ARINI Review

“… you fall in love with love itself because it touches places that nothing else has before.”

 

 

Bayangkan ada dua buah kereta api yang berjalan barengan dari stasiun. Mereka melaju dengan rel yang saling paralel, saling sejajar. Ketika yang satu berbelok, maka yang lain juga ikut berbelok. Kau adalah penumpang yang pernah naik di salah satunya, dan sekarang kau memilih naik kereta yang lainnya. Tentu saja, apa yang kau alami di kereta yang sekarang akan mengingatkanmu ketika pertama kali naik kereta yang lain. Begitulah penceritaan film Arini. Editingnya yang precise membuat kita berpindah-pindah di antara dua kereta, tanpa sekalipun kita terlepas ketinggalan emosi. Dua kereta itu bernama Kereta Masa Lalu dan Kereta Masa Kini. Dan kau yang duduk tadi, kau adalah Arini. Cewek tiga-puluh-delapan tahun yang tak bisa menghindari masa lalunya ketika ia duduk menumpang kereta api yang jaraknya beribu kilo dari kereta api yang telah menghantarkannya dalam sebuah perjalanan traumatis dalam hidup.

Cerita terus terbangun, apa yang ditemui Arini dalam keretanya yang sekarang, membuatnya teringat akan masa lalu, dan semua itu diceritakan dengan paralel. Ketika Arini diajak kenalan sama berondong, dia membawa kita melihat masa ketika ia dijodohin sama mantan suaminya. Ketika si Berondong Nekat ngajak Arini jalan, Arini mengenang saat-saat dia berbulan madu. Dan editing seperti ini membuat sebuah pengalaman menonton yang mengcengkeram erat Kita tahu ada yang gak beres dengan masa lalu Arini, kita penasaran ingin tahu kenapa Arini yang kini bersikap begitu jutek. Film berhasil membenturkan dua versi Arini lewat bahasa visual yang bahkan tidak perlu menjelaskan mana yang terjadi di waktu sekarang, mana yang kejadian di ingatan.  Dari rambut Arini saja, aku suka treatment khusus yang dilakukan oleh film ini. Rambut diikat, sebagai kontras dari rambut yang tergerai itu saja sudah menambah kedalaman lapisan buat tokoh Arini. Gimana dia yang dulu mau membantu mengangkat koper orang, sedangkan Arini yang sekarang diminta bantuan ngetuk kaca jendela saja ogah luar biasa.

film ini akan ngasih tahu sebab kenapa kita seharusnya tidak sekalipun mengaktifkan speaker saat menelfon.

 

Perspektif Arini adalah poin menarik yang jadi fokus pada film ini. Konteksnya adalah Arini enggak siap ditabrak oleh kereta cinta yang baru. Oleh cerita, Arini dipertemukan dengan Nick, mahasiswa berusia dua-puluh-tiga tahun yang seketika jatuh cinta dan terus menempel Arini. Gol utama cerita adalah menjawab pertanyaan akankah Arini dapat mengenali atau menerima cinta lagi setelah kejadian horrible yang ia lalui di masa lalu. Masalah Arini ini berakar kepada kepercayaan; orang yang ia kenal dibentrokkan dengan orang yang sama sekali asing baginya. Arini tidak tahu siapa Nick. Dia anak mana, hidupnya bagaimana, seujug-ujug mereka kenalan (itu juga Nicknya maksa), dan sejak saat itu Nick selalu hadir di kehidupan Arini – diminta atau tidak. Dan karena cerita ini mengambil sudut pandang Arini, kita juga hanya tahu apa yang Arini tahu – kita tidak diberikan back story siapa Nick. Keasingan tokoh Nick adalah elemen penting buat cerita. Menyebabkan film ini sedari menit awal sudah terjun mengambil resiko. Karena, ya, kekurangan cerita latar – terlebih untuk kisah romansa dua insan manusia – itu bukan resep membuat film yang bagus.

Cinta adalah belajar mengenal orang asing dengan lebih dalam. Semua orang adalah asing bagi kita, sampai kita membuka diri untuk mengenal mereka. Buat sebagian orang, hal tersebut bisa menjadi pengalaman yang menakutkan. Makanya hal itu juga berlaku sebaliknya. Orang yang kita cintai dapat dengan cepat kembali menjadi orang asing jika kita sudah terluka dan menutup diri kepadanya.

 

 

Tentu saja, Nick adalah tokoh yang sangat gampang untuk disukai. Dia ceria, jenaka, penuh semangat hidup. Muda pula. Terlebih jika tokoh utama yang kita punya adalah cewek dewasa yang cembetut melulu, dia begitu pesimis dia menyebut dirinya nenek-nenek. Bentrokan antara sifat dan karakter mereka pun tak pelak menghasilkan tukar-menukar kata yang menarik, yang manis. Tengok saja usaha Nick untuk membuat Arini tersenyum. Penonton cewek pasti meleleh ke lantai dibuatnya. Mungkin juga ada yang geregetan. ‘Dinding’ yang dibuat oleh Arini memang kerasa, beberapa bisa saja menafsirkan ini sebagai kekurangan chemistry antara Aura Kasih dengan Morgan Oey, tapi buatku ini adalah hasil dari permainan emosi yang genuine dari dua pemeran. Aura Kasih di sini bermain meyakinkan sebagai orang yang sangat tertekan, dia juga begitu tertutup, kelihatan jelas dia rapuh tapi berusaha untuk kuat. Bukan hanya itu, actually Aura Kasih dituntut untuk menampilkan emosi yang berentang jauh – Arini yang ia perankan udah kayak dua orang yang berbeda sifat, dan bukan hanya tepat di dua-dua tone emosinya, Kasih juga sukses ngedeliver di momen-momen transisi karakter Arini. Nick, sebaliknya, keseluruhan film ini bisa berganti menjadi menyeramkan jika tuas karakter Nick salah senggol sedikit aja. Dan untuk itu, aku kagum juga banyak yang mengoverlook Nick sebagai karakter yang creepy, aku pikir kharisma Morgan Oey cukup berpengaruh di sini.

Ketika Dilan tahu nomor telepon dan alamat rumah Milea, kita dengan enggak banyak pikir, bisa langsung mengasumsikan dia mungkin bertanya kepada teman-teman sekelas yang lain. Dalam film Arini, walaupun Nick sudah mengakui dan menjelaskan darimana dia tahu tempat tinggal Arini, meskipun kita sudah tahu kepentingan Nick dibuat sebagai orang yang begitu asing, tetap saja terasa ada sesuatu yang off. Maksudku, gimana bisa kita mempercayai Nick? Darimana kita tahu kalo kejadian di pembuka film – yang dia minta tolong Arini kabur dari kondektur kereta – bukan bagian dari modusnya untuk kenalan sama Arini? Gimana kalo ternyata dia udah nguntit dan ngincer Arini dari sebelum film dimulai, coba? Sinopsis resmi film ini menyebutkan Nick jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Arini, namun cerita actual film tidak membuatnya tampak demikian. Melihat Arini yang begitu dingin terhadapnya, dugaan bahwa jangan-jangan Nick jadi jatuh cinta karena penasaran terus dicuekin  itu masih sering bersarang di kepala kita. I think, backstory bisa saja sengaja enggak dibeberkan, akan tetapi alasan kenapa Nick ngebet sama Arini tetap harus dijelaskan. Makanya, adegan Arini menampar Nick itu harusnya masih bisa terasa lebih kuat lagi; kita mengerti Arini, tapi kita enggak ngerti Nick.

“stop being so mean to me, or I swear to God I’m gonna fall in love with you”

 

Film sepertinya memang tidak malu-malu menunjukkan bahwa mungkin saja mereka hanya tergerak oleh nafsu. Bahkan ada indikasi tokoh film ini enggak benar-benar belajar; eventually, aku akan bahas ini di bawah. Right now, aku mau menyinggung salah satu elemen yang hilang sehubungan dengan tokoh Nick. Yakni tidak adanya konsekuensi. Inilah yang menyebabkan film ini terasa ‘salah’. Ada banyak tindakan Nick yang termaafkan begitu saja, yang lagi-lagi merugikan buat Nick. Alih-alih tokoh pasangan, Nick seperti lebih kepada sebuah tokoh yang jadi alat semata bagi perkembangan Arini. Arini butuh Nick untuk belajar bagaimana kembali membuka hati dan membiarkan cinta masuk ke dalam hidupnya. Arini butuh Nick untuk berani mengonfrontasi masa lalu. Kita dapat melihat gimana Arini ada rasa sama Nick. Believe me, I know. Nick basically ngancem nunggu di depan pintu apartemen dan gak kena ganjaran apa-apa. Aku pernah nekat juga nungguin di pintu depan apartemen orang, dan belum genap dua jam aku udah dipanggilin satpam.

Maka dari itu, sejatinya Arini bukanlah film romansa, setidaknya bukan antara cowok dan cewek. Melainkan adalah tentang cinta antara seorang wanita dengan cinta itu sendiri

 

 

Nick sempet kesel Arini selalu mengungkit masalah jarak umur mereka. Umur mereka terpaut literally satu orang Dilan. Dan untuk urusan umur ini, aku setuju sama Nick. Kenapa sih film membuat mereka berbeda umur begitu jauh? Tidak seperti keasingan Nick yang kita paham signifikannya terhadap cerita, perbedaan umur Arini dan Nick tidak tampak menambah banyak bagi perkembangan karakter Arini. Pun tidak terasa paralel dengan elemen Arini yang takut untuk jatuh cinta kembali. Selain digunakan untuk lucu-lucuan ‘tante dengan keponakan’, hanya ada satu adegan yang mengangkat masalah ini ke permukaan, yaitu saat adegan makan malam dengan keluarga Nick. Actually aku berpikir cukup keras perihal umur ini, masa iya sih umur mereka dibuat jauh cuma supaya Arini ada alasan nolak Nick. Apa sih yang ingin dicapai cerita dengan membuat mereka berbeda usia dengan jauh, meski 23 dengan 38 itu juga enggak ekstrim-ekstrim amat. The best that I can come up with adalah mungkin film ingin menegaskan bahwa Arini kehilangan cinta dan dirinya saat ia kehilangan anaknya. Maka ia menemukan kembali apa yang hilang dari dirinya saat ada anak yang menemukannya…? Emm… yah anggap saja begitu dah.

