FILOSOFI KOPI 2: BEN & JODY Review

“Actions are the seed of fate deeds grow into destiny.”

 

 

Adalah prestasi yang membanggakan jika sebuah film dinanti-nanti sekuelnya lantaran para penonton sangat jatuh hati kepada karakter yang ditampilkan.  Penonton ingin melihat lebih banyak dari karakter-karakter tersebut. Seperti yang terjadi pada Filosofi Kopi (2015), perjalanan persahabatan Ben dan Jody begitu hangat dan kental sehingga dibikinlah cangkir kedua, eh maksudnya film kedua ini. And keep in mind, bahwa tadinya Filosofi Kopi berangkat dari cerita pendek. Sekarang, berkembang menjadi kedai kopi beneran, brand bisnis beneran, tak pelak – ini sudah menginspirasi banyak orang, khususnya anak-anak muda, bahwa berbisnis itu keren. Bahkan aku juga sekarang udah membuka kafe eskrim di Bandung, di mana aku nyiapin dan served people myself. Meski memang backstory buka usahaku lebih mirip seperti Max Black’s ketimbang Ben dan Jody yang kekinian.

Bisnis ada seninya. It’s not just about math ataupun sekedar statistik keuntungan-kerugian. Bisnis juga adalah soal cinta. Kita bisa belajar begitu banyak, sehingga pengembangan bisnis sejatinya adalah pengembangan diri sendiri.

 

 

Dalam sekuel inipun diceritakan kesuksesan Filosofi Kopi milik Ben dan Jody membuat menjamurnya anak muda yang bikin kedai kopi serupa. Filosofi Kopi sudah menjadi semacam legenda, “Mitos,” kata Luna Maya. Jadi bahan obrolan di antara barista-barista yang terinspirasi, kopinya jadi tolak ukur standar tinggi. The Legend now wants to return home. Bisnis roadtrip mereka enggak jalan ke mana-mana, meski memang mereka udah keliling Indonesia memasyarakatkan kopi selama dua tahun belakangan. Jadi, Ben dan Jody kembali ke kedai di Melawai. Mereka harus kembali struggle nyari investor sebab beli properti enggak murah. Dan oleh karena ini adalah film sekuel, maka harus ada ide baru dan stake harus dipergede. Sehingga Filosofi Kopi, ultimately, mengekspansi gerai kedai mereka ke kota Jogja, mereka harus ngehire orang-orang baru, dan persahabatan Ben dan Jody teraduk-aduk karenanya.

dan Luna Maya datengnya telat melulu

 

Ada dua tokoh baru yang menambah cita rasa cerita Filosofi Kopi 2. To be honest tho, aku enggak begitu mengerti dinamika cinta segi kotak di antara Ben-Tarra-Jody-Brie-Ben sebab meski memang keempat ini punya karakter, relationship mereka tidak benar-benar terflesh out dengan baik. Ben dan Jody, they are funny, kita percaya persahabatan udah mengakar kuat pada mereka. Namun saat-saat mereka berantem, mereka berpisah, mereka reunite, terasa lebih seperti tuntunan sekuens naskah ketimbang terdevelop secara natural, you know, terbentuk dari interaksi actual dan genuine di antara mereka. Padahal elemen inilah yang penting lantaran film kali ini is LESS ABOUT RUNNING A PLACE AND MORE OF A STORY ABOUT CHARACTERS.

Karakter Tarra yang diperankan oleh Luna Maya adalah investor yang aim big but really strict untuk urusan bisnis, dia gakenal orangtua dan teman kalo udah nyangkut bisnis, keopimisannya membuat Tarra cukup menarik. Tarra merupakan padanan yang pas buat Paman Gober, alias Jody. Karakter tokoh pendiem-nan-calming milik Rio Dewanto ini lebih mudah kita relasikan, as opposed to Ben. Dalam film ini tergambar jelas bahwa jika Ben adalah sosok yang kita inginkan untuk menjadi, maka Jody adalah sosok yang mewakili realita; dia adalah siapa kita turn out to be. Dan aku senang di film ini Jody dapat jatah unjuk kebolehan ‘ngegombal’ di depan cewek dalam sebuah adegan simbolik yang dihandle dengan baik.

Brie si barista baru, however, kita baru mengerti dia siapa di paruh akhir. Karakternya menarik; she was a fan, tapi dia ngabisin sebagian besar shift kerjanya dibentak-bentak oleh Ben. Namun dia punya cara tersendiri yang ia yakini dalam bikin kopi. Aku sendiri enggak pernah ngefan sama teknik cerita yang sengaja nyimpen satu karakter untuk ‘revealing’ tanpa pernah ngebuild revealing tersebut. So yea, personally, aku pikir Brie bisa menjadi sudut pandang yang (lebih) menarik sebagai tokoh utama cerita, Nadine Alexandra pun pastinya capable diberikan role ini, jika kita lihat gimana usahanya menghidupkan Brie.

Now let’s talk about Ben. Chicco Jerikho breaths in this character, udah senyawa bangetlah pokoknya. Ben adalah orang yang sangat ahli, sekaligus amat menyintai apa yang ia kerjakan. Kita sering mendapati Ben mengelus-elus alat pembuat kopi, dia memegang biji kopi dengan penuh hormat, dia memperlakukan kedai dan segala atributnya seperti anak menghartakarunkan mainan kesayangan. Maka kita paham darimana ‘trust issues’nya datang, Ben enggak segampang Jody dalam mempekerjakan barista-barista baru. Ia enggak sembarangan menerima orang. Namun kadang, sifat Ben membuat kita enggak mengerti apa motivasi dirinya, like, filosofi-filosofi yang ia berikan kepada cewek-cewek yang beli – apakah murni dari hati ataukah semacam gombalan itelijen? Di sinilah letak menariknya karakter Ben; kita enggak pasti sehingga kita selalu ingin tahu dia lebih dalam. When he’s being a jerk, kita kesel beneran. Dan ketika ia jatoh, kita bersimpati.

 

Anak kecil, katanya, tidak berdosa as dosa-dosa mereka ditanggung oleh orangtua. Ajaran agama bilang begitu. Tapi di sini, di dunia fana penuh judgment, yang terjadi adalah kebalikannya. Dosa orangtua biasanya diterus-terusin ke anaknya. Bapaknya maling, anaknya yang menanggung malu. Bapaknya jahat, anaknya yang bertanggungjawab. Dan berapa banyak dari kita yang nyalahin orangtua yang menuntut banyak, atas ketidakberanian kita mengejar mimpi sendiri? Padahal kita  bakal tumbuh menjadi apa ditentukan oleh aksi kita sendiri. Benihnya mungkin ditanam dalam pengaruh orangtua, namun tindakan kita yang menentukan bakal tumbuh menjadi apa.

 

 

Sebagai sebuah film, Filosofi Kopi 2 mampu untuk berdiri sendiri.  Semua elemen ceritanya terconclude dengan baik. Kamera sukses berat jalan-jalan menghasilkan gambar-gambar yang terlihat festive sekaligus elegan. Aku notice musiknya, padahal biasanya musik adalah aspek yang paling sering kulewatin – ketika Ben nerima telepon di sekitar tengah cerita, musik kerennya ngingetinku sama musik di A Clockwork Orange nya Stanley Kubrick. Konten budaya turut diracik larut ke dalam penceritaan. Dibandingkan film yang pertama, wilayah cerita kali ini terasa lebih luas. Bukan saja karena mereka memang ceritanya lagi ekspansi, namun juga terasa lebih gede dari segi karakter. Akan tetapi, sebagai sekuel, as in kita melihat kedua film ini dalam gambar yang lebih gede yang bersambung, pertumbuhan atau perkembangan karakternya terasa muter di situ-situ aja. Apa yang dialami oleh Ben dan Jody di film yang kedua ini, pernah mereka alami sebelumnya. Ben dan Jody berantem lagi. Ben dan orangtuanya lagi. They just reharsh the plot. Mereka bahkan memasukkan penggalan film pertama saat adegan di kebun kopi, karena film ini benar-benar mengeksplor kembali hal yang sama. They might as well masukin flashback Ben kecil dari film pertama karena dapat membuat cerita film ini bekerja lebih baik.

Tidak ada sense of discovery, Ben dan Jody tidak terasa belajar hal yang baru di sini. Tidak ada momen seperti mereka terperangah nemuin resep kopi yang enak dari seseorang yang enggak mereka expect sebelumnya kayak di film pertama. Well, di film ini ada momen ketika Ben akhirnya ngakuin kopi buatan Brie enak, hanya saja enggak cukup believable karena di poin itu cerita ngebuild up Ben yang kehilangan Jody yang udah bareng Tarra, jadi segala Ben’s accepting towards Brie itu malah jadi kayak supaya Ben punya ‘cewek’. Menjadikan film ini semacam menegasi yang pertama, iya sih di sini mereka menyebut-nyebut aspek (dan tokoh) dari film pertama, namun Filosofi Kopi 2 –menilik dari plotnya- bisa saja bekerja sebagai origin atau malah remake dari yang pertama.

Plotnya enggak efektif. Mereka sudah sangat menarik berubah menjadi kedai kombi yang jualan berkeliling Indonesia, untuk kemudian malah kembali ke Jakarta. Setelah di sana pun terusan ceritanya adalah mereka kembali ‘jalan-jalan’ ke Jogja hingga ke Toraja. Kenapa gak sekalian cerita roadtrip aja? Motivasi yang membuat Ben dan Jody pengen balik ke Jakarta juga enggak kuat, datangnya dari anak buah yang mengundurkan diri. And speaking about that, ketika mereka balik buka filkop di Jakarta, anak buah yang tadinya berhenti malah kerja lagi bareng mereka, tanpa banyak pendekatan ataupun reasoning yang berbobot emosi – I mean, what about your dreams, Aldi? (or Didi? Amdi? Sorry didn’t really catch the name).

Pace film juga sedikit bermasalah, filmnya terasa panjang. Ada banyak adegan yang melambatkan film, dan seolah-olah rela dimasukin demi kepentingan iklan produk saja. Adegan kayak Jody masukin sabun cuci muka ke dalam tas sebelum nyusul ke Jogja sebenarnya enggak berarti apa-apa. And while we at it, kakaknya Jody juga enggak ada ngaruhnya selain mercikin sedikit komedi yang nyaris cultural. Iklan orang alias cameo juga ada, dan digunakan sebagai device yang memudahkan karakter. Kayaknya setiap persahabatan bisa langsung baikan deh kalo yang nasihatinnya adalah Joko Anwar.

Here’s for the next pitch: Filosofi Kopi v.s. Starbucks !!

 

Sempat ada sayembara menulis sekuel Filosofi Kopi, dan dua cerita pemenang kompetisi itulah yang dijadikan ide buat difilmkan. Nyatanya, Filosofi Kopi 2 terlihat seperti those good ideas, the whole of them, digabungin bersama. Emosinya gak benar-benar tersampaikan lantaran film melanglang membahas banyak. Aku bukannya mau nuduh ideku ada di sana, ataupun ideku lebih bagus, karena it was absolutey ridiculus. Ceritaku involving Ben pergi ke kontes barista sedunia jadi mereka butuh nyari barista baru, hanya saja Ben enggak sembarangan nerima orang, dia gak percaya ama kopi orang, dan cerita akhirnya resolve dengan Filosofi Kopi baik-baik saja tanpa dirinya – Jody akhirnya bisa bikin kopi juga. Resolusi cerita dalam film ini, aku gak mau spoiler banyak, mirip-mirip seperti itu, hanya saja ketika Jody melakukan sesuatu, dampaknya tidak begitu wah. Dari sisi Ben, arc nya tertahan untuk bergulir lantaran Ben dan Jody not really together di akhir cerita. It does giving something new buat karakter Ben. Film akan menjadi lebih menarik jika bagian ini datang lebih cepat, dibuild up dengan lebih matang, alih-alih menghabiskan paruh awal dengan mondar-mandir berusaha mengestablish set up yang sebenarnya toh sudah ada sejak film pertama.

 

 

 

Jika dulu masalahnya ada di rasa – penggarapan cerita Filosofi Kopi pertama enggak terasa begitu berbeda di luar tema dan premisnya, maka kali ini masalah terletak pada bahan kopi. Tapi jangan salahkan film originalnya jika sekuel enggak bisa untuk tampil lebih baik. Still, ‘kopi’ ini kemasannya mewah. Trendi. Membuatnya gampang untuk disukai. Dan orang-orang akan banyak suka ama film ini, terutama karena karakter-karakternya yang asik banget dijadiin role model. Regarding film ini, aku punya filosofi sendiri. Filosofi Piring Kopi; Dulu waktu kecil, aku selalu disaranin minum kopi di piring datar kecil yang jadi tatakan karena aku selalu membakar lidahku sendiri minum kopi yang panas. Film ini adalah piring itu, kopi atau cerita yang dituang di atasnya dengan cepat menjadi dingin, dan berkuranglah kenikmatannya.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 for FILOSOFI KOPI 2: BEN & JODY.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

GOING IN STYLE Review

“The most dangerous creation of any society is the man who has nothing to lose.”

