SHANG-CHI AND THE LEGEND OF THE TEN RINGS Review

“Its richest bequest. Its golden inheritance”

 

 

Menonton Shang-Chi, aku sejenak lupa kalo ini merupakan film superhero. Cerita tentang ‘warisan’ keluarga, bisnis yang ala gangster-gangsteran, adegan berantem yang benar-benar menonjolkan martial arts. Untuk beberapa saat, aku merasa sedang nonton film-film Kung-fu! Sampai aku menyadari yang di layar itu bukan Jackie Chan ataupun Jet Li. Melainkan bintang laga masa kini (calon legenda di depan) Simu Liu, bintang komedi dengan range drama yang belum gagal membuatku kagum Awkwafina, dan naga beserta makhluk-makhluk mitologi dari visual komputer. This is indeed a Marvel movie. Film hiburan yang paling cocok ditonton sambil makan popcorn, dengan petualangan CGI grande, dan dialog yang sama renyahnya ama popcorn itu tadi. Namun sutradara Destin Daniel Cretton jelas sekali ingin mengarahkan ini ke dalam perspektif yang lebih unik. Ke dalam karakter yang lebih representatif. Dan ‘jurus-jurus’ yang ia kerahkan sukses membuat Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings mencapai keseimbangan hiburan dengan sajian berbobot. Mengembalikan film superhero Marvel ke yin-yang  yang selama ini terlupakan

sangchi-chi-iron-fist-1
Padahal tadinya aku ‘sangchi’ bakal bagus, takut kayak Mulan

 

 

Belajar dari kritikan yang menghajar live-action Mulan (2020), film Shang-Chi yang juga mengusung karakter beretnis dan mitologi yang mengacu kepada referensi budaya Cina, berlaku lebih hati-hati dan respect terhadap representasinya tersebut. Yang pertama langsung terdengar adalah bahasa. Karakter dalam film ini tidak sekonyong-konyong berbahasa Inggris semua. Sepuluh menit pertama actually full dialog Mandarin, lalu setelah nanti setting membawa cerita berada di tempat yang lebih diverse, bahasanya akan mengikuti keberagaman tersebut. Film ini lebih peka sama di mana dan siapa. Penggunaan bahasa Inggris pun jadinya tidak terasa dipaksakan. Karakter kita hidup di San Francisco, tapi bahasan mengenai mereka merupakan bahasan yang mendalam, menggali hingga ke akar leluhur dan legenda. Karena pada intinya narasi Shang-Chi memang berinti kepada keluarga.

Ketika kita pertama kali bertemu dengan Simu Liu, karakter yang ia perankan dipanggil dengan nama Shaun. Dia bekerja sebagai tukang parkir valet, bersama sahabatnya Katy (karena terlalu banyak nonton Steven Universe, aku jadi merasa suara Awkwafina mirip sama suara si Amethyst). Mereka berdua ini orangnya nyante banget. Gak kayak sahabat mereka yang orang-cina-kesayangan-keluarga banget, Shaun dan Katy lebih suka berkaraoke dan nyaman sama kerjaan mereka yang dianggap tidak memenuhi standar keluarga. Sebenarnya, ada alasan bagus – yang rahasia! – kenapa Shaun menikmati hidupnya seperti itu. Begini, keluarga Shaun bukanlah keluarga standar seperti keluarga Katy. Ayah Shaun tidak lain tidak bukan adalah The Mandarin, pendekar penguasa, pemegang senjata sepuluh cincin yang legendaris, pemimpin kelompok Ten Rings yang sudah mencatat lembar kelam sejak beribu tahun lalu. Shaun, nama sebenarnya Shang-Chi, sejak kecil dilatih ayah jadi assassin, demi membalaskan dendam kepada pembunuh ibu. Shaun kabur dari kehidupannya tersebut. Meninggalkan ayahnya, adiknya, dan siapa dirinya yang sebenarnya. Tapi sebagaimana yang disaksikan oleh Katy dan kita, Shaun terendus oleh ayahnya, dan dia dipaksa pulang. Karena menurut ayah, ibu masih hidup. Terpenjara di tanah legenda. Shang-Chi harus kembali dan menghadapi semua yang pernah ia tinggalkan. 

Sekarang mungkin kalian sedikit mengerti kenapa aku malah ngerasa kayak nonton film Kung-fu saat nonton film ini. Naskahnya benar-benar fokus kepada konflik dalam keluarga pemimpin organisasi hitam! Shang-Chi adalah cerita tentang seorang anak yang kabur dari kehidupan itu karena dia gak sudi menapaki jalan tersebut. Mana ada cerita original dari superhero Marvel yang seruwet dan sedalam ini, at least sejak Winter Soldier? Dan naskah berhasil berkelit dari membuat Shang-Chi tampak seperti karakter sok suci yang membosankan. Karena pertanyaan yang berkecamuk di dalam dirinya adalah apakah saya pengecut telah kabur? Keluarga yang jadi sentral cerita ini ditulis dengan detil dan relatable. Semuanya jadi pendukung yang menambah banyak pembelajaran bagi karakter Shang-Chi. Ada adik perempuan Shang-Chi, yang merasa diremehkan oleh ayah, dan ditinggalkan oleh Shang-Chi, sehingga tumbuh menjadi pemimpin organisasinya sendiri. Ada ibu Shang-Chi yang dirancang sebagai karakter paling berpengaruh, yang mendaratkan dan merekatkan keluarga ini. Kematiannya jadi titik balik karena sebegitu berperannya Ibu bagi mereka semua. 

Film sempat nge-poke fun Shang-Chi yang kabur tapi ganti namanya malah ‘cuma’ jadi Shaun (ganti nama kok mirip). Namun jika kita melihat on deeper level, keputusan nama tersebut melambangkan keraguan karakter ini. Yang ditakutkan oleh Shang-Chi adalah dia bakal jadi penerus ayahnya, karena itulah yang budaya keluarga mereka. Tapi ia juga adalah ‘warisan’ ibunya.  Kebingungannya akan itulah yang membuatnya kabur. Yang harus dipelajari Shang-Chi dalam kisah ini adalah bahwa anak gak bisa kabur. Melainkan mewarisi baik dan buruk keluarga. Shang-Chi harus mengembrace, dan memantapkan apa yang nanti ia wariskan berikutnya. 

 

Dan tentu saja, ada ayah Shang-Chi. Pria yang dikenal dengan banyak nama, karena reputasinya yang mengerikan. Tapi dia settle dengan nama The Mandarin, karena baginya filosofi di balik nama itu cukup ‘lucu’ (akan ada dialog eksposisi yang menceritakan tentang ini, dikemas dalam bentuk bincang-bincang santai di meja makan). Diperankan oleh ikon Hong Kong, Tony Leung yang jago kung-fu dan drama, The Mandarin boleh jadi adalah salah satu dari sedikit sekali penjahat-Marvel yang punya karakter paling compelling. Paling manusiawi. Secara simpel kita bisa bilang dia adalah karakter jahat yang bersedia jadi orang baik atas nama cinta. Secara lebih kompleks – cara yang diterapkan oleh film ini – The Mandarin adalah karakter yang berakar pada tradisi, norma pejuang, kebanggaan, kehormatan, kekuatan (practically sifat-sifat yang dilambangkan oleh legenda kesepuluh cincin). Dia bukan karakter yang jahat licik pengen menguasai dunia. Kita akan melihatnya lebih sebagai sosok ayah yang sudah terluka banyak, tapi juga sangat keras. Kita bersimpati, sekaligus merasa takut kepadanya. Film ini bekerja terbaik saat memperlihatkan hubungan atau konflik yang mengakar begini antara anggota keluarga ini. Sutradara tahu di situlah – pada grounded-nya itulah – letak kekuatan yang dimiliki film ini, maka ia berusaha sebisa mungkin untuk mencapai itu saat men-tackle elemen yang lebih fantasi.

sangchiScreen-Shot-2021-06-25-at-10.31.21-AM
Sialnya, aku menyangchikan film ini tidak di bioskop

 

 

Tanpa banyak ba-bi-bu lagi, Shang-Chi punya sekuen-sekuen berantem terbaik yang pernah kusaksikan sepanjang Marvel Cinematic Universe berlangsung. Ketika film Marvel yang lain banyak berseru-seru ria dengan aksi superhero, sebagian besar porsi laga film Shang-Chi berlangsung dengan gaya berantem Kung-fu. You know, berantem yang tampak plausible meskipun memang masih sangat bergantung kepada efek CGI, stuntmant, dan kerja kamera serta editing. Seenggaknya, sebagian aktor di sini memang punya pengalaman beladiri, pembuatnya pun tampak memahami seni itu dan tau cara terbaik dalam merekamnya. Jadi mereka semua tau apa yang harus dilakukan. Favoritku adalah adegan berantem di dalam bis, sekuennya dari awal-tengah-hingga akhir is pure excitement dan joy. Sekuen itu muncul di babak awal, dan film terus menaikkan game mereka untuk aksi-aksi ini. Kita bakal melihat berantem di pondasi bambu (kayak di Rush Hour 2), dengan kamera yang aktif ‘melayang’ ke sana kemari, memastikan cerita lewat berantem itu sampai dengan gemilang. Di menjelang akhir, kita akan disuguhkan adegan berantem yang kita saksikan lewat cermin di dalam ruangan. Kamera akan berputar 360 derajat, kita akan melihat tubuh beterbangan, dengan sensasi direction yang diajak bermain-main, bergantian antara pantulan cermin dengan tidak. Ketika memang harus aksi satu-lawan-satu, film ini pun gercep dengan perspektif. Menghasilkan gerak yang dinamis sesuai gerakan berantem, tanpa pernah menjadi memusingkan. Ketika harus fantasi pun, pertarungan akan tetap terasa berbobot. Aksi-aksi seperti pertarungan Dragon Ball itu ternyata bisa kok dibikin dengan indah dan meyakinkan!

Setelah semua itu, makanya babak ketiga film ini jadi kurang greget. Setelah pertempuran kung-fu satu lawan satu, aksi berantem yang interaktif dengan settingnya, dan jurus-jurus yang sepertinya mungkin untuk dilakukan (hanya dipercantik/dibikin makin intens oleh efek komputer), di babak akhir film mengembalikan semua itu ke fantasi superhero. Pertarungan dengan naga-naga, dan makhkluk CGI. Seketika aku merasa kehilangan banget. Akhiran yang diniatkan untuk besar-besaran tersebut justru jadi terasa menutup film dengan… kecil. Dengan biasa. Tidak ada lagi excitement dari drama karakter, karena semuanya berubah menjadi “kalahkan monster sebelum dunia jadi kacau itu!” Meskipun tetapi dilakukan dengan kualitas teknis luar biasa, tapi tetap saja jika dibandingkan dengan perjalanan-karakter yang sudah kita tempuh bersama sedari awal, film ini tetap terasa berakhir dengan sedikit underwhelming.

 

 

 

Tapi ya, mau bagaimana. Tidak mungkin juga itu dihilangkan, dan meminta film untuk tetap dengan berantem ‘sederhana’. Karena afterall, ini adalah entry berikutnya dari jagat sinema superhero. Film ini terikat untuk menjadi fantastis seperti yang kita lihat di akhir. Film ini terikat oleh kebutuhan untuk ‘menjual’ dunia yang lebih besar, untuk ‘ngetease’ ke film superhero yang akan datang. Film ini terbebani oleh tuntutan menyampaikan eksposisi dan flashback. Maka, yang harus kita apresiasi di sini adalah upaya film untuk menjadi seunik dan seberkarakter mungkin, di sela kebutuhan-kebutuhan tersebut. Toh film berhasil, kita telah dibuatnya terhanyut oleh konflik keluarga yang pelik dan  menyentuh. Kita telah dibuatnya peduli sama karakter-karakter. Mulai dari pendamping atau sidekick, hingga ke antagonis, semuanya berhasil dibuat berbobot. Kita juga telah dibuat terkesima oleh dunia dan aksi-aksi yang mewarnainya. 
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 ten rings, eh 10 gold stars! for SHANG-CHI AND THE LEGENDS OF THE TEN RINGS

 

 

 

 

That’s all we have for now

Apa yang biasanya kalian pilih untuk lakukan jika ada tindakan atau keputusan dari orangtua yang tidak kalian setujui?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

BLACK WIDOW Review

“I am not what happened to me, I am what I choose to become.”

 

Black Widow bukanlah superhero terkuat. Dia bahkan bukan jagoan cewek paling kuat. Natasha Romanoff tidak punya kekuatan super. Dia ini kayak Yamcha di kartun Dragon Ball. Manusia bumi biasa, tanpa kekuatan super, tapi begitu terlatih sehingga serba-bisa. Yamcha yang dulunya perampok, dan sempat jadi pacar Bulma, bisa Kamehameha, Bola Semangat, on top of that dia punya jurus berantem tersendiri. Begitu jualah dengan Natasha alias Black Widow. Dari seorang assassin, ke sempat (nyaris) jadi love interest Hulk, yang jelas Natasha dapat diandalkan oleh teman-teman Avengers karena banyaknya variasi kemampuan yang ia miliki – meskipun gak jago-jago amat. Nasib kedua karakter ini pun sama. Gugur; bukan dalam sengitnya pertempuran personal, melainkan karena cerita mengharuskan seorang karakter untuk mati.

Jadi kenapa karakter jack-off-all-trade sepert itu bisa digemari sehingga fans terus meminta Black Widow punya film tersendiri? Well, first; Natasha Romanoff dimainkan oleh Scarlet Johansson. People love her intensity. Kedua, karena kehebatan cerita superhero tidak diukur dari seberapa dahsyat superpowernya. Melainkan dari seberapa besar perjuangan si pahlawan ini mengatasi kelemahan-kelemahannya, berapa dahsyat yang harus ia tempuh dalam membuat pilihan. Black Widow adalah pahlawan cewek yang punya masa lalu kelam sebagai pembunuh, jelas punya modal untuk sebuah cerita-sendiri yang menarik. Namun sayangnya, ketika film ini benar-benar kejadian, Marvel dan Disney masih menganggap Natasha Romanoff sebagai Yamcha at worst, dan sebagai simbol feminis at best.

Black Widow bukan film superhero ‘terkuat’ di antara film-film superhero MCU yang lain. Dalam film solo yang harusnya adalah waktu untuk menjelaskan lebih banyak suara dari karakter ini, yang seharusnya jadi proper send-off untuk karakter ini, Natasha Romanoff itu sendiri ternyata hanya jadi batu loncatan untuk projek superhero berikutnya.

Black-Widow-trailer-1-1280x720
Kalo Scar-Jo meranin Yamcha, niscaya Yamcha juga bakal jadi favorit

 

Cerita mengambil tempat di antara event Civil War dengan Infinity War. Tapi sebelum mulai, film mundur dulu. Memperlihatkan masa kecil Natasha bersama keluarga-palsunya. Bagaimana ayah-ibu-kakak-adik itu kini harus berpisah karena mereka dikirim kembali oleh bos ke Rusia untuk mendapat pelatihan dan misi lebih lanjut. Semua itu dikemas sebagai kredit pembuka – lengkap dengan lagu opening, kayak kalo kita lagi nonton opening acara televisi.

Ironisnya, kredit pembuka tadi itu adalah satu dari dua hal bagus yang dimiliki oleh film garapan Cate Shortland ini. Karena setelah itu, Natasha Romanoff yang sedang dalam pelarian, tidak benar-benar melakukan apa-apa. Babak pertama film ini bosenin karena yang kita ikuti adalah karakter yang motivasinya adalah untuk lay-low. Masalah dengan ‘keluarga’ Avengers? Gak dulu deh. Sekitar 30-40 menit kayaknya, barulah film ini jelas arahannya ke mana. Natasha ‘dikontak’ oleh keluarganya yang satu lagi. Adik bo’ongannya dulu, si Yelena, punya informasi tentang masalah personal bagi mereka berdua. Bahwa progam Red Room yang menciptakan Pasukan Widow tak-berhati dari wanita-wanita malang seperti mereka ternyata masih berjalan. Boss Rusia, si Dreykov, yang telah dibunuh oleh Natasha beberapa tahun yang lalu, ternyata masih hidup.

