FLATLINERS Review

“Sometimes a little near death experience helps put things into perspective”

 

 

Wajar kita penasaran sama kematian. Karena kenyataan keras yang mesti kita hadapi adalah bahwa tujuan akhir dari kehidupan adalah mati. Hidup dan mati selalu adalah misteri; apa yang terjadi begitu kita mati? Apakah kita hidup sebagai ruh – ataukah kita bobok panjang sampai kiamat tiba? Beberapa orang, untungnya bisa menggambarkan sedikit ‘jawaban’. Orang-orang yang pernah nyaris-mati, kita banyak mendengar cerita tentang orang yang mengalami mati suri. Gimana mereka melihat cahaya; bertemu dengan kerabat yang sudah duluan almarhum, cerita-cerita semacam ini selalu menarik. Aku sendiri dulu pernah nyobain teori sleep paralysis, itu loh tidur melepas ruh yang katanya kita bisa terbang dan melihat tubuh sendiri. Aku pernah sangat penasaran dan sesiangan menekuni teori yang katanya ilmiah itu – ceile ‘menekuni’, padahal niat mulianya sih lagi males dan pengen nyari alasan bolos kuliah hihi. Jadi, kita bisa bayangkan para murid kedokteran yang setiap hari berurusan langsung dengan orang sakit, orang mati, orang-orang yang tersadar dari koma. Ide atas apa yang sebenarnya terjadi setelah kematian tentu saja begitu menggoda bagi mereka.

Flatliners yang disutradarai oleh Niels Arden Oplev adalah reimagining dari psikologikal thriller Flatliners (1990), mengambil konsep menarik tentang afterlife tersebut. Ceritanya kurang lebih sama, dengan modernisasi di beberapa poin. Lima orang murid kedokteran melakukan eksperimen, mereka mencari cara untuk merekam kerja otak ketika seseorang dalam keadaan mati. Mereka ingin melihat sendiri apa yang terjadi ketika mati, membuktikan cerita-cerita mulut tentang ada kehidupan setelah mati. Usaha mereka berhasil, bergiliran Courtney, Jamie, Marlo, Sophia  nyobain sensasi mati, dan dihidupkan kembali setelah beberapa menit oleh Ray yang setia berjaga.  Awalnya memang tampak aman, mereka bahkan dapat semacam enlightment dari berflatline-ria tersebut. Namun kemudian, berbagai penampakan mengerikan dari masalalu mulai meneror mereka satu persatu

“rohku melayaaang, tak kembaliiiiii bila kau pun pergiiiiii~hii”

 

Film ini adalah contoh yang nyata bahwa tidak peduli betapa cakapnya seorang sutradara, betapa kerennya penampilan akting seorang aktor, pada akhirnya kekuatan naskah, dan produksi lah yang menentukan film apa yang sebenarnya ingin mereka bikin.  Enggak salah memang film ini diberi judul Flatliners, lantaran toh benar filmnya tidak berkembang menjadi apa-apa. Datar. Flatliners mengemban konsep dan ide cerita yang unik, dan mengubahnya menjadi PESTA PORA JUMPSCARE di antara banyak hal yang berusaha mereka capai.

To be honest, aku enggak yakin sedang menonton apa. Film ini dimulai dengan perlandasan drama seputar dunia sekolah kedokteran, kita ngeliat apa yang dilakukan dan backstory karakter-karakternya yang masih muda,  aku sempat teringat sama buku Cado-Cado yang aku suka namun tidak kutonton filmnya ( tayang tahun 2016) lantaran terlihat seperti cinta ala Korea. Drama pada Flatliners  berubah menjadi lebih gelap tentang rasa bersalah sehubungan dengan masa lalu para tokoh, dan ultimately film berubah menjadi thriller saat para tokoh menyadari bahwa eksperimen flatlining yang mereka lakukan ternyata memiliki konsekuensi jumpscare film horor. Dari sudut penulisan, film ini mengambil banyak keputusan aneh tak-terjabarkan. Dan yang kumaksud dengan tak-terjabarkan adalah kita enggak bisa melihat apa produk akhir dari yang mereka inginkan. Nonton film ini dan akan jelas sekali tidak ada cukup komunikasi yang terjalin antara sutradara, penulis, studio, aktor, sebab semua orang terlihat berada dalam film yang berbeda. Flatliners terasa seperi dirancang oleh banyak otak dengan ide berbeda. Dan inilah yang kita dapatkan; sebuah usaha bersama yang tidak berbuah manis.

Sebagai pembelaan, film originalnya sebenarnya juga enggak hebat-hebat amat. Tapi paling enggak, mereka lebih terarah. Tokoh-tokohnya mencari thrill dari sensasi kematian. Dan ketika sampai di aspek cerita yang mengerikan, film tersebut mengeksplorasi misteri dari apakah yang para tokoh alami adalah psikologikal atau memang sebuah fenomena supranatural. Pertanyaan yang diangkat apakah mereka memang melihat hantu atau otak mereka memang sudah rusak karena nge-flatline. Begonya Flatliners versi 2017 ini adalah mereka tidak mengindahkan (atau malah tidak mengerti) framework dari sourcenya sendiri. Heck, mereka bahkan tidak mengerti cara kerja halusinasi. Maksudku, penampakan-penampakan seram itu muncul dengan cara yang ngagetin penonton! Tokohnya malah enggak melihat mereka, penampakannya muncul sekelabat di belakang tokoh. Padahal kan penampakan itu terjadi di dalam kepala si tokoh.

Bagian ‘terbaik’ dari film ini adalah aspek setelah mencicipi pengalaman nyaris-mati, para tokoh mmendapat kemampuan istimewa. Courtney jadi bisa main piano dengan sempurna, dia bisa menjawab pertanyaan dari dosen – bahkan sebelum pertanyaannya selesai diucapkan. Jamie jadi tahan cuaca dingin, mereka literally bermain-main di hujan salju dengan pakaian dalam. Motivasi Sophia ngeflatline adalah demi jadi pinter, dan dia memang terbukti jadi bisa nyelesain kubus rubik dengan amat cepat. It is hilarious dalam cerita tentang orang-orang yang menghentikan jantung mereka, kemudian menghidupkannya lagi, reperkusi yang turut ditonjolkan oleh film ini adalah mereka jadi punya kelebihan. Aspek ini pun kemudian tidak berkembang jadi lebih berarti, they are just there supaya keren.

Obviously, Flatlining adalah metafora dari menggunakan narkoba. Kedua tindakan itu adalah sama-sama kerjaan yang bercanda dengan maut. Kita ‘terbang’ setelah makek drugs, beberapa orang ngerasa lebih kreatif dan produktif dengan obat-obatan. Lucunya Flatliners adalah, film ini juga gagal dalam memperlihatkan bahaya dari eksperimen mereka. Underlying message yang ada ialah beberapa orang harus melakukan hal ekstrim sebelum akhirnya sadar bahwa mereka pernah melakukan kesalahan. Dan kesalahan tersebut bisa dihapus dengan meminta maaf.

 

Dan sama seperti versi baru Pengabdi Setan (2017), Flatliners juga tidak berani menyinggung agama. Padahal dalam film yang dulu, konsep kehidupan-dan-kematiannya berdasarkan teologi Kristen. Dalam film yang sekarang ini, kita tidak pernah diberikan pandangan soal apa yang dipercaya oleh karakter, dan ini hanya menyebabkan karakter-karakternya semakin hampa.

Hubungan antarkelima tokoh sudah minimalis sedari awal. Mereka enggak berteman, mereka cuma seangkatan yang tadinya saling ‘berkompetisi’ sebagai calon dokter. Dengan hubungan yang enggak kuat, film ini sungguh punya nyali untuk mengganti sudut pandang, mengubah tokoh utama di tengah-tengah cerita. Saat cerita berpindah dari tentang Courtney ke tentang Marlo, kita tidak merasakan ada bobot emosional karena mereka tidak terestablish punya hubungan yang dekat. Ellen Page adalah satu-satunya alasan orang datang nonton ini ke bioskop, I know I do. She was so talented dan Courtney benar adalah tokoh yang paling menarik. Dan film ini menghilangkan tokoh yang ia perankan di pertengahan cerita, meninggalkan kita bersama karakter-karakter klise yang mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi saat mereka ‘mati’.

persetan dengan teknik medis, kalian gak bisa gitu aja nyentuh dada Nina Dobrev

 

Bahkan setelah kepergian Courtney, aku masih berusaha bertahan menyelesaikan nonton film ini, melewati semua adegan-adegan horor klise. Melewati efek-efek pasaran. Melewati suara rekaman tangis bayi yang sudah kita dengar sejak film horor tahun 90an. What really does it for me adalah ketika satu dialog bego terlontar dari salah satu tokoh saat mereka mulai bisa menyimpulkan apa yang terjadi. Sophia, dalam kebijakannya yang tiada tara, menyebut dengan gusar “Maksudmu, kamu tahu ada dampak negatif dari flatlining?” HA!!! Ini bego banget, perfectly menyimpulkan keignorant semua aspek yang berusaha bekerja dalam film ini. I mean, itu sama saja dengan dia menanyakan apakah ada dampak negatif dari mencoba merasakan kematian. Well yea; negatifnya jelas adalah MATI beneran, duh!

 

 

 

Mereka tidak membuat ulang ini karena punya sesuatu yang baru. Mereka tidak menggarap ini karena ingin mengimprove sesuatu dari film yang lama. Mereka tidak punya sudut pandang personal sehubungan dengan materialnya. Mereka cuma ingin manufacturing suatu produk. Makanya kita dapat cerita yang terasa lebih seperti kumpulan ide-ide standar dari studio film. Aku tidak mau menjelekkan siapapun, aku tidak melarang kalian nonton ini, sah-sah aja kalo suka, tapi ini adalah contoh film di mana yang terlibat just dropped the ball. Salah satu film paling membosankan tahun ini, menonton ini adalah cara yang paling aman buat kita ngerasain gimana sih pengalaman nyaris-mati itu.
The Palace of Wisdom gives 1 out of 10 gold stars for FLATLINERS.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

GOOD TIME Review

“Bad times don’t last, but bad guys do.”

 

 

Apalah artinya masa-masa sulit. Semuanya akan terasa ringan jika kita hadapi bareng orang yang kita cinta. Jadi, demi melewati semua masa-masa keras tersebut, Connie mengajak adiknya menghabiskan waktu berkualitas bersama dengan merampok bank.

Kedua bersaudara ini sudah semestinya saling menjaga. Namun kemudian, Nick, adik Connie tertangkap saat mereka melarikan diri dari kejaran polisi. Connie dan Nick memang adalah saudara yang sama-sama dibesarkan dalam lingkungan di mana kata panci dan gunting diasosiasikan sebagai kesakitan oleh Nick. Dan Connie lebih yakin dari sekedar positif bahwa adiknya yang mengalami gangguan mental itu tidak akan bertahan di dalam penjara. Tidak semalam pun. Maka Connie melakukan apapun yang dia bisa, dan kita tahu cowok ini enggak akan segan menggali lubang sedalam-dalamnya, untuk mencari uang guna membebaskan Nick.

