THE EQUALIZER 2 Review

“..the heart can balance out the mind.”

 

 

 

Meski bukan anggota X-Men yang terpuji, toh sebenarnya kita semua punya kepandaian masing-masing. Ada yang jago ngegambar. Ada yang cakap merangkai kata. Ada yang pinter ngeles. Molly Ringwald aja bisa makek lipstick dengan dadanya. Kepandaian alias keahlian khusus tersebut kita jadikan sebagai andalan, dalam bersosialisasi, dalam mencari kegunaan diri. Puncak kebahagiaan adalah kita menyadari kepandaian yang kita miliki dapat dijadikan sebagai sarana pengisi perut. Karena gak semua talent dapat ditukar dengan duit. Atau kalaupun bisa, uang yang dihasilkan bukan lagi tergolong uang baek-baek.

Kayak Robert McCall. Kita tahu dari film yang pertama 2014 yang lalu, kepandaian bapak ini adalah menghabisi nyawa orang setangkas dan seefisien mungkin. Dia beneran nyalain stopwatch di arlojinya sebelum mukulin orang, dan tak lupa mematikannya saat manusia yang ia pukuli sudah berubah bentuk menjadi seonggok daging yang penuh penyesalan dan rasa sakit. Keahlian matahin leher dan menggunakan banyak hal sebagai senjata berbahaya ia miliki berkat gemblengan keras semasa di agensi militer. Setelah ia keluar dari sana, tho, ia sadar kepandaiannya tidak banyak berguna untuk kelangsungan hidup sehari-hari. Orang-orang di sekitar McCall mestinya bersyukur, orang ini punya otak yang belum korslet dan hati yang masih lurus. McCall percaya di dunia ini ada dua rasa sakit; sakit untuk menghukum, dan sakit untuk mengubah-untuk menyembuhkan. Dan kali ini dia bertekad untuk sedapat mungkin memberikan kesempatan kepada bandit-bandit itu untuk merasakan sakit yang nomor dua.

Pada sekuel ini, McCall bekerja sebagai pengemudi Lyft; semacam ojek mobil online. Dia mengantarkan berbagai macam tipe orang. Dia actually meminjamkan telinga untuk mendengar curhatan mereka, bahkan kadang dia mencuri dengar percakapan beberapa dari balik setirnya. Ketika dia menemukan ada sesuatu yang enggak beres dengan pemesan ojeknya tersebut, saat McCall merasa ada sesuatu yang salah, maka lantas dia akan bertindak menyetir dengan tangan moral dan palu hakimnya sendiri sehingga yang salah-salah itu menjadi benar. Puncaknya adalah ketika satu-satunya temannya yang masih tersisa di dunia menjadi korban perbuatan orang-orang yang menjual kepandaian mereka demi uang, McCall tentu saja langsung mencemplungkan dirinya, lantaran semua menjadi personal. Terlalu personal.

lain kali hati-hati kalo ngobrol sama supir gojekmu

 

Jarang sekali menggarap cerita-cerita yang terasa pretentious, Antoine Fuqua ingin mengajak kita berbincang soal apa yang sebaiknya kita lakukan dengan pekerjaan yang kita bisa. Dan The Equalizer 2 ini sungguh adalah media yang menarik untuk membahas persoalan tersebut. Berbalut aksi brutal dan drama yang gritty – yang punya nyali mengingatkan dengan ancaman tudingan moncong pistol – The Equalizer 2 menyajikan maksudnya dengan sangat seimbang. Sama seperti tokohnya, McCall, yang berusaha menyeimbangkan dunia dari perbuatan buruk yang dilakukan orang-orang dengan perbuatan keji namun beritikad baik olehnya, film ini punya sekuen aksi sekaligus momen-momen karakter yang sama menariknya untuk diikuti.

Tak pelak, Denzel Washington akan membuat kita humble. Ada begitu banyak yang bisa kita pelajari darinya pada film ini. Penampilan aktingnya, mungkin kalian udah bosen membaca tentang betrapa legendnya Denzel Washington dalam setiap peran yang ia jajaki. Bagian terbaik The Equalizer 2 basically adalah dirinya,  kita seakan jadi pinter berakting melihat penampilannya di sini. Cara dia menampilan gesturnya, gimana aktor senior ini mentackle adegan-adegan aksi yang normally bukan ranah dia; menakjubkan. Sehingga aku pun  jadi lumayan menyayangkan, adegan pertarungan terakhir di film ini tampak seperti menyia-nyiakan dedikasi Wahington. I mean, duel satu lawan satu di tempat kosong itu tampak terlalu meta, membuatku susah percaya Wahington bisa melakukannya tanpa stuntman. Lagipula McCall yang sejauh durasi dua jam film ini hanya benar-benar menembakkan pistolnya satu kali, selebihnya ia menggunakan siasat, tampak sedikit di luar karakter dalam pertempuran di atas menara tersebut.

belum pernah kan diancem harus ngasih bintang-5 sama driver online? hhihi

 

 

Dalam cerita pun, tokoh ini akan memberikan wejangan gimana kita boleh saja mencari duit dengan bakat yang kita miliki, namun kita tetap butuh otak untuk membelanjakan duit tersebut. Salah satu elemen emosional dengan banyak sekuen mantap yang dipunya oleh film ini berasal dari hubungan McCall dengan cowok remaja yang tinggal di dekat apartemennya. McCall menjadi seperti figur bapak buat Miles yang masih menjadi jati diri. Miles ini hobi menggambar, ia menawarkan diri mengecat ulang tembok apartemen yang dirusak oleh grafiti berandalan. Tapi si Miles ini tidak percaya kemampuannya adalah hal yang paling baik yang ia lakukan. Lingkungan sosialnya memandang rendah pekerjaan melukis. Tidak normal menjadi seniman jalanan di sana. Duit dicari dengan jalur ‘kerjaan’ yang lain, dan Miles nyaris melangkahkan kakinya ke jalur tersebut. McCall semacam melarang anak tersebut, menggebahnya untuk mengambil pilihan yang benar-benar bermanfaat.

Untuk penyeimbang pikiran, dalam memberdayakan kemampuan, tentu saja kita memerlukan hati.  Keahlian dan kepintaran akan dengan gampang disalahgunakan jika kita tidak punya batasan moral yang bersumber dari hati. Itulah yang membedakan Robert McCall dengan orang-orang yang berkeahlian sama seperti dirinya dalam The Equalizer 2. Hati yang berada di tempat yang benar akan dapat memberikan kekuatan untuk melakukan hal yang benar, mengalahkan pikiran yang terkadang terlalu cepat menyimpulkan, terlalu tinggi dalam menilai, dan terlalu gegabah dalam mengambil keputusan.

 

Plot penceritaan film ini sebenarnya bisa dibuat lebih baik lagi. Struktur kejadian mungkin bisa diubah sedikit susunannya, karena terasa panjang sekali sebelum kejadian-kejadian di film ini terasa saling kohesif. Kejadian utama pada cerita adalah ketika ada kasus penembakan suami istri di Brussel yang dibuat seolah tindakan pembunuhan-dan-bunuh diri. Kasus ini menyeret McCall dan teman-temannya dan merupakan awal konfrontasi tokoh utama kita dengan masa lalunya. Hanya saja, sebelum sampai ke sana kita melewati banyak adegan-adegan yang tidak menambah untuk keperluan kejadian ini. Di awal-awal itu kita akan melihat gimana McCall membantu orang-orang yang ia antar. Seperti ada seorang kakek yang berusaha mendapatkan kembali lukisan kakaknya semasa kecil. Cerita kecil ini tidak melakukan apa-apa kepada permasalahan yang sebenarnya. Bahkan tidak banyak adegan aksi yang terlibat. It just takes a long time sebelum kita tahu ke arah mana sebenarnya narasi film ini melaju.

 

 

 

Melihat Denzel Washington menghajar orang-orang brengsek dengan brutal dan tanpa ampun, tangkas dan mematikan, adalah hiburan tersendiri. Melihat dia berinteraksi dan coba membantu orang-orang sebelum mereka terlanjur menjadi orang brengsek – walaupun trope orang dewasa berkoneksi dengan remaja sudah sering dilakukan, bahkan oleh film pertamanya – merupakan anugerah lantaran kita mendapat banyak dialog yang powerful. Sayangnya plot cerita tak sekuat penampilan akting maupun aksinya yang seimbang memuaskan. Mencegah film ini untuk menjadi terlalu memorable. It is a fine watch, tetapi butuh terlampau panjang waktu untuk benar-benar mulai nendang.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for THE EQUALIZER 2.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

SEBELUM IBLIS MENJEMPUT Review

“Pain changes people”

 

 

 

Mau dia pakai baju putih sekali pun, iblis tetaplah bukan malaikat. Kita tidak membuka pintu untuknya. Kita tidak mempersilakannya masuk. Kita tidak memanggil namanya. Sayangnya, Pak Lesmana lagi kepepet. Dia butuh duit yang banyak buat menghidupin keluarganya. Dalam adegan pembuka yang bertindak sebagai prolog, kita melihat bagaimana manusia bisa dengan gampang terbujuk, ikut menjadi penyembah setan, melebihi kekuatan sangkal dan iman mereka sendiri. Dari opening ini saja kita bisa segera tahu, kita berada dalam tangan penulis dan pembuat film yang cakap. Mereka menceritakan informasi-informasi dengan menghindari flashback, setiap informasi mereka sampaikan dengan menarik. Dalam wilayah horornya, kita juga langsung dikasih peringatan lewat imaji-imaji  dan pengambilan gambar yang creepy; bahwa kita sedang duduk dalam sebuah wahana horror yang benar-benar akan bikin lemes jiwa dan raga.

Sebelum Iblis Menjemput tahu bagaimana cara memperkenalkan diri. Film ini pun cukup bijak untuk tidak berlama-lama menghantarkan kita kepada apa yang mau kita lihat; hantu dan darah. Sebagaimana jumpscarenya, set up setiap tokoh dilakukan dengan sangat efektif. Setiap detil di babak awal adalah informasi yang sangat berharga. Bahkan kengerian sudah dihampar secara subtil (awalnyaaa!) di layar, meminta kita untuk memperhatikan. Supaya kita dapat memahami kondisi keluarga mereka. Di tengah kebangkrutan karena nyawa Lesmana sudah di ujung tanduk; keluarga nomor dua bapak ini mulai ribut mencari aset miliknya yang bisa dijual. Mereka lantas menghubungi Alfie, anak kandung Lesmana, yang punya kunci ke vila – tempat di mana Lesmana diduga menyimpan hartanya. Kita melihat Alfie yang kehidupannya kontras dengan Maya, padahal kita tahu mereka bersaudara. Meskipun hanya saudara tiri. Kita melihat Alfie hidup ‘keras’, dia tidak akrab sama saudara-saudara tirinya. Konflik antara Alfie dan Maya, relasinya dengan Ruben, si kecil Nara, dan ibu tirinya jadi hati drama cerita. Dan ketika mereka semua sepakat untuk kembali ke vila tersebut, pintu masalalu – both literally and figuratively – terbuka, melepaskan iblis yang seketika membuat semuanya menggila!

 

Tok tok!
Siapa?
Pevi..
Pevita yang artis ya? Waaahhh

PEVInilah jadinya kalo kalian nyari kekayaan mintanya ke Iblis!!

 

 

Ok, that was corny, yang mana jauh sekali dari apa yang film ini lakukan.  Mengangkat tema supranatural, dengan ada perwujudan iblis bertanduk, ada tokoh hantu yang super nyeremin, ada tokoh-tokoh yang kesurupan dan melakukan hal-hal sadis serta gila, film tidak pernah melanggar garis over-the-top alias garis lebay. Semuanyadiarahkan untuk ketegangan maksimal, sehingga sekalipun kita tertawa, maka itu adalah adalah tawa canggung untuk menutupi kegugupan dan ketakutan kita akan kengerian yang kita tahu bakal datang. Kafir: Bersekutu dengan Setan (2018) bisa saja menjadi semengerikan ini kalo dirinya tidak diarahkan untuk menjadi over-the-top (bandingkan konfrontasi final kedua film ini yang mirip tapi kesan yang dihasilkannya begitu berbeda), dengan alur yang sebenarnya tidak perlu ditutupi; tidak perlu ada twist. Horor sadis buatan Hitmaker kayak Sabrina (2017), dan seri The Doll seharusnya bisa jadi semengena ini jika saja tidak terlalu sibuk membangun sekuel-sekuel. Sebelum Iblis Menjemput ADALAH KONDISI TERBAIK YANG BISA DICAPAI OLEH HOROR INDONESIA sejauh ini. Punya plot karakter yang tertutup, punya awal-tengah-akhir (Tidak seperti kau, Pengabdi Setan), jadi enggak sekadar bermain di konsep body horror yang bikin gross out, melainkan juga seram, dengan drama yang lumayan berbobot.

Perubahan sikap Alfie, dan orang-orang yang kesurupan pada film ini menggambarkan bahwa derita dan rasa sakit sanggup membuat orang berubah. Tiada cinta tanpa derita, hidup kita gak akan jalan kalo enggak pernah merasain sakit. Luka adalah pintu bagi kit auntuk mendapat kekuatan, menjadi lebih bijak, bagaimana membuat kita menjadi semakin tangguh. Tidak ada yang keluar dari derita tanpa berubah menjadi pribadi yang berbeda dari diri sebelumnya.

