan belok, bukannya berusaha mengovercame it.

 




Sebagai kisah inspiratif, film ini memang memperlihatkan perjuangan kesuksesan karakter dengan vibe yang benar-benar feel good moment, tapi dari pengembangannya, ini tidak benar-benar terasa seperti perjuangan. Tidak pernah sungguh-sungguh menginspirasi. Melainkan, yang ditunjukkan adalah rintangan yang selesai relatif mudah. Karakternya tidak benar-benar melewati banyak drama, dengan stake yang juga absen. Film ini kayak hanya berakhir sebagai reward tak-terelakkan, karena merasa karakternya sudah cukup melewati banyak di paruh awal. Padahal itu belum cukup. Bayangkan kisah sukses tapi yang dilakukan karakternya cuma posting tulisan di web. Dia bahkan gak bikin sendiri webnya. Dari komedinya juga kurang ngena. Film ini punya karakter yang unik dan gak jaim, ibu yang suka bawa jeep ke jalanan yang susah, atau kayak karakter Michelle Ziudith yang running jokenya adalah dia tahu istilah-istilah sosmed yang harusnya cewek terpelajar kayak dia gak tahu, dan dia salting ketika ditanya “Kok tau?”, tapi film tetap mengandalkan komedi ala sketsa terpisah. Dengan penulisan joke yang lebih sering miss, pula. Bahkan karakter utamanya digambarkan ngejoke sering garing. Kupikir ini bisa jadi kendaraan drama buat Asri Welas. Memang, ini sebuah kesempatan yang mungkin tak semua produser berani ngasih. Cuma sayangnya, kesempatan yang ini pun juga tidak memberikan ruang yang benar-benar pol untuknya.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for KEJAR MIMPI GASPOL!

 




That’s all we have for now.

Apakah kalian tahu apa cita-cita ibu kalian dulu? Apakah sekarang beliau sudah mendapatkan cita-cita tersebut? If not, how’d you intend to help her?

Share cerita kalian di comments yaa

Sebelum ditutup, aku mau ngajak kalian pindah dari mobil jip ke pesawat. Alias di Apple TV+ ada serial bagus tentang pembajakan di pesawat! Dibintangi oleh Idris Elba, serial thriller ini bakal ngajak kita ke sebuah trip angkasa yang tak terlupakan. Yang pengen nonton bisa langsung subscribe dari link ini yaa https://apple.co/46yw8RX

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



KAJIMAN: IBLIS TERKEJAM PENAGIH JANJI Review

 

“Come back. Even as a shadow. Even as a dream”

 

 

Kualitas horor kita demikian rendahnya sehingga setiap kali ada yang bilang ada horor baru yang bagus lagi tayang, ekspektasiku langsung meroket. Dan lantas seringkali dengan dramatis terhempas ketika aku selesai menonton filmnya. Kajiman: Iblis Terkejam Penagih Janji adalah salah satu dari film horor yang seperti begitu. Padahal nama di balik film ini harusnya dapat jadi jaminan mutu yang cukup. Tapi enggak. Adriyanto Dewo, sebelumnya dikenal lewat drama yang grounded semacam Tabula Rasa (2014) dan Mudik (2019),  tampak mentah banget menggarap horor santet-santetan ini. Kajiman mungkin memang dibuat untuk tidak dikaji mendalam, tapi ceritanya yang menyimpan banyak sisi si protagonis dari kita membuat film jadi setengah menghibur pun tidak. Dan celakanya malah seperti mengorbankan kepada setan drama personal yang dimiliki oleh sang protagonis.

Kalian yang ngikutin blog ini pasti paham aku sengaja enggak mengulas begitu banyak horor baru yang tayang di bioskop beberapa bulan belakangan. Karena simply aku jenuh dan gak mau blog  ini jadi kayak kaset rusak yang mengulang-ulang pembahasan yang sama. Karena begitulah state horor kita semenjak horor viral yang satu itu tembus sepuluh juta. Horor yang tayang gitu-gitu melulu, dengan permasalahan seragam, pakai sedikit bumbu kekerasan, dan walaupun mengangkat berbagai nilai lokal tetapi isinya tetap kosong.  Ujungnya gak jauh-jauh dari kesurupan, ritual ilmu hitam, dan pelaku sebenarnya ternyata orang ‘tak-terduga’. Saat dimulai, Kajiman toh terasa berbeda. Cerita film ini mengambil perspektif seorang perawat bernama Asha yang terkenang momen bersama ibunda. Untuk alasan inilah aku menuliskan ulasan Kajiman. Film ini punya something di situ. Pada karakter yang begitu sayang, merindukan, dan merasa bersalah sekaligus kepada ibu yang telah meninggal. Efek kematian ibu begitu terasa bagi Asha, digambarkan oleh film lewat ‘flashback’ yang seamless – menyatu banget. Kita pertama kali melihat Asha saat perempuan itu berbaring di tempat tidur bersama ibunya yang sakit – adegan tersebut ternyata hanyalah kenangan, namun dibuat menyatu dengan masa present Asha sekarang. Dan kita tahu itu dari gimana perfectnya film menampilkan tanda-tanda visual yang kontras.

Satu lagi yang aku suka dari cara film menggambarkan rasa kehilangan Asha adalah lewat suara-suara ibunya. Bergaung saat Asha lagi mandi, atau lagi baru bangun, misalnya. Membuat Asha terkesiap. Didera rindu dan takut secara bersamaan. Suara-suara, yang dengan bijak diperdengarkan oleh film dengan ambigu. Apakah itu memang suara hantu, atau suara dari kenangan Asha. Elemen mendengar suara dari our deceased parents, atau orang yang kita cintai, atau yang familiar bagi kita, menambah lapisan realisme yang bikin film ini jadi relate. Aku waktu kematian kucingku, si Max, aja juga sering ngerasa seperti masih mendengar suara mengeongnya di luar. Minta masuk untuk makan, seperti biasanya. Film Kajiman punya sesuatu yang spesial untuk diangkat dari personal Asha. Karakter tersebut juga mestinya bisa jadi lapangan bermain baru bagi Aghniny Haque yang biasanya cuma dipasang buat jadi cewek jagoan yang literally jago berantem. Yakni karakter yang dihantui perasaan personal yang kuat. Journey psikologis mengikhlaskan yang pasti menarik sekali.  Hanya saja, semua yang menarik dari karakter dan film ini buyar begitu lewat sepuluh menit, kredit judul nampang, dan cerita mulai khusyuk dengan tren horor masa kini: teror saat menjaga orang sakit, pesugihan, dan perang ilmu hitam.

Gak akan percaya lagi sama horor yang judulnya panjang banget kayak mau muat semua SEO tren horor viral

 

Tidak akan pernah kita dibikin in-line sama apa yang dirasakan Asha. Sama apa yang sebenarnya sedang ia lakukan dan ia inginkan. Film hanya membuat kita bengong aja menyaksikan Asha nanti ngambil kerjaan sebagai suster pribadi. Merawat Tyo Pakusadewo yang sakit di rumah gede milik pasangan suami-istri yang misterius. Melihat Asha diganggu penampakan, dan minta tolong sama paranormal yang ia percaya. Paranormal yang ia temui di tengah jalan. Terdengar mencurigakan? Memang. Tapi film cuek bebek, dan gak pernah membahas hal-hal aneh yang harusnya dibahas. Karena hal-hal itu akan dibahas di akhir sebagai ‘plot twist’. Inilah yang aku gak suka dari kebanyakan horor Indonesia. Menghindar dari membahas permasalahan karakter dengan malah menjadikannya sebagai kejutan di akhir. Hanya demi ‘cerita yang tak-tertebak’.

Padahal horor bukan semata soal jumpscare. Bukan perkara kejutan siapa sebenarnya yang jahat. Bukan persoalan karakternya selamat atau tidak. Horor itu ya kita harus dibuat mengerti dulu ketakutan yang dirasakan si karakter dari dalam. Kita harus paham karakter selamat dari apa, maknanya apa bagi trauma dia. Dan itu gak bisa hanya dengan membuat kita nontonin gimana kejadian demi kejadian terungkap. Like, kita gak akan peduli sama karakter Rama. Perawat cowok teman si Asha di rumah sakit, yang tau-tau oleh film ini dibuat jadi laksana jagoan. Di pertengahan, tau-tau kita ngikutin Rama berusaha memecahkan apa yang sebenarnya terjadi, sementara si Asha terbaring tidak berdaya sehabis kesurupan dan melawan dukun. Kita gak tahu siapa karakter Rama ini, set up nya cuma dia ini orangnya care banget sama teman-teman, dan bahwa dia lahir selasa kliwon! Kita gak peduli saat dia jadi hero, kita juga gak peduli saat nanti nyawanya terancam bahaya. Kita hanya bingung saja nonton ini. Ngeliat kejadian demi kejadian terungkap tanpa ritme dan gak ngikutin struktur naskah yang benar. Film ini gak sampai seratus menit, rapi aku gelisah setengah mati menontonnya. Karena tanpa struktur yang jelas, film ini kayak ngalor-ngidul berjalan tanpa arah. Dan tau-tau stop saat tiba waktunya twist itu diungkap.

