PENGUIN HIGHWAY Review

“It is not the answer that enlightens, but the question.”

 

 

 

Beberapa ekor pinguin muncul begitu saja di taman, di kota yang bukan saja panas, tapi juga bahkan jauuuh dari aroma laut. Fenomena yang aneh tersebut jelas saja mengundang banyak reaksi. Orang dewasa akan garuk-garuk kepala, mereka berusaha memindahkan pinguin-pinguin tersebut ke tempat yang lebih layak. Bagaimana dengan anak-anak kecil seusia Aoyama? Wuih suasana ruang kelas empat tersebut riuh oleh semangat anak-anak yang bertanya-tanya ada apa gerangan. Seru sekali mereka membincangkan makhluk-makhluk lucu tersebut. Sebagai seorang anak sepuluh-tahun, yang dibilang dewasa juga belum, tapi punya kecerdasan yang jauuuuuuhhh di atas teman sebayanya, Aoyama mencatat detil-detil tentang pinguin yang bisa ia temukan di buku. Dia membandingkannya dengan yang ia lihat sendiri. Aoyama membuat teori-teori. Saking sibuknya, Aoyama mungkin tak sadar bahwa ia juga sama anehnya dengan para pinguin itu di mata teman-temannya.

Penguin Highway nyata-nyatanya adalah salah satu film teraneh yang bisa dibuat orang untuk anak-anak. Film menggali rasa penasaran yang didera oleh anak kecil dengan enggak malu-malu. Karena bagi mereka hampir semua hal di dunia adalah misteri. Pinguin itu justru bukan ‘masalah’nya sebenarnya bagi Aoyama. Karena sebenarnya ini adalah cerita tentang Aoyama berkembang menuju remaja, dewasa. Aku punya adek berusia sepuluh-tahun dan memang dia ‘pervert’ seperti tokoh film ini. Aoyama having a first crush kepada Kakak cantik asisten dokter gigi, wanita yang jauh lebih dewasa daripada dirinya. Dia sudah menetapkan akan menolak cewek-cewek yang ‘menembak’nya karena pilihan sudah ia tetapkan. Aoyama yang cerdas bahkan rela jarang gosok gigi biar bisa ke dentist terus; bertemu dengan Kakak yang juga jadi guru main caturnya. Salah satu observasi ilmiah yang diamati Aoyama terhadap Kakak adalah bagaimana cewek itu punya payudara yang berbeda dibanding punya ibunya. Dan karena film ini mengambil sudut pandang Aoyama, maka bukan saja kita mendapat sejumlah close-up shot dada Kakak, namun juga semua hal tampak seperti payudara. Aoyama memilih kue yang bulet, memandangi gunung-gunung yang bulet, mangkok yang… you guessed it, bulet! Hal menjadi semakin menarik tatkala Aoyama menemukan hubungan antara si Kakak dengan kemunculan para pinguin dan juga gelembung air besar yang Aoyama dan teman-temannya temukan di padang rumput di dalam hutan.

di umur sekecil itu Aoyama sudah bisa menyimpulkan memandangi boobs, berpikir tentangnya, akan membawa ketentraman hati.

 

Secara teknis, film ini tergolong cerita fiksi ilmiah, karena Aoyama dan teman-temannya memandang pinguin dan semua peristiwa yang mengikutinya dari sudut keilmuan. Aoyama senang bereksperimen, dia membuat gadget dari mainan, dia menyimpulkan teori-teori berdasarkan data dan keilmuan yang ia riset. Aoyama membuat catatan yang membandingkan  waktu metamorfosis kupu-kupu dengan hitungan hari menjelang dia tumbuh dewasa. Didukung oleh ayahnya yang kerap menyemangati dengan coklat tatkala Aoyama berhasil membuat kesimpulan terhadap suatu peristiwa, Aoyama percaya dia akan meraih hal-hal yang hebat untuk dunia. Tapi actually, elemen fiksi ilmiah ini cuma latar karena sesungguhnya ini adalah cerita tentang coming-of-age. Filosofi hubungan antara Aoyama dengan si Kakak lah yang menjadi penggerak utama cerita. ‘Kamera’ akan menangkap perjalanan inner karakter, disuguhkan lewat animasi yang kawaii dan mempesona. Sementara kita hanya sekelebat melihat catatan teori yang dibangun oleh Aoyama – antara itu atau lewat dialog cepat yang ia sebutkan. Ceria penuh warna seperti mata anak-anak memandang dunia. Ketika dunia mereka menjadi aneh atau sedikit menyeramkan, warna-warna tersebut tidak absen, tidak lantas membuat film menjadi suram. Melainkan animasinya dibuat mengundang rasa penasaran kita, mewakili perasaan Aoyama yang selalu ingin tahu.

Saat menonton ini, memang pada awalnya aku menganggap cerita film ini lumayan mengganggu buatku. Setelah ekspektasi kita dibangun terhadap ilmu pengetahuan di sepuluh menit pertama, kita secara alami akan menganggap film akan memberi kita jawaban yang logis terhadap semua fenomena yang terjadi. Tapi bukan saja ternyata elemen sci-finya terkesampingkan, penjelasan masuk-akal terhadap semua itu bahkan tidak ada! Alih-alih melihat jawaban, aku malah melihat orang melempar kaleng kola dan kaleng tersebut berubah menjadi pinguin di udara. Aku pun merasa dicuekin karena Aoyama dan teman-temannya tidak pernah mengajakku berteori bersama, heck, bahkan main caturpun aku tidak dilibatkan. Namun kemudian aku sadar, aku masih melihat film ini dalam posisi sebagai orang dewasa. Belum kembali menjadi anak-anak seperti yang film ini niatkan. Ini sama sekali bukan masalah apa jawaban yang benar, tidak pernah seperti demikian bagi anak-anak. Ini adalah soal mencari jawaban. Tidak perlu ada stake, tidak perlu dikejar waktu karena anak-anak punya semua waktu yang mereka butuhkan untuk eksplorasi. Film meminta kita untuk mengistirahatkan pikiran dewasa dan biarkan naluri kanak-kanak kita memegang kendali, supaya kita bisa melihat lebih banyak. Bahkan si Kakak dalam cerita, dia belajar banyak dan merasa kembali muda dengan berada di sekitar Aoyama dan teman-teman yang sedang melakukan eksperimen.

Kebebasan untuk tidak terlalu memusingkan hal-hal yang terjadi, merupakan anugerah yang dimiliki oleh anak kecil. Orang dewasa akan terdistraksi kepada hasil sehingga fokusnya teralihkan dari hal-hal yang membuat kita tertarik, dan yang menginspirasi pada awalnya. Bukan soal benar atau salah, mustahil atau logis, ini adalah soal mencari, memuaskan sendiri rasa penasaran kita dengan terus mengasah kreativitas dan segala kemungkinan. Karena kritis itu bukan semata bertanya dan berharap mendapat penjelasan yang memuaskan. Kritis adalah memuaskan diri dengan mencari jawaban atas tanya-tanya yang terus kita ajukan sebab dunia begitu membuat penasaran. 

 

Aoyama boleh saja gagal menemukan jawaban yang logis, sebab semua perjalanan yang ia lalui itu telah membuat dirinya humble. Menjadikannya manusia yang lebih baik pada akhir cerita. Penguin Highway adalah salah satu contoh cerita ‘kemenangan dalam kegagalan’ yang baik. Perubahan karakter Aoyama di awal dengan di akhir cerita dapat kita rasakan dengan kuat mengalir. Sutradara Hiroyashu Ishida melakuan kerja yang sangat baik mengarahkan cerita yang kompleks dan aneh dalam film panjang pertamanya ini. Film ini terasa lucu dan menghibur, tetap teramat dekat meskipun menangani masalah yang di luar logika. Aoyama tidak tampak seperti Conan, yang kita tahu dia adalah orang dewasa dalam tubuh anak kecil. Aoyama memang terhadirkan sebagai seorang bocah yang pintar dan penuh keingintahuan, dia memandang semua fenomena sebagai kesempatan untuk mengembangkan diri menjadi lebih baik lagi.

Sesungguhnya orang yang pintar tahu banyak hal yang tak ia tahu.

 

 

But I do thing film ini mestinya bisa dikembangkan dengan lebih baik lagi. Terutama pada karakter Kakak Cantik. Tokoh ini sengaja dibuat misterius, karena dia adalah salah satu ‘misteri’ bagi Aoyama secara fisik. Tapi film turut membuat eksistensi si Kakak sebagai tanda tanya, bahkan bagi dirinya sendiri. Ini membuat tokoh Kakak jatuh ke dalam trope “Manic Pixie Dream Girl” – tokoh cewek yang di mata protagonis cowoknya begitu sempurna dan hanya berfungsi sebagai dorongan ataupun pembelajaran si protagonis untuk menjadi tokoh yang lebih baik. Trope ini menandakan naskah tidak berhasil menggali karakter pendukung, dan memang kelihatan jelas film ini hanya berpusat pada Aoyama. Naskah membiarkan Aoyama jadi tokoh utama meskipun ada tokoh lain yang lebih punya stake untuk mencari jawaban. It’s okay jika film memutuskan seperti demikian dan konsisten terhadapnya, tapi aku berpikir film tidak mesti membuat Kakak sebagai Manic Pixie Dream Girl yang mengurangi penilaian – bisa diberi bobot lebih banyak, atau melakukan hal simpel seperti yang dilakukan Love for Sale (2018) kepada tokoh Arini; Love for Sale membuat Arini ‘termaafkan’ karena dia tidak seujug-ujug ada di sana sebagai pembelajaran untuk Richard, dia ada sebagai bentuk pilihan dari Richard. Kakak di Penguin Highway, menurutku seharusnya bisa dibuat seperti demikian alih-alih ada dan kemudian tidak ada.

 

 

Diadaptasi dari novel karangan Tomihiko Morimi, si pengarang ini sering disebut sebagai Virgin Writer karena kekhususannya memasukkan hal-hal lugu yang bisa dianggap ‘pervert’ oleh sebagian orang. Dan memang, film ini jelas adalah salah satu teraneh yang bisa ditonton oleh anak-anak. Mengusung cerita coming-of-age dengan bungkus sci-fi. Benar-benar menaruh penonton dalam bingkai pandang tokoh utamanya yang masih kelas empat. Film ini melempar semua logika dan meminta kita untuk mengikuti perjalanannya dengan santai, karena dirinya adalah potret yang mengingatkan kembali bagaimana rasanya kembali menjadi anak kecil yang penuh rasa ingin tahu. Unik dan menyegarkan, seperti pinguin.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for PENGUIN HIGHWAY.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Kapan terakhir kali kalian membaca untuk menambah ilmu, alih-alih biar dapat nilai bagus? Kapan terakhir kali kalian bertanya untuk membuka wawasan, bukannya bertanya untuk nyinyir atau malah nyindir orang lain?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

 

 

 

 

Fastlane 2019 Review

 

Sungguh akan membosankan jika jalan yang ditempuh lurus-lurus saja, maka Fastlane 2019 memastikan setiap protagonis dalam masing-masing storyline mereka berjalan di jalur yang penuh tikungan tajam, sehingga perjalanan mereka menuju Wrestlemania terasa sangat dramatis.

 

Para favorit penonton, seperti Kofi Kingston dan Becky Lynch, tidak diberikan jalan keluar yang pasti. WWE benar-benar cakap dalam menggali drama, sehingga sekalipun Fastlane 2019 masih terkesan sebagai acara filler – seperti bagaimana Captain Marvel (2019) juga ‘hanyalah’ singgahan sebelum suguhan utama yakni Avengers: Endgame – namun kali ini WWE berhasil memadatkannya. Fastlane 2019 dijadikan ajang showcase buat aksi-aksi akrobat yang selama ini agak sedikit dikesampingkan oleh cerita utama dan juga jadi cara WWE untuk mengikat berbagai lose-end entah itu dalam cerita, maupun yang timbul dari keadaan darurat seperti injury tak-terduga dari superstar-superstar yang mereka miliki.

Hometown-boy The Miz menemukan jalannya berliku tatkala secara mengejutkan Shane McMahon, pasangan tag teamnya, frustasi dan menyerang dirinya dari belakang setelah pertandingan mereka yang dijadikan pembuka acara. ‘Mengejutkan’ lantaran banyak yang mengira WWE tidak berani mengambil resiko dengan memposisikan Miz sebagai tokoh face yang sengsara seperti demikian. Penonton di arena Quicken Loans begitu terinvest ke dalam partai kejuaraan tag team tersebut, semuanya mengelu-elukan The Miz yang berasal dari daerah mereka, Cleveland-Ohio, bahkan ayah Miz kembali hadir dan menonton di barisan depan. Miz dan Shane jelas sekali adalah tokoh utama dalam cerita mereka, Shane actually juga dapat huge-pop setelah spot keren dan penuh presisi yang ia lakukan – Shane menyetop serangan Uso di udara! – semua bangunan cerita itu seolah Miz yang akan balik menyerang Shane. Jadi menurutku akan menarik bagaimana WWE akan menangani karakter yang bisa dibilang ‘baru’ buat The Miz yang nyaris sepanjang karirnya jadi tokoh jahat yang songong tapi pengecut.

Tokoh-tokoh heel dibuat mendominasi dalam acara ini. Tim Sasha Banks dan Bayley, meskipun menang, namun mereka pada akhirnya dihajar oleh Tamina dan Nia Jax. Dan bahkan setelahnya, kita melihat tim Samoan Slaughterhouse tersebut menghajar Beth Phoenix, yang datang sebagai komentator tamu, perfectly ngeset up pertemuan di Wrestlemania bagi yang peduli pada Nia Jax. Karena kalo mau benar-benar jujur, hal paling jahat yang bisa kita dapatkan dari title defense pertama kejuaran tag team cewek tersebut adalah banyaknya botch yang kedua belah pihak lakukan. Sasha bermain se-sloppy yang biasa ia lakukan, dan aku gak ngerti gimana Nia bisa kehilangan keseimbangan menangkap Sasha yang memiliki postur kurang dari setengah badannya. Melihat Nia dan Tamina membuatku teringat pada Rikishi dan Haku yang sempat mendominasi di era 2000an, hanya saja dari segi skill dua cewek ini masih jauh di bawah konterpart cowok tersebut. Satu lagi kejuaraan yang melibatkan superstar cewek – Asuka defending against Mandy Rose – seharusnya adalah kesempatan emas buat keduanya mempertontonkan apa yang mereka punya. Sayangnya, match mereka dikasih drama yang sebenarnya gak perlu, pun dieksekusi dengan awkward, sehingga enggak ada sama sekali kesan yang dihasilkan

fans malah lebih prihatin sama handphone milik Beth Phoenix

 

Cukup disayangkan sebenarnya match-match single dalam acara ini kebanting oleh partai ramean, karena buatku partai satu-lawan-satu selalu punya urgensi yang lebih tinggi – psikologinya lebih aman terkena bias-bias aksi. Belakangan ini WWE membuktikan mereka mampu membuat partai ramean yang enggak sekadar ‘aksi tabrakan’. Namun di Fastlane 2019 ini, partai rameannya gak benar-benar berisi karena diutilisikan sebagai ajang showcase, dan oh boy, aksi-aksi yang disuguhkan di acara ini beneran cepet dan bertenaga. Aku bisa pastikan kita semua sangat enjoy menyaksikan kejuaraan tag team Raw yang melibatkan tiga tim; juara bertahan The Revival melawan Bobby Roode-Chad Gable melawan Aleister Black-Ricochet. Tiga tim yang semua pesertanya berangkat dari NXT ini benar-benar sudah jaminan seru. Mereka semua sukses terlihat kuat oleh match ini, membuat kita merindukan pertemuan mereka di kemudian hari. Begitu pula dengan kejuaran United States yang diperebutkan oleh empat orang; Samoa Joe, Andrade, Mysterio, dan R-Truth. Meskipun kepentingan partai ini mungkin lumayan rendah, sebab kita sudah melihat pertandingan ini beberapa hari sebelumnya. Namun berkat itu pulalah, chemistry di antara keempat superstar jadi terlatih dan mereka berhasil menyuguhkan kontes yang fast-paced penuh oleh gerakan-gerakan menarik. Kedua match tersebut, minim kepentingan cerita, dan hanya berfungsi untuk memberi ruang kepada banyak superstar untuk dikenal lebih jauh; catatan pentingnya adalah fungsi tersebut berhasil tercapai.

