CHILD’S PLAY Review

“And this is a friendship that will never ever end”

 

 

Lewat beragam poster teaser yang cerdas, meski sedikit terlampu nekat, digambarkan secara eksplisit Chucky membantai tokoh-tokoh mainan Toy Story. Reboot Child’s Play di negara asalnya memang tayang berbarengan dengan Toy Story 4 (2019). Dan ternyata, untuk menambah kesan ‘mengerikan’, kesamaan film ini dengan animasi Pixar tersebut tidak berakhir sampai di sana.

Pertama-tama, pemilik Chucky juga bernama Andy. Tapi tentu saja tidak semua film yang memajang tokoh anak kecil dimaksudkan sebagai tontonan untuk anak-anak. Terutama jika tokoh anak tadi punya mainan yang mengucapkan sumpah serapah dan bisa belajar untuk berbuat kekerasan. Chucky dalam Child’s Play adalah gambaran gelap dari keinginan Woody dan teman-teman dalam Toy Story. Film ini juga memiliki filosofi yang sama; semua mainan ingin dimainkan. Seperti Woody kepada Andy, Chucky kepada Andy-nya (as in, Andy miliknya satu-satunya) juga punya masalah ketergantungan. Hanya saja, ketergantungan Chucky – ‘kepolosan Chucky’ – enggak ada imut-imutnya sama sekali.

Dalam adegan pembuka kita melihat Chucky merupakan produk boneka modern merek Buddi yang diprogram untuk berteman selamanya dengan anak yang membeli. Tapi Chucky diprogram untuk bisa berbuat jahat, berkat salah satu pekerja yang sakit hati diperlakukan semena-mena oleh mandor pabrik mainan. Chucky yang matanya menyala merah alih-alih biru itu pun sampai di tangan Karen (peran ibu muda yang cool yang cocok banget dibawakan oleh Aubrey Plaza), seorang single-parent berjuang sebagai karyawan supermarket, yang menghadiahi Chucky kepada anaknya. Andy (Gabriel Bateman memainkan anak menjelang ABG yang edgy) yang tak punya teman di lingkungan baru mereka pada awalnya memang senang bermain dengan boneka Buddi yang canggih. Dengan ‘safe protocol’ tak pernah terinstall, Chucky punya keistimewaan yang membuat dirinya tidak semembosankan boneka-boneka yang lain. Tapi yang diperbuat oleh Chucky semakin lama tampak semakin berbahaya. Boneka ini hanya mau membuat Andy senang, namun dia tidak punya batasan. Andy yang merasa ngeri mulai menjauh, tapi itu hanya membuat Chucky semakin bernapsu untuk terus bermain bersama. Mayat-mayat pun mulai menumpuk di sekitar Andy, yang berjuang untuk membuktikan semua kejadian tersebut merupakan ulah dari sebuah boneka.

ide judul film horor: Hutang Buddi Dibawa Mati.. ayo, Produser-Produser, ditunggu teleponnya

 

Sejak 1988, Chucky susah untuk dibunuh. Literally. Bahkan pembuatnya saja, Don Mancini, gak sanggup untuk menghentikan lajunya bibit-bibit sekuel yang terus bermunculan. Child’s Play versi baru ini lucu lantaran lahir di saat sekuel orisinalnya masih berlanjut. Bahkan bakalan ada series yang menyambung timeline di cerita aslinya.  Sutradara asal Norwegia, Lars Klevberg, jelas punya visi yang begitu kuat sehingga dengan pedenya dia tetap membuat Child’s Play. Paling tidak, dia paham untuk membuat suatu reboot atau remake dibutuhkan perubahan dan alterasi yang benar-benar matang, perlu gagasan yang membuat cerita tadi terasa segar. Jadi, ya, kita akan melihat banyak perbedaan signifikan antara Child’s Play versi ini dengan versi orisinal-dan-peranakannya. Terutama dari si Chucky itu sendiri.

Untuk meremajakan kisah ini, Klevberg membuang elemen supernatural. Chucky tidak lagi dirasuki oleh jiwa Charles Lee Ray, seorang kriminal penyembah setan. Chucky di film ini adalah sebuah gadget sangat canggih. Dia boneka yang dibuat oleh perusahaan elektronik besar – bayangkan Apple yang tidak membuat telepon pintar melainkan boneka pintar. Chucky dan boneka-boneka Buddi punya sistem online yang membuat mereka terhubung dengan aplikasi-aplikasi seperti saluran televisi, layanan transportasi, dan mainan-mainan elektronik. Jadi begitu Chucky mengamuk di paruh akhir cerita dengan menggerakkan berbagai macam barang-barang, kita merasa lebih ngeri karena lebih mudah membayangkan teknologi yang kita miliki tiba-tiba malfungsi alih-alih membayangkan ada makhluk poltergeist mengendalikan mereka. Mungkin kita bakal merasa sedikit ditegur, karena film ini menunjukkan malapetaka bernama Chucky itu justru datang dari kelalaian manusia dalam menangani teknologi. Melihat Chucky, berarti kita melihat perjalanan sesuatu yang tadinya netral menjadi berbahaya karena manusia di sekitar Chucky memutuskan untuk menggunakannya untuk sesuatu yang buruk ataupun tak berfaedah. Chucky belajar membunuh lewat televisi; dia menyaksikan Andy dan teman-temannya terhibur oleh adegan sadis. Sebaliknya, melihat Andy, berarti kita melihat pembelajaran tentang betapa kita kadang tidak menyadari kita tidak memerlukan hal yang kita pinta, sebab film ini menunjukkan harapan-harapan Andy diwujudkan oleh Chucky secara mengerikan.

Persahabatan hingga-akhir yang disebut oleh film ini boleh jadi merujuk kepada hubungan saling ketergantungan antara manusia dengan teknologi. Manusia menciptakan sesuatu berkenaan dengan kebutuhannya akan penghiburan. Sebaliknya, hiburan yang diciptakan justru berbalik menjadi mempengaruhi manusia. Dalam film ini kita melihat pengaruh kekuatan Chucky bisa begitu luas lantaran manusia sudah sedemikian konsumtifnya terhadap penggunaan teknologi, sehingga manusia menjadi lepas kontrol.

 

Klevberg, untungnya tidak seperti Chucky yang galau gak diajak main sehingga melakukan hal-hal di luar norma. Klevberg tahu batasan dalam ‘bermain-main’. Child’s Play yang dibuatnya punya perbedaan signifikan tetap mempertahankan sisi-sisi yang membuat film aslinya menjadi sensasi horor-cult. Film ini, sukur alhamdulillah, tidak dibuatnya ekstra kelam dengan backstory yang serius. Film-film Chucky selalu merupakan film horor hiburan yang konyol. Sadis tapi menggelikan. Kita dimanjakannya dengan adegan-adegan kematian yang over-the-top. Banyak hal-hal horor yang hilarious bertebaran di sepanjang film. Rating R membuat film ini lebih leluasa dalam bercanda dan berslasher ria. Aku tantang kalian untuk tidak tertawa miris melihat semangka yang dihadiahkan Chucky kepada Andy. Film ini tahu cara menjadi horor 80-an yang baik. Kita punya keluarga  dengan dinamika yang khas – aku suka cara film menghubungkan Andy dengan ibunya dengan seorang polisi yang juga punya ibu. Kita punya geng anak-anak yang berusaha merahasiakan sesuatu, yang di luar nalar dan kemampuan mereka. Kita punya adegan ‘one last scare’ dan satu dialog pamungkas dari seorang ‘final girl’. Film ini sudah memenuhi kriteria horor yang ikonik – ia akan menjadi modern-klasik. Pembuat film tampak banyak bersenang-senang. Ada banyak adegan easter egg dan foreshadowing, seperti ketika di awal-awal kita melihat ibu Andy melakukan gestur gantung diri sebagai tanggapannya terhadap reaksi Andy ketika dihadiahi Chucky. Mark Hamill, terutama, terdengar sangat asik menyuarakan Chucky. Hamill memberikan ciri tersendiri yang membuatnya berbeda, sekaligus tak dipandang sebelah mata.

Andy tadinya mau ngasih nama Han Solo kepada boneka Buddinya hhihi

 

Dan sebagaimana pada horor-horor jadul, tokoh pada film ini pun tak banyak diberikan karakteristik. Beberapa di antara mereka sangat klise. Dalam teman segeng ada yang gendut, ada yang aneh, ada yang jahat. Ibunya Andy punya pacar dan si pacar itu brengsek satu-dimensi yang punya masalah dengan Andy. Semua trope karakter itu mungkin bisa dioverlook, karena kita lebih peduli sama cara mereka dibuat mati nantinya. Tapi tetep saja kita berpikir, kalo saja mereka ditulis dengan lebih baik.  Kita tidak harus menunggu mereka mati, tertawa ngeri, dan kemudian tak peduli. Inilah yang membuat film-film horor barat itu yang terkenalnya malah sosok pembunuhnya. Mereka malah menjadi ‘hero’ yang kita cheer. Kita tidak merasa kasihan sama manusia-manusia yang menjadi korban. Padahal mestinya paling enggak kita peduli sama mereka. Salah satu hubungan yang menurutku bakal bikin film semakin asik ditonton adalah antara ibu Andy dengan polisi tetangga mereka. Aku ngarep mereka lebih banyak ditonjolkan lagi.

Perbedaan yang dibuat oleh sutradara, selain memberikan rasa segar, juga menjadi salah satu kekurangan. Chucky dalam film ini kehilangan jiwa. Karena dia tak pernah seorang manusia seperti Chucky jaman dulu. Chucky kini hanya A.I. Film berusaha membuat dia tampak polos – seperti E.T. malah, dia belajar dari sekitar. Tapi bahkan E.T. adalah makhluk hidup. Sedangkan di sini kita sudah tahu bahwa Chucky hanya diprogram. Kita tahu perasaan ingin berteman dan membahagiakan Andy itu artifisial sedari awal. Kemudian kita tahu dia dibuat bisa melakukan kekerasan yang malah membuat kita mempertanyakan aturan main dari kejahatan di dalam ciri Chucky. Kenapa dia tidak langsung berkembang sedari awal. Pada titik mana tepatnya Chucky meninggalkan kebaikan. Film ini lumayan mengeksplorasi lingkungan sekitar, yang berkaitan dengan perkembangan Chucky – soal Andy yang juga termasuk ‘kasar’ karena Ibunya sedikit terlalu bebas dalam hal parenting. Tapi tetap saja, Chucky yang sekarang punya karakter yang lebih tipis ketimbang yang dulu. Salah satu cara film untuk memperlihatkan seolah Chucky punya karakter adalah dengan adegan dia ‘bercandar’ dengan Andy saat mengubah wajahnya. But it’s more silly karena memusatkan perhatian kita semua kepada betapa anehnya desain Chucky yang sekarang. Cukup susah untuk mempercayai desain creepy seperti itu dipilih sebagai mainan sahabat manusia.

 

 

 

Pada dasarnya ini adalah salah satu dari sedikit sekali remake/reboot yang bener; yang dibuat dengan bener-bener ada perubahan positif dan visi baru yang membuatnya tampak serupa tapi tak sama. Film ini juga berhasil tampil seru, menyenangkan, menghibur, sekaligus berdarah – khas horor klasik jaman dulu. Aku bener-bener senang di bulan Juli ini dapet dua horor yang tau persis cara membuat horor yang menghibur. Jika kalian bisa tahan sedikit jumpscare dan enggak masalah soal desain baru Chucky yang hanya sedikit lebih rupawan daripada Annabelle, film ini hiburan yang cocok ditonton berkali-kali. Karena pengkarakteran yang tipis itu tak-pernah menadi sandungan besar untuk film-film seperti ini.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for CHILD’S PLAY.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Child’s Play, tampaknya, adalah seri pertama dan satu-satunya yang diciptakan saat originalnya masih berlangsung. Kayak gak mau kalah ama Annabelle. Menurut kalian kenapa orang suka menjadikan benda-benda polos seperti boneka sebagai simbol horor?

Kenapa, seperti Andy dan teman-teman, kita begitu excited melihat benda-benda lucu melakukan hal-hal kasar/keji/tak-senonoh?

Share with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

SI DOEL THE MOVIE 2 Review

“Nothing is so exhausting as indecision…”

 

 

“Saya enggak berani ngakalin, bahaya”, jawaban Doel ketika diminta untuk memperbaiki mesin dengan alat seadanya benar-benar mencerminkan prioritas dirinya; dia tidak ingin ada yang celaka. Tidak ingin ada hati yang terluka. Jadi Doel tetap mengelak dari membuat keputusan. Zaenab atau Sarah. Kata-kata Mak Nyak pun mengonfirmasi perihal selain sembahyang dan mengaji, ada satu lagi ‘kerjaan’ anak sulungnya tersebut. Si Doel plin-plan. Si Doel the Movie 2 garapan Rano Karno bikin kita semua geregetan karena benar-benar memfokuskan kepada gimana sulitnya mengambil keputusan ketika kita mempertimbangkan kebahagian orang serta kebahagiaan kita. Tapi untukku, mainly aku geregetan kesel karena aku masuk ke bioskop dengan sudah begitu siap untuk melihat sudut pandang baru mekar dan berkembang selepas film pertamanya tahun lalu.

Nyatanya, film memutuskan untuk tetap berkubang di permasalahan klasik cinta Doel – Zaenab – Sarah kendati di film sebelumnya kita melihat Sarah dengan tegas meminta Doel untuk menceraikan dirinya. Film kali ini dimulai langsung setelah Doel kembali dari Belanda. Dia membawa oleh-oleh bakiak buat Atun dan kabar bahwa dia bertemu Sarah dan putra mereka yang udah beranjak remaja buat Zaenab. Hanya saja, Doel mengulur-ulur waktu untuk memberikan ‘oleh-oleh’ tersebut kepada Zaenab yang dengan cemas menunggu kepastian darinya. Berkas-berkas untuk mengurus perceraian yang diberikan oleh Sarah disimpan Doel jauh-jauh di dalam lemari. Doel menunggu waktu yang tepat. Namun keadaan mulai ribet karena Mandra yang ikut serta ke Belanda sempat menyebarkan foto Doel bersama anaknya lewat Whatsapp. Dan juga, si anak – Dul – nekat pengen liburan ke Jakarta.