Karena gak tau konteks karakternya seperti begini, Asha akan terlihat seperti protagonis cewek paling ketinggalan jaman karena dia seperti harus diselamatkan oleh Rama. Sebagai perawat, dia pun tercuat kayak perawat paling gak sabaran yang pernah ada karena sifat mandiri dan kuat yang dipunya oleh karakter ini hanya muncul saat dia menegur pasien yang ia rawat. Film memang berusaha nunjukin kerjaan dia sebagai perawat, tapi susah untuk melihat karakter ini sebagai pengurus orang lain karena ibunya sendiri saja gagal dia rawat. In fact, karakter Asha sedari awal sudah tampak kurang bisa dipercaya. Kita kayak gak tahu karakter dia sebenarnya gimana. Karena di awal itu kita dengar dia bilang kepada ibunya bahwa dia gak mau pacaran, mau di rumah aja ngurus ibu. Namun persis kalimat berikutnya dia bilang dia harus kerja dan ninggalin ibunya. Dan adegan berikutnya kita lihat dia menjalin hubungan khusus dengan Rama; mereka lagi jalan berdua adalah alasan kenapa pada malam meninggalnya ibu, Asha telat pulang. Susah untuk berada di belakang protagonis, kalo sedari awal saja omongan sama tindakannya gak akurat dan film gak membuka celah untuk kita mengenali Asha secara mendalam. Bukan hanya Asha, karakter lain pun kita gak tau mereka ini sebenarnya ‘ngapain’ di situ. Paranormal kenalan Asha sebagian besar waktu cuma kayak jadi exposition device, tukang kasih info gitu aja. Suami istri misterius tadi, cuma orang-orang dengan akting cringe yang bikin kita malah pengen mereka cepat-cepat jadi korban saja.

Kehilangan orang yang kita cintai memang demikian berat. Kita akan terus terngiang-ngiang keberadaan mereka. Parahnya, kita akan merasa itu adalah salah kita. Sehingga demi apapun kita akan merasa rela melakukan apa saja untuk membuat mereka kembali kepada kita. Supaya kita bisa menebus dosa. 

 

Kirain si Asha bakal tarung silat saat kesurupan melawan dukun

 

Efek nampilin sosok bayangan hantu ibu ataupun si Kajiman sebenarnya cukup mulus dan terukur (as in, film benar-benar mastiin warnanya gelap untuk mengenhance efek mereka), tapi presentasi keseluruhan film terasa mentah. Kayak film yang dibuat oleh orang yang baru belajar bikin film, yang masih ragu-ragu meletakkan kamera di mana. Ragu-ragu memposisikan tangkapan framenya. Ada beberapa kali aku ketawa saat melihat adegan film ini. Bukan exactly karena adegannya lucu, melainkan karena posisi objek-objek yang ada dalam satu frame tersebut. Misalnya, karakter-karakter yang duduk menghadap dinding saat bertamu. Padahal biasanya kan  tamu dan tuan rumah yang ngobrol itu dibuat duduk berhadapan tapi film ini seperti sangat spesifik membuat mereka duduk bersisian, menghasilkan ruang kosong di hadapan mereka yang terasa ganjil sekali secara estetika. Sekitar dua atau tiga kali adegan bertamu ke rumah itu, dan semuanya posisi duduknya seperti demikian. Terus satu contoh lagi adalah saat dua karakter dengan dramatis membaca mantra dari kertas kecil, di dalam ruangan yang pencahayaannya minim. Yang bikin ngakak dari adegan ini adalah dua karakter itu membaca dengan posisi membelakangi lampu meja – satu-satunya penerangan di ruangan itu! Hahaha mana kelihatan tuh tulisan. Logisnya kan mereka akan merapatkan badan, mendekatkan kertas ke sumber cahaya. Kamera harusnya bermanuver biar adegan itu tertangkap dengan dramatis. Jangan kamera yang diem, dan karakter yang menyesuaikan dan jadinya gak logis.

Kalo Asha terngiang-ngiang suara ibu yang seolah memanggilnya. Kalo aku, nonton film ini pada beberapa adegan akan terngiang-ngiang suara seruan ‘action’ dari sutradara saking begitu mentahnya penyambungan adegan. Beberapa adegan tu kelihatan banget kagok baru mulai actionnya. Kayak pas Rama berjalan ke rumah si paranormal, tidak terasa natural seperti dia berjalan dari jauh. Melainkan lebih terasa kayak dia dari posisi diam, terus saat ‘action!” dia mulai melangkah. Banyaknya adegan yang ‘masuknya’ seperti dikomandoi itu membuat film terasa punya vibe yang canggung. Semuanya tidak terasa natural. Hingga ke dialog. Film Kajiman juga enggak cemerlang di penulisan dialog, dan itu diperparah sama akting medioker yang deliverynya gak pernah meyakinkan. Ada satu kalimat yang buatku janggalnya bukan main. Yaitu ketika di rumah sakit, ada perawat yang mengeluhkan rumah sakit mereka malam itu sepi kayak kuburan. I get it, niatnya buat membangun mood seram – sesuatu yang mengerikan bakal terjadi di sana. Akan tetapi karena delivery dan karakter yang gak meyakinkan sebagai perawat, kalimat tersebut semakin aneh dan kayak main-main lagi. Karena biasanya setauku, perawat justru agak lega kalo pasien sepi, apalagi saat sudah larut, karena perawat itu pengen istirahat karena rumah sakit umumnya adalah tempat yang sibuk oleh pasien yang bisa datang tiba-tiba.

 




Satu lagi horor yang tidak mendeliver potensi yang dimiliki oleh materi ceritanya. Kisah personal seorang anak yang menyesal dan merindukan ibu yang telah tiada berubah jadi cerita standar teror ilmu hitam. Hanya karena pengen ceritanya ‘menghibur’ dengan plot twist. Akibat paling parah dari cerita yang membuang dagingnya sendiri itu adalah filmnya sendiri secara keseluruhan terasa mentah. Terasa gak mampu menggali yang lebih dalam. Dibuatnya pun terasa setengah-setengah. Beberapa treatment dan pengadeganan mampu tampil elegan. Tapi gak kalah banyak pula adegan-adegan dan perlakukan yang tampak canggung. Boring dan uninspiring. Bahkan anak-anak remaja yang nonton berkelompok di row tak jauh dariku saja hanya bereaksi sama jumpscare saja. Aku sangat menyayangkan film ini memilih untuk melepaskan kita dari karakter utamanya. Padahal kalo motivasi atau perjanjiannya itu tidak dijadikan twist, dramatic irony dari dark journey yang ia ambil akan bisa bikin film lebih emosional dan dramatis lagi.
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for KAJIMAN: IBLIS TERKEJAM PENAGIH JANJI

 

 




That’s all we have for now.

Pernahkah kalian mengalami terngiang-ngiang atau terkenang terus setelah kehilangan seseorang? How did you deal with that feelings?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 



LIKE & SHARE Review

 

“To look beyond your own pain, to see the pain of others.”

 

 

Anak-anak cowok sih, sudah lama punya film ‘kebangsaan’ yang mewakili rasa penasaran ingin eksplorasi tubuh dan gejolak jiwa. Yang mengangkat pertemanan mereka bersama-sama mengarungi masa muda. Judul film ‘kebangsaan’ para anak cowok itu adalah American Pie (1999). Seru, ketawa-ketawa, filmnya komedi banget. It’s all fun and games ketika anak-anak cowok nonton bokep, pengen punya pacar dan bersaing gaet cewek. Film itu bahkan tetap kocak ketika ada yang kepepet pengen mencari penyaluran lewat makanan. Sebagai yang juga ikut keseruan yang ditampilkan film itu, aku selama ini memang tidak kepikiran di luar yang dialami cowok saat puber dan mulai naksir cewek. Sama sekali tidak terpikirkan olehku sebelumnya bahwa cewek-cewek, mau itu modelan cewek biasa kayak si cewek band-geek, atau model beneran, atau bahkan Stifler’s Mom, pasti juga mengalami gejolak eksplorasi yang sama. Saat nonton Like & Share, film panjang ketiga Gina S. Noer sebagai sutradara sekaligus penulis, inilah baru aku melihatnya. Melihat cewek juga ngalamin rasa penasaran yang sama dengan cowok-cowok. Cewek juga nonton bokep. Tapi berkebalikan dengan film-film remaja cowok kayak American Pie, saat nonton Like & Share aku baru sadar, eksplorasi gejolak muda pada anak cewek ternyata bisa sangat disturbing.

“Gue dan Lisa masih eksplorasi, Bang” kata Sarah, sahabat Lisa, ketika ditanya oleh abangnya perihal kegiatan mereka.  Dua sahabat ini memang sering ditanyain keluarga masing-masing. Lisa sendiri, sering ditegur oleh ibunya. Dilarang bikin video ASMR lagi. Disuruh nyari teman yang lebih baik daripada Sarah yang dianggap bawa pengaruh buruk. Lisa kegep nonton video bokep. Tapi itu memang bukan salah siapa-siapa. Namanya juga dalam fase eksplorasi diri. Lisa penasaran. Akhirnya dia jadi kecanduan. Film Like & Share berangkat dari sini. Dari persahabatan dua remaja yang terancam bubar. Film ini juga membuatku teringat sama satu lagi film anak cowok, Superbad (2007), yang juga tentang dua sahabat yang mau menempuh next step di kehidupan sehingga ada potensi mereka bakal berpisah. Bedanya, ya itu, Lisa dan Sarah terancam pisah oleh kejadian yang berat dan tragis. Ketika yang satu harus dealing with problem kecanduan video bokep, yang satu lagi harus berurusan dengan kekerasan seksual. Ketika Lisa belajar bikin ragi roti yang udah kayak makhluk hidup, Sarah dipaksa ngelakuin kegiatan yang bisa membuatnya bikin makhluk hidup beneran.

Penasaran, cewek kalo nonton bokep, yang ditonton apanya sih?

