SummerSlam 2019 Review

 

Sebelas tahun silam WWE mengumumkan mereka mengubah arahan acara mereka menjadi lebih konservatif dan family-friendly. Maka sejak saat itu, WWE dengan rating PG (kalo di Indonesia istilahnya Bimbingan Orangtua) sudah semakin mirip tayangan kartun di hari Minggu. Tapi belakangan ini, WWE tampak menoleh kembali ke akar ‘kebrutalan’ mereka. Baru sebulan yang lalu kita melihat kembali superstar cowok bertarung melawan superstar cewek dalam pertandingan yang sah. Dan di bulan Agustus ini kita mendapat kejutan; SummerSlam didaftarkan sebagai acara dengan rating TV-14! Pengumuman tersebut tak pelak bikin rame internet. Penonton yang lebih dewasa makin semangat menantikan, di sisi lain pengumuman itu juga menjadi peringatan. Seberapa ‘keras’ tayangan WWE kali ini. Perlukah kita menutup mata adek-adek atau anak-anak kita yang kadung termanjakan oleh acara berantem yang enggak kasar?

Jawabannya; perlu

I mean, just watch this awesome clip

 

Bray Wyatt mungkin alasan nomor satu WWE menaikkan rating acara untuk SummerSlam. Dalam re-debut dari karakter cult leader yang selama ini dia gunakan, Wyatt memperkenalkan diri sebagai The Fiend, lengkap dengan absennya lampu arena, memakai topeng monster seram dan diiringi oleh musik rock (remix dari lagu temanya yang lama) yang dinyanyiin cewek bersuara tinggi sehingga terkesan psychotic. Wyatt sebagai The Fiend tetap jalan masuk ke ring sambil menenteng lentera, hanya saja lentera yang ia bawa kali ini bakal nongol di mimpi buruk anak-anak sedunia. Lenteranya adalah kepala. Kepala dirinya sendiri pula! Ini udah kayak Al Snow dan Marlina berfusion di malam jumat kliwon

Psychotic Heel is the best heel of all. Di NXT kita dapat Io Shirai yang muncul ke ring dengan ekspresi muka berubah-ubah mulai dari sedih, ketawa, hingga sadis – also a badass music dan gaya masuk teatrikal. Di main roster WWE, kita mendapat Bray Wyatt yang sekarang bicara kayak host acara clubhouse anak-anak tapi dengan subtext horor. bayangkan Club Disney atau Kak Seto tapi boneka yang muncul bukan komodo lucu melainkan penyihir dan burung bangkai yang memakan boneka kelinci. Wyatt supposedly sudah membuang setan dari dalam dirinya, setan itulah yang mengambil wujud sebagai The Fiend, yang kita saksikan membantai Finn Balor dalam acara ini. Kita melihat Balor dicekek rahangnya sampai kalah. Jadi, SummerSlam memang memperkenalkan penonton terhadap aksi yang lebih intens. Dan on top of that, tema yang melandasi pun lebih dewasa.

The Fiend menenteng kepala dirinya yang dulu mengandung makna simbolis mengalahkan diri sendiri. Dengan berkompromi dengan your own demon. Jika kita lihat gambaran besarnya, tema meruntuhkan dan merombak ulang diri sendiri tersebut dapat ditemukan berulang sepanjang acara. SummerSlam sendirinya adalah seperti versi yang lebih kompromi antara WWE era PG dengan WWE lama yang brutal.  

 

Aplikasi yang lebih manusiawi dapat kita temukan dalam urusan antara Kofi Kingston melawan Randy Orton. Sejak 2009, Kingston ‘dihantui’ oleh pernyataan Orton mengenai betapa bego dirinya. Karir Kingston diceritakan mandeg karena kesalahan yang ia lakukan dibesar-besarkan oleh Orton yang punya pengaruh tinggi di belakang-panggung WWE. Pertandingan mereka di SummerSlam ini bukan hanya sebatas Kingston mempertahankan gelar, melainkan dia harus membuktikan diri; Kingston harus meraih keganasan dirinya yang dulu sekaligus memperlihatkan dia tidak bodoh karena sekarang dia sudah tahu dan belajar lebih baik. Kemarahan Kingston ketika mendapati dirinya berada di antara Orton dan keluarga menjadi trigger karena dia merasa bodoh dan lemah membahayakan keluarga. Jadi, walaupun akhir match mereka tidak memuaskan karena sudah seteru sudah dibangun lebih dari satu dekade, aku bisa melihat endingnya masuk akal. Narasi butuh mereka untuk perang, alih-alih beres dalam satu kali pertemuan.

Seth Rollins dan Brock Lesnar juga adalah kasus yang sama. WWE terpaksa memilih untuk mengulang cerita dari Wrestlemania; untuk saat ini tampak seperti menihilkan Money in the Bank, like, mereka seperti tak punya ide lain soal siapa yang mesti menang koper. Tapi storyline itu dibutuhkan untuk membangun ulang – bukan hanya Rollins, melainkan juga Lesnar. Rollins butuh untuk tampil seperti jagoan yang bertarung atas dirinya sendiri (bukan dibeking pacar, teman setim, ataupun anak emas bos). Dan Lesnar perlu untuk dilihat banyak orang sebagai kompetitor seperti dirinya ketika masih menetap di WWE. Karena Lesnar bakal menetap lagi di Smackdown. Ketika maksud itu sudah terlandaskan, kita akhirnya dapat suguhan aksi yang memuaskan. Main event acara ini mengirim penonton pulang dengan semangat dan harapan yang baru. Karena kita sudah diyakinkan mereka ini masih seperti yang dulu, malahan lebih ganas lantaran lebih banyak yang mereka accomplished sekarang.

Bagi penonton yang tidak menonton gulat di luar WWE, tim O.C. (AJ Styles, Luke Gallows, dan Karl Anderson) bakalan tampak seperti tim baru dengan taktik dirty kasar old-school. Yang kita lihat hingga SummerSlam ini sebenarnya belum apa-apa lantaran mereka memang sudah satu tim sejak di Jepang. WWE mencoba memperkenalkan sisi ‘legendaris’ mereka, begitu juga dengan Ricochet yang tampak seperti anak baru yang brilian di dalam ring WWE. Styles dan Ricochet bermain keren tapi mereka masih belum menampilkan performa yang sesuai dengan kapasitas mereka sebenarnya, jadi sepertinya kita masih akan terus melihat dua kubu ini berseteru. Cerita ‘improving ourself’ sudah berjalan cukup lama bagi karakter Bayley. Dalam SummerSlam, tidak benar-benar ada episode baru. Pertempurannya dengan Ember Moon berjalan baik, namun terasa lempeng karena harusnya Ember Moon lah yang jadi tokoh utama dalam storyline ini. Sejelek-jeleknya penampilan Goldberg, seitu-itu melulunya alur pertandingan Goldberg, toh kita masih bersorak juga melihat dia membantai lawannya. Ziggler adalah orang yang tepat. Muda, arogan, dan bisa ngesell move dengan dahsyat. Pertandingan Dolph Ziggler melawan Goldberg tidak lain tidak bukan memang untuk mengembalikan citra Goldberg yang terjun bebas setelah penampilannya di Arab Saudi. Ziggler kali ini ada untuk memastikan ‘match cutscene’ yang kita tonton menjadi menghibur semenghibur-hiburnya.

http://www.youtube.com/watch?v=s8BPR0KkE4k

 

 

SummerSlam juga dibangun around fakta bahwa acara ini diselenggarakan di Toronto, Kanada. Makanya kita mendapat banyak pertandingan dan momen-momen yang ‘tokoh utamanya’ pegulat dari Kanada. Kevin Owens benar-benar terbantu oleh situasi ini. Karakter Owens adalah yang paling menarik di brand Smackdown, karena ia mewakili apa yang semua orang pikirkan terhadap Shane McMahon. Pertandingan mereka minim aksi seru, malahan lebih banyak aksi maksa seperti interference dan situasi yang berfungsi sebagai plot device. Jika bukan Owens, pastilah perhatian bakal terpusat ke Shane, dan penonton akan sibuk menghujat Shane dan jalannya pertandingan. Dengan Owens, matchnya menjadi fun dan greget, stake dari stipulasi menang-kalahnya juga semakin terasa.

Natalya juga mendapat respon luar biasa di sini. Nama Hart dan jurus Sharpshooter memang sudah sakral di Kanada. Dua hal tersebut, terutama yang terakhir disebut, dimainkan dengan sempurna dalam pertandingan Natalya lawan Becky Lynch. Natalya bisa jadi adalah superstar cewek yang paling konsisten. Dia selalu berhasil menjalankan ‘misi’ setiap kali diberikan tugas filler seperti ini. Natalya tidak pernah memberikan performa yang buruk, hanya saja dirinya sendiri yang seringkali dioverlook karena kalah presence dibanding superstar yang lain. Di tanah Kanada ini, perhatian tertuju padanya, dan dia menjawab itu semua dengan gemilang. Gimmick submission pada match juga membantu banyak memancing chemistry antara Natalya dengan Lynch, dua superstar yang sama-sama berjurus kuncian namun berbeda target. Psikologi serangannya adalah masing-masing sudah menargetkan serangan pada titik kuncian. Natalya fokus ke kaki Lynch, dan Lynch pada tangan Natalya. Mereka juga menggunakan elemen ‘mencuri’ jurus lawan, yang selalu seru dan mengasyikkan. Meskipun agak kurang logis karena masa Lynch yang kakinya diserang melulu malah tiba-tiba bisa melakukan kuncian Sharpshooter yang mengandalkan kestabilan kaki.

Did Natalya just scream ‘bitch!’ at Lynch’s face?

 

Surprise menyenangkan berikutnya datang dari penampilan Trish Stratus. Dalam pertandingan melawan Charlotte yang disebut sebagai pertandingan terakhirnya, Trish benar-benar seperti perwujudan dari tema acara ini. Orang lama yang berusaha menginovasi menjadi diri. Trish adalah ratu gulat pada masanya, dan dia langsung menantang Charlotte; arguably the best women wrestle in roster today. Dan wow, Trish sungguh-sungguh menyuguhkan penampilan yang dahsyat. Clocking at 16:38, match Trish lawan Charlotte adalah match terlama dalam acara ini. Dan sepanjang menit-menit itu (kecuali beberapa menit awal saat Trish masih kelihatan agak canggung), kita menyaksikan aksi-aksi konter mengonter seru yang memperlihatkan bahwa kedua superstar ini sama-sama hebat. Malah aku sempat percaya Trish bakal menang. Itulah bukti bahwa drama dan cerita match ini berjalan dengan baik.

 

 

SummerSlam adalah festival gulat yang amat menyenangkan. Banyak momen-momen memorable. Aksi-aksi yang lebih seru dari sebelumnya. Wyatt, Owens, Rollins. Lesnar. Trish. Malahan hampir setiap orang dalam pertandingan di acara ini mencuri perhatian. Kekurangannya mungkin adalah acara ini bisa terasa kurang variasi, karena matchnya partai single semua. Pertandingan tag team (termasuk Alexa manis yang pake attire ala Buzz Lightyear) digeser untuk pre-show. Malahan, pre-show SummerSlam ini juga menurutku pantas untuk disaksikan, tidak seperti pre-show biasanya. Karena ada banyak story development, yang sepertinya sengaja tidak dimasukkan karena WWE kali ini tidak ingin acara utamanya menjadi kepanjangan seperti tahun-tahun belakangan. SummerSlam tampil ‘singkat’ seperti acara jaman dulu, lengkap dengan pyro pembukaan pula. Sebenarnya masih kurang set panggungnya sih, mestinya bisa dibikin penuh kreasi kayak yang dulu-dulu, but I guess we would be asking too much then. The Palace of Wisdom menobatkan Trish Stratus melawan Charlotte sebagai MATCH OF THE NIGHT yang paling diingat dan paling mengejutkan.

 

 

Full Results:
1. RAW WOMEN’S CHAMPIONSHIP SUBMISSION Becky Lynch bertahan dari Natalya
2. SINGLE Goldberg nge-squash Dolph Ziggler
3. UNITED STATES CHAMPIONSHIP AJ Styles dengan bantuan O.C. tetap juara ngalahin Ricochet
4. SMACKDOWN WOMEN’S CHAMPIONSHIP Bayley masih juara ngalahkan Ember Moon
5. SINGLE Kevin Owens menghajar Shane McMahon
6. SINGLE Charlotte berjaya atas Trish Stratus  
7. WWE CHAMPIONSHIP Kofi Kingston masih juara karena berakhir seri dengan Randy Orton
8. SINGLE The Fiend membantai Finn Balor
9. UNIVERSAL CHAMPIONSHIP Seth Rollins jadi juara baru merebut sabuk dari Brock Lesnar

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

DRAGGED ACROSS CONCRETE Review

“No human race is superior”

 

 

 

Seperti yang dijanjikan oleh judulnya, film garapan S. Craig Zahler ini memang benar-benar membuat kita merasa seperti diseret di sepanjang beton yang keras. Sakit. And the fun fact is, konkret di sini bukan sebatas merujuk kepada ‘beton’, melainkan juga kepada hal yang lebih konkrit; kenyataan.

Dengan telah mengatakan semua itu, aku tekankan bahwa Dragged Across Concrete adalah tipikal film laga yang brutal, yang sungguh susah untuk dinikmati. Bukan semata karena aksi-aksinya sadis dan ditangkap tanpa tedeng aling-aling. Film ini bagai pil yang pahit untuk ditelan lantaran benar-benar didesain untuk menjadi sedekat mungkin dengan realita yang ada. Kekerasan terjadi, bahkan mungkin di sebelah rumah kita. Praduga masih berlangsung di sekitar kita. Film ini akan menantang moral kita terhadap itu semua. Jika kalian tipe penonton yang lebih suka menyaksikan film yang ‘baik’, yang sesuai dengan nilai yang kalian percaya, maka film ini bukan untuk kalian. Tapi jika kalian percaya bahwa sebuah film tidak harus politically correct, dalam artian film sah-sah saja punya gagasan dan moral sendiri, Dragged Across Concrete dapat menjadi tontonan yang menarik.