Dan sepertinya memang aksi berbicara lebih lantang ketimbang kata-kata. I mean, jika kalian ingin tahu seberapa hebatnya Mustafa Ali, tonton saja partai kejuaraan WWE antara Ali melawan Kevin Owens melawan Daniel Bryan. Di awal-awal pertandingan tersebut, penonton menggerutu karena mereka pengen Kofi Kingston yang berada di sana. Untungnya bukan tanpa alasan ketiga superstar itu disebut sebagai profesional. Owens tampil berapi-api, Bryan memainkan karakter heelnya dengan baik, dan Ali; Ali was over the place. Seiring berjalannya pertandingan, gerutuan dan teriak-teriakan “We want Kofi!” penonton berubah menjadi decak kagum demi melihat apa yang dilakukan oleh Ali. See, menurutku penonton memang agak cinta-buta dalam kasus Kofi Kingston ini. Tentu, Kofi pantas mendapatkan posisi yang lebih baik, dia berhak untuk dikenal lebih dari dirinya yang sekarang, namun banyak penonton yang mengabaikan fakta bahwa Kofi di Elimination Chamber bulan lalu hanyalah pengganti Ali yang cedera. Kofi terpilih karena dia lincah, seperti Ali, jadi alur match Chamber itu gak perlu banyak dirombak. Kini setelah Ali sembuh, tentu saja WWE ingin mengarahkan kembali ceritanya ke jalan yang benar. Dan sebagai perusahan bisnis yang udah survive lebih dari 30 tahun, WWE tentu paham untuk memanfaatkan reaksi penonton terhadap Kofi sebagai peluang untuk menggali cerita baru seputar dirinya. Maka kita mendapat ‘episode 1’ cerita Kofi tentang bagaimana dia di-screw oleh Vince McMahon pada Fastlane ini.

masih gak yakin di lagu entrancenya Mandy Rose menyebut namanya atau menyuruh aku…. mandi~

 

Aku selalu menonton dan menilai acara WWE layaknya menonton dan menilai film, tapi sesungguhnya ada satu perbedaan yang signifikan di antara keduanya. Jika dalam menilai film, kita harusnya hanya bicara tentang filmnya. Kita tidak mempedulikan seberapa jor-joran promo jualan yang dilakukan. Kita tidak menyangkut-pautkan hal-hal pribadi ataupun kontroversi yang dilakukan oleh pemain ataupun pembuat filmnya. Dulu Depe dan almarhum Jupe sempat rela berantem hingga masuk penjara demi menjual film horor yang mereka bintangi, namun kualitas promo tentu saja tidak berhubungan langsung dengan kualitas filmnya. Nah ini berbeda dengan WWE. Dalam WWE, promosi adalah bagian dari storyline, termasuk ke dalam unsur storytelling. Malah jaman dulu, para superstar dituntut untuk tetap in-karakter meski berada di luar arena, karena yang namanya backstage itu ya di manapun kecuali di dalam stage alias ring. Di era digital, WWE mengambil langkah yang lebih jauh dalam mempromosikan ceritanya. Mereka menggunakan sosial media untuk menambah bumbu-bumbu seteru, menyuruh superstar untuk memposting cerita bersama hal-hal personal demi mengaburkan garis batas cerita dengan kenyataan. I mean, lihat gimana ayah kandung Miz dimasukkan ke dalam cerita Miz dan Shane di awal. Seperti twitwar yang viral antara Becky Lynch dengan Ronda Rousey. Nice work yang mereka lakukan untuk membuat perseteruan mereka semakin panas sehingga ketika pada saatnya keduanya bertanding di Wrestlemania, segala bangunan emosi itu meledak dan kita yang terinvest kebawa emosional olehnya. Masalahnya adalah, kedua superstar yang adu twit bawa-bawa keluarga itu ternyata tidak berdua.

Dalam Fastlane kita melihat episode berikutnya dari perjalanan Becky Lynch, dan di mana ketika seharusnya mereka merapikan cerita ini, WWE malah membuatnya semakin rumit dan gak make-sense. Mari kita rekap sebentar; Lynch kalah melawan Asuka di Royal Rumble, jadi nasibnya di Wrestlemania belum jelas. Jadi Lynch mengambil spot Royal Rumble Lana yang kebetulan cedera, dan Lynch sukses memenangkan Royal Rumble. Menjadikannya berhak menantang juara cewek yang ia pilih. Lynch memilih Rousey. Tapi kemudian, Lynch juga cedera dan dia menolak ke dokter. Setelah dipaksa, Lynch akhirnya ke dokter dan dititah clear untuk bertanding, meski sekarang dia pake crutch untuk berjalan. Hanya saja Vince gak suka sama sikapnya, sehingga Lynch disuspend selama 60 hari dan digantikan posisinya oleh Charlotte. Menanggapi ini, Rousey ngamuk dan meninggalkan sabuk juaranya. Stephanie kemudian mencabut suspensi Lynch, dan Rousey tiba-tiba jadi heel saat Lynch diharuskan bertanding melawan Charlotte untuk posisi yang secara sudah ia menangkan di Royal Rumble. Ribet banget! Banyak kelokan cerita yang gak perlu dan gak masuk akal. Match Lynch melawan Charlotte di Fastlane ini berakhir prematur setelah Rousey datang, memukul Lynch, dan memastikan dirinya melawan dua orang alih-alih satu di Wrestlemania. Logika yang aneh, karena Charlotte sama sekali tak-penting di sana, terlebih mengingat promo dan ‘perang’ yang dilakukan berdua oleh Lynch dan Rousey di twitter.

Kalo aku yang nulis cerita, aku akan bikin Lynch menang di Fastlane dengan susah payah – kakinya masih cedera. Dan di Raw menjelang Wrestlemania, Rousey menghajar Charlotte sampe babak belur – dengan gampang karena dia nyerang dari belakang – sehingga Charlotte tak clear untuk bertanding. Ini akan membawa kita kepada Lynch melawan Rousey, satu-lawan-satu, dengan rintangan yang sungguh besar bagi Lynch – mengeset dirinya sebagai ultimate babyface, dengan Rousey sebagai penjahat utama, dan Charlotte sebagai katalis yang berperan penting untuk pembangunan dua karakter sekaligus.

 

But still, betapapun gak make sensenya arahan cerita yang diambil oleh WWE terhadap Lynch, Charlotte, dan Rousey, match mereka di Fastlane ini masih punya purpose. Masih masuk ke dalam gambaran-besar jalan berliku yang harus dilalui oleh protagonis cerita. Fastlane dan build-upnya penuh oleh superstar yang tiba-tiba ‘muncul’ atau diganti sebagai bentuk usaha WWE merapikan storyline. Salah satu kemunculan kembali itu adalah Roman Reigns yang beberapa bulan setelah Wrestlemania tahun lalu mengundurkan diri karena penyakit leukimia yang ia derita. Sebagai comeback yang pantas dirayakan, yang timingnya juga pas sekali dengan rumor bahwa Dean Ambrose akan hengkang dari WWE begitu kontraknya habis tak berapa lama lagi, maka WWE impromptu membuat match yang digadang sebagai pertandingan terakhir The Shield. Seth Rollins yang bersiap untuk tanding melawan Lesnar di Wrestlemania ditarik ke match ini, Ambrose yang berpaling dari Shield begitu Reigns mengundurkan diri ditarik kembali bergabung, dan ya kita melihat partai utama Fastlane berupa match Shield melawan tim Baron Corbin, Drew McIntyre, Bobby Lashley – yang lumayan seru, yang emosional karena ini supposedly adalah perayaan memenangkan penyakit mematikan, tapi tidak benar-benar terasa fit ke dalam apapun. Match ini adalah epitome dari yang namanya sebuah filler; tidak mempropel storyline yang sedang berlangsung. Enggak benar-benar punya purpose, selain mengantarkan penonton pulang dengan hati yang puas.

 

 

Setelah semua ini, kupikir kita semua lumayan bergairah demi menunggu Wrestlemania. WWE sendiri cukup berhasil menyuguhkan tiga pay-per-view yang bagus secara berurutan di tahun 2019 ini. Fastlane 2019, masih sebuah filler, tapi punya kualitas di atas rata-rata. The Palace of Wisdom menobatkan Triple Threat Kejuaraan WWE sebagai Match of the Night; salah satu triple threat terseru yang pernah aku tonton.

 

 

Full Results:
1. SMACKDOWN TAG TEAM CHAMPIONSHIP The Uso mempertahankan gelar mereka atas Miz dan Shane McMahon.
2. SMACKDOWN WOMEN’S CHAMPIONSHIP Asuka bertahan dari Mandy Rose.
3. HANDICAP ONE-ON-TWO The Bar mengeroyok Kofi Kingston.
4. RAW TAG TEAM CHAMPIONSHIP TRIPLE THREAT The Revival kembali juara mengungguli Aleister Black-Ricochet dan Bobby Roode-Chad Gable.
5. UNITED STATES CHAMPIONSHIP FATAL FOUR WAY Samoa Joe tetap juara mengalahkan Rey Mysterio, Andrade, dan R-Truth.
6. WOMEN’S TAG TEAM CHAMPIONSHIP juara bertahan Bayley dan Sasha Banks defeating Nia Jax dan Tamina
7. WWE CHAMPIONSHIP TRIPLE THREAT Daniel Bryan kembali bawa pulang sabuk setelah ngalahin Mustafa Ali dan Kevin Owens
8. SIX-MEN TAG TEAM The Shield menghancurkan Baron Corbin, Drew McIntyre, dan Bobby Lashley

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

[Readers’ NeatPick] – THE GREEN MILE (1999) Review

“Frank Darabont berhasil membius pikiran saya hingga masuk ke dalam setiap karakter-karakter yang disajikan. Hingga akhirnya Darabont dengan cerdas menciptakan kekuatan dari setiap karakter….”Mochamad Ridwan Alamsyah, pemilik akun instagram @m.ridwanalamsyah

 


Sutradara: Frank Darabont
Penulis Naskah: Frank Darabont, Stephen King (penulis novel aslinya)
Durasi: 3 jam 9 menit

 

 

The Green Mile, satu lagi cerita berlatar penjara adaptasi novel Stephen King yang disutradarai oleh Frank Darabont. Tapi tidak seperti The Shawshank Redemption (1994), Green Mile punya elemen supernatural dalam ceritanya. Ini adalah cerita tentang Paul Edgecomb, seorang sipir penjara di blok khusus terpidana mati, yang menyaksikan dan mengalami sendiri, literally, keajaiban di dalam sel yang ia jaga. Keajaiban berupa sesosok raksasa kulit hitam tinggi besar – yang pandangan mencela akan cepat memandangnya sebagai seorang dengan cacat mental – yang ditahan di sana karena tuduhan sudah membunuh dua gadis cilik. Dalam hari-hari menjelang eksekusi matinya, John Coffey ternyata tidak seseram pandangan mata. Bagi Paul tentu saja jadi beban apakah Coffey benar-benar membunuh atau bukan, sementara dalam hati dia sudah yakin jawabnya. Bagaimana mungkin orang yang mengorbankan diri demi menghidupkan kembali tikus yang sudah mati, yang menyembuhkan penyakit kelamin Paul – dan keharmonisan keluarganya – adalah seorang pembunuh. Bagi Paul, seperti yang selalu ia lakukan terhadap tahanan di sana, adalah bagaimana memperlakukan mereka tetap sebagai manusia yang punya martabat, dan konflik yang ia rasakan setiap kali dirinya menggiring mereka melewati lantai hijau – mil terakhir di hidup para terpidana, menuju kursi listrik yang mengakhiri nyawa mereka.

“Film ini menyuguhkan drama yang rapi. Dialog-dialog yang berwarna. Kadang serius dan penuh isi, kadang satir dan lucu.”

“Durasinya termasuk panjang banget, udah jarang kita temuin film Hollywood dengan durasi melewati tiga-jam. Kalo film ini dibuat di masa-masa sekarang, aku gak yakin mereka bakal berani membuatnya sepanjang ini. Remake It (2017) saja kan, adaptasi Stephen King juga, difilmkan jadi dua film. Studio gak ada yang berani lagi bikin film sepanjang ini. Dan hebatnya, tiga jam film ini buatku terasa sekejap.”

“180 menit yang saya habiskan di depan layar tidak sekalipun membuat saya ingin beranjak meninggalkan film ini. Saya sangat menyukai sekali film yang mempunyai cerita yang menarik, fresh, berbobot, dan mempunyai gaya tersendiri dalam menyampaikan cerita tersebut kepada penonton tidak peduli film itu panjang atau pendek. Bagiku film ini mempunyai plot yang sangat baik sekali dan ceritanya juga tidak klise, dari awal film sampai akhir kita akan menemukan beberapa plot twist yang cukup mengejutkan.” 

