ANTOLOGI RASA Review

“Too often, the thing you want most is the one thing you can’t have.”

 

 

Antologi Rasa, dalam kapasitasnya sebagai kisah kepahlawanan orang-orang yang terjebak dalam ‘zona teman’, boleh saja mendorong orang untuk jadi lebih berani ngungkapin perasaan mereka atau jadi cermin supaya orang bisa lebih peka pada apa yang dirasakan oleh sahabat mereka yang diam-diam mendamba. Tapi sebagai film, Antologi Rasa tidak pernah berkembang menjadi sesuatu yang spesial dengan absennya lapisan cerita, dengan tokoh utama yang pasif dan terlihat canggung dengan kedua tokoh ‘pasangannya’, pun doesn’t break any grounds dengan arahan dan tekniknya. Aku tidak merasakan apa-apa saat menonton ini. Ya, bahkan dengan pemandangan wisata dan kota-kotanya.

Atau… mungkin memang akunya saja yang sudah mati rasa di dalam sana.

 

With that being said, Antologi Rasa adalah cerita tentang Keara (Carissa Perusset sungguhlah temuan yang fresh sekali dari si empunya cerita) yang merasa ia sangat mencintai Ruly, yang wajahnya selalu terbayang setiap dia memejamkan mata. Tapi begitu ia membuka matanya, senyum cengengesan Harris-lah yang dengan ge-er selalu menyambutnya. Keara gak tau sih kalo Harris yang ia lebih suka panggil Rasyid itu cinta banget ama dia. Ketika Ruly batal ikut trip, Harrislah yang menemani Keara cuci mata di Singapura. Tapi tanpa Ruly yang biasanya jadi designated person mereka saat klubbing, di kota seberang ini Keara dan Harris mabok tanpa ada yang mengawasi. Terbangun dari hangover dan rasa kesalnya kepada Ruly, Keara mendapati dirinya tercelup ke dalam masalah perasaan yang pelik di antara mereka bertiga. Bisakah cewek ini mengenali mana cinta mana yang sekadar suka, sebelum cinta sejatinya tersebut pergi merelakan demi kebahagian dirinya.

sebelum cium bibir berubah menjadi cium bubur

 

 

Meskipun begitu nyampe plot poin pertama pertanyaan yang muncul di benakku adalah “kapan film ini usai?” alih-alih jadi peduli sama konflik cerita, toh setidaknya film ini punya struktur cerita yang lebih bener ketimbang Critical Eleven (2017) saudaranya yang sesama adaptasian dari novel Ika Natassa. Jika mau diungkit, memang kedua film ini punya unsur yang sama; sama-sama ada pesawatnya, sama-sama kisah cinta yang dewasa, sama-sama dihidupi oleh tokoh yang gak masalah bergaya hidup lebih bebas daripada aturan agamanya. Buatku pribadi, ada satu lagi kesamaannya; aku tidak bisa membawa diriku untuk menyukai ini. Film cukup bijak untuk memperlihatkan ketiga kehidupan Keara; pribadi, personal, dan profesional. Yah, walaupun hobi fotografinya tidak menambah banyak ke dalam cerita. Aku bisa mengerti apa yang cerita ini pengen sampaikan, aku mengerti tahapan perubahan yang dialami Keara – karena film ini punya naskah yang mengeset itu semua dalam sekuens-sekuens yang normal – yang works sebagai sebuah struktur drama. Akan tetapi penyajiannya, kesatuan yang membentuk tampilan film ini dalam bercerita; membosankan – tidak pernah menantang.

Menit-menit pertama, yang diceritakan dengan gaya narasi benar-benar mentah seperti masih dalam bentuk novel. Tokoh yang melafalkan deskripsi seseorang sementara kita melihat langsung orang tersebut. Tokoh yang menyebutkan suatu kegiatan, sementara kita sudah lihat lebih dulu. Atau bahkan kita tidak melihat apa yang sedang ia sebutkan. Film bisa menghemat banyak waktu, bisa lebih mengefektifkan durasi jika pengenalan dilakukan lewat visual. Karena dialog itu terlalu gampang, dan mubazir jika kebanyakan, seperti yang kita lihat di sini. Selain itu, ia juga merasa teramat sangat perlu untuk menyampaikan rasa lewat lantunan lagu-lagu dengan lirik yang dipas-pasin, yang muncul setiap kali tokoh dalam keadaan yang emosional.  Film Antologi Rasa mengincar terlalu rendah, tidak mengambil resiko apa-apa. Dalam cahaya yang lebih positif, bisa dikatakan film ini hanyalah sebuah tontonan berikutnya yang bisa kita nyalain untuk mengisi hari kasih-sayang.

Pemandangan demi pemandangan cantik ditangkap oleh kamera. Para pemain juga udah kayak antologi dari insan-insan paling sedap dipandang seantero muka bumi. Tetapi betapa dangkalnya kalo kita hanya membicarakan penampilan. So I won’t pull any punches; bahwasanya performa akting di sini tidak ada yang memuaskan. Bahkan Herjunot Ali yang paling berpengalaman di antara para cast tampak kesusahan membangun chemistry, memancing kehidupan yang natural dari lawan-lawan mainnya. Interaksi antara tiga tokoh ini; baik itu Keara-Harris, Keara-Ruly, maupun Harris-Ruly, tampak begitu canggung. Seperti menyaksikan orang-orang yang dipaksa bersosialisasi di luar keinginan mereka. Mereka tidak membawakan dengan lepas. Saat pusing, atau mabok, mereka seperti dikomandoi – enggak natural. To be fair, sekiranya aku jadi Carissa pun sepertinya akan bingung juga harus bagaimana ketika tokoh Keara tidak dibuat jelas antara dia merasakan cinta atau hanya tidak mau ditinggal sendiri. Tiga tokoh yang mejeng di poster dengan gaya blocking yang mengingatkanku pada barisan Power Rangers itu sesungguhnya punya masalah yang sama; mereka jatuh cinta kepada orang yang tak-bisa mereka miliki. Ini adalah masalah yang sangat emosional, begitu konfliknya pasti perasaan di dada masing-masing. Tapi bangunan yang disiapkan untuk mewadahi semua itu sangat sederhana. Perubahan karakternya tidak dikembangkan dengan maksimal.

mendingan mijitin Keara daripada … (isi sendiri)

 

 

 

Dua tokoh cowoknya berakhir seperti jerk ketimbang simpatis. Mereka dua-duanya menggunakan rasa cinta mereka yang tak bersambut itu sebagai pembenaran untuk took advantage of her. Keara di film ini didominasi oleh pria – dia berpindah dari satu cowok ke cowok lain, bukan karena pilihan, melainkan karena kondisi kerapuhannya yang dimanfaatkan. Bertengkar dengan Ruly, Keara mabok dan ‘jatoh’ ke tangan Harris. Tidak mau menerima Harris, Keara menjauh dan didekati oleh Ruly, orang yang selama ini ia idam-idamkan. Mungkin ini cara film untuk menunjukkan betapa berbahayanya ketika kita terus mendamba cinta alih-alih menerima cinta yang datang. Tapi tetap saja keseluruhan film ini terasa seperti cerita seorang cewek pasif yang gak melakukan apa-apa terhadap prinsip “cewek nunggu dilamar” yang dipanjang-panjangkan. Terasa outdated karena kita tahu lebih menarik jika Keara enggak tunduk sama kalimat tersebut dan segera mengambil aksi.

Adalah sebuah hubungan yang sangat menyiksa jika kalian jatuh cinta dengan seseorang yang kalian berteman baik dengannya, tetapi dia tidak tahu/ tidak bisa membalas perasaan kalian. Akibatnya kita akan merasa kehilangan diri sendiri, karena untuk terus bisa ‘berteman’ kita akan dibuatnya rela memberikan apapun, termasuk kebahagiaan diri sendiri. Kita akan meyakinkan diri ‘tak apa tak berbalas’ asalkan masih tetap bisa ngobrol, bertemu, bercanda. Kita akan lupa bahwa kita pantas untuk mendapatkan lebih baik daripada itu – seperti yang dikonfirmasi Keara ketika dia bertanya “better what?”. 

 

Film ini sedikit ada miripnya dengan cerita film pendekku Lona Berjanji (2018). Sama-sama tentang cewek yang tak melihat cinta di dekatnya. Yang melihat ke arah yang salah. Meskipun kualitas teknis filmku tersebut jauh lebih amatir, aku pikir protagonis cewekku lebih menarik karena dia yang beraksi mencari cinta, justru dia merasa ‘lemah’ disodorkan perhatian yang sudah ia salah sangka sebagai cinta. Tapi cinta tentu saja tidak membuat kita lemah. Akhiran filmnya pun Antalogi Rasa ini kalah nyali dengan filmku yang kayak buatan anak sekolahan. Keara seperti tak punya pilihan selain mana di antara dua yang ‘lesser evil’; taking advantage bisa dengan yakin dimaafkan asalkan pelakunya lagi mabok asmara. Di akhir film, Keara practically memohon untuk satu tokoh tetap cinta kepadanya. This is so… I mean, masa sih gak ada cara lain untuk memperlihatkan Keara akhirnya enggak lagi menunggu ‘ditembak’ – masa iya gak ada cara ‘nembak’ yang lebih ber-dignity yang bisa dipakai Keara. She’s deserved that after all of the emotional humiliations she’s been through, don’t you think? 

 

 

It gets better at the end, but the whole journey feels pretty uninteresting. Dengan konflik yang dewasa, dan penuh pancingan emosional, sayang ceritanya berjalan selempeng emosi yang dihantarkan oleh para pemainnya. Padahal dia mengangkat masalah yang lumayan menarik, juga relatif relatable, aku sempat mendengar ada yang sesenggukan juga di studio saat menonton. Buatku, however, ini cerita yang rasanya biasa-biasa saja, didukung oleh performa dan arahan yang juga sama hambarnya.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for ANTOLOGI RASA.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Pernah naksir ama sahabat sendiri? Apa sengaja sahabatan sama ama yang ditaksir biar ada alasan deket-deket karena gak berani nembak? Kenapa kita suka ama sahabat sendiri? Menurut kalian siapa sih yang menciptakan friendzone?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

SILAM Review

“Adventure must start with running away from home.”

 

 

 

Di masa silam, ada film horor yang menampilkan hantu gadis cilik kembar yang menjadi begitu ikonik.

Di masa silam, ada film horor yang membangun ceritanya sedemikian rupa sebelum akhirnya persepsi kita bersama tokoh utama dibelokkan oleh pengungkapan siapa si tokoh sebenarnya

Di masa yang enggak silam-silam banget, ada film horor tentang boneka terkutuk yang dirasuki oleh arwah jahat.

Di masa kini, kita punya film horor bernama Silam tentang seorang anak haus kasih sayang yang membuat boneka untuk jadi temannya sebelum akhirnya si anak kabur dari rumah dan lantas bertemu dengan hantu kembar, arwah jahat hasil ritual, dan kenyataan siapa dirinya sebenarnya. Setelah menuntaskan film ini, kita akan dibuat penasaran, kenapa cerita yang seharusnya diadaptasi dari novel malah jadi kayak adaptasi horor-horor sukses dari masa silam?

 

Beneran deh, begitu nyampe kamar sehabis nonton aku langsung adain riset kecil-kecilan datang tak dijemput pulang tak diantar, eh kenapa jadi mantra film sebelah… Anyway, aku langsung search sinopsis novel sumber cerita film ini dan aku mendapati cerita yang luar biasa kuat kesan dramatisnya. Kalian yang belum baca novelnya bisa klik di sini untuk sinopsis ceritanya. Silam versi film seperti mengecilkan volume emosi yang dipunya oleh sumbernya. Mereka menghidupkan cerita tersebut dengan memasukkan banyak hal-hal yang kepentingannya cuma supaya film ini mirip sama film-film hits. Mereka kira kita menonton horor karena ingin melihat hantu, jadi arahan cerita film ini, ya memang dibuat untuk memfasilitasi berbagai macam kemunculan hantu, yang sebenarnya enggak menambah banyak ke dalam bobot cerita. Cara dan arahan pengembangan yang dipilih oleh film ini membuat kita, para penonton, tersilamkan dari pesan sebenarnya yang dikandung oleh cerita. Film sudah menyiapkan dua pengungkapan yang diniatkan supaya kita memandang ceritanya dengan takjub.

ini adalah jenis film yang dramatic premisnya berumus “ingin…, dan ternyata…” alih-alih “ingin…, tetapi…”

 

 

Mengalami mental abuse di rumah oleh Ibunya, dan physical abuse di sekolah alias dibully oleh teman sekelasnya yang tampak terlalu gede untuk ukuran anak es-de, Baskara tak lagi punya tempat untuk mengadu selain kepada kuburan ayahnya. Dalam kerinduannya yang amat sangat kepada sosok bapak, Baskara (dalam debutnya ini, Zidane Khalid dipercaya memainkan karakter dengan range yang cukup luas) menemukan alamat pamannya yang punya wajah teramat mirip dengan ayahnya. Baskara yang penasaran pun akhirnya mengunjungi alamat tersebut, di mana ia disambut hangat penuh kasih sayang oleh keluarga sang Paman. Baskara memutuskan untuk tinggal di rumah berada tersebut. Satu hal yang mengganggu adalah; semenjak kepala terbentur akibat ulah teman-teman sekolahnya yang jahat, Baskara yang mengaku tidak percaya sama hantu malah jadi sering melihat makhluk-makhluk menyeramkan tersebut di sekitarnya. Terutama di malam hari, di rumah di mana paman dan bibi dan sepupu kembarnya turut melakukan gelagat yang tak bisa dijelaskan oleh pikiran Baskara.

Melarikan diri mungkin memang penyelesaian yang paling mudah dari masalah-masalah yang mengukung, baik itu di rumah, di sekolah, di manapun. Actually, minggat bisa jadi adalah awal dari petualangan terbesar dalam hidup seorang anak atau remaja. Masalahnya dengan ‘berlari’ begini adalah, pelarian tersebut akan selalu membawa kita balik pulang.