Cerita akan menerjunkan kita ke tengah-tengah lingkungan sosial yang penuh prasangka. Yang kita ikuti adalah dua orang polisi – polisi kulit putih – yang diistirahatkan dari tugasnya karena mereka tertangkap basah oleh media saat sedang memperlakukan tersangka yang bukan warga Amerika dengan terlalu kasar dalam sebuah misi penyergapan. Ini bukan cerita buddy-cop biasa di mana Polisi Ridgeman dan Lurasetti bakal menembaki orang jahat demi membersihkan nama baik mereka dan membuktikan kepada dunia bahwa mereka bukanlah aparat rasis yang kejam. Film ingin mempersembahkan mereka sebagai aparat yang realis. Tentu kita sering mendengar berita semacam seorang guru dipersalahkan oleh orangtua karena menampar murid yang kurang ajar, bukan? Ridgeman (Mel Gibson ini pastilah diberkahi anugerah enggak bisa salah dalam berakting) frustasi seperti kita frustasi membaca berita seperti demikian. Dia bermain sesuai aturan – salah ya dihukum – tapi dunia tidak beroperasi seperti demikian. Banyak sekali pertimbangan, dan politik, dan semacamnya. Bagaimana bisa Ridgeman tidak menganggap orang kulit hitam berandal ketika putrinya dibully oleh anak-anak kulit hitam tetangga mereka sendiri? Dan fakta bahwa dengan penghasilannya, mereka tinggal di lingkungan tak-bersahabat, semakin mempersulit Ridgeman – atau let’s face it, siapapun – untuk tidak berprasangka terhadap orang-orang di sekitarnya. Film, pertama dan terutama sekali, ingin supaya kita bisa mengerti penyebab polisi seperti Ridgeman dan Lurasetti menjadi rasis. Dua tokoh ini tidak mau bersikap begitu, tapi mereka harus. Untuk dua setengah jam ke depan kita akan melihat mereka berdua – yang untuk sementara ini bukan polisi – mengambil tindakan dan keputusan yang bukan saja bertentangan dengan nurani kita, tapi juga bertentangan dengan nurani mereka sendiri.

Ditembak pistol kini bukan apa-apa jika dibandingkan dengan ditembak oleh kamera media

 

Untuk alasan tersebutlah, film dengan tokoh menarik ini jadi sukar untuk ditonton. Mengikuti dua polisi bergerak layaknya gangster, mencoba merampok geng bandit lain setelah merampok bank, melewati adegan demi adegan brutal yang datang dan pergi begitu saja meski direkam dengan gaya yang begitu sinematik; kita akan mendapati kita bertanya kepada diri kita sendiri apakah film ini sedang menggebah kita untuk percaya kekerasan adalah hal yang benar, atau sedang memberikan gambaran sejauh mana seseorang bisa berbuat jika merasa punya alasan untuk menganggap diri superior daripada orang lain.

Sebagai pembanding untuk membantu kita menemukan jawaban buat pertanyaan di atas, film memberikan sepasang tokoh yang paralel dengan perjalanan dua polisi tadi. Henry Johns dan sepupunya, Biscuit. Kita bertemu Johns yang diperankan gemilang oleh Tory Kittles pada adegan pembuka. Ia adalah seorang pemuda kulit hitam yang baru saja keluar dari penjara – alasan dia dipenjara penting dan berkaitan langsung dengan gagasan yang hendak film ini angkat, jadi alasan tersebut dipasang sebagai pengungkapan di menjelang akhir cerita – dan menemukan keluarganya berantakan, nyaris tanpa support ekonomi. Kali lain kita bertemu lagi dengan Johns dan Biscuit, mereka sudah bekerja menjadi supir untuk gerombolan bandit perampok bank yang sedang dibuntuti oleh Ridgeman dan Lurasetti. Johns dan Biscuit punya agenda yang sama dengan Ridgeman dan Lurasetti; merampok dari perampok. Mereka berdua juga terbebani oleh status ras dan keadaan sosial. Tidak jauh-jauh kita bisa menyimpulkan Johns dan Biscuit susah mendapatkan pekerjaan yang bener karena warna kulit mereka. Film malah dengan ironisnya menunjukkan untuk membantu kelancaran perampokan, Johns tidak cukup dengan hanya menyamar pakai seragam security, dia juga harus membedaki kulitnya hingga menjadi putih.

Dragged Across Concrete membuat kita melihat bahwa tidak ada benar-salah yang hitam-putih di dunia. Khususnya, hitam-putih tersebut tidak serta merta diwakili oleh orang kulit hitam dan orang kulit putih. Kedua pihak sama-sama melakukan, kedua pihak sama-sama dirugikan. Dan tidak membantu jika media malah membesar-besarkan ketakutan dengan menunjuk-nunjuk siapa yang mana.

 

Jika mencari pihak yang dipersalahkan, jelas sekali film mengacungkan telunjuknya ke hadapan media. Yang memping-pong isu rasisme ke sana kemari. Hanya untuk tujuan ‘cari cerita’ tanpa benar-benar berniat mencari pemecahan masalah. Gampang untuk membingkai kulit hitam sebagai korban, dan kulit putih sebagai pelaku. Mengaitkan semuanya dengan masalah minoritas dan mayoritas. Tapi eksplorasi terus-menerus terhadap hal tersebut justru memperbesar prasangka yang ada. Dalam film ini kita melihat pengaruh media terhadap Ridgeman; justru dialah ternyata yang paling takut. Padahal Ridgeman adalah mayoritas yang berjuang di ranah menegakkan keadilan bagi yang tertindas, yang selalu dipatri dari minoritas. Dan kalian harus melihat bagaimana film ini memperlakukan tokoh-tokoh wanita. Mereka semua punya pekerjaan. Namun film seperti ingin mengarikaturkan pandangan media tentang kelas sosial; putih – hitam – dan wanita. Satu kali mereka bisa sejajar dengan pria ternyata ada pada harapan tokoh Lurasetti yang punya pacar wanita kulit hitam.

Dan itu tak lebih dari sekedar fantasi yang batal terwujud.

 

Dengan durasi yang begitu panjang, sesungguhnya ada banyak bagian yang mestinya bisa dibuang karena tidak benar-benar menjalin narasi. Aku akan bilang begitu jika saja film ini dibuat sebagai film-laga normal. Banyak adegan-adegan yang tampak tak penting seperti menit-menit yang didekasikan untuk memperlihatkan Vince Vaughn makan sandwich, ataupun di sekitar pertengahan film beralih sudut pandang gitu aja ke seorang wanita pegawai bank yang berat hati kembali bekerja dan meninggalkan anaknya di rumah. Yang bisa dengan gampang dicut dan sama sekali tidak mengubah gagasan cerita atau merusak karakter tokohnya. Tapi kita tahu ini bukan film-laga yang biasa. Menit-menit ekstra itu adalah keputusan-kreatif beresiko yang diambil oleh film. Menonton ini membuatku teringat pada Pulp Fiction (1994)-nya Quentin Tarantino. Pulp Fiction juga banyak adegan-adegan ekstra, tapi lantaran diceritakan dengan struktur yang unik, justru menjadi gaya bercerita yang asik. Dragged Across Concrete bisa mencapai hal yang seperti itu jika strukturnya dipecah dan dibangun kembali. Sutradara Zahler tetap bercerita linear, sehingga semuanya menguatkan ilusi realis yang ingin dibangun. Ketidaknyamanan gabungan dari durasi, kekerasan, dan dialog, menjadi poin vokal yang tidak mungkin dihilangkan oleh film ini.

Tidak ada golongan yang lebih baik, semuanya punya cela. Itulah yang membuat manusia menjadi menarik dan berjuang ke arah yang lebih baik. Jangan berpaling dari semua itu. 

 

 

 

Dihidupkan oleh penampilan akting yang luar biasa. Namun sesungguhnya bagian terbaik film ini adalah ketika dia menjadi yang terburuk dari semua orang. Rasis, kasar, semena-mena, keputusan yang salah, film mengajak setiap manusia yang meluangkan waktu menontonnya untuk berani menghadapi realita. Film memang ingin membuat kita takut. Jijik. Kasihan. Karena sudah sepatutnya kita merasa persis seperti demikian terhadap kehidupan sosial kita sekarang. Berhenti merasa jadi pahlawan jika hanya melihat satu sisi dan berpaling dari sisi yang paling buruk. Sebagian besar yang dikatakan oleh film, oleh tokoh-tokohnya, aku pun tidak setuju. Tapi aku juga tidak bisa berpaling ke arah lain, dan melihat hal lain dan merasa lebih baik padahal yang kulihat sebenarnya adalah hal yang serupa. Jika realita yang ingin kalian lihat, maka setidaknya jadikan film ini sebagai latihan terlebih dahulu.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for DRAGGED ACROSS CONCRETE.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Jadi apakah yang sebenarnya rasis itu adalah media yang selalu memfokuskan kepada golongan ras pelaku dan golongan ras korban?

Share with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

STUBER Review

“Real men fight standing up”

 

 

Mana yang lebih jantan?

Vic, seorang polisi berbadan kekar yang jago berkelahi, yang menghantam pintu untuk masuk alih-alih mengetuk, yang memprioritaskan balas dendam kepada musuh ketimbang menghadiri pagelaran seni putrinya.

Atau Stu; perjaka bucin yang sebagai karyawan toko dibully oleh bosnya, untuk kemudian beramah tamah sebagai pengemudi Uber tapi tetap saja tak pernah mendapat bintang-lima, yang lebih suka membicarakan perasaannya daripada berkelahi, tapi tetap saja dia belum mampu menyatakan cinta kepada cewek yang sampai saat ini masih menganggapnya teman.

Vic dan Stu, oleh naskah Stuber, dipertemukan ketika Vic yang matanya lamur karena operasi lasik memesan Uber untuk melacak keberadaan gembong narkoba yang dulu membunuh partnernya. Stu yang tak-biasa terlibat baku tembak tentu lebih suka untuk ke tempat cewek taksirannya menonton DVD. Tapi dia begitu butuh bintang-lima yang dijanjikan oleh Vic. Jadi mau tak mau dua orang ini musti bekerja sama. Mengejar petunjuk dari satu tempat yang menantang persepsi mereka tentang maskulinitas satu ke tempat lainnya. Dan semua itu dilakukan film lewat nada komedi yang sangat histerikal dan balutan aksi berdarah yang over-the-top.

salaman adalah pelukan antara tangan dengan tangan

 

Disetir oleh dinamika dan chemistry dari Dave Bautista (I’m just gonna called him Batista, because you know; WWE) dan Kumail Nanjiani, komedi Stuber berjalan dengan relatif lancar. Formula bentrokan karakter mereka bekerja dengan baik. Satu kuat, satu lemah. Satu perkasa, satu perengek. Kita sudah sering melihat cerita buddy-cop seperti begini. Batista dan Nanjiani bertek-tok dengan kocak. Mereka diberikan ruang yang cukup luas untuk mengeksplorasi tokoh masing-masing. Untuk sebagian besar waktu, Batista tidak bisa melihat apapun, dia tidak bisa berkendara, apalagi menembak dengan benar (obvious metafor dari dia tidak dapat melihat apa yang sebenarnya perlu ia lakukan terhadap orang-orang di sekitarnya). Melihatnya menambrak benda-benda, sambil nyeletuk nyalahin benda itu, trying to be cool dengan kelemahannya – basically cara penulisan membuat cacat-karakter diamplify untuk tujuan komedi – sungguh menghibur. Bibit komedi Batista ini sudah mulai tampak ketika dia memainkan tokoh heel (bad-guy) di jaman-jaman dia masih pegulat di WWE. Batista seringkali memerankan karakter jahat yang merengek, dia sudah terbiasa memanfaatkan sisi lemah karakternya menjadi sesuatu tontonan yang menghibur. Di sisi lain, Nanjiani akan menyuplai kita dengan tawa yang datang dari cara dia uring-uringan disuruh melihat hal-hal yang membahayakan nyawanya. And he’s so good at keeping his face straight, dan kemudian meledak. Dia mencoba menormalkan semua itu, sehingga dia terpaksa mengambil tindakan – sesuatu yang selama ini tidak pernah ia lakukan.

Yang membuat dua tokoh berlawanan ini menarik, yang membuat mereka sedikit berbeda dari trope-trope karakter yang film ini gambarkan, adalah Vic dan Stu sesungguhnya punya tujuan yang sama – sehubungan dengan ‘apa sih yang membuat pria itu jantan’ – namun memiliki jalan/kepercayaan yang berbeda dalam mewujudkannya. Walaupun divisualkan lewat interaksi yang receh dan lebay, Vic dan Stu merupakan contoh penulisan ‘konflik nilai karakter’ yang menarik.

Menurut buku Anatomy of Story karangan John Truby, tokoh utama dan lawannya mesti ditulis untuk punya tujuan yang sama, tapi dibuat berkonflik dengan mengeset mereka punya value yang berbeda. Dalam hal dua tokoh film ini – yea, Stu dan Vic menganggap masing-masing sebagai antagonis dari mereka sendiri. Makanya dalam film ini dengan kocaknya kita dibuat lebih percaya mereka lebih mungkin untuk saling bunuh daripada tewas di tangan gangster narkoba. Tedjo yang diburu oleh Vic bukanlah antagonis yang sebenarnya – we’ll talk about hubungan Tedjo dengan Vic belakangan. Karena film ini sebenarnya adalah pertarungan kejantanan antara Vic dengan Stu. Dan meskipun komedi yang stereotipe, Stuber tak jatuh ke dalam gambaran banal tentang maskulinitas seperti Pariban: Idola dari Tanah Jawa (2019) yang pada akhirnya hanya menjadi cerita gede-gedean ‘ucok’. Stu dan Vic punya value yang berbeda tentang kejantanan; kepercayaan mereka itulah yang menjadi konflik utama. Jadi mereka gak sekadar berantem karena beda sikap. First of all, Vic dan Stu harus dapat melihat bahwa meskipun beda ‘misi’ sebenarnya mereka ingin satu hal yang sama; to man up. Kemudian mereka terus didorong untuk mencapai tujuan yang sama tersebut. Stake selalu diangkat; Stu ditelpon demenannya, Vic ditelpon putrinya. Yang satu terjebak dalam perangkap maskulinitas yang toxic, sementara yang satu lagi seperti begitu lemah bahkan untuk menjadi seorang manusia. Mereka punya pandangan yang berbeda yang pada akhirnya menjadi konflik-langsung. Ada pertentangan nilai pada adegan berantem malam-malam superngakak di supermarket itu. Itu adalah klimaks dari konflik mereka. Bagian yang bakal menjawab pertanyaan yang menjadi topik utama film ini.

Jawabannya adalah, the real men – jantan sesungguhnya – adalah pria yang ‘berkelahi’. Untuk disebut cowok, ya kita harus berantem. Dalam artian, berani mengonfrontasi masalah dan perasaan dan segala macam yang menghadang di depannya. Yang tidak lari dari semua hal tersebut.

