MALEFICENT: MISTRESS OF EVIL Review

“Unity does not mean sameness”
 

 
Maleficent yang dibuat tahun 2014 merupakan remake live-action animasi klasik Disney yang berani untuk menjadi berbeda. Tidak sekadar menceritakan ulang (atau menyuruh kita menonton hal yang sama pada dua kali hanya untuk perbedaan medium visual). Namun actually menghadirkan sudut pandang yang baru. Film tersebut punya ceritanya sendiri; bahkan membuat twist bahwa film animasi yang kita tonton sebelumnya ternyata ‘salah’. Si Maleficent, salah satu villain paling legendaris dan disegani sejagad Disney, ternyata enggak sejahat itu. Adalah ciumannya yang membangunkan Aurora, alih-alih ciuman pangeran. Memang beginilah seharusnya remake live-action atau remake pada umumnya) dibuat. Berbeda. Dan mengambil resiko. Sekuel dari Maleficent – Mistress of Evil – kali ini mengambil resiko yang lebih besar. It’s an entirely new story. Namun tampaknya resiko yang diambil oleh film kali ini terlalu besar untuk kebaikannya sendiri.
Peri penyihir bertulang pipi menonjol dan bersayap serupa kelelawar gede itu ternyata masih ditakuti oleh manusia. Rumor prestasi-prestasi jahatnya masih beredar di kerajaan manusia sebagai gosip. Dan lambat laun berubah menjadi mitos. Padahal Maleficent dan Aurora hidup serba berkasih sayang di kerajaan mereka di hutan, damai dan ceria bersama bangsa peri beraneka rupa. Inciting incident datang kepada Maleficent berupa Aurora dipinang oleh Pangeran Philip. Anak asuhnya yang punya senyum paling menceriakan tersebut bakal segera menikah. Maka Maleficent dan Aurora diundang ke kerajaan Philip, bertemu raja dan ratu calon besannya. Jamuan makan malam yang awkward dengan cepat menjadi intens lantaran terjadi seteru antara Maleficent dengan Ratu Ingrith. Raja pun kemudian tiba-tiba roboh dari kursinya, tertidur bagai mati. Semua mata tertuju kepada Maleficent yang sedari tadi berusaha keras untuk menjaga sikap terbaiknya. Pandangan Aurora yang bingung diartikannya sebagai pandangan menuduh, maka Maleficent pun terbang pergi dari sana. Tapi tidak berapa jauh sebelum peluru besi kelemahan bangsa peri ditembakkan menembus badannya oleh prajurit istana.

My Mom is a Heel Fairy

 
Dinamika antara Maleficent dengan Aurora seharusnya dibiarkan menjadi fokus utama. Ada lahan baru untuk digali dari Aurora yang mengetahui ibu-asuhnya tersebut masih dianggap jahat oleh sebagian besar manusia. Ada drama ibu anak yang bisa dipanen dari sana. Momen-momen terindah film ini datang dari Maleficent berusaha tampak baik – atau setidaknya tidak tampak berbahaya – demi Auroranya tercinta. Maleficent dari luar memang masih membuat setiap mata yang melihatnya gentar. Presence Angelina Jolie benar-benar pas dalam menghidupkan tokoh ini. She’s so fierce we would automatically adore her. Penampilannya hitam menjulang. Belum lama di layar dia sudah mengancam kita untuk tidak mengganggu paginya. Maleficent bermula sebagai seorang tokoh jahat. Di film pertama, seiring berjalannya waktu detil-detil tentang dirinya semakin terungkap dan pandangan kita berubah melihat dia sebagai seorang yang baik. Karena diapun perlahan mengubah diri untuk menjadi baik. Jadi meskipun seorang villain, cerita Maleficent tidak pernah cerita tentang  berbuat jahat – tidak seperti Joker (2019). Kemisteriusan Maleficent diberikan sisi humanis pada film pertama. Pada film kedua ini, meskipun judulnya literally berarti Nyonya Kejahatan, kita tidak akan pernah lagi memandang dia sebagai penyihir hitam yang berbuat baik demi anaknya.
Yang kita lihat di sini adalah Maleficent sebagai penyihir yang dijudge jahat karena punya tanduk, sayap, dan taring. There’s actually an antagonist to her protagonist this time. Antagonis yang benar-benar plek jahat. Jadi judul film ini bukan tentang si Maleficent. Film ini dibuat fokus ke kontras antara ratu putih berhati hitam dengan penyihir hitam yang sudah ditetapkan dari film sebelumnya berhati cukup putih. Dan segitulah kesubtilan hitam-putih karakter yang dipunya oleh film ini. Sebenarnya masih bisa dibuat bagus, meskipun film ternyata bermain di level untuk anak-anak. Namun yang film ini lakukan kepada tokoh Maleficent itu sendiri merupakan apa yang aku takutkan yang sempat aku bicarakan soal tokoh villain pada review Joker. Kita tidak perlu diberikan backstory yang terlalu jauh karena akan mengurangi kemisteriusan si tokoh. Kita tidak diharapkan untuk menjadi terlalu dekat dan merelasikan diri dengan tokoh penjahat. Joker pada akhirnya tidak melakukan hal tersebut, karena akan berbahaya jika kita justru menganggap dia sebagai pahlawan. Pada Maleficent di film ini, aku paham pada kebutuhan untuk membuatnya sebagai hero karena di sini dimunculkan tokoh jahat lain. Tetapi mereka juga menelanjanginya dari kemisteriusan dan keunikan Maleficent dalam proses membuatnya tampak semakin manusiawi. Sebagian besar babak kedua adalah eksposisi yang menjelaskan bahwa ternyata Maleficent bukanlah satu-satunya di dunia. Kita akan dibawa mengikuti dirinya menemukan bangsa Fey – keluarga serumpun baginya – yang terasing karena dianggap menakutkan oleh manusia. Jadi dia tidak jahat, dia tidak unik, Maleficent setelah film ini hanya punya sihir CGI untuk membuatnya menarik.
Sebaliknya Elle Fanning mendapat banyak kesempatan untuk lebih aktif sebagai putri, dia tampak cukup tegas. Kritik terbesar yang konstan diberikan kepada Disney klasik adalah mereka membuat para princess tak lebih sebagai bucin. Wanita yang butuh kehadiran pria sebagai penyelamat dan penyokong diri. Aurora dalam film ini bukan lagi helpless, tertidur untuk diselamatkan. Ia dapat menjadi role model yang kuat bagi remaja cewek karena mengajarkan secara langsung menghormati orang tua – bahkan jika bukan orangtua kandung – dan tidak melupakan teman-teman. Aurora tidak diperlihatkan sebagai contoh stockholm syndrom – yang bersimpati pada siapapun ‘penculik’nya. Cintanya kepada Maleficent adalah genuine, dan dia juga diberikan pilihan untuk mengambil keberpihakan.

Pernikahan seharusnya mempersatukan, bukannya menyamakan atau malah memisahkan.  Dalam satu keluarga, kita bakal bisa saja berbeda pendapat dengan anggota keluarga lain – tapi bertengkar bukan satu-satunya jalan keluar mutlak; seberapa pun ‘sakit’nya. Film ini menyugestikan jikapun konfrontasi diperlukan, maka kita bisa mengharapkan kedamaian hadir dari ‘abu peperangan’. 

 
 
Aurora bisa jadi adalah salah satu hal bagus yang dipunya oleh film ini. Karena, ingat ketika aku bilang film ini punya moral begitu simpel sehingga tampak ditujukan untuk anak kecil? Well, sutradara Joachim Ronning punya arahan yang aneh untuk membuat ini sebagai film anak-anak. Sebab dia praktisnya sama saja dengan mengarahkan film ini tampil mirip seperti Game of Throne.

Perempuan Tanah Jahanam

 
Politik. Perebutan kekuasan. Perang. Itulah yang menjadi fokus sebenarnya pada Maleficent: Mistress of Evil. Pembunuhan besar-besaran bangsa peri. Ratu yang penuh intrik. Ledakan-ledakan bubuk besi dan material dongeng. Aku nulis dengan kalimat-kalimat pendek untuk menunjukkan betapa simpelnya film ini. Kata perang dan kata simpel tidak seharusnya untuk berada dalam satu konteksnya yang sama. Namun justru itulah yang dijadikan jualan utama oleh film ini. Tokoh Ratu Ingrith yang diperankan oleh Michelle Pfeiffer itu bahkan tidak diberikan motivasi yang kuat. Kenapa dia begitu benci sama bangsa peri. Apa alasan perang itu terjadi. Menikahkan anaknya dengan Aurora berarti mempersatukan manusia dengan bangsa peri; itulah yang ia tolak. Hanya saja motivasi dari penolakan itu tidak benar-benar jelas selain sebagai alat untuk memungkinkan terjadinya perang. Satu-satunya jawaban yang diperlihatkan film ternyata cukup komikal. Ingrith alergi bunga. Jadi kupikir keseluruhan film ini bekerja karena Ingrith enggak tahan dengan bunga-bunga yang bakal dibawa oleh bangsa peri. Dia menyebarkan ketakutan kepada manusia karena hal tersebut. Mungkin penjahat sebenarnya bukanlah Ingrith. Melainkan produser yang kerap menginginkan ada perang simpel pada film anak-anak; seri remake Alice in Wonderland, The Nutcracker and the Four Realms (2018), Oz the Great and Powerful (2013), empat film ini punya kesamaan yakni sama-sama ‘dirusakkan’ oleh hobinya memasukkan adegan perang yang hanya berdasarkan hitam-putih yang sederhana.
Philip yang ‘kehilangan’ ibu karena perbedaan pendapat dan berperang, orang-orang yang jadi korban karena penguasa mengendalikan mereka lewat ketakutan, makhluk-makhluk sihir yang diberangus hanya karena manusia tak suka dengan tampang mereka, semua itu tau ubahnya kepulan asap bagi cerita. Kita lihat dan kemudian menghilang. Betapa mudahnya perhatian kita teralihkan oleh visual cantik dari makhluk-makhluk sihir yang berseliweran mengisi layar. Pada satu titik, kita bahkan melihat petualang peri imut seperti Sonic. Film memperlihatkan tapi tak pernah sampai ke titik eksplorasi. Dialog tentang ‘using fear to control’ seperti tersia-siakan. Semuanya berakhir dengan nada bercanda sehingga film semakin terasa tak berbuat apa-apa terhadap gagasan soal perbedaan – dua spesies yang berperang di sini bisa dimaknai sebagai dua golongan ras, atau malah dua pandangan politik – yang mereka angkat.
 
 
 
Kali ini, film tidak benar-benar meneruskan pilihan kreatif yang ia ambil. Elemen perang yang dihadirkan tidak mendapat kedalaman yang cukup, malahan tampil begitu satu dimensi. Film memastikan manusia sebagai penyerang pertama. Ratu yang dibuat murni jahat untuk alasan yang gak jelas, atau malah konyol tergantung darimana kita melihat. Keunikan sosok tokoh utamanya pun terpaksa dikorbankan. Menonton ini seperti menyaksikan bola api yang besar, visualnya bisa cantik tapi di dalam sana adalah hot-mess, sayangnya kita gak mungkin mengharapkan ada cerita yang lebih bagus hadir dari abunya nanti. There’s no bounce back dari tokoh yang udah kehilangan keunikannya.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for MALEFICENT: MISTRESS OF EVIL

 

THE LION KING Review

“The worst form of inequality is to try to make unequal things equal.”

 

 

Dalam cerita The Lion King, Simba digebah oleh pamannya yang licik untuk meninggalkan Pride Lands. Scar, sang paman, membuat Simba percaya bahwa singa kecil yang enggak bisa mengaum tak pantas untuk menjadi raja. Apalagi – hasutan Scar semakin menjadi-jadi – Simba sudah membuat ayahnya celaka. Sehingga Simba kabur ketakutan. Dia kemudian akan melupakan dirinya sendiri, menjadikan filosofi “do nothing dan tak-perlu khawatir” sebagai eskapis.

Kita semua sudah tahu cerita ini kan, Lion King (1994) adalah salah satu animasi Disney paling ikonik. Versi live-action garapan Jon Favreau ini mengambil cerita yang persis sama. Scar adalah penjahat utama dalam cerita. Dia yang adik dari raja, menyusun rencana jahat menyingkirkan both raja dan putra mahkota sehingga dirinya bisa naik tahta. Tapi benarkah Scar jahat? Bukankah yang ia kampanyekan kepada kawanan hyena adalah seruan persamaan – semua binatang mendapat jaminan equality. Hyena tidak perlu lagi hidup di wilayah bayang-bayang; tidak seperti ketika era pemerintahan Mufasa di mana hanya singa yang mendapat wilayah berburu paling banyak. Tapinya lagi, jika Scar memang mengutamakan equality, kenapa pada masa pemerintahannya Pride Lands justru kering kerontang dan sumber makanan menipis? Apakah karena Scar-nya saja yang enggak kompeten, atau memang sebenarnya inequality itu diperlukan untuk mengatur keseimbangan?

