THE DEVIL ALL THE TIME Review

“I object to violence because when it appears to do good, the good is only temporary; the evil it does is permanent”
 

 
 
Salah kaprah dalam beragama membuat kita melihat setan sepanjang waktu. Karena tak ada yang lebih parah daripada menjadi munafik; merasa paling suci di antara yang lain lalu bertindak seenaknya hingga sampai menipu atau merugikan orang dengan dalih agama. Dalam film The Devil All the Time kita melihat jemaat yang membunuh, pengkhotbah yang memperkosa, dan orang-orang yang percaya tindakan keji yang mereka lakukan adalah atas nama kebaikan. Film ini mengerikan, begitu banyak kematian, begitu beragam kejahatan yang mampu dilakukan oleh manusia. Yang ditunjukkan oleh film ini bukan hanya sebatas bagaimana tragedi mempengaruhi keluarga, bahkan lingkungan. Melainkan juga memperlihatkan bagaimana sebuah keyakinan dapat  sebuah keyakinan dan kejahatan dapat saling bersisian.
Kejahatan dan tragedi yang dihasilkannya dalam cerita The Devil All the Time berawal dari seorang serdadu Amerika di Perang Vietnam yang pulang kembali ke kota kecil kelahirannya di Ohio. Membawa beban mental dan trauma atas kejadian yang ia alami di medan perang sebagai oleh-oleh. Kenangan yang tak bisa lepas dari pikirannya. Malahan justru menyebar dan saling mempengaruhi dengan keadaan di sekitar. Serdadu ini, si Willard (Bill Skarsgard memainkannya seperti orang yang kesurupan oleh mimpi buruk), meminta pertolongan Tuhan. Dia membangun altar ibadah sendiri di pepohonan di belakang rumah. Dia ke Gereja dengan rutin bersama istri dan anaknya. Cerita berubah menjadi buruk tatkala ibadah itu tidak lagi menjadi sesuatu yang positif bagi Willard. Berdoa justru membuatnya beralih ke kekerasan. Kekerasan yang ia turunkan kepada putra semata wayangnya, Arvin. Dan dari sini semuanya menyebar. Jalur kekerasan membawa Arvin tumbuh gede, tanpa orangtua. Sampai akhirnya, jalan hidup Arvin (Tom Holland membuktikan aksen dan aksi emosional bukan sandungan baginya) bertemu dengan generasi penuh kekerasan lainnya.

Kau sadar dunia itu sempit ketika polisi yang membantumu menjadi polisi yang memburumu.

 
 
Selain Arvin dengan ayahnya, kita juga akan mengikuti karakter-karakter seperti adik tiri Arvin, ayah si adik tiri, sepasang kekasih yang tampak baik hati tetapi nyatanya adalah pembunuh berantai yang punya modus operandi sinting, dan seorang polisi korup. Diperankan oleh aktor-aktor ternama yang jelas tidak main-main dalam menghidupkan perannya. Film ini tumpah ruah oleh penampilan akting yang memukau dengan merata. Kita gak akan cepat melupakan peran Robert Pattinson, atau Sebastian Stan, atau Riley Keough, bahkan peran kecil Mia Wasikowska pun niscaya akan membekas. Segitu banyaknya karakter dalam film ini. Babak awalnya akan sering membawa kita berpindah-pindah dari satu sudut pandang ke sudut pandang karakter lain. Dari satu periode masa loncat mundur ke periode lain, lalu balik kembali. Menonton film ini seperti sedang membaca novel dan kita membayangkan kejadiannya di kepala. Imajinasi akan kejadian itulah yang kita tonton. Dan ternyata film ini memang diadaptasi dari novel.
Sutradara Antonio Campos mencoba untuk sedapatnya melinearkan alur lewat ritme karakter. Willard dan Arvin dijadikan tubuh utama di sini. Jika pada novel, ceritanya tiap chapter membahas atau memfokuskan pada tokoh yang berbeda-beda, maka dalam film ini perpindahan tokoh tersebut dilakukan dengan langsung, tanpa ada pembatas. Hanya suara narator saja yang menuntut kita melewati ‘halaman per halaman’ cerita. Konsep bercerita ini dilakukan dengan tujuan untuk menguatkan gagasan cerita bahwa kejahatan atau kekerasan itu berputar pada satu siklus. Melibatkan banyak orang di kota kecil tersebut, yang semuanya terhubung oleh sebab yang sama, dan eventually akan saling bertemu.
Setan dalam judul cerita ini bukan merujuk kepada setan supernatural alias hal-hal mistis. Melainkan sebuah simbol. Perjuangan manusia melawan hal yang ia takuti, melawan ‘setan’ di dalam dirinya sendiri. Willard mukulin orang-orang, membunuh anjing kesayangan anaknya, dan kemudian ditemukan bunuh diri. Tindakannya itu bukan karena dia dipengaruhi hantu dari medan perang. Melainkan karena dia menderita begitu banyak sebagai efek dari perang. Kejadian mengerikan yang harus ia lakukan di sana memberikan tekanan kepadanya yang berusaha untuk menjadi ayah yang baik. Lalu ditambah pula oleh istri yang sakit. Hancur-lah dia. Begitu juga dengan karakter lain. Mereka punya masalalu mengerikan masing-masing, dan mereka berjuang untuk meyakini sesuatu sebagai bentuk penguatan diri supaya bisa terus hidup. Mereka mengira mereka lantas menemukan Tuhan, yang merupakan simbol dari keselamatan. Namun nyatanya mereka hanya menciptakan ‘keselamatan’ yang palsu.
Maka dari itu, meskipun film ini menampilkan orang-orang taat – yang kesehariannya dekat dengan agama dan penegak moral lainnya – yang ternyata adalah pelaku kejahatan, tapi agama atau hukum moral itu sendiri tidak pernah terasa dijadikan antagonis. Fokusnya selalu adalah ke si karakter; kita dibuat melihat masing-masing mereka secara personal. Karakter Arvin ditampilkan untuk menyeimbangkan ini semua. Dia tidak bertindak sebagai penganut agama yang taat ataupun punya moral kompas yang lurus. Instead, dia adalah seorang yang benar-benar telah dikacaukan oleh semua kejahatan dan tragedi yang terjadi kepadanya. Ayahnya mengajarkan bahwa kekerasan adalah tindakan yang harus dilakukan untuk membela diri. Dia punya etika dan moral kompas sendiri, yang merupakan produk dari ajaran dan defense mechanism dirinya. Arvin menjadikan kekerasan sebagai solusi. Dan lewat adegan di konfrontasi final serta adegan di ending, film mengisyaratkan kepada kita bakal jadi seperti apa kiranya Arvin dengan ‘kepercayaan’ yang ia yakini ini.

Dan sepertinya memang bukan cuma pistol yang diwariskan ayah kepada Arvin. Kekerasan adalah solusi menurut setiap karakter di film ini. Karena mereka percaya tindakan mereka itu bertujuan demi sesuatu yang lebih baik. Dengan bijaknya, film ini menunjukkan bahwa mempercayai hal seperti itu adalah sebuah bahaya yang besar. Karena kekerasan akan dengan mudah saling berkait, membentuk sebuah lingkaran setan. Sebuah siklus yang bakal terus berulang. 

 

Ketika kau sadar kau lebih baik sebagai vampir ketimbang sebagai pendeta

 
 
Ada dua hal yang kemungkinan besar menonjol terasa saat kita menonton film ini. Bingung. Lalu kemudian miris karena ikutan depress. Dua kombinasi yang niscaya menguras kita setelah menonton. Bingung, karena di awal-awal narasi film ini yang berpindah-pindah memang terasa membebani. Setiap sudut pandang, setiap kejadian, begitu berbobot oleh muatan gagasan dan detil karakter. Sekaligus juga berjalan cepat, sehingga kita gak yakin ini cerita tentang siapa. Sebenarnya film bisa saja menggunakan chapter atau menggunakan konsep bercerita bolak-balik yang seem random serupa ama Pulp Fiction (1994), sehingga setiap sudut pandang punya ruang untuk terflesh out dan kita juga jadi punya waktu untuk meresapi lalu menyusun kepingannya. Tapi jika dilakukan dengan begitu, siklus atau setiap tokoh saling berkait jadi tidak terlalu mencuat. Sehingga film lebih memilih untuk bercerita seperti yang sudah kita saksikan. Dan durasi dua jam lebih itu memang jadi tidak cukup.
Dengan begitu banyak sudut pandang dan runtutan kejadian, film yang harusnya benar-benar hidup – bahkan latar kotanya – menjadi seperti hanya punya satu nada. Cerita membawa kita menerobos kejadian suram ke kejadian suram. Dari satu kematian ke kematian lain. Sehingga film jadi lebih mirip seperti cerita genre. Just story about how people dead. Padahal gagasan dan makna yang dikandungnya jauh lebih besar daripada itu. Cerita ini butuh lebih banyak ruang untuk menggerakkan kehidupan dunia yang sedang ia ceritakan. Sehingga emosi yang kita rasakan pun akan semakin hidup dan terbangun. Enggak cuma berada pada sisi miris. Untuk mencapai itu, kupikir ya mau gak mau film memang kudu membuat struktur berceritanya menjadi lebih baik lagi untuk mencakup semua yang kurang tersebut.
 
 
 
Cerita yang panjang, penuh oleh penampilan akting luar biasa sebagai pelengkap narasi yang kelam tentang bagaimana kekerasan menjadi bagian dari siklus hidup manusia. In a way, film ini memuaskan karena membawa kita ke banyak sudut pandang dan rangkaian runtutan adegan yang diolah dengan ritme yang membuatnya tak perlu banyak eksposisi. Bagian awal dapat menjadi sedikit membingungkan karena seringnya perpindahan karakter yang dilakukan dengan cepat, tapi ketika periode cerita sudah mulai stabil dan tokoh sentral kedua mulai kelihatan, cerita lebih enak untuk diikuti. Namun juga sekaligus film ini terasa kurang. Karena kita hanya akan merasa kelam/depress/suram saja. Dengan karakter banyak dan rentang waktu yang luas, kita seperti dibuat memohon untuk cerita yang lebih hidup lagi. Semuanya dilakukan dengan baik – aku suka gambar-gambar negatif film yang bikin makin ‘seram’ – hanya saja buatku memang beberapa kali film ini terasa seperti kumpulan adegan-adegan ngeri dari beberapa film crime atau thriller. This is truly one horrifying movie, akan tetapi horrifying-nya itu gak benar-benar feel earned.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for THE DEVIL ALL THE TIME.

 

 
 
 

 

That’s all we have for now.
Bisakah kita menyetop siklus kekerasan, dengan kekerasan? Bagaimana kalian mengubah situasi lingkaran setan seperti yang dialami oleh Arvin?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

HOST Review

“A guest is really good or bad because of the host…”
 

 
 
Demi mengisi waktu luang di kala pandemi, Haley dan teman-teman segengnya setuju untuk melakukan sesuatu yang berbeda. Obrolan Zoom mereka kali ini akan terasa lebih menantang. Karena Haley menyewa seorang cenayang untuk membimbing mereka berenam melakukan seance atau semacam ritual memanggil roh secara online. Mungkin karena sudah bosan di rumah, atau memang pada dasarnya mereka adalah anak-anak muda yang senang bercanda, ritual online mereka mulai ngarah ke hal-hal yang gak serius. Meskipun Haley sudah mengingatkan teman-temannya untuk menjaga kesopanan, beberapa dari mereka tetep membuat ulah. Dan seperti yang sudah kita semua duga – karena ini adalah film horor – Haley dan teman-temannya mulai mendapat gangguan aneh. Teror yang semakin lama semakin berbahaya. Ternyata hantu juga tidak senang dibecandain!

Kamu dan sahabatmu yang hobi ghibah online gak bakal jadi sekeren geng Haley yang manggil hantu pakek telepati elektronik

 
Host mengusung premis tentang Zoom meeting yang diganggu hantu tak pelak memang terasa ‘begitu dekat dan begitu nyata’ dengan keadaan kita sekarang. Berkat pandemi, kehidupan sosial kita semua harus pindah total ke dunia maya, dan pretty much semua penonton film ini sudah pernah sekali dua kali nongkrong bersama temen masing-masing di Zoom. Host mencoba mengangkat horor dari interaksi sosial kita yang menggunakan Zoom. Dalam film ini diperlihatkan sikap Haley dan teman-temannya berbeda saat berada di belakang dengan saat berada di depan si cenayang. Saat ‘peserta’ meeting masih mereka-mereka saja, mereka tampak lebih akrab – mereka lebih terbuka mengenai ritual yang akan mereka lakukan; sikap skeptis dan mengolok mereka ekspresikan dengan lugas. Namun ketika si cenayang sudah masuk, mereka ‘berakting’ seolah percaya dan benar-benar tertarik dengan istilah ‘astral plane’. Interaksi seperti ini tampak seperti nge-suggest bahwa meskipun komunikasi sudah dibawa ke depan kamera semua, kita masih menemukan celah untuk saling ngomongin di belakang. Walau dalam film ini tidak pernah benar-benar ditetapkan si cenayang found out lalu mungkin marah dan sengaja mengirim kutukan kepada mereka, yang kita tahu pasti adalah hantu atau roh jahat yang datang mengganggu mereka berasal sebagai akibat dari perbuatan salah satu teman Haley yang menganggap semua hanya becandaan.

