12 STRONG Review

“Spirit, that made those heroes dare to die…”

 

 

 

Dengan wajah berlumuran tanah Afghanistan yang hitam, Chris Hemsworth berlindung di balik puing-puing. Dia baru saja terjatuh dari kuda tunggangannya, yang sekarang pergi entah ke mana. Hemsworth tidak bisa mencemaskan itu sekarang, karena kesebelas pasukannya – kesebelas teman dekatnya – juga tidak ia tahu keadaan mereka bagaimana. Para Taliban yang selamat dari jatuhan bom dari pesawat, sedang melakukan serangan balasan secara tiba-tiba. Pasukan Amerika boleh saja menguasai udara, namun perang dimenangkan di darat. Dengan tank Taliban menyerbu balik. Pasukan sekutu kocar-kacir. Hemsworth menembaki pasukan musuh dengan marah. “Nah, kau punya Mata Pembunuh sekarang,” pemimpin pasukan Afghanistan yang jadi sekutu memujinya.

Ada banyak momen intens seperti demikian pada 12 Strong. Film perang garapan sutradara baru Nicolai Fuglsig ini paham betul cara menggambarkan tokoh protagonisnya sebagai pahlawan aksi. Adegan-adegan kuat yang merefleksikan perjuangan, yang membuktikan kehebatan juang dari pasukan pertama Amerika setelah peristiwa 9/11 itu akan membuat kita ikut merasa berdebar. Chris Hemsworth di sini memainkan tokoh yang beneran ada, dan dia sudah siap untuk semua aksi heroik tersebut. Dia adalah Nelson, seorang kapten yang belum pernah turun ke medan pertempuran. Namun kini, dia mengajukan diri untuk memimpin sebelas pasukannya ke tanah konflik di Afghanistan demi mengacaukan rencana teroris; menghambat pergerakan pasukan teror yang berencana menjadikan negara tersebut training ground sebagai semacam Hogswart buat teroris, kali’ . Dua belas orang ini adalah simbol perlawanan dan harapan kemanusiaan. Mereka, hanya berkuda saja, berjuang melawan tank baja. How cool is that? Dan ini nyata!

Kuda lawan tank, eng-ing-engg!

 

Secara mengejutkan,  meski memang fokus film ada pada ledakan dan aksi yang terlalu artificial, filmnya punya pengarakteran yang dangkal dan kebanyakan berangkat dari trope-trope usang film perang, sesungguhnya cerita punya daging yang membuat film ini lumayan menarik. Bagian terkuat cerita bukanlah pada saat tank-tank itu meledak, melainkan pada saat cerita membahas kemanusiaan dari perang. Di Afghanistan, pasukan Kapten Nelson dibantu oleh sepasukan pejuang lokal yang membenci Taliban, sekaligus juga gak menganggap Amerika  benar-benar sebagai teman. Jadi, Nelson harus berusaha menjalin komunikasi dengan mereka. Kalian tahu, mencoba mencari tahu apakah pasukan ini pantas dipercaya, mempelajari motif mereka, berusaha menyatukan dua kepentingan yang berbeda. “Hari ini kita teman. Besok bisa saja jadi musuh.” Begitulah persisnya situasi yang mereka hadapi. Jelas, ada perbedaan kebudayaan di antara kedua kubu yang bersekutu tersebut. Film menunjukkan ini lewat dialog antara Nelson dengan pemimpin pasukan sekutu, Abdul Rashid Dostum. Kita bisa lihat kedua orang ini belajar banyak dari masing-masing soal kepemimpinan. Soal motivasi perjuangan yang mereka lakukan. Soal perang.

Kata siapa mereka melakukannya karena berani mati? Nelson dan teman-teman, mereka ketakutan setengah mati. Mereka ingin pulang dengan selamat ke keluarga yang dicinta. Makanya mereka jadi berani. itulah yang membuat mereka menjadi begitu hebat. Reward mereka adalah kemenangan. Berbeda dengan pasukan Taliban yang tidak punya stake, karena bagi mereka reward mereka ada di saat setelah kematian. Kita justru akan membuat yang terbaik jika kita punya sesuatu yang ingin dipertahankan, jika ada suatu kehilangan yang kita takutkan.

 

Aku bisa memahami kesulitan yang diambil oleh film ini dalam menggambarkan bahaya. Maksudku, ini diangkat dari kisah nyata dan kita tahu apa yang terjadi, jadi ya akan sedikit ‘kebegoan’ yang kita rasakan ketika tembakan para Taliban itu enggak ada yang kena. Mereka dibikin udah kayak Stormtrooper demi kebenaran cerita. Tetapi pada akhir film, kita toh masih bisa menghargai perjuangan para tokoh. Kita masih melihat mereka sebagai pahlawan.  Ada juga beberapa adegan yang bikin kita ngeri akan keselamatan mereka. Dan kebanyakan hal tersebut datang dari pengorbanan para tokoh yang lain. Pemimpin pasukan Taliban dalam film ini, bandit gedenya, diperlihatkan sebagai benar-benar jahat. Pakaiannya aja udah hitam dari ujung kaki sampai ke turban. In fact, pertama kali kita melihatnya, orang ini sedang mengeksekusi mati seorang wanita di depan anak-anaknya. Apa dosa si wanita? Dia ngaajarin anak-anak ceweknya itu ilmu pengetahuan. Jadi, tidak banyak dilema moral yang dihadirkan. Tipikal pahlawan lawan penjahat. Orang yang sedikit ‘baper’ akan melihat film ini sebagai kehebatan Amerika melawan negara asing terbelakang. Orang yang kebanyakan main video game seperti aku akan menikmatinya sama seperti menikmati permainan video game yang seru dengan setiap adegan aksi sebagai stage yang harus dikalahkan oleh jagoan kita.

Pertanyaan moral tidak ditinggalkan sepenuhnya, meskipun juga tidak pernah benar-benar diangkat ke permukaan. Pasukan yang membantu Nelson itu, misalnya. Mereka membantu dengan agenda pribadi, kita diberikan pengetahuan tentang ada dua pasukan sekutu lain di Afghanistan, tapi mereka ini saling benci juga satu sama lain. Aspek ini hanya dijadikan latar saja lantaran kita tidak pernah tahu pasti apa yang sedang terjadi di negara tersebut. Kita tidak dibawa melihat ke dalam lingkup politiknya. Karena film ingin tampil ringan, maka ia mengenyampingkan elemen-elemen lebih gelap yang terkandung di dalam ceritanya. Seperti aspek ‘Mata Pembunuh’ yang kusebut di awal ulasan tadi. Kita tidak pernah benar-benar merasakan beban itu bergulat di dalam diri Nelson. Film perang yang baik akan menjadikan dilema moral tokoh utamanya sebagai fokus. Ambil contoh Full Metal Jacket (1987), tokoh utama film itu tadinya enggak mau membunuh anak-anak dan wanita. Di akhir film, justru dialah yang harus menarik pelatuk ke sniper remaja cewek Vietnam yang udah membunuhi teman-temannya. Konflik yang selaras sama perjalanannya memahami kematian merupakan salah satu jalan untuk mendapat kedamaian. Sebaliknya pada 12 Strong ini, perubahan yang Nelson alami; dari tentara menjadi pejuang, dari matanya gak memancarkan aura pembunuh menjadi punya tatapan nanar dengan keinginan untuk menghilangkan nyawa musuh, kita tidak betul-betul merasakan inner struggle dari ‘transformasi’  atau pembelajaran ini.

Dari yang ga pernah perang tau-tau jadi yang paling paham

 

Elemen yang menjadi pembeda cerita ini dengan cerita perang lain adalah gimana mereka berdua belas begitu ditekankan berperang dengan menunggang kuda. Tapi bahkan ‘gimmick’ ini pun tidak mendapat pengembangan yang berarti. Film gagal menggali stake atau bahaya dari aspek berkuda ini, padahal sudah ada build up kesebelas rekan tim Nelson tidak ada yang pernah berkuda sebelumnya. Hanya ada satu kali kesusahan naik kuda ini diperlihatkan sekilas, dan cuma satu orang yang eventually pinggangnya sakit kebanyakan menunggang kuda. Pada saat perang berlangsung, mereka udah kelihatan kayak joki paling profesional semua. Malah mungkin lebih jago mengingat terrain pegunungan berbatu dan ledakan bom di mana-mana. Dan tentu saja penggunaan kuda buat berperang itu sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk menambah kedalaman cerita dengan menantang moral – yang mana sesuai konteks dengan Nelson yang gak mau ada pertumpahan darah – namun film sama sekali tidak menggubris soal ini.

 

 

Film perang, dulu, digunakan untuk ‘menyindir’ perang itu sendiri. Dibuat sebagai sentimen dari pesan-pesan antiperang dengan mempersembahkan dilema moral yang dialami para tokohnya. Sekarang, film perang kebanyakan dimanfaatkan selayaknya media iklan untuk mempropagandakan kehebatan militer tentara tertentu. Film garapan Fuglsig ini mencoba untuk menjadi film perang berjiwa old, yang sayangnya malah ditangani dengan nyaris tidak berjiwa. Film ini mestinya bisa menjadi lebih baik lagi, mungkin, apabila pembuatnya mau terjun riset ngobrol ama veteran-veteran perang ketimbang mencatat aksi-aksi seru pada film-film perang yang pernah dibuat sebelumnya.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for 12 STRONG.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

DILAN 1990 Review

“The last generation’s worst fears become the next one’s B-grade entertainment

 

 

Tidak hingga duduk di bioskop menonton Dilan 1990lah, aku baru menyadari bahwa tahun 1990 itu sudah begitu jauh tertinggal di belakang. I mean, kita lebih dekat ke 2030 ketimbang balik ke masa Dilan pacaran lewat telepon umum sama Milea. Bayangkan ini sejenak, pliss.. Ini bukan masalah aku merasa tua (dooo yang tua gak mau ngakuu), tetapi melihat apa yang Dilan dan Milea lakukan, kebiasaan-kebiasaan mereka sehari-hari, gaya pacaran mereka yang tampak ajaib dan sangat menarik bagi penonton remaja di dalam studio tadi, membuatku tersadar;

Memang perjuangan generasi lain terbukti adalah hiburan buat generasi sesudahnya.

 

Jika ditayangkan di era 90an, film ini pastilah laris manis sebagai kisah cinta yang juga manis. Tapi, bagi kita yang menontonnya di tahun 2018, Dilan 1990 adalah sebuah romansa remaja yang unik. Di sinilah letak kekuatan film; dirinya terlihat beda sekaligus masih relevan dengan kondisi kekinian. Dilan, Milea, orangtua, guru, dan teman-teman mereka terasa seperti orang-orang di sekitar kita. Apa yang mereka lakukanlah yang bakal menarik minat kita, terutama Dilan. Hal-hal kecil kayak kerupuk dan percakapan sepele dan terlihat gak-jelas mereka memang romantis in their own unique way. Sebagian besar penonton mungkin gak akan pernah mengalami rasanya deg-degan nelfon ke rumah gebetan dengan stake bokap yang galak bisa saja yang mengangkat telfon. Atau belum pada pernah kan nelpon gebetan tapi yang ngangkat malah pembantu yang gak kalah genitnya? haha… Belum lagi mempertaruhkan koin untuk membayar telpon umum. Film ini menggambarkan itu semua dengan sederhana, sehingga tak pelak menjadi kocak.

