PADDINGTON 2 Review

“Don’t judge a book by it’s cover”

 

 

Prasangka itu masih ada. Enggak peduli berapa sering kita berkata jangan menilai orang atau sesuatu dari penampilan, kita tetep masih melihat kesan pertama sebagai faktor yang paling menentukan. Dan darimana lagi kesan pertama itu datang kalo bukan dari tampang luarnya. Bahkan dalam menilai film pun kita begitu. Sadar atau tidak sadar, aku sering begitu. Kita suka keburu menyimpulkan film meski baru ngelihat poster atau trailernya selayang pandang doang. Ataupun dari genre. Padahal kan yang enggak kita suka belum tentu jelek, film mana bisa dinilai sebelum ditonton.

Paddington 2 ini contohnya. Film yang paling teroverlook di 2017 kemaren. Ketika tayang di bioskop, aku hanya meliriknya sekali. Aku bahkan belum nonton film pertamanya yang tayang tahun 2015 yang lalu. Karena, dari kelihatannya – beruang CGI yang hidup bareng manusia beneran, not exactly new thing juga di sinema – aku keburu menilai film ini seperti film-film keluarga kebanyakan. Film untuk anak-anak. Yang bisa disepelekan. Kemudian orang-orang mulai banyak membicarakan film ini, skor yang diberikan kepadanya oleh orang-orang yang actually menonton, tinggi sekali. Maka menyesallah diriku, dan sedikit malu, sebab begitu selesai menonton ini di komputer alih-alih layar besar yang majestic, memang film ini adalah salah satu yang terbaik. Aku enggak bercanda ataupun bias, Paddington 2 adalah film keluarga untuk anak-anak yang penuh pesona, yang sama sekali tidak meremehkan atau menganggap bodoh karakter maupun penontonnya.

Paddington, si beruang muda yang berasal dari hutan, kini tinggal bersama keluarga yang mengadopsinya. Hidup mereka harmonis sekali, tapi bukan tanpa cela. Anak cewek keluarga itu misalnya, karena putus ama cowoknya, dia menemukan ‘cinta’ ama bikin koran sekolah sendiri, yang anggotanya cewek semua. Adiknya yang baru gede punya ‘kelainan’ lain, yang tadinya hobi main kereta api, jadi malu mengakui hobinya demi pengcitraan cool di depan teman-teman sekolah. Sementara itu, si Ayah kena krisis pede, lantaran promosinya di kantor kesalip ama karyawan yang lebih muda.

Sepertinya kita tahu kenapa Sally Hawkins bisa kuat berenang bolak-balik London Perancis

 

Melalu mata Paddington, kita melihat tingkah anggota keluarga yang lain tersebut sebagai sesuatu yang ajaib. Basically, ini adalah cerita fish-out-of-water; karakter Paddington dibenturkan dengan environment yang sama sekali asing baginya. Hati dan sikap Paddingtonlah yang menyatukan, tidak sekalipun dia ngejudge apa yang ia lihat. Kepolosan Paddington membuatnya melihat yang terbaik dari semua orang. Dan itu semua berkat nasihat dari Aunt Lucy, sosok ibu bagi Paddington. Menjelang ulangtahun keseratus Aunt Lucy, Paddington ingin mengirimi beruang wanita tersebut sebuah kado berupa buku. Well, yea, jangan nilai buku dari sampulnya karena buku yang ditemukan Paddington di toko barang antik berisi pop-up tempat-tempat terkenal di kota London yang cantik banget. Buku ini bakal jadi kado yang sempurna untuk Aunt Lucy karena bibi Paddington itu dari dulu kepengen banget melihat London. Jadi, Paddington mulai mengusahakan membeli buku tersebut. Dia bekerja kecil-kecilan, menabung koin demi koin. Tapi sebelum duitnya terkumpul lengkap, buku tersebut dicuri oleh mantan aktor terkenal bernama Phoenix Buchanan, sehingga Paddington yang berusaha mendapatkan kembali buku berisi rahasia tersebut harus terjebak dalam situasi yang sulit.

Sebagaimana begitu banyak orang terpesona oleh Paddington, pada gilirannya banyak penonton – bahkan kritik – yang terpesona oleh film Paddington 2. Oleh karena si Paddington itu sendiri benar-benar punya hati yang besar, serta sudut pandang yang unik. Oh bukan, bukan, tidak seperti Fahri di Ayat-Ayat Cinta 2 (2017), Paddington tidak punya uang banyak, ia tidak tampan orang tidak jatuh hati seketika kepadanya. Beruang ini bukan tokoh sempurna, in a way dia baik tetapi dia teramat berbeda dari yang lain dari cara ia memandang dunia. Sebagai satu-satunya beruang di tengah-tengah manusia, Paddington sering ‘salah’ dalam berkomunikasi. Dia tidak mengerti sinyal-sinyal percakapan. Dia mengalami kesusahan memahami apa yang orang sampaikan. Ditambah lagi, tidak jarang dia mengatakan sesuatu yang keluar sebagai perkataan yang gak bener. Baginya, melakukan hal-hal simpel, seperti bercakap-cakap, belumlah suatu konsep yang jelas batas-batasnya. Komedi film ini memang datang dari sini, kita melihat beberapa slapstick, namun lucu-lucuan tersebut tidak pernah datang dengan mengorbankan derajat Paddington. Film tidak mengarahkan adegannya sebagai bentuk hinaan kepada Paddington, film tidak meminta kita untuk melihat Paddington sebagai orang bego. Faktanya, para tokoh lain juga tidak pernah bereaksi seolah Paddington adalah makhluk dengan IQ paling jongkok di kota. Kita tidak melihat Paddington sebagai orang bodoh, kita justru bersimpati terhadap kepolosannya. Ketidakmengertiannya terhadap dunialah yang membuat tokoh ini sangat adorable.

Sebagai sebuah tontonan yang utamanya ditargetkan untuk anak-anak, tentu karakterisasi Paddington ini tersampaikan dengan sukses sebagai sebuah pesan yang sangat baik. Melihat Paddington, anak kecil akan merelate diri mereka sendiri yang juga belum sepenuhnya mengerti bagaimana cara kerja dunia. Sering kita melihat anak kecil yang ditertawakan orang tua ataupun orang dewasa di sekitarnya karena si anak mengucapkan perkataan yang di luar levelnya. Anak kecil sering dengan naifnya mengatakan sesuatu yang mereka anggap serius, dan film ini mengencourage mereka untuk terus melakukannya – karena mengungkapkan opini, bertindak sesuai hati dan keinginan adalah hal yang penting. Seperti Paddington yang belajar – dengan sedikit keras – seperti apa dunia. Kejadian yang datang menimpa Paddington pada akhirnya bukan untuk menjatuhkan, melainkan mengajarkannya kepada banyak hal.

Jangan judge beruang dari uangnya

 

Sejujurnya, menonton film ini tidak lagi seperti menonton film anak-anak. Berkat humor dan penokohannya sangat beradab. Memang ada lebay-lebaynya sih, mengingat ini adalah dunia di mana beruang bisa berbahasa Inggris lebih lancar dari diriku, tapi tidak berada di tingkatan yang bikin kita nyengir. Semua tokohnya terasa respectable. Sally Hawkins dan aktor-aktor lain terasa tulus memainkan karakter masing-masing. Mereka turut menuangkan hati lewat penampilan yang enggak sekenanya. Terasa sekali ada usaha untuk menjadikan film ini sepenting dan serealistis mungkin.Bahkan tokoh antagonis utamanya yang diperankan dengan meyakinkan oleh Hugh Grant juga enggak sekadar jahat. Well, yea kita geram melihat tipu muslihatnya, tapi seenggaknya dia punya hal menarik untuk dilakukan. Buchanan ini semacam orang ‘gila’, dia masih menyimpan kostum-kostum perannya dulu di atap rumah, dan kita melihat dia sering ngobrol nyusun rencana jahat dengan mereka, yang mana pada dasarnya ia bicara sendiri. So in that way, Hugh Grant bermain menjadi banyak tokoh di sini, sebuah peran yang lain dari yang lain baginya.

Kalo mau bicara kekurangan, palingan yang sedikit membuatku kurang puas adalah bagaimana film berakhir dengan lumayan mendadak, bagi beberapa tokoh. Mungkin sedikit tambahan durasi diperlukan untuk mengayomi beberapa resolusi tokoh yang lain. Seperti anggota keluarga Brown, ataupun tokoh koki sangar yang interaksinya dengan Paddington di tengah film benar-benar menarik, mereka jadi bekerja sama dipersatukan oleh makanan haha.. Film memperlihatkan kepada kita orang ini akhirnya menjadi apa lewat foto-foto di kredit penutup, yang menurutku akan lebih nice kalo kita diceritakan resolusi yang sedikit lebih banyak dari orang-orang seperti tokoh koki ini.

 

 

 

Setelah menonton ini aku ngerasa sangat terhook sehingga bukan saja aku jadi kepengen nonton film pertamanya, sekaligus juga ngarep akan ada seri ketiganya – supaya aku bisa nonton ini di bioskop. Punya pesan luar biasa positif untuk anak-anak, yang disampaikan dengan menyenangkan lewat humor-humor yang beradab, sehingga orang dewasa pun akan mengapresiasinya. Film ini menceritakan pesannya dengan arahan yang menawan. Animasinya, terutama di sekuens ketika Paddington masuk ke dalam buku pop-up tampak sangat indah. Struktur shot dan pengadeganan yang kita lihat di sini adalah salah satu yang terbaik pada film keluarga. Sekuen aksinya pun tak kalah seru dan imajinatif. Kita tidak akan pernah menyangka betapa wonderfulnya film ini jika hanya melihat tampilan luarnya.
The Palace of Wisdom gives 8 gold stars out of 10 for PADDINGTON 2.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

EIFFEL I’M IN LOVE 2 Review

“..the decision to be patient and willing to wait is an act of courage and perseverance.”

 

 

Cobaan paling berat di dunia itu salah satunya adalah menunggu. Beberapa orang menjadi tidak sabaran lantaran menunggu itu berarti kita menunda melakukan sesuatu, menahan diri dari mendapatkan sesuatu. Makanya, menunggu itu bisa kita jadikan sebagai kadar kedewasaan seseorang. Semakin dewasa orang, maka semakin sabarlah dia. Buktinya lihat aja pas bulan puasa, yang batal duluan biasanya pasti anak-anak kecil, yang sanggup menahan diri biasanya punya nalar dan mental yang matang. Namun meskipun begitu, enggak selamanya anak kecil kalah ‘sabar’ sama orang dewasa. Kadang ada juga orang dewasa yang bertingkah seperti anak kecil.

Menunggu itu adalah aksi yang paling membosankan, sebab menunggu adalah aksi yang tertunda.  Maka dari itu, orang yang mengambil keputusan untuk menunggu adalah bukan saja orang yang amat tekun, namun juga salah satu orang yang paling berani di dunia.

 

Kayak si Tita. Di ulangtahun kedua tujuhnya, dia masih belum boleh megang hape sendiri, masih dilarang keluar malem sendirian oleh ibunya. Lantaran Tita ini masih kolokan, manja banget. Sebenarnya ini kayak kasus ayam atau telur sih, gak jelas juga apakah karena selalu diprotek berlebihan maka mental Tita masih kayak remaja bau kencur, atau apakah sudah dari sononya ia begitu sehingga perlu pengawasan ekstra. Yang jelas, di usia segitu Tita masih belum menikah. Dia masih betah LDRan sama Adit, cowoknya yang tinggal di Paris. Padahal menurut Tita, menikah bisa menjadi solusi dari semua masalah hidupnya – dia bisa bebas dari aturan ibu, dia bisa merdeka dari pertanyaan ‘kapan nikah?’ dari temen-temennya. Maka, Tita pun bersabar menunggu lamaran Adit. Di sinilah kedewasaan, bukan hanya Tita melainkan juga kedewasaan relationship mereka ditempa, karena Tita dan Adit yang sudah bersifat berlawanan dari film pertama, menjadi semakin sering bertengkar hingga ke titik Tita mulai kehilangan kepercayaan terhadap Adit.

Lama tinggal di Paris, tapi Adit masih canggung nyetir di kiri

 

Aku hampir yakin kalo aku masuk golongan minoritas di sini, karena aku sama sekali enggak tahu sama Eiffel, I’m in Love. Aku gak baca bukunya, aku gak nonton film pertamanya, aku sempet bingung karena yang aku pernah nonton cuma Lost in Love (2008) yang ternyata enggak dianggep sebagai universe franchise film ini. Jadi aku enggak tahu Eiffel, I’m in Love 2 ini mengincar apa.  Film ini akan terpuruk sangat jika kita melihatnya sebagai drama romansa. Akan tetapi, BERTINDAK SEBAGAI KOMEDI ROMANTIS, film ini menunaikan tugasnya dengan efektif. Aku sendiri juga kaget, aku menikmati hubungan para tokoh film ini.