 

 

 

Cerita berjalan mantap sesuai pada rel konteksnya. Ada eksposisi di akhir yang menerangkan jawaban-jawaban pada plot seolah kita tidak bisa menyimpulkan sendiri, toh film ini akan tetap terasa menyenangkan karena formula tokoh dan hubungan mereka yang benar-benar likeable. Tapinya lagi, at the end of the track, tokoh utama film ini tidak belajar dari masa lalu. Dia tetap jatuh ke orang yang tak ia kenal sama sekali sebelumnya, tanpa ada usaha untuk mengenal orang tersebut. Di masa lalu, ia menikah dengan orang yang dijodohkan oleh sahabatnya. Di masa kini, ia jatuh cinta dengan stranger di kereta, malahan ada satu adegan ia pengen mangkir dari pertemuan dengan keluarga pacarnya. Film ini menyatukan masa lalu dan masa kini dengan mulus, hanya saja tidak berhasil melakukan hal yang serupa terhadap dua gerbong aspek ceritanya. Karena memang tricky untuk disatukan; di satu sisi ada romansa, satunya lagi ada kepentingan untuk membuat pasangannya dibiarkan tak banyak dibahas. Aku jadi penasaran sama materi asli cerita ini (novel dan film jadulnya), jangan-jangan di cerita aslinya Nick dan beda umur itu memang cuma device saja namun film adaptasi ini memutuskan unuk menjadikannya sebagai vocal point.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for ARINI.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

LOVE FOR SALE Review

“Everyone is in their own time zone.”

 

 

Ngeliat temen lulus kuliah duluan, kita mupeng. Ngeliat temen yang lulusnya belakangan dapet kerja lebih cepet, kadang kita suka minder, terus sirik. Ngeliat temen yang masih muda hidupnya udah mapan kemudian dia melayangkan undangan pernikahan, kita ngeri. Takut ditanya “kapan nyusul?” Takut disindir “Sendirian aje nih”. Kalo kalian sudah merasa merinding-merinding ngilu dengan membaca ilustrasi di atas, maka bayangkan gimana ‘serem’nya hidup buat Richard (Gading Marten memberikan penampilan akting yang sangat meyakinkan di antara perjalanan karirnya), pengusaha yang sudah menginjak 41 tahun namun masih bisa keliaran di rumah mengenakan pakaian dalam lantaran belum ada istri, apalagi anak, yang bakal bikin suasana awkward.

Tak heran, Richard galak banget sama pegawai-pegawai perusahaan percetakannya. Namun ketika udah ngumpul-ngumpul bareng temen-temen nobar sepakbola, giliran Richardlah yang di-bully. Semua orang meledek kejombloabadiannya. Sampe-sampe mereka bertaruh; di pesta pernikahan temen dua minggu lagi, Richard akan datang tanpa membawa pasangan. Tentu saja, apa yang bagi temen-temennya adalah taruhan duit; bagi Richard, adalah taruhan harga diri. Jadi dia mencoba segala cara, termasuk ikutan situs perjodohan online bernama Love Inc, di mana Richard bisa menyewa cewek untuk dibawa ke nikahan berpura-pura jadi pacarnya. Tetapi, oleh karena sedikit mixed up di ‘kontrak kerja’, Richard berakhir tinggal bersama dengan pacar sewaannya, Arini (si fearless Della Dartyan), sampai waktu yang diassign beres. Di saat benih-benih cinta genuine mulai tumbuh di dalam diri Richard, di saat itu pulalah kita semakin tersedot masuk dan peduli kepada Richard, film dengan perlahan membangun kita ke sebuah pertanyaan mengerikan “Saat jatuh tempo nanti, akankah Richard mampu untuk tidak hancur? Atau apakah ada kejutan untuknya?”

Orang-orang di sekitar kita ada yang tampak sudah jauh di depan, ada yang masih di belakang. Dan hal tersebut bukan masalah. Kita tidak harus meledek mereka. Pun kita tidak perlu untuk merasa minder karena ketinggalan. Karena setiap orang sesungguhnya bergerak pada zona waktu masing-masing. Seperti halnya Indonesia yang lebih dulu hingga lima-belas jam dari Amerika, tapi itu toh bukan berarti Amerika yang lambat dan terbelakang. Kita semua tepat waktu, manfaatkanlah sebaik mungkin. Hidup adalah soal bergerak dalam momen yang tepat.

 

Elemen cerita ‘pacar bo’ongan’ memang bukan hal baru dalam cerita film. Kita sudah cukup sering mendapat narasi seputar seseorang yang terlalu lama sendiri, kemudian memalsukan hubungan, dan terjerat menjadi benar-benar cinta. Love for Sale melakukan hal ini dengan sangat baik, karena kita benar-benar diperlihatkan betapa menyedihkan kehidupan Richard sebagai – ah, mengambil istilah yang dilontarkan oleh tetangganya – bujang lapuk. Film ini punya babak setup yang menarik, interaksi antara Richard dengan tokoh-tokoh lain tergambarkan dengan manusiawi. Komedi yang hadir darinya juga timbul tanpa cita rasa dibuat-buat. Apa yang kita lihat adalah truly kondisi yang satir mengenai seseorang yang ingin berada dalam relationship, namun secara mental ia tahu dirinya belum benar-benar siap, dan di sisi lain tuntutan sosial terus menggebahnya. Kita dapat dengan mudah ikut merasakan urgensi dari tekanan cerita.

Salah satu aspek yang aku suka dari karakter Richard adalah begitu banyak lapisan pada karakternya. Richard adalah salah satu tokoh utama dengan kedalaman paling jauh yang pernah kulihat  tahun ini. Lihat saja bagaimana ia melampiaskan semua ‘keluh kesahnya’ kepada waktu. Like, dia sungguh-sungguh menekankan betapa pentingnya bergerak tepat waktu – dalam beribadah, dalam bekerja. Kita melihat betapa strictnya Richard kepada anak buahnya yang dateng telat. Melanggar batas jam makan siang sedikit aja, siap-siap deh kena omelan. Actually, omelan sendiri juga jadi poin kuat tokoh ini, berkat comedic timing dan penyampaian Marten yang tepat luar biasa. Kedisiplinan ektranya terhadap waktu ini sebenarnya adalah cerminan dari keinginan tak sampainya untuk segera punya pendamping. Sebagaimana dinasihatkan oleh salah sahabatnya, bahwa jodoh juga kudu tepat waktu.

mau, gajinya dibayar telat?!

 

Masalah tempat turut dijadikan elemen yang menambah bobot buat karakter Richard. Dia diceritakan tidak pernah ke mana-mana. Jalan dari kantor ke Kemang aja dia nyasar. Dia mengeluhkan nobar di Jakarta Selatan yang ia anggap terlalu jauh jaraknya dengan rumah yang di Pusat. Richard membiarkan dirinya stuck di satu tempat saja. Dan ini dibuat paralel dengan kenapa ia sampai sekarang masih susah menjalin hubungan percintaan. Richard punya sesuatu di masa lalu, dan praktisnya dia belum move on dari sana.

Cinta itu urusan ruang dan waktu. Kita tidak bisa memaksakan kapan. Tak jarang, kita harus menempuh banyak sebelum mencapainya.

 

Ketika aku menyebut Love for Sale adalah film yang berani, aku tidak semata memaksudkan karena film ini berating dewasa dan akan ada adegan-adegan yang bikin risih  di dalam ceritanya. Love for Sale memiliki banyak persamaan dengan film Her (2013) buatan Spike Jonze. Strukturnya nyaris sama persis, kecuali tentu saja ini lebih seperti versi yang lebih grounded buat penonton Indonesia dan di bagian krusial yang dengan nekat diambil oleh sutradara Andy Bachtiar Jusuf. Ada banyak cara untuk membuat penyelesaian cerita ini, dan film memilih mengambil cara yang paling banyak memancing pertanyaan. Itulah yang namanya nyali. Film lain akan  memilih jalan yang paling terang sebagai babak akhir cerita, you know, Richard dan Arini kemungkinan besar akan dibuat berakhir hidup bersama entah itu Arini juga jadi beneran jatuh cinta atau Richard akan membebaskan Arini dari jerat ekonomi di mana mereka akan mengonfrontasi Love Inc. Tapi tidak demikian dengan Love for Sale. Ketika cerita membuat Arini tampak too good to be true untuk kemudian beneran ‘menipu’ Richard, film meniatkan agar Arini juga ‘menipu’ kita, para penonton. It was so believable Arini cinta, dia dibuat begitu loveable, hanya supaya kita juga merasa terenggut darinya.

