THE WAY I LOVE YOU Review

“The way to love someone is to lightly run your finger over that person’s soul…”

 

 

 

Bagi remaja yang pendiem seperti Senja, curhat yang nyaman itu kalo enggak sama sepupunya, Anya, yang super rame ya sama buku jurnal. Dia bisa memuaskan uneg-uneg dengan kreatif dan tanpa perlu malu karena buku adalah pendengar yang baik. Dan remaja seperti Senja ini, yang orangtuanya sudah tidak ada, yang mulai bisa naksir ama cowok, memang butuh teman curhat yang aman. Makanya dia sempat sedih ketika buku jurnalnya hilang di bawah pengawasan Anya yang lagi pedekate sama cowok baru keren bernama Bara di sekolah mereka. Gimana Senja bisa marah sebab dia kepalang sayang ama si sepupunya tersebut, apalagi kemudian Anya membelikan Senja laptop. Kini curhatan Senja terasa mendapat respon langsung karena lewat blog dia bisa membagikan apa yang ia rasa. Senja menemukan teman bicara itu pada user-name Badboy yang setia mendengar keluh kesahnya, berbagi hati dengannya.

kurang lebih seperti Ginny Weasley membuka hati pada buku Tom Riddle

 

Secara keseluruhan memang film ini enggak melenceng jauh dari yang dijabarkan tiga pemainnya Syifa Hadju, Rizky Nazar, dan Baskara Mahendra presscon di Bandung pada saat beberapa hari yang lalu. Film ini memang benar mengajarkan kepada remaja-remaja penontonnya ada lebih dari sekedar hubungan cowok dan cewek yang dibahas ketika kita membicarakan cinta. Bahwa ada banyak bentuk cinta yang seharusnya lebih kita perhatikan di sekeliling kita.

Dalam wujud teruniknya, film ini menunjukkan, cinta itu bisa juga datang ketika kita bahkan tidak mengenal siapa yang kita rasa cintai tersebut. Cinta bisa tumbuh cukup dengan kedekatan emosi yang kita rasakan bersama. Seperti yang berbunga di hati Senja begitu ia berkomunikasi dengan Badboy yang tak ia ketahui siapa. Atau sebaliknya, cinta tak cukup hanya dengan ketemu, melihat wujud fisiknya sepanjang waktu. Seperti yang kita simak pada Bara dengan ayahnya. Bahkan saat kita bertengkar dengan seseorang, bukan berarti kita tidak mencintai mereka.

 

 

Film garapan Rudy Aryanto ini menilik cinta bukan dari segi fisik. Melainkan bentuk cinta yang biasa dikenal dengan emotional intimacy – kedekatan emosional. Kedekatan ini terbentuk ketika dua orang menjadi begitu dekat karena mereka merasakan hal yang sama, mereka jadi merasa saling mengerti, saling dukung, dan tak ragu untuk membeberkan hal-hal personal yang bahkan mungkin mereka rahasiakan terhadap diri sendiri. The Way I Love You benar-benar tepat menggambarkan gelora yang dirasakan oleh Senja ketika dia merasakan kedekatan semacam ini kepada Badboy. Film membungkus soal kedekatan emosional ini ke dalam elemen ‘dunia maya vs dunia nyata’ ketika Senja akhirnya bertemu dengan cowok yang mengaku di balik username Badboy tersebut, menjadikannya konflik ketika Senja merasa ada yang tak cocok dengan Rasya. Tapi kukira siapapun bakal langsung melihat ada yang tak beres ketika Rasya tiba-tiba nari Pulp Fiction di acara Valentine padahal musik dan dandanannya enggak merujuk ke sana hihi..

Enggak hanya seru-seruan, film juga menilik sisi yang lebih dramatis dalam lingkup keluarga. Satu yang menarik perhatianku adalah film sempat nunjukin adegan Bara dengan ayahnya bermain basket. Ini adalah kedua kalinya dalam waktu dekat aku melihat adegan ayah-anak bonding dengan bermain basket ini dalam film Indonesia – satunya lagi di Terlalu Tampan (2019). Adegan main basket ayah anak ini digunakan untuk membangun kedekatan emosional pada kedua tokoh; yang membuat aku penasaran adalah kenapa basket? Aku gak sadar apa memang basket sudah menjadi sepopuler itu di Indoneisa. Atau apakah ada filosofi di baliknya? Kalo di film luar, yang kita sering lihat adalah ayah dan putranya bonding lewat permainan lempar tangkap di mana mereka bisa punya waktu untuk mengobrol, ada koneksi yang tersimbolkan ketika bola itu berpindah tangan; emosi ayah ditangkap oleh anaknya. Atau pergi mancing seperti Bart dengan Homer. Atau ngajarin naik sepeda kalo anaknya masih kecil banget kayak Kun di Mirai (2018). Sekali, seingatku, di Barbershop: The Next Cut (2016) aku melihat Ice Cube main basket sambil nasehatin anaknya, dengan konteks anaknya mengalahkan si bapak, menunjukkan ketidaksetujuan terhadap idealismenya. Anyway, percakapan antara Bara dengan ayahnya truly menunjukkan jalinan hubungan emosional yang kuat, dan meski aku gagal melihat pentingnya harus-basket, setidaknya film membuat basket tetap ada hingga akhir cerita.

Mungkin kalian bingung kenapa aku malah begitu mempermasalahkan basket, well, itu karena saat menonton ini aku seperti melihat seorang pebasket yang udah lumayan meyakinkan namun meleset saat berusaha menembak tiga-angka. The Way I Love You punya amunisi yang cukup sebagai cerita remaja yang beneran hangat dan istimewa. Dia juga berani karena bukan adaptasi dari apa-apa. Film ini punya sesuatu untuk diceritakan, penampilannya pun udah remaja banget. Aku suka sekali gimana film menggunakan blog di era facetime-an untuk menguatkan karakter Senja dan si Badboy. Aku suka gimana film ini menangkap ‘gembira’nya punya chatting sama orang yang mengerti kita, membuat kita merasa mengenal dirinya. Aku juga suka humor ringan yang enggak kelihatan untuk melucu yang hadir sebagian besar lewat penampilan natural dari Tissa Biani yang memerankan Anya. Hanya saja bangunan ceritanya rusak karena pilihannya untuk menjadi punya twist. ‘Penyakit’ klasik film-film Indonesia yang berusaha mencari jumlah penonton.

Maaf aku enggak menyesal akan membeberkan banyak poin-poin yang dijadikan twist pada film ini karena menurutku film ini enggak perlu untuk punya twist. Maksudku, lihat saja posternya, Senja dan Bara mejeng berdua, mereka sudah terang-terangan dipajang begitu sehingga kenapa ceritanya musti nitip-nutupin kedua tokoh ini pada akhirnya akan bersama. Film ini begitu twist-minded, merasa perlu untuk menyembunyikan sesuatu, sehingga seperti sendirinya lupa ingin menceritakan apa. Sepuluh menit pertama, diperlihatkan Senja yang enggak mau pisah ama Anya, dia gak marah saat buku jurnal/diarinya dihilangkan Anya. Elemen dua tokoh ini punya pasangan itu adalah konflik untuk menguji apakah si Cewek-yang-Telah-Kehilangan-Segalanya tega mengambil kepunyaan orang yang ia sayang. Siapa sebenarnya Badboy tidak pernah menjadi persoalan utama, semestinya. Namun the way this film goes seolah Badboy itu adalah twist, padahal bagi kita yang mengerti twist yang berhasil mereka buat adalah bahwa ini adalah cerita tentang cinta antara dua sepupu yang udah kayak kakak-adik; Senja dan Anya.

gimana Rasya bisa tahu percakapan Senja dengan Badboy adalah antara dia begitu pintar menerka atau naskah yang memang lemah

 

 

Skrip film ini jadi terasa begitu-belum sempurna. Ada banyak poin-poin yang hilang tak terjelaskan. Seperti si Rasya yang enggak nongol lagi, kita tidak tahu siapa dia sebenarnya, kenapa dia suka ama Senja, atau bahkan dari mana ia datang. Dengan tujuan untuk ngasih kejutan, tentu kita mengira film ini matang memikirkan urutan kejadian yang ditampilkan, dari A ke B harus ada penggerak, setidaknya kita bisa mengandalkan film memperhitungkan hal tersebut kan? Tidak, sayangnya. Tiga-puluh menit pertama, kita mendapatkan dua adegan tabrakan, tiga adegan ‘enggak sengaja’, film ini berjalan dengan banyak kebetulan. Menakjubkan, untuk sebuah cerita tentang cinta yang menemukan jalan, apakah film tidak bisa memikirkan jalan lain untuk menyampaikan cerita dengan lebih matang dan masuk akal? Lucunya, bahkan film ini menjadi semakin meta dengan ada tokoh yang sengaja menciptakan adegan tabrakan.

Ada satu aspek yang buatku meruntuhkan bangunan cerita film ini. Katakanlah semacam plot-hole. Karena cerita film ini bakal beda jika si satu tokoh ini enggak berbuat demikian bego. Ceritanya diserahkan kepada kerelaan kita untuk menganggap tokohnya enggak bisa berpikir. Yang mana plot film ini jadi terlihat maksa karena si tokoh sama sekali enggak bego. Kalian tahu, manis banget memang melihat Bara mencoba mencari pemilik tulisan buku yang ia pungut, ia diam-diam membandingkan tulisan itu dengan tulisan cewek-cewek lain kayak Pangeran nyari pemilik sepatu kaca. Tapi toh semua usaha Bara itu tak perlu, karena di buku itu tertulis nama Senja. Dia tinggal mencari anak di sekolah mereka yang bernama Senja. Dan masa iya dia hingga babak ketiga tidak tahu tokoh si Syifa Hadju ini bernama Senja? Padahal seharinya Bara bersama-sama Anya yang ceplas-ceplos. Dia bahkan melihat buku yang ia pungut itu sebelumnya dipegang oleh Anya. Tinggal tanya Anya!! Bara juga sempat membaca tulisan Senja di majalah ketika dia berkonfrontasi dengan Senja, ia tahu cewek itu yang nulis – tidak terterakah nama penulis di majalah tersebut. Aku sempat ‘ngalah’ dengan berpikir mungkin Bara memang ditulis bego, pasif, dan begitu pemalu jadi mungkin dia sudah tahu Senja adalah yang punya buku tapi tidak mau come up, lagipula dia punya hubungan dengan cewek di blog. Namun datanglah adegan ketika Bara melihat buku catatan Senja dan langsung bisa menyimpulkan pemilik buku dan cewek di blog adalah orang yang sama. Mungkin juga, melalui tokoh Bara ini film ingin menunjukkan contoh creepy dari emotional intimacy.

 

 

 

Buatku elemen buku jurnal itu sama sekali tidak perlu karena membingungkan logika. Pencarian tulisan tangan itu maksa make sense-nya. Cukup dengan blog. Karena lebih masuk akal dan efeknya lebih kuat, lihat saja di Love, Simon (2018).  Juga gak perlu di-twist siapa Badboy, karena tanpa itu kita bisa lebih terarah dibangun ke pertengkaran atau konflik antara Senja dan Anya karena merekalah fokus utama yang sebenarnya. Film ini sebenarnya punya pesona tersendiri, lucu, hangat, bukanlah tontonan yang dibuat dengan ngasal. Kalian tahu betapa aku sangat menghargai cerita orisinil. Tapi cerita film ini terasa masih seperti draft yang butuh beberapa kali penyesuaian lagi supaya menjadi maksimal.
The Palace of Wisdom gives 2.5 out of 10 gold stars for THE WAY I LOVE YOU.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Nyamankah kalian curhat di blog atau sosial media? Ataukah kalian lebih suka curhat di jurnal atau diari? kenapa?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

ALITA: BATTLE ANGEL Review

“The body knows things the mind will not admit.”

 

 

Di saat buku komik mungkin masih dilecehkan di negara kita, kesuksesan cerita superhero –  fakta bahwa cerita kebaikan melawan kejahatan biasanya hadir bersama layer tentang isu-isu sosial yang lebih dalem dalam cerita fantasi seperti ini -membuat para pembuat film mulai melirik komik dari negara luar. Penggemar anime atau manga (alias ‘kartun Jepang’) seluruh dunia pastilah sekarang-sekarang ini sudah merasa hidup di utopia masa depan. Bukan saja karena materi-materi sarat makna nan keren dan selama ini sebenarnya sudah dijadikan inspirasi oleh film-film Hollywood tersebut sudah semakin mudah diakses. Ide adaptasi menjadi film yang bener-bener dibuat dengan ‘mirip’, dengan serius, dengan teknologi yang memungkinkan; nyata-nyata sudah bukan mimpi lagi.