 

 

Sebagai manusia, kita ingin hidup tenang. Terutama di masa tua. Tidak ingin dicurangi. Kita ingin mendapatkan hak sebesar kewajiban yang kita tunaikan. Enggak kurang, sukur-sukur lebih. Dan sama pentingnya dengan itu, sebagai manusia kita mau didengar, dikenang, kita ingin melakukan sesuatu yang di luar batas. Kita mau gaya. Kita mau going out with a bang.

 

Rumah Kakek Joe sebulan lagi disita, dana pensiunnya dibekukan, saat beliau mau protes ke bank, eh banknya malah dirampok. Joe dibuat terkesima dengan aksi tiga perampok muda yang sangat professional dan terkoodinir. Terutama, mereka sopan kepada penduduk senior, enggak seperti bank yang tega bikin susah hidup Joe. Enggak setetes pun darah mengucur dari peristiwa itu. “Mereka seperti menari” ia menceritakan pengalaman tersebut kepada dua sahabatnya; Kakek Willie dan Kakek Al, entah untuk keberapa kali. Kagum dapat membuat orang menjadi meniru, dan itulah tepatnya yang dilakukan oleh Joe. Merasa enggak mau kalah, dia nekat ngajakin dua sobat-nyaris-seumur idupnya untuk merampok bank yang udah screw over their life. Komedi lantas datang begitu ketiga remaja senja usia ini belajar merampok. Sesuatu yang tidak pernah mereka kerjakan di masa muda, bagaimana bisa mereka melakukannya sekarang ketika untuk berlari saja mereka nyaris mematahkan pinggang sendiri?

oh encok ku!!!

 

Mengambil tema yang mirip ama Hell or High Water (2016) namun mengemasnya dalam sajian komedi, film ini tampil sangat ringan. Kesubtilan hampir tidak ada dalam narasi. Aku enggak tahu apa-apa soal film ini sebelum menontonnya, kecuali bahwa Going in Style garapan Zach Braff adalah remake dari film yang premier di tahun 1979. Jadi aku siap untuk mengutuk film ini habis-habis for dia punya semua formula film-film yang hanya dibuat demi uang semata. Tapi tahukah kalian betapa susahnya ngelook down upon something kalo sesuatu tersebut sukses membuat kita tersenyum-senyum simpul diselingi ngakak dari menit-menit awal hingga penghabisan? Well, kalo enggak tahu susahnya seperti gimana, coba deh nonton film ini.

Alasan aku nonton film ini tentu saja sama dengan alasan kalian semua, karena dibintangi oleh Michael Caine, Alan Arkin, dan Morgan Freeman. Tiga gaek ini adalah LEGENDA HIDUP! Mereka sudah berakting sejak lama, they are in their 80s, dan mereka bertigalah bagian terbaik dari film ini. Melihat mereka berinteraksi seperti melihat kesempatan langka yang begitu amazing. Mereka bahkan lebih baik dari trio emas Niniek L. Karim – Widyawati – Slamet Raharjo di Sweet 20 (2017), kalo kalian masih merindukan akting bagus nan meyakinkan dari mereka, maka saat menonton Going in Style, kalian akan sangat terpuaskan. Caine, Freeman, dan Arkin terlihat beneran seperti temen lama yang tak terpisahkan, tokoh-tokoh mereka saling bergaul dengan menyakinkan. Each of them deliver komedi dan drama sama baiknya, mereka menaikkan derajat film ini.

Film tahu apa yang ia punya; tiga aktor kawakan, dan naskah benar-benar memberi kesempatan buat mereka untuk mengembangkan sisi komedi. Bagian paling kocak jelas adalah bagian ketika tiga kakek-kakek itu mutusin mereka kudu latihan jalan sebelum berlari. Yang berarti; sebelum mulai mencuri besar-besaran, mereka harus memulai dengan yang kecil-kecil dahulu; sebelum bank, mereka mutusin buat menjajal supermarket. Joe, Willie, dan Al (yang ikut karena “gak ada lo gak rame”) mencuri beberapa bahan makanan untuk makan malam mereka. There’s something very entertaining about that. Kalian tahu, adegan ini lebih kocak dari sekedar ‘kasus bad granpa’ yang biasa. Aku ngakak berat di adegan Joe dan Willie berbisik-bisik ngobrol through barisan makanan kaleng. Awalnya mereka hanya saling menatap, gak tau mesti ngapain.

Man with nothing to lose lebih berbahaya daripada man with everything to lose sebab ketika kau tidak punya apa-apa, kau tidak takut akan apapun. Joe dan teman-teman, motivasi mereka personal dan di usia yang tinggal menghitung hari, it’s practically worse scenario both ways buat mereka jika mereka tidak mengambil tindakan. Apa yang tidak mereka sadari adalah mereka juga punya segalanya; mereka punya keluarga yang tentunya akan kehilangan. Inilah yang menjadi landasan konflik drama dalam Going in Style

 

Oleh karena kalo ketangkep polisi, Joe dan kawan-kawan masih lebih beruntung ketimbang jadi gelandangan, it is still a fairly good scenario for them – bukan berarti tidak ada yang bisa bikin kita ngeroot buat keberhasilan heist gede mereka. Film enggak kehilangan akal untuk memberikan stake, memberikan beban dramatis kepada tokoh-tokohnya. Caine juga tampil meyakinkan ketika dia kudu ngetackle bagian emosional antara Joe dengan cucunya yang diperankan oleh Joey King.  Tokoh Willie diberikan motivasi berupa keinginannya untuk bertemu dengan sang cucu, namun dihambat oleh enggak punya duit buat ngobatin ginjalnya yang udah parah. Dan Al ditambat ke tanah oleh romansa. Yea, kita sudah liat tropes semacam ini sebelumnya, Going in Style enggak benar-benar memberikan gaya baru dalam usahanya untuk memaksimalkan eksplorasi drama pada narasi. Hanya saja, semua itu ditangani dengan penuh hormat dan sangat menyenangkan untuk diikuti. Kakek-kakek dalam film ini bukan sekedar grumpy dan benci ama generasi sekarang, paling enggak mereka mengerti cara menggunakan skype dan teknologi kekinian.

premis film ini bisa menjadi lelucon bar gaya baru, “tiga orang kakek masuk ke bank….”

 

Untuk sebuah film heist, Going in Style justru terasa lemah saat mereka mulai menangani bagian perampokannya. Sedikit mengganggu entertainment ringan dan menyentuh yang sudah dikembangkan.  Aku gak mau spoiler terlalu jelas, namun, Joe dan kawan-kawan enggak benar-benar ‘go’. Dan ‘style’ mereka pun terlalu gampang untuk dilaksanakan. Film ini melewatkan kesempatan untuk menjadi komentar sosial dan soal ekonomi, padahal naskah sempat menyingung beberapa.

 

 

Pada akhirnya, film ini adalah jendela kesempatan bagi aktor-aktor veteran untuk melakukan suatu yang gila. Khususnya Morgan Freeman, kita udah ngeliat dia ala-ala Hangover di Las Vegas sebelum ini, dan sekarang dia merampok bank. This is a light-hearted movie, amat menghibur, kocak level tinggi. Wajib ditonton demi ngeliat tiga legenda performing amazingly compelling acting. Chemistry di antara mereka luar biasa. Memang tidak terlalu banyak yang bisa kita ambil dari film ini, terlalu ringan dan terlalu ‘mari lakukan perampokan bank yang gila’. It could aim for more.  Tapi yah, ini adalah film tentang orang tua, untuk orang tua, dan dengan gembira stay at being that way.

The Palace of Wisdom gives 6.5 gold stars out of 10 for GOING IN STYLE.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.

And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

 

DESPICABLE ME 3 Review

“The love of a family is life’s greatest blessing”

 

 

Gru kini fokus sebagai pria yang punya keluarga. Dia punya istri yang juga merupakan partnernya dalam organisasi rahasia super keren yang khusus menangkap penjahat-penjahat. Dia tentu saja juga harus merawat tiga gadis cilik; Margo, Edith, dan Agnes yang sudah diadopsinya sejak film pertama.. cekiitttt-rem dikit, yes, ini adalah film ketiga dari seri animasi sukses buatan Illumination Pictures. Aku suka dua film terdahulunya, terutama yang pertama. I actually really enjoyed that movie. Para Minions juga sangat lucu-lucu, meski aku lebih suka mereka sebagai sidekick komedi dibandingkan saat mereka menjadi film sendiri. Kisah Gru  sebagai penjahat kelas kakap yang berubah menjadi baik oleh kehadiran tiga anak sepertinya sudah comes full-circle. Tapi tampaknya studio tidak memandangnya seperti itu dan mereka membuat film ketiga ini. Yang lantas membuat kita bertanya-tanya, apakah memang perlu ada film Despicable Me lagi?

Banyak anak, banyak rezeki. Jika kita sudah berkeluarga, akan lebih banyak pintu rejeki yang terbuka. Orang Indonesia percaya banget ama petuah tersebut.

 

 

Makanya banyak orangtua kita yang suka nanya-nanyain kapan kita hendak berkeluarga. Dan biasanya yang ditanya bakal menjawab sambil cengengesan “tunggu mapan dulu.” Jawaban yang biasanya langsung diuber dengan “hee jangan lama-lama, anak ama istri itu ada rejekinyaaa!!” Gru clearly tidak melihat kenyataan seperti ini pada awal cerita dimulai. Dia malah ditinggalkan oleh anak-anak buah yang setia padanya karena enggak mau ngelakuin aksi jahat lagi. Kerjaan pun kandas lantaran Gru dan Lucy kembali gagal menangkap pencuri nyentrik berambut model mullet yang bernama Balthazar Bratt. Gru struggling untuk mengenyahkan perasaan sebagai orang gagal, hard baginya melihat Agnes harus menjual boneka unicorn kesayangan. Tapi keluarga Gru bukan sebatas itu. Adik kembarnya muncul; berambut pirang nan halus, kaya, dan tentu saja seperti Gru, Dru juga punya sisi jahat. Bersama mereka bertualang, termasuk – demi membuktikan kemampuan Gru –  menangkap pencuri super yang demen kelahi sambil breakdance dan menembak orang dengan permen karet.

that gum you like is going to come back in sta-il!

 

Wajar jika film animasi modern telrihat menawan, namun kejernihan visual dan gambar film ini enggak boleh dipandang sebelah mata. Keren banget. Liat deh aksi final dengan robot besar menyerang kota itu. Nyaris seperti foto. Badan papoy nya terlihat kayak pisang yang mulus banget. Ketika Agnes dan pemilik bar setuju unicorn “so fluffy I’m gonna die”, kita bisa mengaplikasikan kalimat tersebut untuk betapa cerah dan halusnya animasi film ini. Dari dua lelucon kentut yang muncul di opening credit saja kita bisa tau film ini ditargetkan terutama buat anak-anak. Dan benar, ada banyak lelucon di dalam cerita yang mengalir dengan pace yang senantiasa cepet. Membuat film ini fun untuk ditonton. Suprisingly enough, beberapa LELUCON YANG HADIR LUMAYAN DEWASA untuk anak-anak. Ada waktu ketika hanya beberapa orang gede yang tertawa saat aku menonton di bioskop tadi. Malah ada juga joke yang sedikit too much, kayak ketika minion mengomentari sebuah patung wanita mirip dengan Gru yang punya “boobs!”. Mungkin memang bukan masalah besar sih, karena anak-anak toh belum mengerti. Sama halnya seperti referensi pop-culture, film, dan musik 80an yang turut mewarnai cerita, yang tentu saja hanya konek dengan penonton yang lebih dewasa.

Despicable Me (2010) dan Despicable Me 2 (2013) tampak mengerti di mana titik temunya antara hiburan bagi orangtua dan anak-anak. Kedua film tersebut tampil kocak dengan suguhan emosi yang memberikan bobot lebih, although film yang kedua semacam runtuh sendiri setelah pertengahan. Film yang ketiga ini, however, lebih terasa SEPERTI FILM KARTUN KETIMBANG ANIMASI LAYAR LEBAR. Despicable Me 3 sepertinya berpikir bahwa orangtua akan terhibur menonton lelucon dewasa yang dihadirkan, dan anak-anak akan betah melihat animasi yang spektakuler. Poinku adalah, film ini hanya mengarah kepada lelucon untuk membuat orang tertawa. Dia tidak pernah benar-benar mengeksplorasi emosi. Sesuatu langkah yang mengecewakan karena narasi film ini sarat oleh lelucon dan tema-tema dewasa dan berbobot.