Bantering antara Tita dan Adit dijadikan senjata utama yang bakal bikin kita tertarik untuk menonton. Kedua tokoh sentral dibangun dengan formula komedi, di mana yang satu adalah total opposite dari yang lain. Dan mereka terflesh out dengan efektif. Ada begitu banyak momen-momen lucu yang hadir dari interaksi Tita dan Adit. Shandy Aulia dan Samuel Rizal sudah punya chemistry yang menawan dan mereka tampak begitu effortless menghidupkan tokoh-tokoh. Effortless dalam artian yang positif karena keduanya tampak berinteraksi dengan natural. Berantem mereka, delivery dialog ngotot-ngototannya, terasa pas dan sungguh-sungguh relatable. Film ini berangkat dari sudut pandang seorang wanita yang berada dalam situasi berpacaran terlalu lama, dengan potensi menikah yang tak kunjung cerah. Ditambah lagi dengan masalah-masalah yang tentunya hadir jika seseorang terlibat dalam hubungan asmara jarak jauh. Film memfokuskan kepada hal tersebut, berkelit dari kait-kait drama, dan mengeksplorasi ‘berantem itu kekanakan atau romantis’ menjadi sebuah cermin yang menyegarkan bagi penonton. Seperti pada adegan ketika Adit mengajak Tita pulang naik mobil, tapi Tita ‘sok’ ngambek, dia enggak mau naik. “Tinggal nih!?” ketus Adit. Yang dijawab tak kalah ketusnya “Tinggal aja!” oleh Tita. Adit pun pergi. Dan kita lihat Tita ngomel-ngomel manja “Adit jahat, ninggalin Tita sendiriiii”

Tapi memang, film ini punya set up tokoh yang aneh, and not necessarily in a good way. Tita yang udah nyaris berkepala tiga, namun seringkali bersikap lebih manja dari remaja tentu bisa jadi turn off buat banyak penonton. Aku sendiri tadinya juga udah pasang kuda-kuda, karena tokoh kayak gini biasanya bakal annoying banget. Awkward pasti demi ngelihat orang bertingkah di bawah umurnya. Motivasi Tita adalah dia ingin dilamar supaya bisa bebas, hanya itu. Film tidak berusaha menjadi lebih besar dari ini. Tidak berniat untuk menyampaikan cerita yang lebih dalem. Namun paling enggak, film ini konsisten dalam membangun penceritaan dengan perspektif tokoh utamanya. Paris adalah kota yang romantis, mungkin paradigm itu tergolong kuno di jaman now, namun dalam kacamata Tita, langit malam Paris, di atas sungai Seine, berhias gemerlap kembang api, tetaplah skenario percintaan yang paling maksimal. Film negbuild up momen-momen keinginan Tita terwujud dalam cara yang menarik karena nun jauh di dalam hati, kita pengen lihat benturan apa lagi yang dihasilkan dari perbedaan mindset antara Tita dan Adit.

Jika ini adalah film drama, maka tentu dalam perkembangannya kita akan melihat Tita akan belajar untuk melawan aturan ibunya, dia akan mencoba untuk menjadi mandiri. Dan nampaknya memang akan bisa menjadi produk cerita yang lebih baik dari ini. Tetapi dari penulisan plot yang mereka pilih, film ini punya vibe komedi yang gede, jadi alih-alih itu, Tita akan belajar untuk mulai meragukan Adit. Oleh naskah, Tita tetap menjalankan fungsinya sebagai tokoh utama, dia melakukan pilihan-pilihan. Hanya saja memang pilihan-pilihan tersebut tidak benar-benar berbobot. Untuk menemukan jawaban atas apa yang sebenarnya ia butuhkan, naskah memperlakukan Tita seperti ikan di luar air; Tita mencoba melakukannya dengan benar-benar gak tau apa yang terjadi di sekitar, sementara dirinya sendiri struggle untuk memegang teguh apa yang ia percaya. Pandangan anak manja dan romantisme tetap dipegang dengan konsisten, sementara pemahaman Tita menjadi ‘dewasa’ mengunderlying komedi dan berjalan seiring sebagai lapisan kedua cerita.

“Kalo tut, berarti gue kentut dong!”

 

Tapinya lagi, tentu saja film ini juga tidak luput dari kesalahan. Tetap banyak trope dan pilihan-pilihan gampang demi merebut hati target pasar. Yang ultimately menjadikan film ini enggak berhasil menjadi lebih baik dari yang semestinya bisa ia capai. Lagu soundtracknya yang kerap diulang membuatku terlepas dari emosi yang tak lagi terasa genuine. Banyak juga aspek cerita yang tak bangun-bangun, eh tuhkan jadi kebawa lagunya, maksudku banyak aspek cerita yang tak terbangun dengan baik. Hanya sekedar menjadi device saja. Seperti tokoh sahabat cowok Tita; Adam literally a tool dalam cerita. Maksudnya, dia hanya ada di sana untuk memudahkan jalan cerita maju, tanpa benar-benar punya kepentingan dari segi karakter dan bobot emosi cerita. Adam, dan juga tokoh-tokoh sampingan lain, tidak terflesh out dengan baik sebab film tidak peduli menceritakan mereka. Mereka hanya ada di sana saat cerita membutuhkan. Contohnya di awal-awal saat adegan drive-through McDonald. Adam tiba-tiba ada di sana, dengan pesenan yang sama dengan Tita, dan itu adalah salah satu adegan pengenalan tokoh paling males yang pernah dilakukan dalam film, bahkan dalam film cinta-cintaan Indonesia.

Alasan mereka sekeluarga pindah ke Paris juga tidak dimekarkan menjadi apa-apa. Keluarga Tita seharusnya membuka rumah makan, tapi kita hanya mendapat satu adegan mereka berbenah di rumah makan tersebut. Film melewatkan kesempatan mengeksplorasi banyak karakter  dari sini, sehingga aku paham mengapa banyak orang yang mempertanyakan kenapa satu keluarga mesti pindah. Karena nyata-nyatanya kehadiran mereka juga tidak benar-benar berbuah dalam membangun cerita yang lebih baik. Ketika Tita dan Adit tampak begitu mengalir bersahut-sahutan, Tita dengan anggota keluarga yang lain, bahkan dengan Uni, tidak terasa sama naturalnya. Dialog-dialog tidak terasa mengalir dengan mulus, karena kita masih bertanya kenapa ada orangtua yang memperlakukan anaknya seperti anak kecil. Menurutku, cerita butuh memperlihatkan sudut pandang dari orangtua atau keluarga Tita sehingga masalah manja dan perlakukan sedikit mengekang itu bisa terbahas.

 

 

Udah ngarep, apalagi pake nunggu lama banget, tapi yang ditunggu enggak kejadian, memang sebuah hal yang berat. Untungnya, bagi para fans film yang pertama, film ini adalah sesuatu yang sudah ditunggu selama lima belas tahun, dan berbuah kejadian-kejadian yang menyenangkan untuk ditonton. Film menggali komedi dari bentrokan keinginan dua karakter sentral yang mengekspresikannya dengan cara yang kekanakan. Tapi dewasa itu adalah penantian. Film menyediakan cukup komedi sehingga menjadi menarik, namun dia tidak menyediakan gizi lebih banyak dari itu.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for EIFFEL I’M IN LOVE 2

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

   

THE CLOVERFIELD PARADOX Review

“The second time you make it, it’s not mistake, it’s a choice.”

 

 

Planet sudah nyaris kehabisan sumber daya energi. Penguasa-penguasa minyak di dunia mulai insecure, mereka pun rebutan tetes-tetes terakhis emas hitam tersebut. Dunia sedang perang, Bumi sedang kritis. Teknologi berusaha menjawab masalah ini dengan mengirim beberapa orang ahli ke satelit luar angkasa, guna mengoperasikan accelerator partikel bertenaga tinggi. Entah bagaimana dengan menembak ruang angkasa dengan partikel tersebut bisa memberdayakan dan memperbarui kembali sumber energi di planet Bumi, kita enggak pernah tahu lantaran ada masalah yang lebih gede ketika hal keren itu dilakukan. Kali ini para astronotlah yang enggak menghiraukan, mereka sudah bekerja dua tahun untuk menyempurnakan accelerator. Waktu sudah semakin menipis dan boom!!! Mereka berhasil….. melenyapkan bumi entah kemana. Satu planet gede raib begitu saja, bayangkan. Ternyata benar saja, dimensi lain itu terbuka oleh gaya yang dihasilkan oleh energy accelerator. Mengirim mereka terbang menembus dunia yang satu lagi, sementara monster-monster entah dari mana bermunculan di Bumi tempat dua film Cloverfield sebelumnya terjadi.

kayak Rick dan Morty, hanya saja film ini lucunya enggak lucu.

 

Aku pikir semua orang pada kaget ujug-ujug film ini keluar nyaris barengan ama trailernya yang nongol di Superbowl. Tayangnya di Netflix pula, bukan lagi di bioskop. Aku enggak yakin apakah ini langkah desperate atau memang mereka mau ngasih kejutan, yang jelas ini adalah taktik marketing yang cerdas. Ini membuat banyak orang membicarakannya, membuat orang penasaran. Terlebih karena Cloverfield pertama (tayang tahun 2008) dengan sekuelnya; 10 Cloverfield Lane (2016) adalah seri yang begitu jauh berbeda. Saking uniknya udah kayak film yang enggak ada hubungannya. Film pertama adalah thriller tentang kota yang udah dikuasai monster, aku suka banget filmnya dengan efektif memakai footage sebagai gimmick untuk menambah keunknownan kita terhadap monster dan apa yang sebenarnya terjadi. Film kedua, aku eventually lebih suka ini kecuali bagian akhirnya, lebih sebagai confined-psikologikal thriller tentang cewek yang gak yakin apakah dia sedang diculik atau memang sedang diselamatkan. Baru saat babak terakhir, dan kemudian dipastikan saat endinglah, kita melihat keduanya bisa jadi adalah cerita yang berhubungan.

Film ketiga ini, seharusnya menjembatani dua film tersebut, atau paling tidak menjelaskan misteri apa yang sebenarnya terjadi kepada Bumi. Dari mana monster-monster itu. The Cloverfield Paradox bisa saja melanjutkan ‘tradisi’ cerita yang berbeda setiap sekuelnya, sebab yang kita dapat di sini adalah sebuah thriller tertutup di luar angkasa, namun sayangnya film ini justru membuat kita lebih bingung lagi dalam menyambungkan, dalam memahami, apa yang terjadi di semesta Cloverfield.

Meski begitu, film ini memang melaksanakan tugasnya. Kita berhasil dibuat memikirkan ulang kembali mengenai franchise ini setelah menontonnya. In some ways, film ini memberikan kemungkinan-kemungkinan baru terhadap pengembangan universenya. Namun di pihak lain, film juga melakukan hal-hal yang tampak ‘menghancurkan’ apa yang sudah dibangun. Paling tidak, untuk saat ini kelihatannya begitu. Now, jika kalian menonton film ini dengan enggak peduli atau malah mungkin enggak tahu bahwa ini adalah bagian dari suatu franchise,  kalian akan mendapati  The Cloverfield Paradox  sebagai thriller sederhana yang simpel tentang kru astronot yang satu persatu tewas. Ini bagus, film ini mampu berdiri sendiri sebagai sajian yang enjoyable. Enggak masuk akal, namun tak pelak menghibur. Akan tetapi, jika kita mencoba melihat gambar besar yang utuh, film ini benar-benar adalah sebuah paradoks.

Aspek dunia multidimensinya lah yang membuat hal menjadi unnecessarily ribet. Kita bisa kepikiran teori yang membangun film ini ataupun teori kenapa film ini jelek dengan sama banyaknya. Dan menurutku di situlah letak kekurangan film ini; ENGGAK JELAS. Padahal film ini sepertinya lumayan mengerti pijakan horor atau thriller yang bagus. Bahwasa ceritanya harus bisa menghantui tokohnya secara personal dengan ketakutan universal seperti rasa bersalah, kesepian, ketidaktahuan. Tokoh utama kita punya masa lalu yang tragis. Dia merasa bersalah atas kematian anak-anaknya, dia melakukan sesuatu (suatu hal yang bego) yang menyebabkan rumahnya terbakar. Pada inti setiap cerita horor yang baik selalu ada konflik bermakna yang dikaitkan dengan kejadian seram yang terjadi, yang menjelaskan kenapa hal tersebut menimpa si tokoh. Film ini, sepertinya dibuat oleh orang-orang yang gak tahu pasti mau bercerita apa. Masalah ketakutan personal tokoh utama tidak pernah benar-benar didukung oleh hal-hal ‘ekstraterestial’ yang mereka masukin ke dalam narasi. Sama sekali tidak ada penjelasan kenapa kita menyaksikan tokoh yang kehilangan lengan karena kesedot dinding, tapi dia gak merasa sakit – malah bercanda setelahnya. Tidak ada pemahaman kenapa kompas keren para kru hilang dan muncul di dalam dada teman mereka yang meninggal setelah tubuhnya mengeluarkan banyak cacing.

