ARMY OF THIEVES Review

“Do it for the sake of love”

 

 

I blame Marvel. Karena telah membuat jagat-sinematik tampak sebagai taktik jitu supaya laku, dan juga membuatnya tampak mudah. Aku menyalahkan Marvel, karena telah menginisiasi cinematic universe, yang membuat banyak pedagang film lain meniru. Walaupun mereka sebenarnya gak benar-benar punya brand atau produk untuk dibuatin universenya. Marvel tidak berangkat dari nol, melainkan dari komik yang telah bertahun-tahun jadi ikonik. Orang-orang tahu dan kenal tokoh-tokoh ceritanya. Namun lihatlah para peniru, banyak sekarang bermunculan film-film yang dipaksakan ada sebagai sebuah universe. Bahkan film drama aja ada – drama yang gak berasal dari apapun sebelumnya (kecuali mungkin satu buku nostalgia tanpa narasi); satu film berkembang jadi satu film baru yang mengangkat karakter minor, dan kemudian film baru muncul lagi dari karakter yang tak-kalah nobody nya di film tersebut.

Oh, kalian mau contoh yang disebutin judulnya? Army of Thieves. Ya, film yang hendak kita ulas kali ini, merupakan bagian berikutnya dari rancangan universe zombie karya Zack Snyder. Except, film ini bukanlah film tentang zombie. Melainkan film tentang heist atau perampokan bank. Dan yang jadi pengikat antara film ini dengan Army of the Dead (2021) – film pertamanya – adalah seorang karakter yang aku sejujurnya kaget sekali dan tak-percaya bahwa dia begitu difavoritin sehingga banyak yang minta film solonya.

Thieves-Army-of-Thieves
Emang ada yang kecuri hatinya sama si Ludwig?

 

Mengambil setting enam tahun sebelum peristiwa film Army of the Dead. Dari tayangan televisi dalam cerita kali ini, kita melihat zombie outbreak barulah mulai di Las Vegas. Di Eropa, tempat cerita ini bermula, ada masalah yang lebih urgen harus dihadapi oleh kepolisian. Masalah tersebut yaitu rangkaian perampokan bank. Ketika agen interpol masih menyusun teori (dan pemimpin mereka punya tebakan bagus, dan eventually bakal jadi semacam antagonis bagi geng karakter utama), kita sudah dibawa mengenal lima orang di balik perampokan tersebut. Tepatnya empat orang perampok internasional, dan Sebastian, cowok kikuk penggemar brankas. Sebastian diajak oleh kawanan perampok yang dipimpin oleh cewek keren bernama Gwendoline, berkat kemampuan dan pengetahuannya mengenai legenda empat brankas yang terkenal paling rumit dan susah untuk dipecahkan kuncinya. Itulah yang coba dibobol oleh mereka. Bagi Sebastian, yang selama ini hidup datar dan membosankan, tentu saja tawaran itu tak bisa ditolak. Kapan lagi dia bisa mengasah kemampuan dan berinteraksi langsung dengan legenda. (Plus si Gwendoline itu kece banget Sebastian jadi naksir)

Jadi, mari beralih dulu ke kru perampok dan aksi heist itu sendiri.

Genre heist sendiri sebenarnya sudah mulai jenuh. Serial animasi Rick and Morty bahkan sudah menelanjangi genre ini hingga ke trope dan klise-klisenya di episode 3 season 4 akhir tahun 2019 lalu. Army of Thieves, untungnya, tahu untuk tidak terjebak ke dalam klise-klise tersebut. Film ini gak mau jadi parodi dari genre ini. Maka mereka berusaha merancang formula heist yang berbeda, atau paling enggak bermain-main dengan trope yang telah ada. Misalnya, film ini gak pake sekuen ngumpulin anggota geng yang tersebar dan meminta mereka kembali ikut beraksi (lucunya, sekuen ini justru adanya di Army of the Dead – yang ternyata adalah film heist dan zombie sekaligus). Sekuen itu biasanya difungsikan untuk menyoroti masing-masing karakter anggota/kru, memberikan mereka spotlight untuk menceritakan backstory dan motivasi. Alih-alih pake sekuen itu, Army of Thieves mencapai tujuan menceritakan backstory dan memperkenalkan karakter lewat actual flashback – flashback origin para karakter.

Film ini juga gak pake twist demi twist yang menunjukkan pengkhianatan demi pengkhianatan seperti yang biasa ada dalam genre heist. Cekcok antaranggota memang tetap ada, tapi diceritakan lebih frontal. Dimasukkan ke dalam elemen cinta segitiga antara Sebastian, Gwendoline, dan Brad Cage. Lalu, biasanya film heist juga punya sekuen montase saat karakter menjabarkan rencana perampokan kepada kru. Dalam Army of Thieves, sekuen seperti itu ada, akan tetapi dilakukan dalam bentuk komedi yang seperti ngebecandain trope itu sendiri. Nah pasti kebayang, bahwa film ini memanfaatkan beragam teknik editing untuk mendukung penceritaan. Dan berhasil. Karenanya, porsi heist dan aksi film ini memang lebih menarik. Ada angin segar-lah, seenggaknya.

Editing cut-to-cut yang cepat juga digunakan film ini untuk menyamarkan masalah pacing yang timbul dari setup karakter yang datar, terlebih karena memang film ini punya karakter-karakter yang enggak baru. Gwendoline, Brad Cage, Rolph, dan Korina memang keren, tapi mereka sendiri sebenarnya masuk ke dalam trope karakterisasi yang lumrah, atau sudah ada sebelumnya. Pemimpin yang cinta mati ama film action dan Amerika. Cewek hacker yang glamor. Pengemudi yang hobi makan. Kriminal yang menganggap geng mereka keluarga. Bahkan aksi membuka brankas juga bukanlah aksi yang benar-benar fresh. Film ini justru banyak mencuri dari film lain, dan sudah sepatutnya mereka melakukan sesuatu supaya kita tetap excited menontonnya. Melihat dari usaha-usaha yang disebut di atas, sebenarnya film ini masih punya kesempatan. Kalo saja dirinya ini bukan hadir demi eksistensi satu orang.

thievesarmy-of-thieves-trailer
Kalo Korina sih, silakan deh mencuri hatiku

 

Serius. Aku gak dapet di mana appeal atau daya tarik karakter Sebastian. Bagiku dia mirip seperti Newt Scamander (lakon dalam Fantastic Beast – another karakter yang dipaksain jadi jagat-sinematik), tapi versi kikuk yang annoying. Di Army of the Dead, Sebastian hadir sebagai pembuka brankas (yang actually adalah brankas legendaris terakhir), dia dijadikan comedic-relief dengan tingkahnya yang suka teriak-teriak, dan jadi penyeimbang buat karakter-karakter maskulin. Kali ini, di film yang bertindak sebagai prekuel cerita tersebut, Sebastian juga ngelakuin hal yang sama. Teriak-teriak saat keadaan memanas, nge-geek out dan fanboying hard sebelum membuka kunci brankas, dan socially awkward di tengah-tengah kelompok yang macho. Jadi, ya, gak ada perkembangan yang dialami karakter ini dari cerita dimulai hingga ke Army of the Dead berakhir. Bayangkan dua film, tapi karaktermu itu-itu melulu! Yang berubah pada karakter ini cuma nama. Di film pertama, actually, kita mengenalnya sebagai Ludwig Dieter. Di film ini, kita akan melihat dari mana nama tersebut berasal. Seolah itu merupakan hal yang penting.

Karakter utama memang harus dibikin penting. Namun tugas itu dapat menjadi demikian susah jika materi karakternya memang tidak banyak sedari awal. Matthias Schweighofer lantas didapuk sebagai sutradara dengan harapan dia sudah mengerti karakter Sebastian/Ludwig yang ia perankan itu luar dalam. Dan memang, Matthias paham apa yang klik di balik benak sang karakter. Dia mengerti bahwa bagi Sebastian, brankas-brankas itu bukan semata benda yang harus dibobol dan diambil uangnya, melainkan benda yang melambangkan pencapaian. Kekaguman seperti seorang anak bertemu idolanya, dan mendapat pengakuan dari idola tersebut karena si anak telah berhasil melampaui prestasinya. Begitulah Sebastian melihat kunci-kunci besi itu. Dan kita bisa merasakannya, kekaguman terpancar dari karakter ini. Tapi itu saja belum cukup untuk menghidupkan film ini secara keseluruhan.

Yang beresonansi dari Sebastian kepada kita adalah kecintaannya terhadap yang ia lakukan. Sebastian tidak melakukan perampokan demi uang. Dia melakukannya supaya bisa bertemu dengan hal yang paling berarti baginya di dunia ini. Brankas dengan sistem kunci yang legendaris. Dan tentu saja, Gwendoline yang ia katakan kepada kita telah mengubah hidupnya. Ditunjukkannya bahwa hidup lebih dari sekadar cari duit. Pengalaman mendebarkan, dan cinta, jauh lebih berharga.

 

Di luar ketertarikan dan ke-nerdy-annya sama brankas, Sebastian enggak banyak ngelakuin hal lain. Film memberikannya sekuen aksi – naik sepeda keliling kota dikejar polisi – yang cukup kocak dan sangat kita apreasiasi di tengah kering kerontang dan membosankannya karakter ini. Sebelum diajak jadi geng rampok, secara inner, Sebastian enggak punya masalah di dalam hidupnya. Backstory kenapa dia hobi ngulik brankas dan kenapa dia gak gaul hanya disebutkan sepintas. Sepanjang durasi (yang memang panjang amat!) karakter ini kebanyakan hanya bereaksi. Terbawa-bawa. Seperti yang sudah disebutkan di atas tadi, Sebastian tidak punya development. Lantaran memang tidak ada yang bisa digali. Untuk mengisi kekosongan, naskah memusatkannya kepada romansa. Sebastian naksir Gwendoline, yang sudah punya cowok yakni si paling macho dalam kelompok mereka. Elemen itu juga gak dibahas mendalam. Enggak pernah lebih dari sebatas cowok cupu yang jatuh cinta sama gadis pertama yang mengajaknya bicara. Basic sekali.

Sedari awal itu dia sudah jago buka brankas. Dia bahkan enggak peduli sama kejaran waktu. Oh, mereka cuma punya waktu sempit sebelum penjaga dan sekuriti bank sadar, dan memanggil polisi untuk menghentikan aksi perampokan? Sebastian gak peduli sama itu. Dia sempat-sempatnya cerita panjang lebar tentang mitologi di balik masing-masing brankas. Mitologi yang sebenarnya menarik, karena mencerminkan keadaan cinta segitiganya dengan Gwendoline. Hanya tak terasa sebagai waktu yang tepat. Film menjadikan ‘bad timing‘ ini sebagai quirk dari karakter Sebastian, dengan harapan dapat membuatnya semakin tampak sebagai karakter yang menarik. Dan juga disetup bahwa Sebastian begitu pintar dan ahli jadi dia bisa membuka kunci-kunci rumit itu dalam waktu singkat. Akan tetapi karena situasinya adalah perampokan, ketika karakter utama gak peduli sama desakan waktu, dia gak merasa dirinya diburu-buruin, kita yang nonton jadi gak ngerasain lagi stake perampokan tersebut. Kita jadi bodo amat. Dia jago, kok.

