MILE 22 Review

“There are no heroes or villains”

 

 

 

Sebagian orang bisa tidur dengan damai di malam hari karena mereka mengetahui ada orang-orang yang siap untuk berbuat kekerasan demi mereka. Begitu kata tokoh yang diperankan dengan sangar oleh Mark Wahlberg di film Mile 22. Enggak jelas juga apakah Si James Silva ini memang penggemar George Orwell, atau dia hanya terlalu obsesif dengan menegakkan kedamaian sehingga bocah jenius yang jadi yatim piatu tersebut jadi ‘setengah-gila’ menyangkut urusan membasmi orang jahat. Kita enggak akan pernah tahu, karena cerita latar tokoh ini hanya disajikan dalam montase klip-klip berita yang muncul di pembuka. Tidak sampai lima menit, kemudian film melaju begitu saja tanpa memberikan kita kesempatan untuk bernapas. Apalagi memikirkan kegilaan filosofis si James ini.

Tapi toh, tokoh James memang menarik. Dia adalah agen rahasia pemerintah yang menyamar sebagai agen CIA. Bayangin tuh! James punya kebiasaan jebretin lengannya pake karet gelang yang selalu ia kenakan di pergelangan tangan. Harus memutuskan antara yang baik dengan yang efisien? Jebret! Menangani siasat yang mesti diputuskan dengan cepat? Jebret! Rasa sakit membantu James untuk fokus.  Dirinya sangat obsesif, dia punya kesadaran tinggi tentang apa yang harus dilakukan – tidak peduli itu salah atau benar. Dia paham kecerdasanya di atas rata-rata jadi dia agak kesel dan tak ragu untuk menjadi begitu intens jika ada bawahannya yang meragukan apa yang ia perintahkan ataupun ketika ada yang bekerja di bawah standar yang ia percaya.

No birthday cake, Rousey!

 

Untuk satu hal, film ini adalah laga konvensional tentang satu kelompok yang berusaha untuk mengantar seseorang ke dalam lingkungan yang aman, di mana untuk mencapai keselamatan tersebut mereka harus menerjang peluru dan berantem numpahin darah. Tim James melakukan operasi rahasia untuk membawa polisi lokal yang menyerahkan diri ke embassy Amerika. Polisi rendahan tersebut, si Iko Uwais bernama Li Noor di sini, mengaku mengetahui sandi untuk menonaktifkan enam bom yang dicari oleh para agen. Jadi ia menukar pengetahuannya tersebut dengan posisi yang aman di Amerika. Syaratnya; Tim James harus memastikan keselamatannya sampai ia tiba di Amerika – karena tampaknya, pihak polisi lokal enggak mau satu polisi yang dianggap berbahaya ini meloloskan diri ke negara lain. Dua-puluh-dua mil actually adalah jarak dari embassy ke bandara yang harus James tempuh dalam misinya ini. Tapi untuk kita para penonton, itu berarti 100 menit yang rasanya begitu lama karena tak sekalipun kita dikasih waktu untuk mikirin para tokohnya.

Seperti yang kubilang tadi, ada hal menarik yang coba diangkat oleh film dari perilaku tokohnya. Li Noor dibuat kontras dengan James. Dia lebih tenang, hobinya meditasi dengan jari-jari sebagai lawan dari James dan jebretan karet gelangnya. Film sebenarnya bisa bekerja dengan lebih baik dari menggali ini saja, dengan pelan-pelan. Tapinya, enggak. Film berusaha untuk menjadi banyak hal. Salah satunya adalah menjadi sok lucu. Ada begitu banyak dialog yang diniatkan pinter dan keren, malah jatohnya konyol. Receh. Kayak momen terakhir antara James dengan Noor. Setelah semua aksi tersebut, kontras antara mereka diperlihatkan, rasanya aneh dan konyol sekali film ini memberikan sentuhan ‘realita’ yang mengacknowledge Wahlberg sebagai seorang selebriti sebagai titik puncak dari tokoh-tokoh ini. Film ini – sama seperti James – menyangka dirinya pintar dengan memasukkan lelucon “Say hi to your ‘mother’ for me” (Wahlberg terkenal dengan jargon dari sketsa Saturday Night Live ini, yang diucapkan untuk meledek dirinya) mentang-mentang konteksnya adalah pimpinan tokoh James menyebut diri sebagai Mother dalam kode operasi rahasia mereka.

Dalam dunia yang kacau, tidak ada pahlawan atau penjahat. Sebab terkadang, kita perlu untuk bertindak layaknya penjahat, untuk menyelamatkan orang. Hal yang benar untuk dilakukan bisa jadi adalah hal yang paling berat untuk dilakukan. Keberanian untuk menempuh hal sulit itulah yang membuat seseorang pantas dipanggil sebagai pahlawan.

 

 

Hal lain yang dilakukan oleh film ini adalah, berusaha menjadi nendang dan impactful dengan pesan-pesan politiknya. Tapi tidak pernah menyampur dengan baik. Antara maksud dengan apa yang benar-benar film ini lakukan, enggak klop. Karena film ini tidak benar-benar mengembangkan apa-apa selain ledakan dan aksi laga. Film bahkan tidak berani menyebut nama negara yang jadi settingnya. Mereka menampilkan nama Indocarr yang menunjukkan ini negara fiktif, tapi tidak pernah benar-benar menyebutnya. Para tokoh berkelit dari menyebutkan nama. Ketika harus nyebutin, mereka mereferensi tempat ini dengan sebutan “our host country”. Aku gak mengerti kenapa mereka gak langsung bilang Indocarr aja . Atau langsung sebut Indonesia aja, toh kita tahu letaknya di Asia Tenggara, kita mendengar penduduk lokal berbahasa Indonesia. Orang sini akan dapat hiburan tersendiri saat menonton Mile 22 dari bahasa yang terdengar. Tokoh-tokoh yang lain juga sekedar ada di sana. Tokoh pemimpin mereka hanya ada untuk teriak-teriak kepada komputer. Ada tokoh cewek namanya Alice yang diceritakan punya masalah dengan perceraian dan keluarga, tapi tidak mendapat finality yang pantas. Dan Ronda Rousey (our new WWE RAW WOMEN’S CHAMPION!), dang menurutku film ini melewatkan kesempatan gede; mereka punya Iko Uwais dan the baddest woman in the planet, tapi keduanya enggak dibikin berantem. Mubaziiiirrr, I want to see them fight each other!

bahkan saat bicara pun film ini meledak-ledak

 

 

Bagian tengah film ini betul-betul kosong. Kita dapat pembuka yang basically mengeset siapa James, apa yang ia lakukan, siapa yang berasosiasi dengannya. Film juga memberikan penutup apa yang terjadi kepada James, dan semuanya. Namun, bagian tengahnya – dimulai dari kemunculan mendadak Li Noor – hanya terasa seperti sekuen aksi yang begitu panjang tanpa ada esensi di baliknya. Tidak ada pengembangan di sana. Film begitu bedeterminasi untuk membuat pengungkapan di bagian penutup sebagai sebuah ledakan yang wow, jadi kita tidak dapat apa-apa di babak kedua ini selain adegan berantem dan tembak-tembakan. Kita dilempar begitu saja ke dalam sekuens aksi dengan sesedikit mungkin build up sehingga akan susah sekali untuk peduli pada apa yang terjadi.

Sebaiknya jangan nonton film ini saat perut kalian sedang kosong. Serius. Babak kedua yang katanya penuh aksi itu, well, berkat kerja kamera dan editing yang begitu rusuh apa-apa yang di layar akan tampak sangat membingungkan. Kita enggak bisa ngikutin siapa nyerang siapa, apa yang terjadi di layar terjadi begitu cepat. Begitu banyak cut-cut cepat yang membuat mata kita berpindah-pindah tanpa arahan. Aku gak paham kenapa film ini malah menggunakan teknik edit dan kamera yang heboh seperti itu. Ini kubalikkan saran James buat rekannya kepada pergerakan kamera: Stop. 

Film ini perlu memikirkan ulang konsepnya; pengen menangkap suasana rusuh semestinya bisa dilakukan tanpa membuat penonton bingung dan mau muntah. Dan lagi, jika kau punya aktor laga sehebat Iko Uwais, yang juga kau pekerjakan sebagai koreografi laga – yang berarti kau percaya pada kemampuannya – maka dijamin kau akan punya sekuen aksi yang dashyat; Kenapa tak merekamnya dengan wideshot, dengan tenang. Kamera bergoyang dan quick-cut yang hiperaktif digunakan untuk menyamarkan kerja stunt dan aksi yang buruk. Kehadiran Iko menjamin masalah tersebut tidak bakal ada, jadi kenapa teknik demikian – yang sama sekali tidak mengangkat buat gaya Iko –  masih terus digunakan?

 

 

 

 

Sungguh aneh pilihan dan arahan yang dilakukan oleh sutradara Peter Berg. Semuanya sangat cepat, dengan orang-orang yang bersuara lantang. Membuat film ini jadi kayak versi loud dari Sicario (2015). Ceritanya tak lagi menyenangkan, kita tidak bisa untuk peduli pada siapapun. Sangat gak jelas dengan apa sebenarnya yang ingin dicapai oleh film yang menyangka akan terlihat pintar jika menyampaikan semua dengan hiperaktif. Mengecewakan, Peter Berg sejatinya could be so much better. Segala baku hantam, ledakan, dialog, yang ia punya jadi kayak rentetan racauan edan yang membingungkan dan jauh dari menghibur.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for MILE 22.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

SummerSlam 2018 Review

 

Sukses adalah ketika kita, dengan kepala terangkat tinggi, menyerukan kepada dunia, “Selamat datang di mimpiku!” SummerSlam 2018 dibuka oleh video opening yang diedit dengan keren, di mana kita ditantang untuk berpikir perihal apa itu sukses. Karena kita semua punya pendapat yang berbeda-beda tentang kesuksesan. Perbedaan tersebut menentukan sikap kita, pilihan dan keputusan kita. Partai-partai dalam SummerSlam tahun ini, dibangun dengan sangat kohesif dengan tema ini. Kita melihat apa jadinya ketika dua orang menganggap sukses itu adalah memenangkan koper berisi kontrak. Kita menyaksikan bentrokan ketika ada yang berpikir sukses itu adalah mempertahankan apa yang dipunya, karena beberapa berkata mempertahankan jauh lebih susah daripada meraih. Kita juga melihat betapa orang bisa menjadi begitu buas ketika bagi mereka sukses itu berarti menangkap kesempatan menjadi yang teratas, lagi dan lagi.

Ini bukan soal menjadi hebat. Ini bukan soal menjadi spesial. Ini adalah soal selalu berusaha untuk memberikan, menjadi, yang terbaik.

 

 

Salah satu bentrok kesuksesan yang berhasil diceritakan dengan sangat baik oleh WWE adalah cerita yang dibintangi oleh The Miz dan Daniel Bryan. Dua orang yang memulai dari garis start yang berbeda, dan apparently mereka juga punya finish yang tak sama. Untungnya buat kita semua, garis finish mereka saling bersilang. Di satu sisi ada Miz, yang gede sebagai bintang reality tv – satu lagi kita punya salah satu pegulat teknikal terbaik dunia. WWE nge-craft cerita mereka dengan sangat telaten, mengapitalisasi setiap situasi, mengubah setiap aspek yang digali sebagai build up, dan akhirnya kita mulai menuai hasilnya. Oh boy, mereka akan panen kesuksesan dari cerita ini. Feud Miz dan Bryan dimulai sejak delapan tahun yang lalu, ketika Daniel Bryan yang kala itu sudah berstatus seorang professional dan punya nama gede di dunia gulat harus menjadi ‘murid’ The Miz yang baru saja memulai mengikat tali sepatu bot gulatnya. Sebab, gedung WWE itu sama kayak pom bensin; Begitu kau masuk, kau harus memulai lagi dari nol. Miz masuk WWE duluan dari Bryan, membuatnya lebih ‘veteran’ di sini. Dan inilah akar tensi mereka yang tak kunjung padam. Perbedaan panjang, dari ‘bagaimana melakukan yang benar hingga melebar menjadi sikut menyikut ’caraku lebih baik darimu’.

Semua hal tersebut diulur dan terus digali oleh WWE lantaran mereka tahu persis bagaimana karakterisasi bekerja. Waktu akan senantiasa bergulir, dan WWE tahu persis bagaimana memanfaatkannya untuk mengembangkan karakter. Simak saja video yang menghighlight perseteruan kedua superstar ini. Yang berubah dari mereka bukan hanya penampilan saat delapan bulan yang lalu, setahun yang lalu. Baik Miz maupun Bryan, karakter mereka berkembang. Miz sekarang sudah berubah menjadi A-List selebriti meski hanya dalam pikirannya. Bryan sempat menjadi general manajer, dia sempat divonis gak bisa gulat lagi, and then he got cleared back into action; WWE menghimpun ini semua ke dalam sebuah gundukan dahsyat storytelling. Dan mereka sama sekali tidak menyalahgunakannya.