 

Meminjam banyak elemen dari source lain memang bisa menaikkan kualitas nilai hiburan dalam sebuah film. Kita akan semakin enjoy menonton film yang punya sesuatu yang bisa kita kenali. Tentu saja syaratnya adalah tidak mengorbankan elemen unik, tidak melupakan ‘hati’ dan ‘jiwa’ yang dipunya oleh film kita sendiri. Silam justru tampak tidak peduli dengan semua itu. Twistnya bisa dengan mudah ditebak oleh penonton yang berpengalaman ataupun yang punya perhatian. Pembangunan plotnya juga gak benar-benar nyambung. Namun Silam tetap melaju berceloteh. Maksudku, anak macam apa yang menghabiskan waktu curhat sama batu nisan ayahnya, yang membuat boneka untuk ngejagain ibunya, tapi dia sendiri bilang dia tidak percaya hantu. Kontradiktif sekali. Film tidak berniat untuk memberi makna kepada detil-detil seperti perlunya memasukkan dua tokoh yang kembar, ataupun kenapa harus ada elemen ritual atau perjanjian dengan setan.

Memasuki pertengahan, kejadian menjadi repetitif; dan ini bukan saja terasa oleh Baskara yang terus melihat keluarga pamannya melakukan hal yang itu-itu melulu, namun juga oleh kita yang terus menyaksikan ‘gangguan malam hari’ yang enggak benar-benar punya punchline – yang gak punya ujung apa-apa. Selalu hanya malam tiba, Baskara terbangun dari tidurnya, dan dia melihat hantu-hantu, juga seorang nenek misterius di halaman rumah. Film tidak membuahkan puncak kepada elemen larangan ke luar rumah malam hari. Tidak ada kaitan yang menahan kita untuk terus tertarik kepada cerita.

Kesempatan emas untuk hidup dengan emosi, buat film ini, sesungguhnya bisa datang dari hubungan Baskara dengan ibunya. Baskara selalu telat pulang, dia jadi sering diomeli oleh ibunya yang sebenarnya mencemaskan Baskara. Tapi kita tak pernah melihat dari sisi Ibunya, bahkan setelah Baskara pergi dari rumah. Saat dimarahipun, kita tidak banyak melihat interaksi. Si anak sepuluh-tahun itu hanya diam, terlihat seperti mau menangis. Padahal kita perlu melihat ‘api’ di sini. Supaya kita percaya ada hubungan kasih sayang antara Baskara dengan ibunya. Sehingga ketika Baskara yang ketakutan dan ingin ‘pulang’, kita bisa merasakan usaha dan ketakutannya. Kita kurang mengenal ibu dan ‘bentukan’ keluarga Baskara. Ibu dalam amarahnya bilang dia sudah capek bekerja keras, namun Baskara malah lebih sering menghabiskan waktu di kuburan ketimbang bersamanya. Film ingin menunjukkan Baskara punya masalah ekonomi, bahwa Ibu mulai khawatir soal nafkah mereka dan Baskara yang menghambur-hamburkan uang, tapi kita tidak diperlihatkan apa sih usaha si ibu. Yang ada malah kita disuapi informasi uang jajan Baskara lima-belas ribu rupiah.

Film benar-benar melewatkan kesempatan. Kita perlu diperlihatkan lebih banyak tentang Ibu dan Baskara. Bahkan menurutku, cerita dan emosi akan lebih tersampaikan jika Baskara berantem dengan ibunya; jika ibunya yang mendorong dan melukai kepala Baskara. Karena dengan begitu, alasan Baskara kabur dari rumah juga akan semakin kuat, dan film tidak perlu memasukkan tokoh bully yang bahkan tidak kelihatan lagi sampai akhir cerita. Di bagian penyelesaian pun, mestinya biarkan saja Baskara dan Ibu menyelesaikan ‘drama’ mereka supaya plotnya menutup. Tapi sepertinya, film horor lokal butuh untuk menunjukkan adegan orang kesurupan manjat tembok,  sehingga kita malah dapat cerita perjanjian dengan setan yang menihilkan aspek drama dalam apa yang jadinya cerita hubungan single mom-anak berbalut horor ini.

untung si Baskara nulisin surat minggatnya bukan pake lipstik ibu ke cermin kayak cerita anak 80an haha

 

 

 

Kekerasan dan abuse lainnya memang menjadi penyebab utamanya anak minggat dari rumah. Film ini bisa saja menjadi pandangan dan komentar mengenai hal tersebut, dia punya modal untuk menjadi horor yang menarik dan bergizi. Tapi film, seperti halnya anak-anak yang kabur itu, memilih jalan termudah. Dia tidak mau ribet memikirkan pesan. Bahkan enggan memberikan jarak antara rumah Baskara dengan rumah pamannya; semua hal yang menyangkut film ini dapat kita simpulkan sebagai kemudahan. Batalin janji dengan setan cukup dengan satu kalimat sederhana, coba. Film hanya mau menampilkan hantu yang seram, karena mengira kita ingin melihat hantu. Enggak peduli betapa banyak hal gak yang bisa dihilangkan, dan hal lain yang harusnya dimasukkan. Ini bukan film bego, kita masih bisa menikmatinya dalam tingkatan tertentu. Hanya saja, tidak banyak berbeda dengan rekan-rekannya di Danur Universe, film ini pun adalah adaptasi ala kadar, yang tidak mau bersusah payah, dari sebuah cerita horor yang terkenal bukan semata karena seramnya.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for SILAM.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Dulu di daerah tempat tinggalku sempat ngetren loh anak-anak yang berlagak mau minggat dari rumah. Pernah gak sih kalian kepikiran untuk minggat dari rumah sehabis dimarahin orang tua? Apa mungkin ada yang beneran pernah minggat? Share dong ceritanya hhihi

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

My Dirt Sheet Top-Eight Original Goosebumps Books

Twist ending dan fake jumpscares, dua faktor utama yang terus dieksplorasi dalam banyak film horor masa kini, dapat kita telusuri jejaknya hingga ke seri buku horor anak-anak karya R.L. Stine; Goosebumps. Mungkin terbacanya sedikit aneh, bagaimana mungkin sebuah buku bisa berisi jumpscare, apalagi jadi  pengalaman seru dan menegangkan untuk dibaca? Di situlah ‘hebatnya’ penulisan cerita-cerita Goosebumps. Aku actually sudah membicarakan soal itu di review film Goosebumps (2016).

 

Bicara tentang bukunya, jika dibaca ketika kita udah gede, memang ceritanya yang tentang monster dan makhluk aneh bakal terdengar konyol. Tapi Goosebumps – yang ternyata pertama kali terbit tahun 1992, meski masuk ke Indonesia apalagi kampungku lumayan telat – dengan tepat menangkap hal-hal sederhana yang tampak horor di mata anak-anak. Permasalahan sehari-hari tentang ketakutan anak kecil sama guru, sama tetangga baru, sama tetangga yang halaman rumahnya diberantakin sama anjing peliharan miliknya, sama tukang bully, sama idola yang ternyata tidak sebaik yang diduga, dan terutama sama orangtua yang gak percayaan sama omongan kita.

Goosebumps adalah salah satu dari tiga seri buku (dua lainnya adalah Animorphs dan Lupus) yang berperan penting dalam tumbuhnya minatku terhadap menulis dan bercerita. Aku masih ingat gimana dulu waktu masih kelas enam SD, aku dan temenku setiap minggu ke taman bacaan. Kami menyewa masing-masing tiga buku Goosebumps, dan dalam waktu seminggu kami lalap enam buku tersebut. Enam-puluh-dua judul buku seri original Goosebumps itu aku baca di mana saja, meski sembunyi-sembunyi karena my dad said he will kill me jika dia melihatku baca buku yang bukan terbitan Tiga Serangkai (alias buku sekolahan). Dan sejujurnya, aku merasa ayahku tidak bercanda saat beliau mengatakan hal tersebut. Jadi, horor bagi anak-anak seusiaku saat itu adalah hal yang begitu dekat dan menarik – as in, apa aja bisa jadi horor buat kita saat masih kecil. Aku bawa buku Goosebumps ke sekolah, membacanya saat jam istirahat. Ke tempat ngaji, membacanya di bawah meja sebelum tiba giliranku membaca Al-Quran. Ke atas pohon cherry, di mana aku bisa bersembunyi dari tugas rumahan. Dan setelah baca semuanya, aku dan temenku itu, kami mengarang sendiri cerita komedi detektif berdasarkan judul-judul buku Goosebumps tersebut.

Beruntungnya, di era internet sekarang, kita bisa dengan lebih mudah dapatin bacaan klasik ini. Aku pun sekarang membacanya enggak mesti backstreet lagi. Upon re-reading, aku menemukan dan mengerti banyak hal soal kenapa buku-buku ini, cerita-cerita seramnya, bisa begitu melekat di hati anak-anak. Segala trope-trope horor, fantasi, monster-monster yang bisa kita temui di film-film, dapat kita dapatkan juga di sini. Imajinasi R.L. Stine luar biasa liar, sehingga seolah cerita-cerita karangannya – gimana dia menceritakan mereka – terasa seperti lebih maju pada jamannya. You know, dari gimana R.L. Stine terus memerah trope usang, menjadikannya cerita-cerita baru pun sepertinya banyak memberikan insipirasi. Buku-buku Goosebumps masih terus dibuat, malah banyak seri terbarunya yang belum pernah kubaca.

Demi menyambut rilisnya film Goosebumps yang kedua, menurutku tepat waktunya untuk membuat daftar delapan-besar buku Goosebumps original favoritku. Mereka terpilih berdasarkan seberapa besar ceritanya memberikan pengaruh, bukan hanya kepadaku. Dari seberapa banyak dia bisa relate kepada pembaca anak-anak. Dan tentu saja dari seberapa suksesnya membuat kita seru-seruan ber-goosebumps-ria!

 

 

HONORABLE MENTIONS

  • #10 Tetangga Hantu (arguably buku yang paling populer, dengan twist ala M Night Shyamalan untuk menutup cerita dengan hangat)
  • #08 Gadis Pencinta Monster (actually buku Goosebumps pertama dengan twist ending)
  • #11 Topeng Hantu (cerita bertema halloween tentang anak yang dikendalikan oleh topengnya, terdengar seperti Venom, bukan?)
  • #54 Kamar Hantu (ala Home Alone, tentang anak yang menginginkan keluarganya tidak ada)
  • #20 Teror Orang-Orangan Sawah (ketakutan anak kecil terhadap kakek dan neneknya, dan orang-orangan sawah)
  • #16 Suatu Hari di HorrorLand (gimana kalo taman rekreasi malah mencoba untuk membunuhmu, alih-alih hanya morotin duitmu)
  • #04 Bergaya Sebelum Mati (kamera yang bisa memotret kejadian buruk yang bakal menimpa objek yang dijepret, ini semacam cerita melawan takdir kayak Final Destination)
  • #61 Teror di Ruang Bawah Tanah (deskripsi paling disturbing jadi sajian buku ini)
  • #32 Boneka Hidup Beraksi II (kemunculan Slappy si Boneka Ventriloquist, antagonis paling populer seantero semesta Goosebumps)

 

 

 

8. MISTERI HANTU TANPA KEPALA (#37)

Ini adalah buku Goosebumps pertama yang aku baca. Dan efeknya masih terasa sampe sekarang. Cerita ini punya semua yang bisa anak kecil minta dari kisah horor. Rumah angker, eksplorasi, dan tentu saja; hantu.

Tentang Duane dan Stephanie ikutan tur rumah hantu. Aku sendiripun selalu tertarik ama wahana rumah hantu, tapi sayangnya di Indonesia aku belum nemu rumah hantu yang sistemnya kayak tur masuk museum seperti pada cerita ini. Kedua tokoh kita luar biasa tertarik mendengar kisah seram tentang rumah tersebut yang ternyata dihuni oleh hantu anak tanpa kepala. Saking tertariknya, mereka berdua memisahkan diri dari rombongan tur dan mengeksplorasi rumah tersebut sendirian. Umm, berdua. You get the point. Tentu saja , mereka menemukan hantu tersebut. Dan setelah minor twist, Duane dan Stephanie kudu berkeliling mencarikan kepala hantu yang hilang untuk bisa keluar dari sana.

Covernya aja udah bikin aku sulit memejamkan mata. Ditatap dingin begitu oleh kepala hantu berambut belah tengah. Actually, pertama kali tahu ada buku hantu namanya Goosebumps, memang aku milih-milih dari covernya mana yang kelihatan paling seram. Dan aku milih buku ini.

 

 

 

 

7. KENAPA AKU TAKUT LEBAH (#17)

Covernya lumayan disturbing. Aku selalu ngeri sendiri melihat makhluk-makhluk yang kepalanya besar, tidak proporsional dengan tubuhnya. Aku bahkan takut lihat figure bobble head, serius.

Tapi sejujurnya, sewaktu kecil, ini adalah salah satu buku yang kuskip dan baca belakangan, karena gak bener-bener ada hantunya. Dan dulu aku pikir cerita kayak gitu enggak seram. Sinopsis di bagian belakang bukunya juga ‘apa banget’. Gary Lutz yang takut lebah, dia sering dibully karenanya. Lelah dengan semua itu, Gary ikutan program bertukar tubuh di kotanya. Alih-alih menjadi anak lain, Gary malah masuk ke tubuh lebah. Fiksi ilmiah yang sangat aneh, kedengarannya ya.

Membaca cerita ini saat dewasa, aku bisa melihat apa yang sebenarnya ingin dibicarakan oleh R.L. Stine di buku ini. Adalah tentang mengatasi ketakutan dengan mencoba memahami ketakutan itu sendiri. Dengan menjadi hal yang kita takutkan. Cerita yang actually berlapis, tapi tetep konyol sih, lantaran konsep yang gak masuk akal dan lapisan terluar cerita ini beneran pelajaran tentang lebah. Anak-anak ya ogah disuruh belajar hihi.

 

 

 

 

 

6. TOPENG HANTU II (#36)

Meskipun waktu kecil dulu selalu mupeng lantaran enggak ada tradisi Halloween di lingkungan rumah, aku tahu betapa pentingnya mengenakan topeng paling seram yang bisa kita dapatkan. Apalagi buat anak seperti Steve. Yang keren dari cerita buku ini adalah, ceritanya terasa luas, kontinu, dan sangat fresh dengan role reversal. Steve sebenarnya adalah salah satu anak yang ngebully tokoh utama di Topeng Hantu pertama. Karena kejadian di buku pertama, kini mereka temenan. Tapi sebenarnya karena Steve pengen tampak paling keren dengan topeng ‘seotentik’ milik Carly Beth.