Film ini menghasilkan sebuah hubungan percintaan yang digarap dengan sudut pandang yang matang. Everything is reasonable here. Bahkan adegan bersetubuh yang tergolong tabu dalam film ini memiliki kepentingan tersendiri. Sungguh pilihan yang bijak dari Andy Bachtiar untuk tidak mempersembahkan seks sebagai tujuan dari hubungan antara pria dengan wanita, yang mana bisa dibilang film ini masih menghormati budaya lokal. Tujuan Richard adalah memperistri Arini, dan ini membuktikan dia menghargai cinta di atas kepura-puraannya. Dan ultimately, Richard belajar bukan semata perasaan dicintai yang penting, yang ia cari – melainkan kemampuan untuk menyintai dengan tulus, dan ini dia buktikan kepada orang-orang di sekitarnya. Ending film ini sangat powerful, melihat Richard yang menyadari Arini adalah rebound yang ia butuhkan untuk menemukan kembali kemampuannya untuk move on dan mengenali cinta di manapun dia berada.

kata orang kalo cinta, lepaskan aja, cinta sejati selalu akan kembali menemukan jalan pulangnya

 

 

Di samping aku enggak begitu setuju dengan taktik film menggunakan layar media sosial sebagai pendukung penceritaan, sedikit kekurangan yang dipunya film ini adalah perihal Arini dan Love Inc yang dibuat terlalu misterius. Bukan di apa yang sebenarnya terjadi, karena adalah hal yang bagus untuk membiarkan penonton menebak dan menyimpulkan sendiri. Hanya saja menurutku, mestinya film menjelaskan atau membangun dunia Love Inc itu sendiri sebagai not necessarily bukan hal yang dijadikan pertanyaan. Simpelnya maksudku adalah kita berhak dikasih penjelasan apakah ada orang lain di dunia cerita tersebut yang memakai jasa Love Inc, karena kita lihat mereka mencetak dua ratus ribu eksemplar selebaran di percetakan milik Richard. Seharusnya kan paling enggak ada orang selain Richard yang juga menggunakan, yang jadi ‘korban’. Film ini kurang berhasil membangun seputar keberadaan program tersebut, dan ini membuatku bertanya-tanya, apa memang Richard ditargetkan sedari awal? Oleh siapa? Sebab rasanya long stretch sekali untuk mempercayai apa yang sudah dipersiapkan Arini buat dirinya.

 

 

 

Drama tentang kebutuhan manusia akan hubungan romansa yang diceritakan dengan berani. Bekerja efektif berkat arahan dan penampilan akting yang benar-benar hit home dari hampir semua tokoh. Film membuild ceritanya dengan perlahan, namun sangat seksama, sehingga membuat kita sulit terlepas dari apa yang sedang kita saksikan. Fresh bagi film Indonesia, namun tidak cukup unik. Tapi aku senang karena film ini adalah bagian dari langkah move on perfilman tanah air dari film-film mainstream , dengan benar-benar punya sesuatu untuk disampaikan. Langkah yang mungkin enggak cepat-cepat amat, kayak kura-kura si Richard, namun tak pelak sebuah langkah yang mantap.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for LOVE FOR SALE.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

EIFFEL I’M IN LOVE 2 Review

“..the decision to be patient and willing to wait is an act of courage and perseverance.”

 

 

Cobaan paling berat di dunia itu salah satunya adalah menunggu. Beberapa orang menjadi tidak sabaran lantaran menunggu itu berarti kita menunda melakukan sesuatu, menahan diri dari mendapatkan sesuatu. Makanya, menunggu itu bisa kita jadikan sebagai kadar kedewasaan seseorang. Semakin dewasa orang, maka semakin sabarlah dia. Buktinya lihat aja pas bulan puasa, yang batal duluan biasanya pasti anak-anak kecil, yang sanggup menahan diri biasanya punya nalar dan mental yang matang. Namun meskipun begitu, enggak selamanya anak kecil kalah ‘sabar’ sama orang dewasa. Kadang ada juga orang dewasa yang bertingkah seperti anak kecil.

Menunggu itu adalah aksi yang paling membosankan, sebab menunggu adalah aksi yang tertunda.  Maka dari itu, orang yang mengambil keputusan untuk menunggu adalah bukan saja orang yang amat tekun, namun juga salah satu orang yang paling berani di dunia.

 

Kayak si Tita. Di ulangtahun kedua tujuhnya, dia masih belum boleh megang hape sendiri, masih dilarang keluar malem sendirian oleh ibunya. Lantaran Tita ini masih kolokan, manja banget. Sebenarnya ini kayak kasus ayam atau telur sih, gak jelas juga apakah karena selalu diprotek berlebihan maka mental Tita masih kayak remaja bau kencur, atau apakah sudah dari sononya ia begitu sehingga perlu pengawasan ekstra. Yang jelas, di usia segitu Tita masih belum menikah. Dia masih betah LDRan sama Adit, cowoknya yang tinggal di Paris. Padahal menurut Tita, menikah bisa menjadi solusi dari semua masalah hidupnya – dia bisa bebas dari aturan ibu, dia bisa merdeka dari pertanyaan ‘kapan nikah?’ dari temen-temennya. Maka, Tita pun bersabar menunggu lamaran Adit. Di sinilah kedewasaan, bukan hanya Tita melainkan juga kedewasaan relationship mereka ditempa, karena Tita dan Adit yang sudah bersifat berlawanan dari film pertama, menjadi semakin sering bertengkar hingga ke titik Tita mulai kehilangan kepercayaan terhadap Adit.

Lama tinggal di Paris, tapi Adit masih canggung nyetir di kiri

 

Aku hampir yakin kalo aku masuk golongan minoritas di sini, karena aku sama sekali enggak tahu sama Eiffel, I’m in Love. Aku gak baca bukunya, aku gak nonton film pertamanya, aku sempet bingung karena yang aku pernah nonton cuma Lost in Love (2008) yang ternyata enggak dianggep sebagai universe franchise film ini. Jadi aku enggak tahu Eiffel, I’m in Love 2 ini mengincar apa.  Film ini akan terpuruk sangat jika kita melihatnya sebagai drama romansa. Akan tetapi, BERTINDAK SEBAGAI KOMEDI ROMANTIS, film ini menunaikan tugasnya dengan efektif. Aku sendiri juga kaget, aku menikmati hubungan para tokoh film ini.

Bantering antara Tita dan Adit dijadikan senjata utama yang bakal bikin kita tertarik untuk menonton. Kedua tokoh sentral dibangun dengan formula komedi, di mana yang satu adalah total opposite dari yang lain. Dan mereka terflesh out dengan efektif. Ada begitu banyak momen-momen lucu yang hadir dari interaksi Tita dan Adit. Shandy Aulia dan Samuel Rizal sudah punya chemistry yang menawan dan mereka tampak begitu effortless menghidupkan tokoh-tokoh. Effortless dalam artian yang positif karena keduanya tampak berinteraksi dengan natural. Berantem mereka, delivery dialog ngotot-ngototannya, terasa pas dan sungguh-sungguh relatable. Film ini berangkat dari sudut pandang seorang wanita yang berada dalam situasi berpacaran terlalu lama, dengan potensi menikah yang tak kunjung cerah. Ditambah lagi dengan masalah-masalah yang tentunya hadir jika seseorang terlibat dalam hubungan asmara jarak jauh. Film memfokuskan kepada hal tersebut, berkelit dari kait-kait drama, dan mengeksplorasi ‘berantem itu kekanakan atau romantis’ menjadi sebuah cermin yang menyegarkan bagi penonton. Seperti pada adegan ketika Adit mengajak Tita pulang naik mobil, tapi Tita ‘sok’ ngambek, dia enggak mau naik. “Tinggal nih!?” ketus Adit. Yang dijawab tak kalah ketusnya “Tinggal aja!” oleh Tita. Adit pun pergi. Dan kita lihat Tita ngomel-ngomel manja “Adit jahat, ninggalin Tita sendiriiii”

Tapi memang, film ini punya set up tokoh yang aneh, and not necessarily in a good way. Tita yang udah nyaris berkepala tiga, namun seringkali bersikap lebih manja dari remaja tentu bisa jadi turn off buat banyak penonton. Aku sendiri tadinya juga udah pasang kuda-kuda, karena tokoh kayak gini biasanya bakal annoying banget. Awkward pasti demi ngelihat orang bertingkah di bawah umurnya. Motivasi Tita adalah dia ingin dilamar supaya bisa bebas, hanya itu. Film tidak berusaha menjadi lebih besar dari ini. Tidak berniat untuk menyampaikan cerita yang lebih dalem. Namun paling enggak, film ini konsisten dalam membangun penceritaan dengan perspektif tokoh utamanya. Paris adalah kota yang romantis, mungkin paradigm itu tergolong kuno di jaman now, namun dalam kacamata Tita, langit malam Paris, di atas sungai Seine, berhias gemerlap kembang api, tetaplah skenario percintaan yang paling maksimal. Film negbuild up momen-momen keinginan Tita terwujud dalam cara yang menarik karena nun jauh di dalam hati, kita pengen lihat benturan apa lagi yang dihasilkan dari perbedaan mindset antara Tita dan Adit.

Jika ini adalah film drama, maka tentu dalam perkembangannya kita akan melihat Tita akan belajar untuk melawan aturan ibunya, dia akan mencoba untuk menjadi mandiri. Dan nampaknya memang akan bisa menjadi produk cerita yang lebih baik dari ini. Tetapi dari penulisan plot yang mereka pilih, film ini punya vibe komedi yang gede, jadi alih-alih itu, Tita akan belajar untuk mulai meragukan Adit. Oleh naskah, Tita tetap menjalankan fungsinya sebagai tokoh utama, dia melakukan pilihan-pilihan. Hanya saja memang pilihan-pilihan tersebut tidak benar-benar berbobot. Untuk menemukan jawaban atas apa yang sebenarnya ia butuhkan, naskah memperlakukan Tita seperti ikan di luar air; Tita mencoba melakukannya dengan benar-benar gak tau apa yang terjadi di sekitar, sementara dirinya sendiri struggle untuk memegang teguh apa yang ia percaya. Pandangan anak manja dan romantisme tetap dipegang dengan konsisten, sementara pemahaman Tita menjadi ‘dewasa’ mengunderlying komedi dan berjalan seiring sebagai lapisan kedua cerita.

“Kalo tut, berarti gue kentut dong!”