Makanya, jangan malu kalo mulut kita ternganga semakin lebar seiring cerita Alita: Battle Angel ini berjalan. Penonton-penonton di sekitar kita juga sama, kok. James Cameron sudah lama mengumumkan dia tertarik mengangkat Alita yang berasal dari manga buatan Yukito Kishiro tahun 1990 ke layar lebar. Dan melalui film ini kita dapat melihat, Cameron benar-benar peduli dan passionate sekali terhadap dunia yang sedang berusaha ia berikan nyawa. Film ini sendiri adalah mesin, dengan Cameron dan sutradara Robert Rodriguez sebagai gepeto cyberpunk-nya. Pengaruh dari gaya manga berusaha mereka pertahankan, sembari melandaskan gaya dan cara bercerita yang dapat diterima oleh pasar mainstream. Bukan tugas yang mudah memang, tapi nyatanya; Alita yang meskipun bukan kreasi sempurna ini tetap dapat menghibur dan menonjok kita dengan keasyikan dan keseruan.

Rongsokan kepala cyborg ditemukan oleh Christoph Waltz saat ia yang berperan sebagai Dr. Ido berjalan di junkyard Kota Besi. Terkenal sebagai tukang reparasi barang-barang cyborg, sang dokter mengkonstruksi ulang tubuh untuk tempat kepala yang ternyata masih ‘hidup’ tersebut. Si cyborg cewek kini Rosa Salazar yang oleh efek dibuat bermata gede kayak tokoh komik seutuhnya, diberi nama Alita. Dan walaupun ia tidak bisa mengingat siapa dirinya di kehidupan yang lama, untungnya muscle memory si Alita masih bekerja; dia bisa melakukan berbagai macam hal menakjubkan – bahkan untuk ukuran dunia di mana penduduknya sebagian besar sudah menjadi separuh cyborg – terutama dalam hal berantem. Malahan setiap kali berantem, Alita mendapati ada kenangannya yang sedikit terbuka. Maka Alita mendaftar menjadi Hunter-Warrior untuk nge-jog ingatannya, sehingga kita bisa melihatnya melakukan aksi-aksi keren dalam petualangan mencari tahu siapa dirinya yang sebenarnya.

“Alita de Ángel, sonrisa de cristal~~”

 

 

 

Apa yang terjadi kepada Alita sebenarnya enggak jauh-jauh dari yang otak kita lakukan setiap kali kita mempelajari suatu kepandaian. Istilahnya muscle memory, yang meskipun disebut muscle, namun tetap tersimpan di otak – bukan di otot. Inilah mengakibatkan kita gak bakal pernah lupa lagi gimana caranya naik sepeda begitu kita sudah bisa saat umur lima-tahun, meskipun kita sudah bertahun-tahun setelah itu kita enggak nyentuh lagi yang namanya sepeda. Bekerja seperti insting, tubuh akan membantu mengingat apa yang dilupakan oleh pikiran. Karena itulah, seperti Alita, kita tidak akan mudah melupakan apa yang sudah kita pelajari.

 

Seperti yang sudah ia perlihatkan sebelumnya di Avatar (2009), Cameron adalah orang yang rela jor-joran demi mencapai hasil yang maksimal. Untungnya dia tidak lupa akan kepandaiannya yang satu itu. Dunia Alita terbangun menawan dengan efek-efek yang luar biasa spektakuler. Wujud tokoh-tokohnya yang setengah robot sungguh memanjakan imajinasi, dan semuanya kelihatan asli. Kita gak menyipit aneh melihat perwujudan Alita yang tampak seperti langsung dicomot dari halaman komik. Efeknya menyatu begitu mulus sehingga tampak serapi topeng yang dikenakan Luna Maya ketika berperan menjadi Suzzanna. Dari segi penampilan saja sepertinya film ini sudah memuaskan banyak penggemar manga yang menyempatkan waktu untuk ke bioskop menyaksikan favorit mereka.

Alita memang dibuat lebih menonjolkan visual. Karena tak seperti Ghost in a Shell (2017) yang dibuat dengan banyak bincang filosofi pada tubuh luarnya, Alita berada di jalur yang lebih ‘sebuah hiburan’. Film ini mengandalkan banyak adegan aksi yang memang dibuat sangat memukau. Entah itu adegan berantemnya yang super asik sekaligus penuh violence yang berstyle tinggi (banyak darah dan banyak oli yang tertumpah!), maupun sekuen olahraga ekstrim Motorball yang udah kayak balapan robot, semuanya di-craft sebagai bangunan-bangunan untuk pusat hiburan para penonton. Jika Harry Potter punya Quidditch dan Hunger Games punya ehm… Hunger Games, film ini punya Motorball; olahraga khusus di dunia ceritanya yang udah jadi semacam ‘maskot’. Dalam Motorball para pemain akan berkejar-kejaran memperebutkan bola metal yang bakal digunakan untuk mencetak angka, dan dari rebutan bola inilah kekerasan dan kesakitan para pemainnya dapat dengan mudah tercipta. Film dengan baik membangun minat kita dan Alita – kita melihat Alita latihan, diajarin main, dan kalah, baru kemudian jadi ‘atlet’ beneran  – terhadap permainan ini yang tak sekedar ditempel ke dalam cerita.

serius deh, aku kepengan lihat menagan siapa Alita melawan No. 18. In 3-D!

 

Di balik keseruan itu, film ini menyelipkan komentar tentang bagaimana perilaku masyarakat dalam sebuah lingkungan kumuh di mana tujuan hidup penduduk kota tempat Alita tinggal adalah supaya bisa punya uang cukup untuk ditransfer ke Zalem, kota ‘surga’ yang tertambat melayang di atas kota mereka. Ini adalah masyarakat yang literally hidup di bawah bayang-bayang. Mereka mengusahakan segala cara, kita bisa bilang ini adalah cerminan kehidupan kriminal yang sebenarnya hanya mendambakan kehidupan yang lebih baik. Dalam usahanya membangun franchise, menghantarkan kita ke sekuel, film dengan bijaksana membuat kota Zalem di atas itu sebagai misteri. Kita tidak pernah diperlihatkan seperti apa di sana. Kita juga hanya mendengar rumor tentang enaknya tinggal di sana.

‘Musuh besar’ yang harus dihadapi Alita bersumber seseorang yang disebut Nova. Ia tinggal di Zalem dan kita hanya sesekali diperlihatkan wujudnya. Kita diharapkan bersabar untuk melihat konfrontasi beneran antara Alita dengan Nova – film menyimpannya untuk sekuel. Di film ini, Nova berinteraksi dengan Alita lewat kaki-tangannya yang berkuasa di Kota Besi. Edward Norton malah tidak muncul di kredit IMDB film ini. Oleh karena itulah, Nova tampak sangat satu-dimensi; dia ‘sebatas’ evil presence yang bikin kekacauan di antara rakyat jelata; seorang kaya yang berusaha mengatur dunia dengan duitnya. Dan bahkan kita tidak benar-benar melihat aksinya. Treatment begini juga berdampak kepada tokoh yang mestinya jadi musuh yang harus dikalahkan di film ini. Diperankan dengan canggung oleh Mahershala Ali, Vector tidak pernah tampak benar-benar penting. Kita diperlihatkan dia memang punya agenda jahat sendiri – dia lebih ingin jadi Hades ketimbang jadi pelayan Zeus – tetapi dengan seringnya dia dirasuki oleh Nova, tokoh ini tak membekas. Aku bahkan gak yakin entah harus membenci atau mengasihani dirinya. Begitu pula halnya dengan tokoh Chiren (Cungkar hihihi); Jennifer Connelly dapat porsi yang paling kurang di sini. Tokohnya diniatkan menambah sesuatu pada cerita, hanya saja malah jadi terlihat membingungkan karena begitu minimnya pengaruh dan porsi karakternya.

Yang mungkin paling mengganggu buat para penonton (buatku sih iyes) adalah elemen romance yang jatohnya malah jadi terlalu melodramatis. Elemen penting ini memang ada di sumber aslinya, kita pun bisa memahami ada kepentingan untuk membuat Alita jatuh cinta kepada seorang manusia, tapi bagaimana film menggambarkan hal tersebut – tanpa komedi-berarti yang menjadi katalis antara violence, action, dan dramatisasi ini – membuat kita berharap elemen ini lebih baik ditiadakan saja. Atau, masa sih mereka gak bisa mikirin cara yang lebih baik dari ini. Pace cerita menjadi tidak seimbang oleh karena elemen romantis yang melempar kita semua dari jalur yang kita sudah mengencangkan sabung pengaman. Film ini hampir menyentuh level ke-cheesy-an dialog pasir antara Anakin dengan Padme lewat dialog Alita yang literally menyerahkan hatinya.

 

 

 

 

 

Menyenangkan sekali manga dan anime terus dibuat menjadi film yang penuh perhatian terhadap sumber aslinya. Melegakan bahwa industri akhirnya menyadari potensi pasar dari sumber-sumber tersebut. Film ini, diniatkan sebagai pilar pondasi dari segi hiburan, terasa begitu mainstream dengan segala aksi dan kebrutalan yang seru, yang tergambarkan lewat visual dan produksi yang enggak main-main. Tapi mengingat ini dari manga, akan ada beberapa hal yang terasa aneh. Bagian cinta-cintaan itu, misalnya. Aku paham menyuruh orang membaca dulu materi asli sebelum menonton film adaptasi adalah tindakan yang sama adilnya dengan menyuruh orang harus tahu bikin film dulu sebelum mengomentari sebuah film. Karena film adalah media yang berbeda. Penonton pun bebas ingin menilainya secara ‘close reading’ ataupun secara kontekstual. Untuk kasus film ini, however, aku pikir penggemar manganya atau paling tidak orang yang mengerti bagaimana pakem manga/anime akan lebih bisa menikmati gaya berceritanya.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for ALITA: BATTLE ANGEL.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Pernahkan kalian mengalami suatu kejadian ketika tubuh terasa bergerak duluan sebelum sempat berpikir? Enggak termasuk waktu lagi mencret loh ya hhihi

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

 

 

 

MIRAI Review

“A sibling represents a person’s past, present, and future.”

 

 

Setiap anak pertama kepengen punya adik. Berdasarkan pengalaman aja sih, walaupun kejadiannya di usia empat-tahun, aku masih ingat jelas berlarian bolak-balik dari pintu depan ke pintu samping, nungguin orangtua pulang dari rumahsakit. Membawa adik bayi. Dan si adik harus cewek! Supaya gak ngambil mainan robot-robotanku, anak cewek mainannya boneka; sudah aku siapkan juga beberapa yang kayak boneka susan.

See, beberapa menit masuk ke film Mirai aku merasa relate banget ama si Kun, yang juga berumur empat dan menunggu kedatangan adik barunya dengan tidak sabar. Tapi tidak seperti diriku, Kun belum siap. Hati-hati terhadap permintaanmu, terutama jika kau tak mengerti apa yang kau minta. Anak seusia Kun belum memahami konsep keluarga. Pikirnya ‘adik’ mungkin sekedar teman yang mampir, atau mungkin mainan baru. Kun tidak mengerti dirinya sekarang menjadi abang. Bahwa adik adalah bagian dari keluarga, posisinya lebih dari anjing peliharaan mereka. Maka Kun pun mengalami apa yang disebut orang dewasa sebagai krisis status diri. Dia menjadi sangat iri ketika semua perhatian ibu dan ayahnya diambil oleh si adik, yang diberi nama Mirai. Dalam ngambek dan rengekannya setiap kali dimarahin ibu karena sudah membuat Mirai menangis, Kun pergi ke taman rumahnya di mana dia bertemu dengan anggota keluarganya yang datang kadang dari masa depan, kadang dari masa lalu. Lewat mereka-mereka ini, terutama Mirai versi remaja, Kun mengarungi zona waktu dan berjuang – dalam kapasitas anak seusianya – belajar memahami apa sebenarnya arti sebuah keluarga.

“Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu”

 

Mamoru Hosoda sudah enggak diragukan lagi punya otak yang brilian sebagai sutradara film animasi. Karya-karyanya – The Boy and the Beast (2015), Wolf Children (2012), Summer Wars (2009) – bukan saja indah untuk dilihat, melainkan juga punya visi yang begitu kuat yang terasa begitu ingin ia komunikasikan kepada para penonton.. bahkan Digimon garapannya saja terasa lebih sedikit berisi. Mirai bukan termasuk pengecualian. Tertampil dalam kemulusan dan keelokan visual yang sudah kita harapkan, film ini berwarna oleh karakter-karakter yang begitu nyatanya sehingga kita jadi lupa mereka cuma tokoh animasi. Kun, ayahnya, ibunya, seperti orang yang benar-benar ada di dunia nyata. Tema fantasi yang dipunya oleh cerita tidak menjadikan film ini jauh, malahan membuatnya semakin grounded sebab fantasi yang kita lihat tersebut dengan kuat dan efektif melambangkan apa yang dilalui oleh karakternya, yang juga pernah dialami oleh kita.