 

 

Penampilan akting film ini benar-benar terasa seperti berasal dari dunia yang lain. Maksudku,setiap pemain diberikan tantangan, mereka semua didorong untuk melakukan hal-hal yang bukan saja fisikal, melainkan juga emosional – dalam taraf kegilaan yang just enough untuk bikin kita bergidik sampai tengah malam nanti. Tokoh-tokoh cewek di film ini, jangan harap mereka hanya jadi eye candy. Mereka semua dibikin bercacat, luka-luka, dekil-dekilan, mandi lumpur, bersimbah darah, tulangnya patah-patah. Semua deh. Aku gak pernah nyangka aku bakal gemeteran seperti tu saat melihat Pevita Pearce.  Aku gak mau bilang banyak soal tokoh yang ia mainkan di film ini, tapi aku benar-benar gak nyangka Pevita sanggup men-tackle peran seperti demikian. Dan bukan sembarangan, dia sukses berat. Sutradara Timo Tjahjanto directs the shit out of her. And everybody else. Dan tak seorangpun yang jatohnya lebay. Chelsea Islan sebagai Alfie mungkin gak banyak dapat sorotan dari rangorang. Buatku, ia adalah protagonis film horor terkuat yang pernah aku lihat sepanjang tahun ini. Alfie keras dan badass banget, dia ditekan oleh ketakutan dan kemarahannya bersamaan, dan at times emosinya tersebut enggak exactly mengarah ke si iblis. Ada monolog hebat yang Islan ucapkan di babak awal yang menunjukkan kematangannya dalam berakting. Pada gilirannya, kita turut rasakan rapuhnya ketika dia berusaha memproyeksikan kebencian itu terhadap dirinya sendiri.

there’s no way itu Karina Suwandhi kan? Kan!?

 

Penggemar horor bunuh-bunuhan sudah pasti akan sangat terpuaskan. Make up dan efeknya keren, ada bagian ketika leher seseorang ditarik oleh kekuatan tak terlihat sehingga memanjang sebelum akhirnya copot dari pundaknya, dan itu terlihat sangat meyakinkan. Yang pengen lihat hantu juga pasti tepuk tangan karena hantu di film ini gak konyol dan luar biasa seram. Tidak ada yang tidak bisa dilakukan oleh film ini. Semuanya dipush habis-habisan. Termasuk ngepush suspend of disbelief kita. Ada waktu ketika film ini meminta kita untuk memaafkan sedikit ketaklogisan, serta ketidakkonsistenan, yang terpaksa diambil oleh cerita – itu jika kita ingin tetap bersenang-senang menikmati film seperti bagaimana bisa adik kecilnya sanggup menarik Alfie keluar dari atas liang kubur. Ataupun ketika tangan dan kaki Alfie yang sudah patah, namun dia masih mampu berjalan dan mencangkul tanah. Dan pada shot akhir kita melihat Alfie kembali pincang dan jari-jarinya bengkok. Bisa sih, kita mengaitkannya dengan pesan orang dapat berubah karena derita yang ia rasakan yang terus dikoarkan oleh film. You know, mungkin Alfie dan Nara menarik kekuatan dari keadaan mereka yang sangat menderita, hanya saja agak terasa terlalu memaksa. Tokoh-tokoh film ini dalam paniknya juga sangat disayangkan harus selalu memilih untuk berpencar, meskipun logisnya adalah mereka keluar aja bareng-bareng mencari perlindungan ke desa. Enggak musti dibagi dua, satu tim keluar rumah nyari pertolongan untuk pendarahan di tangan, dan satu tim lagi tinggal di rumah.

Dalam sakit, kita masih cinta. Meski penuh waspada, karena kita takut akan terjerumus lagi ke dalam lembah derita yang sama. Kita memikirkan bahwa hal bisa menjadi sangat singkat. Kita cinta, tapi tidak pernah murni seperti sedia kala.

 

 

Banyak trope horor seperti demikian yang tak bisa dihindari, namun film berusaha membuatnya dengan berbeda. Seperti misalnya ketika seseorang ditarik ke bawah tempat tidur, dan tokoh-tokoh lain berlari dari luar menyelamatkannya; kebanyakan film akan membuat entah itu hantunya berhasil menculik, ataupun gagal, yang jelas biasanya si hantu sudah tak ada saat banyak orang datang menyelamatkan. Pada film ini, hantunya tetap ada. Malah balik menyerang. Ini adalah salah satu adegan yang membuatku tertawa nervous karena buatku seram sekali hantunya enggak malu-malu. Kita bisa lihat film ini seperti berkaca kepada horor klasik Sam Raimi, The Evil Dead (1981), di mana kekuatan supranatural memporakporandakan rumah di tengah-tengah entah di mana,  membuat tokoh-tokoh jadi gila, penuh kekerasan juga. Namun jika di horor itu, dan kebanyakan horor lain, tokohnya adalah remaja yang pergi liburan, Sebelum Iblis Menjemput punya tokoh-tokoh yang lebih berbobot; remaja yang diikat oleh tali keluarga, dengan sudut pandang mereka berusaha utuh sebagai keluarga.

 

 

 

Horror Indonesia at its best. Film ini menawarkan semua kegilaan yang bisa diinginkan oleh penggemar film horor secara umum, dan gore khususnya. Eksekusinya pun dilakukan dengan begitu kompeten. Penampilan aktingnya luar biasa. Pergerakan kamera, efek, make up, penulisan – arahan film ini benar-benar berada di tingkatan yang berbeda. Kita akan takut, kita akan nyengir sakit, kita akan memicingkan mata. Terkadang kita geleng kepala juga dibuatnya, karena ada beberapa elemen kecil dari cerita yang memohon untuk kita menahan ketidakpercayaan kita, ada adegan yang maksa untuk masuk ke logika cerita, ada yang gak konsisten, tapi tidak mengurangi banyak keasyikan menonton. Film ini sekiranya bisa membawa horor kembali ke arah yang benar, sebelum keasyikan horor kita musti dijemput lagi sama iblis bernama uang.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for SEBELUM IBLIS MENJEMPUT.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

AIB #CYBERBULLY Review

“You never look good trying to make someone else look bad”

 

 

 

 

Sharing bukan lagi disebut caring jika yang disebar itu adalah cela dari orang lain. Karena saat kita membeberkan keburukan orang, yang ada hanyalah betapa kita mempedulikan diri sendiri.

 

Hanya orang-orang paling insecure sedunialah yang merasa wajib untuk membuktikan diri mereka hebat, maka mereka akan melakukan segala cara. Kebetulan, cara paling gampang adalah menertawakan orang lain; mempermalukan orang di depan umum. Sayangnya, remaja termasuk ke dalam kategori ‘orang-orang paling insecure’ ini; remaja dapat dengan mudah dan tanpa beban mentertawai orang demi popularitas, tanpa mau peduli bahwa mereka baru saja merendahkan makhluk yang berperasaan. Jarang sekali ada remaja yang mau memikirkan bahwa melakukan hal tersebut bukan hanya tidak ngefek apa-apa terhadap kebaikan dirinya, melainkan juga membuka kesempatan bagi orang untuk menyerang balik dirinya, dan lingkaran setan itu akan terus berulang. Hingga seseorang literally terluka.

Sarah dan delapan sohibnya tidak lebih dalam berpikir selain tentu lucu jika seluruh sekolah mengetahui rahasia yang tak-boleh disebut teman mereka yang bernama Caca. Jelas sekali, mereka tidak merasa apa-apa. Kenyataan toh berkata lain. Caca bunuh diri loncat dari lantai dua sekolah, tepat saat Sarah cs bergrup-selfie ria. Kita kemudian akan ngeskip waktu satu tahun kemudian, di mana Caca masuk ke dalam grup video chat Sarah and the genk yang sekarang sudah mulai kuliah dan berkarir sendiri-sendiri; memaksa mereka untuk memainkan permainan maut yang kira-kira berjudul Buka Aib atau Mati dalam rangka merayakan anniversary kematiannya. Aku memang agak mixed soal banyak cerita jaman kekinian yang membuat tokoh hantu yang simpatik kayak gini; mereka dibully hingga meninggal bunuh diri alih-alih terbunuh, dan balik menuntut balas sebagai hantu. Menurutku elemen ini seolah berpesan bunuh diri dapat membuat keadaan menjadi lebih baik. Adalah tanggung jawab film atau ceritanya sendiri buat melandaskan dengan tegas bahwa ‘hantu’ di sini adalah perumpamaan simbolis bahwa pelaku bully sejatinya tidak akan pernah sepenuhnya merasa tenang, rasa bersalah itu akan terus menghantui hingga ke titik mereka menghancurkan diri mereka sendiri.

Music video This is America dengan tepat membuktikan kritikannya

 

Keuntungan dari menyontoh sesuatu adalah kita jadi punya kesempatan untuk menjadi lebih baik dari yang dicontoh. Misalnya di sekolah, sering kan ada murid yang dapet nilai lebih tinggi dari nilai orang yang ia contek. Lantaran saat menyontek, dia harus improvisasi biar gak ketauan ama guru. Nyontek matematika, dia tinggal nyatetin jawaban yang benar dengan rapi, kertas jawabannya gak mesti penuh coretan kayak si rangking satu yang sempet salah hitung dua kali sebelum menemukan rumus yang benar. Aib #Cyberbully paham betul tiap jengkal kekuatan sekaligus kekurangan yang dimiliki oleh Unfriended (2015). Film garapan Amar Mukhi ini mencoba keras untuk mengungguli thriller misteri yang konsepnya menampilkan perspektif layar laptop tersebut.

Unfriended adalah film yang secara mengejutkan menyenangkan buatku. Film itu bercerita dengan pinter dan sungguh orisinil. Aku terkesan sekali dengan Unfriended. Makanya, begitu tahu ada film Indonesia yang mendaur ulang konsep penceritaannya, aku toh jadi penasaran juga. Semua poin kelemahan film yang kutulis dalam review Unfriended, well, Aib #Cyberbully seolah berusaha untuk memperbaikinya. Delapan tokoh sentral yang nantinya bakal dibully sama hantu kali ini diperlihatkan keseharian mereka, kita actually akan melihat mereka lagi ngapain sebelum chatting, sebagai upaya untuk melandaskan karakter dan memberikan kesempatan untuk mengenal mereka lebih dalam. Untuk kepentingan itu pula, Aib menginkorporasikan berbagai variasi shot. Membuat jurang pemisah pada konteks dua film ini; Unfriended bermain di ranah kengerian anonimitas pada internet – makanya kita tidakdibawa masuk mengenal karakter-karakter dengan lebih dalam, sedangkan Aib lebih kepada setiap orang punya rahasia, dan mengeksploitasi rahasia mereka tidak akan membuat kita menjadi orang yang lebih baik.

Anonim benar-benar ditonjolkan dalam Unfriended, maka kita melihat sekuen ketika tokohnya mencoba mengontak sembarang orang. Berusaha mencari bantuan. Pada Aib, kita tidak pernah mendapat sense mereka mencari pertolongan, yet aspek ‘teman menjadi saling menghujat’ benar-benar dinaikkan volumenya hingga maksimal. Menit-menit terakhir akan penuh dengan sumpah serapah di mana para tokoh saling berteriak, menghakimi yang aibnya kebuka, mengutuk yang sudah membuka aibnya, to the point ada salah satu dari mereka tidak lagi menjadi sedih saat ada teman mereka yang mati. Bagian ini mungkin too much buat sebagian orang, but it was needed dan menjadi poin drama dan konflik terkuat yang dimiliki oleh film. Film tidak lagi begitu cheesy, para pemain pun tampak mendeliver emosi dengan tepat. Pada delapan tokoh tersebut dibebankan masing-masing tiga aib, yang merupakan adalah cara film ini menunjukkan kerelavanan dengan isu-isu perihal kehidupan sosial anak muda yang dapat dijumpai di sekitar kita.

Tema cyberbully sudah ada, paling enggak sejak tiga tahun yang lalu. Film ini mengangkatnya lagi. Dan masih terasa sangat relevan. Ini menunjukkan betapa sosial anak muda di dunia maya memang belum sembuh dan cukup mengkahawatirkan.

 

Ada waktunya ketika denyut per denyut film ini persis sama dengan Unfriended, dan ini otomatis menjadi momen-momen yang paling menjemukan buatku.Karena aku gak ngerti kenapa adegan di Unfriended juga mesti diadain pada film ini. Ada banyak elemen yang mestinya bisa diganti atau dihilangkan saja sama sekali. Mulai dari topik chat mereka – gimana kedelapan orang itu terlibat – hingga phrase “byeee (baaa-iiiii)” sama persis. Kompakan nunjukin tangan ke layar supaya jadi bukti chat dari hantu itu bukan ulah hack salah satu dari mereka, mestinya bisa diganti dengan, maybe, mereka dibuat kompakan untuk menjauh dari layar. Dan adegan saling menggoda buka baju di film ini, entah kenapa dibuat begitu panjang.Aku paham sedari Unfriended pun adegan ini dari perspektif penulisan karakter penting untuk menunjukkan bahwa tokoh utama kita memang punya habit untuk berahasia; bahwa dia melakukan sesuatu yang secara moral kurang bener. Bahwasanya setiap orang punya sisi personal yang enggak semua orang diijinkan melihat, bahkan sahabat sekalipun. Yang aku gak mengerti ialah kenapa Aib begitu mengekstensi adegan ini, padahal sebelumnya mereka sudah menunjukkan bahwa mereka punya sisi lain untuk digali. Maksudku, daripada sepuluh menit ekstra chat privat di kasur, bukankah akan lebih baik jika waktunya digunakan untuk set up hal yang lain; perpanjang sedikit bagian waktu mereka masih SMA, misalnya.

mereka juga harusnya mengganti sosmed, karena… SIAPA YANG MASIH PAKE FACEBOOK DAN SKYPE HAREGENEE!!?