Kisah adaptasi novel ini dibuka dengan sosok Milea yang sudah dewasa mengetik di laptopnya. Dia menulis cerita semasa SMA, ketika dia pindah ke Bandung, dan menjadi murid baru. Cerita yang ditulis Milea inilah yang menjelma jadi tontonan kita. Milea yang cakep (Vanesha Prescilla tampak seperti gak berakting di debutnya ini) lantas jadi primadona baru. Banyak yang naksir. Terutama si Dilan (meski sempat diragukan penggemar novel, Iqbal Ramadhan menghidupkan tokohnya dengan cukup kompeten). Cowok anak geng motor ini punya cara yang paling berbeda dalam mendekati Milea. Dia mengaku peramal. Ramalan ngasal, hadiah-hadiah aneh,  dan kegigihan Dilan tampaknya memang cukup ampuh. Milea luluh. Dan kita dibuat terenyuh melihat akrab dan dekatnya mereka. Sedikit konflik yang dihadirkan film ini adalah ketika masa lalu Milea datang, begitupun saat dunia geng motor Dilan menyebrang di lalu lintas roman mereka.

easter egg menyenangkan buatku; Vanesha membaca Olga dan Sepatu Roda, dan kakak Vanesha – Sissy – pernah meranin Olga di serial tv~

 

Hampir mustahil untuk membenci film ini, it’s a very lighthearted teenage… um, aku mau bilang ‘teenage drama’ tapi sepertinya kurang tepat. Lantaran there’s hardly  any dramas presented here. Konflik dalam cerita muncul di akhir-akhir dan semacam datang gitu aja. Klimaksnya nyaris enggak ada. Ini tentu saja dapat jadi ‘meh’ buat sebagian penonton, terutama yang menginginkan tantangan dalam cerita. Buatku, Dilan 1990 berlalu begitu saja. Aku tidak merasakan apa-apa kepada film ini. Kecuali mungkin sedikit kebosanan. Aku gak tahu ke arah mana narasi berjalan. Bahkan hingga ke menit 100an pun, aku belum bisa meraba apa end game film ini. Maksudnya, KENAPA MILEA DEWASA MENCERITAKAN SEMUA ITU KEPADA KITA. Motivasi Milea ingin menceritakan tentang cowok yang mengiriminya TTS yang udah diisi – kenapa kita harus peduli tentang itu? Kenapa kita wajib tahu siapa yang mengajarin dia pentingnya mengucapkan selamat tidur setiap malam? Film sangat kurang dalam mengeksplorasi ini. Bukan tanpa tujuan, hanya saja tujuannya sangat enggak penting, enggak mencengkeram. Katakanlah, jika kita melihat pada saat dewasa mereka tidak bersama, atau eventually menikah, atau ada sesuatu yang terjadi kepada Dilan saat dewasa, film ini akan terasa terpenuhi. Tapi film tidak memberikan alasan untuk kita peduli kepada apa yang terjadi, alasan kenapa kita harus menonton semua ini selain materinya berasa dari novel yang sangat populer.

Sebagai karakter, Milea kayak kertas putih. Kertas yang bakal ditulisi oleh tokoh-tokoh lain.Milea nyaris tidak punya karakter sendiri. Kita tidak melihat siapa dia on the inside untuk setengah film. Aku mempertanyakan pilihan cerita ketika Milea dijadikan sektretaris tanpa alasan, padahal itu adalah waktu yang bagus untuk menunjukkan traits baik yang dimiliki oleh karakternya. Keputusan personal yang dibuat sendiri oleh Milea muncul di paruh akhir, ketika dia ngelarang Dilan ikut berantem dengan geng motor. Film harusnya berputar membahas ini lebih banyak. Ada satu sekuen yang menurutku akan menarik sekali jika ditarik konflik, yaitu saat Milea memutuskan untuk membereskan kamar Dilan. Ini merefleksikan Milea ingin ‘memperbaiki’ Dilan, dan menurutku gak bakal ada yang senang disuruh berubah, bahkan oleh pasangan. You don’t just go around fixing people stuff. Tapi nyatanya, sekuen ini hanya digunakan oleh narasi sebagai device Milea mengetahui puisi buatan Dilan.

Rindu itu berat. Kadang pelampiasan yang bisa kita usahakan hanya dengan menuliskannya. Hanya kenangan yang dipunya Milea.

 

Ada alasannya kenapa aku lebih suka baca Lupus dan Olga ketimbang membaca novel seperti Dilan. Dalam Lupus, kalimat romantis yang kita temui adalah semacam “Masih ada becak yang bakal mangkal”. Kedengarannya lebih akrab, dan lebih mungkin untuk diucapkan tanpa mengurangi maknanya. Mendengar bahasa Dilan kepada Milea, kadang terasa menggelikan. Dilan ini udah kayak Gusur digabung ama Boim kalo di novel Lupus. Dia enggak exactly tokoh yang menguar karisma karena film tidak pernah benar-benar adil dalam menyorotnya. Dilan menghajar guru karena leher bajunya ditarik. Dia tidak berasal dari keluarga broken home, seperti trope kebanyakan. Dari kutipan poster di kamarnya, kita dapat melihat motivasi kenapa Dilan bergabung dalam geng motor, kenapa dia bandel, tapi moral Dilan tidak pernah benar-benar convincing. Kita mestinya bersimpati padanya, tapi aku bahkan gak tau kenapa Dilan jatuh cinta kepada Milea.

Setiap Dilang ngomong, pengen nimpalin dengan “Eaaaa!” “Eaaaaa!”

 

Tidak ada layer di dalam cerita; sesungguhnya ini pun turut menjadi masalah pada film-film remaja lokal yang lain. Kebanyakan hanya tentang bad boy yang sebenarnya baek, pacaran ama cewek baek-baek (yang seringnya sih anak baru), lalu ada cinta segitiga, dan ada sobat cewek yang biasanya cupu dan naksir diem-diem. Ini trope usang yang selau dipake di romansa remaja film Indonesia. Menonton aspek ini setelah di dunia ada yang namanya Lady Bird (2017) adalah kemunduran yang nyata. Sebagian besar waktu, film tampak dibuat dengan kompeten. Mereka berusaha mewujudkan periode 1990 ke layar, dan seperti yang kubilang tadi aspek ini adalah yang menonjol baik dalam Dilan 1990. Di babak awal saja, konstruksi adegannya monoton; kita akan sering banget melihat adegan semacam Milea lagi diskusi atau ngobrol, kemudian datang distraksi dari Dilan entah itu dalam wujud surat atau memang hadir langsung, dan ditutup dengan Milea ngerasa canggung dan musik yang so sweet mengalun di latar. Juga ada adegan berantem, yang menurutku masih perlu banyak ‘dikerjain’ lagi. Kamera masih goyang gak jelas. Turut mengganggu pula beberapa penggunaan CGI, green-screen yang gak benar-benar diperlukan. Begitu pula halnya dengan penggunaan montase flashback yang memberikan sensasi manis yang palsu, dan merendahkan daya ingat penonton.

 

 

Kalo remaja mencari jati diri, maka film ini adalah remaja abadi yang terus mencari tanpa dirinya pernah tahu di mana pentingnya yang ia diceritakan. Romansa yang ditampilkan memang unik dan menyenangkan, banyak remaja akan suka film ini. Pemainnya pun kece-kece. Tapi film mestinya lebih dari sebuah pemandangan cinta. Aku gak membenci film ini, malahan aku bilang hampir mustahil ada yang nonton dan bilang benci. Selain bosan dan geli-geli, film ini tidak memberikanku apa-apa lagi karena poin narasinya tidak pernah membuat kita benar-benar peduli. Mungkin urgensi itu tertinggal di tahun 90an. Aku gak tahu. Aku bukan peramal.
The Palace of Wisdom gives 5 gold stars out of 10 for DILAN 1990

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

MAZE RUNNER: THE DEATH CURE Review

“To attain something of  greater value, one must give up something of lesser value.”

 

 

 

Maze Runner benar-benar seri FILM YANG BERLARI DENGAN CEPAT. Jika bukan karena kecelakaan yang terjadi pada bintangnya di lokasi syuting, kita akan mendapat sekuel ini exactly dalam per satu tahun yang berurut. Cerita yang  berjalan dengan cepat, para tokohnya literally berlari dari satu plot poin ke plot poin berikutnya, intensitas aksi yang ditawarkan nyaris nonstop – inilah yang membuat Maze Runner sedikit berbeda dalam kalangan cerita dystopia Young Adult yang lain. Ini juga sebabnya kenapa, di tahun yang bisa kita sebut sebagai faktual distopis bagi seri Young Adult, kita menonton sekelompok anak muda berusaha merampok gerbong kereta api yang tengah berjalan. Adegan aksi pembuka The Death Cure tak pelak melanjutkan tradisi seri ini yang hobi berlari; ceritanya menolak untuk berhenti dan memberikan kesempatan kepada penonton baru untuk naik ke atas plot cerita. Kita yang harus berlari mengejar ketinggalan, sebab film hanya akan sesekali mengerem sedikit untuk memberi informasi sebagai penunjuk jalan.

Kelompok Thomas-lah yang sedang berusaha menyabotase kereta api tersebut. Mereka ingin menyelamatkan salah satu rekan mereka yang sedang dalam perjalanan ke kota tempat markas Organisasi Rahasia WCKD yang selama ini sudah memperlakukan mereka sebagai binatang percobaan di dalam labirin. Dan sekarang, setelah darah Thomas dan kawan-kawan terbukti kebal terhadap virus semacam zombie yang menjangkiti seluruh penjuru dunia, WCKD ingin memanfaatkan darah tersebut sebagai bahan utama pembuatan vaksin. Thomas dan anak-anak remaja lain yang sehat adalah properti WCKD, mereka ‘dibiakkan’, darah mereka bisa digunakan seenaknya oleh WCKD. Thomas dan kawan-kawan bagai domba yang dipersiapkan untuk menjadi korban. Tetapi domba-domba yang satu ini adalah domba yang sadar akan kemampuan dan jumlahnya. Jadi tentu saja Thomas menolak. Dan sekarang, Thomas sedang berjuang menyelamatkan Minho dari gerbong kereta. Hanya saja, Thomas tidak menemukan Minho di dalam gerbong yang susah payah mereka bajak. Puluhan anak baru berhasil diselamatkan, namun lantaran Minho masih diculik, Thomas dan kawan-kawan pun bergegas menuju The Last City. Jika sebelumnya, mereka harus keluar dari tembok, kini mereka harus berjuang untuk menyelinap masuk demi menolong Minho. Sekaligus menyelamatkan dua-puluh delapan anak-anak lain. Jangan sampai mereka salah nolong lagi kali ini.

Kepanjangan dari akronim WCKD berasa kayak diambil dari komik Donal Bebek

 

Benarkah kita bisa salah menolong? Dalam kondisi bagaimana kita merasakan sudah melakukan kesalahan saat kita sudah  membantu orang? Dan kalopun kita memang melakukannya, apa yang kita rasakan sesudah itu – penyesalan? Nyesal udah membantu orang lain padahal ada yang lebih pengen kita bantu? Ultimately, film ini akan menghadirkan kepada kita keambiguan moral mengenai  mengedepankan kebaikan yang lebih kecil ataukah kebaikan yang lebih besar meski itu berarti kita harus berkorban banyak.

 

Aku memang cukup tertantang oleh gagasan dan sudut pandang yang dimiliki oleh narasi. Di sini kita punya Thomas sebagai protagonis, namun motivasi tokoh utama kita ini enggak muluk-muluk. Sedewasa apapun temanya,  semacho apapun aksinya, film tetap memperlihatkan Thomas sebagai anak remaja. Udah bukan anak kecil, tetapi tetap belum benar-benar matang dari segi emosi. Dan remaja toh memang sedikit egois. Thomas dan teman-teman enggak berniat untuk menyelamatkan dunia. Mereka ingin menolong ‘bangsa’ mereka sendiri. Kelompok yang udah gede bareng di Glade di tengah labirin. Kelompok yang udah bersama-sama dalam suka, meskipun lebih banyak dukanya.

Film juga cukup bijak dalam memainkan tokoh antagonisnya. Karena antagonis bukan berarti bisa disimpelkan menjadi tokoh jahat. Antagonis adalah tokoh yang menghalangi protagonis dalam mencapai keinginan.Dan dalam The Death Cure, kita dapat melihat bahwa kelompok yang berlaku semena-mena kepada teman-teman Thomas sesungguhnya bergerak demi kebaikan yang lebih besar. WCKD ingin menciptakan vaksin demi kesembuhan seluruh dunia. Narasi merepresentasikan kekompleksan WCKD sebagai antagonis ke dalam tiga figur yang  berbeda. Eventually, kita akan merasakan kompleks moral ini lewat tokoh Teresa, cewek yang pada film pertama mengkhianati Thomas dan terungkap sebagai salah satu imuwan yang memprakarsai remaja sebagai objek penelitian. Dan memang ada agen WCKD yang total jahat, namun tokoh ini bekerja dengan baik sebagai pembelajaran buat Thomas; dia ingin menggunakan vaksin untuk kepentingan pribadi, dan ini membuat Thomas sadar bahwa dirinya dengan si agen punya kesamaan, bahwa mereka perlu belajar soal pengorbanan.

