MOAMMAR EMKA’S JAKARTA UNDERCOVER Review

“Don’t sacrifice your peace trying to point out someone’s true color.”

 

jakartaundercover-poster

 

Kalo kita mau kenal deket sama orang, alangkah lebih baiknya jika kita tahu yang buruk-buruk tentang orang tersebut. Apa kebiasaan jeleknya; apa dia suka ngeles, apa dia masih sering ngompol, apa dia hobi jajan tapi enggak pernah ntraktir, atau apa dia suka makan upil. Bukan supaya bisa kita manfaatin buat yang enggak-enggak. Supaya kita bisa belajar how to deal with them, gimana supaya kita bisa memahami mereka. Tampaknya hal ini juga yang kepikiran oleh Moammar Emka ketika nulis blak-blakan tentang pengalaman mengarungi dunia malam Jakarta di bukunya yang sensasional, buku yang later menjadi salah satu bacaan terlaris di Indonesia. Ibu kota memang keras, dia bekerja keras dan bermain juga keras. Dan kita diajak mengenal lebih dekat kota ini dari sisi terburuknya. Sehingga kita bisa menghargai Jakarta sampai ke lapisan-lapisannya yang paling rendah sekalipun. Karena memang, at heart, film ini adalah TENTANG RESPEK, RASA PERCAYA, DAN CINTA.

Jakarta Undercover yang ini actually adalah film kedua yang diangkat dari cerita-cerita bukunya. Jujur aku belum baca bukunya. Jadi aku gak bisa ngobrol banyak saat ketemu sama Mas Emka di closed screening beberapa bulan yang lalu. Saat buku Jakarta Undercover ngehits aku masih dalam fase usia yang polos. Ceile alasannya ahahaha. Film pertama yang dibintangi Luna Maya, tayang 2006 lalu, juga aku belum pernah nonton. Jadinya lagi, aku gak bisa bikin perbandingan antara film yang disutradarai oleh Fajar Nugros ini sama film yang pertama itu. Namun sukurnya ini bukanlah sekuel, ataupun remake. Melainkan sebuah babak cerita terpisah, anggap sebagai perspektif yang baru.

Kita melihat film ini dari kacamata Pras, seorang pria pendatang yang mengadu nasib jadi wartawan di Jakarta. Ngerasa gak berguna nulis artikel titipan pencitraan melulu, Pras ingin ngelakuin sesuatu yang signifikan. Pertama kali ketemu Pras, kita melihat dia dalam keadaan lagi lesu-lesunya; dia males ngerampungin artikel wawancara pejabat, kerjaannya minum bir dan turu, dia boongin ibunya yang senantiasa nelpon nanyain keadaan Pras. Kesempatanlah yang kemudian datang kepada Pras. Serangkaian adegan ‘aslinya gak niat nolong orang’ menghantarkan dirinya masuk ke dalam inner circle seorang ‘organizer’ acara-acara underground di Jakarta. Memanfaatkan pertemanannya dengan Yoga, juga dengan Awink, Pras dapet akses keluar masuk berbagai party. Dia diam-diam menulis tentang kehidupan malam yang baru kali ini dia kenal. Tapi tentu saja, things menjadi complicated. Masalah etika masuk di sini. Pras ngerasa bersalah saat tulisannya akan turun cetak. Tak pelak keadaan menjadi berbahaya, karena dunia underground tersebut enggak suka diekspos ke cahaya. Dalam dunia yang mestinya tertutup rapat, kepercayaan adalah hal yang utama, terutama bagi Yoga yang bukan orang sembarangan. I mean, oh man, jika saja Yoga tahu – dan Pras sadar – bahwa ternyata mereka menyintai wanita yang sama..!!!

cinta memang gila
cinta memang gila

 

Menonton film ini, samar-samar aku mendengar kembali nasehat yang pernah dilontarkan oleh guru biologiku waktu SMA. Ketika itu memang di sekolah lagi maraknya berantem antargeng dengan sekolah lain. Jadi yaa, di sekolah semacam buka unofficial open rekrutmen jadi pasukan gitu. Dan si ibu guru dengan suaranya yang keibuan bilang “Dalam pergaulan, kita dan teman-teman saling mewarnai. Jangan sampai diri kita terwarna lebih banyak oleh warna-warna gelap dari teman-teman. Lebih baik kita yang mewarnai mereka dengan warna terang sebanyak-banyaknya.”

 

Dalam usahanya untuk tidak tersilaukan sama gemerlap lingkaran kelam Jakarta, Pras enggak sadar bahwa dia mewarnai orang-orang gabener itu lebih banyak daripada mereka mempengaruhi sikap dirinya. Menurutku, di sinilah letak elemen yang paling menarik dari film Jakarta Undercover. Film ini tidak pernah memperlihatkan orang yang nari-nari nyaris telanjang, orang yang menjual diri, yang transaksi obat-obat, yang berantem demi daerah, orang kayak Yoga, tersebut sebagai pihak yang total hitam. Malahan, kalo mau nunjuk yang paling ‘bengkok’, telunjuk kita akan mengarah ke Pras yang gak pernah terang-terangan nunjukin niat aslinya bergaul dengan mereka. Eventually, kita akan melihat gimana Yoga mempraktekkan apa yang ia dapat dari perbincangannya dengan Pras. Sementara tokoh kita belajar mengenai lingkungan barunya buat cari hal yang bisa dijadikan bahan tulisan, ‘teman-teman’ baru Pras belajar banyak hal positif dari dirinya. Tentang bagaimana keinginan Pras menjadi berguna bagi orang banyak sudah turut mempengaruhi orang lain. Dan Pras gak menyadari itu sampai tulisannya dicetak, makanya dia merasa amat bersalah. Tulisannya bisa berpengaruh terhadap banyak orang, justru in a bad way.

Dan makanya lagi, karakter favoritku di film dengan banyak tokoh-tokoh bercela ini adalah Yoga. There’s so much depth and layers dalam pribadinya. Dia begitu jujur dalam apapun. Dia tahu dia orang berpengaruh. Dia tahu apa yang ia mau. Dia tahu apa yang ia benci. Gabungan dari semua berkumpul dan bermanifestasi menjadi seorang karakter yang kinda menyeramkan, tapi, kita paham dia dan kita respek. It’s such a complex character. Baim Wong luar biasa memerankan Yoga. Memberikan intensitas yang sangat dibutuhkan oleh film ini. Setiap scene yang ada dia seolah berbunyi “tik-tik-tik” bom-waktu karakternya meledak. Setiap scene yang ada Yoga dan Pras, Yoga nanyain Pras sesuatu, dan Pras menjawab canggung, is just dripping oleh perasaan ngeri, was-was. Akting dalam film ini so good, mereka berdua bahkan sebenarnya enggak perlu musik latar buat negasin emosi. Oka Antara juga excellent dalam memainkan Pras yang kelihatan awkward di antara party-party dan lingkungan barunya.

Yang sukses nyulik perhatian semua orang, tak lain dan tak bukan adalah penampilan Ganindra Bimo. Tadinya kupikir peran ‘unik’nya di sini cuma sebagai sidekick buat nyampein comedic relief dan alat eksposisi doang. Awalnya Awink malah lebih ke kayak anak kecil yang annoying. Ternyata Awink juga punya momen dramatisnya sendiri, dan actually menambah cukup banyak buat keseluruhan cerita. In fact, setiap karakter diberikan momen di mana mereka bisa bersinar secara emosional. Bahkan tokoh pendukung minor kayak tokohnya Lukman Sardi juga punya api di sini. Tyo Pakusadewo juga great. Film menjadi begitu intens setelah lewat mid-point. Everything dibangun properly sehingga PERTENGAHAN AWAL TERASA SEPERTI FOREPLAY, DENGAN SEGALA EMOSI TERCROT MEMUASKAN DI PARUH AKHIR.

Everyone’s just finally saling pointing out ‘warna’ masing-masing, dan yang kita tonton adalah adegan yang sama sekali jauh dari damai. Hal yang mungkin sebaiknya tidak dilakukan, biarlah rahasia itu tertutup rapat. Tapi mungkin, di dalam dunia yang tidak necessarily melulu putih atau hitam, itulah tindakan yang harus dilakukan oleh setiap orang; to recognize flaws.

 

Ada banyak adegan-adegan yang memorable dan membekas, karena film ini tampaknya dibuat dengan sangat have fun. Aku suka adegan mandi; Laura menggosok badannya keras-keras ingin mengikis noda yang tak akan pernah sirna. Aku suka gimana mereka memanfaatkan skit orang gila di supermarket sebagai somekind of 4th-wall-breaking messenger kepada penonton. Aku suka adegan makan di warteg sambil ngomongin soal makan temen. Aku suka the very last shot of Pras, aku enggak akan spoil tepatnya apa di sini.

Oke, let’s just address the elephant in the room. Jakarta Undercover adalah film dengan BANYAK ADEGAN DEWASA. Sebagian besar disyut dengan really close. Sangat tense, terkadang ada violencenya juga. Versi yang diputar saat closed screening adalah versi utuh, aku nontonnya jadi kepikiran, “ni film ntar gimana bentuknya abis kena sensor?”. Ternyata mereka berhasil ngetrim beberapa tanpa merusak penyampaian film. Mesti begitu presentasi film ini masih terlalu dewasa, kekerasan dan beberapa perlakuan dalam film bisa jadi hal yang mengganggu, terutama bagi penonton yang easily get offended oleh persoalan nilai wanita dan pria.

 The moment Pras nyesel tape recordernya gak bisa ngerekam video.
The moment Pras nyesel tape recordernya gak bisa ngerekam video.

 

Untuk sebuah film tentang orang yang mencari bahan tulisan dengan bekerja diam-diam, film ini tidak punya sense of discovery yang kuat di dalam ceritanya. Maksudku, memang di film ini masih ada dari kita yang akan baru pertama kali tahu ternyata di Jakarta ada yang begituan (film ini diangkat dari buku yang terbit belasan tahun lalu yang berisi pengalaman penulisnya), namun secara penggalian cerita tidak benar-benar ada hal baru untuk kita temukan. Aku ngerasa ada film yang ceritanya seperti ini sebelumnya, you know, cerita tentang dua orang mencintai wanita yang sama, it’s like usual trope di film-film gangster. Fokus romansa dan nyerempet ke komedi membuat film terasa generic. Film ini jadi terasa ringan, alih-alih suatu sajian pembuka mata yang mestinya bisa lebih heavy, lebih kritis, lebih berdaging.