Match Bryan dan Miz di SummerSlam ini, meski berakhir dengan Miz curang, benar-benar dieksekusi dengan baik. Enggak ada cara lain untuk menyuguhkannya selain ini. Dari segi cerita, semuanya masuk akal dan menambah banyak untuk karakterisasi. Miz mencuri kemenangan membuktikan pendapat Bryan benar soal dirinya lembek dan butuh bantuan untuk menang. Sebaliknya, juga membuktikan teori Miz bahwa gaya yang dianut Bryan pada akhirnya akan merugikan dirinya sendiri. Delapan tahun pengembangan tersebut tentunya juga tidak merugikan buat kedua superstar, karena memberikan waktu bagi mereka untuk mengasah kemampuan bergulat masing-masing. Terutama untuk The Miz yang memang di awal karirnya tidak mampu mengimbangi Bryan.  Tapi kini, menyaksikan match ini, aku percaya siapapun bisa menang, dan aku tak sabar untuk menunggu babak baru dari perseteruan mereka.

Reality Check: Ini pertama kalinya SummerSlam bebas dari John Cena sejak 2004

 

Dilema menjadi orang sukses itu jatuh menimpa Juara WWE, AJ Styles. Dalam sebuah match perebutan sabuk yang begitu personal, Samoa Joe – penantangnya – mengungkapkan gimana Styles sudah menelantarkan keluarganya; Sebagai juara, Styles jarang pulang ke rumah lantaran sibuk show ke sana ke mari. Momen di mana Joe bicara kepada istri dan anak Styles yang ada di arena adalah momen yang menurutku paling bikin bulu kuduk merinding, bikin kita ikut geregetan. Basically, Joe menyuruh keluarga Styles untuk tenang-tenang saja sebab ia akan mengirim ayah mereka pulang. Satu-satunya masalahku buat cerita ini adalah pertandingan mereka yang butuh lama sekali untuk mencapai puncak emosi. Styles dan Joe – being as great superstar as they are – terlalu lama menghabiskan waktu dengan ‘pemanasan’. Mereka tukar menukar serangan dengan lamban di awal, yang tentu saja bentrok ama urgensi cerita yang sudah sangat personal. Mestinya langsung digas aja dari awal. Buktinya, begitu Styles menunjukkan kobaran amarah, seketika pertandingan terasa menegangkan. Puncaknya tentu saja ketika Joe mengambil mikrofon dan ngomong sekali lagi kepada istri Styles. Aku gak akan bilang dia ngomong apa, yang jelas kejadian yang menyusul sangat keren. Joe bisa dibilang terlalu sukses dalam mancing emosi Styles.  I don’t mind the finish at all.

Yang jelas-jelas failed di acara ini adalah Kevin Owens, Baron Corbin, dan Alexa Bliss.  Superstar antagonis selevel  Owens dan Corbin agak kurang pantes di’bunuh’ oleh pertandingan squash seperti yang mereka dapatkan dalam macth mereka masing-masing. Paling enggak, mestinya mereka dikasih sedikit perlawanan ataupun kesempatan untuk menunjukkan karakter. Seperti Juara Wanita Raw Alexa Bliss, yang kekalahannya meski malu-maluin tapi tetep masuk di akal. Bliss kalah dengan sukses, dan kita semua sudah mengharapkannya. Pinter, WWE, menggunakan kesempatan ini untuk menaikkan Ronda Rousey selagi hype mantan petarung UFC ini masih gede. Dan Bliss adalah antagonis yang tepat untuk protagonis ‘wanita paling bad-ass di dunia’. Hanya Bliss, yang merupakan heel cewek terbaik dalam artian paling ngeselin, yang bisa dihajar habis-habisan tanpa penonton menaruh belas kasihan kepadanya (well, aku kasihan sih, tapi karena aku suka AleksyaBliss nyawww). And in turn, tak membuat Rousey kehilangan ‘muka’, ia tak jatoh sebagai bully. Pertandingan mereka justru menjadi salah satu partai yang paling menghibur dalam acara ini.

“su..su..su..summerslam, summerslam sadness oh ohhhhh”

 

Dari petarung UFC satu ke petarung UFC lain, WWE sepertinya memang sudah menemukan pengganti untuk Brock Lesnar, sehingga mereka sekarang bisa melepas si Beastie Boy ini dengan tenang. Lesnar kalah melawan Roman (gak picisan) Reigns dalam pertandingan yang singkat dan gak spesial – hanya berupa spamming finisher seperti pertemuan-pertemuan mereka sebelumnya. Tapi kali ini WWE membuat keputusan yang tepat dengan memasukkan Braun Strowman sebagai faktor penentu. Kehadiran pemenang Money in the Bank ini dijadikan ‘alasan’ untuk mengikat semua loose end cerita. Lesnar tidak terlihat lemah. Terutama, jika Braun tidak ada di sana – mengancam akan cash-in kontrak kejuaraannya – kemenangan Reigns jelas akan diboo habis-habisan dan penonton akan sibuk mengharapkan kedatangan Strowman, eventually penonton akan menganggap gak masuk akal si monster ini gak turun datang mengambil kesempatan.

Buat posisi Roman Reigns pun – babyface yang dibook terlalu over sehingga bikin benci fans – sepertinya WWE sudah mjenemukan penggantinya. Charlotte Flair adalah manusia yang dibook paling kuat di acara ini. Maksudku, coba sidik pertandingan Kejuaraan Wanita Smackdown tersebut; kita punya Carmella yang semakin hari semakin nunjukin kekuatan permainan karakternya. Aku bahkan melihat tokohnya di sini lebih kuat disbanding Charlotte yang bland. Kita punya Becky Lynch yang mendapat sambutan paling keras dari penonton. Kita bisa saja mendapat pertandingan face terbaik melawan heel terbaik versi Brand Biru, tapi ternyata mereka merasa perlu untuk masukin Charlotte. Dan memenangkannya. Wow. Tentu ada alasannya kan, kenapa saat Lynch ngamuk melempar Charlotte ke meja setelah pertandingan tersebut, penonton malah bersimpati kepada Lynch. Karena Charlotte, seperti yang biasa dilakukan oleh Reigns sebelum ini, sudah seenaknya dikasih spot yang sebenarnya dia enggak perlu ada di sana.

 

Usaha untuk menjadi semakin baik, memang sangat tampak dilakukan oleh WWE. Mereka mulai menggunakan animasi 3D pada entrance beberapa superstar untuk menguatkan karakter mereka sebagai ganti dari penggunaan pyroteknik. Kelihatan bagus sih, penonton di rumah jadi punya eksperiens yang berbeda. Urutan pertandingan kali ini juga semakin diperhatikan, supaya ketertarikan penonton tidak turun. Mereka menyelang-nyelingi antara pertandingan yang berakhir bersih dengan yang berakhir rusuh. Masalahku dari sini hanyalah, kenapa nyaris semua match dari brand Smackdown berakhir. ‘Nyaris semua’ hanya karena Randy Orton gak jadi menyerang Jeff Hardy. Mungkin saat itu, Orton kepikiran “Hmm.. Bryan dicurangi, Bludgeon Brothers ngamuk sampe kena DQ, Styles juga, Lycnh pun ngamuk, tapi gak DQ sih.. Ah males ah, ntar aku disangka niruin ngamuk-ngamuk” sehingga dia urungkan niat jahatnya kepada Hardy.

Ambrose juga di sini enggak rusuh, sepertinya karena dia sudah bukan di Smackdown lagi.

 

 

 

SummerSlam 2018 sukses bikin kita bersorak seru. Punya pertandingan-pertandingan bagus dengan cerita yang dengan luar biasa diintegralkan dengan tema dan dibangun dengan efektif. Walaupun memang masih tergolong hiburan level Vince McMahon dengan banyak segmen yang masih terasa sebagai penghabis waktu – hanya Vince lah yang bisa ngakak guling ngeliat segmen Elias tiba-tiba gitarnya patah – SummerSlam masih deliver sebagai acara yang padu. Bisalah disandingkan dengan Wrestlemania 34, kalo gak mau dibilang lebih baik.
The Palace of Wisdom menobatkan Daniel Bryan vs. The Miz sebagai MATCH OF THE NIGHT.

 

 

Full Results:
1. INTERCONTINENTAL CHAMPIONSHIP Seth Rollins juara baru mengalahkan Dolph Ziggler
2. SMACKDOWN TAG TEAM CHAMPIONSHIP The New Day menang atas juara bertahan The Bludgeon Brothers…. tapi menang DQ
3. MONEY IN THE BANK CONTRACT ON THE LINE Braun Strowman membunuh Kevin Owens
4. SMACKDOWN WOMEN’S CHAMPIONSIP TRIPLE THREAT Charlotte Flair merebut sabuk dari Becky Lynch dan Carmella
5. WWE CHAMPIONSHIP AJ Styles kena DQ, sehingga Samoa Joe menang tapi sabuk gak pindah.
6. SINGLE The Miz ngalahin Daniel Bryan
7. SINGLE Demon Finn Balor ngamuk ke Constable Baron Corbin
8. UNITED STATES CHAMPIONSHIP Shinsuke Nakamura bertahan atas Jeff Hardy
9. RAW WOMEN’S CHAMPIONSHIP Rowdy Ronda Rousey menghajar Alexa Bliss
10. UNIVERSAL CHAMPIONSHIP akhirnya Roman Reigns mengalahkan Brock Lesnar

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

UPGRADE Review

“Computers are useless; they can only give you answers”

 

 

 

Dalam dunia yang penuh hingar bingar, nyaman sekali rasanya bisa menyelam ke dalam kepala sendiri. Ketika kebingungan, atau saat merasa butuh untuk mempertimbangkan sesuatu, kemungkinannya adalah kita merasa perlu untuk bertanya kepada diri sendiri. Bicara kepada suara di dalam kepala itu bukan pertanda kita gila. Malahan akan membuat kita lebih pinter jika kita cukup tenang menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya adalah tindakan menggali kesadaran dan potensi diri. Bahkan, menulis pun sejatinya adalah pekerjaan yang bertanya kepada diri sendiri – kita ngobrol di dalam kepala, kita jelajahi ruang pikir dan pemahaman yang ada di sana.

Masalahnya adalah; bagaimana jika yang ada di dalam kepala itu bukan pikiran kita? Bagaimana cara kita membedakan mana yang suara hati mana yang ‘bisikan setan’? Perlukah kita langsung percaya kepada jawaban yang diberikan oleh suara-suara yang ada dalam kepala kita?

 

Upgrade mungkin memang bukan film yang menonjolkan perjalanan filosofis. Film ini lebih sebagai hiburan tembak-langsung, di mana kita akan melihat aksi berantem penuh kekerasan dan dunia masa depan yang memenuhi dahaga fantasi terhadap kemutakhiran teknologi. Akan tetapi, garapan Leigh Whannell ini memberikan pandangan yang cukup menarik – ia bermain-main dengan konsep seorang manusia yang tidak lagi punya kontrol atas tindakannya sebab sudah menyerahkan semua kendali kepada suara asing di dalam kepalanya.

cue entrance musik Randy Orton

 

 

Cerita tidak akan pernah melebar keluar dari perspektif Grey Trace (Logan Marshall-Green berkesempatan memainkan adegan berantem unik). Pria ini kehilangan istri dan anggota gerak tubuhnya ketika mobil-nyetir-sendiri mereka melaju error dengan tragisnya. Tubuh Grey lumpuh total, kecuali kepalanya. Tatkala ia meratapi nasib, terbaring di tempat tidurnya, seorang ilmuwan komputer memberinya tawaran untuk jadi inang sebuah chip maha-canggih. Dengan chip yang disebut Stem tertanam di lehernya, Grey bisa berjalan dan mengusap air matanya lagi. Tapi kemudian Stem bicara kepada Grey, ia menawarkan bantuan lebih dari apa yang diminta oleh Grey. Stem, dengan izin Grey, bisa mengendalikan tubuh mekanik yang tadinya sirik ama teknologi ini, melakukan pekerjaan yang tak sanggup ia lakukan. Termasuk balas dendam. Mengubah Grey menjadi mesin pembunuh.

Ketika nonton ini, aku ngobrol kepada diriku sendiri. Hey, kita sudah pernah toh melihat cerita seperti begini sebelumnya. Pria biasa yang tiba-tiba jadi perkasa, melakukan aksi tuntut balas. Mesin yang pada akhirnya mengambil alih kemanusiaan. Kepalaku balas bertanya; Tetapi yang ini beda, tuh lihat, adegan berantem pertamanya aja bikin mulutmu otomatis menganga.

Suara di kepalaku benar. Dari adegan Grey yang mendadak jago bertarung – bahkan lebih efisien dari Robert McCall di The Equalizer 2 (2018) kita bisa melihat bahwa film ini diarahkan kepada tone yang berbeda dari cerita balas dendam yang sudah-sudah. Feelnya sangat gelap, ala grindhouse 70an yang dibuat oleh John Carpenter. Sudah jarang sekali kan kita melihat gaya seperti begini hadir di jaman yang mengutamakan kepada budget dan efek yang supercanggih. Film ini berada di titik seimbang antara tragedi dan komedi, sehingga meskipun lingkungannya futuristik, kejadian-kejadiannya brutal, tapi kita masih menemukan pijakan untuk merasakan kenyataan. Berantemnya unik, kocak, dan meyakinkan. Logan Marshall-Green melakukan tugas yang menakjubkan dengan ekspresi wajahnya. Begini, begitu Stem dikasih ijin mengambil alih, Grey hanya bisa melihat dengan matanya saat tangan dan kakinya beraksi menghajar musuh. Dan sebagian besar dari adegan bak-bik-buk itu, Grey tampak takut hingga dia bahkan sampe meminta maaf kepada lawannya. Konsep ini digarap dengan kocak sekali, karena lawannya pun memandang Grey dengan heran, like, man you are crazy what the hell is wrong with you?

