THE COMMUTER Review

“For the love of money is the root of all evil.”

 

 

Setiap hari selalu bertemu, bertukar-pandang tanpa sengaja, mengangguk menyapa seadanya, tentu mampu menumbuh perasaan kenal di antara orang-orang asing. Tapi ini bukan soal cinta. Ini soal rasa curiga. Michael MacCauley setiap hari naik kereta komuter yang sama. Mantan polisi yang baru dipecat dari perusahaan asuransi ini bisa dibilang sudah akrab dengan penumpang-penumpang lain, juga dengan pegawai kereta. Makanya, ketika ditantang permainan kecil-kecilan oleh seorang wanita, MacCauley setuju aja. Mencari seseorang yang ‘berbeda’ di dalam kereta tentu tampak gampang bagi dirinya yang punya skill observasi yang tinggi. Apalagi permainan hypothetical tersebut berhadiah serius; seratus ribu dolar. MacCauley butuh duit itu untuk keluarganya. Tapi permainan ‘Di mana Waldo’ tidak pernah segampang kelihatannya. Malahan, menjadi semakin susah karena kita tidak mampu melihat. Tantangan yang diterima MacCauley semakin lama bukan saja menjadi semakin sulit, namun juga menjadi semakin berbahaya. Sebab banyak nyawa yang dipertaruhkan di sana. Termasuk nyawa MacCauley sendiri!

Akhirnya aku dapat juga thriller di kereta api yang sesuai dengan harapanku. I mean, Murder on the Orient Express (2017) tetap yang terbaik memutar balik ide gimana jika penumpang kereta api ternyata sudah saling kenal – bukan strangers, tapi film ini adalah adaptasi novel klasik. Sejak dibuat kecewa oleh The Girl on the Train (2016), aku jadi tertarik pengen melihat thriller menegangkan di kendaraan umum yang mengeksplorasi penumpang yang benar-benar asing satu sama lain. Karena aku sendiri suka naik kendaraan umum, aku suka mengamati para penumpang, dan honestly aku kadang sering ngarep ketemu kasus yang seru. Tapi itu akan menjadi pengalaman yang sangat mengerikan. Makanya aku jadi pengen sekali melihat film yang benar-benar membahas soal tersebut. Night Bus (2017) tadinya kupikir akan jadi pemuas, namun film tersebut terlalu condong ke isu politiknya. Night Bus bagus tapi terlalu serius dengan gol untuk menjadi sajian dramatis.

Buatku, The Commuter adalah film thriller di atas kendaraan tertutup yang selama ini kuidamkan. It is really entertaining. Enggak menjadi terlalu serius, ataupun berat, sutradara Jaume Collet-Serra mengerti komposisi yang dibutuhkan. Dibuat olehnya The Commuter sebagai sajian thriller bercampur aksi yang pas, yang plot dan narasinya enggak ribet-ribet amat, dengan tokoh yang bisa kita dukung keselamatannya.

tut tut tut siapa hendak semaput

 

Kesulitan dalam menangani tokoh utama salah satu adalah kita ingin membuatnya terlihat kuat dan bisa dipercaya, sekaligus juga membuatnya tidak tanpa kelemahan. Michael MacCaulay yang diperankan oleh Liam Neeson adalah karakter yang ditulis sempurna untuk situasi yang ia hadapi. Dia adalah pria baek-baek, seorang kepala keluarga yang ingin berikan yang terbaik, sebagaimana dia juga ingin membantu orang lain. MacCaulay adalah jenis pria yang bisa kau jumpai di temapt-tempat umum, kau duduk di dekatnya, dan sama sekali enggak merasa terancam. Akan tetapi, alih-alih seperti Fahri yang ditulis hidup tanpa tuntutan dalam film Ayat-Ayat Cinta 2 (2017), MacCaulay disuntikkan ambiguitas moral ke dalam karakternya. Yang membuat tokoh ini bercela, dan eventually menjadi menarik. Dihadapkan oleh kesulitan finansial, tokoh kita dituntut untuk memilih sesuatu yang bertentangan dengan kompas hidupnya. Uang seratus ribu dolar dapat menjadi miliknya, asalkan dia bisa menemukan seseorang; dan MacCaulay menerima tawaran ini meskipun dia tidak mengetahui pasti apa yang akan terjadi pada seseorang tersebut – mungkin saja dilukai atau dibunuh. Aspek karakternya ini sangat menarik sebab dia tidak lagi hanya seorang pria yang punya kemampuan khusus yang ingin ‘menyelematkan’ keluarganya. Dia adalah pria yang harus memilih antara keluarga atau orang lain. Moralnya lah yang dipertaruhkan di sini.

Uang adalah akar dari semua kejahatan. Film ini menantang kita dengan pertanyaan apa yang akan kita lakukan jika dihadapkan dengan situasi seperti MacCauley; diberikan pilihan untuk menerima uang meskipun kita tahu akan ada pihak yang merugi karenanya, on the other hand kita yang akan rugi jika enggak menerimanya. Ini sudah seperti pilihan antara komersil atau moralitas. Tapi sebenarnya, bukan uanglah yang menyebabkan orang bertindak jahat. Akan tetapi, kecintaan berlebihan terhadap uanglah yang ultimately akan membuat kereta api hidup kita melenceng keluar dari rel.

 

Sebuah penulisan karakter yang menarik, yang membuat kita peduli. Kita ikut merasakan kebutuhannya,  tantangan-tantangan yang menghalangi, sekaligus kita ingin melihat dia melakukan hal yang benar menurut moralnya. Inilah yang membuat film menjadi thriller yang menarik.

Inilah yang menggulingkan bola aksi itu, membuat setiap sekuen aksinya menjadi semakin besar lantaran kita paham akar masalah, apa yang menjadi ‘kelemahan’ dari tokoh utama. Yea, Liam Neeson udah gak muda lagi, melihat dia dipukuli dapat menyebabkan kita meringis kasihan juga. Film ini pada dasarnya adalah sebuah laga, jadi kita bakal melihat banyak adegan-adegan fisikal. By the end of this movie, MacCaulay akan babak belur. Tetapi pukulan itu juga datang dari sisi mental. Dan itu telak sekali. Mid-point film di mana MacCaulay  sudah gabisa mundur lagi, dia musti menemukan orang yang dicari, tapi sekarang untuk menyelamatkannya  adalah bagian film yang terdeliver dengan baik. Bagian yang menarik lainnya adalah ketika MacCaulay actually berkomunikasi dengan para penumpang. Dia harus menanyakan siapa mereka, dengan cara yang enggak menimbulkan kecurigaan kepada dirinya sendiri. Tentu saja ini menjadi tantangan tersendiri. Dia harus mencari bahan percakapan, menghindari supaya enggak awkward karena beberapa dari penumpang yang ia tanyai adalah wanita muda. Menurutku ini adalah ide yang sangat bagus dari sudut pandang thriller. Film ini punya lengkap; Bahaya dari aksi di mana dia bisa mati karena jatuh dari kereta, ataupun dari di mana dia menangani situasi yang canggung menginterogasi orang-orang, tanpa menakuti mereka.

ih, kokmuter

 

Collet-Serra memang meniatkan film sebagai tontonan hiburan. Sekuen-sekuen aksinya benar-benar gede dan berlebihan. Kita akan melihat orang melompat dari gerbong kereta yang mau tergelincir dan hal-hal heboh semacam itu. Beberapa aspek di film ini memang tampak enggak plausible. Enggak mungkin banget terjadi. Segala gerakan MacCaulay dimonitori oleh tokohnya Vera Farmiga, dan sebagai cewek misterius dia mengomandoi semua langkah-langkah berikutnya, seperti orang menggerakkan bidak catur, yang kalo kita pikir-pikir balik timing kejadian-kejadian di film ini amatlah gila-bisa-pas banget. Akan tetapi, Collet-Serra menyelamatkan film ini dari bagian-bagian gak-mungkin tersebut dengan menangani porsi berantem dengan sangat baik. Dalam kereta api ini kita tidak akan menjumpai berantem dengan kamera yang goyang-goyang. Enggak akan kita temui editing yang cepet-cepet. Multiple takes pada film ini dibuat seakan menjadi satu take panjang dengan memanfaatkan sempitnya lokasi. Atmosfer klaustrofobis terasa menguar dalam adegan battle, dan ini membuat kita menjadi sangat greget menontonnya.

 

 

 

While punya tokoh yang menarik, situasi yang memberikan rintangan yang jarang, aksi-aksi bagus dengan pace cepe yang efektif memanfaatkan kondisi, filmnya sendiri enggak benar-benar menantang ataupun memberikan jawaban ataupun sesuatu yang sama sekali baru. Ini adalah thriller yang sangat enjoyable dan tidak pernah dirinya minta dipandang sebagai sesuatu yang lebih dari kata fun. Jadi kita akan menemukan banyak hal yang implausible, yang menurutku adalah kelemahan pada film ini yang mestinya bisa dihindari. Atau dicari rute lain sehingga menjadi lebih mungkin untuk terjadi ataupun dipercaya.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 for THE COMMUTER.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

JIGSAW Review

“If you obey all the rules, you’ll miss all the fun.”