Endingnya agak sloppy. Aku lebih suka babak akhir versi yang kutonton di closed screening, karena di situ filmnya kinda leave it open buat beberapa hal, kayak adegan shoot out. So at least di ujungnya ada yang berusaha kita discover sendiri. Aku juga agak enggak akur sama penggunaan flashback dan cara film ini actually menggunakannya. Agak keseringan sehingga seolah film ini enggak percaya penonton ingat sama apa yang sudah terjadi di awal-awal. Dan lagi, film ini memakai efek kayak grainy grainy gitu di setiap adegan flashback, sebagai pembeda. Hanya saja justru adegan-adegan tersebut jadi terasa semakin dilempar ke muka kita. Juga adegan mimpi yang heavy oleh editing. Yang sebenarnya enggak diperlukan karena toh dengan segera filmnya ngasih tau itu adegan apa lewat dialog. It takes us away from the story. Mungkin akan lebih baik jika penonton dibiarkan recognized sendiri mana yang real-time mana yang enggak.

 

 

 

Secara sajian memang relatif ringan, tapi bakal ‘berdarah-darah’ oleh penampilan yang bakal menjadi teramat sangat emosional. Towards the end film ini intens oleh performa brutal oleh emosi. Tokoh-tokoh ilm ini akan ninggalin kita dalam keadaan babak belur. Kayak tokoh-tokohnya, teknikal film ini juga ada celanya. Sound design yang agak off. Penggunaan efek lensa/kamera yang somewhat distracting. Playful elemen dalam film ini enggak semuanya bekerja dengan baik. Namun jangan takut jangan khawatir, ini bukan film yang jualan liuk tubuh tanpa busana dan desahan bibir merah. Yang disibak oleh film ini adalah bukan soal betapa ‘kotor’nya Jakarta. Ada misi kemanusiaan yang menguar dari narasi ringan yang menitikberatkan kepada respek, rasa percaya, dan cinta.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for MOAMMAR EMKA’S JAKARTA UNDERCOVER.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

BUKA’AN 8 Review

“All generations have similar values; they just express themselves differently.”

 

bukaan8-poster

 

Menjadi suami idaman berarti harus siap siaga menjaga dan memenuhi kebutuhan istri. Alam (pembawaan Chicco Jerikho sudah oke, hanya deliverynya saja yang kerap off) tentu saja mengerti itu. Dia cinta istrinya, dia ingin menunujukkan ia seorang calon ayah yang bertanggungjawab. Alam berusaha berikan yang terbaik buat Mia (highlight dari performance Lala Karmela, ya, di rambutnya). Namun sifat kritis yang emosional di dunia maya hanya menghantarkan Alam dari mulut mangap yang menggebu ke mulut mangap tanda laper. Empat-puluh-delapan ribu pengikut twitter enggak bisa diuangkan buat membayar biaya persalinan dan rawat inap kelas terbaik rumah sakit. Well, yea, tentu saja bisa sih dimanfaatkan jika rela ‘menjatuhkan’ diri sebagai alat promosi perusahaan. Alam adalah seorang yang idealis selain seorang yang panjang akal. Jadi kita akan melihat Alam running around keluar-masuk rumah sakit mengusahakan apa yang ia bisa demi menjamin proses persalinan terbaik buat istri dan anaknya. Ada urgensi pada narasi, Alam kudu cepet sebelum Mia brojol. Dan ‘mengusahakan yang ia bisa’ itu actually adalah pertanyaan yang terus dituntut oleh mertua dan keluarga yang hadir di sana, memberikan sokongan moril dan komedi riil, yang jadi andelan film ini dalam menuturkan kisahnya yang sebenarnya sangat relatable buat pasangan suami-istri kekinian di luar sana.

Sebagai sebuah DRAMA KOMEDI, BUKA’AN 8 TAMPIL PADET OLEH ISU-ISU TERKINI yang ingin disampaikan. Film ini punya tujuan lebih dari sekedar membuat kita tertawa terbahak-bahak. Dalam kata sambutannya di malam premier, sutradara Angga Dwimas Sasongko bilang bahwa film ini adalah puisi yang menghantarkan mereka semua pulang ke dekapan keluarga. Dan memang seperti demikianlah film ini diniatkan terasa. Buat yang udah punya keluarga bakal teringat ‘perjuangan’ kelahiran legacy mereka yang pertama. Buat yang lagi pacaran bisa terbawa sama kisahnya yang tentang pembuktian diri kepada keluarga pasangan. Buat yang jomblo dan belum punya anak? Well, begini loh yang bakal dihadepin;

Life got real real-fast, kita tidak bisa hanya ngejar menang di dunia maya.

 

Penyajiaan secara komedi adalah langkah terbaik yang dilakukan oleh film ini. Karena memang elemen komedi seperti beginilah yang paling gampang konek dengan semua orang. Penampilan Sarah Sechan, Tyo Pakusadewo, dan juga Dayu Wijantofor some moment, sangat membantu film ini menggapai note-note kocak yang sudah disiapkan. Membuat ceritanya terasa lebih grounded lagi. Aku suka gimana film ini terasa seperti komedi situasi dengan rumah sakit yang berkembang sebagai latar yang sangat hidup. Cerita film sangat resourceful dalam menggunakan lokasinya. Soal pembagian porsi, film ini did a good job dalam menyeimbangkan tone. Meski memang banyaknya elemen membuat kita sulit buat ngecengkram dunia yang dibangun dalam film ini. Menyaksikan ini kita tidak akan tertawa di momen-momen yang canggung. Film berhasil membuat kita tertawa di mana kita harus tertawa, dan membuat kita merenung menghayati pesan dan sentilannya di tempat yang juga sudah disediakan. Di antara para tokoh tidak selalu terasa ada pembagian tugas; mana yang buat ngelawak, siapa yang buat serius.

 yang mau jadi boneka dunia maya siapa?
yang mau jadi boneka dunia maya siapa?

 

Buka’an 8 adalah jenis film yang terbaca hebat di atas kertas. Character arc dari Alam si tokoh utama terplot dengan terang dan jelas, kita bisa mengerti motivasi dan ‘perjalanan’ yang pada akhirnya ia tapaki. Kita paham alasan pada pilihan kerjaannya. Namun, secara penyajian, cerita yang menginkorporasi banyak elemen kayak gini adalah cerita yang cukup tricky untuk dapat direalisasikan dengan baik. Unfortunately, Buka’an 8 memang terlihat cukup kepayahan. Sebagian besar waktu, ‘heart’ ceritanya, momen-momen yang harusnya ngena-banget malah terasa kering. Karena terkadang ada begitu banyak yang harus disampaikan, sehingga mereka terasa dijejelin alih-alih masuk dengan mengalir. Dari menit-menit pertama saja, misalnya, di adegan di dalam mobil di tengah jalanan macet; film berusaha ngeestablish apa yang jadi dasar moral dan pesan film, sekaligus ngenalin ke kita karakter dua tokohnya, apa tantangan yang mereka hadapi. Kita mendengar perbincangan mereka, yang kemudian diinterupsi oleh ‘perbincangan’ twitter yang menyinggung isu politik dan sosial media kekinian. Ada banyak topik yang berlangsung, in different ways, yang dijejelin ke kita pada sekuen bincang-bincang tersebut. Hasilnya kita gak berhasil memegang apa-apa sehingga adegan pertama yang penting tersebut malah enggak terasa impactful. Emosinya jadi enggak kena.

Soal penggunaan elemen dunia maya pada film selalu menjadi hal yang on dan off buatku. Jika bekerja baik, ya memang mereka bekerja baik. Akan tetapi, pada kebanyakan film, percakapan sosial media hanya berupa gimmick buat mempermudah penceritaan, seperti cara males memberikan ekposisi. Ataupun cuma sebagai cara biar filmnya terlihat kekinian. Meskipun, menurutku, pemakaian gimmick kekinian secara blak-blakkan justru secara otomatis bikin filmnya terasa dated. I mean, dunia berkembang begitu pesat jika ada yang nonton film ini dua-puluh-tahun lagi, maka mereka bakal kebingungan – malah mungkin memperolok – gimana kemakan jamannya apa yang ditampilkan oleh film ini. Toh film-film yang timeless tidak pernah bersusah payah nunjukin teknologi, liat saja 12 Angry Men (1957) ataupun The Shawshank Redemption (1994). Film-film itu terasa relevan ditonton kapanpun.

Makanya, walaupun adalah hal yang bagus film Buka’an 8 menggunakan sosial media dan dunia maya sebagai tema yang actually menambah sesuatu, memegang peran penting, bagi cerita. Namun, penggunaan sisipan perbincangan sosmed yang berlebihan tak pelak sudah membuat kita terdistraksi dari ceritanya. Kita terlepas dari emosi. Film ini menggunakan animasi tweet, ataupun message whatsapp, dengan avatar user yang bergerak saat mengucapkan status mereka. Kita mendengar bunyi pesan masuk, kita mendengar mereka ‘berdialog’ sembari membacanya di layar. Tak jarang layar nyaris penuh oleh message sosmed. Belum lagi subtitle bahasa Inggris di bagian bawah layar. It’s just too much. Film perlu ngerem sebentar dan menyadari betapa menggelikannya adegan mereka seringkali terlihat oleh usaha atas nama kekinian ini. Dan avatar-avatar bergerak tersebut dengan cepat terasa tidak lagi lucu, it’s annoying, dan memakan waktu melihat mereka kembali ke posisi ‘foto profpict’.