Di luar lapisan cerita tentang kehidupan sosial anak SD tersebut, buku ini menyimpan horor yang cukup dalem (untuk ukuran cerita buat anak kecil). Yaitu mengenai kengerian anak kecil menjadi orang tua. Topeng Steve membuatnya menjadi monster tua, dan cerita benar-benar mendeskripsikan ngerinya pengalaman Steve harus bertindak seperti yang diinginkan oleh topengnya

 

 

 

 

5. JAM ANTIK PEMBAWA BENCANA (#28)

Bukan tentang burung setan yang tinggal di dalam jam kukuk, sebenarnya ini adalah cerita tentang perjalanan waktu. Bayangkan episode Twilight Zone, hanya saja berbentuk buku.

Aku menemukan dua horor dalam cerita ini. Pertama tentang betapa ngerinya punya adek cewek yang begitu nyebelin, dia mengacau semua hal, dan malah kita yang dipersalahkan. Dan harus membereskan semuanya. Michael ‘dendam’ ama adeknya. Jadi, ketika mereka membeli sebuah jam kukuk antik, Michael berencana untuk merusakkan jam tersebut supaya dia bisa memfitnah sang adek. Tapi ada sesuatu yang ganjil ketika Michael mundurin jarum jam; dirinya juga ikut mundur ke masa lalu! Yang membawaku ke horor yang kedua; Betapa membetulkan kesalahan di masa lalu itu sungguh sulit untuk dilakukan, bahkan jika kau punya kemampuan untuk balik ke masa lalu. Konsekuensi akan selalu ada, dan buku ini benar-benar bikin kita ngeri bahwa seringnya hal-hal tertentu tidak bisa diubah.

 

 

 

 

 

4. HOROR DI CAMP JELLYJAM (#33)

Buku dengan ending paling “What the…!?” seantero seri original. Goosebumps memang terkenal dengan caranya mengakhiri cerita; antara ngegantung atau dengan twist super aneh. Dan buku ini, seberapapun sintingnya kau menerka, tetep akan meraih gelar juara ending paling aneh sedunia akhirat.

Di luar endingnya, sebenarnya buku ini punya gagasan cerita yang menarik. Kalian tahu gimana bagi anak kecil setiap aspek hidup bisa jadi lomba? Kita dulu girang bisa makan paling cepat. Bisa naik sepeda satu tangan. Ambisi kekanakan untuk terus menang itulah yang digali dalam cerita ini.

Camp Jellyjam adalah perkemahan musim panas bertema olahraga. Tiada hari tanpa kompetisi buat para peserta, karena setiap malam para pemenang kompetisi akan dikasih penghormatan dan hadiah. Anehnya, para pemenang tidak pernah kelihatan lagi esok hari. Jelas sekali ada misteri di balik semua ini, seperti surga yang ternyata adalah mulut manusia bagi tokoh-tokoh dalam animasi sarkas Sausage Party. Cerita buku ini punya selera humor, dan tetap berhasil menguarkan teror kengerian karena kita akan merasakan was-was itu sedari beberapa halaman pertama.

 

 

 

 

3. ARWAH PENASARAN (#56)

Cerita Goosebumps akan banyak yang mengambil setting di perkemahan karena memang ‘budaya’ orang sana untuk mengirim anak ke luar dari rumah, untuk beraktivitas di perkemahan sepanjang liburan musim panas. Dan dikirim oleh orangtua ke pondok banyak nyamuk, banyak binatang liar, bergaul dengan orang asing, tak pelak merupakan pengalaman yang mengerikan buat banyak anak-anak. Salah satunya Sarah dalam cerita ini. Dia membenci semua kegiatan di alam bebas, dia susah bergaul, dan orangtuanya malah tega mengirimnya ke perkemahan olahraga air.

Tak seperti Camp Jellyjam, cerita buku ini lebih girly dalam sense Regina George di film Mean Girls sekiranya pernah membaca buku ini waktu masih kecil. Ceritanya memang seputar mean girls yang harus dihadapi Sarah. Keputusan Sarah mengenai cara menghadapi mereka yang bikin buku ini terasa begitu gelap.

Sarah pura-pura mati dengan tenggelam di danau.

Bayangkan ini gimana kalo ditiru sama anak cewek yang baca? Tapi buku ini hadir di masa yang tidak terlalu sensitif, sehingga narasinya yang menyerempet ambang antara nelangsa dengan bego itu dijadikan aspek horor yang benar-benar mengerikan. Sarah yang pura-pura tenggelam mendapat teman, yang sudah mati beneran!

 

 

 

 

 

 

2. MESIN TIK HANTU (#55)

Saat masih kecil, ini adalah buku yang actually menggebahku untuk menulis cerita horor. Saat udah gede, aku semakin respek sama buku ini, karena sekarang aku bisa merasa semakin relate dengan tokohnya. Buatku, ini adalah cerita paling cool dalam di antara Goosebumps yang pernah aku baca.

Tokoh dalam cerita ini, Zackie, suka mengarang cerita seram. Bagai orang mengantuk disodorkan bantal, Zackie dikasih mesin tik dari seorang penjual barang antik yang tokonya kesambar petir. Tunggu. Anak-anak jaman sekarang pada tahu mesin tik ga nih? Itu loh, yang selalu dibawa-bawa pacarnya Starla. Anyway, kejadian menjadi menarik (horor tapi menarik) ketika semua cerita seram yang diketik Zackie pada mesin tik tersebut, menjadi kenyataan!

Menurutku, apa yang ingin disampaikan oleh R.L. Stine di sini adalah gimana tanggungjawab kita atas sesuatu masalah yang kita ciptakan sendiri. Ini adalah pesan yang penting bagi anak kecil, karena ya kita ngaku-ngaku aja, saat kecil kita cenderung egois – maunya benar melulu. Dari segi penulisan, kita juga bisa melihat Stine benar-benar enjoy menulis ini, dia tidak memberikan solusi mudah bagi tokohnya. Hampir terasa personal bagi dirinya, karena ini adalah penulisan tentang penulisan.

Dan ya, bagi yang penasaran; Mesin tik ini actually jadi senjata utama untuk mengalahkan para monster di film Goosebumps

 

 

 

 

 

Setiap buku Goosebumps memberikan pengalaman horor yang berbeda-beda. Kita tidak perlu baca semuanya, karena terkadang karakternya lumayan repetitif. Tapi meski begitu, kualitas cerita setiap buku sangat konstan. Bahkan buku yang berupa ‘sekuel’ pun bisa berdiri sendiri. Tapi kita akan merasa pengen untuk membaca semuanya. Karena kita penasaran ide apa lagi yang akan diangkat. R.L. Stine begitu berhasil membuat kita kepancing dan betah, sejak dari buku pertamanya.

Dan ya, inilah buku Goosebumps peringkat pertama kami:

1. SELAMAT DATANG DI RUMAH MATI (#01)

Diawali dengan sangat klasik; keluarga Benson sampai di kota baru mereka. Mereka mengalami kejadian ganjil, tentu saja di rumah baru mereka. Apakah rumah mereka berhantu? Well, hantunya boleh jadi adalah produk dari imajinasi keluarga Benson. Tapi nyatanya memang ada sesuatu yang jahat, di kota tersebut.

Apa yang tadinya kita kira adalah cerita rumah hantu, dengan perlahan tabir itu dibuka lapisan demi lapisan. Progres narasi buku ini terasa sangat natural. Kita akan belajar bersama tokoh cerita, menyusun kesimpulan gimana seluruh kota sudah mati, dan para penghuni yang tak lagi hidup itu menyiapkan perangkap bagi keluarga Benson; Mereka adalah korban berikutnya yang akan dihisap darahnya dan dijadikan zombie.

Jauh sebelum The Walking Dead, Goosebumps sudah bereksperimen dengan zombie-zombie dan buku ini sukses berat menghadirkan kengerian. Bahkan imaji-imaji mengerikan. Ada satu adegan di buku yang menceritakan para tokoh melelehkan wajah para zombie, atau hantu, atau apapun lah mereka. Buku ini sangat detil mendeskripsikan horornya. Jumpscarenya akan membuat kita turut melonjak, hanya dengan membayangkan saja.

Akan susah untuk enggak jatuh cinta dengan Goosebumps setelah kalian membaca buku ini.

 

 

 

 

 

Goosebumps penuh dengan monster, twist, dan cerita aneh. Itulah yang menyebabkannya begitu menyenangkan untuk dibaca. Seram, tapi semuanya dicraft dengan begitu baik sesuai dengan gaya yang menurut sang penulis dapat diterima oleh pembaca sasaran. Menurutku, setiap anak kecil perlu membaca, paling tidak, satu cerita seram semasa kanak-kanak mereka. Karena seperti kata R.L. Stine, monster atau hantu itu diciptakan supaya kita bisa siap menghadapi dunia nyata, letak horor sesungguhnya. Bukan hanya itu, R.L. Stine juga sudah berhasil membuat satu anak kecil jadi tertarik untuk menulis, untuk bercerita, menumbuhkan ketertarikan dengan monster-monster. Anak kecil itu, ya aku.

 

 

 

That’s all we have for now.
Apa buku Goosebumps favorit kalian? Kenapa ya, kira-kira, Goosebumps yang dicetak ulang baru-baru ini kurang mendapat sambutan dari anak-anak? Apakah masa  buku dan media cetak memang sudah lewat? Apakah kenyataan tersebut tidak menyeramkan buat kalian? 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

 

 

Review buku ini terpilih untuk dimasukkan dalam kampanye “Blog Review Buku Terbaik,” dari penerbit bahan ajar pendidikan Twinkl.

ARUNA & LIDAHNYA Review

“Just add water and stir.”

 

 

 

Aruna ngerasa semua makanan gak ada yang benar-benar spesial enak di poin hidupnya yang sekarang. Padahal Aruna ini cewek yang hobi banget makan. Waktu kecil aja kuda catur dimakan ama dia. Tapi sekarang dia kebingungan, dia sulit mencicip makanan. Bukan karena dia sariawan. Aruna merasa ada yang kurang, tetapi dia tidak tahu apa. Aruna pengen masak nasi goreng mboknya, but she can’t get it right. Atau paling tidak, ia merasa enaknya enggak sama

Aruna & Lidahnya adalah perjalanan Aruna mencari rasa. Tapi bukan dalam artian klise gimana seorang merasa bosan dengan hidupnya dan berangkat menemukan percikan. Aruna perfectly fine. Dia senang dengan hidup. Lingkungan persahabatannya erat, mereka sering ngumpul dan makan bareng sambil ngobrol haha hihi tentang apa saja. Kerjaannya juga lancar. Dia cakap dalam apa yang ia lakukan, baik itu sebagai ahli wabah maupun seorang pecinta masakan. Dan tentu saja dia mencintai pekerjaannya tersebut. Dalam film ini kita akan melihat Aruna dikirim kantornya untuk menginvestigasi penyebaran wabah flu burung hingga ke Borneo sana. Aruna mengajak sahabat-sahabatnya, Bono si chef dengan segudang insight mengenai masakan (bayangkan filosofi kopi, namun makanan alih-alih secangkir kopi) dan Nadheza yang nulis buku kritik masakan, sehingga mereka bisa sekalian wisata kuliner. Dalam tugas rangkap liburannya tersebut, Aruna disupervisi langsung oleh Farish, cowok yang ia taksir but she never really do anything about him before. Hidup Aruna meriah dan penuh bumbu. Hanya saja ia masih merasa hambar. Dalam tingkatan ini, film bersuara seperti nyanyian Alessia Cara di lagu Growing Pains. Aruna tidak merasakan apa yang seharusnya ia rasa. Masalah psikologis inilah yang berusaha untuk diselesaikan oleh Aruna.

jadi ini bukan cerita tentang Aruna dan lidahnya yang sariawan

 

 

Aruna sendiri sudah seperti masakan. Terlihat simpel, namun sebenarnya kompleks. Film ini berhasil menggali kedalaman dari tokoh ini, menggunakan banyak hal sebagai device. Sedari ceritanya saja, film sudah punya banyak lapisan. Aruna harus bernagivasi di antara masalahnya dengan para sahabat, dengan cowok yang ia taksir – di mana dia ngarep untuk punya hubungan yang normal, semua itu sembari dia berusaha memecahkan ‘misteri’ di balik laporan penyelidikan flu burung yang ia dapati tidak sesuai dengan kondisi lapangan. Aruna berkoneksi dengan banyak orang. Melihatnya berinteraksi, apakah itu ngobrol sambil makan ataupun bicara tentang makan sambil kerja, adalah apa yang membuat film ini terasa asik. Sifatnya ini (dan potongan rambut) membuatku teringat sama Otome di The Night is Short, Walk on Girl (2018), bedanya Otome bertualang dengan mencoba minuman.

Dian Sastrowardoyo merupakan cast yang tepat buat Aruna; dari caranya bertutur yang sedikit jutek tapi lucu, gimana cara dia kerap mempertanyakan sesuatu dengan nada yang ironis. Perannya di sini juga turut memberikan rasa baru bagi pengalaman akting Dian, karena Aruna bakal sering breaking the fourth wall, menjelaskan langsung kepada kita penonton mengenai yang ia pikirkan. Aruna mungkin tidak sepenuhnya ‘jujur’ kepada sahabatnya, dan ketika dia begitu kita akan menjadi orang yang pertama kali ia kasih tau apa yang sebenarnya ia rasakan lewat ekspresi yang ia perlihatkan langsung kepada kita. Yang paling aku suka adalah adegan-adegan mimpi Aruna yang dibuat bernuansa surealis. Quirky dan creepy di saat yang bersamaan!