 

 

Kita kadang suka ngeyel kalo dilarang, kalo dikasih aturan-aturan. Di mana asiknya hidup kaku, apa-apa gak boleh. Peraturan kan dibuat untuk dilanggar. Well, coba deh pikir lagi. Prinsip tersebut tidak bakal banyak berguna dalam menyelamatkan nyawa, jika kalian tertangkap dan dipaksa bermain X-Factor maut oleh Jigsaw. Kunci selamat dari jebakan-jebakan maut John Kramer memang sesederhana itu; ikuti aturan – terkadang malah disebutkan harafiah olehnya, dan kalian akan bisa melihat mentari besok pagi. Masalahnya, ngikuti aturan tidak akan pernah sesimpel kedengarannya.

Pengalamanku mengenal film ya dimulai dari nonton film-film berdarah kayak gini. In fact, dulu aku hanya nonton slasher, thriller, horror, aku menikmati adrenalin rush dari ngeliat orang dikejar-kejar oleh monster berparang nan menyeramkan. Aku terhibur sekali melihat tokoh-tokoh bego menemui ajal secara menggenaskan karena ulah tolol mereka sendiri. Dan setelah nemu film Saw yang pertama (2004), aku jadi sadar bahwa film sadis enggak melulu musti bego. Bahwa ada metode di balik kegilaan para pembunuh berantai. ADA PERATURAN YANG MEREKA TAATI. Akar Saw adalah elemen psikologis yang membuat kita berpikir soal apa kesalahan para korban karena kita bisa melihat palu justifikasi yang disandang oleh pelaku. Kenapa mereka pantas berada di sana. Hukuman-hukuman Jigsaw dirancang untuk ‘menyembuhkan’ penyakit para korban – untuk membantu mereka menghapus dosa. Pada film pertama, elemen ini begitu kuat terfokus, dan itulah yang membuatku selalu menantikan sekuel-sekuelnya. Meskipun setelah film yang kedua, franchise Saw semakin melupakan akar psikologis dan malah berubah menjadi ‘torture porn’.

cap cip cup kembang kuncup

 

Seri Saw harusnya sudah berakhir di film ketujuh yang tayang di tahun 2010. I still remember it fondly, itu pertama kalinya aku nonton Saw di bioskop. Dan filmnya memang jelek, terburuk di antara franchise ini kalo boleh kutambahkan. John Kramer – dalang di balik jebakan Saw – sudah lama mati (sejak Saw III) dan setelah itu ceritanya jadi fokus antara persaingan anak-anak murid Kramer. Tujuh tahun setelah itu kita  mendapati lima orang diculik dan diperangkap dalam permainan penuh jebakan maut. Pesan suara dikirim kepada kepolisian, menantang mereka sekaligus ngasih tahu Jigsaw Killer sudah kembali. Siapa di baliknya? Sekedar peniru ataukah Kramer beneran hidup lagi? Aku excited banget duduk nonton film ini, terlebih karena Jigsaw ditangani oleh, tidak hanya satu melainkan dua orang sutradara – Michael dan Peter Spierig – yang sama sekali belum pernah terlibat dalam franchise Saw. Jadi, aku tahu kita bisa mengharapkan pembaruan besar-besaran.

Perubahan yang Spierig Bersaudara lakukan terletak pada gaya film. Jigsaw lebih terlihat LEBIH CINEMATIK  berkat pilihan aspek rasio layar yang mereka pilih. Kesannya lebih serius dibandingkan beberapa sekuel terakhir Saw yang lebih kelihatan seperti serial TV. Tidak lagi kita jumpai editing quick-cut antara jebakan dengan wajah korban. Efek suara aneh dan teriakan over-the-top pun juga dihilangkan di sini. Jebakan-jebakan pada Jigsaw tidak sesadis seri-seri terburuk Saw, makanya semua adegan film ini jadi bisa lolos dari gunting sensor badan perfilman tanah air.

 

“Hello, filmmakers.

I want you to play a game.

Ada penggemar yang suka Saw karena elemen psikologis dan mereka terganggu sama efek darah dan gore yang berlebihan.

Ada penggemar yang totally haus darah dan semakin sadis jebakan, semakin menggelinjang mereka.

Pilihlah dengan bijak”

Begitu kiranya kata boneka badut bersepeda kepada mereka, dan mereka melanjutkan dengan mengambil pilihan yang aman. Film ini enggak benar-benar liar dalam nampilin gore, banyak adegan berdarah namun tidak bikin kita bergidik dan pengen muntah ngeliatnya. Seperti pada film pertama, Jigsaw banyak mengcut dim omen-momen yang tepat dan membiarkan imajinasi kita membayangkan apa potongan paling besar yang tersisa dari tubuh korban. Di lain pihak, film juga tidak kontan kembali ke ranah psikologis. Jigsaw tampak ingin memuaskan kedua golongan penonton, film berusaha mempertahankan sekaligus menyeimbangkan aspek-aspek khas franchise Saw.

Akibatnya, Jigsaw tidak melakukan hal yang benar-benar baru. Film ini ngikutin formula dan ‘aturan’ yang sudah ditetapkan oleh pendahulunya. Kita dapat dua cerita kali ini. Sekelompok detektif yang berusaha mencari tahu siapa pelaku di balik kasus jigsaw yang baru. Dan tentu saja ada sekelompok orang berdosa yang sedang diuji nuraninya, terkurung di suatu tempat. Tokoh-tokoh ini pun generic sekali, kita udah pernah dapet yang serupa. Mereka selalu adalah Si Tenang dan Pintar, Si Clueless, Si Baik Hati, Si Egois, dan Si Paling Nyusahin Mati Aja Lo!

The Deadfast Club

 

Kedua cerita ini, however, akan bertemu di babak ketiga, di mana bakal ada big reveal – twist yang membuat kita “ooh begitu, njir keren banget gak kepikiran!” Inilah yang membuat aku kecewa. Sebab, aturan memang ada untuk dilanggar, ngikutin aturan hanya akan membuat kita melewatkan hal-hal yang menyenangkan. Dalam kasus ini, dengan begitu ngikutin formula, film Jigsaw melewatkan kesempatan melakukan pembaruan yang asyik. Tujuh tahun, dan tetep aja tidak ada alasan menarik atas kembalinya franchise ini, selain studio ingin memperkenalkan ulang Saw.

Aku berharap lebih dari sisi cerita. Aku tidak ngerasa peduli-peduli amat sama lima orang yang tertangkap, ataupun kepada lima polisi yang berusaha melacak Jigsaw. Mereka sebenarnya berjalan paralel, kejutan yang disiapkan oleh film lah yang tidak. Dan dari standpoint kejutan ini, Jigsaw buatku adalah salah satu sekuel yang punya twist jinak dan dapat ditebak. Maksudku, kita sudah dibekali dan belajar dari tujuh film sebelum ini, dan Jigsaw tidak melakukan hal yang baru. So yea, we saw that twist coming. Dan menurutku, twistnya ini hanya bekerja kepada kita para penonton. Jika kita memposisikan diri sebagai salah satu detektif, kita tidak akan melihat hebohnya pengungkapan di akhir. Kita tidak ngerasain apa yang dilakukan oleh si Jigsaw. Yang akan kita tahu hanyalah mayat-mayat ditemukan, dan dari mereka ada petunjuk yang membawa kita ke sarang Jigsaw yang baru. Kita tidak akan ngeliat efek pintar dari dua timeline yang diparalelkan. Jadi memang twistnya lebih terasa seperti menipu. Kita akan merasa “wah, ternyata dia! Bagaimana bisa?!!” lalu terungkap lagi kenyataan setelah false resolution yang bikin kita “oh ternyata enggak”

Mengakui kesalahan itu enggak gampang. Apalagi mengakui orang lain benar, dan kita salah. Perangkap Jigsaw adalah tentang mematuhi aturan, mematuhi mana yang benar. Jangan injak, jangan melarikan diri, jangan tembak – dan orang-orang tetap melakukannya. Jigsaw memperlihatkan kepada kita bahwa di saat nyawa di ujung tanduk pun, kebanyakan orang masih berusaha menentang perintah atau aturan yang diberikan, demikian beratlnya mengaku dosa.

 

 

Untuk sebuah kejutan setelah tujuh tahun, film tidak berubah banyak selain secara gaya penyajian. Aku memang sedikit kecewa, namun juga tidak menyangkal aku terhibur. Ini adalah sajian yang lebih baik daripada kebanyakan sekuel Saw. Tidak lagi dia menjadi fokus ke alat-alat penyiksaan, film ini tidak terlalu sadis, pun tidak terasa begitu psikologikal. Berada di level oke di mana para penggemar beratnya tidak akan keberatan menyukai walaupun filmnya tidak luput dari banyak kritikan, karena toh sejatinya banyak kekurangan dari standpoint cerita. Yang harus diingat cuma satu; tidak ada peraturan baku bahwa kita hanya boleh suka sama film-film bagus. It’s your choice.
The Palace of Wisdom gives 5.5 gold stars out of 10 for JIGSAW.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

GOOD TIME Review

“Bad times don’t last, but bad guys do.”