See, ketika aku menonton Lion King animasi sewaktu kecil aku tidak memperhatikan kandungan ideologi politik yang mengapit kisah hidup Simba. Jadi ketika menonton film yang baru ini, aku juga mendapat pengalaman baru di atas nostalgia. Karena memang film ini hampir sama persis dengan versi orisinilnya. Mulai dari pengadeganan hingga gerakan kamera semuanya dibuat serupa. Jikapun ada yang berbeda, maka itu hanyalah pemendekan adegan, atau pemanjangan, dan beberapa penambahan  untuk membuat durasinya berbeda. Dan tentu saja, visualnya. Pencapaian teknis yang disuguhkan oleh film ini memang sungguh luar biasa. Semua yang ada di layar itu, terlihat seperti asli. Seperti foto. Padahal kita juga tahu, kita juga mungkin meledek, enggak cocok disebut live-action karena toh semua yang kita lihat itu masih tergolong animasi. Pohon-pohon, serangga, bulu singa, semuanya tampak meyakinkan. Film berusaha menampilkan hewan-hewan tersebut senatural mungkin. Ditambah dengan pesan politik yang sebenarnya masih dan cukup relevan dengan keadaan sekarang, aku bisa mengerti studio dan pembuat film ini benar-benar ingin membuat sesuatu yang epik dari Lion King yang sudah kita kenal dan cintai.

Dengan latar cerita yang kuat, bahkan pertarungan singa beneran ala channel satwa pun bisa tetep menarik untuk disaksikan

 

 

Sedari awal, cerita sudah berusaha memfokuskan perhatian kita kepada ideologi Mufasa dan Scar. Saat lagu pembuka Circle of Life kita melihat semua binatang tunduk kepada raja, semuanya hadir saat upacara pengenalan putra mahkota. Bahkan hewan-hewan yang di kemudian hari bakal menjadi santapan perburuan si bayi singa lucu itu. Hanya satu yang tidak ikut; Scar. Alih-alih, dia menyuarakan ketidaksetujuannya dengan paham Circle of Life lewat monolognya tentang dunia adalah tempat yang tidak adil. Film hanya akan sebagus tokoh antagonisnya, dan Scar tak pelak adalah salah satu antagonis film yang paling menarik. Karena dia percaya dia adalah raja yang lebih baik.  Dalam film ini, Scar lebih sedikit ‘galak’ daripada versi orisinilnya yang tampak agak pengecut. Scar yang baru ini, terlihat lebih dari sekadar iri sama Simba yang kelahirannya menendang Scar keluar dari jalur tahta. Scar tampak actually percaya bahwa dia bisa memimpin dengan lebih baik. Dengan ideologi yang lebih benar. Makanya dia ngamuk saat nama Mufasa disebut-sebut. Saat menjadi raja, Scar mengajak para hyena untuk hidup berdampingan dengan singa, dan dengan hal tersebut Scar menciptakan struktur sosial yang berpaham seperti komunis, di mana semua orang hidup sebagai ekual. Tapi dia juga berpikir seperti seorang fasis saat ia sebenarnya mengakui hyena adalah kelas-bawah, dan fakta bahwa sebenarnya dia menggunakan mereka sebagai tentara untuk menjamin keuntungan bagi dirinya sendiri.

Penyamarataan seperti demikian justru membuat keadaan menjadi semakin tidak berimbang. Mufasa dengan teorinya, sebagaimana terus diingatkan oleh film ini lewat pembelajaran tentang rantai-makanan, mengingatkan kepada kita bahwa setiap makhluk punya tugasnya di dunia. Ada yang perlu lebih dulu makan, ada yang nantinya bakal dimakan. Semuanya akan menunaikan tugas pada waktunya. Keseimbangan itulah yang seharusnya dijaga karena itulah yang melambangkan keadilan yang sesungguhnya. Keberagaman yang membentuk satu lingkaran kehidupan dengan tugas, kewajiban, dan hak masing-masing.

 

Bahkan cerita dalam film pun bergerak melingkar, tak terkecuali film ini. Kita melihat Simba yang sudah belajar mengingat kembali siapa dirinya, di mana posisinya di dalam Lingkaran tersebut, memahami apa purpose dirinya, akhirnya kembali pulang dan mengembalikan keseimbangan. Kita melihat Pride Lands subur kembali dan hewan-hewan kembali membungkukkan badan. Kali ini kepada anak Simba. Lingkaran itu terus berlanjut ketika semua orang berada pada posisinya masing-masing. Ada yang di atas, ada yang di bawah.

However, dalam industri film sendiri ada juga Lingkaran Kehidupan. Buat – Dapet duit – Buat lagi. Beberapa mengambil langkah ekstrim; terus membuat ulang film-film yang bagus. Seperti The Lion King ini. Ceritanya boleh senantiasa bagus dan masih relevan, tapi kita tidak bisa tidak melihat kepentingan duit adalah nomor satu di sini. Karena selain visual yang mind-blowing dan beberapa pendekatan berbeda yang dilakukan oleh pengisi suara terhadap karakter mereka – paling kuacungi jempol adalah Seth Rogen yang tawanya memberi nafas baru buat Pumbaa baru – film ini tampak tidak peduli banyak untuk berubah. Mereka bergantung pada nostalgia. Tentu, penonton bakal tetap nonton dan suka karena sudah kadung cinta sama originalnya. Tapi sebagai sebuah film, The Lion King melewatkan banyak kesempatan untuk menjadi lebih. Mereka bahkan tidak terlalu peduli ketika ada beberapa hal tidak bekerja dengan baik.

“Can you feel the love this afternoon~”

 

Pertama adalah soal Scar tadi. Film seperti hanya mengopi-paste versi animasi orisinil tanpa melakukan perubahan yang benar-benar dipikirkan. Untuk alasan yang gak jelas, mereka menambahkan subplot saingan cinta antara Scar dan Mufasa dalam mendapatkan Sarabi. Dibangun sedari awal, Scar punya ketertarikan sama Sarabi, dan dimainkan ke dalam elemen Scar berusaha membuktikan dia lebih baik dari Mufasa di mana Sarabi menjadi semacam bukti legalitasnya. Penambahan ini terasa seperti dimasukkan sekenanya, dan gak cocok untuk menambah pengaruh apa-apa. In restropect malah membuat film akan bisa semakin efektif jika adegan soal ini dibuang, yang mana bakal mengembalikan film seperti keadaan orisinal. Penambahan ala kadar seperti begini juga dilakukan pada Dumbo (2019) pada bagian aspek tokoh manusia dan juga pada Aladdin (2019) yakni bagian Jasmine dan lagu ‘Speechless’. Ini mengukuhkan kesan bahwa proyek remake live-action Disney sebenarnya mentok. Mereka gak benar-benar menambah banyak pikiran ke dalamnya. Mereka hanya menambahkan alih-alih menggali sesuatu yang baru.

Lalu, we circle back to the visual. Aku pikir mereka sendiri sebenarnya melupakan alasan kenapa Lion King dibuat sebagai animasi pada awalnya. Mustahil membuat binatang bergerak, bernyanyi, berekspresi seperti manusia. Jadi animasi adalah media yang tepat. Mereka bisa colorful, fun, dan mengundang simpati sembari berenergi. Keputusan menjadikannya seperti binatang asli membuat film menemui banyak kekurangan seputar ekspresi dan jiwa tokoh-tokohnya. Tak banyak cara yang bisa dilakukan untuk membuat binatang bernyanyi terlihat realistis, toh. Banyak ekspresi wajah yang tak mampu tergambarkan, sementara filmnya bersikeras untuk meniru shot demi shot film animasi; shot animasi yang terang-terangan menunjukkan ekspresi manusia pada gambar hewan. Akibatnya ketika kita melihat hal emosional seperti Simba melihat ayahnya jatuh, maka yang tertranslasikan oleh film live-action ini hanyalah singa yang membuka mulutnya. Tidak ada rasa yang tersampaikan. Para pengisi suara pastilah kesusahan menghidupkan tokoh-tokoh film ini. Jadinya emosi mereka enggak nyampe. Ketika Nala kecil bilang Simba sungguh pemberani, kita enggak tahu dia bercanda, ngeledek, atau beneran tulus. Liciknya Scar juga tidak tampak, yang membuat dia tampak lebih jahat sekarang, dia tidak lagi terdengar bersenang-senang dengan rencananya.

 

 

Untuk penonton yang hanya mengincar nostalgia, pengen nonton yang udah cerita yang udah khatam awal hingga akhir – kali ini dengan visual level dewa, film ini masih akan enjoyable untuk disaksikan. Mendengarkan suara Mufasa yang menggetarkan hati, bernyanyi I Just Can’t Wait to be King, melihat tingkah kocak Timon dan Pumbaa. Semua hal tersebut masih dapat dijumpai, dan nyaris serupa dengan film aslinya. Tapi penonton yang ingin mendapatkan penggalian baru, ingin dikejutkan oleh elemen-elemen segar, yang mau menyimak gagasan dan visi yang berbeda, bakal mendapati sedikit kekecawaan. Aku pribadi jika kemudian hari dihadapkan pada pilihan di antara dua, pasti akan lebih memilih nonton animasi yang lama lagi saja karena lebih fun dan ceritanya lebih tight dibandingkan versi live-action ini yang lebih sok-serius dan cerita yang lebih meluas padahal tak banyak memberikan perubahan.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for THE LION KING.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Ngomong-ngomong soal keluarga singa dalam film ini; jika satu kawanan singa terdiri dari satu alpha male dan selebihnya betina, apakah itu berarti Simba dan Nala bisa jadi adalah saudara sebapak? Atau mungkin mereka sepupuan?

Share with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

ALADDIN Review

“Freeing yourself by freeing others.”

 

 

 

Meminta sejuta permintaan lagi ketika diberikan jatah tiga permintaan, sekilas memang terdengar seperti ide yang cemerlang. Karena dengan begitu kita bisa punya permintaan tak-terbatas, kita bisa meminta apa saja yang kita kehendaki. Duit, ketenaran, kekuasaan, pendamping yang cakep; Dengan segala permintaan tersebut, kita dapat hidup sebebas-bebasnya! Tapi jika dipikirkan dengan akal yang sehat, toh tidak bakal ada yang namanya kekuatan atau kebebasan tak-terbatas. Walaupun kita punya permintaan sebanyak bintang di langit. Hal itu karena kebebasan kita eventually akan bertubrukan dengan orang lain. Hak asasi yang kita junjung pada akhirnya akan dibatasi oleh hak asasi orang lain. Dan semestinya tidak ada kekuatan yang lebih besar yang bisa kita minta untuk menghapus hak asasi dan kebebasan orang tersebut.

Aladdin, sama seperti versi animasi originalnya tahun 1992, berkata bahwa setiap orang punya hak untuk mendapat kebebasan. Setiap masalah yang timbul dalam film ini, selalu berasal dari satu kebebasan tokoh yang dilanggar. Film ini menunjukkan masyarakat yang ideal harusnya adalah masyarakat yang mencapai suatu keadaan di mana kehendak dan kebebasan penduduknya berada dalam posisi yang seimbang dengan kesempatan, juga kekuatan dari penguasa.

 

Secara cerita, Aladdin garapan Guy Ritchie memang sama persis dengan film originalnya. Konfliknya juga kurang lebih sama. Aladdin si pengutil jalanan jatuh cinta kepada Jasmine yang seorang putri sultan. Namun harapan belum sirna bagi Al, lantaran dia menemukan lampu ajaib berisi jin superlebay kocak yang bisa mengabulkan tiga permintaan. Aladdin meminta untuk menjadi pangeran supaya bisa berkelit dari hukum dan pandangan sosial berupa Putri mesti menikahi keluarga kerajaan.Namun di luar niat awalnya, permintaan Aladdin kemudian menjadi semakin egois, dan keadaan menjadi tidak bisa lebih berbahaya lagi saat lampu jin ajaib tersebut jatuh ke tangan penasehat kerajaan yang jahatnya luar biasa.

kata Aladdin jangan mau diperalattin

 

Tak pelak, sebagian besar dari kita mungkin sudah sangat akrab dengan jalan cerita Aladdin. Bahkan film live-actionnya ini sendiri tahu persis akan hal tersebut. Makanya kita melihat mereka memulai cerita dengan cepat; Literally lewat montase yang diiringi oleh lagu “Malam di Araaaaaab, seperti siangnyaaa”. Film mengasumsi semua penonton mereka hapal tokoh-tokoh cerita di luar kepala. Kita tidak diberitahu lagi kenapa Jasmine menyamar masuk ke pasar. It could be a right thing, karena Aladdin sendiri juga saat itu belum tahu siapa Jasmine, dan cerita bertahan di sudut pandang Aladdin. Tapi ini sedari 1992 adalah cerita yang kompleks soal kebebasan individu yang bisa saling berkontradiksi. Cerita Aladdin butuh untuk memperlihatkan banyak sudut pandang, karena setiap tokoh di dalamnya – yang berasal dari kelas sosial yang berbeda – berjuang untuk mendapatkan kemerdekaan.

