GASING TENGKORAK Review

“Don’t let your struggle become your identity.”

 

 

Gasing Tengkorak merupakan cabang ilmu santet dari Sumatera Barat, yang begitu populer sampai-sampai mereka membuat lagu tentangnya. Beneran deh, aku bisa tahu ada ilmu hitam yang namanya Gasiang Tangkurak karena dulu setiap siang, stasiun radio yang dipantengin ibuku selalu muterin lagu ini. Ada aja pendengar yang ngerekues! Lagu itu mendendangkan dengan kocak mantra yang dirapalkan oleh dukun ketika menyantet korban. Basically, isi lagu tersebut mirip ama adegan pembuka film ini; memperkenalkan kepada kita bagaimana sih cara kerja dan peraturan santet Gasing Tengkorak. Dan kemudian, barulah kita melihat tokoh utama.

Nikita Willy di film ini memerankan seorang penyanyi papan atas bernama Veronica yang sedang tur konser ke beberapa tempat.  Karena letih, Vero sempat jatoh di atas panggung. Tapi Vero adalah pribadi yang kuat, dia menyemangati dirinya hingga bangkit. Dalam dunia hiburan, kita memang dituntut harus bisa menjaga diri sendiri. Dan Vero adalah orang yang benar- benar mandiri. Semuanya sendiri. Dia punya pesawat sendiri. Dia punya asisten sendiri yang bisa disuruh untuk mencari villa private di tempat terpencil. Di villa itulah, Vero memutuskan untuk rehat beberapa hari dari padatnya jadwal konser. Dia ingin menyendiri. Dia ingin jingkrak-jingkrakan nyanyi lagu rock Jamrud,  meneriakkan resah di hati. Di sela-sela kontemplasinya antara nulis lagu jujur atau lagu yang laku, Vero juga main catur. Tapi Vero tidak lagi sepenuhnya sendiri. Saat malam tiba, tidurnya enggak lelap oleh mimpi buruk. Dia mendengar suara-suara. Matanya menangkap sekelabatan sosok. Ada orang atau sesuatu di luar sana yang ingin berbuat jahat kepada Vero dengan menggunakan gasing yang konon dibuat dari tulang jidat mayat anak kecil!

hari gini masih main gasing? Fidget Spinner dooonggg

 

Film ini akan menjadi psikologikal horor yang sangat menakjubkan, jika saja para pembuatnya tahu apa yang sedang mereka lakukan. Gasing Tengkorak punya karakter berani dan rasional, dan mereka punya set up lokasi terpencil yang perfect banget. Kita bisa menyebut kualitas terbaik yang dimiliki film ini adalah kerja kamera dan sinematografi, namun itu sudah diharapkan karena sungguh gampang menghasilkan gambar yang bagus dengan pemandangan dan segala hal mewah itu. Redeeming quality yang dipunya oleh film ini justru terletak pada konsep ‘artis dan nama panggung’ yang belum pernah dijamah oleh horor ataupun film lain.

Ketika seorang nampil di panggung hiburan, dia akan diberikan nama alias, diberikan gaya, gimmick, supaya berbeda dan mencuat dari penampil yang lain. Karakter mereka di panggung, di televisi, akan berbeda dengan karakter sehari-hari. Persona panggung selebriti diberikan putaran psikologis yang menarik di sini. Veronica dijadikan sebagai tempat pelarian dari pribadi yang terluka oleh trauma masa lalu. Terkadang, kita begitu malu dan merasa bersalah atas  apa yang pernah kita lakukan, sehingga kita membentuk identitas baru. Kita mencoba menjadi seseorang yang berbeda. Veronica sudah nyaman dengan pelariannya, tapi persoalan menjadi ruwet, karena di sisi lain, dia mulai jenuh jadi artis. Bagi Veronica, ini berubah menjadi pilihan identitas mana yang harus dibunuh.

Namun film just drop the ball gitu aja. Dari seting lokasi tertutup yang terpencil ditambah karakter yang kerap bicara sendiri – jelas ada yang enggak beres di kepalanya – film hanya kepikiran untuk menarik horor dari jumpscare. Padahal, taring cerita ini justru pada elemen psikologis. Alih-alih itu, kita malah dapat adegan Vero bermain virtual reality PS4. Serius, aku ngakak, ini mereka ngiklanin produk apa gimana sih.  Tentu saja enggak, Arya kok bego sih, nampilin satu game aja pasti biayanya gede banget. Jadi tahu gak apa yang film ini lakukan? Mereka ngesyut adegan ‘video game’ sendiri. Saat device VR itu dipake oleh Vero, kita berpindah ke  adegan dengan sudut pandang kamera orang pertama, siap untuk menembaki zombie-zombie di gedung terbengkalai yang gelap. I mean, wow, sekuens main game ini benar-benar ditujukan untuk festival jumpscare. Ini adalah salah satu adegan terbego yang pernah aku lihat di film horor. Cara picik untuk memancing ketakutan, dan sama sekali enggak ada hubungannya dengan cerita film, selain buat buktiin Vero memang berani. Saking beraninya, dia main game zombie, sendirian, malam-malam, di tempat yang dicurigai ada hantunya.

Bayangkan sebuah gasing yang ada porosnya; twist adalah poros utama film ini. Maksudku, as I watch this, aku bisa melihat kalo ini adalah film yang berkembang dari twist yang sudah direncanakan. Semua elemen misteri, semua aspek cerita, semua pembahasan tekanan yang dialami oleh artis, dieksekusi dengan favor ke twist ini. Dan twist tersebut enggak benar-benar make sense, at all. Kenapa hantunya muncul untuk main gasing, padahal dia bisa dengan mudah mencekek sendiri leher Vero. Siapa yang kerap ditelfon Vero, yang tahu begitu banyak tentang ilmu Gasing Tengkorak. Kenapa setelah baru saja diserang, setelah jatuh dari kamar ke kolam renang, Vero balik lagi ke kamar dengan santai ngeringin rambutnya. Dan kenapa pipi hantunya gembung nahan napas saat masuk ke dalam air???

Hal-hal tersebut adalah apa yang membuat film lemah, those were some rather weak subtle clues, dan semakin goyah lagi setelah jawabannya tersaji lewat pengungkapan twist. Film ini menyangka dirinya akan otomatis menjadi pintar dengan twist, padahal enggak. Malahan, film ini tidak harus punya twist. Film ini tidak wajib untuk ada elemen hantu ngagetin untuk jadi seram. Mereka bisa saja membuat ini sebagai drama psikologikal thriller tentang artis yang struggle antara dua identitas, yang bakal lebih menarik dan menegangkan, but they just don’t see that. Film Split (2017) bukan sukses karena penonton enggak tahu tokoh James McAvoy mengidap kepribadian ganda, twist film itu adalah bahwa ternyata ia adalah film superhero. Dan walaupun belum semeyakinkan McAvoy, Nikita Willy sudah cukup lumayan memainkan range dan level pribadi yang berbeda, perannya juga lumayan fisikal di sini. Menurutku, Willy mampu tampil lebih jika naskah memberikan kesempatan.

setiap kali hantunya lari, aku gak bisa nahan diri untuk tertawa

 

Jika ini tentang keadaan psikologis Veronica, maka di manakah hubungannya dengan Gasing Tengkorak, kalian tanya?

Jawabannya adalah tidak ada. Paling enggak, tidak secara langsung.

Gasiang tangkurak hanyalah elemen tambahan, yang bahkan bisa saja dihilangkan sama sekali, dan enggak akan mempengaruhi cerita.

 

 

Dengan remake Flatliners (2017)-lah, film ini punya banyak kesamaan. Kita literally bisa menemukan ranjang medis scanner otak di kedua film. Mereka juga sama-sama clueless dan enggak nyadar sudah menyetir horor ke arah yang salah. Mereka gak paham gimana horor-di-dalam-kepala bekerja. I mean, semua teror yang terjadi di film adalah kreasi kepala Veronica, kan. Jadi kenapa ada jumpscare yang ngagetin penonton. Kenapa bisa ada penampakan hantu di belakang Vero – hantu yang tidak ia lihat. Apakah kepalanya bilang, yuk kita nyebayangin di belakang kita mendadak ada hantu supaya penonton pada menjerit kaget hihihi. ‘Unggul’nya sih, film ini masukin insert adegan rekaan video game yang enggak relevan sama perjalanan karakter. What a way to break a new ground, right. Ini bisa jadi menu pilihan lain kali aku mau bikin nonton bareng film-film horor yang so bad, it’s hilarious.
The Palace of Wisdom gives 1 gold star out of 10 for GASING TENGKORAK.

 

 

That’s all we have for now.

Buat yang penasaran sama lagu Gasiang Tengkorak, nih, ada teksnya kalian bisa ikutan nyanyi loh xD

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We? We be the judge.

DEVIL’S WHISPER Review

“I hear voices in my head, they council me, they understand. They talk to me.”

 

 

Alex sudah hampir pasti menjadi pastor sejati, jikasaja dia tidak mendengar bisik-bisik itu. Suara setan yang disebutkan sebagai judul film ini, menariknya, enggak mesti benar-benar berasal dari makhluk mengerikan.

“Kamu yakin kamu mau jadi Pastor?”  sobat cewek – yang kemudian menjadi love interest – menggoda iman Alex saat mereka lagi berduaan. Bahkan seorang Romo yang menjadi semacam mentor dan tempat Pengakuan bagi Alex di gereja pun, terang-terangan meminta cowok lima-belas tahun tersebut untuk menikmati ‘dunia’ dahulu selagi bisa, sebelum dia resmi berkiprah di jalan agama. Di waktu yang bersamaan, Alex menemukan kotak aneh dari dalam lemari peninggalan nenek. Alex dan ayahnya yang penasaran akan sesuatu yang ‘glutak-glutuk’ di dalamnya, membuka paksa kotak tersebut. Oke, mereka kudu menghancurkan kotak. Namun bukan hanya salib milik mendiang kakek yang terbebas ketika kotak terbuka. Ada sesuatu yang mengerikan yang nempel di salib, yang terus merundung Alex yang menjadi sangat terikat oleh salib tersebut. Memberondong pikiran remaja polos ini dengan bisikan dan pikiran negatif. Membuatnya melihat penampakan yang tidak terlihat oleh orang lain. Mengubah Alex menjadi seorang yang sama sekali berbeda. Dan ultimately, korban berjatuhan tanpa bisa ditahan oleh Alex.

Kalo kata iklan deterjen di tivi, “Berani kotor itu baik”

 

Kita hidup di masyarakat yang lebih mudah menyukai seorang pendosa yang insaf ketimbang seorang alim seumur-umur. Devil’s Whisper mengangkat perspektif yang menarik yang mungkin belum pernah ada yang berani mengeksplorasinya, apalagi hari gini. Seorang anak muda yang pengen jadi pemuka agama. Topik orang yang taat beragama cenderung dihindari, konotasinya adalah berpandangan sempit, kaku, dan sama sekali enggak fun. Film ini enggak peduli. Dia enggak takut untuk menunjukkan agama masih mampu untuk melawan kejahatan. Film pun enggak membuat tokohnya sebagai orang yang, katakanlah, cupu dan terkucilkan. Alex punya teman-teman dekat, dia cukup populer untuk punya pacar. Alex adalah anak baik, yang oleh sosialnya dikhawatirkan ‘terlalu’ baik. Tokoh Alex ini  disandingkan dengan tokoh Romo Cutler, yang berperan layaknya pembimbing. Cutler sudah melihat cukup banyak, dia tahu mana yang baik dan buruk, dan dia percaya kepada Alex, so much, sehingga dia pada dasarnya menyuruh Alex untuk melakukan apa yang ia tahu mestinya Alex lakukan sebagai remaja.

Kita harus pernah melakukan kesalahan, karena tanpa pernah  berbuat salah kita tidak akan pernah bisa sepenuhnya menghargai kebenaran.