Ketika punya subplot seperti Lucy yang berusaha menjadi ibu yang baik, Gru dan Dru yang pengen bonding sebagai saudara, Agnes yang mau mencari unicorn, bahkan motivasi Evil Bratt sebagai mantan aktor cilik yang dibuang oleh Hollywood lantaran udah ketuaan, Pixar mungkin akan menggarapnya menjadi berisi seperti Inside Out. Namun Despicable Me 3 hanya melihat semua itu sebagai pengisi humor. Yang sukses juga menghasilkan beberapa tawa di sana-sini. Tapi enggak cukup konsisten untuk menjadi benar-benar lucu. Pisahnya Gru dengan Minions adalah elemen cerita yang bagus dan fresh sebab kupikir kita akan melihat mereka bekerja ‘sendiri’ dan nantinya akan regroup lagi setelah melewati journey yang selaras. Tapi ternyata enggak. Sekali lagi, film JUST PLAY IT FOR LAUGHS. Soal Gru dan Dru, mereka terpisah sejak lahir. Orangtua mereka bercerai dan masing-masing membawa satu anak. Ada adegan ketika ibu Gru menjelaskan hal ini dan menyinggung kalo mereka sebenarnya salah membawa anak yang mereka sukai, jadi baik Gru dan Dru mendapat orangtua yang membesarkan mereka dalam kekecewaan. Ada kedalaman di sini. Seharusnya cerita bisa punya bobot emosi yang gut-wrenching. Tetapi film tidak pernah mengejar emosi.

Mending dijadiin sinetron “Anak Jahat yang Tertukar”

 

Terpaksa menunjukkan kegagalan, ketidakmampuan, adalah hal terberat yang harus dialami oleh orangtua terhadap anak-anaknya.

 

Dulu banget di twitter aku pernah bilang seandainya Santino Marella yang nyuarain Gru pasti bakal lebih lucu. Tapi aksen Steve Carrel sebagai Gru has really grow on me. Di film ini, dia ngetackle dua peran, dan keduanya terasa hidup. Dan kocak. Ditambah lagi, Gru adalah karakter yang hebat. Progresnya menarik. Di film pertama dan kedua kita udah melihatnya, makanya tadi di atas aku menuliskan, ke mana lagi karakter Gru ini bisa berkembang? Untuk inilah aku datang ke bioskop siang tadi. Dalam film-film sebelumnya, Gru punya sesuatu yang harus dia ‘urus’ yang enggak ia sangka-sangka sebelumnya dan dibahas dari segi emosi. Dalam film ini, ya, dia memang kaget ternyata dia punya saudara kembar, namun sekali lagi, emosi tidak pernah dikejar, film hanya memainkannya untuk humor. Karakter Gru di sini tidak punya arc. Tujuan karakter ini sudah tercapai. Journeynya benar-benar sudah mentok, he didn’t have anywhere to go in this movie di luar adegan-adegan lucu dengan saudara kembarnya.

Sementara itu, penjahat utama film ini, Balthazar Bratt yang disulih suara oleh Trey Parker punya aspek yang menurutku bisa sangat kocak dan menarik. Mestinya di sini bisa menarik mendengar Parker keluar dari zona nyamannya, yakni humor yang dipasarkan untuk anak yang lebih kecil. Dia enggak bisa move on dari peran Hollywoodnya. Dia mengoleksi mainan dirinya, dia sangat terobsesi dengan acara TV dan perannya tersebut. Kita bahkan dikasih liat potongan acara yang ia bintangi. Build up yang bagus dan sangat lucu, namun cerita terus saja mengulang-ngulang humor yang sama dari karakter ini sehingga terasa mereka enggak tahu harus membawa tokoh ini ke mana lagi. Adegan berantem dengan ‘jurus’ breakdance itu juga semakin berkurang kepentingannya sebab kita sudah pernah melihat hal yang sama dalam film Zoolander (2001). Dihandle dengan lebih baik, pula.

 

 

 

Perfectly enjoyable, pas untuk ditonton bareng keluarga. It’s a light-hearted. Gambarnya spektakuler. Menyenangkan, seringkali lucu. Akan tetapi, demi menjawab pertanyaan di awal ulasan ini, film ini toh terasa enggak penting-penting amat. Hanya bermain untuk humor tanpa mengeksplorasi kedalaman yang timbul dari jalan ceritanya. Butuh lebih banyak pukulan emosi untuk membuat seri ketiga ini menjadi tontonan yang berarti. Lebih seperti kartun adalah cara terbaik untuk menggambarkan ini. Anak-anak akan suka, orangtua akan punya beberapa hal untuk ditertawakan.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for DESPICABLE ME 3.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

 

Great Balls of Fire 2017 Review

 

Bukan maksud hati ingin ngeledek judul pay-per-view terbaru milik brand Raw ini, tapi; Ya, ukuran itu penting.

 

Apalagi kalo kamu ngejalanin bisnis hiburan yang jualannya adalah showcase manusia-manusia yang adu kekuataan. Sudah rahasia umum bahwa Vince McMahon, pemilik WWE, paling suka superstar yang badannya gede-gede. Hulk Hogan, John Cena, Roman Reigns, semuanya punya otot yang bisa menyembunyikan kepalaku. Sekarang aja di WWE ada tiga superstar yang masih aktif yang literally namanya ada kata ‘big’; Big Show, Big E, dan of course Big Cass. Jika kalian punya badan se-big Big Cass, maka jaminan terpercaya kalian akan mendapatkan kesempatan untuk naik ke puncak. Kita semua sudah bisa melihat tim Big Cass dan Enzo akan segera dipisah, dan build up cerita perpisahan mereka digarap dengan sangat menghibur. Split ini adalah kesempatan buat Cass untuk nunjukin dia punya talenta yang sama gedenya. Or even lebih gede dari Enzo, karena kalo kau bertubuh secuil kayak Enzo Amore, kau harus punya nyali segede gaban. You got to have great balls!!

Oke, sori, susah nahan diri untuk gak bikin pun dari ppv ini hihihi

 

Sejalan dengan nyali gede itu, kita melihat WWE kembali MENGINTEGRALKAN DARAH KE DALAM PENCERITAAN MATCH. I was totally surprised by that.  Great Balls of Fire merah oleh darah. Mereka juga ngeclose up wajah Braun Strowman yang penuh darah sehabis nyaris ‘dibunuh’ oleh Roman Reigns yang keki kalah dalam Ambulance Match. Pertandingan mereka sendiri sukses membuat kita teringat kenapa kita jatuh cinta kepada pro wrestling untuk pertama kalinya. Brutal, intens, dan kedua superstar terlihat beneran pengen bikin lawannya cedera parah. Reigns dan Strowman terlihat sudah betul-betul paham mengenai kemampuan lawan dan apa yang bisa mereka lakukan. Ending match mereka memang sedikit lucu, namun bisa dimengerti karena para booker mesti melindungi Roman Reigns, yang mana terlihat sangat badass oleh angle babyface yang enggak-peduli ama batasan itu. Aku setengah berharap Strowman keluar dari ambulan sambil ngamuk, but apa yang kita lihat di acara ini sudah cukup worked out.

Banyak percakapan yang timbul dari akhir pertandingan mereka, dan beberapa bersuara bahwa Reigns dan Strowman baru saja melakukan double turn; Reigns jadi jahat, sementara Strowman jadi baik. Aku enggak berpikir demikian. Strowman perlu dibuat kuat sekaligus manusiawi. Dan I don’t think Reigns akan pernah dijadiin heel, seperti halnya John Cena dan Hulk Hogan (semasa di WWF). Vince sudah mendapatkan apa yang ia mau dari mega bintangnya itu; reaksi yang heboh. Karakter Roman Reigns seperti udah dikunci oleh si bos sebagai babyface yang enggak sebland musik barunya si Cass. Reigns adalah face yang respect sama yang ngefans ama dia dan sebodo amat ama ‘haters’nya. Dia adalah babyface yang enggak masalah nunjukin nyalinya, dia bangga mengalahkan dan ngambil sesuatu dari Undertaker, mirip-mirip gabungan antara karakternya Stone Cold dengan Hulk Hoganlah.

“I did it for Rikishi”

 

Satu lagi yang keluar dari locker terlihat seperti monster adalah Samoa Joe. Pertandingan main event acara ini cukup langka, karena jarang sekali kita punya dua kompetitor yang genuinely beringas, dan diikuti dengan build up feud yang meyakinkan dan entertaining. Particularly, Joe terlihat benar-benar mampu mengalahkan Lesnar. Alasan yang terpikirkan olehku kenapa superstar ini enggak memenangkan sabuk adalah lantaran WWE pengen Brock Lesnar mempertahankan gelar Universal Championnya paling enggak satu kali. Meski Joe kalah hanya dengan satu kali F5, namun kenyataan bahwa dia langsung bangun dan menatap Lesnar dengan garang tepat di mata sudah berhasil ngedeliver Joe bisa jadi the Beast era baru. Match mereka seru, hanya saja terlalu singkat. Yeah, kalian tahulah, kecewa orang yang enggak puas.

Ketika kita menulis pertandingan untuk WWE, bukan saja kita mikirin siapa yang menang dan kalah, kita juga harus mempertimbangkan apa dampaknya terhadap karakter. Bagaimana yang kalah harus kalah. Makanya kebanyakan pertandingan WWE berakhir gimmicky. Reigns terlihat bego terbang ke dalam ambulans, dan Alexa Bliss terlihat lemah dengan menang via sengaja count out. Curang! It was needed for her character dan untuk propel cerita lebih jauh lagi. Bliss is goddess dan Banks is boss; they live up to their names as kedua cewek ini mempertunjukkan intensitas luar biasa dalam pertandingan mereka. Sudah lama kita enggak melihat duel cewek satu-lawan-satu segreget ini, mungkin terhitung sejak Summerslam tahun lalu. Taktik ‘lengan patah’ Bliss terlihat mengerikan, namun tidak semengerikan gimana cara Banks ngesell bumps. Lehernya itu loh, kena di sana melulu. It was horrifying to look at. Aku senang Bliss kembali dipersilakan menggunakan beberapa jurus dan kebolehannya yang sudah lama enggak kita liat. Seriously, aku udah bela-belain bikin menu es krim di Cafeku (Warung Darurat; dateng dong nobar sekali-kali) pake nama Twisted Bliss, eh move ini malah semakin jarang dipake oleh Alexa.

haruskah aku pindah dari The Palace of Wisdom ke The Temple of Bliss?

 

Dan kalo kita nulis pertandingan WWE, maka Ironman adalah jenis pertandingan yang tricky untuk ditulis. Karena biasanya, penonton akan mengharapkan kejadian seru hanya akan datang di menit-menit terakhir. Dalam pertandingan antara Hardy Boyz melawan juara bertahan Cesaro dan Sheamus – first ever Ironman Tag Team by the way – WWE mencoba untu membuat kita terinvest sedari awal oleh cepatnya Brogue Kick Sheamus mecahin telur skor. Tapi masih belum cukup, lantaran WWE masih terpatok kepada formula ‘yang face harus ngejar skor’. Aku benar-benar menunggu hari di mana WWE pull all the stops dan nekat bikin pemenang Ironman unggul jauh dibanding lawannya, bukan sekedar unggul satu poin seperti biasanya. But hey, why fix something when it’s not broken, right? Menjelang akhir, pertandingan tag team ini seketika menjadi seru. Kejar-kejaran skor dan waktunya sukses bikin yang nonton bareng di Warung Darurat nyuekin kursi mereka. Komentator pun terdengar berapi-api, menjadikan pertandingan ini semakin heboh.

Hal terbaik yang bisa terjadi kepada jobber saat ini mungkin adalah main film kelas B dan menjadi anak buah the Miz. Seriusly, WWE bisa menjadi sangat kejam bagi para jobber. Liat aja  Hawkins dan Slater yang mendapat match di acara ini, akan tetapi kamera malah menyorot backstage demi melanjutin storyline Strowman yang terperangkap di dalam reruntuhan ambulans. Segar melihat wajah yang jarang nongol kayak Bo Dallas dan Curtis Axel, if done correctly Miz dan Miztourage bisa jadi pasukan heel yang menarik. Namun begitu, pertandingan Miz dan Ambrose terasa hambar. Karena, I don’t know, kita sudah melihat mereka bertemu entah untuk keberapa kali!! Kedua superstar ini desperately butuh lawan yang sama sekali baru. Tidak ada api, tidak ada intensitas. Sama halnya dengan Wyatt melawan Rollins yang terasa enggak perlu. Kedua superstar ini udah sama-sama mentok, feud mereka enggak jelas, mereka butuh arahan baru. But paling enggak, aku senang Wyatt keluar sebagai pemenang.

 

It’s one of the better pay-per-view. Malahan, Great Balls of Fire adalah ppv dari brand merah yang paling asik untuk ditonton. Iya sih, mungkin itu karena di acara ini banyak darahnya. Yang menandakan bahwa aksi dalam acara ini seru parah. Tentu saja, sama seperti saat kita menonton balap Nascar, we stay tune in karena kita ingin melihat letupan bola api yang besar.