 

 

Apalah artinya masa-masa sulit. Semuanya akan terasa ringan jika kita hadapi bareng orang yang kita cinta. Jadi, demi melewati semua masa-masa keras tersebut, Connie mengajak adiknya menghabiskan waktu berkualitas bersama dengan merampok bank.

Kedua bersaudara ini sudah semestinya saling menjaga. Namun kemudian, Nick, adik Connie tertangkap saat mereka melarikan diri dari kejaran polisi. Connie dan Nick memang adalah saudara yang sama-sama dibesarkan dalam lingkungan di mana kata panci dan gunting diasosiasikan sebagai kesakitan oleh Nick. Dan Connie lebih yakin dari sekedar positif bahwa adiknya yang mengalami gangguan mental itu tidak akan bertahan di dalam penjara. Tidak semalam pun. Maka Connie melakukan apapun yang dia bisa, dan kita tahu cowok ini enggak akan segan menggali lubang sedalam-dalamnya, untuk mencari uang guna membebaskan Nick.

Kita akan mengikuti petualangan Connie basically secara real time, dari pagi, ke malam, dan ke pagi lagi. Cerita menjadi sangat urgen dan really contained. Kita tidak pernah terlepas dari perpindahan waktu dan segala tindakan, aksi yang terjadi, terasa begitu in-the-moment. Dan cara kamera merekam suasana malam yang ia lalui adalah sangat mengundang kita untuk terus mengintip ke dalam kota itu. Kita akan dapat banyak close ups yang menguatkan ketegangan dan stres yang dialami oleh karakter. Film bisa menjadi seperti sebuah dokumenter karena banyaknya long takes yang digunakan untuk merekam perjalanan, benar-benar terasa real bagaimana kumuh dan kerasnya keadaan malam tersebut. Suasana malam itu berdengung, literally scoring musik akan mengalun ngebuzz memberikan suasana restless yang disturbing. Gaya dan perspektif yang unik dan begitu klop, adegan pembukanya saja sudah begitu kuat ketempel oleh emosi sebagaimana kita melihat Nick menjawab pertanyaan-pertanyaan game dari seorang psikiater.

“Apa lagu favoritmu?” / “Hard Times”

 

Masa sulit membuat kita sering mempertanyakan apa gunanya mencoba. Si bijak Homer Simpsons malah pernah bilang “Pelajarannya adalah, jangan pernah berusaha”. Namun film ini memberikan kita pelajaran yang lain untuk kita petik.  Sesulit-sulitnya hidup, semua itu tidak akan bertahan lama. Hanya persoalan gimana kita memandang, mempercayai, dan menjalankannya. Sekaligus juga film ini memberi kita peringatan, bahwa perbuatan jahat awetnya seumur-umur. Sekali kita menjustifikasi satu perbuatan miring yang kita lakukan, tak sulit lagi bagi kita untuk mengambil tindakan salah berikutnya – dan kemudian kembali menganggapnya benar.

 

Berkebalikan dengan hidup, dalam dunia sinema justru bad films last, dan bad acting tidak mesti bertahan. Robert Pattinson dan para aktor Twilight (2008) adalah contoh hidupnya. Di saat kejelekan Twilight akan tetap abadi kayak vampire-vampire pengisinya, karir para pemainnya toh masih bisa berkembang menjadi lebih baik. Di semester awal tahun 2017, kita sudah melihat penampilan terbaik dari Kristen Stewart dalam Personal Shopper. Dan dalam Good Time, di mana dia berperan sebagai Connie si total a-hole, Robert Pattinson gak mau kalah, dia pun menyuguhkan permainan akting yang sangat ngegrunge, dia menyelam sempurna ke dalam karakter. Ini benar adalah performa terbaik yang pernah Pattinson tampilkan kepada kita.

Penampilan yang sangat unhinged ditambah penulisan karakter yang teramat nekad menghasilkan sebuah FILM YANG BENAR-BENAR LANCANG. Tidak ada kualitas baik dari dalam pribadi Connie. Dia melakukan hal yang kurang ajar. Dia mengatakan hal-hal yang so politically incorrect, yang enggak semua orang berani mengatakannya di dalam film, terlebih di dunia nyata. Satu-satunya hal yang bisa membuat kita sedikit simpatik adalah kecintaannya terhadap sang adik. Dan film ini paham, itu sudah cukup. Dalam dunia film ini, kehidupan jalanan yang keras, para kriminal itu setidaknya ingin melakukan sesuatu yang baik buat satu orang, sekali saja. Kita melihat mereka saling bantu, jika diperlukan. Tapi tidak pernah terlalu ramah untuk menjadi satu kesatuan pembela kebenaran moral. Mereka hanya punya pemahaman, dan mereka melakukan apa yang harus mereka lakukan.

Benny dan Josh Safdie, dua bersaudara yang menulis sekaligus menyutradarai film ini, menyetir cerita ke arah yang jauh sekali dari keHollywood-Hollywoodan. Enggak bakal ketemu deh adegan pemanis di mana tokoh utamanya menjadi pahlawan. Good Time adalah versi lain dari Hell or High Water (2016). Actually, Benny ikutan bermain, dia berperan sebagai Nick yang mengalami cacat mental. Dia bermain sama kerennya dengan dia mengepalai film ini. Adegan pembuka berhasil membuka mata kita, membuat kita sangat tertarik. Ketika Nick ditanyai oleh psikiater, kita bisa melihat pertanyaan-pertanyaan tersebut mengganggunya. Kepedihan tertampang jelas di ekspresi diamnya, kita bisa ngerasain. Kita paham dia benci hidupnya, dia benci duduk di sana, ditanyain, dipaksa mengingat masa lalu. Rasa ingin melihat Nick dan Connie berhasil tak tertangkap dan sukses memulai hidup baru dalam diri kita datang dari sini.

oke jadi sudah jelas kan ini bukan film tentang biskuit chocochips

 

Babak pertama film ini praktisnya dapat kita sebut sebagai kesempurnaan. Tone, karakter, style, semua disetup dengan sungguh menarik. Menurutku film ini fresh banget, serta extremely surprising. Namun di bagian tengah, ketika Connie menumpang di rumah orang untuk beberapa waktu, pacenya agak melambat. Kita akan gak sabar menanti cerita untuk bergerak lagi. Terkadang, film memang sengaja memperlambat tempo. Mereka mempersembahkan karakter baru, dan membiarkan si tokoh ini bercerita tentang apa yang terjadi kepada dirinya, supaya kita bisa sedikit tertarik. Esensinya sih, film ingin memperlihatkan paralelnya tokoh ini dengan Connie sehubungan dengan ‘good times’ yang mereka lalui.

 

 

Oleh Benny dan Josh, film ini menjelma menjadi sesuatu yang bisa kita nikmati sambil duduk santai, kerja kameranya teramat impresif, padahal kita enggak sungguh-sungguh enjoy sama apa yang kita lihat di layar. Misalnya, satu adegan ciuman yang luar biasa cringe-worthy itu. Kita tidak lagi melihat aktor bermain peran di sini, yang kita lihat adalah kriminal-kriminal beneran yang melakukan hal-hal filthy. Kenekatan menampilan tindakan gross senyata ini tak pelak adalah kenekatan yang semestinya mendapat respek. Aku angkat topi buat filmmakers dan para aktor yang melakukannya. Ini udah sukses jadi salah satu thriller urban favoritku. Pastilah salah satu waktu yang baik ketika kita menontonnya, dan impresinya dijamin bertahan lama.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for GOOD TIME.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are loser.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

WIND RIVER Review

“Nothing burns like the cold.”

 

 

Kuda dan hewan ternak di pegunungan bersalju kawasan reservasi pribumi Amerika pada tewas dimangsa oleh hewan-hewan liar. Serigala. Oke, masih mending. Singa gunung. Well, now there’s a problem. Orang-orang pada umumnya gak mau berurusan dengan singa, Cory Lambert malah memburu kucing gede itu dengan motor salju dan senapan. Sebab itulah pekerjaan mantan pemburu tersebut, dia mengurusin masalah hewan liar yang mengganggu kedamaian ternak di sana. Saat melacak jejak singa di padang salju, Cory menemukan jejak lain yang mengawalnya ke mayat cewek Indian remaja. Tempat dan kondisi yang sangat mengenaskan untuk beristirahat selamanya; paru-paru meledak, telapak kakinya yang tanpa sepatu biru membeku.

Jelas bagi Cory, ada predator lain yang lebih berbahaya yang harus ia buru.