Bagi anak kecil, secara keseluruhan film ini akan terasa sedikit berat. Fantasi yang ada tidak selamanya membawa mereka ke ranah keajaiban seperti pada cerita Alice ataupun Mary Poppins, sebagian besar yang kita saksikan adalah Kun dibawa ke masa ibunya masih seusia dirinya, atau lebih jauh lagi ke zaman kakek buyutnya masih segar bugar. Penonton cilik akan butuh bimbingan untuk mengikuti cerita, untuk memahami apa yang sedang dialami oleh Kun. Karena dalam petualangan Kun inilah letak pembelajarannya. Seperti misalnya petualangan Kun dengan kakek buyutnya sebenarnya adalah pelajaran mengatasi rasa takut yang dialami oleh Kun dalam belajar menaiki sepeda roda dua. Ataupun ketika Kun ngambek sama keluarganya, kita langsung dibawa ke dunia di mana Kun tersesat di stasiun kereta api, dia mengalami kejadian yang buat orang dewasa relatif kocak, namun akan sangat menakutkan buat anak kecil; ini jadi pembelajaran Kun harus mengakui gimana satu anggota keluarga punya keterikatan dengan yang lain, meskipun sering marah-marahan.

Anak kecil bisa meledak oleh begitu banyak emosi yang ia rasakan sekaligus. Karena mereka belum belajar mengontrolnya. Anak kecil seperti Kun yang gembira punya adik baru, tetapi pada saat bersamaan ia cemburu lantaran sang adik mencuri perhatian ayah ibu, mengambil kasih sayang mereka darinya. Juga ada beban yang ia rasakan ketika ayah ibu mengharapkan tanggung jawab dan kelakukan yang lebih baik darinya, yang serta merta akan menjadi penolakan jika anak sulung seperti Kun tidak diberikan pengarahan ataupun bimbingan.

 

 

Sementara perspektif cerita dibuat begitu konstan dan benar dari sudut pandang anak empat tahun (yang memang digambarkan sedikit lebih ‘dewasa’ dan pintar dibanding balita yang pernah kutahu) dalam melihat masalah keluarga dan eksistensi dirinya, di sisi sudut imajinasi, bangunannya sedikit enggak kokoh. Akan jauh lebih menantang jika film ini membuat elemen fantasi yang dialami Kun sebagai ambigu; kita tidak dibuat tahu pasti apa itu semua hanya imajinasi ataukah sebuah kejadian yang benar-benar terjadi. Film punya ‘modal’ untuk membuatnya demikian. Di awal-awal, Kun sudah dibangun sebagai anak yang punya imajinasi kreatif, menjelang akhir aku malah masih percaya bahwa semua kejadian ‘time-travel’ itu hanya imajinasi Kun – dia berinteraksi dengan kepalanya sendiri. Namun kemudian film melakukan adegan-adegan di mana akan menjadi mustahil Kun mengetahui sesuatu tanpa beneran ada orang yang memberitahu. Seperti si kakek buyut tadi. Saat mereka bertualang, Kun menganggap pemuda pincang yang ia temui itu adalah ayahnya. Namun setelah sekuen tersebut, kita menyaksikan Kun surprise melihat foto si pemuda ada di album keluarga, dan ibunya menyebut itu adalah kakek-buyutnya. Tidak mungkin Kun bisa membayangkan wajah orang yang belum pernah ia lihat, membayangkan apa pekerjaannya. Juga ada adegan ketika Kun menaruh surat maaf di dalam sepatu ibunya, meniru apa yang ibunya semasa kecil lakukan kepada nenek. Tidak mungkin Kun membayangkan sendiri detil ini – jadi pastilah dia benar-benar mengarungi waktu dan bertemu dengan ibunya waktu kecil.

tut..tut…tutt.. siapa hendak takut

 

Dan hal tersebut, buatku, mengecilkan perjalanan yang dilakukan oleh Kun. Setiap ada masalah, dia dengan convenient-nya dibawa oleh kekuatan pohon di taman untuk belajar dari anggota keluarga dari masa yang lain. Membuat kekuatan ‘time-travel’ itu benar-benar ada juga mengurangi nuansa fantasi yang diusung oleh cerita. Tidak lagi terasa sureal. Akan lebih memberikan impresi jika film tidak memberikan kepastian soal pertemuan Kun dengan orang-orang tersebut. Apalagi tokoh anjing peliharaannya juga dimunculkan sebagai karakter yang menyerupai manusia – yang sama sekali berada di luar konteks perjalanan menembus waktu. Jikapun memilih untuk tidak ambigu, film seharusnya mengambil rute yang sama sekali absurd, fantasinya betul-betul yang gak-masuk-akal seperti anjing yang menjadi manusia tersebut, sehingga lebih cocok dengan fantasi anak kecil seperti Kun.

Film ini membahas tentang ‘derita’ seorang anak pertama, yang sesungguhnya bukan berarti meniadakan cinta yang dirasa. Ada banyak ‘keuntungan’ yang diperlihatkan oleh film ini secara tersembunyi. Dalam kapasitasnya, film justru menyadarkan kita bahwa jadi anak pertama itu adalah anugerah dan keasyikan tersendiri yang tersembunyi di balik kecemburuan kekanakan.

 

 

 

Kemunculan sekuen time-travel yang seperti episode-episode ini juga membuat pace cerita sedikit gak imbang dan lumayan repetitif. Masalah – masuk sekuen – selesai dengan layar hitam. Penceritaan seharusnya bisa dibuat dengan lebih baik lagi. Memang agak mengecewakan jika kita mengingat ini adalah buatan dari sutradara sekreatif Mamoru Hosoda. Tapi bukan berarti film ini enggak bagus. Masih banyak kesenangan yang bisa kita dapatkan saat menonton. Penampilan voice akting yang meyakinkan – aku baca di IMDB versi amerika disuarakan di antaranya oleh Rebecca Hall dan John Cho yang membuat aku penasaran karena yang aku tonton ini adalah versi sub inggris yang berbahasa Jepang. Karakter-karakter yang ditulis seperti orang beneran sehingga relatable. Film ini menyentuh ranah yang tidak berani disentuh oleh animasi anak-anak kebanyakan, di mana tokohnya yang begitu muda dieksplorasi dengan sangat mendalam dan terasa begitu personal.
The Palace of Wisdom gives 6.5 gold stars out of 10 for MIRAI.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Anak urutan keberapakah kalian? Pernahkah kalian pengen punya adik, atau pengen punya kakak? Dan sebaliknya, pernahkah kalian merasa menyesal udah minta adik, atau kalian harap kalian gak punya abang atau kakak?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

 

 

 

TERLALU TAMPAN Review

“Being attractive might sounds like life is easier but it’s not”

 

 

 

Akan ada masanya setiap remaja memahami makna ‘seleksi alam’ di rimba kemanusiaan. Ketika mereka melihat yang cakep dikasih izin istirahat di UKS oleh pak guru olahraga. Ketika mereka melihat yang ganteng gak pernah digalakin bu guru karena lupa mengerjakan pe-er. Ketika mereka melihat ada saja satu-dua teman mereka yang selalu dikerumunin meski gak jelas prestasinya apaan. Ketika mereka menyadari ada yang beberapa ‘hidup’nya tampak lebih mudah di sekolah dibanding mereka sendiri. Mudah untuk membandingkan hidup kita dengan hidup orang yang kita nilai lebih beruntung dan berpikir “Ah kalo saja aku lebih tinggi”, “kalo saja aku lebih langsing”, “kalo saja aku lebih putih”, “kalo saja aku lebih seksi”. Kalo saja aku lebih….. tampan.

Tapi semua itu mungkin saja tidak benar. Menjadi super kece dan selalu menjadi pusat perhatian tentu saja bisa membuat jengah orang yang mengalaminya. Mas Kulin (Oh, Ari Irham di manakah pori-pori wajahmu?), misalnya, terlahir dengan wajah yang saking overdosisnya tuh kadar ganteng, cewek-cewek yang melihat bisa langsung mimisan, kejang-kejang. Dalam satu adegan yang sangat kocak digambarkan kedatangan Kulin ke sekolah khusus perempuan membuat siswi-siswi di sana mengalami histeria massa. Bukan saja ‘lethal‘ buat wanita, ketampanan Kulin juga berpengaruh pada laki-laki. Cowok yang terkena keringatnya bakal ketularan ganteng, setidaknya selama sejam dua jam. Jadi Kulin merasa terasing oleh sikap-sikap orang yang berada di sekitarnya. Kulin menutup diri, menolak untuk berinteraksi sosial, sampai ia berkenalan dengan Kibo (tokoh Calvin Jeremy berperan lebih dari sekedar side-kick) yang lantas menjadi sobat manusia pertama yang Kulin punya. Dan bertemu dengan Rere (Rachel Amanda mencuri perhatian banget), satu-satunya cewek manis yang enggak pingsan dan mimisan saat melihat dirinya.

Kulin edisi 10 Years Challenge

 

Film ini terlalu unik untuk dicuekin. Jika biasanya cerita akan mengajak penonton bermimpi untuk jadi ganteng, maka film ini menawarkan sudut pandang baru, yang meletakkan kita pada posisi seseorang yang merasa terganggu dengan perhatian spesial dan reaksi kagum berlebihan yang ia dapatkan dari orang-orang di sekitarnya. Kita akan mendapat Kulin yang bersikap sama kayak Auggie, anak di film Wonder (2017); Kulin juga memilih untuk menutup wajahnya dengan helm. Kalian yang sudah menonton Wonder pasti akan bisa melihat uniknya paralel antara Kulin dengan Auggie yang memilih pendekatan berinteraksi  ke luar yang sama, meskipun kondisi mereka berbeda seratus delapan-puluh derajat. Momen-momen Kulin melepas helm tersebut – alih-alih digunakan untuk memantik drama seperti Auggie di Wonder – digunakan sebagai pemancing efek komedi yang benar-benar bikin geger seisi studio bioskop. Dari penggunaan nama-nama tokoh yang lucu; keluarga Kulin yang tampan semua (termasuk ibunya) punya nama yang ajaib seperti Mas Okis, Pak Archewe, Bu Suk, yang mengingatkanku sama nama-nama di komik Donal Bebek dan komik Asterix, hingga ke dialog dan adegan konyol, film menangani porsi komedinya yang absurd tersebut dengan sangat bijaksana. Timing, delivery, semuanya dilakukan dengan pas, dan tidak sekalipun tone komedi tersebut dibuat mentok sama tone drama yang juga dibangun dengan merayap perlahan sebagai lapisan di baliknya.

Well-crafted sekali gimana komedi dan drama tersebut dijalin. Film tidak pernah kehilangan irama dalam menempatkan unsur-unsur yang berpengaruh ke dalam cerita. Bahkan gerakan kamera juga diperhatikan benar mendukung ke penyampaian komedi. Penggunaan warna-warna dan treatment musik, tidak pernah terasa ‘asal tarok’, semuanya berfungsi dan sangat mengangkat emosi dan cerita yang ingin dihantarkan. Adegan Kulin, Kibo, dan Rere nyanyi di karaoke, itu misalnya; bukan hanya pemilihan lagu, blocking para pemain juga dibuat punya makna. Perlakuan-perlakuan seperti demikian, bercerita dengan perhatian terhadap detil seperti yang dilakukan oleh sutradara Sabrina Rochelle Kalangi inilah yang membuat menonton film ini menjadi mengasyikkan, di luar komedinya yang benar-benar sengaja konyol. Gaya filmnya pun unik. Karena diadaptasi dari komik online di Webtoon, sedikit banyaknya kita mendapati gaya-gaya pengaruh manga tertampilkan di film ini.

Aku tidak pernah membaca materi aslinya, aku gak punya pengetahuan apa-apa terhadap cerita film ini, jadi aku sangat tertarik untuk mengikuti ke mana kisah Kulin ini akan dibawa. Melihat Kulin yang sebenarnya penampilan, pembawaan dan kelakuannya enggak cocok dengan imej maskulin, paruh pertama film seperti ingin membawa pesan yang sama dengan iklan pisau cukur Gillette yang lagi viral di Amerika; bahwa jantan atau maskulin itu bukan semata perilaku-perilaku stereotipe ‘pria’ seperti ngomong kasar, main pukul, atau godain cewek – bahwasanya kupikir film ini lewat si Mas Kulin ingin mengomentari bahwa maskulin bukan soal penampilan. Namun kemudian, di paruh kedua, saat Kulin sudah mengembrace ketampanan yang ia miliki, film mengambil keputusan untuk lebih menonjolkan pesan bahwa setiap manusia punya kekurangan.

