[Readers’ NeatPick] – HIJAB (2015) Review

“Jenaka tanpa perlu menggurui. Hijab adalah bukti film mampu melucu tanpa harus menghadirkan sketsa ala komika yang belakangan ini sering menghiasi film komedi Indonesia saat ini.”Raja Lubis, Komandan Komunitas Forum Film Bandung – Pengamat Film, FTV dan Serial Televisi Indonesia.

 

 

Setiap orang tentu punya film favorit sendiri, film yang ketika ditonton pengen disebarin ke orang lain. Namun, favorit enggak mesti karena filmnya bagus loh, bisa jadi kita suka karena filmnya lucu, atau mungkin geli. Yang jelas, selama bikin blog ini aku sering dapet rekues review; mulai dari yang nyaranin film yang bagus, yang pusing, hingga yang konyol. Dan percayalah, biasanya aku langsung nyari dan nontonin film yang direkues, cuma ya memang tak sempat kutuliskan reviewnya. Kalo ada waktu ketemu temen-temen sih enak, kami bisa langsung obrolin bareng film yang ia rekues. Kalo sama temen-temen di dunia maya, gimana? Maka lantas aku kepikiran untuk bikin segmen khusus review bareng. Dinamakan [Readers’ NeatPick] karena segmen ini terbuka untuk setiap pembaca My Dirt Sheet mengajukan usulan film, dan akan kuhubungi langsung untuk mereview film tersebut bersama-sama.

Di edisi perdana ini, aku menerima usulan Raja Lubis untuk menonton film Hijab, komedi besutan sutradara Hanung Bramantyo yang dibuat dengan gaya unik, ala-ala dokumenter, yang menilik kisah sukses empat cewek mendirikan bisnis hijab. Kita akan mendengar cerita persahabatan mereka, gimana mereka memulai bisnis lantaran pengen punya ‘sesuatu’ di luar nafkah dari pasangan masing-masing, dan eventually apa yang membuat mereka mengenakan hijab.

“Film Hijab penting karena bisa dijadikan pembelajaran dari banyak aspek.”

“Jadi komedi bisa, jadi religi bisa juga ya, Mas.”

“Justru Hijab ini bisa dikatakan salah satu standar film religi yang dituturkan jenaka. Dan saya memang selalu suka pada film komedi yang punya daya untuk melakukan kritik atas isu sosial budaya yang terjadi di lingkungan sekitar. Hijab melakukannya dengan sangat baik.”

“Dan sepertinya ini memang ranahnya Hanung, kan. Dia selalu bisa menemukan cara untuk menyelipkan komentar-komentar di balik hal dan fenomena hits (saat itu).”

“Hahaha kontroversi gitu ya maksudnya? Kontroversi itu datangnya bukan dari filmnya melainkan dari sudut pandang orang yang menilainya. Terlepas dari itu, sebagai sebuah karya saya kira Hijab hanya memotret, mengkritisi fenomena sekitar dengan gayanya sendiri. Namun jika ada yang mempermasalahkan film ini dengan sudut pandangnya juga, itu pun hak mereka.”

“Gaya ala dokumenter – yang bukan dari tokoh real – ini menurutku tepat digunakan oleh Hanung, karena dia ingin memperlihatkan banyak sudut tentang hijab. Meskipun tema yang berulang di sini jelas adalah favoritnya Hanung; isu kesetaraan. Selalu soal kesetaraan. Dia, seperti yang mas bilang, memotret sehingga filmnya terasa relevan.”

“Hijab memotret dan menunjukkan tentang peran suami-istri yang berbeda-beda. Apa yang ditunjukkan oleh Hijab bukan hanya masalah relevan atau tidak relevan dengan masa kini. Tapi lebih ke menunjukkan bagaimana suami istri bekerja sama dalam berumah tangga. Dan prinsip itu akan terus berjalan sampai dunia ini berhenti berputar”

“Dinamika suami-istri di film ini mulai bergeser ketika istri merasa bosan gak ngapa-ngapain. Mereka pengen berkarya sendiri. Dan akhirnya malah jadi lebih sukses daripada suami. Film ingin membuka mata kita melihat apa sih masalah yang bisa timbul dari istri yang bekerja. Buatku film ini cukup materialistis, sih. Uang di cerita ini berperan penting; ia yang memulai dan jadi middle-ground. Suami-suami di film ini enggan ngasih izin para istri bekerja lantaran mereka punya ego. Intensitas cerita naik saat para istri ketahuan bekerja, namun jadi adem lagi begitu usaha mereka itu sukses. Aku pengen melihat apa yang terjadi kalo usaha hijab itu gagal, menurutku pembelajarannya bisa lebih besar lagi jika uang dikeluarkan dari ekuasi – seperti apa dinamikanya nanti.”

“Uang memang penting banget! Nggak ada uang hidup bakal nggak jalan. Film ini nyata seperti demikian. Makanya para istri berbisnis hijab agar bisa leluasa menggunakan uang untuk keperluan pribadinya. Dibawa ke saya sendiri; Saya mempersilakan istri bekerja selama tidak mengganggu dan menyalahi kodratnya sebagai perempuan. Di zaman sekarang ini banyak profesi yang bisa dilakukan seorang istri tanpa harus keluar rumah. Tapi intinya saya memberikan kebebasan kepada istri untuk berekspresi, tentu dengan izin suaminya.”

“Hmm.. ya.. ya, aku juga kalo udah nikah kayaknya bakal bolehin istri kerja tetapi tidak saat anak masih kecil banget, aku gak bisa soalnya ngurus anak ahahaha.. Film ini juga seperti menunjukkan izin suami masih berperan besar ya. Menurutku menarik gimana dengan segala pesan kesetaraan itu, poster film malah menampilkan keempat tokoh kita sebagai boneka marionet yang dikendalikan tangan. Buatku ini low-key ngasih liat bahwa masih ada yang mengatur mereka – entah itu aturan; suami atau agama atau sosial, atau malah duit itu sendiri”

“Saya hanya melihat poster itu sebagai bentuk karikatural yang menandakan bahwa Hijab adalah film komedi. Lebih lanjutnya saya enggan berkomentar.”

“Memang sih, yang aku gak nyangka adalah betapa ringannya ternyata Hanung mengemas. Enggak sampai ke level receh, film ini punya nyali dan tidak meninggalkan rasa hormat sama sekali terhadap yang ia bicarakan, tapi memang film Hijab ini terasa beda dengan film-film Hanung lain yang lebih ‘serius’.”

“Adegan yang paling bikin ngakak banyak sih ya, secara delapan aktor utamanya bermain bagus semua. Tapi kalau yang paling saya ingat sih adegan Dijah Yellow, meski sedikit perannya tapi memorable. Kalo dari tokoh utama, saya suka sama karakter Anin (Natasha Rizky), karena dia adalah karakter yang paling banyak mengalami perubahan sekaligus juga bisa dikatakan menjadi inti cerita filmnya.”

“Anin udah kayak tokoh penentu di film ini. Aku suka gimana Anin dibuat kontras di film ini; dia satu-satunya yang gak berhijab, dia satu-satunya yang belum menikah. Dan dia belajar dari keadaan di sekelilingnya, dia menemukan sesuatu, seperti wakil dari penonton untuk menangkap apa yang sedang diceritakan. Anin mengalami transformasi. Benar-benar berbeda dari tiga tokoh lainnya, kita diperlihatkan proses dirinya mengenal hijab – baginya bukan sebagai pelarian, atau keharusan, tapi sebagai pilihan. Dan di sinilah istimewanya film, dia memberikan ruang bagi hijab untuk dilihat dari banyak segi. Bukan sebatas busana muslimah.”

“Menurut saya Hanung juga memotret Hijab dari sisi budaya. Kan memang sekarang Hijab itu seperti sudah menjadi tren di kalangan wanita Indonesia. Bahkan ada satu dialog juga yang memperkuat fenomena ini. Yakni dialog yang bilang bahwa Hijab menggantikan konde yang biasa dipakai di zaman order baru.”

“Jadi tidak semata hijab adalah simbol kungkungan atau peraturan kan ya. Karena perkembangan dunia, sudut pandang kita pun juga mesti berkembang.”

“Benar. Sejauh yang saya tahu dan saya imani, hijab adalah kewajiban bagi setiap wanita muslim yang ketentuannya sudah diatur dalam Islam. Adapun ketika Hijab menjadi fashion, itu sebuah pergeseran budaya. Namun dengan berubahnya hijab menjadi tren hijab ini jadinya banyak hijab yang diproduksi kurang memperhatikan ketentuan yang sudah mengaturnya.”

“Benar, dari film ini kita juga bisa lihat ada garis pembeda antara hijab sebagai fashion dan sebagai budaya. Adalah pilihan nurani masing-masing, mau memparalelkannya atau tidak. Meski kalo aku sih, aku gayakin juga kalo misalnya aku ini cewek aku bakal makai hijab dari dulu atau enggak hahaha.. mungkin aku kayak Anin atau malah kayak Tata hhihi”

“Waaah itu andai-andai yang sulit dibayangkan karena nggak akan pernah terjadi, kecuali atas izin Allah.”

“Hahaha benar juga. Jadi kalo mau diangkain, dari skala satu sampai sepuluh, Mas Raja ngasih skor berapa nih buat Hijab?”

“Saya berikan 8.5/10. Hijab digunakan judul dan inti utama film ini sebagai bisnis, sekaligus menyindir banyak hal lain. Sebagai jalan bagaimana Hanung melalukan kritik pada aspek kehidupan sosial budaya yang nggak semata-mata soal Hijab. Misal soal karir dan pekerjaan dan peran suami istri dalam rumah tangga.”

“Dalem dan menggelitik ya. Kalo aku ngasih 7/10 karena buatku memang filmnya terasa sedikit ‘main aman’, gaya bercerita yang dipilih bikin berbeda, kreatif, tapi jadi sedikit ‘menyimpan’ tokoh utama atau tokoh sebenarnya yang jadi poin vokal cerita.”

 

 

 

That’s all we have for now.
Terima kasih buat Raja Lubis untuk edisi perdana segmen ini. 

Bagaimana menurut kalian tentang film Hijab? Apa kalian setuju dengan yang disampaikan oleh film ini?

Buat yang punya film yang benar-benar ingin dibicarakan, silahkan sampaikan saja di komen, usulan film yang menarik nanti akan aku hubungi untuk segmen Readers’ NeatPick selanjutnyaa~

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

 

INSTANT FAMILY Review

“There’s nothing temporary about the love or the lesson.”

 

 

Gampang untuk tidak menyakiti orang lain, atau merasa kasihan melihat kondisi orang lain, karena kita membayangkan jika itu terjadi kepada anggota keluarga sendiri. Kita cukup dengan menjauhkan diri dari masalah orang, enggak ikut campur, hanya membantu jika diminta. Dibutuhkan usaha yang lebih keras, lebih susah, untuk secara nyata menyayangi dan peduli sama orang lain. Menganggap mereka seperti anak sendiri. Tidak sembarang yang bisa, yang rela, mengurus anak orang. Tahukah kalian penelitian menyebutkan seorang ibu akan menganggap pup anak kandungnya enggak sebau dan semenjijikkan pup anak orang lain. Bayangkan ada seorang ibu yang punya cinta begitu besar sehingga mau mengurusi pup yang bukan dari pantat anaknya.

Adopsi jelas bukan perkara sepele. Lewat Instant Family, sutradara Sean Anders membagi cerita dan pengalaman suka-duka yang ia alami ketika dirinya memutuskan mengadopsi anak. Dan Anders cukup bijak untuk mengajak kita tertawa bersamanya karena film ini diceritakan dengan begitu ringan dan lucu. Kita akan melihat langkah-langkah yang harus dilalui oleh pasangan yang berniat menjadi orangtua asuh, dimulai dari konseling, masa percobaan, bagaimana mereka memilih anak (film bilang “udah kayak belanja!”), fakta bahwa tidak banyak yang mau memilih anak remaja karena kita bisa bayangkan lebih merepotkan karena mereka sudah mulai memasuki usia ‘membandel’, dan tentu saja drama yang muncul ketika orangtua asuh sudah bertemu dan membawa anak asuhnya ke rumah. Anders, tak pelak, mengerti semua hal tersebut dan ia paham di mana harus menggali kelucuan. Meskipun lucu, bukan berarti film harus kehilangan hati.

berlawanan dengan judul; sebenarnya tak ada yang instan dalam membangun keluarga

 

Mark Wahlberg dan Rose Bryne memerankan sepasang suami istri yang memutuskan untuk mencoba membesarkan anak, tapi Mark menolak punya anak sendiri lantaran tokohnya, Pete, sudah berumur dan dia enggak mau dia udah tua banget saat anaknya remaja. Jadi dengan berkelakar dia semacam bilang kita curi start saja, adopsi anak yang sudah sekolah. Di balik kekonyolan, naskah berhasil membuat kedua tokoh ini – Pete dan istrinya Ellie – sebagai tokoh yang manusiawi; terkadang kita dapat melihat mereka pada awalnya tidak benar-benar serius pengen punya anak – mereka mengadopsi hanya untuk membuat diri mereka merasa lebih baik di mata sanak dan kerabat. Seperti ketika mereka tadinya cukup kaget tatkala mengetahui Lizzie, remaja hispanic yang menurut mereka ‘cocok’ ternyata punya dua adik dan itu berarti mereka harus menanggung tiga anak. Namun kita tidak pernah kehilangan simpati kepada mereka. Kita mengerti ketika mereka melakukan sesuatu untuk menyenangkan hati anak asuhnya, mereka benar-benar pengen membuat anak-anak tersebut senang. Bahwa mereka berusaha menjadi orangtua yang baik. Wahlberg dan Bryne benar-benar tampak meyakinkan; ketika mereka ragu kita juga ikut ragu, ketika mereka marah kita tahu mereka melakukannya sebagai pilihan yang menurut mereka terbaik.