Apalagi karena kita gak bisa berpartisipasi kepada tindakan yang Sebastian lakukan. Gimana coba membuat orang memutar-mutar kenop di brankas jadi aksi menarik yang breathtaking? Gak ada. Film ini menggunakan visual CGI yang menggambarkan mekanisme kunci yang sedang berusaha dipecahkan oleh Sebastian. Semua itu gak ngehasilin perasaan apa-apa. Ketika dia berhasil membuka kunci, kita gak ikut bersorak bersamanya. Karena kita gak diajak ikut mikir, kayak kalo misalnya ada kode atau teka-teki yang harus dipecahin dalam jangka waktu terbatas.

Oiya, ada ding, satu lagi yang dilakukan Sebastian, sebagai bagian dari karakternya. Mimpi tentang zombie-zombie! Lame. Upaya yang sangat payah dari film ini untuk mengikat dan ngingetin kita sama universe zombie film ini. Seringnya adegan mimpi diserang zombie itu justru merusak tone cerita, dan nambah-nambah hal gak perlu bagi karakternya. So what, Sebastian is a psychic too? Who cares!

 

 

 

Ini baru film kedua dari proyek zombie universe Snyder loh. Dia masih punya cerita-cerita lain yang siap ditayangkan. Honestly, aku berharap dia menerapkan apa yang diajarkan Sebastian kepada kita di film ini. Untuk tidak melakukannya semata demi cuan. Aku merasa film yang kali ini, tidak benar-benar penting eksistensinya. Masih bisa dinikmati, berkat garapan aksi dan permainan editing yang masuk ke dalam humor. Tapi gak menambah banyak untuk karakter yang sepertinya bakal terus muncul di universe ini nanti (karena kalo dia gak muncul lagi nanti, makin tak-ada gunanya lah kita nonton film ini) Mending bikin film heist generik aja yang benar-benar bercerita tentang kejadian dan trik-trik perampokan. Untuk mitologi dunianya juga, gak banyak berarti. Ini adalah film yang bisa ditonton, dan setelahnya ya beres gitu aja. Film ini membuktikan kalo sedari awal udah angin, ya gak bakal bisa jadi emas.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for ARMY OF THIEVES.

 

 

 

That’s all we have for now

Bagaimana pandangan kalian terhadap genre heist? Is it dead? Bagaimana cara membuatnya kembali menarik?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

ARMY OF THE DEAD Review

“What happens in Vegas, stays in Vegas”

 

Gak heran kalo Las Vegas disebut sebagai Sin City (Kota Dosa). Di tempat itu dari nyaris dari pintu ke pintu adalah kasino. Orang-orang berdatangan dari segala penjuru mengunjungi tempat hiburan khusus dewasa tersebut, berpesta foya-foya dengan berjudi dan segala turunannya yang sah, mulai dari ngobat sampai prostitusi. Las Vegas dalam dunia sinema Zack Snyder ini, kedatangan satu ‘dosa’ lagi. Satu abomination, yang lantas merebak menjadi ribuan lainnya. Wabah zombie menggerayangi seisi kota! Beruntung Las Vegas punya slogan “Apa yang terjadi di Vegas, tetap tinggal di Vegas”. Zombie-zombie dikarantina di dalam kota yang ditutup rapat-rapat. Terputus dari dunia luar.

Ketika Scott Ward dan kelompoknya mendapat misi untuk mengambil dua ratus juta dolar uang yang tersimpan di dalam brankas salah satu kasino, mau tak mau mereka harus melintasi kota undead tersebut. Dan saat itulah geng orang-orang jalanan ini mengetahui bahwa musuh yang mereka hadapi di sana bukanlah sesepele mayat hidup tak-berotak. Yang tinggal di dalam sana ternyata bukanlah kawanan zombie biasa. Melainkan kelompok zombie-zombie pintar, yang dipimpin oleh raja dan ratu zombie yang bisa berpikir sendiri. Mereka menduduki kota. Las Vegas telah berubah menjadi kerajaan zombie!

Di Las Vegas semuanya kasino. Gak ada yang dono ataupun indro.

 

Para zombie itu memang jadi hal paling menarik yang ditawarkan oleh film. Basically ada tiga jenis zombie yang dimunculkan di sini. Ada zombie pelan dan dungu, seperti yang sudah umum kita lihat. Lalu ada zombie alpha; zombie yang gerakannya sangat cepat dan cukup cerdas untuk mengelak dari peluru. Dan terakhir, zombie pemimpin mereka, The Original, tak-kurang seperti makhluk berkecerdasan dan kekuatan super. Dia mengendalikan zombie-zombie yang lain seperti bos memerintah anak buah. Hierarki zombie ini menciptakan lapisan intensitas pada cerita. Karena selain difungsikan sebagai tantangan untuk para karakter manusia, zombie-zombie ini juga jadi sarana bagi sutradara Zack Snyder mencuatkan kreativitas khasnya. Tidak setiap hari kita melihat zombie berjubah dan berhelm menunggangi kuda zombie – niruin dewa Zeus, kan. Dan ya, zombie harimau membuat film ini berada dalam level kekerenan yang baru!

Snyder bener-bener pol-polan mengarahkan cerita untuk mengajak kita bersenang-senang dengan tembak-menembak zombie. Setiap headshot ke kepala berotak busuk tersebut dipastikannya terekam dengan penuh gaya. Kita bisa duduk santai menikmati setiap adegan laga yang disuguhkan. Pertemuan geng manusia dengan kawanan zombie dibuat berbeda setiap kalinya. Ada yang berupa mereka harus berjalan pelan-pelan supaya tidak membangunkan zombie yang sedang hibernasi. Di lain waktu, mereka benar-benar harus tunggang langgang sambil berlari menembaki zombie. Bahkan ada adegan ketika para manusia memanipulasi zombie untuk berjalan menyusuri jebakan tersembunyi. I love those kind of interactions. Rasanya nonton ini seperti kembali nonton film-film zombie jaman dulu yang pure seru-seruan, gak ada agenda. 

Jikapun kerajaan zombie itu dimaksudkan sebagai cerminan society masa kini, Snyder tidak pernah mencuatkan hal tersebut. Karena cerita film ini dibuat sangat sederhana sekali. Ceritanya malah cukup mirip dengan Peninsula (sekuel Train to Busan yang tayang 2020 lalu). Alih-alih tentang outbreak, film ini melompat dan mengambil masa ketika Las Vegas sudah jadi kota mati, dan sekelompok orang ditugaskan untuk mengambil ‘harta karun’ di dalam kota tersebut. This is lowkey a heist movie, with zombies. Zombie pintar di film ini adalah pengganti kelompok ala Mad Max di Peninsula. Protagonisnya juga mirip. Peninsula punya protagonis yang merasa bersalah telah membiarkan kerabatnya dimakan zombie, maka Army of the Dead ini punya protagonis yang dihantui oleh tindakannya yang terpaksa membunuh istri sendiri sebelum ibu dari putrinya tersebut berubah menjadi mayat haus darah.

What happens in Vegas stays in Vegas. What happens in the past stays in the past. Karena pada akhirnya, apapun yang telah terjadi, apapun yang telah dilakukan – entah itu keberhasilan atau kegagalan – tidak akan ada orang yang akan benar-benar mengerti kecuali diri sendiri. Kita sendirilah yang harus deal with it. Seberapa jauhpun kita lari, bagian diri kita yang ada di situ akan tetap di situ, sampai kita menyelesaikannya.

 

Personally, aku lebih suka cerita outbreak zombie ketimbang action heist yang zombienya seringkali hanya diposisikan sebagai obstacle. Film Army of the Dead ini menceritakan kejadian awal Las Vegas terkena wabah zombie lewat montase sebagai opening credit. And it was a blast! Montase tersebut melimpah ruah oleh gaya Snyder – aksi dan musik dan kamera work yang lain dari yang lain – dan benar-benar sukses memperlihatkan zombie outbreak mengerikan. Bahkan ada cerita-mini tentang ibu yang harus berjuang menyelamatkan anaknya tapi gagal dan mereka berdua mati bersama zombie-zombie di sela-sela memperkenalkan tiga tokoh sentral sebenarnya dari cerita film ini. Opening kreditnya itu bisa banget dijadiin satu episode film-panjang sendiri. And I must say, aku merasa jauh lebih peduli dan tertarik sama cerita ibu pejuang di situ dibandingkan dengan karakter-karakter yang ada pada kelompok Scott sebagai main story film ini.

Bukannya apa-apa, tapi karakter manusia di film ini tipis sekali. Yang paling mendingan memang si Scott. Dia bilang dia mau nerima misi karena duit, tapi sebenarnya dia juga pengen banget ketemu lagi sama putrinya yang jadi relawan di sekitar perbatasan kota Las Vegas. Dave Bautista menggunakan perannya di sini sebagai pintu kesempatan untuk memperluas range aktingnya. Kita bisa lihat dia berusaha untuk hit adegan-adegan percakapan yang emosional. Tapi dengan stake yang diberikan kepada karakternya ini, kita tidak benar-benar bisa merasa peduli kepadanya. Yang grounded dan emosional terletak pada hubungannya dengan putrinya, yang sayangnya Kate, putri semata wayangnya itu ditulis sebagai karakter annoying karena begitu keras kepala. Selebihnya, kelompok mereka terdiri dari orang-orang yang hanya mau duit juga. Ada youtuber yang diajak ikut karena video dirinya menembak jitu zombie-zombie viral. Ada pembuka brankas yang cupu, tapi dibikin sok melawak oleh naskah sehingga malah jadi creepy. Ada juga beberapa relationship yang tau-tau muncul, dan disetop begitu saja. Film sepertinya hanya menggali mereka sesaat sebelum mereka dibuat mati, as a cheap shot untuk memancing perasaan sedih kita. Padahal sebenarnya ya memang orang-orang ini ada di sana untuk jadi makanan zombie. The more the merrier.

Walaupun di tengah-tengah, film berusaha menaikkan suspens dengan mengeset batas waktu yang semakin ngepress bagi para karakter – jika mereka telat, mereka mati, hancur bersama Las Vegas – tetapi tetap saja susah bagi kita untuk merasakan simpati. Kita tentunya sukar untuk benar-benar ingin mereka sukses jika kegagalan mereka hanya berarti mereka gak dapat duit jutaan yang sebenarnya tidak mereka perlukan (they already have a job). Satu-satunya yang punya stake yang bisa kita pedulikan adalah seorang perempuan beranak dua yang disandera zombie. Namun, karakter teman putri Scott ini ya hanya sebagai sandera, kepentingan dirinya dan keluarganya tidak benar-benar dibangun.

Ditembak termometer jadi elemen horor yang relevan

 

Tentu, film zombie boleh saja hanya have fun dengan karakter yang tipis. Mereka bisa berbicara lewat aksi saja jika memang budget atau waktu yang dimiliki terbatas. Inilah yang disayangkan. Army of the Dead terlihat jelas punya dana yang enggak pas-pasan. Durasinya pun lebih panjang dari yang sebenarnya dibutuhkan oleh cerita. See, there lies the problem. Ketika Snyder merilis Justice League versi dirinya, kita bisa maklum durasi film tersebut mencapai empat jam. Karena kita paham ceritanya butuh ruang yang banyak supaya masing-masing karakter superhero dapat termuat dengan memadai. Kita malah sudah melihat bagaimana cerita tersebut tidak bisa bekerja jika hanya sekitar dua jam. Di film Army of the Dead ini kasusnya beda. Durasi nyaris dua setengah jam itu tidak terasa benar-benar diperlukan. Snyder toh tidak berniat mengembangkan karakter-karakter yang dimiliki. Begitupun soal aksi, yang ternyata tidak selalu terjadi di layar. Snyder di sini tampak memakai durasi bercerita yang panjang, bukan karena dia butuh, tapi hanya karena dia bisa.

