JAILANGKUNG Review

“See yourself as a soul with a body rather than a body with a soul.”

 

 

Di mana ada film horor, aku akan duduk ngejogrok di sana tanpa perlu dijemput atau diantar. Kayak Jailangkung yang ngeliat ada pesta kecil-kecilan. Horor selalu adalah objek cerita yang menarik, maka tak heran genre ini menjadi penjualan mudah untuk bisnis bioskop. Buktinya, liat deh box office film Indonesia tahun 2017 ini; horor naik tahta kembali dengan gampangnya. Film Jailangkung terbaru ini sempat menyinggung bahwa tubuh dan sukma harus berimbang. Harus sehat dua-duanya. Dan ketika kebutuhan fisikal kita sudah terpenuhi, maka kita merasa dorongan keperluan untuk memuaskan dahaga atas keingintahuan spiritual. Di sinilah film horor seperti Jailangkung memiliki peran besar.

Kita demen ditakut-takuti, Kita penasaran melihat hantu. Kita bahkan mencoba berkomunikasi dengan hantu, lewat permainan jailangkung. Karena kita adalah makhluk jiwa dan raga.

 

Meskipun digarap oleh duo yang sama, Jailangkung adalah cerita yang sama sekali terpisah dan tidak ada sangkut pautnya dengan Jelangkung yang sukses mengangkat pamor horor di sinema Indonesia tahun 2001 lampau. Pada kesempatan ini, Rizal Mantovani dan Jose Poernomo memilih untuk menggarap horor yang LEBIH GROUNDED. Bukan lagi soal pengungkapan mitos urban oleh sekelompok remaja, Jailangkung bercerita seputar keluarga yang harus menyelidiki misteri seputar penyakit ayah mereka. Naturally, cerita keluarga seperti ini mudah untuk kita relasikan. Kita akan melihat Bella dan saudari-saudari nyabergerak sebagai satu unit menghadapi masalah supranatural, mereka harus bermain jailangkung, dan ultimately, narasi juga akan menyinggung budaya lokal saat mitos hantu Matianak mulai mengambil tempat sebagai ‘penjahat utama’. Jadi, film ini punya amunisi yang tepat untuk menjadi sesajen horor untuk ditonton merinding bareng keluarga.

Kemunculan hantunya lumayan seram. Suara cekikikan hantu itu sanggup membuat kita merinding. Kalo mau iseng, coba deh sekalian hitung detak jantung masing-masing saat adegan Bella di tangga darurat rumah sakit. Timing penampakannya diatur dengan tepat. Penggunaan beberapa overhead shot membuat film ini terlihat sangat profesional. But there’s not much reflecting or reasoning behind those scenes except just to show that the filmmakers have enough budget so they can use drone to do the filming. Ditambah dengan scoring yang maksain feel banget, lucunya, shot-shot cantik itu malah bablas terlihat seperti video musik atau malah potongan iklan ketimbang sebuah media penceritaan.

Kreativitas oleh film ini ditampakkan dari betapa lihainya mereka menemukan cara untuk menggunakan adegan-adegan flashback. Lewat kenangan lah, lewat kaset video lah. Dan buat yang gak bisa nangkep nada ironisku; flashback adalah cara tergampang yang bisa dipikirkan oleh filmmaker untuk menjelaskan misteri dan backstory di dalam film horor. Serius deh, sedari awal aku sudah meragukan segi kreativitas film ini sebab dari banyaknya hal yang bisa dilakukan untuk memasarkan film tentang papan pemanggil arwah dengan cara yang berbeda, film ini berpuas diri comes up dengan mantra “Datang gendong, pulang bopong” yang terdengar konyol. I mean, musti bangetkah judulnya Jailangkung (beda ejaan doang)? Selain alasan komersial, aku gak bisa nemuin alasan kreatif di balik pemilihan itu. Dan setelah menonton filmnya, yang melimpah oleh flashback dan eksposisi, dugaanku terhadap kreativitas film ini terbukti sudah.

Hantunya bisa ngeja b-o-r-i-n-g gak ya?

 

Kita tidak bisa membuat penonton instantly peduli sama tokoh hanya karena tokoh-tokoh tersebut dimainkan oleh orang-orang kece. Tokoh tersebut perlu diberikan karakter, mereka perlu dihadapkan kepada tantangan dan pilihan yang sulit, yang nantinya akan membentuk mereka menjadi pribadi yang baru. So people could latch onto them. Dua bintang muda yang lagi hits-hitsnya, Amanda Rawles dan Jefri Nichol, tidak diberikan banyak hal yang bisa mereka lakukan. Film ini enggak membantu banyak untuk usia akting mereka yang masih belia dan butuh banyak perkembangan. Penokohan Bella dan Rama sangat hampa. Rama hanya ada di sana untuk dua alasan; sebagai sarana untuk eksposisi, dan supaya ada sosok yang bisa ‘didambakan’ oleh Bella. Aku sempat ngakak sih, Bella bersikeras untuk menjaga ayahnya di rumah sakit, dia membujuk kakaknya pulang dan beristirahat. Tapi setelahnya kakaknya pulang, Rama pun turut minta diri pamit pulang, dan di situ ekspresi Bella kayak kecewa banget seolah Rama gak ngerti ‘kode’ darinya yang pengen jaga berduaan hhihi.

Bella sesungguhnya punya akar motivasi. Dia adalah anak kedua dari tiga bersaudari dalam keluarga yang sudah lama ditinggal mati oleh ibu. Sebagai anak tengah, tentu dia haus untuk membuktikan diri, bahwa dia juga capable untuk mengurus diri serta keluarganya, bahwa dia juga bisa seperti kakaknya yang mandiri. Pengarakteran ini disinggung sedikit sekali, sehingga di akhir film tidak ada perubahan yang dialami oleh karakter Bella. Seolah filmnya malu malu menyolek bahu Amanda Rawles. Semua kejadian tidak diset up untuk nantinya resolve around penokohan Bella. Sebagai seorang tokoh utama, Bella enggak ngapa-ngapain; bukan dia yang menggendong, bukan dia yang ngebopong. Malahan, di akhir, justru dia yang harus diselamatkan. Motivasi tokoh ini jadi sia-sia belaka, seperti terlupakan.

Dan bukan motivasi tokoh lead saja yang dilupakan oleh film ini. Ada banyak elemen yang hanya disinggung sekilas tanpa ada penyelesaian atau kontinuitas yang masuk akal. Sejak dari adegan pembuka yang terasa rushed banget, film ini tidak mampu untuk membuat kita bertapak kepada momen horor yang hendak dibangunnya. Hantu Matianak tersebut tidak pernah dijelaskan tuntas apakah dia menyerang silsilah keluarga mereka, let alone the reasons behind it. Plot poin soal ibu mereka juga enggak ada penyelesaian. Banyak penonton yang aku kenal juga mempermasalahkan soal ayah Bella yang tadinya nyasar di hutan, kemudian di adegan berikutnya dia sudah main jailangkung di dalam ruangan. Jangankan pemain-pemain muda, pemain senior semacam Lukman Sardi dan Wulan Guritno aja terlihat payah, terima kasih kepada penulisan tokoh dan naskah yang kayak diketik oleh anak kecil. Ngomong-ngomong soal anak kecil, tentu saja tokoh cilik di film ini tidak mendapatkan jiwa sama sekali. Mereka cuma jasad untuk media horor, jadi kenapa musti bersikap manusiawi, kan?

ada pesta, ada jailangkung

 

Kualitas dialognya juga mempersulit para tokoh untuk mendapatkan bobot yang berarti. Ada adegan ketika Rama kebingungan bertanya kenapa boneka jailangkungnya nutup sendiri padahal jelas-jelas dia yang goyangin. Mantra pemanggilannya juga dilafalkan oleh para aktor dengan little to no weight, sehingga tidak menimbulkan kesan apa-apa. Padahal tokoh yang diperankan Butet Kertaradjasa udah literally nyontohin gimana cara dan intonasi yang dramatis dan menimbulkan efek seram.

Segalanya terasa setengah-setengah. Ada momen ketika Bella berlari, dan aku mengira kita bakal mendapat long continuous take dari udara yang kreatif saat mereka mencari kakak di dalam rumah. Ternyata enggak. Mereka melakukanya di tempat paling mudah, yakni di areal pekuburan. Sepertinya film ini bisa lebih baik jika dipush menjadi lebih dewasa. Karena film ini menyinggung soal kehamilan, it would be better kalo Bella sendiri yang ngalamin apa yang dialami oleh Angel. Mereka bisa menggali banyak drama dari sana, Rama juga bisa jadi punya peran yang lebih berarti. Dan tentu saja horornya akan lebih kena, karena apa yang dialami Angel dalam film ini adalah hal yang sangat menyeramkan, apalagi buat wanita. Sayangnya, film ini – mungkin karena mengingat batasan usia penonton – tidak bisa menggali elemen tersebut. Membuatnya hanya sepintas dan terasa rushed out.

 

 

 

Ada kisah horor yang mumpuni dan berpotensi sangat seram terkubur di dalam film ini. It was a grounded story, diwarnai oleh mitos dan budaya pula. Aku gak tau apa yang terjadi di dapur produksi mereka, but the end product yang kita tonton sangatlah mengecewakan. Semuanya generik, gak seram, karakternya membosankan. Selayang pandang memang terasa profesioal, namun tidak ada bobot di dalamnya. Horornya digarap dengan buru-buru, meninggalkan banyak kesempatan demi jumpscare yang benar-benar out-of-place dan gak perlu. Karena semestinya film horor adalah soal jiwa, ketakutan dari dalam, alih-alih ketakutan fisik semata. Jika filmmaker lain memutuskan untuk mengikuti ‘kesuksesan’ film ini, maka bisa dipastikan masa depan film horor Indonesia akan sangat gelap dan mengerikan.
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for JAILANGKUNG.

 

 

 

That’s all we have now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

SURAT KECIL UNTUK TUHAN Review

“I thought that you would be the hero come in save the day, but you’re the villain.”

 

 

Anak terlantar dipelihara oleh negara. Begitu kata buku UUD 1945 yang kuhapalin pas pelajaran PPKN. Surat Kecil untuk Tuhan menuliskan anak-anak jalanan sepeti Angel dan abangnya, Anton, dipelihara oleh Om Rudy. Sosok yang Angel sangka pahlawan, yang memberi mereka atap dan makanan. But he was unforgiven. Om Rudy bukanlah jawaban dari surat yang ditulis Angel untuk Tuhan. Oleh Om Rudy,, mereka disuruh mengamen di jalanan yang tak berbelas kasih. Dan dihukum keras jika uang setoran kurang. Bahkan saat Angel tertabrak mobil sehingga musti dilarikan ke rumah sakit, Om Rudy enggak mau repot-repot membayar biaya pengobatan. Mengakibatkan Angel harus terpisah dari abang yang berjanji untuk terus menjaga dirinya.

Sounds depressing enough? Atau malah terdengar familiar?

Clearly, film ini berhasil menerapkan pelajaran berharga soal bercerita dari salah satu nominasi Oscar, Lion (2017). Surat Kecil untuk Tuhan membagi porsi narasinya menjadi dua, ketika Angel kecil di jalanan dan paruh terakhirnya adalah tentang Angel yang sudah dewasa dan bekerja ngurusin kasus-kasus kekerasan terhadap anak, baik di rumah tangga maupun di luar sana di perempatan. Aku suka gimana film ini berusaha sekuat tenaga untuk tidak menggunakan alur bolak-balik, meski memang ada sisipan adegan kenangan yang tidak mampu ia hindari. Ini adalah resiko yang mereka ambil, karena membuat film seolah baru dimulai di babak kedua; motivasi Angel baru jelas banget di poin ini.

Terkadang ketika berhenti di lampu merah, kita suka dilema sendiri. Melihat anak jalanan yang mestinya lagi kepergok nyontek dan disetrap di depan kelas itu, malah nyanyi-nyanyi dengan alat musik rombeng. Mau ngasih duit, ragu. Ntar duitnya pasti dipalak. Atogak dipakai buat yang enggak-enggak. Mau membantu kok pikir-pikir. Benarkah dengan tidak membantu, kita bisa membantu mereka. ‘Gimana dengan pihak yang ‘mempekerjakan’mereka, salahkah mereka membesarkan dan mendapat balas jasa?Manakah yang lebih ‘for the greater good?’