Meski kadang audionya terdengar aneh, keakraban tokoh-tokoh yang tertangkap oleh kamera terlihat betul-betul meyakinkan. Mereka beneran terlihat seperti sahabat sejak lama. Kalian tahu gimana kalian dan teman segeng kalo udah ngumpul, nyerocos bareng di tempat makan, ngobrolin apa aja sampe mulut pada item? Nah seperti itu jualah geng Aruna ini terasa. Dialog-dialog mereka membahas tentang hidup terdengar akrab. Film berusaha memasukkan lumayan banyak isu yang berkaitan dengan tema cinta, dan bahkan pandangan mengenai sakit dan fungsinya dari berbagai sudut. Yang mana bisa saja terdengar menjadi pretentious jika disampaikan secara sembarangan dan tanpa perhitungan akting yang matang. This is not the case in this film. Ambil pasangan manapun dari film ini, entah itu Aruna dan Bono, Aruna dan Nad, atau bahkan Bono dan Farish, semua pemain mampu menyampaikan bantering yang emosinya nyampe. Fakta bahwa Nicholas Saputra dan Dian Sastro di sini berperan bukan sebagai pasangan kekasih saja sudah cukup untuk bikin film terasa seger.

Dalam hidup, mungkin semua bumbu sudah kita dapatkan. Kita melakukan apa yang kita suka. Kita bersama orang-orang yang kita cinta. Tetapi jika bumbu-bumbu tersebut tidak diaduk, tetap aja akan hambar jadinya. Inilah yang ingin disampaikan oleh bawah sadar Aruna lewat mimpi-mimpi aneh tersebut. Ini jualah yang dipelajari Aruna dari sahabatnya yang suka selingkuh. That she doesn’t confront her life enough. Bahwa Aruna butuh untuk mengaduk bumbu-bumbu pada hidupnya, baru kemudian bisa mencicip rasa.

 

Masing-masing kita bisa menikmati film ini dalam takaran yang berbeda-beda. Segitu kompleksnya cerita yang disajikan oleh Edwin ini. Kita bisa kenyang oleh berbagai kuliner lokal yang ditampilkan, mulai dari sop buntut, nasi goreng, soto lamongan, hingga mie kenyal yang ada kepitingnya itu. Sejujurnya, di awal aku sempat annoyed juga, karena pada menit-menit awal setiap adegan film ini selalu menampilkan orang yang lagi makan. Aku pikir itu bakal dijadikan semacam gimmick; bahwa film bersikeras menemukan cara ‘pintar’ ngelihatin orang makan alih-alih bercerita. Tapi kemudian, ceritanya baru masuk, dan lambat laun film menjadi enak untuk dinikmati. Ya, walaupun beberapa makanan seperti masuk kecepetan dan gak benar-benar integral sama cerita sih, tapi kupikir itu masalah editingnya. Yang mau menikmati isu sosial dan kesehatannya, juga silahkan. Aruna & Lidahnya cukup kritis membahas permasalahan ini, meski narasi bagian ini terasa sangat lambat majunya. Setelah lewat mid-point, mereka masih membahas soal menyebarkan ketakutan; pembahasan mengenai hal tersebut gak benar-benar maju. Paling sedap, sih, memang ketika cerita diaduk oleh hubungan keempat tokoh sentral. Permasalahan humanis ‘orang kantoran’ romantis yang begitu relatable dan ditangani secara dewasa membuat film yang tadinya stale di awal, menjadi enak untuk diikuti.

yang mindblown adalah sedari awal Aruna sebenarnya sudah bener dalam memasak nasi goreng, she just can’t taste it yet

 

 

Sebaliknya, diaduk tanpa ada bumbu juga bakal menghasilkan sesuatu yang sama hambarnya. Seperti bagian pembuka film ini, aku gak yakin mereka mengambil keputusan yang benar dengan mengawali film dari potongan adegan di masa depan, hanya supaya film terlihat seru. Akan lebih baik jika film bercerita dengan linear saja. Dimulai dari awal Aruna masak sop buntut, terus ke akhir. Dan by the way, antara kalimat Aruna pas makan sop buntut itu dengan kalimat terakhir yang ia ucapkan, benar-benar menunjukkan progresi sudut pandang karakternya. Entah kenapa, film malah memulai dari potongan adegan di mobil, kemudian cut back seolah alurnya mundur dan kita akan kembali melihat potongan adegan di awal tadi di tengah-tengah cerita as the story progress. Jadinya openingnya terasa gak ngefek aja, karena kita belum tahu siapa ‘bumbu-bumbu’ tersebut.

Pada Posesif (2017) aku merasa keputusan mengakhiri film dengan freeze frame adalah keputusan yang cheesy. Edwin kembali melakukan hal yang serupa pada Aruna dan Lidahnya. Kali ini, tidak jatuh over-the-top. Mungkin mengakhiri film dengan freeze frame dijadikan semacam signature oleh Edwin, aku gak yakin karena baru dua ini filmnya yang aku tonton, tapi aku bisa respek keputusan itu sekarang. Malahan tidak lagi jadi soal, asalkan Edwin ke depannya terus menggali sisi psikologis dari drama-drama keseharian yang dekat seperti ini.

 

 

 

 

 

Film ini sendirinya pun terasa seperti sepiring masakan yang penuh bumbu (penampilan, sinematografi, bahkan musik), tapi perlu diaduk lebih sering lagi. Atau mungkin diaduk dengan timing yang lebih diperhatikan lagi. Ada bagian-bagian ketika ceritanya terasa stale. Dan baru benar-benar nikmat setelah konflik-konflik para tokoh saling berhimpitan satu sama lain. Butuh waktu untuk kita beneran mulai peduli sama tokoh-tokohnya. Dan ya, film ini terasa lebih panjang dari durasi sebenarnya. Tapi ya bener juga sih, kalo dinikmati bersama-sama, tentulah film ini akan terasa sangat lezat. Menurutku memang cara terbaik menikmati film ini adalah dengan bareng-bareng bersama sahabat, atau mungkin sama pacar. You certainly will have a good time watching this. Sajian merakyat yang berselera tinggi.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for ARUNA & LIDAHNYA.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Ditanyain Chef Bono tuh, “apa opini lo soal makanan?”

Kalo aku sih, memang aku rada setuju sama Aruna di awal. Buatku makan itu sama kayak nonton, my only concern ya ke makanan atau filmnya aja, tidak peduli siapa temennya. Tapi sejujurnya, aku gak suka makan di tempat yang ramai. Waktu sekolah dulu aja, kalian akan jarang sekali menemukan aku di kantin. Aku jengkel mendengar suara denting alat makan dan suara obrolan. Aku lebih suka makan sambil nonton atau baca buku. Dan ini jadi konflik ketika aku harus membuka kafe eskrim, di mana aku harus merasakan suasana ruang makan yang ‘berisik’ itu nyaris 24 jam sehari. Itu ceritaku tentang makan, sekali lagi, bagaimana cerita dan pendapat kalian?
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

THE HOUSE WITH A CLOCK IN ITS WALLS Review

“It’s not what you say, it’s what people hear.”

 

 

Anggota keluarga, entah kenapa, suka bikin kita malu di depan umum. Hampir seperti misi mereka untuk berlomba-lomba melakukan hal di tempat yang banyak orang, yang pada akhirnya membuat kita pengen hilang ditelan bumi. Paman si Lewis menjemputnya, masuk ke dalam bis, dengan mengenakan kimono. Di lain kesempatan, Lewis dijemput oleh Paman ke sekolah dengan mobil butut. Merasa belum cukup mempermalukan Lewis di depan teman baru yang susah payah diperolehnya, Paman kemudian menawarkan diri untuk tancap gas – hanya Tuhan yang tahu apa yang terjadi kepada mobil tersebut jika distarter keras-keras.

Sesungguhnya, Paman Jonathan ingin memperlihatkan kepada Lewis bahwa menjadi aneh itu adalah sesuatu yang hebat. We have to embrace our quirkiness. Tapi Lewis adalah anak cowok yang sedang dalam masa perkembangan yang sulit. Orangtuanya baru saja meninggal. Membuat Lewis harus pindah ke kota lain untuk tinggal bersama pamannya. Dalam sebuah rumah dengan banyak jam, beraneka jenis, nemplok di setiap jengkal dindingnya. Lewis sendiri sebenarnya sudah cukup aneh, dia mengenakan kacamata pilot ke mana-mana. Buku favoritnya saja kamus tebel. Tapi bagi Lewis, Paman dan Wanita berbaju ungu sahabat pamannya tersebut luar biasa aneh. Tidak ada peraturan di bawah atap rumah mereka. Lewis boleh makan cookies kapan aja. Kenapa enggak jadiin cookies sebagai menu makan malam, ujar pamannya sambil tersenyum. Dan kenapa pula tidak boleh ada kacang di dalam cookies?

Itu semua belum apa-apa dibandingkan dengan keanehan yang terjadi di rumah tersebut pada malam hari. Lewis sempat takut, karena bukan hanya suara jam di dinding, melainkan rumah dan seisinya itu sepertinya punya nyawa sendiri. Salah satu tema cerita penting yang bisa kita lihat dari film ini datang dari gimana Lewis berusaha menyeimbangkan hidupnya. Dia pengen terlihat normal biar bisa punya temen di sekolah, dan ketika pulang ke rumah bersama Pamannya, dia harus berurusan dengan segala keanehan yang ada karena ternyata Pamannya adalah seorang Warlock. Tentu saja, Lewis pengen belajar semua ilmu sihir yang bisa ia dapatkan dari sang Paman. Apalagi karena dia ingin membantu Pamannya memecahkan misteri mencari alat pengembali waktu yang tersimpan di suatu tempat di dalam rumah tersebut.

Lewis yang perbendaharaan katanya begitu kompleks lantaran suka ‘makan’ kamus, tetap mengalami kesulitan dalam mempelajari ilmu sihir. Sihir bukan sekedar merapal kata-kata aneh. Ini bukan masalah seberapa fancy kata yang kita gunakan. Adalah cara menggunakannya yang menjadi poin penentu. Semua yang kita lakukan, cara tersendiri yang kita lakukan saat menanganinya lah yang menjadi hal terpenting. Karena itulah yang didengar oleh orang lain, yang membuat kita berbeda dan ternotice oleh mereka. Yang membuat kita unik, dari situlah datangnya kekuatan kepercayaan diri.

 

Aspek paling menarik yang dipunya oleh film ini adalah fakta bahwa dirinya dibuat oleh sutradara yang punya rekam jejak menangani film-film horor ngegore dan gak nyaman untuk dilihat semacam Hostel (2005) dan Grindhouse (2007). Kita akan benar-benar melihat ‘sihir’ gaya khas Eli Roth diimplementasikan ke dalam cerita fantasi adaptasi novel yang ditujukan untuk konsumsi anak kecil. Dan Roth berhasil. The House with a Clock in Its Walls menjelma menjadi film anak-anak yang dengan berani mendorong batas kekanakan itu sendiri. Imaji-imaji creepy masih dapat kita saksikan di sini. Salah satu yang membekas bahkan oleh kepala dewasaku adalah pemandangan bayi dengan wajah Jack Black. Boneka-boneka automaton yang mendadak hidup itu juga sukses bikin anak kecil di sebelahku menutup matanya dengan dus popcorn. Langka, di jaman sekarang, fantasi anak-anak dibuat dengan gaya seram sebagai poin vokal. Bahkan Goosebumps (2015) saja enggak berani untuk tampil seram, ia lebih menekankan sisi petualangan fantasinya, padahal kita tahu source film tersebut adalah buku horor untuk anak-anak. House with a Clock, enggak punya masalah dalam memperlihatkan gambar-gambar bernuansa seram. Menonton film fantasi ini mengingatkanku kepada serial horor Are You Afraid of the Dark? yang dulu sering kurental VCD-nya.

CLB – Crybaby Little Bastard

 

Set film luar biasa imajinatif. Rumah itu penuh tempat-tempat rahasia, dengan benda-benda sihir yang memanjakan khayalan kita. Semua elemen artistik digunakan efektif untuk menguatkan karakter para tokoh cerita, memberikan mereka bukan hanya misteri melainkan juga sedikit tambahan kedalaman. Untuk menyeimbangkan visualisasi yang menghoror buat fantasi anak kecil, Eli Roth menebar lelucon di sana sini. Lewat practical jokes, memang agak kelewat kekanakan. Kita melihat poop joke diulang-ulang. Tapi kita bisa paham kepentingannya adalah untuk membuat film tetap ringan bagi penonton cilik.

Lewat dialog, lelucon film dipercayakan kepada Paman Jonathan yang begitu eksentrik. Jack Black adalah pilihan yang tepat, malahan bisa dibilang sedikit di atas kualifikasi untuk perannya tersebut. I mean, aku suka komedi Jack Black. Tik-tok dialognya dengan Cate Blanchett – yang mana juga sangat hebat, dengan range emosi yang lebih luas – selalu sukses jadi sumber tawa buat film ini. Jika ada aktor yang harus kupercaya mainin tokoh yang begitu unik dan tidak peduli apa kata orang tentang dirinya, aku juga akan memilih Jack Black. Di film ini, entah karena begitu nyaman dengan perannya, ataupun karena diberikan arahan yang membebaskan, Black seringkali tampak terlalu dominan. Dia di atas tokoh yang lain. Pada adegan bersama dengan tokoh utama, kita bisa melihat jelas kejomplangan permainan aktingnya. Lewis yang diperankan Owen Vaccaro tidak pernah berhasil menjadi menarik setiap ada Paman satu adegan dengannya. In fact, Lewis malah tampak seperti bocah cengeng yang menangis begitu saja karena tiba-tiba ia teringat almarhum ibunya. Sedih memang ketika kita kehilangan orangtua, tetapi transisi tone cerita enggak mulus karena Jack Black mengeset rentang yang terlampau tinggi. Jarak antara fantasi dengan momen realita itu kemudian terasa terskip begitu saja karena pemain muda kita tidak mampu mengimbangi.

