Tags

, , , , , , , , , , , ,

“If we do not have one thing, we surely have some other”

 

 

Dengan menyerukan kata “Shazam!”, Billy Batson – Asher Angel memerankan anak muda empat belas tahun dengan hidup yang cukup ‘keras’ besar dari rumah asuh ke rumah asuh lain – berubah menjadi Zachary Levi yang berotot, berkostum ketat merah, dengan sayap putih sebagai jubahnya. Dan simbol kilat menyala oren terang di dadanya. Apa yang lantas dilakukan Billy dengan kekuatan sihir menembakkan kilat dari jarinya? Apa yang diperbuat Billy dengan kemampuan berlari super cepat, tahan peluru, dan bertenaga seperti Superman? Tentu saja bersenang-senang! Dengan wujud barunya, Billy membeli bir. Membalas perbuatan bully di sekolah. Lalu kemudian bolos sekolah. Masuk ke kelab. Begitulah kehidupan orang besar di mata anak-anak; kesempatan bermain yang lebih panjang. Tapi tentu saja, menjadi dewasa bukanlah sekadar mengucapkan mantra untuk berubah.

Shazam! sebelum sebuah film superhero, adalah sebuah film keluarga. Dan sebelumnya lagi, film ini merupakan sebuah gambaran tentang dewasa yang sebenarnya. Menggunakan sudut pandang anak kecil. Salah satu dari kalimat yang pertama kita dengar di film ini, kurang lebih, adalah “this kid will never be a man”, yang seketika mengeset konteks bahwa menjadi dewasa sekiranya dapat menjadi beban bagi anak kecil; sesuatu yang ditakuti, lantaran mereka belum punya pengetahuan ataupun kesiapan. Tapi ini bukan jenis cerita yang membandingkan kesempatan anak kecil dengan orang dewasa. Ini lebih kepada membandingkan dua contoh kasus; dua anak kecil yang sama-sama tidak punya satu elemen penting dalam masa perkembangan mereka sehingga rasa takut tersebut berubah menjadi rasa iri. Dan kedua anak ini memilih cara yang berbeda untuk mengekspresikan rasa iri mereka.

Fokus film ini adalah supaya kita melihat dan meng-embrace hal yang tidak kita punya. Bukan untuk menumbuhkan inferior, bukan untuk menciptakan rasa iri. Melainkan supaya kita dapat membuka diri menerima hal baru yang akan mengisi kekurangan sehingga kita menjadi semakin dewasa terhadap keadaan kita.

 

film ini udah kayak versi superhero dari Big (1988) dan iklan ojek-online episode korban tsunami 

 

Ketika membaca tiga paragraf di atas, mungkin yang belum nonton bakal menganggap film ini sebagai tontonan yang serius. Percayalah, di tengah gempuran dunia sinematik superhero yang ceritanya lagi kelam dan sangat serius, Shazam! actually adalah jenis film superhero yang bisa kita nikmati sambil nyender santai ngunyah popcorn di kursi. Penceritaannya mengambil pendekatan seperti komedi anak muda di tahun 80an. Akan ada banyak adegan yang sengaja dijatohin cheesy. Tone cerita memang kadang jadi gak bercampur dengan baik. Sepuluh menit pembuka yang lumayan dark, dan menyedihkan, dan kemudian ternyata bagian tengahnya itu luar biasa ringan. Yang dialami oleh Billy saat masih kecil itu bukan materi yang bikin kita ngakak. Dia terpisah dari ibunya di karnaval, dan sejak hari itu terus mencari-cari keberadaan sang ibu. Hidup Billy jadi enggak mudah. Tetapi alih-alih melanjutkan cerita lewat drama, film membawa kita ke pendekatan yang lebih fresh. Kita diberitahu Billy terus-terusan kabur dari rumah asuhnya. Kita diperlihatkan Billy ngeprank polisi demi mendapatkan alamat. Dan ini sebenarnya sangat kompleks; film enggak ingin membuat cerita yang seperti biasa namun juga tak mau Billy tampak seperti remaja urakan yang melakukan keputusan bego dengan sekadar mencari masalah dengan orang dewasa. Billy ini menolak untuk settle dengan rumah asuh karena dia menolak mengakui dia udah gak punya keluarga.