 

Film ini mampu memantik pertanyaan moral dengan eksplorasi perspektif anak jalanan yang terasa fresh. Apa yang dilakukan dengan baik oleh film ini adalah menanamkan bibit-bibit karakter semenjak paruh di mana mereka masih muda. Sehingga ketika kita melihat dan bertemu dengan mereka kembali setelah time jump, perkembangan karakter mereka – menjadi seperti apa mereka sekarang – terasa masuk akal. Kita akan melihat Angel dengan gigih berusaha mengungkap sindikat anak jalanan yang dipimpin oleh Om Rudy, kita mengerti darimana dorongan tersebut datang, apa yang membuat semua itu sangat personal dan begitu urgen dilakukan oleh Angel. Relationship antarkarakter juga terjalin dan tergambarkan dengan kuat. Semuanya diberikan pay-off yang ampuh menarik-narik heartstring kita. Karena film ini tahu persis dirinya adalah drama yang secara natural sangat emosional. Aku suka adegan ketika Angel Dewasa yang diperankan oleh Bunga Citra Lestari untuk pertama kalinya bertemu kembali dengan Om Rudy. They played it off so good. Mata BCL sukses banget mancarin rasa takut yang masih bersisa dari masalalu itu. She barely could say any words. Lukman Sardi sebagai Om Rudy juga terlihat takut di balik tokohnya yang tenangnya menguarkan aura menacing.

but to be honest, aku kaget ngeliat Dorman Borisman masih aktif main film, kirain udah vakum XD

 

 

Penampilan akting yang mengisi paruh kedua film mampu membuat kita melupakan rasa bosan, karena memang bagian ini lebih serius. Dan serius digabung dramatis biasanya adalah gabungan yang ampuh untuk bikin kita nyalain hape. Setelah gede actually adalah film di puncak paling menarik, sebagian besar lantaran film Indonesia memang kelihatannya masih kepayahan mencari aktor anak kecil yang mampu bermain dengan meyakinkan. Penampilan yang paling juara dalam film ini datang dari Joe Taslim yang memerankan pacar Angel yang berprofesi sebagi dokter jantung. Joe Taslim sangat kharismatik dan bersimpati di sini. Tokoh Martin pun mendapat backstory dan eksplorasi yang berbobot sehingga dia benar-benar punya purpose untuk ada di sana. Bukan hanya sebagai device, he actually adds much. In fact, malahan tokoh lead kitalah yang paling kurang konsisten di sini. Aku merasa aneh aja sama aksen Inggris dari Bunga Citra Lestari. Tokohnya gede di Australia, sudah cukup aneh dia enggak develop any accent. Ditambah pula at one time, dia menjawab telepon dengan ”who is it?” yang terdengar aneh alih-alih natural dan lebih cocok dengan kehidupan profesionalnya dengan jawaban “who is this?”

Tentu saja ada bagian ‘pertarungan’ di pengadilan. Film ini menghandlenya dengan memasukkan elemen di mana Angel harus mengumpulkan dan meyakinkan saksi-saksi yaitu orang-orang yang berasal dari masa lalu tragisnya. Sudut pandang dari saksi-saksi tersebut memberikan suntikan perspektif yang semakin menambah kadar dramatis. Yang mana, juga menimbulkan masalah kepada narasi sebab film ini mengarah kepada JALUR YANG HITAM-PUTIH. Yang jahat benar-benar jahat, yang baik benar-benar tertindas. Ruang thought-provoking semakin menyempit, kemakan oleh porsi dramatis yang terus dibesar-besarkan. Tadinya aku mengira film ini paling enggak jadi kayak versi dramatis dari anime The Boy and the Beast |(2015), taunya enggak. Malah dramatisnya lebih seperti Grave of the Fireflies (1988) digabung dengan Lion.

Kita tidak akan pernah kehilangan orang yang tulus menyayangi kita. Sebab, once there, mereka tidak akan pernah pergi dari sana.

 

Ini adalah film tentang pencarian kebenaran, namun TONE YANG DIOLAH DENGAN TERLALU OVER membuat film ini tidak bisa mencapai level Lion. Baik over di bagian editing tone visual, maupun pada tone cerita yang kerap amat sangat sappy, kalo gak mau dibilang cengeng. Dalam Lion, kita tidak melihat Saroo kecil ujan-ujanan. Dalam Surat Kecil untuk Tuhan, dalam 15 menit pertama, Angel dan Anton terus saja kehujanan, dengan lagu Ambilkan Bulan, Bu yang diaransemen ulang menjadi sangat sedih dimainkan nyaris non-stop. Film ini terus ngepush drama seputar tema kekerasan terhadap anaknya sampai-sampai aku tidak lagi mempertanyakan kenapa film ini tidak diberikan rating sensor yang lebih dewasa. Aku malah jadi keheranan kenapa film ini dijadikan tontonan lebaran keluarga in the first place.

Menjelang akhir akan ada pengungkapan yang disertai dengan adegan yang, sebenarnya, sangat kontroversial. As in, bisa bikin trauma anak kecil yang menontonnya. Walaupun enggak digambarkan eksplisit banget, namun tetep aja ekuivalen ama adegan kontroversial serial 13 Reasons Why (2017) yang tayang di Netflix. Because we talk about children here. Surat Kecil Untuk Tuhan menunjukkan anak kecil yang – sulit untuk tidak mengasumsikan dia – disuntik mati. Asumsi lain yang timbul dari sekuen itu adalah penonton disajikan adegan anak kecil yang dibedah hidup-hidup off-screen, dan di layar kita melihat reaksi orang dewasa yang muntah menyaksikan tindak kriminal tersebut. Aku langsung ngeliat ke arah keluarga beranak dua yang nonton di sebelahku; mamanya nutupin mata anak yang gede, sementara papanya menutup mulut sendiri sambil menggendong anak bungsu mereka dengan memposisikan si anak membelakangi layar.

endingnya meski ketebak, tapi tetep terasa ‘ajaib’’kayak episode Beyond Belief Fact or Fiction

 

Beberapa menit kemudian adegannya nampilin anak bawah umur merintih diperkosa. Dan kedua orangtua di sebelahku tadi saling berpandangan.

 

 

 

 

Punya emosi yang sangat kuat, film ini mengexamine moral kita terhadap anak jalanan lewat perspektif orang pertama yang benar-benar menawarkan sesuatu yang baru. Tema kekerasan anak bergulir kuat, da terus diamplify. Penampilan yang di bawah standar dengan cepat tergantikan oleh performa yang sangat meyakinkan yang menatap kita straight to our heart. Bisa saja menjadi thriller yang hebat, yang thought provoking, jika dirinya tidak memfokuskan diri membuat penonton banjir air mata sebagai tujuan utama. Film ini berani mengambil resiko dalam penulisan, namun not so much pada departemen arahan. Tonenya terlalu cengeng, enggak tegar seperti film Lion, film yang banyak dibanding-bandingkan terhadapnya. Karena tentu saja orang akan mudah sedih melihat anak-anak yang menangis di bawah hujan.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for SURAT KECIL UNTUK TUHAN.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

RAW Review

“The unexpressed will come forth later in uglier ways.”

 

 

Anjing kesayangan milik keluarga Justine terpaksa disuntik mati lantaran “berbahaya bila binatang sudah nyicipin daging manusia.” Enggak ada yang bisa menjamin anjing tersebut enggak bakal doyan ampe ketagihan sehingga mencoret kata peliharan dari statusnya dan embrace kodratnya sebagai binatang. Namun, kita mestinya tahu lebih baik daripada itu; bahwa manusia adalah –hanyalah- binatang yang punya nurani dan kesadaran. Yang membuat kita, bukan hanya paling cerdas, melainkan juga predator yang paling mengerikan di puncak rantai makanan. Rasa lapar dan nafsu yang tak-kunjung terpuaskan manusia dieksplor dengan sangat mendalam dan buas oleh film ini sewaktu kita melihat tokoh utama yang vegetarian menjadi sangat penasaran dengan yang namanya ‘daging’.

Raw bukanlah film yang bisa enjoy untuk ditonton sambil ngemil, apalagi buat penonton yang perutnya gampang jungkir balik kayak Rey Mysterio di dalam mesin cuci. Definitely sebaiknya film ini jangan ditonton siang-siang pas puasa, untuk banyak alasan. Ini adalah body horror yang dibuat dengan begitu menarik sehingga kita ngerasa pengen muntah namun di saat bersamaan enggak ingin melepaskan perhatian darinya. Film ini akan menyiksa kita secara fisik, baru kemudian menghidangkan nutrisi pikiran, di mana kita akan mulai tertegun dan mikirin maksud di balik ceritanya.

Sukar untuk taat kepada your own code jika berada di tengah-tengah komunitas yang menuntut. Terlahir di keluarga dengan diet vegetarian yang ketat, Justine (dalam debut layar lebarnya, Garance Marillier berikan penampilan yang menggemparkan) menolak mentah-mentah ketika dia diwajibkan untuk memakan potongan kecil ginjal kelinci sebagai bagian dari ospeknya di kampus Peternakan. But to her surprise, kakaknya yang jadi senior di sana, juga turut memaksa menelan jeroan tersebut. Awalnya, reaksi Justine adalah muntah-muntah. Kemudian seluruh badannya gatal-gatal. Tapi bukan kelinci yang ia santap, the problem comes from herself. Justine ngedevelop sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Suatu malam, dia kepergok oleh teman sekamarnya sedang ngacak-ngacak isi kulkas. Justine ngemil daging ayam mentah sebagai snack tengah malam, dan dari pancaran matanya kita paham; dia belum puas.

Aku bukan sepenuhnya vegetarian, namun semenjak tiga tahun lalu – the times when I’m struggling ngurangin berat badan yang udah nyampe 72 kilo – aku jadi sedapat mungkin menjauhi daging. Kecuali ikan. Aku hanya makan ayam kalo kepepet alias gak nemu sayur dan lai-lain. Hal demikian aku lakukan karena aku tau daging itu enak, dan aku gak mau Arya yang kerjaannya makan melulu kembali mengambil alih hari-hariku. Jadi kurang lebih, aku bisa relate kepada apa yang terjadi kepada Justine yang selama ini makan non-protein, mulai mengecap daging untuk pertama kalinya.

Film ini juga bukan semata bicara soal nafsu, ini adalah tentang menemukan diri sendiri, mendapatkan apa yang sebenarnya kita mau, dan sejauh mana kita bertindak untuk mendapatkan itu.

 

Horor dari Perancis ini adalah PERAYAAN DARI KEKUATAN WANITA. Kita melihat Justine bertransformasi dari gadis innocent, yang fokus kepada nilai dan prestasi kuliah menjadi cewek yang liar dan tampaknya dikendalikan oleh nafsu – digambarkan dengan visual yang berdarah-darah. Dan perubahan tersebut dipicu oleh penemuannya terhadap apa yang sebenarnya dia mau. Justine berani mengejar apa yang dia inginkan, enggak peduli jalan yang ditapakinya bukanlah yellow brick road. It was a bloody red path. Walaupun, kita bisa melihat jelas, Justine enggak tahu pasti apa yang ia lakukan. Karakter tokoh ini justru kuat oleh hal tersebut. Raw akan senang hati membaurkan kebangkitan seksual ke dalam ceritanya, only to make it more disturbing. Daging yang diinginkan Justine adalah daging apapun utuh seutuh-utuhnya, dan film ini akan memproyeksikan tersebut tanpa judgment dan tanpa malu-malu.

biar kayak iklan jaman dulu: “ku tau yang ku mau!”

 

Kamera arahan Julia Ducournau, sutradara cewek yang juga baru memulai debut film panjang ini, akan menangkap visual yang striking dan pemandangan yang bakal bikin ngamuk orang-orang yang OCD. Eits, bukan OCD yang diet itu, tapi OCD yang control disorder. Semua yang di layar enggak pernah tampak simetris. Dari opening aja, kita akan menatap environment yang dengan sengaja dibikin disturbingly timpang, mengisyaratkan keabnormalan yang akan datang di menit-menit selanjutnya. Ducournau memanfaatkan momen-momen ini untuk dengan perlahan ngereveal setiap tangga evolusi karakter Justine sehingga kita terpana oleh kecantikan sekaligus ‘kebrutalan’ imajeri yang teraasa nyata. Dan, ngerinya, juga somehow relatable.

Ada banyak adegan yang belum pernah kita lihat dieksplorasi dengan berani dan sementah ini sebelumnya. Aku bukan bicara semata mewakili sekuen-sekuen ketika Justine ngemil jari, ataupun semacam itu, while they are also hypnoticly beautiful. Momen-momen kecil seperti Justine menangis di tempat tidur dan kita mengawasinya dari lipatan selimut, atau Justine menari to a slutty song di depan cermin, atau ketika Ducournou menge-mute audio ketika para freshmen merangkak, benar-benar menguatkan sense of discovery dari point of view kita, juga sekaligus membuat nuansa disturbing dan creepy itu merasuk ke dalam diri kita yang siap sedia kantong plastik menontonnya.

Ketika orang memilih untuk melakukan hal-hal yang membutuhkan pembenaran, terutama ketika hal tersebut sangat sulit untuk dibenarkan, maka mereka akan mulai melakukan penyangkalan. Bahkan enggak-jujur terhadap diri sendiri. Raw mengexamine dinamika antara keputusan seorang memilih menjadi vegetarian dengan kesadaran untuk memenuhi panggilan siapa diri kita sebenarnya. You can’t repressed who you truly are. Lingkungan Justine selalu telling her what to do, makanya melihat perjalanan tokoh ini mengejar apa yang dia mau terasa melegakan, tidak peduli seberapa brutalnya. Horor datang dari ketika kita sadar apa yang harus dilakukan untuk menjadi diri sendiri.