Aku suka naskah memparalelkan ini dengan pekerjaan profesional yang mereka geluti. Pete dan Ellie mencari nafkah sebagai fixer upper; mereka membeli rumah yang sudah bobrok, memperbaikinya, untuk dijual kembali dengan keuntungan yang besar. Ini pada ujungnya memberikan konflik karena mereka terbiasa ‘membangun’ rumah, mempercantik untuk dihuni oleh orang lain. Betapa mengejutkan bagi mereka ketika menyadari bahwa dalam adopsi anak, tidak sama seperti yang mereka lakukan pada rumah. Karena anak berarti menyangkut ‘rumah tangga’. Ada perasaan yang terlibatkan. Plot pasangan tokoh utama kita ini adalah tentang mereka menyadari betapa desperate-nya mereka sebenarnya untuk jadi ayah dan ibu. Lihat betapa takjub dan nagihnya Pete dan Ellie ketika salah satu anak asuh tersebut memanggil mereka dengan “daddy” dan “mommy”. Film tidak mempermudah keadaan dengan membuat ketiga anak yang mereka asuh masih memiliki ibu kandung. Pertanyaan yang menggantung di plot poin kedua nyatanya berhasil membawa cerita ke dalam warna emosional; Apakah Pete dan Ellie bisa merelakan anak yang sudah mereka urus pulang kembali ke ibu kandung yang sudah keluar dari penjara. Apakah itu adil bagi mereka yang sudah meluangkan banyak. Tentu saja itu juga tergantung pada pilihan ketiga anak, namun jika mereka memilih Pete dan Ellie, apakah itu tidak sama saja dengan Pete dan Ellie merampas mereka dari ibu sah yang tentunya juga berjuang untuk anak-anak tersebut. Moral dilema dan drama yang bikin hati anget ini tak sekalipun terselip keluar dari cerita. It’s still there all along, terbungkus dengan rapi oleh pita-pita komedi. Sehingga film akan membuat kita tertawa dan menyeka mata sekaligus.

Jangan pernah meremehkan seberapa besar kau bisa mencintai seseorang dan bagaimana cinta tersebut mampu mengubah mereka. Kita mungkin hanya sementara di dalam hidup mereka. Mereka mungkin tak seberapa lama di hidup kita. Tapi tidak ada yang namanya numpang lewat dalam urusan cinta. Pun pelajaran dan waktu yang kita luangkan bersamanya akan terus terpatri selamanya.

 

Aku suka gimana film ini tidak menggali hubungan Pete dan Ellie dengan anak-anak asuhnya seperti cerita ‘strangers yang menjadi teman’ kebanyakan. Cerita tidak exactly dimulai dengan benci berubah menjadi cinta. Ketiga anak asuh tersebut enggak langsung melawan, enggak seketika distant dan gak respek. Kita melihat kedua belah pihak sama-sama seperti ‘mengetes air’ di awal-awal mereka satu rumah. Film mengambil waktu untuk mengembangkan reaksi mereka. Pete dan Ellie yang merasa bisa dengan gampang ‘memperbaiki’ anak-anak ini, dan the kids, aku suka film tidak membuat mereka menyusahkan bagi Pete dan Ellie. Film tetap membuat ini sebagai tugas Pete dan Ellie; bahwa mereka perlu memahami bagaimana cara yang tepat menunjukkan cinta kepada anak-anak, seperti keluarga normal.

Tokoh anak-anak juga tak kalah meyakinkannya. Isabela Moner menyuguhkan penampilan yang benar-benar kerasa sebagai Lizzie, tertua dari tiga bersaudara. Film memberikan kesempatan baginya untuk menjangkau banyak rentang emosi, dan Moner mengeksekusinya dengan baik. Remaja yang bermasalah, namun Lizzie tidak jatoh annoying dengan akting yang berlebihan. Tokoh ini bisa kita tarik perbandingan dengan Euis di Keluarga Cemara (2019), karena sama-sama paling dekat sebagai sosok antagonis bagi tokoh utama; Lizzie tampak lebih luwes karena rangenya lebih luas, sedangkan Euis sedikit tertahan. Yang lebih bandel sebenarnya Lizzie namun Euis tampak lebih ‘hard to deal with’, menurutku ini disebabkan oleh perbedaan eksplorasi karakter yang bisa jadi berhubungan dengan kemampuan akting pemainnya. Moner begitu natural, sehingga aku jadi penasaran pengen melihat seperti apa dia memainkan Dora later this year. Lain Lizzie, lain pula dengan dua adiknya; Juan dan Lita. Dua tokoh ini kocak banget sebagai karakter komedi. Yang satu tukang merengek, yang satu bego namun super-sensitif. Film membuat kita tertawa oleh tingkah mereka, meskipun aku kadang merasa jahat juga sih terbahak melihat Juan kesakitan karena ulahnya sendiri.

Boleh gak adopsi Moner jadi adek?

 

Dengan tone komedi dan drama yang ngeblend, kadang bikin kita ‘bingung’ juga seperti yang kita rasakan pada tokoh Juan. Is it okay to laugh at children getting hit? Apa sopan mentertawakan seorang wanita yang belum berhasil menemukan anak asuh? Atau menuduh sepasang suami istri yang wajahnya amat mirip sebagai saudara kandung? Film yang tak malu-malu menyinggung berbagai persoalan ini bergerak dengan cepat sehingga kita tertawa dan baru berpikir kemudian. Menakjubkan gimana satu montase bisa hadir dalam berbagai feeling seperti yang dilakukan oleh film ini. Dan betapa randomnya kemunculan cameo Joan Cusack di menjelang akhir itu seolah duo Octavia Spencer dan Tig Notaro belum cukup untuk menggelitik kita semua. Tapi menurutku memang itu semua bergantung kepada selera humor masing-masing penonton. I could laugh at some of it. Dan nyengir buat sebagian kecil yang lain.

Yang benar-benar kepikiran buatku adalah pilihan resolusinya. Di bagian-bagian awal Pete sempat meracau soal white-savior, gimana yang mereka lakukan bukanlah sekedar pencitraan orang kulit putih yang mau menyelamatkan anak-anak. Buatku penyelesaian film ini justru menguatkan aspek white-savior yang berusaha dihindari oleh Pete tersebut. Alih-alih memperlihatkan interaksi untuk mencapai kesepakatan bersama, kita mendapati jalan keluar yang berasal dari keadaan luar; dari seorang ibu yang masih belum keluar dari jerat narkotika. Film berusaha mengalihkan kita dari ras si ibu dengan membuat ada satu tokoh amerika yang juga terikat masalah yang sama; bahwa narkoba bukan stereotipe ras. Tapi tetap saja aspek ini membuat Pete dan Ellie menjadi tampak keluarga paling ‘sempurna’ di antara keluarga lain yang ditampilkan oleh film. Menurutku cerita seharusnya menggali ‘cacat’ dari dalam dengan lebih dalam lagi dari sekadar masalah pencitraan.

 

 

 

Prestasi terbaik yang dicapai oleh film ini adalah membuat kita sadar bahwa wajar saja jika semua keluarga itu ‘gila’. Justru semakin ‘gia’ maka semakin besar pula cinta di dalamnya. Dan yang namanya cinta tak melulu datang dari rantai DNA. Film ini membawa sudut pandang yang unik, dan mencoba untuk menceritakan sesuatu yang mengharukan dengan tawa. Sukses luar biasa. Makanya walaupun adopsi-adopsian enggak terlalu ngetren di sini, film ini tetap terasa relatable dan mampu menyentuh kita semua.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold star for INSTANT FAMILY

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Mengapa orang yang mengangkat anak asuh sering dikatakan sebagai pahlawan? Apakah makna orangtua bagi kalian?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

11:11 APA YANG KAU LIHAT? Review

..subconscious perception from your numbers is able to influence your life.

 

 

 

Dengan judul yang unik, seketika film ini menangkap perhatian kita. Kenapa angka? Di abad pertengahan, berkembang ilmu yang khusus meneliti hubungan antarangka-angka dengan kemungkinan makna di baliknya. Bahwa aspek positif dan negatif yang terkandung dalam setiap barisan angka. Meskipun kita mengulum senyum membacanya, praktek numerologi tak bisa disangkal masih sering diterapkan di dunia modern seperti sekarang. Orang ngadaian pesta di nikah pada tanggal-tanggal yang dinilai ‘cantik’. Bioskop dan pesawat yang enggak punya baris ke-13, atau gimana orang Jepang membangun apartemen dengan sengaja mengeskip lantai empat. Dan aku masih ingat, belum lama banget, berkembang tren ngepos angka kembar yang tak sengaja terlihat dan mengaitkannya dengan lambang abjad dari nama orang yang dipercaya saat itu lagi kangen ama yang melihat angka.

Film 11:11 garapan Andi Manoppo bukan film pertama yang menyinggung horor yang terkandung pada angka sebelas. Pernah ada film Hollywood, 11-11-11 (2011) yang mengkapitalisasi betapa angka sebelas kembar merupakan lambang terbukanya gerbang neraka. Dalam film Manoppo yang menceritakan empat anak muda pencinta diving, waktu sebelas lewat sebelas juga menandakan petaka yang bakal datang. Meskipun memang hanya sedikit sekali build-up mengenai kepentingan waktu tersebut; kita hanya melihat sebelum menyelam, seseorang dari mereka melihat angka tersebut pada jam tangan – dan nantinya keadaan menjadi buruk di dalam air sana. Namun ada satu mitos lagi, sesuatu yang mereka lakukan di dalam sana – yang melanggar larangan – yang actually menjadi trigger sebenarnya kemunculan petaka. Jadi, angka 11:11 pada judul hanya tampak seperti lapisan pengecoh yang enggak benar-benar penting dengan adegannya yang menunjukkan ini seperti ditambahkan supaya judulnya ‘terbayar’. Bahkan tokohnya saja tidak digambarkan punya reaksi apa-apa saat melihat angka penting tersebut.

jelas mereka gak bisa bikin film ini berjudul Karang Hiu karena takut disalahsangka ini adalah film tentang hiu.

 

 

Mungkin juga ini adalah cara film menyentil kebiasaan ajaib kebanyakan orang. Bahwa tidak ada yang spesial pada sebaris angka, termasuk angka kembar. Pikiran kitalah yang membuatnya menjadi spesial. Berkembangnya banyak fenomena dan kebiasaan berdasarkan angka atau waktu menunjukkan betapa kita, manusia, suka menyelami makna. Kita merasa puas jika menemukan kepentingan dan alasan di balik hal apapun dalam hidup.

 

Namun begitu, tawaran 11:11 memang bukan main-main. Horor di bawah laut, penonton dibawa menyelam bersama para tokoh, bukanlah suatu sajian yang mudah merekam dari dalam laut. Ini adalah teritori yang enggak berani dilakukan oleh kebanyakan film. Mereka harus membangun momen-momen mengerikan, kita tidak bisa membuat jumpscare begitu saja, dan lagi para aktor juga akan terbatas geraknya. Film ini punya ambisi yang besar untuk menampilkan itu semua. Mereka kelihatan berusaha untuk menyajikan yang terbaik yang mereka bisa. Hanya saja, tantangannya memang terlalu sulit.