Atau paling enggak, kita yang sadar mereka punya kesamaan. Karena lebih sering daripada tidak, tokoh-tokoh film ini tampak terlalu sibuk dengan berlari dari zombie, dari pasukan bersenjata, dari ledakan dahsyat, sehingga mereka lupa pegangan sama moral masing-masing. Big dump action adalah judul besar, kalo perlu ditulis di papan neon terang benderang, yang menggantung di atas film ini. Aksi-aksi seru namun mindless, malah sebagian besar sangat konyol, bakal mengisi sebagian besar dari seratus empat puluh menit waktu durasi. Kita akan melihat bis berisi anak-anak bergelantungan di atas kota, dan jatuh berdebam, dan semua selamat. Kita akan melihat adegan seru terus melaju, membuat babak akhir film terasa diulur-ulur karenanya. Seolah film ingin membuat kita lupa kalo banyak adegan-adegan aksi yang ia punya, sesungguhnya dipinjem dari film-film action lain. Membuat kita gak ingat ataupun jadi gak peduliin ada tokoh tak berhidung yang jangankan backstory, nasibnya di akhir cerita pun, tidak pernah disentuh lagi oleh narasi. It’s all about teenagers take on actions facing a huge world problem. Dan ledakan. Selalu ledakan.

Film ini udah kayak WCKD, mengekploitasi remaja demi universenya berputar

 

Secepat-cepatnya film ini berlari, aku masih mengingat betapa film Maze Runner yang pertama (2014) cukup mengesankan bagiku. Aku suka desain produksinya, aku suka aspek cerita tentang gimana mereka membangun society. Labirin itu memberikan elemen misteri yang fresh. Film yang kedua, aku suka separuh awalnya saja. Saat menonton yang ketiga ini, tampak jelas penyutradaraan Wes Ball sudah outrun source materialnya. Keseluruhan film tampak lebih mengesankan. Kubilang, film ketiga ini tampak lebih dekat seperti yang kedua, pengecualiannya adalah dia dilakukan dengan lebih baik dan lebih matang. Adegan-adegan aksi kejar-kejaran direkam semakin intens.  Bagian berantemnya, bagian yang tergolong ‘baru’ dalam seri ini, butuh penguasaan yang lebih lagi sebab kita melihat kameranya cukup banyak goyang dan enggak benar-benar merekam apa yang mustinya diperlihatkan. Di lain pihak, porsi penggunaan efek prostetik dengan penggunaan CGI tampak semakin bijak. Set jalanan kota terakhir di dunia itu tampak meyakinkan, enggak berlebihan, malah kelihatan sangat mungkin kota tersebut ada di dunia nyata.

Para tokoh juga diberikan arahan yang lebih dewasa. Tidak ada dialog-dialog klise. Enggak pake pancingan romansa norak. Dylan O’Brien sebagai Thomas membuktikan dia punya karisma sebagai tokoh lead di petualangan aksi fantasi kayak gini. Kali ini, Thomas memang tampak sebagai yang paling kurang beraksi dibanding yang lain – tugas O’Brien kebanyakan pasang tampang penuh determinasi. Adegan kebut-kebutan naik kereta api di awal tadi, misalnya. Aku cukup lucu juga melihat kenapa bukan Thomas yang nyetir mobil dan kenapa bukan dia yang kesusahan naik ke atas kereta; bukankah bisa jadi stake yang bagus kalo early kita diperlihatkan tokoh utama udah hampir mati. Namun kemudian setelah konteks cerita aku pegang, aku dapat melihat pilihan itu bekerja efektif dalam karakter Thomas. Untuk menunjukkan dia belum berkorban banyak saat cerita baru dimulai.

Dunia toh memang terletak di tangan anak-anak muda yang kuat, yang berpendidikan. Namun, dalam kepentingan kontinuitas dari umat manusia, mementingkan dua puluh delapan remaja di atas semua orang tetap adalah hitungan yang mengerikan.

 

 

 

 

Cepatnya film memang kadang terasa membingungkan, terlebih buat penonton yang baru pertama kali mengikuti seri ini. Ataupun buat penonton yang sudah lupa sama sekali akan ceritanya. Film tampak cukup pede dengan aksi-aksi seru yang ia punya, as it would expect us to sit through there menikmati sekuens dahsyat. Sesungguhnya ini dapat menjadi berbalik menjemukan, karena durasi yang panjang hanya efektif jika kita peduli sama tokohnya. Namun bagaimana bisa jika kita tidak kenal siapa mereka. Menjelang midpoint, akan ada kejutan berupa kembali salah satu karakter dari film pertama, dan ini bisa jatoh datar kalo penonton enggak tahu. Porsi cerita dialamatkan untuk dinikmati oleh penonton setia dan penggemar bukunya saja. Ini bukan film yang contained, yang bisa berdiri sendiri. Melihatnya sebagai penutup trilogi, perkembangan karakter-karakternya bekerja dengan baik. Namun bukan berarti menjelaskan semuanya. Looking back, aku jadi bingung kenapa mesti ada labirin sedari awal. Ah, ternyata kita masih tersesat di dalam labirin ceritanya.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for MAZE RUNNER: THE DEATH CURE.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

THE DISASTER ARTIST Review

“First they ignore you, then they laugh at you…”

 

 

Tentu saja, kita akan menertawakan film yang buruk bersama-sama. Kita berpikir, film yang sudah menginsult kecerdasan kita, perlu untuk diinsult balik. Kita bikin review konyol, kita bully film habis-habisan, sebagai bentuk apresiasi terhadapnya. Keseimbangan yang wajar terjadi. Sebuah reaksi yang mudah terhadap sesuatu yang jelek. Film The Room (2003) buatan sutradara dan aktor nyentrik Tommy Wiseau bukan hanya film yang jelek, dia adalah film paling ngaco sepanjang masa. Saking jeleknya , banyak yang suka. Sampai sekarang, film ini rutin diputar oleh berbagai fans di luar sana. Markas My Dirt Sheet, kafe es krim Warung Darurat Bandung, juga pernah muterin sekali. Hasilnya, sendokku ilang delapan biji. James Franco punya ide untuk menyelebrasi film itu, dia kumpulkan kru dan mereka membuat cerita tentang apa yang terjadi di balik dialog-dialog absurd dan akting kaku tersebut.

Memang lebih mudah menetertawakan badut ketimbang mencoba mengerti kenapa mereka mengenakan riasan make-up

 

 

I gotta be honest, The Disaster Artist adalah cerita yang menyentuh buatku. Dalam lapisan yang paling dalam, ini adalah cerita tentang seorang pria yang berjuang mewujudkan mimpinya. Hambatan yang ia temui berasal dari dalam dirinya sendiri; dia tidak dapat melihat bahwasanya tidak semua orang bisa mengerti apa yang ia sampaikan. Maksudku, sebagian besar dari kita juga pasti pernah merasa diri kita spesial, ide cerita kita hebat dan orisinil. Ada banyak calon filmmaker di jalanan yang punya stok naskah yang menurut mereka adalah cerita paling fresh dan keren sedunia, aku tahu karena aku adalah salah satu di antaranya. Tapi apa yang terjadi ketika kita ngepitch cerita tersebut ke produser, ke investor? Ditolak, dicuekin, disuruh ubah. Kalo aku punya duit tak terbatas seperti Tommy Wiseau, pastilah aku udah bikin film sendiri juga. Mewujudkan impianku. Meski mungkin filmku bakal seratus kali lebih jelek dari The Room. Tapi inilah yang ingin disampaikan oleh James Franco dalam The Disaster Artist; Jangan menyerah, terkadang kita memang harus membuka peluang sendiri, dengan perlu mengingat bahwa ada banyak cara konek dengan orang lain bisa terjadi, mungkin saja bukan seperti yang kita harapkan. Dan koneksi itulah yang semestinya menjadi tujuan kita dalam berkarya.

jika dipandang sebaliknya, film ini juga berfungsi sebagai petunjuk “Bagaimana Cara untuk Membuat Film yang Buruk”

 

Yang kita dapat di sini sesungguhnya adalah sebuah cerita yang menginspirasi. James Franco tidak membuat Tommy Wiseau sebagai sebuah tokoh yang wajib untuk melulu kita ledek. Ada sesuatu di dalam dirinya yang akan menangkap hati para penonton. Kita akan mengikuti perjalanan Tommy dari ketika dia bertemu dengan Greg di sebuah audisi teater. Mereka kemudian berikrar untuk mengejar mimpi menjadi aktor, begelut di bidang film. Maka lantas mereka pindah ke L.A. Namun, hal bagi Tommy tidak berjalan semulus apa yang datang kepada Greg. Jadi, Tommy bikin film sendiri. Dia mengajak Greg untuk ikut berperan bersamanya di film tersebut. Sebagaimana kita semua tahu, film tersebut tidak berakhir dengan semestinya.

The Disaster Artist cukup bijak untuk tidak memfokuskan ini sebagai parodi, film tidak sekedar menertawakan “You’re tearing me apart, Lisa!” dan pilihan-pilihan aneh bin bego yang dilakukan oleh Tommy Wiseau ketika membuat film ini. Memang, momen-momen The Room yang fenomenal, gimana film ini ngereka adegannya hingga nyaris sama persis, adalah bagian yang menonjol pada penceritaan. Tapi sekaligus ini adalah drama yang cukup suram, banyak adegan yang diniatkan sebagai heartfelt moment. Sebagai karakter, Tommy Wiseau belajar banyak dari reaksi penonton yang tidak ia harapkan, dan dari bagaimana dia harus berurusan dengan orang-orang yang tidak melihat visinya.

Tommy Wiseau yang asli merupakan salah satu sosok paling misterius di industri perfilman. Seperti yang juga disebutkan oleh film, tidak ada yang tahu persis siapa dirinya, dari mana dia berasal. Tommy ini di samping eksentrik gilak, dia juga sangat tertutup. Jadi memang pesona film ini terletak di Tommy Wiseau, kita penasaran seperti apa orang ini, apa yang ada di balik kepalanya. James Franco luar biasa dalam berperan sebagai karakter ini, juga dalam bagaimana dia membangun film cerita yang menjadikan Tommy sebagai pusatnya. Sebagai sutradara dan pemain, Franco did a very excellent job. Adegan pembukanya efektif sekali memperkenalkan Tommy sebagai sebuah enigma. Dia mempertahankan pesona tersebut hingga akhir film. Menurutku apa yang dicapai Franco sebagai Tommy merupakan hal yang cukup sulit; ya dia sangat lucu di sepanjang film, namun bukan sekedar lucu oleh karena momen-momen konyol dia lupa skrip, atau dia mainin adegan-adegan ikonik The Room. Di sini kita melihat Tommy sebagai seorang yang enggak hebat-hebat amat dalam pekerjaannya, dan dia punya cara yang aneh untuk mendapatkan yang ia mau, tapi kita bisa menghormati apa yang ingin ia lakukan. Sebab ada sisi manusiawi yang diberikan. Ada semangat yang bisa dipungut dari sikapnya yang tidak menyerah meskipun orang-orang tidak menghargai sesuai yang ia harapkan.

jangan-jangan karakter Broken Matt Hardy terinspirasi dari Tommy Wiseau

 

Salah satu aspek yang menjeratku adalah tentang bagaimana ini sebuah pembuatan film. Aku punya soft side terhadap film-film yang memperlihatkan di balik layar bisnis gambar bergerak seperti ini.  Aspek ini membawa kita ke kekurangan yang dimiliki oleh The Disaster Artist. Film ini actually mematahkan Hukum Ekonomis Karakter cetusan Roger Ebert lantaran tokoh-tokoh lain dalam cerita, yang diperankan oleh aktor-aktor yang cukup terkenal kayak Alison Brie ataupun Zac Efron ataupun Josh Hutcherson, tidak benar-benar punya karakter. Mereka cuma ada di sana, memainkan dengan sangat kompeten peran yang ditugaskan – Seth Rogen juga sebenarnya cukup lucu di sini – dan tidak punya banyak untuk dilakukan. Padahal mestinya bisa lebih dalam lagi jika kita diperlihatkan lebih banyak lagi tentang mereka.