Menjadi host yang baik, menjadi penentu tamu-tamu seperti apa yang datang kepada kita. Kita tidak bisa mengundang orang, tapi membuat hal menjadi susah bagi mereka. Adalah kewajiban dari tuan rumah untuk menegakkan aturan dan menjaga kesopanan. Adalah tuan rumah yang menentukan apakah menjadi tamu di situ adalah perkara tugas yang sulit atau bukan.

 
Gimmick Zoom dieksplorasi dengan maksimal oleh sang sutradara. Dalam debut feature-nya ini, Rob Savage benar-benar menciptakan dunia dari layar Zoom. Semua yang kita lihat adalah jendela-jendela platform tersebut. Dan Savage tau persis di mana-mana saja ia harus meletakkan elemen horor untuk membuat kita ‘melek’ ke sana tanpa disuruh. Paling serem itu waktu fitur background Zoom dijadikan bagian dari ‘kejutan’. Dengan durasi yang sangat singkat, Host memang bergerak efektif. Dengan segera kita melihat ke sudut-sudut gelap di belakang para tokoh, menunggu sesuatu untuk terjadi, atau menunggu suatu penampakan muncul. Yang jelas film ini paham dan sudah terkonek dengan penonton sejak awal. Semua trik yang pernah kita lihat pada horor genre found-footage seperti ini, ada. Kursi yang bergerak sendiri, gelas yang pecah tanpa sebab, orang yang tiba-tiba ditarik oleh tangan tak-kelihatan – bahkan kejutan seperti telapak kaki di lantai atau selimut/kain yang dilempar dan ternyata ‘nyantol’ di tengah-tengah udara. Jumpscare-jumpscare yang kita antisipasi pun hadir dalam film ini. Rahasianya adalah dalam cara mengolah, dan Host is great dalam menampilkannya; dalam membuat perasaan takut kita terbendung ke sana.
Praktikal efek dan permainan akting dijadikan senjata utama. Karena Host adalah jenis cerita yang menekankan kepada situasi yang natural. Dan semua pemain memang berhasil tampil tak dibuat-buat. Semua itu berhasil dicapai karena memang para tokohnya hadir nyaris tanpa karakter. Para pemain memerankan tokoh yang bahkan bernama sama dengan nama asli mereka. Jadi seperti mereka semua disuruh untuk memainkan keseharian saja. Tapi bukan berarti tanpa tantangan; saat ketakutan dan panik, mereka benar-benar seperti ketakutan. Dan panik. Sementara itu, efek yang digunakan juga seru. Sandungan yang terasa pada film ini sebagian besar berasal dari staging adegan. Maksudnya, dengan gimmick setiap kejadian lewat lensa kamera laptop atau hape, maka beberapa adegan terasa sekali ‘diatur’ supaya tokohnya entah itu membawa laptop sambil berjalan-jalan, atau dengan sengaja memasang tongsis supaya bisa naik tangga sambil merekam, padahal jelas sekali perbuatan tersebut tidak convenient untuk dilakukan.
 

Atau apa mungkin sudah jadi new normal kita ke mana-mana selalu on kamera laptop kalo di rumah?

 
 
Durasi 56 menit secara teknis memang termasuk ke dalam kategori film-panjang, jika mengacu kepada peraturan Academy Award. Batas yang Oscar nilai sebagai feature-length adalah di atas 40 menit. With that being said, sejujurnya aku harap Host ini dijadikan film pendek saja. Karena dengan begitu, film ini akan lepas dari aturan-aturan film yang banyak jadi sandungan baginya. Sebagai film pendek, Host tidak perlu memperhatikan plot/development karakter, tidak perlu memikirkan babak, mereka bisa seru-seruan aja dengan jumpscare dan kejadian-kejadian. Tapi nyatanya, sebagai film-panjang, Host jatohnya seperti film yang keasyikan bermain gimmick dan lupa menghadirkan cerita dan karakterisasi yang kohesif.
Siapa ‘host’ di film ini, gak pernah dijelaskan. Gimmicknya adalah kita menonton di layar sehingga kita adalah salah satu dari participant meeting, atau kita cuma lagi nontonin rekaman meeting mereka. Enggak seperti Unfriended (2015), yang punya tokoh utama yang jelas – lengkap dengan tragedi masa lalu dan benang merah antara teror dengan karakter mereka kuat mengingkat, Host tidak terlalu memikirkan ini semua. Kita gak yakin siapa tokoh utama di film ini. Bisa saja Haley, karena dia yang paling ‘baik’, tapi dia adalah tokoh yang dapat bagian paling sedikit. Ketika hantu mulai menakuti mereka satu-persatu, Haley somehow gak kebagian aksi. Tokoh ini justru mengundang kecurigaan. Aku sebenarnya cukup terinvest terhadap apa yang sebenarnya terjadi pada mereka, kepada siapa atau darimana asal hantunya; pada mitologi di balik itu semua. Tapi Host tidak punya semua itu. Film ini tidak menggali hubungan antarkejadian. Si hantu dan segalanya itu ya, memang random. Ada hantu yang kebetulan menjawab undangan mereka. That’s it. Gak ada motif walaupun di awal ada setup tentang backstory masing-masing tokoh, like, mereka punya seseorang yang sudah meninggal – mereka punya target untuk dipanggil. It would be much nicer story kalo ceritanya beneran punya sesuatu untuk diikuti dan dikuak, daripada hanya sekadar memperlihatkan kita adegan trik-trik horor dan jumpscare kodian.
 
 
 
Seperti sepenggal bagian dari sebuah horor kontemporer yang menarik; begitulah kalimatku kalo disuruh mendeskripsikan film ini. Arahannya mampu mengolah trope/trik lama menjadi segar – ya, bahkan jumpscarenya efektif – Arahannya mampu ‘memanggil’ penampilan akting yang meyakinkan. Menonton ini sangat menghibur, terutama sangat relevan karena benar-benar memotret sosial di era pandemi. Kita melihat tokoh memakai masker dan menyebut karantina segala macem. Hanya saja, ada banyak yang mesti dibenahi kalo cerita ini mau dianggap sebagai sebuah film. Karena, bagiku, ia masih belum terlihat seperti film. Melainkan sebuah cerita pendek yang sedikit kelewat panjang yang seru dan menghibur tentang hantu Zoom.
The Palace of Wisdom gives 2.5 out of 10 gold stars for HOST.

 

 
 
 

 

That’s all we have for now.
Pernahkah kalian mengalami kejadian horor atau misterius saat ber-Zoom ria?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

SPREE Review

“Life is not a popularity contest”
 

 
 
Kita hidup di dunia yang cetek sekarang. Dunia yang mementingkan angka engagement, jumlah follower, jumlah penonton. Dunia di mana ‘harga’ seseorang bergantung pada seberapa banyak orang yang meng-Like status atau menonton unggahan story-live-nya. Ya, selamat datang di Dunia Influencer. Tempat semua orang berlomba membuat konten, tempat persaingan bebas karena gak butuh keahlian khusus, kepintaran, atau ilmu yang memadai. Kita cuma harus punya ‘personalitas’.
Kedangkalan jagat perkontenan ini dipotret dengan tepat oleh sutradara Eugene Kotlyarenko dalam komedi thriller terbarunya ini. Spree hadir dengan demikian simpel. Berkonsep ‘sajian dari layar hape’ – yang kita lihat di sini adalah gambar-gambar dari kamera hape saat tokohnya melakukan livestream ke internet, film ini bercerita tentang seorang anak muda bernama Kurt yang ingin jadi terkenal di sosial media. Tetapi dunia perkontenan yang sederhana itu ternyata cukup keras. Channel Kurt tak kunjung dapat view. Mencapai dua digit aja dia susah. Maka ia merekam segala aktivitasnya, sebagai pengemudi layanan taksi online Spree. Masalahnya adalah ‘aktivitas’ Kurt itu sendiri. Desperate menaikkan jumlah view, Kurt melanggar aturan internet (“Harusnya semua ini settingan!”). Dia gentayangan melakukan tindak kriminal beneran terhadap penumpang-penumpang taksi onlinenya!

Bukan masalah apa yang kita lakukan, melainkan pada ‘siapa kita’

 
 
Film ini tak lantas memperlihatkan Kurt dengan gampang mendapat jumlah view dan follower. Membunuh satu, dua orang, tidak seketika membuatnya viral. Dan ini boleh jadi adalah hal yang paling mengerikan yang diperlihatkan oleh Spree kepada kita. Batasan sebuah konten itu semakin hari kian mengabur. Orang-orang yang menonton akun Kurt, menyangka pembunuhan itu adalah bohongan. Udah banyak konten yang seperti itu, komen seorang selegram yang dimintai pendapat oleh Kurt. Ini seharusnya adalah komentar untuk keadaan di dunia nyata. Kita toh sering ‘menangkap basah’ konten-konten orang berantem yang ternyata adalah settingan dari kedua belah pihak. Sama seperti ketika Kurt menyerang sesama influencer dengan pisau, pemirsanya bersorak karena mereka pikir ini adalah settingan kolab. Jikapun ada yang marah, ya itu karena mereka gaksuka Kurt yang nobody tiba-tiba muncul di streamer favorit, pake di-share segala.
Seremnya adalah, tidak semua pembuat konten mendapat ‘memo’ yang sama. Kita juga acap menemukan berita tentang orang-orang seperti Kurt; yang melakukan viral-stunt tapi beneran merugikan orang lain. Kasus seperti remaja yang ngeprank banci dengan bantuan makanan yang ternyata sampah itu misalnya. Orang-orang sudah tak peduli moral dan etika. Mereka bahkan tidak mau memikirkan ulang apa yang mereka lihat. Mereka menonton sesuatu keributan yang viral, dan lantas meniru karena kepepet ingin viral juga. Tak mau tahu kalo yang mereka tiru aslinya adalah bohongan. Atau mungkin memang sengaja, karena memang semakin tampak otentik, akan semakin menariklah konten yang dibuat. Film Spree tak lain dan tak bukan berfungsi sebagai broadcast perilaku-perilaku buruk yang bisa kita lakukan di internet, demi mencari konten. Maka kita bisa menganggap film ini sebagai satire yang memperingatkan. Bahwa mau itu real ataupun settingan, konten yang meaningless seperti prank atau unboxing ataupun publicity-stunt lain ya memang unfaedah.
Spree harusnya berkapasitas untuk memeriksa kenapa seseorang bisa memutuskan untuk membuat konten unfaedah. Tokoh Kurt yang membuat akun @KurtsWorld86 (tadinya kupikir dia parodiin Wayne’s World) digambarkan sebagai sosok yang punya kompas moral tersendiri. Kita melihat dia peduli pada estetika gambar. Dia punya perhatian pada konsistensi dalam merekam video. Ada satu momen ketika Kurt kesel ngeliat selegram terkenal yang videonya ia sebut bikin sakit leher. Elemen sikap Kurt ini boleh jadi relatable buat banyak orang. Karena kadang aku pun kesel (alias sedikit jealous) dengan konten yang lebih populer padahal secara value atau pembuatan, konten tersebut banyak kelemahan. Kurt adalah orang yang berusaha sebaik mungkin, ia bikin video dengan ‘ikut aturan’ – dalam artian gak ngasal. Dia cuma terlalu awkward di kamera. Permainan akting Joe Keery cukup kuat di sini. Kita tahu di serial Stranger Things Keery memerankan salah satu fans favorite, dan di Spree ini ia meninggalkan semua kharismanya di rumah. Gugupnya ngomong live di kamera tampak natural, dan ketika sudah waktunya mengaktifkan mode psiko, Keery langsung tancap gas. Aktingnya jadi tampak sangat natural. Balik lagi ke tokohnya, si Kurt, Aku pikir banyak dari kita yang berusaha untuk bikin konten jadi populer, tapi mengalami masalah yang sama dengan Kurt.

Sometimes we tried too hard, dan lupa bahwa pada akhirnya internet tetep adalah kontes popularitas. Namun, hidup ini tidak. Kehidupan nyata bukanlah perlombaan siapa yang viral. Tentu, masing-masing kita berhak memilih untuk hidup di mana. Hanya saja, satu yang perlu diingat; konsekuensi dunia nyata cepat atau lambat akan menemukan kita di manapun berada.

 
Bahkan korban-korban Kurt pun ditampilkan oleh film sebagai pribadi yang bermasalah, mulai dari seorang rasis hingga ke seorang yang ‘berpenyakit’ toxic masculinity. Semua itu tampak seperti cara film untuk memperlihatkan bahwa di dalam sana, Kurt adalah orang baik. Mungkin jika ceritanya memang dibentuk seperti Joker (2019), alias jika Kurt sedari awal diperlihatkan sebagai ‘orang baik’ yang tersakiti kemudian akhirnya meledak, Spree bisa punya lapisan dan kedalaman sehingga menontonnya akan membuat kita berpikir ulang terhadap kehidupan internet sekali lagi. Namun sayangnya, film ini memutuskan untuk menjadi dangkal. Spree memastikan sedari awal, Kurt adalah seorang yang berniat jahat. Sifat-sifatnya yang relatable dan yang menunjukkan dia sepertinya orang baik hanyalah sebuah kecohan. Karena film tidak membuat kita mengikuti Kurt sepanjang waktu. Ada beberapa momen yang disembunyikan, untuk kemudian diungkap sebagai kejutan.

Being popular on sosmed is like sitting at the cool table in the cafetaria at a mental hospital.