Aladdin si tikus jalanan yang untuk makan saja harus mencuri punya kebebasan semu dalam hidupnya; hanya karena tidak ada yang peduli kepadanya. Masyarakat memandang rendah dirinya. Aladdin boleh saja punya waktu yang luang, bisa semau-gue seenaknya, tapi dia tidak punya privilege. Tidak ada kesempatan untuknya menjadi lebih dari yang ia punya sekarang. Jika dia punya mimpi, dia tidak ada daya dan kesempatan untuk mewujudkan mimpi tersebut. Keadaan Aladdin ini bertimbal balik sama keadaan Jasmine. Putri yang punya semua materi tetapi amat sangat terbatas dalam gerakan. Pasangan hidupnya saja ditentukan oleh hukum istana. Jadi, kaya raya juga tidak menjamin kebebasan. Sebab tanpa kebebasan untuk bergerak, segala privilege itu pada akhirnya menjadi sia-sia. Bukan hanya tokoh manusia, Genie si Jin justru yang paling terkekang daripada semua. Genie bisa apa pun, mulai dari mengubah monyet menjadi gajah hingga membuat Aladdin bisa menari. Genie adalah tokoh terkuat, sihirnya tiada banding, tapi dia adalah pelayan. Tidak bisa bergerak sebelum diperintah. Dia bahkan tidak bisa membebaskan dirinya sendiri dari dalam lampu. Gelang yang ia kenakan bagi kita adalah perhiasan, namun baginya adalah belenggu. Dari Jasmine dan Genie kita tahu, kekayaan dan kekuatan bukan lantas ekual kebebasan

Selama dua jam lebih delapan menit durasi film ini, para karakter belajar mengenai apa sebenarnya makna kebebasan. Bagaimana cara mereka bisa bebas. Film animasi yang original hanya berdurasi sekitar sembilan-puluh menit. Plot-per-plot film tersebut berjalan dengan sangat ketat. Kita dapat mengerti keparalelan perjalanan para tokoh tersebut. Kita mengerti dosa terbesar Aladdin ialah percaya bahwa dengan menjadi kaya – berpura-pura menjadi Pangeran merupakan jawaban masalahnya. Aladdin tidak mengerti Jasmine jatuh cinta bukan karena statusnya, Aladdin gagal melihat Jasmine tidak mau dibeli dengan patung unta emas dan selai, melainkan Jasmine tertarik oleh kebebasan mengendarai permadani terbang. Maka Aladdin yang tak pernah punya apa-apa, menjadi sayang untuk meninggalkan apa yang sudah ia dapatkan dari lampu. Aladdin menganggap teman-temannya, Genie sebagai barang kepunyaan. Tahu gak apa yang terjadi pada barang-barang kepunyaan kita? Barang bisa hilang, bisa dicuri. Aladdin nyatanya hanya selangkah lagi menjadi seperti Jafar yang tidak menghormati kebebasan orang – dia pakai ilmu hipnotis untuk memuluskan rencananya! Bagi Jafar; kekuasaan adalah yang terpenting, dia tidak mengerti bahwa tanpa kebebasan maka kekuasaan tiada artinya.

Ketika kita menggunakan kebebasan orang untuk kepentingan diri sendiri, menganggap kita memiliki mereka, maka semua hal tersebut akan menjadi bumerang bagi diri kita. Jafar, contohnya. Aladdin juga hampir, jika ia tidak segera belajar untuk peduli sama Genie. Makanya, ‘membebaskan’ orang sejatinya adalah tiket menuju kebebasan diri kita sendiri. Tidak akan ada yang bisa benar-benar hidup bebas tanpa terganggu sampai semua hak dan kepentingan setiap orang diperhatikan.

 

Semua poin tersebut ada pada Aladdin versi live-action ini. Hanya saja dengan begitu lowongnya durasi, film memasukkan elemen-elemen baru. Salah satu yang paling menonjol adalah karakter si Jasmine. Wanita mandiri ini diberikan motivasi yang lebih kuat, yang lebih relevan. Dalam film ini, Jasmine juga punya keparalelan dengan tokoh Jafar. Jasmine dan Jafar essentially menginginkan hal yang sama. Dan memang sih, membuat film ini punya sesuatu yang fresh. You know, karena jaman sekarang film harus nunjukin karakter wanita yang kuat. Tapi, elemen ini gak begitu klop banget sama tema ‘membebaskan orang’ yang jadi nyawa utama film. Karena Jasmine ingin membuat things better untuk dirinya dengan usahanya sendiri. Di duapertiga film ada adegan Jasmine dengan Jafar yang membuatku speechless (yes, pun is very-well intended!) Terasa seperti dijejelin banget supaya ceritanya bisa diperpanjang. Naomi Scott bukannya jelek meranin Jasmine. In fact, aku bakal dirajam kalo bilang Scott jelek, di mana pun. Scott terlihat berusaha maksimal menghidupkan Jasmine versi baru ini. Hanya saja, penambahannya kayak setengah niat. Mestinya jika memang punya gagasan baru yang hendak diceritakan, ya bangun saja cerita baru berdasarkan gagasan tersebut. Jadikan Jasmine dan motivasinya sebagai sudut pandang utama. Jangan kayak ditambahin sekenanya seperti kayak ngisi lubang kosong.

Nostalgia bukan berarti kita punya free-pass buat tereak ikutan nyanyi di bioskop “Sambiiiiitt, Pangeran Ali!”

 

Sekiranya hal tersebut bersumber pada masalah pelik ketika kita menggarap remake dari sesuatu yang sangat sukses; Kita ingin membuatnya menjadi sesuatu yang baru sekaligus masih tetap stay true sama original. Paradoks. Dan sebagus-bagusnya kita mengrecreate, tetap saja yang bagus tadi itu sebenarnya hanya ‘nyontek yang dibolehin’. Serupa pula terasa pada adegan-adegan nyanyi pada film ini. Lagu A Whole New World, lagu Prince Ali; karena berusaha untuk enggak tampak dan terdengar sama-sama bgt ama versi aslinya, film mengubah susunan adegannya, sehingga pace lagunya jadi terdengar aneh. Lagu-lagu itu terasa singkat, sudah beres sebelum sempat membekas. Dan arahan adegan musikalnya sendiri pun lumayan aneh. Alih-alih banyak bermain dengan kamera, film malah bermain dengan kecepatan frame. Ada beberapa lagu dengan tari-tarian yang gerakannya seperti dipercepat. Sungguh aneh mengapa sutradara melakukan hal tersebut, masa iya sih karena waktu?

Tadi aku sempat bilang dosa terbesar Aladdin adalah percaya ia harus terus berbohong sebagai pangeran yang kaya. Aku mau ralat. Dosa terbesar Aladdin adalah membiarkan Mena Massoud dicast menjadi dirinya. Mentang-mentang Aladdin dalam film ini sama persis dengan versi animasi, Massoud jadi berdedikasi sekali menirukan gestur-gestur Aladdin animasi untuk menghidupkan Aladdin ‘beneran’. Yang mana menjadikan Aladdin terlihat bego, canggung, dan kaku. Yang jadi Jafar juga sama parahnya, malah lebih. Marwan Kenzari dengan tongkat hipnotisnya sama sekali tidak tampak meyakinkan sebagai manusia yang licik dan berbahaya. Jafar juga bego sekali dalam mengaplikasikan ilmu mindahin orang yang ia punya. Ironisnya, orang yang bertubi-tubi dicemo’oh saat trailer film ini rilis, justru menjadi penyelamat film ini. Jika gak ada Will Smith, niscaya film ini akan garing sekali. Dan aku bukan penggemar Will Smith. He’s not a better Genie than Robin Williams. Smith cringey ketika menjadi jin biru, tapi mendingan dan benar-benar mewarnai film ketika dia sudah masuk ke wujud manusia alis mode: om jin.

 

 

 

 

Film ini berjuang terlalu keras untuk menghidupkan animasi ke dunia nyata. Between CGI, adegan nyanyi yang dipercepat framenya, kamera yang sebagian besar hanya ngintilin jalan, dan permainan akting yang kaku; dunia film ini tidak pernah mencuat seperti dunia beneran. Yang mana berarti maksud mereka bikin live-action kurang kesampaian. Agrabah dan masyarakatnya hanya terasa seperti latar – lapangan untuk berparkour ria. Semuanya terasa kurang hidup. Bahkan Arab-nya sendiri agak-agak keindian yang membuktikan keignoran Hollywood – I mean, bahkan di WWE pun superstar Arab dan India biasanya dikasih moveset yang sama (Camel Clutch) seolah mereka gak tahu bedanya apa. Film terasa kesulitan bergerak antara harus sesuai dengan versi asli dengan harus tampak baru. Maka mereka fokus memoles alih-alih membangun. Semua yang bagus dalam film ini sudah pernah kita lihat sebelumnya. Dan mereka lebih seperti pertunjukan yang melakukan reka ulang alih-alih menghidupkan. Still, alot of people will enjoy it. Tapi nyatanya, setelah semua perayaan dan kembangapi di ending itu, ternyata ada satu yang belum punya kebebasan untuk menjadi dirinya sendir; ya film ini sendiri.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for ALADDIN. 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Apakah menurut kalian kebebasan orang lain itu penting? Apakah kamu pernah merasakan kebebasan kamu dibatasi?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

DUMBO Review

“Put your heart, mind, and soul into even your smallest acts”

 

 

 

Dumbo, gajah kecil yang punya sepasang telinga begitu lebar sehingga bisa dikepakkan seperti sayap, sejak tahun 1941 (animasi originalnya) sudah membawa serta perasaan penonton untuk terbang bersamanya. Film animasi tersebut begitu uplifting. Itu adalah masa-masa di mana Disney masih berupa studio yang purely menggarap ‘sihir; dalam setiap gambarnya. Dipenuhi oleh tokoh-tokoh hewan yang bisa bicara, Dumbo tatkala itu adalah perlambangan seorang manusia cacat – terlahir berbeda dari golongannya –  yang dikucilkan, kemudian dipisah dari ibunya; dari satu-satunya orang yang lahiriah menerimanya. Tim Burton, dalam versi live-action animasi klasik Disney ini, membuat cerita Dumbo lebih literal. Dihadirkan tokoh-tokoh manusia yang punya keparalelan dengan apa yang dialami oleh Dumbo (dan ya, dibacanya ‘dambo’ bukan kayak lele, you dum-dum!)

Tokoh utama dalam film ini adalah Colin Farrell yang berperan sebagai Holt Farrier, seorang pria yang baru pulang dari medan perang. Tanpa sebelah lengannya. Holt disambut oleh kedua anaknya (dua-duanya dimainkan dengan joyless banget, sepertinya lantaran dua aktor cilik ini terlalu dipusingkan sama aksen amerika mereka), dan kemudian mereka pulang ke rombongan sirkus. Ke kehidupan lama Holt. Tapi kemudian dia menyadari lengan bukanlah satu-satunya yang pergi darinya. Istri Holt sudah tiada. Kuda partner sirkusnya sudah dijual. Dan bahkan sirkus mereka sudah tidak serame biasanya. Merasa malu dan juga kehilangan atraksi, Holt ikhlas ditempatkan sebagai pengurus gajah. Dan saat itulah Dumbo lahir. Dua makhluk tak-sempurna ini bertemu, dan kita bisa menebak Holt bakal belajar satu-dua hal dari gajah kecil yang ia jaga tersebut.

dan kita juga akan melihat Batman dan Penguin reunian

 

Menghidupkan cerita klasik ini ke dalam napas yang modern sudah barang tentu akan menjadi suatu pertanyaan. Dalam kasus Dumbo, pertanyaan tersebut sekiranya bukan ‘kenapa’, melainkan ‘bagaimana’; Bagaimana caranya gajah lucu tersebut dijadikan live-action – bagaimana caranya cerita hewan-hewan yang menyimbolkan manusia tersebut bisa dimanusiakan lebih lanjut. Bagaimana Tim Burton bisa membawa hati cerita ke dalam visual yang sudah jadi cap dagangnya; gaya aneh nan kelam. Turns out, si gajah Dumbo tetaplah Dumbo yang kita kenal. CGI berhasil membuat gajah ini menjadi satu-satunya yang bernapaskan simpati, lihat saja ketika dia dirias seperti badut – ekspresinya tergambar kuat banget di situ. Dumbo, walaupun harus membagi spotlight dengan tokoh manusia, tetap adalah hati dari cerita, literally. I mean, di samping Dumbo, aku tidak lagi merasakan emosi pada tokoh-tokoh yang lain. Dan ini sebenarnya cukup aneh, lantaran film ini mengedepankan tokoh manusia tapi malah kita gak merasakan apa-apa buat mereka. Tapi setiap kali Dumbo muncul di layar, entah itu ketika dia ketakutan disuruh lompat, atau ketika dia mengunjungi ibunya yang dikurung karena dituduh gila, atau ketika dia terbang, kita yang menonton akan seketika terisi oleh joy, perasaan lega, haru, sedih.

Meskipun tokoh-tokoh hewannya tergantikan oleh tokoh manusia (Timothy si tikus cuma jadi cameo, will probably piss a lot of people off), tapi tetep masih terasa respek yang kuat terhadap film aslinya. Burton menebarkan reference dan dialog-dialog yang bakal membawa kita bernostalgia. Aku sendiri, aku enggak sabar pengen melihat gimana sutradara ini menghidupkan adegan ‘Pink Elephants’ yang serem itu. Adegan ini ikonik banget; Dumbo gak sengaja minum alkohol sampai mabok dan di depan matanya bermunculan gajah berwarna pink, beraneka rupa, berparade sambil bernyanyi. Dan aku suka dengan cara Burton memasukkan Pink Elephants ini ke dalam film yang baru. Alih-alih mabok – jaman sekarang mah orang bakal langsung ketrigger kalo ada adegan anak kecil mabok, I mean membuat ceritanya tetap bersetting di sirkus hewan aja kayaknya udah melanggar moral banget buat standar modern kita – Dumbo melihat Pink Elephant dalam bentuk gelembung-gelembung sabun sebagai bagian dari pertunjukan yang ia lakoni. Visual sekuen adegan tersebut memang keren banget, creepy-fantasy masih kerasa, dan itu salah satu yang kusuka dari film Dumbo ini.