 

Kemunculan hantu adalah poin vokal yang digunakan film ini sebagai pembeda utama. Kita benar-benar melihat wujud hantunya muncul di layar laptop Sarah, kita melihat bagaimana dia tepatnya membunuh satupersatu, membuat Sarah menyaksikan semuanya. Tentu, hantu adalah cara paling efektif untuk membuat film kita diterima oleh banyak penonton di sini. Hantu dapat sangat menyeramkan jika ditangani dengan benar. But mainly, hantu di film ini digunakan untuk jumpscare yang tidak menyisakan ruang banyak buat imajinasi penonton. Imbasnya adalah adegan kematian yang menyertai kemunculan si hantu jadi berkurang kengeriannya – juga tidak menolong gimana setiap kematian dioverlook dengan segera begitu saja oleh para tokoh lain. Malah ada kematian yang kelihatannya enggak sakit, I mean, badan dililit kabel headphone? Nanggung sekali – kenapa tidak dibikin talinya nyekek leher aja, impresi yang dihasilkannya bakal lebih gede.

Kebayang sih, bikin film yang bercerita lewat video chat ini butuh usaha ekstra. Editing dan kesinambungan harus benar-benar diperhatikan. Aib #Cyberbully pun tahu apa yang harus mereka lakukan buat mengimbangi konsep yang sudah ada, paling enggak audionya benar terasa sesuai arah. Namun polesannya terasa terlalu banyak. Jaringan internet Indonesia tampak begitu kuat dibandingkan internet anak-anak di film Unfriended.Kesan real jadi berkurang. Unfriended menggunakan interface platform chat yang dibuat sesuai aslinya, lengkap sampai ke glitch suara dan gambar yang hadir di momen-momen random. Kadang gambarnya patah dan suara merekakeluar padahal gambarnya gak gerak. Sesuatu yang kita alami saat berkomunikasi video di dunia maya. Pada Aib, glitch digunakan untuk menyensor kata dan gambar yang ‘dewasa’. Tampilannya yang lebih variatif adalah hasil kerja editing, yang kadang membuat kita suspend our belief soal konsepnya. Misalnya, jumlah aib yang ditampilkan di window chat seolah itu adalah hitungan nyawa mereka; kita tidak akan dapat itu kalo ngeskype. Unnecessary, gak emnyeramkan, selain untuk memaparkan kepada penonton.

Kalo mau ngenitpick di luar perbandingannya dengan Unfriended, kita bisa mulai mengomentari dari kenapa ada cowok seragam SMA yang rambutnya gondrong. Tadinya kupikir ini akan dikaitkan sebagai salah satu aib atau apa yang berhubungan dengan statusnya, tapi enggak. Jikalau pemainnya menolak pangkas pun, sebenarnya bisa dengan gampang ‘disembunyikan’ dengan membuatnya memakai topi. Kemudian ada juga bingkai foto yang berubah dari satu shot ke shot berikutnya yang terlihat jelas. ‘Glitch-glitch’ kecil kayak gini sebenarnya bisa dikurangi jika saja film tidak terlalu focus ke usahanya membuat sesuatu yang lebih baik dari konsep yang mereka tiru.

 

 

Menyadari pentingnya pesan yang berusaha ia sampaikan demi dunia remaja, film mengambil langkah yang enggak nanggung-nanggung. Dengan berani menyandingkan diri dan berusaha membuat lebih dari Unfriended. Bahkan film ini dengan berani memberikan gratis satu tiket untuk setiap pembelian satu tiket kepada siapa saja hingga empat hari setelah penayangan perdana. Film ini mengeluarkan usaha yang ekstra karena film seperti ini tidak gampang dibuat. Bagi penonton awam, anak-anak muda yang menjadi targetnya,film ini punya semua yang mereka cari ketika mau nonton film horror. Yang perlu diingat adalah film ini bisa menjadi sangat vulgar dan kasar untuk konsumsi mereka, it really doesn’t hold back. Aku malah lebih suka jika tanpa sensor. Namun bukan hantunya yang menjadi horror buat penonton yang sudah punya banyak referensi, melainkan kenyataan bahwa mereka harus melihat berbagai hal yang sudah pernah dilakukan dengan lebih meyakinkan sebelum sampai ke bobot drama yang jadi topik utama cerita.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for AIB #CYBERBULLY

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

22 MENIT Review

Calm before the storm

 

 

 

Pernahkah ketika sedang bersantai di kamar, menikmati film mungkin, dengerin musik sambil ngemil mi mentah, atau asik main video game sambil download-download, kemudian mendadak saja ada perasaan gak enak yang timbul dari suasana tenang tersebut. Kalian bisa merasakan ada yang tak beres, dan sekonyong-konyong listrik mati, dan terlontarlah semua sumpah serapah tersebut? Itulah yang disebut pepatah sebagai “ketenangan sebelum badai”. Warga Jakarta mungkin masih belum lupa ketenangan ganjil yang mereka rasakan di pagi hari tanggal 14 Januari tahun 2016 silam.

Dua-puluh-dua menit keseharian kota yang ramai menjelang pukul sebelas lebih empat-puluh siang. Ya memang ada sedikit macet, orang-orang mengejar waktu mengejar urusan penting masing-masing, beberapa pelanggar lalu lintas kena tilang pak polisi, tapi saat itu adalah sedamai-damainya yang bisa diharapkan oleh pelintas ataupun ‘penghuni’ daerah sibuk seperti di Sarinah. Set up awal film 22 Menit ini sungguhlah efektif dan tepat sasaran memperlihatkan kepada kita beberapa karakter yang sama sekali tak menyangka beberapa saat lagi hidup mereka akan porak poranda. Keragaman penduduk ibukota juga terhampar jelas di sini. Tentu saja, kita tahu sedikit lebih banyak daripada AKBP Ardi yang langsung ke markas setelah mengantar putrinya ke sekolah, Polisi Firman yang mengatur lalu lintas sambil menahan resah karena di-silent treatment-in ama tunangannya, Hasan yang belum benar-benar legowo disuruh oleh adiknya untuk ikutan kerja sama orang lain, dan Dessy yang didesak cepet datang karena sudah ditunggu temannya di coffe shop untuk persiapan presentasi, tentang apa yang bakal terjadi di tempat tujuan mereka. Film cukup bijak untuk menanam mereka sehingga paling tidak kita penasaran “kira-kira siapa yang bakal selamat ya?” Dan ketika bom itu meledak, film pun cukup berhasil memberikan suasana tegang perburuan hidup mati antara polisi dengan teroris.

Sesuatu hal yang baru akan menimpa kita pada saat-saat yang tidak diduga. Kenyamanan membuat kita lengah. Untuk itulah, sebenarnya kita dituntut untuk senantiasa waspada. Bersiap mengantisipasi segala sesuatu. Seperti yang dilakukan oleh polisi-polisi dalam film 22 Menit.

kalo kata Bezita, kedamaian membuat malas – lantas orang jahat menyerang dan kita tunggang langgang

 

Kompeten enough dalam setiap aspek yang dimiliki. Jika film ini kita ibaratkan sebagai polisi, maka 22 Menit adalah seorang polisi teladan yang  berhasil menjalankan tugas simpelnya dengan cakap. Namun ia juga begitu sederhana sehingga menolak kenaikan pangkat. 22 Menit punya kepentingan untuk hadir ke kancah dunia perfilman tanah air, dan film ini tidak berniat untuk menjadi lebih dari pada itu. Padahal sebenarnya bisa. Tapi mungkin, memang beginilah polisi yang baik. Tidak ambisius. Jika memang hanya ingin tampil di muka umum, jika memang hanya ingin nunjukin teroris itu jahat dan polisi itu hebat, kenapa mesti repot-repot mikirin hal di luar itu yang membutuhkan usaha ekstra.

Eugene Panji dan Myrna Paramitha memang bukan orang pertama yang diminta untuk mengarahkan tragedi pengeboman beneran menjadi sebuah kisah kepahlawanan. Dalam setahun terakhir ini saja, kita sudah menonton dua film tentang peristiwa pengeboman acara  lari marathon di Boston. Tapi, ketika Stronger (2017) dibuat,  mereka actually menggali sesuatu. Membicarakan satu-dua buah pikiran lewat sudut pandang tokoh utamanya.  Stronger dan Patriots Day (2016) totally adalah dua cerita yang berbeda padahal mengangkat satu peristiwa yang sama. Karena mereka dibuat dalam konteks perspektif yang khusus. Mereka berangkat dari cerita satu orang karakter; memang ada yang diceritakan dari karakter tersebut – ada drama yang ingin digali. Aspek tersebut membuat film-film itu tampil lebih kuat, dibandingkan 22 Menit yang enggak punya lapisan sebanyak tokoh-tokoh yang ia punya. Film ini sebenarnya bisa menjadi lebih dahsyat sebagai sebuah tontonan patriotisme, for instance, jika durasinya dipanjangkan. Tapi ya, kalo memang yang bikin filmnya sudah puas begini – toh misi citra mereka sudah selesai – ya apa boleh buat.

Cara berceritanya pun cukup unik. Film ini menggunakan struktur bolak-balik untuk mengakomodasi tokoh-tokoh yang tadi diperkenalkan. Kita melihat rutinitas mereka. Kita tahu tujuan mereka. Kita saksikan masalah mereka hari itu. Namun kita tidak pernah benar-benar mengenal mereka. Jika Vantage Point (2008) saja masih dikritik repetitif padahal sudah menggali tokoh-tokoh yang dipunya, kesempatan apa yang dipunya oleh 22 Menit yang hanya meniru penceritaan yang dilakukan oleh film tersebut? Kita bergantian melihat drama yang dialami oleh para tokoh sebelum waktu ledakan tiba; setelah satu tokoh, layar akan menunjukkan jam yang dimundurin ke dua-puluh-dua menit sebelumnya, dan kita mengikuti tokoh yang lain. Masalahnya adalah tidak ada banyak lapisan pada tokoh-tokoh tersebut. Tidak ada pergantian sudut pandang. Semua yang kita lihat setiap ‘ganti tokoh’ tak lebih dari sedikit penambahan adegan, like, kita sudah bisa tahu eksterior para tokoh, namun tidak pernah dibiarkan masuk mengenal interior mereka.

Saat orang pake google infrared, dia kagak, dan dia tetap yang paling jagoan

 

Tentu, kita merasa kasihan sama mereka, kita tidak ingin orang-orang tak berdosa dan tak tahu apa-apa itu jadi korban peledakan bom. Hanya saja tidak ada perjalanan karakter. Keinginan yang buyar oleh ledakan itu nyatanya memang sebuah tragedi, sesuatu yang sangat emosional; menyedihkan. Tetapi peduli kepada karakter dalam film itu maknanya adalah kita turut merasakan beban mereka – kita ikut belajar bersama mereka. Bahkan Hereditary (2018) yang konteksnya adalah tidak-ada jalan keluar bagi para tokoh yang sudah digariskan untuk suatu hal yang buruk saja masih memberikan kesempatan kepada kita untuk belajar sesuatu, untuk menyaksikan tokohnya berkembang. Tidak sekedar kita mengasihani mereka yang berada di tempat yang salah, dalam waktu yang salah.

Ini adalah masalah paling besar yang terasa saat kita menonton 22 Menit. Tidak ada tokoh yang bisa kita ‘tempelin’. Mereka antara kurang tergali ataupun dibangun supaya kita merasa kasihan. Hasan yang diperankan oleh Fanny Fadillah (Ucup!!!) sebenarnya adalah yang paling mendekati seorang tokoh utama yang menarik untuk cerita film ini; dia awalnya tak mau bekerja, bujangan tua ini punya pandangan sendiri terhadap kerja di bawah orang lain. Dia bahkan risih berapi-rapi ria pake kemeja. Dia hanya nurut disuruh cari kerja karena selama ini adiknya yang sudah susah payah menghidupi keluarga. Kejadian terorisme ini mestinya mengubah segalanya bagi Hasan dan keluarga, sayangnya tidak diresolve dengan baik oleh cerita.

Satu lagi soal tokoh-tokoh adalah; film ini tidak berani berbuat banyak terhadap pihak terorisnya. Mereka hanya ada di sana untuk bikin kerusuhan. Kita tidak dikasih tahu alasannya apa, tidak ada cerita mengenai mereka, tidak ada sudut pandang moral mereka. Dan ini membuat mereka tampak lemah, kenapa juga mesti mengumbar diri di tengah keramaian; entah salah rencana atau memang rencana mereka seperti itu, kita tidak pernah tahu. Meskipun dipromosikan dengan hashtag KamiTidakTakut, film justru malah terlihat tidak berani menggali apa yang kita tahu persis akan membawa film ini ke ranah agama. Bahkan aksi kepolisiannya sendiri juga tidak pernah betul-betul ditonjolin. Bagian dari tokohnya Ario Bayu, misalnya, malah tampak seperti kebetulan dia berada di TKP. Mungkin, memang kejadian aslinya seperti begini; ada satu polisi yang kebetulan lewat sana, dan dengan sigap mengambil tindakan. Namun, yang perlu diingat bahwa ini adalah sebuah film. Sebelum menjadi film, tentu ia melewati meja naskah terlebih dahulu. Mestinya kan, bisa, semua elemen kejadian nyata pada cerita ini disesuaikan demi menghasilkan naskah yang lebih kuat.