 

Menyaksikan Lisa (terbaik dari Aurora Ribero sejauh ini!) nonton video bokep diam-diam dari balik selimut, memang membuat pertanyaan itu terbesit di pikiranku. Apa yang ditonton oleh cewek kalo lagi nonton bokep, Toh kita kan sama-sama tau yang begituan, baik itu secara industri ataupun yang homemade (istilah jelatanya, video 3gp), dibuat oleh laki-laki. Dengan gaze laki-laki. Video yang ditonton Lisa juga digambarkan film dalam gaze yang sama. Then it strikes me. Yang bikin Lisa kecanduan ternyata bukan sekadar adegan yang ia tonton. Tapi di situ, film ingin memperlihatkan efek dari sudut pandang. Ketika pandangan perempuan Lisa bertemu video untuk kesenangan cowok, Ya, penasaran terhadap seksualitas itu ada (pikiran Lisa kemana-mana melihat mulut ikan di pasar), tapi kita juga bisa melihat bahwa Lisa tidak menonton video seperti kita yang cowok menontonnya. Lisa tidak melihatnya untuk kesenangan ataupun olok-olok, seperti yang dilakukan oleh Sarah. Lisa looks beyond , dan dia menemukan simpati. Lebih dari itu, Lisa merasakan empati kepada perempuan yang ada di dalam video yang ia saksikan diam-diam tersebut. Lisa menjadi ‘tertarik’ dengan orang itu. Lalu apa yang kemudian dilakukan oleh film ini? Mempertemukan Lisa dengan sang ‘bintang’. Fita (Aulia Sarah gak mau kalah ngasih penampilan terbaik), seorang wanita yang kayak kita temui di tempat perbelanjaan sehari-hari. Wanita yang nanti ngajarin Lisa bikin roti. Hubungan yang tercipta antara Lisa dengan Fita, actually jadi elemen terbaik yang dipunya oleh film ini. Apalagi karena Lisa digambarkan tidak akur dengan ibu kandungnya. Jadi hubungan mereka semacam jadi ibu-anak kedua, tempat curhat yang ultimately jadi saling menguatkan keduanya.

Lewat Lisa dan apa yang terjadi kepada Sarah, film mengajak kita untuk menumbuhkan rasa simpati lalu kemudian berempati.  Supaya kita tidak gampang ngejudge. Bukan sekadar kita merasa kasihan sama korban, it is easy to feel sorry lalu gak ngapa-ngapain. Film ingin lebih dari itu, Ingin supaya kita ikut merasakan apa yang dialami oleh korban. Untuk mengerti situasi mereka. Orang yang kecanduan bokep bukan lantas berarti otaknya cabul. Orang yang jadi korban kekerasan seksual jangan buru-buru dikasih nasihat ini itu, yang seolah menyalahkan. At least, film ingin kita yang berada dalam ruang aman menonton atau mendengar berita atau kasus semacam Lisa dan Sarah, untuk bisa mengambil langkah yang tepat dalam mendampingi mereka.

 

Dari situlah aku jadi tau bahwa film ini benar-benar mengembangkan ceritanya lewat desain dan konteks yang detil. Serta juga penuh rasa respek terhadap karakter dan permasalahan mereka. Ceritanya kaya oleh perspektif perempuan, di dunia yang sepertinya gampang menyalahkan perempuan. Sudut pandang yang kemudian diperimbang dengan sudut dari keluarga, dari laki-laki sebagai kepala keluarga, dan juga dari sudut agama.  Like & Share diframe dengan ratio yang lebih sempit ketimbang film-film pop bioskop lainnya. Demi menguatkan kesan remaja perempuan seperti Lisa dan Sarah memang dipepet oleh frame di sana-sini. Di lingkungan sekolah, di rumah, di tempat publik – Lisa diceritakan ikut bantu-bantu kerja di usaha seafood ayah tirinya – mereka ini punya aturan yang harus dijunjung. Punya ekspektasi yang harus dituruti. Film lantas mengontraskan itu dengan visual. Lisa dan Sarah enjoy membuat video ASMR. Mereka mendirect sendiri yang mereka lakukan. Mereka membuat video dengan makanan dan warna-warna cerah, Shot-shot yang indah dan estetik yang banyak dilakukan film ini pada akhirnya memang membuat film jadi lebih kerasa disturbing. Ceritanya gradually gets darker. Pada babak kedua, kita akan berpindah melihat cerita Sarah (penampilan akting Arawinda Kirana buktiin bahwa award yang diterimanya tahun lalu bukanlah beginner’s luck) yang terlibat relationship dengan pemuda yang sepuluh tahun lebih tua. Di sinilah ketika film mulai membahas soal kekerasan seksual, grooming, tipu-daya laki-laki. Film jadi nyelekit banget untuk ditonton. Dua adegan perkosaan yang ditampilkan oleh film ini dengan begitu intens, hanya akan lebih sakit lagi berkat kehadiran dialog antara Lisa dan Sarah, saat Sarah menolak mengakui dirinya diperkosa. Excruciating banget adegannya, apalagi karena direkam dengan long-take. Soal itu, ya film ini banyak memakai long take, yang bukan saja menantang para aktor untuk ngasih penampilan terbaik, tapi juga semuanya efektif menyampaikan emosi.

Saking intensnya, ku jadi canggung pas wawancara karena serasa nanya ke filmmaker di industry porn beneran

 

Terakhir kali film ini mengingatkanku pada sesuatu, yaitu adalah mengingatkan kepada serial 13 Reasons Why (2017) yang nunjukin adegan bunuh diri dan perkosaan yang problematik. Depictions, penggambaran, kekerasan seksual yang dilakukan Like & Share buatku jadi seproblematik serial tersebut karena sebenarnya tidak harus dilakukan dengan seperti itu. Aku ngerti, lewat adegan itu sebenarnya film ingin memperlihatkan gimana cewek udah nolak tetep dipaksa, gimana cewek bisa termanipulasi dalam sebuah hubungan yang dinamika powernya amat tak seimbang (dalam hal ini cowoknya lebih tua dan selalu pakai kata “kamu kayak anak kecil” buat balik-nyalahin). Film memperlihatkan itu supaya kita benar-benar melihat posisi korban. Namun ini membuat film tampak jadi punya cara penceritaan yang lemah. Orang-orang mungkin ada yang menyebutnya terlalu frontal (bukan saja adegan seksual, tapi juga dialog-dialog lainnya). Tidak lagi estetik. Tapi concernku sebenarnya adalah pada soal kita tidak lagi inline dengan karakter utamanya, yaitu si Lisa. Film berpindah antara Lisa ke Sarah membuat jadi tidak ada pembelajaran kepada Lisa, film jadi hanya ngajarin kita saja. Dan ngajarinnya itu ya agak ‘aneh’. Like, apakah kita memang harus melihat dulu supaya bisa simpati dan empati? Padahal di dunia nyata, kita yang membaca berita di zona aman, dari balik layar komputer masing-masing, tidak akan bisa melihat kejadian yang sebenarnya dari suatu kasus kekerasan seksual yang korbannya butuh pendampingan.

Bukankah justru sebaiknya; Yang harusnya film ini perlihatkan adalah gimana caranya kita bisa seperti Lisa. Gimana supaya bisa demikian percaya, peduli dan memihak kepada Sarah, tanpa harus melihat bagaimana kejadian Sarah diperkosa. Seperti ASMR yang mereka bikin, bukankah seharusnya cukup dengan ‘dengar dan rasakan’. Tidak perlu melihat mereka mengunyah mie, relaksasi bukankah datangnya dari mendengar suaranya? Apalagi untuk kasus kekerasan seksual. Kenapa kita harus melihat dulu baru bisa percaya dan peduli dengan korban. Seharusnya kita tetap dibikin stay dengan Lisa dan disejajarkan dengan posisi Lisa yang berusaha mengerti masalah sahabatnya tersebut.

Tapi film ini membagi dua. Yang membuatnya malah seperti permasalahan Lisa dipinggirkan untuk masalah Sarah. Membuat stake Lisa jadi kalah urgen ketimbang Sarah yang actually jadi korban. Di sini aku merasanya film seperti kebingungan menghimpun pokok-pokok konflik yang dimuat oleh naskah, Babak penyelesaian film ini jadinya terasa sangat keteteran, baik itu dalam tempo dan penceritaan. Banyak yang diburu-burukan. Permasalahan keluarga Lisa jadi tidak maksimal, padahal di awal-awal seperti disiratkan keadaan keluarga Lisa – bagaimana dia ditinggal ayah kandungnya yang “bule tapi kere”, gimana keluarganya seperti ‘diselamatkan’ oleh seorang bapak-bapak muslim. Akar dari karakter-karakter ini, yang di awal seperti ditanam untuk jadi penting di akhir jadi hilang tak terbahas karena film malah jadi sibuk mencari keadilan dan penyelesaian yang dramatik. Tidak terasa lagi sebagai story, bagian terakhir itu. Development Lisa pun jadi hambar karena dengan membuat kita tidak lagi inline dengannya (film membuatnya jadi dramatic irony saat kita melihat yang tidak Lisa lihat, tapi dia tetap peduli kepada Sarah tanpa ada kebimbangan), Lisa yang tadinya anak bermasalah kecanduan bokep, yang pengen ngaji tapi enggak bisa, jadi pihak yang paling baik tapi yang paling sedikit menempuh perubahan ataupun paling sedikit dikenai permasalahan. Soal mereka tak-terpisahkan pun juga kurang terasa, Tidak seperti Superbad yang karakternya akhirnya belajar untuk hidup masing-masing tapi tetap sebagai sahabat, film Like & Share yang ingin nunjukin perempuan saling support, ya akhirnya membuat mereka tetap bersama, dan Lisa terus percaya akan itu sepanjang durasi.