 

Devil’s Whisper fitrahnya adalah sebuah horor yang MENGEDEPANKAN KETAKUTAN PSIKOLOGIS, makanya horor film ini terasa bekerja lebih baik ketika kita melihat Alex berdiam, pikirannya berlomba, dan kemudian meledak. I’m a sucker for this genre, dan aku memang menemukan ada lapisan ketakutan personal yang menguar kuat dari tokoh utama. Narasi juga punya lapisan subtil menyangkut masa lalu yang menjadi mengakar menjadi trauma bagi Alex. Film tidak pernah menjelaskan dengan terlalu gamblang soal ini, namun membiarkan kita menerawang atas apakah ada hubungan langsung antara perubahan pribadi Alex dengan bertepatannya timing dia dilantik dengan dia memungut salib bekas kakeknya. Kalung salib tersebut jelas adalah pemantik trauma yang tak bisa (atau menurut psikiater Luna Maya, tak mau) diingat oleh Alex. Aku lebih suka jika film tetap pada jalur psikologis, seperti pada adegan pesta di kolam, Alex yang enggak ikutan berenang bersama teman-temannya terbakar api cemburu demi ngeliat teman-temannya saling bersentuhan, bermain di kolam. Di mata Alex, dia ditertawakan, dan kita melihat Alex dengan marah nyebur ke kolam. Menurutku, film dapat berkembang menjadi sesuatu yang lebih mengerikan dan dalem jika kita melihat Alex melawan setan yakni dirinya sendiri alih-alih dia seperti dirasuki oleh makhluk halus.

Sesungguhnya horor seperti ini enggak butuh potongan anggota tubuh, atau mayat sekalipun. Kematian sadis tidak menjadi soal di sini. Hanya ada satu kali penampakan mayat yang benar-benar berarti, yaitu di sebuah sekuen involving Father Cutler dan momok masa lalunya. Devil’s Whisper pada intinya adalah tentang trauma masa lalu yang muncul ke permukaan, yang dijahit bersama perasaan insecure seseorang (untuk sebagian besar adalah anak muda) yang timbul dari pilihan hidupnya. Ketika film mulai membahas ke arah supernatural, cerita yang sudah dibangun menjadi kurang meyakinkan. Aku enggak mengerti kenapa dan apa pentingnya tiga orang teman Alex dibuat mati dengan cara yang ‘kecelakaan yang aneh’ secara bersamaan. I mean, thriller psikologis mestinya bisa lebih kuat tersampaikan jika cerita dibuat mendua; apakah Alex yang membunuh mereka. Penggunaan CGI yang acapkali tampak kasar juga tidak membantu. Sosok goib yang membayangi Alex mestinya bisa tampil lebih meyakinkan dalam wujud efek praktikal, atau malah enggak perlu diliatin wujudnya sama sekali.

adik cewek itu basically memang iblis

 

Tampil dengan iming-iming ‘horor sekelas Hollywood’ tampaknya lebih menjadi beban daripada menguntungkan. Sebab produk akhir horor produksi kolaborasi rumah produksi MD Pictures dengan Vega Baby, perusahaan hiburan asal Amerika, tidak semengesankan yang mereka harapkan. Malahan, secara produksi, film tampak seperti karya amatiran. Bukan hanya CGInya yang seperti tempelan, audio, adegan, dan bahkan penampilan para tokoh juga banyak yang enggak masuk dengan tone penceritaan. Editingnya terlihat kasar dan mentah sehingga kita menjumpai detil adegan seperti noda lemparan lumpur dari teman Alex di jendela yang menghilang tak terjelaskan di adegan berikutnya. Ini adalah salah satu contoh film yang punya visi kamera yang baik namun dimentahkan oleh arahan yang konvensional.

Film terlihat berusaha keras untuk menjadi mainstream. Digunakanlah taktik jumpscare, meski sesungguhnya taktik tersebut tidak benar-benar diperlukan dalam konteks cerita dan genre ini. Turut dipakai pula musik-musik yang sekiranya cocok dengan telinga anak muda kekinian. The problem is, karakter film ini tidak pernah benar-benar menjelma menjadi pribadi yang mudah direlasikan oleh anak muda.  Ketika dia menunjukkan sifat dan tabiat yang ‘normal’ untuk standar remaja, karakternya sudah dibuat begitu messed up, wajahnya pucet, matanya nanar, rambutnya mencuat di sana-sini. Luca Oriel yang jadi Alex sangat piawai beradegan muntah, dan hanya itulah yang bisa aku bilang dari penampilannya di sini. Emosi Alex tidak pernah tampak genuine. Mode anak baiknya adalah ekspresi berbinar dan penampilan seramnya berupa memandang kosong dengan dagu rapat ke leher. Tokoh ini berakting sesuai arahan dan that’s just about it. Dialog-dialog ditulis dengan sama standarnya, kalo gak mau dibilang dangkal

Kita punya peraturan dan agama masing-masing. Kita beriman kepadanya supaya kita merasa aman. Tapi ketika peraturan tersebut mulai terlanggar, kita mulai mempertanyakan kepercayaan kita. Suara-suara yang didengar Alex adalah suara pendosa yang mempertanyakan semua itu. “Tuhan pembohong!” cecar suara itu. Padahal itu sebenarnya adalah suara yang sama dengan yang tadinya memantapkan Alex menjadi pendeta.

 

 

Tontonan horor dengan tema religi yang kental yang terhambat oleh bisikan-bisikan yang menyarankan dirinya tampil mainstream dan enggak benar-benar memilih jalur yang revolusioner. Mencoba untuk menggali horor lewat jalur psikologis, namun tetep masih bertumpu pada jumpscare, sekuens kematian yang terlalu dilebihkan, dan personifikasi hantu dengen efek komputer yang masih kasar. Film ini hampir menjadi benar, hanya saja tak mampu (atau mungkin tak mau) untuk melebihi pakem ataupun trope-tropenya.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for DEVIL’S WHISPER.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

 

WISH UPON Review

“You can’t lose something you never had”

 

 

Permintaan paling pintar yang bisa kita pikirkan jika diberkahi Tiga Permintaan oleh jin tentu saja adalah meminta lebih banyak permintaan, like, sejumlah tak-terhingga! Manusia itu hakikatnya pada serakah, jika diturui, keinginan kita tak akan ada habisnya. Bagai jurang tak-berdasar. Kita tahu apa yang kita mau (“Always Coca-cola~!”), tapi jarang sekali kita menyadari apa yang kita butuhkan. Ketika permintaan kita terpenuhi, kita masih gak puas. Selalu ada yang salah. Selalu saja ada yang kurang. Yang enggak sesuai dengan kemauan kita. Konundrum permintaan ini banyak telah terbahas di dongeng-dongeng, cerita jaman dahulu. Wish Upon meremajakan topik ini kembali, di mana reperkusi dari permintaan yang tidak bener-bener dibutuhkan itu, adalah hal mengerikan yang berujung kepada menghilangnya nyawa orang-orang.

Claire mendapat hadiah dari ayahnya. Sebuah kotak musik unik, penuh oleh tulisan Cina kuno pada permukaannya. Claire enggak mengerti cara memainkannya, dia pun cuma mengerti frase ‘tujuh permintaan’ dari tulisan-tulisan yang nampang di kotak tersebut. Satu-satunya waktu Claire dapat mendengar musik darinya adalah ketika kotak tersebut membuka dengan sendirinya, setelah Claire mengucapkan satu permintaan. Pertama, Claire enggak langsung percaya bahwa permintaannya dikabulkan. Kedua, Claire menjadi ketakutan ketika menyadari setiap kali dia girang, satu orang yang dikenalnya meninggal dunia. Kotak tersebut meminta tumbal darah atas setiap permintaan yang dikabulkan. Ketiga, Claire malahan enggak tahu harus berbuat apa, dia tidak bisa begitu saja menyinggirkan kotak mengerikan yang sudah mengubah nasibnya menjadi cewek paling populer di sekolah.

I wish aku gak pernah baca Goosebumps #12 sebelum nonton ini

 

This film wishes to become a TRENDY MARKETABLE HORROR. Dipasangnya Joey King yang punya ratusan ribu follower anak muda, digunakannya musik elektronik, dipakainya banyak adegan jumpscares, dibuatnya setiap adegan kematian tetap sadis meski minim darah untuk menghindari rating yang terlalu dewasa. Permintaan film tersebut mungkin saja terkabul, aku gak benar-benar ngikutin perolehan box office, tapi setahuku di negaranya, Wish Upon rilisnya saingan ama War for the Planet of the Apes (2017), so yea good luck with that. Yang bisa aku katakana adalah, dari banyaknya usaha untuk menarik minat pasar, nyaris enggak ada di antaranya yang bekerja dengan baik.

Salah satu aspek lumayan baik film ini adalah penulisan tokoh utamanya. Memang pada awal, Claire hanya diberikan satu trauma masa lalu yang enggak klop sama sikapnya yang malu ketahuan punya ayah seorang scavenger barang bekas. But that’s just her teen attitude kicks in. Ketika narasi mencapai babak ketiga, ada elemen obsesi yang merasuki. Dari remaja yang dibully, di depan mata kita Claire berkembang menjadi orang yang lebih mementingkan permintaannya ketimbang nyawa orang lain. Claire begitu kesulitan untuk mengenyahkan kotak musik. Bukan saja lantaran kotaknya enggak mempan dipukul dan dihancurkan, Claire enggak bisa membuangnya begitu saja sebab jika dibuang, segala permintaannya akan turut menghilang. Joey King could really deliver this state of mental, ada adegan di mana dia menjadi emosional sekaligus kebingungan yang terasa genuine. She was like, “aku bisa tetap punya, gak harus ngucapin permintaan kan” bicara kepada diri sendiri. Joey masih bisa tampil meyakinkan, meskipun poin per poin naskahnya tidak benar-benar dibangun dengan baik. Perubahan sikap Claire terhadap kotak tersebut terasa abrupt, antara dia ingin menghancurkan ke ia ingin tetap memilikinya seperti terjadi, melompat, begitu saja.

 

Kita tentu takut kehilangan apa yang kita miliki. Akan tetapi, kita sebagai manusia bisa menjadi begitu tamaknya sehingga kita takut kehilangan sesuatu yang tidak atau belum kita miliki.

Banyak orang stress, takut kehilangan masa depan. Bayangkan seseorang yang sudah punya rencana hidup yang matang, kemudian dia jatuh sakit. They will instantly think penyakitnya parah, dan kepikiran soal rencana hidup – kerja berpangkat gede, punya pasangan kece – dan gimana dengan sakitnya keinginan tersebut enggak bakal terwujud. Pikiran yang semakin memperparah sakitnya. Apa-apa yang didapatkan oleh Claire, buah permintaannya kepada kotak musik, tidak benar-benar pernah ia miliki. Kayak mimpi yang jadi nyata aja, but not really. Tapi bagi orang-orang seperti Claire, berpegang kepada mimpi itu adalah hal yang sangat penting. Dan sehubungan ini, kita bisa memetik pelajaran yang sejatinya bisa menjadi pengingat.

Bukankah semua yang kita punya di dunia ini tidak benar-benar kita miliki?

 

Berhati-hatilah terhadap yang kita inginkan, sebab kita tidak bisa mengatur dalam cara yang bagaimana permintaan tersebut akan dikabulkan. Sayangnya, ini adalah elemen seram yang dieksplorasi oleh buku Goosebumps karangan R.L. Stine yang berjudul Be Careful What You Wish For. Film Wish Upon juga sempat menyinggung sedikit tentang ini, namun pada perkembangannya film memilih mengeksplorasi jalur yang tidak seram sama sekali. Ditambah pula, tidak memancing kita untuk berpikir lebih dalam. Permintaan-permintaan Claire akan bikin bosan penonton yang lebih matang. I mean, pada dasarnya film ini lebih tepat disebut sebagai cerita remaja dengan elemen jumpscare ketimbang film horor utuh. Kita hanya dihadapkan kepada masalah anak muda yang pengen punya pacar cakep, pengen paling terkenal di sekolah, pengen punya banyak teman, pengen punya orangtua yang gak malu-maluin. Saat awal-awal, ketika Claire masih bereksperimen dengan kekuatan kotaknya, mungkin masih oke. Kita paham Claire masih remaja, dan dia ingin menyelematkan dunia untuk dirinya sendiri. Namun kemudian, dia sadar bahwa permintaan selfishnya mengundang petaka. Logisnya adalah it’s time untuk mengucapkan permintaan yang lebih serius dan berguna.  Claire, however, tetap menggunakan jatah permintaannya untuk hal-hal sepele. Sampai ke poin menyebalkan. Satu karakter dalam film ini malah sempat literally mengejeknya “Kenapa lo gak minta Perdamaian Dunia aja, sih?”

