Buat kamu-kamu (apalagi yang cowok) yang berencana mengubah dunia, maka lakukanlah cita-cita mulia tersebut sebelum kamu menikah. Karena, kata mas Muh Rio Nisafa dalam buku ini, setelah nikah nanti jangankan dunia, ngeganti channel tivi saja kita udah enggak bisa!
Wuih, seserem itukah dunia rumah tangga?
Ngomong-ngomong, Muh Rio Nisafa ni safa, sih? Aku tadinya mengenal beliau hanya sebagai komika atau stand up comedian yang sama-sama terdaftar sebagai peserta Nulis Lupus Bareng kloter Jogja. Bedanya; mas Rio juara satu, sedangkan aku juara ‘cheerleader’. Setelah baca buku kedelapannya ini, aku jadi tahu kalo Mas Rio juga seorang kepala keluarga yang sudah delapan tahun menikah. Dan amat-sangat berbahagia karena statusnya tersebut.
Warna warni kehidupan berkeluarga tergambar ceria di sini. Ini bukan cerita fiksi, makanya komedi yang dihadirkan terasa kena sekali. Terlihat benar, akur dengan profesinya, Mas Rio memandang kehidupan sebagai panggung komedi. Termasuk, eh ralat, apalagi kehidupan berumah tangga. Dalam buku ini disebutkan menjadi AYAH PENUH SUKA DAN SUKA. Namun bukan berarti enggak ada dukanya. Happy Family tidak melulu bikin jealous para jomblo yang masih gagal move on dengan segala kespesialan yang didapat oleh pasangan yang sudah menikah. Meski memang sih, cukup banyak senggolan manja yang membandingkan enaknya sudah menikah dibandingkan masih pacaran. Riak-riak kecil perbedaan akan selalu hadir karena pernikahan hakikinya adalah menyatukan dua perbedaan; dua tingkah laku, dua kebiasaan, dua kehendak keluarga, dua pandangan hidup. Semua perbedaan toh tidak mesti jadi momok, tidak harus dianggap duka, karena bercermin dari pengalaman yang dituturkan jenaka oleh buku ini, perbedaan dalam rumah tangga adalah hal-hal yang patut disyukuri dan, eventually, patut untuk ditertawakan bersama.
pedoman suami siaga (siap-antar-ganteng)
Buku adalah buah pikir dari penulis. Basically, buku adalah anak dari pengarangnya. Meskipun sudah beranak buku delapan kali, Mas Rio baru punya satu anak manusia. Pengalaman mendapat anugerah gede tersebut diceritakan dengan asyik dan penuh bangga. Ada lima bab besar (hush, bukan buang air, jorok ih!) dalam buku ini, dengan satu bab didedikasikan tentang putra pertamanya. Dan dalam tiga bab sebelum itu pun kita sudah seperti terset up kepada momen kelahiran ini, dimulai dari Yahnda dan Manda ngerjain PR Fisika.
Anak dapat kita umpamakan sebagai sebuah buku kosong yang bakal menuliskan sendiri ceritanya. Tapi karena anaknya sendiri masih kecil, Mas Rio khusus di buku ini memproyeksikan sedikit dirinya, dan mungkin sedikit harapan, dan kita sebagai pembaca mendapatkan bantering imajiner yang super kocak antara Yahnda dengan si kecil Fano. Seperti yang bisa kita baca saat mereka pergi liburan ke waterpark. Ataupun ketika Fano dibanding-bandingin dengan presiden. Personally, aku ngakak sejadi-jadinya di bagian cerita ada anak bernama Sekar, yang nama panjangnya ternyata adalah Sekarang Kita Pulang! ahahahaha
Buat seorang stand up comedian, kepekaan terhadap isu-isu politik dan sosial selalu merupakan senjata utama. Happy Family luwes sekali memasukkan pancingan terhadap aspek-aspek tersebut, untuk kemudian mengolah dan menyelesaikannya dengan punch line yang bertenaga dan tepat sasaran. Banyak subbab pendek yang mampu menghabiskan setengah jam waktu sebab kita akan tergelak oleh lucunya dan betapa benarnya perbandingan gila yang diambil oleh penulis. Membaca ini akan terasa seperti menonton solo show dari seorang komika yang menceritakan apa yang jadi pikirannya, dengan layer rumah tangga yang pas sehingga terasa begitu relevan serta memikat. Terutama, tidak ada keluhan di sini. Ketika Yahnda curhat soal satu-satunya waktu dia dapat ngobrol dengan istri adalah ketika hape bininya lowbatt dan sedang di-charge, kita ikut tergelak sebab kita tahu memang begitulah kehidupan di jaman modern. Anekdot-anekdot segar dan tebakan kocak seperti beda kopi enak dengan kopi mahal mengalir lancar.
Sketsa-sketsa komedi singkat ala kolom humor di pinggir halaman TTS menghiasi halaman di bab akhir. Menghantar kita melalui penutup yang ringan, namun membuat kita ingin membacanya berulang kali. Berbagai macam skenario Raisa kenalan sama keluarga pacarnya, speerti pada iklan,tak pelak adalah salah satu bagian terbaik buku. Pacaran memang indah, tapi dunia rumah tangga enggak kalah serunya.
As a whole, jika kalian lagi duduk nyante sore hari di depan rumah, buku ini bisa jadi santapan yang enggak kalah menarik dari goreng pisang. Bukan cuma yang udah nikah loh, yang bakal terhibur. Candaannya sarat, akrab, dan yang paling penting; kocak. Sekali baca saja kita tahu kalo buku ini ditulis oleh seorang komika, gaya tulisannya persis kayak gaya tutur yang biasa kita tonton di acara stand up komedi. Unik, tapi terkadang memang sedikit mengganjal, khususnya bila kita mengahrapkan struktur yang lebih konvensional seperti novel atau personal literature yang biasa. Kuncinya ada di editing, you know, like, susunan cerita. Apalagi genre komedi banyak mengandalkan repetisi sebagai salah satu jokesnya. Buku ini melakukan dengan cukup bagus. Akan tetapi, ada beberapa editing dari sisi teknis seperti sejumlah besar typo yang terlupa untuk dibenerin dan penggunaan sudut pandang yang seperti kurang konsisten, ada bab yang pake ‘gue’, ada yang pake ‘saya’.
Buat yang mau menambahkan buku Lucu ini ke koleksi pustaka, ataupun lagi nyari pedoman menjalani hidup berumah tangga, bisa langsung pesan ke pengarang yang katanya pernah digodain SPG ini di twitter.com/rio_nisafa atau facebook.com/rio.nisafa
That’s all we have for now.
Remember, in life there are winners. And there are losers.
Apalah artinya sejarah, cuma dongeng yang disepakati bersama. Dulu banget Napoleon pernah berkata begitu. Kalimat yang enak banget buat diperdebatkan, namun berdering benar dalam film science fiction terbaru garapan Luc Besson yang diadaptasi dari komik asal Perancis.
Satu ras alien nyaris punah lantaran planet hunian mereka meledak, sebagai korban dari peperangan antargalaksi. Bayangkan Batman berantem dengan Superman di tengah kota. Gedung yang hancur, nah seperti itulah nasib planet cantik yang kita lihat di adegan pembuka film ini. Catatan tentang peristiwa naas tersebut dihapus oleh sekelompok orang jahat yang enggak ingin ‘prestasi’nya diketahui umum karena bakal berpengaruh terhadap apa yang sudah mereka usahakan selama ini. Mayor Valerian mendapat premonition tentang peristiwa itu. Bersama partner in crimenya, Sersan Laureline yang kece, Valerian mencoba memecahkan apa yang terjadi sekaligus berusaha untuk membantu segelintir penyintas ras tersebut mengembalikan peradaban, menyelematkan mereka dari kemusnahan.
Valerian and the City of a Thousand Planets seharusnya dijuduli Valerian and the City of a THOUSAND AWWWWWW. Visual film ini benar-benar spektakuler. Kita bisa dengan gampang nulis artikel internet semacam “Seribu Hal yang Menakjubkan di Valerian” karena memang ada sangat banyak penampakan yang bikin kita takjub. Efek CGInya terender mulus banget. Film ini dengan sukses menghidupkan fantasi penggemar science fiction di seluruh dunia; ada banyak jenis alien yang muncul dan desain mereka semua amat kreatif. Yang membuat rasa tertarikku semakin terpancing adalah sense optimis yang terkandung di dalam ceritanya. Universe dalam film ini berpusat di sebuah stasiun luar angkasa luar biasa besar. Ribuan alien dan manusia tinggal harmonis di sana. Montase di awal membuat kita mengerti gimana perdamaian semesta itu bisa tercapai. It’s weird, but it’s okay to dream, kan ya. I mean, toh membuatnya menjadi relevan dengan kondisi dunia. Di mana kita mengharapkan hal yang sama bisa terjadi di dunia. Film ini pun berhasil meletakkan kita ke dalam perspektif baru; sudut pandang survivor yang sebenarnya enggak ada kaitan langsung dengan perang.
Gajah sama gajah berkelahi, pelanduk mati di tengah-tengah.
Ini adalah petualangan luar angkasa yang seperti gabungan Avatar, The Matrix, dan yes, Star Wars. Meskipun begitu, film ini masih terasa orisinil. I have to say beberapa sekuens aksi film ini bakal bikin kita menahan napas. Valerian memanfaatkan konsepnya dengan baik, kita dapat menikmati contohnya di adegan kejar-kejaran antardimensi di Pasar. Di bagian tengah juga ada sekuen yang amazingly stunning di mana Valerian dengan suit pelindungnya berlari gitu aja, ‘menembus’ dinding-dinding, dan kita ngikutin dia melewati beragam environment dengan cepat. Permainan CGI yang luar biasa. Memang sih, beberapa terasa seperti gabungan beberapa hal yang sudah pernah kita lihat, tetapi tetap teramat menarik karena dipersembahkan dengan lumayan unik. Adegan yang menyenangkan, nonetheless. Film ini punya banyak aspek untuk kita sukai.
Dalam kartun Dragon Ball kita belajar kalo sebuah planet intinya udah hancur, maka tidak butuh waktu lama buat keseluruhan planet tersebut runtuh dan menjadi debu di tata surya. Ini jualah yang menjadi masalah pada film Valerian; Inti narasi film ini tidak pernah benar-benar kuat. Jika kita liat dari dasar storytellingnya banget, maka kita akan menemukan kekecewaan. Narasi mengalami banyak pergantian tone, dan lebih sering ketimbang enggak, ceritanya highly uneven. Ada satu poin dalam narasi ketika kita mendadak diperkenalkan kepada tokoh yang diperankan oleh Rihanna. Kita ngeliat kebolehannya dia menari sembari instantly ganti kostum (udah kayak musik video), yang kemudian membawa kita ke adegan penyusupan yang kocak dan inovatif, untuk kemudian berakhir dramatis. Tonenya berganti dengan cepat, dan clashnya kentara sekali.
Valerian terutama bercerita dengan mengandalkan humor, dan untuk sebagian besar waktu enggak ada penonton yang tertawa. Ketika Valerian dan Laureline berinteraksi – Valerian menggoda, dan Laureline menepis dengan mau mau tapi dingin – humornya enggak nyampe. Datar. It just doesn’t work. And a lot of that datang dari ketiadaan chemistry di antara dua tokoh lead kita. Bantering keduanya kayak enggak punya jiwa. Kalaulah boleh diadu, permainan akting Cara Delevingne lebih meyakinkan daripada Dan DeHaan. Tokohnya pun memang lebih menarik Laureline sih. Bisalah disejajarin ama hero-hero wanita yang lagi hits sekarang. Cara memainkan tokohnya dengan level fierce yang pas, sehingga para penonton yang cowok pun bakal ikut penasaran ‘ngedapetin’ hatinya. Sebaliknya, Valerian malah terlihat seperti anak remaja yang pengen banget menjadi keren seperti Han Solo. Tokoh utama kita ini mestinya adalah seorang yang cocky, semau gue, lady-killer, dan ketika dibutuhkan; dia cakap beraksi. Tapi tidak sedetikpun dari dua jam lebih film ini aku percaya dan yakin kalo tokoh ini adalah space adventurer paling keren sealam semesta. Dan DeHaan adalah aktor yang cakap, tapi di film ini dia sangat enggak pas dengan peran yang ia dapatkan.