Untuk sebagian waktu, aku memang menikmati kejutan-kejutan kecil yang dipunya oleh film ini. Aku sama sekali enggak tahu Kyle MacLachlan turut ambil peran, dan ya seperti di terakhir kali aku melihat penampilannya di Twin Peaks season 3 (2017), aktor senior ini totally mantep mainin tokoh yang creepy, dia begitu ‘di luar dunia ini’. Toh ada beberapa kesempatan yang, buatku, film ini terlalu berusaha membuat kejutan alih-alih bercerita dengan asik. Seperti pada separuh bagian awal, ada tokoh-tokoh yang diset sebagai red herring; kita gak yakin mereka jahat atau beneran baik, yang keputusan untuk membuat mereka demikian terasa enggak konsisten dan membingungkan. Ada elemen reverse psychology yang dijadikan device, seperti sebuah hal yang penting. Misalnya ketika Paman mengajarkan ilmu sihir kepada Lewis dengan mengatakan bahwa anak itu gak mungkin bisa karena sihir begitu rumit untuk dipelajari, yang kita tangkap konteksnya adalah dia percaya Lewis mampu dan sengaja bilang begitu supaya Lewis semakin tertantang dan bersemangat. Namun di lain kesempatan, Paman menyuruh Lewis untuk tidak membuka kabinet yang terkunci. Yang membuat kita kebingungan, apakah konteks yang sama masih berlaku, atau itu benar-benar larangan. Apalagi kemudian kita melihat ada tokoh lain yang menyuruh Lewis untuk membuka kabinet. Sehingga penuturan cerita menjadi sedikit kusut, enggak benar-benar jelas apa yang harusnya kita rasakan bersama si Lewis.

mungkin kita bisa tanya kepada Magic 8-Ball kenapa film ini seperti versi kurang asik dari serial Gravity Falls

 

 

Banyak penyihir yang lebih dewasa dan lebih bijak dari Lewis sudah terbuai oleh kekuatan ressurection, film juga tidak berhasil dengan baik menyampaikan sisi menyentuh dari seorang anak yang ingin melihat orangtuanya satu kali lagi. Struktur, poin ke poin cerita, mestinya bisa dirapikan sedikit lagi dengan lebih memfokuskan kepada perkembangan emosi tokoh utama alih-alih rangkaian kejadian fantastis. Sekuen regroup film ini tidak bekerja sama sekali buatku. Mereka kehilangan rumah tidak kelihatan seperti mereka akhirnya belajar sesuatu, malah lebih terasa sebagai sebuah detour yang melepaskanku dari pegangan cerita. Konflik dari tokoh antagonis juga tidak benar-benar memposisikan Lewis, dan tentu saja kita, ke dalam sebuah dilema. Yang mana adalah kekuatan sebenarnya dari cerita. Alih-alih merasa, kita hanya mendapatkan penjelasan dari tokoh jahat, mengenai bagaimana kondisi mengerikan tersebut semestinya menjadi menarik buat Lewis.

 

 

 

Aku suka gimana film ini berani menggandeng tangan anak-anak untuk melewati dunia fantasi yang bukan sekedar seru melainkan juga mengerikan. Bahkan lebih creepy dari The Nun (2018), misterinya juga asikan ini. Beberapa adegannya memenuhi fungsi untuk memberikan mimpi buruk buat anak kecil. It also has a nice lesson too, mengenai gimana membawa diri dalam pergaulan – bahwa penting untuk menjadi diri sendiri, seberapapun anehnya. Mestinya Goosebumps dibuat dengan nuansa begini. Tontonan sempurna buat anak kecil yang ingin mempelajari gimana caranya untuk berani. Petualangannya juga asik untuk diikuti. Bagi orang dewasa, film ini bisa menjadi sedikit over; leluconnya, tokoh utama yang cengeng dan annoying, ceritanya juga bakal bikin kita pengen bergerak buat merapikannya.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for THE HOUSE WITH A CLOCK IN ITS WALLS.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Apa keluarga kalian punya kebiasaan aneh yang kalian gak mau teman-teman pada tahu tentangnya? Kenapa, menurut kalian, kita merasa malu kalo ketahuan oleh orang lain?
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

CRAZY RICH ASIANS Review

“Sometimes you gotta lose something to win something.”

 

 

 

Cewek-cewek, pacar kalian yang biasanya makan cake sepiring berdua ternyata adalah pria super duper kaya di Singapura. Hayo gimana tuh. Apakah kalian bakal girang setengah mati lantaran udah berhasil nangkep ikan gemuk, atau malah akan minder?

Persetujuan keluarga itu penting dalam membina hubungan. Apalagi buat keluarga yang saking berhasilnya memegang teguh tradisi hingga menjadi basically jadi tuan tanah di Singapura seperti keluarga Nick Young (mempesona di debutnya, Henry Golding bikin penonton cewek di sebelahku meleleh). Terkenal, kaya raya, cakep-cakep pula. Mungkin memang hanya Rachel Chu-lah yang enggak kenal siapa Nick dan keluarga. Padahal Rachel (aku konflik di sini lantaran Constance Wu suaranya annoying tapi wajahnya mirip-mirip Dian Sastro) sudah lama pacaran sama Nick. Crazy Rich Asians yang diadaptasi dari novel karangan Kevin Kwan bercerita tentang Rachel yang gede di New York diajak ke Singapura oleh pacarnya demi menghadiri pesta pernikahan sepupu. Yang mana itu berarti Rachel akan bertemu langsung dengan orangtua dan keluarga besar Nick. Yang mana itu berarti Rachel gak punya kesempatan berlama-lama melongo melihat kenyataan Nick bisa beli apapun di Singapura kalo dia mau. Sebab palu judgment akan siap dijatuhkan kepadanya; apakah calon mertua senang dan bisa menerima dirinya. Sudah hampir pasti dia mesti bekerja keras untuk bisa diterima sama calon keluarga barunya. Dan hal tersebut harus dia lakukan sambil berusaha untuk jadi pacar yang baik, menjalin hubungan yang normal, sementara semua hal yang baru terus menderu dirinya.

Di balik lapisan cewek biasa saja yang ternyata punya pacar orang kaya, film ini sesungguhnya membentrokkan budaya Amerika yang mandiri  – dalam artian ‘mengutamakan diri sendiri’ – dengan konsep budaya yang terdengar asing dan terbelakang bagi mereka. Dari aspek inilah datangnya kesignifikansian Crazy Rich Asians hadir dalam dunia sinema, khususnya sinema barat. Satu hal film merupakan produksi gede Hollywood pertama yang seluruh pihak yang terlibat di dalamnya adalah orang Asia. Sungguh-sungguh monumental. Hollywood akhirnya mendengar dengan seksama suara pasar, dan berani mengambil langkah memperlihatkan budaya berbeda dari belahan dunia yang lain. Jika selama ini orang Asia tak sering hanya merupakan peran minor, maka di film ini para audiens Hollywood sana bukan saja diperlihatkan keindahan dan keunikan Asia, bahwa mereka juga powerful. Melainkan juga dibuat melek – tertantang – sama pola pikir yang berakar pada tradisi sebagaimana kita penonton film ini akan berusaha melihatnya dari sisi yang lain.

‘Goh’ Standard atau Self-Made. You be the judge.

 

 

Semua hal yang ditampilkan dalam film ini sungguh sangat baru buat penonton di Barat sana. Makanan, bahasa, budaya, arsitektur, cara pandang, film kuat oleh hal tersebut. Menjadikannya begitu menghibur. Ada banyak momen yang terasa sangat menyenangkan, lucu, bahkan oleh kita yang sama-sama orang Asia. Adegan pesta pernikahan itu benar-benar fascinating. Aku rasa ini adalah adegan wedding paling memesona yang pernah aku lihat dalam film untuk waktu yang lama. Untuk kita-kita, ada nilai plus yang pasti terasa; semuanya terasa akrab dan kita ikutan bangga saat “sate, dua puluh” disebut, saat ada onde-onde. Saat ada Mr. Harimau. Mereka tidak begitu berbeda dengan kita di Indonesia. Dan untuk Hollywood akhirnya mengacknowldege ini, akhirnya memberikan kesempatan untuk orang-orang Asia memegang kemudi, sungguh hal yang menakjubkan. Setelah sekian lama berjuang, membuktikan diri, akhirnya approval terhadap film bertema Asia yang benar-benar patut diperhitungkan dan gak sekedar archetype rasis itu berhasil digenggam. Dan untuk selanjutnya hanya ada hal bagus yang datang dari sini.

Sama seperti Rachel yang harus bekerja keras demi mendapatkan approval dari Eleanor Young, ibu dari Nick. Hubungan kedua tokoh inilah yang sejatinya membuat cerita menarik. Eleanor juga sebenarnya sama ama Rachel, dulu dia juga harus berjuang demi persetujuan nenek Nick. Konflik di antara keduanya terasa gregetnya. Eleanor di tangan Michelle Yeoh terasa sangat mengintimidasi. Sekali lihat saja kita bisa langsung degdegan karena kita tahu dia adalah orang yang harus bisa kita buat terkesan. Dan Eleanor tidak sungkan untuk menunjukkan tingkat kesukaannya secara kontan tanpa tedeng aling-aling. Bayangkan, inilah orang yang harus dihadapi oleh Rachel. Cewek yang ngajar Ekonomi ini harus secara konstan menyenangkan hati si calon mertua, atau kalo gak bisa, dia harus bisa berkelit dari pertanyaan-pertanyaan bernada merendahkan dalam upaya membuktikan dirinya pantas masuk menjadi anggota keluarga mereka.

Sebenarnya konyol sih, gimana kita harus bekerja keras demi mendapat persetujuan orang. Kita harus berusaha menyenangkan hati mereka, hanya demi pengakuan – practically kita memohon untuk kesempatan. Para cast film ini misalnya, mereka harus buktikan diri dulu ke Hollywood bahwa mereka bisa menghasilkan uang sebab film adalah investasi. Mereka berhasil, dan jadilah film ini seluruh castnya Asia. Rachel harus buktiin diri, bermanis-manis di tengah tuduhan supaya bisa dapat restu dan diakui, dianggap pantas menjadi anggota keluarga. Tapi memang begitulah aturan mainnya.

Kita tidak bisa dapat hal yang lebih baik jika tidak membuktikan dulu kita pantas saat kita belum memilik hal yang baik. Kita harus melakukan sesuatu yang pantas untuk mendapat pengakuan, dan untuk itu terkadang kita harus kalah dahulu

 

 

Buat yang mempertanyakan, ya, cerita film ini memang seperti FTV yang sering membuat ibu-ibu kita terbuai. Struktur ceritanya juga formulaik sekali. Pun dipenuhi oleh trope-trope klise, like, tentu saja akan ada adegan fitting gaun pesta disertai musik yang ceria. Cukup bikin bosen kala cerita memasuki lapisan yang di dalam, ketika kita jauh dari distraksi mewah, indah, dan glamornya kehidupan orang kaya di Singapura, terutama ketika romansa Rachel dengan Nick. Karena kita sudah apal cerita model begini. Tidak ada substansi baru yang ditawarkan. Benar-benar kharisma pemain, lokasi dan produksi, lapisan luar yang bikin film ini terasa fresh. Makanya dia jadi gampang untuk disukai. Semua orang akan suka film ini, kurasa. Humor pun dengan tepat ditebar, tidak ada momen yang terasa lebay.

Orang kaya paling suka barang diskonan, it’s funny because it’s true

 

 

Kalopun ada yang gak seneng, kurasa orang Singapura sendiri yang paling mungkin memandang film ini dengan mata menyipit. Karena Singapura kan mestinya negara yang sangat diverse, bukan hanya orang Cina yang ada di sana – orang Asia bukan hanya Cina. Penduduk Singapura yang lain terasa minor banget dalam film ini, lihat saja tamu-tamu pestanya. Bangsa Asia lain sepertinya harus buktiin diri dulu biar bisa dapat peran gede di lanjutan film ini nanti (kalo ada).

Ada beberapa aspek yang mestinya bisa dikasih informasi lebih, supaya kita lebih mudah mengerti. Seperti sekuen main mahyong menjelang akhir cerita. Ini adalah bagian yang penting, dialognya memang sangat jelas menyatakan apa yang kita saksikan, apa makna yang ingin disampaikan. Tapi semestinya impact sekuen ini bisa menjadi lebih kuat jika kita mengerti mereka sedang ngapain dalam terms permainannya. Paling enggak kita harusnya dikasih tahu Rachel menang atau tidak. Dengan demikian, kita ikut terbawa dalam permainan dan dialognya, karena aku yakin kedua hal tersebut berjalan berbarengan. Rachel menggugurkan batu mahyongnya (aku gak yakin karena gak tau aturan permainan tersebut), dia membuat Eleanor menang, itu sebenarnya paralel dengan keputusan yang Rachel lakukan. Aku suka adegan tersebut. Aku hanya butuh sedikit kejelasan terhadap apa yang kurasakan dilakukan dalam adegan tersebut benar-benar sesuai atau enggak.

 

 

 

Komedi romantis yang perfectly entertaining. Ceritanya memang tidak baru, entah sudah berapa kali kita sudah melihat cerita yang sama. Tapi karakter-karakter, set, budaya, yang ditampilkan akan membungkus dengan begitu luar biasa, sehingga film menjadi begitu menyenangkan. Begitu pentingnya film ini karena menjadi bukti bahwa Hollywood sudah membuka pintu kesempatan. Aku akan menantikan sekali film seperti ini muncul dengan cerita yang lebih fresh dan lebih baik lagi. Dan kita, Indonesia, maksudku, tidakkah kita pengen lihat Indonesia-full di Hollywood, dengan pemain, kru, cerita buatan lokal. Tidak lagi hanya sebatas fragmen-fragmen karena kita share kebudayaan yang sama ama negara tetangga. Film ini, sama seperti Wiro Sableng 212 (2018), adalah jalan masuk untuk kesempatan-kesempatan langka. Kita harus bekerja amat sangat keras untuk diakui. Sistem yang mungkin konyol, tapi begitulah aturan hidup di crazy rich world.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for CRAZY RICH ASIANS.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Menurut kalian akankah Indonesia mampu menangkap perhatian Hollywood? Mengingat kita punya banyak sinetron dan FTV yang ceritanya model begini, apakah kita akan ternoticed begitu menggarapnya dengan biaya yang besar? Bagaimana menurut kalian langkah terbaik yang harusnya dilakukan untuk mendapat kesempatan seperti ini, kita punya Iko Uwais, Marlina, dan banyak lagi yang sudah mendunia. Akankah itu cukup?
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

ROMPIS Review

“There are no strangers here; Only friends you haven’t yet met.”