Dengan pakaian selam lengkap, akan susah sekali untuk kita melihat ekspresi para tokoh. Untuk memahami apa yang mereka rasakan, mereka katakan. Butuh usaha dan kemampuan yang tinggi dari pembuat filmnya jika ingin membuat narasi yang utuh dari sekelompok penyelam yang menemukan bangkai kapal, dan punya bermacam reaksi terhadap temuan tersebut. Aku bukan mau bilang kemampuan mereka masih dangkal, tetapi kenyataan berkata lain. Film seperti pasrah untuk menjadi ‘bego’ dengan eventually membuat para tokoh tersebut saling mengobrol di dalam air. Mengobrol yang pake suara biasa, bukan pake bahasa isyarat. Setiap obrolan diakhiri dengan bunyi kresek seolah mereka ngobrol lewat transmiter radio, tapi kita bisa lihat mereka sama sekali enggak punya radio. Mereka menyelam, bicara dengan suara yang jelas, dan kemudian ada candaan seorang tokoh melihat ada cewek dan ngikutin dia nyelam ke sisi lain kapal. Adegannya seperti adegan yang terjadi di darat, hanya saja mereka membawanya ke bawah air. Pun airnya tak pernah menjadi hambatan. Ketakutan dan horor tetap datang dari jumpscare hantu yang muncul. Pada akhirnya kita tetap tidak mendapatkan pengalaman baru, kita tidak tahu seremnya menyelam itu gimana. Ada banyak hambatan yang bisa dilakukan; oksigen habis, kaki tersangkut, buta arah, tapi film hanya melakukan apa-apa yang juga sudah sering kita lihat dalam horor yang bertempat di darat.

Film berusaha keras mengisi durasi satu-jam-lebih-sedikitnya dengan cerita yang menarik mengenai hubungan antara keempat tokohnya. Ada persahabatan yang terjalin di antara tiga cowok, ada cinta segitiga yang mulai merasuk tatkala si cewek baru yang manis itu bergabung. Tokoh utama kita ditulis punya keinginan untuk bertemu kembali dengan ibu, yang sudah mengenalkan dia dengan pantai dan air, yang menghilang saat dia masih kecil. Mengutip lirik lagu Lady Gaga; kupikir “we’re far from the shallow now”. Tapi ternyata, tiga lapis cerita itu tidak benar-benar punya kedalaman. Hilangnya ibu tidak menambah apa-apa pada perkembangan tokoh utama; dia hanya belajar bahwa dia adalah bagian dari tugas sang ibu.  Persahabatan dan cinta pun ternyata cuma untuk jadi pemancing drama yang tak pernah benar-benar mekar. Ada satu adegan di menjelang akhir ketika si saingan cinta udah koit, si tokoh malah bilang semacam begini ke si cewek; “kamu cocok sama dia, kamu tahu kan dia suka sama kamu?” I mean, apa yang mau dicapai dari penenangan yang waktunya sudah telat itu? Ceritanya berlabuh dengan aneh.

Ketika orang menilai film dan mengatakan filmnya bagus karena relasi tokohnya terlihat nyata – mereka seperti temenan beneran, itu bukan berarti mereka berinteraksi biasa-biasa aja kayak bukan dalam film. ‘Temenan beneran’ itu berarti kita merasakan chemistry, seolah para aktor yang memainkan juga temenan baik beneran. Keempat aktor tampak berusaha menghidupkan tokoh mereka, hanya saja tak banyak yang bisa mereka lakukan. Ada satu adegan di meja makan yang terasa genuine akrab. Selainnya, dialog dalam film ini tak pernah terdengar penting. Seperti obrolan biasa yang biasanya kalo dalam kelas menulis naskah disuruh hapus karena bukan dialog film karena tak menghantarkan cerita ataupun menambah karakter. Menurutku, akar masalah ini justru pada karakter itu sendiri. Karakter pada film ini hanya sebaris kalimat. Cewek vlogger, yang kerjanya ngerekam video (aku paling tidak mengharap di videonya ia menangkap sesuatu, ternyata tidak). Cowok botak yang suka menggoda cewek. Cowok satu lagi yang dibuat ‘sok misterius’. Dan tokoh utama yang pendiam dan selalu mikirin ibunya yang hilang. Setiap mereka ngobrol selalu tentang cewek yang berusaha ngedeket tapi agak dijauhin, terus ada yang sirik, dan yang godain. Tidak membahas sesuatu yang lebih dalam, padahal bisa saja kesempatan development dilakukan untuk membangun mitos daerah atau apa.

Menurutku juga kocak sekali gimana si tokoh utama digambarkan kangen ibu dengan membawa pigura fotonya ke tempat penginapan. Tidak bisakah pakai loket atau disimpai di dalam dompet, atau tarok di hape. Hal ‘seaneh’ demikian mestinya berujung pada satu penjelasan atau dimanfaatkan untuk sesuatu, tapi enggak.

11:11.. K! k..k… k… kuntilanak!

 

Mengenai setannya sendiri, juga menurutku masih sangat standar. Penampakannya memang seram. Tapi tidak pernah ada bangunan untuk tokoh ini. Dia cuma ada sebagai teror. Namanya pun biasa sekali; Siluman. Makhluk penjaga pusaka bawah laut yang mampu menimbulkan ombak gede, mahluk yang harus dikalahkan, wujud mengerikan dengan kuku panjang yang mampu membunuh manusia. Siapa bagusnya nih namanya? / Siluman aja, Siluman. Udah serem. Yang kocak dari setan ini adalah pada saat di bawah laut kita sempat diperlihatkan pov shot dari sudut pandang dia, dan itu treatment kameranya biasa aja. Tapi kemudian, di darat kita juga diperlihatkan pov shot miliknya, hanya saja kali ini layarnya berwarna merah. Dan aku; well, yea masuk akal mata hantunya mungkin merah karena kelamaan di dalam air.

 

 

 

Dunia horor perfilman kita mungkin sudah mulai masuk masa jenuh-jenuhnya. Film-film yang berbeda seperti ini diharapkan bertindak sebagai ‘vitamin sea’ yang membawa suasana segar. Sayang, film ini gagal. Ada sedikit usaha yang terlihat, tapi belum cukup. Pengembangannya masih sangkat dangkal. Film masih seperti plot poin dengan pengembangan seadanya, sehingga geraknya masih gak mulus. Tapi menurutku, cerita ini toh punya potensi, hanya saja masih terlalu besar untuk kemampuan pembuatnya yang sekarang.
The Palace of Wisdom gives 1 out of 10 gold star for 11:11 APA YANG KAU LIHAT?

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Apakah kalian punya angka keramat?

Mumpung setan di film ini belum punya nama, yuk kira-kira apa ya nama yang kalian kasih kepadanya jika kalian yang menulis cerita film ini?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

CALON BINI Review

“Freedom is the ability to choose”

 

 

Begitu lulus SMA, Ningsih yang gadis desa langsung disuruh nikah. Sama bujang anak kepala desa yang kaya dan terhormat. Ningsih lebih memilih mengejar mimpinya ke kota. Di Jakarta ia bekerja sebagai asisten rumah tangga, dan coba tebak – di sana ia juga dijodohin nikah oleh nenek majikannya sama sang cucu yang tentunya juga kaya raya. Siapa yang dipilih Ningsih? Apakah semua masalah kehidupan Ningsih terselamatkan berkat cowok kaya yang jatuh cinta padanya? Seorang cewek yang mengerjakan tugas rumahan, masak, membersihkan lantai, yang dikekang mimpinya, kemudian muncullah seorang pria, dan kita mendapatkan pernikahan sempurna. Ujung-ujungnya tetap jadi bini. Sepertinya memang cerita yang familiar. Drama komedi garapan Asep Kusnidar ini cocok sekali mengenakan sepatu kaca Cinderella. Bahkan, actually, sepatu juga memegang peranan penting dalam Calon Bini, meskipun memang bukan terbuat dari kaca, melainkan ‘bersayap’. Dan hal tersebut bukanlah hal yang buruk.

Cinderella dari Bantul

 

Selama ini, Cinderella (1950) menuai cukup banyak kritikan. Dikatain anti-feminisme karena dari luar ceritanya seperti tentang  cewek pasif, cewek lemah yang pada akhirnya diselamatkan oleh kekayaan. Calon Bini dan Ningsihnya dari luar juga seperti demikian. Aku agak telat, sih, menonton film ini. Aku sudah banyak mendengar pujian terhadap film ini pada umumnya datang dari penampilan akting yang benar-benar total; dari penggunaan bahasa Jawa yang benar-benar ada usaha untuk terlihat meyakinkan sehingga memperkuat nilai budayanya. Aku setuju sama pujian itu. Michelle Ziudith luar biasa natural sebagai Ningsih, medhoknya tak kedengeran dibuat-buat. Para aktor senior juga memberikan banyak bobot dan nilai plus untuk penampilan film ini. Mungkin para aktor senior seperti Niniek L. Karim, Slamet Raharjo, Butet Kertaradjasa, Cut Mini, mereka sudah dapat melihat kedalaman dan tidak menganggap remeh cerita ini. Yang aku tidak setuju adalah sama banyaknya pendapat yang menyebut Ningsih hampir senada dengan yang disebutkan orang terhadap Cinderella. Karena baik Cinderella maupun Ningsih bukan sekedar tokoh cantik yang beruntung. Sebab kedua cerita ini sebenarnya adalah cerita tentang wanita yang kuat. Inilah yang luput dilihat sebagian besar orang; Lupa melihat konteks hidup Ningsih, dan Cinderella.

Cinderella malah ‘dipersalahkan’, dicemooh karena tidak melakukan apa-apa terhadap situasinya; dia tetap kerja mesti ibu tirinya jahat. Padahal sebenarnya Cinderella melawan, dia tidak kabur dari masalah, lebih memilih kebaikan dan sifat optimis sebagai senjata terhadap kondisi yang sulit, dia menggunakan imajinasi dan kreativitas untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Dan perlu diingat, Cinderella hidup di tahun 1950 di mana wanita belum sepantasnya bekerja, atau hidup sendiri. Inilah hal ‘kuno’ yang terdapat pada Cinderella – bagaimana dia diposisikan sebagai korban, dan dia berjuang atasnya. Calon Bini, buatku, tampak seperti  menjawab kritikan terhadap Cinderella – bukan serta merta meniru cerita impiannya. Film bekerja sesuai zaman ia dilahirkan. Kita lihat Ningsih yang wanita modern tahu ia punya pilihan. Maka ia kabur dari kampungnya, dia pergi ke Jakarta. Bukan untuk melarikan diri, melainkan untuk melawan opresi berupa paksaan kawin. Dia diantar ayah dan ibunya, tidak pergi diam-diam. Ningsih menawarkan solusi terhadap kemiskinan keluarga. Dia ingin bekerja, wants to be able to provide for herself sehingga gak nyusahin keluarga. Daripada disuruh kawin demi kemakmuran semu keluarga besar di kampung yang menekan dia dengan aturan-aturan sosial beserta segala keterbatasan yang datang bersamanya. Ningsih juga punya imajinasi dan kreativitas. Kita melihat bukti hal ini dari gimana filosofisnya dia mencari nama untuk akun sosial media yang ia gunakan. Sayap yang tadi sempat kusinggung adalah simbol imajinasi yang muncul dari dunia yang menghargai dirinya. Ningsih ini postif dalam melihat apapun, bahkan melihat kesepian dan kematian. Inilah yang membuat dirinya serta merta diterima oleh Oma. Tokoh Oma, sama halnya dengan tokoh Ibu Peri dalam Cinderella, adalah amplifikasi dari sifat-sifat positif dan kekuatan yang dimiliki oleh Ningsih, yang pada akhirnya memberikan tokoh utama kita ini kesempatan untuk menggapai impian.

Setelah nonton ini, aku tak bisa melihat ini sebagai cerita ftv tentang cewek miskin yang diselamatkan oleh cowok kaya. Calon Bini berjuang untuk mengangkat derajat ceritanya, dia ingin membuat kita semua dapat melihat lebih jauh di balik apa yang kita lihat.  Alih-alih seperti jatuh cinta pada pandangan pertama, film membuat Ningsih dan Satria saling terkoneksi lewat hubungan emosional sedari awal, sedari saat mereka belum tahu lawan berbalas-komen mereka itu kaya atau miskin. Film memainkan aspek chat dan emotional intimacy dengan lebih baik dan lebih ngefek daripada yang dilakukan oleh The Way I Love You (2019) . Catatan kecil; menurutku lucu juga Rizky Nazar memainkan dua tokoh lawan chat yang simpatik namun misterius dalam waktu tayang yang berdekatan haha. Anyway, aspek modern dimanfaatkan benar supaya tak lagi ada celah orang salah membaca film ini, seperti orang misreading film Cinderella. Chat-chat Ningsih bukanlah mimpi-mimpi siang bolong pasif. Terkait ini, perhatikan gimana film dengan gamblang membuat perbandingan antara Ningsih dengan rekan kerjanya, Marni, yang literally hobi tidur siang. Malah ada satu adegan Marni lagi di dunia mimpi tatkala Ningsih menyuarakan impian tepat di atasnya. Semua yang dilakukan Ningsih di internet adalah penampakan dari kekuatan, harapan, dan keberanian yang ada di dalam dirinya.