 

Film ini menulis karakternya dengan ‘rumus’ yang benar; sesuai dengan teori K.M. Weiland tentang desain konflik dan karakter arc. Vic punya ‘wound’ yang membuatnya menciptakan ‘kebohongan’ yang ia percayai sendiri karena dia begitu trauma terhadap ‘wound’ tersebut. Partner Vic yang tewas adalah seorang polisi wanita, yang digambarkan oleh film jauh lebih kompeten dan taktikal dibandingkan Vic yang gasrak-gusruk. Maka Vic merasa gagal, dia merasa enggak cukup jantan sehingga membuat partnernya tersebut meninggal. Tokoh Tedjo – antagonis utama yang diperankan oleh Iko Uwais – adalah perwujudan dari bagaimana Vic memandang dirinya sendiri. Kecil, bengis, dan yang membunuh si partner. Makanya Vic begitu personal ingin menangkap Tedjo. Baginya ini lebih dari sekedar balas dendam. Dia ingin membunuh bagian dari dirinya yang tidak jantan. Ini juga berpengaruh terhadap cara ia memandang Stu pada awalnya. Banyak penonton yang mengeluhkan kurangnya peran Uwais di film ini. Aku setuju, Uwais yang personalitynya berusaha diperkuat oleh dandanan rambut nyatanya tidak banyak diberikan sesuatu untuk dilakukan. Mungkin memang Uwais yang belum bisa luwes berakting, atau memang mungkin karena film ‘menyia-nyiakan’. Tapi aku juga bisa melihat bahwa karakter Tedjo di sini sudah benar-benar bekerja sesuai dengan fungsinya. Karena seperti yang sudah kusebutkan; bukan dia ‘real villain’ yang harus dikalahkan oleh Vic dan Stu. Tedjo literally hanyalah device, jadi tokoh ini masuk akal untuk tidak terlalu banyak bicara.

Batista pada dasarnya selalu “I walk alone”

 

Garapan komedi film ini dapat menjadi cringey ketika berusaha untuk tampil kontemporer. Film berusaha memasukkan banyak sindiran dan pandangan mengenai toxic masculinity yang diam-diam menjamur di kehidupan sosial masyarakat. Pukulan terbesar yang berusaha dilayangkan oleh Stuber adalah mengenai Amerika yang merasa lebih ‘jantan’ daripada minoritas seperti Stu. Kadang celetukan sosial tersebut tampak terlalu banal, it takes the fun out of our central characters. Kita bisa menyebut film ini sebagai iklan Uber terselubung, sama seperti kita bisa menyebut Keluarga Cemara (2019) sebagai iklan Gojek terselubung. Ada banyak lelucon seputar Uber, I mean, penggerak terbesar Stu salah satunya adalah ia pengen dikasih rating bintang-lima; ini seharusnya udah menjadi peringatan betapa lebay dan in-the-facenya film ini bakal menjadi. Juga berkaitan dengan cara hidup masyarakat jaman sekarang. Beberapa ada yang bisa kita relate – buatku, aku juga sebel kalo dapat driver ojol yang terlalu sok-akrab, beberapa ada yang terlalu komikal.

Yang membawa kita ke bagian krusial; yakni porsi aksi. Lelucon lebay dalam film ini semakin cringey lagi ketika dibawa ke ranah aksi. Film punya cara tersendiri untuk menunjukkan kekerasan dan bullying kini bisa berlangsung di sosial media, dan cara itu boleh saja lucu, tapi terlalu ‘maksa’. Film ingin menampilkan aksi jantan yang kocak. Adegan-adegannya memanfaatkan tembak-tembakan, balap-balapan, dan hukum fisika beneran yang dimainkan untuk efek komedi. Untuk urusan berantem pake tangan, aku pikir aku gak bisa minta lebih banyak kepada film ini selain melihat Batista nge-Spear Iko Uwais. Dua orang ini mendeliver cerita dengan baik lewat baku-hantam, dan memang keduanya terlihat lebih nyaman ‘ngobrol’ lewat adegan berantem. Sayangnya, kamera tidak mengerti keunggulan dua orang ini. Karena kamera justru memilih merekam dengan handheld, dan banyak bergoyang, yang sama sekali tidak menunjang pertunjukan aksi yang mereka suguhkan.

 

 

 

Lewat perjalanan dua tokohnya yang amat berseberangan, film ini menjelma menjadi perjalanan maskulinitas genre aksi yang dibuat dengan penuh kekonyolan. Film ini enggak mikir dua kali untuk menjadi stereotipikal, juga enggak ragu untuk menjadi lebay. Film ini meledak-ledak, tapi bukan ledakan api beneran. Yang membuatnya justru malah dapat menjadi turn-off buat sebagian penonton. Punya tujuan untuk mencapai banyak, lewat dialog dan latar yang kontemporer; tapi karena memilih untuk menjadi yang actually ia sindir, film terasa seperti going nowhere antara gagasan yang ia angkat dengan konsep aksi yang ia hadirkan.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for STUBER.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Menurut kalian ada gak sih hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan oleh cowok?

Share with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

CHILD’S PLAY Review

“And this is a friendship that will never ever end”

 

 

Lewat beragam poster teaser yang cerdas, meski sedikit terlampu nekat, digambarkan secara eksplisit Chucky membantai tokoh-tokoh mainan Toy Story. Reboot Child’s Play di negara asalnya memang tayang berbarengan dengan Toy Story 4 (2019). Dan ternyata, untuk menambah kesan ‘mengerikan’, kesamaan film ini dengan animasi Pixar tersebut tidak berakhir sampai di sana.

Pertama-tama, pemilik Chucky juga bernama Andy. Tapi tentu saja tidak semua film yang memajang tokoh anak kecil dimaksudkan sebagai tontonan untuk anak-anak. Terutama jika tokoh anak tadi punya mainan yang mengucapkan sumpah serapah dan bisa belajar untuk berbuat kekerasan. Chucky dalam Child’s Play adalah gambaran gelap dari keinginan Woody dan teman-teman dalam Toy Story. Film ini juga memiliki filosofi yang sama; semua mainan ingin dimainkan. Seperti Woody kepada Andy, Chucky kepada Andy-nya (as in, Andy miliknya satu-satunya) juga punya masalah ketergantungan. Hanya saja, ketergantungan Chucky – ‘kepolosan Chucky’ – enggak ada imut-imutnya sama sekali.

Dalam adegan pembuka kita melihat Chucky merupakan produk boneka modern merek Buddi yang diprogram untuk berteman selamanya dengan anak yang membeli. Tapi Chucky diprogram untuk bisa berbuat jahat, berkat salah satu pekerja yang sakit hati diperlakukan semena-mena oleh mandor pabrik mainan. Chucky yang matanya menyala merah alih-alih biru itu pun sampai di tangan Karen (peran ibu muda yang cool yang cocok banget dibawakan oleh Aubrey Plaza), seorang single-parent berjuang sebagai karyawan supermarket, yang menghadiahi Chucky kepada anaknya. Andy (Gabriel Bateman memainkan anak menjelang ABG yang edgy) yang tak punya teman di lingkungan baru mereka pada awalnya memang senang bermain dengan boneka Buddi yang canggih. Dengan ‘safe protocol’ tak pernah terinstall, Chucky punya keistimewaan yang membuat dirinya tidak semembosankan boneka-boneka yang lain. Tapi yang diperbuat oleh Chucky semakin lama tampak semakin berbahaya. Boneka ini hanya mau membuat Andy senang, namun dia tidak punya batasan. Andy yang merasa ngeri mulai menjauh, tapi itu hanya membuat Chucky semakin bernapsu untuk terus bermain bersama. Mayat-mayat pun mulai menumpuk di sekitar Andy, yang berjuang untuk membuktikan semua kejadian tersebut merupakan ulah dari sebuah boneka.

ide judul film horor: Hutang Buddi Dibawa Mati.. ayo, Produser-Produser, ditunggu teleponnya

 

Sejak 1988, Chucky susah untuk dibunuh. Literally. Bahkan pembuatnya saja, Don Mancini, gak sanggup untuk menghentikan lajunya bibit-bibit sekuel yang terus bermunculan. Child’s Play versi baru ini lucu lantaran lahir di saat sekuel orisinalnya masih berlanjut. Bahkan bakalan ada series yang menyambung timeline di cerita aslinya.  Sutradara asal Norwegia, Lars Klevberg, jelas punya visi yang begitu kuat sehingga dengan pedenya dia tetap membuat Child’s Play. Paling tidak, dia paham untuk membuat suatu reboot atau remake dibutuhkan perubahan dan alterasi yang benar-benar matang, perlu gagasan yang membuat cerita tadi terasa segar. Jadi, ya, kita akan melihat banyak perbedaan signifikan antara Child’s Play versi ini dengan versi orisinal-dan-peranakannya. Terutama dari si Chucky itu sendiri.

Untuk meremajakan kisah ini, Klevberg membuang elemen supernatural. Chucky tidak lagi dirasuki oleh jiwa Charles Lee Ray, seorang kriminal penyembah setan. Chucky di film ini adalah sebuah gadget sangat canggih. Dia boneka yang dibuat oleh perusahaan elektronik besar – bayangkan Apple yang tidak membuat telepon pintar melainkan boneka pintar. Chucky dan boneka-boneka Buddi punya sistem online yang membuat mereka terhubung dengan aplikasi-aplikasi seperti saluran televisi, layanan transportasi, dan mainan-mainan elektronik. Jadi begitu Chucky mengamuk di paruh akhir cerita dengan menggerakkan berbagai macam barang-barang, kita merasa lebih ngeri karena lebih mudah membayangkan teknologi yang kita miliki tiba-tiba malfungsi alih-alih membayangkan ada makhluk poltergeist mengendalikan mereka. Mungkin kita bakal merasa sedikit ditegur, karena film ini menunjukkan malapetaka bernama Chucky itu justru datang dari kelalaian manusia dalam menangani teknologi. Melihat Chucky, berarti kita melihat perjalanan sesuatu yang tadinya netral menjadi berbahaya karena manusia di sekitar Chucky memutuskan untuk menggunakannya untuk sesuatu yang buruk ataupun tak berfaedah. Chucky belajar membunuh lewat televisi; dia menyaksikan Andy dan teman-temannya terhibur oleh adegan sadis. Sebaliknya, melihat Andy, berarti kita melihat pembelajaran tentang betapa kita kadang tidak menyadari kita tidak memerlukan hal yang kita pinta, sebab film ini menunjukkan harapan-harapan Andy diwujudkan oleh Chucky secara mengerikan.

Persahabatan hingga-akhir yang disebut oleh film ini boleh jadi merujuk kepada hubungan saling ketergantungan antara manusia dengan teknologi. Manusia menciptakan sesuatu berkenaan dengan kebutuhannya akan penghiburan. Sebaliknya, hiburan yang diciptakan justru berbalik menjadi mempengaruhi manusia. Dalam film ini kita melihat pengaruh kekuatan Chucky bisa begitu luas lantaran manusia sudah sedemikian konsumtifnya terhadap penggunaan teknologi, sehingga manusia menjadi lepas kontrol.

 

Klevberg, untungnya tidak seperti Chucky yang galau gak diajak main sehingga melakukan hal-hal di luar norma. Klevberg tahu batasan dalam ‘bermain-main’. Child’s Play yang dibuatnya punya perbedaan signifikan tetap mempertahankan sisi-sisi yang membuat film aslinya menjadi sensasi horor-cult. Film ini, sukur alhamdulillah, tidak dibuatnya ekstra kelam dengan backstory yang serius. Film-film Chucky selalu merupakan film horor hiburan yang konyol. Sadis tapi menggelikan. Kita dimanjakannya dengan adegan-adegan kematian yang over-the-top. Banyak hal-hal horor yang hilarious bertebaran di sepanjang film. Rating R membuat film ini lebih leluasa dalam bercanda dan berslasher ria. Aku tantang kalian untuk tidak tertawa miris melihat semangka yang dihadiahkan Chucky kepada Andy. Film ini tahu cara menjadi horor 80-an yang baik. Kita punya keluarga  dengan dinamika yang khas – aku suka cara film menghubungkan Andy dengan ibunya dengan seorang polisi yang juga punya ibu. Kita punya geng anak-anak yang berusaha merahasiakan sesuatu, yang di luar nalar dan kemampuan mereka. Kita punya adegan ‘one last scare’ dan satu dialog pamungkas dari seorang ‘final girl’. Film ini sudah memenuhi kriteria horor yang ikonik – ia akan menjadi modern-klasik. Pembuat film tampak banyak bersenang-senang. Ada banyak adegan easter egg dan foreshadowing, seperti ketika di awal-awal kita melihat ibu Andy melakukan gestur gantung diri sebagai tanggapannya terhadap reaksi Andy ketika dihadiahi Chucky. Mark Hamill, terutama, terdengar sangat asik menyuarakan Chucky. Hamill memberikan ciri tersendiri yang membuatnya berbeda, sekaligus tak dipandang sebelah mata.

Andy tadinya mau ngasih nama Han Solo kepada boneka Buddinya hhihi

 

Dan sebagaimana pada horor-horor jadul, tokoh pada film ini pun tak banyak diberikan karakteristik. Beberapa di antara mereka sangat klise. Dalam teman segeng ada yang gendut, ada yang aneh, ada yang jahat. Ibunya Andy punya pacar dan si pacar itu brengsek satu-dimensi yang punya masalah dengan Andy. Semua trope karakter itu mungkin bisa dioverlook, karena kita lebih peduli sama cara mereka dibuat mati nantinya. Tapi tetep saja kita berpikir, kalo saja mereka ditulis dengan lebih baik.  Kita tidak harus menunggu mereka mati, tertawa ngeri, dan kemudian tak peduli. Inilah yang membuat film-film horor barat itu yang terkenalnya malah sosok pembunuhnya. Mereka malah menjadi ‘hero’ yang kita cheer. Kita tidak merasa kasihan sama manusia-manusia yang menjadi korban. Padahal mestinya paling enggak kita peduli sama mereka. Salah satu hubungan yang menurutku bakal bikin film semakin asik ditonton adalah antara ibu Andy dengan polisi tetangga mereka. Aku ngarep mereka lebih banyak ditonjolkan lagi.