I used to be indecisive, but now I’m not quite sure

 

Nostalgia sangat kuat menguar. Film ini bermain dengan sangat aman, meletakkan kita ke tempat yang sudah familiar. Like, literally. Panggung cerita sekarang benar-benar di rumah si Doel. Lengkap dengan warung di depan, bendera sangkar burung di sebelah, oplet biru yang terparkir di halaman, dan kelucuan dan keakraban karakter-karakter seperti Mandra, Atun, bahkan Mak Nyak. Bagi penonton baru, jangan khawatir merasa asing, karena karakter-karakter tersebut tanpa ragu merangkul kita semua. Oleh kesederhanaan; sikap maupun situasi. Lihat saja kocaknya Mandra yang menyombong mengaku kepanasan di Indonesia, padahal baru juga seminggu tinggal di Belanda. Mari kita apresiasi sebentar gimana Atun adalah teman sekaligus saudara yang paling baik sedunia; gimana dia selalu ada untuk Zaenab, gimana dia yang paling duluan khawatir dan mengendus sesuatu bisa menjadi masalah untuk hubungan abangnya dengan Zaenab.

Dan tentu saja, apresiasi paling besar mestinya kita sampaikan buat Mak Nyak Aminah Cendrakasih yang benar-benar berdedikasi pada profesinya. Aku gak bisa kebayang gimana beliau dengan kondisi sakit seperti itu bisa ikut syuting. Yang lebih unbelievable lagi adalah peran Mak Nyak ternyata sangat penting. Film menggunakan kondisi Mak Nyak sebagai sesuatu yang sangat integral di dalam cerita. Sebagai perbandingan; Vince McMahon dapat reputasi jelek dari fans yang ngatain dia tasteless mengeksploitasi cedera, penyakit, ataupun kematian di dunia nyata ketika dia being creative memasukkan kemalangan-kemalangan beneran tersebut sebagai bagian dari storyline di WWE. I mean, Bu Aminah pastilah berbesar hati sekali.

Akan tetapi elemen nostalgia seperti demikian akan dengan cepat menjadi menjenuhkan, terutama ketika ada elemen-elemen baru yang dihadirkan. Karena naturally kita ingin menyaksikan pertumbuhan. Film menggoda kita dengan hal-hal baru mulai dari yang receh seperti Mandra yang tertarik untuk kerja jadi ojek online, ataupun yang lebih signifikan seperti anak Doel yang seumuran dengan anak Atun – heck, situasi Doel dengan anaknya ini bisa saja jadi satu episode utuh, tapi film mengulur-ngulur. Alih-alih pengembangan baru, film akan mengajak kita flashback dengan adegan-adegan yang dicomot dari serial televisi jadul. Jika ada adegan yang benar-benar baru, maka itu hanya kilasan komedi yang bakal dilanjutkan di episode berikutnya. Ya, aku bilang episode karena begitulah film ini terasa. Less-cinematic. Gaya berceritanya sinetron sekali. Film bahkan basically memakai ‘sebelumnya dalam Si Doel’ sebagai prolog dan tulisan pengantar ke film berikutnya sebelum cerita usai, persis kayak episode televisi.

Di babak awal, film ini sebenarnya cukup menarik. Kita langsung dibawa ke permasalahan batin si Doel. Pertanyaan yang dilemparkan cerita kena tepat di wajah kita; akankah pada akhirnya Doel memberitahu kebenaran kepada Zaenab? Kejadian-kejadian seperti ngebangun rintangan buat si Doel memantapkan hati memilih keputusan. Naskahpun tidak menawarkan jawaban yang mudah, as poligami ditentang oleh Mak Nyak keras-keras. Setiap naskah film dikatakan bagus karena berhasil menuntun kita masuk dengan pertanyaan-pertanyaan yang saling sambung menyambung; yang disebut dengan plot poin. Contohnya: Apakah Joy bisa membuat Riley tetap bahagia adalah pertanyaan pertama yang diangkat oleh Inside Out (2015), yang kemudian di awal babak kedua berubah menjadi apakah Joy bisa kembali kepada Riley, untuk kemudian di awal babak ketiga berubah lagi menjadi apakah Riley masih bisa bahagia. Pertanyaan atau plot-plot poin itu adalah garis besar misi yang harus dijalankan tokoh utama sebagai respon dari rintangan yang ia hadapi. Si Doel the Movie 2 mengangkat pertanyaan-pertanyaan seperti film beneran, hanya saja setiap pertanyaan tersebut dibebankan kepada tokoh-tokoh yang berbeda. Dalam kata lain, ada tiga tokoh berbeda yang menggerakkan cerita.

Puji syukur ada Sarah, kalo cuma Doel dan Zaenab bisa-bisa ceritanya jadi pasif dan annoying kayak Ebi di Single 2 (2019)

 

Babak satu adalah bagian untuk Doel. Babak kedua untuk Zaenab. Dan babak tiga, penyelesaian cerita ini, dikemudikan oleh Sarah. Masing-masing bagian Doel, Zaenab, dan Sarah untungnya punya keparalelan. Tentang mereka berjuang untuk mencapai keputusan masing-masing. Jika bagian Doel hampir-hampir menyebalkan, maka yang paling menyedihkan jelas bagian Zaenab. Karena wanita ini harus mendamaikan dirinya dengan dua orang. Film menangkap ketakutan Zaenab dengan dramatis. Akting Maudy Koesnaedi menyayat hati di sini. Kita mungkin gak bakal cepet lupa sama adegan antara Zaenab, parutan kelapa, dan jarinya. Aku gak mau bocorin terlalu banyak, yang jelas film ini banyak berisi momen-momen dramatis yang anchored ke nostalgia. On the bright side, kita dapat melihat sisi lain dari Zaenab di film ini.

Ketiga tokoh ini mengambil posisi titik-titik sudut sebuah segitiga ketakutan. Doel melambangkan ketidakpastian. Zaenab bergerak berdasarkan kekhawatiran. Sarah didorong oleh kecemasan bahwa dirinyalah penyebab semua ‘kekacauan’ di keluarga Doel. Indecision, fear, and doubt; jika kita menemukan yang satu, maka dua yang lain pasti ada di dekatnya. Pada kasus tokoh film ini, tergantung mereka sendiri mengecilkan jarak, mempersempit ruang segitiga yang mereka ciptakan. Jika tidak, kisah mereka yang melelahkan tidak akan pernah selesai.

 

Jangan kira cerita yang tampak sudah tuntas – masing-masing tokoh yang sudah dapat momen mengambil keputusan – ini undur diri baek-baek. Ada wild card yakni si Dul yang keputusannya mengaduk kembali keputusan yang sebelumnya sudah dibuat. Yang seperti menegasi semua yang sudah dilalui; yang membuat Doel dan Zaenab dan Sarah seperti kembali ke posisi awal. Makanya, menonton film ini rasanya tidak ada yang tercapai sama sekali. Pertanyaan-pertanyaan yang sudah terjawab, dibuka kembali. Lantaran pembuatnya ingin melanjutkan cerita tokoh-tokoh ini, tetapi di saat yang bersamaan tidak berani untuk mengambil langkah baru yang tidak semudah, tidak sefamiliar yang sekarang.

 

 

Aku akan suka sekali cerita ini jika menyaksikannya di televisi di mana aku tidak perlu mempedulikan struktur-struktur dan kaidah film. Toh tokoh-tokoh ceritanya mengundang simpati, lucu, akrab. Aku akan gak sabar untuk menonton kelanjutannya minggu depan di waktu dan channel yang sama. Tapi aku menyaksikan ini di bioskop. Di tempat kita menonton kreativitas, penceritaan yang inovatif, spektakel yang dibuat dengan menempuh resiko. Film ini berceritanya malah lebih cocok sebagai serial televisi, yang keliatan jelas diulur-ulur untuk jadi episode. Film juga seperti ragu; ia memberikan penyelesaian, namun kemudian merasa insecure sehingga malah berusaha mengangkat kembali yang harusnya sudah tuntas. Jadi tidak ada yang benar-benar berubah di akhir cerita. Kita tetap tidak tahu kenapa bukan Doel yang memberi tahu perihal berkas cerai. Menonton ini sebagai film, bukannya puas dan merasa mendapat sesuatu, malah terasa melelahkan.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for SI DOEL THE MOVIE 2.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Kalian lebih suka Doel sama Zaenab atau sama Sarah? Kenapa?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

 

 

GRETA Review

“It is better to be alone than in bad company.”

 

 

 

Kota gede itu kejam. New York terutama. Kalo gak percaya tanya aja ama Homer Simpons atau ke Jess di New Girl. Bengong dikit, antrian kita bisa diserobot. Polos dikit, kita bisa ditipu. Dicopet. Everyone just mind their own business. Makanya ketika Frances McCullen (Chloe Grace Moretz kudu mainin banyak rentang emosi dengan cepat) mengatakan kepada teman sekamarnya bahwa ia bermaksud mengembalikan dompet yang ia temukan di kereta ke alamat si empunya dompet, Frances lantas dipandang aneh, “Ngapain baik banget sih kenal juga enggak” ujar si teman.

Mungkin bukan hanya Frances yang harus dengerin ‘nasehat’ dari temannya tersebut. Kita juga mungkin sebaiknya lebih berhati-hati dalam menunjukkan kepedulian kepada orang tak dikenal. Belum lama ini, viral di twitter seorang wanita yang mengajak followernya untuk tidak beramah-ramah kepada bapak-bapak yang mengajak ngobrol di tempat umum. Terdengar kasar sih memang. Gimana kalo si bapak beneran lagi butuh bantuan? Masak gak diladeni. Tapi kalo diladeni bisa-bisa malah terjadi pelehan? Itulah point film ini. Bahwa mungkin memang dunia kita sudah jadi begitu mencurigakannya, sudah menjadi tempat yang sudah menakutkan di mana kebaikan dianggap sebagai kelemahan. Yang lantas dilahap dan diperas keuntungan darinya.

Frances dalam film Greta diset sebagai karakter yang rapuh secara emosional. Dia yang bukan anak gaul New York merasa kurang cocok bareng teman-teman seusianya, dia cuma punya satu sahabat yakni si teman sekamar. Pekerjaannya sebagai karyawan di restoran mewah menyimbolkan gimana dia serves society dengan segala kebaikan. Dan sebagai pemanis, Frances dituliskan sebagai gadis yang baru saja kehilangan ibu. Bertemu Greta, si pemilik dompet, bagi Frances adalah seperti bertemu pengganti ibunda. Dia memanggil wanita beraksen Perancis itu sahabat. Dia menemani Greta (Isabelle Huppert menjadikan film ini sebagai lapangan bermain pribadinya) sehari-hari; minum teh di rumahnya, dengerin wanita tersebut main piano. Dan jika terdengar suara gedoran dari balik tembok, Frances akan ngecuekin suara yang bagi kita jelas-jelas adalah ‘alarm tanda bahaya’ tersebut karena dia percaya pada Greta; Itu cuma tetangga yang lagi renovasi rumah.

Film Great garapan Neil Jordan ini menganjurkan kita untuk tidak menjadi senaif Frances. Ramah harus, tapi jangan sampai begitu mudahnya terattach kepada orang baru karena bisa saja mereka sebenarnya bukan teman yang mereka cari.

 

kau bilang dirimu seperti permen karet? Well, aku makan permen karet untuk sarapan setiap hari

 

 

Di sinilah Chloe Grace Moretz menunjukkan kemampuannya menghidupkan seorang tokoh menjadi sangat simpatik. Di atas kertas, Frances sebenarnya dapat dengan mudah menjadi tokoh yang annoying. Karena di awal-awal film, dia selalu membuat keputusan yang bego, regarding to Greta. Ada begitu banyak tanda-tanda bahwa Great adalah tokoh yang enggak beres. Namun bisa dibilang, Frances terlalu baper untuk melihat semua itu. Bahkan jika ternyata Greta bukan orang jahat, Frances ini sudah kelewatan baeknya. Bukan hanya terlalu baik kepada Greta kayak Lala pada BomBom di sinetron Bidadari, Frances ini juga luar biasa pedulinya sama binatang. Ada satu adegan ketika dia mestinya menjauh dari rumah Greta, tapi Frances justru balik lantaran ia mengkhawatirkan anjing peliharaan Greta yang ia bantu pilihkan untuk adopsi. Plot-poin cerita film ini bergerak karena tokoh utama kita ini mengambil keputusan-keputusan berdasarkan perasaan seperti demikian. Yang gak bakal work kalo tokoh utamanya enggak menjelma menjadi sangat simpatik dengan reason yang jelas. Moretz berhasil menggapai semua itu. Penampilan aktingnya sangat meyakinkan. Alih-alih kesel kita malah kasihan melihatnya. Kita itu khawatir akan keselamatannya. Bukan cuma emosional, Moretz juga bermain fisik di sini. Tokoh Frances adalah tokoh dengan tingkat kesulitan yang cukup demanding, dan Moretz berhasil menjawab semua tantangannya.

