JAILANGKUNG Review

“See yourself as a soul with a body rather than a body with a soul.”

 

 

Di mana ada film horor, aku akan duduk ngejogrok di sana tanpa perlu dijemput atau diantar. Kayak Jailangkung yang ngeliat ada pesta kecil-kecilan. Horor selalu adalah objek cerita yang menarik, maka tak heran genre ini menjadi penjualan mudah untuk bisnis bioskop. Buktinya, liat deh box office film Indonesia tahun 2017 ini; horor naik tahta kembali dengan gampangnya. Film Jailangkung terbaru ini sempat menyinggung bahwa tubuh dan sukma harus berimbang. Harus sehat dua-duanya. Dan ketika kebutuhan fisikal kita sudah terpenuhi, maka kita merasa dorongan keperluan untuk memuaskan dahaga atas keingintahuan spiritual. Di sinilah film horor seperti Jailangkung memiliki peran besar.

Kita demen ditakut-takuti, Kita penasaran melihat hantu. Kita bahkan mencoba berkomunikasi dengan hantu, lewat permainan jailangkung. Karena kita adalah makhluk jiwa dan raga.

 

Meskipun digarap oleh duo yang sama, Jailangkung adalah cerita yang sama sekali terpisah dan tidak ada sangkut pautnya dengan Jelangkung yang sukses mengangkat pamor horor di sinema Indonesia tahun 2001 lampau. Pada kesempatan ini, Rizal Mantovani dan Jose Poernomo memilih untuk menggarap horor yang LEBIH GROUNDED. Bukan lagi soal pengungkapan mitos urban oleh sekelompok remaja, Jailangkung bercerita seputar keluarga yang harus menyelidiki misteri seputar penyakit ayah mereka. Naturally, cerita keluarga seperti ini mudah untuk kita relasikan. Kita akan melihat Bella dan saudari-saudari nyabergerak sebagai satu unit menghadapi masalah supranatural, mereka harus bermain jailangkung, dan ultimately, narasi juga akan menyinggung budaya lokal saat mitos hantu Matianak mulai mengambil tempat sebagai ‘penjahat utama’. Jadi, film ini punya amunisi yang tepat untuk menjadi sesajen horor untuk ditonton merinding bareng keluarga.

Kemunculan hantunya lumayan seram. Suara cekikikan hantu itu sanggup membuat kita merinding. Kalo mau iseng, coba deh sekalian hitung detak jantung masing-masing saat adegan Bella di tangga darurat rumah sakit. Timing penampakannya diatur dengan tepat. Penggunaan beberapa overhead shot membuat film ini terlihat sangat profesional. But there’s not much reflecting or reasoning behind those scenes except just to show that the filmmakers have enough budget so they can use drone to do the filming. Ditambah dengan scoring yang maksain feel banget, lucunya, shot-shot cantik itu malah bablas terlihat seperti video musik atau malah potongan iklan ketimbang sebuah media penceritaan.

Kreativitas oleh film ini ditampakkan dari betapa lihainya mereka menemukan cara untuk menggunakan adegan-adegan flashback. Lewat kenangan lah, lewat kaset video lah. Dan buat yang gak bisa nangkep nada ironisku; flashback adalah cara tergampang yang bisa dipikirkan oleh filmmaker untuk menjelaskan misteri dan backstory di dalam film horor. Serius deh, sedari awal aku sudah meragukan segi kreativitas film ini sebab dari banyaknya hal yang bisa dilakukan untuk memasarkan film tentang papan pemanggil arwah dengan cara yang berbeda, film ini berpuas diri comes up dengan mantra “Datang gendong, pulang bopong” yang terdengar konyol. I mean, musti bangetkah judulnya Jailangkung (beda ejaan doang)? Selain alasan komersial, aku gak bisa nemuin alasan kreatif di balik pemilihan itu. Dan setelah menonton filmnya, yang melimpah oleh flashback dan eksposisi, dugaanku terhadap kreativitas film ini terbukti sudah.

Hantunya bisa ngeja b-o-r-i-n-g gak ya?

 

Kita tidak bisa membuat penonton instantly peduli sama tokoh hanya karena tokoh-tokoh tersebut dimainkan oleh orang-orang kece. Tokoh tersebut perlu diberikan karakter, mereka perlu dihadapkan kepada tantangan dan pilihan yang sulit, yang nantinya akan membentuk mereka menjadi pribadi yang baru. So people could latch onto them. Dua bintang muda yang lagi hits-hitsnya, Amanda Rawles dan Jefri Nichol, tidak diberikan banyak hal yang bisa mereka lakukan. Film ini enggak membantu banyak untuk usia akting mereka yang masih belia dan butuh banyak perkembangan. Penokohan Bella dan Rama sangat hampa. Rama hanya ada di sana untuk dua alasan; sebagai sarana untuk eksposisi, dan supaya ada sosok yang bisa ‘didambakan’ oleh Bella. Aku sempat ngakak sih, Bella bersikeras untuk menjaga ayahnya di rumah sakit, dia membujuk kakaknya pulang dan beristirahat. Tapi setelahnya kakaknya pulang, Rama pun turut minta diri pamit pulang, dan di situ ekspresi Bella kayak kecewa banget seolah Rama gak ngerti ‘kode’ darinya yang pengen jaga berduaan hhihi.

Bella sesungguhnya punya akar motivasi. Dia adalah anak kedua dari tiga bersaudari dalam keluarga yang sudah lama ditinggal mati oleh ibu. Sebagai anak tengah, tentu dia haus untuk membuktikan diri, bahwa dia juga capable untuk mengurus diri serta keluarganya, bahwa dia juga bisa seperti kakaknya yang mandiri. Pengarakteran ini disinggung sedikit sekali, sehingga di akhir film tidak ada perubahan yang dialami oleh karakter Bella. Seolah filmnya malu malu menyolek bahu Amanda Rawles. Semua kejadian tidak diset up untuk nantinya resolve around penokohan Bella. Sebagai seorang tokoh utama, Bella enggak ngapa-ngapain; bukan dia yang menggendong, bukan dia yang ngebopong. Malahan, di akhir, justru dia yang harus diselamatkan. Motivasi tokoh ini jadi sia-sia belaka, seperti terlupakan.

Dan bukan motivasi tokoh lead saja yang dilupakan oleh film ini. Ada banyak elemen yang hanya disinggung sekilas tanpa ada penyelesaian atau kontinuitas yang masuk akal. Sejak dari adegan pembuka yang terasa rushed banget, film ini tidak mampu untuk membuat kita bertapak kepada momen horor yang hendak dibangunnya. Hantu Matianak tersebut tidak pernah dijelaskan tuntas apakah dia menyerang silsilah keluarga mereka, let alone the reasons behind it. Plot poin soal ibu mereka juga enggak ada penyelesaian. Banyak penonton yang aku kenal juga mempermasalahkan soal ayah Bella yang tadinya nyasar di hutan, kemudian di adegan berikutnya dia sudah main jailangkung di dalam ruangan. Jangankan pemain-pemain muda, pemain senior semacam Lukman Sardi dan Wulan Guritno aja terlihat payah, terima kasih kepada penulisan tokoh dan naskah yang kayak diketik oleh anak kecil. Ngomong-ngomong soal anak kecil, tentu saja tokoh cilik di film ini tidak mendapatkan jiwa sama sekali. Mereka cuma jasad untuk media horor, jadi kenapa musti bersikap manusiawi, kan?

ada pesta, ada jailangkung

 

Kualitas dialognya juga mempersulit para tokoh untuk mendapatkan bobot yang berarti. Ada adegan ketika Rama kebingungan bertanya kenapa boneka jailangkungnya nutup sendiri padahal jelas-jelas dia yang goyangin. Mantra pemanggilannya juga dilafalkan oleh para aktor dengan little to no weight, sehingga tidak menimbulkan kesan apa-apa. Padahal tokoh yang diperankan Butet Kertaradjasa udah literally nyontohin gimana cara dan intonasi yang dramatis dan menimbulkan efek seram.

Segalanya terasa setengah-setengah. Ada momen ketika Bella berlari, dan aku mengira kita bakal mendapat long continuous take dari udara yang kreatif saat mereka mencari kakak di dalam rumah. Ternyata enggak. Mereka melakukanya di tempat paling mudah, yakni di areal pekuburan. Sepertinya film ini bisa lebih baik jika dipush menjadi lebih dewasa. Karena film ini menyinggung soal kehamilan, it would be better kalo Bella sendiri yang ngalamin apa yang dialami oleh Angel. Mereka bisa menggali banyak drama dari sana, Rama juga bisa jadi punya peran yang lebih berarti. Dan tentu saja horornya akan lebih kena, karena apa yang dialami Angel dalam film ini adalah hal yang sangat menyeramkan, apalagi buat wanita. Sayangnya, film ini – mungkin karena mengingat batasan usia penonton – tidak bisa menggali elemen tersebut. Membuatnya hanya sepintas dan terasa rushed out.

 

 

 

Ada kisah horor yang mumpuni dan berpotensi sangat seram terkubur di dalam film ini. It was a grounded story, diwarnai oleh mitos dan budaya pula. Aku gak tau apa yang terjadi di dapur produksi mereka, but the end product yang kita tonton sangatlah mengecewakan. Semuanya generik, gak seram, karakternya membosankan. Selayang pandang memang terasa profesioal, namun tidak ada bobot di dalamnya. Horornya digarap dengan buru-buru, meninggalkan banyak kesempatan demi jumpscare yang benar-benar out-of-place dan gak perlu. Karena semestinya film horor adalah soal jiwa, ketakutan dari dalam, alih-alih ketakutan fisik semata. Jika filmmaker lain memutuskan untuk mengikuti ‘kesuksesan’ film ini, maka bisa dipastikan masa depan film horor Indonesia akan sangat gelap dan mengerikan.
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for JAILANGKUNG.

 

 

 

That’s all we have now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

SURAT KECIL UNTUK TUHAN Review

“I thought that you would be the hero come in save the day, but you’re the villain.”

 

 

Anak terlantar dipelihara oleh negara. Begitu kata buku UUD 1945 yang kuhapalin pas pelajaran PPKN. Surat Kecil untuk Tuhan menuliskan anak-anak jalanan sepeti Angel dan abangnya, Anton, dipelihara oleh Om Rudy. Sosok yang Angel sangka pahlawan, yang memberi mereka atap dan makanan. But he was unforgiven. Om Rudy bukanlah jawaban dari surat yang ditulis Angel untuk Tuhan. Oleh Om Rudy,, mereka disuruh mengamen di jalanan yang tak berbelas kasih. Dan dihukum keras jika uang setoran kurang. Bahkan saat Angel tertabrak mobil sehingga musti dilarikan ke rumah sakit, Om Rudy enggak mau repot-repot membayar biaya pengobatan. Mengakibatkan Angel harus terpisah dari abang yang berjanji untuk terus menjaga dirinya.

Sounds depressing enough? Atau malah terdengar familiar?

Clearly, film ini berhasil menerapkan pelajaran berharga soal bercerita dari salah satu nominasi Oscar, Lion (2017). Surat Kecil untuk Tuhan membagi porsi narasinya menjadi dua, ketika Angel kecil di jalanan dan paruh terakhirnya adalah tentang Angel yang sudah dewasa dan bekerja ngurusin kasus-kasus kekerasan terhadap anak, baik di rumah tangga maupun di luar sana di perempatan. Aku suka gimana film ini berusaha sekuat tenaga untuk tidak menggunakan alur bolak-balik, meski memang ada sisipan adegan kenangan yang tidak mampu ia hindari. Ini adalah resiko yang mereka ambil, karena membuat film seolah baru dimulai di babak kedua; motivasi Angel baru jelas banget di poin ini.

Terkadang ketika berhenti di lampu merah, kita suka dilema sendiri. Melihat anak jalanan yang mestinya lagi kepergok nyontek dan disetrap di depan kelas itu, malah nyanyi-nyanyi dengan alat musik rombeng. Mau ngasih duit, ragu. Ntar duitnya pasti dipalak. Atogak dipakai buat yang enggak-enggak. Mau membantu kok pikir-pikir. Benarkah dengan tidak membantu, kita bisa membantu mereka. ‘Gimana dengan pihak yang ‘mempekerjakan’mereka, salahkah mereka membesarkan dan mendapat balas jasa?Manakah yang lebih ‘for the greater good?’