 

Saat pemutaran di Gothenburg Film Festival, banyak penonton yang walk out, dan lebih banyak lagi yang muntah-muntah, bahkan pingsan. Jangan biarkan gaung reputasi tersebut menahanmu dari mencicipi seperti apa rasanya film ini. Ya, film ini banyak adegan gory dan disturbing. Tapi ada seni di balik betapa grossnya perilaku manusia-manusia. Adegan kulit yang mengelupas saja sebenarnya adalah sebuah simbol bahwa Justine mulai berubah, dia harus mencabik kulitnya untuk menemukan siapa dirinya yang sebenarnya. Untuk wanita, menjadi dewasa adalah perubahan yang menyakitkan, fisik dan mental, dan film ini menceritakan hal tersebut dengan brutally honest. But again, film ini enggak seseram penjelasan yang kalian baca di ulasan-ulasan tentangnya. In fact, ada banyak elemen cerita yang dibalut dengan tone-tone yang enggak selamanya bikin kita bergidik. Film juga adalah drama keluarga, as much as it is a hauntingly self-discovery journey towards maturity. Dialog dan interaksi tokoh-tokohnya kerap ‘memaksa’ kita tertawa oleh betapa benarnya semua kejadian awkward yang kita temukan ketika kita mulai mengurusi diri sendiri.

Bukan, ini bukan Raw yang ada Roman Reigns dan John Cena nya.

 

Aku suka sekali gimana film ini ngehandle hubungan antara Justine dengan kakaknya. It was played as kakaknya berusaha membantu Justine melewati masa-masa sulit sebagai maba, memastikan Justine melakukan semua tugas ospek supaya adeknya itu enggak dikucilkan oleh Himpunan (yang pernah kuliah dan ngerti diospek pasti ngerti ‘beban’ maba yang satu ini) dan she was rather annoyed sama sikap adiknya. Interaksi mereka menghantarkan kita ke banyak momen-momen lucu. Kemudian some revealing yang subtil terjadi, dan mereka sort of jadi rival. Namun menariknya, kita tahu ada banyak kesamaan di antara mereka, dinamika hubungan sisterhood dua orang ini terus digeber sebagai emosional core yang actually menambah banyak kepada cerita.

 

 

Wajar jika setelah merasakan sesuatu yang baru, kita ketagihan dan ingin lagi, lagi, dan lagi. Nonton film pun begitu. Setelah menyaksikan cerita yang original, begitu berani, haunting, dan membuat kita berpikir, seperti film ini, enggak salah dong kalo kita minta film-film yang lain dibuat dengan semenantang dan semenarik horor Perancis-Belgia yang judul aslinya Grave ini. Bukan sekedar coming-of-age story, film ini tampil dengan brutal, filled with layers dan metafora sehingga walaupun shocking dan disturbing, kita enggak bisa untuk enggak terus menatap. Performance dan arahannya juga sangat luar biasa. Kita akan ngeri sendiri akan betapa grounded dan real dan relatablenya film ini terasa.
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for RAW.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners .
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

THE MUMMY Review

“The hardest thing in the world is to accept that something is wrong with you, face the uphill road to recovery ahead, and realize that none of it makes you less than human”

 

 

Dalam The Mummy, kita akan diingatkan bahwa masa lalu enggak bisa dikubur selamanya. Yes, selamat deh buat yang berusaha move on, hidup pasukan “Always” Snape. Past will always find a way to bite us in the butt, dalam film ini masa lalu, ya, harafiah datang dalam sesosok mayat (or not, jeng jeng!!) kuno yang terkubur di dalam bumi, berbalut perban, dan beretina dua, per bola mata.

I love The Mummy (1999) with Brendan Fraser. Walaupun saat menontonnya aku belum tau mana film yang bagus, mana film yang jelek, namun paling enggak film itu menghibur. Ia seru, lucu, dan ketika beranjak ke elemen seram, whenever Imhotep berteriak menggelegar, aku sukses ngumpet di belakang sofa. Karena lagi puasa, aku gak boleh su’udzon bahwa franchise ini direboot demi lembaran tunai belaka. Faktanya, memang, The Mummy adalah bagian dari Dark Universe, dunia cinematic penuh oleh Gods and Monsters yang lagi digiatkan oleh Universal. Kalian tahu monster-monster klasik kayak Frankenstein atau Drakula? Nah, mereka semua dibuat ulang untuk kita pelototin sama-sama di bioskop.

Kali ini, tokoh utama kita adalah sejenis tentara yang suka ‘mengutil’ emas dan benda-benda berharga yang bisa ia temukan (dan cari) di medan perang, yang diperankan oleh Tom Cruise. Karena perangainya itu, Tom Cruise dan temennya yang berpangkat Kopral dikejar-kejar oleh pemberontak Irak, hingga mereka memanggil bantuan udara. Namun bukan hanya tentara ISIS saja yang kocar-kacir ditembak oleh helikopter, sejumlah besar massa tanah kota tempat mereka berada pun turut sirna. Menampakkan makam rahasia di baliknya. Seperti pada film pertama, mereka membuka makam tersebut, sehingga terlepaslah raga busuk jahat yang bersemayam di dalamnya. Tom Cruise dan teman-temannya, including cewek arkeolog yang kerjaannya diselametin melulu, musti berburu relik kuno. Sembari diuber-uber oleh badai pasir berwajah si mumi cewek.

“gue cium, kering lo!”

 

Meski memang ini bukan kali pertama ada mumi cewek, still Ahmanet sebagai main villain adalah sebuah tiupan angin segar. Sofia Boutella ngejual peran ini dengan amat baik. Dia adalah salah satu spot cerah dalam film ini. Dia nyeremin, dia sadis, pada satu titik dia berusaha terlihat baik menipu daya dalam menjustifikasi aksinya – tapi tetep aja I was like, “go away spider-mummy-woman!!”, dan dia kadang mirip Jupe. Film ini memainkan sudut baru dalam hubungan antara protagonis dengan antagonisnya, di mana ‘Sang Terpilih’ dalam cerita ini justru adalah cowok yang diuber untuk dikorbankan oleh wanita.

Film baru ini punya banyak sekuen aksi yang exciting dan menawarkan hal-hal fun. Desain produksinya juga kelas atas, filmnya terlihat keren. Spesial efek sekuen-sekuen tersebut are so good. Menurutku akan ada banyak penonton yang terhibur oleh aksi-aksi seru yang melibatkan tokoh-tokoh horor. Adegan pesawat jatuh adalah highlight terkeren sepanjang presentasi dan Tom Cruise sekali lagi membuat rekan-rekannya menderita lantaran dia enggak tanggung-tanggung dalam menjalankan adegan, terutama bagian action. Tom Cruise sekali lagi menunjukkan dedikasinya. Dia melakukan berbagai adegan dengan maksimal like no one else. Di sini, dia bukan hanya karismatis, tapi juga kocak. Tokohnya diberikan banyak dialog lucu, yang sebagian besar bergantung kepada waktu penyampaiannya. Dan his comedic timing is actually really excellent. Nick ia perankan sehingga menjadi gampang untuk disukai sebab tokoh ini juga bukan seperti peran-peran hero yang Tom Cruise biasa mainkan. Nick is a kind of dick. Dia lebih seperti penjarah daripada tentara yang mengayomi, serius deh, pada dasarnya dia bukan hero. Dia lebih kayak terjebak situasi, dia ada di sana, jadi sekarang dia harus deal with it. Tapi justru di situlah letak daya tariknya. Aku ngakak ngeliat Nick kabur gitu aja naik mobil, ninggalin ceweknya di tengah hutan, dia benar-benar gak berhenti, si cewek yang musti ngejar. Dan ketika dia bilang “kupikir parasutnya ada dua..” kita tahu itu jujur dari hatinya – ngorbanin diri enggak terlintas dalam pikirannya saat itu.

Kejahatan diibaratkan sebagai penyakit yang diam-diam bersarang di dalam diri manusia. Makanya, kejahatan juga bisa disembuhkan. Hal paling sukar di dunia adalah mengakui ada yang salah pada diri kita. Dan tentu saja, dibutuhkan keberanian yang luar biasa gede untuk mencari pertolongan saat kita menyadari kita punya ‘penyakit’ di dalam diri. Dan menerima kenyataan akan dua hal tersebut tidak mengurangi nilai kita sebagai manusia.

 

 

“Kita harus segera keluar dari sini, Nick!”
“Nick, gue digigit laba-laba!”
“Nick, let’s go, Nick!”
“Niii~~~iiickkk!!”

Sebagai sidekick, ada Jake Johnson. Di sini perannya sebagai sobat yang terus ngikutin ke mana tokoh utama kita pergi dengan komentar-komentar komikal. Pada awalnya, aku juga terbahak. You know, aku ngikutin serial New Girl, dan di sana Jake berperan sebagai tokoh yang bernama Nick. So begitu di film ini, dia kayak sengaja nyebut nama tokoh Tom Cruise setiap kali merengek, and it’s really funny hearing how he says it. Tapi tentu saja, karakter sidekick yang terlalu komikal seperti ini dengan cepat menjadi annoying. Kemunculan si Chris Vial actually dikurangi setelah babak satu, dan tetap saja setiap kali kesempatan langka di mana ia menampakkan diri, adegan dan komedinya enggak benar-benar bekerja dengan baik.

Ada dinamika yang dimainkan terkait dua tokoh wanita satu-satunya dalam film ini. Si mumi digambarkan sangat ‘aktif’, dia langsung mengincar cowok-cowok di titik terlemah kodrat mereka, sedangkan Jenny, si cewek arkeolog yang diperankan oleh Annabelle Wallis, diportray sebagai cewek baik-baik yang lebih kalem, yang jadi love interest tokoh utama. Ketika aku nulis tokoh ini ‘kalem’, ketahuilah itu sebenarnya aku berusaha ngebaik-baikin, karena tokoh Jenny ini, faktanya, adalah salah satu tokoh paling annoying dan paling enggak berguna dalam sejarah perfilman dalam kurun waktu dekat ini. Beneran, setelah kita melihat Wonder Woman (2017) yang tentang cewek luar biasa mandiri dan kuat yang diarahkan oleh sutradara yang juga cewek, The Mummy punya nyali untuk membawa kita mundur ke jaman jahiliyah di mana tokoh cewek yang dimilikinya completely totally useless. Jenny enggak nambah banyak buat cerita. Dia butuh untuk diselamatkan pada setiap kesempatan. Dia jarang sekali ngelakuin sesuatu yang berguna, dia enggak mecahin teka-teki, dia cuma ‘pesawat-sederhana’ yang membantu tokoh utama bepergian ke tempat yang dibutuhkan, dan kalo lagi enggak pingsan, kata-kata yang keluar dari mulutnya hanya eksposisi belaka. JENNY ADALAH CONTON MODEREN DAMSEL IN DISTRESS PALING PAYAH.

“dunia belum berakhir, bila kau mumikan aku”

 

 

Secara garis beras, eh sori efek puasa hemm,… secara garis besar, narasi film ini tersusun oleh formula EKSPOSISI, AKSI, EKSPOSISI, AKSI, SETUP FOR DARK UNIVERSE, AKSI, EKSPOSISI, SETUP, DAN GITU SETERUSNYA. Sepuluh menit pertama actually adalah menit-menit panjang paparan melelahkan yang diceritakan langsung kepada kita oleh tokoh yang bukan tokoh utama. It just doesn’t make sense dalam hal gimana storytelling yang baik dan benar. Film ini memang terlihat sebagai usaha untuk memperkenalkan Universe yang sedang dibangun oleh Universal, sehingga mereka lupa untuk bercerita dengan asyik, seperti layaknya film yang berdiri sendiri. Tokoh di awal film, akan muncul lagi di pertengahan, dan meski sebenarnya aku gak ada masalah sama Russel Crowe – he’s really good seperti biasa dan tokoh yang ia perankan benar-benar menarik – namun tetap saja kehadirannya menambah sesak suasana. Malahan, melihat Russle Crowe dan Tom Cruise ngobrol berdua di film ini, rasanya amazing banget, kayak ngeliat dua main eventer WWE just kill it on the mic.

The Mummy tidak punya arahan emosional yang lurus. NARASINYA SUMPEK. Fokusnya pada set up untuk film berikutnya, juga tentu saja ada homage untuk seri terdahulu. Adegan-adegan aksi yang exciting diselingi oleh eksposisi yang memberatkan – mereka bahkan ngerasa perlu untuk benar-benar mengungkapkan seberapa jauh jarak dari Mesir ke Persia. Dan semua itu adalah karena film ini ditulis dengan keroyokan. Cek deh ke imdb, writernya ada enam kepala. Ceritanya dikembangkan oleh banyak pendapat dan memang kelihatan; jadi gak heran kenapa screenplay film ini jadi terasa tidak teroganisir dengan baik. Film ini lebih ke action, despite naturally punya elemen horor, dan malah resort ke jumpscare-jumpscare.

Kalo ada yang bisa dipelajari oleh orang Mesir, maka itu adalah gimana mereka memperlakukan si Jahat dengan respek. Mereka membuatkan makam yang indah dengan arsitektur yang sangat cermat. Walaupun segala sistem dari makam tersebut ditujukan supaya yang di dalam enggak keluar lagi, tapi itu menunjukkan bahwa yang terburuk dari kita pun tidak bisa dipandang sebelah mata.