Punya paras rupawan ternyata tidak lantas menjadikan hidup menjadi segala mudah, tidak lantas berarti kita bisa mendapatkan semua yang kita mau. Karena sejatinya, wajah tidak membuat kita spesial. Rujukan pertama tetap kepada hati dan apa perbuatan yang kita lakukan.

 

Buatku, agak mengecewakan pilihan yang diambil oleh cerita. Aku paham kenapa cerita memilih untuk mengarah ke sana, hanya saja tetap saja ada rasa mubazir; Sia-sia rasanya elemen ‘terlalu tampan’ yang sudah dibangun sedemikian rupa, dengan konsep dan gaya humor yang lucu, yang punya underline pesan yang kuat, ternyata cuma berfungsi sebagai device dalam plot ‘saingan cinta ama sahabat’. Masalah tampannya ini pada akhirnya tidak lagi benar-benar mencuat karena tokoh utama kita terlibat dalam urusan romansa yang bisa terjadi pada siapapun, pada tokoh yang seperti apapun. Tampannya si Kulin hanya dijadikan alasan yang membuat penonton percaya dia bisa bikin deal dengan ‘Queen Bee’ di sekolah khusus wanita itu, yang menggerakkan konflik generik tersebut. Rasanya film ini remeh sekali mengambil fokus di sana, setelah semua hiruk-pikuk unik yang sudah kita nikmati.

while si angkuh Amanda mirip Regina George, Nikita Willynya mirip Lady Gaga hhihi

 

Ada sesuatu pada penulisan cerita film ini yang ‘enggak-beres’ buatku. Apa yang diinginkan oleh Kulin di awal – apa yang sebenarnya ingin dicapai oleh si Kulin ini terasa agak enggak klop. Film belum benar-benar membuat kita menyelam ke dalam kepalanya. Kulin butuh untuk diperlakukan layaknya manusia normal, tapi kita tidak diberikan kesempatan untuk melihatnya sebagai orang normal. Sebagai perbandingan, kita ambil contoh si Auggie tadi; di balik helm astronotnya Auggie adalah anak yang pintar fisika – dia mendapat respek dari kepintarannya. Sedangkan Kulin, helmnya digunakan untuk menutup wajahnya karena ia gak mau dikejar-kejar – dia mau dilihat normal, tapi Kulin tidak melakukan hal yang membuat orang melihat dirinya beyond his face. Apa kelebihan Kulin? Ini bukan soal gak pede, melainkan soal ia begitu ‘pede’ setiap orang akan menganggapnya spesial, maka ia memutuskan untuk menutup diri. Makanya Kulin ‘kaget’ ketika Rere menganggapnya biasa aja, dan apa reaksi Kulin terhadap Rere? Dia merasa dia ‘jatuh cinta’. Aku berani bertaruh bukan cinta yang sebenarnya ia rasakan, melainkan rasa penasaran. Buktinya di akhir film kita melihat hati Kulin menyala lagi mendengar komentar ‘pedas’ seorang cewek yang berbalik pergi mengenai dirinya. Buatku, Kulinlah yang justru seorang masokis, karena dia ‘suka’ ketika ada orang yang menolak dirinya yang spesial.

Bukan berarti film ini berhenti menjadi menarik buatku. Aku tetap menemukan keasyikan. Bagian ketika Kulin balik minta saran bagaimana bersikap sebagai tampan kepada abangnya yang basically seorang douchebag, ialah bagian yang membuatku paling tertarik karena ini mengubah sikap Kulin lumayan drastis. Karakter Kulin jadi unik lagi di sini sebab dia mengambil tindakan lagi. Mengenai si Kulin ini memang penulisan karakternya agak ilang-timbul. Seperti pada di awal, setelah dia menarasikan film, kita malah diperlihatkan kejadian di luar sudut pandang dia. Kita memulai dari sudut pandang keluarga Kulin yang bersekongkol untuk membuat Kulin berinteraksi dengan orang luar. Dan kemudian barulah kita mengikuti si Kulin, kita diharapkan bersimpati ketika dia ngambil keputusan untuk minggat sebab keluarganya dengan kocak mengambil keuntungan dari ketampanannya; sesuatu yang paling dibenci ama Kulin. Namun kemudian di beberapa adegan setelahnya, kita melihat Kulin ikutan bersorak dengan teman-teman sekolahnya saat mereka disetujui ngeadain prom gabungan – di mana Kulin gagal untuk menyadari dia juga sedang dimanfaatkan kegantengannya.

Aku juga mendapati adegan konsul dengan ibu juga sedikit enggak klop karena seperti ‘memberatkan’ kepada dunia. Yea, dunia took advantage of him, tapi kan Kulin sudah melakukan hal yang sama saat dia menjadi ‘cowok brengsek’ kepada teman-temannya, dan justru ulahnya sendiri yang membuat dirinya patah hati. Yang menarik adalah nasihat dari ayahnya yang sebenarnya mengatakan apa yang sudah menjadi prinsip Kulin pada awal cerita. Jadi Kulin seperti berputar di tempat, menandakan penuturan yang sedikit kurang efeisien, padahal toh perjalanan karakternya menarik; Yang Kulin perlukan adalah keluar dan berbuat salah sehingga dia sendiri juga menyadari dia enggak sesempurna yang orang-orang lihat.

 

 

Terakhir kali mendengar cerita huru-hara ketampanan, aku mendengarnya sambil serius dan agak ngeri karena ada ‘adegan’ jari-jari yang teriris. Kali ini, cerita yang punya masalah serupa tersebut bisa aku simak sambil tertawa-tawa tanpa harus segan sama Pak Ustadz. Film ini memberikan tawaran sudut pandang dan gaya yang unik sehingga terasa segar dan menyenangkan. Kita perlu melihat lebih banyak film ‘aneh’ tapi juga berisi. Namun, untuk sebuah film yang bercerita tentang mengembrace kekhususan, dirinya sendiri tampak masih belum cukup berani untuk menjadi lebih spesial lagi. Pilihan ujung ceritanya tidak benar-benar mengutilisi kekhususan itu, malah membuatnya terasa seperti persoalan biasa.
The Palace of Wisdom gives 6 gold stars out of 10 for TERLALU TAMPAN.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Menurut kalian maskulinitas itu apa sih? Penting tidak? Bagaimana pula dengan femininitas?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

THE WAY I LOVE YOU – Beragam Cinta dan Cara Menunjukkannya [Movie Preview]

 

Banyak cara menunjukkan rasa cinta kepada orang yang kita sayangi. Namun yang sering dilupakan adalah cinta itu sendiri sebenarnya bukan sebatas ama pacar. Antara cowok dan cewek. The Way I Love You, cerita asli tulisan Johanna Wattimena dan Gendis Hapsari, mengembangkan cinta yang biasa dikenal oleh kalangan remaja calon penontonnya. Dan ini buatku menarik karena meskipun film remaja Indonesia kebanyakan memang bergenre cinta alias drama romantis, namun yang benar-benar original bukan adaptasi novel dan semacamnya bisa kita hitung dengan jari.

“Film ini berbeda karena tidak seratus persen cinta-cintaan, enggak melulu seru-seruan. Ada harunya juga. Cerita TWILY melingkupi keluarga. Ada rasa persaudaraan. Ada persahabatan,” terang Rizky Nazar, yang bermain dalam film ini sebagai Bara, saat konferensi pers yang diadakan dengan asik di HARRIS Hotel & Conventions Festival Citylink, Bandung, siang 2 Februari 2019.

Bercerita tentang Senja yang dekat dengan sepupu ceweknya. Akrab banget udah kayak kakak-adik. Berbeda dengan sang sepupu, Senja ini anaknya pendiem. Pemikir. Pikiran-pikirannya biasanya ia tuangkan ke dalam tulisan. Blog-lah yang membawanya kenal dengan seorang cowok. kedekatan mereka membawa pengaruh terhadap hubungan Senja dengan sepupu, dengan cowok sepupunya, dan bahkan Senja sendiri merasa ada yang berbeda saat dia beneran ketemuan sama cowok teman blognya tersebut. Kisah keempat tokoh ini bahkan bakal dijanjikan semakin menarik karena Rizky Nazar juga menyebutkan ada twist di dalam plot ceritanya.

Bukan hanya Rizky Nazar seorang yang menempuh macet dari Jakarta untuk bincang-bincang dengan teman-teman media dan komunitas di Bandung. Aktor muda itu hadir bersama dua pemeran lain; Baskara Mahendra yang berperan sebagai Rasya, dan tentu saja tak ketinggalan (nyaris, karena datangnya belakangan hihi) Syifa Hadju yang menjadi Senja. Dengan ceria mereka berbagi cerita keseruan saat proses reading dan syuting. Syutingnya berlangsung selama dua-puluh hari, dan sebagian besar berlokasi di Jakarta. “Di Bogor kita cuma dua hari” tambah Rizky. Ketika ditanya mengenai tantangan saat syuting oleh salah satu media, ketiga aktor remaja yang lagi naik daun itu sepakat menjawab selain pendalaman karakter, mereka tidak menemukan kesulitan yang berarti. Kecuali ketika Rizky sedikit kesusahan mengendarai sepeda motor tahun 70-an. Malahan Baskara dan Rizky menyebutkan keseruan karena sutradara Rudy Aryanto memberikan mereka semua kebebasan. “Pak Rudy open terhadap masukan. Beliau selalu ngobrolin scene bareng pemain. Menerima sudut pandang dari kita-kita” tembah Rizky lagi.

para pemain banyak mendapat pelajaran dari karakter mereka masing-masing

 

Syifa Hadju yang tampil dengan rambut menggulung yang membuatnya tampak semakin cute punya cerita sendiri tentang mendalami karakter Senja. Ia menerangkan perannya itu justru sebenarnya lebih banyak berinteraksi dengan tokoh sepupu, Anya (diperankan oleh Tissa Biani). “Kalo Bara dan Rasya kan, bagi Senja mereka sama-sama ‘orang baru’. Sedangkan sama Anya ini udah deket banget. Padahal aku ama Tissa juga belum lama kenal. Kita jadi sering jalan bareng buat numbuhin chemistry dua sepupu yang akrab itu”, jelas Syifa. Para pemain memang dipertemukan lewat proses casting, dan inilah yang terutama membuat proses syuting mereka menjadi seru. Syifa lanjut membicarakan dia dan Tissa bahkan jadi sering memanggil masing-masing dengan nama tokoh yang mereka perankan supaya feel karakternya lebih dapat lagi.

Kepada keluarga, kepada teman dan sahabat, rasa cinta itu juga sama pentingnya untuk kita tunjukin. Kepada pekerjaan juga. Apa yang diceritakan tiga pemain The Way I Love You ini membuktikan kecintaan dan dedikasi terhadap apa yang mereka lakukan. Syifa, Rizky, dan Baskara dengan bangga menyebutkan aktor-aktor yang bukan sekedar favorit, melainkan juga inspirasi mereka dalam berakting. Rizky menyebut dia sangat mengidolakan Tio Pakusadewo dan Robert Downey Jr. Baskara dengan detil menyebut satu persatu kiprah almarhum Heath Ledger yang ia jadikan panutan. Dan Syifa… psst tau gak siapa aktor yang diidolakan oleh artis yang pernah bermain di Beauty and the Best (2016) dan Ayat-Ayat Cinta 2 (2017) itu?

Siapa ya kira-kira?

Hmmm..

 

Yakin, mau tau?

“Rizky Nazar dan Baskara Mahendra!”, jawab Syifa mantap. “Aku kagum dan selalu ngikutin perjalanan karir film kakak-kakak ini” Waaaah, manis sekali yaaa

 

 

Film The Way I Love You bakal tayang ke hadapan seluruh Indonesia tanggal 7 Februari 2019, segera temukan jalan kalian ke bioskop yaa, jangan sampai lupa dan nyasar sehingga ketinggalan berbaper ria menyambut Valentine bersama film yang satu ini~

ceria-ceria amat ya sehabis makan siang hhihi

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

 

TABU: MENGUSIK GERBANG IBLIS Review

“Hope in reality is the worst of all evils because it prolongs the torments of man.”

