HEREDITARY Review

“Free will is an illusion.”

 

 

Mengarungi hidup yang penuh konsekuensi, kita seperti berjalan pada sebuah jalur yang begitu banyak percabangan. Setiap kelokan mengarah ke lebih banyak persimpangan. Jika menemui jalan buntu, kita balik dan mengulang kembali dari bagian mana kita salah mengambil jalan. Kita merasa bersalah, merasa berhasil, kecewa, terutama kita bangga kita punya pilihan. Kita bertanggung jawab terhadap arah yang kita pilih. Ini membuat kita percaya bahwa kita punya kehendak pribadi, bahwa kita mengendalikan sendiri jalan hidup kita – bahkan jika kita percaya pada konsep takdir.

Ada tujuan yang sudah dipilih untuk kita semua, terserah kita lah untuk bagaimana mencapainya. Tapi jika demikian, bukankah itu berarti kita tidak punya kehendak pribadi? Apakah masih bisa disebut kehendak jika sedari awal kita sudah diassign untuk suatu tujuan, untuk suatu rencana? Jalan-jalan bercabang itu, kita hanya menapaki – tidak membuatnya? Apakah free will benar-benar hanyalah ilusi – apakah kita ini tak lebih dari tikus-tikus yang berlarian di dalam labirin yang dibuat oleh seorang ilmuwan gila?

 

Keluarga Graham, dalam kasus film Hereditary, tak ubahnya boneka diorama dalam rumah mini yang dibuat oleh Annie Graham sebagai seorang perancang miniatur bangunan. Film tak bisa lebih tepat lagi dalam mengambil metafora pekerjaannya terhadap apa yang terjadi kepada keluarga. Lewat adegan pembuka yang benar-benar creepy – walaupun tak ada penampakan hantu yang kelihatan – kita diperlihatkan pemandangan ruang kerja yang penuh rumah boneka. Kamera ngezoom ke salah satu ruangan, like, kita dibawa masuk ke kamar, untuk kemudian kamarnya ternyata berisi orang beneran, dan kita bertemu dengan anak tertua dan suami Annie; Peter yang masih remaja dan Steve yang tampak penuh pikiran. Dengan segera kita kenalan sama sisa anggota keluarga yang lain, ada si bungsu Charlie; anak cewek ini tampak kayak orang tua dengan lingkaran mata yang mencekung. Dan tentu saja Annie sendiri. Mereka tengah bersiap mengurusi acara pemakaman nenek yang baru saja meninggal. Toh, Annie mengakui dia tidak betulan merasa sedih, karena ia tak pernah dekat dengan sosok sang ibu. Karena sang ibu punya sifat yang tak bisa ditebak dan semacam ‘pengaruh’ buruk. Garis keluarga Annie dipenuhi oleh penyakit-penyakit kejiwaan yang berujung pada kematian ganjil. Namun ‘warisan’ itu tetap tak bisa diputus, ia tetap diturunkan. Annie mulai merasakan penampakan yang tak biasa, anggota keluarga yang lain juga mulai kena imbasnya. Satu tragedi kembali terjadi, kita akan menyaksikan keluarga ini satu persatu terjatuh ke dalam jurang  kegilaan. Turunan darah memang tak bisa ditolak. Either that, atau memang keluarga ini adalah keluarga boneka yang tak punya kendali atas nasib sendiri, mereka hanya ada untuk dimainkan oleh seorang dalang dalam sebuah rencana mengerikan yang besar.

“D-O-L-L-H-O-U-S-E I see things that nobody else sees”

 

Dari adegan pembuka tadi, kita bisa segera tahu bahwa film ini ditangani oleh pembuat film yang benar-benar punya passion dan peduli sama cerita yang ia punya. Ari Aster baru  tiga-puluh-satu tahun, dan ini malahan ‘baru’ film pertamanya. Ini debutnya sebagai sutradara film panjang.Aku yakin tidak ada pecinta film yang tidak terinspirasi oleh fakta ini. I want to be just like him; berani bikin film yang berbobot dan penuh passion. Namanya juga sama-sama Ari. Ngomongin soal free will? Yea kupikir sutradara ini baru saja membuktikan setidaknya ia berjuang untuk mewujudkan kehendaknya.

Tidak ada horror mainstream yang diolah penuh jiwa seperti Hereditary. I mean, beginilah Pengabdi Setan (2017) semestinya dibuat. Kedua film ini punya tema yang sama, ada sangkut pautnya dengan cult alias sekte terlarang. Hereditary, bedanya, berani untuk mengambil akhir yang definitive. Ceritanya tersimpulkan dengan arc tokoh-tokoh dibuat melingkar menutup. Misteri dan mitos seputar sektenya pun benar-benar dibangun. Film ini membuat kita takut pada apa yang terjadi pada tokoh-tokohnya, bukan hanya sekedar takut kepada sosok hantunya. Hereditary menggarap dengan berani dan penuh jiwa seni, dengan tidak mengorbankan keutuhan. Semuanya bekerja sama membentuk sebuah tontonan yang aku gak nyesel membayar harga weekend. Malahan aku pengen nonton lagi meskipun nanti harganya naik lagi menjadi dua kali lipat.

Hereditary paham tidak mesti bergantung kepada penampakan dan hantu yang nyeremin. Tentu, film ini punya unsur supranatural yang kental. Penampakan di tempat gelap, suara-suara yang seolah berasal dari sebelah kita, imaji yang bikin bulu kuduk berdiri, hal-hal ganjil, juga darah dan potongan kepala yang menggelinding – bahkan nekat di-close up untuk nyaris satu menit. Tapi Ari Aster adalah orang yang mengerti gimana cara kerja imajinasi. Apa yang tidak kita lihat akan berkali lipat jauh lebih menyeramkan, karena film ini membiarkan kita untuk menyipitkan mata memandang latar yang diblur ataupun bayangan di pojok wide shot dan menerjemahkan sendiri di dalam kepala apa yang sedang kita lihat. Tak jarang pula kita melakukan hal tersebut dengan menahan napas, siap-siap dikagetkan dengan musik keras. Setiap adegan seramnya dirancang untuk membendung ketakutan dan jerit kita, tapi film tidak membiarkan kita segampang itu untuk melepaskannya. Film dengan kejam menahan ketakutan, kewaspadaan, antisipasi kita sampai akhir banget. Bahkan ketika film usai pun, kita akan masih terus terbawa cemas dan masih terguncang oleh ceritanya.

Aku tak pernah menyangka bunyi “Klok” bisa membuat permen karetku tertelan

 

Bicara horor, berarti kita membicarakan hal yang subjektif. Beberapa hal yang menakutkan bagi orang lain, bisa saja menggemaskan bagi kita, atau sebaliknya. Kecuali kecoak. Boleh saja kalau kalian termasuk orang yang lebih takut sama jumpscare, penampakan yang ngagetin, kalian lebih suka nonton horor yang actually setannya muncul gamblang di depan kamera disertai musik menggetarkan sukma gendang telinga (gendang telinga ada sukmanya gak sih, hahaha) jadi kalian bisa menebak dan teriak barengan teman-teman. Atau mungkin kalian lebih suka nonton horor yang seperti Hereditary, di mana kita akan jarang-jarang melihat hantu, kalian lebih suka merasakan nuansa mencekam yang ditimbulkan, seperti pada Hereditary ini kita akan merasakan kepowerlessan para tokohnya yang semakin retak hubungan dalam upaya berurusan dengan peristiwa mengerikan  yang menimpa mereka. Poinnya adalah, Hereditary bisa saja tidak terasa semenyeramkan itu buat sebagian orang. Apalagi film ini mempercayakan hatinya kepada drama dan tidak segampang itu menghamparkan misteri. Banyak misdirection di babak kedua yang membuat kita tak pasti film ini bergerak ke arah mana, hasil akhirnya tetap dibuat tersembunyi di dalam kabut. Kita dibuat tak tahu harus mengharapkan apa.

Meskipun jika ternyata buat kalian film ini kurang seram, aku yakin kita semua bisa terkonek dengan apa yang dialami oleh para tokoh. Karena pada drama tragedi keluargalah sebenarnya letak hati film ini. Pada kejadian yang benar-benar bisa terjadi pada kita di dunia nyata. Ada istri yang begitu terguncang dan takut akan masa lalu keluarganya, dia ingin lari dan membawa orang-orang tersayangnya jauh-jauh dari masa lalu itu, tapi pada akhirnya dia malah melukai orang-orang yang cintai. Ada bapak yang berusaha tetap tegar (dan waras) karena dia tahu dia adalah kepala keluarga dan keselamatan keluarga bergantung di pundaknya. Ada anak yang menyaksikan perbuatannya berujung pada suatu musibah sehingga ia tidak tahu harus menyalahkan siapa. Rasa bersalah dan tanggung jawab seperti yang mereka alami tentu saja juga kita rasakan. Menyadari kita tidak benar-benar punya kontrol atasnya sejujurnya adalah hal yang begitu menyeramkan buatku.

Tidak banyak dari kita yang mau begitu saja mengakui apa yang sudah kita lakukan. Mencari yang bisa dipersalahkan adalah langkah yang lebih mudah.

 

 

Dari awal sampai akhir film menyerang kita dengan gambar-gambar dan efek suara yang mengerikan. Penampilan akting yang luar biasalah yang bakal membimbing kita melewati semua itu. Alex Wolff menunjukkan determinasinya dengan membenturkan hidungnya ke meja dalam sebuah adegan yang buatku keren; Peter mengambil alih kendali dalam kelas yang sama ketika dia belajar tentang manusia arogan lantaran masih berusaha meski sudah melihat tanda-tanda yang sudah digariskan. Aktor cilik Milly Saphiro benar-benar sold her role sebagai Charlie, bocah yang disturbing. Dan dia melakukan itu dengan peran yang tak banyak berkata-kata. Permainan ekspresi dan gestur yang menakjubkan. Ultimately, aku berharap Oscar kembali berani untuk mengapresiasi film horor karena penampilan Toni Collette sebagai Annie sungguh akan sia-sia jika tidak diganjar penghargaan. Dia ditantang untuk melakukan banyak emosi dalam satu adegan, dan sesungguhnya jika ini dilakukan ngasal maka Annie akan jadi over-the-top. Toni berhasil menemukan titik seimbang dalam permainan perannya, dia melakukan perubahan dari normal menjadi ‘orang gila’ dengan sangat fenomenal. Dua babak terakhir benar-benar total ia mainkan sebagai ibu yang sudah melewati batas kesabaran, break down karakternya sangat mengagumkan.

Toni membuat karakternya menjadi begitu menarik sehingga ketika dia hanya bicara tentang eksposisi, kita dibuat enggak bosan. Paparan cerita, dialog yang menjelaskan backstory dan misteri, nyaris merupakan aspek yang tidak bisa dihindari dalam film horor. Dalam Hereditary, begitu Annie mulai cerita tentang apa yang terjadi kepada keluarga ibunya di masa lalu, aku tidak menguap, aku mendengarkan dengan tekun, sebab film sudah mengset karakter ini dengan amat baik. Aku peduli padanya, aku ingin tahu apa yang sudah terjadi kepadanya. Dan begitulah salah satu cara menceritakan elemen eksposisi yang benar; buat peduli dulu kepada tokoh yang menceritakannya, bikin ia layak untuk didengarkan.

 

 

 

 

Enggak gampang menemukan formula yang seimbang antara tontonan mainstream dan konsumsi festival. Salah satu horor terbaik tahun ini, ia adalah contoh langka yang berhasil melakukannya. Dia bermain di lingkungan trope-trope mainstream, ada penampakan dan sekte, dan aspek-aspek lain yang sudah pernah diangkat oleh film-film lain. Penanganannya yang penuh passion dan idealisme lah yang membuat film ini stand out. Treatment yang artsy, yang tidak pernah kita lihat sebelumnya. Tragedi keluarga yang diolah menjadi drama yang dapat direlasikan oleh banyak orang yang menjadi pusat film, membuatnya juga kokoh sebagai film art house. Karena horor yang kita dapat di dalamnya sungguh bisa balik terjadi kepada keluarga kita. Inilah yang membuatnya menjadi menyeramkan, karena begitu kejadian kita tahu kita tidak akan bisa lari darinya.
The Palace of Wisdom gives 8.5 gold stars out of 10 for HEREDITARY.

 

 

That’s all we have for now.
Mengenai apa yang sebenarnya terjadi kepada keluarga Graham, tentu saja aku punya teori. Tapi aku tidak ingin merusak pengalaman kalian menemukan sendiri teori ataupun menghalangi kalian yang ingin memberanikan diri menontonnya. Jadi, aku tidak menuliskannya di review. Kalo kalian mau diskusi, kita bisa melakukannya di kolom komen.