 

 




Eksplorasi diri pada remaja perempuan ternyata bisa jadi sedisturbing ini. Berbeda sekali penggambarannya dengan yang selama ini kita lihat dalam film yang dibuat oleh laki-laki, untuk laki-laki. Film ini punya maksud yang sangat mulia di balik cerita dua sahabat perempuan remajanya. Ingin meningkatkan awareness, ingin menumbuhkan rasa peduli kita. Supaya kita mendengar dan memihak korban, first. Hadir dengan sangat terencana dan hormat kepada karakter-karakternya. Dimainkan dengan usaha maksimal ngasih penampilan terbaik. Penggambarannya yang sangat intens, mungkin bakal membuat film ini susah untuk ditonton oleh sebagian orang. Dan menurutku sebenarnya tidak perlu sampai sedemikian intens. Film terlalu fokus ke sini, dan malah tampak agak sedikit keteteran membungkus semua yang diangkat. Film sepenting ini, menurutku, masih bisa dirapikan, dipercantik sedikit lagi, karena bagaimanapun juga yang diangkatnya adalah masalah yang benar-benar harus mendapat perhatian lebih. Apalagi di masa-masa sekarang ini. Semoga film ini tidak malah jadi di-guilt & shame.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for LIKE & SHARE

 

 




That’s all we have for now.

Apakah menurut kalian, kita memang harus melihat dan mendengar dahulu baru bisa merasakan? Kenapa harus?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 



JAILANGKUNG: SANDEKALA Review

 

“Family means no one gets left behind”

 

 

Skor sejauh ini untuk franchise Jailangkung modern adalah 0-2. As in, dari dua film pertamanya (Jailangkung tahun 2017 dan Jailangkung 2 tahun 2018) belum ada satupun yang memenuhi standar ‘bagus’. Sekadar menghibur pun tidak. Bukan salah temanya. Tema berkomunikasi dengan arwah (lewat perantara boneka, ataupun medium lain) sesungguhnya memang beresonansi dan punya daya tarik tersendiri bagi kita manusia yang bakal hampir selalu berurusan dengan kehilangan. Sehingga masih banyak sudut untuk digali. Buktinya, di luar juga ada ‘permainan memanggil arwah’ yang seperti jailangkung, dan sering juga dijadikan film.  Franchise Jailangkung ini sendiri toh memang berusaha menggali dengan memasukkan mitos lokal lain sebagai balut dari kisah kehilangan dalam keluarga. Sebelum ini ada Mati Anak, legenda kapal SS Ourang Medan, dan kini mereka mengangkat Sandekala. Pamali anak kecil bermain di kala senja. Dan Kimo Stamboel – yang sebelum ini cukup mengangkat sedikit ‘derajat’ franchise Danur lewat spin off Ivanna – kali ini seperti diemban misi yang sama. Visi dan gayanya diharapkan bisa menyelamatkan franchise horor yang nyaris kandas, tapi belum mau mati ini.

Tantangan is up there bagi Kimo, karena Jailangkung: Sandekala memilih untuk tetap grounded dengan cerita keluarga. If I’m not wrong, film ini adalah kali pertama Kimo bermain horor di lingkup 13+ alih-alih 17+ yang biasa ia garap. So yea,  di film ini Kimo akan  punya lebih sedikit darah dan kebrutalan (meski tidak hilang sama sekali), dan harus lebih fokus mengangkat cerita dan drama dari situasi horor yang merundungi keluarga Sandra sebagai sentral narasi.

Kita bertemu keluarga Sandra saat mereka sedang family trip ke danau. Tapi ini bukan acara jalan-jalan liburan yang happy-happy. Melainkan dalam rangka meluruskan hal-hal kusut dalam keluarga mereka. Dari dialog-dialog, kita mendapat informasi bahwa Sandra yang tengah hamil, lagi ‘dimusuhi’ sama putri sulungnya, Niki. Film actually cukup decent dalam menampilkan potret keluarga ini layaknya keluarga beneran dengan segala masalah-masalah kecilnya, walaupun masih standar trope keluarga dalam film horor. Anak remaja yang mulai renggang dengan orangtua.  Adek yang overly curious sehingga bikin kakaknya lebih jengkel lagi. Ayah yang berusaha jadi penengah. Ibu yang semakin stres karena tidak mengerti tingkah anaknya. Ketakutan Sandra  akan kehilangan anaknya jadi terwujud dalam bentuk yang lebih mengerikan. Si putra bungsu, Kinan, yang mengeksplorasi hutan sekitar danau sore itu tiba-tiba menghilang. Polisi segera diberitahu, pencarian dilakukan tapi nihil. Daerah tersebut memang dikenal dengan kasus anak-hilang sehingga sekarang penyelidikian di luar yang dilakukan pihak berwenang harus dilakukan. Niki dan keluarganya dengan segera tahu mereka bukan berurusan dengan penculik dari kalangan manusia.

So glad mereka menyingkirkan mantra “Datang gendong, pulang bopong” dan kembali ke mantra Jailangkung yang biasa.

 

Detil kecil yang membuatku meluluskan interaksi mereka sebagai masalah keluarga yang felt real adalah Niki menunjukkan rasa marah dengan memanggil ibunya dengan nama. Like, in real life, aku pernah beberapa kali mendengar langsung anak-anak cewek yang sedang marah kepada ibu mereka, mengekspresikan emosi tersebut dengan tidak lagi memanggil ‘ibu’ melainkan langsung nyebut nama. Also, belum banyak film indonesia yang menampilkan ‘pertengkaran’ ibu dan anak lewat cara relate seperti ini. I’m not sure, but it might be the first. Sungguh terasa baru, dan tanpa tahu masalahnya pun kita bisa lantas mengerti ada ketegangan serius antara Niki dan Sandra.  Masalah Kinan, si bungsu, yang hilang diculik hantu di hutan seharusnya benar-benar bisa jadi cara ibu dan anak cewek ini meresolve masalah mereka. Mendekatkan apa yang renggang melalui kesulitan dan kengerian yang dilalui bersama. Tapi sayangnya tidak lanjut mengeksplor soal tersebut. Persoalan memanggil nama saja, misalnya, tidak ada tahapan resolvenya. Setelah sempat saling menyalahkan waktu malam Kinan menghilang, Sandra dan Niki jadi otomatis baikan. Niki sudah memanggil ibu kepada Sandra di hari esoknya. Film yang jeli melihat drama dan konflik karakter, pasti tidak akan segampang itu membuat Niki mau memanggil ibu lagi. Bahkan jika mereka di depan orang asing, dialog Niki akan dibuat tidak akan menyebut ibu dulu. Memanggil Sandra dengan ibu akan dijadikan titik balik penyadaran karakter yang dramatis, yang harusnya disimpan untuk momen akhir, dalam sebuah cerita yang dramatis.  Buatku, film bukan saja melewatkan kesempatan, melainkan benar-benar lupa total ada bahasan yang harus diselesaikan di antara karakter. Bahasan ibu dan anak cewek inilah yang padahal jadi ruh sebenarnya cerita.

Yang namanya orangtua pasti takut kehilangan anaknya, by any means. Film ini sebenarnya cukup kuat menekankan persoalan tersebut, dengan membuat kisah kehilangan menjadi horor, secara paralel dialami baik oleh protagonis maupun antagonisnya. Kontras dimainkan dengan membuat Niki, si anak yang mulai menjauhi keluarganya, lebih pantas menjadi sudut pandang utama. Kehilangan adik, dan resiko kehilangan seluruh keluarga oleh bahaya pada akhirnya jadi pelajaran utama yang tersampaikan kepada penonton. Bahwa apapun yang dirasakan sesaat, gak ada orang yang mau kehilangan keluarganya.

 

Usaha untuk menjadikan ini sebagai cerita yang lebih grounded sebenarnya terasa. Gak jauh-jauh, kita bisa bandingkan racikan horor Kimo di film ini dengan di Ivanna yang tayang berdekatan. Sandekala, meski eksplorasinya masih kurang, tapi fokusnya memang lebih kuat sebagai drama keluarga yang harus berurusan dengan kehilangan anak. Misteri hantunya juga ada,  dengan sekuen-sekuen penyelidikan sederhana dan segala macam, tapi di film ini kita bisa lihat misteri itu dihadirkan bareng untuk memuat mitologi sandekala dan jailangkung, serta untuk mendorong para karakter untuk semakin diteror kehilangan. Bukan hanya misteri yang diungkap lewat eksposisi, yang karakternya gak banyak ngapa-ngapain selain jerit-jeritan. Karakter dalam Jailangkung: Sandekala melewati perjalanan atau range emosi yang lebih kentara. Syifa Hadju sebagai Niki menempuh hal-hal yang memang biasa dialami oleh protagonis dalam horor yang decent. Walaupun skala yang dilakukan masih kecil alias sederhana, tapi tahapan protagonis dan perkembangan karakternya ada.  Sandra yang diperankan Titi Kamal didesain lebih sederhana lagi, tapi at least kevulnerable-an seorang ibu dari karakter ini dipush terus. Yang gak maksimal buatku pada Sandra adalah bahwa karakter ini diberikan ‘handicap’ yaitu dibuat hamil, tidak benar-benar menambah banyak untuk cerita. Hanya untuk membuatnya semakin vulnerable saja. Gak banyak dimainkan ke dalam perkembangan cerita ataupun obstacle horor yang harus ditempuhnya. Mungkin juga itu karena Kimo harus menahan diri di elemen horor. Like, cerita 13+ certainly gak bakal boleh ngasih lihat something gory/gross dengan kehamilan atau semacamnya. But he did ngasih Titi Kamal sekuen yang bikin penonton di sebelahku melonjak-lonjak histeris di kursinya.