Setiap dari kita pasti enggak akan menolak jika dikasih kesempatan untuk balik memperbaiki kesalahan. Tapi, di dunia nyata, kita unlikely bakal dapat kesempatan kedua. Pelajaran yang bisa dikutip dari film ini adalah bukan dengan hidup tanpa membuat kesalahan sama sekali, melainkan kita harus belajar dari kesalahan tersebut sehingga kesalahan yang sama tidak terjadi dua kali.

Penjelasan yang ada sama enggak masuk akalnya

 

 

Alih-alih mengerikan, kejadian film ini jatohnya jadi konyol. Kita tidak pernah benar-benar peduli sama para tokoh, yang memang enggak mendapat karakterisasi yang memadai. Setiap kematian tidak terasa seperti kehilangan, apalagi kesedihan. Di antara semua hal-hal tak masuk akal yang mestinya ada kepentingan itu, film justru sempet-sempetnya masukin adegan eksposisi yang paling enggak dibutuhin; video seorang pengarang buku yang mengembangkan teori dimensi dunia mengungkapkan gelisahnya mengenai kemungkinan dua dimensi berbenturan. Tak pelak adegan ini menerangkan filmny sendiri dengan sangat gamblang. See, film ini bahkan tidak mengerti kapan ambigu itu harus diterapkan.

Ending film ini secara praktis membuat aku bingung dengan keseluruhan timeline franchise Cloverfield. Kita melihat monster yang sama dengan di ending film pertama, tetapi ukurannya jauh lebih besar. Adegan monster itu menembus awan sebenarnya cukup impresif jika konteks ceritanya kuat. Jadi apakah film ketiga ini merupakan awal dari film yang pertama? Apakah mereka bahkan ada di dunia yang sama? Di akhir film pertama, kita melihat runtuhan satelit jatuh sebagai awal dari kedatangan monster. Di film ketiga ini, however, satelit yang jatuh terjadi di Bumi yang Lain. Jadi tokoh film ketiga enggak hidup di tempat yang sama, dan kita bisa simpulkan monster di Bumi yang Lain berukuran lebih kecil – atau belum berkembang. Akhir film 10 Cloverfield Lane menunjukkan dunia sudah semacam diinvasi oleh Alien, jadi kemungkinan timeline film ini paling belakangan. Kesimpulanku adalah film ketiga terjadi duluan, diikuti oleh film pertama, dan kedua. Dengan film ketiga berada di dunia yang berbeda dengan film pertama, sedangkan film kedua masih abu-abu terjadi di mana. Masalahnya adalah, kita kerap dibawa balik ke tokoh suami protagonist yang tinggal di bumi, dan dia berkomunikasi dengan hape kekinian. Timeline ini begitu membingungkan buatku; film sepertinya sengaja mengaburkan penunjuk waktu sehingga kita enggak benar-benar tahu apa terjadi kapan kepada siapa, dan ini disengaja biar film masih bisa terus menelurkan cerita lain. Dan dengan dunia multi dimensi ini kemungkinannya akan nyaris tak terhingga.

 

 

Film ini masih bisa menyenangkan untuk ditonton, sensasi thrill dan terkurung di tempat tertutupnya cukup menguar meskipun karakternya tidak kita pedulikan. Ini juga adalah sebuah cerita yang cepet, kelihatan ingin menyumpelkan universe rumitnya ke dalam durasi yang mestinya bisa diperpanjang lagi demi narasi yang lebih kohesif. Namun pada akhirnya yang paling mengganggu adalah betapa malasnya aspek penceritaan dengan eksposisi yang salah tempat dan banyak hal konyol yang enggak masuk akal, malahan tampak dipaksakan. Paradoks yang ada ialah hal terbaik pada film ini bukanlah filmnya sendiri, melainkan promo marketingnya, dan sesungguhnya kita semua pasti akan lebih menikmati film yang ceritanya pinter dibandingkan film yang marketingnya keren.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for THE CLOVERFIELD PARADOX.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

MAZE RUNNER: THE DEATH CURE Review

“To attain something of  greater value, one must give up something of lesser value.”

 

 

 

Maze Runner benar-benar seri FILM YANG BERLARI DENGAN CEPAT. Jika bukan karena kecelakaan yang terjadi pada bintangnya di lokasi syuting, kita akan mendapat sekuel ini exactly dalam per satu tahun yang berurut. Cerita yang  berjalan dengan cepat, para tokohnya literally berlari dari satu plot poin ke plot poin berikutnya, intensitas aksi yang ditawarkan nyaris nonstop – inilah yang membuat Maze Runner sedikit berbeda dalam kalangan cerita dystopia Young Adult yang lain. Ini juga sebabnya kenapa, di tahun yang bisa kita sebut sebagai faktual distopis bagi seri Young Adult, kita menonton sekelompok anak muda berusaha merampok gerbong kereta api yang tengah berjalan. Adegan aksi pembuka The Death Cure tak pelak melanjutkan tradisi seri ini yang hobi berlari; ceritanya menolak untuk berhenti dan memberikan kesempatan kepada penonton baru untuk naik ke atas plot cerita. Kita yang harus berlari mengejar ketinggalan, sebab film hanya akan sesekali mengerem sedikit untuk memberi informasi sebagai penunjuk jalan.

Kelompok Thomas-lah yang sedang berusaha menyabotase kereta api tersebut. Mereka ingin menyelamatkan salah satu rekan mereka yang sedang dalam perjalanan ke kota tempat markas Organisasi Rahasia WCKD yang selama ini sudah memperlakukan mereka sebagai binatang percobaan di dalam labirin. Dan sekarang, setelah darah Thomas dan kawan-kawan terbukti kebal terhadap virus semacam zombie yang menjangkiti seluruh penjuru dunia, WCKD ingin memanfaatkan darah tersebut sebagai bahan utama pembuatan vaksin. Thomas dan anak-anak remaja lain yang sehat adalah properti WCKD, mereka ‘dibiakkan’, darah mereka bisa digunakan seenaknya oleh WCKD. Thomas dan kawan-kawan bagai domba yang dipersiapkan untuk menjadi korban. Tetapi domba-domba yang satu ini adalah domba yang sadar akan kemampuan dan jumlahnya. Jadi tentu saja Thomas menolak. Dan sekarang, Thomas sedang berjuang menyelamatkan Minho dari gerbong kereta. Hanya saja, Thomas tidak menemukan Minho di dalam gerbong yang susah payah mereka bajak. Puluhan anak baru berhasil diselamatkan, namun lantaran Minho masih diculik, Thomas dan kawan-kawan pun bergegas menuju The Last City. Jika sebelumnya, mereka harus keluar dari tembok, kini mereka harus berjuang untuk menyelinap masuk demi menolong Minho. Sekaligus menyelamatkan dua-puluh delapan anak-anak lain. Jangan sampai mereka salah nolong lagi kali ini.

Kepanjangan dari akronim WCKD berasa kayak diambil dari komik Donal Bebek

 

Benarkah kita bisa salah menolong? Dalam kondisi bagaimana kita merasakan sudah melakukan kesalahan saat kita sudah  membantu orang? Dan kalopun kita memang melakukannya, apa yang kita rasakan sesudah itu – penyesalan? Nyesal udah membantu orang lain padahal ada yang lebih pengen kita bantu? Ultimately, film ini akan menghadirkan kepada kita keambiguan moral mengenai  mengedepankan kebaikan yang lebih kecil ataukah kebaikan yang lebih besar meski itu berarti kita harus berkorban banyak.

 

Aku memang cukup tertantang oleh gagasan dan sudut pandang yang dimiliki oleh narasi. Di sini kita punya Thomas sebagai protagonis, namun motivasi tokoh utama kita ini enggak muluk-muluk. Sedewasa apapun temanya,  semacho apapun aksinya, film tetap memperlihatkan Thomas sebagai anak remaja. Udah bukan anak kecil, tetapi tetap belum benar-benar matang dari segi emosi. Dan remaja toh memang sedikit egois. Thomas dan teman-teman enggak berniat untuk menyelamatkan dunia. Mereka ingin menolong ‘bangsa’ mereka sendiri. Kelompok yang udah gede bareng di Glade di tengah labirin. Kelompok yang udah bersama-sama dalam suka, meskipun lebih banyak dukanya.

Film juga cukup bijak dalam memainkan tokoh antagonisnya. Karena antagonis bukan berarti bisa disimpelkan menjadi tokoh jahat. Antagonis adalah tokoh yang menghalangi protagonis dalam mencapai keinginan.Dan dalam The Death Cure, kita dapat melihat bahwa kelompok yang berlaku semena-mena kepada teman-teman Thomas sesungguhnya bergerak demi kebaikan yang lebih besar. WCKD ingin menciptakan vaksin demi kesembuhan seluruh dunia. Narasi merepresentasikan kekompleksan WCKD sebagai antagonis ke dalam tiga figur yang  berbeda. Eventually, kita akan merasakan kompleks moral ini lewat tokoh Teresa, cewek yang pada film pertama mengkhianati Thomas dan terungkap sebagai salah satu imuwan yang memprakarsai remaja sebagai objek penelitian. Dan memang ada agen WCKD yang total jahat, namun tokoh ini bekerja dengan baik sebagai pembelajaran buat Thomas; dia ingin menggunakan vaksin untuk kepentingan pribadi, dan ini membuat Thomas sadar bahwa dirinya dengan si agen punya kesamaan, bahwa mereka perlu belajar soal pengorbanan.

Atau paling enggak, kita yang sadar mereka punya kesamaan. Karena lebih sering daripada tidak, tokoh-tokoh film ini tampak terlalu sibuk dengan berlari dari zombie, dari pasukan bersenjata, dari ledakan dahsyat, sehingga mereka lupa pegangan sama moral masing-masing. Big dump action adalah judul besar, kalo perlu ditulis di papan neon terang benderang, yang menggantung di atas film ini. Aksi-aksi seru namun mindless, malah sebagian besar sangat konyol, bakal mengisi sebagian besar dari seratus empat puluh menit waktu durasi. Kita akan melihat bis berisi anak-anak bergelantungan di atas kota, dan jatuh berdebam, dan semua selamat. Kita akan melihat adegan seru terus melaju, membuat babak akhir film terasa diulur-ulur karenanya. Seolah film ingin membuat kita lupa kalo banyak adegan-adegan aksi yang ia punya, sesungguhnya dipinjem dari film-film action lain. Membuat kita gak ingat ataupun jadi gak peduliin ada tokoh tak berhidung yang jangankan backstory, nasibnya di akhir cerita pun, tidak pernah disentuh lagi oleh narasi. It’s all about teenagers take on actions facing a huge world problem. Dan ledakan. Selalu ledakan.

Film ini udah kayak WCKD, mengekploitasi remaja demi universenya berputar

 

Secepat-cepatnya film ini berlari, aku masih mengingat betapa film Maze Runner yang pertama (2014) cukup mengesankan bagiku. Aku suka desain produksinya, aku suka aspek cerita tentang gimana mereka membangun society. Labirin itu memberikan elemen misteri yang fresh. Film yang kedua, aku suka separuh awalnya saja. Saat menonton yang ketiga ini, tampak jelas penyutradaraan Wes Ball sudah outrun source materialnya. Keseluruhan film tampak lebih mengesankan. Kubilang, film ketiga ini tampak lebih dekat seperti yang kedua, pengecualiannya adalah dia dilakukan dengan lebih baik dan lebih matang. Adegan-adegan aksi kejar-kejaran direkam semakin intens.  Bagian berantemnya, bagian yang tergolong ‘baru’ dalam seri ini, butuh penguasaan yang lebih lagi sebab kita melihat kameranya cukup banyak goyang dan enggak benar-benar merekam apa yang mustinya diperlihatkan. Di lain pihak, porsi penggunaan efek prostetik dengan penggunaan CGI tampak semakin bijak. Set jalanan kota terakhir di dunia itu tampak meyakinkan, enggak berlebihan, malah kelihatan sangat mungkin kota tersebut ada di dunia nyata.

Para tokoh juga diberikan arahan yang lebih dewasa. Tidak ada dialog-dialog klise. Enggak pake pancingan romansa norak. Dylan O’Brien sebagai Thomas membuktikan dia punya karisma sebagai tokoh lead di petualangan aksi fantasi kayak gini. Kali ini, Thomas memang tampak sebagai yang paling kurang beraksi dibanding yang lain – tugas O’Brien kebanyakan pasang tampang penuh determinasi. Adegan kebut-kebutan naik kereta api di awal tadi, misalnya. Aku cukup lucu juga melihat kenapa bukan Thomas yang nyetir mobil dan kenapa bukan dia yang kesusahan naik ke atas kereta; bukankah bisa jadi stake yang bagus kalo early kita diperlihatkan tokoh utama udah hampir mati. Namun kemudian setelah konteks cerita aku pegang, aku dapat melihat pilihan itu bekerja efektif dalam karakter Thomas. Untuk menunjukkan dia belum berkorban banyak saat cerita baru dimulai.

