THE EDGE OF SEVENTEEN Review

“The reality is people mess up; don’t let one mistake ruin a beautiful thing.”

 

 

Sekolah itu penjara, dan SMA adalah neraka. Remaja sangat menakutkan. Menjadi remaja adalah salah satu pengalaman tiada tara di dalam hidup. My Chemical Romance menuliskan dalam lagu mereka bahwa remaja tidak peduli pada apapun selama tidak ada yang terluka. Namun sebagai remaja, kita suka nyerempet bahaya. Dan ‘terluka’ yang disebutkan dalam lagu Teenager tersebut, sesungguhnya hanya berlaku dalam batasan fisik.
Gak percaya? Liat saja Nadine.
Setiap hari cewek tujuhbelas tahun ini makan ati mengarungi neraka SMA sembari kudu berhadapan dengan semua hal yang terjadi dalam hidupnya. Sebagai remaja yang ngalemin tragedi personal semasa kecil, Nadine membenci semua orang, atau bahkan semua apapun yang berada di sekitarnya. Dia susah bergaul dengan teman-teman di sekolah. Sobatnya cuma Krista seorang. Eh tunggu, Nadine punya satu ‘sahabat’ lagi yaitu gurunya; Mr. Bruner, yang mana sering jadi pelampiasan curhat Nadine. Dan dalam kamus Nadine, curhat berarti mencurahkan segala emosi dan kekesalan, yang biasanya ditanggepin tak-kalah sarkasnya oleh sang guru.

 

Mulai dari jaman John Hughes, sudah banyak film-film yang mengangkat tema kecemasan remaja sehingga ‘Angsty-Teen’ bisa dibilang sudah menjelma sebagai genre tersendiri. Meskipun begitu, The Edge of Seventeen berhasil mempersembahkan VISI YANG TERASA SEGAR. Penulisan kejadian dan reaksi tokoh-tokohnya dibuat senyata mungkin. Sehingga setiap kali hidup berbelok semakin parah buat Nadine, kita tidak melihatnya sebagai usaha memancing sisi dramatis semata. BFF Nadine pacaran sama abangnya, yea that suck. Harry Potter aja galau berhari-hari waktu menyadari dia naksir berat sama Ginny, adik Ron. Dan mendapati diri dalam keadaan teman kita pacaran sama anggota keluarga adalah benar-benar hal yang awkward. Namun, hal tersebut dibuat oleh film sebagai salah satu dari sekian banyak ‘pukulan di perut’ yang diterima oleh Nadine.

Apa-apa yang terjadi kepada Nadine di sepanjang film – yang tak jarang adalah buah perbuatannya sendiri – terasa sebagai kejadian yang datang dari kenyataan. Bisa benar-benar terjadi, karena memang di dunia nyata kita sering mendapati keadaan menjadi buruk begitu saja. Situasi dalam hidup tidak selalu mengenakkan, dan film ini akan mengajak kita melihat situasi terrible tersebut lewat mata nanar seorang cewek remaja yang sudah melewati banyak tragedi. Elemen tersebutlah yang membuat film ini menjadi menarik buatku.

People make mistakes, whoever they are. Teman-teman segeng kita bikin salah. Orangtua kita pernah salah. Kakak pernah salah. Adik pernah salah. Aku apalagi. Makanya ada lebaran. I mean, poinku adalah semua orang pasti pernah bikin salah karena terkadang, in life shit just happens. Jangan biarkan satu kesalahan merusak susu sebelanga. Dan orang-orang tidak serta merta pantes dilabelin brengsek hanya karena pernah membuat kesalahan. Film ini actually menelaah hal tersebut dengan sangat baik dan memberikan kedalaman perspektif yang jauh lebih dewasa dibandingkan yang berani dicapai oleh film-film high school kebanyakan.

 

Aku baru melihat penampilan Heilee Steinfeld dalam tiga kesempatan. Aku suka dia di True Grit (2010). Dalam Pitch Perfect 2 (2015), however, dia enggak begitu lucu malah sedikit membosankan, lagu yang dia apal lagu karangannya doang, nyanyinya Flashlight melulu. Sebagai Nadine di The Edge of Seventeen, Heilee Steinfeld mempersembahkan penampilan terbaik yang pernah aku lihat darinya. Karakternya di sini memang semacam drama queen akut. Dia kasar sama keluarga, sama teman, sama guru; semua orang di sekitar Nadine masuk ke dalam daftar kemarahannya. Di akhir film, kita melihat Nadine berubah menjadi lebih baik, tapi pergerakan arc tokoh ini enggak gede-gede amat. Maksudku, film ini membuat kita begitu peduli dengan dramanya yang terasa nyata sehingga kita tahu kita tidak tahu apa yang terjadi kepada tokoh ini setelah kredit bergulir. Nadine adalah karakter anti-hero wanita yang langka, di mana dia sendiri adalah protagonis sekaligus yang paling dekat dengan yang kita sebut antagonis dalam film ini.

How do you like me now?

 

Dalam menjelaskan kenapa Nadine memilih bersikap demikian, film tidak mengambil jalan yang gampang. Tragedi keluarga yang menimpa Nadine waktu ia kecil bukanlah akar dari permasalahan, karena dalam satu adegan flashback kita melihat Nadine sudah susye untuk di’ajak omong baik-baik’ bahkan jauh sebelum kejadian naas itu terjadi. Seolah film ini ingin menepis tuduhan yang mengatakan karakternya ngeangst karena memang genre filmnya begitu. Ada alasan logis di balik setiap sikap dan tindak Nadine.

Kata-kata yang keluar dari mulutnya, just… wow. Nadine dengan gampangnya meledak marah dan melontarkan serangkaian kalimat paling menyinggung perasaan yang bisa dia pikirkan kepada orang lain. Dan film ini pun tidak menahan-nahan apapun. Dialognya dibuat sungguh menggigit, karena orang-orang yang dibentak oleh Nadine eventually akan membalas dengan mengatakan hal yang sama pedihnya. Malahan, banyak kata-kata dan ungkapan yang digunakan oleh film ini yang bisa bikin Booker T bilang “Oh, tell me she didn’t just say that!”. Tidak sekalipun film ini berusaha untuk menghaluskan bahasa demi terdengar sopan. Sebab memang seperti yang digambarkan oleh film inilah interaksi antar remaja SMA berlangsung. Mereka bicara dengan kasar dan vulgar. Tapi justru disitulah letak keberanian film ini; TAMPIL APA ADANYA MENYUGUHKAN REALITA. Anak SMA bersikap sewajarnya anak SMA bersikap di dunia nyata.

Namun jika kita menonton film ini, sesungguhnya ceritanya akan terasa sangat bijak. Dengan rating Dewasanya, The Edge of Seventeen lebih ditujukan kepada penonton yang sudah pernah mengalamin masa-masa tujuh belas tahun, sehingga mereka bisa menoleh sebentar ke masa-masa ‘sulit’ hidup mereka dan merayakannya.

Mungkin kita hanya belum cukup dewasa buat angka tujuhbelas ketika menginjaknya. Mungkin kita yang terlalu bersemangat menunggu hari ketika kita pikir kita sudah cukup dewasa sehingga kita lupa untuk bersiap ketika things going rough.

 

BRUTAL AND HONEST. Tapi, ada juga sih bagian yang enggak begitu realistis. Kayak tokoh guru Nadine yang diperankan oleh Woody Harrelson. At one time, Nadine bilang bahwa dia mau bunuh diri dan si Pak Guru malah bilang dirinya juga mau bunuh diri dan sedang nulis pesan kematian. Tokoh Mr. Bruner ini mengatakan banyak hal yang tidak semestinya diucapkan oleh seorang pendidik. Like, kalo didenger ama Kepala Sekolah, pastilah dia sudah dipecat di tempat. Namun begitu, hubungan yang tercipta di antara Nadine dengan bapak gurunya ini adalah salah satu elemen terkuat di dalam narasi. It plays as a contrast for Nadine’s need of a father figure. Percakapan mereka sarat oleh humor-humor bagus dan bermakna.

Pak, tahu enggak,…. you’ve just made the list!

 

Alasan terbesar kenapa cowok males dan gak suka nonton drama remaja, apalagi kalo tokoh utamanya cewek, dan digarap oleh cewek pula, adalah karena sudah hampir pasti enggak bakal ada tokoh-tokoh cowok yang manusiawi. Cowok dalam film-film kayak gini biasanya either digambarkan sebagai antagonis, tanpa kedalaman-karakter, yang eksistensinya ditujukan buat ngasih air mata kepada tokoh utama doang. Ataupun digambarkan cupu dan konyol parah. Salah satu poin yang bikin The Edge of Seventeen yang disutradarai-serta-ditulis oleh cewek bernama Kelly Fremon Craig berbeda dan menyenangkan ditonton oleh cowok adalah tokoh-tokoh prianya juga diberikan kedalaman, dikasih background story, sehingga kita para penonton bisa mengerti mereka. Kakak cowok Nadine ada di sana bukan sebagai bagian dari sibling rivalvy dalam mendapatkan perhatian ibu sahaja. Bahkan cowok yang dikirimin ‘surat cinta’ oleh Nadine tidak pernah benar-benar come off as an asshole, sebab kita juga paham mengapa dia melakukan apa yang ia lakukan.

 

Dengan perspektif yang terasa menyegarkan, film ini toh tak bisa lepas dari segala tropes dan klise penceritaan genrenya. Setelah lewat midpoint, kita segera dapat menyimpulkan ke mana arah cerita film ini berlabuh. Kita bisa menunjuk satu tokoh dan dengan tepat menebak dia bakal ngapain di akhir cerita. Kita dengan mudah menerka siapa jadian dengan siapa. Tapinya lagi, kita bisa merasakan bahwa film ini dikerjakan dengan penuh passion. Karakter dan dialognya menguar kuat. Dan bagian terpentingnya adalah film ini mampu membahas situasi yang amat tidak mengenakkan dengan begitu nyata. Nadine bukan semata remaja galau hanya karena itu adalah cara termudah dalam menulis karakter drama, dia galau karena keadaan dan cara dia memandang keadaan tersebut.

Because of how well-written this is, jika dijejerin, film ini layak gaul bareng Heathers (1988) dan geng Mean Girls (2004) di level teratas kategori film remaja. And after all those insults and horrible situations, pada akhirnya, menonton film ini akan membuat kita berharap kita bisa menghentikan waktu di umur tujuh belas.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE EDGE OF SEVENTEEN.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 
We? We be the judge.

RINGS Review

“By renouncing samsara, we embrace our potential for enlightenment.”

 

ringsph7mkx5mkkfeae_1_l

 

Apa persamaan antara bunyi statis televisi yang mirip-mirip bunyi air dengan dering telepon? Well, jika kalian mendengar dua suara tersebut berurutan, maka besar kemungkinan suara berikutnya yang akan kalian dengar adalah suara gadis kecil yang berbisik lantang, “Tujuh hari.” Hii, bayangin gimana tuh bisik-bisik tapi lantang, eh salah, maksudnya: bayangin tuh gimana jika hidup kalian mendadak tinggal seminggu lagi!