Jika biasanya Kimo suka bermain horor di lingkungan tertutup, tapi brutal sebebasnya, maka film ini kayak kebalikannya. Kebrutalan dia batasi tidak terlalu gamblang dan emosional pada adegan mati yang sadis, tapi environment horornya sekarang luas. Satu wilayah; hutan, danau, beserta desanya. Aku suka usaha film menghidupkan lokasi. Bukan lagi menjadikan sebagai lokasi yang membatasi gerak. Tetapi harus hidup dengan pamali sandekala dan kasus-kasus misterius. Bahkan waktu senja juga berusaha dihidupkan. Film actually ngasih grading kuning yang gloom dan serem sebagai penanda ini waktu bagi hantu keluar. Momen-momen awal saat senja kuning di hutan lebat, dan Niki berusaha mengimbangi langkah adiknya yang jalan duluan excited oleh pemandangan, membuatku serasa mengexperience ulang game Fatal Frame 2 yang konteks adegan, lokasi, dan warnanya sama. It’s a compliment karena Fatal Frame 2 adalah salah satu game horor tersukses lewat atmosfer desa misterius dan mitologi adik kembar yang hilang. Yang berarti film ini, setidaknya, buatku menghasilan kesan yang serupa. Yang berarti atmosfer horornya dapet. Film juga ngasih lihat suasana senja di desa, saat anak-anak digiring masuk rumah masing-masing oleh orangtua mereka. Membuat horor dan desa itu sendiri jadi hidup. Semuanya juga melingkar dibuat oleh film. Portal, tempat bermain anak, yang kita lihat di awal, akan jadi sesuatu di akhir. Film juga memasukkan elemen red herring berupa ada karakter yang dituduh jadi pelaku penculikan anak oleh polisi.

Hampir jadi kayak Miracle in Cell No,7 versi horor, dong!

 

Memang, lagi-lagi momok dalam sinema horor Indonesia adalah naskah. Kayak takut gitu bikin naskah yang benar-benar mendalam. Seperti contoh masalah ibu dan anak cewek yang gak lanjut dibahas tadi, film ini naskahnya stop menggali at some point. Majunya narasi jadi mulai sekenanya aja. Sesederhana dialek dan bahasa karakternya pun, film ini gak mau konsisten menggali. Beberapa kali ada karakter yang mestinya desa dan sunda banget, malah jadi terdengar kayak orang kota biasa. Jelas ini membuat karakternya jadi less-believable. Mengembangkan soal Niki, juga begitu. Alih-alih benar-benar menunjukkan sisi Niki udah gak betah dekat ama keluarganya lama-lama dengan lebih natural, film membuat dia jadi kayak punya kebiasaan ‘bego’ ninggalin keluarga. Adiknya ditinggal pipis di pinggir danau. Ibunya ditinggal di rumah orang asing di tengah hutan, dengan alasan aneh dia ikut sama Faisal – ponakan polisi yang membantu mereka – ngambil mobil. Reasoning kenapa dia harus ikut Faisal itulah yang gak dipunya naskah. Jadinya ‘maksa’. Film harusnya benar-benar mematangkan segala tindakan karakter. Bagaimana menempatkan mereka di titik A dan B untuk majunya cerita harusnya bisa dipikirkan dengan lebih baik lagi.

Ngomong-ngomong soal titik-titik cerita, well, cerita anak hilang di hutan memang bukan cerita original. Tapi menurutku film ini sebenarnya punya kisah yang lumayan fresh karena balutan ibu yang bertengkar dengan anak perempuannya, juga mitos jailangkung dimainkan ke dalam mitos sandekala dari Sunda. Sayangnya, seperti naskah yang tidak jadi dikembangkan dengan dalam dan fresh, film ini juga tidak menjadikan adegan-adegannya sebagai kisah yang baru. Okelah soal sensasi mirip Fatal Frame 2, atau ada karakter yang ngingetin sama Miracle in Cell.  Namun untuk horornya juga ternyata film memilih untuk memainkan-ulang adegan-adegan atau poin-poin dari film atau media horor lain yang lebih banyak diketahui orang. Seperti misalnya adegan sesuatu yang menyeramkan menyeret orang dari lubang, dan nanti dia ngintip dari lubang sambil menyeringai. Siapapun yang nonton pasti langsung ngeh itu adegan It saat si badut menarik tangan bocah di opening. Paling blatant meniru adalah bagian ketika Niki masuk ke dunia lain. Dunia yang sebenarnya sama dengan dunia normal, hanya lebih mengerikan. Di situ dia akhirnya menemukan adiknya yang hilang dan  dia mendengar suara-suara ibunya dari dunia normal. Yes, benar, ini replika Upside Down-nya Stranger Things. Film ini niruin konsep serial Netflix populer tersebut hingga ke aturan dan segala macemnya. Bedanya cuma, boneka jailangkung adalah kunci untuk membuka portal masuk ke Upside Down hahaha

 

 




Set up dan ‘panggung’ sebenarnya lebih imersif, tapi ternyata cerita tidak mampu mengimbangi. Akhirnya, ya hanya menjadi horor generik. Padahal film ini punya potensi untuk menjadi drama horor keluarga yang deep dan berbobot. Tapi seolah hampir seperti ada batasan yang harus dipatuhi oleh pembuat film horor, yakni jangan sampai terlalu dalem. Batasan inilah yang mestinya dirubuhkan bareng-bareng. Oleh pembuat dan oleh penonton. Karena kita gak akan pernah dapat horor yang benar-benar bagus, kalo ceritanya sendiri takut menggali perasaan tergelap manusia lebih dalam. Tapi dibilang kecewapun, aku tidak sepenuhnya kecewa sama film ini. Aku lebih suka yang dilakukan Kimo di sini ketimbang di Ivanna. Dia mencoba ngasih kita lihat bahwa dia punya lebih daripada sekadar mati-mati yang sadis. Hell, jelas film ini lebih baik dibandingkan dua Jailangkung modern sebelumnya. 
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for JAILANGKUNG: SANDEKALA

 

 




That’s all we have for now.

Mitologi lokal apalagi yang pengen kalian lihat dimash up dengan jailangkung untuk ke depannya?

Share pendapat kalian  di comments yaa

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 



AMBU Review

“Maturity doesn’t mean age.”

 

 

Dunia emang lagi panas. Orang pada emosian. Sekarang setiap argumen dapat dengan cepat berubah menjadi kontes tinggi-tinggian suara. Di mana-mana dapat dijumpai orang berantem. Di diskotik. Di jalanan. Di rumah Nona. Ibu dan ayahnya yang padahal udah enggak serumah lagi, selalu berantem setiap kali si ayah datang minta duit. Kayak orang pacaran aja. Nona sendiri juga sering sih, jutek-jutekan sama ibunya. Tapi kan dia memang masih anak SMA. Salah ibunya sendiri enggak mau berusaha ngertiin dia. Nona yang lebih suka keluar malam itu mana bisa tau kalo ibunya ternyata sudah menjual bisnis katering, mobil, hingga rumah mereka. Sehingga kini Nona dibawa sang ibu pergi ke rumah nenek di kampung Baduy, yang btw bahkan Nona enggak tahu nenek ternyata masih hidup! Sialnya, ternyata nenek Nona juga jutek banget. Lebih dari ibu. Uh, mana tahan Nona tinggal di kampungnya yang banyak aturan. Mana betah Nona di rumah ngeliat nenek ngobrol dingin-dinginan ama ibu, Nona juga gak ngerti mereka ngomongin apa! Ibu gak pernah ngertiin Nona. Gak pernah nanya Nona maunya apa. Masa iya Nona mesti tinggal selamanya di kampung sama nenek yang galak sih?

filmnya kayak desa Smurf; banyak warna birunya

 

Bagi Nona, Ambu adalah cerita fish-out-of-water. Secara mendadak, dia harus meninggalkan zona nyamannya di kota, di tempat di mana dia bisa menghindari ibu dengan gampang. Nona adalah kita dalam film ini. Yang menonton masalah yang terjadi di antara ibu dan neneknya. Berkaitan dengan masa lalu yang tidak ia ketahui karena keluarga Nona adalah keluarga yang turun temurun takut untuk menghadapi konflik. Mereka lebih memilih tidak bertanya duluan, dan jika terdesak, maka akan mulai bersifat agresif. Alih-alih menanyakan langsung, Nona lebih nyaman bertanya kepada tetangga di kampung. Dalam membahas tentang betapa beratnya kadang komunikasi di dalam keluarga, film juga sekalian mengajak kita – lewat Nona – melihat fenomena lain. Yakni tentang menikah dalam usia muda. Cerita dalam film ini mengambil tempat di lingkungan kampung Baduy, di mana normal bagi seseorang di sana untuk menikah saat berusia belasan tahun. Meskipun film menyebut sekarang ada batasan usia untuk pernikahan dalam adat di kampung mereka dan nikah dini itu terjadi di masa lalu, cerita film ini tetap terasa dekat dan happening. Relevan. Karena toh belakangan lumayan marak kita temui ajakan untuk menikah muda di sosial media. Film ini berkapasitas untuk menjadi jendela supaya kita dapat melihat salah satu kemungkinan yang bisa terjadi jika sepasang muda-mudi memilih untuk menikah muda. Dan tentu saja, bagaimana dampaknya terhadap keluarga besar mereka. Nona sendiri adalah seorang anak muda yang terlahir dari pasangan yang menikah di usia belia. Makanya jangan heran kenapa film ngecast Laudya Cynthia Bella sebagai ibu dari Lutesha, padahal usia mereka tidak terpaut begitu jauh.