“Efektif sekali memang film mengisi durasinya. Kita merasakan waktu berjalan di balik sel-sel penjara tersebut dengan kuat. Perubahan karakternya, baik dari para penjaga maupun para tahanan. Dan Coffey sebagai pusat perubahan itu memang terasa hidup sekali”

“John Coffey juga Paul Edgecomb adalah tokoh yang berkesan buat saya. Peran mereka berdua di film ini paling dominan tetapi peran pendamping lainnya juga tidak kalah penting. Banyak adegan-adegan memorable, salah satu adegan yang paling emosional tentu saja ada pada bagian menjelang akhir cerita dari film ini di mana John Coffey akan dieksekusi mati”

“Ya benar, ada banyak sekuens adegan yang benar-benar powerful. Menurutku ini satu lagi pembeda waktu buat film ini; sekali lagi, kalo The Green Mile dibuat di tahun 2019 aku gak yakin mereka benar-benar akan memperlihatkan eksekusi di kursi listrik, ataupun adegan Mr. Jingles yang diinjak, dengan benar-benar gamblang seperti yang ditampilkan oleh film ini. The Green Mile sangat intense, suspensnya begitu menguar dan terbuild up dengan rapi karena film memanfaatkan waktu untuk kita mengenal setiap karakternya. Si Coffey ini memang dibangun untuk pancingan emosional kita, dan di akhir itu .. maaan… aku nonton ini pertama kali sekitaran 2014 yang lalu, disaranin ama seorang teman, katanya “this will broke your heart”, dan setelah nonton itu aku… aku masih memunguti pecahan hatiku saat temanku nongol dan bilang “I told you so, Kak””

“The Green Mile bukanlah film drama tragis yang bisa dengan mudah membuat saya mengeluarkan air mata di setiap adegannya. Sedangkan air mata dan kesedihan yang ada justru berada hampir di penghujung film, saat semua kisah sudah terangkum dan kita mengerti dan mengetahui banyaknya hal hal yang sudah dibangun oleh Darabont untuk membangun emosi tersebut di setiap menit dan menitnya. Menurut saya sangatlah tidak adil bila John Coffey harus dieksekusi mati atas perbuatannya karena ia tidak bersalah atas segala tuduhan pembunuhan terhadap dirinya dia hanya ‘A right man in the wrong place and situation’. Namun, ada satu pertanyaan dasar yang tidak saya dapatkan disini. Yaitu tentang asal kekuatan magis yang dimiliki Coffey. Melalui dialog, film ini hanya mampu menjelaskan jika kekuatan magis yang dimiliki Coffey semata-mata mukjizat dari Tuhan. Saya berasumsi jika hal ini sengaja dilakukan oleh penulis supaya penonton dapat memutuskan secara bebas menggunakan imajinasi mereka.” 

“Mungkin memang bukan tanpa alasan kenapa tokoh yang dimainkan penuh penghayatan oleh si Michael Clark Duncan itu diberi nama John Coffey. Yang jelas bukan karena mirip ama kopi, seperti yang disebut oleh si tokoh sendiri haha.. Banyak teori yang menyandingkan inisial Coffey; J.C. dengan Jesus Christ. Apa yang dilakukan Coffey dengan mukjizat-mukjizat itu juga sama. Dia menyembuhkan orang lain dengan menelan ‘penyakit’ itu, membuat dirinya sendiri sakit. Dan dia melakukannya dengan tulus.”

“Mungkin karena unsur supranaturalnya yang spiritual seperti demikian itu film berlatar penjara ini bisa disebut sebagai film religi, ya”

“Mungkin juga. Tapi toh ada juga kan adegan di mana Coffey ‘menghukum’ tokohnya si Sam Rockwell – dan film ini membiarkan kita memutuskan apakah yang dilakukan Coffey kepadanya itu sebuah tindak ‘main hakim’ sendiri atau memang sebuah ‘balasan dari Tuhan’. Tapi mungkin memang di situlah letak kekuatan film ini. Dia menggambarkan perjuangan yang besar antara melakukan perbuatan baik dengan melakukan perbuatan yang  buruk. Serta ganjaran yang kita terima terhadap perbuatan kita kadang tidak seadil yang kita harapkan. Film ini juga bicara tentang prasangka, makanya secara fisik Coffey digambarkan ‘kontroversial’ menurut standar tokoh-tokoh yang lain.”

“Dengan prasangka tersebut, bisa jadi film ini cukup kontroversi bila dibuat tahun 2019, tetapi mengingat banyaknya film yang mengangkat tema isu rasisme terhadap orang kulit hitam seperti BlackKklansman (2018) mungkin kontroversi tersebut tidak akan terlalu diperbincangkan.”

“Tokoh Coffey ini sebenarnya masuk ke dalam trope ‘Magical Negro’; sebutan yang dicetuskan oleh Spike Lee untuk tokoh-tokoh kulit hitam dalam film yang tidak diberikan bangunan cerita yang kuat, selain mereka punya kekuatan khusus dan berfungsi untuk membantu tokoh utama kulit-putih menjadi pribadi yang lebih baik. I do think tokoh Coffey ini mestinya bisa dikembangkan dengan lebih baik lagi, mungkin kita bisa dikasih tahu siapa dirinya sebelum semua itu terjadi, apa yang dia inginkan dalam hidup, mungkin dia dibuat sedikit mengadakan perlawanan terhadap hukum mati yang ia terima. But then again, jika memang tokoh ini diniatkan sebagai simbol yang mewakili Yesus, masuk akal juga kenapa kita tidak diberikan lebih banyak soal backstory dirinya. Dia di sana untuk membuat Paul dan semua tokoh lain melihat dan berprasangka lebih baik lagi. Mungkin hukuman mati justru adalah jalan pembebasan yang selama ini ia cari.”

“Hukuman mati, dalam dunia nyata, memang sangat diperlukan tetapi saya juga terkadang tidak setuju terhadap pemberlakuan hukuman mati karena saya ingin mereka memetik pelajaran juga mengambil hikmah serta menyadari atas apa yang mereka perbuat agar mereka dapat menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Di sisi lain kita juga harus mendukung adanya pemberlakuan hukuman mati di dunia ini agar orang-orang yang melakukan tindak kejahatan seperti menghilangkan nyawa orang lain harus dibayar sesuai dengan mereka perbuat atau istilah lainnya yaitu ‘nyawa dibayar nyawa’, tapi tentu saja harus dilakukan dalam cara yang manusiawi yaitu dengan cara hukuman suntik mati atau Lethal Injection, dilakukan melalui tiga tahapan. Tahap pertama adalah memberikan suntikan untuk anasthesi (pembiusan). Tahap kedua adalah memberikan suntikan untuk melumpuhkan tubuh dan menghentikan pernafasan. Tahap ketiga atau terakhir adalah memberikan suntikan untuk menghentikan detak jantung. Tanpa Anastesi, terhukum akan mengalami asphisiasi, sensasi terbakar pada seluruh tubuh, nyeri pada seluruh otot, dan akhirnya berhentinya detak jantung. Oleh karena itu, anastesi yang memadai diperlukan untuk meminimalisir penderitaan dari terhukum dan untuk memperkuat opini publik bahwa hukuman suntik mati itu relatif bebas rasa sakit.”

“Dalam film ini juga benar-benar ditunjukkan prosedur hukuman mati dengan kursi listrik yang dilakukan dengan memastikan si terpidana bisa langsung isdet tanpa berlama-lama menanggung sakit. Tapi di film ini mereka membuat hukuman mati sebagai tontonan. Buatku hal tersebut kurang manusiawi. Juga, menurutku, sebaiknya terpidana mati langsung dieksekusi saja, jangan lagi menunggu hari-hari mereka dipanggil. The Green Mile menekankan cerita pada soal ‘hari-hari menunggu’ ini. Istilahnya sendiri kan merujuk pada jarak. Buatku gak adil aja seseorang yang sudah berbuat salah dan dijatuhi hukuman, diberikan ruang untuk introspeksi – antara hari-hari itu mereka bisa saja insaf dan berperilaku laksana malaikat – hanya untuk dimatikan tanpa bisa mengurangi hukuman. Bukankah mengetahui batas akhir umur kita itu sesungguhnya adalah suatu keuntungan?”

“Mengetahui batas akhir dari umur kita menurut saya memang bisa jadi menjadi sebuah keuntungan tersendiri bagi kita karena hal tersebut membuat kita menjadi orang yang lebih baik lagi dari hari ke hari dan dapat membuat kita meningkatkan keimanan kita kepada tuhan kita sebelum kematian itu tiba saatnya, jadi kita senantiasa mempersiapkan diri untuk berbuat kebaikan. Tapi itu juga tergantung bagaimana orang tersebut menyikapi tentang kematian itu sendiri. “

“It was unfortunate apa yang terjadi pada Coffey, tapi di sisi lain mungkin dia bebas dan justru Paul-lah yang menderita setelah mendapat anugerah dari dirinya. Aku bayangin konflik banget buat Paul ketika dia tidak bisa mendapatkan apa yang diperoleh oleh kriminal-kriminal yang ia eksekusi, dan mungkin Coffey bukanlah yang terakhir yang duduk di kursi listrik itu dalam keadaan tidak bersalah. Umur panjang memang sering dikaitkan sebagai musibah dalam film-film, tak terkecuali di sini”

“Bagi saya itu adalah sebuah anugerah yang tuhan berikan melalui perantara si John Coffey kepada Paul agar ia dapat menikmati hidupnya dengan penuh harapan, cinta, dan kedamaian seperti Coffey yang selalu membantu orang-orang yang sedang kesulitan. Mungkin Coffey memberikan umur panjang kepada Paul agar paul dapat menjadi orang yang bermanfaat bagi banyak orang.”

“Coffey tentu tidak meniatkannya sebagai kutukan. Paul adalah penjaga paling baik dan hormat kepada para tahanan. Tentu, tokoh yang diperankan Tom Hanks ini awalnya tidak percaya keajaiban, tapi dia tahu hidup sangat berharga. Coffey yang respek sama tokoh ini hanya ingin memberikan waktu yang panjang kepada Paul supaya Paul bisa memanfaatkan umur-umur orang yang dieksekusi sebagai penebusan. Tapi bagi Paul jelas ini jadi beban. Karena dengan umur panjang, tidak seperti para tahanan yang harus meninggalkan orang-orang yang mereka sayangi, justru Paul harus ditinggalkan oleh orang-orang yang ia sayangi. Justru ia yang merasakan Green Mile yang paling panjang. Mungkin dia baru bisa menemukan kedamaian entah berapa tahun lagi haha. Ada loh fans yang niat menghitung berapa tahun lagi Paul bakal meninggal..”

“Haha kira-kira 125 tahun lagi kali yah”

“Mungkin malah jutaan, mengingat banyaknya yang sudah ia eksekusi. Ngomong-ngomong soal eksekusi, it’s scoring time! The Green Mile adalah salah satu film favoritku sepanjang masa, ini adalah film yang mungkin tak-akan berani dibuat lagi, begitu intensnya mengobrak-abrik perasaan, aktingnya flawless, tapi memang pengkarakteran seharusnya bisa lebih dikembangkan lagi. Aku putuskan untuk memberinya 7.5 bintang emas dari 10.”

“I give this movie 8.5/10 stars. Film paling emosional yang pernah saya saksikan.” 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Terima kasih buat Mochamad Ridwan Alamsyah udah berpartisipasi dan ngusulin film ini, sudah lama aku ingin membahas film-film kayak The Green Mile.

Apakah menurut kalian ini adalah film religi? Apakah umur panjang adalah suatu anugerah? Atau apakah lebih mending kita tahu batas umur kita, walaupun pendek?

 

Buat yang punya film yang benar-benar ingin dibicarakan, silahkan sampaikan saja di komen, usulan film yang menarik nanti akan aku hubungi untuk segmen Readers’ NeatPick selanjutnyaa~

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

CAPTAIN MARVEL Review

“Emotions are what make us human.”

 

 

Berbeda dengan cerita-cerita origin superhero yang biasa, Captain Marvel tidak bercerita tentang gimana Vers mendapatkan kekuatan supernya. Kita melihat Vers sudah jago berkelahi, dia bisa mengeluarkan gelombang photon dari tangannya, namun dia diminta untuk mengendalikan kekuatan tersebut. Alih-alih kekuatan, perjalanan Vers berfokus kepada perjalanan menemukan siapa dirinya yang literally berdarah biru tapi bukan bangsawan, dan untuk melakukan hal tersebut, jagoan cewek ini tampaknya harus menggeliat melawan sistem yang memintanya untuk menahan diri.

Vers adalah bagian dari pasukan bangsa Kree, yang sedang dalam peperangan melawan bangsa Skrull, bangsa ‘kadal’ penipu yang bisa mengubah wujud menjadi apapun yang mereka lihat. Atau begitulah yang diajarkan oleh komandan kepada Vers. Vers diminta untuk tidak membawa perasaan ke dalam peperangan mereka. Karena emosi membuat seorang pejuang lemah. Vers, sebagai seorang wanita, tentu saja punya dorongan emosional yang kuat. But also, Vers juga bukan manusia yang lemah-pikir. Dia punya rasa penasaran dan ‘attitude’. Apalagi ketika dia menemukan kepingan-kepingan adegan di dalam kepalanya. Kenangan-kenangan tersebut mengusik Vers yang enggak ingat siapa dirinya sebenarnya. Mengganggu pikirannya dengan luapan emosi yang tak terjelaskan. Vers mengejar sumber kenangan tersebut, yang bisa jadi merupakan petunjuk tentang siapa jati dirinya, siapa musuhnya sebenarnya, dan seberapa kuat dirinya sesungguhnya. Bagian-bagian awal di mana Vers berlatih bertarung dengan sang komandan, dan Vers secara sengaja ‘menyelipkan’ emosinya dan buff! there goes down her superior – buatku ini keren dan menunjukkan sisi menarik dari tokoh yang acap disebut sebagai superhero terkuat semesta Marvel – dan juga kilasan ingatan yang muncul ketika Vers ngobrol dengan pemimpin bangsa Kree, sesungguhnya merupakan komentar tersembunyi yang dimasukkan oleh film.

Tentang bagaimana perjuangan seorang wanita dalam dunia yang seringkali didominasi oleh pria, bagaimana cewek diremehkan lantaran mereka kebanyakan pake emosi dibandingkan otak. But hey, coba tebak; justru emosilah yang membuat seorang manusia, manusia. Tahukah kalian bahwa emotion adalah singkatan dari energy in motion? Kita tidak bisa berfungsi dengan benar hanya mengandalkan satu, tak peduli kita cowok dan cewek. Inilah yang dipelajari Vers ketika dia terdampar di planet C-53 (alias Bumi); Vers melihat – dan terselamatkan – berkat Nick Fury, Agen Coulson, yang menggunakan emosi mereka.