 
 
Itulah sebabnya kenapa Kurt dan film Spree ini sendiri terasa tak banyak punya daging di balik thriller hiburan dan gimmick bercerita lewat layar sosial-medianya. Sedari awal film ini disusun untuk kejutan – bahwa ternyata Kurt jahat – alih-alih langsung menunjukkan bahwa ini bukan cerita pahlawan dan menjadikannya studi karakter. Film mengincar kita untuk mendukung Kurt terlebih dahulu, untuk kemudian perlahan menyadari bahwa karakter ini salah dan tak patut untuk dielukan. Ini adalah bagian dari gagasan film. Masalahnya adalah motivasi pengen banyak view dan follower itu, kita bisa lihat sedari awal, bukanlah motivasi kuat yang bisa mengundang simpati. Film benar-benar bergantung kepada kita untuk bersikap se-shallow netijen dan Kurt di dunia Spree, supaya cerita bisa berjalan maksimal.
Di antara film-film berkonsep tutur menggunakan layar komputer/handphone, Spree juga gak particularly strong. Malahan boleh jadi merupakan yang paling chaos di antara semuanya. Hal ini disebabkan karena pada Spree ada begitu banyak kamera. Begitu sering berpindah-pindah layar dan angle. Di mobil Kurt saja ada lebih dari empat sudut pandang kamera yang senantiasa berpindah. Banyak-kamera ini tentu diniatkan supaya cerita bisa lebih fleksibel, gak terpaku pada satu pemandangan desktop. Hanya saja temponya dibuat terlalu cepat. Spree juga sering menampilkan layar hape, bukan hanya satu, melainkan tiga sekaligus yang dikolase ke layar. Mereka ingin menunjukkan komentar-komentar para netijen yang nonton story para tokoh film, tapi bagi kita sungguh sukar mengikuti komen-komen itu kesemuanya. Jadi bikin bingung juga, di antara komen-komen itu ada yang penting atau enggak. Kalo enggak ada yang penting, ya kenapa ditampilkan. Aku sampai harus ngepause untuk bisa baca satu persatu.
Fun fact: ada komen dari Indonesia hihihi
 
 
 
Sesungguhnya ini adalah satire dengan humor dark tentang perilaku manusia di era konten seperti sekarang. Film ini mempertahankan kesimpelan era tersebut. Tidak banyak kekompleksan yang dibahas, karena film ini mengutamakan pada kejadian pembunuhan yang ditarik dari pertanyaan sejauh apa seorang manusia bertindak untuk membuat konten demi sebuah pengakuan. This movie is strictly about the act. Sementara karakternya dikembangkan dengan arahan sebagai sebuah kejutan.
The Palace of Wisdom gives 4.5 out of 10 gold stars for SPREE.

 

 
 
 

 

That’s all we have for now.
Influencer sekarang ada dalam setiap apapun yang butuh promosi. Bahkan pemerintah menyisihkan anggaran yang tidak sedikit untuk jasa influencer. Menurut kalian bakal seperti apa sosial media dalam, katakanlah, sepuluh tahun ke depan? Apakah influencer akan jadi kerjaan nomor satu? Masihkah lomba konten ini berlanjut?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

PROJECT POWER Review

“When your desires are strong enough, you will appear to possess superhuman powers to achieve”
 

 
 
Obat super beredar di jalanan New Orleans. Obat yang jika dikonsumsi akan memberikan kekuatan super kepada pemakainya; selama lima menit, si pemakai akan memiliki berbagai kemampuan seperti hewan, ada yang tahan api, ada yang jadi berkulit anti peluru, ada yang bisa bikin kulit kayak bunglon – hasil itu berbeda pada setiap individu, tergantung karakteristik power bawaan mereka. Malah ada yang tubuhnya meledak begitu saja! Namun kerandoman itu tidak menyetop manusia di dunia Project Power untuk mencoba obat tersebut. Yang menjadikan obat itu jadi rebutan, diperdagangkan, dan coba untuk dikuasai oleh pihak tertentu. Pil yang paling pahit untuk ditelan memang bukan obat fiktif itu, melainkan film ini sendiri. Ide dan konsepnya yang keren – yang mengingatkan kita pada salah satu saga pada season anime superhero My Hero Academia – seperti dimentahkan oleh pemilihan plot yang basi.
Narasi film original Netflix terbaru ini berpijak pada tiga karakter sebagai pondasinya. Sebagai hero, ada Joseph Gordon-Levitt yang memainkan seorang polisi bernama Frank. Dia ditugaskan khusus untuk menyelidiki peredaran obat-obat atau pil power tersebut, dan menariknya Frank diam-diam turut mengonsumsi pil untuk mempermudah dia dalam melaksanakan misi-misi yang berbahaya. Frank mendapat pasokan pil dari dealer remaja bernama Robin. Robin ini – diperankan oleh Dominique Fishback – adalah protagonis kita. Robin punya backstory yang membuatnya relatable dan bisa kita pedulikan; dia anaknya gak pedean walau punya bakat jadi rapper, dan terpaksa menjadi dealer karena struggle dengan masalah keuangan keluarganya. Walau kedua tokoh ini sudah menarik in their own way, film memfokuskan petualangan pada cerita si tokoh utama, Jamie Foxx yang kebagian peran sebagai Art, ex-militer yang buron dan dianggap berbahaya, padahal sebenarnya dia hanya mencari putrinya yang diculik oleh perusahaan pembuat pil yang ingin memanfaatkan quirk, eh power! sang putri untuk pengembangan lebih lanjut. Art, Robin, dan Frank akhirnya bertemu, dan dari yang tadinya bersengketa, mereka jadi tim yang memberantas pengedaran pil.

next episode: trio ini memberantas kalung obat corona

 
Project Power diberkahi oleh tiga penampilan utama yang jelas sekali lebih kuat daripada materi ceritanya. Oleh arahan Henry Joost dan Ariel Schulman yang menghadirkan aksi-aksi cepat dan cukup kreatif. Dan tentu saja oleh budget Netflix yang memungkinkan film ini mejeng dengan tampilan yang meyakinkan. Film ini punya banyak sekuen aksi yang asik berkat variasi superpower yang dimiliki oleh tokoh-tokohnya. Adegan pengejaran si perampok berkemampuan bunglon di jalanan kota yang ramai merupakan salah satu pencapaian terhebat yang berhasil diraih oleh Project Power. Kebrutalan juga dimainkan dengan berimbang dan diperlakukan dengan stylish, sehingga adegan-adegan yang mestinya sadis tidak terasa disturbing amat, sekaligus tidak mengurangi sensasi kebrutalannya. Seperti misalnya ketika kamera diposisikan untuk merekam perkelahian Art dengan perspektif dari dalam kandang kaca, sementara di dalam kandang itu sendiri ada seorang tokoh yang efek obatnya sudah habis sehingga dia sedang mengalami kepanikan lantaran tubuhnya kini berangsur tidak lagi tahan beku. Jadi ada dua kejadian yang berlangsung, dan kita seperti mengalami keduanya sekaligus, kita merasakan hopelessnya tokoh yang terkurung, imajinasi kita dibimbing untuk ‘melihat’ dia membeku sampai mati, sementara itu juga kita melihat pertempuran tak imbang di luar kandang di mana tokoh utama yang kita pedulikan sedang melawan banyak orang.
Film-film aksi original Netflix sepertinya mengikuti satu tren tertentu. Produksi dan garapan laganya selalu memukau. Namun tidak demikian dengan ceritanya. Project Power juga tersendat masalah yang sama; yakni alur yang tidak segarang konsep film itu sendiri. Kisah pencarian anak yang diculik bukan saja udah pasaran, pada kasus film ini juga menumpulkan dunia film ini sendiri. Membuat antagonisnya generik, membuat pengembangannya enggak terasa baru. Modal untuk jadi dalem dan fresh itu sebenarnya ada di sana. Polisi yang makek obat terlarang? kurang menarik apa coba. Anak-anak jalanan yang jadi addict sama pil, walaupun mengonsumsinya ada efek samping dan lima-menit kekuatan itu apakah tidak cukup atau malah sebuah resiko yang rela diambil; ada gagasan yang menarik di situ.
Dan soal musik rap itu; film menggunakan banyak sisipan lagu-lagu rap, yang difungsikan bukan semata pemanis, melainkan sebagai penguat karakter. Rap adalah ‘power’ dari karakter Robin. Cewek ini enggak butuh untuk makek pil, tapi dia perlu banget untuk berani menunjukkan kemampuan rap yang jadi keunggulan dirinya. Tentu ada pembelajaran untuk penonton muda di sini. Sayangnya karakter Robin dan her entire act kayak jadi sampingan. Nge-rap itu enggak pernah dijadikan sesuatu yang menyelesaikan masalah dalam film ini, kemampuannya tersebut tetap nampak tak berguna. Di pertempuran akhir ada momen ketika Robin harus jadi pengawas di ruang kendali dengan banyak monitor, kupikir keahlian ngerapnya akan digunakan untuk menyelamatkan rekan-rekan atau semacam itu, tapi ternyata tidak.

Pil super dalam film ini diperebutkan karena orang-orang mencari solusi termudah bagi masalah dalam hidup mereka. Padahal kita enggak butuh kekuatan super untuk mencapai tujuan. Justru sebaliknya, kita adalah manusia super jika berhasil berjuang, memberanikan diri, dan rela berkorban untuk menggapai yang kita inginkan.

 

Diputer, digigit, dicelupin ke dalam perut

 
Film tidak pernah menggali keunikan konsep dan latar tokoh-tokohnya dengan mendalam. Hanya menyerempet permukaan sehingga mereka tampil ala kadar. It’s actually susah untuk kita menentukan mana tokoh yang seharusnya bisa dihilangkan saja, saking meratanya kelemahan penulisan mereka. Aku pribadi lebih suka jika ini adalah cerita tentang Frank dan Robin saja, karena hubungan mereka lebih unik. Polisi dan dealer obat terlarang – yang makek di sini adalah si polisi. Atau Frank saja yang dienyahkan sepenuhnya kalo film memang pengen memfokuskan kepada Art mencari anaknya. Dengan begitu kita akan dapati landasan drama yang lebih menyentuh antara Robin yang gak punya ayah dengan Art si buronan yang kehilangan putrinya. Dalam film ini, actually, kadar drama tersebut memang ada dan cukup kuat. Momen-momen hangat dan menyentuh dari film ini bersumber dari interaksi antara Art dengan Robin. Namun cara yang dipilih film untuk membungkus cerita sangat sangat aneh. Hingga ke titik seperti Robin-lah di sini yang paling enggak penting.
Keduanya diset untuk menemukan pengganti dari dalam diri masing-masing. Art melihat putrinya di dalam diri Robin, dan sebaliknya bagi Robin Art adalah ayah yang tak ia punya. Dan film memastikan Robin tak pernah punya sosok ayah yang ia idamkan. Karena di akhir, Art menemukan miliknya yang hilang, dan Robin ditinggal. Kembali ke kehidupannya semula, only richer. Dan karena tokoh utama film ini adalah Art, maka Robin si protagonis hanya terasa seperti placeholder. Kehampaan serupa yang kurasakan saat menonton Pokemon Detective Pikachu (2019) saat tokoh utamanya tetap gak punya pokemon di akhir cerita. Project Power ini bermain terlalu aman. Semua keunikan dan aksi-aksi cepatnya jadi sia-sia karena cerita yang kayak gak niat untuk menjadi lebih kuat.
 
 
 
Kalo ada yang butuh pil super, maka itu bukan para tokoh ataupun kita. Melainkan film ini. Ide dan konsepnya butuh sesuatu untuk meledak menjadi sesuatu yang benar-benar fun, fresh, dan memiliki arti. Dalam keadaannya yang sekarang, film ini tetap seru untuk disaksikan, tapi akan memberikan aftertaste yang hambar, dan kemudian pahit jika kita mengingat potensi yang dikandung oleh konsepnya.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for PROJECT POWER.

 

 
 
 

 

That’s all we have for now.
Jika dijual, berapa harga yang rela kalian bayarkan untuk mendapatkan pil seperti itu? Jika kalian tidak tertarik, kenapa?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

THE OLD GUARD Review

“The key to immortality is first living a life worth remembering”
 

 
 
Jika ada yang bisa mengalahkan sensasi surprise dikasih tahu oleh raksasa bahwa kita sebenarnya adalah penyihir, maka itu adalah sensasi mengejutkan saat Charlize Theron datang ke hadapan kita dan memberitahu bahwa kita sesungguhnya adalah immortal. Kalian yang tidak bisa membayangkannya, silakan tonton film aksi-fantasi terbaru, The Old Guard di Netflix. Karena peristiwa itulah yang persisnya terjadi kepada tokoh Nile di film tersebut.
Nile adalah tentara wanita yang sedang bertugas menangkap teroris di Afganistan. Dia terluka parah saat menjalankan misi tersebut. Namun ajaib, dia sembuh total. Luka tebas di lehernya hilang. Kini yang membekas pada diri Nile adalah selayang mimpi tentang sekelompok orang. Kelompok yang keesokan hari datang menjemput dirinya. Dipimpin oleh Andy, cewek berambut bondol yang tangguh banget, kelompok yang beranggotakan empat orang itu memperkenalkan diri sebagai sesuatu yang sukar dipercaya oleh Nile. Mereka semua tidak bisa mati, meski dalam kondisi luka yang paling fatal sekalipun. Dan kini Nile, somehow, menjadi sama seperti mereka. Nile diajak bergabung ke dalam barisan mereka, yang selama beratus-ratus tahun ini mendedikasikan diri untuk memberantas kriminal, secara rahasia. Dan sementara Nile memutuskan untuk menerima ajakan Andy dan kawan-kawan, seorang bos perusahaan farmacy gede di London ternyata telah mengendus keberadaan mereka. Andy dan teman-teman dijebak, mereka hendak ditangkapi untuk dijadikan subjek penelitian. Keabadian mereka akan diteliti, diekstrak kalo bisa, dan tentu saja diuangkan dengan dalih demi kebaikan seluruh umat manusia.