 

Sebuah misteri pembunuhan, akan tetapi sesungguhnya Wind River adalah cerita yang sangat manusiawi yang punya bobot dan hook lebih dari sekadar siapa sih pelakunya. Sedari bait-bait puisi yang menjadi narasi mulai bisa kita dengar, setiap dimensi cerita yang dimiliki oleh film ini penuh oleh simbolisme. Wind River melengkapi trilogi bertema pria yang berada di dua sisi hukum buah tangan penulis skenario Taylor Sheridan. Dan kali ini, tidak seperti Sicario (2015), dan Hell or High Water (2016), Sheridan mengomandoi sendiri skenario yang ia tulis. Nulis dan jadi sutradara itu beda banget, enggak banyak yang bisa cakap pada kedua bidang sekaligus. Untungnya bagi Taylor Sheridan, dia sudah berpikir layaknya sutradara dalam setiap skenario yang ia buat. Dia punya pandangan luas tentang keadaan masyarakat, apa-apa yang menjadi salah dalam pandangan khalayak, dan hal tersebutlah yang diekspresikan olehnya. Dan hal tersebut bukan sekadar justifikasi tindakan moral yang lantang ketimbang menohok, Sheridan membuat cerita yang ditulis (dan kali ini digarapnya) menghantui layaknya puisi.

Dialog-dialog mengalir dengan brutal. Sementara di belakangnya, visual dan lingkungan tergambarkan persis seperti salju putih itu; DINGIN DAN SUNYI. Para aktor penampil mendapat arahan yang sangat baik, semua orang di sini tampak berada di puncak penampilan aktingnya masing-masing. Jeremy Renner menghilang ke dalam perannya sebagai Cory. Dia berurusan dengan masa lalu yang pahit – dia juga kehilangan anak perempuan – dan hal tersebut menjadi jembatan baginya untuk terkoneksi dengan warga-warga lokal di daerah tersebut. Terutama kepada ayah mayat cewek yang ia temukan, yang diperankan dengan sama fantastisnya oleh Gil Birmingham. Martin akan bikin kita terenyuh, ini adalah karakter yang penuh bukan saja oleh duka nestapa, melainkan juga oleh amarah, lantaran perlakuan yang didapat oleh keluarga dari pemerintah. Dan ultimately oleh dunia. Konflik yang dihadapi oleh Martin dan Cory sangat paralel, setiap adegan yang melibatkan mereka berdua saling curhat dan menghibur – dengan cara dingin film ini – adalah adegan yang kuat dan sangat menyentuh.

aku punya perasaan tak terjelaskan bahwa nama Indian si Cory ini adalah Hawkeye.

 

Wind River adalah salah satu dari sedikit film yang berhasil menjadikan lokasi sebagai karakter tersendiri. Kota yang diambil dari kota beneran, lengkap dengan masalah beneran di Amerika, punya peran yang penting di dalam cerita. Kota tersebut mempengaruhi penduduk yang tinggal di sana. Ada kegelapan, hypothetically, yang timbul dari kota yang dirasakan oleh penduduknya. Film benar-benar menangkap hal tersebut. Cory dan penduduk Indian lain stak di sini, di kota yang hanya ada salju dan tak banyak yang bisa dilakukan, dan mereka juga nyaris tidak dipedulikan oleh pemerintah. Ada banyak poin yang nunjukin susyenya birokrasi penyelidikan kasus, yang menunjukkan betapa tak-adil perlakuan yang penduduk kota ini dapatkan. Teks di akhir film literally bikin aku speechless, fakta dan kebenaran itu memang menyeramkan.

Apa persamaan antara salju, duka, dan menjadi Indian di tanah reservasi Wyoming? Sama-sama dingin dan sunyi. Itulah yang dirasakan oleh Cory dan penduduk Wind River. Mereka terpaksa tinggal di tempat yang dicuekin oleh pemerintah, oleh dunia, dan mereka tak bisa melakukan apa-apa selain menerimanya saja. Seperti menelan duka kehilangan. Kita terus mengingat orang yang telah meninggalkan kita, walau pahit, hanya karena kita enggak mau kehilangan kenangan dan hal-hal bahagia bersamanya. Dalam perkembangan diri, demi survival, Cory tahu Wind River adalah tempat yang memohon ada kejadian terjadi kepadanya, meski buruk, thus Cory will hunt them. Sebab tak ada lain yang bisa dilakukan Cory sebagai pemburu, dan batasan buruk bagi dirinya terpampang di kalimat “Singa harus berburu, tapi tidak pada ternak.”

 

Untuk mewakili penonton, film memasang tokoh Jane, si FBI cewek, yang dikirim untuk menangani kasus. Tokoh yang diperankan Elizabeth Olsen ini adalah orang dari luar kota. Saat datang pertama kali, Jane malah ‘salah kostum’. Pakaian yang ia bawa tidak ada yang mampu membuatnya bertahan hidup di cuaca sedingin Wind River. Bersama Jane kita akan belajar banyak atas apa yang terjadi pada kota dan bagaimana kota tersebut mempengaruhi penduduk. Biasanya, karakter kayak gini digambarkan oleh film-film sebagai tokoh yang lemah, dia mendapat banyak bantuan. Tak nutup kemungkinan juga tokoh yang annoying, dia akan banyak nanya-nanya dan dalam keadaan tak mengerti yang konstan. Jane, memang, banyak bertanya dan dia jujur-jujur bilang butuh bantuan kepada Cory. Kemampuan melacak Cory superior daripada yang ia punya. Tetapi Jane bukanlah karakter yang lemah. Dia tidak perlu diselamatkan setiap sepuluh menit sekali. In fact, dia membuat banyak pilihan. Dan, oh boy, dia benar-benar mengambil tindakan.

Untuk begitu lama, film ini mempersembahkan diri sebagai drama. Karena memang ini bukan film aksi. Namun, menjelang akhir, orang-orang berguguran, kejadian menjadi menegangkan. Kelanjutannya bahkan lebih brutal dan intens lagi. Porsi aksinya dibangun dengan cara yang sangat keren, sekitar sepuluh orang bersenjata berdiri siap menembak, stand-off tersebut tergambar dengan cara yang keren dan bikin kita gigit jari sambil melempar pandangan mata ke kanan dan ke kiri. Kita enggak yakin kelompok mana yang lebih terintimidasi, kita harap-harap cemas mana yang salah langkah duluan, yang menarik pelatuk duluan. Semua yang terlibat sama-sama takut, dan di momen krusial tersebut Jane mengambil tindakan. Adegan yang sangat memuaskan yang hanya bisa ditandingi oleh kejadian di babak terakhir di puncak gunung. Aku gak mau spoiler tentang adegan ini, karena perasaan cathartic yang kualami saat melihatnya sungguh-sungguh melegakan, super tegang namun puas secara emosi.

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.  Wind River begitu sadis menangkap bagaimana sebuah tempat, lokasi yang dipaksakan untuk lama ditinggali oleh kita, dapat mendikte pandangan kita terhadap keseluruhan dunia. Membuat kita terkurung, mencegah kita berkembang ataupun melakukan hal-hal yang lebih selain bertahan hidup.

 

 

 

Tak pelak, film yang mengangkat masalah dunia nyata ini penting untuk ditonton. Taylor Sheridan menangkap sesuatu yang lebih putus asa, yang lebih gede dari kriminal biasa, dan itu adalah tentang keserampangan hidup manusia yang disebabkan oleh keadaan emosional yang mengurung. Duka adalah tempat paling sepi untuk tinggal, namun terkadang kita harus tetap tinggal di sana. Seperti orang-orang di reservasi Indian yang tak bisa pindah. Dalam film ini disebutkan teori forensik tentang seberapa cepat dingin dapat membunuh orang, well, dalam lapisan terdalamnya film berkata tentang seberapa cepat dinginnya perlakuan dapat membuat orang melakukan hal-hal yang di bawah derajat moral.
The Palace of Wisdom gives 8 gold stars out of 10 for WIND RIVER.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

BABY DRIVER Review

“Music plays the melody of our being.”

 

 

Apa soundtrack hidupmu hari ini? Well, yea, oke, kalimat tersebut terdengar cheesy, tapi memang kita sering mendengarkan musik buat mengamplify apa yang sedang kita rasakan. Banyak orang menggunakan musik sebagai cara ‘melarikan diri’ dari kehidupan yang membosankan. Misalnya ketika lagi disuruh nyapu rumah, kita ngerjainnya sambil dengerin musik rock supaya menjadi lebih menarik dan kita bisa ngayal jadi Slash – ngejrengin sapu seolah benda itu adalah gitar. Kita merelasikan emosi terhadap musik, bahkan terkadang kita bertindak sesuai iramanya. Musik entrance pemain WWE yang kita dengar mengiringi kedatangan mereka itu bukan sekadar hiburan, melainkan juga sarana untuk menguatkan karakter. Maka tak jarang superstar berjalan ke atas ring dengan gerakan yang selaraskan dengan hentakan musik. Satu hal lagi yang sering dilakukan orang kalo lagi punya perasaan yang membuat mereka ingin ‘melarikan diri’ adalah ngebut di jalanan. Jadi, begitulah film Baby Driver menemukan jalannya masuk menjadi sangat dekat dengan kita semua. Melalui musik yang keren dan adegan kebut-kebutan yang seru!

coba deh sesekali ngebut sambil dengerin lagu anak-anak jadul Aku Cinta Rupiah

 

Film terbaru dari salah satu sutradara favoritku ini adalah cerita tentang seorang cowok yang noleh kalo dipanggil Baby. Hobinya cukup aneh. Bukan hanya selalu mendengarkan musik yang ia dengar melalui ipodnya, Baby juga suka merekam percakapan orang-orang dan mengubah potongan-potongan dialog tersebut menjadi semacam mix tape untuk ia dengarkan di kemudian hari. Rekan kerjanya pada heran ngeliat Baby yang jarang bicara dan lebih suka menghentak-hentak asik sendiri dengan earphone senantiasa di telinga. “Is he slow?” tokoh Jamie Foxx meledek seolah Baby mengalami keterbelakangan mental. Namun, jika ada satu yang tidak bisa dilakukan Baby, maka itu adalah pelan-pelan. Gini, Jamie Foxx dan ‘rekan kerja’ Baby sebenarnya adalah perampok elit, Bos mereka adalah Kevin Spacey, dan kerjaan Baby adalah sebagai supir yang menghantarkan para perampok itu pulang ke markas dengan selamat.  Baby kerja begini demi melunasi hutangnya kepada si bos. Hanya tinggal satu perampokan lagi sebelum utang tersebut lunas, akan tetapi berkat kefantastisan kecepatan dan teknik mengemudi Baby yang seng ada lawan, tidak semudah itu bagi dirinya untuk minta berhenti dari pekerjaan.