The Palace of Wisdom menobatkan 30-Minute Ironman Tag Team antara Sheamus dan Cesaro dan the Hardy Boyz sebagai MATCH OF THE NIGHT

 

Full Results:
1. SINGLE Bray Wyatt mengalahkan Seth Rollins
2. SINGLE Big Cass ngesquash Enzo Amore
3. WWE RAW TAG TEAM CHAMPIONSHIP 30-MINUTE IRONMAN Sheamus dan Cesaro mempertahankan gelar atas The Hardy Boyz
4. WWE RAW WOMEN’S CHAMPIONSHIP Sasha Banks menang tapi Alexa Bliss nyaww tetap juara                                                                                                                          5. WWE INTERCONTINENTAL CHAMPIOSNHIP The Miz menang atas Dean Ambrose
6. AMBULANCE Braun Strowman masukin Roman Reigns ke ambulans
7. SINGLE Heath Slater beat Curt Hawkins but nobody care
8. UNIVERSAL CHAMPIONSHIP Brock Lesnar sukses retain over Samoa Joe

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We? We be the judge.

SWEET 20 Review

“Beautiful people experience life differently.”

 

 

Pernah gak sih penasaran pengen tau gimana tampang nenek atau orangtuamu kala mereka masih muda dulu? Apa mereka bandel-bandel juga kayak kita? Seperti apa mimpi-mimpi mereka, apa mereka berhasil mencapainya? Wah, kalo belum, coba tanyain segera deh. Kali aja nenek kamu dulunya mantan gadis sampul majalah. Buka lemari kayu reot itu, ambil album-album foto yang tersimpan di dalam laci. Tiup debu di sampulnya, buka, dan apalin satu persatu wajah nyengir yang nampang di sana. You might be surprised. Segera. Sebelum nenek-nenek kita pada berbondong-bondong ke studio foto Forever Young. Dan tanpa sepengetahuan kita, the next cewek kece yang kita taksirin ternyata adalah nenek kita sendiri. Bisa gawat!

Seperti yang dialami oleh Nenek Fatmawati (Niniek L. Karim tampak totally have fun mainin tokoh ini). Begitu beliau mencuri dengar keluarga putranya sedang berembuk soal memasukkan dirinya ke panti jompo, Nek Fatma jadi sedih. Dia enggak pernah pengen direpotin. Dia jadi merindukan masa mudanya yang mandiri. Dengan galau, dia masuk ke studio foto di pinggir jalan yang terlihat oldies banget. Setelah difoto, Nek Fatma menjadi lebih muda tiga-puluh tahun, ajaib! Dengan girang Nek Fatma menjalani identitas barunya, nyamar menjadi cewek muda bernama Mieke (busana-busana classy itu sukses bikin Tatjana Saphira terlihat supercute!) Mieke ingin melakukan hal-hal yang dulu tidak bisa ia lakukan di masa mudanya yang asli – lantaran Fatma was a single mother. Tentu saja segudang masalah datang bersama perubahannya ini, yang dibahas oleh film dalam sinaran yang kocak. Mieke kudu berkutat dengan masalah duit, juga soal keluarga yang mencari dirinya. Mieke harus berpura-pura berjiwa muda, meski dia masih cerewet ngomelin ini itu khas nenek-nenek. Mieke harus ‘menghindar’ sekuat tenaga dari panah cinta cowok-cowok muda di sekitarnya, while berusaha mengejar cinta lamanya.  Apalagi dari cucunya, yang by the way, ngajak Mieke ikutan bergabung sebagai vokalis band.

ternyata enggak segampang itu jadi orang cantik di jaman sekarang.

 

Hidup menjadi lebih mudah jika engkau muda dan berpenampilan menarik. Especially if you are a girl. Ya, pernyataan yang jelek. Tapi itulah kenyataan. Dengan menjadi muda kembali, Fatma mudah untuk diterima oleh orang, termasuk oleh keluarganya sendiri. Menantunya menerima kritik masakan dengan lebih lapang dada ketika kritik tersebut datang dari mulut merah merekah wanita yang lebih muda. Penjual sepatu juga lebih ramah kepadanya dibanding saat dia menawar ketika dalam wujud aslinya yang keriput. Memang, kadang ‘cantik itu luka’ dan kecantikan bukanlah segalanya, tapi kita enggak bisa mungkir bahwa kita hidup di dunia yang sedikit lebih sopan dan lebih berhadap terhadap orang-orang yang atraktif.

 

Meskipun ini adalah ADAPTASI RESMI DARI FILM KOREA, aku tidak merasa asing saat menontonnya. Sutradara Ody C. Harahap menempeli naskah dengan warna-warna khas Indonesia. Kita melihat para tokoh berlebaran, nonton sinetron, dan mendengar mereka menyanyikan lagu-lagu klasik Indonesia. I have soft spot di film-film yang masukin elemen lagu, dan film ini berhasil membuat, bukan hanya aku, tapi nyaris seisi studio ikutan menyanyikan lagu yang dinyanyikan oleh Tatjana. Aransemennya asik punya. Film ini cerah banget, production designnya top, enak enak sekali untuk dipandang. Bahkan ketika tone cerita mulai serius, ada saja yang bikin penonton tertawa. Tatjana really nailed it sebagai jiwa tua yang bersemayam di raga yang muda. Dia terlihat girang, while also nunjukin concern dan ‘cerewet’nya nenek-nenek. Para pemain lain juga menghandle tokoh mereka dengan sama enggak jaimnya, namun beberapa terasa tertahan oleh kurungan naskah yang membuat tokoh mereka satu dimensi; hanya ditujukan untuk bagian tertentu. Sepertinya Lukman Sardi yang hanya di sana untuk bagian dramatis dari narasi.

Sebenarnya enggak heran juga kenapa adegan sisipan yang poke fun soal sinetron Indonesia mengundang tawa lebih heboh dan lebih membekas dari keseluruhan film. Karena dengan banyak elemen yang berusaha ditackle oleh narasi, not to mention gabungan cerita asli dengan bagian-bagian lokal, memang Sweet 20 terasa seperti gabungan momen-momen lucu yang tidak pernah benar-benar terflesh out. Misalnya, ketika Mieke latihan band pertama kali dan dia gak setuju ama lagu rock, ngusulin pake lagu “Hey Hey Siapa Dia”, kita tidak diperlihatkan gimana lagu ini bisa diapprove oleh anggota band – ultimately changing the genre of the band. Atau ketika tiba-tiba saja Mieke dan cucunya sudah duduk makan di café, padahal akan lucu kalo diliatin gimana caranya mereka bisa jalan berdua. Film ini juga memutuskan untuk menggeber kelucuan dari dua nenek yang sirik-sirikan ketimbang mengeksplorasi momen-momen kecil seperti adegan di pasar soal komentar tentang bayi dan ibu modern; menjadikan film ini terlalu ringan. Dan to be honest, aku enggak bisa peduli betul sama tokohnya. Aku gak mengerti keinginan dan kebutuhan Fatma sebagai tokoh utama. Karena film tidak menceritakannya dengan clear, due to banyaknya kejadian. At one point Fatma mengejar cinta, point berikutnya dia ingin memenangkan kontes band.

Nona Nyonya

 

Film tidak pernah fokus untuk membahas relationship antara Fatma Muda dengan keluarga dan orang terdekatnya, meski mereka terus bertemu. Ini bukan cerita Fatma yang berusaha untuk diterima oleh keluarganya, ini juga bukan cerita tentang Fatma yang ingin mandiri – sebab dia enggak pergi jauh, di sekitar keluarganya doang. Aku enggak yakin ini cerita apa. Di akhir cerita, karakter Fatma tidak berubah; dia tetap nenek yang ngurusin orang lain, hanya saja kini keluarga lebih apresiatif kepadanya. Lucunya, malah cucu-cucunya yang menjadi pribadi yang berbeda di penghabisan film, padahal mereka tidak benar-benar punya arc, terutama cucu yang cewek.

Fatmawati sebagai tokoh utama terasa pasif karena justru keluarganya lah yang belajar untuk menerima dia. Itupun dipicu oleh peristiwa yang bisa digolongkan ‘kebetulan’, karena datang tanpa penjelasan. Aku gak mau spoiler terlalu terang, tapi menjelang akhir itu, ada tokoh yang terlambat entah karena apa, dia lantas kecelakaan dan butuh transfusi darah yang hanya dipunya oleh Fatma. Redemption Fatma datang dari konfliknya di mana dia sekali lagi harus memilih untuk ngorbanin masa mudanya demi orang lain, I get that, tapi semua itu terasa effortless. Coba deh, bandingkan dengan perjalanan tokoh Peter Parker di Spiderman: Homecoming (2017) yang kerasa banget up-downnya.

Setiap film, mau action, komedi, romance, punya naskah yang tersusun atas babak-babak cerita. Setiap babak ada sekuens yang merupakan naik-turunnya perjalanan karakter utama, dan menjelang akhir babak kedua seharusnya adalah sekuens down di mana tokoh utama kehilangan semua dan harus berjuang sebagai diri sendiri. Dalam film romantis, biasanya ini adalah ketika tokoh utama berantem trus putus dengan pacarnya. Dalam cerita undercover, biasanya ini ketika penyamaran tokoh utama terbongkar dan dia dianggap pembohong oleh semua orang. Dalam Homecoming, kita lihat Peter dirampas dari kostumnya, dia belajar menjadi pahlawan sebagai dirinya sendiri. Tidak ada sekuens ini di dalam narasi Sweet 20. Kita tidak melihat Fatma ‘berjuang’ sebagai nenek, makanya tadi aku bilang effortless. Dia diterima begitu saja, bahkan orang-orang enggak ada yang mempermasalahkan kenapa dia yang tua bisa jadi dua-puluh tahun lagi.

 

 

Punya bumbu komedi yang semakin cerah oleh warna-warna lokal, membuat film ini enak dan relatable untuk ditonton. Musiknya oke, pemainnya pun kece. Premis ceritanya yang unik diturunkan kepentingannya oleh fakta bahwa ini adalah cerita adaptasi dari film lain. Dan semakin terbebani lagi oleh elemen-elemen cerita yang masuknya dijejelin, tanpa pernah terflesh out dengan baik. Indeed, film ini terasa kayak ringkasan dari film yang lebih panjang. Alih-alih fokus ke pengembangan relationship ke tokoh-tokoh, film ini hanya menunjukkan momen-momen di mana candaan bisa ditampilkan tanpa ada pijakan yang kuat. Tapi walaupun ini kayak kita nulis resume, tetap aja film terasa going on forever. How’s that possible, you asked? Coba tanyak sendiri ke Nenek Fatmawati kalo berani.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for SWEET 20.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

SPIDERMAN: HOMECOMING Review

“You don’t get what you deserve, you get what you earn.”

 

 

Gimana kalo Spiderman kudu ngejar penjahat ke daerah perumahan yang enggak ada gedung-gedung bertingkat? Gimana jika Spiderman terpaksa harus ngelayap melintasi tanah lapang? Di mana dia bisa nyantolin jaringnya untuk berayun, coba? Masa iya dia mesti lari – enggak keren amat. Dan kalo sudah berayun, gimana kalo tiba-tiba jaringnya putus? Pertanyaan-pertanyaan konyol tersebut benar-benar dialamatkan oleh reboot Spiderman terbaru atas nama Marvel Cinematic Universe ini. Mempersembahkan kepada kita perspektif yang sama sekali segar dari sang superhero laba-laba. Gimana ‘pabila Peter Parker yang masih sangat belia harus memilih antara nyelidikin transaksi senjata alien atau datang ke pesta demi pamer buat cewek yang ia taksir?

Arahan dari Jon Watts mengayunkan cerita keluar dari fokus penceritaan yang sudah-sudah. Sukur Alhamdulillah film ini paham mengenai karakter-karakter yang ia adaptasi. Sekaligus juga mengerti bahwa dirinya harus menjelma menjadi sesuatu yang berbeda. Bukan sekedar rehash dari apa yang sudah kita lihat sebelumnya. Ini adalah film Spiderman keenam sejak 2002, dan Homecoming ini adalah FILM SPIDERMAN TERBAIK YANG KITA LIHAT SETELAH TIGA-BELAS TAHUN, semenjak Spiderman 1 dan 2 garapan Sam Raimi. Kita toh tidak perlu lagi melihat versi lain dari cerita origin yang membahas gimana Peter Parker digigit oleh laba-laba radioaktif, ataupun soal Peter Parker yang dealt with kematian Paman Ben. Film kali ini adalah tentang cerita gimana Peter Parker menjalani hidup sebagai manusia laba-laba; Kita akan diperkenalkan kepada Peter Parker yang masih SMA, dia anak sekolahan biasa – lengkap dengan permasalahan abege. Dia harus ke sekolah tepat waktu, dia harus mikirin cewek mana yang diajak ke pesta dansa homecoming di sekolah, dia ikut lomba sekolah sembari bolak-balik mengamankan lingkungan. Singkat kata, film ini adalah tentang Peter Parker belajar menjadi pahlawan yang bertanggung jawab, dia bertumbuh dari Spiderboy menjadi Spiderman.

sepertinya karena belum akil baligh, makanya spider sense Peter belum tumbuh

 

Meskipun kebanyakan orang (terutama orang yang berambut merah dan bernama Ron Weasley) sangat takut sama laba-laba, tetapi dari sekian banyak pahlawan super di komik, Spiderman adalah tokoh yang paling gampang untuk direlasikan oleh para pembaca (dan tentu saja, penonton). Publik relates to Spiderman so much karena Spiderman adalah karakter yang sangat dekat. Dia bukan orang kaya, dia bukan makhluk asing. Dia seperti kita-kita, Peter Parker punya masalah yang sama dengan kita. Bedanya, dia juga adalah superhero; sesuatu yang kita semua impi-impikan sejak kecil.