Gimana film ini bisa ngarepin cerita dan karakter-karakter mereka terasa real dengan memakai overused gimmickal element kayak gini masih jadi pertanyaan buatku. Karena film ini memang come off sebagai tontonan yang menganggap dirinya sebagai sesuatu yang bener-bener kudu untuk kita tonton. This film takes itself rather seriously alih-alih have fun dengan ceritanya yang padahal justru sarat dengan poin-poin yang agak keluar logika. Inilah salah satu penyebab kenapa Buka’an 8 gagal konek dengan kita.

masa iya sih sehari 24 jam megang hape bisa salah liat tanggal?
masa iya sih sehari 24 jam megang hape bisa salah liat tanggal?

 

Kita enggak yakin gimana film ini eventually works. Sebenarnya bagus banget ada film yang arah ceritanya enggak ketebak. Narasi Buka’an 8 bisa berkembang ke banyak arah. Seru sekali nonton ini – kita kayak “wah, jangan-jangan nanti si Alam begini” eh taunya enggak. It feels like mereka punya struktur yang mantep, poin per poin. Pengembangannyalah yang menjadi masalah. Begitu banyak poin cerita yang sempat dibahas tetapi berakhir pointless, misalnya tentang mbak pasien rumah sakit yang nitipin surat buat Alam ke suster, later ternyata suratnya ilang dan suster jadi lanjut ekposisiin isi suratnya ke Alam; apa faedahnya bikin ada surat in the first place? Banyak karakter yang enggak benar-benar menambah banyak buat cerita, kayak ‘saingan’ antara Uni Emi dan Ambu yang go nowhere selain buat mancing tawa.

Tokoh Alam belajar dari orang-orang sekitar dirinya di lingkungan sekitar rumah sakit, hanya saja proses pembelajarannya masih terkesan relatif gampang (atau malahan digampangkan). Orang-orang sort of datang ke Alam dan ngasih tahu hal-hal yang diperlukan. Stake yang sebenarnya mungkin memang bukan soal duit; lebih kepada pembuktian tanggung jawab Alam sebagai seorang suami, tapi karakternya so muddled dengan emosi yang tidak berhasil disampaikan dengan maksimal. Keputusan-keputusan yang diambil Alam sesuai dengan penokohannya, tetapi penyampaiannya jarang membuat kita merasa empati. In fact, sedikit sekali ruang bagi tokoh-tokoh buat bergerak natural.

Akankah kita jadi orangtua yang hebat? Pertanyaan yang seringkali bikin calon orangtua gemeter. Karena setap generasi akan berbeda dari orangtuanya. Dan buat Alam sebagai generasi millennial, dia keluar dengan overload of confidence, buat buktiin dia adalah jembatan ke generasi berikutnya. Film ini menggambarkan Alam yang dipandang sebelah mata oleh mertua. Hal tersebut eventually eats him up on the inside. Terlebih ketika semua hal yang ia percaya bakal work out ternyata gagal satu persatu. But setiap orang punya caranya sendiri. Dengan nunjukin great responsibility ngetake care diri sendiri, bisa dan mengerti kapan harus bertindak, kita sudah nunjukin sudah lebih dari siap buat membesarkan sebuah keluarga.

 

 

Film ini lebih ‘mirip’ dengan Filosofi Kopi (2015) dibandingkan Surat dari Praha (2016), yang cukup membuatku kecewa; Surat dari Praha adalah film Indonesia dengan skor tertinggi yang kuberikan tahun kemaren. Drama komedi ini bakal gampang disukai. Dia enggak bagus banget meski juga enggak buruk-buruk amat sih, kita masih bisa ngeliat daya tariknya. Setelable lah buat ditonton bareng keluarga. Hanya saja memang film ini tidak memuaskan secara delivery. Karakter yang kurang, sementara banyak elemen lain yang terasa berlebihan. Ada beberapa adegan yang mestinya bisa diilangin aja, begitupun ada beberapa dialog yang enggak perlu ditulis segamblang yang film ini lakukan. Film yang acceptable, di sana sini kita akan tertawa, namun juga kerapkali bakal terasa kering. Yang jelas nilai film ini bukaan 8.
The Palace of Wisdom gives 6 gold stars out of 10 for BUKA’AN 8.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 
We? We be the judge.

RINGS Review

“By renouncing samsara, we embrace our potential for enlightenment.”

 

ringsph7mkx5mkkfeae_1_l

 

Apa persamaan antara bunyi statis televisi yang mirip-mirip bunyi air dengan dering telepon? Well, jika kalian mendengar dua suara tersebut berurutan, maka besar kemungkinan suara berikutnya yang akan kalian dengar adalah suara gadis kecil yang berbisik lantang, “Tujuh hari.” Hii, bayangin gimana tuh bisik-bisik tapi lantang, eh salah, maksudnya: bayangin tuh gimana jika hidup kalian mendadak tinggal seminggu lagi!

Lingkaran mitologi Ring selalu berputar di antara kaset video, televisi, dan telepon. Samara dengan jahatnya memastikan kutukannya terus direcycle oleh manusia, sehingga kepedihan dan deritanya bisa terus menghantui. Tonton videonya, Samara akan nelpon, dan dalam tujuh hari kita bakal isdet. Bila kalian sudah pernah nonton Ring sebelumnya, maka kalian pasti tahu satu-satunya cara terlepas dari kutukan adalah dengan mengcopy video creepy tersebut dan mempertontonkannya kepada orang lain. Namun jika kalian bertanya “pfft, siapa sih yang masih nonton vhs hare gene” maka joke’s on you. Dunia modern tidak jadi halangan bagi si vintage Samara buat go live. She’s coming and she’s gonna get everybody. Karena sekarang ada cara cepat buat memperbanyak kopian video; masukkan ke komputer, copy file quicktimenya, dan voila! kalian bisa share langsung ke internet!

Jadi, yaah, memang terdengar bego sih, tapi cerita kali ini memasuki teritori yang belum pernah digarap pada dua film Ring sebelumnya. Film ini PUNYA ELEMEN FIKSI-ILMIAH. Ada dosen yang berhasil survive dan mengetahui bagaimana cara kerja video Samara. Jadi dia membentuk semacam cult ‘underground’ gitu di kalangan murid-muridnya. Menggunakan metadata video, profesor biologi tersebut ingin bereksperimen dengan jiwa; gimana keabadian, dan segala macam terus berulang di dalam kehidupan. It’s actually lumayan menarik. Sayangnya fokus utama cerita tidak terletak di tangan si dosen. Tokoh utama cerita adalah pacar dari salah satu murid baru si dosen. Julia (Matilda Anna Ingrid Lutz ini mukanya miripmirip persilangan antara Raisa ama Jessica Alba) dateng ke kampus demi mencari cowoknya yang hilang semenjak percakapan skype mereka terputus dengan abrupt. Ternyata, cowoknya adalah anggota cult eksperimen, dan Julia mengorbankan diri menonton video Samara demi nyawa sang pacar. Kemudian film pun kembali mengeksplorasi cerita investigasi, di mana Julia dan cowoknya berusaha memecahkan misteri Samara yang sempet-sempetnya masukin penggalan video artsy-but-creepy yang baru.

"like-in video insta dan snapchatku dong, Kak"
“like-in video insta dan snapchatku dong, Kak”

 

Yang follow twitter ataupun temenan sama aku di Path, tentunya sudah ngeliat (sukursukur sekalian ngebaca) sejak awal bulan Februari ini aku ngereview tiga film Ring terdahulu. Aku memang lumayan excited nungguin film ini. Ring adalah film yang bertanggungjawab membuat aku parno melongok ke dalam sumur. Sadako, dan/atau Samara, adalah sosok yang sukses jadi pioneer hantu-hantu berambut panjang yang jalannya patah-patah dalam film-film horor yang lain. Tayang Rings kerap diundur, tadinya direncanain keluar Oktober tahun lalu – barengan ama Halloween, eh taunya di Indonesia dijadwalkan November. Dan terus diundur sampe akhirnya mentok di bulan ini. Setelah menonton filmnya, aku jadi sedikit kebayang alasan kenapa mereka gak pede nayangin. Tapi sejujurnya, buatku film ini enggak parah-parah amat. Enggak sejelek The Bye-Bye Man (2017), ataupun Incarnate (2016), ataupun The Disappoinments Room (2016) yang buat ngereviewnya aja aku langsung gak napsu. Kalo mau diurutin, berikut klasemen scoreku buat tiga film Ring:

The Ring (2002) 7/10
Ringu (1998) 6.5/10
The Ring Two (2005) 4/10

 

The Ring (2002) adalah salah satu usaha terbaik Amerika dalam ngadaptasi horor ketimuran. Filmnya berhasil ngecapture tone tragedi dan kesedihan yang menguar dari film orisinalnya. Bukan hanya itu, The Ring punya tokoh utama yang lebih setrong dan mandiri dibandingkan Ringu (1998), while also menambahkan sesuatu kepada visual video kutukan sehingga jadi lebih seram. Ring pertama versi Jepang dan versi Amerika sama-sama bercerita dengan sunyi dan sangat subtle. Berbeda sekali dengan The Ring Two yang terasa lebih sebagai horor yang mainstream, dengan cerita yang muddled dan gak fokus, gak serem malah unintentionally funny. Jadi mari cari tau ada di mana posisi Rings dalam klasemenku.

Beneran, aku sendiri lumayan surprise mendapati Rings enggak seburuk yang udah kuharapkan. Ekspektasi buat horor ini memang rendah; director Hideo Nakato yang nanganin dua film Ring tidak lagi terlibat di sini; tidak ada Naomi Watts yang aktingnya udah nyelametin The Ring Two; tidak juga ada visi Gore Verbinski yang udah bikin The Ring jadi punya aura surreal. Aku masuk ke teater dengan gemetar, siap-siap dibombardir oleh kebegoan. Namun ternyata, film ini CUKUP BERKOMPETEN. Diarahkan dengan lumayan mantep. Ada beberapa sekuens yang diceritakan dengan efektif. Ada seremnyalah. Aku suka shot saat Dosen Profesor menatap hujan di luar jendela. Performances dalam film ini, meski sedikit turun naik, tidak terasa nol besar banget. Tidak ada penampilan akting yang membuat kita nyeletuk “pemainnya menang tampang doang!”. Vincent D’Onofrio adalah yang terbaik dalam film ini dari departemen akting. Tokohnya muncul belakangan, dan sendirinya adalah peran pendukung yang really ‘fun’. Sedangkan tokoh utama kita, seperti yang kubilang tadi, lumayan kompeten. Walaupun terkadang dia masih terasa kayak ngomong buat dirinya sendiri, but maybe it’s just the character.