Aksen palsu dan segala kekakuan tokoh Greta; it’s all by design. Setiap kali Greta muncul di layar, melakukan sesuatu – mengatakan sesuatu, kita tahu ada sesuatu yang gak bener. Like, perasaan gue gak enak nih.. Seperti Greta yang bermain piano, Isabelle Huppert sesungguhnya sukses berat mengenai setiap ‘nada’ yang diminta untuk membuat tokoh Greta tampil ‘mengerikan’. Backstory yang diberikan kepada tokoh ini pada akhirnya berubah menjadi catatan kejahatan, dan itu bukan jadi masalah lantaran tokoh ini sepertinya tidak perlu alasan untuk menjadi seperti dirinya sekarang. Dia edan luar-dalam. Film tidak berlama-lama menyimpan siapa sebenarnya Greta, apa yang bisa ia lakukan, dan ini bagus karena memang kekuatan utama film ini terletak pada kedua pemain utama dan bagaimana aksi-reaksi terjadi di antara mereka. Benar-benar bikin gak enak melihat Frances yang terus menjauh namun dikejar dan malah ditodong ‘sombong’ balik oleh Greta. One time, Greta berdiri diam seharian di pinggir jalan, memandang Frances yang lagi bekerja. Kita melihat betapa mengerikannya efek perbuatan tersebut kepada Frances. Jangankan itu, jumlah missed call dari Greta aja sudah cukup untuk membuat kita bergidik – bahkan mungkin retrospeksi; pernahkah kita membuat orang lain merasa seperti Frances?

Adakalanya kita harus selektif dalam memilih teman. Karena memiliki banyak teman tidak selamanya menyenangkan. Daripada bersama-sama dengan orang yang hanya ingin memanfaatkan, yang lebih banyak ruginya, toh masih lebih baik jika kita sendirian dan tak terluka.

 

 

Film akan menjadi sangat menarik jika terus mengeksplorasi hubungan semacam demikian. Menggali psikologi kedua sudut pandang ini; orang yang gak nyaman di-stalk, dan orang ‘gila’ yang merasa diperlakukan tidak adil karena ditinggal tanpa alasan. Dan lapisan yang membuatnya unik adalah hubungan mereka bukan hubungan romansa. Bukan antara cowok yang naksir berat ama cewek atau semacamnya. Melainkan antara anak yang gak punya ibu dengan seorang ibu-ibu yang sudah lama tinggal sendirian. Dinamika menarik tersebut sayangnya harus berhenti. Lantaran sepertinya sang sutradara yang pernah menang Oscar untuk penulisan skenario film The Crying Game (1992) – film yang bercerita tentang cowok yang menjadi temenan dengan cewek teroris yang menahannya – tidak benar-benar memahami relung resah perihal dua wanita. Peran cowok memang nyaris absen dalam film Greta. Memang cukup aneh, cerita tentang wanita tapi semuanya digarap oleh pria. Berani? Mungkin bisa dibilang lancang. Bicara dari pengalaman; aku bikin film pendek Gelap Jelita (2019) tentang cewek remaja lagi mau berangkat sekolah aja merasa perlu untuk meminta ‘nasehat’, jadi aku meminta tolong temenku yang cewek untuk jadi semacam art director untuk memastikan filmnya benar-benar relate dan menghormati cewek itu sendiri.

cewek dari venus; venus flytrap.

 

Greta memang akhirnya meninggalkan ranah psikologi dan berkembang ke arah horor yang lebih general. That’s the downfall of this movie. Film ini tampak tidak bisa memenuhi janjinya sendiri. Mulai bermunculan klise-klise cerita horor stalking. Bahkan film mulai meminta kita untuk suspend our disbelief. Kejadian yang lagi relevan banget itu tidak lagi terasa nyata oleh sekuen-sekuen seperti Greta yang bisa mengikuti seseorang – memotret orang tersebut dari belakang, mulai dari klub hingga ke dalam bus, tanpa terlihat; seperti ninja. Banyak hal yang dilakukan oleh Greta kepada Frances dan tokoh yang lebih muda yang sukar untuk dipercaya; gimana bisa wanita tua seperti dia melakukan hal tersebut kepada anak muda? Seperti, kenapa jalannya bisa lebih cepat.

Babak ketiga film sudah completely meninggalkan persoalan si tokoh utama. Hampir seperti mereka menyelesaikan journey Frances dalam dua babak, dan babak ketiganya hanya homage untuk kejadian ala horor 90an. Babak terakhir film ini beneran terasa seperti hiasan saja. Kita tidak lagi mengikuti Frances; kita actually berada di sudut pandang karakter-karakter lain, termasuk si Greta sendiri. Bayangkan sekuen ‘pertarungan terakhir’ dalam film horor, nah babak ketiga Greta terasa seperti ‘pertarungan akhir’ yang dipanjangin duapuluh menitan. Completely mengubah arahan film. Dari yang tadinya nyaris seperti in-depth look of characters – materi film art lah kalo boleh dibilang – menjadi semacam horor ‘ditangkap pembunuh gila’ yang sukar dipercaya dan cenderung dilebay-lebaykan biar seru. Bukannya horor seperti demikian jelek, hanya saja tokoh utama seharusnya tetap aktif. I mean, bahkan tokoh utama film Misery (1999) yang kakinya udah patah aja masih bisa menyetir cerita dan tidak lantas berubah menjadi orang yang tidak bisa menyelamatkan diri sendiri.

 

 

 

But of course, thriller seperti demikian memanglah menarik. Bara suspens di dalam cerita masih terus dikipas menyala. Film ini jago dalam menangkap kengerian. Dua pemain utamanya pun bertindak sebagai pilar kembar yang kuat yang menopang penceritaan. Film seharusnya terus mengeksplorasi dinamika hubungan mereka. Tapi kita dapat merasakan limitasi pada penggarapan. Cerita seperti menghindari untuk menggali lebih dalam. Jadi, ia kembali muncul ke permukaan, dan stay bermain di sana. Menjadikan film menjadi serangan teror ‘orang gila’ biasa yang asik sesaat dan kita ignore di kemudian hari, sampai akhirnya terlupakan.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for GRETA. 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Apakah menurut kalian kebebasan orang lain itu penting? Apakah kamu pernah merasakan kebebasan kamu dibatasi?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

JOHN WICK: CHAPTER 3 – PARABELLUM Review

“A man’s life is about keeping rules, breaking them, and making new ones.”

 

 

Dunia profesional John Wick adalah dunia ‘bawah tanah’ yang penuh darah. Tapi bukan lantas berarti dunia mereka amburadul. Malah mungkin lebih teratur daripada dunia kita. Karena mereka punya kode etik sendiri. Dan mereka-mereka yang terdiri dari pembunuh bayaran, mafia, bandar narkoba tersebut benar-benar memegang teguh peraturan tersebut. “Karena tanpa aturan, kita adalah binatang” begitu kata salah satu petinggi High Table yang menjadi semacam lingkaran pemimpin mereka. Tapi John Wick melanggar peraturan penting di tempat paling sakral yang mereka miliki. Zona aman; sebuah hotel tempat para anggota dunia hitam bisa bersantai, mungkin sambil menyembuhkan diri, tidak ada yang boleh menjalanakan ‘bisnis’ mereka dalam bangunan hotel tersebut. Dan John Wick telah menumpahkan darah di sana.

Cerita film ini dibuka dengan John Wick, bersama anjing kesayangannya, berlarian di sepanjang kota berusaha untuk sampai ke suatu tempat sebelum waktu tenggat satu jam diberikan kepadanya habis. Wick dicabut dari keanggotaan, sekarang kepalanya ditempeli label harga empat-belas juta dolar sesegera mungkin saat satu jam tersebut habis. Wick akan diburu oleh anggota geng hitam dari seluruh sudut gang, seantero dunia. Bahkan bagi penonton yang belum pernah menonton dua film sebelumnya, Parabellum ini akan seketika menguarkan intensitas yang luar biasa. Stake dengan cepat dan efektif terlandaskan. Enggak banyak cing-cong, kita semua langsung tahu ini urusan hidup dan mati. Bahaya mengintai Wick di mana-mana. Kita dapat merasakan betapa besarnya dunia yang menjadi panggung cerita. Dengan John Wick di tengahnya, sendirian di tengah entah berapa banyaknya jumlah musuh. Kita melihat mekanisme komunikasi organisasi mereka bekerja. Kita diperlihatkan seberapa banyak dan besarnya keinginan orang-orang untuk menangkap John Wick. Hal-hal kecil seperti uang bounty yang dinaikkan, ataupun Wick yang terus melirik jam tangan, atau ketika dia harus merakit pistol yang ia temukan dengan cepat sebelum waktu habis, adalah cara film bermain dengan emosi kita. Sehingga kita merasakan desakan. Urgensi. John Wick bahkan diserang sebelum satu jam itu habis! Set up dan build up film ini diceritakan dengan begitu efektif sehingga yang baru sekali ini nonton film John Wick sekalipun akan dapat merasakan kepedulian dan simpati terhadap nobody yang sedang mereka saksikan.

Well, “That f-king nobody… is John Wick!”

 

Benar, kita datang membeli tiket film ini demi menyaksikan sekuen-sekuen aksi yang super-gilak (we’ll get to that later). Tetapi pembangunan dunianya inilah yang membuat kita betah untuk menyaksikan lagi, dan lagi, dan lagi. Sedari film originalnya, John Wick sudah sukses dalam membangun dunia. Lewat film-film John Wick, sutradara Chad Stahelski berhasil membuktikan bahwa film aksi yang brutal bisa kok ditampilkan elegan. Dia juga membangun ‘panggung’ untuk membuat kita penasaran sekaligus semakin tersedot ke dalam dunia cerita. Mengenai backstory John Wick saja, meskipun saat itu belum visual, tapi cerita yang mereka ceritakan dengan setengah-setengah dan bertahap itu membuat kita gak pernah berhenti menggelinjang. John Wick adalah mantan assassin. John Wick adalah seorang baba yaga (boogeyman) yang membunuh tiga orang dengan sebatang pensil. Kita tidak diperlihatkan bagaimana tepatnya, namun dari aksi yang ia lakukan kita tahu rumor tersebut benar seratus persen. Film tidak berhenti sampai di sana untuk mengeksplorasi karakter John Wick. Di film kedua kita beneran dikasih lihat John Wick menggunakan pensil untuk membunuh. Dan di film sekarang, mitos John Wick tetap terus dikembangkan; di film ini kita melihat John Wick membunuh orang dengan buku!

Peraturan, Hotel, dan organisasi High Table juga seperti demikian; dikembangkan secara bertahap. Pada film pertama – selagi kita menonton Wick yang udah keluar dari sana terpaksa harus masuk sebentar demi dendamnya – seolah hanya melihat pekarangan depan dari keseluruhan dunia hitam John Wick. Film kedua kita diperlihatkan dan diberitahu lebih banyak tentang istilah-istilah mereka, gimana dunia mereka bekerja, tapi itu seperti baru masuk ke ruang depan. Bahkan pada film ketiga ini pun kita belum beneran masuk ke ruang tengah; karena film ini dikembangkan dengan penuh gaya dan rancangan yang benar-benar memperhatikan emosi kita. Film membuat kita terus tertarik. Petualangan John Wick bermula oleh kejadian yang lumayan menggelikan, aku sendiri sempat meremehkan film pertamanya yang beranjak dari John Wick ngamuk lantaran mobilnya dicuri dan anak anjingnya dibunuh. Tapi elemen itu terus dengan bangga dikembangkan, diulang-ulang, menjadi bagian dari legenda John Wick. Karakter dan dunia dalam semesta film ini tak pelak akan menjadi seperti Keanu Reeves; immortal!

Sekilas memang terlihat seperti bergerak karena duit. Namun film sebenarnya ingin berbicara sesuatu yang lebih bernilai daripada lembaran uang. Para assassin, orang-orang yang jadi anggota High Table, mereka bergerak karena peraturan. Dengan subtil film menunjukkan kepada kita bahwa kewajiban untuk memenuhi peraturan itulah, ketakutan akan hukuman ketika melanggar hukum itulah, yang menjadi motor penggerak mereka. Dan kontrak di antara mereka-mereka itu bukanlah hitam di atas putih. Melainkan merah, on a cold hard medal.  Berakar pada balas jasa, kerjasama, sifat respek antara satu sama lain. Dunia di mana aksi dan konsekuensi benar-benar ditegakkan, tanpa pandang bulu. Strangely, dalam keadaan terbaiknya, film ini mampu membuat kita menghormati dunia hitam yang keji.

 

Stahelski sendiri memang sangat menghargai dunia action. Sebagai mantan stuntman, tentu dia paham betul bagaimana mengkoreografikan adegan-adegan berkelahi. Dan pada film ini, dia bekerja dengan lebih banyak lagi orang-orang yang sama-sama mencintai genre ini. Semua adegan aksinya benar-benar luar biasa. Dalam setiap film John Wick, selalu ada hal baru yang seketika menjadi memorable. Pada film ini, buatku adalah sekuen dengan kuda. Juga dengan anjing-anjing. Salah satu elemen favoritku yang terus dipertahankan oleh film adalah peluru yang benar-benar sedikit, yang beneran bisa habis. Aku suka melihat John Wick harus mereload senjata di tengah-tengah perkelahian, karena menambah sensasi keaslian. Serta ketegangan. Film ini menawarkan begitu banyak adegan-adegan mendebarkan. Yang direkam dengan wide shot. Enggak terlalu banyak cut. Bak-bik-buknya begitu in-the-face. Ada satu sekuen dengan sepeda motor yang membuatku teringat pada adegan di Final Fantasy VII: Advent Children (2005), bedanya adalah film ini dilakukan oleh orang beneran! Keanus Reeves, salut banget, melakukan hampir semua adegan tanpa aktor pengganti. Aku gak pernah bosen melihat John Wick menembak kepala orang-orang. Film membuat kita melihat perbandingan antara balet dengan berantem, yang mana menurutku sangat keren. Bicara tentang keren; aku yakin kalian semua merinding ketika Yayan Ruhian dan Cecep Arif Rahman yang menyapa Wick dengan bahasa Indonesia. Peran kedua aktor tanah air ini dalam cerita memang enggak gede, tapi mereka diberikan momen tersendiri. It was so cool melihat film memberikan waktu kepada bela diri dan aktor Indonesia untuk bersinar.