 

lagi mikir “harusnya aku mampir ke 90an Indonesia aja ya, biar digodain dan bisa ngembat motor plus jaketnya Dilan”

 

Tetap dengan candaan dan one-liner khas film-film superhero Marvel, film inipun mampu membuat kita tersenyum-senyum simpul mengikuti jalan ceritanya. Paling ngakak tentu saja adalah interaksi antara Vers dengan Nick Fury yang masih muda. Film ini boleh saja mengambil tempat di tahun 90an, namun – oh boy – kita hidup di jaman modern, jaman di mana teknologi komputer sudah begitu luar biasa sehingga seperti tak ada bedanya melihat Samuel L. Jackson di film ini dengan melihatnya di film Pulp Fiction (1994). Ini bukan kali pertama Marvel menggunakan CGI untuk memudakan seorang tokoh, tapi yang sudah-sudah, kita hanya melihat ini dalam adegan flashback. Not in the entire movie. Dan kupikir, seperti beginilah contoh pemanfaatan CGI yang baik dan benar. Membuat kita lupa bahwa itu adalah aktor yang sama dengan yang jadi penjahat tua di Glass yang tayang beberapa bulan yang lalu. Penampilan visual yang begitu menyatu dengan bangunan dunia, dan tentu saja ilusi tersebut tak-kan terjual jika tidak dibarengi dengan penampilan akting. Jackson memberikan nyawa tersendiri sebagai Nick Fury muda yang baru saja melihat berbagai macam alien nongol di depan matanya. Seperti yang kutulis tadi, chemistry Brie Larson dengan Jackson sangat kuat, tokohnya Larson – si Vers – juga berakar pada elemen cerita fish-out-of-water ketika dia sampai di Bumi dan melakukan berbagai hal yang dianggap luar biasa oleh penduduk lokal seperti Jackson. Kita melihat komedi ala buddy-cop terpancar dari interaksi mereka berdua; mereka beragumen dengan kocak, dan pinter – leluconnya enggak receh – sungguh terhibur aku melihat mereka berdua.

Kalo dia beneran superhero, kekuatan super Larson agaknya adalah kekuatan ekspresi. Kita bisa melihat dia berjuang untuk menghidupkan tokoh Vers ini. Mimik dan gestur-gestur kecil yang diberikan oleh Larson, seperti ketika dia berteriak “yess!” sambil tersenyum saat gips metal yang membelenggu kedua tangannya akhirnya lepas, benar-benar menambah hidup karakter yang ia mainkan. Sekuen Vers berantem dengan gips metal ini merupakan porsi aksi favoritku, karena memang terasa fresh dan actually adalah momen langka film memberikan kevulnerablean kepada tokoh kita tersebut. Sungguh menghibur melihat Vers berusaha melepaskan metal tersebut dari tangannya dengan membenturkannya ke dinding pesawat, namun gagal. Dia lalu memukulkannya kepada musuh sekuat tenaga, dan metal tersebut masih belum hancur juga, effort dan tantangannya terasa sangat natural. Aku berharap sekuen seperti ini terus hadir, film terus berusaha mencari cara untuk membuat susah superhero yang kekuatannya dahsyat ini, namun sayangnya arahan sutradara dalam mengembangkan cerita sungguh tidak berimbang.

Istilah terburuknya, datar. Hampa. Larson tampak sudah berdedikasi tinggi memainkan tokohnya, hanya saja cerita seperti tidak pasti mau dibawa ke mana. Setelah kita diajak bernostalgia 90an dengan tempat rental video, kita ketawa dengan komedi Vers dengan Fury, cerita berubah menjadi tentang dua sahabat cewek yang sudah lama terpisah; elemen fish-out-of-waternya menguap begitu saja. Vers menjadi tidak lebih dari karakter yang kaku. Penggemar WWE yang menonton film ini pasti menangkap kemiripan antara Vers dengan Ronda Rousey yang hanya seperti disuruh berdiri menunjukkan tampang antara bingung dan marah. Sesungguhnya sebuah kesempatan yang besar untuk mengambil resiko saat kita punya cerita dengan elemen tokoh yang punya masa lalu yang tak mampu ia ingat, dan mereka berusaha menyusun kembali kepingan ingatan tersebut. Lihat apa yang dilakukan Memento (2000). Terlalu jauh? Well, lihat Alita: Battle Angel (2019). Kita belajar bersama tokoh Alita melalu aksi yang ia lakukan, melalui muscle-memory; somehow tubuhnya bisa bereaksi melawan android jahat dan dari aksi tersebut kita paham Alita dulunya seperti apa. Pada film Captain Marvel, masa lalu Vers dibeberkan lewat flashback, lewat dialog, lewat potongan adegan. I mean, enggak gaya amat. Alih-alih membiarkan tokohnya berkembang menjadi disukai dan sejajar dengan penonton, film ini membangun Vers sebagai sosok yang nun-jauh di atas yang lain dan harus didukung karena, lihat guys, dia baik-pinter-cakep-dan-kuat. Aku tidak menemukan alasan kenapa mereka tidak bisa membuat pendekatan dan bangunan cerita dan tokoh menjadi lebih menantang serta accessible. Seperti elemen makhluk pengubah-wujud yang ada dalam film ini; arahan tokoh ini juga hambar, mereka seharusnya bisa dibuat lebih menarik dengan segala misteri dan kebingungan dan muslihat, tapi aku bisa memaklumi kurang penggaliannya karena kita sudah melihat hal yang serupa pada Loki dalam dunia Thor.

sehubungan dengan itu, mungkin aku harus segera mengecek kucingku alien atau bukan

 

 

Marvel Cinematic Universe sudah sering mengambil penulis dan sutradara dari film indie dan memberikan mereka kesempatan untuk menunjukkan sinarnya. Lucunya, Anna Boden dan Ryan Fleck yang dipilih untuk menangani film ini lebih kayak tamu yang masih malu-malu padahal udah dipersilahkan masuk dan makan-minum apapun, ngapain aja sama yang punya rumah. Mereka seperti terpaku pada gaya Marvel. Sehingga gaya mereka sendiri enggak keluar sama sekali. Tengok betapa vibrant dan penuh warnanya Thor: Ragnarok (2017) di tangan Taika Waititi. Atau kerja James Gunn memvisualkan dua film Guardians of the Galaxy. Mereka membuat apa yang sudah punya gaya, menjadi lebih bergaya lagi. Captain Marvel mendapat perlakuan dan arahan yang begitu standar sehingga pada beberapa titik filmnya nyaris terasa seperti berubah wujud menjadi film-film yang pernah kutonton. Adegan memori Vers diacak-acak mengingatkanku pada adegan Harry Potter yang dibaca pikirannya oleh Snape. Adegan kejar-kejaran pesawatnya hampir membuatku merasa lagi nonton Star Wars. Dan adegan berantemnya, well, selain adegan berantem dengan tangan bermetal yang kusebut tadi, Captain Marvel tidak menyuguhkan sesuatu yang membekas di ingatan. Bahkan terkadang perlakuan adegan kelahinya, koreografinya, sukar untuk diikuti.

 

 

 

Film superhero Marvel paling malu-malu kucing yang pernah ada. Untungnya gak sampai malu-maluin, sih. Cuma datar saja. Seperti Vers, film ini butuh untuk menjadi lebih bebas lagi. Karena dia punya potensi, seperti yang terlihat menjelang pertengahan dan menjelang penghabisan. Ceritanya sebenarnya juga enggak datar-datar amat, ada beberapa agenda yang berusaha diselipkan, karena begitulah lumrahnya film superhero masa kini; selalu ada sisipan agenda yang mengomentari keadaan sosial kita dan semacamnya. Film ini masih bisa menghibur penonton; baik itu penonton biasa, penonton anak-anak, maupun penonton nerd kayak aku. Jarang-jarang ada cerita pahlawan super yang tokoh utamanya cewek, kan. Hanya saja memang inner beauty yang dipunya kurang tergali, lantaran pembuat film ini tidak berani mengeluarkan suaranya sendiri. Cuma seperti mereka ditugaskan membuat film untuk memperkenalkan siapa Captain Marvel untuk episode terakhir Avengers, dan mereka melakukannya. Hanya itu. Dan kita bisa sesegera mungkin move on nungguin tanggal tayang film berikutnya.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold star for CAPTAIN MARVEL.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Menurut kalian seberapa penting sih emosi dilibatkan dalam tindakan atau pekerjaan kita? Apakah memang ada pekerjaan yang sama sekali enggak perlu melibatkan emosi? Apakah ada logika dalam menggunakan perasaan?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

THE FAVOURITE Review

“Without honesty, love is unhappy”

 

 

Dalam The Favourite kita akan melihat Emma Stone dan Rachel Weisz memperebutkan hati Olivia Colman. Siapa di antara Lady Sarah dan rakyat jelata Abigail yang akhirnya menjadi orang kepercayaan, dan kekasih-rahasia sang Ratu Inggris. Kita bisa bilang ini kisah cinta-segitiga yang benar-benar ganjil. Agaknya, lewat komedi dengan sudut pandang unik, pemandangan sejarah – sebuah period piece – yang bahkan gak benar-benar peduli sama keakuratan, dan dengan cueknya menggeser posisi laki-laki menjadi sebatas hiasan ruangan dengan wig dan dandanan heboh, sutradara Yorgos Lanthimos berusaha menyentil dinamika dunia politik kontemporer di sekitar kita, hingga ke lapisan yang paling kecil. I mean, betapa sering kita nemuin kasus – atau bahkan mungkin mengalami sendiri – seorang yang posisinya terancam oleh kedatangan seorang baru yang lebih charming dan pintar menarik hati? Berapa sering kita terlena antara dusta dan cinta?

Permulaan film ini seolah mengeset cerita biasa tentang keberhasilan orang-susye memanjat tangga sosial dan menuai hasil keringat, darah, dan air matanya. Abigail yang diperankan Emma Stone memang dengan gampang sekali menarik simpati kita. Dia orang yang baik hati, yang bersedia kerja apa saja. Abigail sudah cukup makan garam perihal perlakuan dunia terhadap orang-orang miskin seperti dirinya, walaupun dirinya masih ada hubungan keluarga dengan tokohnya Rachel Weisz, Lady Sarah yang gede di lingkungan istana. The Favourite benar-benar menunjukkan beda kelas sosial tersebut dengan ekstrim – tetap, dalam undertone yang kocak. Selama ini kita mungkin hanya menerka apa sih yang dikerjakan orang-orang kaya di jaman dahulu. Setelah nonton film ini, imajinasi kita terhadap mereka akan semakin liar. Balapan bebek alih-alih kerja rodi di dapur?

well, tentu saja Abigail lebih memilih berjuang untuk mengukuhkan posisi ketimbang menjadi sasaran berikutnya dari lemparan jeruk.

 

 

Kerja menakjubkan film ini adalah gimana backstory dan motivasi setiap tokoh berhasil tersampaikan kepada kita, secara tersurat maupun tersurat. Kita hampir mengasihani Abigail lantaran dia diberikan masa lalu traumatis, namun itu semua ‘hanya’ alasan supaya kita paham roda gigi macam apa yang bergerak di dalam kepalanya. Kita jadi mengerti tidak ada yang lebih diinginkan Abigail selain kenyamanan istana, tidak lagi berada di kelas bawah. Dan semakin kamera membawa kita mendekatinya, ini bukanlah cerita keberhasilan. Inilah yang aku suka dari The Favourite, ceritanya berani menunjukkan kegagalan. Boleh saja begitu dia pertama kali menginjakkan kaki ke istana, masuk ke lingkungan Ratu Anne, Abigail memang wanita baik-baik, akan tetapi lambat laun bahkan dirinya sendiri seperti enggak percaya pada hal-hal yang ia lakukan demi mengukuhkan diri di atas sana. Abigail seperti meyakinkan dirinya sendiri ketika berulang kali dia menyebut dirinya punya hati yang baik. Di balik dinding istana, betapapun dekat jarak yang ia ciptakan antara sang Ratu dengan dirinya, Abigail tidak pernah merasa secure. Tokoh Abigail adalah peringatan kepada kita semua bahwa dalam lingkup sosial yang tidak seimbang antara kaya dan miskin menciptakan kompetisi yang bar-bar. Miskin gak mau semakin miskin, dan yang kaya tentu saja tidak mau jatuh miskin.

Dan tidaklah gampang untuk keluar dari lingkungan sosial seperti demikian. Film menggambarkan kekangan yang dirasakan oleh kaum aristokrat itu lewat wide shot yang dapat kita temukan di sepanjang durasi. Menggunakan lensa fish-eye, film menyuguhkan  jangkauan luar biasa lebar. Kita akan melihat tokoh-tokohnya sendirian di ruangan yang besar, persis kayak lukisan-lukisan jaman dulu, dan sekaligus kita merasakan kesendirian – bahkan ketika mereka berada di court room dengan banyak orang, dan kungkungan yang menyangkut dalam perasaan mereka. Sekalipun mereka berjalan, wide shot tersebut beralih fungsi untuk menunjukkan jauhnya perjalanan yang mereka lakukan untuk sampai di sana. Sekali lagi, sama seperti Abigail, film mengeset pemahaman kita bahwa semua orang di dalam sana tidak mau kembali ke muasal mereka di jalanan. Berbeda dengan wide-shot yang dilakukan oleh Roma (2018), saingan film ini di Oscar, kamera The Favourite enggak ragu untuk bergerak aktif. Kita bakal sering dibawa berayun oleh kamera, yang kemudian melesak maju bersama karakter, untuk menimbulkan kesan para tokoh ini berjuang keras bergerak di dalam sana. Film juga memilih untuk menggunakan cahaya-cahaya yang natural. Yang terbukti efektif sekali saat shot di malam hari, sebab cahaya lilin itu benar-benar menangkap kecemasan Abigail yang tak tenang seberapapun tinggi statusnya, dia masih khawatir akan ‘ketahuan’ sebagai orang yang seharusnya tidak berada di sana.

Apa yang tadinya dimulai dari cerita underdog yang sederhana – I mean, siapasih yang enggak bakal terpikat sama Abigail yang feminim dan sopan dibandingkan Lady Sarah yang tegas dan kaku – berubah menjadi sesuatu yang lebih dalem lagi. Film dengan berani menunjukkan perubahan Abigail, dia semakin nekat melakukan berbagai cara. Sensasi nonton yang luar biasa saat kita menyadari bahwa Abigail yang hanya memikirkan diri sendiri tidak lebih baik dari orang yang berusaha keras untuk ia gantikan. Lady Sarah yang melarang ratu makan coklat, yang meledek dandanan sang ratu kayak luak, yang ogah membelai kelinci-kelinci peliharaan Ratu, yang terang-terangan mengaku cintanya pada ratu ada batasnya namun tidak demikian buat negara, adalah orang yang lebih baik karena dirinya berada di sana bukan untuk kepentingan pribadi. Sarah punya tujuan yang jauh lebih mulia daripada memuaskan kenyamanan dirinya sendiri. Tidak seperti Abigail, Sarah tidak sekalipun menganggap Ratu Anne sebagai hadiah yang harus dimenangkan. Adegan Abigail menari bersama Ratu, at one point kita mendengar suara letupan senjata, dan Ratu terjatuh – sambil tertawa – melambangkan siapa sebenarnya yang ‘pembunuh’ alias oportunis. Dan tentu saja bukan tidak ada maksudnya ketika film memperlihatkan Abigail lebih ahli menembak ketimbang Sarah. Sarah tidak pernah berpura-pura, dia mempersembahkan dirinya apa adanya. Dia tidak peduli orang menganggapnya kejam dan berhati dingin. Malahan faktanya, dibanding Abigail yang sepanjang waktu membuat ‘rencana’ dan bergerak sembunyi-sembunyi, hanya satu kali diperlihatkan Sarah berusaha bikin surat buat ngeblackmail Ratu, namun pada adegan berikutnya kita melihat surat tersebut dia bakar. Karena seperti yang diperjelas oleh dialog Sarah dengan Abigail; dia tidak memainkan permainan yang sama dengan Abigail.