Perbedaan yang dibuat oleh sutradara, selain memberikan rasa segar, juga menjadi salah satu kekurangan. Chucky dalam film ini kehilangan jiwa. Karena dia tak pernah seorang manusia seperti Chucky jaman dulu. Chucky kini hanya A.I. Film berusaha membuat dia tampak polos – seperti E.T. malah, dia belajar dari sekitar. Tapi bahkan E.T. adalah makhluk hidup. Sedangkan di sini kita sudah tahu bahwa Chucky hanya diprogram. Kita tahu perasaan ingin berteman dan membahagiakan Andy itu artifisial sedari awal. Kemudian kita tahu dia dibuat bisa melakukan kekerasan yang malah membuat kita mempertanyakan aturan main dari kejahatan di dalam ciri Chucky. Kenapa dia tidak langsung berkembang sedari awal. Pada titik mana tepatnya Chucky meninggalkan kebaikan. Film ini lumayan mengeksplorasi lingkungan sekitar, yang berkaitan dengan perkembangan Chucky – soal Andy yang juga termasuk ‘kasar’ karena Ibunya sedikit terlalu bebas dalam hal parenting. Tapi tetap saja, Chucky yang sekarang punya karakter yang lebih tipis ketimbang yang dulu. Salah satu cara film untuk memperlihatkan seolah Chucky punya karakter adalah dengan adegan dia ‘bercandar’ dengan Andy saat mengubah wajahnya. But it’s more silly karena memusatkan perhatian kita semua kepada betapa anehnya desain Chucky yang sekarang. Cukup susah untuk mempercayai desain creepy seperti itu dipilih sebagai mainan sahabat manusia.

 

 

 

Pada dasarnya ini adalah salah satu dari sedikit sekali remake/reboot yang bener; yang dibuat dengan bener-bener ada perubahan positif dan visi baru yang membuatnya tampak serupa tapi tak sama. Film ini juga berhasil tampil seru, menyenangkan, menghibur, sekaligus berdarah – khas horor klasik jaman dulu. Aku bener-bener senang di bulan Juli ini dapet dua horor yang tau persis cara membuat horor yang menghibur. Jika kalian bisa tahan sedikit jumpscare dan enggak masalah soal desain baru Chucky yang hanya sedikit lebih rupawan daripada Annabelle, film ini hiburan yang cocok ditonton berkali-kali. Karena pengkarakteran yang tipis itu tak-pernah menadi sandungan besar untuk film-film seperti ini.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for CHILD’S PLAY.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Child’s Play, tampaknya, adalah seri pertama dan satu-satunya yang diciptakan saat originalnya masih berlangsung. Kayak gak mau kalah ama Annabelle. Menurut kalian kenapa orang suka menjadikan benda-benda polos seperti boneka sebagai simbol horor?

Kenapa, seperti Andy dan teman-teman, kita begitu excited melihat benda-benda lucu melakukan hal-hal kasar/keji/tak-senonoh?

Share with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

Extreme Rules 2019 Review

 

Dalam pertandingan extreme rules, semua bisa terjadi. Kecuali, kata Becky Lynch kepada Seth Rollins sang pacar sekaligus partner tag teamnya, menyebabkan pasanganmu kehilangan sabuk kejuaraannya. Dengan menjadwalkan pertandingan ‘ganda campuran’ di mana dua sabuk tertinggi brand Raw dipertaruhkan bersamaan – tim yang menang, lantas berhak mengangkat sabuk kejuaraan tinggi-tinggi penuh jumawa – WWE tampak menge-push makna ekstrim yang menjadi judul acara ini lebih jauh lagi. Di kubu juara bertahan kita punya pasangan real-life Lynch dan Rollins, memainkan dinamika gender dengan ayunan yang menarik; kedua superstar ini sama-sama ‘jantan’. Rollins cowok beneran, sedangkan Lynch di-dub sebagai “The Man”. Sedangkan pada kubu penantang bersanding Lacey Evans dengan jurus maut tinjuan tangan kanan yang diberi nama “The Women’s Right” dan Baron Corbin, si putra favorit semua kota yang enggak ragu untuk melakukan apa saja.

Melalui pasangan-pasangan ini, WWE seperti menyimbolkan perjuangan yang relevan tentang kesetaraan gender. Ada gagasan yang dinarasikan yaitu pria dan wanita punya status dan ‘kekuatan’ yang sama. Mereka saling bertanggungjawab terhadap pasangannya dalam suatu hubungan. Tidak mesti harus selalu pria yang menyelamatkan wanita. Dan tidaklah memalukan untuk mengakui wanita kadang lebih nasty dari pria.

 

Di samping itu, dapat kita temukan banyak indikasi WWE berusaha tampil lebih edgy, lebih ‘kasar’ daripada produk-produk mereka belakangan ini. Mulai dari kamera yang secara sengaja ngezoom close up pantat Evans yang merungkuk masuk ke dalam ring, hingga menuju penutup pertandingan, WWE terus saja ‘menggoda’ penonton. Puncaknya tentu saja adalah ketika Corbin menyarangkan jurus pamungkasnya kepada Becky Lynch. Aku gak bohong, buatku momen itu terasa magical. Unworldly. Terutama melihat reaksi Rollins. Rasanya seperti melegakan, ada beban yang lepas. Karena, thing is, walaupun berjudul ‘mixed tag team extreme rules’, pertandingan main event ini masih terkungkung oleh banyak peraturan. Pertama ada peraturan tradisional tag team; kau tidak bisa masuk sebelum ‘disembar’, itu berarti sebagian besar waktu kau atau pasangan tag teammu harus menunggu di pojok luar tali ring. Kedua, superstar cowok harus bertarung dengan cowok, dan cewek harus dengan cewek. Tidak boleh cowok memukul cewek. Ini membuat pertandingan ini terlihat kurang menarik, karena setengah-setengah. Kenapa mereka tidak langsung saja diadu di dalam ring, empat-empatnya sekaligus. WWE dengan sengaja membuat seperti demikian, demi alasan storytelling. WWE ingin membangun antisipasi penonton. Mindsetnya adalah menahan-nahan memberikan yang penonton mau, dan ketika waktunya tiba, berikan sebagian kecil saja dan penonton akan puas. Malah meminta lebih dan penasaran pengen tau kelanjutan. Dan kupikir taktik yang mereka lakukan ini berhasil. Tentu saja dengan harga mahal berupa pertandingannya sendiri menjadi tidak seberapa menarik.

“Don’t be jealous cause they like what they see”

 

Tapi untuk menutupi itu, WWE menyiapkan banyak momen-momen menghibur di awal-awal. Beneran deh, in fact, the worst dari acara kali ini memang cuma dua match terakhir. Meskipun memang bummer sih, karena dua pertandingan besar itu adalah kejuaraan utama. Kofi Kingston melawan Samoa Joe benar-benar standar, dengan hasil pertandingan sangat melukai citra Joe sebagai kontender seram yang serius. Sisa partai dalam acara yang berlangsung di kampung halaman ECW ini (Philadelphia) bisa dikategorikan ke dalam bintang-tiga, jika kalian mau memberi skor masing-masingnya.

Lashley dan Braun Strowman menyuguhkan perang-monster yang cukup heboh. Hasil akhir dari Last Man Standing mereka dilakukan dengan teatrikal; Strowman menyeruak keluar dari kotak kayu, yang membuat pertandingan yang mestinya bisa lebih baik jika waktunya sedikit dipersingkat tersebut menjadi terasa baru dan menyegarkan. Handicap antara Bayley melawan Alexa Bliss dan Nikki Cross berfungsi untuk menguatkan tiga karakter ini secara bersamaan, dan untuk hal tersebut, pertandingan ini berhasil menjalankan fungsi. Alur dan aksinya sendiri tidak spesial-spesial amat – personally, aku kesel Bliss gak menang – but it makes so much sense. Belum jelas apakah ketiganya masih akan bareng dalam satu program lagi untuk berikutnya, tapi yang dapat kita simpulkan dari pertandingan ini baik Bayles, maupun tandem Bliss dan Cross, sama-sama masih jauh dari akhir babak saga mereka. Hal yang sama bisa kita simpulkan dari pertarungan AJ Styles melawan Ricochet dan pertarungan tagteam Revival melawan Kembar Uso. Mereka semua menghadirkan laga yang bikin kita menggigit kepalan tangan, namun masih terkesan ditahan-tahan. Surely, program mereka masing-masing masih akan terus berlanjut, karena masih  banyak potensial cerita dan karakter yang belum dikeluarkan.

Jika disuruh memilih superstar mana yang menjadi MVP pada malam ekstrim itu, maka jawabanku akan berputar di antara tiga superstar. Aleister Black. Otis dari tagteam Heavy Machinery. Dan, meskipun kedengarannya ‘aneh’ karena ketinggalan jaman; The Undertaker.

Debut-ulang Black dilakukan dengan sangat tepat. ‘Mengumpankannya’ kepada Cesaro jelas pilihan yang berbuah manis. Semua berakhir win-win dalam skenario ini. Cesaro yang punya teknik super secara natural menjadi lawan yang menarik untuk Black dengan serangan strike. Melihat Black dilempar ke sana sini sebelum akhirnya menyerang telak sungguh sebuah pengalaman yang memuaskan. Otis, on the other hand, adalah idola in the making. Aksi-aksi si superstar ini begitu menghibur untuk disaksikan. Dan tentu saja tidak ada ruginya memasangkan Heavy Machinery di antara tim-tim solid seperti New Day dan Daniel Bryan dan Erick Rowan. Semua superstar dalam triple threat tag team tersebut tampak kuat dan menarik. Untuk beberapa waktu aku sempat yakin Heavy Machinery yang bakal menang. Karena begitu asyiknya mereka terkonek kepada penonton.

Apakah singlet Undertaker kebalik?

 

Kemunculan Undertaker menolong Roman Reigns dalam perseteruan melawan geng Shane McMahon tak pelak memang mengangkat alis banyak orang. Terlebih Undertaker baru saja terlibat salah satu pertandingan terburuk di sepanjang karirnya; menonton matchnya melawan Goldberg di Saudi Arabia musim lebaran lalu seperti menonton kakek-kakek yang sedang rebutan remote tv. Penonton juga sebel melihat Shane yang terus-terusan mendapat spot, sementara Reigns berada di zona netral. Penonton pengen melihat benefit untuk Drew McIntyre, dan Elias, dengan keterlibatan mereka di storyline ini. Sepanjang match aku juga berharap fokus ada pada MyIntyre. Tapi Undertaker tampaknya adalah superstar yang paling overgiver yang pernah berjalan dalam ring WWE. Dengan cepat dia mencuri perhatian. Penampilannya begitu prima dalam pertandingan pembuka ini. Aksi pertandingan ini cukup keras, dan Undertaker tak tampak kepayahan. Interaksinya dengan McIntyre, juga dengan Shane, ternyata sangat menghibur. Sejurus kemudian akan menjadi jelas untuk kita bahwa pertandingan ini sebenarnya lebih berfungsi sebagai ‘pemulihan’ nama Undertaker. Dan mereka melakukannya dengan cukup baik.

Ketika pembicaraan beralih kepada momen paling keren, ada banyak kandidat yang bisa dipilih, range dari komentator Renee Young menyebut kata “fucked” hingga kemunculan Brock Lesnar ‘menguangkan’ kopernya. Namun yang paling mencuat tentu saja adalah momen speech dari Kevin Owens. Yang serta merta membuatnya menjadi MVP kejutan, orang keempat yang paling menarik sepanjang acara. Aku benar-benar suka pada arahan yang diberikan kepada Owens. Dia menyuarakan kejelekan-kejelekan yang ada pada WWE; gimana Shane selalu mendapat spot, gimana superstar-superstar yang lebih membutuhkan ditelantarkan begitu saja oleh WWE. Karakter Owens ini jika dilakukan dengan benar, bukan tidak mungkin akan menjadi Stone Cold versi kekinian. Yang punya attitude kritis, berani, penuh api, dan dibacking oleh jurus Stunner yang sungguh devastating. Penulisan cerita dan karakter yang meta seperti ini boleh jadi datang dari Eric Bischoff yang baru-baru ini diberitakan menjadi executive director untuk Smackdown, barengan dengan Heyman untuk brand Raw.

 

 

 

The change is coming. Perlahan-lahan WWE menunjukkan keterbukaan untuk menjadi lebih cadas. Lebih menggigit dengan konten-konten yang tidak melulu kekanakan dan bermain aman. Extreme Rules, adalah bagian dari proses perubahan tersebut. Pertandingan-pertandingan dalam acara ini sebagian besar seru, namun tidak terasa kosehif satu sama lain selain sama-sama berfungsi untuk menginvest kita kepada momen gede involving interaksi cowok-cewek di penghujung acara. The Palace of Wisdom memilih kejuaraan tag team Smackdown antara tim Daniel Bryan dan Rowan melawan Heavy Machinery melawan The New Day sebagai MATCH OF THE NIGHT

 

Full Results:
1. NO HOLDS BARRED Undertaker dan Roman Reigns mengalahkan Shane McMahon dan Drew McIntyre
2. RAW TAG TEAM CHAMPIONSHIP The Revival bertahan atas The Usos
3. SINGLE Aleister Black ngalahin Cesaro
4. SMACKDOWN WOMEN’S CHAMPIONSHIP HANDICAP Bayley tetep juara ngalahin Nikki Cross dan Alexa Bliss
5. LAST MAN STANDING Braun Strowman menghancurkan Lashley
6. SMACKDOWN TAG TEAM CHAMPIONSHIP TRIPLE THREAT The New Day jadi juara baru mengalahkan Daniel Bryan & Rowan serta Heavy Machinery 
7. UNITED STATES CHAMPIONSHIP AJ Styles merebut sabuk dari Ricochet
8. SINGLE Kevin Owens KOin Dolph Ziggler
9. WWE CHAMPIONSHIP Kofi Kingston retains over Samoa Joe
10. RAW WOMEN’S & UNIVERSAL CHAMPIONSHIP MIXED TAG TEAM EXTREME RULES Becky Lynch dan Seth Rollins menang dari Baron Corbin dan Lacey Evans
11. UNIVERSAL CHAMPIONSHIP MITB CASH-IN Brock Lesnar jadi juara baru ngalahin Seth Rollins

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

PARASITE Review

“… one must climb the ladder from the first step.”

 

 

Kecerdasaan tidak ada hubungannya dengan kekayaan. Jenius matematika enggak lantas membuat kita kaya. Pun, punya duit banyak bukan berarti jaminan seseorang berarti cerdas luar biasa. Engkau bisa saja punya duit bermilyar-milyar namun tetap tertipu oleh seseorang licik yang bahkan tidak punya buku tabungan. Thriller drama keluarga terbaru dari Joon-ho Bong membahas anekdot tersebut, tentu saja dengan nada komedi yang membuat kita tertawa, hingga kita menyadari ini sesungguhnya adalah gambaran menyedihkan yang begitu dekat dan relevan tentang betapa bodohnya kita dalam memandang perbedaan kelas sosial.