Kita akan mengikuti petualangan Connie basically secara real time, dari pagi, ke malam, dan ke pagi lagi. Cerita menjadi sangat urgen dan really contained. Kita tidak pernah terlepas dari perpindahan waktu dan segala tindakan, aksi yang terjadi, terasa begitu in-the-moment. Dan cara kamera merekam suasana malam yang ia lalui adalah sangat mengundang kita untuk terus mengintip ke dalam kota itu. Kita akan dapat banyak close ups yang menguatkan ketegangan dan stres yang dialami oleh karakter. Film bisa menjadi seperti sebuah dokumenter karena banyaknya long takes yang digunakan untuk merekam perjalanan, benar-benar terasa real bagaimana kumuh dan kerasnya keadaan malam tersebut. Suasana malam itu berdengung, literally scoring musik akan mengalun ngebuzz memberikan suasana restless yang disturbing. Gaya dan perspektif yang unik dan begitu klop, adegan pembukanya saja sudah begitu kuat ketempel oleh emosi sebagaimana kita melihat Nick menjawab pertanyaan-pertanyaan game dari seorang psikiater.

“Apa lagu favoritmu?” / “Hard Times”

 

Masa sulit membuat kita sering mempertanyakan apa gunanya mencoba. Si bijak Homer Simpsons malah pernah bilang “Pelajarannya adalah, jangan pernah berusaha”. Namun film ini memberikan kita pelajaran yang lain untuk kita petik.  Sesulit-sulitnya hidup, semua itu tidak akan bertahan lama. Hanya persoalan gimana kita memandang, mempercayai, dan menjalankannya. Sekaligus juga film ini memberi kita peringatan, bahwa perbuatan jahat awetnya seumur-umur. Sekali kita menjustifikasi satu perbuatan miring yang kita lakukan, tak sulit lagi bagi kita untuk mengambil tindakan salah berikutnya – dan kemudian kembali menganggapnya benar.

 

Berkebalikan dengan hidup, dalam dunia sinema justru bad films last, dan bad acting tidak mesti bertahan. Robert Pattinson dan para aktor Twilight (2008) adalah contoh hidupnya. Di saat kejelekan Twilight akan tetap abadi kayak vampire-vampire pengisinya, karir para pemainnya toh masih bisa berkembang menjadi lebih baik. Di semester awal tahun 2017, kita sudah melihat penampilan terbaik dari Kristen Stewart dalam Personal Shopper. Dan dalam Good Time, di mana dia berperan sebagai Connie si total a-hole, Robert Pattinson gak mau kalah, dia pun menyuguhkan permainan akting yang sangat ngegrunge, dia menyelam sempurna ke dalam karakter. Ini benar adalah performa terbaik yang pernah Pattinson tampilkan kepada kita.

Penampilan yang sangat unhinged ditambah penulisan karakter yang teramat nekad menghasilkan sebuah FILM YANG BENAR-BENAR LANCANG. Tidak ada kualitas baik dari dalam pribadi Connie. Dia melakukan hal yang kurang ajar. Dia mengatakan hal-hal yang so politically incorrect, yang enggak semua orang berani mengatakannya di dalam film, terlebih di dunia nyata. Satu-satunya hal yang bisa membuat kita sedikit simpatik adalah kecintaannya terhadap sang adik. Dan film ini paham, itu sudah cukup. Dalam dunia film ini, kehidupan jalanan yang keras, para kriminal itu setidaknya ingin melakukan sesuatu yang baik buat satu orang, sekali saja. Kita melihat mereka saling bantu, jika diperlukan. Tapi tidak pernah terlalu ramah untuk menjadi satu kesatuan pembela kebenaran moral. Mereka hanya punya pemahaman, dan mereka melakukan apa yang harus mereka lakukan.

Benny dan Josh Safdie, dua bersaudara yang menulis sekaligus menyutradarai film ini, menyetir cerita ke arah yang jauh sekali dari keHollywood-Hollywoodan. Enggak bakal ketemu deh adegan pemanis di mana tokoh utamanya menjadi pahlawan. Good Time adalah versi lain dari Hell or High Water (2016). Actually, Benny ikutan bermain, dia berperan sebagai Nick yang mengalami cacat mental. Dia bermain sama kerennya dengan dia mengepalai film ini. Adegan pembuka berhasil membuka mata kita, membuat kita sangat tertarik. Ketika Nick ditanyai oleh psikiater, kita bisa melihat pertanyaan-pertanyaan tersebut mengganggunya. Kepedihan tertampang jelas di ekspresi diamnya, kita bisa ngerasain. Kita paham dia benci hidupnya, dia benci duduk di sana, ditanyain, dipaksa mengingat masa lalu. Rasa ingin melihat Nick dan Connie berhasil tak tertangkap dan sukses memulai hidup baru dalam diri kita datang dari sini.

oke jadi sudah jelas kan ini bukan film tentang biskuit chocochips

 

Babak pertama film ini praktisnya dapat kita sebut sebagai kesempurnaan. Tone, karakter, style, semua disetup dengan sungguh menarik. Menurutku film ini fresh banget, serta extremely surprising. Namun di bagian tengah, ketika Connie menumpang di rumah orang untuk beberapa waktu, pacenya agak melambat. Kita akan gak sabar menanti cerita untuk bergerak lagi. Terkadang, film memang sengaja memperlambat tempo. Mereka mempersembahkan karakter baru, dan membiarkan si tokoh ini bercerita tentang apa yang terjadi kepada dirinya, supaya kita bisa sedikit tertarik. Esensinya sih, film ingin memperlihatkan paralelnya tokoh ini dengan Connie sehubungan dengan ‘good times’ yang mereka lalui.

 

 

Oleh Benny dan Josh, film ini menjelma menjadi sesuatu yang bisa kita nikmati sambil duduk santai, kerja kameranya teramat impresif, padahal kita enggak sungguh-sungguh enjoy sama apa yang kita lihat di layar. Misalnya, satu adegan ciuman yang luar biasa cringe-worthy itu. Kita tidak lagi melihat aktor bermain peran di sini, yang kita lihat adalah kriminal-kriminal beneran yang melakukan hal-hal filthy. Kenekatan menampilan tindakan gross senyata ini tak pelak adalah kenekatan yang semestinya mendapat respek. Aku angkat topi buat filmmakers dan para aktor yang melakukannya. Ini udah sukses jadi salah satu thriller urban favoritku. Pastilah salah satu waktu yang baik ketika kita menontonnya, dan impresinya dijamin bertahan lama.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for GOOD TIME.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are loser.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

BRAWL IN CELL BLOCK 99 Review

“If you love something, you have to protect it.”

 

 

Jadi orang baik itu enggak gampang. Kita bisa saja menjadi orang paling sopan sedunia, dan masih ada orang yang tersinggung ama kita. Kita boleh saja berusaha berbuat benar, dan coba tebak, tetap masih akan ada yang menyalahkan kita. Mantan petinju Bradley Thomas sudah mencoba.  Tapi kemudian dia dipecat dari bengkel tempatnya bekerja. Istrinya selingkuh. Dunia enggak adil, memang. Thomas, sebagai seorang yang punya kompas moral yang kuat, tidak pernah menyalahkan dunia. Sebagaimana dia selalu berusaha meluruskan postur tubuh raksasanya saat berjalan, Thomas selalu berusaha untuk tetap di jalan yang lurus. Lurus menurutnya, loh. Thomas ingin jadi orang baik. Dia cinta istrinya, dia ingin jadi ayah yang baik buat anak yang dikandung istrinya.  Jadi, Thomas bekerja menjadi kurir narkoba yang baik.

Seberapa baik sih, kurir narkoba yang baik itu?

Yang bertanggung jawab dengan barang yang ditanganinya, yang enggak cari masalah, yang tahu kapan musti lari sembunyi – kapan harus melawan polisi. Kalian yang sering berkendara di jalan raya pasti tahu kan, kecelakaan itu penyebabnya selalu antara dua; kalo bukan kita yang kurang hati-hati, ‘lawan’kita yang kurang hati-hati. Apa yang terjadi kepada Thomas saat dia lagi bertugas analoginya persis seperti itu. Thomas terpaksa membunuh rekan kerjanya yang kurang berhati-hati, dan dia pun harus tertangkap polisi. Perbuatan dengan maksud baik, buahnya baik juga. Kelakuan Thomas yang baik, actually tindakannya dilihat sebagai membantu polisi, membuat hukumannya tergolong ringan. Lima tahun dan Thomas bisa berkumpul lagi dengan istri dan anaknya. Tapi sekali lagi, dunia enggak adil. Di dalam penjara, keadaan berubah buruk bagi Thomas. Dia mendapati dirinya dalam posisi yang sulit. Dia harus mencari jalan ke penjara paling brutal demi mencari seseorang demi keselamatan jabang bayi dan sang istri.

Di zaman edan, paling enggak pegang erat moral sendiri

 

Film ini akan membangkitkan minat dan gairah para penggemar action 70’an, tepatnya periode berkembangnya tema genre yang dikenal dengan grind house. Brawl in Cell Block 99 terasa seperti flick GRIND HOUSE, BUT NOT REALLY. Disebut grind house lantaran ini adalah film yang benar mengeksploitasi kekerasan. Brutal, aksi berantem yang disajikan bukan untuk santapan semua orang. Film ini sepertinya memang ditujukan sebagai surat cinta buat tema genre yang satu ini. Kita akan melihat Thomas menghancurkan tengkorak lawan, hidup-hidup, dengan tumitnya. Melihat kulit wajah orang terlepas dari muka. Menyaksikan gimana Thomas mematahkan tangan orang sehingga tidak lagi terlihat seperti tangan. Tapi sekaligus juga ini adalah tempat di mana pengembangan karakter tidak dilupakan. Babak perkenalan Brawl in Cell Block 99 benar-benar dimanfaatkan oleh film supaya kita bisa melihat Thomas sebagai manusia dan supaya kita paham kondisi keluarganya. Kita dibuat mengerti bahwa dia sebenarnya menolak untuk melakukan itu semua, akan tetapi ini demi keluarga dan dia enggak punya pilihan lain. Film meluangkan banyak waktu memperlihatkan Thomas berpikir dan merenung dalam kesendiriannya. Dan tidak seperti grind house traditional yang fungsi tokoh ceweknya tiada lain untuk diselamatkan, dalam Brawl in Cell Block 99 istri Thomas diberikan ruang untuk bergerak dan berperan lebih banyak.

Grind dalam grind house sebenarnya juga bisa kita pake untuk menjelaskan gimana film-film bergenre seperti ini mengembangkan karakter utamanya. Ambil contoh film The Raid (2011). Sang jagoan biasanya harus ngelawan banyak orang, berjuang dengan darah untuk sampai ke tingkat atas, tingkat di mana bos bersembunyi. Layaknya video game. Setiap kali bertemu musuh, berhadapan dengan maut, tokoh utama akan naik level, mereka menjadi semakin kuat, baik secara literal dan figuratif. Mereka menjadi orang yang lebih baik. Thomas dalam Brawl in Cell Block 99 adalah lawan dari ini.

Dia literally harus turun tingkat. Dari penjara paling nyante ke penjara dengan keamanan paling ketat – yang berarti kebebasannya semakin minim. Premis ini pernah dibahas kocak di komik Bowling King, di mana tokohnya harus nyusup ke sekolah untuk anak-anak criminal demi nyari salah satu orang dunia hitam, hanya saja dia ditempatkan di kelas hijau tempat criminal ‘cupu’ alih-alih kelas hitam – jadi dia sengaja buat onar biar dipindahin. Setiap kali encounter, baik dengan inmate penjara maupun dengan polisi penjaga, Thomas berdegradasi. Yeah, dia babak belur – they all do. Terutama, dia menjadi semakin sadis, semakin marah, tapi hatinya tidak berubah. Kompas moralnya masih dipegang teguh. Dan melihatnya seperti begini, membuat kita peduli. Membuat kita ngecheer buat dia, meski apa yang ia lakukan enggak menyehatkan buat semua orang.