 

Film ini mampu memantik pertanyaan moral dengan eksplorasi perspektif anak jalanan yang terasa fresh. Apa yang dilakukan dengan baik oleh film ini adalah menanamkan bibit-bibit karakter semenjak paruh di mana mereka masih muda. Sehingga ketika kita melihat dan bertemu dengan mereka kembali setelah time jump, perkembangan karakter mereka – menjadi seperti apa mereka sekarang – terasa masuk akal. Kita akan melihat Angel dengan gigih berusaha mengungkap sindikat anak jalanan yang dipimpin oleh Om Rudy, kita mengerti darimana dorongan tersebut datang, apa yang membuat semua itu sangat personal dan begitu urgen dilakukan oleh Angel. Relationship antarkarakter juga terjalin dan tergambarkan dengan kuat. Semuanya diberikan pay-off yang ampuh menarik-narik heartstring kita. Karena film ini tahu persis dirinya adalah drama yang secara natural sangat emosional. Aku suka adegan ketika Angel Dewasa yang diperankan oleh Bunga Citra Lestari untuk pertama kalinya bertemu kembali dengan Om Rudy. They played it off so good. Mata BCL sukses banget mancarin rasa takut yang masih bersisa dari masalalu itu. She barely could say any words. Lukman Sardi sebagai Om Rudy juga terlihat takut di balik tokohnya yang tenangnya menguarkan aura menacing.

but to be honest, aku kaget ngeliat Dorman Borisman masih aktif main film, kirain udah vakum XD

 

 

Penampilan akting yang mengisi paruh kedua film mampu membuat kita melupakan rasa bosan, karena memang bagian ini lebih serius. Dan serius digabung dramatis biasanya adalah gabungan yang ampuh untuk bikin kita nyalain hape. Setelah gede actually adalah film di puncak paling menarik, sebagian besar lantaran film Indonesia memang kelihatannya masih kepayahan mencari aktor anak kecil yang mampu bermain dengan meyakinkan. Penampilan yang paling juara dalam film ini datang dari Joe Taslim yang memerankan pacar Angel yang berprofesi sebagi dokter jantung. Joe Taslim sangat kharismatik dan bersimpati di sini. Tokoh Martin pun mendapat backstory dan eksplorasi yang berbobot sehingga dia benar-benar punya purpose untuk ada di sana. Bukan hanya sebagai device, he actually adds much. In fact, malahan tokoh lead kitalah yang paling kurang konsisten di sini. Aku merasa aneh aja sama aksen Inggris dari Bunga Citra Lestari. Tokohnya gede di Australia, sudah cukup aneh dia enggak develop any accent. Ditambah pula at one time, dia menjawab telepon dengan ”who is it?” yang terdengar aneh alih-alih natural dan lebih cocok dengan kehidupan profesionalnya dengan jawaban “who is this?”

Tentu saja ada bagian ‘pertarungan’ di pengadilan. Film ini menghandlenya dengan memasukkan elemen di mana Angel harus mengumpulkan dan meyakinkan saksi-saksi yaitu orang-orang yang berasal dari masa lalu tragisnya. Sudut pandang dari saksi-saksi tersebut memberikan suntikan perspektif yang semakin menambah kadar dramatis. Yang mana, juga menimbulkan masalah kepada narasi sebab film ini mengarah kepada JALUR YANG HITAM-PUTIH. Yang jahat benar-benar jahat, yang baik benar-benar tertindas. Ruang thought-provoking semakin menyempit, kemakan oleh porsi dramatis yang terus dibesar-besarkan. Tadinya aku mengira film ini paling enggak jadi kayak versi dramatis dari anime The Boy and the Beast |(2015), taunya enggak. Malah dramatisnya lebih seperti Grave of the Fireflies (1988) digabung dengan Lion.

Kita tidak akan pernah kehilangan orang yang tulus menyayangi kita. Sebab, once there, mereka tidak akan pernah pergi dari sana.

 

Ini adalah film tentang pencarian kebenaran, namun TONE YANG DIOLAH DENGAN TERLALU OVER membuat film ini tidak bisa mencapai level Lion. Baik over di bagian editing tone visual, maupun pada tone cerita yang kerap amat sangat sappy, kalo gak mau dibilang cengeng. Dalam Lion, kita tidak melihat Saroo kecil ujan-ujanan. Dalam Surat Kecil untuk Tuhan, dalam 15 menit pertama, Angel dan Anton terus saja kehujanan, dengan lagu Ambilkan Bulan, Bu yang diaransemen ulang menjadi sangat sedih dimainkan nyaris non-stop. Film ini terus ngepush drama seputar tema kekerasan terhadap anaknya sampai-sampai aku tidak lagi mempertanyakan kenapa film ini tidak diberikan rating sensor yang lebih dewasa. Aku malah jadi keheranan kenapa film ini dijadikan tontonan lebaran keluarga in the first place.

Menjelang akhir akan ada pengungkapan yang disertai dengan adegan yang, sebenarnya, sangat kontroversial. As in, bisa bikin trauma anak kecil yang menontonnya. Walaupun enggak digambarkan eksplisit banget, namun tetep aja ekuivalen ama adegan kontroversial serial 13 Reasons Why (2017) yang tayang di Netflix. Because we talk about children here. Surat Kecil Untuk Tuhan menunjukkan anak kecil yang – sulit untuk tidak mengasumsikan dia – disuntik mati. Asumsi lain yang timbul dari sekuen itu adalah penonton disajikan adegan anak kecil yang dibedah hidup-hidup off-screen, dan di layar kita melihat reaksi orang dewasa yang muntah menyaksikan tindak kriminal tersebut. Aku langsung ngeliat ke arah keluarga beranak dua yang nonton di sebelahku; mamanya nutupin mata anak yang gede, sementara papanya menutup mulut sendiri sambil menggendong anak bungsu mereka dengan memposisikan si anak membelakangi layar.

endingnya meski ketebak, tapi tetep terasa ‘ajaib’’kayak episode Beyond Belief Fact or Fiction

 

Beberapa menit kemudian adegannya nampilin anak bawah umur merintih diperkosa. Dan kedua orangtua di sebelahku tadi saling berpandangan.

 

 

 

 

Punya emosi yang sangat kuat, film ini mengexamine moral kita terhadap anak jalanan lewat perspektif orang pertama yang benar-benar menawarkan sesuatu yang baru. Tema kekerasan anak bergulir kuat, da terus diamplify. Penampilan yang di bawah standar dengan cepat tergantikan oleh performa yang sangat meyakinkan yang menatap kita straight to our heart. Bisa saja menjadi thriller yang hebat, yang thought provoking, jika dirinya tidak memfokuskan diri membuat penonton banjir air mata sebagai tujuan utama. Film ini berani mengambil resiko dalam penulisan, namun not so much pada departemen arahan. Tonenya terlalu cengeng, enggak tegar seperti film Lion, film yang banyak dibanding-bandingkan terhadapnya. Karena tentu saja orang akan mudah sedih melihat anak-anak yang menangis di bawah hujan.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for SURAT KECIL UNTUK TUHAN.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

47 METERS DOWN Review

“For whatever we lose, it’s always ourselves we find under the sea”

 

 

“Kayak di kebun binatang, cuma bedanya kalian yang dikurung di kandang.”
Kata-kata dari pemandu tersebut sedikit berhasil menetramkan cemas di hati Lisa, memantapkannya untuk masuk ke dalam kandang yang bakal direndem di laut lepas perairan Mexico. Aman, kok. Lisa dan Kate, adiknya, memang lagi liburan. Mereka ingin bersenang-senang, foto-fotoin Hiu Putih dalam habitat aslinya. Pengalaman sekali seumur hidup buat Lisa itu menjelma jadi benar-benar harafiah, sebab derek yang menahan kandang karatan satu-satunya pelindung mereka dari gigi hiu tiba-tiba patah. Mengirim Lisa dan Kate empat-puluh-tujuh meter ke dasar lautan, terjebak di sana. Seolah terpaket rapi di dalam kandang kotak persis hadiah yang menunggu dibuka oleh hiu-hiu yang kelaparan.

“under the sea~ where the sharks singing, waiting your body, under the sea~”

 

Konsep cerita yang keren. Terkurung di bawah laut. Tuntutan oksigen yang membuat keadaan para tokoh jadi punya urgensi yang tinggi. Dan hiu-hiu. Wow. Aku selalu tertarik sama film yang ada hiu-hiunya. Tapi hiu yang di bawah laut loh, ya. Bukan hiu yang menclok di angin tornado ataupun hiu yang terbang di angkasa. Aku terperangah aja ngeliat warna merah pekat dikontrasin sama biru jernih lautan. Film 47 Meters Down juga punya visual yang JERNIH NAN EERIE seperti begitu. Jika tahun lalu kita sudah berenang di perairan dangkal bersama hiu lewat film The Shallows (2016), maka kali ini kita akan menyelami kengerian lebih jauh lagi. Pemandangan dan suasana dasar laut yang mencekam akan jadi suguhan yang film ini harapkan bisa mengisi mimpi buruk kita sehabis menonton. Visually, film ini berhasil mencapai level kengerian itu.

Bawah laut adalah tempat yang membuat manusia paling merasa manusiawi. Kita akan merasa takut, merasa kecil, merasa cemas tak-berdaya oleh kegelapan tak berujung. Dan tentu saja ada harapan, sebagaimana karakter film ini kehilangan sesuatu dan balik menemukan dirinya di dalam sana.

 

Untuk mencari jawaban dari pertanyaan “Kenapa sih setelah Jaws (1975), kita enggak lagi menemukan film tentang hiu yang benar-benar keren sehingga bisa bikin kita ketagihan dan penasaran dan pengen punya hiu serta sekaligus jadi ngeri berenang di laut?” sebenarnya enggak susah-susah amat. Kita enggak perlu jauh-jauh menyelam ke lantai samudera. Kita cuma perlu menyelami sekian banyak sekuel dan film-film rip off gagal, dan menanyakan kepada diri sendiri; apa yang membuat kita terus bertahan ngikutin cerita meski ketakutan semakin merayap dengan perlahan. Itu semua bukan karena pertengahan terakhir di mana hiu anatagonis Jaws keluar menyerang terang-terangan. Dalam 47 Meters Down, kita melihat Lisa dan Kate kegirangan ketika melihat hiu mendekat datang setelah ember umpan dilempar ke air. Itu adalah mentality orang yang lagi liburan; mereka pengen lihat hiu. Namun saat kita menonton film; mentalitynya adalah kita pengen ngeliat karakter. Kita nonton Jaws bekali-kali, it’s not exactly because we want to see the shark, kita nonton demi melihat karakter manusianya struggle, overcoming their fears, dan mengarungi journey bersama mereka. Mengalahkan musuh yang disimbolkan sebagai hiu.

Sayangnya, sebagian besar dari pembuat film mengenyampingkan faktor karakter. Mereka memperlakukan film hiu layaknya wahana. Kita yang menontonnya udah persis kayak lagi shark diving, nontonin aksi hiu dari balik kandang. Namun lebih parah, lantaran tak jarang, nonton film hiu berarti kita harus ngikutin perjalanan karakter yang ‘bego’, yang annoying, yang mengerikan – dalam makna yang buruk, yang ditulis dengan sangat sederhana. Seperti karakter-karakter yang kita temukan dalam 47 Meters Down. Lupakan tokoh minor/sampingan, mereka cuma ada di sana karena tokoh kita benar-benar butuh orang sebagai pemandu. Tokoh sentral kita, dua kakak beradik Lisa dan Kate, dituliskan punya sifat yang berseberangan. Kate ini anaknya berjiwa petualang banget, dia udah pernah scuba diving dan pergi ke mana-mana sebelumnya. Sebaliknya, Lisa sang kakak, lebih ‘pasif’, dia belum pernah ngelakuin hal-hal ‘fun’ sebelumnya. Sebenarnya formula bikin karakter yang udah benar, hanya saja film ini mengolah mereka dengan cara yang sangat over dan mereka dibikin, yah; ‘bego’

One thing about karakter adalah mereka harus diberikan motivasi yang kuat supaya kita peduli. Saat mereka sudah terjebak di bawah laut, jelas, motivasinya adalah pengen hidup. Yang jadi masalah adalah motivasi kenapa Lisa mau ngelakuin scuba diving bersama hiu pada awalnya. Cewek ini baru aja diputusin ama cowoknya karena Lisa ini terlalu bosenin dalam ngejalanin hubungan. Jadi, Lisa ingin melakukan sesuatu yang exciting, terus difoto buat dikasih liat sama cowoknya, like, “Nih liat, keren kan liburan gue! Jeles kan, lo!? Jeles, kan!!!” Motivasi yang sangat menggerakkan hati sekali, bukan? Bikin kita semua peduli banget kan? Iya, kan!!!

Anyway, ada sih satu momen tokoh yang aku suka. Yakni ketika Kate yang tetap terlihat tenang setelah kandang mereka karam, kemudian barulah dia mengeluh takut saat menghubungi kapal, dan itu dilakukannya saat sudah jauh di luar jangkauan pendengaran transmisi baju selam Lisa. Tokoh Kate yang diperankan hampir fierce oleh Claire Holt memang diniatkan untuk lebih likeable, tapi buatku treatment kecil seperti demikian adalah sentuhan bagus yang sangat dibutuhkan oleh film ini.

Kakaknya boring banget sampesampe aku yakin adeknya sengaja nyabotase kandang biar copot dari kapal

 

 

Kedua tokoh ini punya kebiasaan ngejatuhin benda-benda yang mereka pegang, terutama benda yang penting. Dan itu ngeselin banget. Kualitas penulisan mereka pun klop banget ama penampilan aktingnya; berasa FTV. Eh, ada gak sih di barat sono istilah FTV? Yang jelas, Mandy Moore memainkan Lisa dengan over-the-top sekali. Bahkan, jika kita menonton percakapan kedua kakak-adik di film ini tanpa ngeliat gambar, suaranya doang, maka kita bisa salah menyangka lagi mendengar potongan dialog dari film Barbie.