 

 

 

Ada ungkapan yang menyebutkan rasa penasaran membunuh seekor kucing. Rasa penasaran di sini maksudnya bisa bermacam-macam; rasa keingintahuan yang begitu besar, perasaan tak-tuntas yang ingin diselesaikan, juga sesuatu mengganjal yang ingin dipuaskan. Rasa-rasa tersebut sering menjerumuskan kepada melakukan hal-hal yang tak perlu, sia-sia, malah mungkin berbahaya. Kata berikutnya yang masih menjadi misteri; siapakah kucing dalam ungkapan tersebut? Seseorang yang masih terusik oleh rasa penasarannya; seseorang yang semakin dilarang maka semakin dilakukan.

‘Kucing’ dalam Tabu: Mengusik Gerbang Iblis adalah Keyla dan teman-temannya yang nekat pergi ke Leuweung Hejo demi mencari penampakan makhluk halus. Bermodal kamera, peralatan kemping, dan baju ganti seragam, mereka menerobos hutan, melanggar begitu banyak pantangan, bermalam di situs angker tersebut. Dan benar saja, belum sempat bibir kita mengucapkan “penyakit kok dicari”, Diaz, salah satu teman Keyla yang paling napsu motoin hantu, kesurupan. Kemudian muncul sesosok bocah misterius. Gak jelas juga hubungannya apa si anak dengan kesurupan yang dialami Diaz. Untuk alasan tertentu pula, Keyla malah membawa anak tersebut pulang ke kota bersama mereka semua yang lari kocar-kacir dikejar nenek-nenek berkuku hitam.

Datang berenam, pulang bertujuh… hayo di hutan ngapaiiiinnnn?

 

Tabu: Mengusik Gerbang Iblis nyatanya adalah salah satu kelangkaan – dari sekian banyak horor yang dibuat oleh Indonesia tahun belakangan ini, Tabu merupakan salah satu dari sedikit sekali yang benar-benar punya cerita untuk disampaikan. Tabu membawa kita menyelam ke dalam penjelajahan rasa penasaran terhadap suatu peristiwa kehilangan. Ia membahas bagaimana rasa kepuasaan itu belum datang, jadi seorang akan terus mencari jawaban. Yang terjadi kepada Keyla adalah harapan dalam wujud terburuk. Keluarga Keyla terpecah oleh satu tragedi di masa lalu, saat Keyla masih terlalu kecil untuk seragam SMAnya. Tragedi tersebutlah yang membentuk pribadi Keyla di masa sekarang, kita melihat dia yang paling ‘takut’ tapi toh tetap ikut dalam setiap ekspedisi menyeramkan. Dia ingin mencari closure atas kejadian tersebut, jadi dia tetap mencari meskipun dia tahu kebenarannya.

 Rasa kehilangan masih terus menghantui seseorang yang berduka. Itulah ketika harapan berubah menjadi siksaan. Apapun yang kita lakukan untuk menutupinya, hati yang belum ikhlas tetap tidak akan tenang. Dalam film ini, kita akan melihat rasa yang disalahartikan sebagai harapan itu menjadi bumerang.

 

 

Hebatnya, film ini tidak menceritakan itu semua lewat dialog alias secara gamblang. Kengerian, apa yang dirasakan oleh Keyla dan keluarganya direkam secara subtil oleh kamera. Lihat juga bagaimana kamera ‘menceritakan’ hutan sebagai tempat mengerikan dan berbahaya lewat selipan shot-shot hewan liar seperti ular, kalajengking, dan kelelawar. Transisi dari ketika satu tokoh menciptakan realita sendiri, tetapi kemudian penyadaran itu tiba, dan dia dihempaskan lagi ke realita beneran, dilakukan dengan begitu mulus oleh pergerakan kamera yang menangkap gestur-gestur terkecil dari si tokoh. Film tidak pernah gagal menangkap sudut pandang. Semuanya diceritakan dengan cermat dan efisien. Bahkan subplot yang menurutku kocak – film ini punya nyali untuk masukin subplot cinta segitiga yang enggak benar-benar berujung – juga dilakukan dengan seperti ‘cicak’ begini; you know, diam-diam merayap dan kena. Sedari adegan pembuka di dalam gua, kita bisa paham bahwa film ini digarap dengan perhatian tinggi kepada artistry. Film ini tahu cara menceritakan sesuatu yang klise dengan membuatnya tidak metodical. Namun juga tetap mudah untuk disukai – ada banyak hal-hal yang jadi favorit penonton horor yang dapat ditemukan di sini; kematian tokoh yang menyakitkan, sosok hantu yang seram, dan jumpscare yang tepat waktu.

Maka dari itulah, aku tidak mengerti kenapa film ini memilih untuk memulai ceritanya dengan cara dan siatuasi yang paling tidak menarik (lagi) sedunia akhirat. Sekelompok remaja yang ke hutan nyari setan. Basi! Kenapa membuka dari sini jika engkau punya kisah tragis keluarga yang kehilangan anaknya. Film memilih untuk merahasiakan elemen utama cerita di awal, bahkan Keyla juga ‘disembunyikan’ – kita tidak tahu bahwa ternyata dia adalah tokoh utama sampai dia memilih untuk membawa bocah misterius tersebut ikut pulang ke rumah, dan aku gagal mengerti alasan di balik keputusan yang diambil oleh film ini. Sebab jadinya sama sekali tidak ada yang menarik pada babak pertama. Para remaja itu tidak punya motivasi yang cukup dan alasan yang jelas; kenapa harus moto hantu, kenapa harus tempat angker yang itu, kita tidak tahu apa-apa dan mereka tidak memberikan alasan kenapa kita harus peduli kepada mereka. Jujur, aku sudah siap jiwa raga untuk menjelek-jelekkan film ini, udah senam pipi – siap untuk menertawakan sekerasnya hal-hal bego yang kusangka akan dilakukan. Dan persiapanku tadi jadi tak berguna karena ternyata aku menemukan sedikit sekali yang bisa ditertawakan. Yah, selain nenek Diaz yang dengan potongan rambut begitu membuatnya mirip sekali dengan Jamie Lee Curtis di serial Scream Queen.

Dan seolah setiap ayat punya fungsi dan efek berbeda terhadap hantu-hantu

 

Babak kedua hingga akhirnya di mana film dengan tepat menginjak nada ngeri dan tragedi. Aku bahkan sedikit  ter-throwback ria melihat Mona Ratuliu menggunakan bahasa isyarat (ketahuan deh, umurku huhuu). Bahkan tokoh-tokoh lain, termasuk tokoh remajanya enggak se-annoying yang sudah aku antisipasi. Mereka masih bersikap masuk akal dan reasonable, meskipun tak ada pembelaan untuk kualitas akting yang menghidupkan mereka. Namun begitu, awalan film inilah yang justru paling banyak andil dalam menurunkan nilai secara keseluruhan. keputusan untuk memasang semacam twist pada tokoh utama, ultimately melemahkan cerita karena pembangunan karakter adalah hal yang sangat penting. Kita dihalang untuk masuk ke dalam kepala Keyla, seolah pikiran dan emosinya tabu untuk kita ketahui. Malahan di awal-awal, film seperti menunjuk Diaz sebagai tokoh utama. Dan kemudian membelokkannya untuk efek dramatis. Tak perlu seperti itu, Keyla punya cukup backstory dan landasan emosi yang mampu membuat tokoh ini menjadi dramatis jikapun dikembangkan sedari awal.

Yang film ini lakukan malah membuat karakter Keyla terasa tidak ‘klik’, di awal dia terlihat paling enggak semangat untuk TKP. Padahal justru sebenarnya dia yang paling punya motivasi untuk ke sana. Meskipun inner journey Keyla semakin dapat terbaca seiring berjalannya film, tetapi film tetap tidak memperlakukan tokoh ini sebagai protagonis yang beraksi. Keyla, dengan segala keterbatasan akting Isel Fricella, kebanyakan hanya berteriak menyaksikan tokoh-tokoh lain berjuang ataupun tertangkap oleh hantu-hantu. Juga aneh film tidak memperlihatkan momen perubahan tokoh Keyla. Alih-alih, kita diperlihatkan ibunya yang berjuang untuk mengikhlaskan. Keyla seperti ikhlas begitu saja saat kita ditunjukan adegan dia menoleh ke belakang melihat sosok yang dibuat bisa berarti hantu atau hanya imajinasi yang menyimbolkan perpisahan damai yang dilakukan oleh Keyla dengan tragedinya.

 

 

 

 

Sense misterinya kuat. Penceritaan yang efektif. Tokoh-tokoh yang tidak terlalu over-the-top. Film ini punya bumbu-bumbu sebuah film horor yang bagus. Namun pilihan untuk membuka film, babak pertama, tidak menguntungkan film karena tidak menarik dan benar-benar menonjolkan keklisean. Film baru benar-benar bekerja di babak kedua, like, kalo kalian tidur atau bahkan telat masuk ke bioskop tiga-puluh menit, dan hanya menonton dari babak keduanya saja, kalian pasti akan bilang film ini bagus banget. Begitu anehnya pilihan yang dilakukan oleh film ini. Dan jangan kira ini seperti yang dilakukan oleh One Cut of the Dead (2018); film itu juga punya babak awal yang lemah namun dilakukan dengan sengaja untuk menguatkan konteks tema besarnya. Tidak demikian. Sebaliknya, babak pertama film ini tidak menambah banyak terhadap konteks karena diniatkan sebagai twist. The film works in no favor of it’s protagonist. Dia menutupi tokoh utamanya, dan sepertinya lupa sama sekali untuk menimbulkannya kembali sebagai karakter.
The Palace of Wisdom gives 5 gold stars out of 10 for TABU: MENGUSIK GERBANG IBLIS.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Keyla dan keluarga, walaupun tahu itu hantu, tapi mereka masih tetap menyayangi sang adik. Kalian takut gak sih didatengi hantu kerabat sendiri? Bagaimana kalian meyakinkan diri itu beneran mereka dan bukan hantu lain yang menyamar? Menurut kalian darimana rasa penasaran Keyla muncul?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

ORANG KAYA BARU Review

“Sometimes, nothing is better than something”

 

 

Ungkapan “Uang adalah sumber segala kejahatan (alias sumber masalah)”  itu sebenarnya kepotong. Makanya terasa kurang tepat. Bukan uangnya yang bikin seseorang berubah menjadi ‘jahat’ – yang membuat orang sampai rela meninggalkan keluarga maupun sahabatnya sendiri. Melainkan adalah kecintaan terhadap uang itu sendiri. Semakin banyak kita punya, kita akan makin merasa tidak cukup. Kita cinta dengan gagasan mempunyai banyak uang maka hidup akan semakin mudah, dan ini menghilangkan batasan dalam diri kita. Orang yang cinta pada uang, ia juga akan senang membelanjakannya, lantaran ia suka terhadap apa yang bisa ia lakukan dengan uang sebanyak itu.

Itu sebabnya kenapa tokoh Lukman Sardi memilih untuk membesarkan keluarganya dalam kondisi prihatin. Ia merahasiakan kekayaan yang dimiliki kepada istri dan tiga anaknya. Mereka sekeluarga hidup pas-pasan selama bertahun-tahun sebab Bapak ingin menumbuhkan rasa cinta di dalam dada anggota keluarganya terhadap masing-masing, terhadap karib kerabat mereka, bukannya kepada uang. Pelajaran amat berharga sebenarnya yang coba beliau ajarkan. Namun, kematian yang begitu mendadak sampe-sampe film tak sempat menjelaskan kenapa; malah menggoda sekiranya Bapak belum benar-benar tiada, memotong pelajaran tersebut. Membawa Tika, Duta, Dodi, dan Ibu langsung ke ‘praktek lapangan’; Bapak meninggalkan warisan berupa duit bermilyaran, seketika mereka semua berubah hidupnya menjadi milyarder kaya raya!

Ternyata memang lebih enak hidup yang terus berangan punya duit banyak ketimbang hidup yang selalu terjaga lantaran takut harta yang dimiliki hilang.