“ella ella eh eh”
Pretty much seluruh momen film ini disyut di hadapan green screen. CGI efeknya menawan. Gambarnya halus. Downsidenya memang adalah aktor-aktor yang terlibat bakal kesusahan untuk stay in character. Dan DeHaan serta Cara Delevingne cakep banget di kamera, beautiful people yang kamera udah jinak deh sama mereka. Namun berinteraksi dengan practically nothing bukanlah hal yang gampang untuk dilakukan. Kedua aktor kadang terlihat off, maka terang saja kita enggak begitu tersedot kepada petualangan mereka. Relationship mereka kayak dipaksakan, dialog yang mengisi ‘pacaran’ mereka berdua antara humor gak-kena dengan kalimat puitis seputar tumbuhnya rasa cinta yang bikin kita meringis geli.
Ketika dua kubu atau lebih beradu, pemenang dari benturan tersebut akan mengukuhkan diri. Dibuatlah catatan kemenangan gimana heroiknya peristiwa yang mereka alami. Sementara yang kalah, akan menjadi catatan kaki. Mereka ada dalam belas kasihan pihak yang, katakanlah, hidup untuk menceritakan kisahnya. Terlebih buat pihak yang jadi colaterral damage, yang sengaja dikorbankan. Mereka enggak akan disebut sampai ada celah bagi pemenang untuk memanfaatkan mereka demi keuntungan sendiri.
Masih ada banyak kesenangan yang bisa didapat dari menonton film ini. Punya tampilan yang cantik, semarak oleh warna dan efek yang mulus. Mampu membangun universe yang spektakular dan benar-benar hidup. Film ini akan menumbuhkan banyak pengikut yang setia dan sangat passionate, yang masih akan membicarakan film ini bahkan setelah bertahun-tahun. Para penggemar yang masih akan cinta dan enggak akan peduli bahwasanya penceritaan film ini sangat uneven. Banyak pergantian tone, menghantarkan kepada humor yang enggak bekerja dari tokoh lead yang hampir punya sedikit sekali chemistry. The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for VALERIAN AND THE CITY OF A THOUSAND PLANETS.
That’s all we have for now.
Remember, in life there are winners. And there are losers.
Kita sering melupakan betapa pentingnya janji, seperti kita sering melupakan bahwa film pendek tidak kalah pentingnya dengan film panjang. Ataupun bahwa ulasan atau review itu lebih dari sekedar sarana publikasi. Beberapa waktu lalu aku pernah buka pintu kerjasama buat aspiring filmmakers yang punya film pendek dan ingin direview. Namun sampe sekarang, Alhamdulillah, belum ada satu pun yang menghubungi. But to my surprise, malah filmmaker luar yang dengan hormat dan humblenya mempersembahkan karya debutorialnya untuk direview.
Michael Wong, indie director asal Malaysia, emailed me, dan dia punya satu film indah yang menurutku sangat penting untuk dishare.Not necessarily karena film pendek ini udah berprestasi di berbagai festival film internasional; which includes the Best Foreign Short & Best Actress at Los Angeles Independent Film Festival Awards, Best Drama & Best Cinematography at Los Angeles Film Awards, Best Foreign Short Film at Ukrainian International Short Film Festival, Rising Star Awards at Canada International Film Festival, an Official Finalist at London Film Awards, among others. Aku pikir, film pendek ini begitu penting dan sangat relatable buat begitu banyak orang, karena ini adalah cerita yang mengingatkan kita kepada janji.
And in hard times, this film can be a reminder to people of why they are in love in the first place.
Wang Yuyang dalam opening film pendek ini ditolak cintanya oleh Chen Wen. Jadi sebagaimana lumrahnya seorang cowok pejuang cinta, Wang Yuyang enggak menyerah. Dia mendeklarasikan sebuah ‘proposal’ yang lain; bahwa dia akan memberikan koin berbungkus amplop kecil kepada Chen Wen setiap hari. Kesepakatannya adalah; di hari ke sembilan-puluh, Wang Yuyang akan menanyakan kembali apa yang sekarang ditolak oleh Wen. Jika masih ditolak, koin tersebut akan mereka gunakan untuk beli minum kemudian pisah untuk selamanya. If somehow Wen menerima (Yuyang berkata penuh harap banget saat ngejelasin ini), maka koin tersebut akan digunain buat ngurus surat nikah. Sutradara Michael Wong tidak mengambil langkah bertele dan memanfaatkan 9 menitan durasi dengan sangat efektif. Romansa yang mengalir dari kedeketan mereka berdua tergambar lewat visual dan sinematografi yang niscaya ampuh bikin penonton cewek meleleh. Enggak butuh berepisode-episode sinetron untuk membuat kita mengerti bahwa cinta lambat laun tumbuh di antara mereka.
Apalah cinta tanpa pilihan. Dan saat konflik itu tiba, The Story of 90 Coins doesn’t shy away dari fakta bahwa setiap manusia pada akhirnya harus memilih jalan sendiri. Oleh tuturnya, kita dibuat mengerti apa yang membebani dua sisi mata uang – yes , I’ve just punted it in – yakni Wen dan Yuyang. I think film ini punya kemampuan untuk beresonansi berbeda terhadap each penonton. It could sparks a healthy discussion di antara cowok dan cewek. To be frank, it’s hard not to pick a side when you’re watching a story as true and relatable as this. Menurutku, bukan hanya trust yang berpengaruh besar dalam menggali lubang di antara dua manusia ini. Semuanya kembali ke masalah seberapa besar seseorang menghargai janji.
it’s not just another mars and venus problem
Aku pastilah sudah hidup bak raja, tinggal dalam kamar bergelimang keripik kentang dan coklat jika Mamaku menepati janji-janjinya sekarang, “Udah, jangan rebutan! Nanti Mama belikan sepuluh lagi”. Dulu waktu kecil, setiap kali aku dan adikku berantem soal makanan (baca: setiap dua jam sekali, setiap hari!) – mainly because aku laper melulu dan my little evil sister pelit bukan kepalang – Mama akan menjanjikan beliin aku lagi hanya supaya kami berhenti saling lempar barang-barang.
Jadi, ya, karena sering diphpin begitu, aku tumbuh dengan tekad untuk sebisa mungkin nepatin janji betapa pun beratnya. Aku pernah janji gak ngehubungin orang, and I fulfilled that before we are friends again setelah setahun. Nelangsa, ya. Susah, memang. Tapi, aku berhasil enggak ingkar. Aku mengerti bahwa bagi sebagian besar, janji diumbar dengan gampang saja karena itu adalah jalan keluar termudah. And it will instantly work. Diajakin ngumpul, tapi kalian lagi pengen me-time? “Insya Allah gue datang yaa”. Diundang acara, tapi gak enak nolaknya sebab nanti giliran kalian yang bikin acara kalian takut temen itu ‘bales dendam’ gadatang? “Okeee, tapi aku rada telat kayaknya.”- and then you never show up, atau ngecancel di menit-menit terakhir.
Anak muda sekarang kan memang suka gitu, dia yang memulai, dia yang mengakhiri. Dia yang berjanji, dia pula yang mengingkari.
Eh, kenapa jadi lagu dangdut?
Film ini berkata “Don’t let a promise just be a beautiful memory”. Apa yang terjadi pada Wen dan Yuyang di akhir cerita menunjukkan kepada kita bahwa terkadang kita enggak ingat, or we do not even realize, that we take our dearest for granted. Kadang kita bisa menjadi begitu selfish. Dan oleh karena itu juga, bahwa kadang kita sering mengucapkan sesuatu tanpa benar-benar memaksudkannya .
Film ini akan menegur kita dengan manis. One could argue that montase kenangan di bagian akhir dapat menjadi terlalu sappy, tapi menurutku hal tersebut bekerja cukup baik dengan tone yang sudah dibangun oleh film. Kita bisa melihat beda antara karakter, yang mana menandakan penulisannya fokus. My little problem, well it is not really a problem sih, but I do think bagian ending film pendek ini sebenarnya enggak perlu-perlu amat. Narasi bisa berjalan tanpa kita harus tahu apa jawaban yang terlontar dari mulut Chen Wen. Aku lebih suka cerita yang membuat kita menebak, namun perlakuan film pendek dengan film panjang memang sedikit berbeda. Biasanya film pendek diakhiri dengan ‘kejutan’ atau sesuatu hal yang menohok banget, this short did just that. Dia mereveal semua supaya note dramatis dan emosional yang dihasilkan bisa maksimal terpush.
Aku senang dapat kesempatan tahu dan nonton film pendek ini. Aku merasa terhormat sudah dimintai pendapat mengulasnya sebagai ulasan short film pertama di mydirtsheet. The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 stars for THE STORY OF 90 COINS.
Buat yang pengen nonton filmnya dan tahu lebih banyak bisa ikuti salah satu link di bawah ini:
a) Short film streaming link:http://www.vimeo.com/143267832/ b) Facebook page:www.facebook.com/thestoryof90coins/ c) IMDb page:www.imdb.com/title/tt5182914/
That’s all we have for now.
Kesempatan masih terbuka loh buat yang punya film pendek dan pengen diulas, ataupun pengen discreening di Warung Darurat Bandung; silahkan hubungi kami lewat email.
Remember, in life there are winners. And there are losers.
“When a man assumes leadership, he forfeits the right to mercy”
Kera sering dianggap sebagai kerabat terdekat manusia. Para ilmuwan dengan teori evolusi sih berkata begitu, we are both primates, rantai DNA dan segala macem punya kesamaaan. Namun siapa sih yang sudi dikatain mirip ama monyet? Well, sejak menonton film pertama dari prequel seri The Planet of the Apes, suka gak suka aku jadi terhenyak juga melihat pelajaran yang terus berulang; bahwa manusia dan kera itu memang mirip tanpa kita sadari. Kera juga adalah spesies yang menyayangi keluarga, hidup bersosial dan saling berketergantungan, mereka punya rumah, mereka punya emosi yang membentuk karakter.
Bahwa kemanusiaan bukan ekslusif milik manusia semata. Malahan, oleh film ketiga ini – yang mengeksplorasi kata pertama dari judulnya – kita akan dibuat benci sama spesies kita sendiri. Kera diserang, diperbudak, mereka adalah korban dari ketidakmampuan manusia mengaplikasikan ‘kemanusiaan’ itu sendiri.
The Planet of the Apes has been a great series so far. Kita sudah melihat kebangkitan bangsa kera mengambil alih planet dari manusia. Kita sudah melihat permulaan era baru di mana bukan lagi manusia sebagai spesies terkuat, dan dalam film kali ini kita akan melihat perang antara manusia-manusia yang tersisa dengan kera-kera pintar itu terjebak di tengahnya. Namun lebih daripada tentang memenangkan peperangan tersebut, ini adalah tentang SURVIVE DARI HORORNYA PERANG. Perspektif film ini teramat kuat karena sebagian besar waktu kita akan ngikutin Caesar sebagai pemimpin bangsa kera, and it’s also about pilihan-pilihan yang dibuat oleh pemimpin. Struggle antara rasa belas kasih dan balas dendam menjadi elemen konflik yang mewarnai cerita.
screw science, we are at war!!
Pada titik ini, kita tidak lagi mengagumi Caesar hanya sebagai pencapaian teknologi. I mean, not to overlook the production dan efek film ini sih. Yang mana sangat mencengangkan. Sekali lirik adegan pembukanya saja, kita langsung sadar bahwa film ini dibuat tekun oleh sekumpulan orang-orang jenius yang sangat berbakat. Kerja motion capturenya adalah salah satu yang terbaik yang pernah aku tonton, semuanya terlihat nyata. Andy Serkis sekali bermain brilian menghidupkan Caesar. Seperti yang kutulis tadi, mereka bisa menyejejerkan manusia dengan kera dalam satu adegan dan kita akan lebih respek terhadap yang kera, tapi bukan lagi karena bulu dan tingkahnya terlihat asli dan meyakinkan. Caesar di sini teramat menderita. Dia bukan lagi kera kecil yang diajarin bicara sama James Franco. Dia tidak lagi seekor kera naïf yang idealis berusaha menjadi simbol perdamaian manusia dengan kera. Di sini Caesar dan kelompoknya belajar hal baru: Dendam. Amarah menguasai, as Caesar bergulat melawan sisi gelap dari dalam dirinya sendiri. Pertumbuhan inilah yang membuat War for the Planet of the Apes bekerja luar biasa berhasil sebagai penutup trilogi. Journey Caesar bukan hanya bergerak di dalam lingkar film ini saja, jika kita menonton ulang dari Rise, terus Dawn, terus War ini, maka akan terasa pergerakan natural dari arc Caesar dan tokoh-tokoh lain, bahwa arc mereka membentuk satu gambar besar. Tentu saja aku gembira sekali karenanya, sebab meski aku belum nonton seri yang jadulnya, aku suka seri Planet of the Apes modern ini sedari Rise (2011).