Padahal kita bisa rasakan sendiri saat menonton, betapa tidak efektifnya tempo dan ritme adegan per adegan yang kita saksikan. Banyak bagian yang tampak tidak penting-penting, yang jika dibuang pun tidak mengganggu cerita. Misalnya soal teman salah satu anggota kelompok yang diajak tapi kemudian pulang lagi karena takut sama zombie. Apa pentingnya adegan tersebut sampai harus masuk, kan. Karakter yang pulang tadi itu bahkan tidak benar-benar dijumpai lagi hingga akhir cerita. Actually, sepanjang durasi film akan banyak melakukan hal seperti demikian. Seolah ngebuild up sesuatu dari interaksi karakter, tapi ternyata tidak ada pay off sama sekali. Semua berjalan sesuai dengan blueprint mengenai tipikal karakter manusia film zombie yang sudah kita hapal di luar kepala.

Hal terakhir yang juga menggangguku adalah soal treatment gambar yang dilakukan oleh kamera Snyder. Ini lebih ke soal selera sih kayaknya, karena mungkin diniatkan untuk estetik. Snyder merekam gambar yang dengan sengaja digeser dari fokusnya. I mean, hampir seluruh frame itu gambarnya hanya fokus di sekitar tengah layar, sementara sekitarannya buram. Menonton film ini aku sambil mengerjap-ngerjap. Kupikir minus mataku sudah nambah dan kacamataku sudah gak cocok lagi. Karena mirip seperti gambar film inilah penglihatanku kalo gak pake kacamata. I would squint my eyes so hard sehingga nanti bagian tengah yang sedang kupandang jadi jelas. Beberapa penonton enggak akan masalah sama ini, karena hey, it’s Snyder. Gaya-gaya seperti itu cocok dengan konteks siapa dirinya dan bagaimana ciri khas karya-karyanya. Lagipula mungkin memang benar kata Hideo Kojima bahwa Snyder sedang mengubah kepala kita menjadi zombie, dan itu dimulai Snyder dari penglihatan kita.

 

 

Enggak setiap hari kita dapat film zombie yang sangat stylish. Penuh aksi kejar-kejaran dan tembak-tembakan yang seru. Walaupun dari segi cerita film ini enggak menawarkan apa-apa (yang baru), tapi dari segi konsep dan world-building, film ini sukses bikin kita tertarik dengan experience baru yakni zombie yang superkuat dan bisa berpikir seperti manusia. Malahan memang film ini tampak sekalian ngebangun sekuel dan ngetease kita dengan dunia dan lore yang lebih luas lagi untuk ke depannya. Aku enjoy sekali nonton ini, terutama di kredit pembukanya. Dan aku tetap enjoy sampai akhir padahal ada banyak elemen yang dimiliki film yang membuatku enggak sreg. Semua yang terlalu standar di sini membuat kita teralihkan dari thrill yang ditawarkan film ini. Film ini sendirinya persis seperti kota Las Vegas. Penuh dosa, tapi aku enggak akan mikir dua kali untuk mengunjunginya kembali.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for ARMY OF THE DEAD.

 

 

That’s all we have for now.

Kalian yang sudah sering nonton zombie pasti kenal sama tipe-tipe karakter yang sering muncul. Menurut kalian kenapa film-film zombie selalu berisi karakter-karakter tipikal semacam itu? Jika kalian ada di dunia film zombie, kira-kira kalian masuk tipe karakter yang mana?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

PENINSULA Review

“A moment of hesitation may cause you a lifetime of regrets.”
 
 

 
 
Cukup satu saja – cukup ada satu orang yang terinfeksi di antara puluhan bahkan ratusan yang sehat – untuk menjangkiti satu kereta, atau satu kapal, atau satu bioskop (bukan mau nakutin loh yaa), bahkan membuat satu negara menjadi republik perserikatan zombie. Memang sebegitu mengerikannyalah kondisi ketika kita memerangi sesuatu yang menular. Dalam dunia Train to Busan (2016), sesuatu itu adalah virus zombie. Menyebar hingga ke film Peninsula ini; yang meskipun bukan sekuel-langsung, tapi merupakan cerita yang bertempat di semesta yang sama. Dalam kurun empat tahun, Korea Selatan sudah completely abandoned, dikarantina oleh dunia, karena gak ada yang mau repot-repot berurusan dengan zombie. Tertular di film ini ya berarti ikutan berubah menjadi zombie. Nasib yang semua orang setujui sebagai lebih buruk dari mati.
Konteks dari film garapan Sang-ho Yeon ini sungguhlah relevan dengan keadaan kita yang sedang mengurung diri sebab wabah Covid-19. Selama enam bulan terakhir kita sudah sukses dibuat was-was. Ada yang bersin di tempat umum, pasti langsung disambut pandangan mendelik. Menjaga jarak sudah jadi keharusan. Jangankan orang lain, idung sendiri tersumbat sedikit aja sudah cukup untuk membuat kita pengen membelah diri, supaya bisa jauh-jauh dari diri sendiri. Apakah ketakutan seperti demikian itu wajar atau hanya karena pengaruh oleh media yang membesar-besarkan; itu lain soal. Yang jelas saking takutnya tertular corona, pemberitaan soal warga yang menolak jenazah pasien dimakamkan di daerahnya marak kita dengar. Bukan hanya pasien, keluarga pasien, bahkan mantan-pasien yang udah mati, dijauhi. Dokter-dokter dan keluarga mereka juga. Jika tidak sedang mengenakan masker atau sekalian pakaian kesehatan resmi, sebagian orang masih memilih untuk menghindari kontak dengan orang lain, meskipun orang lain tersebut membutuhkan pertolongan.
Peninsula agaknya memotret itu ketika memperlihatkan tokoh utama cerita, Kapten Jung Seok, menolak memberhentikan mobil untuk seorang wanita yang meminta tolong. Di awal cerita Peninsula, Jung Seok sedang membawa keluarga adiknya ke kapal yang akan berangkat ke Hong Kong. Meninggalkan negara mereka yang chaos oleh zombie outbreak. Sang wanita ingin Jung Seok membawa serta anak perempuan yang sedang ia gendong. Permohonan wanita tersebut tidak dikabulkan oleh Jung Seok yang ragu untuk menolong. Ragu apakah itu adalah yang benar. Ragu apakah si wanita dan anaknya tidak tertular zombie. Momen awal ini akan menjadi signifikan nantinya di pertengahan film. Keraguan Jung Seok untuk menolong karena khawatir akan keselamatan diri/golongannya sendiri dijadikan cerita sebagai flawed dari karakter, sekaligus jadi tema atau gagasan cerita. Karena bukan sekali ini Jung Seok ragu. Ketika nanti kapal mereka jadi seperti ekivalen kereta pada film pertama, Jung Seok bahkan gagal menyelamatkan adiknya sendiri, karena ia ragu.

Disuruh mengambil pilihan untuk survive dengan cepat seperti pilihan Jung Seok di Peninsula, tak pelak akan membuat kita peningpala.

 
 
‘Flaw’ Jung Seok berubah menjadi ‘wound’ seiring dengan berkembangnya kejadian -dan oh boy, betapa Peninsula dengan cepat menjadi jauh lebih besar dan luas daripada Train to Busan. Arc Jung Seok menarik dan menyentuh hati. Akhir kejadian di kapal – difungsikan tak ubahnya bagai prolog – nyatanya memang sarat akan momen emosional yang berakar dari kemanusiaan. Di situ kita melihat seorang ibu yang rela menemani anaknya yang sedang kesakitan mengalami transformasi menjadi zombie. Jung Seok gagal menyelamatkan nyawa. Hubungannya dengan ipar lantas rusak di sini. Peristiwa ini mengubah Jung Seok. Kali berikutnya kita melihat si kapten, dia menjadi tak lebih dari pria jalanan. Film meloncati periode empat tahun, dan mempersembahkan lingkungan dan tantangan baru buat Jung Seok dan iparnya dan dua lagi penyintas dari Korea. Mereka dibayar untuk kembali ke kota utara Peninsula untuk mencari truk bermuatan uang. I got excited at this point. Kupikir film ini akan jadi mirip dengan salah satu favoritku tahun ini – film Da 5 Bloods yang juga bercerita kurang lebih tentang veteran trauma yang harus kembali ke daerah konflik untuk mencari harta. Hanya saja di Peninsula ini ceritanya berbonus zombie.

Lebih baik menyesal melakukan daripada tidak-melakukan. Karena sedetik saja momen keraguan yang lantas membawa kita ke perasaan bersalah, maka perasaan bersalah itu akan kita rasakan seumur hidup. Film Peninsula bisa kita jadikan pengingat untuk mengenyahkan keraguan yang mungkin hadir saat kita ingin menolong orang. 

 
Aku gak tau apa pembuat film ini ragu seperti Jung Seok atau mereka hanya salah kaprah soal mengekspansi film melebihi film-pertamanya, yang jelas ternyata kemudian cerita berubah kembali dari potensi petualangan survival di ranah yang dikuasai zombie menjadi… drum roll.. kehidupan geng penyintas di dunia post-apocalypse ala Mad Max!
Eits, para penggemar Mad Max jangan senang dulu. Meskipun memang ada sensasi menggelinjang yang terasa di pertengahan film saat kita menyadari kemiripan yang boleh jadi adalah terinspirasi dari Mad Max – khususnya The Road Warrior (1981) dan Beyond Thunderdome (1985)I mean, zombies certainly great addition to the Mad Max story, tapi ketika film ini mencoba untuk meniru aksi kejar-kejaran di jalanan dengan mobil-mobil kustom itu, Peninsula ini tak lebih gede dari satu sekrup di mobil Furiosa di Fury Road (2015). Karena Peninsula begitu bergantung kepada CGI. Aksinya gak pernah terasa menegangkan karena semua hal di sana – apalagi zombie-zombienya – selalu mengingatkan kita bahwa yang kita lihat adalah efek yang tak meyakinkan. Peduli apa kita sama zombie-zombie itu, gimana bisa takut, jika film memposisikan mereka sebagai bagian dari latar belakang yang dari wujudnya saja sudah tidak mencengkeram, karena keliatan banget palsu. Namun begitu, mengatakan film ini memang memusatkan kepada tokoh manusia – dengan kilahan ingin menunjukkan bahwa manusia lebih seram daripada zombie – juga tidak bisa mengangkat film ini. Karena selain tokoh utama, tokoh manusia di film ini juga pengkarakterannya sensasional sekali. Tidak ada kedalaman yang menarik pada tokoh-tokoh pendukung. Babak dua film ini praktisnya habis oleh eksposisi (bagian Jung Seok ketemu keluarga survivor) yang diselingi oleh bagian Thunderdome zombie (sesuatu yang sudah pernah kita lihat, dan dilakukan dengan tak lebih baik daripada itu).