 

 

Film dark komedi ini precise sekali ketika dia mencoba membuat ulang adegan-adegan film The Room. Tepat hingga ke framing dan segala macam treatment aneh yang dilakukan oleh film tersebut. Namun, jika kalian belum pernah nonton The Room, atau bahkan belum pernah mendengar tentangnya, film ini tetap akan bekerja sama hebatnya, sebab ini bukan serta merta sebuah film komedi yang memarodikan salah satu film terburuk di industri sinema. Film ini punya hati yang besar, tokoh utamanya terasa dekat. Benar saja, kita memang harus dapat melihat film sebagai mana mestinya. Sebagai penonton kita bisa saja suka, namun tetap harus mengakui kejelekan film. Tapi ini bukan tentang penonton. Ini tentang orang yang punya mimpi, tentang pembuat film yang dihadapkan kepada situasi di mana ia diapresiasi tidak sesuai dengan yang diharapkan. James Franco mungkin saja tidak kepikiran, filmnya tentang sebuah film begitu jelek sehingga menjadi cult, bisa jadi adalah film terbaik yang pernah ia buat.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 gold stars for THE DISASTER ARTIST.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

SURAT CINTA UNTUK STARLA THE MOVIE Review

“The best relationships are the ones that you didn’t expect to be in.”

 

 

Saat ini malam hari, suasana sepi sekali. Kamu sendirian di dalam kafe, hanya ditemani oleh aroma khas campuran susu dan kopi panas di dalam cangkir yang putih mengkilat. “Tuk. Tuk. Tuk.” Sayup-sayup kamu mendengar suara aneh dari luar toko. Ketukan pelan itu terus terdengar, temponya teratur. Cepat dan mantap. Berdentum masuk ke telinga, seolah-olah suara itu berasal dari dalam kepalamu. Bunyi apa itu? Pikiran buruk mulai menghantui pikiranmu. Suara setankah. Atau lebih buruk lagi, itu suara maling?! Apa yang kamu lakukan berikutnya tergantung kepribadianmu.

Kalo kamu waras, maka kamu akan ngunci pintu, berdiam di dalam toko, dan menghubungi polisi.

Kalo kamu penakut, maka kamu akan pulang ke rumah, tak lupa mengunci pintu.

Kalo kamu kebanyakan nonton film horor, maka kamu akan langsung tunggang langgang pulang begitu ketukan ketiga terdengar.

Tapi kalo kamu berani, seperti Starla, kamu akan ngambil tongkat baseball, keluar dari toko demi mencari dan menggebuk sumber suara misterius yang bisa berasal dari apa saja tersebut.

 

Begitulah Hema dan Starla pertama kali bertemu. Dua remaja ini almost instantly saling jatuh cinta. Hema membuat perbandingan mereka seperti bulan dan bintang. Perumpaman itu gak malu-malu diakui oleh film, nama Hema Chandra literally berarti bulan emas dan nama Starla bukan berarti dia penggemar kopi sehingga namanya diplesetin dari Starbucks. Starla adalah star, bintang, yang ditemukan oleh Hema. Bintang yang membuatnya bersinar, kata Hema di atas helipad. Doo, romantis banget si Hema bikin mata penonton cewek berbinar-binar pengen semua.

Naturally, kita akan melihat bintang jika hidung kita dihantam oleh tongkat baseball

 

Bagi penggemar yang udah ngikutin Hema dan Starla dari saat mereka masih di youtube series, pastilah film ini adalah sebuah lanjutan kisah yang menghapus rasa penasaran. Film ini menceritakan kelanjutan dari cinta yang tumbuh dalam semalam itu. Konflik apa yang menanti mereka. Pertanyaan terbesar pada film ini adalah apakah yang Hema dan Starla rasakan itu benar-benar rasa cinta. Aku gak ngiikutin seriesnya, satu-satunya pengetahuanku tentang materi ini adalah bahwa Surat Cinta untuk Starla berasal dari sebuah lagu. Dan ketika aku menonton film ini, buatku justru membuat film punya daya tarik sendiri.

Kita akan dilempar begitu saja ke tengah-tengah romansa mereka. Kita yang awam, akan bertanya siapa sih mereka, kenapa pacarannya sweet banget. Mereka kerap menyebut ‘enam jam malam itu’, dan ini membuat kita penasaran apa yang terjadi kepada mereka dalam kurun waktu itu. Film untungnya enggak repot-repot menceritakan dengan flashback, kita actually belajar tentang hubungan mereka secara perlahan melalui dialog-dialog. Melalui interaksi para karakter. Kita bahkan enggak tahu siapa mereka, kenapa Hema bawa-bawa mesin tik. Kita menonton Hema dan Starla ‘berparade’ keliling kota, mengunjungi tempat-tempat hip di Jakarta dan Bandung, dan layer-layer serta backstory tersebut terkuak dari sana.

Biasanya, hal yang udah kita rencanakan bakal berbuah pahit, rencana tersebut batal. Justru hal-hal yang dilakukan dengan mendadak lah yang jatohnya lebih berkesan. Mungkinkah hal tersebut berlaku juga dalam urusan cinta? Pengalaman setahun pacaran (yang dijodohkan) Starla enggak ada apa-apanya dengan apa yang ia rasakan bersama Hema hanya dalam enam jam. Cinta bisa datang sama mendadaknya dengan saat dia terputus. Masalahnya adalah dapatkah hati kita mengenali ketika ia datang. Mana yang bulan, mana yang bintang.

 

Jefri Nichol dan Caitlin Halderman are great together. Mereka punya chemistry yang click! Mereka juga mampu memainkan rentang emosi yang jauh. Helmanya si Jefri bisa berubah dari cowok yang terlihat berandal menjadi cowok yang marah pengen tahu siapa dirinya dengan mulus dalam sekejap mata. Memainkan tokoh yang manja, yang menggembungkan pipinya kalo lagi jealous, hingga nangis penuh emosi, Caitlin mampu menampilkannya tanpa terasa dilebay-lebaykan. Langkah bagus dari film ini dengan membuat kedua tokoh enggak satu dimensi, aku suka ketika Hema dengan filosofi moral antara penggambar mural dengan pembuang sampah sembarangan ngejugde gitu aja mengatai Starla adalah anak yang suka masuk mall. Apa yang salah dengan anak mall? Kita bisa tumbuh peduli, kita menginginkan kedua remaja ini berakhir sebagai pasangan, sebab mereka tampak so cute bersama. Namun sesungguhnya alasan tersebut belumlah cukup untuk membuat sebuah film yang menarik.

Film ini bereksperimen dengan strukturnya. Alih-alih tiga babak penceritaan yang biasa, film tampak berjalan tanpa arah, maksudku separuh pertama film mereka hanya pacaran. Basically adalah set up yang panjang sebelum dramatisasi pecah di bagian akhirnya. Dan hal ini bisa sangat mengganggu. Kita enggak tahu motivasi mereka. Perihal pembuatan mural-mural, tidak ada misi yang integralkan dengan perjalanan karakter. Mereka melakukannya karena suka. ‘Daging’ film ini ada di pertengahan akhir cerita, yang sebenarnya bisa saja seluruh struktur cerita film ini dirombak ulang sehingga inti cerita tersebut lebih ditonjolkan, yang tentu saja membuat film menjadi lebih menarik dan terarah.

ngegambar orang sebagai permintaan maaf, pffft good luck with that

 

Selain pemberani, Starla juga seorang tukang tidur yang amat sangat pulas. Beneran, ini adalah trait tokoh Starla. Dia bisa tertidur di kursi pengemudi di tengah jalan dan terbangun besok pagi saat mobilnya diderek. Dia pulas sehabis jalan-jalan, dan gak bisa dibangunkan oleh Hema, sehingga Hema yang tak tahu alamatnya terpaksa membawa Starla menginap di rumah. Begitulah film menggarap poin-poin cerita. Mereka menaruh perhatian dan minat lebih untuk membuat narasi yang over-the-top. Jambret bisa datang tiba-tiba hanya karena mereka butuh Hema untuk tampil heroik. Yang mana menurutku cukup lucu lantaran ketika momen emosional yang alami datang, film malah menurunkan intensitasnya – membuatnya jadi bagian dari komedi, membuatnya tampak justru sebagai adegan yang menyenangkan. Aku bicara soal adegan ketika lagi bikin mural, Hema dan Starla dikejar polisi. Eventually mereka terpisah, dan Starla tertangkap, jadi Hema ikut menyerahkan diri – dia berlari ke depan moncong mobil polisi. That whole sequence, seharusnya menghasilkan emosi yang kuat, memancarkan intensitas yang genuine. Tapi film malah menegasi efeknya dengan menampilkan latar musik pop yang asyik, untuk kemudian diikuti oleh adegan interogasi yang kocak.

Konsekuensi real life dari aksi mereka selalu dikecilkan. Polisi dalam film ini  adalah badut. Mereka lambat, gampang ditipu – kepala polisi percaya aja kalo yang berbuat vandalism selama ini adalah kembaran Hema. Rintangan asli dari hubungan mereka datang dari saingan cinta. Ngeliat cowok jalan sama cewek lain adalah alasan yang tepat untuk meninggalkan mobil di tengah jalan dan membuat pengguna jalan lain marah-marah. Sebenarnya aku heran kenapa film ini menonjolkan sisi komedi di sepuluh menit awal. Ada adegan kejar-kejaran yang sangat komikal yang bahkan berlebihan untuk sebuah komedi romantis.

Film ini benar-benar membuatku terkejut ketika ada penampakan juara Gadis Sampul 2016 yang jadi cameo (Carmela, good for youuu), eh salah, maksudku, film ini took me by surprise ketika cerita berubah menjadi konflik keluarga yang unnecessarily ribet di bagian akhir. Yang dicari Hema bisa jadi bukan cinta, melainkan ibunya. Starla juga jadi tampak selfish banget. Sepuluh menit pertama yang kocak mendadak jadi beralasan karena memang film ini agak mengesampingkan logika dan memang tersusun atas dasar mengada-ada. Ada twist yang semak oleh kebetulan. Aku duduk di sebelah kelompok abg yang bersorak “umur kita pas!” ketika tulisan ‘untuk 13 tahun ke atas’ nongol di awal film. Di tengah-tengah film, aku mendengar sebelahku bercanda ke teman-temannya, dia ngarang ending cerita. Teman-temannya sontak ngakak karena teori anak tersebut memang konyol, aku sampai ikutan ngikik malah. Dan guess what, tebakan anak tersebut tepat seratus persen. Cerita bergulir sesuai dengan apa yang ia guyonkan. Jadi kalian bisa bayangkan sendiri gimana begonya kalo poin cerita kalian bisa ditebak dari separo jalan film oleh abg yang lagi bercanda sama temen-temennya.

 

 

Dimainkan dengan kompeten, ini adalah cerita cinta yang penuh pesona buat kawula muda. Kita bisa melihat bahwa ini berangkat dari materi yang menarik. Tapi kenyataannya, masih banyak yang perlu dirombak – ditata ulang dari struktur penceritaan. It was a mess, dramatisasi semakin menjadi-jadi as the film goes on. Tone ceritanya juga persis kayak anak remaja, labil. Dan twistnya enggak sungguh-sungguh diperlukan. Mengada-ada. Sesungguhnya ada cara lain untuk membungkus cerita, untuk menguji hubungan kedua anak muda ini dengan lebih menarik dan logis. Film ini kayak menuliskan surat kepada remaja yang berpesan bahwa dalam cinta, kalian seperti bulan dan bintang di langit; semua di bawah kalian tak jadi soal.
The Palace of Wisdom gives 3 gold stars out of 10 for SURAT CINTA UNTUK STARLA THE MOVIE.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

AYAT-AYAT CINTA 2 Review

“Real people aren’t perfect.”