 

Tapinya lagi, tentu saja film ini juga tidak luput dari kesalahan. Tetap banyak trope dan pilihan-pilihan gampang demi merebut hati target pasar. Yang ultimately menjadikan film ini enggak berhasil menjadi lebih baik dari yang semestinya bisa ia capai. Lagu soundtracknya yang kerap diulang membuatku terlepas dari emosi yang tak lagi terasa genuine. Banyak juga aspek cerita yang tak bangun-bangun, eh tuhkan jadi kebawa lagunya, maksudku banyak aspek cerita yang tak terbangun dengan baik. Hanya sekedar menjadi device saja. Seperti tokoh sahabat cowok Tita; Adam literally a tool dalam cerita. Maksudnya, dia hanya ada di sana untuk memudahkan jalan cerita maju, tanpa benar-benar punya kepentingan dari segi karakter dan bobot emosi cerita. Adam, dan juga tokoh-tokoh sampingan lain, tidak terflesh out dengan baik sebab film tidak peduli menceritakan mereka. Mereka hanya ada di sana saat cerita membutuhkan. Contohnya di awal-awal saat adegan drive-through McDonald. Adam tiba-tiba ada di sana, dengan pesenan yang sama dengan Tita, dan itu adalah salah satu adegan pengenalan tokoh paling males yang pernah dilakukan dalam film, bahkan dalam film cinta-cintaan Indonesia.

Alasan mereka sekeluarga pindah ke Paris juga tidak dimekarkan menjadi apa-apa. Keluarga Tita seharusnya membuka rumah makan, tapi kita hanya mendapat satu adegan mereka berbenah di rumah makan tersebut. Film melewatkan kesempatan mengeksplorasi banyak karakter  dari sini, sehingga aku paham mengapa banyak orang yang mempertanyakan kenapa satu keluarga mesti pindah. Karena nyata-nyatanya kehadiran mereka juga tidak benar-benar berbuah dalam membangun cerita yang lebih baik. Ketika Tita dan Adit tampak begitu mengalir bersahut-sahutan, Tita dengan anggota keluarga yang lain, bahkan dengan Uni, tidak terasa sama naturalnya. Dialog-dialog tidak terasa mengalir dengan mulus, karena kita masih bertanya kenapa ada orangtua yang memperlakukan anaknya seperti anak kecil. Menurutku, cerita butuh memperlihatkan sudut pandang dari orangtua atau keluarga Tita sehingga masalah manja dan perlakukan sedikit mengekang itu bisa terbahas.

 

 

Udah ngarep, apalagi pake nunggu lama banget, tapi yang ditunggu enggak kejadian, memang sebuah hal yang berat. Untungnya, bagi para fans film yang pertama, film ini adalah sesuatu yang sudah ditunggu selama lima belas tahun, dan berbuah kejadian-kejadian yang menyenangkan untuk ditonton. Film menggali komedi dari bentrokan keinginan dua karakter sentral yang mengekspresikannya dengan cara yang kekanakan. Tapi dewasa itu adalah penantian. Film menyediakan cukup komedi sehingga menjadi menarik, namun dia tidak menyediakan gizi lebih banyak dari itu.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for EIFFEL I’M IN LOVE 2

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

   

SILARIANG: CINTA YANG (TAK) DIRESTUI Review

Running away from the problem only increases the distance from the solution.”

 

 

Cinta itu pelik. Pernikahan bukanlah hal yang sepele. Maksudku, kita mungkin bakal menyangka bagian tersulitnya adalah di acara pesta pernikahan – you know, jaman kekinian wedding kudu mewah dan segala macam repot yang lain –  tapi sebenarnya itu cuma fase pemanasan dari ‘kerja keras’ berikutnya. Cinta enggak mesti berujung bahagia selamanya, apalagi kalo enggak diperjuangkan. Complicated banget. Pertama-tama, kita kudu mengejar restu orangtua dulu. Bahkan ketika sudah dapat restu pun, tak semua cinta yang mampu bertahan. Jadi, mungkin kalian sempat kepikiran; kawin lari aja. Gak perlu pesta gede-gedean, gak perlu ngap-ngap emosian minta restu ke mama, papa, mertua. Silariang, kata orang Makassar. Ada alasannya kenapa Makassar punya istilah sendiri buat kawin-lari. Di sana masih ada tradisi adat yang mengikat; bahwasanya keturunan bangsawan enggak boleh nikah sama keturunan jelata. Jadi, mau nikah bagi orang Makassar sedikit lebih eksra tingkat kesulitannya.

Lari mungkin memang jalan termudah untuk memenangkan cinta. Tapi apa yang sebagian besar orang gagal untuk mengerti adalah Cinta terhadap seseorang, perasaan tulus tersebut tidak pernah salah. Jadi kenapa si innocent itu harus disandingkan dengan kata lari. It’s not that lari itu berkonotasi negative (walau sebagian besar waktu memang demikian), hanya saja – yang perlu ditegaskan adalah – lari bukan satu-satunya jalan keluar.

 

Silariang: Cinta yang (tak) Direstui mengajak kita menyelami dan mempertanyakan cinta lewat kisah Yusuf dan Zulaikha. Yang satu anak pengusaha, satunya lagi putri berdarah bangsawan. Pernyataan cinta mereka tidak bisa direstui sebab mereka tidak satu strata. Terlahir ke dalam budaya Makassar, kebersamaan mereka justru menjadi aib bagi keluarga masing-masing. Yusuf bermaksud melawan, maka ia mengajak Zulaikha nikah di tempat yang jauuuuh dari rumah. Terdengar sangat romantis, bukan? Pangeran yang membawa Putri naik kuda. Tapi Yusuf bukan pangeran. Mereka lari naik angkot, kemudian sampan. Dan apa yang menyongsong mereka di tempat yang baru jelas bukan serta merta keindahan.

Rammang Rammang kayak tempat Piccolo melatih Gohan

 

Inilah yang dilakukan dengan baik oleh Silariang. Naskahnya cukup bijak untuk mengeksplorasi permasalahan yang membuat para tokoh memang bertingkah sesuai dengan umur mereka. Permasalahan yang mereka hadapi sesungguhnya begitu serius dan dewasa. Bukan sekadar Yusuf dan Laikha kabur atas tekanan orangtua sehingga kita mendukung mereka, sepasang protagonis yang minta dikasihani karena selalu melewati rintangan cinta. Film ini bukan tentang itu.  Bagaimana tindak Silariang itu mempengaruhi pelaku dan orang-orang di sekitar mereka, yang mereka tinggal lari, turut menjadi fokus dalam cerita. Setiap dari mereka diberikan konflik personal. Tak pernah film ini berpaling dari kenyataan-kenyataan seperti hubungan rumah tangga yang diaku sudah dipupuk cinta bertahun-tahun dapat dengan mudah pecah hanya dalam satu hari. Begitu banyak dan dalamnya perspektif yang dibahas, sehingga membuat kita melihat para tokoh enggak lagi dalam cahaya protagonis ataupun antagonis.  Semua orang punya pandangan di dalam kepala sebagaimana setiap orang punya cinta di dalam hati mereka. Menonton mereka bergulat dengan hal tersebut – bagaimana mereka memposisikan diri di antara cinta dan adat – adalah kualitas terkuat yang dimiliki oleh film ini. Mereka diberikan kesempatan untuk menggapai momen dramatis tersendiri sebagai penutup dari saga masing-masing.

Sudah begitu lama penonton memohon film Indonesia tampil dengan corak latar budaya yang kuat, dan Silariang hadir sebagai  penjawab harapan tersebut. Kita enggak hanya melihat Makassar di sini. Kita ikut hidup di dalamnya. Budaya itu kuat mengakar dalam setiap lapisan adegan, tanpa diiringi dengan kepentingan untuk menjelaskan sehingga membuat film ini juga bekerja dengan amat baik sebagai sebuah penceritaan visual. Seperti adegan ketika Paman dan Bibi Yusuf datang ke rumah Zulaikha. Mereka ditanyai maksud kedatangan, dan begitu baru sepatah menjawab, mereka malah ditawari minum teh oleh Paman Zulaikha. Dan setelah diminum tehnya tawar. Selayang pandang, adegan ini tampak agak menggelikan – orang mau jawab kok malah disuruh minum – namun sebenarnya adegan ini dengan subtil membentuk poin ke budaya Makassar; tamu yang disuguhi minuman tawar basically disuruh ‘pulang aja lo’. Ada begitu banyak adegan-adegan emosional yang dipasangi atribut budaya yang membuat masing-masing momennya menguar dan sangat vokal. Kita gak bakal gampang lupa adegan cuci kaki ataupun ketika melihat badik itu berpindah tangan seliweran di depan mata.

Kamera meromantisasi nyaris setiap adegan. Kadang terasa agak over, tapi sebagian besar bekerja efektif sebagai pendukung penceritaan. It’s a clear work of both editing and directing. Dua tokoh lead dimainkan oleh aktor yang sama sekali enggak ada darah Makassar, but yet, mereka tampak seperti pribumi sejati. Mereka meyakinkan banget sebagai anak muda yang saling jatuh cinta, namun enggak yakin apakah yang mereka tapaki adalah langkah yang benar. Aku mungkin salah, tapi sepertinya ini adalah kali pertama buat Bisma Karisma dan Andania Suri memainkan karakter yang dewasa. Bisma was so good sebagai Yusuf, permainan aktingnya tampak meningkat, tapi setiap kali mereka bersama – terlebih di bagian-bagian emosional – Andania Suri just plainly membanting akting Bisma. Ketika mata dan ekspresi Bisma kadang tampak keluar dari karakter, enggak sinkron dengan pemain yang lain (adegan mereka di rumah sakit bisa jadi contoh), Suri tampak secara konstan brilian. Adegan nangis selalu adalah senjata pamungkas jebolan Gadis Sampul ini.  Ada lapisan dalam emosinya, seperti ketika adegan mereka naik sampan, di tengah-tengah pemandangan asik itu Zulaikha malah tampak takut sebagai cerminan dari dia takut mengarungi kehidupan berdua. Dan kupikir adegan ketika Zulaikha sembunyi di bawah tangga rumah, dan peristiwa yang mengikutinya, adalah adegan emosional yang menjadi favorit banyak orang.

tak u-uk, Cu’

 

Saat menonton, aku pikir kita perlu melihat backstory hubungan Yusuf dengan Zulaikha sebab kita sama sekali enggak tahu darimana hubungan cinta yang kuat itu bermula. Film enggak memberikan ini, kita dilempar ke tengah polemik restu keluarga mereka. Kita hanya tahu mereka ini saling cinta mereka rela meninggalkan keluarga. Ketika aku memikirkan tentang hal ini lagi setelah selesai menonton, aku jadi melihat kemungkinan dari alasan kenapa film enggak menunjukkan hal tersebut. I think film ingin memperlihatkan bahwa kedua tokoh ini, mereka belum sepenuhnya mengerti atau yakin cinta itu ada. Bahwa yang mereka cintai adalah kemungkinan mereka hidup berdua, diakui sebagai pasangan. Buatku, ini juga sesuai dengan konteks guncangan kecil saat mereka menjalin rumah tangga di bagian akhir cerita. Maka aku menggolongkan kurangnya backstory cerita sebagai keputusan beresiko yang diambil oleh film.  Lagipula, film sudah semacam menebus aspek ini dengan memperlihatkan rentetan adegan manis nan menyenangkan tentang gimana Yusuf dan Zulaikha membersihkan rumah, ataupun saat mereka diperlihatkan berusaha ngurus bebek dan menghela sapi.