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

LOVE, SIMON Review

“Everyone can find love.”

 

 

Simon punya rahasia.

Iya, Simon yang hidupnya bahagia itu. Yang punya ayah dan ibu yang suka menggoda, tapi sebagai tanda peduli dan sayang kepadanya. Yang punya adik cewek hobi masak dan seneng menjadikan Simon sebagai kelinci percobaan resep-resep ‘maut’nya. Simon yang kalo di sekolah selalu terlihat barengan empat sohib karibnya ke mana-mana. Makanya, gak ada yang nyangka kalo si Simon menyimpan satu ketakutan besar.

Rahasia besar Simon menyangkut reputasinya sebagai anak remaja. Dia enggak bisa curhat begitu saja karena, bayangkan jika orangtuanya tahu.. wuih, Simon yakin kedua orangtuanya akan oke saja mengetahui rahasia tersebut, mereka tak akan marah. Simon paham kedua orangtuanya berpikiran cukup terbuka sehingga tidak akan menghukumnya. Apalagi adiknya, dan teman-teman, Simon pokoknya tahu deh  mereka semua pasti akan mengerti. Hanya saja Simon takut dia akan diperlakukan berbeda, gimana orang-orang di sekitarnya akan membuatnya merasa seperti Simon yang berbeda. Jadi, ketika dalam dunia maya, Simon menemukan satu orang di sekolahnya yang punya rahasia serupa – yang juga punya ketakutan yang senasib dengannya, Simon segera reach out ke pengirim pesan misterius tersebut. Mereka pun akhirnya saling berkorespondensi dengan menggunakan nama samaran.

enggak ada orang normal yang menggunakan nama aslinya saat chatting random di internet

 

Keakraban dan rasa cinta mekar di antara keduanya, film dengan indah dan hangat menumbuhkan rasa tersebut dari rasa saling peduli, dari gimana Simon dan sahabat ‘pena elektronik’nya saling melengkapi dan mendukung satu sama lain. Koneksi di antara mereka jauh melebihi sekadar koneksi internet, eh salah maksudku koneksi perasaan yang bisa dibuat-buat. Adalah koneksi hati dan jiwa yang berperan di sini. Begitu nyata senyata-nyatanya. Rasa cinta Simon memuncak, dia butuh untuk mengetahui siapa yang selama ini membalas keluh kesah dan mengerti ketakutannya. Salah satu aspek yang membuat film yang diadaptasi dari buku karangan Becky Albertalli menarik adalah karena pada denyut nadinya, film ini membahas tentang hal yang bisa direlasikan oleh banyak orang mengenai pergaulan dan jati diri. Melihat Simon mencoba mencari tahu, menerka-nerka, dan salah – semua usaha subtil Simon itu adalah adegan-adegan yang hebat, memberikan ELEMEN INVESTIGASI yang sama sekali tidak kuharapkan ada pada film ini.

Karena sejujurnya aku tidak tahu apa-apa mengenai cerita film ini. Ada bukunya saja aku baru ngeh setelah lihat internet. Aku nonton karena ada Hannah Baker main di sini. Ketika cerita dibuka dengan Simon menarasikan gimana ada rahasia besar di balik hidup normalnya, instantly I was hooked.  Keren sekali gimana film menuliskan, gimana Simon bragging about dia sama seperti kita, padahal jelas-jelas rumahnya beda, adiknya bukan sebangsa titisan iblis kayak adik-adikku, dan rahasia Simon semakin membuatnya berbeda denganku. Kita adalah orang yang dianggap default oleh Simon. Di sinilah letak kepintaran film. Bukan apa rahasia Simon yang membuat kita merasa dekat dan terhubung dengannya, melainkan fakta bahwa kita semua, pada suatu waktu di hidup kita, menyimpan rahasia yang kita takut orang lain mengetahuinya.

Kalo adikku, makanannya pasti dikasih racun

 

Jika kalian pernah berjuang semasa sekolah, mencoba bilang cinta ke teman yang kalian suka hanya saja kalian tak cukup berani, atau jika kalian mengaku kalian takut keadaannya makin runyam – kalian tidak bisa lagi berteman dengannya, atau jika kalian pernah dirundung di  lingkungan sekolah. Film ini punya hal yang dapat diapresiasi oleh banyak orang, yang membuat film ini menjadi punya nilai appeal yang tinggi selain karena permainan cast yang cakep dan arahan yang oke punya.

 

Sudah bukan rahasia film drama remaja tak ayal berusuan dengan cinta, bahwa romantisme menjadi hal yang begitu penting buat remaja. Love, Simon pun begitu. Akan tetapi, hal menakjubkan yang dilakukannya sebagai film mainstream adalah sama sekali tidak memasukkan trope-trope lumrah, yang menurunkan nilai romansa itu sendiri seperti pada film remaja kebanyakan. Tidak setiap lima menit sekali kita melihat Simon dan teman-temannya mengecek sosial media, komen-komenan facebook, atau facetime, apalagi bertik-tok ria. Tidak ada dialog-dialog gombal yang mengincar penonton untuk berhihihi kayak kuntilanak lagi puber. Film mengambil waktu untuk ngebuild setiap perbincangan. Email-emailan yang dilakukan oleh Simon dengan Blue diberikan bobot dan actually berpengaruh terhadap stake yakni putusnya hubungan pertemanan. Percakapan para remaja benar-benar menunjukkan betapa mereka adalah makhluk sensitif haus perhatian, namun juga penuh ironi dan pancingan. “Aku adalah orang yang ditakdirkan untuk terlalu peduli kepada seseorang hingga perasaan tersebut membunuhku,” begitu kata salah satunya. Tidak semua adegan film ini dibentuk menjadi adegan gede yang dramatis yang membuat penonton menghela napas. Malahan, cerita terbendung sedemikian rupa sehingga kita baru akan  benar-benar bernapas di momen terakhir.

Salah satu rahasia yang menyebabkan film ini asik dan menantang untuk ditonton adalah betapa lucunya, karakter, dialog, dan situasi, yang dihadirkan. Namun kita tetap merasakan perasaan dan emosi yang kuat. Nick Robinson sepertinya baru saja menyuguhkan permainan peran terbaik sepanjang karirnya. Menyedihkannya begitu nyata dan meyakinkan, namun tidak kelewatan sehingga terasa over-the-top. Simon tidak meminta kita berbelas kasih kepadanya, ia tidak mengancam kita untuk bersimpati kepadanya. Film tidak pernah meminta kita menonton perjuangan Simon, dia terpaksa harus membohongi teman-temannya hanya karena dia takut untuk melakukan hal yang benar, dia bahkan tidak benar-benar tahu mana hal yang benar, supaya kita bisa kasihan kepadanya. Film hanya meminta kita untuk merasa dekat. Tidak ada satupun elemen dan aspek yang terasa dipaksakan. Bukan Simon seorang, setiap karakter punya sesuatu di dalam diri mereka yang bisa kita pahami, dan pada akhirnya akan membuat kita mengapresiasi tindakan dan pilihan yang mereka ambil. Atau yang terpaksa mereka ambil.

Well, kecuali ada dua tokoh yang tidak bisa kita apresiasi. Karena film hanya selenting saja membahas mereka berdua. Mereka berfungsi sebagai semacam antagonis, tukang bully yang suka gangguin anak-anak yang berbeda dari yang lain. Mereka melakukan hal-hal awful kepada Simon dan anak lain. Dan film hanya membahas segitu. Ada adegan mereka didisiplinkan oleh kepala sekolah gaul, dan semuanya menjadi baik-baik saja. I just think, porsi tokoh ini seharusnya mendapat lebih banyak perhatian. Sebab di dunia nyata – dan segala hal lain film ini terasa begitu otentik – masalah seperti ini bukan tidak mungkin dapat menyebabkan trauma yang mendalam kepada ‘Simon-Simon’ di luar sana. Mereka adalag bagian dari masalah, salah satu yang menyebabkan Simon overthinking keputusan untuk membuka rahasianya, dan untuk menyelesaikannya dengan semudah itu tampak seperti menyepelekan bahaya yang sebenarnya.

Tidak peduli siapa, cinta selalu ada untuk kita. Jika kita mau mencari. Jika kita mau membuka diri. Mungkin memang sulit, tapi kita akan selalu menemukan segalanya menjadi lebih mudah jika kita membuka diri, membiarkan orang untuk memahami kita, dan pada gilirannya kita akan memahami mereka juga.

 

 

 

 

 

Pssst, aku pikir aku tidak perlu beberin apa tepatnya rahasia Simon di sini kepada yang belum nonton filmnya. Yang harus diketahui, film ini patut disanjung karena hal terpenting pada film dalam situasi sosial dan budaya sekarang ialah seberapa banyak orang-orang merasa terwakili olehnya. Film ini, dalam kapasitasnya, menambah banyak jumlah tersebut. Ia menjadi suri teladan bagi penonton yang benar-benar seperti Simon, maupun sebagian yang lebih besar lagi yang pernah mengalami perjuangan serupa. Penuh pesona, gebrakannya sebagai film mainstream yang berani untuk come out benar luar biasa.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for LOVE, SIMON.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

JAILANGKUNG 2 Review

“The captain goes down with the ship.”

 

 

 

Jailangkung 2 dibuka dengan tak bisa lebih menarik lagi buatku yang sudah hopeless mengingat performa film pertamanya tahun lalu. Kita dibawa mundur ke Sumatera tahun 1948, ke sebuah anjungan kapal besar yang sedang rame orang-orang menaikkan muatan. Mengenyahkan pandangan menembus asap komputer – sebuah efek malas yang tidak diperlukan, jika mau harusnya mereka bikin asap beneran – maka kita akan melihat nama kapal yang bakal bikin para penggemar misteri dunia menggelinjang heboh. Kapal S.S. Ourang Medan. Kapal hantu ‘legendaris’ yang cerita tentangnya sudah barang tentu dikenal para pelaut di seluruh dunia. Diceritakan kapal ini ditemukan dengan seluruh awaknya mati dalam ekspresi ketakutan, sebelum akhirnya kapal tersebut terbakar dalam cara yang sama anehnya. Aku membaca tentang kapal ini beberapa tahun yang lalu dari blog Enigma, kalian bisa baca artikel lengkapnya di sini. Karena Jailangkung 2 menghadirkan misteri ini cukup mendetil, kecuali bagian lokasi yang disesuaikan meskipun gak begitu masuk akal. Tapi paling tidak film ini benar-benar menempel tentang kapal itu sesuai dengan mitos yang diberitakan, hingga ke pesan-pesan morsenya. So actually I was interested, sampai ke pertanyaan itu timbul; bagaimana cara mereka mengikat misteri kapal itu dengan mitos jailangkung yang menjadi tajuk utama cerita?

Jawabannya adalah, mereka tidak bisa.