And here comes the heart of the movie; Billy ditempatkan di rumah asuh bersama lima anak yatim lainnya. Elemen keluarga asuh ini menjadi aspek terbaik yang dimiliki oleh film ini. Orangtua asuh Billy kali ini adalah pasangan yang dulunya juga gede di sistem foster, jadi mereka mengerti bagaimana menjadi keluarga. Baru-baru ini aku nonton MatiAnak (2019) yang juga memperlihatkan kehidupan foster family yang menyenangkan, dan Shazam! ini juga sama upliftingnya. Anak-anak yang bakal menjadi saudara Billy lebih beragam. Cewek yang paling kecil, misalnya, sangat senang punya kakak cowok baru dan tidak bisa berhenti bicara. Ada juga anak yang hobi main game. Ada yang pendiam tapi gak menutup dirinya. Ada kakak cewek yang galau keterima kuliah, tetapi dia merasa berat harus pindah dari keluarga tersebut. Percakapan Billy yang tatkala itu sudah menjadi Shazam dengan si kakak ini menunjukkan nun jauh di lubuk hati sebenarnya Billy merasa iri dengan anak-anak yang bisa menerima kekurangan mereka, tapi ia tutupi dengan merasa ia sudah bisa menjaga diri – ia merasa itulah makna dewasa, sehingga ia tidak perlu lagi iri.

Teman sekamar Billy, si Freddy (Jack Dylan Grazer jadi salah satu sumber komedi paling efektif dalam cerita), eventually menjadi sidekick yang ngajarin Billy cara menjadi superhero yang ‘baik dan benar’. Tokoh ini menurutku adalah perwujudan dari tone cerita yang kadang gak nyampur dengan baik tadi. Di awal pertemuan mereka, Freddy bercanda mengenai kondisi dirinya yang berjalan dengan bantuan tongkat. Dan kita gak yakin harus tertawa atau enggak, kinda seperti lelucon ‘papa belum mati’ Lukman Sardi di film Orang Kaya Baru (2019). Tapi sutradara David F. Sandberg lumayan berhasil mengalihkan tokoh ini dari menjadi annoying, hubungan antara Freddy dengan Shazam-lah yang membuat bagian tengah film ini menyenangkan untuk disimak. Dan tentu saja, Zachary Levi sangat kocak sebagai Billy Super. Dengan sukses dia menghidupkan seperti apa sih anak kecil yang seumur hidupnya belum pernah mengalami kejadian menyenangkan tiba-tiba mendapat kekuatan, menjadi orang besar, dan bisa melakukan banyak hal yang sebelumnya mungkin malah tak pernah ia bayangkan. Makanya Billy kecil justru terlihat dewasa, sedangkan Billy gede lebih fun – seperti ada dua Billy. Karena dalam wujud Shazam, Billy merasa lebih luwes dalam mengekspresikan diri.

Ketika kita diliputi rasa iri, kita akan lebih berfokus pada apa yang tidak kita miliki. Padahal semestinya kita tidak melupakan apa yang kita miliki, apa yang seharusnya kita nikmati.

 

Film tidak benar-benar menjelaskan kenapa Billy terpilih sebagai pewaris kekuatan sihir Shazam, selain karena dia punya hati yang murni. Monster yang harus dikalahkan olehnya adalah perwujudan dari Seven Deadly Sins. Billy bisa jadi dikatakan murni karena dia tidak tertarik untuk membesarkan Dosa yang dia punya, he did try to repressed his envy. Tapi cara film ini membuat urutan kejadiannya, malah jadi terasa seperti Billy adalah pilihan random, dan alasan kenapa dia enggak tergoda jadinya seperti karena Monster Tujuh Dosa itu sudah pergi dan tidak ada di Gua saat Billy dipanggil ke sana. Billy seperti tidak mendapat ‘godaan’ sebesar antagonis utama film ini, ‘anak kecil’ satunya lagi yang jadi sorotan cerita; Mark Strong yang dengan bad-ass memerankan Dr. Thaddeus Sivana.

