DEVIL’S WHISPER Review

“I hear voices in my head, they council me, they understand. They talk to me.”

 

 

Alex sudah hampir pasti menjadi pastor sejati, jikasaja dia tidak mendengar bisik-bisik itu. Suara setan yang disebutkan sebagai judul film ini, menariknya, enggak mesti benar-benar berasal dari makhluk mengerikan.

“Kamu yakin kamu mau jadi Pastor?”  sobat cewek – yang kemudian menjadi love interest – menggoda iman Alex saat mereka lagi berduaan. Bahkan seorang Romo yang menjadi semacam mentor dan tempat Pengakuan bagi Alex di gereja pun, terang-terangan meminta cowok lima-belas tahun tersebut untuk menikmati ‘dunia’ dahulu selagi bisa, sebelum dia resmi berkiprah di jalan agama. Di waktu yang bersamaan, Alex menemukan kotak aneh dari dalam lemari peninggalan nenek. Alex dan ayahnya yang penasaran akan sesuatu yang ‘glutak-glutuk’ di dalamnya, membuka paksa kotak tersebut. Oke, mereka kudu menghancurkan kotak. Namun bukan hanya salib milik mendiang kakek yang terbebas ketika kotak terbuka. Ada sesuatu yang mengerikan yang nempel di salib, yang terus merundung Alex yang menjadi sangat terikat oleh salib tersebut. Memberondong pikiran remaja polos ini dengan bisikan dan pikiran negatif. Membuatnya melihat penampakan yang tidak terlihat oleh orang lain. Mengubah Alex menjadi seorang yang sama sekali berbeda. Dan ultimately, korban berjatuhan tanpa bisa ditahan oleh Alex.

Kalo kata iklan deterjen di tivi, “Berani kotor itu baik”

 

Kita hidup di masyarakat yang lebih mudah menyukai seorang pendosa yang insaf ketimbang seorang alim seumur-umur. Devil’s Whisper mengangkat perspektif yang menarik yang mungkin belum pernah ada yang berani mengeksplorasinya, apalagi hari gini. Seorang anak muda yang pengen jadi pemuka agama. Topik orang yang taat beragama cenderung dihindari, konotasinya adalah berpandangan sempit, kaku, dan sama sekali enggak fun. Film ini enggak peduli. Dia enggak takut untuk menunjukkan agama masih mampu untuk melawan kejahatan. Film pun enggak membuat tokohnya sebagai orang yang, katakanlah, cupu dan terkucilkan. Alex punya teman-teman dekat, dia cukup populer untuk punya pacar. Alex adalah anak baik, yang oleh sosialnya dikhawatirkan ‘terlalu’ baik. Tokoh Alex ini  disandingkan dengan tokoh Romo Cutler, yang berperan layaknya pembimbing. Cutler sudah melihat cukup banyak, dia tahu mana yang baik dan buruk, dan dia percaya kepada Alex, so much, sehingga dia pada dasarnya menyuruh Alex untuk melakukan apa yang ia tahu mestinya Alex lakukan sebagai remaja.

Kita harus pernah melakukan kesalahan, karena tanpa pernah  berbuat salah kita tidak akan pernah bisa sepenuhnya menghargai kebenaran.

 

Devil’s Whisper fitrahnya adalah sebuah horor yang MENGEDEPANKAN KETAKUTAN PSIKOLOGIS, makanya horor film ini terasa bekerja lebih baik ketika kita melihat Alex berdiam, pikirannya berlomba, dan kemudian meledak. I’m a sucker for this genre, dan aku memang menemukan ada lapisan ketakutan personal yang menguar kuat dari tokoh utama. Narasi juga punya lapisan subtil menyangkut masa lalu yang menjadi mengakar menjadi trauma bagi Alex. Film tidak pernah menjelaskan dengan terlalu gamblang soal ini, namun membiarkan kita menerawang atas apakah ada hubungan langsung antara perubahan pribadi Alex dengan bertepatannya timing dia dilantik dengan dia memungut salib bekas kakeknya. Kalung salib tersebut jelas adalah pemantik trauma yang tak bisa (atau menurut psikiater Luna Maya, tak mau) diingat oleh Alex. Aku lebih suka jika film tetap pada jalur psikologis, seperti pada adegan pesta di kolam, Alex yang enggak ikutan berenang bersama teman-temannya terbakar api cemburu demi ngeliat teman-temannya saling bersentuhan, bermain di kolam. Di mata Alex, dia ditertawakan, dan kita melihat Alex dengan marah nyebur ke kolam. Menurutku, film dapat berkembang menjadi sesuatu yang lebih mengerikan dan dalem jika kita melihat Alex melawan setan yakni dirinya sendiri alih-alih dia seperti dirasuki oleh makhluk halus.

Sesungguhnya horor seperti ini enggak butuh potongan anggota tubuh, atau mayat sekalipun. Kematian sadis tidak menjadi soal di sini. Hanya ada satu kali penampakan mayat yang benar-benar berarti, yaitu di sebuah sekuen involving Father Cutler dan momok masa lalunya. Devil’s Whisper pada intinya adalah tentang trauma masa lalu yang muncul ke permukaan, yang dijahit bersama perasaan insecure seseorang (untuk sebagian besar adalah anak muda) yang timbul dari pilihan hidupnya. Ketika film mulai membahas ke arah supernatural, cerita yang sudah dibangun menjadi kurang meyakinkan. Aku enggak mengerti kenapa dan apa pentingnya tiga orang teman Alex dibuat mati dengan cara yang ‘kecelakaan yang aneh’ secara bersamaan. I mean, thriller psikologis mestinya bisa lebih kuat tersampaikan jika cerita dibuat mendua; apakah Alex yang membunuh mereka. Penggunaan CGI yang acapkali tampak kasar juga tidak membantu. Sosok goib yang membayangi Alex mestinya bisa tampil lebih meyakinkan dalam wujud efek praktikal, atau malah enggak perlu diliatin wujudnya sama sekali.

adik cewek itu basically memang iblis

 

Tampil dengan iming-iming ‘horor sekelas Hollywood’ tampaknya lebih menjadi beban daripada menguntungkan. Sebab produk akhir horor produksi kolaborasi rumah produksi MD Pictures dengan Vega Baby, perusahaan hiburan asal Amerika, tidak semengesankan yang mereka harapkan. Malahan, secara produksi, film tampak seperti karya amatiran. Bukan hanya CGInya yang seperti tempelan, audio, adegan, dan bahkan penampilan para tokoh juga banyak yang enggak masuk dengan tone penceritaan. Editingnya terlihat kasar dan mentah sehingga kita menjumpai detil adegan seperti noda lemparan lumpur dari teman Alex di jendela yang menghilang tak terjelaskan di adegan berikutnya. Ini adalah salah satu contoh film yang punya visi kamera yang baik namun dimentahkan oleh arahan yang konvensional.

Film terlihat berusaha keras untuk menjadi mainstream. Digunakanlah taktik jumpscare, meski sesungguhnya taktik tersebut tidak benar-benar diperlukan dalam konteks cerita dan genre ini. Turut dipakai pula musik-musik yang sekiranya cocok dengan telinga anak muda kekinian. The problem is, karakter film ini tidak pernah benar-benar menjelma menjadi pribadi yang mudah direlasikan oleh anak muda.  Ketika dia menunjukkan sifat dan tabiat yang ‘normal’ untuk standar remaja, karakternya sudah dibuat begitu messed up, wajahnya pucet, matanya nanar, rambutnya mencuat di sana-sini. Luca Oriel yang jadi Alex sangat piawai beradegan muntah, dan hanya itulah yang bisa aku bilang dari penampilannya di sini. Emosi Alex tidak pernah tampak genuine. Mode anak baiknya adalah ekspresi berbinar dan penampilan seramnya berupa memandang kosong dengan dagu rapat ke leher. Tokoh ini berakting sesuai arahan dan that’s just about it. Dialog-dialog ditulis dengan sama standarnya, kalo gak mau dibilang dangkal

Kita punya peraturan dan agama masing-masing. Kita beriman kepadanya supaya kita merasa aman. Tapi ketika peraturan tersebut mulai terlanggar, kita mulai mempertanyakan kepercayaan kita. Suara-suara yang didengar Alex adalah suara pendosa yang mempertanyakan semua itu. “Tuhan pembohong!” cecar suara itu. Padahal itu sebenarnya adalah suara yang sama dengan yang tadinya memantapkan Alex menjadi pendeta.

 

 

Tontonan horor dengan tema religi yang kental yang terhambat oleh bisikan-bisikan yang menyarankan dirinya tampil mainstream dan enggak benar-benar memilih jalur yang revolusioner. Mencoba untuk menggali horor lewat jalur psikologis, namun tetep masih bertumpu pada jumpscare, sekuens kematian yang terlalu dilebihkan, dan personifikasi hantu dengen efek komputer yang masih kasar. Film ini hampir menjadi benar, hanya saja tak mampu (atau mungkin tak mau) untuk melebihi pakem ataupun trope-tropenya.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for DEVIL’S WHISPER.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

 

HAPPY DEATH DAY Review

“The definition of insanity is doing the same thing over and over again, but expecting different results”

 

 

Bagi Tree, hidup adalah film slasher pribadi – sebuah mimpi buruk yang tidak berhenti, akan tetapi senantiasa terus berulang. Kehidupan Tree membentuk lingkaran sempurna saat hari ulang tahunnya menutup menjadi hari kematian. Dan Tree terbangun hanya untuk mengulangi lagi satu hari spesial tersebut. Tentu saja tidak butuh waktu banyak bagi Tree untuk menyadari hal ini; Hanya beberapa hari, dan itu itungannya tetep sehari bagi Tree hehehe. Pagi berikutnya dia terbangun di kamar kos cowok yang sama (as opposed to various), berjalan teler melewati orang-orang yang melakukan hal-hal yang persis seperti yang sudah ia lihat kemaren, dikasih surprise cupcake oleh teman sekamar, disirikin oleh saingan Regina Georgenya, dan malamnya disatroni oleh seorang misterius bertopeng bayi yang ngebet pengen ngebunuhnya, Tree langsung tahu dia harus segera menyibak siapa orang yang berusaha membunuhnya supaya dia bisa mencegah kematian dan hopefully mengembalikan hidupnya ke alur yang normal.

Akan butuh banyak banget kematian yang kejam untuk menyelamatkan satu nyawa.

 

Menjalani hidup yang itu-itu saja mungkin membosankan. Beberapa orang toh merasa nyaman dengan repetisi. Tetapi, melakukan hal yang sama berulang-ulang dan mengharapkan hasil yang berbeda, jelas adalah satu kegilaan. Dan adalah suatu kebegoan untuk terus jatuh ke lubang yang sama. Happy Death Day menunjukkan bahwa  yang terbaik dari kita sekalipun kadang harus gila, atau bego dulu, sebelum bisa berkembang dan keluar dari lingkaran penderitaan.

 

Bayangkan film Mean Girls (2004), lalu taroh karakter cewek plastiknya ke dalam situasi yang sama dengan yang menimpa Bill Murray di Groundhog Day (1993), aduk rata, kemudian ditaburin kejutan-kejutan horor slasher whodunit ala Scream (1996). Itulah resep membuat kue tart Happy Death Day.  Dan kue tart yang satu ini rasanya sangat meriah. Berbagai macam rasa ‘cerita’ loop yang sudah pernah kita cicipi, bergabung menjadi satu. Belum lama ini Zoey Deutch di film Before I Fall (2017) juga terbangun di hari yang sama, dan terus mengulang kejadian over and over – Happy Death Day basically mengikuti alur cerita yang sama, Tree juga harus belajar menjadi orang yang lebih baik, tapi film ini melapis perjalanan innernya dengan gimmick thriller. Film ini tidak sesendu drama Before I Fall. Dari semuanya, Groundhog Day lah yang berpengaruh paling kuat. Malahan, film ini sadar diri dan mengakui hal tersebut. Ada adegan di mana satu tokoh beneran nyebut tentang film tersebut saat Tree lagi curhat soal apa yang ia alami. Namun alih-alih nostalgia, Happy Death Day adalah film yang kekinian.