Seberapa jauh kita rela turun untuk melindungi orang-orang yang kita cintai? Setiap hari kita membuat pilihan untuk memastikan hal-hal yang kita cinta tetap ada, terus berkembang. Kalo ada yang dihajar hingga bonyok oleh film ini, maka itu adalah saran “kalo benar cinta, lepaskan”. Hal paling simpel dan logis adalah jika kita sudah menemukan yang baik untuk hidup kita, maka lakukan apapun untuk mempertahankannya.

 

 

Sekuens berantemnya akan membuat kita teringat kepada film John Wick (2014), namun juga, not really. Brutal, menghibur dalam cara yang bikin meringis, tetapi kelahinya enggak diolah dengan koreografi yang stylish kayak John Wick. Kata ‘brawl’ pada judul benar-benar dihidupkan. Thomas adalah mantan petinju yang baik, jadi dia hanya menggunakan kepalan tinjunya, menumbuk yang menghadang jalannya yang lurus. Dia menghancurkan semuanya dengan bogem. Gebak-gebuk itu enggak indah, oleh sebabnya masih terasa realistis. Kesan tersebut hanya dilunturkan sedikit oleh keputusan sutradara S. Craig Zahler untuk mengarahkan film ini sebagai tribute ke film aksi 70an, jadi di film ini dia dengan sengaja turut memakai efek shot prostetik untuk beberapa adegan kekerasan. Manekin dan anggota tubuh palsu akan bisa kita temukan dengan jelas

Ryu, here comes your new challenger

 

Jadi, Bradley Thomas basically seorang monster Frankenstein. Kesatria, terhormat, dia bisa matahin kaki orang dengan sangat gentle. Thomas mungkin satu-satunya orang yang adil di sana. Ini adalah peran yang noble sekaligus keras-dan-kumuh, dan Vince Vaughn menyelam sempurna ke dalamnya. Sudah begitu lama kita melihat Vaughn bermain di posisi tokoh yang rada komikal. Terakhir kita melihatnya serius di season 2 serial True Detective (2015) dan peran kecilnya sebagai sersan di Hacksaw Ridge (2016). Tidak satupun dari peran-peran tersebut sebanding dengan tantangan dan apa yang berhasil Vaughn capai di Brawl in Cell Block 99. Bayangkan Stone Cold Steve Austin; botak, violent, resourceful, bedanya Thomas adalah pribadi yang menyembunyikan emosinya dengan baik. Vince Vaughn benar-benar memberikan penampilan terhebat dari karirnya. He’s so badass, dan ketika kita diliatin dia sedang sendiri di dalam sel kurungannya, kita mulai bisa melihat seberapa terluka dan tersiksanya dia. Dan pada beberapa kesempatan, adegan kesendiriannya lebih menggebuk ketimbang ketika dia meledakkan kemarahannya saat berantem.

 

 

Drama karakter yang sangat efektif tersembunyi di balik tarung tangan brutal yang bertempat di penjara. Kepentingannya memperlihatkan set up karakter dan memberikan alasan buat kita peduli kepada tokohnya mengorbankan sedikit kestabilan pacing. Penonton yang mengharapkan pure grindhouse mungkin akan mengeluhkan betapa dua jam film ini terasa panjang. Namun dengan penampilan sebaik yang diberikan oleh Vince Vaughn, dan adegan kekerasan yang disturbingly menghibur – masalah pacing tersebut bisa dengan mudah kita overlook. Sebaik-baiknya film grindhouse, ini adalah salah satu yang terbaik.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for BRAWL IN CELL BLOCK 99.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

THE GLASS CASTLE Review

“Family are the people who must make you feel ashamed when you are deserving of shame”

 

 

Lumrah adanya orangtua suka bohong kepada anak-anak. Dan pada gilirannya akan membuat anak-anak suka bohong kepada – dan terutama, tentang – orangtua mereka. Waktu kecil, beberapa dari kita ada yang enggak mau ngajak teman main ke rumah kalo ayah dan ibu lagi enggak kerja. Terkadang kalo lagi ngobrol bareng teman-teman, kita akan menceritakan yang keren-keren tentang keluarga kita. Keluarga, bagi kita jauh di dalam adalah salah satu kebanggaan terbesar, namun kita masih sering merasa malu karena mereka. Dan tak jarang, perasaan malu saat keluarga ini kebawa hingga dewasa. Memperkenalkan pasangan kepada orangtua jelas adalah momok buat sebagian besar orang. Karena setiap keluarga punya rahasia, tidak ada keluarga yang sempurna. “Let me do the lying about my family,” begitu kara Jeanette Walls kepada tunangannya, mengisyaratkan setelah selama bertahun-tahun diajarkan mandiri dengan cara sangat tak-konvensional, Jeannette masih respek sekaligus malu sama keluarganya.

Tahun 2016 kita dibuat kagum sama Captain Fantastic yang dengan cueknya menantang moral kita dengan gaya hidup dan parenting orangtua yang mengajarkan anak-anaknya dekat dengan alam dan melawan sistem. Aku pikir, wah kalo beneran ada keluarga kayak gitu gimana ya. Dan kemudian, di tahun 2017, keluarlah The Glass Castle; film yang membuktikan bahwa aku tidak tahu banyak. Karena film ini adalah kisah nyata. Jeannette Walls adalah pengarang dan jurnalis, terutama terkenal sebagai  columnist gossip yang nulis memoir tentang masa kecilnya. Jeannette adalah saksi hidup seorang anak yang dibesarkan oleh orangtua dengan pemahaman begitu nyentrik; orangtua yang membiarkan anak dua-belas tahunnya masak sendiri, yang melempar anaknya begitu saja ke kolam, orangtua yang memberikan bintang di langit sebagai kado natal.

Aku dilarang keras berada di rumah kalo teman-teman cewek adekku dateng, mainly she was afraid norakku kumat.

 

 

Kita akan dibawa maju mundur, antara masa kini (1989) dan masa lalu, ketika Jeannette dewasa berkontemplasi tentang masa kecilnya. Kita bisa melihat jelas betapa sukarnya hidup Jeannette dan keluarga. Mereka berpindah-pindah tinggal dari satu bangunan kosong, ke rumah reyot lain. Dari Woody Harrelson sebagai ayah yang tak pernah menyelesaikan apa yang dia mulai ke Naomi Watts seorang ibu yang lebih mentingin ngelukis-tak-dibayar daripada masak, film ini dipersembahkan dalam lingkupan keluarga yang berakting sangat baik. Sebagai ujung tombak dari sekumpulan talenta, film punya Brie Larson  dan Ella Anderson yang menyuguhkan penampilan yang amat stricken sebagai sudut pandang utama. Jadi, ada alasannya kenapa saat menonton ini kita akan merasakan tone yang sangat berbenturan. Jeannette kecil dan saudara-saudaranya percaya bahwa apa yang dilakukan ayah mereka adalah hal yang benar. Bahwa mereka enggak miskin, bahwa yang mereka lakukan adalah melawan sistem demi kebaikan yang lebih besar.

Sesungguhnya, memang ada cara yang benar dan cara yang salah dalam hidup. Rumah tangga Wells terbangun dari cara-cara benar yang dilanggar. Istana mereka memang transparan, namun ada atap kaca patriarki yang tidak bisa dipecahkan oleh Jeanette. Akan tetapi pada akhirya, seperti kata Ibu, strugglelah yang membuat indah. Pengalaman kita bersama keluarga, baik atau buruk, akan membentuk integritas personal, keberanian, suatu jati diri. Jika kita tidak bisa menghargai keluarga satu persatu, palign tidak hargailah apa yang sudah keluarga sumbangkan dalam membentuk siapa kita.

 

Film mengeksplorasi aspek kelam dari kehidupan keluarga Jeanette. Narasinya panen drama dan emosi. Masalah alkohol sang ayah, juga ada situasi yang benar-benar disturbing dengan nenek mereka. Kita melihat banyak hal dan situasi terrible terjadi kepada keluarga Jeannette. Namun masalahnya adalah, film tidak paham akan kelamnya apa yang terjadi kepada mereka. Kita melihat basic skenario yang sama dimainkan berulang kali, sehingga lama-kelamaan jadinya bosenin. Kita kerap terflashback ke masa lalu, lalu kembali ke saat mereka dewasa, tapi ketertarikan itu malah semakin sirna. Sudut pandang Jeannette yang mixed banget digambarkan oleh film lewat benturan tone. Akibat dari ini adalah beberapa adegan really misses the mark lantaran malah terlihat dimainkan sebagai komedi.

Aku selalu punya masalah dengan film-film yang menggunakan musik yang terlalu menyuruh penonton untuk merasakan suatu emosi tertentu. Di film ini, aku mendapati musiknya sangat gak klop nan mengganggu penyampaian emosi. Film ini mencoba membuat kita merasakan apa yang dirasa oleh anak-anak itu ketika orangtua memanfaatkan mereka dengan harapan. Maksudku, sangat sering kita jumpai dalam film ini adegan-adegan yang sebenarnya tragis, sedih dengan dilatari oleh score musikal yang ‘memaksa’ kita untuk melihat bahwa ini adalah adegan yang bahagia. Pemandangan seorang ayah dan ibu yang basically membiarkan anak mereka enggak makan, ataupun mengambil duit tabungan anak mereka, atau membiarkan mereka berada dalam situasi yang berbahaya sesungguhnya adalah pemandangan yang sukar untuk dilihat – disturbing. Akan tetapi, musik yang dimainkan saat adegan kelam ini begitu uplifting seolah itu adalah momen keluarga yang hangat. Mungkin sebagian orang akan suka dengan cara bercerita seperti ini, namun buatku adegan-adegan tersebut menjadi kurang otentik, emosi yang disampaikan tidak tersampaikan dengan impactful.

keluarga kaca apa keluarga cemara

 

 

Kurang-kurangin deh berbohong kepada anak-anak. Berikan anak-anak kredit perspektif yang lebih sehingga mereka bisa melihat sebening melihat kaca. Buat mereka mengerti situasi dengan mempersembahkan konsekuensi, bahaya, ketakutan, kejelekan dengan transparan. Karena hanya dengan begitu, orangtua akan lebih dihormati oleh anak-anak yang tumbuh lebih kuat.

 

 

Dengan tema yang sama-sama mengangkat pertanyaan apakah membesarkan anak jauh dari sistem dan sosial adalah hal yang bertanggung jawab, film ini tetap terasa tumpul dan kurang greget. Absennya ambiguitas moral yang membuat film ini kalah menarik dan penting dibandingkan Captain Fantastic. Naskah meminta kita untuk merasakan suatu perasaan tertentu untuk karakter-karakter yang ada, namun apa yang kita lihat-kita dapatkan- kita rasakan tidak selaras dengan perasaan mengangkat yang diberikan dengan terlalu banyak. Rex Walls bisa saja memang jujur terhadap anak-anaknya mengenai teori sistem sosial yang ia percaya. Film ini, however, tidak transparan dalam menyampaikan emosi.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for THE GLASS CASTLE.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

1922 Review

“It’s easier to fool people than to convince them that they have been fooled”

 

 

“Di tahun 1922, kebanggaan seorang pria adalah tanah miliknya. Juga putranya. “ Dengan suara bergetar dan tangan gemetar, dari dalam kamar hotel, Wilfred James menceritakan pengakuan atas apa yang sudah ia lakukan ke atas kertas.  Di tahun 1922, tulisnya, aku membunuh istriku.