Lingkaran mitologi Ring selalu berputar di antara kaset video, televisi, dan telepon. Samara dengan jahatnya memastikan kutukannya terus direcycle oleh manusia, sehingga kepedihan dan deritanya bisa terus menghantui. Tonton videonya, Samara akan nelpon, dan dalam tujuh hari kita bakal isdet. Bila kalian sudah pernah nonton Ring sebelumnya, maka kalian pasti tahu satu-satunya cara terlepas dari kutukan adalah dengan mengcopy video creepy tersebut dan mempertontonkannya kepada orang lain. Namun jika kalian bertanya “pfft, siapa sih yang masih nonton vhs hare gene” maka joke’s on you. Dunia modern tidak jadi halangan bagi si vintage Samara buat go live. She’s coming and she’s gonna get everybody. Karena sekarang ada cara cepat buat memperbanyak kopian video; masukkan ke komputer, copy file quicktimenya, dan voila! kalian bisa share langsung ke internet!

Jadi, yaah, memang terdengar bego sih, tapi cerita kali ini memasuki teritori yang belum pernah digarap pada dua film Ring sebelumnya. Film ini PUNYA ELEMEN FIKSI-ILMIAH. Ada dosen yang berhasil survive dan mengetahui bagaimana cara kerja video Samara. Jadi dia membentuk semacam cult ‘underground’ gitu di kalangan murid-muridnya. Menggunakan metadata video, profesor biologi tersebut ingin bereksperimen dengan jiwa; gimana keabadian, dan segala macam terus berulang di dalam kehidupan. It’s actually lumayan menarik. Sayangnya fokus utama cerita tidak terletak di tangan si dosen. Tokoh utama cerita adalah pacar dari salah satu murid baru si dosen. Julia (Matilda Anna Ingrid Lutz ini mukanya miripmirip persilangan antara Raisa ama Jessica Alba) dateng ke kampus demi mencari cowoknya yang hilang semenjak percakapan skype mereka terputus dengan abrupt. Ternyata, cowoknya adalah anggota cult eksperimen, dan Julia mengorbankan diri menonton video Samara demi nyawa sang pacar. Kemudian film pun kembali mengeksplorasi cerita investigasi, di mana Julia dan cowoknya berusaha memecahkan misteri Samara yang sempet-sempetnya masukin penggalan video artsy-but-creepy yang baru.

"like-in video insta dan snapchatku dong, Kak"
“like-in video insta dan snapchatku dong, Kak”

 

Yang follow twitter ataupun temenan sama aku di Path, tentunya sudah ngeliat (sukursukur sekalian ngebaca) sejak awal bulan Februari ini aku ngereview tiga film Ring terdahulu. Aku memang lumayan excited nungguin film ini. Ring adalah film yang bertanggungjawab membuat aku parno melongok ke dalam sumur. Sadako, dan/atau Samara, adalah sosok yang sukses jadi pioneer hantu-hantu berambut panjang yang jalannya patah-patah dalam film-film horor yang lain. Tayang Rings kerap diundur, tadinya direncanain keluar Oktober tahun lalu – barengan ama Halloween, eh taunya di Indonesia dijadwalkan November. Dan terus diundur sampe akhirnya mentok di bulan ini. Setelah menonton filmnya, aku jadi sedikit kebayang alasan kenapa mereka gak pede nayangin. Tapi sejujurnya, buatku film ini enggak parah-parah amat. Enggak sejelek The Bye-Bye Man (2017), ataupun Incarnate (2016), ataupun The Disappoinments Room (2016) yang buat ngereviewnya aja aku langsung gak napsu. Kalo mau diurutin, berikut klasemen scoreku buat tiga film Ring:

The Ring (2002) 7/10
Ringu (1998) 6.5/10
The Ring Two (2005) 4/10

 

The Ring (2002) adalah salah satu usaha terbaik Amerika dalam ngadaptasi horor ketimuran. Filmnya berhasil ngecapture tone tragedi dan kesedihan yang menguar dari film orisinalnya. Bukan hanya itu, The Ring punya tokoh utama yang lebih setrong dan mandiri dibandingkan Ringu (1998), while also menambahkan sesuatu kepada visual video kutukan sehingga jadi lebih seram. Ring pertama versi Jepang dan versi Amerika sama-sama bercerita dengan sunyi dan sangat subtle. Berbeda sekali dengan The Ring Two yang terasa lebih sebagai horor yang mainstream, dengan cerita yang muddled dan gak fokus, gak serem malah unintentionally funny. Jadi mari cari tau ada di mana posisi Rings dalam klasemenku.

Beneran, aku sendiri lumayan surprise mendapati Rings enggak seburuk yang udah kuharapkan. Ekspektasi buat horor ini memang rendah; director Hideo Nakato yang nanganin dua film Ring tidak lagi terlibat di sini; tidak ada Naomi Watts yang aktingnya udah nyelametin The Ring Two; tidak juga ada visi Gore Verbinski yang udah bikin The Ring jadi punya aura surreal. Aku masuk ke teater dengan gemetar, siap-siap dibombardir oleh kebegoan. Namun ternyata, film ini CUKUP BERKOMPETEN. Diarahkan dengan lumayan mantep. Ada beberapa sekuens yang diceritakan dengan efektif. Ada seremnyalah. Aku suka shot saat Dosen Profesor menatap hujan di luar jendela. Performances dalam film ini, meski sedikit turun naik, tidak terasa nol besar banget. Tidak ada penampilan akting yang membuat kita nyeletuk “pemainnya menang tampang doang!”. Vincent D’Onofrio adalah yang terbaik dalam film ini dari departemen akting. Tokohnya muncul belakangan, dan sendirinya adalah peran pendukung yang really ‘fun’. Sedangkan tokoh utama kita, seperti yang kubilang tadi, lumayan kompeten. Walaupun terkadang dia masih terasa kayak ngomong buat dirinya sendiri, but maybe it’s just the character.

Masalah terberat dalam nanganin cerita Ring selalu adalah bagaimana mengisi babak keduanya. Bagaimana membuat film tetap menjadi seram dengan omen-omen kayak genangan air dan semacamnya, sekaligus tetap engaging dalam jangka waktu sejak tokoh utama menonton video sampai ke maut datang menjemput. Film pertama menarik kita masuk lewat investigasi yang surreal hingga nyaris psikologis. Film kedua kebingungan jadi mereka melempar elemen nonton video begitu saja keluar jendela. Film ketiga, Rings ini, bermaksud meniru kakak tertuanya, hanya saja film ini tidak punya footing yang kuat pada plot linesnya. Dari soal ngopi file buat selamat dari kutukan saja udah konyol banget. Kita tidak bisa mendapat banyak hal dari film ini. Semua trope karakter dan klise yang kita expected bakal ada dalam film horor dipakek. Adegan opening di pesawat actually salah satu yang terparah, untungnya kita enggak perlu repot-repot mengingatnya. Rings kehilangan aura subtle, sense of tragedy, yang menjadikan film pertamanya – baik versi Jepang maupun Amerika – terasa begitu berbeda dan menyeramkan.

Enggak berani ngelakuin sesuatu yang benar-benar berbeda. Film ini justru malah nekat mengubah mitologi yang udah dibangun. Seolah mereka enggak setuju dengan origin Samara dan nekat nambahin ulang (dengan maksa pula!) hal tentangnya. It kind of messes with previous installments. Video baru dalam film ini jauh dari kesan creepy-penuh-makna, visual cluenya enggak asik kayak video yang pertama. Apa yang dilalui Julia dalam memecahkan misteri pada dasarnya sama dengan yang dialami oleh tokoh Naomi Watts di The Ring. Dia juga ketemu bapak yang ternyata jahat. Dia juga merasa kasihan dengan Samara. Actually, cuma di sifat Samara inilah, Rings akur dengan film-film sebelumnya. Samara digambarkan ‘tertarik’ dengan orang yang bersikap baik, dengan pengorbanan. Bukan kebetulan Samara memilih Julia, it was because Julia pasang badan demi menghentikan kutukan pada pacarnya. Kesannya tuh, Rings ini hanyalah sebuah versi jelek dari The Ring. Ending filmnya sebenarnya cukup menarik dan ada nambah dikitlah buat universe ini, cuma aku enggak yakin apakah yang film ini lakukan di adegan terakhir tersebut bener-bener make sense dengan aturan cerita yang sudah dibangun.

Sakit jangan disayang-sayang. Tampaknya inilah yang ingin dibicarakan oleh Rings. Adalah hal yang perfectly fine buat kita membuang derita. Membuang masalah. Nama Samara yang begitu dekat dengan kata Samsara, melambangkan penderitaan yang tak kunjung berakhir karena life dan death terus kontinyu. Samara menganggap belas kasihan dan rasa pengertian sebagai titik lemah dan menjadi jalan dirinya masuk. Perasaan marah, sedih, galau, all those pains, mungkin lebih baik dikubur dalam-dalam. Karena kalo dibebasin, they will keep coming back to haunt you. Samara ingin derita terus tersebar dengan orang-orang terus menontonnya.

 

Sedikit cerita horor nih; Jadi saking excitednya mau nonton film ini aku sampai membawa mainan kuntilanak ikut serta. Trus di bioskop tadi kan, aku mau motion Kana bareng ama poster dek ‘Ara. Lumayan buat dipajang di sini. Eh tau-tau…. Hapeku…. MendadakMATIsendiri!!! Jeng-jeeengggg!!

Dan sekarang ngeri sendiri dek ‘Ara manjat keluar dari layar laptop.
Dan sekarang ngeri sendiri dek ‘Ara manjat keluar dari layar laptop.

 




Film yang sekedar ‘okelah’. Dibuat dengan cukup cakap sebenarnya. Sekuens yang lumayan efektif. Plot lines nya bego tapi bukan bego yang inkompeten. Sayangnya film ini tidak punya nyali untuk melakukan sesuatu yang baru kepada mitologi Ring secara keseluruhan. Hanya kayak usaha buruk dalam nulis ulang. Jump scares, klise, dan karakter trope yang biasa ada di film horor kebanyakan, turut kita jumpai di sini. Ketimbang film-film pertamanya yang bernuansa sedih dan bernature cerita cukup primal dan ‘sadis’, film ini mestinya bisa lebih nendang dengan ngusung science-fiction, but nyatanya malah lebih milih untuk menjadi generic. Menjawab pertanyaan soal klasemen di atas, ya paling enggak, film ini sedikit lebih baik daripada The Ring Two. Kalian bisa nonton film ini dan enggak mati tujuh hari kemudian karena nyesel berat udah nonton film jelek.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for RINGS.

 

 

 




That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.


SHUT IN Review

“Mother love is the fuel that enables a normal human being to do the impossible.”

 

shut_in_ver2

 

Bagi seorang ibu cuma sedikit hal di dunia yang horornya melebihi perasaan ketika melihat anak yang ingin di’selamatkan’ malah berakhir celaka. Apalagi jika si ibu tersebut punya profesi sebagai psikologis anak. Rasa bersalahnya dateng barengan ama rasa gagal, tuh. Sesek numpek di dada pasti ada, dan kita bisa melihat itu semua dari gimana Naomi Watts memainkan perannya sebagai Mary Portman dalam film Shut In.

Anak tiri Mary lumpuh setelah ngalamin kecelakaan mobil enam bulan yang lalu; Kejadian tragis yang juga merenggut nyawa suaminya. Mary sekarang ngerawat anak remajanya tersebut. Dia memandikan Stephen, mengurus keperluan sehari-hari, namun kebutuhan Mary sebagai seorang ibu – terlebih ibu yang merasa bersalah – tidak terlampiaskan karena kondisi anaknya tidak memungkinkan buat mereka untuk kembali bisa menjalin hubungan emosional yang aktif. Jadi Mary mencari koneksi ke pasiennya yang kebanyakan memang masih anak-anak. Mary mau bisa nolong semua anak-anak bermasalah itu. Terutama, dia ingin ‘menolong’ Tom (Jacob Tremblay memerankan bocah tunarungu yang suka berkelahi).
Suatu malam, Tom muncul gitu aja di rumah Mary dan Stephen, untuk kemudian ia hilang dengan sama mendadaknya. Di luar badai salju, dan di dalam rumah, pada malam hari, Mary mulai mendengar suara-suara aneh. Dia sort of ngeliat penampakan. Apparently, Mary enggak benar-benar yakin misteri apa yang sedang terjadi kepadanya.