Film ini digarap dengan sangat komersil. Sutradara Christopher Landon yang menulis film-film Paranormal Activity sudah barang tentu tak asing dalam mengolah cerita yang mudah disukai oleh banyak kalangan, khususnya remaja. Filmnya tampak sangat cantik, sekuens kejar-kejarannya exciting, aku suka arahan Landon ketika menangani blocking di sekuens aksi film ini. Happy Death Day tidak pernah menjadi terlalu serius. Tone film ini benar-benar mengejutkanku, aku tidak menyangka film ternyata LIGHT-HEARTED, KOCAK, DAN SANGAT ENJOYABLE. Kalo mau dibandingin, menonton Tree di sini membuatku teringat sama Emma Roberts dan perannya sebagai Chanel di serial Scream Queens.

Attitude dan karakter Tree yang membuat film ini begitu menyegarkan untuk ditonton meskipun cerita seperti ini sudah berulang kali kita dapatkan. Jessica Rothe melakukan banyak permainan emosi, juga sangat ekspresif. Memainkan Tree adalah sebuah perjalanan yang fisikal, dengan lapisan psikologis, dan Roth melakukan pekerjaan yang fantastis di sini. Tree mungkin adalah tokoh pertama yang mengemban tugas sebagai tipikal tokoh ‘jalang’ yang bakal mati duluan dan cewek heroin yang selamat berkat kebaikannya sekaligus.

Sebagai cewek populer, Tree berlaku kasar sama semua orang. Ada adegan kocak ketika dia membuat daftar orang-orang yang sekiranya punya motif untuk membunuh dirinya, dan dia kewalahan sendiri begitu sadar bahkan pengemudi uber pun pernah ia kasarin dan berkemungkinan menyimpan dendam kesumat. Di sekitar midpoint, kita ngeliat penggalan-penggalan yang sangat lucu saat Tree menguntit para ‘tersangka’ satu-persatu, hanya untuk menemukan bahwa mereka tidak bersalah dan dia membiarkan dirinya terbunuh oleh si Pembunuh Berwajah Bayi yang muncul menyerangnya dari tempat tak terduga. Lama kelamaan memang adegan pembunuhannya tidak lagi seram, malah berubah menjadi lawak.

Terkadang bukanlah kesempatan yang banyak yang kita perlukan. Pada akhirnya, yang benar-benar diperhitungkan adalah tindakan yang kita pilih untuk memanfaatkan kesempatan tersebut. Perubahan itu harus kita sendiri yang memulai.

 

Dalam perjalanannya, film ini tidak lagi terasa seperti horor buatku. Tree yang dibunuh terus, kemudian mengulang lagi pencariannya, malah menjadi seperti permainan video game dengan nyawa tak terbatas. Tonenya yang ringan dan cenderung tidak-serius juga turut membantu raibnya faktor-taku tersebut, meskipun film memang menaikkan taruhan dengan menetapkan kondisi Tree semakin melemah setiap kali dia terbangun dari keadaan terbunuh. Jika kalian penggemar horor yang ada jumpscarenya, mungkin kalian bahkan lebih terhibur lagi daripada aku saat menonton ini. Ada banyak taktik jumpscare yang digunakan untuk memancing rasa takut, sayangnya sebagian besar lemah banget untuk membuat kita beneran kaget.

Cerita yang klise tidak memberikan banyak ruang untuk kejutan. Dan bicara soal kejutan, film ini punya dua momen gede sehubungan dengan identitas pelaku. Tentu saja, sebelum pengungkapan terdapat sejumlah red-herring yang ditebar. Film ini banyak banget red herringnya,  setiap dari mereka langsung tereliminasi dengan dibunuh langsung oleh the real culprit. Masalahnya adalah, pengungkapan identitas pelaku tampak begitu berjalan-sesuai-skema. Kita tidak merasa begitu terkejut. Di bagian false resolution, pengungkapannya memang tidak memuaskan. Dan ketika resolusi yang sebenarnya datang, it just doesn’t hold together, tidak terasa benar-benar masuk akal.

Hidup seolah tak ada hari esok, literally

 

 

 

Toh, film ini memang menghibur. Aku tidak menyangka mereka mengolah misteri dengan konsep ‘mengulang hari’ menjadi sajian yang ringan. Ada banyak adegan yang diolah untuk memancing kelucuan alih-alih kengerian. Perjalanan inner Tree tidak ditangani dengan dramatisasi berlebihan. Tapi itu bukan berarti film ini serta merta bagus. Landon paham bagaimana harus mengikuti selera pasar, khususnya remaja-remaja putri. Kekerasan dibuat minimal. Aksi-aksi fisik jatohnya kocak. Film ini menyenangkan untuk dinikmati pada permukaan. Dalam tingkatan yang lebih dalam, however, tidak banyak kejutan yang diberikan. Ceritanya klise. Lebih seperti gabungan plot-plot sejenis, hanya saja digarap dengan visi supaya menjadi menyenangkan.
The Palace of Wisdom gives 5.5 gold stars out of 10 for HAPPY DEATH DAY.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

 

ONE FINE DAY Review

“We lie best when we lie to ourselves.”

 

 

Syuting ke luar negeri, bagi film Indonesia, ekuivalen dengan penggunaan efek komputer yang canggih. Semacam, PH punya duit banyak, namun teknologi yang ada belum memadai, jadi yeah film-film lokal banyak stak dengan cerita berlayer sedikit (malah sering juga satu) dan sebagai gantinya mengandalkan kepada jalan-jalan ke tempat mewah penuh pesona peradaban kayak New York, London, Amsterdam, Paris. Dan kali ini Barcelona. Film-film jenis begini musti mampu menjalin cerita yang benar-benar mengconvey kota yang dijadikan latar, membuat cerita beserta karakter-karakternya punya kepentingan untuk berada di sana. Paling enggak, mereka harus bisa menjelaskan lebih dari sekadar “dunia ini sempit” kenapa pelancong dari Indonesia kerap bertemu ataupun rasanya banyak banget orang Indonesia di negara tersebut. One Fine Day, misalnya (bukan yang film George Clooney dan Michelle Pfeiffer loh ya),  film ini memasukkan elemen pengawal pribadi yang membuat ceritanya memang kudu terjadi di luar negeri.  Elemen musik dengan genre  yang lagi hits juga dibuat film ini sebagai salah satu alasan kenapa ceritanya harus berlokasi di Barcelona.

nyaingin Despacito ni yee

 

Aku sendiri juga sebenarnya enggak punya kepentingan apa-apa pergi nonton film ini. Aku tahu benar drama cinta anak muda kekinian bukanlah genre yang biasa kunikmati. Aku gak ngefans sama pemain-pemainnya. Aku gak pernah mimpi jalan-jalan ke Barcelona. Niatku adalah paling enggak, keluar dari studio aku bisa bikin tulisan yang mengedukasi gimana sih drama yang bagus itu semestinya. Jadi, aku masuk mengharapkan yang terburuk. Dan film ini  ternyataaa….. sepertinya judulnya, IT WAS FINE. Digarap dengan cukup kompeten. Punya skenario yang strukturnya bener. Dari tokoh-tokohnya juga, film ini punya sesuatu yang ingin disampaikan. Ada titik ketika film terasa jadi terlalu dramatis sih, ada bagian-bagian ketika cerita menyerah ke kepentingan untuk bikin baper penonton sebaper-bapernya, dan para aktor benar-benar up for it. Penampilan mereka tepat menghasilkan kesan dan reaksi seperti yang ditargetkan.

Jefri Nichol di sini berperan sebagai Mahesa, seorang yang easy going, sepertinya sedikit slengekan, dia beredar banget di jalanan, dia menyapa orang-orang, terutama cewek. Polisi juga tampak kenal padanya, “hey kamu, jangan lari!” hihihi. Mahesa ini anak band juga, a shirtless band, yang dari main di jalanan bersama dua temannya, sekarang mereka terkenal di youtube.  Dalam rentang sepuluh menit pertama, kita diperlihatkan gimana Mahesa dan kedua temannya itu ngescam cewek cakep yang kaya dan desperate. Itulah yang trio ini lakukan di waktu senggang mereka – yang mana hampir sepanjang waktu – nilep duit cewek dengan memanfaatkan kegantengan Mahesa. Susah untuk peduli pada karakter ini di awal,  apalagi stake cerita ini personal banget bagi Mahesa, dan kita butuh untuk segera di belakang tokoh ini. Namun melakukan itu bahkan lebih susah lagi ketika sedikit demi sedikit pribadinya terbuka. Karena, Mahesa jatuh hati pada Alana’s Michelle Ziudith, dan di sekitar cewek itu Mahesa nunjukin sisi baik, namun kita masih gak yakin apakah baiknya itu beneran dari hati atau muslihat si Don Juan.

KEBOHONGAN DAN KEJUJURAN menjadi tema utama cerita yang muncul berulang dan menjadi benang merah antara tokoh-tokoh yang ada. Bagusnya, benang tersebut enggak tersimpul atau malah putus di akhir. Setiap tokoh diberikan resolusi memuaskan, meskipun beberapa cheesy. Tokoh bodyguard pun mendapat subplot yang sejajar dengan tokoh-tokoh mayor sehingga Surya Saputra yang bermain really contained tidak terlihat seperti tokoh yang out-of-place. Alana, aku sempat cuek juga sama tokoh ini, keinginannya sepertinya cuma punya pacar. You know, kita liat dia duduk sendirian, terus entah kenapa dia punya bodyguard. Tapi kemudian as the story goes, kita mengerti dia sudah punya cowok, dia enggak bahagia dengan relationshipnya, dan bodyguard itu ditugaskan oleh si cowok untuk menjaga Alana ke mana-mana.

Setiap kita pernah gak jujur kepada orang lain, pura-pura, ngeles, atau malah kayak Mahesa – penipu ulung. Namun, kita adalah pembohong yang sangat baik ketika kita berbohong kepada diri sendiri. Pesan inilah yang menggarisbawahi narasi. Sebagian besar poin cerita yang terlihat  lemah di awal; Aku mencibir ketika Mahesa bilang ke Alana “Saya yang bisa jaga kamu” dan Alana percaya, sebab aku masih ingat Alana pertama kali ketemu Mahesa; Dia ngeliat sendiri Mahesa lagi ngedate sama cewek bule, kemudian dia dihajar oleh penagih hutang, di meja kafe. Meski dari sisi Mahesa itu hanya skenario, tapi kalo jadi Alana, aku akan takut pacaran sama orang ini, apa jaminannya dia enggak berantem lagi. Juga poin cerita yang belum-terjelaskan; karena selalu dikawal, Alana ingin bersama orang yang membuat ia merasa bebas, walau mungkin kebebasan tersebut ada harganya. Kemudian datang adegan yang kontras dengan itu, ketika Mahesa nyuruh Alana untuk diam di tempat, dan Alana benar-benar enggak bergerak. Tidak bisakah ia melihat Mahesa gak begitu berbeda dengan cowoknya? Poin-poin cerita tersebut, juga hubungan yang rasanya terjalin terlalu cepat antara Mahesa dan Alana, ternyata bekerja dengan baik dalam konteks pesan ‘kita penipu ulung diri sendiri’

Setiap karakter film ini berbohong kepada diri mereka. Danu, pacar Alana, tahu bahwa Alana gak cinta kepadanya, jadi dia memakai pengawal untuk menjaga agar Alana tidak diambil orang. Danu bohong kepada dirinya sendiri, dia bertindak seolah Alana ada di dekatnya karena cinta, karena nyaman. Tapi enggak. Begitu jua dengan Alana; dia tahu rasa cintanya kepada Danu sudah tergantikan oleh Mahesa, tapi dia tetap balik ke Danu ketika dia mendengar di balik apa yang selama ini dilakukan Mahesa. Cuma Mahesa yang enggak bohong ke diri sendiri, dia hanya bohong kepada orang lain. Mahesa dengerin kata hati, dan ultimately dia belajar untuk tidak bohong sama sekali.