Berdasarkan reaksi penonton saat pemutarannya, film ini secara gak sengaja menjadi kocak. Namun ini sesungguhny adalah hal yang bagus karena kekocakan tersebut berasal dari situasi ataupun interaksi yang tampak begitu real alih-alih komikal. Masalah yang mereka hadapi adalah masalah yang logis dihadapi oleh pasangan yang melakukan kawin lari. Dan masalah tersebut memang tampak menggelikan oleh sebab betapa nyatanya ia. Penyelesaian konfliknya lah yang buatku tampak berlebihan. Film sudah membangun dengan begitu baik sehingga aku sedikit kecewa ketika film resort ke trope-trope drama untuk menyelesaikan konflik ceritanya. Also, mereka membuat semua hal menjadi convenient. Padahal aku ingin melihat mereka berjuang lebih keras dalam menyatukan pendapat seperti yang dilakukan oleh tokoh-tokoh film The Big Sick (2017), komedi romantis yang juga bicara tentang hubungan cinta yang enggak disetujui. Kedua film ini juga sama-sama memakai penyakit sebagai plot device, tapi tidak seperti Silariang, rumah sakit dalam The Big Sick enggak lantas mencuat menjadi penyelesaian. Aku ingin menghindari spoiler berlebihan, jadi aku cuma akan bilang alih-alih aspek ‘golongan darah yang langka’, aku pikir cinta mereka akan lebih teruji jika ‘pemersatu’ mereka itu dibuat meninggal saja.

Tidak ada tempat yang cukup jauh dari masalah yang kita hindari. After all those times, Yusuf masih terombang-ambing antara Cinta itu masalah uang atau masalah harga diri.

 

Sebelum menyaksikan ini di bioskop, aku sudah pernah menyaksikan film ini saat Ichwan Persada, sang produser – mentorku, mengadakan pemutaran khusus saat acara Halal Bi Halal My Dirt Sheet di kafe eskrimku di Bandung. Saat itu, filmnya masih belum dipoles, masih menggunakan musik template. Dan untuk beberapa adegan, aku lebih suka versi mentah itu ketimbang versi yang aku tonton di bioskop. Musiknya bagus dan mendukung penceritaan, namun ketika sudah masuk lagu soundtrack, beberapa adegan terasa dijejalin ke kita. Pada adegan pembuka, misalnya, aku gak mengerti kenapa lagu yang dipake begitu gempita mempromosikan Makassar. Aku merasa lagu tersebut enggak bekerja baik dengan tone keseluruhan film, it interferes dengan mood yang ingin disampaikan, dan aku pikir push terhadap Makassar dan budayanya sendiri sudah amat sangat tercermin dalam bahasa dan elemen-elemen penceritaan yang lain.

 

 

Jika kalian pernah mengharapkan film Indonesia dengan konten lokal yang kuat, drama Indonesia yang digarap dewasa, maka aku akan heran sekali kalo kalian malah melewatkan film ini. Kaya oleh perspektif tokoh yang berdimensi luas. Penceritaan didukung oeh visual cantik dan penampilan akting yang sangat meyakinkan. Untuk sebagian waktu, konflik yang dihadirkan terasa sangat manusiawi. Akan tetapi resolusi film datang dari aspek yang begitu convenient, sehingga terasa film mengambil cara yang aman untuk mengakhiri ceritanya. Film juga meninggalkan soal tradisi yang masih menjadi pemisah antara cinta dalam nada yang enggak tertutup. Bukan ambigu, melainkan mereka seperti sengaja enggak menyebutnya. Lari enggak akan menyelesaikan masalah, namun kupikir bigger picture yang mestinya ‘dijawab’ oleh film ini adalah soal strata yang membuat Yusuf dan Zulaikha enggak bisa bersatu in the first place.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for SILARIANG: CINTA YANG (TAK) DIRESTUI.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

THE BIG SICK Review

“Pleasing your parents is to attain Allah’s pleasure”

 

 

Fun fact: Di Pakistan, ‘Arranged Marriage (Perjodohan)’ disebut ‘Pernikahan’. Tanpa embel=embel.

Kalo di Sumatera Barat, Siti Nurbaya bilang “aku gak mau dijodohin, Ma!”, maka sebagai ekuivalen di Pakistan Siti Nurbaya simpelnya bilang “aku gak mau nikah, Ma!” Yang bikin makin kompleks adalah enggak banyak yang nekat jadi Siti Nurbaya di sana. Keseluruhan tradisi Pakistan adalah soal menghormati kehendak orangtua. Itulah yang dihadapi oleh Siti Nurbaya film komedi romantis ini, tapi dia bukan cewek. Seorang cowok stand up comedian yang juga nyambi jadi pengemudi Uber, namanya Kumail Nanjiani.  Dan ini adalah kisah nyata tentang gimana Kumail (memainkan diri sendiri di debut peran utamanya) bertemu dengan seorang yang sangat spesial bagi dirinya, menyangkut hubungan asmara mereka yang bergelombang oleh perbedaan kultur. Kumail pacaran sama cewek Amerika, yang mana melanggar salah satu peraturan emaknya yakni harus nikah sama cewek Pakistan. Cerita juga membahas gimana Kumail dan Emily (Zoe Kazan punya chemistry luar biasa dengan Kumail) pada akhirnya saling mengapresiasi – baik budaya dan ego mereka sendiri maupun orangtua masing-masing.

ada cewek yang nyaman-nyaman aja ngomongin boker di sekitar kalian? nikahin!

 

 

Aspek agama dan budaya, kompleksnya masalah yang timbul dari perbedaan pandang terhadap keduanya, menjadi tema besar yang diangkat oleh The Big Sick. Ini adalah masalah yang obviously benar-benar terjadi, banyak orang yang mengalami kejadian serupa, sehingga film ini bakal dengan mudah menemukan koneksi dengan penonton. Banyak orang terelasi dengan apa yang dihadapi oleh Kumail. Dan tidak sebatas itu saja pengrelasian kita terhadap tokoh ini. The Big Sick juga adalah tentang kerumitan keinginan anak beradu dengan keinginan orangtua. Seperti keluarga bahagia normal di Pakistan, keluarga Kumail yang tinggal di Amerika adalah keluarga yang taat terhadap peraturan agama dan peraturan sosial. Lewat tokoh Kumail, film ini menggambarkan pemeluk Islam sebagai tidak selalu serius seperti yang sering diduga oleh orang-orang Amerika. The Big Sick enggak ngasih pandangan yang menyudutkan, malahan film ini menangkap perjuangan identitas seorang imigran seperti Kumail dengan menghibur.

Kumail adalah muslim dengan pola pikir barat. Dia tidak mengerti kenapa dia harus sholat lima waktu, dengan diketahui oleh orangtuanya. Dia makan ati setiap kali kerjaannya sebagai stand up komedian disebut-sebut di meja makan mereka. Dia juga struggle untuk enggak langsung kabur balik ke kos setiap kali ibunya mengundang cewek pilihan untuk makan di rumah. Heck, Kumail bahkan disuruh manjangin jenggot kayak adiknya, meski dia udah bilang beberapa kali jenggot membuat wajahnya gatal-gatal. Stake yang tersaji adalah jika orangtua udah gak demen banget sama pilihan Kumail, dia akan ditendang dari silsilah keluarga, tidak akan ada lagi kerabat yang boleh bicara kepadanya.

Banyak dari kita yang dibesarkan oleh orangtua dengan tuntutan sebagai pupuknya. Kita diharapkan untuk menjadi sesuatu, memilih jalan hidup yang bener karena orangtua tahu yang terbaik. Makanya, banyak anak-anak yang tumbuh menjadi orang dewasa dalam keadaan takut-takut mereka mengecewakan orangtua. Susah untuk bikin orangtua bahagia. Susah untuk mendapat restu mereka, namun kita paham itu adalah hal yang penting, terlebih karena dalam agama Islam restu orangtua adalah restu Allah. Dan ini ditangkap dengan elok oleh The Big Sick karena pada akhirnya film ini menyentuh lebih dari sekadar romansa yang sangat lucu.