Dan Sarah-lah yang mengungkapkan kalimat terpenting yang menjadi pesan dalam film ini. Bahwa kejujuran adalah cinta. Mencintai dan tetap bersikap jujur ternyata adalah hal yang luar biasa sukar dibandingkan berbohong demi menyenangkan orang.

 

Tentu saja sikap Sarah tersebut dipandang sebagai ketidaksetiaan oleh Ratu. Yang membawa kita ke tokoh terakhir dalam cerita segitiga ini. Olivia Colman dinobatkan sebagai pemenang Aktris Terbaik dalam Peran Utama Oscar 2019, mungkin membuat kita bertanya-tanya kenapa tokoh yang diperebutkan ini yang disebut sebagai peran utama. Buatku, tokoh utama cerita ini memang Abigail. Namun aku mengerti kenapa Anne juga bisa dipandang sebagai tokoh utama. Walaupun tokohnya annoying dan konyol sebagai penguasa (mengingatkanku pada persona Vickie Guerrero di WWE), keputusan Ratu Anne-lah yang menjadi penentu cerita. Dan jika kita tilik karakternya, dialah yang paling manusiawi di antara semua. Anne yang paling menderita. Dia bahkan enggak tahan mendengar musik karena membuka luka emosional yang selama ini menderanya. Ratu kita ini telah kehilangan tujuh-belas anaknya. Implikasinya adalah dia tidak bisa punya anak. Film dengan hebat menetapkan bahwa sosok ini sangat mendamba cinta, dia ingin ada yang menunjukkan cinta kepadanya. Kelinci-kelinci yang ia pelihara; merupakan wujud pengganti anak baginya. Menjadi ratu, penguasa, adalah siksaan ekstra bagi pribadi semacam ini karena dia tidak pernah tahu pasti siapa yang tulus mencintai dirinya dan siapa yang hanya ingin mengeruk keuntungan darinya. Lebih mudah baginya untuk mempercayai dan menerima Abigail yang terus memuja-muja dirinya – menjilat kalo boleh dibilang – ketimbang Sarah yang menyuruh-nyuruh dirinya.

Sang Ratu ultimately dihadapkan pada pilihan antara orang yang bersikap manis dengannya dan orang yang ketus. Abigail memanfaatkan kelemahan Anne, sedangkan Sarah berusaha mengeluarkan Anne dari kelemahan tersebut. Dan pada akhirnya memang Abigail yang menang. Namun film menembak kita dengan pertanyaan, apa yang ia menangkan? Apa yang ia dapatkan sebagai anak emas si Ratu kalo kenyataannya hati Abigail semakin tidak tenang. Abigail malahan hanya jadi sasaran kegelisahan sang ratu yang dibuat oleh film ini menyadari bahwa dirinya baru saja mencampakkan satu-satunya orang yang beneran peduli kepada dirinya, yang menganggap dirinya manusia alih-alih tukang ngasih makan.

apa bedanya Abigail sama kelinci-kelinci itu?

 

Menjadi yang teratas tidak serta merta membuat kita bahagia. Malahan ratu dalam cerita ini justru adalah yang paling nelangsa di antara semua. Di balik nada komedi yang membuat kita tertarik mengikuti ceritanya, film ini menunjukkan bahayanya dinamika kuasa yang bisa terjadi antara si kaya/si kuat dengan si miskin/si lemah dalam sistem kekuasaan tertutup seperti begini. Sebab yang atas akan melampiaskan ke yang bawah, dan begitu seterusnya melingkupi semua lapisan.

 

 

Berusaha menyentil masalah kontemporer lewat gambaran sejarah yang dengan nekatnya melanggar banyak aturan sebuah film period piece. Film ini menilik dinamika antara kelas, cinta, dan politik – membalutnya dalam busana komedi, sehingga menjadi tontonan yang enggak malu-maluin dan enggak malu menunjukkan apa yang bisa terjadi – dan mungkin sedang terjadi di sekitar kita. Semua penampilan di sini luar biasa, kita sudah melihat pencapaian film ini pada musim award yang lalu. Film ini memberanikan kita untuk mempertimbangkan pilihan, untuk tidak memilih yang termudah, dan mengingatkan kadang memang selalu ada udang di balik batu.
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold star for THE FAVOURITE.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Apakah menurut kalian menjadi raja/ratu itu asik? Apakah cinta itu ada batasnya? Pernahkah kalian merasa lebih aman dan sejahtera bagi diri kalian untuk berbohong ketimbang mengatakan yang sebenarnya?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

DILAN 1991 Review

“It’s hard to resist a bad boy who’s a good man”

 

 

Dilanjutkan langsung dari timeline pada film pertama yang tayang satu tahun lalu, film Dilan 1991 sukses – sukses dalam membuatku merasa seperti peramal. Ya, peramal kayak Dilan. Tetapi Dilan sepertinya ogah disamain sama aku, maka di film kedua ini dia berubah menjadi tukang hipnotis. But still, aku yang bukan peramal merasa seperti peramal. Lantaran yang kutuliskan sebagai saran-saran pada apa yang kumaknai sebagai kekurangan pada Dilan 1990; Milea yang sebagai tokoh utama enggak benar-benar melakukan apa-apa, konflik yang begitu sederhana sehingga nyaris ada, kenapa kita merasa tidak melihat Dilan dalam ‘cahaya’ yang benar – apa yang kutuliskan sebagai cara untuk ‘memperbaiki’ film tersebut, dilakukan oleh film ini.

Dilan 1991 terasa lebih punya ‘sesuatu’ untuk kita tonton. Konfliknya lebih terasa, meskipun memang semua itu semestinya sudah ada tapi tidak digali pada film pertama. Milea sendiri akhirnya banyak beraksi, kita bisa merasakan karakternya seperti apa di sini. Cewek ini tidak lagi terasa seperti kertas putih yang menunggu untuk ditulisi oleh karakter lain, karena sekarang kita bisa melihat jelas inginnya apa, pilihan dan tindakan apa yang ia ambil kita paham kenapa diambil olehnya. Walaupun, ya memang, tidak ada perubahan antara Milea di sini dengan di film sebelumnya. Hanya ‘kelihatan’ saja. Dalam film pertama kita melihat secercah kecil keinginan Milea sehubungan dengan Dilan; apa yang menjadi konflik pada dirinya. Dalam review pertama itu aku menuliskan sebenarnya adegan Milea membersihkan kamar Dilan tanpa izin merefleksikan keinginan Milea untuk ‘memperbaiki’ Dilan, namun film tersebut mangkir dari pembahasan itu. Kita baru mendapatkannya di Dilan 1991 ini.

Milea adalah gadis baik-baik yang jatuh cinta sama cowok anak geng motor. Mereka berdua akhirnya jadian, sepertinya tidak ada yang bisa memisahkan hubungan mereka, dan mulailah drama relationship itu. Milea ingin Dilan berhenti dari hobi berantem antar geng, dia tidak mau Dilan terlibat masalah lagi. Dan bentuk-bentuk tindakan Milea membawa Dilan ke jalan yang lurus inilah yang menyebabkan konflik dalam hubungan asmara mereka yang baru seumuran biji jagung. Babak kedua adalah bagian terbaik yang dimiliki oleh film ini. Karena kita benar-benar melihat naiknya intensitas tindakan yang dilakukan oleh Milea. Dia ngambek, ngancem putus, berusaha kenal Dilan lebih dekat lewat keluarga cowok tersebut. Mungkin memang terlihat silly, atau mungkin sepele, but that’s pretty much an ordinary school girl can do. Film bekerja dengan benar dalam lingkup dunianya.

reference/easter egg menyenangkan yang kutemukan kali ini; Milea baca majalah Gadis jadul! You know, Vanesha kan alumni Gadis Sampul

 

Film ini paham betul pentingnya membuat cerita yang bisa gampang beresonansi kepada anak-anak muda, atau bahkan ibu-ibu; romantisasi yang dilakukannya gencar sekali. Bukan hanya dari gombalan yang dilontarkan Dilan, bukan sebatas dialog yang bikin geli, melainkan juga dari gestur-gestur kecil. Seperti gestur tangan sebagai pengganti ciuman; menurutku hal tersebut efektif dan well-done sekali. Babak pertamanya mungkin bakal terasa sedikit giung, terutama oleh penonton-penonton cowok yang ‘dipaksa’ nonton ama pacar atau sengaja nonton biar dapat pacar. Karena memang struktur ceritanya agak aneh. Di awal-awal itu kita bahkan gak yakin inciting incident-nya apa, benturannya apa. Semua yang terjadi di film adalah sudut pandang dari seorang cewek sehingga masuk akal ketika momen-momen manis jatohnya jadi kayak dengerin gadis cilik main rumah-rumahan ama boneka. Itulah yang harus kita endure di babak awal.

Kepentingan film ini datang dari relasi antara Milea dengan Dilan itu sendiri, namun bukan dari gombal-gombalannya.

Cerita Milea pada Dilan 1991 menunjukkan ‘ngerinya’ seorang cewek polos yang jatuh cinta. Lumrahnya selalu cewek baik merasa tertarik kepada bad-boy, karena mereka ingin memperbaiki si badboy. Memang banyak kisah cinta manis datang dari tema seperti begini. Tapi yang dialami oleh Milea jadi mengerikan, rasa ingin memperbaiki orang yang dialami oleh gadis-gadis di luar sana jadi berbahaya, tatkala mereka jadi merasa bertanggungjawab atas perbuatan atau perilaku yang dilakukan oleh si badboy. Manis segimanapun, bukan hubungan yang sehat untuk Milea. Karena dia tanpa sadar menciptakan kekangan emosional pada dirinya, dan terutama kepada Dilan.

 

Bukan tanpa alasan aku mengatakan film ini sebenarnya bercerita tentang bagaimana cewek lebih tertarik pada cowok gak bener. Mari kita lihat cowok-cowok di sekitar Milea. Kang Adi, guru les privat yang naksir padanya, tokoh ini manipulatif dengan gampangnya dia menukar saran ketika Milea pura-pura kesal kepada Dilan – bagaimana dia berusaha ikut campur lewat keluarga Milea hanya untuk mendapatkan Milea. Terus ada si Guru Bahasa Indonesia yang sok kecakepan, ngirim-ngirimin Milea puisi (selain alasan ini, aku benar-benar gak ngerti kenapa elemen guru naksir murid SMA ini musti ada di cerita). Lalu ada Yugo, sepupu jauh Milea yang kurang ajar itu clearly seorang psikopat, I mean dia pakek sweater turtleneck kayak Ted Bundy, senyumnya pun mirip senyum Ted Bundy. Tiga cowok tersebut masing-masing melambangkan machiavellianism, narcissism, dan psychopathy. Tiga traits yang membentuk personalitas yang dinamakan Dark Triad. Sisi gelap pada manusia. Dan coba tebak? Dilan punya ketiga sifat tersebut; dia sering bohong tentang kegiatan geng motornya, dia suka gombal seolah dirinya yang paling cinta sama Milea, dan dia gak segan-segan berbuat kasar kepada orang lain. Dan ya, Milea jauh lebih tertarik kepada Dilan dibandingkan ketiga cowok tersebut. Tapi Dilan bisa saja seorang bad boy tapi Milea melihatnya sebagai cowok jantan. Milea melihat secercah sisi terang Dilan yang disinari kepadanya, and she wants more, yang membuatnya di mata Dilan tampak seperti mengekang.

Dalam menangani relasi berbahaya tersebut, film menurutku mengambil arahan yang benar. Film berulang-ulang menyebut ‘jadian’, ‘menikah’, gak mau kehilangan Dilan, dan fakta bahwa pertanyaan pada utama yang berusaha dipancing naskah adalah apakah Milea bakal terpisah dari Dilan mewanti-wanti kita bahwa semua hal tersebut adalah pembangunan yang dilandaskan sehingga perpisahan mereka akan terasa emosional. Buat yang pengalaman menonton, yang jeli melihat naskah, jelas cerita ini akan berakhir dengan kedua tokoh berpisah karena hanya dengan itulah pembelajaran yang melandasi journey tokohnya dapat tercapai.

Karena terkadang kita harus menerima bahwa kita tidak bisa mengubah orang secara total. Lebih sehat bagi Milea untuk melepaskan semua tangisnya dan pada akhirnya melepaskan Dilan.

 

Membuat pasangan yang memenangkan Couple of the Year My Dirt Sheet Awards 8Mile awal tahun ini berpisah adalah hal yang benar. Dalam review Dilan 1990 aku menyebut film tersebut barulah akan terasa punya arti jika kita melihat seperti apa Milea dewasa; antara dia bersama Dilan, atau mungkin tidak bersama – bahkan tidak bersamanya pun masih bisa berarti banyak; Dilan meninggal atau apa. Konklusi tersebut kita dapat di film ini, kita akhirnya tahu kenapa Milea menceritakan kisahnya kepada kita, namun keputusan akhirnyalah yang membuatku sedikit heran. Mungkin memang film ingin gali drama sebesar-besarnya, tapi menurutku pilihan akhir cerita tersebut adalah pilihan yang ‘berani’. Selalu bagus ada film yang berani, namun tidak senantiasa terasa selalu benar. Ini bukan cerita kemenangan dalam kegagalan yang biasa aku sukai. Milea gagal, akan tetapi dia juga tidak menang. Lantaran di akhir cerita dia masih belum bisa melihat apa yang dia butuhkan. Film melakukan lompatan waktu di babak ketiga (actually walaupun judulnya berangka 1991, hanya tiga puluh menit terakhir yang berlatar di waktu tersebut) di mana tidak ada perubahan pada Milea. Film ditutup dengan kegagalan mencapai yang diinginkan serta Milea juga tidak berhasil melihat apa yang sebenarnya ia butuhkan. It’s really a bold choice to end a story like this. Kenapa film membuat Milea dan Dilan seperti tidak bahagia dengan keadaan mereka sekarang. Milea tidak mendapat kemenangan apapun dari cerita ini.

mungkin ceritanya dibuat seperti itu sebagai ‘pukulan’ telak dari si jagoan berantem lantaran Dilan gak bakal pernah literally mukulin cewek

 

Dan juga, membuat babak akhir tersebut benar-benar seperti diseret-seret. Sama seperti pada film pertama, cerita seperti sudah usai namun film tak kunjung berakhir. Masih ada aja adegan yang tidak mengubah apa-apa. Dalam kasus film kedua ini, aku bisa membayangkan penonton yang mengharapkan Milea dan Dilan bersatu terus tertarik ulur perasaannya, diphp-in sama adegan yang seolah happy ending. Keseluruhan bangunan cerita film ini menurutku masih bisa dibuat lebih rapi lagi, dengan lebih menguatkan lagi konflik dan apa yang harus dilalui Milea. Tapi memang, buatku beginilah seharusnya film Dilan yang kita saksikan dahulu. Menurutku jika film ini digabung dengan film pertama yang bland dan nyaris tak ada kejadian yang terjadi, maka akan menghasilkan cerita yang lebih padat dan film yang menarik. Karena pemisahan kedua film ini tampak aneh, baik dari segi timeline (banyak lompatan waktu yang seolah narasinya benar-benar harus sesuai waktu di buku) dan juga dari segi karakter. Mereka bisa bikin satu film yang benar-benar bagus dari dua film ini.