Dunia toh memang terletak di tangan anak-anak muda yang kuat, yang berpendidikan. Namun, dalam kepentingan kontinuitas dari umat manusia, mementingkan dua puluh delapan remaja di atas semua orang tetap adalah hitungan yang mengerikan.

 

 

 

 

Cepatnya film memang kadang terasa membingungkan, terlebih buat penonton yang baru pertama kali mengikuti seri ini. Ataupun buat penonton yang sudah lupa sama sekali akan ceritanya. Film tampak cukup pede dengan aksi-aksi seru yang ia punya, as it would expect us to sit through there menikmati sekuens dahsyat. Sesungguhnya ini dapat menjadi berbalik menjemukan, karena durasi yang panjang hanya efektif jika kita peduli sama tokohnya. Namun bagaimana bisa jika kita tidak kenal siapa mereka. Menjelang midpoint, akan ada kejutan berupa kembali salah satu karakter dari film pertama, dan ini bisa jatoh datar kalo penonton enggak tahu. Porsi cerita dialamatkan untuk dinikmati oleh penonton setia dan penggemar bukunya saja. Ini bukan film yang contained, yang bisa berdiri sendiri. Melihatnya sebagai penutup trilogi, perkembangan karakter-karakternya bekerja dengan baik. Namun bukan berarti menjelaskan semuanya. Looking back, aku jadi bingung kenapa mesti ada labirin sedari awal. Ah, ternyata kita masih tersesat di dalam labirin ceritanya.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for MAZE RUNNER: THE DEATH CURE.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

INSIDIOUS: THE LAST KEY Review

“We just have to find the ones that unlock the right doors.”

 

 

Berapa sering kita melihat film horor belakangan ini? Banyak. Terang saja horor akan terus ngehits selama manusia masih suka ditakuti-takuti. Selalu ada alasan untuk nonton film horor.Entah itu sendirian, ataupun mau seru-seruan bareng temen. Maka hantu-hantu itu tak akan pernah ‘mati’, franchise-franchisenya akan senantiasa direborn (lucu gak sih, ‘hantu reborn’ itu berarti kan dia udah gak jadi hantu lagi ya? Hihi) supaya enggak kemakan jaman dan dapat memuaskan penonton kekinian.

Namun, seberapa sering kita melihat film horor, bahkan sebuah franchise horor, yang BERPUSAT PADA TOKOH YANG SUDAH NENEK-NENEK? Belum pernah terjadi kukira. Sekarang sudah 2018, ini sudah film keempatnya, dan Insidious masih tetap kekeuh berpegang kepada akar cerita. Walaupun memang yang nonton kebanyakan adalah kelompok dedek-dedek jaman-now, franchise Insidious enggak necessarily ditujukan buat remaja. Tokoh utamanya selalu adalah orang dewasa, yang punya masalah-masalah dewasa, mereka berurusan dengan hal-hal kelam. Insidious selalu adalah soal trauma keluarga, masa lalu yang penuh kekerasan rumah tangga, dan film keempatnya ini pun melanjutkan tradisi tersebut.

Berdiri di tengah franchise ini adalah Elise, seorang parapsikologis, yang membantu orang-orang yang rumahnya dihuni oleh roh jahat. Insidious: The Last Key actually adalah prekuel dari film yang pertama, (dua episode ini nyaris berjalan beruntun) karena sebagaimana yang kita tahu Elise sendiri sudah jadi hantu di film yang kedua. Jadi, di film ini kita akan melihat kisah origin dari tokoh Elise. Kita akan melihat ia di masa kecilnya. Rumah Elise dulu di dalam kompleks penitentiary di New Mexico. Gimana kemampuannya melihat hal-hal goib menjadi penyebab utama Elise kecil dipukuli oleh bokapnya yang mendapat nafkah dari menghukum kriminal-kriminal. Masa kecil yang enggak bahagia, fisiknya menderita, mentalpun ikut didera oleh banyaknya makhluk halus yang ia lihat. Salah satunya terbebas dari pintu yang dibuka Elise, melepas teror yang berujung kepada Elise remaja kabur dari rumah. Masa lalu mencerminkan hidupmu yang sekarang, tahun 2010 Elise mendapat telepon dari seorang klien. “Alamat Anda di mana?” dan DEG! Permintaan mengusir hantu itu ternyata datang dari rumah masa kanak-kanaknya yang penuh dengan literally hantu-hantu masa lalu!!

“Who you gonna call? Spooky Buster!”

 

Bicara soal franchise horor, sebenarnya kita seperti mengulas tentang perosotan. Kalian tahu, seberapa curam filmnya menurun. Apalagi kalo udah sampe seri keempat; liat aja tuh entry ke empat Paranormal Activity. Atau Saw. Biasanya kualitas tersebut turun antara  karena filmnya  enggak mendapat inovasi apa-apa, ataupun karena sudah berkembang begitu jauh – jadi over-the-top, dari dasarnya. Film ini, untungnya, enggak jadi parah-parah amat. Film yang pertama dan kedua masih paling kuat, namun The Last Key tidak berada jauh di belakang film ketiga. Kekuatan film ini terutama terletak pada performa Lin Shaye yang diberikan kesempatan bersinar sebagai Elise yang akhirnya menjadi fokus utama narasi. Aku suka dengan tokoh ini lantaran dia terlihat begitu vulnerable. Di sini kita mendapat paranormal yang enggak sok-sok misterius. Elise tampak manusiawi, dia punya selera humor, dia punya banyak kelemahan, dan dia begitu self aware dengan kemampuan psikisnya. Membuat tokoh ini tampak keren.

Antara Elise yang kabur dengan ayahnya yang ringan tangan setiap kali Elise ‘mengadu’ ada hantu, sebenarnya mereka berdua memiliki persoalan yang paralel. Realisasi terhadap hal tersebutlah yang menjadi ujung perjalanan Elise sepanjang film. Bahwa dia, sama seperti ayahnya, sederhananya mengambil jalan yang termudah. Kita membenci hal-hal yang tidak kita mengerti. Meninggalkan rumah yang bermasalah, menghukum anak yang punya kemampuan aneh, adalah tindakan yang lebih gampang – yang menurut mereka lebih plausible, ketimbang mencoba untuk memahami masalah itu. Tetapi tentu saja kita tidak bisa benar-benar lari dari masalah, makanya Elise kemudian memutuskan untuk menerima rekues klien mengusir hantu dari rumah masa kecilnya.

                                            

Dari segi horor, film ini juga tergolong kompeten. Memang kita akan banyak terlonjak oleh suara-suara keras, film masih mengandalkan jump scare seperti halnya film-film Insidious sebelum ini. Namun, paling enggak, film ini cukup cerdas untuk memilih kapan harus menggunakan teknik tersebut. Film ini cukup bijak tidak membuat kita terkejut oleh binatang ataupun sapaan teman ataupun hal-hal biasa lain yang mengecoh. Ketika cerita membutuhkan tokohnya untuk melintasi lorong gelap dan melihat bayangan dan menyenternya, hanya untuk tahu bayangan tersebut adalah baju yang digantung, maka adegan tersebut dilakukan tanpa suara. Musik keras dan mengejutkan hanya kita jumpai ketika yang menyebabkannya beneran adalah hantu. Hal yang menyeramkan kerap muncul bikin jantung kita copot, tapi seenggaknya jika kita beneran mati saat itu kita tidak menjadi hantu penasaran lantaran yang membunuh kita beneran kemunculan hantu seram. Ada satu sekuen serem yang aku suka, yakni saat Elise masuk ke dalam pipa dan menemukan banyak koper-koper. Sutradara Adam Robitel cukup mumpuni mengarahkan adegan tersebut sehingga meski kita tahu bakal ada sesuatu yang ngagetin, scare yang terjadi masih mampu untuk bekerja di luar ekspektasi.

Babak pertama film bekerja dengan efektif sekali. Terutama di bagian masa kecil Elise, ini niscaya adalah bagian terkuat seantero film ini. Kita belajar mengenai keluarga Elise, yang tentu saja setiap anggotanya menjadi penting nantinya. Namun, as the story goes, film ini tidak terasa seperti dibangun atas fondasi naskah yang biasa. Menjelang ke transisi babak ketiga, penceritaan film ini menjadi semakin goyah. Ada beberapa aspek di babak ketiga yang enggak klop, karena sebelumnya ada pengenalan karakter baru yang dimaksudkan sebagai pengungkapan besar-besaran, di mana kita diharapkan untuk berpikir “wow aku sama sekali enggak nyangka” akan tetapi jatuhnya malah hampa. Akan ada semacam pergantian peran, juga ada karakter yang berubah dari baik ke jahat, dari jahat ke baik, hanya saja narasi yang menghantarkan ini tidak bekerja dengan benar. Dari sebuah drama berbalut misteri supranatural, cerita menjadi misteri kriminal, dan berakhir menjadi petualangan di dunia gaib, struktur pembabakan cerita tidak berhasil mengemban tugas membungkus ini dengan lancar.

Imogen adalah salah satu nama cewek paling keren yang pernah kudengar

 

Bicara soal revealing, bahkan tokoh hantu utamanya juga tidak tampak lagi begitu spesial. Untuk sekali ini aku tidak merasa penampilan Javier Botet benar-benar mengerikan. Maksudku, jika dibandingkan dengan The Crooked Man, dengan hantu Mama, presence Hantu Kunci di film ini terasa lemah. Letak masalahnya bukan di make up, sosok hantu yang dimainkan Botet pada film ini masih mampu bikin kita kencing di celana, melainkan di apa yang ia lakukan. Si Hantu punya jemari yang berbentuk anak kunci, dia menggunakan di antaranya untuk mengunci dada korban, apa sebenarnya makna dari apa yang ia lakukan? Segala kunci dan pintu-pintu itu semestinya membangun kepada sesuatu perumpamaan, tapi dalam film ini tampak sebagai bahan menakut-nakuti belaka.

The best that I can come up with adalah melihat Elise bergentayangan berusaha membuka pintu dengan kunci-kunci di tempat gelap itu mengingatkanku ke salah satu pelajaran menulis. Seorang penulis sejatinya kudu mampu membuka pintu-pintu di dalam diri dengan menggunakan kunci-kunci yang tepat. Kunci itu adalah pertanyaan yang kita ajukan kepada diri sendiri. Proses menulis adalah proses menyelami diri sendiri, mengeksplorasi apa yang kita rasakan, dan ini paralel dengan yang dilakukan Elise di dunia sana; Dia harus membuka pintu-pintu demi ‘mengenali’ dirinya sendiri sebagai cara untuk berkonfrontasi dengan masa lalu yang ia tinggal kabur.

 

Selalu bermasalah di bagian humor, tak terkecuali pada film ini. Elise ditemani oleh dua pria yang membantunya dalam urusan teknologi. Mereka ini semacam Ghostbuster dengan gadget-gadget unik yang kadang gak jelas kegunaannya, dan kedua cowok yang nemenin Elise bertugas mengoperasikan alat-alat tersebut. Itu tugas mereka dalam narasi. Dalam penceritaan, however, dua orang ini punya fungsi sebagai pencetus komedi. Tingkah mereka yang komikal, celetukan mereka yang nerd abis, lebih sering daripada tidak jatohnya awkward alih-alih lucu. Akan ada banyak lelucon yang bikin kita nyengir kuda karena candaannya garing. Eventually mereka berdua terlibat adegan flirt sama cewek, dan adegan-adegan konyol mereka membuatku merasa malu menontonnya.

 

 

 

Buat yang belum pernah menonton film dari franchise Insidious, film ini tidak akan membuat kalian menjadi fans, sebab ceritanya yang memang agak kurang rapi ini tidak benar-benar mengandung sesuatu yang baru. Horornya juga tergolong biasa. Namun, buat penonton yang udah setia ngikutin, film ini tidak tampil mengecewakan, dibuat dengan kompeten, dimainkan dengan meyakinkan, dan tetap memegang teguh akar yang membuat film-film pendahulunya disenangi.
The Palace of Wisdom gives 6 gold stars out of 10 for INSIDIOUS: THE LAST KEY

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

PITCH PERFECT 3 Review

“Life is not a competition.”