Baby is the best at what he does. Ngebut sambil mengapresiasi musik dengan caranya sendiri. Dari kekerenan apa yang dilakukan oleh Baby, perlahan akan terungkap bahwa itu adalah caranya mengekspresikan his vulnerability. Musik dan ngebut adalah cara Baby ‘mengalahkan’ trauma masa kecil yang masih terus menghantui. Dua hal tersebut juga jadi jalan buat Baby menenggelamkan rasa bersalah atas pekerjaan yang enggak disetujui oleh hatinya. Baby ingin memberi arti kepada kenyataan yang ia hadapi. Namun, dalam setiap belokan, Baby – dan juga kita – diingatkan bahwa  ada hal yang tak bisa kita lari darinya. Bahwa selalu ada ujung di setiap jalan gak peduli betapa lihainya kita mengemudikan hidup.

 

Edgar Wright, lewat film ini membuktikan, bahwa ia juga adalah the best at what he does. Banyak kritik yang menyebut karya-karya sutradara ini masih terlalu memikirkan gaya. Dan kata-kata tersebut benar. Namun aku enggak setuju untuk menyebutnya sebagai kritik. Karena menurutku, gaya adalah salah satu faktor penting yang harus terus diasah oleh pembuat film supaya film mereka kentara perbedaannya dengan film-film karya orang lain. Bayangkan kalo semua film style berceritanya seragam gitu-gitu mulu, pasti kita yang nonton lama-lama bakal bosen ke bioskop. Setiap karya Edgar Wright selalu insanely kocak serta punya pace yang extremely cepet dengan editing yang sangat precise. Ketika kita nonton Baby Driver, walaupun jika kita belum tahu ini dibuat oleh Wright,  atau bahkan kita hanya nonton sepotong adegan acak, kita akan langsung spontan tahu bahwa aksi kebut-kebutan kriminal ini dibuat olehnya. Sebab arahan Edgar Wright sangat spesial, tidak ada filmmaker lain yang menangani adegan per adegan seperti yang ia lakukan.

Tidak ada pengadeganan yang membosankan. Babak satu film ini – dan ini tidak berlebihan – adalah kesempurnaan dalam filmmaking. Sekuen kejar-kejaran mobilnya adalah yang terbaik yang bisa kita minta ke mbak-mbak penjaga tiket. Hebatnya, semua stunt dahsyat itu tampak benar-benar bisa dilakukan di dunia nyata, meskipun memang ada sebagian kecil yang memanfaatkan teknologi grafik komputer.

Tidak seperti pada Atomic Blonde (2017) yang musiknya malah terdengar menerobos dan enggak benar-benar paralel terhadap film, penggunaan musik dalam Baby Driver teramat sangat integral sama narasi. Musik adalah bagian penting dalam penokohan Baby. In a way, kita bisa bilang bahwa ini adalah film SETENGAH-MUSIKAL sebab gedenya pengaruh elemen musik. Lagu-lagu asik tersebut disulam sempurna, diedit dengan sangat precise sebagai bagian dari adegan. Pada bagian awal film, ada satu adegan panjang yang diambil gak-putus di mana Baby pergi beli kopi dan dia ngelip-sync lagu yang ia dengar sepanjang jalan; adegan yang sangat menyenangkan dan bakal bikin kita melotot lantaran Edgar Wright juga sangat visual dalam bercerita. Perhatiin deh gambar graffiti yang dilewati oleh Baby. Ataupun pada adegan ending, Wright memutuskan untuk mengakhiri cerita dengan nada yang sedikit ambigu, dan clue-clue pada layar dapat membantu kita untuk sampai ada kesimpulan bagaimana menurut kita masing-masing kelanjutan kisah romansa Baby.

Ya, kisah cinta adalah salah satu elemen besar di sini. Setelah babak pertama yang luar biasa exciting, film sempat ngerem dikit demi membangun romance antara Baby dengan waitress kece yang juga demen mendengar musik. Relationship mereka tampak cute banget. Dari hubungan Baby dengan Debora ini bisa aja menimbulkan tren pacaran baru di dunia kita; duduk mesra sambil nyari lagu-lagu yang ada nama pacar masing-masing. Hihihi, so sweet yaa.. Anyway, yang bernama Howuo pasti juara, dan nama Arya menangnya saat absensi kelas doang hhuuff..

 

Debora mirip banget yaa sama Shelly yang di serial Twin Peaks

 

Sekalipun sangat kuat dalam gaya, namun Edgar Wright tidak pernah melupakan substanti pada setiap ceritanya. Penulisan Baby Driver sangatlah on-point. Strukturnya berhasil memberikan banyak kepada Baby meskipun tokoh utama kita ini hanyalah semacam orang suruhan yang tidak mau berada di sana. I mean, Baby kebanyakan bereaksi ketimbang beraksi – sesuatu yang kebalikan dari rumus tokoh utama –  tetapi film masih mampu mengolahnya sehingga senantiasa menarik. Baby adalah karakter unik yang sangat menarik. Ada adegan menarik ketika tokoh Jamie Foxx kesel atas kurangnya perhatian yang diberikan Baby kepada rencana perampokan mereka. Baby asik dengerin musik. He was like, Boss I don’t trust him, he’s not paying attention. Nanggepin protes ini, Kevin Spacey dengan bangganya menyuruh Baby mengulang rencana tadi, dan Baby dengan lancar banget menjelaskan ulang semuanya. Pada babak ketigalah, karakter Baby mekar sempurna. Dia memilih jalan hidupnya sendiri, dan naskah to some extent terus memberi rintangan. Kita dapat banyak sekali sekuens aksi yang sangat menakjubkan di babak ini sampai-sampai kita melihat Baby harus melakukan pekerjaan terbaiknya, yaitu ngebut, tanpa mobil. Nah lo!

Jamie Foxx yang so sly and badass, Kevin Spacey yang bisa ngomong begitu cepat tanpa meninggalkan satu ekspresi pun di belakang, Jon Hamm yang mampu mengembangkan karakter dari sepenggal dialog backstory, Lily James yang namanya ngeri banget gabungan orangtua Harry Potter, ini adalah jajaran cast tidak bisa membuat film menjadi buruk – malahan menjadi semakin menghibur. Yang membuatku khawatir memang cuma Ansel Elgort seorang. Sebab biasanya dia main di film-film adaptasi novel young adult, dan dia enggak pernah benar-benar stand out. Perannya sebagai Baby adalah peran yang enggak kita sangka bakal ditujukan buat dirinya. Setelah menonton ini, aku membuang kekhawatiranku ke luar jendela. Ansel Elgort bermain sangat baik dalam adegan-adegan aksi, juga di bagian yang lebih intens. Karakternya yang pendiam, dan dalam diamnya terluka secara psikologis dapet banget dimainkan oleh Elgort. Menurutku dia lebih cocok berperan di film-film seperti ini.

Ketika aku nulis babak kedua lebih lambat dibanding babak pertama, maka itu sebagian besar lebih disebabkan oleh bagian romance yang kurang masuk dibandingkan oleh minimnya porsi aksi. Aku enggak mampu terinvest banyak kepada elemen relationship mereka karena I didn’t find development tokoh Debora benar-benar kuat dan esensial. Kenalan dan percakapan mereka manis tapi terasa abrupt. Terasa cepat dan kurang dalem. Dalam makna, sepertinya hidup Baby mudah diarahkan begitu aja oleh keinginan Debora. Cewek ini juga mudah terbawa gitu aja, padahal situasinya mengancam nyawa. Entah ini lantaran karakternya dibuat cinta mati ama Baby atau film memang kepengen ngebuild cinta mereka seolah fantasi sehingga bisa bekerja membangun ending yang ambigu tadi.