 

 

Kita harus menunggu satu tahun, satu film lagi, untuk mendapat penceritaan tentang Milea dan Dilan yang dilakukan dengan lebih baik. Menurutku, film ini lebih terasa seperti rewrite dari cerita sebelumnya ketimbang sebuah sekuel. Karena sebenarnya semua poin alurnya sama. Bedanya cuma di film pertama, film dan aksinya tak tampak. Sedangkan pada film ini, semuanya lebih jelas. Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescilla mendapat kesempatan range yang lebih banyak; Iqbaal actually ditantang untuk lebih jauh bermain emosi yang subdue, lewat ekspresi, Vanesha juga dikasih banyak adegan nangis – yang mana adalah bagian terlemah dari aktingnya. Ceritanya memang lebih emosional. Selebihnya tidak banyak perubahan, karena film masih memilih untuk berada di taraf yang gak benar-benar kompleks.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold star for DILAN 1991.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Benarkah cewek lebih tertarik pada bad-boy? Apakah cowok baik memang kurang menarik?

Dan bagaimana menurut kalian tentang Hari Dilan? Apakah praktek menguasai bioskop bisa termasuk ke dalam bentuk penjajahan terhadap konsumen?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

 

 

FOXTROT SIX Review

“Why don’t presidents fight the war?”

 

 

 

Lirik lagu band System of a Down tersebut mungkin bakal terngiang-ngiang di kepala kita saat menyaksikan film laga distopia Indonesia garapan Randy Korompis. Foxtrot Six pada performa terbaiknya memuat komentar politik tentang bagaimana dalam setiap kekacauan, selalu rakyat jelata yang menjadi korban. Film ini bicara tentang kelaparan dalam rentang mulai dari lapar makanan beneran hingga lapar kekuasaan di mana pemimpin terus saja menyuapi rakyat dengan kebohongan alih-alih makanan. Ada satu adegan menjelang akhir yang membuatku tertawa sinis ketika setelah bak-bik-buk dan gencatan senjata di ruang presiden, salah satu pintu ruangan tersebut terbuka dan masuklah sang pemimpin negara dengan biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa beberapa detik sebelumnya. Tak-terluka. Tak-bernoda. Tak tesentuh oleh semua padahal rakyat menderita atas namanya.

Kenapa bukan presiden yang ikut berperang? Bukankah pada cerita-cerita jaman dahulu para raja langsung turun dengan kudanya ke medan tempur? Karena bukan begitu cara kerja dunia sekarang. Presiden tidak ikut berperang karena bukan tugasnya, presiden harusnya adalah orang yang mencegah terjadinya perang sedari awal. Dia yang memastikan keamanan rakyat, kestabilan nasional bisa tercapai melalui perjuangannya di balik meja.

 

Presiden Indonesia tahun 2031 dalam Foxtrot Six toh memang berusaha untuk menstabilkan keadaan. Namun demi keuntungan dirinya sendiri. Dia ingin terlihat sebagai pahlawan sejati di mata rakyat. Aku mengira film akan mengembangkan motivasi tokoh ini lebih lanjut, kupikir tujuan besar si presiden adalah ingin menguasai dunia, sebab di sepuluh-menit awal kita diperlihatkan serangkaian klip-klip yang berfungsi sebagai eksposisi yang menjelaskan keadaan Indonesia saat itu di mata seluruh dunia. Gimana Indonesia jadi pusat pangan, tetapi rakyatnya menderita kelaparan sehingga tindakan kepala negara tak pelak akan jadi sorotan. Tapi ternyata cerita menguncup tatkala kita mulai memasuki wilayah tokoh protagonis; Angga, anggota Dewan yang seorang mantan tentara. Angga tadinya punya rencana untuk ‘menyelamatkan’ dunia. Kemudian rencananya tersebut disabotase, diambil alih. Dan malah Angga yang dituduhkan sebagai teroris, rencana yang ia bikin malah berbalik menyerang dirinya.

sekarang coba pikir cerita manga apa yang seperti itu, aku hitung sampai enam ya.. satu…dua…

 

Aku benar-benar langsung kepikiran manga 20th Century Boys buatan Naoki Urasawa saat menonton film ini. Kejadiannya memang gak mirip seratus persen, tapi bentukan konflik Angga dengan Presiden sangat mirip apa yang terjadi pada Kenji dan sosok pemimpin yang ia ‘lawan’; Sahabat. Rencana kanak-kanak Kenji juga dicuri oleh Sahabat, yang balik menggunakannya untuk menimpakan kesalahan pada Kenji dan kelompok. Mereka dituduh teroris dan Sahabat akan dielu-elukan rakyat dengan membasmi teroris yang ia sebut Faksi Kenji. Persis seperti apa yang terjadi pada Angga. Angga dan teman-teman mantan tentaranya diburu oleh pasukan Presiden, lantaran mereka dituduhkan sebagai teroris yang udah membuat kekacauan nasional. Hanya saja film ini bekerja dalam skala yang lebih simpel. Padahal seperti yang kubilang tadi, cukup aneh presiden hanya ingin berkuasa di negara yang kacau – maksudku, kalo memang udah mirip ya miripin aja semua sekalian. Angga pun, sebagai tokoh utama, mendapat pengembangan yang nanggung. Kita diperlihatkan bagaimana cerita menjadi personal buatnya karena ini menyangkut keluarga dan teman-temannya – seperti Kenji, hanya saja film melewatkan banyak hal penting.

Bibit drama yang mestinya berkembang dari persahabatan Angga dan rekan-rekan seketika menjadi tumpul lantaran pilihan aneh yang dilakukan oleh cerita; menge-skip bagian di mana mereka menjadi sahabat, malah langsung membawa kita ke sekuen Angga berusaha mengajak kembali satu-persatu dari mereka untuk bergabung menumpas rencana jahat negara. Tak pernah kita lihat mereka di momen-momen akrab sehingga apa yang terjadi pada masing-masing mereka sepanjang cerita akan susah untuk kita pedulikan. kasihan sih ada melihat seorang vlogger yang berusaha berbuat benar musti mati ketusuk – selalu sedih melihat orang mati – tapi sedih itu tidak sama dengan kita peduli sama karakternya. Keenam pasukan protagonis ini terlihat canggung, dan itu bukan semata karena pemerannya. Aktor-aktor kayak Oka Antara, Rio Dewanto, Verdi Solaiman, Chicco Jericho, Mike Lewis, Arifin Putra – mereka bukan aktor yang buruk, kita sudah pernah melihat mereka bermain menakjubkan di film-film sebelum ini. Hanya saja kedangkalan tokoh di Foxtrot Six membuat bahkan sekelas mereka saja tampak bingung dan enggak nyaman dalam berakting. Meskipun diberikan sifat yang berbeda, semua tokoh film ini terdengar sama. Sama-sama sarkas. Suka ngomong keras-keras. Suka tampak sok-jago. Sama-sama stoic, lifeless.

Hubungan Angga dengan anaknya – ya seperti Kenji yang punya Kanna untuk dijaga – juga tak pernah berbuah manis dan menghangatkan hati. Film sempat mengambil waktu untuk menghadirkan momen khusus untuk kedua tokoh ini, hanya saja follow-upnya tidak terasa sama sekali. Ada adegan di mana Angga harus memilih menyelamatkan anak atau Julie Estelle yang mestinya bisa banget dibuat hangat dan mengharukan sebagai kerjasama keluarga yang sudah lama terpisah. Tapi film tidak menggali adegan ini; dipersembahkan dengan datar. Angga bahkan tidak berinteraksi dengan anak tersebut sampai ke adegan konyol di dalam elevator.

Telunjuk kita mungkin akan dengan cepat menuding kepada bahasa saat kita membicarakan tentang betapa kikuknya film ini terdengar. Aku sebenarnya tak pernah melarang keputusan-kreatif menyangkut penggunaan bahasa – kalian tahu sendiri bahasa blog ini seperti apa. Yang aku pertanyakan adalah keuntungan apa yang ingin dicari dalam membebankan para aktor untuk berakting seluruhnya dalam bahasa inggris? Pikirkan seperti begini, Crazy Rich Asians (2018) sedapat mungkin menyisipkan kata bahasa Melayu dalam dialognya supaya daya tariknya tersebut langsung menonjol dan dapat dikenali oleh orang luar. Bahkan Buffalo Boys (2018) dengan sengaja menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dialog yang tadinya ditulis dengan mindset orang luar. Menggunakan bahasa inggris seluruhnya pada cerita yang bertempat di Indonesia, dengan semua aktor adalah orang Indonesia, pada film yang ditayangkan di Indonesia – apa yang mau mereka ‘jual’ dari hal tersebut? Menurutku pilihan ini tidak akan membantu banyak film ini dikenali di luar negeri. Karena tidak lagi dirinya tampak dan terdengar unik. Kalolah memang supaya terdengar akrab buat penonton luar, jangan paksakan kepada para aktor. Maksudku, anime saja dibuat dahulu versi bahasa aslinya. Kemudian saat dijual di negeri barat, dibuat dubbing resmi oleh pengisi suara yang bahasa ibunya adalah bahasa inggris. Kenapa Foxtrot Six tidak dibuat seperti demikian – kenapa tidak dibuat bener-bener supaya orang luar tertarik membuat versi dub oleh sebab melihat nuansa Indonesia yang ditampilkan. Kenapa bergerak mendahului mimpi, belum ada yang minta bahasa inggris tapi sudah dibuat untuk orang luar duluan.

mari kita berkontemplasi sambil bertelanjang dada ngeliatin papan iklan sponsor

 

Tren sinema Indonesia kepada dunia luar memang sepertinya tersemat kepada genre horor dan laga. Namun begitu, bahkan laga di film ini pun tidak memiliki jurus yang ampuh sehingga terlihat spesial. Generik banget koreografi maupun kerja kameranya. Menjadi penuh kekerasan dengan darah dan tulang belulang yang patah belum cukup untuk menyebut film ini sebuah laga yang bagus. Karena dengan duit dan CGI yang memadai, semua itu bisa tercapai. Yang terpenting tetap adalah bagaimana dunia dan ceritanya terbangun. Foxtrot Six punya teknologi yang cukup untuk menghadirkan jubah tembus-pandang ala thermoptic suit dalam Ghost in the Shell (2017) tapi tetap saja mereka ‘berhasi’ bikin adegan berlogika konyol yang bikin guling-guling sehubungan dengan jubah tersebut. Ada adegan ketika si tak-kelihatan berhadapan dengan sejumlah orang bersenjata api, dan yang ia lakukan malah ‘mengumumkan’ di mana posisi dirinya dengan mengambil tubuh satu orang dan menggerakkannya seperti perisai untuk melindungi diri dari peluru. Kenapa? Tidakkah lebih gampang kalo dia tetap tak kelihatan dan mengendap membunuh ala ninja? Lagian, kenapa orang-orang itu begitu begonya non-stop menembak padahal yang kelihatan adalah teman mereka sendiri?

 

 

 

“Quick. Simple. Graphic.” Benar-benar cocok mendeskripsikan dirinya. Dan tampaknya kitalah orang miskin yang disebut oleh film ini, yang mengira kita akan mudah terpuaskan oleh tiga hal tersebut, oleh dirinya. Kalo aku sih lapar terhadap film yang lebih berdaging. Dengan semua dialog dibawakan dalam bahasa asing dan adegan yang penuh CGI, akan jarang sekali kita menemukan hal yang tampak asli dalam film ini. Ambisi untuk menjadi spesial tersebut tak berbuah karena pada akhirnya film ini tampak seperti laga kelas-B Hollywood dengan aktor-aktor dari Indonesia. Dunia distopianya tampak seperti dunia The Purge, ceritanya kayak versi ringkasan simpel dari 20th Century Boys, dengan ending pengen dramatis seperti Glass (2019), tidak ada lagi yang spesial dipunya oleh film ini.
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold star for FOXTROT SIX.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Menurut kalian apakah salah jika presiden lebih memilih untuk berbohong demi menenangkan suasana di mata rakyat? Apakah pemimpin negara seharusnya langsung turun tangan memimpin perang alih-alih berdiplomasi untuk menghentikan perang?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

[Readers’ NeatPick] – HIJAB (2015) Review

“Jenaka tanpa perlu menggurui. Hijab adalah bukti film mampu melucu tanpa harus menghadirkan sketsa ala komika yang belakangan ini sering menghiasi film komedi Indonesia saat ini.”Raja Lubis, Komandan Komunitas Forum Film Bandung – Pengamat Film, FTV dan Serial Televisi Indonesia.

 

 

Setiap orang tentu punya film favorit sendiri, film yang ketika ditonton pengen disebarin ke orang lain. Namun, favorit enggak mesti karena filmnya bagus loh, bisa jadi kita suka karena filmnya lucu, atau mungkin geli. Yang jelas, selama bikin blog ini aku sering dapet rekues review; mulai dari yang nyaranin film yang bagus, yang pusing, hingga yang konyol. Dan percayalah, biasanya aku langsung nyari dan nontonin film yang direkues, cuma ya memang tak sempat kutuliskan reviewnya. Kalo ada waktu ketemu temen-temen sih enak, kami bisa langsung obrolin bareng film yang ia rekues. Kalo sama temen-temen di dunia maya, gimana? Maka lantas aku kepikiran untuk bikin segmen khusus review bareng. Dinamakan [Readers’ NeatPick] karena segmen ini terbuka untuk setiap pembaca My Dirt Sheet mengajukan usulan film, dan akan kuhubungi langsung untuk mereview film tersebut bersama-sama.

Di edisi perdana ini, aku menerima usulan Raja Lubis untuk menonton film Hijab, komedi besutan sutradara Hanung Bramantyo yang dibuat dengan gaya unik, ala-ala dokumenter, yang menilik kisah sukses empat cewek mendirikan bisnis hijab. Kita akan mendengar cerita persahabatan mereka, gimana mereka memulai bisnis lantaran pengen punya ‘sesuatu’ di luar nafkah dari pasangan masing-masing, dan eventually apa yang membuat mereka mengenakan hijab.