Serius. Film ini bener-bener baru terasa berjalan saat Yelena masuk cerita. Dan Yelena Belova inilah satu lagi (dari dua tadi) hal terbaik yang dimiliki oleh film. Dia punya motivasi dramatis yang lebih jelas. Seperti Natasha, Yelena yang selama ini sudah tercuci otak oleh program Dreykov, mencoba untuk mengembalikan kendali atas hidupnya. Dia juga paham pentingnya memberangus proyek tersebut dan membebaskan semua orang. Tapi tidak seperti Natasha yang telah lelah ‘main keluarga-keluargaan’, Yelena ini percaya akan hubungan yang mereka bentuk sebagai keluarga-palsu. Yelena-lah yang seperti tertantang dengan pemikiran Natasha, alih-alih sebaliknya, padahal yang tokoh utama adalah Natasha. Itu juga dikarenakan Yelena inilah yang lebih banyak menunjukkan emosi yang grounded. Dan untuk fungsi itu, Florence Pugh benar-benar menyuguhkan penampilan yang oke punya. Rentang emosi yang luas itu dia lalap dengan natural. Vulnerable, tangguh, bahkan saat bercanda. Kita merasakan satu-persatu yang ia rasakan, tidak pernah kesemuanya sekaligus – seperti yang ditampilkan oleh Natashanya si Scar-Jo. Timing dan penghayatan Pugh begitu ngena, sampai-sampai lelucon konyol soal pose Black Widow aja berhasil mencuat sebagai running-joke yang menyenangkan.

Dan harus kuperingatkan, film ini penulisan tonenya mentok sekali. Film Marvel selalu berusaha melucu untuk menjaga supaya tetap ringan, itu kita semua udah tahu. Udah rahasia umum. Tapi pada film ini, blending serius dengan komedinya itu kayak trying too hard. Kita akan bertransisi dari adegan yang mencoba untuk terlalu dramatis ke adegan komedi berupa orang gendut kesusahan memakai kostum. Ada Natasha yang mewakili tone keren dan serius, ada Red Guardian yang dibikin total untuk lucu-lucuan, si Yelena ini seperti jembatan untuk menghubungkan keduanya. Makanya Yelena berhasil mencuri perhatian kita. ‘Aksi’ dia praktisnya lebih banyak, menggendong berbagai elemen film seperti yang dijelasin itu.

Meskipun benar kendali adalah milik pribadi, tapi kita tidak bisa lepas dari peranan orang-orang di sekitar. Dari orang-orang yang kita sebut keluarga. Dan orang-orang yang kita sebut keluarga itu bisa datang dari mana saja, tidak terbatas dari ‘darah’ semata. Merekalah justru pengingat bahwa kita punya pilihan. 

 

Romanoff bukannya gak punya motivasi personal, tapi film gak benar-benar follow up sama masalah personal dirinya ini. Melainkan masalahh tersebut dikecilkan. Yang dieksplorasi dari Black Widow ini adalah ada suatu perbuatan kelam yang dulu ia lakukan, sehingga kini saat dia dikenal sebagai pahlawan, peristiwa tersebut jadi berkali lipat membebani nuraninya. Sepanjang durasi film ini, Natasha bergulat dengan hal tersebut. Pergulatannya itu ditunjukkan oleh film lewat karakter Taskmaster. Musuh bertopeng yang bisa meniru semua yang ia lihat. Karena Taskmaster di sini sebenarnya adalah perwujudan Natasha zaman dulu. Zaman saat dia masih pembunuh berdarah-dingin. Jadi Taskmaster adalah musuh yang tepat untuk Natasha, karena dia memang harus mengalahkan dirinya yang dulu. Apalagi karena lebih lanjut, film memperlihatkan Taskmaster sebagai, katakanlah, produk dari ‘dosa’ Natasha yang terus menghantui.

Ini harusnya adalah cerita pengukuhan Black Widow sebagai seorang superhero. Cerita bagaimana dia benar-benar berhak menyematkan diri sebagai pahlawan. Akan tetapi, nilai perjuangannya sebagai perempuan yang berusaha membebaskan nurani itu dikurangi oleh film yang lebih memilih untuk membuat Black Widow mengalahkan pria misoginis yang berbuat tak-manusiawi kepada perempuan. Keberadaan Dreykov yang jadi master dari si Taskmaster ini seperti mengatakan cewek gak salah, cowok yang salah. Black Widow hanya perlu minta maaf untuk menenangkan hati. Taskmaster itu jahat ya karena sudah terdoktrin oleh kepercayaan Dreykov. Ingin mengecilkan, bukan hanya Black Widow, tapi juga si Taksmaster yang karakternya diubah drastis menjadi jadi seserpihan dari karakternya di komik. Shortland mengulangi kesalahan yang sama dengan Deadpool di film Wolverine.

black-widow-sb
Ternyata ini adalah kisah origin dari Rompi Berkantong Banyak

 

Yang konyolnya adalah, bahkan di akhir itu bukan Natasha yang membunuh Dreykov – Yelena did it. Tanpa kesulitan berarti. Padahal Natasha butuh banyak dialog, dan taktik, saat berdua saja di dalam ruangan sama si antagonis. Kekuatan si Dreykov benar-benar bikin aku ngakak. Dia punya pheromon spesial; siapapun yang berada cukup dekat sehingga bisa membaui bau tubuhnya, tidak akan bisa melukai dirinya. Jadi, Black Widow kemudian sengaja menyuntikkan virus corona ke dalam tubuh supaya hidungnya enggak bisa mencium. Enggak ding! Tapi yang beneran dilakukan oleh Black Widow di film ini kurang lebih sama konyolnya. Karena ngapain repot-repot harus deket-deket dulu, padahal tinggal tembak dari jauh atau lempar pake pedang aja, tewas tuh si Dreykov! Hahaha aneh banget pake adegan indra penciuman segala…

Kembali ke bahasan serius, film seperti enggan memperlihatkan karakter yang harus benar-benar struggle dengan masalah dalam inner, sehingga harus menampilkan ‘musuh bersama yang lebih nyata’. Kuharap ini cuma masalah sebagai film superhero aja, kayak, karena superhero gak boleh terlalu berat. Kuharap ini bukan soal protagonis cewek yang harus dibuat sempurna, karena belakangan memang film-film cenderung untuk terpaku pada agenda seperti itu. Dan bicara tentang superhero dan moral, film Black Widow inipun sesungguhnya enggak lurus-lurus amat. Penulisan film masih ambigu banget secara moral. Banyak karakter yang melakukan hal-hal, tapi tidak lanjut ke konsekuensinya. Karakter yang telah mengesampingkan anak yang look up to them, pada akhirnya teredeem dan jadi pembela kebenaran. Dan bagaimana dengan salju longsor di penjara itu? Hohoho…film dengan cepat ngegloss over fakta bahwa Black Widow dan Yelena telah membunuh banyak orang saat insiden kabur dari penjara. Film ini seperti dengan entengnya seolah mengestablish penjara itu isinya orang jahat semua, termasuk penjaga yang semena-mena, padahal mereka yang di sana berada pada posisi yang lebih ngenes daripada ‘collateral damage’ – dan sepanjang film Black Widow galau sama ‘collateral damage’ yang dengan sengaja dia lakukan beberapa tahun yang lalu. Moralnya gak masuk banget.

Tapi tentu saja, aksi gede perlu untuk dilakukan karena ini adalah film laga berbudget mahal. Malu dong kalo sekelas Disney dan Marvel gak pake acara hancur-hancuran dan ngebut-ngebutan. Persetan dengan logika. Orang-orang tanpa kekuatan super itu yang penting bisa tampak keren meluncur jatuh, ataupun berkali-kali terguling dalam kecelakaan mobil. Perkara mereka bisa selamat, itu urusan yang seharusnya gak usah repot kita pikirkan saat mencari hiburan, kan. Lagipula mungkin film ini ngasih petunjuk bahwa Natasha bisa selamat dari begitu banyak kecelakaan, dan terjun dari stasiun angkasa, jadi mungkin dia belum benar-benar mati saat jatuh dari tebing itu. Ngarep! Anyway, begitulah adegan-adegan aksi dalam film ini. Secara koreografi, kerja kamera, dan teknis-teknis begitu, tidak ada yang spesial. There are lot of CGIs, editing, and stunt double – standar rutinitas film aksi yang biasa.  Kalo ada yang diingat orang, maka itu adalah beberapa kualitas CGI yang kurang kece, adegan yang gak grounded-grounded amat, dan betapa “such a poser”nya film superhero ini.

 

 

 

Setelah menontonnya, aku masih menganggap mereka sebenarnya masih gak pengen-pengen amat membuat film ini. Kayak, film ini akhirnya ada karena tuntutan, dan waktu yang tepat. Karena Marvel ingin mendorong proyek-proyek berikutnya. Ada karakter yang harus diperkenalkan. Apa yang mestinya merupakan swan song dari superhero yang difavoritkan banyak orang ternyata tak lebih dari sekadar roda gigi kecil pada mesin yang besar. Film ini hanyalah another spectacle featuring hal-hal yang bikin kita excited. Tanpa benar-benar utuh menyelami kepada karakter dan dunianya sendiri.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for BLACK WIDOW.

 

 

 

That’s all we have for now.

Untung mengenang Black Widow yang gugur, apa momen Natasha Romanoff favorit kalian di seluruh film MCU?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 

 

 

 

 

 

 

ZACK SNYDER’S JUSTICE LEAGUE Review

“Acceptance is the first step to unity”
 

 
Dalam Justice League diceritakan para pahlawan super bersatu untuk menghidupkan kembali Superman. Siapa sangka keadaan di dunia nyata seputar film Justice League itu sendiri ternyata tidak jauh berbeda dengan apa yang diceritakan. Visi sutradara Zack Snyder-lah pahlawan yang gugur itu. Para penggemar DC bersatu, mengampanyekan supaya visi tersebut hidup kembali. Meminta supaya film Justice League yang sebenarnya; yang tidak dicampuri oleh Studio – dan tidak diwarna-warni oleh Joss Whedon, film yang seutuhnya dari kreasi Zack Snyder bisa dibuat dan ditayangkan. Sekarang, empat tahun setelah film Justice League (2017) tayang di bioskop, perjuangan tersebut akhirnya membuahkan hasil. Zack Snyder’s Justice League yang berdurasi empat-jam lebih akhirnya mendarat dengan dramatis di internet!
Ini adalah fenomena yang menarik. Karena kita semua tahu, term ‘Director’s Cut’ sendiri sebenarnya sudah mulai mengalami peyorasi berkat iklim industri film. Director’s Cut pertama kali dipopulerkan oleh Ridley Scott, yang mengeluarkan Blade Runner (1982) versi orisinil kreasinya. Misi mulia merestorasi visi seniman itu tentu saja langsung disambut oleh industri sebagai langkah untuk menjual-ulang kepada penonton film yang udah pernah mereka tonton. Director’s Cut lantas menjadi gimmick sales semata. Director’s Cut The Warriors ternyata hanya berisi tambahan satu menit ekstra, plus transisi dengan gaya visual ala komik. The Exorcist hanya memasukkan kembali adegan-adegan yang udah dicut, plus perbaikan visual efek, namun menjual-ulangnya sebagai versi never-before-seen di tahun 2000. Jangan tanya soal contoh di Indonesia. Aku belum punya rasa percaya yang cukup besar terhadap industri film di sini sehingga mau menonton versi director’s cut dari film-film Indonesia. I mean, film yang disebut sekuel aja, di perfilman kita yang konon udah maju ini, ternyata tak lebih dari potongan shot dan cut film sebelumnya yang digodok jadi satu (tunjuk idung Milea: Suara dari Dilan). Langka sekali ada Director’s Cut yang benar-benar terbukti memberikan pengalaman baru dan menambah banyak bagi film itu sendiri. Maka, melihat begitu hangatnya respon, dan mengingat actually memang cut ini sangat diinginkan oleh penonton, Snyder Cut Justice League kali ini boleh jadi merupakan titik balik yang mengembalikan Director’s Cut kepada tujuan mulianya semula.

Film revisi sebagai pemuas hati

 
 
Cerita film ini secara keseluruhan masih sama dengan versi Whedon 2017 yang lalu. Superman telah meninggal. Pasukan demon yang dipimpin Steppenwolf jadi berani datang ke Bumi, mencari tiga Mother Box yang kalo digabungkan bisa membuat Bumi jadi di bawah kendali Steppenwolf. Maka Batman berusaha mengumpulkan para manusia berkekuatan super; Wonder Woman, Aquaman, The Flash, dan Cyborg untuk bekerja sama membela Bumi. Tapi mereka tetep kalah tenaga. Jadi mereka bermaksud untuk menghidupkan kembali Superman. Aku gak akan bahas banyak dari segi cerita. Yang ingin kufokuskan di review Justice League kali ini adalah soal perbedaan-perbedaan signifikan di antara versi Snyder dengan versi Whedon. Dan yang kumaksud dengan ‘signifikan’ adalah bagaimana perbedaan tersebut berpengaruh; membuat film versi Snyder ini lebih baik (atau bahkan bisa jadi lebih buruk) ketimbang versi Whedon.
Aku mau pointed out dulu bahwa ternyata yang kukira di review Justice League 2017 itu salah. Kukira elemen kematian Superman dan konflik moral para superhero terkait menghidupkannya kembali itu adalah kreasi dari Snyder. Setelah nonton film yang empat jam ini, aku baru tahu kalo elemen tersebut justru adalah kreasi Whedon. Justice League 2017 menempatkan soal moral dan etik menghidupkan Superman sebagai tindak terakhir itu sebagai gagasan utama cerita. Persatuan yang dibicarakan oleh film tersebut adalah persatuan yang bersumber dari harapan yang dipicu oleh tekanan ketakutan. Superhero Justice League di sana menunjukkan kekuatan dari harapan, sementara lawan mereka kalah karena menggunakan ketakutan untuk mengendalikan persatuan. Harus kuakui, bahasan Whedon tersebut menarik. Sayangnya, si sutradara itu sendiri tidak punya pijakan dan posisi yang kuat. Gagasan itu timbul bukan karena dia purely ingin bercerita soal itu, melainkan dari pemikiran bahwa dia harus menyatukan materi cerita superhero yang padat ke dalam durasi yang berbatas. Aku tetap mengapreasiasi Whedon yang berhasil pulled off this theme, dia berusaha menyatukan banyak elemen ke dalam narasi sekonsisten mungkin, walaupun penceritaannya sendiri sloppy, terburu-buru, dan enggak ‘do justice’ terhadap karakter-karakter superhero yang terkandung di dalamnya.
Sementara Snyder, ternyata memang tidak berniat menceritakan soal moral sebuah resurrection. Snyder tetap berkutat pada soal yang lebih fundamental. Yakni soal keluarga. Justice League yang kita tonton selama empat jam ini adalah tentang karakter yang terpisah dari keluarga, dan kemudian menemukan tempat di kelompok, tapi sebelum itu mereka harus berjuang untuk acceptance, baik itu dari kelompoknya maupun acceptance dari diri mereka sendiri. Dengan durasi yang dua kali lebih panjang, Snyder punya ruang yang lebih banyak untuk mengeksplorasi setiap karakter, dan dia memainkan masing-masing mereka dengan konsisten pada tema tersebut. Batman yang yatim piatu, dialah yang jadi pencetus persatuan para superhero, dan di akhir cerita dia dapat nice closure berupa mendapat pujian tindakannya akan membuat orangtuanya bangga. The Flash kali ini mendapat backstory yang lebih solid perihal hubungannya dengan ayah yang berada di dalam penjara. Wonder Woman mendapat penggalian soal keluarga karena actually keluarga Amazonnya yang bersentuhan langsung dengan bahaya sebagai salah satu klan penjaga Mother Box.
“Cyborg mestinya dikasih kerjaan lebih banyak selain baca petunjuk dan menyatu dengan teknologi. Steppenwolf mestinya bisa dibuat lebih meyakinkan. Mestinya film bisa memberikan kedalaman yang lebih pada hubungan antartokoh, memberikan stake yang lebih mengena, memberikan ketakutan dan bahaya yang lebih kuat.” Itulah tiga kalimat terakhir yang aku tulis pada review Justice League 2017. Dan apparently, Snyder setuju bahwa tiga itulah aspek yang paling butuh untuk dikembalikan dan diperbaikin dalam film kali ini. Cyborg yang awkward dan tampak paling sepele itu kini jadi hati bagi film ini. Dia yang arc superhero-nya paling ngelingker di antara semua. Dia berkembang dari yang tadinya cowok setengah-robot angsty yang boring menjadi pahlawan super yang benar-benar menguar oleh konflik keluarga dan acceptance. Kalau tidak dipersembahkan sebagai sebuah ensemble story, maka Cyborg inilah yang paling pantas jadi tokoh utama. Aku bukannya mau memantik api ataupun bukannya mau memancing di air butek, tapi, menurutku Cyborg di sini sukses menjadi karakter yang lebih menarik daripada Iron Man di cerita akhir hayatnya. Steppenwolf di sini pun dibuat lebih besar. Bukan hanya dari desainnya, melainkan juga dari karakter. Di Snyder Cut ini, motivasi Steppenwolf lebih dieksplor. Di balik perburuan Mother Box, antagonis ini sedang dalam journey ngeredeem dirinya sendiri di mata Darkseid. Journey-nya tersebut dikontraskan dengan geng superhero Justice League; Steppenwolf juga mencari acceptance tapi sayangnya keluarga yang ia pilih tidak seperti ‘keluarga’ protagonis kita.