“fight your own battle, lazy-ass!”

 

Ada salah satu adegan yang menampilkan Grey berdiri melihat daftar nama tenant sebuah apartemen, dan kita dilihatin dengan jelas nama J. Wan, yang obviously adalah easter egg buat sutradara horor James Wan. Leigh Whannell memang sudah banyak berkolaborasi dengan Wan, karya paling ngehits mereka tidak lain tidak bukan adalah Saw (2004) yang tak pelak menjadi ikonik buat genre horor. Apa yang dilakukan oleh Whannell dan Wan di film tersebut sungguh patut dijadikan suri tauladan buat filmmaker lokal; mereka berkutat dengan budget rendah dan sukses menghasilkan tontonan yang luar biasa meyakinkan, sangat menyenangkan, ngajak berpikir pula, dari dana sesedikit itu. Bikin film gak mesti mahal; kita gak perlu punya yang terbaik karena yang terpenting adalah seberapa besar usaha yang dilakukan supaya menghasilkan yang terbaik. Whannell mengulangi lagi kerja kerasnya pada film Upgrade ini. Dia berhasil ngestrecth konsepnya melewati batas-batas budget. Dan mengingat ini adalah film yang bertempat di masa depan yang sudah canggih, jelas pencapaian Whannell menghidupkan dunianya bukan hal yang bisa diremehkan.

Tak sekalipun semua yang nampang di layar itu terlihat murahan. Lingkungan pada film ini direalisasikan dengan amat baik. Bahkan, dan aku gak melebihkan, dengan budget yang jauh berbeda, film ini bisa kelihatan satu dunia dengan Blade Runner 2049 (2017). Aspek futuristik dan spesial efeknya tidak sekalipun membuat film jadi cheesy. Pun film tidak terlihat sok-sok bergaya ala B-movie, kalian tahu, gerak kameranya enggak pernah terlalu over-the-top. Tidak ada shot-shot ambisius. Justru dieksekusi dengan kreatif sekali. Pergerakan kamera yang sedikit tertahan kepada Grey – memberikan kesan gerak kaku seperti berantem jurus robot yang ia lakukan.

Seperti halnya film enggak lantas menjadi bagus karena punya budget raksasa, kita juga tidak bisa mengupgrade kemanusiaan dengan hanya bergantung kepada kemutakhiran teknologi. Seperti yang disebutkan dalam dialog film ini, mesin yang hanya berisi angka 1 dan 0 tidak akan bisa menanggulangi kekompleksan manusia. Mereka hanya tahu berpikir mencari jawaban yang termudah. Sedangkan manusia, kita dianugrahi rasa yang tak jarang mengoverride pikiran, for better or worse.

 

Ketika aku bilang cerita film ini tak pernah keluar dari frame sudut pandang Grey, kepalaku langsung berontak protes. Hal tersebut mengakibatkan tokoh yang lain gak jadi gak keurus, katanya. Setelah dipikir-pikir, memang ada benarnya juga. Aku terlalu sibuk menggelinjang seru melihat apa yang kutonton sehingga menjadi sedikit bias kepada film ini secara keseluruhan. Untung ada suara di kepala yang mengingatkan. Grey tereksplorasi dengan baik, kita mengerti pandangan orang ini terhadap situasi dunianya, kita melihatnya berkembang dari seorang lumpuh yang berusaha menerima kondisinya lalu dia takut akan apa yang bisa ia lakukan, menjadi seseorang yang embrace it all sebelum akhirnya sadar apa yang sebenarnya ia butuhkan. Kita peduli sekali kepadanya. Namun tidak demikian terhadap tokoh-tokoh yang lain. Polisi wanita yang bertugas menginvestigasi kasus kecelakaannya, ibu yang menemaninya, istrinya yang meski perannya kecil namun sangat integral terhadap karakterisasi Grey, orang yang memberinya Stem, mereka semua begitu satu dimensi. Hacker yang sempat membantu Grey malah ternyata gak penting meski memegang peranan dalam cerita. Bahkan tokoh antagonis tidak banyak diberikan warna, kita membenci mereka karena hal yang mereka lakukan. Kesan kita kepada semua orang di sekitar Grey tidak pernah lebih dari jauh dari apa yang kita lihat. Ini sangat disayangkan, karena dengan konsep yang begitu keren, film justru kesusahan menyeimbangkan antara konsep tersebut dengan para tokohnya.

 

 

 

Kekurangeksploran tokoh lain membuat film dapat menjadi sedikit membosankan tatkala takada kejadian menarik seputar Grey dan Stem yang terjadi, karena memang kita hanya peduli sama tokoh utama seorang. Kita ingin cepat-cepat melihat aksi yang direkam dengan kerja kamera yang kreatif, dengan sinematografi yang unik, dengan konsep yang membuat cerita yang udah sering dilihat ini menjadi terasa menyegarkan. Di luar pencapaian luar biasanya menjadi tontonan yang super fun melewati batasan budgetnya, aku dan suara di dalam kepalaku setuju film ini mestinya bisa diupgrade sedikit lagi sehingga semua elemennya dapat berimbang.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for UPGRADE.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

ROMPIS Review

“There are no strangers here; Only friends you haven’t yet met.”

 

 

 

 

Jarak sama seperti api, bagi orang pacaran. Kecil jadi kawan. Gede jadi lawan. Hubungan asmara perlu dikasih jarak-jarak kecil biar gak posesif-posesif amat, like, jangan melulu melapor setiap mesti ngapa-ngapain, jangan terlalu ngurusin ini-itu sehingga tidak ada ruang gerak. Relationship yang sehat selalu berdasarkan dengan mutual trust yang dilatih dengan kita memberi ruang gerak terhadap pasangan. And that is the tricky part. Terlalu lebar memberi ruang, kejauhan ngasih jarak, bisa membuat ruang kosong antara dua orang tersebut diisi oleh orang lain. Itulah yang ditakutkan oleh pasangan-pasangan yang dihadapkan pada masalah LDR; Long-Distance Relationship.

Roman dan Wulandari sudah bersama-sama sejak serial televisi Roman Picisan ngehits. Film ini melanjutkan kisah tanpa-status mereka yang kini sudah pada lulus SMA.  Kalo para penggemarnya sudah sudah geregetan melihat tarik-ulur hubungan mereka yang begitu manis penuh puisi kacangan karangan Roman, bayangkan gimana gemesnya mereka menyaksikan kedua anak muda ini harus dipisahkan oleh jarak saat Roman keterima kuliah di Belanda? Puisi-puisi Roman tak pelak menjadi sarana yang pas untuk lingkungan LDR yang harus mereka jalani.  Kita melihat Roman dan Wulandari melempar kata-kata romantis lewat hape mereka. Tetep mesra, namun toh setelah sembilan bulan berjauhan, jarak itu kerasa juga. Roman mulai gak konsen kuliah, nilainya jeblok, padahal ia sadar betul dirinya yang ‘sobat miskin’ harus lulus dengan nilai gemilang – demi orangtuanya. Juga demi Wulandari yang menunggunya. Wulandari pun semakin insecure, terlebih saat dia mengetahui Roman punya kenalan berwujud cewek yang manis banget bernama Meira di sana.

Aku yang gak ngikutin serial televisinya aja kebawa gemas loh. Interaksi para tokoh ini terlihat benar-benar natural. Aku gak kayak sedang melihat tokoh film. Aku jadi merasa kayak mas-mas creepy yang diam-diam ngintilin anak-anak muda tersebut lagi pacaran, anak-anak muda yang nunjukin persahabatan dan berusaha menyelesaikan masalah mereka, di sepanjang jalanan kota Amsterdam. Sebegitu realnya para pemain menghidupkan tokoh mereka. Chemistry Arbani Yazis dengan Adinda Azani menguar luar biasa, baik itu di adegan mereka rayu-rayuan maupun lagi marah-marahan. Hebatnya, kita tahu yang tokoh mereka rasakan tersebut bukan cinta-cintaan. Kita paham situasi mereka, film membuat kita mengerti kenapa Roman masih saja ngekeep Wulandari tanpa-status – mereka gak bener-bener jadian. Para pemain tampak bertindak kayak remaja beneran yang sedang menghadapi ‘masalah’ ini. Aku suka gimana Azani memainkan gesture dan intonasi marah-tapi-malu-malu khas cewek. Meira di tangan Cut Beby Tshabina tampak keren sekali bermain sebagai cewek misterius namun sedikit agresif. Tapi mungkin yang paling likeable di antara semua adalah Umay Shahab yang memainkan Samuel, sohib Roman, yang bertindak sebagai voice of reasons; perantara Roman dan Wulandari, memberi mereka sudut pandang lain yang tak jarang muncul lewat candaan khas anak muda.

si Bobi ekspresi kentutnya masih sama ahahaha

 

Sebagai sebuah kelanjutan dari serial, film ini bertindak sebagai penutup yang bertujuan untuk memuaskan penonton layar kacanya. Jadi, beberapa hal yang sudah terestablish ga bakal diberikan penjelasan lagi di film ini. Kita tidak akan mendapat backstory kenapa Roman dan Wulandari saling cinta. Kenapa Roman dan Samuel bisa sobatan. Latar ekonomi dan keluarga saja hanya diinfokan sebagai bagian dari candaan. “Mereka sudah begitu sejak dari SMA” jawab Wulandari kepada Meira, yang sama orang-luarnya seperti kita. Dan ini dapat menjadi masalah, sebab buat penonton film yang tidak ngikutin serialnya, para tokoh ini akan tampak seperti orang asing. Bahkan Meira juga, karena kita hanya akan mengenalnya setelah pengungkapan di babak akhir – untuk sebagian besar waktu kita akan exactly menanyakan pertanyaan yang sama: kenapa cewek pirang ini begitu peduli sama Roman. Kita diminta untuk ngikut aja sama cerita. Buatku, ini menjadi lumayan bikin frustasi. Sebab tokoh-tokoh yang udah kayak sahabat beneran ini, aku ingin kenal mereka lebih dekat, aku ingin bisa peduli sama mereka – lebih dari tertawa bersama dan bilang “aww they look so cute together”. Alih-alih itu, film malah seperti menudingku ‘salah sendiri enggak nonton serial tivinya’; kenapa nonton, film ini kan dibuat untuk penggemarnya.

Stranger Danger mungkin memang real, tapi setelah menonton film ini kita akan berpikir bahwa Stranger Danger sebenarnya adalah paradoks. Apasih orang asing itu? Kita melihat hubungan Roman dan Wulandari terancam ketika Roman didekati oleh orang asing, Meira. Dan cara menyelesaikan masalah yang ada ialah dengan mengenal Meira lebih dekat, menjadikannya sebagai teman. Orang asing dianggap  ‘berbahaya’ karena kita tidak kenal mereka. Pun, resiko itu tetap ada. Seperti saat Wulandari mendapat kesempatan untuk menjalin pertemanan dengan cowok asing yang ia temui di sana. Atau bahkan, saat sudah menjadi teman, bukan lantas membuat orang tersebut tidak akan membawa masalah. Ketakutan dan masalah dan resiko itu akan tetap ada, kita seharusnya tidak takut, karena semua yang akrab itu berawal dari sebuah keasingan.

 

Tayang dalam waktu berdekatan, gampang buat kita membandingkan film ini dengan Si Doel the Movie (2018); sama-sama dari serial yang berakar lebih jauh lagi, sama-sama berlokasi di Amsterdam, sama-sama cinta segitiga, sama-sama ada tokoh lucu yang bikin gerr suasana, sama-sama ada trope ngejar ke bandara. Tapi jika kita menilik ceritanya, Rompis sebenarnya dekat dengan film drama cinta yang menurutku underrated tahun ini; Eiffel I’m in Love 2 (2018). Roman mengingatkan kita kepada Adit di film itu; dia menggantung Tita karena merasa dirinya belum mapan untuk menghidup Tita. Roman juga berpikir seperti ini, dtimbah pula dengan kesadaraanya akan keadaan ekonomi keluarga. Aku sempat kagum juga, karena dia baru sembilan bulan jadi mahasiswa, dan udah berpikir ke depan. Namun, seiring cerita berjalan, Roman malah jadi kayak anti-thesis dari Adit. Bahkan filmnya sendiri ikut menjadi terasa seperti kebalikan dari Eiffel I’m in Love 2.