Kita bohong kepada hati. Kita cenderung suka mengabaikan kata hati sendiri hanya demi nyenengin orang lain. Hanya demi memuaskan kebutuhan yang enggak benar-benar kita perlukan. Hanya demi secuil rasa security.

 

Dari nonton film ini, sepertinya aku jadi bisa ngerti kenapa drama cinta Indonesia itu kebanyakan kayak dibuat-buat, gak genuine. One Fine Day adalah cerita yang mature by nature, konfliknya dewasa. Bicara soal kejujuran, soal passion, pilihan hati. Aku paham film ingin membahas sesuatu yang serius dalam tone yang lighthearted, namun tetep terasa ada batasan-batasan adegan yang tidak bisa dilakukan. Tokoh dalam film ini mestinya sudah dewasa, tapi gak benar-benar meyakinkan karena acapkali mereka terasa seperti anak baru gede. Di sinilah letak masalahnya. Tokoh-tokoh tidak meyakinkan, mereka tidak terasa nyata karena tidak bertindak dalam bingkai-usia yang benar. Dialognya sering revert back ke kutipan-kutipan yang cheesy. Film ini juga catering ke pasar terlalu banyak dari yang semestinya mereka lakukan. Penggarapan filmnya, arahan, cara pengadeganan diolah untuk menyampaikan pesan masih mengandalkan trope dan pancingan dramatis yang over. Dalam film ini kita akan melihat montase pacaran, lengkap dengan musik yang ngehip. Soal musik, ya eksesif sekali, maksudku, mereka memasang di adegan sedih seolah akting nangis Ziudith belum cukup untuk menyampaikan rasa. Narasi juga terasa convenient. Ada banyak kebetulan yang terjadi, seperti kebetulan sekali cewek-cewek yang ditipu oleh Mahesa dan teman-teman tidak pernah nonton video youtube mereka atau melihat mereka nampil. But mainly, kebetulan-kebetulan digunakan oleh film untuk memancing tawa ataupun sepercik drama tambahan.

ini cuma aku sih, tapi aku cukup kecele oleh judul, kirain ini film real-time satu hari

 

 

Pada akhirnya semua plot keiket. Yang jahat kena batunya. Yang baik muncul ke permukaan dengan bahagia. Menari dan menyanyi. Berpelukan. It’s a fine day for everyone. Dan aku enggak akan bohong, ini adalah film yang oke. Punya cerita untuk disampaikan, dan tau cara menceritakannya. Kalian bisa ngajak seseorang yang spesial untuk nonton bersama, dan belajar soal kepercayaan. Kejujuran dan kebohongan. Tapi hanya itu. This movie doesn’t break any ground, or taking risk, atau menjadi lebih menantang – atau bahkan lebih dewasa, or anything else di luar jangkauan target pasarnya. If anything, justru malah bisa jadi lebih baik lagi jika tidak terlalu terpaku kepada trope-trope drama.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for ONE FINE DAY.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

MERAH PUTIH MEMANGGIL Review

You either die a hero or live long enough to see yourself become the villain”

 

 

Sesungguhnya mati sebagai pahlawan atau hidup cukup lama kemudian menjadi penjahat itu bukan pilihan. Karena kita enggak bisa memilih untuk menjadi pahlawan. Untuk menjadi pahlawan dibutuhkan pengorbanan, keberanian. Enggak sekedar mejeng di uang kertas atau nampang jadi nama jalan. Kita enggak bisa mutusin untuk nolong orang lalu mati supaya bisa minta “ntar patung gue dilapis emas ya”. Meski ikhlas kerjaan mereka gak pernah enak, tentara-tentara dalam Merah Putih Memanggil jelas tidak akan ngarep sukur-sukur mereka gugur di medan perang. Mereka punya keluarga yang menanti di rumah. Bahkan pada detik-detik peluru menghujani tubuh mereka, mereka tidak tahu mereka adalah pahlawan.  Dan itulah poin gede kalimat yang diucapkan Batman di atas;

Kita belum menjadi sebenar-benarnya pahlawan selama kita masih menyadari kita memilih melakukan sesuatu yang heroik. Pahlawan adalah penghargaan terbesar yang bisa diberikan orang lain atas tindak pengorbanan dan kemanusiaan yang kita lakukan.

 

Sekelompok teroris menyandera tujuh orang penumpang kapal pesiar di dalam pulau persembunyian mereka. Which is just outside of Indonesia’s jurisdiction. Demi keselamatan warga negara yang merupakan salah satu dari sandera, angkatan militer Indonesia bermaksud melakukan penyusupan. Masuk ke pulau, keluar dengan membawa para sandera. Tentara gabungan Indonesia hanya diberikan waktu 48 jam untuk melaksanakan operasi Simpel. Namun  bukan tanpa bahaya. Dalam pulau yang tak ramah tersebut, segala rencana yang disusun bisa berantakan oleh pertanyaan moral. Ini berubah menjadi misi hidup atau mati yang mengerikan. Para tentara harus mengawal sandera-sandera ke titik penyelamatan, secepat dan seaman-amannya, menyusuri hutan yang dipenuhi oleh pasukan teroris. Mereka literally dikejar peluru, satu persatu gugur berjatuhan.

“sekarang kita istirahat, silahkan dipergunakan sebaik-baiknya untuk kenalan dan pengembangan karakter”

 

Belum lama ini kita sudah menyaksikan gimana Christopher Nolan menembus batasan film perang lewat Dunkirk (2017), ada begitu banyak terobosan yang dibuatnya dari segi filmmaking, dan juga bercerita. Nolan dengan berani menaruh kita so in-the-moment of war, sehingga kita tidak perlu mengenal para tokoh untuk menjadi peduli. Makanya, begitu menonton Merah Putih Memanggil, ada perasaan sedikit aneh. It’s just like, we revert back to that time. Mungkin perbandingannya memang terlalu jauh, namun T.B. Silalahi tidak melakukan inovasi dalam cerita garapannya ini. Tidak ada pilihan-pilihan baru yang diambil. Trope-trope seperti prajurit yang ninggalin istrinya yang sedang hamil kembali kita temukan sebagai langkah mudah dalam usaha memancing sisi dramatis. Film ini diniatkan sebagai epos tentang KEPAHLAWANAN DAN KEPERKASAAN KEKUATAN MILITER INDONESIA, dan mereka melakukannya dengan triumphant, mengusahakan terbaik yang mereka bisa. Tetapi  sesungguhnya ada begitu banyak yang bisa dilakukan untuk mengimprove ataupun membuat film ini menjadi lebih menantang dan menyenangkan lagi untuk kita tonton.

Sinopsis resmi film ini mengatakan tujuh sandera adalah orang-orang dari kewarganegaraan yang berbeda. Sayang sekali, tidak banyak dari mereka yang diberikan kesempatan berbicara, apalagi diberikan perspektif yang dalem. Menurutku, film benar-benar melewatkan kesempatan besar di sini. I mean, warga negara A, B, C disandera bareng oleh warga negara D, disekap di pulau negara E, diselamatkan oleh negara C, mereka bisa menciptakan dialog dan konflik kemanusiaan skala global di sini. Tapi enggak, film hanya tertarik memperlihatkan sedikit backstory tokoh-tokoh yang nantinya dibuat tewas supaya kita bisa kasihan sama mereka. Perang menarik karena kita tidak semestinya melihat tragedi tersebut sebagai sesuatu yang hitam putih. And it looks like this film didn’t get that memo. Cerita tidak pernah mengeksplorasi sisi teroris, siapa mereka, kenapa Ariyo Wahab menculik orang-orang berkewarganeraan berbeda, kenapa dia bisa punya seragam dan pasukan sendiri. Apakah dia hidup terlalu lama sebagai tentara sehingga beneran berubah menjadi penjahat?

Di sisi lain, toh film ini juga punya sisi menarik yang muncul ke permukaan saat babak ketiga. Ada keretakan dalam barisan musuh sebab mereka enggak tahu berhadapan dengan siapa. Aku suka dengan plot poin ini, karena di awal film sudah menetapkan bahwa sebelum berangkat, tentara Indonesia menanggalkan semua identitas dan atribut negara. Mereka enggak ingin dikenali sebagai tentara Indonesia oleh musuh, mungkin dengan alasan politis. Ini menciptakan misteri di pihak musuh. Poin ini juga dimainkan dengan baik, di mana di akhir pertempuran, ada satu tentara yang memutuskan untuk mengikat perban berlumuran darah di kepala, memakainya sebagai bandana, dan tindak ini adalah berupa kebanggaannya bertempur atas nama Indonesia. Film mestinya banyak memasukkan hal-hal subtil seperti ini, karena ini feelnya dapet banget.

Plis jangan marahin Lexis, dia bukan tentara. Dia bukan superstar, kaya dan terkenal.

 

Babak satu adalah babak set up standar yang sangat terbebani oleh banyaknya eksposisi. Kita mendengar detil rencana mereka, kita mendengar informasi dengan istilah-istilah militer. Menurutku bagian inilah yang paling membosankan. Aku juga merasa ada tone yang kontras antara babak satu dengan babak tiga. Di tiga puluh menit awal, film seperti bermain aman. Adegan tembak-tembakannya bersih, tidak ada darah berlebihan, kamera juga sering ngecut dengan cepat – beralih dari adegan yang cukup menegangkan, seolah film ini ingin meminimalisir kekerasan supaya bisa dapet rating Remaja. Kupikir, ini adalah keputusan yang aneh. Sebab film perang akan susah sekali meyakinkan jika enggak berani mempertontonkan kekerasan. Dan sepertinya film ini pun setuju, sebab di babak tiga mereka seakan bilang “ah sebodo amat” dan kita dapat adegan orang menggigit putus jarinya sendiri. Bagian aksi pun seketika meningkat di babak ketiga. Quick-cut dan kamera yang goyang berkurang, kita lebih mudah grasp towards the scenes. Karena di bagian sebelumnya, editing bagian aksi tampak chaos sekali, kita enggak bisa tau pasti siapa nembak, siapa yang mati, mereka ada di mana, dan lain-lain.  Adegan penyusupan awal, saat tentara terjun payung masuk ke wilayah teroris, tidak terasa intensitasnya. Build upnya ada namun teroverlook oleh kasar dan abruptnya editing – penyatuan adegan.

Malahan, ada beberapa adegan yang jatohnya kocak dan mengundang tawa penonton. Tentara menembak sarang lebah terus pasukan teroris kabur disengat kayak adegan Tuyul dan Mbak Yul, sukses bikin empat pemuda berbadan kekar yang nonton di barisan di depanku ngakak. Para pasukan sempat-sempatnya ganti riasan kamuflase, mereka ngumpet di semak-semak, lucunya adalah hutan mereka enggak serimbun itu. Akting sedikit kaku dari tokoh tentara bisa dimaafkan sebab mungkin memang begitulah tentara di dunia nyata. Sesungguhnya set dan properti juga terlihat genuine, dan mungkin memang ‘sesederhana’ itu perjalanan misi tentara sesungguhnya. Namun, ketika kita mengolah film, kita harus bisa memancing excitement. Membangun hal menjadi menarik, membumbui dengan drama dan konflik yang meyakinkan. Film ini kurang banget dari sisi plot.