Masalah terberat dalam nanganin cerita Ring selalu adalah bagaimana mengisi babak keduanya. Bagaimana membuat film tetap menjadi seram dengan omen-omen kayak genangan air dan semacamnya, sekaligus tetap engaging dalam jangka waktu sejak tokoh utama menonton video sampai ke maut datang menjemput. Film pertama menarik kita masuk lewat investigasi yang surreal hingga nyaris psikologis. Film kedua kebingungan jadi mereka melempar elemen nonton video begitu saja keluar jendela. Film ketiga, Rings ini, bermaksud meniru kakak tertuanya, hanya saja film ini tidak punya footing yang kuat pada plot linesnya. Dari soal ngopi file buat selamat dari kutukan saja udah konyol banget. Kita tidak bisa mendapat banyak hal dari film ini. Semua trope karakter dan klise yang kita expected bakal ada dalam film horor dipakek. Adegan opening di pesawat actually salah satu yang terparah, untungnya kita enggak perlu repot-repot mengingatnya. Rings kehilangan aura subtle, sense of tragedy, yang menjadikan film pertamanya – baik versi Jepang maupun Amerika – terasa begitu berbeda dan menyeramkan.

Enggak berani ngelakuin sesuatu yang benar-benar berbeda. Film ini justru malah nekat mengubah mitologi yang udah dibangun. Seolah mereka enggak setuju dengan origin Samara dan nekat nambahin ulang (dengan maksa pula!) hal tentangnya. It kind of messes with previous installments. Video baru dalam film ini jauh dari kesan creepy-penuh-makna, visual cluenya enggak asik kayak video yang pertama. Apa yang dilalui Julia dalam memecahkan misteri pada dasarnya sama dengan yang dialami oleh tokoh Naomi Watts di The Ring. Dia juga ketemu bapak yang ternyata jahat. Dia juga merasa kasihan dengan Samara. Actually, cuma di sifat Samara inilah, Rings akur dengan film-film sebelumnya. Samara digambarkan ‘tertarik’ dengan orang yang bersikap baik, dengan pengorbanan. Bukan kebetulan Samara memilih Julia, it was because Julia pasang badan demi menghentikan kutukan pada pacarnya. Kesannya tuh, Rings ini hanyalah sebuah versi jelek dari The Ring. Ending filmnya sebenarnya cukup menarik dan ada nambah dikitlah buat universe ini, cuma aku enggak yakin apakah yang film ini lakukan di adegan terakhir tersebut bener-bener make sense dengan aturan cerita yang sudah dibangun.

Sakit jangan disayang-sayang. Tampaknya inilah yang ingin dibicarakan oleh Rings. Adalah hal yang perfectly fine buat kita membuang derita. Membuang masalah. Nama Samara yang begitu dekat dengan kata Samsara, melambangkan penderitaan yang tak kunjung berakhir karena life dan death terus kontinyu. Samara menganggap belas kasihan dan rasa pengertian sebagai titik lemah dan menjadi jalan dirinya masuk. Perasaan marah, sedih, galau, all those pains, mungkin lebih baik dikubur dalam-dalam. Karena kalo dibebasin, they will keep coming back to haunt you. Samara ingin derita terus tersebar dengan orang-orang terus menontonnya.

 

Sedikit cerita horor nih; Jadi saking excitednya mau nonton film ini aku sampai membawa mainan kuntilanak ikut serta. Trus di bioskop tadi kan, aku mau motion Kana bareng ama poster dek ‘Ara. Lumayan buat dipajang di sini. Eh tau-tau…. Hapeku…. MendadakMATIsendiri!!! Jeng-jeeengggg!!

Dan sekarang ngeri sendiri dek ‘Ara manjat keluar dari layar laptop.
Dan sekarang ngeri sendiri dek ‘Ara manjat keluar dari layar laptop.

 




Film yang sekedar ‘okelah’. Dibuat dengan cukup cakap sebenarnya. Sekuens yang lumayan efektif. Plot lines nya bego tapi bukan bego yang inkompeten. Sayangnya film ini tidak punya nyali untuk melakukan sesuatu yang baru kepada mitologi Ring secara keseluruhan. Hanya kayak usaha buruk dalam nulis ulang. Jump scares, klise, dan karakter trope yang biasa ada di film horor kebanyakan, turut kita jumpai di sini. Ketimbang film-film pertamanya yang bernuansa sedih dan bernature cerita cukup primal dan ‘sadis’, film ini mestinya bisa lebih nendang dengan ngusung science-fiction, but nyatanya malah lebih milih untuk menjadi generic. Menjawab pertanyaan soal klasemen di atas, ya paling enggak, film ini sedikit lebih baik daripada The Ring Two. Kalian bisa nonton film ini dan enggak mati tujuh hari kemudian karena nyesel berat udah nonton film jelek.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for RINGS.

 

 

 




That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.


SHUT IN Review

“Mother love is the fuel that enables a normal human being to do the impossible.”

 

shut_in_ver2

 

Bagi seorang ibu cuma sedikit hal di dunia yang horornya melebihi perasaan ketika melihat anak yang ingin di’selamatkan’ malah berakhir celaka. Apalagi jika si ibu tersebut punya profesi sebagai psikologis anak. Rasa bersalahnya dateng barengan ama rasa gagal, tuh. Sesek numpek di dada pasti ada, dan kita bisa melihat itu semua dari gimana Naomi Watts memainkan perannya sebagai Mary Portman dalam film Shut In.

Anak tiri Mary lumpuh setelah ngalamin kecelakaan mobil enam bulan yang lalu; Kejadian tragis yang juga merenggut nyawa suaminya. Mary sekarang ngerawat anak remajanya tersebut. Dia memandikan Stephen, mengurus keperluan sehari-hari, namun kebutuhan Mary sebagai seorang ibu – terlebih ibu yang merasa bersalah – tidak terlampiaskan karena kondisi anaknya tidak memungkinkan buat mereka untuk kembali bisa menjalin hubungan emosional yang aktif. Jadi Mary mencari koneksi ke pasiennya yang kebanyakan memang masih anak-anak. Mary mau bisa nolong semua anak-anak bermasalah itu. Terutama, dia ingin ‘menolong’ Tom (Jacob Tremblay memerankan bocah tunarungu yang suka berkelahi).
Suatu malam, Tom muncul gitu aja di rumah Mary dan Stephen, untuk kemudian ia hilang dengan sama mendadaknya. Di luar badai salju, dan di dalam rumah, pada malam hari, Mary mulai mendengar suara-suara aneh. Dia sort of ngeliat penampakan. Apparently, Mary enggak benar-benar yakin misteri apa yang sedang terjadi kepadanya.

 

Badai salju yang menderu dari luar rumah menjadi elemen yang mengurung karakter dalam film ini. Mereka tidak bisa keluar dari dalam rumah. Secara estetis, kita juga merasakan perasaan klaustrofobiknya. Kita seperti ikutan berada di dalam rumah mereka, untuk kemudian rumah tersebut terasa mengurung kita lewat beberapa momen sound designnya. I love that contained aspect of this movie. Aku lumayan excited waktu mau nonton. Apalagi psikologikal horor ini dimainkan oleh Naomi Watts yang kerap muncul di film-film horor yang lumayan bagus. In fact, Naomi Watts main di film terfavoritku sepanjang-waktu, Mulholland Drive(2001), so yea I naturally drawn in oleh setiap film yang ia perankan. Arahan yang didapatkan oleh film ini cukup lumayan, meski there’s nothing really much to it. Ada shot-shot yang perfectly capture momen yang bikin kita merasa in-the-moment. Satu adegan yang aku suka pengambilan gambarnya, yaitu aerial shot menjelang akhir di adegan yang involving bayangan dan tangga. That’s a great shot.

Kasian amat Jacob Tremblay terjebak di dalam ruangan lagi
Kasian amat Jacob Tremblay terjebak di dalam ruangan lagi

 

Nyawa film terutama terletak pada screenplay. Kelihatan deh pokoknya sebuah film yang punya skenario buruk dan sutradara berusaha keras buat menjadikannya baik, namun tetep enggak bisa, karena apa sih yang bener-bener bisa dilakuin jika naskahnya sedari awal sudah begitu jelek dan keliatan banget ngarang. Kalo Mary bingung ke mana perginya Tom, maka kita sebagai penonton akan terbengong-bengong berkat BETAPA TERRIBLENYA FILM INI DITULIS. Banyak banget ketidakkonsistensian sehingga sebagian besar waktu film ini was just bad. Dua babak pertama dipenuhi oleh adegan-adegan mimpi, diselingi dengan jump-scares yang sok ngecoh. Dengan cepat film ini akan terasa menyebalkan. Dan bicara soal ngecoh, ini adalah jenis film yang bangga banget punya twist. Film yang tujuan utamanya memang ingin terlihat heboh dengan twist, mereka kayaknya nulis dari twistnya duluan kemudian baru ngembangin ceritanya, yang mana semua elemen dipaksa nyambung banget, sehingga twist yang dihasilkan malah jadi bego alih-alih bikin takjub. Semua yang terjadi di dua-puluh-menit terakhir membuat everything else yang sudah terjadi sebelumnya menjadi total gak masuk-akal.

Jika semua klise dan trope film horor bisa bermanifestasi menjadi manusia, mereka tumbuh tangan dan punya jari jemari, kemudian mereka mutusin buat ngetik, maka “voila!” Jadilah skenario film Shut In.