Atau paling enggak, minta supaya tidak ada kejadian buruk menimpa

 

Adegan mati yang menyertai setiap permintaan juga tidak ditangani sehingga bisa bikin kita ketakutan. Cuma sekuens kematian yang mereka punya supaya film ini bisa jadi seram, dan mereka malah menggarapnya dengan terlalu sok-menegangkan. Adegan mati di film ini persis kayak adegan di Final Destination. Situasi yang dipanjang-panjangin, kayak ketika seseorang mencuci piring, tangannya nyangkut di wastafel, badannya nyaris-nyaris nyentuh saklar penggiling, kompor di belakang nyaris kepanasan, dan kita enggak tahu mana yang akan membunuhnya. Namun hasilnya malah tidak semua adegan kematian tersebut terlihat menyeramkan. Malahan jadi konyol. Kayak ketika ada kakek-kakek yang mati di bak mandi; dia kepleset, begitu bangun kepalanya kepentok keran, kerannya ngucurin air panas, dan matilah dia oleh keran maut. I mean, mereka bisa mengurangi penderitaan si kakek dengan membuatnya kepleset, kepalanya kepentok, dan mati. Udah. Gak perlu banget macem-macem seolah keran yang menahannya bangun. Film sempat ngetease soal makhluk penunggu kotak, hanya saja tak pernah dibahas lagi hingga akhir.

 

Dalam usahnya tampil setrendi dan semainstream mungkin, Wish Upon enggak repot-repot mikirin gimana tampil orisinil.  Desain suara toh bisa nyomot dari stock sample sound. Shot-shot pemandangan pun bisa disulam dari gambar-gambar video. Serius, ada satu shot pemandangan kota yang keliatan gak serasi banget, burem, dan tampak dimasukin gitu aja. Mereka gak ngesyutnya langsung. Dengan beraninya, film juga menggunakan app yang dicontek langsung dari Pokemon Go sebagai salah satu plot device. Kreativitas yang dilakukan film ini adalah memainkan tone warna sesuai dengan keadaan hati Claire. Saat Claire sedih, bingung, takut, layar akan didominasi oleh tone biru. Ketika Claire gembira, warna menjadi cerah. Selain trik sinematografi itu, memang tidak ada lagi yang dipunya Wish Upon untuk tampil menarik buat penonton di luar demographic pasarnya. Bahkan untuk ukuran anak muda, elemen perundungan yang dipakai oleh film ini – cewek paling cantik di sekolah yang jutek dan jahat tanpa alasan sama tokoh utama, numpahin air dan like “oops, sorry” – terasa ketinggalan jaman banget.

 

 

 

Ditujukan buat penonton muda yang pergi ke bioskop untuk menghibur diri dengan terkejut bareng selama beberapa menit, film ini punya determinasi tapi tidak berhasil menyampaikan banyak. Rasa takut juga tidak. Film ini justru lebih seperti komedi romantis yang ada adegan kejut-kejutan, dengan tidak ada elemen yang benar-benar bekerja dengan baik. Joey King is good tho, dia bisa terjun dalam meski naskha tidak memberikannya kedalaman yang berarti.
The Palace of Wisdom gives 3 gold stars out of 10 for WISH UPON.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

PENGABDI SETAN Review

“One man’s cult is another man’s religion.”

 

 

Orang yang hidup sebenarnya lebih berbahaya dari orang yang sudah mati. Terutama orang hidup yang enggak beriman kepada Tuhan. Dalam bahasa film ini; yang enggak sholat. Orang hidup dapat actually mencelakai kita. Dan pas mereka mati, orang-orang kayak gini akan bangun lagi, dan jadi hantu. Lagi-lagi menganggumu.

 

Pengabdi Setan (1980) hakikatnya adalah cerita kemenangan iman atas keingkaran. Tentang sebuah keluarga yang begitu gampangnya disusupi kekuatan hitam, diganggu, dan pada akhirnya dicelakai lantaran mereka memilih untuk berlindung kepada yang salah. Versi remakenya ini, however, masih mengeksplorasi aspek yang sama. Hanya saja kali ini digarap menggunakan teknik bercerita yang relevan dengan mainstream appeal jaman sekarang. Dan film ini sukses melakukan itu. Narasinya semakin diperluas, stake dan misterinya juga ditingkatkan.

Keluarga yang kita ikuti kali ini adalah keluarga dengan empat orang anak. Mereka ‘mengungsi’ ke rumah nenek karena rumah mereka digadai. It’s 1980s dan karir nyanyi Ibu mereka sudah meredup. Ibu sudah tiga tahun sakit parah sebelum akhirnya meninggal dengan misterius. Pasca kematian Ibu, Bapak berangkat ke kota untuk mencari penghasilan. Meninggalkan Rini, Tony, Bondi, dan Ian di rumah Nenek. Namun apa yang seharusnya anak-anak menunggu Bapak pulang, berubah menjadi mengerikan. Tanpa ada yang nunggu, Ibu mereka yang tadi baru dikubur mendadak pulang. Menebar ketakutan di tengah Rini dan adik-adiknya. Salah satu dari mereka akan diajak ke alam baka, dan Rini harus figure out siapa, kenapa, dan apa yang sebenarnya terjadi yang berkaitan dengan masa lalu orangtua mereka.

Atmosfer mencekam sedari awal sudah terestablish. Di babak awal, kita diperlihatkan kehidupan keluarga ini ketika Ibu masih hidup seadanya. Hanya bisa berbaring di tempat tidur. Ini adalah elemen yang tidak kita temukan di film orisinalnya. Kita tidak tahu seperti apa hubungan para tokoh dengan Ibu yang mayatnya sedang dikuburkan begitu film dimulai. Pengabdi Setan modern, memberi kita kesempatan untuk melihat seperti apa Ibu di mata masing-masing anaknya. At least, seperti apa Ibu saat sakit keras. And it was very interesting, kita ngeliat mereka takut kepada Ibu kandung mereka sendiri. Mereka sayang, peduli, dan ingin Ibu sembuh, namun di saat yang sama mereka tampak enggan untuk berlama-lama di kamar dengan Ibu berdua saja. Sakit Ibu yang misterius membuat sosoknya menjadi semakin menyeramkan. Bahkan Bondi terang-terangan mengungkapkan ketakutannya. Misteri ini juga langsung berpengaruh kepada kita, ada apa sebenarnya dengan si Ibu yang lagu hitsnya punya lirik bikin merinding itu.

I’m gonna make sure malam ini tidak akan sunyi

 

The whole deal soal menjadi abdi setan mendapat eksplorasi yang lebih dalam. Motivasi akan dibeberkan kepada kita, but just enough. Film ini masih menyisakan misteri yang membuat kita berpikir ke mana arah cerita dibawa. Ada beberapa referensi ke film orisinalnya – tokoh maupun pengadeganan – yang diberikan dengan subtil, yang menurutku ada beberapa yang work, ada yang enggak. Dan film ini begitu pede dengan materi yang ia punya, sehingga berani mengambil resiko berupa benturan tone cerita demi mendelivery beberapa referensi ataupun jokes.

Untuk sebuah cerita tentang sekte, film ini termasuk pengikut lantaran dia banyak memakai trope-trope cerita horor yang sudah pakem. Meninggalkan kita dengan rasa yang enggak benar-benar fresh. Rumah di area terpencil, over reliance sama jumpscare – hanya sedikit sekali adegan-adegan subtil seperti hantu nongol di cermin, elemen komunikasi dengan lonceng, sumur, elemen anak kecil yang sulit bicara. Penggemar horor jangan kuatir, penampakan hantu; kostum mayat hidup, pocong, efek dan darah dan sebagainya jelas mengalami peningkatan. Kalo Pengabdi Setan jadul masih bisa bikin kalian ketakutan, maka versi baru ini jelas akan BIKIN KALIAN JEJERITAN.

Desain produksi film ini nomor satu banget. Build up adegan-adegan seram menjadi efektif olehnya. Sinematografinya juga all-out, teknik-teknik kayak wide shot dengan kamera melengok ke kanan dan kiri, Dutch Angle untuk memperkuat kebingungan dan kengerian secara psikis, close up shot, bahkan quick cut ala Edgar Wright juga digunakan untuk mengantarkan kepada kita pengalaman visual yang bikin kita penasaran-tapi-gak-berani-melototin-layar-berlama-lama. Musik dan suara dirancang untuk benar-benar menggelitik saraf takut. Most of them are loud, jadi buat yang demen dikagetin bakalan have a scary good time nonton ini.

Personally, meskipun digunakan dengan efektif, jumpscare dalam film ini terlalu keseringan. Ngikutin kesan beberapa teknik yang digunakan hanya karena bisa, maka karena aku bisa, aku akan menarik perbandingan antara horor dengan bercinta. Saat kita nonton horor, kita gak ingin cepat-cepat teriak “aaaaaaaaaaahhh!”. Kita ingin ada build up menuju adegan menyeramkan, membangun teriak ketakutan  layaknya fore play. Dan jumpscare berujung ke premature orgasm, hanya akan membuat kita terlepas dari kengerian yang udah kebangun. Untuk kasus film ini, jumpscarenya malah sama dengan fake orgasm. Setiap kali ada setan muncul, penonton di studio ketawa sambil teriak ketakutan, lebih tepatnya ditakut-takutin. It’s annoying. Kesan yang ada adalah mereka teriak setiap kali ada hantu, untuk lucu-lucuan, atau hanya supaya dibilang berpartisipasi – kebawa reaksi video penonton premier Pengabdi Setan yang sempat rame di social media menjelang film ini rilis untuk umum.

what’s more of a sign than sign language?

 

Manusia adalah makhluk yang vulnerable. Selalu butuh untuk mencari tempat perlindungan. Kita cenderung ingin menyandarkan insecurity kepada sesuatu yang lebih gede dari kita, yang bisa kita percaya. Anak akan bersandar kepada orangtua. Orangtua yang beriman akan meneruskan cari perlindungan ke Tuhan. Dan tak sedikit yang terjerumus kepada hal-hal ghoib. Ini menjadi polemik, sebab sekte menurut satu orang adalah agama bagi orang lain.

 

Keluarga Rini tidak dekat dengan Tuhan, sebab Ibu yang menjadi pusat semesta mereka sudah lebih dahulu diam-diam menyandarkan bahu, meminta kepada setan. Journey Rini semestinya sudah jelas. Dia harus memegang kendali membawa keluarganya ke jalan yang benar. Akan tetapi, tidak seperti Pengabdi Setan dahulu yang less-ambitious – film tersebut dibikin hanya untuk menyampaikan baik melawan jahat, Pengabdi Setan versi baru ini terkesan ingin membuktikan bahwa dia bisa melakukan yang lebih baik, makanya dia banyak memakai teknik dan trope-trope film lain. Tak pelak, ini jadi bumerang.  Dalam film ini, not even Ustadz dapat mengalahkan kekuatan setan. Dan ini menihilkan keseluruhan journey dan pembelajaran. Narasi film tidak terasa full-circle. Semakin mendekati akhir, revealing atas apa yang mereka lakukan terdengar semakin konyol. Like, “Tadinya gini, eh ternyata ada diralat.” Terasa seperti film ini bernapsu untuk mengupstage plot poin mereka sendiri dengan twist dan turn yang kelamaan makin gak make sense.