 

 

 

 

Aku sesungguhnya suka gimana film ini berusaha mengambil tindakan untuk membuat film ini tampil tak-biasa lewat struktur berceritanya. Meskipun, mereka melakukannya dengan meminjam dari film lain. Bagian siaran radionya malah lebih meyakinkan dari siaran radio Death Wish (2018) yang kelihatan banget ditambahin belakangan biar filmnya relevan dengan isu kepemilikan bersenjata. Menjelang tamat, aku mendengar ada sound effect bunyi detak jam yang mengingatkanku pada Dunkirk (2017), yang anehnya adalah kenapa baru sekarang menggunakan efek itu, setelah gimmick Vantage Point dan shot waktu sudah tidak digunakan lagi. Bagaimanapun juga, mereka mengeksekusi adegan-adegan dengan lumayan kompeten. Efeknya niat. Sayangnya, it’s pretty much what you see is what you get. Jika ketenangan sebelum badai itu merupakan pertanda yang mengingatkan kita untuk waspada, maka keheningan setelah semua debu dan asap ledakan itu semestinya adalah waktu untuk kita memikirkan apa yang sudah terjadi. Film ini, pada akhirnya, lebih tampak sebagai usaha simpel mempahlawankan kekuatan polisi dengan meminta kita mengasihani tokoh-tokoh yang lain. Jika kalian tidak punya masalah dengan hal tersebut, film ini bisa jadi tontonan yang greget buat kalian.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for 22 MENIT.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

SABRINA Review

“Revenge may be wicked, but it’s natural.”

 

 

 

‘Rocky Horror Picture Show’ sepertinya akan mendapat tambahan arti. Jika lawas, kita mengenal kata itu sebagai judul film cult klasik bergenre musical horror. Maka bukan tidak mungkin di era kekinian, mendengar kata tersebut orang-orang jaman now pada langsung kepikiran Rocky Soraya dan rentetan horror sadis buatannya dalam seri The Doll yang dimulai sejak 2016. Sabrina, entry teranyar dari seri ini, hadir dengan cap dagang yang sama; boneka berisi setan dan tusuk-tusukkan hingga potongan anggota badan. Jualan yang ampuh. Seri ini sudah semakin mantap menyemen jalan menuju status cult klasik miliknya sendiri. Meski aku heran juga kenapa boneka ugly-not-creepy kayak Sabrina dibeli oleh banyak anak kecil dalam film ini.

ayo rolling-eyes bersama Sabrina

 

Setelah dua kali sukses, The Doll dan The Doll 2 (2017) mendapat sambutan hangat dari both kalangan penggemar body horror dan mainstream, Rocky dan timnya di rumah produksi Hitmaker Studios tampaknya menjadi semakin gede kep… gede hidung menangguk keberhasilan yang serupa. Tetap bercokol di lingkungan keluarga – yang membuat cerita film ini somewhat relatable – mereka mulai mengekspansi sudut pandang cerita. Sabrina tidak lagi sekedar membahas gimana boneka yang tampangnya kayak versi kartun Luna Maya bermata besar berambut keriting ini menjadi medium entitas jahat yang mengganggu satu keluarga. Ini juga adalah tentang pertempuran ilmu putih dan roh hitam. Malahan, begitu ambisiusnya cerita, status film ini menjadi agak ‘kabur’; pembuatnya bilang ini spin-off, meskipun secara jelas cerita merupakan kelangsungan dari kejadian di The Doll 2. Either way, sesuatu yang mengerikan bakal terjadi, dan tokoh ahli supranatural yang sudah kita kenal di dua film sebelumnya, harus segera menghentikan. Tak peduli meski nyawa mereka sendiri yang sekarang menjadi incaran.

Aku sendiri lebih suka menganggap ini sebagai sekuel karena memang ceritanya terasa lebih besar. Tapi tentu saja lebih besar bukan berarti lebih baik. Aku sempat bingung juga siapa sih tokoh utama di film ini. Seharusnya memang Laras, si paranormal. Hanya saja untuk sebagian besar pertengahan pertama – also the heart in the story – kita akan melihat Maira berusaha menata keluarga barunya. Dia menikah dengan anak pemilik pabrik mainan yang memproduksi boneka Sabrina yang baru. Pasangan ini mengangkat anak bernama Vanya, yang actually adalah keponakan dari Aiden, suami Maira. Kita juga bisa melihat cerita dari sudut pandang Vanya yang bersikap dingin kepada orangtua angkatnya, karena Vanya masih mengenang dan sulit melepaskan sosok ibu kandungnya yang telah tiada. Vanya dan Maira punya hubungan yang cukup menarik; mereka sama-sama kehilangan orang yang mereka cintai. Maira tadinya berpikir Vanya yang lebih suka main boneka dan ngobrol sendiri punya masalah yang sama dengan dirinya di film terdahulu; halu bahwa ibunya (anak dalam kasus Maira) masih hidup. Little did she know, Vanya mengontak dan memanggil roh ibunya lewat permainan anak-anak. Hantu ibu Vanya ini mulai menimbulkan masalah, karena dia sepertinya cemburu Maira mendekati anaknya. Or so we thought. Tapi hal menjadi lebih mengerikan lagi. Iblis yang dipanggil oleh Vanya ternyata punya masalah personal dengan Laras, paranormal kenalan Maira. Cerita kemudian berpindah ke si Iblis Baghiah dan Laras, dan bagaimana Laras harus mengalahkan makhluk halus yang haus tubuh manusia tersebut.

Ini adalah cerita tentang sosok-sosok yang dibesarkan oleh keinginan untuk balas dendam. Di film ini kita akan melihat seberapa jauh dan mengerikannya balas dendam bisa terwujud, jika kita memang berniat untuk melakukannya. Atau bagaimana kesumat itu bisa diredam dengan willing to let go

 

 

Cerita semakin tak terkendali menjelang babak ketiga. Udah susah untuk bisa kita pedulikan. Semua kejadian berbelok dan masuk sekena pembuatnya saja. Ada yang involving senjata mustika. Ada twist yang berhubungan dengan soal persaingan internal keluarga pebisnis mainan. Elemen-elemen cerita ini sebenarnya terikat dengan rapat. Plot pun menutup dan film ini bisa berdiri sendiri. Momen menarik buatku adalah ketika Laras sempat ragu apakah akan mengambil pisau atau kalung daun kelor untuk memusnahkan Baghiah; ini adalah momen ketika dia memilih apakah harus membalas dendam secara langsung atau tidak, karena iblis itu sudah menghancurkan keluarganya sejak film-film yang lalu. Mengenai twistnya, THE CLUE WAS ON THE NOSE, if you know what I’m speaking. Pada dasarnya, drama film ini akan terasa dangkal kurang terdevelop, karena memang porsi yang lebih menarik sudah mereka ceritakan di The Doll 2. Sekaligus juga terasa membingungkan karena jumlah cerita dan elemen-elemennya banyak dan semua ditulis setengah hati, dengan karakter yang lemah.

Ada adegan ketika Vanya mau masuk ruangan yang gelap, tapi dia takut. Dia mencoba menghidupkan lampu, sayangnya saklar terlalu tinggi. Jadi dia masuk saja gelap-gelap. Ini adalah contoh gimana malasnya ngembangin cerita sehingga mengorbankan karakter. Naskah butuh si anak masuk ke ruangan yang gelap; banyak hal yang bisa dilakukan untuk jadikan rintangan – kita perlu melihat usaha si anak karena dia adalah karakter yang seharusnya kita pedulikan. Tapi enggak, Vanya malah terlihat bego gak bisa ngidupin lampu; sebagai hasil dari adegan ini. Satu lagi; di bagian akhir ada pengungkapan yang memperlihatkan semua kejadian mengerikan itu terjadi karena ada satu tokoh yang membayar dukun untuk memanggil setan. Actually, setannya yang membeberkan hal ini. Kemudian kita lihat si tokoh ditangkap polisi, sebagai penyelesaian. Dan ini membuatku berpikir; atas dasar apa polisi menangkap orang yang secara fisik tidak pernah menyentuh, apalagi melukai, korban? Bisakah hukum menahan orang yang ke dukun atau bahkan dukunnya sendiri jika tidak ada bukti mereka melakukan kejadian, katakanlah, pembunuhan? Mungkin kita bisa berkilah ‘ini cuma film’ namun mengambil penyelesaian termudah itu sesungguhnya mendangkalkan cerita lantaran mereka bisa mengeksplorasi gimana nasib si tokoh dengan lebih baik – dan in turn, membuat tokohnya jadi lebih dalem dari sekadar twist device

Paruh terakhir toh bisa saja memuaskan untuk penggemar horror sadis yang tak peduli melihat hal yang sama berkali-kali. Sara Wiijayanto sukses tampil intens, seteru Laras dengan Baghiah, melibatkan banyak orang berdarah-darah tak pelak ada highlight dari film ini. Kalo kalian bertanya kenapa hantunya musti repot ngerasuki orang, membunuh pakai pisau, padahal sebenarnya dia tinggal membanting dengan kekuatan gaib, maka jawabnya adalah karena persoalan sudah begitu personal, hantunya ingin memberikan rasa sakit sebanyak mungkin. Dan juga karena ditusuk pisau aja masih bisa hidup, gimana mau dibanting.

Begitu juga dengan Luna Maya yang dengan berani menjajal semua. Dia jadi wanita yang berusaha memenangkan hati anak angkatnya. Dia kesurupan jadi setan pencabut nyawa. Dia dikubur hidup-hidup. Dia dilempar hingga punggungnya menabrak rak sehingga dahinya terluka. Make up dan efek darahnya hebat. But the filmmakers need to put a new spin into their product. Dan jelas ‘spin’ yang dimaksud di sini bukan spin dari game Pencil Charlie. Serius deh, adegan-adegan permainan memanggil arwah ini digarap dengan begitu malas sehingga dengan begonya kita menatap shot yang sama sampai lima kali. Masa iya mereka gak bisa memfilmkan pensil menuju kata ‘yes’ dengan arah atau sudut yang berbeda. Shoot yang ngezoom pintu setiap kali pindah adegan juga sama overusednya. Awalnya memang terlihat keren, tapi diulang begitu-begitu terus ya jadi bosen.  Ini menjadi bukti bahwa pembuat film ini memang suka mengulang memakai sesuatu yang menurut dia bagus dan cukup berhasil. Film ini kita mendapat banyak adegan yang mirip, beat-to-beat poin adegan nyaris kayak film sebelumnya. Dan betapa lucunya melihat begitu banyak yang kesurupan di film ini, dan semuanya jadi berhidung gede. Ini udah kayak Truth or Dare (2018) di mana yang kesurupan senyum aneh semua.

Kalo lagi main game fighting, pembuat film ini pastilah selalu memakai tokoh yang sama untuk menang, dengan mengeluarkan jurus yang itu melulu – tak lebih dari tendang bawah. I mean, penting untuk menemukan formula keberhasilan – jurus dalam video game adalah formula-formula tersebut, dan tak kalah pentingnya untuk menemukan cara-cara baru untuk mengeksekusi formula tersebut. Karena menggunakan jurus yang sama terus menerus akan membuat orang belajar menemukan kelemahan kita. Dan tentu saja; membosankan.

yang belum pernah kita lihat sebelumnya di film ini adalah Luna Maya berhidung gede

 

Dengan minimnya kemauan untuk mengembangkan cerita, dialog-dialog terdengar kaku karena sebagian besar berisi eksposisi. Sedari awal saja kita sudah dikasih kado-kado berupa penjelasan dan latar belakang cerita.  Film merasa perlu untuk menjelaskan setiap detil kecil. Cara dobrak pintu, misalnya. “Kalo saya bilang ‘dobrak’, kamu dobrak yang keras.” Enggak semua hal musti diucapkan. “Kalo tiga dari jawabannya ada yang salah, berarti hantunya palsu.” Enggak semua kesimpulan musti dijabarin. Malahan, dialog Luna Maya saat menemui Laras pada dasarnya sama aja ama ngerangkum plot yang sudah dilewati. Dan setelah semua ekposisi yang enggak perlu tadi, mereka malah ninggalin yang mestinya mereka jelasin. Tokoh yang diperankan Jeremy Thomas, kita tak tahu apa-apa tentang tokoh yang cukup signifikan ini. Backstorynya hanya dideliver dalam satu kalimat bahwa dia adalah rekan kerja Laras yang dulu, and that’s it. Gimana kita mau peduli, coba, yang ada malah curiga.

 

 

 

Maira, Aiden, Vanya.
Marah. Edan. Paniang.
Itulah yang kurasakan saat menonton ini. Marah karena mereka tidak melakukan apa-apa yang baru, semua yang kulihat di sini tak ubahnya adegan-adegan yang kulihat pada film kedua. Bahkan shot-shot yang digunakan pada film ini pun repetitif. Edan, lantaran kekuatan film ini terletak di kenekatannya tampil berdarah-darah, dan mereka terus mengepush kualitas ini. Dan paniang, pening oleh banyak hal ‘bego’ yang tak terjelaskan, juga oleh naskahnya yang begitu convolute – tiba-tiba ada yang berubah, tiba-tiba ada elemen yang dijejel masuk – mereka seharusnya menulis cerita dengan lebih tight; jika memang pengen memperkenalkan ini sebagai spin-off buat saja dari sudut pandang Laras, misalnya. Buat penonton yang baru menyaksikan ini, tanpa menonton film sebelumnya, kalian bisa saja menjadi fan baru yang kepincut dan penasaran pengen nonton prekuel-prekuelnya. Tapi buat penonton yang sudah ngikutin, jenuh pasti datang, karena kita pengen melihat aplikasi gimmick seri ini dalam sajian yang fresh.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for SABRINA.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

SICARIO: DAY OF THE SOLDADO Review

“How can you have a war on terrorism when war itself is terrorism?”