 

 

Di sinilah keindahan penulisan naskah menunjukkan perannya. The Big Sick tidak pernah mempersembahkan diri sebagai tontonan yang super serius. Dia tidak pretentious, enggak bermaksud totally ngajarin penontonnya. Komedi yang dihadirkan sangat real. Interaksi para tokoh tertangkap dengan mulus dan natural, bahkan terkadang film ini terlihat seperti semi dokumenter. Kita seperti menyimak percakapan beneran. Makanya film ini jadinya lucu banget, bukan semata karena diangkat dari kisah nyata, melainkan juga DIBANGUN TANPA PRETENSI. Beberapa adegan tampak seperti dimprovisasi gitu aja. Dengan chemistry luar biasa, tidak pernah terasa aktor-aktor tersebut overdoing akting mereka, hanya untuk jadi dramatis ataupun supaya lucu. Namun bahkan ketika aspek cerita yang lebih kelam dan sedikit lebih kuat hadir, mereka masih menemukan cara untuk memancing bibir kita tertarik membentuk garis senyuman.

Temanya sungguh real dan relevan dan relatable, kita sudah banyak mendapatkan film tentang hubungan cinta beda-budaya seperti ini. Film klasik Guess Who’s Coming to Dinner (1967) bisa dijadikan pioneer, atau kalo mau lebih deket lagi ada Ernest Prakasa dengan Ngenest (2015) yang menilik perbedaan sebagai momok yang walaupun kita berusaha cool about it, tetapi tetep ada dampaknya secara emosional. Awal tahun kita mantengin Get Out (2017) yang dengan kocaknya mengamplify ketakutan terhadap clash of culture dan ironisnya masalah rasisme. Dalam The Big Sick kita melihat Kumail yang menghadapi masalah seperti saat dia tampil ngestand-up, ada penonton yang merujuk ke stereotype teroris. The Big Sick  juga memiliki elemen yang membuat film ini berbeda dari film-film bertema serupa. Romantis dalam film ini bukan sekedar datang dari adegan dua sejoli tokoh kita saling cuddle di tempat tidur, mereka pacaran, kemudian berantem, terus balikan. Kejadian di babak kedua membuat film ini menjadi orisinal karena membuat Kumail harus menghabiskan banyak waktu dengan keluarga Emily yang sangat, sangat kocak. Secara personal, Kumail menjadi deket banget sama kedua orangtua ini, dia belajar banyak tentang masalalu Emily, hubungannya dengan kedua orangtua, serta Kumail mengerti apa yang terjadi di antara kedua orangtua Emily itu. Dan itu menjadi bahan pembelajaran yang lebih berharga lagi buat dirinya dalam kaitannya dengan menyintai orangtuanya sendiri.

kalo mau jadian ama cewek, deketin dulu orangtuanya hihi

 

Masalah yang bisa kutemukan buat film ini adalah pada durasinya. Menjelang babak ketiga bakal terasa panjaaaaaaang banget, sebab ada banyak sekuens yang tampak hendak menuju ke suatu titik, seperti ngetease akan terjadi sesuatu, tapi ternyata enggak. Sebenarnya ini lebih kepada masalah kodrat film ini sebagai kisah nyata. Susahnya mengulas dan mengritik film-film dari kisah nyata adalah akan tiba masanya bagi kita, saat menonton, untuk mempertanyakan sejauh mana porsi bagian nyata yang ditampilkan oleh film. Ketika ada suatu adegan yang lucu, misalnya, kita jadi ingin tahu apa memang benar di kejadian nyata seperti ini, mereka simply nunjukin dengan detil, atau mereka menambahkan bumbu-bumbu penyedap. Saat menjelang dan pada babak ketiga, banyak adegan yang membuatku bertanya seperti demikian, sehingga cerita rasanya sedikit terseok.

 

 

 

Amazing performances dari Kumail Nanjiani, Zoe Kazan, Ray Romano, Holly Hunter menghidupkan film dari kisah nyata ini menjadi benar-benar menggelora, karena kalo ada nilai kuat maka itu adalah komedi romansa ini sama sekali tidak prententious. Ini juga sangat lucu. Percakapannya terasa real. Akan ada banyak adegan ketika praduga dan konflik yang timbul dari perbedaan budaya dan agama, mereka harus work out their differences, namun sama sekali tidak pernah ditangani dengan klise. Dia juga tidak jatuh dalam jurang menghakimi ketika memperlihatkan struggle Kumail sebagai ‘alien di Amerika’. Tidak ada momen mereka meledak penuh emosi. Film ini sangat light-hearted meskipun tetap punya bobot emosional yang sangat kuat. Dan babak keduanya berhasil membuat film menjadi stand out. Itulah yang membuatnya menjadi menarik.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for THE BIG SICK.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

THE STORY OF 9O COINS short film Review

 

Kita sering melupakan betapa pentingnya janji, seperti kita sering melupakan bahwa film pendek tidak kalah pentingnya dengan film panjang. Ataupun bahwa ulasan atau review itu lebih dari sekedar sarana publikasi. Beberapa waktu lalu aku pernah buka pintu kerjasama buat aspiring filmmakers yang punya film pendek dan ingin direview. Namun sampe sekarang, Alhamdulillah, belum ada satu pun yang menghubungi. But to my surprise, malah filmmaker luar yang dengan hormat dan humblenya mempersembahkan karya debutorialnya untuk direview.

Michael Wong, indie director asal Malaysia, emailed me, dan dia punya satu film indah yang menurutku sangat penting untuk dishare. Not necessarily karena film pendek ini udah berprestasi di berbagai festival film internasional; which includes the Best Foreign Short & Best Actress at Los Angeles Independent Film Festival Awards, Best Drama & Best Cinematography at Los Angeles Film Awards, Best Foreign Short Film at Ukrainian International Short Film Festival, Rising Star Awards at Canada International Film Festival, an Official Finalist at London Film Awards, among others. Aku pikir, film pendek ini begitu penting dan sangat relatable buat begitu banyak orang, karena ini adalah cerita yang mengingatkan kita kepada janji.

And in hard times, this film can be a reminder to people of why they are in love in the first place.

 

Wang Yuyang dalam opening film pendek ini ditolak cintanya oleh Chen Wen. Jadi sebagaimana lumrahnya seorang cowok pejuang cinta, Wang Yuyang enggak menyerah. Dia mendeklarasikan sebuah ‘proposal’ yang lain; bahwa dia akan memberikan koin berbungkus amplop kecil kepada Chen Wen setiap hari. Kesepakatannya adalah; di hari ke sembilan-puluh, Wang Yuyang akan menanyakan kembali apa yang sekarang ditolak oleh Wen. Jika masih ditolak, koin tersebut akan mereka gunakan untuk beli minum kemudian pisah untuk selamanya. If somehow Wen menerima (Yuyang berkata penuh harap banget saat ngejelasin ini), maka koin tersebut akan digunain buat ngurus surat nikah. Sutradara Michael Wong tidak mengambil langkah bertele dan memanfaatkan 9 menitan durasi dengan sangat efektif. Romansa yang mengalir dari kedeketan mereka berdua tergambar lewat visual dan sinematografi yang niscaya ampuh bikin penonton cewek meleleh. Enggak butuh berepisode-episode sinetron untuk membuat kita mengerti bahwa cinta lambat laun tumbuh di antara mereka.

Apalah cinta tanpa pilihan. Dan saat konflik itu tiba,  The Story of 90 Coins doesn’t shy away dari fakta bahwa setiap manusia pada akhirnya harus memilih jalan sendiri. Oleh tuturnya, kita dibuat mengerti apa yang membebani dua sisi mata uang  –  yes , I’ve just punted it in – yakni Wen dan Yuyang. I think film ini punya kemampuan untuk beresonansi berbeda terhadap each penonton. It could sparks a healthy discussion di antara cowok dan cewek. To be frank, it’s hard not to pick a side when you’re watching a story as true and relatable as this. Menurutku, bukan hanya trust yang berpengaruh besar dalam menggali lubang di antara dua manusia ini. Semuanya kembali ke masalah seberapa besar seseorang menghargai janji.

it’s not just another mars and venus problem

 

Aku pastilah sudah hidup bak raja, tinggal dalam kamar bergelimang keripik kentang dan coklat jika Mamaku menepati janji-janjinya sekarang, “Udah, jangan rebutan! Nanti Mama belikan sepuluh lagi”. Dulu waktu kecil, setiap kali aku dan adikku berantem soal makanan (baca: setiap dua jam sekali, setiap hari!) – mainly because aku laper melulu dan my little evil sister pelit bukan kepalang – Mama akan menjanjikan beliin aku lagi hanya supaya kami berhenti saling lempar barang-barang.

Jadi, ya, karena sering diphpin begitu, aku tumbuh dengan tekad untuk sebisa mungkin nepatin janji betapa pun beratnya. Aku pernah janji gak ngehubungin orang, and I fulfilled that before we are friends again setelah setahun. Nelangsa, ya. Susah, memang. Tapi, aku berhasil enggak ingkar.  Aku mengerti bahwa bagi sebagian besar, janji diumbar dengan gampang saja karena itu adalah jalan keluar termudah. And it will instantly work. Diajakin ngumpul, tapi kalian lagi pengen me-time? “Insya Allah gue datang yaa”. Diundang acara, tapi gak enak nolaknya sebab nanti giliran kalian yang bikin acara kalian takut temen itu ‘bales dendam’ gadatang? “Okeee, tapi aku rada telat kayaknya.”- and then you never show up, atau ngecancel di menit-menit terakhir.

Anak muda sekarang kan memang suka gitu, dia yang memulai, dia yang mengakhiri. Dia yang berjanji, dia pula yang mengingkari.

Eh, kenapa jadi lagu dangdut?

 

Film ini berkata “Don’t let a promise just be a beautiful memory”. Apa yang terjadi pada Wen dan Yuyang di akhir cerita menunjukkan kepada kita bahwa terkadang kita enggak ingat, or we do not even realize, that we take our dearest for granted. Kadang kita bisa menjadi begitu selfish. Dan oleh karena itu juga, bahwa kadang kita sering mengucapkan sesuatu tanpa benar-benar memaksudkannya .