Mungkin sekuel berikutnya bisa bahas romansa zombie berjudul Train to Bucin

 
 
Sutradara Sang-ho Yeon sepertinya salah menafsirkan atau katakanlah, tidak memahami, apa yang membuat Train to Busan begitu populer. It was the depth of that various characters; mulai dari si bapak yang istrinya hamil hingga ke antagonisnya yang ngeselin itu. Dalam Train to Busan semua kematian itu terasa memiliki arti, setiap pengorbanan punya ‘cerita’ dan benar-benar terasa. Belum lagi hubungan ayah dan anak yang menjadi duo protagonis utama. Peninsula punya karakter-karakter yang kita bisa melihat terjalin oleh garis hubungan yang menarik, tapi film lebih fokus kepada aksi dan para zombie. Kita gak mau lebih banyak zombie jika keberadaan mereka tidak benar-benar membawa arti kepada perjuangan tokoh manusia. Kelemahan Train to Busan yang aku lihat adalah bagian aksinya yang sedikit terlalu sering meminta kita untuk nge-suspend our disbelief. Sayangnya, pada film kedua yang berskala lebih gede dan lebih jor-joran aksi, kelemahan tersebut ikut tercuatkan. Kematian dan pengorbanan pada film ini tak berarti apa-apa karena karakternya tak pernah ‘menggigit’ kita dengan dalam.
Pembuatnya seperti menyangka karakter anak-lah yang membuat Train to Busan populer. Sehingga yang kita dapatkan di sini adalah bukan satu, melainkan dua tokoh anak. Yang dua-duanya keren. Jagoan kebut-kebutan mobil. Dan yang satunya lagi jago main mobil remote, dia mendistraksi rombongan zombie yang buta itu dengan mainan remote control berlampu. It would be real cool kalo memang kedua anak itu diposisikan sebagai tokoh utama cerita – mungkin for some reason franchise Busan ini diarahkan ke anak-anak dan zombie – hanya saja di dunia cerita ini kedua anak itu ujung-ujungnya menjadi ‘damsel in distress’. Ini masih dunia dewasa, dan mereka hanyalah device ‘sesuatu-yang-harus-diselamatkan’ oleh tokoh utama. Paling tidak seharusnya interaksi atau hubungan antara Jung Seok dengan anak-anak ini dibuat lebih banyak, akan tetapi dengan pesan atau gagasan yang diniatkan oleh film ini, memang tidak ada tempat untuk elemen tersebut benar-benar berkembang. Cerita pun jadi berkurang keseruannya karena gak bisa mengambil resiko. Sebab film butuh untuk memperlihatkan Jung Seok kini tidak ragu lagi untuk menyelamatkan seseorang yang berada dalam kondisi nyaris-mustahil untuk diselamatkan.
 
 
 
 
It’s now more action than horror, masalah klasik saat sebuah film ingin menjadi lebih besar, lebih luas, dan lebih seru dari film pertamanya, dapat kita lihat dalam film ini. Being bigger enggak lantas membuatnya menjadi better. Menjadi berbeda dan menaikkan ‘taruhan’ di sekuel adalah tantangan yang harus dijawab, namun melakukannya tidak lantas membuat film jadi bagus.  Meskipun masih punya konflik karakter dan masalah kemanusiaan yang emosional, kesalahan terbesar film ini terletak dalam hal menangkap apa yang membuat film pertamanya konek dan diterima oleh banyak penonton. Film ini justru memperbanyak aksi-aksi gak masuk akal, yang dieksekusi lewat efek-efek yang keliatan bo’ongnya pula! Dia tak bisa tampil seunik pendahulunya, karena banyak meniru aspek dari film-film lain. Kalo pengen lanjut sebagai franchise, maka film ini harus bisa segera kembali ke relnya.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for PENINSULA.

 

 
 
 

 

That’s all we have for now.
Dalam kurun empat tahun saja, Korea Selatan di film ini berubah menjadi seperti dunia post-apocalyptic yang dikendalikan oleh geng jahat. Setelah enam bulan hidup new-normal bersama Corona dan menyaksikan seliweran berita dan keributan sehubungan dengannya, mungkinkah dalam empat tahun kita berubah seperti dunia Peninsula? Menurut kalian seberapa lama waktu yang diperlukan untuk sebuah lingkungan sosial berubah menjadi seperti lingkungan geng seperti Peninsula ataupun Mad Max?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA
 

#ALIVE Review

“I’m definitely the lazy one in the family”
 
 

 
 
Kita semua menduga video game membantu kita mempersiapkan diri menghadapi zombie apocalypse. Karena video game secara efektif mengajarkan kita cara survive, berpikir cepat dan tangkas dalam melawan musuh. Well, Oh Joon-woo kini tahu bahwa dugaan tersebut tidak terbukti benar. Seumur-umur yang diketahui Joon-woo adalah bermain video game. Kamarnya disulap jadi studio game online tempat dia ngestream petualangannya menembaki musuh-musuh virtual. Tapi ketika hari itu memaksanya untuk menggunakan skill-skill survive yang ia kira sudah ia kuasai, Joon-woo hanya bisa terdiam. Di luar apartemennya, di dunia nyata, virus zombie melanda kota. Mengubah penduduk menjadi mayat hidup kanibal yang ganas. Joon-woo menyaksikan semua, helpless. Mendadak dia sangat rindu dengan orangtua dan saudara-saudaranya, yang tentu saja sudah pergi ke aktivitas masing-masing pada saat dia masih melanjutkan ngorok. Dan ketika persediaan makanan menipis, air mati, hingga satu-dua kali ada zombie namu ke rumahnya, Joon-woo semakin hopeless.
Harus berdiam, mengisolasi diri, di rumah. Enggak boleh keluar rumah, harus jaga jarak – enggak boleh ketemu sama orang karena virus zombienya menular dengan cepat melalui kontak – meaning: you will get eaten alive and turn into ones. Menonton film ini, well, mungkin kita memang harus menyamakan Covid-19 dengan zombie apocalypse. Karena lihat betapa efektifnya peraturan-peraturan yang ia dengar dari televisi tersebut membuat Joon-woo patuh dan takut kemana-mana. Orang-orang jadi beneran bisa memahami sakitnya keadaan dan rela menempuh hidup yang sulit supaya penyebaran virus tidak menjadi bertambah parah. Konflik menarik yang diperlihatkan oleh film #Alive ini justru datang bukan dari zombie-zombie ganas itu. Melainkan ketika tokoh-tokoh manusianya merenung sendiri di dalam isolasi mereka. Ketika para tokoh mulai menyesali hal-hal yang tidak lagi dapat mereka lakukan setelah outbreak. Sutradara Il Cho seperti ingin memberitahu kepada kita, yang menonton film ini sambil ‘terkurung’ di rumah masing-masing, bahwa kita tidak sendirian. Lewat kisah Joon-woo, ia mengajak kita untuk terus berjuang dan tidak berhenti berharap.

Mungkin kita rindu kepada keluarga di luar sana. Atau bahkan mungkin kita sudah benar-benar dipisahkan dari mereka. Namun yang paling penting adalah kita jangan kehilangan kemanusiaan; karena itulah pembeda antara virus zombie dengan virus yang kita hadapi. Zombie lebih mengerikan karena mengubah manusia menjadi monster yang taunya cuma makan, tak peduli lagi pada orang lain atau apapun. Kita harus memastikan kepada diri sendiri, bahwa Covid-19 tidak mengubah kita menjadi ‘monster’ seperti demikian.

 
Buatku, 35-30 menit pertama film ini bukan hanya menarik, tapi juga benar-benar mengena. Kita bisa merasakan kecamuk personal Joon-woo yang kini harus tinggal sendirian. Mengurusi keperluannya sendiri – sesuatu yang tak pernah ia lakukan karena selama ini ia bersandar cuek kepada keluarganya. Joon-woo dulunya adalah ‘zombie di rumahnya sendiri’. Ketika yang lainnya bekerja, dia taunya cuma tidur, makan, main game. Meskipun tokohnya memang jadi sedikit annoying, tapi tak bisa dipungkiri Joon-woo ada sedikit-banyak kemiripan dengan kita waktu masih muda. Yang membuat dia relatable untuk banyak penonton. Bagaimana kita tidak benar-benar appreciate family dan segala kenyamanan di rumah, dan baru kangen ketika sudah jauh dari mereka. Momen-momen ketika Joon-woo merindukan semua itu, easily adalah momen paling emosional yang dipunya oleh film ini. Khususnya, aku suka dengan adegan saat dia minum ampe mabuk – karena gak ada air, dia terpaksa minum alkohol koleksi bokapnya – dan berhalusinasi yang menggedor pintu adalah keluarganya yang pulang dengan selamat, dan ibu yang memeluknya. Momen itu cukup kuat, dan seharusnya bisa lebih kuat lagi jika film ini benar-benar mengset up hubungan Joon-woo dengan orangtuanya di awal film. Jika kita diperlihatkan bagaimana interaksi rumah tangga mereka. Namun #Alive memilih untuk memulai dari Joon-woo sudah sendirian, sehingga efek kesendirian Joon-woo tidak maksimal terasa.

“Good Bye Papa please pray for me, I was the zombie of the family”

 
 
Padahal film ini lumayan bijak dalam memainkan tempo. Bagian-bagian yang lebih lambat – saat kita closely melihat keadaan mental Joon-woo yang semakin nelangsa – selalu diselingi dengan aksi-aksi pengejaran zombie yang hadir dari kejadian-kejadian yang disaksikan Joon-woo dari balkon rumah susunnya. Zombie di film ini mampu berlari, jadi setiap kejar-kejar tersebut dijamin seru dan menghibur. Tone cerita juga gak pernah terlampau sedih atau depresi. Tingkah dan kesembronoan Joon-woo terkadang mampu memancing kikikan geli penonton. Dari perspektif penulisan, memang cerita seperti #Alive ini agak-agak tricky. Sebab kita harus menaikkan tantangan bagi tokoh – yang bagi Joon-woo itu berarti men-stripnya dari fasilitas dan kemudahan, tapi pada saat bersamaan kita harus menemukan cara untuk terus memberinya sesuatu untuk dilakukan, untuk diperjuangkan. After a while, ‘bermain’ dengan drone akan menjadi membosankan, sehingga film ini butuh untuk memasukkan faktor yang baru dalam cerita.
Maka dihadirkanlah tokoh tetangga di apartemen seberang. Cewek yang sama-sama terjebak di rumah. Yang udah menolong Joon-woo dengan menghentikannya melakukan sesuatu yang bodoh. Kehadiran tokoh Kim Yu-bin membuat kejadian menjadi lebih berkembang; membuat film punya sesuatu yang baru untuk dimainkan. Mulai dari cara Joon-woo dan Yu-bin berkomunikasi, hingga ke cara mereka saling mengirimkan makanan – yang kemudian jadi sarana untuk memunculkan zombie sebagai threat dengan approach yang berbeda dari sebelumnya. Hanya saja, bagian masuknya Yon-bin dalam cerita ini seperti throw-away saja, tidak benar-benar berhubungan langsung dengan Joon-woo dan keluarga. Melainkan ya cuma seperti film ingin ngasih ‘stage’ baru untuk Joon-woo, supaya penonton enggak bosan dengan masalah/konflik personalnya. Dan yang membuatnya terasa semakin gak penting adalah penokohan Yu-bin yang seadanya. Dia cuma cewek yang lebih mandiri dan tangguh daripada Joon-woo, yang sama-sama terjebak, dan somewhat jadi love interest. She’s kinda a manic pixie trope, karena dia tidak diberikan backstory apa-apa. And she was kinda dumb, meskipun film ingin ‘menjual’ tokoh ini sebagai karakter yang keren.
Setelah menyelamatkan Joon-woo dan ngatain dia bego (bantering yang digolongkan ‘cute’ dalam standar romansa remaja Asia), kita akan melongok ke dalam rumah Yu-bin untuk melihat cara dia survive, yang supposedly beda 180 derajat dengan Joon-woo. Cewek ini lebih siaga, dengan persediaan makanan ataupun barang yang lebih lengkap. Jadi malam hari, cewek ini haus dan dia mau minum tapi airnya tinggal sedikit, dia keingetan tanamannya di pot. Dan dia malah menyiram tanaman itu saja, enggak jadi minum. Yang membuat cara survive dia ini ‘pintar’ adalah karena tanaman yang ia siram itu bukan tanaman hias kayak mawar atau apalah yang butuh air. Melainkan tanaman Lidah Mertua! Kalian tahu, tanaman hijau yang panjang dan keras itu, kayak pedang-pedangan. Tanaman yang bisa menyimpan air sama seperti kaktus, yang enggak masalah hidup di lingkungan lembap atau malah di lingkungan yang kering. In short; tanaman yang gak urgen untuk disiram! Apa dia bermaksud menabung air di tumbuhan tersebut, supaya nanti kalo air habis, dia tinggal minum dari daun tanaman itu? Cara yang praktis dan aneh kalo begitu. Sehingga aku penasaran, jangan-jangan tanaman ini bakal punya peran dalam plot nanti. Beberapa menit google search kemudian, aku jadi tahu tanaman yang bernama latin Sansevieria trifasciata ini berkhasiat menangkal polutan, paling cocok ditempatkan di ruangan yang ‘tidak sehat’, makanya sering dipasang orang di kamar mandi, atau di ruang tunggu publik biar udaran tetap segar. So yea, mungkin di film ini tanaman tersebut bakal jadi kunci. Nyatanya? Nihil. Tanaman tersebut tidak pernah punya peran apa-apa. Yang membuat tindakan nahan haus Yu-bin bukan cuma tindakan bego untuk survive, sekaligus juga membuat gak believable lagi tokoh itu adalah tokoh keren yang mampu bertahan hidup sejauh ini.
Kenapa pula aku ngomongin tanaman di film zombie, emangnya ini Plant vs. Zombie?!