Ningsih independen. Dia menemukan kesenangan dalam dunia imajinasi, atau katakanlah dunia maya. Foto-foto dengan caption puitis yang ia pos menyuarakan kekuatan, harapan dan impiannya. Hal-hal yang merupakan traits yang paling dihargai dalam femininitas. Tidak banyak orang yang bisa sekuat Ningsih, cewek maupun cowok, yang lebih memilih mengejar impian ketimbang uang di depan mata. Semua ini adalah tentang kebebasan, kemandirian, untuk memilih apa yang terbaik untuk dirinya sendiri sebagai perwujudan dari wanita yang kuat.

 

 

Istilah ‘kisah Cinderella’ seringkali dipakai untuk menggambarkan situasi ketika pihak yang tak dikenal, tak diunggulkan, mendapat kemenangan besar di luar ekspektasi semua orang. Namun sebenarnya cinderella-cinderella dalam cerita tersebut berhasil mewujudkan mimpi mereka bukan tanpa perjuangan dan kerja keras. Ningsih dalam Calon Bini, sederhananya menuai hadiah atas kerja keras, kesederhanaan, dan ketabahan mengejar mimpi yang dilepehkan oleh banyak pihak. I mean, dia kabur dari potensi hidup enak di kampung! Perihal ‘pangeran’nya kaya dan tampan itu bonus untuk sikap baik yang ia miliki. Naskah turut mengerahkan usaha untuk keluarga Ningsih melihat di luar faktor uang. Makanya melihat ada drama usir-usiran yang juga nyambung dengan mulus dengan komedi yang datang sebelumnya. Film menunjukkan compassion Ningsih dari bagaimana dia tekun bekerja dan peduli sama keluarga di tempat ia bekerja, dia melakukan tugasnya dengan baik, penuh perhatian. Sekali lagi film membandingkan Ningsih dengan Marni yang ngasih gula kebanyakan. Cinta Ningsih adalah geunine. Sapto adalah perwujudan dari antagonis baginya, sebuah opresi di mana hanya ingin memiliki tanpa cinta. untuk Sapto ini aku agak kasihan juga sih, tapi dia juga benar-benar kocak – like, aku bisa maklum dia nyiumin foto, tapi dia nempelin foto wajah itu di badan Ramboo benar-benar gila ngakak buatku. Ningsih, sebaliknya, tak sekalipun ngajak cowok teman onlinenya untuk ketemuan, atau bahkan jadian. Dia sudah cinta hanya dengan mengobrol saja.

juga menakjubkan jumlah orang cadel dalam satu film ini hhaha

 

Namun, memang masih banyak elemen yang di-shoehorn masuk ke dalam cerita. Yang meminta kita untuk angguk-angguk saja tanpa memikirkannya lebih lanjut hanya karena cerita pengen seperti begitu. Seperti misalnya kenapa Ningsih bisa kebetulan banget kerja untuk keluarga Oma. Ataupun kenapa Oma yang jelas-jelas ngerti cara media sosial bekerja – dia membuat akun palsu di aplikasi cari jodoh, dia punya grup chat dengan teman-temannya yang tinggal seberapa – tidak ngobrol online saja dengan cucunya yang ia sebut teman baik. Pada lapisan luar, juga tidak begitu banyak yang dilakukan oleh Ningsih; kejadian dan kelakuan orang-orang di sekitarnyalah yang justru membuat maju cerita. Ningsih masih bereaksi ketimbang beraksi. Menurutku naskah dan tokohnya bisa ditulis lebih baik lagi. Ningsih diceritakan punya mimpi, tapi kita tidak pernah diperlihatkan apa yang sebenarnya ia kejar, apa cita-citanya sebagai wanita. Buatku cerita ini kurang memuaskan karena di akhir Ningsih malah jadi ngikut calon suami. Dan terutama, hilangkan saja elemen-elemen yang seolah gak pede untuk cerita tampil tanpa twist. Karena bukanlah twist lagi sedari awal. Kita tahu. Pengungkapan yang dilakukan oleh film hanya bekerja buat Ningsih seorang. Di poin tersebut kita tidak lagi satu sepatu dengannya, kita tidak bergerak bersamanya karena kita sudah tahu duluan.

 

 

 

 

Kitalah yang dangkal melihat Cinderella sekadar cerita tentang ukuran kaki. Kitalah yang luput melihat Calon Bini hanya seperti FTV yang ditayangin di layar lebar. Karena seperti yang diperlihatkan oleh Ningsih, it’s what’s inside that matter. Pun menurutku, di samping komedi yang mengena karena dibawakan dengan baik, film ini benar mencerminkan masa kita, dia tak lupa budaya, dia juga memperlihatkan aspek-aspek yang tak bisa dimiliki oleh kisah Cinderella. Pendekatan ceritanya moderen meskipun kita masih dapat melihat hidup yang masih tradisional dan simpel untuk orang-orang berpikiran sempit. Dan ya, kupikir kita masih butuh satu cerita Cinderella lagi.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for CALON BINI

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Apakah menurut kalian Ningsih adalah wanita yang kuat? Atau malah lemah? Seberapa penting cerita Cinderella buat para wanita, benarkah ia masih diperlukan di masa kini? Mengingat Ningsih yang pada akhirnya jadi ngikut aja, apakah kemandirian nyatanya adalah hal yang masih menakutkan untuk wanita?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

 

ANTOLOGI RASA Review

“Too often, the thing you want most is the one thing you can’t have.”

 

 

Antologi Rasa, dalam kapasitasnya sebagai kisah kepahlawanan orang-orang yang terjebak dalam ‘zona teman’, boleh saja mendorong orang untuk jadi lebih berani ngungkapin perasaan mereka atau jadi cermin supaya orang bisa lebih peka pada apa yang dirasakan oleh sahabat mereka yang diam-diam mendamba. Tapi sebagai film, Antologi Rasa tidak pernah berkembang menjadi sesuatu yang spesial dengan absennya lapisan cerita, dengan tokoh utama yang pasif dan terlihat canggung dengan kedua tokoh ‘pasangannya’, pun doesn’t break any grounds dengan arahan dan tekniknya. Aku tidak merasakan apa-apa saat menonton ini. Ya, bahkan dengan pemandangan wisata dan kota-kotanya.

Atau… mungkin memang akunya saja yang sudah mati rasa di dalam sana.

 

With that being said, Antologi Rasa adalah cerita tentang Keara (Carissa Perusset sungguhlah temuan yang fresh sekali dari si empunya cerita) yang merasa ia sangat mencintai Ruly, yang wajahnya selalu terbayang setiap dia memejamkan mata. Tapi begitu ia membuka matanya, senyum cengengesan Harris-lah yang dengan ge-er selalu menyambutnya. Keara gak tau sih kalo Harris yang ia lebih suka panggil Rasyid itu cinta banget ama dia. Ketika Ruly batal ikut trip, Harrislah yang menemani Keara cuci mata di Singapura. Tapi tanpa Ruly yang biasanya jadi designated person mereka saat klubbing, di kota seberang ini Keara dan Harris mabok tanpa ada yang mengawasi. Terbangun dari hangover dan rasa kesalnya kepada Ruly, Keara mendapati dirinya tercelup ke dalam masalah perasaan yang pelik di antara mereka bertiga. Bisakah cewek ini mengenali mana cinta mana yang sekadar suka, sebelum cinta sejatinya tersebut pergi merelakan demi kebahagian dirinya.

sebelum cium bibir berubah menjadi cium bubur

 

 

Meskipun begitu nyampe plot poin pertama pertanyaan yang muncul di benakku adalah “kapan film ini usai?” alih-alih jadi peduli sama konflik cerita, toh setidaknya film ini punya struktur cerita yang lebih bener ketimbang Critical Eleven (2017) saudaranya yang sesama adaptasian dari novel Ika Natassa. Jika mau diungkit, memang kedua film ini punya unsur yang sama; sama-sama ada pesawatnya, sama-sama kisah cinta yang dewasa, sama-sama dihidupi oleh tokoh yang gak masalah bergaya hidup lebih bebas daripada aturan agamanya. Buatku pribadi, ada satu lagi kesamaannya; aku tidak bisa membawa diriku untuk menyukai ini. Film cukup bijak untuk memperlihatkan ketiga kehidupan Keara; pribadi, personal, dan profesional. Yah, walaupun hobi fotografinya tidak menambah banyak ke dalam cerita. Aku bisa mengerti apa yang cerita ini pengen sampaikan, aku mengerti tahapan perubahan yang dialami Keara – karena film ini punya naskah yang mengeset itu semua dalam sekuens-sekuens yang normal – yang works sebagai sebuah struktur drama. Akan tetapi penyajiannya, kesatuan yang membentuk tampilan film ini dalam bercerita; membosankan – tidak pernah menantang.

Menit-menit pertama, yang diceritakan dengan gaya narasi benar-benar mentah seperti masih dalam bentuk novel. Tokoh yang melafalkan deskripsi seseorang sementara kita melihat langsung orang tersebut. Tokoh yang menyebutkan suatu kegiatan, sementara kita sudah lihat lebih dulu. Atau bahkan kita tidak melihat apa yang sedang ia sebutkan. Film bisa menghemat banyak waktu, bisa lebih mengefektifkan durasi jika pengenalan dilakukan lewat visual. Karena dialog itu terlalu gampang, dan mubazir jika kebanyakan, seperti yang kita lihat di sini. Selain itu, ia juga merasa teramat sangat perlu untuk menyampaikan rasa lewat lantunan lagu-lagu dengan lirik yang dipas-pasin, yang muncul setiap kali tokoh dalam keadaan yang emosional.  Film Antologi Rasa mengincar terlalu rendah, tidak mengambil resiko apa-apa. Dalam cahaya yang lebih positif, bisa dikatakan film ini hanyalah sebuah tontonan berikutnya yang bisa kita nyalain untuk mengisi hari kasih-sayang.

Pemandangan demi pemandangan cantik ditangkap oleh kamera. Para pemain juga udah kayak antologi dari insan-insan paling sedap dipandang seantero muka bumi. Tetapi betapa dangkalnya kalo kita hanya membicarakan penampilan. So I won’t pull any punches; bahwasanya performa akting di sini tidak ada yang memuaskan. Bahkan Herjunot Ali yang paling berpengalaman di antara para cast tampak kesusahan membangun chemistry, memancing kehidupan yang natural dari lawan-lawan mainnya. Interaksi antara tiga tokoh ini; baik itu Keara-Harris, Keara-Ruly, maupun Harris-Ruly, tampak begitu canggung. Seperti menyaksikan orang-orang yang dipaksa bersosialisasi di luar keinginan mereka. Mereka tidak membawakan dengan lepas. Saat pusing, atau mabok, mereka seperti dikomandoi – enggak natural. To be fair, sekiranya aku jadi Carissa pun sepertinya akan bingung juga harus bagaimana ketika tokoh Keara tidak dibuat jelas antara dia merasakan cinta atau hanya tidak mau ditinggal sendiri. Tiga tokoh yang mejeng di poster dengan gaya blocking yang mengingatkanku pada barisan Power Rangers itu sesungguhnya punya masalah yang sama; mereka jatuh cinta kepada orang yang tak-bisa mereka miliki. Ini adalah masalah yang sangat emosional, begitu konfliknya pasti perasaan di dada masing-masing. Tapi bangunan yang disiapkan untuk mewadahi semua itu sangat sederhana. Perubahan karakternya tidak dikembangkan dengan maksimal.

mendingan mijitin Keara daripada … (isi sendiri)

 

 

 

Dua tokoh cowoknya berakhir seperti jerk ketimbang simpatis. Mereka dua-duanya menggunakan rasa cinta mereka yang tak bersambut itu sebagai pembenaran untuk took advantage of her. Keara di film ini didominasi oleh pria – dia berpindah dari satu cowok ke cowok lain, bukan karena pilihan, melainkan karena kondisi kerapuhannya yang dimanfaatkan. Bertengkar dengan Ruly, Keara mabok dan ‘jatoh’ ke tangan Harris. Tidak mau menerima Harris, Keara menjauh dan didekati oleh Ruly, orang yang selama ini ia idam-idamkan. Mungkin ini cara film untuk menunjukkan betapa berbahayanya ketika kita terus mendamba cinta alih-alih menerima cinta yang datang. Tapi tetap saja keseluruhan film ini terasa seperti cerita seorang cewek pasif yang gak melakukan apa-apa terhadap prinsip “cewek nunggu dilamar” yang dipanjang-panjangkan. Terasa outdated karena kita tahu lebih menarik jika Keara enggak tunduk sama kalimat tersebut dan segera mengambil aksi.

Adalah sebuah hubungan yang sangat menyiksa jika kalian jatuh cinta dengan seseorang yang kalian berteman baik dengannya, tetapi dia tidak tahu/ tidak bisa membalas perasaan kalian. Akibatnya kita akan merasa kehilangan diri sendiri, karena untuk terus bisa ‘berteman’ kita akan dibuatnya rela memberikan apapun, termasuk kebahagiaan diri sendiri. Kita akan meyakinkan diri ‘tak apa tak berbalas’ asalkan masih tetap bisa ngobrol, bertemu, bercanda. Kita akan lupa bahwa kita pantas untuk mendapatkan lebih baik daripada itu – seperti yang dikonfirmasi Keara ketika dia bertanya “better what?”. 