At its worst, film lupa untuk mengikat banyak hal, memberi banyak celah untuk kita nitpick. Editing di bagian kejar-kejar akhir agak off, eye tracingnya membuat kita bingung persepsi dan arah bangunan rumah. Beberapa poin cerita juga tersambung dengan aneh dan goyah banget. Sepanjang bagian tengah dihabiskan Bondi tampil kayak kesurupan; berdiri diam, dia bahkan ngambil pisau, dan tau-tau di akhir, dia menjadi baik saja. Sebelum Bapak pergi ke kota, anak-anaknya mencemaskan gimana kalo nanti ada apa-apa, Bapak bilang apa sih yang bisa terjadi? Beberapa hari kemudian, nenek bunuh diri, dan kita enggak melihat usaha dari Rini ataupun Tony untuk menghubungi ayah mereka. I mean, ibu dari ayah mereka baru saja tiada, alasan apa lagi sih yang ditunggu buat nyari Bapak? Ada adegan ketika mereka nunggu jam duabelas malam, Bapak menyuruh Rini dan Tony tidur duluan pukul setengah sebelas, dia bilang dia masih kuat nungguin bareng Pak Ustadz. Adegan berikutnya yang menampilkan Bapak, jam duabelas teng ketika all hell broke loose, kita melihat beliau bobok di ranjang. Tokoh ini tidak ada determinasi sama sekali. Well, yea, semua tokoh Pengabdi Setan memang ditulis seadanya. Selain Rini, enggak banyak karakter yang dapat development, selain beberapa di antara mereka ternyata punya pengetahuan tentang Ibu, dan beralih fungsi menjadi easy eksposisi.

Karakter terbaik dalam film ini adalah si bungsu Ian (M.Adhiyat mampu menafsirkan arahan dengan baik). Tingkahnya beneran seperti anak-anak, and he was so likeable. Ketika nyawanya terancam di bagian akhir, kita beneran peduli. Tokoh ini juga satu-satunya yang punya plot. Bahkan Rini, tokoh utama, enggak berkembang banyak. Karakternya cuma sebagai si Kakak Tertua. Tara Basro dan kebanyakan pemain sudah cukup kelimpungan oleh penggunaan aksen jadul seperti pemakaian kata ‘kau’, sehingga mungkin memang penulisan karakternya sengaja tipis-tipis saja. Tony adalah anak yang paling deket dengan Ibu, setiap malam dia nyisirin Ibu. Sementara Bondi, well, anak macam apa sih yang nyebut kuburan lengkap banget dengan “areal pekuburan”? I mean, bahkan Lisa Simpson aja enggak sekaku itu ketika dia mengadu ketakutan melihat kuburan dari jendela kamarnya dalam salah satu episode The Simpsons. Bondi adalah anak paling boring sedunia, he only good at screaming like a girl. Dan Hendra, oh boy, anak Pak Ustadz ini has the worst flirting tactic ever. Dia plainly bilang ke Rini dia ngestalk kuburan dan rumah mereka di malam hari, namun dia malah melihat hantu Ibu, dan ujung-ujungnya dia ngajak Rini nginap di rumahnya.

 

 

 

Remake dari horor cult classic Indonesia ini adalah contoh penerapan yang sangat baik dari template horor mainstream James Wan. Bahkan dengan twistnya – yang merupakan upaya untuk menutupi kegaklogisan plot-plot poin – film ini pun tidak pernah terasa benar-benar fresh. Tapi ini adalah horor yang sangat fun dan enjoyable. Design dan teknik produksi kelas atas. Beberapa adegannya akan mudah sekali membuat kita menjerit kaget. Merasa kita ketakutan. Terutama jika kita nonton ini bareng-bareng dan termakan sama strategi viral video reaksi penonton premier.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for PENGABDI SETAN.

 



That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.



GERBANG NERAKA Review

“You can’t prove God exists and you can’t prove God doesn’t exist.”

 

 

Kita hidup di era informasi di mana sumber berita yang paling tak-terpercaya di dunia adalah media. It’s pretty ironic sebab media gemar ngomporin hoax dan tahayul-tahayul justru karena kita sendiri selalu napsu sama yang namanya misteri yang belum-terselesaikan. Dan dalam pertumbuhan mengecam banyak misteri-misteri tersebut, tak sedikit yang berubah menjadi skeptis. Karena memang lebih mudah tidak mempercayai apapun ketimbang mempercayai hal yang tidak bisa dibuktikan langsung. Manusia adalah makhluk visual, kita percaya dengan melihat. Namun ketika dihadapkan dengan agama, di sinilah permasalahan tersebut menjadi menarik. Keberadaan Tuhan sama tidak bisa dibuktikannya dengan Ketidakberadaan Tuhan. Dan memperdebatkan itu hanya membuktikan keterbatasan indera dan persepsi kita.

Pesan terpenting yang bisa kita petik dari film Gerbang Neraka adalah bahwa kepercayaan, entah mau skeptis ataupun klenik, sesungguhnya adalah pilihan kita dalam menyingkapi pertanyaan-pertanyaan atas misteri yang tak-bisa kita selesaikan, atau dalam kata lain; atas misteri kehidupan.  

 

The important thing is that Badurah believes in himself and so can you.

 

Dibintangi oleh Reza Rahadian, Julie Estelle, dan Dwi Sasono di antara pemain-pemain lain, Gerbang Neraka mencoba untuk berkembang menjadi lebih dari sekedar misteri petualangan horor yang melibatkan setan kuno pencabut nyawa manusia. Ada lapisan dalam cerita. Ada perbincangan soal SKEPTIK MELAWAN KLENIK, juga soal idealisme melawan rasionalisme yang menambah bobot keseluruhan film. Mitologi fiksi terbangun steady di balik kejadian seputar penemuan situs Gunung Padang yang sempat menggoncang scene geologi dan arkeologi dunia beberapa tahun yang lalu. Gerbang Neraka cukup banyak mengeksploitasi fakta terkait Gunung Padang, memberikan penonton pandangan tentang how big of a deal situs tersebut.

Build up dan set up adalah fondasi yang membuat film ini kokoh. Sehingga terbukti ketika semakin mendekati akhir, film semakin tidak meyakinkan, kita masih tetap duduk di sana. Kita berhasil dibuat penasaran pada apa yang ada di dalam piramida terbesar itu. Kita berhasil dibuat peduli pada nasib tokoh-tokoh, atau paling enggak kita ingin melihat mereka isdet dengan cara yang bagaimana. Personally, menjelang ending adalah bagian yang paling malesin buatku, it’s kinda bogged down, tapi aku suka ngeliat adegan Reza Rahadian dan Lukman Sardi ngobrol tentang Tuhan dan setan. Mereka-mereka ini adalah salah dua dari storyteller terbaik yang dimiliki oleh sinema Indonesia hari ini. Sehingga meskipun di paruh kedua film ini agak seret, adegan Reza dan Lukman bisa menjadi pelipur lara yang worthy banget untuk disaksikan.

Penemuan Piramid yang selama ini disangka gunung biasa oleh orang-orang sontak bikin heboh, bukan hanya Indonesia, melainkan juga seluruh dunia. Apa yang ada di dalam sana, siapa yang membuatnya, mengapa dia didirikan di antara lima gunung beneran. Arni Kumalasari (Julie Estelle adalah arkeolog paling bening sedunia) terang saja bangga menjadi bagian dari tim ekskavasi bersama profesor sekampusnya. Melihat potensi berita perpaduan mistis dan sains yang bisa ngasilin duit banyak, wartawan majalah Ghoib Tomo Gunadi (kadang Reza Rahadian akting skeptisnya terlalu kuat sehingga dia malah tampak unmotivated) berangkat ke site untuk ngeliput langsung. Di TKP dia bertemu dengan seorang dukun bintang televisi bernama Guntur Samudra (oke tidak lagi langsung  “Mas Adi!”, buatku Dwi Sasono di sini mirip superstar NXT Andrade Cien Almas). Tadinya, Tomo dan Guntur ditolak lantaran ‘yang gak ilmiah gak boleh masuk’. Tapi kemudian semakin banyak arkeolog yang ditemukan meninggal secara misterius, dengan kondisi yang mengenaskan. Arni, Tomo, dan Guntur akhirnya bergabung, menyatukan kepandaian masing-masing untuk membuka pintu masuk ke dalam piramid, sekaligus mengunci gerbang yang udah melepaskan Badurah dan petaka-petaka mengerikan lainnya ke dunia.

Nama arkeologku di lapangan serem kayak gitu pastilah Ari Kumalalari

 

Semua orang butuh untuk cari makan. Tapi kalo cari makan, ya cari makan, jangan berdalih dan mengatakan terpaksa. Kita tidak punya hak untuk berpura sebagai korban ketika kita sudah melakukan sesuatu, memilih sendiri untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan  idealisme sendiri. We can’t have both and be a hero, sebab hidup adalah pilihan.

 

Tomo mengerti akan hal tersebut. Dan itulah yang menyebabkan karakter ini menarik. Tomo adalah wartawan yang sudah membuang idealismenya keluar jendela, demi menyediakan nasi untuk keluarganya. Untuk anaknya. Dia enggak punya masalah untuk nulis tentang hal-hal ganjil yang belum terbukti keabsahannya. Namun kita bisa melihat Tomo masih malu untuk mengakui dia kerja di majalah seperti itu. Masalah idealisme ini masih keliatan bentrok dan menjadi running konflik yang terus dibahas oleh cerita. In a way, Tomo adalah katalis dari Arni yang ‘orang sains’ dengan Guntur yang ambasador dari hal-hal gaib. Hubungan antara Tomo dan Guntur mestinya bisa dibuat lebih baik lagi karena sangat menarik melihat dua pola pikir dan kepercayaan itu dibenturkan.

Film punya rancangan yang kompleks, tapi penulisan mulai menunjukkan titik lemah. Naskah tidak mampu mengconvey semua dengan baik dan rapi. Ada banyak hal yang mestinya bisa diatur dan dibangun dengan lebih baik lagi. Misalnya, Arni yang diceritakan merasa vulnerable menggantikan profesor sebagai pemimpin ekskavasi. Kita tidak melihat rintangan yang ia alami, apa yang membuat dia merasa kurang dari apa yang dikerjakan oleh profesor. Motivasi makhluk jahatnya juga enggak benar-benar terang, memang sih ada kait personalnya dengan tokoh utama kita, si Tomo. Akan tetapi pertanyaan ‘kenapa’ tidak pernah dimunculkan ke permukaan. Kenapa mesti Tomo? Apakah karena dia dipandang lebih lemah lantaran ‘iman’nya somewhere di antara level skeptis Arni dengan level klenik Guntur? Aku juga enggak begitu bisa melihat kenapa Tomo bisa ada di sana, selain karena tuntutan naskah bahwa Tomo adalah salah satu dari ‘triforce’ mitologi Gerbang Neraka.

Maksudku; mereka bertiga bekerja sama. Arni dengan penggalian arkeolognya. Guntur dengan pengetahuan ilmu gaibnya. Tomo dengan….. moto-motoin sekitarnya? Paling enggak mestinya Tomo ikutan ngitemin kuku dengan ngegali atau apa kek. Aku bisa mengerti kenapa Guntur terlibat; karena Arni butuh penjelasan atas misteri kematian teman-temannya, dia butuh seorang yang beneran mengerti kekuatan mistis. Aku enggak melihat alasan kenapa Tomo dilibatkan oleh Arni. Kalo alasannya biar ada liputan, kenapa arkeolog mau liputan ekskavasi mereka ditulis oleh wartawan majalah hoax yang udah ngaku mau duit aja, padahal ada banyak wartawan lain di sana. Penjelasan paling logis yang terpikirkan olehku adalah di samping butuh penjelasan misteri kematian, Arni juga butuh dukungan moral. She wants to still be able to feel better about herself, makanya dia ngajak Tomo yang basically sama-sama skeptis seperti dirinya, namun Tomo sudah membuang idealismenya demi perut. Dengan kehadiran Tomo, Arni bisa merasa dirinya masih lebih baik, walaupun dia pada akhirnya juga minta tolong kepada Guntur yang percaya kepada mistis.

 

Untuk komentar soal efek yang digunakan dalam film; well, dana terbatas, teknologi juga terbatas. Kita paham itu. Akan tetapi, jika kita hanya punya sepuluh menit untuk membuat penonton tertarik, hal logis yang kita lakukan jelas adalah dengan tidak memamerkan keterbatasan yang kita punya.