 
 
Alih-alih munculin tokoh baru di tengah, harusnya film ini banyakin saja adegan Joon-woo berusaha survive sendiri. Banyakin dia masuk ke rumah orang-orang demi mencari makanan, dan bikin dia menemukan berbagai hal (alias pelajaran) di setiap ruangan yang ia masuki. He could learn so much about other families, yang menjadi masukan untuk inner journey-nya terhadap hubungan dengan keluarga. Narasi film akan lebih berbobot dan intact dengan begitu. Aku lebih memilih cerita yang repetitif ketimbang cerita yang detour dari topiknya hanya supaya tetap menarik atensi penonton. Keberadaan elemen Yu-bin membuat penonton teralihkan dari ‘keluarga’. Membuat seolah konfrontasi Joon-woo dengan seorang manusia penghuni apartemen lain di babak tiga itu yang kayak tempelan. Padahal konfrontasi final itu circled back dengan kejadian yang dilihat Joon-woo di awal-awal zombie outbreak; yaitu saat dia melihat anak sekolah memeluk ibunya di tengah kekacauan, sebelum akhirnya berubah menjadi zombie. Anak – orangtua – zombie; inilah tiga kata kunci, film harusnya bermain memutari ini saja, enggak perlu ada elemen lain yang ditonjolkan dan merebut perhatian dari sana.
 
 
 
Enggak ada yang spesial, tapi paling tidak film ini baik-baik saja di empat-puluh menitan yang pertama. Menggambarkan perasaan kecilnya terisolasi, terpisah dari keluarga sementara kita berada dalam keadaan yang membutuhkan kita untuk punya support. Namun kemudian film seperti kehabisan bahan, maka ia menambahkan elemen untuk membuat film nge-spark lagi, dan ultimately menjadi ‘meledak’. Sure, aksinya seru, kita masih bisa menikmati meski gak nampak benar-benar plausible. Tapi semua di paruh akhir itu jadi terasa seperti momen throw-away saja; momen tambahan yang enggak mengena. Yang paling lucu adalah; film ini membuat survive berhadapan langsung dengan zombie tampak lebih mudah dan asik daripada berusaha survive dengan berdiam diri di rumah. Uh-oh, semoga bukan sikap ini yang lantas jadi panutan penonton di era pandemi.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for #ALIVE.

 

 
 
 

 

That’s all we have for now.
Apa kiatmu survive hari demi hari kala pandemi? Menurut kalian apa yang paling berat dari keadaan pandemi virus seperti sekarang?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

ZOMBIELAND: DOUBLE TAP Review

“Never get too attached”
 

 
Sepuluh tahun sejak Zombieland pertama. Dan di waktu antara film pertama dan kedua tersebut keempat bintang utama horor komedi ini bergantian mendapat nominasi Oscar; satu actually mendapat Oscar. Jesse Eisenberg, Woody Harrelson, Emma Stone, dan Abigail Breslin berkembang begitu hebat sampai-sampai serial TV Zombieland baru episode Pilotnya aja sudah dicerca orang lantaran tidak menampilkan mereka berempat sebagai tokoh utama. Untungnya Zombieland kedua ini menghadirkan mereka kembali. Namun tentu saja dalam sekuel seperti ini, bukan hanya para pemain saja yang berevolusi.
Para zombie yang hidup di semesta Zombieland, seperti yang dinarasikan oleh Colombus, telah berevolusi menjadi berbagai jenis. Ada yang bego (maka dinamakan Homer, karena “D’oh!”), ada yang pinter, ada yang cepat, dan ada yang menjadi begitu kuat sehingga susah dimusnahkan. Bahkan ditembak dua kali seperti kata peraturan Colombus – yang jadi judul film ini – saja tidak bisa. Itulah ancaman yang dihadapi para tokoh; yang sebaliknya, dua di antara mereka malah semakin terbiasa untuk hidup di rumah (Karena ini juga adalah komedi, maka mereka tinggal tinggal di Gedung Putih). Colombus pengen beneran berumah tangga dengan Wichita, sementara Tallahassee ngerasa dirinya ayah bagi Little Rock. In a funny callback to the first movie, dua kakak beradik cewek itu kabur ninggalin mereka. Dan tak butuh waktu lama bagi Wichita untuk kena batunya. Little Rock kabur dengan seorang pria hippie taik-bersenjata (hanya bergitar). Geng Zombieland kudu segera bersatu dan hits the road again, guna mencari Little Rock yang tak pelak berada di dalam bahaya berada di luar sana tanpa perlindungan.

zombienya berevolusi jadi pintar karena sering makan otak kali ya

 
Zombieland kedua ini memfokuskan kepada dunia zombienya, skala ceritanya semakin besar dan semakin luas walaupun masih tampak serupa dengan film pertama. Perbedaan yang langsung terasa adalah kita akan melihat banyak tokoh baru. Kita melihat cara setiap tokoh baru ini menghadapi zombie, cara mereka beradaptasi hidup selama itu di dunia yang penuh predator. Dengan ini otomatis Zombieland punya lahan komedi yang lebih besar. Tokohnya Zoey Deutch, misalnya. Cewek pirang yang nyaris annoying ini disebutkan tinggal di dalam ruang pendingin di dalam mall, walaupun kemudian secara berseloroh film menyebut dia bisa bertahan hidup lantaran enggak punya organ yang menjadi makanan zombie. Lelucon ini mengenai banyak aspek sekaligus. Salah satu yang menonjol dari Zombieland memang adalah penulisan komedinya. Prestasi tersebut dipertahankan dan dikembangkan lebih jauh lagi dalam film kedua ini.
Ini adalah film zombie yang punya awareness terhadap film zombie itu sendiri. Kurang lebih sama seperti Scream pada genre horor slasher. Candaan dan humornya sangat meta; ngebecandain trope-trope zombie yang biasa kita lihat dalam genre ini. Sutradara Ruben Fleischer sudah banyak berlatih menggunakan candaan seperti demikian, ia juga dibantu oleh penulis Rhett Reese yang menggarap komedi fourth-wall di dua film Deadpool. Hasilnya bisa kita dengar sendiri saat cekikikan demi cekikikan bermunculan di sekitar kita saat menonton ini. Memang tidak serentak sampai terbahak, karena film ini akan lebih lucu jika kita banyak menonton film zombie atau setidaknya mengetahui referensi yang film ini pakai terkait genre zombie. Yang bisa dicontohkan tanpa spoiler berat (karena sudah ada di trailer) adalah bagian ketika Colombus dan Tallahasse bertemu dengan ‘kembaran’ mereka. Adegan ini merujuk pada adegan komedi zombie Inggris Shaun of the Dead (2004); pada film tersebut para tokoh berpapasan dengan orang-orang yang mirip sekali dengan mereka. Pada Zombieland 2 ini, adegan tersebut dimainkan dengan lebih konyol karena berbuntut pada salah satu adegan berantem paling seru sepanjang durasi.
Pembuat film merancang film ini bergerak di zona waktu yang sama dengan zona waktu kita. Jadi para tokoh hidup sepuluh tahun sejak film pertama, dengan tidak ada kemajuan di dunia mereka. Presiden mereka masih Obama, mereka tidak tahu hal-hal yang lumrah bagi kita. Aspek ini, oleh para pembuat film, dijadikan humor yang sangat segar. Misalnya inside jokes antara Wesley Snipes dengan Woody Harrelson. Ataupun – ini yang bikin aku paling ngakak – ketika ada satu tokoh yang ngepitch ide soal Uber atau katakanlah ojek online, yang diketawain bareng-bareng oleh tokoh lain. Para pembuat dan pemain tampak sangat bersenang-senang. Interaksi dan chemistry di antara mereka semakin kuat. Satu lagi yang sayang untuk dilewatkan adalah reaksi hilarious Harrelson sebagai bapak overprotektif nan overmaskulin saat diceritakan Little Rock pergi sama cowok pasifis.
Dari sikap para tokoh, ada benang merah soal cinta dan attachment yang bisa kita tarik sebagai gagasan film. Semua tokoh yang memakai nama mereka, alih-alih nama samaran berupa nama kota Amerika, bakal mati. Alasan tokoh tidak memakai nama asli diperlihatkan secara tersirat dari sikap Wichita dan Little Rock adalah karena akan susah dan berat dan sakit di hati nanti jika ada salah satu dari mereka yang digigit zombie. Nama samaran adalah bentuk dari menghindari terlalu dekat secara emosional kepada seseorang. Film ini menyugestikan kepada kita bahwa perasaan terlalu dekat kepada orang akan berujung bahaya. Lebih lanjut dibahas, bukan saja kepada orang. Tapi juga kepada apapun, terlebih di dunia materialistis seperti sekarang ini. Pada tempat (disimbolkan oleh film lewat Gedung Putih dan beberapa tempat singgah lain), para barang; Seperti mobil (salah satu running joke pada film ini adalah Tallahassee yang harus naik mobil keren tapi selalu berujung pada naik ‘mobil mamak-mamak’), senjata (para tokoh bergulat dengan aturan maskas hippie yang mengharuskan menyerahkan pistol mereka), dan bahkan tas (salah satu peraturan Colombus adalah untuk bepergian dengan sesedikit mungkin barang bawaan).

Attachment harap dibedakan dengan cinta. Karena attachment lebih berarti ketergantungan. Dan ketergantungan kita kepada orang akan membuat orang itu ketakutan. Attachment malah lebih mengerikan daripada zombie. Cinta adalah saling memberi; kebahagiaan dan terutama kebebasan. Bukan meminta dan mengukung.