“Lisaa, aku sudah berhasil menghubungi kapal!”
“Benarkah!? Waaah”
Lokasi adegan: dasar laut gelap dengan keberadaan hiu yang mengancam.

Enggak ada sedikitpun kesubtilan dari bantering mereka. Perasaan thrillernya enggak kebawa di dalam dialog film yang sebagian besar ditulis seperti demikian. Ada satu lagi; setelah adegan Lisa selamat dari kejaran hiu dengan bersembunyi di dalam gua, dan kalimat pertama yang terucap dari mulutnya adalah “The shark almost got me..” Well, I was like, no shit lady! Dan aku bersumpah aku seakan bisa mendengar ekspresi “huhuuu” keluar darinya di akhir kalimat tersebut.

 

Film ini menganggap dirinya lebih seram daripada yang sebenarnya. Padahalnya sebenarnya yang dimaksud horor oleh film ini adalah suara musik yang keras. Hiunya sendiri tampak mengerikan, meyakinkanlah sebagai makhluk hidup. Hanya saja, hiu-hiu tersebut tidak melakukan banyak selain sekali-kali muncul tiba-tiba entah dari mana ngagetin kita semua. Sejujurnya aku malah lebih percaya Lisa dan Kate akan mati kehabisan oksigen ketimbang mati dimakan hiu, sebab hiu dalam film ini were so bad at biting preys. Serangan mereka seringkali luput, dan yang kena pun pada akhirnya enggak berarti apa-apa. Tentu saja, semua itu berkat kehadiran endingnya, yang entah kenapa film ini merasa perlu untuk ngetwist. Sedari awal aku sudah susah peduli sama tokoh utamanya, dan setelah twist ini muncul, aku gak bisa untuk lebih gak peduli lagi.

 

 

 

 

Aaah, that sinking feeling yang kurasakan saat antusias perlahan terus menurun setelah sepuluh-menit pertama set up yang biasa – malahan ala FTV – banget…. Ini adalah jenis film yang punya konsep bagus namun dalam eksekusinya sukar untuk dikembangkan. Tokoh-tokoh film ini enggak bisa punya banyak ‘kegiatan’ setelah mereka karam di bawah laut dan tersebutlah hiu-hiu putih di sana. Narasi butuh banget karakter yang kuat, namun film ini memandang hal tersebut sebelah mata. Dibuatnya penokohan dan dialog yang over-the-top, dengan penampilan akting yang juga gak terlalu bagus dan meyakinkan. Hasilnya adalah film thriller yang tidak mencekam, film horor yang tidak seram, dan film hiu yang tidak punya ‘daging’ di dalamnya.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for 47 METERS DOWN.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

RAW Review

“The unexpressed will come forth later in uglier ways.”

 

 

Anjing kesayangan milik keluarga Justine terpaksa disuntik mati lantaran “berbahaya bila binatang sudah nyicipin daging manusia.” Enggak ada yang bisa menjamin anjing tersebut enggak bakal doyan ampe ketagihan sehingga mencoret kata peliharan dari statusnya dan embrace kodratnya sebagai binatang. Namun, kita mestinya tahu lebih baik daripada itu; bahwa manusia adalah –hanyalah- binatang yang punya nurani dan kesadaran. Yang membuat kita, bukan hanya paling cerdas, melainkan juga predator yang paling mengerikan di puncak rantai makanan. Rasa lapar dan nafsu yang tak-kunjung terpuaskan manusia dieksplor dengan sangat mendalam dan buas oleh film ini sewaktu kita melihat tokoh utama yang vegetarian menjadi sangat penasaran dengan yang namanya ‘daging’.

Raw bukanlah film yang bisa enjoy untuk ditonton sambil ngemil, apalagi buat penonton yang perutnya gampang jungkir balik kayak Rey Mysterio di dalam mesin cuci. Definitely sebaiknya film ini jangan ditonton siang-siang pas puasa, untuk banyak alasan. Ini adalah body horror yang dibuat dengan begitu menarik sehingga kita ngerasa pengen muntah namun di saat bersamaan enggak ingin melepaskan perhatian darinya. Film ini akan menyiksa kita secara fisik, baru kemudian menghidangkan nutrisi pikiran, di mana kita akan mulai tertegun dan mikirin maksud di balik ceritanya.

Sukar untuk taat kepada your own code jika berada di tengah-tengah komunitas yang menuntut. Terlahir di keluarga dengan diet vegetarian yang ketat, Justine (dalam debut layar lebarnya, Garance Marillier berikan penampilan yang menggemparkan) menolak mentah-mentah ketika dia diwajibkan untuk memakan potongan kecil ginjal kelinci sebagai bagian dari ospeknya di kampus Peternakan. But to her surprise, kakaknya yang jadi senior di sana, juga turut memaksa menelan jeroan tersebut. Awalnya, reaksi Justine adalah muntah-muntah. Kemudian seluruh badannya gatal-gatal. Tapi bukan kelinci yang ia santap, the problem comes from herself. Justine ngedevelop sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Suatu malam, dia kepergok oleh teman sekamarnya sedang ngacak-ngacak isi kulkas. Justine ngemil daging ayam mentah sebagai snack tengah malam, dan dari pancaran matanya kita paham; dia belum puas.

Aku bukan sepenuhnya vegetarian, namun semenjak tiga tahun lalu – the times when I’m struggling ngurangin berat badan yang udah nyampe 72 kilo – aku jadi sedapat mungkin menjauhi daging. Kecuali ikan. Aku hanya makan ayam kalo kepepet alias gak nemu sayur dan lai-lain. Hal demikian aku lakukan karena aku tau daging itu enak, dan aku gak mau Arya yang kerjaannya makan melulu kembali mengambil alih hari-hariku. Jadi kurang lebih, aku bisa relate kepada apa yang terjadi kepada Justine yang selama ini makan non-protein, mulai mengecap daging untuk pertama kalinya.

Film ini juga bukan semata bicara soal nafsu, ini adalah tentang menemukan diri sendiri, mendapatkan apa yang sebenarnya kita mau, dan sejauh mana kita bertindak untuk mendapatkan itu.

 

Horor dari Perancis ini adalah PERAYAAN DARI KEKUATAN WANITA. Kita melihat Justine bertransformasi dari gadis innocent, yang fokus kepada nilai dan prestasi kuliah menjadi cewek yang liar dan tampaknya dikendalikan oleh nafsu – digambarkan dengan visual yang berdarah-darah. Dan perubahan tersebut dipicu oleh penemuannya terhadap apa yang sebenarnya dia mau. Justine berani mengejar apa yang dia inginkan, enggak peduli jalan yang ditapakinya bukanlah yellow brick road. It was a bloody red path. Walaupun, kita bisa melihat jelas, Justine enggak tahu pasti apa yang ia lakukan. Karakter tokoh ini justru kuat oleh hal tersebut. Raw akan senang hati membaurkan kebangkitan seksual ke dalam ceritanya, only to make it more disturbing. Daging yang diinginkan Justine adalah daging apapun utuh seutuh-utuhnya, dan film ini akan memproyeksikan tersebut tanpa judgment dan tanpa malu-malu.

biar kayak iklan jaman dulu: “ku tau yang ku mau!”

 

Kamera arahan Julia Ducournau, sutradara cewek yang juga baru memulai debut film panjang ini, akan menangkap visual yang striking dan pemandangan yang bakal bikin ngamuk orang-orang yang OCD. Eits, bukan OCD yang diet itu, tapi OCD yang control disorder. Semua yang di layar enggak pernah tampak simetris. Dari opening aja, kita akan menatap environment yang dengan sengaja dibikin disturbingly timpang, mengisyaratkan keabnormalan yang akan datang di menit-menit selanjutnya. Ducournau memanfaatkan momen-momen ini untuk dengan perlahan ngereveal setiap tangga evolusi karakter Justine sehingga kita terpana oleh kecantikan sekaligus ‘kebrutalan’ imajeri yang teraasa nyata. Dan, ngerinya, juga somehow relatable.

Ada banyak adegan yang belum pernah kita lihat dieksplorasi dengan berani dan sementah ini sebelumnya. Aku bukan bicara semata mewakili sekuen-sekuen ketika Justine ngemil jari, ataupun semacam itu, while they are also hypnoticly beautiful. Momen-momen kecil seperti Justine menangis di tempat tidur dan kita mengawasinya dari lipatan selimut, atau Justine menari to a slutty song di depan cermin, atau ketika Ducournou menge-mute audio ketika para freshmen merangkak, benar-benar menguatkan sense of discovery dari point of view kita, juga sekaligus membuat nuansa disturbing dan creepy itu merasuk ke dalam diri kita yang siap sedia kantong plastik menontonnya.

Ketika orang memilih untuk melakukan hal-hal yang membutuhkan pembenaran, terutama ketika hal tersebut sangat sulit untuk dibenarkan, maka mereka akan mulai melakukan penyangkalan. Bahkan enggak-jujur terhadap diri sendiri. Raw mengexamine dinamika antara keputusan seorang memilih menjadi vegetarian dengan kesadaran untuk memenuhi panggilan siapa diri kita sebenarnya. You can’t repressed who you truly are. Lingkungan Justine selalu telling her what to do, makanya melihat perjalanan tokoh ini mengejar apa yang dia mau terasa melegakan, tidak peduli seberapa brutalnya. Horor datang dari ketika kita sadar apa yang harus dilakukan untuk menjadi diri sendiri.

 

Saat pemutaran di Gothenburg Film Festival, banyak penonton yang walk out, dan lebih banyak lagi yang muntah-muntah, bahkan pingsan. Jangan biarkan gaung reputasi tersebut menahanmu dari mencicipi seperti apa rasanya film ini. Ya, film ini banyak adegan gory dan disturbing. Tapi ada seni di balik betapa grossnya perilaku manusia-manusia. Adegan kulit yang mengelupas saja sebenarnya adalah sebuah simbol bahwa Justine mulai berubah, dia harus mencabik kulitnya untuk menemukan siapa dirinya yang sebenarnya. Untuk wanita, menjadi dewasa adalah perubahan yang menyakitkan, fisik dan mental, dan film ini menceritakan hal tersebut dengan brutally honest. But again, film ini enggak seseram penjelasan yang kalian baca di ulasan-ulasan tentangnya. In fact, ada banyak elemen cerita yang dibalut dengan tone-tone yang enggak selamanya bikin kita bergidik. Film juga adalah drama keluarga, as much as it is a hauntingly self-discovery journey towards maturity. Dialog dan interaksi tokoh-tokohnya kerap ‘memaksa’ kita tertawa oleh betapa benarnya semua kejadian awkward yang kita temukan ketika kita mulai mengurusi diri sendiri.

Bukan, ini bukan Raw yang ada Roman Reigns dan John Cena nya.

 

Aku suka sekali gimana film ini ngehandle hubungan antara Justine dengan kakaknya. It was played as kakaknya berusaha membantu Justine melewati masa-masa sulit sebagai maba, memastikan Justine melakukan semua tugas ospek supaya adeknya itu enggak dikucilkan oleh Himpunan (yang pernah kuliah dan ngerti diospek pasti ngerti ‘beban’ maba yang satu ini) dan she was rather annoyed sama sikap adiknya. Interaksi mereka menghantarkan kita ke banyak momen-momen lucu. Kemudian some revealing yang subtil terjadi, dan mereka sort of jadi rival. Namun menariknya, kita tahu ada banyak kesamaan di antara mereka, dinamika hubungan sisterhood dua orang ini terus digeber sebagai emosional core yang actually menambah banyak kepada cerita.

 

 

Wajar jika setelah merasakan sesuatu yang baru, kita ketagihan dan ingin lagi, lagi, dan lagi. Nonton film pun begitu. Setelah menyaksikan cerita yang original, begitu berani, haunting, dan membuat kita berpikir, seperti film ini, enggak salah dong kalo kita minta film-film yang lain dibuat dengan semenantang dan semenarik horor Perancis-Belgia yang judul aslinya Grave ini. Bukan sekedar coming-of-age story, film ini tampil dengan brutal, filled with layers dan metafora sehingga walaupun shocking dan disturbing, kita enggak bisa untuk enggak terus menatap. Performance dan arahannya juga sangat luar biasa. Kita akan ngeri sendiri akan betapa grounded dan real dan relatablenya film ini terasa.
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for RAW.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners .
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

PIRATES OF THE CARIBBEAN: SALAZAR’S REVENGE Review

“Accusations are useless.”

 

 

Apakah membuat franchise film berdasarkan sebuah wahana taman hiburan adalah langkah berani yang paling aneh ataukah cuma usaha nekat untung-untungan demi yang namanya duit? Well, jika sihir bisa dianggap sebagai sains yang belum kita mengerti, maka Pirates of the Caribbean bisa jadi adalah magic yang bikin sebagian kita garuk-garuk kepala. Film pertamanya sangat exciting. Setelah itu, semua judul dari franchise ini secara konstan kualitasnya terus menurun. They were bad movies. Di lain pihak, franchise ini toh laku keras, for it is action di tengah laut, yang memadukan bajak laut, kekonyolan, dan hal-hal fantastis.