Basically mereka adalah Deadpool, tanpa rasa humor.

 
 
The Old Guard garapan Gina Prince-Bythewood ini ditulis langsung oleh penulis komik/graphic novel yang jadi sumber adaptasinya. Jadi film ini menjanjikan hal yang selalu ditagih oleh fans komik/buku yang diadaptasi ke layar lebar; kesetiaan dengan sumbernya. Aku belum pernah membaca komik The Old Guard, tapi begitu selesai menonton film ini aku bisa menebak cerita ini punya banyak penggemar, dan penggemar tersebut sepertinya bakal puas luar biasa dengan film ini. Karena The Old Guard bukan sekadar tontonan dengan karakter yang menarik dan punya aksi stylish yang berwarna merah oleh darah. Melainkan juga sebuah cerita yang mau meluangkan waktu untuk mengembangkan tokoh-tokoh tersebut, mengeksplorasi drama yang dimiliki oleh karakternya.
Sementara Nile si anak baru yang diperankan dengan matang oleh KiKi Layne bertindak sebagai perpanjangan kita yang awam terhadap dunia cerita, pusat cerita ini ini sebenarnya ada pada Andy. Si tentara immortal paling tua di antara mereka. Wanita ini sudah melewati begitu banyak pertempuran. Begitu banyak kehilangan. Begitu banyak luka. Sehingga konflik dan emosi cerita sebagian besar berasal dari tokoh yang diperankan dengan sangat badass oleh Charlize Theron ini. Kamera akan sigap menangkap momen-momen berharga tersebut. Lingering ke wajah Theron setiap kali tokoh Andy terdiam, entah itu terkenang akan kesedihannya terhadap seorang sahabat jauh di masa lalu, atau berkontemplasi mengingat waktu-waktu yang telah ia lalui dan kebimbangan akan waktu yang akan datang. Dengan muatan drama karakter yang sudah eksis begitu lama, serta dunia yang punya mitologi dan aturan main sendiri, film ini punya banyak paparan yang harus dibeberkan kepada kita. Sutradara Prince-Bythewood menghandle ini dengan cukup bijak. Ia tidak melakukannya dengan terburu-buru. Eksposisi tidak dihadirkan sekaligus. Akan tetapi, dia mengungkap semua dengan perlahan. Menggunakan momen-momen tenang di antara aksi-aksi untuk membuat kita sedikit lebih dekat dengan para tokoh.
Ketika berbicara, film ini memang tidak banyak berbeda dari film-film sebelum ini yang mengusung konsep karakter yang tak-bisa-mati. Permasalahan yang diangkat enggak jauh dari seputar beban moral hidup melampui orang-orang tersayang. Yang dibahas adalah pertanyaan apakah keabadian itu adalah kutukan atau anugrah. Dan jika itu anugrah, apakah tidak lebih baik untuk dibagikan kepada orang lain. Dalam keadaan terbaiknya, film dapat menantang penonton dengan persoalan tersebut. Keadaan terbaik ini tentu saja dapat tercapai dengan menghadirkan antagonis yang berbobot; yang punya lapisan dan tidak berlalu satu dimensi. Sayangnya, The Old Guard belum mampu mencapai keadaan terbaik tersebut. Karena tokoh penjahat utama yang dimiliki oleh cerita actually adalah bagian terburuk dari film ini. Pemimpin Pharmacy yang diperankan oleh Harry Melling (Dudley Dursley!) ditulis terlalu komikal, bahkan untuk villain cerita buku komik seperti ini. Elemen menangkap manusia untuk dijadikan subjek percobaan alias untuk disiksa terasa tidak terlalu klop dengan permasalahan emosional yang ditanamkan kepada tokoh-tokoh protagonis. Membuat film jadi sedikit terlalu klise. Pembicaraan yang cukup baik dilakukan oleh film ini adalah ketika memasukkan bahasan tentang LGBT; yang agendanya tidak terasa annoying melainkan pure diversity karakter.

Lewat Nile yang belajar banyak dari Andy, film membawa obrolan soal pilihan dalam mengisi hidup. Dengan umur sepanjang itu, sepenuhnya keputusan mereka untuk mau ngapain aja. Yang lantas membuat kita berpikir; bahwa sesungguhnya setiap manusia, bahkan kita, bisa menjadi abadi. Persis seperti Andy. Ya, melalui apa yang kita kerjakan. Jika kita hidup dengan berguna bagi banyak orang, jasa kita akan tetap hidup bersama mereka hingga generasi ke depan. 

 
 
Ketika berbicara lewat aksi, film ini menjadi semakin menarik. Pertarungan favoritku adalah pas adegan berantem di dalam pesawat. Di situ Andy bener-bener kelihatan ‘dewa’ banget. Kemampuan berakting action Theron sepertinya memang sudah demikian terasah, dan film mengetahui ini. Menggunakan talenta Theron dengan maksimal. The Old Guard punya desain aksi yang unik untuk keempat tokoh mercenary immortal tersebut. Karena mereka sudah bertempur bersama selama berabad-abad, bukan saja mereka jago pakai senjata apapun, mereka sendiri juga bertindak seperti satu senjata. Koreografi adegan penyerbuan oleh mereka terasa fresh untuk dilihat karena menghadirkan banyak kombo atau kerja sama unik. Serangan grup mereka begitu taktis dan efektif. Namun sayangnya kerja kamera seringkali tidak seefektif itu. Hampir seperti kamera tidak sanggup mengimbangi ataupun memenuhi konsep yang dituju oleh koreo. Karena yang kita lihat adalah seringkali shot yang terlalu goyang dan berjarak terlalu jauh. Sehingga alih-alih kita seperti berada in-the-moment, kita malah terasa seperti mengintip dari kamera bystander yang memfilmkan keributan yang mereka lihat.
Pemilihan musik latar juga tidak membantu untuk menguatkan suasana yang imersif. Bukan karena musiknya jelek. Melainkan karena gak cocok. Film ini menggunakan musik pop elektronik pada adegan-adegan yang intensitasnya krusial. Misalnya, tokoh yang sedang bingung atas apa yang terjadi pada tubuhnya, dia lantas pasang headset dan kita mendengar musik pop itu. Atau ketika tokoh kita bersembunyi siap menyergap rombongan penyusup, lagu pop elektro itu lantas diputar oleh film. Yang membuat kita terlepas dari adegan itu sendiri karena suasananya memang gak cocok.

Pengen immortal membuat kita jadi immoral

 
Tensi dan intensitas cerita turut melonggar ketika kita sudah mengestablish tokoh-tokoh ini enggak bisa mati. Berkali-kali kita melihat mereka tewas mengenaskan, lalu hidup lagi. Tidak ada lagi ancaman bagi mereka. Film menyadari hal ini dan cerita kemudian berbelok dengan menyebut bahwa para immortal itu sesungguhnya bisa mati. Keabadian mereka ada batasan, hanya saja terjadi dengan random. Dan itulah masalahnya; random. Tentu, kini kita jadi lebih greget menonton karena sudah ada yang dikhawatirkan dari mereka. Tapinya juga terasa jadi jalan yang mudah bagi film. Mitologi immortal mereka ini mestinya bisa dieksplorasi lagi. ‘Aturan’nya mestinya bisa diperjelas. Karena mengundang banyak pertanyaan selain kenapa random. Seperti; apa mereka masih bisa hidup kalo dibom dan hancur berkeping-keping, apa mereka bakal jadi membelah diri – dari setiap serpihan muncul sosok baru, atau mereka kayak Buu – serpihannya menggumpal membentuk tubuh mereka kembali. Atau apakah Nile baru sekarang jadi immortal, atau apakah sudah dari dulu dan dia baru tau. Actually, film ini mempertanyakan hal tersebut lewat salah satu tokoh. Namun tidak ada jawaban. Aku yakin mitologi immortal ini, pertanyaan-pertanyaan yang dibiarkan ngambang di film ini, semua ada penjelasannya. Hanya saja karena ini diniatkan sebagai film seri petualangan, alias bakal ada sekuel, maka pembuatnya sengaja gak membahas banyak dan ini membuat film ini jadi kurang tight penceritaannya.
 
 
 
Waktu, berharga karena ada batasnya. Tokoh-tokoh dalam film ini pada akhirnya belajar akan hal tersebut. Sementara film ini sendiri memang berusaha mengisi durasi dua-jam miliknya yang berharga itu dengan semaksimal mungkin. Mereka berhasil membuat ini jadi tidak membosankan. Tidak menjadi berat oleh eksposisi. Namun juga jadi kurang nonjok karena ada beberapa hal yang kurang dieksplorasi. Dengan dugaan sengaja untuk jadi bahasan di film berikutnya. Membuat film menjadi tidak sespesial yang seharusnya ia bisa. Untungnya film ini cukup menyenangkan, karakter-karakternya bisa kita pedulikan, sehingga aku cukup penasaran sama kelanjutan ceritanya.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for THE OLD GUARD.

 

 
 
That’s all we have for now.
Jika kita tidak bisa mati, akankah kalian akan berlaku reckless atau malah jadi lebih berhati-hati daripada biasanya?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

DA 5 BLOODS Review

“And the whole thing is that you’re treated like a step-child”
 

 
 
Spike Lee memang sangat vokal menyuarakan kesetaraan sosial kulit hilam. Dari Malcolm X (1992) hingga BlacKkKlansman (2018), dia terus membangun cerita berdasarkan soal pandangan politik dan kritikannya terhadap isu-isu tersebut. Maka tidak ada waktu yang lebih tepat lagi daripada sekarang ini – ketika #BlackLivesMatter kembali digemakan karena pelanggaran oleh seorang polisi kulit putih di Amerika – untuk film terbaru Spike Lee tayang. Da 5 Bloods, drama yang turns out to be a genre action-adventure tentang para veteran perang Vietnam, dibuat oleh Spike Lee untuk membahas nasib tentara kulit hitam selepas perang. Bahwa mereka tidak mendapat apa-apa selain trauma. Bahkan tidak pula terima-kasih. Apalagi sebuah kata maaf.
Begini gambaran besar kondisi mereka yang pada poin tertentu diutarakan lewat karakter fiktif dalam film ini: Kulit hitam adalah minoritas di Amerika, tapi di medan perang – di Vietnam sana – kulit hitam mendominasi. Kebanyakan mereka dikirim memperjuangkan kebebasan bangsa asing, padahal di negara sendiri mereka sama terkekangnya. Atas bahaya perang, kekerasan yang terpaksa dilakukan – karena dalam perang, setiap perbuatan adalah mengerikan, para tentara ini menanggung semua trauma sementara kebebasan bagi mereka tak kunjung datang. Perang bagi mereka sendiri tak-pernah berakhir.
Empat dari mereka itu adalah Paul, Otis, Melvin, dan Eddie. Empat tentara yang sudah menjadi seperti saudara karena semua yang telah mereka lalui di belantara Vietnam sana. Da 5 Bloods adalah cerita tentang keempat orang ini, yang tadinya berlima. Satu ‘blood’ lagi, teman, sahabat, sekaligus junjungan mereka semua, Norman, gugur di medan perang. Untuk dialah geng Bloods yang kini udah gaek itu berkumpul kembali di kota Ho Chi Minh. Mereka akan menyusur hutan, menjemput jasad Norman, sekaligus mengambil harta karun, like, literally emas batangan, yang tertimbun di tempat terakhir mereka berperang. Namun tentu saja perjalanan itu tidak bakal sedamai yang mereka duga. Sebab pencarian harta karun ini membuat mereka menapaki kembali tragedi dan kecamuk personal di masa lalu. Sekali lagi mereka harus berperang. Orang bilang emas mampu mengubah manusia menjadi yang terburuk. tapi itu bukan satu-satunya ‘musuh’ yang harus mereka kalahkan. For each of them punya kepentingan personal; kebutuhan yang harus disegerakan dalam usaha berdamai dengan masa lalu. Particularly menarik adalah dua orang tokoh; Otis yang served as protagonis sekaligus hero, dan Paul sebagai tokoh utama. Dan masalah kedua orang ini berkaitan dengan anak, yang bisa kita tarik garis keparalelan dengan gagasan yang ingin disampaikan oleh film dalam isu penduduk kulit hitam yang selama ini diperlakukan seperti anak tiri oleh negara.