Dalam film aslinya, Dumbo barulah terbang di sepuluh menit terakhir. Dengan kata lain, terbang itu adalah bagian dari resolusi akhir cerita tokohnya. Bagaimana Dumbo menemukan sisi positif dari keadaannya, dan dia tidak perlu lagi bergantung kepada pemikiran orang – dia bisa terbang tanpa bantuan bulu. Dalam film baru ini, Dumbo sudah dilatih terbang di babak pertama. Arc Dumbo sebenarnya kurang lebih sama, kali ini yang ditekankan adalah ketergantungan Dumbo terhadap bulu yang ia pikir ajaib tersebut. Tapi sebenarnya ini riskan; saat pertama kali mengetahui dirinya mampu terbang, Tim Burton berhasil mencapai ketinggian emosi yang sama dengan saat kita melihat Dumbo terbang di menjelang akhir film animasi jadulnya. Build upnya dilakukan dengan benar, ada stake Dumbo bisa celaka jika gagal, dan melihatnya terbang di atas penonton sirkus – menyemprotkan air ke wajah anak-anak yang tadi menertawakan dirinya adalah perasaan yang menggelora. Namun semakin ke belakang, efek melihat Dumbo terbang akan semakin berkurang. Burton sadar akan hal ini, maka dia berusaha memvariasikan tantangan dari adegan pertunjukan terbang yang berulang, tapi memang tidak pernah efeknya sekuat adegan yang pertama. Dan masalah utamanya menurutku terletak pada posisi Dumbo di cerita

I snorted then I fly

 

Dumbo harus beratraksi terbang bersama Eva Green yang menungganginya. That’s pretty much what happened as a film; tokoh-tokoh manusia di filmnya menunggangi Dumbo. Gajah lucu itu, ceritanya yang mestinya polos, terbebani oleh kepentingan cerita tokoh-tokoh manusia yang begitu random. Tokoh Eva Green adalah salah satu yang paling random; pertama kali dimunculkan dia kayak jahat, tapi lantas baik kepada anak-anak Holt, kepada Dumbo, tidak ada transisi dari tokoh ini jahat ke semakin baik. She’s just change. Yang paling aneh buatku adalah dia udah baik tapi masih tetep nendang Dumbo. Film Dumbo yang dulu hanya satu jam lebih empat menit, dan di film ini keseluruhan durasi tersebut seperti dipadatkan di paruh pertama, sehingga paruh kedua film bisa diisi oleh cerita baru yang melenceng jauh dari poin cerita Dumbo itu sendiri. Eva Green yang jadi Colette adalah salah satu performer dari sirkus korporat yang membeli sirkus tempat Holt bekerja; bayangkan Disney yang membeli studio lain, merangkulnya dalam satu payung – dan bayangkan taman hiburan, hanya saja bernuansa seram dengan salah satu wahana berisi hewan yang didandani seperti monster. Sirkus korporat yang dipimpin oleh Michael Keaton hanya mau mengeksploitasi Dumbo saja, karena beberapa hari setelah akuisisi, troupe sirkus Holt dipecat. Dan cerita pun berubah menjadi misi penyelamatan Dumbo dan ibunya oleh rombongan sirkus yang berontak karena diberhentikan secara sepihak.

Setidaknya ada tiga logika film yang enggak masuk buatku. Pertama adalah soal putri Holt yang menolak untuk tampil di sirkus, dia pengen jadi ilmuwan, dia ingin beraksi dengan otaknya. Tetapi justru dialah yang punya ide untuk membuat Dumbo menjadi bintang sirkus supaya mereka punya uang untuk membeli kembali ibu Dumbo yang dijual kepada sirkus korporat, dia yang melatih dan melakukan berbagai percobaan kepada Dumbo supaya si gajah bisa terbang. Kupikir-pikir, gadis cilik ini pastilah jadi evil-scientist ntar gedenya, meskipun tujuannya baik tapi tetep aja dia mengeksploitasi kan.

Kedua adalah sirkus kecil Medici Brothers tempat Holt berada itu sendiri. Dalam film aslinya, Dumbo dikucilkan oleh sesama gajah. Di film ini si Medici yang diperankan oleh Danny DeVito-lah yang pada awalnya gak mau menerima Dumbo. Menjelang akhir tokoh Medici ini actually yang paling menarik, tapi di awal-awal ini aku gak mengerti mengapa pemimpin sirkus enggak seneng sama sesuatu yang freak? Bukan hanya Dumbo, si Holt yang buntung juga tidak disambut antusias – bukankah sirkus mestinya seneng punya freakshow? Begini aku memandang elemen mereka; Sirkus Medici yang menampilkan pertunjukan ‘palsu’ sedang sulit keuangan, sehingga pemimpinnya pengen menyuguhkan sesuatu yang asli. Namun bayi gajah mereka terlahir ‘cacat’ sehingga ia takut dituduh menjual gajah palsu oleh publik. Lengan buntung Holt pun disamarkan dengan lengan palsu ketika muncul di arena. Pengucilan yang diterima Holt dan Dumbo seperti maksa dan enggak cocok sama poin pengucilan pada Dumbo original.

Tentu saja ini membawa kita ke logika cerita ketiga yang tidak aku mengerti. Apa sih arc Holt dan pesan atau gagasan yang ingin disampaikan oleh film ini. Plot tokoh Holt seperti ngambang begitu saja, di pertengahan dia seperti malu dikenali sebagai kapten yang lolos dengan lengan buntung alih-alih gugur di medan perang. Tapi di akhir film kita melihat dia tampil, dengan lengan robot. Aku benar-benar gak bisa ngikat poin A ke B. Apa yang ia pelajari? Dan putrinya tadi; di akhir film anak cewek ini melakukan pertunjukan gambar bergerak seperti bioskop. Bagaimana ini lebih baik daripada melakukan pertunjukan yang asli? Di akhir cerita memang seperti berkata bahwa semua orang menjadi lebih baik ketika mereka diberikan kesempatan untuk melakukan kemampuan mereka yang sebenarnya, tapi menunjukkan hal tersebut dengan cara yang aneh. Aku sampe sekarang masih gak abis pikir gimana caranya Dumbo dan ibunya naik kapal sampai ke hutan.

Mungkin film ini ingin menunjukkan bahwa ada hal yang tidak mungkin di dunia, dan hanya bisa dimungkinkan dengan ilmu pengetahuan. Biarkan otak kita yang beraksi sehingga kita bisa mencapai lebih jauh, bisa terbang lebih tinggi.

 

 

Film ini benar-benar membuatku merasa rendah hati. Mendaratkanku ke tanah. Aku tidak menyangka setelah sekian lama membuat review, aku menemukan film anak-anak yang aku tidak mengerti logikanya. Aku actually memikirkan film ini selama tiga hari, aku pengen nonton lagi karena aku pikir ‘masa sih film ini begini?’ Tidak ada yang salah dengan si gajah Dumbo. Adorable, penuh emosi, dan membuat kita peduli. Hanya saja, tempat dunia di mana dia dijadikan tunggangan inilah yang begitu rush out, yang begitu acakadut. Dan cerita membuat tokoh-tokoh manusia merebut spotlight dari Dumbo. Secara gaya aku lumayan suka, it’s really dark seperti yang bisa kita harapkan dari Tim Burton. Alih-alih ngejual ibu Dumbo untuk profit, pihak sirkus korporat lebih memilih untuk membunuh dan menjadikannya sebagai bahan sepatu. Anak kecil bisa-bisa trauma begitu mereka menyadari dialog subtil yang dimiliki oleh film ini. Aneh ketika sebuah fabel – cerita hewan – diparalelkan secara literal dengan kehadiran tokoh manusia. Maksudku, itu seharusnya membuat fabel tersebut jadi lebih sederhana kan? Tapi ternyata cerita film ini malah lebih terbebani.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for DUMBO.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Apakah menurut kalian ada alegori tersembunyi dalam film ini? Mengapa menurut kalian memakai hewan untuk sirkus dianggap tidak manusiawi? Apakah ada bedanya dengan memakai hewan sebagai objek riset dan kelinci percobaan untuk penelitian?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

RALPH BREAKS THE INTERNET Review

“Sometimes being a friend means mastering the art of timing.”

 

 

 

Ketika memikirkan tentang penjahat dalam video game, kita akan membayangkan monster supergede yang bertampang menyeramkan, dengan kekuatan dan ketangguhan super. King Koopa, M Bison, Shao Kahn, adalah bos-bos video game yang bangga sebagai penjahat. Beda ama Ralph (John C. Reilly mengundang simpati kita lewat suaranya) dari game Wreck-It Ralph yang pengen berbuat baik. Dalam film pertamanya enam tahun yang lalu (timeline cerita sekuel dibuat paralel dengan waktu IRL kita), Ralph si raksasa penghancur bertualang untuk membuktikan kebaikan hatinya yang sering disalahartikan hanya karena dia merusak apapun yang ia sentuh. Ralph pada akhirnya berhasil mengukuhkan diri sebagai penjahat video game paling ‘manis’ seantero dunia arcade tempat mereka tinggal. Ralph bersahabat erat dengan Vanellope von Schweetz (Sarah Silverman adalah manusia langka yang bisa terdengar annoying sekaligus cute), ‘Princess’ super-enerjik dari game balap anak-anak Sugar Rush di mesin game sebelah.

Dalam sekuel ini kita akan melihat Ralph dan Vanellope benar-benar sobat kental. Meminjam istilah 90an – karena film ini erat dengan konsep nostalgia – kedua tokoh kita ‘nempel terus kayak perangko’. Ralph tetaplah Ralph; dia masih selalu ingin membantu walaupun hasil perbuatannya di luar yang ia harapkan. Mendengar Vanellope merasa bosan dengan lintasan balap yang itu-itu melulu – semua jalan pintas rahasia di dunia gamenya sudah ia temukan, Ralph membuatkan ‘lintasan’ baru. Yang berujung dengan rusaknya mesin game Sugar Rush, membuat Vanellope dan teman-teman kehilangan tempat tinggal. Dan Vanellope pun tetaplah Vanellope, cewek ini suka petualangan dan selalu menghargai apa yang dilakukan oleh Ralph. Vanellope melihat masalah ini sebagai kesempatan untuk mengarungi dunia ‘game’ yang baru saja dipasang di toko arcade mereka. Dia langsung menyetujui rencana Ralph untuk masuk ke internet demi mencari suku cadang untuk mesin Sugar Rush. Satu lagi rencana ‘jenius’ buah pikiran Ralph yang bekerja tidak sesuai dengan yang ia harapkan; lantaran Ralph melakukan itu semua demi Vanellope bisa tetap tinggal di arcade. Hanya saja, menapaki kegemerlapan dunia internet yang tanpa batas – mengalami asiknya game balap berbahaya yang tanpa aturan – Vanellope merasa dia sudah menemukan rumah barunya.

syukur peran Fix-It Felix dikurangi dan kita dapat Gal Gadot instead!

 

Seperti film pertamanya yang membuai penonton dengan berbagai referensi video game arcade, film kali ini juga secara konstan membuat kita mengangguk, bertepuk, dan tertawa oleh banyaknya easter egg yang kali ini berasal dari dunia internet. Dunia maya tergambarkan dengan begitu immersive oleh animasi yang penuh warna. Ya kita akan melihat banyak produk placement, namun mereka ‘ditempatkan’ dengan kreatif. Environment terlihat sama sibuknya dengan kejadian dalam cerita. Internet adalah tempat tersibuk di dunia, dan film dengan cerdas menggambarkan hal tersebut. Berbagai user berseliweran ke sana kemari, gimana iklan-iklan pop up bermunculan dan dikaitkan ke dalam cerita, bagaimana komen-komen dan situs seperti ebay dan plattform video dan social media bekerja. Tidak seperti The Emoji Movie (2017)  yang hanya menampilkan tanpa benar-benar meniupkan ruh ke dalam bobot cerita, Ralph Breaks the Internet berhasil membuat kita peduli kepada tokoh-tokohnya karena mereka bukan sekedar produk tak bernyawa. Dan ini membuat perbedaan yang besar, tentu saja. Jika kita tidak peduli dengan tokoh cerita, kita akan segera mengenali produk-produk seperti google, youtube, snapchat, instagram, kita akan memandang kemunculan mereka sebagai hal yang negatif. Namun jika seperti yang dilakukan oleh film ini – kita benar-benar ingin tahu apa yang bakal terjadi sama Ralph dan Vanellope, kita akan melihat produk-produk tersebut sebagai bagian dari cerita; sebagai elemen yang turut membentuk tubuh narasi.

Anak-anak mungkin memang akan melihat film dari sisi kelucuan dan petualangan yang seru. Yang mana film memang melimpah dari dua hal tersebut. Namun tema yang menjadi hati cerita tetap akan tersampaikan dan bisa mereka bawa pulang untuk diobrolin kepada orang tua ataupun pendamping dewasa yang juga peduli akan cerita yang diangkat. Film ini bersuara tentang perasaan insecure; rasa cemas kita terhadap banyak hal di sekeliling kita yang tak bisa kita kontrol. Vanellope akan berpendar, nge-glitch setiap kali dia merasa insecure. Ralph yang tubuhnya gede, actually adalah tokoh yang paling vulnerable karena dia mempunyai rasa insecure yang paling besar yang berasal dari rasa takutnya kehilangan satu-satunya orang yang menganggap dia berjasa – yang memahami value dari tindakannya. Di babak akhir, film menggunakan virus komputer sebagai metafora dari racunnya perasaan insecure yang semakin menyebar. Seluruh dunia internet hancur hanya karena kecemasan satu orang.

Penting untuk menjadi diri sendiri. Maka dari itu, sama pentingnya untuk kita membiarkan orang lain menjadi diri mereka, untuk memilih apa yang mereka mau – yang mereka sukai, yang mereka yakini. Teman satu geng kita tidak harus menyukai hal yang sama dengan kita. Kita tidak harus punya selera, punya idola, atau bahkan punya seragam yang sama untuk menjadi satu kelompok. Teman kita enggak harus menjadi sama seperti kita. Enggak setiap saat kita harus bersama dengan mereka.