 

Performa para penampil dalam film ini seragam menggelitiknya. Raline Shah yang menjadi Tika, si sudut pandang utama, didampuk untuk melakukan banyak permainan akting di luar penampilan-penampilan yang biasa ia lakukan. Ia harus belajar bagaimana menjadi seorang miskin – ini sendiri adalah fakta yang sangat lucu bagi kita semua. Sebagai Tika, Raline harus menggapai nada-nada emosi yang punya rentang cukup luas. Dia yang pertama kali menemukan Bapak meninggal – Tika punya momen-momen unik dengan ayahnya, dia yang punya keinginan untuk menjadi orang kaya, dia juga diberikan kesempatan untuk menjalin hubungan asmara. Meskipun di awal-awal kurang meyakinkan – kurang dapat dipercaya – tampil sebagai orang susah, tetapi dengan gemilang Raline, juga para aktor lain memainkan tokoh-tokoh yang berbuat norak dengan harta bendanya. Derby Romero sebagai seniman dalam keluarga, dia diberikan bentrokan soal seni, idealisme, dan duit yang menarik sayangnya tidak diberikan porsi yang banyak. Justru Ibu yang diperankan oleh Cut Mini yang mendaratkan nada tawa tertinggi lewat her take on ibu-ibu sosialita – yang melakukan sesuatu kini atas nama citra. In some sense, para aktor ini bisa jadi memainkan parodi dari diri mereka sendiri, dan memang tak ada hal yang lebih lucu dan mengena ketika seseorang bisa menertawakan dirinya sendiri. Last but not least, pemeran anak Fatih Unru mencuri perhatian; ia mampu mengenai nada-nada emosi berentang luas dengan lebih baik dari rekan-rekan aktor yang lebih berpengalaman. Tokoh Dodi di tangannya terasa enggak over-the-top, dan bisa jadi karena tokoh ini disebutkan ditulis berdasarkan pengalaman masa kecil sang penulis skenario, Joko Anwar, yang suka berandai-andai jadi orang kaya

Aku tidak tahu apakah fakta tersebut membuat film menjadi spesial karena toh semua orang umumnya pernah ngimpi jadi jutawan

 

Kelucuan film ini menguar deras dari tingkah polah keluarga tersebut dalam mengarungi hari-harinya sebagai pemilik uang berlimpah. Film bersenda gurau dengan tingkah-tingkah norak para tokoh. Saksikan transisi si Ibu dari yang tadinya melotot melihat harga teh di restoran mewah menjadi seorang pembelanja yang dengan jumawa membeli semua perabot yang sempat disentuh dan difoto oleh anak-anaknya. Juga sebuah sentuhan bagus membentrokan keadaan tiga kakak beradik yang tadinya menyusup ke acara nikahan buat numpang makan dengan keadaan mereka punya segalanya, bahkan mobil satu seorang meskipun tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menyetir. Kita tertawa oleh komedi mengenaskan saat mereka menghabiskan uang yang mereka punya lebih cepat daripada akun lucu-lucuan berlari mengejar jumlah follower.

Film ini memang sangat terasa seperti kebalikan dari Keluarga Cemara (2019) yang tayang beberapa minggu sebelumnya. Bukan saja dari premis orang miskin yang ternyata menjadi kaya alih-alih keluarga Ara yang kaya kemudian jatuh miskin. Melainkan juga dari bagaimana cerita ini berpusat. Jika cerita Keluarga Cemara menegaskan bahwa mereka sebenarnya bukan soal harga uang; film tersebut menyetir ceritanya keluar dari kait-kait trope kemiskinan yang tertindas, maka Orang Kaya Baru benar-benar meletakkan materialistis sebagai poin vokal untuk menyampaikan pesannya. Emosi kita bakal dipancing demi melihat anak yang sol sepatunya copot dikerjai oleh teman sekelasnya. Kita menyaksikan Tika dituduh mencuri telepon genggam teman di kampus. Uang dan materi benar-benar on-point dalam film ini. Karena ia ingin membangun karakter-karakter sehingga menjadi masuk akal begitu mereka memuja kekayaan nantinya.

bahkan film ini juga punya satu tokoh yang bekerja di mana-mana, hanya saja tidak dimainkan sebagai komedi

 

 

Dan itulah sebabnya kenapa elemen drama dari film ini tidak semuanya terasa mengena. Kita menyaksikan tokoh-tokoh yang menyalami ‘demon‘ mereka dan berakrab-akrab dengannya. Tentu, sebuah hal yang lucu – dan mungkin melegakan -melihat orang miskin yang biasanya dibully jadi punya kesempatan untuk melampiaskan hati mereka. Menyenangkan menyaksikan mereka akhirnya mencicipi indahnya dunia. Tapi antisipasi serta merta tumbuh dalam diri kita; kita paham tokoh-tokoh itu menyongsong kebangkrutan, jadi ketika mereka melakukan suatu ‘pemborosan’ kita tidak lagi benar-benar ikut sedih bersama mereka. Kita ditinggalkan untuk berharap mereka melakukan hal yang benar, dan mungkin untuk kedua kalinya keajaiban datang menyelesaikan masalah keuangan yang kali ini disebabkan oleh mereka sendiri.

Namun film malah terus menge-loop masalah tersebut, hingga film berakhir. Tidak ada penutup yang definitif hingga kita tak yakin harus terus tertawa atau bengong saja. Jika dalam menggarap horor atau thriller, Joko Anwar masih bisa menutupi kekurangan penulisannya dengan twist; terutama twist semacam ‘ternyata cuma mimpi/imajinasi’ yang membuat ceritanya jadi tampak cerdas, maka ranah drama komedi seperti Orang Kaya Baru ini sesungguhnya lebih susah untuk ia bermanuver. Film seperti berjuang untuk menutup cerita dengan menarik, dan pada akhirnya pilihan yang diambil malah tidak definit sebagai pembelajaran terhadap karakternya, or even if they have learned anything at all. Tika yang hidup pas-pasan dan diremehin sehingga berpikir lebih gampang hidup sebagai orang kaya. Kemudian dia jadi kaya, hidup mewah seolah sudah punya semua jawaban hidup. Namun pertanyaan hidupnya berubah; kenapa sekarang masalah itu timbul dari orang-orang di dekatnya. Kemudian dia miskin lagi, dia dekat kembali dengan sahabat dan keluarga. Uang mengontrol kehidupan dan sikap Tika, kita tidak pernah benar-benar diperlihatkan ada perubahan dari dirinya yang didorong oleh ‘kekuatan dari dalam’.

 

 



Paling efektif bekerja sebagai komedi yang memotret – dan dalam nada tertingginya, mengkritik – pandangan dan kehidupan sosial antara si kaya dengan si miskin. Tone antara drama dan komedi itu pun acapkali berbaur dengan mulus, berkat penampilan yang tak-biasa, yang luar biasa menghibur, dari para pemainnya. Terutama Fatih Unru dan Cut Mini. Hanya saja porsi dramanya terasa tidak terasa benar-benar menyentuh, dalam artian sungguh bikin kita sedih. Karena kita sudah mengantisipasi apa yang terjadi. Juga lantaran tidak benar-benar ada stake ataupun konsekuensi dari ‘kegagalan’ yang dihadapi oleh para tokoh. Lebih lanjut, ini disebabkan oleh penulisan naskah yang sengaja dipilih untuk tidak konklusif. Menonton ini seperti kita sedang bermimpi indah, kemudian jadi buruk, kemudian indah lagi, yang tak selesai-selesai.
The Palace of Wisdom gives 6.5 gold stars out of 10 for ORANG KAYA BARU.

 

 



That’s all we have for now.
Dulu kalo sedang rebutan mainan dengan adik, Ibuku sering bilang “lebih baik enggak ada daripada ada!” Bagaimana menurut kalian; apakah lebih baik miskin daripada kaya raya? Mengapa kebutuhan rasanya semakin meningkat begitu kita punya rezeki berlebih?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning PIALA MAYA BLOG KRITIK FILM TERPILIH.



PREMAN PENSIUN Review

“Gratitude is so gangster”

 

 

Sebagai manusia, kita suka melihat manusia lain mengembangkan diri mereka menjadi sesuatu yang lebih baik. Supaya kita bercermin, termotivasi. Itulah salah satu penyebab kita suka menonton film. Karena cerita-cerita dalam film biasanya menawarkan imajinasi seperti demikian; perjalanan hidup yang penuh perjuangan, orang-orang yang belajar mengenali dan menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. Dan dari sekian banyak film, yang paling laku selalu adalah cerita yang tokohnya mengalami progres; orang miskin yang jadi kaya, orang yang diremehkan menjadi juara, orang yang jomblo jadi punya pacar. Kita lebih tertarik kepada tokoh yang punya konflik dalam diri mereka. Cerita orang yang sempurna seumur hidup sudah barang tentu tak akan semenarik cerita maling yang terdesak kebutuhan.

Makanya serial televisi Preman Pensiun banyak diminati. Versi layar lebarnya pun di(ki)nanti-nanti oleh para penggemarnya. Film ini menawarkan premis yang sudah pasti langsung menarik bagi penonton, meskipun belum pernah menyaksikan serial televisinya. Berpusat kepada satu kelompok preman yang insaf, yang berusaha mencari makan dengan cara yang jujur – meninggalkan cara lama mereka yang brutal. Secara efektif, menit-menit pertama menyuplik adegan penutup dari serial televisinya – yang aku yakin para penggemarnya pasti akan merasakan desakan haru dan nostalgia berat di dalam dada – yang seketika melandaskan ‘misi’ apa yang harus diemban oleh tokoh utama kita. Kang Mus (satu lagi penampilan kocak, ekspresif, dan dalam level yang tidak meninggalkan emosi dan keseriusan disuguhkan oleh Epy Kusnandar) diamanatkan oleh pemimpin kelompok mereka yang sudah almarhum untuk menjadi penerus kepala preman, hanya saja kali ini dengan semboyan “Bisnis yang bagus, dan yang baik”. Kemudian kredit pembuka bergulir, dan kita dibawa ke tiga tahun ke depan. Melihat bagaimana legacy kelompok pensiunan preman mereka berkembang di bawah tangan Kang Mus.

biarkan informasi ini meresap sebentar; nama lengkap Kang Mus adalah Muslihat

 

Memenuhi jati diri sebagai komedi, Preman Pensiun hadir dengan kocak. Kita akan tergelak-gelak melihat sehari-hari bos preman berusaha mengurusi keluarga, berurusan dengan kenyataan putrinya yang sudah remaja sudah mulai pacaran – dengan cowok yang udah mahasiswa pula. Momen-momen lucu hadir dari Kang Mus yang memerintahkan anak-anak buahnya, yang kini ada yang bekerja jadi satpam mall, ada yang jualan kaos, bisnis jaket, jadi pawang kuda lumping, dan bantu-bantu di bisnis makanan tradisional kecimpring, untuk memata-matai sang putri yang lagi nge-date. Film tidak melupakan tanah tempat dirinya berpijak. Kita tidak hanya melihat tempat-tempat di Bandung dijadikan latar dan diakomodasikan ke dalam penceritaan serta komedi, kita juga akan mendengar, menghidupi budaya Sunda itu sendiri.

Kita diperlihatkan sudut pandang yang mungkin sudah pernah kita lihat di film-film mafia ataupun gangster buatan luar, akan tetapi tak-pelak menjadi segar karena kentalnya nuansa lokal. Sedikit banyaknya, dengan menonton film ini, kita bisa paham terhadap kode etik para preman yang bisa saja memang berlaku di sudut-sudut pasar. Dan itu bukan soal punya tato yang seragam. Menjadi preman adalah soal setia, soal berterimakasih, dan soal menghormati. Kita lihat mereka tidak saling mengganggu istri, keluarga, masing-masing. Mereka punya birokrasi alias tangga-kekuasaan sendiri. Kita melihat mereka tidak akan melanggar batasan-batasan yang tercipta dari ‘pangkat’ kepremanan mereka. Dan di akhir, kelas preman tersebut dimainkan ke dalam sebuah konflik yang tak disangka-sangka.

Jika ada yang bisa ditiru, maka itu adalah eratnya rasa persatuan di dalam geng mereka. Kang Mus masih terus memikirkan bekas anak-anak buahnya, karena menurutnya mereka sudah bagian dari keluarga dan tak ada istilah ‘bekas’ dalam sebuah keluarga. Eratnya hubungan keluarga sudah semestinya seerat yang diperlihatkan oleh preman-preman di film ini. Sebab keluarga sudah sama seperti satu tubuh; terluka satu, maka yang lain pun ikut merasakan derita.