 

 

Babak set upnya adalah bagian yang terbaik, dan still it could have been better. Aku menemukan keseluruhan film ini tidak konsisten. Penulisan tokoh yang tidak dibarengi oleh keputusan yang masuk akal. Tomo adalah karakter utama yang hebat tapi dia tidak diberikan banyak hal untuk dilakukan, dia tidak benar-benar berguna dalam tim mereka. Build up yang tidak semuanya punya pay off yang memuaskan. Contohnya menit-menit menjelang penampakan Badurah yang dibuat sangat subtil – mereka menggunakan lalat sebagai penanda – hanya untuk dimurahkan dengan jumpscare yang membuat kita terlepas dari intensitas cerita. Eksposisi yang enggak mash up dengan baik sehingga beberapa tone film menjadi awkward, seperti ketika dialog tentang kujang (alat ritual) yang langsung dipotong dengan seseorang yang minta diri pulang. Efek-efek yang enggak semuanya meyakinkan; ketika ada yang mati keren banget, namun porsi aksi terlihat konyol oleh efek yang gak mulus. Ini adalah horor, action, mystery, adventure, yang enggak pernah benar-benar memenuhi tuntunan genrenya; semuanya terasa setengah-setengah. Film ini mengeksploitasi banyak sebagai landasan, akan tetapi proses eksplorasi yang mereka lakukan tidak pernah berbuah menjadi tontonan yang truly menyenangkan.
The Palace of Wisdom gives 6 gold stars out of 10 for GERBANG NERAKA.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

 

PETAK UMPET MINAKO Review

“We are what we hide.”

 

 

 

Apa yang sebaiknya dilakukan ketika sewaktu sekolah kita sering dibully oleh teman-teman? Well, itu tergantung kita masing-masing. Kita bisa mendem sendiri terus diam-diam bikin kaset sebelum bunuh diri kayak Hannah Baker. Atau kita bisa menyimpan dendam kesumat sampe bertahun-tahun lamanya, untuk melampiaskannya saat reuni. Kita adalah apa yang kita simpan. Yang kita sembunyikan akan mendefinisikan apa yang akan kita perbuat.

Seperti yang dilakukan cewek di film Petak Umpet Minako. Malam itu, cewek yang kuliah di Jepang tersebut mengusulkan kepada teman-teman reuninya untuk nostalgia ke gedung sekolah mereka yang lama. Sesampai di sana, niat mulia si cewek langsung kelihatan. Dia mengajak mereka semua untuk bermain petak umpet. Tapi ini bukan sembarang petak umpet, ini petak umpet impor dari Jepang di mana yang manusia bersembunyi sementara yang ‘menjaga’ adalah hantu! Dan untuk membuat hal lebih gawat, permainan itu punya satu peraturan gede: hanya ada satu orang yang bisa memenangkan pertandingan. Yup, sebaiknya segera aktifkan mode survival karena di dalam gedung sekolah yang lagi direnov tersebut, mereka tidak bisa percaya kepada siapapun.

definitely jangan percaya sama peran aktor yang punya nama yang enggak ngapa-ngapain di awal cerita

 

Hitori Kakurenbo, nama asli permainan yang jadi ide dasar film yang diadaptasi dari novel ini, konon sebenarnya adalah salah satu ritual pemanggilan arwah menggunakan medium boneka yang lazim dilakukan di Jepang pada jaman dahulu. Dan tentu saja, the whole tradisi dan urban legend tersebut menarik minat anak-anak muda yang penasaran. Aku salah satunya. Kalo saja aku bisa menjahit, maka aku bakal nekat ngelakuin berbagai macam peraturan untuk memainkan permainan ini. Aku gak akan menjelaskan peraturan permainan, apa yang dibutuhkan, dan segala macem teknisnya sebab film Petak Umpet Minako sudah mengambil banyak waktu untuk menerangkan kepada kita gimana sih cara memainkan petak umpet maut. Lengkap dengan pantangan dan catatan ekstra mengenai cara menangkal roh jahat yang bakal menjelma menjadi boneka yang kita pakai. Kita tahu ada pepatah barat yang mengatakan “curiosity killed the cat”, dan yeah, rasa penasaran atas permainan tersebut berhasil membujukku untuk menonton film ini. Dan aku berasa pengen mati di bioskop.

Keseluruhan film adalah cerita penyelamatan diri di dalam gedung sekolah di malam hari. Banyak yang bisa dieksplorasi dari lingkungan ini, belum lagi banyak tokoh-tokoh seolah mereka meminta untuk diberikan cerita. Tapi film tidak pernah mengolah mereka dengan dalem. Di menit-menit pertama aku masih tertarik. Aku masih bisa memaafkan kehadiran eksposisi yang amat banyak soal peraturan permainan. Eksposisi yang dibutuhkan, dan aku yakin ada cara yang lebih kreatif dan yang less-boring yang bisa dilakukan untuk menjelaskan semua. Tapi pada awal-awal itu aku tertarik karena menurutku adalah sebuah pilihan yang bagus mengangkat naskah dari sudut pandang korban perundungan (eh, pada udah tau belum sih kalo bully itu istilahnya Indonesianya ‘rundung’?) yang begitu ingin balas dendam sampai-sampai dia rela melakukan permainan yang turut mengancam dirinya sendiri.

Aku salah. Tokoh utama film ini bukan Vidha si cewek yang mengusulkan permainan petak umpet boneka. Jagoan kita adalah seorang cowok bernama Baron yang telat datang ke reuni, dan satu-satunya alasan dia dateng adalah karena ingin mencari pacarnya. So yeah, motivasi tokoh utama cerita ini adalah pengen menyelamatkan ceweknya. Standar abis. Baron adalah salah satu tokoh utama terburuk yang pernah ada di dunia sinema. Dia enggak bisa menghentikan pembunuhan yang terjadi di depan matanya. Moral compassnya hanya jalan untuk hal-hal yang menyangkut sang pacar. Di tengah-tengah keadaan gawat, gagasan terbaiknya adalah berpencar. “Kamu tunggu di sini, aku masuk ngambil korek api”, kenapa gak barengan AJAHHHH? Baron juga butuh 3 scenes untuk membakar boneka, yang sudah ada di tangannya beserta alat-alat untuk membakar. Dan tau gak apa yang dilakukan Baron ketika giliran his butt yang harus diselamatkan – ketika dia disuruh cepat-cepat lari suapay temannya bisa buy some time dengan mengorbankan diri? Baron malah lari dengan slow motion, sebelum akhirnya jatuh pingsan!

Film ini tidak melakukan hal kreatif ataupun hal baru pada premis mereka. If anything, film ini cukup lihai menggabungkan ritual petak umpet setan dengan elemen Battle Royale (2000) dengan elemen The Mist (2007). Dan elemen zombie. Hanya saja di sini zombienya bisa mukul dan berantem alih-alih pengen gigit orang. Ada usaha untuk mengembangkan karakter dalam lingkungan tertutup ini. Kita melihat ada salah satu tokoh yang berkembang menjadi semacam cult leader, di mana dia dianggap penyelamat yang berhasil membawa mereka ke gedung Gereja yang aman, seperti Mrs. Carmody di The Mist. Tapi narasi tidak pernah melakukan hal yang benar-benar pinter buat tokoh ini. Sebenarnya ada banyak yang bisa digali dari petak umpet dan mitologi sekitar permainan itu sendiri, namun film sepertinya hanya tertarik pada twist yang enggak benar-benar masuk akal. I mean, ini adalah permainan di mana kita bisa memanggil arwah yang bisa hidup dengan mengambil wujud boneka mediumnya, mereka bisa paling enggak menggali sesuatu tentang obsesi dari sana. Sayangnya, Petak Umpet Minako hanyalah cerita satu lapis yang kadang-kadang belok dikit tanpa benar-benar terbayar dengan memuaskan.

kebayang gak sih susahnya bagi orang Jepang nyebut kata “leluhur”?

 

Sebagai makhluk horor, Minako punya presence yang mengerikan. Dia bukan boneka yang dirasuki, Minako adalah hantu yang mengambil wujud boneka yang dirasuki. Bayangin tuh. Kostum dan segala macam penampakannya berhasil membuat takut, namun tidak banyak yang dilakukan oleh Minako. Dia cuma going around mencari orang-orang sambil mengayun-ayunkan pisau. Di tengah-tengah kacaunya penceritaan dan mish mash elemen, film bahkan sepertinya melupakan Minako ini adalah hantu. Aku ngakak berat ketika Baron dan temannya berhasil mengalahkan Minako di gereja, kalimat pertama yang terucap dari mulut Baron adalah pertanyaan “Apa dia sudah mati?” I’m like, DUH SHE’S A GHOST!!!  Malahan ada satu adegan ketika Minako dibuat main tarik-tarikan pintu sama satu orang manusia. Apa Minako segitu takutnya sama air garam sehingga dia melupakan kodratnya sebagai setan yang bisa tinggal mencekek saja orang yang menghalangi jalannya?

Kalo ada benang merah yang menghubungkan poin-poin film ini maka itu adalah kata ANNOYING. Editingnya annoying; antara satu adegan dengan adegan lain dijahit enggak mulus, gak ada ritmenya. Tokoh-tokohnya annoying; mereka semua melupakan konsep utama main petak umpet, yakni diam-diam – gak ngeluarin suara. Reaksi dan motivasi tokohnya terlihat staged, enggak ada yang meyakinkan. Dan aktingnya? Aku yakin para aktor akan merasa malu kalo film ini ditonton oleh teman-teman mereka. Eksposisinya annoying; dialog film ini jarang sekali soal pengembangan karakter, it was either nerangin aturan main, teriak-teriak gak jelas demi drama,  ataupun “Mana yang lain?” “Si anu lari ke sana, si itu lari ke sini”  dan beberapa detik kemudian si anu dan si itu muncul. I mean, kenapa gak diliatin aja sih mereka tadi ngalamin kejadian apa, alihalih mendengarkan penjelasan dari orang yang gatot menampilkan eskpresi teror dan ketakutan. Flashbacknya annoying; akan banyak dijumpai adegan Baron ketemu temannya, dia nanya apa yang terjadi, dan si teman akan bercerita membuat kita masuk ke flashback yang  menjelaskan backstory yang enggak pernah ada build up ataupun pay offnya. Film ini bisa lebih baik jika diceritakan linear.

Efek dalam film ini lumayan bisa menghadirkan imaji yang seram. Tapi ada satu yang aku heran, kenapa mereka harus banget nampilin adegan boneka dibakar dengan menggunakan efek komputer? Apa budget segitu fokus di promosinya sehingga mereka enggak bisa mengusahakan properti dummy untuk dibakar beneran. Lucu aja ngeliat di satu adegan ada boneka terbakar dan di adegan berikutnya terlihat jelas di lantai enggak ada apa-apa.

 

 

 

Sebenarnya semua elemen-elemen yang bekerja parah tersebut bisa saja jadi mengasyikkan jikasaja film ini mempersembahkan dirinya sebagai sesuatu yang mengarah ke komedi. Nyatanya, film ini menganggap dirinya keren, it takes itself way too seriously. Ini adalah horor sejenis kucing-kucingan rumah-hantu dengan elemen menyelamatkan diri dengan jangan-percaya-kepada-siapapun yang penceritaannya sangat kacau. Tokoh-tokohnya tidak pernah bertingkah layaknya manusia beneran, kita tidak bisa peduli kepada mereka. Padahal ada premis dan sudut pandang menarik yang bisa saja menjelma menjadi horor yang segar. Tapi ngumpet banget dan arahan filmnya malah membuat kita enggan untuk menemukannya.
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for PETAK UMPET MINAKO.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

IT Review

“Adults are the real monsters.”