Bersatu berarti kita harus menerima kekurangan masing-masing. Dan untuk dapat saling menerima itu, kita tidak mesti berangkat dari satu keluarga. Banyak cerita yang mengobarkan semangat persatuan, memperlihatkan kubu yang berbeda mengesampingkan perbedaan untuk menjadi keluarga. Tapi Justice League dan Cyborg menunjukkan semua itu dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu.

 
Dengan karakter yang lebih ter-flesh out, maka final battle pun otomatis menjadi lebih seru. Kalian tentu masih ingat satu keluarga rusia yang diselamatkan oleh The Flash di Justice League Whedon? Tidak ingat? Bagus, karena itulah the worst part dari film tersebut. Keluarga rusia random itu adalah tambahan supaya final battle dramatis. Snyder tidak perlu dan sama sekali tidak pernah meniatkan mereka ada. Final battle Snyder berisi aksi brutal (earning them that R-rating) dan konflik cerita yang menutup arc para tokoh. Singkat kata, final battle Snyder lebih garang dan lebih padat. It is the best part of this movie. Semua karakter dapat kesempatan bersinar; unjuk kekuatan dan unjuk drama personal. Semuanya memenuhi fungsi.
Perbedaan-perbedaan lain yang dilakukan oleh film ini tidak termasuk ke dalam kategori ‘signifikan’ tapi bukan berarti tidak penting. Setidaknya bagi para penggemar, dan bagi penonton yang benar-benar menunggu kelanjutan film ini, hal yang dilakukan oleh Zack Snyder di sini akan bisa bikin ‘terwoah-woah!’ Snyder caters to the fans. Dia membuat Superman yang baru saja dihidupkan itu berkostum hitam, sama dengan di komik. Dia memasukkan karakter baru seperti Darkseid, dan juga Martian Manhunter. Keduanya tentu saja berperan penting dalam Justice League saga. Kemunculan pertama keduanya dalam medium film-panjang live-action ini tentulah surprise yang menyenangkan. Tak sampai di sana, Snyder juga memanfaatkan sisa durasi untuk menampilkan lebih banyak lagi fans-service berupa penampilan singkat-tapi-berkesan dari karakter favorit semacam Deathstroke ataupun Joker.

Parademon. Parade demon. Get it?

 
Selesai nonton, kita semua kompak kalo harusnya film ini aja yang ditayangkan di bioskop kemaren. Durasi empat jam film ini toh tidak terasa. Kalopun terasa, filmnya bisa dibagi menjadi dua. Tapi benarkah sesimpel itu? ‘Kasus’ dua Justice League ini tentu saja tidak sesimpel soal durasi. Melainkan soal bagaimana memanfaatkan durasi tersebut. Snyder Cut punya ruang yang lebih gede untuk eksplorasi dan development ketimbang versi Whedon. Pertanyaannya adalah apakah dia benar-benar memanfaatkannya dengan efektif? Versi Whedon serba terburu-buru, kurang development, cringe oleh dialog dan adegan yang abrupt, karena dia berusaha meringkas materi ke dalam dua jam. Belum lagi tuntutan untuk tampil ringan/menghibur. Usaha Whedon jelas bukan terbaik, tapi sesungguhnya begitu juga dengan Snyder di film ini. Tentu, ceritanya jauh lebih berbobot, tapi terasa tidak benar-benar perlu untuk menjadi empat jam. Snyder Cut ini mestinya bisa lebih dipadetin lagi. Struktur narasinya bisa lebih padu lagi. Fans service dan adegan extend di beberapa puluh menit setelah konflik film beres itu sebenarnya tidak perlu karena practically berfungsi sebagai adegan teaser untuk next film yang panjang sekali.
Film ini menggunakan chapter-chapter yang terasa seperti episode-episode. Setiap kali pindah chapter, atau malah setiap kali pindah fokus dari bahasan karakter satu ke karakter lain, film ini terasa terputus. Narasinya bersambung tidak mulus, tidak lebih baik dari yang alur penceritaan yang dilakukan oleh Whedon. Aku mengharap sesuatu yang lebih baik, tapi Snyder ternyata juga mempersembahkan urutan kejadian terlompat-lompat, seperti dari teroris pemboman ke penyerangan Amazon ke The Flash menyelamatkan cewek dari kecelakaan lalu lintas. Aku mengharapkan narasi yang lebih kohesif dari ini. Tapi Snyder memang lebih fokus ke nampilin aksi sebagai bentuk bercerita. Dan bicara tentang aksi, setiap chapter punya aksi-aksi seru. Yang kita dapatkan di Whedon, hanya sepersekian dari aksi sebenarnya di film ini. Tapi sekali lagi; episodik. Semuanya punya tempo dan treatment yang sama. Sehingga jadi monoton. Salah satu treatment favorit Snyder dalam nampilin aksi adalah menggunakan slow-motion. Bayangkan melihat slow-motion setiap kali adegan bertempur. Setiap kali Wonder Woman mau beraksi selalu ada musik dewa-dewi yang pelaaaann. Jadinya ya bosan dan terasa unnecessary. Slow-motion ini bahkan dilakukan pada karakter yang bukan The Flash. Jadi akibatnya, jika setiap karakter ternyata bisa bergerak cepat, maka kecepatan The Flash itu jadi tidak spesial lagi. Slow motion bisa jadi efek yang bagus pada adegan aksi, memberikan ketegangan atau semacamnya, tapi ketika dilakukan konstan, jadinya ya tidak spesial lagi. Dialog cheesy ala Whedon boleh saja sudah disingkirkan jauh-jauh oleh Snyder yang prefer tone dan warna gelap. Namun kecheesy-an itu kali ini terisikan perannya oleh slow-motion yang berlebihan.
 
 
Dengan senang hati sekali aku menunggu kalo ada filmmaker lain yang pengen membuat Cut versi dirinya; cut yang merangkum empat-jam film ini menjadi narasi yang lebih mulus dan tidak terasa terfragmen seperti ini. Dalam urusan memanfaatkan durasi, sebenarnya Snyder tidak melakukannya lebih baik daripada Whedon. Namun memang tak bisa dipungkiri, versi Snyder ini punya cerita yang lebih berbobot, punya final battle yang lebih seru, punya karakter yang lebih manusiawi. Director’s Cut yang dilakukan Snyder benar-benar bertindak sebagai pemuas hati. Sutradara senang karena filmnya sudah terestorasi sesuai visi. Kita senang karena akhirnya dapat film superhero yang antisipasi dan hypenya sesuai dengan yang disuguhkan. Mungkin inilah Justice yang disebut pada film ini. Keadilan bagi pembuat dan penikmat. It’s a win-win!
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for ZACK SNYDER’S JUSTICE LEAGUE
 
 
 
 

That’s all we have for now.
Jadi bagaimana? Apakah menurut kalian film ini berhasil membuat penonton bakal kembali peduli sama yang namanya Director’s Cut?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

FLORA & ULYSSES Review

“What doesn’t kill you makes you stronger”
 

 
Ada dua tipe anak kecil. Anak kecil yang pengen dirinya jadi superhero. Dan anak kecil yang pengen sobatan ama superhero. Flora dalam film Flora & Ulysses condong termasuk ke tipe yang kedua. Meskipun sebenarnya semakin hari Flora semakin tidak percaya pada superhero. Semakin tidak percaya ada pahlawan yang datang menolong keluarganya, membantu ayah dan ibunya yang semakin renggang. Di saat Flora sudah memantapkan diri sebagai seorang Cynic alias seorang sinis yang tidak percaya keajaiban, dia bertemu (atau lebih tepatnya menyelamatkan) seekor tupai yang tersedot ke dalam mesin vacuum cleaner. Dan oleh peristiwa tersebut, sang tupai yang ia beri nama Ulysses itu jadi memiliki kekuatan super!
Flora & Ulysses yang diadaptasi dari novel anak berjudul sama ini akan menempatkan kita pada petualangan superhero yang tidak biasa, yang dunianya dihidupi oleh humor-humor dan karakter lucu, yang seringkali menyentil dunia komik dan superhero itu sendiri.
Bagaimana enggak menyentil coba? Ini adalah film yang bicara tentang superhero tapi protagonisnya sendiri sudah mulai capek untuk percaya pada superhero. Meletakkan sudut pandang demikian ke dalam seorang anak kecil jelas jadi setting karakter yang menarik. Flora ini dibesarkan oleh dongeng-dongeng superhero, sebab ayahnya adalah komikus. Flora diperlihatkan masih acapkali ngobrol dengan para karakter komik bikinan sang ayah (mereka jadi seperti teman imajinasi Flora), tapi Flora aware mereka cuma imajinasi dan tahu persis mereka gak bisa membantunya. Jadi Flora memutuskan untuk bertindak sendiri. Dengan demikian, Flora ini jadi seperti sentilan bagi kita yang udah dewasa yang tidak actually ngelakuin apa-apa selain cuma berkhayal punya kekuatan super atau punya jalan keluar ajaib dari setiap permasalahan.

Superpowerku adalah kekuatan mutant, yakni mut-mutant dalam menjalani sesuatu

 
Kata “&” pada judul itu berhasil diseimbangkan. Walaupun di sini bukan dia yang punya kekuatan super, tapi film ini berhasil mengembangkan permasalahan Flora di balik petualangan superhero yang jadi lapisan terluar, lapisan yang membuat film ini seru sekaligus lucu. Film ini berhasil bikin Flora yang lebih memilih menjadi sidekick, tetap mencuat sebagai tokoh utama. Sementara itu, Ulysess si Tupai Super juga mendapat porsi yang cukup besar. Si Tupai ini dihidupkan dengan efek komputer. Desainnya tetap kayak tupai asli, tapi karena berupa CGI, karakter Ulysses ini jadi bisa melakukan banyak gerakan yang lucu-lucu. Mulai dari meniru pose superhero di komik Flora (suatu ketika dia meniru Spider-Man yang lagi gelantungan!) hingga melakukan aksi kecil-kecilan kayak ‘berantem’ dengan hiasan meja. Kita melihat Ulysses belajar dan mengembangkan kekuatannya. Kita melihat Ulysses mencoba membantu keluarga Flora lewat ketikan puisi (yes, salah satu superpower Ulysses adalah kekuatan mengetik kata). Kita melihat petualangan Ulysses berhadapan dengan musuh bebuyutan berupa si Penangkap Hewan (berseragam begitu, Danny “Abed” Pudi jadi mirip Matthew McConaughey hihihi). Film ini butuh CGI untuk menghidupkan Ulysses, tapi tidak pernah benar-benar bergantung kepada efek tersebut. Karena porsi pengembangan yang dibuat seimbang, dengan sudut pandang yang dijagai tetap pada Flora, maka film ini tidak pernah keluar dari jalur.
Penampilan Matilda Lawler sebagai Flora di sini super pas sekali. Keceriaan dan sarkasnya berhasil ia deliver dengan baik. Menjadi seorang Cynic bagi Flora berarti adalah melakukan banyak observasi. Menarik sekali melihat Flora yang excited banget untuk jadi sidekick dari Ulysses si Tupai Super. Flora ingin membantu Ulysses menemukan purposenya karena setiap superhero punya purpose. Anak ini bukannya gak percaya pada keajaiban, dia toh mau membantu dan percaya ada tupai yang jadi pahlawan super. Kurasa dari sinilah sebenarnya kepedulian kita terhadap Flora berasal, film memantik emosi yang subtil sekali di balik sikap ceria Flora yang membantu tupainya. Bahwa dia ini adalah anak yang sebenarnya sangat terpukul oleh keadaan keluarganya, oleh ayah ibunya yang berpisah.
Film ini memang tak lupa untuk berpijak pada permasalahan yang menapak ke tanah, yakni permasalahan dalam keluarga. Dalam hal ini, yang dibahas adalah keluarga yang berpisah. Ayah dan Ibu Flora juga mendapat porsi pembahasan dalam cerita. Ayah Flora, seorang komikus, dan ibu Flora seorang novelis romansa. Keadaan ekonomi membuat mereka bukan saja harus pisah-rumah, melainkan juga harus pisah dari passion masing-masing. Ayah Flora kini jadi karyawan toko, sementara ibunya masih pengen nulis tapi mandek – gak bisa lagi bikin sesuatu yang romantis.  Ini tentu saja permasalahan yang besar untuk setiap anak seusia Flora. But she didn’t beat herself up about it. Film pun tidak lantas jadi ajang mewek-mewekan. Flora begitu penuh imajinasi dan optimis dan – betapapun dia bilang enggak mau, dia tetap penuh oleh – harapan. Harapan inilah yang diam-diam jadi superpower Flora. Dia gak sadar bahwa dengan sikapnya, dia sudah jadi pahlawan bagi Ulysses, Ayah, Ibu, dan kehidupan di sekitar.
Tone ceria dan enerjik tetap dipertahankan oleh film ini. Jika tidak sedang menghangatkan kita oleh hubungan keluarga ataupun oleh petualangan seru, film ini akan bikin kita ngakak oleh selera humor yang juga super. Serius. Sarkasnya si Flora? Cek bikin ketawa. Dialog yang make fun of comic book and superhero? Cek bikin ngikik. Dan tak ketinggalan humor simpel yakni slapstick. Aku lebih banyak ketawa nonton film ini dibandingkan nonton Tom and Jerry (2021) kemaren. Flora & Ulysses adalah contoh yang benar untuk gabungan animasi dan live-action yang melibatkan hewan dan manusia. It uses characters very well, dan benar-benar mendesain komedi dari para karakter tersebut, pada apa yang mereka lakukan. Pada Flora & Ulysses ini, dunia itu benar terasa luas, akan selalu ada karakter yang memberikan kejutan yang lucu. Skit kucing galak yang nyakar dari balik semak aja sukses bikin aku guling-guling.
The friendly Neighborhood Cynic-Man

 
Meskipun demikian, tidak pernah terasa humornya receh. Film garapan Lena Khan ini tidak meledek siapapun – kecuali mungkin para man-child penggemar komik kelas berat itu tadi – dan itupun dilakukan dengan penuh respek. Ada satu elemen yang menurutku dilakukan dengan berani oleh film ini. Yakni karakter ally alias teman manusia Flora yang bernama William (sekali lagi Benjamin Evan Ainsworth dapat lawan main bernama Flora). William diceritakan buta sementara. Dan sikap karakter ini terhadap kebutaannya sering menjadi becandaan buat film ini. William mengatakan dia punya kemampuan echo-lokasi kayak kelelawar, atau dia sering nabrak dan jatuh tapi dia oke aja karena menganggap dirinya punya kemampuan menyerap tubrukan kecil. Sikapnya ini lucu, tapi tidak pernah tampak sebagai olok-olok buat penyandang kebutaan. Awkwardnya interaksi antara Flora dengan William dimainkan seperti gambaran ringan yang bisa dijadikan contoh untuk anak-anak yang punya pertemanan seperti mereka. Film menggebah mereka untuk bersikap biasa saja, tidak melecehkan, dan tidak pula mengasihani berlebihan.