Ralph breaks our hearts

 

 

Aksi-aksi dalam film tergerak oleh Ralph yang mengambil resiko, dan sama seperti itulah, film juga bekerja terbaik saat melakukan pilihan yang beresiko. Misalnya ketika Vanellope bertemu dengan para Princess dari universe Disney. Film tidak sebatas menampilkan Cinderella, Snow White, Ariel, Elsa, Moana, dan Vanellope, dan banyak lagi dalam satu layar. Film sungguh-sungguh melakukan sesuatu dengan mereka, kita mendengar candaan tentang tropes dan pakem para putri tersebut – gimana sebagian dari mereka butuh diselamatkan oleh pria berbadan kekar, gimana kemampuan bernyanyi mereka datang dari menatap air dengan sedih, dan gimana sekarang mereka ‘hanya’ sebatas idola sebagai jawaban dari kuis trivia. Film dengan berani make fun of that, sehingga hasilnya beneran lucu. Kita melihat mereka berganti baju menjadi gaya kekinian; it’s a fresh look. Film memainkan dengan cerdas soal Vanellope yang technically juga princess Disney, tapi dia begitu berbeda – Vanellope lebih suka tinggal di dunia balap berbahaya ketimbang di kastil impian. Film seharusnya lebih banyak memperlakukan referensi-referensi seperti begini. Mereka dibecandaain, bikin tokoh yang sudah dikenal melakukan sesuatu di luar kebiasaan, seperti pada game Kingdom Hearts di mana kita bantuin tokoh-tokoh Disney memecahkan masalah yang sudah diekspansi.

Tapi masih sering kita mendapati referensi yang hanya ada untuk bikin kita senang. Seperti pada kasus film Ready Player One (2018) belum lama ini. Menjadi begitu kekinian sekarang, dengan elemen-elemen internet dan hal modern lain, film ini sesungguhnya masih harus melewati ujian waktu untuk membuktikan diri bisa menjadi timeless – membuktikan ceritanya bisa berdiri sendiri tanpa semua referensi dan lelucon internet tersebut. Film yang pertama, dengan referensi jadul, setidaknya sudah membuktikan diri enak untuk ditonton di era sekarang. Aku pengen melihat lebih banyak eksplorasi. Di satu titik cerita, Ralph akan mengunjungi Dark Web yang seharusnya bisa diberikan lebih banyak pengaruh lagi. Ralph juga sempat berusaha bikin video viral untuk mendapatkan uang; di sekuen ini diselipkan komentar soal perilaku orang-orang di sosial media, tapi tidak benar-benar terasa menambah banyak bagi arc Ralph ataupun keseluruhan cerita. Malah lebih seperti stage yang harus dilewati dalam permainan video game. Aku paham mungkin masalah durasi, jadi film berusaha tampil seefektif mungkin, dan mereka mengambil resiko di sana-sini, menyeimbangkan porsi sehingga paling tidak, produk akhirnya tidak terlalu kelihatan sebagai proyek cari duit korporasi yang ingin menjual banyak sekali merengkuh dayung

Internet adalah soal waktu. Begitu juga dengan pertemanan. Ada waktu untuk diam. Ada waktu untuk membiarkan orang mengejar mimpi mereka. Ada waktu untuk menunggu sekembalinya mereka di sana

 

 

 

 

Film ini bekerja lebih dari sekedar pengganti babysitter, you know, lebih dari sekedar bikin anak-anak tenang selama dua jam kurang. Di balik semua keriuhan produk dan referensi itu, dia memang punya gizi untuk dinikmati. Kebanyakan film anak-anak akan bercerita tentang pentingnya untuk bersatu, untuk bekerja sama, mengalahkan orang jahat dan menyelesaikan masalah. Film ini – seperti juga lagu anti-princess yang diusungnya – berani membuat anak-anak untuk berani bukan hanya menjadi diri mereka sendiri, melainkan juga memberi ruang bagi teman atau sahabatnya untuk menjadi apa yang mereka inginkan. Mungkin terbaca sedikit depressing, tapi film ini benar-benar meriah dan menyenangkan, dan ini adalah prestasi tak terbantahkan dari kelihaian bercerita dan memanfaatkan konsep dalam upaya menyeimbangkan toneAn all-around entertainment yang sukses menghibur banyak kalangan dalam berbagai tingkatan, setidaknya untuk saat sekarang
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for RALPH BREAKS THE INTERNET.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Orang berubah. Pernah gak sih kalian ngerasain teman yang dulu dekat, kini cuma ngeliat namanya di instatory, atau cuma kontakan sekali setahun pas ngucapin selamat ulangtahun? Kenapa, menurut kalian, kita perlu move on? Seberapa clingy sih, clingy dalam pertemanan itu?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

THE NUTCRACKER AND THE FOUR REALMS Review

“With realization of one’s own potential and self-confidence in one’s ability, one can build a better world.”

 

 

 

Kurang garam rasanya kalo Disney tidak bercerita tentang Princess atau tentang anak yang ditinggal mati oleh orangtuanya. The Nutcracker and The Four Realms benar mengikuti formula serupa; Clara, si tengah dari tiga bersaudara, merasa ‘ditinggalin’ oleh ibunya yang telah tiada. Kakaknya mendapat gaun, adiknya diwarisi mainan tentara, dan dia; sebuah telur mekanik yang bahkan tidak bisa dibuka karena sepertinya Ibu lupa memberikan kuncinya kepada Clara. Ibu hanya melampirkan secarik tulisan, “Di dalamnya kamu akan mendapatkan semua yang kau perlukan” begitu bunyinya kurang lebih.

Jika Alice mengikuti kelinci, maka Clara masuk ke dunia fantasi setelah mengikuti benang emas di rumah kakek walinya, Morgan Freeman dengan eye-patch ala bajak laut. Clara disambut baik oleh penghuni dunia sana – manusia serdadu-mainan Nutcracker, manusia bunga, manusia es, dan manusia yang rambutnya terbuat gulali. Dengan segera Clara mengetahui dunia yang terdiri dari empat realm berbeda tersebut adalah ciptaan ibunya. Sang Ibu adalah Ratu di sana, membuat Clara Stahlbaum menjadi seorang Putri. Sebagai seorang Putri, Clara harus mengupayakan kedamaian di sana,  sebab ada satu realm, though, dihuni oleh tikus dan mainan, mereka gak akur dengan penduduk realm lain. Mereka bahkan mencuri kunci emas yang dicari Clara. Kunci penting membuka telur, dan rahasia di balik dunia yang dibuat oleh Ibu Clara.

Oh, Clara juga Ratu sih; ia memerintah dengan Hukum Fisika

 

Melanjutkan tema protagonis wanita masa kini yang mandiri, kuat, tanpa harus mementingkan punya pasangan kekasih yang sudah diusung Disney semenjak Frozen (2013), Clara akan menginspirasi anak-anak cewek kekinian berkat kepintaran dan keberaniannya. Daripada berdansa, Clara lebih suka merakit mekanisme untuk menangkap tikus. Tentu saja, membantu sekali fakta bahwa Mackenzie Foy is absolutely stunning. Antara presence-nya dan cerita dongeng ini, benar-benar sebuah peristiwa yang magical. Meskipun kadang aksennya sedikit goyah, namun Foy (pasti banget masuk nominasi Unyu op the Year tahun ini!) bermain dengan mantap. Entah itu menghadapi pasukan tikus yang bersatu membentuk tikus raksasa, menyisir pinggiran tebing yang basah dan dihuni kelelawar, ataupun memimpin serdadu menembus belantara hutan, Clara jarang sekali menunjukkan ekspresi ketakutan. Kevulnerabelan tokoh ini mudah direlasikan oleh semua orang; ketidakpercayadirian itu kadang menerpa di saat kita paling butuh untuk merasa berani.

Kadang kita butuh orang lain. Bukan untuk disuruh memuji dan mengelu-elukan kita sampai terbang. Bukan untuk diperintah melakukan hal yang tidak kita bisa. Tapi untuk mengingatkan siapa sebenarnya diri kita. Kekuatan dan kelemahan yang ada pada diri, sering kita lupa sehingga berputus asa. Padahal kita selalu punya semua yang kita butuhkan, kita hanya lupa dan butuh teman untuk mengingatkannya.

 

Dalam upayanya lolos dari Bechdel Test – tes kecil-kecilan untuk menentukan film punya karakter wanita yang ‘kuat’ dengan syarat: ada dua tokoh wanita yang saling bicara dan tidak membicarakan soal pacaran – cerita film ini diadaptasi dengan sedikit mengerdilkan beberapa aspek pada material aslinya. The Nutcracker berasal dari pertunjukan balet hasil saduran cerita The Nutcracker and The Mouse King. Balet sendiri hanya dijadikan sebagai pemanis. Didorong jauh ke belakang sehingga adegan balet pada film ini tak lebih dari sekedar media penceritaan eksposisi. Romansa sentral dari versi asli ini diubah oleh Disney menjadi cerita kemandirian, dengan mengangkat secara tersirat hubungan antar-ras. Si serdadu Nutcracker, pada film ini diperankan oleh aktor kulit hitam Jayden Fowora-Knight, tidak terasa sepenting orang yang namanya terpampang sebagai judul film. Nama tokohnya malah baru kita dengar setelah menjelang akhir petualangan.

Kreativitas film ini – toh tidak gampang mengadaptasi sesuatu sehingga menjadi kreasi baru – tampaknya hanya berhenti pada tingkatan ‘menyederhanakan’. Seolah film ini sebenarnya punya sesuatu pamungkas; menyiapkan sesuatu yang gede, tetapi pada akhirnya ambisi tersebut melempem dan mereka membanting arahan begitu saja, melupakan apa yang diniatkan.

Sama seperti judulnya; panjang dan sulit diucapkan namun juga tidak memberikan kejelasan apa-apa sebatas dunia film ini ada empat biji, banyak elemen pada film yang dibangun menjanjikan tetapi tidak pernah berujung kepada sebuah kepuasan. Empat dunia di sini, digambarkan dengan visual yang indah – tokoh-tokohnya meriah oleh riasan dan kostum fantastis, tapi kita kehilangan sensasi eksplorasi. Kita tidak melihat bagaimana exactly masing-masing dunia bekerja. Clara hanya tur sepintas. Bahkan Realm of Amusement yang sesungguhnya adalah sebuah ide menarik menyajikan ranah mainan dan sirkus menjadi tempat menyeramkan, kita hanya diperlihatkan secuil dari apa yang bisa saja dibuat menjadi saingan Negeri Nikmat di Pinokio. Basically hanya hutan gelap dan satu tenda mekanik. Tiga pemimpin Realm yang harusnya adalah pembimbing Clara, kita hanya difokuskan pada satu yang diperankan Keira Knightley dengan suara mencicit kayak anak kecil keselek tikus. Film yang punya dunia begitu luas, dengan banyak aspek cerita yang diangkat, tidak pernah mekar sempurna hingga waktunya tiba dan pergi meninggalkan kita. Hanya mengerucut, menjadi simpel tidak tergali. Karena, guess what, film mendedikasikan diri untuk membangun twist yang bahkan enggak punya motivasi yang cukup jelas sebagai labuhan satu-satunya cerita.

Clara dan empat dunia CGI

 

Sudah cukup aneh pilihan mengubah dongeng fantasi tontonan natal untuk anak kecil menjadi cerita perang. Semakin aneh lagi jika perang yang dikobarkan cerita sama sekali tidak punya penyebab yang jelas. Penjahat-sebenarnya cerita ini pengen gitu aja menyerang dunia atau realm yang lain, dia ingin menaklukkan semua dan sebagai pembelaan dia menyalahkan ibu Clara yang sudah tega meninggalkan dunia ciptaannya sendiri. Elemen perang rebutan kuasa sendiri sesungguhnya memang ada dalam kisah orisinilnya. Apa yang dilakukan oleh film ini, sayangnya, begitu berdedikasi untuk menghadirkan twist dari elemen originial tersebut; mereka memutarbalikkan peran, dan ultimately malah menjungkirbalikkan film ini secara keseluruhan. Mereka lupa memasukkan alasan yang kuat. Seharusnya ada motivasi lebih dalam daripada sekedar grasak grusuk masuk hutan, mengobarkan pasukan, demi merebut kunci emas.

Film ini seperti mengkhianati temanya sendiri. Ini tentang self-trust, keberanian. Dengan percaya kepada kemampuan dan potensi yang kita miliki, kita bisa mencapai begitu banyak hal hebat. Bahkan menciptakan dunia. Tetapi film, ia tidak yakin bisa membangun cerita. Ada begitu banyak hal yang seperti tambalan di sana-sini. Film malah seperti dua visi yang enggak klop. Lebih seperti pengen membuat produk ketimbang dunia imajinasi yang kreatif.

 

 

 

 

Pembangunan dunia dengan ‘aturan’ dan mitosnya tak pernah lebih jauh berfungsi kepada penceritaan. Dunia-dunia tersebut tak lebih dari perkenalan, you know, supaya kalo nanti ada wahananya di Disney, fans sudah tidak bertanya-tanya lagi. Untuk orang dewasa, film ini seperti mimpi yang ngaco – yang hanya terjadi dan lantas dilupakan karena memang tidak banyak hal menarik yang patut diingat. Semuanya serba tanggung. Bagi anak-anak, ada kesenangan dan ketakjuban melihat visual yang cantik, ada petualangan yang hadir dari makhluk-makhluk dengan desain cukup menyeramkan tersebut. Ada pesan yang bisa mereka bawa pulang. Mereka akan menikmati ini sampai twist tentang perang itu muncul mengubah tone film keseluruhan. Semanis-manis kata yang bisa kita ucapkan untuk film ini, bahwa ia adalah kekecewaan yang adorable, berkat Mackenzie Foy.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for THE NUTCRACKER AND THE FOUR REALMS.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Apa makna teman bagi kalian? Mengapa kalian mau berteman dengan teman-teman kalian yang sekarang? Bagaimana kalian tanpa mereka?