Film kelima ini actually rilis dengan dua judul yang berbeda. Yang tayang di Amerika sono judulnya Dead Men Tell No Tales. Sedangkan di bioskop sini – aku tadi sempat kelimpungan takut salah nonton – dikasih judul Salazar’s Revenge. Aku gak tau alasan kenapa dirilis dengan judul berbeda seperti demikian; mungkin karena judul aslinya kepanjangan atau mungkin Dead Men dirasa terlalu seram. Hal kecil sih, walupun begitu, sebenarnya aku lebih suka sama judul versi Amerika. Salazar’s Revenge kedengarannya terlalu generik. Lagipula, kalimat “Dead Men Tell No Tales” beneran disebutin di dalam film, terincorporate really well ke dalam cerita, karena tokoh penjahat di film ini suka menenggelamkan kapal dan dia akan sengaja menyisakan satu korban masih hidup untuk menceritakan aksinya kepada orang lain di daratan, sebab ya, orang mati kan enggak akan bisa bercerita.

Orang mati juga gak bisa ke daratan, so yea…

 

Aku berharap film ini jadi film terakhir aja sebab, sukur, film ini LEBIH BAIK KETIMBANG FILM PIRATES SEBELUMNYA. Ceritanya considerably lebih menarik. Jack Sparrow terlibat dalam pencarian Trisula Poseidon yang bisa menghapus semua kutukan di lautan. Bajak laut mabok kita butuh benda ajaib tersebut lantaran dirinya sedang diburu oleh sepasukan hantu anti-bajak laut (lengkap dengan hantu hiu dan kapal hantu yang bisa berubah menjadi mulut yang menelan kapal di depannya) yang dendam kesumat kepadanya. Hantu Kapiten Salazar, at some point, bahkan bekerja sama dengan musuh lama, Kapten Barbossa yang kini jadi bajak laut paling sukses seantero Laut Karibia. However, bersama Kapten Jack, kali ini ada pelaut muda bernama Henry yang juga mencari kekuatan Trisula untuk ‘menyembuhkan’ ayahnya, dan sesosok gadis manis nan pinter yang jadi penunjuk jalan lantaran cuma dia satu-satunya yang bisa membaca peta.

Pintar di antara yang bego, maka kita akan dianggap aneh. Film ini membahas masalah posisi wanita yang di kala itu masih dianggap inferior; cewek cannot be smart unless they are witches. Ini bisa ditelusuri sebagai masalah prasangka. Zaman dulu, bidan-bidan wanita dianggap berbahaya sebab mereka ngurusin perkara hidup mati sebagaimana peran dokter-dokter pria. As gender dijadikan tolak ukur wewenang; orang-orang lebih mudah percaya kepada laki-laki yang tegas dibanding kepada wanita yang lemah lembut. This element is also played really well dengan karakter Jack Sparrow yang ditinggalkan oleh kru, you know, because he’s drunken and weird dan kerap bawa sial. Kontras dengan Salazar yang punya pengikut setia hidup-mati, atau malah dengan Barbossa. Padahal mereka sama kompetennya.

 

Tentu saja banyak kejar-kejaran, tembak-tembakan kapal, dan duel pedang yang terjadi. Ini adalah film yang terlihat sangat menarik. Penggunaan efeknya keren. Javier Bardem cool banget sebagai Salazar, aku suka penampakannya, aku suka gimana dia memainkan perannya. Hantu maniak ini adalah penjahat film favoritku sejauh pertengahan tahun ini. Film ini punya banyak stok candaan dan lelucon yang bagus. Juga berusaha untuk punya sisi emosional. Namun dengan tema besar mencari diri sendiri, film ini relatif berjalan lurus sebagai film petualangan yang melibatkan banyak pihak. Semua orang tersebut numplek di atas kapal yang sama, literally and figuratively. Dan kita bisa melihat masing-masing mereka punya alasan untuk berada di sana. Tokoh Henry yang diperankan oleh Brendon Thwaites ditulis punya kaitan sejarah dengan franchise ini, motivasi dirinya lah yang bikin narasi film ini berjalan. Ada percikan manis yang terjalin antara dirinya dengan tokoh Carina (Kaya Scodelario berhasil untuk tidak terjebak memainkan karakternya jadi semacam tokoh daur-ulang). Di duapuluh menit terakhir, barulah film benar-benar finally just pick up. I loved the ending. Dan meski efek di bagian ‘final race’ ini sedikit lebih rough-around-the-edges, aku suka, malahan bukan itu yang menggangguku.

What really bothers me about this film adalah walaupun tokoh-tokoh tersebut punya motif dan alasan untuk ikut bertualang, urgensinya tidak pernah benar-benar terasa. Stake, alias konsekuensi, yang dihadapi para tokoh enggak terang benar. Rintangannya pun sebenarnya cukup gampang untuk dihindari. Kita bisa merasakan ada sesuatu tujuan, ada sesuatu yang harus mereka selesaikan, tetapi rasanya tidak ada tuntutan untuk segera dibereskan. Para hantu hanya bisa ngejar di laut, Jack Sparrow enggak benar-benar dalam bahaya. Kalo Henry gagal menghapus kutukan ayahnya, hal buruk apa yang terjadi? Dia masih bisa hidup dan pacaran dan punya anak kok. Carina diberikan alasan untuk tidak bisa pulang, dia sekarang diburu mati-matian oleh negara lantaran disangka penyihir, namun masalah itupun beres seketika. Di film ini ada penyihir beneran, and that’s it, kita enggak melihatnya lagi di akhir.

Dan jokes tentang “Neng, pinter banget, kamu pasti penyihir. ENYAH KAU!” terus saja diulang-ulang sehingga jadi annoying. Awalnya sih lucu, tapi lama-lama jadi kentara banget. Masak setiap tokoh cowok guyonannnya begitu ke Carina.

Cara terbaik untuk menggambarkan film ini adalah membandingkannya dengan wahana di taman hiburan Disney. And it is precisely just like that; Seru yang melibatkan banyak hal dan membutuhkan biaya besar, tapi nyatanya adalah rangkaian adegan yang pointless.

 

Pada film pertama, karakter Jack Sparrow adalah tokoh yang sangat mengejutkan. Kita enggak tau apa yang ada dipikirannya, cara dia untuk membuat everything work out. Sparrow adalah peran yang berhasil dibangkitkan secara fenomenal oleh Johnny Depp. It is his signature role. Dia lucu, gampang banget disukai. Penampilannya liar dan really unhinged, bagusnya di awal-awal adalah keintensan karakter tersebut terkontrol dengan baik. Dalam film ini, Depp seperti diberikan kebebasan seratus persen, hanya saja jatohnya dia seperti memainkan karikatur dari karakternya yang dulu. Cuma sebatas lelucon setiap kali dia nampil dalam adegan, Sparrow tidak lagi punya real-character. Ini membuatku kecewa karena buat tokoh ini kita udah tau harus mengharapkan apa, namun tokohnya kehilangan sense of humanity seperti yang nampak pada film-film awal. Aku lebih tertarik ketika cerita membawa kita flashback ke Sparrow yang masih muda; karakternya terlihat lebih grounded di bagian itu.

Studio Disney lagi suka main FaceApp yaa hhihi

 

Meski ini adalah film dengan durasi paling pendek dalam franchise ini, dirinya tidak terasa bergerak secepat itu. Tetap aja filmnya kayak panjang banget. Sekuen-sekuen aksinya pada seru dan refreshing hanya saja mereka dimainkan lebih sebagai humor alih-alih untuk excitement. Pacing film kerap terasa ngedrag karena ada banyak adegan-adegan panjang yang kepentingannya gajelas. Kayak Sparrow ketemu pamannya di sel, atau malah adegan rampok bank itu. Sepertinya adegan-adegan tersebut memang dimasukkan cuma untuk bumbu humor semata. Tidak ada yang menarik dari arahannya. Film ini terasa kayak film-film action adventure yang biasa. Coba deh bandingin ama trilogy Pirates yang digarap oleh Gore Verbinski. Meski memang yang pertama doang yang bagus, namun Verbinski meletakkan ciri khasnya dalam film-film tersebut. Pirates seri kelima ini datar aja, enggak punya keunikan apapun.

 

 
Akan ada banyak hal yang bisa dinikmati jika kalian penggemar franchise ini. After all, kita udah ngeliat sekuelnya yang jauh lebih buruk. Film ini enggak jelek-jelek amat, meski juga enggak brilian dan unik. Efeknya keren, dan aksinya seru. There are some good jokes. Ceritanya juga sedikit lebih menarik. Penampilan Salazar is the one to watch for. Yang bikin kecewa adalah enggak banyak sense of urgency dari karakter-karakternya. Film ini live it up deh dengan wahananya, asik tapi rather pointless. Tapinya lagi, purposenya akan benar-benar terasa mantep jika film ini adalah film terakhir. It was better than the previous ones.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for PIRATES OF THE CARIBBEAN: SALAZAR’S REVENGE

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 
We? We be the judge.

ZIARAH Review

“In the end all you really have is memories.”

 

 

Mengunjungi makam kerabat, memanjatkan doa-doa, esensinya adalah supaya kita mengingat masa lalu dan masa depan. Pertemuan dan kematian. Kata kuncinya adalah mengingat, dan tema tersebut dieksplorasi oleh film Ziarah di mana ia akan mengajak kita untuk mengunjungi kembali kenangan dan duka yang tertimbun. Film ini adalah perjalanan mencari kebenaran lewat ingatan.

Bercerita tentang seorang nenek yang sudah berusia sembilan-puluh lima tahun yang mendadak pergi dari rumah. Mbah Sri ingin nyekar ke makam suaminya yang gugur saat Agresi Militer Belanda Kedua berpuluh-puluh tahun silam. Ke makam ‘beneran’, bukan ke makam tanpa nama yang sudah disiapkan oleh pemerintah untuk pahlawan-pahlawan tak dikenal. Jadi, dengan sekeranjang kembang di dalam tasnya, Mbah Sri berjalan naik turun perbukitan, melintas dari satu desa ke desa lain. Beliau mencari setiap jengkal tanah pekuburan yang dikunjungi. Bertanya kepada orang-orang yang mungkin saja tahu tentang peristiwa melingkupi tewasnya sang suami. Perjalanan yang Mbah Sri tempuh ternyata menguras mental dan emosi lebih banyak daripada nyapekin badan, saat misteri keberadaan sang suami perlahan terdispersi menjadi beberapa cahaya kebenaran. Dan kenangan dan kepercayaan yang selama ini ia pegang bisa jadi bukan kejadian yang sebenarnya.

ke kuburan bukan buat minta nomer, loh!

 

Sutradara asal Yogya, BW Putra Negara, mengerahkan semua arsenal yang dia kuasai untuk memaksimalkan penceritaan Ziarah. Menggunakan visual storytelling dan tutur dialog dengan sama efektifnya sehingga jika kita enggak benar-benar terpaku di menatap layar, kita akan ketinggalan potongan emosi. Dan jika kita enggak memperhatikan dialog (atau dalam kasus film ini yang SELURUH PERCAKAPANNYA BERBAHASA JAWA, enggak baca teksnya), kita akan tersesat dan bingung sendiri oleh cakap eksposisi, informasi, dan simbolisme yang datang silih berganti. Sutradara pun tidak pernah membuat film ini menjadi lebih mudah untuk kita. Dengan adegan-adegan yang dengan sengaja diberi pace yang lambat; shot panjang yang belum dicut-cut, film ini mengambil waktu supaya setiap adegan berlangsung dengan utuh. Kita ngeliat dua orang berdiskusi nyusun denah rumah di tanah, kita ngeliat Mbah Sri yang masukin kembang ke dalam tas, kita ngeliat di berjalan dari ujung jalan, camera lingers a little bit too long, musiknya merayap di belakang, semua ini menyiptakan sensasi uneasy yang luar biasa. Rasa nonton film ini hampir seperti rasa ketika kita ingin tahu sesuatu tapi di dalam hati kita sebenarnya takut akan kebenarannya. Setiap informasi yang diterima oleh Mbah Sri, membuat pencariannya semakin berkelok, dan to be honest, semakin mendekati akhir aku berharap Mbah Sri, dan aku sendiri, enggak pernah nemuin kebenaran yang dicari.

Kenangan kita adalah milik kita seutuhnya. Itu sejarah personal kita. Ya, mungkin sejarah itu blur, mungkin kita butuh kejelasan. Tapi jika itu berarti kenangan tersebut harus ditantang dengan kebenaran, apakah kita siap untuk menodai kenangan tersebut evenmore? Film ini bilang jangan mengorek luka lama. Sesuatu yang dikubur sebaiknya dikenang, jangan diusik lagi. Bagaimana jika kita salah? Sudikah kita melepaskan satu-satunya yang kita punya? Siapkah kita – seperti Mbah Sri – untuk pasrah?