 

 

 

Tinggi-tinggi sekolah, ujungnya di dapur juga. Orang jaman dulu begitu tuh pandangannya, cewek gausah belajar pinter-pinter, tahan deh mimpi-mimpi itu, salurkan semuanya untuk jadi ibu rumah tangga yang baik. Istri yang berdedikasi. Tapi ya itu flashback bertahun-tahun yang lalu. Sekarang udah 2017. Pemikiran orang semakin dewasa. Banyak yang sudah berubah. Sembilan tahun yang lalu aja, waktu film Ayat-Ayat Cinta yang pertama keluar, aku masih belum peduli sama film. Apalagi film Indonesia.  Tapi ternyata aku tidak perlu khawatir saat menonton sekuelnya ini. Karena bagi Ayat-Ayat Cinta 2, waktu berjalan di tempat. Kita malah musti sedikit menyejajarkan diri ke belakang untuk dapat menikmati film ini.

Bukan berarti tidak ada yang berubah dalam kehidupan Fahri (ekspresi melotot Fedi Nuril kadang-kadang kocak juga). Sekarang pria ini adalah seorang dosen di Universitas Edinburgh, Skotlandia. Menjadi muslim di sana berarti menjadi minoritas. Fahri harus berurusan dengan pandangan-pandangan menghakimi, kerendahhatiannya tak dipandang oleh orang-orang yang marah atas peristiwa terorisme yang di berbagai belahan dunia. Tetangga Fahri, misalnya, Keira (Chelsea Islan sepertinya dilahirkan dengan dandanan pemain biola, cocok banget) dan adiknya blak-blakan menuding Fahri teroris. Mereka ‘meneror’ mobil Fahri sebagai wujud kebencian. Namun hal ini tidak mengusik si sabar Fahri segede kepergian Aisha menghantuinya. Sang istri diduga menjadi korban pengeboman di Palestina dan sejak itu Fahri gundah dengan kekosongan di hatinya. Kharisma cowok ini membuatnya populer di kalangan cewek-cewek, apalagi mahasiswinya, tapi dia menolak mereka semua.

Di saat film-film kekinian berlomba menulis tokoh wanita yang independen dan punya ‘strength’, film ini membuat tokoh-tokoh wanitanya terlibat dalam semacam kompetisi demi mendapatkan hati Fahri. Bahkan Sabina (Dewi Sandra banyak berekspresi dengan matanya saja), muslimah berkerudung yang ditampung Fahri sebagai asisten rumah tangga, tampak sedikit banyak memendam sesuatu terhadap Fahri. Dan kemudian muncullah Hulya (cowok mana sih yang keberatan kalo Tatjana Saphira yang motong pembicaraan mereka?) yang punya ‘keunggulan’ sebagai sepupu Aisha. Dengan cepat mereka menjadi akrab. So I guess, kita semua kudu penasaran, siapa yang akan dipilih oleh Fahri.

Tatjana dan Chelsea satu film, rahmat mana lagi yang engkau dustakan?

 

Atmosfernya terasa sangat grande, tata musiknya, gambarnya, desain produksi film ini termasuk di level atas. Penampilan aktingnya juga tepat mengenai sasaran nada dan emosi yang ingin disampaikan – kecuali adik cowok si Keira. Duduk di studio, di lautan penonton berambut panjang dan sebagian besar lainnya berhijab (aku paling ganteng dong!), babak set up film ini cukup menarik buatku. Ada beberapa aspek seperti Fahri yang beribadah di dalam kelas sebelum mengajar – enggak di belakang kelas, dia harus banget melakukannya di depan mata semua murid yang berasal dari latar yang berbeda-beda – yang tampak intriguing. Aku juga suka gimana mereka memanfaatkan cadar ke dalam penceritaan.  Namun, lama kelamaan, frekuensi aku menguap dengan mata kering menjadi semakin sering. Sampai ke titik aku tidak tahan melihat Fahri, karena tokoh utama idaman wanita ini begitu membosankan. Dia terlalu jauh dari kita.

Tokoh-tokoh superhero seperti Wonder Woman, mati-matian ditulis sangat grounded agar mereka tampak seperti manusia biasa, diselipkan adegan-adegan kecil yang memanusiawikan mereka, tidak melulu mereka superpower. Thor yang dewa, dibikin jadi konyol dalam Thor: Ragnarok (2017) juga dengan alasan ini; supaya kita relate ke dia. Ayat-Ayat Cinta 2, sebaliknya, punya Fahri yang seorang manusia biasa namun dibuat setinggi mungkin, semulia mungkin, tokoh ini punya kebaikan dan kesabaran kayak Nabi Muhammad sekaligus diceritakan punya ketampanan yang membuat wanita tergila-gila kayak Nabi Yusuf, sempurna sekali. Dia lebih baik dari superhero manapun. Fahri’s thing is he does right things. Sedikit saja kekurangan, mungkin bikin dia miskin atau apa, bisa membuat cerita lebih menarik. Membuat perjalanannya lebih compelling. Satu-satunya cela karakter Fahri di film ini adalah dia nutupin perasaannya sendiri.

Terlalu sempurna adalah kecacatan. Dan hal itu tidak membuat film yang bagus.

 

Benar film ini mengeksplorasi komentar sosial perihal Islam di mata publik; film ini relevan karena menyinggung isu-isu seperti bagaimana kedudukan wanita di mata Islam, bagaimana pandangan Islam terhadap perang dan terorisme. Akan tetapi, seperti yang di-foreshadow oleh salah satu adegannya, film ini tidak mengeksplorasinya lebih dalam. Film tidak menjatuhkan ‘bola’ kesempatan itu. Dia menusuknya dan mengempeskan semua hal-hal menarik yang mestinya dapat dikandung oleh cerita. Rintangan-rintangan yang dialami Fahri selesai dengan gampang, dalam rentang waktu satu adegan sahaja. Fahri punya semua jawaban. Menurutku bagus juga kebaikan dan amal soleh yang dilakukan oleh Fahri yang actually bicara tentang siapa Fahri kepada orang-orang, namun ini membuat dia seperti missing-in-action. Seperti ketika ditanya mahasiswa sok-pinter di kelas, Hulya yang memotong dan menyelesaikan jawaban. Pada sekuen adegan debat ilmiah yang dengan cepat menjadi personal, Fahri sama sekali gak membela diri, seorang nenek yang eventually stand up for him, membuatku kepikiran mungkin sebaiknya film ini mengganti tokoh utamanya.

Ketika mengadaptasi novel menjadi film, keputusan kreatif sepenuhnya di tangan pembuat film. Akan selalu ada tuntutan untuk setia dan sesama mungkin dengan novel sumbernya, namun pada dasarnya film berbeda dengan novel. Ada aturan-aturan penulisan screenplay; ada kewajiban untuk menjadikan film sebagai perjalanan tokoh. Tokoh kita harus engage penonton. Perubahan-perubahan kreatif demi alasan tersebut, hukumnya wajib untuk dilakukan. Katakanlah karena terlalu sempurna – sedangkan tokoh utama yang menarik adalah yang sedikit ‘bengkok’, Fahri enggak mesti jadi tokoh utama. Cerita bisa ditranslasi ke dalam sudut pandang tokoh lain. Keira bisa menjadi tokoh utama yang menarik di cerita ini – jika mereka mau mengubah arcnya sedikit. Atau Sabina. Aku gak mau spoiler banyak, but I tell you this: perhatikan tokoh ini baik-baik.

Asal jangan Hulya sih. Maksudku, tokoh ini karakternya apa sih? Apa yang ia lakukan, apa motivasi terdalamnya? Hulya adalah wanita yang pintar. Dia cukup mandiri. Tapi dia cuma ngikutin ke mana Fahri pergi. That’s it. Itulah karakter Hulya. Dia muncul gitu aja, dan undur diri dalam sirkumstansi yang random banget. Mereka harusnya bisa mengonstruksi konfrontasi final dengan lebih baik, di set up dengan lebih perhatian, tapi enggak. Bagian itu terjadi di suatu rest area pom bensin. Kebetulan yang mencengangkan, mukjizat,  pemirsa!

Perbuatan baik dapat pahala, perbuatan jahat bakal dikasih Fahri piala

 

 

Film ini ‘malas’ seperti itu. Sungguh ironis lantaran film ini lewat salah satu dialognya yang bukan eksposisi menasehati kita dengan  “Niat baik tanpa effort, dapat merusak hasil.” Dan turns out, film ini adalah perwujudan dari kalimat tersebut. Naskah film pada ujungnya hanya mengerucut menjadi drama-drama romansa yang over–the-top. Emosinya begitu melodramatis. Contoh simpel film ini favoring ke dramatis yang sintesis adalah mereka membuat adegan seorang ustadz yang berjalan dengan slow motion di dalam mesjid. Dibuat mendekat perlahan supaya tampak intens. I mean, natural aja di mesjid kan memang jalannya pelan-pelan, dan untuk membuat si ustadz tampak marah, mereka malah memelankan lagi yang udah pelan itu.  It really takes away the moment, karena padahal kalo mau bikin adegan yang ngekonflik  ya sekalian bikin ustadznya setengah berlari geram menuju Fahri.

Aku gak bisa menyimpulkan arc tokoh Fahri. Apa yang ia pelajari dari kejadian-kejadian penuh twist yang terjadi padanya. Aku semula mengira ini adalah soal Fahri yang belajar bahwa terlalu sempurna itu enggak baik, dia harus jujur pada diri sendiri.  Bahwa  tidak ada orang-orang nyata yang sempurna. Tapi enggak. Di akhir hari, film ini bicara tentang betapa pentingnya penampilan fisik. Mestinya cinta itu karena hati – cantik jelek tidak jadi soal. Di sini, kita punya seorang wanita yang merasa sudha begitu rusak physically, dia bersembunyi dari suaminya, dan dia setuju untuk berubah – out of insecurity – dan demi menyenangkan orang lain. Buatku it  just feels so wrong.

Dan ya, aku setuju dengan kalian yang menyebut ending film ini menggelikan. Ini adalah momen penting pada film. Banyak tokoh yang hidupnya berubah karena proses setelah ending tersebut. Tapi ketika kita melihat ke belakang, film ini bertempat di Britania Raya alasannya bukan lagi karena di sana adalah tempat dengan kebudayaan yang beragam, dengan perbedaan yang meriah. Melainkan agar aspek operasi di akhir cerita jadi mungkin untuk terjadi. Dan ini benar-benar menurunkan nilai dan kepentingan film.

Melihat Fahri yang begitu tinggi menjunjung toleransi, takpelak mengundang buah pemikiran; benarkah kita harus menoleransi yang tidak toleran? Jika dipikir-pikir, toleransi adalah sebuah paradoks. Katakanlah jika di bulan puasa kita menghormati yang tidak berpuasa – warung bebas dibuka, orang-orang tetap makan minum di jalan, maka di mana jadinya letak toleransi terhadap yang lagu berpuasa? Karl Popper, seorang filosofis, bilang ketika kita extend toleransi shingga ornag-orang bisa openly intolerance, maka yang toleran akan hilang bersama dengan sikap toleransi itu. Kesimpulannya adalah kebablasan toleransi akan membunuh sikap itu sendiri, dan guna mempertahankan toleransi kita butuh untuk enggak toleran terhadap yang gak-toleran.