‘Emas hitam’ itu adalah darah persahabatan

 
Meskipun dimulai dengan berondongan montase video Muhammad Ali yang menolak enlist jadi soldier dan cuplikan-cuplikan foto sejarah perang Vietnam lengkap sama nama dan tanggal-tanggal penting (cuplikan ini bisa bikin tidak nyaman karena nampilkan mayat korban dan eksekusi real), dan aksi-aksi protes terhadapnya, Da 5 Bloods yang sarat akan komentar politik ini tidak terasa berat untuk dinikmati. Lee sukses mengaduk ketegangan isu ras, emosi, kemarahan di dalamnya, dengan momen-momen menyentuh dan komedi yang akrab, dan lalu menutupnya dengan aksi brutal ala film laga. Tidak akan susah bagi kita untuk mengikuti drama yang melatarbelakangi cerita film ini. Simpati itu juga tidak diminta kepada kita, film tidak mengemis belas kasihan kita kepada para tokoh kulit hitam dan ketidakadilan yang mereka terima. Instead, yang kita lihat di sini adalah karakter-karakter yang bercela karena dampak perang. Kadang kita takut kepada mereka. Kadang kita ingin mereka mendapat keadilan. But mainly, kita semua akan merasakan deep connection, apalagi ketika film mulai membahas hubungan karakter dengan anaknya.
Lewat tokoh Otis yang diperankan oleh Clarke Peters, film mengangkat topik anak yang berasal dari hubungan tentara dengan penduduk lokal selama perang. Sebelum berangkat ke hutan, Otis mengunjungi perempuan Vietnam yang dulu pernah berhubungan dengannya. Di rumah perempuan itu, unexpectedly Otis bertemu dengan anak gadis yang tidak-lain-tidak-bukan adalah buah hubungannya dengan si perempuan. Namun tidak satupun dari mereka yang berani menyebutkan hal tersebut kepada si anak. Bohong diciptakan untuk menutupi hal tersebut, dan Otis hanya bisa diam. Dia ingin ‘menyapa’ anak kandungnya ini so bad,  kita jadi peduli kepadanya, kita ingin mereka benar-benar ‘bertemu’. Dan ini dikontraskan sekali dengan hubungan antara Paul dengan anaknya, David, yang diam-diam menyusul ke Vietnam dan ikut serta dalam perjalanan mereka. David gak pernah diaku anak oleh Paul, sepanjang dua jam lebih film ini kita akan melihat perlakuan Paul kepada David – sekali waktu dia cemas ketika David nginjek ranjau, dan kali lainnya dia tidak lagi menganggap David anaknya hanya karena David menolak untuk ikut meninggalkan kelompok. Tapi film membiarkan kita tetap lekat kepada Paul supaya kita bisa mengerti akar dari permasalahannya dengan David.
Dan oh boy, betapa Paul adalah tokoh yang kompleks, dan dimainkan dengan luar biasa oleh Delroy Lindo!

 
 
This is my favorite acting performance so far this year. Lindo berhasil memaksimalkan intensitas dari karakter Paul yang benar-benar… haunting. Paul adalah yang paling terpengaruh oleh kematian Norman dibanding tiga rekannya yang lain. Dia yang paling terpukul oleh dampak perang. Bayangkan amarah, takut, sakit, dan rasa bersalah bercampur menjadi satu, lalu hidup. Itulah Paul. Paul ini kayak ngeliat Big Show di WWE, kadang dia baik, kadang jahat banget. Kadang kita mencemaskan dirinya saat PTSD-nya kumat. Kadang kita bisa merasakan kebencian tulen menguar dari dirinya. Untuk membuatnya lebih ruwet lagi, Lee menuliskan Paul sebagai seorang supporter Trump. Menunjukkan rasa patriotnya yang tinggi, yang kontan menjadi tambahan konflik buatnya once he realized itu tidak membuat hidup menjadi lebih mudah baginya. Malahan makin susah, bukan hanya baginya tapi juga bagi keluarga – bagi anaknya. Transformasi karakter ini diperlakukan dengan sangat unik. Lindo akan banyak melakukan monolog, dan pada beberapa monolog Lee membuat Lindo secara close up bicara langsung kepada kamera. Sehingga efek yang dihasilkan menjadi luar biasa. Yang membuat monolog itu unik adalah yang ditampilkan bukanlah tokoh yang perlahan menjadi gila karena perbuatannya. Melainkan tokoh yang mengalami sebuah penyadaran dahsyat. Paul menjadi a better man, sekaligus dia sadar seberapa banyak dosa-dosanya.

Paul adalah ayah, yang harusnya mengayomi anak seperti negara mengayomi warganya. Tapi Paul membunuh ‘orang’nya sendiri. Seperti negara yang kerap membunuhi warganya sendiri, for no reason. Arc Paul beres begitu dia meminta maaf, yang membuatku berpikir jangan-jangan inilah seruan Lee kepada negaranya. Bahwa yang dibutuhkan adalah meminta maaf. Kemudian mengakui warga selayaknya anak, tanpa pandang bulu, tanpa pandang warna.

 
 
Menyadari betapa pentingnya bagi kita para penonton untuk tetap berpegang kepada para tokoh, untuk melihat mereka sebenar-benarnya diri mereka, Spike Lee enggak repot-repot mencari dua pemain untuk memerankan dua versi karakter. Dia juga tidak menggunakan efek untuk memudakan, yang beresiko membuat tokohnya tidak tampak alami dan melepaskan kita dari mereka. Da 5 Bloods dari waktu ke waktu akan membawa kita ke masa lalu, masa perang saat Paul, Otis, dan teman-teman sebagai tentara muda, dan dia menampilkan mereka benar-benar seperti mereka tidak pernah berubah lagi setelah perang mengubah mereka terlebih dahulu. Kontras karakter versi muda dan tua ini cuma di kekuatan fisik – in modern day kita melihat Otis harus berjalan dengan bantuan tongkat karena pinggangnya udah gak kuat, sedangkan di masa lalu ia kuat berlarian. Lee menghandle dua masa itu dengan sangat mulus. Dia juga menggunakan perbedaan ratio pada layar. Adegan perang di masa lalu punya ratio yang lebih kecil sehingga menimbulkan kesan seperti melihat rekaman masa lalu.
Perpindahan masa ini tidak pernah terasa mengganjal karena Lee tidak melakukannya dengan berlebihan. Melainkan dia melakukannya dengan timing yang precise, dia tahu kapan untuk ngeflashback sehingga terasa impactful. Ada satu flashback yang terus diulur, adegan sebenarnya antara Paul dan Norman di medan perang, kita punya dugaan tentang adegan ini, kita ingin konfirmasi, tapi film tidak melakukannya sehingga kita terus terbuild up, dan dying for the flashback. Aku biasanya gak demen sama flashback, tapi di film ini aku jadi merasa butuh. Dan BAMM! ketika beneran tiba, efek adegannya menjadi berkali lipat. Buatku ini adalah cara yang pintar dalam menggunakan flashback; tidak berlebihan melainkan yakinkan dulu penonton sudah terinvest dan buat mereka merasa butuh untuk melihat flashback.
Sisipan dalam film ini bukan hanya flashback, melainkan juga footage-footage adegan nyata, yang seperti sudah kusinggung di atas; dapat menjadi disturbing untuk kita lihat. Korban-korban perang, mayat wanita, balita… Ini ditampilkan oleh film bukan untuk ajang biar edgy atau menarik penonton haus darah. Ini harus ada sebagai penekanan atas narasi yang dibentuk oleh film. Mayat-mayat itulah yang dipikirkan para tentara, itulah oleh-oleh yang dibawa pulang kalo kita berperang. Film menekankan bahwa mereka melakukan itu semua untuk apa. Secara konsep juga film menunjukkan mereka tidak segan-segan untuk menampilkan aksi kekerasan. Ada banyak adegan tembak-tembakan disebar – penggemar film perang akan enjoy main tebak-tebakan reference saat nonton ini – dan di babak akhir ada konfrontasi gede sebagai final-fight yang buatku sedikit terlalu ngegenre, tapi diperlukan oleh salah satu karakter sebagai full-circle arcnya.
 
 
 
 
Dalam durasi dua setengah jam, Spike Lee membawa kita mengarungi perjalanan emosi. Membuat kita berpikir tentang keadilan dalam sudut yang baru. Mengenai makna sebenarnya dari sebuah patriotisme. Ada banyak yang bisa kita pikirkan dari karakter-karakter di sini. Yang membuat ini menjadi tontonan bergizi yang mengasyikkan adalah ia tidak berhenti hanya sebagai komentar soal politik. Film ini menyentuh dunia nyata keras-keras, menjitaknya kalo boleh dibilang, tapi tidak lupa untuk menjadi menghibur. Tanpa mengurangi bobot pesannya. Ini kemampuan yang gak semua sutradara mampu, dan kupikir dunia sangat berterima kasih atas kehadiran film ini.
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for DA 5 BLOODS.

 

 
 
That’s all we have for now.
Para tentara itu bertanya kepada diri mereka sendiri kenapa mereka mau berperang untuk negara yang tetap saja memperlakukan mereka seperti warga kelas-dua saat kembali nanti. Bagaimana menurut kalian, apakah itu adalah bentuk pengabdian kepada negara?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

BECKY Review

“Anger is one letter short of danger”
 

 
Menjadi remaja berarti menjadi marah. Nyaris sepanjang waktu. Dalam menit-menit awal action-horror Becky, duo sutradara Jonathan Millot dan Cary Murnion, memparalelkan dunia remaja di sekolah dengan dunia penjara lewat cut-cut adegan yang saling bertubrukan. Memperlihatkan kepada kita bahwa penghuni kedua dunia tersebut kurang lebih sama. Mereka merasa terkekang. Mereka ingin memberontak. And as luck have it, beberapa napi toh memang berhasil kabur, atas nama persaudaraan – kekeluargaan. Di sinilah kontras dihadirkan, sebab kita kemudian berkenalan dengan tokoh utama cerita; cewek 13 tahun yang marah justru karena merasa keluarganya berantakan.
Becky nama remaja tersebut. Sasaran amarah Becky tentu saja adalah ayahnya, yang menjemputnya ke sekolah hanya untuk pergi liburan ke vila mereka – bersama calon ibu baru alias pacar sang ayah! Urgh!! Padahal Becky masih kangen sama ibu yang meninggal karena kanker beberapa waktu yang lalu. Jadi setibanya di villa, Becky memisahkan diri. Bersama anjing kesayangannya, Becky mengasingkan diri ke ‘benteng’ rumah kayu di tengah hutan. Sementara itu, ayah dan calon ibu tiri Becky kedatangan tamu. Dominick bersama anak-anak buahnya. Mereka kabur dari penjara karena mencari sesuatu yang disimpan di ruang bawah tanah villa milik ayah Becky. Dan ketika mereka tidak menemukan yang dicari, things get ugly. Film Becky adalah Home Alone (1990), kalo film tersebut beratus kali lebih sadis dan berdarah. Anak-anak, anjing, orangtua; tidak ada yang luput, semua jadi korban. Bagaimana dengan Becky? Well, bisa dibilang Becky bukan saja menemukan sasaran marah yang baru, dia juga membangkitkan rage yang belum pernah ia sadar ada di dalam dirinya.

kalo anjing Becky bernama Diego dan Dora, maka bisa jadi kita adalah Boots-nya

 
 
Ini bukan pertama kalinya Millot dan Murnion menjungkirbalikkan trope pada genre horor/thriller. Tengok saja salah satu karya mereka sebelumnya, Cooties (2014) – sayangnya aku dulu ngereview ini Path jadi gak ada jejaknya di blog – yang membahas tentang zombie outbreak di sekolahan; dengan anak-anak sebagai zombienya! Millot dan Murnion gak ragu untuk memperlakukan anak-anak dengan kejam di sana, karena mereka sudah jadi monster dan kita takut kepada mereka. Ya, ‘takut kepada anak-anak’ sudah menjadi topik yang menarik sejak cult-classic Village of the Damned (1995) dengan tepat menyimbolkan bahwa anak-anak merupakan cerminan dari kegagalan/mimpi-mimpi broken/kepolosan yang hilang dari orang dewasa. Dalam film Becky ini, Millot dan Murnion nge-subvert dua hal sekaligus; menjadikan anak yang menakutkan itu sebagai protagonis, dalam sebuah revenge-story yang biasanya bertokohkan wanita dewasa.
As far as the violence goes, film ini hadir menghibur. Suguhan yang diberikan kepada kita adalah adegan berdarah-darah. Paling seru yang berhubungan dengan bola mata. Yum! Melihat Becky mengamuk, berayun turun dengan semacam flying fox untuk menusuk salah seorang penjahat dengan pensil warna dan garisan kayu, memberikan sensasi kelegaan tersendiri kepada kita. Bukan hanya karena violence semacam ini masih teritung fresh (kapan lagi lihat anak-anak jadi jagoan Mortal Kombat, walaupun itu dalam ‘dunia’ mereka sendiri), melainkan juga karena biasanya anak-anak dalam film seringkali berstatus sebagai korban. Adegan tersebut berada pada titik balik si Becky, selama ini dia disuruh untuk menahan amarahnya. Kita melihat dia tidak punya outlet yang sehat dalam menyalurkan emosi dan griefnya – certainly semarah-marahnya seorang anak toh ia tidak bisa memukul bapaknya sendiri. Namun sekarang, geng Dominick yang jahat memberikannya alasan untuk meluapkan kemarahan. Film ini juga cukup detail dalam memplot langkah Becky berikutnya. Anak ini tidak lantas jadi jago, aksi-aksi dia berikutnya diperlihatkan sebagai sesuatu yang spontan. Ada bagian ketika rencana/jebakan yang diset oleh Becky gak berjalan sebagaimana yang diharapkan, sehingga dia harus menyusun rencana dadakan – bergulat dengan rasa marah, ketakutan, dan sakit, lalu menyerang dengan sesuatu yang sangat liar. Kekerasan dalam film ini menghibur dalam level aksi yang bakal hadir tidak terprediksi.