 

 

 

 

Jarak sama seperti api, bagi orang pacaran. Kecil jadi kawan. Gede jadi lawan. Hubungan asmara perlu dikasih jarak-jarak kecil biar gak posesif-posesif amat, like, jangan melulu melapor setiap mesti ngapa-ngapain, jangan terlalu ngurusin ini-itu sehingga tidak ada ruang gerak. Relationship yang sehat selalu berdasarkan dengan mutual trust yang dilatih dengan kita memberi ruang gerak terhadap pasangan. And that is the tricky part. Terlalu lebar memberi ruang, kejauhan ngasih jarak, bisa membuat ruang kosong antara dua orang tersebut diisi oleh orang lain. Itulah yang ditakutkan oleh pasangan-pasangan yang dihadapkan pada masalah LDR; Long-Distance Relationship.

Roman dan Wulandari sudah bersama-sama sejak serial televisi Roman Picisan ngehits. Film ini melanjutkan kisah tanpa-status mereka yang kini sudah pada lulus SMA.  Kalo para penggemarnya sudah sudah geregetan melihat tarik-ulur hubungan mereka yang begitu manis penuh puisi kacangan karangan Roman, bayangkan gimana gemesnya mereka menyaksikan kedua anak muda ini harus dipisahkan oleh jarak saat Roman keterima kuliah di Belanda? Puisi-puisi Roman tak pelak menjadi sarana yang pas untuk lingkungan LDR yang harus mereka jalani.  Kita melihat Roman dan Wulandari melempar kata-kata romantis lewat hape mereka. Tetep mesra, namun toh setelah sembilan bulan berjauhan, jarak itu kerasa juga. Roman mulai gak konsen kuliah, nilainya jeblok, padahal ia sadar betul dirinya yang ‘sobat miskin’ harus lulus dengan nilai gemilang – demi orangtuanya. Juga demi Wulandari yang menunggunya. Wulandari pun semakin insecure, terlebih saat dia mengetahui Roman punya kenalan berwujud cewek yang manis banget bernama Meira di sana.

Aku yang gak ngikutin serial televisinya aja kebawa gemas loh. Interaksi para tokoh ini terlihat benar-benar natural. Aku gak kayak sedang melihat tokoh film. Aku jadi merasa kayak mas-mas creepy yang diam-diam ngintilin anak-anak muda tersebut lagi pacaran, anak-anak muda yang nunjukin persahabatan dan berusaha menyelesaikan masalah mereka, di sepanjang jalanan kota Amsterdam. Sebegitu realnya para pemain menghidupkan tokoh mereka. Chemistry Arbani Yazis dengan Adinda Azani menguar luar biasa, baik itu di adegan mereka rayu-rayuan maupun lagi marah-marahan. Hebatnya, kita tahu yang tokoh mereka rasakan tersebut bukan cinta-cintaan. Kita paham situasi mereka, film membuat kita mengerti kenapa Roman masih saja ngekeep Wulandari tanpa-status – mereka gak bener-bener jadian. Para pemain tampak bertindak kayak remaja beneran yang sedang menghadapi ‘masalah’ ini. Aku suka gimana Azani memainkan gesture dan intonasi marah-tapi-malu-malu khas cewek. Meira di tangan Cut Beby Tshabina tampak keren sekali bermain sebagai cewek misterius namun sedikit agresif. Tapi mungkin yang paling likeable di antara semua adalah Umay Shahab yang memainkan Samuel, sohib Roman, yang bertindak sebagai voice of reasons; perantara Roman dan Wulandari, memberi mereka sudut pandang lain yang tak jarang muncul lewat candaan khas anak muda.

si Bobi ekspresi kentutnya masih sama ahahaha

 

Sebagai sebuah kelanjutan dari serial, film ini bertindak sebagai penutup yang bertujuan untuk memuaskan penonton layar kacanya. Jadi, beberapa hal yang sudah terestablish ga bakal diberikan penjelasan lagi di film ini. Kita tidak akan mendapat backstory kenapa Roman dan Wulandari saling cinta. Kenapa Roman dan Samuel bisa sobatan. Latar ekonomi dan keluarga saja hanya diinfokan sebagai bagian dari candaan. “Mereka sudah begitu sejak dari SMA” jawab Wulandari kepada Meira, yang sama orang-luarnya seperti kita. Dan ini dapat menjadi masalah, sebab buat penonton film yang tidak ngikutin serialnya, para tokoh ini akan tampak seperti orang asing. Bahkan Meira juga, karena kita hanya akan mengenalnya setelah pengungkapan di babak akhir – untuk sebagian besar waktu kita akan exactly menanyakan pertanyaan yang sama: kenapa cewek pirang ini begitu peduli sama Roman. Kita diminta untuk ngikut aja sama cerita. Buatku, ini menjadi lumayan bikin frustasi. Sebab tokoh-tokoh yang udah kayak sahabat beneran ini, aku ingin kenal mereka lebih dekat, aku ingin bisa peduli sama mereka – lebih dari tertawa bersama dan bilang “aww they look so cute together”. Alih-alih itu, film malah seperti menudingku ‘salah sendiri enggak nonton serial tivinya’; kenapa nonton, film ini kan dibuat untuk penggemarnya.

Stranger Danger mungkin memang real, tapi setelah menonton film ini kita akan berpikir bahwa Stranger Danger sebenarnya adalah paradoks. Apasih orang asing itu? Kita melihat hubungan Roman dan Wulandari terancam ketika Roman didekati oleh orang asing, Meira. Dan cara menyelesaikan masalah yang ada ialah dengan mengenal Meira lebih dekat, menjadikannya sebagai teman. Orang asing dianggap  ‘berbahaya’ karena kita tidak kenal mereka. Pun, resiko itu tetap ada. Seperti saat Wulandari mendapat kesempatan untuk menjalin pertemanan dengan cowok asing yang ia temui di sana. Atau bahkan, saat sudah menjadi teman, bukan lantas membuat orang tersebut tidak akan membawa masalah. Ketakutan dan masalah dan resiko itu akan tetap ada, kita seharusnya tidak takut, karena semua yang akrab itu berawal dari sebuah keasingan.

 

Tayang dalam waktu berdekatan, gampang buat kita membandingkan film ini dengan Si Doel the Movie (2018); sama-sama dari serial yang berakar lebih jauh lagi, sama-sama berlokasi di Amsterdam, sama-sama cinta segitiga, sama-sama ada tokoh lucu yang bikin gerr suasana, sama-sama ada trope ngejar ke bandara. Tapi jika kita menilik ceritanya, Rompis sebenarnya dekat dengan film drama cinta yang menurutku underrated tahun ini; Eiffel I’m in Love 2 (2018). Roman mengingatkan kita kepada Adit di film itu; dia menggantung Tita karena merasa dirinya belum mapan untuk menghidup Tita. Roman juga berpikir seperti ini, dtimbah pula dengan kesadaraanya akan keadaan ekonomi keluarga. Aku sempat kagum juga, karena dia baru sembilan bulan jadi mahasiswa, dan udah berpikir ke depan. Namun, seiring cerita berjalan, Roman malah jadi kayak anti-thesis dari Adit. Bahkan filmnya sendiri ikut menjadi terasa seperti kebalikan dari Eiffel I’m in Love 2.

Roman diperlihatkan ingin belajar serius, karena dia terlalu mikirin LDR sehingga gagal dalam ujian. Aspek cerita ini menjadi layer buat karakterisasi Roman, tapi ke depannya layer ini seperti dilupakan karena cerita fokus ke cinta segituga yang tampak what you see is what you get. Ketakutan Roman tidak dibarengi dengan kelakuannya, dia masih tetap menghabiskan waktu dengan jalan ama cewek alih-alih belajar. Kita dengar dia mulai berpikir untuk meninggalkan puisi, tapi dia masih tetap menggunakan puisinya. Kita juga belajar bahwa cowok membuat daftar prioritas di mana poin terakhir adalah tujuan utama yang paling penting, namun kita malah melihat Roman seperti meninggalkan usahanya dengan langsung fokus ke poin goalnya. Tidak seperti Adit yang benar-benar menjadi tampak dingin dan jauh bagi Tita.

Rompis – Roman Pisican

 

Atau mungkin, lebih tepat disebut Rompis seperti versi kekanakan dari film tersebut. Meski si Tita childish begitu, Eiffel 2 sebenarnya kisah cinta yang menangani masalahnya dengan dewasa. Karena dewasa itu proses. Rompis, kontras sekali sikap para tokoh dari awal hingga akhir dengan pidato yang diucapkan Wulandari saat kelulusan SMA. Tidak ada sense pertumbuhan pada tokoh-tokohnya. Kita bahkan gak sempat tahu Wulandari kuliah di mana.

Film terlihat BERUSAHA KERAS TETAP TAMPIL SEBAGAI REMAJA; terbukti dengan banyaknya istilah kekinian kayak “lagi syantik” yang dishoehorn gitu aja masuk ke dalam cerita. Atau malah, ia tampak takut untuk menjadi dewasa. Mereka menyinggung soal Roman yang kepengen serius, namun follow upnya tidak pernah mencerminkan demikian. Seolah film sadar ceritanya jadi terlalu serius dan bergegas balik sebelum penggemarnya sadar dan protes para tokohnya berubah, enggak persis sama dengan di serial. Inilah masalah dari film adaptasi dari serial ataupun buku. Perlu untuk memberikan apa yang diinginkan oleh fans, tapi juga mestinya film ini ingat bahwasanya dia adalah lanjutan. Sedikit perubahan tentu bisa dilakukan dengan tidak mengganggu tujuan kenapa film ini dibuat. Roman bisa saja dibuat jadi menjauhi puisi, dia mungkin membuang buku puisinya, untuk kembali lagi kepada puisi karena dia sadar bukan itu yang sebenarnya harus ia lakukan.

Pun banyak aspek yang hanya dijadikan sebagai kemudahan. LDRnya yang jauh saja dibuat sedekat itu, dengan Wulandari bisa pergi dan pulang begitu saja. Alasannya; karena dia punya duit. Aku gak bisa lihat pentingnya lokasi ada di Belanda. Heck I mean, kenapa mesti jadi LDR toh Wulandarinya bisa mengunjungi sesuka hati. Kenapa mesti jauh-jauh – bikin beda kota sebenarnya juga bisa. Jadinya ya, konteks sama cerita yang eventually mereka hadirkan terasa enggak saling mendukung. Selain trope, film ini juga banyak menggunakan keanehan yang dimasukkan ke dalam cerita. Seperti kenapa anak pinter seperti Roman masih belum bisa bahasa Belanda padahal nyaris setahun belajar di sana. Ataupun timing kejadian-kejadian yang enggak add up dengan bener ke rentetan cerita.

 

 

 

Waktu sudah berubah, tokohnya melanjutkan fase kehidupan, namun ceritanya masih tetap bertahan di ranah remaja yang sama. Sungguh sebuah pilihan yang aneh untuk keputusan kreatif pembuatan film sedari awal. Film ini seperti melarang tokohnya untuk menjadi dewasa. Mereka ingin tetap menjadi remaja, jadi kita dapatkan cerita yang berfokus kepada masalah saingan cinta, walaupun sudah sempat menyinggung lapisan yang lebih dalam. Jika bukan karena chemistry dan penampilan para tokoh, film tidak akan semengasyikkan ini, bahkan sebagai film remaja. Tetapi paling tidak, dengan banyaknya trope dan elemen yang sama ama drama lain, film ini sudah berhasil live it up ke taglinenya; sebagai benar-benar sebuah picisan.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for ROMPIS.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

THE MEG Review

The number one rule is to not become a victim yourself

 

 

 

Laut, meski gak punya pohon-pohon, masih berlaku hukum rimba di sana. Ikan kecil dimangsa ikan yang besar. Ikan yang besar dimakan oleh ikan yang lebih gede. Ikan lebih gede tak ayal kena mamam sama ikan raksasa. Manusia sebagai bagian dari ekosistem, mau masuk hutan atau lari ke pantai pun tak bisa luput dari hukum tersebut. Kita butuh makhluk lain untuk melanjutkan kehidupan. Untuk bertahan hidup adalah tujuan kita di dunia. Tetapi, sebagai makhluk yang dianugrahi hati buat mikirin etika, tentu kita manusia enggak bisa sembarangan ‘memakan’ sesama manusia. Makanya Jason, seorang penyelam penyelamat, di film The Meg dipandang sebelah mata sama rekan-rekannya; lantaran Jason pernah mengorbankan seisi kapal selam untuk menyelamatkan diri beserta segelintir orang yang saat itu bersama dengannya.

Tak ada yang percaya alasannya, membuat Jason mengasingkan diri ke Thailand.  Dia menunggu ilmuwan-ilmuwan biologi laut di kilang lepas pantai Cina itu kembali minta tolong kepadanya karena Jason percaya pada apa yang ia lihat. Well, atau tepatnya yang tidak ia lihat. Ada sesuatu di dasar palung di sana yang menyerang mereka. Makhluk supergede yang menemukan jalan ke permukaan berkat ekspedisi yang dilakukan oleh para ilmuwan. Monster purbakala yang tahu persis dirinya masih meraja di puncak rantai makanan. Tidak seperti Jason, hewan ini gak akan berpikir dua kali, enggak bakal teragu oleh nurani, dalam memakan manusia demi kelangsungan hidupnya.

kebanyakan nonton Steve-O mancing hiu di Jackass nih hhihi

 

 

Survival adalah kebutuhan paling mendasar setiap manusia. Tapi mengapa kita merasa perlu untuk menolong orang, banyak pahlawan yang sudah gugur, dan ada juga yang selamat dan berhasil menolong orang. Sebagai makhluk sosial, sudah kodratnya bagi kita untuk merasa ingin membantu orang lain menyelamatkan diri. Kita memperkirakan resiko, kita menantang diri sendiri untuk bisa selamat bersama mereka. Apapun alasannya kita menolong orang karena keyakinan kita sanggup survive pada akhirnya. Maka dari itu, yang perlu diingat adalah dengan jangan sampai kita sendiri yang menjadi korban. Jangan keburu untuk dianggap pahlawan sehingga kita menyebabkan keselamatan lain justru semakin terancam.