 

 

 

Fahri bilang kita kadang harus mundur sedikit untuk dapat melompat lebih lanjut. Tapi film ini mengambil kemunduran yang terlalu jauh, dan akhirnya jatuh. Ini adalah film yang bagus jika ditonton di jaman Siti Nurbaya masih disuruh kawin. Dibawa ke jaman kekinian, generasi now, tokoh-tokoh film ini sangat outdated. Isu kekiniannya ditinggalkan begitu saja demi drama dan romansa yang digali berlebih-lebihan. Bicara tentang putting women in pedestal, namun twist film ini mendorong jatuh para wanita itu dari pedestalnya dalam setiap kesempatan. Tapinya lagi, mungkin kita memang masih berada di jaman jahiliyah sehingga masih bisa terbuai oleh ayat-ayat drama seperti ini.
The Palace of Wisdom gives 1 gold star out of 10 for AYAT-AYAT CINTA 2

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

CALL ME BY YOUR NAME Review

“Without continuity, men would become like flies in summer”

 

 

FILM INI ENGGAK LURUS. Kalian tahu, sebuah film ditulis dengan mengacu kepada struktur penceritaan. Ada kaidah-kaidah dalam merangkai poin cerita. Ketika seseorang menulis naskah, maka traditionally, dia kudu ngikutin peraturan. Sepuluh menit pertama film harus bisa melandaskan apa motivasi tokoh utamanya, harus ada pengenalan antagonis, kemudian meit-menit berikutnya disambung dengan kejadian yang harus diatasi oleh tokoh utama – ada ‘inciting incident’ yang menjadi awal rintangan yang dialami oleh perjalanan tokoh utama. Call Me by Your Name tidak pernah straight ngikut aturan nulis screenplay itu. Ceritanya dengan sengaja ngelantur ke mana-mana. Terkadang terasa film ini bercerita dengan sangat malas. Tokoh-tokohnya berkeliaran gitu aja di sepanjang musim panas itu. Aku adalah orang yang bisa dibilang konservatif, aku suka jika semua runut sesuai format karena mengapa mengubah sesuatu yang tak rusak. Meskipun begitu, aku enggak necessarily menentang pembaharuan. Terutama jika hal-hal baru tersebut beralasan.

Pada film ini, semua pilihan menyimpang yang diambil – yang dilakukan – regarding to the storytelling, mereka tahu persis apa yang mereka lakukan. Film ini bahkan bukan sebuah perjalanan, ini adalah sebuah discovery. Dan film ini sangat romantis dalam melakukannya.

 

Elio disuruh mengantar Oliver ke kamar tamu yang bersebelahan dengan kamar tidurnya. Itu artinya Elio harus berbagi kamar mandi dengan pria Amerika asing tersebut. Oliver datang ke Itali sebagai asisten penelitian, dia bekerja di bawah ayah Elio, musim panas itu dia ditugasin buat bantu-bantu. Elio yang mendadak jadi kebagian tugas ‘memandu tamu’ menjadi dekat dengan Oliver. Mereka naik sepeda mengunjungi berbagai tempat. Oliver ketemu banyak orang. Elio pun mengamati, semua orang – kerabat, keluarga, sahabat – suka dengan pribadi Oliver. Semakin dekat dan akrabnya hubungan mereka, Elio merasakan sesuatu pada dirinya yang tak pernah ia tahu.

kemudian dia juga sadar, di rumahnya banyak lalat

 

 

Selagi kita melihat tokoh-tokoh itu mengeksplorasi banyak hal tentang hubungan mereka, film ini menjelma menjadi sesuatu yang terasa amat nyata. Timothee Chalamet dan Armie Hammer punya chemistry yang menggelora sebagai Elio dan Oliver. Arahan sutradara Luca Guadagnino membawa yang terbaik dari penampilan mereka. Adegan terakhir – tujuh menit shot kamera ke wajah Elio – benar-benar bercerita banyak, sebuah adegan yang tak bisa tercapai jika ditangani dan dimainkan dengan ngasal.

Menelaah kembali film ini, setiap momen random, Eliot hanya duduk di pinggir kolam menulis musik, mereka bercengkerama di pesta, mereka ngobrol di meja makan sarapan telur, perasaan lingkungan sekitar film ini kerasa seolah kita berada di sana. Menonton mereka enggak kayak menonton film, tokoh-tokoh ini begitu bebas – mereka tidak bergerak sesuai struktur – lokasinya gerah, dan semua itu tertangkap dengan sangat baik. Saat mereka duduk di kafe pinggir jalan, misalnya. sense of realism menguar kuat sebab film menggunakan desain suara yang apa adanya, Ellio harus membesarkan suaranya karena ada mobil yang lewat, dan suara mobil itu pun enggak dihilangkan, penonton dibiarkan mendengar seolah kita ikut duduk di dekat Ellio dan Oliver.

Cerita film ini tidak membuka seperti pada film kebanyakan. Malahan, film ini bisa menjadi membosankan oleh sebab pace cerita yang sengaja banget dilambat-lambatin. Kita melihat aktivitas mereka setiap hari, kadang mereka Cuma duduk saja melihat pemandangan, kemudian mereka berenang tanpa alasan, adegan-adegan itu tampak hadir begitu saja. Beberapa dari adegan tersebut tampak memiliki makna dan ada juga beberapa yang tampak pretentious, yang kita sama sekali gak bisa menebak ni sutradara ngeliatin visual doang apa gimana. Call Me by Your Name banyak memperlihatkan adegan yang gak perlu kita lihat, akan tetapi dalam konteks film ini tidak ada satu adegan yang less important dibanding adegan yang lain. Film ini ingin memperlihatkan apa yang para tokoh lakukan di jendela timeline cerita, dan memang itulah yang kita lihat. Para karakter tidak diberikan arc yang jelas, malahan kita tidak pernah benar-benar diberitahu siapa mereka pada awalnya. Khususnya si Oliver, film hanya memberikan informasi sebatas yang kita perlu tahu, dan betapa menurutku akan lebih baik jika kita diberikan sedikit lebih banyak backstory sehingga kita bisa lebih terattach kepada mereka, film tetap membuat mereka berjarak. Emosi itu sedikit demi sedikit terbangun, dan di babak ketiga, dampak kejadian-kejadian tersebut akan menyergap kita. Karena sesungguhnya ini adalah cerita yang kompleks, terutama karena film juga tidak memberikan jawaban yang mudah kepada karakter-karakternya taas situasi yang mereka rasakan.

Jadi pada akhirnya apa yang tadinya jauh dan terlihat menyebalkan, dengan pacing lambat, karakter yang asing, lokasi yang indah tapi panas, film ini berubah menjadi sesuatu yang susah untuk kita abaikan. Seperti lalat yang berdengung di telinga. Film ini akan berseliweran di kepala kita.

serius deh, “banyak lalat di kotamuuhuu, gara-gara ka-mu~”

 

Dengan arahan yang sangat detil, dengan dialog-dialog yang dirangkai precise sehingga membuat kita tertarik untuk terus mengikuti, sungguh aneh kenapa kita melihat banyak lalat di dalam nyaris setiap frame. Ada lalat di mana-mana. Di buku catatan Elio. Di pinggir kolam. Di piano.  Mungkin lokasi syuting mereka benar-benar tempat yang penuh lalat, dan mereka gak mau jatoh konyol dengan menghapusnya dengan CGI. Tadinya aku berpikir begitu. Bahwa lalat itu cuma kebetulan, atau malah hanya hiasan untuk menambah kesan nyata; film ini begitu nyatanya sehingga para penonton seolah seperti lalat yang ada di sana menyaksikan langsung segala peristiwa. Namun kemudian di adegan ending yang tujuh menit close up wajah Elio itu, kehadiran lalat di sini sangat on-point. Jadi, aku berpikir, pastilah ini si sutradara sengaja! Agak bego sih ngomongin lalat, tapi sepertinya film ini menggunakan METAFORA LALAT dalam membungkus ceritanya. Bahwa lalat datang dan pergi, seperti musim panas buat Elio dan Oliver. Kurun kecil namun berarti besar bagi mereka, di mana mereka menemukan sesuatu di dalam diri mereka. Waktu tersebut, apa yang mereka punya di momen itu, berakhir just like that.

Pemenang Best Picture Oscar tahun 2017, Moonlight, punya tema yang sama dengan Call Me by Your Name. Tentang anak muda yang ga yakin sama hal yang ia temukan ada pada dirinya, tentang lifestyle yang berkonflik dengan keadaan sekitarnya. Elio diceritakan punya pacar, seorang gadis yang sudah jadi teman baiknya sejak kecil, dan kita lihat bagaimana Elio actually ‘membandingkan’ antara cewek ini dengan Oliver. Ada konflik di sini atas apa yang ia rasakan dengan sekitarnya, namun tidak seperti pada Moonlight, tokoh-tokoh Call Me by Your Name tidak mendapat konfrontasi. Mereka tidak punya banyak hal untuk dkhawatirkan. Kesulitan yang sekiranya timbul dari pilihan hidup mereka tidak terasa kuat. Menurutku, film ini perlu suntikan drama sedikit lagi. Mestinya ada lebih banyak rintangan di luar kurun waktu kejadian dan situasi yang memisahkan mereka.

 

 

 

Jika cukup open-minded, kita akan bisa menghargai pilihan yang diambil oleh penceritaan sebagai sebuah film. Karena ia memang sengaja dibuat enggak lurus. Dan aku bahkan belum ngomongin orientasi tokohnya. Namun yang pelru diingat adalah lewat pengarahan dan penampilan akting yang benar-benar baik, film ini tidak meminta respek tersebut. Real, dikonstruksi dengan indah, film ini hanya memperlihatkan sesuatu aspek yang tidak lagi bisa kita abaikan.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for CALL ME BY YOUR NAME.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

THE MOUNTAIN BETWEEN US Review

“Long-term relationships, the ones that matter, are all about weathering the peaks and the valleys.”

 

 

 

Berada dalam sebuah relationship adalah sebuah kerja keras. Mempertahankan hubungan itu udah kayak berjuang bertahan hidup. The Mountain Between Us adalah cerita tentang keduanya; cerita survival dua orang yang terdampar di pegunungan bersalju. Sekaligus sebuah cerita romansa tentang dua orang yang tak menyangka mereka harus bekerja sama, saling support satu sama lain, demi melewati situasi yang sulit.

 

Penerbangan di Bandara Idaho terkendala oleh cuaca. Semua jadwal ditunda oleh kemungkinan datangnya badai salju. Membuat seorang jurnalis fotografi, Alex (tentu saja Kate Winslet bisa meranin cewek yang tangguh), seperti orang kebakaran jenggot. Besok dia akan menikah, jadi mana sudi terkunci di bandara. Tak beberapa jauh darinya, seorang dokter bernama Ben (ini adalah peran romantis pertama bagi Idris Elba) juga tampak angot ngobrol sama petugas bandara. Ada pasien yang harus segera ia tangani. Senang ngeliat ada orang dengan tujuan yang sama, Alex ngajakin Ben untuk berangkat dengan menyewa pesawat kecil. Mungkin takdir memang ingin melihat mereka bersama, pesawat carteran mereka jatuh, dan mereka mendarat dengan amat sangat tak-mulus di puncak gunung salju. Kondisi yang kritis, kaki Alex terluka, pilotnya tewas, untung Ben seorang dokter, dan di pesawat ada beberapa persedian makanan. Dan anjing si pilot yang setia. Namun sesungguhnya yang mereka punya hanyalah percakapan di antara mereka berdua yang sama sekali orang asing. Mereka harus belajar saling mengenal, saling membantu, dengan harapan mereka bisa selamat dari situasi yang berbahaya tersebut.

Di sana gunung, di sini gunung. Di tengah-tengah ada aku dan kamyuuu

 

Fakta bahwa Winslet dan Elba adalah pemain film yang fantastis membuat kita seketika peduli sama kedua tokoh mereka. Kita pengen liat Alex dan Ben selamat. Dan di atas itu semua, kita pengen jawaban yang sweet terhadap pertanyaan yang mendegup di hati kita; Alex dan Ben bakalan jadi sepasang kekasih gak sih? Film dengan cermat melandaskan betapa kedua orang ini tidak digariskan untuk hidup bersama. Ben sudah beristri, dan Alex, jika enggak nyangkut di gunung, pastilah sudah jadi istri orang. Yang harus digali oleh film ini adalah bagaimana proses mereka menjadi dekat, bukan saja karena mereka harus bekerja sama supaya bisa hidup, juga karena perasaan akrab itu timbul secara lebih personal.

Kate Winslet dan Idris Elba tidak akan menyuguhkan penampilan yang mengecewakan, aku pikir kita semua sudah tahu itu, dan tentu saja kita mengharapkan penampilan yang luar biasa menyakinkan dari mereka berdua. Elba seperti biasanya memang bermain menawan. Tokohnya adalah seorang yang punya masa lalu yang menyakitkan, dan kita dapat merasakan dia begitu terhantui karenanya. Winslet juga bermain dengan segenap hati, namun tokohnya di sini agak sedikit annoying buatku. Alex bukan penampilan terbaiknya. Masalah ini terutama datang dari penulisan, juga arahan yang enggak berhasil menggali apa yang cerita seperti ini perlukan.