 
Dunia Zombieland 2 ini begitu overwhelming sehingga gagasan tersebut kadang hanya tampak sekenanya. Juga tidak membantu ketika film mulai tampak rancu dalam menyampaikannya. Ini adalah film di mana membunuh zombie dijadikan sebagai eskapis. Membunuh zombie dengan cara apapun. Malahan, sering kita ditarik keluar dari narasi untuk melihat sketsa ‘Zombie Kill of the Week’ yang jadi gimmick alias seru-seruan khas film ini. Siapa yang bisa membunuh zombie paling keren? Aku bukannya mau membela zombie. Tetapi pada cerita yang menunjukkan membunuh zombie adalah keharusan dan hal normal, tidak-membawa senjata atau pistol menjadi hal yang ditertawakan. Pacar Little Rock yang pasifis dipandang lemah dan diledek, dan sebaliknya kekerasan ekstrim dan pistol jadi solusi cerita. Tokoh ini pada akhirnya bergantung kepada senjata api. Walaupun konteks narasinya adalah ‘jangan takut untuk meminta tolong’ (dan memangnya mau pakai apa lagi melawan zombie?), tetapi film tetap mengkonter sendiri gagasannya tentang attachment kepada barang ketika ia menunjukkan kehadiran pistol sebagai penyelamat. Dan mengingat soal kepemilikan pistol sendiri sudah jadi permasalahan di Amerika sana. Sepertinya film punya suara personal mengenai hal tersebut.

Jadi dunia adalah rumah atau dunia adalah wc?

 
Secara journey, sebenarnya tidak banyak perbedaan antara film ini dengan film pertama. Malah lumayan terasa muter-muter, karena persoalan ‘don’t get too attached’ ini sudah menghantam Colombus sejak pertama kali dia bertemu Tallahassee sepuluh tahun yang lalu. Seperti yang kutulis di awal, film ini hanya mengganti fokus tidak lagi terlalu lama kepada karakter, melainkan kepada tempat yang mengharuskan mereka memilih cara beradaptasi; bergantung pada sekitar atau cara yang lain. Naskahnya memang tidak sekuat yang pertama. Tokoh utamanya diselamatkan oleh orang lain, dalam dua kali kesempatan yang berbeda. Sendirinya terlalu bergantung kepada film sebelumnya yang tayang sepuluh tahun lalu. Sekali lagi film menunjukkan keawareness-an perihal dirinya sudah menjadi hits modern, sehingga ia tampak mengasumsikan semua calon penonton sudah menonton film pertamanya. Narasi voice-over Colombus kadang terlalu menginfokan apa yang sudah ada di layar; apa yang sudah bisa kita simpulkan sendiri. Pun aturan-aturan yang ia sebutkan terlalu sering sehingga dengan cepat menjadi membosankan.
 
 
 
Jika kalian menonton film yang pertama, film ini akan terasa cukup mixed lantaran candaannya akan lebih gampang masuk kepada kita (ketimbang buat penonton baru yang sama sekali awam dengan konsep penceritaan Zombieland) sehingga menontonnya lebih fun, tetapi sekaligus cukup membosankan karena tidak banyak perbedaan di dalam plot karakternya. Sebaliknya, penonton baru mungkin tidak akan tertawa terlalu sering, tapi lebih menikmati cerita dan petualangan dan tokoh-tokohnya.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for ZOMBIELAND: DOUBLE TAP.

 
 

ONE CUT OF THE DEAD Review

“The critic has to educate the public; The artist has to educate the critic.”

 

 

 

Tidak terima filmnya ‘dinilai’ dengan semena-mena, Lukman Sardi pernah sempat ‘ribut’ dengan netijen yang mengaku sudah menonton. “Woiiii pada2.. bikin film itu nggak segampang lo pada pikir… lo tau nggak proses shooting kayak apa? Lo tau nggak proses setelah shooting juga kayak apa?” begitu bunyi pertahanan yang ia amukkan di instastory, Agustus 2018 yang lalu. Film One Cut of the Dead benar-benar seperti gambaran dramatis, dan lucunya jadi sangat menghibur, dari pernyataan – jerit hati – seorang pembuat atau praktisi film seperti Lukman Sardi.

Ketika sudah terbiasa melihat film secara kritis, menonton tiga-puluh-tujuh menit pertama garapan sutradara Shinichiro Ueda ini bakal bikin kita geram. Begitu banyak ketidakkompetenan. Terlihat terlalu ‘murahan’. Perspektif kameranya juga membingungkan, mereka seperti meniatkan kita melihat dari kamera kru, tapi sebagian besar adegannya kamera lebih terasa seperti ‘mata Tuhan’ (zombie sama sekali tidak mengejar kameramen), dan semakin bingung saat sutradara bicara langsung ke kamera. Satu-satunya hook yang membuat kita tetap duduk di sana adalah teknik shot panjang, tak terputus, yang mereka gunakan. Menakjubkan dan mengundang penasaran, apa yang mereka lakukan dalam merekam film. Sementara itu, cerita yang kita lihat tampak seperti tentang seorang aktris yang mengalami kesulitan mendalami karakter dalam proses syuting film zombie. Kemudian, selagi mereka break syuting, duduk-duduk ngobrol membahas keangkeran lokasi, salah satu kru menjadi zombie beneran. Suasana menjadi kacau, mereka kocar-kacir pengen nyelametin diri. Namun sang sutradara tak peduli, dia tetap menyuruh pemain dan kru untuk terus merekam. Sampai di sini kita tidak tahu motif tokoh utamanya, apa paralelnya dengan cerita.

Tapi tentu saja ada desain dari kegilaan semacam ini. One Cut of the Dead adalah jenis film yang akan semakin berkali lipat bagusnya jika ditonton dengan memahami terlebih dahulu, mengetahui terlebih dahulu, konsep yang film ini gunakan. Karena film ini memakai struktur bercerita yang sama sekali berbeda. Meminta kita untuk bertahan, mungkin menggigit bibir sampe berdarah untuk enggak keceplosan menghina, dan semua itu akan terbayar tuntas ketika kita sampai di bagian akhir. Apa yang terjadi di bagian akhir akan membuat kita memandang keseluruhan film dalam cahaya yang berbeda. Tokoh utama yang di film awal tadi bukan tokoh utama cerita film ini sebenarnya. Technically, ini bahkan bukan cerita tentang invasi zombie! Bagian zombie-zombie yang kita saksikan dengan menyipitkan mata merendahkan di awal itu actually adalah presentasi film yang dibuat oleh tokoh film ini. Dan jika ingin bicara secara teori skenario, film ini sendiri barulah dimulai setelah kredit film di awal tadi bergulir. Dalam sense waktu, kita bisa menyebut film ini sebenarnya baru dimulai pada menit ke-empat puluh, atau sekitar babak kedua pada film-film normal yang kita tonton.

mendeskripsikan film ini; seperti menonton The Room nya Tommy Wiseau dan The Disaster Artist (2017) dalam sekali duduk sebagai satu film yang utuh

 

 

One Cut of the Dead menjadi pintar dan berfungsi efektif berkat pilihan struktur bercerita yang mereka gunakan. Mereka sebenarnya bisa saja memulai cerita dengan adegan yang menjelaskan pemutaran film di dalam film, menuturkan siapa tokoh utama yang jadi fokus cerita, tapi jadinya enggak bakalan seseru yang kita lihat. Karena, seperti yang bakal kita pelajari di pertengahan film, acara yang mereka syut actually adalah acara langsung. Aspek live-show inilah yang dijadikan stake/taruhan; sesuatu yang membuat proses syuting mereka harus berhasil no-matter-what. Lalu unbroken shot yang dilakukan itu bertindak sebagai tantangan yang harus dihadapi. Aku percaya deh, take panjang tanpa cut itu beneran susah untuk dilakukan; untuk film pendek keduaku yang cuma lima menitan, aku tadinya pengen shot yang tanpa cut, dan itu aja udah melelahkan sekali untuk pemain dan kru lantaran setiap ada yang salah mereka harus mengulang sedari awal. Setnya harus dibenerin ulang. Make up kudu dipasang lagi. Apa yang dicapai oleh film ini, mereka ngerekam adegan enggak pake cut selama tiga puluh menit – aku bisa bilang, sebuah kerja sama dan perjuangan yang keras.

Membuat penonton mengetahui stake dan tantangan belakangan memperkuat esensi drama dan komedi yang ingin dihadirkan. Lantaran kita sudah terbiasa ngejudge dulu baru mau mencoba untuk mengerti. Ketinggian emosional inilah yang sepertinya ingin dicapai oleh film sehingga kita diperlihatkan dulu ‘kegagalan’ mereka. Dan setelah itu, dengan kita mengerti rintangan dan apa yang sebenarnya terjadi, ‘kegagalan’ tadi berubah menjadi ‘keberhasilan yang menggetarkan hati’ di mata kita.

Namun apakah semua film harus dilihat seperti begini? Apakah kita akan memaafkan semua film jika semua film dikerjakan susah payah seperti film pada film ini? Benarkah seperti yang dikatakan oleh Lukman Sardi, penonton harus mengerti dulu seluk beluk pembuatan sebuah film sebelum berkomentar?

 

Menonton film ini, bagiku, benar-benar membantu mengingatkan kembali bahwa apa sebenarnya yang disebut dengan film; Sebagai sebuah kerja tim. One Cut of the Dead bisa saja dibuat sebagai surat cinta kepada para pembuat film, untuk menyampaikan pesan yang memberikan semangat di tengah-tengah perjuangan keras mewujudkan suatu karya yang bakal ditonton oleh banyak orang. Mengutip perkataan dari seorang mendiang pegulat dan promotor, Dusty Rhodes, bahwa jika 70% saja show yang kita kerjakan berjalan sama dengan yang tertuai di atas kertas (naskah), maka itu udah termasuk sukses berat. Karena memang pada kenyataannya, apa yang kita lakukan tidak akan berjalan mulus sesuai rencana. Terlebih dalam sebuah proyek yang melibatkan banyak orang seperti film ataupun acara pertunjukan dalam bisnis hiburan. Kadang pembuat film perlu melalukan penyesuaian besar-besaran. Penulisan ulang. Setiap kru harus sigap dan mampu beradaptasi dengan perubahan dadakan tersebut. Dalam film ini kita akan melihat ketika macet, kondisi kesehatan, dan attitude dari aktor dijadikan faktor luar yang mengguncang ‘zona nyaman’ yakni jadwal dan visi dari sutradara.

Menurutku, film ini penting untuk ditonton banyak orang, terutama oleh para pengulas dan kritikus film. Supaya kita bisa mengetahui apa yang terjadi di balik layar. Tentu, sebagai penonton kita toh tidak perlu tahu susah-senang para kru film, karena bukan kerjaan penonton untuk mengetahui hal tersebut. Kita enggak bayar tiket mahal-mahal untuk melihat itu. Kita tidak perlu tahu dulu cara membuat film untuk dibolehin mengkritik film. Tapi kita, paling tidak, perlu untuk mengetahui apa yang sedang kita bicarakan, kita perlu mengintip sedikit jerih payah yang mereka lakukan. Bukan untuk membela dan mengasihani, melainkan supaya kita bisa menghimpun sesuatu yang lebih adil dalam mengkritik.