Menurut kalian, bagaimana cara Ibu Clara menciptakan keempat realm tersebut?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

CHRISTOPHER ROBIN Review

I’ll fly before I change

 

 

 

Dasar Silly Old Bear. Begitu biasanya Christopher Robin menutup setiap percakapan dengan menggoda Winnie the Pooh, boneka beruang yang jadi sahabatnya. Pooh yang kerap bicara dengan perutnya sendiri yang selalu lapar. Jika ditanya hari apa yang menjadi hari favoritnya, Pooh akan menjawab “Hari ini.” Memang kebangetan lugunya, makanya jadi lucu.  Tapi lantas, Pooh juga menganggap Christopher yang membawa tas kerjaan ke mana-mana, sedangkan putrinya yang ia bilang paling berharga selalu ia tinggal, bersikap tak kalah lucu. Hmmm, mungkin kata-kata tadi sudah berbalik arah. Mungkin kinilah saatnya giliran Pooh menggoda Christopher dengan “dasar, Silly old Human”

Christopher Robin sudah siap meninggalkan masa kecilnya yang memang sangat menyenangkan, setiap hari dia masuk ke lubang pohon di belakang rumahnya, untukk bermain-main dengan Pooh dan teman-teman boneka hewan yang lain di Hutan Seribu Acre. Film ini dibuka dengan Pooh, Piglet, Eeyore, Tigger, Rabbit, Owl, Kanga, dan Roo mengadakan pesta perpisahan untuk Christopher yang di usianya yang ke Sembilan itu harus masuk Boarding School. Berjanji untuk berteman selamanya, Christopher menutup pintu di depan teman-teman semua. Dan dia gak pernah menoleh balik. Selepas dari ‘Boring School’ (kata Pooh, loh), Christopher menikah, masuk militer, dan bekerja di perusahaan koper. Ia kepala keluarga sekarang, mana ada waktu untuk bermain-main. Dia tahu dia harus serius karena mimpi itu enggak gratis. Saking sibuknya kerja, Christopher enggak ada waktu untuk putrinya; Madeline, yang ia suruh untuk dewasa lebih awal dari dirinya di usia 9 tahun. Apalagi untuk mengunjungi Pooh, faktanya, sudah tiga puluh tahun, Christopher tidak memikirkan teman-teman yang ia tinggalkan di Hutan tersebut. Menyebabkan Pooh merasa kesepian. Beruang itu nekad masuk ke lubang tempat Christopher biasanya muncul, dan sampailah Pooh ke London. Ke  tengah-tengah kehidupan nyata Christopher Robin.

jangan garuk-garuk pantat dong, Pooh, norak tauk!

 

 

Bertumbuh di waktu Winnie the Pooh lagi masih cukup hits, susah bagiku untuk gak ikut-ikutan suka sama beruang ini. Karena memang ceritanya bagus, tokoh-tokohnya lucu. Aku nonton kartunnya di VCD, aku punya majalahnya, punya edisi komik dari film-filmnya, aku bahkan nontonin serial balita My Friends Tigger and Pooh while I’m babysitting my baby brother (ternyata, serial itu tidak dianggap kanon oleh film ini, bayangkan kecewaku hihi). Cerita Winnie the Pooh favoritku adalah cerita Tigger yang mencari keluarganya – dia melatih Roo melompat supaya bisa dijadikan adiknya, dan kemudian Pooh dan teman-teman yang lain berdandan ala Tigger, mereka sampai memasang per di kaki masing-masing bisa bisa melompat kayak Tigger, semua menyamar menjadi keluarganya supaya Tigger senang – cerita Pooh selalu menghangatkan hati seperti demikian. Film Christopher Robin pun tak luput dari akrab dan bikin hati kita berbulu lembut dan hangat seperti demikian. SEMANIS MADU, DEH! Di cerita-cerita yang dulu, Christopher Robin adalah tokoh yang paling jarang dibahas, anak cowok ini biasanya muncul di awal, kemudian di akhir – sebagian besar untuk ‘menyelamatkan’ Pooh dan teman-teman yang begitu polos. Makanya, film live-action ini terasa benar perbedaannya. Kita akan melihat Pooh dan teman-teman dari mata Christopher Robin yang semakin dewasa ke titik di mana dia mengakui dia sudah ‘memecat’ Pooh and the genk sebagai teman. Sense pertumbuhan kuat sekali, cerita tidak berdalih dari majunya waktu; dari konsekuensi kehidupan nyata yang dihadapi oleh orang dewasa.

Tetapi, apa sih ‘Kehidupan Nyata’ itu? Kalo ‘Nyata’ kenapa kita memandangnya dengan tanpa senang hati; kenapa Christopher malah jadi jarang tersenyum? Jangan-jangan kebahagiaan itu memang sesederhana balon merah yang dipegang oleh Pooh

 

 

Hubungan antara Christopher dan Pooh selalu adalah inti hati dari cerita ini, dan dengan pertumbuhan yang dialami oleh sang pemilik, kita merasakan hubungan tersebut turut berubah. Lewat animasi komputer yang menawan (lihat bulu-bul.. ah benang-benang tubuh Pooh begitu detil saat dia berjalan menyisir padang bunga), kita akan melihat perubahan di mana kini Christopherlah yang butuh ‘pertolongan’ Pooh. Satu perfectly throwback scene yang kocak adalah ketika Christopher nyangkut di liang dan Pooh berdiri di sana ngeliatin. Memang sih, cerita tentang orang dewasa yang melupakan masa kecilnya sudah sering kita lihat. Ada sedikit kemiripan elemen dengan Toy Story (1995), bahkan kita bisa bilang film ini banyak miripnya ama Hook (1991) di mana Peter Pan yang sudah manusia normal kembali ke Neverland. Poin ini, tak pelak, mengurangi keistimewaan Christopher Robin. Membuat kita terlalu cepat memutuskan, dan tidak benar-benar melihat kesubtilan pesan yang dimiliki oleh film; yang memberikannya sedikit jarak dengan film-film serupa.

Film ini tidak menyuruh orang dewasa untuk meninggalkan pekerjaannya. Melainkan meminta bapak-bapak, ibu-ibu, siapa yang punya anak, untuk melihat apa yang mereka tinggalkan saat dewasa, untuk mengingat kembali seperti apa mereka saat masih kecil. Christopher Robin tidak dibuat berhenti bekerja dan memilih untuk bersenang-senang sepanjang waktu. Yang kita lihat adalah perjalanan Christopher Robin, seorang yang sudah menjadi begitu tak-menyenangkan akibat tekanan pekerjaan, dalam menyadari bahwa dirinya yang sekarang masih sama dengan dirinya tiga puluh tahun lalu. Tumbuh menjadi dewasa bukan berarti kita berubah menjadi orang lain, meninggalkan diri kita yang sebenarnya. Dan eventually, kita akan melihat gimana Christopher Robin, yang setelah menyadari dia adalah dirinya yang dulu, menjadi lebih baik dalam pekerjaannya – dia jadi punya ide yang cemerlang untuk mengatasi masalah perusahaan.

Film ini dilarang tayang di Cina karena presidennya ngamuk dikatain mirip ama Pooh; sensitif atau kekanakan? You be the judge

 

 

Doing nothing pada film ini enggak semestinya kita artikan literal sebagai solusi berupa  gak usah ngapa-ngapain. Something, dikatakan oleh film ini, berasal dari nothing. Ini merefleksikan gimana segede apapun pekerjaan kita sekarang, kita semua berawal dari seorang anak kecil yang polos. Dan anak kecil polos yang kita berusaha untuk kita lupakan itulah yang membuat kita menjadi seperti sekarang. Kita sewaktu kecil bukannya enggak-berarti apa-apa. Monster yang kita ciptakan sewaktu itu, Heffalump dan Woozle itu bukanlah makhluk fantasi yang akan hilang ketika kita sudah bekerja. Mereka menjadi ‘nyata’, karena benar, life got real. Begitu juga dengan apa yang bikin kita bahagia semasa kecil; masih akan terus bikin kita bahagia hingga uzur nanti. Jadi kenapa mesti malu dengannya? Kenapa Christopher mesti malu dia bisa menggambar dan punya boneka? – hal inilah yang dipelajari oleh dirinya, yang membuatnya sadar dan memandang hidup penuh tanggung jawabnya sekarang sama indahnya dengan masa-masa yang ia habiskan di Hutan Seribu Acre.

Selalu sediakan ruang untuk pengembangan diri, kenali kesalahan dan belajar darinya, terus bertumbuh menjadi manusia yang lebih baik lagi. Akan tetapi, jika untuk menjadi dewasa berarti adalah mengubah diri menjadi orang lain – menjadi sesuatu yang bukan diri sendiri, maka aku menolak untuk menjadi dewasa.

 

 

 

Sama seperti madu yang dimakan oleh Pooh, cerita manis ini bisa dinikmati kapan saja. Kepolosan Pooh akan selalu lucu, bukan hanya slapsticknya, melainkan juga dialog “Doing nothing is impossible. But I do nothing all day.” Gold banget! Dengan animasi yang memenuhi harapan dan fantasi kita, film ini punya semua yang kita harapkan dari cerita Winnie the Pooh; menyenangkan, hangat, lucu, sempurna buat keluarga. Lebih diarahkan buat orang dewasa sih sebenarnya, tapi anak-anak kecil tentunya bakal terhibur juga; Tontonkan mereka ini supaya bisa melihat bahwa orangtua mereka – yang di mata mereka mungkin selalu serius dan galak – nyatanya dulu pernah jadi anak-anak juga, yang bermain, berkhayal, sama seperti mereka. Meski begitu aku juga dapat melihat hal-hal yang jadi turn-off buat beberapa orang, seperti ceritanya yang udah sering, formulaic, dan gak benar-benar menjelaskan Pooh dan teman-temannya itu kalo bukan bagian dari imajinasi, kenapa mereka bisa ada di sana. Tapi buatku, terlalu nge-nitpick melihatnya dengan begitu; Toh film ini bekerja dengan baik dalam konteks dan dengan konsep yang ia miliki tersebut.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for CHRISTOPHER ROBIN.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

INCREDIBLES 2 Review

“All parents are super heroes.”

 

 

Dipersalahkan padahal kita tahu kita melakukan sesuatu yang benar itu  memang rasanya menyebalkan. Kita sudah berjuang, tapi orang-orang salah mengerti apa yang kita lakukan. Karena semua itu memang soal perspektif. Apalagi pada dasarnya, seringkali kita semua menilai dari hasil. Dalam dunia criminal misalnya, kita pengen penjahat segera ditangkap dan dijebloskan ke dalam bui. Namun kita kerap kesal melihat cara kerja polisi yang lamban, bertele-tele dengan segala prosedur itu. Di lain pihak, keberadaan pihak yang main hakim sendiri, yang bertindak di atas hukum, seringkali dituduh meresahkan.

Katakanlah, pahlawan super.

Kehancuran yang mereka sebabkan bukan tidak mungkin lebih gede dari yang diakibatkan oleh penjahat yang hanya ingin merampok bank. Not to mention, penjahat yang cerdik itu juga tidak seratus persen berhasil ditangkap. Karena kejadian seperti demikianlah, superhero-superhero di film Incredibles 2 dicap undang-undang sebagai sesuatu yang dilarang. Keluarga Bob Parr yang sudah kita kenal baik (mereka dan kerabat mereka tak berubah banyak semenjak terakhir kali kita melihat mereka empat belas tahun silam) termasuk yang dicekal keberadaannya lantaran mereka semua berkekuatan super. Mereka disuruh hidup normal, menghentikan profesi menangkap penjahat karena itu sama saja dengan mereka melanggar hukum.

Pahlawan dan penjahat sebenarnya adalah masalah perbedaan perspektif. Pahlawan bagi satu orang bukan tidak mungkin penjahat bagi beberapa orang lain yang melihatnya dalam ssudut pandang dan alasan yang berbeda. Dan terkadang, untuk membuat hal lebih menarik, media menyederhanakan atribut dan kelemahan mereka untuk menyetir sudut pandang kita – membuat kita melihat mereka semakin ke entah pahlawan atau penjahat.