 

Sayangnya The Meg enggak konsisten merenangi perairannya sendiri. Tema yang mereka angkat timbul tenggelam. Umm.. lebih tepatnya, bayangkan sebuah batu yang kalian lempar menyisir permukaan air. Batunya akan loncat-loncat, kan. Begitulah tema film ini terasa. Film enggak konsisten dalam mengeksplorasi konteks ceritanya. Jonas ngorbanin banyak orang supaya bisa menyelamatkan paling enggak beberapa, supaya mereka enggak binasa semua. Kita seharusnya mendukung sudut pandang ini, karena Jonas adalah tokoh utama cerita. Namun film juga secara berlebih berusaha membuat kita sedih. Seperti si pria Asia yang dengan sengaja mengorbankan dirinya; kenapa kita mesti sedih karena tindakannya tersebut, sementara kita tahu – Jonas tahu dan ia dipersalahkan karenanya – bahwa pengorbanan itu kadang diperlukan. Pada satu poin Jonas bilang enggak gampang menjadi orang yang selamat dari musibah. Jadi usaha-usaha film untuk mendramatisasi setiap kematian para tokoh lain enggak ngefek ke kita.

Di momen kita menyadari kebiasaan minum yang menjangkiti Jonas tidak menambah apa-apa ke dalam plot; malahan tidak pernah disinggung lagi selain buat introduksi yang kayak tempelan, kita tahu film ini tidak benar-benar niat untuk memanusiakan para tokoh yang lain. Mereka dibuat sebego-begonya orang yang nyalain lampu meski sudah belajar bahwa cahaya dapat menarik perhatian predator yang mengincar mereka. Ide pintar ilmuwan di film ini adalah menembakkan racun ke mulut hiu alih-alih memancing si hiu dengan daging yang sudah diracuni. Keputusan-keputusan yang mereka buat sama seperti dialog yang mereka ucapkan; it’s either awkwardly cheesy atau blo’on.

Penokohan mereka begitu tipis, gak bakal cukup untuk tersangkut jadi kotoran di gigi hiu yang mau memangsa mereka. Jonasnya Jason Statham adalah hero film aksi paling generik, walaupun dia punya dasar moral sendiri, tapi tak pernah menguar lebih dari titik dia nge-I told you so orang-orang. Rainn Wilson adalah orang kaya yang bersifat egois yang kita nanti-nantikan kematiannya. Page Kennedy menerima tugas sebagai orang hitam yang lucu karena mengeluh setiap saat. Ruby Rose adalah cewek hispster yang jago komputer. Bingbing Li jadi tokoh cewek pendamping utama yang tentu saja bertugas menjadi orang yang perlu diselamatkan oleh Jonas. Begitu banyak tokoh yang gak ngapa-ngapain, ataupun memberi sesuatu yang baru, sudut pandang yang bikin kita enjoy mengikuti dan peduli ama mereka. Ada satu tokoh anak kecil, yang bikin kita “aww lucunya” dan dia gak diberikan apa-apa selain yang sudah kita lihat pada trailer. Juga ada tokoh kepala ilmuwan yang merasa bimbang saat mengetahui ‘musuh’ mereka adalah hewan prasejarah, ia dijangkiti dilema apakah makhluk ini sebaiknya tidak harus dibunuh, melainkan bisa dilestarikan. Namun film sebodo amat, dan tokoh-tokoh lain seratus persen meng-ignore si tokoh dengan menjalankan misi mengebom si hiu.

kenapa lagu Hey Mickey versi Thailand jadi soundtrack benar-benar di luar kuasa logika ku

 

 

Bekerja sama dengan China, film ini berusaha tampak lebih menarik buat pasar di sana.  Yang ada malah, The Meg tampak seperti ‘Made in China’ dari film hiu yang lebih kompeten seperti Jaws (1975). Bagian paruh pertama film ini membosankan dengan banyak penjelasan dan bincang-bincang teknologi dan istilah-istilah semacamnya. Bagian kedua, setelah perahu mereka dibalikkan, memang lebih seru, hanya saja meminjam banyak dari elemen yang sudah pernah kita lihat. Mereka berusaha melakukan hal yang sama, dengan lebih besar, dengan teknologi yang lebih mumpuni. Bahkan dengan mindset itupun, senjata utama film ini adalah ‘monster’nya yang super gede, The Meg tidak pernah benar-benar terasa menyeramkan. Alih-alih menggunakan suasana dan atmosfer bawah laut yang mencekam, film menakut-nakuti kita dengan jumpscare kelebatan hiu. Melihat sirip raksasa itu mendekat menyusur air, tidak membuat kita takut. Malahan greget pengen lihat si hiu bakal ngapain, bagaimana cara si hiu membunuh orang-orang yang tak berkarakter itu. Aksi hiunya pun biasa sekali. Aku mengharapkan mereka berkreasi dengan hiu sebesar itu, namun selain shot CGI yang merupakan versi halus dari photoshop serangan hiu hoax di internet yang sering kita lihat, tidak banyak hal seru yang ditawarkan oleh si hiu. Bahkan gak banyak darah, lantaran film menolak untuk sadar diri dan ngepush untuk dapat rating yang ‘enggak-dewasa’.

Mindless-monster movie yang membosankan. Menonton film ini bagaikan ngobrol sama orang annoying yang sok asik. Mereka pikir mereka lucu, exciting, mereka pikir aksinya keren, tapi semuanya biasa aja. Bahkan nonton Sharknado akan lebih menghibur, karena pembuatnya tahu kekuatan konsep ‘murahan’ yang mereka gunakan, dan mereka paham gimana menargetkannya kepada penonton sasaran pasar mereka. The Meg tidak sanggup untuk seserius dan semenakutkan Jaws, dan merasa gengsi untuk tampil seperti Sharknado. Padahal justru kemindless-annya itu yang semestinya dijadikan kekuatan. Adegan final Jonas actually satu lawan satu melawan hiu itu adalah adegan terbaik; film harusnya embrace kegakmasukakalannya tersebut sedari awal, karena sesungguhnya film ini berenang di kolam yang sama dengan film-film Sharknado.

 

 

 

Palungnya boleh dalam, namun ceritanya dieksplorasi dengan dangkal. Hiu film ini boleh saja gede, tetapi filmnya sendiri bernilai kecil lantaran filmnya terlalu sibuk untuk menjadi ‘Made in China’ dari film-film hiu yang lain. Dia menganggap dirinya seriously keren. Tapi tidak mengolah karakternya dengan baik. Dia tidak mengembrace sisi konyol yang mereka punya. Padahal jika mereka melakukan secara konsisten apa yang mereka lakukan di paruh akhir cerita, it would be a total blast. Akan bekerja sangat baik kalo saja mereka benar-benar total, penuh darah, konyol, dan sebagainya. Tidak konsisten dengan konteks, juga tidak total memainkan konsep. Jadinya adalah film ini seram tidak, kocak dan menyenangkannya juga hilang timbul.
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for THE MEG.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

ANANTA Review

“Life is the art of drawing without an eraser.”

 

 

Hidup bekerja dalam cara yang misterius. Kita tidak bisa memilih siapa yang akan nongol di hidup kita, pun kita tidak bisa menembak siapa yang bakal bertahan dan siapa yang pergi. Seperti Tania yang terheran-heran sendiri, apa dosanya sehingga dia bisa ditegur sama cowok anak baru lugu nan udik yang berjudul Ananta itu. Padahal Tania sudah memastikan dirinya untuk enggak ramah sama orang lain. Tania menenggelamkan diri di dalam dunia lukisan. Tania merasa sudah begitu hebat dalam sendirinya, hingga terjadilah Ananta yang mengomentari gambar karyanya dengan logat Sunda yang khas. Ananta yang mengerti, yang mengingatkan Tania kepada pujian Ayahnya tatkala Beliau melihat coret-coretan Tania Kecil. Ananta yang kemudian berlanjut menjadi pasangan Tania… dalam berbisnis. Ananta yang kreatif dengan kata-kata, dan cepat akrab dengan orang, didaulat menjadi penjual lukisan Tania, sementara cewek cantik itu tetap bekerja di belakang layar. Dan kemudian Ananta menghilang. Tapi tidak bersama dengan kebahagiaan Tania. Sebab, ya itu tadi, hidup bekerja dalam cara yang tidak kita ketahui.

Sekali lirik, Ananta terlihat seperti drama relationship yang sudah lumrah yang terjadi di antara seseorang dengan orang yang kurang ia hargai di awal, yang ujungnya sudah bisa kita tebak; mereka pasti berakhir bahagia hidup bersama. Akan tetapi, film ini punya elemen-elemen yang lain, it does feel like elemennya merupakan gabungan dari berbagai film-film drama yang setipe, dan ini menunjukkan bahwa sebenarnya Ananta punya nature cerita yang kompleks. Bertindak sebagai panggungnya adalah seni; unsur kesenian, terutama seni gambar atau lukis, akan menguar dari cerita. Hubungan antara Tania dan Ananta dijadikan porosnya, kita melihat mereka membangun bisnis galeri lukisan, ada kerja sama profesional di sana. Tentu saja ada elemen romansanya juga. Dalam level personal, Ananta juga bertindak sebagai kisah hubungan anak cewek dengan ayahnya. Semua elemen itu dihubungkan dengan benang merah yang bicara tentang  bagaimana pentingnya mengapresiasi seseorang.

Sesungguhnya setiap manusia adalah seniman yang sempurna. Oleh karena itu, sudah selayaknya kita mengapresiasi setiap jiwa yang pernah amprokan sama kita dalam kehidupan. Karena kita tidak tahu apa yang sudah mereka lalui. Kita tidak menyukai karya seni yang kita tidak mengerti maksud pembuatnya, begitu juga yang terjadi terhadap kita dengan manusia lain. Untuk itu, berikanlah waktu dan usaha untuk mengerti. Karena jika manusia adalah seniman, maka hidupnya adalah seni menggambar yang dikerjakan seorang seniman tanpa penghapus.  

 

Penceritaan film sesungguhnya juga adalah sebuah seni. Ironisnya, rasa terhadap hal tersebut kurang dimiliki oleh film Ananta. Arahan dan tutur cerita film ini tidak mampu membawa keadilan kepada kompleksnya materi yang dipunya sebagai dasar cerita. Semua diolah dengan satu-dimensi demi kepentingan menjadikan cerita ini punya twist. Inilah problem mayorku buat garapan Rizki Balki ini; babak terakhirnya berubah menjadi begitu banyak kelokan. Setiap sekuen di babak ketiga diniatkan untuk membuat kita melihat satu tokoh dalam cahaya yang baru. Film membuat ini sebagai ujung tombak cerita, hanya saja dengan melakukan hal tersebut, banyak set up yang harus dikorbankan. Menjadikan tokoh-tokoh tampak sederhana, terutama tokoh utama. Dan ini adalah pilihan yang riskan. Kita tidak bisa mempersembahkan sesuatu yang kompleks dengan merahasiakan beberapa elemen, tanpa menjadikan elemen tersebut jatohnya jadi sederhana.

Tania, misalnya. Tokoh ini dibuat terlalu over-the-top, dia meledak-ledak marah terhadap hal kecil. Suatu kali, dia mengiris jarinya dan Ananta untuk kontrak darah, di meja makan, saat lagi dinner bareng keluarga! Penceritaan membuat dinding di sekilingnya, sehingga kita enggak mengerti apa yang ada di kepalanya. Padahal sebenarnya Tania ini karakter yang menarik. Dia cinta seni, dia ingin terus membuat seni. Dia percaya dia adalah seorang seniman, karena dengan percaya hal tersebut berarti dia menghormati pendapat ayah yang sangat ia cintai. Dia punya imajinasi yang tak tertandingi sehingga ia susah mencari orang yang sepadan untuk berkomunikasi. Tania jadi galak, sama guru seninya, sama keluarganya, basically hampir sama semua orang. Kecuali orang-orang yang pandai masak nasi kerak. For some reason, Tania digambarkan suka nasi kerak, dan menurutku ini adalah bentrokan simbol paling menarik yang dipunya oleh cerita; bahwasanya seniman warna warni seperti Tania sangat menyukai sesuatu yang ‘salah bikin’ dan berwujud tak menarik seperti nasi yang dimasak kegosongan.

itu nasi kerak yang suka dimakan ama mbah-mbah bukan, sih?

 

But instead, kita kerap mendapat Tania yang begitu dramatis. Karakter ini dipersembahkan sebagai anak jahat berhati dingin. Kasar sama semua orang. Mustahil untuk menyukainya, bahkan untuk peduli kepada diri Tania sebagai seorang seniman muda pun susah. Motivasi Tania, hubungannya dengan sang ayah diungkap belakangan. Terlalu lambat malah. Tidak hingga momen terakhir kita paham bahwa ketakutan terbesar Tania bukanlah menerima orang dalam hidupnya, melainkan adalah Tania takut untuk kembali masuk ke pondok kenangan ia dan ayahnya. Yang mana enggak masuk akal; Tania punya menyimpan erat lukisan ayahnya dan secara konstan mengingat beliau, namun ogah ke pondok tempat pastinya beberapa memorabilia sang ayah bergeletak di sana untuk dikangen-kangenin?

Film juga enggak mengalir dengan benar-benar niat untuk menunjukkan perkembangan karakter Tania. Momen ketika Tania membuka pameran tunggal di Yogyakarta, momen dia tampil mempersembahkan karyanya di depan orang banyak untuk pertama kalinya, mestinya ini menjadi momen kunci perubahan karakter Tania. Tania sudah menghilangkan salah satu ketakutannya di titik ini. Tapi film malah menceritakan kejadian di sini dengan gaya montase, seolah ini adalah hal yang sama pentingnya dengan adegan Tania dan Ananta mandi hujan siraman air selang di kebun. Film tidak paham mana bagian yang nyata secara emosional, film tidak fokus bercerita. Yang ada ialah film terlalu sibuk mengorkestra dramatisasi dan komedi sehingga tak ada kejadian yang benar-benar tampak real. Kemudian tiba-tiba Tania menyadari cinta sejatinya. Momen ini sangat mendadak, apalagi ditambah kita tidak pernah tahu persis apa yang menjadi motivasi tokoh utama ini.

udah kayak iklan rokok aja “Tania kenapa?”