Nikah muda berkaitan dengan sebab kenapa komunikasi dalam keluarga Nona bisa broken seperti demikian. Karena pelaku-pelaku rumah tangganya masih belum cukup dewasa. Secara emosional, tentunya. Yang ingin dikatakan oleh Ambu adalah kadang kita belum cukup matang untuk bisa melihat kita masih gagal dalam usaha bertumbuh untuk menjadi dewasa. Bukan hanya orang-orang yang secara fisik masih muda yang gemar berantem. Karena memang enggak gampang untuk mencapai kematangan emosional. 

 

Nona harus belajar untuk menjadi dewasa, dialah yang punya tantangan paling berat untuk hal tersebut karena dia masih remaja. Ketika ibu bahkan neneknya gagal, Nona dituntut harus berhasil. Karena jika tidak, dia sendiri yang akan paling banyak kehilangan. Gedenya stake dan konflik inilah yang membuat Nona dipilih sebagai tokoh utama cerita, meski memang naskah seharusnya bisa dikembangkan dengan lebih mengangkat dirinya sebagai protagonis. Nona kebanyakan bereaksi ketimbang beraksi. Tidak sampai pertengahan cerita dia baru benar-benar fully aware pada apa yang terjadi. Pada separuh awal, cerita akan membawa kita selang seling; Antara ibu dan nenek yang berusaha come in terms dengan apa yang sudah terjadi di masa lalu yang membuat hubungan mereka renggang, dengan Nona yang menjalani hidup baru di desa, juga ada sedikit elemen romansa. Dua tersebut tidak terasa paralel hingga midpoint.

Pada beberapa titik cerita, posisi tokoh utama bisa disematkan ke ibu, atau ke nenek. Ibu yang punya motivasi paling jelas sedari masuk babak kedua. Tapi tokoh ini punya rahasia sehingga kita tidak bisa terus berada di sudut pandangnya. Nenek atau Ambu yang diperankan menakjubkan oleh Widyawati adalah tokoh yang melakukan keputusan-keputusan besar yang menggerakkan alur, tapi motivasinya gak terlalu jelas sebab dia masuk di cerita karena keputusan dari tokoh lain. Di antara tiga tokoh sentral ini, Nona adalah tokoh yang keberadaannya paling konsisten, dia juga yang harus kehilangan satu benda yang paling ia sayangi, kejadian di akhir cerita juga terjadi berkat ulahnya, tapi dia tetap kurang kuat karena naskah seperti membagi-bagi porsi. Ini menurutku masalah yang cukup lumrah terjadi kepada cerita yang ingin menunjukkan tiga sudut pandang sebagai poros tengah. Alih-alih tetap meletakkan kendali; plot poin yang menjadi majunya cerita harusnya tetap pada satu orang sudut pandang utama, Ambu malah membagi porsi di plot poin ini sehingga tiga-tiganya malah sama-sama kurang kuat sebagai tokoh utama.

Melihat tokoh-tokoh ini berusaha rekonek sangat mengundang simpati. Posisi ibu yang ingin meminta kembali perhatian nenek, sekaligus ingin anaknya menunjukkan cinta kepada dirinya. Momen saat kita menyadari Nona kepada ibunya adalah refleksi ibu kepada nenek saat mereka masih muda dulu. Film punya momen-momen kuat. Treatment interaksi antartokoh sangat dipertimbangkan. Kamera juga peka sekali menangkap hal tersebut dengan cara yang indah. Misalnya seperti shot dari atas rumah yang memperlihatkan tiga tokoh ini, berada di ruangan terpisah, tapi saling memikirkan keadaan masing-masing. Film ini punya visualstorytelling yang sangat engaging dan elegan. Permainan cahayanya juga menawan, meski untuk aspek ini aku gak mau komentar banyak karena belum yakin apakah cahaya itu alami atau hasil efek suntingan. Namun apa yang mereka shot; semuanya cantik. Secantik permainan aktingnya.

kopernya kayak beneran berat.. atau mungkin memang berat, makanya urat di tangan ibu pada keluar

 

Namun semua pencapaian teknis tersebut bisa dengan gampang teroverlook, lantaran film agak terlalu menonjolkan bagian-bagian yang dramatis. Film ini gemar sama adegan menangis. Bahkan ketika Nona tidak menangis pun, adegannya sebenarnya sedang tangis-menangis. Sepuluh menit pertama jor-joran untuk memeras air mata kita. Ini tentunya dapat menjadi penyebab turn-off buat beberapa penonton. Di bagian selang-seling antara Nona dengan ibu dan nenek yang kutuliskan tadi, tone sedih dengan tone curious ini terasa gak nyampur sehingga aku merasa terlepas setiap kali cerita berpindah. Musiknya juga lumayan over. I mean, kalo di layar sudah ada adegan orang terduduk sambil berurai airmata setelah dibentak oleh anaknya, menggunakan musik yang sedih membuat keseluruhannya terasa overkill. Pancingan dramatisasinya ini menurutku seharusnya bisa lebih diatur lagi pacingnya. Karena film ini sebenarnya punya selera humor yang unik.

Bukan hanya pada Enditha yang memainkan tokoh Hapsa; sahabat kecil ibu Nona, candaan dilontarkan. Melainkan juga pada bagian-bagian yang begitu subtil. Seperti ketika film berulang kali bermain-main dengan antisipasi kita “wah jangan-jangan si itu mati”, ternyata tidak. Keimmaturean Nona, sifat yang penting bagi tokoh ini, juga salah satu kelucuan yang digambarkan dengan menarik. Persona tokohnya ini konsisten, perubahan besar pada dirinya adalah perubahan value yang benar-benar menunjukkan kematangan. Dan menurutku transformasi Nona di film ini – progres tokohnya – tergambar dengan baik. Di awal-awal kita melihat dia berusaha nyalain lampu semprong, dengan memasukkan api dari atas corongnya. Di akhir, ketika dia mengetahui rahasia ibunya dan reaksinya punya undertone kocak “ini mandiinnya gimana..?” Dua tindakan itu mencerminkan sifat kekanakan Nona, tapi kita bisa merasakan value terhadap tindakannya itu sudah berbeda. Pertanyaan Nona di adegan menjelang akhir tadi justru menunjukkan reaksinya sebagai orang yang sudah lebih matang dalam menghadapi kenyataan; dia menggunakan kekanakannya sebagai coping mechanism, tidak lagi sebagai senjata ego.

Film bahkan butuh tokoh yang one-dimensional jahat untuk menghantarkan tiga tokoh ini kepada resolusi cerita. Kalo tokoh yang diperankan oleh Baim Wong enggak muncul dan marah-marah, mukul-mukul, bikin keributan di kampung adat itu, tiga tokoh kita sampai sekarang masih belum eye-to-eye. Belum jujur sama rasa cinta terhadap masing-masing. Cerita menyugestikan mereka butuh untuk ribut gede supaya semua plong dan jelas. Mereka perlu ‘musuh yang sama’. Dan mengingat tiga tokoh kita adalah wanita, kemunculan cowok menjadi pembuka jalan, mungkin bakal membuat para feminis sedikit ketrigger. Bukan cuma satu tokoh ini loh. Ada satu lagi tokoh cowok yang fungsinya memang untuk membantu Nona supaya bisa melihat hidup dari sudut lain, demi menjadi pribadi yang lebih baik. Tokoh orang di kampung yang menemani Nona jalan-jalan berkeliling daerah sana setiap hari, yang jadi pelarian Nona dari ibu dan neneknya, si Jaya yang diperankan oleh Andri Mashadi bisa kategorikan sebagai trope manic pixie dream guy. Jaya adalah sosok pria sempurna, perwujudan laki-laki yang matang dan berpikiran dewasa, yang diidamkan oleh Nona karena yang selama ini ia lihat dalam hidupnya adalah pria-pria immature pengecut yang hobi mukul wanita. It would be nice jika Jaya diberikan konflik sendiri, sehingga kehadirannya tidak sekadar untuk membantu tokoh cewek

 

 

 

 

Sukses menjadikan adat budaya sebagai nafas cerita, film yang ditangani oleh sutradara Farid Dermawan tampak mengolah materi dan gagasannya dengan cukup matang. It has one of the better storytelling yang bisa kita dapatkan dalam drama-drama keluarga belakangan ini. Film punya sepatah dua patah kata yang akan membuat kita semakin menghargai ibu kita masing-masing. Yang terjadi pada film ini bisa saja lebih dekat kepada kita dari yang kita kira, meskipun kadang bisa terasa lebih seperti fantasi. Konfliknya dramatis banget. Arahannya jor-joran menguatkan kejadian-kejadian yang emosional. Yang beberapa bisa berujung ke hal-hal yang gak make sense buat beberapa orang. Kadang bisa agak terlalu intens. Membuat kita overlooked banyak hal-hal menarik lain yang dipunya oleh film ini. Beberapa karakter juga mestinya bisa ditulis dengan lebih baik lagi. Seperti kain-kain desa Baduy itu, film ini punya corak yang unik. Tapi tidak seperti kain-kain tersebut, film ini masih ditenun dengan kurang rapi.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for AMBU. 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Menurut kalian, apa sih ciri-ciri orang yang tidak dewasa itu? Mengapa menurut kalian bersikap dewasa dalam suatu hubungan itu penting?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

 

PYEWACKET Review

“We are our own worst enemy.”