 

 

 

Dimulai dengan cukup enggak-enak, dan berakhir dengan bikin hati makin masygul. I mean, kalo mau ditutup dengan ‘iklan buat the next installment’ seperti itu, at least lakukan setelah closing credit bergulir. Film ini hanya berupa paparan-aksi-setup. Namun, desain produksinya membuat kita enggak bisa semena-mena mengutuk film ini jelek. Beberapa adegan aksinya genuinely menarik dan seru. Penampilan Tom Cruise berada di atas yang lain, di mana jadinya kita enggak mendapatkan chemistry yang asik dari hubungan para karakter. Film ini padat tanpa ada arahan emosi yang jelas. It’s loud, berantakan, sampe-sampe saat menonton kita akan kepikiran “kayaknya mejamin mata enak, nih!” Tapi film ini masih bisa ditonton dengan ‘okelah’ kok, terutama kalo kalian sebodo amat sama storytelling, lagi gak punya tontonan lain, atau lagi nyari kesibukan dalam rangka nungguin bedug maghrib.
The Palace of Wisdom gives 5 gold stars out of 10 for THE MUMMY.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

A CURE FOR WELLNESS Review

“Mens sana in corpore sano”

 

 

Kesehatan adalah anugerah yang tak ternilai harganya, jadi kita mati-matian ngelakuin apapun demi menjaganya. Beruntung, teknologi dan ilmu pengetahuan semakin maju. Bermacam teknik pengobatan ampuh ditemukan, mulai dari lasik yang bisa nyembuhin mata minus sampai ke klinik Tong Fang yang denger-denger sanggup benerin buta warna. Orang-orang pun jadi rajin fitness dan ngegym, mencoba variasi diet, mengunduh aplikasi yang memonitor kesehatan, banyak deh cara-cara hits yang bisa dilakukan untuk menjaga kebugaran tubuh. Namun, penyakit juga sama berkembangnya. Seperti ular hydra yang ditebas satu kepala, tumbuh dua lainnya, penyakit juga bermutasi seiring teknologi. Kita mendengar banyak virus baru dan kelainan aneh-aneh yang memacu para ilmuwan untuk segera menemukan obatnya. Tentu saja ini menimbulkan pertanyaan, malah bisa dibilang kecurigaan;

jangan-jangan teknologi dengan sengaja dimanfaatkan untuk menyiptakan penyakit?

Film A Cure for Wellness menyinggung hal ini sebagai tema ceritanya. Salah satu tokoh film praktisnya berkata “kalo orang pada sehat, nanti dokter dapat duit dari mana?”

orang sakit disayang dokter

 

Klinik-klinik alternatif, aplikasi-aplikasi kesehatan yang bisa diunduh di gadget, obat-obat baru, bisa jadi sebagian besarnya memang hanya ‘jualan obat’ semata. Usaha komersil untuk menjawab kebutuhan manusia akan kesehatan. Banyak yang berlomba-lomba mencoba pengobatan termutakhir. Bukannya hendak sinis sama dokter sih, tapi tentu saja dokter pun akan berusaha membantu pasien yang masih merasa insecure atas kesehatannya. They’ll look for new things, dan hey itu dia, ketemu deh penyakit baru. Tapi bagaimana jika tidak ada yang tahu problem itu ada? Apakah tetap akan menjadi problem? Kita ke dokter tanpa mengetahui pasti sakit apa, dan setelah diperiksa kita divonis mengidap sesuatu yang tidak kita tahu ada pada kita sebelumnya. I mean, kita tentram justru setelah tahu punya penyakit, alihalih tentram oleh merasa sehat.

Kita enggak tahu kita sakit sampai ada yang memberitahu bahwa kita sakit. Tapi apakah kita benar-benar sakit?

 

A Cure for Wellness dibesut oleh Gore Verbinski sebagai sebuah psikologikal thriller yang diniatkan sebagai METAFORE KECEMASAN GLOBAL TERHADAP KESEHATAN. Tentang bagaimana masyarakat lebih senang untuk menjadi overmedicated, lebih memilih untuk mendengar kata para ‘ahli’ ketimbang bertanya sendiri mengenai apa yang salah dari cara hidup dan budaya modern ini. Dalam film ini diceritakan protagonis kita, Lockhart (tampang Dane DeHaan klop banget sama karakternya yang sinis tapi enggak-yakin), kudu menjemput atasannya yang sedang menjalani pengobatan di rumah spa terkenal di pegunungan Swiss sana. Wellness Center yang ia kunjungi adalah tempat berobat yang laris, metode terapi berbasis airnya mujarab, pasien yang menetap di sana mendapat perawatan yang nyaman sehingga banyak yang enggak mau pulang. Termasuk atasan si Lockhart. Dari yang tadinya maksa (jika gagal, Lockhart bakal dipecat), Lockhart mulai menyadari ada sesuatu yang enggak beres dari tempat pengobatan tersebut, yang actually malah lebih mirip cult. Sembari menunggu kakinya sendiri sembuh dari kecelakaan, Lockhart berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

To be honest, aku setuju sama pesan film ini soal ‘jangan perbaiki yang tidak rusak’. Waktu masih kuliah dulu, temen-temen sekelas enggak ada yang mau nyolokin flashdis ke komputerku lantaran aku enggak install antivirus. Karena, tahu sendiri dong cara kerja virus dan antivirus itu gimana; kalo kita enggak senantiasa mengupdate the so-called pelindung itu, maka virus-virus baru tidak akan terdeteksi oleh antivirus kita. Namun bagi komputerku yang tidak pasang antivirus, virus-virus – yang terdeteksi oleh komputer teman-teman yang lain – tidak pernah mengganggu kinerja, sampai antivirus itu aku install out of insecurity. Dan karena diledekin ternak virus hhihi. Begitu antivirus dipasanglah, aku mulai sibuk ngescan, ngupdate, dan hal-hal yang sejatinya cuma rangkaian aksi-reaksi. Buatku memang sesimpel; Jika kita tidak pasang aksi, maka tidak akan ada reaksi. Jika kita tidak repot-repot check up setiap batuk sedikit, jika kita malah fokus ke olahraga teratur dan menjaga diri, maka kesehatan kita akan terjaga sama baiknya dengan minum obat.

Bukankah memang sebenarnya ‘sakit’ itu datang dari pikiran sendiri?

 

Meskipun film ini punya banyak kesamaan dengan film-film lain seperti Shutter Island (2010), kita juga udah sering liat film dengan tokoh dokter gila yang bisa jadi tokoh utamanyalah yang gila, namun A Cure for Wellness tetap terasa stand out karena ini adalah film yang sangat aneh. It looked very different. Gore Verbinski mencurahkan kemampuannya menampilkan imaji-imaji yang cantik, surreal, sekaligus nyeremin (kayak sekuens video di The Ring) sehingga durasi yang nyaris dua setengah jam bisa teralihkan oleh pesona visualnya. Setiap gambarnya terbingkai dengan sempurna. Editingnya juga sangat rapi. Ada banyak shot yang menampilkan pemandangan berupa refleksi; air kolam yang sejernih kaca, kereta api dan bayangannya di jendela yang simetris banget, dan seiring pertumbuhan keraguan karakter Lockhart, image reflection yang hadir akan semakin blur. Simbolisme yang bekerja di luar dan dalam, karena film ini juga meminta kita untuk bercermin. Film ini membutuhkan kita untuk berpikir. Definitely apa yang dipersembahkan oleh Verbinski dan timnya kali ini punya sesuatu untuk kita bahas dan kita pikirkan. Dan itulah yang membuat film ini spesial.

Aku takjub sekali setelah selesai menontonnya untuk beberapa alasan. Luar biasa aneh, dan sangat berani. Apa yang terjadi dalam film ini sudah barang tentu akan membuat banyak penonton, malah bahkan kritikus film, bergidik enggak setuju. Ada elemen keluarga yang sangat nyeleneh. Penceritaan film pun terasa sangat ‘bikin kita ikutan gila’. Tapi kupikir justru karena itulah kita kudu mengapresiasi film ini; enggak benar-benar original, namun karena sangat aneh dia terasa kayak film yang belum pernah kita lihat. There’s a lot going on di bawah permukaan cerita yang terungkap sejalan dengan Lockhart terseok-seok melintasi koridor demi koridor Pusat Kesehatan yang creepy tersebut. Di babak kedua nuansa thriller semakin kental sembari kita menyaksikan Lockhart menungkap misteri. It is really intriguing, dia ketemu banyak tokoh dari berbagai tempat di Wellness Center dan di kota, dia mendengarkan cerita mereka, yang masing-masing adalah versi yang berbeda dari satu cerita yang sama. Sayangnya juga jadi banyak eksposisi yang dilemparkan kepada kita karenanya.

Film ini juga punya sounding yang menakjubkan. I mean, suara seretan tongkat kruk yang menggema di lorong kosong akan menjadi suara yang sering kita dengar dan niscaya lama kelamaan that sound becomes really unnerving.

cekit, cekiitt, cekit, cekiiiitt

 

Beberapa hal memang memberatkan buat film ini. Durasinya, terutama. Dan jika seperti yang kutulis di atas, kalau kalian bisa ngeoverlook panjangnya durasi dan eksplorasi yang meletihkan dan lumayan repetitif, masih ada elemen-elemen yang just straight up gilak dan over-the-top dan penjelasannya kadang bikin kita mikir panjang banget. Ada soal umur dan waktu yang terlalu tak masuk akal buat film yang menyinggung soal sains. Ada soal kejadian aneh yang tak pernah diberikan batas jelas mana yang khayal, mana yang kenyataan. Dan, ada belut. Ya, makhluk yang jadi personifikasi ketakutan tokoh utama kita sering didapati muncul dan actually punya penjelasan tapi masih menyisakan pertanyaan sepele semacam, “kenapa bisa sampai ada belut di dalam sana?” Kejadian Lockhart tertabrak pun susah dikeluarkan dari kotak kebetulan. Verbinski memang tak berniat untuk menjelaskan semuanya sampai ke dasar akuifer cerita.

 

 

 

Tak sering kita menyaksikan film seaneh ini. Cantik, tapi sangat lain dari yang lain. Enggak sepenuhnya orisinil, namun berkat arahan dan editing yang menakjubkan maka ia jadinya luar dari biasa. Film ini layaknya obat untuk menyembuhkan segala sesuatu yang normal di luar sana. Obat pahit yang susah untuk semua orang telan, tepatnya. Dan jika kalian bertanya apakah obat tersebut mujarab menyembuhkan? Well, kita harus mencoba menelannya sendiri-sendiri karena setiap obat punya pengaruh yang berbeda kepada setiap orang.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for A CURE FOR WELLNESS.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

WONDER WOMAN Review

“Wars will remain while human nature remains.”

 

 

Udah kodratnya manusia demen berantem. Cuma kita, loh, spesies yang berperang karena sedikit perbedaan aja. Dan film Wonder Woman actually adalah suara yang kita butuhkan untuk mengatasi tabiat buruk penuh prasangka dan kebiasaan mengotak-ngotakkan. Wonder Woman, bukan saja merupakan film DC Universe pertama sejak trilogy Batmannya Christopher Nolan yang legitimately bagus, film ini juga punya kepentingan yang begitu besar untuk ditonton hari-hari sekarang banget. Film ini worked on so many level. Dia punya relevansi dan kedalaman emosi yang menggapai kita semua, lewat karakter-karkaternya berbicara dengan lantang tentang kebutuhan kita akan harapan dan keyakinan. Buat penggemar komik atau serial originalnya pun, Wonder Woman melampui apa yang diharapkan. Tentu saja, melampaui dalam cahaya yang positif.

Pertama dan terutama sekali, ini adalah cerita asal muasal Diana sebagai seorang superhero. Film yang panjang, tapi enggak akan jadi masalah karena kita perlu untuk melihat darimana dia berasal, literally dan figuratively. Kita perlu untuk bisa melihat kenapa Diana menjadi the way she is. Kita akan berkunjung ke kampung halamannya, sebuah pulau bak surga, yang dihuni oleh kaum Amazon yang seluruhnya adalah wanita. Di sana Diana sedari kecil sudah enggak sabar untuk dilatih bertempur menjadi seorang pejuang. Oleh ibunya, dia diceritakan kisah tentang dewa-dewa dan manusia, gimana Dewa Perang, Ares, menanam bibit kebencian dan prasangka demi membuat para manusia saling berperang. Ares terasing oleh Zeus, dan kaum Amazon dititah untuk berlatih sebagai persiapan bertempur melawan Ares. Kemudian seorang pria manusia terdampar di pulau Diana, sepasukan tentara Jerman mengekor di belakang puing pesawatnya. Dari pria tersebut, Diana menjadi tahu akan keadaan dunia luar; Perang Dunia I lagi hits. Percaya ini ada kaitannya dengan Ares, Diana tergerak untuk pergi membantu perang melawan Jerman.