Film ini punya set piece yang amazing. Warna-warnanya terlihat vibrant. Cahaya neon, lampu-lampu malam, di dalam air, dan pada satu poin cerita, kita juga dibawa ke panasnya gurun. Meskipun penggunaan ruangan kaca dalam film ini seperti pengulangan dari film yang kedua, secara aksi juga agak sedikit terlalu berkesan fantasi, tapi di sini filosofinya sedikit berbeda. Kali ini adalah soal John Wick yang melihat persamaan dirinya dengan para musuh, yang berkaitan dengan pembelajaran bahwa dia gak bisa lari dari siapa dirinya yang sebenarnya. Di balik semua pembangunan dunia dan sekuen-sekuen aksi yang penuh gaya, film tetap berhasil menceritakan satu cerita yang utuh. Ada definitive end. Rahasia dan bigger picture mungkin masih belum terlihat, kita masih belum melihat semua anggota High End, tapi pada chapter ini karakter John Wick sudah menyelesaikan perjalanannya. Dia melanggar aturan, dan membuat yang baru demi dirinya sendiri. Dari yang tadinya pengen kabur, dia akhirnya menyadari dia tidak bisa pensiun dari siapa dirinya.

“Marhaban ya, John Wick!”

 

Kita bisa memahami bahwa Wick pada akhirnya harus dibuat kembali ke Hotel supaya arcnya dalam cerita ini bisa melingkar, Hotel haruslah menjadi medan perang terakhir, tapi kupikir harusnya ada cara yang lebih baik untuk menceritakan hal tersebut. Setelah midpoint yang di gurun itu, narasi Parabellum terasa agak ruwet. Film memilih untuk menampilan satu, katakanlah twist, yang membuat kita jadi ngangkat alis “jadi si dia baik atau tidak?” Menurutku impact dari twist tersebut justru jadi gak langsung mengena. Akan lebih on-point kalo Wick dibuat menerobos Hotel yang sudah menanti kehadirannya, dan kemudian dia sampai di atas, dan mereka berunding tanpa perlu ada elemen deceiving pada narasi. Keputusan film untuk bercerita seperti yang mereka lakukan membuatku jadi merasa seharusnya Parabellum adalah film terakhir, tapi kemudian mereka mengganti rencana dan memanjangkan cerita menjadi seperti ini.

 




Jika mau dibandingkan, film ini lebih terasa secara emosional daripada film keduanya. Stake dan rintangannya lebih kuat. Tapi tetep masih kurang nendang dibandingkan film pertamanya, terutama taraf kegenuine-annya. Film ketiga ini – tampil dengan nyaris non-stop intens dan begitu banyak sekuen aksi yang memorable – lebih terasa seperti fantasi, di mana kita menontonnya demi excitement saja. I mean, bahkan ada adegan Wick dan musuhnya pake jurus ilang-ilangan kayak ninja. Fun, tentu saja, tapi bobotnya terasa sedikit berkurang. Pembangunan dunianya masih mampu menimbulkan rasa penasaran, tetapi ceritanya terasa seperti sudah mentok, dan film ini memanjang-manjangkan. Buat penonton yang baru pertama kali merasai, though, petualangan John Wick akan terasa seperti baru akan dimulai.
The Palace of Wisdom gives 6.5 gold stars out of 10 for JOHN WICK: CHAPTER 3 – PARABELLUM.

 

 




That’s all we have for now.
Dengan organisasi yang mengharuskan anggotanya untuk patuh peraturan biar gak kayak binatang, dan film ini semacam menjadikan anjing sebagai maskotnya, apakah ada perbandingan antara anjing dan peraturan yang bisa kalian tarik? Apa menurut kalian anjing dalam film ini menyimbolkan sesuatu?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 



EXTREMELY WICKED, SHOCKINGLY EVIL AND VILE Review

“She saw beauty in the darkness.”

 

 

 

Demi memperingati 30 tahun kematian Ted Bundy yang mengaku sudah membunuh tiga-puluh wanita muda, Netflix bukan saja merilis dokumenter 4 bagian – Conversations with a Killer: The Ted Bundy Tapes – yang berisi rekaman percakapan jurnalis dengan Ted Bundy menjelang hukuman mati, tetapi sekaligus juga membuat film biografi tentang si pembunuh berantai dengan memajang wajah tampan Zac Efron sebagai poin vokal promonya. Mendadak, Ted Bundy diperbincangkan lagi di mana-mana. Teror yang kita lihat dalam dokumenter tadi, seperti berulang di tahun 2019 ini. Orang-orang ketakutan, oleh betapa mungkinnya ketampanan wajah bisa mengalihkan dari perbuatan yang mengerikan.

Meskipun film adalah sebuah karya seni, dan seni yang bagus adalah seni yang memancing banyak interpretasi, akan selalu ada pihak-pihak yang menyuruh seni dibuat sejelas mungkin. Kalo perlu, maknanya langsung ditulis saja di poster supaya penonton gak usah capek-capek mikir. Seperti Kucumbu Tubuh Indahku (2018) yang diprotes karena orang-orang khawatir filmnya mempromosikan LGBT, atau Dua Garis Biru (2019, TBA) yang baru teasernya aja sudah dipetisi lantaran si pemrotes tidak bisa melihat bahwa film sebenarnya mengandung pembelajaran yang berupa larangan. Extremely Wicked (disingkat sampe di sini aja ya, karena judulnya panjang banget) garapan Joe Berlinger juga mendapat banyak kecaman. Meromantisasi seorang pembunuh. Filmnya bisa membuat orang bersimpati kepada kriminal. Tapi memang itulah yang diincar oleh film ini. Supaya kita merasakan kengerian ketika kita melihat seorang pembunuh yang tidak ada bedanya dengan manusia normal. Bahkan mungkin kita terpesona olehnya. Film ingin membuat kita mengerti kenapa kriminal seperti Ted bisa begitu lama berkelit dari jeratan hukum.

Film ingin kita tahu bahwa setan yang paling mengerikan adalah setan yang berjalan bersama kita, di antara para manusia. Dan bagaimana susah sekali untuk membuktikan sesuatu ketika kita begitu gampang terpana oleh hal yang tampak indah di luar.

banyak gadis muda yang terpikat sama pembunuh

 

 

Makanya, film ini terasa bekerja sangat baik ketika memperlihatkan cerita dari sudut pandang Elizabeth yang diperankan oleh Lily Collins. Liz, kalo dipanggil begini dia pasti nengok, adalah seorang single-mother yang bekerja sebagai sekretaris demi menafkahi anaknya yang masih kecil. Di adegan awal kita melihat Liz duduk di dalam sebuah bar, curhat kepada sahabatnya soal insecure yang ia rasakan. Gimana dia merasa bagaimana dia bisa memberikan yang terbaik kepada putrinya. She might need a man, tapi pria mana yang mau bersama janda beranak satu? Inilah sevulnerable-nya manusia yang digambarkan oleh film. Bagi mata kita yang sudah tahu ini adalah ‘reka ulang’ kejadian seorang pembunuh berantai bertemu cewek di bar, menonton Ted Bundy melirik-lirik ke Liz di adegan pembuka ini sudah seperti adegan di National Geographic ketika seekor buaya mengintip kijang yang sedang minum di pinggir danau. Tapi yang film inginkan adalah supaya kita melihat dari sisi Liz, yang gak tau siapa pria asing berwajah tampan yang mengajaknya kenalan. Bagi Liz, it was unclear siapa yang ‘menjebak’ siapa. Jadi dia membawa Ted ke rumah. Dan keinsecure-an Liz sirna keesokan paginya. Ketika dia menemukan Ted di dapur, membuatkan sarapan, bersama putri kecilnya.

Yang ditekankan adalah seketika itu juga, Ted menjadi pria yang sempurna, yang dicari oleh Liz. Hubungan asmara mereka bersemi. Tapi bagi Liz, ada satu perasaan lagi yang diam-diam berkembang. Ketakutan yang baru. Kenapa wajah Ted mirip sekali dengan sketsa pelaku penculikan dan pembunuhan wanita muda yang disebar oleh polisi. Kita lantas melihat betapa galau Liz ketika Ted ditangkap polisi. Liz merasa dirinya bersalah, dia merasa gara-gara dirinyalah pria sempurna tadi itu jadi tahanan. Bukan hanya Liz, kita juga kemudian diperkenalkan kepada wanita berkacamata bernama Carole Anne Boone (Kaya Scodelario kayanya kecakepan sih meranin tokoh ini haha), yang selalu hadir di setiap persidangan Ted, yang percaya Ted tidak melakukan semua tindak kriminal keji terhadap cewek-cewek seperti yang dituduhkan, bahkan pada satu titik, Carole Anne bersedia menikah dengan Ted di penjara.

Film tak melewatkan kesempatan untuk memperlihatkan fakta bahwa persidangan Ted udah kayak acara pensi di sekolahan; dipenuhi oleh cewek-cewek kece. Di mata mereka, Ted jauh sekali dari gambaran seorang psikopat. Atau jikapun mereka percaya Ted beneran pelaku, cewek-cewek ini berlomba untuk jadi orang pertama yang ‘memperbaiki’ Ted. I mean, I totally could see Milea dari Dilan 1991 (2019) sudah pasti akan ada di sana, menonton persidangan Ted dan ikut tertawa terkikik ketika Ted menampilkan senyum mautnya. Yang terjadi – yang dirasakan – oleh Liz, dan Carole Anne, dan para ‘Bundy Groupie’ sebenarnya adalah versi ekstrim dari yang dirasakan Milea kepada di Dilan di Dilan 1991. Bahwa wanita – khususnya wanita muda – seringkali merasa bertanggungjawab untuk memberikan kasih sayang terhadap pria yang, katakanlah, tidak baik.

Dan ironisnya, media-media seperti film ini sendirilah yang menciptakan mindset seperti demikian. Standar perilaku tokoh-tokoh cowok dalam film atau cerita fantasi romantis yang tokoh utamanya cewek memang kebanyakan mengkhawatirkan. Karena cerita romansa juga butuh konflik dramatis, yang sumur paling suburnya itu ya soal cewek baik-baik terhalang oleh sifat kelam pasangannya. Vampir yang menonton gadis kecengannya tidur. Anak geng motor yang hobi berantem. Joker dan Harley Quinn. Fifty Shades of Grey. Ketika dibalik, dalam cerita romantis yang tokoh utamanya cowok, juga sama.

Cewek akan melihat diri mereka sebagai motivasi dari si cowok bad-boy untuk berubah dan menjadi pahlawan. Trope drama romantis tersebut bahkan sudah ada sejak abad ke-18, sejak genre romance pertama kali tercipta, berbarengan dengan konsep ‘menikah karena cinta’ mulai dikenal dan wanita mulai mencari tahu apa yang mereka inginkan dari sebuah pernikahan.

Inilah kenapa walaupun kuis trivia di internet bilang iya, tapi aku tetap tidak mungkin seorang psikopat

 

 

Ketika sebagai film, Extremely Wicked sebenarnya tidak melakukan sesuatu yang baru, toh film ini tetap saja bisa menjadi sesuatu yang spesial lantaran dia berasal dari kisah nyata. Dunia pernah beneran tidak yakin untuk menghukum tersangka, karena dia tampan dan tampak simpatik. Film ini punya kekuatan untuk menjadi teguran – sekaligus juga peringatan – untuk kita semua, yang untuk mencapai kekuatan level seperti demikian, film harus benar-benar komit meletakkan kita di sudut pandang Liz, atau wanita yang merasa mengenal si tersangka secara langsung. Bahkan dengan membuat Liz menyimpan rahasia dari kita pun, maksud dan gagasan tersebut akan bisa tercapai, asalkan sudut pandangnya tidak berubah. Sayangnya, Zac Efron mungkin terlalu mempesona sebagai Ted Bundy, sehingga kamera berpindah dan sebagian besar waktu kita justru melihat dari sudut pandang Ted.

Film cukup bijak dengan tidak memperlihatkan apa yang Ted Bundy ‘lakukan’, you know, kita tidak akan melihat adegan pembunuhan sadis. There’s only one, in fact. Kita tidak melihat backstory Ted, yang – walaupun mungkin saja menggunakan teknik bercerita dramatic irony (penonton tahu lebih banyak dari tokoh utama) akan menghasilan efek emosional yang lebih kuat –actually bekerja in favor of memposisikan kita sebagai orang yang harus membuat keputusan Ted bersalah atau tidak, seperti Liz. Hanya saja, keputusan sutradara Joe Berlinger untuk membawa kita melihat persidangan Ted, membawa kita melihat pemuda ini berusaha menelfon Liz, menunjukkan usahanya untuk membuktikan dirinya tidak bersalah; the whole time watching that, untuk kemudian diberitahu apa yang terjadi sebenarnya di akhir cerita – tidak mendaratkan cerita ini di tempat yang spesial. Bagi penonton yang sama sekali tidak pernah mendengar kasus Ted Bundy sebelum nonton, film ini hanya akan terasa seperti cerita ngetwist yang twistnya tersebut enggak dibuild up dengan matang. Seperti 80% menyaksikan dan dibuat untuk percaya kepada A, untuk kemudian diberitahu bahwa sebenarnya itu adalah B.

Film seperti kesulitan untuk menggali sudut pandang Liz, sehingga meninggalkan tokoh ini sementara di tengah-tengah, dan fokus kepada Ted Bundy. Dan ketika film melakukan hal tersebut, cerita tidak lagi punya kekuatan untuk mengomentari perihal pertanyaan yang mereka jadikan alasan pembuatan film ini in the first place. Melainkan hanya menjadi sebuah cerita penipuan yang berusaha keras untuk membuat Ted tampak tak bersalah – padahal mestinya dibuat ambigu, karena di awal kita adalah Liz. The worst crime yang dilakukan film ini menurutku adalah ketika mereka malah membuat Ted kabur dari penjara karena telfonnya tidak diangkat-angkat oleh Liz; kita melihat ini dari sudut pandang Ted, seolah memang begitulah kenyataannya. Alih-alih membuat kita merasakan Liz merasa bersalah dengan cara yang alami – yang sesuai struktur penceritaan, film malah mengambil cara mudah dengan memindahkan sudut pandang utama, messing up with the structure, dan membuat ‘fakta’ baru yang harus kita telan. Singkatnya; kita akhirnya dipaksa untuk percaya pada Ted karena dia tampan dan tampak innocent.