Tidak seperti Simian Flu yang enggak ada obatnya, untungnya film ini berhasil menyembuhkan beberapa ‘penyakit’ yang menurutku menjadi masalah dalam dua film sebelumnya. Main problem seri ini adalah mereka bicara begitu banyak sebagai kera, sehingga melupakan karakter manusianya. Tokoh manusia tidak dibuat semenarik Caesar dan kawan-kawan. Setiap kali film membawa kita ke posisi tokohnya James Franco atau tokohnya Jason Clarke, kita pengen cepet-cepet pindah kembali ke Caesar, yang selalu menjadi inti cerita. Dalam film ini, kita setidaknya dapat tiga tokoh manusia yang diolah dengan menarik. Terutama tokohnya Woody Harrelson yang awalnya terlihat komikal sebagai Kolonel keji yang menyerang rumah Caesar. Ada kedalaman di dalam tokoh ini. Kolonel adalah cerminan seperti apa jadinya Caesar jika dia terjerumus ke dalam lubang kesalahan yang sama. Kedua orang ini adalah pemimpin yang sama-sama menderita oleh pengorbanan dan kehilangan, jadi mereka ingin memastikan kelompoknya tidak lagi mengalami hal tersebut. Ada gagasan tentang trait pemimpin yang juga dibahas oleh film ini secara subtil lewat dinamika Caesar dan Kolonel.
Dan tentu saja simbolisme. Kolonel menangkap dan memperbudak kera-kera di markas pasukannya yang dibuat mirip banget ama markas pasukan holocaust. Pasukannya bahkan punya chant khusus segala. In fact, ada banyak imaji holocaust dalam film ini. Sejalan dengan itu, masalah kedua film-film Apes ini adalah terlalu banyak dialog eksposisi, terutama Dawn (2014) tuh, banyak banget. Dalam film War, penulis tampaknya menyadari hal ini, dan mereka membuang semua penjelasan, kecuali pada satu sekuen di mana Caesar dan Kolonel ngobrol tegang membahas apa yang terjadi di masa lalu.
kera saktiii, membuat semua orang menjadi gempar
Aku sudah dibuat ternganga semenjak tembakan pertama berdesing. Ada begitu banyak sekuens dalam film ini yang membuat aku takjub hanya dari sudut pandang filmmakingnya. Arahan Matt Reevers membuat cerita menjadi sebuah perjalanan emosi yang suram namun sangat indah untuk diikuti. Sinematografi dan editingnya pun menyambung dengan mulus. Tidak ada momen yang terasa out-of-place ataupun sia-sia. Semua yang terjadi di sepuluh menit pertama basically ngeset-up segala yang kita butuhkan mengenai narasi dan film ini dan pada akhirnya akan terkonek sempurna dengan babak akhir. Untuk melengkapi pencapaian akting dan visualnya, departemen musik pun turut menyumbangkan peran yang begitu besar buat penceritaan. Suara dan musik eventually menjadi aspek yang penting sekali sebab ada banyak sekuens di mana tidak ada yang berbicara. Caesar memberikan isyarat kepada kera lain, mereka berkomunikasi diam-diam, dan yang kita punya untuk dipegang memang hanya penampilan, timing pengambilan gambar, dan musik. Juga ada momen yang ngebangun detik-detik balas dendam Caesar yang entirely senyap, jadi permainan musik dan desain suara begitu vital. Ditambah dengan penampilan Serkis, maka kita dapat the very definition of epic right there.
Musuh selalu mengintai dari luar sana. Dan kekerasan manusia terhadap kera dalam film ini berfungsi sebagai metafora yang sangat pas terhadap keadaan kita dengan alam sekarang ini. Kita menjawab hal yang tidak kita tahu dengan ketakutan dan keinginan untuk mengontrolnya. Jadi kita merasa sebagai pemimpin dan berpikir berhak untuk membuang belas kasihan. Maka daripada itu, jika dibalik, siapkah manusia jika suatu saat nanti benar-benar muncul spesies yang lebih pintar untuk menggantikan posisi kita sebagai spesies alpha di muka bumi ini?
Salah besar jika kita masuk ke dalam studio, mengharapkan tontonan ringan yang ‘ceria’ oleh ledakan dan tembak-tembakan perang. Film ini begitu uncompromising sehingga menyebutnya fun sungguh sebuah typo yang disengaja. War digarap dengan unconventional. We do get a gigantic action scene, namun tidak bakal seperti yang kita bayangkan. Saat menonton pun, mungkin kita akan mulai berpikir, menebak-nebak ke mana arah cerita, you know, like, siapa akhirnya bakal melakukan apa, dan film ini tidak akan melakukan apa yang kita pikirkan. Narasi tidak memberikan jalan keluar gampang untuk karakter-karakternya. Film akan membuat mereka melakukan pilihan dan keputusan yang susah.
But also, film ini dengan berani mengambil resiko. Tone gelap itu berusaha mereka imbangi dengan sedikit suara ringan. Resiko ini datang dalam wujud kera botak yang menyebut dirinya “Bad Ape”. Tokoh ini adaah semacam komedik relief yang sebenarnya punya potensi untuk menghancurkan setiap adegan yang ada dianya dengan lelucon yang bikin nyengir. Sukur Alhamdulillah, film berhasil menemukan celah waktu dan kadar humor yang tepat, dan menurutku peran Steve Zahn ini menjelma menjadi salah satu kekuatan yang dipunya oleh film. Ada juga momen-momen manis yang datang dari tokoh gadis cilik bisu, yang salah-salah garap bisa saja hanya menjadi device nostalgia buat penggemar seri orisinil Planet of the Apes. Tetapi Nova oleh Amiah Miller begitu adorable, kehadirannya jadi simbol bunga di padang salju, eh salah, padang gurun, hmmm… medan perang, ding! Nova adalah harapan sekaligus bukti bahwa kedua spesies dapat hidup berdampingan.
Masterpiece ini bukan hanya tambahan yang hebat buat dua film sebelumnya, melainkan juga adalah sebuah penutup yang melengkapi trilogy ini dengan overaching plot yang sungguh-sungguh memuaskan. Setiap menit durasinya terasa sangat emosional dan riveting. Tidak ada dialog ataupun momen yang ‘salah’, kecuali satu kali mereka melakukan adegan eksposisi. Di luar itu, ini adalah cerita brutal tentang perang dan survival dan apa yang membuat pemimpin menjadi seorang pemimpin. Ini bukan blockbuster popcorn. Tetapi tak pelak, this was a beautiful experience. Penampilan aktingnya amazing semua, arahannya sangat riveting. Film ini adalah kasus langka di mana film ketiga menjadi film terbaik dalam trilogi tersebut. Dan juga adalah sebuah pengingat bahwa prekuel bisa kok menjadi sangat bagus jika digarap dengan sepenuh hati seperti ini. Explosive dan emosional, ini tak lagi sekedar khayalan gimana jika kera menguasai dunia. Ini sudah menjadi pembahasan mendalam apakah kita manusia, yang tidak berbelas kasih kepada alam, memang pantas untuk menjadi spesies penguasa dunia. The Palace of Wisdom gives 8.5 gold stars out of 10 for WAR FOR THE PLANET OF THE APES.
That’s all we have for now.
Remember, in life there are winners. And there are losers.
“Hey, Girl, open the walls, play with your dolls, we’ll be a perfect family.”
Rumah tangga yang ideal itu adalah rumah tangga yang kayak ditampilkan oleh rumah boneka. Coba deh intip rumah tangga yang dipajang di kamar adek cewekmu, ada ayah, ada ibu, ada anak, yang duduk ngumpul, mungkin di ruang tv. Yang beraktivitas bersama. Bibir plastik mereka dibentuk ceria.
Persis seperti begitu jualah keadaan keluarga Maira (Luna Maya dalam sebuah peran yang sangat unconventional, and she nailed every emotions). Bedanya pada jumlah orang, di rumah Maira juga tinggal asisten rumahtangga, Yani yang rajin. Keluarga kecil Maira tampak harmonis. Maira dan suami, Aldo (Herjunot Ali perlu bekerja lebih giat dalam urusan ekspresi) sering menghabiskan waktu bersama putri mereka, Kayla, yang demen ngerekam aktivitas sehari-hari dengan handycam. Main cari harta karun, menghitung kartu memori video bidikan Kayla, tiada hari tanpa nemenin Kayla dengan boneka kesayangannya, Sabrina, deh. Sayangnya, hari-hari itu sirna. Maira kehilangan Sabrina dalam sebuah kecelakaan; mobil yang membawa mereka bertiga tabrakan. Keharmonisan keluarga ini merenggang as Maira terus kepikiran Kayla. Sampai-sampai dia merasakan ‘kehadiran’ di rumahnya, kejadian ganjil mulai terjadi. Maira kerap melihat boneka Sabrina bergerak, berpindah tempat, mengajak dirinya bermain. Hal ini membuat Maira dan Aldo harus ‘bekerja’ sebagai keluarga kembali demi menuntaskan misteri sekaligus mengembalikan kehangatan di rumah mereka.
Ada sedikit psychological nudge dalam narasi, di mana Maira terlihat enggak benar-benar yakin apakah yang dilihatnya memang penampakan hantu atau berasal dari perasaan duka dan kehilangannya yang amat mendalam. Sahabat dan suami Maira malah enggak pernah melihat Sabrina beraksi dengan mata kepala sendiri. Langkah normal dan logis buat menyelesaikan masalah ‘boneka ku; hidup!’ tentu saja adalah dengan menyingkirkan that said doll, Sabrina dari rumah. Karena Sabrina adalah objek yang menghubungkan Maira dengan Kayla, membuat ibu ini tidak bisa melupakan kejadian tragis yang menimpa putri kecilnya itu. Membuat Maira enggak bisa move on. Dan di sinilah film The Doll 2 mengejutkanku. Cerita berkembang ke arah yang sama sekali berbeda. Yea it could destroy the movie entirely, lantaran reasoning dan menggarapnya masih dengan cara ‘menyembunyikan karakter’, you know, kayak sengaja biar gak ketebak sama penonton doang – enggak really terbuild up. Namun aku suka dengan sekuens berdarah-darah yang timbul dari pengungkapan ini. Revealing di menjelang babak tiga, katakanlah twistnya, benar-benar turn the movie around. Mengubah film yang tadinya lebih ke DRAMA HOROR, MENJADI ACTION SLASHER yang lebih membabi buta daripada Membabi-Buta (2017). Membuatku memikirkan ulang segala catatan yang udah kupetik sepanjang film.
ide buat pesta Halloween: lomba karaoke Lingsir Wengi.
Sepuluh menit pertama adalah waktu penting yang sempit buat narasi melandaskan mood, tone cerita, motivasi, dan stake yang akan dihidangkan. Aku masuk ke sekuel ini siap mencerca lantaran sepuluh menit pertama mereka habiskan untuk memperlihatkan kejadian akhir di film The Doll (2016). It was like a clip penuh oleh jumpscare, dialog eksposisi, dan elemen dari film-film horor luar yang jauh lebih sukses. Dan tadinya aku mengira adegan itu dimasukkan buat penonton yang belum pernah nonton film pertamanya, penonton seperti aku, semacam langkah buat nyambungin cerita lah. Tapi setelah aku melihat babak ketiga, setelah revealing yang membanting setir arah film, memasukkan adegan awal seperti itu bukan hanya supaya make sense, namun juga jadi langkah yang perlu banget. Karena itu adalah cara film ini untuk ngeset, ngasih tau kita kalo yang kita tonton sebenarnya adalah horor yang slasher abis. It was brutal, mereka memanfaatkan rating 17+ dengan maksimal. Adegan berdarahnya enggak nahan-nahan. Perut ditusuk-tusuk, badan dibanting-banting, aku seketika seger nontonnya. It was full of scream. Yea, kupikir sutradara Rocky Soraya sebagian besar mendapat pengaruh dari seri slasher buatan Wes Craven, Scream.