Di balik pria yang hebat, ada wanita yang hebat. Wilfred tahu dia bukan pria yang bego. Makanya dia menolak keras keinginan istrinya untuk menjual tanah pertanian dan pindah hidup ke kota. “Kota itu tempat orang bego” cerca Wilfred. Ego adalah soal hati, dan hati Wilfred sudah meyakinkannya bahwa pergi ke kota sama dengan menyerah pada keuangan, mengakui bahwa dia bukan petani yang cakap. Wilf punya pepatah tandingan yang lebih ia percaya; di dalam setiap pria, ada pria lain. Seorang asing. Seorang pria yang siap melakukan tindakan yang amoral dan ilegal. Setelah argument demi argument tak berkesudahan dengan istrinya, Wilfred tampaknya mulai berpaling kepada si pria di dalam dirinya. Petani tersebut lantas menyusun rencana untuk membunuh sang istri, dan dia akan membujuk putra kebanggaannya untuk membantu.

Di tahun 1922, untung belum ada Sadako

 

2017 adalah waktu yang paling asyik untuk menjadi penggemar Stephen King. Susul menyusul film adaptasi dari cerita si maestro horor spesialis cerita balas dendam ini bermunculan. Dari The Dark Tower, ke It, ke Gerald’s Game, it keeps getting better and better. 1922 diangkat dari cerita pendek, dan jika dibandingkan dengan dua horor King lain yang kita dapatkan recently, memang  1922 adalah film adaptasi yang paling lemah. Tapi tetap saja, ini adalah cerita psikologis yang sangat menegangkan. Oleh sutradara Zak Hilditch, source material dijadikan panduan layaknya ngikutin walkthrough game sehingga film ini menjadi sangat setia dengan cerita pendek orisinalnya. Dan itu bagus, sebab film ini berhasil tepat menggambarkan gimana rasanya diuber-uber oleh dosa sudah menghilangkan nyawa. Perasaan terkungkung juga dibawa keluar oleh sense klaustrofobik yang sangat kental. Shot-shot ruang tertutup dengan tikus-tikus, sebagian nyata sebagian lagi hanya produk imajinasi trauma, membuat film menjadi beneran tertutup rapat. Basically, penceritaan film ini bilang kita enggak bisa lari dari guilt, dari trauma masa kecil, trauma pernikahan yang gak sehat. Masalah keuangan yang dihadirkan sesungguhnya hanyalah device untuk mengikat kita dengan pesan bagaimana satu keputusan yang salah dapat menghancurkan, bukan hanya hidup sendiri, melainkan juga hidup orang lain.

Buat kita yang belum pernah membunuh, tindak pembunuhan hanyalah sebuah contoh dari perbuatan yang mengerikan. Sebuah kejahatan yang besar dan meski dihukum seberat-beratnya. Film ini akan membawa kita masuk ke dalam pribadi seorang yang sudah meyakinkan dirinya sendiri untuk membunuh istri – pasangan hidupnya. Dan dari sini kita tahu, bahwa membunuh adalah dosa tak termaafkan yang akan selamanya mengutuk pelaku – dan orang-orang yang membantunya.

 

Babak pertama benar-benar membuatku melongo. Wilfred mulai memikirkan rencana pembunuhan, dengan seksama membujuk putranya untuk membantu. Practically, dia memanfaatkan remaja lima-belas tahun itu, menggunakan kelemahannya – kalo ikut Ibu ke kota, kau tak akan bisa bersama pacarmu lagi. Sedari awal, narasi menyerang cinta sebagai titik lemah, dan ini sejalan dengan tokoh Wilf yang berkembang menjadi benci kepada istrinya. Dan selagi rencana pembunuhan tersebut terbangun, kita akan dikurung dalam suspens dan ketegangan.

Ketika aksi berdarah itu tiba, film tidak menggambarkannya dengan, katakanlah, dengan glorious. Aksi bunuh dalam 1922 tidak seperti pada film lain, ambil pisau-tusuk-darah yang banyak-dan mati. Semuanya dihandle dengan sangat cakap, setiap frame menghasilkan ketegangan yang terus bertambah. Sekaligus semakin memberatkan sisi emosional. Wilfred tidak mau membunuh dengan menyekap nafas dengan bantal seperti yang disarankan anaknya, sebab itu akan terlalu menyakitkan. Beberapa kekerasan dalam film ini kadang jatoh lebih seperti dark-comedy lantaran benar-benar menyentuh emosi manusiawi. Terutama perasaan bersalah.

aku sudah lama enggak nyaris ketawa liat sapi menderita sejak game Earthworm Jim 2

 

Memasuki babak kedua, pace film menjadi semakin melambat lagi. Fokus cerita sekarang adalah tentang seorang pria dan putranya yang secara perlahan digerogoti rasa bersalah. Sebegitu gampanganya mereka membujuk – dan dibujuk, apakah benar tidak ada cara lain. Wilfred dan si anak ‘membusuk’ karenanya. Sebagai Wilfred, aktor Thomas Jane memberikan penampilan terbaiknya. Actually ini adalah film adaptasi Stephen King ketiga yang dilakoni oleh Thomas, sebelumnya dia main di Dreamcather (2003) dan The Mist (2007), dan perannya di kedua film tersebut enggak ada apa-apanya dibandingkan dengan perannya sebagai Wilfred. Ia paham bahwa Wilfred bukanlah petani yang simple-minded, melainkan seorang yang sangat pintar. Seorang yang tahu apa yang ia mau, dan dia enggak ragu untuk meyakinkan moralnya terhadap cara-cara keji yang ia tempuh. Wilfred akan tersiksa jiwa dan raga, dan Thomas sangat menakjubkan pada kedua teror tersebut.

Reperkusi dari sebuah tindakan dosa yang sangat berat adalah mental dan perasaan yang semakin terbebani olehnya. Rasa itu akan terbendung tak terkira sehingga hal-hal lain di luar masalah tersebut akan menjadi tak penting lagi – kita tak akan bisa mikirin apa-apa selain rasa bersalah. It would consume our life, dan hampir semua hal, semua orang di sekitar kita. Ultimately, akan memburamkan kompas mana yang baik dan mana yang buruk seperti yang terjadi pada putra Wilfred.  

 

Ketika kita ingin  mengadaptasi dengan loyal sebuah cerita pendek menjadi film panjang, tak pelak akan ada beberapa bagian yang terasa dipanjang-panjangin. Inilah yang menjadi aspek paling lemah dari 1922. Setelah poin ceritanya tersampaikan, film seperti enggak tahu lagi musti ngapain. Maka mereka kerap mengulang-ngulang adegan dengan maksud yang sama, meskipun mereka fully aware poin tersebut sudah disampaikan. Melihat Wilfred tersiksa, dia ‘membusuk’ begitu saja, film ini bisa saja menjadi lebih singkat – aku enggak melihat ada kepentingan untuk menjadi satu jam empat puluh menit. Malahan akan bisa menjadi lebih padet sekiranya mereka memangkas menjadi sekita delapan puluh atau sembilan puluh menit.

 

 

 

 

Pesan mengenai dampak, konsekuensi raksasa sebuah pilihan tindakan yang salah terhantar dengan teramat baik. Ini adalah salah satu adaptasi Stephen King yang paling setia dengan sumber aslinya, indah, cerita yang sangat contained. Thriller psikologis dengan beberapa creepy imageries yang semakin manusiawi berkat permainan akting yang menarik dan meyakinkan. Terasa sedikit terlalu panjang, membuat pacing sedikit keteteran. But all in all, aku pikir enggak bakal sulit untuk meyakinkan kalian untuk menonton film ini.
The Palace of Wisdom gives 6.5 gold stars out of 10 for 1922.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We? We be the judge.

POSESIF Review

“If our love is only a will to possess, it is not love”

 

 

Ada hal-hal tertentu yang enggak bisa dilalui bersama tanpa kita menjadi dekat, dan dihukum ngiterin lapangan sekolah berdua dengan tali sepatu saling bersimpulan adalah salah satunya. Perkenalan antara Lala (pendatang baru Putri Marino bermain cemerlang) dengan si anak baru Yudhis (akting Adipati Dolken semakin matang) berawal dari warna sepatu yang melanggar peraturan sekolah. Lala dan Yudhis jadi deket, tak sulit buat temen sekelas Lala nyomblangin mereka, dan jadianlah kedua remaja tersebut. Cinta pertama Lala awalnya manis banget. Kehadiran Yudhis membantu Lala melewati hari-hari. Sekolah, latihan loncat indah, hang out, Yudhis selalu ada di dekat Lala.

Oktober adalah waktu yang aneh untuk menayangkan drama percintaan dengan tokoh anak SMA. Biasanya film-film remaja ramenya sekitaran Februari ataupun pas musim liburan sekolah. Tapi setelah menyaksikan sendiri, aku jadi bisa melihat keserasian film ini tayang berdekatan dengan Halloween. Posesif bukan seperti drama cinta biasa. Sutradara Edwin mengarahkan film ini LEBIH SEPERTI SEBUAH SAJIAN THRILLER. Adegan-adegan film ini dipersembahkan dengan perlahan, meski runtunan dari fase kenalan ke jadian ke deket banget disampaikan dengan cepat. Emosi dan rasa ragu akan merayap masuk sembari hubungan Yudhis dan Lala mekar. Dua pemain lead bermain dengan sangat baik, chemistry tumbuh tanpa tersandung ekspresi yang dibuat-buat. Mereka ngelewatin banyak transformasi emosi, dan mereka nailed each and every one of it. Bagi dunia, Lala mungkin cuma seseorang. Namun buat Yudhis, Lala seoranglah yang jadi dunia. Kita akan menyaksikan hubungan romansa di antara kedua anak muda ini berbelok ke arah yang mengerikan. Kalo lagi enggak bersama Lala, Yudhis akan ngestalk social media, nelfonin nanyain kabar – ada shot yang memperlihatkan Yudhis missed call lebih dari tiga-puluh kali dalam rentang waktu kurang dari satu jam. Dolken bener-bener tepat sasaran memainkan note-note yang creepy.

Sebelum kenalan, Yudhis udah tahu nama Lala dari video instagram, wow that’s not creepy at all

 

 

Posesif benar-benar mengeskplorasi apa yang relationship bisa lakukan kepada jiwa-jiwa muda yang insecure. Betapa  kadang kita lebih memilih untuk mempertahankan hubungan tak-sehat daripada untuk melepasnya dan memulai dari awal. “Belum tentu loh, kamu bisa dapat cowok kayak gitu lagi” saran teman kepada Lala yang bimbang.

 

Menurutku, film ini penting untuk ditonton – bukan hanya karena ini adalah sudut pandang yang berbeda dari film remaja kebanyakan – melainkan juga karena ceritanya yang sangat dekat. Setiap kita pasti pernah jatuh cinta, pasti ngalamin sensasi deg-degannya cinta pertama. Pada beberapa titik dalam hidup, kita pernah berada di posisi Yudhis, atau di posisi Lala, atau di posisi sahabat cowok yang diam-diam naksir Lala, atau malah pernah berada di tiga posisi itu sekaligus. Maksudku, nonton ini juga bisa bikin baper. This movie hits home more than I expected. Personally, I might be or might not be, …. Oke jujur, aku pernah bikin takut anak gadis orang kayak yang dilakukan Yudhis, secara gak sengaja. Dan itulah masalahnya. Untuk sebagian besar kasus hubungan yang mengekang, yang terlalu gak-ngasih jarak, kita gak sadar sudah membuat pasangan merasa tak nyaman. Padahal niatnya, sumpah! padahal niatnya baik

mengapaaa aku beginiiiii??