 

 

 

Film yang judulnya diambil dari perkataan juri saat memvonis Ted Bundy ini tidak sanggup memenuhi janjinya untuk menggali sisi baru. Seharusnya cerita tetap pada sudut pandang Liz, atau para wanita. Dengan memindahkan kepada Ted yang sengaja ditampilkan innocent, kita sengaja tidak diperlihatkan apa yang ia lakukan – siapa sebenarnya dirinya – nyatanya film hanya sanggup untuk menciptakan sisi baru. Yang oleh penonton yang sudah tahu kasus asli Ted Bundy, yang mungkin sudah nonton dokumenternya, sisi baru tersebut akan terasa pointless. Kecuali mungkin memang untuk menyalahkan  tokoh Liz. Dan bagi penonton yang belum tahu kasus Ted Bundy sama sekali, film ini hanya akan terasa mengecoh karena memberikan twist tanpa build up. Menurutku film ini mengecewakan; dia punya banyak penampilan yang luar biasa meyakinkan, namun cerita yang dihadirkan gagal untuk menjadi spesial.
The Palace of Wisdom gives 5 gold stars out of 10 for EXTREMELY WICKED, SHOCKINGLY EVIL AND VILE.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Ini sudah seperti ayam atau telur. Apakah karena cewek-cewek memang sukanya ama bad boy maka film dan media cerita lainnya menulis cowok sebagai makhluk bermasalah – atau karena media duluan yang meromantisasi keberandalanlah makanya cewek-cewek jadi suka ama bad boy? Yang mana pilihan kalian?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

PARIBAN: IDOLA DARI TANAH JAWA Review

“Every story has a beginning, a middle, and an end.”

 

 

 

Ini bakal jadi kali terakhir aku nonton-dan-ngereview ‘film-film’ kayak Benyamin Biang Kerok (2018) dan Pariban: Idola dari Tanah Jawa. Aku pikir semua sudah berakhir ketika episode sambungan Biang Kerok urung ditayangkan di bioskop. Aku pikir pembuat film Indonesia sudah menyadari betapa insulting-nya membuat tontonan seperti yang ‘film’ itu lakukan bagi para penonton bioskop. Kupikir, ya sepertinya perfilman Indonesia masih waras. Tapi ternyata di 2019 ini muncullah Pariban.

Serius, deh, ini mengkhawatirkan. Aku takut sekali kalo ke depan nanti bioskop-bioskop Indonesia diisi oleh video-video panjang komersil yang tak lagi mengindahkan seni pembuatan film serta pengetahuan penulisan naskah, alih-alih film beneran. Jadi aku berharap karya (kalo bisa dibilang sebagai suatu karya) seperti ini stop dibuat sampai di sini. Aku tidak ingin menonton yang seperti ini lagi di bioskop, dan kupikir para penonton pun menginginkan hal yang sama. Kita ke bioskop untuk menonton film. Kita bicara tentang film yang ditonton supaya roda kemajuan itu terus bergulir. Kita menginginkan film-film yang bagus bisa tercipta. Pariban, sama seperti halnya ‘film’ Biang Kerok, adalah kemunduran sinema tanah-air. Jangan sampai ada lagi yang seperti ini. Makanya kali ini biarlah. Aku ingin menekankan, menjelaskan lebih detil poin-poin yang kutulis dalam review Biang Kerok. Biar dua ini cukup menjadi pembelajaran – dan pengingat.

Supaya kita semua dapat melihat bahwa film Pariban ini (juga) bukanlah sebuah film.

“Halo~, Halo Moan… Sekarang telah menjadi produk komersil, Pari-ban! parah sekali”

 

Pariban datang dari orang yang membuat film Love for Sale, salah satu film 2018 yang masuk ke dalam daftar Delapan-Besar Terbaikku di tahun itu. Satu-satunya film Indonesia yang masuk dalam daftar Delapan-Besar Terbaikku tahun itu! It was on the top-three!!! Andibachtiar Yusuf, what happened, mas? Molo adong na salah ini ya, aku gak tahu apa yang terjadi di balik dapur produksi mereka. Tapi kupikir kita memang tidak bisa begitu saja menilai film dari pembuat atau pemain. Toh yang Biang Kerok itu juga dibuat dengan kolaborasi sutradara dan aktor jajaran terdepan dunia film kita. Yang paling terdepan, malah. I mean, belum tentu serta-merta biang keroknya adalah mereka. I really don’t know. Dalam Pariban juga, aku menghormati para pembuat dan pemain film yang profesional sekali. Mulai dari Ganindra Bimo hingga Rizky Mocil; aktingnya enggak ada yang main-main, meski mereka memang tampak have fun sekali memerankan tokoh masing-masing. Enggak gampang tentunya memainkan karakter yang berasal dari latar budaya yang berbeda dari keseharian. Dan juga sebaliknya; actually menyenangkan melihat beberapa aktor seperti Atiqah Hasiholan yang berakting dalam ‘habitat’ asli mereka.

Niat pembuatannya sebenarnya cukup bagus. Pariban mengangkat budaya Sumatera Utara. Aku suka, aku besar cukup dekat dengan orang-orang Batak, keluargaku sendiri ada yang orang Batak. Aku familiar dengan sapaan dan candaan kayak lae, bodat, kenlap! Film ini memberitahu kita satu informasi baru. Memperkenalkan tradisi perjodohan khas Batak, yang basically adalah pernikahan antarsepupu – yang memiliki marga keluarga yang sama. Lewat arahan komedi, ‘film’ menunjukkan kepada kita gimana sistem pariban ini kadang menjadi momok, namun juga seringkali menjadi langkah ampuh dan aman untuk mendapatkan jodoh. Dalam yang ngakunya film ini kita melihat seorang pemuda asli batak tapi lahir di Jakarta, bernama Halomoan yang dituntut mamaknya untuk segera menikah. Lantaran rumor-rumor miring mulai terdengar seputar Moan. Maka, Moan berangkat ke kampungnya di pinggir danau Toba, untuk menemui paribannya – Uli. Elemen fish out of water pun mewarnai cerita tatkala Moan yang perjaka gaul ibukota tinggal berakrab-akrab ria dengan penduduk lokal di sana. ‘Film’ cukup bijak untuk tidak berkubang di penggalian stereotype – orang batak suka main catur dikorporasikan dengan lucu masuk ke dalam cerita – dan memberikan kesempatan penduduk cerita untuk berkembang dalam archetype. Kita melihat batak yang ngomong keras dan kadang kasar tidak selalu ‘jahat’. ‘Film’ ingin menarik budaya, menunjukkannya ke dunia, dan mendukungnya dengan teknologi yang modern. Aku terus menunggu ‘film’ mengangkat pertanyaan dan gagasan tersendiri soal adat pariban, bahkan mungkin menantang eksistensinya. Namun adegan-adegan dengan tokoh yang bereaksi relevan terhadap pariban itu sendiri, sayangnya, ditampilkan minimalis sekali.

Hanya ada satu adegan Uli, wanita modern yang cerdas, menunjukkan sedikit ketidaksetujuannya terhadap pariban. ‘Film’ ternyata lebih tertarik untuk mengisi durasi dengan sebanyak mungkin komedi yang bisa mereka pancing dari cara ngomong dan kosakata khas orang Batak yang lucu. Sebagian besar waktu memang didedikasikan untuk persaingan cinta antara Moan dengan Binsar, bujang asli sono yang mengaku Romeo-Butetan dengan Uli. Bahkan buatku ‘film’ juga melewatkan kesempatan dalam penggarapan si Binsar. Tokoh ini bisa menjadi menarik karena dia actually melambangkan orang asli Batak yang melawan sistem Pariban; Binsar menolak ‘kalah’ dari Moan yang merasa menang dengan status paribannya. Dinamika tiga tokoh sentral ini memang punya aroma menarik, tapi ‘film’ tidak benar-benar menggali mereka. ‘Film’ berhasil membuat Moan yang berlatar eksistensi kompleks ini (dia dipanggil Batak KW oleh orang-orang kampung) menjadi tokoh yang biasa-biasa aja. Kenapa Moan mau-maunya disuruh nemui paribannya aja tidak terjelaskan dengan menarik. Tidak ada stake bagi Moan. Moan seorang pria kaya yang modern, tukang bikin aplikasi, dia punya tujuh pacar sesuai hari. Jadi dia bukannya gak laku, gak mampu nikah. He just doesn’t want to. Tidak ada motivasi dalam diri tokoh ini. Tidak ada intensitas kita menontonnya. Barulah ketika bertemu Uli, dia mengeset goal – untuk menjadikannya istri, memenangkan pertandingan melawan Binsar. It takes a really long time buat karakter Moan berpindah dari satu titik ke titik berikutnya. Penulisan karakternya seperti berjalan di tempat.

kalo dia mau, Moan bisa bikin aplikasi cari-jodoh yang sesuai ama preference dirinya

 

Semua itu karena ‘film’ ini sesungguhnya punya agenda yang mengerikan dalam menyampaikan ceritanya. Yakni membagi diri menjadi dua. Such an evil corporate move! Biarkan penonton membayar dua kali untuk satu cerita. Alih-alih mempertontonkan cerita yang utuh, potong di tengah, buat jadi bersambung supaya penonton datang dan membayar lagi. Aku bukannya bilang sebuah film gak boleh bersambung, hanya saja lakukanlah dengan benar. Tutup arc tokohnya, baru kemudian lanjutkan terserah mau berapa kali sekuel.

Sebuah cerita haruslah punya awal, tengah, dan akhir. Kita melihat awal Moan yang didesak untuk segera cari calon bini, dia disuruh kenalan ama paribannya di kampung. Moan berangkat ke sana dengan confident bahwa dia bisa nikah kalo dia mau, karena dia kaya, tampan, dan besar. Set up awal cerita sudah bagus. Tengahnya berisi benturan-benturan karena ternyata banyak tentang asal daerahnya yang tidak Moan tahu, dan gimana dia mulai merasakan cinta beneran terhadap Uli. Karenanya Moan pun mencoba mengikuti aturan adat dan aturan mamaknya. Melihat arahan seteru Moan dengan Binsar, aku sudah siap untuk mendapatkan satu lagi cerita kegagalan yang manis – Moan was just too overconfident for his own good, dia terlalu aman dalam status pariban. Lalu, ternyata, dengan kurang ajarnya cerita diputus dengan sengaja pada bagian akhir, tepat di ambang pintu resolusi. Plot poin kedua cerita ini dijadikan cliffhanger. Perjalanan inner dan outer tokoh Moan sama sekali belum finish. Pada dasarnya apa yang dilakukan oleh ‘film’ ini adalah mencabut kita keluar saat kita baru mau masuk ke klimaks. Menjadikan ceritanya tidak komplit. Membuatnya belum bisa disebut sebagai satu film. Karena you gotta to have a beginning, middle, and end walaupun urutannya bisa dibolak-balik. Pariban dan Biang Kerok hanya punya awal dan tengah. Mereka tidak punya syarat pertama suatu tontonan disebut sebagai film. Dan harusnya kita marah, karena jika kita membayar untuk satu film, maka kita harus dapat satu film utuh!

Pemotongan itu dilakukan dengan sengaja. Hanya karena mereka bisa, dan mau nyari untung belaka. I mean, bukan karena durasinya sudah kepanjangan maka mereka terpaksa memotong. Mungkin masih bisa sedikit dimaafkan kalo mereka sudah bercerita dengan efektif namun karena durasi yang terlalu panjang maka mereka memotong. Pariban sama sekali tidak efektif dalam mengisi durasinya. Sepuluh menit pertama adalah eksposisi yang dilakukan dengan sok lucu. Setiap orang ingin jadi kayak Deadpool sekarang. Menggunakan metode breaking the fourth wall, Moan akan sering bicara kepada kita. Hanya saja mereka lupa satu hal; mereka juga lupa meniru kemampuan kamera dalam bercerita dengan baik. Bicara langsung kepada penonton dalam Pariban dilakukan seperti video presentasi, untuk menjelaskan berbagai paparan seperti bagaimana aturan main adat pariban atau backstory Moan, mereka menggunakan adegan ilustrasi – entah itu adegan berupa sketsa atau animasi sederhana – yang membuat kita terlepas dari bangunan narasi. Kreatif tapi tidak berada di dalam bangunan cerita. Adegan tersebut bisa saja dibuang. Bandingkan dengan breaking the fourth wall pada Ferris Bueller; yang menarik kita masuk ke dalam cerita karena secara realtime kita diperlihatkan sisi sebenarnya dari si Ferris. Atau bandingkan dengan pada Deadpool; yang kita lihat pada layar adalah sesuatu yang tidak bisa dibuang, karena masuk ke dalam cerita, dan ditampilkan dengan menarik; masih ingat dong opening Deadpool? Permainan kamera dan editing dan visual humor yang tidak dimiliki oleh Pariban.

 

 

 

 

 

Dengan mengangkat materi tentang adat perjodohan antarsepupu di dunia modern, film ini ternyata hanya berfokus kepada cara bercerita yang sok lucu. Padahal enggak lucu. Sia-sia sudah penampilan yang bagus, dan sedikit pesan yang diselipin dalam dialog. Setiap cerita kudu punya awal, tengah, dan akhir. Dan kuharap film ini adalah awal, tengah, sekaligus akhir dari tren membuat film bersambung. Akan menjadi hari penuh duka bagi perfilman tanah air jika bioskop nantinya ramai oleh film-film yang dibuat dengan mindset sinetron kejar tayang. Film-film yang tak lagi dibuat berdasarkan pengetahuan terhadap sinema, seni penulisan skenario, melainkan insting mencari keuntungan sebesar-besarnya semata. Yang mana karya semacam ini tidak bisa disebut sebagai sebuah film. Jadi, berhenti membuat seperti ini, jangan sampai jadi tradisi.
The Palace of Wisdom gives 1 gold star out of 10 for PARIBAN: IDOLA DARI TANAH JAWA.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Buat yang pengen lebih banyak mendengar tentang film indonesia yang kini krisis ilmu pengetahuan, bisa tonton video dari channel Oblounge ini:

 

Bagaimana pendapat kalian tentang film bersambung ala Pariban dan Benyamin Biang Kerok?