Aku bahkan lebih peduli kepada ular yang mereka makan, itu ular beneran? Apakah film ini ngepull Cannibal Holocaust (1980) dengan adegan makan binatang itu? Karakter-karakter Merah Putih Memanggil seharusnya bisa digali lagi. Atau kalo mau kayak Dunkirk, rekam adegan aksinya dengan meyakinkan dan perlihatkan sesuatu penceritaan yang baru. Dari sekian banyak sandera, hanya satu yang dikasih dialog. Dan itupun hanya sebatas nanyain orangtuanya.  Aku selalu high setiap kali teman-teman Gadis Sampul mendapat peran dalam film, apalagi film yang berani ngambil tema tak biasa seperti ini. Akan tetapi, Mentari De Marelle di sini tidak diberikan karakter yang berarti. Tokohnya di sini cuma cewek blasteran, and she did nothing selain nanya-nanya di mana orangtuanya. Teriak-teriak. Panik, Annoying. Tatapan Prisia Nasution (yang btw di sini tokohnya pendiem banget) ketika si Mentari lagi-lagi merengek bikin aku teriak “shoot her!”  

Jika pipis adalah hal yang dinotice oleh film, kenapa kita tidak pernah lagi melihat ada yang kebelet lagi di sepanjang film? Mungkin ditahan. Mungkin enggak kerasa. Ini mengindikasikan bahwa bahkan saat disandera, kita merasa lebih rileks ketimbang saat berlarian di medan perang. Kita masih bisa kepikiran kencing saat nyawa di bawah belas kasihan orang lain. Namun, ketika kebebasan yang dipertaruhkan, apalah faedahnya sedikit kenyamanan. It’s a long stretch, but I think inilah yang dilakukan oleh pahlawan. Mereka tidak lagi kepikiran apapun di luar tindakan yang mereka ambil atas dasar kemanusiaan. Oh man, aku gak percaya aku baru saja menarik garis antara pipis dan kepahlawanan.

 

 

 

Sebenarnya susah juga mengulas film ini, karena ia punya kepentingan, dan aku ngeri disalahartikan tidak menghargai jasa pahlawan. I mean, aku bahkan enggak tau apakah ini dari kisah nyata atau bukan; di kredit penutup mereka ngasih liat foto-foto jadul para tentara yang aku enggak yakin apa hubungannya dengan cerita. Aku terutama melihat ini dari sisi produk akhirnya sebagai sebuah film. Plotnya simpel. Yang tadinya dalam bahaya, jadi selamat. Yang tadinya tentara, jadi pahlawan. Ada nuansa genuine saat porsi aksi. Hanya saja mereka tidak menggarapnya sehingga menjadi cukup intens. Film ini terlalu standar untuk menjadi tontonan yang patut diperhitungkan dalam genre survival dan perang. Toh, film ini menyampaikan maksudnya; Jika film G30S PKI sukses berat memperlihatkan PKI sebagai antagonis, maka film ini tak pelak membuat kita lebih nyaman percaya kepada kekuatan militer Indonesia.
The Palace of Wisdom gives 3 gold stars out of 10 for MERAH PUTIH MEMANGGIL.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

THE EMOJI MOVIE Review

“You’re tryin’ to be cool, you look like a fool to me”

 

 

Komunikasi adalah aspek yang penting buat kita sebagai makhluk sosial. Bisa dibayangin sendiri apa jadinya kalo perkembangan teknologi berkomunikasi tidak pernah terjadi. Tidak ada buku, tidak ada internet, bahkan mungkin tidak akan ada sejarah yang terekam karena menulis pun manusia belum tentu mampu. Ngomong-ngomong apa sih penemuan paling penting dalam sejarah perkembangan komunikasi umat manusia? Telefon? Pffft plis, telefon apa, Alexander Graham Bell cuma nyiptain telegraf pake suara. Hanya suara. Menurut film ini, bentuk komunikasi terpenting yang pernah ditemukan adalah emoji. Karena dengan wajah-wajah kecil dan gambar-gambar imut tersebut, kita bisa mengekspresikan perasaan, sehingga cowok pemalu seperti Alex bisa mengatakan “I’m awkward and not good enough” dengan cara yang keren.

Dasar ‘kids jaman now’

 

Lihat kan, kini kalian tahu baru beberapa menit aku udah males nonton film ini. Mereka ngepush emoji sebagai bentuk komunikasi terpenting, mereka literally bilang begitu lewat narasi yang dibawakan oleh Gene. Gene adalah emoji ‘meh’ yang hidup di dalam smartphone cowok remaja bernama Alex. Dan currently, Alex lagi naksir cewek, teman sekelasnya. Dia pengen nyapa, ngajak kenalan tapi Alex enggak tahu mesti bilang apa. Katakan lewat emoji, kata-kata udah basi. Begitu saran teman Alex. Jadi, Alex pun berpikir keras harus mengirim emoji apa ke Addie yang manis. Di dalam telepon genggamnya, para emoji sudah siap di dalam kubikal masing-masing. Mereka menunggu untuk kepilih dan nampilin ekspresi mereka. Gene adalah anak baru, dia hanya kelewat bersemangat dalam hari pertamanya tersebut. Sehingga ketika kepilih, Gene malah menampilkan berbagai macam ekspresi, kecuali ‘meh’; ekspresi  yang harusnya ia tampilkan karena setiap emoji harusnya hanya menampilkan satu ekspresi tertentu. Ketika kau adalah ‘meh’ seperti ibu dan ayahmu dan Eeeyore di Winnie the Pooh, maka kau dilarang keras sedih, marah, ketawa, apalagi ngecampur aduk ekspresi-ekspresi itu. Gene dianggap sebagai malfungsi oleh pemimpin emoji.

Gene pun telah mengerti. Dihapus dia lari. Dikejar algojo robot, tapi dia enggak ketemu Mbak Yuli. Gene ketemunya sama Hi-5, si emoji tangan yang udah gak populer lagi, dan Jailbreak, emoji yang hobi ngehack. Mereka kabur keluar Textopolis, berusaha mencari Dropbox sehingga mereka bisa berkelana di internet, mencari programmer yang bisa menghapus semua eskpresi dalam diri Gene, supaya dia bisa menjadi ‘meh’ sejati yang membanggakan orangtuanya.

 

Sebenarnya masih ada pesan positif yang bisa dibawa pulang oleh orang dewasa dan anak-anak yang menontonnya. Terutama yang kekinian banget, yang setiap harinya aktif ngechat sebaris-sebaris, kebanyakan dengan emoji. Gene meriah oleh ekspresi, tetapi dia malah dikucilkan oleh sekitar lantaran dia enggak klop sama yang diharapkan oleh masyarakat, dia kompleks dalam majemuk yang lebih suka kesimpelan.Perjalanan Gene untuk mengecilkan dirinya sendri bisa dijadikan teguran. Begitu juga dengan journey Jailbreak, yang ingin melihat dunia di luar yang society perbolehkan.Bahkan Alex punya plot yang cukup penting, as kita sering dicut back ke bagian ceritanya, bahwa Alex dan Gene adalah pribadi yang mirip, dan di akhir cerita mereka sama-sama embracing personality yang mereka punya.

Gunakan teknologi untuk memfasilitasi hubungan di dunia nyata. Komunikasi langsung manusia ke manusia harus tetap dijaga dan utama lantaran emoji tidak bisa menyampaikan ekspresi dengan efektif, betapapun lucunya. Dan ultimately, film ini juga membisiki kita supaya jangan menjadi apa yang diinginkan orang lain.

 

Akan jadi sangat ambisius film ini jikalau dia memang memilih untuk tampil engaging, seperti gabungan dari pembangunan dunia Wreck-It Ralph (2012) dengan karakterisasi Inside Out (2015). Beberapa dari kita mungkin akan memberinya sedikit kesempatan, seperti yang kita berikan kepada The Lego Movie (2014). I know I did. Masalahnya, The Emoji Movie seperti tidak tertarik untuk semua itu. Kesan yang ada adalah film ini hanyalah fasilitas untuk menjual produk. Kalian tahu, like, “Gunakan smartphone setiap hari, karena komunikasi dengan orang itu penting. Kalopun dicuekin, tetaplah gaul dengan berbagai aplikasi yang fun!” Film ini tidak melakukan apa-apa dengan elemen cerita yang dimiliki oleh tokoh seperti Jailbreak. Bahkan ketika mereka mengintegralkan aplikasi gadget dengan narasi, aplikasi tersebut tidak benar-benar dieksplorasi menjadi sesuatu yang menyenangkan.

Petualangan Gene membawanya mengarungi berbagai aplikasi seperti Facebook, Spotify, Gene dan temang-temannya terjatuh ke dunia Candy Crush dan harus mainin satu level puzzle yang ngehits itu. Mereka juga harus bermain Just Dance untuk menyeberang ke tempat berikutnya. Ada penampakan burung biru logo twitter juga (meski nama twitter sendiri enggak disebut, untuk alasan yang mungkin kita sudah sama-sama tahu kenapa). Semua aplikasi itu punya peran yang penting dalam plot poin, tujuan akhir mereka adalah Dropbox. Aku enggak percaya aku nulis ini dua kali. Bahkan film ini mendedikasikan subplot tentang kedua orangtua Gene yang diambang perpisahan, hanya untuk menampilkan Instagram. Pengalaman menonton film ini tidak bertambah menyenangkan ketika mereka nunjukin dunia Youtube dan kita diperlihatkan satu video yang sempat viral.

Hal terbaik yang dipunya film ini adalah kita dapat Patrick Stewart yang classy bermain sebagai Poop

 

Tak pelak, Sony sudah membuat salah satu film paling tak penting yang bisa kita tonton di bioskop. Menonton ini di bioskop praktisnya sama saja dengan bayar tiket untuk NONTONIN IKLAN PRODUK-PRODUK APLIKASI UNTUK SMARTPHONE. Ceritanya punya potensi tapi tidak mendapat perhatian serius sebagai sebuah film, sehingga terasa kering. Lelucon yang dipunya pun ala kadarnya. Standar humor yang biasa dipakai di film animasi untuk anak-anak seperti ini. Mungkin ada dari kalian yang ketawa, tapi niscaya itu adalah tawa hampa karena memang leluconnya – kebanyakan adalah pun basi – tidak punya weight apa-apa. “You’re so soft, Poop” diharapkan membuat kita tergelak berurai air mata. “What if you get sent out on the phone, and make the wrong face?!” diniatkan supaya kita bisa merasakan stake cerita terbangun. Bagian resolusi cerita, itu loh ketika semua subplot terjalin menjadi satu, gimana film ini berakhir, amat sangat gak make sense. Dan aku yakin kalian sudah bisa menebak apa adegan penutup untuk film yang digarap sejadinya ini. Yup, nari bareng!

 

 

 

That’s what this movie is. Iklan produk. Sejauh mata memandang animasinya yang imut. Tidak alasan lain yang bisa kita temukan untuk keberadaan film ini selain Sony ingin memasarkan aplikasi dan services – Dropbox adalah Hogswart dunia siber soal keamanan data yang disimpan di dalamnya – lewat sebuah film, yang digarap dengan seadanya. Dan itulah yang membuat film ini just plain bad. Katakanlah jika ia mengejar ambisi di luar produk placement, punya perspektif baru dalam narasinya yang benar-benar dieksplorasi dalem, film ini bisa paling tidak menjadi lebih dari sekadar ‘meh’.
The Palace of Wisdom gives 1 out of 10 gold stars for THE EMOJI MOVIE.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

GERALD’S GAME Review

“The cost of repressing a memory is that the mind does not know the abuse ended.”