 

 

Setengah musikal, setengah kejar-kejaran mobil yang sangat intens dan menakjubkan. Penulisannya sangat on-point. Babak kedua di bagian romance adalah bagian yang paling lemah dalam film ini. Di luar itu, menonton ini adalah perjalanan yang sangat seru. Musik asik yang keras, mobil keren yang ngebut, fast and loud, this movie is a total blast! Edgar Wright directs the shit out of this movie. Kocaknya juga khas banget, bagi yang suka karyanya yang terdahulu, pasti bakal merasa seperti pulang ke rumah. Kita akan merasakan ketertarikan emosional yang kuat sama seperti Baby terattach dan menjadikan lagu-lagu itu sebagai pengisi hidupnya.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for BABY DRIVER.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

THE HITMAN’S BODYGUARD Review

“Blaming others is nothing more than excusing yourself.”

 

 

Samuel L. Jackson adalah pembunuh bayaran ternama yang kemampuan dan kelihaiannya membunuh orang-orang dunia hitam tidak perlu diragukan lagi. Ryan Reynolds adalah bodyguard kelas kakap (Level Top-A, seperti yang biasa ia ingatkan kepada dirinya sendiri) yang selalu sukses mengawal bos-bos berkantong tebel. Dan The Hitman’s Bodyguard adalah komedi aksi dengan gimmick klasik yang berhasil dieksekusi dengan baik; Alih-alih diadu, Jackson’s Kincaid malah dipasangkan dengan Reynolds’ Bryce dalam sebuah misi escort di mana si bodyguard harus mengawal si hitman – sepanjang jalan mereka diberondong peluru – memastikan Kincaid sampe dengan selamat di pengadilan sehingga dia bisa memberikan kesaksian untuk memenjarakan seorang diktator kejam yang dimainkan oleh Gary Oldman.

Mana pekerjaan yang lebih mulia; membunuhi orang-orang jahat atau malah melindungi mereka. In a way, konsep film ini mirip dengan Death Note (2017). Apakah kita punya kuasa untuk menegakkan hukum sendiri, atau memang lebih baik membiarkan hukum dan segala prosedurnya mendirikan kebenaran.

 

Practically, The Hitman’s Bodyguard adalah REYNOLDS DAN JACKSON SHOW. Chemistry komedi kedua aktor kawakan ini luar biasa natural. Menghibur sekali melihat Bryce dan Kincaid saling ‘menghina’. Ryan Reynolds tampil prima, perannya di sini lebih sebagai reactor dari tek-tok komedi mereka. Samuel L. Jackson, however, seperti all-around player dan jika Goku di Dragon Ball punya wujud Super Saiya, maka Jackson dalam film sudah total dalam wujud ‘motherf*cker’ yang benar-benar entertaining dan tak-terkalahkan. Aku paling ngakak di adegan Kincaid bernyanyi di dalam mobil, and it’s pissing Bryce off, sehingga Bryce juga tau-tau nyanyiin lagu I Saw the Signnya Ace of Base. Momen yang sangat kocak. Tipisnya penokohan masing-masing terbukti bukan alasan buat mereka untuk gak tampil maksimal. Terutama bagi Ryan Reynolds, yang tampaknya either masih belum cukup dengan Deadpool atau gak mau kalah sama Ryan satu lagi yang sukses dengan komedi aksi The Nice Guys (2016), dan ingin ngepush komedik deliverynya lebih jauh lagi. Jackson dan Reynolds terlihat seperti memainkan diri mereka sendiri dalam tone yang komikal, dan inilah yang membuat cerita lawan-jadi-teman mereka begitu menarik perhatian.

you give motherf*cker a bad name

 

 

Akan ada banyak adegan kejar-kejaran. Kincaid dan Bryce entah berapa kali diudak-udak sambil terus ditembaki. Banyak dari adegan tersebut akan membuat kita melupakan sejenak bahwa ini adalah cerita yang nyaris dua jam. Dan sebagian besar sebabnya adalah arahan yang diberikan oleh Patrick Hughes. Dibandingkan dengan saat menangani aksi dalam The Expendables 3 (2014), sekuens aksi Hughes mengalami banyak peningkatan. Ketergantungan terhadap CGI ia kurangi sedikit, sehingga membuat kejadian-kejadian dalam film ini lebih mudah dipercaya. Walau tetap saja fairly ridiculous dengan jumlah ledakan. Tapi paling enggak, kali ini setiap bagian aksi diedit dengan leboh baik. Menjelang babak ketiga, ada sekuen aksi yang hebat ketika Bryce harus berhadapan satu lawan satu dengan salah satu orang suruhan Gary Oldman. Bryce harus menggunakan berbagai macam benda yang bisa ia temukan dalam toko peralatan bangunan tersebut, seperti aksi-aksi pada film Jacky Chan. It was a lot of fun, sama seperti kata yang kita gunakan untuk menggambarkan film ini secara keseluruhan.

Ketika kita berpikir kita sudah mengusahakan sebaik mungkin apa yang bisa kita upayakan, kita sudah memperhitungkan segala kemungkinan gagal dan sebagainya, kita sudah mempersiapk diri. Kita kira kita sudah memikirkan semua, dan sesuatu yang kita usahakan tersebut turns out gagal karena ada satu hal di luar perkiraan, maka kita akan kecewa bukan kepalang. Ngamuk, bahkan lebih parah, kita bisa depresi. Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang insecure, jadi kita ingin meyakinkan diri bahwa kita sudah memegang kendali. Makanya, sesuatu kegagalan yang di luar perkiraan, akan membuat kita ingin ada yang dipersalahkan. Tapi kita tidak akan menyalahkan diri sendiri, kita terlalu bangga atas diri. Kita berbalik menyalahkan orang lain.

 

Nyaris di setiap kesempatan, film ini akan berbelok ke arah kekonyolan. Hal terbaik yang datang dari sana adalah Salma Hayek yang berperan singkat sebagai istri Kincaid. Tokoh ini dipenjara terpisah, dan ia jadi motivasi dari tindakan ‘baik’ yang dilakukan oleh Kincaid. Sendirinya, tokoh Salma Hayek ini bersikeras enggak bersalah, namun jika kita lihat sikapnya yang ngebos, terlebih di adegan flashback ketika Kincaid bercerita tentang bagaimana dia pertama kali bertemu dengan sang Istri, kita tahu lebih baik bahwa mestinya cewek ini memang dipenjara. Naskah selalu menemukan cara untuk ngebanyol dengan apa yang dilakukan oeh tokoh ini. I mean, the stuff they do with her character, maannn.. sehingga meskipun screentimenya memang gak banyak, Salma Hayek sukses berat mencuri perhatian. Dan menurutku, adalah keputusan yang baik untuk enggak sering-sering amat resorting ke tokoh ini, lantaran she’s actually sangat kocak tapi bakal jadi annoying jika kebanyakan.

relationship Kincaid dan istrinya membuktikan bahwa benar, love hurts. Menyakiti orang lain, tepatnya

 

Terutama jika kita melihat gambar besar keseluruhan cerita. The Hitman’s Bodyguard pada lapisan terluarnya bicara tentang kasus otoritas penguasa, di mana tokoh yang diperankan oleh Gary Oldman didakwa sudah membunuh warga negaranya sendiri. Seharusnya ini adalah tema yang sangat kelam. Namun narasinya berkembang dalam arahan yang hilarious. Ini membuat film terasa enggak imbang. Kit akan terombang ambing antara komedi absurd ke action yang enggak kalah absurdnya, terus ke elemen yang lebih kelam ketika film membahas topik penjahat utama. Rasanya enggak klop aja. Kasus yang mereka tangani itu terlihat berada di ranah yang berbeda dengan aspek-aspek film yang lain. Gary Oldman memainkan penjahat klasik yang kayak ditarik dari film action yang lain. Beneran deh, lima-belas menit terakhir film, yang bagian courtroom itu, lebih terasa kayak extended ending dibandingkan konklusi beneran. Seolah ada dua penyelesaian; aksi dan komedi yang ringan dan plot tragis soal racial dan politik. Dan penulisan antara kedua aspek itu enggak pernah benar-benar seimbang.

 

 

 

Perfectly enjoyable action comedy. Kali ini kerja sutradara bagus banget mengarahkan bagian aksi sehingga kita enjoy menonton ini. Komedinya yang konyol namun kocak juga bekerja dengan baik, para aktor ngedeliver line dan timing mereka tanpa cela. Fokusnya ada di hubungan yang terjalin antara dua karakter yamg berlawanan dan aksi kejar-kejar yang dibikin sebelievable mungkin. Penulisan ceritanyalah yang sedikit tidak berimbang. Tapi sepertinya, hal tersebut tidak akan menjadi masalah buat sebagian besar penonton.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for THE HITMAN’S BODYGUARD.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

DEATH NOTE Review

“I’m for truth, no matter who tells it. I’m for justice, no matter who it’s for or against.”