 

Badai salju yang menderu dari luar rumah menjadi elemen yang mengurung karakter dalam film ini. Mereka tidak bisa keluar dari dalam rumah. Secara estetis, kita juga merasakan perasaan klaustrofobiknya. Kita seperti ikutan berada di dalam rumah mereka, untuk kemudian rumah tersebut terasa mengurung kita lewat beberapa momen sound designnya. I love that contained aspect of this movie. Aku lumayan excited waktu mau nonton. Apalagi psikologikal horor ini dimainkan oleh Naomi Watts yang kerap muncul di film-film horor yang lumayan bagus. In fact, Naomi Watts main di film terfavoritku sepanjang-waktu, Mulholland Drive(2001), so yea I naturally drawn in oleh setiap film yang ia perankan. Arahan yang didapatkan oleh film ini cukup lumayan, meski there’s nothing really much to it. Ada shot-shot yang perfectly capture momen yang bikin kita merasa in-the-moment. Satu adegan yang aku suka pengambilan gambarnya, yaitu aerial shot menjelang akhir di adegan yang involving bayangan dan tangga. That’s a great shot.

Kasian amat Jacob Tremblay terjebak di dalam ruangan lagi
Kasian amat Jacob Tremblay terjebak di dalam ruangan lagi

 

Nyawa film terutama terletak pada screenplay. Kelihatan deh pokoknya sebuah film yang punya skenario buruk dan sutradara berusaha keras buat menjadikannya baik, namun tetep enggak bisa, karena apa sih yang bener-bener bisa dilakuin jika naskahnya sedari awal sudah begitu jelek dan keliatan banget ngarang. Kalo Mary bingung ke mana perginya Tom, maka kita sebagai penonton akan terbengong-bengong berkat BETAPA TERRIBLENYA FILM INI DITULIS. Banyak banget ketidakkonsistensian sehingga sebagian besar waktu film ini was just bad. Dua babak pertama dipenuhi oleh adegan-adegan mimpi, diselingi dengan jump-scares yang sok ngecoh. Dengan cepat film ini akan terasa menyebalkan. Dan bicara soal ngecoh, ini adalah jenis film yang bangga banget punya twist. Film yang tujuan utamanya memang ingin terlihat heboh dengan twist, mereka kayaknya nulis dari twistnya duluan kemudian baru ngembangin ceritanya, yang mana semua elemen dipaksa nyambung banget, sehingga twist yang dihasilkan malah jadi bego alih-alih bikin takjub. Semua yang terjadi di dua-puluh-menit terakhir membuat everything else yang sudah terjadi sebelumnya menjadi total gak masuk-akal.

Jika semua klise dan trope film horor bisa bermanifestasi menjadi manusia, mereka tumbuh tangan dan punya jari jemari, kemudian mereka mutusin buat ngetik, maka “voila!” Jadilah skenario film Shut In.

 

Semua taktik scare yang dilakukan oleh film ini adalah TAKTIK FALSE SCARE. Kita ngeliat penampakan, eh taunya Mary lagi mimpi. Kita ngeliat adegan berdarah, eh taunya Mari sedang ngigo. Kita denger suara-suara aneh, eh taunya ada rakun loncat dari balik kayu diiringi suara musik yang lantang yang bikin Mary dan seisi bioskop jantungan. Kita ngecek kegelapan malam, ngikutin Mary nyebrangi halaman bersalju, eh taunya cowok yang tadi pagi naksir ama Mary muncul dari balik pintu sambil menyapa “Hey, ini gue!!”. Keras-keras. Itulah ‘hal-hal mengerikan’ yang bakal kita hadapi dalam film ini. Efektif sekali, bukan? Yeah, efektif buat bikin kita TERTIDUR!!!!

Shut In enggak mau repot-repot bahas soal psikologis, atau perspektif, atau moral, atau apalah. Detil-detil backstory enggak penting bagi film ini. Kita enggak pernah yakin kenapa malam itu si Tom bisa nongol di rumah Mary. Kita enggak pernah dihint soal latar belakang Mary dan keluarganya. Film ini enggak peduli saat kita mengernyit berusah mengira-ngira kenapa Mary sering banget skype-an ama tokoh Dr. Wilson yang diperankan oleh Oliver Platt. Kita enggak sempat kenalan sama beliau, apakah dia temen lama Mary, atau dia psikologis Mary, or heck film ini enggak mau tau perihal gimana Mary terlihat so bad at her job, both as child psychologist and as a mom, dibuat oleh presentasi ceritanya.

Mari ngobrol sebentar soal adegan dengan skype. Biar kelihatan remaja dan relevan, film-film jaman sekarang memang hobi banget masukin adegan para karakter facetime-an via skype. Adegan skype actually bisa saja bekerja dengan baik, kita udah nyaksiin contohnya pada film The Visit (2015). Adegan ngobrol lewat skype bisa bagus jika (dan hanya jika!) obrolannya bagus. Dialoglah yang memegang kunci. Dalam film ini, sayangnya, penulisannya begitu minimalis.

Mary: “Etau enggak, akhir-akhir ini aku susah tidur, nih”
Wilson: “Yaah, kamu masih trauma dan sering baper sih”
Mary: “Eng-GAaaKK! Beneran, ih, kayaknya ada sesuatu yang lain di sini”
Wilson: “What-the-kamsut?”
Mary: “Kayaknya… di rumahku…. ada hantu!”
Wilson: “Masa orang dewasa terpelajar kayak kita percaya hantu sih?”
Mary: “Tapi aku sering denger-denger suara gitu, pernah ngeliat malah”
Wilson: “Gurl! Please. You’re just being silly”
Mary: “CK! Bye. Brb Sibuk.”

Ya kurang lebih begitulah obrolan mereka. Gitu terus lagi dan lagi, adegan percakapan skype mereka muter-muter di situ melulu. Mengerikan!

This is also jenis film yang setiap tindakan yang dipilih karakternya bikin kita jambak-jambak rambut dengan geram.
This is also jenis film yang setiap tindakan yang dipilih karakternya bikin kita jambak-jambak rambut dengan geram.

 

Yang terpenting buat film ini adalah gimana memancing rasa kaget kita, alih-alih takut. Fokus utama nya adalah gimana supaya so-called twist mereka enggak ketahuan.

Padahal despite ‘usaha’ mereka, kita sedari pertengahan udah bisa menebak hanya dengan mengacu kepada apa yang disebut kritikus terkenal Roger Ebert sebagai The Law of Economy of Characters. Atau Hukum Ekonomi Karakter; teori tentang kebiasaan film ini menjelaskan bahwa oleh sebab budget, film tidak akan pernah diisi oleh karakter yang tidak berguna, setidakpenting apapun kelihatannya peran mereka. Apalagi kalo diperankan oleh aktor yang cukup punya nama. Karakter-karakter tersebut sudah pasti akan direveal punya peran yang penting. Jadi, yaaa, kalo kita ngeliat cast yang familiar dengan peran yang minimal, maka niscaya mereka adalah twist yang dirahasiain oleh film.

Coba deh, tonton ini dan tebak apa yang sebenarnya. Wait, actually… Jangan tebak. Tepatnya maksudku, jangan bersusah payah luangkan waktu dan uang buat nonton. Aku beberin aja twistnya di sini:

 


Jadiii, anak tiri si Mary yang lumpuh ternyata enggak lumpuh. Stephen selama ini hanya pura-pura lumpuh. That’s the big twist. Film ini ngasih arti baru buat kalimat “Cinta ibu mampu membuat orang normal ngelakuin hal yang enggak masuk akal.” Stephen sangat ingin perhatian dan kasih sayang ibunya, sehingga ketika Tom datang dan perhatian Mary jadi bergeser ke ngurusin bocah malang tersebut, Stephen jadi iri. Dia bangkit dari kursi rodanya, menangkap Tom, dan menyekapnya di suatu tempat di dalam rumah. Suara-suara yang didengar Mary adalah suara Tom yang berusaha keluar. Penampakan, blurry vision, dan mimpi-mimpi yang dialami oleh Mary adalah ulah Stephen yang diem-diem masukin obat ke dalam minuman ibu tirinya tersebut. That’s it. Seriously, twistnya bikin revealing film The Boy (2016) jadi terlihat enggak parah-parah amat.


 

 

 

 

Apa coba persamaan antara Naomi Watts dengan kita-kita yang nonton film ini?
Sama-sama kejebak!
That’s how I felt during this entire film. Penampilan dan arahan yang acceptable tidak akan berarti banyak jika sumber penyakit ada di skenarionya. Tidak ada bagian yang bagus; babak satu dan duanya plainly bad, dan babak ketiganya sukses menghantarkan ini sebagai salah satu dari film horor terburuk yang pernah aku tonton. Atau psikologikal thriller terburuk. Whatever. This movie is horrible, people!
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for SHUT IN.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 
We? We be the judge.

SPLIT Review

“Wounded children become the target of their own rage.”

 

split-poster

 

Berakting pada dasarnya adalah memainkan personality yang berbeda dari keseharian. Misalnya ketika kita jadi sakit kalo besok banyak pe-er, atau ketika ada temen yang jadi peduli banget ama kita kalo lagi ada maunya hihi. Anyway, ada perbedaan antara akting memerankan peran fiktif dengan akting menjadi karakter yang berasal dari nonfiksi, seperti pada film biopik; permainan peran di situ sort of safe karena aktor bisa recreate sifat dan pribadi suatu peran degan mengacu kepada seseorang yang benar-benar ada di dunia nyata. Dengan peran fiksional, however, para aktor seolah bermain dari nol. They just have to be out there. Aktor mesti menyerahkan sepenuhnya kepada kreativitas sendiri, sesuai tuntutan sutradara dan naskah. Seperti yang dilakukan oleh James McAvoy di film Split, di mana dia benar-benar menyemplungkan diri ke dalam semua various personalities yang ia perankan.

Mencari tahu siapa nama tokoh yang diperankan oleh James McAvoy dalam film ini aja pada awalnya kita akan kebingungan. Kadang dia dipanggil Dennis. Kadang dia pake baju cewek dan memanggil dirinya Patricia. Later did we learn, he’s actual name is Kevin. Kenapa bisa ganti-ganti begitu, apakah karena dia lagi diuber debt collector? Bukaan, itu karena James McAvoy memerankan seseorang yang memiliki ‘kelainan’ yang biasa dikenal dengan istilah Kepribadian Ganda. DISSASOCIATIVE IDENTITY DISORDER. Dua-puluh-tiga kepribadian bersemayam di dalam kepala Kevin dan salah satunya sudah menculik tiga gadis remaja. Dia mengurung mereka entah di mana, dengan alasan yang secara perlahan dibeberkan oleh cerita.

 

James McAvoy commit seratus persen sama peran (-peran)nya dalam film ini, dia memainkan mereka semua dengan courageous luar biasa. Kita actually bakal bisa bedain dia sedang menjadi siapa karena McAvoy membuat masing-masing kepribadian Kevin very distinguishable dari yang lain. Ya dari intonasi suaranya, ya dari ekspresi facialnya, ya dari mannerism dan gesturnya. Brilian banget deh. Kalo film ini tayang di 2016, aku yakin James McAvoy sudah dapet nominasi Best Actor di mana-mana. Malah mungkin udah menang satu. He’s that good, guys.