Pulau Surga banget

 

Cerita superhero semestinya tidak berpuas menuhin misi sesak oleh adegan-adegan aksi dan komentar-komentar talk trash ataupun yang konyol. DC Universe melakukannya dengan benar kali ini. Wonder Woman punya skrip yang ketat, pengkarakteran tokoh-tokohnya ditulis sangat kuat. Semua elemen digunakan untuk membangun karakter Diana, really catering into her upbringing. Ada warna kebanggaan dan harapan yang melekat erat. Dan film ini melakukan apa yang tidak dilakukan oleh Captain America: The First Avenger (2011); kita benar-benar melihat seting perang, lantaran Diana terlibat langsung di dalam perang tersebut. Film ini juga punya serangkaian lelucon, actually sangat kocak. Film ini paham untuk memerah canda dari trope-trope klasik Wonder Woman. Tidak seperti film-film DC sebelumnya, Wonder Woman tidak mengubah perspektif kita terhadap sang superhero. Film ini embrace the nature dan membuat kita merasakan sensasi wonder dunia dan karakter si Diana. The movie knows how to make fun of the whole origin concept, bagian mana yang konyol, dan mengolahnya menjadi dialog yang ringan dan menghibur.

Dan Gal Gadot, tak pelak, adalah keajaiban – the wonder woman – yang berhasil ditemukan oleh tim casting. Cewek ini adalah hal terbaik dari film Batman v Superman (2016). Dalam film ini kita melihat lebih banyak darinya, tentunya. Untungnya. Dia memainkan Diana penuh oleh asa, joy, dan tanpa kesinisan. GAL GADOT OWNS THE ROLE seperti Hugh Jackman owned Wolverine. Mulai sekarang, setiap kali ada yang nyebut Wonder Woman, kita akan teringat Gal Gadot. Meskipun ini adalah film yang tokoh utamanya wanita, kisah Diana bukan semata cerita tentang pemberdayaan perempuan. Diana bukan cewek sempurna yang benci pria, dan pria-pria di sekitarnya adalah pribadi yang tercela. Wonder Woman, malahan, adalah cerita yang membawa rasa setara. Manusia adalah equal, sama rata baiknya-sama rata cacatnya. Tidak seperti Jyn Erso dalam Rogue One (2016) yang self-sufficient gitu aja, Diana akan diperlihatkan banyak belajar. Dia sangat naïf dan film memberikan kita kesempatan untuk berjalan bersamanya. Kita akan merasakan semua gejolak naik-turun emosi Diana.

Diana tumbuh dengan percaya akan keperluan untuk bertempur, dia ingin memenuhi takdir sebagai seorang Amazon untuk membela dunia dari kacau dan kehancuran perang. Dia pejuang yang gigih dan gak sabar untuk unjuk kebolehan mengalahkan musuh, tetapi tujuannya berperang hanyalah untuk mengakhiri perang itu sendiri. Semakin banyak dia melihat sendiri keadaan para korban perang, semakin yakinlah ia akan kepentingan untuk menghentikan perang, dan hal tersebut membuatnya semakin ‘mengamuk’ sekaligus enggak pasti serta ketakutan untuk melepaskan kekuatan sejatinya. Misi Diana berubah dari yang tadinya enggak personalpersonal amat – dia ‘hanya’ melaksanakan apa yang ditugaskan oleh Dewa – menjadi lebih pribadi dan rasa kebenaran dirinya semakin bertumbuh. Kerja permainan peran Gadot sangat luar biasa dalam menghidupkan emosi dan motivasi Diana, sembari dia menyaksikan peradaban dan kemanusiaan yang menderita.

Dalam perang akan selalu ada pengorbanan dan penderitaan; kehilangan yang amat besar. Di saat-saat seperti itulah, di saat kita tidak bisa lagi melihat alasan untuk percaya. keyakinan menjadi hal yang paling penting. Kemampuan kita untuk percaya tanpa alasan untuk percaya, ditambah dengan kemampuan kita untuk berbuat baik di tengah-tengah penderitaan dan resiko kehilangan nyawa sendiri, adalah dua hal yang membantu kemanusiaan untuk bangkit. Sehingga bukan tidak mungkin, memberikan kesempatan kepada kita untuk sebuah penebusan.

 

 

Gadot juga sukses berat mengimplementasikan keahlian krav maga nya ke dalam sekuen-sekuen aksi Diana. Hand-to-hand combat film ini sangat keren, kebanyakan adalah wide shot yang sangat aktif, dengan koreografi yang, mungkin saja, mengeset standar baru dalam action superhero. Ada sejumlah momen aksi kecil-kecilan, namun aksi gedenya ditawarkan dalam tiga kali kesempatan oleh film ini, satu pada masing-masing babak. Dan setiap kali sekuen aksi itu berlangsung, maaaan, rasanya puas banget. Aku beneran ikut goyang-goyangin pergelangan tangan niruin Diana menangkis peluru di bagian zona perang, persis kayak orang yang masa kecilnya kurang bahagia. Pertempuran kaum Amazon di pantai itu bener-bener instant classic! Karena terlihat sangat berbeda dan baru. Dan tentu saja, intens. Porsi aksi finalnya lumayan berat oleh CGI, namun bisa dimengerti karena Wonder Woman bukanlah manusia normal. Begitu juga dengan musuhnya. Dan lagipula at that point, kita sudah begitu terinvest dan peduli terhadap karakternya, sehingga CGInya yang mirip-mirip final battle di Batman v Superman, kali ini dapat termaafkan.

and not to be confused sama film lokal jadul Darna Ajaib

 

Bukan hanya Diana yang belajar pelajaran berharga, film ini punya dua tokoh yang belajar di luar ‘kenyamanan’ dunianya. Tadi aku sempat menyinggung soal equality, dan yang kumaksud adalah tokoh Steve Trevor, pria yang terdampar di pulau Diana. Steve adalah peran terbaik kedua dari Chris Pine setelah Hell or High Water (2016). Babak pertama film actually adalah tentang Steve yang belajar tentang dunia dan motivasi Diana. Pria ini sudah lelah berperang, dia ingin menghentikan perang secepatnya dengan sedapat mungkin tidak menjatuhkan lebih banyak korban. Aksinya sekarang terbatas hanya yang mungkin-mungkin saja. Namun kehadiran Diana dan segala desirenya, membuat Steve jadi punya alasan baru untuk percaya, untuk mengambil resiko yang lebih besar. Dia merasa lebih optimis terhadap kemanusiaan, dan terhadap cinta. See, relationship Diana dan Steve adalah sangat compelling. Chemistry keduanya turut terasa genuine. Aku sangat tersentuh di bagan akhir film karena aku sudah begitu peduli. Mereka berdua belajar terhadap masing-masing. And it’s not like, Steve adalah si lemah yang harus diselamatkan. Steve memberikan banyak untuk pengembangan karakter Diana, dan begitupun sebaliknya.

Film ini berani menyisihkan waktu untuk momen-momen kecil, yang tak jarang melibatkan tokoh-tokoh minor. Semuanya demi kepentingan menambah layer dan pengembangan terhadap karakter Diana. Seperti adegan Steve ngajarin Diana berdansa. Jarang loh, ada film superhero yang tipikalnya penuh aksi kayak gini yang mau ngerem sebentar untuk momen-momen kecil yang sebenarnya merefleksikan luka, yang membiarkan tokohnya menjadi manusia biasa. Tapi dalam film ini, bukan hanya adegan tersebut exist, namun juga berarti banyak untuk karakter mereka. Dan membuat relationship keduanya jauh lebih terflesh out. Bahkan tokoh jahatnya diberikan cerita dan motivasi yang membantu karakter Diana lebih jauh.

Kekejaman bisa menyamarkan kelemahan dan ketakutan, kejahatan bisa menyamarkan keputusasaan dan kematian, dan apa yang ingin kita salahkan sebagai penyakit di dunia kadang-kadang tidak sepenuhnya bersalah dan hanya bertanggung jawab bukan dengan cara yang semula kita duga.

 

Ada tiga tokoh jahat dalam film ini, dan masing-masing berbicara hal berbeda yang penting buat pertumbuhan cara pandang Diana. Namun tetap aku merasa tokoh jahat ini terlalu ‘lemah’. Sebagian dari mereka tidak terlalu terdevelop baik, sebagai seorang karakter. Ada adegan ketika Letnan jahat mengunci beberapa perwira Jerman di dalam ruangan berbom asap dan dia melemparkan satu masker ke dalam ruangan tersebut. Kemudian si jahat ini tertawa terbahak-bahak bersama dokter asistennya, dia bilang “biar pada rebutan, padahal maskernya juga enggak ngefek kok hauhahahaha!!” Terkadang tokoh-tokoh jahat ini terasa terlalu over dan enggak masuk ke dalam nuansa ceritanya, dan ini membuatku sedikit kecewa. Aku suka melihat tokoh jahat yang benar-benar ‘kuat’ dan menacing. Mungkin adegan rada-konyol tersebut disengaja, aku enggak tau, tapi di akhir ada lagi adegan yang bikin aku ngakak out-of-place, yaitu ketika Diana mau ngelawan Ares, namun pedangnya ketinggalan di atap, menciptakan momen awkward di tengah-tengah bantering kata-kata antara mereka.

 

 

 

 

Ini bukan film DC terbaik, but hell yea, this is what a superhero movie supposed to look like. Adegan aksinya fenomenal, seru, epic bangetlah pokoknya! Dan actually digunakan untuk mengembangkan karakter yang diberikan ruang untuk belajar banyak. Diana enggak sekonyong-konyong perfect, enggak ada yang selevel ama dia. Kita melihat dia belajar, kita malah belajar bersamanya. Sinematografinya benar-benar wah, dan kerasa banget perpindahan set mengiringi tema ceritanya. This film actually really colorful. Musiknya juga, setiap kali musik tema khas itu terdengar, aku merinding girang. Penampilan akting yang keren dari pemain yang beragam bangsa, sesuai dengan kepentingan film ini yang berkomentar soal bias sosial dan persamaan derajat. Meski tokoh-tokoh jahatnya bisa lebih dikembangin, sih.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for WONDER WOMAN.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

PIRATES OF THE CARIBBEAN: SALAZAR’S REVENGE Review

“Accusations are useless.”

 

 

Apakah membuat franchise film berdasarkan sebuah wahana taman hiburan adalah langkah berani yang paling aneh ataukah cuma usaha nekat untung-untungan demi yang namanya duit? Well, jika sihir bisa dianggap sebagai sains yang belum kita mengerti, maka Pirates of the Caribbean bisa jadi adalah magic yang bikin sebagian kita garuk-garuk kepala. Film pertamanya sangat exciting. Setelah itu, semua judul dari franchise ini secara konstan kualitasnya terus menurun. They were bad movies. Di lain pihak, franchise ini toh laku keras, for it is action di tengah laut, yang memadukan bajak laut, kekonyolan, dan hal-hal fantastis.

Film kelima ini actually rilis dengan dua judul yang berbeda. Yang tayang di Amerika sono judulnya Dead Men Tell No Tales. Sedangkan di bioskop sini – aku tadi sempat kelimpungan takut salah nonton – dikasih judul Salazar’s Revenge. Aku gak tau alasan kenapa dirilis dengan judul berbeda seperti demikian; mungkin karena judul aslinya kepanjangan atau mungkin Dead Men dirasa terlalu seram. Hal kecil sih, walupun begitu, sebenarnya aku lebih suka sama judul versi Amerika. Salazar’s Revenge kedengarannya terlalu generik. Lagipula, kalimat “Dead Men Tell No Tales” beneran disebutin di dalam film, terincorporate really well ke dalam cerita, karena tokoh penjahat di film ini suka menenggelamkan kapal dan dia akan sengaja menyisakan satu korban masih hidup untuk menceritakan aksinya kepada orang lain di daratan, sebab ya, orang mati kan enggak akan bisa bercerita.

Orang mati juga gak bisa ke daratan, so yea…

 

Aku berharap film ini jadi film terakhir aja sebab, sukur, film ini LEBIH BAIK KETIMBANG FILM PIRATES SEBELUMNYA. Ceritanya considerably lebih menarik. Jack Sparrow terlibat dalam pencarian Trisula Poseidon yang bisa menghapus semua kutukan di lautan. Bajak laut mabok kita butuh benda ajaib tersebut lantaran dirinya sedang diburu oleh sepasukan hantu anti-bajak laut (lengkap dengan hantu hiu dan kapal hantu yang bisa berubah menjadi mulut yang menelan kapal di depannya) yang dendam kesumat kepadanya. Hantu Kapiten Salazar, at some point, bahkan bekerja sama dengan musuh lama, Kapten Barbossa yang kini jadi bajak laut paling sukses seantero Laut Karibia. However, bersama Kapten Jack, kali ini ada pelaut muda bernama Henry yang juga mencari kekuatan Trisula untuk ‘menyembuhkan’ ayahnya, dan sesosok gadis manis nan pinter yang jadi penunjuk jalan lantaran cuma dia satu-satunya yang bisa membaca peta.