Marah itu amat sangat dekat dengan bahaya. Menyimpannya enggak sehat buat kita. Melampiaskannya? Kita harus berhati-hati karena ada cara yang sehat dan ada yang tidak untuk menyalurkan amarah. Namun tentu saja sehat itu dapat menjadi subjektif. Normalnya, melampiaskan dengan cara yang sehat akan berarti menyalurkan ke dalam bidang seni. Tapi pada Becky, melampiaskan dengan brutal adalah hal yang menyehatkan untuk hubungannya dengan keluarga.

 
Memainkan tokoh seperti Becky ini bukan masalah bagi Lulu Wilson yang sedari usia muda susah mentackle peran-peran dalam genre horor. Aku suka aktingnya dalam Annabelle: Creation (2017) dan dia even better di Ouija: Origin of Evil (2016), Wilson mampu menguarkan aura creepy tanpa kehilangan hook untuk simpati. Aktingnya di Becky ini hampir-hampir overkill, dia terus mengenai note yang sama berulang-ulang. Sayangnya film kurang peka. Becky tidak diberikan kesempatan untuk berkembang lebih jauh. Revenge-story seperti film ini keberhasilannya bertumpu pada transformasi tokoh utama. Tokoh yang biasanya lembut, jadi garang. Tokoh yang biasanya sabar dan pemaaf, jadi tanpa belas asih. First-kill mereka selalu jadi poin yang penting, titik saat kita merasakan perubahan itu mulai mencuat. Lulu Wilson enggak diberikan kesempatan ini. Becky pretty much the same, ‘insane’ person. Sedari awal dia sudah begitu marah. Kita sudah dapat sense dia adalah bom waktu yang siap meledak. I mean, film bahkan udah menyamakan keadaan dia dengan keadaan napi di penjara, ingat? Sebagai alat untuk memperlihatkan Becky dalam keadaan manis, film menggunakan flashback ke masa-masa ia di rumah sakit bersama ibu. Hanya saja adegan tersebut lebih terasa seperti tempelan karena hanya disebar random tanpa benar-benar ada flow dalam journey karakter si Becky.

Penulisan film ini terlalu dangkal sehingga Jeff di sini bisa aja sama ama Jeff di serial Community

 
 
Padahal bisa saja Becky dikasih kesempatan untuk belajar soal lebih menghargai orangtua, khususnya, serta bagaimana membentuk dan dealing with ‘keluarga tiri’ so to speak dari anak buah Dominick yang bernama Apex (penggemar gulat akan mengenalinya sebagai Kurrgan dari stable The Oddities di awal-awal Attitude Era). Dari segi karakterisasi memang Apex yang berbadan kayak raksasa mini ini lebih kompleks dan menarik ketimbang Becky. Dia diangkat anak oleh Dominick, dia bersumpah setia, akan tetapi nurani mulai membebani dirinya – ia tidak tahan lagi menyakiti anak-anak. Ada sesuatu padanya yang bisa dikaitkan menarik dengan Becky. Namun film tidak membiarkan sang protagonis untuk keluar dari kubangan duka kematian ibu. Dari awal hingga akhir Becky hanya menunjukkan lapisan teen angst, entah itu dari ibu atau dari anjingnya. Lucunya, malah ayah Becky yang disuruh belajar satu dua hal dari Dominick mengenai raising a proper family. Pelajaran-hidup yang tidak berguna karena karakter ayah Becky ujung-ujungnya hanya sebagai body count.
Film ini tidak tepat sasaran secara emosional. Jika kita tidak disuruh memahami degradasi Becky melainkan merayakan keberingasannya, film seharusnya bermain di area dark-comedy, seperti Cooties. Dan memang sepertinya lebih cocok begitu, karena sukar bagi kita untuk mempercayai penjahat-penjahat ‘profesional’ bisa kalah sama remaja tiga-belas tahun yang outnumbered dan jelas kalah-pengalaman. Terutama ketika film mengharapkan kita untuk menganggap para penjahat sebagai threat yang berbahaya dan serius. Kevin James memainkan peran Dominick bukan tanpa sebab; dia ingin break out dari zona nyaman sebagai karakter komedi – seperti temannya, Adam Sandler yang dapat kesempatan itu di Uncut Gems (2020) – desain Dominick (nazi white supremacist yang percaya pada brotherhood) jelas bukan komedi melainkan penjahat serius dan dramatis. Mereka ini berbahaya tapi bisa kalah dengan mudah oleh Becky? Film bahkan menunjukkan kekalahan mereka dengan cukup remeh, enggak exactly Becky punya power atas mereka, mereka kalah karena keputusan bego mereka sendiri. Ini membuat film jadi gak make sense dan harusnya justru diberikan tone dark-komedi supaya bekerja.
Kita tidak pernah diberitahu apa sebenarnya motivasi Dominick; benda yang ia cari tidak pernah dijelaskan kegunaannya. Cerita film ini terbangun dengan sama kopongnya dengan arahan dan karakter. Becky seharusnya jadi horor tempat-tertutup yang menegangkan. Namun lokasi tidak pernah seperti jadi penghalang dan menekan tokoh utama. Alih-alih menguatkan kesan mereka terkurung, film justru membuat tempat tersebut seakan luas. Becky bisa beraksi dengan bebas, menghabisi satu penjahat, tanpa perlu takut ketauan penjahat lain, karena dia ada di pinggir danau yang who knows berapa jaraknya dari rumah. Hal ini membuat intensitas film jadi gak kuat. Suspens jadi terangkat karena kita menyaksikan adegan-adegan sebagai bagian yang saling terpisah – oh ini giliran si anu yang dihajar, oh ini giliran si ini. Seharusnya ada pemikiran yang lebih jauh dalam memanfaatkan set villa terpencil tersebut.
 
 
 
Sure, ada hiburan yang datang dari film ini. Blood-squirting, eyeball-popping; jelas ada penggemar film seperti ini. Apalagi tokohnya adalah remaja cewek, yang menghabisi pria dewasa kasar dan superrasis. Hanya saja ini adalah hiburan yang tanpa bobot. Dengan karakter satu-dimensi (remaja yang marah karena ibunya meninggal dan ayahnya mau kawin lagi), dan menjual kesadisan, film ini tak lebih dari sebagai tontonan gimmicky. Ia akan diingat sampai sajian yang serupa hadir, dan itu rentang waktunya gak akan lama. Karena film-film seperti ini toh memang banyak yang suka.
The Palace of Wisdom gives 4.5 out of 10 gold stars for BECKY.

 

 
 
That’s all we have for now.
Mengapa remaja marah setiap waktu? Bagaimana caramu menghadapi adik atau anak usia remaja yang kerjaannya uring-uringan?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

A GOOD WOMAN IS HARD TO FIND Review

“Don’t let the people make you difficult”
 

 
 
Orang yang lembut (hatinya loh ya, bukan wujudnya – emangnya lelembut!) seringkali dimanfaatkan. Tanpa benar-benar diapreasiasi oleh orang lain. Yang ada malah, lama-kelamaan, mereka bakal digencet. Karena mereka ‘gak tega’ melawan. Bahkan cenderung ‘enggak berani’. Sebab opresi seperti begini sebagian besar datang dari pihak-pihak yang serta merta membuat si soft-hearted ini merasa powerless. Misalnya orangtua kepada anak. Atau laki-laki kepada wanita.
Ah, now we’re talking!
Sarah Bolger dalam A Good Woman is Hard To Find berperan sebagai Sarah, ibu dari sepasang anak yang masih kecil-kecil, yang baru saja menjanda lantaran suaminya dibunuh oleh seseorang misterius. Anak sulung Sarah actually menyaksikan pembunuhan tersebut, tapi dia begitu shock hingga kehilangan napsu untuk berbicara. Sarah tentu saja ingin keadilan, dia ingin pelakunya diusut, dia ingin tahu kenapa suaminya dibunuh. Namun polisi hening – malah menyuruhnya untuk mengikhlaskan saja. Ibunya sendiri bodo amat ama masalah Sarah. Beliau masih ngungkit ketidaksetujuannya sama pilihan Sarah. Semua orang menyebut suami Sarah seorang drug dealer.
Berikut adalah perlakuan orang-orang terhadap ibu muda yang berusaha memberi makan dan hidup layak kepada kedua anaknya ini: Sarah dicatcalling, dituduh bekerja sebagai wanita bayaran sama satpam supermarket, dicurigai sebagai wali yang tak layak oleh polisi yang ngejudge dapurnya berantakan, diingatkan oleh ibunya  bahwa ia telah membuang masa depannya sebagai cewek cantik nan pintar dengan menikah sama pria gajelas, dan disuruh sering-sering senyum dan dandan oleh seorang preman jalanan. Si preman jalanan ini, si Tito, eventually jadi bagian penting untuk plot karena ia memaksa untuk bersembunyi dari kejaran mafia narkoba di rumah Sarah. Menyimpan ‘dagangan’ di sana, diberikan akses keluar masuk – practically Tito maksa ngekos harian di sana. Dia memberi Sarah upah dari potongan jualan narkoba asal Sarah membiarkannya bersembunyi di sana sebelum Sarah sempat membuka suara untuk menolak.

atau untuk nego harga, kalo Sarahnya galak

 
 
Film garapan Abner Pastoll ini excellent saat membahas drama seputar konflik kemanusiaan yang melanda Sarah. Yang digali di sini adalah persoalan seorang wanita – seorang ibu – seorang yang terlembut dari semua manusia yang hampir pada setiap kesempatan karakternya ‘dibunuh’ oleh sistem sosial dan kotak-kotak gender. Kita jadi mengerti tekanan yang harus ditahan oleh Sarah, baik fisik maupun mental. Bagaimana dia tidak bisa menolak karena dia mempertimbangkan banyak hal. Like, dia mencemaskan keadaan anak-anaknya, tapi lama-kelamaan dia sadar dia butuh sesuatu untuk mensupport kebutuhan rumah tangga demi anak-anaknya. Film memainkan narasi seolah Sarah yang berusaha berjuang sendiri percaya dia membutuhkan bantuan. Karena selalu ditekan dan dimentahkan fungsi dirinya oleh sekitar.
Ada banyak adegan manusiawi yang menunjukkan betapa sutradara paham akan konflik yang ia angkat. Momen-momen sederhana seperti gak sanggup bayar belanjaan sehingga harus ngurangi satu atau dua item, atau momen yang lebih privat seperti desperate akan baterai di tengah malam, berhasil membuat karakter Sarah begitu grounded. Bolger mengangkat tokohnya ini menjadi berlipat-lipat meyakinkan lewat permainan akting yang benar-benar sukses bikin kita merogoh hati untuk memberikan simpati. Perasaan atau emosinya terpampang jelas lewat sorot mata berkantung dan rambut yang nyaris-disisir tersebut. Cerita mempersiapkan Sarah untuk sebuah transformasi, dan begitu point-of-no-return itu datang kita sudah sedemikian ngototnya untuk melihat Sarah mendapatkan hal yang lebih pantas. Dan inilah yang menurutku merupakan hal paling mengerikan yang dimiliki oleh film ini.

Bukan sekadar cerita revenge atau dendam orang yang tersakiti, film ini nyatalah adalah cerita pembalasan seorang ibu atau wanita yang sekian lama teropresi. Yang membawa kita pada kenyataan bahwa di dunia ini orang-orang begitu kejam kepada orang baik sehingga memaksa mereka untuk beraksi. Sangat disayangkan ketika respek diri sendiri, tidak membiarkan diri susah karena orang lain, dan stand up menunjukkan hati yang berani itu wujudnya ternyata adalah menjadi jagoan-galak, bahkan kalo perlu membunuh seperti Sarah.
Kenapa kita selalu merusak hal-hal indah di muka bumi?

 
Yang dirasakan/dialami oleh tokoh Sarah rada mirip dengan yang terjadi pada tokoh dalam film Swallow (2020). Namun film Swallow bertempat pada dunia yang katakanlah lebih mirip dengan dunia normal kita. Sedangkan A Good Woman is Hard To Find ini bertempat pada dunia yang lebih kelam; yaitu dengan organisasi narkoba menjadi salah satu penggerak ekonominya. Sehingga journey Sarah punya kengerian atau keekstriman dalam level yang berbeda. Paruh akhir film ini berubah arah menjadi lebih ke thriller revenge. Sarah telah ‘mencicipi’ darah pertamanya, dan dia juga telah mengetahui siapa yang membunuh suaminya. Kita memang akan melihat adegan-adegan bloody seperti mutilasi ataupun shoot out. Namun dilakukan tidak dengan fantastis, melainkan tetap lewat kacamata yang grounded. Film memegang prinsip less is more dalam menampilkan itu semua. Ia tidak perlu mempertontonkan semua proses dengan gamblang. I mean, shot dari atas Sarah terduduk di antara kantong-kantong plastik hitam itu sudah lebih dari cukup mewakilkan kengerian dan kecamuk konflik yang dirasakan tokoh.
Karena film ini tidak lupa daratan. Sarah tidak kontan berubah menjadi pembunuh jagoan. Transformasinya soal ini malah lebih ‘parah’ dibandingkan tokoh dalam revenge-action The Rhythm Section (2020). Melihat darah aja Sarah puyeng. Ini membuat kejadian-kejadian yang harus ia lakukan sebagai bentuk penguatan diri itu menjadi semakin emosional. Also, bagi Sarah ini bukan sebatas tindak balas dendam. Jika kita tilik ke belakang, yang mentrigger perubahan Sarah ini adalah ketika dirinya nyaris menjadi korban opresi lelaki dalam bentuk yang tindakan yang paling basic dan tradisional. Ketika privasinya terancam. Jadi, tindakan Sarah adalah wujud dari survival sekaligus mengambil kembali siapa dirinya sebagai manusia. Seorang wanita. Seorang ibu.

kapan lagi melihat grammar nazi dihajar?