 

Tema ‘dikungkung oleh tuntunan dari luar’ kerap terdengar di sepanjang narasi. Lala yang terus digebah oleh ayah untuk jadi atlet, nyaingin almarhum ibunya. Yudhis yang enggak boleh ngekos, musti deket terus dengan ibu. Yudhis yang gak ngasih space ke Lala. Sekolah dengan peraturan gak jelas sepatu harus hitam. Bahkan Lala jadian dengan Yudish adalah hasil comblangan dari teman sekolah – yang menyimbolkan persetujuan dari lingkungan terus saja mempengaruhi pilihan dan keputusan tokoh kita. Jika ditelanjangi dari layer masing-masing, film Posesif dan film The Lobster (2015) memiliki kesamaan inti cerita. Perjalanan Lala ialah perjalanan membebaskan diri dari kurungan tak terlihat orangtua, teman-teman, dari orang yang ia masih ragu cinta atau enggak. Kita akan belajar bahwa Lala dan Yudhis sebenarnya punya masalah yang sama, hanya saja Yudish memproyeksikannya dengan cara yang sedikit mengerikan. Pada akhirnya kedua orang ini akan saling posesif terhadap masing-masing, dan itu enggak sehat.

Sesuai dengan overlaying symbol yang disebutkan oleh film; cinta dengan olahraga yang ditekuni Lala, loncat indah adalah pengalaman yang sama bagi anak muda. Terjun ke dalam relationship sama menakutkannya dengan terjun ke kolam dari menara loncat tingkat paling atas. Lala dilatih oleh ayahnya  Naik ke atas papan loncat adalah suruhan, namun actually meloncat adalah murni keputusan Lala. Kamera menangkap resah dan gejolak tersebut dalam shot-shot menarik Lala yang jungkir balik terjun. Menjalin hubungan percintaan itu adalah kerja keras, karena hidup adalah kerja keras dan cinta adalah bagian dari hidup. Ini adalah tentang kontrol – masing-masing memegang kendali atas hidupnya. Dalam film ini, air kolam di bawah itu adalah hidup dengan segala konsekuensinya. Terjun ke dalam itu adalah sebuah pilihan pribadi – kita bisa menyuruh orang untuk naik, tapi pada akhirnya yang bisa kita miliki adalah diri kita sendiri.

 

Perbedaan antara film komersil dengan film yang enggak mainstream bisa jadi hanya terletak pada bagian akhirnya. Posesif bisa saja menutup ceritanya di saat Lala ditinggalin di tengah jalan. Menurutku, jika selesai di sini, saat Lala berjalan di jalan tol yang bercabang, memilih sendiri langkahnya, pesan yang disampaikan akan bisa menjadi lebih kuat. Tapi Posesif ingin appeal buat lebih banyak orang, dan sebagian besar penonton ingin ending yang enggak muram-muram banget. Dan di babak ketiga inilah, film tampak enggak yakin bagaimana mengakhiri cerita dengan memuaskan target penontonnya. Menuju ke ending, cerita menjadi agak terseret – kayak, udah beres, eh ternyata belum. Padahalnya mestinya cerita ditutup either dengan ninggalin Lala tadi, atau Lala dan Yudish enggak pernah kabur sedari awal. Hanya ngeliatin Lala menghapus foto-foto di Instagramnya sudah dapat menimbulkan kesan yang sangat kuat. Pilihan final adalah membungkus cerita dengan freeze-frame close up Lala, wow such a cool way to end -,-

Ada beberapa poin cerita yang enggak konsisten. HP Yudhis yang ketinggalan di dalam mobil adalah contoh plot device yang terasa enggak klop dengan karakter Yudhis yang punya issue dengan kepemilikan. Maksudku, berdasarkan sikap ‘melindungi’nya terhadap  Lala, aku membayangkan Yudhis sebagai orang yang ngeprotect barang-barang pribadi, dia tidak akan lupa dan meninggalkan HP di tempat yang dapat dijangkau orang. Aku juga sempet bingung dengan lokasi cerita, apakah di Jakarta atau di Bandung, sebab di awal-awal Lala dan Yudhis jalan-jalan di NuArt yang terletak di Bandung – aku tahu karena pernah ke sana dan nekat moto-moto daerah workshop patung, kemudian dibentak satpam yang meminta foto-foto yang kuambil di sana harus dihapus; yea, bicara tentang aturan, right..

Soal status anak baru Yudhis juga cukup membuatku mengangkat sebelah alis, dia pindahan dari mana, kenapa dia pindah sekolah di tahun terakhir, apakah ada indikasi sifat violentnya yang menyebabkan dia pindah sekolah, apakah cinta pertama itu di pihak Lala saja – like, apakah sebelum ini Yudhis yang ganteng pernah terlibat cinta ga-sehat dengan cewek lain dan kekerasan yang dilakukannya membuatnya harus pindah sekolah? Menurutku latar belakang Yudhis perlu digali sedikit lagi, karena bisa saja mereka malah meninggalkan backstory yang menarik.

Konteks cerita juga membuat tidak ada konsekuensi nyata yang diperlihatkan oleh film mengenai apa yang dilakukan Yudhis. Yang membuat film ini terasa setengah-setengah. Ini bukan cerita romansa biasa, sekaligus tidak pernah mekar sebagai thriller yang benar-benar mengerikan. Kesan yang diincar adalah keragu-raguan, semua orang melakukan kesalahan, namun dengan absennya konsekuensi yang benar-benar nyata, pesan film tidak sampai pada ketinggian loncat yang diinginkan.

 

 

Cinta bisa jadi adalah ilusi yang tercipta dari kebutuhan kita akan sesuatu yang nyaman, yang terbentuk bukan dari pilihan kita melainkan dari jawaban tergesa atas tuntunan dari luar. Film ini akan mengingatkan kita semua akan itu, dia tidak ragu untuk menjadi menakutkan dalam menyampaikannya. Karena, seperti Lala, terkadang kita harus belajar dalam cara yang keras. Kisah cinta bukan semata milik suka ria. Film ini paham betul dia punya pesan penting, dan dia rela menerjunkan diri di dalam kolam mainstream, menempuh riak resiko kreatif, ini bukan film sempurna, melainkan sebuah kesempatan penting untuk berefleksi diri yang sayang untuk tidak dimiliki.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for POSESIF.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

THOR: RAGNAROK Review

“We would have all been the same anywhere else”

 

 

Apa sih sebenarnya pekerjaan dewa-dewa? Maksudku, apa tepatnya yang mereka lakukan di atas sana, tugasnya ngapain aja; masa iya sepanjang waktu mereka cuma duduk di singgasana mengawasi rakyat sambil makan anggur.  Dalam dunia film, sutradara bisa dikatakan sebagai dewa, sutradaralah yang mengontrol semua – memastikan setiap elemen film bekerja membentuk kesatuan sesuai dengan visi yang ia inginkan. Dan tugas sebenarnya seorang sutradara ialah menciptakan tubuh naratif tersendiri dan menampilkan dengan keaslian. Taika Waititi dapat melihat bahwasanya cara terbaik menginterpretasi tokoh Thor adalah memandangnya sebagai tokoh komedi aksi. Sedari film-film awalnya, juga ketika muncul di Avengers, ada sense of humor yang terkandung di dalam tokoh dewa dari dunia lain ini. Ada dinamika menarik antara sikap hot-head dan jiwa pembela kebenarannya. Jadi, Waititi menggunakan keahlian terbaiknya ketika ditunjuk sebagai sutradara. Apa yang tepatnya ia lakukan? Basically, Waititi menghancurkan aspek serius dari dua film Thor sebelumnya, menyuntikkan berdosis-dosis komedi, sehingga baik dalam konteks cerita maupun penokohan, tokoh (sekaligus film) Thor benar-benar harus memulai dari awal.

Thor: Ragnarok adalah film superhero paling lucu yang pernah dikeluarkan oleh Marvel Studio. Definitely yang terbaik dari seri film solo Thor. Narasinya banyak bermain-main dengan gimmick dewa-dewi Asgard, bersenang-senang dengan trope karakter-karakter superhero Marvel. Yang perlu diingat adalah bermain-main bukan berarti enggak serius. Bersenang-senang bukan berarti melupakan nilai seni. PADA FILM INI SENI ADALAH KOMEDI, pada bagaimana dia bermain-main.

Komedi yang quirky menjadi pesona utama yang membuat film ini berdiri paling tinggi, bahkan di antara film-film superhero komik yang lain. Tidak hanya membuat tokoh dengan kekuataan super itu membumi layaknya manusia seperti kita-kita, yang mana begitulah formula superhero yang baik; setiap tokoh pahlawan harus bisa kita lihat sebagai orang biasa. Dalam film ini para tokoh dibikin ‘enggak keren’. Mereka begitu off-beat. Thor adalah seorang yang konyol, yang sering gak nangkep suatu poin, sekaligus sosok yang kharismatik dan tangguh. Loki, menyamar menjadi Odin, menciptakan teater sandiwara yang bercerita tentang epos kepahlawanan dirinya, hanya supaya rakyat lebih ngeworship dirinya yang dipercaya publik sudah meninggal.

Gestur-gestur kecil buah dari reaksi emosional manusiawi membuat film ini menyenangkan. Gini, jika kalian pernah membayangkan gimana kalo kita menjadi dewa atau punya kekuatan, maka dalam bayangan tersebut sosok kita pasti bakal keren banget. Sok cool gitu. Namun tidak seperti itu di dalam kenyataan, kecanggungan kita enggak hilang hanya karena kita seorang dewa. Memegang pedang keren bukan berarti kita otomatis berhenti nyengir di depan kamera. Tampil gagah dan tampak keren bukanlah job desk seorang pahlawan atau dalam film ini, dewa. Thor: Ragnarok enggak berpaling dari reaksi-reaksi manusiawi, ia malah mengambil sisi humor darinya. Kita akan melihat Hulk mengumpat kesal, Dewi Kematian ngibasin rambut panjangnya sebelum berantem, dan tak jarang seorang karakter meralat kata-kata bijak yang sedetik lalu ia ucapkan, karena keadaan berubah natural dengan cepat dan udah gak sesuai lagi ama konteks yang ia sampaikan.

Bisa-bisanya Kat Dennings malah absen saat film ini jadi komedi

 

Arahan Waititi berhasil mengeluarkan yang terbaik dari para aktor. Tidak banyak dari kita yang melihat potensi komedik dari Chris Hemsworth, dan di film ini kita akan dibuat sangat melek. Kerja komedi Hemsworth sangat marvelous, delivery – timing – ekspresi, renyah semua berhasil bikin ngakak. Pada adegan Thor hendak dicukur, aku benar-benar meledak ngakak, it really hits home for me. Seperti pada dua film komedi terakhirnya, What We Do in the Shadows (2015) dan Hunt for the Wilderpeople (2016), Waititi mengandalkan kepada hubungan antar karakter untuk menghantarkan kita melewati plot poin satu ke poin yang lain. Aku belum pernah melihat interaksi antara dua superhero paling fresh dan semenyenangkan antara Thor dengan Hulk di film ini. Aku gak mau beberin banyak soal Hulk, jadi, ya secara garis besar peran Mark Ruffalo ini terdevelop dengan cukup banyak, personalitynya nambah, dan aku pikir elemen-elemen baru dari Hulk akan memancing reaksi berbeda dari penonton. It’s kinda love it or hate it. Buatku pribadi, aku suka. Tokoh Hulk ini memang rada tricky untuk dikembangkan, dan selama ini ia hanya jadi powerhouse sebagai ekualiser kekuatan musuh. Dalam Ragnarok, dia ada kepentingan lebih dari  sekadar “friend from work” untuk berada di sana, meski dia sendiri enggak sadar. Thor menyebut kelompok kecil mereka sebagai Revengers – kumpulan orang-orang yang punya dendam kepada Hela, dan cuma Hulk yang bengong karena enggak merasa ada dendam apa-apa. Peran Hulk di sini adalah sebagai cermin buat Thor, karena jauh di dalam, kedua orang ini adalah pribadi yang punya banyak kesamaan.