Parasit itu adalah keluarga miskin seperti keluarga Ki-taek; empat orang usia-kerja namun tak berpekerjaan selain melipat kotak-kotak pizza saat wi-fi gratis yang mereka tebengi dikunci oleh password. Mereka tinggal di rumah berserangga bau yang letaknya nyaris di bawah tanah. Pemandangan dari jendela mereka adalah kerikil di jalanan, yang akan segera dikencingi oleh seorang pemabuk. Jika mereka bilang mereka berjuang, kita certainly tidak melihatnya. Paling tidak, bukan berjuang dengan cara yang benar. Padahal mereka bukan orang tak ber-skill. Nyonya Ki-taek adalah mantan atlet lempar peluru. Putri bungsu Ki-Taek berbakat di bidang seni. Dan putra sulungnya, meskipun tidak bisa lanjut kuliah, punya kemampuan bahasa Inggris yang sejajar dengan tingkat universitas. Kemampuan bahasa inggris itulah yang kemudian menjadi pintu kesempatan. Putra Ki-taek ditunjuk untuk menggantikan temannya sebagai guru privat di rumah keluarga kaya. Rumah yang tamannya ada di atas. Bagai gula dirubung semut, keluarga kaya itu lantas jadi inceran keluarga Ki-taek; yang menggunakan segala daya upaya (alias tipu muslihat) supaya seluruh anggota keluarga bisa bekerja di sana.

cerita home invasions dan squatters mengerikan karena, siapa sih yang mau diserang di tempat kita buang air paling nyaman?

 

Celetukan sosial bukan ranah asing buat sutradara Bong. Dia sudah pernah menempatkan kita di sudut pandang orang kecil yang berjuang melawan penguasa demi kesejahteraan lewat Snowpiercer (2013) yang punya dunia unik; ‘negara’ dalam cerita itu adalah literally kereta api yang berjalan tanpa henti. However, dalam Parasite, kita ditempatkan dalam posisi yang tak-biasa. Di film ini kita diminta untuk bergerak bersama ‘orang kecil’ yang berjuang supaya hidup enak dengan mengambil cara kriminal. Ada sekuen rinci yang memperlihatkan rencana penipuan yang dilakukan oleh protagonis kita. Yang kita lihat jelas-jelas salah, tapi kita tetap peduli dan mengkhawatirkan rencana tersebut – kita tetap ingin para tokoh miskin itu berhasil. Malahan kita akan bareng-bareng menertawakan kebegoan orang kaya yang dengan gampang tertipu oleh embel-embel “dari Amerika.” Ketika cerita berubah menjadi violent, emosi yang kita rasakan kepada tokohnya pun tidak berubah. Malah berlipat lebih kuat. Film mencoba membuat kejadian berdarah itu masih punya hati. Sehingga kita menyayangkan peristiwa yang terjadi.

Semua itu bisa saja bentuk sindiran Bong kepada negara. Pemilik rumah gedong yang ‘disatroni’ oleh keluarga Ki-taek bisa jadi adalah perlambangan dari pemerintah yang lebih memperhatikan dunia internasional dibandingkan rakyat jelatanya. Standar yang begitu tinggi ditetapkan sehingga untuk membantu orang pun, si petinggi itu milih-milih. Tapi ini semuapun sejatinya sudah pernah dibahas oleh Bong dalam The Host (2006), dengan lebih blak-blakan pula dalam upaya mengingatkan induk semang alias negara yang semestinya melindungi warganya tanpa pandang bulu. Parasite, bagaimanapun juga, adalah lebih tentang para rakyat itu. Membalut ceritanya dalam subgenre horor ‘home invasions’ yang ditubrukkan dengan satu lagi subgenre horor yakni ‘squatters’ (semacam home invasions tapi ancaman datang dari dalam rumah) tidak lain tidak bukan adalah cara film untuk menyuarakan kengerian ketika rakyat menyerang rumahnya sendiri. Yang ditekankan oleh cerita kali ini adalah bagaimana penduduk miskin rela bunuh-bunuhan demi memperebutkan remah-remah kekayaan. Makanya menonton ini terasa miris. Melihat keluarga Ki-taek dan satu keluarga lagi yang jadi kejutan di pertengahan cerita, membuat kita sadar bahwa mereka semestinya tidak melakukan itu, tapi mereka pikir harus begitu.

Dunia mungkin tampak terbalik. Bagaimana mungkin orang yang sukses ternyata tidak lebih pintar daripada kita? Sebagian orang mungkin akan menuding privilege. Atau mungkin nyalahin presiden. Jika rumah adalah negara, maka kita harusnya turut menjaga dan memeliharanya. Daripada memutar otak untuk terus dijamu dan jadi freeloader, sebaiknya kita mulai berpikir apa yang bisa kita lakukan untuk membuat rumah semakin nyaman ditinggali.

 

 

Rumah di bawah tanah dan hunian di lantai atas, orang kaya yang bego dan orang miskin yang cerdik, semua itu tentu saja ada maknanya. Bong ingin menunjukkan kepada kita bahwa satu-satunya pembeda antara si kaya dan si miskin – antara konglomerat dan melarat – bukan pada kecerdasan, bukan pada kesempatan, melainkan pada letaknya. Atas dan bawah yang sebenarnya terhubung oleh tangga. Tinggal menaiki tangga itulah yang menjadi soal. Tapi terkadang, orang untuk naik tangga aja males. Dan orang males ‘keunggulannya’ adalah pikirannya bisa lebih ‘cerdas’, kayak keluarga Ki-taek di film ini. Mereka mau bekerja, tapi hanya jika mereka bisa menyedot keuntungan darinya, dengan cara yang cepat. Ada yang lompat-lompat dari satu anak tangga ke dua anak tangga di atasnya. Ada yang berusaha mencari jalan naik yang lebih gampang. Tapi tentu saja resikonya besar. Bahkan yang hati-hati naik tangga saja bisa terpeleset dan jatuh.

Hanya ada satu cara untuk ke atas. Hanya ada satu cara untuk jadi sukses, kaya, atau makmur. Berusaha dengan giat. Bekerja dengan benar. Jangan ambil jalan pintas. Jangan anggap kesuksesan sebagai sesuatu yang harus dicurangi. Jika mengkehendaki sesuatu, kita harus mengusahakannya. 

 

Terpeleset di tangga actually dijadikan poin penggerak di dalam cerita. Kita melihat beberapa kali para tokoh ‘gagal’ mempertahankan posisi mereka di tangga, karena mereka tidak mengambil langkah yang benar. Di ending film, menaiki tangga  ditekankan kembali sebagai jalan keluar yang disadari oleh tokoh utama cerita. Yang lantas membuat kita ikut menghela napas, ah seandainya dari awal mereka begitu. Di sisi lain, gerak-maju narasi dalam film ini tampak terlalu penting untuk dimulai oleh adegan terjatuh di tangga yang membuatnya tampak sebagai kebetulan. Filosofi tangga dan pentingnya adegan tersebut kita bisa paham. Namun, membuat film ini sendiri menjadi terlalu fantastical. Membuatnya tampak konyol, malah. Dan ketika satu tokoh mengulangi kesalahan yang sama, jadinya annoying. Kita punya bangunan cerita yang kuat, dengan tokoh-tokoh unik yang membuat kita peduli, tapi cerita butuh untuk orang berdiri menguping di atas tangga dan kemudian terjatuh begitu saja; agak kurang memuaskan, dan ya, memaksa.

sudah jatuh, ditimpuk batu pajangan pula!

 

Tubuh besar cerita film ini memang tampak seperti terdiri dari dua bagian. Paruh pertama yang menitikberatkan kepada drama. Dan paruh kedua yang berupa sajian mendebarkan. Sekilas memang seperti kelokan yang cukup tajam, tetapi sebenarnya transformasi cerita ini sudah di-foreshadow di awal oleh kemunculan serangga-bau alias stinkbugs. Hewan ini memegang peranan cukup penting karena dia berfungsi sebagai perlambangan dan akar dari motivasi salah satu tokoh. Serangga-bau actually will come full-circle sebagai relik pada arc salah satu tokoh. Dan merupakan salah satu dari banyak elemen pada film ini yang bekerja efektif dan bertanggungjawab membuat cerita semakin menarik untuk diikuti.

 

 

 

Bermain dengan banyak tone cerita, film-film biasa akan tersandung, terjatuh bergulung-gulung menjadi satu gumpalan yang kacau. That’s not the case for this film. Dari awal hingga akhir, mata kita akan terpaut kepada adegan demi adegan. Memanfaatkan materi cerdas, permainan akting yang meyakinkan, dan kerja kamera yang membuat kita menyaksikan langsung seperti lalat yang hinggap di rumah film itu, penceritaan drama thriller ini bekerja dengan luar biasa efektif. Dia mengambil waktu, dan tidak terburu-buru mengembangkan semuanya. Demi menyampaikan gagasannya, film yang tadinya tampak manusiawi mau tak mau harus berkembang ke arah yang lebih fantastical – dalam sense edan dan di luar nalar – dengan beberapa plot poin memiliki unsur kebetulan. Bagi sebagian penonton hal tersebut dapat mengurangi kepentingan film ini, but still, film korea yang judul aslinya Gisaengchung ini adalah tontonan yang seru dari awal hingga akhir.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for PARASITE.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Menurut kalian, kenapa pinter tidak lantas membuat kita kaya? Apa sih yang sebenarnya membuat orang-orang miskin? Apakah karena beneran bodoh atau dibodoh-bodohi?

Share with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

JOHN WICK: CHAPTER 3 – PARABELLUM Review

“A man’s life is about keeping rules, breaking them, and making new ones.”

 

 

Dunia profesional John Wick adalah dunia ‘bawah tanah’ yang penuh darah. Tapi bukan lantas berarti dunia mereka amburadul. Malah mungkin lebih teratur daripada dunia kita. Karena mereka punya kode etik sendiri. Dan mereka-mereka yang terdiri dari pembunuh bayaran, mafia, bandar narkoba tersebut benar-benar memegang teguh peraturan tersebut. “Karena tanpa aturan, kita adalah binatang” begitu kata salah satu petinggi High Table yang menjadi semacam lingkaran pemimpin mereka. Tapi John Wick melanggar peraturan penting di tempat paling sakral yang mereka miliki. Zona aman; sebuah hotel tempat para anggota dunia hitam bisa bersantai, mungkin sambil menyembuhkan diri, tidak ada yang boleh menjalanakan ‘bisnis’ mereka dalam bangunan hotel tersebut. Dan John Wick telah menumpahkan darah di sana.

Cerita film ini dibuka dengan John Wick, bersama anjing kesayangannya, berlarian di sepanjang kota berusaha untuk sampai ke suatu tempat sebelum waktu tenggat satu jam diberikan kepadanya habis. Wick dicabut dari keanggotaan, sekarang kepalanya ditempeli label harga empat-belas juta dolar sesegera mungkin saat satu jam tersebut habis. Wick akan diburu oleh anggota geng hitam dari seluruh sudut gang, seantero dunia. Bahkan bagi penonton yang belum pernah menonton dua film sebelumnya, Parabellum ini akan seketika menguarkan intensitas yang luar biasa. Stake dengan cepat dan efektif terlandaskan. Enggak banyak cing-cong, kita semua langsung tahu ini urusan hidup dan mati. Bahaya mengintai Wick di mana-mana. Kita dapat merasakan betapa besarnya dunia yang menjadi panggung cerita. Dengan John Wick di tengahnya, sendirian di tengah entah berapa banyaknya jumlah musuh. Kita melihat mekanisme komunikasi organisasi mereka bekerja. Kita diperlihatkan seberapa banyak dan besarnya keinginan orang-orang untuk menangkap John Wick. Hal-hal kecil seperti uang bounty yang dinaikkan, ataupun Wick yang terus melirik jam tangan, atau ketika dia harus merakit pistol yang ia temukan dengan cepat sebelum waktu habis, adalah cara film bermain dengan emosi kita. Sehingga kita merasakan desakan. Urgensi. John Wick bahkan diserang sebelum satu jam itu habis! Set up dan build up film ini diceritakan dengan begitu efektif sehingga yang baru sekali ini nonton film John Wick sekalipun akan dapat merasakan kepedulian dan simpati terhadap nobody yang sedang mereka saksikan.

Well, “That f-king nobody… is John Wick!”

 

Benar, kita datang membeli tiket film ini demi menyaksikan sekuen-sekuen aksi yang super-gilak (we’ll get to that later). Tetapi pembangunan dunianya inilah yang membuat kita betah untuk menyaksikan lagi, dan lagi, dan lagi. Sedari film originalnya, John Wick sudah sukses dalam membangun dunia. Lewat film-film John Wick, sutradara Chad Stahelski berhasil membuktikan bahwa film aksi yang brutal bisa kok ditampilkan elegan. Dia juga membangun ‘panggung’ untuk membuat kita penasaran sekaligus semakin tersedot ke dalam dunia cerita. Mengenai backstory John Wick saja, meskipun saat itu belum visual, tapi cerita yang mereka ceritakan dengan setengah-setengah dan bertahap itu membuat kita gak pernah berhenti menggelinjang. John Wick adalah mantan assassin. John Wick adalah seorang baba yaga (boogeyman) yang membunuh tiga orang dengan sebatang pensil. Kita tidak diperlihatkan bagaimana tepatnya, namun dari aksi yang ia lakukan kita tahu rumor tersebut benar seratus persen. Film tidak berhenti sampai di sana untuk mengeksplorasi karakter John Wick. Di film kedua kita beneran dikasih lihat John Wick menggunakan pensil untuk membunuh. Dan di film sekarang, mitos John Wick tetap terus dikembangkan; di film ini kita melihat John Wick membunuh orang dengan buku!