 

Semua taktik scare yang dilakukan oleh film ini adalah TAKTIK FALSE SCARE. Kita ngeliat penampakan, eh taunya Mary lagi mimpi. Kita ngeliat adegan berdarah, eh taunya Mari sedang ngigo. Kita denger suara-suara aneh, eh taunya ada rakun loncat dari balik kayu diiringi suara musik yang lantang yang bikin Mary dan seisi bioskop jantungan. Kita ngecek kegelapan malam, ngikutin Mary nyebrangi halaman bersalju, eh taunya cowok yang tadi pagi naksir ama Mary muncul dari balik pintu sambil menyapa “Hey, ini gue!!”. Keras-keras. Itulah ‘hal-hal mengerikan’ yang bakal kita hadapi dalam film ini. Efektif sekali, bukan? Yeah, efektif buat bikin kita TERTIDUR!!!!

Shut In enggak mau repot-repot bahas soal psikologis, atau perspektif, atau moral, atau apalah. Detil-detil backstory enggak penting bagi film ini. Kita enggak pernah yakin kenapa malam itu si Tom bisa nongol di rumah Mary. Kita enggak pernah dihint soal latar belakang Mary dan keluarganya. Film ini enggak peduli saat kita mengernyit berusah mengira-ngira kenapa Mary sering banget skype-an ama tokoh Dr. Wilson yang diperankan oleh Oliver Platt. Kita enggak sempat kenalan sama beliau, apakah dia temen lama Mary, atau dia psikologis Mary, or heck film ini enggak mau tau perihal gimana Mary terlihat so bad at her job, both as child psychologist and as a mom, dibuat oleh presentasi ceritanya.

Mari ngobrol sebentar soal adegan dengan skype. Biar kelihatan remaja dan relevan, film-film jaman sekarang memang hobi banget masukin adegan para karakter facetime-an via skype. Adegan skype actually bisa saja bekerja dengan baik, kita udah nyaksiin contohnya pada film The Visit (2015). Adegan ngobrol lewat skype bisa bagus jika (dan hanya jika!) obrolannya bagus. Dialoglah yang memegang kunci. Dalam film ini, sayangnya, penulisannya begitu minimalis.

Mary: “Etau enggak, akhir-akhir ini aku susah tidur, nih”
Wilson: “Yaah, kamu masih trauma dan sering baper sih”
Mary: “Eng-GAaaKK! Beneran, ih, kayaknya ada sesuatu yang lain di sini”
Wilson: “What-the-kamsut?”
Mary: “Kayaknya… di rumahku…. ada hantu!”
Wilson: “Masa orang dewasa terpelajar kayak kita percaya hantu sih?”
Mary: “Tapi aku sering denger-denger suara gitu, pernah ngeliat malah”
Wilson: “Gurl! Please. You’re just being silly”
Mary: “CK! Bye. Brb Sibuk.”

Ya kurang lebih begitulah obrolan mereka. Gitu terus lagi dan lagi, adegan percakapan skype mereka muter-muter di situ melulu. Mengerikan!

This is also jenis film yang setiap tindakan yang dipilih karakternya bikin kita jambak-jambak rambut dengan geram.
This is also jenis film yang setiap tindakan yang dipilih karakternya bikin kita jambak-jambak rambut dengan geram.

 

Yang terpenting buat film ini adalah gimana memancing rasa kaget kita, alih-alih takut. Fokus utama nya adalah gimana supaya so-called twist mereka enggak ketahuan.

Padahal despite ‘usaha’ mereka, kita sedari pertengahan udah bisa menebak hanya dengan mengacu kepada apa yang disebut kritikus terkenal Roger Ebert sebagai The Law of Economy of Characters. Atau Hukum Ekonomi Karakter; teori tentang kebiasaan film ini menjelaskan bahwa oleh sebab budget, film tidak akan pernah diisi oleh karakter yang tidak berguna, setidakpenting apapun kelihatannya peran mereka. Apalagi kalo diperankan oleh aktor yang cukup punya nama. Karakter-karakter tersebut sudah pasti akan direveal punya peran yang penting. Jadi, yaaa, kalo kita ngeliat cast yang familiar dengan peran yang minimal, maka niscaya mereka adalah twist yang dirahasiain oleh film.

Coba deh, tonton ini dan tebak apa yang sebenarnya. Wait, actually… Jangan tebak. Tepatnya maksudku, jangan bersusah payah luangkan waktu dan uang buat nonton. Aku beberin aja twistnya di sini:

 


Jadiii, anak tiri si Mary yang lumpuh ternyata enggak lumpuh. Stephen selama ini hanya pura-pura lumpuh. That’s the big twist. Film ini ngasih arti baru buat kalimat “Cinta ibu mampu membuat orang normal ngelakuin hal yang enggak masuk akal.” Stephen sangat ingin perhatian dan kasih sayang ibunya, sehingga ketika Tom datang dan perhatian Mary jadi bergeser ke ngurusin bocah malang tersebut, Stephen jadi iri. Dia bangkit dari kursi rodanya, menangkap Tom, dan menyekapnya di suatu tempat di dalam rumah. Suara-suara yang didengar Mary adalah suara Tom yang berusaha keluar. Penampakan, blurry vision, dan mimpi-mimpi yang dialami oleh Mary adalah ulah Stephen yang diem-diem masukin obat ke dalam minuman ibu tirinya tersebut. That’s it. Seriously, twistnya bikin revealing film The Boy (2016) jadi terlihat enggak parah-parah amat.


 

 

 

 

Apa coba persamaan antara Naomi Watts dengan kita-kita yang nonton film ini?
Sama-sama kejebak!
That’s how I felt during this entire film. Penampilan dan arahan yang acceptable tidak akan berarti banyak jika sumber penyakit ada di skenarionya. Tidak ada bagian yang bagus; babak satu dan duanya plainly bad, dan babak ketiganya sukses menghantarkan ini sebagai salah satu dari film horor terburuk yang pernah aku tonton. Atau psikologikal thriller terburuk. Whatever. This movie is horrible, people!
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for SHUT IN.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 
We? We be the judge.

Konstelasi Rindu


Lagi lagi ini masih tentang kamu, tuan merah jambuku.
Wujud nyata dari beribu doa yang ku pinta sejak dulu.

Bentuk bahagia yang satu.
Hari ini aku bersama sepi.

Karena memori memaksaku untuk berdiam diri mengingat segala memoar tentang kamu.

Ketika tawa dan haru kita berintegrasi jadi satu saat cinta datang bertamu dan tatapan malu malu sering kali menciptakan sepi panjang yang canggung.
Lagi lagi aku bicara tentang kamu.

Karena ternyata panah cinta terlalu tertanam dalam saat itu.

Dan mencabutnya pun terlalu penuh haru.

Sakit. Karena darah kasat mata mengalir tanpa mengerti arti habis.
Hari ini,

Setelah kata melupakanmu sudah bisa terealisasi.

Memori itu datang lagi.

Memori membuatku mengecap rasa rindu.

Rindu yang sering membuat lidahku kelu.

Ah, ternyata hari ini rinduku masih saja berkonstelasi berwujud kamu.

Dan aku, hanya mampu tersenyum kaku.


 

 

 

As seen on thedeepeyes.wordpress.comcropped-beautiful-girl-drawing-eyes1

Jumat Pagi yang Basah


Aku masih rindu
Pada percakapan dan tawa tawa yang tak jelas, serta

Pada khayalan kita yang tak berbatas.

Jumat pagi yang basah,

membuat rinduku makin resah.

Menuntut temu yang tak mungkin, dipaksa pasrah.
Jumat pagi yang basah,

dingin merambat pelan, dalam hatiku yang belum ikhlas.

Hati dan raga ini butuh dekapan.

Untuk meredam dingin dan rindu yang tak berkesudahan.
Jumat pagi yang basah.

Rindu yang resah.

Dan aku yang dipaksa pasrah,

mataku… kembali basah.

(Jakarta, 27 Januari 2017 – Saat hujan dan rindu sedang sama derasnya)


 

 

 

As seen on https://thedeepeyes.wordpress.com/cropped-beautiful-girl-drawing-eyes1

PERTARUHAN Review

“Every father should remember that one day his son will follow his example instead of his advice.”

 

pertaruhan-poster

 

All bets are off ketika sebuah keluarga kehilangan salah satu kaki penyeimbang kasih sayangnya. Kita pernah ngalamin, dong, gimana rumah berubah jadi kacau jika Ibu pergi arisan beberapa jam aja. Semenjak sang istri meninggal, Pak Musa memang mendapati keluarganya bagai anak ayam kehilangan induk. Tak mampu menunjukkan rasa cinta as a mother does, Pak Musa (terlihat seperti diniatkan sebagai supporting role, nyatanya Tyo Pakusadewo overpowering semua cast muda) memimpin rumah tangga dengan hati baja dan tulang besi. Kehidupan di rumah mereka keras. Ada satu adegan di babak pertama di mana Pak Musa really lay down the law kepada anak-anaknya di rumah. Keempat anak Pak Musa tumbuh menjadi pemuda liar. Urakan. Suka streaking around gangguin ibu-ibu satu RT yang lagi senam. Keluar malam dan mabuk-mabukan. Mereka begitu bukan karena mereka tidak hormat kepada orangtua.

It is a failure in communication yang memegang peranan besar, it is about men’s tough love. Anak-anak ini juga gagal nunjukin rasa sayang kepada bapaknya. Ibra (delivery Adipati Dolken need more work karena sebagian besar waktu dia jauh dari terdengar tegas) diam-diam bekerja di sebuah pool bar. Elzan (tokoh Jefri Nichol ini sayangnya kurang diflesh out padahal dia actually yang paling jantan di antara mereka) kerja sebagai pelayan di hotel remang-remang. Amar (berkat image Aliando Syarief, tokoh ini providing some relief, yang terutama worked pada kalangan fansnya) demi ngejar the love of his life, kerja jadi supir anak sekolah. Sedangkan si bungsu Ical (Giulio Parengkuan terlihat confused namun it worked dengan karakter tokohnya) rela bolos karena enggak sampai hati minta uang sekolah. See, mereka selalu menempatkan Bapak di prioritas nomor satu mereka. Bapak yang sudah tua, yang tenaganya sudah tidak mendukung lagi bekerja sebagai satpam berpenghasilan pas-pasan di sebuah bank.