“Film Hijab penting karena bisa dijadikan pembelajaran dari banyak aspek.”

“Jadi komedi bisa, jadi religi bisa juga ya, Mas.”

“Justru Hijab ini bisa dikatakan salah satu standar film religi yang dituturkan jenaka. Dan saya memang selalu suka pada film komedi yang punya daya untuk melakukan kritik atas isu sosial budaya yang terjadi di lingkungan sekitar. Hijab melakukannya dengan sangat baik.”

“Dan sepertinya ini memang ranahnya Hanung, kan. Dia selalu bisa menemukan cara untuk menyelipkan komentar-komentar di balik hal dan fenomena hits (saat itu).”

“Hahaha kontroversi gitu ya maksudnya? Kontroversi itu datangnya bukan dari filmnya melainkan dari sudut pandang orang yang menilainya. Terlepas dari itu, sebagai sebuah karya saya kira Hijab hanya memotret, mengkritisi fenomena sekitar dengan gayanya sendiri. Namun jika ada yang mempermasalahkan film ini dengan sudut pandangnya juga, itu pun hak mereka.”

“Gaya ala dokumenter – yang bukan dari tokoh real – ini menurutku tepat digunakan oleh Hanung, karena dia ingin memperlihatkan banyak sudut tentang hijab. Meskipun tema yang berulang di sini jelas adalah favoritnya Hanung; isu kesetaraan. Selalu soal kesetaraan. Dia, seperti yang mas bilang, memotret sehingga filmnya terasa relevan.”

“Hijab memotret dan menunjukkan tentang peran suami-istri yang berbeda-beda. Apa yang ditunjukkan oleh Hijab bukan hanya masalah relevan atau tidak relevan dengan masa kini. Tapi lebih ke menunjukkan bagaimana suami istri bekerja sama dalam berumah tangga. Dan prinsip itu akan terus berjalan sampai dunia ini berhenti berputar”

“Dinamika suami-istri di film ini mulai bergeser ketika istri merasa bosan gak ngapa-ngapain. Mereka pengen berkarya sendiri. Dan akhirnya malah jadi lebih sukses daripada suami. Film ingin membuka mata kita melihat apa sih masalah yang bisa timbul dari istri yang bekerja. Buatku film ini cukup materialistis, sih. Uang di cerita ini berperan penting; ia yang memulai dan jadi middle-ground. Suami-suami di film ini enggan ngasih izin para istri bekerja lantaran mereka punya ego. Intensitas cerita naik saat para istri ketahuan bekerja, namun jadi adem lagi begitu usaha mereka itu sukses. Aku pengen melihat apa yang terjadi kalo usaha hijab itu gagal, menurutku pembelajarannya bisa lebih besar lagi jika uang dikeluarkan dari ekuasi – seperti apa dinamikanya nanti.”

“Uang memang penting banget! Nggak ada uang hidup bakal nggak jalan. Film ini nyata seperti demikian. Makanya para istri berbisnis hijab agar bisa leluasa menggunakan uang untuk keperluan pribadinya. Dibawa ke saya sendiri; Saya mempersilakan istri bekerja selama tidak mengganggu dan menyalahi kodratnya sebagai perempuan. Di zaman sekarang ini banyak profesi yang bisa dilakukan seorang istri tanpa harus keluar rumah. Tapi intinya saya memberikan kebebasan kepada istri untuk berekspresi, tentu dengan izin suaminya.”

“Hmm.. ya.. ya, aku juga kalo udah nikah kayaknya bakal bolehin istri kerja tetapi tidak saat anak masih kecil banget, aku gak bisa soalnya ngurus anak ahahaha.. Film ini juga seperti menunjukkan izin suami masih berperan besar ya. Menurutku menarik gimana dengan segala pesan kesetaraan itu, poster film malah menampilkan keempat tokoh kita sebagai boneka marionet yang dikendalikan tangan. Buatku ini low-key ngasih liat bahwa masih ada yang mengatur mereka – entah itu aturan; suami atau agama atau sosial, atau malah duit itu sendiri”

“Saya hanya melihat poster itu sebagai bentuk karikatural yang menandakan bahwa Hijab adalah film komedi. Lebih lanjutnya saya enggan berkomentar.”

“Memang sih, yang aku gak nyangka adalah betapa ringannya ternyata Hanung mengemas. Enggak sampai ke level receh, film ini punya nyali dan tidak meninggalkan rasa hormat sama sekali terhadap yang ia bicarakan, tapi memang film Hijab ini terasa beda dengan film-film Hanung lain yang lebih ‘serius’.”

“Adegan yang paling bikin ngakak banyak sih ya, secara delapan aktor utamanya bermain bagus semua. Tapi kalau yang paling saya ingat sih adegan Dijah Yellow, meski sedikit perannya tapi memorable. Kalo dari tokoh utama, saya suka sama karakter Anin (Natasha Rizky), karena dia adalah karakter yang paling banyak mengalami perubahan sekaligus juga bisa dikatakan menjadi inti cerita filmnya.”

“Anin udah kayak tokoh penentu di film ini. Aku suka gimana Anin dibuat kontras di film ini; dia satu-satunya yang gak berhijab, dia satu-satunya yang belum menikah. Dan dia belajar dari keadaan di sekelilingnya, dia menemukan sesuatu, seperti wakil dari penonton untuk menangkap apa yang sedang diceritakan. Anin mengalami transformasi. Benar-benar berbeda dari tiga tokoh lainnya, kita diperlihatkan proses dirinya mengenal hijab – baginya bukan sebagai pelarian, atau keharusan, tapi sebagai pilihan. Dan di sinilah istimewanya film, dia memberikan ruang bagi hijab untuk dilihat dari banyak segi. Bukan sebatas busana muslimah.”

“Menurut saya Hanung juga memotret Hijab dari sisi budaya. Kan memang sekarang Hijab itu seperti sudah menjadi tren di kalangan wanita Indonesia. Bahkan ada satu dialog juga yang memperkuat fenomena ini. Yakni dialog yang bilang bahwa Hijab menggantikan konde yang biasa dipakai di zaman order baru.”

“Jadi tidak semata hijab adalah simbol kungkungan atau peraturan kan ya. Karena perkembangan dunia, sudut pandang kita pun juga mesti berkembang.”

“Benar. Sejauh yang saya tahu dan saya imani, hijab adalah kewajiban bagi setiap wanita muslim yang ketentuannya sudah diatur dalam Islam. Adapun ketika Hijab menjadi fashion, itu sebuah pergeseran budaya. Namun dengan berubahnya hijab menjadi tren hijab ini jadinya banyak hijab yang diproduksi kurang memperhatikan ketentuan yang sudah mengaturnya.”

“Benar, dari film ini kita juga bisa lihat ada garis pembeda antara hijab sebagai fashion dan sebagai budaya. Adalah pilihan nurani masing-masing, mau memparalelkannya atau tidak. Meski kalo aku sih, aku gayakin juga kalo misalnya aku ini cewek aku bakal makai hijab dari dulu atau enggak hahaha.. mungkin aku kayak Anin atau malah kayak Tata hhihi”

“Waaah itu andai-andai yang sulit dibayangkan karena nggak akan pernah terjadi, kecuali atas izin Allah.”

“Hahaha benar juga. Jadi kalo mau diangkain, dari skala satu sampai sepuluh, Mas Raja ngasih skor berapa nih buat Hijab?”

“Saya berikan 8.5/10. Hijab digunakan judul dan inti utama film ini sebagai bisnis, sekaligus menyindir banyak hal lain. Sebagai jalan bagaimana Hanung melalukan kritik pada aspek kehidupan sosial budaya yang nggak semata-mata soal Hijab. Misal soal karir dan pekerjaan dan peran suami istri dalam rumah tangga.”

“Dalem dan menggelitik ya. Kalo aku ngasih 7/10 karena buatku memang filmnya terasa sedikit ‘main aman’, gaya bercerita yang dipilih bikin berbeda, kreatif, tapi jadi sedikit ‘menyimpan’ tokoh utama atau tokoh sebenarnya yang jadi poin vokal cerita.”

 

 

 

That’s all we have for now.
Terima kasih buat Raja Lubis untuk edisi perdana segmen ini. 

Bagaimana menurut kalian tentang film Hijab? Apa kalian setuju dengan yang disampaikan oleh film ini?

Buat yang punya film yang benar-benar ingin dibicarakan, silahkan sampaikan saja di komen, usulan film yang menarik nanti akan aku hubungi untuk segmen Readers’ NeatPick selanjutnyaa~

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

 

INSTANT FAMILY Review

“There’s nothing temporary about the love or the lesson.”

 

 

Gampang untuk tidak menyakiti orang lain, atau merasa kasihan melihat kondisi orang lain, karena kita membayangkan jika itu terjadi kepada anggota keluarga sendiri. Kita cukup dengan menjauhkan diri dari masalah orang, enggak ikut campur, hanya membantu jika diminta. Dibutuhkan usaha yang lebih keras, lebih susah, untuk secara nyata menyayangi dan peduli sama orang lain. Menganggap mereka seperti anak sendiri. Tidak sembarang yang bisa, yang rela, mengurus anak orang. Tahukah kalian penelitian menyebutkan seorang ibu akan menganggap pup anak kandungnya enggak sebau dan semenjijikkan pup anak orang lain. Bayangkan ada seorang ibu yang punya cinta begitu besar sehingga mau mengurusi pup yang bukan dari pantat anaknya.

Adopsi jelas bukan perkara sepele. Lewat Instant Family, sutradara Sean Anders membagi cerita dan pengalaman suka-duka yang ia alami ketika dirinya memutuskan mengadopsi anak. Dan Anders cukup bijak untuk mengajak kita tertawa bersamanya karena film ini diceritakan dengan begitu ringan dan lucu. Kita akan melihat langkah-langkah yang harus dilalui oleh pasangan yang berniat menjadi orangtua asuh, dimulai dari konseling, masa percobaan, bagaimana mereka memilih anak (film bilang “udah kayak belanja!”), fakta bahwa tidak banyak yang mau memilih anak remaja karena kita bisa bayangkan lebih merepotkan karena mereka sudah mulai memasuki usia ‘membandel’, dan tentu saja drama yang muncul ketika orangtua asuh sudah bertemu dan membawa anak asuhnya ke rumah. Anders, tak pelak, mengerti semua hal tersebut dan ia paham di mana harus menggali kelucuan. Meskipun lucu, bukan berarti film harus kehilangan hati.

berlawanan dengan judul; sebenarnya tak ada yang instan dalam membangun keluarga

 

Mark Wahlberg dan Rose Bryne memerankan sepasang suami istri yang memutuskan untuk mencoba membesarkan anak, tapi Mark menolak punya anak sendiri lantaran tokohnya, Pete, sudah berumur dan dia enggak mau dia udah tua banget saat anaknya remaja. Jadi dengan berkelakar dia semacam bilang kita curi start saja, adopsi anak yang sudah sekolah. Di balik kekonyolan, naskah berhasil membuat kedua tokoh ini – Pete dan istrinya Ellie – sebagai tokoh yang manusiawi; terkadang kita dapat melihat mereka pada awalnya tidak benar-benar serius pengen punya anak – mereka mengadopsi hanya untuk membuat diri mereka merasa lebih baik di mata sanak dan kerabat. Seperti ketika mereka tadinya cukup kaget tatkala mengetahui Lizzie, remaja hispanic yang menurut mereka ‘cocok’ ternyata punya dua adik dan itu berarti mereka harus menanggung tiga anak. Namun kita tidak pernah kehilangan simpati kepada mereka. Kita mengerti ketika mereka melakukan sesuatu untuk menyenangkan hati anak asuhnya, mereka benar-benar pengen membuat anak-anak tersebut senang. Bahwa mereka berusaha menjadi orangtua yang baik. Wahlberg dan Bryne benar-benar tampak meyakinkan; ketika mereka ragu kita juga ikut ragu, ketika mereka marah kita tahu mereka melakukannya sebagai pilihan yang menurut mereka terbaik.

Aku suka naskah memparalelkan ini dengan pekerjaan profesional yang mereka geluti. Pete dan Ellie mencari nafkah sebagai fixer upper; mereka membeli rumah yang sudah bobrok, memperbaikinya, untuk dijual kembali dengan keuntungan yang besar. Ini pada ujungnya memberikan konflik karena mereka terbiasa ‘membangun’ rumah, mempercantik untuk dihuni oleh orang lain. Betapa mengejutkan bagi mereka ketika menyadari bahwa dalam adopsi anak, tidak sama seperti yang mereka lakukan pada rumah. Karena anak berarti menyangkut ‘rumah tangga’. Ada perasaan yang terlibatkan. Plot pasangan tokoh utama kita ini adalah tentang mereka menyadari betapa desperate-nya mereka sebenarnya untuk jadi ayah dan ibu. Lihat betapa takjub dan nagihnya Pete dan Ellie ketika salah satu anak asuh tersebut memanggil mereka dengan “daddy” dan “mommy”. Film tidak mempermudah keadaan dengan membuat ketiga anak yang mereka asuh masih memiliki ibu kandung. Pertanyaan yang menggantung di plot poin kedua nyatanya berhasil membawa cerita ke dalam warna emosional; Apakah Pete dan Ellie bisa merelakan anak yang sudah mereka urus pulang kembali ke ibu kandung yang sudah keluar dari penjara. Apakah itu adil bagi mereka yang sudah meluangkan banyak. Tentu saja itu juga tergantung pada pilihan ketiga anak, namun jika mereka memilih Pete dan Ellie, apakah itu tidak sama saja dengan Pete dan Ellie merampas mereka dari ibu sah yang tentunya juga berjuang untuk anak-anak tersebut. Moral dilema dan drama yang bikin hati anget ini tak sekalipun terselip keluar dari cerita. It’s still there all along, terbungkus dengan rapi oleh pita-pita komedi. Sehingga film akan membuat kita tertawa dan menyeka mata sekaligus.

Jangan pernah meremehkan seberapa besar kau bisa mencintai seseorang dan bagaimana cinta tersebut mampu mengubah mereka. Kita mungkin hanya sementara di dalam hidup mereka. Mereka mungkin tak seberapa lama di hidup kita. Tapi tidak ada yang namanya numpang lewat dalam urusan cinta. Pun pelajaran dan waktu yang kita luangkan bersamanya akan terus terpatri selamanya.

 

Aku suka gimana film ini tidak menggali hubungan Pete dan Ellie dengan anak-anak asuhnya seperti cerita ‘strangers yang menjadi teman’ kebanyakan. Cerita tidak exactly dimulai dengan benci berubah menjadi cinta. Ketiga anak asuh tersebut enggak langsung melawan, enggak seketika distant dan gak respek. Kita melihat kedua belah pihak sama-sama seperti ‘mengetes air’ di awal-awal mereka satu rumah. Film mengambil waktu untuk mengembangkan reaksi mereka. Pete dan Ellie yang merasa bisa dengan gampang ‘memperbaiki’ anak-anak ini, dan the kids, aku suka film tidak membuat mereka menyusahkan bagi Pete dan Ellie. Film tetap membuat ini sebagai tugas Pete dan Ellie; bahwa mereka perlu memahami bagaimana cara yang tepat menunjukkan cinta kepada anak-anak, seperti keluarga normal.