 

Film ini akan menegur kita dengan manis. One could argue that montase kenangan di bagian akhir dapat menjadi terlalu sappy, tapi menurutku hal tersebut bekerja cukup baik dengan tone yang sudah dibangun oleh film. Kita bisa melihat beda antara karakter, yang mana menandakan penulisannya fokus. My little problem, well it is not really a problem sih, but I do think bagian ending film pendek ini sebenarnya enggak perlu-perlu amat. Narasi bisa berjalan tanpa kita harus tahu apa jawaban yang terlontar dari mulut Chen Wen. Aku lebih suka cerita yang membuat kita menebak, namun perlakuan film pendek dengan film panjang memang sedikit berbeda. Biasanya film pendek diakhiri dengan ‘kejutan’ atau sesuatu hal yang menohok banget, this short did just that. Dia mereveal semua supaya note dramatis dan emosional yang dihasilkan bisa maksimal terpush.

Aku senang dapat kesempatan tahu dan nonton film pendek ini. Aku merasa terhormat sudah dimintai pendapat mengulasnya sebagai ulasan short film pertama di mydirtsheet.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 stars for THE STORY OF 90 COINS.

 

 

Buat yang pengen nonton filmnya dan tahu lebih banyak bisa ikuti salah satu link di bawah ini:

a) Short film streaming link: http://www.vimeo.com/143267832/
b) Facebook page: www.facebook.com/thestoryof90coins/
c) IMDb page: www.imdb.com/title/tt5182914/

 

That’s all we have for now.
Kesempatan masih terbuka loh buat yang punya film pendek dan pengen diulas, ataupun pengen discreening di Warung Darurat Bandung; silahkan hubungi kami lewat email.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We? We be the judge.

SWEET 20 Review

“Beautiful people experience life differently.”

 

 

Pernah gak sih penasaran pengen tau gimana tampang nenek atau orangtuamu kala mereka masih muda dulu? Apa mereka bandel-bandel juga kayak kita? Seperti apa mimpi-mimpi mereka, apa mereka berhasil mencapainya? Wah, kalo belum, coba tanyain segera deh. Kali aja nenek kamu dulunya mantan gadis sampul majalah. Buka lemari kayu reot itu, ambil album-album foto yang tersimpan di dalam laci. Tiup debu di sampulnya, buka, dan apalin satu persatu wajah nyengir yang nampang di sana. You might be surprised. Segera. Sebelum nenek-nenek kita pada berbondong-bondong ke studio foto Forever Young. Dan tanpa sepengetahuan kita, the next cewek kece yang kita taksirin ternyata adalah nenek kita sendiri. Bisa gawat!

Seperti yang dialami oleh Nenek Fatmawati (Niniek L. Karim tampak totally have fun mainin tokoh ini). Begitu beliau mencuri dengar keluarga putranya sedang berembuk soal memasukkan dirinya ke panti jompo, Nek Fatma jadi sedih. Dia enggak pernah pengen direpotin. Dia jadi merindukan masa mudanya yang mandiri. Dengan galau, dia masuk ke studio foto di pinggir jalan yang terlihat oldies banget. Setelah difoto, Nek Fatma menjadi lebih muda tiga-puluh tahun, ajaib! Dengan girang Nek Fatma menjalani identitas barunya, nyamar menjadi cewek muda bernama Mieke (busana-busana classy itu sukses bikin Tatjana Saphira terlihat supercute!) Mieke ingin melakukan hal-hal yang dulu tidak bisa ia lakukan di masa mudanya yang asli – lantaran Fatma was a single mother. Tentu saja segudang masalah datang bersama perubahannya ini, yang dibahas oleh film dalam sinaran yang kocak. Mieke kudu berkutat dengan masalah duit, juga soal keluarga yang mencari dirinya. Mieke harus berpura-pura berjiwa muda, meski dia masih cerewet ngomelin ini itu khas nenek-nenek. Mieke harus ‘menghindar’ sekuat tenaga dari panah cinta cowok-cowok muda di sekitarnya, while berusaha mengejar cinta lamanya.  Apalagi dari cucunya, yang by the way, ngajak Mieke ikutan bergabung sebagai vokalis band.

ternyata enggak segampang itu jadi orang cantik di jaman sekarang.

 

Hidup menjadi lebih mudah jika engkau muda dan berpenampilan menarik. Especially if you are a girl. Ya, pernyataan yang jelek. Tapi itulah kenyataan. Dengan menjadi muda kembali, Fatma mudah untuk diterima oleh orang, termasuk oleh keluarganya sendiri. Menantunya menerima kritik masakan dengan lebih lapang dada ketika kritik tersebut datang dari mulut merah merekah wanita yang lebih muda. Penjual sepatu juga lebih ramah kepadanya dibanding saat dia menawar ketika dalam wujud aslinya yang keriput. Memang, kadang ‘cantik itu luka’ dan kecantikan bukanlah segalanya, tapi kita enggak bisa mungkir bahwa kita hidup di dunia yang sedikit lebih sopan dan lebih berhadap terhadap orang-orang yang atraktif.

 

Meskipun ini adalah ADAPTASI RESMI DARI FILM KOREA, aku tidak merasa asing saat menontonnya. Sutradara Ody C. Harahap menempeli naskah dengan warna-warna khas Indonesia. Kita melihat para tokoh berlebaran, nonton sinetron, dan mendengar mereka menyanyikan lagu-lagu klasik Indonesia. I have soft spot di film-film yang masukin elemen lagu, dan film ini berhasil membuat, bukan hanya aku, tapi nyaris seisi studio ikutan menyanyikan lagu yang dinyanyikan oleh Tatjana. Aransemennya asik punya. Film ini cerah banget, production designnya top, enak enak sekali untuk dipandang. Bahkan ketika tone cerita mulai serius, ada saja yang bikin penonton tertawa. Tatjana really nailed it sebagai jiwa tua yang bersemayam di raga yang muda. Dia terlihat girang, while also nunjukin concern dan ‘cerewet’nya nenek-nenek. Para pemain lain juga menghandle tokoh mereka dengan sama enggak jaimnya, namun beberapa terasa tertahan oleh kurungan naskah yang membuat tokoh mereka satu dimensi; hanya ditujukan untuk bagian tertentu. Sepertinya Lukman Sardi yang hanya di sana untuk bagian dramatis dari narasi.

Sebenarnya enggak heran juga kenapa adegan sisipan yang poke fun soal sinetron Indonesia mengundang tawa lebih heboh dan lebih membekas dari keseluruhan film. Karena dengan banyak elemen yang berusaha ditackle oleh narasi, not to mention gabungan cerita asli dengan bagian-bagian lokal, memang Sweet 20 terasa seperti gabungan momen-momen lucu yang tidak pernah benar-benar terflesh out. Misalnya, ketika Mieke latihan band pertama kali dan dia gak setuju ama lagu rock, ngusulin pake lagu “Hey Hey Siapa Dia”, kita tidak diperlihatkan gimana lagu ini bisa diapprove oleh anggota band – ultimately changing the genre of the band. Atau ketika tiba-tiba saja Mieke dan cucunya sudah duduk makan di café, padahal akan lucu kalo diliatin gimana caranya mereka bisa jalan berdua. Film ini juga memutuskan untuk menggeber kelucuan dari dua nenek yang sirik-sirikan ketimbang mengeksplorasi momen-momen kecil seperti adegan di pasar soal komentar tentang bayi dan ibu modern; menjadikan film ini terlalu ringan. Dan to be honest, aku enggak bisa peduli betul sama tokohnya. Aku gak mengerti keinginan dan kebutuhan Fatma sebagai tokoh utama. Karena film tidak menceritakannya dengan clear, due to banyaknya kejadian. At one point Fatma mengejar cinta, point berikutnya dia ingin memenangkan kontes band.

Nona Nyonya

 

Film tidak pernah fokus untuk membahas relationship antara Fatma Muda dengan keluarga dan orang terdekatnya, meski mereka terus bertemu. Ini bukan cerita Fatma yang berusaha untuk diterima oleh keluarganya, ini juga bukan cerita tentang Fatma yang ingin mandiri – sebab dia enggak pergi jauh, di sekitar keluarganya doang. Aku enggak yakin ini cerita apa. Di akhir cerita, karakter Fatma tidak berubah; dia tetap nenek yang ngurusin orang lain, hanya saja kini keluarga lebih apresiatif kepadanya. Lucunya, malah cucu-cucunya yang menjadi pribadi yang berbeda di penghabisan film, padahal mereka tidak benar-benar punya arc, terutama cucu yang cewek.

Fatmawati sebagai tokoh utama terasa pasif karena justru keluarganya lah yang belajar untuk menerima dia. Itupun dipicu oleh peristiwa yang bisa digolongkan ‘kebetulan’, karena datang tanpa penjelasan. Aku gak mau spoiler terlalu terang, tapi menjelang akhir itu, ada tokoh yang terlambat entah karena apa, dia lantas kecelakaan dan butuh transfusi darah yang hanya dipunya oleh Fatma. Redemption Fatma datang dari konfliknya di mana dia sekali lagi harus memilih untuk ngorbanin masa mudanya demi orang lain, I get that, tapi semua itu terasa effortless. Coba deh, bandingkan dengan perjalanan tokoh Peter Parker di Spiderman: Homecoming (2017) yang kerasa banget up-downnya.

Setiap film, mau action, komedi, romance, punya naskah yang tersusun atas babak-babak cerita. Setiap babak ada sekuens yang merupakan naik-turunnya perjalanan karakter utama, dan menjelang akhir babak kedua seharusnya adalah sekuens down di mana tokoh utama kehilangan semua dan harus berjuang sebagai diri sendiri. Dalam film romantis, biasanya ini adalah ketika tokoh utama berantem trus putus dengan pacarnya. Dalam cerita undercover, biasanya ini ketika penyamaran tokoh utama terbongkar dan dia dianggap pembohong oleh semua orang. Dalam Homecoming, kita lihat Peter dirampas dari kostumnya, dia belajar menjadi pahlawan sebagai dirinya sendiri. Tidak ada sekuens ini di dalam narasi Sweet 20. Kita tidak melihat Fatma ‘berjuang’ sebagai nenek, makanya tadi aku bilang effortless. Dia diterima begitu saja, bahkan orang-orang enggak ada yang mempermasalahkan kenapa dia yang tua bisa jadi dua-puluh tahun lagi.