Pintar di antara yang bego, maka kita akan dianggap aneh. Film ini membahas masalah posisi wanita yang di kala itu masih dianggap inferior; cewek cannot be smart unless they are witches. Ini bisa ditelusuri sebagai masalah prasangka. Zaman dulu, bidan-bidan wanita dianggap berbahaya sebab mereka ngurusin perkara hidup mati sebagaimana peran dokter-dokter pria. As gender dijadikan tolak ukur wewenang; orang-orang lebih mudah percaya kepada laki-laki yang tegas dibanding kepada wanita yang lemah lembut. This element is also played really well dengan karakter Jack Sparrow yang ditinggalkan oleh kru, you know, because he’s drunken and weird dan kerap bawa sial. Kontras dengan Salazar yang punya pengikut setia hidup-mati, atau malah dengan Barbossa. Padahal mereka sama kompetennya.

 

Tentu saja banyak kejar-kejaran, tembak-tembakan kapal, dan duel pedang yang terjadi. Ini adalah film yang terlihat sangat menarik. Penggunaan efeknya keren. Javier Bardem cool banget sebagai Salazar, aku suka penampakannya, aku suka gimana dia memainkan perannya. Hantu maniak ini adalah penjahat film favoritku sejauh pertengahan tahun ini. Film ini punya banyak stok candaan dan lelucon yang bagus. Juga berusaha untuk punya sisi emosional. Namun dengan tema besar mencari diri sendiri, film ini relatif berjalan lurus sebagai film petualangan yang melibatkan banyak pihak. Semua orang tersebut numplek di atas kapal yang sama, literally and figuratively. Dan kita bisa melihat masing-masing mereka punya alasan untuk berada di sana. Tokoh Henry yang diperankan oleh Brendon Thwaites ditulis punya kaitan sejarah dengan franchise ini, motivasi dirinya lah yang bikin narasi film ini berjalan. Ada percikan manis yang terjalin antara dirinya dengan tokoh Carina (Kaya Scodelario berhasil untuk tidak terjebak memainkan karakternya jadi semacam tokoh daur-ulang). Di duapuluh menit terakhir, barulah film benar-benar finally just pick up. I loved the ending. Dan meski efek di bagian ‘final race’ ini sedikit lebih rough-around-the-edges, aku suka, malahan bukan itu yang menggangguku.

What really bothers me about this film adalah walaupun tokoh-tokoh tersebut punya motif dan alasan untuk ikut bertualang, urgensinya tidak pernah benar-benar terasa. Stake, alias konsekuensi, yang dihadapi para tokoh enggak terang benar. Rintangannya pun sebenarnya cukup gampang untuk dihindari. Kita bisa merasakan ada sesuatu tujuan, ada sesuatu yang harus mereka selesaikan, tetapi rasanya tidak ada tuntutan untuk segera dibereskan. Para hantu hanya bisa ngejar di laut, Jack Sparrow enggak benar-benar dalam bahaya. Kalo Henry gagal menghapus kutukan ayahnya, hal buruk apa yang terjadi? Dia masih bisa hidup dan pacaran dan punya anak kok. Carina diberikan alasan untuk tidak bisa pulang, dia sekarang diburu mati-matian oleh negara lantaran disangka penyihir, namun masalah itupun beres seketika. Di film ini ada penyihir beneran, and that’s it, kita enggak melihatnya lagi di akhir.

Dan jokes tentang “Neng, pinter banget, kamu pasti penyihir. ENYAH KAU!” terus saja diulang-ulang sehingga jadi annoying. Awalnya sih lucu, tapi lama-lama jadi kentara banget. Masak setiap tokoh cowok guyonannnya begitu ke Carina.

Cara terbaik untuk menggambarkan film ini adalah membandingkannya dengan wahana di taman hiburan Disney. And it is precisely just like that; Seru yang melibatkan banyak hal dan membutuhkan biaya besar, tapi nyatanya adalah rangkaian adegan yang pointless.

 

Pada film pertama, karakter Jack Sparrow adalah tokoh yang sangat mengejutkan. Kita enggak tau apa yang ada dipikirannya, cara dia untuk membuat everything work out. Sparrow adalah peran yang berhasil dibangkitkan secara fenomenal oleh Johnny Depp. It is his signature role. Dia lucu, gampang banget disukai. Penampilannya liar dan really unhinged, bagusnya di awal-awal adalah keintensan karakter tersebut terkontrol dengan baik. Dalam film ini, Depp seperti diberikan kebebasan seratus persen, hanya saja jatohnya dia seperti memainkan karikatur dari karakternya yang dulu. Cuma sebatas lelucon setiap kali dia nampil dalam adegan, Sparrow tidak lagi punya real-character. Ini membuatku kecewa karena buat tokoh ini kita udah tau harus mengharapkan apa, namun tokohnya kehilangan sense of humanity seperti yang nampak pada film-film awal. Aku lebih tertarik ketika cerita membawa kita flashback ke Sparrow yang masih muda; karakternya terlihat lebih grounded di bagian itu.

Studio Disney lagi suka main FaceApp yaa hhihi

 

Meski ini adalah film dengan durasi paling pendek dalam franchise ini, dirinya tidak terasa bergerak secepat itu. Tetap aja filmnya kayak panjang banget. Sekuen-sekuen aksinya pada seru dan refreshing hanya saja mereka dimainkan lebih sebagai humor alih-alih untuk excitement. Pacing film kerap terasa ngedrag karena ada banyak adegan-adegan panjang yang kepentingannya gajelas. Kayak Sparrow ketemu pamannya di sel, atau malah adegan rampok bank itu. Sepertinya adegan-adegan tersebut memang dimasukkan cuma untuk bumbu humor semata. Tidak ada yang menarik dari arahannya. Film ini terasa kayak film-film action adventure yang biasa. Coba deh bandingin ama trilogy Pirates yang digarap oleh Gore Verbinski. Meski memang yang pertama doang yang bagus, namun Verbinski meletakkan ciri khasnya dalam film-film tersebut. Pirates seri kelima ini datar aja, enggak punya keunikan apapun.

 

 
Akan ada banyak hal yang bisa dinikmati jika kalian penggemar franchise ini. After all, kita udah ngeliat sekuelnya yang jauh lebih buruk. Film ini enggak jelek-jelek amat, meski juga enggak brilian dan unik. Efeknya keren, dan aksinya seru. There are some good jokes. Ceritanya juga sedikit lebih menarik. Penampilan Salazar is the one to watch for. Yang bikin kecewa adalah enggak banyak sense of urgency dari karakter-karakternya. Film ini live it up deh dengan wahananya, asik tapi rather pointless. Tapinya lagi, purposenya akan benar-benar terasa mantep jika film ini adalah film terakhir. It was better than the previous ones.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for PIRATES OF THE CARIBBEAN: SALAZAR’S REVENGE

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 
We? We be the judge.

ZIARAH Review

“In the end all you really have is memories.”

 

 

Mengunjungi makam kerabat, memanjatkan doa-doa, esensinya adalah supaya kita mengingat masa lalu dan masa depan. Pertemuan dan kematian. Kata kuncinya adalah mengingat, dan tema tersebut dieksplorasi oleh film Ziarah di mana ia akan mengajak kita untuk mengunjungi kembali kenangan dan duka yang tertimbun. Film ini adalah perjalanan mencari kebenaran lewat ingatan.

Bercerita tentang seorang nenek yang sudah berusia sembilan-puluh lima tahun yang mendadak pergi dari rumah. Mbah Sri ingin nyekar ke makam suaminya yang gugur saat Agresi Militer Belanda Kedua berpuluh-puluh tahun silam. Ke makam ‘beneran’, bukan ke makam tanpa nama yang sudah disiapkan oleh pemerintah untuk pahlawan-pahlawan tak dikenal. Jadi, dengan sekeranjang kembang di dalam tasnya, Mbah Sri berjalan naik turun perbukitan, melintas dari satu desa ke desa lain. Beliau mencari setiap jengkal tanah pekuburan yang dikunjungi. Bertanya kepada orang-orang yang mungkin saja tahu tentang peristiwa melingkupi tewasnya sang suami. Perjalanan yang Mbah Sri tempuh ternyata menguras mental dan emosi lebih banyak daripada nyapekin badan, saat misteri keberadaan sang suami perlahan terdispersi menjadi beberapa cahaya kebenaran. Dan kenangan dan kepercayaan yang selama ini ia pegang bisa jadi bukan kejadian yang sebenarnya.

ke kuburan bukan buat minta nomer, loh!

 

Sutradara asal Yogya, BW Putra Negara, mengerahkan semua arsenal yang dia kuasai untuk memaksimalkan penceritaan Ziarah. Menggunakan visual storytelling dan tutur dialog dengan sama efektifnya sehingga jika kita enggak benar-benar terpaku di menatap layar, kita akan ketinggalan potongan emosi. Dan jika kita enggak memperhatikan dialog (atau dalam kasus film ini yang SELURUH PERCAKAPANNYA BERBAHASA JAWA, enggak baca teksnya), kita akan tersesat dan bingung sendiri oleh cakap eksposisi, informasi, dan simbolisme yang datang silih berganti. Sutradara pun tidak pernah membuat film ini menjadi lebih mudah untuk kita. Dengan adegan-adegan yang dengan sengaja diberi pace yang lambat; shot panjang yang belum dicut-cut, film ini mengambil waktu supaya setiap adegan berlangsung dengan utuh. Kita ngeliat dua orang berdiskusi nyusun denah rumah di tanah, kita ngeliat Mbah Sri yang masukin kembang ke dalam tas, kita ngeliat di berjalan dari ujung jalan, camera lingers a little bit too long, musiknya merayap di belakang, semua ini menyiptakan sensasi uneasy yang luar biasa. Rasa nonton film ini hampir seperti rasa ketika kita ingin tahu sesuatu tapi di dalam hati kita sebenarnya takut akan kebenarannya. Setiap informasi yang diterima oleh Mbah Sri, membuat pencariannya semakin berkelok, dan to be honest, semakin mendekati akhir aku berharap Mbah Sri, dan aku sendiri, enggak pernah nemuin kebenaran yang dicari.

Kenangan kita adalah milik kita seutuhnya. Itu sejarah personal kita. Ya, mungkin sejarah itu blur, mungkin kita butuh kejelasan. Tapi jika itu berarti kenangan tersebut harus ditantang dengan kebenaran, apakah kita siap untuk menodai kenangan tersebut evenmore? Film ini bilang jangan mengorek luka lama. Sesuatu yang dikubur sebaiknya dikenang, jangan diusik lagi. Bagaimana jika kita salah? Sudikah kita melepaskan satu-satunya yang kita punya? Siapkah kita – seperti Mbah Sri – untuk pasrah?

 

Dan memang film ini cukup berani undur diri dengan terbuka bagi interpretasi penonton. Film menunjukkan kepada kita apa yang jadi jawaban atas pencarian Mbah Sri, ada sense of finality juga ketika film berakhir, namun maksud kejadian penghabisan – very well might be Mbah Sri’s last choice –diserahkan sepenuhnya kepada kita. The very last shot dimainkan dengan bagus dan merupakan kontras dari salah satu adegan yang muncul di menit-menit awal film.

Semua hal dalam film ini terasa otentik. Misteri seputar sosok suami Mbah Sri, Pawiro, mendapat pengungkapan yang menarik. Tidak ada pancingan emosi yang dibuat-buat kayak film drama pada umumnya. Karakter-karakter dibiarkan berjalan, dan kejadian demi kejadian kayak berlangsung gitu aja. Ada satu sekuen sih, di akhir-akhir babak kedua, ketika ada seseorang tampak punya agenda sendiri; awalnya kukira ini adalah di mana film ngambil keputusan yang salah dalam ngelanjutin ceritanya, you know, biasanya film-film kan gitu – they did everything right, namun di akhir ada nila yang merusak film sebelanga. Tapi enggak, elemen cerita itu teresolve dengan manis. Penampilan aktingnya film ini, entahlah, aku melihat orang-orang dalam film ini seperti menjadi diri sendiri. Seperti menonton dokumenter di mana warga asli ditanya-tanyain dan mereka bercerita apa adanya. Low budget dan PENGGARAPAN YANG SEDERHANA justru diubah jadi nilai lebih film ini karena semuanya terasa nyata. Mbah Ponco Sutiyem yang memerankan Mbah Sri berhasil menyampaikan emosi dengan fantastis walaupun sebenarnya peran ini sangat stricken dan beliau sendiri bukan aktor. Kita boleh aja enggak ngerti bahasanya, namun ekspresinya bercerita begitu banyak. Semua ini tentu saja berkat arahan dari sutradara benar-benar on-point.