 

 

“Bagaimana cara engkau mendefinisikan terorisme?” Kalo aku ditanya begitu sih, aku langsung kebayang pengeboman tempat ibadah, aksi penembakan massal di sekolah, penabrakan pesawat ke gedung di siang bolong, kalian tahulah maksudku; terorisme itu kerjaan yang membunuh banyak orang tak berdosa. Tapi, lebih dari tindakannya, terorisme itu sendiri sebenarnya mengacu kepada tujuan tindakan tersebut; untuk menyebarkan terror, menanamkan ketakutan publik, demi mecapai tujuan –politik ataupun ideology – satu golongan. Sicario: Day of the Soldado dengan cepat meninggalkan zona hitam-putih, tokoh-tokohnya tahu ladang kerja mereka adalah zona abu-abu; mereka paham untuk menyelesaikan pekerjaan mereka yang menyangkut hajat hidup orang banyak,  masalahnya tidak pernah soal benar atau salah. Mereka tidak ragu untuk balik melakukan terror, demi menangkap peneror yang sebenarnya.

Dan itulah sebabnya kenapa memerangi terorisme itu begitu susah, sebab teror itul sendiriah perang yang harus kita hadapi. Kita saling menyebarkan teror dalam usaha menghentikan peperangan, kita mencoba mengambil alih kendali dengan propaganda ketakutan.

 

 

Dalam adegan pembuka, kita melihat Matt Graver menginterogasi seseorang. Ia ditugaskan untuk menyelidiki pihak kartel dari negara mana yang udah mengizinkan pengebom bunuh diri masuk ke perbatasan. Jadi dia butuh jawaban dengan segera. He would take no bullshit. Tokoh yang diperankan Josh Brolin ini berkali lipat lebih intens dari film Sicario yang pertama (2015). Untuk mendapatkan jawaban yang ia mau, Matt mengancam akan mengebom rumah keluarga si terdakwa. Dan baik si yang diinterogasi, maupun kita, semua orang yang menyaksikan ini sama-sama tahu ancaman Matt tersebut bukan gertak sambal belaka. Perintah pengeboman akan segera meluncur jika ia tidak mendapat jawaban atau informasi yang memuaskan. Tokoh-tokoh film ini, mereka bukan orang baik-baik. Mereka adalah patriot yang mencoba menyelesaikan pekerjaan yang tidak diinginkan oleh orang lain. Kita tidak membela ataupun root for them. Malahan mungkin kita hanya duduk di studio terpana menyaksikan hal yang mereka lakukan. Merasa ngeri.

Sicario: Day of the Soldado, bukan Si Karyo: Suami-suami Takut Istri loh ya

 

Keunikan dari Sicario, yang tongkat estafetnya digenggam mantap oleh sutradara asal Italia, Stefano Sollima adalah bagaimana film ini tidak tampil selayaknya thriller Hollywood. Tidak pernah diakhiri untuk membuat kita merasa lega, puas. Gembira. Tidak sama sekali. Entertainment value film ini, bisa dikatakan nihil. Hampir setiap adegannya berakhir dengan begitu berbeda dari yang sudah kuharapkan. Sekuen-sekuen aksinya, malah tidak bisa dibilang sebagai sekuen aksi. Mereka tidak dilakukan untuk menghibur penonton, tidak untuk membuat kita berteriak seru. Sekuen aksi di film ini tak lebih dari adegan-adegan kekerasan yang dibuat sedemikian rupa nyata sehinggakita merasa ikut berada di sana. Kekerasan itu akan terjadi dengan begitu cepat, luar biasa brutal, namun tampak sangat efisien.

Kalian tahu gimana film-film lain menampilkan tokoh antihero; mereka dibuat likeable, kocak dengan sudut pandangnya yang twisted, kita tahu mereka sebenarnya baik jauh di lubuk hati terdalam mereka, mereka melakukan hal-hal keren yang membuat kita kagum. Pada Sicario: Soldado, nuh-uh, antiheronya benar-benar menekankan pada kata ‘anti’, like, kita anti deket-deket ama mereka. Film ini bahkan memasukkan pancingan Matt dan Alejandro saja tampak tidak benar-benar saling percaya. Atau malah, mereka berdua mengerti apa yang akan dilakukan pihak lain jika kondisi mengharuskan demikian, maka mereka juga suudzon kepada pihak yang lain. Ketajaman penulisan Taylor Sheridan menunjukkan tajinya di sini.  Aku akui, aku enggak ngebet banget menantikan sekuel Sicario, terlebih saat mengetahui Denis Villeneuve tidak lagi mengepalai filmnya. Namun kemudian, ketertarikanku naik kembali setelah Taylor Sheridan mengonfirmasi ia kembali duduk di kursi penulis scenario. Dan ia tahu, aspek paling mengejutkan yang dipunya Sicario adalah karakter Alejandro yang diperankan oleh Benicio Del Toro.

Pada film kedua ini, Del Toro  diberikan kesempatan untuk menggali lebih banyakdari tokoh Alejandro, karena kali ini giliran arc karakternya yang menutup dengan sempurnya. Dan dia memainkannya dengan sangat menakjubkan. Dalam usaha untuk menghentikan kartel yang membantu teroris menyebrang perbatasan, Alejandro harus berurusan dengan kelompok yang dipimpin oleh orang yang dahulu membunuh putrinya. In turn, Alejandro berada di posisi dia harus mengawal putri dari pembunuh tersebut. Kita paham dua hal mengenai tokoh Alejandro; Dia punya kompas moral sendiri, dan dia enggak akan segan-segan membunuh bocah jika perlu. Apabila memang dibutuhkan, Alejandro akan menyiksa orang. Simpel saja. Tak masalah baginya untuk keluar dari jalur hukum untuk mendapatkan jawaban atas masa lalunya, serta untuk melindungi negara tanah airnya. Although beberapa shot membuatku kepikiran, “Orang ini pernah gak sih dapet peran banci – it would be a challenge buatnya”

Berkat Alejandro aku jadi tahu kalo ‘sepatu’ adalah kata serapan dari bahasa Spanyol

l

 

Tak jarang memang kita melihat gambar-gambar seolah Sollima berusaha keras mengikuti jejak yang ditinggalkan oleh Villeneuve, ini bias menjadi distraksi juga, karena kita diingatkan oleh sebuah pencapaian yang luar biasa. Dari segi teknik, film ini masih berada di belakang  film yang pertama, namun dari segi cerita, Soldado punya kisah yang lebih kompleks. Film pertama pada dasarnya hanya tentang agen yang baru pertama kali terjun ke dunia hitam – narkoba, kartel, dan semacamnya, dan ia menemukan banyak rahasia seputar apa yang sebenarnya mereka lakukan. Cerita yang sederhana, yang terangkat berkat teknik filmmaking. Misi Matt dan Alejandro di film yang kedua ini lebih ribet.  Mereka coba memancing keributan antara kedua kartel di perbatasan, sementara berusaha untuk tidak ‘terlihat’ dalam artian, tidak ada orang yang boleh tahu Amerika campur tangan dalam masalah yang bukan benar-benar berada di negaranya. Kedua tokoh kita terjun langsung ke lapangan, mereka come up dengan sebuah strategi yang sungguh tak mulia – memanfaatkan anak kecil sebagai pion. Film ini mengeksplorasi efek perdagangan narkoba, perang antarkartel, penyelundupan imigran kepada anak-anak yang bersinggungan dengan masalah-masalah tersebut. Film menunjukkan dilema moral yang dihadapi oleh orang yang mestinya di pihak ‘pahlawan’ ketika mereka mencoba untuk menyelesaikan tugas. Tapi sesungguhnya tidak ada ‘orang baik’ di cerita ini, hanya dua kelompok yang berbeda tujuan, di mana kelompok yang satu lebih egois dibandingkan kelompok yang lain.

Anak-anak corrupt oleh narkoba, mereka kecanduan hal-hal yang tak berguna, itulah sejatinya teror  yang paling mengerikan. Film ini menunjukkan apa yang dapat terjadi kepada anak kecil yang tumbuh di dunia yang diteror oleh perang obat-obatan terlarang. Tokoh anak-anak pada film ini benar-benar merepresentasikan hal tersebut. Ada yang dibesarkan untuk menjadi kurir, dan pada akhirnya menjadi pembunuh. Mereka dijadikan alat untuk memicu perang dan adu domba. Hal yang paling menyedihkan adalah mereka dijadikan korban sekaligus sebagai pelaku.

 

 

 

Jika film pertamanya disukai kritik dan penonton kasual, karena it was simple story about orang baru yang melihat hal buruk yang dibeking oleh teknik filmmaking yang menakjubkan. Film ini, akan susah disukai oleh kritik karena moral yang dibawanya, its not really defining good or bad, sudut pandang ini mungkin akan banyak bertentangan dengan orang. Juga akan sulit diterima oleh penonton biasa, sebab filmnya gak ‘asik’, karena aksi-aksinya bukan dibuat untuk hiburan. Tapi buatku, aku mencoba melihat film bukan semata dari baik buruknya pesan moral atau apa, tapi lebih ke gimana cara mereka menceritakan. Selain babak ketiganya yang tampak agak tidak masuk di akal, oddsnya sangat langka untuk bisa kejadian, film ini bercerita dengan sangat kelam. Sama seperti pembunuh bayaran itu, film ini pun kejam, tapi efisien.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for SICARIO: DAY OF THE SOLDADO

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

HEREDITARY Review

“Free will is an illusion.”

 

 

Mengarungi hidup yang penuh konsekuensi, kita seperti berjalan pada sebuah jalur yang begitu banyak percabangan. Setiap kelokan mengarah ke lebih banyak persimpangan. Jika menemui jalan buntu, kita balik dan mengulang kembali dari bagian mana kita salah mengambil jalan. Kita merasa bersalah, merasa berhasil, kecewa, terutama kita bangga kita punya pilihan. Kita bertanggung jawab terhadap arah yang kita pilih. Ini membuat kita percaya bahwa kita punya kehendak pribadi, bahwa kita mengendalikan sendiri jalan hidup kita – bahkan jika kita percaya pada konsep takdir.

Ada tujuan yang sudah dipilih untuk kita semua, terserah kita lah untuk bagaimana mencapainya. Tapi jika demikian, bukankah itu berarti kita tidak punya kehendak pribadi? Apakah masih bisa disebut kehendak jika sedari awal kita sudah diassign untuk suatu tujuan, untuk suatu rencana? Jalan-jalan bercabang itu, kita hanya menapaki – tidak membuatnya? Apakah free will benar-benar hanyalah ilusi – apakah kita ini tak lebih dari tikus-tikus yang berlarian di dalam labirin yang dibuat oleh seorang ilmuwan gila?

 

Keluarga Graham, dalam kasus film Hereditary, tak ubahnya boneka diorama dalam rumah mini yang dibuat oleh Annie Graham sebagai seorang perancang miniatur bangunan. Film tak bisa lebih tepat lagi dalam mengambil metafora pekerjaannya terhadap apa yang terjadi kepada keluarga. Lewat adegan pembuka yang benar-benar creepy – walaupun tak ada penampakan hantu yang kelihatan – kita diperlihatkan pemandangan ruang kerja yang penuh rumah boneka. Kamera ngezoom ke salah satu ruangan, like, kita dibawa masuk ke kamar, untuk kemudian kamarnya ternyata berisi orang beneran, dan kita bertemu dengan anak tertua dan suami Annie; Peter yang masih remaja dan Steve yang tampak penuh pikiran. Dengan segera kita kenalan sama sisa anggota keluarga yang lain, ada si bungsu Charlie; anak cewek ini tampak kayak orang tua dengan lingkaran mata yang mencekung. Dan tentu saja Annie sendiri. Mereka tengah bersiap mengurusi acara pemakaman nenek yang baru saja meninggal. Toh, Annie mengakui dia tidak betulan merasa sedih, karena ia tak pernah dekat dengan sosok sang ibu. Karena sang ibu punya sifat yang tak bisa ditebak dan semacam ‘pengaruh’ buruk. Garis keluarga Annie dipenuhi oleh penyakit-penyakit kejiwaan yang berujung pada kematian ganjil. Namun ‘warisan’ itu tetap tak bisa diputus, ia tetap diturunkan. Annie mulai merasakan penampakan yang tak biasa, anggota keluarga yang lain juga mulai kena imbasnya. Satu tragedi kembali terjadi, kita akan menyaksikan keluarga ini satu persatu terjatuh ke dalam jurang  kegilaan. Turunan darah memang tak bisa ditolak. Either that, atau memang keluarga ini adalah keluarga boneka yang tak punya kendali atas nasib sendiri, mereka hanya ada untuk dimainkan oleh seorang dalang dalam sebuah rencana mengerikan yang besar.

“D-O-L-L-H-O-U-S-E I see things that nobody else sees”

 

Dari adegan pembuka tadi, kita bisa segera tahu bahwa film ini ditangani oleh pembuat film yang benar-benar punya passion dan peduli sama cerita yang ia punya. Ari Aster baru  tiga-puluh-satu tahun, dan ini malahan ‘baru’ film pertamanya. Ini debutnya sebagai sutradara film panjang.Aku yakin tidak ada pecinta film yang tidak terinspirasi oleh fakta ini. I want to be just like him; berani bikin film yang berbobot dan penuh passion. Namanya juga sama-sama Ari. Ngomongin soal free will? Yea kupikir sutradara ini baru saja membuktikan setidaknya ia berjuang untuk mewujudkan kehendaknya.

Tidak ada horror mainstream yang diolah penuh jiwa seperti Hereditary. I mean, beginilah Pengabdi Setan (2017) semestinya dibuat. Kedua film ini punya tema yang sama, ada sangkut pautnya dengan cult alias sekte terlarang. Hereditary, bedanya, berani untuk mengambil akhir yang definitive. Ceritanya tersimpulkan dengan arc tokoh-tokoh dibuat melingkar menutup. Misteri dan mitos seputar sektenya pun benar-benar dibangun. Film ini membuat kita takut pada apa yang terjadi pada tokoh-tokohnya, bukan hanya sekedar takut kepada sosok hantunya. Hereditary menggarap dengan berani dan penuh jiwa seni, dengan tidak mengorbankan keutuhan. Semuanya bekerja sama membentuk sebuah tontonan yang aku gak nyesel membayar harga weekend. Malahan aku pengen nonton lagi meskipun nanti harganya naik lagi menjadi dua kali lipat.