 

 

 

Hidup memang keras. Kalian boleh saja bagian dari grup nyanyi yang aca-awesome sewaktu di kampus, namun tetap berakhir gak sukses di pekerjaan yang juga gak keren-keren amat. Masing-masing anggota Barden Bella terbukti ngalamin ini. Bahkan Beca yang udah mewujudkan mimpinya jadi musik produser, keluar dari pekerjaan. Idealismenya enggak ketemu jalan nyambung ama ide kreatif klien. Jadi, para Bella sekarang punya waktu luang untuk ngumpul-ngumpul lagi. Mereka kangen nyanyi bareng. Diundang oleh ayah Aubrey yang tentara, Bella ikut tur USO – nyanyi keliling Eropa. Tapi tentu saja yang namanya tur, bukan mereka saja yang meramaikan acara. Barden Bella bertemu dengan grup musik lain, dan ‘teman-teman’ baru mereka itu actually bermain dengan alat musik. Ada grup rocker cewek, band country, juga duo musik elektronik. Mengetahui tur ini bisa saja adalah penampilan bareng terakhir mereka, Bella bertekad mempersembahkan yang terbaik. Supaya mereka terpilih sebagai band pembuka di acara puncak tur bersama pemusik DJ Khaled.

Aku sudah nonton Pitch Perfect (2012) lebih banyak dari yang seharusnya. Oke, aku ‘mungkin’ pernah muterin film ini nonstop seharian sambil belajar bikin sketch kala itu.. Aku-muternya-hampir-tiap-hari, aku ngaku. I was so surprised by that film. Kocak, pemainnya likeable, ceritanya seger banget – jika kita melihat ke belakang ke dunia perfilman saat itu -, anak kuliahan yang ingin mengerjakan yang ia suka – tentu kita bisa relate ke sana. Aku suka suara Anna Kendrick, aku juga suka lagu Cup yang kukasih Best Musical Performance untuk My Dirt Sheet Awards, Rebel Wilson’s antics, lagu-lagu mash upnya, kaki Alexis Knapp, ada banyak yang bisa disukai dari sana. Aku bahkan tahu The Breakfast Club (1985) dari film ini. Pitch Perfect actually adalah urutan paling wahid di daftar film favoritku tahun 2012. Dan tiga tahun setelah itu, sekuel film ini muncul. Nyaris dari nada ke nada, dari beat ke beat, filmnya mirip. Dan buatku Pitch Perfect 2 (2015) merupakan sedikit kekecewaan, but you know, kita gak bisa benar-benar mencibir mendengar lagu Flashlight dan melihat penampilan panggung DSM.

Tapi serius, aku gak pernah berharap Pitch Perfect dibikin sekuelnya. Apalagi jadi trilogi seperti kenyataan sekarang ini. Musik yang asik dan unik dan komedi dead-pan, itulah kekuatan utama franchise ini. Dan bahkan semua itu bisa jadi repetitif dan menjemukan jika terus dilakukan tanpa ada perubahan. Sepuluh menit pembuka film Pitch Perfect 3, kita mendengar akapela lagu Toxic, Barden Bella nyanyi di kapal alih-alih panggung, dan kemudian Fat Amy terjun dari langit-langit. Tak lama kemudian kapal tersebut meledak, para Bella loncat ke air.  And I was like, wow, MEREKA BERBEDA SEKARANG!

Stacie gak ikutaaaan huhuuu

 

Pitch Perfect 3 tampaknya mendengarkan koor suara penggemar, dan mereka dengan berani mengambil langkah gede untuk melakukan pembaruan di sana sini pada ceritanya. Mereka menambahkan elemen action, mereka menambahkan hal untuk dilakukan oleh para Bella selain bernyanyi dan melontarkan lelucon yang gitu melulu-melulu. Regarding menyanyi, film ini menaikkan permainan mereka. Untuk pertama kalinya, Barden Bella tampak gak yakin dengan akapela. Tidak banyak akapela yang kita dapatkan di sini, at least enggak sebanyak di dua film pendahulunya. Dan ini sesungguhnya bisa jadi pedang bermata dua; penonton yang ingin melihat mereka bernyanyi akapela akan jadi sedikit kurang puas, tapi untuk penonton yang menginginkan musik; well, film ini punya musik-musik bagus dari genre yang lebih beragam.

Jika kita melihat kembali dari film pertama, bila kita melihat gambaran utuh serial ini, Pitch Perfect 3 bekerja efektif sebagai bagian penutup. Mereka menggali masa lalu. Tokoh-tokoh mendapat penutup buat arc mereka, dan arc itu berlangsung dari film yang pertama. Beberapa tokoh mestinya bisa dipresentasikan dengan lebih baik lagi, tapi secara keseluruhan, film ini berhasil membungkus cerita  sama seperti yang dilakukan Cars 3 (2017) terhadap franchise Cars. At it’s heart, ini adalah tentang keluarga,  bahwa keluarga harus saling support, walaupun kadang tak selalu bersama. Dalam film sebelumnya, Bella sudah mengestablish bahwa mereka adalah keluarga, namun di sini mereka harus belajar memperluas keluarga mereka, bukan lagi semata soal tradisi. Satu adegan yang aku suka adalah ketika band lain mendadak nyanyi bareng, mereka melanggar aturan permainan Riff-Off, dan cewek-cewek kita enggak mengerti kenapa para pesaing mereka melakukan hal tersebut.

Barden Bella, terutama Beca, yang sudah berkompetisi dari dua film pertama, gagal untuk melihat bahwa hidup yang sebenarnya bukanlah sebuah perlombaan. Terutama dalam keluarga. Kita tidak saling bersaing dengan keluarga. Jikapun ada, maka lawan kita sesungguhnya adalah waktu. Karena kemenangan dalam hidup adalah ketika kita sebagai keluarga bersikap saling mendukung, tidak mengecewakan satu sama lain.

jadi kalo menang, jangan besar kepala

 

Ceritanya sendiri jadi terasa sangat padat, bukan dalam artian yang bagus. Kita melihat banyak cerita sampingan, di antaranya ada Fat Amy yang ketemu dengan bokapnya, ada Aubrey yang pengen ketemu sama bokapnya, ada Chloe yang lagi berflirt-flirt ria sama tentara pemandu mereka. Juga ada cerita tentang dua komentator acara (duet Elizabeth Banks-John Michael Higgins memberikan banyak sumbangan komedi) yang bernapsu untuk mendokumentasikan detik-detik kejatuhan Beca dan teman-teman. Mereka ngikutin ke mana Barden Bella pergi dengan komentar-komentar sarkas yang berhasil memancing gelak tawa penonton di studio. Kehadiran elemen-elemen narasi tersebut dibutuhkan dan integral sama tubuh besar cerita, cerita-cerita tersebut tidak tercampur dengan benar. Flownya enggak mulus.  Film ini berusaha menampung banyak, tapi penulisan tidak mampu merangkai semuanya dengan baik.

Dan tetap saja ada yang tokoh yang gak kebagian, mereka hanya dapat sepatah dua patah kalimat. Hailee Steinfeld is barely there, aktris ini underutilized banget padahal kita udah melihat sebagus apa dia jika diberikan kesempatan. Malahan, kebanyakan pemain film di sini menyuguhkan akting yang membuat kita berharap mereka dapat unjuk kebolehan di film yang terstruktur lebih baik. Rebel Wilson, khususnya, sangat bersinar di film ini. Komedi-komedi yang bekerja baik itu datang darinya. Dia juga hilarious di bagian aksi.

 

 

Berusaha menjadi lebih besar, film ini nekat menjadikan root yang udah bikin dirinya digemari penonton sebagai nomor dua. Film ini melakukan seperti apa yang dilakukan oleh tokoh utamanya; ngemash up genre, sayangnya kadang yang miss terasa lebih banyak dibandingkan yang hit. Bagaimana pun juga, sebagai penutup, film ini berhasil menunaikan tugasnya. Ceritanya terasa konklusif. Messy sebagai diri sendiri, akan tetapi film ini cukup bersinkronisasi dengan dua film sebelumnya. Jikapun ada masalah yang kita temui, maka itu adalah lantaran seri ini enggak perlu banget dibikin sekuel sedari awal. Lebih baik dari yang kedua, namun itu enggak berarti banyak.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for PITCH PERFECT 3.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

AYAT-AYAT CINTA 2 Review

“Real people aren’t perfect.”

 

 

 

Tinggi-tinggi sekolah, ujungnya di dapur juga. Orang jaman dulu begitu tuh pandangannya, cewek gausah belajar pinter-pinter, tahan deh mimpi-mimpi itu, salurkan semuanya untuk jadi ibu rumah tangga yang baik. Istri yang berdedikasi. Tapi ya itu flashback bertahun-tahun yang lalu. Sekarang udah 2017. Pemikiran orang semakin dewasa. Banyak yang sudah berubah. Sembilan tahun yang lalu aja, waktu film Ayat-Ayat Cinta yang pertama keluar, aku masih belum peduli sama film. Apalagi film Indonesia.  Tapi ternyata aku tidak perlu khawatir saat menonton sekuelnya ini. Karena bagi Ayat-Ayat Cinta 2, waktu berjalan di tempat. Kita malah musti sedikit menyejajarkan diri ke belakang untuk dapat menikmati film ini.

Bukan berarti tidak ada yang berubah dalam kehidupan Fahri (ekspresi melotot Fedi Nuril kadang-kadang kocak juga). Sekarang pria ini adalah seorang dosen di Universitas Edinburgh, Skotlandia. Menjadi muslim di sana berarti menjadi minoritas. Fahri harus berurusan dengan pandangan-pandangan menghakimi, kerendahhatiannya tak dipandang oleh orang-orang yang marah atas peristiwa terorisme yang di berbagai belahan dunia. Tetangga Fahri, misalnya, Keira (Chelsea Islan sepertinya dilahirkan dengan dandanan pemain biola, cocok banget) dan adiknya blak-blakan menuding Fahri teroris. Mereka ‘meneror’ mobil Fahri sebagai wujud kebencian. Namun hal ini tidak mengusik si sabar Fahri segede kepergian Aisha menghantuinya. Sang istri diduga menjadi korban pengeboman di Palestina dan sejak itu Fahri gundah dengan kekosongan di hatinya. Kharisma cowok ini membuatnya populer di kalangan cewek-cewek, apalagi mahasiswinya, tapi dia menolak mereka semua.

Di saat film-film kekinian berlomba menulis tokoh wanita yang independen dan punya ‘strength’, film ini membuat tokoh-tokoh wanitanya terlibat dalam semacam kompetisi demi mendapatkan hati Fahri. Bahkan Sabina (Dewi Sandra banyak berekspresi dengan matanya saja), muslimah berkerudung yang ditampung Fahri sebagai asisten rumah tangga, tampak sedikit banyak memendam sesuatu terhadap Fahri. Dan kemudian muncullah Hulya (cowok mana sih yang keberatan kalo Tatjana Saphira yang motong pembicaraan mereka?) yang punya ‘keunggulan’ sebagai sepupu Aisha. Dengan cepat mereka menjadi akrab. So I guess, kita semua kudu penasaran, siapa yang akan dipilih oleh Fahri.

Tatjana dan Chelsea satu film, rahmat mana lagi yang engkau dustakan?

 

Atmosfernya terasa sangat grande, tata musiknya, gambarnya, desain produksi film ini termasuk di level atas. Penampilan aktingnya juga tepat mengenai sasaran nada dan emosi yang ingin disampaikan – kecuali adik cowok si Keira. Duduk di studio, di lautan penonton berambut panjang dan sebagian besar lainnya berhijab (aku paling ganteng dong!), babak set up film ini cukup menarik buatku. Ada beberapa aspek seperti Fahri yang beribadah di dalam kelas sebelum mengajar – enggak di belakang kelas, dia harus banget melakukannya di depan mata semua murid yang berasal dari latar yang berbeda-beda – yang tampak intriguing. Aku juga suka gimana mereka memanfaatkan cadar ke dalam penceritaan.  Namun, lama kelamaan, frekuensi aku menguap dengan mata kering menjadi semakin sering. Sampai ke titik aku tidak tahan melihat Fahri, karena tokoh utama idaman wanita ini begitu membosankan. Dia terlalu jauh dari kita.

Tokoh-tokoh superhero seperti Wonder Woman, mati-matian ditulis sangat grounded agar mereka tampak seperti manusia biasa, diselipkan adegan-adegan kecil yang memanusiawikan mereka, tidak melulu mereka superpower. Thor yang dewa, dibikin jadi konyol dalam Thor: Ragnarok (2017) juga dengan alasan ini; supaya kita relate ke dia. Ayat-Ayat Cinta 2, sebaliknya, punya Fahri yang seorang manusia biasa namun dibuat setinggi mungkin, semulia mungkin, tokoh ini punya kebaikan dan kesabaran kayak Nabi Muhammad sekaligus diceritakan punya ketampanan yang membuat wanita tergila-gila kayak Nabi Yusuf, sempurna sekali. Dia lebih baik dari superhero manapun. Fahri’s thing is he does right things. Sedikit saja kekurangan, mungkin bikin dia miskin atau apa, bisa membuat cerita lebih menarik. Membuat perjalanannya lebih compelling. Satu-satunya cela karakter Fahri di film ini adalah dia nutupin perasaannya sendiri.

Terlalu sempurna adalah kecacatan. Dan hal itu tidak membuat film yang bagus.