 

Namun mungkin yang lebih tepatnya adalah, film menghadirkan konflik yang sukar untuk kita sangka. Karena pada dasarnya merupakan kelanjutan dari serial televisi yang terdiri dari nyaris empat-puluh episode (aku mungkin salah karena gak ngikutin sinetronnya), dengan begitu banyak tokoh dengan subplot masing-masing, film ini jadi punya tugas yang tak-kalah beratnya dengan Kang Mus. Film harus mampu dengan segera memperkenalkan para tokoh dan masalah-masalah lantaran film ini cukup bijak untuk tidak menyuruh kita-kita yang belum pernah menonton untuk maratonin serialnya. Maka mereka menggunakan editing berupa smash cut dan match cut yang membawa kita bertransisi begitu saja antaradegan para tokoh. Pertama-tama sih, teknik ini memang terasa menyenangkan. Kita melihat satu tokoh ditanyai oleh istrinya, bret jawaban atas pertanyaan itu kita saksikan datang dari tempat lain, dari percakapan tokoh lain sambil minum, dan bret kita pindah lagi ke gelas yang dipegang oleh tokoh yang berbeda di tempat yang lain pula. Konteks yang diseragamkan membuat kita menyaksikan banyak hal sekaligus tanpa kehilangan arah. Teknik tersebut dilakukan berulang-ulang. Buatku it was getting old fast. Malah membuat semakin susah untuk mengikuti cerita, karena tidak banyak waktu untuk berpegangan kepada satu karakter. Kebanyakan dari mereka jadi seperti tidak punya arc. Masalah-masalah itu jadi menumpuk dan hingga titik tengah film, kita belum dapat menyimpulkan ke mana arah cerita. Yang mana konflik utamanya? Apakah perihal peringatan seribu hari kematian pemimpin mereka terdahulu (sebagai cara film mendedikasikan diri buat almarhum Didi Petet), apakah tentang bisnis yang sepi, atau anak yang beranjak dewasa, atau masalah yang berantem di pasar baru.

atau mungkin ini masalah kenapa di Gedung Merdeka banyak setannya

 

Dengan konsep editing seperti demikian, terasa ada banyak yang tak terselesaikan. Sekadar berfungsi sebagai adegan sketsa. Ketika film berhenti melakukan konsep editingnya, cerita mulai dapat diikuti. Meskipun sedikit terlambat, tapi apa yang disuguhkan cerita sebagai puncak ternyata tergolong sangat berani. Aku suka dengan tipe cerita ‘kalah’ kayak film ini. Malahan, dua film pendek yang kukerjakan, dua-duanya berakhir dengan ‘kekalahan’ sang tokoh. Karena terkadang memang perlu untuk menampilkan kegagalan, supaya pesan yang ingin disampaikan bisa menjadi cambuk – supaya kita bercermin dan tak melakukan hal yang serupa. Hanya saja, yang harus digaris bawahi adalah cerita kegagalan baru hanya akan menarik jika diiringi oleh usaha. Kang Mus dalam Preman Pensiun, tidak diperlihatkan banyak berusaha melakukan sesuatu yang baik. Ada adegan repetitif Kang Mus yang lagi ngulet males bangun pagi di sofanya. Dia yang pemimpin tak banyak campur tangan ketika masalah merundung teman-temannya. Inovasi kecimpring pun tak diperlihatkan ia lakukan. Mengusung pesan yang sedikit kelam, herannya konklusi film ini tampak aneh. Seperti ada bagian resolusi yang terpotong. Film berakhir tepat di titik di mana Kang Mus musti berubah, memperbaiki sikapnya. Yang membuatku merasa nanggung; menohok kurang, arc pun tidak tertutup.

 

 

 

Keseluruhan film terasa seperti membangun ke momen benar-benar ‘pensiun’, akan tetapi cerita justru dihentikan saat karakter butuh untuk meredeem dirinya sendiri. Film ini benar-benar menonjolkan sisi komedi yang dipancing dari percakapan permainan kosa kata ala Kang Mus yang ‘pintar-pintar bodoh’, dan tingkah-tingkah para preman yang berusaha kerja baik dengan kemampuan yang mereka tahu. Namun mereka tidak pernah dibuat keluar dari dunia mereka. Preman-preman itu belum diharuskan terikat pada aturan di luar ‘kode’ mereka sendiri. Buatku, film yang bernapas Bandung memang terasa nanggung. Konsep editingnya tidak benar-benar bekerja efektif, meskipun memang diperlukan. But that’s just me. Para penggemar serialnya sepertinya bakal tersenyuh dan senang-senang maksimal menyaksikannya.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for PREMAN PENSIUN.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Pernahkah kalian berurusan dengan preman? Menurut kalian apa yang membuat orang disebut sebagai preman?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

 

KELUARGA CEMARA Review

“Having family responsibilities and concerns just has to make you a more understanding person.”

 

 

Keluarga Cemara, sebagian orang mengingatnya sebagai sinetron yang menghangatkan ruang keluarga di masa kecil. Sebagian lagi mungkin mengingatnya sebagai cerita serial tentang kejujuran buah tangan dari Arswendo Atmowiloto. Sebagian yang lebih muda akan mengenalinya dari lagu “Selamat pagi Emak, selamat pagi Abah, mentari hari ini berseri indah” dan guyonan “Harta yang paling berharga”. Visinema Pictures, lewat film adaptasinya ini, mengakurkan semua orang – membuat kita semua sepakat untuk mengingat Keluarga Cemara sebagai salah satu film keluarga paling manis – paling sederhana yang bisa kita dapatkan di masa sekarang – yang mengajarkan tentang kejujuran dan rasa bersyukur. And also ada JKT48 di dalamnya, wotaaaa!!

Dalam Keluarga Cemara versi ini, Abah adalah Ringgo Agus Rahman (jangan biarkan tampang kocaknya mengelabui urat hati dan nadi air matamu) yang terpaksa harus memberikan kabar buruk kepada keluarga kecilnya; mereka jatuh miskin. Bisnis mereka hancur akibat ulah sanak famili sendiri, mengharuskan Abah dan keluarga mengungsi selamanya ke rumah warisan di desa Jawa Barat. Emak yang setia (di balik ketabahan tokohnya, mata Nirina Zubir seolah menembus perasaan kita semua) jadi musti berjualan opak. Kepindahan ini, paling berat adalah terasa bagi Euis (detach-nya ZaraJKT48 jadi pas banget ama karakter tokohnya, dan dia gak punya masalah segera menyambung dengan emosi yang tepat) yang harus berpisah dengan Jakarta dan kelompok modern dance, in which she very skilled at. Kepindahan dan kondisi keluarga mereka pun dengan segera mempengaruhi Ara (so adorable, Widuri Puteri tampaknya digebleng langsung oleh sang ayah Dwi ‘Mas Adi’ Sasono), si bungsu yang tadinya bahkan belum mengerti apa itu bangkrut dan kenapa emaknya menangis saat mengandung dedek bayi.

Jika keluarga A Quiet Place yang dirundung monster aja bisa punya bayi, kenapa kita tidak bisa? horee!!

 

Aku tadinya sudah hampir-hampir yakin bakal disuguhi drama keluarga tearjerker yang menguangkan kesedihan dari segala trope-trope orang kaya yang mendadak hidup dalam kemiskinan. Tapi enggak. Sutradara Yandi Laurens mengarahkan film panjang debutnya ini menjauh dari cara-cara yang gampang. Skenario pun dengan bijaksana memfokuskan konflik bukan pada uang. Kita tidak diminta mengasihani karena mereka gak punya uang. Kita tidak ditagih air mata demi melihat mereka kesusahan hidup di tempat seadanya. Melainkan, konflik dipusatkan kepada suatu hal yang menurut setiap orang, terutama cowok, adalah kepunyaannya sejak lahir yang paling berharga. Harga diri.

Adalah Abah tokoh utama dalam cerita ini, bukan Ara meskipun judul merujuk kepada namanya. Karena keluarga Ara sama seperti pohon cemara. Punya satu batang yang besar sebagai poros, yang dikelilingi cabang-cabang yang tumbuh dengan rapat. Abah, sebagai satu-satunya pria di sana, adalah batang tersebut, poros yang membuat pohonnya berdiri kokoh. Atau paling tidak, begitulah Abah memposisikan dirinya yang kepala keluarga. Dia bekerja sekeras tenaga dan sejujur yang moralnya bisa. Kita melihat Abah mati-matian mencari kerja, dia melakukan apa saja, tapi baginya itu semata bukan soal duit untuk menghidupi keluarganya. Saat menonton ini aku memang merasa agak aneh; alih-alih berprogres dari mencoba usaha paling gampang ke yang paling susah, Abah bersusah payah menjadi kuli dahulu baru kemudian menjadi ojek online. Kenapa film masih berjalan jika jawabannya sudah ditemukan? Ternyata, memang bukan itu pertanyaannya. Ini bukan soal apa yang Abah lakukan untuk mencari uang. Ini soal apa yang ia lakukan sebagai pengukuhan dia adalah kepala keluarga.

Bukan kaki Abah yang patah, melainkan kebanggaannya. Untuk sebuah cerita tentang kejujuran dan rasa bersyukur, film memainkan janji dan kekecewaan sebagai konflik utamanya. Adalah janji-janji yang tak ia penuhi yang menyebabkan Abah berada di titik rendah yang sekarang. Baginya, adalah mutlak salah dirinya maka mereka jadi bangkrut. Ada adegan yang sangat emosional antara Abah dengan Euis yang membahas soal ini, Euis mengucapkan sesuatu yang telak mengkonfirmasi ketakutan Abah mengenai apa yang ia perbuat kepada keluarganya. Makanya setelah itu kita melihat Abah menjadi galak, dia menjadi ‘tegas’ terutama kepada Euis. Dia merasa tak-berdaya sebagai seorang laki-laki, dia merasa powerless melihat istrinya yang mengandung namun masih berjualan opak. Perjuangan Abah adalah perjuangan menegakkan kembali kehormatannya. Adegan Abah meledak penuh emosi menjelang babak ketiga merupakan teriakan dari sisa-sisa kebanggaan yang masih ia miliki. Dia berusaha keras memenuhi janji, tapi Abah sepertinya selalu salah dalam memilih keputusan untuk keluarganya. Yang Abah tak sadari hingga momen realisasi adalah selama ini dia melakukannya hanya untuk merestorasi perannya sebagai ayah.

Setiap manusia bertanggung jawab atas tindakan yang diambilnya. Ketika engkau adalah pemimpin, you would take responsibility in the name of your family. Tapi yang harus diingat adalah kebahagiaan keluarga seharusnya menjadi prioritas utama. Dan itu tidak bisa dicapai dengan mendahulukan ego tanpa mempertimbangkan anggota yang lain. Sebab mereka juga punya tanggungjawab, punya peran, yang tidak bisa kita kecilkan. Bertanggungjawab kepada keluarga mestinya membuat kita lebih pengertian.

 

Hubungan Abah dengan Euis menjadi sajian utama yang mewarnai cerita. Euislah yang paling sering dikecewakan oleh janji-janji Abah. Dan nantinya Euis akan balik merasakan seperti apa rasanya disebut mengecewakan orang lain. Abah dan Euis memenuhi konteks yang diusung. Jika Abah butuh untuk belajar melihat bukan dirinya sendiri yang bertanggung jawab terhadap keluarga, maka Euis akan belajar keluarga mana yang harusnya ia berikan janji-janji. Dibandingkan dengan konflik Abah dengan Euis, anggota keluarga yang lain memang jadinya terasa seperti pelengkap kayak ranting-ranting pohon cemara. Namun toh keberadaannya cukup penting, sehingga jika tidak ada ‘ranting-ranting’ tersebut, cemara yakni film ini tidak akan menjadi seindah yang kita saksikan.

sekuelnya, kalo ada, musti lebih banyak tentang Ara nih kayaknya

 

Film berhasil membaurkan drama dengan komedi dengan mulus. Setiap potongan kecil adegan menjadi sama berkesannya dengan momen-momen besar. Film penuh dengan adegan-adegan yang menimbulkan bekas, entah itu karena menyentuh maupun karena lucu. Film melakukan kerja yang baik dalam membangun dunia di sekitar keluarga Cemara. Ada banyak kameo; tokoh-tokoh yang diperankan oleh nama populer meski hanya muncul sekali dua kali. Aku pribadi agak mixed soal ini. Hukum Karakter Ekonomi-nya kritikus Roger Ebert jelas tidak bisa diterapkan buat film kayak Keluarga Cemara ini, karena akan membingungkan kita. Maksudku, mereka semua terlihat ‘penting’, tetapi ternyata enggak. Saking banyaknya peran yang satu-dimensi dan weightless di sini, sehingga membuat rintangan-rintangan yang dihadapi Abah dan keluarga menjadi seperti terselesaikan dengan sendirinya. Menjelang akhir, begitu kita paham ini bukan soal uang – kita sudah mengerti konteks sebenarnya, film tidak lagi terasa punya ‘ancaman’ apa-apa. Ataupun ada sudut pandang baru. Tapi penceritaannya, penampilan pemainnya, tidak pernah membuat film menjadi membosankan.