Hereditary paham tidak mesti bergantung kepada penampakan dan hantu yang nyeremin. Tentu, film ini punya unsur supranatural yang kental. Penampakan di tempat gelap, suara-suara yang seolah berasal dari sebelah kita, imaji yang bikin bulu kuduk berdiri, hal-hal ganjil, juga darah dan potongan kepala yang menggelinding – bahkan nekat di-close up untuk nyaris satu menit. Tapi Ari Aster adalah orang yang mengerti gimana cara kerja imajinasi. Apa yang tidak kita lihat akan berkali lipat jauh lebih menyeramkan, karena film ini membiarkan kita untuk menyipitkan mata memandang latar yang diblur ataupun bayangan di pojok wide shot dan menerjemahkan sendiri di dalam kepala apa yang sedang kita lihat. Tak jarang pula kita melakukan hal tersebut dengan menahan napas, siap-siap dikagetkan dengan musik keras. Setiap adegan seramnya dirancang untuk membendung ketakutan dan jerit kita, tapi film tidak membiarkan kita segampang itu untuk melepaskannya. Film dengan kejam menahan ketakutan, kewaspadaan, antisipasi kita sampai akhir banget. Bahkan ketika film usai pun, kita akan masih terus terbawa cemas dan masih terguncang oleh ceritanya.

Aku tak pernah menyangka bunyi “Klok” bisa membuat permen karetku tertelan

 

Bicara horor, berarti kita membicarakan hal yang subjektif. Beberapa hal yang menakutkan bagi orang lain, bisa saja menggemaskan bagi kita, atau sebaliknya. Kecuali kecoak. Boleh saja kalau kalian termasuk orang yang lebih takut sama jumpscare, penampakan yang ngagetin, kalian lebih suka nonton horor yang actually setannya muncul gamblang di depan kamera disertai musik menggetarkan sukma gendang telinga (gendang telinga ada sukmanya gak sih, hahaha) jadi kalian bisa menebak dan teriak barengan teman-teman. Atau mungkin kalian lebih suka nonton horor yang seperti Hereditary, di mana kita akan jarang-jarang melihat hantu, kalian lebih suka merasakan nuansa mencekam yang ditimbulkan, seperti pada Hereditary ini kita akan merasakan kepowerlessan para tokohnya yang semakin retak hubungan dalam upaya berurusan dengan peristiwa mengerikan  yang menimpa mereka. Poinnya adalah, Hereditary bisa saja tidak terasa semenyeramkan itu buat sebagian orang. Apalagi film ini mempercayakan hatinya kepada drama dan tidak segampang itu menghamparkan misteri. Banyak misdirection di babak kedua yang membuat kita tak pasti film ini bergerak ke arah mana, hasil akhirnya tetap dibuat tersembunyi di dalam kabut. Kita dibuat tak tahu harus mengharapkan apa.

Meskipun jika ternyata buat kalian film ini kurang seram, aku yakin kita semua bisa terkonek dengan apa yang dialami oleh para tokoh. Karena pada drama tragedi keluargalah sebenarnya letak hati film ini. Pada kejadian yang benar-benar bisa terjadi pada kita di dunia nyata. Ada istri yang begitu terguncang dan takut akan masa lalu keluarganya, dia ingin lari dan membawa orang-orang tersayangnya jauh-jauh dari masa lalu itu, tapi pada akhirnya dia malah melukai orang-orang yang cintai. Ada bapak yang berusaha tetap tegar (dan waras) karena dia tahu dia adalah kepala keluarga dan keselamatan keluarga bergantung di pundaknya. Ada anak yang menyaksikan perbuatannya berujung pada suatu musibah sehingga ia tidak tahu harus menyalahkan siapa. Rasa bersalah dan tanggung jawab seperti yang mereka alami tentu saja juga kita rasakan. Menyadari kita tidak benar-benar punya kontrol atasnya sejujurnya adalah hal yang begitu menyeramkan buatku.

Tidak banyak dari kita yang mau begitu saja mengakui apa yang sudah kita lakukan. Mencari yang bisa dipersalahkan adalah langkah yang lebih mudah.

 

 

Dari awal sampai akhir film menyerang kita dengan gambar-gambar dan efek suara yang mengerikan. Penampilan akting yang luar biasalah yang bakal membimbing kita melewati semua itu. Alex Wolff menunjukkan determinasinya dengan membenturkan hidungnya ke meja dalam sebuah adegan yang buatku keren; Peter mengambil alih kendali dalam kelas yang sama ketika dia belajar tentang manusia arogan lantaran masih berusaha meski sudah melihat tanda-tanda yang sudah digariskan. Aktor cilik Milly Saphiro benar-benar sold her role sebagai Charlie, bocah yang disturbing. Dan dia melakukan itu dengan peran yang tak banyak berkata-kata. Permainan ekspresi dan gestur yang menakjubkan. Ultimately, aku berharap Oscar kembali berani untuk mengapresiasi film horor karena penampilan Toni Collette sebagai Annie sungguh akan sia-sia jika tidak diganjar penghargaan. Dia ditantang untuk melakukan banyak emosi dalam satu adegan, dan sesungguhnya jika ini dilakukan ngasal maka Annie akan jadi over-the-top. Toni berhasil menemukan titik seimbang dalam permainan perannya, dia melakukan perubahan dari normal menjadi ‘orang gila’ dengan sangat fenomenal. Dua babak terakhir benar-benar total ia mainkan sebagai ibu yang sudah melewati batas kesabaran, break down karakternya sangat mengagumkan.

Toni membuat karakternya menjadi begitu menarik sehingga ketika dia hanya bicara tentang eksposisi, kita dibuat enggak bosan. Paparan cerita, dialog yang menjelaskan backstory dan misteri, nyaris merupakan aspek yang tidak bisa dihindari dalam film horor. Dalam Hereditary, begitu Annie mulai cerita tentang apa yang terjadi kepada keluarga ibunya di masa lalu, aku tidak menguap, aku mendengarkan dengan tekun, sebab film sudah mengset karakter ini dengan amat baik. Aku peduli padanya, aku ingin tahu apa yang sudah terjadi kepadanya. Dan begitulah salah satu cara menceritakan elemen eksposisi yang benar; buat peduli dulu kepada tokoh yang menceritakannya, bikin ia layak untuk didengarkan.

 

 

 

 

Enggak gampang menemukan formula yang seimbang antara tontonan mainstream dan konsumsi festival. Salah satu horor terbaik tahun ini, ia adalah contoh langka yang berhasil melakukannya. Dia bermain di lingkungan trope-trope mainstream, ada penampakan dan sekte, dan aspek-aspek lain yang sudah pernah diangkat oleh film-film lain. Penanganannya yang penuh passion dan idealisme lah yang membuat film ini stand out. Treatment yang artsy, yang tidak pernah kita lihat sebelumnya. Tragedi keluarga yang diolah menjadi drama yang dapat direlasikan oleh banyak orang yang menjadi pusat film, membuatnya juga kokoh sebagai film art house. Karena horor yang kita dapat di dalamnya sungguh bisa balik terjadi kepada keluarga kita. Inilah yang membuatnya menjadi menyeramkan, karena begitu kejadian kita tahu kita tidak akan bisa lari darinya.
The Palace of Wisdom gives 8.5 gold stars out of 10 for HEREDITARY.

 

 

That’s all we have for now.
Mengenai apa yang sebenarnya terjadi kepada keluarga Graham, tentu saja aku punya teori. Tapi aku tidak ingin merusak pengalaman kalian menemukan sendiri teori ataupun menghalangi kalian yang ingin memberanikan diri menontonnya. Jadi, aku tidak menuliskannya di review. Kalo kalian mau diskusi, kita bisa melakukannya di kolom komen.

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

INCREDIBLES 2 Review

“All parents are super heroes.”

 

 

Dipersalahkan padahal kita tahu kita melakukan sesuatu yang benar itu  memang rasanya menyebalkan. Kita sudah berjuang, tapi orang-orang salah mengerti apa yang kita lakukan. Karena semua itu memang soal perspektif. Apalagi pada dasarnya, seringkali kita semua menilai dari hasil. Dalam dunia criminal misalnya, kita pengen penjahat segera ditangkap dan dijebloskan ke dalam bui. Namun kita kerap kesal melihat cara kerja polisi yang lamban, bertele-tele dengan segala prosedur itu. Di lain pihak, keberadaan pihak yang main hakim sendiri, yang bertindak di atas hukum, seringkali dituduh meresahkan.

Katakanlah, pahlawan super.

Kehancuran yang mereka sebabkan bukan tidak mungkin lebih gede dari yang diakibatkan oleh penjahat yang hanya ingin merampok bank. Not to mention, penjahat yang cerdik itu juga tidak seratus persen berhasil ditangkap. Karena kejadian seperti demikianlah, superhero-superhero di film Incredibles 2 dicap undang-undang sebagai sesuatu yang dilarang. Keluarga Bob Parr yang sudah kita kenal baik (mereka dan kerabat mereka tak berubah banyak semenjak terakhir kali kita melihat mereka empat belas tahun silam) termasuk yang dicekal keberadaannya lantaran mereka semua berkekuatan super. Mereka disuruh hidup normal, menghentikan profesi menangkap penjahat karena itu sama saja dengan mereka melanggar hukum.

Pahlawan dan penjahat sebenarnya adalah masalah perbedaan perspektif. Pahlawan bagi satu orang bukan tidak mungkin penjahat bagi beberapa orang lain yang melihatnya dalam ssudut pandang dan alasan yang berbeda. Dan terkadang, untuk membuat hal lebih menarik, media menyederhanakan atribut dan kelemahan mereka untuk menyetir sudut pandang kita – membuat kita melihat mereka semakin ke entah pahlawan atau penjahat.

 

Yang dengan berani disampaikan oleh animasi sekuel buatan Brad Bird ini adalah bahwa terkadang untuk memperbaiki peraturan, kita harus melanggar aturan tersebut terlebih dahulu. Bob dan Hellen diajak kerjasama oleh pasangan kakak beradik yang punya perusahaan telekomunikasi untuk mengembalikan citra baik superhero ke mata masyarakat. Mereka bermaksud merekam semua aksi menumpas penjahat lewat kamera kecil yang dipasang di kostum, supaya pemirsa sekalian dapat melihat langsung sudut pandang superhero, apa yang tepatnya rintangan dan kesulitan yang mereka hadapi dalam upaya menegakkan kebenaran. Tak peduli harus melanggar bejibun peraturan dalam prosesnya. Tapi untuk melakukan itu, superhero yang dipasangi kamera haruslah main aman, enggak yang gasrak gusruk terjang sana sini seperti Mr. Incredible. Maka, jadilah Elastigirl yang dipilih sebagai perwakilan superhero. Dan selama Elastigirl jadi the face of a good cause, memerangi tokoh penjahat baru bernama Screenslayer yang bisa menghipnotis orang-orang lewat monitor apapun, Bob Parr terpaksa kudu diam di rumah – menjadi bapak rumah tangga yang baik, ngurusin tiga anaknya yang bandel, yang baru merasakan gejolak remaja, dan yang baru tumbuh gigi.. eh salah, baru tumbuh kekuatan super.

sekalian aja Elastigirl bikin vlog pembasmian penjahat

 

Incredibles 2 membuktikan perbedaan besar kualitas antara sebuah sekuel yang dipatok kontrak dengan sekuel yang benar-benar dipikirkan dengan matang. Maksudku, lihat saja bagaimana sekuel yang jaraknya deket-deket kayak sekuel Cars, atau bahkan ada yang jaraknya cuma setahun kayak sekuel Jailangkung – mereka adalah franchise yang diniatkan harus punya sekuel yang keluar dalam batas waktu yang dekat, jadi pembuatnya belum sempat mengolah cerita dengan benar-benar baik. Sebagian besar kasus malah sengaja membagi satu cerita besar menjadi tiga agar bisa punya trilogi. Pembuat Incredibles, Brad Bird, semenjak film The Incredibles (2004) rilis sudah mengatakan akan ada sekuelnya, hanya saja dia tidak akan membuatnya sampa dia merasa punya cerita yang lebih baik, atau paling enggak sama baiknya dengan film yang pertama.

Penantian kita toh benar-benar terbayar tuntas.

Ini adalah salah satu terbaik yang ditelurkan oleh Pixar. Dikeluarkan dengan pesan yang relevan dengan tidak hanya iklim superhero, namun juga keadaan sosial dan poltik di jaman sekarang. Incredibles 2 adalah film anak-anak, namun tidak merendahkan mereka. Film ini mengajak anak-anak untuk memikirkan perihal yang cerdas dan serius. Tentang baik dan jahat, tentang peran keluarga. Brad Bird menceritakan filmnya dengan efektif dan penuh gaya. Sure, percakapan yang ada sebenarnya tergolong berat. Misalnya ada debat antara Elastigirl dengan Mr. incredible soal bagaimana dia akan menyelamatkan anak-anak dengan meninggalkan mereka di rumah. Film begitu mempercayai anak-anak kecil yang menonton bahwa mereka bisa memahami ini. Dan ketika kita menunjukkan respek kepada orang, respek itu akan berbalik kembali kepada kita. Itulah yang terjadi antara film ini dengan anak kecil penontonnya. Bukan hanya adikku saja yang antusias menyaksikannya, studio tempatku menonton hampir penuh dengan bisik anak-anak yang berdiskusi kepada orangtuanya, gumaman approval dari mereka ketika superhero melakukan aksi heroik, dan teriakan seru ketika mereka mengalahkan penjahat. Untuk sekali itu, aku tidak keberatan bioskop menjadi berisik.