 

Film ini sedikit ada miripnya dengan cerita film pendekku Lona Berjanji (2018). Sama-sama tentang cewek yang tak melihat cinta di dekatnya. Yang melihat ke arah yang salah. Meskipun kualitas teknis filmku tersebut jauh lebih amatir, aku pikir protagonis cewekku lebih menarik karena dia yang beraksi mencari cinta, justru dia merasa ‘lemah’ disodorkan perhatian yang sudah ia salah sangka sebagai cinta. Tapi cinta tentu saja tidak membuat kita lemah. Akhiran filmnya pun Antalogi Rasa ini kalah nyali dengan filmku yang kayak buatan anak sekolahan. Keara seperti tak punya pilihan selain mana di antara dua yang ‘lesser evil’; taking advantage bisa dengan yakin dimaafkan asalkan pelakunya lagi mabok asmara. Di akhir film, Keara practically memohon untuk satu tokoh tetap cinta kepadanya. This is so… I mean, masa sih gak ada cara lain untuk memperlihatkan Keara akhirnya enggak lagi menunggu ‘ditembak’ – masa iya gak ada cara ‘nembak’ yang lebih ber-dignity yang bisa dipakai Keara. She’s deserved that after all of the emotional humiliations she’s been through, don’t you think? 

 

 

It gets better at the end, but the whole journey feels pretty uninteresting. Dengan konflik yang dewasa, dan penuh pancingan emosional, sayang ceritanya berjalan selempeng emosi yang dihantarkan oleh para pemainnya. Padahal dia mengangkat masalah yang lumayan menarik, juga relatif relatable, aku sempat mendengar ada yang sesenggukan juga di studio saat menonton. Buatku, however, ini cerita yang rasanya biasa-biasa saja, didukung oleh performa dan arahan yang juga sama hambarnya.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for ANTOLOGI RASA.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Pernah naksir ama sahabat sendiri? Apa sengaja sahabatan sama ama yang ditaksir biar ada alasan deket-deket karena gak berani nembak? Kenapa kita suka ama sahabat sendiri? Menurut kalian siapa sih yang menciptakan friendzone?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

ALITA: BATTLE ANGEL Review

“The body knows things the mind will not admit.”

 

 

Di saat buku komik mungkin masih dilecehkan di negara kita, kesuksesan cerita superhero –  fakta bahwa cerita kebaikan melawan kejahatan biasanya hadir bersama layer tentang isu-isu sosial yang lebih dalem dalam cerita fantasi seperti ini -membuat para pembuat film mulai melirik komik dari negara luar. Penggemar anime atau manga (alias ‘kartun Jepang’) seluruh dunia pastilah sekarang-sekarang ini sudah merasa hidup di utopia masa depan. Bukan saja karena materi-materi sarat makna nan keren dan selama ini sebenarnya sudah dijadikan inspirasi oleh film-film Hollywood tersebut sudah semakin mudah diakses. Ide adaptasi menjadi film yang bener-bener dibuat dengan ‘mirip’, dengan serius, dengan teknologi yang memungkinkan; nyata-nyata sudah bukan mimpi lagi.

Makanya, jangan malu kalo mulut kita ternganga semakin lebar seiring cerita Alita: Battle Angel ini berjalan. Penonton-penonton di sekitar kita juga sama, kok. James Cameron sudah lama mengumumkan dia tertarik mengangkat Alita yang berasal dari manga buatan Yukito Kishiro tahun 1990 ke layar lebar. Dan melalui film ini kita dapat melihat, Cameron benar-benar peduli dan passionate sekali terhadap dunia yang sedang berusaha ia berikan nyawa. Film ini sendiri adalah mesin, dengan Cameron dan sutradara Robert Rodriguez sebagai gepeto cyberpunk-nya. Pengaruh dari gaya manga berusaha mereka pertahankan, sembari melandaskan gaya dan cara bercerita yang dapat diterima oleh pasar mainstream. Bukan tugas yang mudah memang, tapi nyatanya; Alita yang meskipun bukan kreasi sempurna ini tetap dapat menghibur dan menonjok kita dengan keasyikan dan keseruan.

Rongsokan kepala cyborg ditemukan oleh Christoph Waltz saat ia yang berperan sebagai Dr. Ido berjalan di junkyard Kota Besi. Terkenal sebagai tukang reparasi barang-barang cyborg, sang dokter mengkonstruksi ulang tubuh untuk tempat kepala yang ternyata masih ‘hidup’ tersebut. Si cyborg cewek kini Rosa Salazar yang oleh efek dibuat bermata gede kayak tokoh komik seutuhnya, diberi nama Alita. Dan walaupun ia tidak bisa mengingat siapa dirinya di kehidupan yang lama, untungnya muscle memory si Alita masih bekerja; dia bisa melakukan berbagai macam hal menakjubkan – bahkan untuk ukuran dunia di mana penduduknya sebagian besar sudah menjadi separuh cyborg – terutama dalam hal berantem. Malahan setiap kali berantem, Alita mendapati ada kenangannya yang sedikit terbuka. Maka Alita mendaftar menjadi Hunter-Warrior untuk nge-jog ingatannya, sehingga kita bisa melihatnya melakukan aksi-aksi keren dalam petualangan mencari tahu siapa dirinya yang sebenarnya.

“Alita de Ángel, sonrisa de cristal~~”

 

 

 

Apa yang terjadi kepada Alita sebenarnya enggak jauh-jauh dari yang otak kita lakukan setiap kali kita mempelajari suatu kepandaian. Istilahnya muscle memory, yang meskipun disebut muscle, namun tetap tersimpan di otak – bukan di otot. Inilah mengakibatkan kita gak bakal pernah lupa lagi gimana caranya naik sepeda begitu kita sudah bisa saat umur lima-tahun, meskipun kita sudah bertahun-tahun setelah itu kita enggak nyentuh lagi yang namanya sepeda. Bekerja seperti insting, tubuh akan membantu mengingat apa yang dilupakan oleh pikiran. Karena itulah, seperti Alita, kita tidak akan mudah melupakan apa yang sudah kita pelajari.

 

Seperti yang sudah ia perlihatkan sebelumnya di Avatar (2009), Cameron adalah orang yang rela jor-joran demi mencapai hasil yang maksimal. Untungnya dia tidak lupa akan kepandaiannya yang satu itu. Dunia Alita terbangun menawan dengan efek-efek yang luar biasa spektakuler. Wujud tokoh-tokohnya yang setengah robot sungguh memanjakan imajinasi, dan semuanya kelihatan asli. Kita gak menyipit aneh melihat perwujudan Alita yang tampak seperti langsung dicomot dari halaman komik. Efeknya menyatu begitu mulus sehingga tampak serapi topeng yang dikenakan Luna Maya ketika berperan menjadi Suzzanna. Dari segi penampilan saja sepertinya film ini sudah memuaskan banyak penggemar manga yang menyempatkan waktu untuk ke bioskop menyaksikan favorit mereka.

Alita memang dibuat lebih menonjolkan visual. Karena tak seperti Ghost in a Shell (2017) yang dibuat dengan banyak bincang filosofi pada tubuh luarnya, Alita berada di jalur yang lebih ‘sebuah hiburan’. Film ini mengandalkan banyak adegan aksi yang memang dibuat sangat memukau. Entah itu adegan berantemnya yang super asik sekaligus penuh violence yang berstyle tinggi (banyak darah dan banyak oli yang tertumpah!), maupun sekuen olahraga ekstrim Motorball yang udah kayak balapan robot, semuanya di-craft sebagai bangunan-bangunan untuk pusat hiburan para penonton. Jika Harry Potter punya Quidditch dan Hunger Games punya ehm… Hunger Games, film ini punya Motorball; olahraga khusus di dunia ceritanya yang udah jadi semacam ‘maskot’. Dalam Motorball para pemain akan berkejar-kejaran memperebutkan bola metal yang bakal digunakan untuk mencetak angka, dan dari rebutan bola inilah kekerasan dan kesakitan para pemainnya dapat dengan mudah tercipta. Film dengan baik membangun minat kita dan Alita – kita melihat Alita latihan, diajarin main, dan kalah, baru kemudian jadi ‘atlet’ beneran  – terhadap permainan ini yang tak sekedar ditempel ke dalam cerita.

serius deh, aku kepengan lihat menagan siapa Alita melawan No. 18. In 3-D!

 

Di balik keseruan itu, film ini menyelipkan komentar tentang bagaimana perilaku masyarakat dalam sebuah lingkungan kumuh di mana tujuan hidup penduduk kota tempat Alita tinggal adalah supaya bisa punya uang cukup untuk ditransfer ke Zalem, kota ‘surga’ yang tertambat melayang di atas kota mereka. Ini adalah masyarakat yang literally hidup di bawah bayang-bayang. Mereka mengusahakan segala cara, kita bisa bilang ini adalah cerminan kehidupan kriminal yang sebenarnya hanya mendambakan kehidupan yang lebih baik. Dalam usahanya membangun franchise, menghantarkan kita ke sekuel, film dengan bijaksana membuat kota Zalem di atas itu sebagai misteri. Kita tidak pernah diperlihatkan seperti apa di sana. Kita juga hanya mendengar rumor tentang enaknya tinggal di sana.

‘Musuh besar’ yang harus dihadapi Alita bersumber seseorang yang disebut Nova. Ia tinggal di Zalem dan kita hanya sesekali diperlihatkan wujudnya. Kita diharapkan bersabar untuk melihat konfrontasi beneran antara Alita dengan Nova – film menyimpannya untuk sekuel. Di film ini, Nova berinteraksi dengan Alita lewat kaki-tangannya yang berkuasa di Kota Besi. Edward Norton malah tidak muncul di kredit IMDB film ini. Oleh karena itulah, Nova tampak sangat satu-dimensi; dia ‘sebatas’ evil presence yang bikin kekacauan di antara rakyat jelata; seorang kaya yang berusaha mengatur dunia dengan duitnya. Dan bahkan kita tidak benar-benar melihat aksinya. Treatment begini juga berdampak kepada tokoh yang mestinya jadi musuh yang harus dikalahkan di film ini. Diperankan dengan canggung oleh Mahershala Ali, Vector tidak pernah tampak benar-benar penting. Kita diperlihatkan dia memang punya agenda jahat sendiri – dia lebih ingin jadi Hades ketimbang jadi pelayan Zeus – tetapi dengan seringnya dia dirasuki oleh Nova, tokoh ini tak membekas. Aku bahkan gak yakin entah harus membenci atau mengasihani dirinya. Begitu pula halnya dengan tokoh Chiren (Cungkar hihihi); Jennifer Connelly dapat porsi yang paling kurang di sini. Tokohnya diniatkan menambah sesuatu pada cerita, hanya saja malah jadi terlihat membingungkan karena begitu minimnya pengaruh dan porsi karakternya.

Yang mungkin paling mengganggu buat para penonton (buatku sih iyes) adalah elemen romance yang jatohnya malah jadi terlalu melodramatis. Elemen penting ini memang ada di sumber aslinya, kita pun bisa memahami ada kepentingan untuk membuat Alita jatuh cinta kepada seorang manusia, tapi bagaimana film menggambarkan hal tersebut – tanpa komedi-berarti yang menjadi katalis antara violence, action, dan dramatisasi ini – membuat kita berharap elemen ini lebih baik ditiadakan saja. Atau, masa sih mereka gak bisa mikirin cara yang lebih baik dari ini. Pace cerita menjadi tidak seimbang oleh karena elemen romantis yang melempar kita semua dari jalur yang kita sudah mengencangkan sabung pengaman. Film ini hampir menyentuh level ke-cheesy-an dialog pasir antara Anakin dengan Padme lewat dialog Alita yang literally menyerahkan hatinya.