 

 

 

Kita semua tahu semua kejadian dalam film ini dibangun dengan nyanyian “Harta yang paling berharga adalah keluarga” sebagai puncaknya. Kita semua sudah bisa ekspek film ini akan sedih. Nothing surprised us, tapi tetap saja kita dengan sukses dibuat menitikkan air mata. Lantaran semuanya dilakukan dengan sangat manis, dan enggak total dibuat-buat. Membuatnya jadi begitu gampang dicinta, begitu menyentuh, dan mampu mendekatkan keluarga-keluarga yang sedang menyaksikannya. Semuanya terlihat hangat, jujur, indah. Meskipun membahas persoalan yang ‘matang’, tetapi film masih memberikan ruang diskusi kepada anak-anak dan orangtua mereka. Satu lagi yang agak mengganjal buatku adalah masalah bingkai waktu cerita, namun kupikir ini adalah resiko yang film pilih menimbang mereka perlu untuk menampilkan semua tokoh-tokoh yang sudah dikenal ini secara utuh. Jika film ini diniatkan sebagai prekuel dari reboot yang dimodernkan, maka ia sudah melakukan kerja yang sangat gemilang.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for KELUARGA CEMARA.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Abah berusaha hidup jujur dan memegang janji-janjinya. Bisa gak sih kita bahagia hanya dengan kejujuran? Masih ada gak sih orang yang hidup dari kejujuran?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

 

 

 

MILLY & MAMET Review

“You just can’t make everyone happy”

 

 

Dalam sebuah adegan manis yang berhubungan dengan brownis coklat, kita akhirnya mengetahui gimana ceritanya si cupu Mamet bisa sampe jadian ama – bahkan memperistri – cewek terkocak di geng AADC, Milly.

Prolog film ini bukan saja dengan tepat mengisi babak kosong antara film AADC Pertama dengan Kedua sehingga penasaran kita terjawab, melainkan juga dengan lancar menyambungkan rasa – mengikat nyawa. Seolah tiga film ini memang dibuat sebagai kesatuan oleh orang yang sama. Mira Lesmana enggak salah pilih mempercayakan semesta Cinta untuk dikembangkan cabangnya kepada Ernest Prakasa. Di bawah helm kreatif Ernest (dalam film ini tokoh yang diperankan oleh Ernest literally pake topi yang bertulisan slogan-slogan lucu yang kreatif), Milly & Mamet menjelma menjadi cerita komedi drama mengenai persoalan yang dihadapi oleh orangtua muda. Untuk seterusnya setelah kredit pembuka bergulir kita akan melihat masalah seputar pekerjaan dan gaya hidup yang dialami oleh Milly dan Mamet; seorang suami yang ingin membahagiakan istri dan anaknya dan seorang istri yang berusaha menjaga suami dan anaknya, sembari terus berjuang untuk tidak melupakan kebutuhan dirinya sendiri. Kita akan melihat bagaimana Mamet seharusnya menyadari bahwa dirinya bukan coklat; dia tidak akan bisa; dia harus berhenti untuk berusaha membuat senang semua orang.

Mamet mamen

 

 

Secara mengejutkan, film memang bakal banyak bicara tentang makanan. Porsi dan peran makanan di film ini malah cukup besar untuk kita menjadi sah-sah saja menyebutnya sebagai pesaing Aruna & Lidahnya (2018) dalam kontes film masak-memasak. Makanan yang mempertemukan, yang menjadi bagian dari konflik, dan eventually menjadi solusi. Mamet, setelah lulus SMA, punya mimpi untuk membuka restoran sendiri. Dia menjadi begitu ‘perhatian’ terhadap dunia kuliner setelah sempat bereksperimen mencari resep brownis yang enggak menyebabkan diabetes untuk mendiang ayahnya. Tapi untuk separuh pertama, kita akan jarang melihat Mamet memasak lantaran dia bekerja di perusahaan konveksi milik ayah Milly. Persimpangan bagi Mamet kemudian muncul dalam bentuk tawaran mendirikan restoran sehat, di mana Mamet ditampuk untuk menjadi kepala chefnya. Alexandra, diperankan oleh Julie Estelle, adalah seorang sahabat lama yang membawa Mamet bersalaman dengan ‘The Devil’. Karena begitu Mamet pindah bekerja ke sana, konflik rumah tangga mulai muncul. Dari Milly, istri yang insecure suaminya kerja bareng orang lain ke senti.. eh salah, ke Mamet, suami yang insecure istrinya ikutan kembali kerja sehingga telat pulang ke rumah mengurus anak mereka.

Sebagai Generasi Milenial, Mamet adalah perwujudan dari penyakit yang bersarang pada Generasi Milenial itu sendiri. Selain naif akut, dia juga orangnya ‘pasrah’ banget. Kita mengerti beban yang ia tanggung, sebagai suami dan seorang ayah, yang membuatnya tidak bisa begitu saja mengejar apa yang dia mau. Tapi melihatnya begitu ‘pasif’ dan tau-tau meledak marah, cukup menyiksa kesabaran buatku. Sebagai perbandingan, kita bisa melihat gimana sikap Miles Morales terhadap pilihan yang ia ambil pada Spider-Man: Into the Spider-verse (2018)Morales dengan sengaja menjawab pertanyaan ujian dengan memilih jawaban yang salah supaya ia dikeluarkan dari sekolahnya; karena dia merasakan gak nyaman pada hatinya saat bersekolah di sana. Beda dengan Mamet yang satu generasi lebih tua; Mamet yang kurang berminat kerja di konveksi, tidak melakukan apa-apa karena dia berpikir dia akan membantu mertua, istrinya, dan banyak orang dengan tetap bekerja di sana. Namun begitu dia melakukan kesalahan ketika dia merasa sudah melakukan hal yang benar, dia didamprat oleh pak mertua – di depan bawahan, di depan istri yang sampe berlinang air mata, barulah ia berontak minta keluar. Ini kesannya manja sekali alih-alih membuat keputusan. Mamet menghabiskan sebagian besar waktu menjadi ujung dari bahan candaan, dia tidak melihat apa yang ‘salah’ di sekelilingnya, bahkan justru Milly yang lebih banyak melakukan ‘aksi’

Namun begitu, jika dibandingkan, secara penulisan karakter memang lebih mendingan Mamet, sih. Dia punya progres. Arcnya dibuat menutup, cara dia memandang hidup di awal cerita akan berbeda dengan di akhir cerita. Kita melihat sifat Mamet-yang-lama pada dirinya perlahan terkikis; ada proses pendewasaan. Berbeda dengan Milly yang sudah tidak tampak seperti Milly yang kita kenal. Aku bukan bicara soal penampilan akting Sissy Priscillia kurang baik dibandingkan Dennis Adhiswara, keduanya diberikan kesempatan men-tackle range emosi yang sama luas, dan masing-masing berhasil melakukannya. Hanya saja karakter Milly seperti kurang tereksplor dibandingkan Mamet. Di film ini, Milly terasa pintar. Adegan kocak ketika dia ngobrol dengan asisten rumah tangganya, tampak seolah seperti melihat Milly berbicara dengan dirinya dulu; yang lemot, yang telmi, yang suka ngasal kalo ngomong. Kita tidak melihat proses perubahannya – di awal dengan di akhir, karakter Milly tidak banyak berubah padahal justru dia yang banyak menggerakkan narasi. Antara Milly dan Mamet; terasa seperti plotnya ada pada Mamet, sedangkan aksinya bagian Milly. Aku merasa dua tokoh ini seperti satu tokoh utama yang dibagi ke dalam dua tokoh. Film bisa saja menggali kecemburuan Milly berdasarkan dirinya menyadari ia lemot sedangkan Alex adalah cewek yang pintar, tapi tidak dilakukan karena Milly di film ini sudah bukan Milly yang dulu. Dan buatku mengecewakan kita tidak diperlihatkan progres karakternya sebanyak progres Mamet; padahal mereka berdua diniatkan sebagai tokoh utama.

Nyenengin semua orang enggak akan membuat kita bahagia. Usaha tersebut justru akan berbalik, membuat kita merasa kesepian, merasa kalah, merasa tidak diperhatikan oleh orang lain. Alih-alih mencoba membuat banyak orang bahagia sehingga mereka senang kepada kita, bahagiakan dulu diri sendiri. Tentukan apa yang membuatmu bahagia, dan ambil pilihan demi bergerak ke arah sana.

 

Milly dan Mamet tadinya adalah karakter pendukung yang berfungsi sebagai pemantik kelucuan dalam dunia Ada Apa dengan Cinta. Sissy dan Dennis, praktisnya, bukan pemain baru dalam mendeliver komedi. Aku malah paling suka Sissy ketika dia berperan sebagai Olga dalam serial Olgamania yang diadaptasi dari buku karangan Hilman. Di serial itu Sissy ngocol banget, cocok ama karakter Olga. (Dan buat hiburan personalku, aku senang sekali melihat hubungan antara Sissy, Olga, dan Lupus di menjelang akhir pada adegan dengan lagu Sheila on 7 yang dulunya jadi theme song serial Lupus hihi)

Film Milly & Mamet yang dibuat sebagai komedi romansa jelas bukan ranah asing bagi Sissy ataupun Dennis, aku yakin kedua aktor ini sanggup menyampaikan drama dan lelucon dengan sama baiknya. Tapi film ini, sebagaimana film-film Ernest sebelumnya, tetap mengotakkan bagian drama dengan komedi tersebut. Keputusan ini membuatku bingung. Film tetap memberikan porsi komedi kepada tokoh-tokoh pendukung, yang banyak banget; ada banyak karakter satu-dimensi yang hanya untuk pemantik tawa. Padahal ada banyak adegan yang gak urgen banget dikasih ke Komika, misalnya, mereka bisa saja memberikan porsi ‘ngefans berat ama food reviewer’ kepada tokoh Mamet – toh bisa menambah range dan karakter si Mamet sendiri. Adegan-adegan dengan Komika dan bintang tamu, justru mengganggu pace cerita, menciptakan sekat dengan drama, sehingga tone cerita jadi terasa kurang nyampur. Film seharusnya lebih mulus mencampurkan sehingga komedi bisa didatangkan dari tokoh-tokoh yang krusial. I mean, kurang lucu apa coba adegan Milly sok ikut ngereview makanan dengan adegan Sari lagi pesen minum?

Apa yang kamu lakukan ke saya itu, Garing!

 

Seperti generasi milenial yang angkuh, penyadaran yang dialami oleh tokohnya mengandalkan kepada pihak lain yang ternyata lebih ‘salah’. Film melakukan treatment yang baik dan melingkar sebenarnya, kita juga melihat penggunaan komedi yang pas, hanya saja elemen jalan keluar berupa ada orang lain yang lebih salah ketimbang aktual penyadaran yang didorong oleh inner karakter membuat penyelesaian film ini tidak terasa impactful. Seperti jika sebuah komedi yang punchlinenya kurang kuat. Karena kan sebenarnya ‘anatagonis’ dalam inti cerita ini bukanlah orang lain, melainkan ego dan pilihan si dua tokoh ini sendiri.

 

 

 

Saat menonton, mungkin sebagian kalian sudah ada yang kepikiran “kenapa mereka gak melakukan itu saja” dan ternyata pikiran kalian tadi memang dilakukan oleh penyelesaian cerita. Salah satu ‘kekurangan’ yang datang dari ketika kita yang sudah bisa melihat struktur cerita menonton film yang dibuat oleh penulis yang juga paham ama struktur cerita adalah kita bisa mengetahui ujung cerita bakal seperti apa. Untuk hal demikianlah andil sutradara dibutuhkan; untuk membuat cerita tetap menarik. Film ini strukturnya terang, dengan stake yang sebenarnya enggak terlalu kuat, namun arahannyalah yang membuat film terasa biasa saja. tetap terasa on-off karena drama dengan komedi di sini masih lebih sering kekotaknya ketimbang bercampur. Film ini memang secara keseluruhan adalah peningkatan dari garapan Ernest sebelumnya. Dia memberikan sentuhan tersendiri pada tokoh-tokoh yang sudah dikenal. Namun, Ernest sebagai sutradara butuh untuk melepaskan diri dari konsep atau formula cerita komedi yang selama ini ia gunakan, dan mencoba melakukan hal yang baru. Jika tidak, ia hanya akan menjual barang yang gitu-gitu saja di toko yang dibangunnya dengan penuh passion.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for MILLY & MAMET.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Apakah kalian punya mimpi yang belum terwujud hingga sekarang karena terhalang masalah kenyataan? Sejauh apa kalian menyimpang dari apa yang sebenarnya ingin kalian lakukan dengan apa yang sekarang kalian lakukan?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017