Dan mereka gak bisa ngesetup itu dengan sekaligus harus menyemen keharmonisan keluarga Maira. Film ini butuh cuplikan, dan itu adalah cara yang aman. Untuk selanjutnya, film mengambil waktu untuk memperlihatkan keharmonisan keluarga Maira. Kita benar-benar melihat perbedaan Maira antara sebelum dengan sesudah kecelakaan. Namun perihal kerenggangan rumah tangga, bahwasanya Maira tidak really merhatiin Aldo seperti yang direveal di akhir, tidak pernah tergambar jelas. Sekali lagi, setelah melihat film ini – aku banyak berpikir ulang – menurutku, kekurangeksploran build up soal hubungan Maira dan Aldo adalah disengaja sebab film ingin bekerja dalam ruang memperlihatkan keluarga mereka benar seperti keluarga boneka. Plastik. Terlihat harmonis dari luar sampai bikin iri pembantunya, namun di baliknya mereka punya masalah.
Let’s talk about design boneka Sabrina; I’m not a fan. Banyak orang mimpi buruk tentang boneka karena wajah boneka biasanya menunjukkan ekspresi yang statis. Seram datang setelah diliat-liat biasanya ekspresi minimalis boneka tersebut seolah berubah. Namun di sini, mereka overdid it, pengen nyaingin boneka film negara luar, eh malah membuat Sabrina jadi kurang seram. I mean, boneka standar kayak Susan aja sebenarnya udah seram kok. Dilihat dari betapa meyakinkannya praktikal efek yang digunakan dalam bagian-bagian yang gory, juga dalam make-up hantu, film ini punya SENSE HOROR YANG BAGUS. Jadi aku toh cukup tertarik juga menunggu untuk melihat apa sih yang bisa mereka lakukan dengan si Sabrina. Dan aku sedikit kecewa, lantaran selain matanya yang bergerak dan ngeluarin darah, mereka enggak bikin Sabrina bisa ngelakuin banyak hal.
Sebagian besar adegan berdarah, adegan horornya, dishot dengan bagus. Favorit film ini adalah ngambil view dari atas kipas angin di tengah ruangan, dan memang paduan kipas berputar dengan bercak darah yang diseret menghasilkan gambar yang cukup mengerikan. Film ini juga banyak bermain dengan cermin, yang mungkin adalah simbol subtil, but I guess it was played just for the cool effect.
“aku bukan boneka, bonekaaa~~”
Kebanyakan memasukkan elemen dan tropes horor lain menjadi beban yang menghalangi film ini untuk jadi lebih gede lagi. Separuh awal dihabiskan untuk membuat kita kaget oleh false jumpscare; udah ngagetin, bukan setan pula. Cuma orang yang datang bawa keranjang cucian. Padahal seperti yang kubilang tadi, film ini punya sense of horor yang ciamik. Seperti pada adegan akhir antara Maira dengan hantu Kayla. Untuk sekali ini, Kayla diliatin tanpa diiringi suara musik keras, dan hasilnya sungguh sebuah adegan serem sekaligus touching. Beautiful! Arc Maira sebagai ibu yang kehilangan anak, juga arc Kayla sendiri sebagai anak yang dirampas dari kasih sayang, selesai dengan menyeluruh. Adegan yang powerful; melihat ibu menunjukkan cinta kepada anak yang tampangnya menyeramkan, dan ultimately casting her away, merelakan. Ah seandainya semua adegan seram film ini mendapatkan perlakuan seperti adegan tersebut…
Ini adalah cerita tentang ibu yang kehilangan anaknya. Mengeksplorasi seberapa dalam orang terjatuh dalam duka, struggle untuk –bukan melupakan- hanya untuk menyimpannya sedalam kita bisa menjalankan hidup tanpa terusik oleh rasa kehilangan. Dan it doesn’t shy away dari fakta bahwa ketika kita kehilangan seseorang yang teramat disayangi, kita ingin menuntut balas.
Film inipun terlihat pengen menjadi banyak sekaligus. Bahkan beberapa adegan direkam dengan shaky cam, you know, sebab film horor kebanyakan berkamera goyang-goyang. Sepertinya ini dijadikan ciri khas, film ini adalah GABUNGAN GENRE HOROR; dalam cerita ini kita dapatkan elemen drama, horor hantu, slasher bunuh-bunuhan, dan even psikologis – enggak semuanya toh bekerja dengan baik, mainly disebabkan oleh penulisan yang gak bisa mengimbangi dan menampung semuanya. Kualitas dialog dalam film ini enggak begitu menonjol, masih mengandalkan eksposisi yang menurunkan nilai adegan. Misalnya, ada karakter yang sudah terbangun dari Kayla, dia nyebut dia suka bangun tengah malam, nonton dan buang air kecil. Later setelah dia meninggal, Maira mendengar suara tv dan siraman air di kamar mandi pada tengah malam. Sebenarnya kan itu adalah adegan yang seram, kita menyimpulkan yang didengar Maira bisa jadi adalah hantu anaknya, namun film malah memutuskan supaya hal subtil yang visual kayak gini diperjelas oleh dialog yang menerangkan semua. Juga terlalu banyak adegan “Tadi Kayla di sini. Ada boneka juga, liat deh,” dan ta-daa! bonekanya hilang. Totally a waste of dialogue yang mestinya bisa dimanfaatkan untuk build up ke twistnya.
Beberapa aspek cerita gak berujung apa-apa, seperti wish yang diucapkan oleh Aldo, yang membuat kita teringat akan Krampus (2015) atau malah permintaan ulang tahun Danur (2017) yang dibuat oleh film seolah bagian yang penting, they literally ngesyut asapnya beberapa detik kayak mau ngebuild up sesuatu, tapi tidak pernah ada efek nyata pada cerita. Ada juga sih, usaha untuk merasionalkan beberapa hal yang janggal pada narasi. Kayak teman Maira yang gak percaya takhayul, namun justru dia yang menyarankan mencari pemanggilan arwah lewat medium di internet. Namun tetap saja, hanya berakhir menambah paparan ketimbang memperkuat karakter minor. Dan menurutku, mereka benar-benar membuang kesempatan pada adegan kecelakaan, they should have sold it more convincing. Akting dan pengadegan di sana kurang intens, like, mereka melaju di dalam mobil yang remnya blong, itu adalah hal yang mengerikan, namun penampilan aktingnya enggak membuat kita ngeri yang maksimal, tabrakannya enggak ‘dijual’ dengan spesial.
It worked as a stand-alone movie; aku belum nonton yang pertama dan masih bisa ngikutin. Malahan bisa berkembang menjadi seri slasher/horor tanah air yang sangat bagus, jika tetap mempertahankan gimmick boneka digabung terus mengeksplorasi hubungan antara ibu dan anak. Unsur budaya lokal yang cukup kental juga membuat film ini jadi punya sudut pandang sendiri. Dan please… kurangi elemen-elemen film lain, dan tinggalkan sepenuhnya trope-trope horor usang yang membuat film jadi sebuah wahana enggak seram alih-alih tontonan yang creep out on us. Aku enggak tahu harus mengharapkan apa, dan berakhir dengan really surprised dan mildly entertained oleh babak terakhir yang gut-busting. Film ini memilih langkah dan arahan yang beralasan, namun masih ketutup dan terbebani oleh keinginannya untuk menjual banyak hal. Punya good sense of horror, bekerja baik sebagai drama, dan even better sebagai slasher. hanya saja dia ingin terlihat perfect untuk menyembunyikan kelemahan aspek pada narasi. The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for THE DOLL 2.
That’s all we have for now.
Remember, in life there are winners And there are losers.
You know, “Covergirls eat nothing.” She says, “Beauty is pain and there’s beauty in everything.” “What’s a little bit of hunger?” “I can go a little while longer,” she fades away
I gotta to be honest, pertama kali dengar lirik lagu Alessia Cara tersebut, aku merasa seperti sedang mengiris bawang merah yang banyak banget. Aku sungguh berharap enggak ada teman-temanku yang pernah pingsan karena sengaja gak makan. I can’t imagine being girls di jaman sekarang, I mean, dengan segala tuntutan sosial itu; harus putih, harus langsing. Anorexia sendirinya adalah problem yang serius. Dan setelah nonton film To the Bone yang MEMBAHAS ANOREXIA SECARA MENDALAM DAN SANGAT JUJUR, aku jadi semakin ngeri. Karena Anorexia enggak selamanya hanya karena si cewek pengen terlihat cantik. Seperti Ellen, ketika dia dikomentari ibu tirinya yang khawatir “Cantik enggak dirimu menurut kamu?” Ellen memandang foto diri yang tinggal kulit membalut tulang, dan menjawab “Enggak”. Anorexia berkaitan dengan masalah psikologis yang bisa berasal dari apa saja. Ellen yang dealing with severe anorexia terutama harus menyadari dan mengaccept dulu trauma yang membuat dia menjadi begitu anti sama makanan.
Film ini enggak menahan diri soal urusan penceritaan, semuanya digambar blak-blakan oleh narasi. Bukan hanya membahas apa dampak eating disorder terhadap si penderita, baik secara fisik dan psikologis. Film juga mengeksplorasi akibatnya terhadap keluarga dan orang-orang yang benar-benar peduli terhadap si penderita. Ellen dibujuk untuk mengikuti pengobatan khusus di mana cewek berdarah seni tinggi ini harus tinggal bersama beberapa orang yang juga mengidap berbagai kelainan enggak-mau makan. Ada cewek yang diam-diam ngumpulin muntahnya di bawah ranjang, ada cewek yang begitu parah sehingga harus dikasih asupan lewat tube, ada juga wanita yang tengah mengandung bayi tapi masih ogah makan sehingga membahayakan nyawa si janin. To the Bone bukanlah film light-hearted di mana semua penghuni rumah inap dokter yang metodenya sangat radikal itu pada akhirnya akan menjadi sahabat dan semuanya berakhir happy ending.
kalo bisa milih, gak ada lagi orang di dunia ini yang kita percaya untuk nasihatin kita, to make us feel better, selain Keanu Reeves
Sekilas, memang sepertinya plot yang dihadirkan agak dilebih-lebihkan, seakan memancing yang susah-susah dari keadaan mental yang menyedihkan dari seseorang yang insecure atas dirinya. Film ini akan terasa too much dan terlalu jauh, namun sebenarnya ini adalah cerita yang SANGAT AKURAT DALAM PORTRAYALNYA mengenai penderita Anorexia. Ellen bahkan enggak mau menggigit makanan, let alone menelannya. Dia menolak ide mencerna apapun yang mengandung banyak kalori. Ellen udah kayak kamus gizi berjalan, dia hapal kandungan kalori dalam setiap makanan, just so dia bisa menghindarinya. Dia mengukur lingkar lengannya, dan bila ia rasa jadi sesenti lebih gede, Ellen akan membakar kalori – seberapa pun yang tersisa di tubuhnya – dengan berlari naik turun tangga. Dan sit up sampai punggungnya lecet. Konyol? Maybe, namun enggak ada yang corny soal anorexia. Karena ini adalah penyakit nyata, ada orang-orang di luar sana, cewek dan cowok, yang mengalaminya. Aku memang enggak kenal orang anorexia, tapi setelah menonton ini aku ngeri juga bahwa aku bisa saja termasuk di antara mereka.
Aku enggak pernah insecure soal penampilan. Namun dulu berat badanku mencapai 72 kilogram, dan itu membuatku kesulitan bergerak. Apa-apa capek, apa-apa keringetan. Mandi aja aku keringetan ngangkat gayung. Jadi aku mulai menurunkan berat sehingga sampe sekarang sukses bertahan di angka 50. Tapi kebiasaanku makan sejak misi ‘diet’ itu nyaris sama seperti yang dialami oleh Ellen, meski enggak seekstrim itu. Aku completely discarded sarapan off of my daily menu. Aku sebisa mungkin ngehindari daging dan gula. Apalagi gorengan. Dan kalo kepepet memakan salah satu dari hal tersebut, aku akan bingung sendiri mikirin gimana bakar kalorinya. Biasanya setiap pagi aku akan lari di tempat sambil nonton WWE. Yang dilanjut dengan push-up, squat jump, dan sit up. Alih-alih lingkar lengan seperti Ellen, aku mengukur lingkar pinggang – tidak boleh lebih dari 3.5 jengkal!! Aku bahkan mencibir ide bahwa manusia harus banget makan tiga-dua kali sehari; bayangkan berapa banyak hal produktif yang bisa dilakukan saat kita nyempetin duduk di meja kantin selama 30 menit. Aku pun masih ingat reaksi keluarga dan teman-teman ketika aku muncul di hadapan mereka dengan ‘wujud baru’, persis seperti reaksi keluarga dan teman-teman Ellen. “Kurusan banget, ih”, “Mirip tengkorak”, ibuku nodongin makan setiap limabelas menit sekali, sampai my dad jadi punya topik baru dalam ceramah rutinnya. Jadi aku tahu betapa akuratnya film To the Bone ini, dan buat aku yang bukan penderita aja, film ini udah disturbing secara personal.