 

Yang dengan berani disampaikan oleh animasi sekuel buatan Brad Bird ini adalah bahwa terkadang untuk memperbaiki peraturan, kita harus melanggar aturan tersebut terlebih dahulu. Bob dan Hellen diajak kerjasama oleh pasangan kakak beradik yang punya perusahaan telekomunikasi untuk mengembalikan citra baik superhero ke mata masyarakat. Mereka bermaksud merekam semua aksi menumpas penjahat lewat kamera kecil yang dipasang di kostum, supaya pemirsa sekalian dapat melihat langsung sudut pandang superhero, apa yang tepatnya rintangan dan kesulitan yang mereka hadapi dalam upaya menegakkan kebenaran. Tak peduli harus melanggar bejibun peraturan dalam prosesnya. Tapi untuk melakukan itu, superhero yang dipasangi kamera haruslah main aman, enggak yang gasrak gusruk terjang sana sini seperti Mr. Incredible. Maka, jadilah Elastigirl yang dipilih sebagai perwakilan superhero. Dan selama Elastigirl jadi the face of a good cause, memerangi tokoh penjahat baru bernama Screenslayer yang bisa menghipnotis orang-orang lewat monitor apapun, Bob Parr terpaksa kudu diam di rumah – menjadi bapak rumah tangga yang baik, ngurusin tiga anaknya yang bandel, yang baru merasakan gejolak remaja, dan yang baru tumbuh gigi.. eh salah, baru tumbuh kekuatan super.

sekalian aja Elastigirl bikin vlog pembasmian penjahat

 

Incredibles 2 membuktikan perbedaan besar kualitas antara sebuah sekuel yang dipatok kontrak dengan sekuel yang benar-benar dipikirkan dengan matang. Maksudku, lihat saja bagaimana sekuel yang jaraknya deket-deket kayak sekuel Cars, atau bahkan ada yang jaraknya cuma setahun kayak sekuel Jailangkung – mereka adalah franchise yang diniatkan harus punya sekuel yang keluar dalam batas waktu yang dekat, jadi pembuatnya belum sempat mengolah cerita dengan benar-benar baik. Sebagian besar kasus malah sengaja membagi satu cerita besar menjadi tiga agar bisa punya trilogi. Pembuat Incredibles, Brad Bird, semenjak film The Incredibles (2004) rilis sudah mengatakan akan ada sekuelnya, hanya saja dia tidak akan membuatnya sampa dia merasa punya cerita yang lebih baik, atau paling enggak sama baiknya dengan film yang pertama.

Penantian kita toh benar-benar terbayar tuntas.

Ini adalah salah satu terbaik yang ditelurkan oleh Pixar. Dikeluarkan dengan pesan yang relevan dengan tidak hanya iklim superhero, namun juga keadaan sosial dan poltik di jaman sekarang. Incredibles 2 adalah film anak-anak, namun tidak merendahkan mereka. Film ini mengajak anak-anak untuk memikirkan perihal yang cerdas dan serius. Tentang baik dan jahat, tentang peran keluarga. Brad Bird menceritakan filmnya dengan efektif dan penuh gaya. Sure, percakapan yang ada sebenarnya tergolong berat. Misalnya ada debat antara Elastigirl dengan Mr. incredible soal bagaimana dia akan menyelamatkan anak-anak dengan meninggalkan mereka di rumah. Film begitu mempercayai anak-anak kecil yang menonton bahwa mereka bisa memahami ini. Dan ketika kita menunjukkan respek kepada orang, respek itu akan berbalik kembali kepada kita. Itulah yang terjadi antara film ini dengan anak kecil penontonnya. Bukan hanya adikku saja yang antusias menyaksikannya, studio tempatku menonton hampir penuh dengan bisik anak-anak yang berdiskusi kepada orangtuanya, gumaman approval dari mereka ketika superhero melakukan aksi heroik, dan teriakan seru ketika mereka mengalahkan penjahat. Untuk sekali itu, aku tidak keberatan bioskop menjadi berisik.

Sama seperti ceritanya, animasi film ini juga menunjukkan kedalaman yang luar biasa. Helaian rambut Elastigirl terender dengan sempurna. Kita bahkan dapat serat-serat kain kostum para superhero dengan jelas. Porsi aksi digarap dengan menyerupai aksi live action. Pergerakannya sangat mengalir, cepat, dan tidak membingungkan. Ada begitu banyak momen aksi yang membuat kita menahan napas, karena indah dan menariknya animasi yang digambarkan. Sekali lagi, sama seperti ceritanya, animasi film ini pun terlihat dewasa. Teknik lightning yang digunakan membuat intensitas setiap adegan tampak menguat berkali lipat. Favoritku adalah adegan flashback tentang keluarga Deavor; tonenya sangat precise namun tidak melupakan hakikatnya sebagai film anak-anak.

Teknik visual seperti ini membuatku teringat sama film-film anime berkualitas yang membuat kita bertanya ini kartun anak apa dewasa sih. Incredibles 2 masih tetap konyol, seperti film anak-anak biasanya, ada lelucon kentut dan segala macam, tapi dia bekerja di dalam konteks yang benar. Like, kalo kita berurusan dengan bayi, maka tidak bisa tidak kita akan bertemu dengan popok dan segala macam isinya. Sehubungan dengan anime, tentu saja aku yang lagi getol-getolnya ngikutin anime My Hero Academia menemukan kesamaan antara pesan dan beberapa karakter. Seperti gimana pandangan penjahatnya terhadap para superhero, ada karakter yang kekuatannya sama. Kekuatan teleportasi kayak game Portal itu benar-benar keren. Yang stand out dilakukan oleh film ini adalah gimana dia tidak serta merta membuat superhero dan lantas ahli, ada kevulnerablean manusiawi yang dihadirkan saat superhero gagal menargetkan kekuatannya, dan mencobanya kembali.

Pertukaran tugas dalam rumah tangga tidak dihadirkan sekedar untuk komedi dan gimmick saja. Film ini menghormati kedua pekerjaan yang dilakukan oleh orangtua dengan menukar peran ibu dan ayah. Karena kalo kita pikirkan secara mendalam, tugas sebagai orangtua bagaimanapun juga adalah misi superhero yang sesungguhnya dalam dunia nyata. Bagaimana mereka seringkali tampak kejam dan antagonis di mata anak-anaknya adalah bukti nyata perspektif hero-villain itu bekerja. Butuh kesabaran dan kerja yang ekstra super untuk menjaga anak-anak, menyelamatkan kebutuhan mereka, membesarkan mereka, dan semua itu tergali lewat bagian cerita Bob Parr di rumah. Tentu, menjaga dan mengawasi itu terdengar jauh kalah keren dari bertindak menghajar penjahat. Itulah yang dikeluhkan oleh Bob, dia ingin beraksi. Itu juga yang bikin Violet kesel, kenapa saat melawan musuh harus dia yang disuruh menjaga Jack-Jack, si bayi.

Dilindungi bukan berarti lemah. Mendapat tugas sepele bukan berarti karena kita kurang mampu mengerjakan yang lebih. Karena sebenarnya, menjadi superhero bukan seberapa mentereng tugas dan alat-alat yang kita gunakan. Superhero adalah soal seberapa berat tanggungjawab yang berani kita emban. Berapa banyak amanat yang sanggup kita penuhi.

 

Paralel dengan pembelajaran protagonis, di film ini kita dapat tokoh antagonis yang juga membenci bagaimana penduduk hanya suka menjadi penonton, hanya suka mengawasi superhero yang mereka elu-elukan. Villain film ini berpendapat superhero membuat orang-orang menjadi semakin lemah, tidak bisa melindungi – membuat keputusan untuk diri sendiri. Dia ingin menghukum semua orang yang hanya mau menonton dengan kekuatan hipnotis melalui monitor. Melalui tokoh ini, film juga bicara mengenai ajakan untuk menikmati dunia secara langsung. Ketergantungan terhadap monitor – kalo ada yang belum sadar, kita menatap layar nyaris seluruh waktu dalam sehari kita terjaga sekarang – bahwa kita baru percaya kalo melihat sesuatu yang tayang di monitor, alih-alih melihat dan mengalami langsung, adalah suatu hal yang tak sehat. Panjahat dalam film ini punya motivasi yang bagus. Hanya saja personanya sendiri, gimana film berputar di sekitarnya, tampak lemah. Film memasukkan twist, but not really. Tidak ada surprise yang kurasakan ketika menonton ini. Semua elemen cerita tampak jelas berujung ke mana, siapa akan menjadi apa. Kupikir film yang berfokus pada dilema superhero sebenarnya tidak perlu ada yang dicap literal sebagai penjahat, I would be fine jika ini totally tentang drama keluarga superhero saja. Tapi ini kan juga dibuat sebagai film anak-anak jadi mereka harus punya tokoh yang dijahatkan.

Namanya saja udah terbaca “Evil Endeavor”, mengungkap kedoknya jauh sebelum twist terjadi

 

 

 

 

Film lebaran terbaik yang aku tonton tahun ini, dengan nilai yang jauh di atas. Pixar menunjukkan kematangan sekaligus konsistensi yang luar biasa dalam persembahannya ini. Animasi yang aku tidak tahu ternyata bisa lebih dalem dan menggugah lagi berhasil mereka hadirkan. Cerita superhero yang mengangkat sudut pandang yang jarang dilakukan, terlebih dalam film untuk anak-anak. Tokoh-tokohnya menarik, aksinya seru, kocak, dan jangan heran dan sampai kewalahan saat nonton ini adik-adik kita akan melontarkan pertanyaan yang cerdas. Karena film ini memberikan pesan dan bahan pemikiran yang berbobot di balik aksi kartunnya; untuk kita semua.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for INCREDIBLES 2.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

COCO Review

“Always forgive, but never forget.”

 

 

Seandainya Pixar adalah mutant, maka kekuatan supernya pasti adalah kemampuan untuk membuat kita menangis. Menit-menit terakhir film Coco, aku serasa berada di rumah duka beneran. Studio penuh oleh suara sengau yang mengomentari cerita. Sekelilingku penuh oleh penonton yang bahunya naik turun, menahan isak tangis. Semua orang begitu terpengaruh oleh apa yang mereka saksikan, lantaran film ini benar-benar memanfaatkan waktu demi ngebangun  cerita tentang passion dan keluarga yang sungguh luar biasa. Coco adalah CERITA YANG AMAT SANGAT KAYA. Oleh tema, oleh budaya, oleh backstory para tokoh, sehingga begitu menontonnya kita seolah melangkah ke dalam suatu kehidupan yang sedang berlangsung. Dan hal tersebutlah, film ini seperti dunia yang bahkan sudah bekerja sebelum kita mengintipnya, yang merupakan salah satu aspek terhebat dalam film Coco.

Ceritanya tentang anak cowok bernama Miguel yang pengen banget menjadi musikus. Dia ingin mencipta lagu, dia ingin bernyanyi, dia ingin seperti tokoh idolanya, Ernesto de la Cruz yang sudah melegenda di Mexico. Miguel punya tempat persembunyian khusus yang ia dedikasikan untuk de la Cruz. Di tempat itu, Miguel diam-diam otodidak belajar main gitar dari menonton video-video lama Cruz. Miguel sembunyi-sembunyi begitu lantaran musik adalah hal yang dilarang dibicarakan di bawah atap keluarga. Semua sanak Miguel bekerja sebagai pembuat sepatu, dan Miguel diharapkan untuk mengikuti tradisi keluarga. Tidak boleh ada musik, jangan sampai Miguel berkelakuan serupa dengan kakek buyutnya yang meninggalkan nenek Coco demi karir. Keinginan Miguel makin tak terbendung di perayaan Hari Orang Mati, dia mencuri gitar di makam de la Cruz, yang kemudian membuatnya terdampar di dunia orang mati. Untuk bisa keluar, Miguel harus meminta restu dari keluarganya yang sudah mati, sembari mencari cara gimana supaya dia bisa tetap menekuni musik tanpa melukai hati saudara-saudara yang lain, terutama orangtua dan neneknya.

Nenek Coco kecilnya mirip Alessia Cara

 

Kekuatan spesial kedua kalo Pixar sebagai mutant adalah membuat  animasi senyata foto sebagai sesuatu hal yang klise untuk disebutin di dalam review. Detil-detil gambar pada Coco gila banget detilnya. Gerakan animasinya mulus. Shot-shot kota, jalanan, udah kayak foto beneran dan mereka seolah menyelipkan tokoh animasi ke dalamnya. Pemandangan dan festivenya dunia kematian dan perayaan di dalamnya sangat meriah sehingga walaupun bicara tentang dunia orang mati, tema ceritanya juga sebenarnya cukup kelam (kita akan bicarain ini di bawah), tapi film ini merekamnya dalam penampakan yang berwarna. Ini adalah film emosional menyentuh hari yang ceria. Dan aku belum ngomongin soal musiknya loh. Menakjubkan deh. Permainan gitar, nyanyiannya, semua terdengar begitu cantik.

Ada apa sih dengan Mexico dan Kematian? Dia de los Muertos adalah hari raya di Meksiko untuk mengenang orang yang sudah tiada. Pada hari itu dipercaya leluhur yang sudah meninggal akan mendatangi rumah kerabat yang masih hidup, selama mereka masih diingat. Hal tersebut dijadikan stake dalam film ini, salah satu tokoh membantu Miguel kembali ke dunia karena dia ingin Miguel segera memasang fotonya di rumah, supaya keluarganya ingat dan si tokoh tidak menghilang. Orang yang sudah mati tidak akan benar-benar pergi, sampai tidak ada lagi yang mengenang mereka. Kenangan kita atas merekalah yang membuat orang yang kita cintai bisa tetap hidup, walaupun umur mereka sudah lama habis.

 

Coco punya cerita yang kaya, punya tokoh yang bisa dengan mudah kita apresiasi. Aku bisa melihat film ini lebih disukai oleh orang dewasa, meski tidak tertutup kemungkinan ada anak kecil yang bisa melihat ke balik nyanyian dan tengkorak-tengkorak yang bertingkah lucu itu. Buatku, aku hanya sebatas menikmati, karena apa yang ditawarkan oleh cerita Coco sudah kelewat familiar bagiku. I do feel related to it, aku tahu persis gimana punya kerjaan yang gak disetujui orangtua. Namun cerita cantik dengan pesan yang amat menyentuh  film ini enggak terasa terlalu menyelimutiku karena ini hanya satu lagi cerita tentang anak muda yang ingin melakukan sesuatu di hidupnya tapi keluarga ingin dia melakukan hal lain sehingga dia kudu menemukan jalan tengah untuk menyenangkan keluarga sembari menjawab panggilan hatinya. Premis dasar tersebut, begitu juga dengan elemen anak sampai ke dunia lain dan belajar tentang hidup adalah hal-hal yang udah lumayan sering kita lihat dieksplorasi dalam film.