Setiap superhero terlahir dari peristiwa yang membuat mereka hampir celaka. Mereka mendapat kekuatan dari sana. Ini bisa dibawa ke dalam kehidupan kita sehari-hari. Masalah yang dihadapi, adalah tantangan, yang harusnya bikin kita lebih kuat dengan berani menghadapinya. Will buta, but dia hadapi apa yang di depannya dengan berani. Flora punya segudang masalah meluarga, tapi ia hadapi, mainly dengan berharap semua bisa lebih baik. 

 
Will boleh jadi enggak bikin kita jadi males nonton film ini karena digarap dengan banyak respek. Tapi ternyata ada satu lagi yang berpotensi bikin turn-off. Yakni referensi tak-ada-abisnya ke dunia komik. Film ini sendirinya sudah punya hati dan komedi yang work out perfectly, tapi film tidak bisa menahan diri untuk memasukkan banyak referensi ke komik beneran. Awalnya memang lucu, Flora dalam narasinya menyebut komik seperti Wolverine, terus ada referensi ke Spider-Man tadi, tapi lama-lama ya kayak mengganggu aja. Karena film kan punya komik di dunianya sendiri, komik buatan ayah Flora. Film ini enggak benar-benar butuh menyebut komik yang beneran ada. At this point, mereka melakukannya hanya karena bisa. Nah inilah yang bikin kita sinis, bahwa referensi itu cuma promosi produk Marvel aja. Disney owns them, dan yea, mereka bisa melempar referensi sebanyak yang mereka mau di sini – untuk promosi. Tentu tak mengapa, sebenarnya. Kalo dilakukan dengan elegan, memang mengasyikkan. Tapinya juga, kalo enggak ada adegan-adegan referensi itu pun, film ini masih akan bisa bekerja.
 
 
Selain soal itu, aku gak menemukan hal lain yang bisa jadi permasalahan untuk orang dalam menonton film ini. Petualangan dan komedinya silly enough untuk menjadi seru, tapi tidak melanggar batasan receh atau disrespectful. Film ini sesekali make fun of comic book trope, but that’s about it. Ceritanya ngajarin tentang piaraan dan tanggung jawab, tentang keluarga, tentang persahabatan, tentang berimajinasi, dan semua itu dilakukan dengan enggak pandering, enggak memanjakan anak-anak. Karena itulah film ini bisa dibilang the true superhero yang dibutuhkan oleh anak-anak di tengah keringnya film yang bisa benar-benar mereka idolakan.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for FLORA & ULYSSES
 
 
 
 

That’s all we have for now.
Enak banget jadi Flora punya ayah yang bikin komik. Dulu ayahku membatasi, bahkan bisa dibilang melarang, baca komik. Apakah kalian dulu tim komik atau tim novel? Kenapa?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

WONDER WOMAN 1984 Review

“Wishes are free, but you have to pay for everything else.”
 

 
 
Harga dan impian punya kesamaan. Semua orang punya. Setiap orang pasti memiliki keinginan, dan setiap orang tentulah rela untuk membayar sejumlah ‘harga’ demi keinginan dan impian mereka bisa terpenuhi. Sekuel Wonder Woman yang kembali digarap dengan sangat cakep oleh Patty Jenkins akan ngasih tau kita sedikit banyak tentang ‘keinginan’ dan ‘harga’ tersebut. Bahwa seringkali harga yang kita bayar terlalu tinggi, padahal sesungguhnya yang kita miliki dalam hidup sudah cukup.
Film ini dibuka dengan adegan di Pulau Amazon, saat Diana kecil ikut kompetisi obstacle-course ala Benteng Takeshi  Ninja Warrior. Opening ini penting untuk dua hal; menyambut kita dengan aksi menghibur yang seru, serta melandaskan karakter Diana yang naif. Membuild up konflik personal yang nantinya memegang peranan penting dalam keseluruhan arc Wonder Woman dalam film ini. Karena reaksi Diana Kecil terhadap kegagalan dan kekalahannya di kompetisi ini akan terefleksi dan jadi ‘sin’ utama karakternya.

Seringkali kita mengarang kebohongan, karena kita tidak menerima kenyataan. Kita ingin lebih dan merasa tidak cukup dengan yang kita dapatkan sekarang. Kita mengambil jalan pintas, demi memenuhi keinginan untuk mendapatkan yang lebih baik. Keinginan yang tak akan pernah terpuaskan. Satu jalan pintas akan berkembang menjadi lebih banyak jalan pintas. Sampai akhirnya kita tersesat di sana. Melupakan siapa sebenarnya diri kita. Dan itulah harga tertinggi yang akan kita bayar.

 
Wonder Woman 1984 memang lebih banyak bermuatan drama ketimbang aksi. Namun film ini tidak gagal dalam menampilkan babak kehidupan Diana Prince sebagai superhero. Ceritanya justru semakin menarik karena berani memperlihatkan seorang pahlawan super yang vulnerable. Yang gak semena-mena kuat. Sosok Wonder Woman di sini terasa semakin manusiawi, karena kita dibimbing untuk mengenali karakternya, memahami keinginannya, dan melihat kelemahan. Bagaimana pun juga cerita superhero tetep saja adalah cerita tentang seorang person. Penggalian person inilah yang berhasil dilakukan maksimal oleh Jenkins. Jadi film ini enggak sekadar bak-bik-buk menghajar musuh, melainkan juga bahkan tokoh musuhnya diberikan kesempatan untuk tampil relatable dan manusiawi.

Tentara Arab kalah karena mereka be like ‘Astaghfirullah haram-haram’ sambil tutup mata

 
 
Fokus cerita adalah di tahun 80an saat fanny pack masih jadi hot fashion item. Diana Prince hidup di tengah-tengah khalayak Washington D.C. Di sela-sela kesibukannya bekerja sebagai peneliti benda-benda bersejarah dan menjadi pahlawan pembasmi keributan di kota, Diana diperlihatkan sebagai seorang yang kemana-mana sendirian. Diana kurang membuka diri, karena ternyata dia masih belum bisa move on dari Steve yang gugur di film pertama. Saat Dreamstone – kristal pengabul permintaan yang jadi sumber masalah film ini – ditemukan, Diana tak pelak langsung secretly make-a-wish Steve hidup kembali. Permintaan Diana ini terkabul, tapi dengan ‘bayaran’ kekuatan supernya perlahan memudar.
Sementara itu, ada dua karakter lagi yang meminta kepada Dreamstone. Dua karakter yang bakal jadi musuh utama Wonder Woman di sini. Pertama adalah rekan kerja Diana, perempuan kikuk dan cupu bernama Barbara Minerva (Kristen Wiig charming dalam peran-peran kayak gini). Minerva meminta untuk menjadi keren seperti Diana. Permintaan yang terdengar inosen, sayangnya Minerva gak tau kalo Diana itu pahlawan superpower. With great power, comes great responsibilities. Minerva mana siap. Minerva jadi orang yang angkuh dengan kekuatan barunya, dia tidak lagi ceria dan bersahabat. Penjahat kedua adalah seorang bintang televisi sekaligus pengusaha minyak, Max Lord (Pedro Pascal memainkan seorang con-man yang licin). Diremehkan seumur hidup, membuat pria ini pengen jadi yang terbaik; bagi dirinya dan bagi putranya. Jadi dia mengubah dirinya menjadi Dreamstone. Membuatnya bisa mengabulkan permintaan semua orang, sekaligus menagih bayaran apapun yang ia mau untuk memuaskan keinginannya atas kuasa. Di bawah kekuatan Max Lord, dunia kacau terancam WW84 (World War 84! hihi), sedangkan Diana terus melemah karena gak rela kehilangan sang pacar untuk kedua kalinya.
Aku bisa melihat SJW-SJW di seluruh dunia bakal sinis sama film ini. Kayaknya Wonder Woman 1984 ini bakal bernasib sama dengan Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (2018), dalam hal filmnya bagus tapi gak banyak yang berani terang-terangan memuji. You know, karena gak sejalan dengan agenda feminis kekinian. Suzzanna Luna Maya adalah drama horor yang manusiawi tapi gak banyak yang bicarain karena protagonisnya adalah seorang wanita perempuan yang rela hidup sebagai hantu untuk bisa terus bersama suami. Sedangkan Wonder Woman 1984 ini, Diana Prince-nya dibuat sebagai seorang perempuan yang gak bisa move on dari cowok; perempuan adidaya yang sempat rela menukar kekuatannya demi cinta. People will certainly quick to criticize that. Padahal mestinya dipahami dulu konteks journey Diana pada film ini. Sikapnya itu sebenarnya justru adalah ‘dosa’nya. Sesuatu yang harus Diana perbaiki sebagai bagian dari resolusi cerita mengenai kebenaran yang harus dihadapi.
Jalan keluar segala kekacauan dalam cerita ini adalah dengan membatalkan permintaan. Terdengar memang simpel dan gampang. But is it tho? Apakah segampang itu bagi Diana untuk membatalkan permintaannya; membuat Steve pergi lagi dari dirinya? Apakah semudah itu bagi Minerva untuk berhenti kuat dan keren sebagai Cheetah dan kembali menjadi dirinya yang cupu? Apakah seenteng itu bagi Max Lord membatalkan semua yang ia dapat, setelah semua kekuasaan itu? Cerita film ini adalah soal menghadapi kebenaran. Untuk mengenali bahwa bukan hanya kita yang menderita. Semua orang punya derita dan kesusahan masing-masing. Jadi cukuplah minta lebih banyak daripada orang lain. Menyadari itu sungguh bukanlah hal yang mudah bagi siapapun. Inilah tantangan bagi film ini. Harus membuat bagaimana membatalkan permintaan itu jadi sesuatu yang benar-benar tampak sulit dan berat bagi karakter. Makanya film ini butuh dua jam lebih. Ketiga karakter sentral yang sebenarnya sama-sama gak mau menatap kebenaran dibahas pelan-pelan, diberikan ruang untuk kita mengerti mereka. Dan pada beberapa memang efektif. Kita dapat merasakan emosi pada Wonder Woman dengan pengadeganan dia lari lalu terbang (adegan Wonder Woman belajar terbang sendiri on-the-moment itu beautiful sekali), kita juga dapat gejolak emosi ekstra ketika film membahas backstory Max Lord. Kita merasakan beratnya kembali itu bagi para penjahat yang selama ini sudah menderita.
Cerita begini menuntut range yang luas dari para pemerannya. Bagi Gal Gadot, memang ini kesempatan emas yang tak ia lewatkan. Wonder Woman udah kayak mendarah daging baginya. Gadot exceptionally excellent pada akting yang menuntut permainan fisik; dia udah buktiin ini di film pertama, dan menunjukkannya sekali lagi pada sekuel ini. Tantangan baru di sini baginya adalah menampilkan Wonder Woman yang menangis, yang merasa kalah. Dan akting emosional itu pun berhasil dimanuveri olehnya. Saat bercanda pun, karakternya come off sebagai natural, timingnya kayak mengalir aja. On top of that, karakter Gadot ini menguar kharisma. Detil-detil kecil bagaimana dia membawa diri, bagaimana orang-orang memperhatikannya, turut membangun karakternya. Like, beginilah seharusnya seorang tokoh superhero, gitu.
Lassonya bukan hanya untuk kebenaran, tapi juga untuk eksposisi

 
 
Sedari film pertama memang Jenkins mengarahkan ini dengan perhatian khusus terhadap detil-detil kecil.  Momen-momen kecil itulah yang justru membuat film ini terasa hidup. Seperti misalnya menggunakan pakaian sebagai hook untuk elemen drama. Lihat secara subtil film letakkin cheetah pattern di mana-mana, diam-diam membangun sosok si Cheetah. Ataupun misalnya pengadeganan seperti Diana dan Steve yang berjalan-jalan di kota, dengan kondisi ‘terbalik’ dari film yang pertama, karena sekarang Steve yang seperti fish-out-of-water; terkaget-kaget melihat seni, lifestyle, dan teknologi tahun 1984. Lalu sepertiga akhir, adegan ini circle-back lagi, kali ini mereka jalan dengan kota yang chaos. Jadi, Jenkins mengembangkan bukan hanya karakter tapi setting dalam detil-detil kecil tersebut. Adegan aksi atau berantemnya pun terasa berbeda satu sama lain, berkat detil-detil. Adegan berantem pertama di Gedung Putih, akan berbeda banget dengan adegan berantem kedua beberapa menit berikutnya, karena detil dan cerita karakter yang membedakan.
Ngomong-ngomong soal berantem, meskipun aku kurang puas karena terlalu singkat, tapi aku suka adegan big fight antara Wonder Woman dengan Cheetah. Environmentnya memang gelap untuk nyamarin CGI, tapi juga dimanfaatkan oleh film untuk menciptakan detil visual yang tampak wah. Aku suka lasso dan kabel listrik yang dikontraskan. Jubah emas Wonder Woman keren, kita melihat pov shot saat berantem dengan kostum ini, but mainly kostum ini dimanfaatkan untuk ‘teaser’ aja, karena there’s no way fungsi kostumnya gak diperlihatkan semua.
Approach Jenkins buat film ini kayaknya memang supaya tampak seperti cerita film kartun. Resolusi yang simpel, begitu pula awal masalahnya. ‘Cuma’ kristal ajaib entah darimana. Memang konyol, tapinya lagi, memang begitulah cerita superhero di kartun-kartun. Selalu ada ‘benda asing’ atau hal kecil lain yang jadi pemicu kehancuran dunia. Tapinya lagi, di film kedua ini, approach yang dipake itu sering juga menimbulkan adegan-adegan yang kontras dengan ‘manusiawi’ yang diincar oleh film. Alias ada beberapa adegan yang tampak dipaksakan masuk, karena cheesy ataupun karena hanya disinggung sekali itu saja. Misalnya seperti adegan di pesawat tak-kelihatan. Ya, ini disamain dengan komik karena aslinya Wonder Woman memang punya invisible jet sebagai kendaraan. Namun cara film ini memperkenalkan kendaraan itu kurang memuaskan. Tiba-tiba saja Diana punya kemampuan menghilangkan itu, dan tidak pernah dipakai lagi dalam adegan-adegan lain.
 