 

 

Jika topeng superheronya kita buka, maka di lapisan terdasar kita akan melihat bahwa ini adalah cerita tentang KEHIDUPAN ANAK REMAJA. It’s very clear while watching it bahwa film ini mengambil inspirasi dari film-film anak SMA. Literally ada adegan ketika Spiderman berlari melintasi pekarangan rumah yang dikontraskan dengan klip film remaja klasik Ferris Bueller’s Day Off (1986) yang terlihat di televisi rumah temen Peter. Sebagian besar waktu kita akan ngikutin Peter dealing dengan masalah anak sekolah. Keren melihat Spiderman beraksi, does whatever a spider can, dan sesungguhnya adalah experience yang sama-sama menyenangkan untuk melihat tokoh ini dalam cahaya yang lebih grounded. Dalam, katakanlah, pergerakan yang lebih lambat. Ada banyak downtime dalam narasi, di mana alih-alih aksi pahlawan berkostum, kita melihat Peter berinteraksi sebagai anak normal. Dia naksir cewek, dia yang nerd dibully oleh teman sekelas, people don’t like him. Bahkan ia diacuhkan oleh mentornya sendiri. Spidey pengen dilibatkan; bayangkan punya jiwa muda on top of punya kekuatan dan gaul dengan Ironman, namun gak bisa bilang ke siapa-siapa. Itulah yang dirasakan oleh Peter. Dan film ini berani untuk mengambil banyak waktu untuk mengeksplorasi supaya kita bisa menumbuhkan apresiasi terhadap tokoh ini. Momen-momen Peter sebagai anak biasa inilah yang merupakan elemen penting, elemen yang menyeimbangkan tokohnya seperti pada komik.

Namun, memang aku bisa melihat anak-anak kecil akan cukup bosan menonton ini. Aku nonton ini bareng adekku yang baru 8 tahun, dan dia fokus ke layar hanya pada saat Spidey beraksi. Bisa dimaklumi karena anak kecil ingin liat Spiderman menjadi Spiderman. Penonton dewasa tentunya akan bisa mengapresiasi perjalanan karakter Peter Parker yang ditulis dengan mendalam. Sejatinya, penggemar komiknyalah yang akan sangat terpuaskan sebab kita akan melihat our friendly neighborhood Spiderman diportray sesuai dengan yang di komik, persis seperti kita mau. But also, ada beberapa perubahan yang dibuat kepada beberapa karakter penting, yang mana berpotensi untuk bikin fans garis keras yang hanya mau segalanya sempurna ngamuk-ngamuk ngomel di kolom komen internet. While adalah angin segar melihat Bibi May versi yang lebih muda, aku bisa mengerti kenapa ada yang protes soal tokoh The Shocker dan The Tinkerer yang dijadikan lebih sebagai sidekick penjahat utama. Aku gak mau spoiler, tapi menurutku tokoh MJ di sini adalah cewek yang keren, walaupun film ini mengangkat sisi awkward antara Peter dan MJ dari angle yang berbeda.

Kalo ada yang benar-benar jadi keren, maka itu adalah The Vulture. Marvel Cinematic Universe selalu kepayahan dalam menghadirkan tokoh penjahat yang meyakinkan, dan akhirnya dahaga kita terhadap villain yang bisa kita peduliin terpuaskan sudah. Michael Keaton did a really great job menghidupkan tokoh ini, mungkin karena dia udah terbiasa mainin peran manusia bersayap hhihi. The Vulture punya kedalaman karakter, perkembangan tokoh ini mengejutkanku, karena ternyata dia diberikan hubungan personal dengan Spiderman, yang mana membuat adegan mereka ngobrol di mobil menjadi adegan yang hebat. Bahkan jauh sebelum adegan tersebut terjadi, kita sudah diberikan alasan untuk mengerti motivasi The Vulture, untuk memahami cara pikirnya. Part paling menarik dari tokoh ini tentu saja adalah gimana penamaannya sangat pas dengan apa yang ia kerjakan; The Vulture basically ngumpulin dan mencuri benda-benda rongsokan bekas alien dan para Avengers untuk ia gunakan memperkuat diri, persis kayak apa yang dilakukan oleh burung hering beneran sebagai burung pemakan bangkai.

Aku juga paham kenapa banyak yang mempermasalahkan soal spider sense yang ada-tapi-tiada dalam cerita. Sepintas dalam percakapan disebutin Spiderman di sini memiliki kemampuan tersebut, akan tetapi tidak pernah ada adegan yang menunjukkan demikian. Terlalu banyak adegan Spidey disergap dari belakang oleh The Vulture, Spidey bahkan enggak tahu temennya ada di kamar ketika dia menyelinap masuk. Lalu of course, adegan Spiderman ngendarai mobil yang punya sistem deteksi rem. Belum lagi kostumnya yang dilengkapi komputer kayak kostum Iron Man. Dan dia punya teman yang nunjukin arah. I mean, buat apa teknologi itu kalo Spidey punya alarm natural? Semuanya memang terasa ‘mengurangi’ kemampuan Spiderman, but yeah, ini integral dengan apa yang mau disampaikan; bahwa Peter Parker adalah remaja, dia belum pernah ngendarain mobil, dia masih perlu banyak bantuan,  baik sebagai pahlawan super maupun sebagai seorang manusia.

Tema terpenting film ini adalah apa yang membuat seorang menjadi kuat. Apakah Peter Parker butuh kostum untuk menjadi Spiderman, bisakah dia menjadi Spiderman tanpa kostum? Stark menyebutkan jika tidak bisa apa-apa tanpa kostum, maka itu berarti Peter tidak pernah pantas untuk mengenakannya. Ini kayak kita pengen punya blog, tetapi kita enggak bisa nulis. Kita harus mengasah kemampuan dulu untuk layak menyandang, apalagi memanfaatkan fasilitas. Ibaratnya bersusah dahulu, bersenang kemudian.

 

 

Dan ngomong-ngomong, blogger itu bukan wartawan beneran.

 

Kepolosan dan naifnya Peter Parker  ditangkap sempurna oleh Tom Holland, aktor ini sukses berat menjadi both Spidey yang amazing dan Peter yang everyday kid dengan segudang masalah. Tokoh ini superkocak dan amat likeable. Hubungannya dengan Tony Stark juga menarik. Susah untuk tidak terhibur melihat Robert Downey Jr. sebagai Tony Stark. Namun, memang kadang perannya di sini acap terasa seperti device yang memudahkan saja. Actually, salah satu masalahku buat film ini adalah porsi aksinya yang enggak pernah benar-benar terlihat susah untuk si Spiderman. Tidak intens seperti apa yang diperlihatkan oleh Sam Raimi; tidak ada momen seperti Spidey babak belur dan Green Goblin ngancem bakal ngebunuh Mary Jane, tidak ada urgensi aksi seperti Spidey dengan topeng terbuka menahan kereta yang nyaris mengoyak tubuhnya menjadi dua. Action pada film kali ini menyenangkan dan light-hearted, enggak brutal dan intens. Cerita menuntut supaya Spidey kerap dibantu agar nanti bisa belajar sendiri pada sekuen resolusi.

 

 

 

Marvel bisa membuat film solo yang berdiri sendiri yang baik seperti Winter Soldier (2014), ataupun sebuah extravaganza universe seperti Civil War (2016). Dan film ini terletak di antara keduanya. Pada lapisan drama, sesungguhnya film ini kokoh untuk berdiri sendiri – dia berbeda dari penceritaan Spiderman yang lain. Namun, lebih sering ketimbang tidak kita ngerasa, “oh itu anu dari film ono!” Ada kepentingan yang berkurang karena it feels kayak kita nonton serangkain event yang digunakan untuk ngesetup film Spiderman dan MCU berikutnya. Poin bagusnya adalah ini adalah cerita set up yang sangat menarik, teramat menghibur, seru, dan cenderung ringan. Tokoh-tokohnya dimainkan dengan luar biasa, dengan interpretasi yang bisa bikin fans girang. Namun juga ada beberapa perubahan, terutama pada casting dan karakterisasi, yang dapat memancing fans untuk protes. However, tidak banyak korban jatuh dalam film ini. It could use some intensity dan actual stakes sebenarnya bisa lebih diamplify lagi.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for SPIDERMAN: HOMECOMING

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

 

 

Extreme Rules 2017 Review

 

Bayangkan suatu malam seluruh keluarga pada pergi dan kamu tinggal sendirian di rumah. Kamu bisa nyalain tv-dengerin musik keras-keras tanpa ada yang larang, bisa minum segala persediaan sirop di kulkas langsung dari botolnya tanpa ada yang negor, bisa duduk naikin kaki ke sofa tanpa ada yang nyambit kepalamu pake sapu, heck, kamu bisa pake tuh sapu main Harry Potteran sampai ke atas genteng sesuka hati! Extreme Rules seharusnya seperti itu. Satu malam di mana semua peraturan baku dinihilkan dan all the games resort ke rules-rules ‘sadis’ yang basically ‘enggak-ada peraturan’.

Apa yang bisa dibawa pulang oleh teman-teman yang ikutan nobar di Café es krim Warung Darurat, Bandung (“Eskrim Rules!!”) adalah KE-UNPREDICTABLE-AN PENULISAN WWE YANG LUAR BIASA EKSTRIM. Di akhir main event, serta merta suasana Warung senyap, penuh oleh dering excitement as wasit mengangkat tangan lemas Finn Balor yang pingsan di dalam dekapan Samoa Joe yang mematikan. Tidak ada yang menyangka Joe memenangkan partai utama Fatal 5 Way. Kalolah dibikin taruhan, pastilah Bandar menang gede for no one bets on him. Tidak ada yang menyangka Joe jadi superstar yang bakal berhadapan dengan Brock Lesnar. To be fair, aku menyangka pemenangnya sudah dikunci ke Seth Rollins; Reigns masih ada urusan sama Strowman, Finn kayaknya bakal dibangkitkan demonnya oleh Wyatt di feud selanjutnya, dan Joe – bookingannya enggak terlalu kuat sebelum ini. Dan yea, WWE put on twist, dan akhirnya salah satu pertandingan impian kita akan jadi kenyataan!

Roman Reigns gak diajaaaaak hhihi

 

Pertandingan tersebut awalnya berjalan lambat, kita melihat formula fatal (masukkan angka) way yang biasa dilakukan oleh WWE; ring menjadi fokus aksi, dengan superstar mengambil spot di tengahnya silih berganti. Setiap superstar diberi kesempatan untuk menyuguhkan aksi crowd pleaser, yang efektif bikin kita semakin tertarik. Bray Wyatt dan Samoa Joe actually yang pertama melakukan tindak ekstrim dengan memanfaatkan steps dan kursi menjadi senjata. Nyaris setengah durasi match kita melihat dua behemoth ini bekerja sama, yang mana cukup aneh buatku lantaran angle ini pernah mereka lakukan di Raw dan berakhir dengan pengkhianatan; so why’d they agree to do it again? Reigns menjebol barikade ring dengan Spear dan Rollins gak mau kalah ngancurin meja dengan Frog Splash menjadi cue untuk aksi agar segera tambah intens. Pace semakin cepet. Mereka ngebuild Reigns sebagai kandidat terkuat, everyone comes short before him, only to make Finn Balor even more exciting. Semua pada bersorak ketika Balor berhasil mengungguli Reigns, dan ketika Samoa Joe datang merenggut kemenangan gitu aja dari Balor, efeknya sungguh luar biasa. Seolah penonton ikut tercekat bersama Balor.