Peraturan, Hotel, dan organisasi High Table juga seperti demikian; dikembangkan secara bertahap. Pada film pertama – selagi kita menonton Wick yang udah keluar dari sana terpaksa harus masuk sebentar demi dendamnya – seolah hanya melihat pekarangan depan dari keseluruhan dunia hitam John Wick. Film kedua kita diperlihatkan dan diberitahu lebih banyak tentang istilah-istilah mereka, gimana dunia mereka bekerja, tapi itu seperti baru masuk ke ruang depan. Bahkan pada film ketiga ini pun kita belum beneran masuk ke ruang tengah; karena film ini dikembangkan dengan penuh gaya dan rancangan yang benar-benar memperhatikan emosi kita. Film membuat kita terus tertarik. Petualangan John Wick bermula oleh kejadian yang lumayan menggelikan, aku sendiri sempat meremehkan film pertamanya yang beranjak dari John Wick ngamuk lantaran mobilnya dicuri dan anak anjingnya dibunuh. Tapi elemen itu terus dengan bangga dikembangkan, diulang-ulang, menjadi bagian dari legenda John Wick. Karakter dan dunia dalam semesta film ini tak pelak akan menjadi seperti Keanu Reeves; immortal!

Sekilas memang terlihat seperti bergerak karena duit. Namun film sebenarnya ingin berbicara sesuatu yang lebih bernilai daripada lembaran uang. Para assassin, orang-orang yang jadi anggota High Table, mereka bergerak karena peraturan. Dengan subtil film menunjukkan kepada kita bahwa kewajiban untuk memenuhi peraturan itulah, ketakutan akan hukuman ketika melanggar hukum itulah, yang menjadi motor penggerak mereka. Dan kontrak di antara mereka-mereka itu bukanlah hitam di atas putih. Melainkan merah, on a cold hard medal.  Berakar pada balas jasa, kerjasama, sifat respek antara satu sama lain. Dunia di mana aksi dan konsekuensi benar-benar ditegakkan, tanpa pandang bulu. Strangely, dalam keadaan terbaiknya, film ini mampu membuat kita menghormati dunia hitam yang keji.

 

Stahelski sendiri memang sangat menghargai dunia action. Sebagai mantan stuntman, tentu dia paham betul bagaimana mengkoreografikan adegan-adegan berkelahi. Dan pada film ini, dia bekerja dengan lebih banyak lagi orang-orang yang sama-sama mencintai genre ini. Semua adegan aksinya benar-benar luar biasa. Dalam setiap film John Wick, selalu ada hal baru yang seketika menjadi memorable. Pada film ini, buatku adalah sekuen dengan kuda. Juga dengan anjing-anjing. Salah satu elemen favoritku yang terus dipertahankan oleh film adalah peluru yang benar-benar sedikit, yang beneran bisa habis. Aku suka melihat John Wick harus mereload senjata di tengah-tengah perkelahian, karena menambah sensasi keaslian. Serta ketegangan. Film ini menawarkan begitu banyak adegan-adegan mendebarkan. Yang direkam dengan wide shot. Enggak terlalu banyak cut. Bak-bik-buknya begitu in-the-face. Ada satu sekuen dengan sepeda motor yang membuatku teringat pada adegan di Final Fantasy VII: Advent Children (2005), bedanya adalah film ini dilakukan oleh orang beneran! Keanus Reeves, salut banget, melakukan hampir semua adegan tanpa aktor pengganti. Aku gak pernah bosen melihat John Wick menembak kepala orang-orang. Film membuat kita melihat perbandingan antara balet dengan berantem, yang mana menurutku sangat keren. Bicara tentang keren; aku yakin kalian semua merinding ketika Yayan Ruhian dan Cecep Arif Rahman yang menyapa Wick dengan bahasa Indonesia. Peran kedua aktor tanah air ini dalam cerita memang enggak gede, tapi mereka diberikan momen tersendiri. It was so cool melihat film memberikan waktu kepada bela diri dan aktor Indonesia untuk bersinar.

Film ini punya set piece yang amazing. Warna-warnanya terlihat vibrant. Cahaya neon, lampu-lampu malam, di dalam air, dan pada satu poin cerita, kita juga dibawa ke panasnya gurun. Meskipun penggunaan ruangan kaca dalam film ini seperti pengulangan dari film yang kedua, secara aksi juga agak sedikit terlalu berkesan fantasi, tapi di sini filosofinya sedikit berbeda. Kali ini adalah soal John Wick yang melihat persamaan dirinya dengan para musuh, yang berkaitan dengan pembelajaran bahwa dia gak bisa lari dari siapa dirinya yang sebenarnya. Di balik semua pembangunan dunia dan sekuen-sekuen aksi yang penuh gaya, film tetap berhasil menceritakan satu cerita yang utuh. Ada definitive end. Rahasia dan bigger picture mungkin masih belum terlihat, kita masih belum melihat semua anggota High End, tapi pada chapter ini karakter John Wick sudah menyelesaikan perjalanannya. Dia melanggar aturan, dan membuat yang baru demi dirinya sendiri. Dari yang tadinya pengen kabur, dia akhirnya menyadari dia tidak bisa pensiun dari siapa dirinya.

“Marhaban ya, John Wick!”

 

Kita bisa memahami bahwa Wick pada akhirnya harus dibuat kembali ke Hotel supaya arcnya dalam cerita ini bisa melingkar, Hotel haruslah menjadi medan perang terakhir, tapi kupikir harusnya ada cara yang lebih baik untuk menceritakan hal tersebut. Setelah midpoint yang di gurun itu, narasi Parabellum terasa agak ruwet. Film memilih untuk menampilan satu, katakanlah twist, yang membuat kita jadi ngangkat alis “jadi si dia baik atau tidak?” Menurutku impact dari twist tersebut justru jadi gak langsung mengena. Akan lebih on-point kalo Wick dibuat menerobos Hotel yang sudah menanti kehadirannya, dan kemudian dia sampai di atas, dan mereka berunding tanpa perlu ada elemen deceiving pada narasi. Keputusan film untuk bercerita seperti yang mereka lakukan membuatku jadi merasa seharusnya Parabellum adalah film terakhir, tapi kemudian mereka mengganti rencana dan memanjangkan cerita menjadi seperti ini.

 




Jika mau dibandingkan, film ini lebih terasa secara emosional daripada film keduanya. Stake dan rintangannya lebih kuat. Tapi tetep masih kurang nendang dibandingkan film pertamanya, terutama taraf kegenuine-annya. Film ketiga ini – tampil dengan nyaris non-stop intens dan begitu banyak sekuen aksi yang memorable – lebih terasa seperti fantasi, di mana kita menontonnya demi excitement saja. I mean, bahkan ada adegan Wick dan musuhnya pake jurus ilang-ilangan kayak ninja. Fun, tentu saja, tapi bobotnya terasa sedikit berkurang. Pembangunan dunianya masih mampu menimbulkan rasa penasaran, tetapi ceritanya terasa seperti sudah mentok, dan film ini memanjang-manjangkan. Buat penonton yang baru pertama kali merasai, though, petualangan John Wick akan terasa seperti baru akan dimulai.
The Palace of Wisdom gives 6.5 gold stars out of 10 for JOHN WICK: CHAPTER 3 – PARABELLUM.

 

 




That’s all we have for now.
Dengan organisasi yang mengharuskan anggotanya untuk patuh peraturan biar gak kayak binatang, dan film ini semacam menjadikan anjing sebagai maskotnya, apakah ada perbandingan antara anjing dan peraturan yang bisa kalian tarik? Apa menurut kalian anjing dalam film ini menyimbolkan sesuatu?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 



BRIGHTBURN Review

“Hypothetical questions get hypothetical answers.”

 

 

 

Berandai-andai memang menyenangkan, kita semua suka melakukannya. Makanya filter ‘gender-swap’ di snapchat langsung ngehits. Berpikir hipotetikal berarti bermain dengan imajinasi. Orang-orang pintar seperti Einstein menghargai kekayaan imajinasi sebagai bentuk dari kecerdasan. Karena dengan berimajinasi, kita mendorong diri sendiri untuk berpikir di luar kotak, di arena yang jauh lebih luas. Ide cerita film Brightburn yang sangat menarik ini terlahir dari andai-andai pembuatnya. Dari imajinasi kreatif yang berusaha membayangkan peristiwa asal muasal superhero dalam cahaya yang jauh, jauh, lebih gelap. Yakni bagaimana jika suami-istri Kent mengadopsi bayi alien super yang jahat kelakuan, alih-alih baik hati.

Bagi Tori Breyer yang diperankan oleh Elizabeth Banks, andai-andai bukan semata imajinasi. Melainkan juga sebuah harapan. Tori dan suaminya sangat pengen dikarunai anak. Dari buku-buku yang disorot pada adegan pembuka, kita lantas mengerti usaha yang mereka lakukan urung membuahkan hasil. Bukan bintang jatuh yang kemudian mengabulkan harapan mereka. Tetapi sebuah meteor. Berisi seorang bayi laki-laki! Tori dan suami membesarkan anak yang mereka beri nama Brandon layaknya anak kandung sendiri. Bahkan ketika Brandon menunjukkan gelagat mengerikan. Yang jelas-jelas bukan perilaku anak baru gede yang biasa. Orang-orang di sekitar keluarga tersebut satu persatu mendapat musibah aneh. Dengan semua ‘bukti’ mengarah ke Brandon pun, Tori tetap kekeuh dengan andai-andainya, bahwa Brandon adalah buah hati kesayangan yang harus ia lindungi.

teman-temanmu gak tau bahwa mereka baru saja meledek seorang alien, Nak

 

Dalam menyampaikan premis unik tersebut, Brightburn menjelma menjadi horor aksi. Penggemar adegan-adegan berdarah akan menyukai film ini. Anggota tubuh yang remuk, wajah dengan mulut literally menganga (karena rahangnya hancur), akan menghiasi layar. Dan cerita tak butuh waktu yang lama untuk sampai ke bagian-bagian sadis tersebut. Yang justru menunjukkan kelemahan yang dipunya oleh film ini. Meskipun dia punya cukup banyak gaya untuk menghadirkan horor kekerasan, film ini tidak banyak bermain dengan penceritaan. Ataupun dengan gagasan ceritanya sendiri.

Sebagai pembanding, kita bisa melihat film The Prodigy (2019) yang juga bicara tentang keluarga yang dikaruniai anak jenius yang bermasalah kelam. Nyaris denyut per-denyut kisah dalam kedua film ini mirip. Anak pintar yang menjadi violent. Bermasalah di sekolah. Menyakiti binatang. Dipanggil untuk konseling. Mengancam konselornya. Lebih banyak orang menderita. Ibu yang akhirnya mengambil tindakan. Bahkan endingnya memberikan kesan yang serupa, dan sama-sama menantang kita untuk minta sekuel. Dua film ini seperti dipotong dari kain yang sama. Hanya beda latar tokohnya. Dalam Brightburn, si anak beneran seorang monster, dan orangtuanya adalah orangtua angkat. Latar yang sebenarnya lebih dari cukup untuk menghasilkan cerita dengan perbedaan masalah yang mendasar. Namun film ini tidak tampak benar-benar tertarik untuk menggali lebih dalam. Mereka hanya bermain di permukaan. Persoalan anak angkat itu tak pernah menjadi prioritas. Film hanya ingin mewujudkan imajinasi mengerikan seperti apa ketika seorang superman cilik menjadi monster super pembunuh.

Ketika The Prodigy mengandalkan lebih banyak kepada penampilan akting untuk menghadirkan keseraman yang bergaung merasuk ke dalam diri kita, sutradara David Yarovesky lebih memilih untuk bergantung berat kepada editing dan efek visual untuk menciptakan sosok monster bertopeng dalam Brightburn. Musik dalam film ini bisa menjadi sangat keras karena ia adalah gabungan dari jumpscare dan ledakan-ledakan aksi. Pemilihan musik ini membuat kita berada dalam situasi yang sulit; karena kita butuh adegan aksi untuk bersuara menggelegar, tapinya film ini menggabungkan aksi tersebut dengan horor, dan kita gak pernah suka horor yang suaranya bikin jantung copot. The Prodigy menggunakan teknik dramatic irony – membuat kita tahu lebih banyak daripada ibu dalam cerita tersebut – sehingga kita semakin peduli sebab kita mengerti betul sejauh apa usaha yang ia lakukan untuk melindungi anaknya, kita bersimpati meski kita tahu yang ia lakukan tidak bisa dibilang benar. Sedangkan Brightburn bercerita dengan lempeng. Penuh oleh trope dan klise dari elemen ‘evil kid’. Tori ditulis sebagai karakter dengan satu kebohongan yang ia percaya; bahwa Brandon adalah anaknya, bahwa Brandon adalah anak yang baik, hanya saja ‘cela’ tokohnya ini tidak pernah mengundang rasa simpati kita. Malah jatohnya annoying. Karena kita melihat Tori sebenarnya sudah tahu, dan film tidak membuat hal menarik untuk menunjukkan dia membohongi diri sendiri, dia tidak pernah tampak seperti melindungi, lebih seperti keras kepala.

Film ini gagal untuk mengangkat moral yang berusaha mereka selipkan ke dalam imajinasi liar premis ceritanya. Bukannya menjadi anti-hero, film ini malah jadi seperti anti-keluarga. Yang mengatakan bahwa kita tidak akan pernah bisa mengendalikan orang yang bukan darah daging kita, kita tidak akan mengerti mereka, karena kita dan mereka begitu berbeda. Kita tidak bisa terus membohongi diri karena cepat atau lambat kenyataan akan menghantam dengan keras. Kemudian meledakkan kita.

 

Tidak sanggup membuat simpati jatuh ke Tori, maka setelah midpoint film memindahkan fokus cerita kepada Brandon yang sudah tidak bisa mundur lagi menjadi dirinya yang dulu. Tapi kita pun akan susah sekali untuk bersimpati kepada tokoh ini. Kita tidak bisa merasa kasihan kepadanya. Karena film membuat tokoh ini murni jahat. Dia bahkan bukan anti-hero. Brandon tidak ditulis seperti Bezita yang membunuh banyak orang untuk memancing Goku bertarung supaya dia bisa menjadi lebih kuat lagi karena dia percaya hanya dia yang Pangeran Saiya-lah yang dapat mengalahkan Manusia Iblis Buu dan menyelamatkan Bumi. Brandon tidak ditulis seperti Carrie yang mengamuk menghabisi teman-teman sekelasnya karena dia sudah dibully dan dipermalukan di depan mereka semua. Brandon cuma diledek, apakah itu berarti dia pantas untuk balas dendam? tentu tidak. Satu-satunya usaha film untuk membuat Brandon tampak simpatik adalah dengan membuat dia seperti lupa-diri ketika melakukan hal mengerikan, seolah ada yang mempengaruhinya, seolah ada dua jiwa di dalam sana – kayak The Prodigy. Namun tentu saja elemen tersebut seperti dijejelin masuk gitu aja karena gak make sense kenapa bisa ada dua. Kenapa gak ditulis dia amnesia aja sekalian, bikin dia berjuang melawan siapa dirinya yang sebenarnya. Buat perjuangan dalam diri Brandon, antara dia yang baik karena dibesarkan penuh kasih sayang dengan dirinya yang asli – seorang monster superpower. Sayangnya film ini tidak seperti itu. Ketika Brandon melakukan hal sadis, ya hanya sadis. Jahat. Tidak ada layer dari tingkah lakunya. He’s one dimensional jahat ketika sudah total menjadi monster. Alasan dia menjadi seperti demikian tidak ditulis simpatik.