 

Benar film ini mengeksplorasi komentar sosial perihal Islam di mata publik; film ini relevan karena menyinggung isu-isu seperti bagaimana kedudukan wanita di mata Islam, bagaimana pandangan Islam terhadap perang dan terorisme. Akan tetapi, seperti yang di-foreshadow oleh salah satu adegannya, film ini tidak mengeksplorasinya lebih dalam. Film tidak menjatuhkan ‘bola’ kesempatan itu. Dia menusuknya dan mengempeskan semua hal-hal menarik yang mestinya dapat dikandung oleh cerita. Rintangan-rintangan yang dialami Fahri selesai dengan gampang, dalam rentang waktu satu adegan sahaja. Fahri punya semua jawaban. Menurutku bagus juga kebaikan dan amal soleh yang dilakukan oleh Fahri yang actually bicara tentang siapa Fahri kepada orang-orang, namun ini membuat dia seperti missing-in-action. Seperti ketika ditanya mahasiswa sok-pinter di kelas, Hulya yang memotong dan menyelesaikan jawaban. Pada sekuen adegan debat ilmiah yang dengan cepat menjadi personal, Fahri sama sekali gak membela diri, seorang nenek yang eventually stand up for him, membuatku kepikiran mungkin sebaiknya film ini mengganti tokoh utamanya.

Ketika mengadaptasi novel menjadi film, keputusan kreatif sepenuhnya di tangan pembuat film. Akan selalu ada tuntutan untuk setia dan sesama mungkin dengan novel sumbernya, namun pada dasarnya film berbeda dengan novel. Ada aturan-aturan penulisan screenplay; ada kewajiban untuk menjadikan film sebagai perjalanan tokoh. Tokoh kita harus engage penonton. Perubahan-perubahan kreatif demi alasan tersebut, hukumnya wajib untuk dilakukan. Katakanlah karena terlalu sempurna – sedangkan tokoh utama yang menarik adalah yang sedikit ‘bengkok’, Fahri enggak mesti jadi tokoh utama. Cerita bisa ditranslasi ke dalam sudut pandang tokoh lain. Keira bisa menjadi tokoh utama yang menarik di cerita ini – jika mereka mau mengubah arcnya sedikit. Atau Sabina. Aku gak mau spoiler banyak, but I tell you this: perhatikan tokoh ini baik-baik.

Asal jangan Hulya sih. Maksudku, tokoh ini karakternya apa sih? Apa yang ia lakukan, apa motivasi terdalamnya? Hulya adalah wanita yang pintar. Dia cukup mandiri. Tapi dia cuma ngikutin ke mana Fahri pergi. That’s it. Itulah karakter Hulya. Dia muncul gitu aja, dan undur diri dalam sirkumstansi yang random banget. Mereka harusnya bisa mengonstruksi konfrontasi final dengan lebih baik, di set up dengan lebih perhatian, tapi enggak. Bagian itu terjadi di suatu rest area pom bensin. Kebetulan yang mencengangkan, mukjizat,  pemirsa!

Perbuatan baik dapat pahala, perbuatan jahat bakal dikasih Fahri piala

 

 

Film ini ‘malas’ seperti itu. Sungguh ironis lantaran film ini lewat salah satu dialognya yang bukan eksposisi menasehati kita dengan  “Niat baik tanpa effort, dapat merusak hasil.” Dan turns out, film ini adalah perwujudan dari kalimat tersebut. Naskah film pada ujungnya hanya mengerucut menjadi drama-drama romansa yang over–the-top. Emosinya begitu melodramatis. Contoh simpel film ini favoring ke dramatis yang sintesis adalah mereka membuat adegan seorang ustadz yang berjalan dengan slow motion di dalam mesjid. Dibuat mendekat perlahan supaya tampak intens. I mean, natural aja di mesjid kan memang jalannya pelan-pelan, dan untuk membuat si ustadz tampak marah, mereka malah memelankan lagi yang udah pelan itu.  It really takes away the moment, karena padahal kalo mau bikin adegan yang ngekonflik  ya sekalian bikin ustadznya setengah berlari geram menuju Fahri.

Aku gak bisa menyimpulkan arc tokoh Fahri. Apa yang ia pelajari dari kejadian-kejadian penuh twist yang terjadi padanya. Aku semula mengira ini adalah soal Fahri yang belajar bahwa terlalu sempurna itu enggak baik, dia harus jujur pada diri sendiri.  Bahwa  tidak ada orang-orang nyata yang sempurna. Tapi enggak. Di akhir hari, film ini bicara tentang betapa pentingnya penampilan fisik. Mestinya cinta itu karena hati – cantik jelek tidak jadi soal. Di sini, kita punya seorang wanita yang merasa sudha begitu rusak physically, dia bersembunyi dari suaminya, dan dia setuju untuk berubah – out of insecurity – dan demi menyenangkan orang lain. Buatku it  just feels so wrong.

Dan ya, aku setuju dengan kalian yang menyebut ending film ini menggelikan. Ini adalah momen penting pada film. Banyak tokoh yang hidupnya berubah karena proses setelah ending tersebut. Tapi ketika kita melihat ke belakang, film ini bertempat di Britania Raya alasannya bukan lagi karena di sana adalah tempat dengan kebudayaan yang beragam, dengan perbedaan yang meriah. Melainkan agar aspek operasi di akhir cerita jadi mungkin untuk terjadi. Dan ini benar-benar menurunkan nilai dan kepentingan film.

Melihat Fahri yang begitu tinggi menjunjung toleransi, takpelak mengundang buah pemikiran; benarkah kita harus menoleransi yang tidak toleran? Jika dipikir-pikir, toleransi adalah sebuah paradoks. Katakanlah jika di bulan puasa kita menghormati yang tidak berpuasa – warung bebas dibuka, orang-orang tetap makan minum di jalan, maka di mana jadinya letak toleransi terhadap yang lagu berpuasa? Karl Popper, seorang filosofis, bilang ketika kita extend toleransi shingga ornag-orang bisa openly intolerance, maka yang toleran akan hilang bersama dengan sikap toleransi itu. Kesimpulannya adalah kebablasan toleransi akan membunuh sikap itu sendiri, dan guna mempertahankan toleransi kita butuh untuk enggak toleran terhadap yang gak-toleran.

 

 

 

Fahri bilang kita kadang harus mundur sedikit untuk dapat melompat lebih lanjut. Tapi film ini mengambil kemunduran yang terlalu jauh, dan akhirnya jatuh. Ini adalah film yang bagus jika ditonton di jaman Siti Nurbaya masih disuruh kawin. Dibawa ke jaman kekinian, generasi now, tokoh-tokoh film ini sangat outdated. Isu kekiniannya ditinggalkan begitu saja demi drama dan romansa yang digali berlebih-lebihan. Bicara tentang putting women in pedestal, namun twist film ini mendorong jatuh para wanita itu dari pedestalnya dalam setiap kesempatan. Tapinya lagi, mungkin kita memang masih berada di jaman jahiliyah sehingga masih bisa terbuai oleh ayat-ayat drama seperti ini.
The Palace of Wisdom gives 1 gold star out of 10 for AYAT-AYAT CINTA 2

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

JUMANJI: WELCOME TO THE JUNGLE Review

“Life isn’t hard, Megaman is.”

 

 

Dalam video game kita akan dikejar-kejar zombie kelaparan. Ditembaki robot-robot kalap. Melompat dari satu jurang ke jurang lain. Kalo gagal, kita mati, sure di jaman now ada save point,  tetapi dulu kita harus mengulang kembali dari awal setiap kali game over. Beberapa game bisa menjadi begitu bikin stress sampe joystick pada rusak. Nintendoku dulu kabel stiknya nyaris putus karena kugigit-gigit ngamuk mati melulu main Circus Charlie di level tali ayunan itu. Namun betapapun susahnya, kita tetap suka melarikan diri ke dalam dunia video game kalo lagi mentok di kehidupan nyata. Anehnya kita bisa refreshing setelah mati berulang kali di dalam video game.

Kayak Spencer dan teman-temannya. Mereka didetensi harus bersihin gudang sekolah bareng-bareng. Kata gurunya sih supaya mereka tahu siapa diri mereka. Di sela-sela kerjaan gak asyik itu, Spencer menemukan mesin video game jadul dengan kaset cartridge bertuliskan Jumanji. Spencer yang jago main video game seumur-umur belum pernah mendengar nama itu, ataupun belum pernah melihat konsol yang begitu antik. Jadi, dia dan Fridge dan Bethany dan Martha mencoba permainan tersebut. Dan seperti salah satu episode film Boboho jaman dulu, mereka berempat tersedot ke dalam layar. Spencer yang kini berwujud The Rock, dan teman-temannya yang juga berubah tampang menjadi karakter game yang sudah mereka pilih, harus bertualang menembus hutan. Mencari dan mengembalikan permata Jaguar yang hilang supaya bisa pulang. Masing-masing mereka cuma punya tiga nyawa, tiga kali kesempatan untuk gagal, sebuah angka yang minim sekali mengingat hutan arena bermain mereka dihuni oleh berbagai binatang buas, serta satu geng bandit yang pemimpinnya bisa mengendalikan hewan-hewan tersebut.

Video game terlihat gampang karena kita sudah tahu apa tujuan kita bermain. Mengalahkan monster. Mencari harta karun. Menyelamatkan putri raja. Kita jadi tertantang buat menyelesaikannya. Ketika tivi dimatikan, tombol power konsol ditekan dan lampunya mati, kita balik ke kehidupan nyata di mana kita tidak mengerti ngapain sih kita di dunia ini. Apa misi yang diberikan kepada kita di sini Hidup sangat kompleks, kita harus memahami diri sendiri, menciptakan sendiri tujuan hidup kita. Itulah kenapa kita menganggap hidup lebih susah. Tujuan itu sama sekali tidak terlay out seperti pada video game. Tapi begitu kita tahu siapa kita, mau jadi apa kita, hidup tidak lebih susah daripada menjatuhkan raja Koopa ke dalam lava. Hidup adalah rimba yang sebenarnya, hanya jika kita tersesat.

Breakfast Club, now in a fully rendered-8 bit

 

Tadinya kupikir film ini adalah remake dari Jumanji 1995 yang ada Robin Williamsnya. Ternyata enggak, ini lebih sebagai sebuah sekuel, dan sort of a reboot. Papan permainan Jumanji yang dimainkan oleh Kirstern Dunst ditampilkan kembali di film ini. Kita lihat gimana si papan merasa ketinggalan jaman dan mengubah diri menjadi kaset dan konsol video game. Dan dari sinilah film mengeksplorasi banyak hal-hal keren yang menyenangkan yang timbul dari gimana manusia masuk ke dalam video game. Oke aku nerd, bahkan sampe sekarang aku habisin waktu luang dengan main video game, jadi mungkin kalian menyangka aku bisa sedikit bias menilai film yang udah nyaris kayak adaptasi video game ini. Tapi enggak sebias itu juga sih, film ini memang TONTONAN MENGASYIKKAN DALAM KONTEKS VIDEO GAMENYA.

Para tokoh di sini dibuat bisa melihat kelebihan dan kekurangan masing-masing, persis kayak status di video game, dan mereka bekerja sama dengan memanfaatkan aspek ini. Interaksi mereka dengan tokoh tiang garam juga kocak banget. Eh pada tahu ‘Tokoh Tiang Garam’ gak sih? itu loh, di game-game petualangan kan selalu ada tokoh-tokoh yang gak bisa kita mainin, dan diprogram untuk ada di game buat memberikan informasi. Di luar dialog-dialog yang sudah diprogramkan, mereka enggak bisa ngomong hal lain lagi. Jadi kalo kita ajak ngomong terus, ya ucapannya itu-itu melulu. Nah, dalam film, elemen ini jadi salah satu pemancing ketawa yang dibuat dengan sangat menyenangkan. Namun dari konteks-konteks video game yang seru tersebut juga muncul berbagai plothole pada universe yang menjadi kelemahan film.

Salah satu aspek paling seru dari Jumanji: Welcome to the Jungle adalah karakternya.  Jadi kan remaja-remaja itu tersedot ke dalam dunia game, dan mereka sekarang berwujud seperti avatar yang mereka pilih. Dan pada beberapa, tubu mereka sangat bentrok ama sifat asli. Dwayne Johnson hanya kekar di luar. Di dalam otot-ototnya, The Rock adalah Spencer – si kutu buku bertubuh kecil yang sangat penakut, bahkan tupai aja bisa bikin dia jejeritan histeris. Jack Black sangat kocak di film ini; dia adalah cewek paling populer di sekolah, yang kerjaannya main hape melulu, dan dia terperangkap di dalam tubuh tambun pembaca peta. Jadi bisa dibayangkan betapa ngakaknya melihat penampilan akting Jack Black di film ini. Tokoh yang diperankan Karen Gillan punya arc yang menarik; di dunia nyata ia adalah cewek yang benci olahraga, namun di game dia seorang petarung, jadi dia dibuat tertarik untuk menggerakkan tubuhnya dalam cara-cara yang bikin berkeringat.