Setelahnya, aku jadi pengen makan banyaaaaakk sekalliiiiii
Sutradara Marti Noxon pun tampaknya paham soal ini. Dia tahu langkah dan keadaannya, dia tahu perlu sekali mengarahkan film ini untuk enggak menjadi politically correct, walaupun cerita yang digarapnya melintasi subyek yang enggak mudah untuk dibahas. Kudu hati-hati, dan Noxon mutusin untuk tidak menyembunyikan apapun. Tidak ada gunanya membahas tema ini dengan bersopan-sopan. Tokoh-tokoh dalam film ini mengatakan ataupun melakukan hal-hal yang tergolong perbuatan tak-senonoh, mereka bicara kasar, dan tak sekalipun film ini berusaha mengoreksi mereka. They just do it, dan kita mengerti. Bahwa mereka-mereka ini sedang dalam titik terendah hidup mereka, di mana mereka bahkan enggak bisa mastiin mereka masih hidup minggu depan atau enggak. Cara yang dilakukan film ini sukses menempatkan kita sebagai penonton di mana kita bisa merasakan penderitaan mereka, that they no longer care about things.
Dan untuk menyembuhkan mereka, lebih tepatnya membantu mereka menemukan keinginan untuk sembuh, film ini tidak mendatangkan dokter yang sekedar menanyakan kabar dan bermanis-manis ria menaikkan mood pasien, ngasih obat, lalu pulang. Dokter Beckham yang diperankan oleh Keanu Reeves ditulis dengan amat baik, karakternya sangat entertaining, dan Keanu Reeves really nailed this character. Dia akan menatap pasiennya lekat-lekat di mata, dia enggak akan peduli dengan perasaan, dia cuma mau mereka melihat ke dalam diri, dan literally akan bilang persetan dengan pikiran kalian sendiri yang membuat kalian enggak mau makan.
Tadinya aku sempet kepikiran kalo Emma Roberts bisa jadi pilihan yang bagus buat meranin tokoh Ellen. Tapi toh lama kelamaan as I watch this through, kerja Lily Collins benar-benar membuatku terkesan. Penampilannya di sini stand out banget. Dia rela jadi kurus buat peran ini, tapi bukan berat badannya aja yang bikin ia tampak mencuat, dia hidup sekali di dalam karakternya. Collins membawakan tokoh ini dengan sangat tertutup dan was-was, yang mana merupakan perilaku yang tepat buat orang yang benar-benar mengalami kondisi mental seperti tokoh ini. Like, Ellen enggak mau disentuh oleh orang, dia ingin dibiarkan sendiri. Aspek karakter inilah yang diportray oleh Collins dengan meyakinkan, membuatnya sangat bersinar. Ada adegan antara Ellen dengan ibu kandungnya (Lili Taylor fantastis dan kupikir dia adalah aktris yang sangat underrated sekarang ini) yang sangat merenyuhkan hati menjelang akhir. Ini adalah jenis adegan yang beresiko tinggi, terlihat bagus di naskah namun eksekusinya bisa jadi sangat komikal dan merusak semuanya. Untungnya, akting dan delivery kedua pemain yang terlibat berhasil mengangkat adegan tersebut, menghasilkan momen yang indah dan magis. Dan membuat arc keduanya comes full circle.
Saat muda adalah waktu yang paling susah untuk kehilangan sosok ibu. Ellen berpisah dengan ibu kandungnya, yang ternyata adalah seorang lesbian. Dan ini dijalankan selaras oleh narasi dengan keengganan Ellen untuk makan. Deep inside, dia enggak mau ‘makan’ yang lain. Karena sebenarnya Ellen’s craving for mother figure. Ellen ingin jadi sesuatu yang membuat orang-orang ingin mengasuhnya. To be an envy for her mother. The real one.
Ada satu lagi tokoh yang menarik, yaitu Luke; pasien cowok satu-satunya di rumah inap tempat Ellen berobat. Alex Sharp memainkan tokoh ini dengan sangat charming. Karakternya adalah penari dari London yang patah kaki, yang membuat karirnya kandas, sehingga dia menyiksa diri dengan enggak makan. Akan butuh waktu sebelum kita bisa meapresiasi karakternya secara maksimal, karena memang di awal-awal dia sedikit lebay. Dia memaksa Ellen makan coklat, dan sebagainya. Oleh karena kita terinvest begitu banyak kepada Ellen, maka reaksi kita kepada Luke pun akan sama dengan reaksi Ellen kepadanya. Tetapi niscaya, karakter ini akan grew on us, arcnya pun juga sangat tertulis rapi. Luke kadang menyapa Ellen sebagai peri kecil, dan dari situ ada adegan di akhir yang terasa agak terlalu orchestrated. Teatrikal banget. Terasa enggak sesuai dengan keseluruhan film, seperti menyelipkan sesuatu yang terlalu rumit di antara padanan yang kelam. Dan bagian akhir itulah satu aspek dalam film ini yang enggak sreg buatku.
Bikin kita terpesona sejak adegan pertamanya, ini adalah film yang tertulis dengan amat baik, mengeksplorasi psikologis orang-orang yang punya pandangan menarik tentang kebutuhan makan. Dan dihidupkan oleh permainan akting yang luar biasa. Topiknya yang suram dan disturbing dan acapkali inappropriate dibahas dengan hati-hati namun tidak pernah menyembunyikan apapun. Keblakblakan film ini akan menyelematkan semua orang yang sempat kepikiran untuk mengambil keputusan serupa yang menghancurkan diri sendiri. Tak pelak, film ini akan membekas lama. Sampai ke tulang belulang. The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for TO THE BONE.
That’s all we have for now.
Remember, in life there are winners. And there are losers.
“Actions are the seed of fate deeds grow into destiny.”
Adalah prestasi yang membanggakan jika sebuah film dinanti-nanti sekuelnya lantaran para penonton sangat jatuh hati kepada karakter yang ditampilkan. Penonton ingin melihat lebih banyak dari karakter-karakter tersebut. Seperti yang terjadi pada Filosofi Kopi (2015), perjalanan persahabatan Ben dan Jody begitu hangat dan kental sehingga dibikinlah cangkir kedua, eh maksudnya film kedua ini. And keep in mind, bahwa tadinya Filosofi Kopi berangkat dari cerita pendek. Sekarang, berkembang menjadi kedai kopi beneran, brand bisnis beneran, tak pelak – ini sudah menginspirasi banyak orang, khususnya anak-anak muda, bahwa berbisnis itu keren. Bahkan aku juga sekarang udah membuka kafe eskrim di Bandung, di mana aku nyiapin dan served people myself. Meski memang backstory buka usahaku lebih mirip seperti Max Black’s ketimbang Ben dan Jody yang kekinian.
Bisnis ada seninya. It’s not just about math ataupun sekedar statistik keuntungan-kerugian. Bisnis juga adalah soal cinta. Kita bisa belajar begitu banyak, sehingga pengembangan bisnis sejatinya adalah pengembangan diri sendiri.
Dalam sekuel inipun diceritakan kesuksesan Filosofi Kopi milik Ben dan Jody membuat menjamurnya anak muda yang bikin kedai kopi serupa. Filosofi Kopi sudah menjadi semacam legenda, “Mitos,” kata Luna Maya. Jadi bahan obrolan di antara barista-barista yang terinspirasi, kopinya jadi tolak ukur standar tinggi. The Legend now wants to return home. Bisnis roadtrip mereka enggak jalan ke mana-mana, meski memang mereka udah keliling Indonesia memasyarakatkan kopi selama dua tahun belakangan. Jadi, Ben dan Jody kembali ke kedai di Melawai. Mereka harus kembali struggle nyari investor sebab beli properti enggak murah. Dan oleh karena ini adalah film sekuel, maka harus ada ide baru dan stake harus dipergede. Sehingga Filosofi Kopi, ultimately, mengekspansi gerai kedai mereka ke kota Jogja, mereka harus ngehire orang-orang baru, dan persahabatan Ben dan Jody teraduk-aduk karenanya.
dan Luna Maya datengnya telat melulu
Ada dua tokoh baru yang menambah cita rasa cerita Filosofi Kopi 2. To be honest tho, aku enggak begitu mengerti dinamika cinta segi kotak di antara Ben-Tarra-Jody-Brie-Ben sebab meski memang keempat ini punya karakter, relationship mereka tidak benar-benar terflesh out dengan baik. Ben dan Jody, they are funny, kita percaya persahabatan udah mengakar kuat pada mereka. Namun saat-saat mereka berantem, mereka berpisah, mereka reunite, terasa lebih seperti tuntunan sekuens naskah ketimbang terdevelop secara natural, you know, terbentuk dari interaksi actual dan genuine di antara mereka. Padahal elemen inilah yang penting lantaran film kali ini is LESS ABOUT RUNNING A PLACE AND MORE OF A STORY ABOUT CHARACTERS.
Karakter Tarra yang diperankan oleh Luna Maya adalah investor yang aim big but really strict untuk urusan bisnis, dia gakenal orangtua dan teman kalo udah nyangkut bisnis, keopimisannya membuat Tarra cukup menarik. Tarra merupakan padanan yang pas buat Paman Gober, alias Jody. Karakter tokoh pendiem-nan-calming milik Rio Dewanto ini lebih mudah kita relasikan, as opposed to Ben. Dalam film ini tergambar jelas bahwa jika Ben adalah sosok yang kita inginkan untuk menjadi, maka Jody adalah sosok yang mewakili realita; dia adalah siapa kita turn out to be. Dan aku senang di film ini Jody dapat jatah unjuk kebolehan ‘ngegombal’ di depan cewek dalam sebuah adegan simbolik yang dihandle dengan baik.
Brie si barista baru, however, kita baru mengerti dia siapa di paruh akhir. Karakternya menarik; she was a fan, tapi dia ngabisin sebagian besar shift kerjanya dibentak-bentak oleh Ben. Namun dia punya cara tersendiri yang ia yakini dalam bikin kopi. Aku sendiri enggak pernah ngefan sama teknik cerita yang sengaja nyimpen satu karakter untuk ‘revealing’ tanpa pernah ngebuild revealing tersebut. So yea, personally, aku pikir Brie bisa menjadi sudut pandang yang (lebih) menarik sebagai tokoh utama cerita, Nadine Alexandra pun pastinya capable diberikan role ini, jika kita lihat gimana usahanya menghidupkan Brie.
Now let’s talk about Ben. Chicco Jerikho breaths in this character, udah senyawa bangetlah pokoknya. Ben adalah orang yang sangat ahli, sekaligus amat menyintai apa yang ia kerjakan. Kita sering mendapati Ben mengelus-elus alat pembuat kopi, dia memegang biji kopi dengan penuh hormat, dia memperlakukan kedai dan segala atributnya seperti anak menghartakarunkan mainan kesayangan. Maka kita paham darimana ‘trust issues’nya datang, Ben enggak segampang Jody dalam mempekerjakan barista-barista baru. Ia enggak sembarangan menerima orang. Namun kadang, sifat Ben membuat kita enggak mengerti apa motivasi dirinya, like, filosofi-filosofi yang ia berikan kepada cewek-cewek yang beli – apakah murni dari hati ataukah semacam gombalan itelijen? Di sinilah letak menariknya karakter Ben; kita enggak pasti sehingga kita selalu ingin tahu dia lebih dalam. When he’s being a jerk, kita kesel beneran. Dan ketika ia jatoh, kita bersimpati.