 

 

 

 

 

Menyenangkan sekali manga dan anime terus dibuat menjadi film yang penuh perhatian terhadap sumber aslinya. Melegakan bahwa industri akhirnya menyadari potensi pasar dari sumber-sumber tersebut. Film ini, diniatkan sebagai pilar pondasi dari segi hiburan, terasa begitu mainstream dengan segala aksi dan kebrutalan yang seru, yang tergambarkan lewat visual dan produksi yang enggak main-main. Tapi mengingat ini dari manga, akan ada beberapa hal yang terasa aneh. Bagian cinta-cintaan itu, misalnya. Aku paham menyuruh orang membaca dulu materi asli sebelum menonton film adaptasi adalah tindakan yang sama adilnya dengan menyuruh orang harus tahu bikin film dulu sebelum mengomentari sebuah film. Karena film adalah media yang berbeda. Penonton pun bebas ingin menilainya secara ‘close reading’ ataupun secara kontekstual. Untuk kasus film ini, however, aku pikir penggemar manganya atau paling tidak orang yang mengerti bagaimana pakem manga/anime akan lebih bisa menikmati gaya berceritanya.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for ALITA: BATTLE ANGEL.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Pernahkan kalian mengalami suatu kejadian ketika tubuh terasa bergerak duluan sebelum sempat berpikir? Enggak termasuk waktu lagi mencret loh ya hhihi

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

 

 

 

TERLALU TAMPAN Review

“Being attractive might sounds like life is easier but it’s not”

 

 

 

Akan ada masanya setiap remaja memahami makna ‘seleksi alam’ di rimba kemanusiaan. Ketika mereka melihat yang cakep dikasih izin istirahat di UKS oleh pak guru olahraga. Ketika mereka melihat yang ganteng gak pernah digalakin bu guru karena lupa mengerjakan pe-er. Ketika mereka melihat ada saja satu-dua teman mereka yang selalu dikerumunin meski gak jelas prestasinya apaan. Ketika mereka menyadari ada yang beberapa ‘hidup’nya tampak lebih mudah di sekolah dibanding mereka sendiri. Mudah untuk membandingkan hidup kita dengan hidup orang yang kita nilai lebih beruntung dan berpikir “Ah kalo saja aku lebih tinggi”, “kalo saja aku lebih langsing”, “kalo saja aku lebih putih”, “kalo saja aku lebih seksi”. Kalo saja aku lebih….. tampan.

Tapi semua itu mungkin saja tidak benar. Menjadi super kece dan selalu menjadi pusat perhatian tentu saja bisa membuat jengah orang yang mengalaminya. Mas Kulin (Oh, Ari Irham di manakah pori-pori wajahmu?), misalnya, terlahir dengan wajah yang saking overdosisnya tuh kadar ganteng, cewek-cewek yang melihat bisa langsung mimisan, kejang-kejang. Dalam satu adegan yang sangat kocak digambarkan kedatangan Kulin ke sekolah khusus perempuan membuat siswi-siswi di sana mengalami histeria massa. Bukan saja ‘lethal‘ buat wanita, ketampanan Kulin juga berpengaruh pada laki-laki. Cowok yang terkena keringatnya bakal ketularan ganteng, setidaknya selama sejam dua jam. Jadi Kulin merasa terasing oleh sikap-sikap orang yang berada di sekitarnya. Kulin menutup diri, menolak untuk berinteraksi sosial, sampai ia berkenalan dengan Kibo (tokoh Calvin Jeremy berperan lebih dari sekedar side-kick) yang lantas menjadi sobat manusia pertama yang Kulin punya. Dan bertemu dengan Rere (Rachel Amanda mencuri perhatian banget), satu-satunya cewek manis yang enggak pingsan dan mimisan saat melihat dirinya.

Kulin edisi 10 Years Challenge

 

Film ini terlalu unik untuk dicuekin. Jika biasanya cerita akan mengajak penonton bermimpi untuk jadi ganteng, maka film ini menawarkan sudut pandang baru, yang meletakkan kita pada posisi seseorang yang merasa terganggu dengan perhatian spesial dan reaksi kagum berlebihan yang ia dapatkan dari orang-orang di sekitarnya. Kita akan mendapat Kulin yang bersikap sama kayak Auggie, anak di film Wonder (2017); Kulin juga memilih untuk menutup wajahnya dengan helm. Kalian yang sudah menonton Wonder pasti akan bisa melihat uniknya paralel antara Kulin dengan Auggie yang memilih pendekatan berinteraksi  ke luar yang sama, meskipun kondisi mereka berbeda seratus delapan-puluh derajat. Momen-momen Kulin melepas helm tersebut – alih-alih digunakan untuk memantik drama seperti Auggie di Wonder – digunakan sebagai pemancing efek komedi yang benar-benar bikin geger seisi studio bioskop. Dari penggunaan nama-nama tokoh yang lucu; keluarga Kulin yang tampan semua (termasuk ibunya) punya nama yang ajaib seperti Mas Okis, Pak Archewe, Bu Suk, yang mengingatkanku sama nama-nama di komik Donal Bebek dan komik Asterix, hingga ke dialog dan adegan konyol, film menangani porsi komedinya yang absurd tersebut dengan sangat bijaksana. Timing, delivery, semuanya dilakukan dengan pas, dan tidak sekalipun tone komedi tersebut dibuat mentok sama tone drama yang juga dibangun dengan merayap perlahan sebagai lapisan di baliknya.

Well-crafted sekali gimana komedi dan drama tersebut dijalin. Film tidak pernah kehilangan irama dalam menempatkan unsur-unsur yang berpengaruh ke dalam cerita. Bahkan gerakan kamera juga diperhatikan benar mendukung ke penyampaian komedi. Penggunaan warna-warna dan treatment musik, tidak pernah terasa ‘asal tarok’, semuanya berfungsi dan sangat mengangkat emosi dan cerita yang ingin dihantarkan. Adegan Kulin, Kibo, dan Rere nyanyi di karaoke, itu misalnya; bukan hanya pemilihan lagu, blocking para pemain juga dibuat punya makna. Perlakuan-perlakuan seperti demikian, bercerita dengan perhatian terhadap detil seperti yang dilakukan oleh sutradara Sabrina Rochelle Kalangi inilah yang membuat menonton film ini menjadi mengasyikkan, di luar komedinya yang benar-benar sengaja konyol. Gaya filmnya pun unik. Karena diadaptasi dari komik online di Webtoon, sedikit banyaknya kita mendapati gaya-gaya pengaruh manga tertampilkan di film ini.

Aku tidak pernah membaca materi aslinya, aku gak punya pengetahuan apa-apa terhadap cerita film ini, jadi aku sangat tertarik untuk mengikuti ke mana kisah Kulin ini akan dibawa. Melihat Kulin yang sebenarnya penampilan, pembawaan dan kelakuannya enggak cocok dengan imej maskulin, paruh pertama film seperti ingin membawa pesan yang sama dengan iklan pisau cukur Gillette yang lagi viral di Amerika; bahwa jantan atau maskulin itu bukan semata perilaku-perilaku stereotipe ‘pria’ seperti ngomong kasar, main pukul, atau godain cewek – bahwasanya kupikir film ini lewat si Mas Kulin ingin mengomentari bahwa maskulin bukan soal penampilan. Namun kemudian, di paruh kedua, saat Kulin sudah mengembrace ketampanan yang ia miliki, film mengambil keputusan untuk lebih menonjolkan pesan bahwa setiap manusia punya kekurangan.

Punya paras rupawan ternyata tidak lantas menjadikan hidup menjadi segala mudah, tidak lantas berarti kita bisa mendapatkan semua yang kita mau. Karena sejatinya, wajah tidak membuat kita spesial. Rujukan pertama tetap kepada hati dan apa perbuatan yang kita lakukan.

 

Buatku, agak mengecewakan pilihan yang diambil oleh cerita. Aku paham kenapa cerita memilih untuk mengarah ke sana, hanya saja tetap saja ada rasa mubazir; Sia-sia rasanya elemen ‘terlalu tampan’ yang sudah dibangun sedemikian rupa, dengan konsep dan gaya humor yang lucu, yang punya underline pesan yang kuat, ternyata cuma berfungsi sebagai device dalam plot ‘saingan cinta ama sahabat’. Masalah tampannya ini pada akhirnya tidak lagi benar-benar mencuat karena tokoh utama kita terlibat dalam urusan romansa yang bisa terjadi pada siapapun, pada tokoh yang seperti apapun. Tampannya si Kulin hanya dijadikan alasan yang membuat penonton percaya dia bisa bikin deal dengan ‘Queen Bee’ di sekolah khusus wanita itu, yang menggerakkan konflik generik tersebut. Rasanya film ini remeh sekali mengambil fokus di sana, setelah semua hiruk-pikuk unik yang sudah kita nikmati.

while si angkuh Amanda mirip Regina George, Nikita Willynya mirip Lady Gaga hhihi

 

Ada sesuatu pada penulisan cerita film ini yang ‘enggak-beres’ buatku. Apa yang diinginkan oleh Kulin di awal – apa yang sebenarnya ingin dicapai oleh si Kulin ini terasa agak enggak klop. Film belum benar-benar membuat kita menyelam ke dalam kepalanya. Kulin butuh untuk diperlakukan layaknya manusia normal, tapi kita tidak diberikan kesempatan untuk melihatnya sebagai orang normal. Sebagai perbandingan, kita ambil contoh si Auggie tadi; di balik helm astronotnya Auggie adalah anak yang pintar fisika – dia mendapat respek dari kepintarannya. Sedangkan Kulin, helmnya digunakan untuk menutup wajahnya karena ia gak mau dikejar-kejar – dia mau dilihat normal, tapi Kulin tidak melakukan hal yang membuat orang melihat dirinya beyond his face. Apa kelebihan Kulin? Ini bukan soal gak pede, melainkan soal ia begitu ‘pede’ setiap orang akan menganggapnya spesial, maka ia memutuskan untuk menutup diri. Makanya Kulin ‘kaget’ ketika Rere menganggapnya biasa aja, dan apa reaksi Kulin terhadap Rere? Dia merasa dia ‘jatuh cinta’. Aku berani bertaruh bukan cinta yang sebenarnya ia rasakan, melainkan rasa penasaran. Buktinya di akhir film kita melihat hati Kulin menyala lagi mendengar komentar ‘pedas’ seorang cewek yang berbalik pergi mengenai dirinya. Buatku, Kulinlah yang justru seorang masokis, karena dia ‘suka’ ketika ada orang yang menolak dirinya yang spesial.

Bukan berarti film ini berhenti menjadi menarik buatku. Aku tetap menemukan keasyikan. Bagian ketika Kulin balik minta saran bagaimana bersikap sebagai tampan kepada abangnya yang basically seorang douchebag, ialah bagian yang membuatku paling tertarik karena ini mengubah sikap Kulin lumayan drastis. Karakter Kulin jadi unik lagi di sini sebab dia mengambil tindakan lagi. Mengenai si Kulin ini memang penulisan karakternya agak ilang-timbul. Seperti pada di awal, setelah dia menarasikan film, kita malah diperlihatkan kejadian di luar sudut pandang dia. Kita memulai dari sudut pandang keluarga Kulin yang bersekongkol untuk membuat Kulin berinteraksi dengan orang luar. Dan kemudian barulah kita mengikuti si Kulin, kita diharapkan bersimpati ketika dia ngambil keputusan untuk minggat sebab keluarganya dengan kocak mengambil keuntungan dari ketampanannya; sesuatu yang paling dibenci ama Kulin. Namun kemudian di beberapa adegan setelahnya, kita melihat Kulin ikutan bersorak dengan teman-teman sekolahnya saat mereka disetujui ngeadain prom gabungan – di mana Kulin gagal untuk menyadari dia juga sedang dimanfaatkan kegantengannya.

Aku juga mendapati adegan konsul dengan ibu juga sedikit enggak klop karena seperti ‘memberatkan’ kepada dunia. Yea, dunia took advantage of him, tapi kan Kulin sudah melakukan hal yang sama saat dia menjadi ‘cowok brengsek’ kepada teman-temannya, dan justru ulahnya sendiri yang membuat dirinya patah hati. Yang menarik adalah nasihat dari ayahnya yang sebenarnya mengatakan apa yang sudah menjadi prinsip Kulin pada awal cerita. Jadi Kulin seperti berputar di tempat, menandakan penuturan yang sedikit kurang efeisien, padahal toh perjalanan karakternya menarik; Yang Kulin perlukan adalah keluar dan berbuat salah sehingga dia sendiri juga menyadari dia enggak sesempurna yang orang-orang lihat.

 

 

Terakhir kali mendengar cerita huru-hara ketampanan, aku mendengarnya sambil serius dan agak ngeri karena ada ‘adegan’ jari-jari yang teriris. Kali ini, cerita yang punya masalah serupa tersebut bisa aku simak sambil tertawa-tawa tanpa harus segan sama Pak Ustadz. Film ini memberikan tawaran sudut pandang dan gaya yang unik sehingga terasa segar dan menyenangkan. Kita perlu melihat lebih banyak film ‘aneh’ tapi juga berisi. Namun, untuk sebuah film yang bercerita tentang mengembrace kekhususan, dirinya sendiri tampak masih belum cukup berani untuk menjadi lebih spesial lagi. Pilihan ujung ceritanya tidak benar-benar mengutilisi kekhususan itu, malah membuatnya terasa seperti persoalan biasa.
The Palace of Wisdom gives 6 gold stars out of 10 for TERLALU TAMPAN.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Menurut kalian maskulinitas itu apa sih? Penting tidak? Bagaimana pula dengan femininitas?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

THE WAY I LOVE YOU – Beragam Cinta dan Cara Menunjukkannya [Movie Preview]

 

Banyak cara menunjukkan rasa cinta kepada orang yang kita sayangi. Namun yang sering dilupakan adalah cinta itu sendiri sebenarnya bukan sebatas ama pacar. Antara cowok dan cewek. The Way I Love You, cerita asli tulisan Johanna Wattimena dan Gendis Hapsari, mengembangkan cinta yang biasa dikenal oleh kalangan remaja calon penontonnya. Dan ini buatku menarik karena meskipun film remaja Indonesia kebanyakan memang bergenre cinta alias drama romantis, namun yang benar-benar original bukan adaptasi novel dan semacamnya bisa kita hitung dengan jari.