Adegan di awal-awal ketika Mbah Sri ngobrol dengan cucunya di dapur really hits home buatku. Dari keseluruhan film yang tonenya mellow kadang ada lucu ironis, dan kadang ngeri, cuma di bagian inilah aku ngerasa sedikit ringan. Lantaran aku teringat kalo lagi di kampung, aku setiap subuh masuk dapur ngangetin diri di depan kompor, dan Mbah ku dateng ngajak ngobrol. Hanya saja aku yang ampe sekarang enggak bisa-bisa berbahasa Jawa, hanya manggut-manggut nyengir sok ngerti hhihi

“sudah bukan umur bercanda lagiii”

 

Dari segi skenario, Ziarah punya struktur cerita yang rada unconventional. Kita tidak langsung diberi petunjuk motivasi tokoh utama, kita malah ngeliat motivasi dari karakter lain. Di sinilah film sedikit goyah. It takes time to established the main character, dia sedikit terlalu berada sebagai latar saat permulaan. Di awal, film ini terasa kayak cerita seorang cucu yang ingin menikah, tetapi neneknya mendadak pergi entah ke mana dan si cucu harus pergi mencari. Tidak hingga midpoint barulah perspektif Mbah Sri menjadi benar-benar dominan, dan kita lantas belajar mengenai motivasinya. Kita tahu Mbah Sri ingin mencari makam suami, akan tetapi baru di paruh kedualah kita mengerti kenapa baru sekarang dia melakukan ziarah tersebut, apa yang membuatnya melakukan perjalanan panjang itu. Memang, terjadi kebingungan dalam memahami cerita jika kita enggak pasti siapa yang jadi tokoh utamanya. Kupikir, itulah sebabnya kenapa Ziarah tidak serta mudah dicerna; Ceritanya sederhana, hanya saja strukturnya membuat kita sedikit padet. Di paruh awal, perspektif kita kerap berganti ke cucu Mbah Sri yang sebenarnya punya lapisan sendiri yang integral sebagai simbol untuk tema dan bigger picture cerita.

Film ini membahas fondasi rumah, membahas diskon gede, membahas orang bunuh diri lantaran pasangannya ketahuan berselingkuh bertahun yang silam. Perbincangan yang terdengar random, namun sesungguhnya punya kait dengan cerita yang bertema ingatan dan masa lalu. Mereka adalah bagian dari proses berdamai. Jangan sampai kita membiarkan ingatan kita tentang seseorang atau sesuatu, terkontaminasi oleh suara-suara orang. Jika kita mengenang sesuatu, kenanglah sesuai dengan ingatan kita secara personal. If we believe something is sweet, then sweet it is. Apapun yang terjadi sesudahnya, tidak ada hubungannya dengan kenangan kita. Simpan, cherish kenangan tersebut, dan just move on with our life.

 

Sehabis nonton tadi, tidak ada satupun penonton di studio yang beranjak dari kursi. Mungkin masih ingin jawaban. Mungkin juga pada segan cabut duluan. Atau mungkin juga, semua orang itu masih pada terusik oleh apa yang bisa kita temukan jika kita mencari; Kebenaran.

 

 

 

Buat yang kerap meminta sesuatu yang berbeda dari film Indonesia; tontonlah film ini. Sekali-kali ziarahlah ke bioskop; untuk mengingat kenapa sih kita suka nonton film in the first place. Drama ini penceritaannya sangat unconventional yang benar-benar menyentuh kita soal berdamai dengan masa lalu, dengan kenangan tentang seseorang yang kita simpan erat-erat. Ini juga adalah tentang sejarah. Kita belajar sejarah bukan untuk mengorek luka masa lalu, melainkan supaya kita embrace, belajar darinya, dan hidup lebih baik setelahnya. Tapi film ini sedikit falter di struktur, ada tone yang kadang bentrok juga. Elemen mistis di tengah-tengah cerita, contohnya. Mengingat efektifnya bahasa visual, tutur, dan simbolisme yang dilakukan film ini, mungkin saja elemen mistis itu adalah simbol yang aku belum dapat koneksinya. Tapi memang, aspek ini mentok jika disandingkan dengan aspek genuine yang dibangun oleh film.
The Palace of Wisdom gives 7 gold stars out of 10 for ZIARAH.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

 

GIFTED Review

“Compassion isn’t about solutions.”

 

 

Berkah bisa berubah menjadi kutukan yang menggerogoti diri jika seseorang terlalu ‘tamak’ terhadapnya. Teknologi misalnya, dari yang tadinya memberikan banyak kemudahan, jika kita gunakan dengan tidak bertanggung jawab, justru mendatangkan mudarat; deteriority of humanity. Kecantikan juga gitu, orang yang terobses malah akan menjadi ‘mengurung’ diri sendiri dalam usaha menjaga kecantikan itu terus terjaga. Bukan berarti kita tidak boleh melestarikan berkah. Berkah dan kutukan, sejatinya adalah pilihan, seperti yang dengan fasih dibicarakan oleh film Gifted. Kita semestinya bisa dengan bijak melihat seorang yang punya bakat jauh di balik kelebihannya tersebut.

 

 

Frank dipanggil ke ruang kepala sekolah. Ponakan kecilnya, Mary, berulah di sekolah. Di hari pertamanya, anak tujuh-tahun itu mengejutkan seisi kelas dan eventually Mary adalah anak jenius, apalagi soal matematika. Mary memang lebih suka sekolah privat ketimbang sekolah umum karena, tentu saja kurikulum standar belajar sekolah biasa terasa lamban oleh gadis cilik ini. Dan ketika ditanya tentang teman, “Aku tidak bisa berteman dengan idiot” keluh Mary. Makanya, ketika ditegur kepsek lantaran Mary literally matahin idung seorang bully di sekolah, Frank malah sedikit senang. Meski yang dilakukan Mary salah, Franks bangga anak asuhnya itu berani membela yang lemah. Frank ingin menumbuhkan rasa kasih sayang di dalam diri Mary. Dia menolak tawaran Kepsek yang ingin memindahsekolahkan Mary ke sekolah khusus anak berbakat, “I would rather you dumb her down, if that makes her a good person,” aku Frank.

Di situlah di mana tokoh Frank yang diperankan dengan luar biasa gentle oleh Chris Evans menjadi sangat menarik. Mary bukan anak kandungnya, Mary adalah anak dari kakaknya yang juga sangat berbakat dalam matematika (in fact, jago matem ini udah warisan turun temurun dalam keluarga mereka). Membesarkan Mary adalah salah satu dari permintaan terakhir kakak kepadanya, jadi dia berusaha untuk menghargai permintaan-permintaan tersebut sekaligus menyadari tanggung jawab membesarkan anak paling pintar di dunia ada pada pundaknya. Frank mencoba untuk melihat dari berbagai sudut, dia mempertimbangkan pendapat banyak orang – mulai dari guru Mary, ataupun dari tetangga mereka, bahkan dari ibunya sendiri. Konsern utama Frank tentu saja dia ingin agar si anak tetap tersenyum dan membuatkannya sarapan, memenuhi segala kebutuhan. Dia ingin yang terbaik, dan dia ditantang ketika ada pihak yang mempertanyakan “yang terbaik buat siapa?”

Octavia Spencer main di film tentang anak cewek yang jago matematika, di mana kita pernah lihat itu sebelumnya?

 

Gifted mengacung-ngacungkan pertanyaan di depan muka kita yang menatapnya dengan terpesona; bisakah seorang jenius mendapatkan hidup normal. Bisakah seorang gadis cilik yang enggak benar-benar ingin diperlakukan sebagai the next Albert Einstein memilih untuk pergi ke pantai, memelihara kucing, nonton UFC dengan pamannya, dan just bermain dengan teman-teman, you know, just being a little girl dan menikmati hidup.

Ini adalah film yang benar-benar tentang karakter. Tidak ada ledakan ataupun aksi di sini. And I really like that about this movie. Semua adegannya hanya ngobrol atau berjalan, namun film ini menanganinya dengan amat efektif. Setiap scene rasanya padet. Ambil contoh ketika kita melihat Frank dan Mary di pantai, kita cuma melihat siluet mereka yang dilatarbelakangi oleh matahari terbenam, tapi pergerakannya sangat playful. Mary literally manjatin Frank, sembari mereka bertukar dialog yang sungguh asik serta menantang untuk diikuti. Mereka bicara tentang Tuhan, tentang kepercayaan. TENTANG PILIHAN. Totally ngedefinisikan film itu sendiri. Gifted sebenarnya bukan film pertama yang membahas tentang masalah anak jenius, tapi yang membuat film ini berbeda terutama adalah penampilan dan perspektif ceritanya. Jika kebanyakan biasanya hanya memfokuskan kepada perang hak asuh, maka film ini lebih kepada menjawab pertanyaan anak jenius bisa kok mendapat kedua hal; being genius dan menjadi anak kecil pada saat bersamaan.

Jejeran castnya tergolong kecil, namun sukses berat bawain cerita sehingga terasa gede. Yang PALING MEMESONA JELAS ADALAH HUBUNGAN YANG TERBANGUN ANTARA FRANK DENGAN MARY. Relationship mereka terasa sangat otentik. Padahal kedua tokoh ini bukan exactly ayah dan anak. The way mereka mengerti satu sama lain, tukar menukar percakapan, bahkan saat mereka ‘berantem’, lovable banget. Kocak. Penuh hati. Nyata.

Dan pemeran Mary, Mckenna Grace, oh wow adek ini mencuri pertunjukan! She’s star in the making, liat aja!! Entah mau jadi anak jenius yang ngambek, yang tau dia spesial namun gak demen sama ide dan peraturan dari sang nenek yang juga jenius, ataupun jadi anak kecil yang ingin bermain-main, Mckenna selalu deliver dengan meyakinkan. Di adegan sedih, dia juga berhasil bikin aku ngerasa “aww kasiaaann”. Ketika kita melihat penampilan bagus dari aktor cilik, biasanya kita langsung ngecap image peran tersebut kepada mereka. Sesungguhnya hal demikian itu nyusahin buat si aktor sendiri, mereka bakal dapat job ngisi peran yang itu-itu melulu. Macaulay Culkin aja mati-matian nyari peran yang bukan ‘anak-kecil-nakal-yang-adorable’ selepas perannya di Home Alone (1990). You know, bahkan aktor kayak Dwi Sasono aja, kita masih ngakak ngeliat dia tampil serius di Kartini (2017) atau ketika dia jadi dokter di Critical Eleven (2017), image Mas Adi begitu kuat melekat – padahal dia bukan aktor anak-anak. Akan tetapi, sepertinya hal ini tidak akan jadi masalah buat Mckenna Grace. Penampilannya di film ini just sooo good dan punya rentang luas sehingga can really break the mold untuk dia melakukan peran yang berbeda di film-film berikutnya.

variabel yang gaada di film Indonesia: tokoh dan aktor cilik yang menarik

 

Setiap kali hendak menonton film drama kayak gini, aku selalu khawatir. Takut nanti ceritanya terlalu melodramatis. Takut filmnya terlalu cengeng. Marc Webb sepertinya diberkahi kemampuan untuk mengolah drama dengan just right, kecuali di beberapa bagian menjelang akhir. Kayak di 500 Days of Summer (2009), Marc Webb keliatan seperti berada di rumah dengan penceritaan dramatis. Dia tahu takarannya. Problem dalam film ini muncul, eh bukan muncul, ding. Film ini tahu arah ceritanya, this movie embraces it. Problem film ini adalah pilihannya untuk mengambil sudut pandang yang tidak di tengah. Film ini adalah jawaban, kita harus respek ama keputusan ini. Mungkin film inilah jawaban yang benar. Namun, ketika ada yang benar, maka pasti ada yang salah. Dan pihak yang ‘salah’ dalam cerita ini, terlihat seperti tokoh jahat, a villain. Menurutku ini hanyalah cara gampang menuliskan sebuah film drama. Ada tokoh yang terlalu tanpa-hati. Aspek ini membuat film jadi predictable, dan personally aku pikir tokoh kayak nenek si Mary gak mesti dibuat sebagai tokoh jahat.

Terkadang, jika kita punya kelebihan, kita suka tidak sadar ada satu variable yang kehidupan kita; kasih sayang.Dan compassion tidak sama dengan matematika; ini bukan soal solusi. Ia adalah soal memberikan cinta sebanyak yang kita punya.

 

Film ini juga jatuh ke dalam ketagori cerita yang melibatkan proses pengadilan, di mana ada adegan di depan hakim, urusan legalisasi hak asuh anak, dan sebagainya. Singkat kata, dalam film ini ada elemen yang bakal bikin kita bosan. Bagian yang kita ingin untuk cepat berlalu sehingga kita bisa melihat porsi Mary dengan Frank lebih banyak. Adegan courtroom dalam film ini muncul sewaktu-waktu untuk nonjolin pihak baik dan jahat, untuk membakar api konflik keluarga yang jadi tantangan bagi Frank. Again, menurutku ini adalah cara textbook yang paling gampang untuk melanjutkan cerita.

 

 

 

Di luar adegan-adegan peradilan, ini adalah cerita yang sangat asik untuk dinikmati dengan banyak penampilan akting yang fantastis. Perspektif tokoh utamanya sangat menarik. Hubungan antara Frank dengan Mary begitu real dan menyentuh. Dialog-dialognya kadang kocak, kadang benar-benar bikin hati kita ketarik-tarik. Kecuali di bagian akhir, film ini sukses menjadi enggak terlalu dramatis. I love this movie, kuharap banyak orang yang tertarik untuk menontonnya sebab kisah drama antara anak yang spesial dengan orang yang truly menyayanginya ini dapat benar-benar menginspirasi orang-orang. Entah itu mendorong untuk mengajarkan compassion dan cinta, atau membuat orang ingin bikin film, atau belajar matematika hhihi.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for GIFTED.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

CRITICAL ELEVEN Review

“No parents should have to bury their child.”