Roman diperlihatkan ingin belajar serius, karena dia terlalu mikirin LDR sehingga gagal dalam ujian. Aspek cerita ini menjadi layer buat karakterisasi Roman, tapi ke depannya layer ini seperti dilupakan karena cerita fokus ke cinta segituga yang tampak what you see is what you get. Ketakutan Roman tidak dibarengi dengan kelakuannya, dia masih tetap menghabiskan waktu dengan jalan ama cewek alih-alih belajar. Kita dengar dia mulai berpikir untuk meninggalkan puisi, tapi dia masih tetap menggunakan puisinya. Kita juga belajar bahwa cowok membuat daftar prioritas di mana poin terakhir adalah tujuan utama yang paling penting, namun kita malah melihat Roman seperti meninggalkan usahanya dengan langsung fokus ke poin goalnya. Tidak seperti Adit yang benar-benar menjadi tampak dingin dan jauh bagi Tita.

Rompis – Roman Pisican

 

Atau mungkin, lebih tepat disebut Rompis seperti versi kekanakan dari film tersebut. Meski si Tita childish begitu, Eiffel 2 sebenarnya kisah cinta yang menangani masalahnya dengan dewasa. Karena dewasa itu proses. Rompis, kontras sekali sikap para tokoh dari awal hingga akhir dengan pidato yang diucapkan Wulandari saat kelulusan SMA. Tidak ada sense pertumbuhan pada tokoh-tokohnya. Kita bahkan gak sempat tahu Wulandari kuliah di mana.

Film terlihat BERUSAHA KERAS TETAP TAMPIL SEBAGAI REMAJA; terbukti dengan banyaknya istilah kekinian kayak “lagi syantik” yang dishoehorn gitu aja masuk ke dalam cerita. Atau malah, ia tampak takut untuk menjadi dewasa. Mereka menyinggung soal Roman yang kepengen serius, namun follow upnya tidak pernah mencerminkan demikian. Seolah film sadar ceritanya jadi terlalu serius dan bergegas balik sebelum penggemarnya sadar dan protes para tokohnya berubah, enggak persis sama dengan di serial. Inilah masalah dari film adaptasi dari serial ataupun buku. Perlu untuk memberikan apa yang diinginkan oleh fans, tapi juga mestinya film ini ingat bahwasanya dia adalah lanjutan. Sedikit perubahan tentu bisa dilakukan dengan tidak mengganggu tujuan kenapa film ini dibuat. Roman bisa saja dibuat jadi menjauhi puisi, dia mungkin membuang buku puisinya, untuk kembali lagi kepada puisi karena dia sadar bukan itu yang sebenarnya harus ia lakukan.

Pun banyak aspek yang hanya dijadikan sebagai kemudahan. LDRnya yang jauh saja dibuat sedekat itu, dengan Wulandari bisa pergi dan pulang begitu saja. Alasannya; karena dia punya duit. Aku gak bisa lihat pentingnya lokasi ada di Belanda. Heck I mean, kenapa mesti jadi LDR toh Wulandarinya bisa mengunjungi sesuka hati. Kenapa mesti jauh-jauh – bikin beda kota sebenarnya juga bisa. Jadinya ya, konteks sama cerita yang eventually mereka hadirkan terasa enggak saling mendukung. Selain trope, film ini juga banyak menggunakan keanehan yang dimasukkan ke dalam cerita. Seperti kenapa anak pinter seperti Roman masih belum bisa bahasa Belanda padahal nyaris setahun belajar di sana. Ataupun timing kejadian-kejadian yang enggak add up dengan bener ke rentetan cerita.

 

 

 

Waktu sudah berubah, tokohnya melanjutkan fase kehidupan, namun ceritanya masih tetap bertahan di ranah remaja yang sama. Sungguh sebuah pilihan yang aneh untuk keputusan kreatif pembuatan film sedari awal. Film ini seperti melarang tokohnya untuk menjadi dewasa. Mereka ingin tetap menjadi remaja, jadi kita dapatkan cerita yang berfokus kepada masalah saingan cinta, walaupun sudah sempat menyinggung lapisan yang lebih dalam. Jika bukan karena chemistry dan penampilan para tokoh, film tidak akan semengasyikkan ini, bahkan sebagai film remaja. Tetapi paling tidak, dengan banyaknya trope dan elemen yang sama ama drama lain, film ini sudah berhasil live it up ke taglinenya; sebagai benar-benar sebuah picisan.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for ROMPIS.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

THE EQUALIZER 2 Review

“..the heart can balance out the mind.”

 

 

 

Meski bukan anggota X-Men yang terpuji, toh sebenarnya kita semua punya kepandaian masing-masing. Ada yang jago ngegambar. Ada yang cakap merangkai kata. Ada yang pinter ngeles. Molly Ringwald aja bisa makek lipstick dengan dadanya. Kepandaian alias keahlian khusus tersebut kita jadikan sebagai andalan, dalam bersosialisasi, dalam mencari kegunaan diri. Puncak kebahagiaan adalah kita menyadari kepandaian yang kita miliki dapat dijadikan sebagai sarana pengisi perut. Karena gak semua talent dapat ditukar dengan duit. Atau kalaupun bisa, uang yang dihasilkan bukan lagi tergolong uang baek-baek.

Kayak Robert McCall. Kita tahu dari film yang pertama 2014 yang lalu, kepandaian bapak ini adalah menghabisi nyawa orang setangkas dan seefisien mungkin. Dia beneran nyalain stopwatch di arlojinya sebelum mukulin orang, dan tak lupa mematikannya saat manusia yang ia pukuli sudah berubah bentuk menjadi seonggok daging yang penuh penyesalan dan rasa sakit. Keahlian matahin leher dan menggunakan banyak hal sebagai senjata berbahaya ia miliki berkat gemblengan keras semasa di agensi militer. Setelah ia keluar dari sana, tho, ia sadar kepandaiannya tidak banyak berguna untuk kelangsungan hidup sehari-hari. Orang-orang di sekitar McCall mestinya bersyukur, orang ini punya otak yang belum korslet dan hati yang masih lurus. McCall percaya di dunia ini ada dua rasa sakit; sakit untuk menghukum, dan sakit untuk mengubah-untuk menyembuhkan. Dan kali ini dia bertekad untuk sedapat mungkin memberikan kesempatan kepada bandit-bandit itu untuk merasakan sakit yang nomor dua.

Pada sekuel ini, McCall bekerja sebagai pengemudi Lyft; semacam ojek mobil online. Dia mengantarkan berbagai macam tipe orang. Dia actually meminjamkan telinga untuk mendengar curhatan mereka, bahkan kadang dia mencuri dengar percakapan beberapa dari balik setirnya. Ketika dia menemukan ada sesuatu yang enggak beres dengan pemesan ojeknya tersebut, saat McCall merasa ada sesuatu yang salah, maka lantas dia akan bertindak menyetir dengan tangan moral dan palu hakimnya sendiri sehingga yang salah-salah itu menjadi benar. Puncaknya adalah ketika satu-satunya temannya yang masih tersisa di dunia menjadi korban perbuatan orang-orang yang menjual kepandaian mereka demi uang, McCall tentu saja langsung mencemplungkan dirinya, lantaran semua menjadi personal. Terlalu personal.

lain kali hati-hati kalo ngobrol sama supir gojekmu

 

Jarang sekali menggarap cerita-cerita yang terasa pretentious, Antoine Fuqua ingin mengajak kita berbincang soal apa yang sebaiknya kita lakukan dengan pekerjaan yang kita bisa. Dan The Equalizer 2 ini sungguh adalah media yang menarik untuk membahas persoalan tersebut. Berbalut aksi brutal dan drama yang gritty – yang punya nyali mengingatkan dengan ancaman tudingan moncong pistol – The Equalizer 2 menyajikan maksudnya dengan sangat seimbang. Sama seperti tokohnya, McCall, yang berusaha menyeimbangkan dunia dari perbuatan buruk yang dilakukan orang-orang dengan perbuatan keji namun beritikad baik olehnya, film ini punya sekuen aksi sekaligus momen-momen karakter yang sama menariknya untuk diikuti.

Tak pelak, Denzel Washington akan membuat kita humble. Ada begitu banyak yang bisa kita pelajari darinya pada film ini. Penampilan aktingnya, mungkin kalian udah bosen membaca tentang betrapa legendnya Denzel Washington dalam setiap peran yang ia jajaki. Bagian terbaik The Equalizer 2 basically adalah dirinya,  kita seakan jadi pinter berakting melihat penampilannya di sini. Cara dia menampilan gesturnya, gimana aktor senior ini mentackle adegan-adegan aksi yang normally bukan ranah dia; menakjubkan. Sehingga aku pun  jadi lumayan menyayangkan, adegan pertarungan terakhir di film ini tampak seperti menyia-nyiakan dedikasi Wahington. I mean, duel satu lawan satu di tempat kosong itu tampak terlalu meta, membuatku susah percaya Wahington bisa melakukannya tanpa stuntman. Lagipula McCall yang sejauh durasi dua jam film ini hanya benar-benar menembakkan pistolnya satu kali, selebihnya ia menggunakan siasat, tampak sedikit di luar karakter dalam pertempuran di atas menara tersebut.

belum pernah kan diancem harus ngasih bintang-5 sama driver online? hhihi

 

 

Dalam cerita pun, tokoh ini akan memberikan wejangan gimana kita boleh saja mencari duit dengan bakat yang kita miliki, namun kita tetap butuh otak untuk membelanjakan duit tersebut. Salah satu elemen emosional dengan banyak sekuen mantap yang dipunya oleh film ini berasal dari hubungan McCall dengan cowok remaja yang tinggal di dekat apartemennya. McCall menjadi seperti figur bapak buat Miles yang masih menjadi jati diri. Miles ini hobi menggambar, ia menawarkan diri mengecat ulang tembok apartemen yang dirusak oleh grafiti berandalan. Tapi si Miles ini tidak percaya kemampuannya adalah hal yang paling baik yang ia lakukan. Lingkungan sosialnya memandang rendah pekerjaan melukis. Tidak normal menjadi seniman jalanan di sana. Duit dicari dengan jalur ‘kerjaan’ yang lain, dan Miles nyaris melangkahkan kakinya ke jalur tersebut. McCall semacam melarang anak tersebut, menggebahnya untuk mengambil pilihan yang benar-benar bermanfaat.

Untuk penyeimbang pikiran, dalam memberdayakan kemampuan, tentu saja kita memerlukan hati.  Keahlian dan kepintaran akan dengan gampang disalahgunakan jika kita tidak punya batasan moral yang bersumber dari hati. Itulah yang membedakan Robert McCall dengan orang-orang yang berkeahlian sama seperti dirinya dalam The Equalizer 2. Hati yang berada di tempat yang benar akan dapat memberikan kekuatan untuk melakukan hal yang benar, mengalahkan pikiran yang terkadang terlalu cepat menyimpulkan, terlalu tinggi dalam menilai, dan terlalu gegabah dalam mengambil keputusan.

 

Plot penceritaan film ini sebenarnya bisa dibuat lebih baik lagi. Struktur kejadian mungkin bisa diubah sedikit susunannya, karena terasa panjang sekali sebelum kejadian-kejadian di film ini terasa saling kohesif. Kejadian utama pada cerita adalah ketika ada kasus penembakan suami istri di Brussel yang dibuat seolah tindakan pembunuhan-dan-bunuh diri. Kasus ini menyeret McCall dan teman-temannya dan merupakan awal konfrontasi tokoh utama kita dengan masa lalunya. Hanya saja, sebelum sampai ke sana kita melewati banyak adegan-adegan yang tidak menambah untuk keperluan kejadian ini. Di awal-awal itu kita akan melihat gimana McCall membantu orang-orang yang ia antar. Seperti ada seorang kakek yang berusaha mendapatkan kembali lukisan kakaknya semasa kecil. Cerita kecil ini tidak melakukan apa-apa kepada permasalahan yang sebenarnya. Bahkan tidak banyak adegan aksi yang terlibat. It just takes a long time sebelum kita tahu ke arah mana sebenarnya narasi film ini melaju.

 

 

 

Melihat Denzel Washington menghajar orang-orang brengsek dengan brutal dan tanpa ampun, tangkas dan mematikan, adalah hiburan tersendiri. Melihat dia berinteraksi dan coba membantu orang-orang sebelum mereka terlanjur menjadi orang brengsek – walaupun trope orang dewasa berkoneksi dengan remaja sudah sering dilakukan, bahkan oleh film pertamanya – merupakan anugerah lantaran kita mendapat banyak dialog yang powerful. Sayangnya plot cerita tak sekuat penampilan akting maupun aksinya yang seimbang memuaskan. Mencegah film ini untuk menjadi terlalu memorable. It is a fine watch, tetapi butuh terlampau panjang waktu untuk benar-benar mulai nendang.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for THE EQUALIZER 2.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

KAFIR: BERSEKUTU DENGAN SETAN Review

“Don’t shake hands with the devil”

 

 

 

Mengabdi setan boleh jadi memang banyak untungnya. Prospek apa saja bisa kita dapatkan, semua masalah bisa sekejap dilenyapkan, tak pelak begitu menggiurkan. Tinggal datang ke dukun. Film garapan Azhar Kinoi Lubis yang biasa bermain di ranah drama ini berusaha mendramatisasi horror yang datang dari perihal dukun berdukun tersebut. Di dalam Kafir kita akan melihat satu keluarga yang dihantui oleh kekuatan tak terlihat yang bermaksud menghabisi satu persatu nyawa mereka, sebagai bagian dari skema grande sebuah balas dendam.