Satu rule yang nyata dibengkokkan oleh WWE malam itu adalah peraturan tak-tertulis yang berbunyi “Superstar niscaya selalu kalah apabila bertanding di kampung halamannya.” Tapi tentu saja, kemenangan Rich Swann yang dipasangkan dengan Sasha Banks bisa jadi hanyalah karena Vince McMahon enggak kenal siapa dirinya dan have no clue Swann berasal dari Baltimore hhihi

Sa Sha Land

 

Extreme Rules 2017 adalah benar sebuah acara yang tidak punya peraturan. Tidak lagi extreme rules berarti partai-partainya punya stipulasi yang ekstrim. If anything, rules dalam acara ini hanya sebatas mediocre rules. It has become a complex conundrum; enggak ekstrim, namun di situ jualah luar biasanya acara ini membuktikan dia enggak punya peraturan.

 

Dari semua stipulasi seru yang bisa dipikirkan dalam himpunan tajuk acara yang ekstrim, adalah super gaje dan paling enggak penting pertandingan kejuaraan Intercontinental dilangsungkan dengan peraturan ‘jika kena DQ, Ambrose akan kehilangan gelarnya’ I mean, come on! Di atas kertas mungkin stipulasi tersebut memang terlihat seperti pemantik drama yang oke, namun eksekusinya bisa menjadi sangat bego. Kita literally melihat Maryse dengan sengaja menampar Miz supaya Ambrose kena DQ, tapi toh rencana ini gagal. Malahan dari sana sepertinya malah stipulasi ini lebih nunjukin perkembangan karakter wasit ketimbang kedua superstar. Dari yang tadinya terlihat kompeten dan pintar banget, wasit pertandingan ini terlihat semakin mengguoblog, semakin clear dia adalah device supaya drama dan cerita bisa lebih nyampe. Result pertandingan ini keren sih, Miz menang clean adalah twist yang enggak semua kita duga.

Submission adalah tipe match yang cukup berbahaya dan punya potensi gede untuk dengan gampang menjadi pertandingan yang seru nan dramatis. Kejuaraan Cruiserweight yang sekali lagi mempertemukan Neville dan Austin Aries berhasil memenuhi kriteria seru nan dramatis tersebut. Red Arrow yang menyasar punggung dan dilanjutkan dengan Ring of Saturn bener-bener kombo yang mematikan. Juga indah dilihat. Tanding mereka solid, but somehow it feels lackluster seperti kejadian-kejadian ‘ekstrim’ lainnya dalam acara ini. Kita bisa menyalahkan penonton yang sepi, yang mungkin saja bosan melihat pertemuan mereka. Personally, aku bisa menonton dua superstar keren ini bertempur kapan saja; they have so much to offer, Neville pun semakin dominan, aku suka dia sebagai juara yang heel. The culprit, to me, adalah keputusan para penulis untuk membuat pertandingan ini layaknya pertandingan normal. Aku gak abis pikir kenapa di Submission Match yang ekstrim, wasit perlu menghitung waktu count-out dan kenapa wasit kudu memisahkan dua petarung saat terjadi rope break. Sepertinya mereka membuat bookingan yang enggak sesuai dengan environment pertandingannya.

Aku juga enggak demen sama keputusan para writer buat meniadakan pinfall di partai kandang Kejuaraan Tag Team. Sure, it would increase the drama value, kita bisa lihat mereka benar-benar mengeksplorasi elemen keluar bareng (ew, that doesn’t sound right..) sehingga matchnya sebenarnya bagus dan membuat kita invest banyak. Jeff Hardy pun sukses deliver spot gede. Tapi, sekali lagi, terasa bego. Aku lebih suka melihat kedua tim – Matt, Jeff, Sheamus, Cesaro actually udah kaliber upper card – saling menghabisi alihalih lomba siapa cepat manjat. Stipulasi kedua anggota tim harus berhasil keluar kandang untuk menang menciptakan banyak awkward reasoning, seperti; kalo memang harus keluar dua-duanya, kenapa manjatnya mesti di dua sisi kandang yang berbeda – perkuat defend atau apa kek. Dan lagi, kenapa mesti manjat kalo bisa keluar dari pintu. Admiteddly, ini adalah partai yang kami tonton bareng dengan paling ribut, while the most of our screaming are due to Matt Hardy’s stupid choices. Kalo gak salah adegan Matt ditinggal oleh Jeff di dalam kandang ini sudah pernah mereka lakukan sekitar 2000-2001an, aku enggak begitu ingat, namun sepertinya memang sudah ditetapkan di dunia WWE bahwa keluar lewat pintu lebih lambat daripada keluar dengan manjat dinding kandang.

As much as I love Aleksya Bliss retains (nyaaaaaawwwww), mereka harusnya ngebook Kejuaraan Cewek ini dengan lebih baik. Because this is the worst match of the night. Aku ngerti cerita yang ingin disampaikan, apa peran kendo stick, dan sebagainya. Tapi serius deh, resolusi cerita pertandingan ini jauh banget dari logika. Mereka harusnya bikin Bayley bisa buktiin bahwa antagonis Alexa salah. Tapi yang kita dapat adalah Bayley terlihat seperti tokoh paling lugu dan bego sedunia. She seriously dibikin enggak bisa mukul Alexa pakai tongkat kendo itu. Tidak ada development di karakter Bayley, match mereka jadi kayak squash match. Dan fakta WWE punya nyali mengaitkan kedua superstar dengan legenda berkendo stick dari ECW; Tommy Dreamer dan Sandman, sekaligus juga mengaitkan Bayley sama Wonder Woman yang lagi ngehits, tanpa difollow up dengan pertandingan yang seru dan menarik, terang saja membuat si babyface ini diboo abis-abisan sama penonton, bahkan sebelum matchnya dimulai.

“It’s just the Bliss under your bed. In your closet, in your head~”

 

 

Extreme Rules sudah menjadi ppv WWE sejak 2009 dan inilah kali pertama tidak ada Kejuaraan WWE dalam sejarah Extreme Rules. Most of the action dalam acara kali ini keren sih. Selain Kejuaraan Cewek, match-matchnya bagus dan lumayan solid, namun dalam penulisan yang konyol. Secara aksi ekstrim, it is a pretty lackluster. Indeed acara ini adalah DRAMA OVER ALL OTHER ELEMENTS. Dan satu hal lagi yang pelru digarisbawahi adalah lagu yang dibawakan oleh Elias Samson masih jauh lebih baik ketimbang lagu yang dipilih jadi theme song acara ini.
Cruiserweight dan Fatal 5 Way adalah favoritku untuk acara ini, tapi yah setelah menimbang, membanting, dan mengepin, The Palace of Wisdom memutuskan Samoa Joe vs. Roman Reigns vs. Seth Rollins vs. Finn Balor vs. Bray Wyatt sebagai MATCH OF THE NIGHT.

 

 

 

Full Results:
1. WWE INTERCONTINENTAL CHAMPIONSHIP (Title Change Hands on DQ) The Miz jadi juara baru mengalahkan Dean Ambrose.
2. MIXED TAG TEAM Rich Swann dan Sasha Banks beat Noam Dar dan Alicia Fox.
3. RAW WOMEN’S CHAMPIONSHIP (Kendo Stick on a Pole) Alexa Bliss retains over Bayley.
4. RAW TAG TEAM CHAMPIONSHIP (Steel Cage) Sheamus dan Cesaro merebut sabuk The Hardy Boyz.
5. WWE CRUISERWEIGHT CHAMPIONSHIP (Submission) Juara bertahan Neville menang atas Austin Aries.
6. FATAL 5 WAY (for Number 1 Contendership) Samoa Joe bikin Finn Balor tap out, sekaligus mengalahkan Roman Reigns, Seth Rollins, Bray Wyatt.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

WONDER WOMAN Review

“Wars will remain while human nature remains.”

 

 

Udah kodratnya manusia demen berantem. Cuma kita, loh, spesies yang berperang karena sedikit perbedaan aja. Dan film Wonder Woman actually adalah suara yang kita butuhkan untuk mengatasi tabiat buruk penuh prasangka dan kebiasaan mengotak-ngotakkan. Wonder Woman, bukan saja merupakan film DC Universe pertama sejak trilogy Batmannya Christopher Nolan yang legitimately bagus, film ini juga punya kepentingan yang begitu besar untuk ditonton hari-hari sekarang banget. Film ini worked on so many level. Dia punya relevansi dan kedalaman emosi yang menggapai kita semua, lewat karakter-karkaternya berbicara dengan lantang tentang kebutuhan kita akan harapan dan keyakinan. Buat penggemar komik atau serial originalnya pun, Wonder Woman melampui apa yang diharapkan. Tentu saja, melampaui dalam cahaya yang positif.

Pertama dan terutama sekali, ini adalah cerita asal muasal Diana sebagai seorang superhero. Film yang panjang, tapi enggak akan jadi masalah karena kita perlu untuk melihat darimana dia berasal, literally dan figuratively. Kita perlu untuk bisa melihat kenapa Diana menjadi the way she is. Kita akan berkunjung ke kampung halamannya, sebuah pulau bak surga, yang dihuni oleh kaum Amazon yang seluruhnya adalah wanita. Di sana Diana sedari kecil sudah enggak sabar untuk dilatih bertempur menjadi seorang pejuang. Oleh ibunya, dia diceritakan kisah tentang dewa-dewa dan manusia, gimana Dewa Perang, Ares, menanam bibit kebencian dan prasangka demi membuat para manusia saling berperang. Ares terasing oleh Zeus, dan kaum Amazon dititah untuk berlatih sebagai persiapan bertempur melawan Ares. Kemudian seorang pria manusia terdampar di pulau Diana, sepasukan tentara Jerman mengekor di belakang puing pesawatnya. Dari pria tersebut, Diana menjadi tahu akan keadaan dunia luar; Perang Dunia I lagi hits. Percaya ini ada kaitannya dengan Ares, Diana tergerak untuk pergi membantu perang melawan Jerman.

Pulau Surga banget

 

Cerita superhero semestinya tidak berpuas menuhin misi sesak oleh adegan-adegan aksi dan komentar-komentar talk trash ataupun yang konyol. DC Universe melakukannya dengan benar kali ini. Wonder Woman punya skrip yang ketat, pengkarakteran tokoh-tokohnya ditulis sangat kuat. Semua elemen digunakan untuk membangun karakter Diana, really catering into her upbringing. Ada warna kebanggaan dan harapan yang melekat erat. Dan film ini melakukan apa yang tidak dilakukan oleh Captain America: The First Avenger (2011); kita benar-benar melihat seting perang, lantaran Diana terlibat langsung di dalam perang tersebut. Film ini juga punya serangkaian lelucon, actually sangat kocak. Film ini paham untuk memerah canda dari trope-trope klasik Wonder Woman. Tidak seperti film-film DC sebelumnya, Wonder Woman tidak mengubah perspektif kita terhadap sang superhero. Film ini embrace the nature dan membuat kita merasakan sensasi wonder dunia dan karakter si Diana. The movie knows how to make fun of the whole origin concept, bagian mana yang konyol, dan mengolahnya menjadi dialog yang ringan dan menghibur.

Dan Gal Gadot, tak pelak, adalah keajaiban – the wonder woman – yang berhasil ditemukan oleh tim casting. Cewek ini adalah hal terbaik dari film Batman v Superman (2016). Dalam film ini kita melihat lebih banyak darinya, tentunya. Untungnya. Dia memainkan Diana penuh oleh asa, joy, dan tanpa kesinisan. GAL GADOT OWNS THE ROLE seperti Hugh Jackman owned Wolverine. Mulai sekarang, setiap kali ada yang nyebut Wonder Woman, kita akan teringat Gal Gadot. Meskipun ini adalah film yang tokoh utamanya wanita, kisah Diana bukan semata cerita tentang pemberdayaan perempuan. Diana bukan cewek sempurna yang benci pria, dan pria-pria di sekitarnya adalah pribadi yang tercela. Wonder Woman, malahan, adalah cerita yang membawa rasa setara. Manusia adalah equal, sama rata baiknya-sama rata cacatnya. Tidak seperti Jyn Erso dalam Rogue One (2016) yang self-sufficient gitu aja, Diana akan diperlihatkan banyak belajar. Dia sangat naïf dan film memberikan kita kesempatan untuk berjalan bersamanya. Kita akan merasakan semua gejolak naik-turun emosi Diana.

Diana tumbuh dengan percaya akan keperluan untuk bertempur, dia ingin memenuhi takdir sebagai seorang Amazon untuk membela dunia dari kacau dan kehancuran perang. Dia pejuang yang gigih dan gak sabar untuk unjuk kebolehan mengalahkan musuh, tetapi tujuannya berperang hanyalah untuk mengakhiri perang itu sendiri. Semakin banyak dia melihat sendiri keadaan para korban perang, semakin yakinlah ia akan kepentingan untuk menghentikan perang, dan hal tersebut membuatnya semakin ‘mengamuk’ sekaligus enggak pasti serta ketakutan untuk melepaskan kekuatan sejatinya. Misi Diana berubah dari yang tadinya enggak personalpersonal amat – dia ‘hanya’ melaksanakan apa yang ditugaskan oleh Dewa – menjadi lebih pribadi dan rasa kebenaran dirinya semakin bertumbuh. Kerja permainan peran Gadot sangat luar biasa dalam menghidupkan emosi dan motivasi Diana, sembari dia menyaksikan peradaban dan kemanusiaan yang menderita.