 

 

Debbie Reynolds pernah bilang, “my greatest fear is to outlive my daughter.” Beliau tutup usia keesokan hari setelah putrinya, Carrie Fisher, meninggal dunia. Rest in peace buat kedua aktris legendaris tersebut, mereka sudah bersama lagi di alam sana. Toh, ketakutan terburuk sebagai orangtua sempat terealisasi, dan itu memang menyedihkan. Persoalan kehilangan anak karena kematian – entah itu penyakit, kecelakaan, atau dibunuh, atau tragedi lainnya — bagi orangtua penyelesaiannya tidak pernah segampang “tinggal bikin lagi”. Kematian seorang anak dapat mengarah kepada konsekuensi serius terhadap rumah tangga, yang tak jarang berujung kepada perceraian.

Film Critical Eleven mengangkat masalah tersebut sebagai salah satu dari permasalahan yang dihadapi oleh pasangan muda yang baru berumah tangga. Menjaga dan memenuhi kebutuhannya bahkan dari sebelum anak lahir ke dunia. Dan ketika semua yang telah dilakukan gagal, bagaimana mereka menyingkapinya, gimana keutuhan rumah tangga mereka, ini adalah perjuangan cinta yang sangat dewasa, dengan konflik emosional yang serius. Sebab, masalah yang dihadapi Ale dan Anya ini bisa saja terjadi kepada siapapun di luar sana.

Ketika seorang anak meninggal dunia, orangtua akan berasumsi bahwa itu adalah tanggungjawab mereka. Bahwa seharusnya mereka bisa mengusahakan sesuatu untuk mencegah hal tersebut dapat terjadi. Pada titik ini, orangtua bisa terjerumus ke dalam depresi yang dalam; mereka akan marah, menjauh, bahkan cenderung jadi saling menyalahkan. Kematian anak menimbulkan rasa ketidakmampuan dalam diri orangtua, karena mereka berpikir sebagi orangtua mereka mestinya bisa ‘memperbaiki’ semua hal dalam hidup anaknya. Dan ini membuat orangtua merasa tak berguna. Merasa bersalah.

 

 

Kita ngikutin kisah rumah tangga Anya dan Ale sedari mereka pertama jumpa di laut cinta, kau secantik mutiara…. eh jadi lagu Jinny oh Jinny, sori sorii. Anya (timing dan burst emotional Adinia Wirasti keren banget) yang udah nganggep bandara sebagai rumah keduanya malah nemuin ‘rumah tersayangnya’ saat dia dipinjemi saputangan oleh Ale, penumpang pesawat yang duduk di sebelahnya. Menggambarkan pertemuan mereka sebagai critival eleven dalam hidupnya, Anya jatuh cinta kepada Ale (range yang dimainkan oleh tokoh Reza Rahadian ini lebih lebar dari mulut menganga cewek yang nonton di sebelahku). Mereka menikah. Anya ikut Ale tinggal di New York, kehidupan cinta mereka bersemi sangat indah. Satu-satunya saat Anya kesepian adalah begitu Ale pergi kerja ke offshore rig. Being independent most of her life, Anya mendapat ‘tantangan’ ketika dia mulai mengandung anak yang sangat didamba oleh Ale. Cerita yang tadinya membuai penonton wanita dengan manisnya romansa, mulai ketemu kelokan ke arah yang lebih mengkhawatirkan as kedua pasangan ini punya pandangan dan prioritas yang slightly berbeda – dan tentu saja ego masing-masing got in the way. Dan Kematian turut campur tangan, ultimately, stake couldn’t get any higher.

kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya… Anda merana menatap pesan yang cuma dibaca

 

 

Film ini GORGEOUS. Penampilan aktingnya menawan. Reza dan Adinia punya pesona yang luar biasa tampil bersama. Penampilan visual film pun memukau. Entah itu ruang kantor ataupun pemandangan jalanan New York, semuanya terlihat cantik. Film ini memanfaatkan pemandangan tersebut sebagai perwakilan dari perasaan yang ingin disampaikan oleh cerita. Kita tidak melihat hujan di malam hari hingga mendekati akhir di mana hubungan kedua tokoh lagi genting-gentingnya. Ada dua shot yang aku suka banget, yakni adegan, yang demi enggak terlalu banyak beberin, let’s just say adegan Anya di kolam dan adegan Anya dan bayinya. Up until that point tho, semuanya terlihat menyenangkan. Walaupun jika kita tilik dari keintegralan dengan actual adegan yang sedang berlangsung, beberapa latar cantik itu tampak random. I mean, ini adalah fim yang berpusat pada hubungan dua tokoh, naturally ada banyak adegan percakapan. Entah itu tentang mereka saling mengutarakan keinginan, memilih nama bayi, atau sedang ada sedikit argumen. Kalo yang mereka pas ribut, sih kita pasti ‘melek’ ngikutin. Tapi untuk percakapan yang lumayan sepele – terlebih dialog-dialog dalam film ini kerap terdengar cheesy sekali – kita butuh untuk ‘terdistraksi’ oleh pemandangan kota just so kita tetap berada di sana.

Critical Eleven adalah istilah dalam dunia penerbangan; menit-menit krusial di mana biasanya kita dilarang mecolek-colek pilot dan copilot lantaran bisa mengganggu konstentrasi mereka demi take-off dan pendaratan yang aman. Tiga menit dan delapan menit itu sangat menentukan keselamatan seluruh penumpang. Dalam relationship, seperti yang dianalogikan literally oleh Anya, kita bisa melihat cinta itu datang di tiga menit pertama, namun proses ‘terbang’ dalam hubungan tidak selalu bisa ditentukan dari sana. Dibutuhkan delapan menit of understanding and everything, yang mana enggak benar-benar delapan menit. Dalam cinta, dalam rumah tangga, hanya ada proses dan setiap menitnya begitusama kritisnya.

 

 

Kalo dalam terbang istilahnya critical eleven, maka dalam film, angka penting adalah 10. Sepuluh menit pertama ketika kita menonton film adalah menit-menit paling krusial, dalam rentang waktu itu kita akan sudah bisa memutuskan film ini layak ditonton, kita suka atau enggak, bagus atau meh. Itulah makanya, dalam penulisan naskah, para scripwriter kudu bisa mejengin motivasi karakter, tone cerita, dan kait emosi di dalam sepuluh halaman pertama. Aku tidak melihat motivasi pada sepuluh menit pertama film ini. Atau paling enggak, tidak melihatnya pada tokoh utama kita. Aku sama sekali tidak dapat gambaran ini cerita tentang apa, apa konflik yang membayanginya. It’s about strangers who met in an airplane, and that’s it. Tidak menarik buatku, tidak menantang apa-apa. Tone dan gaya berceritanya pun tidak terasa spesial atau berbeda. Jadi aku menonton film ini kayak lagi nyebrangi jembatan yang enggak punya tali untuk pegangan di pinggirnya. Butuh waktu yang rasanya amat panjang untuk kita tahu konfliknya apa, film ini meminta belas kasihan kita untuk tetap duduk sampai saat konflik itu tiba tanpa memberikan apa-apa untuk kita pegang.

Dan aku benar-benar meraba soal memahami karakter film ini. I really just grasping at straw towards Anya, aku enggak merasa kenal dan mengerti sama tokoh ini sebanyak yang seharusnya, karena dia adalah tokoh utama. I get it dia biasa sendiri, apa yang rela ia lakukan, like, dia gak tahan ketika dia yang biasa sendiri kemudian mengattachkan diri kepada orang atau katakanlah rumah, dan lantas dia harus berpisah dari itu semua. Ini kayak ketika kita udah berlari kencang, terus berhenti, dan dipaksa untuk mulai berlari lagi. Melelahkan memang. Namun her concerns, alasan di balik pilihan-pilihan yang dibuat olehnya, gak benar-benar masuk akal buatku. Aku lebih ‘deket’ sama tokoh Ale, yang terasa lebih dominan dan lebih terang perihal mengatakan apa yang ia mau. Kita bisa memahami alasan Ale bersikap rather protective; dia punya begitu banyak cinta dan ingin membuktikan diri dia bisa menyayangi anak lebih baik daripada yang orangtuanya lakukan terhadap dirinya. Saking carenya, dia segan berhubungan ketika Anya tengah hamil. Kita juga ngerti konflik yang tercipta dari diri Ale, sebagaimana kerjaan mengharuskannya absen beberapa waktu dari keluarga tercinta.

Tau gak; Apa yang bego dan melompat-lompat, tapi bukan kodok?

 

Film ini bercerita dengan runut; mereka ketemu, mereka menikah, mereka menghadapi masalah yang timbul. Akan tetapi, prosesnya seringkali dilompat. Contohnya gini, setelah bertemu di pesawat, adegan selanjutnya adalah kita melihat mereka sudah akan menikah banget. My point is, kenapa dibikin runut (mengorbankan sepuluh menit pertama yang jadi datar) kalo prosesnya dilewat hanya buat supaya mereka punya bahan untuk flashback nantinya. Adat paling jelek film ini adalah dia lebih suka untuk BERCERITA LEWAT KATA-KATA, TANPA MEMPERLIHATKAN BUKTINYA KEPADA KITA. Ale bilang dia merasa orangtuanya enggak sayang kepada dirinya. Kita enggak lihat itu. Orangtua Ale malah terlihat perhatian. Ale bilang ke Anya saat mereka dalam perjalanan pindah ke New York, “ aku tahu pindah enggak gampang buat kamu”, but hey, mereka terbang gitu aja; kita enggak liat susahnya seperti gimana buat Anya, wong baru menit enambelasan mereka udah stay di New York. Ini jugalah yang menyebabkan karakter Anya di babak satu dan babak dua terasa berubah, dengan kita enggak yakin terhadap alasannya; semuanya hanya kita dengar lewat omongan, kita enggak melihat inner journeynya. Malahan kayaknya film ini mikir lebih keras demi timing buat nunjukin penempatan produk ketimbang memperlihatkan cerita. Akibatnya, ya filmnya berjalan dengan enggak meyakinkan.

Bagian terbaik film ini adalah paruh kedua, ketika konflik mulai tampak. Mesti begitu semuanya digampangkan. Resolusi yang dihadirkan juga standar trope drama banget. Pokoknya asal bisa bikin penonton cewek mewek aja deh! Kalian bisa bilang La La Land (2016) juga pake tropes ala ftv, tapi di sana karakternya membuat pilihan yang kuat. Karakter film Critical Eleven ini, bahkan ketika mereka pindah balik ke Indonesia, semuanya berlangsung gitu aja buat kemudahan mereka. Anya berargumen soal nanti di Indonesia dia bakal susah kembali nyari pekerjaan, tapi toh ketika udah di sana, semua jawaban teresolve otomatis. Seolah di dunia ini tidak ada yang berubah selain Anya yang kini hamil.

My biggest issue with this movie adalah kualitas penulisan dialognya. Aku enggak punya masalah soal campur aduk bahasa Inggris, karena cocok dengan lingkungan film ini. Lagipula secara psikologis, ada orang yang lebih mudah mengungkapkan perasaannya lewat bahasa asing, dan Anya tampak seperti orang yang masuk dalam kategori ini. Dan hey I’m doing it right now! aku juga menggunakan bahasa nyampur di review untuk alasan yang sama. Yang aku permasalahkan dari dialog film, selain terlalu banyak berkata-tanpa-nunjukin bukti ada hubungannya dengan film ini bertema sangat dewasa. Tokoh-tokohnya adalah orang pinter dan mature sekali. Dan actually ada adegan dewasa yang diincorporate nicely ke dalam narasi, ada kepentingannya di dalam cerita. But oh boy, kenapa ketika mereka ngobrol aku kayak lagi dengerin anak sekolah lagi pacaran? Cheesy abis. Beberapa ditulis straight forward. Enggak benar-benar banyak maksud yang terkandung di balik percakapan, dan ini membuat film semakin watered down buatku.

 

 

 

 

Film adaptasi novel yang mengangkat tema yang lebih dewasa mengenai cinta dan rumah tangga ini hidup oleh penampilan tokoh-tokohnya. Tahu persis bagaimana memancing emosi, terutama dengan memanfaatkan visual latar dan konstruksi shot yang matang. Tapi ceritanya butuh waktu lama untuk kick in, di mana untuk rentang yang panjang kita hanya meraba-raba apa yang terjadi sih sama karakternya. Fokus begitu lebih terhadap emosi, sehingga kita sering diombang-ambing tanpa pernah merasa benar-benar tertarik. Jika di paruh pertama kita menunggu, maka di paruh akhir kita berdoa agar cepat selesai. Ini adalah perjalanan terbang ke udara penuh cinta yang melelahkan, dengan tokoh yang enggak punya footing yang jelas. Kualitas dialognya juga lemah sekali; it’s either mengatakan sesuatu tanpa nunjukin, cheesy dan romantis yang over-the-top, atau just straightforward ke resolusi. Stake yang tinggi enggak diimbangin dengan resolusi yang meyakinkan. Jika genre dan cara bercerita begini adalah your cup of tea, you’re not gonne be bothered by some points yang aku utarakan. Namun buatku, film ini hanya biasa saja sejak sepuluh menit krusial yang pertama.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for CRITICAL ELEVEN.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.