Gejolak muda sesungguhnya hanya perlu diarahkan. Untuk itu, mereka memerlukan contoh ketimbang nasihat-nasihat. The problem with Musa dan anak-anaknya adalah dengan hanya satu panutan, anak-anak tersebut tidak melihat cukup banyak dari Musa. Dia memberitahu mereka soal kemandirian, tetapi yang Musa perlihatkan di rumah adalah kekerasan dan ketidakterbukaan. Dan itulah yang ditangkap oleh empat anaknya.

 

Drama action ini punya satu elemen yang paling menarik perhatianku. Arena underground pertarungan cewek. Kita diliatin sekilas di mana dua cewek diadu berantem martial arts, sementara cowok-cowok penontonnya berteriak menyemangati dengan garang. Pertarungan tersebut dijadikan ajang taruhan. It is actually a refreshing element yang seharusnya bisa dieksplor lebih dalam lagi. Bisa ditanam pertanyaan moral di dalamnya. It would also make an interesting relationship story, karena salah satu dari petarung wanita tersebut actually adalah pacar Ibra yang bernama Jamila (Widika Sidmore keren banget cosplaying the Mia Wallace look). Dan mereka ngesyut adegan hand-to-hand combat ini dengan really well. Gerak kameranya cukup untuk membuat kita ngikutin aksi yang terjadi. Yang mana aksi tersebut sangat intens dan fisikal. I really like this part of the movie. Sebuah gimmick yang sesungguhnya punya potensial untuk dikembangkan menjadi lebih compelling.

oke siapa yang tadi di opening pake gaya croth chop nya DX?
oke siapa yang tadi di opening pake gaya croth chop nya DX?

 

Hubungan persaudaraan mereka tersurat jelas pada layar, kita bisa mengerti siapa lebih dekat kepada siapa. Interaksi antarmereka tergambar dengan meyakinkan. Adalah hal yang bagus film ini tidak berupaya untuk menyensor kata-kata kasar atau apapun, karena memang seperti yang kita lihat pada merekalah interaksi anak muda berlangsung. Calling names, toyor-toyoran, ada sedikit nuansa kompetisi di antara masing-masing. Benar MENCERMINKAN ANAK MUDA. Yang gagal mereka tampilkan secara compelling adalah gimana sikap anak muda yang tumbuh dalam lingkungan kasar. Aku enggak tahu apakah dari arahan atau apanya, keempat tokoh mudah ini lebih sering kelihatan seperti anak muda kaya yang manja dan mencari pelampiasan dibanding pemuda-pemuda tak-terurus with a really broken home life. Pertaruhan tampak kesulitan menunjukkan mereka pemuda yang tangguh, dan sesungguhnya itu adalah prestasi mencengangkan sebab antara tangguh dengan cengeng seharusnya ada jarak yang luas. Seluas gap generasi bapak dengan anak-anaknya, yang btw, disinggung sedikit dalam film ini.

Sungguh susah untuk bersimpati dan merasakan empati kepada keempat pemuda ini karena sedari babak pertama mereka disorot dalam cahaya anak-anak berandal yang menyebalkan alih-alih respectable, street-wise punks. Dan itu berlanjut sampe film ampir beres. Mereka tidak melakukan hal apapun yang membuat mereka berhak mendapat respek dari kita. Mereka selalu bertanya dulu sebelum beraksi. They never take action until late in the film. Dan saat aksi itu tiba, mereka melakukan pilihan yang bego. Ngerampok di kota di siang bolong, berbaris keren di pinggir jalan, dengan sambil nyarungin topeng. Pelan-pelan, seolah ingin mastiin orang-orang udah melihat wajah mereka satu persatu. Ada satu momen mereka berembuk “Kita harus melakukan apapun untuk bapak” dan scene berikutnya yang kita lihat adalah Ibra menggunakan ceweknya sebagai pengalih perhatian nyopet di bar. And later he actually let Jamila bertarung demi uang untuk bapaknya berobat.

Ibra is the worst character here. Saat Mila kalah dan babak belur (supposedly, tapi sepertinya film ngirit make up buat bikin efek luka tembak), aku kira Ibra bakal sadar dan minta maaf. But no! Dia malah sok ngecomfort pacarnya dengan bilang “Bukan salah kamu, cuma belum rejeki aja” Like, what??? Dia nyuruh adik-adiknya, dia bergantung kepada ceweknya untuk bertarung demi kepentingannya. Usaha di dalam kamus Ibra adalah meminta bantuan kepada orang. Ngemis ke bank. Minta dikasihani sama rumah sakit. Makanya tadi aku bilang, Elzan adalah yang paling jantan, karena hanya dia yang berani bertindak beneran. Meski tindakan itu adalah nyolong.

darah muda walau salah tak peduliiiihi..hi..hiii~
darah muda walau salah tak peduliiiihi..hi..hiii~

 

Konsistensi penulisan karakternya terlihat agak off. Mungkin saja sih disengaja biar nunjukin mereka labil. Ibra ngancem mau mukul seorang suster kalo saja si suster adalah laki-laki, kalimat ini terdengar agak aneh terucap dari mulut Ibra yang punya pacar seorang ass-kicker. Hubungan Ibra dengan Jamila juga dipertanyakan, it was really strange di satu adegan kita belajar keadaan Bapak dari Mila yang memberitahu Ibra, dan di adegan lain sesudahnya kita melihat Mila kebingungan kenapa Ibra terlihat sedih dan banyak pikiran. It’s like there’s no understanding between them. Dan film ini juga tidak membantu dengan tidak pernah ngasih hint gimana mereka berdua bisa ketemu dan jadian in the first place.
Ketidakkonsistensian juga melebar ke bagian action. Di mana adegan berantem di bar malah jadi bikin ngakak. Tidak ada lagi intensitas dalam koreografinya, padahal mereka berempat dan jelas-jelas outnumbered. Jurus berantemnya juga jadi monoton (hey, monoton is consistency!); lawan tinju kiri – tangkis pakek stance ngepal – bales tinju kanan. Perhatiin deh, berantemnya pasti ada gerak seperti itu. Kamera pun bergoyang sedemikian asik sehingga waktu lagi momen tenang sambil pelukan pun, gambar masih geser kanan-kiri naik-turun.

Apa yang berhasil dijaga oleh film ini dari awal sampai akhir adalah tone sedih. Serius deh, UNTUK SEBUAH FILM TENTANG LAKI-LAKI, INI ADALAH FILM YANG CENGENG. Semua poin cerita diarahkan buat kita mengasihani mereka. Rekan kerja yang nyinyir. Bos yang kejam. Rumah sakit yang menghina. Slow motion dengan musik menyayat hati di adegan-adegan maut. Minta dipuk-puk banget deh. Aku sebenarnya sempet seneng film ini berhasil enggak pake flashback, I was really expecting flashback adegan mereka masih kecil of some sort, ternyata enggak ada and I was like, “you pass the test!” Namun di akhir aku jadi kecele. Film ini masukin montase flashback yang highlight kejadian di awal, dengan slow motion pula! Apalagi kalo bukan demi memeras drama sebanyak yang mereka bisa.

 

Film ini berusaha untuk memancing perbincangan soal ambiguitas moral kayak yang dilakukan oleh Hell or High Water (2016). Namun enggak ada ground yang mensupport karakter-karakter Pertaruhan, selain mereka pantas dikasihani. Tokoh dalam Hell or High Water ngerampok against sistem perbankan yang actually bikin susah orang banyak. Ibra dan adik-adiknya, mereka merampok bank tempat tempat bapak dulu cari makan – tempat yang secara tak-langsung gedein mereka, hanya karena bank tersebut sudah bersikap kasar kepada mereka yang orang miskin. Dan lagi, they were so quick to resort ke merampok bank. Padahal mereka masih muda, sehat wal ‘afiat, jumlahnya ada empat! Mereka bisa cari kerjaan lain, but no, film ini butuh sesuatu yang gede untuk nutup cerita dengan dramatis.

Aku jadi kepikiran, kayaknya bakal lebih seru dan powerful kalo usaha perampokan mereka distop oleh bapak sendiri. Bayangkan bapak yang sakit-sakitan itu datang ke bank, karena dipanggil oleh Ical yang enggak mau kakak-kakaknya go on that path, kemudian bapak dan anak-anak itu (terutama Ibra) have a hearwrenching dialogue soal kasih sayang. Bapak berusaha menyadarkan anaknya, dan ultimately dia harus menembak Ibra. Kupikir dengan begitu ceritanya akan tetap sama, only dramanya make more sense, dan lebih emosional.

 

 

 

 

Seperti Pak Musa yang menyesal tidak bisa menunjukkan dengan baik cinta dan kasih sayang kepada anak-anaknya, film ini juga tidak bisa menunjukkan dengan baik sebuah cerita yang compelling. Di menit pertama, dia sudah mengeskpose kita dengan apa paparan yang dirasakan oleh Pak Musa, alih-alih memperlihatkan. Film tentang laki-laki dan kehidupan keras yang paling cengeng yang pernah aku tonton. Jika kalian mempertaruhkan waktu dengannya, niscaya kalian akan merasa kalah.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for PERTARUHAN.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

PATERSON Review

“Repeat daily: Today I’m thankful”

 

patersonposter_1200_1788_81_s

 

Tidak ada yang extraordinary dari kehidupan Paterson. Dia tinggal di rumah sederhana bersama istrinya yang cantik. Rutinitas hidupnya biasa saja. Paterson bangun pagi, sarapan, berjalan kaki ke tempat kerjanya, yaitu garase besar tempat bis kota sudah siap menunggu dikemudikan olehnya. Sorenya Paterson pulang, betulin kotak surat yang miring di depan rumah, ngobrol dengan istrinya. Malam hari dia membawa anjing piaraan mereka jalan-jalan. Paterson nyempetin minum di bar. Ngobrol dengan bartender. Dan pulang untuk tidur. Begitu terus setiap hari dengan kegiatan yang sama. Paterson adalah orang biasa dengan kerjaan yang biasa. Namun di samping kerjaan yang memang harus dilakukan for living, sesungguhnya orang-orang punya ‘kerjaan’ lain. Entah itu ikutan turnamen catur, belajar lagu country, atau dalam kasus Paterson; menulis puisi. Dalam perjalanan ke maupun dari tempat kerja, Paterson merangkai kata di dalam benaknya. Kata-kata yang untuk kemudian dia tuliskan ke dalam buku catatan, karena Paterson sesungguhnya juga adalah seorang penulis puisi.