 

 

Masa kecil ninggalin kenangan, hanya jika kita punya kelompok bermain. Teman-teman sepermainan yang sharing suka dan duka, bertualang naik sepeda bersama. Bahkan ketika kelompok tersebut dijuluki anak-anak lain sebagai The Losers’ Club. Bill, Ben, Richie, Eddie, Stan, Mike, dan Beverly jadi deket lantaran mereka sama-sama sering dibully. Bagi lingkungan sekitar, mereka tak lebih dari si Gagap, si Gendut, si Mulut Besar, si Penyakitan, si Anak Rabi, si Orang Luar, dan si Cewek Murahan. Tahun 1988an itu adalah waktu yang keras di kota Derry. Tapi Bill dan teman-temannya, mereka baik saja as they have each other. Perundung yang mereka benar-benar cemaskan bukanlah Henry Bowers yang suka main pisau lipat itu. Yang mereka takutkan adalah sosok yang sudah membuat banyak anak-anak lain menghilang, termasuk adik Bill. Sosok yang satu ini munculnya di tempat-tempat tak terduga, dia ‘memangsa’ rasa takut dan imajinasi anak-anak. Sosok yang jauh lebih menyeramkan daripada orangtua masing-masing. Pennywise the Dancing Clown. Dan dia bahkan bukan badut beneran!!

come float with us

 

Dengan seribu-seratus lebih halaman, sesungguhnya It adalah novel yang sulit sekali untuk diadaptasi ke layar lebar. Belum lagi predikatnya sebagai salah satu cerita paling seram yang pernah ditulis oleh Stephen King. Sebelum ini, It pernah disadur ke miniseri televisi yang dibagi menjadi dua episode. Quick review: miniseri televisi tersebut sudah berusaha untuk loyal kepada materi bukunya, mempersembahkan penampilan Pennywise yang seram, tapi dari segi efek memang terasa tertahan. Lagipula ketika ditonton bareng sekarang-sekarang ini, efek filmnya terasa sangat out-of-date. Banyak aspek kemampuan Pennywise yang tidak bisa digambarkan dengan baik tahun 1990 itu.

Makanya aku seneng sekali melihat apa yang mereka lakukan kepada Pennywise di film baru ini. Aktor Bill Skarsgard did an awesomely creepy touch terhadap si badut horor. Aku suka matanya tampak natural ketika melihat ke dua arah sekaligus, aku suka gimana ilernya menetes-netes setiap kali ngebujuk anak-anak. Sebenarnya Pennywise itupun hanyalah salah satu dari wujud jelmaan dari makhluk yang Bill and-the-genk sebut sebagai It (aku jadi teringat cerita Lupus yang nyebut hantu sebagai Anuan karena dia takut menyebutnya sebagai hantu). It mengambil bentuk yang berbeda-beda tergantung dari anak mana yang mau ia mangsa berikutnya. Dan dari adegan pembuka kematian Georgie yang sangat ikonik hingga ke menit-menit It bergiliran menakuti tujuh protagonis kita, film ini setia mengikuti apa yang tersurat di novel. Efek yang digunakan juga terlihat meyakinkan. Sutradara Andy Muschietti – sebelumnya menggarap horor Mama (2013) – paham bagaimana menebar visual untuk membangun adegan seram. Adegan Ben di perpustakaan ketika dia melihat halaman buku yang terus berulang dengan nenek-nenek menyeringai mengerikan di latar belakang adalah salah satu favoritku.

Para aktor cilik bermain luar biasa fenomenalnya. Mereka terlihat kayak teman sepermainan beneran. Highlight paling terang tersorot dari Finn Wolfhard yang kembali berperan sebagai anak 80an yang keliling naik sepeda, dia kebagian sebagai Richie si ‘badut’ dalam grup, dan Finn really nails his comedic role. Persahabatan mereka, gimana anak-anak bergaul, film ini merekamnya dengan jujur. Banyak serapah dan kata-kata jorok, hal tersebut bisa dimengerti karena – bagi orangtua yang masih menyangka anak mereka anak-anak manis – memang seperti itulah anak kecil kalo lagi bermain, di luar pengawasan orangtua mereka. Ada nuansa underdog beneran yang melingkupi mereka karena mereka harus berurusan dengan sesuatu yang tidak mereka mengerti, yang tidak akan ada yang percaya kepada mereka.

Untuk urusannya sebagai adaptasi, karakter para tokoh sebagian besar sama, dengan beberapa apa-yang-mereka lakukan yang dibuat sedikit berbeda. Ada beberapa tokoh yang terasa jadi sedikit lebih sederhana, like, mereka jadi agak terlalu stereotypical, terutama si Ben. Dari ketujuh anak, Ben actually tokoh favoritku di novel It. Makanya aku agak kurang sreg kenapa di film ini mereka enggak lagi bikin dam; yang meniadakan kemampuan Ben di mana Ben lah yang merancang dam. Juga soal ‘cinta segitiga’ Ben-Bill-Beverly yang menurutku mereka mengecilkan skenario sweet secret admirer Ben dan Beverly lantaran di sini Ben dibuat canggung banget.

Persahabatan anak-anak bertemu dengan monster tukang bunuh, humor ketemu horor – semuanya terasa fisikal. Meski demikian, It bukan sekedar cerita sekumpulan anak muda melawan musuh terbesar mereka, yakni ketakutan, yang terpersonifikasi sebagai badut dengan balonnya. Ada tone kelam seputar tumbuh remaja, sexuality, trauma dan gimana untuk melupakannya yang dibahas dalam narasi. Satu pesan yang menguar dari balik It adalah bahwa anak-anak muda begitu terbebani oleh ketidakadilan dunia yang lebih dewasa. Para orangtua digambarkan entah itu pemabuk, terlalu mengatur, manipulative, ataupun downright cruel – tidak pernah dipandang sebagai pahlawan oleh anaknya.

 

ada alasannya kenapa orang dewasa takut sama anak-anak

 

 

Aku tidak mengikuti perkembangan dan promosi untuk film ini, aku enggak nonton trailernya. Dan aku harus bilang, saat menonton film ini aku merasa sudah termisleading. Jadi menurutku, aku harus ngespoiler  sesuatu buat calon-calon penonton yang sudah pernah membaca buku ataupun nonton miniseri televisinya dan mengharapkan sesuatu yang berbeda dari film berdurasi dua-jam-sepuluh-menitan ini: It yang ini juga adalah CHAPTER SATUNYA SAJA. Dengan durasi sepanjang itu ditambah dengan beberapa perubahan kecil namun signifikan, saat menonton It kita bisa dengan mudah menumbuhkan asumsi bahwa film ini mengambil langkah adaptasi yang eksrim as in cerita bakal selesai tanpa ke babak mereka dewasa. Tapi enggak. Bagian masa kecil ini penting untuk pelandasan karakter dan relationship, sehingga meskipun agak ngestrech, film tetap harus membagi buku menjadi dua chapter (atau mungkin lebih, kita bisa ngarep). Fokus cerita adalah pada masa kanak-kanak para tokoh, and I just think they need to put the ‘Chapter One’ bit sedari awal.

Di sinilah sedikit masalah timbul; daging cerita It sebenarnya terletak di bagian ketika Bill dan kawan-kawan yang sudah dewasa ‘diundang reuni’ oleh Pennywise. Saat itulah cerita mengerikan soal trauma atas apa yang kita takuti mulai kick in. Maka dari itulah sebabnya, kenapa in the long 2 hours run film ini terasa semakin kehilangan intensitasnya. It bekerja dengan sangat baik sebagai HOROR SLASHER MENAMPILKAN ANAK KECIL DENGAN LEVEL KENGERIAN YANG SAMA SEKALI JAUH DARI LEVEL SEKOLAH DASAR. Aksinya brutal, nasib beberapa tokoh mengenaskan, walaupun kamera tidak pernah benar-benar menangkap sesuatu di luar batas sadis yang wajar. Akan tetapi, ada kehampaan pada intinya. Motivasi inner karakternya belum berjalan maksimal, plotting tokohnya belum full circle. Bahkan kota Derry gak benar-benar menjelma sempurna sebagai lokasi yang seharusnya berkembang seakan menjadi tokoh tersendiri oleh sejarah kelamnya. Aku suka gimana film ini memperkenalkan kita kepada tujuh anak tersebut dengan porsi yang sama besar, kita juga diperlihatkan apa bahan bakar ketakutan mereka, kelemahan mereka di mata Pennywise, tanpa menggunakan flashback – jika boleh kutambahkan sebagai perbandingan dengan versi miniseri tv. Namun adegan per adegan terasa berjalin dengan kurang mulus. Seperti tidak ada ritme, sebab sesungguhnya yang kita lihat memang setengah dari keseluruhan cerita. But then again, enggak banyak cara menghandle pembagian cerita It yang lebih baik dari yang dilakukan oleh film ini.

On the other hand tho, jika kalian baru pertama kali tahu cerita yang berjudul It, menonton ini akan terasa sama menyenangkan dan serunya dengan menonton horor slasher klasik semacam A Nightmare on Elm Street. Dan there’s nothing wrong with that, aku malah beranjak dari penonton film-film genre itu. Film ini  melakukan kerja yang sangat baik mengembalikan kita ke kejayaan genre monster pembunuh lewat tayangan yang juga kocak, penuh oleh penampilan akting yang meyakinkan.

 

 

 

This is one of the better Stephen King adaptation. Fokus cerita pada masa kanak-kanak para tokoh. Mereka madetin dan menghidupkan elemen-elemen paling mengerikan dari buku, dan wisely meninggalkan bagian yang kontroversial ataupun yang kurang bekerja dengan baik. Pennywisenya sangat menyeramkan, meski aku pikir tokoh ini bisa diberikan dialog creepy lebih banyak lagi kayak di buku ataupun mini seri tv. CGnya menyatu dengan mulus. Terang saja Chapter Keduanya akan sangat dinantikan karena kita bisa menagih janji cerita yang benar-benar berdaging saat film tersebut tiba di bioskop.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for IT.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

IT COMES AT NIGHT Review

“It’s hard to wake up from a nightmare if you are not even asleep”

 

 

Apa sih yang datang malem-malem? Dingin? Debt collector? Diare? Sundel bolong yang jajan sate terus minta nambah soto? Kuntilanak yang bernyanyi “malam-malam aku sendiri tanpa cintamu lagi”? Kenangan mantan? Apapun itu, semuanya adalah bahan buat mimpi buruk. Yang membuat kita mengunci pintu dan jendela, memastikan enggak ada sesuatu yang nongkrong di bawah tempat tidur. Itulah metafora yang direferensikan oleh judul dari film yang posternya keren banget ini.

Mimpi buruk datang di malam hari. Dan ketakutan, dan dalam beberapa tingkat ketegangan dan paranoia terhadapnya akan membuat kita terjaga.

 

Ketika malam tiba, anjing milik keluarga Paul (Joel Edgerton begitu real sehingga menonton performa emosional dirinya akan turut bikin kita sesak) akan menyalak, mereka pun enggak akan keluar rumah. Paling enggak, tanpa mengenakan topeng gas dan membawa senjata api. Semacam virus sudah menjangkiti penduduk kota, mengakibatkan Paul beserta istri dan putranya, Travis yang beranjak 17 tahun (Kelvin Harrison Jr memegang peran penting dalam cerita yang emotionally horror banget) kudu mengarantina diri mereka sendiri. Mengubah rumah mereka menjadi semacam shelter perlindungan. Mereka tidak bisa membiarkan satu makhlukpun masuk sebab mereka tak ingin lagi menghabisi anggota keluarga sendiri, seperti yang mereka lakukan terhadap Kakek di menit-menit awal cerita. Suatu malam, Will (satu lagi penampilan luar biasa dari Christopher Abbott) mencoba menyelinap masuk demi mencari makanan dan air untuk keluarganya sendiri. Dua keluarga ini come in terms untuk tinggal bareng, ada kesepakatan dan perjanjian segala macem, namun tentu saja, isolasi tersebut semakin terasa. Dan horor lantas melanda.

Semua hal tersebut kita ketahui bukan dari adegan-adegan eksposisi, melainkan dari shot-shot cantik-tapi menegangkan buah tangan Trey Edward Shults. Sutradara ini tidak pernah menjelaskan apapun kepada kita. Tidak ada jawaban, kita tidak akan diberi tahu apa yang membuat anjing mereka lari, apa yang melukainya, kenapa anak kecil itu tidur di lantai, apa yang sebenarnya terjadi. Tidak ada pendiktean. Cerita singkat yang aku tuliskan tadi adalah murni deduksi sendiri dari apa yang informasi yang diperlihatkan oleh film. Kita mungkin bisa akur pada beberapa poin cerita, akan tetapi untuk sebagian besar apa yang terjadi di dalam kepala karakternya totally dibiarkan ambigu. Kita enggak tahu siapa yang bisa dipercaya. KERAGUAN, KETAKUTAN, KEHILANGANPIKIRAN NEGATIF MANUSIALAH YANG MENJADI TOKOH ANTAGONIS dalam film ini. Makanya, film ini bisa misleading buat penonton yang mengharapkan bakal melihat setan.