 

 

Dari sekian banyak cerita horor yang sudah ditelurkan oleh Stephen King, Gerald’s Game adalah buku yang paling terakhir difavoritkan untuk diadaptasi menjadi film. Bukan karena jelek, serius, kalo ada yang gak bisa ditulis oleh Stephen King, maka itu adalah menulis cerita horor yang jelek. Namun, Gerald’s Game certainly adalah salah satu pilihan yang buruk buat pembuat film yang mau menyadur cerita horor darinya lantaran akan susah banget menjual cerita yang sebagian besar adegannya adalah adegan seorang tokoh basically ngobrol dengan kepalanya sendiri.

Bagi sutradara Mike Flanagan, yang sebelumnya udah sukses menangani horor tentang cermin dan horor tentang papan jailangkung (respectively Oculus dan Ouija: Origin of Evil) menjadi sangat menarik dan menyeramkan, bagaimanapun juga jelas ini adalah tantangan. Sebelumnya, untuk Netflix, Flanagan juga pernah menggarap thriller kucing-kucingan pikiran antara seorang yang bisu dengan perampok psycho yang ingin masuk ke rumahnya (Hush, tayang 2016). Jadi yah, thriller ruang sempit, horor dari keadaan seadanya, adalah taman bermain buat Flanagan. Dan di tangannya, Gerald’s Game menjadi sebuah projek passion yang setiap babaknya sangat haunting, dia mengolah adaptasi dari sumber yang membatasi apa yang bisa dilakukan terhadap karakternya, and he got it right. So right it’s disturbing.

 

Kehidupan romantika rumah tangga Jess dan suaminya yang berusia lebih tua, Gerald, dalam keadaan kritis. Demi menyalakan kembali api-api cinta yang kian redup itu, mereka pergi liburan; menginap beberapa hari di sebuah pondok mewah yang terpencil. Tempat tersebut dibikin privat dengan harapan mereka bisa menemukan gairah tanpa gangguan. Jadi, Jess dan Gerald sudah siap memainkan sesuatu skenario yang kinky banget di ranjang. Kedua tangan Jess diborgol ke tempat tidur. Tetapi, belum sempat ngapa-ngapain, Jess mendadak merasa amat tak nyaman melakoni fantasi role-play ini, dan tau-tau Gerald terkena serangan jantung. Gerald meninggal sebelum sempat membuka kembali borgol tangan Jess.  Mengetahui para pengurus pondok baru datang paling cepat setidaknya tiga-empat hari lagi, Jess berteriak minta tolong. Suara Jess didengar oleh seekor anjing yang masuk ke rumah, dan memutuskan untuk tinggal di sana. Sebab dia menemukan stok daging yang masih hangat di lantai kamar, dan satu porsi gede daging lagi yang masih begitu fresh, terikat menggiurkan di atas tempat tidur.

Mike Flanagan mempercayakan tampuk tokoh utama kepada Carla Gugino. Sebagai Jess, Gugino dihadapkan kepada tugas yang mustahil untuk diatasi. Dia harus diborgol pada sebagian besar penampilannya dalam film ini sembari harus menyampaikan banyak emosi serius. Terutama, Gugino harus benar-benar total dalam keadaan panik. Aku pernah ngeliat orang syuting sehingga aku jadi punya sedikit bayangan bahwa memang susah sekali bagi seorang aktor untuk menampilkan emosi yang konstan dalam setiap take demi take. Carla Gugino fantastis banget, penampilan aktingnya di sini adalah kerja keras yang akan sayang sekali kalo enggak dilirik, sukur-sukur diganjar, penghargaan.

Jess sebenarnya sudah diborgol jauh sebelum Gerald membawanya ke pondok terpencil tersebut. Selama ini, dia sudah dibelenggu oleh masalah lu. Eh sori, maksudnya masa lalu. Ada trauma masa kecil yang terjadi kepada wanita ini pada saat dia masih berusia dua-belas tahun, menonton gerhana bersama ayahnya. Secara esensi, ini jauh lebih besar daripada cerita orang yang ingin bebasin dari kuncian rantai metal. Journey sebenarnya adalah soal Jess melepaskan diri dari ikatan mentalnya sendiri, di mana kebenaran tertutup oleh bayangan ketakutan dan penolakan. Seperti bulan menutup matahari. Gerald’s Game adalah CERITA MENYERAMKAN TENTANG PENEMUAN DIRI yang diceritakan lewat tutur yang elok. Pada intinya tentang wanita dengan masa lalu yang sangat mengerikan yang selama ini selalu ia tutupi karena menyangka bahwa dirinya turut bersalah atas kejadian tersebut. Terborgol di kasur dengan maut siap menjemput, menyediakan banyak waktu buat Jess berefleksi. Mengunjungi kembali masa-masa traumatis tersebut sehingga akhirnya dia sendiri menyadari kenapa dia menjadi seorang dirinya sekarang.

Karenanya Jess, after all that times, belum lagi bebas. Repressing memory hanya berdampak kepada pikiran kita tidak akan pernah menganggap semuanya berakhir.

 

Bukan berarti penampilan yang lain bisa dilengoskan begitu saja. Seperti halnya Carla Gugino, pemeran Gerald; Bruce Greenwood, juga mesti mempersembahkan dua karakter dalam satu tokoh yang sama. Setelah terborgsol beberapa jam dan mulai dehidrasi, Jess mulai berhalusinasi. Dia melihat versi hantu dari sang suami yang terus bicara kepadanya. Mengompori pikiran-pikiran buruk Jess. Sebagai mekanisme pertahanan dari ini, Jess mempersonifikasikan sisi optimis dan kebaikkan di dalam dirinya menjadi sosok dirinya sendiri yang bebas, dan lebih kuat. Percakapan tiga orang ini yang akan bikin kita mantengin layar, mempelajari backstory, berusaha mengenal siapa sebenarnya Jess. Dan untuk itu, Gugino dengan meyakinkannya memainkan dua tokoh yang berlawanan, dan begitu juga Greenwood yang tampak menacing sebagai hantu Gerald yang to the point mengungkit kenangan terburuk Jess. Pribadi yang sangat berbeda dengan Gerald yang asli.

dan tadinya kupikir Chiara Aurelia beneran baru berusia 12 tahun

 

Ketika menggarap adaptasi sebuah novel, kita kudu memfokuskan kepada tujuan bahwa produk akhirnya akan seakurat dan setaat mungkin dengan sumber aslinya. Penyesuaian dan perubahan  kreatif tentu saja harus dilakukan, karena film enggak sama dengan buku. Kuncinya adalah perubahan tersebut adalah untuk peningkatan yang kurang bekerja, dan tidak mengubah apa-apa yang enggak salah pada sumber asli. Mike Flanagan paham betul ini. Sama seperti dia juga paham bahwa horor yang sebenar-benar horor adalah bukan menakut-nakuti penonton semata, ataupun soal gila-gilaan twist belaka. Horor sejati adalah soal mempersembahkan karakter ke dalam situasi mengerikan yang bisa direlasikan oleh penonton, enggak peduli seberapa supernatural ataupun realistisnya situasi tersebut. Karakter dalam situasi, di mana karakternya akan beraksi baik fisikal dan psikologis berusaha keluar dan mengalahkan situasi horor yang menjangkiti dan siap menelan.

Setiap lapisan cerita pada Gerald’s Game dibangun dengan cermat. Editing film ini sangat mulus menggabungkan adegan masa kini dengan adegan masa lalu. Flashback tidak bisa dihindari di sini, dan Flanagan mengolah flashback menjadi sebuah device development penting untuk karakter Jess. Yang ultimately merangkai narasi dengan kohesif. Ada banyak visual yang sangat unsettling dan benar-benar surreal saat matahari terbenam. Pertemuan Jess dengan sesosok raksasa pucat yang menyandang tas berisi tulang-tulang akan membuat kita bertanya mana yang nyata, mana yang hanya di dalam kepala. Aku masih merinding setiap kali layar bergelora oleh cahaya merah, menandakan keadaan jiwa Jess dalam kondisi yang paling rapuh. Namun, merah itu bukan sekadar metafora. Di lapisan terluar, film could get really bloody. Sehingga kita tidak punya zona aman ketika menonton film ini. Setiap babaknya mengandung sesuatu yang menakutkan nan disturbing.

repressed memoriku soal gajadi milih jurusan psikologi keluar lagi saat nonton ini -,-

 

Jikalau kita hendak ngenitpick film ini, maka yang bisa aku katakan adalah aspek cara melepaskan diri dari borgol dan aspek ending yang menyangkut si Moonlight Man enggak benar-benar plausible sebab dunia film ini terestablish sebagai dunia normal. Kedua aspek ini semacam mengakibatkan tone cerita yang enggak mash up dengan baik. Akan tetapi, kita harus ingat bahwa ini adalah cerita Stephen King. Dan setiap cerita dari beliau semestinya berlandaskan kepada universe yang sama, Stephen King Universe. Dunia balas dendam personal adalah dunia di mana Stephen King adalah tuhannya. Dengan menanamkan ini di kepala, kita jadi bisa mengerti bahwa penting bagu Jess untuk bebas dengan berdarah-darah. Juga penting bagi dirinya untuk bertemu dengan Moonlight Man di akhir cerita, berkonfrontasi. Karena, seperti yang kita pelajari dari kata-kata si Moonlight Man sendiri di gedung pengadilan itu. Moonlight Man dan Jess, walaupun berbingkai kemenangan moral Jess, sesungguhnya mengalami perjalanan yang sama. Mereka sama-sama menderita, sama-sama punya sesuatu yang menutupi kebenaran personal. Tidak ada penjahat dalam cerita ini. Tidak hantu Gerald, tidak Moonlight Man. Bahkan tidak pula si anjing kelaparan yang hanyalah seekor simbol tentang seseorang yang tahu dia memiliki sesuatu namun masih mencari di tempat lain.

Kebenaran itu pedih. Menerimanya bisa menimbulkan borok mental dan fisik. Terutama kalo kebenaran tersebut ada sangkut pautnya dengan trauma dan keburukan yang menimpa diri sendiri.

 

 

 

Bukan exactly traumanya, melainkan proses yang kita lakukan terhadap trauma itulah yang membentuk siapa diri kita. Lewat penceritaannya yang tiap babak menawarkan ketakutan dan hal disturbing, film ini memberikan hembusan semangat kepada kita. Setiap kenangan yang direpress adalah belenggu yang membatasi. Pilihannya adalah terikat atau terbebas. Walau perih. Walau perih. Sori malah jadi lagu Vierra, padahal kan film ini adalah salah satu adaptasi terbaik dari novel Stephen King. Mike Flanagan sekali lagi membuktikan bahwa dia masih termasuk dalam golongan sutradara horor terbaik yang bekerja dewasa ini. Sureal dan psikologis sekali, film ini ditangani olehnya.
The Palace of Wisdom gives 8 gold stars out of 10 for GERALD’S GAME.