“Film ini berbeda karena tidak seratus persen cinta-cintaan, enggak melulu seru-seruan. Ada harunya juga. Cerita TWILY melingkupi keluarga. Ada rasa persaudaraan. Ada persahabatan,” terang Rizky Nazar, yang bermain dalam film ini sebagai Bara, saat konferensi pers yang diadakan dengan asik di HARRIS Hotel & Conventions Festival Citylink, Bandung, siang 2 Februari 2019.

Bercerita tentang Senja yang dekat dengan sepupu ceweknya. Akrab banget udah kayak kakak-adik. Berbeda dengan sang sepupu, Senja ini anaknya pendiem. Pemikir. Pikiran-pikirannya biasanya ia tuangkan ke dalam tulisan. Blog-lah yang membawanya kenal dengan seorang cowok. kedekatan mereka membawa pengaruh terhadap hubungan Senja dengan sepupu, dengan cowok sepupunya, dan bahkan Senja sendiri merasa ada yang berbeda saat dia beneran ketemuan sama cowok teman blognya tersebut. Kisah keempat tokoh ini bahkan bakal dijanjikan semakin menarik karena Rizky Nazar juga menyebutkan ada twist di dalam plot ceritanya.

Bukan hanya Rizky Nazar seorang yang menempuh macet dari Jakarta untuk bincang-bincang dengan teman-teman media dan komunitas di Bandung. Aktor muda itu hadir bersama dua pemeran lain; Baskara Mahendra yang berperan sebagai Rasya, dan tentu saja tak ketinggalan (nyaris, karena datangnya belakangan hihi) Syifa Hadju yang menjadi Senja. Dengan ceria mereka berbagi cerita keseruan saat proses reading dan syuting. Syutingnya berlangsung selama dua-puluh hari, dan sebagian besar berlokasi di Jakarta. “Di Bogor kita cuma dua hari” tambah Rizky. Ketika ditanya mengenai tantangan saat syuting oleh salah satu media, ketiga aktor remaja yang lagi naik daun itu sepakat menjawab selain pendalaman karakter, mereka tidak menemukan kesulitan yang berarti. Kecuali ketika Rizky sedikit kesusahan mengendarai sepeda motor tahun 70-an. Malahan Baskara dan Rizky menyebutkan keseruan karena sutradara Rudy Aryanto memberikan mereka semua kebebasan. “Pak Rudy open terhadap masukan. Beliau selalu ngobrolin scene bareng pemain. Menerima sudut pandang dari kita-kita” tembah Rizky lagi.

para pemain banyak mendapat pelajaran dari karakter mereka masing-masing

 

Syifa Hadju yang tampil dengan rambut menggulung yang membuatnya tampak semakin cute punya cerita sendiri tentang mendalami karakter Senja. Ia menerangkan perannya itu justru sebenarnya lebih banyak berinteraksi dengan tokoh sepupu, Anya (diperankan oleh Tissa Biani). “Kalo Bara dan Rasya kan, bagi Senja mereka sama-sama ‘orang baru’. Sedangkan sama Anya ini udah deket banget. Padahal aku ama Tissa juga belum lama kenal. Kita jadi sering jalan bareng buat numbuhin chemistry dua sepupu yang akrab itu”, jelas Syifa. Para pemain memang dipertemukan lewat proses casting, dan inilah yang terutama membuat proses syuting mereka menjadi seru. Syifa lanjut membicarakan dia dan Tissa bahkan jadi sering memanggil masing-masing dengan nama tokoh yang mereka perankan supaya feel karakternya lebih dapat lagi.

Kepada keluarga, kepada teman dan sahabat, rasa cinta itu juga sama pentingnya untuk kita tunjukin. Kepada pekerjaan juga. Apa yang diceritakan tiga pemain The Way I Love You ini membuktikan kecintaan dan dedikasi terhadap apa yang mereka lakukan. Syifa, Rizky, dan Baskara dengan bangga menyebutkan aktor-aktor yang bukan sekedar favorit, melainkan juga inspirasi mereka dalam berakting. Rizky menyebut dia sangat mengidolakan Tio Pakusadewo dan Robert Downey Jr. Baskara dengan detil menyebut satu persatu kiprah almarhum Heath Ledger yang ia jadikan panutan. Dan Syifa… psst tau gak siapa aktor yang diidolakan oleh artis yang pernah bermain di Beauty and the Best (2016) dan Ayat-Ayat Cinta 2 (2017) itu?

Siapa ya kira-kira?

Hmmm..

 

Yakin, mau tau?

“Rizky Nazar dan Baskara Mahendra!”, jawab Syifa mantap. “Aku kagum dan selalu ngikutin perjalanan karir film kakak-kakak ini” Waaaah, manis sekali yaaa

 

 

Film The Way I Love You bakal tayang ke hadapan seluruh Indonesia tanggal 7 Februari 2019, segera temukan jalan kalian ke bioskop yaa, jangan sampai lupa dan nyasar sehingga ketinggalan berbaper ria menyambut Valentine bersama film yang satu ini~

ceria-ceria amat ya sehabis makan siang hhihi

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

 

TABU: MENGUSIK GERBANG IBLIS Review

“Hope in reality is the worst of all evils because it prolongs the torments of man.”

 

 

 

Ada ungkapan yang menyebutkan rasa penasaran membunuh seekor kucing. Rasa penasaran di sini maksudnya bisa bermacam-macam; rasa keingintahuan yang begitu besar, perasaan tak-tuntas yang ingin diselesaikan, juga sesuatu mengganjal yang ingin dipuaskan. Rasa-rasa tersebut sering menjerumuskan kepada melakukan hal-hal yang tak perlu, sia-sia, malah mungkin berbahaya. Kata berikutnya yang masih menjadi misteri; siapakah kucing dalam ungkapan tersebut? Seseorang yang masih terusik oleh rasa penasarannya; seseorang yang semakin dilarang maka semakin dilakukan.

‘Kucing’ dalam Tabu: Mengusik Gerbang Iblis adalah Keyla dan teman-temannya yang nekat pergi ke Leuweung Hejo demi mencari penampakan makhluk halus. Bermodal kamera, peralatan kemping, dan baju ganti seragam, mereka menerobos hutan, melanggar begitu banyak pantangan, bermalam di situs angker tersebut. Dan benar saja, belum sempat bibir kita mengucapkan “penyakit kok dicari”, Diaz, salah satu teman Keyla yang paling napsu motoin hantu, kesurupan. Kemudian muncul sesosok bocah misterius. Gak jelas juga hubungannya apa si anak dengan kesurupan yang dialami Diaz. Untuk alasan tertentu pula, Keyla malah membawa anak tersebut pulang ke kota bersama mereka semua yang lari kocar-kacir dikejar nenek-nenek berkuku hitam.

Datang berenam, pulang bertujuh… hayo di hutan ngapaiiiinnnn?

 

Tabu: Mengusik Gerbang Iblis nyatanya adalah salah satu kelangkaan – dari sekian banyak horor yang dibuat oleh Indonesia tahun belakangan ini, Tabu merupakan salah satu dari sedikit sekali yang benar-benar punya cerita untuk disampaikan. Tabu membawa kita menyelam ke dalam penjelajahan rasa penasaran terhadap suatu peristiwa kehilangan. Ia membahas bagaimana rasa kepuasaan itu belum datang, jadi seorang akan terus mencari jawaban. Yang terjadi kepada Keyla adalah harapan dalam wujud terburuk. Keluarga Keyla terpecah oleh satu tragedi di masa lalu, saat Keyla masih terlalu kecil untuk seragam SMAnya. Tragedi tersebutlah yang membentuk pribadi Keyla di masa sekarang, kita melihat dia yang paling ‘takut’ tapi toh tetap ikut dalam setiap ekspedisi menyeramkan. Dia ingin mencari closure atas kejadian tersebut, jadi dia tetap mencari meskipun dia tahu kebenarannya.

 Rasa kehilangan masih terus menghantui seseorang yang berduka. Itulah ketika harapan berubah menjadi siksaan. Apapun yang kita lakukan untuk menutupinya, hati yang belum ikhlas tetap tidak akan tenang. Dalam film ini, kita akan melihat rasa yang disalahartikan sebagai harapan itu menjadi bumerang.

 

 

Hebatnya, film ini tidak menceritakan itu semua lewat dialog alias secara gamblang. Kengerian, apa yang dirasakan oleh Keyla dan keluarganya direkam secara subtil oleh kamera. Lihat juga bagaimana kamera ‘menceritakan’ hutan sebagai tempat mengerikan dan berbahaya lewat selipan shot-shot hewan liar seperti ular, kalajengking, dan kelelawar. Transisi dari ketika satu tokoh menciptakan realita sendiri, tetapi kemudian penyadaran itu tiba, dan dia dihempaskan lagi ke realita beneran, dilakukan dengan begitu mulus oleh pergerakan kamera yang menangkap gestur-gestur terkecil dari si tokoh. Film tidak pernah gagal menangkap sudut pandang. Semuanya diceritakan dengan cermat dan efisien. Bahkan subplot yang menurutku kocak – film ini punya nyali untuk masukin subplot cinta segitiga yang enggak benar-benar berujung – juga dilakukan dengan seperti ‘cicak’ begini; you know, diam-diam merayap dan kena. Sedari adegan pembuka di dalam gua, kita bisa paham bahwa film ini digarap dengan perhatian tinggi kepada artistry. Film ini tahu cara menceritakan sesuatu yang klise dengan membuatnya tidak metodical. Namun juga tetap mudah untuk disukai – ada banyak hal-hal yang jadi favorit penonton horor yang dapat ditemukan di sini; kematian tokoh yang menyakitkan, sosok hantu yang seram, dan jumpscare yang tepat waktu.

Maka dari itulah, aku tidak mengerti kenapa film ini memilih untuk memulai ceritanya dengan cara dan siatuasi yang paling tidak menarik (lagi) sedunia akhirat. Sekelompok remaja yang ke hutan nyari setan. Basi! Kenapa membuka dari sini jika engkau punya kisah tragis keluarga yang kehilangan anaknya. Film memilih untuk merahasiakan elemen utama cerita di awal, bahkan Keyla juga ‘disembunyikan’ – kita tidak tahu bahwa ternyata dia adalah tokoh utama sampai dia memilih untuk membawa bocah misterius tersebut ikut pulang ke rumah, dan aku gagal mengerti alasan di balik keputusan yang diambil oleh film ini. Sebab jadinya sama sekali tidak ada yang menarik pada babak pertama. Para remaja itu tidak punya motivasi yang cukup dan alasan yang jelas; kenapa harus moto hantu, kenapa harus tempat angker yang itu, kita tidak tahu apa-apa dan mereka tidak memberikan alasan kenapa kita harus peduli kepada mereka. Jujur, aku sudah siap jiwa raga untuk menjelek-jelekkan film ini, udah senam pipi – siap untuk menertawakan sekerasnya hal-hal bego yang kusangka akan dilakukan. Dan persiapanku tadi jadi tak berguna karena ternyata aku menemukan sedikit sekali yang bisa ditertawakan. Yah, selain nenek Diaz yang dengan potongan rambut begitu membuatnya mirip sekali dengan Jamie Lee Curtis di serial Scream Queen.

Dan seolah setiap ayat punya fungsi dan efek berbeda terhadap hantu-hantu

 

Babak kedua hingga akhirnya di mana film dengan tepat menginjak nada ngeri dan tragedi. Aku bahkan sedikit  ter-throwback ria melihat Mona Ratuliu menggunakan bahasa isyarat (ketahuan deh, umurku huhuu). Bahkan tokoh-tokoh lain, termasuk tokoh remajanya enggak se-annoying yang sudah aku antisipasi. Mereka masih bersikap masuk akal dan reasonable, meskipun tak ada pembelaan untuk kualitas akting yang menghidupkan mereka. Namun begitu, awalan film inilah yang justru paling banyak andil dalam menurunkan nilai secara keseluruhan. keputusan untuk memasang semacam twist pada tokoh utama, ultimately melemahkan cerita karena pembangunan karakter adalah hal yang sangat penting. Kita dihalang untuk masuk ke dalam kepala Keyla, seolah pikiran dan emosinya tabu untuk kita ketahui. Malahan di awal-awal, film seperti menunjuk Diaz sebagai tokoh utama. Dan kemudian membelokkannya untuk efek dramatis. Tak perlu seperti itu, Keyla punya cukup backstory dan landasan emosi yang mampu membuat tokoh ini menjadi dramatis jikapun dikembangkan sedari awal.