Segala KE-‘BIASA’-AN tersebutlah yang justru membuat film ini jadi LUAR BIASA. Maksudku, it was really surprising gimana cerita kehidupan where there’s nothing to it seperti ini bisa lulus sebagai film. Aku enggak kebayang loh gimana susahnya penulis merangkap sutradara Jim Jarmusch memperjuangkan film ini. Aku sedari taun lalu ke mana-mana pitching cerita tentang kompor yang berbicara dan sampe sekarang masih ditanggepin dengan eye-rolling. I mean, cerita aneh aja gak ada jaminan bisa nemu jodoh. And now we have ordinary story with nothing happened. Gimana ngepitchnya coba?

Writer: “Oke ehem.. jadi, ini adalah film tentang seorang pengemudi bus yang menulis puisi..”
Studio: (tanpa mengangkat kepala, pura-pura baca sinopsis padahal lagi ngeliatin foto ibu guru si Amel di hp) “Terus? Terus? Ntar bomnya di mana?”
Writer: “anu.. enggak ada bom.. dia cuma nulis puisi.”
Studio: “Enggak ada bom? Teroris ada? Kebut-kebutan di jalan harus ada sih ya, biar seru.” (sinopsisnya sekarang dijadiin kipas, maklum gerah mau ujan)
Writer: “umm..bisnya ntar sempat rusak sih sekali.. electrical problem gitu..”
Studio: “Bisnya enggak bisa jalan-jalan ke luar negeri dong? Cinta segitiganya mana? Vampirnya?”
Writer: “e..e..enggak ada”
Studio: (ngobrol di telepon)
Writer: “gimana he, Pak?… Pak?”

 

We totally harus sangat berterima kasih kepada orang-orang yang berhasil mewujudkan film ini. I love this movie from the beginning to end. It is so relatable. Aku dulu suka nulis notes Pelit gitu di facebook, dan kemudian teman-teman mulai nulisin cerita mereka juga, fb akhirnya seru oleh kami yang saling tag cerita. Aku pengen blog ini juga bisa bikin orang-orang tertarik nulis, jadi aku buka kesempatan buat teman-teman yang mau berkontribusi buat majangin buah pikiran mereka. Sebagaimana film Paterson yang ceritanya sungguh-sungguh menginspirasi.

Film ini adalah PERAYAAN DARI HAL-HAL YANG LUMRAH. Hal-hal biasa, yang dilakukan orang sehari-hari. Memang, tidak ada adegan ‘gede’ di sini, beberapa penonton akan mati kebosanan karena pacing yang lambat dan practically enggak ada yang terjadi. Namun aku secara konstan terus tertarik by just how different this movie is. Strukturnya enggak terasa kayak yang biasa kita lihat di film-film. Elemen ceritanya dengan berani menyorot orang biasa. Pria yang ngendarai bis, dengerin obrolan penumpang, makan siang di taman sambil nulis puisi. Wanita yang punya banyak mimpi tapi dia rela tinggal seharian di rumah, dengan membuat cupcake, berkreasi dengan merias rumah, dan belajar main gitar. Film ini sungguh refreshing oleh kesan nyata, sehari-hari, sembari juga kocak-akrab lewat percakapan-percakapannya.

“no ideas but in things, no ideas but in things.”
“no ideas but in things, no ideas but in things.”

 

Ada banyak observasi mengenai kehidupan dan bagaimana kita memandangnya yang terus disuarakan oleh film ini lewat hal-hal yang diperhatikan oleh Paterson. Dan itulah yang menjauhkan kita dari kebosanan. How real everything felt sungguh sangat mengagumkan. Juga sebenarnya sedikit mengejutkan, karena aku gak expecting film tentang puisi, yang surely bakal penuh oleh simbolisasi kayak Istirahatlah Kata-Kata (2016), malah mempersembahkan dirinya dengan benar-benar ‘biasa’. Kalian tahu, bahkan dalam Personal Literature pun biasanya kentara antara bagian yang nyata dengan bagian yang dilebaykan sesuai kebutuhan.

Emosi dalam film ini mengalun tenang. Sesungguhnya ini adalah cerita yang sangat subtle, termasuk dalam humornya because sometimes aku ngerasa pasangan-pasangan yang sudah menikah tentunya bakal lebih ngena ke humor film yang seputar percakapan rumah tangga. Cek-cok dalam hubungan Paterson dengan istrinya juga dengan digambarkan dengan tersirat. Mereka enggak benar-benar ada masalah, sih. Malahan everything is okay, tapi dari kalemnya Paterson nanggepin passion sang istri yang kerap berubah, atau the way he look at the guitar, atau gimana dia enggak benar-benar looking forward bawa anjing mereka jalan-jalan, kita dapet sedikit hint yang memperkaya layer hubungan tokoh-tokoh tersebut.

Paterson meminta, ah bukan, mendorong kita untuk melihat kehidupan seperti si Paterson melihat hal-hal di sekelilingnya. Paterson membuat puisi dari sekotak korek api. Karena sesungguhnya kekuatan utama seorang penulis bukanlah merangkai kata, melainkan perhatiannya terhadap sekitar. Dia melihat sesuatu untuk dihargai pada setiap benda-benda, pada setiap apapun. In a way, film ini menginspirasi kita untuk memiliki observasi selayaknya para penulis puisi. Tapi enggak necessarily supaya kita bisa nulis puisi. It was more supaya kita bisa melihat keindahan dari keseharian, so we can make something out of it. Mengasah kepekaan supaya ‘puisi-puisi’; dalam hal ini adalah apapun yang kita kerjakan, menjadi lebih berarti.

 

Tidak pernah film ini terasa lead to nothing walaupun ceritanya terbentuk dari seputar kejadian sekitar Paterson yang disekat-sekat oleh pergantian hari. Ketertarikan terhadap apa lagi yang akan Paterson tulis sebagai puisi akan terus bikin kita tersedot. Penggambaran proses kreatif Paterson terasa begitu intim. Kita melihat teks muncul di layar, dengan latar belakang yang sangat menenangkan, dan sementara itu terjadi kita mendengar suara pikiran Paterson. Actually, Paterson sangat menjaga kerahasian puisinya dari orang lain. Bahkan kepada istrinya, dia rada enggan bacain sebelum benar-benar selesai. He’s so reclusive about his poems. Yang juga menarik adalah Paterson enggak mau punya hape karena “It would put me on a leash”, katanya. Penampilan Adam Driver memainkan Paterson akan membuat kita bersyukur orang ini bekerja sebagai aktor. Ini adalah penampilan terbaiknya so far. Adam relentlessly charming dan enggak sekalipun dia terasa out-of sync dengan karakternya. Menjelang akhir film ada adegan menakjubkan dengan seorang pria di kursi taman yang just change the whole movie for me.

Sejak istrinya menceritakan mimpi tentang punya anak kembar, Paterson jadi terus-terusan melihat orang kembar setiap hari. Duality lantas menjadi tema berulang yang jadi kunci pada film ini. There are so much ‘twins’ in this movie. Nama Paterson yang sama ama nama kota ia tinggal, sama ama nama puisi dari pengarang yang ia idolakan; William Carlos Williams, heck bahkan Adam Driver di sini diplot sebagai bus driver.

kalo di Indonesiain, Paterson ini jadi orang Sunda nih, namanya Paterson Mulpaterson
kalo di Indonesiain, Paterson jadi orang Sunda nih, namanya Paterson Supaterson

At one time, Paterson bertemu gadis cilik yang juga menulis puisi, punya ‘secret notebook’ seperti dirinya, and that little girl actually punya sodara kembar. Menilik dari keengganan Paterson untuk membuat salinan dari buku catatan puisinya, plot Paterson adalah dia akan belajar bahwa sesuatu yang kembar atau mirip, tidak mesti sama. Belum tentu selalu sama. Kayak bidak catur; ada hitam ada putih. Kayak lirik lagu rap yang juga punya wisdom, yang bersajak mirip-mirip syair. Kayak pistol mainan dan pistol beneran yang perbedaannya adalah nyawa seseorang. I think film ini menyuruh kita untuk embrace hidup, di mana kita ngelakuin hal yang sama setiap hari, karena kitalah yang membuat setiap hari menjadi pengalaman yang berbeda. Setiap hari adalah lembaran baru untuk kita ‘tulisin’.

Serupa tapi tak sama. Semua tergantung persepsi kita.

 

 

 

I love how real it all felt. Aku suka performancesnya. Aku suka arahan film yang berani. I just love the fact film kayak gini sukses dibuat. Sungguh berbeda dari apa yang kita tonton sebelumnya. Para penggemar puisi juga bakal suka sama film ini, bagiku juga apa yang disajakkan terasa unconventional. Menontonnya kita akan diajak berkontemplasi lewat naturenya yang filosofis. Wise and inspiring. Sukuri hal hal yang terjadi di hidupmu. Namun jika mencari adegan-adegan aksi heboh, louds and bang ala superhero, kita tidak akan menemukannya di sini. Meski begitu, kata siapa yang normal-normal enggak bisa dijadiin film yang menarik.
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 for PATERSON.

 

 

 

That’s all we have for now.

Kami sekarang punya segmen khusus kategori Poems, loh. Bagi yang suka puisi-puisi ataupun bentuk sajak dan syair lain silahkan mampir baca-baca. Just search for the category di bagian atas halaman. New entry bakal turun cetak di hari Jumat #JumatPuisi 😀 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

PASSENGERS Review

“Difficult times always create opportunities to experience more love in your life.”