Apakah menurut kalian film bersambung kayak gini perlu dilestarikan?

Dan karena filmnya takut-takut mengangkat; apakah menurut kalian budaya pariban perlu dilestarikan?

 

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

LONG SHOT Review

“The only way a journalist should look at a politician is down”

 

 

 

Apakah Amerika segitu begonya sehingga memilih seorang aktor sebagai pemimpin negara?

Lelucon semacam itulah yang bakal kita jumpai dalam komedi romantis berpanggung dunia politik yang digarap oleh Jonathan Levine ini. Lelucon-lelucon yang bakal berubah menjadi sindiran begitu kita mencoba menjawabnya. Lantaran apa yang tadinya terasa seperti sebuah long shot – sesuatu yang gak mungkin – ternyata jauh lebih pendek jaraknya dengan kenyataan hari ini. Segala keanehan yang tampak berakar dari fantasi konyol pembuat film ini bisa jadi adalah komentar bahwa yang telah terjadi di dunia justru lebih aneh lagi.

Fantasi itu dimulai dari Charlotte Field (I would vote for Charlize Theron, really) Sekretaris Negara yang mendengar kabar menggembirakan dari Presiden. Beliau bakal mengejar karirnya di perfilman sehingga Field berkesempatan lebih cepat empat tahun dari targetnya untuk menjadi presiden wanita pertama di Amerika. Dengan ‘tim sukses’nya, Field memulai merancang rencana supaya mendapat banyak simpati publik. Hal pertama yang harus Field benahi adalah daya humornya, untuk mengimbangi kecerdasan dan kemampuannya, you know, karena dia adalah wanita. Di sinilah masuk Fred Flarsky (Seth Rogen teteup nge-Seth Rogen) dengan fantasi masakecilnya. Field Remaja dulunya adalah babysitter Flarsky. Tentu saja, Flarsky ternyata diam-diam naksir berat sama kakak pengasuhnya yang cerdas tersebut, bahkan hingga sekarang, setelah mereka dewasa dan Field nyaris menjadi orang nomor satu di sana.  Dan Flarsky? Well, dia masih cupu walau kini dia seorang jurnalis. Tertarik dengan gaya bahasa artikel Flarsky yang vulgar tapi kena-sasaran, Field mengajak pria berjenggot tersebut untuk menjadi penulis pidato pribadinya. Bersemilah kisah cinta yang mustahil antara jurnalis berintegritas dengan politisi yang mementingkan citra demi elektabilitas.

romantis atau sauvinis?

 

Ultimately, kita penonton adalah penentu arahan seperti apa yang sebaiknya diambil oleh film. Sutradara Levine paham bahwa ketika penonton membeli tiket untuk romance komedi, bukan komentar atau gagasan atau kritik yang ingin disampaikan oleh filmlah yang membuat penonton geregetan. Melainkan adalah pesona dari dua karakter yang saling jatuh cinta. Dalam film ini, kita dapat Field dan Flarsky yang memang tampak manis dan cute bersama. Theron sendiri tak pernah tergagap bertransisi dari memerankan woman in power yang serius ke cewek tetangga-sebelah yang atraktif, dan sangat kocak melihat tokoh ini ketika dua sisi hidupnya bercampur menjadi satu. Bayangkan saja gimana jadinya ketika Sekretaris Negara bernegosiasi dengan teroris, dalam keadaan teler. Momen-momen ketika dia menari bersama Rogen dalam alunan lagu Roxette masih tampak meyakinkan, kita bisa merasakan jejak-jejak cinta monyet masa awal-remaja mereka yang perlahan membesar. Rogen pun cukup bijak untuk menurunkan kenyelenehan sedikit demi menyeimbangkan dengan porsi Theron. Tapi yaah, komedi film ini masih tetap tergolong raunchy, juga masih ada ganja yang berpartisipasi, dan aku turut menyesal buat keluarga yang duduk di barisan di depanku yang mengajak anak balita mereka untuk nonton ikut serta.

Namun begitu, mengatakan seting politiknya duduk di kursi belakang demi cinta-cintaan sebenarnya agak kurang tepat juga. Setiap karakter dalam film ini hidup dan bernapas dari pandangan politik mereka, or at least ideologi mereka. Konflik antara Field dan Flarsky tercipta dari perbedaan value di antara mereka. Personifikasi dari sebuah hubungan klasik antara jurnalisme dan politik. Ini menarik, karena dua kubu tersebut tidak semestinya berjalan bersama. Hubungan di antara mereka seharusnya adversarial. Berlawanan. Politisi bekerja mengarahkan pikiran masyarakat untuk menyelesaikan masalah. Jurnalis bekerja untuk memberitahu kebenaran kepada masyarakat. Politisi seperti Field butuh untuk membangun imej. Sedangkan kerjaan Flarsky adalah mengekspos apa yang ada di balik imej tersebut. Namun, dua orang ini bersedia untuk bekerja sama, karena ada cinta di antara mereka.

Lewat kisah romantis dua tokoh ini, sepertinya film ingin mengatakan kepada kita wartawan dan politisi bisa kok saling cinta, tanpa melahirkan berita-berita hoax sebagai buah cintanya. Itu, atau sebenarnya film ingin melontarkan sindiran. Bahwa satu-satunya waktu ketika jurnalis dan politisi saling cinta adalah ketika sang jurnalis tidak lagi bekerja untuk publik.

 

Skrip film ini memang cukup cerdas, tapi semakin cerita bergulir, ketidakseimbangan semakin besar kita rasakan. Seolah ada satu fantasi yang lebih long shot ketimbang yang lain. Menurutku, imajinasi cerita film ini pada akhirnya menjadi bumerang karena naskah punya tuntutan. Tokoh utama yang baik haruslah yang lebih banyak melakukan pilihan, yang lebih banyak melakukan usaha. Film ini melakukan dengan benar. Kita melihat pilihan-pilihan yang dibuat oleh Field menggerakan alur cerita. Kita melihat perubahan pada dirinya. Yang malah bisa diartikan sebagai perjuangan wanita untuk menjadi presiden itu memang berat. Ada standar tinggi yang harus dilewati, karena politisi seperti Field harus bertanggung jawab kepada partai atau pendukungnya selain kepada pandangan sendiri. On the other hand tho, fantasi Flarsky yang lebih sepele, terlihat lebih mungkin. Tidak ada yang perlu diubah secara drastis.

Gagasan film ini malah jatohnya melempem karena mereka tidak membuat ruang supaya dua fantasi tersebut tampak seimbang. Yang pada akhirnya menimbulkan hal yang membuat kita semua khawatir. Mengapa Field – yang pintar dan punya kuasa – rela mempertaruhkan banyak hal demi bersama dengan orang seperti Flarsky? Ini tidak akan membuat Field look good, dari segi cerita. Film malah seperti membanggakan ada ayah-negara pertama ketimbang presiden wanita pertama, dan si ayah-negara itu masihlah seorang yang sama dengan orang di awal film, yang berkata vulgar, yang ngeganja – how is this make a country better? Kedua tokoh tersebut tampak seperti kehilangan integritas masing-masing di akhir cerita, dan semua itu terjadi karena rakyat yang digambarkan punya soft spot buat romantisme.

also, kritikan buat yang bikin subtitle di cineplex 21; film yang kutonton tadi banyak banget arti kata-kata yang salah

 

 

 

Mengangkat panggung yang menarik buat sebuah drama cinta komedi. Sayangnya film kurang berhasil menyeimbangkan aspek-aspeknya. Elemen romance-nya lebih berhasil, dan sekiranya memang hanya itulah yang akan dibawa pulang oleh penonton. Tetapi toh film mencoba untuk mengangkat satir politik lewat fantasi-fantasi yang mungkin terlalu jauh untuk benar-benar berhasil didaratkan. Pertanyaan yang terangkat dari arc tokoh utama menghasilkan jawaban yang enggak jelas baik atau buruknya. Yang lebih pasti justru hanya soal cowok yang bisa mendapatkan cewek yang diidam-idamkan – enggak peduli betapapun jauh posisi mereka. Film sukses menghasilkan yang manis-manis, tapi gagal mewujudkan janji-janji fantasinya. Hmm.. tau gak ini mengingatkan kita kepada siapa? Para politisi!
The Palace of Wisdom gives 6 gold stars out of 10 for LONG SHOT.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Bagaimana menurut kalian hubungan antara jurnalis dengan politisi sebaiknya? Kalo disuruh memilih antara koran tanpa pemerintah dengan pemerintah tanpa koran, kalian lebih memilih yang mana? Kenapa?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

27 STEPS OF MAY Review

“It is not our fault but it is still our responsibility.”

 

 

Ketika ditinggal mati seseorang yang dicintai, kita bisa berpegang kepada prinsip lima-tahap dari Kubler-Ross untuk meniti kembali kestabilan emosional yang kita rasakan. Namun bagaimana jika yang mati itu adalah diri kita sendiri? Bagaimana jika suatu trauma mengerikan terjadi kepada diri kita, meninggalkan luka fisik dan luka jiwa sebegitu dalamnya, sehingga menewaskan siapa diri kita sebelumnya? Lima langkah, tujuh, atau malah dua-belas sekalipun tidak akan cukup untuk menuntun kita melewati proses penyembuhan. May dalam film 27 Steps of May, yang mengalami kekerasan seksual di usia belia, butuh waktu delapan tahun! Sutradara Ravi L. Bharwani mengerti bahwa bergulat dengan trauma personal adalah urusan alami yang sangat sulit bagi para korban. Sebuah bagian dari perjalanan kehidupan yang tidak bisa diburu-buru, tidak bisa dikemas menjadi tahapan-tahapan yang seolah menyederhanakan. Karena dealing with personal trauma, grief atas sesuatu peristiwa melecehkan yang terjadi kepada kita, tidak bisa dijadikan simpel. Melainkan sesuatu yang kompleks, yang sakitnya dapat menjalar hingga ke orang-orang terdekat.

Makanya, 27 Steps of May berjalan dengan deliberately slow. Film ini ingin kita menyelami apa yang dirasakan, terutama, oleh May. Cerita akan memposisikan kita ke dalam sepatu (berkaos kaki panjang) May. Bertahun-tahun setelah dia direnggut ke dalam gang, kehidupan May (jebolan Gadis Sampul Raihaanun Soeriaatmadja bakal jadi kontender kuat dalam penghargaan-penghargaan film tahun ini) tak pernah lagi semeriah pasar malam di adegan pembuka. Dia tak pernah keluar dari kamarnya. Tempat dia mengerjakan pembuatan boneka-boneka princess. Tempat dia melakukan bunyi ‘ceplok ceplok’ yang ternyata adalah berolahraga lompat tali. Dunia May sekarang adalah kamar putih yang nyaris berisi. Bahkan ayahnya sendiri hanya masuk ke sana saat mengantar meja untuk kerja May. Kamera akan membawa kita masuk ke dalam momen-momen paling rahasia dari wanita yang menutup dirinya ke dalam isolasi. Yang memilih ‘curhat’ dengan torehan pisau silet tatkala sekelebat trauma tertrigger lewat ke ingatannya. Film ingin membuat kita merasakan diskoneksi yang serupa dialami oleh May ketika dia duduk diam di meja makan bersama ayahnya. Itulah satu-satunya waktu ketika May mau meninggalkan kamarnya. Selebihnya dia mendekam, bahkan harus ditarik paksa keluar saat ada rumah tetangga yang kebakaran. Kemudian hal yang seperti datang dari dunia David Lynch terjadi kepada May. Dinding kamarnya berlubang dan wanita ini menemukan ada yang tinggal di balik dinding tersebut. Seorang pesulap. Laki-laki.

mungkin dia mau ngajarin rahasia sulap sebuah tongkat yang bisa membesar?

 

 

Honestly, begitu tokoh pria tukang sulap yang diperankan jenaka-tapi-misterius oleh Ario Bayu ini muncul, aku sempat khawatir. Aku enggak mau film malah meromantisasi posisi May sebagai korban dengan kehadiran si Pesulap, cerita akan kehilangan gagasannya jika membuat May diselamatkan oleh Pesulap. Untungnya 27 Steps of May sepertinya sudah punya langkah-langkah riset sendiri. Film ini sangat menghormati tokoh yang ia ceritakan. May sendirilah yang eventually memilih untuk memanjat masuk ke dalam lubang di dinding. Tak sekalipun dia menjadi pasif dan tampak membutuhkan pertolongan. Elemen sulap sendiri – sebagai peristiwa ajaib yang tak terduga – juga berperan dalam menambah bobot pembelajaran yang terjadi kepada May. Film ini tahu persis bahwa korban-korban kekerasan seperti May bukan saja berkembang menjadi orang yang penuh rasa takut, yang menutup diri, yang cenderung menyakiti diri sendiri, melainkan juga merasa kehilangkan kendali. Inilah akar dari proses trauma May, yang membuat dia menjadi seperti dirinya sekarang – yang menyetrika baju dengan hati-hati, yang memakan hanya makanan putih, yang disiplin terhadap waktu. Dia ingin mengembalikan kontrol, kendali atas dirinya sendiri. Itu juga makanya May tertarik mempelajari sulap; sebagai perwujudan dari ia ingin bisa mengendalikan peristiwa ajaib yang ia lihat.