 

Dan memang film ini cukup berani undur diri dengan terbuka bagi interpretasi penonton. Film menunjukkan kepada kita apa yang jadi jawaban atas pencarian Mbah Sri, ada sense of finality juga ketika film berakhir, namun maksud kejadian penghabisan – very well might be Mbah Sri’s last choice –diserahkan sepenuhnya kepada kita. The very last shot dimainkan dengan bagus dan merupakan kontras dari salah satu adegan yang muncul di menit-menit awal film.

Semua hal dalam film ini terasa otentik. Misteri seputar sosok suami Mbah Sri, Pawiro, mendapat pengungkapan yang menarik. Tidak ada pancingan emosi yang dibuat-buat kayak film drama pada umumnya. Karakter-karakter dibiarkan berjalan, dan kejadian demi kejadian kayak berlangsung gitu aja. Ada satu sekuen sih, di akhir-akhir babak kedua, ketika ada seseorang tampak punya agenda sendiri; awalnya kukira ini adalah di mana film ngambil keputusan yang salah dalam ngelanjutin ceritanya, you know, biasanya film-film kan gitu – they did everything right, namun di akhir ada nila yang merusak film sebelanga. Tapi enggak, elemen cerita itu teresolve dengan manis. Penampilan aktingnya film ini, entahlah, aku melihat orang-orang dalam film ini seperti menjadi diri sendiri. Seperti menonton dokumenter di mana warga asli ditanya-tanyain dan mereka bercerita apa adanya. Low budget dan PENGGARAPAN YANG SEDERHANA justru diubah jadi nilai lebih film ini karena semuanya terasa nyata. Mbah Ponco Sutiyem yang memerankan Mbah Sri berhasil menyampaikan emosi dengan fantastis walaupun sebenarnya peran ini sangat stricken dan beliau sendiri bukan aktor. Kita boleh aja enggak ngerti bahasanya, namun ekspresinya bercerita begitu banyak. Semua ini tentu saja berkat arahan dari sutradara benar-benar on-point.

Adegan di awal-awal ketika Mbah Sri ngobrol dengan cucunya di dapur really hits home buatku. Dari keseluruhan film yang tonenya mellow kadang ada lucu ironis, dan kadang ngeri, cuma di bagian inilah aku ngerasa sedikit ringan. Lantaran aku teringat kalo lagi di kampung, aku setiap subuh masuk dapur ngangetin diri di depan kompor, dan Mbah ku dateng ngajak ngobrol. Hanya saja aku yang ampe sekarang enggak bisa-bisa berbahasa Jawa, hanya manggut-manggut nyengir sok ngerti hhihi

“sudah bukan umur bercanda lagiii”

 

Dari segi skenario, Ziarah punya struktur cerita yang rada unconventional. Kita tidak langsung diberi petunjuk motivasi tokoh utama, kita malah ngeliat motivasi dari karakter lain. Di sinilah film sedikit goyah. It takes time to established the main character, dia sedikit terlalu berada sebagai latar saat permulaan. Di awal, film ini terasa kayak cerita seorang cucu yang ingin menikah, tetapi neneknya mendadak pergi entah ke mana dan si cucu harus pergi mencari. Tidak hingga midpoint barulah perspektif Mbah Sri menjadi benar-benar dominan, dan kita lantas belajar mengenai motivasinya. Kita tahu Mbah Sri ingin mencari makam suami, akan tetapi baru di paruh kedualah kita mengerti kenapa baru sekarang dia melakukan ziarah tersebut, apa yang membuatnya melakukan perjalanan panjang itu. Memang, terjadi kebingungan dalam memahami cerita jika kita enggak pasti siapa yang jadi tokoh utamanya. Kupikir, itulah sebabnya kenapa Ziarah tidak serta mudah dicerna; Ceritanya sederhana, hanya saja strukturnya membuat kita sedikit padet. Di paruh awal, perspektif kita kerap berganti ke cucu Mbah Sri yang sebenarnya punya lapisan sendiri yang integral sebagai simbol untuk tema dan bigger picture cerita.

Film ini membahas fondasi rumah, membahas diskon gede, membahas orang bunuh diri lantaran pasangannya ketahuan berselingkuh bertahun yang silam. Perbincangan yang terdengar random, namun sesungguhnya punya kait dengan cerita yang bertema ingatan dan masa lalu. Mereka adalah bagian dari proses berdamai. Jangan sampai kita membiarkan ingatan kita tentang seseorang atau sesuatu, terkontaminasi oleh suara-suara orang. Jika kita mengenang sesuatu, kenanglah sesuai dengan ingatan kita secara personal. If we believe something is sweet, then sweet it is. Apapun yang terjadi sesudahnya, tidak ada hubungannya dengan kenangan kita. Simpan, cherish kenangan tersebut, dan just move on with our life.

 

Sehabis nonton tadi, tidak ada satupun penonton di studio yang beranjak dari kursi. Mungkin masih ingin jawaban. Mungkin juga pada segan cabut duluan. Atau mungkin juga, semua orang itu masih pada terusik oleh apa yang bisa kita temukan jika kita mencari; Kebenaran.

 

 

 

Buat yang kerap meminta sesuatu yang berbeda dari film Indonesia; tontonlah film ini. Sekali-kali ziarahlah ke bioskop; untuk mengingat kenapa sih kita suka nonton film in the first place. Drama ini penceritaannya sangat unconventional yang benar-benar menyentuh kita soal berdamai dengan masa lalu, dengan kenangan tentang seseorang yang kita simpan erat-erat. Ini juga adalah tentang sejarah. Kita belajar sejarah bukan untuk mengorek luka masa lalu, melainkan supaya kita embrace, belajar darinya, dan hidup lebih baik setelahnya. Tapi film ini sedikit falter di struktur, ada tone yang kadang bentrok juga. Elemen mistis di tengah-tengah cerita, contohnya. Mengingat efektifnya bahasa visual, tutur, dan simbolisme yang dilakukan film ini, mungkin saja elemen mistis itu adalah simbol yang aku belum dapat koneksinya. Tapi memang, aspek ini mentok jika disandingkan dengan aspek genuine yang dibangun oleh film.
The Palace of Wisdom gives 7 gold stars out of 10 for ZIARAH.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

 

GIFTED Review

“Compassion isn’t about solutions.”

 

 

Berkah bisa berubah menjadi kutukan yang menggerogoti diri jika seseorang terlalu ‘tamak’ terhadapnya. Teknologi misalnya, dari yang tadinya memberikan banyak kemudahan, jika kita gunakan dengan tidak bertanggung jawab, justru mendatangkan mudarat; deteriority of humanity. Kecantikan juga gitu, orang yang terobses malah akan menjadi ‘mengurung’ diri sendiri dalam usaha menjaga kecantikan itu terus terjaga. Bukan berarti kita tidak boleh melestarikan berkah. Berkah dan kutukan, sejatinya adalah pilihan, seperti yang dengan fasih dibicarakan oleh film Gifted. Kita semestinya bisa dengan bijak melihat seorang yang punya bakat jauh di balik kelebihannya tersebut.

 

 

Frank dipanggil ke ruang kepala sekolah. Ponakan kecilnya, Mary, berulah di sekolah. Di hari pertamanya, anak tujuh-tahun itu mengejutkan seisi kelas dan eventually Mary adalah anak jenius, apalagi soal matematika. Mary memang lebih suka sekolah privat ketimbang sekolah umum karena, tentu saja kurikulum standar belajar sekolah biasa terasa lamban oleh gadis cilik ini. Dan ketika ditanya tentang teman, “Aku tidak bisa berteman dengan idiot” keluh Mary. Makanya, ketika ditegur kepsek lantaran Mary literally matahin idung seorang bully di sekolah, Frank malah sedikit senang. Meski yang dilakukan Mary salah, Franks bangga anak asuhnya itu berani membela yang lemah. Frank ingin menumbuhkan rasa kasih sayang di dalam diri Mary. Dia menolak tawaran Kepsek yang ingin memindahsekolahkan Mary ke sekolah khusus anak berbakat, “I would rather you dumb her down, if that makes her a good person,” aku Frank.

Di situlah di mana tokoh Frank yang diperankan dengan luar biasa gentle oleh Chris Evans menjadi sangat menarik. Mary bukan anak kandungnya, Mary adalah anak dari kakaknya yang juga sangat berbakat dalam matematika (in fact, jago matem ini udah warisan turun temurun dalam keluarga mereka). Membesarkan Mary adalah salah satu dari permintaan terakhir kakak kepadanya, jadi dia berusaha untuk menghargai permintaan-permintaan tersebut sekaligus menyadari tanggung jawab membesarkan anak paling pintar di dunia ada pada pundaknya. Frank mencoba untuk melihat dari berbagai sudut, dia mempertimbangkan pendapat banyak orang – mulai dari guru Mary, ataupun dari tetangga mereka, bahkan dari ibunya sendiri. Konsern utama Frank tentu saja dia ingin agar si anak tetap tersenyum dan membuatkannya sarapan, memenuhi segala kebutuhan. Dia ingin yang terbaik, dan dia ditantang ketika ada pihak yang mempertanyakan “yang terbaik buat siapa?”

Octavia Spencer main di film tentang anak cewek yang jago matematika, di mana kita pernah lihat itu sebelumnya?

 

Gifted mengacung-ngacungkan pertanyaan di depan muka kita yang menatapnya dengan terpesona; bisakah seorang jenius mendapatkan hidup normal. Bisakah seorang gadis cilik yang enggak benar-benar ingin diperlakukan sebagai the next Albert Einstein memilih untuk pergi ke pantai, memelihara kucing, nonton UFC dengan pamannya, dan just bermain dengan teman-teman, you know, just being a little girl dan menikmati hidup.

Ini adalah film yang benar-benar tentang karakter. Tidak ada ledakan ataupun aksi di sini. And I really like that about this movie. Semua adegannya hanya ngobrol atau berjalan, namun film ini menanganinya dengan amat efektif. Setiap scene rasanya padet. Ambil contoh ketika kita melihat Frank dan Mary di pantai, kita cuma melihat siluet mereka yang dilatarbelakangi oleh matahari terbenam, tapi pergerakannya sangat playful. Mary literally manjatin Frank, sembari mereka bertukar dialog yang sungguh asik serta menantang untuk diikuti. Mereka bicara tentang Tuhan, tentang kepercayaan. TENTANG PILIHAN. Totally ngedefinisikan film itu sendiri. Gifted sebenarnya bukan film pertama yang membahas tentang masalah anak jenius, tapi yang membuat film ini berbeda terutama adalah penampilan dan perspektif ceritanya. Jika kebanyakan biasanya hanya memfokuskan kepada perang hak asuh, maka film ini lebih kepada menjawab pertanyaan anak jenius bisa kok mendapat kedua hal; being genius dan menjadi anak kecil pada saat bersamaan.

Jejeran castnya tergolong kecil, namun sukses berat bawain cerita sehingga terasa gede. Yang PALING MEMESONA JELAS ADALAH HUBUNGAN YANG TERBANGUN ANTARA FRANK DENGAN MARY. Relationship mereka terasa sangat otentik. Padahal kedua tokoh ini bukan exactly ayah dan anak. The way mereka mengerti satu sama lain, tukar menukar percakapan, bahkan saat mereka ‘berantem’, lovable banget. Kocak. Penuh hati. Nyata.

Dan pemeran Mary, Mckenna Grace, oh wow adek ini mencuri pertunjukan! She’s star in the making, liat aja!! Entah mau jadi anak jenius yang ngambek, yang tau dia spesial namun gak demen sama ide dan peraturan dari sang nenek yang juga jenius, ataupun jadi anak kecil yang ingin bermain-main, Mckenna selalu deliver dengan meyakinkan. Di adegan sedih, dia juga berhasil bikin aku ngerasa “aww kasiaaann”. Ketika kita melihat penampilan bagus dari aktor cilik, biasanya kita langsung ngecap image peran tersebut kepada mereka. Sesungguhnya hal demikian itu nyusahin buat si aktor sendiri, mereka bakal dapat job ngisi peran yang itu-itu melulu. Macaulay Culkin aja mati-matian nyari peran yang bukan ‘anak-kecil-nakal-yang-adorable’ selepas perannya di Home Alone (1990). You know, bahkan aktor kayak Dwi Sasono aja, kita masih ngakak ngeliat dia tampil serius di Kartini (2017) atau ketika dia jadi dokter di Critical Eleven (2017), image Mas Adi begitu kuat melekat – padahal dia bukan aktor anak-anak. Akan tetapi, sepertinya hal ini tidak akan jadi masalah buat Mckenna Grace. Penampilannya di film ini just sooo good dan punya rentang luas sehingga can really break the mold untuk dia melakukan peran yang berbeda di film-film berikutnya.

variabel yang gaada di film Indonesia: tokoh dan aktor cilik yang menarik

 

Setiap kali hendak menonton film drama kayak gini, aku selalu khawatir. Takut nanti ceritanya terlalu melodramatis. Takut filmnya terlalu cengeng. Marc Webb sepertinya diberkahi kemampuan untuk mengolah drama dengan just right, kecuali di beberapa bagian menjelang akhir. Kayak di 500 Days of Summer (2009), Marc Webb keliatan seperti berada di rumah dengan penceritaan dramatis. Dia tahu takarannya. Problem dalam film ini muncul, eh bukan muncul, ding. Film ini tahu arah ceritanya, this movie embraces it. Problem film ini adalah pilihannya untuk mengambil sudut pandang yang tidak di tengah. Film ini adalah jawaban, kita harus respek ama keputusan ini. Mungkin film inilah jawaban yang benar. Namun, ketika ada yang benar, maka pasti ada yang salah. Dan pihak yang ‘salah’ dalam cerita ini, terlihat seperti tokoh jahat, a villain. Menurutku ini hanyalah cara gampang menuliskan sebuah film drama. Ada tokoh yang terlalu tanpa-hati. Aspek ini membuat film jadi predictable, dan personally aku pikir tokoh kayak nenek si Mary gak mesti dibuat sebagai tokoh jahat.