 

 

Punya bumbu komedi yang semakin cerah oleh warna-warna lokal, membuat film ini enak dan relatable untuk ditonton. Musiknya oke, pemainnya pun kece. Premis ceritanya yang unik diturunkan kepentingannya oleh fakta bahwa ini adalah cerita adaptasi dari film lain. Dan semakin terbebani lagi oleh elemen-elemen cerita yang masuknya dijejelin, tanpa pernah terflesh out dengan baik. Indeed, film ini terasa kayak ringkasan dari film yang lebih panjang. Alih-alih fokus ke pengembangan relationship ke tokoh-tokoh, film ini hanya menunjukkan momen-momen di mana candaan bisa ditampilkan tanpa ada pijakan yang kuat. Tapi walaupun ini kayak kita nulis resume, tetap aja film terasa going on forever. How’s that possible, you asked? Coba tanyak sendiri ke Nenek Fatmawati kalo berani.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for SWEET 20.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

Dhanurveda – Preview Buku

dhanunnamed

 

Katniss Everdeen kedatangan saingan baru, nih! Dari Indonesia pula.

Kalo biasanya tidak banyak novel Indonesia, atau malah film Indonesia, yang berani berandai-andai seperti apa negara ini ke depannya, maka Dhanuverda ini beda. Fiksi ini bercerita tentang seorang wanita muda yang memimpin kelompok massa, mereka mencoba mencari tahu sebab tragedi politik terbesar dalam sejarah umat manusia. Nama tokoh utamanya masih dirahasiakan, aku enggak tahu, mungkin nanti bakal ada big reveal apa gimana. Namun, tema bukunya sih udah cerita dystopia banget yakan? Dhanurveda mengambil setting pasca perang dunia ketiga, saat Indonesia dipimpin oleh Presiden kesepuluh. Siapa presidennya? Gimana keadaan Indonesia saat itu? Gimana negara ini bisa survive dari perang dunia ketiga?? Seneng enggak sih akhirnya ada penulis yang ngajak kita berimajinasi sekaligus mungkin berkontemplasi, karena kata penulisnya sih, novel ini penuh dengan sentimen; mulai dari sentimen politik hingga sentimen agama.

Ngomong-ngomong siapa ya yang ngarang novel ini?

Dhanurveda adalah novel pertama yang ditelurkan oleh Zahid Paningrome. Tapi tenang, walaupun bisa nelur, mas Zahid ini manusia kok, kayak kita-kita. Mas Zahid juga aktif nulis di blognya; zahidpaningrome.blogspot.com. Biasanya dia suka nulis cerpen, puisi, cerita bersambung, dan tulisan kreatif nan-berbobot yang lain. Bahkan di blognya tersebut, mas Zahid juga lumayan cerewet mengulas film. Samaan deh ama blog kesayangan kalian ini (idiih, ngaku-ngaku). Reviewan mas Zahid, bisa kita baca, selalu tajam melihat detil-detil. Ya teknis, ya cerita, visi sutradara juga tak luput dari pengamatan. Apalagi detil mengenai isu sosial yang membayangi sebuah film. Dan tentu saja, kita bisa mengharapkan ketajeman yang serupa hadir dalam penuturan cerita Dhanurveda.

Kata mas Zahid ketika diwawancara di kediamannya di Semarang (via internet!), nama Dhanurveda dipilih karena kecintaannya pada ajaran bela diri dan penggunaan senjata (panah) di medan perang yang terdapat pada KItab Weda (sastra Hindu). Dan kata mas Zahid lagi, sesungguhnya novel ini sangat personal buat dirinya. Katanya, novel ini termasuk perjalanan panjang dalam sejarah dirinya menulis.

Ah, daripada kebanyakan ber’kata-katanya’, marilah kita beri kesempatan sebebas-bebasnya buat Mas Zahid. Berilah waktu supaya dia bisa menuturkan sendiri cerita tentang karya debutnya di dunia sastra. Bicaralah, Mas!

 

“Teman-teman, sebetulnya saya membuat cerita Dhanurveda dalam keadaan gundah. Bukan gundah yang robot-robotan Jepang, itu Gundam! Gundah yang disebabkan dari melihat politik di Indonesia yang penuh intrik dan trik yang culas dan kasar. Saya mencoba menuliskan akibat dari itu semua di tahun sekarang untuk ditarik ke tahun-tahun berikutnya. Membuatnya menjadi bom waktu. Untuk itulah maka saya memilih genre novel yang bersifat futuristik. Kita musti berani membicarakan masa depan, utamanya masa depan Indonesia.

“Saya juga gundah gulana menyadari dunia literasi atawa sastra, khususnya di Indonesia, sedang sekarat. Karena dipenuhi metro-pop ringan yang membuat perempuan-perempuan yang membacanya berteriak kegirangan. Tapi sejatinya tidak mengubah pemikiran siapa-siapa. Padahal kan, membaca berarti juga memahami isi, bukan sekadar membaca dan terpuaskan. Hati girang, buku lantas dibuang. Metro-pop yang sudah sangat menjamur tersebut selalu saja bercerita tentang kisah cinta ringan dan aneh, menjadikan dunia ini tidak lagi punya varian yang banyak. Sedihnya lagi, fenomena pop ringan ini juga terjadi di dunia musik dan, tentu saja, film. Jadi ya, tentu saja kehadiran Dhanurveda, dengan cerita mencekam berbahasa pop science dan dibumbui kisah cinta khas ini siap untuk menjadi koleksi buku terbaru setiap anak muda dan pembaca yang berani bertualang. Saya menyebut cerita buku ini ‘ROMANTIC TRAGIC-COMICO’.”

bakal ada tiga matahari di masa depan?
bakal ada tiga matahari di masa depan?

 

“Novel ini mulai masuk proses pencatatan ide sejak Juli 2016. Kemudian mulai ditulis bener-bener sekitar bulan Agustus 2016 dan selesai pada akhir November 2016. Hingga pertengahan Desember, novel ini disemayamkan memasuki proses editing. Akhirnya rilis pada 14 Februari 2017. Tanggal perilisannya memang sengaja saya pilih tanggal empat-belas Februari karena saya ingin teman-teman ingat betul bahwa tanggal segitu bukanlah Hari Valentine, melainkan hari kelahiran Dhanurveda. Duh, bangganya buah karya saya diperingati!

“Umm.. sebetulnya ini rahasia, tapi karena ada desakan dari si penanya, terutama dari penumpang kereta api yang suka mudik lebaran berdesak-desakan, akhirnya saya mau juga bercerita perihal yang sedikit ‘pribadi’. Novel Dhanurveda adalah persembahan bagi perempuan yang saya cintai sepenuh hati. Saya menjadikan perempuan itu sebagai tokoh utama cerita novel ini. Jadi yaa, namanya bisa sama bisa enggak hehehe. Yang jelas perempuan ini, saya berikan tempat tersendiri. Juga terlihat dari paragraf terakhir di Kata Pengantar Dhanurveda. Sosok perempuan ini sudah sangat lama menghilang dan tidak bisa lagi saya temui sejak pertengahan 2015. Hingga kini, saya masih belum bisa bertemu dan berkomunikasi dengannya.

“Di Dhanurveda ini ada uniknya juga loh. Salah satu babnya ada yang saya tulis berdasarkan pengalaman nyata yang saya alami di dalam mimpi di suatu malam. Baca novelnya, deh (red: beli dong!), cari bab yang saya namai ‘Ruang Mimpi’. Memang, sejak memilih jalan untuk menulis di ranah cerita fiksi, saya sering mengalami masa-masa transendental. Maksudnya, saya seperti hidup di dalam mimpi sendiri, menjadi arsitek bagi mimpi. Di dalam mimpi, saya melihat diri saya sendiri yang lagi tertidur. Aneh? Enggak juga. Saya percaya setiap dimensi kehidupan selalu punya ruang, tak terkecuali dimensi mimpi. Bagi saya, mimpi adalah dimensi yang memiliki ruang yang sangat bercabang.”

..

“Ya, kayaknya statement saya sudah cukup kepanjangan. Sejak awal, Teman-teman, hanya satu tujuan saya menulis; Untuk membangkitkan gairah membaca yang mulai pudar karena perkembangan zaman, khususnya di kalangan anak muda. Saya masih akan terus konsisten dengan gerakan #MariBaca yang sering saya kumandangkan di setiap tulisan yang rilis di blog saya. Dua-ratus rilisan pos, sejak 2013 akhir dan masih terus menambah jumlah hingga kini, karena saya juga sembari berharap kepada Tuhan supaya tujuan saya bisa tercapai.”

 

 

 

 

Novel futuristik yang bisa jadi bukan saja bakal nyaingin The Hunger Games, tapi juga sanggup sejajar ama 1984nya George Orwell. Membawa banyak pengharapan dari penulisnya, semoga buku ini bisa menjadi breakthrough yang amat sangat dibutuhkan oleh scenery sastra Indonesia kekinian.  Dan kalian tahu, it’s all up to us the readers to make it all come true. Untuk detil pemesanan, silahkan kunjungi http://zahidpaningrome.blogspot.co.id/2017/02/hari-lahir-dhanurveda.html Kalian juga boleh menghubungi Mas Zahid langsung lewat facebook, twitter, dan instagram @Zahidpaningrome

Semoga dengan dirilisnya novel ini, kita bisa menemukan kembali kecintaan membaca, sebagaimana perempuan yang ia cintai bisa melihat keseriusan Zahid dalam mencintainya.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.