Wanita, ataupun pria, yang jadi korban kekerasan seksual adalah mereka yang dipaksa untuk melakukan sesuatu di luar kemauan mereka. Mereka kehilangan kendali atas diri sendiri, dan perasaan tersebut akan terus berlanjut setelah kejadian. Jadi mereka berusaha untuk mengembalikan kendali yang hilang tersebut. Inilah yang terjadi kepada May, yang kegiatan hidupnya seketika menjadi rutin yang itu-itu melulu. Mengembalikan kontrol ini jadi salah satu tema berulang yang dapat kita lihat pada film.

 

Selain May, film ini juga tentang ayahnya. Ayah May (rasa-rasanya baru sekali ini aku melihat Lukman Sardi memainkan tokoh sedevastating ini) menafkahi mereka dengan bekerja sebagai petinju. Tapi setelah tragedi yang menimpa May, sang ayah bukan lagi bertinju secara profesional, melainkan untuk pelampiasan emosi semata. Jika May menyalurkan sakitnya dengan menyakiti diri sendiri, Ayah May resort ke menyakiti orang lain. Dia juga, pada dasarnya ingin mengembalikan kendali kepada keluarganya, karena dia tidak tahu harus apa. Kita melihat si ayah justru merasa aneh tatkala May melakukan sesuatu di luar kebiasaan pada pertengahan film. Kita merasakan kontras keheningan May dengan dentuman dan hantaman dan teriakan adegan-adegan bertinju sang ayah. Jika kalian ingin tahu apa yang terjadi kepada Iron-Man saat skip lima tahun di awal film Avengers: Endgame (2019); Ayah May ini bisa dijadikan pendekatan yang cocok. Karena si ayah memang persis seperti Tony Stark dalam kondisi kejiwaan yang terburuk. Kedua tokoh ini sama-sama bergerak dalam sistem untuk mengendalikan. Bedanya hanya ayah May tidak punya resolusi untuk balik ke masa lalu dalam upaya mengendalikan kembali ‘kekalahan’ keluarganya. Dan si ayah enggak bisa ngamuk gitu saja kepada May yang menutup diri darinya seperti Iron-Man ngamuk kepada rekan-rekan superheronya.

May dan ayahnya berusaha menyetir hidup mereka kembali seperti sedia kala. Namun tanpa ada yang berani mengungkapkan – tak ada sistem yang mensupport mereka berdua selain keheningan di antara mereka, tanpa mereka sadari mereka justru menyakiti orang lain dan diri mereka sendiri. Dan inilah yang sebenarnya berusaha dikomunikasikan oleh film. Bahwa sesungguhnya ini adalah perjuangan May untuk berkomunikasi dengan ayahnya, begitu juga sebaliknya. Mengingatkan kepada korban perlunya untuk membuka komunikasi, dan kepada keluarga korban untuk menjadi pendukung. Dua tokoh ini terisolasi oleh trauma. Ada adegan ketika May terbata hendak berteriak mengatakan sesuatu kepada ayahnya, tetapi dia belum sanggup. Hal ini membuat ayahnya semakin merasa bersalah dan merasa tak mampu melindungi anaknya. Sebaliknya, kesalahan sang ayah adalah belum menyadari bahwa anaknya butuh lebih dari sekedar presence. Tidak cukup hanya duduk diam di sana. Ayah May malah semakin salah ketika dia malah menyalurkan emosinya sendiri ke dalam ring, jauh dari May. Yang malah membuat May makin merasa sendirian, terbukti dengan seringnya kita diperlihatkan adegan May duduk menunggu kepulangan ayahnya di meja makan.

Kita tidak bisa mengendalikan semua baik-baik saja. Bukan salah kita jika semuanya berubah menjadi tidak baik-baik saja. Kita butuh saling support. Karena kita bertanggung jawab untuk hidup terus sambil menyembuhkan diri. Jangan lagi tambahkan luka yang tak-perlu.

 

“sakit berarti ada yang gak ngalir”, makanya biarkanlah semua mengalir kecuali diare

 

 

Melihat apa yang terjadi kepada May dan ayahnya akan membuat kita mengerti apa yang dirasakan oleh korban-korban kekerasan yang bikin trauma. Film benar-benar meluangkan waktu untuk menekankan perasaan tersebut. Beberapa adegan cukup disturbing, secara terang-terangan memperlihatkan May melukai dirinya sendiri. Sekelebat adegan perkosaan juga tampil intens. Ayah May juga sama menyayat hatinya ketika pria ini menerima begitu saja pukulan dari lawannya di dalam arena. Semua orang dalam film ini memberikan penampilan yang sungguh menyentuh. Film ini mampu berkata banyak tanpa perlu sering-sering membuka suara. Bahkan editingnya saja bisa memberikan jawaban sehingga seolah kita sedang berdialog langsung dengan film ini. Seperti saat kamera memperlihatkan luka di wajah ayah May, dan detik berikutnya kita diperlihatkan dia beraksi dalam ring tinju.

Tapi tentu saja tidak ada film yang sempurna. Walaupun sengaja tampil slow-burn dan banyak adegan yang seperti putus-putus antara May dengan ayahnya. Paruh pertama film ini  terasa lebih panjang daripada paruh keduanya. Aku pikir bisa saja ada beberapa adegan yang dihapus supaya menjadikan pace lebih terjaga. Tapi on second thought, tiap-tiap adegan film ini terasa seperti napas, sehingga jika dihilangkan satu denyut film ini bakal keskip satu beat, dan malah bisa saja semakin merusak temponya. Jadi, kupikir pace atau tempo di awal ini adalah resiko penceritaan. Dan satu lagi, aku juga akan lebih suka kalo si Pesulap itu dibuat lebih ambigu; mungkin angkat diskusi apakah dia ada di dalam kepala May saja atau tidak. Toh film sudah membuktikan lebih baik bagi para tokoh jika pria tersebut tidak ada di momen resolusi akhir May. Menjadikan dia beneran ada justru membuat tokoh ini terjebak dalam semacam trope ‘manic pixie dream boy’.

 

 

 

Aku setuju kalo ada yang bilang film ini adalah film Indonesia terpenting, terbaik, sejauh tahun 2019. Semua yang terpampang di layar itu tampak begitu sarat makna dan gagasan. Cerita dengan percaya diri menghembuskan setiap detik napas dan denyut nadinya dalam setiap langkahnya. Yang membuat kita turut merasakan diskoneksi, membuat kita membayangkan seperti apa trauma di dalam sana. Perasaan terkurung itu begitu kuat, entah itu dalam kamar putih bersih ataupun di dalam ring yang riuh dan kumuh. Dan memang itulah yang dilakukan oleh film-film terbaik; membuat kita merasakan suasana, atmosfer, perasaan, tanpa perlu berlebihan mengorkestrasinya. Film ini bakal jadi kekuatan, support-sistem tersendiri, bagi penonton yang mungkin pernah mengalami kekerasan seksual ataupun trauma personal lainnya.
The Palace of Wisdom gives 8 out of 10 gold stars for 27 STEPS OF MAY.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Apakah kalian punya langkah-langkah sendiri dalam menghadapi trauma atau grief atau kesedihan yang mendalam? Menurut kalian kenapa dalam film ini pelaku kekerasan kepada May tidak pernah menjadi penting lagi?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

 

 

 

 

AVE MARYAM Review

“Love is like God: both give themselves only to their bravest knights”

 

 

“Aaaaaaaaave Mariiiiiii~~aaa…aamm”

Loh kok Maryam, kan lirik lagunya Maria?

Maria dan Maryam, toh, sebenarnya adalah sosok orang yang sama. Cuma yang satu penyebutan di kitab Kristen, satunya lagi penyebutan umat muslim. Maka naturally aku tertarik nonton film ini; judulnya udah kayak sebuah collab banget. Tapi ternyata garapan Robby Ertanto ini enggak benar-benar memfokuskan kepada toleransi antarumat beragama seperti yang disugestikan oleh judulnya. Namun begitu, Ave Maryam dapat juga kita jadikan sebagai jendela mengintip toleransi kemanusiaan yang lain. Toleransi dalam cinta.

Tokoh utama cerita, Maryam (Maudy Kusnaedi – mungkin – dalam peran paling berani yang pernah diterimanya) adalah seorang biarawati yang bertugas mengurusi suster-suster sepuh di biara mereka di Semarang. Dengan nama berbau Islam, dan mengucapkan alhamdulillah, tokoh ini sekilas tampak dalam krisis kepercayaan. Namun sebenarnya poin film ini ialah untuk menunjukkan tidak ada perbedaan antara Katolik ataupun Islam secara manusia. Sehingga pesan yang ingin disampaikan tak-terbatas pada agama yang jadi latar ceritanya. Apa yang terjadi kepada Maryam, bisa saja terjadi kepada setiap maria, atau siapapun di luar sana. Tantangan beragama terhadap pemeluknya yang taat itu sama pada agama manapun. Pada satu poin dalam hidup, setiap kita mungkin akan mengalami ujian siapa yang lebih kita cintai; Tuhan atau sesama manusia. Seperti Maryam yang kemudian jatuh cinta. Enggak tanggung-tanggung, dia jatuh cinta kepada Romo Yosef (kalo pemuka agamanya sekeren Chicco Jerikho, Valak juga bakal jinak kali’). Kedua insan ini harus merenungkan kembali apa yang sebenarnya mereka cintai.

filmnya jadul tapi duitnya tampak kekinian

 

 

Untuk dapat melihat lebih jelas maksud dari gagasan yang berusaha diangkat oleh film yang lumayan berat ini, kita perlu mundur jauh dulu demi mendengar kata Sigmund Freud tentang hubungan atau kecintaan manusia terhadap tuhan. 

 

Freud mengemukakan teori bahwa tuhan hanya ada dalam pikiran para pengikutnya. Tercipta dari kebutuhan akan sosok ‘ayah’ yang melindungi. Hidup ini keras. Orang dewasa tentu gak bisa lagi bergantung kepada orangtua untuk keselamatan, jadi kita – kata Freud – mencari sosok ‘orangtua’ lain yang bisa memberikan perlindungan, ketentraman, menghadirkan keamanan, membimbing ke jalan yang benar. Bagi Freud, tuhan merupakan gambaran manusia akan sosok paling sempurna, paling ideal, dari seorang ayah yang harus diikuti dengan taat. Cewek-cewek akan rela menjadi biarawati, meninggalkan keinginan duniawi supaya selangkah lebih dekat dengan tuhan. Cowok-cowok memilih jadi pastur, meninggalkan privilege hidup bebas demi sabda-sabda dari sosok yang bahkan tidak bisa dilihat.

Hal tersebut adalah akar dari konflik cinta-terlarang yang menjadi fokus utama film Ave Maryam. Seorang biarawati tidak boleh jatuh cinta, apalagi kepada seorang romo. While Maryam sendiri pada awalnya berusaha mengelak; dia menghindar ketika diajak jalan oleh Yosef, dia ingin merahasiakan – memendam saja rasa tersebut – literally hanya melihat Yosef dari balik terali jendela, Yosef bertindak sedikit lebih frontal dalam mengekspresikan cintanya. Dia menitipkan surat untuk Maryam kepada suster lain. Yosef tidak mengerti – atau malah ia menentang ketentuan seorang romo dan biarawati tidak boleh jatuh cinta; di salah satu adegan menjelang akhir kita melihat Yosef mempertanyakan alasan kewajiban mematuhi sesuatu yang tidak bisa dilihat. At that point, aku berpikir film sekiranya akan dapat bekerja lebih dramatis, lebih maksimal jika kursi tokoh utama diberikan kepada Yosef alih-alih Maryam. Karena bahkan adegan pengakuan di bilik penebusan dosa pada menjelang ending yang benar-benar emosional itu tampak lebih menohok kepada Yosef. Paralel dengan amarah yang ia lontarkan sebelumnya. Realisasi baginya, bahwa tidak harus melihat sesuatu untuk mencintai, mematuhi, dan yakin kepadanya. Sepanjang narasi kita akan belajar siapa Yosef, kenapa dia yang free-spirited memilih untuk menjadi romo. Sedangkan Maryam, kita tidak banyak diberikan pengetahuan siapa dia, dari mana asalnya, kenapa dia memilih untuk jadi biarawati. Kamera membawa kita melihat seperti apa Maryam seolah dari pinggir ruangan; kita tidak pernah merasa ikut bersama Maryam, oleh kamera yang menangkap latar cantik itu kita hanya diposisikan sebagai observer. Kita melihat di awal dia fokus terhadap tugasnya, dan saat dia jatuh cinta kita menyaksikan tugas-tugas tersebut mulai gagal ia kerjakan. Kita paham bagaimana cinta tersebut mulai mempengaruhi cintanya terhadap tuhannya. Sebagai landasan motivasi, kita diperlihatkan adegan mimpi Maryam dengan jendela di pantai yang sepertinya menunjukkan Maryam ingin kebebasan. Tapi film tidak menggali lebih dalam perihal alasannya merasa gak-bebas, kenapa dia sendiri melanggar komitmen atas nama cinta yang bahkan rasa cintanya terhadap Yosef pun tidak tergambar semeyakinkan Yosef tampak mencintai dirinya.

Cinta itu sama seperti Tuhan. Tak bisa dilihat, tapi terasa. Tak bisa dipegang, tapi ada. Kita cuma harus berani meyakini keberadaannya.