 

 

Sebagai seorang full-pledged nerd ada tiga hal yang kuidam-idamkan di dunia ini; surat undangan masuk Hogswart, kostum Iron Man, dan buku Death Note. Tapi kutebak, setiap dari kita pasti pernah berada di dark place of our live sehingga begitu pengen punya Death Note supaya bisa menghapus ‘masalah’ dengan gampangnya. Konsep seseorang bisa membunuh orang lain semaunya, hanya dengan mengetahui nama dan wajah diolah ke dalam perang prinsip dan mental yang sangat menantang pikiran. Aku enggak ngikutin anime ataupun manganya, but I do nonton adaptasi orisinal Jepang yang tayang tahun 2006, dan aku ngefan berat sama film tersebut. Mengenai adaptasi Amerika yang tayang di Netflix ini, aku excited sekaligus ngeri. Aku menganut kepercayaan bahwa adaptasi adalah interpretasi, demi kreativitas dan penyesuaian, sudah sebaiknya adaptasi berbeda dari source materialnya. Tapinya lagi, aku ngeri film ini jadi beda banget hingga hancur seperti Dragonball: Evolution (2009).

Anime adalah media entertainmen yang paling sering disepelekan oleh penonton. Kita kalah keren deh di depan cewek kalo ngaku suka anime, dibandingkan kalo kita bilang suka film action. Padahal anime punya pengaruh yang sangat gede buat perfilman dunia, apalagi perfilman Amerika. The Matrix aja berkiblat ke Ghost in the Shell. Maka, ketika anime-anime itu disadur ke layar lebar, mereka akan mendapat penyesuaian supaya ide cerita dan konsep yang menarik dapat diterima oleh masyarakat yang lebih luas. Jadi, ya aku mengerti serta sudah mengharapkan bakal menjumpai banyak perubahan; latar, peatau mungkin sudut pandang, antara Death Note versi Netflix dengan versi orisinalnya.

Cowok SMA jenius bernama Light Turner (versi Light yang lebih ‘cengeng’ dimainkan oleh Nat Wolff) memungut buku hitam yang jatuh bersama air hujan dari langit. Buku yang bisa membunuh siapapun yang namanya tertulis di sana. Light lantas disapa oleh Shinigami Ryuk si empunya buku. Ryuk (suara Willem Dafoe adalah salah satu hal terbaik di sini) menggebah Light untuk menggunakan kemampuan buku ajaib tersebut demi ‘kebaikan’. Dengan kemampuan ini, Light eventually menjelma menjadi persona yang dikenal orang sebagai Kira; anonim yang membunuhi penjahat-penjahat tak tersentuh hukum di seluruh dunia. Kira boleh saja dipuja sebagai dewa, namun pembunuhan tetaplah pembunuhan. Seorang detektif muda yang sangat brilian muncul dan menangani kasus Kira. Dan mind games kucing-kucingan di antara Kira melawan L (Lakeith Stanfield sebagian besar memainkan mannerism eksentrik tokoh ini) pun dimulai.

Setiap orang yang berpikir benar akan melakukan tindakan yang benar. Implikasi di balik cerita buku yang bisa membunuh orang dengan hanya menuliskan nama sambil mengingat rupa si target sesungguhnya adalah bahan pemikiran yang benar-benar menarik. Kira dan L sama-sama berjuang demi kebenaran. Tapi kebenaran yang mana? Masing-masing percaya bahwa kebenaran versinya lah yang hakiki. Tidak ada hitam dan putih di dunia yang penuh oleh orang-orang jahat.

 

Sukurnya, film ini enggak separah Dragonball: Evolution. Kita bisa merasakan usaha dari sutradara Adam Wingard, ia tidak sekadar memasukkan elemen-elemen signature Death Note ke dalam satu jam empat puluh menit. Film ini masih kompeten meski memang beberapa pilihan style, artistik, juga musik terasa aneh dan benar-benar di luar karakteristik cerita yang dark seperti begini.  Aku mengerti mereka ingin membawa cerita yang kompleks ini menjadi lebih ramah buat ke pasar Amerika. Oleh karena itu, pilihan castingnya bisa dimaklumi. Sayangnya, pengertian lebih ramah buat pasar Amerika itu berarti  menyederhanakan sehingga malah merubah drastis beberapa hal yang justru adalah kekuatan dari konsep Death Note.

Light merancang episode Final Destination

 

 

Perbedaan yang bisa langsung kita dengar adalah Death Note kali ini SANGAT ‘RIBUT’. Menjelang akhir  banyak sekuens kejar-kejaran yang sama sekali tak terasa lagi bobot drama ceritanya. Ada perbedaan signifikan antara elemen kematian. Merasa meninggal mendadak oleh serangan jantung enggak serem-serem amat buat penonton, film ini malah membuat setiap korban Kira meninggal dengan sangat brutal. Darah muncrat dan potongan tubuh jadi andelan. Kira adalah yang paling menderita. Mereka basically membagi dua karakter Kira orisinal ke dalam dua tubuh; Light dan Mia (padanan Amane Misa diperankan oleh Margaret Qualley). Dan ini benar-benar melemahkan Light sebagai tokoh utama. Tokoh ini tidak lagi kompleks. Dia berubah menjadi remaja tipikal film-film Hollywood. Light dalam film ini diajarkan oleh Ryuk, baik dari penggunaan buku maupun cara menjadi persona ‘Kira’. Keputusan yang dibuat Light semuanya kalah kuat dibandingkan dengan keputusan-keputusan Mia regarding penggunaan Death Note. Reaksi Light saat pertama kali melihat Ryuk konyol banget, dia seperti seorang yang penakut dan no business megang title Kira. Dan oh ya, sepertinya aku lupa bilang kalo Light di sini menggunakan Death Note supaya dia bisa pedekate sama Mia.

Yea, aku bisa mendengar teriakan protes kamu-kamu semua. Death Note ngeskip begitu banyak adegan-adegan penting yang integral dengan kehidupan Light. Kita hanya dapat montase sekilas. Bahkan jika kalian belum pernah denger tentang Death Note, ataupun baru sekali ini nonton Death Note, kalian akan mendapati perubahan Light dari yang tadinya anak sekolahan menjadi Kira sang Dewa Penghukum yang punya pengikut tak-sedikit sangat abrupt. Film pun tidak pernah benar-benar memperlihatkan intensnya mind games antara L dengan Kira. Sebagai perbandingan; Dalam versi Jepang, Light dan L pertama kali duduk ngobrol sambil mereka main catur, percakapan mereka berdua sangat subtil, L berusaha menebak apakah Light adalah Kira dan sebaliknya, Kira ingin membongkar nama asli L. Percakapan mereka sangat tenang, namun kita bisa merasakan ketegangan. Adegan tersebut diakhiri dengan Light ngskak mat L. Dalam film Death Note kali ini, L dan Light bertemu di meja kafe. Perbincangan mereka penuh emosi, tuduh dan sangkal-sangkalan dengan nada-nada tinggi. Berakhir dengan L menyapu piring-piring di atas meja ke lantai. Benar-benar berbeda dengan karakter asli mereka, dan sesungguhnya ini adalah perubahan yang enggak perlu.

Aku lebih suka dengan Mia, dia membuat pilihan cerdas dan beraksi lebih seperti Kira dibandingkan si Kiranya sendiri. L memberikan warna berbeda dari segi penampilan, dengan karakter yang kurang lebih sama: introvert nyentrik yang suka banget makan permen. Namun, menjelang akhir L lepas kontrol emosi dan tidak lagi seperti L. Ada konflik yang digali mengenai dia yang enggan membunuh, tapi tetap saja tidak membuat kita lebih peduli lantaran bobot drama yang tidak mampu bertahan oleh keputusan penceritaan. Penyelidikan L di sini juga relatif gampang, karena Kira diberikan background keluarga yang berbeda. Dari latar belakang tersebut, sesungguhnya L  (atau bahkan kita, jika disuruh jadi detektif) bisa dengan gampang menebak siapa Kira hanya dengan menyimak korban pertama. If anything, Ryuk adalah tokoh yang membuat kita bertahan. Jika versi aslinya, Ryuk adalah Shinigami yang bosan sehingga dia ‘main-main’ ke dunia manusia, maka Ryuk dalam film ini sudah seperti Jimmy Jangkrik bagi Light. Wujudnya juga awesome, kita harusnya melihat tokoh ini lebih banyak.

“We could change the world.” “We? Maksudnya kita berdua?” cue suara cie cieeeee

 

 

 

Seharusnya ini adalah cerita yang gelap dengan tema moral yang kaya. Adaptasi memang perlu untuk melakukan perubahan sebab adaptasi adalah interpretasi yang baru terhadap suatu sumber. Hanya saja ada perbedaan tegas antara mengambil sudut pandang ataupun mengubah angle dengan menyederhanakan materi sehingga kehilangan esensinya. Film ini melakukan yang kedua. Pilihan musik yang gak cocok, adegan dansa, plus slow-motion, mengubah dari apa yang mestinya cerita kucing-kucingan menjadi drama romansa yang melibatkan buku aneh pencabut jiwa. Bahkan ketika kita ingin menganggap film ini lepas dari universe Death Note pun, film tidak bekerja dengan baik lantaran menggunakan montase ngeskip-skip bagian yang semestinya diperlihatkan kepada kita. Yah, kupikir apel pun akan susah segar lagi jika dibawa dari Jepang ke Amerika.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for DEATH NOTE.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

FREE FIRE Review

“Guns don’t kill people.”