Jailangkung 2 nyaris membahas tentang jailangkung itu sendiri. Film ini berusaha memasukkan begitu banyak misteri, tetapi mereka begitu tak mampu membangun cerita sehingga durasi yang hanya delapan-puluh-menit lebih sedikit saja terasa amat membosankan. Jailangkung 2 kembali mengambil Mati Anak sebagai entitas yang harus dikalahkan. Ceritanya langsung tancap gas menyambung film yang pertama. Dengan flashback yang menghighlight kejadian di film pertama, film berusaha membuat penonton yang nyasar ke bioskop menonton ini mengerti apa yang terjadi. Kita melihat Bella (Amanda Flawless… eh salah, Rawles) masih berkutat menjaga keutuhan keluarganya dengan mencemaskan sang ayah dan adik yang masih merindukan almarhumah ibu mereka. Kali ini rundung keluarga mereka ditambah oleh kakak Bella yang berperilaku aneh (aneh as in bisa memporakporandakan meja makan hanya dengan melotot) semenjak ia mengasuh anak-tanpa-ayah yang ia lahirkan di pekuburan pada episode cerita yang silam

Setelah melihat si bayi bertumbuh dengan cepat menjadi anak seusia adiknya, Bella lantas melakukan riset bersama pacar tersayang, Rama (Jefri Nichol kembali memerankan tokoh eksposisi yang tak punya tugas apa-apa selain membawa follower instagramnya yang bejibun untuk nonton) yang punya akses ke buku-buku klenik semacam ensiklopedia hantu. Si Mati Anak tentu saja tidak diterima di keluarga Bella. Stake datang dari adik Bella yang kesepian karena kakak-kakaknya sibuk sama hantu. Si adik yang ngikutin jejak sang ayah, terobses sama kernduan akan ibunya, main jailangkung dan kemudian hilang ke alam goib. To fix all of this occult problems, Bella dan Rama tetap membaca buku dan internet sampai menemukan informasi bahwa Mati Anak yang dituduh Bella jadi sumber semua ini bisa dikendalikan dengan sebuah mustika yang hilang. Masalah dari mustika yang hilang itu adalah, tidak ada yang tahu tempatnya di mana. Jadi, Bella menabrak seorang anak baru yang ternyata mengetahui di mana mereka bisa menemukan the same exact mustika yang mereka butuhkan tersebut. Yup, tak perlu jenius untuk bisa menebak, Bella dan Rama harus terjun ke dasar selat untuk mencari mustika yang jadi penyebab kapal S.S. Ourang Medan tenggelam.

saking berantakan, aku nonton nyaris jungkir balik kayak setannya

 

Sesungguhnya cerita Jailangkung 2 ini bisa saja menjadi menarik. Di tangan pembuat film yang lebih kompeten, Jailangkung 2 jelas akan berdurasi lebih panjang demi memfasilitasi elemen-elemen cerita yang ada dengan lebih baik, untuk mengembangkan tokoh-tokohnya, membuat mereka lebih dari sekedar di sana tanpa karakterisasi. Pembuat film yang peduli terhadap ceritanya tentu akan mengerti kakak Bella yang begitu terattach sama si anak setan akan bisa menjadi tokoh utama yang lebih layak. Pembuat film yang memegang teguh idealisme ceritanya sejatinya paham bahwa psikologis adik Bella yang pada satu adegan tampak creepy sekali main boneka sendirian sambil bertanya “Mana Ibumu? Mana ibumu?” akan memberikan sudut pandang dan penggalian cerita yang lebih menantang. Tapi tidak, film ini berpendapat lain. Mereka hanya peduli sama angka jumlah perolehan penonton, jadi tokoh dan fokus haruslah ke yang cakep, yang muda, yang lagi hits, dan punya jumlah penggemar aktif di sosial media yang banyak, meskipun tokoh-tokoh tersebut tidak diberikan bobot atau hal yang benar-benar make sense untuk dilakukan. Alih-alih menggali cerita dari drama yang berakar trauma, film mendudukkan kita di belakang Bella yang dikejar-kejar pasukan ghoul/demit kuburan. Beberapa adegannya aku akui serem, aku suka ama adegan di supermarket, namun semua kesereman tersebut terasa sia-sia, pointless, karena kejadian menyangkut tokoh-tokoh di rumahlah yang sebenarnya lebih berarti.

Seorang kapten tidak dibenarkan untuk duluan meninggalkan kapal yang tenggelam. Dia haruslah yang terakhir pergi, karena dia yang  bertanggungjawab atas tenggelamnya kapal. Kita bisa menarik perbandingan antara kapal dengan keluarga. Dalam kasus ini keluarga Bella sudah akan tenggelam karena masalah yang  bermula dari sang kapten, ayah mereka, bermain jailangkung. Mengetahui hal tersebut, Bella adalah penyelamat yang mampu bertindak di luar sang kapten; memastikan ‘kapal’ keluarga mereka tidak bermasalah sehingga bakal tenggelam lagi.

 

Isi film ini tak lain dan tak bukan adalah eksposisi dan kejadian seram yang pointless. Semua ‘petualangan’ mereka dibuat mudah. Tokoh paranormal, investigasi lewat internet, itu semua tak lebih dari device untuk maju cerita dengan begitu gampang. Permainan perannya begitu minimalis. Kemajuan dari film sebelumnya adalah Bella actually menjadi orang yang hit the last nail ke hantunya, tapi kejadiannya dibuat begitu gampang – tidak ada tantangan. Yang ada hanyalah twist yang semakin membuat kita teringat sama film Bayi Gaib: Bayi Tumbal Bayi Mati (2018) yang sama parahnya. Para pemain hanya perlu untuk pasang tampang cemas dan takut sepanjang waktu. Tapi aku mengerti. Kalo aku bermain di film seperti ini, aku pastinya juga akan merasa cemas terus menerus. Aku akan mencemaskan karirku, karena film ini sama sekali tidak membantu apa-apa untuk pemain-pemainnya.  Naskahnya tidak memberikan tantangan, tidak memberikan kesempatan. Ada alasannya pemain waras seperti Butet Kertaradjasa tidak muncul lagi di film ini. Tidak ada pengembangan karakter di sini. Hubungan Bella dan Rama hanya diperlihatkan sebatas mengikat gelang keberuntung sesaat sebelum mereka menyelam. Film berusaha menampilan sedikit tantangan cinta dari orang ketiga, tapi itupun terasa datar dan tampak film menyerah di tengah jalan.

doooo betapa romantis bakal satu masker berduaaa

 

Penulisannya begitu malas dan ngasal. Banyak sekali dialog yang membuatku tertawa terbahak-bahak. Untuk menyelamatkan kalian semua dari menonton film ini, berikut aku salin beberapa kutipan yang keluar dari mulut tokohnya:

“Papa enggak mau kamu mikirin urusan soal itu” – Pemborosan kalimat , Papaaaaa

“Buku ini menarik, Bell” / “Tentang apa?” / “Membahas salah satunya tentang Mati Anak” / “Kalo itu aku sudah tahu!” –Nice try, Ram. Nice try.

“Ambil obor itu dan alihkan perhatiannya” / “Tapi di sini enggak ada obor, Bu” / “Obor itu ada di tanganmu, Verdi” –Lah Ibu, ngasih obor aja belibet amat, mau membuat saya tampak bego ya?!

 

 

 

 

Film ini bagaikan kapal yang tenggelam. Namun tidak seperti S.S. Ourang Medan, film tenggelam dengan sebab yang kita ketahui. Sebab kaptennya tidak kompeten, namun begitu salut karena si kapten tidak meninggalkan kapalnya begitu saja. Masih kelihatan sisa-sisa perlawanan dari sang kapten berupa adegan-adegan dengan visual yang creepy. Akan tetapi, tentu alangkah baiknya lain kali sang kapten berani dengan tegas menolak untuk membawa kapalnya menuju nasib naas yang kita semua sudah bisa lihat.
The Palace of Wisdom gives 1 out of 10 gold stars for JAILANGKUNG 2.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

KUNTILANAK Review

Stepparents can be awesome because their love is a choice.

 

 

Bersetting di rumah asuhan yang interiornya dihiasi pajangan-pajangan antik, Kuntilanak berhasil mengejutkanku  – atau kita semua yang belum pernah menyaksikan trailernya – lewat tokoh utama ceritanya yang tak disangka-sangka. Anak kecil loh, dalam film horor. Manalagi film Indonesia yang berani melakukan itu, coba.

Dinda (Sandrinna Michelle diberikan kesempatan untuk membuktikan aktor cilik mampu bermain lebih dari sekedar korban yang perlu diselamatkan), tertua dari lima bocah yang diangkat anak oleh Mama Donna sejak setahun yang lalu, masih mengalami kesulitan untuk mengamini mereka semua sebagai sebuah keluarga. Padahal dia pengen banget, dia pengen punya keluarga, dia ingin berterimakasih kepada Donna. Dalam isaknya Dinda meminta maaf karena ia tidak tahu kenapa ia tidak bisa memanggil “Mama” kepada wanita tersebut. Gadis cilik ini pun berjanji bakal menganggap yang lain sebagai saudara. Pembuktian janjinya lantas tertantang saat sebuah cermin kuno dipasang di dalam rumah sebagai kejutan untuk Donna yang harus pergi ke Amerika. Suara aneh terdengar memanggil Dinda dan anak-anak yatim piatu tersebut tatkala malam. Nyanyian Lengsir Wengi berkumandang mengisi kediaman mereka. Yah, tahulah hal-hal serem yang dating sebagai penghantar penampakan kuntilanak mengerikan yang bermaksud untuk membawa mereka semua satu per satu ke dalam cermin.

kuntilanak sikap wewe gombel

 

Kuntilanak bermain dengan jejeran tokoh anak kecil yang asik. Film ini memberi kesempatan kepada tokoh anak-anak tersebut untuk mengambil keputusan sendiri. Ada yang hobi banget baca buku klenik, sehingga sedikit banyak ia mengerti tentang ‘musuh’ yang bakal mereka hadapi. Tingkah polah mereka semua dibuat sangat menggemaskan. Tentu saja, anak yang paling kecil, dapat dengan mudah memancing gelak tawa penonton, lewat kata-katanya yang kelewat dewasa maupun reaksinya yang polos. Film  berusaha mengeksplorasi hantu dari sudut pandang anak-anak. Mereka, layaknya anak kecil biasa, pengen beli mainan tapi gak punya uang. Jadi, mereka ikut sayembara yang diselenggarakan oleh acara horror di tv; motoin penampakan kuntilanak! Mereka berlima beneran pergi menyusur hutan, menuju rumah angker tempat asal cermin jahat yang dipajang di rumah mereka, dalam misi mulia mengambil potret kuntilanak. Mereka melakukan investigasi sendiri, mereka berusaha memanggil si hantu, tingkah mereka yang begitu innocent tak pelak terasa menyegarkan sekaligus juga menimbulkan rasa peduli kita kepada mereka. Kita tidak ingin mereka bernasib naas. We fear for them. Namun seringnya, kekhawatiran dan kecemasan itu berubah menjadi gelak tawa karena mereka begitu polos. “Kalau ketemu Kuntilanak, langsung difoto ya!” Begitu ringannya perintah salah satu anak saat Dinda berpencar, seolah melihat Kuntilanak itu segampang melihat kancil di hutan saja.

Tapinya lagi, segala kepolosan yang jadi lucu jika kita melihatnya dalam sudut pandang anak-anak benar-benar berjalan dalam garis tipis batas kebegoan. Ada satu adegan ketika Ambar, anak yang paling kecil diculik, dan Dinda melawan sang hantu dengan basically bilang, kami keluarga, culik satu culik semua. Ketika tiba saatnya memperlihatkan tokoh dewasa, barulah segala unsur lucu itu hilang dan film berubah menjadi total bego. Cerita memperkenalkan kita pada dua tokoh dewasa selain Donna.

Yang pertama ada Aurelie Moeremans yang berperan sebagai Lydia, yang dimintai tolong oleh Donna untuk menjaga anak-anak selama ia pergi.  Dan Lydia ini adalah baby sitter paling tak kompeten, paling parah dalam perkerjaannya, di seluruh dunia. Sedari awal saja sudah diungkap dia pernah kepergok pacaran oleh anak-anak. Percakapan mereka membuat kita berasumsi Lydia sedang kedapatan berciuman atau sesuatu yang lebih parah. Kebiasaan dia berpacaran ini lantas berlanjut dengan kita melihat adegan Dinda dan anak-anak asuhan literally bikin rencana untuk menggagalkan Lydia pacaran ketika menjaga mereka. Dan ngomong-ngomong soal menjaga, tidak sekalipun kita melihat Lydia melaksanakan tugasnya itu. Dia selalu absen di adegan-adegan untuk pengembangan karakter. Kita hanya melihat anak-anak. Di momen penting, Lydia malah pamit untuk kuliah sampe sore, meninggalkan Dinda cs di rumah sendirian. Membuat semakin parah adalah Lydia tidak pernah tampak peduli sama anak-anak ini. Dia tidak percaya sama cerita mereka tentang penampakan kuntilanak. Suatu plot poin yang sudah usang di dalam genre horror; orang dewasa yang tidak percaya kepada anak-anak. Dan ini membuat tokoh Lydia menjadi salah satu tokoh paling tak berguna yang pernah kutonton.

Tokoh pacar Lydia juga tak kalah tiada bergunanya. Cowok ini bekerja sebagai host acara televisi yang menyelidiki tempat-tempat angker. Dalam suatu episode acaranya lah, dia melihat cermin kuno dan  ia mengetahui tempat itu santer sebagai sarang kuntilanak, namun dengan sengaja membawa benda tersebut ke rumah Donna. Melihat tindakannya itu, aku bahkan tidak yakin tokoh ini tahu satu ditambah satu jawabannya sama dengan dua.

cermin tarsah versi horror

 

Aku mencoba untuk melihat film ini dalam tingkatan yang lebih dalam. Clearly, film ini bicara tentang keluarga, khususnya orangtua. Meskipun mungkin bagi sebagian besar kita keberadaan ibu dan ayah tampak sepele, namun tidak semua orang punya ibu dan ayah. Tokoh-tokoh dalam film ini either yatim, atau piatu, atau bahkan keduanya. Kuntilanak menggambarkan dengan caranya sendiri bagaimana ketiadaan sosok ibu bisa begitu mengguncang keluarga. It’s hard, bagi sang ayah, apalagi buat sang anak.