 

Perjalanan tokoh Maryam ini terasa abrupt. Mendadak. Tentu, adegan paling manis dan menarik yang dipunya oleh film ini terkait dengan penggambaran jatuh cinta kedua tokohnya adalah adegan di restoran di mana Maryam dan Yosef ‘ngobrol’ melalui tayangan yang diputar oleh restoran tersebut. Penggunaan dialog yang sangat pintar dan unik. Tapi selain itu, rasa cinta yang disebut-sebut Maryam itu tak pernah terasa benar-benar ada. Dia hanya diajak ke toko roti, dikirimi surat yang isinya ngajak ketemuan, I mean, darimana cintanya kepada Yosef tumbuh? Adegan pengenalan Yosef pun tidak tampak spesial. Dia tiba di gereja mereka begitu saja. Kamera tidak memperlihatkan seperti apa istimewanya Yosef di mata Maryam. Dari yang kutonton malah terasa seperti Maryam tersugesti oleh anak kecil pengantar susu yang pertama kali menyebut Yosef “tampan”. Dari Maryam ‘cuek’ ke dia cinta, buatku seperti sebuah loncatan narasi. Durasi film ini terlalu pendek untuk sebuah cerita hubungan dua manusia yang dilarang saling jatuh cinta. Dan setelah cinta, tau-tau Maryam menangis, lalu dia menyesal, what’s happening here? Ada momen penyadaran Maryam yang completely terskip. Ada adegan kunci yang tidak film ini masukkan. Aku duduk di bioskop dari awal hingga akhir, tapi tetap saja rasanya entah ada sekuen yang terlangkau, atau Maryam baru saja mengalami mood-swing paling drastis yang bisa terjadi pada wanita. Apa yang terjadi di pantai di malam ulangtahun Maryam?

hampir kayak nonton Dilan dengan setting The Nun

 

Buat yang udah baca sinopsisnya sebelum menonton ke bioskop (untung aku bacanya sesudah menonton, sebelum nulis review ini), Ave Maryam at best adalah sebuah false advertising. Kita tidak melihat separuh yang diinfokan oleh sinopsis sepanjang hamparan durasi filmnya. Dan buatku sebuah kegagalan jika sinopsis malah bertindak sebagai komplementer ketimbang ringkasan singkat dari actual filmnya. Ave Maryam sepertinya tak-cukup berani. Maryam seperti mendambakan kebebasan tapi kita tidak melihat bentuk ‘kekangan’ selain larangan jatuh cinta itu. Film sepertinya khawatir akan membuat lingkungan gereja jatohnya antagonis, tapi mestinya mereka bisa mengambil pelajaran kepada Lady Bird (2017) yang berhasil membuat tokoh utamanya tampak terkekang walaupun asrama katolik yang penuh aturan tempatnya berada tidak sekalipun tampak ‘jahat’.

 

 

Aku bingung juga kenapa teman-teman banyak yang memuji dan memberi nilai tinggi kepada film ini. Hampir seperti aku dan mereka menonton film yang berbeda. You know, aku tidak bisa begitu saja meyakini film ini bagus hanya karena dia ikut festival, atau karena banyak yang muji, apalagi hanya karena ada Joko Anwar. Aku harus menonton sendiri, dan menilai berdasarkan apa yang aku lihat. Hanya apa yang aku lihat. Narasinya berjalan dengan lumayan mendadak. Pacingnya enggak lambat-lambat amat, cuma memang setiap shot kayak enggak benar-benar ada yang penting selain visual yang cantik. Kejadian-yang-berhubungan dengan tokohnya yang mendadak cepet. Menghindar, suka, tobat – diceritakan dengan abrupt, sebelum masing-masingnya sempat mekar sempurna. Seperti ada yang hilang – seperti ada yang tak kulihat. Hanya kepada tuhan kita bisa percaya tanpa harus benar-benar melihat sosoknya. Dan film ini, aku yakin sekali, bukan tuhan.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for AVE MARYAM.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Kenapa sih masalah percintaan terkait aturan agama harus selalu rumit? Bukankah jika cinta kepada Tuhan, naturally orang juga mencintai sesama manusia? Menurut kalian kenapa kita bisa begitu ngotot cinta sama satu orang?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

 

MANTAN MANTEN Review

“Love is not a war to have win or lose; It’s DIVINE.”

 

 

 

Dalam menjalin hubungan percintaan, jalan yang ditempuh tidak selamanya mulus. Malah mungkin saja jalannya buntu. Kadang ada yang udah deket, tapi kemudian ada masalah ‘kecil’, sehingga kembali menjadi seperti orang asing. Yang berpaling muka bila saling bertatap mata. Ada juga yang udah lengket banget, tapi ternyata nikahnya sama orang lain. Cara orang berdamai dengan mantan pun berbeda-beda. Ada yang nguatin diri tetep temenan. Ada yang langsung ngeblok. Malah ada juga yang nekat datang ke nikahan mantannya sambil nyolong curhat lewat nyanyi di panggung. Lucu sebenarnya, karena kenapa pula kita mau ‘berdamai’ sama mantan?

Film Mantan Manten yang digarap oleh sutradara baru Farishad I. Latjuba seperti hadir untuk menjawab pertanyaan tersebut. Kenapa kita musti-banget berdamai dengan mantan. Bukanlah lebih mudah menjauhi, dan diam-diam ngestalk kehidupannya – berharap mereka mendapat pengganti yang tak-lebih baik dari kita. Melalui kisah kehidupan seorang wanita karir bernama Yasnina (Atiqah Hasiholan berhasil mendaratkan tokoh yang penuh ego lewat permainan ekspresi) yang sudah ditipu oleh rekan kerja, sehingga terpaksa menjadi pemaes alias penata rias (paes) pengantin Jawa, lalu ultimately ditikung cintanya, kita akan dibuat mengerti bahwasanya berdamai dengan mantan itu sebenarnya adalah berdamai dengan diri sendiri. Mengikhlaskan dalam film ini berarti mampu menatap mantan kita dengan pandangan yang tak-lagi penuh endapan kecewa, atau onggokan harapan, dan mungkin dendam.

Terkadang apa yang kita anggap kemenangan bisa berarti kehilangan. Tidak ada yang namanya mutlak menang atau kalah dalam cinta. Cinta bukan soal itu, karena sejatinya bukan kompetisi. Bukan juga soal investasi yang harus mendapat balasan keuntungan. Satu-satunya ‘kalah’ dalam cinta justru bukan ketika kita tidak mendapatkan yang kita cintai, melainkan ketika kita kehilangan hidup – siapa kita yang sebenarnya – saat berusaha memiliki yang kita cintai.

 

cinta bukan tawar menawar

 

Untuk sebuah cerita yang dikembangkan dari satu peristiwa yang bikin baper sejuta umat, Mantan Manten surprisingly tampil matang. Enggak receh. Tidak lebay. Film ini tidak menganggap remeh penontonnya. Right off the bat, kita dicemplungkan ke dunia profesional Yasnina yang bekerja di gedung-gedung tinggi. Dialog yang berbahasa inggris, istilah-istilah investasi dan perbankan (correct me if I’m wrong, karena to be honest aku tidak mengerti setengah hal yang diucapkan oleh tokoh kita di awal-awal), mengalir deras tak peduli apakah penonton mengerti atau tidak. Film tidak pernah berhenti untuk menjelaskan bahkan ketika suara cerita bergeser menjadi soal budaya pengantin Jawa. Treatment ini benar-benar membuat film menjadi sejajar dengan tokoh Yasnina itu sendiri; seorang yang intens, determinan, dan all-business.

Sebenarnya bukan masalah film tidak memberi penjelasan tentang istilah-istilah di dalam dunianya, malahan bisa saja menjadi berat oleh eksposisi. Namun tentu saja hal tersebut menjadikan bagian awal film cukup ‘beban’ untuk ditelan bulat-bulat. Terutama oleh penonton yang mengira cerita bakal sekasual judul filmnya. Lumayan susah untuk mengikuti dan berpegangan pada tokoh utama. And at first, she’s not a very likeable character either. Tapi kita tetep dipaksa untuk menjadi peduli padanya saat dia terlibat kasus, yang sejatinya bertindak sebagai kejadian yang memulai benturan pada perjalanan plotnya. Tone ceritanya pun mendadak akan menjadi sangat berbenturan begitu kita sampai pada aftermath kasus yang menimpa Yasnina. Dari yang modern, ke sesuatu yang lebih tradisional. Dari keuangan menjadi pernikahan, apa yang menghubungkannya? Satu-satunya yang tampak menghubungkan kedua itu – kenapa harus pemaes – adalah karena ceritanya berunsur mantan yang jadi pengantin. Selain tokoh Yasnina yang menggunakan mindset perbankan/investasi yang ia tahu ke dalam masalah pengantin, kita tidak bisa benar-benar menemukan alasan kenapa kerjaan tokohnya harus begitu dan nantinya dia harus belajar adat pernikahan Jawa. Romance mengambil kursi depan, di belakangnya ada drama, dan kemudian film juga berusaha memasukkan komedi. Dan sedikit sentuhan surealis yang hadir dari elemen budaya. Semua tersebut dilakukan dengan pacing yang nyaris tidak ada. Film berjalan begitu saja, seolah melompat dari satu sekuen cerita ke cerita lainnya.

Aku berharap mereka ngerem sedikit sih. Bukan untuk menjelaskan. Melainkan untuk memberikan ruang bernapas, ruang untuk cerita menghasilkan efek sebelum lanjut ke sekuen yang lain. Maksudku, perpindahan dari mendendam dan berniat mencari uang ke diharuskan belajar paes tidak benar-benar terasa punya impact. Hubungan antara Yasnina dengan budhe Marjanti yang jadi semacam mentornya, dengan undertone seorang anak yang mendapat pengganti ibu, seharusnya ini yang jadi salah satu kunci penting cerita karena pengalaman Yasnina bersama si ibu lah yang eventually membentuk dirinya menjadi pribadi yang baru, tapi film malah menunjukkan perkembangan ini dalam montase Yasnina belajar ogah-ogahan teknik dan filosofi Paes. Kita harusnya melihat perkembangan Yasnina lebih lama, menurutku cerita akan bisa mencapai titik maksimal jika durasinya diperpanjang. Dan didedikasikan untuk menggambarkan transisi tokoh Yasnina dengan lebih mendalam. Sehingga ketika dia mengambil posisi yang diwariskan oleh Budhe, terasa lebih genuine – bukan lagi terasa hanya karena tertulis di naskah sudah waktunya begitu. Tapi aku pikir, film sengaja mempercepat paruh pertama film karena mereka tahu materi yang mereka ceritakan sudah cukup berat, sehingga mereka ingin buru-buru untuk sampai ke bagian akhir yang merupakan punchline dari cerita.

padahal penganten kan mestinya ojo kesusu

 

Bahkan, melihat dari punchline cerita – babak akhir cerita, film tampak seperti enggak yakin harus mengambil tone yang seperti apa. Mereka ingin supaya penonton ikutan sedih, haru, baper karena keadaan yang harus dijalani oleh Yasnina. Akan tetapi dari segi narasi sendiri, seharusnya bagian akhir itu adalah titik di mana Yasnina sudah bisa mengikhlaskan sehingga mestinya tidak ada lagi baper-baperan. Plot film bergerak dari pertanyaan apakah Yasnina bisa memenangkan ‘pertempuran’ untuk kemudian terjawab di akhir babak kedua dan pertanyaan berubah menjadi apakah Yasnina bisa mengikhlaskan. Progres ceritanya naturally adalah Yasnina sudah menjadi ‘kuat’, dia bisa memimpin prosesi dengan lapang hati karena dia sudah menang dalam hidupnya meskipun dia tidak mendapat yang ia inginkan. Secara visual, film melakukan hal tersebut dengan sangat indah. Kita melihat pandangan matanya berbenturan dengan mata mantannya. Bagaimana matanya seperti memberikan restu. Sungguh menguatkan. Akan tetapi musiknya dimainkan seolah menyuruh penonton untuk merasa kasihan dan baper terhadap Yasnina. Ini menjadikan kita tidak berada di dalam sepatu Yasnina.

Momen-momen yang diniatkan sebagai komedi – untuk membuat film jatohnya enggak serius amat – juga menurutku mestinya bisa dicampurkan dengan lebih menyatu lagi. Banyak adegan komedi yang terasa dishoehorn alih-alih hadir alami di dalam cerita. Kepentingannya pun terpampang dengan gamblang. Pada adegan Yasnina baru sampe di rumah budhe di Tawangmangu, ada seseorang bermotor yang datang ke sana, dan kemudian mereka berdua terlibat dialog yang lucu, dan keduanya berakhir pergi bersama menuju tempat pesta budhe. Adegan ini kelihatan banget untuk nampilin komedi dan memberikan ‘kemudahan’ bagi Yasnina, karena kemunculan si pemuda bermotor tersebut sama sekali gak natural. I mean, kenapa dia datang ke rumah itu padahal ia tahu budhe gak ada di rumah dan dia sendiri juga semestinya ada di tempat pesta. Menurutku jika memang khawatir film menjadi berat sehingga harus ada yang ngelucu, mestinya porsi komedinya bisa dicampurkan dengan lebih mulus lagi. Seperti elemen budaya yang mengalir halus menjadi lebih dari sekadar tempelan. Tokoh-tokoh dalam film ini terikat oleh budaya, dan meski mereka menyadari hal tersebut sepenuhnya, mereka-mereka yang bisa dikatakan punya power tersebut tetap tidak bisa menggeliat keluar dari adat budaya.

 

 

Babak terakhir film ini benar-benar nendang. This could be a very strong narrative, on top of gampang untuk relevan. Tapi film seperti kehilangan percaya diri dengan cerita yang ia angkat. Terburu-buru di separuh awal, melewatkan kesempatan untuk mengembangkan relasi yang menjadi hati utama cerita, hanya karena filmnya tidak mau tampil terlalu berat. Menurutku cerita akan bisa bekerja lebih baik jika diberikan waktu dan ruang untuk berkembang. Akan tetapi yang kita dapatkan di paruh awal tersebut masih terasa seperti loncatan tahap-tahap sekuen plot yang sebetulnya masih bisa dikembangkan lagi. Dunianya pun kurang immersive karena selain tiga tokoh yang jadi sentral cerita – Yasnina, Budhe Marjanti (itu juga mestinya lebih banyak lagi adegan Yasnina dengan si ibu) dan Bapak Arifin – tokoh-tokoh yang lain kurang motivasi dan seperti ada di sana karena diperlukan oleh naskah.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for MANTAN MANTEN.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Sudah berapa nih mantan kalian? Ada yang masih temenan gak? Menurut kalian kenapa lebih gampang untuk enggak temenan ama mantan?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.