 
 
 
Kalo mau dibandingin, film ini memang tidak sesolid Wonder Woman yang pertama (2017) Ada beberapa bagian yang terasa dihadirkan gitu aja, yang kesimpelannya membuat film terasa lebih ringan dan kecil dari yang diharapkan. Jenkins masih mempertahankan keunggulan penceritaannya seperti memanfaatkan detil-detil kecil untuk karakter, adegan aksi yang fun dan memikat, serta tentu saja penampilan Gal Gadot yang kali ini dituntut untuk semakin ‘lincah’. Satu lagi yang menurutku nilai plusnya adalah, Jenkins sedari film awal tidak pernah terjebak untuk menjadikan superhero cewek ini sebagai agen feminis yang lebay. Tidak terasa film yang agenda-ish atau film dengan kepentingan tertentu. Melainkan fokus ke cerita yang memanusiakan tokoh-tokohnya. Cerita ini malah jadi relatable karena tentang cinta dan menerima kehilangan, yang tak pelak relevan untuk ditonton di tahun 2020 yang penuh musibah ini. Bisa membantu kita untuk tetap kuat, mau itu cewek ataupun cowok.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for WONDER WOMAN 1984.

 

 
 

 

That’s all we have for now.
Dreamstone mengabulkan permintaan, tapi dengan biaya berupa mengambil hal terpenting pada hidup kita. Jika kalian menggunakan Dreamstone, apakah kalian bisa menerka kira-kira apakah yang diambilnya dari hidup kalian? Kenapa?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

THE NEW MUTANTS Review

“The difference between a hero and a villain is that they just make different choices.”
 

 
 
Dari The New Mutants kita belajar bahwa sesuatu yang diundur-undur itu mungkin sebaiknya memang tidak usah dikeluarkan, jika tidak dilakukan pembenahan. Karena diundur itu sendiri sejak awalnya adalah tanda kebelumsiapan. Film The New Mutants ini tadinya ingin ditayangkan pada April tahun 2018. Karena ada beberapa reshot yang entah kenapa tidak pernah kejadian, film ini terus mundur. Lima kali, sebelum akhirnya tayang begitu saja di tengah pandemi di tahun 2020 ini. To be honest, film ini bisa mundur lebih lama lagi, suka-suka studionya, and it wouldn’t make any difference jika memang perubahan/perbaikan tersebut tidak dilakukan. Keadaan yang ironisnya sesuai dengan gagasan yang diangkat di balik cerita film ini sendiri.

Yakni cerita soal setiap manusia punya kekuatan dan ketakutan, dan tergantung masing-masing untuk terus meringkuk atau bertindak – dan tindakan yang dipilih tersebut ultimately akan menentukan apakah kita superhero atau villain. Orang baik atau orang jahat.

 
Sutradara Josh Boone menempatkan lima anak muda dalam sebuah fasilitas tertutup sebagai panggung cerita. Tapi tentu saja, lima anak muda itu bukan geng Breakfast Club yang sedang kena detensi sekolah. Melainkan, kelimanya adalah remaja dengan kekuatan super yang dianggap membahayakan, sehingga mereka dikurung di gedung penelitian itu. Dikurung dalam rangka untuk mengenali kekuatan mereka dan mempelajari penggunaannya. Namun bagi mereka itu bukan hal mudah. Karena masing-masing punya trauma di masa lalu. Misalnya tokoh utama cerita ini, Danni Moonstar; gadis keturunan Indian ini dibawa ke facility itu setelah kota tempat tinggalnya hancur oleh ‘badai’ misterius – effectively menewaskan sang ayah. Danni, tidak seperti empat remaja lain, belum mengetahui apa pastinya ke-mutant-annya. Sehingga ekstra susah bagi dirinya untuk escape dari trauma masa lalu, sekaligus untuk ikut teman-temannya escape dari tempat itu. Karena kejadian-kejadian mengerikan mulai terjadi di sana tanpa diketahui penyebabnya.

Among Us versi mutant

 
Yang fresh dari film ini memang genrenya. Boone membuatnya sebagai horor superhero. Mutant-mutant remaja dalam cerita ini akan berhadapan dengan monster-monster mengerikan dari masa lalu mereka. Masa lalu yang enggak jauh-jauh amat, karena mereka masih muda. Masih belum bisa mengendalikan kekuatan mereka; dari situlah mimpi buruk mereka berasal. Ada yang enggak sengaja membakar pacarnya sendiri. Ada yang mengakibatkan kecelakaan sehingga menimbun ayahnya hidup-hidup. Yang paling menarik buatku adalah karakter Illyana alias Magik yang diperankan oleh Anya Taylor-Joy. Cewek rusia ini, bersama boneka naga, sedari belia sudah membunuh 18 orang pria dewasa. Terdengar bad-ass banget, tapi sesungguhnya juga memilukan mengingat yang ia alami saat masih kecil tersebut. Boone memvisualkan trauma-trauma ini ke dalam bentuk-bentuk menyeramkan, seperti hantu dan monster yang bukan saja mengerikan tapi juga bisa benar-benar melukai mereka. Jika elemen ini diekplorasi lebih giat, dengan pengembangkan karakter yang dilakukan maksimal, tentulah film ini bisa benar-benar nendang.
Karena situasi seperti mereka ini jarang kita dapatkan dalam cerita superhero. Sudah terlalu sering cerita superhero membahas belajar menggunakan kekuatan dalam nada yang ringan dan lucu, dan kemudian si superheronya langsung menghadapi ujian berupa menyelamatkan orang tersayang. Dengan pembelajaran mereka disebut pahlawan bukan dari kekuatan supernya. Cerita The New Mutants sebenarnya mengincar jalur yang berbeda. Sebelum menyelamatkan orang-orang, Danni dan teman-temannya diberikan satu film khusus untuk belajar menyelamatkan diri mereka sendiri. Dan actually diberikan kesempatan untuk memilih jalan hidup mereka, sebagai superhero atau villain. The only other times aku menemukan bahasan seperti ini adalah pada serial anime My Hero Academia dan One Punch Man yang memang membahas lebih dalam filosofi pengkotak-kotakan ‘superhero’ dan ‘villain’. Aku berharap dapat pembahasan lanjutan pada film ini.
Namun film ini malah membuatku frustasi karena mereka bersikap ngawang-ngawang terhadap hal tersebut. Permasalahan mengemban kekuatan di usia remaja dapat membawa banyak derita dan pengalaman mengerikan, dan setiap orang punya dua pilihan berbeda untuk menyingkapinya, hanya dicuatkan di akhir  Jika hal tersebut ditunda untuk menonjolkan hal lain semisal interaksi karakter-karakter yang unik ataupun bagaimana mereka menyelidiki gedung facility itu (aneh sekali hanya ada satu dokter yang menjaga mereka), atau apapun lah untuk memanfaatkan talenta-talenta muda itu secara maksimal, maka kita sejatinya tidak akan menemukan titik jemu saat menonton film ini. Sayangnya, justru hal itu juga tidak mampu dilakukan oleh film. Para mutant remaja tersebut hanya berinteraksi klise yang ala kadarnya; sok tough di depan dokter, lalu sok saling menjahili saat dokter gak ada. Karakter Illyana yang supposedly digambarkan layaknya mean girl bagi Danni, tidak pernah berkembang lebih ‘hidup’ daripada sekadar melontarkan hinaan rasis. Tokoh cowoknya either just want to hook up or playing hero. Semuanya terasa datar dan terasa kurang diperhatikan. Karena memang perhatian nomor satu film ini adalah memasukkan elemen ‘kekinian’ — memperlihatkan hubungan romansa antara Danni dengan mutant cewek bernama Rahne (Maisie Williams meranin karakter paling annoying dalam film ini) 
Nonton mutant-mutant ini bikin kita menguap sampai pipi kesemutan

 
Dahulu sewaktu belajar menulis, aku diberitahu bahwa sebenarnya perkara menulis adalah perkara menanyakan pertanyaan yang tepat. Menilik dari sana, aku pikir sepertinya itulah penyebab kenapa The New Mutants tidak bekerja maksimal memenuhi potensi yang dimiliki oleh ceritanya. Mau berapa lama pun diundur, mau berapa kali retake yang mereka lakukan (kalo jadi dilakukan) sepertinya tidak akan ngaruh banyak. Karena film ini melakukan kesalahan pada hal yang paling fundamental dalam penulisan bangunan ceritanya. Kesalahan itu berupa simply salah mengajukan pertanyaan.
Keseluruhan cerita film ini dibangun dari pertanyaan ‘apakah kekuatan mutant yang dimiliki oleh Danni’. Jawaban dari itu akan diungkap di babak akhir. Menjelma kepada kita sebagai adegan final fight dengan penyelesaian paling receh dalam universe superhero; tokoh utama gak ikut berantem (gak bisa karena praktisnya kekuatan si protagonislah yang jadi musuh) dan kemudian dia bangkit dan semuanya selesai begitu saja. Dan jujur saja, siapa sih dari kita yang saat nonton ini belum bisa mengerti kalo kekuatan Danni itu sebenarnya apa, saat sudah sampai di babak tiga? Aku yakin gak ada. Aku yakin semua itu udah begitu jelas arahnya kemana. ‘Kekuatan macam apa yang dimiliki oleh mutant A’ akan otomatis muncul di kepala kita saat menonton film superhero.  Film tidak perlu menyimpan jawaban pertanyaannya tersebut. Film tidak perlu mengstretchnya sepanjang tiga babak. Pertanyaan itu tidak bisa dijadikan sebagai pertanyaan utama untuk majunya cerita. It just doesn’t work. Pertanyaan yang seharusnya diangkat sebagai cerita oleh film ini adalah soal bagaimana si tokoh remaja ini hidup dengan berurusan dengan kekuatannya tersebut.
Makanya Illyana begitu menarik buat kita. Mencuri perhatian, kita bilang. Itu bukan sekadar karena Illyana literally karakter paling keren, atau karena Anya Taylor-Joy cantiknya memang unik. Kita lebih tertarik dan bersimpati kepadanya karakternya lebih cepat kita mengerti – kita tahu kekuatannya apa, traumanya dari mana, apa luka personalnya. Sehingga pembahasan tentang karakter itu pun lebih kompleks lagi, langsung ke emosional tentang bagaimana dia mengambil sikap dan bergerak seperti di garis batas antara superhero dengan villain. Kita bersamanya saat dia melawan ketakutannya dan ketika dia memilih untuk menjadi superhero. Coba kalo Danni ditulis dan dikembangkan seperti begini. Pertanyaan kekuatan dia tidak dijadikan pamungkas. Melainkan yang diangkat adalah persoalan bagaimana dia menyingkapi kekuatan dengan segala konsekuensinya, path mana yang akan dia pilih. Niscaya film akan jadi lebih menarik. Danni akan belajar mengenai dealing with her power selama dua babak, alih-alih dalam lima belas menit dia tak sadarkan diri saat teman-temannya bersusah payah.
 
 
Dari film ini mestinya film-film Indonesia yang tertunda jadwal tayangnya di bioskop mengambil pelajaran. Bahwa waktu tunda itu bisa dijadikan kesempatan untuk memperbaiki diri. Film ini sendiri punya begitu banyak waktu, hype dan segala macam terhadapnya sudah terbendung tinggi. Hadir dengan ala kadar seperti begini – cerita horor superhero yang gak jor-joran, elemen remaja yang cuma fokus ke agenda saja, akting yang juga hanya sedikit lebih bagus daripada level televisi (kecuali Anya!), dan writing yang perlu banyak pembenahan – hanya akan membuat filmnya jadi semakin jatuh karena ekspektasi terhadapnya sudah terlampau tinggi. Jika Danni berkata sesungguhnya adalah pilihan kita untuk membesarkan yang mana, maka film ini telah memilih untuk tetap berusaha gede sebagai medioker.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for THE NEW MUTANTS

 

 
 

 

That’s all we have for now.
Danni percaya dalam setiap manusia hidup dua ekor beruang, would you like to share kira-kira beruang mana yang paling subur hidup di dalam diri kalian?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

PROJECT POWER Review

“When your desires are strong enough, you will appear to possess superhuman powers to achieve”
 

 
 
Obat super beredar di jalanan New Orleans. Obat yang jika dikonsumsi akan memberikan kekuatan super kepada pemakainya; selama lima menit, si pemakai akan memiliki berbagai kemampuan seperti hewan, ada yang tahan api, ada yang jadi berkulit anti peluru, ada yang bisa bikin kulit kayak bunglon – hasil itu berbeda pada setiap individu, tergantung karakteristik power bawaan mereka. Malah ada yang tubuhnya meledak begitu saja! Namun kerandoman itu tidak menyetop manusia di dunia Project Power untuk mencoba obat tersebut. Yang menjadikan obat itu jadi rebutan, diperdagangkan, dan coba untuk dikuasai oleh pihak tertentu. Pil yang paling pahit untuk ditelan memang bukan obat fiktif itu, melainkan film ini sendiri. Ide dan konsepnya yang keren – yang mengingatkan kita pada salah satu saga pada season anime superhero My Hero Academia – seperti dimentahkan oleh pemilihan plot yang basi.
Narasi film original Netflix terbaru ini berpijak pada tiga karakter sebagai pondasinya. Sebagai hero, ada Joseph Gordon-Levitt yang memainkan seorang polisi bernama Frank. Dia ditugaskan khusus untuk menyelidiki peredaran obat-obat atau pil power tersebut, dan menariknya Frank diam-diam turut mengonsumsi pil untuk mempermudah dia dalam melaksanakan misi-misi yang berbahaya. Frank mendapat pasokan pil dari dealer remaja bernama Robin. Robin ini – diperankan oleh Dominique Fishback – adalah protagonis kita. Robin punya backstory yang membuatnya relatable dan bisa kita pedulikan; dia anaknya gak pedean walau punya bakat jadi rapper, dan terpaksa menjadi dealer karena struggle dengan masalah keuangan keluarganya. Walau kedua tokoh ini sudah menarik in their own way, film memfokuskan petualangan pada cerita si tokoh utama, Jamie Foxx yang kebagian peran sebagai Art, ex-militer yang buron dan dianggap berbahaya, padahal sebenarnya dia hanya mencari putrinya yang diculik oleh perusahaan pembuat pil yang ingin memanfaatkan quirk, eh power! sang putri untuk pengembangan lebih lanjut. Art, Robin, dan Frank akhirnya bertemu, dan dari yang tadinya bersengketa, mereka jadi tim yang memberantas pengedaran pil.

next episode: trio ini memberantas kalung obat corona

 
Project Power diberkahi oleh tiga penampilan utama yang jelas sekali lebih kuat daripada materi ceritanya. Oleh arahan Henry Joost dan Ariel Schulman yang menghadirkan aksi-aksi cepat dan cukup kreatif. Dan tentu saja oleh budget Netflix yang memungkinkan film ini mejeng dengan tampilan yang meyakinkan. Film ini punya banyak sekuen aksi yang asik berkat variasi superpower yang dimiliki oleh tokoh-tokohnya. Adegan pengejaran si perampok berkemampuan bunglon di jalanan kota yang ramai merupakan salah satu pencapaian terhebat yang berhasil diraih oleh Project Power. Kebrutalan juga dimainkan dengan berimbang dan diperlakukan dengan stylish, sehingga adegan-adegan yang mestinya sadis tidak terasa disturbing amat, sekaligus tidak mengurangi sensasi kebrutalannya. Seperti misalnya ketika kamera diposisikan untuk merekam perkelahian Art dengan perspektif dari dalam kandang kaca, sementara di dalam kandang itu sendiri ada seorang tokoh yang efek obatnya sudah habis sehingga dia sedang mengalami kepanikan lantaran tubuhnya kini berangsur tidak lagi tahan beku. Jadi ada dua kejadian yang berlangsung, dan kita seperti mengalami keduanya sekaligus, kita merasakan hopelessnya tokoh yang terkurung, imajinasi kita dibimbing untuk ‘melihat’ dia membeku sampai mati, sementara itu juga kita melihat pertempuran tak imbang di luar kandang di mana tokoh utama yang kita pedulikan sedang melawan banyak orang.
Film-film aksi original Netflix sepertinya mengikuti satu tren tertentu. Produksi dan garapan laganya selalu memukau. Namun tidak demikian dengan ceritanya. Project Power juga tersendat masalah yang sama; yakni alur yang tidak segarang konsep film itu sendiri. Kisah pencarian anak yang diculik bukan saja udah pasaran, pada kasus film ini juga menumpulkan dunia film ini sendiri. Membuat antagonisnya generik, membuat pengembangannya enggak terasa baru. Modal untuk jadi dalem dan fresh itu sebenarnya ada di sana. Polisi yang makek obat terlarang? kurang menarik apa coba. Anak-anak jalanan yang jadi addict sama pil, walaupun mengonsumsinya ada efek samping dan lima-menit kekuatan itu apakah tidak cukup atau malah sebuah resiko yang rela diambil; ada gagasan yang menarik di situ.
Dan soal musik rap itu; film menggunakan banyak sisipan lagu-lagu rap, yang difungsikan bukan semata pemanis, melainkan sebagai penguat karakter. Rap adalah ‘power’ dari karakter Robin. Cewek ini enggak butuh untuk makek pil, tapi dia perlu banget untuk berani menunjukkan kemampuan rap yang jadi keunggulan dirinya. Tentu ada pembelajaran untuk penonton muda di sini. Sayangnya karakter Robin dan her entire act kayak jadi sampingan. Nge-rap itu enggak pernah dijadikan sesuatu yang menyelesaikan masalah dalam film ini, kemampuannya tersebut tetap nampak tak berguna. Di pertempuran akhir ada momen ketika Robin harus jadi pengawas di ruang kendali dengan banyak monitor, kupikir keahlian ngerapnya akan digunakan untuk menyelamatkan rekan-rekan atau semacam itu, tapi ternyata tidak.