Sebagian besar pemeran dalam film ini diberikan kesempatan untuk bermain-main dengan peran yang sangat unik, kecuali Kevin Hart. Komedian ini sendirinya kocak banget, kita bisa betah duduk berjam-jam nonton dia menghina dirinya sendiri, dan itulah salah satu kekuatan utama pesona kocaknya. Di film ini, Kevin Hart kembali memancing jokes dari sana, dan buatku malah jadinya biasa aja, dia tidak melakukan sesuatu yang baru di sini. Dia sama The Rock banteringnya persis kayak di Central Intelligence (2016), Hart mengejek tinggi badannya sendiri yang kalah jauh ama The Rock. Kevin Hart kocak namun dia pretty much bermain sebagai dirinya sendiri, dan ini kalah menarik dibandingkan aktor-aktor lain yang benar-benar membanting image mereka memainkan karakter yang di luar kebiasaan.

Keberanian enggak ada hubungannya ama ukuran tubuh

 

Kalo di Jumanji dulu kita ternganga ngeliat badak berlarian dari rumah ke jalanan, sekarang kita akan melihat berbagai sekuens aksi yang mengalir lancar berkat keunggulan teknologi. Orang-orang bertebangan ke sana kemari. Stun work di sini amat impresif, meskipun pada beberapa sekuens, film lebh mengutamakan efek CGI. Akan ada banyak adegan yang menampilkan efek yang obvious, yang menurutku adalah disengaja sebagai cara film untuk terlihat sebagai dunia video game. Aku sedikit menyayangkan film ini melewatkan kesempatan untuk tampil kayak di salah satu episode Rick and Morty di mana Rick terjebak dalam dunia simulator. Di serial kartun itu kita melihat Rick berjalan di dunia yang hanya sekitarnya saja yang terender kumplit, begitu dia melihat ke ujung jalan dia hanya melihat polygon, pemandangan sekitar Rick terender seiring dia berjalan karena begitulah lingkungan dalam simulator atau dunia game berjalan. Menurutku, jika perihal render dunia diimplementasikan ke dalam Jumanji ini, tentulah akan semakin banyak hal keren dan kekocakan yang bisa digali.

Bermain-main dengan struktur video game, seperti yang aku singgung di atas, film ini mengambil beberapa pilihan aneh yang bukan saja menjadikan ceritanya tampak tak-lagi seperti video game, melainkan juga jadi membuat ceritanya punya plothole. It’s cool ketika film ini menggunakan flashback dan mengatakannya sebagai adegan cutscene pada video game. Tokoh utama kita juga melihat cutscene ini. Namun, terdapat juga beberapa adegan cutscene yang memperlihatkan tokoh penjahat sedang mempersiapkan pasukan, dan tokoh utama kita sama sekali enggak tahu tentangnya. Ini bertentangan dengan konsep video game karena mestinya tidak ada pengembangan dunia lain di luar pengetahuan tokoh utama. Ini sebenarnya soal perspektif, kita seharusnya melihat hal dari sudut pandang Spencer yang jadi tokoh video game, bukannya sebagai pemain. Tapi film tidak pernah menjelaskan kenapa ada cutscene yang tidak diketahui oleh Spencer. Pun juga tidak menerangkan seperti apa persisnya dunia buatan Jumanji. Karena kalo dipikir-pikir, video game yang mereka mainkan mengembangkan programnya sendiri, game ini berevolusi sesuai dengan keadaan pemain yang termasuk ke dalamnya. Karena semua kejadian yang mereka alami seperti sudah diatur, mereka ketemu Missing Piece, mereka bisa menyelesaikan satu stage karena stage tersebut terlihat diprogram untuk diselesaikan empat orang. Bagaimana kalo ternyata ada, katakanlah dua orang, yang memainkan game sebelum mereka. Apakah hal akan berbeda buat Missing Piece? Apakah settingan skill mereka juga berganti. Mestinya film bisa melandaskan aturan mainnya dengan lebih kuat.

Soal arc cerita sebenarnya aku juga bingung, apa yang ingin dicapai oleh film ini. Karena jika menurutku poros utama film ini bicara tentang gimana anak-anak itu belajar memberanikan diri berjuang di dunia nyata, maka semestinya film membuat mereka tidak lagi menggunakan nama avatar saat film mencapai akhir. Seharusnya mereka dibuat berhasil atas nama diri mereka sendiri.

 

 

Film ini seperti video game, kita akan bersenang-senang dengannya. Perfectly enjoyable dengan penampilan peran yang sebagian besar unik. Aku sendiri cukup capek terbahak-bahak sepanjang durasi. Bagaimanapun juga, ketika dipikirkan baik-baik, ada beberapa hal yang mengganjal. Semua yang kelemahan yang kutulis di sini , in fact, baru kepikiran ketika aku mulai menulis. Kita bisa menutup kekurangan ini dengan memberikan alasan sendiri, tentunya, karena semuanya bisa terjadi di dunia video game. It’s just kupikir film bisa menggali dan melandaskan dunia ceritanya dengan lebih baik lagi. Siapa sih yang enggak mau lebih baik, ya gak?
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for JUMANJI: WELCOME TO THE JUNGLE

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?

We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

STAR WARS: THE LAST JEDI Review

“The opposite of Love is not Hate, but Indifference”

 

 

Luke adalah Yoda. Dan Kylo Ren adalah Bezita. Itu teori yang kupatenkan setelah aku selesai nonton The Force Awakens tahun 2015 yang lalu. Yup, aku memang termasuk salah satu penonton yang suka berspekulasi dan nebak-nebak dan bikin kajian lengkap sendiri terhadap sebuah film. Jika kalian juga begitu, maka kita bisa jadi teman baik ngobrol berjam-jam membahas film. Aku tahu bukan aku sendiri yang punya penyakit begini. Di internet banyak kita jumpai artikel-artikel semacam “Fakta Mengejutkan Seputar Star Wars” yang membahas berbagai kemungkinan seperti Rey itu anak Luke, atau Rey itu saudara kembar Ren, atau yang paling gampang; bahwa Rey adalah Jedi Terakhir. Tidak satupun prediksi dan teori tersebut terbukti benar. Star Wars: The Last Jedi, di tangan sutradara Rian Johnson yang biasanya membuat film-film ngeart, MENGENYAHKAN SEMUA EKSPEKTASI DAN BERCERITA DENGAN SUARA KHASNYA SENDIRI.

Itulah yang membuat pengalaman nonton film ini terasa begitu menyenangkan. Ada begitu banyak kejutan yang diberikan. Seni dalam film ini adalah bagaimana mereka memainkan konflik moral, membuat kita terombang-ambing di dalam dilema para karakternya. Dalam lapisan terluar, The Last Jedi sukses menjelma menjadi film dalam franchise Star Wars yang punya sekuens aksi yang paling menarik dan sangat menghibur sejauh ini. Ada aksi tembak-tembakan Millenium Falcon yang sangat keren; visual efeknya makjaaaanggg! Tarung lightsabernya adalah yang terbaik dari pernah kulihat dari seri Star Wars. Dengan wide shot nampilin para tokoh dari kepala ampe ujung kaki, mereka pasang stance masing-masing, kemudian “zing..zingg…zinggg”, mereka udah kayak ngayunin samurai dengan koreografi dan pengaplikasian lightsaber yang begitu awesome

Plus para Porg itu imut bangeettt. Dan perlu dicatet mereka enggak annoying

 

The Force Awakens literally berakhir dengan cliffhanger, cerita dibiarkan ‘menggantung di tebing’. The Last Jedi melanjutkan ceritanya tepat di kejadian itu, dan itu sama sekali di luar apa yang kita kira. Contoh simpelnya adalah Luke Skywalker yang tampak begitu cool sampe jadi intimidating saat didekati oleh Rey yang mengulurkan lightsaber, ternyata malah membuang senjata paling keren sealam semesta tersebut dalam fesyen yang mengundang kikik penonton. The Last Jedi memang mengeset ulang franchise Star Wars hampir seperti gimana Thor: Ragnarok (2017) merevitalisasi karakter dan persona Thor.  Jadi, Rey harus berusaha minta diajarin menggunakan The Force kepada Luke yang memilih mengasingkan diri. Sementara Poe, Finn, dan pasukan Resistance yang lain di bawah pimpinan Leia (serius, agak tercekat haru nih ngeliat Carrie Fisher, ihiks) berjuang sebisa mungkin untuk bertahan, sukur-sukur bisa melakukan serangan balasan, dari serangan First Order yang semakin nafsu memburu mereka. Yang paralel dari perjalanan para tokoh adalah gimana mereka sama-sama membutuhkan ‘spark’ untuk membalikkan keadaan; sebuah percikan yang bisa membuat mereka di atas angin dan semakin kuat. Namun, percikan apa sih yang dimaksud? Itulah yang harus mereka cari tahu.

Hakikat dari berjuang dan menang sebenarnya bukanlah ‘berhasil mengalahkan yang kita benci’. Melainkan adalah melindungi orang-orang yang kita sayangi. Cinta dan benci memang adalah perasaan yang intens yang kita rasakan terhadap sesuatu hal, terhadap orang lain, jadi in a way, cinta dan benci adalah perasaan yang sama, yang diekspresikan berbeda. Ini yang tercermin dari Kylo Ren dan Rey. Mereka basically adalah pribadi yang sama; mereka punya kekuatan yang sama, tapi mereka tidak bisa ‘melukai’ satu sama lain. Setidaknya belum, karena sesungguhnya lawan dari cinta bukanlah kebencian. Melainkan ketidakpedulian, sesuatu yang hampir saja dilambangkan oleh Luke dalam cerita epik kebingungan moral ini.

 

“Pada dasarnya, aku sama sekali enggak setuju sama setiap pilihan yang kau tulis buat tokoh Luke”, begitu pengakuan Mark Hamill ketika dia pertama kali disodorin skrip film ini oleh si sutradara. Luke Sykwalker memang benar-benar dibuat ‘tak disangka-disangka’. The Last Jedi adalah film yang lucu. Banyak lelucon kocak di sana-sini. Namun hebatnya, lucu-lucuan tersebut tidak pernah digunakan dengan mengorbankan karakter ataupun cerita ataupun pakem mitologi yang sudah ada. Semuanya bekerja dalam konteks. Buktinya, Luke Skywalker tidak jatoh konyol. Malahan, dia adalah salah satu karakter paling keren dalam film ini. Salut itu pantas juga kita berikan buat Mark Hamill yang jelas bekerja profesional. Semua arahan yang diberi kepadanya berhasil dia eksekusi dengan meyakinkan. Ada eksplorasi mengapa karakter ini mengasingkan diri, Luke bergulat dengan sebuah tragedi masa lalu, semua itu ditampilkan dalam visi yang sangat sangat berbeda. Aku gak pernah tahu aku ingin melihat Luke yang seperti ini, dan hasilnya memang sangat keren.

Sebagai seri kedelapan dari seri film populer, akan sangat sia-sia jika mereka enggak bermain-main dengan referensi dari film-film sebelumnya. Justru adalah hal yang wajar jika mereka melanjutkan sistem yang sudah ditetapkan, merecognize aspek-aspek dunia dalam cerita mereka. The Last Jedi toh memang memasukkan adegan referensi, akan tetapi tidak semata sebagai penghibur buat penggemar Star Wars. Enggak terasa seperti mereka memasukkan hal begitu saja supaya kita bisa “hey lihat itu si anu”, kayak di Rogue One (2016) di mana kehadiran C-3PO tampak sekedar dimasukin aja. Alih-alih demikian, yang dilakukan oleh film ini adalah memasukkan hal-hal yang sudah terestablish, merecognize pakem dan kelemahannya, dan eventually mempertanyakan hal tersebut lewat karakter baru, yang masuk akal dong kalo si karakter ini enggak punya pengetahuan tentang itu. Misalnnya ketika film ini mengeksplorasi gimana Jedi yang udah seperti semacam aliran kepercayaan, dipertanyakan aturan-aturannya oleh Rey, dan sebagai jawabannya, film actually melandaskan pakem baru yang sangat mengejutkan.

Tokoh di film ini udah kayak Big Show, sering ‘turn’ antara baik dan jahat

 

Penampilan Daisy Ridley seolah berkata “Lihat gue, gak nyesel kan lo udah milih gue sebagai Rey!” Cewek ini dahsyat banget kalo udah urusan adegan-adegan dramatis dan bagian-bagian berantem. Tokoh Rey dibentuk dengan sangat baik sebagai protagonis utama, dia kuat, dia mau belajar, dan dri berbagai pilihan yang dia ambil jelas tokoh ini bergerak dalam moral kompasnya sendiri. Menurutku, secara karakterisasi, si Rey inilah yang paling dekat dengan Anakin. Kupikir film berikutnya akan mengeskplorasi gimana Rey adalah apa yang terjadi kepada Anakin jika dia tidak menyeberang ke Dark Side.