Jika The Visit (2015) adalah jalan pulang M. Night Shyamalan balik ke style dan kekuatan filmmakingnya yang dulu, maka Split ini adalah cara sutradara dan penulis Shyamalan ngumumin kalo dia udah sampai di ‘rumah’.

 

Film ini terasa kayak M. Night Shyamalan‘s earlier films; kalian tahu, psikologikal thriller traditional khas dirinya yang bakal caught us off guard dengan twist sederhana yang direncanakan dengan matang. Split adalah film terbaik dari beliau sejak Signs (2002), no doubt about that. It was a very good psychological thriller yang juga punya elemen ruang tertutup yang aku gandrungi.

Sinematografer sukses banget menangkap suasana klaustrofobik, menghasilkan kesan contained banget. Pencahayaannya pun superb. Split actually adalah film dengan visual yang ciamik. Di The Visit (2015) Shyamalan enggak pake musik sama sekali, dalam film Split ini, aku nyaris enggak sadar ada musiknya. Scoring film ini mengalun dengan mengendap-ngendap, dia membangun kengerian dengan perlahan, dan buatku ini adalah teknik yang efektif dan bekerja dengan baik pada penceritaan.
Nonton film ini kita akan dibawa bolak-balik. Kita akan ngeliat ketiga cewek yang berusaha keluar dari ‘sarang’ Dennis, dan kita juga ngikutin Kevin – dalam persona flamboyan Barry – yang mengunjungi psikologis demi menangani masalah split personalitynya.

 

 

Sesungguhnya ada tiga penampilan utama yang jadi fondasi superkokoh penceritaan film Split. James McAvoy, Betty Buckley, dan Anya Taylor-Joy. Dalam film ini, Anya berhasil membuatku mempertanyakan keputusan soal pemenang Unyu op the Year di My Dirt Sheet Awards Hexa-six awal tahun ini. This movie is another very good turn from her. Anya adalah bagian terbaik dalam film Morgan (2016). Anya fantastis banget di film The Witch (2016). Dan di Split, Anya Taylor-Joy buktiin sekali lagi bahwa dirinya adalah salah satu talenta aktor paling exciting generasi sekarang ini. Karakternya, Casey, punya banyak layer yang bisa kita kupas. Yang bisa kita pelajari. Ada banyak hal yang bisa kita discover dari tokoh ini. Casey adalah peran yang sangat subtle. At first, kita akan dibuat heran sama sikapnya, kenapa dia kelihatan yang paling tenang di antara tiga cewek yang diculik, dari mana dia bisa dapet ide “kencinglah di celana”. Sembari film berlanjut, kita akan belajar gimana naluri survival bisa tumbuh dari dirinya dalam cara yang sangat tersirat. Aku paling suka adegan terakhir, saat kamera linger on ekspresi Casey begitu polisi bilang pamannya datang menjemput. Her wide eyes semakin melebar, rasa lega yang absen dari wajahnya, ngundang banget untuk kita mengira-ngira apakah Casey bakal kabur atau dia ngapain sesudah adegan tersebut. Film ini membiarkan arc Casey terbuka dan aku puas banget karenanya.

keluar dari mulut singa dan masuk ke mulut buaya.
keluar dari mulut singa dan masuk ke mulut buaya.

 

Aku selalu tertarik menyelam masuk ke dalam pikiran orang-orang, apalagi orang gila. Mungkin itu ada kaitannya dengan aku suka film horor. I mean, tempat terhoror toh letaknya memang di dalam kepala manusia sendiri. I was intrigued oleh karakter-karakter, makanya aku suka nonton film. Karena di mana lagi aku bisa mendengar atau ngikutin masalah mental orang-orang kalo bukan di film, aku kan bukan psikolog. Aku malah kuliah di Geologi. Oke, jangan malah jadi curhat, ehm…

What I’m trying to say adalah aku suka sama karakter psikolog yang diperankan oleh Betty Buckley (hey, lihat! nenek-nenek gila dari film The Happening). Si Dr. Fletcher ini desperado banget ingin berkomunikasi sama semua kepribadian di dalam kepala Kevin. Mendengar bahwa mereka duduk melingkar nunggu giliran dapat ‘cahaya’ kelihatan sekali membuat Dr. Fletcher penasaran. Dia mencoba untuk figure out how Kevin and his various identities work. Dia mencoba masuk ke dalam otaknya, bukan hanya untuk mencari tahu apa akar masalah sehingga bisa menolong dan memgobati Kevin, melainkan juga karena dia percaya ‘kemampuan’ pasiennya ini dapat digunakan untuk kebaikan. Tokoh Dr. Fletcher actually brings a lot to the story.

Child abuse dan trauma jadi tema berulang yang jadi titik tolak cerita film ini berangkat.Dipresentasikan dengan shocking manner; Kita bisa melihat gimana pasien mengubahnya menjadi sebuah sistem pertahanan diri, kita melihat dua remaja yang tidak punya’ self –defense’ actually jadi korban dan yang pernah ngalamin abuse justru kuat dan selamat. Juga ada indikasi mengerikan seputar Kevin yang eventually dioverpower oleh persona-persona yang lain, karena mereka terbentuk dari rage yang disurpress oleh Kevin. Anak-anak yang terluka have a rage, yang terkumpul di dalam, they need to be lash out, namun satu-satunya yang bisa ‘diserang’ adalah diri mereka sendiri.

 

 

Sebagaimana pada kerja-kerjanya terdahulu, sekali lagi M. Night Shyamalan mempercayakan sepenuhnya kepada kita para penonton untuk belajar dan menemukan sendiri apa yang terjadi pada film ini. Aspek inilah yang bikin aku suka sama film-filmnya. Shyamalan nanem banyak elemen dan poin cerita di awal, yang enggak akan bisa kita ngerti sepenuhnya sebelum kita sampai di penghujung film. Kita belajar things about characters, belajar mengenai backstory mereka, film akan mempersembahkan mereka sebagai fakta, dan kita sendiri yang akan mengerti kenapa mereka seperti itu. Penonton dikasih kesempatan untuk mengupas dan menelaah lapisan-lapisan yang ada pada tokoh-tokoh. Dan pada akhirnya memang the bigger picture akan terasa lebih impactful karena kita discover everything on our own. Shyamalan menghormati kita, dia meminta kita untuk sabar. Karena sesungguhnya, Split adalah FILM YANG BUTUH KITA UNTUK MEMBUANG SEDIKIT LOGIKA.

Honestly, aku sedikit terlepas ketika cerita sampai di bagian persona The Beast muncul ke permukaan. Kevin berlarian di kota, dia manjat-manjat tembok bertelanjang dada, dengan urat-urat menyembul, dia enggak mempan ditembak. Dia bengkokin baja sel penjara. Ceritanya mulai enggak masuk akal. Masak iya beda personality doang bisa bikin orang jadi kuat kayak monster seperti itu. Namun Shyamalan pada akhirnya selalu memberi kita penghargaan lewat twist, dan pada kasus film ini, kesabaran kita – our leap of faith – akan terasa sangat rewarding, terlebih jika kita ngikutin film-film karyanya sedari awal.

Twist sederhana pada film Split akan terasa wah! terutama jika kita sudah menonton Unbreakable (2000). Karena ternyata film ini berada di universe yang sama dengan universe film Unbreakable; salah satu film adaptasi comic book yang bagus banget, mengangkat kesuperheroan dalam cahaya yang realistis. Saat kita melihat tokoh David Dunn (kameo Bruce Willis di sini dapet 50-50 reaksi, yang udah nonton Unbreakable tereak histeris, yang belum cuma bengong) duduk dengar berita soal Kevin yang dijulukin “The Horde” di cafeteria, barulah kita sadar bahwa ini adalah film superhero dan semuanya jadi make sense. Membuat kita ingin nonton lagi, experiencing cerita Split dari kacamata yang berbeda. Ya, semua twist Shyamalan sesederhana itu; oh ternyata dia hantu, oh ternyata dia yang jahat, oh ternyata mereka bukan kakek neneknya, oh ternyata ini film superhero, ternyata ini adalah origin story seorang supervillain – ternyata ini sekuel dari film yang tayang tujuh belas tahun yang lalu!

Mindblown!!!
Mindblown!!!

 

Sejak di film Signs (2002), Shyamalan berusaha masukin humor ke dalam thrillernya. Kadang-kadang berhasil, kadang-kadang gagal total. Dalam Split, untungnya kedua tone tersebut berhasil menyatu dengan mulus. Film ini paham kapan harus membuat kita tertawa, tanpa membuat suasana jadi awkward. Kemunculan persona Hedwig, si bocah sembilan-tahun, mampu membuat kita tergelak dengan sikapnya, but then film ini juga precisely ngasih timing ketika kata-kata Hedwig mendadak menjadi mengerikan. Contohnya di adegan nari. It was so incredibly ringan dan kocak, dan sejurus kemudian jadi uneasy saat Casey bertanya jendelanya mana dan Hedwig menjawab riang sambil nunjuk gambar jendela hasil karyanya.

 

 

Babak pertamanya adalah yang paling lemah, namun film ini akan terus terbuild menjadi semakin intens. Kengerian dan ketegangan disemarakkan dari penampilan-penampilan akting yang excellent. This is also a very good looking psychological thriller. Namun ada beberapa aspek penceritaan yang semestinya bisa ditrim sedikit. Seperti adegan eksposisi saat Dr. Fletcher jelasin apa itu DID lewat skype. At least, harusnya penjelasan tersebut bisa dibikin lebih menarik dan lebih terintegral lagi. Dialog-dialog pun kadang banyak enggak masuk, masih terdengar terlalu memaparkan. Performa dua cewek teman Casey yang kaku dan rada over-the-top terlihat berada di luar level tiga tokoh mayor. Ini adalah jenis film yang berani meminta kita untuk bersabar, untuk mau discover things on our own, dan aku very pleased begitu mengetahui ini sebenarnya tentang apa. Dan ya, aku harap Shyamalan benar-benar bikin kelanjutan film ini; Dunn lawan The Horde. Lawan Mr. Glass. Mauuuuu!!!!
The Palace of Wisdom give 7.5 out of 10 gold stars for SPLIT.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 
We? We be the judge.

PERTARUHAN Review

“Every father should remember that one day his son will follow his example instead of his advice.”

 

pertaruhan-poster

 

All bets are off ketika sebuah keluarga kehilangan salah satu kaki penyeimbang kasih sayangnya. Kita pernah ngalamin, dong, gimana rumah berubah jadi kacau jika Ibu pergi arisan beberapa jam aja. Semenjak sang istri meninggal, Pak Musa memang mendapati keluarganya bagai anak ayam kehilangan induk. Tak mampu menunjukkan rasa cinta as a mother does, Pak Musa (terlihat seperti diniatkan sebagai supporting role, nyatanya Tyo Pakusadewo overpowering semua cast muda) memimpin rumah tangga dengan hati baja dan tulang besi. Kehidupan di rumah mereka keras. Ada satu adegan di babak pertama di mana Pak Musa really lay down the law kepada anak-anaknya di rumah. Keempat anak Pak Musa tumbuh menjadi pemuda liar. Urakan. Suka streaking around gangguin ibu-ibu satu RT yang lagi senam. Keluar malam dan mabuk-mabukan. Mereka begitu bukan karena mereka tidak hormat kepada orangtua.