Pil super dalam film ini diperebutkan karena orang-orang mencari solusi termudah bagi masalah dalam hidup mereka. Padahal kita enggak butuh kekuatan super untuk mencapai tujuan. Justru sebaliknya, kita adalah manusia super jika berhasil berjuang, memberanikan diri, dan rela berkorban untuk menggapai yang kita inginkan.

 

Diputer, digigit, dicelupin ke dalam perut

 
Film tidak pernah menggali keunikan konsep dan latar tokoh-tokohnya dengan mendalam. Hanya menyerempet permukaan sehingga mereka tampil ala kadar. It’s actually susah untuk kita menentukan mana tokoh yang seharusnya bisa dihilangkan saja, saking meratanya kelemahan penulisan mereka. Aku pribadi lebih suka jika ini adalah cerita tentang Frank dan Robin saja, karena hubungan mereka lebih unik. Polisi dan dealer obat terlarang – yang makek di sini adalah si polisi. Atau Frank saja yang dienyahkan sepenuhnya kalo film memang pengen memfokuskan kepada Art mencari anaknya. Dengan begitu kita akan dapati landasan drama yang lebih menyentuh antara Robin yang gak punya ayah dengan Art si buronan yang kehilangan putrinya. Dalam film ini, actually, kadar drama tersebut memang ada dan cukup kuat. Momen-momen hangat dan menyentuh dari film ini bersumber dari interaksi antara Art dengan Robin. Namun cara yang dipilih film untuk membungkus cerita sangat sangat aneh. Hingga ke titik seperti Robin-lah di sini yang paling enggak penting.
Keduanya diset untuk menemukan pengganti dari dalam diri masing-masing. Art melihat putrinya di dalam diri Robin, dan sebaliknya bagi Robin Art adalah ayah yang tak ia punya. Dan film memastikan Robin tak pernah punya sosok ayah yang ia idamkan. Karena di akhir, Art menemukan miliknya yang hilang, dan Robin ditinggal. Kembali ke kehidupannya semula, only richer. Dan karena tokoh utama film ini adalah Art, maka Robin si protagonis hanya terasa seperti placeholder. Kehampaan serupa yang kurasakan saat menonton Pokemon Detective Pikachu (2019) saat tokoh utamanya tetap gak punya pokemon di akhir cerita. Project Power ini bermain terlalu aman. Semua keunikan dan aksi-aksi cepatnya jadi sia-sia karena cerita yang kayak gak niat untuk menjadi lebih kuat.
 
 
 
Kalo ada yang butuh pil super, maka itu bukan para tokoh ataupun kita. Melainkan film ini. Ide dan konsepnya butuh sesuatu untuk meledak menjadi sesuatu yang benar-benar fun, fresh, dan memiliki arti. Dalam keadaannya yang sekarang, film ini tetap seru untuk disaksikan, tapi akan memberikan aftertaste yang hambar, dan kemudian pahit jika kita mengingat potensi yang dikandung oleh konsepnya.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for PROJECT POWER.

 

 
 
 

 

That’s all we have for now.
Jika dijual, berapa harga yang rela kalian bayarkan untuk mendapatkan pil seperti itu? Jika kalian tidak tertarik, kenapa?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

THE OLD GUARD Review

“The key to immortality is first living a life worth remembering”
 

 
 
Jika ada yang bisa mengalahkan sensasi surprise dikasih tahu oleh raksasa bahwa kita sebenarnya adalah penyihir, maka itu adalah sensasi mengejutkan saat Charlize Theron datang ke hadapan kita dan memberitahu bahwa kita sesungguhnya adalah immortal. Kalian yang tidak bisa membayangkannya, silakan tonton film aksi-fantasi terbaru, The Old Guard di Netflix. Karena peristiwa itulah yang persisnya terjadi kepada tokoh Nile di film tersebut.
Nile adalah tentara wanita yang sedang bertugas menangkap teroris di Afganistan. Dia terluka parah saat menjalankan misi tersebut. Namun ajaib, dia sembuh total. Luka tebas di lehernya hilang. Kini yang membekas pada diri Nile adalah selayang mimpi tentang sekelompok orang. Kelompok yang keesokan hari datang menjemput dirinya. Dipimpin oleh Andy, cewek berambut bondol yang tangguh banget, kelompok yang beranggotakan empat orang itu memperkenalkan diri sebagai sesuatu yang sukar dipercaya oleh Nile. Mereka semua tidak bisa mati, meski dalam kondisi luka yang paling fatal sekalipun. Dan kini Nile, somehow, menjadi sama seperti mereka. Nile diajak bergabung ke dalam barisan mereka, yang selama beratus-ratus tahun ini mendedikasikan diri untuk memberantas kriminal, secara rahasia. Dan sementara Nile memutuskan untuk menerima ajakan Andy dan kawan-kawan, seorang bos perusahaan farmacy gede di London ternyata telah mengendus keberadaan mereka. Andy dan teman-teman dijebak, mereka hendak ditangkapi untuk dijadikan subjek penelitian. Keabadian mereka akan diteliti, diekstrak kalo bisa, dan tentu saja diuangkan dengan dalih demi kebaikan seluruh umat manusia.

Basically mereka adalah Deadpool, tanpa rasa humor.

 
 
The Old Guard garapan Gina Prince-Bythewood ini ditulis langsung oleh penulis komik/graphic novel yang jadi sumber adaptasinya. Jadi film ini menjanjikan hal yang selalu ditagih oleh fans komik/buku yang diadaptasi ke layar lebar; kesetiaan dengan sumbernya. Aku belum pernah membaca komik The Old Guard, tapi begitu selesai menonton film ini aku bisa menebak cerita ini punya banyak penggemar, dan penggemar tersebut sepertinya bakal puas luar biasa dengan film ini. Karena The Old Guard bukan sekadar tontonan dengan karakter yang menarik dan punya aksi stylish yang berwarna merah oleh darah. Melainkan juga sebuah cerita yang mau meluangkan waktu untuk mengembangkan tokoh-tokoh tersebut, mengeksplorasi drama yang dimiliki oleh karakternya.
Sementara Nile si anak baru yang diperankan dengan matang oleh KiKi Layne bertindak sebagai perpanjangan kita yang awam terhadap dunia cerita, pusat cerita ini ini sebenarnya ada pada Andy. Si tentara immortal paling tua di antara mereka. Wanita ini sudah melewati begitu banyak pertempuran. Begitu banyak kehilangan. Begitu banyak luka. Sehingga konflik dan emosi cerita sebagian besar berasal dari tokoh yang diperankan dengan sangat badass oleh Charlize Theron ini. Kamera akan sigap menangkap momen-momen berharga tersebut. Lingering ke wajah Theron setiap kali tokoh Andy terdiam, entah itu terkenang akan kesedihannya terhadap seorang sahabat jauh di masa lalu, atau berkontemplasi mengingat waktu-waktu yang telah ia lalui dan kebimbangan akan waktu yang akan datang. Dengan muatan drama karakter yang sudah eksis begitu lama, serta dunia yang punya mitologi dan aturan main sendiri, film ini punya banyak paparan yang harus dibeberkan kepada kita. Sutradara Prince-Bythewood menghandle ini dengan cukup bijak. Ia tidak melakukannya dengan terburu-buru. Eksposisi tidak dihadirkan sekaligus. Akan tetapi, dia mengungkap semua dengan perlahan. Menggunakan momen-momen tenang di antara aksi-aksi untuk membuat kita sedikit lebih dekat dengan para tokoh.
Ketika berbicara, film ini memang tidak banyak berbeda dari film-film sebelum ini yang mengusung konsep karakter yang tak-bisa-mati. Permasalahan yang diangkat enggak jauh dari seputar beban moral hidup melampui orang-orang tersayang. Yang dibahas adalah pertanyaan apakah keabadian itu adalah kutukan atau anugrah. Dan jika itu anugrah, apakah tidak lebih baik untuk dibagikan kepada orang lain. Dalam keadaan terbaiknya, film dapat menantang penonton dengan persoalan tersebut. Keadaan terbaik ini tentu saja dapat tercapai dengan menghadirkan antagonis yang berbobot; yang punya lapisan dan tidak berlalu satu dimensi. Sayangnya, The Old Guard belum mampu mencapai keadaan terbaik tersebut. Karena tokoh penjahat utama yang dimiliki oleh cerita actually adalah bagian terburuk dari film ini. Pemimpin Pharmacy yang diperankan oleh Harry Melling (Dudley Dursley!) ditulis terlalu komikal, bahkan untuk villain cerita buku komik seperti ini. Elemen menangkap manusia untuk dijadikan subjek percobaan alias untuk disiksa terasa tidak terlalu klop dengan permasalahan emosional yang ditanamkan kepada tokoh-tokoh protagonis. Membuat film jadi sedikit terlalu klise. Pembicaraan yang cukup baik dilakukan oleh film ini adalah ketika memasukkan bahasan tentang LGBT; yang agendanya tidak terasa annoying melainkan pure diversity karakter.

Lewat Nile yang belajar banyak dari Andy, film membawa obrolan soal pilihan dalam mengisi hidup. Dengan umur sepanjang itu, sepenuhnya keputusan mereka untuk mau ngapain aja. Yang lantas membuat kita berpikir; bahwa sesungguhnya setiap manusia, bahkan kita, bisa menjadi abadi. Persis seperti Andy. Ya, melalui apa yang kita kerjakan. Jika kita hidup dengan berguna bagi banyak orang, jasa kita akan tetap hidup bersama mereka hingga generasi ke depan. 

 
 
Ketika berbicara lewat aksi, film ini menjadi semakin menarik. Pertarungan favoritku adalah pas adegan berantem di dalam pesawat. Di situ Andy bener-bener kelihatan ‘dewa’ banget. Kemampuan berakting action Theron sepertinya memang sudah demikian terasah, dan film mengetahui ini. Menggunakan talenta Theron dengan maksimal. The Old Guard punya desain aksi yang unik untuk keempat tokoh mercenary immortal tersebut. Karena mereka sudah bertempur bersama selama berabad-abad, bukan saja mereka jago pakai senjata apapun, mereka sendiri juga bertindak seperti satu senjata. Koreografi adegan penyerbuan oleh mereka terasa fresh untuk dilihat karena menghadirkan banyak kombo atau kerja sama unik. Serangan grup mereka begitu taktis dan efektif. Namun sayangnya kerja kamera seringkali tidak seefektif itu. Hampir seperti kamera tidak sanggup mengimbangi ataupun memenuhi konsep yang dituju oleh koreo. Karena yang kita lihat adalah seringkali shot yang terlalu goyang dan berjarak terlalu jauh. Sehingga alih-alih kita seperti berada in-the-moment, kita malah terasa seperti mengintip dari kamera bystander yang memfilmkan keributan yang mereka lihat.
Pemilihan musik latar juga tidak membantu untuk menguatkan suasana yang imersif. Bukan karena musiknya jelek. Melainkan karena gak cocok. Film ini menggunakan musik pop elektronik pada adegan-adegan yang intensitasnya krusial. Misalnya, tokoh yang sedang bingung atas apa yang terjadi pada tubuhnya, dia lantas pasang headset dan kita mendengar musik pop itu. Atau ketika tokoh kita bersembunyi siap menyergap rombongan penyusup, lagu pop elektro itu lantas diputar oleh film. Yang membuat kita terlepas dari adegan itu sendiri karena suasananya memang gak cocok.

Pengen immortal membuat kita jadi immoral

 
Tensi dan intensitas cerita turut melonggar ketika kita sudah mengestablish tokoh-tokoh ini enggak bisa mati. Berkali-kali kita melihat mereka tewas mengenaskan, lalu hidup lagi. Tidak ada lagi ancaman bagi mereka. Film menyadari hal ini dan cerita kemudian berbelok dengan menyebut bahwa para immortal itu sesungguhnya bisa mati. Keabadian mereka ada batasan, hanya saja terjadi dengan random. Dan itulah masalahnya; random. Tentu, kini kita jadi lebih greget menonton karena sudah ada yang dikhawatirkan dari mereka. Tapinya juga terasa jadi jalan yang mudah bagi film. Mitologi immortal mereka ini mestinya bisa dieksplorasi lagi. ‘Aturan’nya mestinya bisa diperjelas. Karena mengundang banyak pertanyaan selain kenapa random. Seperti; apa mereka masih bisa hidup kalo dibom dan hancur berkeping-keping, apa mereka bakal jadi membelah diri – dari setiap serpihan muncul sosok baru, atau mereka kayak Buu – serpihannya menggumpal membentuk tubuh mereka kembali. Atau apakah Nile baru sekarang jadi immortal, atau apakah sudah dari dulu dan dia baru tau. Actually, film ini mempertanyakan hal tersebut lewat salah satu tokoh. Namun tidak ada jawaban. Aku yakin mitologi immortal ini, pertanyaan-pertanyaan yang dibiarkan ngambang di film ini, semua ada penjelasannya. Hanya saja karena ini diniatkan sebagai film seri petualangan, alias bakal ada sekuel, maka pembuatnya sengaja gak membahas banyak dan ini membuat film ini jadi kurang tight penceritaannya.
 
 
 
Waktu, berharga karena ada batasnya. Tokoh-tokoh dalam film ini pada akhirnya belajar akan hal tersebut. Sementara film ini sendiri memang berusaha mengisi durasi dua-jam miliknya yang berharga itu dengan semaksimal mungkin. Mereka berhasil membuat ini jadi tidak membosankan. Tidak menjadi berat oleh eksposisi. Namun juga jadi kurang nonjok karena ada beberapa hal yang kurang dieksplorasi. Dengan dugaan sengaja untuk jadi bahasan di film berikutnya. Membuat film menjadi tidak sespesial yang seharusnya ia bisa. Untungnya film ini cukup menyenangkan, karakter-karakternya bisa kita pedulikan, sehingga aku cukup penasaran sama kelanjutan ceritanya.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for THE OLD GUARD.