Bocah-bocah malang korban kuntilanak itu, mereka cuma ingin bersama dengan ibu. Satu hal yang perlu diingat adalah ketika kita mencari pengganti ibu atau orangtua, bukan berarti kita benar-benar menukar posisi mereka. Tak perlu khawatir kita tidak bisa menumbuhkan cinta, karena if anything, cinta yang ada bisa saja tumbuh lebih besar, karena ini adalah cinta yang kita pilih.

 

Aku bukan ahli dunia perhantuan atau apa, aku tidak dalam kapasitas bisa mengatakan film ini kurang riset atau gimana, namun aku merasa sedikit ganjil terhadap mitos kuntilanak yang diceritakan. Kuntilanak adalah jenis hantu yang paling aku takuti, like, kalo lagi mimpi buruk pasti tak jauh dari aku diuber-uber sama kuntilanak yang ketawa ngikik bilang bacaan ayat-ayat kursiku enggak mempan. Serius deh, bahkan mengetik namanya saat nulis ulasan ini aja aku merinding disko sendiri. Jadi, mendengar nama si kunti disebut dengan bebas, berkali-kali oleh anak kecil di film rasanya sedikit lucu, membuatku berjengit sambil geli-geli sendiri. Dan aku tidak pernah tahu, kuntilanak suka menculik anak-anak, film ini pun tidak menjelaskan motivasi di balik si hantu. Kita tidak mendapat gambaran dari cerita latar atau asal-usul cermin dan penghuninya itu. Film tampak mengangkat mitos kuntilanak dari tanah Jawa, lengkap dengan pakaian adat dan lagu Lengisr Wengi, juga ada paku di puncak kepala. Tapi aku tidak merasa penggalian mitos dan motivasi karakter utama benar-benar menyatu dengan klop dan berjalan paralel.

Film tampak seperti membuat aturan main sendiri. Misalnya pada adegan ending, berkaitan dengan hal yang dilakukan oleh Dinda untuk mengalahkan kuntilanak. I was led to believe, tokoh Dinda akan berkembang menjadi anak yang kesulitan mengakui pengganti ibunya ke semacam membuat sosok ibu bagi dirinya sendiri. Yang jika dikaitkan dengan mitos kuntilanak dan pakunya, aku mengira Dinda akan mendapat ibu baru berupa kuntilanak yang sudah ia ‘jinakkan’. Film sayangnya tidak jelas dalam membahas hal ini. Kita melihat cerita ditutup dengan foto keluarga yang di-close up, tapi aku tidak menemukan keanehan pada mama yang ada pada foto tersebut. Pertanyaannya adalah apakah mama di situ adalah mama kuntilanak, atau mama Donna yang sudah kembali dari Amerika. Menurutku film butuh paling enggak satu adegan yang menunjukkan bagaimana nasib mama Donna, sebab setelah kepergiannya, tokoh ini tidak ada pembahasan lagi.

 

 

Ini adalah salah satu dari film horror Indonesia belakangan ini yang tampil lebih baik (walaupun itu bukan exactly sebuah prestasi), dia mengolah tokoh dan elemen dengan cukup detil dan menutup. Selera humor pembuatnya jelas tinggi, juga keberaniannya mengangkat tokoh utama anak kecil dalam sajian horor. I think kekurangan film ini mainly datang dari penceritaan yang sedikit terlalu melebar. Ada banyak bagian yang mestinya dihilangkan saja; seperti bagian mimpi dua kali, ataupun jumpscare yang melibatkan kucing hitam yang sama dua kali. Menurutku cerita ini bisa dibuat lebih ketat dan terarah, misalnya dengan memulainya dari perburuan foto kuntilanak oleh para anak kecil, terus kemudian berkembang menjadi kita mengenal siapa mereka, dan apa yang harus mereka lakukan. Tone ceritanya agak sedikit kurang bercampur, setelah kita melihat adegan berdarah di awal, cerita menjadi penuh efek suara-suara lucu untuk mengangkat nuansa kocak dan kekanakan. Desain hantunya pun tampak terlalu generik, padahal film ini tampak lumayan dari segi artistik. Mestinya mereka bisa menguarkan gaya sendiri, enggak harus bercermin – apalagi di cermin setan – dari gaya film yang sudah-sudah.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for KUNTILANAK.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

OCEAN’S 8 Review

“Let something be its own thing”

 

 

Sejujurnya aku ngeri. Aku tidak akan pernah bisa mengerti sejauh mana cewek rela terjun demi mendapatkan apa yang mereka mau – dalam kasus Debbie Ocean, ingin mengambinghitamkan cowok yag menjebloskannya ke penjara. Maksudku, tentu kita sukar sekali misahin unsur feminisme pada jaman kekinian, semuanya tentang pemberdayaan sekarang ini; namun Ocean’s 8 yang notabene adalah versi cewek dari Ocean’s Eleven tanpa tedeng aling-aling memperlihatkan tokoh-tokohnya memanfaatkan ketidaksamarataan gender sebagai senjata utama. “Cowok diperhatikan orang, cewek enggak.” kurang lebih begitu kata Debbie yang merupakan adik dari Danny dari tokoh utama trilogi asalnya. “untuk sekali ini kita ingin semua orang tidak memperhatikan kita” dia menutup rapat rencana perampokan permata geng cewek mereka, dengan isyarat keras kenapa tidak ada laki-laki di dalamnya.

Bergantung kepada sikap kesatria para pria yang segan masuk ke dalam kamar mandi wanitalah, Debbie merancang rencana perampokan permata di acara Met Gala itu dari bilik sel isolasi saat masih di dalam penjara. Ocean’s 8 bercerita dengan mengambil sudut pandang seorang wanita yang di dalam dirinya sudah mengalir darah penipu ulung. Yang tentu saja diback-up dengan kemampuan infiltrasi, penyamaran, dan berbahasa yang luar biasa. Dengan cepat kita dibuat tahu sejempolan apa kehebatan si Debbie ini. Dijual sebagai spin-off, sesungguhnya film ini bertindak sebagai sekuel dari trilogi rebootan filmnya Frank Sinatra; ceritany merupakan kelanjutan dari timeline cerita garapan Steven Sodenbergh, bertempat di ‘dunia’yang sama, dan Ocean’s 8 berhasil setidaknya mengimbangi trilogi tersebut dalam segi gaya dan keasyikan menonton.

Bukan karena keglamoran dan hingar bingar pesta dengan segala perhiasannya yang membuat mereka tertarik untuk melakukan perampokan berencana, melainkan karena mereka tahu persis bagaimana perangkap feminisme dalam dunia glamor itu bekerja di dunia nyata

 

 

Semua hal pada film ini, mulai dari perencanaan hingga actual heist – bahkan aftermath nya pun tampak sangat mewah. Dari kacamata sutradara Gary Ross, kita bisa paham kenapa film ini punya kepentingan untuk tampil ngepas ama trilogi pendahulunya. Jika kita menonton semua film dalam franchise ini berurutan, kita tidak akan menemukan ketimpangan yang mencolok. Karena dia benar-benar bekerja dengan mengikuti formula yang sudah ada. Keasyikan menonton film ini terutama datang dari jajaran castnya, obviously. Hampir-hampir mereka semua adalah papan atas Hollywood. Sandra Bullock dan Cate Blanchett begitu luar biasa charming dan fantastis. Chemistry para pemain meyakinkan sekali, tidak ada titik lemah dalam departemen akting. Mereka semua tampak fabulous dari segi akting maupun penampakan. I mean, wardrobe film ini benar-benar niat , seperti menyaksikan fashion show yang berselera tinggi. Anne Hathaway cakep banget, aku suka melihat duonya dengan tokoh Helena Bonham Carter di sini. Tadinya yang menghawatirkan buatku adalah Rihanna, karena dia yang punya jam terbang akting yang paling kurang di antara nama gede yang lain. Namun untungnya film tampak mengerti akan hal tersebut, jadi mereka memainkan Rihanna ke dalam peran yang tepat; tokohnya adalah seorang hacker jalanan yang gak suka banyak bicara. Rihanna sukses memerankannya, dia tidak mewujudkan kekhawatiranku menjadi kenyataan. Aku sudah suka Sarah Paulson sejak American Horror Story season 2, dan setiap kali dia tampil di layar dia membawa rasa bangga dan tidak pernah mengecewakan.

bisa jadi referensi baju baru abis lebaran nih buat cewek-cewek hihi

 

 

Segala kecantikan, keglamoran, dan kekerenan dan keseruan teaming up tersebut tampaknya digunakan untuk membuat mata kita silau. Untuk mengelabui kita dari ‘perampokan’ sebenarnya yang dilakukan oleh film. Aku enggak membenci, malahan sangat terhibur olehnya, tapi fakta bahwa film ini sesungguhnya tidak menawarkan apa-apa yang baru di baliknya – tidak ada kepentingan sepertinya selain untuk meneruskan franchise sukses – membuatku tak tanggung-tanggung kecewa. Apa yang mestinya sebuah lanjutan, dengan gimmick gender flipping dan semua itu, malah terasa tak lebih dari sebagai sebuah remake. Film ini meniru apa-apa yang dilakukan Soderbergh pada Ocean’s Eleven (2001) nyaris beat per beat. Lihat saja adegan pembukanya; Sandra Bullock menghadap kamera, ia sedang ditanyai mengenai apa yang akan ia lakukan jika dibebaskan oleh petugas kepolisian yang hanya kita dengar suaranya, persis seperti pada film pertama. Ocean’s 8 tidak tampak berusaha menjadi film sendiri, mereka basically mengembangkan film ini dari kerangka poin cerita yang sama dengan film pertama, hanya mengganti pemeran pria dengan wanita. Menukar uang dengan permata.

Ada banyak teknik zoom dan wide shot panjang sama seperti yang dilakukan Soderbergh. Meskipun teknik demikian bukan semata cap dagang Soderbergh, tapi mengingat film ini adalah produk keempat dari sebuah franchise, kita dibuat untuk mau tak mau melihat bagaimana film ini begitu keras berusaha untuk tampil mengikuti alih-alih menjadi diri sendiri. Jika kita punya perombakan besar-besaran, dengan cast dan bahkan crew yang sudah begitu berbeda, membuat hasil akhirnya sebagai produk yang gitu-gitu aja buatku tak bukan adalah sebuah kesia-siaan. Paling enggak, seharusnya mereka membuat film ini tidak sedemikian gampang untuk dibandingkan dengan film yang pertama – terlebih dengan segala versi cowok dan versi cewek ini.

Sekuen perampokan permata di Met Gala memang akan selalu seru, namun tidak disuguhkan sesuatu yang baru. Bahkan tidak ada stake yang benar-benar membuat kita peduli di sana. Kita tahu mereka akan berhasil, kita hanya duduk di sana ngikutin dengan merasa senang. Seperti yang sudah kita rasakan berkali-kali. Akan jauh lebih menarik jika ada intensitas dalam sekuen tersebut ketimbang sekadar melihat orang berseliweran sambil tersenyum berahasia dan sesekali melihat kameo bintang-bintang. Film ini kurang bumbu penjahat yang menyakinkan, halangan yang terasa benar-benar mampu untuk menggagalkan rencana mereka. Semuanya tampak begitu gampang buat mereka, dan di titik ini aku udah enggak begitu pasti entah hal hal tersebut dikarenakan tokohnya memang dibuat terlalu pinter atau filmnya sendiri yang dibuat dalam mode easy karena tokoh-tokohnya cewek semua.

atau mungkin pembuat filmnya memang ingin film ini di-ignore seperti kata Debbie

 

Sebuah film spin-off atau sekuel sebaiknya berani untuk digarap menjadi berdiri sendiri, tidak lantas meniru. Sepertinya memang kita harus membiarkan sesuatu menjadi dirinya sendiri. Karena semua udah ada tempatnya masing-masing. Cewek ya jadi cewek aja, cowok pun sebaiknya jadi cowok aja. Jangan jadi sesuatu yang bukan diri kita.