It is a failure in communication yang memegang peranan besar, it is about men’s tough love. Anak-anak ini juga gagal nunjukin rasa sayang kepada bapaknya. Ibra (delivery Adipati Dolken need more work karena sebagian besar waktu dia jauh dari terdengar tegas) diam-diam bekerja di sebuah pool bar. Elzan (tokoh Jefri Nichol ini sayangnya kurang diflesh out padahal dia actually yang paling jantan di antara mereka) kerja sebagai pelayan di hotel remang-remang. Amar (berkat image Aliando Syarief, tokoh ini providing some relief, yang terutama worked pada kalangan fansnya) demi ngejar the love of his life, kerja jadi supir anak sekolah. Sedangkan si bungsu Ical (Giulio Parengkuan terlihat confused namun it worked dengan karakter tokohnya) rela bolos karena enggak sampai hati minta uang sekolah. See, mereka selalu menempatkan Bapak di prioritas nomor satu mereka. Bapak yang sudah tua, yang tenaganya sudah tidak mendukung lagi bekerja sebagai satpam berpenghasilan pas-pasan di sebuah bank.

Gejolak muda sesungguhnya hanya perlu diarahkan. Untuk itu, mereka memerlukan contoh ketimbang nasihat-nasihat. The problem with Musa dan anak-anaknya adalah dengan hanya satu panutan, anak-anak tersebut tidak melihat cukup banyak dari Musa. Dia memberitahu mereka soal kemandirian, tetapi yang Musa perlihatkan di rumah adalah kekerasan dan ketidakterbukaan. Dan itulah yang ditangkap oleh empat anaknya.

 

Drama action ini punya satu elemen yang paling menarik perhatianku. Arena underground pertarungan cewek. Kita diliatin sekilas di mana dua cewek diadu berantem martial arts, sementara cowok-cowok penontonnya berteriak menyemangati dengan garang. Pertarungan tersebut dijadikan ajang taruhan. It is actually a refreshing element yang seharusnya bisa dieksplor lebih dalam lagi. Bisa ditanam pertanyaan moral di dalamnya. It would also make an interesting relationship story, karena salah satu dari petarung wanita tersebut actually adalah pacar Ibra yang bernama Jamila (Widika Sidmore keren banget cosplaying the Mia Wallace look). Dan mereka ngesyut adegan hand-to-hand combat ini dengan really well. Gerak kameranya cukup untuk membuat kita ngikutin aksi yang terjadi. Yang mana aksi tersebut sangat intens dan fisikal. I really like this part of the movie. Sebuah gimmick yang sesungguhnya punya potensial untuk dikembangkan menjadi lebih compelling.

oke siapa yang tadi di opening pake gaya croth chop nya DX?
oke siapa yang tadi di opening pake gaya croth chop nya DX?

 

Hubungan persaudaraan mereka tersurat jelas pada layar, kita bisa mengerti siapa lebih dekat kepada siapa. Interaksi antarmereka tergambar dengan meyakinkan. Adalah hal yang bagus film ini tidak berupaya untuk menyensor kata-kata kasar atau apapun, karena memang seperti yang kita lihat pada merekalah interaksi anak muda berlangsung. Calling names, toyor-toyoran, ada sedikit nuansa kompetisi di antara masing-masing. Benar MENCERMINKAN ANAK MUDA. Yang gagal mereka tampilkan secara compelling adalah gimana sikap anak muda yang tumbuh dalam lingkungan kasar. Aku enggak tahu apakah dari arahan atau apanya, keempat tokoh mudah ini lebih sering kelihatan seperti anak muda kaya yang manja dan mencari pelampiasan dibanding pemuda-pemuda tak-terurus with a really broken home life. Pertaruhan tampak kesulitan menunjukkan mereka pemuda yang tangguh, dan sesungguhnya itu adalah prestasi mencengangkan sebab antara tangguh dengan cengeng seharusnya ada jarak yang luas. Seluas gap generasi bapak dengan anak-anaknya, yang btw, disinggung sedikit dalam film ini.

Sungguh susah untuk bersimpati dan merasakan empati kepada keempat pemuda ini karena sedari babak pertama mereka disorot dalam cahaya anak-anak berandal yang menyebalkan alih-alih respectable, street-wise punks. Dan itu berlanjut sampe film ampir beres. Mereka tidak melakukan hal apapun yang membuat mereka berhak mendapat respek dari kita. Mereka selalu bertanya dulu sebelum beraksi. They never take action until late in the film. Dan saat aksi itu tiba, mereka melakukan pilihan yang bego. Ngerampok di kota di siang bolong, berbaris keren di pinggir jalan, dengan sambil nyarungin topeng. Pelan-pelan, seolah ingin mastiin orang-orang udah melihat wajah mereka satu persatu. Ada satu momen mereka berembuk “Kita harus melakukan apapun untuk bapak” dan scene berikutnya yang kita lihat adalah Ibra menggunakan ceweknya sebagai pengalih perhatian nyopet di bar. And later he actually let Jamila bertarung demi uang untuk bapaknya berobat.

Ibra is the worst character here. Saat Mila kalah dan babak belur (supposedly, tapi sepertinya film ngirit make up buat bikin efek luka tembak), aku kira Ibra bakal sadar dan minta maaf. But no! Dia malah sok ngecomfort pacarnya dengan bilang “Bukan salah kamu, cuma belum rejeki aja” Like, what??? Dia nyuruh adik-adiknya, dia bergantung kepada ceweknya untuk bertarung demi kepentingannya. Usaha di dalam kamus Ibra adalah meminta bantuan kepada orang. Ngemis ke bank. Minta dikasihani sama rumah sakit. Makanya tadi aku bilang, Elzan adalah yang paling jantan, karena hanya dia yang berani bertindak beneran. Meski tindakan itu adalah nyolong.

darah muda walau salah tak peduliiiihi..hi..hiii~
darah muda walau salah tak peduliiiihi..hi..hiii~

 

Konsistensi penulisan karakternya terlihat agak off. Mungkin saja sih disengaja biar nunjukin mereka labil. Ibra ngancem mau mukul seorang suster kalo saja si suster adalah laki-laki, kalimat ini terdengar agak aneh terucap dari mulut Ibra yang punya pacar seorang ass-kicker. Hubungan Ibra dengan Jamila juga dipertanyakan, it was really strange di satu adegan kita belajar keadaan Bapak dari Mila yang memberitahu Ibra, dan di adegan lain sesudahnya kita melihat Mila kebingungan kenapa Ibra terlihat sedih dan banyak pikiran. It’s like there’s no understanding between them. Dan film ini juga tidak membantu dengan tidak pernah ngasih hint gimana mereka berdua bisa ketemu dan jadian in the first place.
Ketidakkonsistensian juga melebar ke bagian action. Di mana adegan berantem di bar malah jadi bikin ngakak. Tidak ada lagi intensitas dalam koreografinya, padahal mereka berempat dan jelas-jelas outnumbered. Jurus berantemnya juga jadi monoton (hey, monoton is consistency!); lawan tinju kiri – tangkis pakek stance ngepal – bales tinju kanan. Perhatiin deh, berantemnya pasti ada gerak seperti itu. Kamera pun bergoyang sedemikian asik sehingga waktu lagi momen tenang sambil pelukan pun, gambar masih geser kanan-kiri naik-turun.

Apa yang berhasil dijaga oleh film ini dari awal sampai akhir adalah tone sedih. Serius deh, UNTUK SEBUAH FILM TENTANG LAKI-LAKI, INI ADALAH FILM YANG CENGENG. Semua poin cerita diarahkan buat kita mengasihani mereka. Rekan kerja yang nyinyir. Bos yang kejam. Rumah sakit yang menghina. Slow motion dengan musik menyayat hati di adegan-adegan maut. Minta dipuk-puk banget deh. Aku sebenarnya sempet seneng film ini berhasil enggak pake flashback, I was really expecting flashback adegan mereka masih kecil of some sort, ternyata enggak ada and I was like, “you pass the test!” Namun di akhir aku jadi kecele. Film ini masukin montase flashback yang highlight kejadian di awal, dengan slow motion pula! Apalagi kalo bukan demi memeras drama sebanyak yang mereka bisa.

 

Film ini berusaha untuk memancing perbincangan soal ambiguitas moral kayak yang dilakukan oleh Hell or High Water (2016). Namun enggak ada ground yang mensupport karakter-karakter Pertaruhan, selain mereka pantas dikasihani. Tokoh dalam Hell or High Water ngerampok against sistem perbankan yang actually bikin susah orang banyak. Ibra dan adik-adiknya, mereka merampok bank tempat tempat bapak dulu cari makan – tempat yang secara tak-langsung gedein mereka, hanya karena bank tersebut sudah bersikap kasar kepada mereka yang orang miskin. Dan lagi, they were so quick to resort ke merampok bank. Padahal mereka masih muda, sehat wal ‘afiat, jumlahnya ada empat! Mereka bisa cari kerjaan lain, but no, film ini butuh sesuatu yang gede untuk nutup cerita dengan dramatis.

Aku jadi kepikiran, kayaknya bakal lebih seru dan powerful kalo usaha perampokan mereka distop oleh bapak sendiri. Bayangkan bapak yang sakit-sakitan itu datang ke bank, karena dipanggil oleh Ical yang enggak mau kakak-kakaknya go on that path, kemudian bapak dan anak-anak itu (terutama Ibra) have a hearwrenching dialogue soal kasih sayang. Bapak berusaha menyadarkan anaknya, dan ultimately dia harus menembak Ibra. Kupikir dengan begitu ceritanya akan tetap sama, only dramanya make more sense, dan lebih emosional.

 

 

 

 

Seperti Pak Musa yang menyesal tidak bisa menunjukkan dengan baik cinta dan kasih sayang kepada anak-anaknya, film ini juga tidak bisa menunjukkan dengan baik sebuah cerita yang compelling. Di menit pertama, dia sudah mengeskpose kita dengan apa paparan yang dirasakan oleh Pak Musa, alih-alih memperlihatkan. Film tentang laki-laki dan kehidupan keras yang paling cengeng yang pernah aku tonton. Jika kalian mempertaruhkan waktu dengannya, niscaya kalian akan merasa kalah.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for PERTARUHAN.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

PASSENGERS Review

“Difficult times always create opportunities to experience more love in your life.”

 

passengers-poster

 

Cerita Passengers seumpama Adam yang mendambakan keberadaan seorang Hawa, hanya saja dalam film ini, Hawa adalah Putri Tidur. Dan Tuhan memberikan sepenuhnya pilihan kepada Adam to take actions, apakah dia akan mewujudkan desirenya sendiri, untuk ditemani oleh Hawa, meski jika hal tersebut melawan moral or whatsoever.

 

Spacecraft Avalon sedang menempuh perjalanan panjang membawa 5000 penumpang dan 283 awak menuju Homestead Two – semacam planet Bumi yang baru. Masih nyaris satu abad lagi sebelum mereka tiba, namun Jim Preston dan Aurora Lane terbangun dini dari hibernasi mereka. Ide cerita yang ditawarkan sebagai premis film ini sungguh menarik. Jim dan Aurora pada awalnya berusaha mencari cara untuk bisa tertidur kembali, tetapi seiring berjalannya waktu mereka menemukan rumah pada hati lawannya masing-masing, jadi mereka mutuskan untuk menghabiskan hari di Avalon, but then again of course, ‘surga’ mereka diguncang oleh sumber masalah yang membuat mereka terjaga far too early.