 

 

 

That’s all we have for now.
Film ini sudah bisa disaksikan di Netflix. Kalo ada yang mau nonton bareng dan diskusi, langsung aja datang ke markas My Dirt Sheet di kafe eskrim Warung Darurat, jalan Teuku Umar 6A, Dipati Ukur, Bandung. Nanti filmnya kami putarkan untuk kalian.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

WISH UPON Review

“You can’t lose something you never had”

 

 

Permintaan paling pintar yang bisa kita pikirkan jika diberkahi Tiga Permintaan oleh jin tentu saja adalah meminta lebih banyak permintaan, like, sejumlah tak-terhingga! Manusia itu hakikatnya pada serakah, jika diturui, keinginan kita tak akan ada habisnya. Bagai jurang tak-berdasar. Kita tahu apa yang kita mau (“Always Coca-cola~!”), tapi jarang sekali kita menyadari apa yang kita butuhkan. Ketika permintaan kita terpenuhi, kita masih gak puas. Selalu ada yang salah. Selalu saja ada yang kurang. Yang enggak sesuai dengan kemauan kita. Konundrum permintaan ini banyak telah terbahas di dongeng-dongeng, cerita jaman dahulu. Wish Upon meremajakan topik ini kembali, di mana reperkusi dari permintaan yang tidak bener-bener dibutuhkan itu, adalah hal mengerikan yang berujung kepada menghilangnya nyawa orang-orang.

Claire mendapat hadiah dari ayahnya. Sebuah kotak musik unik, penuh oleh tulisan Cina kuno pada permukaannya. Claire enggak mengerti cara memainkannya, dia pun cuma mengerti frase ‘tujuh permintaan’ dari tulisan-tulisan yang nampang di kotak tersebut. Satu-satunya waktu Claire dapat mendengar musik darinya adalah ketika kotak tersebut membuka dengan sendirinya, setelah Claire mengucapkan satu permintaan. Pertama, Claire enggak langsung percaya bahwa permintaannya dikabulkan. Kedua, Claire menjadi ketakutan ketika menyadari setiap kali dia girang, satu orang yang dikenalnya meninggal dunia. Kotak tersebut meminta tumbal darah atas setiap permintaan yang dikabulkan. Ketiga, Claire malahan enggak tahu harus berbuat apa, dia tidak bisa begitu saja menyinggirkan kotak mengerikan yang sudah mengubah nasibnya menjadi cewek paling populer di sekolah.

I wish aku gak pernah baca Goosebumps #12 sebelum nonton ini

 

This film wishes to become a TRENDY MARKETABLE HORROR. Dipasangnya Joey King yang punya ratusan ribu follower anak muda, digunakannya musik elektronik, dipakainya banyak adegan jumpscares, dibuatnya setiap adegan kematian tetap sadis meski minim darah untuk menghindari rating yang terlalu dewasa. Permintaan film tersebut mungkin saja terkabul, aku gak benar-benar ngikutin perolehan box office, tapi setahuku di negaranya, Wish Upon rilisnya saingan ama War for the Planet of the Apes (2017), so yea good luck with that. Yang bisa aku katakana adalah, dari banyaknya usaha untuk menarik minat pasar, nyaris enggak ada di antaranya yang bekerja dengan baik.

Salah satu aspek lumayan baik film ini adalah penulisan tokoh utamanya. Memang pada awal, Claire hanya diberikan satu trauma masa lalu yang enggak klop sama sikapnya yang malu ketahuan punya ayah seorang scavenger barang bekas. But that’s just her teen attitude kicks in. Ketika narasi mencapai babak ketiga, ada elemen obsesi yang merasuki. Dari remaja yang dibully, di depan mata kita Claire berkembang menjadi orang yang lebih mementingkan permintaannya ketimbang nyawa orang lain. Claire begitu kesulitan untuk mengenyahkan kotak musik. Bukan saja lantaran kotaknya enggak mempan dipukul dan dihancurkan, Claire enggak bisa membuangnya begitu saja sebab jika dibuang, segala permintaannya akan turut menghilang. Joey King could really deliver this state of mental, ada adegan di mana dia menjadi emosional sekaligus kebingungan yang terasa genuine. She was like, “aku bisa tetap punya, gak harus ngucapin permintaan kan” bicara kepada diri sendiri. Joey masih bisa tampil meyakinkan, meskipun poin per poin naskahnya tidak benar-benar dibangun dengan baik. Perubahan sikap Claire terhadap kotak tersebut terasa abrupt, antara dia ingin menghancurkan ke ia ingin tetap memilikinya seperti terjadi, melompat, begitu saja.

 

Kita tentu takut kehilangan apa yang kita miliki. Akan tetapi, kita sebagai manusia bisa menjadi begitu tamaknya sehingga kita takut kehilangan sesuatu yang tidak atau belum kita miliki.

Banyak orang stress, takut kehilangan masa depan. Bayangkan seseorang yang sudah punya rencana hidup yang matang, kemudian dia jatuh sakit. They will instantly think penyakitnya parah, dan kepikiran soal rencana hidup – kerja berpangkat gede, punya pasangan kece – dan gimana dengan sakitnya keinginan tersebut enggak bakal terwujud. Pikiran yang semakin memperparah sakitnya. Apa-apa yang didapatkan oleh Claire, buah permintaannya kepada kotak musik, tidak benar-benar pernah ia miliki. Kayak mimpi yang jadi nyata aja, but not really. Tapi bagi orang-orang seperti Claire, berpegang kepada mimpi itu adalah hal yang sangat penting. Dan sehubungan ini, kita bisa memetik pelajaran yang sejatinya bisa menjadi pengingat.

Bukankah semua yang kita punya di dunia ini tidak benar-benar kita miliki?

 

Berhati-hatilah terhadap yang kita inginkan, sebab kita tidak bisa mengatur dalam cara yang bagaimana permintaan tersebut akan dikabulkan. Sayangnya, ini adalah elemen seram yang dieksplorasi oleh buku Goosebumps karangan R.L. Stine yang berjudul Be Careful What You Wish For. Film Wish Upon juga sempat menyinggung sedikit tentang ini, namun pada perkembangannya film memilih mengeksplorasi jalur yang tidak seram sama sekali. Ditambah pula, tidak memancing kita untuk berpikir lebih dalam. Permintaan-permintaan Claire akan bikin bosan penonton yang lebih matang. I mean, pada dasarnya film ini lebih tepat disebut sebagai cerita remaja dengan elemen jumpscare ketimbang film horor utuh. Kita hanya dihadapkan kepada masalah anak muda yang pengen punya pacar cakep, pengen paling terkenal di sekolah, pengen punya banyak teman, pengen punya orangtua yang gak malu-maluin. Saat awal-awal, ketika Claire masih bereksperimen dengan kekuatan kotaknya, mungkin masih oke. Kita paham Claire masih remaja, dan dia ingin menyelematkan dunia untuk dirinya sendiri. Namun kemudian, dia sadar bahwa permintaan selfishnya mengundang petaka. Logisnya adalah it’s time untuk mengucapkan permintaan yang lebih serius dan berguna.  Claire, however, tetap menggunakan jatah permintaannya untuk hal-hal sepele. Sampai ke poin menyebalkan. Satu karakter dalam film ini malah sempat literally mengejeknya “Kenapa lo gak minta Perdamaian Dunia aja, sih?”

Atau paling enggak, minta supaya tidak ada kejadian buruk menimpa

 

Adegan mati yang menyertai setiap permintaan juga tidak ditangani sehingga bisa bikin kita ketakutan. Cuma sekuens kematian yang mereka punya supaya film ini bisa jadi seram, dan mereka malah menggarapnya dengan terlalu sok-menegangkan. Adegan mati di film ini persis kayak adegan di Final Destination. Situasi yang dipanjang-panjangin, kayak ketika seseorang mencuci piring, tangannya nyangkut di wastafel, badannya nyaris-nyaris nyentuh saklar penggiling, kompor di belakang nyaris kepanasan, dan kita enggak tahu mana yang akan membunuhnya. Namun hasilnya malah tidak semua adegan kematian tersebut terlihat menyeramkan. Malahan jadi konyol. Kayak ketika ada kakek-kakek yang mati di bak mandi; dia kepleset, begitu bangun kepalanya kepentok keran, kerannya ngucurin air panas, dan matilah dia oleh keran maut. I mean, mereka bisa mengurangi penderitaan si kakek dengan membuatnya kepleset, kepalanya kepentok, dan mati. Udah. Gak perlu banget macem-macem seolah keran yang menahannya bangun. Film sempat ngetease soal makhluk penunggu kotak, hanya saja tak pernah dibahas lagi hingga akhir.

 

Dalam usahnya tampil setrendi dan semainstream mungkin, Wish Upon enggak repot-repot mikirin gimana tampil orisinil.  Desain suara toh bisa nyomot dari stock sample sound. Shot-shot pemandangan pun bisa disulam dari gambar-gambar video. Serius, ada satu shot pemandangan kota yang keliatan gak serasi banget, burem, dan tampak dimasukin gitu aja. Mereka gak ngesyutnya langsung. Dengan beraninya, film juga menggunakan app yang dicontek langsung dari Pokemon Go sebagai salah satu plot device. Kreativitas yang dilakukan film ini adalah memainkan tone warna sesuai dengan keadaan hati Claire. Saat Claire sedih, bingung, takut, layar akan didominasi oleh tone biru. Ketika Claire gembira, warna menjadi cerah. Selain trik sinematografi itu, memang tidak ada lagi yang dipunya Wish Upon untuk tampil menarik buat penonton di luar demographic pasarnya. Bahkan untuk ukuran anak muda, elemen perundungan yang dipakai oleh film ini – cewek paling cantik di sekolah yang jutek dan jahat tanpa alasan sama tokoh utama, numpahin air dan like “oops, sorry” – terasa ketinggalan jaman banget.

 

 

 

Ditujukan buat penonton muda yang pergi ke bioskop untuk menghibur diri dengan terkejut bareng selama beberapa menit, film ini punya determinasi tapi tidak berhasil menyampaikan banyak. Rasa takut juga tidak. Film ini justru lebih seperti komedi romantis yang ada adegan kejut-kejutan, dengan tidak ada elemen yang benar-benar bekerja dengan baik. Joey King is good tho, dia bisa terjun dalam meski naskha tidak memberikannya kedalaman yang berarti.
The Palace of Wisdom gives 3 gold stars out of 10 for WISH UPON.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

KINGSMAN: THE GOLDEN CIRCLE Review

“Kindness is still the best antidote.”

 

 

Pernahkah, selagi duduk di meja sarapan mengaduk teh manis hangat sambil nontonin berita tentang pengedar narkoba yang tertangkap, kalian berhenti sejenak dan berpikir bahwa sesungguhnya gula membunuh orang lebih banyak ketimbang obat-obatan terlarang? Berpikir bahwa gula nyata-nyata lebih adiktif, sembari kalian menyadari orang-orang di tv itu sebagian besar udah tergolong overweight, mengonsumsi gula berlebihan setiap hari? Jika gula yang secara data lebih berbahaya bisa dijual bebas, maka kenapa pengedar drugs kelas kakap seperti gue harus direndahin, kudu jualan diem-diem, musti ngasingin diri di oasis nostalgia 1950an di tengah belantara, begitu kiranya pikir Poppy si ratu kartel narkoba. Jadi, demi mendapat pengakuan, dia ngespike dagangannya yang paling laku, you know sebangsa heroin, dengan virus yang berujung kematian massal. Practically dia menyandera semua pemakai, about sebagian besar penduduk dunia – no surprise there – dengan mengeluarkan ultimatum; serum penawar virus akan dibagikan jika Amerika gencatan senjata dengan narkoba. Melegalkan usahanya.