Belum lama ini, di tahun 2014  ada animasi berjudul The Book of Life yang bukan hanya punya tema cerita yang sama, settingnya juga mirip dengan film Coco. Akan tetapi, seperti halnya Antz buatan Dreamworks dengan A Bug’s Life nya Pixar yang keluar nyaris berbarengan di tahun 1998, kesamaan antara Coco dengan The Book of Life enggak semata kayak Pixar totally nyontek. Kedua film ini punya lapisan luar cerita yang sangat berbeda. The Book of Life yang bercerita tentang anak dari keluarga matador yang ingin main musik, namun dilarang, dan dia juga terdampar di Dunia Kematian mengambil aspek cinta segitiga untuk menekankan soal pencarian passion. Kalo seperti aku, kalian suka sama The Book of Life, maka kalian pasti akan teringat sama film ini ketika menonton Coco. Tapinya lagi, Coco bisa jadi adalah film yang kalian inginkan ketika kurang puas menonton The Book of Life. Karena pada film Coco, fokus tentang warisan keluarga, gimana usaha konek dengan keluarga itu, diceritakan dengan lebih terarah.

Dunia Kematian itu begitu semarak sehingga kita jadi gak sabar untuk mati. Eh?

 

Di balik limpahan musik dan budaya itu, kalo kita pikir-pikir, sesungguhnya ada implikasi kelam yang cukup mengerikan yang dapat kita petik dari Coco. Film ini antara lain bicara tentang mengabadikan diri lewat seni. Dengan karya, dengan kita menciptakan sesuatu, orang akan terus membicarakan kita. Ernesto de la Cruz hidup bak dewa  di dunia kematian karena lagunya begitu terkenal. Orang-orang terkenal berpesta pora di sana. Aspek kelam yang kumaksud adalah, tidak ada konsep baik-buruk di sini. Tidak peduli apa yang kita lakukan, entah karya seni ciptaan kita nyolong punya orang lain, entah kita pernah bersikap brengsek ke orang lain, dalam film ini kita masih akan hidup senang di tempat yang layaknya surga selama foto kita masih dipajang, nama kita masih disebut oleh kerabat atau orang yang masih hidup.

Dalam film ini, kita melihat ada tokoh yang baik, ia sebagai tengkorak benar-benar mati, sendirian di ranjang gantungnya, karena dia tidak punya apa-apa yang bisa membuatnya diingat orang.  Ini mencerminkan bahwa orang-orang biasa, yang hidup sebagai orang baik tapi gak nyiptain apa-apa, yang gak melakukan sesuatu yang membuat mereka tertulis di buku sejarah, hanya akan menunggu waktu mati itu datang lagi. Kebaikan enggak diingat orang. Hanya menjadi terkenal yang abadi. Tentu saja, di masa di mana satu video viral di youtube bisa bikin orang jadi sukses, implikasi pesan tersebut dapat menjadi bumerang sebab membuat terkenal, punya banyak fans, menjadi prioritas hidup nomor satu bagi anak kecil alih-alih ngelakuin hal baik lain. Makanya, kita yang mesti bisa ngingetin ke adik-adik saat nonton ini bahwa diingat dan direstui keluargalah yang paling penting.

 

 

 

 

 

Ada cerita indah nan menyentuh yang bisa diapresiasi oleh anak-anak pada film ini. Ada banyak hal positif yang bisa kita ambil mengenai keluarga, mengenai jalan hidup yang kita pilih. Film ini juga kaya oleh unsur budaya. Tapi tentu saja, seperti mata uang, ada sisi kelam di balik pesona dan keceriaannya. As the story standpoint goes, aku enggak bisa bilang aku benar-benar tersedot penuh ke dalam ceritanya, meskipun relatable buatku. Film ini terasa sangat familiar, hingga aku tidak merasakan keunikan yang dia miliki. This is just another story, yang diceritakan dengan sangat baik, pengisi suaranya mantep, musiknya catchy, arahannya sangat ketat.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for COCO.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

 

 

 

PIRATES OF THE CARIBBEAN: SALAZAR’S REVENGE Review

“Accusations are useless.”

 

 

Apakah membuat franchise film berdasarkan sebuah wahana taman hiburan adalah langkah berani yang paling aneh ataukah cuma usaha nekat untung-untungan demi yang namanya duit? Well, jika sihir bisa dianggap sebagai sains yang belum kita mengerti, maka Pirates of the Caribbean bisa jadi adalah magic yang bikin sebagian kita garuk-garuk kepala. Film pertamanya sangat exciting. Setelah itu, semua judul dari franchise ini secara konstan kualitasnya terus menurun. They were bad movies. Di lain pihak, franchise ini toh laku keras, for it is action di tengah laut, yang memadukan bajak laut, kekonyolan, dan hal-hal fantastis.

Film kelima ini actually rilis dengan dua judul yang berbeda. Yang tayang di Amerika sono judulnya Dead Men Tell No Tales. Sedangkan di bioskop sini – aku tadi sempat kelimpungan takut salah nonton – dikasih judul Salazar’s Revenge. Aku gak tau alasan kenapa dirilis dengan judul berbeda seperti demikian; mungkin karena judul aslinya kepanjangan atau mungkin Dead Men dirasa terlalu seram. Hal kecil sih, walupun begitu, sebenarnya aku lebih suka sama judul versi Amerika. Salazar’s Revenge kedengarannya terlalu generik. Lagipula, kalimat “Dead Men Tell No Tales” beneran disebutin di dalam film, terincorporate really well ke dalam cerita, karena tokoh penjahat di film ini suka menenggelamkan kapal dan dia akan sengaja menyisakan satu korban masih hidup untuk menceritakan aksinya kepada orang lain di daratan, sebab ya, orang mati kan enggak akan bisa bercerita.

Orang mati juga gak bisa ke daratan, so yea…

 

Aku berharap film ini jadi film terakhir aja sebab, sukur, film ini LEBIH BAIK KETIMBANG FILM PIRATES SEBELUMNYA. Ceritanya considerably lebih menarik. Jack Sparrow terlibat dalam pencarian Trisula Poseidon yang bisa menghapus semua kutukan di lautan. Bajak laut mabok kita butuh benda ajaib tersebut lantaran dirinya sedang diburu oleh sepasukan hantu anti-bajak laut (lengkap dengan hantu hiu dan kapal hantu yang bisa berubah menjadi mulut yang menelan kapal di depannya) yang dendam kesumat kepadanya. Hantu Kapiten Salazar, at some point, bahkan bekerja sama dengan musuh lama, Kapten Barbossa yang kini jadi bajak laut paling sukses seantero Laut Karibia. However, bersama Kapten Jack, kali ini ada pelaut muda bernama Henry yang juga mencari kekuatan Trisula untuk ‘menyembuhkan’ ayahnya, dan sesosok gadis manis nan pinter yang jadi penunjuk jalan lantaran cuma dia satu-satunya yang bisa membaca peta.

Pintar di antara yang bego, maka kita akan dianggap aneh. Film ini membahas masalah posisi wanita yang di kala itu masih dianggap inferior; cewek cannot be smart unless they are witches. Ini bisa ditelusuri sebagai masalah prasangka. Zaman dulu, bidan-bidan wanita dianggap berbahaya sebab mereka ngurusin perkara hidup mati sebagaimana peran dokter-dokter pria. As gender dijadikan tolak ukur wewenang; orang-orang lebih mudah percaya kepada laki-laki yang tegas dibanding kepada wanita yang lemah lembut. This element is also played really well dengan karakter Jack Sparrow yang ditinggalkan oleh kru, you know, because he’s drunken and weird dan kerap bawa sial. Kontras dengan Salazar yang punya pengikut setia hidup-mati, atau malah dengan Barbossa. Padahal mereka sama kompetennya.

 

Tentu saja banyak kejar-kejaran, tembak-tembakan kapal, dan duel pedang yang terjadi. Ini adalah film yang terlihat sangat menarik. Penggunaan efeknya keren. Javier Bardem cool banget sebagai Salazar, aku suka penampakannya, aku suka gimana dia memainkan perannya. Hantu maniak ini adalah penjahat film favoritku sejauh pertengahan tahun ini. Film ini punya banyak stok candaan dan lelucon yang bagus. Juga berusaha untuk punya sisi emosional. Namun dengan tema besar mencari diri sendiri, film ini relatif berjalan lurus sebagai film petualangan yang melibatkan banyak pihak. Semua orang tersebut numplek di atas kapal yang sama, literally and figuratively. Dan kita bisa melihat masing-masing mereka punya alasan untuk berada di sana. Tokoh Henry yang diperankan oleh Brendon Thwaites ditulis punya kaitan sejarah dengan franchise ini, motivasi dirinya lah yang bikin narasi film ini berjalan. Ada percikan manis yang terjalin antara dirinya dengan tokoh Carina (Kaya Scodelario berhasil untuk tidak terjebak memainkan karakternya jadi semacam tokoh daur-ulang). Di duapuluh menit terakhir, barulah film benar-benar finally just pick up. I loved the ending. Dan meski efek di bagian ‘final race’ ini sedikit lebih rough-around-the-edges, aku suka, malahan bukan itu yang menggangguku.

What really bothers me about this film adalah walaupun tokoh-tokoh tersebut punya motif dan alasan untuk ikut bertualang, urgensinya tidak pernah benar-benar terasa. Stake, alias konsekuensi, yang dihadapi para tokoh enggak terang benar. Rintangannya pun sebenarnya cukup gampang untuk dihindari. Kita bisa merasakan ada sesuatu tujuan, ada sesuatu yang harus mereka selesaikan, tetapi rasanya tidak ada tuntutan untuk segera dibereskan. Para hantu hanya bisa ngejar di laut, Jack Sparrow enggak benar-benar dalam bahaya. Kalo Henry gagal menghapus kutukan ayahnya, hal buruk apa yang terjadi? Dia masih bisa hidup dan pacaran dan punya anak kok. Carina diberikan alasan untuk tidak bisa pulang, dia sekarang diburu mati-matian oleh negara lantaran disangka penyihir, namun masalah itupun beres seketika. Di film ini ada penyihir beneran, and that’s it, kita enggak melihatnya lagi di akhir.

Dan jokes tentang “Neng, pinter banget, kamu pasti penyihir. ENYAH KAU!” terus saja diulang-ulang sehingga jadi annoying. Awalnya sih lucu, tapi lama-lama jadi kentara banget. Masak setiap tokoh cowok guyonannnya begitu ke Carina.

Cara terbaik untuk menggambarkan film ini adalah membandingkannya dengan wahana di taman hiburan Disney. And it is precisely just like that; Seru yang melibatkan banyak hal dan membutuhkan biaya besar, tapi nyatanya adalah rangkaian adegan yang pointless.

 

Pada film pertama, karakter Jack Sparrow adalah tokoh yang sangat mengejutkan. Kita enggak tau apa yang ada dipikirannya, cara dia untuk membuat everything work out. Sparrow adalah peran yang berhasil dibangkitkan secara fenomenal oleh Johnny Depp. It is his signature role. Dia lucu, gampang banget disukai. Penampilannya liar dan really unhinged, bagusnya di awal-awal adalah keintensan karakter tersebut terkontrol dengan baik. Dalam film ini, Depp seperti diberikan kebebasan seratus persen, hanya saja jatohnya dia seperti memainkan karikatur dari karakternya yang dulu. Cuma sebatas lelucon setiap kali dia nampil dalam adegan, Sparrow tidak lagi punya real-character. Ini membuatku kecewa karena buat tokoh ini kita udah tau harus mengharapkan apa, namun tokohnya kehilangan sense of humanity seperti yang nampak pada film-film awal. Aku lebih tertarik ketika cerita membawa kita flashback ke Sparrow yang masih muda; karakternya terlihat lebih grounded di bagian itu.

Studio Disney lagi suka main FaceApp yaa hhihi

 

Meski ini adalah film dengan durasi paling pendek dalam franchise ini, dirinya tidak terasa bergerak secepat itu. Tetap aja filmnya kayak panjang banget. Sekuen-sekuen aksinya pada seru dan refreshing hanya saja mereka dimainkan lebih sebagai humor alih-alih untuk excitement. Pacing film kerap terasa ngedrag karena ada banyak adegan-adegan panjang yang kepentingannya gajelas. Kayak Sparrow ketemu pamannya di sel, atau malah adegan rampok bank itu. Sepertinya adegan-adegan tersebut memang dimasukkan cuma untuk bumbu humor semata. Tidak ada yang menarik dari arahannya. Film ini terasa kayak film-film action adventure yang biasa. Coba deh bandingin ama trilogy Pirates yang digarap oleh Gore Verbinski. Meski memang yang pertama doang yang bagus, namun Verbinski meletakkan ciri khasnya dalam film-film tersebut. Pirates seri kelima ini datar aja, enggak punya keunikan apapun.

 

 
Akan ada banyak hal yang bisa dinikmati jika kalian penggemar franchise ini. After all, kita udah ngeliat sekuelnya yang jauh lebih buruk. Film ini enggak jelek-jelek amat, meski juga enggak brilian dan unik. Efeknya keren, dan aksinya seru. There are some good jokes. Ceritanya juga sedikit lebih menarik. Penampilan Salazar is the one to watch for. Yang bikin kecewa adalah enggak banyak sense of urgency dari karakter-karakternya. Film ini live it up deh dengan wahananya, asik tapi rather pointless. Tapinya lagi, purposenya akan benar-benar terasa mantep jika film ini adalah film terakhir. It was better than the previous ones.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for PIRATES OF THE CARIBBEAN: SALAZAR’S REVENGE

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 
We? We be the judge.