Passengers punya elemen yang aku cari dalam sebuah film. Aku suka cerita yang bertema isolasi, you know, film di mana karakternya harus berurusan dengan tempat yang tertutup. Dalam kasus ini that closed space adalah spaceship berteknologi tinggi itu sendiri. Dan juga, the actual space, luar angkasa adalah tempat yang selalu menarik! Kita akan melihat gimana dua insan manusia berusaha hidup di dalam lingkungan pesawat yang melaju terus di antara bintang-bintang. Avalon, sebagai tempat, tergambar dengan cantik. I really like design spaceshipnya yang futuristik, it was really cool looking. Keadaan di dalamnya benar-benar catering to sisi imajinasi kita tentang kehidupan di luar angkasa. Semuanya terlihat sangat bersih. It was ’empty’ tapi begitu sibuk hanya oleh kegiatan dua tokoh dan robot-robot pelayan. We learn how things work di dalam sana sembari juga belajar lebih jauh tentang hubungan dan siapa para tokoh utama kita sebenarnya.

everything is waaay cooler in space!
Everything is waaayyy cooler in space!

 

Satu kata untuk menggambarkan kelebihan film ini adalah MENAWAN. Passengers, tidak diragukan lagi, is a great looking film. Efek-efek yang digunakan menghasilkan environment yang sangat cantik. Film ini disyut dengan really well. Ada satu adegan yang keren banget; Pesawat kehilangan gravitasi ketika Aurora sedang berenang di pool facility, dan airnya semacam ngapung ke udara gitu, membentuk gelembung- gelembung kubik air yang gede, kemudian saling berbenturan. Efeknya seamless sekali, antara efek komputer dengan praktikalnya menyatu dengan lembut sehingga terasa very compelling. Musiknya juga mengalun dengan menawan, namun terkadang terdengar sedikit lebih kenceng dari yang seharusnya. Kadang malah terlalu mendikte kita. Ada beberapa momen di dalam film ini yang membuatku berpikir seandainya enggak ada musik maka emosi akan bisa tersampaikan dengan lebih kuat. Musik yang sometimes jadi ‘overly loud’ membuat nuansa isolasi yang jadi tema surrounding film ini jadi tidak lagi terdengar.

Dan tentu saja, menawan adalah sebutan yang pantas untuk kita berikan kepada duet Chris Pratt dan Jennifer Lawrence. Pesona mereka sungguh kuat, obviously. Mereka bekerja sama fairly well sebagai tulang punggung film drama ini, meski dari skripnya sendiri mereka tidak diberikan terlalu banyak hal untuk mereka lakukan. Aku suka setengah bagian pertamanya, bener-bener aku menikmati melihat Chris Pratt dan Jennifer Lawrence wandering around dan berusaha untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Film ini punya elemen investigasi dan another elemen yang naturally membuat kita terinvest ke dalam tokoh-tokohnya. Ada sedikit twist moral dalam hubungan Aurora dan Jim yang membuat sejumlah skenario “What If” bermunculan di benak kita. Membuat kita ngajuin pertanyaan tentang bagaimana relationship mereka bekerja. Atau relationship manusia secara umum.

Apa penilaian secara moral terhadap pria yang menarik serta wanita yang ia cintai ke dalam keadaan susah bersamanya, seperti Jim yang kesepian membangunkan Aurora. You know, cowok-cowok pasti sering mendengar anjuran “carilah wanita yang siap diajak susah bersama” karena itu berarti dia rela berjuang bersama kita no matter what. But in turn, apakah hal tersebut benar-benar adalah tindakan yang bertanggung jawab? Film ini menggambarkan bahwasanya normal bagi seorang manusia yang tenggelam mengajak orang lain ikut tenggelam, tapinya lagi apakah itu the right thing to do? Is it really selfish bagi wanita jika ia menolak diajak susah? Or apakah all is forgiven karena in the end, kita hanyalah penumpang yang hidup seolah supir dalam dunia yang berjalan pada tracknya?

What If, you “meet me in outer space?” like the Stellar song?
What If, you “meet me in outer space?” like the Stellar song?

 

Seperti robot bartender yang enggak bisa meninggalkan belakang meja bar, film ini berjalan di sirkuit yang sudah ditetapkan. Film tidak berani untuk mengeksplorasi lebih dalam masalah moral yang sempat disentuhnya. Keseluruhan CERITA SEPERTI DISETIR OLEH AUTO-PILOT, tidak ada yang menarik dalam perkembangannya. Setelah midpoint, aku kehilangan ketertarikan untuk mengetahui kelanjutan ceritanya. Karena it is just there’s nothing that feels new about the story. Nonton film ini kita akan lantas kepikiran banyak film-film lain. Passengers bahkan ngakuin kalo mereka memang masukin banyak homage buat film klasik. Sejak dari pertama, malah, film ini ngingetin kita sama The Shining (1980), kemudian 2001: A Space Odyssey (1968), terus Gravity (2013), terus dan terus kita akan recognized elemen cerita yang “Ah mirip film itu! Yaay, kayak film yang itu tuuh!”. Di samping desain spacecraftnya, tidak ada lagi yang terasa benar-benar original dari Passengers.

It does have some investing scenes. Hanya saja, kebanyakan elemen cerita dari film ini tidak menghantarkan kita ke suatu tempat. Banyak momen ketika kita ngeliat elemen terbangun dari adegan demi adegan, membuat kita merasa akan ada sesuatu yang ‘datang’, namun turns out to be nothing. Kayak adegan menjelang babak ketiga, Jim dan Aurora harus membereskan suatu hal yang just sort of happens. Masalah yang mereka hadapi ini hanya dibahas sekilas, nyaris seolah karena film ini butuh tendangan drama semata – supaya mereka bisa tahu bagian-bagian pesawat yang belum mereka kenal, dan film butuh cara buat ngejelasin itu. Masalah mereka ini actually tidak bener-bener punya impact terhadap keseluruhan cerita.

Kritikus ternama Roger Ebert pernah bilang bahwa sesungguhnya yang penting dari sebuah film bukanlah soal film itu menceritakan tentang apa. Tetapi bagaimana film tersebut adalah tentang itu. Film selalu adalah soal penceritaan. Biasanya sih, salah satu usaha film agar punya penceritaan yang baik adalah dengan menghindari flashback. Some films pengen banget punya twist, mereka ngacak order ceritanya meskipun pada akhirnya mereka jadi harus menggunakan flashback, dan biasanya itu bukan hal yang bagus. Susunan cerita Passengers dibuat linear sehingga film ini tidak memakai satupun adegan flashback, it should be a good thing. However, Passengers adalah kasus langka di mana film ini – dia tidak terasa baru, melulu ngingetin kita dengan banyak film lain – really truly need some twist agar menjadi lebih menarik. Passengers justru bisa menjadi lebih menarik jika mereka memutar order ceritanya. Like, you know, babak satu jadi babak ketiga. Sedikit flashback tak-mengapa dipakai kalo toh nanti mentok. Kita bisa pretty much tell the same story dengan order yang dibalik seperti demikian, while also menambah rasa interesting karena dengan diceritakan terbalik kita akan belajar how all of its story reveal.

 

 

 

Film yang menawan. Dirinya enggak wah-wah amat, meski juga enggak seburuk itu. It’s just tidak ada yang benar-benar menarik darinya. Tidak ada elemen yang baru. Tidak ada yang terasa extraordinary. Ini adalah perjalanan di mana karakter-karakternya, dan juga ceritanya, yang cakep berjalan dengan auto-pilot. Sesungguhnya bisa menjadi film yang keren, sayangnya ia tidak berani ngepush apapun lebih jauh lagi.
The Palace of Wisdom gives 5.5 gold stars out of 10 for PASSENGERS.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
And there are losers.

 

 

 
We? We be the judge.

FENCES Review

“Boundaries don’t keep other people out, they fence you in.”

 

fences_teaser-poster

 

Entah itu untuk menjaga agar pihak luar enggak bisa sembarangan masuk, atau supaya yang di dalem enggak bisa sekonyong-konyong ngelayap ke luar, orang membangun pagar dengan alasan keamanan.

 

Rose Maxson mengingatkan suaminya, Troy, untuk segera menyelesaikan pagar di halaman belakang rumah mereka. Rose wants to keep her family together. Troy, sebaliknya, lebih melihat kegunaan pagar sebagai poin yang pertama; to keep things out. Dan as much as dia fearless dan percaya kepada kebebasan, being a negro membuatnya terbatas dalam beberapa hal, Troy membuat pagar lebih kepada bentuk pembuktian that he’s capable of providing his family. He wants to keep people out jauh-jauh dari pahamnya sendiri. Dualitas simbolisasi pagar adalah garis batas yang mengelilingi cerita film yang diangkat dari drama teater ini. Troy dan Rose adalah pasangan suami istri yang hidup di daerah urban amerika 1950, and this film tells how they live their live dengan segala problematika dan strugglenya.

Cukup lucu banyak orang yang meragukan film ini disebabkan oleh filmnya sendiri hanya berupa serangkaian SEKUENS DIALOG-DIALOG PANJANG di lokasi yang di situ situ melulu. Terasa sekali seperti play yang disadur ke media film. Dalam film ini yang akan kita lihat adalah orang-orang beragumen atau saling bercanda, bernyanyi, ataupun lagi mendongeng. Padahal, banyaknya dialog tidak pernah jadi penghambat sebuah film yang ditulis dengan sangat hebat. I mean, lihat saja 12 Angry Men (1957) atau Carnage (2011)nya Roman Polanski atau sesama adaptasi teater August: Osage Country (2013), some of the best movies of all time menampilkan dialog demi dialog maha-panjang set in one or two locations. Fences tidak pernah keluar dari pagar environmentnya, dan itu pulalah yang bikin kita tersedot masuk terus ke dalam cerita.

Sekuens percakapan panjang dalam film ini were so well-crafted, emosi kita akan dibawa turun naik olehnya, kayak, percakapannya dimulai dengan ringan, kita tersenyum dan tertawa bersama para tokoh, sampai kemudian seseorang mengatakan sesuatu. Atau mungkin mereka cuma ngelakuin hal yang not necessarily gak-sopan, misalnya anak Troy yang menatap ayahnya dengan pandangan yang sedikit merendahkan, and snap! Semuanya berubah menjadi gak-enak dan Troy, oh boy, bapak yang satu ini akan berubah menjadi seorang yang lantas marah-marah; galak dan keras kepala.

Pagar makan tanaman
Pagar ngehajar tanaman

 

Kunci film seperti ini selain di writing, juga terletak pada performancenya.  Film ini punya beberapa penampilan terbaik yang bisa kita saksikan di 2016.  Denzel Washington, menyutradai sekaligus memerankan Troy, bermain luar biasa brilian dengan range emosi yang fleksibel dan powerful. Tokoh Troy adalah pribadi yang sangat kompleks. Aku suka karakter yang satu ini terus bicara soal dia mengalahkan Kematian di pintu rumah, karena itu actually adalah momen yang nunjukin betapa vulnerablenya dia sebagai kepala keluarga. Babak pertama film mengestablish dia sebagai pria yang bertanggung jawab, pekerja keras, pria yang bercerita tentang gimana dia melaksanakan kewajiban dan menuntut haknya. Troy adalah good old fashioned man yang mencoba untuk provide to his family need, menyediakan atap bagi mereka, memastikan makanan tersaji di atas meja. Kita merelasikan diri kepadanya easily. Namun sepanjang film, kita akan mendapat informasi tersirat bahwa Troy punya banyak cela. That he’s not that great of a person. Dia terus saja menjatuhkan anak-anaknya (even sahabatnya sendiri) dengan batasan yang menegasi keputusan mereka. Kita perlahan belajar siapa diri Troy lewat backstory yang diceritakan dengan subtle; apa yang ia hadapi, how he was raised, dan kemudian masalah mulai menimpa keluarganya. Semua itu, semua pemahaman yang kita dapatkan terhadap karakter Troy akan terasa sangat menyayat hati.