Ramalan Ragnarok sudah hampir terwujud. Bayangkan ramalan suku maya 2012, hanya saja ramalan ini adalah kenyataan buat Thor. Demi mencegah itu terjadi, Thor langsung bertindak  Dia enggak mau Asgard hancur.  Mimpi buruk semakin nyata ketika Odin meninggal, dan kekuatan yang selama ini disegel oleh Bapak Thor itu terlepas. Thor dan Loki akhirnya berkenalan dengan kakak sulung mereka, Hela di Dewi Kematian. Namun tentu saja itu bukan jenis perkenalan yang mesra dan penuh peluk rindu. Ini adalah perkenalan yang literally menghancurkan Mjolnir, palu andalan Thor. Drama keluarga dewa tersebut beralaskan darah dan air mata. Hela menuntut tahta, dia menginginkan Asgard kembali seperti zaman kekuasaan ia dan Odin dahulu. Segera saja, Thor menemukan dirinya kehilangan semua. Kehilangan ayah, kehilangan saudara, kehilangan senjata, kehilangan tanah air. Thor sempat terdampar di planet berisi orang-orang terbuang, di sana dia dijadikan gladiator, dan di situlah dia bertemu kembali dengan Loki, Hulk, dan banyak teman baru. Jadi sekarang, setelah kekuatan dan pasukan terhimpun, Thor harus bergegas mencari jalan untuk kembali ke Asgard, untuk mengalahkan Hela demi mencegah Ragnarok terwujud.

Nasionalisme tak pernah adalah soal tempat. Selama ini kita terkotak-kotak oleh batas negara, oleh batas wilayah, sehingga tercipta ilusi persatuan terbentuk atas kesamaan tempat, kesamaan asal usul, kesamaan kampung halaman, that we have to protect the place. Tapi enggak, persatuan adalah soal rakyat. Tidak peduli di mana kita, tidak peduli pribumi atau nonpribumi, ketika kita hidup berkelompok – kita sejatinya menumbuhkan perasaan menyatu atas apa yang kita hadapi bersama. Dan ketika orang berperang atas nama nasionalisme, bukan tempatlah yang dipertahankan. Melainkan persatuan.

 

Selalu menarik melihat penjahat yang punya motivasi dan kebenaran pribadi, dan ia memegang teguh sudut pandangnya itu dengan intensitas yang tinggi. Cate Blanchett memerankan salah satu penjahat yang paling kuat dalam dunia superhero Marvel, Hela tampak berbahaya, dia actually mampu membunuh banyak prajurit. Penampilan akting Blanchett yang meyakinkan hanya membantu tokoh itu stand out lebih jauh lagi. Jika dibandingkan dengan Hela, tokoh Loki dalam film ini akan terlihat sangat lemah. Namun bukan berarti God of Mischief ini terkesampingkan. Tom Hiddleston justru tampil lebih mendua di sini, ekspresinya poker face banget, kita enggak tahu pasti kapan Loki beneran ikhlas membantu, kapan dia memainkan muslihat untuk kepentingan dirinya sendiri.

Ada paralel yang menarik antara ketiga anak Odin ini. Thor, Loki, dan bahkan Hela sebenarnya sama-sama pengen menyelamatkan Asgard, untuk kepentingan yang berbeda. Khusus untuk Hela, ini menjadi semacam history melawan herstory. You know, jika kalian kalah, nama kalian akan keluar dari sejarah. Akan tetapi, baik si kalah maupun si menang punya catatan sejarah sendiri. Loki, di awal film, jelas-jelas ingin membangun sejarahnya sendiri dengan theater sandiwara itu. Dalam film ini ada satu tokoh baru, pejuang cewek yang merupakan mantan Valkyrie – semacam militer Asgard, pasukan khusus cewek.  Dia adalah satu-satunya Valkyrie yang tersisa dan ia menyimpan tragedi  Valkyrie itu rapat-rapat, sebab pihak yang kalah tidak punya kendali atas sejarah.

 

Penceritaan Thor: Ragnarok tidak dibuat dengan terlalu rumit. Set up dan penyelesaiannya dirangkai sederhana, adegan pembuka film  masih nyambung dengan ending. Beberapa penonton mungkin bermasalah dengan tone ceritanya, narasi seperti terbagi menjadi dua; komedi dan eksposisi. Kita akan sering bolak-balik antara kedua bagian ini, dan sesekali menemukan aksi seru di antaranya. Sebagaimana layaknya komedi  ada punchline di setiap akhir poin cerita. Secara visual pun, film ini bermain-main. Banyak penggunaan angle yang tak-biasa dalam menangkap adegan. Efeknya bagus tapi itu sudah kita semua harapkan. Sekuens aksinya, however, terekam dengan sangat fun. Pacenya cepet dengan begitu banyak yang mata kita bisa nikmati per bingkainya. Lagu Immigrant Song tepat sekali menjadi musik tema, dan film ini tahu persis kapan dan di mana harus menggunakannya. Semua penilaian tersebut, semua aspek komedi sampai ke bagian terkecil bekerja dengan sangat baik, tentu saja mengacu kepada penyuntingan yang benar-benar jawara.

Yaaahh yoyo saktinya hancur

 

Salah satu yang sering menjadi hambatan buat film-film Marvel adalah kepentingan untuk merangkai dengan judul lain, bahwa terkadang film bisa menjadi seperti setup gede untuk film lain. Kita akan melihat banyak cameo yang enggak ada hubungannya ama cerita. Pada Thor: Ragnarok juga dijumpai aspek ini. Thor sempat berurusan dengan Doctor Strange, yang sebenarnya bisa dihilangkan atau diberikan peran yang lebih besar lagi. Narasi memainkan cameo sebagai bahan komedi, sehingga membuat kita bisa memaafkan bagian cerita yang kurang signifikan ini.

 

 

Superhero Marvel sedari awal memang diceritakan dengan light-hearted, dan Waititi enggak malu-malu untuk mengubah film ini menjadi komedi yang tentu saja ringan. Namun bukan berarti tidak serius. Para aktor kelihatan sangat menikmati permainan peran mereka, bahkan Waititi sendiri turut nampil sebagai Korg si alien batu yang memperkuat departemen komedi. Di sini para karakter dibuat self-aware, dibuat gak keren-keren amat, dan itu hanya akan membuat mereka menjadi lebih populer dan dekat kepada penonton. Kita mungkin bisa enggak peduli sama mekanisme dan mitologi Asgard yang jauh banget dari Bumi, akan tetapi apa yang mereka lakukan – apa yang mereka hadapi terasa dekat. Ini adalah sajian superhero paling lucu yang bahkan enggak perlu menjadi kasar untuk bisa mencapai kelucuan.
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 for THOR: RAGNAROK.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

DEVIL’S WHISPER Review

“I hear voices in my head, they council me, they understand. They talk to me.”

 

 

Alex sudah hampir pasti menjadi pastor sejati, jikasaja dia tidak mendengar bisik-bisik itu. Suara setan yang disebutkan sebagai judul film ini, menariknya, enggak mesti benar-benar berasal dari makhluk mengerikan.

“Kamu yakin kamu mau jadi Pastor?”  sobat cewek – yang kemudian menjadi love interest – menggoda iman Alex saat mereka lagi berduaan. Bahkan seorang Romo yang menjadi semacam mentor dan tempat Pengakuan bagi Alex di gereja pun, terang-terangan meminta cowok lima-belas tahun tersebut untuk menikmati ‘dunia’ dahulu selagi bisa, sebelum dia resmi berkiprah di jalan agama. Di waktu yang bersamaan, Alex menemukan kotak aneh dari dalam lemari peninggalan nenek. Alex dan ayahnya yang penasaran akan sesuatu yang ‘glutak-glutuk’ di dalamnya, membuka paksa kotak tersebut. Oke, mereka kudu menghancurkan kotak. Namun bukan hanya salib milik mendiang kakek yang terbebas ketika kotak terbuka. Ada sesuatu yang mengerikan yang nempel di salib, yang terus merundung Alex yang menjadi sangat terikat oleh salib tersebut. Memberondong pikiran remaja polos ini dengan bisikan dan pikiran negatif. Membuatnya melihat penampakan yang tidak terlihat oleh orang lain. Mengubah Alex menjadi seorang yang sama sekali berbeda. Dan ultimately, korban berjatuhan tanpa bisa ditahan oleh Alex.

Kalo kata iklan deterjen di tivi, “Berani kotor itu baik”

 

Kita hidup di masyarakat yang lebih mudah menyukai seorang pendosa yang insaf ketimbang seorang alim seumur-umur. Devil’s Whisper mengangkat perspektif yang menarik yang mungkin belum pernah ada yang berani mengeksplorasinya, apalagi hari gini. Seorang anak muda yang pengen jadi pemuka agama. Topik orang yang taat beragama cenderung dihindari, konotasinya adalah berpandangan sempit, kaku, dan sama sekali enggak fun. Film ini enggak peduli. Dia enggak takut untuk menunjukkan agama masih mampu untuk melawan kejahatan. Film pun enggak membuat tokohnya sebagai orang yang, katakanlah, cupu dan terkucilkan. Alex punya teman-teman dekat, dia cukup populer untuk punya pacar. Alex adalah anak baik, yang oleh sosialnya dikhawatirkan ‘terlalu’ baik. Tokoh Alex ini  disandingkan dengan tokoh Romo Cutler, yang berperan layaknya pembimbing. Cutler sudah melihat cukup banyak, dia tahu mana yang baik dan buruk, dan dia percaya kepada Alex, so much, sehingga dia pada dasarnya menyuruh Alex untuk melakukan apa yang ia tahu mestinya Alex lakukan sebagai remaja.

Kita harus pernah melakukan kesalahan, karena tanpa pernah  berbuat salah kita tidak akan pernah bisa sepenuhnya menghargai kebenaran.

 

Devil’s Whisper fitrahnya adalah sebuah horor yang MENGEDEPANKAN KETAKUTAN PSIKOLOGIS, makanya horor film ini terasa bekerja lebih baik ketika kita melihat Alex berdiam, pikirannya berlomba, dan kemudian meledak. I’m a sucker for this genre, dan aku memang menemukan ada lapisan ketakutan personal yang menguar kuat dari tokoh utama. Narasi juga punya lapisan subtil menyangkut masa lalu yang menjadi mengakar menjadi trauma bagi Alex. Film tidak pernah menjelaskan dengan terlalu gamblang soal ini, namun membiarkan kita menerawang atas apakah ada hubungan langsung antara perubahan pribadi Alex dengan bertepatannya timing dia dilantik dengan dia memungut salib bekas kakeknya. Kalung salib tersebut jelas adalah pemantik trauma yang tak bisa (atau menurut psikiater Luna Maya, tak mau) diingat oleh Alex. Aku lebih suka jika film tetap pada jalur psikologis, seperti pada adegan pesta di kolam, Alex yang enggak ikutan berenang bersama teman-temannya terbakar api cemburu demi ngeliat teman-temannya saling bersentuhan, bermain di kolam. Di mata Alex, dia ditertawakan, dan kita melihat Alex dengan marah nyebur ke kolam. Menurutku, film dapat berkembang menjadi sesuatu yang lebih mengerikan dan dalem jika kita melihat Alex melawan setan yakni dirinya sendiri alih-alih dia seperti dirasuki oleh makhluk halus.