Tokoh anak-anak juga tak kalah meyakinkannya. Isabela Moner menyuguhkan penampilan yang benar-benar kerasa sebagai Lizzie, tertua dari tiga bersaudara. Film memberikan kesempatan baginya untuk menjangkau banyak rentang emosi, dan Moner mengeksekusinya dengan baik. Remaja yang bermasalah, namun Lizzie tidak jatoh annoying dengan akting yang berlebihan. Tokoh ini bisa kita tarik perbandingan dengan Euis di Keluarga Cemara (2019), karena sama-sama paling dekat sebagai sosok antagonis bagi tokoh utama; Lizzie tampak lebih luwes karena rangenya lebih luas, sedangkan Euis sedikit tertahan. Yang lebih bandel sebenarnya Lizzie namun Euis tampak lebih ‘hard to deal with’, menurutku ini disebabkan oleh perbedaan eksplorasi karakter yang bisa jadi berhubungan dengan kemampuan akting pemainnya. Moner begitu natural, sehingga aku jadi penasaran pengen melihat seperti apa dia memainkan Dora later this year. Lain Lizzie, lain pula dengan dua adiknya; Juan dan Lita. Dua tokoh ini kocak banget sebagai karakter komedi. Yang satu tukang merengek, yang satu bego namun super-sensitif. Film membuat kita tertawa oleh tingkah mereka, meskipun aku kadang merasa jahat juga sih terbahak melihat Juan kesakitan karena ulahnya sendiri.

Boleh gak adopsi Moner jadi adek?

 

Dengan tone komedi dan drama yang ngeblend, kadang bikin kita ‘bingung’ juga seperti yang kita rasakan pada tokoh Juan. Is it okay to laugh at children getting hit? Apa sopan mentertawakan seorang wanita yang belum berhasil menemukan anak asuh? Atau menuduh sepasang suami istri yang wajahnya amat mirip sebagai saudara kandung? Film yang tak malu-malu menyinggung berbagai persoalan ini bergerak dengan cepat sehingga kita tertawa dan baru berpikir kemudian. Menakjubkan gimana satu montase bisa hadir dalam berbagai feeling seperti yang dilakukan oleh film ini. Dan betapa randomnya kemunculan cameo Joan Cusack di menjelang akhir itu seolah duo Octavia Spencer dan Tig Notaro belum cukup untuk menggelitik kita semua. Tapi menurutku memang itu semua bergantung kepada selera humor masing-masing penonton. I could laugh at some of it. Dan nyengir buat sebagian kecil yang lain.

Yang benar-benar kepikiran buatku adalah pilihan resolusinya. Di bagian-bagian awal Pete sempat meracau soal white-savior, gimana yang mereka lakukan bukanlah sekedar pencitraan orang kulit putih yang mau menyelamatkan anak-anak. Buatku penyelesaian film ini justru menguatkan aspek white-savior yang berusaha dihindari oleh Pete tersebut. Alih-alih memperlihatkan interaksi untuk mencapai kesepakatan bersama, kita mendapati jalan keluar yang berasal dari keadaan luar; dari seorang ibu yang masih belum keluar dari jerat narkotika. Film berusaha mengalihkan kita dari ras si ibu dengan membuat ada satu tokoh amerika yang juga terikat masalah yang sama; bahwa narkoba bukan stereotipe ras. Tapi tetap saja aspek ini membuat Pete dan Ellie menjadi tampak keluarga paling ‘sempurna’ di antara keluarga lain yang ditampilkan oleh film. Menurutku cerita seharusnya menggali ‘cacat’ dari dalam dengan lebih dalam lagi dari sekadar masalah pencitraan.

 

 

 

Prestasi terbaik yang dicapai oleh film ini adalah membuat kita sadar bahwa wajar saja jika semua keluarga itu ‘gila’. Justru semakin ‘gia’ maka semakin besar pula cinta di dalamnya. Dan yang namanya cinta tak melulu datang dari rantai DNA. Film ini membawa sudut pandang yang unik, dan mencoba untuk menceritakan sesuatu yang mengharukan dengan tawa. Sukses luar biasa. Makanya walaupun adopsi-adopsian enggak terlalu ngetren di sini, film ini tetap terasa relatable dan mampu menyentuh kita semua.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold star for INSTANT FAMILY

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Mengapa orang yang mengangkat anak asuh sering dikatakan sebagai pahlawan? Apakah makna orangtua bagi kalian?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

11:11 APA YANG KAU LIHAT? Review

..subconscious perception from your numbers is able to influence your life.

 

 

 

Dengan judul yang unik, seketika film ini menangkap perhatian kita. Kenapa angka? Di abad pertengahan, berkembang ilmu yang khusus meneliti hubungan antarangka-angka dengan kemungkinan makna di baliknya. Bahwa aspek positif dan negatif yang terkandung dalam setiap barisan angka. Meskipun kita mengulum senyum membacanya, praktek numerologi tak bisa disangkal masih sering diterapkan di dunia modern seperti sekarang. Orang ngadaian pesta di nikah pada tanggal-tanggal yang dinilai ‘cantik’. Bioskop dan pesawat yang enggak punya baris ke-13, atau gimana orang Jepang membangun apartemen dengan sengaja mengeskip lantai empat. Dan aku masih ingat, belum lama banget, berkembang tren ngepos angka kembar yang tak sengaja terlihat dan mengaitkannya dengan lambang abjad dari nama orang yang dipercaya saat itu lagi kangen ama yang melihat angka.

Film 11:11 garapan Andi Manoppo bukan film pertama yang menyinggung horor yang terkandung pada angka sebelas. Pernah ada film Hollywood, 11-11-11 (2011) yang mengkapitalisasi betapa angka sebelas kembar merupakan lambang terbukanya gerbang neraka. Dalam film Manoppo yang menceritakan empat anak muda pencinta diving, waktu sebelas lewat sebelas juga menandakan petaka yang bakal datang. Meskipun memang hanya sedikit sekali build-up mengenai kepentingan waktu tersebut; kita hanya melihat sebelum menyelam, seseorang dari mereka melihat angka tersebut pada jam tangan – dan nantinya keadaan menjadi buruk di dalam air sana. Namun ada satu mitos lagi, sesuatu yang mereka lakukan di dalam sana – yang melanggar larangan – yang actually menjadi trigger sebenarnya kemunculan petaka. Jadi, angka 11:11 pada judul hanya tampak seperti lapisan pengecoh yang enggak benar-benar penting dengan adegannya yang menunjukkan ini seperti ditambahkan supaya judulnya ‘terbayar’. Bahkan tokohnya saja tidak digambarkan punya reaksi apa-apa saat melihat angka penting tersebut.

jelas mereka gak bisa bikin film ini berjudul Karang Hiu karena takut disalahsangka ini adalah film tentang hiu.

 

 

Mungkin juga ini adalah cara film menyentil kebiasaan ajaib kebanyakan orang. Bahwa tidak ada yang spesial pada sebaris angka, termasuk angka kembar. Pikiran kitalah yang membuatnya menjadi spesial. Berkembangnya banyak fenomena dan kebiasaan berdasarkan angka atau waktu menunjukkan betapa kita, manusia, suka menyelami makna. Kita merasa puas jika menemukan kepentingan dan alasan di balik hal apapun dalam hidup.

 

Namun begitu, tawaran 11:11 memang bukan main-main. Horor di bawah laut, penonton dibawa menyelam bersama para tokoh, bukanlah suatu sajian yang mudah merekam dari dalam laut. Ini adalah teritori yang enggak berani dilakukan oleh kebanyakan film. Mereka harus membangun momen-momen mengerikan, kita tidak bisa membuat jumpscare begitu saja, dan lagi para aktor juga akan terbatas geraknya. Film ini punya ambisi yang besar untuk menampilkan itu semua. Mereka kelihatan berusaha untuk menyajikan yang terbaik yang mereka bisa. Hanya saja, tantangannya memang terlalu sulit.

Dengan pakaian selam lengkap, akan susah sekali untuk kita melihat ekspresi para tokoh. Untuk memahami apa yang mereka rasakan, mereka katakan. Butuh usaha dan kemampuan yang tinggi dari pembuat filmnya jika ingin membuat narasi yang utuh dari sekelompok penyelam yang menemukan bangkai kapal, dan punya bermacam reaksi terhadap temuan tersebut. Aku bukan mau bilang kemampuan mereka masih dangkal, tetapi kenyataan berkata lain. Film seperti pasrah untuk menjadi ‘bego’ dengan eventually membuat para tokoh tersebut saling mengobrol di dalam air. Mengobrol yang pake suara biasa, bukan pake bahasa isyarat. Setiap obrolan diakhiri dengan bunyi kresek seolah mereka ngobrol lewat transmiter radio, tapi kita bisa lihat mereka sama sekali enggak punya radio. Mereka menyelam, bicara dengan suara yang jelas, dan kemudian ada candaan seorang tokoh melihat ada cewek dan ngikutin dia nyelam ke sisi lain kapal. Adegannya seperti adegan yang terjadi di darat, hanya saja mereka membawanya ke bawah air. Pun airnya tak pernah menjadi hambatan. Ketakutan dan horor tetap datang dari jumpscare hantu yang muncul. Pada akhirnya kita tetap tidak mendapatkan pengalaman baru, kita tidak tahu seremnya menyelam itu gimana. Ada banyak hambatan yang bisa dilakukan; oksigen habis, kaki tersangkut, buta arah, tapi film hanya melakukan apa-apa yang juga sudah sering kita lihat dalam horor yang bertempat di darat.

Film berusaha keras mengisi durasi satu-jam-lebih-sedikitnya dengan cerita yang menarik mengenai hubungan antara keempat tokohnya. Ada persahabatan yang terjalin di antara tiga cowok, ada cinta segitiga yang mulai merasuk tatkala si cewek baru yang manis itu bergabung. Tokoh utama kita ditulis punya keinginan untuk bertemu kembali dengan ibu, yang sudah mengenalkan dia dengan pantai dan air, yang menghilang saat dia masih kecil. Mengutip lirik lagu Lady Gaga; kupikir “we’re far from the shallow now”. Tapi ternyata, tiga lapis cerita itu tidak benar-benar punya kedalaman. Hilangnya ibu tidak menambah apa-apa pada perkembangan tokoh utama; dia hanya belajar bahwa dia adalah bagian dari tugas sang ibu.  Persahabatan dan cinta pun ternyata cuma untuk jadi pemancing drama yang tak pernah benar-benar mekar. Ada satu adegan di menjelang akhir ketika si saingan cinta udah koit, si tokoh malah bilang semacam begini ke si cewek; “kamu cocok sama dia, kamu tahu kan dia suka sama kamu?” I mean, apa yang mau dicapai dari penenangan yang waktunya sudah telat itu? Ceritanya berlabuh dengan aneh.

Ketika orang menilai film dan mengatakan filmnya bagus karena relasi tokohnya terlihat nyata – mereka seperti temenan beneran, itu bukan berarti mereka berinteraksi biasa-biasa aja kayak bukan dalam film. ‘Temenan beneran’ itu berarti kita merasakan chemistry, seolah para aktor yang memainkan juga temenan baik beneran. Keempat aktor tampak berusaha menghidupkan tokoh mereka, hanya saja tak banyak yang bisa mereka lakukan. Ada satu adegan di meja makan yang terasa genuine akrab. Selainnya, dialog dalam film ini tak pernah terdengar penting. Seperti obrolan biasa yang biasanya kalo dalam kelas menulis naskah disuruh hapus karena bukan dialog film karena tak menghantarkan cerita ataupun menambah karakter. Menurutku, akar masalah ini justru pada karakter itu sendiri. Karakter pada film ini hanya sebaris kalimat. Cewek vlogger, yang kerjanya ngerekam video (aku paling tidak mengharap di videonya ia menangkap sesuatu, ternyata tidak). Cowok botak yang suka menggoda cewek. Cowok satu lagi yang dibuat ‘sok misterius’. Dan tokoh utama yang pendiam dan selalu mikirin ibunya yang hilang. Setiap mereka ngobrol selalu tentang cewek yang berusaha ngedeket tapi agak dijauhin, terus ada yang sirik, dan yang godain. Tidak membahas sesuatu yang lebih dalam, padahal bisa saja kesempatan development dilakukan untuk membangun mitos daerah atau apa.

Menurutku juga kocak sekali gimana si tokoh utama digambarkan kangen ibu dengan membawa pigura fotonya ke tempat penginapan. Tidak bisakah pakai loket atau disimpai di dalam dompet, atau tarok di hape. Hal ‘seaneh’ demikian mestinya berujung pada satu penjelasan atau dimanfaatkan untuk sesuatu, tapi enggak.

11:11.. K! k..k… k… kuntilanak!

 

Mengenai setannya sendiri, juga menurutku masih sangat standar. Penampakannya memang seram. Tapi tidak pernah ada bangunan untuk tokoh ini. Dia cuma ada sebagai teror. Namanya pun biasa sekali; Siluman. Makhluk penjaga pusaka bawah laut yang mampu menimbulkan ombak gede, mahluk yang harus dikalahkan, wujud mengerikan dengan kuku panjang yang mampu membunuh manusia. Siapa bagusnya nih namanya? / Siluman aja, Siluman. Udah serem. Yang kocak dari setan ini adalah pada saat di bawah laut kita sempat diperlihatkan pov shot dari sudut pandang dia, dan itu treatment kameranya biasa aja. Tapi kemudian, di darat kita juga diperlihatkan pov shot miliknya, hanya saja kali ini layarnya berwarna merah. Dan aku; well, yea masuk akal mata hantunya mungkin merah karena kelamaan di dalam air.

 

 

 

Dunia horor perfilman kita mungkin sudah mulai masuk masa jenuh-jenuhnya. Film-film yang berbeda seperti ini diharapkan bertindak sebagai ‘vitamin sea’ yang membawa suasana segar. Sayang, film ini gagal. Ada sedikit usaha yang terlihat, tapi belum cukup. Pengembangannya masih sangkat dangkal. Film masih seperti plot poin dengan pengembangan seadanya, sehingga geraknya masih gak mulus. Tapi menurutku, cerita ini toh punya potensi, hanya saja masih terlalu besar untuk kemampuan pembuatnya yang sekarang.
The Palace of Wisdom gives 1 out of 10 gold star for 11:11 APA YANG KAU LIHAT?

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Apakah kalian punya angka keramat?

Mumpung setan di film ini belum punya nama, yuk kira-kira apa ya nama yang kalian kasih kepadanya jika kalian yang menulis cerita film ini?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.