Penampillan akting dalam film ini sungguh kuat, membuat pengalaman nonton kita menjadi berlipat lebih dahsyat, secara emosi. Aku suka gimana film ini, dengan kodratnya sebagai sebuah sandiwara teater, memberikan banyak ruang bagi setiap karakter untuk bertumbuh. Viola Davis sebagai Rose tentu saja pantes banget-banget untuk dinominasikan ke Oscar. In fact, Denzel Washington dan Viola Davis teramat loud dan explosive. Namun begitu, mereka tetap terasa genuine karena kalo kita bawa ke dunia nyata, memang seperti yang mereka portray jugalah reaksi pasangan yang dealing masalah mereka. That there’s gonna big dramatic moments. Tanpa bisa dielakkan. Ada banyak momen di dalam film ini di mana aku sempat lupa sedang menonton sebuah film. And that feeling is so rare dibandingkan film sekarang yang kebanyakan dramanya terasa orchestrated dengan really memancing rasa kasihan kita.

cue “Aaaauuuummmm” in one, two,…
cue “Aaaauuuummmm” in one, two,…

 

Fences juga menyinggung tentang gimana lingkungan sekitar kita turut membentuk pribadi kita. Ini tercermin dari sikap Troy dan sikap anaknya, Cory. Kedua orang ini sama-sama tumbuh menjadi atlet baseball, only dalam jaman yang berbeda. Dan itu actually membuat perbedaan yang sangat besar. Sebagai manusia, naturally, kita mewariskan apa yang sudah membentuk kita. Inilah menjadi problem, karena orangtua will eventually ‘mewariskan’ apa yang sudah ia alami kepada anak-anak. Entah berusaha mendoktrin agar tidak seperti orangtuamereka, ataupun to pass the ‘legacy’. Begitu juga saat anak-anak tersebut dewasa, mereka pada akhirnya akan melanjutkan hal yang sama turun-menurun.

 

Turunan kesalahan menjadi tema berulang yang kerap muncul dalam elemen cerita. Kesalahan orangua seringkali menjadi sumber dari masalah, atau katakanlah derita, yang dialami oleh anak-anak. Ada satu kalimat dari Rose yang menyatakan di sisi mana film ini berdiri, “You can’t visit the sins of the father upon a child.” Film ini percaya bahwa dosa generasi yang satu tidak mesti dibawa turun ke generasi berikutnya. Bahwa sebuah generasi bisa tumbuh lebih baik dari sebelumnya, tidak perlu menjadi seperti mereka. In that way, Rose tidak ingin ada pagar, dan ini memberikan konflik dengan outer journey di mana dia yang ingin membangun pagar. It is also make an ever greater konflik, karena apapun yang Rose pilih, pagar atau tanpa pagar, selalu bertentangan dengan prinsip Troy.

Tidak banyak suara kita dengar membahas kiprah Denzel Washington sebagai seorang sutradara. Film ini, however, membuktikan bahwa Denzel adalah director yang lebih dari sekadar mumpuni. Dia baru punya tiga dalam gudang film panjang karyanya, dan Fences actually adalah film terbaik yang ia hasilkan sejauh ini. Arahan Denzel benar-benar berhasil memancarkan hati dan emosi dengan ledakan yang tak terasa over heboh. Fences adalah film tentang keluarga, setiap adegannya adalah adegan ngobrol sambil duduk-duduk di halaman belakang, di teras rumah, ataupun di meja makan. Tapi film ini managed tidak sekalipun kita melihat adegan mereka ngobrol over sarapan atau dinner atau lunch. I mean, bandingkan deh dengan film Indonesia di mana sepertinya adegan ngobrol dengan occasion duduk ngeliling sambil makan menjadi sebuah pakem film. Kalo enggak ada makan-makannya, gak rame!

Meski begitu, ada satu momen dalam film ini yang mengkhianati segala rasa compelling dan aura realitanya. Momen tesebut datang di adegan penutup. Kita lihat keluarga Maxson menengadah langit, diiringi terompet rusak, mereka memandang awan yang, ah lihat sendiri deh. Alih-alih mendatangkan rasa hangat di hati, malah membuat film menjadi cheesy dan jadi terkesan fake.

 

 

Selain masalah di ending tersebut, ini tidak lain dan tidak bukan adalah film yang excellent. Mengajarkan tanggungjawab dan sejauh mana batasan tanggungjawab itu sendiri sebaiknya kita apply. Film ini menyuguhkan penampilan luar biasa dari setiap aktornya. Apa yang paling aku suka adalah, sama seperti teater, ada banyak ruang luas tak-berpagar yang disediakan naskah untuk pengembangan dan penampilan para tokoh. Drama keluarga yang sangat memilukan dan indah karena tersaji dengan perasaan yang nyata.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 for FENCES.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
And there are losers.

 

 

 

 

 
We? We be the judge.

MOONLIGHT Review

“Only through recognizing and accepting our inner wounds can we find true healing.”

 

moonlight-poster

 

We are all have been there before, right? Dikucilkan, dibully, enggak ada yang mengerti kita, ngerasa kita begitu berbeda sama yang lain, kayak makhluk asing, you know, kayak lagu dari Simple Plan. Aku sendiri waktu SD sering pulang sekolah dikejar-kejar. At first, teman-teman memang lagi nyari pemeran yang cocok untuk jadi atlet main smekdon-smekdonan; untuk peran babak-belur, of course. But then they just enjoyed chasing me around, even aku sendiri pun jadi suka. Aku memang enggak cepat, tapi aku lihai sembunyi di mana saja. Lama-lama itu jadi permainan yang mengakrabkan kami. Poinnya adalah, growing up jadi hal yang sulit karena kita naturally ingin mengidentifikasikan diri. Dan proses itu semua bergantung erat sama lingkungan kita bertumbuh. Beberapa anak mengalami masa-masa yang lebih berat ketimbang anak-anak lain.

Film Moonlight, however, bukan sekadar film ‘find-who-you-are’ yang biasa. It’s not cerita angst ga-jelas either. Ini adalah cerita yang sangat humane, dengan drama yang dead-fokus kepada karakter. MEMISAHKAN CERITA MENJADI TIGA BAGIAN, MOONLIGHT ADALAH PERJALANAN HIDUP Chiron dari dia kecil, kemudian saat dia remaja di sekolah, hingga menjadi dewasa. Dalam detil yang begitu excruciating, kita akan melihat gimana sulitnya Chiron hidup dan tumbuh di dalam lingkungan yang very harsh, gimana dia eventually menjadi dewasa dengan belajar mengerti siapa dirinya sementara dunia sekeliling tidak paham dan tidak menerima dirinya.

In regards to identifying the story, you know, I’m very pleased to discover tentang apa film ini sebenarnya. Maksudku, perjalanan yang sangat emosional yang ditempuh oleh Chiron itu diceritakannya dengan menggugah. Kita akan dibuat terenyuh melihat Chiron menyadari apa-apa mengenai dirinya. Film ini dengan perfect menangkap lingkungan keras tempat Chiron tinggal, urban Miami actually terasa in-the-moment karena di luar sana memang banyak anak kecil yang tumbuh di dalam lingkungan seperti demikian. Dan film ini menangkap segala momen dan emosi dengan tanpa menjadikan ceritanya klise. Aku belum pernah menonton film dengan denyut storytelling sespesifik ini; cowok kulit hitam yang tumbuh di lingkungan yang keras, dia menyaksikan sekitarnya sangat, katakanlah enggak-normal, dia harus belajar how to live with that, dan sementara itu dia juga menyadari something about himself, dia harus belajar gimana mengapresiasi sisi tersebut, namun a lot of people just don’t accept who he is.

 “no, you don’t know what is like. Welcome to my life!”
“No, you don’t know what is liiike. Welcome to my life!~”

 

 

Banyak yang membandingkan Moonlight dengan Boyhood (2014). Keduanya dengan menakjubkan sama-sama menelaah kehidupan, pertumbuhan seseorang dari kecil hingga dewasa. Namun bagiku, Boyhood terasa ada yang kurang, enggak tahu juga mungkin terlalu fokus ke gimmick apa gimana. Moonlight adalah apa yang sebenarnya aku harapkan ketika nonton Boyhood. Penceritaannya luar biasa. It is such an intimate movie yang mengeksplorasi dengan stunning gimana susahnya bagi seseorang tumbuh pada lingkungan yang tidak mengerti dirinya.

 

Tidak sepertiku, Chiron kecil dikejar-kejar bukan hanya karena dirinya bertubuh paling mini di sekolah. Dia noticeable paling happy di pelajaran nari. Temannya bilang dia negro yang ‘soft’. Ibunya sendiri menyindir cara Chiron berjalan. Little, begitu anak-anak di sekolah memanggilnya, mulai menyadari things about himself meskipun saat itu dia belum mengerti. Babak pertama cerita revolves around Little yang ‘diselamatkan’ oleh Juan (dimainkan singkat tapi sungguh berkesan oleh Mahershala Ali). Ini adalah babak penting dalam cerita karena kita melihat Chiron merasa lebih nyaman berbicara – dalam kapasitas anak pendiam – kepada Juan ketimbang kepada ibunya sendiri. Dalam hidupnya, Chiron tidak punya father figure dan dia enggak bisa benar-benar look up kepada ibunya yang seorang pecandu drugs. Chiron berusaha menemukan sosok orang di mana dia bisa merasa comfortable, tetapi semakin dia bertambah usia hal tersebut menjadi semakin susah baginya. Sebabnya ya lingkungan keras tadi itu; he just feels separated from everyone else around. Chiron learns semua orang ternyata ‘punya masalah’. Act kedua film menjadi babak yang paling psyhically intense, kita lihat Chiron muda resort ke kekerasan dalam upayanya merasa lebih baik or even to think violence as a way to fit in.

Sungguh susah bagi kita untuk melepaskan diri dari cerita Moonlight. It was filmed in such a raw way dengan kerja kamera yang amat fascinating. Tidak sekalipun adegan-adegannya terasa misplaced. Arahan tingkat dewa lah, pokoknya. Penampilan akting dalam film ini, oh boy, mereka semua almost too good to be true. Ketiga pemain yang jadi Chiron; Alex R. Hibbert, Ashton Sanders, Trevante Rhodes, mereka semuanya luar biasa excellent. Sebenarnya film dengan tiga bagian cerita seperti ini gampang untuk jadi terasa episodic. Bagi Moonlight, that was never the case. There is never a case! Setiap babak usia menambah layer kepada pribadi Chiron dengan sama realnya. Masing-masing pemeran berhasil memberikan perspektif yang sukses ngefek dalam membangun karakter Chiron. Apalagi di babak ketiga, ketika Chiron datang bertemu seorang teman lama, teman yang not expecting what Chiron turns out to be. Adegan di diner menjelang akhir film genuinely terasa kayak kejadian beneran yang unfolding di depan mata kita. It was STUNNING, MATURE, DAN SANGAT POWERFUL.

there’s nothing "sawft" about this movie
There’s nothing “sawft” about this movie

 

Sutradara Barry Jenkins sepertinya memang paham betul soal bahwa hubungan antarmanusialah yang ultimately membentuk siapa kita. Arahannya menyeimbangkan dialog-dialog penuh makna dengan visual yang lantang oleh emosi. Meskipun semua pemainnya black, ini bukan necessarily film dengan suara yang loud. Film ini tahu kapan saatnya ngomong dan kapan waktu yang tepat berekspresi dengan tanpa suara. Ada banyak adegan karakter saling tatap yang begitu deep-in-the-feel, seperti saat Little menangkap pandangan Juan yang baru saja memberitahunya soal kerjaan yang Juan lakukan, ataupun saat Chiron dan Kevin duduk di pasir pinggir pantai. Semua pemain beserta peran mereka bersinar di dalam cahaya film ini, bersinar biru so to speak.