Sesungguhnya horor seperti ini enggak butuh potongan anggota tubuh, atau mayat sekalipun. Kematian sadis tidak menjadi soal di sini. Hanya ada satu kali penampakan mayat yang benar-benar berarti, yaitu di sebuah sekuen involving Father Cutler dan momok masa lalunya. Devil’s Whisper pada intinya adalah tentang trauma masa lalu yang muncul ke permukaan, yang dijahit bersama perasaan insecure seseorang (untuk sebagian besar adalah anak muda) yang timbul dari pilihan hidupnya. Ketika film mulai membahas ke arah supernatural, cerita yang sudah dibangun menjadi kurang meyakinkan. Aku enggak mengerti kenapa dan apa pentingnya tiga orang teman Alex dibuat mati dengan cara yang ‘kecelakaan yang aneh’ secara bersamaan. I mean, thriller psikologis mestinya bisa lebih kuat tersampaikan jika cerita dibuat mendua; apakah Alex yang membunuh mereka. Penggunaan CGI yang acapkali tampak kasar juga tidak membantu. Sosok goib yang membayangi Alex mestinya bisa tampil lebih meyakinkan dalam wujud efek praktikal, atau malah enggak perlu diliatin wujudnya sama sekali.

adik cewek itu basically memang iblis

 

Tampil dengan iming-iming ‘horor sekelas Hollywood’ tampaknya lebih menjadi beban daripada menguntungkan. Sebab produk akhir horor produksi kolaborasi rumah produksi MD Pictures dengan Vega Baby, perusahaan hiburan asal Amerika, tidak semengesankan yang mereka harapkan. Malahan, secara produksi, film tampak seperti karya amatiran. Bukan hanya CGInya yang seperti tempelan, audio, adegan, dan bahkan penampilan para tokoh juga banyak yang enggak masuk dengan tone penceritaan. Editingnya terlihat kasar dan mentah sehingga kita menjumpai detil adegan seperti noda lemparan lumpur dari teman Alex di jendela yang menghilang tak terjelaskan di adegan berikutnya. Ini adalah salah satu contoh film yang punya visi kamera yang baik namun dimentahkan oleh arahan yang konvensional.

Film terlihat berusaha keras untuk menjadi mainstream. Digunakanlah taktik jumpscare, meski sesungguhnya taktik tersebut tidak benar-benar diperlukan dalam konteks cerita dan genre ini. Turut dipakai pula musik-musik yang sekiranya cocok dengan telinga anak muda kekinian. The problem is, karakter film ini tidak pernah benar-benar menjelma menjadi pribadi yang mudah direlasikan oleh anak muda.  Ketika dia menunjukkan sifat dan tabiat yang ‘normal’ untuk standar remaja, karakternya sudah dibuat begitu messed up, wajahnya pucet, matanya nanar, rambutnya mencuat di sana-sini. Luca Oriel yang jadi Alex sangat piawai beradegan muntah, dan hanya itulah yang bisa aku bilang dari penampilannya di sini. Emosi Alex tidak pernah tampak genuine. Mode anak baiknya adalah ekspresi berbinar dan penampilan seramnya berupa memandang kosong dengan dagu rapat ke leher. Tokoh ini berakting sesuai arahan dan that’s just about it. Dialog-dialog ditulis dengan sama standarnya, kalo gak mau dibilang dangkal

Kita punya peraturan dan agama masing-masing. Kita beriman kepadanya supaya kita merasa aman. Tapi ketika peraturan tersebut mulai terlanggar, kita mulai mempertanyakan kepercayaan kita. Suara-suara yang didengar Alex adalah suara pendosa yang mempertanyakan semua itu. “Tuhan pembohong!” cecar suara itu. Padahal itu sebenarnya adalah suara yang sama dengan yang tadinya memantapkan Alex menjadi pendeta.

 

 

Tontonan horor dengan tema religi yang kental yang terhambat oleh bisikan-bisikan yang menyarankan dirinya tampil mainstream dan enggak benar-benar memilih jalur yang revolusioner. Mencoba untuk menggali horor lewat jalur psikologis, namun tetep masih bertumpu pada jumpscare, sekuens kematian yang terlalu dilebihkan, dan personifikasi hantu dengen efek komputer yang masih kasar. Film ini hampir menjadi benar, hanya saja tak mampu (atau mungkin tak mau) untuk melebihi pakem ataupun trope-tropenya.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for DEVIL’S WHISPER.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

 

ONE FINE DAY Review

“We lie best when we lie to ourselves.”

 

 

Syuting ke luar negeri, bagi film Indonesia, ekuivalen dengan penggunaan efek komputer yang canggih. Semacam, PH punya duit banyak, namun teknologi yang ada belum memadai, jadi yeah film-film lokal banyak stak dengan cerita berlayer sedikit (malah sering juga satu) dan sebagai gantinya mengandalkan kepada jalan-jalan ke tempat mewah penuh pesona peradaban kayak New York, London, Amsterdam, Paris. Dan kali ini Barcelona. Film-film jenis begini musti mampu menjalin cerita yang benar-benar mengconvey kota yang dijadikan latar, membuat cerita beserta karakter-karakternya punya kepentingan untuk berada di sana. Paling enggak, mereka harus bisa menjelaskan lebih dari sekadar “dunia ini sempit” kenapa pelancong dari Indonesia kerap bertemu ataupun rasanya banyak banget orang Indonesia di negara tersebut. One Fine Day, misalnya (bukan yang film George Clooney dan Michelle Pfeiffer loh ya),  film ini memasukkan elemen pengawal pribadi yang membuat ceritanya memang kudu terjadi di luar negeri.  Elemen musik dengan genre  yang lagi hits juga dibuat film ini sebagai salah satu alasan kenapa ceritanya harus berlokasi di Barcelona.

nyaingin Despacito ni yee

 

Aku sendiri juga sebenarnya enggak punya kepentingan apa-apa pergi nonton film ini. Aku tahu benar drama cinta anak muda kekinian bukanlah genre yang biasa kunikmati. Aku gak ngefans sama pemain-pemainnya. Aku gak pernah mimpi jalan-jalan ke Barcelona. Niatku adalah paling enggak, keluar dari studio aku bisa bikin tulisan yang mengedukasi gimana sih drama yang bagus itu semestinya. Jadi, aku masuk mengharapkan yang terburuk. Dan film ini  ternyataaa….. sepertinya judulnya, IT WAS FINE. Digarap dengan cukup kompeten. Punya skenario yang strukturnya bener. Dari tokoh-tokohnya juga, film ini punya sesuatu yang ingin disampaikan. Ada titik ketika film terasa jadi terlalu dramatis sih, ada bagian-bagian ketika cerita menyerah ke kepentingan untuk bikin baper penonton sebaper-bapernya, dan para aktor benar-benar up for it. Penampilan mereka tepat menghasilkan kesan dan reaksi seperti yang ditargetkan.

Jefri Nichol di sini berperan sebagai Mahesa, seorang yang easy going, sepertinya sedikit slengekan, dia beredar banget di jalanan, dia menyapa orang-orang, terutama cewek. Polisi juga tampak kenal padanya, “hey kamu, jangan lari!” hihihi. Mahesa ini anak band juga, a shirtless band, yang dari main di jalanan bersama dua temannya, sekarang mereka terkenal di youtube.  Dalam rentang sepuluh menit pertama, kita diperlihatkan gimana Mahesa dan kedua temannya itu ngescam cewek cakep yang kaya dan desperate. Itulah yang trio ini lakukan di waktu senggang mereka – yang mana hampir sepanjang waktu – nilep duit cewek dengan memanfaatkan kegantengan Mahesa. Susah untuk peduli pada karakter ini di awal,  apalagi stake cerita ini personal banget bagi Mahesa, dan kita butuh untuk segera di belakang tokoh ini. Namun melakukan itu bahkan lebih susah lagi ketika sedikit demi sedikit pribadinya terbuka. Karena, Mahesa jatuh hati pada Alana’s Michelle Ziudith, dan di sekitar cewek itu Mahesa nunjukin sisi baik, namun kita masih gak yakin apakah baiknya itu beneran dari hati atau muslihat si Don Juan.

KEBOHONGAN DAN KEJUJURAN menjadi tema utama cerita yang muncul berulang dan menjadi benang merah antara tokoh-tokoh yang ada. Bagusnya, benang tersebut enggak tersimpul atau malah putus di akhir. Setiap tokoh diberikan resolusi memuaskan, meskipun beberapa cheesy. Tokoh bodyguard pun mendapat subplot yang sejajar dengan tokoh-tokoh mayor sehingga Surya Saputra yang bermain really contained tidak terlihat seperti tokoh yang out-of-place. Alana, aku sempat cuek juga sama tokoh ini, keinginannya sepertinya cuma punya pacar. You know, kita liat dia duduk sendirian, terus entah kenapa dia punya bodyguard. Tapi kemudian as the story goes, kita mengerti dia sudah punya cowok, dia enggak bahagia dengan relationshipnya, dan bodyguard itu ditugaskan oleh si cowok untuk menjaga Alana ke mana-mana.

Setiap kita pernah gak jujur kepada orang lain, pura-pura, ngeles, atau malah kayak Mahesa – penipu ulung. Namun, kita adalah pembohong yang sangat baik ketika kita berbohong kepada diri sendiri. Pesan inilah yang menggarisbawahi narasi. Sebagian besar poin cerita yang terlihat  lemah di awal; Aku mencibir ketika Mahesa bilang ke Alana “Saya yang bisa jaga kamu” dan Alana percaya, sebab aku masih ingat Alana pertama kali ketemu Mahesa; Dia ngeliat sendiri Mahesa lagi ngedate sama cewek bule, kemudian dia dihajar oleh penagih hutang, di meja kafe. Meski dari sisi Mahesa itu hanya skenario, tapi kalo jadi Alana, aku akan takut pacaran sama orang ini, apa jaminannya dia enggak berantem lagi. Juga poin cerita yang belum-terjelaskan; karena selalu dikawal, Alana ingin bersama orang yang membuat ia merasa bebas, walau mungkin kebebasan tersebut ada harganya. Kemudian datang adegan yang kontras dengan itu, ketika Mahesa nyuruh Alana untuk diam di tempat, dan Alana benar-benar enggak bergerak. Tidak bisakah ia melihat Mahesa gak begitu berbeda dengan cowoknya? Poin-poin cerita tersebut, juga hubungan yang rasanya terjalin terlalu cepat antara Mahesa dan Alana, ternyata bekerja dengan baik dalam konteks pesan ‘kita penipu ulung diri sendiri’

Setiap karakter film ini berbohong kepada diri mereka. Danu, pacar Alana, tahu bahwa Alana gak cinta kepadanya, jadi dia memakai pengawal untuk menjaga agar Alana tidak diambil orang. Danu bohong kepada dirinya sendiri, dia bertindak seolah Alana ada di dekatnya karena cinta, karena nyaman. Tapi enggak. Begitu jua dengan Alana; dia tahu rasa cintanya kepada Danu sudah tergantikan oleh Mahesa, tapi dia tetap balik ke Danu ketika dia mendengar di balik apa yang selama ini dilakukan Mahesa. Cuma Mahesa yang enggak bohong ke diri sendiri, dia hanya bohong kepada orang lain. Mahesa dengerin kata hati, dan ultimately dia belajar untuk tidak bohong sama sekali.

Kita bohong kepada hati. Kita cenderung suka mengabaikan kata hati sendiri hanya demi nyenengin orang lain. Hanya demi memuaskan kebutuhan yang enggak benar-benar kita perlukan. Hanya demi secuil rasa security.