Dalam perang akan selalu ada pengorbanan dan penderitaan; kehilangan yang amat besar. Di saat-saat seperti itulah, di saat kita tidak bisa lagi melihat alasan untuk percaya. keyakinan menjadi hal yang paling penting. Kemampuan kita untuk percaya tanpa alasan untuk percaya, ditambah dengan kemampuan kita untuk berbuat baik di tengah-tengah penderitaan dan resiko kehilangan nyawa sendiri, adalah dua hal yang membantu kemanusiaan untuk bangkit. Sehingga bukan tidak mungkin, memberikan kesempatan kepada kita untuk sebuah penebusan.

 

 

Gadot juga sukses berat mengimplementasikan keahlian krav maga nya ke dalam sekuen-sekuen aksi Diana. Hand-to-hand combat film ini sangat keren, kebanyakan adalah wide shot yang sangat aktif, dengan koreografi yang, mungkin saja, mengeset standar baru dalam action superhero. Ada sejumlah momen aksi kecil-kecilan, namun aksi gedenya ditawarkan dalam tiga kali kesempatan oleh film ini, satu pada masing-masing babak. Dan setiap kali sekuen aksi itu berlangsung, maaaan, rasanya puas banget. Aku beneran ikut goyang-goyangin pergelangan tangan niruin Diana menangkis peluru di bagian zona perang, persis kayak orang yang masa kecilnya kurang bahagia. Pertempuran kaum Amazon di pantai itu bener-bener instant classic! Karena terlihat sangat berbeda dan baru. Dan tentu saja, intens. Porsi aksi finalnya lumayan berat oleh CGI, namun bisa dimengerti karena Wonder Woman bukanlah manusia normal. Begitu juga dengan musuhnya. Dan lagipula at that point, kita sudah begitu terinvest dan peduli terhadap karakternya, sehingga CGInya yang mirip-mirip final battle di Batman v Superman, kali ini dapat termaafkan.

and not to be confused sama film lokal jadul Darna Ajaib

 

Bukan hanya Diana yang belajar pelajaran berharga, film ini punya dua tokoh yang belajar di luar ‘kenyamanan’ dunianya. Tadi aku sempat menyinggung soal equality, dan yang kumaksud adalah tokoh Steve Trevor, pria yang terdampar di pulau Diana. Steve adalah peran terbaik kedua dari Chris Pine setelah Hell or High Water (2016). Babak pertama film actually adalah tentang Steve yang belajar tentang dunia dan motivasi Diana. Pria ini sudah lelah berperang, dia ingin menghentikan perang secepatnya dengan sedapat mungkin tidak menjatuhkan lebih banyak korban. Aksinya sekarang terbatas hanya yang mungkin-mungkin saja. Namun kehadiran Diana dan segala desirenya, membuat Steve jadi punya alasan baru untuk percaya, untuk mengambil resiko yang lebih besar. Dia merasa lebih optimis terhadap kemanusiaan, dan terhadap cinta. See, relationship Diana dan Steve adalah sangat compelling. Chemistry keduanya turut terasa genuine. Aku sangat tersentuh di bagan akhir film karena aku sudah begitu peduli. Mereka berdua belajar terhadap masing-masing. And it’s not like, Steve adalah si lemah yang harus diselamatkan. Steve memberikan banyak untuk pengembangan karakter Diana, dan begitupun sebaliknya.

Film ini berani menyisihkan waktu untuk momen-momen kecil, yang tak jarang melibatkan tokoh-tokoh minor. Semuanya demi kepentingan menambah layer dan pengembangan terhadap karakter Diana. Seperti adegan Steve ngajarin Diana berdansa. Jarang loh, ada film superhero yang tipikalnya penuh aksi kayak gini yang mau ngerem sebentar untuk momen-momen kecil yang sebenarnya merefleksikan luka, yang membiarkan tokohnya menjadi manusia biasa. Tapi dalam film ini, bukan hanya adegan tersebut exist, namun juga berarti banyak untuk karakter mereka. Dan membuat relationship keduanya jauh lebih terflesh out. Bahkan tokoh jahatnya diberikan cerita dan motivasi yang membantu karakter Diana lebih jauh.

Kekejaman bisa menyamarkan kelemahan dan ketakutan, kejahatan bisa menyamarkan keputusasaan dan kematian, dan apa yang ingin kita salahkan sebagai penyakit di dunia kadang-kadang tidak sepenuhnya bersalah dan hanya bertanggung jawab bukan dengan cara yang semula kita duga.

 

Ada tiga tokoh jahat dalam film ini, dan masing-masing berbicara hal berbeda yang penting buat pertumbuhan cara pandang Diana. Namun tetap aku merasa tokoh jahat ini terlalu ‘lemah’. Sebagian dari mereka tidak terlalu terdevelop baik, sebagai seorang karakter. Ada adegan ketika Letnan jahat mengunci beberapa perwira Jerman di dalam ruangan berbom asap dan dia melemparkan satu masker ke dalam ruangan tersebut. Kemudian si jahat ini tertawa terbahak-bahak bersama dokter asistennya, dia bilang “biar pada rebutan, padahal maskernya juga enggak ngefek kok hauhahahaha!!” Terkadang tokoh-tokoh jahat ini terasa terlalu over dan enggak masuk ke dalam nuansa ceritanya, dan ini membuatku sedikit kecewa. Aku suka melihat tokoh jahat yang benar-benar ‘kuat’ dan menacing. Mungkin adegan rada-konyol tersebut disengaja, aku enggak tau, tapi di akhir ada lagi adegan yang bikin aku ngakak out-of-place, yaitu ketika Diana mau ngelawan Ares, namun pedangnya ketinggalan di atap, menciptakan momen awkward di tengah-tengah bantering kata-kata antara mereka.

 

 

 

 

Ini bukan film DC terbaik, but hell yea, this is what a superhero movie supposed to look like. Adegan aksinya fenomenal, seru, epic bangetlah pokoknya! Dan actually digunakan untuk mengembangkan karakter yang diberikan ruang untuk belajar banyak. Diana enggak sekonyong-konyong perfect, enggak ada yang selevel ama dia. Kita melihat dia belajar, kita malah belajar bersamanya. Sinematografinya benar-benar wah, dan kerasa banget perpindahan set mengiringi tema ceritanya. This film actually really colorful. Musiknya juga, setiap kali musik tema khas itu terdengar, aku merinding girang. Penampilan akting yang keren dari pemain yang beragam bangsa, sesuai dengan kepentingan film ini yang berkomentar soal bias sosial dan persamaan derajat. Meski tokoh-tokoh jahatnya bisa lebih dikembangin, sih.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for WONDER WOMAN.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

FREE FIRE Review

“Guns don’t kill people.”

 

 

Siapa bermain api akan terbakar. Siapa bermain senjata api – well yea, niscaya akan ada yang tertembak. Namun, tidak seperti api, besar kecil senjata api enggak bisa jadi ukuran kawan atau lawan. Karena yang berada di balik pelatuknyalah yang menentukan. Kita dapat menyaksiksan senjata dijadikan perlindungan dari balik insecurity manusia dalam banyak film. Atau malah di dunia nyata. Free Fire amunisinya ceritanya juga sama seperti demikian, hanya saja film ini memancing rasa tertarik kita dengan hadir sebagai KOMEDI AKSI. Dan untuk menaikkan stake, film ini mengambil gudang terbengkalai tertutup sebagai medan baku-tembaknya.

Gudang tersebut dijadikan tempat ketemuan kelompok arm dealer dengan kelompok calon pembeli. Bagian perkenalan transaksi ini berjalan dengan lancar. Ada perantara dan saksi yang mencairkan suasana. Actually, kita langsung bisa meraba tone film ini dari percakapan para tokoh di kedua kubu. Mereka semua tampil keren dan eksentrik dalam cara mereka masing-masing. Tapi tentu saja, seperti matahari pada hari yang berawan, tensi yang merayap di antara kedua kelompok ini enggak bisa disembunyikan lama-lama. Sedikit mixed-up dalam barang yang dijual mulai menggoyahkan rasa percaya yang sedari awal juga udah tipis banget. Kemudian masalah personal dua di antara mereka turut hadir di atas meja, dan meledaklah tensi tadi. Mendadak dua-belas angry men dan satu cewek ini saling tembak-tembakan, beberapa ingin uang untuk dirinya sendiri, beberapa hanya ingin keluar dari tempat tersebut hidup-hidup. Singkat kata, they are starting to kill each other.

inilah hasilnya jika orang-orang yang suka ngomong F-word, ngumpul, dan dikasih pistol

 

Ada banyak humor dan candaan. Porsinya, to be honest, agak di luar perkiraanku. Yea, tone memang ngasih isyarat ini bakal jadi film aksi yang punya segudang komedi, tapi aku gak menyangka ternyata memang elemen komedilah yang jadi sentralnya. Ekspektasiku adalah film ini mirip-mirip ama Reservoir Dogs (1992)nya Quentin Tarantino; tau dong pasti, film aksi yang juga mengunci tokoh-tokohnya dalam satu ruangan. Karena set upnya memang terasa seperti itu; drama serius dengan banyak jokes. Memang enggak sampe sekonyol film kartun, sih, nyaris kayak film komedi slapstick lah. Adegan tembak-tembaknya sangat ringan dengan banyak orang mengutuk sambil merayap diiringi desingan peluru “syuut, Kling! Desh! Bum!!”. KOMIKAL DAN OVER-THE-TOP. Film ini tampaknya mau menghadirkan apa yang terjadi jika sebuah film yang fun dan mendadak semuanya menjadi nyata. Narasinya diceritakan nyaris real-time dengan kita. Di satu pihak, film ini jadi enjoyable dan sangat menghibur. Di pihak lain, film ini kayak nembak serabutan membabi buta tanpa ada peluru yang benar-benar tepat sasaran. You know, persis kayak kemampuan membidik tokoh-tokohnya yang lebih parah daripada Stormtrooper.

Di atas kertas, film ini sebenarnya cuma sebatas konsep singkat yang dipanjang-panjangin jadi film panjang. Mengetahui hal ini, sutradara Ben Wheatley cukup pinter untuk menggaet aktor-aktor mumpuni yang mampu menghidupkan tokoh-tokoh yang dihadirkan oleh naskah. Aku paling suka paruh pertama dari film, set up  karakternya dibuat menarik. Malahan, sebagian besar hal-hal yang kusuka dari film ini adalah berkat permainan dari para aktor yang benar-benar sukses memberikan warna kepada tokohnya. Dialog yang diberikan kepada mereka sebenarnya cheesy dan gak spesial-spesial amat. It’s not witty or deep. Enggak membuat kita ingin mengutipnya sebagai bahan postingan pathdaily atau apa. Adalah para cast sendiri yang mengerahkan talenta dan kemampuan mereka dengan begitu tepat, sehingga peran mereka yang menarik.

Sebagian besar tokoh enggak dikasih banyak ruang untuk pengembangan. Meski begitu, aku paling tertarik sama tokoh Chris. Cillian Murphy was really great memainkan tokoh ini, dia kelihatan punya hubungan spesial dengan Justine, dan the way Murphy played out relationship yang tumbuh antara Chris dengan tokoh-tokoh lain dalam waktu singkat itu, it’s just great and really compelling. Spotlight komedi paling-kocak jatuh ke tangan Sharlto Copley sebagai pemimpin nyentrik dan egosentris kelompok penjual senjata api. Kadang kita enggak gitu mengerti ocehan si Vernon, namun kocaknya sungguh-sungguh menambah banyak buat komedi. Aku juga suka tokoh Ord (Armie Hammer jenggotan di sini) yang tampak paling clear-headed di antara semua.

Ini adalah film kedua di tahun 2017 di mana aku merasakan kecewa teramat sangat kepada Brie Larson. She was once bermain di film yang kukasih nilai 9, tapi tahun ini tampaknya jadi tahun untuk bercermin dalam memilih peran bagi Larson. Dalam Kong: Skull Island (2017) tokoh yang ia perankan enggak ngapa-ngapain selain motret dan berlari. Dalam Free Fire ini, tokoh Justine enggak lebih dari anak bawang. Tokoh ini kayak berada di luar film, it feels like she was in different movie. Larson pun memainkannya dengan datar. Dia enggak masuk sama suasana ataupun cerita.

Bukan pistol yang membunuh orang. Orang insecure yangbertindak berlebihan yang memegang pistollah yang menghilangkan nyawa. Konflik dalam Free Fire bisa berakhir sesegera orang pertama rela meletakkan senjata, menyelesaikan deal ataupun perkara pribadinya, dan semua yang terlibat di sana bisa pulang dengan riang dan sehat walafiat.