 

 

Beberapa helai rambut Ibu yang nempel di sisir sudah dikumpulkan. Simbol kegelapan sudah dipasang di pohon-pohon. Tanah untuk menanam rambut sudah digali. Mantra juga telah dihapal. Menyayat tangan sendiri sebagai darah persembahan pun sudah siap sedia untuk dilakukan oleh Leah. Salahnya sendiri, siapa suruh ibu begitu rese membawa mereka berdua pindah ke rumah di pinggiran kota, Leah yang masih lima-belas tahun jadi tidak bisa lagi ikutan kumpul-kumpul sama temannya sepulang sekolah. Dan lagi, apa salahnya Leah bergaul dengan mereka, berdandan seperti mereka; kenapa pula ibu mengatai mereka bodoh karena tertarik pada ilmu hitam. Mestinya ibu ngerti dong, Leah hanya mencari pelarian sebagai usaha untuk dealing dengan kematian ayah. Tapi ibu malah menganggap ekspresi dari depresi Leah sebagai hal yang mestinya ada di tempat sampah. Jadi, terserah. Leah hidup sendiri saja, sama Janice dan teman-teman yang sehati dan mengerti dirinya. Biarin sana Ibu ditangkap sama Pyewacket!

Kita semua pasti pernah seperti Leah. Bukan, bukan literally manggil setan untuk bunuh orang, kalo soal itu aku gak tahu. Mungkin memang ada dukun hitam beneran di antara kalian? Who knows, kan. Yang kumaksud adalah kita pernah seperti Leah yang marah besar sama Ibunya. Kita juga mesti pernah begitu marah sama keluarga, sama orang yang kita cintai, sampe-sampe kita ingin melakukan hal yang mengerikan terhadap mereka. Waktu kecil, aku pernah berantem sama adikku, sehingga waktu dia main di luar, aku masuk ke kamarnya dan menendang rumah bonekanya sampai jebol. Dan sama seperti Leah, sesegera mungkin setelah aksi ‘serangan’ mengerikan terlaksana, rasa penyesalan itu datang dengan teramat kuat. Dalam Pyewacket, kita melihat Leah sungguh menyesali setiap keputusan yang sudah ia bikin. Kerja karakter dalam film ini sangat kuat; momen ketika ibunya membersihkan luka di lengan Leah – luka yang dengan sengaja dibuat Leah untuk menyelesaikan ritual ilmu hitam dengan niat mencelakai ibunya beberapa menit yang lalu – terasa sangat menyayat hati. Film juga dengan mulus mentranslasikan penyesalan Leah menjadi rasa ketakutan ketika entitas tak terlihat mulai datang meneror mereka.

tokoh cewek jaman now suka nyayat diri sendiri yaa

 

Ketika bicara horor indie, biasanya kita akan bicarain horor-horor yang ‘menjijikkan’, yang efek prostetiknya bikin mual, banyak darah, potongan tubuh. Dan yea, film-film seperti itu memang fun – sebuah daya tarik yang efektif. Dari segi pembuatan, ini adalah langkah yang menunjukkan kemampuan si pembuat. Gimana mereka bisa bekerja memanfaatkan sebaik-baiknya dari apa yang bisa diusahakan oleh kantong duit yang enggak tebel. Alih-alih memakai banjir darah dan pake adegan tokoh cewek dengan busana minim dikejar-kejar monster, sutradara yang tadinya aktor,  Adam MacDonald, memilih untuk menggantungkan kekuatan filmnya pada momen-momen karakter. Jelas sama sekali enggak mahal memperkuat elemen horor dari sisi emosi dan karakter para tokoh – lagipula bukankah horor sejati memang berasal dari dalam para tokoh sendiri, ya gak?

Apa yang kita sangka kita butuhkan dalam hidup, kemudian kita berjuang keras untuk menggapainya, terkadang bisa saja menjadi titik balik kehancuran kita sendiri. Karena sesungguhnya musuh utama kita, monster yang semestinya kita takuti, seringkali adalah diri kita sendiri. Tak jarang kita kurang masak berpikir sebelum mengambil tindakan. Manusia adalah makhluk impulsif yang mengambil tindakan berdasarkan satu momen kemarahan, keputusasaan. Dan menurut film Pyewacket, hal tersebut sungguh sebuah hal yang berbahaya.

 

MacDonald paham bagaimana membangun karakter dan situasi yang mengantarkan kepada tensi, yang sebenarnya pun enggak necessarily benar-benar makhluk horor. Dalam Pyewacket, kengerian datang seringkali dari keputusan-keputusan yang diambil oleh Leah. Jika aspek setan misterius dan hal-hal goibnya kita tinggalkan sebentar, kita akan mendapatkan drama tentang hubungan ibu dan anak yang sama-sama dealing dengan tragedi; kehilangan ayah – kehilangan suami. Ketegangan film ini berakar pada hubungan Leah dengan ibunya yang semakin hari semakin runtuh, meski mereka berusaha untuk terus menatanya. Tetapi selalu ada miskomunikasi, selalu ada hati yang tersinggung. Itulah salah satu alasan kenapa film bekerja dengan efektif, sebagai horor dan sebagai drama ibu-anak. Karakter para tokohnya sangat ter-flesh out. Tentu saja semua hal tersebut menjadi mentah kalo film salah mengcasting pemeran. Leah dan ibunya adalah pusat dari film, dan kedua pemerannya pun bermain dengan gemilang. Nicole Munoz sebagai Leah berhasil mendeliver perasaan frustasi, yang kemudian berubah menjadi ketakutan, dan kengerian luar biasa, dengan sangat meyakinkan. Permainannya ini diimbangi oleh Laurie Holden sebagai ibu yang terasa jauh oleh Leah, ada sense misteri yang berhasil dikuarkan oleh Holden pada perannya di sini. Pada bagian akhir, interaksi mereka mengingatkanku kepada Tara Basro dan Christine Hakim di film Hoax (2018). Tokoh Leah dan ibunya diset up dengan cara yang menarik yang membuat kita menjadi benar-benar peduli saat cerita mulai berbelok ke ranah horor.

hampir seperti Lady Bird dengan rasa setan

 

Film ini menggunakan efek minimal untuk membangun kengerian dari desain suara, juga dari keterbatasan kamera. Kesan low-budget benar-benar terasa, dan oleh film dimanfaatkan sebagai penunjang penceritaan. Film-film horor kebanyakan akan menggunakan musik untuk menambah efek ngeri saat kamera menangkap hal ganjil di layar. MacDonald membiarkan pemandangan ganjil terpampang gitu aja, tanpa petunjuk suara yang mendadak membesar. Misalnya, menjelang babak kedua film ini, kita akan diberikan wide shot Leah di tengah hutan. Setelah lumayan lama mengerjap, barulah aku menyadari ada bayangan hitam di salah satu pohon di belakang Leah, dan buatku itu adalah detik yang bikin merinding. You know, discover things like that. Begitulah film ini menangani penampakannya. Kamera melakukan wide shot seolah bilang “cari ya, ada yang seram loh di sini” dan memang elemen paling seram di shot tersebut biasanya akan kita temukan di latar belakang. Kita harus benar-benar melotot nontonin film ini. Saking seringnya kamera menyembunyikan ‘sesuatu’, kita enggak bakal melihatnya terus-terusan.

Selain wide shot, MacDonald juga sering beralih ke kamera handheld untuk memperkuat atmosfer seram. Taktik kamera begini biasanya akan membuat film terlihat murahan, sih, namun Pyewacket justru terbantu lantaran kita jadi semakin terasa seperti mengobservasi para tokoh melewati suatu kejadian mengerikan secara langsung, dari mata setannya! Kita melayang di atas orang yang lagi tidur – yang sukses membuatku berdoa si tokoh enggak bangun supaya aku gak melihat pantulan di bola matanya. Beneran, film begitu saja berpindah sudut pandang sehingga rasanya unsettling sekali seolah kitalah setannya.

Penting untuk film horor mengerti kapan harus berhenti; sama kayak manusia, berhentilah saat di puncak ketinggian karir, supaya orang mengingatmu dalam keadaan terbaik. Film horor yang baik juga biasanya menghentikan cerita di saat drama lagi tinggi-tingginya, ketakutan lagi memuncak, momen gede itu dicut gitu aja. Contohnya The Blair Witch Project (1999) yang legendaris, kita bahkan belum lihat penyihirnya dan filmnya tamat. Namun toh film tersebut membuat kita memikirkan kembali apa yang sebenarnya terjadi. Pyewacket juga begini. Tentu, endingnya terasa sedikit diburu-buruin, menurutku kita paling enggak butuh beberapa menit lagi melihat para tokoh untuk mencerna apa yang terjadi. Namun sebenarnya, film ini meminta kita untuk berpikir sendiri, menyusun puzzle yang kepingannya sudah selesai mereka bagikan. Itulah tugas film ini; sebagai pemberi kepingan puzzle yang kita butuhkan. Begitu semua sudah terhampar, film akan berakhir, dan giliran kita untuk memproses ceritanya yang memang ternyata mengikat dengan sempurna.

 

 

 

 

Buatku, ini adalah horor yang sangat efektif. Menghantarkan sisi emosional dengan baik, juga kengerian yang mampu bikin merinding. Sedikit yang membuat terlepas dari cerita adalah kenyataan bahwa film ini berbudget rendah; ada beberapa adegan mengandalkan spesial efek yang jika duitnya lebih banyak, niscaya akan lebih baik. Namun film dengan bijaksana menampilkan spesial efek ini dengan wide shot dari jauh. Juga ada satu adegan di sekitar pertengahan film saat dua tokoh berjalan di hutan malam-malam, yang menurutku sia-sia dan enggak perlu. Adegan tersebut sebenarnya punya nuansa seram yang kuat, hanya saja ternyata berakhir sebagai sebuah lelucon dari satu tokoh ke tokoh yang lain, like, ada tokoh yang pura-pura kesurupan. Mencelos banget rasanya melihat adegan ini, enggak klop sama keseluruhan film. Selain hal tersebut, film ini terasa sangat mencekat, salah satu contoh terbaik dari horor jalur indie.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for PYEWACKET.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

SUSAH SINYAL Review

“Time is precious.”