Anak kecil, katanya, tidak berdosa as dosa-dosa mereka ditanggung oleh orangtua. Ajaran agama bilang begitu. Tapi di sini, di dunia fana penuh judgment, yang terjadi adalah kebalikannya. Dosa orangtua biasanya diterus-terusin ke anaknya. Bapaknya maling, anaknya yang menanggung malu. Bapaknya jahat, anaknya yang bertanggungjawab. Dan berapa banyak dari kita yang nyalahin orangtua yang menuntut banyak, atas ketidakberanian kita mengejar mimpi sendiri? Padahal kita bakal tumbuh menjadi apa ditentukan oleh aksi kita sendiri. Benihnya mungkin ditanam dalam pengaruh orangtua, namun tindakan kita yang menentukan bakal tumbuh menjadi apa.
Sebagai sebuah film, Filosofi Kopi 2 mampu untuk berdiri sendiri. Semua elemen ceritanya terconclude dengan baik. Kamera sukses berat jalan-jalan menghasilkan gambar-gambar yang terlihat festive sekaligus elegan. Aku notice musiknya, padahal biasanya musik adalah aspek yang paling sering kulewatin – ketika Ben nerima telepon di sekitar tengah cerita, musik kerennya ngingetinku sama musik di A Clockwork Orange nya Stanley Kubrick. Konten budaya turut diracik larut ke dalam penceritaan. Dibandingkan film yang pertama, wilayah cerita kali ini terasa lebih luas. Bukan saja karena mereka memang ceritanya lagi ekspansi, namun juga terasa lebih gede dari segi karakter. Akan tetapi, sebagai sekuel, as in kita melihat kedua film ini dalam gambar yang lebih gede yang bersambung, pertumbuhan atau perkembangan karakternya terasa muter di situ-situ aja. Apa yang dialami oleh Ben dan Jody di film yang kedua ini, pernah mereka alami sebelumnya. Ben dan Jody berantem lagi. Ben dan orangtuanya lagi. They just reharsh the plot. Mereka bahkan memasukkan penggalan film pertama saat adegan di kebun kopi, karena film ini benar-benar mengeksplor kembali hal yang sama. They might as well masukin flashback Ben kecil dari film pertama karena dapat membuat cerita film ini bekerja lebih baik.
Tidak ada sense of discovery, Ben dan Jody tidak terasa belajar hal yang baru di sini. Tidak ada momen seperti mereka terperangah nemuin resep kopi yang enak dari seseorang yang enggak mereka expect sebelumnya kayak di film pertama. Well, di film ini ada momen ketika Ben akhirnya ngakuin kopi buatan Brie enak, hanya saja enggak cukup believable karena di poin itu cerita ngebuild up Ben yang kehilangan Jody yang udah bareng Tarra, jadi segala Ben’s accepting towards Brie itu malah jadi kayak supaya Ben punya ‘cewek’. Menjadikan film ini semacam menegasi yang pertama, iya sih di sini mereka menyebut-nyebut aspek (dan tokoh) dari film pertama, namun Filosofi Kopi 2 –menilik dari plotnya- bisa saja bekerja sebagai origin atau malah remake dari yang pertama.
Plotnya enggak efektif. Mereka sudah sangat menarik berubah menjadi kedai kombi yang jualan berkeliling Indonesia, untuk kemudian malah kembali ke Jakarta. Setelah di sana pun terusan ceritanya adalah mereka kembali ‘jalan-jalan’ ke Jogja hingga ke Toraja. Kenapa gak sekalian cerita roadtrip aja? Motivasi yang membuat Ben dan Jody pengen balik ke Jakarta juga enggak kuat, datangnya dari anak buah yang mengundurkan diri. And speaking about that, ketika mereka balik buka filkop di Jakarta, anak buah yang tadinya berhenti malah kerja lagi bareng mereka, tanpa banyak pendekatan ataupun reasoning yang berbobot emosi – I mean, what about your dreams, Aldi? (or Didi? Amdi? Sorry didn’t really catch the name).
Pace film juga sedikit bermasalah, filmnya terasa panjang. Ada banyak adegan yang melambatkan film, dan seolah-olah rela dimasukin demi kepentingan iklan produk saja. Adegan kayak Jody masukin sabun cuci muka ke dalam tas sebelum nyusul ke Jogja sebenarnya enggak berarti apa-apa. And while we at it, kakaknya Jody juga enggak ada ngaruhnya selain mercikin sedikit komedi yang nyaris cultural. Iklan orang alias cameo juga ada, dan digunakan sebagai device yang memudahkan karakter. Kayaknya setiap persahabatan bisa langsung baikan deh kalo yang nasihatinnya adalah Joko Anwar.
Here’s for the next pitch: Filosofi Kopi v.s. Starbucks !!
Sempat ada sayembara menulis sekuel Filosofi Kopi, dan dua cerita pemenang kompetisi itulah yang dijadikan ide buat difilmkan. Nyatanya, Filosofi Kopi 2 terlihat seperti those good ideas, the whole of them, digabungin bersama. Emosinya gak benar-benar tersampaikan lantaran film melanglang membahas banyak. Aku bukannya mau nuduh ideku ada di sana, ataupun ideku lebih bagus, karena it was absolutey ridiculus. Ceritaku involving Ben pergi ke kontes barista sedunia jadi mereka butuh nyari barista baru, hanya saja Ben enggak sembarangan nerima orang, dia gak percaya ama kopi orang, dan cerita akhirnya resolve dengan Filosofi Kopi baik-baik saja tanpa dirinya – Jody akhirnya bisa bikin kopi juga. Resolusi cerita dalam film ini, aku gak mau spoiler banyak, mirip-mirip seperti itu, hanya saja ketika Jody melakukan sesuatu, dampaknya tidak begitu wah. Dari sisi Ben, arc nya tertahan untuk bergulir lantaran Ben dan Jody not really together di akhir cerita. It does giving something new buat karakter Ben. Film akan menjadi lebih menarik jika bagian ini datang lebih cepat, dibuild up dengan lebih matang, alih-alih menghabiskan paruh awal dengan mondar-mandir berusaha mengestablish set up yang sebenarnya toh sudah ada sejak film pertama.
Jika dulu masalahnya ada di rasa – penggarapan cerita Filosofi Kopi pertama enggak terasa begitu berbeda di luar tema dan premisnya, maka kali ini masalah terletak pada bahan kopi. Tapi jangan salahkan film originalnya jika sekuel enggak bisa untuk tampil lebih baik. Still, ‘kopi’ ini kemasannya mewah. Trendi. Membuatnya gampang untuk disukai. Dan orang-orang akan banyak suka ama film ini, terutama karena karakter-karakternya yang asik banget dijadiin role model. Regarding film ini, aku punya filosofi sendiri. Filosofi Piring Kopi; Dulu waktu kecil, aku selalu disaranin minum kopi di piring datar kecil yang jadi tatakan karena aku selalu membakar lidahku sendiri minum kopi yang panas. Film ini adalah piring itu, kopi atau cerita yang dituang di atasnya dengan cepat menjadi dingin, dan berkuranglah kenikmatannya. The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 for FILOSOFI KOPI 2: BEN & JODY.
That’s all we have for now.
Remember, in life there are winners. And there are losers.
“The love of a family is life’s greatest blessing”
Gru kini fokus sebagai pria yang punya keluarga. Dia punya istri yang juga merupakan partnernya dalam organisasi rahasia super keren yang khusus menangkap penjahat-penjahat. Dia tentu saja juga harus merawat tiga gadis cilik; Margo, Edith, dan Agnes yang sudah diadopsinya sejak film pertama.. cekiitttt-rem dikit, yes, ini adalah film ketiga dari seri animasi sukses buatan Illumination Pictures. Aku suka dua film terdahulunya, terutama yang pertama. I actually really enjoyed that movie. Para Minions juga sangat lucu-lucu, meski aku lebih suka mereka sebagai sidekick komedi dibandingkan saat mereka menjadi film sendiri. Kisah Gru sebagai penjahat kelas kakap yang berubah menjadi baik oleh kehadiran tiga anak sepertinya sudah comes full-circle. Tapi tampaknya studio tidak memandangnya seperti itu dan mereka membuat film ketiga ini. Yang lantas membuat kita bertanya-tanya, apakah memang perlu ada film Despicable Me lagi?
Banyak anak, banyak rezeki. Jika kita sudah berkeluarga, akan lebih banyak pintu rejeki yang terbuka. Orang Indonesia percaya banget ama petuah tersebut.
Makanya banyak orangtua kita yang suka nanya-nanyain kapan kita hendak berkeluarga. Dan biasanya yang ditanya bakal menjawab sambil cengengesan “tunggu mapan dulu.” Jawaban yang biasanya langsung diuber dengan “hee jangan lama-lama, anak ama istri itu ada rejekinyaaa!!” Gru clearly tidak melihat kenyataan seperti ini pada awal cerita dimulai. Dia malah ditinggalkan oleh anak-anak buah yang setia padanya karena enggak mau ngelakuin aksi jahat lagi. Kerjaan pun kandas lantaran Gru dan Lucy kembali gagal menangkap pencuri nyentrik berambut model mullet yang bernama Balthazar Bratt. Gru struggling untuk mengenyahkan perasaan sebagai orang gagal, hard baginya melihat Agnes harus menjual boneka unicorn kesayangan. Tapi keluarga Gru bukan sebatas itu. Adik kembarnya muncul; berambut pirang nan halus, kaya, dan tentu saja seperti Gru, Dru juga punya sisi jahat. Bersama mereka bertualang, termasuk – demi membuktikan kemampuan Gru – menangkap pencuri super yang demen kelahi sambil breakdance dan menembak orang dengan permen karet.
that gum you like is going to come back in sta-il!
Wajar jika film animasi modern telrihat menawan, namun kejernihan visual dan gambar film ini enggak boleh dipandang sebelah mata. Keren banget. Liat deh aksi final dengan robot besar menyerang kota itu. Nyaris seperti foto. Badan papoy nya terlihat kayak pisang yang mulus banget. Ketika Agnes dan pemilik bar setuju unicorn “so fluffy I’m gonna die”, kita bisa mengaplikasikan kalimat tersebut untuk betapa cerah dan halusnya animasi film ini. Dari dua lelucon kentut yang muncul di opening credit saja kita bisa tau film ini ditargetkan terutama buat anak-anak. Dan benar, ada banyak lelucon di dalam cerita yang mengalir dengan pace yang senantiasa cepet. Membuat film ini fun untuk ditonton. Suprisingly enough, beberapa LELUCON YANG HADIR LUMAYAN DEWASA untuk anak-anak. Ada waktu ketika hanya beberapa orang gede yang tertawa saat aku menonton di bioskop tadi. Malah ada juga joke yang sedikit too much, kayak ketika minion mengomentari sebuah patung wanita mirip dengan Gru yang punya “boobs!”. Mungkin memang bukan masalah besar sih, karena anak-anak toh belum mengerti. Sama halnya seperti referensi pop-culture, film, dan musik 80an yang turut mewarnai cerita, yang tentu saja hanya konek dengan penonton yang lebih dewasa.
Despicable Me (2010) dan Despicable Me 2 (2013) tampak mengerti di mana titik temunya antara hiburan bagi orangtua dan anak-anak. Kedua film tersebut tampil kocak dengan suguhan emosi yang memberikan bobot lebih, although film yang kedua semacam runtuh sendiri setelah pertengahan. Film yang ketiga ini, however, lebih terasa SEPERTI FILM KARTUN KETIMBANG ANIMASI LAYAR LEBAR. Despicable Me 3 sepertinya berpikir bahwa orangtua akan terhibur menonton lelucon dewasa yang dihadirkan, dan anak-anak akan betah melihat animasi yang spektakuler. Poinku adalah, film ini hanya mengarah kepada lelucon untuk membuat orang tertawa. Dia tidak pernah benar-benar mengeksplorasi emosi. Sesuatu langkah yang mengecewakan karena narasi film ini sarat oleh lelucon dan tema-tema dewasa dan berbobot.
Ketika punya subplot seperti Lucy yang berusaha menjadi ibu yang baik, Gru dan Dru yang pengen bonding sebagai saudara, Agnes yang mau mencari unicorn, bahkan motivasi Evil Bratt sebagai mantan aktor cilik yang dibuang oleh Hollywood lantaran udah ketuaan, Pixar mungkin akan menggarapnya menjadi berisi seperti Inside Out. Namun Despicable Me 3 hanya melihat semua itu sebagai pengisi humor. Yang sukses juga menghasilkan beberapa tawa di sana-sini. Tapi enggak cukup konsisten untuk menjadi benar-benar lucu. Pisahnya Gru dengan Minions adalah elemen cerita yang bagus dan fresh sebab kupikir kita akan melihat mereka bekerja ‘sendiri’ dan nantinya akan regroup lagi setelah melewati journey yang selaras. Tapi ternyata enggak. Sekali lagi, film JUST PLAY IT FOR LAUGHS. Soal Gru dan Dru, mereka terpisah sejak lahir. Orangtua mereka bercerai dan masing-masing membawa satu anak. Ada adegan ketika ibu Gru menjelaskan hal ini dan menyinggung kalo mereka sebenarnya salah membawa anak yang mereka sukai, jadi baik Gru dan Dru mendapat orangtua yang membesarkan mereka dalam kekecewaan. Ada kedalaman di sini. Seharusnya cerita bisa punya bobot emosi yang gut-wrenching. Tetapi film tidak pernah mengejar emosi.