Film benar-benar tidak mengerti bahwa mereka perlu untuk membuat kedua tokoh ini tampil simpatik. Untuk membuat hubungan antara Tori dan Brandon bekerja, dinamika mereka harus dirancang oleh film. Mereka harus dibentrokkan. Tetapi dua tokoh tersebut berjalan sendiri-sendiri. Jadi, tidak ada yang bisa kita dukung di antara dua tokoh sentral; Tori dan Brandon. If anything, aku lebih simpatik sama suami Tori, tapi pun tokoh ini tidak benar-benar punya arc. Tokoh-tokoh yang lain hanya ada di sana untuk menambah jumlah korban dan/atau melakukan hal-hal simpel nan bego karena naskah menyuruh mereka untuk berbuat demikian. I mean, guru BP (BP atau BK sih, aku gak tau bedanya ahaha) mana yang ngasih ponakannya senjata api sebagai hadiah ulangtahun? Mana ada orang dewasa yang ngasih anak-anak pistol.

well, kecuali saat lebaran.

 

Akan ada satu-dua yang bikin kita menggelinjang menonton film ini, terutama jika kita penggemar horor sadis. Premis ceritanya sendiri memang menarik. Film pun sepertinya sangat aware dengan premis tersebut, dan gak malu-malu dia memasukkan banyak hal yang bisa mengingatkan kita kepada Superman. Paduan horor dan aksi sebenarnya bukan pertama ini dilakukan, jadi film ini dituntut untuk punya gaya. Secara visual sih, dia memang cukup bergaya. Suara keras dan efek yang cukup mengerikan – meski adegan terbang keluar masuk rumah di babak akhir itu malah lebih mirip adegan film kartun. Namun secara penceritaan, film ini tampil biasa saja. Ceritanya maju begitu saja, dengan pengembangan ala kadar penuh oleh trope dan klise. Masing-masing tokohnya tidak mendapat keadilan dari segi penulisan. Tidak ada satupun yang mengundang simpati. Dan membuat kita duduk menyaksikan perjalanan tanpa ada yang bisa didukung; what a monster move!
The Palace of Wisdom gives 4 gold stars out of 10 for BRIGHTBURN.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Andai-andai mengerikan seperti apa yang pernah terpikirkan oleh kalian? Dan bagaimana kira-kira kalian menjawab andai-andai tersebut?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

 

 

EXTREMELY WICKED, SHOCKINGLY EVIL AND VILE Review

“She saw beauty in the darkness.”

 

 

 

Demi memperingati 30 tahun kematian Ted Bundy yang mengaku sudah membunuh tiga-puluh wanita muda, Netflix bukan saja merilis dokumenter 4 bagian – Conversations with a Killer: The Ted Bundy Tapes – yang berisi rekaman percakapan jurnalis dengan Ted Bundy menjelang hukuman mati, tetapi sekaligus juga membuat film biografi tentang si pembunuh berantai dengan memajang wajah tampan Zac Efron sebagai poin vokal promonya. Mendadak, Ted Bundy diperbincangkan lagi di mana-mana. Teror yang kita lihat dalam dokumenter tadi, seperti berulang di tahun 2019 ini. Orang-orang ketakutan, oleh betapa mungkinnya ketampanan wajah bisa mengalihkan dari perbuatan yang mengerikan.

Meskipun film adalah sebuah karya seni, dan seni yang bagus adalah seni yang memancing banyak interpretasi, akan selalu ada pihak-pihak yang menyuruh seni dibuat sejelas mungkin. Kalo perlu, maknanya langsung ditulis saja di poster supaya penonton gak usah capek-capek mikir. Seperti Kucumbu Tubuh Indahku (2018) yang diprotes karena orang-orang khawatir filmnya mempromosikan LGBT, atau Dua Garis Biru (2019, TBA) yang baru teasernya aja sudah dipetisi lantaran si pemrotes tidak bisa melihat bahwa film sebenarnya mengandung pembelajaran yang berupa larangan. Extremely Wicked (disingkat sampe di sini aja ya, karena judulnya panjang banget) garapan Joe Berlinger juga mendapat banyak kecaman. Meromantisasi seorang pembunuh. Filmnya bisa membuat orang bersimpati kepada kriminal. Tapi memang itulah yang diincar oleh film ini. Supaya kita merasakan kengerian ketika kita melihat seorang pembunuh yang tidak ada bedanya dengan manusia normal. Bahkan mungkin kita terpesona olehnya. Film ingin membuat kita mengerti kenapa kriminal seperti Ted bisa begitu lama berkelit dari jeratan hukum.

Film ingin kita tahu bahwa setan yang paling mengerikan adalah setan yang berjalan bersama kita, di antara para manusia. Dan bagaimana susah sekali untuk membuktikan sesuatu ketika kita begitu gampang terpana oleh hal yang tampak indah di luar.

banyak gadis muda yang terpikat sama pembunuh

 

 

Makanya, film ini terasa bekerja sangat baik ketika memperlihatkan cerita dari sudut pandang Elizabeth yang diperankan oleh Lily Collins. Liz, kalo dipanggil begini dia pasti nengok, adalah seorang single-mother yang bekerja sebagai sekretaris demi menafkahi anaknya yang masih kecil. Di adegan awal kita melihat Liz duduk di dalam sebuah bar, curhat kepada sahabatnya soal insecure yang ia rasakan. Gimana dia merasa bagaimana dia bisa memberikan yang terbaik kepada putrinya. She might need a man, tapi pria mana yang mau bersama janda beranak satu? Inilah sevulnerable-nya manusia yang digambarkan oleh film. Bagi mata kita yang sudah tahu ini adalah ‘reka ulang’ kejadian seorang pembunuh berantai bertemu cewek di bar, menonton Ted Bundy melirik-lirik ke Liz di adegan pembuka ini sudah seperti adegan di National Geographic ketika seekor buaya mengintip kijang yang sedang minum di pinggir danau. Tapi yang film inginkan adalah supaya kita melihat dari sisi Liz, yang gak tau siapa pria asing berwajah tampan yang mengajaknya kenalan. Bagi Liz, it was unclear siapa yang ‘menjebak’ siapa. Jadi dia membawa Ted ke rumah. Dan keinsecure-an Liz sirna keesokan paginya. Ketika dia menemukan Ted di dapur, membuatkan sarapan, bersama putri kecilnya.

Yang ditekankan adalah seketika itu juga, Ted menjadi pria yang sempurna, yang dicari oleh Liz. Hubungan asmara mereka bersemi. Tapi bagi Liz, ada satu perasaan lagi yang diam-diam berkembang. Ketakutan yang baru. Kenapa wajah Ted mirip sekali dengan sketsa pelaku penculikan dan pembunuhan wanita muda yang disebar oleh polisi. Kita lantas melihat betapa galau Liz ketika Ted ditangkap polisi. Liz merasa dirinya bersalah, dia merasa gara-gara dirinyalah pria sempurna tadi itu jadi tahanan. Bukan hanya Liz, kita juga kemudian diperkenalkan kepada wanita berkacamata bernama Carole Anne Boone (Kaya Scodelario kayanya kecakepan sih meranin tokoh ini haha), yang selalu hadir di setiap persidangan Ted, yang percaya Ted tidak melakukan semua tindak kriminal keji terhadap cewek-cewek seperti yang dituduhkan, bahkan pada satu titik, Carole Anne bersedia menikah dengan Ted di penjara.

Film tak melewatkan kesempatan untuk memperlihatkan fakta bahwa persidangan Ted udah kayak acara pensi di sekolahan; dipenuhi oleh cewek-cewek kece. Di mata mereka, Ted jauh sekali dari gambaran seorang psikopat. Atau jikapun mereka percaya Ted beneran pelaku, cewek-cewek ini berlomba untuk jadi orang pertama yang ‘memperbaiki’ Ted. I mean, I totally could see Milea dari Dilan 1991 (2019) sudah pasti akan ada di sana, menonton persidangan Ted dan ikut tertawa terkikik ketika Ted menampilkan senyum mautnya. Yang terjadi – yang dirasakan – oleh Liz, dan Carole Anne, dan para ‘Bundy Groupie’ sebenarnya adalah versi ekstrim dari yang dirasakan Milea kepada di Dilan di Dilan 1991. Bahwa wanita – khususnya wanita muda – seringkali merasa bertanggungjawab untuk memberikan kasih sayang terhadap pria yang, katakanlah, tidak baik.

Dan ironisnya, media-media seperti film ini sendirilah yang menciptakan mindset seperti demikian. Standar perilaku tokoh-tokoh cowok dalam film atau cerita fantasi romantis yang tokoh utamanya cewek memang kebanyakan mengkhawatirkan. Karena cerita romansa juga butuh konflik dramatis, yang sumur paling suburnya itu ya soal cewek baik-baik terhalang oleh sifat kelam pasangannya. Vampir yang menonton gadis kecengannya tidur. Anak geng motor yang hobi berantem. Joker dan Harley Quinn. Fifty Shades of Grey. Ketika dibalik, dalam cerita romantis yang tokoh utamanya cowok, juga sama.

Cewek akan melihat diri mereka sebagai motivasi dari si cowok bad-boy untuk berubah dan menjadi pahlawan. Trope drama romantis tersebut bahkan sudah ada sejak abad ke-18, sejak genre romance pertama kali tercipta, berbarengan dengan konsep ‘menikah karena cinta’ mulai dikenal dan wanita mulai mencari tahu apa yang mereka inginkan dari sebuah pernikahan.

Inilah kenapa walaupun kuis trivia di internet bilang iya, tapi aku tetap tidak mungkin seorang psikopat

 

 

Ketika sebagai film, Extremely Wicked sebenarnya tidak melakukan sesuatu yang baru, toh film ini tetap saja bisa menjadi sesuatu yang spesial lantaran dia berasal dari kisah nyata. Dunia pernah beneran tidak yakin untuk menghukum tersangka, karena dia tampan dan tampak simpatik. Film ini punya kekuatan untuk menjadi teguran – sekaligus juga peringatan – untuk kita semua, yang untuk mencapai kekuatan level seperti demikian, film harus benar-benar komit meletakkan kita di sudut pandang Liz, atau wanita yang merasa mengenal si tersangka secara langsung. Bahkan dengan membuat Liz menyimpan rahasia dari kita pun, maksud dan gagasan tersebut akan bisa tercapai, asalkan sudut pandangnya tidak berubah. Sayangnya, Zac Efron mungkin terlalu mempesona sebagai Ted Bundy, sehingga kamera berpindah dan sebagian besar waktu kita justru melihat dari sudut pandang Ted.

Film cukup bijak dengan tidak memperlihatkan apa yang Ted Bundy ‘lakukan’, you know, kita tidak akan melihat adegan pembunuhan sadis. There’s only one, in fact. Kita tidak melihat backstory Ted, yang – walaupun mungkin saja menggunakan teknik bercerita dramatic irony (penonton tahu lebih banyak dari tokoh utama) akan menghasilan efek emosional yang lebih kuat –actually bekerja in favor of memposisikan kita sebagai orang yang harus membuat keputusan Ted bersalah atau tidak, seperti Liz. Hanya saja, keputusan sutradara Joe Berlinger untuk membawa kita melihat persidangan Ted, membawa kita melihat pemuda ini berusaha menelfon Liz, menunjukkan usahanya untuk membuktikan dirinya tidak bersalah; the whole time watching that, untuk kemudian diberitahu apa yang terjadi sebenarnya di akhir cerita – tidak mendaratkan cerita ini di tempat yang spesial. Bagi penonton yang sama sekali tidak pernah mendengar kasus Ted Bundy sebelum nonton, film ini hanya akan terasa seperti cerita ngetwist yang twistnya tersebut enggak dibuild up dengan matang. Seperti 80% menyaksikan dan dibuat untuk percaya kepada A, untuk kemudian diberitahu bahwa sebenarnya itu adalah B.

Film seperti kesulitan untuk menggali sudut pandang Liz, sehingga meninggalkan tokoh ini sementara di tengah-tengah, dan fokus kepada Ted Bundy. Dan ketika film melakukan hal tersebut, cerita tidak lagi punya kekuatan untuk mengomentari perihal pertanyaan yang mereka jadikan alasan pembuatan film ini in the first place. Melainkan hanya menjadi sebuah cerita penipuan yang berusaha keras untuk membuat Ted tampak tak bersalah – padahal mestinya dibuat ambigu, karena di awal kita adalah Liz. The worst crime yang dilakukan film ini menurutku adalah ketika mereka malah membuat Ted kabur dari penjara karena telfonnya tidak diangkat-angkat oleh Liz; kita melihat ini dari sudut pandang Ted, seolah memang begitulah kenyataannya. Alih-alih membuat kita merasakan Liz merasa bersalah dengan cara yang alami – yang sesuai struktur penceritaan, film malah mengambil cara mudah dengan memindahkan sudut pandang utama, messing up with the structure, dan membuat ‘fakta’ baru yang harus kita telan. Singkatnya; kita akhirnya dipaksa untuk percaya pada Ted karena dia tampan dan tampak innocent.