 

 

 

Setiap kali aku nonton film kayak gini, rasanya selalu aneh, lantaran ini sebenarnya termasuk dalam film yang susah dikategorikan ke dalam rating angka. Film ini dibuat dengan estetika yang benar; strukturnya enggak ngaco, pemain-pemainnya bekerja dengan baik dan luar biasa meyakinkan. Bahkan penampilan mereka pun bagus, bajunya kece-kece. Ini adalah film yang menyenangkan, namun menyenangkan yang sama yang sudah kita rasakan paling enggak tiga kali. Tuntutan untuk menjadi lebih baik, menjadi hal yang baru akan selalu ada, dan film ini gagal memenuhi kedua hal tersebut. Baik dan menyenangkannya hanya dalam batasan meniru yang sudah ada. Hingga menimbulkan pertanyaan, kalo begitu kenapa film ini mesti ada? Dan saat pertanyaan tersebut kita sadari ada di benak kita, uang di dompet sudah keburu hilang, karena film semacam ini adalah heist gemerlap yang sebenarnya.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for OCEAN’S 8.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

ALAS PATI: HUTAN MATI Review

“Good friends don’t let you do stupid things…alone”

 

 

Tentu kita akan melakukan hal-hal bego saat bersama teman-teman. Kita masih muda. Akan membosankan sekali jika kita gak mengambil resiko dan ga melanggar semua peraturan itu. Hampir seperti masing-masing kita berlomba untuk menjadi yang paling ngaco, kita bangga melakukan sesuatu yang tak banyak orang lain bisa. Masuk kelas tepat waktu layaknya murid normal? Well, kita akan buktiin bisa masuk telat, lewat jendela belakang, demi mendapat elu-eluan dari teman satu genk; Hebaaaat. Berani banget, ih. Kemudian teman-teman akan meniru, bola bergulir, dan menimbulkan efek yang semakin membesar. Dengan mencoba tampil beda, ingin mendapat pengakuan – dalam masa kekinian; mau dapat view dan follower banyak – tak sadar kita menjadi contoh yang buruk.

Kita tidak bisa menilai diri sendiri. Orang bilang, pergaulanlah yang membentuk kita. Tapi pada kenyataannya, kita tidak pernah selalu sepasif itu. Sedikit banyaknya, baik buruknya perbuatan, kita kerap memberikan pengaruh. Kedewasaan dan pengalamanlah yang bakal ngajarin kita untuk berpikir matang dahulu sebelum bertindak.

 

Dalam konteks tersebut, sebenarnya Alas Pati punya dasar cerita yang menarik untuk dikembangkan dari karakternya. Ini adalah tentang seseorang yang menyadari dia sudah memberikan pengaruh yang buruk dalam lingkaran pertemanannya, dan berhubung ini film horor, ia memplajari hal tersebut dari sebuah kejadian naas mengerikan yang literally terus menghantuinya.Nikita Willy dan teman gengnya sudah dikenal di kampus sebagai kelompok songong yang suka mengupload video-video viral berisi kenekatan ekspedisi mereka. Dimotivasi oleh dahaga akan ketenaran siber, juga uang yang didapat darinya, mereka pergi ke pedalaman Jawa Timur. Ke sebuah pekuburan adat tradisional di dalam hutan yang terkenal angker. Disebut tidak ada yang dapat kembali dari sana, tokoh utama kita semakin tertantang. Mereka menemukan tempat tersebut dan make fun of it. Tentu saja ada korban jatuh. Mereka kabur ke habitat asal mereka (yang kuasumsikan adalah Jakarta, karena di mana lagi kita banyak menemukan anak muda spoiled yang belagu, right?) . Tapi tidak tanpa makhluk-makhluk dan kejadian poltergeist menyeramkan yang ngikutin.

Respect. Satu hal yang tidak berani dipunya oleh anak muda

 

Pada awalnya, Alas Pati tampak bakal dibangun menjadi horor yang ‘berbudaya’’ dengan actually punya sesuatu yang ingin disampaikan. Set-nya udah kayak settingan sebuah game Fatal Frame yang baik; Mereka punya urban legend yang dikunjungi. Mencakup ritual di pemakaman di mana makam-makam didirikan di atas platform kayu di daerah terbuka di tengah hutan terpencil. Ada mayat-mayat yang seperti dimumifikasi dengan mata terjahit di sana. Bahkan tokoh kita menggunakan kamera dan teknologi lain untuk melihat hantunya. Aku sudah siap diterpa cerita trauma personal yang dikaitkan dengan pembahasan ritual Alas Pati itu sendiri. Tapi film Alas Pati tidak pernah membahas ritual tempat tersebut dengan lebih dalam, praktisnya hanya dijadikan alas cerita saja. Horor yang kita dapatkan, sebaliknya, adalah cerita horor biasa yang bisa saja terjadi kalo judul film ini diganti. Mereka bahkan enggak perlu ke hutan itu, trigger cerita ini bisa terjadi di mana saja. Satu-satunya pengikat tokoh-tokoh ini mesti kembali ke lokasi itu adalah karena Nikita Willy mengambil kalung dari salah satu mayat dan memakainya layaknya kalung sendiri. Dan kita enggak tahu kenapa dia melakukan hal tersebut, mengapa dia nekat mengambil kalung dari mayat.

Jika kalian suka film di mana tokohnya mempelajari suatu misteri, kemudian berjuang melawan misteri tersebut karena ternyata bersangkut paut dengan masa lalu kelamnya sebagai seorang manusia, maka sebaiknya kalian jangan mengharap banyak kepada film ini. Ya, memang, tokoh utama kita akan menyadari dan mencemaskan apa yang sudah ia lakukan membawa dampak buruk bagi teman-temannya, tapi kita tidak melihat ia memilih untuk bertanggung jawab sendiri. Dia tetap ‘kabur’dan ketika udah kepepet, dia mulai berpikir lurus demi batang lehernya sendiri. Tidak ada eksplorasi. Film melewatkan kesempatan besar, mereka bisa saja membangun mitos sendiri soal ritual Alas Pati, yang mana seratus persen akan membuat film ini menjadi horor yang solid. Bayangkan betapa berbobotnya film jika durasi diisi oleh tokoh-tokoh yang actually melakukan sesuatu. Take action alih-alih bereaksi terhadap kondisi diteror hantu melulu.

Babak kedua film ini hanya diisi oleh tokoh yang bergantian diteror hantu. Dan setiap sekuen tersebut berakhir mereka revert back ke denying apa yang terjadi dan kembali meyakinkan diri mereka untuk menutupi apa yang mereka lakukan. Makanya film terasa sangat membosankan ketika sudah di bagian tengah. Kita praktisnya sama saja melihat hal yang sama berulang-ulang kali. Film terlalu malas untuk menciptakan cerita yang berlapis. I mean, bukan saja elemen ritual yang dibiarkan dingin. Ada satu poin di mana ada seseorang yang mengupload video mengenai kejadian yang mereka semua tutupi dari orangtua dan publlik. Dengan panik mereka mencoba menurunkan video tersebut dari linimasa, menghapusnya dari internet, dan that’s it. Poin ini enggak ada reperkusinya. Entah bagaimana tidak ada orang yang melihat video tersebut. Tidak ada pembahasan kenapa video tersebut bisa terupload. Film just drop it, tidak berujung kemana-mana selain para tokoh jadi ribut saling tuduh.

Tapi paling enggak, peta yang mereka gunakan sudah jauh meyakinkan dari peta Ular Tangga (2017)

 

Film justru melompati hal-hal seru untuk diceritakan. Misalnya lagi saat perjalanan mereka menuju Alas Pati. Seluruh perjalanan ke tempat terpencil itu dibuat begitu mudah. Hanya ada satu kali mereka mencemaskan enggak bawa pengaman. Tapi kemudian kita dicut langsung menuju mereka sampai di lokasi. Membuat film ini tampak enggak kompeten, seolah cerita yang mau mereka usung jauuuuuhhh lebih gede dari kemampuan pembuat filmnya. Mereka tidak bisa membuat mitos seputar Alas Pati, mereka tidak bisa membuat misteri yang lebih eksploratif , mereka tidak bisa membuat perjalanan yang intens. Adegan di sepuluh menit pertama – yang ditutup dengan Nikita Willy melempar botol mineral tepat kena kepala temannya yang berlari menjauh, konyol! – sungguhlah berperan dengan super efektif sebagai tangisan minta tolong dari film untuk kita memperhatikan bahwa mereka gak bisa membuat cerita yang benar-benar terasa intens dan mencengkeram. Di menit tersebut kita melihat Nikita Willy ditantang main panjat tembok sama temennya; editingnya sungguh-sungguh begitu bland, kita tidak merasakan kompetisinya, yang dilakukan film ini hanyalah mereka merekam ekspresi meringis pemain dan kemudian memainkan musik rock sebagai penghantar emosi. There’s nothing pada kamera dan editnya yang menguar emosi.

Ketergantungan terhadap musik dan suara keras inilah yang bikin film ini sungguh tampak nyebelin. Usaha mereka cuma di bagian itu, dan mereka pikir itu sudah cukup. Bahkan saat menangani adegan inti yang pembuat film percaya bakal laku keras pun, film tampak begitu malas. Rambut yang dipakai hantu ‘beneran’ di sini clearly gak ada bedanya ama wig yang dipakai tokohnya si Stefhanie Zamora waktu ia nakut-nakutin temennya. Juga di bagian akhir film, ada adegan ngebut-ngebutan di mobil yang jelas malesin buat ditake ulang jadi mereka masukin ngasal aja potong-potongan adegan, alhasil itu plat mobil berubah-ubah dari B 459 PM menjadi B 9 PM dalam setiap shot.

 

 

 

 

Diibaratkan, film ini adalah teman kita di sekolah yang kerjaannya bolos, nyontek, sok ngartis, tapi punya penggemar banyak karena dia kece. Dia tidak melakukan apapun dengan potensi yang ia punya. Harapan kita tentu saja adalah semoga film ini gak lantas menjadi pengaruh buruk buat ranah perfilman horor tanah air.
The Palace of Wisdom gives 1 out of 10 gold stars for ALAS PATI: HUTAN MATI

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

LIMA Review

“You can only kill ideology with a better idea.”

 

Meski pelajaran ini adalah mata pelajaran yang namanya paling sering berubah, toh ajarannya tetap seputar bagaimana menjadi warga negara yang budiman dan bertata susila. Sejak dari namanya masih PMP, lima dasar negara yang diajarkan kepada kita gak pernah berubah. Negara Indonesia ini supposedly berpedoman kepada lima poin rumusan yang mencakup semua spektrum kebermasyarakatan, karena di sini kita hidup sebagai warga majemuk. Bhinneka Tunggal Ika, semboyan kita. Dan bukan sekedar simbol kata semata; dengan gampang, setiap dari kita ngerasain perbedaan-perbedaan di dalam lingkungan keseharian kita. Aku sendiri tumbuh besar di masa tatkala lingkunganku ngerayain Idul Fitri dan Natalan bareng. Tukar menukar krat minuman kaleng sudah jadi hal biasa. Saling berkunjung, bergantian memandangi kaligrafi dan salib adalah pemandangan sehari-hari. Jadi, apa yang kita pelajari di sekolah, bisa langsung dipraktekkan.

Namun, soal-soal ujian PPKn tersebut kerap terlalu gampang. I mean, kuncinya jelas; jawab yang baik-baik. Dijamin bener. Kalo ada temen beda agama yang sakit, ya dijenguk. Kalo ada yang lagi ibadah, ya jangan ribut. However, film Lima ini nunjukin persoalan enggak sesederhana itu di kehidupan. Film ini mengajak kita membuka mata lebar-lebar. Literally menghantarkan kita kepada contoh-contoh kasus ribet yang bisa timbul dari kemajemukan masyarakat. Dan bagaimana kadang kita terlalu kaku dalam menempatkan ideologi. Toleransi yang bisa disalah arti, juga sebaliknya ketidaktoleransian bukan semuanya berarti semena-mena.

dan sampai sekarang aku belum hapal butir-butir Pancasila

Namun jangan khawatir film ini enggak lantas jadi sama boringnya dengan mantengin dua jam pelajaran Pancasila dan Kewarganegaraan di dalam kelar. Lima punya cara bertutur yang unik. Sebagai tubuh besar cerita, kita akan mengikuti satu keluarga yang multikultural. Dalam satu atap itu, mereka kompakan untuk mempercayai agama sesuai keyakinan masing-masing. Konflik yang kita jumpai adalah permasalahan yang dihadapi oleh putra-putri keluarga tersebut berkenaan dengan profesi mereka yang juga menuntut untuk terus berpikiran terbuka, menanggapi hal-hal yang mungkin saja bertentangan dengan pemahaman dan kepercayaan mereka.