Justru, aspek romansa di antara merekalah yang terutama melongsorkan film. Alih-alih mengolahnya dengan menarik, dialog-dialog film ini terdengar cheesy. Pencerminan survival di gunung dengan bertahan di dalam cinta dibuat sangat obvious sehingga tak menarik minat untuk menyimak pembicaraan mereka. Penulisan karakternya lemah, poin poin keputusan mereka dipancing oleh adegan-adegan yang overly melodramatis. Misalnya ketika mereka cari-carian di hutan, Alex teriak-teriak manggil nama Ben, dan kemudian dia jatuh ke dalam air, byuurrr, Ben pun terjun menyelamatkannya. Beneran, menulisnya saja aku sudah nyengir. Tapi adegan itu bukan apa-apa dibandingkan adegan ending film ini. Wuihhh, maha nyengir deh! Aku enggak ingat kapan terakhir kali aku melihat adegan secheesy itu di film Barat. Geli ngeliatnya haha!

 

Film ini sebenarnya punya sinematografi yang cakep. Gunung es dan padang putih itu ditembak dari sudut pandang yang membuat kita lupa narik napas. Sayangnya, keindahan tersebut tidak dibarengi dengan arahan yang unik. Ada perbedaan mendasar antara sinematografi dengan directing, kalian tahu, kadang kita sering bingung apa bedanya; kalo kita melihat film yang cantik, kita sering bertanya-tanya sendiri ini kerjaan sutradaranya atau karena kamera dan pemandangannya yang bagus sih. Well yea, kalo kita bekerja dengan sinematografer yang handal , maka tentu saja mereka akan memberikan hasil gambar yang menakjubkan. Kalo kita motion pemandangan, terang saja hasilnya kece. Nah,  tugas sutradara adalah berkomunikasi dengan juru kamera mengenai pengambilan gambar yang punya energi, yang punya kepentingan yang sesuai dengan film,  yang tujuannya tentu saja supaya film mengalir dengan benar. Supaya pacing dan pengadeganannya menarik. The Mountain Between Us punya gambar-gambar yang jelita, tetapi diarahkan dengan membosankan. Hampir tidak ada visi dari penempatan, ataupun dari flow narasi.

Naik kapal, nabrak gunung es. Naik pesawat, jatuh di gunung salju ckckck

 

Sebagai film survival, juga film ini tidak mampu mencapai keefektifan yang tinggi. Penyelesaian untuk masalah-masalah yang kedua tokoh ini hadapi dalam rangka bertahan hidup tampak sangat convenience; tampak mudah. Mereka nemu pondok kosong, mereka dapat persediaan makan sehingga mereka bisa bertahan tiga hari. Angka tiga tampaknya memang jadi angka keramat di sini, karena kaki Alex yang terkilir dapat sembuh setelah dia berjalan di dalam salju selama tiga hari. Ajaib, memang, film menyuruh kita untuk mempercayai itu. Para tokoh tidak pernah tampak benar-benar takut, mereka memang menyebut ingin hidup, tetapi mereka tidak kelihatan mencemaskan nasib mereka. Perjuangan hidup mereka tidak tertonjolkan. Praktisnya, mereka selalu menemukan apa yang mereka butuhkan. Dan mereka punya anjing yang paling patuh dan paling setia sedunia. Aku gak bisa membayangkan gimana perjuangan si anjing ngikutin sepasang manusia yang penuh drama ini. I mean, buat Alex dan Ben aja salju yang mereka lewati udah setinggi lutut, gimana cara si anjing berjalan ngikutin mereka coba.

Kita enggak bisa yakin kita bakal terdampar sama siapa. Tapi kita bisa memilih; untuk berjuang bersama, untuk mengalami ups-downs bareng, survival dalam cinta adalah soal siapa yang bertahan di sampingmu bahkan ketika situasi menjadi serba-berat.

 

 

 

Sungguh mengecewakan film ini gagal baik sebagai cerita cinta maupun kisah bertahan hidup. Penampilan akting yang baik, tampilan visual yang cantik, tentu saja membuat kita mengharapkan sebuah film yang sama bagusnya. Hanya saja film ini tersandung oleh arahan yang biasa banget. Ada banyak kebetulan, perjuangan para tokoh terlihat dimudahkan. Malahan, film ini menjadi terlalu cheesy untuk dianggap sebagai drama yang serius.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for THE MOUNTAIN BETWEEN US.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?

We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

JUMANJI: WELCOME TO THE JUNGLE Review

“Life isn’t hard, Megaman is.”

 

 

Dalam video game kita akan dikejar-kejar zombie kelaparan. Ditembaki robot-robot kalap. Melompat dari satu jurang ke jurang lain. Kalo gagal, kita mati, sure di jaman now ada save point,  tetapi dulu kita harus mengulang kembali dari awal setiap kali game over. Beberapa game bisa menjadi begitu bikin stress sampe joystick pada rusak. Nintendoku dulu kabel stiknya nyaris putus karena kugigit-gigit ngamuk mati melulu main Circus Charlie di level tali ayunan itu. Namun betapapun susahnya, kita tetap suka melarikan diri ke dalam dunia video game kalo lagi mentok di kehidupan nyata. Anehnya kita bisa refreshing setelah mati berulang kali di dalam video game.

Kayak Spencer dan teman-temannya. Mereka didetensi harus bersihin gudang sekolah bareng-bareng. Kata gurunya sih supaya mereka tahu siapa diri mereka. Di sela-sela kerjaan gak asyik itu, Spencer menemukan mesin video game jadul dengan kaset cartridge bertuliskan Jumanji. Spencer yang jago main video game seumur-umur belum pernah mendengar nama itu, ataupun belum pernah melihat konsol yang begitu antik. Jadi, dia dan Fridge dan Bethany dan Martha mencoba permainan tersebut. Dan seperti salah satu episode film Boboho jaman dulu, mereka berempat tersedot ke dalam layar. Spencer yang kini berwujud The Rock, dan teman-temannya yang juga berubah tampang menjadi karakter game yang sudah mereka pilih, harus bertualang menembus hutan. Mencari dan mengembalikan permata Jaguar yang hilang supaya bisa pulang. Masing-masing mereka cuma punya tiga nyawa, tiga kali kesempatan untuk gagal, sebuah angka yang minim sekali mengingat hutan arena bermain mereka dihuni oleh berbagai binatang buas, serta satu geng bandit yang pemimpinnya bisa mengendalikan hewan-hewan tersebut.

Video game terlihat gampang karena kita sudah tahu apa tujuan kita bermain. Mengalahkan monster. Mencari harta karun. Menyelamatkan putri raja. Kita jadi tertantang buat menyelesaikannya. Ketika tivi dimatikan, tombol power konsol ditekan dan lampunya mati, kita balik ke kehidupan nyata di mana kita tidak mengerti ngapain sih kita di dunia ini. Apa misi yang diberikan kepada kita di sini Hidup sangat kompleks, kita harus memahami diri sendiri, menciptakan sendiri tujuan hidup kita. Itulah kenapa kita menganggap hidup lebih susah. Tujuan itu sama sekali tidak terlay out seperti pada video game. Tapi begitu kita tahu siapa kita, mau jadi apa kita, hidup tidak lebih susah daripada menjatuhkan raja Koopa ke dalam lava. Hidup adalah rimba yang sebenarnya, hanya jika kita tersesat.

Breakfast Club, now in a fully rendered-8 bit

 

Tadinya kupikir film ini adalah remake dari Jumanji 1995 yang ada Robin Williamsnya. Ternyata enggak, ini lebih sebagai sebuah sekuel, dan sort of a reboot. Papan permainan Jumanji yang dimainkan oleh Kirstern Dunst ditampilkan kembali di film ini. Kita lihat gimana si papan merasa ketinggalan jaman dan mengubah diri menjadi kaset dan konsol video game. Dan dari sinilah film mengeksplorasi banyak hal-hal keren yang menyenangkan yang timbul dari gimana manusia masuk ke dalam video game. Oke aku nerd, bahkan sampe sekarang aku habisin waktu luang dengan main video game, jadi mungkin kalian menyangka aku bisa sedikit bias menilai film yang udah nyaris kayak adaptasi video game ini. Tapi enggak sebias itu juga sih, film ini memang TONTONAN MENGASYIKKAN DALAM KONTEKS VIDEO GAMENYA.

Para tokoh di sini dibuat bisa melihat kelebihan dan kekurangan masing-masing, persis kayak status di video game, dan mereka bekerja sama dengan memanfaatkan aspek ini. Interaksi mereka dengan tokoh tiang garam juga kocak banget. Eh pada tahu ‘Tokoh Tiang Garam’ gak sih? itu loh, di game-game petualangan kan selalu ada tokoh-tokoh yang gak bisa kita mainin, dan diprogram untuk ada di game buat memberikan informasi. Di luar dialog-dialog yang sudah diprogramkan, mereka enggak bisa ngomong hal lain lagi. Jadi kalo kita ajak ngomong terus, ya ucapannya itu-itu melulu. Nah, dalam film, elemen ini jadi salah satu pemancing ketawa yang dibuat dengan sangat menyenangkan. Namun dari konteks-konteks video game yang seru tersebut juga muncul berbagai plothole pada universe yang menjadi kelemahan film.

Salah satu aspek paling seru dari Jumanji: Welcome to the Jungle adalah karakternya.  Jadi kan remaja-remaja itu tersedot ke dalam dunia game, dan mereka sekarang berwujud seperti avatar yang mereka pilih. Dan pada beberapa, tubu mereka sangat bentrok ama sifat asli. Dwayne Johnson hanya kekar di luar. Di dalam otot-ototnya, The Rock adalah Spencer – si kutu buku bertubuh kecil yang sangat penakut, bahkan tupai aja bisa bikin dia jejeritan histeris. Jack Black sangat kocak di film ini; dia adalah cewek paling populer di sekolah, yang kerjaannya main hape melulu, dan dia terperangkap di dalam tubuh tambun pembaca peta. Jadi bisa dibayangkan betapa ngakaknya melihat penampilan akting Jack Black di film ini. Tokoh yang diperankan Karen Gillan punya arc yang menarik; di dunia nyata ia adalah cewek yang benci olahraga, namun di game dia seorang petarung, jadi dia dibuat tertarik untuk menggerakkan tubuhnya dalam cara-cara yang bikin berkeringat.

Sebagian besar pemeran dalam film ini diberikan kesempatan untuk bermain-main dengan peran yang sangat unik, kecuali Kevin Hart. Komedian ini sendirinya kocak banget, kita bisa betah duduk berjam-jam nonton dia menghina dirinya sendiri, dan itulah salah satu kekuatan utama pesona kocaknya. Di film ini, Kevin Hart kembali memancing jokes dari sana, dan buatku malah jadinya biasa aja, dia tidak melakukan sesuatu yang baru di sini. Dia sama The Rock banteringnya persis kayak di Central Intelligence (2016), Hart mengejek tinggi badannya sendiri yang kalah jauh ama The Rock. Kevin Hart kocak namun dia pretty much bermain sebagai dirinya sendiri, dan ini kalah menarik dibandingkan aktor-aktor lain yang benar-benar membanting image mereka memainkan karakter yang di luar kebiasaan.

Keberanian enggak ada hubungannya ama ukuran tubuh

 

Kalo di Jumanji dulu kita ternganga ngeliat badak berlarian dari rumah ke jalanan, sekarang kita akan melihat berbagai sekuens aksi yang mengalir lancar berkat keunggulan teknologi. Orang-orang bertebangan ke sana kemari. Stun work di sini amat impresif, meskipun pada beberapa sekuens, film lebh mengutamakan efek CGI. Akan ada banyak adegan yang menampilkan efek yang obvious, yang menurutku adalah disengaja sebagai cara film untuk terlihat sebagai dunia video game. Aku sedikit menyayangkan film ini melewatkan kesempatan untuk tampil kayak di salah satu episode Rick and Morty di mana Rick terjebak dalam dunia simulator. Di serial kartun itu kita melihat Rick berjalan di dunia yang hanya sekitarnya saja yang terender kumplit, begitu dia melihat ke ujung jalan dia hanya melihat polygon, pemandangan sekitar Rick terender seiring dia berjalan karena begitulah lingkungan dalam simulator atau dunia game berjalan. Menurutku, jika perihal render dunia diimplementasikan ke dalam Jumanji ini, tentulah akan semakin banyak hal keren dan kekocakan yang bisa digali.