Terkadang, jika kita punya kelebihan, kita suka tidak sadar ada satu variable yang kehidupan kita; kasih sayang.Dan compassion tidak sama dengan matematika; ini bukan soal solusi. Ia adalah soal memberikan cinta sebanyak yang kita punya.

 

Film ini juga jatuh ke dalam ketagori cerita yang melibatkan proses pengadilan, di mana ada adegan di depan hakim, urusan legalisasi hak asuh anak, dan sebagainya. Singkat kata, dalam film ini ada elemen yang bakal bikin kita bosan. Bagian yang kita ingin untuk cepat berlalu sehingga kita bisa melihat porsi Mary dengan Frank lebih banyak. Adegan courtroom dalam film ini muncul sewaktu-waktu untuk nonjolin pihak baik dan jahat, untuk membakar api konflik keluarga yang jadi tantangan bagi Frank. Again, menurutku ini adalah cara textbook yang paling gampang untuk melanjutkan cerita.

 

 

 

Di luar adegan-adegan peradilan, ini adalah cerita yang sangat asik untuk dinikmati dengan banyak penampilan akting yang fantastis. Perspektif tokoh utamanya sangat menarik. Hubungan antara Frank dengan Mary begitu real dan menyentuh. Dialog-dialognya kadang kocak, kadang benar-benar bikin hati kita ketarik-tarik. Kecuali di bagian akhir, film ini sukses menjadi enggak terlalu dramatis. I love this movie, kuharap banyak orang yang tertarik untuk menontonnya sebab kisah drama antara anak yang spesial dengan orang yang truly menyayanginya ini dapat benar-benar menginspirasi orang-orang. Entah itu mendorong untuk mengajarkan compassion dan cinta, atau membuat orang ingin bikin film, atau belajar matematika hhihi.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for GIFTED.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

CRITICAL ELEVEN Review

“No parents should have to bury their child.”

 

 

Debbie Reynolds pernah bilang, “my greatest fear is to outlive my daughter.” Beliau tutup usia keesokan hari setelah putrinya, Carrie Fisher, meninggal dunia. Rest in peace buat kedua aktris legendaris tersebut, mereka sudah bersama lagi di alam sana. Toh, ketakutan terburuk sebagai orangtua sempat terealisasi, dan itu memang menyedihkan. Persoalan kehilangan anak karena kematian – entah itu penyakit, kecelakaan, atau dibunuh, atau tragedi lainnya — bagi orangtua penyelesaiannya tidak pernah segampang “tinggal bikin lagi”. Kematian seorang anak dapat mengarah kepada konsekuensi serius terhadap rumah tangga, yang tak jarang berujung kepada perceraian.

Film Critical Eleven mengangkat masalah tersebut sebagai salah satu dari permasalahan yang dihadapi oleh pasangan muda yang baru berumah tangga. Menjaga dan memenuhi kebutuhannya bahkan dari sebelum anak lahir ke dunia. Dan ketika semua yang telah dilakukan gagal, bagaimana mereka menyingkapinya, gimana keutuhan rumah tangga mereka, ini adalah perjuangan cinta yang sangat dewasa, dengan konflik emosional yang serius. Sebab, masalah yang dihadapi Ale dan Anya ini bisa saja terjadi kepada siapapun di luar sana.

Ketika seorang anak meninggal dunia, orangtua akan berasumsi bahwa itu adalah tanggungjawab mereka. Bahwa seharusnya mereka bisa mengusahakan sesuatu untuk mencegah hal tersebut dapat terjadi. Pada titik ini, orangtua bisa terjerumus ke dalam depresi yang dalam; mereka akan marah, menjauh, bahkan cenderung jadi saling menyalahkan. Kematian anak menimbulkan rasa ketidakmampuan dalam diri orangtua, karena mereka berpikir sebagi orangtua mereka mestinya bisa ‘memperbaiki’ semua hal dalam hidup anaknya. Dan ini membuat orangtua merasa tak berguna. Merasa bersalah.

 

 

Kita ngikutin kisah rumah tangga Anya dan Ale sedari mereka pertama jumpa di laut cinta, kau secantik mutiara…. eh jadi lagu Jinny oh Jinny, sori sorii. Anya (timing dan burst emotional Adinia Wirasti keren banget) yang udah nganggep bandara sebagai rumah keduanya malah nemuin ‘rumah tersayangnya’ saat dia dipinjemi saputangan oleh Ale, penumpang pesawat yang duduk di sebelahnya. Menggambarkan pertemuan mereka sebagai critival eleven dalam hidupnya, Anya jatuh cinta kepada Ale (range yang dimainkan oleh tokoh Reza Rahadian ini lebih lebar dari mulut menganga cewek yang nonton di sebelahku). Mereka menikah. Anya ikut Ale tinggal di New York, kehidupan cinta mereka bersemi sangat indah. Satu-satunya saat Anya kesepian adalah begitu Ale pergi kerja ke offshore rig. Being independent most of her life, Anya mendapat ‘tantangan’ ketika dia mulai mengandung anak yang sangat didamba oleh Ale. Cerita yang tadinya membuai penonton wanita dengan manisnya romansa, mulai ketemu kelokan ke arah yang lebih mengkhawatirkan as kedua pasangan ini punya pandangan dan prioritas yang slightly berbeda – dan tentu saja ego masing-masing got in the way. Dan Kematian turut campur tangan, ultimately, stake couldn’t get any higher.

kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya… Anda merana menatap pesan yang cuma dibaca

 

 

Film ini GORGEOUS. Penampilan aktingnya menawan. Reza dan Adinia punya pesona yang luar biasa tampil bersama. Penampilan visual film pun memukau. Entah itu ruang kantor ataupun pemandangan jalanan New York, semuanya terlihat cantik. Film ini memanfaatkan pemandangan tersebut sebagai perwakilan dari perasaan yang ingin disampaikan oleh cerita. Kita tidak melihat hujan di malam hari hingga mendekati akhir di mana hubungan kedua tokoh lagi genting-gentingnya. Ada dua shot yang aku suka banget, yakni adegan, yang demi enggak terlalu banyak beberin, let’s just say adegan Anya di kolam dan adegan Anya dan bayinya. Up until that point tho, semuanya terlihat menyenangkan. Walaupun jika kita tilik dari keintegralan dengan actual adegan yang sedang berlangsung, beberapa latar cantik itu tampak random. I mean, ini adalah fim yang berpusat pada hubungan dua tokoh, naturally ada banyak adegan percakapan. Entah itu tentang mereka saling mengutarakan keinginan, memilih nama bayi, atau sedang ada sedikit argumen. Kalo yang mereka pas ribut, sih kita pasti ‘melek’ ngikutin. Tapi untuk percakapan yang lumayan sepele – terlebih dialog-dialog dalam film ini kerap terdengar cheesy sekali – kita butuh untuk ‘terdistraksi’ oleh pemandangan kota just so kita tetap berada di sana.

Critical Eleven adalah istilah dalam dunia penerbangan; menit-menit krusial di mana biasanya kita dilarang mecolek-colek pilot dan copilot lantaran bisa mengganggu konstentrasi mereka demi take-off dan pendaratan yang aman. Tiga menit dan delapan menit itu sangat menentukan keselamatan seluruh penumpang. Dalam relationship, seperti yang dianalogikan literally oleh Anya, kita bisa melihat cinta itu datang di tiga menit pertama, namun proses ‘terbang’ dalam hubungan tidak selalu bisa ditentukan dari sana. Dibutuhkan delapan menit of understanding and everything, yang mana enggak benar-benar delapan menit. Dalam cinta, dalam rumah tangga, hanya ada proses dan setiap menitnya begitusama kritisnya.

 

 

Kalo dalam terbang istilahnya critical eleven, maka dalam film, angka penting adalah 10. Sepuluh menit pertama ketika kita menonton film adalah menit-menit paling krusial, dalam rentang waktu itu kita akan sudah bisa memutuskan film ini layak ditonton, kita suka atau enggak, bagus atau meh. Itulah makanya, dalam penulisan naskah, para scripwriter kudu bisa mejengin motivasi karakter, tone cerita, dan kait emosi di dalam sepuluh halaman pertama. Aku tidak melihat motivasi pada sepuluh menit pertama film ini. Atau paling enggak, tidak melihatnya pada tokoh utama kita. Aku sama sekali tidak dapat gambaran ini cerita tentang apa, apa konflik yang membayanginya. It’s about strangers who met in an airplane, and that’s it. Tidak menarik buatku, tidak menantang apa-apa. Tone dan gaya berceritanya pun tidak terasa spesial atau berbeda. Jadi aku menonton film ini kayak lagi nyebrangi jembatan yang enggak punya tali untuk pegangan di pinggirnya. Butuh waktu yang rasanya amat panjang untuk kita tahu konfliknya apa, film ini meminta belas kasihan kita untuk tetap duduk sampai saat konflik itu tiba tanpa memberikan apa-apa untuk kita pegang.

Dan aku benar-benar meraba soal memahami karakter film ini. I really just grasping at straw towards Anya, aku enggak merasa kenal dan mengerti sama tokoh ini sebanyak yang seharusnya, karena dia adalah tokoh utama. I get it dia biasa sendiri, apa yang rela ia lakukan, like, dia gak tahan ketika dia yang biasa sendiri kemudian mengattachkan diri kepada orang atau katakanlah rumah, dan lantas dia harus berpisah dari itu semua. Ini kayak ketika kita udah berlari kencang, terus berhenti, dan dipaksa untuk mulai berlari lagi. Melelahkan memang. Namun her concerns, alasan di balik pilihan-pilihan yang dibuat olehnya, gak benar-benar masuk akal buatku. Aku lebih ‘deket’ sama tokoh Ale, yang terasa lebih dominan dan lebih terang perihal mengatakan apa yang ia mau. Kita bisa memahami alasan Ale bersikap rather protective; dia punya begitu banyak cinta dan ingin membuktikan diri dia bisa menyayangi anak lebih baik daripada yang orangtuanya lakukan terhadap dirinya. Saking carenya, dia segan berhubungan ketika Anya tengah hamil. Kita juga ngerti konflik yang tercipta dari diri Ale, sebagaimana kerjaan mengharuskannya absen beberapa waktu dari keluarga tercinta.

Tau gak; Apa yang bego dan melompat-lompat, tapi bukan kodok?

 

Film ini bercerita dengan runut; mereka ketemu, mereka menikah, mereka menghadapi masalah yang timbul. Akan tetapi, prosesnya seringkali dilompat. Contohnya gini, setelah bertemu di pesawat, adegan selanjutnya adalah kita melihat mereka sudah akan menikah banget. My point is, kenapa dibikin runut (mengorbankan sepuluh menit pertama yang jadi datar) kalo prosesnya dilewat hanya buat supaya mereka punya bahan untuk flashback nantinya. Adat paling jelek film ini adalah dia lebih suka untuk BERCERITA LEWAT KATA-KATA, TANPA MEMPERLIHATKAN BUKTINYA KEPADA KITA. Ale bilang dia merasa orangtuanya enggak sayang kepada dirinya. Kita enggak lihat itu. Orangtua Ale malah terlihat perhatian. Ale bilang ke Anya saat mereka dalam perjalanan pindah ke New York, “ aku tahu pindah enggak gampang buat kamu”, but hey, mereka terbang gitu aja; kita enggak liat susahnya seperti gimana buat Anya, wong baru menit enambelasan mereka udah stay di New York. Ini jugalah yang menyebabkan karakter Anya di babak satu dan babak dua terasa berubah, dengan kita enggak yakin terhadap alasannya; semuanya hanya kita dengar lewat omongan, kita enggak melihat inner journeynya. Malahan kayaknya film ini mikir lebih keras demi timing buat nunjukin penempatan produk ketimbang memperlihatkan cerita. Akibatnya, ya filmnya berjalan dengan enggak meyakinkan.