Sama seperti ceritanya, animasi film ini juga menunjukkan kedalaman yang luar biasa. Helaian rambut Elastigirl terender dengan sempurna. Kita bahkan dapat serat-serat kain kostum para superhero dengan jelas. Porsi aksi digarap dengan menyerupai aksi live action. Pergerakannya sangat mengalir, cepat, dan tidak membingungkan. Ada begitu banyak momen aksi yang membuat kita menahan napas, karena indah dan menariknya animasi yang digambarkan. Sekali lagi, sama seperti ceritanya, animasi film ini pun terlihat dewasa. Teknik lightning yang digunakan membuat intensitas setiap adegan tampak menguat berkali lipat. Favoritku adalah adegan flashback tentang keluarga Deavor; tonenya sangat precise namun tidak melupakan hakikatnya sebagai film anak-anak.

Teknik visual seperti ini membuatku teringat sama film-film anime berkualitas yang membuat kita bertanya ini kartun anak apa dewasa sih. Incredibles 2 masih tetap konyol, seperti film anak-anak biasanya, ada lelucon kentut dan segala macam, tapi dia bekerja di dalam konteks yang benar. Like, kalo kita berurusan dengan bayi, maka tidak bisa tidak kita akan bertemu dengan popok dan segala macam isinya. Sehubungan dengan anime, tentu saja aku yang lagi getol-getolnya ngikutin anime My Hero Academia menemukan kesamaan antara pesan dan beberapa karakter. Seperti gimana pandangan penjahatnya terhadap para superhero, ada karakter yang kekuatannya sama. Kekuatan teleportasi kayak game Portal itu benar-benar keren. Yang stand out dilakukan oleh film ini adalah gimana dia tidak serta merta membuat superhero dan lantas ahli, ada kevulnerablean manusiawi yang dihadirkan saat superhero gagal menargetkan kekuatannya, dan mencobanya kembali.

Pertukaran tugas dalam rumah tangga tidak dihadirkan sekedar untuk komedi dan gimmick saja. Film ini menghormati kedua pekerjaan yang dilakukan oleh orangtua dengan menukar peran ibu dan ayah. Karena kalo kita pikirkan secara mendalam, tugas sebagai orangtua bagaimanapun juga adalah misi superhero yang sesungguhnya dalam dunia nyata. Bagaimana mereka seringkali tampak kejam dan antagonis di mata anak-anaknya adalah bukti nyata perspektif hero-villain itu bekerja. Butuh kesabaran dan kerja yang ekstra super untuk menjaga anak-anak, menyelamatkan kebutuhan mereka, membesarkan mereka, dan semua itu tergali lewat bagian cerita Bob Parr di rumah. Tentu, menjaga dan mengawasi itu terdengar jauh kalah keren dari bertindak menghajar penjahat. Itulah yang dikeluhkan oleh Bob, dia ingin beraksi. Itu juga yang bikin Violet kesel, kenapa saat melawan musuh harus dia yang disuruh menjaga Jack-Jack, si bayi.

Dilindungi bukan berarti lemah. Mendapat tugas sepele bukan berarti karena kita kurang mampu mengerjakan yang lebih. Karena sebenarnya, menjadi superhero bukan seberapa mentereng tugas dan alat-alat yang kita gunakan. Superhero adalah soal seberapa berat tanggungjawab yang berani kita emban. Berapa banyak amanat yang sanggup kita penuhi.

 

Paralel dengan pembelajaran protagonis, di film ini kita dapat tokoh antagonis yang juga membenci bagaimana penduduk hanya suka menjadi penonton, hanya suka mengawasi superhero yang mereka elu-elukan. Villain film ini berpendapat superhero membuat orang-orang menjadi semakin lemah, tidak bisa melindungi – membuat keputusan untuk diri sendiri. Dia ingin menghukum semua orang yang hanya mau menonton dengan kekuatan hipnotis melalui monitor. Melalui tokoh ini, film juga bicara mengenai ajakan untuk menikmati dunia secara langsung. Ketergantungan terhadap monitor – kalo ada yang belum sadar, kita menatap layar nyaris seluruh waktu dalam sehari kita terjaga sekarang – bahwa kita baru percaya kalo melihat sesuatu yang tayang di monitor, alih-alih melihat dan mengalami langsung, adalah suatu hal yang tak sehat. Panjahat dalam film ini punya motivasi yang bagus. Hanya saja personanya sendiri, gimana film berputar di sekitarnya, tampak lemah. Film memasukkan twist, but not really. Tidak ada surprise yang kurasakan ketika menonton ini. Semua elemen cerita tampak jelas berujung ke mana, siapa akan menjadi apa. Kupikir film yang berfokus pada dilema superhero sebenarnya tidak perlu ada yang dicap literal sebagai penjahat, I would be fine jika ini totally tentang drama keluarga superhero saja. Tapi ini kan juga dibuat sebagai film anak-anak jadi mereka harus punya tokoh yang dijahatkan.

Namanya saja udah terbaca “Evil Endeavor”, mengungkap kedoknya jauh sebelum twist terjadi

 

 

 

 

Film lebaran terbaik yang aku tonton tahun ini, dengan nilai yang jauh di atas. Pixar menunjukkan kematangan sekaligus konsistensi yang luar biasa dalam persembahannya ini. Animasi yang aku tidak tahu ternyata bisa lebih dalem dan menggugah lagi berhasil mereka hadirkan. Cerita superhero yang mengangkat sudut pandang yang jarang dilakukan, terlebih dalam film untuk anak-anak. Tokoh-tokohnya menarik, aksinya seru, kocak, dan jangan heran dan sampai kewalahan saat nonton ini adik-adik kita akan melontarkan pertanyaan yang cerdas. Karena film ini memberikan pesan dan bahan pemikiran yang berbobot di balik aksi kartunnya; untuk kita semua.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for INCREDIBLES 2.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

LIMA Review

“You can only kill ideology with a better idea.”

 

Meski pelajaran ini adalah mata pelajaran yang namanya paling sering berubah, toh ajarannya tetap seputar bagaimana menjadi warga negara yang budiman dan bertata susila. Sejak dari namanya masih PMP, lima dasar negara yang diajarkan kepada kita gak pernah berubah. Negara Indonesia ini supposedly berpedoman kepada lima poin rumusan yang mencakup semua spektrum kebermasyarakatan, karena di sini kita hidup sebagai warga majemuk. Bhinneka Tunggal Ika, semboyan kita. Dan bukan sekedar simbol kata semata; dengan gampang, setiap dari kita ngerasain perbedaan-perbedaan di dalam lingkungan keseharian kita. Aku sendiri tumbuh besar di masa tatkala lingkunganku ngerayain Idul Fitri dan Natalan bareng. Tukar menukar krat minuman kaleng sudah jadi hal biasa. Saling berkunjung, bergantian memandangi kaligrafi dan salib adalah pemandangan sehari-hari. Jadi, apa yang kita pelajari di sekolah, bisa langsung dipraktekkan.

Namun, soal-soal ujian PPKn tersebut kerap terlalu gampang. I mean, kuncinya jelas; jawab yang baik-baik. Dijamin bener. Kalo ada temen beda agama yang sakit, ya dijenguk. Kalo ada yang lagi ibadah, ya jangan ribut. However, film Lima ini nunjukin persoalan enggak sesederhana itu di kehidupan. Film ini mengajak kita membuka mata lebar-lebar. Literally menghantarkan kita kepada contoh-contoh kasus ribet yang bisa timbul dari kemajemukan masyarakat. Dan bagaimana kadang kita terlalu kaku dalam menempatkan ideologi. Toleransi yang bisa disalah arti, juga sebaliknya ketidaktoleransian bukan semuanya berarti semena-mena.

dan sampai sekarang aku belum hapal butir-butir Pancasila

Namun jangan khawatir film ini enggak lantas jadi sama boringnya dengan mantengin dua jam pelajaran Pancasila dan Kewarganegaraan di dalam kelar. Lima punya cara bertutur yang unik. Sebagai tubuh besar cerita, kita akan mengikuti satu keluarga yang multikultural. Dalam satu atap itu, mereka kompakan untuk mempercayai agama sesuai keyakinan masing-masing. Konflik yang kita jumpai adalah permasalahan yang dihadapi oleh putra-putri keluarga tersebut berkenaan dengan profesi mereka yang juga menuntut untuk terus berpikiran terbuka, menanggapi hal-hal yang mungkin saja bertentangan dengan pemahaman dan kepercayaan mereka.

Film ini seperti antara omnibus dengan sebuah multi-plot kind of film. But it is safe to say, Prisia Nasution sebagai tokoh kakak pertama bernama Fara yang juga adalah seorang pelatih atlet renang, yang jadi tokoh utama pada cerita ini. Karena arc cerita miliknyalah yang paling melingkar. Dia bergiliran sebagai pelaku dan sebagai yang dikenai pelik seputar keberagaman dan bagaimana jalan terbaik untuk menyingkapinya. Pada dasarnya, apa yang kita lihat terjadi kepada si kakak dan adik-adiknya, dan juga asisten rumah tangga mereka, adalah contoh-contoh yang mewakili lima sila dalam Pancasila. Jadi, pengtigababakan film ini disejalankan ama lima episode cerita, bayangkan cerita pendek dengan tokoh utama yang beda-beda, yang membentuk gambaran besar seperti lambang lima sila membentuk perisai Pancasila di dada Burung Garuda lambang negara kita.

Yea, kalo mau dibilang kekurangan, lima cerita yang terasa seperti episode-episode inilah yang menjadi masalahku buat film Lima. Mereka seharusnya bisa mengolah cerita sehingga benar-benar berjalan mulus tanpa ada sekat di antaranya. Membuat tokoh-tokoh cerita mengalami kejadian yang benar-benar menampakkan pengembangan tokohnya. Membuat setiap episode itu punya bobot lebih dan merangkai dengan lebih sempurna tanpa terasa bergiliran. Alih-alih demikian, tidak tampak ada sangkut paut yang mendalam antara ceria satu dengan cerita yang lain. Satu-satunya yang menjadi perekat, selain fakta bahwa mereka satu keluarga, adalah bahwa secara emosional tokoh-tokoh sudut pandang film ini masih berkabung – mereka tergerak oleh perasaan kehilangan terhadap tokoh Ibu yang meninggal di babak awal.

Babak tersebut, didedikasikan untuk mewakili sila Ketuhanan yang Maha Esa, buatku adalah bagian yang paling meyakinkan. Aku tadinya berpikir film akan berpusat mengenai masalah kematian Ibu ini, karena Ibu diset sebagai karakter yang kompleks dan punya peran yang besar bagi tokoh-tokoh yang lain. Ibu adalah seorang yang keluar dari Islam, untuk kemudian masuk Islam lagi, bahkan menjadi Haji. Dia juga diberikan hibi unik suka memakai kuteks. Dia pun punya rahasia yang tidak diketahui oleh siapapun. Segala ini berdampak ketika proses penguburan jenazahnya. Film sudah menarik sendirinya jika didedikasikan ke aspek ini, kayak, misalkan film ini dibuat dengan premis ‘keluarga yang ingin menguburkan ibunya tapi terhalang oleh status agama dan wasiat si almarhum’ saja sudah terdengar sebagai cerita yang lebih dari mumpuni. Lima menggarap bagian ini dengan meyakinkan, aura suram menguar kuat dari Kakak dan dua adiknya, bahkan ada satu adegan ketika anak-anak cowok sang ibu mengecat kuku mereka dengan kuteks sebagai penghormatan terakhir. Dan ketika adegan penguburannya, aku merasakan suatu kekaguman di hatiku. Menurutku, apa yang terjadi di sana, seorang meninggal dan mendapat penghormatan dari berbagai ritual agama itu begitu menakjubkan, sudah seperti seagung Dumbledore yang kematiannya dihadiri dan dihormati oleh berbagai makhluk magical.

can I have mermaids at my own grave?

Namun, masih banyak pesan dalam daftar misi film Lima. Aku sempat kaget bahwa masalah pemakaman ini beres, dan cerita move on gitu aja. Babak dua film membahas tentang kehidupan Fara, dan Aryo, dan Adi, yang respectively mencerminkan sila kedua hingga keempat. Bagian cerita Fara tentang polemik pengiriman atlet renang ke Sea Games nyata-nyata adalah bagaimana pandangan film ini tentang isu nonpribumi-pribumi yang sempat dan masih hangat melanda kehidupan sosial dan politik kita. Film ini berusaha memberikan jalan tengah dari pertanyaan kenapa mesti pribumi jika ada nonpribumi yang terang-terangan lebih baik. Film berusaha memberikan solusi alternatif dengan mengajak kita untuk memutar sudut pandang;

Tidak ada yang mutlak sebagai yang terbaik. Tidak orang, tidak juga pandangan dan ideologi. Malahan sebaliknya, kita bisa mencapai yang lebih baik dengan mau mempertimbangkan banyak hal, dengan mau bekerja ekstra. Bunuh ideologi, dengan dan hanya bisa dengan, ide yang lebih baik.