 
 
Jadi, mengerikan ketika seorang ibu harus mengangkat senjata untuk dihormati. Mengenaskan ketika seseorang harus membuktikan dia respek dan nyaman kepada dirinya sendiri, baru merasa pe-de, dengan mengenakan riasan saat belanja ke supermarket. Sosial yang kejam yang membuat mereka terpaksa begitu. Aku gak benar-benar setuju sama gagasan film ini, tapi toh film tidak menampilkannya sebagai jawaban eksak. Melainkan hanya gambaran betapa masyarakat kita sudah sebegitu opresifnya sehingga yang terjadi kepada Sarah kini menjadi opsi jalan keluar untuk mendapatkan respek.
Masalah ekonomi Sarah juga tampak beres dengan berubah seperti demikian. Konsekuensi pembunuhan yang ia lakukan, meski membela diri – tapi toh ia menutupi dan melakukan crime lain terhadapnya – tidak didaratkan oleh cerita. Dan ini membuat film menjadi sedikit terlalu ‘fantastis’. Meninggalkan realm drama grounded yang sudah terbangun hingga setidaknya pertengahan cerita. Film seharusnya menyelami soal ‘pemberesan’ sedikit lebih banyak untuk membuat cerita berimbang alih-alih total berganti. Masalah putranya yang menutup diri dan gak bicara juga tidak terasa selesai dengan mantap. Karena relasi Sarah dengan anak-anaknya memang tidak pernah benar-benar dibahas. Hanya sebatas interaksi khusus saat bacain cerita sebelum tidur Mereka hanya ada di sana sebagai stake dan motivasi. Buatku, it’s just psikologi anak yang mendadak bisu ini terlalu gede dan menarik untuk tidak dibahas dan hanya dijadikan sampingan.
 
 
Cerita film ini dibuka dengan adegan Sarah mandi bersimbah darah, tapi darah itu bukan darahnya. Membuat kita berasumsi ini akan jadi film revenge-aksi cewek yang biasa. Asumsi seperti ini akan cepat dipatahkan, karena paruh awal film kuat oleh aspek drama psikologis seorang wanita yang hidup dalam masyarakat yang menggencetnya. Dipikul oleh penampilan akting yang benar-benar meyakinkan, film ini berhasil mencapai tingkatan intensitas emosional yang gak semua teman-teman segenrenya bisa. However, ditonton hingga akhir film ini terasa kembali ke ranah yang sudah lumrah, dan ada beberapa elemen yang menarik untuk digali tetapi they chose not to. But still, film ini punya hal yang aku sukai yakni gambaran yang ia tampilkan mengenai seperti apa dampak sosial bermasyarakat kita terhadap satu hal baik. Kalo kata judul, makanya sekarang nyari cewek baik itu susah. This is why we can’t have nice things.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for A GOOD WOMAN IS HARD TO FIND.

 

 
 
That’s all we have for now.
Benarkah jadi orang baik itu begitu susah dan menjadikan kita terkekang?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

THE WRETCHED Review

“All children’s greatest fear is the separation of their parents”
 

 
 
Pria dan wanita saling jatuh cinta. Mereka kemudian hidup bersama. Menjadi papa dan mama. Anak mereka akan belajar banyak dari mereka, terutama kasih sayang dan rasa percaya. Namun kemudian pria dan wanita tadi bertemu dengan masalah rumah tangga. Mereka memutuskan untuk berpisah, karena itulah langkah terbaik. Yang harus disadari adalah perpisahan bukanlah akhir, melainkan awal. Permulaan dari trauma dan masalah bagi anak. Karena sekarang rasa percaya itu terbagi dua. Anak takut disuruh memilih. Anak khawatir mengkhianati kasih sayang utuh tempat ia bertumbuh. Dan kemudian datanglah sang figur pengganti. Sebagai personifikasi dari ketakutan anak dari perceraian orangtua.
The Wretched merangkum hal-hal yang dikhawatirkan oleh anak-anak malang seperti demikian. Yang orangtuanya kini tinggal terpisah. Yang bersiap untuk mendapat papa atau mama yang baru. Kejadian-kejadian tersebut dibentuk ke dalam narasi horor oleh duo sutradara sekaligus penulis naskah Brett Pierce dan Drew T. Pierce, yang kemudian disampaikan kepada kita lewat tone yang ringan seolah ini adalah kisah kehidupan remaja normal. Benturan tone inilah, tema yang kelam-estetik creepy-atmosfer ringan, yang menjadikan The Wretched sebuah pengalaman nonton yang lumayan langka. Yang kita dapat biasanya entah itu film yang terlampau artsy, atau malah film yang bablas receh. Atau yang frontal sadis. The Wretched berada di tengah-tengah itu semua. Violent dan tega terhadap anak kecil, beberapa mengarah ke ‘konten dewasa’, tapi perspektif dan gagasan yang disampaikan adalah milik anak-anak baru gede yang bermuara pada keluarga.
Cerita berpusat pada Ben (John Paul-Howard bermain dengan gips di tangan), cowok remaja yang mendapat giliran di rumah ayahnya, di lingkungan kota dermaga kecil. Di sini Ben berkenalan dengan tetangga baru, teman baru, dan calon ibunya yang baru. Selain kecanggungan sosial dan angst-nya soal kemungkinan ibu baru tersebut, hidup Ben masih tergolong normal. Hingga dia gak sengaja mengintip ada kejanggalan di sebelah rumahnya. Tetangga Ben mendadak lupa bahwa mereka punya dua orang anak. Ben yang tertarik rasa penasaran dan kekhawatiran melakukan investigasi kecil-kecilan. Dia menemukan simbol aneh dan sesuatu yang mencurigakan di basement tetangganya itu. Mungkinkah nyonya rumah tersebut adalah seorang penyihir kuno? Ben harus segera berbuat sesuatu sebab anak-anak lain di kota itu mulai lenyap jejak keberadaannya satu-persatu.

Apakah sosok mirip Arrancar ini technically dibilang Witch karena suka merebut suami orang?

 
Nonton The Wretched rasanya persis kayak baca cerita-cerita di buku Fear Street karangan R.L. Stine. You know, the Goosebumps-Guy. Goosebumps merupakan horor yang ditulis Stine khusus untuk anak-anak; dengan tidak terlalu mengerikan, dalam artian hanya ada literal makhluk mengerikan entah itu zombie, hantu, alien, atau bahkan bully di sekolah tanpa pernah menyentuh isu yang lebih dalam seperti domestic abuse, atau trauma, ataupun ketakutan mental lainnya. Pada Fear Street, Stine mulai memperkenalkan soal isu tersebut dengan sedikit lebih dalam, karena mengincar pembaca yang lebih gede. Nah, The Wretched juga mengandung elemen dan cara bercerita yang mirip dengan horor Fear Street. Remaja yang melakukan hal-hal remaja biasa yang dealing with bersosialisasi di lingkungan baru. Kenalan ama cewek. Sedikit gak akur sama akur sama ayah yang mau nikah lagi. Namun dengan tone horor yang kuat sebagai pembungkus lapisannya.
Horor di sini dapat menjadi sangat mengerikan untuk penonton seusia tokoh utamanya, atau yang lebih muda. Anak yang dimakan. Anak yang diseret secara kasar untuk kemudian dibiarkan sementara nasibnya sesuai imajinasi kita. Practical effect-nya akan membantu kita mengembangkan visual supermengerikan di dalam kepala masing-masing. The Wretched punya departemen art yang asik, untuk ukuran genre horor. Penampakan ‘penyihir’nya sangat meyakinkan seremnya. Adegan dia keluar dari perut rusa niscaya bakal menghantui mimpi anak kecil yang menonton ini, paling enggak untuk seminggu ke depan. Sementara aku, skena mimpi burukku sampai saat ulasan ini diketik masih dibintangi oleh emak-emak berdiri di ujung lorong, bermandikan cahaya, dengan tubuh berpostur meliuk kayak batang pohon. Yea, terima kasih buat adegan anak tetangga Ben melihat ibunya berdiri di luar kamar. Sutradara jelas punya gaya dan visi tersendiri dalam menampilkan keseraman dengan penuh gaya, and it works. Bahkan jumpscare yang kita temukan juga enggak jatoh murahan dan hanya-sekadar-ngagetin. Ada timing, ada build up yang melibatkan bukan saja musik, melainkan juga cahaya, sehingga begitu precise dan tetap menghormati penonton.
Dalam penulisanlah film ini lebih struggling. Seperti yang disebut di atas, fenomena-fenomena horor di film ini sebenarnya merepresentasikan ketakutan anak saat keluarganya berpisah dan bakal membentuk keluarga baru, dengan lingkungan dan orang yang completely baru, sehingga mereka merasa terasing. Film berusaha memasukkan banyak, seperti anak yang keluarganya disihir sehingga melupakan dia exist adalah gambaran anak takut dilupakan, ataupun seperti penyihir yang memakai kulit manusia dan menyamar menjadi ibu – membisiki ayah untuk bersikap aneh – adalah gambaran anak takut dia tidak mengenali orangtua baru atau orangtua aslinya lagi. Semua itu diperlakukan sebagai kekuatan sihir si Penyihir. Namun saking banyaknya, film jadi terlihat menumpukkan saja semuanya ke tokoh Penyihir ini. Film mencoba membangun mitologi si penyihir untuk merangkum dan melogiskan itu semua. Tapi tetap saja, si Penyihir pada akhirnya hanya tampak seperti segala kekuatan jahat yang superpower tanpa benar-benar menjadi sebuah karakter.
Menjadi lebih parah ketika kita meniliknya dari usaha film membeberkan kekuatan, keberadaan, dan mungkin cara mengalahkan Penyihir ini. Film melakukan semua trope horor gampangan, semacam ada simbol sihir di mana-mana, ada internet yang punya informasi detil mengenai makhluk ini. Kemudahan dan kefamiliaran. Membuat film ini generik dalam hal karakterisasi dan pendalaman mitologi. Kekuatan penyihir tidak diberikan batasan atau penjelasan. Kegunaan simbol, kenapa digambar, kenapa makan anak-anak, siapa yang menulis artikel detail di internet, film gak peduli membahas semua itu. Yang penting bagi film adalah aspek-aspek itu ada sebagai alat untuk mendukung gagasan soal ketakutan anak, dan si penyihir ‘hanyalah’ gabungan dari itu.
Penyihirnya suka menggambar

 
Konsistensi struggling penulisan ini juga tercermin jelas dari karakter-karakter manusia. Film bermaksud membuat tempat, kota, yang menjadi latar hidup. Sebagaimana dalam cerita-cerita Stephen King; mau itu kota Derry, Castle Rock, ataupun penjara Shawsank, tempat selalu menjadi karakter ‘tersembunyi’. The Wretched pengen seperti demikian. Kita diperlihatkan si Penyihir sudah ada dari beberapa tahun yang lalu. Bersemayam di hutan. Kita lantas melihat kota kini berpindah pusatnya ke perairan, dan ada arc sendiri bagi Penyihir terkait dengan kota ini yang dibuat melingkar di akhir. Untuk fully menghidupkan kota, film menempatkan berbagai macam penduduk sehingga tokoh-tokoh sentral bisa berinteraksi dengan mereka. Akan tetapi, film ini kembali salah langkah. Seperti halnya Penyihir, kota atau tempat ini juga jadi tumpukan trope saja. Semuanya hanya jadi device saja. Misalnya tokoh bully yang ternyata perannya hanya minor untuk menghalangi Ben ke suatu tempat, sekilas, dan tidak pernah dibahas lagi relasi yang sempat terbangun antara Ben dengan mereka.

Membayangkan orang asing masuk ke keluarga, mendekati salah satu orangtua dan kemudian membayangkan harus menganggap orang itu orangtua baru, jelas bukan pikiran menyenangkan untuk anak dan remaja. Banyak peneliti yang sependapat bahwa anak tumbuh lebih ‘sehat’ di lingkungan yang mencintai meskipun harus mengalami perpisahan dibandingkan tumbuh di lingkungan yang selalu bertengkar. Namun, perpisahan dan masuknya orang baru tetap bukan perkara enteng bagi mental anak. Mereka terutama khawatir akan terlupakan, karena orangtua sudah move on dengan cinta lama. Sekaligus takut melupakan orangtua ketika mereka nyatanya juga harus move on dan memilih.