 

 
 
That’s all we have for now.
Jika kita tidak bisa mati, akankah kalian akan berlaku reckless atau malah jadi lebih berhati-hati daripada biasanya?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

BIRDS OF PREY Review

“Freedom is the emancipation from the arbitrary rule of other men.”
 

 
Dunia belum berakhir, bila kau putuskan aku. Begitu mungkin – dan memang seriang lagu itulah – kata hati Harley Quinn setelah cintanya bersama Joker kandas. Sama seperti kita semua, supervillain yang super kece dan super gokil; yang membuatnya jadi superkeren ini juga bisa patah hati. Galau. Namun kisah yang ia sebut dalam narasi sebagai emansipasi dari Harley Quinn akan mengingatkan kepada setiap cewek di dunia bahwa cewek sebenarnya jauh lebih hebat lagi ketimbang cowok yang kata pepatah berdiri di depannya.
Birds of Prey sempat dinyinyirin penggemar DC karena harusnya (kalo fans komik udah ngomong “harusnya” itu berarti “yang benernya di komik adalah”) Birds of Prey merupakan nama kelompok superhero cewek. Tapi dalam versi film yang disutradarai oleh Cathy Yan ini (sutradara wanita Asia pertama yang ngegarap film superhero? might wanna check on that...), Harley Quinn yang bandit memasukkan dirinya ke dalam cerita. Sebegitu unik dan gokilnya tokoh ini. Film is actually, totally, about her. Judul aslinya aja “The Fantabulous Emancipation of One Harley Quinn”. Bercerita tentang Harley yang udah gak lagi di bawah perlindungan Joker sehingga ia diburu oleh penegak hukum dan juga para penjahat-penjahat di sudut-sudut gelap Kota Gotham yang dendam dan geregetan pengen menjitak kepalanya. Salah satunya adalah si Black Mask, hanya saja ketua geng ini pengen menguliti wajah Harley – seperti yang sudah jadi cap-dagang kejahatannya. Harley membuat perjanjian dengan Black Mask; ia akan menemukan berlian inceran Black Mask yang hilang sebagai ganti nyawanya. Perburuan berlian yang ada pada pencopet cilik membawa Harley pada sebuah persahabatan baru. Bukan saja sama si anak kecil, Harley juga bergabung dengan tiga wanita tangguh Gotham. Yang tadinya saling bermusuhan dan punya agenda masing-masing, menjadi satu grup jagoan cewek yang memberantas geng jahat yang didominasi oleh pria.

Harley pasti berani ke kondangan sendirian

 
Agenda feminism jelas merupakan misi utama dari film ini. Sungguh sudut pandang yang jadinya menarik karena Harley Quinn bermula dari seorang penjahat. Jadi film ini awalnya ingin memperlihatkan dunia kejahatan bukan sebatas milik kaum pria. Dalam banyak film modern, narasi feminis seringkali jadi sandungan sebuah penceritaan. Tokoh utama ceweknya akan jatoh sebagai karakter mary-sue alias karakter sempurna yang cakap akan apa saja dan tokoh-tokoh lain – bahkan dunia cerita – mengalah untuk membuatnya terlihat mandiri, kuat, capable. Program cewek harus unggul dari cowok membuat film jadi annoying. Masalah ini tidak berlaku pada Birds of Prey. Harley Quinn enggak seketika menjadi ratu jalanan. Film akan memperlihatkan proses. Zona nyaman Harley adalah berada di balik nama Joker – di awal cerita dia merahasiakan sudah putus dari Joker hanya supaya dia masih bisa menangguk keuntungan dan keselamatan sebagai ‘pacar Joker’. Lalu ketika semua orang sudah tahu, setiap sudut kota menjadi tempat mengancam nyawa bagi Harley. Vulnerability-nya sebagai wanita di tengah sarang penyamun dijadikan stake dan kita peduli padanya karena kita juga mengakui betapa bahaya dunia tersebut bagi wanita, as in, cewek semenarik Harley gak akan survive di sana. Yea, I said it. Margot Robbie sangat memukau sebagai Harley Quinn. Ketawa cekikikan badutnya saja udah bikin terpesona.

Tips setelah putus buat cewek-cewek ala Harley Quinn: Jangan mengurung diri, go out. Ledakkan kenangan akan mantan sampai lenyap. Dan carilah teman; entah itu hewan peliharaaan, ataupun… makanan!

 
Tentu, Harely Quinn bisa macam-macam. Mulai dari berkelahi tangan kosong hingga bertarung dengan senjata, baik itu senjata api maupun tongkat baseball, ataupun berkelahi sambil bersepatu roda. Adegan Harley berantem pake baseball bat terlihat sangat seru dan menyenangkan. Namun bukan karena itu semata dia berhasil selamat dan mengalahkan musuh yang mengejarnya. Film benar-benar mengeksplorasi kekuatan Harely Quinn, juga kelemahan-kelemahannya. Aku suka film ini enggak melupakan basic ilmu yang dipunya oleh Harley. Ia sebenarnya adalah psikiater, dan kemampuan menganalisis orang akan sering kita temui ia gunakan dalam film untuk berbagai keperluan seperti membujuk, negosiasi, atau keluar dari situasi sulit. Keabsurdan Harley Quinn juga tergambar dengan baik; sangat kocak meskipun gak masuk akal. Tokoh ini exactly kayak tokoh kartun yang bisa menarik benda begitu saja. Film merecognize hal ini, seperti ketika ada tokoh yang mempertanyakan Harley Quinn yang tiba-tiba sudah memakai sepatu roda untuk bertarung.

Film ini, lewat pembelajaran yang dilalui oleh Harley Quinn, memperlihatkan kepada kita makna emansipasi dan kemandirian wanita yang enggak dibuat-buat atau dipaksakan. Emansipasi berarti kemandirian dari aturan orang lain yang mengekang. Namun independen bukan berarti harus sendirian. Bukan berarti enggak butuh bantuan. Cewek yang dibantu bukan semata lemah. Bekerja sama adalah jalan keluar bagi Harley dan tokoh-tokoh wanita jagoan dalam film ini. Mereka mengalahkan para geng pria dengan independen menjadi diri mereka sendiri, bersama-sama.

 
Harley Quinn yang dikejar-kejar penjahat satu kota mengingatkan kita pada John Wick. Ia juga punya hewan peliharaan yang jadi semangat juang, tapi bukan anjing melainkan hyena! Adegan berantemnya pun semenyenangkan itu. Dari attitudenya sendiri, film ini mirip dengan Deadpool. Film ini juga ‘cerewet’ oleh narasi yang crude sambil sesekali breaking the fourth wall. Birds of Prey berjalan dengan diceritakan oleh voice-over Harley Quinn. Hal ini dijadikan alasan bagi film untuk tampil sangat unpredictable. Dari sekuen animasi hingga montase backstory, semuanya dikisahkan cepat keluar mulut tokoh utama kita. Tau dong gimana karakter ini kalo ngomong? Ngasal, gokil, dan kadang melompat-lompat bahasannya. Penceritaan seperti begini jadi gimmick yang bagus, meskipun memang menjadikan film jadi berantakan. Ada empat cewek lain yang nantinya jadi pasukan Birds of Prey, plus satu tokoh jahat, dan di babak pertama Harley Quinn akan serabutan menceritakan backstory mereka masing-masing. Akan cukup sering kita dibawa mundur dari alur karena Harley mau menjelaskan satu tokoh saat sedang menceritakan kejadian yang berlangsung. Ini bisa jadi melelahkan, karena cerita utuh jadi seperti terpotong-potong dan disusun acak.

also, there will be a lot of ‘kick to groin’ fighting moves.

 
Dan bahkan semua latar itu belum cukup dijejelkan di babak satu. Film masih punya tanggungan satu tokoh lagi, yang sengaja dibiarkan jadi rahasia hingga setelah pertengahan film. Birds of Prey terasa jadi kayak set up yang berkepanjangan, meskipun secara struktur; film berusaha memakai narasi yang maju-mundur supaya strukturnya bener. Mereka menggunakan cara ini sebagai alternatif penceritaan biasa yang membosankan. Namun sebenarnya akar masalah Birds of Prey ini sama dengan permasalahan film-film superhero DC; terlalu rame oleh karakter. Bahkan untuk film yang seharusnya adalah solo, film ini masih merasa perlu untuk menggabungkannya dengan grup lain. Basically ini adalah dua film yang digabung jadi satu; Harley Quinn dan Birds of Prey, dengan perspektif Harley Quinn dan tema feminis sebagai pengikat. Konsep yang berani, hanya saja pada film ini DC masih dalam tahap mencari cara mengintroduce segitu banyak sekaligus. Birds of Prey lebih solid dan berhasil melandaskan karakter-karakter dibandingkan Suicide Squad atau Justice League, tapi memang masih belum sempurna. Tokoh-tokoh selain Harley masih terasa lebih seperti gimmick ketimbang tokoh franchise. Antagonis di film ini, si Black Mask, juga masih satu-dimensi – karakternya jahat karena dia bos geng yang pengen memonopoli dunia kejahatan dengan uang.
 
 
 
Film ini seperti Harley Quinn itu sendiri. Unik, cerewet, tak tertebak. Gokil. Adegan aksinya juga seru, violencenya menyenangkan. Musik dan set piece di battle akhir itu keren dan asik punya. Darah dan tulang patah bergabung dengan warna-warna ngejreng, ini mungkin sekalian menunjukkan tone cerita film. Dengan berani tidak menampilkan sosok Joker sama sekali, maka film ini benar telah mengemansipasi Harley Quinn yang originally hanya sebagai sidekick/pasangannya. Kini kita bisa menyebut nama Harley Quinn dan hanya membayangkan aksi-aksinya tanpa bayang-bayang sang mantan. Karakter dan tema feminis dalam cerita enggak hadir menyebalkan dan seperti dijejalkan, melainkan berjalan dengan cukup berbobot. Hanya saja film ini punya banyak untuk diestablish. Alih-alih memberi ruang untuk pengembangan, film memilih bercerita cepat dan resiko bolak-balik untuk mengakomodir banyaknya elemen dalam cerita. Kisah emansipasi di dunia jahat ini pack quite a punch, dan kupikir hal terbaik dari film ini bagi cowok-cowok adalah gak bakal terlalu kesusahan lagi ngajak pacar nonton film dari buku komik, bahkan mungkin kalian yang diajak duluan.
The Palace of Wisdom gives 6.5 gold stars out of 10 for BIRDS OF PREY: AND THE FANTABULOUS EMANCIPATION OF ONE HARLEY QUINN.

 
 
 
That’s all we have for now.
Pelajaran apa yang kalian ambil dari putusnya Harley Quinn dengan Joker? Apa hal tergokil yang pernah kalian lakukan demi lepas dari bayang-bayang mantan?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

My Dirt Sheet Top-Eight ‘KEKECEWAAN BIOSKOP’ OF 2019


 
 
Akhir tahun adalah waktu yang biasanya kita gunakan untuk meratapi resolusi-resolusi yang tak jadi tercapai (lagi!), keinginan-keinginan yang kandas tak terwujud, dan harapan-harapan yang berbuah kekecewaan. List ini adalah salah satu perwujudan dari harapan-harapan itu.
Ketika film disebut mengecewakan, bukan lantas seketika berarti film itu jelek, pembuatnya bego gak ngerti bikin film. Film yang bagus juga bisa saja tetap membuat kita merasa kecewa. It’s just mewujudkan sebuah film berarti membuat pilihan. Mau ngambil resiko atau tidak. Mau jadi nyenengin hati fans, atau hati semua orang, atau hanya hati produsernya. dan pilihan yang diambil film kadang enggak sejalan – enggak sefrekuensi, kalo kata Ainun – dengan harapan dan ekspektasi kita. Yang menurut kita penting, belum tentu begitu bagi pembuatnya.
Jadi, ya, daftar ini akan sangat subjektif. Kalian boleh jadi tidak menemukan film yang kalian benci. Sebaliknya, kalian bisa saja menemukan film yang kalian suka atau mungkin malah film yang menurut kalian bagus nampang di sini. Dan aku yakin memang ada. Tahun ini actually lebih banyak film yang populer, yang bisa dibilang bagus – at least yang kukasih skor lumayan tinggi – yang menurutku mengecewakan. Karena ekspektasi dan pilihan tadi. Also, daftar ini hanya akan mengcover film-film yang kutonton di bioskop, sebab dikecewakan oleh film yang kita harus berangkat dari rumah, meluangkan waktu untuk menempuh perjalanan, mengeluarkan uang, terasa lebih nyesek. Apalagi kalo ternyata yang ditonton di layar gede itu tak lebih dari glorified-ftv.
Setiap tahun aku beresolusi bisa menonton film-film di bioskop tanpa harus meratapi duit yang sudah keluar dan bertanya keras-keras ke tembok ala Adam Driver di Marriage Story “why did they do that?”, tapi nyatanya aku masih mendapati delapan film ini:
 
 
 

8. AVENGERS: ENDGAME


Director: Anthony Russo, Joe Russo
Stars: Robert Downey Jr, Chris Evans, Chris Hemsworth, Mark Ruffalo
Duration: 3 hour 1 min
Ya, ini bakal kontroversial, aku bahkan bisa mendengar mouse kalian bergerak cepat mau menutup halaman ini haha.. Jika kalian ngarahin mousenya ke judul setiap nomor, instead, maka kalian akan diarahin ke halaman ulasan, dan bisa dilihat di sana aku ngasih film ini skor 7 dari 10 bintang emas. Avengers: Endgame dibuat dengan sangat kompeten. Final fight yang kita tunggu-tunggu digarap dengan seru, menghibur sekaligus berhasil memenuhi tujuan ‘politik’ era SJW sekarang ini.
Posisinya ada di atas menunjukkan bahwa film ini tergolong bagus. Kekecewaanku timbul dari mereka memperkenalkan time-travel dan actually membuat babak kedua membahas mengenai aturan time-heist. Mereka menyusunnya dengan klop. Hanya saja, aku tidak mengharapkan itu. Infinity War berakhir dengan kemenangan Thanos, film membangun ekspektasi kita terhadap cara apa yang bakal dilakukan Avengers untuk well, to avenge their loss. Dan time-heist ini adalah cara yang paling standar untuk membahas soal serangan balasan tersebut. Film seperti punya agenda ingin membuat kita bernostalgia, maka ceritanya pun tidak move on. Malahan membawa kita ke semacam highlight.
Dan ini bukan cara yang paling aman pula. Avengers: Endgame meninggalkan kita dengan banyak plothole. Mungkin kalian adalah salah satu yang ikut membahas soal plothole dan implikasi kocak dari time-travel beda timeline di kolom komen review. It’s hilarious. Pembelaan pembuat film ini terhadap kekonyolan itu  adalah – seperti yang bisa kita tebak – penjelasannya bakal ada di film phase berikut. Ini membuat Avengers: Endgame less of a film dan lebih seperti produk. Aku setuju sama kata Martin Scorsese.
My Breaking Point:
Fans berkampanye betapa Tony Stark pantas untuk dapat Oscar. Ugh…. Bercanda haha.
Breaking point-ku yang benar adalah saat menyadari para Avengers sebenarnya berkelahi dengan orang yang berbeda. Thanos yang mereka lawan bukanlah Thanos yang mengalahkan mereka di Infinity War. Dan ini membuat pertarungan terakhir itu jadi hampa bagiku. Aku mau melihat mereka mengalahkan orang yang sudah bikin mereka kalah; Thanos dengan kekuatan Infinity Stone penuh. Bukan Thanos yang gak tahu apa-apa, yang cukup dikalahkan oleh Scarlet Witch seorang.
 