“Mas, setannya ada?”

 

MIMPI BURUK ADALAH TEMA yang jadi elemen utama cerita. Kita tahu seseorang sangat passionate dengan projeknya jika mereka benar-benar memikirkan detil dan punya gaya sendiri. Itulah yang dilakukan oleh Edward Shults terhadap film ini. Untuk menyampaikan ketakutan dan paranoia para tokoh kepada kita, Shults tidak menyediakan jawaban pada narasi. Untuk menyampaikan tema mimpi buruk, Shults menggunakan banyak adegan mimpi serta treatment yang berbeda terhadap adegan-adegannya. Ia memanfaatkan long shot supaya kita penasaran dan bergidik ngeri ketika ada tokoh yang berjalan menyusuri rumah pada malam hari. Penerangan dibuat sangat minim, baik itu dari lampu semprong ataupun senter, sehingga meskipun tidak ada apa-apa di background, kita akan membayangkan yang bukan-bukan sedang berjongkok di salah satu sudut gelap itu. Namun, penggunaan banyak adegan mimpi, meskipun aku mengerti akan kebutuhan penceritaan, tetap saja membuatku sedikit dilema ketika disuruh menilai film ini.

Dalam film horor, langkah paling gampang adalah menyusupkan adegan mimpi untuk memancing adegan seram. It’s a cheap way, pengandaiannya sama dengan kalo ada penyanyi lagi manggung di suatu kota, tapi dia dicuekin, maka dia tinggal bilang “Selamat malam, Banduungg (atau nama kota tempat manggung)” dan penonton niscaya sorak sorai. Kalo kau ingin masukin adegan seram yang gak make sense ataupun gak nyambung, masukin aja sebagai adegan mimpi. Sebaliknyapun, saat kita menonton horor, sungguh sebuah hal yang annoying jika sudah terinvest sama satu adegan seram, eh tau-tau adegan selanjutnya adalah si tokoh terbangun dengan keringetan. Dalam It Comes at Night ada sekitar empat atau lima kali adegan mimpi. In fact, semua adegan mengerikan yang ‘mengecoh’ kita ada dalam konteks mimpinya si Travis. Untuk mencegah penonton ngamuk, dan supaya bikin filmnya gaya, Shults menggunakan treatment khusus. Setiap adegan mimpi diberikan ratio aspek gambar yang berbeda dengan adegan di dunia nyata. Bahasa gampangnya sih; pada adegan mimpi, layar tampak lebih sempit, perhatikan deh batas atas dan bawah layar. Nah itulah akibatnya, aku jadi sering terlepas dari cerita karena sibuk memperhatikan aspek ratio tersebut, mana yang mimpi mana yang bukan.

Pada babak ketiga, Shults memasukkan twist kepada treatment mimpi buruk ini. Ratio gambar dibuat sama dengan ketika adegan mimpi buruk sampai ke kredit penutu bergulir, namun baik Travis maupun yang lain tidak ada yang sedang tidur. Treatment ini menyampaikan pesan bahwa mimpi buruk Travis selama ini sudah menjadi kenyataan baginya. Pilihan mengerikan yang dibuat oleh ayahnya adalah pengingat yang nyelekit banget bahwa terkadang realita tidak kalah menyeramkan, malahan acapkali lebih disturbing, daripada mimpi buruk seribu bulan.

 

 

Pilihan-pilihan yang dilakukan oleh Shults untuk film ini semuanya dapat kita pahami kepentingannya. Bahkan di babak ketiga, kamera pun dipindah menjadi handheld, dan ini dilakukan supaya situasi horor yang terlepas dapat terhantarkan kepada penonton. Hanya saja teknik-teknik dan treatment ini keluar terlalu kuat, ia menutupi kebrilian penampilan akting. Dan tidak beanr-benar diimbangi dengan plot yang sama kuatnya. Padahal apa yang menimpa keluarga Paul, konflik emosi setiap karakternya sungguh nyata. Pertama kita paham betul ketakutan Paul – begitu juga dengan Will – jika  keluarganya sampai terancam bahaya. Paranoia tersebut mengubah manusia menjadi brutal. Membuat orang-orang saling menyerang, demi kepentingan keluarga mereka. Ya, seperti kata quote di tumblr soal gimana kalo lagi ngumpul dan tertawa bareng, kita akan otomatis melihat ke arah orang yang paling kita cintai di dalam kelompok tersebut; saat dalam keadaan takut dan chaos, kita akan menumpukan sandaran kepada keluarga. Hanya keluargalah yang paling dapat kita percaya.

Karena kata Max Black; keluarga hanya menginginkan duitmu, bukan darahmu.

 

Di tengah-tengah isolasi dan bimbang kepercayaan tersebut, ada Travis. Tentu bukan asal sebut saja ketika film memperkenalkan tokoh ini sebagai anak remaja. Travislah yang paling restless. Dia gak bisa tidur. Dia yang selalu galau di malam hari. Emosi yang ada di dalam tokoh ini begitu bentrok. Kalian paham dong pastinya, remaja umur segitu mulai meragukan orangtua – apakah ayahnya melakukan hal yang benar,  mulai takut kehilangan apa yang ia cintai, dan tentu saja mulai naksir cewek. Semua hal manusiawi tersebut menambah level keteganganm, diolah dengan begitu perhatian ke dalam narasi, sehingga kita dapat satu tokoh yang benar-benar kerasa konflik internalnya dan di luar semua itu, dia masih harus mengkhawatirkan virus yang bisa saja menularinya. Jadi kita mengerti dari mana mimpi-mimpi buruk terus menghantui dirinya.

 

 

 

Jika ada sesuatu di luar sana, maka kita tidak akan pernah mengetahuinya. Sebab, horor film ini justru bekerja berlawanan dari yang kita duga. Isolasi tersebut tidak banyak berpengaruh karena ketakutan datang dari dalam diri. Hidup kita rapuh, kita begitu gampang takut, dan ultimately paranoia akan menelan moral bulat-bulat. Ini adalah cerita yang sungguh devastating dan diolah dengan penuh kecakapan. Film ini menggunakan misteri sebagai sarana untuk menghormati kecerdasan penonton. Hanya saja aku bisa mengerti bahwa, sepertinya halnya The Babadook (2014) ataupun The Witch (2016), akan ada banyak orang yang kecele sama horor ini. Tidak ada sosok hantu, semua yang seram-seramnya hanya mimpi, tidak ada jawaban yang disediakan meski memang ceritanya emosional dan thought-provoking.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for IT COMES AT NIGHT.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

ANNABELLE: CREATION Review

“If your soul has no Sunday, it becomes an orphan.”

 

 

Seorang tukang kayu membuat sebuah boneka yang mirip dengan manusia. Boneka tersebut dia dandani, dia kasih baju baru. Tapi tukang kayu yang satu ini bukan bernama Pak Gepetto. Dia tidak pernah memohon kepada peri biru supaya bonekanya hidup. Apalagi supaya bonekanya membunuhi dan memakan jiwa orang-orang. Pak Mullins, instead, berdoa supaya putri kecil semata wayangnya hidup kembali. Beliau dan istrinya begitu terpukul sehingga mereka meminta kepada apa yang dijelaskan dalam babak ketiga film ini. Annabelle: Creation adalah cerita asal mula gimana boneka Annabelle dibuat dan berujung menjadi tempat bersemayam suatu entitas jahat yang menyebarkan horor ke sebuah panti asuhan, sebelum akhirnya horor tersebut menyebar ke mana-mana, sebagaimana yang sudah kita ketahui.

Kita hidup di dunia di mana setiap studio film gede kepengen punya Dunia-Sinema sendiri. Ada superhero universe, monster universe, dan sekarang kita punya Conjuring Universe. That’s just a thing now. Indonesia juga sepertinya bakal punya juga; Doll Universe atau entah apa lagi yang diperkirakan bisa meraup untung gede. Buat Conjuring Universe katanya kita bakal dapat backstory dari masing-masing tokoh hantu, kayak Annabelle, The Crooked Man, dan Valak. Beginilah tren sekarang, kita harus menerimanya. Meski memang, dalam kondisi normal aku enggak akan pernah berpikir cerita origin Annabelle benar-benar penting untuk kita ketahui. Ini semacam prequelception, film ini adalah cerita prekuel dari film pertama yang merupakan prekuel dari The Conjuring (2013), jadi ya mindset saat masuk nonton adalah memang siap-siap melihat wahana cash grab banget.

But actually, wow, Annabelle: Creation bakal bikin malu film pertamanya. Bukan sekedar horor ngagetin. It is fun and very enjoyable, lore Annabellenya sendiri digali dengan baik, cara mereka mengaitkan film ini dengan yang pertama keren banget, dan saat film berakhir, aku ingin tepuk tangan. So yea, perihal movie-movie cash grab kayak gini – yang fokusnya bangun universe, saranku ya memang udah trennya. Give it a chance. Stop fighting it, just give in to it…

I don’t know why I’m quoting a rapist

 

Studio yang membuat film horor mainstream harusnya bisa terbuka matanya oleh film ini; bahwa HOROR MAINSTREAM BISA KOK DIBIKIN BAGUS. Kuncinya ya di keahlian pembuatnya. Film horor selalu adalah cerminan talenta sutradaranya. Arahan seperti apa yang bisa ia berikan untuk memancing rasa takut bergentayangan dalam diri kita, penontonnya. Untuk menghimpun scare tanpa memberikan banyak waktu untuk kita melepaskan rasa takutnya dengan kaget dan bernapas lega. David F. Sandberg  memanfaatkan teknik pencahayaan dan pembangunan suspens serupa seperti yang ia lakukan sebelumnya dalam Lights Out (2016), horor yang juga berhasil menangkap ide sederhana dan menggubahnya dengan cerdas dan inventif.

Rumah yang dijadikan panti itu dijadikan kembali oleh sutradara sebagai sebuah tool-box of horror. Kita bisa lihat geliat kretivitasnya bekerja around trope-trope scare penghuni yang kejebak di rumah yang ada hantunya, dan hasilnya memang menghibur. Sandberg mengerti betul dua aspek paling penting untuk diperhatikan ketika seorang sutradara membangun suspens. Sinematografi dan design suara. Banyak scares yang fun akibat dari penggunaan kamera, atmosfer, dan suara yang efektif. Jikapun ada gore, maka darah-darah itu dilakukan dengan subtil dan sangat singkat. Secukupnya, enggak seperti pada The Doll  2 (2017) yang babak berdarahnya begitu horrifying sehingga menyemenkan genre lain di luar yang kita kira. Kita tidak terlepas dari cerita oleh efek dan segala macam gimmick berdarah di sini.

Annabelle: Creation juga punya kesamaan dengan Ouija: Origin of Evil (2016). Keduanya sama-sama cerita yang berangkat dari objek biasa yang jadi angker lantaran dihantui. Keduanya sama-sama membahas asal mula kenapa bisa terjadi. Keduanya sama-sama surprisingly jauh lebih bagus dari film pertama mereka. Eeriely enough, keduanya sama-sama menampilkan aktor cilik Lulu Wilson, yang penampilan aktingnya stand out banget pada masing-masing film. Kita akan mengikuti Lulu Wilson yang berperan sebagai Linda dan temannya bernama Janice (dimainkan dengan tak kalah totally amazingnya oleh Talitha Bateman, yang nanti gedenya mirip Dahlia Poland, nih). Janice yang pincang dan Linda adalah sobat karib, mereka udah lama bareng di panti asuhan. Mereka berharap mereka bakal diadopsi bersama, jadi saudara beneran, mereka sering membicarakan harapan ini, dan membuat tokoh mereka jadi punya kedalaman. Dan terutama kita jadi tumbuh rasa peduli, kita ingin melihat impian mereka berbuah manis. Jadi,kita punya karakter, tokoh film ini bukan sebatas anak kecil yang suka main boneka. Mereka tidak diberikan skrip dan arahan sekedar ngeliat hantu ataupun bicara sendiri. Ini lebih dari gangguan hantu di malam hari. Ada set up drama. Persahabatan mereka diuji oleh kehadiran si roh jahat. Ketika hal mulai menjadi semakin serius dan semakin mengerikan menuju ke babak tiga, kita akan terinvest sepenuhnya kepada nasib kedua anak.