 

All-stars castnya lah yang mengangkat film ini ke level menghibur. Tapi tokoh-tokoh mereka bukan remaja yang berparade keliling kota sambil petantang petenteng pistol kayak Ricky di lagu rock “18 and Life”, para tokoh film ini adalah orang dewasa yang mestinya kompeten dalam melakukan tugas mereka. Mereka ada dalam bisnis senjata api. Mengutuk dan menembak adalah rutinitas sehari-hari. But man, they are dumb. Ada satu tokoh yang diset sebagai tokoh lugu yang ngelakuin hal-hal bego, supaya lucu, hanya saja tokoh-tokoh lainnya juga tampil enggak lebih pintar dari orang itu. Motivasi kenapa mereka harus saling menembak ditulis dengan teramat lemah sehingga terasa film ini sendiri enggak tahu harus menggali apa lagi. Aku gak mau banyak beberin; intinya sih transaksi mereka batal karena ada dua orang yang punya masalah personal serius. Things escalate quickly because of this ‘fight’. Dan ini enggak realistis. Normalnya kan mereka bisa ngomongin atau ngelarin urusan sendiri secara terpisah dan gak benar-benar harus melibatkan the whole deal. Tapi dalam film ini, semuanya berujung menarik senjata masing-masing dan mulai menembak seolah enggak ada lagi yang peduli dengan apapun selain gak-terima gengnya ‘digituin’.

“Bang, bang! Shoot ‘em all, the party never ends~”

 

Film ini bukan jenis yang sekali kena tembak, langsung mati (emangnya video game Contra!). Kemampuan para tokoh dengan sengaja ditulis minimal, sehingga peluru mereka hanya menyerempet sasaran. Dan ada banyak komedi yang datang dari sana; salah tembak atau enggak sengaja nembak cewek, misalnya. Setelah midpoint, sebagian besar tokoh sudah jatuh ke lantai. Mereka kena tembak dan sekarang merangkak nyari perlindungan ataupun nyari senjata baru. That’s the kind of action yang kita dapat. Dan tentu saja, it does drag after awhile. Wheatley memilih untuk merekam aksi tembak-tembakan menggunakan gaya handheld sehingga beberapa adegan lumayan goyang. Membuat kita kerap bingung apa yang terjadi, siapa menembak siapa. Susah sekali untuk mengetahui pasti apa yang terjadi sebab ada banyak adegan yang melibatkan orang lari ke pojokan, menembak, ngumpet, dan peluru yang mantul kepentok sesuatu.

 

 

 

 

Fun action-film yang entertaining. Cukup asik dinikmati, kita bisa nyaksiin ini dan have a good time with it. Namun di laih pihak, keputusannya untuk tampil lebih fokus ke komedi alih-alih ke aksi terbukti dapat menajdi kerugian tersendiri. Dan porsi aksinya sendiri ngedrag dan ketika enggak, susah untuk kita ikuti. Kemampuan castnya yang berhasil membuat film ini menghibur, lebih dari kualitas penulisan film ini sendiri. Bukan exactly peluru kosong yang ditembakkan oleh film ini, hanya saja memang lebih banyak melesetnya dibanding kena.
The Palace of Wisdom gives 5.5 gold stars out of 10 for FREE FIRE.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

PIRATES OF THE CARIBBEAN: SALAZAR’S REVENGE Review

“Accusations are useless.”

 

 

Apakah membuat franchise film berdasarkan sebuah wahana taman hiburan adalah langkah berani yang paling aneh ataukah cuma usaha nekat untung-untungan demi yang namanya duit? Well, jika sihir bisa dianggap sebagai sains yang belum kita mengerti, maka Pirates of the Caribbean bisa jadi adalah magic yang bikin sebagian kita garuk-garuk kepala. Film pertamanya sangat exciting. Setelah itu, semua judul dari franchise ini secara konstan kualitasnya terus menurun. They were bad movies. Di lain pihak, franchise ini toh laku keras, for it is action di tengah laut, yang memadukan bajak laut, kekonyolan, dan hal-hal fantastis.

Film kelima ini actually rilis dengan dua judul yang berbeda. Yang tayang di Amerika sono judulnya Dead Men Tell No Tales. Sedangkan di bioskop sini – aku tadi sempat kelimpungan takut salah nonton – dikasih judul Salazar’s Revenge. Aku gak tau alasan kenapa dirilis dengan judul berbeda seperti demikian; mungkin karena judul aslinya kepanjangan atau mungkin Dead Men dirasa terlalu seram. Hal kecil sih, walupun begitu, sebenarnya aku lebih suka sama judul versi Amerika. Salazar’s Revenge kedengarannya terlalu generik. Lagipula, kalimat “Dead Men Tell No Tales” beneran disebutin di dalam film, terincorporate really well ke dalam cerita, karena tokoh penjahat di film ini suka menenggelamkan kapal dan dia akan sengaja menyisakan satu korban masih hidup untuk menceritakan aksinya kepada orang lain di daratan, sebab ya, orang mati kan enggak akan bisa bercerita.

Orang mati juga gak bisa ke daratan, so yea…

 

Aku berharap film ini jadi film terakhir aja sebab, sukur, film ini LEBIH BAIK KETIMBANG FILM PIRATES SEBELUMNYA. Ceritanya considerably lebih menarik. Jack Sparrow terlibat dalam pencarian Trisula Poseidon yang bisa menghapus semua kutukan di lautan. Bajak laut mabok kita butuh benda ajaib tersebut lantaran dirinya sedang diburu oleh sepasukan hantu anti-bajak laut (lengkap dengan hantu hiu dan kapal hantu yang bisa berubah menjadi mulut yang menelan kapal di depannya) yang dendam kesumat kepadanya. Hantu Kapiten Salazar, at some point, bahkan bekerja sama dengan musuh lama, Kapten Barbossa yang kini jadi bajak laut paling sukses seantero Laut Karibia. However, bersama Kapten Jack, kali ini ada pelaut muda bernama Henry yang juga mencari kekuatan Trisula untuk ‘menyembuhkan’ ayahnya, dan sesosok gadis manis nan pinter yang jadi penunjuk jalan lantaran cuma dia satu-satunya yang bisa membaca peta.

Pintar di antara yang bego, maka kita akan dianggap aneh. Film ini membahas masalah posisi wanita yang di kala itu masih dianggap inferior; cewek cannot be smart unless they are witches. Ini bisa ditelusuri sebagai masalah prasangka. Zaman dulu, bidan-bidan wanita dianggap berbahaya sebab mereka ngurusin perkara hidup mati sebagaimana peran dokter-dokter pria. As gender dijadikan tolak ukur wewenang; orang-orang lebih mudah percaya kepada laki-laki yang tegas dibanding kepada wanita yang lemah lembut. This element is also played really well dengan karakter Jack Sparrow yang ditinggalkan oleh kru, you know, because he’s drunken and weird dan kerap bawa sial. Kontras dengan Salazar yang punya pengikut setia hidup-mati, atau malah dengan Barbossa. Padahal mereka sama kompetennya.

 

Tentu saja banyak kejar-kejaran, tembak-tembakan kapal, dan duel pedang yang terjadi. Ini adalah film yang terlihat sangat menarik. Penggunaan efeknya keren. Javier Bardem cool banget sebagai Salazar, aku suka penampakannya, aku suka gimana dia memainkan perannya. Hantu maniak ini adalah penjahat film favoritku sejauh pertengahan tahun ini. Film ini punya banyak stok candaan dan lelucon yang bagus. Juga berusaha untuk punya sisi emosional. Namun dengan tema besar mencari diri sendiri, film ini relatif berjalan lurus sebagai film petualangan yang melibatkan banyak pihak. Semua orang tersebut numplek di atas kapal yang sama, literally and figuratively. Dan kita bisa melihat masing-masing mereka punya alasan untuk berada di sana. Tokoh Henry yang diperankan oleh Brendon Thwaites ditulis punya kaitan sejarah dengan franchise ini, motivasi dirinya lah yang bikin narasi film ini berjalan. Ada percikan manis yang terjalin antara dirinya dengan tokoh Carina (Kaya Scodelario berhasil untuk tidak terjebak memainkan karakternya jadi semacam tokoh daur-ulang). Di duapuluh menit terakhir, barulah film benar-benar finally just pick up. I loved the ending. Dan meski efek di bagian ‘final race’ ini sedikit lebih rough-around-the-edges, aku suka, malahan bukan itu yang menggangguku.

What really bothers me about this film adalah walaupun tokoh-tokoh tersebut punya motif dan alasan untuk ikut bertualang, urgensinya tidak pernah benar-benar terasa. Stake, alias konsekuensi, yang dihadapi para tokoh enggak terang benar. Rintangannya pun sebenarnya cukup gampang untuk dihindari. Kita bisa merasakan ada sesuatu tujuan, ada sesuatu yang harus mereka selesaikan, tetapi rasanya tidak ada tuntutan untuk segera dibereskan. Para hantu hanya bisa ngejar di laut, Jack Sparrow enggak benar-benar dalam bahaya. Kalo Henry gagal menghapus kutukan ayahnya, hal buruk apa yang terjadi? Dia masih bisa hidup dan pacaran dan punya anak kok. Carina diberikan alasan untuk tidak bisa pulang, dia sekarang diburu mati-matian oleh negara lantaran disangka penyihir, namun masalah itupun beres seketika. Di film ini ada penyihir beneran, and that’s it, kita enggak melihatnya lagi di akhir.

Dan jokes tentang “Neng, pinter banget, kamu pasti penyihir. ENYAH KAU!” terus saja diulang-ulang sehingga jadi annoying. Awalnya sih lucu, tapi lama-lama jadi kentara banget. Masak setiap tokoh cowok guyonannnya begitu ke Carina.

Cara terbaik untuk menggambarkan film ini adalah membandingkannya dengan wahana di taman hiburan Disney. And it is precisely just like that; Seru yang melibatkan banyak hal dan membutuhkan biaya besar, tapi nyatanya adalah rangkaian adegan yang pointless.

 

Pada film pertama, karakter Jack Sparrow adalah tokoh yang sangat mengejutkan. Kita enggak tau apa yang ada dipikirannya, cara dia untuk membuat everything work out. Sparrow adalah peran yang berhasil dibangkitkan secara fenomenal oleh Johnny Depp. It is his signature role. Dia lucu, gampang banget disukai. Penampilannya liar dan really unhinged, bagusnya di awal-awal adalah keintensan karakter tersebut terkontrol dengan baik. Dalam film ini, Depp seperti diberikan kebebasan seratus persen, hanya saja jatohnya dia seperti memainkan karikatur dari karakternya yang dulu. Cuma sebatas lelucon setiap kali dia nampil dalam adegan, Sparrow tidak lagi punya real-character. Ini membuatku kecewa karena buat tokoh ini kita udah tau harus mengharapkan apa, namun tokohnya kehilangan sense of humanity seperti yang nampak pada film-film awal. Aku lebih tertarik ketika cerita membawa kita flashback ke Sparrow yang masih muda; karakternya terlihat lebih grounded di bagian itu.

Studio Disney lagi suka main FaceApp yaa hhihi

 

Meski ini adalah film dengan durasi paling pendek dalam franchise ini, dirinya tidak terasa bergerak secepat itu. Tetap aja filmnya kayak panjang banget. Sekuen-sekuen aksinya pada seru dan refreshing hanya saja mereka dimainkan lebih sebagai humor alih-alih untuk excitement. Pacing film kerap terasa ngedrag karena ada banyak adegan-adegan panjang yang kepentingannya gajelas. Kayak Sparrow ketemu pamannya di sel, atau malah adegan rampok bank itu. Sepertinya adegan-adegan tersebut memang dimasukkan cuma untuk bumbu humor semata. Tidak ada yang menarik dari arahannya. Film ini terasa kayak film-film action adventure yang biasa. Coba deh bandingin ama trilogy Pirates yang digarap oleh Gore Verbinski. Meski memang yang pertama doang yang bagus, namun Verbinski meletakkan ciri khasnya dalam film-film tersebut. Pirates seri kelima ini datar aja, enggak punya keunikan apapun.

 

 
Akan ada banyak hal yang bisa dinikmati jika kalian penggemar franchise ini. After all, kita udah ngeliat sekuelnya yang jauh lebih buruk. Film ini enggak jelek-jelek amat, meski juga enggak brilian dan unik. Efeknya keren, dan aksinya seru. There are some good jokes. Ceritanya juga sedikit lebih menarik. Penampilan Salazar is the one to watch for. Yang bikin kecewa adalah enggak banyak sense of urgency dari karakter-karakternya. Film ini live it up deh dengan wahananya, asik tapi rather pointless. Tapinya lagi, purposenya akan benar-benar terasa mantep jika film ini adalah film terakhir. It was better than the previous ones.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for PIRATES OF THE CARIBBEAN: SALAZAR’S REVENGE

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 
We? We be the judge.