Lebih sering daripada enggak, sebenarnya kita hanya senang mengolok-olok film. Kadang kita bersembunyi di balik istilah ‘kritik-yang-membangun’ padahal yang sebenarnya kita lakukan hanyalah nge-bully sebuah film. Tidak ada yang namanya “kritik yang membangun.” Sebab, kritik dari asal katanya sendiri berarti suatu tindakan yang mengulas. Melibatkan memilah dan memilih. Jika film adalah komunikasi antara pembuat dengan penonton, maka kritik seharusnya adalah sesuatu yang menjembatani – yang memperkuat arus komunikasi di antara kedua pihak tersebut. Kritik haruslah netral, dalam artian ketika kita menulis keburukan maka kita kudu menyeimbangkannya dengan kebaikan, pesan, atau hal-hal yang sekiranya membuat orang masih tertarik untuk menontonnya.

Ngata-ngatain sebuah film “jelek”; itu baru sekadar ngebully bareng-bareng.

Mengatakan sebuah film “jelek”, seharusnya “begini”; itu saran yang membangun, tapi belum cukup untuk dikatakan kritik.

Menyebut kekurangan film, kemudian berusaha menggali alasan – dengan melihat konteks – kenapa film melakukan hal tersebut alih-alih melakukan hal yang “benar”; itulah yang harusnya terkandung di dalam tulisan-tulisan yang melabeli diri sebagai sebuah kritik film.

 

tapinya lagi, benar relevan gak sih keadaan yang dicerminkan film ini dengan pembuatan film di Indonesia, mengingat orang Jepang itu kan disiplin semua?

 

 

Tiga babak pada film ini bukanlah pengenalan, konflik, dan penyelesaian. Melainkan hasil, barulah kembali ke pengenalan dan konflik. Cara bertutur yang memang memancing drama, tapi tidak serta merta meminta dikasihani. Karena disuarakan dengan nada komedi yang tinggi. Film juga menyinggung soal kemungkinan paradoks yang terjadi kepada para pembuat film yang ingin menunjukkan kemampuan sekaligus juga dituntut berdedikasi dalam sebuah proyek yang mungkin enggak sesuai dengan mereka sendiri, tetapi tetap harus diambil karena semuanya dianggap sebagai tantangan. Menakjubkan apa yang dicapai oleh film yang sebenarnya simpel dan mengambil resiko besar ini. Actually, buatku ini adalah salah satu film yang paling susah untuk ditentuin rating angkanya, karena dia bagus dari pencapaian. Tapinya juga adalah film yang ‘jelek’; bukan dalam sense kita harus membencinya, melainkan bagaimana dia dibangun. Film ini baru akan bagus sekali, ratingnya bisa nyaris lipat ganda, jika ditonton untuk kedua kali, saat kita sudah tahu konsep yang mereka gunakan sehingga tidak lagi melihatnya sebagai film sebagaimana mestinya. Dan di situlah kekuatan film ini; tidak akan membosankan jika ditonton dua kali. Namun, sebagai first-viewing tanpa mengetahui apa-apa tentangnya;
The Palace of Wisdom gives 5.5 gold stars out of 10 for ONE CUT OF THE DEAD.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Menurut kalian, seperti apa sih kritik film yang bagus? Seberapa besar kritik film berpengaruh buat kalian? Apakah kalian merasa perlu untuk mengetahui latar belakang film sebelum menonton filmnya?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

OVERLORD Review

“Heroism has a dark side”

 

 

Hari-H memang bikin deg-degan. Kita belajar mati-matian menjelang ujian, dan menit-menit dalam perjalanan ke sekolah, kita diam tak bergeming mikirin segala hal yang buruk-buruk tentang kemungkinan kita gak lulus ujian. Di lain tempat, ada yang bersuka cita mau menikah, dan di malam hari tepat sebelum nikahan, nervous itu datang membuat terdiam duduk mikirin gimana kalo ternyata pilihan kita salah. Mungkin karena H-nya itu singkatan dari Hantu, kali ya, makanya bikin gugup dan gelisah. Membuat takut. Kita cuma bisa membayangkan gimana kecamuknya hati dan kepala para tentara yang dikirim untuk berperang. Yang pergi membela negara di medan tumpah darah. Yang beberapa saat lagi bakal dibunuh atau membunuh duluan. Yang tidak peduli lagi mana salah, mana yang benar.

“Kita harus jadi sebusuk para musuh” kata komandan dalam film Overlord, mencoba sebisa mungkin terdengar seperti Samuel L. Jackson. Dan itu bukan sekedar remark-sindiran dariku, karena poinku adalah film ini berusaha membuat kita bersimpati (nada dan gaya bicara Jackson memang terdengar penuh wibawa dan simpatis) dengan pilihan yang harus diambil oleh para protagonis dalam cerita perang di mana satu sisinya memang pure evil.

Kita bisa bilang film ini bermain-main dengan genre film perang lebih banyak daripada ia berusaha menggali dilema moral seperti layaknya cerita perang itu sendiri. Adegan pembukanya terlihat menggoda kita dengan memberikan komentar tentang kejadian di opening Saving Private Ryan (1998), film perang karya Stephen Spielberg. Lebih baik di atas pesawat daripada masuk medan dengan kapal-kapal, kata salah satu tokoh Overlord saat mereka dari udara mengawasi garis pantai Perancis. Saat itu malam buta, kala Perang Dunia Kedua, platon protagonis kita bersiap untuk melakukan pendaratan ke pedesaan Perancis yang sudah dikuasai oleh tentara Nazi Jerman. Dan tokoh utama kita, duduk diam di sana. Gemetar di dalam sepatunya sendiri. Si luapan perasaan bimbang dan takut itu namanya Boyce (Jovan Adepo memainkan tipe karakter yang biasanya mati duluan). Dia sempat diolok-olok oleh teman-temannya, dikatain enggak cocok berada di medan perang. Dan kemudian pesawat mereka diberondong peluru. Dalam sebuah long-shot keren, kita melihat Boyce berjuang selamat dengan terjun payung sementara backgroundnya penuh huru-hara.

Ngeliat si Boyce yang tadinya duduk cemas menunggu bahaya pasti akan datang, aku serta merta kepikiran; gimana ya kalo ada Final Destination yang set ceritanya tentang tentara mau perang kayak begini. Tokohnya mendapat penglihatan tentang peristiwa naas, yang kemudian membuatnya jadi bisa menolong teman-teman seperjuangan selamat dari perang. Kupikir itu akan memberi twist buat franchise tersebut, tapi aku tidak bisa mengkhayal terlalu lama, karena Overlord segera menarikku masuk kembali berkat ceritanya yang benar-benar menggigit. Misi pasukan Boyce adalah meledakkan menara komunikasi di desa. Film memastikan tone tegang dan berdarah-darah itu tetap menguar sedari awal, dan tak pernah terputus saat cerita berbelok menjadi sci-fi horor oleh pengungkapan yang disaksikan oleh Boyce. Nazi yang mereka hadapi bukan jahat sembarang jahat. Mereka literally gak manusiawi.

klop banget tadi malam aku habis menghajar beberapa Zombie Nazi di game South Park: The Stick of Truth (2014)

 

Menonton Overlord adalah pengalaman yang menyenangkan, terutama jika kita suka sama adegan-adegan laga bersimbah darah. Drama perangnya masih ada, tokoh utama kita adalah seorang dengan moral kompas yang lurus, dia enggak setuju dengan cara interogasi menghajar musuh. Bahkan ada cerita menarik dari masa-masa pelatihan mereka soal Boyce yang enggak sampai hati membunuh tikus, yang berujung seluruh pasukan mereka dihukum fisik. Hanya saja, kedalaman lapisan moral itu semakin mendangkal mendekati akhir film. Di mana cerita berubah menjadi sajian horor kemanusiaan melawan monster. Narasi tetap mengalir koheren, tetapi gizi itu lama-lama semakin menghilang. Menonton film ini kayak menyantap seporsi lengkap mie. Awalnya masih ada telor, ayam, mungkin sayur mayur. Ketika semua itu habis, hanya tersisa bumbu mie yang enggak begitu bergizi, namun rasanya masih enak untuk dinikmati.

Arc Boyce adalah soal gimana dia mempertahankan moral kemanusiaan dirinya. Dia berubah dari yang ogah-ogahan, gak cocok berperang, menjadi penyintas yang bahkan lebih dari berkompeten untuk memimpin pasukan kecilnya sendiri. Tapi dia tidak pernah kehilangan sense baik-buruk tersebut. Dia tidak pernah melanggar garis yang membuatnya menjadi sekeji pihak yang ia lawan. Sepanjang film, pilihan-pilihan yang diambil oleh Boyce yang membuat narasi bergerak maju. Yang membuat dirinya termasuk ke dalam situasi mengerikan, dan kita mendapatkan aksi-aksi yang seru. Tidak ada yang salah dari Boyce sebagai tokoh utama. Pemeranannya pun meyakinkan. Tapi aku tidak bisa bilang menyukai tokoh ini. Dia terlihat ‘terlalu sempurna’ di sana, kayak Pak Ustadz di dalam kelab malam. Dia terlalu lurus sehingga tampak lebih membosankan daripada temannya, Chase, yang lebih suka menembak dengan kamera alih-alih dengan senapan.

Kepahlawanan punya sisi gelap. Perang begitu mengkhawatirkan, karena tidak seperti ujian sekolah, kita tidak pernah benar-benar seutuhnya menang dalam peperangan. Dan, ironisnya, seperti ujian sekolah; kita perlu perang untuk menggenjot diri naik ke tingkat selanjutnya. 

 

 

Pun, plot tokoh seperti Boyce sudah sering kita temukan. Hal penting yang harus dilakukan pada plot semacam ini adalah kita diperlihatkan perubahan si tokoh, untuk itu kita harus tahu dia seperti apa sebelum sampai di medan perang. Full Metal Jacket (1987) bisa dijadikan acuan. Dalam film tersebut, Kubrick mengambil keputusan beresiko. Dia membuat kita melihat si tokoh sedari masa pelatihan, gimana dia lebih memilih jadi posisi jurnalis perang, dan akhirnya harus menarik pelatuk di hadapan musuh yang ternyata adalah wanita muda, tetapi film itu terasa terbagi menjadi dua bagian. Overlord sepertinya tidak ingin cerita menjadi seperti demikian, maka kita hanya mendengar cerita tentang Boyce sebelum masa perang. Untuk membuat Boyce menjadi jagoan, mereka simply menyederhakan cerita menjadi laga ala video game; Boyce dan pasukan harus menjalankan misi menyusup ke dalam markas musuh, menghabisi bos besar, dan berlari keluar dengan pemandangan markas musuh hancur lebur – exactly kayak ending-ending video game petualangan. Boyce, secara pribadi, sebenarnya enggak benar-benar berubah. Perubahan yang kita rasakan terjadi, berasal dari pandangan orang tentang dirinya. Teman-teman Boyce jadi lebih hormat kepadanya.

sepertinya masih perlu ya diingetin bahwa Nazi itu jahat?

 

Dengan penampilan yang seragam meyakinkannya, banyak tokoh-tokoh minor yang terasa lebih menarik dibandingkan si sudut pandang utama. Aku suka sekali sama hubungan yang terjalin antara salah satu tentara, Tibbet, dengan anak kecil yang mereka tolong. Sersan mereka yang sudah siap-segala-resiko pun lebih menggugah minat dan mengundang simpati. Tapi sekali lagi, ini adalah keputusan yang diambil oleh film. Jadi walaupun cerita jadi harus mengandalkan beberapa ‘kebetulan’, menggunakan elemen ‘damsel in distress’ yang usang, dan Boyce-nya kalah menarik, Boyce dinilai paling bentrok dengan antagonis, dia yang paling punya stake. Tidak ada yang lebih berharga lagi yang bisa dipertaruhkan daripada rasa kemanusiaan.