Hantu akan lebih mudah mengganggu orang-orang yang imannya lemah. Akan tetapi, Janice diganggu not necessarily karena dia yang paling lemah secara iman maupun secara fisik. Hantu dan anak yatim piatu seperti Janice punya kebutuhan yang sama; Rumah.

 

Aku jadi kepikiran untuk bikin semacam jumpscare meter setiap kali ngereview film-film horor. Buat film ini, itungan jumpscarenya tinggi banget di paruh awal. Ada banyak momen yang kayak ngebuild ke sesuatu untuk kemudian diikuti oleh suara yang lantang. Flaw ini jika ditelusuri sepertinya musababnya adalah skrip yang enggak kuat-kuat amat, terutama di bagian awal. Film menyediakan ruang untuk set up sehingga ceritanya terasa lambat, dan untuk mengakali ini mereka merasa perlu untuk memasukkan jump scare supaya penonton enggak bosan. Langkah yang bisa dimengerti, namun tetap bukanlah pilihan terbaik. Tadi aku sempat nyebutkan cerita terselesaikan dengan keren; tokoh-tokoh mendapatkan apa yang mereka mau, bahkan Annabelle ‘reuni’ dengan bonekanya – tie in cerdas ke Annabelle (2014) dan urban legend Annabelle yang asli, which is a good thing. Aspek yang sedikit goyahnya adalah pergantian sudut pandang  selama narasi. Kayak ada pergantian tokoh utama. Ini sebenarnya adalah resiko kreatif penceritaan yang diambil, karena biasanya kalo ganti-ganti begini paling enggak ada benang merah atau keparalelan pada arc tokoh-tokoh. Narasi film tidak memparalelkan semua, hanya beberapa tokoh. Meski begitu aku tetep bisa respek film ini karena film ini nunjukin mainstream horor bisa kok diolah dengan baik dan enggak melulu dominan oleh cheap scare.

tag, you’re it!

 

 

Horor dengan scare yang bagus, walaupun di paruh awal terlalu mengandalkan kepada jump scare. Arahan dan performance akting yang kuatlah (terutama dari aktor-aktor cilik) yang membuat film ini menjadi menyenangkan. Bikin kita terinvest. Dan secara konstan merepet di sudut kursi masing-masing. Horor mainstream ternyata mampu diolah menjadi bagus di tangan filmmaker yang handal. Prekuel dari prekuel enggak setiap hari adalah sesuatu yang jelek. Film ini dapat menjadi Teladan yang baik sekaligus adalah PR berat bagi sineas-sineas tanah air, jikalau memang ingin membuat scene horor lokal yang benar-benar layak menyandang status genre signatur di film Indonesia. Sebab, seperti yang disenggol oleh film ini, hantu juga ingin punya rumah.
The Palace of Wisdom gives 7 gold stars out of 10 for ANNABELLE: CREATION.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

PHOENIX FORGOTTEN Review

“The truth is out there.”

 

 

Ada dua jenis manusia bumi;  yang dengan semangat ngegosipin alien (apalagi kalo sambil ngemil gorengan), dan yang skeptis. Either way, penampakan alien selalu adalah topik yang menarik. Dan sangat menjual, tentunya. Kalian sering kan ketemu artikel semacam “7 Bukti Kita Tidak Sendirian Di Dunia Ini” atau “8 Orang Terkenal yang Pernah Diculik Makhluk Luar Angkasa”, well yea, aku biasanya akan ngarahin mouse ke judul itu, dan ngelik, dan membaca artikelnya untuk beberapa menit ke depan. Para believer masuk karena bukan hanya penasaran sama Alien, kita juga pengen nyimak berbagai teori konspirasi yang menyertai di baliknya. Bahkan untuk para skpetis, pembahasan tentang UFO menjadi sangat menantang karena mereka ingin membuktikan diri mereka benar.

Dan untuk urusan film tentang penampakan alien, aku biasanya termasuk golongan skeptis. Apalagi kalo filmnya memakai gaya found-footage alias first-person view. Biasanya sih, film kayak gini cuma ngandelin jumpscare dan berbagai teknik filmmaking murahan lain untuk meraup sebanyak mungkin untung yang mereka bisa dari ketertarikan natural manusia terhadap hal-hal supranatural. Kita udah paham deh, ‘aturan main’ film-film genre begini.

Sekilas, Phoenix Forgotten mungkin memang terlihat  niru-niruin The Blair Witch Project (1999). Ini bahkan bukan film pertama yang mengeksplorasi fenomena misteri Phoenix Light yang BENERAN TERJADI DI ARIZONA TAHUN 1997. It was a very interesting world phenomenon. Ratusan orang mengaku melihat barisan bola cahaya misterius yang membentuk formasi V, melayang di langit malam Arizona. Dokumentasi tentang ini banyak banget. Dari yang pernah aku baca, katanya Pemerintah setempat mengklaim hal tersebut hanyalah salah persepsi yang berkembang menjadi hoax yang dibesar-besarkan. Cuma lampu flare dari pesawat militer, katanya sambil berkelakar. Namun setelah Beliau hengkang dari jabatan, Governor tersebut mengaku sebenarnya dia enggak tahu persis tentang kejadian tersebut. Kontroversi dan teori pun menjadi semakin liar oleh ini. Phoenix Forgotten memasukkan aspek-aspek ini ke dalam narasi. Akan tetapi, nama Ridley Scott di barisan eksekutif produserlah yang terutama membuat aku tertarik nonton film ini.

Dan aku enggak menyesal udah nonton.

And if the name Ridley Scott sounds too alien to you, well yea…

 

Narasi film ini mengejutkanku; efektif sekali. Ceritanya ada tiga anak remaja yang di tahun 1997 menghilang gitu aja. Mereka diketahui sedang dalam ‘misi’ mengejar jejak cahaya misterius yang muncul di langit beberapa waktu sebelumnya. Peristiwa hilangnya mereka diceritakan, dikenang kembali oleh adik dari salah satu remaja. Penceritaannya dipersembahkan bergaya dokumenter, dan kita akan ngikutin si adik yang sekarang udah gede, mengunjungi berbagai tempat dan menginterview beberapa orang yang dulu pernah bertemu dengan kakaknya, atau yang mungkin ada hubungannya dengan sang kakak, ataupun yang dulu pernah melihat cahaya misterius itu. Masa kini dan masa lalu digabungkan as kita turut menonton kaset-kaset video buatan tiga remaja tersebut – berisi perjalanan ekspedisi mereka – yang ditonton oleh si adik yang gedenya diperankan oleh Florence Hartigan yang sempet aku sangka si Spencer dari PLL, namun ternyata adalah orang yang berbeda.

Misteri datang dari apa yang membuat tiga remaja tersebut menghilang dan tak pernah terlihat lagi hingga sekarang. Enggak ada seorang pun yang tahu mereka kemana. Aspek ini memberikan bobot emosi kepada cerita. Film-film UFO modern kebanyakan payah dan membosankan karena mereka tidak mengerti apa yang membuat subjek ini menarik. Enggak paham soal apa sih yang membuat genre ini bekerja. Ini bukan sebatas tentang hutan angker, atau jejak dan cahaya tak-dikenal di angkasa. Mereka pikir mereka cukup hanya dengan nunjukin hal-hal menyeramkan, sekelebat sosok alien berjalan di balik jendela, diiringi suara keras, dan mungkin ledakan. Namun UFO dan alien bukan sebatas tentang itu. Yang terbaik di antara film-film (ataupun serial TV) tentang Alien selalu adalah yang membahas tentang PARANOIA SEPUTAR EVENT penampakan atau encounter, lantas obsesi yang timbul dari kejadian tersebut. Phoenix Forgotten benar-benar menangkap dua hal ini dengan sangat baik.

It’s not that kita bego-bego amat, mau aja percaya sama hal di luar nalar seperti keberadaan Alien. Kita ingin percaya akan hal tersebut. Di luar kesadaran, sebagian kita ingin Alien yang kita sangsikan, benar-benar ada. Kita terobsesi sama ide bahwa ada kehidupan lain di luar sana. Dan ini sama sekali enggak ada hubungannya dengan kita ingin our belief yang benar, namun ini lebih kepada rasa ingin tahu dan naluri berpetualang yang sama besarnya. Bayangkan berapa banyak kemungkinan hidup kita akan berkembang menjadi  who knows what jika Alien benar-benar ada. And lets face it, untuk membuktikan itu saja entah berapa banyak terobosan yang sudah dicapai oleh umat manusia atas nama ilmu pengetahuan dan teknologi. Intinya adalah, enggak ada ruginya ngomongin Alien.

 

 

Jika kalian suka sama hal-hal berbau konspirasi, or just like mystery overall, film ini bisa dijadikan pilihan yang bagus untuk ditonton saat senggang. Tapi yah, memang bisa sedikit bias sih. Elemen terobses dan paranoia film ini dapat berbalik menjadi too much juga.  I mean, I do feel related ama film ini karena aku suka baca-baca dan riset tentang misteri UFO. Walaupun unfortunately aku belum pernah ngeliat UFO, justru mama dan adekku yang pernah. Jadi sekitaran taun 2004an, mereka pulang dari lari pagi sambil heboh kayak histeris massal. Mereka mengaku melihat barusan lampu-lampu di langit yang terbang dengan kecepatan lambat banget menjadi wwuuuussshhh!! Ngebut tapi sunyi. Adekku sempat ngerekam lewat hapenya, namun entah karena teknologinya jelek entah karena UFO beneran, hasil rekamannya malah gelap gulita dengan bunyi desingan kayak mesin di latarnya. Miriplah sama suara efek UFO dalam film ini.

Sejak itu, aku jadi penasaran pengen liat UFO, jadi aku mengerti darimana rasa obsess salah satu tokoh remaja yang menghilang itu berasal, meski enggak sepenuhnya tereksplor oleh cerita. Dia ngefilmin semua dokumenter tersebut, kita bisa merasakan penasaran dan obsesnya tumbuh dan terdevelop dengan baik. Ada momen-momen ketika mestinya dia lari, namun dia ingin tetap bertahan, dia cuma mau dapat lima menit rekaman lagi to hopefully mendapat yang ia cari dan membuat keingintahuannya terpuaskan.

Kamera, rolling, …kabuurrr!!!

 

Dua babak pertama menyuguhkan misteri yang sangat compelling. Film ini bekerja jauh dari sekedar tentang anak tersesat dan melihat penampakan alien. Ada drama keluarga yang turut berkontribusi di sana, bahu membahu dengan elemen misteri. Kita akan melihat rekaman tahun 97, diselang-seling dengan kejadian di masa sekarang. Aku menghitung tidak ada satupun jumpscare dalam film ini. It is less a jumpscare fest and more of a mystery di mana tokohnya hanya pengen mencari anggota keluarga yang hilang. Fokusnya ada pada keluarga dan dampak trauma kehilangan anak buat mereka. Agak sedikit goyah sih di babak akhir di mana arc ini berakhir abrupt, dan proses kita mendapatkan final tape juga sangat dipermudah.

 

 

Dengan gaya found-footage, film ini sukses menangkap tiga hal: feel of 1997, trauma kehilangan orang yang disayangi, dan paranoia serta obsesi seputar UFO dan alien. The way penceritaannya dilakukan, mengedit adegan-adegan, membuat ini jadi enak untuk dinikmati. Surprisingly very effective. Mampu membuat kita terinvest. Penampilan akting dan tokohnya pun menarik. Ada bobot emosi di sana. Meski ada juga bagian yang terasa annoying, terutama saat mereka ngulang-ngulang reaksi yang sama saat melihat sesuatu yang ganjil di langit. Mengingatkan kita kembali akan peristiwa fenomenal yang terjadi di Arizona tahun 1997, dan mungkin kita enggak akan pernah tahu apa sebenarnya yang dilihat orang-orang kala itu. Namun untukku, aku ingin orang-orang enggak begitu saja melupakan film ini.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for PHOENIX FORGOTTEN.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.