 
Dan bicara soal Ben, dari eksposisi backstory yang ia ceritakan kepada kita melalui tokoh teman wanitanya, supposedly Ben ini kayak jadi bengal gitu setelah orangtuanya cerai. Tangannya patah karena perbuatan kriminal kecil-kecilan yang ia lakukan. Kita juga melihat di awal perkenalan kita dengannya, Ben mengutil uang. Dari sini kita bisa memahami cerita sebenarnya pengen menyampaikan bahwa Ben yang sekarang sedang ‘dihukum’ dia datang ke tempat ayahnya untuk bekerja dan dipantau berkelakuan baik. Konflik diset lewat Ben harus melanggar aturan karena ia merasa ada sesuatu yang ganjil dan berbahaya di rumah sebelah. Ini mestinya konflik yang cukup menarik. Akan tetapi, Ben yang sebagian besar durasi kita lihat, tidak pernah tampil semenarik itu. Karakternya boring, whiny, dan tidak memancing simpati. Ada seorang cewek yang mendekati dia, mereka jadi sahabat, dan Ben tak pernah tampak tertarik ataupun bereaksi kepadanya seperti manusia beneran. Ben terlalu fokus membawakan plot, tindakannya jadi ngeselin. Film terlalu menyuruhnya untuk mengintip tetangga kayak sedang berada dalam film Rear Window (1954), sehingga lupa ada elemen-elemen lain yang harusnya juga dimainkan.
Film menyimpan twist keren di akhir, hanya saja tidak terasa cukup waktu untuk kita benar-benar merasakan impact dari pengungkapan tersebut. Keberadaannya enggak mengurangi nilai film, tapi aku pikir seharusnya bisa lebih diberi bobot lagi terutama yang berhubungan dengan Ben. Bukan hanya dia ada di sekitar Ben, melainkan mungkin seharusnya bisa dikaitkan langsung dengan emosional Ben, seperti misalnya dia-lah justru yang pertama kali melupakan. Dan ini hubungannya kembali lagi ke karakterisasi; karena Ben dikembangkan tidak semenarik yang seharusnya bisa dicapai jikasaja naskah direworked lebih cermat.
 
 
Untuk menyimpulkan; aku enjoy menonton ini. Ceritanya yang mengangkat horor di balik kehidupan sehari-hari membawa ke masa-masa horor jadi staple dalam hiburan anak muda. Film ini tidak terasa seperti horor dengan tokoh remaja/anak. Melainkan seperti film anak yang horor. Dan ini membuatnya jadi pengalaman nonton yang seru. Juga grounded, karena masalah pada anak dapat dengan mudah terelasi kepada semua orang. Penggemar horor pun aku yakin akan mengapresiasi estetik dan visualnya. Mainstream appeal film ini juga terletak pada twist yang sudah disiapkan. Masalahku sama film ini adalah penulisan yang enggak sebanding dengan arahan. Banyak aspek yang diangkat, yang ternyata cuma jadi trope dan device, alias tidak benar-benar matang dipikirkan kehadirannya.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for THE WRETCHED.

 

 
 
That’s all we have for now.
Sesungguhnya, enggak ada orang yang mau dilupakan, terutama oleh orang-orang yang ia sayangi. Menurut kalian, darimana perasaan takut dilupakan ini berasal? Apakah itu hanya ‘anak’ dari kecemburuan?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

EXTRACTION Review

“Don’t let yourself drown”
 

 
 
Extraction, yang baru saja tayang di Netflix dan bikin gempar lantaran adegan aksi-tanpa-putus sepanjang 11 menitnya, adalah tipe film yang dengan gampang bakal disukai oleh orang Indonesia ‘saja’. Karena oh karena, orang kita sudah terkenal demen menyaksikan keributan. Entah itu keributannya tersebut berfaedah atau unfaedah.
Proyek terbaru Joe Russo ini sama seperti Avengers; sama-sama berdasarkan komik – lebih tepatnya, graphic novel. Extraction bercerita tentang seorang mercenary alias tentara bayaran yang dapat panggilan kerjaan ke India. Tugasnya adalah menyelamatkan putra seorang gembong narkoba dari tawanan pesaing bisnis ilegal di daerah tersebut. Sang mercenary, Tyler (bukan lagi Dewa Petir, Chris Hemsworth kini memainkan karakter yang lebih stereotipikal dan dangkal) awalnya hanya memikirkan duit upah saja. Namun begitu sampai di sana, setelah ia beraksi langsung – berhadapan dengan begitu banyak pihak mulai dari preman ampe polisi bobrok – Tyler menyadari bahwa nasib si anak tak ubahnya seperti daging bangkai yang diperebutkan oleh hyena-hyena. Jadi Tyler memutuskan untuk benar-benar tuntas menyelamatkan si anak, mengeluarkannya dari kota yang panas, kumuh, dan kejam tersebut.

kirain seragam putih abu

 
Kursi sutradara dipercayakan Russo kepada Sam Hargrave, yang biasa menangani aksi-aksi atau stunt dalam film-film laga ngehits seperti Avengers ataupun yang stylish kayak Atomic Blonde. Nah, sekarang kita paham darimana ‘datangnya’ take panjang 11-menit itu. Dalam debutnya sebagai sutradara, Hargrave berhasil menorehkan jejak yang mendalam lewat sekuen aksi yang menjadi jantung dari film ini. Ketegangan berhasil ia deliver secara maksimal. Mulai dari kebut-kebutan mobil di jalanan tanah sempit, hingga ke pengejaran dan baku hantam di apartemen yang gak kalah padetnya, untuk kemudian aksi itu dihamburkan kembali ke jalanan. Sama halnya pada seantero film 1917 (2020), unbroken shot pada film ini sebenarnya juga gak bener-bener kontinu tanpa putus. Kita dapat melihat pada setiap panning shot, atau gerakan kamera ‘melengos’, di situlah letak jahitan adegan per adegan. Tapi keseluruhan ilusi sama sekali tidak terputus, karena dilakukan dengan begitu mulus, yang tentu saja tidak akan bisa tercapai tanpa perencanaan dan keselarasan tingkat super dari kerja kamera, akting, koreografi, dan semua-semuanya.
Tyler is ridiculously strong. Dia ditanamkan kepada kita sebagai petarung keren nan tangguh, di adegan awal kita melihat dia terjun begitu saja dari tebing tinggi, nyemplung ke air dan duduk bersila di sana. Dibandingkan dengan pemuda-pemuda ceking yang kulit coklatnya keliatan semakin dekil karena terbakar terik matahari jalanan, Tyler menjulang tegap. Perkasa sekali. Menyaksikan dia menghajar para musuh kadang terlihat begitu mudah, sukar dipercaya dia bisa kalah dari mereka jika bukan karena jumlah. Film tahu persis akan hal ini. Maka, setiap adegan berantem dipastikan oleh sutradara untuk bergulir dengan real. Tyler dibuat harus selalu memposisikan diri agar tidak dikeroyok, dia juga bertarung dengan otak. Film berhasil mengelak dari jebakan ‘musuhnya datang kayak gantian’ berkat tempo dan koreografi yang benar-benar dipikirkan. Kita akan melihat banyak adegan berantem yang keren dan bikin nahan nafas.
Terlebih karena level kekerasan yang ditampilkan juga bukan main-main. Inilah salah satu kelebihan platform seperti Netflix dibandingkan bioskop; pembuat bisa lebih bebas berkreasi terkait soal rating tayangan tanpa perlu overthinking soal jumlah penonton dan layar. Kita yang nonton, juga, gak perlu khawatir ada yang kena sensor. Cukup harus kuat ‘perut’ aja. Si Tyler dalam film ini, orangnya senang menyerempet bahaya. Dia suka minum, dia memilih berjalan di antara hidup dan mati, untuk melampiaskan penyesalan pribadinya terkait anak di masa lalu. Jadi untuk ‘memuaskan’ si protagonis, film benar-benar memberondongnya dengan bahaya. Tubuh ditusuk, tertembus peluru, orang melayang ketabrak truk; adegan-adegan semacam demikianlah yang bakal jadi asupan untuk mata yang menyaksikan film ini. Dan beberapa akan semakin gak-enak, karena adegan kekerasannya melibatkan anak di bawah umur.
sayang anak, sayang anak

 
Salah satu tema yang digaungkan oleh film ini adalah soal ayah dengan anaknya. Mau itu tentara upahan, kroco, maupun pemimpin sindikat narkoba, mereka semua adalah bapak-bapak yang sayang kepada buah hati mereka. Presence anak-anak/remaja akan secara konstan dihadirkan dalam cerita yang nyaris non-stop kekerasan ini. Hingga ke poin, kekerasan terhadap anak jadi hal yang tak bisa dihindari untuk muncul di sini. But hey it’s okay karena film actually punya hal yang ingin disampaikan lewat itu semua. Dalam sekuen setelah midpoint, misalnya, kita akan melihat Tyler harus mengubah taktik perlawanannya karena ia sekarang berhadapan dengan musuh yang masih di bawah umur semua. Aku suka bagian ini, karena development Tyler diposisikan dengan tepat di sana. Sepanjang cerita Tyler, obviously, akan bonding dengan anak yang sedang ia selamatkan. Karena baginya, si anak remaja ini adalah kesempatan untuk menebus dosa atau kegagalan ia buat anak kandungnya. Hati film ini, journey Tyler, berputar pada masalah ia menyingkapi kehilangan anak. Film berusaha mengisi setiap jeda aksi dengan menanamkan persoalan tersebut. Membenturkan Tyler dengan anak-anak jahat adalah layer berikutnya dalam pembelajaran yang harus ia lewati. Anak-anak itu jadi device yang sempurna bagi perkembangan Tyler.

Setiap orangtua, setiap orang dewasa akan merasa bertanggungjawab terhadap anak atau orang yang lebih muda di sekitar mereka. Kegagalan untuk memenuhi tanggung jawab tersebut akan mengakibatkan rasa bersalah. Tyler deals with this feeling. Begitu juga dengan beberapa tokoh pria dewasa lagi dalam film ini. Namun mereka lebih baik daripada Tyler, karena saat kita bertemu dengannya Tyler literally membiarkan dirinya terbenam dalam perasaan tersebut. Misinya di India adalah perjuangan yang membuka matanya untuk terus berenang.

 
Di sinilah letak kekurangdalaman eksplorasi cerita. Yakni ada ketidakseimbangan antara Tyler dengan tokoh anak-anak/remaja, terutama remaja yang ia selamatkan. Anak-anak dalam film ini persis seperti yang diucapkan dalam salah satu dialog; hanya dipandang sebagai objek. Film belum menyentuh mereka sebagai subjek. Dalam kasus anak yang diselamatkan oleh Tyler; pengembangan itu datang terlambat, film hanya menguak permukaannya saja. Anak ini sebenarnya cukup banyak diperlihatkan sebagai tokoh dengan kondisi yang memancing keingintahuan kita. Dia diperlihatkan hobi main piano, dan punya cukup banyak teman. Sebagai anak bos narkoba dia dikawal ke mana-mana, karena bapaknya punya banyak musuh. Film tidak mengeksplorasi ini lebih dalam. Perjalanan anak ini tidak benar-benar paralel dengan Tyler yang seharusnya ia dukung secara journey. Bagi si anak, ini semua adalah persoalan keberanian. Dia yang di awal film bicara ke cewek aja takut, diperlihatkan menjadi orang yang mewarisi keberanian Tyler setelah berkali-kali nyaris mati dan selamat dari inceran orang-orang jahat. Namun semuanya itu memang hanya ditampilkan di awal dan akhir saja, sebatas untuk memperlihatkan ada yang berubah. Film tidak membahas kenapa si anak bisa tumbuh menjadi seperti itu pada awalnya, tidak seperti saat membahas Tyler yang kita bisa mengerti kenapa dia suka minum dan menantang maut.
Selain itu, ada pasangan remaja-dewasa yang lagi yang punya sesuatu yang menarik tapi tidak dibahas tuntas oleh film. Melalui mereka, film ingin memperlihatkan dunia kriminal sebenarnya adalah siklus hasil didikan tak-bertanggungjawab dari seorang pria dewasa kepada anak muda. Kita hanya dikasih lihat mereka ini ada, tanpa pernah diajak untuk menyelami persoalan tersebut – karena hingga film berakhir mereka tetap musuh. Objek untuk dibasmi oleh Tyler. Akibatnya gagasan dan keberadaan film sendiri jadi tidak cocok. Dia bicara tanggungjawab dan pentingnya relasi dan jadi pendukung satu sama lain, tapi bersuara lewat glorifikasi kekerasan seolah Tyler tokoh video game yang mendapat poin dengan membunuhi orang-orang yang dipukul rata semuanya jahat, padahal jelas-jelas banyak pihak dan kepentingan yang terlibat.
 
 
 
With all being said, film ini tidak akan dijadikan teladan dari penulisan ataupun dari penokohan. Terlalu generik, dengan banyak trope dan stereotipe. Ada sudut pandang yang cukup ‘berani’, tapi film memilih untuk tidak menggali. Ceritanya sangat basic, kita seperti sudah menontonnya berulang kali. Akan tetapi, film ini akan banyak dibicarakan orang mengenai teknis pembuatannya. Dia menunjukkan kemungkinan baru dalam merekam adegan berantem. Bagaimana supaya musuh yang mengeroyok tidak kelihatan menunggu. Bagaimana aksi selalu dinamis dan memanfaatkan surrounding dengan tampak natural. Sebagai laga, film ini sukses memenuhi fungsinya. Walaupun masih ada bentuk yang lebih prima dari cerita ini.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for EXTRACTION.

 

 
 
That’s all we have for now.
Apakah menurut kalian film ini jatuh ke dalam lubang ‘cerita white savior’? – pahlawan kulit putih datang membereskan persoalan bangsa lain, sementara ada antihero di sana yang perjuangannya lebih personal – Do you think film udah ngasih alasan yang cukup bagi Tyler untuk stay dan jadi penyelamat di sana?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.