Itulah musuh yang harus dihadapi oleh agen-agen Kingsman dalam film sekuel ini. Seperti pendahulunya, The Golden Circle juga berusaha untuk menangkap masalah dunia yang relevan dengan keadaan recent dan membalutnya dengan aksi yang begitu gila dan komedi yang in-your-face sehingga hasilnya adalah tontonan yang sangat over-the-top namun tak pelak seru dan menarik. Actually, Eggsy harus bekerja sama dengan agensi agen rahasia Amerika, Statesman, yang menyamarkan organisasi mereka dalam bisnis minuman beralkohol. Eggsy yang kehilangan sebagian besar rekan-rekan Kingsmannya tak punya pilihan. Sama seperti kita yang tidak diberikan waktu senggang untuk berpikir tentang betapa lemahnya alasan dan motivasi villainnya, thus membuat film ini juga enggak sekuat yang pertama. Sebab Kingsman tidak menawarkan pemikiran ataupun emosi, dia cuma punya aksi-AKSI KEKERASAN YANG DIBUAT SEMUSTAHIL MUNGKIN SEHINGGA TAMPAK AMAT GAYA. Dan nyali untuk mempertontonkannya.

Tempat tanpa pemakai narkoba mungkin adalah utopia yang nyaman untuk ditinggali. Orang-orang hidup bersih. Hidup sehat. Enggak ada si brengsek yang bertindak nekat. Namun kenyamanan tempat itu dipertanyakan jika untuk mencapainya berarti kita harus menciptakan terlebih dahulu tempat tanpa ada yang mau menolong pemakai narkoba. Kingsman: The Golden Circle, at its best, akan mengingatkan kita akan hal tersebut.

 

Tidak ada titik lemah dalam jajaran pemain. Taron Egerton sekali lagi sangat bagus sebagai Eggsy. Attitude dan timing comedynya pas banget. Channing Tatum menghibur, Colin Firth, Mark Strong, dan karakter-karakter lain bermain sama baiknya. Aku suka Julianne Moore bertindak sebagai gembong penjahat di sini. Yang dia berikan adalah performance yang sangat menarik dan sangat fun, meskipun naskah memilih untuk menggunakan tokoh Poppy ini dengan cara yang aneh. Aneh yang not in the good way.

Untuk sebagian besar waktu, Poppy ditampilkan terpisah dengan tokoh lain. Dia enggak pernah keluar dari persembunyiannya, yang enggak benar-benar tempat persembunyian ataupun tempat yang terpencil, as kita melihat berbagai macam orang keluar masuk tempat yang hanya dilindungi oleh ranjau itu. Dia punya dua anjing robot sebagai henchmennya yang paling diandalkan. Dia menculik seorang penyanyi terkenal yang dibiarkan ikut tinggal di area hideout (by the way, Elton John juga teramat menghibur di film ini, dan perannya actually lebih gede dari kelihatannya). Jadi kejahatan dan kekejaman Poppy tidak banyak tercermin, kecuali melalui rencana narkobanya. Dalam sense dan moral film ini, orang jahat dan orang baik tidak bisa gitu aja diputuskan lewat apakah dia memakai narkoba atau enggak, yang mana membuat kekejaman tindak Poppy lagi-lagi bergantung kepada pandangan kita tentang suara besar film tersebut. Secara pribadi, Poppy adalah karakter yang fun dan menarik, akan tetapi buatku tindakan Poppy enggak cukup jahat, dia tidak begitu mengancam sebagai penjahat, dan ultimately aku enggak begitu khawatir akan keselamatan tokoh utama.

kekuatan film diukur dari kekuatan penjahatnya

 

Pujian terbesar yang bisa kita berikan kepada film ini disarangkan buat departemen sinematografi. Adegan-adegan percakapan, lokasi set yang beragam, semuanya terlihat begitu menawan dan simetris. Ini adalah film yang sangat cantik. However, prestasi bagian action film pertamanya tampak menjadi beban. Kingsman terkenal dengan aksi yang sangat over-the-top, yang sangat liar, masih ingat dong ya dengan Gazelle yang tendangan kaki spesialnya mampu mengupas orang menjadi dua kayak kulit pisang yang dibuka. Pada Kingsman terbaru, meski adegan aksinya dibuat dengan sangat menarik secara visual, film kali ini tampak terlalu bergantung kepada penggunaan CGI. Efek dipakai untuk menyatukan shot-shot. Sekuens berantem dan aksinya lebih tampak seperti adegan keren dalam video game, mereka ingin melakukan begitu banyak hal-hal mustahil yang menghibur, mereka mencoba untuk menjadi super over-the-top, namun orang-orang yang dilempar ke sana ke mari, meloncat melakukan hal-hal gila, tidak lagi tampak masuk akal sebagai manusia biasa.

“Terlalu penuh” biasanya bukanlah ungkapan yang memiliki arti positif. Begitu juga buat Kingsman: The Golden Circle. Film ini memasukkan banyak subplot, ada banyak kejadian ataupun cerita yang berusaha disampaikan oleh naskah. Kita melihat tentang pilihan hidup, sekaligus ada romansa dan loyalitas, ada pembahasan soal bagaimana jika orang yang kita jadikan panutan berubah menjadi pribadi yang sama sekali berbeda. There are some many different things yang terjadi di sini. Ketika sekuen aksi berlangsung, film menjadi exciting. Namun ketika kita berada di kejadian di antara sekuen-sekuen aksi, film menjadi membosankan. Durasinya yang dua-setengah-jam terasa semakin berat dan panjang. Film berkembang menjadi semacam banyak adegan-adegan kecil yang diulur-ulur dan enggak benar-benar perlu.

Karakter berangkat dari titik A menuju titik B terlebih dahulu, dengan tujuan aslinya ada di titik Z. Alih-alih menggunakan alasan logis untuk membuat karakter tersebut maju, film  ini menggunakan ‘perjalanan’ yang berbelit. Contohnya ketika Eggsy harus menemukan lokasi suatu tempat, dan untuk mendapatkannya dia harus menyusup ke konser musik untuk mencari cewek salah satu bandit. Dan dia bersama agen lain berusaha untuk ngeflirt sama cewek itu supaya mereka bisa menaruh tracker di dalam tubuh si cewek sehingga mereka bisa ngikutin si cewek kalo dia pergi ke markas. Dipanjang-panjangin dan sangat gak-perlu. I mean, masa sih gak ada cara lain yang lebih singkat dan praktikal lagi.

Pengen liat Statesman lawan Gin dan Vodka dan pasukan Baju Hitam dari Detektif Conan

 

 

 

Tak jarang memang sekuel merasa punya tuntutan untuk menjadi lebih besar dan lebih baik dari film pertama. Kadang mereka mencoba untuk menghadirkan penjahat yang lebih dahsyat ataupun sinting, kadang dengan sekuens aksi yang lebih banyak dan edan, dengan penggunaan efek yang lebih dahsyat. Film ini sebagian besar menderita karena ingin tampil lebih grand ini. Mereka gagal. Penjahatnya enggak mengancam, actions mencoba untuk lebih seru dengan efek yang lebih banyak – hanya membuat tokoh-tokoh yang terlibat tidak lagi terlihat sebagai manusia normal. Menderita dari kebanyakan hal yang ingin mereka lakukan. Naskahnya digarap lebih santai dibandingkan aksi yang benar-benar dienchance dan dikoreografi dengan matang. Dari perspektif narasi, mestinya banyak yang bisa dipotong demi mempersingkat. Dan membuat film yang seru ini lebih menyenangkan lagi.
The Palace of Wisdom gives 5 gold stars out of 10 for KINGSMAN: THE GOLDEN CIRCLE.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

 

A GHOST STORY Review

“I wanna be alive. I am alive. Alive, I tell you!”

 

 

A Ghost Story akan membuat banyak orang kesal alih-alih takut, sebab meskipun benar ini adalah cerita yang ada hantunya, film ini juga adalah kisah cinta, kisah tentang kesendirian, kisah tentang penyangkalan, kisah pencarian, dan kisah lompatan waktu sekaligus.

 

Mobil yang dikendarai Casey Affleck tabrakan, dia meninggal dunia. Namun pria tersebut menolak untuk mengakhiri hidupnya. Affleck terbangun di rumah sakit, wujudnya sekarang berbungkus selimut putih dengan dua lingkaran sebagai mata – persis kayak kostum hantu-hantuan yang dipakai anak kecil sewaktu Halloween. Sebagai hantu, Affleck berjalan balik ke rumah, tempat Rooney Mara; istrinya, menghabiskan masa berkabung. A Ghost Story literally adalah cerita hantu, as in cerita seorang hantu, di mana kita akan ngikutin perjalanan eksistensial si hantu Affleck, melewati masa lalu dan masa depan. Kita akan menonton hantu Affleck sejak dia mengobservasi istrinya, hingga mengamati roh nelangsa tersebut berusaha menemukan sesuatu yang ia cari-cari.

(un)lucky to be coming home again

 

Kita tidak akan mendapatkan jumpscare ataupun adegan-adegan horor pada film hantu yang satu ini. Tapi itu tidak berarti nonton film ini kita tidak merasa ngeri. A Ghost Story diarahkan oleh David Lowery menjadi sebuah tontonan yang sangat berbeda dan teramat orisinil. Lowery mengambil trope-trope pada horor kebanyakan, seperti buku yang jatuh sendiri, lampu yang hidup-mati, suara aneh di tengah malam, dan memberikan arti yang berbeda terhadap tropes tersebut. Bukan lagi sebatas ada keberadaan gaib yang mencoba menakuti kita, namun ada makna yang lebih dalem di balik segala macam fenomena tak-terjelaskan itu.

Ini adalah film yang bakal menghantui kita secara emosi. Malahan, saking impactfulnya, aku duduk terhenyak beberapa menit setelah film ini usai. Suasan sekitarku seolah surut ke dalam keheningan, karena apa yang kusaksikan di ending, juga semua peristiwa menjelang ending itu sudah berhasil mengguncangku secara emosional. A Ghost Story adalah SALAH SATU FILM TERSEDIH yang pernah aku tonton. Di sini kita melihat bagaimana seseorang bisa menjadi sangat tersesat oleh ketidakpahamannya terhadap purpose ataupun terhadap fakta bahwa dia tidak perlu untuk kembali sebab pada satu titik tertentu kita memang harus terus.  Ada getir yang menohok ketika kita menyaksikan hantu Affleck terus menetap di rumah, lama setelah isrinya pindah, hanya karena ia ingin mengambil catatan yang disimpan oleh istrinya. Sebuah tujuan yang sederhana, poinnya adalah setiap kita ingin mengerti. Seperti yag juga digambarkan oleh si tetangga hantu yang terus menunggu seseorang untuk kembali ke rumah, meski ia tidak lagi ingat siapa yang ia tunggu tersebut. Keberadaan kita adalah semata untuk memahami tujuan, dan begitu kita achieve that, poof! Kita undur diri seketika.

Kematian benar-benar dieksplorasi di sini. Derita dan kehilangan yang seseorang alami saat harus mengalami perpisahan dengan yang dicintai. Rooney Mara dan Casey Affleck perfectly menyampaikan emosi tersebut, tanpa banyak dialog. In fact, film ini memang minim sekali dialog. Saking pelit ngomongnya, kita bahkan enggak diberitahu siapa nama tokoh utama. Film ini menggunakan visual sebagai lidah untuk bercerita, dengan hint-hint subtil menghiasi sinematografi yang sudah memukau sedari awal. Long takes digunakan dengan efektif, Lowery berhasil menghasilkan gambar tanpa sekalipun terlihat pretentious. Semua ada maknanya. Adegan Rooney Mara duduk makan pie demi menelan bulat-bulat perasaannya akan membuat kita turut merasakan duka, juga terasa sangat manusiawi.

kenyataanlah yang susah untuk ditelan

 

Seni adalah wujud kebudayaan suatu bangsa. Dalam ruang lingkup yang kebih kecil, seni adalah apa yang kita hasilkan just to show that “ini loh karya gue”. Gue hidup. Ini loh bukti gue pernah hidup di dunia! Manusia begitu desperate untuk meninggalkan jejak, meskipun sebenarnya seperti yang diperbincangkan oleh dua tokoh film ini di awal cerita; kita cepat atau lambat akan meninggalkan dunia – yang dalam kasus ini dianalogikan sebagai rumah dan catatan-catatan keci yang disembunyikan oleh tokoh Rooney Mara di dalam rumahnya. Keengganan untuk pergi tanpa meninggalkan jejak, atau malah tanpa pernah tahu pasti apa punya jejak atau enggak, membuat seseorang menjadi terikat dan gak gampang move on. Seperti hantu.