Ibu (Putri Ayudya dengan penampilan terbaik yang bisa kita saksikan dalam genre horror lokal) tidak mau lagi mendengar lagu kesukaan Bapak diputar di rumah. Ibu tidak mau memasak ayam gulai lagi. Belum empat-puluh hari sejak Bapak memuntahkan beling di meja makan. Arwah Bapak masih di rumah. Begitu kata Ibu. Ingin meyakinkan dirinya sendiri, lebih kepada meyakinkan anak-anaknya, Andi dan Dina, yang tak tahu apa-apa. Ibu yang hobi pake daster putih malam-malam ini ingin kejadian aneh yang ia lihat di rumah pasca kematian Bapak benar-benar disebabkan oleh arwah gentayangan, karena ia menyadari ada kemungkinan satu ilmu jahat sedang mengintai mereka dari balik derasnya hujan yang senantiasa mengguyur.

Jangan sekali-kali ke dukun, nanti disuruh nyari ayam hitam berbulu putih, bingung ente!

 

Suasana gelap dan sambaran cahaya kilat dengan efektif dimanfaatkan oleh film ini dalam mengeksplorasi gambar-gambar yang memancing bulu kuduk kita untuk berdiri. Akan ada banyak shot ketika kita berusaha melihat satu objek dalam pencahayaan yang minim dan kemudian sepersekian detik ruangannya terang oleh sambaran kilat. Efektif sekali membuat imajinasi kita melayang ke sudut-sudut tergelap yang bisa terpikir oleh kita. Suara-suara diegetic (yang didengar oleh para tokoh) akan turut membuat kita merasa was-was. Film ini pun dengan bijak tidak semudah itu menyalurkan rasa takut kita. Mereka menghimpun dulu untuk beberapa adegan. Kita hampir tidak melihat wajah seram dalam film ini. Hantu-hantunya hanya berupa bayangan-bayangan ganjil. Nonton Kafir, mestinya kita senang, karena film ini percaya kita bakal memperhatikan. Kengerian datang dari saat kita melihat , dan memahami konteks cerita.

Kafir punya gambar-gambar yang begitu memukau. Entah itu pemandangan pepohonan dari sudut rendah, maupun close up dua tokoh yang lagi berbincang dengan tegang. Semua gambarnya mengundang kita untuk masuk ke dalam dunianya. It is unfortunate, tho, karakter film ini tidak dirancang sebagai sinematografinya. Tokoh utama dalam cerita ini adalah Ibu, namun seolah ada tembok yang dibangun untuk mencegah kita menyelami pikirannya.  Disantet, tidak tahu dari siapa, seharusnya adalah pengalaman yang menyeramkan. Tapi kita hanya takut demi si Ibu Sri. Kita tidak takut bersamanya. Karena cerita membutuhkan sebuah pengungkapan, siapa Sri, bagaimana cara pikirnya, kita tidak diberikan kesempatan untuk mengetahui ini hingga akhir cerita. Mungkin jika ditonton dua kali, kita bisa lebih menikmati, karena kita jadi tahu bahwa Sri ini sebenarnya punya dugaan – dia enggak sehelpless yang terlihat. Sri punya rencana sendiri untuk melawan balik. Tapi sebagai tontonan pertama, kita akan merasa seperti tamu yang diundang masuk ke rumah, lalu diabaikan. Tidak ada yang bisa kita ikuti.

Bersekutu dengan setan itu gak mesti jauh-jauh pergi ke dukun dulu. Ungkapan tersebut sebenarnya berarti jika kita melakukan sesuatu yang jahat, kita akan menunai hasil yang tidak baik pula. Dengan berbuat jahat, praktisnya kita sama saja seperti setan – atau paling tidak, berteman dengannya. Apa yang terjadi pada tokoh film ini adalah buah dari perbuatannya di masa lampau. Karena kita tidak akan bisa lari dari konsekuensi setiap perbuatan yang kita kerjakan.

 

 

Tokoh Dina yang diperankan oleh Nadya Arina mestinya bisa dijadikan karakter utama. Kita lihat dia suka baca novel detektif. Dia tertarik sama misteri, ia tidak menutup diri pada klenik. Tidak seperti abangnya yang punya karakter begitu tak tertahankan; keras kepala gak jelas. Yang satu suka misteri, yang satu percaya pada dokter. Tapi tidak satupun dari mereka yang melakukan hal yang masuk akal. Kenapa tidak ada yang berpikir untuk membuang beling, misalnya. Dina dan Andi adalah contoh dari karakter yang terkungkung oleh narasi. Mereka punya sifat namun aksi dan keputusannya sengaja dihambat-hambat untuk kepentingan twist di akhir cerita. Like, kalo mereka benar-benar bertindak seperti sifat mereka, cerita pastilah sudah maju karena seseorang akan ketahuan lebih cepat. Kita actually akan melihat Dina menelusuri misteri masa lalu keluarga bak detektif, mengunjungi tempat-tempat yang ia dapat dari petunjuk-petunjuk. Hanya saja kita tidak mecahin misteri bersamanya. Kita bahkan tidak melihat semua  apa yang ia lihat, ada yang disimpan untuk bagian pengungkapan di akhir.

Twist film ini sebenarnya ditulis dengan bagus, ia ditanam sedari awal. Twist itu bukan semata karena gak bisa kita tebak, tapi twist adalah satu-satunya kelokan yang bisa diambil oleh cerita. Kafir paham bahwa twist perlu dibangun terlebih dahulu, enggak lantas belok saja di akhir. Masalahnya adalah untuk sampai ke pengungkapannya film terpaksa mengorbankan banyak.

Salah, Andi! Lebih tepatnya adalah “Jadi selama ini kamu…kakakku!!”

 

Ketika seseorang dipercaya kafir, warga yang lain pun akan menjauhi sampai-sampai mayatnya pun ditolak untuk dikuburkan bersama dengan pemakaman warga yang lain. Elemen ini sebenarnya menarik. Film bisa bicara toleransi, kesempatan untuk meninggalkan zona hitam-putih, tapi film dengan lantas berpaling. Elemen ini hanya menjadi afterthought, karena dijatuhkan kepada seorang dukun di desa tempat tinggal mereka. Tokoh yang benar-benar minor karena dianggap sebagai sosok ‘mentor’ buat tokoh utama pun, si dukun ini enggak nyampe penulisan tokohnya. Meski begitu Sudjiwo Tedjo memainkannya dengan sangat over-the-top. Ah, itulah kata yang cocok untuk menggambarkan film ini. Over-the-top. Lebay. Tokoh antagonisnya pun nanti akan berubah bersikap over, mereka lebih kayak orang gila daripada orang yang mau balas dendam.

Sumbernya memang pada arahan. Film bermaksud subtil dalam menakuti. Kita dapatkan gamabr-gamabr kayak noda di atap yang paralel dengan memar di betis Sri. Namun kita juga masih mendapati fake jumpscare kayak orang dikagetin oleh tokoh lain yang bukan hantu. Kalo ada yang bilang film ini gak ada jumpscare, itu semata karena fake jumpscare pada film ini beneran enggak seram.  Kita dianugerahi gambar-gamabr keren yang menambah bobot cerita, namun masih ada juga shot yang dilakuan dengan sedikit di luar kebutuhan. Aku  gak tau apa memang ada maksud subtil tertentu, tapi adegan ngobrol di meja makan bersama pacar Andi di awal-awal itu membingungkan sekali untuk dilihat. Kamera ditaruh di dua titik tengah (antara satu tokoh dengan tokoh lain), kita melihat keempat orang ini kayak melihat dari titik tengah X yang diposisikan  horizontal. Kemudian kamera berpindah-pindah gitu aja di antara dua titik tengah tersebut, membuat mata kita bekerja ekstra terus mencari siapa sekarang sedang berbicara.

Gestur di opening begitu mengganjal buatku hingga aku mengetik ulasan ini. Mengganjal karena tampak ganjil. Yaitu ketika si Bapak berusaha mengeluarkan beling dari tenggorokannya. Coba ya, apa yang kita lakukan kalo lagi tersedak, mencoba mengeluarkan sesuatu dari mulut? Secara normal kita akan membungkuk, menjulurkan leher ke depan. Orang yang melihat mungkin akan datang menepuk punggung kita. Tapi Bapak dalam film ini justru menengadah kayak pesulap di sirkus yang sedang menarik pedang dari tenggorokan dalam sebuah atraksi nelan pedang. Bukannya kalo bendanya gak dipegang, benda tersebut akan tertelan ya, kalo dibawa menengadah? Ini penting buatku karena saat melihat adegan ini, aku otomatis menganggap si Bapak sedang melakukan sebuah trik. Like, dia sebenarnya gak sakit bahkan mungkin dia penjahatnya. Tapi kan enggak. Dampaknya ini membuat filmnya agak gak meyakinkan buatku.

Kalian tahu, film ini punya satu adegan lebay ultimate yang bisa dimasukin sebagai adegan klasik khas cult horror movie; Andi menendang tokoh jahat yang kembali hidup dengan tubuh penuh kobaran api. Laughable banget, tinggal tambah punchline kata-kata cheesy aja tuh! hihihi

 

 

 

Mengecewakan cerita filmnya tak digarap sebaik gambarnya yang bagus-bagus. Penampilan para pemain terbilang oke, hanya arahannya saja yang entah kenapa mengincar titik over-the-top. Aku ingin percaya film ini lebih baik daripada Pengabdi Setan (2017) yang dipuja-puja. I want this film to be good, ceritanya udah nutup dan segala macem. Tapi enggak. Jatuhnya malah menggelikan. Seramnya subtil, namun pada akhirnya hanya akan dikenang sebagai perang santet dengan dukun dan ilmu-ilmu yang lebay.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for KAFIR: BERSEKUTU DENGAN SETAN.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

SI DOEL THE MOVIE Review

“The things we’re most afraid of are actually the things we want the most”

 

 

 

Katenye,
Film Indonesia ketinggalan jaman.

Katenye,
Film Indonesia gak berbudaye.

Aduh sialan, ni Si Doel anak betawi asli filmnya juga jalan-jalan!

Eits, jangan salah.

Meskipun ceritanya memang tentang si Doel yang pergi ke Amsterdam, namun film ini  really really hits us home hard; tidak akan sekalipun emosi kita terbang ke mana-mana berkat kuatnya eksplorasi karakter yang manusiawi, yang juga menunjukkan budaya dan bagaimana manusia harus menyeleraskan diri dengen perkembangannya. Si Doel adalah drama yang menyenangkan, yang paham seberapa jauh mesti mengambil dramatisasi.

Bicara mengenai kepentingannya untuk eksis, kenapa sih harus banget ada filmnya – kenapa harus sekarang, setelah bertahun-tahun; tentu saja ada kepentingan uang. Namun lebih daripada itu, film Si Doel ini akan sangat penting bagi penggemarnya, karena menawarkan sebuah konklusi yang selama ini dinanti. Sebuah penutup yang juga bisa dijadikan oleh pelajaran buat sebagian besar penonton, lantaran apa yang dialami oleh tokoh-tokohnya sungguh adalah hal yang mendasar, yang bisa direlasikan oleh setiap jiwa yang pernah merasakan beratnya dilema hubungan cinta.

Dunia si Doel sebenarnya sudah dibangun sejak 1970an. Namun bagi yang gede di tahun 90-an, umumnya kita mengenal Doel dari serial televisi. Karakter-karakternya yang sederhana, penuh dengan komentar dan permasalahan yang dekat sehingga terasa luar biasa lucu dan menyenangkan, permainan akting yang gak lebay. Sinetron si Doel kerap diungkit kalo ada yang lagi ngomongin betapa hancurnya acara televisi sekarang ini. Bahkan generasi kekinian yang baru melek, sedikit banyaknya tahu tentang karakter-karakter dalam serial ini melalui video-video meme potongan adegannya di sosial media. Film ini pun merupakan kelanjutan dari episode televisinya. Aku sendiri gak bisa ngomong banyak soal sinetronnya, karena aku gak ngikutin sampe bener-bener episode terakhir. Malahan, jujur, aku gak nonton acara tersebut karena si Doel. Si Tukang Insinyur ini sedikit terlalu kaku. I find Doel dan masalah cintanya dengan Zaenab dan Sarah lumayan boring. Aku malah tertarik ngeliat Mandra, Mas Karyo, Atun, dan karakter-karakter lain.

Does Doel ever have fun?