Sayangnya, cerita-cerita yang lain tidak mendapat pembahasan yang sama memuaskannya. Bahkan penampilan heartfelt dari Yoga Pratama juga tak mampu membuat cerita bagiannya mencuat sama tinggi. Hanya tampak seperti pesan bahwa idealisme bisa merugikan kalo kita gak berani ataupun enggak mau melakukan adaptasi. Cerita adik paling bungsu juga seperti kehilangan bagian penutup, arc si tokoh tidak terasa terselesaikan, terlebih karena tokohnya sendiri dibuat begitu annoying. Dan apalagi kalian tahu, karakter yang annoying instantly a turn-off buatku. Di babak terakhirlah film menjadi totally dicekokin ke tenggorokan kita. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia itu diwakili oleh film dengan, yak, adegan persidangan anak miskin yang mencuri buah coklat di kebun perusahaan besar. Film berusaha menjabarkan bagaimana hukum tidak boleh hanya tajam ke bawah, tapi sebagian besar yang dilakukan oleh film adalah menguatkan unsur dramatisasi, seperti tentu saja kita bersimpati sama orang kecil. Langkah yang diambil film tidak lagi tampak berani, lebih kepada drama ketimbang sentilan seperti yang sudah dilakukan di cerita-cerita awal. Meskipun kuakui, mengakhiri cerita dengan debat di ruang sidang, adalah resiko tersendiri yang diambil oleh film, karena to be honest, adegan sidang tidak pernah membuat penonton excited.

 

 

Yang kusuka dari film ini adalah ketika menjawab dan memberikan sudut pandangnya terhadap masalah yang timbul dari kemajemukan, film tidak pernah mengambil langkah ngejudge. Memang, beberapa tokoh dibuat ngotot akan pandangan mereka sehingga terkadang nampak outright evil, tapi di saat yang bersamaan kita juga diperlihatkan darimana pandangan tersebut berasal, sehingga kita memahami apa sih yang sebenarnya terjadi. Film ini dengan berani menggambarkan setiap isu sosial politik yang lagi hangat, tapi tidak sekalipun ada pihak yang direndahkan. Tidak ada yang terlalu antagonis. Tapi bagaimana pun juga, sebagai sebuah film semestinya ia bisa tampil lebih baik lagi, bisa berjalan lebih mulus dan keluar dari kotak episodik.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for LIMA.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

THE GIFT Review

“If you can’t find light in the darkness, be the light in the darkness.”

 

 

Sisi terang dari kegelapan ialah dia membuat, ah tidak, memaksa kita untuk merasakan dengan lebih kuat. Kalian tentu sadar kita sering termerem-merem sendiri ketika mengingat kenangan yang indah, menghayati lagu yang klop buat mewakili jatuh cinta, atau bahkan saat sedang mencicipi makanan yang begitu lezat. Ada kenyamanan yang bisa ditemukan seseorang di dalam kegelapan. Apalagi buat seseorang seperti Tiana, cewek di awal tiga-puluhan yang masih sering terkenang trauma keluarga pada masa kecilnya. Tiana menjadikan kegelapan sebagai tempat pelarian. Bukan karena dengan kegelapan dia tidak bisa melihat kenyataan, melainkan karena kegelapan menghantarkannya kepada cahaya impian. Dan secercah cahaya itulah yang dia jadikan tujuan; sesuatu yang Tiana usahakan untuk terwujud.

Dewasanya, Tiana tumbuh menjadi seorang penulis novel. Mentok nyari ide ngerangkumin cerita novel terbaru, dia melangkahkan kaki ke Yogyakarta. Tiana ingin tinggal lagi di sana, karena di kota itulah kehidupannya dengan segala kenangan berawal. Jadi, malam pertama Tiana ngontrak, dia begitu terganggu sama suara musik rock yang diputar kenceng-kenceng. Ketika mencari sumbe suara untuk melayangkan protes itulah, pertama kalinya Tiana melihat sosok Harun – putra dari pemilik kontrakan.  Harun yang kehilangan penglihatan karena kecelakan menarik-narik tali penasaran di dalam diri Tiana. One thing leads to another, Harun merasakan affection yang mendalam dari Tiana. Perasaan mereka berdua bisa saja saling beresonansi, tapi hidup selalu menawarkan sesuatu tak peduli kita butuh atau tidak. Seorang teman masa kecil, datang menawarkan cahaya baru bagi hidup Tiana. Memaksa wanita ini untuk sekali lagi masuk ke dalam lemari, mencari titik terang masalah dari dalam kegelapan yang begitu hangat baginya.

di sela semua itu, sempat-sempatnya Hanung nyeletuk soal gak musti melulu idealis dalam bikin cerita. Sliiiccckkk!

 

The Gift mungkin akan membuat kita bertanya-tanya, hadiah atau berkah apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh film ini. Tentu, mata adalah salah satu anugerah terindah. Akan tetapi, perasaan dan emosi yang ditangkap oleh hati kita dapat dengan gampang mengalahkan lima panca indera sekaligus. Sering sekali kita melihat Tiana memejamkan matanya, entah itu ketika dia bersiap dihantam gelombang flashback ataupun ketika dia berusaha menajamkan perasaannya. Pada adegan awal saja, kita menyaksikan Tiana naik becak melewati jalanan kota Yogyakarta, mendeskripksikan betapa ia merindukan tempat tersebut, menyebut suasana dan lingkungannya yang indah, tetapi dengan masih mengenakan kacamata hitam. To be honest, sekuen pembuka ini terasa pretentious buatku; aku merasa susah untuk ikut ketarik masuk ke dalam yang Tiana rasakan karena yang aku lihat di depan mataku adalah seorang cewek yang menulis hal-hal bagus tentang kota yang ia datangi, tanpa benar-benar melihat objek yang ia tulis. Tapi film ini toh berhasil membuatku terus memikirkan ceritanya hingga tiba giliran aku yang menyusuri kota dalam perjalanan pulang dari bioskop. Aku terlambat melihat konteksnya, dan begitu menyadarinya, aku bisa melihat film ini dari cahaya yang lebih terang.

Ada alasannya kenapa Tiana menggambarkan kehangatan Jogja dengan perumpaman tangan wanita tua yang keriput. Karena itulah yang ia rasakan, dengan menutup matalah ia melihat. Tiana adalah tokoh yang berpikir dia bisa melihat lebih baik, perceiving apapun objek dan masalah dengan lebih baik, dengan tidak literal melihatnya dengan mata. Sebagai wanita yang mandiri, setiap kali membuat suatu keputusan, Tiana akan menutup matanya, membayangkan apa yang bisa ia pikirkan untuk mengatasi masalahnya. Bahkan, Tiana lebih suka curhat dengan sahabatnya lewat telefon. Sementara aku suka gimana sutradara berhasil mengarahkan dua versi Tiana (kecil dan dewasa) sehingga tampak meyakinkan sebagai satu orang yang sama – tepuk tangan juga buat kedua pemainnya, Ayushita Nugraha dan Romaria Simbolon berhasil mendeliver emosi terutama di momen-momen ketika seolah yang mereka lihat adalah sesuatu yang begitu berat mereka ingin mundur ke dalam bayang-bayang. Actually, saking meyakinkannya pertumbuhan karakter Tiana, aku geram juga film tidak benar-benar membahas apa eksaknya yang dilalui Tiana. Kita memang akan dibawa menggali lebih dalam masa lalu Tiana, tapi terlalu menyebar, dan film menyinggung beberapa yang justru malah menimbulkan lebih banyak pertanyaan dan penasaran. Relationshipnya dengan ibu panti yang diperankan oleh Christine Hakim, misalnya, sepertinya heartfelt sekali – aku pengen tahu gimana tepatnya mereka berpisah, gimana Tiana keluar dari panti. Aku pengen melihat lebih banyak bagaimana dia bisa berubah dari ‘anak lemari’ menjadi seorang cewek yang enggak totally politically correct.

Sebagai tokoh utama, karakter Tiana ini memang rada tricky untuk dikembangkan. Tiana diplot sebagai sebagai cewek yang egois di awal cerita, dan berakhir dengan melakukan pengorbanan gede yang menunjukkan betapa banyak karakter ini belajar dalam jangka waktu dua jam kurang. Tapi kita supposed untuk peduli terhadap karakternya, supaya ketika dia berubah, emosi yang dipancarkan itu sampe dengan sukses. Membuat kita juga turut menyayangkan apa yang ia lakukan. Di sinilah letak ‘susahnya’, kita harus diyakinkan untuk peduli di saat dia mendekati Harun, hanya karena Tiana penasaran kepada cowok itu. Itulah alasan kenapa Tiana mendekati Harun; dia yang selama ini menemukan kenyamanan dalam memejamkan mata, bertemu dengan seorang pria yang benar-benar tidak bisa melihat. Tiana sempat mempertanyakan dirinya sendiri, apakah dia berdosa? Namun selain itu, film juga tampak kesulitan untuk terus memperlihatkan kondisi tokoh utama yang begini. Makanya, romansa di film ini terasa loncat-loncat. Tiana dan Harun hampir seperti mendadak jadi saling cinta, kemudian mendadak pula mereka bertengkar. Bahkan kepergian Tiana dari Harun juga terasa abrupt. Susah mematri lampu simpati itu ke Tiana jika hubungannya yang berdasar penasaran doang itu harus lemat-lemat diperlihatkan

Mau mata normal, mata minus, tunanetra, ataupun malah buta warna, kita tidak akan pernah benar-benar melihat suatu hal dengan jelas, jika kita tidak menyertainya dengan berusaha untuk merasakan, peduli sama apa yang kita lihat. Dan jika kita terus saja tidak dapat menemukan cahaya untuk ‘melihat’, jadilah cahaya itu sendiri.

 

 

Pun begitu, momen-momen indah kebersamaan mereka tetap bisa terbangun. Adegan meraba wajah yang dibuat begitu dekat sehingga kita nyaris bisa mendengar degup jantung mereka. Pembangunan adegan ini tampak dipikirkan dengan seksama, permulaan Tiana yang sengaja mengalah adu suit memberikan bobot yang lebih gede. Momen tersebut membantu melandaskan suatu hal yang penting terhadap mereka berdua; bahwa mereka sebenarnya berbeda. Harun  adalah orang yang selalu bisa melihat kenyataan, bahkan sebelum matanya buta. Inilah cikal bakal konflik dari hubungan mereka; Tiana ingin nyaman-nyaman berdua dalam kegelapan, so to speak, dia senang membiarkan Harun dalam ‘gelap’ atas apa yang sebenarnya terjadi. Tapi Harun selalu bisa melihat. Nyaris dialah cahaya itu sendiri.  Seperti yang actually disebut dalam salah satu ribut-ribut mereka, ini bukan semata soal control, ini adalah soal gimana Harun membuyarkan kegelapan yang ingin dipertahankan oleh Tiana. Dan Tiana tidak suka ini, seperti halnya dia juga menganggap Arie, sahabat kecil yang cinta mati ama dia, terlalu menyilaukan buatnya.

Karena itulah saat menonton ini aku tidak bisa melihat kenapa mereka harus jadian, aku tidak merasa perlu untuk melihat mereka berakhir bersama. Aku juga tidak dapat merasakan konfrontasi mereka. Well, terasa keras sih, sebab setiap konfrontasi disuarakan dengan begitu lantang, teriak-teriak penuh emosi. Feelingnya yang gak dapet. Tapi kita gak bisa percaya Tiana setelah ia baru saja terang-terangan berbohong. Bukan cinta sebenarnya dirasakan oleh Tiana kepada Harun. Bukan pula rasa bersalah. Alasan kenapa dia menjadi begitu ingin termasuk ke dalam hidup Harun adalah dia ingin menunjukkan cahaya kepada Harun, dia ingin berguna, namun sikap Harun selalu dapat melihat terus saja menantang keinginan Tiana.

Tutup mata kiri, ada dua jari. Tutup mata kanan, loh susternya kok ilang whoaaaaa??!!!

 

Soal penampilan sih, Reza Rahadian juara banget meranin Harun. Malahan saking meyakinkannya sebagai seorang tunanetra, kamera tidak berani menangkap wajahnya dari depan pada adegan pertama kali Tiana face-to-face dengan Harun saat diundang sarapan bareng. Kamera ngesyut dari belakang, ataupun hanya sebatas dagu, meskipun sudut pandang film ini adalah Tiana, dan cewek itu sudah melihat wajah Harun di depannya. I guess, kalo disyut dari depan juga (sesuai pandangan Tiana), konteks yang diniatkan – Tiana enggak ngeh Harun buta – bisa buyar lantaran Reza sangat total bermain sebagai orang buta. Yang tidak aku mengerti dari Harun adalah bagaimana dia bisa menulis dengan huruf yang perfectly centered; pas di tengah-tengah kertas. Mungkin sih, dia dibantu si Mbok atau asisten rumah yang lain, tapi tokoh ini terlihat bukan tipe orang yang mau minta bantuan kalo sudah menyangkut urusan pribadi. Dan jika kita masih bicara soal cinta, Harun indeed jadi beneran genuinely sama Tiana. Yang mana membuat adegan-adegan ia nangis di akhir itu terasa nyesek. Masalah ada apa di Kaliurang juga masih berakhir dengan tanda tanya.

 

 

Untuk sebuah kisah hubungan antara insan-insan manusia yang tragis, yang mengambil batasan pandangan sebagai tema, film ini tampak sungguh luwes dalam penggarapannya. Setiap adegan diambil dengan sudut-sudut yang dengan subtil mendukung cerita, seperti adegan konfrontasi lewat pantulan cermin-cermin itu. Ada juga kamera goyang-goyang yang aku gak mengerti kepentingannya apa. Film ini penuh berisi penampilan akting yang luar biasa meyakinkan. Yang mendorong cerita yang sebenarnya tidak begitu make sense dan lumayan mengandalkan factor kebetulan ini dapat terus mencengkeram untuk diikuti. Lebih dari kisah percintaan, film ini bekerja terbaik sebagai tontonan perilaku manusia dalam mengatasi trauma masa lalu yang kemudian membentuk pribadi dan keputusan mereka. Karena, afterall, kita ingin bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for THE GIFT.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017