 

passengers-poster

 

Cerita Passengers seumpama Adam yang mendambakan keberadaan seorang Hawa, hanya saja dalam film ini, Hawa adalah Putri Tidur. Dan Tuhan memberikan sepenuhnya pilihan kepada Adam to take actions, apakah dia akan mewujudkan desirenya sendiri, untuk ditemani oleh Hawa, meski jika hal tersebut melawan moral or whatsoever.

 

Spacecraft Avalon sedang menempuh perjalanan panjang membawa 5000 penumpang dan 283 awak menuju Homestead Two – semacam planet Bumi yang baru. Masih nyaris satu abad lagi sebelum mereka tiba, namun Jim Preston dan Aurora Lane terbangun dini dari hibernasi mereka. Ide cerita yang ditawarkan sebagai premis film ini sungguh menarik. Jim dan Aurora pada awalnya berusaha mencari cara untuk bisa tertidur kembali, tetapi seiring berjalannya waktu mereka menemukan rumah pada hati lawannya masing-masing, jadi mereka mutuskan untuk menghabiskan hari di Avalon, but then again of course, ‘surga’ mereka diguncang oleh sumber masalah yang membuat mereka terjaga far too early.

Passengers punya elemen yang aku cari dalam sebuah film. Aku suka cerita yang bertema isolasi, you know, film di mana karakternya harus berurusan dengan tempat yang tertutup. Dalam kasus ini that closed space adalah spaceship berteknologi tinggi itu sendiri. Dan juga, the actual space, luar angkasa adalah tempat yang selalu menarik! Kita akan melihat gimana dua insan manusia berusaha hidup di dalam lingkungan pesawat yang melaju terus di antara bintang-bintang. Avalon, sebagai tempat, tergambar dengan cantik. I really like design spaceshipnya yang futuristik, it was really cool looking. Keadaan di dalamnya benar-benar catering to sisi imajinasi kita tentang kehidupan di luar angkasa. Semuanya terlihat sangat bersih. It was ’empty’ tapi begitu sibuk hanya oleh kegiatan dua tokoh dan robot-robot pelayan. We learn how things work di dalam sana sembari juga belajar lebih jauh tentang hubungan dan siapa para tokoh utama kita sebenarnya.

everything is waaay cooler in space!
Everything is waaayyy cooler in space!

 

Satu kata untuk menggambarkan kelebihan film ini adalah MENAWAN. Passengers, tidak diragukan lagi, is a great looking film. Efek-efek yang digunakan menghasilkan environment yang sangat cantik. Film ini disyut dengan really well. Ada satu adegan yang keren banget; Pesawat kehilangan gravitasi ketika Aurora sedang berenang di pool facility, dan airnya semacam ngapung ke udara gitu, membentuk gelembung- gelembung kubik air yang gede, kemudian saling berbenturan. Efeknya seamless sekali, antara efek komputer dengan praktikalnya menyatu dengan lembut sehingga terasa very compelling. Musiknya juga mengalun dengan menawan, namun terkadang terdengar sedikit lebih kenceng dari yang seharusnya. Kadang malah terlalu mendikte kita. Ada beberapa momen di dalam film ini yang membuatku berpikir seandainya enggak ada musik maka emosi akan bisa tersampaikan dengan lebih kuat. Musik yang sometimes jadi ‘overly loud’ membuat nuansa isolasi yang jadi tema surrounding film ini jadi tidak lagi terdengar.

Dan tentu saja, menawan adalah sebutan yang pantas untuk kita berikan kepada duet Chris Pratt dan Jennifer Lawrence. Pesona mereka sungguh kuat, obviously. Mereka bekerja sama fairly well sebagai tulang punggung film drama ini, meski dari skripnya sendiri mereka tidak diberikan terlalu banyak hal untuk mereka lakukan. Aku suka setengah bagian pertamanya, bener-bener aku menikmati melihat Chris Pratt dan Jennifer Lawrence wandering around dan berusaha untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Film ini punya elemen investigasi dan another elemen yang naturally membuat kita terinvest ke dalam tokoh-tokohnya. Ada sedikit twist moral dalam hubungan Aurora dan Jim yang membuat sejumlah skenario “What If” bermunculan di benak kita. Membuat kita ngajuin pertanyaan tentang bagaimana relationship mereka bekerja. Atau relationship manusia secara umum.

Apa penilaian secara moral terhadap pria yang menarik serta wanita yang ia cintai ke dalam keadaan susah bersamanya, seperti Jim yang kesepian membangunkan Aurora. You know, cowok-cowok pasti sering mendengar anjuran “carilah wanita yang siap diajak susah bersama” karena itu berarti dia rela berjuang bersama kita no matter what. But in turn, apakah hal tersebut benar-benar adalah tindakan yang bertanggung jawab? Film ini menggambarkan bahwasanya normal bagi seorang manusia yang tenggelam mengajak orang lain ikut tenggelam, tapinya lagi apakah itu the right thing to do? Is it really selfish bagi wanita jika ia menolak diajak susah? Or apakah all is forgiven karena in the end, kita hanyalah penumpang yang hidup seolah supir dalam dunia yang berjalan pada tracknya?

What If, you “meet me in outer space?” like the Stellar song?
What If, you “meet me in outer space?” like the Stellar song?

 

Seperti robot bartender yang enggak bisa meninggalkan belakang meja bar, film ini berjalan di sirkuit yang sudah ditetapkan. Film tidak berani untuk mengeksplorasi lebih dalam masalah moral yang sempat disentuhnya. Keseluruhan CERITA SEPERTI DISETIR OLEH AUTO-PILOT, tidak ada yang menarik dalam perkembangannya. Setelah midpoint, aku kehilangan ketertarikan untuk mengetahui kelanjutan ceritanya. Karena it is just there’s nothing that feels new about the story. Nonton film ini kita akan lantas kepikiran banyak film-film lain. Passengers bahkan ngakuin kalo mereka memang masukin banyak homage buat film klasik. Sejak dari pertama, malah, film ini ngingetin kita sama The Shining (1980), kemudian 2001: A Space Odyssey (1968), terus Gravity (2013), terus dan terus kita akan recognized elemen cerita yang “Ah mirip film itu! Yaay, kayak film yang itu tuuh!”. Di samping desain spacecraftnya, tidak ada lagi yang terasa benar-benar original dari Passengers.

It does have some investing scenes. Hanya saja, kebanyakan elemen cerita dari film ini tidak menghantarkan kita ke suatu tempat. Banyak momen ketika kita ngeliat elemen terbangun dari adegan demi adegan, membuat kita merasa akan ada sesuatu yang ‘datang’, namun turns out to be nothing. Kayak adegan menjelang babak ketiga, Jim dan Aurora harus membereskan suatu hal yang just sort of happens. Masalah yang mereka hadapi ini hanya dibahas sekilas, nyaris seolah karena film ini butuh tendangan drama semata – supaya mereka bisa tahu bagian-bagian pesawat yang belum mereka kenal, dan film butuh cara buat ngejelasin itu. Masalah mereka ini actually tidak bener-bener punya impact terhadap keseluruhan cerita.

Kritikus ternama Roger Ebert pernah bilang bahwa sesungguhnya yang penting dari sebuah film bukanlah soal film itu menceritakan tentang apa. Tetapi bagaimana film tersebut adalah tentang itu. Film selalu adalah soal penceritaan. Biasanya sih, salah satu usaha film agar punya penceritaan yang baik adalah dengan menghindari flashback. Some films pengen banget punya twist, mereka ngacak order ceritanya meskipun pada akhirnya mereka jadi harus menggunakan flashback, dan biasanya itu bukan hal yang bagus. Susunan cerita Passengers dibuat linear sehingga film ini tidak memakai satupun adegan flashback, it should be a good thing. However, Passengers adalah kasus langka di mana film ini – dia tidak terasa baru, melulu ngingetin kita dengan banyak film lain – really truly need some twist agar menjadi lebih menarik. Passengers justru bisa menjadi lebih menarik jika mereka memutar order ceritanya. Like, you know, babak satu jadi babak ketiga. Sedikit flashback tak-mengapa dipakai kalo toh nanti mentok. Kita bisa pretty much tell the same story dengan order yang dibalik seperti demikian, while also menambah rasa interesting karena dengan diceritakan terbalik kita akan belajar how all of its story reveal.

 

 

 

Film yang menawan. Dirinya enggak wah-wah amat, meski juga enggak seburuk itu. It’s just tidak ada yang benar-benar menarik darinya. Tidak ada elemen yang baru. Tidak ada yang terasa extraordinary. Ini adalah perjalanan di mana karakter-karakternya, dan juga ceritanya, yang cakep berjalan dengan auto-pilot. Sesungguhnya bisa menjadi film yang keren, sayangnya ia tidak berani ngepush apapun lebih jauh lagi.
The Palace of Wisdom gives 5.5 gold stars out of 10 for PASSENGERS.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
And there are losers.

 

 

 
We? We be the judge.

Pesan Untuk Hati yang sedang Patah

img_9583-1

 

Kapan kau akan lupa?

Kapan kau akan siap menghapus air mata?

Kapan kau akan mampu menjalani hari seperti biasa?

Kapan kau percaya bahwa kau akan baik baik saja?

Kapan kau yakin kalau semua ada hikmahnya?

Kapan kau paham bahwa semua suka dan duka sifatnya sementara?

Karena bahagia tak selalu tentang dia.
Waktu tak akan pernah berhenti.

Hari akan selalu berganti.

Tinggal bagaimana caramu menghadapi, perasaanmu yang berduka sendiri.
Kau bisa memilih untuk kuat atau terkoyak,

atau bahkan mati sesak.

Tapi waktu tak pernah berhenti biarpun sejenak.

Tak akan menunggumu yang sedang retak.
Jadi, kapan kau akan yakin dan percaya bahwa bahagia tak selalu tentang dia?

Jakarta, 29 Januari – 2.48 dini hari (sedang berusaha menyadari, bahwa memang lebih baik sendiri)

 

 

 

As seen on https://thedeepeyes.wordpress.com/2017/01/29/pesan-untuk-hati-yang-sedang-patah/cropped-beautiful-girl-drawing-eyes1