 

Penggunaan frame yang tepiannya membundar kayak bingkai instagram membuat menonton ini seperti menonton video rumahan. Treatment ini menurutku bekerja in favor of the movie karena membuat feel cerita terasa real. Sekali lagi, film ini enggak kayak dibuat-buat. Lumrah bagi film-film arthouse untuk mempersembahkan cerita lewat sinematografi yang mesmerizing, namun tak jarang  seberes nonton kita ngerasa “meh, that’s just a bunch of pretty scenes”. Pada A Ghost  Story, adegan-adegan tersebut terlihat benar punya pesan dan kita akan mencoba untuk memahami mereka.

 

Jika hantu adalah sebutan buat entitas yang ngambang di antara dunia nyata dengan dunia fana, maka A Ghost of Story adalah film yang memastikan tidak ada penonton yang jadi hantu setelah menontonnya. I mean, tidak ada ‘di antara’ dalam hal suka film ini, it’s either cinta atau benci. Buatku; I adore this film. So much. Aku setuju sekali sama keputusan film untuk enggak menampakkan apa yang ditulis oleh Rooney Mara di kertas itu.

Kita enggak akan dapat film yang seperti ini lagi entah untuk berapa tahun lamanya. Sedangkan untuk kekurangan, well I do have an issue buat satu adegan yang terasa sedikit enggak selaras dengan keseluruhan film. Sekitar pertengahan, hantu Affleck mendapati rumahnya dijadikan tempat pesta oleh sekumpulan anak muda, dan salah satu dari mereka berceloteh tentang manusia dan usaha yang dilakukan untuk mengukuhkan eksistensi. Monolog yang berbobot banget, kalian mungkin akan merasakan dorongan untuk nyatetin kata-kata yang dilontarkan oleh orang ini. Masalahku adalah, adegan ini seperti film nyuapin ke kita tentang ide yang hendak mereka sampaikan. You know, it was just too frontal, padahal sebelum ini film amat subtil lewat visual. Kita sudah semangat dan terlanjur tertarik untuk menelaah apa yang sebenarnya ingin dikatakan oleh pembuat film, dan kemudian adegan monolog yang menjelaskan ini datang. Ini kayak mendadak film mutusin untuk switch ke mode easy, untuk talking down ke penonton. Menurutku kita enggak perlu untuk mendapat penjelasan gamblang seperti itu.

 

 

Hantu adalah pengamat yang baik. Dan untuk itu, film ini membuat kita semua menjadi hantu, mengamati orang-orang dalam duka seperti itu. Namun begitu, apakah ada sebutan untuk hantu yang baik? Sebab hantu juga adalah sisa-sisa, jejak, dari urusan tak selesai yang muncul ketika kita merasa bahwa kita belum selesai mengukir keberadaan di atas dunia. So emotionally haunting, ini adalah drama sedih yang hidup oleh sinematografi memukau, musik yang mengiris hati, dan penceritaan visual yang luar biasa menghanyutkan.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for A GHOST STORY.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

THE BOOK OF HENRY Review

“A tiger dies and leaves his skin.”

 

 

Enggak ada yang tampak luar biasa di kelas pagi itu. Bu Guru lagi membimbing murid-murid mengungkapkan warisan apa yang ingin mereka tinggalkan di dunia, dan seperti di hari-hari biasa, Henry mengejutkan seisi ruangan dengan opininya yang penuh pemikiran, jauh lebih dewasa dari umurnya. But that just a normal day di kehidupan Henry. Gajah mati meninggalkan gading. Harimau mati meninggalkan belang. Sedari adegan pembuka tersebut, film ini sudah mengait kita masuk dengan pernyataan seputar apa yang ingin kita tinggalkan di dunia ini. Tentu, semua orang pengen namanya dikenang. Jasa-jasa besarnya diingat. Semuanya mau melakukan hal yang spesial. Namun Henry, being special brain and mind as he is, malah ingin melakukan hal sebiasa membantu apa-apa yang bisa ia bantu selagi dia hidup bernapas dan berjalan di muka bumi. Simpel. Biasa aja.

Just do good to others. Saling bantu satu sama lain. Jika perlu buatlah urusan orang lain sebagai urusan kita sendiri. Sebab, kalolah ada tindak paling kejam di atas dunia, maka itu bukanlah tindak kekerasan. Melainkan ketidakpedulian kita terhadap sesama.

 

Dalam urusan warisan, sutradara Colin Trevorrow tampaknya ingin meninggalkan jejak, ia ingin dikenang, sebagai sutradara yang menghasilkan film yang unik ketimbang sebagai pembuat film yang laku. Karena The Book of Henry benar-benar tidak seperti yang lain. Trevorrow sudah mengembangkan cerita ini selama lebih dari 19 tahun. Dan dalam prosesnya, keunikan dan keorisinilan film ini tidak lagi datang dari betapa berbedanya dia dari film-film lain. Aku percaya saat pertama kali mikirin idenya, The Book of Henry terdengar sangat fresh, namun ditonton sekarang-sekarang ini, aku bisa melihat sedikit Goosebumps (2015), sedikit Gifted (2017) dan malahan sedikit serial Thirteen Reasons Why (2017) di dalam elemen narasi. Yang membuat The Book of Henry tetep terasa sangat unik adalah penggarapan dan arahannya yang SANGAT BERANI. Pembelokan tone yang amat tajam, ngetackle hubungan keluarga, dan permasalahan child abuse, semuanya diceritakan oleh Trevorrow dengan melanggar banyak aturan filmmaking.

Pada babak satu, The Book of Henry terlihat kayak film keluarga biasa. Semuanya tampak menyenangkan. Henry bersama adiknya naik sepeda seputaran lingkungan ramah dengan aman. Mereka semua bahagia. Naomi Watts memainkan Susan, seorang single mother yang sangat cool. Kalian harus lihat dan denger sendiri gimana cara Susan ngobrol kepada kedua anaknya yang masih kecil. Dia pake metode yang bakal bikin asosiasi orangtua kaku kebakaran jenggot. Mungkin kita sedikit bergidik melihat caranya yang penuh kejujuran dan gakpake sensor pemanis. Aku sempet shock dikit pas Susan pake gestur jari khasnya Stone Cold Steve Austin ke Henry, dan dibenerin oleh Peter sebab apparently jari telunjuk Susan belum lurus. Tapi toh anak-anaknya tetap cinta dan hormat. Karena sepertinya memang begitulah cara yang bener bicara sama anak kecil; anggap mereka sebagai orang dewasa juga. Susan ngegedein dua putra yang sangat spesial, terutama Henry yang obviously seorang bocah jenius. Dinamika ibu-anak antara Susan dan Henry terjalin dengan terbalik; Susan main video game dan dilarang oleh Henry. Susan juga lumayan reckless ngurusin keuangan, semuanya diatur oleh Henry yang masih sebelas tahun. Dan di malam hari, setelah siangnya minum-minum dengan teman sesama pelayan di kafe eskrim, Susan membacakan cerita pengantar tidur tentang punk rock band kepada Henry dan adiknya, Peter, yang diperankan dengan sekali lagi gemilang oleh Jacob Tremblay. Begitulah rutinitas hidup mereka yang harmonis. Kadang Peter ngambekan sih, semua orang suka Henry, sehingga rasa iri itu sedikit muncul. Namun permasalahan kecil seperti itu dapat diselesaikan berkat kepintaran dan kebaikan Henry.

“kids jaman now” harusnya bikin rumah pohon dengan jebakan deh, ketimbang bikin akun sosial media

 

The Book of Henry masih ngikutin struktur tiga-babak, namun dengan cara yang sama sekali berbeda. Bagian mid-point benar-benar mengubah keseluruhan film. Cerita menjadi lebih kelam, dan kecurigaan Henry mengenai ada tindak kejahatan yang terjadi di rumah anak cewek di sebelah rumah mereka tampaknya semakin terbukti. Aku enggak mau bilang banyak, karena spoiler di bagian ini bakal merusak pengalaman menontonnya. Aku hanya bisa bilang bahwa di paruh kedua film, akan ada karakter yang harus mengambil banyak keputusan berat. It was a very ballsy thing to do in regards of storytelling. Hingga akhir film aku duduk menonton sambl gigit kuku, enggak percaya film ini melakukan apa yang mereka lakukan, and got away with it.

Pergantian tone cerita juga berarti jangkauan range karakter yang cukup luas yang harus dimainkan oleh para aktor. Dan mereka semua berhasil membuat performa film ini meyakinkan. Arahan sutradara juga berperan besar di sini. Tokoh anak-anak berhasil mengimbangi Naomi Watts yang semakin kuat memainkan peran ibu. Jaeden Lieberher adalah Henry yang sangat meyakinkan, tidak terbata dia berperan sebagai anak jenius yang bertingkah jauh di luar anak-anak umurnya pada umumnya, dia jarang tersenyum namun sangat perhatian. Sekaligus punya emosi dan sense of humanity yang kuat. Kepada Maddie Ziegler yang jadi tetangga Henry lah sepertinya kita  perlu bertepuk tangan salut paling keras. Dia enggak diberikan banyak dialog, sebab dia harus banyak berakting lewat ekspresi, dan cewek ini brilian sekali. Ada sekuens di talent show sekolah yang benar-benar membuktikan ini; Maddie harus melakukan banyak gerakan menari yang sangat fisikal sembari harus menampakkan ekspresi penuh derita dan duka yang subtil di wajahnya. She was so good dan penuh penghayatan.

 

warisan yang ditinggalkan Henry ternyata adalah 13 reasons why and how to killed your bad neighbor

 

Tindak berani selalu ada saja resikonya. The Book of Henry dengan pergantian tone cerita yang drastis tentu berpotensi bikin kesel banyak orang. Pengen drama keluarga yang fun, eh malah dapet yang lebih kelam. Tapi semestinya penonton film 2017 sudah terbiasa dengan film-film ‘mengecoh’ kayak gini. Kita udah dapet Get Out dan It Comes at Night di antaranya. Di mana The Book of Henry sedikit goyah adalah di paruh kedua. Tepatnya pada elemen anak jenius yang mengatur keputusan karakter lain. Semuanya terlihat sangat diatur dan dipermudah, padahal keputusan yang diambil oleh karakter yang satunya adalah keputusan yang sangat berat. Ultimately, it makes the story was somewhat predictable. Jadi, filmnya seolah berubah namun pada akhirnya tidak banyak kejutan yang kita rasakan.

 

Topik, penceritaan, kejadian, semua itu diolah dengan cara yang sangat berani. Dia melawan banyak aturan film. Menjadikan dirinya sendiri sebaga tontonan yang sangat unik. Film ini akan meninggalkan para penonton terbagi menjadi dua kelompok; yang merasa kecele, dan yang terkesima atas keberanian dan keorisinilan yang hadir buah dari keberanian tersebut.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for THE BOOK OF HENRY.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.