Nangkep anak-anak aja kok mesti ngeluarin lima monster segala sih, dasar Sivana na na na~

 

Kondisi yang membuat iri tumbuh dengan tiga kondisi sebagai syarat. Pertama ada orang atau sesuatu yang lebih baik, kedua kita merasa ingin seperti demikian, dan ketiga ada derita yang kita rasakan sehubungan dengan hal tersebut. Backstory Dr. Sivana ini dijelaskan dengan cukup detail. Dia mengalami tiga hal tersebut. Kita melihat dirinya semasa kecil, dan seperti apa jadinya dia saat dewasa. Cerita ingin menunjukkan kontras antara Billy dengan Sivana; anak kecil yang berusaha dewasa dengan keadaan dirinya dan orang dewasa yang tetap seperti anak kecil lantaran menahan grudge yang dipelihara oleh rasa irinya. Merupakan perbandingan yang menarik, tapi juga membuat tokoh ini jadi satu-dimensi. Dan kita diminta untuk percaya dari sekian jauh waktu antara dia kecil hingga dewasa, dia hanya punya satu di pikirannya. Dia tidak berubah sama sekali. Untuk memaklumkan kita, film berusaha menunjukkan ‘kegilaan’ Sivana dewasa dengan meng-reintroduce tokoh ini dalam lingkungan penelitian, di mana kita melihat dia menonton video orang-orang yang mengalami kejadian yang sama dengan dirinya untuk berusaha mengerti dan pada akhirnya bisa mengeksploitasi sumber dari fenomena tersebut. Hanya saja, sekuen tersebut malah menambah ke bentroknya tone cerita, aku gak tau harus merasakan apa melihatnya setelah pembuka yang lumayan sedih, untuk kemudian setelah ini disambung sama adegan jenaka yang begitu self-aware.

Shazam! memasukkan banyak referensi superhero dari DC Comic. Batman dan Superman malahan berperan lumayan ‘besar’ sehingga kadang rasanya kepentingannya sedikit terlalu besar untuk mengingatkan kita bahwa ini adalah superhero DC. Selain itu, juga ada referensi dari video game dan pop-culture lain. Terang-terangan film memasukkan adegan yang merujuk pada film Big nya Tom Hanks. Which is fun. Hanya saja, sekali lagi, terasa terlalu intrusif sehingga mengganggu tone adegan yang saat itu lagi kejar-kejaran antara Shazam dengan Sivana. Kadang film bisa mendadak jadi extremely comical seperti demikian. Salah satu contoh lagi adalah adegan ketika mereka berdua lagi ‘berdiri’ dengan jarak yang lumayan jauh. Ini sebenarnya kocak banget, karena film seperti meledek adegan-adegan yang biasa kita lihat dalam stand-off tokoh superhero dengan penjahat. Tapi sekaligus juga mengurangi keseimbangan tone, I mean, jika ingin kocak seperti demikian mestinya mereka konsisten komedi dulu dari awal seperti yang dilakukan Thor: Ragnarok (2017) yang dengan bebas mengeksplorasi kekonyolan tanpa merusak tone cerita secara keseluruhan.

 

 

 

Sedikit lebih komikal dari yang diisyaratkan oleh adegan pembukanya. Film ini bakal jadi hiburan yang ringan, di mana menyebutnya ‘superhero yang tidak serius’ tidak akan menjadi jegalan buatnya. Melainkan pujian. Bagian terbaiknya adalah elemen keluarga-angkat yang menyumbangkan hati buat cerita. Sementara sekuen-sekuen kocak Billy yang belajar menggunakan kekuatan barunyalah yang sepertinya bakal diingat terus oleh penonton. Selain itu, pembangunan drama personal – terutama tokoh jahat – mestinya bisa dilakukan dengan lebih baik lagi
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for SHAZAM!.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Melihat dari akhir filmnya, apakah menurut kalian Mary akan memilih untuk melanjutkan ke kuliah yang jauh dari rumah?

Kita semua tentu pernah merasa iri hati, pernahkah kalian membandingkan rasa iri yang kalian rasakan itu lebih sering muncul dalam kondisi yang bagaimana? Mana sih yang lebih rentan iri; anak kecil atau orang dewasa, atau malah sama aja?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.