Mending dijadiin sinetron “Anak Jahat yang Tertukar”
Terpaksa menunjukkan kegagalan, ketidakmampuan, adalah hal terberat yang harus dialami oleh orangtua terhadap anak-anaknya.
Dulu banget di twitter aku pernah bilang seandainya Santino Marella yang nyuarain Gru pasti bakal lebih lucu. Tapi aksen Steve Carrel sebagai Gru has really grow on me. Di film ini, dia ngetackle dua peran, dan keduanya terasa hidup. Dan kocak. Ditambah lagi, Gru adalah karakter yang hebat. Progresnya menarik. Di film pertama dan kedua kita udah melihatnya, makanya tadi di atas aku menuliskan, ke mana lagi karakter Gru ini bisa berkembang? Untuk inilah aku datang ke bioskop siang tadi. Dalam film-film sebelumnya, Gru punya sesuatu yang harus dia ‘urus’ yang enggak ia sangka-sangka sebelumnya dan dibahas dari segi emosi. Dalam film ini, ya, dia memang kaget ternyata dia punya saudara kembar, namun sekali lagi, emosi tidak pernah dikejar, film hanya memainkannya untuk humor. Karakter Gru di sini tidak punya arc. Tujuan karakter ini sudah tercapai. Journeynya benar-benar sudah mentok, he didn’t have anywhere to go in this movie di luar adegan-adegan lucu dengan saudara kembarnya.
Sementara itu, penjahat utama film ini, Balthazar Bratt yang disulih suara oleh Trey Parker punya aspek yang menurutku bisa sangat kocak dan menarik. Mestinya di sini bisa menarik mendengar Parker keluar dari zona nyamannya, yakni humor yang dipasarkan untuk anak yang lebih kecil. Dia enggak bisa move on dari peran Hollywoodnya. Dia mengoleksi mainan dirinya, dia sangat terobsesi dengan acara TV dan perannya tersebut. Kita bahkan dikasih liat potongan acara yang ia bintangi. Build up yang bagus dan sangat lucu, namun cerita terus saja mengulang-ngulang humor yang sama dari karakter ini sehingga terasa mereka enggak tahu harus membawa tokoh ini ke mana lagi. Adegan berantem dengan ‘jurus’ breakdance itu juga semakin berkurang kepentingannya sebab kita sudah pernah melihat hal yang sama dalam film Zoolander (2001). Dihandle dengan lebih baik, pula.
Perfectly enjoyable, pas untuk ditonton bareng keluarga. It’s a light-hearted. Gambarnya spektakuler. Menyenangkan, seringkali lucu. Akan tetapi, demi menjawab pertanyaan di awal ulasan ini, film ini toh terasa enggak penting-penting amat. Hanya bermain untuk humor tanpa mengeksplorasi kedalaman yang timbul dari jalan ceritanya. Butuh lebih banyak pukulan emosi untuk membuat seri ketiga ini menjadi tontonan yang berarti. Lebih seperti kartun adalah cara terbaik untuk menggambarkan ini. Anak-anak akan suka, orangtua akan punya beberapa hal untuk ditertawakan. The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for DESPICABLE ME 3.
That’s all we have for now.
Remember, in life there are winners And there are losers.
Pernah gak sih penasaran pengen tau gimana tampang nenek atau orangtuamu kala mereka masih muda dulu? Apa mereka bandel-bandel juga kayak kita? Seperti apa mimpi-mimpi mereka, apa mereka berhasil mencapainya? Wah, kalo belum, coba tanyain segera deh. Kali aja nenek kamu dulunya mantan gadis sampul majalah. Buka lemari kayu reot itu, ambil album-album foto yang tersimpan di dalam laci. Tiup debu di sampulnya, buka, dan apalin satu persatu wajah nyengir yang nampang di sana. You might be surprised. Segera. Sebelum nenek-nenek kita pada berbondong-bondong ke studio foto Forever Young. Dan tanpa sepengetahuan kita, the next cewek kece yang kita taksirin ternyata adalah nenek kita sendiri. Bisa gawat!
Seperti yang dialami oleh Nenek Fatmawati (Niniek L. Karim tampak totally have fun mainin tokoh ini). Begitu beliau mencuri dengar keluarga putranya sedang berembuk soal memasukkan dirinya ke panti jompo, Nek Fatma jadi sedih. Dia enggak pernah pengen direpotin. Dia jadi merindukan masa mudanya yang mandiri. Dengan galau, dia masuk ke studio foto di pinggir jalan yang terlihat oldies banget. Setelah difoto, Nek Fatma menjadi lebih muda tiga-puluh tahun, ajaib! Dengan girang Nek Fatma menjalani identitas barunya, nyamar menjadi cewek muda bernama Mieke (busana-busana classy itu sukses bikin Tatjana Saphira terlihat supercute!) Mieke ingin melakukan hal-hal yang dulu tidak bisa ia lakukan di masa mudanya yang asli – lantaran Fatma was a single mother. Tentu saja segudang masalah datang bersama perubahannya ini, yang dibahas oleh film dalam sinaran yang kocak. Mieke kudu berkutat dengan masalah duit, juga soal keluarga yang mencari dirinya. Mieke harus berpura-pura berjiwa muda, meski dia masih cerewet ngomelin ini itu khas nenek-nenek. Mieke harus ‘menghindar’ sekuat tenaga dari panah cinta cowok-cowok muda di sekitarnya, while berusaha mengejar cinta lamanya. Apalagi dari cucunya, yang by the way, ngajak Mieke ikutan bergabung sebagai vokalis band.
ternyata enggak segampang itu jadi orang cantik di jaman sekarang.
Hidup menjadi lebih mudah jika engkau muda dan berpenampilan menarik. Especially if you are a girl. Ya, pernyataan yang jelek. Tapi itulah kenyataan. Dengan menjadi muda kembali, Fatma mudah untuk diterima oleh orang, termasuk oleh keluarganya sendiri. Menantunya menerima kritik masakan dengan lebih lapang dada ketika kritik tersebut datang dari mulut merah merekah wanita yang lebih muda. Penjual sepatu juga lebih ramah kepadanya dibanding saat dia menawar ketika dalam wujud aslinya yang keriput. Memang, kadang ‘cantik itu luka’ dan kecantikan bukanlah segalanya, tapi kita enggak bisa mungkir bahwa kita hidup di dunia yang sedikit lebih sopan dan lebih berhadap terhadap orang-orang yang atraktif.
Meskipun ini adalah ADAPTASI RESMI DARI FILM KOREA, aku tidak merasa asing saat menontonnya. Sutradara Ody C. Harahap menempeli naskah dengan warna-warna khas Indonesia. Kita melihat para tokoh berlebaran, nonton sinetron, dan mendengar mereka menyanyikan lagu-lagu klasik Indonesia. I have soft spot di film-film yang masukin elemen lagu, dan film ini berhasil membuat, bukan hanya aku, tapi nyaris seisi studio ikutan menyanyikan lagu yang dinyanyikan oleh Tatjana. Aransemennya asik punya. Film ini cerah banget, production designnya top, enak enak sekali untuk dipandang. Bahkan ketika tone cerita mulai serius, ada saja yang bikin penonton tertawa. Tatjana really nailed it sebagai jiwa tua yang bersemayam di raga yang muda. Dia terlihat girang, while also nunjukin concern dan ‘cerewet’nya nenek-nenek. Para pemain lain juga menghandle tokoh mereka dengan sama enggak jaimnya, namun beberapa terasa tertahan oleh kurungan naskah yang membuat tokoh mereka satu dimensi; hanya ditujukan untuk bagian tertentu. Sepertinya Lukman Sardi yang hanya di sana untuk bagian dramatis dari narasi.
Sebenarnya enggak heran juga kenapa adegan sisipan yang poke fun soal sinetron Indonesia mengundang tawa lebih heboh dan lebih membekas dari keseluruhan film. Karena dengan banyak elemen yang berusaha ditackle oleh narasi, not to mention gabungan cerita asli dengan bagian-bagian lokal, memang Sweet 20 terasa seperti gabungan momen-momen lucu yang tidak pernah benar-benar terflesh out. Misalnya, ketika Mieke latihan band pertama kali dan dia gak setuju ama lagu rock, ngusulin pake lagu “Hey Hey Siapa Dia”, kita tidak diperlihatkan gimana lagu ini bisa diapprove oleh anggota band – ultimately changing the genre of the band. Atau ketika tiba-tiba saja Mieke dan cucunya sudah duduk makan di café, padahal akan lucu kalo diliatin gimana caranya mereka bisa jalan berdua. Film ini juga memutuskan untuk menggeber kelucuan dari dua nenek yang sirik-sirikan ketimbang mengeksplorasi momen-momen kecil seperti adegan di pasar soal komentar tentang bayi dan ibu modern; menjadikan film ini terlalu ringan. Dan to be honest, aku enggak bisa peduli betul sama tokohnya. Aku gak mengerti keinginan dan kebutuhan Fatma sebagai tokoh utama. Karena film tidak menceritakannya dengan clear, due to banyaknya kejadian. At one point Fatma mengejar cinta, point berikutnya dia ingin memenangkan kontes band.
Nona Nyonya
Film tidak pernah fokus untuk membahas relationship antara Fatma Muda dengan keluarga dan orang terdekatnya, meski mereka terus bertemu. Ini bukan cerita Fatma yang berusaha untuk diterima oleh keluarganya, ini juga bukan cerita tentang Fatma yang ingin mandiri – sebab dia enggak pergi jauh, di sekitar keluarganya doang. Aku enggak yakin ini cerita apa. Di akhir cerita, karakter Fatma tidak berubah; dia tetap nenek yang ngurusin orang lain, hanya saja kini keluarga lebih apresiatif kepadanya. Lucunya, malah cucu-cucunya yang menjadi pribadi yang berbeda di penghabisan film, padahal mereka tidak benar-benar punya arc, terutama cucu yang cewek.
Fatmawati sebagai tokoh utama terasa pasif karena justru keluarganya lah yang belajar untuk menerima dia. Itupun dipicu oleh peristiwa yang bisa digolongkan ‘kebetulan’, karena datang tanpa penjelasan. Aku gak mau spoiler terlalu terang, tapi menjelang akhir itu, ada tokoh yang terlambat entah karena apa, dia lantas kecelakaan dan butuh transfusi darah yang hanya dipunya oleh Fatma. Redemption Fatma datang dari konfliknya di mana dia sekali lagi harus memilih untuk ngorbanin masa mudanya demi orang lain, I get that, tapi semua itu terasa effortless. Coba deh, bandingkan dengan perjalanan tokoh Peter Parker di Spiderman: Homecoming (2017) yang kerasa banget up-downnya.
Setiap film, mau action, komedi, romance, punya naskah yang tersusun atas babak-babak cerita. Setiap babak ada sekuens yang merupakan naik-turunnya perjalanan karakter utama, dan menjelang akhir babak kedua seharusnya adalah sekuens down di mana tokoh utama kehilangan semua dan harus berjuang sebagai diri sendiri. Dalam film romantis, biasanya ini adalah ketika tokoh utama berantem trus putus dengan pacarnya. Dalam cerita undercover, biasanya ini ketika penyamaran tokoh utama terbongkar dan dia dianggap pembohong oleh semua orang. Dalam Homecoming, kita lihat Peter dirampas dari kostumnya, dia belajar menjadi pahlawan sebagai dirinya sendiri. Tidak ada sekuens ini di dalam narasi Sweet 20. Kita tidak melihat Fatma ‘berjuang’ sebagai nenek, makanya tadi aku bilang effortless. Dia diterima begitu saja, bahkan orang-orang enggak ada yang mempermasalahkan kenapa dia yang tua bisa jadi dua-puluh tahun lagi.