Bermain-main dengan struktur video game, seperti yang aku singgung di atas, film ini mengambil beberapa pilihan aneh yang bukan saja menjadikan ceritanya tampak tak-lagi seperti video game, melainkan juga jadi membuat ceritanya punya plothole. It’s cool ketika film ini menggunakan flashback dan mengatakannya sebagai adegan cutscene pada video game. Tokoh utama kita juga melihat cutscene ini. Namun, terdapat juga beberapa adegan cutscene yang memperlihatkan tokoh penjahat sedang mempersiapkan pasukan, dan tokoh utama kita sama sekali enggak tahu tentangnya. Ini bertentangan dengan konsep video game karena mestinya tidak ada pengembangan dunia lain di luar pengetahuan tokoh utama. Ini sebenarnya soal perspektif, kita seharusnya melihat hal dari sudut pandang Spencer yang jadi tokoh video game, bukannya sebagai pemain. Tapi film tidak pernah menjelaskan kenapa ada cutscene yang tidak diketahui oleh Spencer. Pun juga tidak menerangkan seperti apa persisnya dunia buatan Jumanji. Karena kalo dipikir-pikir, video game yang mereka mainkan mengembangkan programnya sendiri, game ini berevolusi sesuai dengan keadaan pemain yang termasuk ke dalamnya. Karena semua kejadian yang mereka alami seperti sudah diatur, mereka ketemu Missing Piece, mereka bisa menyelesaikan satu stage karena stage tersebut terlihat diprogram untuk diselesaikan empat orang. Bagaimana kalo ternyata ada, katakanlah dua orang, yang memainkan game sebelum mereka. Apakah hal akan berbeda buat Missing Piece? Apakah settingan skill mereka juga berganti. Mestinya film bisa melandaskan aturan mainnya dengan lebih kuat.

Soal arc cerita sebenarnya aku juga bingung, apa yang ingin dicapai oleh film ini. Karena jika menurutku poros utama film ini bicara tentang gimana anak-anak itu belajar memberanikan diri berjuang di dunia nyata, maka semestinya film membuat mereka tidak lagi menggunakan nama avatar saat film mencapai akhir. Seharusnya mereka dibuat berhasil atas nama diri mereka sendiri.

 

 

Film ini seperti video game, kita akan bersenang-senang dengannya. Perfectly enjoyable dengan penampilan peran yang sebagian besar unik. Aku sendiri cukup capek terbahak-bahak sepanjang durasi. Bagaimanapun juga, ketika dipikirkan baik-baik, ada beberapa hal yang mengganjal. Semua yang kelemahan yang kutulis di sini , in fact, baru kepikiran ketika aku mulai menulis. Kita bisa menutup kekurangan ini dengan memberikan alasan sendiri, tentunya, karena semuanya bisa terjadi di dunia video game. It’s just kupikir film bisa menggali dan melandaskan dunia ceritanya dengan lebih baik lagi. Siapa sih yang enggak mau lebih baik, ya gak?
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for JUMANJI: WELCOME TO THE JUNGLE

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?

We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

THE SNOWMAN Review

“A family ship will never sink until it is abandoned by its crew.”

 

 

 

Tidak ada alasan buat The Snowman untuk bergulir menjadi film yang, paling enggak menjadi film yang baik. Film ini diangkat dari novel best-seller. Eksekutif produsernya adalah the one and only Martin Scorsese. Disutradarai oleh Tomas Alfredson yang bikin salah satu film vampir paling beda, Let the Right One In (2008). Dibintangi oleh aktor-aktor kawakan yang di antaranya berjudul Michael Fassbender, Rebecca Ferguson, juga J.K. Simmons. Namun, aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku hanya bisa membayangkan, kalolah film ini manusia salju, maka ia adalah manusia salju yang pecah berantakan ketika masih berbentuk bola, dan pecahannya terhampar gitu saja di tanah. Menciptakan sebuah kekacauan yang tampak berkilau dan sejuk dipandang mata. INDAH. TAPI KACAU

 

Dan inilah persembahan musikal kami buat film ini.

“Do you want to build a snowman?”

/Martin,/ knock knock knock knock!

/Ayo bikin film Snowman.

Misteri pembunuhaaaan.

Pembunuhnya bunuhin cewek,

Mutilasi,

Jadiin bonekaa.

Bikin mirip Zodiak,

Tapi enggak,

Ceritanya musim dingiiinnn.

Ayo bikin film Snowmaaann.

Pastikan hasilnya keren./

Lu aja

/Oke, bye/

 

Keindahan sinematografi dan talenta-talenta luar biasa itu jadi membeku sia-sia oleh penceritaan yang sangat membingungkan. Tokoh utama kita adalah Michael Fassbender sebagai Harry Hole, seorang detektif pemabuk yang sedang memburu seorang pembunuh berantai yang meninggalkan jejak berupa orang-orangan salju yang actually dibangun dari anggota tubuh korbannya. Kesamaan antara para korban adalah mereka wanita, yang punya anak dan keluarga. Si pembunuh juga lantas mengirimkan pesan misterius kepada Harry dan rekannya. Jadi kita melihat mereka ngumpulin petunjuk, sekaligus bergulat dengan masalah pribadi. Harry, eventually, menemukan bahwa kasus ini sangat relatable bagi dirinya.

Tanda pertama film ini punya masalah adalah di boneka salju itu sendiri. Jika Goosebumps saja gagal membuat anak-anak ketakutan sama orang-orangan salju, maka kesempatan apa yang dipunya oleh film ini, yang boneka saljunya kelihatan literally seperti dua bola salju biasa dengan mata dan mulut dari biji kopi hitam. Setiap kali film ini ngezoom wajah seringai boneka salju sambil mainin musik dramatis, setiap kali itu pula aku gagal untuk merasa takut. Mereka enggak seram, itu aja. Kasih liat merah darah, mungkin mereka jadi sedikit menakutkan. Tapi enggak, mereka tampil biasa aja, padahal ada mayat di baliknya.

Tokoh utamanya juga ditampilkan biasa sekali. Harry Hole semestinya adalah tokoh detektif yang jenius, namun dia merusak dirinya sendiri dengan mabuk-mabukan, dengan tidur di jalanan. Dia meninggalkan keluarganya. Actually, porsi kenapa dia disebut cakap dalam pekerjaan tidak pernah benar-benar dibuktikan. Malahan, hingga film berakhir, kita tidak pernah benar-benar kenal sama tokoh ini. Michael Fassbender melakukan semampunya untuk menghidupkan emosi Harry. Dia berusaha menampilkan banyak hal meskipun karakternya digali dengan teramat minim. Kita enggak pernah mengerti isi kepala si Harry. Kenapa dia begitu candu, dia pemabuk berat, dia mengganti rokoknya. Film ini tidak menampilka alasan di balik semua kelakuan itu. Kita mengerti dia punya masalah in regards to his family. Dia menjauh dari mereka lantaran dia sadar akan membawa dampak buruk bagi keluarga, tapi film tidak menjelaskan kenapa Harry suka minum, kenapa dia melakukan semua kebiasaan jelek yang ia kerjakan.

Kenapa seorang ayah meninggalkan istri dan anaknya. Pertanyaan itulah yang menjadi konflik utama dari film The Snowman. Isu abandonment menguar kuat di sini. Beberapa memang adalah pertanda dari tindak ketidakbertanggungjawaban. Film ini mengangkat pertanyaan, bagaimana jika seorang ayah baru merasa bertanggungjawab ketika dia pergi dari keluarga. Kapankah ninggalin keluara jadi terhitung bertanggungjawab. Kenapa Ayah, dan bukan Ibu, yang dipersalahkan, bukankah rumah tangga itu dibentuk oleh dua orang. Apapun alasannya, toh film masih tetap berpegang kepada moralnya bahwa meninggalkan keluarga adalah hal yang paling dingin yang bisa dilakukan oleh kepala keluarga, apapun alasannya.

 

Keseluruhan film terasa seperti bagian set up. Aku terus menunggu, menunggu, dan menunggu cerita berjalan, mengenal karakternya. Aku dengan sepenuh hati menguatkan diri, nanti bakal ada jawaban, aku akan mengerti semua. Tapi tetap aja, segala pilihan random si tokoh, segala adegan dan subplot itu tetap berujung pada kenihilan. Film ini banyak membangun, untuk pada akhirnya tidak menjadi apa-apa. Aku tidak mengerti background story dari Harry, kalian pikir mungkin aku yang tertidur dan terbangun di kursi, namun enggak. Aku melek sepanjang film. Berusaha memahami. Berjuang menangkap simbolisme, kalau-kalau ada informasi tersirat yang kulewatkan. Tapi aku tidak menemukan apa-apa. Malah terasa seperti ada bagian yang hilang pada film ini. Jika ini puzzle 500 keping, maka menonton film ini rasanya seperti kita berhasil menyusun 450 kepingnya, sedangkan keping sisanya lupa dimasukin penjual ke dalam kotak yang kita bawa pulang.

Misteri sebenarnya adalah dari sekian banyak nama belakang, kenapa namanya mesti Hole coba?

 

Tokoh-tokoh yang lain juga sama dibentuk dengan gak memuaskannya. Backstory Tokoh Rebecca Ferguson diceritakan lewat flashback, namun tetap saja masih kabur, karena tampak sekenanya. Hampir seperti adegan yang ditambahkan begitu saja. Tokohnya J.K. Simmons, dong, misteri banget. Meskipun kita mengerti perannya di dalam cerita, akan tetapi di luar kepentingan supaya film misteri detektif ini jadi punya banyak tersangka sehingga aspek whodunit lebih kerasa, kemunculan tokohnya – lengkap dengan apa yang ia lakukan di sana, tampak sangat random dan seperti tidak ada urusan untuk mejeng di film. Sekuens tokoh ini melingkupi adegan-adegan konferensi soal kota mereka yang diperjuangkan sebagai tuan rumah Piala Dunia, dan buatku ini totally aneh dan gak klop sama elemen cerita yang lain.

Tomas Alfredson adalah sutradara yang paham bagaimana menangkap pemandangan indah. Dia mengerti cara membuat film terlihat cantik. Namun dalam menggarap bagian aksi, tampaknya adalah persoalan yang sama sekali berbeda. Terbukti dari sekuens konfrontasi di menit-menit terakhir film. Editingnya parah sekali. Aku gak yakin apakah gerak kamera yang mereka lakukan disengaja supaya pemeran figurannya enggak keliatan banget atau memang sutradara enggak tahu bagaimana cara ngesyut adegan aksi. Mungkin juga sih, semua editing choppy itu dilakukan karena mereka enggak mau filmnya jadi terlalu sadis, tapinya lagi, ini adalah film pembunuhan dengan korban dimutilasi, pembunuhnya sendiri bersenjata kawat tipis, jadi kenapa mereka enggak embrace aja kesadisan adalah pertanyaan yang gak bisa kutemukan jawabannya untuk film ini.

Dan setelah semua itu, semua pilihan random, dan cerita convoluted itu, film ini masih punya nyali untuk masukin teaser seolah film ini bakal ada sekuelnya. Seolah film ini banyak yang suka. SEOLAH penonton begitu peduli dan minta nambah lagi. Ha!

 

 

Punya potensi untuk menjadi tontonan misteri yang menantang, sesungguhnya ini adalah film noir yang sudah seperti ditakdirkan untuk jadi bagus dengan segala talent gede di belakangnya. Tapi enggak. Film ini seperti es krim di tengah panas mentari, dengan cepat mencair menjadi tidak berbentuk. Tidak lagi sedap untuk dinikmati.
The Palace of Wisdom gives 4 gold stars out of 10 for THE SNOWMAN.

 

 

That’s all we have for now.
Kami mau ngucapin terima kasih buat kamu-kamu yang udah sudi mampir baca dan bahas film di sini sehingga My Dirt Sheet jadi kepilih sebagai nominasi Blog Terpilih Piala Maya 6.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We? We be the judge.