 

Salah satu momen pamungkas adalah ketika Tania sadar seberapa besar Ananta sudah mengubah hidupnya. Bahkan kakak-kakak dan ibu Tania diberikan adegan khusus untuk menyuarakn hal ini. Kemudian di sini ada twist yang mungkin kalian juga sudah bisa menebaknya; film ingin menjadikan ini sebagai adegan banjir air mata; Michelle Ziudith pastilah sudah dikunci sedari awal untuk memainkan Tania lantaran kemampuan nangis over-the-topnya (atau malah film ini dijadikan over dramatis demi mengeksploitasi kemampuan nangis Ziudith?), tapi sama kita enggak kena sebab Tania  begitu unlikeable kita sudah di pihak Ananta sedari awal. Kita sudah melihat jelas motivasi Ananta sepanjang cerita. Pada adegan cangkir bulan dan matahari di sekitar pertengahan, keluguan dan kejujuran Ananta membuat kita mengerti. Dan untuk ini, aku perlu menyebut akting Fero Walandouw dengan tepat hit every note yang karakternya tampakkan. Tokoh Ananta tidak pernah tampak mendua, Tanianya saja yang begitu self-absorbed sehingga jadi kecele sendiri.

Seniman paling jago di film ini sebenarnya adalah Ananta. It’s one thing bisa menyimpan rahasia dan bertindak mengelabui orang di depan hidung mereka. Dan sedari awal, dia sudah bisa mengerti apa yang harus dilakukan dan diucapkan menarik perhatian Tania. Kupikir kita bisa bilang, menarik simpati orang lain itu adalah bentuk lain dari seni itu sendiri.

 

Ketika sekuen pengungkapan kejadian sebenarnyalah, cerita film ini menjadi semakin dibuat-buat. Udah makin gak make sense. Ironisnya, yang paling jatoh justru adalah Ananta – tokoh yang paling difavoritin penonton di film ini. Revealingnya membuat Ananta tak lebih dari tokoh device yang tak punya hidup sendiri di luar kehidupan Tania. Jawaban kenapa Ananta begitu tepat memahami Tania sungguh tak memuaskan, karena ternyata Ananta punya semacam walkthrough  atau pedoman langsung dari orang yang paling dicintai oleh Tania. Ananta seketika menjadi orang yang paling tak jujur dan tak tulus di dunia film ini. Yang mana setelah kupikir lagi, hal tersebut mungkin memang disengaja mengingat ending film ini perlu untuk diterima banyak orang – penonton butuh untuk seketika move on dari Ananta. But still, dari poin karakter dan cerita, aku tidak bisa melihat kenapa Ananta tidak jujur aja sedari awal, dia tidak perlu melewati segala bentakan, dan Tania bisa jadi better person dengan lebih cepat. Dan kita jadi tidak perlu menghabiskan waktu yang lebih banyak melihat orkestrasi drama yang bikin geli alih-alih merasakan emosi yang nyata.

 

 

 

 

 

Adaptasi novel yang punya ceritadan tokoh-tokoh yang kompleks ini pada ujungnya tidak menawarkan sesuatu yang baru atau apapun yang memberikan urgensi. Selain set dan banyak gambar-gambar yang cantik, film ini tampak sama saja dengan drama dari novel yang lain. Mengoverused elemen-elemen dari film lain, tidak ada arahan yang spesial karena berniat pada twist, juga mengeksploitasi pemerannya yang berfollower banyak tanpa memberikan sebenarnya balas jasa berupa ruang dan pengembangan kemampuan yang signifikan. Watchable, kalo mau mewek mewekan silahkan ditonton. Hanya belum berhasil film ini memberikan warna baru yang permanen.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for ANANTA.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

THE PERFECT HUSBAND Review

“If you judge people, you have no time to love them.”

 

 

 

Tidak ada yang lebih nge-ftv daripada menggunakan adegan tabrakan untuk memperkenalkan dua tokoh dalam romansa remaja, yang tentu saja kemudian akhirannya bisa kita tebak. Dua tokoh tersebut akan berakhir menjadi pasangan. The Perfect Husband adalah contoh sempurna dari formula kisah cinta dalam film televisi, ia tidak membuang waktu memperlihatkan gimana Ayla, gadis cantik anak kelas 3 SMA, yang mobilnya bersenggolan dengan mobil seorang mas-mas berseragam pilot, yang ternyata adalah pria yang telah dipatri oleh ayah Ayla untuk menjadi calon suami Ayla.

Mendengar informasi sepihak tentang masa depan hidupnya, terang saja Ayla bereaksi heboh. Dia tidak berlama-lama di fase penyangkalan. Malahan dia bisa dibilang nyaris langsung marah, dan Ayla tetap bertahan di tahap tersebut. Ayla mengambil sikap protes kepada ayahnya. Dia menolah Arsen, si pilot, mentah-mentah. Di balik usianya, Ayla memang tampak seperti wanita muda dengan pola pikir yang cukup kritis, namun film tidak berada di jalur yang demikian. The Perfect Husband mengambil tone yang sangat ringan untuk menceritakan konflik seputar perjodohan, yang mengakar kepada keinginan anak versus kebahagiaan orangtua, dengan tidak malu-malu menyebut komedi kepada tingkah laku para tokoh. Nyaris keseluruhan film adalah debat Ayla terhadap keputusan ayahnya, tetapi tidak benar-benar dalem. Alasan Ayla enggak mau dijodohin adalah karena Arsen yang hanya muda jika dibandingkan dengan si ayah, dan Ayla sudah punya pacar anak band.

kita bicara tentang band yang lagunya….. ngerock!

 

Alih-alih  membuat diri dan pacarnya tampil lebih baik sehingga dapat dipercaya di mata ayah, Ayla malah sengaja tampil urakan dan kurang ajar. Sampe-sampe teman satu geng Ayla sendiri malah jadi kasihan kepada Arsen yang selalu ‘dikasarin’ sama Ayla. Actually, perspektif ini yang membuat film menjadi menarik. Ayla melakukan segala cara minus, mulai dari bersikap dingin, terang-terangan miih Ando, nyuekin, sampai berbohong, dalam upayanya mengeluarkan diri dari perjodohan. Ayla ingin menggunakan penilaian ayahnya terhadap Ando sebagai senjata utamanya kala keluarga Arsen datang berkunjung. Tapi tentu saja, hal tersebut semakin membuktikan ketidaksukaan ayahnya kepada pilihan Ayla yang begundal. Dinamika ayah-anak ini menjadi bumbu cerita. Arsen kerap meminta panduan dari calon mertuanya demi meluluhkan hati Ayla. Kita akan mendengar banyak bentrokan seputar tua melawan muda, mapan melawan kegakjelasan, yang kita inginkan melawan apa yang sebenarnya kita butuhkan.

Semua orang di dalam film ini saling bersikap judgmental terhadap satu sama lain. Ayah menjodohkan Ayla karena ia tidak percaya pergaulan  dan pilihan Ayla. Begitupun Ayla punya curiga kepada Arsen kenapa mau-mau aja dijodohkan. Masih ada ibu Arsen yang punya prasangka dan penilaian sendiri terhadap Ayla. Begitu jualah kita dalam kehidupan, kita banyak berprasangka. Kita enggak mau dijudge, sehingga kita menyimpan rahasia, dan pada gilirannya kita jadi menganggap orang lain juga menyimpan sesuatu. Jadinya saling tuduh-tuduhan.

 

Berlawanan dengan ceritanya yang mengusung dukungan terhadap prasangka, film ini sendiri lumayan bisa kita nikmati dengan memendam dulu pikiran judgmental bahwa film ini tak lebih dari ftv di layar lebar. Karena memang tidak benar sepenuhnya demikian. Ceritanya sendiri tidak completely sepele, masih ada yang bisa kita bawa pulang seputar kebahagiaan dan bagaimana kita memandang orang lain. Secara teknis pun, film  ini enggak basic-basic amat – tidak ada yang wah, it is just competent enough. Ada satu adegan yang kusuka, buatku itu adalah adegan terbaik yang dipunya oleh film ini, yakni ketika Arsen dan ayah ibunya lagi mengobrol memutuskan untuk meneruskan usaha mendekati Ayla atau enggak, ibu Arsen akan bolak-balik keluar ruangan, ngobrol sambil lepas dandanan, untuk menggambarkan urgensi dari judgment dirinya terhadap keputusan anaknya, dan adegan ini ditutup dengan punchline komedi yang tepat. Karakter-karakter ditulis sesuai konteks, mereka mendapat pengembangan, mereka berubah – karena pengungkapan dan/atau pembelajaran – meskipun memang film meminta mereka untuk enggak terlalu cepat ngejudge mereka.

Across the board,  penampilan para pemain juga sama kompetennya. Slamet Rahardjo berhasil memainkan ayah yang menuntut, yang diantagoniskan oleh tokoh utama, tanpa membuat tokohnya tampak tidak-menyenangkan. Ayah adalah tipe karakter yang berkembang dan memajukan cerita dengan pengungkapan karakter yang ia simpan sepanjang film, dan Slamet Rahardjo mampu membawakan tokoh ini dalam jalur yang make sense. Meskipun, memang, jika ia jujur dan gak berahasia sedari awal, film bisa selesai dengan lebih cepat, namun tokohnya tidak terasa annoying. Arsen yang diperankan oleh Dimas Anggara juga tidak berupa tokoh device belaka. Dia punya motivasi sendiri, jadi karakternya enggak entirely jatoh creepy. But still, orang dewasa ngendong paksa anak SMA bukanlah hal yang lumrah untuk didiemkan dan dianggap so sweet.

Dari semuanya, menurutku aman untuk kita bilang Amanda Rawleslah yang membopong film ini lewat permainan range akting yang variatif.  The problem is, karakter Ayla enggak dibahas berlapis sesuai layer yang semestinya ia punya. Ayla adalah cewek groupie rock band, yang sesungguhnya tidak suka ama genre musik tersebut, dia hanya suka sama Ando yang vokalis, cerita tidak pernah membahas ini lebih dalam, maka ketika Ayahnya menyinggung soal Ando dan musiknya, efek terhadap Ayla tidak bisa menjadi lebih dalam. Aku setuju sama ground pemikiran yang dipijak oleh Ayla, hanya saja Ayla tidak menunjukkan dia tahu yang terbaik untuk dirinya. Kebanyakan, dia mengambil keputusan karena ‘cinta buta’ terhadap Ando, film tidak clear melandaskan apakah Ayla memilih Ando sebagai bentuk perlawanan kepada ayahnya, karakter ini semacam terombang ambing antara clueless atau benar-benar tahu apa yang ia mau.

dengan kata lain, beneran kayak anak SMA

 

Dalam usahanya yang cukup berhasil membuat kita tetap duduk di tempat,  tetap saja banyak elemen dalam film ini yang bikin kita cengo’ sambil mengutuk ‘betapa begonya’. Aku enggak paham kenapa mereka enggak nunggu Ayla selesai kuliah dulu baru menikah. Ending film ini adalah salah satu yang paling cheesy dan benar-benar meruntuhkan tone dramatis yang sudah dibangun. Aku tidak tahu kenapa film memilih untuk menggunakan adegan tersebut, selain untuk menunjukin Arsen beneran bisa nerbangin pesawat. Di adegan flashback menjelang akhir, kita dengan jelas mendengar ayahnya menyebut Alya alih-alih Ayla, aku enggak tahu kenapa film membiarkan kebocoran ini, mereka bisa dengan gampang mendubbing atau mereshot adegan.

Film punya jawaban dan sudut pandang sendiri terhadap pemecahan masalah perjodohan yang ia angkat. Film membuat penonton bersimpati kepada Arsen ketika Ayla membentaknya di depan teman-teman sekolah lantaran main gendong sekenanya. Ayla yang kemudian minta maaf adalah salah satu dari beberapa adegan yang menunjukkan film berdiri di ranah cewek bertanggungjawab mengemban pilihan orangtuanya. Aku tidak begitu setuju dengan gimana film ini memandang sikap anak terhadap perjodohan oleh orangtuanya, tapi aku harus ngasih respek karena film ini berani mengutarakan suaranya sendiri. Dan paling tidak, aku masih bisa setuju soal pesannya yang mengatakan bahwasanya berbohong tidak akan mengantarkan kita kepada kebahagiaan siapapun. Umur ayah menjadi semakin singkat karena mendengar kebohongan Ayla, film tidak sepenuhnya menekankan ke aspek ini, tapi nyatanya adegan tersebut kuat untuk menjadi titik balik penyadaran Ayla.

Bicara tentang Arsen, alasan kenapa dia mau dijodohkan yang diungkap menjelang akhir babak tiga adalah hal terbullshit yang kudengar sepanjang hari ini. Karena sesungguhnya kebahagiaan manusia adalah tanggungjawabnya sendiri. Bukan tugas orang lain untuk membuat kita bahagia. Membalas kebaikan orangtua tidak harus dengan sampai mengorbankan kebahagiaan kita sendiri agar mereka bahagia. Tentu, kita mungkin saja menemukan kebahagiaan yang lain saat berusaha membuat orangtua bahagia, tapi itu bukan berarti membuktikan mereka benar, atau mereka yang salah. Bahagia itu datang sebagai misi diri sendiri, dan untuk mendapatkannya tidak bisa dengan berbohong.

 

 

 

 

Ini adalah kisah cinta remaja yang twisted, yang menggambarkan bagaimana tepatnya dalam kehidupan sosial, setiap orang bersikap judgmental terhadap orang lain. Dan film ini membuat lebih sering daripada tidak, prasangka tersebut benar adanya. Seperti ketika film lewat tokoh ayah Ayla ngejudge rocker tanpa memberi kesempatan pihak itu membela diri. Perjodohan dan konflik keinginan anak dengan keinginan orangtua dijadikan panggung untuk mengeksplorasi masalah tersebut, yang actually disampaikan dengan ringan. Menjadikan pesan dan feeling film ini tidak untuk semua orang. Ironisnya, jika kalian menahan perasaan judgmental terhadap film ini dan mau tetap duduk di sana, film ini sebenarnya adalah sebuah tontonan yang watchable dengan penampilan akting yang menarik.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for THE PERFECT HUSBAND.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017