Paralel nama Chiron tidak hanya pada nama centaurus yang berbeda dari kumpulannya di dalam mitologi. Dalam astrologi, Chiron adalah komet yang melambangkan luka terdalam; derita yang tak kunjung-pergi, dan usaha kita untuk menyembuhkan luka tersebut. Moonlight adalah cerita-tiga-bagian tentang Chiron yang tumbuh dengan penuh derita masa kecil, that he tries to explore that, yang meski membuatnya tampak ‘tangguh’ setelah dewasa; luka tersebut tidak pernah bisa sembuh sepenuhnya.

 

Kata orang, ngereview itu nyari-nyari kekurangan film. Well, benar demikian sih, reviewer kudu point out secara jujur flaws yang ditemukan. But keep in mind, movie adalah ide. Dalam gagasan tidak ada masalah benar atau salah – it’s about apa yang worked dan enggak worked di dalam penceritaannya. Supaya film, in general, bisa makin terus berkembang. Jadi itu jualah yang kulakukan saat nonton Moonlight. Aku terus membuka mata lebar-lebar untuk mencari hal yang menjatuhkan. Aku terus menunggu seseorang mengatakan hal yang bego. Aku terus melek mencari kemunculan subplot horrible atau elemen yang bosenin dari tiga bagian ceritanya. Dan aku tidak menemukan apa-apa. Biasanya kan kita sering, tuh, nonton film yang mestinya bisa bagus banget namun di tengah filmnya make a really stupid choice demi jadi mainstream atau apa. Tahun 2015 ada film Dope yang juga berpusat cowok kulit hitam yang not fit in dengan lingkungan yang keras, sayangnya film tersebut dengan cepat menjadi cerita kehidupan ‘hood’ yang biasa. Momen-momen jelek yang kutunggu tidak pernah muncul dalam Moonlight. Again, everything shines in this film.

 

 

 

So well-realized, visi ceritanya tergambar tanpa cela pada layar. Film ini benar-benar punya pesan tanpa terasa membombardir moral kita dengannya. Ini adalah penceritaan yang sangat dewasa. Easily, salah satu film terbaik di 2016. Menelaah dengan stunning gimana susahnya tumbuh dalam lingkungan yang tidak ada satupun yang mengerti diri kita. Tidak ada ada satu elemen pun yang terasa out-of-place dalam tiga bagian kisahnya. Penuh oleh penampilan yang genuinely feel so real. Arahan dan editing yang luar biasa dari mulai sampai habis. This is a masterwork!
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for MOONLIGHT.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

 
We? We be the judge.

LIVE BY NIGHT Review

“Night allows the stars to shine”

 

livebynight-poster

 

Selain seorang Batman, kita juga mengenal Ben Affleck sebagai seorang produser, sutradara, writer, dan aktor. Live by Night adalah karya teranyar Tuan Affleck. Cerita film yang ia bintangi ini adalah tentang kehidupan gangster di era prohibition, you know, kala di mana perjudian dilarang, minuman keras dijual underground, dan jalanan dipenuhi oleh tikus-tikus semacam mafia, geng jalanan, dan polisi korup. Tokoh yang Affleck mainkan, si Joe Coughlin, tadinya dia enggak mau ikutan masuk geng manapun. Oke baiknya kita mundur sedikit lagi – tadinya Joe adalah tentara, namun dia melihat begitu banyak yang terburuk dari manusia sehingga dia jadi memilih untuk tidak lagi tunduk pada peraturan, so dia menjadi perampok bank. Dia tidur dengan pacar bos gangster. Dia ngelakuin hal yang tidak seharusnya ia lakukan, deh pokoknya. Siapa yang menanam benih, maka dia sendiri juga yang bakal menuai. Eventually, Joe – dengan peraturan buatannya tersendiri – bergabung dengan salah satu kelompok, dan he’s actually mendapat posisi di mana segala keputusan kerjaan dan penyelesaian masalah geng mereka berada di tangannya. Sepanjang film kita akan ngeliat gimana Joe keluar-masuk urusan dunia hitam pada jaman tersebut, while also mencoba sebisa mungkin menjalani kehidupan normal yang baik bersama wanita yang dia cintai.

Pernahkah kalian melanggar peraturan? Seberapa sering kalian malah jadi pengen dan tertantang untuk nyobain saat dilarang untuk ngelakuin suatu hal? Kata orang sih, peraturan itu dibuat untuk dilanggar. Kita enggak mau diatur karena kita ingin bebas.Tapi, berontak itu adalah kerjaannya orang bawah. The real outlaw adalah penguasa-penguasa di atas sana, karena mereka akan doing everything to make sure peraturan yang ada tidak kena kepada dirinya dan pihak-pihak yang menguntungkan bagi mereka. Think about that. Joe Coughlin did think about it, makanya dia sekarang hidup dengan menulis aturannya sendiri.

 

By far, HAL TERBAIK DARI FILM INI ADALAH KUALITAS TEKNIKAL yang dimilikinya. Gimana Affleck, dalam kapasitasnya sebagai seorang sutradara, menangani adegan-adegan dalam film. Set Tampa dan kota-kota di sekitar pada tahun 1920an terfilmkan dengan brilian. Terkhusus bagus adalah gimana sekuen-sekuen action digelar oleh film. Ada tembak-tembakan seru. Ada adegan kejar-kejaran mobil yang luar biasa awesome di babak pertama, ketika Joe ngerampok bank. Stuntwork dan arahannya bekerja dengan sama-sama great. Juga ada sejumlah teknik CG yang digabungkan mulus dengan efek praktikal.

Technical qualities sejak 2007’s Gone Baby Gone sudah menjadi kekuatan terbesar yang dimiliki oleh Affleck dalam kiprahnya di dunia penyutradaraan. Kita bisa lihat bukti kalimatku tersebut dalam film Live by Night ini, because ini adalah sebuah film yang sangat tampan, very good looking, dengan bumbu drama yang diracik pas dan tentu saja memberikan kita the rush of terrific actions. Penampilan dalam film ini semuanya excellent. Para pemain mengerahkan segenap kemampuan mereka memberikan emosi dan kehidupan kepada tokoh-tokoh yang ditulis oleh Affleck. Ada backstory yang hebat antara tokoh ayah dan putrinya, diperankan respectively oleh Chris Cooper dan Elle Fanning. Elemen cerita mereka actually sangat kuat, dan bakal menarik kita ke sebuah momen yang intens. Elle Fanning is real good on that particular scene. Ada dua drama cinta yang mekar pada film ini; yang satu adalah relationship yang sangat interesting antara Joe dengan Emma yang diperankan oleh Sienna Miller. Relationship yang satu lagi ditulis dengan niatan sebagai device agar dramanya lebih nohok lagi, yaitu Joe dengan tokohnya Zoe Saldana, Graciela. Dan jangan lupakan hubungan antara Joe dengan para bos mobster di sana.

na-na-na-na-na-na bad maaannn!
na-na-na-na-na-na Bad maaannn!

I say, tiga-puluh-menit pertama film ini sukses menyeretku masuk ke dalam cerita. Aku ingin tahu ke mana Joe bertumbuh setelah ia dipenjara, setelah ia kehilangan the first love of his life. Sayang beribu sayang, setelah masuk babak kedua sampai nyaris seluruh babak ketiga, film ini kehilangan sense bagaimana menceritakan kisahnya. Tidak ada kejadian yang benar-benar menarik yang bisa kta simak hingga adegan tembak-tembakan final datang membangunkan kita dari betapa bosannya film ini.

Dengan kualitas teknis yang mumpuni, tentu saja salahnya bukan pada musik atau kostum ataupun penampilan para pemain. Yea meski pada beberapa adegan aku notice ada frames yang nyambungnya agak off, misalnya pada adegan di stasiun saat turun dari kereta. Itu masih minor sih. Masalah yang sebenarnya itu terletak pada karakter-karakter dalam cerita. Mereka tidak semenarik yang ingin film ini capai. Dalam film Argo (2012), kita melihat arahan Affleck sangat luar biasa dalam menyusun potongan-potongan cerita. However, dalam Live by Night, potongan-potongan cerita tersebut terlihat jelas letaknya mau kemana, dan film ini benar-benar enggak tahu cara yang menarik buat nampilin gimana potongan-potongan tersebut menyatu. Akibatnya, kita merasakan cerita menjadi tidak fokus. It cannot really find it’s footing. Untuk sebagian besar waktu, terasa sekali oleh kita perjuangan film ini membuat elemen-elemen ceritanya menjadi compelling, and it’s not make a very interesting watching experience.

Malam membuat bintang-bintang bersinar. Aku suka mengaitkan kalimat tersebut dengan apa yang terjadi kepada tokoh-tokoh film ini. Particularly, Joe dan Loretta. Mereka berdua sama-sama anak polisi, yang satu jadi tentara – satunya lagi pergi Hollywood menjadi aktris. Dan sekembalinya dari ‘medan’ masing-masing, mereka sudah menjadi orang yang berbeda. Like, jika bintang adalah mereka dan malam adalah dunia kelam yang mereka jalani, so yea mereka mulai menunjukkan sinarnya. Joe took pride pada pandangannya bahwa melanggar hukum bukan berarti kriminal. Loretta menjadi religious dan berdakwah melawan alkohol dan judi dan dosa-dosa yang ia lihat. Mereka memilih malam karena pada waktu itu mereka bisa truly ‘bersinar’. Ada TEMA YANG MENYANGKUT MORAL DAN KEMUNAFIKAN yang berusaha untuk diangkat. Namun somehow, durasi 120 menitan tampak belum cukup untuk film ini as the story malah jadi numpuk gak jelas. Pada akhirnya, karakter- karakter film ini jatohnya hambar. Sisi menarik mereka either got lost atau berakhir abrupt sebagai device cerita.

Kerja di malam hari, tidur di siang hari. Kurasa berat, kurasa berat, beban hidupkuu

 

Secara teknis, ini bukan film yang jelek. Production value film ini top-notch banget. Directorial effort dari Affleck sekali lagi menunjukkan kebolehannya. Sekuens aksinya bikin greget, scoring yang really great. Semua pemain memberikan penampilan yang jempolan. Hanya saja, cerita yang ia sajikan sungguh terasa kempis tho. It looks tight namun hampa begitu dialami. Dull. Dua bagian terpenting cerita film ini, it’s just not that intriguing. Struggle banget untuk menyuguhkan cerita yang compelling. Sayang sekali, film ini definitely adalah karya terburuk dari Ben Affleck sebagai seorang sutradara.
The Palace of Wisdom gives 6 gold stars out of 10 for LIVE BY NIGHT

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 
We? We be the judge.