Film ini seperti antara omnibus dengan sebuah multi-plot kind of film. But it is safe to say, Prisia Nasution sebagai tokoh kakak pertama bernama Fara yang juga adalah seorang pelatih atlet renang, yang jadi tokoh utama pada cerita ini. Karena arc cerita miliknyalah yang paling melingkar. Dia bergiliran sebagai pelaku dan sebagai yang dikenai pelik seputar keberagaman dan bagaimana jalan terbaik untuk menyingkapinya. Pada dasarnya, apa yang kita lihat terjadi kepada si kakak dan adik-adiknya, dan juga asisten rumah tangga mereka, adalah contoh-contoh yang mewakili lima sila dalam Pancasila. Jadi, pengtigababakan film ini disejalankan ama lima episode cerita, bayangkan cerita pendek dengan tokoh utama yang beda-beda, yang membentuk gambaran besar seperti lambang lima sila membentuk perisai Pancasila di dada Burung Garuda lambang negara kita.

Yea, kalo mau dibilang kekurangan, lima cerita yang terasa seperti episode-episode inilah yang menjadi masalahku buat film Lima. Mereka seharusnya bisa mengolah cerita sehingga benar-benar berjalan mulus tanpa ada sekat di antaranya. Membuat tokoh-tokoh cerita mengalami kejadian yang benar-benar menampakkan pengembangan tokohnya. Membuat setiap episode itu punya bobot lebih dan merangkai dengan lebih sempurna tanpa terasa bergiliran. Alih-alih demikian, tidak tampak ada sangkut paut yang mendalam antara ceria satu dengan cerita yang lain. Satu-satunya yang menjadi perekat, selain fakta bahwa mereka satu keluarga, adalah bahwa secara emosional tokoh-tokoh sudut pandang film ini masih berkabung – mereka tergerak oleh perasaan kehilangan terhadap tokoh Ibu yang meninggal di babak awal.

Babak tersebut, didedikasikan untuk mewakili sila Ketuhanan yang Maha Esa, buatku adalah bagian yang paling meyakinkan. Aku tadinya berpikir film akan berpusat mengenai masalah kematian Ibu ini, karena Ibu diset sebagai karakter yang kompleks dan punya peran yang besar bagi tokoh-tokoh yang lain. Ibu adalah seorang yang keluar dari Islam, untuk kemudian masuk Islam lagi, bahkan menjadi Haji. Dia juga diberikan hibi unik suka memakai kuteks. Dia pun punya rahasia yang tidak diketahui oleh siapapun. Segala ini berdampak ketika proses penguburan jenazahnya. Film sudah menarik sendirinya jika didedikasikan ke aspek ini, kayak, misalkan film ini dibuat dengan premis ‘keluarga yang ingin menguburkan ibunya tapi terhalang oleh status agama dan wasiat si almarhum’ saja sudah terdengar sebagai cerita yang lebih dari mumpuni. Lima menggarap bagian ini dengan meyakinkan, aura suram menguar kuat dari Kakak dan dua adiknya, bahkan ada satu adegan ketika anak-anak cowok sang ibu mengecat kuku mereka dengan kuteks sebagai penghormatan terakhir. Dan ketika adegan penguburannya, aku merasakan suatu kekaguman di hatiku. Menurutku, apa yang terjadi di sana, seorang meninggal dan mendapat penghormatan dari berbagai ritual agama itu begitu menakjubkan, sudah seperti seagung Dumbledore yang kematiannya dihadiri dan dihormati oleh berbagai makhluk magical.

can I have mermaids at my own grave?

Namun, masih banyak pesan dalam daftar misi film Lima. Aku sempat kaget bahwa masalah pemakaman ini beres, dan cerita move on gitu aja. Babak dua film membahas tentang kehidupan Fara, dan Aryo, dan Adi, yang respectively mencerminkan sila kedua hingga keempat. Bagian cerita Fara tentang polemik pengiriman atlet renang ke Sea Games nyata-nyata adalah bagaimana pandangan film ini tentang isu nonpribumi-pribumi yang sempat dan masih hangat melanda kehidupan sosial dan politik kita. Film ini berusaha memberikan jalan tengah dari pertanyaan kenapa mesti pribumi jika ada nonpribumi yang terang-terangan lebih baik. Film berusaha memberikan solusi alternatif dengan mengajak kita untuk memutar sudut pandang;

Tidak ada yang mutlak sebagai yang terbaik. Tidak orang, tidak juga pandangan dan ideologi. Malahan sebaliknya, kita bisa mencapai yang lebih baik dengan mau mempertimbangkan banyak hal, dengan mau bekerja ekstra. Bunuh ideologi, dengan dan hanya bisa dengan, ide yang lebih baik.

Sayangnya, cerita-cerita yang lain tidak mendapat pembahasan yang sama memuaskannya. Bahkan penampilan heartfelt dari Yoga Pratama juga tak mampu membuat cerita bagiannya mencuat sama tinggi. Hanya tampak seperti pesan bahwa idealisme bisa merugikan kalo kita gak berani ataupun enggak mau melakukan adaptasi. Cerita adik paling bungsu juga seperti kehilangan bagian penutup, arc si tokoh tidak terasa terselesaikan, terlebih karena tokohnya sendiri dibuat begitu annoying. Dan apalagi kalian tahu, karakter yang annoying instantly a turn-off buatku. Di babak terakhirlah film menjadi totally dicekokin ke tenggorokan kita. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia itu diwakili oleh film dengan, yak, adegan persidangan anak miskin yang mencuri buah coklat di kebun perusahaan besar. Film berusaha menjabarkan bagaimana hukum tidak boleh hanya tajam ke bawah, tapi sebagian besar yang dilakukan oleh film adalah menguatkan unsur dramatisasi, seperti tentu saja kita bersimpati sama orang kecil. Langkah yang diambil film tidak lagi tampak berani, lebih kepada drama ketimbang sentilan seperti yang sudah dilakukan di cerita-cerita awal. Meskipun kuakui, mengakhiri cerita dengan debat di ruang sidang, adalah resiko tersendiri yang diambil oleh film, karena to be honest, adegan sidang tidak pernah membuat penonton excited.

 

 

Yang kusuka dari film ini adalah ketika menjawab dan memberikan sudut pandangnya terhadap masalah yang timbul dari kemajemukan, film tidak pernah mengambil langkah ngejudge. Memang, beberapa tokoh dibuat ngotot akan pandangan mereka sehingga terkadang nampak outright evil, tapi di saat yang bersamaan kita juga diperlihatkan darimana pandangan tersebut berasal, sehingga kita memahami apa sih yang sebenarnya terjadi. Film ini dengan berani menggambarkan setiap isu sosial politik yang lagi hangat, tapi tidak sekalipun ada pihak yang direndahkan. Tidak ada yang terlalu antagonis. Tapi bagaimana pun juga, sebagai sebuah film semestinya ia bisa tampil lebih baik lagi, bisa berjalan lebih mulus dan keluar dari kotak episodik.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for LIMA.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

THE GIFT Review

“If you can’t find light in the darkness, be the light in the darkness.”

 

 

Sisi terang dari kegelapan ialah dia membuat, ah tidak, memaksa kita untuk merasakan dengan lebih kuat. Kalian tentu sadar kita sering termerem-merem sendiri ketika mengingat kenangan yang indah, menghayati lagu yang klop buat mewakili jatuh cinta, atau bahkan saat sedang mencicipi makanan yang begitu lezat. Ada kenyamanan yang bisa ditemukan seseorang di dalam kegelapan. Apalagi buat seseorang seperti Tiana, cewek di awal tiga-puluhan yang masih sering terkenang trauma keluarga pada masa kecilnya. Tiana menjadikan kegelapan sebagai tempat pelarian. Bukan karena dengan kegelapan dia tidak bisa melihat kenyataan, melainkan karena kegelapan menghantarkannya kepada cahaya impian. Dan secercah cahaya itulah yang dia jadikan tujuan; sesuatu yang Tiana usahakan untuk terwujud.

Dewasanya, Tiana tumbuh menjadi seorang penulis novel. Mentok nyari ide ngerangkumin cerita novel terbaru, dia melangkahkan kaki ke Yogyakarta. Tiana ingin tinggal lagi di sana, karena di kota itulah kehidupannya dengan segala kenangan berawal. Jadi, malam pertama Tiana ngontrak, dia begitu terganggu sama suara musik rock yang diputar kenceng-kenceng. Ketika mencari sumbe suara untuk melayangkan protes itulah, pertama kalinya Tiana melihat sosok Harun – putra dari pemilik kontrakan.  Harun yang kehilangan penglihatan karena kecelakan menarik-narik tali penasaran di dalam diri Tiana. One thing leads to another, Harun merasakan affection yang mendalam dari Tiana. Perasaan mereka berdua bisa saja saling beresonansi, tapi hidup selalu menawarkan sesuatu tak peduli kita butuh atau tidak. Seorang teman masa kecil, datang menawarkan cahaya baru bagi hidup Tiana. Memaksa wanita ini untuk sekali lagi masuk ke dalam lemari, mencari titik terang masalah dari dalam kegelapan yang begitu hangat baginya.

di sela semua itu, sempat-sempatnya Hanung nyeletuk soal gak musti melulu idealis dalam bikin cerita. Sliiiccckkk!

 

The Gift mungkin akan membuat kita bertanya-tanya, hadiah atau berkah apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh film ini. Tentu, mata adalah salah satu anugerah terindah. Akan tetapi, perasaan dan emosi yang ditangkap oleh hati kita dapat dengan gampang mengalahkan lima panca indera sekaligus. Sering sekali kita melihat Tiana memejamkan matanya, entah itu ketika dia bersiap dihantam gelombang flashback ataupun ketika dia berusaha menajamkan perasaannya. Pada adegan awal saja, kita menyaksikan Tiana naik becak melewati jalanan kota Yogyakarta, mendeskripksikan betapa ia merindukan tempat tersebut, menyebut suasana dan lingkungannya yang indah, tetapi dengan masih mengenakan kacamata hitam. To be honest, sekuen pembuka ini terasa pretentious buatku; aku merasa susah untuk ikut ketarik masuk ke dalam yang Tiana rasakan karena yang aku lihat di depan mataku adalah seorang cewek yang menulis hal-hal bagus tentang kota yang ia datangi, tanpa benar-benar melihat objek yang ia tulis. Tapi film ini toh berhasil membuatku terus memikirkan ceritanya hingga tiba giliran aku yang menyusuri kota dalam perjalanan pulang dari bioskop. Aku terlambat melihat konteksnya, dan begitu menyadarinya, aku bisa melihat film ini dari cahaya yang lebih terang.

Ada alasannya kenapa Tiana menggambarkan kehangatan Jogja dengan perumpaman tangan wanita tua yang keriput. Karena itulah yang ia rasakan, dengan menutup matalah ia melihat. Tiana adalah tokoh yang berpikir dia bisa melihat lebih baik, perceiving apapun objek dan masalah dengan lebih baik, dengan tidak literal melihatnya dengan mata. Sebagai wanita yang mandiri, setiap kali membuat suatu keputusan, Tiana akan menutup matanya, membayangkan apa yang bisa ia pikirkan untuk mengatasi masalahnya. Bahkan, Tiana lebih suka curhat dengan sahabatnya lewat telefon. Sementara aku suka gimana sutradara berhasil mengarahkan dua versi Tiana (kecil dan dewasa) sehingga tampak meyakinkan sebagai satu orang yang sama – tepuk tangan juga buat kedua pemainnya, Ayushita Nugraha dan Romaria Simbolon berhasil mendeliver emosi terutama di momen-momen ketika seolah yang mereka lihat adalah sesuatu yang begitu berat mereka ingin mundur ke dalam bayang-bayang. Actually, saking meyakinkannya pertumbuhan karakter Tiana, aku geram juga film tidak benar-benar membahas apa eksaknya yang dilalui Tiana. Kita memang akan dibawa menggali lebih dalam masa lalu Tiana, tapi terlalu menyebar, dan film menyinggung beberapa yang justru malah menimbulkan lebih banyak pertanyaan dan penasaran. Relationshipnya dengan ibu panti yang diperankan oleh Christine Hakim, misalnya, sepertinya heartfelt sekali – aku pengen tahu gimana tepatnya mereka berpisah, gimana Tiana keluar dari panti. Aku pengen melihat lebih banyak bagaimana dia bisa berubah dari ‘anak lemari’ menjadi seorang cewek yang enggak totally politically correct.