 

Di film pun seperti demikian. Doel begitu driven, seperti namanya yang berarti tujuan dalam bahasa Belanda. Kerjaannye Sembahyang dan mengaji juga turut ditampakkan dalam cerita. Doel bukan karakter yang sempurna, dia ‘cacat’ karena sudt pandangnya yang ‘primitif’. Bahkan saat nonton film ini pun, aku ngarep Mandra yang jadi tokoh utama. Dia pamit ama Mak Nyak, disuruh supaya jangan malu-maluin si Doel nanti di Amsterdam, I was like, nah itu bisa jadi landasan stake yang bagus; Mandra nanti susah menahan diri di sana, dia juga harus ‘menjaga’ Doel. Karakternya akan mentok ama si Doel yang kaku selama mereka bersenang-senang di Belanda. Aku akan senang sekali menyaksikan komedi fish-out-of water Mandra di Belanda. Tapi tentu saja enggak, karena Si Doel adalah film drama. Ceritanya tetap tentang si Doel, yang kini sudah menikah dengan Zaenab. Doel dipanggil ke Belanda oleh Hans yang katenye mau ngasih kerjaan. Dan berangkatlah Doel bersama Mandra (Atun gak diajak, menjadi hiburan tersendiri buat Mandra hihi), dengan wanti-wanti dari Mak Nyak: Doel gak boleh nyari Sarah. Setengah bagian pertama, film ini akan sok mengenai alas an di balik undangan Hans – kita akan bolak-balik ngeliat Doel yang berusaha santai di Belanda dengan Zaenab yang berusaha biasa aja ditinggal di rumah. Meskipun kita semua tahu pasti, Sarahlah orang di balik pergerakan Doel. Ketika di pertengahan akhir mereka bertemu, barulah konflik cinta yang menarik-narik hati kita itu dimulai.

Aku gak pernah tahu siapa yang akhirnya dipilih oleh si Doel, tapi film ini berhasil menerangkan garis besar apa yang terjadi di luar bingkai cerita ini. Penonton yang belum pernah nonton si Doel sekalipun bisa dibuat mengerti oleh beban yang dialami. Paham sama kondisi Doel-Zaenab-Sarah sebagai triniti drama. Buatku, apa yang mereka alami memang sungguh posisi yang berat. Keputusan yang harus dilakukan oleh Doel dalam situasi ini sungguh berat. Apa yang kudapat dari informasi cerita adalah bahwa Sarah, 14 tahun yang lalu, ninggalin Doel untuk mengetes sang suami. Tetapi Doel tak tahu harus mencari ke mana, jadi dia tinggal, dan menikah dengan Zaenab. Selama bertahun-tahun tersebut, ketiganya hidup dengan alasan karangan di kepala masing-masing; mencari pembenaran atas tindkaan yang mereka lakukan, berharap ketakutan mereka itu semua tidak terwujud. Sungguh menyedihkan, hidup dengan hati yang berat seperti demikian.

Takut adalah perasaan saat kita dapat mengenali apa yang kita inginkan, dan pada gilirannya, mampu mengidentifikasi apa artinya saat kita kehilangan sesuatu tersebut. Jadi kita membangun system pertahanan sendiri. Kita mencoba melindungi diri dengan menjadi pasif terhadapnya. Doel takut bertemu Sarah, karena dia tahu mereka tidak akan bisa bersama lagi – tapi dia mau mereka tetap bersama. Zaenab takut Doel bertemu dengan Sarah, karena dia tahu dia tidak akan bisa menolak Doel yang ternyata bisa saja lebih bahagia bersama Sarah. Hanya Sarah yang berani menantang ketakutannya, Doel dan Zaenab mestinya berterima kasih terhadap Sarah yang udah kayak malaikat pelindung buat mereka.

 

 

Aku juga gak tau bakal ngomong apa kalo ada yang memberi nama anak mereka dengan namaku selain “aku minta maaf”

 

 

Si Doel tahu bagaimana meremajakan ceritanya dengan tetap memberi hormat kepada penonton yang datang untuk bernostalgia. Seger ngelihat Mandra masih punya ‘lawan’, dia kirimkan foto selfie dan jalan-jalan ke Atun lewat hape, sekaligus ngatain Doel yang gak semangat ngapa-ngapain. Interaksi-interaksi kecil kayak Mandra dengan opletnya, Atun dengan anaknya hobi main ke warnet (mirroring dulu si Atun dimarahin karena kebanyakan maen layangan), atau bahkan kedatangan Koh Ahong bertemu Zaenab; aku senang kita dapat momen kayak gini. Adegan Mandra makan, wuiiihh legend banget deh. Aku masih ingat setiap kali adegan Mandra makan di tv, mamaku pasti langsung ngambil nasi dan ikut makan. Dia kebawa laper padahal yang dimakan Mandra tak jarang tempe ama nasi putih doang. Benar-benar mengikat ke cerita yang dulu. Membuat kesan bahwa para tokoh tersebut juga turut hidup sepanjang waktu, mereka tidak diam di tempat. Beberapa adegan mungkin terbatas karena kemampuan pemainnya yang sudah enggak muda lagi (cepat sembuh, Mak Nyak~), tapi adegan-adegannya berhasil menunaikan maksud. Aku pikir aku gak perlu ngomong banyak tentang permainan peran para tokohnya; Rano Karno, Mandra, Maudy Koesnaedi, Cornelia Agatha, Aminah Cendrakasih, Suti Karno, tidak ada yang perlu diragukan lagi; masing-masing mereka merasuk ke dalam peran legendarisnya. Membuatku berharap seandainya semua pemain serialnya masih hidup, dan kita dapat melihat mereka sekali lagi – kali ini di layar lebar.

Setelah waktu berpisah yang begitu panjang, aku heran juga kenapa film ini dibuat begitu pendek. Enggak lebih panjang dari sinetronnya di televisi (tapi mungkin itu karena di tv banyak iklan). Ada banyak yang mereka cuma tunjukin, dan gak benar-benar berarti lebih dalam seperti anak si Atun dan kedatangan Koh Ahong tadi. Aku gak tahu, mungkin mereka memang merencanakan membuat film Si Doel lebih banyak lagi, dan film ini hanya bertindak sebagai perkenalan, tapi itu adalah alasan jualan paling klise untuk nutupin kekurangan penulisan.

Salah satu momen kunci adalah ketika Doel bertemu dengan anaknya, Dul, yang kini sudah berusia lima-belas tahun. Mungkin bagian dari keputusan kreatif filmnya untuk tidak terlalu dramatis, katakanlah seperti di film-film Hollywood, di mana kita melihat seorang bapak yang berusaha konek dengan anak yang tidak pernah ia kenal. Tapi tetap buatku, ini adalah kesempatan yang dilewatkan. Interaksi antara Doel dengan Dul sangat terbatas. Anak remaja usia segitu semestinya sudah punya pemikiran sendiri, karakternya mestinya bisa ditulis dengan lebih baik dibandingkan dengan hanya sekedar ada sebagai alat naskah. Bahkan jika memandang dari sudut meremajakan pun, Dul mestinya bisa dijadikan penarik anak remaja untuk menonton film ini. Maksudku, jika memang berniat untuk bikin kelanjutan sekalipun, kenapa tokoh-tokoh baru di film ini terasa seperti sayur asem yang dimasak oleh Sarah; kurang diperhatikan.

 

 

Katenye, drama itu berhasil kalo bikin penontonnya kebawa perasaan. Dalam tingkatan tersebut, film ini berhasil banget. Kita tidak pernah sedetikpun dibuat merasa jauh sama tokoh-tkokhnya, sama apa yang mereka rasakan. Pada akhirnya memang menyesakkan hati, sekaligus juga memuaskan. Lantaran ceritanya sendiri benar-benar tertutup rapat, meski bukan tidak mungkin dibuat kelanjutannya. Dalam melakukan hal tersebut, film ini bukan hanya terasa singkat, melainkan memang pendek sekali. Bukan lantas jadi kekurangan atau jelek sih, hanya saja aku berharap mereka menggali lebih banyak. Paling enggak konfliknya bisa dibuat datang lebih cepat. Ada bagian-bagian, tokoh-tokoh, yang mestinya bisa dikembangkan lebih jauh, tapi film memilih untuk tidak melakukannya. Dan kita hanya bisa berkate-katenye membayangkan alasannya.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for SI DOEL THE MOVIE.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

AIB #CYBERBULLY Review

“You never look good trying to make someone else look bad”

 

 

 

 

Sharing bukan lagi disebut caring jika yang disebar itu adalah cela dari orang lain. Karena saat kita membeberkan keburukan orang, yang ada hanyalah betapa kita mempedulikan diri sendiri.

 

Hanya orang-orang paling insecure sedunialah yang merasa wajib untuk membuktikan diri mereka hebat, maka mereka akan melakukan segala cara. Kebetulan, cara paling gampang adalah menertawakan orang lain; mempermalukan orang di depan umum. Sayangnya, remaja termasuk ke dalam kategori ‘orang-orang paling insecure’ ini; remaja dapat dengan mudah dan tanpa beban mentertawai orang demi popularitas, tanpa mau peduli bahwa mereka baru saja merendahkan makhluk yang berperasaan. Jarang sekali ada remaja yang mau memikirkan bahwa melakukan hal tersebut bukan hanya tidak ngefek apa-apa terhadap kebaikan dirinya, melainkan juga membuka kesempatan bagi orang untuk menyerang balik dirinya, dan lingkaran setan itu akan terus berulang. Hingga seseorang literally terluka.

Sarah dan delapan sohibnya tidak lebih dalam berpikir selain tentu lucu jika seluruh sekolah mengetahui rahasia yang tak-boleh disebut teman mereka yang bernama Caca. Jelas sekali, mereka tidak merasa apa-apa. Kenyataan toh berkata lain. Caca bunuh diri loncat dari lantai dua sekolah, tepat saat Sarah cs bergrup-selfie ria. Kita kemudian akan ngeskip waktu satu tahun kemudian, di mana Caca masuk ke dalam grup video chat Sarah and the genk yang sekarang sudah mulai kuliah dan berkarir sendiri-sendiri; memaksa mereka untuk memainkan permainan maut yang kira-kira berjudul Buka Aib atau Mati dalam rangka merayakan anniversary kematiannya. Aku memang agak mixed soal banyak cerita jaman kekinian yang membuat tokoh hantu yang simpatik kayak gini; mereka dibully hingga meninggal bunuh diri alih-alih terbunuh, dan balik menuntut balas sebagai hantu. Menurutku elemen ini seolah berpesan bunuh diri dapat membuat keadaan menjadi lebih baik. Adalah tanggung jawab film atau ceritanya sendiri buat melandaskan dengan tegas bahwa ‘hantu’ di sini adalah perumpamaan simbolis bahwa pelaku bully sejatinya tidak akan pernah sepenuhnya merasa tenang, rasa bersalah itu akan terus menghantui hingga ke titik mereka menghancurkan diri mereka sendiri.

Music video This is America dengan tepat membuktikan kritikannya

 

Keuntungan dari menyontoh sesuatu adalah kita jadi punya kesempatan untuk menjadi lebih baik dari yang dicontoh. Misalnya di sekolah, sering kan ada murid yang dapet nilai lebih tinggi dari nilai orang yang ia contek. Lantaran saat menyontek, dia harus improvisasi biar gak ketauan ama guru. Nyontek matematika, dia tinggal nyatetin jawaban yang benar dengan rapi, kertas jawabannya gak mesti penuh coretan kayak si rangking satu yang sempet salah hitung dua kali sebelum menemukan rumus yang benar. Aib #Cyberbully paham betul tiap jengkal kekuatan sekaligus kekurangan yang dimiliki oleh Unfriended (2015). Film garapan Amar Mukhi ini mencoba keras untuk mengungguli thriller misteri yang konsepnya menampilkan perspektif layar laptop tersebut.

Unfriended adalah film yang secara mengejutkan menyenangkan buatku. Film itu bercerita dengan pinter dan sungguh orisinil. Aku terkesan sekali dengan Unfriended. Makanya, begitu tahu ada film Indonesia yang mendaur ulang konsep penceritaannya, aku toh jadi penasaran juga. Semua poin kelemahan film yang kutulis dalam review Unfriended, well, Aib #Cyberbully seolah berusaha untuk memperbaikinya. Delapan tokoh sentral yang nantinya bakal dibully sama hantu kali ini diperlihatkan keseharian mereka, kita actually akan melihat mereka lagi ngapain sebelum chatting, sebagai upaya untuk melandaskan karakter dan memberikan kesempatan untuk mengenal mereka lebih dalam. Untuk kepentingan itu pula, Aib menginkorporasikan berbagai variasi shot. Membuat jurang pemisah pada konteks dua film ini; Unfriended bermain di ranah kengerian anonimitas pada internet – makanya kita tidakdibawa masuk mengenal karakter-karakter dengan lebih dalam, sedangkan Aib lebih kepada setiap orang punya rahasia, dan mengeksploitasi rahasia mereka tidak akan membuat kita menjadi orang yang lebih baik.

Anonim benar-benar ditonjolkan dalam Unfriended, maka kita melihat sekuen ketika tokohnya mencoba mengontak sembarang orang. Berusaha mencari bantuan. Pada Aib, kita tidak pernah mendapat sense mereka mencari pertolongan, yet aspek ‘teman menjadi saling menghujat’ benar-benar dinaikkan volumenya hingga maksimal. Menit-menit terakhir akan penuh dengan sumpah serapah di mana para tokoh saling berteriak, menghakimi yang aibnya kebuka, mengutuk yang sudah membuka aibnya, to the point ada salah satu dari mereka tidak lagi menjadi sedih saat ada teman mereka yang mati. Bagian ini mungkin too much buat sebagian orang, but it was needed dan menjadi poin drama dan konflik terkuat yang dimiliki oleh film. Film tidak lagi begitu cheesy, para pemain pun tampak mendeliver emosi dengan tepat. Pada delapan tokoh tersebut dibebankan masing-masing tiga aib, yang merupakan adalah cara film ini menunjukkan kerelavanan dengan isu-isu perihal kehidupan sosial anak muda yang dapat dijumpai di sekitar kita.