 

 

 

Film yang judulnya diambil dari perkataan juri saat memvonis Ted Bundy ini tidak sanggup memenuhi janjinya untuk menggali sisi baru. Seharusnya cerita tetap pada sudut pandang Liz, atau para wanita. Dengan memindahkan kepada Ted yang sengaja ditampilkan innocent, kita sengaja tidak diperlihatkan apa yang ia lakukan – siapa sebenarnya dirinya – nyatanya film hanya sanggup untuk menciptakan sisi baru. Yang oleh penonton yang sudah tahu kasus asli Ted Bundy, yang mungkin sudah nonton dokumenternya, sisi baru tersebut akan terasa pointless. Kecuali mungkin memang untuk menyalahkan  tokoh Liz. Dan bagi penonton yang belum tahu kasus Ted Bundy sama sekali, film ini hanya akan terasa mengecoh karena memberikan twist tanpa build up. Menurutku film ini mengecewakan; dia punya banyak penampilan yang luar biasa meyakinkan, namun cerita yang dihadirkan gagal untuk menjadi spesial.
The Palace of Wisdom gives 5 gold stars out of 10 for EXTREMELY WICKED, SHOCKINGLY EVIL AND VILE.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Ini sudah seperti ayam atau telur. Apakah karena cewek-cewek memang sukanya ama bad boy maka film dan media cerita lainnya menulis cowok sebagai makhluk bermasalah – atau karena media duluan yang meromantisasi keberandalanlah makanya cewek-cewek jadi suka ama bad boy? Yang mana pilihan kalian?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

[Reader’s Neatpick] – THE PRODIGY (2019) Review

“..yang saya tidak sukai adalah film yang horornya dikarenakan ada unsur gaib. Film ini? Daaaamn brooo..!!! asyuuuu~~~”Ida Bagus Arindra Dirasthya, atau biasa dipanggil Garonk.

 


Sutradara: Nicholas McCarthy
Penulis Naskah: Jeff Buhler
Durasi: 1jam 32menit

 

Sarah dan suami tercinta dikaruniai seorang anak yang heterochromia. Tenang, itu bukan nama penyakit. Melainkan istilah untuk orang yang bola mata kiri dan kanannya berbeda warna. Keistimewaan Miles, begitulah Sarah menamai anaknya, ternyata tidak berhenti sampai di sana. Miles yang masih kecil menunjukkan kepintaran yang bermil-mil jauh lebih maju dari ukuran anak-anak sebayanya. Saking pinternya, Miles ini ngingaunya pun pake bahasa asing! Enggak perlu waktu lama untuk naluri keibuan Sarah mendeteksi ada yang enggak beres pada diri Miles, yang kadang tampak totally seperti orang yang berbeda. Memang semengerikan dan misterius beginikah perilaku seorang anak jenius, atau jangan-jangan nilai dan prestasi Miles tersebut ternyata didongkrak oleh suatu wujud supernatural?

“Maka, The Prodigy menjelma menjadi horor yang lumayan spesial. Sampai-sampai sahabatku yang satu ini, Garonk yang sedari jaman kuliah sudah dikenal sebagai orang yang anti banget nonton horor, ternyata nonton filmnya. Bahkan nonton lebih duluan daripada aku! So that makes this review kinda special too. Karena kita akan membahas film horor dari sudut pandang penonton yang gak suka film horor.”

“Saya bukannya tidak menyukai film horor. Yang saya tidak sukai adalah film yang horornya dikarenakan ada unsur gaib. Semisalnya karena hantu. Karena saya ga suka hal yang tidak bisa ditelaah lebih jauh. Tapi tidak berlaku untuk jenis science fiction yaah, karena walau kita tau itu fiksi, tapi masih dekat (nyerempet) dan bisa ditelaah lebih jauh juga dekat sama penjelasan ilmiah. Berbeda sama tipe hantu, saya mau mikirin lebih malah jauh ga nyampe dan jadi ga masuk akal, mau nyari sebab-akibat dan alasan-alasannya sepertinya tidak sampai di kepala.”

“Jadi lebih karena alasan gak ilmiah, gak keilmuan, ya”

“Alasan lainnya takut juga sih hahaha.. Itulah makanya sebelum saya tonton, sudah jadi kebiasaan saya untuk bertanya dahulu. Atau membaca preview film apakah ini horor karena hantu atau lainnya. Saya tidak anti sama spoiler.. hehehe, karena tahu info film yang akan ditonton itu seperti kita sudah siap dan tidak kaget untuk menjalani ujian ;p Setelah tahu infonya, tanya lagi menurut individu apakah worth untuk ditonton, karena kalo dari preview itu kan dia sifatnya persuasif.”

“Sebenarnya semua horor – yang bagus loh ya, bukan yang dibuat ngejar setoran – bermain di ranah keilmiahan, Ronk. Tepatnya tuh di psikologis manusia. Tentang bagaimana reaksi dan kondisi emosi seseorang ketika berhadapan dengan kehilangan, misalnya. Tren horor barat sekarang berpusat di kejiwaan seorang ibu. The Babadook (2014) yang tentang single-mom yang diserang kecemasan menempuh hidup dan duka pada saat yang bersamaan. Hereditary (2018) bicarakan kegelisahan seorang mama yang merasa tidak mampu mengendalikan, memberikan yang terbaik untuk keluarganya, karena dia sendiri punya masa lalu kelam dari keluarganya. Bird box (2018), A Quiet Place (2018)dua-duanya soal ibu yang mengambil alih posisi kepala keluarga. Berbeda sekali dengan horor lokal yang malah menjadikan ibu sebagai sosok hantu, horor barat menggali insting maternal yang begitu manusiawi. The Prodigy ini, kan, juga begitu. Tema besarnya adalah ketakutan orangtua, khususnya ibu, akan anak mereka yang berbeda dengan anak-anak normal.” 

“Mengerikan… menegangkan sih lebih tepatnya. Sepertinya saya sendiri juga jika punya anak yang jenius; awal-awal tentu saja senang. Tapi itu juga selama jenius masih dalam tahap wajar di usianya. Kalo terlalu jenius banget mungkin saja saya juga takut. Orangtua takut bisa saja karena nantinya sang anak akan sulit beradaptasi di lingkungan di masa mendatang, dia akan jadi anti sosial. Juga acuh sama lingkungan. Jika dia jenius masih dalam tahap yang wajar sesuai umurnya, tentu saya juga akan perlakukan anak saya secara berbeda menyesuaikan dengan kecerdasannya sehingga dia bisa lebih terarah. Peran orang tua seperti biasa, mengarahkan.”

“Sutradara McCarthy setuju tuh, Ronk. Makanya film benar-benar ia arahkan untuk fokus di reaksi horor Sarah akan perilaku Miles. Film ini enggak kemana-mana dulu, dia langsung ngasih tahu kita bahwa si anak itu memang ‘bermasalah’. Horor-horor lain mungkin akan menguatkan misteri, membuat kita ikutan menebak bareng Sarah sebenarnya anaknya kenapa. Tapi pada film ini, kita dari awal sudah tahu lebih dulu daripada Sarah. Teknik inilah yang disebut sebagai DRAMATIC IRONY. Dengan membuat kita tahu lebih banyak daripada tokoh utama, film ingin kita menilai aksi-aksi yang diambil oleh sarah. Mendramatisasi sejauh apa yang akan dilakukan oleh orangtua untuk mengusahakan yang terbaik kepada anaknya. Supaya waktu kita tidak habis untuk mempertanyakan anaknya baik atau jahat. Agar kita langsung melihat poin bahwa sesuatu yang luar biasa jahat, masihlah sebuah anak bagi seorang ibu. Dramatisnya jadi benar-benar kerasa saat Sarah memutuskan untuk membunuh seorang wanita yang merupakan satu-satunya korban yang selamat dari pembunuh-berantai yang merasuki tubuh Miles.”

“Benar juga. Semua orangtua tidak ada yang tidak mencintai anaknya. Saya rasa sih tindakan sarah, memastikan si anak tidak ada flaw di masa kecilnya, jadi lebih baik si ibu saja yang berkorban daripada anaknya yang akan dicap sebagai pembunuh. Lebih baik dia sendiri yang menjadi pembunuh. Sarah ingin berusaha menjadi orangtua yang baik, tapi keadaannya yang membuat tindakan yang perlu dilakukan menjadi sedikit melenceng dari orangtua seharusnya.”

“Paling enggak, Sarah adalah orangtua yang lebih baik daripada suaminya. Sarah lebih mikirin anak, sedangkan si suami lebih fokus untuk membuat diri tidak lebih buruk dari ayahnya ya hahaha”

“Namun saya ga tau apakah pada akhirnya ini menjadi ending yang baik. Ga bisa menilai, tapi menurut saya sih karena rasa cinta yang besar pada anak dan keinginan agar si pembunuh tidak memanfaatkan badan anaknya, hanya saja waktunya tidak tepat. Poor Sarah.”

“Nah, kalo soal ending, menurutku jadi kurang memuaskan. Karena kita udah dibangun untuk percaya Sarah akan melakukan apa saja untuk anaknya, jadi masuk akalnya buatku adalah Sarah harus melakukan ‘banting-stir’ yang ekstrim dalam mewujudkan hal tersebut. Aku lebih suka kalo film berakhir dengan Sarah membunuh Miles. Akan lebih dark juga, tidak ada hal yang lebih kelam di dunia selain orangtua yang harus terpaksa membunuh buah hatinya sendiri. Aku percaya film ini mengerti akan hal itu, tapi sepertinya studionya agak takut, jadi kita gak jadi dapat ending itu. Malah diganti sama adegan yang menurutku kebetulan semata, mengurangi intensitas yang sudah dibangun film, meski lebih gak-dark. Mungkin juga produser mengincar kemungkinan sekuel. Tapi aku pikir film ini akan bisa jadi lebih keren kalo endingnya gak seperti yang kita tonton.”

“Daaaamn brooo..!!! asyuuuu~~~ Kalo saya sih, yang paling berkesan adalah Miles. Adegan dimana Miles asli (jiwa sang anak) berusaha melawan untuk tidak diambil alih dan sempat memberikan clue pada si doktor. Juga saat jiwa si pembunuh sudah punya rencana yang matang dan langsung menyatakan rencana briliannya agar si doktor mengatakan bahwa regresi yang dilakukan tidak berhasil.” 

“Setuju, adegan doktor ama Miles itu keren tuh! Akting pemainnya mantep-mantep. Colm Feore yang jadi doktor berhasil meyakinkan tanpa overakting kayak tokoh-tokoh penegah yang biasa. Takutnya ketika diancem itu natural. Taylor Schilling yang jadi Sarah juga dapetlah emosi dramatisnya. Yang jadi Miles, si Jackson Robert Scott, jago juga mainin dua jiwa.”

“Yang paling menarik tentu saja Miles dengan dua jiwa donk.”

“Dua jiwa, mata yang berbeda warna, adegan setengah wajah Miles dalam kostum halloween. Film ini kental sama unsur dualisme; Spiritual dan sains. Innocent dan guilty. Kematian dan kehidupan. Film menghubungkan semua itu dengan konsep reinkarnasi.” 

“Konsep reinkarnasi sudah tampak sedari adegan pertama, adalah di mana momen kematian dan kelahiran memiliki timing yang bersamaan (slightly), sehingga soul atau jiwa yang berpindah tidak dalam masa tunggu tapi langsung punarbawa atau tumimbal. Alias jiwa turun langsung kembali kedunia pada badan kasar yang baru dilahirkan. Konsepnya sudah dilakukan film dengan benar, menurut kepercayaan agama saya. Saya di sini mungkin tidak akan mengutip dari mantra (ayat) di kitab suci, tapi saya jelaskan dengan bahasa saya saja (kalau curious dan mau detail bisa di cari sendiri, atau tanya ke orang dengan kapasitasnya ya hehehe saya cuma bisa kasi penjelasan dasar saja)”

Kelahiran kembali / Reinkarnasi / Punarbawa / Punarbhava (seperti itu kita menyebutnya) merupakan salah satu dari lima dasar keyakinan hindu yang kita percaya (Panca Sradha), mungkin seperti Rukun Iman buat saudara-saudara Muslim seingat saya (tolong dikoreksi, karena saya tidak selalu hadir di pelajaran agama Islam waktu sekolah dulu). Jadi kelahiran kembali ini dikarenakan atma (jiwa) masih membawa karma dari perbuatan (baik/buruk) yang telah dilakukan pada masa lampau. Dan untuk melepas dari reinkarnasi dan mencapai moksa (kebebasan dari ikatan duniawi), dalam kehidupannya seseorang perlu melakukan perbuatan baik, meningkatkan pengendalian diri & spiritual dan melepas dari keinginan keduniawian, sehingga ia terbebas dan kembali kepada pencipta yang menjadi kebahagiaan tertinggi.

 

“Waaah, kalo begitu film ini risetnya cukup detil juga ya sepertinya. Kejadiannya lumayan mendekati kebenaran pada konsep Agama Hindu di dunia nyata. Jangan-jangan footage tentang kasus anak kecil yang punya ingatan di kehidupannya yang dahulu sebagai seorang pilot yang ada di film itu contoh reinkarnasi beneran kali ya.” 

“Saya tidak mengetahui dengan pasti tapi yang saya pernah dengar info bahwa ada seorang anak yang (sepertinya) memiliki ingatan saat kehidupannya yang terdahulu. Dia bisa tahu tempat tinggal bahkan mengingat kerabat dan keluarganya. Saya tidak tahu bagaimana dia punya kenangan dari masa sebelumnya, tapi jika benar; Ya, ini bisa jadi contoh dari reinkarnasi.”

“Menarik sekali. Prodigy ini ternyata memang cukup solid. Trope evil kid yang dimiliki ceritanya bisa membungkus dengan rapi tema tentang ketakutan orangtua, juga ada elemen reinkarnasi yang terkonsep dengan benar sebagai panggung cerita. Kalo mereka berani dari awal sampai akhir, aku akan ngasih lebih tinggi, tapi pilihan ending film ini buatku cukup signifikan ‘mengurangi’ penceritaan secara keseluruhan.”

“Ahaha. Oke kok filmnya. Saya ngasih 7.5 dari 10 kali ya.”

“Aku ngasih 6/10 aja deh. Semoga ke depan ada ‘reinkarnasi’ cerita ini yang lebih berani hhahaha”

 

 

 

That’s all we have for now.
Terima kasih buat Ida Bagus Arindra Dirasthya alias Garonk (twitter @gus_arind) udah mau berpartisipasi bahas film ini, membuka mata sekali tentang konsep reinkarnasi. Aku rekomen banget loh film-film yang aku sebut di atas. Siapa tahu dirimu yang tadinya gak suka hantu-hantuan secara umum malah bisa jadi penelaah film horor.

Bagaimana jika kalian nantinya punya anak yang jenius seperti Miles, apakah kalian akan takut? Apakah kalian akan memperlakukannya secara spesial?

 

Buat yang punya film yang benar-benar ingin dibicarakan, silahkan sampaikan saja di komen, usulan film yang menarik nanti akan aku hubungi untuk segmen Readers’ NeatPick selanjutnyaa~

Buat yang pengen dengar lebih banyak soal film dan krisis ilmu pengetahuan, bisa simak video Oblounge featuring aktor senior Slamet Rahardjo ini yaa:

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.