 

Dari nonton film ini, sepertinya aku jadi bisa ngerti kenapa drama cinta Indonesia itu kebanyakan kayak dibuat-buat, gak genuine. One Fine Day adalah cerita yang mature by nature, konfliknya dewasa. Bicara soal kejujuran, soal passion, pilihan hati. Aku paham film ingin membahas sesuatu yang serius dalam tone yang lighthearted, namun tetep terasa ada batasan-batasan adegan yang tidak bisa dilakukan. Tokoh dalam film ini mestinya sudah dewasa, tapi gak benar-benar meyakinkan karena acapkali mereka terasa seperti anak baru gede. Di sinilah letak masalahnya. Tokoh-tokoh tidak meyakinkan, mereka tidak terasa nyata karena tidak bertindak dalam bingkai-usia yang benar. Dialognya sering revert back ke kutipan-kutipan yang cheesy. Film ini juga catering ke pasar terlalu banyak dari yang semestinya mereka lakukan. Penggarapan filmnya, arahan, cara pengadeganan diolah untuk menyampaikan pesan masih mengandalkan trope dan pancingan dramatis yang over. Dalam film ini kita akan melihat montase pacaran, lengkap dengan musik yang ngehip. Soal musik, ya eksesif sekali, maksudku, mereka memasang di adegan sedih seolah akting nangis Ziudith belum cukup untuk menyampaikan rasa. Narasi juga terasa convenient. Ada banyak kebetulan yang terjadi, seperti kebetulan sekali cewek-cewek yang ditipu oleh Mahesa dan teman-teman tidak pernah nonton video youtube mereka atau melihat mereka nampil. But mainly, kebetulan-kebetulan digunakan oleh film untuk memancing tawa ataupun sepercik drama tambahan.

ini cuma aku sih, tapi aku cukup kecele oleh judul, kirain ini film real-time satu hari

 

 

Pada akhirnya semua plot keiket. Yang jahat kena batunya. Yang baik muncul ke permukaan dengan bahagia. Menari dan menyanyi. Berpelukan. It’s a fine day for everyone. Dan aku enggak akan bohong, ini adalah film yang oke. Punya cerita untuk disampaikan, dan tau cara menceritakannya. Kalian bisa ngajak seseorang yang spesial untuk nonton bersama, dan belajar soal kepercayaan. Kejujuran dan kebohongan. Tapi hanya itu. This movie doesn’t break any ground, or taking risk, atau menjadi lebih menantang – atau bahkan lebih dewasa, or anything else di luar jangkauan target pasarnya. If anything, justru malah bisa jadi lebih baik lagi jika tidak terlalu terpaku kepada trope-trope drama.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for ONE FINE DAY.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

WIND RIVER Review

“Nothing burns like the cold.”

 

 

Kuda dan hewan ternak di pegunungan bersalju kawasan reservasi pribumi Amerika pada tewas dimangsa oleh hewan-hewan liar. Serigala. Oke, masih mending. Singa gunung. Well, now there’s a problem. Orang-orang pada umumnya gak mau berurusan dengan singa, Cory Lambert malah memburu kucing gede itu dengan motor salju dan senapan. Sebab itulah pekerjaan mantan pemburu tersebut, dia mengurusin masalah hewan liar yang mengganggu kedamaian ternak di sana. Saat melacak jejak singa di padang salju, Cory menemukan jejak lain yang mengawalnya ke mayat cewek Indian remaja. Tempat dan kondisi yang sangat mengenaskan untuk beristirahat selamanya; paru-paru meledak, telapak kakinya yang tanpa sepatu biru membeku.

Jelas bagi Cory, ada predator lain yang lebih berbahaya yang harus ia buru.

 

Sebuah misteri pembunuhan, akan tetapi sesungguhnya Wind River adalah cerita yang sangat manusiawi yang punya bobot dan hook lebih dari sekadar siapa sih pelakunya. Sedari bait-bait puisi yang menjadi narasi mulai bisa kita dengar, setiap dimensi cerita yang dimiliki oleh film ini penuh oleh simbolisme. Wind River melengkapi trilogi bertema pria yang berada di dua sisi hukum buah tangan penulis skenario Taylor Sheridan. Dan kali ini, tidak seperti Sicario (2015), dan Hell or High Water (2016), Sheridan mengomandoi sendiri skenario yang ia tulis. Nulis dan jadi sutradara itu beda banget, enggak banyak yang bisa cakap pada kedua bidang sekaligus. Untungnya bagi Taylor Sheridan, dia sudah berpikir layaknya sutradara dalam setiap skenario yang ia buat. Dia punya pandangan luas tentang keadaan masyarakat, apa-apa yang menjadi salah dalam pandangan khalayak, dan hal tersebutlah yang diekspresikan olehnya. Dan hal tersebut bukan sekadar justifikasi tindakan moral yang lantang ketimbang menohok, Sheridan membuat cerita yang ditulis (dan kali ini digarapnya) menghantui layaknya puisi.

Dialog-dialog mengalir dengan brutal. Sementara di belakangnya, visual dan lingkungan tergambarkan persis seperti salju putih itu; DINGIN DAN SUNYI. Para aktor penampil mendapat arahan yang sangat baik, semua orang di sini tampak berada di puncak penampilan aktingnya masing-masing. Jeremy Renner menghilang ke dalam perannya sebagai Cory. Dia berurusan dengan masa lalu yang pahit – dia juga kehilangan anak perempuan – dan hal tersebut menjadi jembatan baginya untuk terkoneksi dengan warga-warga lokal di daerah tersebut. Terutama kepada ayah mayat cewek yang ia temukan, yang diperankan dengan sama fantastisnya oleh Gil Birmingham. Martin akan bikin kita terenyuh, ini adalah karakter yang penuh bukan saja oleh duka nestapa, melainkan juga oleh amarah, lantaran perlakuan yang didapat oleh keluarga dari pemerintah. Dan ultimately oleh dunia. Konflik yang dihadapi oleh Martin dan Cory sangat paralel, setiap adegan yang melibatkan mereka berdua saling curhat dan menghibur – dengan cara dingin film ini – adalah adegan yang kuat dan sangat menyentuh.

aku punya perasaan tak terjelaskan bahwa nama Indian si Cory ini adalah Hawkeye.

 

Wind River adalah salah satu dari sedikit film yang berhasil menjadikan lokasi sebagai karakter tersendiri. Kota yang diambil dari kota beneran, lengkap dengan masalah beneran di Amerika, punya peran yang penting di dalam cerita. Kota tersebut mempengaruhi penduduk yang tinggal di sana. Ada kegelapan, hypothetically, yang timbul dari kota yang dirasakan oleh penduduknya. Film benar-benar menangkap hal tersebut. Cory dan penduduk Indian lain stak di sini, di kota yang hanya ada salju dan tak banyak yang bisa dilakukan, dan mereka juga nyaris tidak dipedulikan oleh pemerintah. Ada banyak poin yang nunjukin susyenya birokrasi penyelidikan kasus, yang menunjukkan betapa tak-adil perlakuan yang penduduk kota ini dapatkan. Teks di akhir film literally bikin aku speechless, fakta dan kebenaran itu memang menyeramkan.

Apa persamaan antara salju, duka, dan menjadi Indian di tanah reservasi Wyoming? Sama-sama dingin dan sunyi. Itulah yang dirasakan oleh Cory dan penduduk Wind River. Mereka terpaksa tinggal di tempat yang dicuekin oleh pemerintah, oleh dunia, dan mereka tak bisa melakukan apa-apa selain menerimanya saja. Seperti menelan duka kehilangan. Kita terus mengingat orang yang telah meninggalkan kita, walau pahit, hanya karena kita enggak mau kehilangan kenangan dan hal-hal bahagia bersamanya. Dalam perkembangan diri, demi survival, Cory tahu Wind River adalah tempat yang memohon ada kejadian terjadi kepadanya, meski buruk, thus Cory will hunt them. Sebab tak ada lain yang bisa dilakukan Cory sebagai pemburu, dan batasan buruk bagi dirinya terpampang di kalimat “Singa harus berburu, tapi tidak pada ternak.”

 

Untuk mewakili penonton, film memasang tokoh Jane, si FBI cewek, yang dikirim untuk menangani kasus. Tokoh yang diperankan Elizabeth Olsen ini adalah orang dari luar kota. Saat datang pertama kali, Jane malah ‘salah kostum’. Pakaian yang ia bawa tidak ada yang mampu membuatnya bertahan hidup di cuaca sedingin Wind River. Bersama Jane kita akan belajar banyak atas apa yang terjadi pada kota dan bagaimana kota tersebut mempengaruhi penduduk. Biasanya, karakter kayak gini digambarkan oleh film-film sebagai tokoh yang lemah, dia mendapat banyak bantuan. Tak nutup kemungkinan juga tokoh yang annoying, dia akan banyak nanya-nanya dan dalam keadaan tak mengerti yang konstan. Jane, memang, banyak bertanya dan dia jujur-jujur bilang butuh bantuan kepada Cory. Kemampuan melacak Cory superior daripada yang ia punya. Tetapi Jane bukanlah karakter yang lemah. Dia tidak perlu diselamatkan setiap sepuluh menit sekali. In fact, dia membuat banyak pilihan. Dan, oh boy, dia benar-benar mengambil tindakan.

Untuk begitu lama, film ini mempersembahkan diri sebagai drama. Karena memang ini bukan film aksi. Namun, menjelang akhir, orang-orang berguguran, kejadian menjadi menegangkan. Kelanjutannya bahkan lebih brutal dan intens lagi. Porsi aksinya dibangun dengan cara yang sangat keren, sekitar sepuluh orang bersenjata berdiri siap menembak, stand-off tersebut tergambar dengan cara yang keren dan bikin kita gigit jari sambil melempar pandangan mata ke kanan dan ke kiri. Kita enggak yakin kelompok mana yang lebih terintimidasi, kita harap-harap cemas mana yang salah langkah duluan, yang menarik pelatuk duluan. Semua yang terlibat sama-sama takut, dan di momen krusial tersebut Jane mengambil tindakan. Adegan yang sangat memuaskan yang hanya bisa ditandingi oleh kejadian di babak terakhir di puncak gunung. Aku gak mau spoiler tentang adegan ini, karena perasaan cathartic yang kualami saat melihatnya sungguh-sungguh melegakan, super tegang namun puas secara emosi.

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.  Wind River begitu sadis menangkap bagaimana sebuah tempat, lokasi yang dipaksakan untuk lama ditinggali oleh kita, dapat mendikte pandangan kita terhadap keseluruhan dunia. Membuat kita terkurung, mencegah kita berkembang ataupun melakukan hal-hal yang lebih selain bertahan hidup.

 

 

 

Tak pelak, film yang mengangkat masalah dunia nyata ini penting untuk ditonton. Taylor Sheridan menangkap sesuatu yang lebih putus asa, yang lebih gede dari kriminal biasa, dan itu adalah tentang keserampangan hidup manusia yang disebabkan oleh keadaan emosional yang mengurung. Duka adalah tempat paling sepi untuk tinggal, namun terkadang kita harus tetap tinggal di sana. Seperti orang-orang di reservasi Indian yang tak bisa pindah. Dalam film ini disebutkan teori forensik tentang seberapa cepat dingin dapat membunuh orang, well, dalam lapisan terdalamnya film berkata tentang seberapa cepat dinginnya perlakuan dapat membuat orang melakukan hal-hal yang di bawah derajat moral.
The Palace of Wisdom gives 8 gold stars out of 10 for WIND RIVER.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.