Tokoh favoritku di film ini, bagaimanapun juga, adalah Kylo Ren. Penampilan emosional yang sangat luar biasa dari Adam Driver. Kita sudah dapat melihat sedari Episode VII bahwa Ben Solo adalah karakter yang sangat conflicted. Dia bukan antagonis biasa, dia lebih dalem daripada itu. Dia adalah petarung yang belum matang, dia diliputi kemarahan, dia belum siap, dan di Episode VIII ini kita akan lebih mengerti kenapa. Kita jadi dapat melihat alasan dia begitu mengidolakan Darth Vader, meskipun aspek ini diberitahukan impisit oleh narasi. Kylo diberikan kesempatan untuk bersinar di sini. Aku suka koneksi yang tercipta antara Ren dengan Rey. Aku sungkan untuk ngebahas lebih banyak soal ini, karena menurutku ini adalah aspek terpenting cerita yang harus kalian alami sendiri.

Semua tokoh diberikan kesempatan untuk unjuk kebolehan. Bahkan Chewie dan BB-8 dikasih momen tersendiri. Arc si Poe juga cukup menarik. Aku suka gimana tadinya dia melanggar perintah Leia, dan kemudian di babak akhir, dia berada di posisi pemberi perintah dan guess what; dia mendapati perintahnya dilanggar. Masalahku hanya ada pada ceritanya si Finn. Secara berkala, narasi akan membuat kita mengikuti petualangan Finn bersama tokoh cewek baru, Rose. Mereka punya misi mencari seorang pemecah kode, jadi dua orang ini pergi ke sebuah planet. Aku enggak bisa menikmati bagian ini, karena setiap kali kita balik ke mereka, cerita menjadi melambat. Malahan, hampir terasa seperti menjadi sebuah cerita lain, sebuah film pendek petualangan ke planet yang bahkan gak terasa seperti planet dari galaksi far far away. Setting lokasi yang Finn dan Rose datangi adalah setting yang gak aneh bagi kita penduduk Bumi. Dan yang  mereka lakukan juga gak benar-benar menarik. Terasa seperti detour yang gak diperlukan. Tentu, apa yang mereka kerjakan tersebut memiliki dampak di akhir cerita, semuanya ada koneksi, hanya saja mestinya ada cara yang lebih baik dalam menceritakan ini.

 

 

Yang perlu aku tekankan adalah film ini membuatku terhibur, amat malah. Maksudku, Luke malah jadi kayak Goku di sini hahaha. Dan setelah nonton dua kali, teoriku soal ‘Luka Adalah Yoda’ masih belum tertutup gagal seratus persen, asal jangan diartikan secara harafiah tentunya; Anak kecil yang nonton juga pasti tahu Luke dan Yoda adalah dua makhluk yang berbeda. Namun, kesamaan arc mereka sangat mencengangkan, penggemar sejati pasti ngerti deh apa yang kumaksud. Secara struktur, however, ini adalah film yang bisa berdiri sendiri. Sebuah cerita pertengahan dari sebuah trilogy yang tidak terasa seperti bagian dari rangkaian produk. Film yang memiliki awal-tengah-akhir dari sudut karakter-karakter yang mampu membuat kita peduli. Pencapaian teknisnya juga luar biasa, sekuens aksi dengan wide shot tercantik yang bisa kita harapkan dari film fantasi seperti ini. Ada sekuens yang belum pernah kita saksikan dalam franchise Star Wars. Mitologi Jedi pun mendapat penggalian yang lebih dalam, ada pengetahuan baru yang bisa kita dapat mengenainya. Dan setelah menonton film ini, kita akan memohon semoga semua petualangan awesome itu tidak pernah berakhir.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for STAR WARS: THE LAST JEDI.

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Kami mau ngucapin terima kasih buat kamu-kamu yang udah sudi mampir baca dan bahas film di sini sehingga My Dirt Sheet jadi kepilih sebagai nominasi Blog Terpilih Piala Maya 6.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

JIGSAW Review

“If you obey all the rules, you’ll miss all the fun.”

 

 

Kita kadang suka ngeyel kalo dilarang, kalo dikasih aturan-aturan. Di mana asiknya hidup kaku, apa-apa gak boleh. Peraturan kan dibuat untuk dilanggar. Well, coba deh pikir lagi. Prinsip tersebut tidak bakal banyak berguna dalam menyelamatkan nyawa, jika kalian tertangkap dan dipaksa bermain X-Factor maut oleh Jigsaw. Kunci selamat dari jebakan-jebakan maut John Kramer memang sesederhana itu; ikuti aturan – terkadang malah disebutkan harafiah olehnya, dan kalian akan bisa melihat mentari besok pagi. Masalahnya, ngikuti aturan tidak akan pernah sesimpel kedengarannya.

Pengalamanku mengenal film ya dimulai dari nonton film-film berdarah kayak gini. In fact, dulu aku hanya nonton slasher, thriller, horror, aku menikmati adrenalin rush dari ngeliat orang dikejar-kejar oleh monster berparang nan menyeramkan. Aku terhibur sekali melihat tokoh-tokoh bego menemui ajal secara menggenaskan karena ulah tolol mereka sendiri. Dan setelah nemu film Saw yang pertama (2004), aku jadi sadar bahwa film sadis enggak melulu musti bego. Bahwa ada metode di balik kegilaan para pembunuh berantai. ADA PERATURAN YANG MEREKA TAATI. Akar Saw adalah elemen psikologis yang membuat kita berpikir soal apa kesalahan para korban karena kita bisa melihat palu justifikasi yang disandang oleh pelaku. Kenapa mereka pantas berada di sana. Hukuman-hukuman Jigsaw dirancang untuk ‘menyembuhkan’ penyakit para korban – untuk membantu mereka menghapus dosa. Pada film pertama, elemen ini begitu kuat terfokus, dan itulah yang membuatku selalu menantikan sekuel-sekuelnya. Meskipun setelah film yang kedua, franchise Saw semakin melupakan akar psikologis dan malah berubah menjadi ‘torture porn’.

cap cip cup kembang kuncup

 

Seri Saw harusnya sudah berakhir di film ketujuh yang tayang di tahun 2010. I still remember it fondly, itu pertama kalinya aku nonton Saw di bioskop. Dan filmnya memang jelek, terburuk di antara franchise ini kalo boleh kutambahkan. John Kramer – dalang di balik jebakan Saw – sudah lama mati (sejak Saw III) dan setelah itu ceritanya jadi fokus antara persaingan anak-anak murid Kramer. Tujuh tahun setelah itu kita  mendapati lima orang diculik dan diperangkap dalam permainan penuh jebakan maut. Pesan suara dikirim kepada kepolisian, menantang mereka sekaligus ngasih tahu Jigsaw Killer sudah kembali. Siapa di baliknya? Sekedar peniru ataukah Kramer beneran hidup lagi? Aku excited banget duduk nonton film ini, terlebih karena Jigsaw ditangani oleh, tidak hanya satu melainkan dua orang sutradara – Michael dan Peter Spierig – yang sama sekali belum pernah terlibat dalam franchise Saw. Jadi, aku tahu kita bisa mengharapkan pembaruan besar-besaran.

Perubahan yang Spierig Bersaudara lakukan terletak pada gaya film. Jigsaw lebih terlihat LEBIH CINEMATIK  berkat pilihan aspek rasio layar yang mereka pilih. Kesannya lebih serius dibandingkan beberapa sekuel terakhir Saw yang lebih kelihatan seperti serial TV. Tidak lagi kita jumpai editing quick-cut antara jebakan dengan wajah korban. Efek suara aneh dan teriakan over-the-top pun juga dihilangkan di sini. Jebakan-jebakan pada Jigsaw tidak sesadis seri-seri terburuk Saw, makanya semua adegan film ini jadi bisa lolos dari gunting sensor badan perfilman tanah air.

 

“Hello, filmmakers.

I want you to play a game.

Ada penggemar yang suka Saw karena elemen psikologis dan mereka terganggu sama efek darah dan gore yang berlebihan.

Ada penggemar yang totally haus darah dan semakin sadis jebakan, semakin menggelinjang mereka.

Pilihlah dengan bijak”

Begitu kiranya kata boneka badut bersepeda kepada mereka, dan mereka melanjutkan dengan mengambil pilihan yang aman. Film ini enggak benar-benar liar dalam nampilin gore, banyak adegan berdarah namun tidak bikin kita bergidik dan pengen muntah ngeliatnya. Seperti pada film pertama, Jigsaw banyak mengcut dim omen-momen yang tepat dan membiarkan imajinasi kita membayangkan apa potongan paling besar yang tersisa dari tubuh korban. Di lain pihak, film juga tidak kontan kembali ke ranah psikologis. Jigsaw tampak ingin memuaskan kedua golongan penonton, film berusaha mempertahankan sekaligus menyeimbangkan aspek-aspek khas franchise Saw.

Akibatnya, Jigsaw tidak melakukan hal yang benar-benar baru. Film ini ngikutin formula dan ‘aturan’ yang sudah ditetapkan oleh pendahulunya. Kita dapat dua cerita kali ini. Sekelompok detektif yang berusaha mencari tahu siapa pelaku di balik kasus jigsaw yang baru. Dan tentu saja ada sekelompok orang berdosa yang sedang diuji nuraninya, terkurung di suatu tempat. Tokoh-tokoh ini pun generic sekali, kita udah pernah dapet yang serupa. Mereka selalu adalah Si Tenang dan Pintar, Si Clueless, Si Baik Hati, Si Egois, dan Si Paling Nyusahin Mati Aja Lo!

The Deadfast Club

 

Kedua cerita ini, however, akan bertemu di babak ketiga, di mana bakal ada big reveal – twist yang membuat kita “ooh begitu, njir keren banget gak kepikiran!” Inilah yang membuat aku kecewa. Sebab, aturan memang ada untuk dilanggar, ngikutin aturan hanya akan membuat kita melewatkan hal-hal yang menyenangkan. Dalam kasus ini, dengan begitu ngikutin formula, film Jigsaw melewatkan kesempatan melakukan pembaruan yang asyik. Tujuh tahun, dan tetep aja tidak ada alasan menarik atas kembalinya franchise ini, selain studio ingin memperkenalkan ulang Saw.

Aku berharap lebih dari sisi cerita. Aku tidak ngerasa peduli-peduli amat sama lima orang yang tertangkap, ataupun kepada lima polisi yang berusaha melacak Jigsaw. Mereka sebenarnya berjalan paralel, kejutan yang disiapkan oleh film lah yang tidak. Dan dari standpoint kejutan ini, Jigsaw buatku adalah salah satu sekuel yang punya twist jinak dan dapat ditebak. Maksudku, kita sudah dibekali dan belajar dari tujuh film sebelum ini, dan Jigsaw tidak melakukan hal yang baru. So yea, we saw that twist coming. Dan menurutku, twistnya ini hanya bekerja kepada kita para penonton. Jika kita memposisikan diri sebagai salah satu detektif, kita tidak akan melihat hebohnya pengungkapan di akhir. Kita tidak ngerasain apa yang dilakukan oleh si Jigsaw. Yang akan kita tahu hanyalah mayat-mayat ditemukan, dan dari mereka ada petunjuk yang membawa kita ke sarang Jigsaw yang baru. Kita tidak akan ngeliat efek pintar dari dua timeline yang diparalelkan. Jadi memang twistnya lebih terasa seperti menipu. Kita akan merasa “wah, ternyata dia! Bagaimana bisa?!!” lalu terungkap lagi kenyataan setelah false resolution yang bikin kita “oh ternyata enggak”

Mengakui kesalahan itu enggak gampang. Apalagi mengakui orang lain benar, dan kita salah. Perangkap Jigsaw adalah tentang mematuhi aturan, mematuhi mana yang benar. Jangan injak, jangan melarikan diri, jangan tembak – dan orang-orang tetap melakukannya. Jigsaw memperlihatkan kepada kita bahwa di saat nyawa di ujung tanduk pun, kebanyakan orang masih berusaha menentang perintah atau aturan yang diberikan, demikian beratlnya mengaku dosa.

 

 

Untuk sebuah kejutan setelah tujuh tahun, film tidak berubah banyak selain secara gaya penyajian. Aku memang sedikit kecewa, namun juga tidak menyangkal aku terhibur. Ini adalah sajian yang lebih baik daripada kebanyakan sekuel Saw. Tidak lagi dia menjadi fokus ke alat-alat penyiksaan, film ini tidak terlalu sadis, pun tidak terasa begitu psikologikal. Berada di level oke di mana para penggemar beratnya tidak akan keberatan menyukai walaupun filmnya tidak luput dari banyak kritikan, karena toh sejatinya banyak kekurangan dari standpoint cerita. Yang harus diingat cuma satu; tidak ada peraturan baku bahwa kita hanya boleh suka sama film-film bagus. It’s your choice.
The Palace of Wisdom gives 5.5 gold stars out of 10 for JIGSAW.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.