Setidaknya ada dua kali ‘bolak-balik’ pada cerita; tokoh yang udah sampai di tempat menarik, kemudian ditarik mundur lagi oleh cerita, yang mengindikasikan penulisan seharusnya bisa lebih baik lagi. Tapi tone cerita yang konsisten, mampu membuat elemen menghibur itu terus terjaga. Ringan, penuh aksi brutal, dan makhluk horor dengan prostetik yang tampak semakin creepy – low budget itu berhasil dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Estetiknya tidak pernah kelihatan jelek.

 

 

Ini adalah film yang berjaya di dalam dunianya sendiri. Jikapun bertahan di ranah horor drama perang, film ini tak pelak akan lebih bermakna, tapi dia tidak akan pernah benar-benar stand out karena sudah begitu banyak cerita yang seperti demikian. Pilihan yang membawa genre ini berfusion dengan body horror; katakanlah eksperimen yang mereka lakukan, pada akhirnya lebih mungkin membuat film menjadi seperti para pahlawan seharusnya; dikenang.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for OVERLORD.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Bagaimana cara yang tepat untuk menghadapi Nazi? Apakah kekerasan dibalas dengan kekerasan? Atau memilih berdiri di atas moral? Bagaimana sih moral yang tinggi itu? Apa maknanya memenangkan perang?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

RESIDENT EVIL: THE FINAL CHAPTER Review

“True identity is found when we start becoming who we were created to be.”

 

residentevilthefinalchapter-poster

 

Kita hidup di dunia di mana kita enggak bisa gitu aja bilang “Gue penggemar Resident Evil, loh”. Karena ada batasan jelas yang memisahkan antara “penggemar film-adaptasi-game terburuk” dengan “penggemar game-survival-horor-terbaik”. Sayang memang, I mean, kenapa mereka enggak lupakan saja soal franchise, just stop, dan ngulang lagi bikin film yang benar-benar mengerikan tentang zombie di rumah tua atau semacamnya?! One can hope film ini benar-benar akan menjadi babak terakhir. Babak final. Penghabisan. Mungkin film ini akan actually bisa menjelaskan lima-belas tahun continuity errors dari cerita yang sudah enggak make-sense lagi.

Ternyata, film ini hanyalah segerombongan adegan mindless action, seperti yang sudah kita kenal baik.

Perlakukan Resident Evil: The Final Chapter selayaknya zombie. Lari! Larilah dari dirinya, demi hidupmu, sejauh mungkin. For this one movie will eat your brain dead!

 

Oke, kalian tahu, aku paling males nulis film jelek karena aku enggak mau isi ulasanku kesannya negatif melulu. Aku selalu berusaha untuk mengangkat sisi baik dari semua film. Apalagi film-film kayak remake dari Poltergeist ataupun reboot dari Fantastic Four sebelum membanting mereka sebagaimana mestinya. I’ve done that in the past, and I’m gonna do it again today. Buat film Resident Evil; yang gamenya selalu aku mainkan dengan semangat meski baru dua seri yang bisa tamat tanpa pake cheat, film yang sengaja aku tunda-tunda menontonnya karena aku benci kalo nanti bakal membenci filmnya lagi, aku sungguh-sungguh mencoba, aku masuk dengan pikiran positif. Aku harap aku bisa ngesell film ini dengan enggak parah-parah amat.

Jika kalian enggak punya masalah sama lima film Resident Evil sebelum ini, jangan pedulikan apa kata kritik. Jangan dengarkan apa yang kutulis. Go watch it and have fun, karena film adalah pengalaman subjektif. Namun, buat sebagian besar penonton, ketahuilah bahwa ini adalah salah satu FILM YANG PALING ‘MENYIKSA’ yang bisa kita tonton di bioskop in a recent year.

Supposedly menyambung langsung cerita terdahulu, Alice mendapati dirinya terbangun sendirian di reruntuhan. Dia kemudian digreet oleh monster-monster bioweapon sebelum akhirnya disapa oleh Red Queen, si A.I. yang mengambil persona anak kecil. Mantan lawannya tersebut meminta Alice untuk kembali ke Raccoon City karena Alice adalah cewek perkasa badass abis yang enggak pernah mati meski ada banyak zombie, dan kali ini Umbrella Corporation ingin melenyapkan sisa-sisa manusia dengan T-Virus, so Alice harus menghentikan itu sambil harus nemuin anti dari T-Virus yang disimpan di markas Umbrella di Raccon City (alias lokasi film yang pertama). That’s the storyline, simpel, ala misi video game banget, namun membingungkan karena beberapa keadaan terlihat enggak begitu cocok dengan cerita-cerita sebelumnya.

Dazed and confused.
Dazed and confused.

 

Untuk membuat cerita lebih mudah dipahami, para pembuat film ini merakit penceritaan dengan FORMULA YANG SEDERHANA; eksposisi – big action – eksposisi – big action – eksposisi – big action – dan begitu seterusnya. Film dimulai dengan rangkuman apa yang sudah terjadi, just in case kita belum pernah nonton film-film sebelumnya. Kemudian ada adegan aksi di atas kendaraan. Setelah itu, karakter-karakter kita ngumpul berkeliling dan seseorang tells them a story. Disambung oleh adegan action lagi, tembak-tembakan. Wuih! That’s how the entire film plays out. Ada satu momen yang efektif; saat ada tiga zombie yang lagi tergantung, mendadak come to life dan menyambar ke arah truk yang sedang melaju. Pengambilan gambar yang really creepy.

Kalo ada yang lebih jelek daripada tampang para zombie, maka itu adalah sekuens aksi. Serius deh, adegan-adegan aksi film ini disyut dan choreographed horribly. Dalam film, ada yang dikenal dengan teknik Eye Tracing; di mana pergerakan kamera diperhitungkan sedemikian rupa sehingga aksinya membimbing fokus pandangan penonton. Dalam film ini, eye tracingnya parah sekali. Semuanya diedit dengan sangat cepat, kita tidak bisa melihat dan memahami apa yang sedang terjadi. Ada yang mati pun, kita enggak bisa langsung ngeh siapa yang jadi korban. Dalam adegan dengan kipas gede, misalnya, aku butuh beberapa scene bolak-balik untuk bisa recognized siapa yang isdet.

To make it worse, sutradara Paul W.S. Anderson menonton Mad Max Fury Road (2015) sebelum dia bikin storyboard film ini. Jadi, beliau dengan segala kehumbleannya sebagai seorang filmmaker mencoba ngerecreate keawesomean visual style yang sudah dibuat oleh George Miller. Dua-puluh-menit pertama jelas sekali Resident Evil ingin mengemulasikan gaya edit cepat, it is the biggest rip-off of Mad Max yang pernah kuliat, dan film ini come short – malah terlihat sebagai upaya amatir alih-alih membuat adegannya enak dan intense untuk ditonton. Resident Evil: The Final Chapter adalah film berbudget gede dengan EDITING TERBURUK yang pernah kutonton sejauh ini. Liat aja sendiri, medium shot lengthnya pastilah kurang dari satu detik. Satu contoh lagi yaitu pas di adegan Alice berhadapan dengan this huge bioweapon creature. Alice menembak monster itu dengan dua pistol as the monster berlari ke arahnya. Kamera ngecut bolak-balik dengan sangat cepat di momen ini sehingga aku bersyukur enggak punya migrain dan enggak nonton ini dalam format 3D.

Semua elemen dalam film ini dicut dan digabungkan dengan begitu manipulatif demi memancing keseruan. Supaya kita merasa sedang menonton sesuatu yang keren, untuk membuat kita berpikir sesuatu yang amazing baru saja terjadi. Bahkan musik dan sound-designnya bekerja keras untuk menipu kita. Sepanjang film kita akan dibombardir oleh jump scare yang datang susul menyusul. Alice berjalan di suatu tempat, suasana hening, dan beberapa zombie muncul lengkap dengan suara yang over-the-top. Film ini penuh oleh serangkaian momen yang berusaha untuk terkesan seram tapi nyatanya cuma annoyingly loud dan sangat absurd. Mencoba begitu keras untuk menekankan kesan urgensi dan finality, this film is FILLED WITH SO MANY TIRED MANIPULATIVE WAYS OF EDITING FILM TOGETHER.

Mengingat gimana ngasalnya cara mereka mengedit film ini menjadi satu kesatuan, sebenarnya adalah fakta yang sangat ofensif, that sekelompok orang datang menonton ini dan bilang filmnya bagus. Malahan film ini nomer satu di box office Indonesia! Dan lebih ofensif lagi mengingat gimana film ini bisa diluluskan sebagai sebuah film in the first place.

 

Ada sedikit cercah film ini membahas sesuatu yang lebih dalem, seperti apa yang sebenarnya ingin dikatakan dari Umbrella yang demen bikin clone. Harusnya ada talk yang mendalam soal Alice yang kini come in terms dengan identitasnya, bukan sebagai simbol – melainkan sebagai seorang individu. Aku suka mereka ngeemphasize “My name is Alice” di awal dan akhir film. Aku selalu membahas dan menekankan soal karakter setiap ngereview. Karena toh tidak akan ada film, tidak akan ada cerita jika tidak ada karakter. I love movies karena aku suka berpikir soal karakter manusia. Dan dalam film ini? HAH!!! Film ini lebih mengutamakan aksi ketimbang karakter.

Alice enggak ngapa-ngapain selain cuma wadah yang bisa nembak ribuan zombie. Alice doesn’t do anything untuk mendapatkan pengakuan sebagai badass action hero. Dia begitu ya karena ditulis begitu. Ada bagian cerita di mana Alice sampai di compound yang apparently dipimpin oleh orang lain, kemudian segerombol besar zombie muncul, dan Alice mengambil alih kepemimpinan gitu aja, no questions asked. Beginilah skrip film ini ditulis. Alice does things, dia nembak, dia ninju, dia akrobat, tapi tidak pernah dia ngelakuin sesuatu yang membuat orang ngeliat dia sebagai pemimpin. Dan aktingnya? Pffft tidak ada akting. Milla Jovovich did an easy job here, dia malah enggak perlu repot berakting kesakitan. Alice is such a worst character, sampai-sampai ada adegan di mana dia ngedetonate bom beberapa jengkal dari antivirus yang berusaha ia selametin, tanpa tedeng aling-aling, tanpa pikir-pikir dulu soal akibat dari tindakannya.

Alice got her “I’m your father” moment
Alice got her “I’m your father” moment

 

 

 

Jika ingin pengalaman yang luar biasa sehubungan dengan dunia zombie, atau mau nikmatin the feeling of survival horor, saranku; just play the game, seriously. Ada seri terbaru Resident Evil yang keluar buat PS4 and itu serem dan keren banget. Film ini fails to deliver apapun, not even the sense of finality. It doesn’t respect us as the general audience. Film ini bahkan gagal catering buat fans loyal mereka yang sudah lima-belas tahun ngikutin. Orang-orang yang udah sit through all of them. Karakter-karakter yang entah gimana. Twist terakhirnya sangat absurd dan pointless, completely dishonor tokoh utama cerita. Terutama memberikan dampak yang buruk buat film-film terdahulunya. Tidak ada yang make sense di sini. Endingnya, efeknya, editingnya, semuanya so awful. Turns out, film ini menghinaku lebih banyak ketimbang apa yang aku ucapkan dalam menilai jujur dirinya.
The Palace of Wisdom gives 1 out of 10 gold stars for RESIDENT EVIL: THE FINAL CHAPTER

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.