Punya bumbu komedi yang semakin cerah oleh warna-warna lokal, membuat film ini enak dan relatable untuk ditonton. Musiknya oke, pemainnya pun kece. Premis ceritanya yang unik diturunkan kepentingannya oleh fakta bahwa ini adalah cerita adaptasi dari film lain. Dan semakin terbebani lagi oleh elemen-elemen cerita yang masuknya dijejelin, tanpa pernah terflesh out dengan baik. Indeed, film ini terasa kayak ringkasan dari film yang lebih panjang. Alih-alih fokus ke pengembangan relationship ke tokoh-tokoh, film ini hanya menunjukkan momen-momen di mana candaan bisa ditampilkan tanpa ada pijakan yang kuat. Tapi walaupun ini kayak kita nulis resume, tetap aja film terasa going on forever. How’s that possible, you asked? Coba tanyak sendiri ke Nenek Fatmawati kalo berani. The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for SWEET 20.
That’s all we have for now.
Remember, in life there are winners. And there are losers.
“You don’t get what you deserve, you get what you earn.”
Gimana kalo Spiderman kudu ngejar penjahat ke daerah perumahan yang enggak ada gedung-gedung bertingkat? Gimana jika Spiderman terpaksa harus ngelayap melintasi tanah lapang? Di mana dia bisa nyantolin jaringnya untuk berayun, coba? Masa iya dia mesti lari – enggak keren amat. Dan kalo sudah berayun, gimana kalo tiba-tiba jaringnya putus? Pertanyaan-pertanyaan konyol tersebut benar-benar dialamatkan oleh reboot Spiderman terbaru atas nama Marvel Cinematic Universe ini. Mempersembahkan kepada kita perspektif yang sama sekali segar dari sang superhero laba-laba. Gimana ‘pabila Peter Parker yang masih sangat belia harus memilih antara nyelidikin transaksi senjata alien atau datang ke pesta demi pamer buat cewek yang ia taksir?
Arahan dari Jon Watts mengayunkan cerita keluar dari fokus penceritaan yang sudah-sudah. Sukur Alhamdulillah film ini paham mengenai karakter-karakter yang ia adaptasi. Sekaligus juga mengerti bahwa dirinya harus menjelma menjadi sesuatu yang berbeda. Bukan sekedar rehash dari apa yang sudah kita lihat sebelumnya. Ini adalah film Spiderman keenam sejak 2002, dan Homecoming ini adalah FILM SPIDERMAN TERBAIK YANG KITA LIHAT SETELAH TIGA-BELAS TAHUN, semenjak Spiderman 1 dan 2 garapan Sam Raimi. Kita toh tidak perlu lagi melihat versi lain dari cerita origin yang membahas gimana Peter Parker digigit oleh laba-laba radioaktif, ataupun soal Peter Parker yang dealt with kematian Paman Ben. Film kali ini adalah tentang cerita gimana Peter Parker menjalani hidup sebagai manusia laba-laba; Kita akan diperkenalkan kepada Peter Parker yang masih SMA, dia anak sekolahan biasa – lengkap dengan permasalahan abege. Dia harus ke sekolah tepat waktu, dia harus mikirin cewek mana yang diajak ke pesta dansa homecoming di sekolah, dia ikut lomba sekolah sembari bolak-balik mengamankan lingkungan. Singkat kata, film ini adalah tentang Peter Parker belajar menjadi pahlawan yang bertanggung jawab, dia bertumbuh dari Spiderboy menjadi Spiderman.
sepertinya karena belum akil baligh, makanya spider sense Peter belum tumbuh
Meskipun kebanyakan orang (terutama orang yang berambut merah dan bernama Ron Weasley) sangat takut sama laba-laba, tetapi dari sekian banyak pahlawan super di komik, Spiderman adalah tokoh yang paling gampang untuk direlasikan oleh para pembaca (dan tentu saja, penonton). Publik relates to Spiderman so much karena Spiderman adalah karakter yang sangat dekat. Dia bukan orang kaya, dia bukan makhluk asing. Dia seperti kita-kita, Peter Parker punya masalah yang sama dengan kita. Bedanya, dia juga adalah superhero; sesuatu yang kita semua impi-impikan sejak kecil.
Jika topeng superheronya kita buka, maka di lapisan terdasar kita akan melihat bahwa ini adalah cerita tentang KEHIDUPAN ANAK REMAJA. It’s very clear while watching it bahwa film ini mengambil inspirasi dari film-film anak SMA. Literally ada adegan ketika Spiderman berlari melintasi pekarangan rumah yang dikontraskan dengan klip film remaja klasik Ferris Bueller’s Day Off (1986) yang terlihat di televisi rumah temen Peter. Sebagian besar waktu kita akan ngikutin Peter dealing dengan masalah anak sekolah. Keren melihat Spiderman beraksi, does whatever a spider can, dan sesungguhnya adalah experience yang sama-sama menyenangkan untuk melihat tokoh ini dalam cahaya yang lebih grounded. Dalam, katakanlah, pergerakan yang lebih lambat. Ada banyak downtime dalam narasi, di mana alih-alih aksi pahlawan berkostum, kita melihat Peter berinteraksi sebagai anak normal. Dia naksir cewek, dia yang nerd dibully oleh teman sekelas, people don’t like him. Bahkan ia diacuhkan oleh mentornya sendiri. Spidey pengen dilibatkan; bayangkan punya jiwa muda on top of punya kekuatan dan gaul dengan Ironman, namun gak bisa bilang ke siapa-siapa. Itulah yang dirasakan oleh Peter. Dan film ini berani untuk mengambil banyak waktu untuk mengeksplorasi supaya kita bisa menumbuhkan apresiasi terhadap tokoh ini. Momen-momen Peter sebagai anak biasa inilah yang merupakan elemen penting, elemen yang menyeimbangkan tokohnya seperti pada komik.
Namun, memang aku bisa melihat anak-anak kecil akan cukup bosan menonton ini. Aku nonton ini bareng adekku yang baru 8 tahun, dan dia fokus ke layar hanya pada saat Spidey beraksi. Bisa dimaklumi karena anak kecil ingin liat Spiderman menjadi Spiderman. Penonton dewasa tentunya akan bisa mengapresiasi perjalanan karakter Peter Parker yang ditulis dengan mendalam. Sejatinya, penggemar komiknyalah yang akan sangat terpuaskan sebab kita akan melihat our friendly neighborhood Spiderman diportray sesuai dengan yang di komik, persis seperti kita mau. But also, ada beberapa perubahan yang dibuat kepada beberapa karakter penting, yang mana berpotensi untuk bikin fans garis keras yang hanya mau segalanya sempurna ngamuk-ngamuk ngomel di kolom komen internet. While adalah angin segar melihat Bibi May versi yang lebih muda, aku bisa mengerti kenapa ada yang protes soal tokoh The Shocker dan The Tinkerer yang dijadikan lebih sebagai sidekick penjahat utama. Aku gak mau spoiler, tapi menurutku tokoh MJ di sini adalah cewek yang keren, walaupun film ini mengangkat sisi awkward antara Peter dan MJ dari angle yang berbeda.
Kalo ada yang benar-benar jadi keren, maka itu adalah The Vulture. Marvel Cinematic Universe selalu kepayahan dalam menghadirkan tokoh penjahat yang meyakinkan, dan akhirnya dahaga kita terhadap villain yang bisa kita peduliin terpuaskan sudah. Michael Keaton did a really great job menghidupkan tokoh ini, mungkin karena dia udah terbiasa mainin peran manusia bersayap hhihi. The Vulture punya kedalaman karakter, perkembangan tokoh ini mengejutkanku, karena ternyata dia diberikan hubungan personal dengan Spiderman, yang mana membuat adegan mereka ngobrol di mobil menjadi adegan yang hebat. Bahkan jauh sebelum adegan tersebut terjadi, kita sudah diberikan alasan untuk mengerti motivasi The Vulture, untuk memahami cara pikirnya. Part paling menarik dari tokoh ini tentu saja adalah gimana penamaannya sangat pas dengan apa yang ia kerjakan; The Vulture basically ngumpulin dan mencuri benda-benda rongsokan bekas alien dan para Avengers untuk ia gunakan memperkuat diri, persis kayak apa yang dilakukan oleh burung hering beneran sebagai burung pemakan bangkai.
Aku juga paham kenapa banyak yang mempermasalahkan soal spider sense yang ada-tapi-tiada dalam cerita. Sepintas dalam percakapan disebutin Spiderman di sini memiliki kemampuan tersebut, akan tetapi tidak pernah ada adegan yang menunjukkan demikian. Terlalu banyak adegan Spidey disergap dari belakang oleh The Vulture, Spidey bahkan enggak tahu temennya ada di kamar ketika dia menyelinap masuk. Lalu of course, adegan Spiderman ngendarai mobil yang punya sistem deteksi rem. Belum lagi kostumnya yang dilengkapi komputer kayak kostum Iron Man. Dan dia punya teman yang nunjukin arah. I mean, buat apa teknologi itu kalo Spidey punya alarm natural? Semuanya memang terasa ‘mengurangi’ kemampuan Spiderman, but yeah, ini integral dengan apa yang mau disampaikan; bahwa Peter Parker adalah remaja, dia belum pernah ngendarain mobil, dia masih perlu banyak bantuan, baik sebagai pahlawan super maupun sebagai seorang manusia.
Tema terpenting film ini adalah apa yang membuat seorang menjadi kuat. Apakah Peter Parker butuh kostum untuk menjadi Spiderman, bisakah dia menjadi Spiderman tanpa kostum? Stark menyebutkan jika tidak bisa apa-apa tanpa kostum, maka itu berarti Peter tidak pernah pantas untuk mengenakannya. Ini kayak kita pengen punya blog, tetapi kita enggak bisa nulis. Kita harus mengasah kemampuan dulu untuk layak menyandang, apalagi memanfaatkan fasilitas. Ibaratnya bersusah dahulu, bersenang kemudian.
Dan ngomong-ngomong, blogger itu bukan wartawan beneran.
Kepolosan dan naifnya Peter Parker ditangkap sempurna oleh Tom Holland, aktor ini sukses berat menjadi both Spidey yang amazing dan Peter yang everyday kid dengan segudang masalah. Tokoh ini superkocak dan amat likeable. Hubungannya dengan Tony Stark juga menarik. Susah untuk tidak terhibur melihat Robert Downey Jr. sebagai Tony Stark. Namun, memang kadang perannya di sini acap terasa seperti device yang memudahkan saja. Actually, salah satu masalahku buat film ini adalah porsi aksinya yang enggak pernah benar-benar terlihat susah untuk si Spiderman. Tidak intens seperti apa yang diperlihatkan oleh Sam Raimi; tidak ada momen seperti Spidey babak belur dan Green Goblin ngancem bakal ngebunuh Mary Jane, tidak ada urgensi aksi seperti Spidey dengan topeng terbuka menahan kereta yang nyaris mengoyak tubuhnya menjadi dua. Action pada film kali ini menyenangkan dan light-hearted, enggak brutal dan intens. Cerita menuntut supaya Spidey kerap dibantu agar nanti bisa belajar sendiri pada sekuen resolusi.
Marvel bisa membuat film solo yang berdiri sendiri yang baik seperti Winter Soldier (2014), ataupun sebuah extravaganza universe seperti Civil War (2016). Dan film ini terletak di antara keduanya. Pada lapisan drama, sesungguhnya film ini kokoh untuk berdiri sendiri – dia berbeda dari penceritaan Spiderman yang lain. Namun, lebih sering ketimbang tidak kita ngerasa, “oh itu anu dari film ono!” Ada kepentingan yang berkurang karena it feels kayak kita nonton serangkain event yang digunakan untuk ngesetup film Spiderman dan MCU berikutnya. Poin bagusnya adalah ini adalah cerita set up yang sangat menarik, teramat menghibur, seru, dan cenderung ringan. Tokoh-tokohnya dimainkan dengan luar biasa, dengan interpretasi yang bisa bikin fans girang. Namun juga ada beberapa perubahan, terutama pada casting dan karakterisasi, yang dapat memancing fans untuk protes. However, tidak banyak korban jatuh dalam film ini. It could use some intensity dan actual stakes sebenarnya bisa lebih diamplify lagi. The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for SPIDERMAN: HOMECOMING
That’s all we have for now.
Remember, in life there are winners. And there are losers.