Tema cyberbully sudah ada, paling enggak sejak tiga tahun yang lalu. Film ini mengangkatnya lagi. Dan masih terasa sangat relevan. Ini menunjukkan betapa sosial anak muda di dunia maya memang belum sembuh dan cukup mengkahawatirkan.

 

Ada waktunya ketika denyut per denyut film ini persis sama dengan Unfriended, dan ini otomatis menjadi momen-momen yang paling menjemukan buatku.Karena aku gak ngerti kenapa adegan di Unfriended juga mesti diadain pada film ini. Ada banyak elemen yang mestinya bisa diganti atau dihilangkan saja sama sekali. Mulai dari topik chat mereka – gimana kedelapan orang itu terlibat – hingga phrase “byeee (baaa-iiiii)” sama persis. Kompakan nunjukin tangan ke layar supaya jadi bukti chat dari hantu itu bukan ulah hack salah satu dari mereka, mestinya bisa diganti dengan, maybe, mereka dibuat kompakan untuk menjauh dari layar. Dan adegan saling menggoda buka baju di film ini, entah kenapa dibuat begitu panjang.Aku paham sedari Unfriended pun adegan ini dari perspektif penulisan karakter penting untuk menunjukkan bahwa tokoh utama kita memang punya habit untuk berahasia; bahwa dia melakukan sesuatu yang secara moral kurang bener. Bahwasanya setiap orang punya sisi personal yang enggak semua orang diijinkan melihat, bahkan sahabat sekalipun. Yang aku gak mengerti ialah kenapa Aib begitu mengekstensi adegan ini, padahal sebelumnya mereka sudah menunjukkan bahwa mereka punya sisi lain untuk digali. Maksudku, daripada sepuluh menit ekstra chat privat di kasur, bukankah akan lebih baik jika waktunya digunakan untuk set up hal yang lain; perpanjang sedikit bagian waktu mereka masih SMA, misalnya.

mereka juga harusnya mengganti sosmed, karena… SIAPA YANG MASIH PAKE FACEBOOK DAN SKYPE HAREGENEE!!?

 

Kemunculan hantu adalah poin vokal yang digunakan film ini sebagai pembeda utama. Kita benar-benar melihat wujud hantunya muncul di layar laptop Sarah, kita melihat bagaimana dia tepatnya membunuh satupersatu, membuat Sarah menyaksikan semuanya. Tentu, hantu adalah cara paling efektif untuk membuat film kita diterima oleh banyak penonton di sini. Hantu dapat sangat menyeramkan jika ditangani dengan benar. But mainly, hantu di film ini digunakan untuk jumpscare yang tidak menyisakan ruang banyak buat imajinasi penonton. Imbasnya adalah adegan kematian yang menyertai kemunculan si hantu jadi berkurang kengeriannya – juga tidak menolong gimana setiap kematian dioverlook dengan segera begitu saja oleh para tokoh lain. Malah ada kematian yang kelihatannya enggak sakit, I mean, badan dililit kabel headphone? Nanggung sekali – kenapa tidak dibikin talinya nyekek leher aja, impresi yang dihasilkannya bakal lebih gede.

Kebayang sih, bikin film yang bercerita lewat video chat ini butuh usaha ekstra. Editing dan kesinambungan harus benar-benar diperhatikan. Aib #Cyberbully pun tahu apa yang harus mereka lakukan buat mengimbangi konsep yang sudah ada, paling enggak audionya benar terasa sesuai arah. Namun polesannya terasa terlalu banyak. Jaringan internet Indonesia tampak begitu kuat dibandingkan internet anak-anak di film Unfriended.Kesan real jadi berkurang. Unfriended menggunakan interface platform chat yang dibuat sesuai aslinya, lengkap sampai ke glitch suara dan gambar yang hadir di momen-momen random. Kadang gambarnya patah dan suara merekakeluar padahal gambarnya gak gerak. Sesuatu yang kita alami saat berkomunikasi video di dunia maya. Pada Aib, glitch digunakan untuk menyensor kata dan gambar yang ‘dewasa’. Tampilannya yang lebih variatif adalah hasil kerja editing, yang kadang membuat kita suspend our belief soal konsepnya. Misalnya, jumlah aib yang ditampilkan di window chat seolah itu adalah hitungan nyawa mereka; kita tidak akan dapat itu kalo ngeskype. Unnecessary, gak emnyeramkan, selain untuk memaparkan kepada penonton.

Kalo mau ngenitpick di luar perbandingannya dengan Unfriended, kita bisa mulai mengomentari dari kenapa ada cowok seragam SMA yang rambutnya gondrong. Tadinya kupikir ini akan dikaitkan sebagai salah satu aib atau apa yang berhubungan dengan statusnya, tapi enggak. Jikalau pemainnya menolak pangkas pun, sebenarnya bisa dengan gampang ‘disembunyikan’ dengan membuatnya memakai topi. Kemudian ada juga bingkai foto yang berubah dari satu shot ke shot berikutnya yang terlihat jelas. ‘Glitch-glitch’ kecil kayak gini sebenarnya bisa dikurangi jika saja film tidak terlalu focus ke usahanya membuat sesuatu yang lebih baik dari konsep yang mereka tiru.

 

 

Menyadari pentingnya pesan yang berusaha ia sampaikan demi dunia remaja, film mengambil langkah yang enggak nanggung-nanggung. Dengan berani menyandingkan diri dan berusaha membuat lebih dari Unfriended. Bahkan film ini dengan berani memberikan gratis satu tiket untuk setiap pembelian satu tiket kepada siapa saja hingga empat hari setelah penayangan perdana. Film ini mengeluarkan usaha yang ekstra karena film seperti ini tidak gampang dibuat. Bagi penonton awam, anak-anak muda yang menjadi targetnya,film ini punya semua yang mereka cari ketika mau nonton film horror. Yang perlu diingat adalah film ini bisa menjadi sangat vulgar dan kasar untuk konsumsi mereka, it really doesn’t hold back. Aku malah lebih suka jika tanpa sensor. Namun bukan hantunya yang menjadi horror buat penonton yang sudah punya banyak referensi, melainkan kenyataan bahwa mereka harus melihat berbagai hal yang sudah pernah dilakukan dengan lebih meyakinkan sebelum sampai ke bobot drama yang jadi topik utama cerita.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for AIB #CYBERBULLY

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

MISSION: IMPOSSIBLE – FALLOUT Review

“To hope is to gamble”

 

 

 

Sebuah rencana pembunuhan massal. Dobel agen, dan mungkin lebih. Tiga bom nuklir. Jikalah hal-hal; tersebut merupakan aba-aba “satuuu.. duaaa.. tigaa” sebelum lomba lari, maka Mission: Impossible ini adalah peserta lomba yang seketika berlari paling kencang selepas hitungan tersebut selesai diucapkan penjaga garis start.

Toh, pelakon protagonis dalam film ini memang berlari dengan waktu. Ethan Hunt dan rekan timnya yang sudah kita kenal baik – ini adalah seri keenam dalam franchise Mission: Impossible – harus bertanggung jawab setelah satu misi yang mereka emban, gagal total. Kompas moral Hunt, juga bagaimana dia kerap mengkhawatirkan keselamatan orang-orang yang ia cintai, akan menjadi ‘kelemahan’ yang ditantang kembali oleh film ini. Hunt akan dibenturkan dengan karakter yang tidak segan-segan untuk melibatkan ‘pihak tak bersalah’ demi kesuksesan misi. Tom Cruise dan Henry Cavill benar-benar tampak seperti  dua imej yang berlawan; dengan sosok Cavill menjulang sebagai sesuatu yang dulu adalah milik Cruise. Di bawah situasi yang terus menekan dan stake yang bergulir semakin besar, Hunt akan berusaha untuk membuktikan bahwa harapan adalah strategi terbaik yang bisa dipertimbangkan oleh manusia dalam berjuang.

Di dalam dunia penuh tipu muslihat, sedikit nurani sangat patut untuk dihargai. Kemanusiaan adalah harapan. Sudah semestinya kita bergantung kepada rasa untuk saling melindungi, saling memperhatikan, tidak peduli betapa kacau dan peliknya situasi. Jika dunia adalah perjudian, maka bertaruhlah pada harapan.Berbahaya, memang, apalah hidup tanpa menempuh resiko, kan?

 

Dan bicara soal berlari; Film ini akan membuat film-film aksi lain tampak seperti balita yang baru bisa berjalan. Aku enggak melebih-lebihkan. Kamu-kamu yang ngasih Buffalo Boys (2018) nilai 8 karena kalian bilang aksinya bagus, harusnya memberikan nilai 20, bahkan lebih, untuk Mission: Impossible – Fallout. Sebab ini adalah salah satu film aksi terbaik yang pernah aku tonton. Aku tidak pernah semenggelinjang ini menyaksikan sekuen-sekuen aksi sejak Mad Max Fury Road tahun 2015 yang lalu. Usaha film ini untuk menyuguhkan aksi laga yang benar-benar real luar biasa kuat dan keras. Porsi-porsi laga di film ini semuanya dirancang dan dikerjakan dengan matang dan penuh perhitungan. Bukan saja segi koreografi,  sudut pengambilan gambar; perspektif sinematografinya pun benar-benar digarap dengan cermat. Banyak sekali momen-momen tak terlupakan. Menakjubkan sekali gimana film ini seolah menantang diri untuk mengungguli adegan demi adegan. Membuat kita hanya bisa melongo di tempat duduk, berdecak kagum “gila, kok bisa ya!”

Setiap adegan aksi, entah itu berlari di jalanan maupun kejar-kejar di helikopter, semua tampak seperti versi terbaik dari apa yang mungkin untuk mereka capai. Maksudku, kalo kalian pengen bikin adegan kejar-kejaran di sekeliling kota, bikinlah aktornya benar-benar melakukan dengan kakinya sendiri. Tak pelak, sulit sekali kita bakal menemui tokoh yang total seperti Tom Cruise. Dia nekat melakukan semua tindak ekstrim yang tertulis di dalam naskah itu sendiri. Dia bergelantungan di helikopter. Dia terjun paying dengan ketinggian yang relatif rendah. Fakta menarik yang dibeberkan sebagai penghantar rilis film ini adalah Cruise melakukan aksi meloncati gedung, sampe kakinya beneran patah sehingga suting terpaksa ditunda beberapa waktu.  Dedikasi yang luar biasa. Hasilnya memang yang kita saksikan di layar itu menjelma menjadi stunt yang mencengkeram total karena kita dapat melihat adegannya sungguhan terjadi. Dan tentu saja, semua adegan aksi itu dieksekusi dengan sama luar biasanya.

Set piece dan semuanya dirancang untuk bikin kita terpana. Kebanyakan film lain akan terpojok dan menggunakan CGI untuk adegan-adegan sulit nan berbahaya, utilizing banyak teknik cut dan segala macem. Adegan Hunt naik sepeda motor dikejar-kejar di jalanan kota Paris;  Cruise tidak beraksi di depan green screen, dia tidak digantikan oleh stuntman – film lain akan membuat tokoh ini pakai helm hanya supaya wajahnya enggak kelihatan, tapi tidak buat Tom Cruise. Dia tidak mengenakan helm. Tidak pula kepalanya ditempel oleh efek ke badan pengendara lain

Ultimate Tom Cruise Shot

 

Film mungkin bisa tampak sedikit mengerem jika kita meniliknya dari segi cerita. Tentang rencana pengeboman, tentang seseorang yang berusaha menyelematkan banyak orang tanpa mempedulikan dirinya sendiri, kalian tahulah, trope begini sudah sering didaur ulang – terutama dalam genre laga. Cerita yang kita dapat di sini memang tidak sepenuhnya baru. Namun, arahan dan penulisan Christopher McQuarrie berhasil memberikan sesuatu untuk dilakukan oleh setiap anggota tim Hunt, sehingga peran mereka jadi terangkat – masing-masingnya menambah kaya sudut pandang cerita, dan pada akhirnya juga  menambah bobot ketegangan.

Luther yang diperankan simpatik oleh Ving Rhames mencoba untuk menjinakkan bom, tapi dia literally merasa tangannya kurang, jadi dia ‘terpaksa’ meminta bantuan kepada seseorang yang sama sekali belum pernah kenalan langsung sama bom. Dia juga nge-share burden yang ia rasakan sebagai seorang yang pernah diselamatkan demi ‘harga’ tertentu oleh Hunt. Simon Pegg yang senantiasa menampilkan permainan peran yang menghibur, sebagai Benji harus mencari letak bom yang satu lagi di dalam ruangan yang penuh kotak besi – yang semuanya nge”bip” kena radar, jadi dia harus segera menemukan kotak yang benar. Tokoh-tokoh pendukung juga kebagian aksi, mereka ditempatkan dalam situasi yang tampak mustahil di mana kemampuan mereka diuji. Aspek inilah yang membuat cerita terasa fresh, meskipun memang plotnya sendiri enggak exactly baru. Ada usaha untuk terus menggali perspektif dari berbagai sudut.