 

 

Tak bisa disangkal, hidup di generasi kekinian sekarang ini kita lebih sering berkomunikasi lewat sosial media ketimbang ngobrol langsung face-to-face. Ngobrol lewat internet. Makanya jika disuruh milih antara gak ada sinyal atau gak ada pacar, maka tentu kita bakal memilih mendingan gak ada pacar. Karena dengan sinyal, pacar bisa didapat. Haha engga semua ding, poinku adalah; sinyal udah jadi kebutuhan pokok. Apalagi buat anak muda, pasti gak bakal betah nongkrong di tempat yang sinyal wifinya ilang timbul. Bisa ketinggalan banyak informasi dong, kak, kalo gak ada sinyal.

Kiara yang masih SMA itu juga sama. Kalo enggak lagi curhat sama neneknya, Kiara akan menyelam ke dunia maya; untuk sekedar ngevlog atau nyanyi lagu ciptaan sendiri. Kiara (Aurora Ribero yang mirip Sasha Banks main bagus banget di debutnya) udah gak bisa dipisahin deh sama hape. Pernah smartphonenya disita lantaran ketahuan guru lagi main instagram di kelas, Mama Kiara lantas dipanggil ke sekolah. Menghadap guru BP. Tentu saja tidak ada asap tanpa ada api, selidik punya selidik ternyata masalah Kiara bersumber dari hubungannya yang enggak akrab dengan si Mama. Mama Kaira, Ellen (Adinia Wirasti tackles her notes perfectly), sibuk bekerja sebagai pengacara. Dia sudah bercerai dengan suami, dan tentu saja hal tersebut seringkali jadi kayu bakar ributnya Kiara dengan Ellen. Solusinya satu, mereka harus pergi liburan, ngabisin waktu bersama sebagai keluarga. Dan ini berarti Ellen harus meninggalkan urusan kerjaan, dan Kiara kudu ngorbanin seleksi online kontes bakat yang ia ikuti, sebab tempat liburan yang mereka kunjungi cukup terpencil.

aduh, si the-line-where-the-sky-meets-the-sea gabisa calls me nih

 

Susah Sinyal singkatnya adalah film tentang wanita yang mandiri, yang harus ngurusin putrinya yang juga mandiri, sehingga menimbulkan banyak ketegangan di antara mereka. Aku sedikit teringat sama Rachel di komik Animorphs, Rachel juga suka ‘berantem’ sama ibunya yang pengacara. Ada banyak heartfelt moment dari hubungan Kiara dengan Ellen. It is also a fish-out-of-water comedy, karena kedua tokoh utama tersebut ditempatkan di dalam lingkungan yang sama sekali berbeda dengan ‘habitat’ mereka, mereka harus menyesuaikan diri sekaligus berusaha beakrab-akrab ria satu sama lain – menjalin kembali hubungan ibu anak yang renggang. Dan akan ada banyak komedi datang dari gimana orang kota jika ditempatkan di tempat yang jauh dari semua kecanggihan.

Nah loh, jadi peran Ernest Prakasa di film ini apa dong?

Dia meranin rekan kerja Ellen dan mostly berfungsi sebagai amunisi komedi. Ernest is good at laughing at himself, dan kita dibawa tertawa bersamanya.  Kali ini, peran Ernest sebagai seorang tokoh memang gak banyak. Tapi peran di belakang layar, aku bisa bilang bahwa di Susah Sinyal ini Ernest benar-benar menaikkan permainannya. Kocak, serius, emosional, bukanlah hal yang gampang untuk menggabungkan ketiga hal tersebut. Timingnya harus benar-benar pas, jika tidak, film akan terasa episodik dan enggak menyatu mulus. Susah Sinyal precise banget pada editing penceritaan komedi. Ernest tahu di mana dan gimana harus memanfaatkan rekan-rekan stand up nya sehingga mereka tampil mencuri perhatian namun juga berusaha untuk tidak mengorbankan emosi pada inti cerita. Astri Welas kocak sekali di sini sebagai pemilik hotel tempat mereka menginap. Arie Kriting membuat momen-momennya sendiri. Tokoh-tokoh pendukung di film ini memang punya kelakuan aneh, tapi lelucon dan candaan mereka sangat fresh dan kekinian. Susah Sinyal semakin excel di departemen komedi berkat anekdot-anekdot dan selera humor yang  benar-benar mengena.

Kematangan juga ditunjukkan oleh Ernest dari segi pembangunan layer dan treatment beberapa adegan. Konflik internal karakter bisa datang dari pekerjaan, dan di film ini kita melihat gimana pekerjaan Ellen sebagai pengacara, yang of course kita tahu pengacara selalu menang adu argumen, dibentrokan dengan ketidakmampuan Ellen berkomunikasi dengan putrinya sendiri. Kasus yang ditangani Ellen, yang awalnya dia tolak karena gak mau ngurusin perseoalan sepele artis, sesungguhnya paralel dengan yang ia alami, menjadikan kasus itu sangat personal baginya. Pemilihan lokasi resort di Sumba juga dibuat beralasan. Kiara memilih Sumba sebagai tempat liburan, dan kita bisa meihat bahwa keinginannya ke Sumba adalah refleksi terhadap keinginan Kiara untuk dekat dengan sang ibu. Ellen adalah Sumba bagi Kiara; ‘tempat yang ingin dia kunjungi, tempat yang cantik dan indah, tapi juga tempat yang susah untuk melakukan komunikasi.   Aku suka sekali adegan terakhir film ini di mana kedua tokoh utama kita akhirnya bisa terkonek kembali sebagai keluarga justru di tempat yang gak ada sinyalnya.

 

Ada satu yang tidak bisa dibeli dengan uang. Ada satu yang lebih berharga ketimbang duit beratus-ratus juta. Ada satu hal yang bisa kita berikan kepada orang lain, yang bisa kita habiskan demi orang lain, dan sama sekali tidak membuat kita rugi. Hal itu adalah waktu. Tidak ada pembandingnya, waktu-waktu yang kita habiskan demi berada bersama orang yang kita cinta. Duit bisa dicari, tapi waktu – kita tidak mencari waktu. We make time. Dan itulah sebabnya kenapa waktu begitu tak ternilai. Jika kalian ingin menunjukkan rasa cinta kepada seseorang, berikan waktumu untuk mereka.

 

product placementnya mengalir mulus semilir angin di pantai

 

Di babak awal, agak sedikit susah buat kita ngegrasp konteks cerita, ada sedikit tonal issue sih di sini, komedinya bisa sedikit membuat distraksi, tapi begitu kita paham, film ini seketika menjadi lebih menyenangkan untuk ditonton. Tapinya lagi, juga ada sedikit masalah pada pacing. Kita dibawa bergerak dari excitement ngeliat mereka liburan dan berusaha konek, untuk kemudian dikembalikan lagi ke suasana kantor, dan kemudian balik ke Sumba. Perasaan naik turunnya adalah perjalanan yang sedikit bumpy. Struktur mestinya bisa dibangun dengan lebih baik lagi. Karena dengan apa yang kita tonton, cerita menyisakan banyak aspek yang hanya untuk di satu momen itu aja, yang tidak dipanen ‘buahnya’. Kiara dengan Abe misalnya. Kita paham affection Kiara kepada Abe bergerak dalam konteks Kiara ingin melawan mamanya, tapi dengan penceritaan yang terpenggal, aspek cerita ini lebih terasa kayak poin yang ditinggalkan. Ada banyak adegan yang jatohnya malah seperti untuk komedi semata, padahal enggak. Mereka bekerja di dalam konteks, akan tetapi penceritaan yang banyak mengambil detour membuat kepentingan mereka berkurang. Bahkan elemen fish-out-of-waternya juga tak pernah bekerja maksimal. Kedua tokoh utama kadang menjadi hal paling terakhir yang menarik atensi kita dibandingkan porsi komedi.

Film actually lebih ke komedi, dengan sedikit mengorbankan tokoh-tokoh sentral. Dan ‘lucunya’, hanya dua karakter sentral itu yang diberikan arc. Tokoh-tokoh pendukung tidak punya storyline, mereka di sana untuk pemantik kelucuan. Jadi, ya, inti film ini mengalah kepada elemen yang tidak didevelop penuh, dan resultnya adalah yang inti juga jadi tak maksimal.

 

 

Mengesampingkan teknis, film ini akan gampang sekali untuk disukai karena sebagai sebuah film komedi, ini adalah film yang pecah banget. Jokesnya mengena, relevan karena memang diniatkan sebagai pandangan terhadap isu kekinian seputar sosial media. At heart, ini adalah tentang hubungan ibu dan putrinya, gimana anak cewek selalu menganggap ibu sebagai ‘musuh’, dan bagaimana mereka saling terhubung kembali hati ke hati.  Ernest kembali bicara tentang masalah komunikasi dalam keluarga; Jika di Cek Toko Sebelah (2016) ia menekankan pada father-son di mana dalam interaksi mereka lebih memilih diam, menghindari konfrontasi, maka di film ini yang ditekankan adalah mother-daughter suka berinteraksi dengan konfrontasi gede karena they don’t know how to talk with each other. Namun, dari segi struktur, film ini adalah sedikit kemunduran dari Cek Toko Sebelah. Pacing mestinya bisa lebih lancar lagi. Terutama dari itu, enggak seperti judulnya, film ini bakal menjangkau penonton yang luas.
The Palace of Wisdom gives 6.5 gold stars out of 10 for SUSAH SINYAL.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We got the Piala Maya for Blog Kritik Film Terpilih 2017