Sebagai tokoh utama, karakter Tiana ini memang rada tricky untuk dikembangkan. Tiana diplot sebagai sebagai cewek yang egois di awal cerita, dan berakhir dengan melakukan pengorbanan gede yang menunjukkan betapa banyak karakter ini belajar dalam jangka waktu dua jam kurang. Tapi kita supposed untuk peduli terhadap karakternya, supaya ketika dia berubah, emosi yang dipancarkan itu sampe dengan sukses. Membuat kita juga turut menyayangkan apa yang ia lakukan. Di sinilah letak ‘susahnya’, kita harus diyakinkan untuk peduli di saat dia mendekati Harun, hanya karena Tiana penasaran kepada cowok itu. Itulah alasan kenapa Tiana mendekati Harun; dia yang selama ini menemukan kenyamanan dalam memejamkan mata, bertemu dengan seorang pria yang benar-benar tidak bisa melihat. Tiana sempat mempertanyakan dirinya sendiri, apakah dia berdosa? Namun selain itu, film juga tampak kesulitan untuk terus memperlihatkan kondisi tokoh utama yang begini. Makanya, romansa di film ini terasa loncat-loncat. Tiana dan Harun hampir seperti mendadak jadi saling cinta, kemudian mendadak pula mereka bertengkar. Bahkan kepergian Tiana dari Harun juga terasa abrupt. Susah mematri lampu simpati itu ke Tiana jika hubungannya yang berdasar penasaran doang itu harus lemat-lemat diperlihatkan

Mau mata normal, mata minus, tunanetra, ataupun malah buta warna, kita tidak akan pernah benar-benar melihat suatu hal dengan jelas, jika kita tidak menyertainya dengan berusaha untuk merasakan, peduli sama apa yang kita lihat. Dan jika kita terus saja tidak dapat menemukan cahaya untuk ‘melihat’, jadilah cahaya itu sendiri.

 

 

Pun begitu, momen-momen indah kebersamaan mereka tetap bisa terbangun. Adegan meraba wajah yang dibuat begitu dekat sehingga kita nyaris bisa mendengar degup jantung mereka. Pembangunan adegan ini tampak dipikirkan dengan seksama, permulaan Tiana yang sengaja mengalah adu suit memberikan bobot yang lebih gede. Momen tersebut membantu melandaskan suatu hal yang penting terhadap mereka berdua; bahwa mereka sebenarnya berbeda. Harun  adalah orang yang selalu bisa melihat kenyataan, bahkan sebelum matanya buta. Inilah cikal bakal konflik dari hubungan mereka; Tiana ingin nyaman-nyaman berdua dalam kegelapan, so to speak, dia senang membiarkan Harun dalam ‘gelap’ atas apa yang sebenarnya terjadi. Tapi Harun selalu bisa melihat. Nyaris dialah cahaya itu sendiri.  Seperti yang actually disebut dalam salah satu ribut-ribut mereka, ini bukan semata soal control, ini adalah soal gimana Harun membuyarkan kegelapan yang ingin dipertahankan oleh Tiana. Dan Tiana tidak suka ini, seperti halnya dia juga menganggap Arie, sahabat kecil yang cinta mati ama dia, terlalu menyilaukan buatnya.

Karena itulah saat menonton ini aku tidak bisa melihat kenapa mereka harus jadian, aku tidak merasa perlu untuk melihat mereka berakhir bersama. Aku juga tidak dapat merasakan konfrontasi mereka. Well, terasa keras sih, sebab setiap konfrontasi disuarakan dengan begitu lantang, teriak-teriak penuh emosi. Feelingnya yang gak dapet. Tapi kita gak bisa percaya Tiana setelah ia baru saja terang-terangan berbohong. Bukan cinta sebenarnya dirasakan oleh Tiana kepada Harun. Bukan pula rasa bersalah. Alasan kenapa dia menjadi begitu ingin termasuk ke dalam hidup Harun adalah dia ingin menunjukkan cahaya kepada Harun, dia ingin berguna, namun sikap Harun selalu dapat melihat terus saja menantang keinginan Tiana.

Tutup mata kiri, ada dua jari. Tutup mata kanan, loh susternya kok ilang whoaaaaa??!!!

 

Soal penampilan sih, Reza Rahadian juara banget meranin Harun. Malahan saking meyakinkannya sebagai seorang tunanetra, kamera tidak berani menangkap wajahnya dari depan pada adegan pertama kali Tiana face-to-face dengan Harun saat diundang sarapan bareng. Kamera ngesyut dari belakang, ataupun hanya sebatas dagu, meskipun sudut pandang film ini adalah Tiana, dan cewek itu sudah melihat wajah Harun di depannya. I guess, kalo disyut dari depan juga (sesuai pandangan Tiana), konteks yang diniatkan – Tiana enggak ngeh Harun buta – bisa buyar lantaran Reza sangat total bermain sebagai orang buta. Yang tidak aku mengerti dari Harun adalah bagaimana dia bisa menulis dengan huruf yang perfectly centered; pas di tengah-tengah kertas. Mungkin sih, dia dibantu si Mbok atau asisten rumah yang lain, tapi tokoh ini terlihat bukan tipe orang yang mau minta bantuan kalo sudah menyangkut urusan pribadi. Dan jika kita masih bicara soal cinta, Harun indeed jadi beneran genuinely sama Tiana. Yang mana membuat adegan-adegan ia nangis di akhir itu terasa nyesek. Masalah ada apa di Kaliurang juga masih berakhir dengan tanda tanya.

 

 

Untuk sebuah kisah hubungan antara insan-insan manusia yang tragis, yang mengambil batasan pandangan sebagai tema, film ini tampak sungguh luwes dalam penggarapannya. Setiap adegan diambil dengan sudut-sudut yang dengan subtil mendukung cerita, seperti adegan konfrontasi lewat pantulan cermin-cermin itu. Ada juga kamera goyang-goyang yang aku gak mengerti kepentingannya apa. Film ini penuh berisi penampilan akting yang luar biasa meyakinkan. Yang mendorong cerita yang sebenarnya tidak begitu make sense dan lumayan mengandalkan factor kebetulan ini dapat terus mencengkeram untuk diikuti. Lebih dari kisah percintaan, film ini bekerja terbaik sebagai tontonan perilaku manusia dalam mengatasi trauma masa lalu yang kemudian membentuk pribadi dan keputusan mereka. Karena, afterall, kita ingin bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for THE GIFT.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

SOLO: A STAR WARS STORY Review

“Trust is a two way street”

 

 

Terserah kita, sebagai penonton yang terhanyut oleh petualangan luar angkasa ketika menonton Star Wars original, mau milih pengen kuat kayak Luke Skywalker atau mau sekeren Han Solo. Buatku, jawabannya selalu adalah Han Solo. Dia lucu, jago nembak dan nerbangin pesawat, dan dia sombong akan hal tersebut. Sesuatu yang hebat pada tokoh ini adalah gimana dalam skenario cerita fantasi yang larger-than-life itu dia terasa seperti orang biasa yang lagi nongkrong di planet nun jauh di sana. Han bukan pejuang Jedi, dia hanya seorang penyelundup barang. Tapi melihat dari teman gaulnya yang monster berbulu, kita tahu Han Solo sudah melewati banyak petualangan seru; yang membuat tokoh berandal ini lebih menarik ini.

Jadi, tentu saja natural bagi studio yang punya hak nyeritain kisahnya pengen menggali lebih banyak soal petualangan solo dari seorang Han Solo. Dan setelah melalui banyak kemelut produksi, bolak-balik diarahkan banyak orang sebelum akhirnya Ron Howard mendapat kredit final sebagai sutradara, film yang memperlihatkan kepada kita seperti apa Han Solo sewaktu masih muda akhirnya mendarat juga. Sebagai sebuah aksi petualangan, film ini sangat exciting. Akan ada banyak adegan kejar-kejaran dengan kendaraan yang hanya bisa kita bayangkan, entah itu ketika Han melarikan diri atau mau menyelamatkan sesuatu, dengan keseruan yang terbangkit oleh menit-menit terakhir skill kenekatan Han Solo yang beruntung itu menunjukkan tajinya. Adegan di kereta api dan adegan kabur dari monster dengan Millennium Falcon itu sungguh luar biasa menyenangkan. Ya, dengan serunya film ini akan memberikan jawaban seputar kehidupan awal dari Han sebelum adegan pertama di Star Wars episode IV (1977), tentang bagaimana dia bisa berteman dengan Chewbacca, asal usul dirinya bisa berada di balik kursi pilot pesawat angkasa paling ngehits di dunia – Millennium Falcon – yang tentu saja kita juga akan melihat interaksi Han dengan Lando Calrissian. Kita akhirnya akan melihat langsung peristiwa menarik gimana tepatnya Han memenangkan Millennium Falcon dari taruhan dengan Lando. Pretty much apa yang kita suka dari karakter Han Solo, kesombongannya, skillnya, keberuntungannya, akan diangkat dalam film ini.

dan ada droid yang mendambakan kesetaraan hak antara mesin dengan manusia hihihi

 

 

Yang sering luput dari pembicaraan rangorang ketika ngegosipin Han Solo adalah mengenai sikapnya yang suka jengkel dengan ketidakkompetenan makhluk di sekitarnya. Selain kocak, jago, tengil, dan segala macam sikapnya yang charming tersebut, Han Solo cukup ‘galak’ ketika ada orang yang tidak melakukan sesuai dengan yang seharusnya mereka lakukan. Ada banyak kejadian yang menunjukkan trait karakternya ini dalam film-film Star Wars terdahulu, seperti misalnya ketika Han bete ngejelasin cara kerja Force kepada Rey dan Finn di Star Wars The Force Awakens, “That’s not how the Force works!”. Han Solo punya sedikit superiority complex, namun dia susah mengekspresikannya oleh sebab deep inside, dia adalah orang yang lebih memilih untuk rileks dan melakukan sesuatu dengan caranya sendiri. Dalam Solo: A Star Wars Story inipun aspek karakter itu nyaris lupa diangkat. Film actually mengerti, mereka mengolah cerita dengan tema kepercayaan terhadap orang lain, yang berusaha mereka sangkutkan dengan sikap grumpy Han terhadap orang sekitar, like, lewat film ini kita akan mengerti kenapa Han Solo lebih suka bertindak sendiri – atau paling enggak kenapa dia hanya percaya berat kepada Chewie.  Hanya saja, aspek ini dimainkan oleh film dengan datar, lebih kepada sebagai komedi dan tidak benar-benar membuat aspek ini sebagai kedalaman yang berarti bagi si tokoh sendiri.

Dibesarkan di bawah naungan geng bandit di pipa-pipa bawah tanah menjadikan Han Solo punya insting untuk selalu bekerja sama dengan orang lain. Akan tetapi, apa yang ia lakukan lebih sering mengharuskannya untuk mempercayai diri sendiri, berimprovisasi tidak menurut sama perintah. Konflik inilah yang membebani Han Solo pada hari-hari awal petualangannya. Kepercayaan adalah jalan dua-arah. Simpelnya, jika kita tidak percaya kepada orang lain, maka pada gilirannya, mereka pun akan mengalami kesusahan untuk mempercayai kita. Han Solo pada akhirnya membuat perhitungan ini menjadi lebih sederhana lagi; dia memasukkan keberuntungan dalam ekuasi yang harus ia percaya.

 

 

Sebenarnya Solo ini dapat menjadi cerita yang menarik, dengan pertimbangan bahwasanya ia adalah cerita yang tidak benar-benar harus terkait langsung dengan trilogi original. Akan tetapi, jika kita menggarap sebuah prekuel dari cerita yang sudah dikenal luas, maka akan selalu ada tuntutan – akan selalu ada beban, lantaran cerita yang sedang kita bikin sudah tertambat oleh cerita yang lain. Mau tak mau kita harus mengembangkan cerita baru ini ke arah yang orang sudah tahu, dan jika ada beda dikit aja, kesinambungan cerita gedenya akan terganggu. Dan kalo sudah begitu, siap-siap menghadapi celotehan protes terutama dari para fans. Yang mau aku bilang adalah, butuh nyali untuk menggarap prekuel. Yang sayangnya, nyali ini tidak aku temukan dalam film Solo.

Jarang sekali film ini membahas dalem tentang Han Solo itu sendiri, meskipun kalo mikir logika ini adalah cerita tentang dirinya. Kita hanya melihat petualangan demi petualangan, tanpa ada bobot karakter di dalamnya. Film ini secara berhati-hati membuat kejadian, sehingga jika kita nonton film ini kemudian dilanjutkan dengan film Star Wars yang pertama, tidak ada cerita ataupun interaksi tokoh yang terasa janggal. Tidak ada kontinuitas yang dicoreng. But at the same time, apa yang film ini accomplished regarding tokoh Han Solo itu sendiri; nol besar. Han Solo tidak diberikan aspek yang baru kita lihat, dengan lain kata; tidak ada development. Mereka hanya mengeksplorasi hal-hal yang ingin kita minta, yang mana membuat film ini terasa seperti fans service semata, tanpa menempuh resiko apa-apa. Seolah mereka sebenarnya tidak punya sesuatu yang ingin diceritakan lagi dari Han Solo sebagai seorang karakter, selain petualangan-petualangan itu.