Bagian terbaik film ini adalah paruh kedua, ketika konflik mulai tampak. Mesti begitu semuanya digampangkan. Resolusi yang dihadirkan juga standar trope drama banget. Pokoknya asal bisa bikin penonton cewek mewek aja deh! Kalian bisa bilang La La Land (2016) juga pake tropes ala ftv, tapi di sana karakternya membuat pilihan yang kuat. Karakter film Critical Eleven ini, bahkan ketika mereka pindah balik ke Indonesia, semuanya berlangsung gitu aja buat kemudahan mereka. Anya berargumen soal nanti di Indonesia dia bakal susah kembali nyari pekerjaan, tapi toh ketika udah di sana, semua jawaban teresolve otomatis. Seolah di dunia ini tidak ada yang berubah selain Anya yang kini hamil.

My biggest issue with this movie adalah kualitas penulisan dialognya. Aku enggak punya masalah soal campur aduk bahasa Inggris, karena cocok dengan lingkungan film ini. Lagipula secara psikologis, ada orang yang lebih mudah mengungkapkan perasaannya lewat bahasa asing, dan Anya tampak seperti orang yang masuk dalam kategori ini. Dan hey I’m doing it right now! aku juga menggunakan bahasa nyampur di review untuk alasan yang sama. Yang aku permasalahkan dari dialog film, selain terlalu banyak berkata-tanpa-nunjukin bukti ada hubungannya dengan film ini bertema sangat dewasa. Tokoh-tokohnya adalah orang pinter dan mature sekali. Dan actually ada adegan dewasa yang diincorporate nicely ke dalam narasi, ada kepentingannya di dalam cerita. But oh boy, kenapa ketika mereka ngobrol aku kayak lagi dengerin anak sekolah lagi pacaran? Cheesy abis. Beberapa ditulis straight forward. Enggak benar-benar banyak maksud yang terkandung di balik percakapan, dan ini membuat film semakin watered down buatku.

 

 

 

 

Film adaptasi novel yang mengangkat tema yang lebih dewasa mengenai cinta dan rumah tangga ini hidup oleh penampilan tokoh-tokohnya. Tahu persis bagaimana memancing emosi, terutama dengan memanfaatkan visual latar dan konstruksi shot yang matang. Tapi ceritanya butuh waktu lama untuk kick in, di mana untuk rentang yang panjang kita hanya meraba-raba apa yang terjadi sih sama karakternya. Fokus begitu lebih terhadap emosi, sehingga kita sering diombang-ambing tanpa pernah merasa benar-benar tertarik. Jika di paruh pertama kita menunggu, maka di paruh akhir kita berdoa agar cepat selesai. Ini adalah perjalanan terbang ke udara penuh cinta yang melelahkan, dengan tokoh yang enggak punya footing yang jelas. Kualitas dialognya juga lemah sekali; it’s either mengatakan sesuatu tanpa nunjukin, cheesy dan romantis yang over-the-top, atau just straightforward ke resolusi. Stake yang tinggi enggak diimbangin dengan resolusi yang meyakinkan. Jika genre dan cara bercerita begini adalah your cup of tea, you’re not gonne be bothered by some points yang aku utarakan. Namun buatku, film ini hanya biasa saja sejak sepuluh menit krusial yang pertama.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for CRITICAL ELEVEN.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

SATRIA HEROES: REVENGE OF DARKNESS Review

“If you hate a person, you hate something in him that is part of yourself.”

 

 

Sungguh patut disukuri akhirnya sinema Indonesia punya figur superhero modern sendiri, dalam film yang dibuat dengan kompeten, yang stylenya kayak produk Jepang, tepatnya Tokusatsu -,-

All sarcasms aside, Satria Heroes yang beranjak dari serial televisi ini adalah film action superhero yang cocok banget buat ditonton anak-anak. Ceritanya ringan, actionnya super seru, dengan efek-efek yang imajinatif. Sehabis nonton ini, aku merasa kembali menjadi anak kecil, kayak kembali ke jaman aku menonton Kamen Rider RX untuk pertama kalinya. It was an OVER-THE-TOP EXPERIENCE, TAPI SANGAT MENYENANGKAN. Film ini adalah apa yang kuharapkan saat hendak menonton Power Rangers (2017) beberapa bulan yang lalu. Sebuah cerita superhero yang tahu persis dirinya dibuat untuk siapa, yang enggak malu untuk tampil norak dan cheesy, dan yang just take explosions dan adegan pertarungan melawan monster yang menyenangkan alih-alih terlalu menegangkan.

Adegan tarung di pembukanya saja sudah menyuguhkan action laga yang lebih baik dibandingkan dengan film-film action standar Indonesia. Koreografinya intens dan direkam dengan baik oleh kamera. Setiap gerakan tokohnya keciri. Pose-pose keren yang khas kita temukan dalam serial-serial superhero bertopeng berhasil ditangkap oleh kerja kamera, ngeblen cukup mulus dengan efek dan menterengnya kostum. Film ini punya production design yang benar-benar terlihat profesional dalam bidangnya. Aku yang enggak ngikutin serialnya di televisi, tentu saja terbengong-bengong takjub melihat adegan pembuka film ini; takjub demi ngeliat adegan pertarungan yang terasa megah, kayak lagi nonton Tokusatsu, dan bengong karena aku gak tahu Satria Bima dan Satria satunya yang kayak harimau itu siapa. Apa mereka musuhan atau temenan. Kenapa mereka berantem di depan Gunung Fuji. Kenapa aku nekat nonton film yang jelas-jelas dibuat untuk nyenengin fans setia serialnya?

Tapi tentu saja, sebuah film tidak akan menjalankan tugasnya dengan baik jika punya pemikiran “ya kalo mau ngerti, tonton aja serial/film pertama/baca saja bukunya”. Film yang baik mesti bisa berdiri sendiri; dalam artian paling enggak dia punya cara untuk menjelaskan sehingga penonton dapat mengerti tubuh dasar karakter dan narasinya. Film Satria Heroes memilih untuk menggunakan adegan seorang tokoh bercerita kepada anak-anak sebagai sarana eksposisi. Dari adegan yang udah kayak rangkuman serialnya tersebut aku jadi tahu kalo dua orang yang bertarung di awal tadi sebenarnya adalah temen. Satria Garuda Bima-X, yang nama manusianya adalah Ray, telah melewatkan banyak pertempuran menumpas kejahatan bersama Satria Harimau Torga, yang nama manusianya Dimas. Ada satu Satria lagi; adik Ray yang kinda menghilang entah ke mana. Dan film ini melanjutkan kisah mereka di mana Ray sekarang berada di dunia parallel, sementara Dimas lagi kunjungan bisnis ke Jepang. Bahaya muncul dari musuh yang punya dua hal; dendam kesumat dan semacam device yang bisa menghipnotis orang. Jadi, musuh ini menggunakan berbagai cara untuk mengalahkan Bima dan Torga – sukursukur bisa sekali lempar batu, dua burung kena – dan ultimately, dia membangkitkan seorang musuh lama dengan kekuatan yang baru. Musuh yang lantas go overboard dengan memporakporandakan seluruh dunia.

“Tidak mungkin!” (mengangguk sambil mengepalkan tinju) / “Kamu tidak apa-apa?!” (mengangguk dengan khawatir) / “Ya, aku mengerti sekarang!” (mengangguk dengan mantep)

 

 

Semua aspek yang bisa kita apresiasi dari genre tokusatsu Jepang bisa juga kita temukan di sini. Akting dan gestur yang over-the-top, gimana cara mereka mengambil gambar, gimana cara mereka bercerita lewat adegan pertempuran – jurus-jurusnya, animasi ledakan dan sebagainya, bahkan dialog dan leluconnya menjadikan film ini kayak buatan Jepang dengan budget yang sedikit lebih kecil. Memang seperti yang ditunjukkan oleh film inilah formula tokusatsu, dan Satria Heroes menanganinya dengan fantastis. Aku enggak ngikutin tokusatsu, jadi mungkin aku yang kuno, tapi aku sangat menggelinjang melihat film ini memainkan adegan berubah dalam cara yang baru aku lihat. Biasanya kan, tinggal bilang berubah dan wujud protagonis kita langsung dibungkus armor. Di film ini, Ray berubah secara parsial. Dia masih bertarung sebagai manusia, dan Bletak! Dia meninju musuh – here comes tinjunya berubah. Dia nendang – serta merta kakinya menjadi mengenakan metal. It was new and so refreshing.

Film ini juga lumayan memperhatikan detil. Ketika berantem, detil-detil seperti gravitasi, logika fisika, dan semacamnya mendapat perhatian. Batu-batu properti yang berjatuhan memang terlihat seolah punya bobot saat mendarat, misalnya. Ketika Dimas ketemu klien di Jepang, kita diperkenalkan sama translator yang secara instan ngeterjemahin bahasa yang diucapkan. Dan film ini play that technology nicely dengan membuat suara translatornya terdengar datar, tanpa emosi, kayak suara google translate. Beberapa adegan terkait alat tersebut jadi lumayan lucu, dan bahkan juga escalate menjadi creepy.

 

Narasi dalam Satria Heroes dibagi menjadi tiga bagian gede. Film literally memisahkan bagian-bagian tersebut dengan judul tersendiri, dan sebagai transisi di antaranya kita akan diperlihatkan animasi buku/komik yang terbuka sendiri di somekind of old library (?). Dan buatku, film ini barulah benar-benar terasa sebagai sebuah film ketika kita sampai di narasi bagian kedua. Sampai ke titik ini, jalannya alur film memang rada aneh, kayak ikutan melompat-lompat seiring aksi, ada flashback, cut, trus present, trus cut lagi ada eksposisi, ke masa kini lagi, trus ke flashback lagi.. Kita malah enggak tahu apa motivasi yang melapisi tindakan tokoh utama. Karakter Ray seperti apa, tidak pernah diperlihatkan. Dia baik, itu aja. Dia enggak melakukan pilihan; hanya sekedar ada yang butuh pertolongan, dan yeah heroes gotta save people just in time. Narasi kedua yang dikasih judul ‘Arsya’ membawa kita ke titik nol. Tonenya sama sekali berbeda dengan bagian pertama. Kita ngeliat tokoh yang berbeda, dan cerita di sini actually lebih dramatis dan lebih grounded. Cerita asal muasal gitu deh, ketika antagonis menceritakan kisahnya sewaktu kecil, dan ini bikin kita paham dan terinvest secara emosional kepada tokoh ini, lebih daripada kepada tokoh utama.

Kalian mungkin membenci diri sendiri karena ngerasa enggak pinter, atau enggak cakep, atau enggak cukup spesial. Alasan Wira adalah karena kesalahan yang ia buat. Ini adalah konflik yang berlangsung internal. Dan ketika ia melihat para Satria, dirinya melihat bagian dari dirinya yang ia benci, dan tentu saja lebih mudah menyalahkan orang lain ketimbang menghunus telunjuk kepada diri sendiri. Manusia memang munafik seperti demikian, liat saja ibu yang memukul anaknya sebagai ganjaran buat anaknya yang berantem. Tapi semestinya sifat benci tersebut dapat diarahkan sebagai cara untuk memahami diri sendiri. Wira tidak mesti memburu para Satria, kekuatannya bisa datang dari self-improvement.

 

Ini menciptakan benturan tone yang serius. Dan lebih jauh lagi, membuat kita mempertanyakan ini film sebenarnya mau nyeritain tentang apa sih. It worked best as an origin story dari tokoh jahat. Kualitas penampilan akting pun jauh lebih baik di narasi kedua ini. Pemeran Wira, aktor cilik Faris Fadjar Munggaran, berhasil menyampaikan emosi genuine yang sangat dibutuhkan oleh film ini. I mean, setelah satu jam kita melihat orang dewasa bertingkah terlalu baik, enggak ada cela, bahkan cenderung polos sehingga terasa kayak anak kecil dalam tubuh anak gede; maka di cerita kedua ini kita akan melihat percikan api dari karakter Wira. Kita bisa merasakan amarahnya, kita mengerti dari mana itu berasal. Motivasi itu adanya malah di sini. Dan buat film anak-anak, kejadian di sini tergolong tragis. But then again, clashing tone – di awal sangat cheesy dan cenderung kocak – hanya membuat bagian ini lebih menjemukan daripada seharusnya. To make thing worst, entah kenapa di bagian drama ini film memutuskan untuk lebih banyak memakai efek komputer. Hujan dan percikan air saja mesti pake komputer loh, bayangkan! Keliatan banget pula. Episode yang mestinya paling manusiawi dari film ini malah jadi downgrade dengan adegan yang ditangani dengan artifisial seperti itu.

susah buatku mempertahankan wajah datar nonton narasi kedua

 

Tiga puluh menit terakhir bertindak efektif sebagai persembahan buat fans. Cerita mendadak jadi punya stake yang berskala sangat besar. Semua jagoan kita mengerahkan segenap kemampuan untuk mengalahkan penjahat utama. Aksinya keren. Namun teknik eye tracingnya terlihat sedikit off, kamera kerap menyorot terlalu dekat, tapi kita masih bisa mengikuti apa yang terjadi, meskipun memang membutuhkan sedikit usaha ekstra. Efek saat berantemnya cukup mulus, membanting efek kehancuran kota habis-habisan. Baru di menjelang akhirlah film memasukkan motivasi yang diniatkan supaya kita bisa mendukung para protagonis. Mungkin formula tokusatsu memang seperti ini, you know, pahlawan yang nyaris kalah kudu berkontemplasi dulu mengingat kenapa dia melakukan ini sejak awal, dan kemudian dia barulah dia berhasil membangkitkan kekuatan baru yang lebih kuat. Namun begitu, aku percaya film ini bisa menjadi lebih baik lagi jika urutan ceritanya dibenahi. Jika rentetan narasinya dirapikan, dibuat plot yang lebih jelas, sehingga karakter-karakternya lebih mudah untuk didukung.