 
 
 
 

7. HABIBIE & AINUN 3


Director: Hanung Bramantyo
Stars: Reza Rahadian, Maudy Ayunda, Jefri Nichol, Diandra Agatha
Duration: 2 hour 1 min
Untuk merangkumnya, ini adalah cerita yang harus memuat kenangan satu tokoh akan tokoh lain, sekaligus mengenang tokoh yang mengenang tadi, dan juga membangun cerita kehidupan tokoh yang dikenang oleh tokoh yang juga sedang dikenang.
Film ini kayak pengen menceritakan tentang Ibu Ainun, tapi sendirinya tidak percaya bahwa cerita Ibu Ainun semasa muda tidak akan menjual. Maka mereka membuatnya sebagai sekuel Habibie & Ainun dan fokus tetap pada Habibie. Ditambah Bapak Habibie berpulang (salah satu momen menyedihkan bagi Indonesia tahun ini) dan film bergerak lebih cepat daripada lariku saat ditagih hutang untuk menguangkan kematian tersebut.
Cerita Ainun yang tentang wanita enggak kalah dari pria – manusia bukan soal gender lucunya malah seperti nomor dua, meskipun penulis tampak bersusah payah membuatnya Ainun seperti dokter wanita pertama dengan segala kesulitannya di dunia yang masih memandang wanita nantinya bakal balik ke dapur. Bagaimana film akhirnya menjual cerita ini? Dengan elemen romansa tak-sampai dan tokoh antagonis dibuat satu-dimensi demi Ainun kelihatan menarik.
My Breaking Point:
Ketika si senior antagonis masih diperlihatkan menyiapkan pidato perpisahan, dia dibuat gak logis banget masih menyangka dirinya lulusan terbaik padahal menyadari udah ketinggalan satu tahun dan kalah dalam lomba atas nama kampus. Ainun gak terlihat pintar dan selfless hanya dengan menampilkan tokoh senior ini sebagai ‘lawannya’.
 
 
 
 
 

6. FROZEN II


Director: Chris Buck, Jennifer Lee
Stars: Idina Menzel, Kristen Bell, Josh Gad, Jonathan Groff
Duration: 1 hour 43 min
Ini adalah contoh sekuel yang buru-buru diadakan karena film pertamanya laku. Ia dibuat sebagai brand ketimbang dibuat karena mereka punya cerita segar untuk dibagikan. Karena Frozen II hadir dengan cerita yang mirip Avatar Legend of Aang, penuh eksposisi dan throwback, yang ironisnya mereka tetap berhasil melepehkan perjalanan Elsa di film pertama.
Elsa yang sudah belajar untuk berani menjadi diri sendiri di tengah keramaian dalam film ini diharuskan belajar untuk menemukan dirinya sendiri dan di akhir memilih untuk sendirian karena dia begitu berbeda dengan orang-orang. Pesan seperti apa ini? Kita pengen karakter cewek yang mandiri tapi gak gini juga caranya.
Petualangan film ini tidak terasa seru, karena diberatkan oleh narasi eksposisi. Drama antar-saudari tidak lagi simpel dan mengena, melainkan terasa begitu jauh oleh cerita perang-fantasi yang ribet. Fantasinya pun terasa usang meski memang visualnya teramat indah.
My Breaking Point:
Olaf. Serius deh, Olaf sangat menjengkelkan. Dan film terus ngepush manusia salju sampai-sampai kita melihat adegan Olaf menceritakan – eng, MENGADEGANKAN ULANG! kejadian di Frozen pertama. What. An. Annoying. Waste. Of. Time.
 
 
 
 

5. X-MEN: DARK PHOENIX


Director: Simon Kinberg
Stars: Sophie Turner, James McAvoy, Michael Fassbender, Jennifer Lawrence
Duration: 1 hour 53 min
X-Men seharusnya bisa dijadikan contoh gimana hancurnya cerita superhero jika bermain-main dengan time-travel. Namun tetap saja elemen itu bakal dipilih karena dengan begitu universe lebih mudah untuk diekspansi. Masalah logika nomor dua.
Dark Phoenix bukan saja berurusan dengan masalah kontinuitas – banyak aspek yang enggak masuk dengan dunia dalam franchise X-Men sebelumnya. Ia juga harus berurusan dengan pengaruh SJW – sekali lagi ini adalah cerita wanita yang berusaha menjadi dirinya sendiri -, dinyinyirin mirip dengan Captain Marvel yang sudah lebih dulu tayang dengan jarak yang tak begitu jauh, dan beban sebagai penutup X-Men. Well, setidaknya sebelum dibeli oleh studio dagang yang lebih gede.
Hasilnya sungguh berantakan. Dark Phoenix terlihat jelas mengalami banyak shoot ulang. Ada yang bagus, seperti final battle di kereta api. Namun secara keseluruhan, setiap babak film ini terasa kayak film yang berbeda. Mereka enggak menyatu dengan kohesif, tone ceritanya beda, motivasinya beda. Film juga pengen nampil sangat serius sehingga enggak ada lagi kesenangan menontonnya.
My Breaking Point:
Ketika mereka memperkenalkan alien sebagai musuh utama. Alien yang sangat miskin eksplorasi. Bangsa alien tersebut bahkan gak sempat disebutkan namanya. Aku hanya menyebutnya…; Peran-yang-disesali-oleh-Jessica Chastain.
 
 
 
 
 

4. AVE MARYAM


Director: Robby Ertanto
Stars: Maudy Kusnaedi, Chicco Jerikho, Tutie Kirana, Joko Anwar
Duration: 1 hour 25 min
Oh betapa ekspektasiku tinggi sekali mendengar pujian-pujian bagi film ini dari penayangannya di berbagai festival. Temanya pun berani, kisah cinta seorang biarawati. Tapi begitu ditonton di bioskop… maan, kenapa rasanya ada yang bolong.
Selain sinematografi yang keren, art yang memanjakan mata, dan adegan manis berdialog di kafe, tidak ada yang bisa dinikmati dari Ave Maryam. Perjalanan tokoh utamanya terasa abrupt. Konfliknya yang berani itu gak terasa. Film ini seperti kisah cinta biasa. Durasi film ini terlalu pendek untuk sebuah cerita hubungan dua manusia yang dilarang saling jatuh cinta. Aku seperti menonton film yang berbeda dengan orang-orang di festival. I mean, filmnya benar-benar kosong, kita hanya baru akan mengerti konflik dan backstory dan segala macemnya setelah membaca sinopsis. Sungguh sebuah karya menyedihkan jika harus mengandalkan sinopsis sebagai komplementer – sebagai sarana untuk menampilkan yang tidak bisa ditampilkan.
Kemungkinan terbesar adalah akibat penyensoran. Dan jika benar, maka sangat disayangkan sekali perfilman kita masih belum berani menghidangkan cerita yang bertaji.
My Breaking Point:
Maryam memandangi Romo Yosef bermain musik, kamera fokus kepada si Yosef seolah dia konduktor terkeren di dunia, padahal tidak ada sama sekali rasa di adegannya.
 
 
 
 

3. BEBAS


Director: Riri Riza
Stars: Maizura, Marsha Timothy, Sheryl Sheinafia, Baskara Mahendra
Duration: 1 hour 59 min
Bebas diadaptasi dari film Korea yang berjudul Sunny. Sunny sendiri merupakan cerita persahabatan cewek remaja Korea yang kental sendiri dengan lokalitas orang sana, film itu menggambarkan sistem pendidikan yang keras dan hubungan sosial remaja yang membentuk geng sekolah.
Kupikir akan menarik, bagaimana Riza akan membawa cerita ini ke dalam lokal Indonesia. Tokoh yang tadinya cewek semua, diganti dua menjadi cowok. Setting waktu yang diambil adalah 90 akhir, saat Indonesia lagi krisis-krisisnya. Ternyata, tidak ada hal lokal yang signifikan yang dijadikan daging oleh film saduran ini. Film berpuas diri dengan lagu-lagu 90an dan gak melakukan banyak terhadap cerita. Semua kejadian dalam film ini sama persis dengan yang di film asli. Hingga ke dialog-dialognya. Latar hanya sekadar tempelan. Soal cowok main dalam geng cewek pun tak dijadikan fokus utama. Seharusnya yang diganti jadi cowok, tokoh utamanya aja sekalian.
Salah satu produk film paling malas tahun ini, minim visi original, dan hanya mengandalkan nostalgia musik, jejeran cast, dan cerita dari material aslinya.
My Breaking Point:
Sesama-samanya dengan Sunny, tapi film berhasil untuk membuatku kecewa karena entah mengapa mereka mengurangi porsi Suci (Su-ji pada Sunny) dan tidak ada adegan Suci menyelamatkan Vina
 
 
 
 
 
 
 

2. RATU ILMU HITAM


Director: Kimo Stamboel
Stars: Ario Bayu, Hannah Al Rashid, Putri Ayudya, Adhisty Zara
Duration: 1 hour 39 min
Film ini juga punya jejeran cast yang yahud, tapi bahkan mereka lebih enggak banyak berguna lagi ketimbang cast Bebas. Ratu Ilmu Hitam harusnya jadi film favoritku tahun ini – horor, ada efek praktikal body horor, sadis, digarap oleh kombo maut pada genre ini (film ini ditulis dan dipromosikan secara keras oleh Joko Anwar). Aku memang menyukainya. Hanya saja, ini jauuuuuh banget untuk jadi film yang memuaskan.
Mainly karena penulisannya yang sangat mengecewakan. Cast yang berjubel itu tidak mampu diberikan penulisan yang berbobot, let alone berimbang. Si Ari ‘Wage bacanya Weij’ Irham malah hanya dikasih satu adegan penting. Bayangkan. Hampir seperti film ini enggak peduli soal mengarahkan akting. Mereka hanya fokus membangun keseraman dan twist bergagasan moral berbau politis. Buktinya lagi, film gak mau repot-repot ‘maksa’ pemainnya mainin adegan dengan kelabang asli. Hewan-hewan kecil itu masih pakai efek komputer dan terlihat gak meyakinkan. Dan menjadi menggelikan ketika di kredit penutup kita melihat still foto adegan-adegan seram – menggunakan kelabang asli – dari Ratu Ilmu Hitam original.
Yang kuharap adalah horor sadis sederhana, memanfaatkan banyaknya cast mumpuni. Namun yang didapat adalah kejadian ribet dengan sok berada di batasan moral abu-abu, yang tidak didukung oleh penulisan dan struktur cerita yang bener. Tokoh utamanya aja gak jelas siapa. Kenapa gak sekalian aja judulnya Ratu Kulit Hitam kalo memang mau dapat pujian filmnya punya isu, siapa tau bisa menang Oscar.
My Breaking Point:
Dialog-dialog film ini yang sibuk menjelaskan, ngobrol ringan, dan berusaha mengomentari banyak hal, benar-benar menjengkelkan buatku. Gak cantik penulisannya. Puncaknya adalah ketika tokoh yang diperankan Zara dan tokoh anak panti yang tadinya akur, tau-tau berantem adu mulut lantaran si cowok mau nembak tikus di dalam rumah. WTF.
 
 
 
 
 
Sebelum masuk ke posisi pertama, simak dulu Dishonorable Mentions yakni film-film bioskop 2019 yang dapat skor 1. Ironisnya, mereka memenuhi ekspektasiku; Jelek, dan ternyata beneran jelek!

Dishonorable Mentions:

11:11 Apa yang Kau Lihat,

Roy Kiyoshi the Untold Story,

47 Meters Down: Uncaged,

Pariban: Idola dari Tanah Jawa

Sekte,

Kelam

 
 
 
Dan juara paling mengecewakan tahun ini jatuh kepadaaa

1. STAR WARS: EPISODE IX – THE RISE OF SKYWALKER


Director: J.J. Abrams
Stars: Daisy Ridley, Adam Driver, John Boyega, Oscar Isaac
Duration: 2 hour 22 min
Ketika Force Awakens munculin tokoh yang practically ‘mary sue’ aku masih bisa memaafkan; at least, sudut pandang baru dan revealingnya bakal keren. Ketika Last Jedi membuang semua teori fans ke laut dan nge-swerve kita setiap kali kesempatan, aku juga masih oke – malah excited mau dibawa ke mana sebenarnya trilogi ini, apa jawaban besar yang menanti di Episode 9. Lalu, akhirnya tibalah Rise of the Skywalker. Dan jelas sudah mereka tidak punya rencana apa-apa untuk trilogi ini selain untuk menjual mainan saat natal dan tahun baru.
My Breaking Point sudah mulai mendidih di menit-menit pertama mereka munculin kembali Palpatine. Menghapus semua kejayaan prophecy Anakin yang menjadi motor di Star Wars terdahulu. Dan sepanjang durasi, aku merasa terus menggelegak karena film ini tidak melanjutkan, melainkan merevisi sesuka hati. Tidak lagi peduli pada apa yang sudah dibangun – baik atau buruk – dan just go with apapun yang sekiranya bisa bikin fans bersorak “hey itu dari episode ke anu!”
Out of nowhere mereka membuat Poe sebagai kurir scroundel galaksi – seperti Han Solo – padahal di episode sebelumnya dia anak pilot biasa, dan sudah ikut berperang sejak muda. Mereka begitu saja membuat Finn punya ‘feeling’ dan ada banyak Stormtrooper seperti dirinya, meskipun di episode sebelumnya arc Finn adalah satu-satunya mantan militer yang berusaha rise up dari komanda-komandannya dahulu. Kisah cinta Finn pun seperti tak-eksis di sini. Dan kalo aku punya popcorn, maka semua popcornnya pasti sudah kulempar-lempar ke layar ketika hantu-force Luke mengangkat pesawat yang mestinya sudah rusak dan gak bisa dipakai. Kerusakan pesawat X-Wing ini penting, karena itulah yang menyebabkan Luke mengerahkan tenaganya sendiri hingga mati untuk muncul dalam bentuk energi menolong Resistance di Episode VIII
Nonton ini aku antara nyengir seru nonton aksinya dan nyengir blo’on melihat elemen-elemen yang gak kohesif.
Aku mengerang keras di bioskop pada momen ketika Rey menyebut dirinya Rey Skywalker di akhir. AARRGGHH!
 
 
 
 
That’s all we have for now.
Bisa dilihat sebagian film di daftar ini adalah box office, dan ini merupakan pertanda tak menyenangkan industri film semakin mengarah ke produk dan wahana. Sekalinya ada film yang berbeda, film tersebut ditakutkan akan begitu kontroversial sehingga dijinakkan. Tiga dari empat film impor di sini adalah buatan Disney, dan ini aku gak menyebut film-film live-action mereka yang semuanya sudah diantisipasi bakal jelek. Kalolah yang aku bikin adalah list film terburuk, film-film Disney tahun ini akan berkumpul di sana. Magic mereka hanya visual sekarang, dan aku benar-benar takut tren ini terus berlanjut.
Untuk Indonesia, tren yang mulai muncul adalah ‘film’ yang bersambung. Dan ini sedapat mungkin kubasmi dengan tidak menyebutnya sama sekali meskipun kesalnya luar biasa dapat yang jenis ini di bioskop.
Juga noticed dong kalo kebanyakan film di list ini bertokoh utama perempuan, yang ditulis dengan kurang baik. Ini actually satu lagi tren yang menakutkan; tokoh-tokoh perempuan sekarang diharapkan kuat, mandiri, berdaya, gak butuh cowok, dan ini salah kaprah menjadikan tokoh itu sebagai poster girl SJW dan feminism, padahal mereka seharusnya jadi tokoh yang relatable dan belajar untuk menjadi kuat.
Semoga daftar ini bisa dijadikan cermin untuk perbaikan. Jangan lewatkan Top-Eight Movies of 2019 yang akan ditulis nanti setelah pengumuman nominasi Oscar, juga awards tahunan My Dirt Sheet Awards CLOUD9 di 2020.
Terima kasih sudah membaca. Apa kalian punya daftar film-film yang mengecewakan juga? Share dong di sinii~~
 
 
 
 
Because in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017