Salah satu alasan Harrison Ford menginginkan Han Solo meninggal di Return of the Jedi adalah karena dia merasa karakter ini enggak punya banyak kedalaman sehingga dengan membuatnya melakukan pengorbanan, Han Solo bisa mendapat peningkatan karakter. Dan kita melihat keinginan Ford ini dikabulkan pada The Force Awakens, dan kita bisa rasakan sendiri gimana kematian itu menambah banyak bagi Han sebagai seorang karakter. Dia jadi punya sesuatu yang lebih dalam untuk kita rasa. Dalam Solo kali ini, sayangnya, tokoh Han Solo tidak berusaha untuk digali lagi. Plot tokohnya tipis. Tidak banyak ruang gerak yang diberikan kepada Alden Ehrenreich untuk menerbangkan karakter ini. Dia hanya senyum smug, ngedipin sebelah mata, nunjuk-nunjuk, seperti yang dilakukan oleh Han Solo yang kita kenal. Sepatu yang ditinggalkan oleh Harrison Ford buat tokoh ini adalah sepatu yang besar, dan arahan cerita yang tidak berani mendorong batasan ini membuat Han si Alden tampak tak lebih dari seperti parodi dari Han Solo yang asli. Interaksi Han Solo dengan tokoh-tokoh yang lain pun terasa terbatas. Dia punya hubungan romansa dengan cewek dari masa kecilnya yang turns out menjadi salah satu elemen gede dalam cerita (yang tampaknya berlanjut ke sekuel). Han diberikan tokoh mentor yang ngajarinnya soal dunia selundup-selundupan, tapi sama sekali tidak tampak seperti demikian, mereka malah tampak seperti teman satu tim. Dengan Lando dan Chewie-lah, film menemukan titik terang. Donald Glover sebagai Lando adalah pilihan yang tepat, dia tidak tampak bermain menjadi seperti aktor  lain yang memainkan tokoh Lando, dia memberikan sentuhan lain buat karakter yang kita kenal ini.

“This is Sabbac, don’t catch you slippin’ now”

 

 

 

Bukan berarti ini adalah film yang jelek. Aku sendiri enggak akan ragu untuk nonton ini dua kali. Adegan-adegan aksi petualangannya seru, film ini tahu cara ngebuild stake sehingga membuat para tokoh utama kelihatan menghadapi sesuatu yang actually bisa gagal. Hanya saja film ini mengecewakan karena tidak berani mengembangkan sesuatu yang baru. Alih-alih punya cerita Han Solo yang ingin digali, membuatnya semaki dalem sebagai sebuah karakter, film lebih memilih untuk sekedar memperlihatkan asal muasal adegan-adegan yang kita tahu. Tanpa menempuh resiko. One way or the other, apa yang mereka lakukan di sini membuat aku percaya kepentingan eksistensi film ini tak lebih dari sekadar karena uang.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for SOLO: A STAR WARS STORY.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

REVENGE Review

“Revenge is the single most satisfying feeling in the world”

 

 

Apa yang rasanya manis dan berwarna merah, tapi bukan apel? Balas dendam jawabannya.

Sebagian besar dari kita pasti pernah memikirkan skenario membalas budi jahat yang seseorang lakukan kepada kita – setidaknya untuk beberapa menit. Kita berfantasi gedein otot untuk memukul rata hidung mancung yang telah merebut cewek demenan. Kita membayangkan hidup sukses, kemudian membeli perusahaan dan memecat si bos sok galak, di depan seluruh karyawan. Kita mengarang cerita-cerita dahsyat seputar keinginan untuk menggetok orang-orang yang sudah memperlakukan kita salah. Dan kita puas karenanya. Balas dendam, bagi sebagian besar orang, dilampiaskan dalam bentuk cerita, karena kita lebih memilih untuk move on dengan kehidupan kita. Makanya, cerita-cerita tentang balas dendam selalu adalah cerita yang digemari, dari Hamlet ke Carrie, ke Gone Girl. Dan sekarang estafetnya berlanjut ke Revenge; thriller sadis buatan sutradara baru asal Perancis, Coralie Fargeat.

Revenge ini bagaikan hidangan dingin yang disajikan Fargeat demi menjawab isu kesetaraan wanita berkaitan dengan pelecehan dan berbagai tindak injustice terhadap cewek. Ceritanya tentang Jen (salut buat Matilda Lutz yang memainkan adegan-adegan intens nan fisikal) yang lagi menghabiskan waktu romantis bersama pacarnya yang kaya di rumah gede di tengah-tengah entah di mana. Kalian ingat kampanye baru-baru ini soal pemerkosaan bukan semata disebabkan oleh baju yang dipake oleh korban? Well, yea, yang jelas, baju adalah salah satu roda gigi dalam perkara yang terjadi pada Jen. Tidak mengharapkan bakal ada orang lain di sana, Jen tampaknya hanya ngepack baju-baju minim. Membuat dua orang teman cowoknya yang kebetulan berkunjung menelan ludah berkali-kali. Keramahan dan sikap playfulnya tentu saja ditangkap dengan makna berbeda lantaran Jen melakukannya dengan pakaian yang lebih banyak kebuka ketimbang tertutup. Tak ayal, Jen diperkosa. Pacarnya pun ternyata bukan pangeran berkuda putih. Khawatir akan ancaman Jen mengadu kepada sang istri, cowok Jen yang sudah berkeluarga ini malah berusaha mengenyahkan Jen selamanya. Usaha mereka gagal. Malang bagi mereka sih, karena Jen bukan termasuk dari sebagian orang yang suka berfantasi soal balas dendam. Jen adalah sebagian lagi yang tidak puas sebelum darah dibayar dengan darah.

gambaran telak bagaimana cewek masih dianggap disposable oleh cowok

 

 

Pertanyaan berikutnya:

Tau gak, perbedaan antara hukuman ama balas dendam alias main hakim sendiri?

 

Hukuman pada dasarnya diberikan sebagai ganjaran agar pelaku jera, supaya mereka bisa mengambil pelajaran dari apa yang sudah mereka lakukan. Pekerjaan menghukum ini adalah pekerjaan terhormat, diberikan kepada yang berwenang. Sedangkan, main hakim sendiri dalam rangka balas dendam enggak punya tujuan semulia itu. Balas dendam adalah supaya pelaku menderita sebesar-besarnya. Supaya mereka merasakan sakit dan perih dan terhina yang kita rasakan, bahkan lebih besar lagi. Inilah yang dicari oleh Jen. Ini jualah yang ingin direkam oleh kamera Fargeat. Menghasilkan sebuah film yang demikian sadis aku berulang kali menyipitkan mata tatkala menonton film ini. Enggak ada yang ditahan-tahan, semua kekerasan dan luka-luka yang terpikirkan oleh pembuat film diwujudkan ke ujung hidung kita. Layar yang seketika penuh warna warni, dengan setting rumah yang mulus bersih seketika menjadi padang tandus berbatu, bersimbah merah.

Transformasi Jen digambarkan dengan begitu drastis. Pada menit-menit awal cerita, film memperkenalkan kita kepada tokoh yang  holywood banget. Helikopter yang tadinya berupa titik, kemudian mendekat. Kemudian turunlah penumpangnya; pria macho kaya dan cewek pirang berkacamata hitam, sambil ngemut lollipop. Di titik ini, kita melihat Jen benar-benar sebagai cewek muda yang kerjaannya godain laki-laki. Biar kekinian, kita boleh menyebutnya pelakor. Kamera dengan lincahnya memposisikan mata kita pada pinggang Jen yang mengenakan rok pendek yang kian melambai seolah mengundang pria-pria asing yang tak dikenalnya mendekat. Tapi tak pernah diperlihatkan lebih daripada itu, kamera dan sudut pengambilannya dibuat seolah menantang kita untuk berpikir macem-macem padahal kita mengerti Jen tidak benar-benar berniat melakukan lebih jauh dari sekadar flirt canda-candaan.

Setelah mid-point, Jen benar-benar berubah. Bahkan warna rambutnya menjadi berbeda setelah semua debu, tanah, dan darah itu menempel. Film berusaha melambangkan perubahan Jen sebagaimana burung phoenix; lahir dari abu. Ada sekuen Jen di dalam gua, dengan penerangan api unggun, berusaha menyembuhkan diri sendiri. Literally ada gambar burung di kaleng yang ia gunakan untuk membakar luka parahnya; gambar yang kemudian menjadi tato sebagai semacam simbol mockingbird yang beneran terbuat dari darah dan daging. Kemampuan memancing perhatian cowok yang dimiliki Jen beralih fungsi menjadi kemampuan mereka keluar ke jangkauan bidikan senjata api rampasannya. Jen masih vulnerable di dalam dan luar, namun dia sudah mengerti apa yang harus ia lakukan. Dirinya tak lagi memandang diri sebagai pemuas, dia ingin memuaskan diri sendiri akan dahaga pembalasan.

predator yang diburu

 

Perspektiflah yang membuat ‘cerita lama’ ini tampil begitu fresh. Baik itu sudut pandang tokoh utamanya, maupun sudut pandang sang sutradara. Kamera akan seringkali mematri mata kita ke gambar-gambar yang bikin gak nyaman. Kita akan ‘dipaksa’ melihat mulut pria berdecap-decap mengunyah coklat bar, bagian putihnya yang lengket sengaja dijadikan fokus, supaya kita merasakan ke-uneasy-an, ketidaknyamanan yang dirasakan oleh Jen. Shot-shot dekat semacam ini membuat film pantas untuk dipelototin. Favoritku adalah ketika mereka ngeclose up semut, kemudian tiba-tiba tetesan darah jatuh mengenainya, diiringi dengan suara yang bikin makin gak enak pula. Banyak imagery unsettling seperti demikian ditampilkan oleh film, yang membuatku penasaran sama karya-karya lain yang ditelorkan oleh Fargeat. Maksudku, jika fantasi rape-revenge yang brutal aja bisa dibuat olehnya sedemikian menarik dan menghibur, gimana hasilnya kalo dia garap film yang lebih serius, kan.

Meskipun survival kucing-kucingan ini diceritakan dengan sangat menghibur, toh seperti halnya balas dendam itu sendiri, akan ada sebagian orang yang gak bakal terpuaskan sama film ini. Bahkan mungkin sebagian orang gak bakal mau bertahan nonton ini sampai habis. Revenge, sesungguhnya, adalah sajian yang enak dinikmati jika kita mau ngesuspend our disbelief. Karena banyak adegan-adegan sadis di film ini yang amat sangat tak masuk di akal. Ada satu adegan di mana Jen seharusnya sudah mati, tapi film ini dia dibuat masih bisa hidup lagi. Masih kuat melaksanakan aksi dendamnya, pula. Cerita menggunakan drug sebagai jalan keluar, yang sebenarnya hanya tempelan, sehingga membuat kejadian di film ini sebenarnya dipermudah.  Tapi sejujurnya, film juga tidak pernah meminta kita untuk menganggap dirinya sebagai sesuatu yang masuk akal. Shot-shot di awal yang seolah perlambangan, kayak apel yang dibiarkan membusuk, sebenarnya turut berfungsi untuk melandaskan tone cerita di mana semuanya akan menjadi ‘membusuk’ as in kita bakal melihat orang yang isi perutnya nyaris tumpah tapi masih sanggup lari-larian.

 

Jadi, pertanyaan terakhirnya adalah:

Kenapa balas dendam itu begitu memuaskan?

Jawabannya adalah karena dengan berhasil balas dendam, kita merasa yang salah sudah dibenarkan. Kita melakukan sesuatu yang jelek, memang benar, tapi itu semua demi tujuan yang kita anggap mulia.

 

 

 

Dan pada gilirannya, kenapa nonton film yang begini tak masuk akal dan merendahkan moral bisa begitu memuaskan? Kupikir jawaban untuk yang satu ini akan lebih kompleks lagi. Sebab, film ini berhasil diceritakan dengan sudut pandang yang segar. Karakter-karakter dalam film ini dengan cepat bertukar peran, dan sama seperti kita, masuk akal atau tidak, kebetulan atau bukan, kita akan puas melihat perjuangan mengembalikan keadilan, tidak peduli seberapa brutalnya.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for REVENGE.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017