 

 

 

Bukan mau bilang dirinya berusaha nyaingin Pulp Fiction (1994) dengan segmen ceritanya yang sengaja ditabur acak, tapi toh kelihatan film ini mencoba untuk bersenang-senang. Ia tahu persis mau jadi seperti apa. Universe-dalam filmnya terbangun dengan baik. Mencoba memadukan tarung Indonesia ke dalam dunia ala tokusatsu Jepang. Over-the-top tapi itu sudah diharapkan. Sukses menggapai nilai hiburan yang niscaya membuat setiap anak kecil yang menontonnya jejingkrakan senang. Desain produksi yang keren, koreografi aksi yang intens, efek yang mendukung porsi laga tapi tentunya bisa lebih baik lagi digunakan sebagai latar. Jangan melulu bergantung kepada CGI, tho. Dengan semua aspek cerita yang sudah terestablish semenjak serial tvnya, film ini toh kurang berhasil untuk berdiri sendiri. Narasi mestinya bisa disusun lebih rapi dan efektif lagi sehingga yang nonton akan enak ngikutin jalan cerita, karakter pun jadi dapat terfleshout dengan compelling. Petarungan terbesar yang dimiliki film ini bukan Satria lawan monster, melainkan justru pertarungan antar tone cerita.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for SATRIA HEROES: REVENGE OF DARKNESS

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

GUARDIANS OF THE GALAXY VOL. 2 Review

“Sometimes the family we make for ourselves is more important than the family we are given through blood.”

 

 

“Hey Marvel, mari kita bersenang-senang. Berikan kepadaku karakter-karakter bercela yang kalian punya, kuterbangkan mereka seantero jagat raya, kupasangkan walkman, kuputarkan hits dari tahun delapan puluhan, dan kubiarkan mereka menari sambil beraksi seasik-asiknya!” Begitu kiranya yang dicetuskan sutradara James Gunn ketika dia menangani film Guardians of the Galaxy (2014). Jadilah kita dapet superhero unik yang menggabungkan aksi amat seru, musik supernendang, dengan hubungan antarkarakter yang kocak abis. Dan di film yang kedua ini, right at the start, kita langsung diterjunkan ke dalam sekuen aksi yang cantik dan luar biasa, yang juga memberikan kita gambaran akan seperti apa tone film ini.

Kita bisa lihat lelucon dan gaya dari film yang pertama tetap dibawa ke film terbaru ini. Star-Lord, Rocket, Drax, Gamora, dan Baby Groot (gemessshh!!) sekarang sudah berteman makin erat. Kita turut ngerasa kian akrab sama mereka. Mengemban nama Penjaga Galaksi, kumpulan orang keren ini menerima pesenan ngelakukan tugas di ruang angkasa. As of right now, mereka sedang dalam misi mengalahkan sesosok monster besar. Dan alih-alih nyorot aksi pertempuran tersebut secara langsung, kita dikasih fokus ke kegiatan Baby Groot yang mencoba dengerin musik di antara desingan peluru cahaya dan tentakel si monster. Pertempuran seru berlangsung di latar, dan terkadang Gamora ataupun tokoh lain terlempar ke arah Groot, dan mereka nyempetin diri untuk menyapa. Lucu, manis, dan tetap menegangkan. Sebenarnya apa sih yang bisa kita pelajari dari adegan tersebut? Apa yang ingin dibicarakan oleh film ini?

Sekali lagi, kevulnerablean muncul ke permukaan. Para tokoh menurunkan sedikit ‘pertahanan’ mereka untuk berinteraksi dengan Groot, dan aka nada banyak momen lagi di sepanjang film saat seorang karakter menunjukkan kualitas terburuk mereka. Berbahaya, memang. Tapi not so much, jika kita menunjukkannya kepada keluarga. Film ini ingin memperlihatkan bahwa keluarga adalah tempat kita bisa mengeluarkan sisi terjelek sama amannya dengan kita mengeluarkan sisi terbaik. We can show both of sides of ourselves kepada keluarga karena keluarga akan memaafkan dan kita pun siap untuk memaafkan anggota yang lain. Bahwa cinta keluarga adalah tak-bersyarat.

 

Ada peraturan tak-tertulis yang dipatuhi oleh beberapa film dalam menggarap sekuel. Film kedua kebanyakan akan berpusat di masa lalu yang balik menghantui tokoh utama. Di balik semua lelucon, Guardians of the Galaxy Vol.2 adalah TENTANG KELUARGA. Star Lord akan dihadapkan kepada garis keluarganya. Dia akan bertemu dengan ayahnya yang sudah lama menghilang. Bersamanya, kita akan belajar tentang siapa sih ayah si Peter Quill, apa yang membuat orang ini menjadi begitu spesial dan berbeda. Bukan hanya Star Lord, film ini pun mengeksplorasi sisi keluarga dari tokoh-tokoh lain. Both heroes and some of the villain characters. Yang kemudian akan menghantarkan kita untuk belajar mengenai asal muasal mereka, membuat kita bersimpati atas trauma masa lalu yang menimpa, dan ultimately membuat setiap karakter dalam film ini memiliki bobot yang sangat kuat.

Mari berharap di misi selanjutnya Star Lord cs ketemu ama geng Cowboy Bebop

 

Ketika mendengar sebuah film akan dibuat sekuelnya, biasanya kita langsung mengharapkan yang tinggi-tinggi. Kita pengen film baru itu akan dua kali lebih seru, aksinya dua kali lipat lebih menegangkan, emosinya dua kali lipat bikin baper, dan hey, ledakan yang du…em, lima kali lebih banyak! The thing is; sekuel enggak selalu harus lebih besar. Karena yang lebih besar belum tentu lebih baik. Beberapa film hebat menggarap sekuel dengan jalur yang berbeda dari film originalnya. Ambil contoh franchise Alien (1979); film pertamanya lebih kepada thriller sci-fi yang sangat efektif. Ketika membuat sekuelnya, James Cameron enggak mau menapaki langkah yang persis sama dengan Ridley Scott, maka ia mengarahkan Aliens (1986) menjadi lebih ke elemen action. Dalam kasus Guardians Vol 2, jelas James Gunn paham akan hal ini. Dia bisa saja membuat film ini punya ground yang sama dengan yang pertama, dengan mengedepankan banyak aksi exciting dan tokoh-tokohnya berkelakar setiap saat. Tapi enggak. James Gunn membuat Volume 2 sebagai less of a bigger action film, dia membuatnya GEDE DI BAGIAN KARAKTERISASI.

Kekuatan dan daya tarik film ini tidak lagi ada pada sekuen aksi. Meskipun tentu saja film ini punya banget beberapa aksi yang bakal bikin kita bersorak. Apa yang dilalui oleh tokoh-tokoh dalam film ini akan membuat mereka sedikit kurang cool, dibandingkan pada film yang pertama, namun hal-hal yang mereka lalui akan menjelaskan banyak karakter yang mereka punya. Kenapa Rocket merasa perlu untuk mencuri, apa yang sebenarnya ia berusaha untuk buktikan, misalnya. Kita akan belajar lebih banyak tentang masing-masing tokoh, sehingga membuat mereka jadi punya bobot – jadi punya alasan untuk kita cheer dan punya alasan untuk berada di dalam cerita, lebih dari sekedar orang kocak, ataupun rakun imut yang sangat badass. James Gunn menekankan kepada detil traumatis masa lalu yang mereka hadapi yang membuat mereka pribadi yang kita kenal sekarang. Setiap tokoh terflesh out dengan sangat emosional. Terutama Nebula dan Yondu.

Dibesarkan oleh Thanos pasti bukanlah pengalaman masa kecil yang menyenangkan. Dalam film pertama kita belum benar-benar tahu alasannya kenapa. Kita belum mengerti apa yang membuat Nebula sangat jahat, tidak seperti kakaknya yang lebih bisa diajak kompromi. Dalam Volume 2 ini, kita akan mengetahui alasannya, dan ternyata alasan tersebut sangat heartbreaking dan luarbiasa tragis, khususnya untuk Nebula. Saat kit mikirin tentang masalalunya ini, kita jadi merasa terattach kepadanya. Penampilan Karen Gillan mungkin agak sedikit over, namun kita jadi melihat Nebula sebagai makhluk yang sangat manusiawi – walaupun dia bukan manusia. Michael Rooker sebagai Yondu juga sukses mencuri setiap adegan yang ia mainkan. Tokohnya di sini lebih baik dibanding film pertama, dan bahkan aku sudah suka sejak film originalnya itu. Senjatanya keren banget, kayak Shinso di anime Bleach. Dalam film kedua ini, berkat penulisan yang hebat, kita belajar banyak sehingga membuat kita sangat peduli padanya. Yondu punya penokohan yang paralel dengan Rocket, dan the later character benar-benar diuntungkan dari Groot yang sekarang menjadi bayi. While Groot bener-bener kayak bayi, dia tak pelak bikin kita bilang “aaaaaawwwhh” setiap kali muncul di layar, di sini dia kinda dumb. Jadi persahabatannya dengan Rocket enggak dieksplor banyak, instead kita dapat eksplorasi tokoh Rocket yang membuat dia juga terasa lebih manusiawi.

Semua aktor bermain dengan fantastis. Di antara para tokoh yang paling sedikit kebagian dieksplor adalah Drax. But oh boy, James Gunn menulis tokoh ini dengan meniatkannya menjadi tokoh humor. Drax adalah yang paling kocak dan Batista bener-bener deliver komedi dengan baik. Celetukan dan lelucon terbaik datang dari tokoh ini, dari cara pandangnya terhadap sesuatu yang amat sangat tak-biasa.

Aku ngakak berat di bagian Mary Poppins xD

 

Satu jam pertama film memang terasa riweuh. Ada banyak pergantian kejadian yang membuat emosi kita kayak diombang-ambing ombak, flownya sedikit kurang mulus. Aku pikir ini banyak sangkut pautnya dengan salah satu pihak antagonis; itu loh, orang-orang emas yang mengejar Guardians pake pesawat dengan teknologi kayak game arcade. Mereka muncul sewaktu-waktu dan memberikan tantangan kecil-kecilan untuk tokoh pahlawan kita. Buatku, Ratu Ayesha dan pengikutnya ini lumayan useless, kita enggak benar-benar butuh mereka. Tapi aku paham film butuh tipe penjahat ‘bego’ kayak gini sebagai distraction sebelum pertempuran yang sebenarnya dimulai.

Kadang kita bertengkar dengan mereka. Kadang kita saling enggak tahan kepada masing-masing, tapi pada akhirnya kita tetap berdiri bersama. Itulah keluarga. Tidak selalu harus ada hubungan darah. Keluarga adalah orang-orang yang saling berbagi dengan kita, yang kita saling menumbuhkan kekuatan, yang kita nyaman menjadi diri sendiri saat bersama mereka. Bahkan Dewa, menurut film ini, berusaha untuk menemukan tujuan hidup dan menanggulangi rasa kesepian – berusaha untuk konek dengan seseorang, mencari seseorang untuk berbagi.

 

Karena karakter-karakternya telah disetup dengan teramat baik, menjelang menit-menit akhir, film ini sukses membungkusku dengan emotional weight. Momen indah hadir susul menyusul. Tapi aku harus bilang, visual film juga memegang peranan penting. Sebab untuk beberapa bagian, film ini terdengar agak cerewet. Maksudku, momen-momen emosional itu, kita sudah benar-benar ngerasain apa yang diniatkan – emosinya sudah terdeliver. Hanya saja, momen tersebut kinda lecet karena dialog dari tokoh yang overstating apa yang kita rasakan. Mestinya enggak semuanya perlu diucapkan. Efek yang lebih kuat bisa dirasakan jika tidak dikatakan. Masalah yang mirip juga aku temukan pada tokoh Ego yang diperankan oleh Kurt Russel. Ayah Quill ini charming banget, sayang perannya kerap berkurang menjadi sebatas penyampai eksposisi. Karakter ini mestinya bisa ditulis lebih baik lagi.

 

 

 

 

Tidak lantas menjadi lebih bagus, lebih exciting, lebih gede dari film pertamanya, petualangan para superhero luar angkasa kali ini memang difokuskan kepada karakterisasi. Porsi aksi keren dengan visual stunningnya mesti ngalah buat pengembangan relationship antarkarakter; yang diolah dengan fantastis dan benar-benar efektif sehingga kita merasa lebih peduli kepada mereka. Setiap tokoh yang punya bobot lebih banyak. Dan ini membuat kita menantikan petualangan-petualangan mereka selanjutnya.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for GUARDIANS OF THE GALAXY VOL. 2

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 
We? I am Groot. Eh sori, maksudnya… We be the judge.