Tokoh-tokoh jahat di film ini juga sangat memorable. Motif mereka menarik. Kepentingan, cara, mereka dibenturkan kontras dengan milik Hunt. Bahkan, sekali lagi, buat tokoh yang minor. Seperti pada adegan berantem di toilet Grand Palais; tidak hanya Cruise dan Henry Cavill, ada satu penjahat lagi yang berbagi mempertaruhkan nyawa di sini. I mean, adegan berantemnya sangat greget dan terlihat begitu nyata lantaran film begitu berhasil menggali sudut pandang; konsep mereka menggunakan kemampuan terbaik di saat yang mustahil tetap menguar kuat bahkan di satu sekuen berantem yang simpel ini. Or even jika si penjahat ataupun tokoh yang tidak bisa berbuat banyak, mereka paling enggak diberikan adegan dengan shot yang unik, seperti saat seseorang yang terikat, tenggelam di dalam mobil.

yaiyalah mustahil, namanya juga Mission: Impossible

 

Beberapa penonton mungkin akan merasa bermasalah dalam menyimak dialognya yang memang butuh perhatian ekstra. The thing is, film laga sekeren ini toh masih bisa kita nikmati untuk aksi-aksinya, bahkan jika suaranya dimute sekalipun. Tapi kan tentu saja rasanya bakalan kurang. Film meminta kita untuk memperhatikan dengan seksama setiap dialog, karena bakal ada pengungkapan-pengungkapan yang efeknya baru akan kena jika kita mengingkat beberapa kata kunci yang pernah disebutkan oleh para tokoh. Buatku, ini adalah bentuk penghormatan film kepada penontonnya. Sebab, meskipun konsep yang mereka gunakan adalah laga yang sering bergantung kepada ‘kebetulan’, namun masih ada kesempatan untuk kita berpikir memecahkan misteri cerita. Jadi, film laga itu gak mesti mindless. Kita masih bisa terhibur sembari tetap memutar otak.

 

 

 

Justru, ini adalah apapun yang bisa kita minta dari sebuah film. Tokoh-tokohnya bisa kita pedulikan. Aksi-aksinya terlihat nyata dan bikin kita menahan napas. Ada yang bisa kita pikirkan, regarding moral dan plot cerita secara keseluruhan. Penulisannya rapi – pengungkapan, twist, secara konstan kita akan geregetan dibuat oleh film ini. Bahkan jika kalian belum pernah menonton film-film sebelumnya, seri keenam ini tidak akan menjadi masalah untuk kalian mengikuti cerita, karena ia mampu untuk berdiri sendiri.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for MISSION: IMPOSSIBLE – FALLOUT

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

22 MENIT Review

Calm before the storm

 

 

 

Pernahkah ketika sedang bersantai di kamar, menikmati film mungkin, dengerin musik sambil ngemil mi mentah, atau asik main video game sambil download-download, kemudian mendadak saja ada perasaan gak enak yang timbul dari suasana tenang tersebut. Kalian bisa merasakan ada yang tak beres, dan sekonyong-konyong listrik mati, dan terlontarlah semua sumpah serapah tersebut? Itulah yang disebut pepatah sebagai “ketenangan sebelum badai”. Warga Jakarta mungkin masih belum lupa ketenangan ganjil yang mereka rasakan di pagi hari tanggal 14 Januari tahun 2016 silam.

Dua-puluh-dua menit keseharian kota yang ramai menjelang pukul sebelas lebih empat-puluh siang. Ya memang ada sedikit macet, orang-orang mengejar waktu mengejar urusan penting masing-masing, beberapa pelanggar lalu lintas kena tilang pak polisi, tapi saat itu adalah sedamai-damainya yang bisa diharapkan oleh pelintas ataupun ‘penghuni’ daerah sibuk seperti di Sarinah. Set up awal film 22 Menit ini sungguhlah efektif dan tepat sasaran memperlihatkan kepada kita beberapa karakter yang sama sekali tak menyangka beberapa saat lagi hidup mereka akan porak poranda. Keragaman penduduk ibukota juga terhampar jelas di sini. Tentu saja, kita tahu sedikit lebih banyak daripada AKBP Ardi yang langsung ke markas setelah mengantar putrinya ke sekolah, Polisi Firman yang mengatur lalu lintas sambil menahan resah karena di-silent treatment-in ama tunangannya, Hasan yang belum benar-benar legowo disuruh oleh adiknya untuk ikutan kerja sama orang lain, dan Dessy yang didesak cepet datang karena sudah ditunggu temannya di coffe shop untuk persiapan presentasi, tentang apa yang bakal terjadi di tempat tujuan mereka. Film cukup bijak untuk menanam mereka sehingga paling tidak kita penasaran “kira-kira siapa yang bakal selamat ya?” Dan ketika bom itu meledak, film pun cukup berhasil memberikan suasana tegang perburuan hidup mati antara polisi dengan teroris.

Sesuatu hal yang baru akan menimpa kita pada saat-saat yang tidak diduga. Kenyamanan membuat kita lengah. Untuk itulah, sebenarnya kita dituntut untuk senantiasa waspada. Bersiap mengantisipasi segala sesuatu. Seperti yang dilakukan oleh polisi-polisi dalam film 22 Menit.

kalo kata Bezita, kedamaian membuat malas – lantas orang jahat menyerang dan kita tunggang langgang

 

Kompeten enough dalam setiap aspek yang dimiliki. Jika film ini kita ibaratkan sebagai polisi, maka 22 Menit adalah seorang polisi teladan yang  berhasil menjalankan tugas simpelnya dengan cakap. Namun ia juga begitu sederhana sehingga menolak kenaikan pangkat. 22 Menit punya kepentingan untuk hadir ke kancah dunia perfilman tanah air, dan film ini tidak berniat untuk menjadi lebih dari pada itu. Padahal sebenarnya bisa. Tapi mungkin, memang beginilah polisi yang baik. Tidak ambisius. Jika memang hanya ingin tampil di muka umum, jika memang hanya ingin nunjukin teroris itu jahat dan polisi itu hebat, kenapa mesti repot-repot mikirin hal di luar itu yang membutuhkan usaha ekstra.

Eugene Panji dan Myrna Paramitha memang bukan orang pertama yang diminta untuk mengarahkan tragedi pengeboman beneran menjadi sebuah kisah kepahlawanan. Dalam setahun terakhir ini saja, kita sudah menonton dua film tentang peristiwa pengeboman acara  lari marathon di Boston. Tapi, ketika Stronger (2017) dibuat,  mereka actually menggali sesuatu. Membicarakan satu-dua buah pikiran lewat sudut pandang tokoh utamanya.  Stronger dan Patriots Day (2016) totally adalah dua cerita yang berbeda padahal mengangkat satu peristiwa yang sama. Karena mereka dibuat dalam konteks perspektif yang khusus. Mereka berangkat dari cerita satu orang karakter; memang ada yang diceritakan dari karakter tersebut – ada drama yang ingin digali. Aspek tersebut membuat film-film itu tampil lebih kuat, dibandingkan 22 Menit yang enggak punya lapisan sebanyak tokoh-tokoh yang ia punya. Film ini sebenarnya bisa menjadi lebih dahsyat sebagai sebuah tontonan patriotisme, for instance, jika durasinya dipanjangkan. Tapi ya, kalo memang yang bikin filmnya sudah puas begini – toh misi citra mereka sudah selesai – ya apa boleh buat.

Cara berceritanya pun cukup unik. Film ini menggunakan struktur bolak-balik untuk mengakomodasi tokoh-tokoh yang tadi diperkenalkan. Kita melihat rutinitas mereka. Kita tahu tujuan mereka. Kita saksikan masalah mereka hari itu. Namun kita tidak pernah benar-benar mengenal mereka. Jika Vantage Point (2008) saja masih dikritik repetitif padahal sudah menggali tokoh-tokoh yang dipunya, kesempatan apa yang dipunya oleh 22 Menit yang hanya meniru penceritaan yang dilakukan oleh film tersebut? Kita bergantian melihat drama yang dialami oleh para tokoh sebelum waktu ledakan tiba; setelah satu tokoh, layar akan menunjukkan jam yang dimundurin ke dua-puluh-dua menit sebelumnya, dan kita mengikuti tokoh yang lain. Masalahnya adalah tidak ada banyak lapisan pada tokoh-tokoh tersebut. Tidak ada pergantian sudut pandang. Semua yang kita lihat setiap ‘ganti tokoh’ tak lebih dari sedikit penambahan adegan, like, kita sudah bisa tahu eksterior para tokoh, namun tidak pernah dibiarkan masuk mengenal interior mereka.

Saat orang pake google infrared, dia kagak, dan dia tetap yang paling jagoan

 

Tentu, kita merasa kasihan sama mereka, kita tidak ingin orang-orang tak berdosa dan tak tahu apa-apa itu jadi korban peledakan bom. Hanya saja tidak ada perjalanan karakter. Keinginan yang buyar oleh ledakan itu nyatanya memang sebuah tragedi, sesuatu yang sangat emosional; menyedihkan. Tetapi peduli kepada karakter dalam film itu maknanya adalah kita turut merasakan beban mereka – kita ikut belajar bersama mereka. Bahkan Hereditary (2018) yang konteksnya adalah tidak-ada jalan keluar bagi para tokoh yang sudah digariskan untuk suatu hal yang buruk saja masih memberikan kesempatan kepada kita untuk belajar sesuatu, untuk menyaksikan tokohnya berkembang. Tidak sekedar kita mengasihani mereka yang berada di tempat yang salah, dalam waktu yang salah.

Ini adalah masalah paling besar yang terasa saat kita menonton 22 Menit. Tidak ada tokoh yang bisa kita ‘tempelin’. Mereka antara kurang tergali ataupun dibangun supaya kita merasa kasihan. Hasan yang diperankan oleh Fanny Fadillah (Ucup!!!) sebenarnya adalah yang paling mendekati seorang tokoh utama yang menarik untuk cerita film ini; dia awalnya tak mau bekerja, bujangan tua ini punya pandangan sendiri terhadap kerja di bawah orang lain. Dia bahkan risih berapi-rapi ria pake kemeja. Dia hanya nurut disuruh cari kerja karena selama ini adiknya yang sudah susah payah menghidupi keluarga. Kejadian terorisme ini mestinya mengubah segalanya bagi Hasan dan keluarga, sayangnya tidak diresolve dengan baik oleh cerita.

Satu lagi soal tokoh-tokoh adalah; film ini tidak berani berbuat banyak terhadap pihak terorisnya. Mereka hanya ada di sana untuk bikin kerusuhan. Kita tidak dikasih tahu alasannya apa, tidak ada cerita mengenai mereka, tidak ada sudut pandang moral mereka. Dan ini membuat mereka tampak lemah, kenapa juga mesti mengumbar diri di tengah keramaian; entah salah rencana atau memang rencana mereka seperti itu, kita tidak pernah tahu. Meskipun dipromosikan dengan hashtag KamiTidakTakut, film justru malah terlihat tidak berani menggali apa yang kita tahu persis akan membawa film ini ke ranah agama. Bahkan aksi kepolisiannya sendiri juga tidak pernah betul-betul ditonjolin. Bagian dari tokohnya Ario Bayu, misalnya, malah tampak seperti kebetulan dia berada di TKP. Mungkin, memang kejadian aslinya seperti begini; ada satu polisi yang kebetulan lewat sana, dan dengan sigap mengambil tindakan. Namun, yang perlu diingat bahwa ini adalah sebuah film. Sebelum menjadi film, tentu ia melewati meja naskah terlebih dahulu. Mestinya kan, bisa, semua elemen kejadian nyata pada cerita ini disesuaikan demi menghasilkan naskah yang lebih kuat.

 

 

 

 

Aku sesungguhnya suka gimana film ini berusaha mengambil tindakan untuk membuat film ini tampil tak-biasa lewat struktur berceritanya. Meskipun, mereka melakukannya dengan meminjam dari film lain. Bagian siaran radionya malah lebih meyakinkan dari siaran radio Death Wish (2018) yang kelihatan banget ditambahin belakangan biar filmnya relevan dengan isu kepemilikan bersenjata. Menjelang tamat, aku mendengar ada sound effect bunyi detak jam yang mengingatkanku pada Dunkirk (2017), yang anehnya adalah kenapa baru sekarang menggunakan efek itu, setelah gimmick Vantage Point dan shot waktu sudah tidak digunakan lagi. Bagaimanapun juga, mereka mengeksekusi adegan-adegan dengan lumayan kompeten. Efeknya niat. Sayangnya, it’s pretty much what you see is what you get. Jika ketenangan sebelum badai itu merupakan pertanda yang mengingatkan kita untuk waspada, maka keheningan setelah semua debu dan asap ledakan itu semestinya adalah waktu untuk kita memikirkan apa yang sudah terjadi. Film ini, pada akhirnya, lebih tampak sebagai usaha simpel mempahlawankan kekuatan polisi dengan meminta kita mengasihani tokoh-tokoh yang lain. Jika kalian tidak punya masalah dengan hal tersebut, film ini bisa jadi tontonan yang greget buat kalian.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for 22 MENIT.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017