 

 

Siapa bermain api akan terbakar. Siapa bermain senjata api – well yea, niscaya akan ada yang tertembak. Namun, tidak seperti api, besar kecil senjata api enggak bisa jadi ukuran kawan atau lawan. Karena yang berada di balik pelatuknyalah yang menentukan. Kita dapat menyaksiksan senjata dijadikan perlindungan dari balik insecurity manusia dalam banyak film. Atau malah di dunia nyata. Free Fire amunisinya ceritanya juga sama seperti demikian, hanya saja film ini memancing rasa tertarik kita dengan hadir sebagai KOMEDI AKSI. Dan untuk menaikkan stake, film ini mengambil gudang terbengkalai tertutup sebagai medan baku-tembaknya.

Gudang tersebut dijadikan tempat ketemuan kelompok arm dealer dengan kelompok calon pembeli. Bagian perkenalan transaksi ini berjalan dengan lancar. Ada perantara dan saksi yang mencairkan suasana. Actually, kita langsung bisa meraba tone film ini dari percakapan para tokoh di kedua kubu. Mereka semua tampil keren dan eksentrik dalam cara mereka masing-masing. Tapi tentu saja, seperti matahari pada hari yang berawan, tensi yang merayap di antara kedua kelompok ini enggak bisa disembunyikan lama-lama. Sedikit mixed-up dalam barang yang dijual mulai menggoyahkan rasa percaya yang sedari awal juga udah tipis banget. Kemudian masalah personal dua di antara mereka turut hadir di atas meja, dan meledaklah tensi tadi. Mendadak dua-belas angry men dan satu cewek ini saling tembak-tembakan, beberapa ingin uang untuk dirinya sendiri, beberapa hanya ingin keluar dari tempat tersebut hidup-hidup. Singkat kata, they are starting to kill each other.

inilah hasilnya jika orang-orang yang suka ngomong F-word, ngumpul, dan dikasih pistol

 

Ada banyak humor dan candaan. Porsinya, to be honest, agak di luar perkiraanku. Yea, tone memang ngasih isyarat ini bakal jadi film aksi yang punya segudang komedi, tapi aku gak menyangka ternyata memang elemen komedilah yang jadi sentralnya. Ekspektasiku adalah film ini mirip-mirip ama Reservoir Dogs (1992)nya Quentin Tarantino; tau dong pasti, film aksi yang juga mengunci tokoh-tokohnya dalam satu ruangan. Karena set upnya memang terasa seperti itu; drama serius dengan banyak jokes. Memang enggak sampe sekonyol film kartun, sih, nyaris kayak film komedi slapstick lah. Adegan tembak-tembaknya sangat ringan dengan banyak orang mengutuk sambil merayap diiringi desingan peluru “syuut, Kling! Desh! Bum!!”. KOMIKAL DAN OVER-THE-TOP. Film ini tampaknya mau menghadirkan apa yang terjadi jika sebuah film yang fun dan mendadak semuanya menjadi nyata. Narasinya diceritakan nyaris real-time dengan kita. Di satu pihak, film ini jadi enjoyable dan sangat menghibur. Di pihak lain, film ini kayak nembak serabutan membabi buta tanpa ada peluru yang benar-benar tepat sasaran. You know, persis kayak kemampuan membidik tokoh-tokohnya yang lebih parah daripada Stormtrooper.

Di atas kertas, film ini sebenarnya cuma sebatas konsep singkat yang dipanjang-panjangin jadi film panjang. Mengetahui hal ini, sutradara Ben Wheatley cukup pinter untuk menggaet aktor-aktor mumpuni yang mampu menghidupkan tokoh-tokoh yang dihadirkan oleh naskah. Aku paling suka paruh pertama dari film, set up  karakternya dibuat menarik. Malahan, sebagian besar hal-hal yang kusuka dari film ini adalah berkat permainan dari para aktor yang benar-benar sukses memberikan warna kepada tokohnya. Dialog yang diberikan kepada mereka sebenarnya cheesy dan gak spesial-spesial amat. It’s not witty or deep. Enggak membuat kita ingin mengutipnya sebagai bahan postingan pathdaily atau apa. Adalah para cast sendiri yang mengerahkan talenta dan kemampuan mereka dengan begitu tepat, sehingga peran mereka yang menarik.

Sebagian besar tokoh enggak dikasih banyak ruang untuk pengembangan. Meski begitu, aku paling tertarik sama tokoh Chris. Cillian Murphy was really great memainkan tokoh ini, dia kelihatan punya hubungan spesial dengan Justine, dan the way Murphy played out relationship yang tumbuh antara Chris dengan tokoh-tokoh lain dalam waktu singkat itu, it’s just great and really compelling. Spotlight komedi paling-kocak jatuh ke tangan Sharlto Copley sebagai pemimpin nyentrik dan egosentris kelompok penjual senjata api. Kadang kita enggak gitu mengerti ocehan si Vernon, namun kocaknya sungguh-sungguh menambah banyak buat komedi. Aku juga suka tokoh Ord (Armie Hammer jenggotan di sini) yang tampak paling clear-headed di antara semua.

Ini adalah film kedua di tahun 2017 di mana aku merasakan kecewa teramat sangat kepada Brie Larson. She was once bermain di film yang kukasih nilai 9, tapi tahun ini tampaknya jadi tahun untuk bercermin dalam memilih peran bagi Larson. Dalam Kong: Skull Island (2017) tokoh yang ia perankan enggak ngapa-ngapain selain motret dan berlari. Dalam Free Fire ini, tokoh Justine enggak lebih dari anak bawang. Tokoh ini kayak berada di luar film, it feels like she was in different movie. Larson pun memainkannya dengan datar. Dia enggak masuk sama suasana ataupun cerita.

Bukan pistol yang membunuh orang. Orang insecure yangbertindak berlebihan yang memegang pistollah yang menghilangkan nyawa. Konflik dalam Free Fire bisa berakhir sesegera orang pertama rela meletakkan senjata, menyelesaikan deal ataupun perkara pribadinya, dan semua yang terlibat di sana bisa pulang dengan riang dan sehat walafiat.

 

All-stars castnya lah yang mengangkat film ini ke level menghibur. Tapi tokoh-tokoh mereka bukan remaja yang berparade keliling kota sambil petantang petenteng pistol kayak Ricky di lagu rock “18 and Life”, para tokoh film ini adalah orang dewasa yang mestinya kompeten dalam melakukan tugas mereka. Mereka ada dalam bisnis senjata api. Mengutuk dan menembak adalah rutinitas sehari-hari. But man, they are dumb. Ada satu tokoh yang diset sebagai tokoh lugu yang ngelakuin hal-hal bego, supaya lucu, hanya saja tokoh-tokoh lainnya juga tampil enggak lebih pintar dari orang itu. Motivasi kenapa mereka harus saling menembak ditulis dengan teramat lemah sehingga terasa film ini sendiri enggak tahu harus menggali apa lagi. Aku gak mau banyak beberin; intinya sih transaksi mereka batal karena ada dua orang yang punya masalah personal serius. Things escalate quickly because of this ‘fight’. Dan ini enggak realistis. Normalnya kan mereka bisa ngomongin atau ngelarin urusan sendiri secara terpisah dan gak benar-benar harus melibatkan the whole deal. Tapi dalam film ini, semuanya berujung menarik senjata masing-masing dan mulai menembak seolah enggak ada lagi yang peduli dengan apapun selain gak-terima gengnya ‘digituin’.

“Bang, bang! Shoot ‘em all, the party never ends~”

 

Film ini bukan jenis yang sekali kena tembak, langsung mati (emangnya video game Contra!). Kemampuan para tokoh dengan sengaja ditulis minimal, sehingga peluru mereka hanya menyerempet sasaran. Dan ada banyak komedi yang datang dari sana; salah tembak atau enggak sengaja nembak cewek, misalnya. Setelah midpoint, sebagian besar tokoh sudah jatuh ke lantai. Mereka kena tembak dan sekarang merangkak nyari perlindungan ataupun nyari senjata baru. That’s the kind of action yang kita dapat. Dan tentu saja, it does drag after awhile. Wheatley memilih untuk merekam aksi tembak-tembakan menggunakan gaya handheld sehingga beberapa adegan lumayan goyang. Membuat kita kerap bingung apa yang terjadi, siapa menembak siapa. Susah sekali untuk mengetahui pasti apa yang terjadi sebab ada banyak adegan yang melibatkan orang lari ke pojokan, menembak, ngumpet, dan peluru yang mantul kepentok sesuatu.

 

 

 

 

Fun action-film yang entertaining. Cukup asik dinikmati, kita bisa nyaksiin ini dan have a good time with it. Namun di laih pihak, keputusannya untuk tampil lebih fokus ke komedi alih-alih ke aksi terbukti dapat menajdi kerugian tersendiri. Dan porsi aksinya sendiri ngedrag dan ketika enggak, susah untuk kita ikuti. Kemampuan castnya yang berhasil membuat film ini menghibur, lebih dari kualitas penulisan film ini sendiri. Bukan exactly peluru kosong yang ditembakkan oleh film ini, hanya saja memang lebih banyak melesetnya dibanding kena.
The Palace of Wisdom gives 5.5 gold stars out of 10 for FREE FIRE.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.