Yang film ini lakukan malah membuat karakter Keyla terasa tidak ‘klik’, di awal dia terlihat paling enggak semangat untuk TKP. Padahal justru sebenarnya dia yang paling punya motivasi untuk ke sana. Meskipun inner journey Keyla semakin dapat terbaca seiring berjalannya film, tetapi film tetap tidak memperlakukan tokoh ini sebagai protagonis yang beraksi. Keyla, dengan segala keterbatasan akting Isel Fricella, kebanyakan hanya berteriak menyaksikan tokoh-tokoh lain berjuang ataupun tertangkap oleh hantu-hantu. Juga aneh film tidak memperlihatkan momen perubahan tokoh Keyla. Alih-alih, kita diperlihatkan ibunya yang berjuang untuk mengikhlaskan. Keyla seperti ikhlas begitu saja saat kita ditunjukan adegan dia menoleh ke belakang melihat sosok yang dibuat bisa berarti hantu atau hanya imajinasi yang menyimbolkan perpisahan damai yang dilakukan oleh Keyla dengan tragedinya.

 

 

 

 

Sense misterinya kuat. Penceritaan yang efektif. Tokoh-tokoh yang tidak terlalu over-the-top. Film ini punya bumbu-bumbu sebuah film horor yang bagus. Namun pilihan untuk membuka film, babak pertama, tidak menguntungkan film karena tidak menarik dan benar-benar menonjolkan keklisean. Film baru benar-benar bekerja di babak kedua, like, kalo kalian tidur atau bahkan telat masuk ke bioskop tiga-puluh menit, dan hanya menonton dari babak keduanya saja, kalian pasti akan bilang film ini bagus banget. Begitu anehnya pilihan yang dilakukan oleh film ini. Dan jangan kira ini seperti yang dilakukan oleh One Cut of the Dead (2018); film itu juga punya babak awal yang lemah namun dilakukan dengan sengaja untuk menguatkan konteks tema besarnya. Tidak demikian. Sebaliknya, babak pertama film ini tidak menambah banyak terhadap konteks karena diniatkan sebagai twist. The film works in no favor of it’s protagonist. Dia menutupi tokoh utamanya, dan sepertinya lupa sama sekali untuk menimbulkannya kembali sebagai karakter.
The Palace of Wisdom gives 5 gold stars out of 10 for TABU: MENGUSIK GERBANG IBLIS.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Keyla dan keluarga, walaupun tahu itu hantu, tapi mereka masih tetap menyayangi sang adik. Kalian takut gak sih didatengi hantu kerabat sendiri? Bagaimana kalian meyakinkan diri itu beneran mereka dan bukan hantu lain yang menyamar? Menurut kalian darimana rasa penasaran Keyla muncul?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

ORANG KAYA BARU Review

“Sometimes, nothing is better than something”

 

 

Ungkapan “Uang adalah sumber segala kejahatan (alias sumber masalah)”  itu sebenarnya kepotong. Makanya terasa kurang tepat. Bukan uangnya yang bikin seseorang berubah menjadi ‘jahat’ – yang membuat orang sampai rela meninggalkan keluarga maupun sahabatnya sendiri. Melainkan adalah kecintaan terhadap uang itu sendiri. Semakin banyak kita punya, kita akan makin merasa tidak cukup. Kita cinta dengan gagasan mempunyai banyak uang maka hidup akan semakin mudah, dan ini menghilangkan batasan dalam diri kita. Orang yang cinta pada uang, ia juga akan senang membelanjakannya, lantaran ia suka terhadap apa yang bisa ia lakukan dengan uang sebanyak itu.

Itu sebabnya kenapa tokoh Lukman Sardi memilih untuk membesarkan keluarganya dalam kondisi prihatin. Ia merahasiakan kekayaan yang dimiliki kepada istri dan tiga anaknya. Mereka sekeluarga hidup pas-pasan selama bertahun-tahun sebab Bapak ingin menumbuhkan rasa cinta di dalam dada anggota keluarganya terhadap masing-masing, terhadap karib kerabat mereka, bukannya kepada uang. Pelajaran amat berharga sebenarnya yang coba beliau ajarkan. Namun, kematian yang begitu mendadak sampe-sampe film tak sempat menjelaskan kenapa; malah menggoda sekiranya Bapak belum benar-benar tiada, memotong pelajaran tersebut. Membawa Tika, Duta, Dodi, dan Ibu langsung ke ‘praktek lapangan’; Bapak meninggalkan warisan berupa duit bermilyaran, seketika mereka semua berubah hidupnya menjadi milyarder kaya raya!

Ternyata memang lebih enak hidup yang terus berangan punya duit banyak ketimbang hidup yang selalu terjaga lantaran takut harta yang dimiliki hilang.

 

Performa para penampil dalam film ini seragam menggelitiknya. Raline Shah yang menjadi Tika, si sudut pandang utama, didampuk untuk melakukan banyak permainan akting di luar penampilan-penampilan yang biasa ia lakukan. Ia harus belajar bagaimana menjadi seorang miskin – ini sendiri adalah fakta yang sangat lucu bagi kita semua. Sebagai Tika, Raline harus menggapai nada-nada emosi yang punya rentang cukup luas. Dia yang pertama kali menemukan Bapak meninggal – Tika punya momen-momen unik dengan ayahnya, dia yang punya keinginan untuk menjadi orang kaya, dia juga diberikan kesempatan untuk menjalin hubungan asmara. Meskipun di awal-awal kurang meyakinkan – kurang dapat dipercaya – tampil sebagai orang susah, tetapi dengan gemilang Raline, juga para aktor lain memainkan tokoh-tokoh yang berbuat norak dengan harta bendanya. Derby Romero sebagai seniman dalam keluarga, dia diberikan bentrokan soal seni, idealisme, dan duit yang menarik sayangnya tidak diberikan porsi yang banyak. Justru Ibu yang diperankan oleh Cut Mini yang mendaratkan nada tawa tertinggi lewat her take on ibu-ibu sosialita – yang melakukan sesuatu kini atas nama citra. In some sense, para aktor ini bisa jadi memainkan parodi dari diri mereka sendiri, dan memang tak ada hal yang lebih lucu dan mengena ketika seseorang bisa menertawakan dirinya sendiri. Last but not least, pemeran anak Fatih Unru mencuri perhatian; ia mampu mengenai nada-nada emosi berentang luas dengan lebih baik dari rekan-rekan aktor yang lebih berpengalaman. Tokoh Dodi di tangannya terasa enggak over-the-top, dan bisa jadi karena tokoh ini disebutkan ditulis berdasarkan pengalaman masa kecil sang penulis skenario, Joko Anwar, yang suka berandai-andai jadi orang kaya

Aku tidak tahu apakah fakta tersebut membuat film menjadi spesial karena toh semua orang umumnya pernah ngimpi jadi jutawan

 

Kelucuan film ini menguar deras dari tingkah polah keluarga tersebut dalam mengarungi hari-harinya sebagai pemilik uang berlimpah. Film bersenda gurau dengan tingkah-tingkah norak para tokoh. Saksikan transisi si Ibu dari yang tadinya melotot melihat harga teh di restoran mewah menjadi seorang pembelanja yang dengan jumawa membeli semua perabot yang sempat disentuh dan difoto oleh anak-anaknya. Juga sebuah sentuhan bagus membentrokan keadaan tiga kakak beradik yang tadinya menyusup ke acara nikahan buat numpang makan dengan keadaan mereka punya segalanya, bahkan mobil satu seorang meskipun tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menyetir. Kita tertawa oleh komedi mengenaskan saat mereka menghabiskan uang yang mereka punya lebih cepat daripada akun lucu-lucuan berlari mengejar jumlah follower.

Film ini memang sangat terasa seperti kebalikan dari Keluarga Cemara (2019) yang tayang beberapa minggu sebelumnya. Bukan saja dari premis orang miskin yang ternyata menjadi kaya alih-alih keluarga Ara yang kaya kemudian jatuh miskin. Melainkan juga dari bagaimana cerita ini berpusat. Jika cerita Keluarga Cemara menegaskan bahwa mereka sebenarnya bukan soal harga uang; film tersebut menyetir ceritanya keluar dari kait-kait trope kemiskinan yang tertindas, maka Orang Kaya Baru benar-benar meletakkan materialistis sebagai poin vokal untuk menyampaikan pesannya. Emosi kita bakal dipancing demi melihat anak yang sol sepatunya copot dikerjai oleh teman sekelasnya. Kita menyaksikan Tika dituduh mencuri telepon genggam teman di kampus. Uang dan materi benar-benar on-point dalam film ini. Karena ia ingin membangun karakter-karakter sehingga menjadi masuk akal begitu mereka memuja kekayaan nantinya.

bahkan film ini juga punya satu tokoh yang bekerja di mana-mana, hanya saja tidak dimainkan sebagai komedi

 

 

Dan itulah sebabnya kenapa elemen drama dari film ini tidak semuanya terasa mengena. Kita menyaksikan tokoh-tokoh yang menyalami ‘demon‘ mereka dan berakrab-akrab dengannya. Tentu, sebuah hal yang lucu – dan mungkin melegakan -melihat orang miskin yang biasanya dibully jadi punya kesempatan untuk melampiaskan hati mereka. Menyenangkan menyaksikan mereka akhirnya mencicipi indahnya dunia. Tapi antisipasi serta merta tumbuh dalam diri kita; kita paham tokoh-tokoh itu menyongsong kebangkrutan, jadi ketika mereka melakukan suatu ‘pemborosan’ kita tidak lagi benar-benar ikut sedih bersama mereka. Kita ditinggalkan untuk berharap mereka melakukan hal yang benar, dan mungkin untuk kedua kalinya keajaiban datang menyelesaikan masalah keuangan yang kali ini disebabkan oleh mereka sendiri.

Namun film malah terus menge-loop masalah tersebut, hingga film berakhir. Tidak ada penutup yang definitif hingga kita tak yakin harus terus tertawa atau bengong saja. Jika dalam menggarap horor atau thriller, Joko Anwar masih bisa menutupi kekurangan penulisannya dengan twist; terutama twist semacam ‘ternyata cuma mimpi/imajinasi’ yang membuat ceritanya jadi tampak cerdas, maka ranah drama komedi seperti Orang Kaya Baru ini sesungguhnya lebih susah untuk ia bermanuver. Film seperti berjuang untuk menutup cerita dengan menarik, dan pada akhirnya pilihan yang diambil malah tidak definit sebagai pembelajaran terhadap karakternya, or even if they have learned anything at all. Tika yang hidup pas-pasan dan diremehin sehingga berpikir lebih gampang hidup sebagai orang kaya. Kemudian dia jadi kaya, hidup mewah seolah sudah punya semua jawaban hidup. Namun pertanyaan hidupnya berubah; kenapa sekarang masalah itu timbul dari orang-orang di dekatnya. Kemudian dia miskin lagi, dia dekat kembali dengan sahabat dan keluarga. Uang mengontrol kehidupan dan sikap Tika, kita tidak pernah benar-benar diperlihatkan ada perubahan dari dirinya yang didorong oleh ‘kekuatan dari dalam’.

 

 



Paling efektif bekerja sebagai komedi yang memotret – dan dalam nada tertingginya, mengkritik – pandangan dan kehidupan sosial antara si kaya dengan si miskin. Tone antara drama dan komedi itu pun acapkali berbaur dengan mulus, berkat penampilan yang tak-biasa, yang luar biasa menghibur, dari para pemainnya. Terutama Fatih Unru dan Cut Mini. Hanya saja porsi dramanya terasa tidak terasa benar-benar menyentuh, dalam artian sungguh bikin kita sedih. Karena kita sudah mengantisipasi apa yang terjadi. Juga lantaran tidak benar-benar ada stake ataupun konsekuensi dari ‘kegagalan’ yang dihadapi oleh para tokoh. Lebih lanjut, ini disebabkan oleh penulisan naskah yang sengaja dipilih untuk tidak konklusif. Menonton ini seperti kita sedang bermimpi indah, kemudian jadi buruk, kemudian indah lagi, yang tak selesai-selesai.
The Palace of Wisdom gives 6.5 gold stars out of 10 for ORANG KAYA BARU.

 

 



That’s all we have for now.
Dulu kalo sedang rebutan mainan dengan adik, Ibuku sering bilang “lebih baik enggak ada daripada ada!” Bagaimana menurut kalian; apakah lebih baik miskin daripada kaya raya? Mengapa kebutuhan rasanya semakin meningkat begitu kita punya rezeki berlebih?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning PIALA MAYA BLOG KRITIK FILM TERPILIH.